PHYSICS, 20-05- 2012

FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

....... PENDAHULUAN 1. dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika.16. Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya..... komputer......1....... Atom dan Molekul.. Adanya pesawat terbang.... sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan........ kapal laut.. gedung pencakar langit. Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa.... serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul... 1. dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika......... Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik..... dan Teori Gempa.. Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan ...... dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil.......... jembatan..130 ii 1. Untuk jurusan teknik sipil........ Mekanika Fluida..2. Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika........

Teori Panas. Statika. Dinamika.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan. Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. 1. Gerak Parabola. Adapun Statika. Mesin mesin Angkat. Momen Inersia. dan Gelombang Mekanis. Sub topiknya mengenai : Gerak lurus.4. 1 1. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. Kinematika. Sub topiknya adalah : Gesekan. Gerak berputar. Kemudian Dinamika. Gerak melingkar. Momentum dan Tumbukan. Kerja dan Energi. Proses Pembelajaran . serta Atom dan Molekul. Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil.3. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya. merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. Getaran Mekanis. Gerak lurus dengan kecepatan konstan. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya.

Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka. . dan satuan waktu adalah sekon. Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). massa. Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. dan satuan waktu adalah sekon. Oleh karena itu. Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1. MKS (meter. disempurnakan.1. Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. dan waktu. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter. 2. 2 1 2. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. satuan massa adalah kilogram. menjadi hal yang penting. seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. kilogram. Untuk selanjutnya. massa. dan waktu. satuan massa adalah gram.

Maka. 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3. FPS (foot. Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot. pound. dan waktu. Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa.37 inches (FPS). 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. Demikian pula.. dan satuan waktu adalah sekon. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain. second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang.205 pound massa (FPS). satuan gaya adalah pound.281feet (FPS) = 39. Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa).3. gaya. dan pound gaya (untuk satuan gaya). akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft .

Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : .Waktu 5.Kuat arus listrik 6. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1.Massa 3.Temperatur (Suhu) 4.Panjang 2. 1.Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan.Intensitas cahaya a.Jumlah zat 7. Sudut Bidang b.

a. Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2. maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian. Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola. sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2. besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian. benda berbentuk bola .141592654 = 57.2. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian.1. Dengan demikian maka dalam suatu bola. Lingkaran b. Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh. Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR. berarti 360o = 2π radian. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya).Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola.3o .3. kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R. 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. besar sudut totalnya = 2π radian.

maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil.s-2 Kg. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”.m-1.m2. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg.m.0 m 0. 6 2.s-2 Kg.9144 m . suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0.0254 m 1609. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan. Besaran Turunan : Karena merupakan turunan.3 m 1852.3048 m 0.s-2 Kg.Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional.m2.

maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0.8 N. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.594 kg 1055 J 6894.4482 N 0. dan satuan massa.2046 lbm : 1 N = 0. maka tidak perlu dikonversi.06854 slug : 1 kg = 2.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4.5144 m.in .3048 m : 1 inch = 0.1 pound gaya (lbf) = 0. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0.s-1 350 m.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14. satuan gaya.4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4.281 ft : 1 m = 39.m-2 0.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf.4536 kg 14. Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.4536 kgf 1 pound massa (lb.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3.

percepatan. bilangan riil.in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0.022597 watt.3048)/(60) = 0. Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah. dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris.021 lbf/ft2 . posisi. energi. lintasan. Misalnya : kecepatan. massa.765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0.0254m) = 0. waktu.11298 N.37 in) = 8.f = 4.8512 lbf. torka. 1ft = 0.2248 pound force (lbf).448N) x (0. Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa.765) = 0. dan lain-lainnya.4482 N .2248)/(10. momentum.f)(ft)/(min). Misalnya : panjang. 8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N.m = 1(0. berat. 1min= 60 s .2. perpindahan. 2 2. maka daya dalam SI = (4. suhu.1 lbf. gaya.4482)(0. usaha (kerja). .in = 1(4. sedang 1m = 3.22482 lbf)(39.3048m . dan lainlain. jarak. yang berarti 1m2 = 10. dimana : 1lb.m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb. Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah.281 ft.

sedang arah anak panah. Fz = Fz k 2. F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2.Secara grafis. Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor. atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya.1. dan perkalian. digambarkan dengan tanda titik (. masing-masing dilambangkan dengan i.) 9 Secara trigonometris. r (posisi). dan z. sedang apabila vektor keluar bidang. Apabila vektor masuk bidang. P (momentum linier). Vektor satuan pada sumbu x.4. dan k. Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. v (kecepatan). Sebuah vector samabesar . vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. a (percepatan). sebagai contoh : F (gaya). Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor.5. y. pengurangan. digambarkan dengan tanda silang (x). menyatakan arah vektor. O Gambar 2.2. Fy = Fy j . j. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. dan sebagainya.3. dengan demikian maka Fx = Fx i . vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya. jadi F = Fa. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F.

Fy = Fy j . Fy.8. dimana : i. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. dimana besar dan arah vektor harus tetap. dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1. Fz = Fz k . Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis. Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah. masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2.6). y.Sama besar dan searah. dan Fz Gambar 2.a. . 2. maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain. j. Gambar 2. Misal.7) Keterangan : Fx = Fx i . maka F1 = F2 2. jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx. Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain.b.2. 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x.1.6.2.1. Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2.7.

9 F1 F1 F2 = F1 .F2 = F1 + (-F2 ) .1.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2.Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx. maka persamaan tersebut .F2 F2 Gambar 2.c. maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx. Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2.9.8 dijumlahkan secara trigonometris. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2.8. Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .2. dan Fz pada gambar 2. jadi F1 . Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2. Fy.7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1.

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

yakni arah dari vektor C. 15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N. sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang.0. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi. maka F x r = τ =1000. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) . bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang.m.4 sin 30o = 200 N. Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup. Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C. dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada.

Pada gambar 2.Gambar 2. Jika besar A = 2. maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar). Jika besar B = 3.12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o. Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s. Hitung ditempat mana kapal merapat. 400 m B B . Pada gambar 2.12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o. dan besar B = 2 maka besar C = 2.2.12. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o).1 = 6 (arah D keatas). 3. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal.2. dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m.1 = 4 (arah C kebawah) .

2m dari tempat B 4. i x j = k.33 m/s tg θ = tg 6. jadi θ = 6.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46.587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6.5/4. maka jarak BC = 0.1154734 x 400 = 46.587o =0.0.33m/s 400m A 0.B x A 2.5sin30o = 5. k x i = j 5. m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4. Jika A dan B bukan vektor nol. sedang A x B = 0. .5m/s tg θ = 0.587o 5cos30o =4.1154734 = BC/400. A x (B + C) = A x B + A x C 3.5= 2.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0. i x i = j x j = k x k = 0 . j x k = i. A x B = .5m/s 6.33 = 0.1154734 .

a. Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t.1. 18 3 3. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu. KINEMATIKA 3.t v s Gambar 3. maka Lintasan benda adalah : s = v. Dapat dibagi menjadi 2 : 1. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu.1. dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu. Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap. terhadap sekitarnya. GLBB Horizontal v .maka A sejajar B.1. Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration).1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3.

1. maka akan dipengaruhi a2 vt 2 .(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo. berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt . t + ½ a.1.t  vt = vo + a.t = vo (vt .t = (vt + vo )t .s a vo s Gambar 3. dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang.t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v. kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt . GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal.b. 3.Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo .(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt . misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya. (vt .vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a.vo …….2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah.vo ) + ½ a.…………….t ) t  sehingga s = vo .t 2 .vo= a. 2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a.vo  t t = vt .

8 m/s2. Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo.oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9.4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) .t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3. Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2.t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3.

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

y vo O y vx=vo x . ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s. t − 1/2 g.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ. jarak dari tempat ia menginjak pedal gas.t Lintasan sy = vysinθ.voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3.t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. setelah 1 sekon. dan kecepatan nya. Sesampai diujung jalan yang terjal. t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g. Tentukan posisi mobil.

Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T. sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon. sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g. meskipun kecepatannya tetap.12 = .4. 25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4.9.25 m. dimana vx = vox = 9 m. Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v. posisi pada sumbu x = vox. v maka kecepatan linier v = panjang keliling . dan yo=0.1 = -9.8 m/s. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula.8.3 m/s.vy=-g.t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan.8.3.t = 9.9 m. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω. posisi mobil adalah xo=0. Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y.8)2 = √177.t = .9)2 = 10.t 2 = -1/2. Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran.04 = 13. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2.9. v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali. arahnya setiap saat berubah. 3. sedang vy = -g. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r.1 = 9 m. Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9. Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at .

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. ada 4 macam yakni : gaya gravitasi. kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul. dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental.29 5 4. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya. keduanya adalah gaya turunan.1. gaya elektromagnetik. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. gaya gesek dan gaya pegas.(G. F = . dan gaya nuklir lemah. Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. Sebagai contoh.M)/r2 F = gaya tarik menarik . Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya. Dalam analisis terahir. gaya nuklir kuat.m. GRAVITASI DAN GAYA 4. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force). Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental.

...dg.M/r2 ..m.2. Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya.m...10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik.G.g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m.F..dr/r3 sehingga dF/F = .G = Konstanta gravitasi universal = 6.. atau : dF/F = -2dr/r .dr/r = .M/r  Ep = .dr/r3 ) / G..m. Besar energi potensial gravitasi Ep = .M/r..(1) Apabila persamaan F = m. sedang harga ini = Gm. Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m... Gaya Hukum Newton : .(2G.g = Gm. maka : m.m..M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen. atau dF/F = dg/g . Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya..(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4..m..dr = - ∫ -Gm. 2 Apabila persamaan F =G.M....M/r 2 . dengan demikian besar g = G..M.G..g.M/r2 ..67.M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G.m... Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui.M..

Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan. berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”. maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 .Σ Fz =0) v Gambar 4.Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4.F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1. F = m x a 3. Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama.Σ Fy =0 . Gaya Aksi = . 31 2. CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam.Σ Fy =0 . jadi FAksi = .Gaya Reaksi.1 2.1. jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 . CARA DINAMIK : a). Suatu benda yang diam akan terus diam. sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan. berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut. Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar.2 v Benda bergerak dengan v konstan . jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.

8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9. maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4. berarti ada percepatan “a”. Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah.b).8m/s2 ) F=? . dimana g = 9.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar. Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut.

8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong . Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9. F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg .a A 100kg B 500kg 800kg g = 9. bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift.8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : . setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2.

(3.v2/R = m.57m/s2 . Jika peti menjalani 2 putaran per sekon. Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar.14) 2.ac = 100.789.57 = 78957 N.5 s.g . hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0.Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9.5 / 0. Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m.8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m.52 =789.

Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F . Σ Fy = F cos θ . Σ Fy = 0 .R  R = L sin θ.g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m. baik statik maupun kinetik.g = 0  F = m./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5.m.g/cosθ )sinθ =m. Ada dua macam gaya gesek : 1.v2/R  tg θ = v2/g.v2/R F sin θ .R = 4π L / Τ g. belum meng W Gambar 5.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g.R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g.g.R = (2πLsinθ/Τ) /g.  cos θ = Τ g.v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m. sedang pada arah vertikal.1 alami gaya gesek apapun.v2/R = 0.tg θ =m.Disini tidak ada gaya vertikal. Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran. merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping.v2/R m. GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f. ini pasti harus sebanding dengan m. 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g. Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2.m.

Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs. sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2. Benda diberi gaya F yang 3.N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1.N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan.maka berlaku persamaan : fk = µk. Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg.N f s = µs.Gambar 5. Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T . Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak. tentukan massa R b).2 1. maka berlaku persamaan : keadaan bergerak.a). Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam.

4 Contoh Soal 3: .5 30o g = 9. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.Q.g µκ= 0. dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2.5 100kg C B A 30o µκ=0. Benda P. tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0.8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A.2 200kg .B. dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan.R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0.

f = Gaya Gesek mobil pada jalan.g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m.2 µκ =0. maka f Σ Fx = f = µs. sedang Σ Fy=N-m.v2/R . N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs.N.N = m. berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil . Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs . dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R.2 v konstan R µκ =0.200kg Q P µκ = 0. . N = Gaya Normal .g bergerak dalam lintasan lingkaran.2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R.

Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs.m. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar .m. Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs.g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring . sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring. tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m.g = m.Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir.g yang mana merupakan harga konstan.g. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan. Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring. meskipun jalan licin (tanpa gesekan).

Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m.. Pada keadaan disini. tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata.R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api.. dan sebagainya. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m.8. nuklir.g  N = m.g.g/ maka diperoleh : tg θ = = m.(1) Fy = Ncos cos θ .R  θ = arc tg {(25)2/ 9. ENERGI DAN KERJA 6.1. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m.h . panas. Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g. contoh: 1.. oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya.g / cos θ) sin θ v 2/ g...v2/R . kimia. Disini hanya akan dibahas energi mekanik.1. elektromagnetik. ada dua yang penting yakni : 6.v2/R adalah : N sin θ. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan..230} = 15o 40 7 6. Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha).(2) = m.. penyebab gaya m.sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan.v2/R . Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik.1. cahaya...

maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .2 k = konstanta pegas . Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s.v2 h h’ v Ek = ½ m. s Fcosθ s .2.v2max Ep = 0 Gambar 6.1 vmax 2. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v.2.3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k.Ek = 0 Ep = m.h’ Ek = ½ m. Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya. Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6.g.1. mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6.x2 6. x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6.

Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo.t = (vo+vt) t . kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt.½ m. besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian. hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F . a = vt-vo .½ k.a.h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k.g.h2 – m.vt2 .x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2.8m/s2. tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil . sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan. demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial.4 dan g =9. Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0.vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh.x = m. maka Kerja W = F.g.x x = v. Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m. maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m.Gambar 6.x22 .

30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2.8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk . Tentukan : a. Kerja yang dijalani oleh beban tsb d. Kerja yang dilakukan oleh bumi c. Kecepatan akhir beban tersebut. Kerja yang dilakukan oleh penarik b. 43 . a = 4m/s2 200m 100kg g=9.

mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek. bahkan Kedokteran dan Pendidikan.200kg µk=0. serta banyak bidang yang lain. dan sebagainya. MESIN-MESIN ANGKAT 7. misalnya gedung. Pada masa sekarang. jembatan. terminal.8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9. seperti : Industri. yakni merubah besar maupun arah gaya. jalan raya. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan .1.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal. Di dunia Teknik Sipil.5 44 8 7. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pertanian. Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9.8m/s2 ) µk=0. Transportasi.

digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan. misalnya: berubah menjadi panas M. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7. baja.2.R. hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin. tentu semakin baik. D. Oleh karena itu. semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan.(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat.R.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat . balok kayu.A. lempengan besi. batu.A = Fo/Fi . Terdapat banyak jenis mesin angkat.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton. dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D. M. dan bahan-bahan bangunan lainnya. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama.3. yakni : 7. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin.

(Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya). tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D. korosi. 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin. 7. panas.R. sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika..R.R. Fo.4. sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %.Si Efisiensi η = Μ. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan. x 100 % D. kelembaban.Α.A. misalnya gesekan. sehingga : M. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen). Macam macam mesin angkat . senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin.So = Fi . = D.A. Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal).akibat gesekan). maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi.

R. Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. Roda Cacing.A. Katrol diferensial Weston . misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan. Katrol Ganda . Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga. diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. Dikatakan bahwa. Dalam keadaan seperti ini maka M. Roda Poros Diferensial . Kerekan Ketam Tunggal . Dongkrak Sekrup Sederhana . Katrol Sistim Kedua. Bidang Miring . karena. maka beban W tetap naik setinggi x m.A.A = 1.R. Demikian pula harga D. gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M. dan Katrol Sistim Ketiga . (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal. yang diperoleh dari Fo / Fi . Namun meski kondisi katrol demikian. jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m. dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo . Kerekan Ketam Ganda .R. saja.Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal . Roda Poros . = D. b. a. Katrol Ganda. tidak mempengaruhi harga D. meliputi : Katrol Sistim Pertama.

x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas.dan 3) W cukup besar. MA = DR. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal.4. maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no.Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n . MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M.A.2. caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban. tetapi jika mesin tidak ideal. disini ada 4 tali. jika mesin ideal maka MA=DR. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n . dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. maka : jika mesin ideal.

maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali.

Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR. sedang jari-jari roda kecilnya r.Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R. .

M. atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali. berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si).=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So .MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) . Dengan 2 Demikian. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr. Dengan demikian. maka Si = 2πR.A. ini membuat beban W .Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga. Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt. dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). sedang tali 2 turun sejauh 2πr.

naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ . sedang .

n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang.θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran. dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L. Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So.n2/r.n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali .n2/(r.

dan 1.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L. n2.3. maka : silinder .n4) Keteranga n: n4.n1. dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4.n3. jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi.n3/(n2. sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K.2.

Jadi: MA = R. n2=100 gigi . maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) . n4= 200 gigi .beban akan terputar 1/n kali. dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n .n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N.2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 . adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. panjang L=1 m n1=300 gigi. n3=400 gigi . tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda.

y1) x pm = (m1.y1 + m2. Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.mn.x2 . m2 = 2kg.yn) /m1 + m2 + m3 +.y1) dan (x2.x3 +. maka pusat massanya adalah (x pm.mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1. Pusat berat merupakan fungís gravitasi. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(.x1+ m2.10 8. Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1.y3 +.x1.mn. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut.x1 + m2.x2 + m3.y2) dari suatu titik acuan 0.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg.y2) x Gambar 8. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1.xn) /m1 + m2 + m3 +.y2 + m3.y1 + m2. terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat. dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 .y2) / (m1 +m2) m2(.

8533 m y pm =(1. F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.2) = 4 kg F1 a pm m2 (4.8533 .2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.0 + 2.866) /1+2 +3 = 0.0 + 2.1/2) /1+2 +3 = 0.y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8.0.3 57 .2) = 4 kg m2 (4.1) = 8 kg P 63o m3 (1. 0.1 +3. F2 = 16N .-3) = 4 kg F3 Gambar 8.0 +3.433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N .1) = 8 kg m3 (1.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0.

Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2. Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N . Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º.25m Pusat masanya ada pada titik P (1.75.4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm .75m y pm =(2.12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari.25) . maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 .8 + -3.4 + 4.89/16 = 1.4) /4+8 +4 = 0. dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8.89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.0.Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2.4 + 1.8 +1. maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17.4) /4+8 +4 = 1.

t = m. jadi : I = F.dv. Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ. Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’.v’ – m.6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x.v’ – m.8 59 v’ 11 .v’ = momentum akhir .dx 0 x Gambar 8. Untuk menyederhanakan pembahasan.t = m.dt = m. m.1.v (m. ini dinamakan impuls I. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t.v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8.v . sedang elemen panjangnya dx.m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F.7 v P = m x v (kg. benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8. maka elemen massa dm = ρdx . dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8. Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya. dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F.

F2 . gravitasi.F2. atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam. 60 .m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi.(m2v2’. dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8. Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1. Atau : m1v1’. demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1.t = .9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan. ini adalah gaya : aksi = -reaksi. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara. momentum.m1v1= .8. dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan.t  I1 = . keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda. sehingga : F1 = .2. masing-masing sudah mempunyai kecepatan. benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan. Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah.I2 .

v1. partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2.Adapun. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). 61 . demikian juga untuk partikel-partikel yang lain.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no. Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum. Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1. Tumbukan Elastis Sebagian a).v2.2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v. dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3. sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1. apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). Tumbukan Non Elastis Samasekali a).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2. Tumbukan Elastis Sempurna a).3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama.

n.8. vpm = kecepatan pusat massa. gravitasi bumi. Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M. m. demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 . ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas.Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1. dmana M = massa total sistim . Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya.vn sehingga : PTot = M.apm = percepatan pusat massa.dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan. maka kecepatan pancaran dM/dt Gb.vpm . Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable. Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u.v1+m2.10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u . Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya. Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan.apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar . Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas. Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara. .v2+m3.v3+….

Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim. Massa total sistim 10000kg. Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0. Contoh Soal 1.Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata. dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket. karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u. sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt.(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket.11 63 . dt = eleven waktu. sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir. gesekan udara pada roket. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa . v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar. Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8. dan sebagainya.Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = .

…. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ .1 = 10000.1)(10)/1 = 1 kg/s .v1) = m2 ( v2 .000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg. 500.dv/dt 500 = 10000.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0.v2’ ) ….000(3)+4000(-5) =(10.000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10.v1+m2.(-v2) = (m1+m2)v’ 10.dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam.000(8)+2000(0)=(10.000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna. Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi.(1) b).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 . tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan.Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u.05m/s.1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru. Maka u=500m/s.m1v1 = m2v2 .dM/dt = M.v1+m2. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali.m2v2’ m1 ( v1’ . M = 10000kg . berarti dM/dt = (0.v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10. massa peluru = 100 g = 0. Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1. berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a).

v12) = m2 ( v22 . maka : v1’ = v2 + v2’.Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.v1 ……..v12) = m2 ( v22 .v2’2 ) atau : m1 ( v1’ . tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s. sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ .v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 .(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) .……(3) v2’ = v1’ + v1 .v2’2 )  m1 ( v1’2 .v2’ ) ( v2 + v2’ ) …. Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’.

1.000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga. Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------. 1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal.30o---50kg v’ .000.

1. Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut. didefinisikan beberapa besaran terkait.2. Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = . . Untuk membahas elastisitas. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis.Vo = volume mula-mula ) 1. Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9. Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang . Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta. ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young.B. antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9. Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9.1 F 2.66 12 9. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula. sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume .

2 3. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah .tg θ = S.3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9.67 F F F F F F Gambar 9. maka berlaku persamaan : F/A = S.

∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F.Lo/(A.Lo/(A.2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1. Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.5m2 dan panjangnya 4m.Y) tembaga ¡ 1000N 69 .Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga .1011N/m2 dan luas penampang 0.Gambar 9.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2. maka : F.Lo/(A. Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y.Y) baja = F.

10. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN.1 0 π/2 π 3 π /2 2π . Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode.1. sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan. Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana. waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10. GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik).13 10. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya.

harga EP adalah nol.ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[. f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik. Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m.v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k. 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1. sedang EK = ½ m.x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) . demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = .x2 .ω A sin (ω t +θ)]/ dt = .ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) . Ketika EP membesar maka EP mengecil. dan ketika Ek maksimum.-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t . Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol.v2 = ½ m[. sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat. dengan demikian maka : 2 . maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama. Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k.

x =cosθ .x/m ……. dan sebagainya.ω A cos (ω t +θ ) = . tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda. x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut.d2x/dt2 = . Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus.k.(1)  ( k/m = konstan ) .dv/dt = m. x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) . 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m .k.k.x (Gaya Reaksi) Fb = . Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : .a = m. Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ . misalnya : x =sinθ .d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = . Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus. Jadi Periode T = 2π √m/k .k.2 F = m.k.x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = .x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10. F = Gaya Aksi = m.k. x =Acos ω t . dalam persamaan (1) ini. x =sinω t .Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan. x =Asin(ω t+θ) . dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan .a = .d2x/dt2 m.x  m.

Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b).2m dari titik seimbangnya adalah 100J. Tentukan besar harga konstanta pegas k ! . B).π/6) a). C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0. Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 . hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9. Percepatan pada saat 6s. Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N.1 m ketika mereka masuk ke mobil.8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0.72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4. Kecepatan pada saat 3 s.

(2) α.73 14 10.d2x/dt2 = ..dx/dt  b = konstanta. dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m.x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta.Fb . Redaman juga berasal keadaan. k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C. F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman .dx/dt)/m + k. bisa diambil harga : b/m = 2r .x Fr = Gaya Redaman = .3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = .d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = .b.k. m = massa (konstan) Gambar 10.dx/dt atau : d2x/dt2 = ..Fr  m.k.a = m.b.misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair.x .dx/dt)/m d2x/dt2 + (b. Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.x/m – (b.2.k.e t ……. .

e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C. maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0..718281828… .e α. ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu. ini bisa ditulis : x = C1.exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2. . menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif. oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga. Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED.e t mempunyai harga.t + 2rα C..e = bilangan alam = 2. α.….e ( − r − √ r2 – ω 2) t ….t α. α. α. harga ini tidak memenuhi persamaan (3). atau : r2 = ω 2 . Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0.e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α.(3) Pers.exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta. C. C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C.e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2. meskipun sangat kecil.e t + ω 2C.. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r. yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran.e t = 0  C. ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran..e α. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 .t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C.

e − r. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam . ω ’. t + C2.Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner. cosω ’t + a. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a.t = amplitudo getaran terredam .t (C1. f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) .t = faktor redaman .ω ’) t − r − i.71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam .(5) a.t ω ’. + C2.sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ .e + i.sinω ’t) + C2(cosω ’t .ω ’) t + C2..e ( − i.t − r. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r.i. e +i. Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1. e − r.e + i. dimana a dan θ Maka : x = e − r. disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah.e ( )…. e − r. t − i. jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 .e ( − r + i. jadi : .sinθ. Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM.ω ’) t − r. dan e sinθ Maka pers. √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.t (C1(cosω ’t + i.ω ’) t -i.e ( =e (C1.cosθ. r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t .(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ .t (a.t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) ….θ − r. e = 2.θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.

t sin (ω ’t +θ) + a.t t −a. sehingga besar kecepatan v : v = a. yang berarti mengalami dissipasi daya.a.. e − r. e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a.t ω ’cos (ω ’t + θ) .t -a Gambar 10.t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a.(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r.. e − r. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek . e − r.t − r. e − r. a.4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang.. e − r.. e r<< ω maka : −r. yakni ada daya yang terhambur keluar sistim.v = dx/dt = −r.t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu.

(a.x 2 .t − 2 r. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k. e (watt)….t − 2 r.t Ek = ½ m. e θ) ET = ½ k. Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k..a2. misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m.a2.t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r.a2.a2..Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini.a2.(8) 15 10...a2.. sedang Ek = ½ m.v2= ½ m.t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m. e − 2 r.t − 2 r.v2 ..t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r. e − 2 r..a2. K..a2.a2...x 2 = ½ k(a..a2.t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k.. e − r.3... e − r.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r.ω 2 = k . besar ω ’ = ω Ek = ½ m.. getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda...t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k..t (joule). e 77 −2 r..dET/dt = .t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k.t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k.Ep = ½ k. sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k.t P = r.d2x/dt2 .d(½ k. e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m. e − 2 r. e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = ..a2. e −2 r...a = m. e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ .

.. C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m . terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar . xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) .x/m = Fmax sin ω ’’t/m…. dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t. maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k.x = m. f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k.k...Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus.(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) ...ω ’’2). sedang harga xp = C sin ω’’t……. atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat.(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t. sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10. ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient. dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m)..d2x/dt2  d2x/dt2 +k...(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1).5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa .

Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = . dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar.d2x/dt2 = .k.a = m.d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m.b. Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m.dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10.k. dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.4.Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m .b.k.6 d2x/dt2 = .x .

.t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1)..(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’. maka .t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama. Fmax /m = fmax ( Ingat .t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’. Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ .…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’..(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ . maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’. (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan.t -θ ) …...t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’. bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t …….t -θ ) …(3) ..t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan .. d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’. fmax disini adalah gaya per massa. b/m = 2r .d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k.. demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan.....t -θ ) +ω 2A sin (ω’’....t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’.x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 .t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’.

.fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’..... 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t...... Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : ..... dan ω’’. (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.... (8) (Ingat........{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.............. diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 . (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)……….fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2........... fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan......

Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2). ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil). sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!). Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0.Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum. maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π . jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat. sedang ω’’ = 2 π f’’. yang dinamakan Frekwensi Resonansi. dimana f = frekwensi getaran alami. yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran. Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) .…………… . dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π …. Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f .

Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil . semakin kecil redaman. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami. Untuk redaman kecil. frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa.Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω. serta konstanta redaman ”r”. Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. semakin besar harga amplitudo maksimumnya. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami.

Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman. Lebih lanjut. yakni ketika nggak ada redaman. puncak bergerak kearah bawah. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil. ketika redaman ”r” bertambah. 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi. amplitudo cenderung kearah nol. Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman.05t cos (2πt/3 . Kurva (b). maka resonansi semakin tajam. yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. (c).π/5) . Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang.5 ω ’’> ω 1 1. amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman.(d) r = medium r = besar 0 =ω 0. Pada saat ω’’ bertambah. Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω . Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar.

Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2. sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis. Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 . GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat.02 .06 . dan 3 dimensi. Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik. massa benda yang bergetar 100kg . frekwensi sudut paksa 0.π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N . Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis. 2 dimensi.04 . tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9.8m/s2 2 85 17 11. Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : . Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi. dan konstanta redaman adalah 0. frekwensi sudut alami 0. Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa.

dA) (J/s. karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2). Jadi I = E/(t. dA = elemen luas) .m2) .t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv. sering dihitung secara elementer.m2).t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1).t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang. fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v.t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω. sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt.(2). dt = elemen waktu . perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t.t (3) x y = f(x-v.A) (J/s. Dalam perhitungan teoritis.dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut. demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) .dimana : E = elemen energi . fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v.Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini.

ym cos(kx-ω. ym cos(kx-ω.m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV . Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik.ω.t)] = ½ µdx ω 2.t)]/dt = .v2 = ½ dm[. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) . ym cos(kx-ω.Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik. adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa.A E I = E/(t. dapat diperoleh besar energi total rata-rata.t) . dA= elemen luasan. atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) . ym2cos2 (kx-ω . berarti setiap saat harganya tetap sama.t)] 2 = ½ µdx ω 2. ym2 cos2 (kx-ω. maka dengan menghitung salah satu saja.t))] = ¼ µdx ω 2. ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata). ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. yang . sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω. Besar energi kinetik EK = ½ m. maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t .t)] 2 dEK = ½ µdx[.t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t. Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas. ym2 + 1/4 µdx ω 2. sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus.dA) J/s.A)=dE/(dt. jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω.t).ω. sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA. dV=elemen volum.v2 maka dEK = ½ dm.ω.

ym2 dimana (µ/Α) = ρ. Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20.1. sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. v.000 Hz = ultrasonik. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α).ω 2. ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. ym2 + ¼ µdx ω 2.yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi.harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1. ini sama dengan P = 1/2 µ. disebut frekwensi Audio . dibawah 20 Hz = infrasonik . ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2.v. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik.ω 2. ym2 .000 Hz. 88 18 11. yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ. Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik.ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi.v. BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia. sedang minimumnya = -1. termasuk Gelombang Bunyi. Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . ym2 = 1/2 µdx ω 2. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut.ω 2. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s. Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang. rataratanya=0). diatas 20.

Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m. Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! . berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2. yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB . dan S ke C = 30m. S ke B = 20m.10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB .1). Besar Daya dari sumber S b). Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium. Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang. tentukan : a). besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB. Intensitas di A dan di B c).

1. atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat. atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri. Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi. Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula.C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b). Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama . 90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. ( Berarti periode To = 1/fo ). merambat dengan kecepatan terbatas. Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut. gerak penerima bunyi pada suatu medium. Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium.

Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs. Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo. kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah.vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] . dan panjang gelombangnya λ = v/fo. Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v). 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan. Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang . sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. . Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang. panjang gelombang nya tak berubah. panjang gelombangnya juga tak berubah. maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs. Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . dan lebih panjang terhadap arah –vs.(simetri) kesegala arah. Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang. dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v). Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium.To = vs/fo.

f ’ = (v . sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. kecepatannya sekarang: v ’ = v . vr dan v mempunyai tanda yang sama. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang.Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo. kita dapat tahu siapa yang bergerak. dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama. Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain. maka kita dapat menggabungkan keduanya. dan vr mempunyai tanda yang berlawanan.|vr| . Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo . misal pada sumbu x. sumber atau pengamat. MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan. Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12. frekwensi yang dirasakan berkurang. diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. Setiap kecepatan termasuk gelombang.|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3. Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis. Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang. jadi benda yang diam senantiasa ingin diam. v’ = v – vr . demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan .|vr|)/ λ = fo . Jika kita tahu kecepatan relatif.

dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi.1. dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar .ri2 = m1. Partikel A. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) . Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I).r22 + m3. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya. Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1.r32 + mn.rC2 = 2.r12 + m2.32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m .02+5.geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.rB2+mC. Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12.02+1. B.rA2+mB.

C 1kg 12. Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm . dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a). Tegak lurus pada ujung tongkat b). dimana : dm = elemen massa = ρdV . dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm. R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm.L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ. dA = elemen luas . Jadi : dV = elemen volume . dV = elemen volume .2. dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar.

d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel. satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja. sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M.Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b). . sedang M = 2m.(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu. maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a). maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2.d2  disini d = L/2. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M. Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm). Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya.

z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a.b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 .b  Massa M = σ.a. I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12. Contoh 4. berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel.

R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m. dimana dm = ρdV .R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm. ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL. L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R.1/4[r4]oR = ½ m.(ρΑL = m = massa silinder pejal .

r x dm = ρπr2dx . maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 .2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R .5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13. FLUIDA (ZAT ALIR) 13. r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R. sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3.2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV.1. 5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0. Fluida Statis . maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x .2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R .

Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm.g F=P.g = ρ.ρ. Maka : F+dF+dW = F P. Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133.dy  Jika persamaan ini diintegralkan .3 Pa dF=dP.Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat. dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja . gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F). Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa .A Fluida adalah zat alir.ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW). A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) . yakni zat yang dapat mengalir.dV. 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi.dy.A  dP = . terdiri dari zat cair dan zat gas.Α.g.Α.A + dP.A dy y A dW=dm.g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P.A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy.g = ρ. berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 .A + ρ.g = P. Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P). dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF).dy.

g.h.g.y. dan gaya akibat berat balok F = m. maka : Fkeatas = P.A + –F keatas = . g.h.A.h.A maka diperoleh : ρ.h.A +ρa.y.Α.A .g. Berdasarkan rumus : P = Po + ρ.A = Po.g.g = ρ.A – Po.g.h. dengan demikian volume balok adalah V = A. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri.ρ.y.h = ρa.ρ.A .h.A.g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan.A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ.ρa. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h.g. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri. Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air. Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ. Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g.ρa. sedang P=F/A.A = ρ.h P ρ=rapat massa ∫dP = .g.∫dy  Po – P = .A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po.y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1.A + ρg. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po.

h.A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force). Fapung = ρa.A – ( ρ.g.A .g.h.g.h.A = ρa. ρ = ρa F keatas .h. V’=V .h.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg. ρa. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ.g. V’<V .A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto.A) .V’ = ρ.g.V .g.g.V . Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ.A. (a) F netto = 0 . dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ.g.V’ = F = ρ.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .A – 0 = ρ.g.y. Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan. Jika ρ=ρ a.h.ρa.g.g. balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh.tenggelam.h.A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y.h.A .h. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.A) = ρa. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan. Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.A atau h.h.ρa.g.

Bak tersebut terapung di danau. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m. Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? .h. V’=V .6m.8m. lebar W = 0.A .ρa.y=h F kebawah © F netto = ρg.h. tinggi t = 0. dan massa M =200kg.g.A .

0.1m. Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya..L.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5.g . Bak akan tenggelam pada saat y = t. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung.Dalam hal balon tidak tenggelam.W. Sebelum tenggelam.L. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah .t.t.6. Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0.M)/m = (1000.m)g .L. secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0.g = M.  ρair.W. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair. tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam. persamaan keseimbangannya adalah : ρair.g+x.g = (M+x.m.L. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x.0.t.1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah.1.t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y.y. Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam .8. Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon.m)g.W.W.

0.g Wa = 4/3 πR3 .ρa / 3 ρ t = 1000.v1.Vt. maka : t 4/3 πR3 . dan sebagainya. Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum). tidak ada gesekan internal. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu. Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks.ρa.v1.ρa. antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental.dt dm2 = ρdV2 = ρ. dan sebagainya.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga . alirannya tidak turbulen ( berpusar). timbulnya gesekan internal. A1.1 / 3(11300) = 0. atau 0.v1.sehingga jari-jarinya adalah R – t .g = 4 π R t.1m) 2 2 2 2 T 21 13.g Jadi tebal kulit timah balon t = R. maka besar dm1= ρdV1 = ρ.ρ. A1. Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1.g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa.0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R.g  Wa = Wt. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1.0029m<<0. Berat timah Wt =4 π R t. v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ. misalnya terjadi pusaran aliran. dimana t=0 R T karena sangat kecil. tidak dalam keadaan terkompresi.dt dm1 = dm2  Maka : . A1.2. maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t .ρ.

A1 v1 ρ dm1 ρ.v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1.v2 . Luas penampang pipa bawah = A1.v1 = A2. A2.A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya. A1.v1 = ρ . atau : A1. sedang luas penampang pipa atas = A2 . Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam . .

tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1).ρ v22 + ρ g.m. Pada peristiwa ini.v22.∆L2 + (m.m. gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 . Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.g.h1.h1.g.v12 .∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ .v12.v22 − m.g.g.v22 − m.g.g.h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung.h1=P2 + ½ . sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2.∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 .ρ v12 + ρ g.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.∆L2 + (m.v22 − m.h 1.g.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2. sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.m. sehingga : P1.h1 + g.m.g.v22 − m.h1.v22 − .g. sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m.g.h1.g.v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2.m/ρ + m.m. ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ .v12 ½ A1∆L1 = A2. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan .h2 + ½ .h2 = ½ m.∆L2 + (m. Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m.h2) = ½ m.h2) = ½ m.m/ρ + P2.Kemudian pada gambar (2).

Jadi. sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. benda akan terapung. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “. ada pergeseran sudut kecil. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan. 107 M 1 A B 2 . Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam. pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan. Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung. dengan kata lain. Dengan kata lain. Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre. Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung. Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi.gaya dorong keatas oleh zat cair. dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi.

kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis. Dalam rancangan modern. Maka segitiga . Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya. pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. Sebagai akibat rotasi. tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya. Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air. maka ia akan semakin stabil.

pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!). sehingga am = b. maka : ρ.L/8.L/8 x 2b/3 = ρ.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/. (Ingat. b3 θ. Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3.aom telah keluar dari air.BG . Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ. Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil. Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam. sedang panjang kapal L.I.L/8 x B1B. adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal.L/8.L/12. Apabila lebar kapal adalah b. Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam. Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ. L/12 = ρ b2θ.b3 θ.m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ. Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a. maka : ρ.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ. L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!). Kedua momen ini adalah sama besar. sedang segitiga ocn berada dibawah air. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ. sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ. Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M.

sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s . Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4. 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0.5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0.8 m/s2) .105 N/m2. Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0. (g = 9. sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh. Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B .9 gr/cm2.4 gr/cm3. hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9.Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut.8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0. ( g = 9.2 m2. Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam. Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm.9 gr/cm3 .8m/s2).

jadi specific gravity = ρ/ρair . Kecepatan aliran di pipa 2 b).2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m. A2 = luas pipa 2 .A1 = luas permukaan tangki .4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0. A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a).8 x 3 = 2. Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0. maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0.4 m.8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical. Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0. Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair).9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0. dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian .

235 – 0.235m.2m. OB = 2.3 terapung dalam air. BM = I/V = 1.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1.1152 = 0.0.2 x 0.24m. Jadi.27 π m4.24/2 = 0.3/2 = 0.3 = . Dengan demikian. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0.0064/0.8 dan berukuran 1.0064m4. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L.3 = 0. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.065m.03m.bawah silinder.4 π = 0.4 π m3 .8 x 0. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1.1152m3. maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0.4)3/12 =0.056m.2m. silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.2 = 0. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0.4x0.15m.4 = 5.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1.12 = 0.15-0.Adapun volume air yang dipindah V = 1.026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1.5-1. Jadi BG = OG-OB = 1.2m B ke G = BG = OG-OB = 0.2x0. Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0. G 0.4/2 = 1.3m dibawah puncak .12m. dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G.03 = 0. Maka jarak dari 1. Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).27 π/5. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0.b3/12=1.2(0.056 – 0.24 = 0.5m.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0.4 x 0.

2m O 0. Total volume air yang dipindahkan = 2. OG = 0.2-h) = 2. Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.2m3.2/π = 0.2m .2-h)  (1. Jadi 2.6m3. OB = 1.3m .3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung.silinder. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.6-0.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2.2 = π/4 (2)2 x (1.4m3 . Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0. Diameter benda yang terapung = 2m .6m3. Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0.8m 1. Kedalaman silinder 1.4 = 2.2-h) = π(1.8m .7  113 .

2x0.85m.Maka h = 1.0 = 0.302 – 0. BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0.Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0.5)/2 = 0. Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas.5m.12 = 0.3)+(2.5+(1.302m.4x1.7854/2. Maka : OB = {(0.92mBG = OB-OG = 0. (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !).75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α . Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut.2 – 0.7 = 0.4+2. l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair. BM = I/V = 0.92-0.7854m2.85)}/(0.2) = 0.8 = 0. Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair . Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0. D =Diameter . L = Panjang Kerucut .182 m.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0.75 l tg2α  GM = BM – BG ! . 2α = Sudut puncak kerucut .2-0.75 l . Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0.

jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 . sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi. Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol. jadi τ = r x F .ΣFz=0) 2. ΣFy=0 .114 22 14. (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) . jadi : Στ =0 (Στx =0 . τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ . O = titik acuan. Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1. KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F.Στy =0 . Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi. dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F). Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada. sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol.

400+6.200-8.uhuk.Jika searah putaran jarum jam. sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N. maka +W1+W2-N1-N2=0 . Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk. maka : +4.N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. Jika berat jembatan 800 N. maka N1= 600-350=250newton. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0. diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran. 9m µs=0.. Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0. Contoh Soal 2.W1+6W2-8N2=0 . 4.4 . Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1.

misal di ujung bagian bawah papan miring. dan N1 (Tak ada torka oleh N2). Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 .1200 = 480 .µsN2 = 0  N1=0. Maka : O x N2 12m h . dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O.116 Jawab : Buat acuan O. pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak. 800N.4. Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N. 2)Στ =0 . Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter. Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter. posisi mahluk berada pada ketinggian h. Menurut teori trigonometri. maka : N1= 480 newton. kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik. karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 .

480 – 400.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10.2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0.x – 2400 = 0 . h : 12m = x : 9m = t : L .x – 800.000N.5m g = 9. sehingga:12.3 = 0  5760 – 400. Menurut perbandingan trigonometri. h : 12m = 8.N1 – 400.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8. Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2.x – 800.4)(12)/(9) = 11.4m.4m B B adalah 54%.3 = 0  N1= 480 newton. jadi .+12. tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! . x = 3360/400 = 8.

dalam satuan kelvin (K) . PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15.118 23 15.1.2.1. Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu).c ∆T . Persamaan ditulis : C = Q/∆T. atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. apabila suatu benda memberikan panas . Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer. c = Q/m.1. m = massa benda. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah. adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC. Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15. Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K. ∆T joule. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul.1.c. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4. Berdasarkan Asas Black. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer. atom-atom. dimana ∆T = perubahan temperatur. diberi simbol Q. Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur. 15.

Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu. akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t. c2 = panas jenis benda 2 15.1. Lo Lt ∆L . sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 . a.c1.3. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah. ∆Τ1= m2. Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan. m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 .kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang. Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi.c2. Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t.

yo.xo. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu.Lo. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x. sedang ∆t = t – to.Αο.∆y ∆y yo.α. dimana xo.∆y + ∆ x. Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo.∆x yo Ao = xo.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo.∆t + yo.yo xo ∆x ∆x.t ) 120 b.∆x = xo.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α. ini berarti α.∆t. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y.∆t.t + αxo. atau At = Ao (1 + 2α. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.yo∆t (2 + α. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α.∆y + yo.∆t = α.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas.xo.∆t) . sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo.α.αyo.∆t) .

∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : . Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K. 121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC. pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah.Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β. suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR.2.∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ . maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or. suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15.∆ t) c.

2. beton. Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya.k. Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik.t.dT/dx .A.A. Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah. misal : besi.k.∆T/x . dan fluida lainnya. dimana : dQ = elemen panas yang mengalir .1. misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar. tembaga. udara. suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = .k.2. 122 15. ∆T/x . Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = . misal air. 3. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1). dinamakan arus panas H.A.1. dan sebagainya. satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = .

…….(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = ..dt = elemen waktu .x1 / (k2. Tx = k1.x2 + k2. akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : .T1.T2.k1.A (T2-Tx)/x1 ………. Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).A (Tx-T1)/x2……. Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2.k1.A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx . menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1).k2.x1+k1.= tanda negatif. maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state).k2.A (T2-Tx)/x1 = .…………(2) Karena H1 = H2 maka : .

dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +.. oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral. dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = . maka H = .A. luas permukaan elemen silinder : A = 2 π.dr/r = ..L. Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1.dT/dr. 2 π...L. atau : H.r. ..L.k.H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan.k. secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k . namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar.xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan.r..dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal).dT.k.2 π. karena mengalami pengembangan luas.

Hargaharga ini merupakan batas integral.T1.ln(c/a)+k1.L.k.L. maka besar suhu T = T2. sedang jari-jari sambungan adalah s. suhu di sambungan Tx.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π. L. sedang untuk r = Rb.ln(c/a) / k2.L. apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state. H.ln(b/c) + k2. Jari-jari bagian dalam pipa adalah a. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1. besar suhu T = T1. Suhu di bagian dalam pipa T2. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah.k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π. dan suhu di bagian luar pipa T1 . jari-jari bagian luar pipa b.L.k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1.2 π. H (ln a-ln b)= -2 π. H. Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda. Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π. H1 = H2 maka : 2π.(T2-T1) .L.(T2-T1) .k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state.k.L.T2.ln a/b = .k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar.ln(b/c) .L.k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π.Untuk r = Ra.L.k∫T1T2 dT .ln b/a = + 2 π.

dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro.dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) . k3. dan k4.k. dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah).A. r2.Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1. k2. r3. L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2. r1. maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = .

Tebal kedua bahan sama yakni 4cm.4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda.K. Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC. Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC.k.4 πk ∫ T1T2 dT .48 J/s. besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = .dr /r 2 = -4 πk. H = .m.m. bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a . besar suhu = T2 Untuk r = b. Koefisien konduksi bahan 1 = 0.dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a.04 J/s. sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0. 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H.A = 4 π r2 . dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung.K. H [ -1/r ] ba = .

58] = 80πL/6.599+5.48+ln(20/16)/0.178 = 40.33L/6. berarti daya konduksi panas lebih besar.L(40)/[0.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.48 ] = 2π. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.04+ln(20/16)/0.04 ] = 2π.81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar). .66 J/s = 251.68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.33L/7.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π.L(40)/[7. Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil.66 = 32.465 = 80πL/7.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.192+0.178 J/s = 251.

10-31 kg.10 -19C. STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom. jadi dapat diabaikan. sedang massa elektron = 9. berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom. Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti.6. Benda-benda . berisi elektron (e) 16. sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan. Muatan listrik proton = +1. Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom. Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut. massa netron kurang lebih sama dengan massa proton.6.1.1. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral).129 25 16.10-27 kg.10 -19 coulomb (C).67. sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif. sedang muatan listrik elektron = -1. Massa proton = 1.

ion. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya.1. dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu. dan seterusnya dinamakan kulit K.L..4.2.10 besarnya 1. Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole.67. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u.. atau kalau dibalik..M. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1. Jadi jumlah zat itu. dan seterusnya. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a. Elektron terdapat pada kulit atom. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium. 16.022. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik.. molekul. proton. mungkin atom. (atomic mass unit) dengan simbol u yang kg. Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain. dan lain sebagainya. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah.3.4. Tempat kedudukan elektron pada n = 1.N.3. Empat bilangan kuantum electron adalah : a.u..2. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan.1. elektron.yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul. Banyaknya elektron disetiap kulit .10 -27 23 butir.m.

f. terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. -1/2. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1. 0. Jadi apabila n = 1 maka l = 0. Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0. b. dan seterusnya..m. -(l-1). 16. 0. bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2. -1/2.2. +1.1. -1/2..( n-1 ). akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n. Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1)... +1/2. l = 0 ) dan 2s ( n = 2. maka m = -2. +1/2.1.3.2..4. l = 0 ) berisi satu elektron. dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 . dan sub kulit 3s ( n = 3..maksimum adalah 2n2.+(l-1)..+l.3.…. Orbital l = 1. Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah. Maka apabila m = -1. dengan s = 1/2 dan . Jadi apabila l = 1. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron. Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1).l. 131 c. +2 d. Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 . dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s. Harga m nya mengikuti rumus : -l..0.2. Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada.. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 . +1 Untuk l = 2. -1. dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 .. sub kulit 2p ( n = 2.. l = 1 ) berisi enam elektron. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada. maka m = -1.d.1...p..2 . +1. l = 0. Jadi untuk l = 0 maka m = 0. 0.

-1/2.1/2.-1/2 . apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2.-1/2. 1/2. untuk l =2 maka m = -2. untuk l = 1 maka m = -1.1/2. 132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 .+1 dengan s = 1/2. +1.-1/2.-1/2.32 = 18 buah. -1/2.-1/2.0. banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3).1/2.-1/2.-1/2 . ( Ingat. 0.1/2.1/2. dengan s = 1/2. -1. +2.

Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16.-1/2. -1/2. 1/2. Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah. -1/2. 8 buah di kulit L. +1. -1/2. -1. 1/2. Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli). dan 2 l = 0 .+1. 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1. -1.1. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2.2. 0. (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik).-1/2 16.0. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17. 1 . 1/2. 1/2. 1/2.1. 0. +1 .+2 133 Jadi semua m ada : 0 .+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion. yakni 2 buah di kulit K. serta 1 buah di kulitnya yang terluar M. 1/2. sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0. 1/2 -1/2. -2. Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain.1/2. -1/2.0.-1. Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif.2. dengan .-1/2. -1/2.

2. Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16.perincian : 2 buah di kulit K. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”. 8 buah di kulit L. Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif. Ikatan molekul H2 b). dan 7 buah di kulit terluarnya M.2. dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron. Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron . Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b). Akhirnya. yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion. Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar.

Newton Physics Books. 1987 Burton. M. 1981 Enge. Introduction to Dynamic System Analysis. Prentice Hall Pearson Education Asia Pte.. J.. Singapore.R. New Delhi.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya.. A Text Book of Engineering Mechanics.. Physics for Science & Engineering. P. R.1974.....karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama.. Laxmi Publications Ltd.H. London. 4th ed. New Delhi. Grotch.. Gasiorowicz. 2002 Kelvey. Mechanics for Engineers. R. Mc Graw Hill Book Company. P. 2004 Beer.Chand & Company Ltd.3. 1978 Khumar. Fishbane.. Addison Wesley Publishing Co. NY.. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak. F. Introduction to Nuclear Physics. NY.T. 1993 . Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif.. NY.. Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron. Harper & Row Publishers. Mc Graw Hill International Edition. Engineering Fluids Mechanics... New Jersey. New Delhi. Routledge & Kegan Paul Ltd.. 2004 Marmet. Engineering Mechanics: Dynamics.D.. 1994 Counihan.. A Text Book of Engineering Mechanics. 16. 1996 Hibbeler. 2006 Khurmi.2. Johnston. S. A Dictionary of Energy. Physics for Scientists and Engineers. Eurasia Publishing House Ltd. H. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal..L. Ltd. Prentice Hall Inc. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics.. Glaucester.

2003 Merken. The Fairmont Press Inc. 9th ed. 4th ed. Physical Science with Modern Applications.Meriam. A Text Book of Sound.. Freedman. A. M... 1992 Miller. 1997 Young. Metha. 1998 136 .G. Concepts in Physics. Harcourt Brace Jovanovich Inc. Anand J. P. John Wiley & Sons Ltd. Virginia. Sounders College Publishing.. Kraige.. T. Dillon.. New Delhi. Theory and Problems of Vector Analysis.. Mc Graw Hill Book Company.L. 5th ed.... Massachusets. Addison Wesley. 1994 Spiegel. J... 1974 Thumann. University Physics. Engineering Mechanics : Dynamics. F. P.. Hand Book of Energy Engineering. NY.. NY. Har Anand Publications. 1974 Mittal.L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.