P. 1
Field Lab Imunisasi

Field Lab Imunisasi

|Views: 60|Likes:
Published by Anggarani Nia

More info:

Published by: Anggarani Nia on Sep 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Imunisasi atau vaksinasi adalah prosedur untuk meningkatakan derajat imunitas tubuh, memberikan imunitas protektif dengan menginduksi respon memori terhadap pathogen tertentu atau toksin dengan preparat antigen non virulen atau non toksik (Baratawidjaja, 2006). Melalui imunisasi, Indonesia menargetkan tercapainya eradikasi, eliminasi dan reduksi terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Cakupan imunisasi dipertahankan tinggi serta merata untuk meminimalisasi terjadinya KLB PD3I. Untuk itu pmerintah mewajibkan lima jenis imunisasi pada anak dibawah 1 tahun, yakni BCG, Polio, DPT, Campak, dan Hepatitis B. Melalui kegiatan field lab, mahasiswa dapat melihat secara langsung proses pelaksanaan imunisasi. Dengan demikian, mahasiswa mampu mengintegrasikan pemahaman yang diperoleh dengan ketrampilan praktik yang didapat sehingga diharakan mahasiswa terbekali dengan keterampilan yang dibutuhkan di masa mendatang.

B. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu melakukan imunisasi. Adapun learning outcome pembelajaran ini adalah mahasiswa:
1.

Mampu menjelaskan dasar dasar imunisasi dan imunisasi dasar di

Indonesia.
2.

Mampu melakukan manjemen program dan prosedur imunisasi dasar

bayi dan balita, anak sekolah ibu hamil dan calon pengantin wanita di puskesmas mulai perencanaan, cold chain vaksin, pelaksanaan (termasuk penanganan kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI), pelaporan dan evaluasi.

1

BAB II KEGIATAN YANG DILAKUKAN A. Pelaksanaan Kegiatan Field Lab Hari ke-1 Hari/tanggal : Selasa, 10 April 2012 Waktu Tempat Kegiatan : 07.30 – 11.30 : Puskesmas Plupuh 1 Sragen dan Desa Karang Waru :

• Melakukan persiapan pelaksanaan imunisasi di Desa Karang Waru. Persiapan yang dilakukan adalah mempersiapkan vaksin yang akan dipakai, yaitu BCG, Polia, Hepatitis B, dan TT.

Melakukan pengamatan pelaksaanaan imunisasi di Posyandu Desa Karang Waru.

Data yang didapatkan di lapangan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 NAMA Dahayu Makayla Tika Lestari Kaffa Ima Salsabila Putri Nafiah Naswa Aditya Yunita Wulandari Farla Arya Dwi Pangestu Ananda Jessica S. Pricilia Ahmad Syafi'i Nur Ilham Lintang Iqbal Tri Wahyuni UMUR 5 bulan 5 bulan 4 bulan 3 bulan 3 bulan 2 bulan 4 bulan 22 tahun 8 bulan 3 bulan 2 bulan 9 bulan 15 hari 4 bulan 1 bulan 10 hari 23 tahun VAKSIN DPT 3 Combo, Polio 4 DPT 3 Combo, Polio 4 DPT 2, Polio 3 DPT 2, Polio 3 DPT 2, Polio 3 DPT 1, Polio 2 DPT 3, Polio 3 TT DPT 2, Polio 3 DPT 1, Polio 2 (polio 2 tetes) DPT 1, Polio 2 (polio 2 tetes) DPT 3, Polio 4 BCG, Polio 1 (tetes) Tidak jadi vaksin karena panas (kontraindikasi) BCG, Polio 1 (tetes) TT 2

2

seperti jumlah sasaran bayi dan ibu hamil. pertusis. Gejala spesifik tuberkulosis pada anak biasanya tergantung pada bagian tubuh mana yang terserang. : Diskusi mengenai pelaksanaan imunisasi dan vaksin yang diberikan. Penyakit TBC berat pada anak adalah Tuberculosis Miller (penyakit paru berat) yang menyebar ke seluruh tubuh dan Meningitis Tuberculosis yang menyerang otak. Mycobacterium tuberculosa menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan penyebab terjadinya infeksi. Tuberkulosis Berat Penyakit TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejenis bakteri yang berbentuk batang disebut Mycobakterium Tuberculosis dan dikenal juga dengan Basil Tahan Asam. 1.00 – 10. yang keduanya bisa menyebabkan kematian pada anak. polio. pembesaran kelenjar getah bening.00 : Puskesmas Plupuh I Sragen. berat badan turun atau tetap. 3 • Melengkapi data setelah pelaksanaan pada pertemuan pertama di Desa Karang . tetanus. dan hepatosplenomegali. 2005). Basil tuberkulosis termasuk dalam genus Mycobacterium. Gejala dan tanda tersering pada bayi adalah demam. 1 Mei 2012 Waktu Tempat Kegiatan • : 08. target cakupan. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Jenis-jenis penyakit menular yang saat ini masuk ke dalam program imunisasi adalah tuberkulosis. anoreksia. dan index pemakaian vaksin. Tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Tuberculosis milier dapat mengenai bayi. dan hepatitis B (Depkes RI. Waru.Field Lab Hari ke-2 Hari/tanggal : Selasa. terbanyak pada usia 1-6 bulan. suatu anggota dari family Mycobacterium dan termasuk dalam ordo Actinomycetalis. 2005). Masih terdapat Mycobacterium paratuberkulosis dan Mycobacterium yang dianggap sebagai Mycobacterium non tuberculosis atau tidak dapat terklasifikasikan (Depkes RI. difteri. campak.

pucat. hidung dan tonsil (Depkes RI. 3. 2. vaksin diberikan secara bersama dengan vaksin pertusis dan tetanus toxoid. Pemeriksaan laboratorium menyangkut pengamatan sutum dan cairan lambung dan pemeriksaan radiologi untuk melihat kondisi paru-paru Salah satu pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan imunisasi BCG (Bacille Calmette Geurin). susu. Vaksin ini terbuat dari kuman TBC yang hidup. nyeri kepala. anoreksia (gejala tidak mampu makan) dan gejala khas pilek. meningitis. yang berlokasi utamanya di nasofaring atau daerah tenggorokan. diphteriae. serta lendir yang mengering. Pemeriksaan klinik antara lain menyangkut perkembangan berat badan. Uji tuberkulin (Mantoux Test) menjadi alat diagnostik utama pada kasus TB anak. Untuk pencegahan penyakit ini. namun telah dilemahkan. Penyakit ini ditandai dengan adanya pertumbuhan membran (pseudomembran) berwarna putih keabu-abuan. Manusia adalah natural host dari bakteri C. uji tuberkulin (Mantoux Test) serta pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi. pertusis. dan spondilitis. kemudian tampak lesu. Pertusis 4 . Secara umum gejala penyakit difteri ditandai dengan adanya demam yang tidak terlalu tinggi. 2005). Penyebab penyakit ini adalah bakteri Corynebacterium diphteriae. Penularannya melalui droplet (ludah) yang melayang-layang di udara dalam sebuah ruangan dengan penderita atau melalui kontak memegang benda yang terkontaminasi oleh kuman diphteria dan melalui kontak dari orang ke orang. yang dikenal sebagai vaksin trivalen yaitu DPT (difteri. Kuman ini tahan beberapa minggu dalam air. 2005). dan tetanus) (Depkes RI. BCG dapat mengurangi risiko terjadinya komplikasi TB seperti milier. Difteri Adalah penyakit akut saluran napas bagian atas yang sangat mudah menular. suhu dingin (es). kaku kuduk. napas yang sesak dan berbunyi (Stridor). selain itu dapat juga di trachea. muntah-muntah dan keasadaran menurun (Simangunsong. gejala klinis. Menurut Kartasasmita (2006) diagnosa TB pada anak ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit. 2011).misalnya Tuberkulosis otak dan saraf yaitu meningitis dengan gejala iritabel.

Penyebab pertusis adalah sejenis kuman yang disebut Bordetella pertussis. 2005). menyerang bronkus yakni saluran napas bagian atas. Gejala umum penyakit tetannus pada awalnya dapat dikatakan tidak khas bahkan gejala ini terselimuti oleh rasa sakit yang berhubungan dengan luka yang diderita. Tipe pertama penderita hanya mengalami kontraksi otot-otot lokal. tipe ini jarang terjadi. Tipe generalized. 2005). Penyakit ini dapat menyerang semua umur. muka merah karena menahan batuk. pertusis. dinding otot perut kaku dan terjadi rhisus sardonikus. yaitu suatu keadaan berupa kekejangan atau spasme otot wajah dengan alis tertarik ke atas. anoreksia (tidak mau makan). Pencegahan penyakit ini dengan melakukan imuniasi DPT (diteri. Binatang seperti kuda dan kerbau bertindak sebagai harbour (persinggahan sementara). Gejala lain adalah anak menjadi gelisah. Gejala awal berupa batuk-batuk ringan pada siang hari. Tetanus Penyakit tetanus adalah penyakit menular yang tidak menular dari manusia ke manusia secara langsung. wajah dan otot seluruh badan. bibir tertekan kuat pada gigi (Depkes RI. Penderita akan mengalami kesulitan membuka mulut. serak. Makin hari makin berat disertai batuk paroksismal selama dua hingga enam minggu. sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah. c. Penyebabnya sejenis kuman yang dinamakan Clostridium tetani. Gejalanya timbul kekejangan pada otot-otot yang langsung mendapat sambungan saraf pusat. Tipe cephalic (tipe susunan saraf pusat). yaitu batuk terus tak berhenti-henti yang diakhiri dengan tarikan napas panjang berbunyi suara melengking khas. yaitu: a. Dalam waktu 48 jam penyakit ini dapat menjadi buruk. tengkuk terasa kaku. Batuk tersebut dikenal sebagai whooing cough. jadi tidak mengalami rhisus sardonikus. namun terbanyak berumur 1-5 tahun. dan gejala lain yang mirip influenza. 5 . Cara penularan melalui airborne (jalan udara). b. pilek.Penyakit yang dikenal sebagai penyakit batuk rejan. Ada tiga tipe gejala tetanus. 4. dan tetanus) (Depkes RI. yakni spasme otot khususnya otot dagu.

Hal ini tergantung pada ciri. walaupun rentang waktu bisa satu hari sampai beberapa bulan. Rata-rata masa inkubasi adalah 10 hari. akibatnya makin berat penyakitnya dan makin jelek prognosisnya. dalam jangka waktu panjang dibandingkan dari secret tenggorokan. dengan rentang waktu antara 3-35 hari. Di daerah denan sanitasi lingkungan yang baik penularan lebih sering terjadi melalui sekret faring daripada melalui rute orofecal. 6. 2005). Tipe 1 paling sering menyebabkan kejadian luar biasa. Disamping itu. 2 dan 3. Tipe 1 dapat diisolasi dari hampir semua kelumpuhan. virus yang ada pada OPV dapat mengimunisasi orang-orang disekitarnya dengan cara penyebaran sekunder. Hal ini dapat memutuskan rantai penularan polio (Depkes RI. Reservoir satusatunya adalah manusia. letak dan kedalaman luka. semua tipe dapat menyebabkan kelumpuhan. 2005). diperkirakan seumur hidup. Kebanyakan kasus terjadi dalam waktu 14 hari. dan sumber penularan biasanya penderita tanpa gejala (inapparent infection) terutama anak-anak (Depkes RI.Masa inkubasi biasanya 3-21 hari. Pada umumnya. Cara pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian tetanus toxoid bersama-sama diphteria toxoid dan vaksin pertusis dalam kombinasi vaksin DPT (Depkes RI. 95% penerima vaksin akan terlindungi dari ancaman poliomielitis. Tipe 3 lebih jarang. Cara pencegahan dengan memberikan imunisasi polio (OPV/Oral Polio Vaccine) yang sangat efektif memproduksi antibodi terhada virus polio. makin pendek masa inkubasi biasanya karena luka terkontaminasi berat. Polio Polio atau penyakit infeksi yang menyebabkan kelumpuhan kaki. Satu dosis OPV menimbulkan kekebalan terhadap ketiga tipe virus polio pada sekitar 50% penerima vaksin. demikian pula tipe 2 paling jarang. Dengan 3 dosis OPV. virus lebih mudah dideteksi dari tinja. 5. Masa inkubasi umumnya 7-14 hari untuk kasus paralitik. Dosis ke empat akan meningkatkan serokonversi sehingga 3 dosis OV. Penularan terutama terjadi dari orang ke orang melalui orofecal. 2005). Campak 6 . Sebagian besar kasus vaccine associated disebabkan oleh tipe 2 dan 3. Penyakit polio disebabkan oleh poliovirus (genus enterovirus) tipe 1.

yaitu (Depkes RI. c. Stadium erupsi. Ketika erupsi berkurang maka demam makin lama makin berkurang. Masa ikubasi berkisar antara 10 hingga 12 hari. Stadium kataral. 2005): a. Menjelang akhir stadium kataral timbul bercak berwarna putih kelabu khas sebesar ujung jarum dan dikelilingi eritema. dan pernah dijumpai baru terdeteksi 6-9 bulan kemudian (Depkes RI. dengan gejala batuk yang bertambah serta timbul eritema di mana-mana. umumnya kronik-subklinik dan sembuh sendiri (self limited). yang disebabkan oleh virus. Hepatitis B Penyakit hepatitis adalah penyakit peradangan atau infeksi liver pada manusia. malaise atau demam. Gejala awal berua demam. lokasi disekitar mukosa mulut. gejala conjunctivis dan coryza atau kemerahan pada mata seperti sakit mata. kadang 2-4 hari. Campak dapat menimbulkan komplikasi radang telinga tengah. 7 . konjunctivis dan coryza. diare. hemiplegia (kelumpuhan otot kaki) (Depkes RI. terutama percikan ludah seseorang penderita. pneumonia (radang paru). rata-rata 60-90 hari. Masa inkubasi biasanya berlangsung 45-180 hari. batuk.Penyakit ini meruakan penyakit menular yang bersifat akut dan menular lewat udara melalui sistem pernapasan. encephalitis (radang otak). berlangsung selama 4-5 hari disertai panas malaise. Penularan penyakit ini dapat melalui ibu ke bayi dalam kandungan (vertical transmission). 2005). Stadium konvalesen Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi campak yang menggunakan vaksin yang mengandung virus campak yang dilemahkan. jarum suntik yang tidak steril dan hubungan seksual. fotofobia (takut terhadap suasana terang atau cahaya). serta gejala radang trachea bronchitis yakni daerah tenggorokan saluran napas bagian atas. Penyebab penyakit campak adalah virus yang masuk ke dalam genus Morbilivirus dan keluarga Paramyxoviridae. Sedangkan hepatitis B adalah penyakit liver (hati) kronik hingga akut. b. Paling sedikit diperlukan waktu selama 2 minggu untuk bisa mendeteksi HBsAg dalam darah. 7. Penyakit campak secara klinik dikenal memiliki tiga stadium. 2005).

Field Lab Hari ke-3 Hari/tanggal : Selasa.1 1. : Pengumpulan laporan dan evaluasi program BAB III PEMBAHASAN 3.1 PROSEDUR IMUNISASI Teknik Pelarutan Vaksin 1.2 Cuci tangan sebelum melakukan kegiatan Amati vvm dan masa kadaluarsa vaksin 8 . 15 Mei 2012 Waktu Tempat Kegiatan : 08.00 – Selesai : Puskesmas Plupuh I Sragen.

Pastikan salah satu lengan ibu berada dibelakang punggung anak. kemudian hisaplah vaksin 1. sehingga vaksin tidak berkurang waktu mematahkan leher ampul • Jarum oplos telah berisi pelarut dimasukkan ke dalam ampul • Masukkan secara bertahap semua pelarut ke dalam vaksin • Jangan mengocok sewaktu mencampur vaksin pelarutnya • Isap vaksin dan pelarut pelan-pelan. suntikkan kembali ke dalam ampul atau vial beberapa kali sampai vaksin tercampur • Dengan demikian vaksin danpelarut telah tercampur benara dan tidak perlu dikocok 1.6 Penanganan vaksin yang telah dilarutkan • Letakkan vaksin ditempat yang teduh • Vaksin yang telah dilarutkan digunakan satu kali kegiatan • Sisa vaksin yang tidak terpakai dibuang Mempersiapkan sasaran Mengatur posisi untuk sasaran anak : • Mintalah ibu untuk duduk dan meletakkan anak di pangkuan. Cara menghisap isi vial • Siapkan semprit dan jarum yang steril • Isaplah udara ke dalam semprit sebanyak volume larutan yang akan diisap • Bersihkan karet dengan kapas basah • Tekanlah jarum ke dalam vial. sebelum ampuldibuka ketuk-ketulah agar senua serbukvaksin turun. dan salah satu lengan anak melilit pinggang ibu. untuk memudahkan vaksin keluar karena udara menekan vaksin. 9 1.4 Melarutkan vaksin beku kering • Ambil semprit 5ml dan jarum oplos yang steril (semprit dan jarum ini hanya untuk melarutkan. bukan untuk suntikan) • Buka ampul pelarut • Sedotlah pelarut ke dalam semprit • Untuk vaksin BCG.Cara memotong ampul • Peganglah ampulantara ibu jari dan jari tengah • Pergunakan telunjuk untuk menyangga ujung leher ampul • Bersihkan bagian luar ampul dengan kapas yang telah dibasahi air. Cara menghisap isi ampul • Sediakan semprit dan jarum • Masukkan jarum ke dalam ampul yang telah dibuka • Hati-hati dalam memiringkan ampul waktu mengambil cairan terakhir denganmenggunakan jarum yang pendek b. hal ini untuk mencegah masuknya uadra secara mendadak ke dalam ampul waktu dipatahkan.3 .5 a. agar vaksin tidakberhamburan keluar 1. Hal ini adalah untuk menghilangkan serbuk gelas dan mencegah serbuk jangan sampai masuk ke dalam vaksin • Lilitkan sehelai plastic melingkar pada leher ampul dengan erat.

2. Vaksin BCG 1.05 cc vaksin. pegang pangkal barrel antara jari telunjuk dan jari tengah dan doronglah piston dengan ibu jari tangan kanan anda. dilebihkan sedikit dari dosin agar pada waktu membuang gelembung udara. • Letakkan ibu jari kiri anda di atas ujung barrel. poi-pori kuit terlihat jelas. lingkarkan ibu jari dan jarijari anda ke lengan bayi dan kulit direnggangkan. jumlah vaksin menjadi 1 dosis/tepat dosis. • Selalu beritahukan ibu jika anda akan memberikan suntikan. pada suntikkan intrakutan terasa ada tahanan sehingga perlu menekan piston lebh keras daripada subkutan.2 mengisi semprit • isaplah vaksin BCG.3 mengeluarkan gelembung udara • pegang semprit seperti seperti posisi merokok. Vaksin DPT.1 menyiapkan semprit • ambil semprit BCG • pasang jarum BCG dan pastikan jarum terpasang dengan baik dan cukup kuat 1. doronglah piston sampai gelembung udara dan sedikit vaksin keluar. TT. Pemberian vaksinasi 1. • Petugas kesehatan tidak bisa memegang anak karena perlu dua tangan untuk memberikan suntikan. • Bila cara menyuntik tepat. Apabila ada udara dalam jarum kemungkinan akan menyuntikkan udara dan dosis vaksin akan kurang dari seharusnya. kemudian cabut jarumnya. Jangan menekan terlalu jauh dan jangan mengarahkan ujung jarum terlalu menukik karena jarum akan masuk ke bawah kulit. • peganglah lengan kanan anak dengan tangan kiri. lobang jarum menghadap ke atas. • Letakkan semprit dan jarum hampir sejajar dengan lengan anak. Hal ini untuk meyakinkan bahwa jarum penuh dengan vaksin. sehingga tangan penyuntik ada di bawah penyuntik ada di bawah lengan anak. Apabila ada udara dalam jarum penuh dengan vaksin. • Masukkan ujung jarum ke dalam kulit. • Pegang semprit dengan tangan kanan.• Ibu dapat menyelipkan kaki anak diantara kedua pahanya agar tidak menimbukan gerakan yang membahayakan atau ibu bisa memegang kaki anak. sehingga mengakibatkan suntikkan menjadi subcutan. usahakan sedikit mungkin melukai kulit. 1. ketuklah semprit ke jari dengan mengadap ke atas • bila udara telah terkumpul di bagian atas. • Suntikkan 0. maka akan terlihat benjolan di kulit yang bening dan pucat.4 cara pemberian vaksin • pemberian vaksinasi BCG adalah secara intrakutan • tempat yang disuntik adalah sepertiga bagian lengan kanan atas (pada lekukan atas insertio musculus deltoideus) • bersihkan lengan dengan kapas yang dibasahi air bersih (jangan menggunakan alkohol atau desinfektan karena akan merusak vaksin BCG). sehingga hanya masuk ke kulit bagian luar. 1. lubang jarum tetap menghadap ke atas. Pertahankan jarum sejajar kulit. dan Hepatitis B 10 .

5 inchi. suntikkan vaksin pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit. 4. Vaksin Campak • Pemberian vaksin campak adalah secara subkutan dalam. usap bekas suntikkan dengan kapas yang dibasahi air. • Tusukkan jarum tegak lurus ke bawah (posisi 90 derajat) sampai masuk ke dalam otot.5 cc • Cabut jarum. tahan pangkal piston dengan jari tangan sambil menekan jarum ke dalam. bila mengenai pembuluh darah. 3. campak. • Jepitlah lengan yang akan disuntik dengan jari tangan kanan. seperti mencubit menggunakan ibu jari dan telunjuk.Pemberian vaksin adalah secara intramuskulair. diteteskan ke dalam mulut • Dosis yang diberikan sebanyak 2 tetes 3. • Tarik piston sedikit. pindah ke tempat lain. Tempat yang paling baik adalah di bagian pertengahan paha anterolateral/bagian luar. kemudian renggangkan kulit. • Tarik piston sedikit untuk meyakinkan bahwa jarum tidak mengenai pembuluh darah • Dorong pangkal piston dengan ibu jari untuk memasukkan vaksin. Penyimpanan vaksin • • • • Semua vaksin disimpan pada suhu 2-8o C Bagian bawah lemari es diletakkan cool pack sebagai penahan dingin dan kestabilan suhu Pelaksanaan dus vaksin berjarak minimal 1-2 cm Vaksin yang sensitif terhadap panas (BCG. • Tekan piston pelan-pelan dan suntikkan sebanyak 0.2 PENYIMPANAN VAKSIN DAN RANTAI DINGIN Penanganan vaksin di Puskesmas meliputi sebagai berikut. Vaksin Polio (OPV/Oral Polio Vaccine) • Pemberian OPV dilakukan dengan cara oral. • Tempat yang akan disuntik adalah sepertiga lengan bagian atas/pertengahan muskulus deltoideus. polio) diletakkan dekat evaporator • • 11 . • Usaplah sekitar kulit yang akan disuntik dengan kapas yang dibasahi air. untuk meyakinkan tidak mengenai pembuluh darah. Kontrol jarumnya. kedalaman jarum tidak lebih dari 0. jangan menusukkan jarum terlalu dalam. • Usaplah sekitar kulit yang akan disuntik dengan kapas yang dibasahi air • Letakkan ibu jari dan jari telunjuk pada sisi yang akan disuntik. • Masukkan jarum ke dalam kulit yang dijepit dengan sudut kira-kira 30-45 derajat posisi lengan. a. Kemudian cabut jarumnya.

Vaksin yang sensitif terhadap dingin (DT. • • Vaksin tidak melewati tanggal kadaluarsa Vaksin tetap disimpan pada suhu 2-8o C Kemasan vaksin tidak pernah terendam air VVM (Vaccine Vial Monitor : stiker yang ditempel pada botol vaksin) masih bagus Pada label ditulis tanggal vaksin pertama kali dibuka Vaksin polio dapat digunakan hingga 2 minggu setelah dibuka Vaksin DPT. DT. • Kondisi vaksin yang tidak boleh digunakan 12 .• b. TT. Kondisi Vaksin yang dapat digunakan Warna segi empat bagian dalam lebih terang dari warna gelap disekelilingnya. vaksin diletakkan diatas spon yang berada dalam thermos Dalam thermos tidak boleh ada air yang merendam vaksin • • • c. TT. • Kondisi vaksin yang harus segera digunakan Warna segi empat bagian dalam sudah mulai gelap namun masih terang dari warna gelap disekelilingnya. periksa kondisi vaksin dengan VVM. Penggunaan vaksin dari vial yang sudah dibuka Sisa vaksin yang telah dibuka pada pelayanan dinamis tidak boleh digunakan lagi. Hepatitis B) diletakkan jauh evaporator Penggunaan vaksin di tempat pelayanan imunisasi • Vaksin disimpan dalam thermos yang berisi cool pack Diletakkan di meja yang tidak terkena matahari secara langsung Dalam penggunaannya. Pada pelayanan statis (di Puskesmas) sisa vaksin dapat digunakan dengan ketentuan sebagai berikut. Hepatitis B dapat digunakan hingga 4 minggu Vaksin campak hanya boleh digunakan tidak lebih dari 6 jam setelah dilarutkan Vaksin BCG hanya boleh digunakan tidak lebih dari 3 jam setelah dilarutkan • • • • • • • • Sebelum menggunakan vaksin. DPT.

a.Warna segi empat bagian dalam sama gelap atau lebih gelap dari warna gelap disekelilingnya. 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 NAMA DESA DARI KARANG ANYAR GENTAN BANARAN KARUNGAN KARANG WARU NGROMBO SAMBIREJO SOMOMORODUKUH JUMLAH BULAN INI PEMANTAUAN VAKSIN SISA VAKSIN BULAN LALU DITERIMA BULAN INI DIPAKAI BULAN INI HASIL VAKSINASI IP VAKSIN JML BAYI 1 TAHUN 58 58 59 58 62 60 100 68 523 DPT-HB 12 40 33 114 3. Menghitung Jumlah Sasaran • Menghitung jumlah bayi 13 . HASIL CAKUPAN IMUNISASI PER DESA BULAN DESEMBER TAHUN 2010 PUSKESMAS PLUPUH I SRAGEN NO. 1 2 3 4 5 Keterangan : Dikarenakan kami tidak mengetahui jumlah vial/ampul vaksin yang digunakan pada tahun 2012 maka kami menggunakan data pada Desember 2010 agar dapat memudahkan dalam menganalisis data.3 PENGHITUNGAN SASARAN IMUNISASI Perencanaan merupakan bagian yang sangat penting agar kegiatan pelayanan imunisasi di Puskesmas berjalan dengan baik.4 1 ABS 1 3 3 2 2 2 5 3 21 DPT-HB 2 ABS 4 11 3 7 2 5 16 10 58 3 ABS 0 4 5 5 6 3 8 4 35 NO.

5% per bulan 6) Polio-4 = 90% per tahun atau 7.1 x 523 bayi = 575.9% per bulan 3) Polio-1 = 95% per tahun atau 7. Polio 2 (polio 2 tetes) DPT 3.9% per bulan 5) DPT-3 = 90% per tahun atau 7.5% per bulan 7) Campak = 90% per tahun atau 7.5% per bulan c.9% per bulan 4) DPT-1 = 95% per tahun atau 7.9% per bulan 2) BCG = 95% per tahun atau 7. Polio 4 DPT 3 Combo. Polio 2 DPT 3. Polio 4 DPT 2.4 3. Polio 2 (polio 2 tetes) DPT 1.3 ibu hamil ≈ 575 ibu hamil b. Polio 3 DPT 1. Polio 1 (tetes) Tidak jadi vaksin karena panas (kontraindikasi) BCG.Dari data diatas diketahui jumlah sasaran bayi Puskesmas Plupuh I Sragen adalah 523 bayi. Pricilia Ahmad Syafi'i Nur Ilham Lintang Iqbal Tri Wahyuni UMUR 5 bulan 5 bulan 4 bulan 3 bulan 3 bulan 2 bulan 4 bulan 22 tahun 8 bulan 3 bulan 2 bulan 9 bulan 15 hari 4 bulan 1 bulan 10 hari 23 tahun VAKSIN DPT 3 Combo. • Menghitung jumlah sasaran Ibu hamil Sasaran = 1.1 x jumlah bayi = 1.4. Menghitung Indeks Pemakaian Vaksin IP Vaksin = Jumlah suntikan (cakupan) Jumlah vaksin yang terpakai = 21+58+35 33 = 3. Menentukan Target Cakupan Target cakupan imunisasi adalah sebagai berikut : 1) Hb-0 = 95% per tahun atau 7. Polio 3 DPT 2. Polio 3 DPT 2. PENCACATAN IMUNISASI Data yang diperoleh hasil dari pengamatan di lapangan adalah: NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 NAMA Dahayu Makayla Tika Lestari Kaffa Ima Salsabila Putri Nafiah Naswa Aditya Yunita Wulandari Farla Arya Dwi Pangestu Ananda Jessica S. Polio 4 BCG. Polio 3 DPT 1. Polio 1 (tetes) TT 2 14 . Polio 3 TT DPT 2.

c. bengkak didaerah Kompres hangat bekas suntikan < 1 cm.5. Kebetulan (coincidental). nyeri otot. kontaminasi vaksin dan alat suntik. Klasifikasi KIPI a. potensiasi vaksin. nyeri kepala Berikan dan menggigil selimut minum hangat dan Parasetamol Kolaps / Keadaan Anak tetap sadar tetapi tidak bereaksi Rangsang dengan wangian atau seperti syok terhadap rangsangan bauan yang merangsang. Reaksi vaksin . Penanganan KIPI a. yaitu penyebab kejadian tidak dapat ditetapkan. pusing dan mual. bengkak dan manifestasi Parasetamol sistemik Reaksi (sistemik) umum Demam. Indicator factor keberylan ditemukannya kejadian yang sama disaat yang sama pada kelompok populasi setempat tapi tidak mendapat imunisasi. d. terjadi setelah imunisasi tapi tidak disebabkan oleh vaksin.000.3. eritema. bengkak dan kemerahan pada tempat suntik. 2. Kesalahan program. lesu. KIPI (KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI) KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. missal : induksi vaksin. e. disebabkan rasa takut/gelisah atau sakit dari tindakan penyuntikan. Bila belum dapat diatasi dalam waktu Pada pemeriksaan frekuensi. semprit dan jarumtidak steril. misal : salah dosis. 1. Timbul < 48 Jika nyeri mengganggu dapat jam setelah imunisasi diberikan parasentamol 10 mg /kgBB/kali pemberian. 15 . < 6 bln : 60 mg/kali pemberian 6-12 bb 90 mg/kali pemberian 1-3 th : 120 mg/kali pemberian Reaksi lokal berat Eritema /indurasi dan edema Kompres hangat (jarang terjadi) Nyeri. bukan dari vaksin. sifat dasar vaksin b. salah lokasi dan cara penyuntikan. penyimpanan vaksin salah. takut. Penyebab karena vaksin Jenis Gejala Reaksi lokal ringan Tindakan Nyeri. Penyebab tidak diketahui. Misalnya rasa sakit. 30 menit segera rujuk ke amplitudo nadi serta tekanan darah puskesmas terdekat tetap dalam batas normal Syok anafilaktik Terjadi mendadak Suntikan adrenalin 1:1. Injection reaction.

berteriak. nyeri daerah Kompres hangat bekas suntikan. Urtikaria. fisioterapi terjadi karena daerah penyuntikan salah (bukan pertengahan muskulus deltoid) c. dapat disertai demam. Jantung berdebar kencang. karena Kompres hangat penyuntikannya kurang dalam Bengkak disekitar bekas suntikan.dosis 0.3.9% Ketakutan. Pingsan Tenangkan penderita 16 Faktor psikologis . Kompres hangat demam. anak tetap sadar dengan Rujuk ke RS terdekat Pembengkakan Sepsis Tetanus Kelumpuhan kelemahan otot / Lengan sebelah (daerah yang Rujuk ke RS terdekat untuk di disuntik ) tidak bisa digerakkan. atau 0. sesak nafas.05 Gejala klasik : kemerahan merata. ml/kali edem. karena vaksin Parasetamol disuntikkan dalam kondisi dingin Bengkak disekitar suntikan. eritema. sembab pada kelompok mata. Faktor Penerima / Pejamu Jenis Gejala Alergi Tindakan Pembengkakan bibir dan Suntikan dexametason 1 ampul tenggorokan. terjadi karena jarum suntik tidak steril.01 ml/kg BB x max dosis 0. im/iv papula. sesak. terasa gatal Jika berlanjut pasang infus NACI Tekanan darah menurun 0. sk/i. gejala timbul 1 minggu Parasetamol atau lebih setelah penyuntikan Kejang. Penyebab karena tata laksana program Gejala Jenis Tindakan Abses dingin Bengkak dan keras.1-0.9% Rujuk ke RS terdekat b. dilanjutkan dengan suntikan Tekanan darah menurun delsametason (1ampul) secara intravena/intramuskular Anak pingsan / tidak sadar Segera pasang infus NaCI 0. nafas Jika pasien membaik dan stabil berbunyi.

dirawat atau meninggal. dosis. Vaksin sisa disimpan dan diperlakukan seperti vaksin yang masih utuh • Nama dokter yang bertanggung jawab • Riwayat KIPI pada imunisasi terdahulu • Gejala klinis yang timbul dan atau diagnosis. berapa lama interval waktu antara pemberian imunisasi dengan terjadinya KIPI. Pelaporan KIPI Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan : • Identitas : nama anak. pengobatan yang diberikan dan dan perjalanan penyakit. 17 . EVALUASI PROGRAM IMUNISASI Evaluasi dari pelaksanaan program imunisasi di Puskesmas Plupuh I Sragen berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa pelaksanaan imunisasi telah berjalan dengan baik. (sembuh. jenis kelamin nama orang tua dan alamat harus jelas • Jenis vaksin yang diberikan. Koinsiden (faktor kebetulan) Jenis Gejala Faktor kebetulan Tindakan Gejala penyakit terjadi secara Tangani penderita sesuai gejala. tanggal dan tahun lahir. kebetulan bersamaan dengan waktu cari informasi disekitar apakah ada imunisasi kasus serupa pada anak yang tidak diimunisasi. kirim ke RS Gejala dapat berupa salah satu gejala KIPI tersebut di atas atau bentuk lain 3.Beri minuman hangat. saat pingsan Beri wewanginan / Alkohol. Sebagai contohnya imunisasi DPT-Hb. sertakan hasil laboratorium yang pernah dilakukan tulis juga apabila terdapat penyakit yang menyertai • Waktu pemberian imunisasi (tanggal. siapa yang memberikan. jam) • Saat timbulnya gejala KIPI sehingga diketahui. setelah dirawat dan sembuh • Bagaimana cara menyelesaikan masalah KIPI • Adakah tuntutan dari keluarga Dalam 2 tahun terakhir ini tidak terjadi KIPI di Puskesmas Plupuh I Sragen. lama gejala KIPI • Apakah terdapat gejala sisa. 3. Setelah sadar beri minuman teh manis hangat d.6.

18 Mahasiswa dapat mengetahui pelaksanaan imunisasi secara langsung di lapangan yang dapat memperkaya pengetahuan serta pengalaman yang kelak akan . Perencanaan dan pelaksaan imunisasi DPT-Hb juga terencana dengan baik.Material imunisasi DPT-Hb yaitu vaksin dan alat suntik jumlahnya cukup dan dikelola secara baik. berguna. BAB IV PENUTUP A. pengelolaan vaksin. Sehingga. secara keseluruhan pelaksanaan program imunisasi di Puskesmas Pulupuh I Sragen baik. Walaupun Indeks Pemakaian Vaksin masih tergolong kurang. Pelaksanaan fieldlab terkain perencanaan. namun ini terjadi karena manaati tata cara pemakaian vaksin. 2. antara lain: 1. maupun pelaksaan imunisasi di puskesmas Plupuh I terlah berjalan baik dan sesuai pada target yang diharapakan. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil.

19 2011.usu. 2005. 14. Simangunsong. 2006. 2. Diakses: http://repository.B. Imunologi Dasar.I. Depkes R. Perilaku Suami dalam Mendukung Pemberian Imunisasi pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kolang Kecamatan Kolang Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2012. K. Rengganis.ac. Modul 1 Pelatihan Safe Injection..00 WIB. DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia: Jakarta. penilaiannya dapat terus dilaksanakan terkait dengan fungsi menarik antusiasme masyarakat sekaligus memberikan tambahan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran imunisasi. Pada tanggal 7 Mei . I. Sebaiknya tetap ada peyuluhan dan sosialisasi mengenai pentingnya Pelaksanaan program balita sehat terkait imunisasi daam proses imunisasi untuk mejaga dan senantiasa meningkatkan kesadaran masyarakat. S.id/bitstream/123456789/29909/7/ChapterII. Saran Beberapa saran dalam kegiatan terkait: 1. 2011. Pengenalan Penyakit dan Vaksin Program Imunisasi.G.

2012. Manual Field Lab Program Imunisasi. Surakarta: Field Lab FK UNS 20 .Tim Field Lab FK UNS dan UPTD Puskesmas Plupuh I Sragen.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->