P. 1
PHYSICS, 20-05- 2012

PHYSICS, 20-05- 2012

|Views: 364|Likes:
Published by Aldi Muhammad

More info:

Published by: Aldi Muhammad on Sep 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2013

pdf

text

original

FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

.16....... sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan............ 1.. kapal laut....1.. Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya............ serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul..... Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan .. dan Teori Gempa.. dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil. dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika.. Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika....130 ii 1.... Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa.. Mekanika Fluida................ gedung pencakar langit.2. Atom dan Molekul... dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika.. Adanya pesawat terbang. jembatan. Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik. PENDAHULUAN 1...... Untuk jurusan teknik sipil.......... komputer...

Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. Proses Pembelajaran .4. merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. Kemudian Dinamika. Dinamika. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya. Adapun Statika. dan Gelombang Mekanis. Gerak berputar. Sub topiknya adalah : Gesekan. Kerja dan Energi. Gerak Parabola. Gerak lurus dengan kecepatan konstan. Gerak melingkar. Momen Inersia. Kinematika. Momentum dan Tumbukan.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya. Sub topiknya mengenai : Gerak lurus. 1 1.3. Statika. 1. Mesin mesin Angkat. Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil. Getaran Mekanis. Teori Panas. serta Atom dan Molekul.

satuan massa adalah gram. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2. dan satuan waktu adalah sekon. menjadi hal yang penting. massa. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter. Untuk selanjutnya. second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. kilogram. Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1. MKS (meter. Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran. Oleh karena itu. satuan massa adalah kilogram. . Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. dan waktu. 2 1 2. dan waktu.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). massa. dan satuan waktu adalah sekon. Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain.1. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. disempurnakan. 2.

Demikian pula. FPS (foot. pound. Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot.3. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain. Maka.281feet (FPS) = 39. gaya.37 inches (FPS). 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa. dan pound gaya (untuk satuan gaya). Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa).. satuan gaya adalah pound. akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft . second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3.205 pound massa (FPS). dan satuan waktu adalah sekon. dan waktu.

Jumlah zat 7.Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan. Sudut Bidang b.Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : .Intensitas cahaya a.Panjang 2. 1.Temperatur (Suhu) 4.Kuat arus listrik 6. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1.Waktu 5.Massa 3.

Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2. berarti 360o = 2π radian. Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R. besar sudut totalnya = 2π radian. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya). Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR.3o . benda berbentuk bola . 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. Lingkaran b. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian.141592654 = 57. kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola.2. Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh. maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian.Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola.a. sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2.1. besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian.3. Dengan demikian maka dalam suatu bola.

Besaran Turunan : Karena merupakan turunan. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”.3 m 1852. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg.3048 m 0.9144 m .m-1. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”.s-2 Kg.s-2 Kg. 6 2.0 m 0.0254 m 1609.m.s-2 Kg. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan.m2.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0.Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional.m2. suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran. maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar.

06854 slug : 1 kg = 2.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf.s-1 350 m. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI.in .59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0. maka tidak perlu dikonversi. Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.8 N.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf.594 kg 1055 J 6894.2046 lbm : 1 N = 0.281 ft : 1 m = 39. satuan gaya.4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.4536 kgf 1 pound massa (lb.m-2 0.4482 N 0.4536 kg 14. maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4. dan satuan massa.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.3048 m : 1 inch = 0.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14.5144 m.1 pound gaya (lbf) = 0.

021 lbf/ft2 .in = 1(4. massa.11298 N. yang berarti 1m2 = 10.f = 4.f)(ft)/(min).1 lbf.2248)/(10. dan lainlain. .m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb.765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0. dimana : 1lb.3048m . Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah. Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa.281 ft. gaya. momentum. dan lain-lainnya. berat.4482)(0. waktu. torka. Misalnya : panjang. perpindahan. 2 2.8512 lbf. dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa.2. Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah. jarak.0254m) = 0.4482 N .in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0.448N) x (0. lintasan.022597 watt. posisi.2248 pound force (lbf). Misalnya : kecepatan. 8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N.765) = 0. energi. 1min= 60 s .3048)/(60) = 0. 1ft = 0. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris. sedang 1m = 3. usaha (kerja).37 in) = 8. maka daya dalam SI = (4. suhu. bilangan riil.m = 1(0.22482 lbf)(39. percepatan.

dengan demikian maka Fx = Fx i .4. sedang arah anak panah. pengurangan. sebagai contoh : F (gaya).1. menyatakan arah vektor. v (kecepatan). vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya. dan k. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F. sedang apabila vektor keluar bidang. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. Fz = Fz k 2. Sebuah vector samabesar . dan sebagainya. vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. masing-masing dilambangkan dengan i. r (posisi).2. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor. F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2. dan z. Apabila vektor masuk bidang.5.3. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. jadi F = Fa. sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. Fy = Fy j . a (percepatan). j. O Gambar 2.Secara grafis. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor. digambarkan dengan tanda titik (. y. Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan. Vektor satuan pada sumbu x.) 9 Secara trigonometris. digambarkan dengan tanda silang (x). P (momentum linier). Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol. atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya. dan perkalian.

j.1.1.6). dimana : i.b. Fy. 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x. Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah.6.2. Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain. maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain.a. dimana besar dan arah vektor harus tetap. y. dan Fz Gambar 2. dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1. jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y. . masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2. Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2.7) Keterangan : Fx = Fx i .8. Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis. Misal. Fy = Fy j . 2.7. Fz = Fz k . maka F1 = F2 2. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx.2.Sama besar dan searah. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. Gambar 2.

F2 F2 Gambar 2.Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx.9 F1 F1 F2 = F1 .7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1.2. jadi F1 .9.1.c. maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx.F2 = F1 + (-F2 ) .8 dijumlahkan secara trigonometris. maka persamaan tersebut .8. Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2. Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2. dan Fz pada gambar 2. Fy. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2. Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) . sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang. Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C. Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang.0. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang.4 sin 30o = 200 N.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang. dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada. bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. maka F x r = τ =1000.yakni arah dari vektor C. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut.m.

3. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal.12. dan besar B = 2 maka besar C = 2. Pada gambar 2.12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o. Pada gambar 2. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o). maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar).2.1 = 6 (arah D keatas).1 = 4 (arah C kebawah) . 400 m B B . dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m. Hitung ditempat mana kapal merapat.Gambar 2.12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o.2. Jika besar B = 3. Jika besar A = 2. Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s.

1154734 = BC/400.587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1. A x B = . Jika A dan B bukan vektor nol.2m dari tempat B 4.5m/s 6. m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4. A x (B + C) = A x B + A x C 3.33m/s 400m A 0.33 = 0.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46. i x i = j x j = k x k = 0 .B x A 2. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0.33 m/s tg θ = tg 6. k x i = j 5. . maka jarak BC = 0.0. i x j = k. sedang A x B = 0. jadi θ = 6. j x k = i.587o 5cos30o =4.587o =0.1154734 .1154734 x 400 = 46.5m/s tg θ = 0.5sin30o = 5.5/4.5= 2.

t v s Gambar 3.a. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu. terhadap sekitarnya. KINEMATIKA 3. maka Lintasan benda adalah : s = v. 18 3 3.maka A sejajar B. dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus.1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3.1. Dapat dibagi menjadi 2 : 1.1. Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration).1. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu. Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap. Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t. GLBB Horizontal v .

b. 3. (vt .t = (vt + vo )t .t 2 .vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a. GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal.(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo.t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v.2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah.…………….vo ) + ½ a. maka akan dipengaruhi a2 vt 2 . dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang.t ) t  sehingga s = vo .t  vt = vo + a. kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt .1. misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya.Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo . berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt .1.s a vo s Gambar 3.t = vo (vt . t + ½ a. 2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a.vo …….vo  t t = vt .vo= a.(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt .

oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9.8 m/s2.t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3.4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) . Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2.t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3. Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo.

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g. Tentukan posisi mobil. y vo O y vx=vo x .t Lintasan sy = vysinθ. t − 1/2 g. jarak dari tempat ia menginjak pedal gas. setelah 1 sekon. dan kecepatan nya.voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3. Sesampai diujung jalan yang terjal.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ. ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s.

t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2.9. v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali. arahnya setiap saat berubah.1 = 9 m.vy=-g.25 m. meskipun kecepatannya tetap. sedang vy = -g.8 m/s.1 = -9. 25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4.t 2 = -1/2.8. Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran. posisi mobil adalah xo=0. Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T. 3.t = .04 = 13.9)2 = 10. dimana vx = vox = 9 m. Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9.4. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω.8)2 = √177.9.8. posisi pada sumbu x = vox. dan yo=0. Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula.t = 9.3 m/s. Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v. v maka kecepatan linier v = panjang keliling .3.12 = .9 m. Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at . sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g. sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon.

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

1. Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. Dalam analisis terahir. gaya gesek dan gaya pegas. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental. ada 4 macam yakni : gaya gravitasi. GRAVITASI DAN GAYA 4.m.29 5 4. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force). yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya. gaya nuklir kuat. Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental. Sebagai contoh.M)/r2 F = gaya tarik menarik .(G. F = . dan gaya nuklir lemah. keduanya adalah gaya turunan. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam. kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul. gaya elektromagnetik.

maka : m...2.g = Gm..dr = - ∫ -Gm. atau : dF/F = -2dr/r .m.(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4.dr/r3 ) / G.. Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya.M/r2 .10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik. Gaya Hukum Newton : .M.g.dg.G = Konstanta gravitasi universal = 6... sedang harga ini = Gm.M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen..67....M/r 2 .. Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m. dengan demikian besar g = G.M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G.G..dr/r3 sehingga dF/F = ..m. Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya.M.M/r2 .(1) Apabila persamaan F = m. atau dF/F = dg/g .M/r..m.g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m.(2G.. Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui. 2 Apabila persamaan F =G..dr/r = .m.G....m...M/r  Ep = . Besar energi potensial gravitasi Ep = ..F.m...M..

1 2. 31 2.F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1.Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4. CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam. Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar. Gaya Aksi = . maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 . jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 . jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .2 v Benda bergerak dengan v konstan . F = m x a 3.sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut. berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”. sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan.Σ Fy =0 .Gaya Reaksi.Σ Fz =0) v Gambar 4.1.Σ Fy =0 . Suatu benda yang diam akan terus diam. Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama. jadi FAksi = . CARA DINAMIK : a). Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan.

8m/s2 ) F=? . Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah.8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9. maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4. berarti ada percepatan “a”.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar.b). Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut. dimana g = 9.

Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9.a A 100kg B 500kg 800kg g = 9.8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : . bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift. setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2.8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong . F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg .

Jika peti menjalani 2 putaran per sekon. Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4.ac = 100.789. Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.5 s.14) 2.(3.57 = 78957 N.Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m.g .v2/R = m.5 / 0. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar.8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m.57m/s2 .Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9.52 =789. hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0.

sedang pada arah vertikal.g/cosθ )sinθ =m.R = (2πLsinθ/Τ) /g.g.m.1 alami gaya gesek apapun.R = 4π L / Τ g. Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F .  cos θ = Τ g. ini pasti harus sebanding dengan m. Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g. belum meng W Gambar 5.v2/R F sin θ .v2/R m./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5. Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2. 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g.Disini tidak ada gaya vertikal. Ada dua macam gaya gesek : 1. GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f. Σ Fy = F cos θ . Σ Fy = 0 . merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping.g = 0  F = m.v2/R = 0.v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m. baik statik maupun kinetik.g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m.R  R = L sin θ.tg θ =m.v2/R  tg θ = v2/g.R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g.m.

Gambar 5. Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam.2 1.N f s = µs. Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak.a). maka berlaku persamaan : keadaan bergerak. tentukan massa R b).N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan.N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1. Benda diberi gaya F yang 3. Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T . Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs.maka berlaku persamaan : fk = µk. Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg. sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2.

dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2. dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan.5 100kg C B A 30o µκ=0.5 30o g = 9.R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.g µκ= 0.8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A. tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0.Q.2 200kg . Benda P.B.4 Contoh Soal 3: .

N = Gaya Normal . Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs . sedang Σ Fy=N-m.v2/R .2 µκ =0.200kg Q P µκ = 0.2 v konstan R µκ =0.2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R. dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R. f = Gaya Gesek mobil pada jalan.g bergerak dalam lintasan lingkaran.g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m. .N = m. maka f Σ Fx = f = µs.N. berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil . N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs.

sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar .g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v.m. tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m.Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan. meskipun jalan licin (tanpa gesekan). Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring.m.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring .g. Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan.g = m. Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs.g yang mana merupakan harga konstan.

230} = 15o 40 7 6.h . oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya. elektromagnetik....R  θ = arc tg {(25)2/ 9.g/ maka diperoleh : tg θ = = m. Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha).v2/R adalah : N sin θ. penyebab gaya m..g / cos θ) sin θ v 2/ g.8. nuklir.1. kimia.. panas.(1) Fy = Ncos cos θ . ada dua yang penting yakni : 6.g. Pada keadaan disini..1..sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan.v2/R . Disini hanya akan dibahas energi mekanik. Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g.v2/R . cahaya. ENERGI DAN KERJA 6. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan. tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata..(2) = m. Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m. dan sebagainya. Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m. contoh: 1. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m.1..R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api.g  N = m.

1. s Fcosθ s . Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama. mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6.h’ Ek = ½ m.2.2.v2max Ep = 0 Gambar 6.2 k = konstanta pegas .3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k.Ek = 0 Ep = m. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v. maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .x2 6. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s. Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya.1 vmax 2. Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6. x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6.v2 h h’ v Ek = ½ m.g.

g. kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt. Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0.Gambar 6.4 dan g =9.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo. maka Kerja W = F. tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil . demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial. hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F .x = m. besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian.h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k. Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.8m/s2.x22 .x x = v.h2 – m.a.g.vt2 .t = (vo+vt) t . maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m.vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh.½ k.½ m. a = vt-vo .x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2. Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m. sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan.

Kecepatan akhir beban tersebut. a = 4m/s2 200m 100kg g=9. Tentukan : a. 43 .8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk . Kerja yang dijalani oleh beban tsb d. Kerja yang dilakukan oleh bumi c. Kerja yang dilakukan oleh penarik b.30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2.

seperti : Industri. mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan . serta banyak bidang yang lain. Pertanian. bahkan Kedokteran dan Pendidikan.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal. jembatan.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9. yakni merubah besar maupun arah gaya.5 44 8 7. MESIN-MESIN ANGKAT 7.200kg µk=0. terminal.1. Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0. dan sebagainya. Di dunia Teknik Sipil. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang.8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9. jalan raya.8m/s2 ) µk=0. Pada masa sekarang. misalnya gedung. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Transportasi.

semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan. baja. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin. Terdapat banyak jenis mesin angkat.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang.R.A. yakni : 7. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama. balok kayu. dan bahan-bahan bangunan lainnya. batu. lempengan besi.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat . M.R. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7. misalnya: berubah menjadi panas M.3.A = Fo/Fi . D.(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat. dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D. tentu semakin baik. digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan.2. Oleh karena itu. hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi.

Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal).R. sehingga : M. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M. sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %.A.4. Fo. = D. kelembaban. maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi. 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin.So = Fi .A.Α.akibat gesekan). tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D. senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin. misalnya gesekan. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan. Macam macam mesin angkat . panas.Si Efisiensi η = Μ. korosi. x 100 % D.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen). (Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya). 7.R.. sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika.R.

b. Roda Cacing. yang diperoleh dari Fo / Fi . Bidang Miring .R. jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m.R. juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. Katrol Ganda .Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal . Dalam keadaan seperti ini maka M. karena.R. Katrol diferensial Weston . = D. saja. Roda Poros . maka beban W tetap naik setinggi x m. Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M. Namun meski kondisi katrol demikian. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga.A. diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. Kerekan Ketam Ganda . Roda Poros Diferensial . Katrol Sistim Kedua.A = 1. Dikatakan bahwa. tidak mempengaruhi harga D. meliputi : Katrol Sistim Pertama. a. Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). Katrol Ganda. (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal. dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo .A. Demikian pula harga D. misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan. gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M. Dongkrak Sekrup Sederhana . dan Katrol Sistim Ketiga . Kerekan Ketam Tunggal .

dan 3) W cukup besar. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n . dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. tetapi jika mesin tidak ideal. maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas.Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n . maka : jika mesin ideal. disini ada 4 tali. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan. MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M. jika mesin ideal maka MA=DR. caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban.2.A. MA = DR. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no.4. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal.

maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali.

Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR. sedang jari-jari roda kecilnya r.Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R. .

M.=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali. Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt. Dengan 2 Demikian. sedang tali 2 turun sejauh 2πr. Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So .Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga. dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). maka Si = 2πR.MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) . ini membuat beban W .A. Dengan demikian. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr. berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si).

naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ . sedang .

n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang.n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L.θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran. Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So.n2/(r.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali .n2/r. dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L.

n1.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L. sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K. maka : silinder .3. n2.n3/(n2. dan 1. dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4.n3. jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi.2.n4) Keteranga n: n4.

n2=100 gigi . Jadi: MA = R. n4= 200 gigi . tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda. adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) .beban akan terputar 1/n kali.2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 . dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n . panjang L=1 m n1=300 gigi. n3=400 gigi .n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N.

x3 +.xn) /m1 + m2 + m3 +. y1) x pm = (m1.y1) dan (x2.y3 +. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(.y2) dari suatu titik acuan 0. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum. maka pusat massanya adalah (x pm. terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat.mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1.x2 + m3. m2 = 2kg.mn.y2) x Gambar 8. dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 .x1.x2 . Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut.y2) / (m1 +m2) m2(.y1 + m2.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1.10 8.yn) /m1 + m2 + m3 +.x1 + m2. Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. Pusat berat merupakan fungís gravitasi.x1+ m2.mn.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg.y1 + m2.y2 + m3.

1) = 8 kg m3 (1.8533 .2) = 4 kg m2 (4.2) = 4 kg F1 a pm m2 (4. 0.3 57 .433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.1) = 8 kg P 63o m3 (1.1/2) /1+2 +3 = 0.2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.1 +3.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N .y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8. F2 = 16N .0. F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.866) /1+2 +3 = 0.0 + 2.8533 m y pm =(1.-3) = 4 kg F3 Gambar 8.0 + 2.0 +3.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0.

0.89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.89/16 = 1. maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17. maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 .75m y pm =(2.4) /4+8 +4 = 1. Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º.25) . dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8. Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2.25m Pusat masanya ada pada titik P (1.4 + 4.75.12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari.8 +1.4 + 1.4) /4+8 +4 = 0.Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2.8 + -3.4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm . Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N .

m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F.8 59 v’ 11 . ini dinamakan impuls I.6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x. jadi : I = F. maka elemen massa dm = ρdx . m. Untuk menyederhanakan pembahasan. dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8.t = m.v’ – m. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t.dt = m. Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya.v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8. dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F. Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ.1. benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8.v’ – m.7 v P = m x v (kg.v’ = momentum akhir .dx 0 x Gambar 8.t = m. Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’. sedang elemen panjangnya dx.v (m.dv.v .

dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan. demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara. Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan. benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. masing-masing sudah mempunyai kecepatan. Atau : m1v1’. atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam.8.F2 . dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8.m1v1= . ini adalah gaya : aksi = -reaksi. 60 . momentum.t = . keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda.m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi.2. sehingga : F1 = . Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1.t  I1 = .9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan.I2 . Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah.(m2v2’. gravitasi.F2.

Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1. apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan. partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2. dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2. demikian juga untuk partikel-partikel yang lain. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).v1. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no.Adapun. Tumbukan Non Elastis Samasekali a).2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v.v2. Tumbukan Elastis Sempurna a). Tumbukan Elastis Sebagian a). 61 .1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no. sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum.

dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan.v2+m3. Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya. maka kecepatan pancaran dM/dt Gb. Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas.vn sehingga : PTot = M.apm = percepatan pusat massa. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan. Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut. .10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u . m. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1.8. Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya.Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot.v1+m2.vpm . Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable. Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u. gravitasi bumi. demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 . dmana M = massa total sistim . Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M.n. vpm = kecepatan pusat massa.v3+….apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar . Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan. ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas.

dan sebagainya. Massa total sistim 10000kg. Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8. sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata. dt = eleven waktu. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0. gesekan udara pada roket. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa . sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim. karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u.11 63 .(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket. dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket. v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar.Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = .Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Contoh Soal 1.

v1+m2.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 .(1) b). massa peluru = 100 g = 0.1)(10)/1 = 1 kg/s . M = 10000kg .000(8)+2000(0)=(10.dv/dt 500 = 10000. Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan.v2’ ) …. Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1. tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1.(-v2) = (m1+m2)v’ 10.05m/s.000(3)+4000(-5) =(10. Maka u=500m/s. 500.m2v2’ m1 ( v1’ . m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ . berarti dM/dt = (0.dM/dt = M. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi.v1+m2.v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0.000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna. berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a).000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg.1 = 10000.1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru.v1) = m2 ( v2 .Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u.m1v1 = m2v2 .000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10.….dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali.

.v1 ……. maka : v1’ = v2 + v2’. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’. tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 .v2’ ) ( v2 + v2’ ) …. sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ .(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) . Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.……(3) v2’ = v1’ + v1 .v2’2 )  m1 ( v1’2 .v12) = m2 ( v22 .v2’2 ) atau : m1 ( v1’ .v12) = m2 ( v22 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s.Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 .

30o---50kg v’ . 1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal. Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------.000.1.000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga.

sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis.66 12 9. Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang .1. Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y. Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9.2.1 F 2. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume .Vo = volume mula-mula ) 1. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula.B. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis. . Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut. ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan. Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta. didefinisikan beberapa besaran terkait. Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = . antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9. Untuk membahas elastisitas.

2 3. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah . maka berlaku persamaan : F/A = S.tg θ = S.67 F F F F F F Gambar 9.θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9.3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.

maka : F.Lo/(A.Gambar 9.1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.Y) baja = F.∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F.Lo/(A.1011N/m2 dan luas penampang 0.2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1.Lo/(A.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2.Y) tembaga ¡ 1000N 69 . Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y.5m2 dan panjangnya 4m.Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga . Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).

Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN. sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan.13 10. GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik). 10. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya.1.1 0 π/2 π 3 π /2 2π . waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10. Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode.

maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama. f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik.ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) . sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat.ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[.v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k.x2 . Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol.x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) . 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1. harga EP adalah nol. Ketika EP membesar maka EP mengecil. sedang EK = ½ m. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = . dan ketika Ek maksimum.-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t . demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama.v2 = ½ m[. Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k.ω A sin (ω t +θ)]/ dt = . Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m. dengan demikian maka : 2 .

x =Asin(ω t+θ) . dalam persamaan (1) ini. Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : .k.(1)  ( k/m = konstan ) .x (Gaya Reaksi) Fb = . x =cosθ .a = .x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = . x =Acos ω t .a = m. dan sebagainya. 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m .ω A cos (ω t +θ ) = . Jadi Periode T = 2π √m/k .k. misalnya : x =sinθ . F = Gaya Aksi = m.k. x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) .x/m ……. x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut. Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ . Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus.d2x/dt2 = .k.2 F = m.k.d2x/dt2 m. Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus.k.x  m. x =sinω t .Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan.dv/dt = m.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = . dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan .x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10. tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda.

72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). Tentukan besar harga konstanta pegas k ! .8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0. Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b). Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 . C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0. Kecepatan pada saat 3 s. Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N. B).1 m ketika mereka masuk ke mobil. Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4.2m dari titik seimbangnya adalah 100J.π/6) a). hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9. Percepatan pada saat 6s.

.x . dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m.x/m – (b.dx/dt)/m + k.Fb .k.d2x/dt2 = .2.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = . k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C.Fr  m. Redaman juga berasal keadaan.k.dx/dt)/m d2x/dt2 + (b..a = m.x Fr = Gaya Redaman = .x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta.. Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.(2) α.b.misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair. F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman .dx/dt  b = konstanta.e t …….k.dx/dt atau : d2x/dt2 = . m = massa (konstan) Gambar 10.b.3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = .73 14 10. bisa diambil harga : b/m = 2r .

atau : r2 = ω 2 .t α. α.e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α. . ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran. menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif.….exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta.e t mempunyai harga.e t + ω 2C. Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED.e t = 0  C.. meskipun sangat kecil.t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C.exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2.. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran.e α.e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2.e α. Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0.e ( − r − √ r2 – ω 2) t ….e = bilangan alam = 2. C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C. α. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 . maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0. harga ini tidak memenuhi persamaan (3). ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif. oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga.e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C. ini bisa ditulis : x = C1. yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1.t + 2rα C. α.(3) Pers.. C.718281828… ..

θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.e + i..t = faktor redaman . jadi : .e ( =e (C1.t (C1(cosω ’t + i.θ − r.t (a. cosω ’t + a. t + C2.ω ’) t + C2. ω ’. Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM. disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah.t ω ’. e − r.(5) a. e − r.Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.e + i. e − r. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam .sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ . √ (r2 – ω 2) adalah imajiner. t − i.e ( − r + i. e +i.e ( − i.sinθ. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a. f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) . Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r.e ( )….t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) …. r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t .t − r. e = 2.71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam . jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 .i.sinω ’t) + C2(cosω ’t .(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ . + C2. dan e sinθ Maka pers.cosθ.t (C1.ω ’) t -i.ω ’) t − r − i.ω ’) t − r.t = amplitudo getaran terredam . dimana a dan θ Maka : x = e − r.

e − r.. sehingga besar kecepatan v : v = a.. e r<< ω maka : −r. e − r.v = dx/dt = −r.a.(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu.t − r. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek .4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang. e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a.t sin (ω ’t +θ) + a. a.t t −a..t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a. yakni ada daya yang terhambur keluar sistim.t -a Gambar 10.t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan. e − r. yang berarti mengalami dissipasi daya. e − r. e − r.t ω ’cos (ω ’t + θ) ..

Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini.a2.d2x/dt2 .t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k..a2.t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k..t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m..a2. e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = .(a..t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r. K..t − 2 r...Ep = ½ k...a2.. e θ) ET = ½ k... e 77 −2 r. sedang Ek = ½ m.. getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda.(8) 15 10.a2.d(½ k..a2..ω 2 = k .3.a2. e − r.t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k..x 2 ...x 2 = ½ k(a. e (watt)…. e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m.a2.v2 . e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ . misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m.a2.a = m.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r. e − 2 r. Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k.t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k.t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r.. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k.t (joule).t Ek = ½ m.t P = r.a2.t − 2 r.a2. e −2 r.. e − r.dET/dt = .v2= ½ m. besar ω ’ = ω Ek = ½ m.. e − 2 r. sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k.t − 2 r.. e − 2 r.

. terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar .ω ’’2)..x/m = Fmax sin ω ’’t/m….d2x/dt2  d2x/dt2 +k.5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa ...k. xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) . f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k..(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t.(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) . dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t..x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus..(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1)..Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .. dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m). sedang harga xp = C sin ω’’t……. maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k. C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m . sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10. atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat.x = m. ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient.

dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m.d2x/dt2 = .x .k.a = m.k. dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek.x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m. Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = .b.dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m .d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = . dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar. Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.6 d2x/dt2 = .4.k.b.

t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’.t -θ ) …(3) . (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan.x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 .t -θ ) +ω 2A sin (ω’’..t -θ ) …....t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’.. d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’.. Fmax /m = fmax ( Ingat .t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’.. Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ ... bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t …….t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1). sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan .t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama..d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k.(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ .…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’.(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’... fmax disini adalah gaya per massa. b/m = 2r ... demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan.t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’. maka ..t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.

dan ω’’.fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’.. (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.......... 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t...{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.... (8) (Ingat... Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : .................. (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)………....... fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan........fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2..... diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 ..

Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) . dimana f = frekwensi getaran alami. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f . yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran. sedang ω’’ = 2 π f’’.Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2).…………… . Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0. sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!). maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π . yang dinamakan Frekwensi Resonansi. ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil).Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum. jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat. dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π ….

semakin kecil redaman. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami.Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. serta konstanta redaman ”r”. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami. Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil . Untuk redaman kecil. frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. semakin besar harga amplitudo maksimumnya. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa.

ketika redaman ”r” bertambah.π/5) . yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi. puncak bergerak kearah bawah.(d) r = medium r = besar 0 =ω 0.05t cos (2πt/3 . Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman. Pada saat ω’’ bertambah. amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman. maka resonansi semakin tajam.5 ω ’’> ω 1 1. (c). Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω . Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar. yakni ketika nggak ada redaman. dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang. Lebih lanjut. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil. Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman. Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar. Kurva (b). Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. amplitudo cenderung kearah nol.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil.

dan 3 dimensi. frekwensi sudut alami 0.π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N . dan konstanta redaman adalah 0. Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 . Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis.02 . Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi. frekwensi sudut paksa 0. 2 dimensi. Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : .04 . Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa. tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9.06 .8m/s2 2 85 17 11.Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2. GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat. sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis. massa benda yang bergetar 100kg . Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik.

fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v. dt = elemen waktu .dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut.m2). dA = elemen luas) .m2) . Dalam perhitungan teoritis.t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang. demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) .dA) (J/s. Jadi I = E/(t.A) (J/s. sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt.Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini. perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t.t (3) x y = f(x-v. sering dihitung secara elementer. fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v.t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1).(2).t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv.dimana : E = elemen energi .t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω. karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2).

A E I = E/(t. ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata). dA= elemen luasan.dA) J/s.t). atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) . ym2 + 1/4 µdx ω 2.t)] 2 = ½ µdx ω 2.ω. berarti setiap saat harganya tetap sama. Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik. yang . sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω. sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA.m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV .t) . ym2 cos2 (kx-ω. dapat diperoleh besar energi total rata-rata. ym cos(kx-ω. maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t .t))] = ¼ µdx ω 2.A)=dE/(dt. adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa.v2 = ½ dm[. Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas. jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω.t)] 2 dEK = ½ µdx[. dV=elemen volum. sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus.t)]/dt = .ω.Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik. Besar energi kinetik EK = ½ m.t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t. ym cos(kx-ω.t)] = ½ µdx ω 2.v2 maka dEK = ½ dm. ym2cos2 (kx-ω . maka dengan menghitung salah satu saja. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) . ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. ym cos(kx-ω.ω.

ω 2. ym2 + ¼ µdx ω 2. Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang. v. yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ. sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.1. sedang minimumnya = -1.yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi. ym2 .ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi. Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik. rataratanya=0). 88 18 11.v. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α). ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2.ym2 dimana (µ/Α) = ρ. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s.000 Hz. ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.000 Hz = ultrasonik. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut. diatas 20.v.ω 2. ym2 = 1/2 µdx ω 2. dibawah 20 Hz = infrasonik . termasuk Gelombang Bunyi.ω 2. ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik.harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1. disebut frekwensi Audio . BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia. ini sama dengan P = 1/2 µ.

10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB . tentukan : a). Besar Daya dari sumber S b).1). yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB . Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang. Intensitas di A dan di B c). berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. S ke B = 20m. Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m. Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! . besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB. Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. dan S ke C = 30m. yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2. Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium.

Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula. 1.C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo. atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri. atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi. Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium. gerak penerima bunyi pada suatu medium. merambat dengan kecepatan terbatas. 90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama . Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut. ( Berarti periode To = 1/fo ). Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b).

To = vs/fo. Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang . Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v). . maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs. kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah. Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang.(simetri) kesegala arah. panjang gelombang nya tak berubah. Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo.vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] . Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs. sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium. dan panjang gelombangnya λ = v/fo. dan lebih panjang terhadap arah –vs. panjang gelombangnya juga tak berubah. Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang. 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan. dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v).

Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain.Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi. dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama.|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3. jadi benda yang diam senantiasa ingin diam. frekwensi yang dirasakan berkurang. diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. sumber atau pengamat.|vr| . f ’ = (v . MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan. Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. misal pada sumbu x. demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan . Setiap kecepatan termasuk gelombang. v’ = v – vr . kecepatannya sekarang: v ’ = v . Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang. dan vr mempunyai tanda yang berlawanan. Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo. vr dan v mempunyai tanda yang sama. Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo . Jika kita tahu kecepatan relatif.|vr|)/ λ = fo . maka kita dapat menggabungkan keduanya. kita dapat tahu siapa yang bergerak. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang. Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis.

dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar . Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.rA2+mB. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I). Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA.02+5.rB2+mC.r22 + m3.1. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) .rC2 = 2. Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12.ri2 = m1. dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi.02+1.rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1.geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.r32 + mn. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi.r12 + m2. B.32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m . Partikel A.

dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a). Tegak lurus pada ujung tongkat b). Jadi : dV = elemen volume . ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . dA = elemen luas . dimana : dm = elemen massa = ρdV .2.C 1kg 12. R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm. dV = elemen volume .L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm. Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ. dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar. Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm .

maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2. Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm).(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu.Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b). maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b. .d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel. sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M. sedang M = 2m. Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a).d2  disini d = L/2. satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M.

z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a. I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12. Contoh 4.a.b  Massa M = σ. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 . berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel.b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat.

dimana dm = ρdV . Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R.R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm.(ρΑL = m = massa silinder pejal .R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m. L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5. ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL.1/4[r4]oR = ½ m.

5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0.2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV. r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R. Fluida Statis . maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 . maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x . sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3.1.2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R .r x dm = ρπr2dx . FLUIDA (ZAT ALIR) 13.2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R .5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13.

dy  Jika persamaan ini diintegralkan . berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 .g = ρ.dy. Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P).ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW).A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy. A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) .Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat. Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm. Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133.A  dP = .g F=P. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P.Α.g = P. Maka : F+dF+dW = F P.A Fluida adalah zat alir.dy.3 Pa dF=dP. yakni zat yang dapat mengalir. dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF).g.dV. terdiri dari zat cair dan zat gas. dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja . 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi.Α.g = ρ.A dy y A dW=dm.A + dP. gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F).ρ.A + ρ. Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa .g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis.

ρa.y.h P ρ=rapat massa ∫dP = .g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po. Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ.A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0.g.A = Po.ρ.A + ρg.g.h.h.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ.ρ.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral.y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1.h.ρa.h.A + –F keatas = . Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air. Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa.A +ρa.g.h.h = ρa.g.A .A = ρ. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri.A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po.g.y.g.h.A. g. Berdasarkan rumus : P = Po + ρ. maka : Fkeatas = P. dan gaya akibat berat balok F = m.A maka diperoleh : ρ.g = ρ.A – Po.y. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri. sedang P=F/A.Α.g.A .A. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h. dengan demikian volume balok adalah V = A.∫dy  Po – P = .

g.ρa.g.V . ρa. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan. V’<V . (a) F netto = 0 .h.V .A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa. V’=V .g. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh. balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h.A .A – ( ρ.g. Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan. Fapung = ρa.g.A) .g.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .g.h.g.h.A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y.h.g.A atau h. ρ = ρa F keatas . Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.h.h.ρa.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg.h.A .tenggelam.A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force). Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ.g. Jika ρ=ρ a.h.A) = ρa.g.V’ = F = ρ.A = ρa.A. dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ.y. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.g.A – 0 = ρ.h. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ.h.V’ = ρ.

V’=V .A .h.ρa.g.6m. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m.A . lebar W = 0.8m.h. tinggi t = 0. dan massa M =200kg. Bak tersebut terapung di danau.y=h F kebawah © F netto = ρg. Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? .

Bak akan tenggelam pada saat y = t.Dalam hal balon tidak tenggelam.t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.8.W.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5.L. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair. Sebelum tenggelam.g = M.W. Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon.t.. Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam . Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya.g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair.L.y.M)/m = (1000. Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah .L. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x.0.W.m.1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah. tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam. secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0.W.t.t. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y.0.m)g. persamaan keseimbangannya adalah : ρair.g .g = (M+x.  ρair.m)g .L.g+x.1.6.1m.

g  Wa = Wt. dan sebagainya.Vt.ρa.g Jadi tebal kulit timah balon t = R.g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa. tidak dalam keadaan terkompresi.sehingga jari-jarinya adalah R – t . misalnya terjadi pusaran aliran. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1.dt dm2 = ρdV2 = ρ. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks.ρ.ρa / 3 ρ t = 1000. v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ. maka besar dm1= ρdV1 = ρ. dimana t=0 R T karena sangat kecil. timbulnya gesekan internal. alirannya tidak turbulen ( berpusar). maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t .0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R.dt dm1 = dm2  Maka : .ρa. A1. A1. tidak ada gesekan internal. Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal. maka : t 4/3 πR3 . antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental. A1.1 / 3(11300) = 0.v1. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu.v1.v1.ρ. dan sebagainya.1m) 2 2 2 2 T 21 13.0. Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1.0029m<<0.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga . Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum).2. atau 0.g Wa = 4/3 πR3 . Berat timah Wt =4 π R t.g = 4 π R t.

v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1.A1 v1 ρ dm1 ρ. .v1 = ρ . atau : A1. Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam . sedang luas penampang pipa atas = A2 . A1.A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya. Luas penampang pipa bawah = A1.v2 .v1 = A2. A2.

m/ρ + P2.h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2.g. tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1).h1.g. ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ .h1.h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung.m. sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m.h2 + ½ .v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2.g.v22.v12. Pada peristiwa ini.v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .∆L2 + (m. sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2.h1 + g. gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 .g.m.g.h1=P2 + ½ .m/ρ + m.∆L2 + (m.v22 − m. sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.∆L2 + (m.g.h2) = ½ m.v22 − .g.m.h2) = ½ m.h 1.ρ v12 + ρ g.g.g.v22 − m.v22 − m.g.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.m.∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ .h1.ρ v22 + ρ g.g.v22 − m.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.v12 ½ A1∆L1 = A2. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan .h2 = ½ m. sehingga : P1.h1.Kemudian pada gambar (2).∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 .m.v12 . Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m. Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.

Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung. dengan kata lain. ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “. Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. benda akan terapung. Jadi. Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan. 107 M 1 A B 2 . Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre. ada pergeseran sudut kecil. Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan. Dengan kata lain. sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung.gaya dorong keatas oleh zat cair. gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi.

maka ia akan semakin stabil. tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya. Dalam rancangan modern. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung. Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya. Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air. Sebagai akibat rotasi. pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O. kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis. Maka segitiga .

L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!). Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ. Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam. sedang segitiga ocn berada dibawah air. sehingga am = b.L/8 x 2b/3 = ρ. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M.b3 θ. Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ. L/12 = ρ b2θ.L/12. pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!). Apabila lebar kapal adalah b. maka : ρ.m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ.L/8. (Ingat.BG . adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal. maka : ρ.L/8.I. sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ. Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam. Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ. Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil. sedang panjang kapal L.aom telah keluar dari air.L/8 x B1B. b3 θ.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/. Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama. Kedua momen ini adalah sama besar. Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam.

2 m2. hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B . Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam. Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1. Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0. sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s .8 m/s2) . Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4. sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh.8m/s2). 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0. (g = 9.8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0.9 gr/cm3 . ( g = 9.105 N/m2. Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm.4 gr/cm3.Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut.9 gr/cm2.5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0.

dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian . Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0. Kecepatan aliran di pipa 2 b).9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0. Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0. maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0. jadi specific gravity = ρ/ρair .A1 = luas permukaan tangki .8 x 3 = 2.4 m.4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0.2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m. A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a).8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical. Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair). A2 = luas pipa 2 .

2x0. Maka jarak dari 1.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.4)3/12 =0. maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0.2(0. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0.15-0. silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.3 = 0.15m.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G. BM = I/V = 1.2 = 0.27 π/5.4 π m3 .12m.026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1.27 π m4.03m.03 = 0.0064m4. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0.3m dibawah puncak .3 = . dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2.2m.8 dan berukuran 1.b3/12=1. Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0.4/2 = 1.235m.3 terapung dalam air.0064/0. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1.4 π = 0.2m.8 x 0.24/2 = 0.5m.1152 = 0. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L.bawah silinder.5-1.24m.2 x 0.Adapun volume air yang dipindah V = 1.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1. G 0. Dengan demikian.056 – 0.12 = 0.056m.4 = 5. OB = 2. Jadi.2m B ke G = BG = OG-OB = 0.1152m3.4x0.4 x 0. Jadi BG = OG-OB = 1.235 – 0.0. Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).3/2 = 0.24 = 0. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0.065m.

6-0. Total volume air yang dipindahkan = 2.7  113 . OG = 0.4m3 .2 = π/4 (2)2 x (1.2m O 0.2-h) = 2. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2.8m .2/π = 0.silinder. Kedalaman silinder 1.3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung. Jadi 2.8m 1.2-h) = π(1. Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.2m3.2m . Diameter benda yang terapung = 2m .6m3. OB = 1. Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0.2-h)  (1.4 = 2.6m3. Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0.3m .

302m. BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0.Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0. BM = I/V = 0.5+(1.2 – 0.3)+(2. 2α = Sudut puncak kerucut .2x0.302 – 0.92-0. Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0.Maka h = 1.0 = 0. L = Panjang Kerucut . Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0.75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α . D =Diameter .8 = 0.5m.182 m. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair . Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut. Maka : OB = {(0.75 l tg2α  GM = BM – BG ! .7 = 0.75 l . (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !).5)/2 = 0.2) = 0.7854/2.12 = 0.85m.7854m2.2-0.4+2.92mBG = OB-OG = 0.4x1.85)}/(0. Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0. l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0. Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas.

Στy =0 . Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada. (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) . τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ . sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F). O = titik acuan. ΣFy=0 . Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol.ΣFz=0) 2. sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi.114 22 14. Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi.Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F. Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol. jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 . Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1. jadi τ = r x F . jadi : Στ =0 (Στx =0 . KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.

Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar. maka +W1+W2-N1-N2=0 .400+6. maka N1= 600-350=250newton. Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0. Jika berat jembatan 800 N. diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran.W1+6W2-8N2=0 .4 .Jika searah putaran jarum jam.. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0. Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk.uhuk. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1. 9m µs=0.200-8. 4. Contoh Soal 2. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N. maka : +4.N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton.

dan N1 (Tak ada torka oleh N2).116 Jawab : Buat acuan O. karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 .µsN2 = 0  N1=0. maka : N1= 480 newton. Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 . dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O. Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter. Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter.1200 = 480 .4. Maka : O x N2 12m h . kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik. Menurut teori trigonometri. misal di ujung bagian bawah papan miring. 800N. Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N. pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak. posisi mahluk berada pada ketinggian h. 2)Στ =0 .

000N. Menurut perbandingan trigonometri.5m g = 9.4m B B adalah 54%.x – 2400 = 0 .480 – 400. tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! .x – 800.x – 800.4)(12)/(9) = 11. h : 12m = 8.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8. sehingga:12.3 = 0  5760 – 400.3 = 0  N1= 480 newton. jadi . h : 12m = x : 9m = t : L . Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2.N1 – 400.4m.2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10. x = 3360/400 = 8.+12.

atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. ∆T joule.c ∆T .c. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer. dimana ∆T = perubahan temperatur. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah. adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC. Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer.1. Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15. Berdasarkan Asas Black. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4. Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K.1.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain. 15. dalam satuan kelvin (K) . c = Q/m. diberi simbol Q. Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal. Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur.118 23 15. atom-atom. apabila suatu benda memberikan panas . PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul. Persamaan ditulis : C = Q/∆T. m = massa benda.1. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu).2.1.

3. Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu. m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 . Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan. sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan.1. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang.kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama. Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. c2 = panas jenis benda 2 15. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah. akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t. ∆Τ1= m2.c1.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 . a. Lo Lt ∆L . Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi.c2. misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t.

∆t) .t + αxo.∆t. Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo.yo.∆t + yo.Lo.∆t = α. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.xo.∆t.∆y + yo. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo.xo.∆x yo Ao = xo.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda. sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α.∆t) . ini berarti α.Αο.t ) 120 b.α.∆x = xo.∆y + ∆ x.αyo.yo∆t (2 + α. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu.α.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to. dimana xo.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas. sedang ∆t = t – to.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x.yo xo ∆x ∆x. atau At = Ao (1 + 2α.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo.∆y ∆y yo.

121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K.∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda.∆ t) c. suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or.Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β. suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF.∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ .2. maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ. suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR. Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : . pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah.

2. udara. misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar. ∆T/x . Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = . Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik.t.2. tembaga. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1). dan fluida lainnya.k. misal : besi.1. dimana : dQ = elemen panas yang mengalir .A.1. suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = .k. dan sebagainya.∆T/x .A. Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya. satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = .A. beton.dT/dx .k. dinamakan arus panas H. misal air. 122 15. 3. Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi.

menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1).T1. Tx = k1. Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .x1+k1.k2. Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2.T2.x1 / (k2.dt = elemen waktu .A (T2-Tx)/x1 ……….…………(2) Karena H1 = H2 maka : .x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).k1.= tanda negatif.k2. akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : . maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state).(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = .k1.A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx ..…….A (Tx-T1)/x2…….x2 + k2.A (T2-Tx)/x1 = .

dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +. dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = .2 π.r.L..dT. namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar. 2 π.. maka H = .L.dT/dr.dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal).H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan.A.k. karena mengalami pengembangan luas. ..r.. atau : H.xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan.L.k. luas permukaan elemen silinder : A = 2 π. Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1.dr/r = . oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral. secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k ..k..

k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π. Suhu di bagian dalam pipa T2.k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π.L. Hargaharga ini merupakan batas integral. besar suhu T = T1. Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda. maka besar suhu T = T2.ln(c/a)+k1. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π.2 π. apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state.ln(c/a) / k2.ln(b/c) + k2.T1.(T2-T1) . Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π.L. H (ln a-ln b)= -2 π.k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah.k∫T1T2 dT .k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1.ln b/a = + 2 π.L. sedang untuk r = Rb.T2.(T2-T1) .L.L. H1 = H2 maka : 2π.L. H. jari-jari bagian luar pipa b.L.k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state.k.k. L. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan. dan suhu di bagian luar pipa T1 .L. H.ln(b/c) . Jari-jari bagian dalam pipa adalah a.Untuk r = Ra. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1. suhu di sambungan Tx.ln a/b = . sedang jari-jari sambungan adalah s.

dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) .A. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1. dan k4. maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2. dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah). sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = . r3. dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro.Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π.k. k2. r2. k3. r1.

dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung. besar suhu = T2 Untuk r = b.dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a.K. Tebal kedua bahan sama yakni 4cm.dr /r 2 = -4 πk. Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC.A = 4 π r2 . bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a . 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H. sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0.k. Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC. H [ -1/r ] ba = . besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = . Koefisien konduksi bahan 1 = 0.m.48 J/s.4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda.04 J/s. H = .K.4 πk ∫ T1T2 dT .m.

81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar).192+0.599+5.465 = 80πL/7.58] = 80πL/6. Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil.L(40)/[0.68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π. berarti daya konduksi panas lebih besar.48 ] = 2π.66 J/s = 251. .33L/7.66 = 32.L(40)/[7.48+ln(20/16)/0.33L/6. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.178 = 40.178 J/s = 251.04 ] = 2π.L(60-20) / [ ln(16/12)/0. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.04+ln(20/16)/0.

Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti.1. sedang muatan listrik elektron = -1. Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut.10-27 kg.10 -19 coulomb (C).129 25 16. Massa proton = 1.67. berisi elektron (e) 16.6. Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom. Benda-benda . sedang massa elektron = 9. STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom.6. jadi dapat diabaikan. berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom.1. massa netron kurang lebih sama dengan massa proton.10 -19C. sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan. Muatan listrik proton = +1. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral). sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif.10-31 kg.

dan seterusnya dinamakan kulit K. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u.3.10 -27 23 butir. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik.3. (atomic mass unit) dengan simbol u yang kg. ion. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium. molekul. dan seterusnya.m. Tempat kedudukan elektron pada n = 1. Jadi jumlah zat itu. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan.L.4. elektron. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6. Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain.u.1..4.2.2.10 besarnya 1. Elektron terdapat pada kulit atom. Banyaknya elektron disetiap kulit . dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron. 16. atau kalau dibalik. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu..M. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom.022... Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah. Empat bilangan kuantum electron adalah : a. dan lain sebagainya. proton.N. mungkin atom.1.67..yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul.

f.. +1 Untuk l = 2. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 . dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 . Jadi apabila l = 1...2 . dan sub kulit 3s ( n = 3. Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada.l. -1.1.. dengan s = 1/2 dan . b. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron.. Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 . dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 .. 0.. Harga m nya mengikuti rumus : -l. maka m = -1. Jadi apabila n = 1 maka l = 0. l = 0 ) berisi satu elektron.3.…. +1/2.. Orbital l = 1. Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1). Maka apabila m = -1.2.p..2. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1. +2 d. +1. -1/2.+l. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada. -1/2.0. -1/2. +1/2. sub kulit 2p ( n = 2. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n. l = 1 ) berisi enam elektron. terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. -(l-1). bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2. 0.1. 16.3. +1. Jadi untuk l = 0 maka m = 0. dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s..+(l-1).4.maksimum adalah 2n2. dan seterusnya.... 0. akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1. l = 0..1.m. l = 0 ) dan 2s ( n = 2. maka m = -2.2. Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0.d. Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1). 131 c.( n-1 ). Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah.

apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2.1/2.32 = 18 buah. dengan s = 1/2.+1 dengan s = 1/2.0.-1/2. ( Ingat.1/2.1/2.-1/2. untuk l = 1 maka m = -1. +2. -1/2.-1/2. -1. 1/2. 132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 . 0.-1/2.-1/2.-1/2. banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3).-1/2 . untuk l =2 maka m = -2.1/2. +1.-1/2 .1/2.

-1/2. -1/2. Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif.0. -1/2.-1/2.+2 133 Jadi semua m ada : 0 . +1. sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2. 1/2. 1 .-1. Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain. 1/2. 0. +1 .1.-1/2 16. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion. -2. 1/2. dan 2 l = 0 .2. 1/2 -1/2. -1/2. -1. dengan . 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1. (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik). -1/2.1/2. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17.-1/2.+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2. 1/2. Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli). yakni 2 buah di kulit K. serta 1 buah di kulitnya yang terluar M. 1/2. 0.1. 1/2.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0.2. Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2. 8 buah di kulit L. -1.0. Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah.+1.

Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion.2. Ikatan molekul H2 b). Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron . dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”. Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif. Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar. 8 buah di kulit L. Akhirnya.2. yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron.perincian : 2 buah di kulit K. Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b). dan 7 buah di kulit terluarnya M.

H. New Delhi.. 1993 . P.. Laxmi Publications Ltd. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak. 1978 Khumar. Glaucester. NY.. R.. A Text Book of Engineering Mechanics. Engineering Fluids Mechanics. F. 1981 Enge. P. Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif. Harper & Row Publishers.2.karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama.. Mechanics for Engineers. Prentice Hall Inc. Introduction to Dynamic System Analysis. New Jersey. Johnston.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya. 2002 Kelvey... 4th ed. Routledge & Kegan Paul Ltd.. Fishbane. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics. 1996 Hibbeler.R. Mc Graw Hill Book Company.. M. J. 1994 Counihan. A Dictionary of Energy.. Addison Wesley Publishing Co. New Delhi. Physics for Science & Engineering. London. Engineering Mechanics: Dynamics.Chand & Company Ltd. 16. Physics for Scientists and Engineers..D. Newton Physics Books.T. R. H.. 2006 Khurmi. 2004 Beer.. 2004 Marmet. Grotch. Mc Graw Hill International Edition... Prentice Hall Pearson Education Asia Pte. A Text Book of Engineering Mechanics.. 1987 Burton. Ltd.. New Delhi.L. NY.. NY.3. Gasiorowicz. Introduction to Nuclear Physics. Singapore. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal....1974. Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron. S. Eurasia Publishing House Ltd.

.. 1974 Mittal.. 5th ed. Sounders College Publishing.. Harcourt Brace Jovanovich Inc. T..L.. 1997 Young. Mc Graw Hill Book Company. J. NY. New Delhi. 1974 Thumann. University Physics.. A Text Book of Sound.G. Concepts in Physics.. 1992 Miller. Kraige. 9th ed.. Theory and Problems of Vector Analysis.. A. Hand Book of Energy Engineering. Har Anand Publications. P. Physical Science with Modern Applications. John Wiley & Sons Ltd.. Massachusets. 4th ed.L.. Dillon. Anand J. 1994 Spiegel. M.. 2003 Merken. NY. Addison Wesley.Meriam. Virginia. Engineering Mechanics : Dynamics. The Fairmont Press Inc. P. Freedman.. 1998 136 . Metha. F.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->