FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

...... 1........ Mekanika Fluida..... serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul... Untuk jurusan teknik sipil.1.130 ii 1.............. komputer........... Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa.....16... dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika.. dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil. Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika. Adanya pesawat terbang. kapal laut.. Atom dan Molekul........ Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan .... Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik.. Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya. sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan. dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika.... dan Teori Gempa.....2..... PENDAHULUAN 1.. jembatan.. gedung pencakar langit.........

Proses Pembelajaran . merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. serta Atom dan Molekul. Sub topiknya mengenai : Gerak lurus. Momentum dan Tumbukan. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. Gerak berputar. Kemudian Dinamika. Kinematika. Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya. Momen Inersia. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya. Dinamika. Adapun Statika. Gerak Parabola. 1 1.4. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika. Teori Panas.3. dan Gelombang Mekanis. Kerja dan Energi. Sub topiknya adalah : Gesekan. Gerak melingkar. Gerak lurus dengan kecepatan konstan. Statika. Getaran Mekanis. Mesin mesin Angkat. 1.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan.

Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. dan waktu. MKS (meter.1.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2. 2. menjadi hal yang penting. Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain. disempurnakan. dan satuan waktu adalah sekon. Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. massa. Oleh karena itu. Untuk selanjutnya. massa. dan waktu. satuan massa adalah gram. satuan massa adalah kilogram. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1. dan satuan waktu adalah sekon. 2 1 2. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter. second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. . kilogram.

second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3. Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa. FPS (foot. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa). dan satuan waktu adalah sekon. Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan.. Maka. dan waktu. satuan gaya adalah pound.3.205 pound massa (FPS). pound. 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain.37 inches (FPS). dan pound gaya (untuk satuan gaya). Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot.281feet (FPS) = 39. gaya. Demikian pula. akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft .

1.Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1.Intensitas cahaya a.Jumlah zat 7.Temperatur (Suhu) 4.Kuat arus listrik 6.Panjang 2.Waktu 5.Massa 3. Sudut Bidang b.Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : .

Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR. Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2. berarti 360o = 2π radian. Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh. maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian.1. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2. besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya). Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o. 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian.141592654 = 57.3.a.Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola. Dengan demikian maka dalam suatu bola. sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2.3o . kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola.2. Lingkaran b. besar sudut totalnya = 2π radian. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R. benda berbentuk bola .

m2. 6 2. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”.m2. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”. suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0.s-2 Kg.0254 m 1609. Besaran Turunan : Karena merupakan turunan. maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar.3048 m 0.s-2 Kg.3 m 1852.s-2 Kg.9144 m .Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional.m-1.m.0 m 0. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”.

Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.in .8 N.2046 lbm : 1 N = 0.281 ft : 1 m = 39.4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4. maka tidak perlu dikonversi.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14.4536 kgf 1 pound massa (lb.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf.s-1 350 m.06854 slug : 1 kg = 2.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0.m-2 0.4482 N 0.5144 m.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0. satuan gaya.1 pound gaya (lbf) = 0.3048 m : 1 inch = 0. dan satuan massa.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI.594 kg 1055 J 6894. maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.4536 kg 14.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.

Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa. berat.2248)/(10. dan lainlain. Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah.f = 4.2. 1ft = 0. perpindahan. dimana : 1lb.765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0.m = 1(0.3048m .4482 N .448N) x (0. 1min= 60 s .m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb. 2 2. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris. torka.in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0.22482 lbf)(39. 8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N. waktu.1 lbf. suhu.3048)/(60) = 0. energi.in = 1(4.281 ft.f)(ft)/(min). momentum.021 lbf/ft2 . gaya.2248 pound force (lbf). percepatan.765) = 0. massa. jarak. Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah.11298 N. posisi. Misalnya : kecepatan.4482)(0. sedang 1m = 3.0254m) = 0. dan lain-lainnya. usaha (kerja). yang berarti 1m2 = 10. maka daya dalam SI = (4. lintasan. Misalnya : panjang. bilangan riil. dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa. .8512 lbf.022597 watt.37 in) = 8.

sebagai contoh : F (gaya).1. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor.2. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. O Gambar 2. F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2. masing-masing dilambangkan dengan i. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor. dan k.) 9 Secara trigonometris.5. Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan. digambarkan dengan tanda silang (x). P (momentum linier). a (percepatan). Fz = Fz k 2. atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya. menyatakan arah vektor. digambarkan dengan tanda titik (. Vektor satuan pada sumbu x. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F. dan perkalian. Fy = Fy j . r (posisi). dan sebagainya. Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol. v (kecepatan). sedang arah anak panah. jadi F = Fa. Apabila vektor masuk bidang. dan z. sedang apabila vektor keluar bidang. j. y. pengurangan.3. vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya. dengan demikian maka Fx = Fx i . vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. Sebuah vector samabesar .Secara grafis.4.

Fy = Fy j . dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1.a. 2. y. Fz = Fz k . Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2. Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis. Misal. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx. masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2.8.2. Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah.6).1. Gambar 2.2.7) Keterangan : Fx = Fx i .7. Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain. jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y. dimana : i. Fy.Sama besar dan searah.1.b. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. maka F1 = F2 2.6. j. dimana besar dan arah vektor harus tetap. . 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x. maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain. dan Fz Gambar 2.

Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2.9 F1 F1 F2 = F1 .9. maka persamaan tersebut . jadi F1 .7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1.F2 = F1 + (-F2 ) . Fy.8 dijumlahkan secara trigonometris. Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2.1. Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .F2 F2 Gambar 2. dan Fz pada gambar 2.Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx.c. maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2.2. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2.8.

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

0. dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada.4 sin 30o = 200 N.yakni arah dari vektor C. sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup. Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang. bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang.m.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi. maka F x r = τ =1000. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) . Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut. 15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N.

12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o. dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m.2.2.Gambar 2.1 = 4 (arah C kebawah) .12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o.1 = 6 (arah D keatas). Pada gambar 2. Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s.12. Jika besar A = 2. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o). 3. dan besar B = 2 maka besar C = 2. 400 m B B . maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar). Jika besar B = 3. Pada gambar 2. Hitung ditempat mana kapal merapat. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal.

i x j = k. maka jarak BC = 0. j x k = i.5/4. jadi θ = 6.33 = 0. k x i = j 5.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6.5= 2.5sin30o = 5.1154734 . m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4.1154734 = BC/400.5m/s tg θ = 0.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46. A x B = . i x i = j x j = k x k = 0 . . A x (B + C) = A x B + A x C 3. Jika A dan B bukan vektor nol. sedang A x B = 0.5m/s 6.0.33m/s 400m A 0.587o =0.2m dari tempat B 4.1154734 x 400 = 46.33 m/s tg θ = tg 6.B x A 2.587o 5cos30o =4.587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1.

dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu. Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus.maka A sejajar B. Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t.1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3.a. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu. 18 3 3.t v s Gambar 3. GLBB Horizontal v . Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration). terhadap sekitarnya.1. maka Lintasan benda adalah : s = v.1. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap.1. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu. KINEMATIKA 3. Dapat dibagi menjadi 2 : 1.

1.2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah. (vt .Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo . GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal.vo  t t = vt . t + ½ a.vo ) + ½ a.b.vo= a.1. misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya.vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a.vo ……. kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt .t ) t  sehingga s = vo .…………….s a vo s Gambar 3. 2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a. berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt . maka akan dipengaruhi a2 vt 2 .t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v.(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt .t  vt = vo + a. 3.t = (vt + vo )t . dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang.(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo.t 2 .t = vo (vt .

t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3.3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2.8 m/s2.4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) . Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo.t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3. Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9.

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g. ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s. dan kecepatan nya.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ.voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3. Tentukan posisi mobil. Sesampai diujung jalan yang terjal. setelah 1 sekon.t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. jarak dari tempat ia menginjak pedal gas.t Lintasan sy = vysinθ. y vo O y vx=vo x . t − 1/2 g.

Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y. Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran. posisi pada sumbu x = vox.1 = 9 m.04 = 13.t = . Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v. dimana vx = vox = 9 m.25 m.8. sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g.9. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2.9. dan yo=0.vy=-g. v maka kecepatan linier v = panjang keliling . posisi mobil adalah xo=0.8 m/s. 3. Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at . v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali. Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9.t 2 = -1/2.t = 9.9)2 = 10.3 m/s. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω.12 = . sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon.9 m.8)2 = √177. sedang vy = -g.3. Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r.8. arahnya setiap saat berubah. 25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4.t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan.4.1 = -9. meskipun kecepatannya tetap.

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

29 5 4. kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul. dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental. Sebagai contoh. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya. gaya nuklir kuat. Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental. gaya gesek dan gaya pegas.m. Dalam analisis terahir. gaya elektromagnetik. GRAVITASI DAN GAYA 4.(G. yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. ada 4 macam yakni : gaya gravitasi.1. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force). Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam. F = . dan gaya nuklir lemah. keduanya adalah gaya turunan.M)/r2 F = gaya tarik menarik .

.m. atau : dF/F = -2dr/r .(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4. Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m.... Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui...M/r2 .M/r2 .. Gaya Hukum Newton : .M..M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen...dr/r3 sehingga dF/F = ..M/r  Ep = .F.. Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya..m. sedang harga ini = Gm. Besar energi potensial gravitasi Ep = ..G.10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik. dengan demikian besar g = G...G = Konstanta gravitasi universal = 6.dr = - ∫ -Gm..dg. atau dF/F = dg/g .M/r 2 .(1) Apabila persamaan F = m. 2 Apabila persamaan F =G.G.g.m.M/r..m. Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya.dr/r = ...67.g = Gm.M..m.m.M.. maka : m.M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G....g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m.(2G.2.dr/r3 ) / G.

2 v Benda bergerak dengan v konstan .Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4. Gaya Aksi = . F = m x a 3.Σ Fy =0 .Gaya Reaksi. Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar. CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam. jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut. CARA DINAMIK : a).1.Σ Fy =0 . jadi FAksi = .F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1.Σ Fz =0) v Gambar 4. Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama. berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 . Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan.1 2. Suatu benda yang diam akan terus diam. jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. 31 2. maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 . berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”. sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan.

8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9.b). Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut. dimana g = 9.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar.8m/s2 ) F=? . maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4. berarti ada percepatan “a”. Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah.

8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : .a A 100kg B 500kg 800kg g = 9. Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9. setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2.8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong . bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift. F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg .

57m/s2 .789. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar.52 =789.Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m.(3. Jika peti menjalani 2 putaran per sekon.ac = 100.v2/R = m.57 = 78957 N. Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.14) 2. hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0.g . Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4.5 s.8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m.5 / 0.Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9.

Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F .v2/R  tg θ = v2/g.1 alami gaya gesek apapun. Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2. belum meng W Gambar 5.g = 0  F = m.v2/R m. Ada dua macam gaya gesek : 1.g.R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g.  cos θ = Τ g. merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g.g/cosθ )sinθ =m. Σ Fy = F cos θ .Disini tidak ada gaya vertikal.v2/R = 0. sedang pada arah vertikal.m. Σ Fy = 0 . Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran.m.R = 4π L / Τ g.v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m. ini pasti harus sebanding dengan m.v2/R F sin θ .R = (2πLsinθ/Τ) /g. GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f.R  R = L sin θ.tg θ =m./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5. baik statik maupun kinetik. 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g.g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m.

Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs.2 1. Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak.Gambar 5.N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1. maka berlaku persamaan : keadaan bergerak.maka berlaku persamaan : fk = µk. Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam. Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg.a). tentukan massa R b). sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2. Benda diberi gaya F yang 3. Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T .N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan.N f s = µs.

g µκ= 0.B. dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan.8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.5 30o g = 9.R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0.Q.5 100kg C B A 30o µκ=0.2 200kg .4 Contoh Soal 3: . dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2. Benda P. tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0.

.v2/R .2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R. f = Gaya Gesek mobil pada jalan.g bergerak dalam lintasan lingkaran.200kg Q P µκ = 0. sedang Σ Fy=N-m. N = Gaya Normal . maka f Σ Fx = f = µs. berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil .2 µκ =0. dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R. Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs .g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m.N = m. N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs.N.2 v konstan R µκ =0.

m. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan.Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir. Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring. sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring . tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs. meskipun jalan licin (tanpa gesekan).g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m. Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar .g yang mana merupakan harga konstan. Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs.g = m.g.m.

cahaya.. ENERGI DAN KERJA 6. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m. contoh: 1.g / cos θ) sin θ v 2/ g..R  θ = arc tg {(25)2/ 9..v2/R . Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik.R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api.230} = 15o 40 7 6.sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan.. tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata...v2/R adalah : N sin θ. ada dua yang penting yakni : 6. panas..v2/R . Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m. nuklir. Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha). Disini hanya akan dibahas energi mekanik. penyebab gaya m. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m.g  N = m. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan. elektromagnetik. kimia.g/ maka diperoleh : tg θ = = m.(1) Fy = Ncos cos θ . Pada keadaan disini. oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya.h .1.1. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya.. Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g. dan sebagainya.1.8.(2) = m..g.

v2max Ep = 0 Gambar 6.3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k. maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .2.g.1.Ek = 0 Ep = m.2.1 vmax 2. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v.v2 h h’ v Ek = ½ m. mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6. x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6. Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6. Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s.2 k = konstanta pegas .h’ Ek = ½ m. Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama. s Fcosθ s .x2 6.

Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.t = (vo+vt) t .x x = v.½ k.g.x = m. maka Kerja W = F.a. kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt. tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil .vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh. demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial.g. besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian.8m/s2.vt2 . Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m.x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2. Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo.h2 – m.4 dan g =9. hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F .x22 . a = vt-vo .Gambar 6.½ m. sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan. maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m.h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k.

Kerja yang dilakukan oleh penarik b. Tentukan : a. Kerja yang dijalani oleh beban tsb d. Kecepatan akhir beban tersebut. Kerja yang dilakukan oleh bumi c. a = 4m/s2 200m 100kg g=9. 43 .30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2.8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk .

Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0.8m/s2 ) µk=0. Transportasi. dan sebagainya. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan .1. MESIN-MESIN ANGKAT 7. Pertanian. jembatan.8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang. Di dunia Teknik Sipil.5 44 8 7. misalnya gedung. yakni merubah besar maupun arah gaya. jalan raya. Pada masa sekarang. seperti : Industri.200kg µk=0. serta banyak bidang yang lain. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9. mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal. bahkan Kedokteran dan Pendidikan. terminal. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya.

R. misalnya: berubah menjadi panas M. lempengan besi. baja. hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin. M. yakni : 7. dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D.R.A. Oleh karena itu. batu. D. tentu semakin baik. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama.(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat . digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7. dan bahan-bahan bangunan lainnya.2.A = Fo/Fi .3. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin. semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi. balok kayu. Terdapat banyak jenis mesin angkat.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton.

R. Macam macam mesin angkat .. 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin. x 100 % D. misalnya gesekan.Α. Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal).R.So = Fi .R. (Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya).A. maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen). sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika.Si Efisiensi η = Μ. = D.A. Fo.4. korosi. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan. sehingga : M. panas. tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D. 7. kelembaban. senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin.akibat gesekan). sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M.

A. diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. yang diperoleh dari Fo / Fi . Roda Cacing. misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan. Katrol diferensial Weston . Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M.R.R. Dalam keadaan seperti ini maka M. juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. Katrol Sistim Kedua. Dongkrak Sekrup Sederhana . karena. Katrol Ganda .A. meliputi : Katrol Sistim Pertama.Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal . gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M. b. jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m. dan Katrol Sistim Ketiga . Bidang Miring . Kerekan Ketam Tunggal .A = 1. a. Roda Poros . Namun meski kondisi katrol demikian.R. Roda Poros Diferensial . Demikian pula harga D. Katrol Ganda. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga. = D. saja. maka beban W tetap naik setinggi x m. Dikatakan bahwa. Kerekan Ketam Ganda . (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal. Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). tidak mempengaruhi harga D. dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo .

maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan. dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n .Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n . maka : jika mesin ideal. MA = DR. MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M.2.A.dan 3) W cukup besar. disini ada 4 tali. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal. tetapi jika mesin tidak ideal. x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas. jika mesin ideal maka MA=DR.4.

maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali.

sedang jari-jari roda kecilnya r. .Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R. Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR.

maka Si = 2πR.A. Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt.=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So . dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). ini membuat beban W . Dengan demikian. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr. berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si). atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali. Dengan 2 Demikian. sedang tali 2 turun sejauh 2πr.MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) . M.Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga.

sedang .naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ .

θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran.n2/r.n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L. dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L.n2/(r. Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali .n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang.

n3/(n2. dan 1.n4) Keteranga n: n4.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L. maka : silinder . dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4.2. sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K. n2.n3.n1. jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi.3.

adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. Jadi: MA = R.2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 .n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N. dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n . tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda. maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) .beban akan terputar 1/n kali. panjang L=1 m n1=300 gigi. n2=100 gigi . n3=400 gigi . n4= 200 gigi .

y1 + m2.x1+ m2.y3 +.y1 + m2.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg. Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1.x1 + m2. maka pusat massanya adalah (x pm.y2) dari suatu titik acuan 0. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut. y1) x pm = (m1.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1.xn) /m1 + m2 + m3 +. terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat.y2) x Gambar 8.mn. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(.x2 + m3.x3 +.mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1.y1) dan (x2.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum. Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.x1.yn) /m1 + m2 + m3 +.x2 . Pusat berat merupakan fungís gravitasi.10 8. dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 .y2) / (m1 +m2) m2(.y2 + m3. m2 = 2kg.mn.

8533 m y pm =(1.1/2) /1+2 +3 = 0.1 +3.0.0 + 2.2) = 4 kg F1 a pm m2 (4.y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N .1) = 8 kg m3 (1.1) = 8 kg P 63o m3 (1.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0. F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.8533 .2) = 4 kg m2 (4. 0.433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.0 + 2.2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.866) /1+2 +3 = 0.3 57 .0 +3. F2 = 16N .-3) = 4 kg F3 Gambar 8.

4) /4+8 +4 = 0.25m Pusat masanya ada pada titik P (1.Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2. Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2.8 +1.75. Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N .75m y pm =(2.4 + 4. Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º.12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari. maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17.8 + -3.4 + 1.4) /4+8 +4 = 1.89/16 = 1.0.89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.25) . dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8. maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 .4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm .

dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8.7 v P = m x v (kg. Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ.v .v’ – m. benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8.t = m. Untuk menyederhanakan pembahasan.t = m. ini dinamakan impuls I.1.m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F.dt = m. jadi : I = F.v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8.v’ = momentum akhir .dx 0 x Gambar 8. Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t. m. sedang elemen panjangnya dx. maka elemen massa dm = ρdx .dv.v (m. dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F.v’ – m.8 59 v’ 11 .6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x. Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’.

masing-masing sudah mempunyai kecepatan. Atau : m1v1’. benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah. atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam.8.t = .9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan. momentum.(m2v2’. sehingga : F1 = . demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1.2. ini adalah gaya : aksi = -reaksi. keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda.m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi. dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8. 60 .I2 . Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan. dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan.m1v1= .t  I1 = .F2. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara. gravitasi. Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1.F2 .

v1. apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan. dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v. demikian juga untuk partikel-partikel yang lain. Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1.v2.3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama. Tumbukan Non Elastis Samasekali a). m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). 61 . sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no.Adapun. partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2. Tumbukan Elastis Sebagian a). Tumbukan Elastis Sempurna a). Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum.

demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 .apm = percepatan pusat massa.8. Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas. vpm = kecepatan pusat massa. Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan. gravitasi bumi. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1.vn sehingga : PTot = M. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut.v1+m2.dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan.vpm . Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable. maka kecepatan pancaran dM/dt Gb. m.v3+…. Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya. Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya. ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas. Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M. Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara. dmana M = massa total sistim . .Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot.v2+m3.n. Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u.10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u .apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar .

gesekan udara pada roket. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa . Contoh Soal 1. Massa total sistim 10000kg. Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0. dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket. dan sebagainya.(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata. sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir.Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim. sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt. dt = eleven waktu.Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = .11 63 . karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u. v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8.

000(8)+2000(0)=(10.v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10.dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam.000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg. Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1. berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a).v1+m2.dM/dt = M.1 = 10000.000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna.m1v1 = m2v2 .v2’ ) ….000(3)+4000(-5) =(10. Maka u=500m/s.1)(10)/1 = 1 kg/s .05m/s.v1+m2. massa peluru = 100 g = 0.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 . berarti dM/dt = (0.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi.1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru.000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10.(-v2) = (m1+m2)v’ 10.Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u.(1) b).m2v2’ m1 ( v1’ . tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan. Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10.…. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ . Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali. M = 10000kg .dv/dt 500 = 10000. 500.v1) = m2 ( v2 .

Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 . maka : v1’ = v2 + v2’.v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’.(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) . sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ .v12) = m2 ( v22 . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.v2’2 )  m1 ( v1’2 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s.v1 …….v12) = m2 ( v22 ..v2’ ) ( v2 + v2’ ) ….v2’2 ) atau : m1 ( v1’ .……(3) v2’ = v1’ + v1 .v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 . tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 . Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.

000. Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------. 1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal.1.000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga.30o---50kg v’ .

Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta.66 12 9. antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9.2. didefinisikan beberapa besaran terkait. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis. ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan. Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = . .Vo = volume mula-mula ) 1. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk.B.1. Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang . suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9. Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y. sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis.1 F 2. Untuk membahas elastisitas.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume . Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9. Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut.

maka berlaku persamaan : F/A = S.tg θ = S.3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah .2 3.67 F F F F F F Gambar 9.θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.

Lo/(A.Lo/(A. Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y.Lo/(A.Gambar 9.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2. Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).1011N/m2 dan luas penampang 0.1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga .Y) baja = F.2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1.Y) tembaga ¡ 1000N 69 . maka : F.∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F.5m2 dan panjangnya 4m.

Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode. waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10.1. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya.1 0 π/2 π 3 π /2 2π . 10. GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik). sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan. Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN.13 10.

sedang EK = ½ m.ω A sin (ω t +θ)]/ dt = .x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) . demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama.ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1.x2 . dengan demikian maka : 2 . Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol.ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) . 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t. dan ketika Ek maksimum. Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = . f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik. sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat.v2 = ½ m[. harga EP adalah nol.v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k. Ketika EP membesar maka EP mengecil. Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k.-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t . maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama.

x =cosθ .2 F = m.d2x/dt2 m. tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda.Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan. Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus. Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ . Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus. F = Gaya Aksi = m.k. x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut. x =sinω t .k.(1)  ( k/m = konstan ) . x =Asin(ω t+θ) .k.a = m.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = .k. dan sebagainya.x (Gaya Reaksi) Fb = .k. Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : . x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) .a = . misalnya : x =sinθ .x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10.x  m.d2x/dt2 = .x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = . x =Acos ω t . dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan . dalam persamaan (1) ini. Jadi Periode T = 2π √m/k .x/m …….ω A cos (ω t +θ ) = .k. 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m .dv/dt = m.

Percepatan pada saat 6s.1 m ketika mereka masuk ke mobil.72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4.2m dari titik seimbangnya adalah 100J. hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9.π/6) a). Tentukan besar harga konstanta pegas k ! . C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0.8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0. Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N. B). Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b). Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 . Kecepatan pada saat 3 s.

k.. Redaman juga berasal keadaan.k.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = . .3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = .dx/dt)/m + k.a = m.. Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.Fb .dx/dt)/m d2x/dt2 + (b.misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair.b. dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m.73 14 10.dx/dt  b = konstanta. k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C.k.b.d2x/dt2 = . m = massa (konstan) Gambar 10.2. bisa diambil harga : b/m = 2r .x Fr = Gaya Redaman = .dx/dt atau : d2x/dt2 = .Fr  m. F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman .x/m – (b.e t …….x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta.x .(2) α.

α. atau : r2 = ω 2 .(3) Pers. . C. harga ini tidak memenuhi persamaan (3). oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga. α.e t = 0  C.e ( − r − √ r2 – ω 2) t …. Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0. α.e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α.. menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif.t + 2rα C. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran.e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C. ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran.exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta.e = bilangan alam = 2.e α.. ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta.….e t mempunyai harga. C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C. maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 .t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C.t α.718281828… .e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2.e α. meskipun sangat kecil.exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2.e t + ω 2C.. ini bisa ditulis : x = C1. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r. yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1.. Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED.

t = faktor redaman .ω ’) t − r − i.e + i.71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam .e ( − i.ω ’) t + C2.t (C1(cosω ’t + i. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r.θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ . f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) . cosω ’t + a. + C2.e ( =e (C1. jadi : .t (a.t ω ’. e − r.cosθ. r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t .sinω ’t) + C2(cosω ’t .θ − r.e ( − r + i.e + i.ω ’) t − r.e ( )…. dan e sinθ Maka pers. dimana a dan θ Maka : x = e − r. Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1.t − r. ω ’.. Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM. disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah. e − r.t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) …. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam . e − r.i. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a. t − i. e +i. √ (r2 – ω 2) adalah imajiner. jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 .Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.ω ’) t -i.t (C1.t = amplitudo getaran terredam . e = 2.(5) a. t + C2.sinθ.(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ .

yang berarti mengalami dissipasi daya. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu. yakni ada daya yang terhambur keluar sistim.t sin (ω ’t +θ) + a.4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang...t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan. e − r.v = dx/dt = −r.(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r.t − r. e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek . e − r. e − r. a.a.. e − r. e − r. e r<< ω maka : −r.t t −a.t -a Gambar 10.t ω ’cos (ω ’t + θ) .t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a. sehingga besar kecepatan v : v = a..

x 2 .t (joule).t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r.t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k. getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r.a2. e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ ....t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k.a2.t − 2 r. sedang Ek = ½ m.t − 2 r. e − r.t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r.t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k..Ep = ½ k..ω 2 = k .. besar ω ’ = ω Ek = ½ m.(8) 15 10..a2.t P = r. e − 2 r.a2. misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m.. e − r. e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m..(a... Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k...dET/dt = . e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = .d(½ k.v2= ½ m..t Ek = ½ m.x 2 = ½ k(a...a2. e − 2 r.t − 2 r.. sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k.a2..a2..v2 . e 77 −2 r.a = m. e − 2 r.. e θ) ET = ½ k..3.d2x/dt2 .Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini. K.t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m.a2.a2.. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k. e −2 r. e (watt)….t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k.a2.a2.

x/m = Fmax sin ω ’’t/m…... terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar .x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus.. dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t.(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t.Fb = Gaya Balik (Reaksi) = . xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) .x = m.. dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m).. sedang harga xp = C sin ω’’t……. sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10. atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat..k..(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) . maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k..d2x/dt2  d2x/dt2 +k.(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1).ω ’’2). ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient.. f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k.5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa . C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m .

Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.k.k.d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .6 d2x/dt2 = .x .dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10.4.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m .dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m. dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar. Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = .x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m.Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek.k.b.b. dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.a = m.d2x/dt2 = .

Fmax /m = fmax ( Ingat .x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 ..t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’...t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’.t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan....t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’.…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’.d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k. bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t ……. b/m = 2r . maka . (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama. sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan .(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ .. fmax disini adalah gaya per massa.t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1). Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ .(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’.t -θ ) ….. maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) +ω 2A sin (ω’’...t -θ ) …(3) .. d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’...t -θ ) +ω 2A sin (ω’’...

...............{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2. 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t........ (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)……….. fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan. diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 . Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : ..........fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’...... (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2....fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2. dan ω’’........ (8) (Ingat......

Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran. ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil). yang dinamakan Frekwensi Resonansi. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f . jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat. maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π . Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) . dimana f = frekwensi getaran alami. maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π ….Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2). sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum.Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!). dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0.…………… . sedang ω’’ = 2 π f’’.

frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa. semakin besar harga amplitudo maksimumnya. Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. serta konstanta redaman ”r”. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami. Untuk redaman kecil. Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil .Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami. semakin kecil redaman.

Lebih lanjut. Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. maka resonansi semakin tajam. yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. puncak bergerak kearah bawah. amplitudo cenderung kearah nol. ketika redaman ”r” bertambah. Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman. 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi.π/5) . Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil. Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. Kurva (b).(d) r = medium r = besar 0 =ω 0.05t cos (2πt/3 .5 ω ’’> ω 1 1. dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang. (c). Pada saat ω’’ bertambah. amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman. Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω . Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar. yakni ketika nggak ada redaman.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar.

04 . Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa.π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N . tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9.06 . Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik. sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis. GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat. 2 dimensi.02 . Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : . frekwensi sudut alami 0. Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis. Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 .Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2. frekwensi sudut paksa 0. dan konstanta redaman adalah 0.8m/s2 2 85 17 11. dan 3 dimensi. massa benda yang bergetar 100kg . Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi.

t (3) x y = f(x-v.(2).t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang.dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut. demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) . sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt.m2).m2) .dimana : E = elemen energi . dA = elemen luas) . fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v.A) (J/s. fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v.Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini. perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t.t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω.t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv. sering dihitung secara elementer. Jadi I = E/(t.t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1).dA) (J/s. dt = elemen waktu . Dalam perhitungan teoritis. karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2).

sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus.v2 maka dEK = ½ dm. ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. ym2 + 1/4 µdx ω 2. maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t . atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) .ω. adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa.dA) J/s.t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t.m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV . ym cos(kx-ω. sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω. berarti setiap saat harganya tetap sama. ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata). ym2cos2 (kx-ω .A)=dE/(dt.v2 = ½ dm[. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) . Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik. dapat diperoleh besar energi total rata-rata.t) .A E I = E/(t. ym2 cos2 (kx-ω.t)]/dt = .ω. ym cos(kx-ω.Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik. yang .t). sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA.ω.t)] = ½ µdx ω 2. dA= elemen luasan.t)] 2 = ½ µdx ω 2. Besar energi kinetik EK = ½ m.t))] = ¼ µdx ω 2. jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω. ym cos(kx-ω. maka dengan menghitung salah satu saja.t)] 2 dEK = ½ µdx[. dV=elemen volum. Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas.

Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik. diatas 20. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α). disebut frekwensi Audio .ω 2.v. Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang. sedang minimumnya = -1. v.ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi. ini sama dengan P = 1/2 µ.000 Hz = ultrasonik. ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. rataratanya=0). 88 18 11.v.000 Hz.ω 2. sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20. ym2 .ym2 dimana (µ/Α) = ρ. ym2 + ¼ µdx ω 2. dibawah 20 Hz = infrasonik . Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut.harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1.1.yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi. yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ. termasuk Gelombang Bunyi. ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2.ω 2. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s. ym2 = 1/2 µdx ω 2.

tentukan : a). yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2. dan S ke C = 30m. Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium. Intensitas di A dan di B c). besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB. Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! . yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB . Besar Daya dari sumber S b). Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m.10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB .1). berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. S ke B = 20m. Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang.

Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo. Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium.C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. 1. gerak penerima bunyi pada suatu medium. Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama . merambat dengan kecepatan terbatas.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi. Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut. Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula. Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b). ( Berarti periode To = 1/fo ). atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat. 90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri.

kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah. dan lebih panjang terhadap arah –vs. .To = vs/fo. maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs. panjang gelombang nya tak berubah. Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang. dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v). dan panjang gelombangnya λ = v/fo. Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang . Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs. sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . panjang gelombangnya juga tak berubah. Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo. Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v).vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] .(simetri) kesegala arah. 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang.

demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan . Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo . f ’ = (v . Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis. MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo. Setiap kecepatan termasuk gelombang. kecepatannya sekarang: v ’ = v . Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12.Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi. frekwensi yang dirasakan berkurang. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang. Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang. misal pada sumbu x. kita dapat tahu siapa yang bergerak. Jika kita tahu kecepatan relatif. jadi benda yang diam senantiasa ingin diam. sumber atau pengamat. vr dan v mempunyai tanda yang sama. Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. dan vr mempunyai tanda yang berlawanan.|vr|)/ λ = fo . diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain.|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3. maka kita dapat menggabungkan keduanya. v’ = v – vr . dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama.|vr| .

Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I).r22 + m3.32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m .r32 + mn.02+5. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya.1. Partikel A. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi.02+1. dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi.rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1.geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) .r12 + m2. dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar . Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA.rA2+mB. Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.rB2+mC.ri2 = m1.rC2 = 2. B.

2. dimana : dm = elemen massa = ρdV . R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm. dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm.C 1kg 12. Tegak lurus pada ujung tongkat b). dA = elemen luas . dV = elemen volume . Jadi : dV = elemen volume . Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ.L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar. ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a). Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm .

sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M. sedang M = 2m.d2  disini d = L/2. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M. . satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja. maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2.Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b).(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu.d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel. maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a). Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm). Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya.

I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 .b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat. berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel.z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a. Contoh 4.b  Massa M = σ.a.

(ρΑL = m = massa silinder pejal .1/4[r4]oR = ½ m. dimana dm = ρdV .R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm. L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5.R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R. ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL.

r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R.2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R .2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R .2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV. 5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0. maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 .5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13. FLUIDA (ZAT ALIR) 13. maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x .r x dm = ρπr2dx . Fluida Statis .1. sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3.

Α. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P. berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 .A + ρ. Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133.Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat. dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja .A  dP = .g = ρ. Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P).dy.g = ρ.ρ. Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa . terdiri dari zat cair dan zat gas.A + dP.dy  Jika persamaan ini diintegralkan . A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) .g = P.dV.Α.dy.A dy y A dW=dm. yakni zat yang dapat mengalir.A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy.g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis. 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi. Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm.3 Pa dF=dP. gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F). Maka : F+dF+dW = F P.A Fluida adalah zat alir.ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW). dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF).g F=P.g.

A .Α. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po.A = ρ.A – Po.y.g.A = Po. Berdasarkan rumus : P = Po + ρ.ρa. Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air.ρa. dan gaya akibat berat balok F = m.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral.A maka diperoleh : ρ. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po.A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po.g.y.∫dy  Po – P = .A.A +ρa.h. Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g.y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1.h = ρa.g = ρ.A .ρ.g.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ. maka : Fkeatas = P.h.h.A.ρ.A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0. dengan demikian volume balok adalah V = A.h. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa.g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri. Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ. sedang P=F/A.g.A + ρg.g.g.A + –F keatas = .y.h. g.h.h P ρ=rapat massa ∫dP = .g.

g. balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh.A – 0 = ρ.A) .h.g. ρ = ρa F keatas .ρa.A atau h.h.g. Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan.g.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg.h.V .V .ρa.h. Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.A.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .g.g.g. Jika ρ=ρ a. V’=V .h.A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force).A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut. dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ. V’<V .h.V’ = ρ. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ.A) = ρa.A – ( ρ.y.g.V’ = F = ρ.g.A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa.g. ρa. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto. Fapung = ρa.h.g.h.h. Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ.A . (a) F netto = 0 .g.A = ρa.h.A .tenggelam.

8m. V’=V .6m.y=h F kebawah © F netto = ρg. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m.A .h.ρa.h. tinggi t = 0.g. Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? . Bak tersebut terapung di danau. lebar W = 0.A . dan massa M =200kg.

M)/m = (1000.t. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x.1m.L.m. Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya.. Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam .W.W.6.1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah . Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0.  ρair. Sebelum tenggelam.L.y. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y. Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon.W.8.L. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair. secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0.1. tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung.g = M.g+x.L.t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.0.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5.t.W.0.g .g = (M+x. persamaan keseimbangannya adalah : ρair.Dalam hal balon tidak tenggelam.m)g. Bak akan tenggelam pada saat y = t.t.m)g .g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair.

g = 4 π R t. misalnya terjadi pusaran aliran. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1. timbulnya gesekan internal.ρa.Vt. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu.v1. dan sebagainya. A1. Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum).v1. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks.v1.1 / 3(11300) = 0.dt dm1 = dm2  Maka : .1m) 2 2 2 2 T 21 13.ρ. v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ.ρa / 3 ρ t = 1000. Berat timah Wt =4 π R t. tidak ada gesekan internal.dt dm2 = ρdV2 = ρ.0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R. maka : t 4/3 πR3 . Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal. atau 0. dimana t=0 R T karena sangat kecil.g Wa = 4/3 πR3 . alirannya tidak turbulen ( berpusar).g Jadi tebal kulit timah balon t = R. maka besar dm1= ρdV1 = ρ.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga .2.g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa.ρa.ρ. A1.sehingga jari-jarinya adalah R – t . dan sebagainya.g  Wa = Wt. maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t . A1. antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental.0029m<<0. tidak dalam keadaan terkompresi. Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1.0.

v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1. atau : A1. A2. . Luas penampang pipa bawah = A1.A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya. sedang luas penampang pipa atas = A2 .v1 = A2.v2 . A1.A1 v1 ρ dm1 ρ. Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam .v1 = ρ .

sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2. sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.v22 − m.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.g. Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.v22 − m.m. tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1).v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .g.h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2. sehingga : P1.m.g.v12.m. gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 .v22 − m.Kemudian pada gambar (2). Pada peristiwa ini.v22.v22 − .∆L2 + (m.h2 + ½ .v22 − m.h1=P2 + ½ .m.g. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan . ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ .∆L2 + (m.m/ρ + P2.h1 + g.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.g.m.m/ρ + m.g.g.h 1.∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ .h1. sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m.v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2.h2 = ½ m.h1.ρ v22 + ρ g.g.h2) = ½ m.g.g.g.h2) = ½ m.h1. Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m.∆L2 + (m.h1.ρ v12 + ρ g.∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 .v12 ½ A1∆L1 = A2.v12 .h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung.

dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam. kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi. ada pergeseran sudut kecil. Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan. sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “.gaya dorong keatas oleh zat cair. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung. Jadi. Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre. 107 M 1 A B 2 . dengan kata lain. Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung. benda akan terapung. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan. Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi. Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan. Dengan kata lain. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam.

Maka segitiga . kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. Dalam rancangan modern. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung. Sebagai akibat rotasi. pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1. tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya. Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1. maka ia akan semakin stabil. Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya.

pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!).BG . sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ. maka : ρ.L/8.I.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/.L/8.m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ. Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil. b3 θ. Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3.L/8 x B1B. (Ingat. sedang panjang kapal L. Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam.aom telah keluar dari air.L/12. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ. maka : ρ. Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a. Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ. sedang segitiga ocn berada dibawah air. L/12 = ρ b2θ. Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ. Apabila lebar kapal adalah b.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ.L/8 x 2b/3 = ρ. sehingga am = b.b3 θ. Kedua momen ini adalah sama besar. adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal. Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama. L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!). Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam.

8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B . ( g = 9.2 m2. sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh. sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s .4 gr/cm3.9 gr/cm2.5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0. Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1. Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4.9 gr/cm3 .Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut. hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9.8m/s2). Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam. Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm. (g = 9. 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0.8 m/s2) . Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0.105 N/m2.

4 m. Kecepatan aliran di pipa 2 b).A1 = luas permukaan tangki .8 x 3 = 2. Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0.4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0.9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0. A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a). jadi specific gravity = ρ/ρair . dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian . A2 = luas pipa 2 .8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical. maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0. Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair). Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0.2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m.

BM = I/V = 1. maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0.12m.24 = 0.4 π m3 . Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0.03m.4)3/12 =0.24m.3m dibawah puncak .8 x 0.4 π = 0.24/2 = 0.5-1. Maka jarak dari 1. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1. Jadi BG = OG-OB = 1.2(0. Jadi. silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.056 – 0. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0. G 0.0064m4.235m.2m.2 x 0. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L.8 dan berukuran 1.Adapun volume air yang dipindah V = 1.3 = 0.2x0.27 π m4.1152 = 0.0064/0.5m.3 = .3 terapung dalam air.026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1. Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).4/2 = 1. Dengan demikian.2m.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1.4x0.0. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G. dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2.15-0.bawah silinder.27 π/5.3/2 = 0.056m.4 = 5.12 = 0.235 – 0.4 x 0.03 = 0.1152m3. OB = 2. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.065m.15m.2m B ke G = BG = OG-OB = 0. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0.2 = 0.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0.b3/12=1.

4 = 2.silinder.2-h)  (1.2/π = 0. OG = 0.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2.2m .8m 1.6-0. Kedalaman silinder 1.2-h) = 2. OB = 1. Jadi 2.2-h) = π(1.2m O 0.7  113 . Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0.2m3.6m3. Total volume air yang dipindahkan = 2.2 = π/4 (2)2 x (1.4m3 . Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.3m .8m .3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung. Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.6m3. Diameter benda yang terapung = 2m .

182 m.3)+(2.75 l tg2α  GM = BM – BG ! .2x0.302 – 0.5m.7854m2.85)}/(0. Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair . Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0.2) = 0.85m.2 – 0.0 = 0.12 = 0.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0.7854/2.2-0.75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α .Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0. BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0. Maka : OB = {(0.75 l .92mBG = OB-OG = 0. Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut.5)/2 = 0.7 = 0.92-0.5+(1. (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !).4+2. 2α = Sudut puncak kerucut . Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas.8 = 0.4x1. L = Panjang Kerucut .Maka h = 1. Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0. BM = I/V = 0. D =Diameter . l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair.302m.

ΣFy=0 . KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1. Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada. jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 . Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi. jadi : Στ =0 (Στx =0 . Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol. dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F). (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) .ΣFz=0) 2.Στy =0 . jadi τ = r x F . O = titik acuan. Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol. sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi.114 22 14.Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F. τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ .

Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. maka +W1+W2-N1-N2=0 .W1+6W2-8N2=0 . Contoh Soal 2.200-8. Jika berat jembatan 800 N..uhuk. maka N1= 600-350=250newton. sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N. maka : +4. Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0.4 .N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton. 9m µs=0.400+6. 4. diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1.Jika searah putaran jarum jam. Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar.

pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak. Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter. karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 . Maka : O x N2 12m h . Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N. Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 . Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter. misal di ujung bagian bawah papan miring. 2)Στ =0 .1200 = 480 . dan N1 (Tak ada torka oleh N2). kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik. Menurut teori trigonometri. 800N. maka : N1= 480 newton.µsN2 = 0  N1=0. dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O.116 Jawab : Buat acuan O. posisi mahluk berada pada ketinggian h.4.

x = 3360/400 = 8.+12. tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! .000N. jadi .N1 – 400.4m B B adalah 54%.3 = 0  N1= 480 newton. h : 12m = x : 9m = t : L . Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2. Menurut perbandingan trigonometri.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10.2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0.x – 800.x – 800. h : 12m = 8.x – 2400 = 0 .3 = 0  5760 – 400.480 – 400.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8.4m. sehingga:12.4)(12)/(9) = 11.5m g = 9.

atom-atom.118 23 15.c. PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15. apabila suatu benda memberikan panas . Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K. diberi simbol Q.1.c ∆T . dimana ∆T = perubahan temperatur. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4. c = Q/m. dalam satuan kelvin (K) . Berdasarkan Asas Black.1.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain.1. ∆T joule. Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur. Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu). Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal.1. Persamaan ditulis : C = Q/∆T. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer.2. atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul. Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer. adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC. m = massa benda. 15. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah.

Lo Lt ∆L . Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 . sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan. Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu.kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama.1.3. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah.c2. c2 = panas jenis benda 2 15. m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 . Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi.c1. akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang. a. ∆Τ1= m2. Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t.

Lo. dimana xo. atau At = Ao (1 + 2α.∆t = α. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo.∆x = xo. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α.xo.∆y ∆y yo.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo.αyo.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to.α. ini berarti α.yo.∆t) .t ) 120 b.xo.yo∆t (2 + α. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.∆t) .yo xo ∆x ∆x. sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda.∆x yo Ao = xo.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas.∆t + yo.∆t.∆t.∆y + ∆ x.α.Αο.∆y + yo.t + αxo. Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu. sedang ∆t = t – to.

suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR.2. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : . pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah. suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF.∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ .Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β.∆ t) c. suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K. 121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC. Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ.∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda.

beton. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi. 3. misal air. dan fluida lainnya. Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut.A. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1). Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah.A. dimana : dQ = elemen panas yang mengalir .1.1.2. satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = .k.t.k. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya. ∆T/x . dan sebagainya. 122 15. misal : besi. 2.A. tembaga. udara. Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik. misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar. Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = . dinamakan arus panas H.k.dT/dx . suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = .∆T/x .

A (T2-Tx)/x1 ………. akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : .= tanda negatif.T2. Tx = k1.dt = elemen waktu . maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state).…………(2) Karena H1 = H2 maka : .k2..x1+k1.T1.x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx .A (T2-Tx)/x1 = . Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2. Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .k1.(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = .x1 / (k2.……. menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1).k2.A (Tx-T1)/x2…….k1.x2 + k2.

2 π.dT/dr. namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar.dr/r = .dT. atau : H.L. Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1.L. dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = . dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +..dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal).xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan. luas permukaan elemen silinder : A = 2 π.A. karena mengalami pengembangan luas.k..r... oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral.r. secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k .k...L.H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan. . 2 π. maka H = .k.

T2. H (ln a-ln b)= -2 π. Jari-jari bagian dalam pipa adalah a.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π.k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π. dan suhu di bagian luar pipa T1 .L.k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1. H. H1 = H2 maka : 2π.(T2-T1) .ln(c/a)+k1.2 π. Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π.ln(b/c) .ln(b/c) + k2.k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar. Suhu di bagian dalam pipa T2.L.L.k∫T1T2 dT .k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah. sedang jari-jari sambungan adalah s. sedang untuk r = Rb. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan.k.L. besar suhu T = T1.L.ln(c/a) / k2.k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state. apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state. Hargaharga ini merupakan batas integral.(T2-T1) .k. Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda.L.L. L. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1. jari-jari bagian luar pipa b.Untuk r = Ra. H.L.T1. maka besar suhu T = T2.ln b/a = + 2 π.ln a/b = . suhu di sambungan Tx.

r1. r2. k2. sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = .dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) . dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro. r3. dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah). L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1.A. dan k4.Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π.k. k3. maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2.

besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = . H = .48 J/s.dr /r 2 = -4 πk. dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung.dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a.4 πk ∫ T1T2 dT . Koefisien konduksi bahan 1 = 0. 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H. Tebal kedua bahan sama yakni 4cm. sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0.m. Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC.K. bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a .4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda.A = 4 π r2 . besar suhu = T2 Untuk r = b.k. H [ -1/r ] ba = .m. Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC.K.04 J/s.

178 J/s = 251.48 ] = 2π.48+ln(20/16)/0.58] = 80πL/6.04 ] = 2π.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.33L/6.465 = 80πL/7.66 = 32.L(40)/[0.192+0.66 J/s = 251.L(40)/[7.81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar).178 = 40. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π. Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil. berarti daya konduksi panas lebih besar.33L/7. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.04+ln(20/16)/0.599+5. .

STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom. Massa proton = 1. sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif. sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan. massa netron kurang lebih sama dengan massa proton. berisi elektron (e) 16. jadi dapat diabaikan. Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral).10-27 kg. Muatan listrik proton = +1.129 25 16.10 -19C. Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti.1. Benda-benda . sedang muatan listrik elektron = -1.6.10 -19 coulomb (C).10-31 kg.6. sedang massa elektron = 9.1. Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom.67. berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom.

(atomic mass unit) dengan simbol u yang kg. Jadi jumlah zat itu. elektron.M.3.10 besarnya 1.2. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah. atau kalau dibalik. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u. dan seterusnya. Empat bilangan kuantum electron adalah : a. Tempat kedudukan elektron pada n = 1.N.u. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik. mungkin atom. Banyaknya elektron disetiap kulit ..m. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu.. proton.3.10 -27 23 butir.4. dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya.1. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a.. dan lain sebagainya.1. molekul.. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon.67. ion.022. Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1. Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole.4. Elektron terdapat pada kulit atom.L. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia. 16.2. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium..yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul. dan seterusnya dinamakan kulit K. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu.

. Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1).1.+l. +1/2. +1. -1. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron. l = 0 ) berisi satu elektron..0. +1/2.. Maka apabila m = -1..p. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada.2. Harga m nya mengikuti rumus : -l.. b.. -(l-1). -1/2.. terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. l = 0. dan sub kulit 3s ( n = 3. 0. Orbital l = 1. bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2. -1/2.2.1. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n. Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada.3. -1/2.2.. 0.4. 16. Jadi apabila l = 1.. dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s. l = 0 ) dan 2s ( n = 2. dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 . +2 d.d.3. +1. akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1. dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 . Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0. Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 . 0.….f.maksimum adalah 2n2. Jadi apabila n = 1 maka l = 0. dengan s = 1/2 dan ..( n-1 ).. Jadi untuk l = 0 maka m = 0.. maka m = -1. maka m = -2. l = 1 ) berisi enam elektron. +1 Untuk l = 2. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 . Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah.m.+(l-1). Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1).2 . sub kulit 2p ( n = 2...1.l. dan seterusnya. 131 c. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1.

-1/2.1/2. +2. 132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 .-1/2 . 1/2.1/2. +1. untuk l = 1 maka m = -1. ( Ingat.1/2.-1/2. banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3).-1/2 .32 = 18 buah.1/2.0. untuk l =2 maka m = -2.-1/2. dengan s = 1/2.-1/2. -1. 0.-1/2.+1 dengan s = 1/2.1/2.-1/2. apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2. -1/2.

+2 133 Jadi semua m ada : 0 . 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1.1. serta 1 buah di kulitnya yang terluar M.2. 0.+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2. 1/2. -2. Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif. -1/2.-1/2 16. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0.1.1/2. 0. Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah. -1. -1/2.+1. 1/2. -1/2. dengan . sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2. +1. Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain. yakni 2 buah di kulit K. -1.0. -1/2. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion. 1/2. Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16.0. 1 . 1/2. 1/2. 1/2 -1/2. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2. -1/2. +1 . (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik). Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli). 8 buah di kulit L.-1/2. dan 2 l = 0 . 1/2.2.-1/2.-1.

perincian : 2 buah di kulit K. Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b). Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16. dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron.2. Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar. yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron. Akhirnya. Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif.2. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron . dan 7 buah di kulit terluarnya M. 8 buah di kulit L. Ikatan molekul H2 b).

New Delhi. 1978 Khumar. 4th ed... London. Prentice Hall Inc. Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif.. Ltd. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics. NY. 1981 Enge. Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron. J.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya. New Delhi..D. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal. 16. Singapore. 1996 Hibbeler. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak. 1994 Counihan..H. 2002 Kelvey.. P.. New Delhi. Laxmi Publications Ltd... H. Mechanics for Engineers.2. Routledge & Kegan Paul Ltd. Introduction to Nuclear Physics. Johnston. M. Physics for Scientists and Engineers...L. Grotch. Physics for Science & Engineering. New Jersey. Engineering Mechanics: Dynamics.karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama. F. A Dictionary of Energy. Addison Wesley Publishing Co. NY. 2004 Beer. Prentice Hall Pearson Education Asia Pte. P... Mc Graw Hill International Edition. Gasiorowicz. 1987 Burton.1974. Mc Graw Hill Book Company.. Newton Physics Books. S. Glaucester.. A Text Book of Engineering Mechanics. R. Eurasia Publishing House Ltd...T. NY.Chand & Company Ltd.3. R.. 2006 Khurmi.. 1993 .. Engineering Fluids Mechanics. A Text Book of Engineering Mechanics. Fishbane. Harper & Row Publishers.. Introduction to Dynamic System Analysis.R. 2004 Marmet.

John Wiley & Sons Ltd.L. Hand Book of Energy Engineering. The Fairmont Press Inc. 1998 136 . 9th ed.. 4th ed. A.. 1974 Mittal. Sounders College Publishing. 1994 Spiegel. P.. University Physics. Physical Science with Modern Applications. Dillon. Anand J.... Harcourt Brace Jovanovich Inc.L. Theory and Problems of Vector Analysis. Engineering Mechanics : Dynamics. Addison Wesley.. 1992 Miller. 1997 Young. Metha.Meriam. NY. M. Kraige. F. NY. P. Freedman.. Concepts in Physics.. T. Har Anand Publications..... New Delhi. Mc Graw Hill Book Company. 5th ed.G. 1974 Thumann. A Text Book of Sound. Massachusets. J.. Virginia. 2003 Merken.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.