DAFTAR ISI PEDOMAN HUBUNGAN KERJA ANTARA ARSITEK DENGAN PENGGUNA JASA KATA PENGANTAR MUKADIMAH BAB 1 PENGERTIAN

DAN BATASAN Pasal 1 Arsitek Pasal 2 Profesi Arsitek Pasal 3 Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Pasal 4 Perencanaan Perancangan Arsitektur Pasal 5 Pengawasan Pasal 6 Manajemen Kostruksi / MK Pasal 7 Manajemen Proyek / MP Pasal 8 Proyek (Pembangunan) Pasal 9 Pengguna Jasa Pasal 10 Pemilik / Owner Pasal 11 Pemakai / User Pasal 12 Pengelola Proyek Pasal 13 Arsitek Lapangan / Resident Architect Pasal 14 Pengawas & Staf Pengawas Pasal 15 Pelaksana Konstruksi Pasal 16 Sub Pelaksana Konstruksi Pasal 17 Pemasok / Supplier Pasal 18 Hubungan Kerja Pasal 19 Perjanjian Kerja Pasal 20 Imbalan Jasa Pasal 21 Biaya Langsung Personil / Remuneration Pasal 22 Biaya Langsung Non Personil / Reimbursable Cost Pasal 23 Biaya Lumpsum Pasal 24 Standar Pasal 25 Pemugaran dan Pelestarian Pasal 26 Asuransi PENGIKATAN HUBUNGAN KERJA Pasal 27 Ketentuan Umum Pasal 28 Kewajiban dan Hak Arsitek Pasal 29 Kewajiban dan Hak Pengguna Jasa Pasal 30 Pembatalan Perjanjian Kerja Konstruksi Pasal 31 Hak atas Kekayaan Intelektual Pasal 32 Penafsiran / Interprestasi LAYANAN PENDAHULUAN JASA ARSITEK Pasal 33 Lingkup Tugas / Pekerjaan Pasal 34 Saran Pendahuluan Pasal 35 Kelayakan Perencanaan Perancangan Pasal 36 Kebutuhan Data Pasal 37 Pengajuan untuk mendapatkan Keterangan Rencana / Advis Planning Pasal 38 Kebutuhan Tenaga Ahli lain Pasal 39 Kebutuhan Tenaga Arsitek Lapangan / Resident Architect LAYANAN UTAMA JASA ARSITEK Pasal 40 Lingkup Tugas / Pekerjaan Pasal 41 Pelaksanaan Tahapan Pasal 42 Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan Pasal 43 Tahap Pra-Rancangan Pasal 44 Tahap Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja

BAB 2

BAB 3

BAB 4

Pasal 45 Pasal 46 BAB 5

Tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan & Proses Pelelangan Tahap Pengawasan Berkala

LAYANAN TAMBAHAN JASA ARSITEK Pasal 47 Lingkup Tugas / Pekerjaan Pasal 48 Saran atas Tapak / Site Pasal 49 Inspeksi Bangunan Eksisting Pasal 50 Upaya memperoleh kesepakatan Pasal 51 Perubahan penugasan Pasal 52 Layanan Lainnya Pasal 53 Keterlambatan LAYANAN KHUSUS JASA ARSITEK Pasal 54 Lingkup Tugas / Pekerjaan Pasal 55 Perencanaan Kota / Daerah / Regional Pasal 56 Pemugaran dan Pelestarian Pasal 57 Perencanaan Perancangan Interior dan Lansekap Pasal 58 Konsultansi / Pemberian nasehat Pasal 59 Manajemen Konstruksi / MK Pasal 60 Manajemen Proyek / MP Pasal 61 Pengawasan Terpadu KETENTUAN IMBALAN JASA LAYANAN UTAMA Pasal 62 Ketentuan Umum Pasal 63 Dasar-dasar Perhitungan Pasal 64 Imbalan Jasa Perencanaan Perancangan Bangunan Pasal 65 Imbalan Jasa Perencanaan Perancangan Rumah Tinggal Sederhana secara seri ataupun tunggal Pasal 66 Penetapan Kategori Bangunan Pasal 67 Biaya Bangunan Pasal 68 Biaya Bangunan yang terlampaui Pasal 69 Uang Muka dan Angsuran Pembayaran Pasal 70 Ganti Rugi untuk keterlambatan Pasal 71 Penugasan Terbatas Pasal 72 Pekerjaan tidak diwujudkan dan atau dilaksanakan secara swakelola Pasal 73 Perwujudan Rancangan Bangunan secara berulang Pasal 74 Perwujudan ulangan dengan perubahan sebagian Pasal 75 Perancangan Perubahan dan perbaikan Bangunan Pasal 76 Dua Arsitek untuk satu Pekerjaan Pasal 77 Perubahan Rancangan Pasal 78 Lebih dari satu Rancangan untuk satu tugas Pasal 79 Penggantian Ongkos Perjalanan dan Uang Harian Pasal 80 Pembatalan Tugas Pasal 81 Pengguna Jasa meninggal dunia Pasal 82 Pengembalian Tugas Pasal 83 Arsitek meninggal dunia Pasal 84 Biaya-biaya selain Imbalan Jasa KETENTUAN IMBALAN JASA LAYANAN LAINNYA Pasal 85 Imbalan Jasa Layanan Pendahuluan Pasal 86 Imbalan Jasa Layanan Tambahan Pasal 87 Imbalan Jasa Layanan Khusus STANDAR HASIL KARYA PERENCANAAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Pasal 88 Pengertian Pasal 89 Hasil Karya Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan Pasal 90 Hasil Karya Tahap Pra-Rancangan Pasal 91 Hasil Karya Tahap Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja Pasal 92 Hasil Karya Tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan & Proses Pelelangan Pasal 93 Hasil Karya Pengawasan Berkala

BAB 6

BAB 7

BAB 8

BAB 9

BAB 10 LAMPIRAN  Lampiran 1 Standar/Format Perjanjian Kerja Pekerjaan Perencanaan Perancangan.  Lampiran 2 Surat Keputusan / SK IAI Nomor …, tanggal …., tentang …………………… A. Tabel Perhitungan Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan. B. Tabel Perhitungan Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan Rumah Tinggal Sederhana secara seri. C. Grafik Perhitungan Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan. D. Grafik dan Tabel Biaya Langsung Personil / Remuneration bagi Arsitek bila tidak dapat ditentukan dengan tabel prosentase. D.1. Tabel per jam D.2. Tabel per hari D.3. Tabel per bulan

KATA PENGANTAR Asosiasi Profesi mempunyai fungsi utama menegakkan aturan serta standar kinerja keprofesian bagi anggota dan masyarakat pengguna jasa. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai salah satu asosiasi profesi yang sudah cukup mapan mempunyai komitmen untuk melaksanakan fungsi tersebut sebaik-baiknya. Tentu saja aturan maupun standar kinerja keprofesian dapat ditegakkan apabila mendapat dukungan sepenuhnya dari seluruh anggota dengan disiplin kerja yang tinggi serta penghormatan atas etika keprofesian. Setelah 10 tahun ( 1991 – 2001 ) Buku Pedoman Hubungan Kerja ini myaris tidak mengalami perbaikan/penyempurnaan, maka pada tahun 2001 ini Pengurus IAI berketetapan tentang perlunya dilakukan penyempurnaan atas Buku Pedoman ini. Penyempurnaan isi Buku Pedoman ini meliputi antara lain : Penyesuaian istilah-istilah yang dipergunakan agar sejalan dengan pengertian dan penafsiran di dalam UU Jasa Konstruksi No. 18 tahun 1999. Besaran serta batasan nilai rupiah disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi pada saat ini. Perbaikan redaksional, dll Pengurus IAI berketetapan untuk senantiasa secara berkala dan berkesinambungan menyempurnakan isi Buku Pedoman ini sebagai salah satu sikap kepedulian terhadap Profesi Arsitek, Arsitek serta Pengguna Jasa Arsitek.

Jakarta, ……………… 2001 IKATAN ARSITEK INDONESIA Prof. DR. Ir. Sandi A. Siregar, M.Arch, IAI Ketua Umum

MUKADIMAH ARSITEK DALAM MENGEMBAN TUGAS PROFESINYA SEBAGAIMANA YANG DIMAKSUDKAN DALAM KETENTUAN PEDOMAN HUBUNGAN KERJA ARSITEK DENGAN PENGGUNA JASA ADALAH :  AHLI YANG MEMPUNYAI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN TINGGI ARSITEKTUR ATAU YANG SETARA DAN MEMPUNYAI KUALIFIKASI YANG DIAKUI DAN SESUAI KETETAPAN ORGANISASI PROFESI SERTA MEMILIKI SERTIFIKAT IAI.  YANG MENJUJUNG TINGGI KODE ETIK ARSITEK DAN KAIDAH TATA LAKU PROFESI ARSITEK DENGAN TERTIB.  YANG TERPERCAYA DALAM MENDAMPINGI DAN ATAU MEWAKILI PENGGUNA JASA ATAU PEMILIK.  YANG BERKEPRIBADIAN LUHUR, JUJUR SERTA BERDEDIKASI TERHADAP PROFESINYA.  YANG ADIL DAN BIJAKSANA DALAM MENENTUKAN PERTIMBANGAN SEHINGGA TIDAK MERUGIKAN PIHAK LAIN MAUPUN KEPENTINGAN UMUM.  YANG BERUPAYA MEMBERIKAN PELAYANAN KEAHLIAN DENGAN SEMANGAT KERJASAMA, KETERBUKAAN DAN ITIKAD YANG SEBAIK-BAIKNYA, UNTUK KEPENTINGAN SEMUA PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PEMBANGUNAN.

baik untuk proses perijinan maupun proses pelaksanaan konstruksi. Pekerjaan Pengawasan terdiri dari : . Pasal 2 Profesi Arsitek Profesi Arsitek adalah keahlian dan kemampuan penerapan dibidang perencanaan perancangan arsitektur dan pengelolaan proses pembangunan lingkungan binaan yang diperoleh melalui pendidikan tinggi arsitektur dan atau yang diakui oleh Organisasi serta dari pengalaman penerapan pengetahuan ilmu dan seni tersebut. Pasal 3 Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Dalam melakukan praktek profesinya arsitek terikat dan wajib tunduk pada Kode Etik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek serta ketentuan IAI dan ketentuan lainnya yang berlaku. Pasal 5 Pengawasan Pengawasan adalah seperangkat kegiatan pemeriksaan dan pengecekan jalannya proses pelaksanaan pembangunan/ konstruksi sesuai dengan perencanaan perancangan konstruksi atau rancangan bangunan. konsepsi perencanaan perancangan sampai terbentuknya karya cipta Lingkungan Binaan/ Arsitektur/ Bangunan secara menyeluruh serta rinci dalam wujud uraian tertulis. yang menjadi nafkah dan ditekuni secara terus-menerus dan berkesinambungan. sesuai ketentuan organisasi profesi arsitek Ikatan Arsitek Indonesia (yang selanjutnya disebut IAI) serta telah memiliki Sertifikat IAI. melakukan praktek Profesi Arsitek. tergambar maupun dalam wujud model trimatra sesuai kebutuhan.BAB 1 PENGERTIAN DAN BATASAN Kata atau istilah-istilah yang dipergunakan dalam ketentuan buku pedoman ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut : Pasal 1 Arsitek Arsitek adalah sebutan ahli yang mempunyai latar belakang atau dasar pendidikan tinggi Arsitektur dan atau yang setara serta mempunyai kompetensi yang diakui. penyusunan program. Pasal 4 Perencanaan-Perancangan Arsitektur Perencanaan-Perancangan Arsitektur adalah seperangkat kegiatan yang merupakan proses pemikiran sejak tahap penjabaran kerangka acuan kerja (KAK) / Term of Reference (TOR).

penyusunan anggaran dan jadwal pembangunan secara keseluruhan sampai dengan selesainya proses pelaksanaan pembangunan / konstruksi termasuk masa pemeliharaan serta pengadaan / proccurementperalatan dan perlengkapan bangunan. . kelompok orang atau suatu badan usaha yang memberikan penugasan / pemberian tugas kepada Arsitek. Pasal 8 Proyek Pembangunan Proyek Pembangunan adalah suatu rangkaian proses kegiatan pembangunan dalam rangka mencapai tujuan membangun lingkungan binaan / arsitektur / bangunan. untuk meyakinkan bahwa rancangannya dilaksanakan sesuai yang dimaksud/ rancangan bangunan. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan atau sebagai kelanjutan tugas perencanaan perancangan arsitektur. Pasal 10 Pemilik / Owner Pemilik / Owner adalah perorangan.(1) Pengawasan Berkala Arsitektur adalah pengawasan pekerjaan arsitektur. tahap pelaksanaan konstruksi sampai selesainya pembangunan yang sesuai persyaratan dan memenuhi batasan mutu. Pengawasan Berkala dilakukan secara berkala sesuai dengan tahapan proses pelaksanaan konstruksi. Pasal 9 Pengguna Jasa Pengguna Jasa adalah perorangan. Pasal 6 Manajemen Konstruksi / MK Manajemen Konstruksi . inisiatif proyek yaitu tahap perumusan kebutuhan atau gagasan proyek. yang dilakukan sejak awal Pelaksanaan Konstruksi atau sejak proses pelelangan sampai selesainya proses pelaksanaan konstruksi. (2) Pengawasan Terpadu adalah pengawasan pelaksanaan konstruksi secara menyeluruh bidang-bidang keahlian arsitektur.pemasok/supplier serta mengarahkan pelaksanaan pembangunan/konstruksi.MK adalah pengelolaan dan pengawasan pekerjaan pelaksanaan pembangunan/konstruksi secara menyeluruh dengan cara mengorganisasikan dan mengkoordinasikan semua kontraktor/pelaksana konstruksi spesialis. kelompok orang atau suatu badan yang memiliki proyek pembangunan. mekanikal dan elektrikal serta bidang keahlian lainnya. untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan perencanaan perancangan arsitektur dan atau pengawasan pembangunan / pengelolaan proses pembangunan lingkungan binaan / arsitektur. Pasal 7 Manajemen Proyek / MP Manajemen Proyek / MP adalah pengelolaan jalannya proses pembangunan / konstruksi secara menyeluruh yang dimulai sejak proses tahap persiapan. waktu dan biaya yang ditentukan. struktur. dimulai dari tahap perencanaan perancangan.

Pasal 11 Pemakai / User Pemakai / User adalah perorangan. kelompok orang atau badan usaha yang memakai dan menggunakan fasilitas bangunan. Pasal 13 Arsitek Lapangan / Owner’s Architect Arsitek Lapangan / Owner’s Architect adalah Arsitek yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa atas nama dan membantu Pengguna Jasa untuk melakukan tugas-tugas pengawasan jalannya proses pelaksanaan konstruksi sehari-hari. Pasal 16 Sub Pelaksana Konstruksi Sub Pelaksana Konstruksi adalah perorangan atau badan usaha yang dinyatakan ahli dan mampu untuk melakukan pekerjaan spesialisasi dalam bidang khusus / tertentu pembangunan konstruksi serta mendapatkan tugas dari atau dibawah koordinasi Pelaksana Konstruksi. Pasal 12 Pengelola Proyek Pengelola Proyek adalah Arsitek / Ahli atau sekelompok Arsitek / Ahli atas nama perorangan atau badan usaha yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa untuk mengelola jalannya suatu proses pembangunan/ lingkungan binaan. Pasal 17 Pemasok / Supplier . kelompok orang atau badan usaha yang mendapat tugas untuk mengawasi jalannya proses pelaksanaan konstruksi. Pasal 14 Pengawas dan Staf Pengawas Pengawas dan Staf Pengawas adalah perorangan. dapat ditunjuk dan berindak atas nama Pengguna Jasa dalam tugas Pengawasan Terpadu dan atau Manajemen Konstruksi. Penunjukan Arsitek Lapangan wajib dilakukan sesuai dengan persyaratan yang direkomendasikan oleh Arsitek Perencana Perancang. Pasal 15 Pelaksana Konstruksi Pelaksana Konstruksi adalah perorangan atau badan usaha yang dinyatakan ahli dan mampu melakukan pekerjaan pelaksanaan konstruksi yang berdasarkan dokumen perencanaan perancangan.

jam/hari/bulan. Pasal 18 Hubungan Kerja Hubungan Kerja adalah suatu hubungan yang terjalin akibat adanya penugasan dan kesepakatan antara dua pihak. berdasarkan kualifikasi Arsitek atau Ahli. Pasal 21 Biaya Langsung Personil / Remuneration Biaya Langsung Personil / Remuneration adalah standar tarif imbalan jasa arsitek/ tenaga ahli per-satuan waktu. maka standar Biaya Langsung Personil tersebut mengikuti ketentuan yang direkomendasikan oleh IAI dan atau ketentuan lain yang berlaku. yang sesuai dan mangacu serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang Jasa Konstruksi dan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Konstruksi dan atau mengikuti ketentuan Standar Perjanjian Kerja Konstruksi untuk jasa Perencanaan-Perancangan yang diterbitkan oleh IAI. dalam bentuk uang atau bentuk lain yang setara sesuai dengan jasa/ tugas yang diembannya dan kesepakatan bersama. serta Imbalan Jasa maupun biaya penggantian serta tata cara pembayarannya.Pemasok / Supplier adalah perorangan atau badan usaha yang memasok barangbarang / material / peralatan atau perlengkapan bangunan yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan konstruksi. serta penetapan batasan waktu dan anggaran. Suatu hubungan kerja terjadi sejak adanya suatu penugasan dari pihak kesatu atau Pengguna Jasa kepada pihak kedua atau Penyedia Jasa / Arsitek yang dituangkan dalam Surat Penugasan/ Perintah Kerja secara lisan ataupun secara tertulis. dimana didalamnya diterangkan dengan jelas dan tegas sekurang-kurangnya tentang lingkup pekerjaan atau tugas dan uraiannya. Pasal 22 Biaya Langsung Non Personil / Reimbursable Cost . Kecuali disepakati lain. Pasal 19 Perjanjian Kerja Perjanjian Kerja adalah suatu ikatan hubungan kerja secara tertulis yang mempunyai kekuatan hukum antara pihak Pengguna Jasa dan Arsitek yang menjalin hubungan kerja. Kecuali disepakati lain maka besar Imbalan Jasa tersebut mengikuti ketentuan yang direkomendasikan oleh IAI. Pasal 20 Imbalan Jasa Imbalan Jasa adalah imbalan atas layanan jasa keahlian atau tugas profesional yang telah dilakukan Arsitek / Ahli.

(3) Restorasi. (2) Standar Imbalan Jasa adalah jumlah minimal imbalan jasa yang wajib dibayar oleh pengguna jasa atas layanan jasa yang dihasilkan oleh penyedia jasa sesuai standar kinerja. meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Arsitek / Tenaga Ahli bagi kegiatan-kegiatan yang ditetapkan sehubungan dengan tugas Arsitek / Ahli. (2) Konservasi. (4) Renovasi. upah pekerjaan dan bahan. (5) Revitalisasi. (8) Rekonstruksi. (6) Gentrifikasi. Termasuk dalam kegiatan Pemugaran adalah kegiatan-kegiatan : (1) Preservasi. adalah kegiatan merawat suatu lingkungan atau benda cagarbudaya agar tetap dalam kondisi yang sama dengan saat ketika ditemukan. adalah kegiatan mengembalikan suatu lingkungan atau benda cagar-budaya ke kondisi awalnya secara lengkap dan utuh untuk pemakaian yang sama seperti semula. Pasal 23 Biaya Lumpsum Biaya Lumpsum merupakan biaya menyeluruh dan pasti berdasarkan penjumlahan seluruh unsur biaya. adalah kegiatan menghidupkan-kembali kegiatan di suatu lingkungan yang telah ditinggalkan penghuninya. (7) Rehabilitasi.Biaya Langsung Non Personil / Reimbursable Cost adalah biaya yang wajib diganti/dibayar oleh Pengguna Jasa atas biaya-biaya yang tidak termasuk dalam Imbalan Jasa Arsitek. Pasal 25 Pemugaran dan Pelestarian Pemugaran adalah semua jenis kegiatan yang tertuju pada Pelestarian sebuah lingkungan atau benda yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai obyek cagar-budaya melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku. adalah kegiatan membangun-kembali suatu lingkungan atau benda cagar-budaya yang sebagian besar telah hancur tidak berbentuk lagi . Pasal 24 Standar (1) Standar kinerja / performance adalah persyaratan minimal hasil karya layanan jasa yang wajib dicapai dan dipenuhi. adalah kegiatan memodifikasi suatu lingkungan atau benda cagarbudaya untuk pemakaian baru. adalah kegiatan membangun-kembali suatu lingkungan atau benda cagar-budaya ke kondisi yang menyerupai awalnya untuk pemakaian yang berbeda dari semula. adalah kegiatan mengamankan suatu lingkungan atau benda cagar-budaya dari segala bentuk gangguan yang berpotensi menggagalkan kegiatan Preservasi. adalah kegiatan menghidupjan-kembali kegiatan asli di suatu lingkungan yang telah ditinggalkan penghuninya.

.seperti antara lain : indemnity proffesional liability insurance dan lain-lainnya.Pasal 26 Asuransi Asuransi adalah segala macam asuransi yang diperlukan untuk menutup risiko kegagalan bangunan yang diakibatkan kesalahan rencana-rancangan yang dibuat arsitek sebagai perencana perancang bangunan.

tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi . (2) Buku Pedoman Hubungan Kerja Arsitek dan Pengguna Jasa tersebut berlaku bagi setiap penugasan dimana Arsitek sebagai Penyedia Jasa Perencanaan Perancangan mengadakan Perjanjian Kerja untuk melakukan Layanan Jasa keahliannya atas penugasan dari pihak Pengguna Jasa. Memberikan keahlian dan kemampuannya sesuai dengan standar kinerja keahlian arsitek bersertifikat IAI serta wajib tunduk pada Kode Etik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek. BAB 2 . sanksi antara Arsitek sebagai Penyedia Jasa/ perencana konstruksi dengan Pengguna Jasa berlandaskan dan tidak diperkenankan bertentangan dengan : . 28 tahun 2000. perencanaan perancangan. tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi Pasal 28 Kewajiban dan Hak Arsitek (1) Kewajiban dan Tanggungjawab Arsitek Dalam melakukan tugas profesi.Undang-undang Republik Indonesia No. 30 tahun 2000. baik atas nama perorangan.PENGIKATAN HUBUNGAN KERJA Pasal 27 Ketentuan Umum (1) Apabila telah terjadi suatu hubungan kerja antara Arsitek dan Pengguna Jasa yang dituangkan secara tertulis dalam surat penugasan atau surat perintah kerja ataupun secara lisan maka selanjutnya Arsitek akan menyatakan kesediaannya secara resmi dan tertulis menerima penugasan tersebut dengan melampirkan buku Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dan Pengguna Jasa sebagai acuan landasan Perjanjian Kerja untuk pekerjaan Perencanaan-Perancangan Arsitektur yang disepakati oleh kedua belah pihak. tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi . (3) Hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan pengikatan para pihak Perjanjian Kerja. kecuali apabila syarat-syarat tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh Arsitek dan mengenai hal tersebut telah diberitahukan kepada Pengguna Jasa sebelum atau pada waktu pelaksanaan pekerjaan.Peraturan Pemerintah No. penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. kelompok arsitek atau badan usaha.Peraturan Pemerintah No. b. 29 tahun 2000.Peraturan Pemerintah No. Memenuhi syarat-syarat Kerangka Acuan Kerja/ KAK Perencanaan Perancangan yang ditentukan oleh Pengguna Jasa pada setiap tahap pekerjaan. penyelesaian sengketa. kegagalan bangunan. maka arsitek mempunyai kewajiban antara lain sebagai berikut : a. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi tanggal 7 Mei 1999 .

Mengembalikan penugasan yang telah diberikan kepadanya karena alasanalasan : . Menolak segala bentuk penilaian estetika atas hasil karyanya oleh Pengawas Terpadu ataupun oleh Pengguna Jasa. e. waktu dan biaya. Rencana Kerja dan Syarat-syarat / RKS serta ketentuanketentuan lain yang berlaku. Dalam pengawasan berkala arsitektur. (2) Hak dan Wewenang Arsitek Dalam melakukan tugas profesionalnya. dan atau tidak melebihi biaya yang dialokasikan untuk pekerjaan tidak terduga. Mendapatkan Imbalan Jasa atas layanan jasa profesional yang telah dikerjakan sesuai ketentuan yang berlaku b.Mengindahkan dan menguasai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku bagi terlaksanannya penyelenggaraan konstruksi. d. c. Melakukan pengawasan berkala atau pemeriksaan konstruksi. termasuk perubahan waktu dan biaya yang diakibatkan atas perubahan tersebut yang akan menjadi beban pihak Pengguna Jasa.Memerintahkan Pelaksana Konstruksi secara tertulis melalui Pengawas Terpadu untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan persetujuan terlebih dahulu dari Pengguna Jasa. maka Arsitek mempunyai hak dan wewenang untuk : .Akibat hal yang diluar kekuasaan kedua belah pihak (force Majeure) . e. agar proses perencanaan perancangan dapat memenuhi sasaran mutu. Mendapatkan Imbalan Jasa tambahan apabila Pengguna Jasa melakukan penambahan penugasan atau melakukan permintaan perubahan perencanaan perancangan atas rancangan yang telah disetujui sebelumnya. dengan syarat jumlah biaya pekerjaan tambahan tersebut tidak melebihi biaya yang telah dialokasikan untuk pekerjaan tersebut. d. agar konstruksi dilaksanakan sesuai dengan gambar-gambar perencanan perancangan. . Melakukan tugas koordinasi pekerjaan perencanaan perancangan dengan ahli atau sekelompok ahli/ konsultan lainnya.Akibat kelalaian Pengguna Jasa Penyelesaian akibat-akibat yang timbul dari pengembalian tugas tersebut diatur dalam Bab Ketentuan Imbalan Jasa. dan atau tidak melebihi 10 % dari biaya konstruksi. baik yang ditunjuk langsung oleh Pengguna Jasa ataupun oleh Arsitek. f. Ketidaksempurnaan/ kesalahan pekerjaan dalam bidang perencanaan perancangan menjadi tanggungjawab masing-masing ahli/ konsultan bidang yang bersangkutan. c. Mengajukan perubahan perencanaan perancangan dan mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk memenuhi persyaratan konstruksi dan segera menginformasikan kepada Pengguna Jasa atas perubahan tersebut. f. maka Arsitek berhak dan berwenang : a.Pertimbangan dalam dirinya .

antara lain penyelidikan tanah. Memahami seluruh dokumen yang diserahkan dan atau pertanyaanpertanyaan yang diajukan kepadanya atau kuasanya oleh Arsitek dalam kaitannya dengan pekerjaan serta memberikan keputusan segera untuk tidak menghambat pekerjaan Arsitek.- Menilai pembayaran angsuran tahap pekerjaan konstruksi yang telah diselesaikan dan menjadi hak Pelaksana Konstruksi. Memberikan keputusan dan persetujuan yang diperlukan oleh Arsitek guna melanjutkan tugasnya dalam waktu yang telah disepakati atau selambatlambatnya tidak melebihi waktu 1 (satu) bulan untuk tiap-tiap tahap penugasan. Memberikan informasi. f. d. b. maka Pengguna Jasa mempunyai tanggungjawab dan kewajiban meliputi : a. sesuai dengan penilaian besarnya bobot prestasi pekerjaan yang telah dilaksanakan sampai dengan waktu tertentu. . . pemetaan tanah dan lain-lain yang dilaksanakan oleh Ahli yang direkomendasikan oleh Arsitek atau ditunjuk berdasarkan syarat-syarat Pelaksanaan Pekerjaan yang disiapkan oleh Arsitek. c.Persyaratan pekerjaan. yang kemudian direkomendasikan kepada Pengguna Jasa untuk melaksanakan pembayaran angsuran pekerjaan pelaksanaan konstruksi. e. Tidak mengeluarkan instruksi apapun secara langsung kepada Pelaksana Konstruksi dan atau Sub Pelaksana Konstruksi selama Pelaksanaan Konstruksi melainkan hanya melalui Arsitek. Kerangka acuan kerja mencakup keterangan dan uraian yang jelas mengenai maksud dan tujuan penugasan yang meliputi program dan persyaratan termasuk jenis dan luas bangunan. serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan dilampirkan pada Surat Perjanjian Kerja Arsitek dan Pengguna Jasa.Seluruh biaya untuk mendapatkan data/ informasi dan dokumen tersebut menjadi tanggungjawab Pengguna Jasa. Memberikan kerangka acuan kerja yang merupakan pedoman dan dasar pekerjaan perencanaan perancangan arsitektur. batasan dana yang tersedia serta waktu pelaksanaan konstruksi yang disyaratkan Pengguna Jasa. Membayar biaya-biaya perijinan yang diperlukan dan pungutan-pungutan lain dalam Pelaksanaan Konstruksi. data kondisi lahan dan tanah serta lingkungan. . Pasal 29 Kewajiban dan Hak Pengguna Jasa (1) Kewajiban Pengguna Jasa Atas penugasan pekerjaan perencanaan perancangan arsitektur yang diberikan kepada Arsitek.Pengadaan data primer/ hasil survai yang diperlukan oleh proyek. uraian dan diskripsi mengenai proyek yang dimaksud meliputi antara lain : .

Arsitek harus menerbitkan surat persetujuan dan menyerahkan gambar/ dokumen asli kepada Pengguna Jasa agar dapat menunjuk Arsitek lain guna meneruskan pekerjaan. baik atas beban sendiri maupun bersama-sama dengan Pelaksana Konstruksi. c. maka : a. setelah Imbalan Jasa dan biaya pengganti diterima. Pengguna Jasa berhak meminta Arsitek untuk merubah Pra-Rancangan yang telah disetujuinya. Sebelum segala pembayaran tersebut dipenuhi. Pengguna Jasa berhak menuntut ganti rugi kepada Arsitek bilamana terjadi kelambatan penyelesaian tugasnya yang semata-mata disebabkan oleh kelalaian/ kelambatan Arsitek. Pasal 30 Pembatalan Perjanjian Kerja (1) Perjanjian Kerja yang dibuat antara Pengguna Jasa dan Arsitek. Pengguna Jasa berhak mendapatkan tambahan dengan biaya penggantian. b. Pasal 31 Hak Milik dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (1) Hak Milik a. selanjutnya sampai dengan 5 (lima) tahun setelah selesainya penugasan. Pengguna Jasa wajib membayar kepada Arsitek kekurangan Imbalan Jasa yang harus diterima beserta seluruh tagihan biaya pengganti yang telah dikeluarkan oleh Arsitek. termasuk setelah penyelesaian proyek atau setelah pemutusan g. .Memberikan Imbalan Jasa kepada Arsitek atas penugasan kepadanya. Arsitek dapat bertindak atau mengambil keputusan atas nama Pengguna Jasa secara bijaksana. Menunjuk seorang kuasa yang bertindak atas namanya selama Pengguna Jasa tidak berada ditempat. Apabila Pengguna Jasa atau kuasanya tidak berada ditempat. Pengguna Jasa berhak mendapatkan 3 (tiga) salinan dokumen perencanaan perancangan secara cuma-cuma. i. (2) Hak Pengguna Jasa a. Menjamin keamanan tempat kerja. Hak kepemilikan atas setiap dokumen Perencanaan Perancangan yang telah dibuat oleh Arsitek. Arsitek tidak berkewajiban menerbitkan surat persetujuan pembatalan tugas yang dimaksud. dapat dibatalkan setiap saat oleh masing-masing pihak dengan syarat sekurangkurangnya 1 (satu) bulan sebelumnya memberitahukan kepada pihak lain. sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali dengan Imbalan Jasa tambahan sesuai Ketentuan Imbalan Jasa. menutup asuransi pertanggungan atas kegagalan bangunan dan pertanggungan atas keselamatan umum. h. b. dalam setiap kondisi akan tetap berada pada Arsitek. (2) Sehubungan dengan pembatalan kontrak kerja seperti tersebut diatas. meliputi Imbalan Jasa perencanaan perancangan dan biaya-biaya lain / Biaya Langsung Non Personil / Reimbursable yang dikeluarkan berkenaan dengan proyek sesuai Ketentuan Imbalan Jasa dan biaya penggantian.

Dokumen Perencanaan Perancangan tersebut baik sebagian maupun keseluruhan tidak diperkenankan digunakan oleh Pengguna Jasa untuk proyek lain ataupun ditambahkan pada proyek yang bersangkutan kecuali dengan suatu persetujuan tertulis dari Arsitek. Perwujudan ulang berdasarkan rancangan arsitektur dengan atau tanpa perubahan apapun. …. 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagai telah diubah dengan UU No. Pasal 32 Penafsiran / Interpretasi Apabila terjadi ketidak samaan pemahaman atas ketentuan pengikatan hubungan kerja ini setiap saat Pengguna Jasa maupun Arsitek secara bersama atau sendirisendiri dapat mengajukan pertanyaan kepada Ikatan Arsitek Indonesia untuk mendapatkan penjelasan dan penafsiran. ataupun bila perencanaan perancangan telah diselesaikan tersebut tidak direalisasikan. b. b. dan dengan kesepakatan penambahan Imbalan Jasa atas penggunaan dokumen tersebut sesuai dengan Ketentuan Imbalan Jasa. Pengguna Jasa mendapatkan hak perwujudan rancangan sebanyak 1 (satu) kali setealh memenuhi kewajiban membayar imbalan jasa atas penugasan untuk pembuatan perencanaan perancangan arsitektur dan segala sesuatu yang menyangkut penugasan tersebut kepada arsitek. . b. Arsitek memiliki hak dokumentasi/ membuat gambar-gambar/ foto-foto maupun rekaman dalam bentuk lainnya baik keadaan didalam maupun diluar bangunan hasil rancangannya.hubungan kerja. (4) Hak Dokumentasi dan Hak Penggandaan a. Hanya Arsitek yang memiliki hak penggandaan atas gambar-gambar perencanaan perancangan arsitektur yang dibuatnya. (2) Hak Perwujudan Rancangan a. wajib memberitahukan dan dengan persetujuan tertulis dari arsitek dan dengan imbalan jasa sesuai ketentuan Imbalan Jasa perwujudan ulang rancangan arsitektur yang berlaku. Undang-Undang Pemerintah No. UU Pemerintah No. 12 tahun 1997 tentang Perubahan Atas UU No. Hak perwujudan adalah hak untuk merealisasikan/ mewujudkan suatu rancangan arsitektur menjadi suatu karya arsitektur. c. tentang Hak Milik. 7 tahun 1987 dan b. (3) Tanda Nama Arsitek berhak untuk membubuhkan tanda nama atau tanda nama perencana perancang dengan syarat tata letak penempatan nama itu tidak merusak pandangan atau fungsi dari perwujudan karya arsitektur tersebut. Tahun …. (5) Hak atas kekayaan intelektual meliputi hak-hak diatas diatur sesuai dan tidak bertentangan dengan : a.

akan kebutuhan data sekunder maupun primer yang diperlukan bagi penyelesaian tugas Perencanaan Perancangan Proyek.BAB 3 LAYANAN PENDAHULUAN JASA ARSITEK Pasal 33 Lingkup Tugas / Pekerjaan Layanan Pendahuluan merupakan jasa/pekerjaan yang dilakukan sebagai pendahuluan sebelum dan agar Layanan Utama Jasa Arsitek dapat dilaksanakan dengan baik. hak dan peraturan yang berkaitan dengan tapak. (2) Upaya mendapatkan informasi dari Pengguna Jasa mengenai status dan hakhak kepemilikan tanah/ penyewa/ penghuni atau pemakai dan hal-hal lian yang menyangkut bangunan yang ada. maka Arsitek melakukan pengkajian terhadap pendekatan gagasan rancangan dan konstruksi dari Pengguna Jasa serta memberi saran-saran dalam memperoleh izin perencanaan dan persetujuan pembangunan dari pihak yang berwenang atau pihak-pihak terkait lainnya. keadaan/ kondisi tapak baik diatas maupun dibawah tanah atau hal-hal lain yang berkaitan dengan tapak. berdasarkan penjelasan dan Kerangka Acuan Kerja proyek yang diberikan Pengguna Jasa. . maksud dan tujuan penugasan Pengguna Jasa. Pasal 36 Kebutuhan Data Memeriksa dan menilai serta menyarankan kepada Pengguna Jasa. meliputi pekerjaan antara lain :  Saran Pendahuluan  Kelayakan Perencanaan Perancangan  Kebutuhan Data Primer dan Sekunder  Pengajuan untuk mendapatkan Keterangan Rencana  Kebutuhan Tenaga Ahli lain  Kebutuhan Arsitek Lapangan Pasal 34 Saran Pendahuluan (1) Memberikan saran/ nasehat umum mengenai segala sesuatu yang harus ditindak lanjuti oleh Pengguna Jasa. meliputi : keadaan bangunan (bila ada). batas kepemilikan/ batas tapak. batas pagar. (3) Meninjau keadaan lahan dan melakukan penilaian pendahuluan serta memberikan saran/ pemikiran yang sesuai tentang kemungkinan-kemungkinan pengembangan yang sesuai. Pasal 35 Kelayakan Perencanaan-Perancangan Apabila dinilai perlu untuk menindak-lanjuti kebutuhan.

Layanan Tenaga Ahli lainnya tersebut merupakan Layanan Tambahan disamping Layanan Utama Jasa Arsitek. Struktur/ Sipil. Elektrikal dan atau ahli lainnya. . Pasal 39 Kebutuhan Tenaga Arsitek Lapangan Memberi pengertian dan saran kepada Pengguna Jasa akan kebutuhan Tenaga Arsitek Lapangan / Resident Architect selaku wakil Pengguna Jasa dalam membantu penyelesaian proyek. Pasal 38 Kebutuhan Tenaga Ahli Lain Memberi pengertian kepada Pengguna Jasa akan kebutuhan Tenaga Ahli disiplin lain. Mekanikal.Pasal 37 Pengajuan untuk mendapatkan Keterangan Rencana Mempersiapkan dan mengajukan permohonan kepada pihak yang berwenang untuk mendapatkan keterangan rencana yang bersangkutan sesuai dengan Rencana Induk/ Master Plan Kota sebagai acuan perencanaan perancangan bagi proyek yang dimaksud. Layanan Tenaga Arsitek Lapangan tersebut merupakan tanggung jawab pengguna Jasa. dalam penyelesaian proyek seperti Ahli Survai Kuantitas / Quantity Surveyor.

b. selanjutnya digunakan sebagai dasar atau konsep perencanaan perancangan. Setelah Program Perencanaan Perancangan diperiksa dan mendapat persetujuan Pengguna Jasa. Konsepsi Perencanaan Perancangan yang merupakan dasar pemikiran dan pertimbangan . (2) Pada tahap ini arsitek melakukan persiapan Perencanaan Perancangan meliputi pemeriksaan seluruh data serta informasi yang diterima. Program Perencanaan Perancangan yang disusun Arsitek berdasarkan pengolahan data primer maupun sekunder serta informasi lain untuk mencapai batasan tujuan proyek serta kendala persyaratan/ ketentuan pembangunan yang berlaku. . kebutuhan. dan atau menyeluruh. tujuan dan kendala proyek.BAB 4 LAYANAN UTAMA JASA ARSITEK Pasal 40 Lingkup Tugas / Pekerjaan Layanan Utama Jasa Arsitek merupakan Pekerjaan Perencanaan Perancangan Arsitektur dan pengelolaan proses pembangunan / lingkungan binaan yang dilaksanakan dalam tahapan pekerjaan sebagai berikut : i) Konsepsi Perencanaan Perancangan ii) Pra-Rancangan / Schematic Design iii) Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja iv) Penyiapan Dokumen Pelelangan v) Pelelangan vi) Pengawasan Berkala Pasal 41 Pelaksanaan Pekerjaan Perencanaan Perancangan Pelaksanaan tahapan-tahapan pekerjaan Perencanaan Perancangan Arsitektur dilaksanakan sebagai berikut : (1) Setiap tahapan pekerjaan perencanaan perancangan dapat dilaksanakan jika tahap pekerjaan sebelumnya telah mendapat persetujuan Pengguna Jasa. perlu ada kejelasan seluruh data dan informasi dari Pengguna Jasa maupun pihak lain yang terkait tentang kebutuhan dan persyaratan pembangunan agar supaya maksud dan tujuan pembangunan dapat terpenuhi dengan sempurna. (2) Suatu tugas perencanaan perancangan dapat terdiri dari satu tahap pekerjaan perencanaan perancangan atau lebih. membuat analisa dan pengolahan data yang menghasilkan : a. Pasal 42 Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan (1) Sebelum kegiatan Perencanaan Perancangan Arsitektur dapat dimulai.pertimbangan semua bidang yang melandasi perwujudan gagasan rancangan yang menampung semua aspek.

Mendapatkan pola dan gubahan bentuk rancangan yang tepat. Menunjukkan keselarasan dan keterpaduan konsep Perencanaan Perancangan terhadap ketentuan Rencana Tata Kota dalam rangka perizinan. Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-diagram. b. Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-gambar. (2) Sasaran tahap ini adalah : a. pasti dan terpadu. ketersediaan bahan. Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. Pasal 43 Tahap Pra Rancangan (1) Pra-Rancangan Pada tahap ini berdasarkan Konsepsi Perencanaan Perancangan yang paling sesuai dan dapat memenuhi persyaratan Program Perencanaan Perancangan. b. kesemuanya disajikan dalam bentuk gambar-gambar. waktu pembangunan yang paling singkat. Bahan bangunan akan dijelaskan secara garis besar dengan mempertimbangkan nilai manfaat. serta biaya yang paling ekonomis. diagram-diagram sistem dan laporan tertulis. Informasi penggunaan bahan. sistem konstruksi/ struktur bangunan dan sistem mekanikal-elektrikal dengan mempertimbangkan kelayakan dan kelaikannya baik terpisah maupun secara terpadu. sistem konstruksi. c. Membantu Pengguna Jasa dalam memperoleh pengertian yang tepat atas Program dan Konsep Rancangan yang telah dirumuskan Arsitek.Setelah mendapatkan persetujuan dari Pengguna Jasa konsep perencanaan perencangan ini merupakan dasar perencanaan perancangan tahap selanjutnya. Pasal 45 . konstruksi dan nilai ekonomi. waktu dan ekonomi bangunan. Untuk memastikan dan menguraikan ukuran serta wujud karakter bangunan secara menyeluruh. Arsitek akan bekerja atas dasar PraRancangan yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa untuk menentukan: a. b. Aspek kualitatif lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai. Arsitek menyusun pola dan gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar-gambar. c. Memperoleh kesesuaian pengertian yang lebih tepat atas konsepsi perencanaan perancangan serta pengaruhnya terhadap kelayakan lingkungan. d. Pasal 44 Tahap Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja (1) Pada tahap Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja. estetika. Arsitek akan melakukan kegiatan tahap selanjutnya. Untuk mematangkan konsepsi rancangan secara keseluruhan. hasil pengembangan rancangan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan digunakan oleh Arsitek sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya. (2) Sasaran tahap ini adalah untuk : a. Perkiraan biaya konstruksi akan disusun berdasarkan sistem bangunan. terutama ditinjau dari keselarasan sistem-sistem yang terkandung didalamnya baik dari segi kelayakan dan fungsi.

Memberikan penjelasan teknis dan lingkup pekerjaan. g. Penugasan pelaksana konstruksi c. e. . Menyusun Perjanjian Kerja Konstruksi antara Pengguna Jasa dan Pelaksana Konstruksi (4) Sasaran tahap Proses Pelelangan ini adalah : Untuk memperoleh penawaran biaya dan waktu konstruksi yang wajar dan memenuhi persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan sehingga Konstruksi dapat dipertanggung jawabkan dan dilaksanakan dengan baik dan benar. agar supaya konsep rancangan yang tergambar dan dimaksud dalam rancangan akhir dapat diwujudkan secara fisik dengan mutu yang baik. (2) Sasaran tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan ini adalah : a. b. Sehingga secara tersendiri maupun keseluruhan dapat mendukung proses : a. Mempersiapkan Dokumen Pelelangan. c. Membagikan Dokumen Pelelangan kepada peserta/lelang. agar besaran biaya dan waktu konstruksi dapat dihitung secara seksama dan dapat dipertanggung jawabkan. Memberikan nasehat dan rekomendasi pemilihan Pelaksanaan Konstruksi kepada Pengguna Jasa h. Untuk memperoleh kejelasan kuantitatif. Pengawasan pelaksanaan konstruksi d. d. c. Pasal 46 Tahap Pengawasan Berkala (1) Dalam tahap ini. Menerima penawaran biaya dari Pelaksana Konstruksi. Arsitek menterjemahkan konsepsi rancangan yang terkandung didalam pengembangan rancangan dan Gambar Kerja ke dalam bentuk format Dokumen Pelelangan yang dilengkapi dengana Tulisan uraian Rencana Kerja dan Syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan-(RKS) serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) termasuk Daftar Volume (Bill of Quantity/BQ). Untuk mendapatkan kejelasan akan teknik pelaksanaan pembangunan. b. f. Untuk mendapat kejelasan dalam bidang administrasi konstruksi dan memenuhi persyaratan legalitas yang terkandung dalam dokumen pelelangan dan dokumen perjanjian/ kontrak kerja konstruksi. Pemilihan pelaksana konstruksi b. Melakukan pra-kualifikasi seleksi Pelaksana Konstruksi. (3) Pada Tahap Pelelangan Arsitek membantu Pengguna Jasa secara menyeluruh atau secara sebagian dalam : a. Perhitungan besaran luas dan volume serta biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas. Melakukan penilaian atas penawaran tersebut.Tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan & Proses Pelelangan (1) Penyiapan Dokumen Pelelangan Pada tahap ini.

c. Untuk membantu Pengguna Jasa dalam merumuskan kebijaksanaan dan memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan keputusan tindakan pada waktu pelaksanaan konstruksi.Arsitek melakukan peninjauan dan pengawasan secara berkala di lapangan dan mengadakan pertemuan secara teratur dengan Pengguna Jasa dan Pelaksana Pengawasan Terpadu atau MK yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. khususnya masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rancangan yang dibuat oleh Arsitek. (2) Apabila lokasi pembangunan berada diluar kota tempat kediaman Arsitek. Untuk turut memastikan bahwa pelaksanaan konstruksi dilakukan sesuai dengan ketentuan mutu yang terkandung dalam rancangan yang dibuat oleh Arsitek. a. Untuk membantu Pengawas Terpadu atau MK khususnya dalam menanggulangi masalah-masalah konstruksi yang berhubungan dengan rancangan yang dibuat oleh Arsitek. c. wajib diganti oleh Pengguna Jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau yang ditetapkan dan disepakati bersama sebelumnya. (3) Sasaran tahap ini adalah : a. maka biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan perjalanan Arsitek ke lokasi pembangunan. Dalam hal ini. . Penanganan Pekerjaan Pengawasan Berkala dilakukan paling banyak 1 (satu) kali dalam 2 (dua) minggu atau sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam sebulan. b. Arsitek tidak terlibat dalam kegiatan pengawasan harian atau menerus. b.

peruntukan lahan / zoning atau semacamnya. Turut membantu/ memberikan pertimbangan dalam pencapaian kesepakatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan tapak tersebut.. meliputi antara lain : Saran atas Tapak / Site Inspeksi Bangunan Eksisting Upaya memperoleh Kesepakatan Perubahan Penugasan Keterlambatan. c. b.BAB 5 LAYANAN TAMBAHAN JASA ARSITEK Pasal 47 Jenis Tugas dan Lingkup Pekerjaan Apabila dibutuhkan oleh pengguna jasa arsitek dapat melakukan tugas tambahan yang merupakan tugas di bidang yang melengkapi tugas utamanya dan tidak termasuk Layanan Utama Jasa Arsitek. Melakukan peninjauan dan pengkajian terhadap pemilihan tapak. antara lain Tata Guna Tanah / Land Use. pekerjaan penyelidikan tanah berdasarkan rancangan Arsitek. Pasal 49 Inspeksi Bangunan Eksisting Melakukan peninjauan dan membuat laporan serta memberikan saran dan rekomendasi atas keadaan bangunan-bangunan yang ada/ eksisting diatas lokasi/ tapak. Apabila dinilai diperlukan proyek arsitek membuat acuan dan spesifikasi teknis persyaratan pelaksanaan pekerjaan pengukuran dan pemetaan lahan. Pasal 51       . Pasal 50 Upaya memperoleh kesepakatan Membantu pengguna jasa dalam upaya untuk mendapatkan persetujuan dan kesepakatan dengan pihak-pihak terkait sehubungan dengan pengajuan izin perencanaan perancangan bangunan dan atau permohonan perubahan status tapak. Dan lain-lain Pasal 48 Saran atas Tapak / Site Setelah menerima dan memeriksa berkas penugasa dan Kerangka Acuan Kerja dari Pengguna Jasa. maka arsitek dapat : a.

pemogokan. maka Arsitek hendaknya memberitahukan dan menjelaskan sebabsebab keterlambatan tersebut kepada Pengguna Jasa. Dalam hal ini. lingkup rancangan bangunan setelah memberikan persetujuan atas rancangan bangunan yang telah diselesaikan perencana konstruksi/ arsitek pada tiap-tiap tahap perencanaan perancangan sebelumnya. Pasal 52 Layanan lainnya Apabila terdapat data / informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan perencanaan perancangan proyek atau pelaksanaan layanan jasa utama arsitek dan tidak dapat disediakan oleh Pengguna Jasa dan kemudian Arsitek diminta untuk melakukan tugas pengumpulan data survai. maka tugas perubahan rancangan tersebut merupakan layanan tambahan jasa arsitek atas penugasan sebelumnya yang telah diberikan kepada arsitek. force majeure atau hal-hal yang diluar batas kemampuan arsitek. Pasal 53 Keterlambatan Apabila pekerjaan Arsitek terhambat akibat keterlambatan pemberian keputusan dari Pengguna Jasa atau keterlambatan dari pihak lain. . dengan adanya huruhara. maka layanan yang terjadi sebagai akibat keterlambatan tersebut sebagai Layanan Tambahan jasa arsitek.Perubahan penugasan Apabila pengguna jasa menghendaki perubahan atas sebagian atau seluruh isi. maka untuk penugasan ini dilaksanakan melalui suatu penugasan tersendiri yang merupakan Layanan Tambahan Jasa Arsitek.

BAB 6 LAYANAN KHUSUS JASA ARSITEK Pasal 54 Jenis Tugas dan Lingkup Pekerjaan Apabila dibutuhkan Pengguna Jasa. Pasal 57 Perencanaan Perancangan Interior dan Lansekap (1) Perencanaan Perancangan Interior merupakan tugas yang berkaitan dengan perencanaan perancangan gubahan tata ruang dalam. Konsultansi / Penasehat Manajemen Konstruksi / MK Manajemen Proyek / MP Pengawasan Terpadu Dan lain-lain Pasal 55 Perencanaan Kota / Daerah / Regional Planning Pekerjaan/ tugas yang berkaitan dengan perencanaan perancangan. pengembangan fisik. dengan melakukan dan membuat gubahan tata letak ruang terbuka. fungsi. penghijauan menentukan material         . atau konservasi dengan cara renovasi. perlengkapan interior dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan interior tersebut. maka Arsitek dapat melakukan Layanan Khusus Jasa Arsitek. Tata Ruang Kota / Daerah / Regional. tata letak. Tata Ruang Luar/Lansekap. yang merupakan tugas layanan bidang-bidang khusus atau spesialisasi yang terkait dan dibutuhkan dalam penyelesaian pembangunan proyek/konstruksi. rehabilitasi ataupun gentrifikasi. (2) Perencanaan Perancangan Lansekap merupakan tugas yang berkaitan dengan perencanaan perancangan tata ruang luar. Pasal 56 Pemugaran dan Pelestarian Tugas Perencanaan perancangan yang bersifat pelestarian bangunan / monumen / situs / kawasan yang dilindungi melalui preservasi baik secara restorasi maupun rekonstruksi. dengan menentukan tema rancangan. disamping Layanan Utama Jasa Arsitek yang meliputi antara lain sebagai berikut : Perencanaan Kota / Daerah / Regional Perencanaan perancangan pelestarian monumen/kawasan Perencanaan Perancangan Ruang Dalam / Interior.

elektrikal serta lain-lain. program pembangunan suatu proyek. Kebutuhan akan saran dan nasehat untuk penyelesaian masalah-masalah khusus yang timbul dalam pembangunan proyek. meliputi : a. kelompok atau sebagai badan usaha. struktur. baik sebagai perorangan. Proses perencanaan perancangan b. Arsitek memberikan layanan jasanya atas penugasan pengguna jasa untuk hal-hal khusus menyangkut masalah pembangunan/ konstruksi. Pasal 59 Manajemen Konstruksi / MK (1) Manajemen Konstruksi merupakan tugas/ pekerjaan pengelolaan dan pengawasan pelaksanaan pembangunan/ konstruksi secara lengkap di bidangbidang keahlian arsitektur. jenis pohon dan tata letak elemen ruang luar lainnya. apabila diperlukan ahli lainnya dimana mereka tidak bekerja sebagai anggota staf arsitek. dapat ditunjuk atas persetujuan dan rekomendasi arsitek selaku koordinator manajemen konstruksi. b. baik sebagai perorangan. Pengadaan peralatan dan perlengkapan bangunan secara menyeluruh sampai dengan beroperasinya bangunan tersebut sesuai rancangan (2) Dalam penanganan tugas manajemen konstruksi. c. . (2) Dalam penanganan tugas manajemen proyek. struktur. dapat ditunjuk atas persetujuan dan rekomendasi Arsitek yang bertindak selaku koordinator manajemen proyek.penyelesaian permukaan lahan. kelompok atau sebagai badan usaha. mekanikal. Kebutuhan akan pertimbangan dan nesehat dalam perumusan gagasan/ inisiatif. Pasal 58 Konsultansi / Pemberian Nasehat Dalam kapasitas sebagai penasehat ahli. a. Pasal 60 Manajemen Proyek / MP (1) Manajemen Proyek merupakan tugas pengelolaan pembangunan secara menyeluruh dan lengkap di bidang-bidang keahlian arsitektur. mulai sejak tahap. apabila diperlukan ahli lainnya dimana mereka tidak bekerja sebagai anggota staf arsitek. Proses pelaksanaan pembangunan/ konstruksi c. elektrikal dan lain-lain mulai sejak tahap Proses perumusan inisiatif/ gagasan proyek sampai dengan beroperasinya seluruh sistem bangunan dengan sempurna. mekanikal. Masa pemeliharaan d. Kebutuhan akan saran-saran dalam perumusan tujuan/ sasaran pembangunan proyek.

Pengelolaan didalam organisasi Pelaksana Konstruksi bukan menjadi tanggung jawab Pengawas Terpadu. Meminta keputusan-keputusan Arsitek Perencana Perancang atas hal-hal yang menyangkut estetika dan perubahan-perubahan perencanaan perancangan yang perlu dilakukan. Mengadakan pertemuan sekurang-kurangnya satu kali dalam 1 (satu) bulan dengan Pengguna Jasa bersama dengan Pelaksana Konstruksi yang bertujuan untuk membicarakan masalah-masalah yang timbul. Mengambil langkah-langkah untuk kepentingan Pengguna Jasa dalam keadaan darurat atau jika terjadi hal-hal yang dapat merugikan Pengguna Jasa. perintah untuk melakukan revisi/ penambahan atau pengurangan pekerjaan berdasarkan rancangan atau perubahan rancangan dari perencana perancang.Pasal 61 Tahap Pengawasan Terpadu Apabila Pengguna Jasa menghendaki Arsitek melakukan penugasan tahapan Pekerjaan perencanaan perancangan secara menyeluruh. Mempelajari dan menyetujui dokumen yang diajukan Pelaksana Konstruksi meliputi : . d. . Menetapkan. (1) Pengelolaan Pengawasan Terpadu terdiri dari : a. . Melakukan pengawasan umum atas pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Pelaksana Konstruksi sehari-hari. i. Melakukan pengesahan kualifikasi Sub-Pelaksana Konstruksi meliputi penelitian kemampuan teknis. dengan membentuk organisasi yang dilengkapi ahli bidang-bidang yang bersangkutan sebagai Staf Pengawas yang dikoordinir oleh Arsitek. Mengadakan konsultasi dan atau membahas persoalan-persoalan yang timbul pada masa Pelaksana Konstruksi. menyediakan dan mengkoordinir tenaga ahli khusus/ bidangbidang keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugas Pengawas Terpadu tersebut. dengan Pengguna Jasa. dan harus menyampaikan kepada Pelaksana Konstruksi secara langsung dan tanpa kelambatan setelah mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. g. f. Mempelajari dan memeriksa dokumen perjanjian kerja konstruksi antara Pengguna Jasa dan Pelaksana Kostruksi yang akan dijadikan pedoman dalam mengawasi proses dan hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh Pelaksana Konstruksi. b. h.Jadwal kerja. k. Meminta penjelasan tentang hal-hal yang kurang jelas dalam rancangan kepada perencana perancang/ Arsitek ataupun ahli-ahli lainya. e.Shop Drawings dan gambar-gambar tambahan. . maka arsitek dapat dan wajib melaksanakan Pengawasan Terpadu. j. kemampuan keuangan maupun administrasi.Perhitungan-perhitungan. c. Menyiapkan petunjuk-petunjuk.

Kemajuan prestasi pekerjaan dibandingkan dengan jadwal yang telah disetujui. (3) Pengawasan Teknik a. Membuat Laporan Berkala bagi Pengguna Jasa sebanyak-banyaknya sekali dalam satu bulan yang berisikan kegiatan-kegiatan pengawasan yang dilakukan disertai penilaian kemajuan pekerjaan. c. jumlah tenaga dan alat-alat. b. prosentase dan nilai dari bagian-bagian atau seluruh pekerjaan yang telah dilaksanakan dan dibandingkan terhadap apa yang tercantum dalam dokumen perjanjian kerja konstruksi. Mencatat dan menghitung semua pekerjaan tambah. .Volume. d. serta waktu dan cara-cara pelaksanaan konstruksi sesuai dengan perjanjian kerja konstruksi. Pembayaran Angsuran dan Serah Terima Pekerjaan. tenaga. Menerbitkan Berita-berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan. l. bantu yang digunakan.Bahan-bahan bangunan. peralatan. (2) Administrasi Pengawasan Terpadu meliputi : a.Memberikan laporan dan saran/ nasehat-nasehat kepada Pengguna Jasa tentang: . b. . hasil pekerjaan. Melakukan pengawasan kuantitas atas bagian-bagian pekerjaan sesuai dengan perjanjian kerja konstruksi. e. Melakukan pengawasan mutu kualitas atas bahan. perluasan ataupun pengurangan pekerjaan. Memerintahkan dan menentukan cara pembuatan foto-foto dokumentasi yang diperlukan dalam pelaksanaan konstruksi. . Menyelenggarakan surat menyurat yang bersangkutan dengan pelaksanaan konstruksi.

yang terdiri dari biaya-biaya : ii) Bahan berikut upah :  Pekerjaan Struktur  Pekerjaan Arsitektur iii) Peralatan berikut upah pengadaan dan pemasangan sistem-sistem :  Pekerjaan Elektrikal  Pekerjaan Mekanikal iv) Biaya-biaya kerja yang tidak langsung antara lain :  Sewa peralatan-peralatan kerja.  Biaya pengelolaan  dan sebagainya. Kategori Bangunan serta Lingkup dan Tahap Penugasan a. v) Keuntungan Pelaksana Konstruksi vi) Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Layanan Tambahan dan Layanan Khusus Jasa Arsitek diatur secara terpisah berdasarkan dan mengikuti ketentuan organisasi profesi yang bersangkutan.BAB 7 KETENTUAN IMBALAN JASA LAYANAN UTAMA Pasal 62 Ketentuan Umum (1) Yang diatur dalam BAB ini adalah Imbalan Jasa dan Penggantian Biaya Langsung Non-personil Layanan Utama Jasa Arsitek saja. rumah penampungan yatim piatu. bangunan pelayanan masyarakat yang kesemuanya dengan luas bangunan maksimal 250 m2. bangunan / lingkungan binaan yang memiliki misi khusus dan atau social :  Bangunan-bangunan sosial yang tidak bersifat komersial. gereja dan tempat peribadatan lainnya. Kategori Bangunan Guna keperluan penghitungan besarnya Imbalan Jasa yang berdasar pada prosentase terhadap biaya konstruksi. . b. Bangunan dikelompokkan ke dalam 4 kategori sebagai berikut : i) Kategori Sosial. Pasal 63 Dasar-dasar Perhitungan (1) Besarnya imbalan jasa pekerjaan perencanaan perancangan arsitektur/ bangunan ditentukan berdasarkan komponen-komponen : Biaya Bangunan. seperti masjid. (2) Imbalan Jasa dan Biaya Langsung Non-personil Layanan Pendahuluan. Biaya Bangunan i) Adalah biaya-biaya untuk mewujudkan rancangan bangunan.  Bangunan rumah tinggal / perumahan dengan luas maksimal 36 m2.

Tempat Perawatan  Tipe Industri : Gudang Pendingin. kompleksitas dan tingkat kesulitan rata-rata. Toko/Pusat Perbelanjaan. bangunan / lingkungan binaan dengan karakter khusus serta memiliki kompleksitas dan tingkat kesulitan tinggi. Pusat Penelitian/Riset. ii) . Lingkup dan Tahap Penugasan i) Lingkup penugasan yang dimaksud dalam BAB ini merupakan lingkup layanan jasa yang termasuk dalam Layanan Utama Jasa Arsitek. Restoran/Kafetaria. Bangunan dengan dekorasi khusus. Sanatorium  Tipe Bangunan Peribadatan : Mesjid. bangunan / lingkungan binaan dengan karakter. Hanggar. Superblok/Fungsi campuran  Tipe Komunitas : Auditorium. Museum. Ruko/Rukan. ii) Tahap pekerjaan adalah bagian pekerjaan seperti sebagaimana tersebut dalam tahapan Layanan Utama Jasa Arsitek/ BAB 4. Gardu Pembangkit Listrik  Tipe Pelayanan Medis : Klinik Umum. Pemugaran.Kategori 1. Klenteng. Kolam Renang  Tipe Residential : Kondominium. Laboratorium  Tipe Pelayanan Medis : Rumah Sakit. Kantor Pelayanan Umum. Perpustakaan. Bangunan Parkir bertingkat. Bioskop.  Tipe Edukasi : Sekolah. Istana  Tipe Edukasi : Kampus. Apartemen. Pabrik. Pasar. dengan contoh antara lain:  Tipe Komersial : Bandara. Bangunan-bangunan tidak bertingkat  Tipe Industri : Gudang. Ruang Serbaguna. bangunan / lingkungan binaan dengan karakter sederhana serta memiliki kompleksitas dan tingkat kesulitan yang rendah. Ruang Pertemuan. Rumah Jompo  Tipe Rekreasi : Gymnasium. Komplek Perumahan iv) Kategori 3. Ruang Konferensi. Kantor Lembaga Tinggi Negara. Taman Umum. Renovasi c. Ruang Pameran. Hostel iii) Kategori 2. Gereja. dengan contoh antara lain :  Tipe Komersial : Tempat Parkir. Penjara. Ruang Konser. dengan contoh antara lain :  Tipe Komersial : Kantor/Perkantoran. Stasiun/Terminal. iii) Pembagian imbalan jasa tahap pekerjaan tersebut dinyatakan dalam prosentase untuk menilai bobot masing-masing pekerjaan serta dalam menentukan pengaturan angsuran pembayaran imbalan jasa. Hotel  Tipe Komunitas/Bangunan Umum : Galeri. Bengkel  Tipe Residential : Asrama. Klinik Spesialis. Gedung Olah Raga / Stadion. dll yang luasnya lebih dari 250 m2  Tipe Residential : Rumah Tinggal Privat  Tipe Lain : Kantor Kedutaan. Monumen.

Pengembangan Rancangan. (2) Besar prosentase ditentukan menurut tabel dalam lampiran 2. Pra-Rancangan. (1) Jika penugasan meliputi tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan. maka Imbalan Jasa dihitung berdasarkan prosentase terhadap biaya bangunan sesuai kategorinya. sehingga untuk setiap rumah tinggal sederhana tidak perlu diadakan lagi pemikiran dari persoalan-persoalan dan cukup satu standar rancangan . c. (3) Bobot Prosentase bagian-bagian tahap pekerjaan. Perhitungan interpolasi Jika biaya bangunan terletak antara dua jumlah biaya yang tercantum dalam kolom pertama dari lampiran Tabel Grafik Perhitungan Imbalan Jasa Perencanaan Perancangan Bangunan dan Grafik Perhitungan Imbalan Jasa Pekerjaan Pengawasan Terpadu. Pembuatan Dokumen Pelaksanaan dan Pelelangan untuk lebih dari satu rumah tinggal sederhana yang tidak berbeda. Penyiapan Dokumen Pelelangan dan 10 % Proses Pelelangan e.A dari buku ini. hari.(2) Tabel Skala Prosentase Imbalan Jasa a. b. Pelelangan dan Pengawasan Berkala untuk suatu bangunan gedung. PraRancangan. maka Imbalan Jasa dihitung dengan perhitungan Biaya Langsung Personil sesuai waktu yang dipergunakan (dalam satuan jam. bulan). b. (3) Tabel Biaya Langsung Personil (Remuneration) Apabila Imbalan Jasa tidak dapat dihitung dengan perhitungan prosentase. Penyiapan Dokumen Pelelangan. ditentukan sebagai berikut: : Tahap Pekerjaan a. Pengembangan Rancangan. Pengawasan Berkala 10 % Jumlah = 100 % Bobot Prosentase 10 % 25 % 45 % Pasal 65 Imbalan Jasa Perencanaan Perancangan Rumah Tinggal Sederhana secara seri ataupun tunggal. Konsepsi Perencanaan Perancangan Pra-Rancangan Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja d. Prosentase adalah angka yang merupakan parameter untuk penentuan skala Imbalan Jasa Arsitek dan dimana besar kecilnya dipengaruhi oleh biaya bangunan dan kategori bangunan. maka imbalan jasa dihitung dengan interpolasi garis lurus. Pasal 64 Imbalan Jasa Perencanaan Perancangan (1) Jika penugasan perencanaan perancangan meliputi tahap pembuatan konsepsi Perencanaan Perancangan.

maka Imbalan Jasa dihitung berdasarkan luas dari satu rumah dan jumlah rumah. Teras-teras cucuran atap tidak diperhitungkan luasnya. kecuali jika dapat membuktikan bahwa dilampauinya anggaran biaya bangunan disebabkan oleh hal-hal yang berada diluar kekuasaan serta tanggungjawabnya. Imbalan Jasa untuk perencanaan perancangan rumah tinggal sederhana yang dibangun secara seri dihitung dengan tabel dalam Lampiran 3. Pasal 69 Angsuran Pembayaran (1) Pembayaran Imbalan Jasa dilaksanakan secara bertahap dalam angsuran yang disepakati arsitek dan pengguna jasa meliputi : a. maka Arsitek berkewajiban untuk bersama-sama Pengguna Jasa merubah rancangan sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan dengan biaya maksimum yang telah ditetapkan. Pasal 68 Biaya Bangunan yang terlampaui Apabila anggaran biaya bangunan yang telah disepakati bersama ternyata hasil lelangnya dan atau dalam pelaksanaannya melebihi biaya yang ditetapkan. Jumlah tahapan angsuran b. luasnya dihitung separohnya (50 %).B. Jenis dan besar setiap angsuran . Pasal 67 Biaya Bangunan Biaya bangunan yang digunakan dalam penentuan Imbalan Jasa Arsitek adalah merupakan keseluruhan biaya konstruksi fisik yang harus dibayar oleh Pengguna Jasa. Untuk serambi-serambi terbuka yang tidak dibatasi dinding di empat sisi. Untuk pekerjaan itu Arsitek tidak boleh meminta pembayaran Imbalan Jasa Tambahan. untuk melaksanakan rancangan bangunan seperti terurai dalam Pasal – Dasar-dasar Perhitungan ayat (1)a.A. Imbalan Jasa untuk perencanaan perancangan satu buah rumah tinggal sederhana yang dibangun secara perorangan oleh pemiliknya sendir/ penghuni rumah tersebut serta tidak untuk diperdagangkan dihitung dengan tabel dalam Lampiran 3. Pasal 66 Penetapan Kategori Bangunan Penetapan kategori bangunan. Luas dari satu rumah yang dimaksudkan adalah luas yang dihitung dengan ukuran as ke as dinding dari semua ruangan dalam rumah termasuk serambiserambi tertutup. Dan untuk Pengawasan Berkala Imabalan Jasa dihitung penuh untuk masingmasing rumah. harus ditetapkan pada saat terjadinya hubungan kerja dan dicantumkan dalam Perjanjian Kerja arsitek dan pengguna jasa berdasarkan Pasal Dasar-dasar perhitungan ayat (1) b.(2) (3) (4) (5) rumah dan beberapa gambar detail yang sederhana. Harga tersebut diperoleh antara lain dari biaya konstruksi fisik hasil pelelangan pekerjaan konstruksi atau yang disepakati bersama dengan Pelaksana Konstruksi yang ditunjuk ( tanpa lelang ).

maka uang muka tersebut sekurang-kurangnya sebesar 10% dan sebesar-besarnya 25% dari nilai Imbalan Jasa. (5) Biaya Langsung Non Personil merupakan biaya yang tidak termasuk dalam Imbalan Jasa. b. maka Pengguna Jasa wajib membayar semua ongkos dan kerugian yang disebabkan oleh keterlambatan tersebut atas Imbalan Jasa yang sudah dimufakati bagi pekerjaan yang telah dikerjakan namun Imbalan Jasanya belum diterima. wajib dibayarkan selambat-lambatnya 2 (dua) minggu setelah tagihan diajukan oleh Arsitek kepada pihak Pengguna Jasa.(2) Jumlah tahapan angsuran dapat meliputi : a. yang disebabkan oleh Ahli-ahli diluar tanggung jawab Arsitek. a. c. Pasal 71 Penugasan Terbatas . Tahap angsuran pertama yang merupakan angsuran uang muka. akomodasi ditempat/ proyek dan uang harian. Besar angsuran tahap terakhir sekurang-kurangnya sebesar 5% dan sebesar-besarnya 10% dari nilai Imbalan Jasa sebagian atau seluruh tahapan pekerjaan perencanaan perancangan yang tercakup dalam tahap angsuran terakhir. (4) Pelaksanaan angusran Imbalan Jasa Angsuran wajib dibayar Pengguna Jasa kepada Arsitek setelah prestasi pekerjaan dilaksanakan oleh arsitek sesuai tahap angsuran yang disepakati dan diterima baik oleh pihak Pengguna Jasa yang dinyatakan dalam Berita Acara Serah Terima Pekerjaan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Apabila disepakati adanya angsuran uang muka yang merupakan tahap angsuran pertama. Tahap angsuran terakhir yang merupakan angsuran Imbalan Jasa yang ditahan sampai dengan serah terima pekerjaan selesai. Uang muka akan dikembalikan pada tahapan-tahapan angsuran selanjutnya dan harus lunas pada saat angsuran terakhir Imbalan Jasa pekerjaan perencanaan perancangan. (3) Besar dan jenis tahapan angsuran Imbalan Jasa ditentukan sesuai kesepakatan dan sebanding dengan nilai/ bobot prosentasi tahapan pekerjaan perencanaan perancangan yang ditentukan dan tercakup dalam tiap tahapan angsuran. c. Besar angsuran tahap selanjutnya adalah sebanding dengan nilai/ bobot prosentasi Imbalan Jasa tiap atau beberapa tahap pekerjaan perencanaan perancangan yang tercakup dan disepakati dalam tiap tahapan angsuran. meliputi biaya-biaya yang digunakan untuk perjalanan. Tahap angsuran kedua dan selanjutnya sesuai kesepakatan mengikuti setiap atau beberapa tahap pekerjaan perencanaan perancangan. Pasal 70 Ganti Rugi untuk Keterlambatan Jika penyelesaian tugas Arsitek mengalami keterlambatan. b.

Perwujudan pertama. Perwujudan kedua. Pasal 75 Perencanaan Perancangan Perbaikan dan Perubahan Bangunan Mengingat sulit dan rumitnya pekerjaan perencanaan perancangan perbaikan/ perubahan atau yang bersifat renovasi. Pasal 73 Perwujudan Rancangan Bangunan secara berulang (1) Jika suatu rancangan bangunan diwujudkan lebih dari satu kali secara menyeluruh. dengan catatan tambahan tersebut sebanyak-banyanya 20% dari seluruh Imbalan Jasa perencanaan perancangan. maka Imbalan Jasa perencanaan perancangan perbaikan bangunan menjadi satu setengah kali atau 150% dari imbalan jasa standar.C. Pasal 72 Pekerjaan tidak diwujudkan dan atau dilaksanakan secara swakelola Jika hasil rancangan akan dilaksanakan sendiri/swakelola oleh Pengguna Jasa atau tidak jadi diwujudkan. Pasal 76 . maka Imbalan Jasanya harus diperhitungkan sesuai dengan bobot tahapan perencanaan perancangan yang ditugaskan sesuai Pasal Imbalan Jasa Perencanaan Perancangan Bangunan ayat 3. adalah 75%. rehabilitasi. b. maka Imbalan Jasa untuk perwujudan ulangan dihitung berdasarkan Pasal Peruwujudan Rancangan Bangunan secara berulang dan untuk pekerjaan perubahan dihitung penuh terhadap harga bagian pekerjaan yang diubah. c. (2) Pengawasan Berkala dalam perwujudan bangunan berulang dihitung secara penuh untuk setiap perwujudan bangunan. adalah 100%. ditambah separuh/ 50% dari Imbalan Jasa tahap pekerjaan sisanya.Jika Pengguna Jasa menugaskan sebagian dari tahap pekerjaan sebagaimana tersebut dalam Pasal Tahapan Layanan. Perwujudan ketiga dan berikutnya masing-masing sebesar 50%. maka imbalan Jasa perencanaan perancangan untuk : a. Pasal ini tidak berlaku untuk Rumah Tinggal sederhana yang dibangun secara seri seperti tersebut pada Lampiran 3. restorasi bangunan. maka Imbalan Jasa atas perencanaan perancangan yang telah diselesaikan sesuai perhitungan berdasarkan perkiraan/ rencana biaya yang dibuat oleh Arsitek. Pasal 74 Perwujudan ulang dengan perubahan sebagian Jika jelas bahwa suatu perwujudan merupakan ulangan dari rancangan yang pernah diwujudkan tetapi dengan perubahan.

maka kelebihan waktu tersebut dihitung sebagai tambahan jumlah hari. . (2) Rencana dan taksiran biaya perjalanan dan biaya lain harus disepakati oleh kedua belah pihak. sertabiaya perjalanan mencakup biaya akomodasi dan angkutan. maka Imbalan Jasa untuk Pra-Rancangan pertama dan kedua dihitung penuh sedang Imbalan Jasa untuk tiap Pra-Rancangan berikutnya dihitung sebesar 60% dari Imbalan Jasa Pra-Rancangan. Pada tahap-tahap sesudah Pra-Rancangan. maka apabila pengguna jasa menghendaki lebih dari satu alternatif rancangan. maka Imbalan Jasa rancangan yang pertama dihitung penuh dan untuk tiap-tiap tambahan alternatif rancangan tersebut imbalan jasa tambahan dihitung penuh sesuai ketentuan standar. Pasal 79 Penggantian Ongkos Perjalanan dan Uang Harian (1) Apabila Arsitek dalam melaksanakan tugasnya harus melakukan perjalanan ke lokasi proyek dengan jarak lebih dari 50 km. Pasal 78 Lebih dari satu rancangan untuk satu tugas Jika Pengguna Jasa menghendaki lebih dari 2 (dua) alternatif Pra-Rancangan untuk satu tugas yang sama. kepadanya dibayar pula uang harian sebagai pengganti biaya terhadap waktu yang dipakai selama dalam perjalanan tersebut berdasarkan Imbalan Jasa minimum yang dicantumkan pada Lampiran 3. Pasal 77 Perubahan Rancangan Imbalan Jasa untuk perubahan rancangan yang tidak disebabkan oleh Arsitek dihitung sebagai berikut : Bagian-bagian yang sudah dikerjakan rancangannya dan tidak dapat dipergunakan lebih lanjut tetap dibayarkan menurut ketentuan standar. Kecuali apabila ternyata tugas yang harus diselesaikan melebihi batas waktu kerja perhari tersebut.Dua Arsitek untuk satu Pekerjaan Jika dua Arsitek yang masing-masing berdiri sendiri mendapatkan satu tugas yang harus dikerjakan bersama. Dengan ketentuan tiap hari perjalanan diperhitungkan 7 (tujuh) jam kerja. maka jumlah Imbalan Jasa ditambah satu seperlima kali atau 120% dari Imbalan Jasa standar.Tabel Biaya Langsung Personil. berikut pekerjaan perencanaan perancangan yang masih harus dikerjakan merupakan suatu penugasan baru yang imbalan jasanya dibayarkan menurut ketentuan standar.F . maka disamping Imbalan Jasa Arsitek yang telah ditentukan. Sisa bagian pekerjaan perencanaan perancangan yang dapat dipergunakan.

(2) Apabila Arsitek dapat menjelaskan bahwa pengembalian tugasnya adalah beralasan dan disebabkan oleh karena hal-hal diluar kehendak Arsitek dan atau relasi kerjanya. (2) Apabila Pengguna Jasa dapat membuktikan bahwa pembatalan tugas disebabkan oleh karena hal-hal diluar kehendak Pengguna Jasa serta wajar dan atau akibat relasi-relasi kerjanya. (3) Apabila Pengguna Jasa dapat membuktikan bahwa pembatalan tugas adalah terpaksa dilakukan. (2) Keputusan tentang pembubaran badan hukum pihak Pengguna Jasa dengan sendirinya mengakibatkan pembatalan tugas secara sepihak seperti tersebut dalam Pasal Pembatalan Tugas ayat 1. disebkan ketidak mampuan Arsitek dalam memenuhi syarat-syarat pelaksanaan tugas atau Arsitek melanggar Kode Etik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek atau seperti tersebut dalam surat perjanjian kerja yang telah disepakati bersama.Pasal 80 Pembatalan Tugas (1) Suatu penugasan dapat dibatalkan Pengguna Jasa dengan syarat Imbalan Jasa yang seharusnya diterima Arsitek untuk menyelesaikan seluruh tugas tersebut wajib dibayar seluruhnya. yang berarti Arsitek melepaskan hak mendapatkan Imbalan Jasa untuk pekerjaanpekerjaan yang telah dilaksanakan berikut penggantian dari semua biaya yang telah dikeluarkan. berikut penggantian semua biaya yang telah dikeluarkan untuk penyelesaian tugas tersebut. Pasal 81 Pengguna Jasa Meninggal Dunia (1) Apabila Pengguna jasa meninggal dunia. Pasal 82 Pengembalian Tugas (1) Arsitek dapat mengembalikan tugas yang telah diberikan kepadanya. maka Pengguna Jasa yang wajib dibayar Pengguna Jasa meliputi Imbalan Jasa pekerjaan yang telah diselesaikan dan biaya-biaya lain yang telah dikeluarkan oleh Arsitek. maka tugas yang diberikan kepada seorang Arsitek tidak batal. maka Arsitek berhak menerima Imbalan Jasa yang menjadi haknya atas pekerjaan yang telah diselesaikannya berikut biaya-biaya lian yang . maka Pengguna Jasa dapat tidak wajib membayar apapun kepada Arsitek asalkan segala hasil kerja Arsitek yang telah diserahkan dikembalikan serta tidak akan digunakan oleh Pengguna Jasa untuk kepentingan apapun. (3) Kehilangan status badan hukum dari badan Pengguna Jasa berarti juga pembatalan tugas secara sepihak seperti tersebut dalam Pasal Pembatalan Tugas ayat (1). Hak dan kewajiban Pengguna Jasa dilanjutkan oleh ahli warisnya.

c. Pasal 84 Biaya-biaya selain Imbalan Jasa Biaya-biaya yang tidak termasuk dalam Imbalan Jasa dan dibebankan kepada Pengguna Jasa meliputi : a. maka akan mengakibatkan pengembalian tugas oleh Arsitek seperti tersebut dalam Pasal Pengembalian Tugas ayat (2). Apabila Arsitek bertindak atas nama/ merupakan suatau Badan Usaha maka tanggungjawab Arsitek menjadi tanggungjawab badan usaha tersebut. Apabila terjadi keputusan pembubaran Badan Usaha Arsitek. wajib ada izin tertulis dari ahli waris Arsitek apabila imbalan jasa belum diselesaikan pembayarannya. Untuk pelaksanaan pekerjaan perencanaan perancangan atau melanjutkan rancangan yang telah dibuat oleh Arsitek yang meninggal. Biaya-biaya untuk urusan Pengadilan dan Arbitrase yang tidak secara langsung menyangkut penugasannya. dokumen-dokumen dan akte-akte yang diperlukan untuk pembikinan rancangan seperti sertifikat tanah dan sebagainya.telah dibayar oleh Arsitek kepada relasi kerjanya sebagai akibat perjanjianperjanjian yang dibuat oleh Arsitek untuk kepentingan penyelesaian tugas. pengukuran untuk pembangunan baru atau perbaikan/ perombakan. (3) Apabila tugas dikembalikan akibat Pengguna Jasa melakukan kelalaian terhadap Arsitek. memperoleh dan membuat salinan-salinan dari surat-surat. b. maka berakibat terjadinya pengembalian tugas oleh Arsitek seperti tersebut dalam Pasal Pengembalian Tugas ayat (2). pemeriksaan bahan-bahan dan lain-lain. maka tugas yang telah diberikan kepada Arsitek dengan sendirinya gugur. pemeriksaan dan pengetesan konstruksi dan sistem bangunan yang ada diatas halaman proyek atau halaman yang berbatasan. pemeriksaan hakhak atas tanah. Biaya-biaya untuk memeriksa. Biaya-biaya yang diperlukan untuk pembongkaran. Pasal 83 Arsitek Meninggal Dunia Apabila Arsitek meninggal dunia. Apabila terjadi kehilangan status Badan Hukum dari Badan Usaha Arsitek. (1) (2) (3) (4) (5) . maka Pengguna Jasa harus membayar kepada Arsitek Imbalan Jasa berikut semua biaya yang menjadi kewajibannya. berikut semua biaya yang telah dikeluarkan oleh Arsitek sebagai akibat perjanjian yang dibuat Arsitek dengan relasi kerjanya untuk kepentingan penyelesaian tugas. penyelidikan tanah. pengeboran. dan kepada ahli warisnya tetap wajib dibayarkan Imbalan Jasa atas pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Arsitek.

biaya untuk memperoleh perijinan dan Ijin Mendirikan Bangunan.d. Biaya Premi Asuransi yang harus ditutup oleh Arsitek sesuai ketentuan yang berlaku. gambar perspektif berwarna dan sebagainya. risalah penunjukkan dan lampiran-lampiran lain untuk Perjanjian Kerja. e. . h. penggandaan dokumen dan lain sebagainya. Biaya menyewa ruangan untuk pelelangan dan yang berhubungan dengan itu. f. Biaya pembuatan gambar-gambar revisi. biaya untuk juru sita. g. Biaya-biaya untuk memperbanyak gambar-gambar. Biaya pembuatan maket atau penyajian dalam bentuk lain misalnya foto. biaya pembuatan dokumentasi dan sebagainya. uraian dan syaratsyarat pelaksanaan. selain daripada jumlah 3 (tiga) copy untuk Pengguna Jasa yang menjadi kewajiban Arsitek serta kebutuhan sendiri. biaya pembuatan kontrak. gambar-gambar ulang.

b. mengikuti ketentuan : a. quantity surveyor dan tenaga ahli spesialis lainnya dan mereka tidak bekerja dibawah/ sebagai staf Arsitek. elektrikal. Pasal 86 Imbalan Jasa Layanan Tambahan Imbalan Jasa Layanan Tambahan Jasa Arsitek sebagaimana tersebut dalam BAB Layanan Tambahan Jasa Arsitek. atau lumpsum yang disepakati bersama. Pasal 87 Imbalan Jasa Layanan Khusus Imbalan Jasa Layanan Khusus Jasa Arsitek dihitung secara terpisah diluar Imbalan Jasa Layanan Utama Jasa Arsitek. c. dihitung berdasarkan biaya langsung personil dan non personil atau lumpsum yang disepakati bersama. Apabila dalam penanganan pekerjaan manajemen Konstruksi atau Mananjemen Proyek ini diperlukan dan ada penugasan kepada Tenaga Ahlitenaga ahli lain seperti sipil. Standar Imbalan Jasa masing-masing jenis bidang keahlian yang ditentukan oleh Organisasi Profesi bidang keahlian yang bersangkutan (IAP/ HDII dan lain-lain). d. . dan tidak termasuk dalam Imbalan Jasa layanan utama Jasa Arsitek. Cara dan waktu pembayaran hendaknya berdasarkan persetujuan bersama antara Arsitek dan pengguna Jasa yang dituangkan dalam perjanjian/ kontrak kerja antara Arsitek dengan Pengguna Jasa. mekanikal.BAB 8 KETENTUAN IMBALAN JASA LAYANAN LAINNYA Pasal 85 Imbalan Jasa Layanan Pendahuluan Imbalan Jasa Layanan Pendahuluan Jasa Arsitek dihitung berdasarkan biaya langsung personil dan non personil atau lumpsum yang disepakati bersama. Imbalan jasa untuk layanan khusus ini ditagihkan dan dibayarkan berdasarkan cara perhitungan biaya langsung personil dan non personil atau lumpsum yang disepakati bersama. maka Pengguna Jasa wajib membayar imbalan jasa tambahan/ tersendiri sesuai ketentuan perhitungan Biaya Langsung Personil (Remuneration) tenaga Ahli yang bersangkutan dan atau sesuai standar Imbalan Jasa dari Asosiasi Profesi Tenaga Ahli yang bersangkutan. dan tidak termasuk dalam Imbalan Jasa layanan utama Jasa Arsitek. struktur.

. menjelaskan rencana penanganan pekerjaan perencanaan perancangan.Konsep Perencanaan Perancangan . sebagai interpretasi dari tujuan dan kebutuhan proyek. Tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan dan Proses Pelelangan e.Sketsa Gagasan (1) Laporan Program perencanaan Perancangan yang merupakan hasil pengolahan dan analisa data primer maupun sekunder dan informasi lain yang diterima dari Pengguna Jasa maupun pihak-pihak lain yang terkait memenuhi batasan sasaran/ tujuan proyek dari Pengguna Jasa serta ketentuan/ persyaratan pembangunan yang berlaku mencakup laporan tentang : a. Tahap pengembangan Rancangan d. besaran dan jenis ruang serta analisa hubungan fungsi ruang. (2) Yang diatur dalam BAB ini hanya hasil karya yang berkaitan dengan Layanan Utama Jasa Arsitek dengan tahap pekerjaan sebagai berikut : a. Tahap Pengawasan Berkala Pasal 89 Hasil Karya Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan Hasil Karya Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan Arsitektur terdiri dari : . (3) Sketsa Gagasan merupakan gambar sketsa dalam skala yang memadai yang menggambarkan gagasan Perencanaan Perancangan yang jelas tentang pola pembaginan ruang dan bentuk bangunan. sebagai landasan penanganan perencanaan perancangan yang diwujudkan dalam uraian tertulis. program dan Konsep Perencanaan Perancangan. diagram-diagram dan atau gambar. Daftar Volume (Bill of Quantity) dan laporan-laporan lainnya.BAB 9 STANDAR KINERJA / HASIL KARYA PERENCANAAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Pasal 88 Pengertian Pengertian standar Kinerja/ Hasil Karya Arsitek : (1) Kinerja/ hasil karya Arsitek adalah Dokumen hasil Perencanaan Perancangan Arsitektur yang antara lain terdiri dari : gambar-gambar. Program dan susunan pola ruang. menjelasakan susunan kebutuhan. Rencana Anggaran Biaya (RAB. Program rencana Kerja. b. Tahap Konsepsi Perencanaan Perancangan b. Tahap Pra-Rancangan / Schematic Design c. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). (2) Konsep Perencanaan Perancangan merupakan uraian yang menampung tujuan proyek dan program Perencanaan Perancangan serta pemikiranpemikiran yang mendasar tentang latar belakang dan pertimbangan semua bidang.Program Perencanaan Perancangan .

b. Setelah seluruh gambar dan berkas laporan dijelaskan. Dokumen Konsepsi Perencanaan Perancangan ini merupakan dasar Perencanaan Perancangan tahap selanjutnya. Pasal 90 Hasil Karya Tahap Pra Rancangan Hasil Karya tahap ini adalah gambaran menyeluruh system bangunan berdasarkan Konsepsi Perencanaan Perancangan yang telah mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. Pasal 91 Hasil Karya Tahap Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja Hasil Karya tahap ini adalah pengembangan secara lebih rinci dan terukur dari Dokumen Pra Rancangan yang telah mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. 1 : 200. diperiksa dan mendapat persetujuan pengguna Jasa. maka Dokumen Pra Rancangan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk Perencanaan Perancangan tahap selanjutnya. d. dalam skala 1 : 500. meliputi antara lain: (1) Dokumen Pra Rancangan merupakan pengembangan dari sketsa gagasan ke tahap selanjutnya untuk mendapatkan persetujuan rencana dari lembaga yang berwenang. 1 : 100 dan atau yang memadai untuk kejelasan informasi yang ingin dicapai. (2) Laporan Perencanaan Perancangan yang merupakan laporan teknis yang menjelaskan tentang : a. c. Potongan bangunan : secara melintang dan memanjang untuk menunjukan secara garis besar penampang dan sistem struktur bangunan. Rencana Tapak : yang menunjukan hubungan denah bangunan dan Tata Ruang Luar/ Penghijaun didalam kawasan tapak. Pemilihan Sistem Instalasi Teknik (3) Laporan Prakiraan Biaya yang merupakan laporan perhitungan secara kasar biaya bangunan yang secara lengkap dan menyeluruh.Setelah mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. meliputi antara lain : . Tampak bangunan : yang menunjukan pandangan ke empat sisi / arah bangunan. Pemilihan Sistem Struktur Bangunan c. Denah : yang menggambarkan susunan Tata Ruang Dalam bangunan yang berskala dan menerangkan peil lantai. e. antara lain mencakup dan menjelaskan mengenai hal-hal : a. yang disajikan dalam bentuk gambar-gambar dan laporan tertulis. Gagasan Perencanaan Perancangan b. Situasi : yang menunjukan posisi bangunan di dalam tapak terhadap lingkungan berdasarkan Rencana Tata Kota.

1 : 100. merupakan dokumen untuk pelelangan dalam bentuk : a. dalam skala yang memadai untuk kejelasan informasi yang dibutuhkan (skala 1 : 500. elektrikal. dinding. ukuran dan peil elemen bangunan (Pondasi. b. Gambar-gambar Pelelangan. Detail peralatan dan perlengkapan bangunan yang melekat langsung pada bangunan. dan ukuran-ukuran elemen bangunan serta jenis bahan yang digunakan. (2) Gambar Detail Gambar-gambar detail dengan skala yang sesuai untuk kebutuhan dilapangan (1:20. yang memberikan penjelasan mengenai : a. c. lantai. koordinat bangunan. Denah yang menunjukan lantai-lantai dalam bangunan. Rencana Kerja dan Syarat-syarat/RKS Rencana Kerja dan Syarat-syarat terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu : i) Uraian Umum. mekanikal. tata ruang luar / lansekap dan lain-lain. Tampak Bangunan. c. (3) Garis Besar Spesifikasi Teknis (Outline Specifications) yang menjelaskan jenis. tipe dan karakteristik material/bahan yang dipergunakan. langit-langit dan atap) secara menyeluruh. berdasarkan Dokumen Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja yang telah mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa. peil lantai. sekurang-kurangnya mencakup :  Keterangan mengenai jenis pekerjaan  Keterangan mengenai Pengguna Jasa . 1 : 200. susunan tata ruang dalam. Potongan Bangunan. yang menujukan pandangan ke empat arah bangunan dan bahan bangunan yang digunakan secara jelas. d. 1:10 1:5 dan seterusnya). Rancangan Tapak untuk menunjukan hubungan-hubungan antara lantai dasar bangunan dan Tata Ruang Luar terhadap garis sempadan bangunan. Detail-detail pekerjaan lain yang memerlukan penjelasan yang lebih rinci dan jelas.(1) Gambar Pengembangan. secara melintang dan memanjang yang menjelaskan sistem struktur. Pasal 92 Hasil Karya Tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan dan Proses Pelelangan (1) Hasil Karya tahap Penyiapan Dokumen Pelelangan. Detail pelaksanaan dan pemasangan serta penyelesaian bahan/ material dan elemen / unsur bangunan. merupakan bundel dokumen Gambar Kerja yang telah diseleksi sesuai kebutuhan untuk Pelelangan berdasarkan paketpaket yang sudah ditentukan dan disetujui oleh Pengguna Jasa b. b. meliputi antara lain: a. 1 : 50). (4) Pra Rencana Anggaran Biaya mencakup laporan uraian perhitungan biaya yang meliputii masing-masing elemen arsitektur. jalan dan ketentuan rencana Tata Kota lainnya. struktur.

(b) Standar acuan yang digunakan (c) Tata cara pengujian  Persyaratan khusus Bilamana ketiga persyaratan yang tersebut diatas masih belum menjelaskan maksud perencana dan dianggap perlu.  Persayaratan Perlengkapan / Peralatan Bangunan atau elemen / bagian bangunan yang digunakan. maka syarat-syarat teknis merupakan keterangan lengkap dari semua hal yang tidak dapat dijelaskan secara/ melalui gambar. maka dapat ditambahnkan syaratsyarat khusus. (2) Dokumen tersebut diatas merupakan dasar untuk pelaksanaan pekerjaan terutama gambar kerja maupun RKS. menjelaskan tentang : (a) Persyaratan mutu / kualitas produk dan kinerja / performance. Rencana Anggaran Biaya (RAB) Sesuai dengan tata cara pelelangan Rencana Anggaran Biaya dibuat berdasarkan uraian pekerjaan yang disusun menurut jenis pekerjaan yang ada dalam pelaksanaan konstruksi. c. Oleh karena itu semua informasi didalamnya harus difinitif dan tidak mengandung pertentangan atau perbedaan satu dengan lainnya. RAB untuk tahap ini disusun berdasarkan gambar kerja dan RKS dengan memperhitungkan segala biaya pengadaan bahan maupun alat. (3) Pelelangan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh penawaran biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan yang wajar dan memenuhi syarat- . Mengingat bahwa syarat-syarat teknis mempunyai hubungan sangat erat dengan gambar-gambar dan Rencana Anggaran Biaya. sekurang-kurangnya mencakup :  Persyaratan Bahan dan Cara Pelaksanaan : (a) Jenis dan uraian teknis pelaksanaan pekerjaan (b) Jenis dan mutu bahan yang dipergunakan (c) Persyaratan tata cara pelaksanaan. Keterangan mengenai Perencana Perancang  Keterangan mengenai Pengawas Terpadu  Syarat-syarat Pelelangan  Bentuk Surat Penawaran ii) Syarat-syarat Administrasi. Karena harus lebih teliti dan cermat agar RKS atau gambar-gambar tidak satu bagianpun yang bertentangan satu dengan yang lainnya. sekurang-kurangnya mencakup :  Jangka waktu pelaksanaan  Tanggal penyerahan pekerjaan  Syarat-syarat pembayaran  Denda kelambatan  Besaran jaminan Pelaksanaan  Asuransi iii) Syarat-syarat Teknis. dan (d) Persyaratan Teknis lainnya.

Memberikan saran/ nasehat serta rekomendasi pemilihan Pelaksana Konstruksi Pasal 93 Hasil Karya Tahap Pengawasan Berkala Arsitek sebagai Perencana perancang dalam tahap pelaksanaan konstruksi dan bukan sebagai Pemimpin Proyek atau Pengawas Terpadu melakukan Pengawasan Berkala mewakili Pengguna Jasa dalam hal-hal yang menyangkut teknik pelaksanaan Konstruksi. yang meliputi : (1) Memberikan penjelasan tambahan untuk memperjelas maksud dan pengertian yang telah ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan / dokumen perjanjian / kontrak kerja konstruksi. (4) Arsitek pada Tahap Pelelangan membantu Pengguna Jasa secara keseluruhan atau sebagian dalam : a. . (3) Memeriksa dan apabila diperlukan memperbaiki atau memerintahkan untuk memperbaiki gambar bengkel / shop drawing yang dibuat oleh Pelaksana Konstruksi dan atau pihak ketiga untuk Pelaksanaan Konstruksi. (2) Membuat gambar-gambar dan atau syarat-syarat tambahan untuk menyesuaikan dengan keadaan lapangan. bila dianggap perlu untuk memperjelas hal-hal yang kurang jelas dalam dokumen pelaksanaan / dokumen perjanjian/ kontrak kerja konstruksi. atau sebanyak-banyaknya 2 (dua) minggu sekali.syarat pembangunan sehingga pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan dengan baik dan benar. Memberikan penilaian atas penawaran aspek teknis c. Mempersiapkan Dokumen Pelelangan b. (4) Pemeriksaan Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya 4 (empat) minggu sekali.

........... Jabatan : ...................................... PIHAK PERTAMA menugasi PIHAK KEDUA untuk melaksanakan pekerjaan Perencanaan Perancangan ……………………………………………………………………………… ……… yang berlokasi di ……………………………………………………………………………… ………… Selanjutnya disebut PROYEK................ Surat Perintah Kerja (SPK) PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA............. Surat Penawaran PIHAK KEDUA yang disetujui oleh PIHAK PERTAMA.................................. Alamat : ................... N a m a : ........ tahun 2001.. yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)....... Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA............................................................... Alamat : ... Tanggal …………….... tanggal . bulan ............ KEDUA BELAH PIHAK sepakat untuk mengadakan Perjanjian Kerja yang saling mengikat..... Pasal 2 TUGAS PEKERJAAN (1) (2) (3) (4) .......... Jabatan : ... Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.............................. tahun ...................... : …………………………………… Perjanjian ini dibuat pada hari ....................................... N a m a : ........ Nomor ……………….....Lampiran 1 Standar/Format Perjanjian Kerja Pekerjaan Perencanaan Perancangan PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PERENCANAAN PERANCANGAN No............................... antara : A................................ sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat sebagaimana tercantum dalam pasal-pasal sebagai berikut : Pasal 1 DASAR PERJANJIAN KERJA Kerangka Acuan Kerja (KAK) / Term of Reference (TOR) Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dengan Pengguna Jasa....................... B......................................

Konsepsi Perencanaan Perancangan b.(1) PIHAK PERTAMA menugasi PIHAK KEDUA untuk melaksanakan Pekerjaan Perencanaan Perancangan ……………………………………………………………. Penyiapan Dokumen Pelelangan dan Proses Pelelangan e. (2) Rincian Tugas Perencanaan Perancangan adalah sebagai berikut : a. PIHAK KEDUA wajib melaksanakan tugasnya dengan segala kemampuan. PIHAK KEDUA wajib memperhatikan semua peraturan dan undang-undang yang berlaku sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini. yang berlokasi di …………………………………………………………. termasuk kebiasaan. seperti yang tertera pada Perjanjian Kerja Pemborongan. Pengawasan Berkala / Periodic Inspection Pasal 3 JANGKA WAKTU PELAKSANAAN TUGAS Jangka waktu pelaksanaan tugas Perencanaan Perancangan adalah sebagai berikut : (1) Pekerjaan sesuai Pasal 2 ayat a.b dan c :   (2)  Diselesaikan oleh PIHAK KEDUA selambat-lambatnya ……… (……) hari kalender terhitung dari tanggal ditandatanganinya Perjanjian Kerja ini atau selambat-lambatnya tanggal ……………… Pekerjaan sesuai Pasal 2 ayat d :  Diselesaikan oleh PIHAK KEDUA sesuai dengan jadwal Pelelangan yang dibuat dan disepakati oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA Pekerjaan sesuai Pasal 2 ayat e :  Pengawasan Berkala / Periodic Inspection Diselesaikan oleh PIHAK KEDUA sesuai dengan jadwal waktu pelaksanaan pembangunan / konstruksi fisik yang disepakati bersama oleh PIHAK PERTAMA dengan KONTRAKTOR. keahlian dan pengalaman yang dimilikinya sehingga pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Perancangan sesuai dengan Pedoman / Persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. tradisi dan tata laksana yang lazim berlaku. diluar kewajiban yang harus . Pra Rancangan / Schematic Design c. PIHAK KEDUA wajib mengamankan kepentingan PIHAK PERTAMA dan berusaha mencapai hasil Perencanaan Perancangan yang terbaik dalam jangka waktu dan anggaran biaya yang tersedia. kecuali dengan persetujuan PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA harus bersedia memberikan cetakan-cetakan dari dokumen pekerjaan Perencanaan Perancangan yang telah dikerjakannya kepada PIHAK PERTAMA apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja d. PIHAK KEDUA tidak diperkenankan mengalihkan tugas yang diterimanya kepada pihak lain. Yaitu dihitung dari saat mulainya Pekerjaan Persiapan sampai berakhirnya Pelaksanaan Pembangunan / Konstruksi Fisik (prestasi pelaksanaan 100%) Konsepsi Perencanaan Perancangan Pra Rancangan / Schematic Design Pengembangan Rancangan dan Gambar Kerja Penyiapan Dokumen Pelelangan dan Proses Pelelangan (3) (1) (2) (3) (4) (5) (6) Pasal 4 KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB PIHAK KEDUA PIHAK KEDUA bertanggung jawab atas hasil perencanaan perancangan Arsitektur yang dibuatnya.

: …………………………………. PIHAK PERTAMA wajib menyiapkan dan memberikan data. termasuk jadwal dan anggaran biaya pembangunan serta program pembangunan berupa Kerangka Acuan Kerja (KAK) / Term of Reference (TOR). termasuk pemberian ijin untuk setiap waktu masuk ke lokasi proyek dan pemberian surat pengantar dalam rangka menghubungi instansi-instansi yang bersangkutan. Pasal 5 KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB PIHAK PERTAMA PIHAK PERTAMA wajib memberikan petunjuk yang jelas kepada PIHAK KEDUA tentang maksud. informasi. PIHAK PERTAMA wajib melakukan pemeriksaan dan memberikan persetujuan atas hasil pekerjaan PIHAK KEDUA selambat-lambatnya dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah gambar-gambar dan atau dokumen-dokumen diserahkan dan dijelaskan oleh PIHAK KEDUA. tujuan serta tata laksana pembangunan yang diinginkan. : …………………………………. Untuk PIHAK KEDUA : Nama : …………………………………... (9) PIHAK KEDUA wajib menunjuk wakilnya yang berpengalaman untuk pelaksanaan tugas dalam proyek ini sebagai wakil dari PIHAK KEDUA dan bekerja untuk dan atas nama PIHAK KEDUA. PIHAK PERTAMA wajib memberikan fasilitas secukupnya kepada PIHAK KEDUA dalam rangka pelaksanaan pekerjaan ini.. Fax No. PIHAK PERTAMA wajib untuk menunjuk wakil-wakilnya yang diberi wewenang untuk mewakili PIHAK PERTAMA dengan hak menjalankan / menolak keputusan / persetujuan untuk dan atas nama PIHAK PERTAMA sehubungan dengan dibuatnya Perjanjian Kerja ini untuk kepentingan Proyek dimana wakil tersebut bertugas untuk membina hubungan kerja yang .. (8) PIHAK KEDUA harus dapat bekerja sama dengan PIHAK PERTAMA dan pihak-pihak lain yang ditunjuk oleh PIHAK PERTAMA sehubungan dengan proyek ini. Jabatan : …………………………………. rekomendasi dan atau mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan oleh PIHAK KEDUA untuk keperluan / kelancaran Proyek. Telepon No. PIHAK PERTAMA wajib membayar Imbalan Jasa sehubungan dengan pekerjaan Perencanaan Perancangan ini kepada PIHAK KEDUA sesuai yang tersebut dalam Pasal 6 Perjanjian Kerja ini. (7) PIHAK KEDUA wajib menjaga kerahasiaan proyek ini dan ikut memastikan agar informasi proyek tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.diberikan oleh PIHAK KEDUA sesui yang tersebut pada Pasal 6 ayat (2) Perjanjian ini. dengan tanggungan biaya oleh PIHAK PERTAMA.

.. Fax No........ c.... ……………… (………………………........baik dengan PIHAK KEDUA serta pihak-pihak lain yang bersangkutan dalam Proyek. e. rupiah). Biaya cetak 3 (tiga) copy untuk dokumen lelang.... b..... Biaya pembuatan dokumen tambahan untuk kepentingan Marketing.......... c. Biaya survey ke luar kota / negeri... atau sebesar Rp........ (... atau sebesar Rp.............…. honorarium dari personil yang ditugaskan langsung maupun tidak langsung pada Proyek.............. d.. : …………………………………..... rupiah) dibayar setelah ……………………………………………………... Segala bentuk asuransi yang harus dipenuhi PIHAK KEDUA sehubungan dengan pekerjaannya... : …………………………………. ..... Telepon No.. (.... Gaji..... PPN (Pajak Pertambahan Nilai).... Biaya perbanyakan dokumen baik cetak biru dan foto copy diluar 3 (tiga) copy yang menjadi kewajiban PIHAK KEDUA..... (3) Hal-hal yang tidak termasuk dalam Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan dan menjadi tanggungan atau diganti oleh PIHAK PERTAMA adalah : a.... (2) Angsuran Kedua : ……% dari Jumlah biaya Perencanaan Perancangan... b. Jabatan : …………………………………. (2) Hal-hal yang termasuk di dalam Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan adalah : a.….. Pasal 6 BIAYA PERENCANAAN PERANCANGAN (1) Besarnya Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan adalah Rp.. Pajak Penghasilan (PPH) atas Imbalan Jasa PIHAK KEDUA.. Biaya reproduksi dokumen koordinasi antar disiplin dalam rangka penyelesaian proyek.. Pasal 7 PELAKSANAAN PEMBAYARAN Pelaksanaan pembayaran Imbalan Jasa / Biaya Perencanaan Perancangan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA diatur dengan angsuran sebagai berikut : (1) Angsuran Pertama : ……% dari Jumlah biaya Perencanaan Perancangan....... d. rupiah) setelah ……………………………………………………. tidak termasuk PPN 10%..... Untuk PIHAK PERTAMA : Nama : …………………………………..

Rupaih).% dari jumlah biaya Perencanaan Perancangan untuk setiap hari keterlambatan. (2) Segera setelah mengetahui adanya Force Majeure. Yang dimaksud dengan Keadaan Memaksa / Force Majeure menurut Perjanjian Kerja ini adalah : Bencana alam. kebijaksanaan / peraturan pemerintah di bidang moneter. Revolusi dan Huru-hara atau keadaan yang secara wajar tidak dapat dihindari serta berada diluar kemampuan manusia. maka Imbalan Jasanya diperhitungkan berdasarkan musyawarah KEDUA BELAH PIHAK atau akan diadakan negosiasi kembali antara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian tambahan (addendum) yang merupakan bagian tidak terpisahkan sari Perjanjian Kerja ini. PIHAK KEDUA akan menyampaikan kepada PIHAK PERTAMA secara tertulis tentang hal tersebut . Sabotase. Pasal 9 SANKSI DAN DENDA (1) Bila PIHAK KEDUA terlambat menyelesaikan pekerjaan seperti tersebut pada pasal 3 diatas. (2) Jumlah denda maksimal adalah sebesar 5% dari jumlah biaya Perencanaan Perancangan atau sebesar Rp. Wabah. Pemogokan umum. dll. Untuk seterusnya segala sesuatu mengenai pemutusan hubungan kerja ini diatur menurut Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dengan Pengguna Jasa tahun 2001 yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pasal 11 FORCE MAJEURE (1) Ketentuan untuk melaksanakan jasa sesuai dengan jadwal seperti diatur dalam Pasal 3 Perjanjian kerja ini tidak berlaku bila terjadi Keadaan Memaksa / Force Majeure. Pasal 10 PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Bila denda telah mencapai maksimal. maka kepada PIHAK KEDUA akan dikenakan denda sebesar …. dan PIHAK KEDUA tidak dapat memberi alas an yang dapat dipertanggungjawabkan. ………………… (……………………………………. maka PIHAK PERTAMA dapat memutuskan hubungan kerja secara sepihak dengan PIHAK KEDUA dan dapat menunjuk Konsultan lain untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kebakaran. Blokade.(3) dan seterusnya Pasal 8 PEKERJAAN TAMBAH KURANG Untuk pekerjaan tambah dan kurang selain dari paket pekerjaan seperti tercantum dalam Pasal 2 Perjanjian Kerja ini. Perang.

........................ maka perkaranya akan diteruskan kepada Pengadilan Negeri yang berwenang untuk memutuskannya............. .... (2) Bila dengan musyawarah tidak mencapai kesepakatan... maka persoalannya akan diserahkan kepada Panitia Pendamai.......... Biaya pengadaan Panitia Pendamai ditanggung oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA secara prorata. Pasal 13 PENUTUP 1...... PIHAK KEDUA ..... .........) dan berlaku sejak ditandatangani oleh KEDUA BELAH PIHAK. maka atas persetujuan KEDUA BELAH PIHAK dapat dibuat Perjanjian Kerja Tambahan / Addendum..... (3) Bila Panitia Pendamai tersebut tidak dapat menyelesaikan perselisihan... PIHAK PERTAMA ........... untuk dapat diadakan pemecahan oleh pihak-pihak yang berkepentingan..... Perjanjian Kerja ini dibuat dalam rangkap .. (... Pasal 12 PERSELISIHAN (1) Pada dasarnya bila terjadi perselisihan antara KEDUA BELAH PIHAK akan diselesaikan secara musyawarah..... Bila terjadi kekeliruan atau perubahan atas Perjanjian Kerja ini.....selambat-lambatnya dalam 7 (tujuh) hari kalender..... 2.............

21% 3.000 juta 120.000 juta Khusus 2.56% 2.36% 4.000 juta 200.04% 3.28% 3.51% 3.50% 2.000 juta 160.00% 8.71% 2..000 juta 300.54% 4.50% Kategori Bangunan 1 2 6.78% 2.30% 4.10% 3.000 juta 280.60% 2.98% 3.00% 3.48% 4.05% 4.06% 3.000 juta 240.00% 5. ….87% 2.98% 2.50% .55% 6.30% 3.87% 3.51% 2.00% 6.54% 3.12% 5..82% 4.80% 3.15% 3..62% 3.00% 6.78% 3.50% 2.000 juta 4.000 juta 80.000 juta 40.28% 3.71% 3.48% 3.000 juta 100.000 juta 140.32% 4.50% 2.65% 3.03% 3.96% 4.60% 3. tgl …….56% 3.50% 3.000 juta 300.86% 3.50% 7.000 juta 60.01% 3.Lampiran 2 Surat Keputusan (SK) IAI No.000 juta 180.65% 2.12% 2.000 juta 260.12% 3. tahun ……. LAMPIRAN 2 A TABEL PERHITUNGAN IMBALAN JASA PERENCANAAN PERANCANGAN BANGUNAN GEDUNG Biaya Bangunan sampai Kurang Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Lebih Rp 200 juta 200 juta 2.78% 4.000 juta 20.37% 3.000 juta 220.00% 3 8.53% 3.50% 5.95% 6.50% 7. tentang …………….53% 2.

14 1.52 2.27 2.47 2.38 2.76 1.80 (5061) 3.24 1.30 2.05 0.500 (100-80) 3.31 1.63 1.46 1.28 1.80 0.10 1.00 1.52 1.35 1.23 1.Catatan : Jika biaya bangunan terletak antara dua jumlah biaya yang tercantum dalam kolom pertama tabel tersebut diatas.26 1.40 1.69 1.12 1.24 1.68 1.34 1.01 0. LAMPIRAN 2 D TABEL BIAYA LANGSUNG PERSONIL/REMUNERATION BAGI ARSITEK BILA TIDAK DAPAT DITENTUKAN DENGAN TABEL PROSENTASE D.57 2.65 1.92 Catatan :  Imbalan jasa untuk 1 rumah sebagai tercantum.48 1.95 0.59 1.44 1.96 0.57 2.  Prosentase imbalan jasa Perencanaan perancangan untuk 1 buah rumah sesuai dengan / dapat dilihat pada Tabel Lampiran 3 B.25 1.97 0.05 1.55 1.61 1.18 1.99 0.16 1. LAMPIRAN 2 B TABEL PERHITUNGAN IMBALAN JASA PERENCANAAN PERANCANGAN RUMAH TINGGAL SEDERHANA SECARA SERI Jumlah Rumah 2–5 6 – 10 11 – 15 16 – 20 21 – 30 31 – 40 41 – 50 51 – 75 76 – 100 101 – 150 151 – 200 201 – 300 301 – 400 401 .50 2.82 (5551) 3.01 1.81 1. TABEL PER JAM ARSITEK TARIF PER JAM .70 0.77 (6661) 3.47 1.86 1.10 1.50 2.93 0.83 1.87 0.37 1.33 2.08 1.11 0. hanya berlaku untuk pemilik yang menghuni rumah dan bukan untuk dijual dengan melalui penelitian IAI.24 2.71 1.62 Luas Satu Rumah (dalam meter persegi) (8070) 3.93 0.68 1.14 2.01 0.20 1.79 0.21 1.38 1.85 (40-45) 3.98 1.81 0.50 1.61 2.94 0.44 2.14 1.36 1.42 1.32 3.72 (7066) 3.33 1.48 2.78 1.89 0.06 0.46 1.03 0.12 0.18 1.90 (36 kebawah) 3.67 1.43 1.53 1.73 1.09 0.07 0.36 2.95 1.25 2.55 1.12 1.41 2. maka prosentase imbalan jasa dengan interpolasi garis lurus.14 1.59 2.87 (45-37) 3.30 1.56 1.1.02 0.44 2.45 1.26 2.31 1.75 1.81 0.98 0.20 1.33 1.91 0.21 1.35 2.88 1.

000 3. Rp. Rp. Rp.3 th Rp.25 th 15 .12 th 6 . 2.000 96. 45. Rp.6 th 0 .000 134.20 th 12 . Rp.000 D.35 th 25 .268.9 th 3 . Rp.000 67.35 th 20 .692.000 476.25 th 15 .000.30 th 20 .475.569.000 454.2.000 670.15 th 9 . Rp. Rp.000 15.000.000 2.000 5. Rp.888. Rp. Rp.12 th 6 .873.3 th Rp.6 th 0 . 525.000 314. Rp.000 43. Rp. Rp.000 11. Rp.000 333.3 th Rp.000 1. Rp.20 th 12 . Rp. Rp.000 38.12 th 6 .000 927.000 D.000 4.15 th 9 .000 47.25 th 15 .144. TABEL PER HARI ARSITEK DENGAN PENGALAMAN TARIF PER HARI Lebih dari 35 th 25 .15 th 9 . Rp. Rp.35 th 20 .839.9 th 3 .000 234.000 .000 8.3. Rp. Rp.000 35.000 186.DENGAN PENGALAMAN Lebih dari 35 th 25 .625. Rp.000 26.6 th 0 . Rp.893.20 th 12 .000. TABEL PER BULAN ARSITEK DENGAN PENGALAMAN TARIF PER BULAN Lebih dari 35 th 30 . Rp.000 175.9 th 3 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful