FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul........ PENDAHULUAN 1.....1....... 1... dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika. gedung pencakar langit..... Atom dan Molekul........ Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya..... Mekanika Fluida.130 ii 1... Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik......... komputer. Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa... kapal laut..... dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika....... Untuk jurusan teknik sipil. Adanya pesawat terbang. dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil... sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan.........16....... jembatan.. Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan ...2.... dan Teori Gempa... Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika...

Mesin mesin Angkat. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan. dan Gelombang Mekanis. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya. Gerak melingkar. Sub topiknya adalah : Gesekan. Getaran Mekanis. Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika. 1. Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil. 1 1. Kemudian Dinamika. Adapun Statika. Kerja dan Energi. Statika. Momen Inersia. Gerak Parabola. serta Atom dan Molekul.3. Proses Pembelajaran . Sub topiknya mengenai : Gerak lurus.4. merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. Gerak lurus dengan kecepatan konstan. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. Momentum dan Tumbukan. Kinematika. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. Dinamika. Teori Panas. Gerak berputar.

MKS (meter. massa. dan waktu. 2. seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. menjadi hal yang penting. . Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran. dan satuan waktu adalah sekon. 2 1 2. kilogram. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter. satuan massa adalah kilogram. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. satuan massa adalah gram. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain. disempurnakan. Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). massa. Oleh karena itu. Untuk selanjutnya. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka.1. dan satuan waktu adalah sekon. dan waktu.

gaya. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa). FPS (foot. dan waktu.281feet (FPS) = 39. pound. Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot.. Maka.205 pound massa (FPS).37 inches (FPS). akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft . dan pound gaya (untuk satuan gaya). Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa. Demikian pula. Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan. second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3. dan satuan waktu adalah sekon. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain.3. 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. satuan gaya adalah pound.

Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan.Waktu 5.Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : . 1.Kuat arus listrik 6.Panjang 2. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1. Sudut Bidang b.Temperatur (Suhu) 4.Massa 3.Jumlah zat 7.Intensitas cahaya a.

141592654 = 57.3o . 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2. benda berbentuk bola . Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2.a. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R. Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR. Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o.Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola. sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2. Dengan demikian maka dalam suatu bola. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya).2. besar sudut totalnya = 2π radian.3. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola. Lingkaran b.1. maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian. besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian. Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh. kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran. berarti 360o = 2π radian. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian.

0 m 0.s-2 Kg.0254 m 1609.m2. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg. 6 2.3048 m 0. suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran.s-2 Kg. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”.s-2 Kg. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”.m-1.m2. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar.9144 m . Besaran Turunan : Karena merupakan turunan. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0. maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil.3 m 1852.m.Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional.

4536 kg 14.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4.281 ft : 1 m = 39.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0. maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.1 pound gaya (lbf) = 0.2046 lbm : 1 N = 0.8 N.594 kg 1055 J 6894.4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4.4536 kgf 1 pound massa (lb.5144 m.3048 m : 1 inch = 0.59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14. Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.06854 slug : 1 kg = 2.m-2 0.in . dan satuan massa. maka tidak perlu dikonversi.4482 N 0.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf.s-1 350 m.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI. satuan gaya. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.

dimana : 1lb. 8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N. gaya.765) = 0. Misalnya : kecepatan. dan lain-lainnya. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris.8512 lbf.765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0.281 ft.2. sedang 1m = 3. perpindahan.4482)(0. waktu. massa.in = 1(4.021 lbf/ft2 .f = 4. momentum. Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa. 1ft = 0. posisi. lintasan.1 lbf. torka. dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa. jarak. 1min= 60 s .m = 1(0.022597 watt. energi.2248 pound force (lbf). Misalnya : panjang.0254m) = 0.37 in) = 8. maka daya dalam SI = (4. berat. 2 2.f)(ft)/(min). suhu.3048)/(60) = 0.2248)/(10.3048m .in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0.448N) x (0.11298 N.4482 N . Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah. percepatan. Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah. bilangan riil.22482 lbf)(39. yang berarti 1m2 = 10.m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb. . dan lainlain. usaha (kerja).

F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2. y. vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. P (momentum linier). dan sebagainya. O Gambar 2. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F. Sebuah vector samabesar . sedang apabila vektor keluar bidang. Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. a (percepatan). Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol. sedang arah anak panah. atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya.1.2. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. Vektor satuan pada sumbu x. r (posisi). Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan. dan z.5. dan k. masing-masing dilambangkan dengan i. vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya.3. pengurangan. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor.Secara grafis. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor.) 9 Secara trigonometris. v (kecepatan). digambarkan dengan tanda silang (x). Apabila vektor masuk bidang. Fy = Fy j . j.4. dengan demikian maka Fx = Fx i . sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. digambarkan dengan tanda titik (. Fz = Fz k 2. sebagai contoh : F (gaya). dan perkalian. jadi F = Fa. menyatakan arah vektor.

Fy.Sama besar dan searah. maka F1 = F2 2. Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis. dimana : i. Fz = Fz k . Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx.7. maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain. y.7) Keterangan : Fx = Fx i .2. Fy = Fy j .6. Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2. dimana besar dan arah vektor harus tetap. Misal.1.8. 2. . jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y. dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1.b. 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x. Gambar 2. j.1.6).2.a. masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2. dan Fz Gambar 2.

9.8. maka persamaan tersebut . Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2.F2 F2 Gambar 2. Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1.8 dijumlahkan secara trigonometris. jadi F1 . maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx. dan Fz pada gambar 2.9 F1 F1 F2 = F1 .1.c. Fy.F2 = F1 + (-F2 ) .2. Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2.Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2.

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang. Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) .yakni arah dari vektor C. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang. maka F x r = τ =1000. bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. 15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup.m. sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi.4 sin 30o = 200 N. Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C.0.

400 m B B . maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar).1 = 6 (arah D keatas). Hitung ditempat mana kapal merapat. Jika besar A = 2. 3. Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s. Pada gambar 2.12. dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m. Jika besar B = 3.Gambar 2.12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o).1 = 4 (arah C kebawah) . Pada gambar 2.2.2.12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o. dan besar B = 2 maka besar C = 2.

33m/s 400m A 0. A x B = . i x i = j x j = k x k = 0 .33 = 0.587o 5cos30o =4. Jika A dan B bukan vektor nol.5sin30o = 5.5m/s 6. maka jarak BC = 0.5= 2.B x A 2.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46.0. i x j = k. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6.587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1.33 m/s tg θ = tg 6.2m dari tempat B 4. jadi θ = 6.1154734 x 400 = 46. m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4. sedang A x B = 0.5/4.587o =0.5m/s tg θ = 0.1154734 = BC/400.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0. A x (B + C) = A x B + A x C 3.1154734 . . j x k = i. k x i = j 5.

18 3 3.t v s Gambar 3. Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration).1. Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t. dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu.1. KINEMATIKA 3. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu. Dapat dibagi menjadi 2 : 1. GLBB Horizontal v . terhadap sekitarnya.a. Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap.1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus.maka A sejajar B. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu. maka Lintasan benda adalah : s = v.1.

GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal.t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v. 2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a. misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya.vo  t t = vt .b.…………….t 2 .s a vo s Gambar 3.vo= a.t  vt = vo + a.(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt . (vt .vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a.1.t = vo (vt .(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo.t = (vt + vo )t .vo ) + ½ a. 3.Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo . kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt .1.t ) t  sehingga s = vo . dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang.2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah. maka akan dipengaruhi a2 vt 2 .vo ……. berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt . t + ½ a.

4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) . Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9.8 m/s2. Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo.t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3.t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3.3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2.

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

y vo O y vx=vo x . ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s. t − 1/2 g.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ. t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g.voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3. dan kecepatan nya. Tentukan posisi mobil.t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. Sesampai diujung jalan yang terjal.t Lintasan sy = vysinθ. jarak dari tempat ia menginjak pedal gas. setelah 1 sekon.

9)2 = 10.25 m. sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon. posisi pada sumbu x = vox. sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g.8)2 = √177.3 m/s. arahnya setiap saat berubah. v maka kecepatan linier v = panjang keliling . 25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4. meskipun kecepatannya tetap.9 m.9. Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran.t = . posisi mobil adalah xo=0.t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan. Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T.8. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r.12 = . Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at . 3. v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali.1 = 9 m.vy=-g. Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y.04 = 13. dan yo=0. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω.t 2 = -1/2. Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9. dimana vx = vox = 9 m.3.8 m/s. Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v.4.t = 9.8. sedang vy = -g.1 = -9.9.

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul. Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental.M)/r2 F = gaya tarik menarik . GRAVITASI DAN GAYA 4. ada 4 macam yakni : gaya gravitasi. Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya.(G. yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. gaya elektromagnetik. Dalam analisis terahir. gaya nuklir kuat. dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental. Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam.1.29 5 4. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya. keduanya adalah gaya turunan. F = . gaya gesek dan gaya pegas. dan gaya nuklir lemah. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force).m. Sebagai contoh.

. Besar energi potensial gravitasi Ep = .G = Konstanta gravitasi universal = 6. Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui.m... sedang harga ini = Gm... Gaya Hukum Newton : .M/r2 .dr/r = .G.M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G...M.M/r. Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya.M.m.g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m..M/r 2 .dg.dr/r3 sehingga dF/F = .(2G.m... dengan demikian besar g = G..67.M/r2 ......10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik.F..m.. atau dF/F = dg/g .m.(1) Apabila persamaan F = m.M.(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4. maka : m.dr = - ∫ -Gm..dr/r3 ) / G.2..g. Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m.. Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya.M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen.g = Gm... 2 Apabila persamaan F =G... atau : dF/F = -2dr/r .M/r  Ep = .G.m.

Σ Fz =0) v Gambar 4. 31 2.1.Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4. maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 . berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .Σ Fy =0 . Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama.Gaya Reaksi.2 v Benda bergerak dengan v konstan .Σ Fy =0 .1 2. Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan. jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 . Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar.F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1. Gaya Aksi = . jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam. berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”. CARA DINAMIK : a). Suatu benda yang diam akan terus diam. sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan. F = m x a 3. jadi FAksi = .sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut.

Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah.8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9.b). dimana g = 9. Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar.8m/s2 ) F=? . maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4. berarti ada percepatan “a”.

8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong . setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2. Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9.a A 100kg B 500kg 800kg g = 9.8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : . F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg . bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift.

Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.5 / 0.5 s.g .52 =789.789.(3.57m/s2 . hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0.Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar.ac = 100. Jika peti menjalani 2 putaran per sekon.v2/R = m.14) 2.Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m.8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m.57 = 78957 N. Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4.

R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g.v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m.g/cosθ )sinθ =m.R = (2πLsinθ/Τ) /g. Ada dua macam gaya gesek : 1.R  R = L sin θ. Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2.v2/R F sin θ . Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran.g.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g. 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g.g = 0  F = m.v2/R  tg θ = v2/g. sedang pada arah vertikal.m./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5. merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping. Σ Fy = 0 .tg θ =m.  cos θ = Τ g.1 alami gaya gesek apapun. GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f. Σ Fy = F cos θ . baik statik maupun kinetik.g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m. ini pasti harus sebanding dengan m. belum meng W Gambar 5.R = 4π L / Τ g.v2/R m.Disini tidak ada gaya vertikal.m.v2/R = 0. Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F .

Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak.2 1.N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T . Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan.maka berlaku persamaan : fk = µk.N f s = µs. sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2.Gambar 5.N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan. tentukan massa R b). Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg. Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs. Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam. Benda diberi gaya F yang 3.a). maka berlaku persamaan : keadaan bergerak.

Q. dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2. dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan.8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A.5 100kg C B A 30o µκ=0.g µκ= 0.4 Contoh Soal 3: .R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.2 200kg . tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0.5 30o g = 9.B. Benda P.

berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil . maka f Σ Fx = f = µs.2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R.N = m.N. N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs.g bergerak dalam lintasan lingkaran.v2/R . Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs .2 µκ =0. dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R.g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m. N = Gaya Normal . . f = Gaya Gesek mobil pada jalan. sedang Σ Fy=N-m.2 v konstan R µκ =0.200kg Q P µκ = 0.

Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan.g = m. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir.g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir. Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring. Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m. Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan.g yang mana merupakan harga konstan.m. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar . sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring.m. meskipun jalan licin (tanpa gesekan). tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs.g.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring .

sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan.g / cos θ) sin θ v 2/ g. penyebab gaya m.h .. Disini hanya akan dibahas energi mekanik. ada dua yang penting yakni : 6. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m. tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata. dan sebagainya.8. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m. oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya.. kimia.R  θ = arc tg {(25)2/ 9..g  N = m. contoh: 1.(2) = m.. Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g.1.g.(1) Fy = Ncos cos θ ..R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api.230} = 15o 40 7 6. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan. panas. Pada keadaan disini. elektromagnetik.v2/R adalah : N sin θ.. nuklir... cahaya.1.g/ maka diperoleh : tg θ = = m.v2/R .v2/R .. Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m.1. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya. Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha). Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik. ENERGI DAN KERJA 6.

Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6.g.2.v2 h h’ v Ek = ½ m.1. Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama. s Fcosθ s . mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6.x2 6.1 vmax 2. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v.3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k.v2max Ep = 0 Gambar 6. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s.h’ Ek = ½ m. maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .Ek = 0 Ep = m. Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya.2.2 k = konstanta pegas . x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6.

Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m. maka Kerja W = F. Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.Gambar 6. sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan.½ m.½ k.x = m. kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt.a.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo.8m/s2. Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0.t = (vo+vt) t . maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m. tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil .x22 . a = vt-vo .h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k.x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2.x x = v.4 dan g =9.vt2 .g.g. besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian. hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F .h2 – m. demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial.vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh.

Kerja yang dilakukan oleh bumi c.8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk . Kerja yang dijalani oleh beban tsb d. Kerja yang dilakukan oleh penarik b. a = 4m/s2 200m 100kg g=9. Tentukan : a. Kecepatan akhir beban tersebut. 43 .30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2.

Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0. Transportasi.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9. Pertanian. seperti : Industri. serta banyak bidang yang lain. bahkan Kedokteran dan Pendidikan. jalan raya. misalnya gedung. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan . terminal.1. mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek. dan sebagainya.200kg µk=0. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya.8m/s2 ) µk=0. yakni merubah besar maupun arah gaya. Di dunia Teknik Sipil. MESIN-MESIN ANGKAT 7.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal. Pada masa sekarang.8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9. jembatan.5 44 8 7.

(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat. semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan. tentu semakin baik. digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7. Oleh karena itu.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat . Terdapat banyak jenis mesin angkat. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin. balok kayu. yakni : 7.R.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton. dan bahan-bahan bangunan lainnya. lempengan besi. D.R. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama. misalnya: berubah menjadi panas M. M.A.3. batu. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi. baja.A = Fo/Fi . hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin. dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D.2.

R.Si Efisiensi η = Μ. sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %.4. 7. misalnya gesekan. Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal). kelembaban.A. sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika. senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan..akibat gesekan).R.Α. 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin. maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi. (Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya). korosi. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen). = D.So = Fi .R. tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D.A. sehingga : M. x 100 % D. Fo. panas. Macam macam mesin angkat .

meliputi : Katrol Sistim Pertama. Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M. (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal.R. Kerekan Ketam Tunggal .Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal . Roda Poros .A = 1.R. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga. jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m. saja. misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan. Demikian pula harga D. Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). Roda Cacing. Bidang Miring . Namun meski kondisi katrol demikian. dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo . tidak mempengaruhi harga D. Katrol Ganda. Katrol Ganda . b.A. Dikatakan bahwa. Katrol Sistim Kedua. Kerekan Ketam Ganda . Roda Poros Diferensial . juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. Dalam keadaan seperti ini maka M. gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M. diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. a.R. = D. Dongkrak Sekrup Sederhana . dan Katrol Sistim Ketiga . yang diperoleh dari Fo / Fi . maka beban W tetap naik setinggi x m.A. karena. Katrol diferensial Weston .

jika mesin ideal maka MA=DR. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan.A.2. disini ada 4 tali. x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas. MA = DR.4. caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban. dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no. tetapi jika mesin tidak ideal.dan 3) W cukup besar. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal. maka : jika mesin ideal.Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n . MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M. maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n .

sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali. maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .

Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR. .Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R. sedang jari-jari roda kecilnya r.

sedang tali 2 turun sejauh 2πr. berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si).A. M.=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali. Dengan demikian. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr. maka Si = 2πR. Dengan 2 Demikian. dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt.Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga. Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So .MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) . ini membuat beban W .

naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ . sedang .

n2/r.n2/(r.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali . Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So. dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L.n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang.θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran.n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L.

dan 1. sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K.2.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L.n4) Keteranga n: n4.n3. maka : silinder . dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4.n3/(n2. n2.n1. jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi.3.

n3=400 gigi . adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. n2=100 gigi . tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda. maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) . Jadi: MA = R. dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n .2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 . n4= 200 gigi . panjang L=1 m n1=300 gigi.beban akan terputar 1/n kali.n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N.

y2 + m3.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1.y1 + m2.x2 + m3. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut.x1 + m2.mn. dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 . y1) x pm = (m1.mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1.xn) /m1 + m2 + m3 +.y2) / (m1 +m2) m2(.x1.10 8.y1) dan (x2.x3 +. maka pusat massanya adalah (x pm.x1+ m2.y1 + m2.yn) /m1 + m2 + m3 +. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1. m2 = 2kg.y2) x Gambar 8. Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat. Pusat berat merupakan fungís gravitasi.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg.x2 . Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1.y3 +.mn. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum.y2) dari suatu titik acuan 0.

0.0 +3.y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8. F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.2) = 4 kg F1 a pm m2 (4.1) = 8 kg P 63o m3 (1.1) = 8 kg m3 (1.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N .2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.8533 .433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.2) = 4 kg m2 (4.1/2) /1+2 +3 = 0.0.0 + 2.3 57 .866) /1+2 +3 = 0.1 +3.-3) = 4 kg F3 Gambar 8.0 + 2.8533 m y pm =(1. F2 = 16N .

Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2. maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 .4 + 4. Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N .8 + -3.4) /4+8 +4 = 0.89/16 = 1.75m y pm =(2.25) .4 + 1. dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8.4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm .75.25m Pusat masanya ada pada titik P (1.89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.8 +1.12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari.4) /4+8 +4 = 1.0. Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2. Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º. maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17.

6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x. Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ. jadi : I = F.t = m.v’ – m. dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t. Untuk menyederhanakan pembahasan.v . benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8.v’ – m. m.t = m.dv. dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F.7 v P = m x v (kg. Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’.v’ = momentum akhir . Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya. maka elemen massa dm = ρdx .1.v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8.dx 0 x Gambar 8.v (m. sedang elemen panjangnya dx.8 59 v’ 11 .m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F. ini dinamakan impuls I.dt = m.

F2.9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan. keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda.(m2v2’. atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam. dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8. Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah. Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan.m1v1= . dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan.2. benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. sehingga : F1 = . 60 .t = . momentum. demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1.m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi. masing-masing sudah mempunyai kecepatan. gravitasi. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara. ini adalah gaya : aksi = -reaksi.I2 . Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1. Atau : m1v1’.t  I1 = .8.F2 .

v1. Tumbukan Elastis Sebagian a).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no. Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum. Tumbukan Non Elastis Samasekali a). demikian juga untuk partikel-partikel yang lain.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3. partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2. 61 . sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1.v2. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama.2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v. Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no.Adapun. Tumbukan Elastis Sempurna a). m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain.

apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar . ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas. dmana M = massa total sistim .apm = percepatan pusat massa. Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable.dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan.v1+m2. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut. .v2+m3. m.8.v3+….vpm .n. Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya. gravitasi bumi.vn sehingga : PTot = M.10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u . vpm = kecepatan pusat massa. maka kecepatan pancaran dM/dt Gb. Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u. Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan. Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1. Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas.Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot. demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 . Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan. Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M.

Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa . dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket. Contoh Soal 1. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim.11 63 .Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = . sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir. v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. Massa total sistim 10000kg. Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0. gesekan udara pada roket. karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u. Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8. dan sebagainya. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata. dt = eleven waktu.(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket. sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt.

berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a).v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10.000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan.Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u.1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru. Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 . massa peluru = 100 g = 0.05m/s.dM/dt = M.000(8)+2000(0)=(10.v1) = m2 ( v2 .1)(10)/1 = 1 kg/s . 500.000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna. berarti dM/dt = (0. Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1.dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam. tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1.v2’ ) ….(1) b). Maka u=500m/s.1 = 10000.v1+m2.v1+m2. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ . M = 10000kg . Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali.….000(3)+4000(-5) =(10. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0.dv/dt 500 = 10000.m2v2’ m1 ( v1’ .m1v1 = m2v2 .(-v2) = (m1+m2)v’ 10.000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10.

v2’ ) ( v2 + v2’ ) ….v12) = m2 ( v22 . tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 .(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) .Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s.v2’2 ) atau : m1 ( v1’ . Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’.v12) = m2 ( v22 . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.v2’2 )  m1 ( v1’2 .v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 . maka : v1’ = v2 + v2’.v1 ……. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.. sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ .……(3) v2’ = v1’ + v1 .

30o---50kg v’ . 1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal.1.000. Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------.000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga.

Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang .2. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9.1 F 2.Vo = volume mula-mula ) 1. Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume .B. Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis.1. .66 12 9. ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young. sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis. antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula. Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = . didefinisikan beberapa besaran terkait. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk. Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut. Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y. Untuk membahas elastisitas.

67 F F F F F F Gambar 9. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9. maka berlaku persamaan : F/A = S.3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.tg θ = S.2 3.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah .

Y) baja = F.2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1.Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga .Lo/(A. Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y.1011N/m2 dan luas penampang 0.1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.Y) tembaga ¡ 1000N 69 . Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F.Lo/(A.Lo/(A.Gambar 9. maka : F.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2.5m2 dan panjangnya 4m.

Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN.1 0 π/2 π 3 π /2 2π . sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan. waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10.1. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya. Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana.13 10. 10. GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik).

maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama.ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) .ω A sin (ω t +θ)]/ dt = . dengan demikian maka : 2 . Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k. dan ketika Ek maksimum. demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama. Ketika EP membesar maka EP mengecil. sedang EK = ½ m.x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) . Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m.v2 = ½ m[. Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol.ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[.-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t . f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik. sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1. harga EP adalah nol. 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = .v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k.x2 .

F = Gaya Aksi = m.k.(1)  ( k/m = konstan ) .k.k.x  m. x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut.d2x/dt2 = .k. dalam persamaan (1) ini. Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus.x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10. Jadi Periode T = 2π √m/k .dv/dt = m. tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda.Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan. 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m . x =sinω t . misalnya : x =sinθ . x =cosθ . Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : .ω A cos (ω t +θ ) = . Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus. dan sebagainya.d2x/dt2 m.x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = .k.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = . x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) . Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ .a = m. dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan . x =Acos ω t .k. x =Asin(ω t+θ) .a = .x/m …….x (Gaya Reaksi) Fb = .2 F = m.

Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4. B). C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0. Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N. Percepatan pada saat 6s.8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0.1 m ketika mereka masuk ke mobil. Kecepatan pada saat 3 s. Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b). Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 .2m dari titik seimbangnya adalah 100J. Tentukan besar harga konstanta pegas k ! .π/6) a).72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9.

e t …….73 14 10.k.dx/dt)/m + k.misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair.b.x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta.Fr  m. Redaman juga berasal keadaan.(2) α.b.d2x/dt2 = .dx/dt  b = konstanta..dx/dt atau : d2x/dt2 = .k. Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.dx/dt)/m d2x/dt2 + (b.a = m.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = .x .k.. bisa diambil harga : b/m = 2r . k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C. F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman . m = massa (konstan) Gambar 10. dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m.x Fr = Gaya Redaman = . .Fb .2.x/m – (b.3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = .

e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C.. α. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 .e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α.exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2. Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED. α..e α. atau : r2 = ω 2 . yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1.t + 2rα C.e t = 0  C..(3) Pers. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r. menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif. maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0.e = bilangan alam = 2. ini bisa ditulis : x = C1.t α.e t + ω 2C.e ( − r − √ r2 – ω 2) t ….e α. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran.…. ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran.718281828… . . oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga. C.t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C. α.e t mempunyai harga. C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C.exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta. Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0. meskipun sangat kecil.e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2.. harga ini tidak memenuhi persamaan (3). ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif.

√ (r2 – ω 2) adalah imajiner.t = faktor redaman .θ − r.e + i.t (C1(cosω ’t + i. dimana a dan θ Maka : x = e − r.71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam . r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t . e = 2.t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) ….e ( − r + i.e + i.ω ’) t − r − i. f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) . e − r.ω ’) t -i. ω ’. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a.sinθ. cosω ’t + a.ω ’) t − r..cosθ.t − r. t + C2. e − r. + C2. e +i. disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah. Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r.t ω ’.sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ . dan e sinθ Maka pers.Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.e ( )….t (a.(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ . e − r. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam .θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.e ( =e (C1.ω ’) t + C2. t − i.sinω ’t) + C2(cosω ’t . Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM.(5) a.i.t = amplitudo getaran terredam . jadi : .t (C1.e ( − i. jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 .

. e − r. e − r. e − r. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu. sehingga besar kecepatan v : v = a. e − r...t − r.t t −a. a. e − r.t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan. yakni ada daya yang terhambur keluar sistim.t -a Gambar 10.t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a. e r<< ω maka : −r. e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a..4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang.(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r.t ω ’cos (ω ’t + θ) .t sin (ω ’t +θ) + a.a.v = dx/dt = −r. yang berarti mengalami dissipasi daya. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek .

3.a2.(a.a = m.a2.(8) 15 10.dET/dt = .a2.. e −2 r.. e (watt)…..t Ek = ½ m.t P = r. sedang Ek = ½ m. besar ω ’ = ω Ek = ½ m... getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda.t (joule). sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k.Ep = ½ k.a2...t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r......a2. e − r..t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k.a2..x 2 = ½ k(a. e − 2 r. e − r. e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ .d2x/dt2 . misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m.ω 2 = k .t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m... e 77 −2 r. K.t − 2 r...d(½ k.x 2 .v2 .a2... e − 2 r.t − 2 r.t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k.v2= ½ m.t − 2 r. e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m.Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r. e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = .a2. e − 2 r. Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k.t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r.. e θ) ET = ½ k.a2. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k.a2..t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k.a2.t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k.

(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1).d2x/dt2  d2x/dt2 +k.. xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) ...Fb = Gaya Balik (Reaksi) = . C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m .x = m. dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m).x/m = Fmax sin ω ’’t/m…... terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar ..k..(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t.5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa . dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t. f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k. atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat. maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k. ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient..(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) .ω ’’2).x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus.. sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10. sedang harga xp = C sin ω’’t…….

dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.k.b.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m .6 d2x/dt2 = .a = m.dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10.dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m.k.4. dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar.x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m.k. Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek. Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = .b.d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .x .d2x/dt2 = .

sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan ..t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’.. maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’.. fmax disini adalah gaya per massa.t -θ ) +ω 2A sin (ω’’. b/m = 2r .(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’. Fmax /m = fmax ( Ingat .t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’. bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t ……. maka .t -θ ) …(3) ...(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ ..t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1).t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ .…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’...d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k.t -θ ) …. demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan..t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 .t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama... (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan..... d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’.

.. Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : ....... 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t. dan ω’’. diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 . (8) (Ingat..........fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’...{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2........... (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)………..................fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2...... (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.. fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan.

jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat. Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0. yang dinamakan Frekwensi Resonansi.Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!).…………… . sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum. dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) . dimana f = frekwensi getaran alami. maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π . ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil). yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran. Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. sedang ω’’ = 2 π f’’.Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2). maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π …. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f .

Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. semakin kecil redaman. frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami. Untuk redaman kecil. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa. serta konstanta redaman ”r”.Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil . semakin besar harga amplitudo maksimumnya. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω.

π/5) . Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang. Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. Kurva (b).(d) r = medium r = besar 0 =ω 0. Pada saat ω’’ bertambah. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar.05t cos (2πt/3 . puncak bergerak kearah bawah. Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman. Lebih lanjut.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil. amplitudo cenderung kearah nol. maka resonansi semakin tajam. yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. (c). Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω . yakni ketika nggak ada redaman. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil. Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar. amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman. ketika redaman ”r” bertambah. 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi. Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman.5 ω ’’> ω 1 1.

dan 3 dimensi. massa benda yang bergetar 100kg . Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 . sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis.04 . Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : . Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik. Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi.06 . frekwensi sudut alami 0.Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2. tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9.02 . Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa. 2 dimensi. GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat. Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis.8m/s2 2 85 17 11. dan konstanta redaman adalah 0.π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N . frekwensi sudut paksa 0.

t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv.dimana : E = elemen energi .t (3) x y = f(x-v. Jadi I = E/(t.dA) (J/s.m2).Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini. sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt.t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang. karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2). dA = elemen luas) .(2).t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω. fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v.m2) . perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t. sering dihitung secara elementer. demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) .dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut. dt = elemen waktu . fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v. Dalam perhitungan teoritis.t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1).A) (J/s.

ym cos(kx-ω. maka dengan menghitung salah satu saja. ym2 + 1/4 µdx ω 2. Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik. ym cos(kx-ω.ω. atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) .v2 = ½ dm[. ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω.A E I = E/(t.t)] 2 dEK = ½ µdx[.t) .t))] = ¼ µdx ω 2.t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t.Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik. ym2cos2 (kx-ω .v2 maka dEK = ½ dm.m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV . sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA. Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas. ym2 cos2 (kx-ω. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) . adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa.ω. Besar energi kinetik EK = ½ m.t)] = ½ µdx ω 2. berarti setiap saat harganya tetap sama.t). dV=elemen volum.t)] 2 = ½ µdx ω 2. ym cos(kx-ω. dA= elemen luasan.dA) J/s. yang . dapat diperoleh besar energi total rata-rata. maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t . ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata).A)=dE/(dt. sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus.t)]/dt = . sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω.ω.

ω 2.1. sedang minimumnya = -1. ym2 . ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2. sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik. ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi. yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ.yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s.harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1. ym2 = 1/2 µdx ω 2. ini sama dengan P = 1/2 µ. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut.000 Hz = ultrasonik.ω 2.v. BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia. ym2 + ¼ µdx ω 2.ω 2. dibawah 20 Hz = infrasonik . disebut frekwensi Audio . ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.v.ym2 dimana (µ/Α) = ρ. termasuk Gelombang Bunyi. rataratanya=0). Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20. diatas 20. Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik. 88 18 11. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α). v.000 Hz.

Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! . berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB . Besar Daya dari sumber S b). yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2.10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB . Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB.1). Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m. dan S ke C = 30m. Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang. tentukan : a). Intensitas di A dan di B c). Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium. S ke B = 20m.

1. 90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat. Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo. Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium. gerak penerima bunyi pada suatu medium. Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama . atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri.C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. ( Berarti periode To = 1/fo ). merambat dengan kecepatan terbatas. Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi. Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b). Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut.

Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang. sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang. dan panjang gelombangnya λ = v/fo. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. . Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v). sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah. panjang gelombangnya juga tak berubah. Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs.(simetri) kesegala arah. Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang . 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. dan lebih panjang terhadap arah –vs. Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium. Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs. panjang gelombang nya tak berubah.vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] . Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo.To = vs/fo. dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v).

|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3. sumber atau pengamat. Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo . sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang. MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan. maka kita dapat menggabungkan keduanya. kecepatannya sekarang: v ’ = v . Jika kita tahu kecepatan relatif. f ’ = (v . kita dapat tahu siapa yang bergerak. vr dan v mempunyai tanda yang sama. dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama. Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. v’ = v – vr . frekwensi yang dirasakan berkurang.|vr| . Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain. jadi benda yang diam senantiasa ingin diam. misal pada sumbu x.|vr|)/ λ = fo . diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. dan vr mempunyai tanda yang berlawanan. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo.Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi. Setiap kecepatan termasuk gelombang. demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan . Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12. Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis.

dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi.02+5. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) .rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1.rB2+mC.ri2 = m1.02+1. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya. B. Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12. Partikel A.1.r22 + m3. Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA. Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m .r12 + m2.rA2+mB. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I).r32 + mn.geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.rC2 = 2. dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar .

ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm. R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm. dimana : dm = elemen massa = ρdV . Tegak lurus pada ujung tongkat b). dV = elemen volume .L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar. dA = elemen luas . Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ. Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm .C 1kg 12.2. dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a). Jadi : dV = elemen volume .

Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b).(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu.d2  disini d = L/2.d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel. . sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M. maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b. maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a). sedang M = 2m. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M. Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya. Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm). satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja.

z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 .a.b  Massa M = σ. I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12.b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat. Contoh 4. berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel.

Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R. ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL.(ρΑL = m = massa silinder pejal . L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5.R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m.1/4[r4]oR = ½ m. dimana dm = ρdV .R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm.

2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R .r x dm = ρπr2dx . r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R.2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV. sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3. Fluida Statis . 5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0.5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13. maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x . FLUIDA (ZAT ALIR) 13. maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 .2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R .1.

A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy.Α. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P.Α. gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F). dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja .g = ρ. yakni zat yang dapat mengalir.g F=P. Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa . terdiri dari zat cair dan zat gas.dy.g. A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) . berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 . Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P).Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat.g = ρ.ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW).dV.dy  Jika persamaan ini diintegralkan .ρ.g = P. Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm.A Fluida adalah zat alir.A  dP = .g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis.A dy y A dW=dm.3 Pa dF=dP.dy.A + ρ. Maka : F+dF+dW = F P. Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133. dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF). 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi.A + dP.

Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ. maka : Fkeatas = P.g.y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri.A.h = ρa.A .A.ρa. Berdasarkan rumus : P = Po + ρ.A + –F keatas = .A – Po.A + ρg. sedang P=F/A. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po.A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po.g.h. g. Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air.h.A .g = ρ.g.g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan. Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g.h.g.ρ. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h. dengan demikian volume balok adalah V = A.g.h P ρ=rapat massa ∫dP = .ρ.A = Po. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa.h.A maka diperoleh : ρ.y.y.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ.A = ρ.g.A +ρa.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po.h.Α.∫dy  Po – P = .g. dan gaya akibat berat balok F = m.A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0.ρa.y.h.

g.g.V .g.ρa.A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y.h.h. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ. Jika ρ=ρ a.g.A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa.h.y.A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force).h.A – ( ρ.g.h.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .A – 0 = ρ.V’ = F = ρ. V’=V .A) = ρa.g. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto.tenggelam.A. V’<V .g.h.ρa. dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ.V .g. ρa. Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan. Fapung = ρa. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh. Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.g.h.h. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan.A = ρa.A . ρ = ρa F keatas .A .V’ = ρ.g.g.g. balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h.h.h.A) .A atau h. (a) F netto = 0 . Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.

6m.ρa. dan massa M =200kg.A .8m. tinggi t = 0. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m.g. lebar W = 0.A . Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? .y=h F kebawah © F netto = ρg. Bak tersebut terapung di danau.h.h. V’=V .

W.L. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x. Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0.0.1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah.t.m)g.M)/m = (1000. Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya.W.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5.g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair.L.t.W..m.1.Dalam hal balon tidak tenggelam.8.m)g . tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam.y.0. persamaan keseimbangannya adalah : ρair.g = (M+x.L.g+x.1m. Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon. Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam .L. Bak akan tenggelam pada saat y = t. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah .t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.g = M. secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y.g . Sebelum tenggelam.  ρair.6.W.t.

A1.0. tidak ada gesekan internal.ρ.dt dm2 = ρdV2 = ρ. tidak dalam keadaan terkompresi. v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ.dt dm1 = dm2  Maka : .ρa.g = 4 π R t. alirannya tidak turbulen ( berpusar).0029m<<0.1m) 2 2 2 2 T 21 13. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu. dan sebagainya. Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum). misalnya terjadi pusaran aliran.2.g Wa = 4/3 πR3 .g  Wa = Wt. A1. maka : t 4/3 πR3 .0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R. dimana t=0 R T karena sangat kecil. Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1.ρa. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1.g Jadi tebal kulit timah balon t = R.Vt. timbulnya gesekan internal. A1. atau 0.g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa.ρ. maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t .sehingga jari-jarinya adalah R – t .v1. maka besar dm1= ρdV1 = ρ. dan sebagainya.v1. antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental. Berat timah Wt =4 π R t. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga . Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal.v1.1 / 3(11300) = 0.ρa / 3 ρ t = 1000.

. Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam .v1 = ρ .A1 v1 ρ dm1 ρ.v1 = A2. Luas penampang pipa bawah = A1.A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya.v2 . A1.v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1. A2. atau : A1. sedang luas penampang pipa atas = A2 .

h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung.v12 .v12.m.g.g.h1=P2 + ½ .v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .∆L2 + (m.∆L2 + (m. Pada peristiwa ini.g.g.m. sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2. ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ .v22 − m.ρ v22 + ρ g.g.h2 + ½ . tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1). gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 .∆L2 + (m.m/ρ + P2.g.g. Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m.m.m.h2) = ½ m.g.Kemudian pada gambar (2).v22 − m. sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.v22 − .g. Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.g.g.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.ρ v12 + ρ g.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.v22 − m.v12 ½ A1∆L1 = A2.m. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan .v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2.h1.m/ρ + m.h2 = ½ m.h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2.h 1. sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m. sehingga : P1.h1.v22 − m.v22.h1.∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ .h1.∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 .h2) = ½ m.h1 + g.

Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi. dengan kata lain. Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung. 107 M 1 A B 2 . Dengan kata lain. Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan. dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam. Jadi. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “. pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan.gaya dorong keatas oleh zat cair. kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. ada pergeseran sudut kecil. Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan. benda akan terapung. sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre.

Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1. Maka segitiga . kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis. pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1. Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya. Dalam rancangan modern. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air. maka ia akan semakin stabil. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O. Sebagai akibat rotasi. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya.

sedang panjang kapal L. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M. Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam. Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ. b3 θ. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ. L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!).aom telah keluar dari air.L/8. Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil. maka : ρ. Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam. Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam. (Ingat. Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ. Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama.L/12. Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3. sedang segitiga ocn berada dibawah air.I. sehingga am = b.BG .L/8 x B1B. pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!).L/8.m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a. adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ.b3 θ.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/. L/12 = ρ b2θ. Kedua momen ini adalah sama besar. maka : ρ.L/8 x 2b/3 = ρ. sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ. Apabila lebar kapal adalah b.

9 gr/cm2. (g = 9. sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s . Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4.8m/s2).8 m/s2) .2 m2.9 gr/cm3 . Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1.8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0.105 N/m2.Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut. sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh.4 gr/cm3. hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9. Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0. Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B .5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0. 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0. ( g = 9. Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm.

maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0. A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a). dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian .8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical.9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0.A1 = luas permukaan tangki . Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair). Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0.8 x 3 = 2. A2 = luas pipa 2 . Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0.2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m.4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0.4 m. jadi specific gravity = ρ/ρair . Kecepatan aliran di pipa 2 b).

3 terapung dalam air.4/2 = 1.2m B ke G = BG = OG-OB = 0.24m.03m.5m.8 dan berukuran 1. Jadi BG = OG-OB = 1.056 – 0.12m.2x0.8 x 0. G 0.1152 = 0.056m.235 – 0.24/2 = 0.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1.4 π m3 .12 = 0.4 x 0.2m. Dengan demikian.0064m4.3 = 0.2(0.4)3/12 =0.15-0. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0. BM = I/V = 1.03 = 0.27 π/5.0. maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0. Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0.4 = 5.bawah silinder.2 x 0.4 π = 0.b3/12=1. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0.0064/0. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L.5-1. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1.24 = 0.235m. Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).2m.3m dibawah puncak .026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1. Jadi. OB = 2.1152m3.15m.3/2 = 0.Adapun volume air yang dipindah V = 1. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0.3 = .4x0. silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.27 π m4. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G. Maka jarak dari 1. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0.2 = 0.065m. dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2.

2-h)  (1.2m3. Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0.8m .6-0.7  113 . Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0. Total volume air yang dipindahkan = 2.2/π = 0.6m3. Diameter benda yang terapung = 2m . Jadi 2.6m3.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2.4 = 2. Kedalaman silinder 1. OB = 1.8m 1. OG = 0.3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.2-h) = 2.silinder.2-h) = π(1.2m .2m O 0.4m3 . Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.2 = π/4 (2)2 x (1.3m .

75 l tg2α  GM = BM – BG ! . L = Panjang Kerucut . Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0.2-0.2) = 0.2x0. Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0.7854m2.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0.92mBG = OB-OG = 0.5)/2 = 0.302m.Maka h = 1. Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0.8 = 0. (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !).182 m.75 l . Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut. D =Diameter .3)+(2.85)}/(0.2 – 0.75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α .4+2.92-0.5m.7854/2. BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0.7 = 0. BM = I/V = 0.4x1.85m. Maka : OB = {(0.5+(1. Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas. l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair.302 – 0. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair . 2α = Sudut puncak kerucut .Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0.0 = 0.12 = 0.

Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada. KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.Στy =0 . dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F). jadi : Στ =0 (Στx =0 . Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi. sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. jadi τ = r x F . O = titik acuan.114 22 14. τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ . Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol. ΣFy=0 . Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1.Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F.ΣFz=0) 2. jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 . Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol. sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi. (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) .

Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk. diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N.200-8. 4. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0.Jika searah putaran jarum jam. maka +W1+W2-N1-N2=0 . Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0.. Jika berat jembatan 800 N. maka : +4.uhuk.N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1. Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar. maka N1= 600-350=250newton. 9m µs=0.400+6.4 .W1+6W2-8N2=0 . Contoh Soal 2.

116 Jawab : Buat acuan O. posisi mahluk berada pada ketinggian h. 2)Στ =0 . 800N. pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak. dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O. Maka : O x N2 12m h . karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 .µsN2 = 0  N1=0. Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter.1200 = 480 . kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik. Menurut teori trigonometri. Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter. Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N. dan N1 (Tak ada torka oleh N2). maka : N1= 480 newton. misal di ujung bagian bawah papan miring.4. Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 .

2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0. h : 12m = x : 9m = t : L .4m.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8.x – 2400 = 0 .N1 – 400.5m g = 9.x – 800. x = 3360/400 = 8.4m B B adalah 54%.4)(12)/(9) = 11.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10.3 = 0  N1= 480 newton.3 = 0  5760 – 400. sehingga:12. Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2. jadi .x – 800. Menurut perbandingan trigonometri. tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! .000N. h : 12m = 8.+12.480 – 400.

dimana ∆T = perubahan temperatur.1.c. atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15.1. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah. dalam satuan kelvin (K) . ∆T joule. PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15. Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4.1. m = massa benda. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m.2. c = Q/m. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer. Persamaan ditulis : C = Q/∆T. diberi simbol Q. Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K.1.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain. atom-atom. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul. 15.c ∆T . Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur. adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC. Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer. Berdasarkan Asas Black. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu).118 23 15. apabila suatu benda memberikan panas .

Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. ∆Τ1= m2. a.3. Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu. sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan. Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 . akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t.c2. Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan.1.kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah. misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t.c1. c2 = panas jenis benda 2 15. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang. Lo Lt ∆L . m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 .

xo.∆y + yo. sedang ∆t = t – to.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda.yo∆t (2 + α. atau At = Ao (1 + 2α.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas.t ) 120 b.∆t) .∆x = xo.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo.xo. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x.Αο. sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo.∆x yo Ao = xo. dimana xo.∆t = α. ini berarti α. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y.∆t.t + αxo.Lo.α.∆t + yo.αyo.yo.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu.α.∆t. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.∆y + ∆ x.yo xo ∆x ∆x.∆t) . Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo.∆y ∆y yo.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to.

∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : .Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K.∆ t) c. suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR. suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF. maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ.∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ . 121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC. Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15.2. pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah.

t. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya. misal air.2. misal : besi. Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah. suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = . 2. Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik. 122 15. dan sebagainya. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi. dinamakan arus panas H. 3.k. udara. dimana : dQ = elemen panas yang mengalir . Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = .k.A. tembaga. Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut.dT/dx . ∆T/x . beton.∆T/x .1. satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = . misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar.1. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1).A. dan fluida lainnya.A.k.

A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx .dt = elemen waktu .x2 + k2.A (Tx-T1)/x2…….(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = .= tanda negatif.k2.k1.T1.x1+k1. Tx = k1.A (T2-Tx)/x1 ………. menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1). Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .k2.……..A (T2-Tx)/x1 = . Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2.…………(2) Karena H1 = H2 maka : .x1 / (k2.x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).k1. maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state). akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : .T2.

2 π.k.dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal).L.. luas permukaan elemen silinder : A = 2 π.dT.H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan.k..k. atau : H..xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan.dT/dr.L.A. oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral.r.. karena mengalami pengembangan luas. namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar.dr/r = . maka H = . dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = .r.. .2 π.. secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k . Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1. dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +.L.

L. Suhu di bagian dalam pipa T2.ln a/b = . suhu di sambungan Tx.k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar. apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state.L. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π.L.ln(c/a) / k2.k.L. maka besar suhu T = T2.L. dan suhu di bagian luar pipa T1 .ln(b/c) + k2.k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1.ln(c/a)+k1. besar suhu T = T1. H (ln a-ln b)= -2 π. sedang untuk r = Rb.k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π.Untuk r = Ra. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1.L.ln b/a = + 2 π. jari-jari bagian luar pipa b.k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π. H1 = H2 maka : 2π. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan. Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π.T1. Jari-jari bagian dalam pipa adalah a. L.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π.L.(T2-T1) . sedang jari-jari sambungan adalah s.k.(T2-T1) .k∫T1T2 dT .ln(b/c) . Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda. H. Hargaharga ini merupakan batas integral.T2.2 π.L. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah.k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state. H.

dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) . r3. dan k4.k. k3. sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = . k2. L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2. dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah).Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1. dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro. maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. r1. r2.A.

besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = .dr /r 2 = -4 πk.K.m. H [ -1/r ] ba = .K. sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0. Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC. Tebal kedua bahan sama yakni 4cm. Koefisien konduksi bahan 1 = 0. H = . dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung.4 πk ∫ T1T2 dT . Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC.m.k. besar suhu = T2 Untuk r = b.A = 4 π r2 . bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a .48 J/s.4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda.dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a. 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H.04 J/s.

04 ] = 2π.81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar).48 ] = 2π.66 J/s = 251.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.04+ln(20/16)/0.178 = 40. berarti daya konduksi panas lebih besar.599+5.68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.66 = 32.L(40)/[0. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.48+ln(20/16)/0.465 = 80πL/7. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.33L/6.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π. . Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil.L(40)/[7.33L/7.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.178 J/s = 251.58] = 80πL/6.192+0.

Muatan listrik proton = +1. massa netron kurang lebih sama dengan massa proton. Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral).10 -19C. sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan.1.129 25 16. sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif. sedang muatan listrik elektron = -1. berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom. Massa proton = 1.6.10-27 kg.67.6. sedang massa elektron = 9. jadi dapat diabaikan. Benda-benda . berisi elektron (e) 16.10-31 kg. STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom. Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti.1.10 -19 coulomb (C). Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut.

10 besarnya 1. ion.M. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6..u. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan. proton.2. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1.022.L. Jadi jumlah zat itu.67. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu. dan lain sebagainya.4. Banyaknya elektron disetiap kulit . dan seterusnya. Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom. molekul. Elektron terdapat pada kulit atom.. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya.2.. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu.4. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia.1. Tempat kedudukan elektron pada n = 1. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a.m. elektron. Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain. mungkin atom. (atomic mass unit) dengan simbol u yang kg.1.3.. dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron.N. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium.yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul. dan seterusnya dinamakan kulit K.3.10 -27 23 butir. 16. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon. Empat bilangan kuantum electron adalah : a. atau kalau dibalik..

Harga m nya mengikuti rumus : -l.…. dengan s = 1/2 dan . Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1).. 0. dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 . Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah.. b.l. Jadi apabila n = 1 maka l = 0.. -1/2. maka m = -1. +2 d..1. 0.+l.. +1. dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s.p. -1. Maka apabila m = -1.f.2. dan seterusnya. -1/2. Jadi apabila l = 1. -1/2. 131 c. dan sub kulit 3s ( n = 3.. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada. 0.3.1.. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n. dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 .+(l-1).. l = 0 ) berisi satu elektron. Jadi untuk l = 0 maka m = 0.2.2 .4. sub kulit 2p ( n = 2.maksimum adalah 2n2. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 . Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1)...( n-1 ). Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada.d.1. +1. Orbital l = 1. Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 .0. -(l-1). l = 1 ) berisi enam elektron. +1/2.. l = 0. +1 Untuk l = 2. terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2. akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1. 16.. l = 0 ) dan 2s ( n = 2. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1.m.. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron.3.2.. maka m = -2. Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0. +1/2.

+1.1/2.-1/2.-1/2.-1/2.-1/2. apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2. dengan s = 1/2. 1/2. banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3).1/2.1/2. +2.-1/2. untuk l =2 maka m = -2.-1/2 . untuk l = 1 maka m = -1.1/2. 0. -1/2. 132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 .-1/2 . ( Ingat.32 = 18 buah.1/2.-1/2.+1 dengan s = 1/2. -1.0.

2. Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli).1. -2. -1/2.1. 0. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17. 1/2 -1/2.+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2.+2 133 Jadi semua m ada : 0 . Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion.2. yakni 2 buah di kulit K. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2.-1/2 16. -1/2. 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1.-1/2.+1. 1/2. dengan . +1.-1/2.0. -1/2. 1/2. dan 2 l = 0 .-1. -1. serta 1 buah di kulitnya yang terluar M. +1 . Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain. 1/2.1/2. 1 . sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0. 1/2. 1/2.0. 0. 1/2. -1/2. Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16. 8 buah di kulit L. -1. Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif. -1/2. (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik).

Ikatan molekul H2 b).2. Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”. 8 buah di kulit L. dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron.perincian : 2 buah di kulit K. dan 7 buah di kulit terluarnya M. yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron.2. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion. Akhirnya. Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron . Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif. Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b). Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar.

Engineering Mechanics: Dynamics. J. 2004 Beer.. H. 2006 Khurmi. NY. M. Fishbane. London..1974. Prentice Hall Pearson Education Asia Pte. New Delhi. Mechanics for Engineers. Laxmi Publications Ltd. Ltd. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal. Mc Graw Hill International Edition.Chand & Company Ltd.. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak. Grotch. Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron. Prentice Hall Inc. 16. Addison Wesley Publishing Co.. Eurasia Publishing House Ltd. S.. 2002 Kelvey. Gasiorowicz. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics.... 2004 Marmet.3. 1996 Hibbeler. 1994 Counihan.L..T.. Mc Graw Hill Book Company..R. Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif.. R. Newton Physics Books.. New Delhi. 1978 Khumar. 1987 Burton.. Routledge & Kegan Paul Ltd.. Introduction to Dynamic System Analysis.. 4th ed. Glaucester. Introduction to Nuclear Physics. Harper & Row Publishers... Johnston. New Jersey.D.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya.karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama. F. New Delhi.H. NY. Singapore. 1981 Enge. NY. A Text Book of Engineering Mechanics. Physics for Science & Engineering.. Engineering Fluids Mechanics.. R. 1993 . A Dictionary of Energy. P. Physics for Scientists and Engineers.. A Text Book of Engineering Mechanics. P.2.

. 1974 Mittal. Metha. The Fairmont Press Inc. 2003 Merken. New Delhi. J. P. NY. 1998 136 . Theory and Problems of Vector Analysis.. University Physics.L. F. Addison Wesley.. Hand Book of Energy Engineering. Sounders College Publishing.G..L..Meriam. Mc Graw Hill Book Company.. Dillon. Freedman. 5th ed. Harcourt Brace Jovanovich Inc. A Text Book of Sound. 1974 Thumann. John Wiley & Sons Ltd. NY.. 1994 Spiegel. Physical Science with Modern Applications.. Kraige. 4th ed. 1992 Miller.. A. Anand J. Engineering Mechanics : Dynamics. Massachusets... P. Har Anand Publications. Concepts in Physics. T.. 1997 Young. M.. 9th ed. Virginia..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful