P. 1
makalah uud 1945

makalah uud 1945

|Views: 2,525|Likes:
Published by Deli Indra Wahyudi

More info:

Published by: Deli Indra Wahyudi on Sep 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN I.

LATAR BELAKANG Clifford Geertz didalam tulisannya tentang sentiment primordial1 dinegara-negara baru mengatakan bahwa negara-negara kebangsaan (nation state) yang baru biasanya dihadapkan pada dilemma antara integrasi dan demokrasi. Dikatakan dilemma karena negara kebangsaan membutuhkan keduanya (demokrasi dan integrasi) sekaligus, padahal watak keduanya bertentangan. Demokrasi berwatak membuka keran kebebasan agar semua aspirasi tersalur, sedangkan integrasi berwatak ingin membelenggu agar persatuan dan kesatuan kokoh. Demokrasi mutlak dibutuhkan karena negara kebangsaan dibangun dari berbagai ikatan primordial yang semua aspirasinya harus diagregasi secara demokratis, sedangkan integrasi mutlak juga dibutuhkan karena tanpa integrasi negara bias hancur. Tegasnya dilemma itu muncul karena jika demokrasi dibuka maka integrasi bias terancam karena ketegangan antarikatan primordial, tetapi jika integrasi harus ditegakkan maka demokrasi relatif harus dikorbankan karena harus ada sentralisasi dan penguatan negara. Ketika diproklamasikan pada Tahun 1945 dengan berpijak pada semangat kebangkitan nasional (1908) dan Sumpah Pemuda (1928), Indonesia menegaskan pilihannya sebagai negara kebangsaan (nation state) yang demokratis dan ingin terus bersatu. Sebagai negara kebangsaan, negara
1

Moh. Mahfud Md, Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi isu, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, hlm. 34

1

Indonesia terdiri dari berbagai ikatan primordial (agama, suku, ras, daerah, bahasa, budaya dan adat) yang ingin bersatu (integrasi) secara kokoh, tetapi sekaligus ingin dibangun secara demokratis agar semua aspirasi berbagai ikatan primordial itu mendapatkan saluran. Sebagai bangsa yang ingin tetap bersatu maka Inonesia telah menetapkan dasar dan ideology negara yakni Pancasila yang dipilih sebagai dasar pemersatu dan pengikat yang kemudian melahirkan kaidah-kaidah penuntun dalam kehidupan social, politik dan hokum. Selanjutnya prinsipprinsip dan mekanisme ketatanegaraan untuk menjamin demokrasi diatur dalam UUD 1945 yang juga memasang rambu-rambu agar bangsa ini tetap utuh. Dengan demikian, tuntutan akan integrasi dan demokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Geertz telah diatur sedemikian rupa didalam platform politik yang tertuang didalam Pancasila dan UUD 1945. II. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Bagaimana Hubungan Pancasila dan UUD 1945 Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia ?”

2

BAB II PEMBAHASAN I. TINJAUAN PUSTAKA Seperti diuraikan dalam penjelasan autentik naskah Undang-Undang Dasar Tahun 1945, kandungan pemikiran yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu mencakup empat pokok pikiran, yaitu :2 Pertama, bahwa negara Indonesia adalah negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta mencakupi segala paham golongan dan paham perseorangan; Kedua, bahwa negara Indonesia yang hendak mewujudkan keadilan social bagi seluruh warganya; Ketiga, bahwa negara Indonesia menganut paham kedaulatan rakyat. Negara dibentuk dan diselenggarakan berdasarkan kedaulatan rakyat yang juga disebut system demokrasi; Dan Keempat, bahwa negara Indonesia adalah negara yang berkeTuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Selain keempat pokok pikiran itu, keempat alenia Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 masing-masing mengandung pula cita-cita luhur dan filosofis yang harus menjiwai keseluruhan system berpikir materu UndangUndang Dasar 1945. Alenia Pertama, menegaskan keyakinan bangsa Inodnesia bahwa kemerdekaan adalah hak asasi segala bangsa dank arena itu segala bentuk penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan
2

Jimly Asshidiqie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm. 52

3

perikemanusiaan dan keadilan. Alenia kedua, menggambarkan proses perjuangan bangsa Indonesia yang panjang dan penuh penderitaan yang akhirnya berhasil mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Alenia ketiga, menegaskan pengakuan bangsa Indonesia akan ke-Maha Kuasaan Tuhan Yang Maha Esa, yang memberikan dorongan spiritual kepada segenap bangsa untuk

memperjuangkan perwujudan cita-cita luhurnya, yang atas dasar keyakinan spiritual serta dorongan luhur itulah rakyat Indonesia menyatakan

kemerdekaannya. Alenia keempat, menggambarkan visi bangsa Indonesia mengenai bangunan kenegaraan yang hendaka dibentuk dan diselenggarakan dalam rangka melembagakan keseluruhan cita-cita bangsa untuk merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Alenia keempat ini menentukan dengan jelas mengenai Tujuan negara dan dasar negara Indonesia sebagai negara yang menganut prinsip demokrasi konstitusional. Negara Indonesia itu dimaksudkan untuk tujuan (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) memajukan kesejahteraan umum; (3) mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (4) mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social. Dalam mencapai keemapat tujuan bernegara itu, negara Indonesia diselenggarakan berdasarkan : (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab, (3) Persatuan Indonesia. (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

4

kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan (5) keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, yang secara bersama-sama disebut sebagai Pancasila. II. PEMBAHASAN Dari sudut hukum kedudukan Pancasila sebagaimana diuraikan diatas akan melahirkan suatu system hukum yang khas sebagai system hukum Inodnesia yang umumnya disebut sebagai system hukum Pancasila. System hukum Pancasila memasang rambu-rambu dan melahirkan kaidah penuntun dalam politik hokum nasional. Rambu yang paling umum adalah larangan bagi munculnya hokum yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Rambu-rambu tersebut kemudian diperkuat dengan adanya empat kaidah penuntun hokum yang harus dipedomani sebagai kaidah dalam politik atau pembangunan hokum yaitu : Pertama, hokum nasional harus dapat menjaga integrasi (keutuhan) baik ideologis maupun wilayah territorial sesuai dengan tujuan “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Harus dicegah munculnya produk hokum yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa dan negara Indonesia, termasuk hokum-hukum yang diskriminatif berdasar ikatan-ikatan primordial. Kedua, hokum nasional harus dibangun secara demokratis dan nomokratis dalam arti harus mengundang partisipasi dan menyerap aspirasi masyarakat luas mengenai prosedur-prosedur dan mekanisme yang fair, transparan, dan akuntabel.

5

Ketiga, hokum nasional harus ditujukan untuk menciptakan keadilan social dalam arti harus mampu memberikan proteksi khusus terhadap golongan yang lemah dalam berhadapan dengan golongan yang kuat baik dari luar maupun dari dalam negeri sendiri. Keempat, hokum harus menjamin kebebasan beragama dengan penuh toleransi antar pemeluk-pemeluknya. Selanjutnya UUD sebagai dasar aturan main politik mengatur mekanisme ketatanegaraan yang demokratis serta menjamin integrasi bangsa dan negara. Demokrasi disalurkan dengan adanya pemilu atau pilkada secara jujur dan adil, adanya checks and balances antar poros-poros kekuasaan, dan adanya kekuasaan kehakiman yang harus mengawal secara hokum bagi setiap perbuatan pemerintah dan rakyat yang mengancam integrasi atau mengancam tatanan dan aturan main. Isi UUD 1945 secara keseluruhan dimaksudkan untuk mengatur ramburambu pokok untuk mengelaborasi empat kaidah penuntun hokum Pancasila yang kemudian dilembagakan dari pusat sampai kedaerah-daerah dan harus dijadikan pedoman dalam pembuatan peraturan perundang-undangan lainnya. Penuntun pertama (semua peraturan perundangn-undangan harus menjamin integrasi atau keutuhan ideology dan teritori negara dan bangsa Indonesia) sesuai dengan tujuan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dapat dilihat dari ketentuan tentang pilihan bentuk negara “kesatuan” (Pasal 1 ayat (1) UUD 1945), yang tidak dapat diubah dengan prosedur konstitusional (Pasal 37 ayat (5) UUD 1945). Pasal 30 UUD 1945

6

mengatur system pertahanan dan keamanan untuk menjamin keutuhan teritori dan ideology. Penuntun kedua (negara harus diselenggarakan dalam keseimbangan antara prinsip demokrasi dan nomokrasi) dapat dilihat didalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menegaskan prinsip demokrasi (kedaulatan berada ditangan rakyat) dan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan prindip nomokrasi (Indonesia adalah negara hokum). Kemudian ditentukan juga adanya lembaga perwakilan rakyat (MPR, DPR, DPD) dan cara pemilihan presiden serta pemilihan kepala daerah yang harus demokratis. Untuk mengontrol agar semua kebijakan negara dan kegiatan seluruh bangsa berjalan sesuai dengan hokum (nomokrasi) Pasal 24 UUD 1945 mengatur tentang kekuasaan kehakiman dan Pasal 28 UUD 1945 mengatur tentang HAM. Penuntun ketiga (negara harus menjamin keadilan social) diatur dalam pasal-pasal tentang kesejahteraan social yang mencakup penguasaan sumber daya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, pemeliharaan fakir miskin oleh Negara, system perekonomian dan sebagainya. Penuntun keempat (Negara harus menjamin tegaknya toleransi beragama yang berkeadaban) diatur dalam Pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kemerdekaan untuk memeluk dan melaksanakan agama apapun yang diyakini oleh setiap warga Negara. Tentang ini diatur juga didalam Pasal 28 UUD 1945 tentang HAM. Negara tidak perlu mewajibkan berlakunya hokum agama, tetapi wajib melindungi dan memfasilitasi setiap warga Negara yang ingin melaksanakan agamanya masing-masing.

7

Jika dilihat dari urutan-urutan sila Pancasila maka penuangan isi Pancasila di dalam UUD 1945 juga tampak jelas. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa diatur dalam Pasal 29 dan Pasal 28; sila Kemanusiaan yang adil dan beradab diatur dalam Pasal 28; sila Persatuan Indonesia diatur dalam Pasal 1 ayat (1), Pasal 30, dan Pasal 37 ayat (5); sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan diatur dalam Pasal 2, Pasal 5, Pasal 20, Pasal 18 dan Pasal 22; sila keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia diatur dalam Pasal 28, Pasal 33 dan Pasal 34. Pasal-pasal lain didalam UUD 1945 semuanya dibuat untuk mendukung pelaksanaan semua sila Pancasila.

BAB III PENUTUP I. KESIMPULAN

8

Pancasila yang merupakan dasar utama kesepakatan berdirinya bangsa dan merupakan bagian dari Pembukaan UUD 1945 tidak dapat diubah karena selain merupakan modus vivendi ia juga dapat dianggap sebagai “akte kelahiran” negara yang menjamin kelangsunga bangsa dan negara Indonesia dengan keutuhannya atau integrasinya yang selalu kokoh. Maka tugas utama pemerintah adalah meraih tujuan negara yang salah satu diantaranya adalah “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia berarti menjaga keutuhan bangsa dan negara, menjaga persatuan dan kesatuan, baik secara teritori maupun secara ideologi. II. SARAN Agar Pancasila dan UUD 1945 dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, sebaiknya diperbanyak diskusi dan sosialisi mengenai Pancasila dan UUD 1945.

DAFTAR PUSTAKA Moh. Mahfud MD, Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi isu, Rajawali Pers, Jakarta, 2010

9

Jimly Asshidiqie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2010

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->