P. 1
Masa Nifas- Ku

Masa Nifas- Ku

|Views: 55|Likes:
Published by Devry Parindra

More info:

Published by: Devry Parindra on Sep 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

MASA NIFAS

1) PENGERTIAN Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan(Pusdiknakes, 2003:003). Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122). Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281). Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998). 2) TUJUAN PERAWATAN MASA NIFAS 1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis 2) Melaksanakan skrining secara komprehensif, deteksi dini mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada bayi maupun ibu 3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi,KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari 4) Memberikan pelayanan keluarga berencana 5) Mendapatkan kesehatan emosi

3) TAHAP MASA NIFAS Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut : 1. Periode immediate post partum Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat masalah,misalperdarahan karena otonia uteri. Oleh sebab itu perlu pemantauan teratur kontraksi uterus, pengeluaran lokea, tekanan darah dan suhu

2. Periode Early postpartum( 24 jam-1 minggu ) Pada masa ini dipastikan involusi uteri dalam keadaan normal,tidak ada perdarahan,lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairanserta ibu dapat menyusui dengan baik.

3. Periode Late Postpartum( 1mg-5 minggu ) Pada masa ini ibu mendapatkan perawatan, pemeriksaan dan konsultasi tentang KB.

4) HAL-HAL YANG HARUS DAPAT DIPENUHI SELAMA MAS NIFAS 1. Fisik. Istirahat, memakan makanan bergizi, menghirup udara segar dan lingkungan yang bersih 2. Psikologi. Stress setelah perslinan dapat segera distabilkan dengan dukungan dari keluarga yang menunjukkan rasa simpati, mengakui dan menghargai ibu. 3. Sosial. Menemani ibu bila terlihat kesepian,ikut menyayangi anaknya, menanggapi dan memperhatikan kebahagiaan ibu serta menghibur bila ibu terlihat sedih. 4. Psikososial.

5) PERUBAHAN ORGAN-ORGAN PADA MASA NIFAS 1) Perubahan Pada Uterus a. Perubahan Pada Pembuluh Darah Uterus Kehamilan yang sukses membutuhkan peningkatan aliran darah uterus yang cukup besar. Untuk menyuplainya, arteri dan vena di dalam uterus terutama di plasenta menjadi luar biasa membesar, begitu juga pembuluh darah ke dan dari uterus, pembentukan pembuluh – pembuluh darah baru juga akan menyebabkan peningkatan aliran darah yang bermakna. Setelah kelahiran, kaliber pembuluh darah ekstrauterin berkurang sampai mencapai, atau paling tidak mendekati keadaan sebelum hamil. Di dalam uterus nifas, pembuluh darah mengalami obliterasi akibat perubahan hialin, dan pembuluh – pembuluh yang lebih kecil menggantikannya. Resorpsi residu hialin dilakukan melalui suatu proses yang menyerupai proses pada

ovaruium setelah ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Namun, sisa – sisa di dalam jumlah kecil dapat bertahan selama bertahun – tahun.

b. Perubahan Pada Serviks dan Segmen Bawah Uterus Tepi luar serviks, yang berhubungan dengan os eksternum, biasanya mengalami laserasi terutama di bagian lateral. Ostium serviks berkontraksi perlahan, dan beberapa hari setelah bersalin ostium serviks hanya dapat ditembus oleh dua jari. Pada akhir minggu pertama, ostium tersebut telah menyempit. Karena ostium menyempit, serviks menebal dan kanal kembali terbentuk. Meskipun involusi telah selesai, os eksternum tidak dapat sepenuhnya kembali ke penampakannya sebelum hamil. Os ini tetap agak melebar, dan depresi bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai perubahan yang permanen dan menjadi cirri khas serviks para. Harus diingat juga bahwa epitel serviks menjalani pembentukan kembali dalam jumlah yang cukup banyak sebagai akibat kelahiran bayi. Segmen bawah uterus yang mengalami penipisan cukup bermakna akan berkontraksi dan tertarik kembali, tapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam waktu beberapa minggu, segmen bawah telah mengalami perubahan dari sebuah struktur yang tampak jelas dan cukup besar untuk menampung hamper seluruh kepala janin, menjadi isthmus uteri yang hampir tak terlihat dan terletak diantara korpus uteri diatasnya dan os eksternum serviks dibawahnya.

c. InvolusiKorpusUteri Segera setelah pengeluaran plasenta, fundus korpus uteri yang berkontraksi terletak kira – kira sedikit di bawah umbilicus. Korpus uteri kini sebagian besar terdiri atas miometrium yang dibungkus lapisan serosa dan dilapisi desidua basalis. Dinding anterior dan posteriornya saling menempel erat, masing – masing tebalnya 4 sampai 5 cm. Karena pembuluh darah tertekan oleh miometrium yang berkontraksi, uterus nifas pada potongan tampak iskemik bila dibandingkan dengan uterus hamil yang hiperemesis dan berwarna ungu kemerah – merahan. Setelah 2 hari pertama, uterus mulai

menyusut, sehingga dalam 2 minggu organ ini telah turun ke rongga panggul sejati. Organ ini mencapai ukuran seperti semula sebelum hamil dalam waktu sekitar 4 minggu. Uterus segera setelah melahirkan mempunyai berat sekitar 1000 gram. Akibat involusi, 1 minggu kemudian beratnya sekitar 500 gram, pada akhir minggu kedua turun menjadi sekitar 300 gram, dan segera setelah itu menjadi 100 gram atau kurang. Jumlah total sel otot tidak berkurang banyak ; namun, sel – selnya sendiri jelas sekali berkurang ukurannya. Involusi rangka jaringan ikat terjadi sama cepatnya. Karena pelepasan plasenta dan membran – membran terutama terjadi di stratum spongiosum, desidua basalis tetap berada di uterus. Desidua yang tersisa mempunyai bentuk bergerigi tak beraturan, dan terinfiltrasi oleh darah, khususnya di tempat melekatnya plasenta.

d. Lokhia Pada masa awal nifas, peluruhan jaringan desidua menyebabkan keluarnya discharge vagina dalam jumlah bervariasi yang disebut lokhia. Secara mikroskopis, lokhia terdiri atas eritrosit, serpihan desidua, sel – sel epitel, dan bakteri. Mikroorganisme ditemukan pada lokhia yang menumpuk di vagina dan pada sebagian besar kasus juga ditemukan bahkan bila discharge diambil darironggauterus.

Lochea lubra : berwarna merah, terdiri dari lendir dan darah pada hari 1-2 Lochea sanguilenta : berwarna coklat terdiri dari cairan bercampur darah Lochea alba : kekuning kuningan lewat hari ke 2 sampai minggu ke 2 Lochea serosa : setelah minggu kedua

e. RegenerasiEndometrium Dalam waktu 2 atau 3 hari setelah melahirkan, sisa desidua berdiferensiasi menjadi dua lapisan. Stratum superficial menjadi nekrotik, dan terkelupas bersama lokhia. Stratum basal yang bersebelahan dengan miometrium tetap utuh dan merupakan sumber pembentukan endometrium baru. Endometrium

terbentuk dari proliferasi sisa – sisa kelenjar endometrium dan stroma jaringan ikat antar kelenjar tersebut. Proses regenerasi endometrium berlangsung cepat, kecuali pada tempat melekatnya plasenta. Dalam satu minggu atau lebih, permukaan bebas menjadi tertutup oleh epitel dan seluruh endometrium pulih kembali dalam minggu ketiga.

f. SubInvolusi Istilah ini menggambarkan suatu keadaan menetapnya atau terjadinya retardasi involusi, proses yang normalnya menyebabkan uterus nifas kembali ke bentuk semula. Proses ini disertai pemanjangan masa pengeluaran lokhia dan perdarahan uterus yang berlebihan atau irregular dan terkadang juga disertai perdarahan hebat. Pada pemeriksaan bimanual, uterus teraba lebih besar dan lebih lunak dibanding normal untuk periode nifas tertentu. Penyebab subinvolusi yang telah diketahui antara lain retensi potongan plasenta dan infeksi pamggul. Karena hampir semua kasus subinvolusi disebabkan oleh penyebab local, keadaan ini biasanya dapat diatasi dengan diagnosis dan penatalaksanaan dini pemberian ergonovin (ergotrate) atau metilergonovin (methergine) 0,2 mg setiap 3 atau 4 jam selama 24 sampai 48 jam direkomendasikan oleh beberapa ahli. Namun efektivitasnya dipertanyakan. Di lain pihak, metritis berespon baik terhadap terapi antibiotic oral.

g. Involusi Tempat Melekatnya Plasenta Segera setelah kelahiran, tempat melekatnya plasenta kira – kira berukuran sebesar telapak tangan, tetapi dengan cepat ukurannya mengecil. Pada akhir minggu kedua, diameternya hanya 3 sampai 4 cm. Dalam waktu beberapa jam setelah kelahiran, tempat melekatnya plasenta biasanya terdiri atas banyak

pembuluh darah yang mengalami thrombosis yang selanjutnya mengalami organisasi thrombus secara khusus.

Sesudah persalina n Berat(g r) Ukuran (cm) Tinggi fundus Lochia rubra 15x12x1 0 Pusat 1000

Minggu ke-1

Minggu ke-2

Minggu ke-4

Minggu ke-6

500

300

60

7x5x3

½ s-p

S+1 jari

sanguinolenta

alba

Serosa

2) Perubahan Pada Traktus Urinarius Kehamilan normal biasanya disertai peningkatan cairan ekstraseluler yang cukup bermakna, dan diuresis masa nifas merupakan kebalikan fisiologis dari proses ini. Diuresis biasanya terjadi antara hari kedua dan kelima. Bahkan bila wanita tersebut tidak mendapat infuse cairan intravena yang berlebihan selama persalinan dan kelahiran. Rangsang untuk retensi cairan akibat hiperestrogenisme terinduksi kehamilan dan peningkatan tekanan vena pada setengah bagian bawah tubuh akan berkurang setelah kelahiran, dan hipervolemi residual akan menghilang. Pada preeclampsia, baik retensi cairan antepartum maupun diuresis postpartum dapat sangatmeningkat. Kandung kemih masa nifas mempunyai kapasitas yang bertambah besar dan relative tidak sensitive terhadap tekanan cairan intravesika. Overdistensi pengosongan yang tidak sempurna dan urine residual yang berlebihan sering dijumpai. Pengaruh anestesi terutama anestesi regional yang melumpuhkan, dan gangguan tenporer fungsi saraf kandung kemih, tidak diragukan perannya. Urine

residual dan bakteriuria pada kandung kemih yang mengalami cedera, ditambah dilatasi pelvis renalis dan ureter, membentuk kondisi yang optimal untuk terjadinya infeksi saluran kemih. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami dilatasi akan kembali ke keadaan sebelum hamil mulai dari minggu ke 2 sampai ke 8 setelah kelahiran.

3) Relaksasi Muara Vagina dan Prolapsus Uteri Pada awal masa nifas, vagina dan muara vagina membentuk suatu lorong luas berdinding licin yang berangsur – angsur mengecil ukurannya tapi jarang kembali ke bentuk nulipara. Rugae mulai tampak pada minggu ketiga. Himen muncul kembali sebagai kepingan – kepingan kecil jaringan, yang setelah mengalami sikatrisasi akan berubah menjadi carunculae mirtiformis. Laserasi luas perineum saat kelahiran akan diikut relaksasi introitus. Bahkan bila tak tampak laserasi eksterna, peregangan berlebih akan menyebabkan relaksasi nyata. Lebih lanjut, perubahan pada jaringan penyangga panggul selama persalinan merupakan predisposisi prolaps uteri dan inkontenensia uri stress. Pada umumnya, operasi korektif ditunda hingga seluruh proses persalinan selesai, kecuali tentu saja terdapat kecacatan serius, terutama inkontinensia uri akibat stress, yang menimbulkan gejala – gejala yang membutuhkan intervensi.

4) Peritonium dan Dinding Abdomen Ligamentum latum dan rotundum jauh lebih kendur disbanding kondisi saat tidak hamil, dan ligament – ligament ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk pulih dari peregangan dan pengenduran yang berlangsung selama kehamilan. Sebagai akibat putusnya serat – serat elastis kulit dan distensi yang berkepanjangan yang disebabkan uterus hamil, dinding abdomen masih lunak dan kendur untuk sementara waktu. Kembalinya struktur ini ke keadaan normal memerlukan waktu beberapa minggu, tapi pemulihan dapat dibantu dengan olahraga. Selain timbulnya striae yang berwarna keperak – perakan, dinding abdomen biasanya kembali ke keadaan sebelum hamil. Namun, jika otot – ototnya tetap atonik, dinding abdomen akan tetap kendur.

5) Kelenjar Mamae a. Payudara Puting susu, areola, duktus & lobus membesar, vaskularisasi meningkat (Breast Engorgement). b. Laktasi Masing – masing buah dada terdiri dari 15 – 24 lobi yang terletak terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini yang menghasilkan air susu. Tiap lobules mempunyai saluran halus untuk mengalirkan air susu. Saluran – saluran yang halus ini bersatu menjadi satu saluran untuk tiap lobus. Saluran ini disebut ductus lactiferosus yang memusat menuju ke putting susu di mana masing – masing bermuara. Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung susu, melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat areola mamae. Colostrum adalah cairan kuning yang disekresi oleh payudara pada awal masa nifas. Progesteron dan estrogen yang dihasilkan plasenta merangsang pertumbuhan kelenjar – kelenjar susu, sedangkan progesterone merangsang pertumbuhan saluran kelenjar. Kedua hormone ini mengerem LTH (prolactin). Setelah plasenta lahir, maka LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi. Pada kira – kira hari ke 3 postpartum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu dan kalau areola mamae dipijat, keluarlah cairan putih dari puting susu. Proses menyusui mempunyai 2 mekanisme fisiologis yaitu sebagai berikut : 1. Produksi susu 2. Sekresi susu atau let down

Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang refleks let down ( mengalirkan ) sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada puting susu. Ketika ASI dialirkan karena isapan bayi, maka sel-sel acini terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak. Reflek ini dapat berlanjut sampai waktu yang cukup lama.

6). Sistem muskoloskeletal Ligamen-ligamen, facia dan diafragma pelvis yang meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali. Tidak jarang ligamen rotundum mengendur, sehingga uterus jatuh ke belakang. Fasia jaringan penunjang alat genetalia yang mengendur dapat diatasi dengan latihan-latihan tertentu. Mobilitas sendi berkurang dan posisi lordosis kembali perlahan-lahan.

7) Sistem endokrin 1. Oksitosin Selama tahap ketiga persalinan hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin. Hal ini membantu uterus kembali ke bentuk normal. 2. Prolaktin Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituatari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin yang berrperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium ke arah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel, ovulasi, dan menstruasi.

3. Estrogen dan progesteron Selama hamil tingakat estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik yang meningkatkan volume darah dan mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat mempengaruhi saluran kemih, ginjal, dinding vena, dasar panggul, perineum, vulva dan vagina.

8). Perubahan tanda-tanda vital Tanda-tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah sebagai berikut : a. Suhu. Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 370 C. Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,50 C dari keadaan normal. Dua jam setelah melahirkan suhu akan kembali normal. Bila lebih dari 380 C mungkin terjadi infeksi pada pasien. b. Nadi dan pernapasan Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil dibadingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernapasan akan sedikit meningkat. setelah partus, kemudian kembali seperti keadaan semula. c. Tekanan darah Pda beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum. Akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertai dalam ½ nulan tanpa pengobatan.

9). Sistem hematologi dan kardiovaskuler

5,5 ltr antepartum Volume darah minggu ke-1

5 ltr persalinan 4 ltr minggu ke-3

4,5 ltr pada

Hematokrit

Hemokonsentrasi (pada hari ke-3-15 pasca persalinan) perdarahan >20% volume, maka dapat terjadi

hemodelusi

Eritrosit

Hamil; bertambah 30% dibandingkan tidak hamil, postpartum: bertambah 15% dibandingkan tidak hamil

Leukosit

Leukositosis pada persalinan & awal nifas Pada persalinan kadar leukosit>10.000 belum dianggap infeksi. Pada ibu hamil kadar leukosit sekitar 20.00025.000, bila>25.000 telah terjadi infeksi

Faktor pembekuan darah

Umumnya meningkat seiring dengan terjadinya hemokonsentrasi

Cardiac output

80% peningkatan segera setelah persalinan dan kembali normal dalam beberapa hari

CVP

Meningkat segera setelah persalinan, kembali normal dalam beberapa hari

PH

Alkalosis respiratorik pada saat kehamilan Asidosis metabolik pada saat awal persalinan sampai nifas

Glucosa

Menurun

6) PERUBAHAN PSIKOLOGIS IBU PADA MASA NIFAS Depresi post partum sering terjadi pada masa ini. Tanda dan gejala yang biasa muncul : 1. Perasaan sedih dan kecewa 2. Sering menangis 3. Merasa gelisah dan cemas

4. Kehilangan ketertarikan dengan hal yang menyenangkan 5. Nafsu makan menurun 6. Kehilangan energi dan motivasi untuk melakukan sesuatu 7. Insomnia 8. Perasaan bersalah dan putus harapan 9. Penurunan atau peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan 10. Memperlihatkan penurunan untuk mengurus bayinya Penyebab depresi post partum : 1. Perubahan hormonal yang cepat yaitu prolaktin, steroid, progesteron dan estrogen 2. Masalah medis dalam kehamilan seperti PIH ( pregnancy-induced hypertention ), DM dan disfungsi tyroid 3. Riwayat depresi, alkoholik baik pada ibu maupun keluarga 4. Harga diri rendah atau ketidakdewasaan 5. Kurangnya support sistem 6. Arah dengan kehamilannya 7. Merasa terisolasi 8. Kelemahan, gangguan tidur, ketakutan terhadap maalah keuangan keluarga dan kelahiran dengan anak cacat atau penyakit.

Respon dalam menangani kasus depresi post partum : 1. Psikoterapi 2. Dukungan sosial 3. Medikasi antidepresan

Menjadi orang tua adalah merupakan krisis dari melewati masa transisi. Masa transisi pada postpartum yang harus diperhatikan adalah : 1) Phase Honeymoon Phase Honeymoon ialah Phase anak lahir dimana terjadi intimasi dan kontak yang lama antara ibu – ayah – anak. Hal ini dapat dikatakan sebagai “ Psikis Honeymoon “ yang tidak memerlukan hal-hal yang

romantik. Masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru. 2) Ikatan kasih ( Bonding dan Attachment ) Pengertian : Bounding merupakan satu langkah awal untuk mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) Atachmen merupakan interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu. Bounding Atachmen adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih sayang yang merupakan dasar interaksi antara keduanya secara terus menerus. Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan antara orang tua dan bayinya. Terjadi pada kala IV, dimana diadakan kontak antara ibu-ayah-anak, dan tetap dalam ikatan kasih, penting bagi perawat untuk memikirkan bagaimana agar hal tersebut dapat terlaksana, partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan salah satu upaya untuk proses ikatan kasih tersebut. 3) Phase Pada Masa Nifas Periode ini diekspresikan oleh Reva Rubin yang terbagi menjadi 3 tahap yaitu : a. Phase “ Taking in “ Perhatian ibu terutama terhadap kebutuhan dirinya, mungkin pasif dan tergantung pada orang lain. Hal ini berlangsung 1 – 2 hari.

Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya tetapi bukan berarti tidak memperhatikan. Dalam Phase ini yang diperlukan ibu adalah informasi tentang bayinya, bukan cara merawat bayi. Ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami,serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat. b. Phase “ Taking hold “

Phase kedua masa nifas adalah phase taking hold ibu berusaha mandiri dan berinisiatif. Perhatian terhadap kemampuan

mengatasi fungsi tubuhnya misalnya kelancaran buang air besar hormon dan peran transisi. Hal-hal yang berkontribusi dengan post partal blues adalah rasa tidak nyaman, kelelahan, kehabisan tenaga. Dengan menangis sering dapat menurunkan tekanan. Bila orang tua kurang mengerti hal ini maka akan timbul rasa bersalah yang dapat mengakibatkan depresi. Untuk itu perlu diadakan penyuluhan sebelumnya, untuk mengetahui bahwa itu adalah normal. c. Phase Letting go Dialami setelah ibu dan bayi tiba di rumah. Ibu merasa seacara penuh mulai menerima tanggung jawab sebagai “ seorang ibu “ dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat tergantung pada dirinya.

4). Respon Antara Ibu dan Bayinya Sejak Kontak Awal Hingga Tahap Perkembangannya. Elemen-elemen Bounding Atauchmen a. Touch ( sentuhan ). Ibu memulai dengan ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ekstremitas bayinya. Dalam waktu singkat secara terbuka perubahan diberikan untuk membelai tubuh. Dan mungkin bayi akan dipeluk dilengan ibu. Gerakan dilanjutkan sebagai gerakan lembut untuk menenangkan bayi. Bayi akan merapat pada payudara ibu. Menggenggam satu jari atau seuntai rambut dan terjadilah ikatan antara keduanya.

b. Eye To Eye Contact ( Kontak Mata ) Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai factor yang penting sebagai hubungan manusia pada umumnya. Bayi baru lahir dapat memusatkan perhatian pada

suatu obyek, satu jam setelah kelahiran pada jarak sekitar 20-25 cm, dan dapat memusatkan pandangan sebaik orang dewasa pada usia kira-kira 4 bulan, perlu perhatian terhadap factor-faktor yang menghambat proses tersebut Mis ; Pemberian salep mata dapat ditunda beberapa waktu sehingga tidak mengganggu adanya kontak mata ibu dan bayi

c. Odor ( Bau Badan ). Indra penciuman bayi sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peranan dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Penelitian menunjukan bahwa kegiatan seorang bayi, detak jantung dan pola bernapasnya berubah setiap kali hadir bau yang baru, tetapi bersamaan makin dikenalnya bau itu sibayipun berhenti bereaksi. Pada akhir minggu I seorang bayi dapat mengenali ibunya dari bau badan dan air susu ibunya. Indra Penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya ASI pada waktu tertentu.

d. Body Warm ( Kehangatan Tubuh ) Jika tidak ada komplikasi yang serius seorang ibu akan dapat langsung meletakan bayinya diatas perut ibu, baik setalah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberikan banyak manfaat baik bagi ibu maupun sibayi kontak kulit agar bayi tetap hangat.

e. Voice ( Suara ) Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan tersebut ibu merasa tenang karena merasa bayinya baik ( hidup ). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan bila ia dapat mendengar suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari terhalang cairan

amniotic dari rahim yang melekat pada telinga. Banyak Penelitian memperhatikan bahwa bayi-bayi baru lahir bukan hanya mendengar secara pasif melainkan mendengarkan dengan sengaja dan mereka nampaknya lebih dapat menyesuaikan diri dengan suara-suara tertentu daripada yang lain. Contoh ; suara detak jantung ibu.

f. Entrainment ( gaya bahasa ) BBL menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi diatur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi ( komunikasi yang positip )

g. Biorhytmicity ( Irama Kehidupan ) Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih yang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda bahaya untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi social serta kesempatan untuk belajar.

TUGAS MATERNITAS

MASA NIFAS

INDAH NURSANTI DEWI NIM :1103012

PROGRAM B S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA 2012

DAFTAR PUSTAKA

Saleha, Sitti.2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas.Jakarta : Salemba Medika Rohani. 2010. Asuhan Kebidanan pada Masa Persalinan. Jakarta: Salemba Medika http//: www.infokesehatan.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->