FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

Adanya pesawat terbang. 1... Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya..... Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa... gedung pencakar langit... Atom dan Molekul........... Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik.... dan Teori Gempa. Untuk jurusan teknik sipil.... komputer.. Mekanika Fluida. dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika.........2..... kapal laut.. dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil............ jembatan.1............ serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul... dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika..130 ii 1.16....... sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan.... Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika.... PENDAHULUAN 1..... Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan ..

Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika.3. Gerak Parabola. Dinamika. Gerak lurus dengan kecepatan konstan. Proses Pembelajaran . Sub topiknya mengenai : Gerak lurus. Sub topiknya adalah : Gesekan. serta Atom dan Molekul.4. Momen Inersia. Teori Panas. 1.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan. Kerja dan Energi. merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. Getaran Mekanis. Kemudian Dinamika. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya. Gerak berputar. 1 1. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. Adapun Statika. Statika. Kinematika. Gerak melingkar. dan Gelombang Mekanis. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. Momentum dan Tumbukan. Mesin mesin Angkat. Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil.

dan satuan waktu adalah sekon. dan satuan waktu adalah sekon. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2. dan waktu. Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran. Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. Untuk selanjutnya. dan waktu. menjadi hal yang penting. 2 1 2. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. disempurnakan. MKS (meter.1. massa. seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. kilogram. satuan massa adalah gram. Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1. Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter. massa. . 2. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). Oleh karena itu. second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. satuan massa adalah kilogram.

akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft .. FPS (foot.281feet (FPS) = 39. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain. Demikian pula. gaya. dan waktu.37 inches (FPS). Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot.3. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa). dan satuan waktu adalah sekon. pound. Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan. 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa.205 pound massa (FPS). dan pound gaya (untuk satuan gaya). second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. Maka. satuan gaya adalah pound. 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3.

Kuat arus listrik 6.Waktu 5. 1.Intensitas cahaya a.Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1.Jumlah zat 7. Sudut Bidang b.Massa 3.Panjang 2.Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : .Temperatur (Suhu) 4.

a.1. sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2. maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian.141592654 = 57. besar sudut totalnya = 2π radian. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R. kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran.3. Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh.Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola. Dengan demikian maka dalam suatu bola. Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2. Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR.2. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola. Lingkaran b. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2. 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya). Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o. berarti 360o = 2π radian. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian.3o . benda berbentuk bola . besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian.

0 m 0.m.s-2 Kg. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar.9144 m .3048 m 0. suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran.s-2 Kg.3 m 1852. Besaran Turunan : Karena merupakan turunan.0254 m 1609. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”.Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”.m2.s-2 Kg. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan. maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0. 6 2.m-1. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg.m2.

4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4. maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14.4482 N 0.in .3048 m : 1 inch = 0. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0. dan satuan massa.594 kg 1055 J 6894.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0.2046 lbm : 1 N = 0.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf.4536 kg 14.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf. Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.1 pound gaya (lbf) = 0.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.06854 slug : 1 kg = 2.m-2 0.59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3. satuan gaya.5144 m.281 ft : 1 m = 39.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.s-1 350 m.4536 kgf 1 pound massa (lb.8 N. maka tidak perlu dikonversi.

765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0.4482 N .3048)/(60) = 0. Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah. . Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa.22482 lbf)(39. dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa.f)(ft)/(min). usaha (kerja). posisi.2.f = 4.m = 1(0.m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb. dan lainlain.2248 pound force (lbf). Misalnya : kecepatan. dimana : 1lb. gaya.448N) x (0.in = 1(4. dan lain-lainnya. maka daya dalam SI = (4.2248)/(10. suhu.4482)(0. percepatan.765) = 0.37 in) = 8. yang berarti 1m2 = 10. waktu. 2 2. 1ft = 0. jarak.022597 watt.021 lbf/ft2 .0254m) = 0.8512 lbf.281 ft. momentum. perpindahan.in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0. energi. massa.3048m .11298 N. sedang 1m = 3. bilangan riil. 8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N. torka. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris. Misalnya : panjang. lintasan. berat. 1min= 60 s . Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah.1 lbf.

) 9 Secara trigonometris.5. jadi F = Fa. Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol.Secara grafis. atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya. sebagai contoh : F (gaya).3. O Gambar 2. Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F. sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. r (posisi).1. y. Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. menyatakan arah vektor. sedang arah anak panah. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. Fy = Fy j . digambarkan dengan tanda silang (x). sedang apabila vektor keluar bidang. vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. dan z. a (percepatan). Vektor satuan pada sumbu x. dan k. dan perkalian. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor. vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya. masing-masing dilambangkan dengan i. P (momentum linier). dengan demikian maka Fx = Fx i . pengurangan.4. Fz = Fz k 2. Apabila vektor masuk bidang. dan sebagainya. v (kecepatan). j.2. digambarkan dengan tanda titik (. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor. Sebuah vector samabesar .

Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain. maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain.6.b. Misal. j.6). jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y. maka F1 = F2 2. Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2. 2.a. Fy. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx. dimana : i. Gambar 2.2. . Fz = Fz k .7. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x.Sama besar dan searah.1.7) Keterangan : Fx = Fx i . Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah. dan Fz Gambar 2. dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1. dimana besar dan arah vektor harus tetap. Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis.8.2. Fy = Fy j .1. masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2. y.

2.8. Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2. Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2. maka persamaan tersebut .9.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2. Fy. Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1. dan Fz pada gambar 2.F2 F2 Gambar 2.F2 = F1 + (-F2 ) .Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx.1. jadi F1 .9 F1 F1 F2 = F1 .c. maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx.8 dijumlahkan secara trigonometris. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2.

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang. maka F x r = τ =1000. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi. 15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N. Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C.yakni arah dari vektor C. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang.4 sin 30o = 200 N. dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada.m. sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang.0. bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) .

Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s.2. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o).12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal.1 = 4 (arah C kebawah) .Gambar 2.1 = 6 (arah D keatas). maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar). Pada gambar 2. Pada gambar 2. Jika besar A = 2. dan besar B = 2 maka besar C = 2.2. Jika besar B = 3.12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o.12. Hitung ditempat mana kapal merapat. 3. 400 m B B . dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m.

33 m/s tg θ = tg 6. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6. Jika A dan B bukan vektor nol.B x A 2. i x j = k.5m/s tg θ = 0. i x i = j x j = k x k = 0 .1154734 .5/4.2m dari tempat B 4.33 = 0.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46. maka jarak BC = 0.587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1. jadi θ = 6. sedang A x B = 0.1154734 = BC/400. j x k = i.5sin30o = 5. k x i = j 5.0.587o =0.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0. .33m/s 400m A 0. A x B = .587o 5cos30o =4. A x (B + C) = A x B + A x C 3.1154734 x 400 = 46. m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4.5m/s 6.5= 2.

terhadap sekitarnya. dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu. Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t.1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3.a.maka A sejajar B. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap. Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration). maka Lintasan benda adalah : s = v. GLBB Horizontal v . Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus.1.1. KINEMATIKA 3. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu.1. Dapat dibagi menjadi 2 : 1.t v s Gambar 3. 18 3 3.

GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal. maka akan dipengaruhi a2 vt 2 .vo ) + ½ a.(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo.t = vo (vt .t = (vt + vo )t .1.vo= a.t  vt = vo + a.2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah. kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt .s a vo s Gambar 3. 2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a. berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt .1.vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a.vo  t t = vt . dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang.vo …….(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt .Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo . misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya.t 2 .t ) t  sehingga s = vo . t + ½ a.…………….b. 3. (vt .t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v.

8 m/s2. Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo.oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9.t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3.t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3.3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2. Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) .

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g. t − 1/2 g. y vo O y vx=vo x . jarak dari tempat ia menginjak pedal gas.t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. dan kecepatan nya. ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s.voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3.t Lintasan sy = vysinθ. Tentukan posisi mobil. setelah 1 sekon.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ. Sesampai diujung jalan yang terjal.

Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran.12 = .4. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2. meskipun kecepatannya tetap.1 = 9 m. sedang vy = -g. 3. sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g.9.t = 9. Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y.9 m. Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T. 25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4.1 = -9. dimana vx = vox = 9 m.t 2 = -1/2. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula.3.25 m.8.8)2 = √177. sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon. v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r.8 m/s.vy=-g. Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at . v maka kecepatan linier v = panjang keliling . Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω. posisi mobil adalah xo=0. dan yo=0. Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v. arahnya setiap saat berubah.3 m/s.9)2 = 10.04 = 13.t = . posisi pada sumbu x = vox.8.9.t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan.

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

ada 4 macam yakni : gaya gravitasi. gaya elektromagnetik.29 5 4. kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul.1. Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya. gaya nuklir kuat. dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental. F = . GRAVITASI DAN GAYA 4. Dalam analisis terahir. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam.M)/r2 F = gaya tarik menarik . Sebagai contoh. gaya gesek dan gaya pegas. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force). Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. dan gaya nuklir lemah. Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya.m.(G. keduanya adalah gaya turunan.

(2G..67.m.G. Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya....m.g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m..M/r. atau dF/F = dg/g .10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik. sedang harga ini = Gm.. Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui..dg..M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G.M/r2 .G = Konstanta gravitasi universal = 6.M/r 2 .dr/r3 sehingga dF/F = .g..F. Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya.M..dr/r = .G. atau : dF/F = -2dr/r .2..(1) Apabila persamaan F = m.m..(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4..m.M/r2 . Besar energi potensial gravitasi Ep = .. dengan demikian besar g = G... Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m..dr/r3 ) / G..M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen.m. 2 Apabila persamaan F =G. maka : m...M.M/r  Ep = ..g = Gm.dr = - ∫ -Gm..m... Gaya Hukum Newton : .M..

Σ Fz =0) v Gambar 4. Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama.Σ Fy =0 . CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam. Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar. jadi FAksi = .sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut.Σ Fy =0 . jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 . Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan. CARA DINAMIK : a). berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”.F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1. sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan.Gaya Reaksi.1.Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4. 31 2. maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 . Suatu benda yang diam akan terus diam. F = m x a 3. Gaya Aksi = . berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .2 v Benda bergerak dengan v konstan .1 2. jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.

8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9.8m/s2 ) F=? . Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar.b). maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4. berarti ada percepatan “a”. Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah. dimana g = 9.

F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg .a A 100kg B 500kg 800kg g = 9. bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift.8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : . setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2. Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9.8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong .

Jika peti menjalani 2 putaran per sekon.789.g .Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m.52 =789.5 s.ac = 100.5 / 0.Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9.57m/s2 . Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4.8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m. Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.14) 2.v2/R = m. hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar.(3.57 = 78957 N.

R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g.v2/R m. ini pasti harus sebanding dengan m. belum meng W Gambar 5.m.m. GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f.  cos θ = Τ g. Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran.g/cosθ )sinθ =m. Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F .R = 4π L / Τ g.g = 0  F = m.g.v2/R  tg θ = v2/g.R  R = L sin θ. baik statik maupun kinetik. Σ Fy = 0 .g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g.R = (2πLsinθ/Τ) /g.v2/R = 0.Disini tidak ada gaya vertikal.v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m.tg θ =m.v2/R F sin θ . 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g. Σ Fy = F cos θ . Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2.1 alami gaya gesek apapun./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5. Ada dua macam gaya gesek : 1. sedang pada arah vertikal. merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping.

N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T . Benda diberi gaya F yang 3. Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan.a). sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2.Gambar 5. Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak.N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan. Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs. Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam. maka berlaku persamaan : keadaan bergerak.N f s = µs. Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg.maka berlaku persamaan : fk = µk.2 1. tentukan massa R b).

5 100kg C B A 30o µκ=0.5 30o g = 9.g µκ= 0.2 200kg .R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0.B. tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0. dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan.Q.4 Contoh Soal 3: .8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A. Benda P. dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.

maka f Σ Fx = f = µs. Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs . sedang Σ Fy=N-m.2 µκ =0.N.200kg Q P µκ = 0.g bergerak dalam lintasan lingkaran. dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R.2 v konstan R µκ =0.g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m. N = Gaya Normal . N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs. f = Gaya Gesek mobil pada jalan.2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R.v2/R . . berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil .N = m.

m.g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v. meskipun jalan licin (tanpa gesekan). Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs. Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m.g.g yang mana merupakan harga konstan. sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring .Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan.g = m. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir.m. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar . tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir. Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs.

nuklir. contoh: 1. dan sebagainya. Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g.g/ maka diperoleh : tg θ = = m.g  N = m.8.(2) = m.1. penyebab gaya m.R  θ = arc tg {(25)2/ 9.h .sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan.. elektromagnetik. ENERGI DAN KERJA 6.230} = 15o 40 7 6. kimia.1.. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m.g. Disini hanya akan dibahas energi mekanik.. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m.R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api. Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m.g / cos θ) sin θ v 2/ g. oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya.v2/R . Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha)...v2/R .. panas. Pada keadaan disini.v2/R adalah : N sin θ.. cahaya.. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan. ada dua yang penting yakni : 6.(1) Fy = Ncos cos θ . Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik.1. tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata..

2 k = konstanta pegas . x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s.x2 6.Ek = 0 Ep = m.h’ Ek = ½ m.1 vmax 2.2. Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6. maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .v2max Ep = 0 Gambar 6. mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6.v2 h h’ v Ek = ½ m.1.2. Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama. s Fcosθ s .3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k.g. Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya.

vt2 . maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m.h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k.g.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo. sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan. hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F . demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial.x x = v.a. besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian. Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.x = m.t = (vo+vt) t .h2 – m.x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2.Gambar 6. Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0.4 dan g =9. Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m. kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt.vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh.8m/s2.½ k.g.x22 . tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil . a = vt-vo . maka Kerja W = F.½ m.

30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2. a = 4m/s2 200m 100kg g=9. Kerja yang dilakukan oleh penarik b. Kerja yang dilakukan oleh bumi c. Tentukan : a.8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk . 43 . Kerja yang dijalani oleh beban tsb d. Kecepatan akhir beban tersebut.

MESIN-MESIN ANGKAT 7. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pada masa sekarang.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal.5 44 8 7. Pertanian. dan sebagainya.8m/s2 ) µk=0. serta banyak bidang yang lain. misalnya gedung. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya. Transportasi. yakni merubah besar maupun arah gaya.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9.200kg µk=0.8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang.1. bahkan Kedokteran dan Pendidikan. terminal. Di dunia Teknik Sipil. mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek. Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0. seperti : Industri. jembatan. jalan raya. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan .

2. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang. M.R. hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi. balok kayu.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat .(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat. batu.A. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama.3. digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan. Oleh karena itu. dan bahan-bahan bangunan lainnya. Terdapat banyak jenis mesin angkat. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin.A = Fo/Fi . misalnya: berubah menjadi panas M. baja. D. tentu semakin baik. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7. lempengan besi. dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton.R. semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan. yakni : 7.

sehingga : M. sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %. (Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya).R.akibat gesekan). korosi. senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin. 7.Si Efisiensi η = Μ. maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi.4. 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin. x 100 % D. misalnya gesekan. panas.So = Fi .Α. kelembaban.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen).. Macam macam mesin angkat .A. = D. sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika.R.R. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan. Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal).A. tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M. Fo.

a. dan Katrol Sistim Ketiga . Demikian pula harga D. Kerekan Ketam Ganda .R. jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m.R. b. misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan. Dikatakan bahwa. maka beban W tetap naik setinggi x m. Roda Poros Diferensial . Katrol Sistim Kedua. (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal. Katrol diferensial Weston . Roda Poros .R. saja.Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal .A = 1. karena. Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). = D. Kerekan Ketam Tunggal . Katrol Ganda. Bidang Miring . Katrol Ganda . Dongkrak Sekrup Sederhana . dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo . Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M. Dalam keadaan seperti ini maka M. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga. Namun meski kondisi katrol demikian. diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. meliputi : Katrol Sistim Pertama.A. juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. Roda Cacing.A. tidak mempengaruhi harga D. yang diperoleh dari Fo / Fi . gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M.

tetapi jika mesin tidak ideal.A. disini ada 4 tali.4. MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan. x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas. jika mesin ideal maka MA=DR.dan 3) W cukup besar. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal.2. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n . maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. MA = DR.Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n . caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban. maka : jika mesin ideal.

maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali.

. Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR.Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R. sedang jari-jari roda kecilnya r.

Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga. maka Si = 2πR.MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) . Dengan demikian. Dengan 2 Demikian. Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt.=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. sedang tali 2 turun sejauh 2πr. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr. M. berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si). Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So . atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali.A. dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). ini membuat beban W .

naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ . sedang .

Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So.n2/r.n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang.n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali .n2/(r.θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran. dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L.

jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi.n1. maka : silinder . sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L. dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4. n2.n3/(n2.2.n3.3. dan 1.n4) Keteranga n: n4.

n2=100 gigi . tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda. panjang L=1 m n1=300 gigi.beban akan terputar 1/n kali.n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N.2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 . maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) . n3=400 gigi . adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. Jadi: MA = R. dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n . n4= 200 gigi .

y1 + m2.y2) x Gambar 8.x2 + m3. Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1.y2) dari suatu titik acuan 0.xn) /m1 + m2 + m3 +.x1. Pusat berat merupakan fungís gravitasi. maka pusat massanya adalah (x pm.mn.mn.x1 + m2.mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1.yn) /m1 + m2 + m3 +.y3 +.x3 +. y1) x pm = (m1.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(.x1+ m2.10 8.y1) dan (x2. m2 = 2kg.x2 . dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 . Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.y2) / (m1 +m2) m2(. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg. terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat.y1 + m2.y2 + m3. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1.

1/2) /1+2 +3 = 0.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N . F2 = 16N . F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.8533 m y pm =(1.8533 .2) = 4 kg F1 a pm m2 (4. 0.0.y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8.0 +3.2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.0 + 2.1) = 8 kg m3 (1.433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.3 57 .-3) = 4 kg F3 Gambar 8.2) = 4 kg m2 (4.0 + 2.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0.1) = 8 kg P 63o m3 (1.866) /1+2 +3 = 0.1 +3.

Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N .8 +1.89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.4 + 1.0.8 + -3.12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari. maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17.25) .4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm . dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8.4 + 4.75. Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2.4) /4+8 +4 = 0. maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 . Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º.75m y pm =(2.4) /4+8 +4 = 1.Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2.89/16 = 1.25m Pusat masanya ada pada titik P (1.

sedang elemen panjangnya dx.v’ = momentum akhir .6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x. benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8.8 59 v’ 11 .t = m.dv.1.v .t = m. jadi : I = F. dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F. maka elemen massa dm = ρdx .v’ – m.dx 0 x Gambar 8. ini dinamakan impuls I.v’ – m. dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8.dt = m.7 v P = m x v (kg. Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ. Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’.v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8. Untuk menyederhanakan pembahasan.v (m. Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya. m. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t.m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F.

dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan.m1v1= .8. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara. Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1. ini adalah gaya : aksi = -reaksi. momentum.9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan.2.t  I1 = .m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi. keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda.t = . Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan. Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah.F2. benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam. masing-masing sudah mempunyai kecepatan. sehingga : F1 = . Atau : m1v1’. 60 .(m2v2’.F2 . dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8. demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1. gravitasi.I2 .

apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan. Tumbukan Elastis Sebagian a).v2. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). Tumbukan Non Elastis Samasekali a). Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum.2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v.Adapun. partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2. 61 .1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no. sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1. demikian juga untuk partikel-partikel yang lain. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3. Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1.3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama.v1. Tumbukan Elastis Sempurna a). dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).

8.v2+m3. Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan.Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot.apm = percepatan pusat massa.10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u . Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan.vn sehingga : PTot = M. dmana M = massa total sistim . Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya. maka kecepatan pancaran dM/dt Gb. . m.dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan. gravitasi bumi.n.apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar . Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya. vpm = kecepatan pusat massa.v3+….vpm . ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas. Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut. Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1.v1+m2. demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 . Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u. Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable.

Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim. sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir. Massa total sistim 10000kg. v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar. gesekan udara pada roket. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata. dt = eleven waktu. karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u. sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt. Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. dan sebagainya. dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket.11 63 . Contoh Soal 1. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa .Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = .(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket.

1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 .000(3)+4000(-5) =(10.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan.….000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10.05m/s. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi. Maka u=500m/s.Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u.(-v2) = (m1+m2)v’ 10. M = 10000kg .dM/dt = M.000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna.(1) b).1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru.m2v2’ m1 ( v1’ .dv/dt 500 = 10000. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ .000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg. berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a).000(8)+2000(0)=(10. Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10. tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0.m1v1 = m2v2 .v1) = m2 ( v2 .dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali.v2’ ) …. berarti dM/dt = (0.v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10.1 = 10000. massa peluru = 100 g = 0. Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1.v1+m2.1)(10)/1 = 1 kg/s . 500.v1+m2.

v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 . Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna. sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ .v2’2 )  m1 ( v1’2 .v2’2 ) atau : m1 ( v1’ .Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s.……(3) v2’ = v1’ + v1 .v1 ……. tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) .v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’..v12) = m2 ( v22 .v2’ ) ( v2 + v2’ ) ….v12) = m2 ( v22 . Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna. maka : v1’ = v2 + v2’.

30o---50kg v’ . Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------. 1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal.1.000.000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga.

1 F 2. ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young. .B. Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta. Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang .Vo = volume mula-mula ) 1. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan. Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9. didefinisikan beberapa besaran terkait.66 12 9. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk. antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume . Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = . Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut. Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y. sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis.1.2. Untuk membahas elastisitas.

tg θ = S. maka berlaku persamaan : F/A = S.θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah .3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.2 3.67 F F F F F F Gambar 9.

Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1.5m2 dan panjangnya 4m.Y) baja = F.Lo/(A.Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga .Y) tembaga ¡ 1000N 69 .Lo/(A. Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2.∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F.Gambar 9.1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.Lo/(A.1011N/m2 dan luas penampang 0. maka : F.

waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN.1.1 0 π/2 π 3 π /2 2π . 10. Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya. Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana. sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan.13 10. GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik).

Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1. Ketika EP membesar maka EP mengecil. 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t. Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m. f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik.ω A sin (ω t +θ)]/ dt = .-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t . sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat.ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[. maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama. harga EP adalah nol.x2 .v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k. demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = .v2 = ½ m[.x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) . dengan demikian maka : 2 . sedang EK = ½ m.ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) . Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol. dan ketika Ek maksimum.

k. misalnya : x =sinθ . dan sebagainya. Jadi Periode T = 2π √m/k .2 F = m.k. F = Gaya Aksi = m. x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut.x (Gaya Reaksi) Fb = .x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = .k. Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus. x =Asin(ω t+θ) . x =Acos ω t .a = m.d2x/dt2 m.dv/dt = m. Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : . Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus. x =sinω t .d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = . dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan .ω A cos (ω t +θ ) = . dalam persamaan (1) ini. tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda.x  m.d2x/dt2 = . 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m .Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan. x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) .k. Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ .k.x/m …….k.a = .(1)  ( k/m = konstan ) .x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10. x =cosθ .

hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9.π/6) a). Tentukan besar harga konstanta pegas k ! . Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4. C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0.2m dari titik seimbangnya adalah 100J.1 m ketika mereka masuk ke mobil.72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). Kecepatan pada saat 3 s. Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 . Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b).8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0. B). Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N. Percepatan pada saat 6s.

k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C.d2x/dt2 = .x . Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.(2) α..2.e t ……. m = massa (konstan) Gambar 10. Redaman juga berasal keadaan. F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman .dx/dt)/m d2x/dt2 + (b.Fb .dx/dt)/m + k. .x/m – (b.dx/dt  b = konstanta. dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m.x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta.73 14 10.x Fr = Gaya Redaman = .3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = .k.b. bisa diambil harga : b/m = 2r .misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair.b.dx/dt atau : d2x/dt2 = .d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = ..k.a = m.Fr  m.k.

e t mempunyai harga.t + 2rα C. α.…. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r. α.e α. atau : r2 = ω 2 .e = bilangan alam = 2. oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga. C. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran. C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C.718281828… .e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α.t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C. ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta.t α. yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1.exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2. Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif. ini bisa ditulis : x = C1.e ( − r − √ r2 – ω 2) t …. ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu.e t = 0  C..e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C.e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2.exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta.... meskipun sangat kecil. menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif.e t + ω 2C.e α. maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0. harga ini tidak memenuhi persamaan (3). . α. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 .(3) Pers. Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0.

e ( − i.e ( )….sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ . f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) . jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 .71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam . e = 2.e + i.e ( =e (C1.i. cosω ’t + a. jadi : .ω ’) t − r. e − r.t (C1.cosθ.t = faktor redaman .sinθ. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a.. e − r. Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1. ω ’. Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam . e − r.t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) ….t (C1(cosω ’t + i.θ − r.e + i.ω ’) t -i. t − i.(5) a.t ω ’.t = amplitudo getaran terredam . r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t . dimana a dan θ Maka : x = e − r.sinω ’t) + C2(cosω ’t .t (a. dan e sinθ Maka pers.ω ’) t − r − i.Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner. disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah. + C2.θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.ω ’) t + C2. √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.t − r. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r. e +i.e ( − r + i.(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ . t + C2.

e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a. sehingga besar kecepatan v : v = a. yang berarti mengalami dissipasi daya. e − r. yakni ada daya yang terhambur keluar sistim.t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan. e − r.t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a. e − r..(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r..4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang. e − r.v = dx/dt = −r. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek .. e r<< ω maka : −r.t t −a.t ω ’cos (ω ’t + θ) ..t sin (ω ’t +θ) + a. e − r.t -a Gambar 10.a. a.t − r.

a2.ω 2 = k ..a2..t − 2 r. e − r.t Ek = ½ m.a2.x 2 = ½ k(a. e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ .. e 77 −2 r.... e θ) ET = ½ k. getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda. e − 2 r.t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m.x 2 ..Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini.t (joule). sedang Ek = ½ m. e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = .t P = r. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r.a2. e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m.d2x/dt2 .. misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m..d(½ k... e − r. Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k.. e − 2 r. e (watt)…. sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k..v2= ½ m. e −2 r.t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k.v2 .a2. e − 2 r.3.t − 2 r.t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k.a2.a2.dET/dt = ..t − 2 r.a = m. K.Ep = ½ k.t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k....a2. besar ω ’ = ω Ek = ½ m.(a..a2...t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k.(8) 15 10.a2.t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r...t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r.a2.

ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient.. terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar ..5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa ... sedang harga xp = C sin ω’’t…….k.x = m...(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1). C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m .(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) . atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat. sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10..(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t.d2x/dt2  d2x/dt2 +k.x/m = Fmax sin ω ’’t/m….x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus. f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k. xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) . dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t. maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k.Fb = Gaya Balik (Reaksi) = . dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m)...ω ’’2).

dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.4.Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek.b.x .k.d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m.k. dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar. Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.a = m.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m .k. Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = .b.6 d2x/dt2 = .dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10.d2x/dt2 = .x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m.

t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama.. b/m = 2r .. maka ... demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan.…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’.t -θ ) …(3) . Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ ..t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’...t -θ ) …... bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t ……. sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan .(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ ..t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. fmax disini adalah gaya per massa.d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k.x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 . (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan... d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’. Fmax /m = fmax ( Ingat .t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) +ω 2A sin (ω’’. maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’...(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’.t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1)..t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’.t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’.

... (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2...... (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)……….................. Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : ......... dan ω’’... diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 ........{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2. (8) (Ingat....... 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t... fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan.fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’..fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2..

Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2).Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum. maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π . sedang ω’’ = 2 π f’’. yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran. maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π …. dimana f = frekwensi getaran alami.…………… . dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f . yang dinamakan Frekwensi Resonansi. sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum. Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil). Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!). jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat. Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) .

Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami. Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil . serta konstanta redaman ”r”. frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. Untuk redaman kecil. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa. Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. semakin besar harga amplitudo maksimumnya. semakin kecil redaman. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω.

Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. Lebih lanjut. Pada saat ω’’ bertambah. yakni ketika nggak ada redaman. 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi. Kurva (b). Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar. amplitudo cenderung kearah nol. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil.(d) r = medium r = besar 0 =ω 0. (c).5 ω ’’> ω 1 1. puncak bergerak kearah bawah. dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang. Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω . amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman.05t cos (2πt/3 . ketika redaman ”r” bertambah.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil. maka resonansi semakin tajam.π/5) . yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman. Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman. Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar.

tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9.06 .π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N .Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2. frekwensi sudut alami 0. Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi. sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis. GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat. Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis. dan konstanta redaman adalah 0. Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 . Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa. Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik. Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : . massa benda yang bergetar 100kg . dan 3 dimensi. frekwensi sudut paksa 0. 2 dimensi.8m/s2 2 85 17 11.04 .02 .

dt = elemen waktu . sering dihitung secara elementer.t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1).(2). perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t.dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut.dA) (J/s.m2). Dalam perhitungan teoritis.Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini. demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) . fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v.t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω.t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv.dimana : E = elemen energi . sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt. dA = elemen luas) . Jadi I = E/(t.m2) .t (3) x y = f(x-v.A) (J/s. karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2).t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang. fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v.

Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik.ω. ym cos(kx-ω.A E I = E/(t.v2 = ½ dm[. dapat diperoleh besar energi total rata-rata. atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) . ym cos(kx-ω. maka dengan menghitung salah satu saja. ym cos(kx-ω. Besar energi kinetik EK = ½ m. jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω.t)] 2 = ½ µdx ω 2.ω.A)=dE/(dt. maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t . berarti setiap saat harganya tetap sama.t)]/dt = . ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata).t)] = ½ µdx ω 2.t)] 2 dEK = ½ µdx[. adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) . ym2 + 1/4 µdx ω 2.t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t. ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik.t).t) . Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas.t))] = ¼ µdx ω 2.dA) J/s.v2 maka dEK = ½ dm. sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA.ω. sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω. yang .m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV . ym2 cos2 (kx-ω. sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus. ym2cos2 (kx-ω . dV=elemen volum. dA= elemen luasan.

Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik. 88 18 11.harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1. ym2 . ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang.ω 2. diatas 20.yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi.ym2 dimana (µ/Α) = ρ. disebut frekwensi Audio . dibawah 20 Hz = infrasonik .ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi. ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2. ym2 = 1/2 µdx ω 2. yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ.v. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik. BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α). sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20. rataratanya=0).1.ω 2.000 Hz.v. ini sama dengan P = 1/2 µ.ω 2. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut. v. termasuk Gelombang Bunyi. ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.000 Hz = ultrasonik. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s. Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . ym2 + ¼ µdx ω 2. sedang minimumnya = -1.

Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang. berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium. yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB . yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2.10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB . Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! . Besar Daya dari sumber S b). S ke B = 20m.1). tentukan : a). Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m. dan S ke C = 30m. besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB. Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. Intensitas di A dan di B c).

90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo. gerak penerima bunyi pada suatu medium.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi.C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula. Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama . atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri. ( Berarti periode To = 1/fo ). Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut. atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat. Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium. 1. merambat dengan kecepatan terbatas. Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b).

Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium. kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah. Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs.vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] . Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang . Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang. Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v). dan panjang gelombangnya λ = v/fo. panjang gelombangnya juga tak berubah.(simetri) kesegala arah. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. panjang gelombang nya tak berubah. Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v). dan lebih panjang terhadap arah –vs. maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs. sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo.To = vs/fo. 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan. .

sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain. Setiap kecepatan termasuk gelombang. Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang. dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama. Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. kita dapat tahu siapa yang bergerak. vr dan v mempunyai tanda yang sama. maka kita dapat menggabungkan keduanya. Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12. v’ = v – vr . jadi benda yang diam senantiasa ingin diam.|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo. sumber atau pengamat. Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis. dan vr mempunyai tanda yang berlawanan. kecepatannya sekarang: v ’ = v . Jika kita tahu kecepatan relatif. misal pada sumbu x. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang. demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan . f ’ = (v . Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo . diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan.|vr| .Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi.|vr|)/ λ = fo . frekwensi yang dirasakan berkurang.

Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) .02+1.r12 + m2.rC2 = 2. Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I). Partikel A. B.rA2+mB.rB2+mC. dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi.02+5. Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.1. dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar .32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m .geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi.r22 + m3.r32 + mn.ri2 = m1. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya. Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA.rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1.

ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm . Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ. R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm.C 1kg 12.L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a).2. dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar. dimana : dm = elemen massa = ρdV . dA = elemen luas . dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm. Jadi : dV = elemen volume . Tegak lurus pada ujung tongkat b). dV = elemen volume .

sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M. maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b. satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja. Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a).Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b). Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm).(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu.d2  disini d = L/2. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M. sedang M = 2m. maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2. .d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel.

I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12. Contoh 4. berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel.b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat.z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a.b  Massa M = σ. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 .a.

ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL.(ρΑL = m = massa silinder pejal .1/4[r4]oR = ½ m. dimana dm = ρdV .R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R. L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5.R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m.

2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV.r x dm = ρπr2dx . 5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0. Fluida Statis .2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R .5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13. FLUIDA (ZAT ALIR) 13. sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3. maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x . maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 . r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R.2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R .1.

Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133. berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 .dy. dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF). A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) .g = ρ.ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW).Α. dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja . Maka : F+dF+dW = F P. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P. Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P).A + dP.g = P.dy  Jika persamaan ini diintegralkan .dy.g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis.Α. gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F).dV.A + ρ.ρ.3 Pa dF=dP. Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa .A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy. 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi.A dy y A dW=dm. Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm.A  dP = .Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat.g F=P.g. yakni zat yang dapat mengalir. terdiri dari zat cair dan zat gas.g = ρ.A Fluida adalah zat alir.

A maka diperoleh : ρ. g. Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h. Berdasarkan rumus : P = Po + ρ.A = Po.A .A + –F keatas = .A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0.h = ρa.h. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri.A.ρ.A +ρa.g.h P ρ=rapat massa ∫dP = .y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po.g.A.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ.ρa. Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g.h.ρa.y.A + ρg.A .Α. maka : Fkeatas = P.g.A = ρ.h.y.h. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri.g = ρ.g. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po.g.h.ρ.g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan.g.h.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral. dengan demikian volume balok adalah V = A.y.A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po. dan gaya akibat berat balok F = m. sedang P=F/A.g.∫dy  Po – P = .A – Po. Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air.

A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa.h.ρa.h.g. V’=V . V’<V .g.h.V . Jika ρ=ρ a.V .V’ = F = ρ.A) = ρa.g.h.g.V’ = ρ. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ.A atau h.h. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh.A . ρ = ρa F keatas . Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg.h. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan.g. dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ.h.g. (a) F netto = 0 .h.g.y.A = ρa.A . balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h. Fapung = ρa. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y.tenggelam.g. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto.A.g.ρa.A) .A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force).A – ( ρ. Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.g.g.A – 0 = ρ.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .g. Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ.h. ρa.h.

A .g. dan massa M =200kg. Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? .A .ρa. lebar W = 0. tinggi t = 0. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m. V’=V .6m. Bak tersebut terapung di danau.h.y=h F kebawah © F netto = ρg.8m.h.

g = (M+x.W.t.g = M.Dalam hal balon tidak tenggelam.L. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah .m. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x. persamaan keseimbangannya adalah : ρair. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y. secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0.g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair. Sebelum tenggelam.g+x. Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon.W.g .1m.t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.0.L.y.  ρair.m)g.1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah. Bak akan tenggelam pada saat y = t.6. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung.L.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5. tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam.t.m)g . Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam .L.0.1. Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya..M)/m = (1000.t. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair.W. Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0.W.8.

dt dm1 = dm2  Maka : .ρa / 3 ρ t = 1000. A1.g Jadi tebal kulit timah balon t = R. A1.dt dm2 = ρdV2 = ρ.0029m<<0.ρa. tidak ada gesekan internal. tidak dalam keadaan terkompresi.v1.0.g = 4 π R t. dan sebagainya.Vt. dimana t=0 R T karena sangat kecil.sehingga jari-jarinya adalah R – t .v1.0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R. maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t .1m) 2 2 2 2 T 21 13. Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal. dan sebagainya. timbulnya gesekan internal. Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum).ρa.ρ. maka besar dm1= ρdV1 = ρ. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga . Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1.v1. misalnya terjadi pusaran aliran. atau 0.g  Wa = Wt.g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa. maka : t 4/3 πR3 .ρ.1 / 3(11300) = 0. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1. antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental. v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ.g Wa = 4/3 πR3 .2. alirannya tidak turbulen ( berpusar). Berat timah Wt =4 π R t. A1. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu.

Luas penampang pipa bawah = A1.v2 . atau : A1.v1 = A2. . A1.A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya.v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1.A1 v1 ρ dm1 ρ. Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam .v1 = ρ . A2. sedang luas penampang pipa atas = A2 .

h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2.v22 − m.∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 .m/ρ + m. sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m.m.v22 − m.m. Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m.Kemudian pada gambar (2).v12 ½ A1∆L1 = A2.h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung.h2 + ½ .g.h2) = ½ m.h1. Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.g.h 1.v22 − .v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .m. sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2.ρ v12 + ρ g.h2) = ½ m.g.v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2. tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1).∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ .g.h1.h1 + g.v22 − m. ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ .h2 = ½ m.g.∆L2 + (m.m.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.v12 .h1=P2 + ½ .g.g.m.g. sehingga : P1. gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 .ρ v22 + ρ g.v12.h1.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.v22 − m.g.h1.v22.m/ρ + P2. sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.g. Pada peristiwa ini.g.∆L2 + (m. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan .∆L2 + (m.

benda akan terapung. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. Dengan kata lain. Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi. sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre. tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam. kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan. dengan kata lain. Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung. ada pergeseran sudut kecil. Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan.gaya dorong keatas oleh zat cair. pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan. ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “. Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi. dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). 107 M 1 A B 2 . Jadi. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam.

tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya. Dalam rancangan modern. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O. maka ia akan semakin stabil. Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1. kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis. Maka segitiga . pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. Sebagai akibat rotasi. Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air.

Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/. sedang segitiga ocn berada dibawah air. L/12 = ρ b2θ.L/8 x 2b/3 = ρ. adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal.L/8.I. Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam. Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama.L/8. pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!).L/8 x B1B. Apabila lebar kapal adalah b.b3 θ. Kedua momen ini adalah sama besar. sedang panjang kapal L.BG . maka : ρ. maka : ρ. Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3. (Ingat. sehingga am = b. sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a. Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil. b3 θ. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M. Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam. L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!). Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam.m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ.aom telah keluar dari air. Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ.L/12.

Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm. sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh. Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1.105 N/m2.8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B . Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4.Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut. ( g = 9.4 gr/cm3.9 gr/cm3 .2 m2.9 gr/cm2. (g = 9. 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0.5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0. Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam.8 m/s2) . sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s . Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0. hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9.8m/s2).

A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a).8 x 3 = 2.9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0. A2 = luas pipa 2 . Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0.2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m. Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair).4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0. dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian . Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0.8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical. Kecepatan aliran di pipa 2 b). jadi specific gravity = ρ/ρair .4 m. maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0.A1 = luas permukaan tangki .

Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).24/2 = 0.4 = 5.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0.3 = .8 x 0.056 – 0. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1.4)3/12 =0.4 x 0. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0. OB = 2.2m.0064/0.056m. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L.bawah silinder.3 = 0. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.03m. Jadi.2 = 0.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0.2 x 0.12 = 0.4x0.4 π = 0.24m.27 π m4.235 – 0.1152m3.3/2 = 0. Dengan demikian. dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2. G 0.2(0.24 = 0. Maka jarak dari 1.27 π/5.4/2 = 1.2m.03 = 0.065m.15-0.12m. BM = I/V = 1.5-1.0. Jadi BG = OG-OB = 1.15m.5m.235m.3 terapung dalam air.4 π m3 . maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0. Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0.2x0. silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.8 dan berukuran 1.b3/12=1.Adapun volume air yang dipindah V = 1.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1.026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G.1152 = 0.0064m4. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0.3m dibawah puncak .2m B ke G = BG = OG-OB = 0. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0.

3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung.silinder.2-h)  (1. Kedalaman silinder 1. Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.2-h) = π(1. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2.4m3 . Total volume air yang dipindahkan = 2. OG = 0.2m . Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0. Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0.6-0.2-h) = 2. OB = 1.3m .4 = 2.2m O 0.6m3.8m . Diameter benda yang terapung = 2m .8m 1.7  113 .2 = π/4 (2)2 x (1.2m3.2/π = 0.6m3. Jadi 2.

l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair.2-0.5+(1. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair .92-0.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0.0 = 0.302m.Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0. Maka : OB = {(0.85m.8 = 0.75 l .12 = 0.92mBG = OB-OG = 0. 2α = Sudut puncak kerucut . Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0. Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut.302 – 0.2x0.7854/2.Maka h = 1.5)/2 = 0.75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α .5m.2 – 0.2) = 0. L = Panjang Kerucut .4x1. (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !). BM = I/V = 0.182 m.7 = 0.75 l tg2α  GM = BM – BG ! . D =Diameter . Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0.4+2. BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0. Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0.3)+(2.7854m2.85)}/(0. Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas.

jadi : Στ =0 (Στx =0 . sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi. Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada.Στy =0 . jadi τ = r x F . τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ . O = titik acuan.114 22 14. dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F). Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi. jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 .ΣFz=0) 2. KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol. Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1. (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) . ΣFy=0 .Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F. sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol.

sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N.4 . Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk. Contoh Soal 2. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. maka +W1+W2-N1-N2=0 ..200-8. maka : +4.N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1. Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0. 9m µs=0. 4. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0.Jika searah putaran jarum jam. Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar.400+6.W1+6W2-8N2=0 .uhuk. maka N1= 600-350=250newton. diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran. Jika berat jembatan 800 N.

4. maka : N1= 480 newton. Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter.116 Jawab : Buat acuan O. 2)Στ =0 . Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter. Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 . posisi mahluk berada pada ketinggian h. misal di ujung bagian bawah papan miring.1200 = 480 . dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O. karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 . dan N1 (Tak ada torka oleh N2). kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik.µsN2 = 0  N1=0. Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N. Menurut teori trigonometri. 800N. Maka : O x N2 12m h . pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak.

sehingga:12.3 = 0  5760 – 400. x = 3360/400 = 8.+12.x – 800.480 – 400.4m B B adalah 54%. Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2.5m g = 9.4)(12)/(9) = 11. h : 12m = 8.2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0.4m.3 = 0  N1= 480 newton.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8.000N. h : 12m = x : 9m = t : L .N1 – 400.x – 2400 = 0 . jadi .x – 800. tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! . Menurut perbandingan trigonometri.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10.

1.1. c = Q/m. Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur. dalam satuan kelvin (K) . Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal. Persamaan ditulis : C = Q/∆T. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah. atom-atom.118 23 15. Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer. ∆T joule. Berdasarkan Asas Black. diberi simbol Q. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu). Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15. dimana ∆T = perubahan temperatur. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer. 15. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m.1.c ∆T . apabila suatu benda memberikan panas . adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC.2.1. atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. m = massa benda.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain. Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K. PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul.c. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4.

akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah.kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama. Lo Lt ∆L . Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu. Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan. c2 = panas jenis benda 2 15. a.1. Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi. misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang. m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 .c2. ∆Τ1= m2.3. Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan.c1.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 .

∆y + ∆ x.Lo.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to.∆t.yo.∆t.t + αxo.∆t) .∆t = α.∆t + yo.α. sedang ∆t = t – to.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α.xo.αyo. sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo.α. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu.yo xo ∆x ∆x. dimana xo.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y.∆y + yo. Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo.Αο.∆t) .yo∆t (2 + α. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x. atau At = Ao (1 + 2α.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas.xo.∆y ∆y yo. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.∆x yo Ao = xo. ini berarti α.∆x = xo. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo.t ) 120 b.

suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR.∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda. pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K.∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ .∆ t) c. suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF.2. 121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC. Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : . suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or.Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β. maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ.

misal air. dan fluida lainnya.A. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya. dan sebagainya. 2. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1). tembaga. misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar.t. beton.k. Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah.A.1. dimana : dQ = elemen panas yang mengalir .A. Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = .2. ∆T/x .k. dinamakan arus panas H. Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik.dT/dx . 3. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi.∆T/x .k. satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = . udara. misal : besi. suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = .1. Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut. 122 15.

x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).k2. maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state).T1.A (T2-Tx)/x1 = .k2.A (T2-Tx)/x1 ……….x1+k1.k1.x2 + k2. akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : .……..A (Tx-T1)/x2…….k1.A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx . menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1).x1 / (k2.(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = .…………(2) Karena H1 = H2 maka : .T2. Tx = k1.= tanda negatif. Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2.dt = elemen waktu . Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .

k.dr/r = .. maka H = .dT/dr..L.L. namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar.2 π.r..L. dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +.. Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1.H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan.xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan.dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal). 2 π.dT. oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral. secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k . luas permukaan elemen silinder : A = 2 π. karena mengalami pengembangan luas. . atau : H.k...A. dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = .k.r.

suhu di sambungan Tx.Untuk r = Ra.k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π. Jari-jari bagian dalam pipa adalah a.L. sedang untuk r = Rb. L. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1.ln(b/c) + k2.k.ln b/a = + 2 π. H.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π.k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan. jari-jari bagian luar pipa b. sedang jari-jari sambungan adalah s.ln a/b = .ln(c/a)+k1. apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state. maka besar suhu T = T2.k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1.T2.2 π.ln(b/c) . Suhu di bagian dalam pipa T2.(T2-T1) .T1.k.k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state.L. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π. besar suhu T = T1.(T2-T1) .L.L.L.ln(c/a) / k2.L. Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda. H1 = H2 maka : 2π.k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar. H. Hargaharga ini merupakan batas integral.L. Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π. H (ln a-ln b)= -2 π. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah.L. dan suhu di bagian luar pipa T1 .k∫T1T2 dT .

maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = . dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro.k. r3.dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) . k3.Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π. r1. dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah). dan k4. L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2. r2. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1.A. k2.

H [ -1/r ] ba = .4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda. dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung. 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H.dr /r 2 = -4 πk. Koefisien konduksi bahan 1 = 0. sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0.m.4 πk ∫ T1T2 dT . Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC.04 J/s. besar suhu = T2 Untuk r = b. besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = . H = .dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a.K. Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC.K.48 J/s. Tebal kedua bahan sama yakni 4cm.k.A = 4 π r2 . bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a .m.

L(40)/[7.33L/7.L(40)/[0. .66 = 32.81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar).66 J/s = 251.192+0.33L/6.04 ] = 2π.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.465 = 80πL/7.58] = 80πL/6. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π. Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil.68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.178 = 40.599+5.48+ln(20/16)/0.48 ] = 2π. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.178 J/s = 251. berarti daya konduksi panas lebih besar.04+ln(20/16)/0.

Muatan listrik proton = +1. jadi dapat diabaikan. berisi elektron (e) 16. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral). berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom.6. Benda-benda . sedang massa elektron = 9.10 -19C. massa netron kurang lebih sama dengan massa proton.10-27 kg.6.1. Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom. Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti. Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut.10 -19 coulomb (C).1. sedang muatan listrik elektron = -1.10-31 kg.67. STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom. Massa proton = 1.129 25 16. sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan. sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif.

.2.67. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu..yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul.4. Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole.3.N.u.. dan seterusnya dinamakan kulit K. Empat bilangan kuantum electron adalah : a. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom. Jadi jumlah zat itu. dan lain sebagainya.10 -27 23 butir. molekul.1. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia. 16. proton. elektron.022. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu.. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a.1. Tempat kedudukan elektron pada n = 1.2. (atomic mass unit) dengan simbol u yang kg.M. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium.4. Elektron terdapat pada kulit atom. atau kalau dibalik. dan seterusnya. Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain.m. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah.L. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan.. Banyaknya elektron disetiap kulit . dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron.3. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1. ion.10 besarnya 1. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u. mungkin atom.

Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada. b.. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1. Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada. dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 . sub kulit 2p ( n = 2... 131 c..d..1. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n.2 . Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1).. -1/2.l. Jadi apabila n = 1 maka l = 0..m. +1. l = 1 ) berisi enam elektron.+l.…. Maka apabila m = -1.. +1/2. dengan s = 1/2 dan . terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. maka m = -2. dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s. +1 Untuk l = 2. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 .2. l = 0 ) dan 2s ( n = 2. 0... akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1. 0.3.. dan seterusnya. Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1).4. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron. Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah.+(l-1)..maksimum adalah 2n2. -(l-1). dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 .2. -1/2. maka m = -1. +2 d.0. l = 0. -1/2. 0. Orbital l = 1.f. +1/2. dan sub kulit 3s ( n = 3. l = 0 ) berisi satu elektron. -1.1.( n-1 ).2. 16. +1.1. Harga m nya mengikuti rumus : -l.p. Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 .. Jadi apabila l = 1.3.. Jadi untuk l = 0 maka m = 0. bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2.

1/2.-1/2 . ( Ingat. +2. 132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 .1/2.-1/2. apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2.-1/2. 1/2.-1/2.1/2.-1/2. +1. dengan s = 1/2. untuk l =2 maka m = -2. untuk l = 1 maka m = -1.32 = 18 buah.-1/2.-1/2 . 0. -1/2.+1 dengan s = 1/2.1/2. -1.1/2.-1/2.0. banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3).

0. -1/2. 1/2. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2.2. 0. 1 .1/2. -1. (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik).0. 1/2 -1/2. 1/2.+2 133 Jadi semua m ada : 0 . serta 1 buah di kulitnya yang terluar M. 8 buah di kulit L. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17. Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16.1. yakni 2 buah di kulit K. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion. 0. -2. 1/2. 1/2.-1/2. +1.-1/2. dan 2 l = 0 .1. 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1. Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0. 1/2.-1/2 16.+1. dengan . Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah. 1/2. -1/2. -1/2. -1. -1/2.+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2. Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli). -1/2. +1 .-1. sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2. Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain.2.

Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”.perincian : 2 buah di kulit K. dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron. yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron. Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16. 8 buah di kulit L.2. Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar. Ikatan molekul H2 b). Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron .2. dan 7 buah di kulit terluarnya M. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. Akhirnya. Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b).

16. 1978 Khumar.. A Text Book of Engineering Mechanics.3. Mechanics for Engineers... New Jersey.karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama.. Routledge & Kegan Paul Ltd. A Dictionary of Energy. NY. New Delhi. H. London.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya. Ltd.. Introduction to Nuclear Physics.. New Delhi. R. Eurasia Publishing House Ltd. Engineering Mechanics: Dynamics.2.. Addison Wesley Publishing Co. Prentice Hall Pearson Education Asia Pte. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak. Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif. Grotch. J. 2004 Marmet. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal. Glaucester. 2006 Khurmi. NY.R. Gasiorowicz. 2004 Beer.. F. Prentice Hall Inc. 1981 Enge.D. Singapore. Newton Physics Books..T.H. 1987 Burton... R... Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron. Johnston.1974. P. Physics for Scientists and Engineers. NY. Mc Graw Hill Book Company. P. S...Chand & Company Ltd. Introduction to Dynamic System Analysis.. 1996 Hibbeler. 4th ed.L. 2002 Kelvey.. 1993 .. 1994 Counihan. M. A Text Book of Engineering Mechanics. Engineering Fluids Mechanics. Physics for Science & Engineering. Mc Graw Hill International Edition.. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics. Harper & Row Publishers.. Fishbane.. Laxmi Publications Ltd. New Delhi.

M... Mc Graw Hill Book Company. 9th ed. The Fairmont Press Inc. A Text Book of Sound... Freedman.G... Metha. P. Virginia. Dillon.. Anand J.L. Sounders College Publishing. 1997 Young.. New Delhi. Massachusets. P. J. John Wiley & Sons Ltd. 2003 Merken. 1994 Spiegel. Engineering Mechanics : Dynamics. NY. Har Anand Publications.Meriam. 4th ed. A... 5th ed. University Physics.. 1992 Miller. Addison Wesley.. T. Kraige. Concepts in Physics. F.. Harcourt Brace Jovanovich Inc. 1974 Thumann. Hand Book of Energy Engineering. 1998 136 .. Physical Science with Modern Applications.L. 1974 Mittal. NY. Theory and Problems of Vector Analysis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times