FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

....... Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa.... Mekanika Fluida.. 1.. sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan.. dan Teori Gempa............. Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan .......16.. dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil. Atom dan Molekul. Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika. Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya.....1.. serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul..... Untuk jurusan teknik sipil......... Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik......... komputer..... gedung pencakar langit........ dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika... PENDAHULUAN 1. dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika..... kapal laut.2........ jembatan.130 ii 1. Adanya pesawat terbang..

serta Atom dan Molekul. Kerja dan Energi. Proses Pembelajaran . 1 1.4.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan. Statika. Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. Gerak Parabola. Sub topiknya adalah : Gesekan.3. Dinamika. Getaran Mekanis. merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. Kemudian Dinamika. Momen Inersia. Gerak berputar. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. Gerak lurus dengan kecepatan konstan. Kinematika. Adapun Statika. Sub topiknya mengenai : Gerak lurus. 1. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya. Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil. Gerak melingkar. Mesin mesin Angkat. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya. Teori Panas. Momentum dan Tumbukan. dan Gelombang Mekanis.

dan satuan waktu adalah sekon. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka. second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. satuan massa adalah gram. dan waktu. Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. menjadi hal yang penting. Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain. dan waktu. massa. massa. Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1. 2. Untuk selanjutnya. Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2. seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). disempurnakan.1. satuan massa adalah kilogram. 2 1 2. kilogram. . dan satuan waktu adalah sekon. MKS (meter. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). Oleh karena itu. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter.

281feet (FPS) = 39. FPS (foot. Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa.. dan waktu. 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. dan satuan waktu adalah sekon.37 inches (FPS). gaya. Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan. Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot. dan pound gaya (untuk satuan gaya). second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. satuan gaya adalah pound. Maka.205 pound massa (FPS).3. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa). Demikian pula. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain. pound. akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft . 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3.

Massa 3.Kuat arus listrik 6. 1.Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : .Jumlah zat 7.Intensitas cahaya a. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1. Sudut Bidang b.Temperatur (Suhu) 4.Waktu 5.Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan.Panjang 2.

maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian. Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh.3.2. besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya). besar sudut totalnya = 2π radian. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian. Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola.Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola.141592654 = 57. Dengan demikian maka dalam suatu bola. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R.1. benda berbentuk bola .a. berarti 360o = 2π radian.3o . Lingkaran b. kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran. sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2. Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2. Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o. 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2.

suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran.0254 m 1609. Besaran Turunan : Karena merupakan turunan. maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil.9144 m .s-2 Kg.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0.m2.m.m-1.Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional.s-2 Kg. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg.s-2 Kg.3048 m 0. 6 2. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar.0 m 0. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”.3 m 1852.m2.

Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14. maka tidak perlu dikonversi.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf.s-1 350 m.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0.in .2046 lbm : 1 N = 0.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0.4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4.06854 slug : 1 kg = 2.1 pound gaya (lbf) = 0.4482 N 0.281 ft : 1 m = 39.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.3048 m : 1 inch = 0.8 N.5144 m. satuan gaya. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI.59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3. maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.594 kg 1055 J 6894. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.4536 kgf 1 pound massa (lb. dan satuan massa.m-2 0.4536 kg 14.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf.

energi.3048)/(60) = 0.2248 pound force (lbf). dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa. gaya. bilangan riil.m = 1(0. berat.f)(ft)/(min). 1min= 60 s . dan lainlain. 1ft = 0. Misalnya : kecepatan.0254m) = 0.11298 N. torka. posisi. perpindahan. suhu.2. Misalnya : panjang.22482 lbf)(39. Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa.37 in) = 8. dimana : 1lb.1 lbf.022597 watt.in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0. waktu. jarak.4482)(0. dan lain-lainnya.3048m . usaha (kerja). yang berarti 1m2 = 10. sedang 1m = 3. Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah.f = 4.8512 lbf. massa.765) = 0. 8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N.2248)/(10. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris.m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb.021 lbf/ft2 . Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah.281 ft. momentum.765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0.in = 1(4. . percepatan. maka daya dalam SI = (4.4482 N .448N) x (0. 2 2. lintasan.

Vektor satuan pada sumbu x. vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya. masing-masing dilambangkan dengan i.5. atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. pengurangan.Secara grafis. dan perkalian. digambarkan dengan tanda silang (x).3. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. dengan demikian maka Fx = Fx i . vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. sedang arah anak panah. r (posisi). menyatakan arah vektor. P (momentum linier). Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2. digambarkan dengan tanda titik (. v (kecepatan). dan z. Sebuah vector samabesar . a (percepatan).4. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F. Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol. sebagai contoh : F (gaya). Apabila vektor masuk bidang. sedang apabila vektor keluar bidang. dan k. dan sebagainya. j. Fz = Fz k 2. jadi F = Fa. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor.2. sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan. O Gambar 2.) 9 Secara trigonometris.1. Fy = Fy j . y.

2.6. Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain. Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis.1. maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain.6). jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y. masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2. j.2. Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2. maka F1 = F2 2. dan Fz Gambar 2. Gambar 2. . Misal. dimana : i. 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah. Fy = Fy j . Fz = Fz k .a.7) Keterangan : Fx = Fx i . 2. dimana besar dan arah vektor harus tetap.Sama besar dan searah. Fy.8. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx. y.b. dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1.1.7.

maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx.9 F1 F1 F2 = F1 .c.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2.Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx.9. Fy.F2 F2 Gambar 2.8 dijumlahkan secara trigonometris. Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2.7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1.1.F2 = F1 + (-F2 ) . dan Fz pada gambar 2. jadi F1 . Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2.2.8. maka persamaan tersebut . Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

4 sin 30o = 200 N.m. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi. bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada. sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup.0. Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C. Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang. maka F x r = τ =1000. 15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) .yakni arah dari vektor C. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang.

Hitung ditempat mana kapal merapat. dan besar B = 2 maka besar C = 2. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o). Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s.12.1 = 6 (arah D keatas).1 = 4 (arah C kebawah) .Gambar 2. Jika besar B = 3.2. dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m.12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o.12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o. Pada gambar 2.2. maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar). Pada gambar 2. 3. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal. 400 m B B . Jika besar A = 2.

1154734 .587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1. A x B = .5/4. j x k = i.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0. maka jarak BC = 0. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6. .2m dari tempat B 4.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46. sedang A x B = 0. k x i = j 5.1154734 = BC/400.5m/s tg θ = 0. i x j = k.1154734 x 400 = 46.5sin30o = 5.5m/s 6. Jika A dan B bukan vektor nol. i x i = j x j = k x k = 0 .B x A 2. jadi θ = 6. m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4.587o 5cos30o =4.0.33m/s 400m A 0.5= 2. A x (B + C) = A x B + A x C 3.587o =0.33 m/s tg θ = tg 6.33 = 0.

1. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap. maka Lintasan benda adalah : s = v. terhadap sekitarnya. Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. 18 3 3. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu.t v s Gambar 3. GLBB Horizontal v .1. Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration). Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t. dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu. KINEMATIKA 3. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus.1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3.1.maka A sejajar B. Dapat dibagi menjadi 2 : 1. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu.a.

2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a. kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt .t 2 .s a vo s Gambar 3.Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo .……………. t + ½ a.vo ) + ½ a.t ) t  sehingga s = vo .t = (vt + vo )t .b.vo ……. dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang. GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal.1.vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a.(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo.(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt . (vt .t  vt = vo + a.vo= a. maka akan dipengaruhi a2 vt 2 .2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah. misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya.t = vo (vt .1. berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt .t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v. 3.vo  t t = vt .

t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3.oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9. Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo. Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) .3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2.t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3.8 m/s2.

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3.t Lintasan sy = vysinθ. dan kecepatan nya. t − 1/2 g. t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ. Sesampai diujung jalan yang terjal. y vo O y vx=vo x . Tentukan posisi mobil.t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. jarak dari tempat ia menginjak pedal gas. setelah 1 sekon. ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s.

meskipun kecepatannya tetap.vy=-g.9 m.t = .4.t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan. Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9. Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran.25 m. dan yo=0.8. v maka kecepatan linier v = panjang keliling .1 = 9 m. posisi pada sumbu x = vox. 3.8)2 = √177. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula.3 m/s.8. arahnya setiap saat berubah. Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y.9)2 = 10. dimana vx = vox = 9 m. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2. 25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4. sedang vy = -g.12 = . v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r.t = 9. posisi mobil adalah xo=0.9.3. Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v.04 = 13.9. Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T.8 m/s.1 = -9.t 2 = -1/2. Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at . sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon. sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g.

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. Sebagai contoh. gaya nuklir kuat. kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul. yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. gaya gesek dan gaya pegas. Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. gaya elektromagnetik.29 5 4. F = . Dalam analisis terahir. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam. dan gaya nuklir lemah. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force).(G. keduanya adalah gaya turunan. Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental.1.M)/r2 F = gaya tarik menarik . Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya.m. ada 4 macam yakni : gaya gravitasi. GRAVITASI DAN GAYA 4.

atau : dF/F = -2dr/r . Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya..dg.m. Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya.m. Besar energi potensial gravitasi Ep = ..M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G..(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4.F....m.10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik.dr/r3 sehingga dF/F = .dr/r = ....g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m.. sedang harga ini = Gm...M/r2 . dengan demikian besar g = G.. maka : m. Gaya Hukum Newton : . Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui. atau dF/F = dg/g .M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen. Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m..M/r2 ....M..G..67.M.(2G.m...m.dr = - ∫ -Gm.G.g = Gm..G = Konstanta gravitasi universal = 6..M/r.(1) Apabila persamaan F = m.M/r  Ep = .m..g.M/r 2 .. 2 Apabila persamaan F =G.M.2.dr/r3 ) / G.

berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”.sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut. F = m x a 3. Gaya Aksi = .1 2.F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1. Suatu benda yang diam akan terus diam. maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 .Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4. 31 2. Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan.Σ Fz =0) v Gambar 4.Σ Fy =0 .2 v Benda bergerak dengan v konstan . jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. jadi FAksi = .Σ Fy =0 . sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan. CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam. CARA DINAMIK : a). jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 . Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama.Gaya Reaksi.1. Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar. berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .

8m/s2 ) F=? . Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut.b). dimana g = 9. berarti ada percepatan “a”.8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9. maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar. Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah.

bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift. F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg .8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : .8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong . Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9.a A 100kg B 500kg 800kg g = 9. setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2.

789. hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0.Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9.v2/R = m.14) 2.g .8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m.Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m. Jika peti menjalani 2 putaran per sekon.57m/s2 . Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar.57 = 78957 N.5 s.5 / 0. Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.52 =789.ac = 100.(3.

v2/R = 0.v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m. Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2.g.v2/R m.m. merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping.v2/R F sin θ . sedang pada arah vertikal.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g. baik statik maupun kinetik./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5.R = (2πLsinθ/Τ) /g. Σ Fy = 0 .R  R = L sin θ.g/cosθ )sinθ =m.g = 0  F = m.m.R = 4π L / Τ g. ini pasti harus sebanding dengan m.  cos θ = Τ g. Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F . Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran. Σ Fy = F cos θ .v2/R  tg θ = v2/g.tg θ =m.g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m.Disini tidak ada gaya vertikal. GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f.1 alami gaya gesek apapun. Ada dua macam gaya gesek : 1. belum meng W Gambar 5.R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g. 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g.

maka berlaku persamaan : keadaan bergerak. Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam.N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1.2 1. tentukan massa R b). Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan.Gambar 5. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T . Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg.a).N f s = µs.maka berlaku persamaan : fk = µk. Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak. sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2. Benda diberi gaya F yang 3. Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs.N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan.

5 30o g = 9. Benda P.R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0.B. tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0.2 200kg .Q.g µκ= 0.4 Contoh Soal 3: . dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.5 100kg C B A 30o µκ=0. dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2.8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A.

N = m.g bergerak dalam lintasan lingkaran.200kg Q P µκ = 0.2 µκ =0.2 v konstan R µκ =0. maka f Σ Fx = f = µs. N = Gaya Normal .v2/R . dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R. sedang Σ Fy=N-m. berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil .N. N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs. Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs . .g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m.2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R. f = Gaya Gesek mobil pada jalan.

meskipun jalan licin (tanpa gesekan). Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs.g = m. Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring. Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring . sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring. tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir.m. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir.g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar .Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan.g yang mana merupakan harga konstan.m.g. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan.

g/ maka diperoleh : tg θ = = m. kimia. ENERGI DAN KERJA 6..R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api.g  N = m. Pada keadaan disini.1... elektromagnetik. contoh: 1.v2/R . Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g..g / cos θ) sin θ v 2/ g.v2/R adalah : N sin θ. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan.8. Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik.230} = 15o 40 7 6.R  θ = arc tg {(25)2/ 9.. cahaya.h . Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha). tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m. Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m. penyebab gaya m.1...sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan.(1) Fy = Ncos cos θ . ada dua yang penting yakni : 6. dan sebagainya. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya.. oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya.g..(2) = m. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m.1. panas. nuklir. Disini hanya akan dibahas energi mekanik.v2/R .

s Fcosθ s . Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama.h’ Ek = ½ m. Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya.2.2. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v.1. maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k.1 vmax 2.v2 h h’ v Ek = ½ m.2 k = konstanta pegas .v2max Ep = 0 Gambar 6.x2 6. mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6. Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s.Ek = 0 Ep = m.g. x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6.

besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian.vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh. kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt.a.g. maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m.h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k.g.x22 . Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m. tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil . demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial.t = (vo+vt) t .½ k. sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan.x = m. Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0. hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F .Gambar 6.h2 – m.x x = v.4 dan g =9.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo.½ m.x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2. Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.8m/s2.vt2 . maka Kerja W = F. a = vt-vo .

8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk . Kerja yang dijalani oleh beban tsb d. Tentukan : a. 43 . a = 4m/s2 200m 100kg g=9. Kerja yang dilakukan oleh penarik b.30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2. Kerja yang dilakukan oleh bumi c. Kecepatan akhir beban tersebut.

terminal. yakni merubah besar maupun arah gaya. Transportasi. dan sebagainya.8m/s2 ) µk=0.5 44 8 7. jalan raya. bahkan Kedokteran dan Pendidikan. Pada masa sekarang. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang. seperti : Industri. misalnya gedung.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal. MESIN-MESIN ANGKAT 7.1. Pertanian.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9. jembatan. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek. Di dunia Teknik Sipil. Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0.200kg µk=0. serta banyak bidang yang lain. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan .8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9.

D. tentu semakin baik. M. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama. misalnya: berubah menjadi panas M. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin.A = Fo/Fi . semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan.3. Terdapat banyak jenis mesin angkat. digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan. yakni : 7. Oleh karena itu. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7. baja. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi. dan bahan-bahan bangunan lainnya.R.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat .R.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang. lempengan besi.A. dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D.2. hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin.(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat. balok kayu. batu.

Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal).4. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M. senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen). sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika..A. 7.Α. 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin. misalnya gesekan. (Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya). x 100 % D.So = Fi . sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %. = D. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan.A.Si Efisiensi η = Μ. Macam macam mesin angkat . panas. korosi. sehingga : M. tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D. maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi.R.R.R. Fo.akibat gesekan). kelembaban.

Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). Roda Poros . meliputi : Katrol Sistim Pertama. tidak mempengaruhi harga D. Roda Cacing. Katrol Ganda. a. misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan. maka beban W tetap naik setinggi x m. = D. saja. Kerekan Ketam Tunggal .Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal . jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m. Katrol diferensial Weston . karena.R. Bidang Miring .A. dan Katrol Sistim Ketiga . Roda Poros Diferensial . diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. Dongkrak Sekrup Sederhana . Demikian pula harga D.A = 1. Katrol Sistim Kedua. (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal. Kerekan Ketam Ganda . juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga.R. Dikatakan bahwa. Namun meski kondisi katrol demikian.A. b. Dalam keadaan seperti ini maka M. Katrol Ganda . dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo . Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M. gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M.R. yang diperoleh dari Fo / Fi .

4. MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan. dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas. jika mesin ideal maka MA=DR. disini ada 4 tali.A. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal.2. maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban.Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n . maka : jika mesin ideal. tetapi jika mesin tidak ideal. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no. MA = DR. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n .dan 3) W cukup besar.

maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali.

. Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR. sedang jari-jari roda kecilnya r.Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R.

Dengan demikian. dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). Dengan 2 Demikian. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr. ini membuat beban W .Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga. M. Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So . berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si). maka Si = 2πR.A. atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali.=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. sedang tali 2 turun sejauh 2πr. Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt.MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) .

sedang .naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ .

n2/r. Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali .n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L.n2/(r.n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang. dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L.θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran.

n3.2. maka : silinder .n3/(n2.n1. dan 1. dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4. jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi.n4) Keteranga n: n4.3.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L. sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K. n2.

beban akan terputar 1/n kali. tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda. n2=100 gigi . dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n . n4= 200 gigi . Jadi: MA = R.n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N. maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) . panjang L=1 m n1=300 gigi. adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. n3=400 gigi .2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 .

y2) dari suatu titik acuan 0. y1) x pm = (m1. maka pusat massanya adalah (x pm. dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 .x2 + m3.x3 +.xn) /m1 + m2 + m3 +. m2 = 2kg.yn) /m1 + m2 + m3 +.mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut.y3 +.y1) dan (x2.mn.y1 + m2.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg.x1 + m2.10 8.x1+ m2.x2 . terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat. Pusat berat merupakan fungís gravitasi.x1.y1 + m2. Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(. Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1.y2) / (m1 +m2) m2(.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1.y2 + m3.y2) x Gambar 8.mn.

8533 m y pm =(1.1) = 8 kg m3 (1.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N .866) /1+2 +3 = 0. F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.2) = 4 kg m2 (4.0 + 2.8533 . 0.3 57 .y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8.0.1 +3.-3) = 4 kg F3 Gambar 8.2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0.2) = 4 kg F1 a pm m2 (4.1) = 8 kg P 63o m3 (1. F2 = 16N .0 +3.1/2) /1+2 +3 = 0.0 + 2.

4) /4+8 +4 = 1.75.4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm . maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 . Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2.4) /4+8 +4 = 0.8 +1. Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º.4 + 4. Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N .12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari.75m y pm =(2.8 + -3. dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8.25m Pusat masanya ada pada titik P (1.89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.0.4 + 1.25) . maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17.Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2.89/16 = 1.

m. Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya.v’ – m.v .v’ = momentum akhir . sedang elemen panjangnya dx.t = m. maka elemen massa dm = ρdx . dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F.6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x.7 v P = m x v (kg. jadi : I = F. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t.v’ – m. benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8.t = m. ini dinamakan impuls I.8 59 v’ 11 .v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8.1.dt = m.v (m. dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8. Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’.m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F.dv. Untuk menyederhanakan pembahasan.dx 0 x Gambar 8. Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ.

atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam. gravitasi. masing-masing sudah mempunyai kecepatan. Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah.(m2v2’.I2 .m1v1= .2. ini adalah gaya : aksi = -reaksi. Atau : m1v1’.m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi. demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1.9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan. Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1.F2 .F2. sehingga : F1 = . benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara. momentum.t = . 60 . Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan. dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan.t  I1 = . dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8. keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda.8.

demikian juga untuk partikel-partikel yang lain.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no. apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan.v1. Tumbukan Non Elastis Samasekali a). sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no. dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3.v2. partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2. Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum. 61 . m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).Adapun. Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1. Tumbukan Elastis Sebagian a). Tumbukan Elastis Sempurna a).2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v.3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama.

apm = percepatan pusat massa. Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable.n. Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut. ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas. vpm = kecepatan pusat massa.apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar .v1+m2. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan. m. Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M.vpm .vn sehingga : PTot = M.Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot. Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1. Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya.v2+m3.dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan. Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u. .10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u . demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 . dmana M = massa total sistim . gravitasi bumi. Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas. maka kecepatan pancaran dM/dt Gb.v3+….8. Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya.

dt = eleven waktu. v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar. dan sebagainya. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa . dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata. Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8.(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket. sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir.Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim. Contoh Soal 1. sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt.11 63 . Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. gesekan udara pada roket. Massa total sistim 10000kg. karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u.Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = .

1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru.m1v1 = m2v2 .000(3)+4000(-5) =(10.v1+m2.v1+m2.dM/dt = M.dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam. tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1.000(8)+2000(0)=(10. massa peluru = 100 g = 0.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan. berarti dM/dt = (0.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0. Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10.(1) b).000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna.(-v2) = (m1+m2)v’ 10.000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ . berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a).…. Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali.v1) = m2 ( v2 .v2’ ) …. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 .Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u. Maka u=500m/s.1)(10)/1 = 1 kg/s .000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg.1 = 10000. 500.v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10.m2v2’ m1 ( v1’ .dv/dt 500 = 10000.05m/s. M = 10000kg .

v2’ ) ( v2 + v2’ ) …. sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.v2’2 )  m1 ( v1’2 .v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 .v12) = m2 ( v22 .v2’2 ) atau : m1 ( v1’ .v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’. tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 . maka : v1’ = v2 + v2’.(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) . Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v1 …….v12) = m2 ( v22 .Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 .. Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.……(3) v2’ = v1’ + v1 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s.

1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal.30o---50kg v’ .000.000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga. Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------.1.

. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume . ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young. Untuk membahas elastisitas. Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula.Vo = volume mula-mula ) 1.1 F 2.B. Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta. Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang . Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y. Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9. sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis.2.66 12 9. antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9. didefinisikan beberapa besaran terkait. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk.1. Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = .

θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9.tg θ = S.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah .3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.2 3. maka berlaku persamaan : F/A = S. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.67 F F F F F F Gambar 9.

Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).Y) tembaga ¡ 1000N 69 .Lo/(A.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2. maka : F.1011N/m2 dan luas penampang 0.Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga .Lo/(A.∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F. Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y.2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1.Lo/(A.5m2 dan panjangnya 4m.Gambar 9.Y) baja = F.1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.

GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik).1 0 π/2 π 3 π /2 2π .13 10. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya.1. Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana. Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN. sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan. waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10. 10.

Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k.x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) .ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) . Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m. maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama. f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik. dengan demikian maka : 2 . Ketika EP membesar maka EP mengecil. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = . Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol.-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t .ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[. harga EP adalah nol.v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k. 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1.x2 . demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama.v2 = ½ m[. sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat.ω A sin (ω t +θ)]/ dt = . sedang EK = ½ m. dan ketika Ek maksimum.

(1)  ( k/m = konstan ) .k.x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10.x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = . 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m .2 F = m.a = .k. x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) .k. dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan .d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = .x/m ……. x =sinω t . Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus.k. dalam persamaan (1) ini. x =Asin(ω t+θ) . x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut.a = m. x =cosθ . Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : .d2x/dt2 m.x (Gaya Reaksi) Fb = . Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus. dan sebagainya. tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda.ω A cos (ω t +θ ) = . x =Acos ω t .dv/dt = m.d2x/dt2 = . Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ .k.k. Jadi Periode T = 2π √m/k . misalnya : x =sinθ .x  m. F = Gaya Aksi = m.Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan.

1 m ketika mereka masuk ke mobil.8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0. C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0.2m dari titik seimbangnya adalah 100J. Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 . Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4. B).72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). Tentukan besar harga konstanta pegas k ! . Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N. Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b). Kecepatan pada saat 3 s. Percepatan pada saat 6s.π/6) a). hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9.

a = m. Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.x/m – (b..d2x/dt2 = .x Fr = Gaya Redaman = .dx/dt atau : d2x/dt2 = ..e t …….Fb .b.2.k. bisa diambil harga : b/m = 2r . m = massa (konstan) Gambar 10. .(2) α.b.dx/dt)/m d2x/dt2 + (b.Fr  m.misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair. Redaman juga berasal keadaan. dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m.x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = .dx/dt  b = konstanta.3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = . k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C.k.dx/dt)/m + k.73 14 10.x . F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman .k.

Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0. oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga.e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2. meskipun sangat kecil. α. ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu.. C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif. maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0. atau : r2 = ω 2 .t α. α.e α..…. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran.. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran.exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta. yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1. Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED.e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α.e t = 0  C.e t + ω 2C.. harga ini tidak memenuhi persamaan (3).e = bilangan alam = 2.(3) Pers.e ( − r − √ r2 – ω 2) t …. α. C. ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 .e t mempunyai harga.t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C. .e α.t + 2rα C. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r. ini bisa ditulis : x = C1.e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C. menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif.718281828… .exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2.

e ( )…. e = 2. dimana a dan θ Maka : x = e − r. disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah. t + C2. jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 .ω ’) t + C2.θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.i. r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t .t (C1(cosω ’t + i.ω ’) t − r.sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ .sinω ’t) + C2(cosω ’t .e ( − r + i.. e − r.e + i. √ (r2 – ω 2) adalah imajiner. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a. Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r.t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) ….t = faktor redaman .ω ’) t -i. cosω ’t + a.θ − r. e − r.e ( − i. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam .71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam . + C2. ω ’.(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ .Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.ω ’) t − r − i. dan e sinθ Maka pers.cosθ. f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) . e +i. Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM.sinθ.t ω ’. t − i.e + i.e ( =e (C1.(5) a.t (C1. jadi : . e − r.t = amplitudo getaran terredam .t − r.t (a.

t -a Gambar 10.. e − r.t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan..t sin (ω ’t +θ) + a. yakni ada daya yang terhambur keluar sistim. e − r. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek .v = dx/dt = −r. e − r.t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu.(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r.t t −a. yang berarti mengalami dissipasi daya.4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang. e r<< ω maka : −r.t − r.. e − r. e − r.. e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a. a.t ω ’cos (ω ’t + θ) .a. sehingga besar kecepatan v : v = a.

. e − r. e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = . sedang Ek = ½ m.a2..Ep = ½ k. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k. getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda.d2x/dt2 .(a.a2.. e − 2 r. e − r..a2. e − 2 r.t P = r. e (watt)…. K.t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k.a2.t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k.dET/dt = . e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m.ω 2 = k .. e θ) ET = ½ k..t − 2 r.t − 2 r.t (joule).. besar ω ’ = ω Ek = ½ m..a2. e −2 r..(8) 15 10. Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k...a2..v2= ½ m.a2.x 2 .a = m.a2.x 2 = ½ k(a.. sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k.3.t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r..t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k...t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r. e − 2 r.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r. misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m.a2.. e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ .t Ek = ½ m.t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m.a2.Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini.a2.....d(½ k..t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k.t − 2 r. e 77 −2 r.v2 .

(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) .d2x/dt2  d2x/dt2 +k.Fb = Gaya Balik (Reaksi) = . dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m)..x = m. maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k. xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) . f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k... atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat. sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10. dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t..5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa .k..ω ’’2).(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1). sedang harga xp = C sin ω’’t…….x/m = Fmax sin ω ’’t/m…..(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t..x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus. C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m .. ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient.. terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar .

x .Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek.x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m. Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.6 d2x/dt2 = .b. dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar.d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .d2x/dt2 = . dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.b.k.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m .dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10. Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = .a = m.k.k.4.dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m.

t -θ ) +ω 2A sin (ω’’. maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’... d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’.(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’.t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ ..... Fmax /m = fmax ( Ingat ..d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k.t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’.t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’. bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t ……. maka ... fmax disini adalah gaya per massa.…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’..t -θ ) …. sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan ..x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 . (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan..(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ ..t -θ ) …(3) . b/m = 2r .t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1).. demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan..

.. Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : .. fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan....... 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t... diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 . (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)………....... (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2..... dan ω’’...........fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’.............. (8) (Ingat..fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2....{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.....

maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π .Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum. ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil). sedang ω’’ = 2 π f’’.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!). maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π …. yang dinamakan Frekwensi Resonansi.Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2). sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum. Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. dimana f = frekwensi getaran alami. Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) . jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat. Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f . dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran.…………… .

serta konstanta redaman ”r”. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω. semakin besar harga amplitudo maksimumnya. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami. Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami.Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. semakin kecil redaman. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa. Untuk redaman kecil. frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil .

dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar. ketika redaman ”r” bertambah. puncak bergerak kearah bawah. Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω .π/5) .05t cos (2πt/3 . yakni ketika nggak ada redaman. Pada saat ω’’ bertambah. Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. Lebih lanjut.5 ω ’’> ω 1 1.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil. Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman. amplitudo cenderung kearah nol.(d) r = medium r = besar 0 =ω 0. yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. maka resonansi semakin tajam. (c). 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi. amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman. Kurva (b). Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman. Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar.

Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis. frekwensi sudut paksa 0. tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9. Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 . 2 dimensi. Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa.Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2.π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N .8m/s2 2 85 17 11.02 . Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik. GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat.04 . Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : . dan konstanta redaman adalah 0. Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi. sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis. massa benda yang bergetar 100kg . frekwensi sudut alami 0.06 . dan 3 dimensi.

Dalam perhitungan teoritis.A) (J/s. dt = elemen waktu .t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv.dimana : E = elemen energi .(2). karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2).t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1).dA) (J/s. sering dihitung secara elementer. dA = elemen luas) . sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt. demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) .m2).t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω.dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut. fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v.m2) . Jadi I = E/(t.t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang.t (3) x y = f(x-v.Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini. perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t. fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v.

t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t. dA= elemen luasan.m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV . adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa. sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA. maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t .t)] = ½ µdx ω 2. ym cos(kx-ω.A)=dE/(dt.v2 maka dEK = ½ dm.dA) J/s. ym cos(kx-ω. Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik. ym2 + 1/4 µdx ω 2. sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus.ω.t)] 2 = ½ µdx ω 2. atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) .t)] 2 dEK = ½ µdx[.v2 = ½ dm[. ym2 cos2 (kx-ω. ym cos(kx-ω. Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas. dapat diperoleh besar energi total rata-rata. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) .ω. ym2cos2 (kx-ω . jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω. berarti setiap saat harganya tetap sama.Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik.A E I = E/(t. yang . dV=elemen volum.t) .t).ω. maka dengan menghitung salah satu saja. Besar energi kinetik EK = ½ m.t)]/dt = . ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata). ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω.t))] = ¼ µdx ω 2.

ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi. Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20.ym2 dimana (µ/Α) = ρ. ym2 = 1/2 µdx ω 2. ym2 + ¼ µdx ω 2. Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik.v. ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.v.ω 2. diatas 20. Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang. rataratanya=0). ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2. ym2 . termasuk Gelombang Bunyi. disebut frekwensi Audio .yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi. Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik.harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1. sedang minimumnya = -1.ω 2. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut. ini sama dengan P = 1/2 µ.000 Hz. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α). v.000 Hz = ultrasonik. BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia.ω 2. 88 18 11.1. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s. dibawah 20 Hz = infrasonik . sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.

yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2.1). berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. dan S ke C = 30m. besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB. Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. S ke B = 20m. Besar Daya dari sumber S b). Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang. Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m.10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB . yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB . Intensitas di A dan di B c). Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium. tentukan : a). Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! .

atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri. 1. 90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula. Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut. Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama .C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. ( Berarti periode To = 1/fo ). Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium. gerak penerima bunyi pada suatu medium. merambat dengan kecepatan terbatas.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi. Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b). Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo. atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat.

panjang gelombang nya tak berubah. Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium. 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan.(simetri) kesegala arah. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v). dan panjang gelombangnya λ = v/fo. Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v). Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs. kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah. . sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang.vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] . Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang . maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs. dan lebih panjang terhadap arah –vs. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo.To = vs/fo. Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . panjang gelombangnya juga tak berubah. Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang.

kita dapat tahu siapa yang bergerak. Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo .|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3. misal pada sumbu x. Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis. dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama. sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. frekwensi yang dirasakan berkurang. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang. diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. vr dan v mempunyai tanda yang sama.|vr|)/ λ = fo . jadi benda yang diam senantiasa ingin diam. Jika kita tahu kecepatan relatif. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo. Setiap kecepatan termasuk gelombang. dan vr mempunyai tanda yang berlawanan. Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain. sumber atau pengamat. Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang. kecepatannya sekarang: v ’ = v .Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi. MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan. f ’ = (v . maka kita dapat menggabungkan keduanya. demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan . Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12. v’ = v – vr .|vr| .

r32 + mn. Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA. Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I). Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) .rB2+mC.r22 + m3.1. dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi.02+1.r12 + m2. Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.rC2 = 2. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya.32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m .02+5.rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1.ri2 = m1. Partikel A. B. dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar .geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.rA2+mB. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi.

dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar.L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . dA = elemen luas . Tegak lurus pada ujung tongkat b).C 1kg 12. dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a). dV = elemen volume . Jadi : dV = elemen volume . Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ. dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm. dimana : dm = elemen massa = ρdV . R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm. ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm .2.

Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya. maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2. satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja. sedang M = 2m. sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M.(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M.d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel.d2  disini d = L/2. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a). maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b.Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b). . Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm).

a.b  Massa M = σ.z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a. I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 .b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat. berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel. Contoh 4.

(ρΑL = m = massa silinder pejal .1/4[r4]oR = ½ m.R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m. dimana dm = ρdV . Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R. L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5.R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm. ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL.

5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0.1.2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R . r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R.r x dm = ρπr2dx .2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV. Fluida Statis . sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3.2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R .5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13. FLUIDA (ZAT ALIR) 13. maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x . maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 .

Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat.Α. A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) .g = P.3 Pa dF=dP.dV.g F=P.A  dP = . Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P).g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis. Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P. gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F).dy.A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy.A dy y A dW=dm. yakni zat yang dapat mengalir. Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa .A + ρ.g = ρ.dy. Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133. dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja .A Fluida adalah zat alir.dy  Jika persamaan ini diintegralkan .ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW).Α.A + dP. terdiri dari zat cair dan zat gas.g. Maka : F+dF+dW = F P. dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF).ρ. 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi.g = ρ. berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 .

h P ρ=rapat massa ∫dP = .h. dan gaya akibat berat balok F = m.y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po.g = ρ.A – Po. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h.A .g.A.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral.y.g. Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ.h.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ.ρ. g.A = Po.ρa. sedang P=F/A.y.A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0.A + ρg.h. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po.A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po.y. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa.g.Α.A = ρ.A +ρa.g.ρa.g.ρ.A maka diperoleh : ρ.A . Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g.h.h = ρa.g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri.A + –F keatas = . Berdasarkan rumus : P = Po + ρ.∫dy  Po – P = .g.A.g. dengan demikian volume balok adalah V = A.h. maka : Fkeatas = P. Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air.h.

g. ρ = ρa F keatas .g.h. Fapung = ρa.y.V . V’=V .ρa.h.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .A = ρa. dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ. (a) F netto = 0 .g.A atau h. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh.g. V’<V .g. Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan.g. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan.A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force).V’ = F = ρ. Jika ρ=ρ a.A) .g.A. ρa.A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y. balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h.A .g.ρa.tenggelam.V . Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ.V’ = ρ.h.h.g.g. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto.h. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.h.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg.g.A . Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.g.A – 0 = ρ.h.h.A – ( ρ.A) = ρa.h.h.A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa.

lebar W = 0. V’=V .y=h F kebawah © F netto = ρg.6m.8m. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m. Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? .A .ρa.A .g.h. tinggi t = 0. dan massa M =200kg.h. Bak tersebut terapung di danau.

Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon. Bak akan tenggelam pada saat y = t.g = M.M)/m = (1000.t.m.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5. Sebelum tenggelam.y. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair.g+x.W. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung.0. Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0.W.m)g . secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0.1m.t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah.0.m)g..t. persamaan keseimbangannya adalah : ρair.8.t.L.Dalam hal balon tidak tenggelam.W.W.6.L.g .1. Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya.L. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y. Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam .g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair. tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam.  ρair.g = (M+x. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah .L.

1 / 3(11300) = 0. maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t . tidak ada gesekan internal. A1.dt dm1 = dm2  Maka : .g  Wa = Wt.1m) 2 2 2 2 T 21 13.v1.ρa.v1.2.0029m<<0. antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks.g Wa = 4/3 πR3 . Berat timah Wt =4 π R t. dan sebagainya.0. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu. misalnya terjadi pusaran aliran.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga .ρ. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1. tidak dalam keadaan terkompresi.v1.ρa. atau 0. timbulnya gesekan internal. Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal. alirannya tidak turbulen ( berpusar). Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1. dan sebagainya.g Jadi tebal kulit timah balon t = R.0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R.ρa / 3 ρ t = 1000.g = 4 π R t. Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum).sehingga jari-jarinya adalah R – t . A1. v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ. maka besar dm1= ρdV1 = ρ. maka : t 4/3 πR3 .g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa.Vt. dimana t=0 R T karena sangat kecil.ρ.dt dm2 = ρdV2 = ρ. A1.

atau : A1. Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam .A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya.v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1. A1.v2 . . sedang luas penampang pipa atas = A2 . Luas penampang pipa bawah = A1.A1 v1 ρ dm1 ρ.v1 = ρ . A2.v1 = A2.

h2 = ½ m.v22 − m.g.v22 − m.g.v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .g.g.h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung. sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2.m/ρ + m.h2 + ½ .v12 ½ A1∆L1 = A2.v22 − .Kemudian pada gambar (2). gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 .g.h2) = ½ m.v12.h1.∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 .h1 + g. Pada peristiwa ini.g.v12 .v22 − m.ρ v22 + ρ g. ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ . sehingga : P1.m. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan .h1.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.h1.h 1.h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2.h1.m. Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m.∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ . sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m.∆L2 + (m. tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1).m.m.h2) = ½ m.g.g.g.h1=P2 + ½ .m.ρ v12 + ρ g. Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.g. sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.∆L2 + (m.m/ρ + P2.v22 − m.v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2.g.∆L2 + (m.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.v22.

Dengan kata lain. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan.gaya dorong keatas oleh zat cair. ada pergeseran sudut kecil. 107 M 1 A B 2 . benda akan terapung. tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam. Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam. Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi. kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan. Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi. Jadi. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “. dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan. dengan kata lain. Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre. Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung.

Dalam rancangan modern. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung. Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya. Sebagai akibat rotasi. pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1. Maka segitiga . Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1. maka ia akan semakin stabil. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O. kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air. tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya.

Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam. sedang panjang kapal L. Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ. L/12 = ρ b2θ.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ. b3 θ.m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ. L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!).L/8 x 2b/3 = ρ.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/. Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3.aom telah keluar dari air.L/12. Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ.I. sedang segitiga ocn berada dibawah air. adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal.L/8. Kedua momen ini adalah sama besar. Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ. sehingga am = b. Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama. sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ.b3 θ. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M.L/8. (Ingat. Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam. pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!). Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil. maka : ρ. maka : ρ. Apabila lebar kapal adalah b.BG .L/8 x B1B.

sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh.9 gr/cm3 .8m/s2). hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9.4 gr/cm3. Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1. (g = 9.8 m/s2) .2 m2.Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut. Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0.5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0.105 N/m2.8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0. sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s . 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0. Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B . ( g = 9. Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm.9 gr/cm2. Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam.

Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair).8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical.4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0. dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian . maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0. Kecepatan aliran di pipa 2 b).A1 = luas permukaan tangki .2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m.9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0. jadi specific gravity = ρ/ρair .8 x 3 = 2. A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a).4 m. A2 = luas pipa 2 . Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0. Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0.

b3/12=1.2 x 0.0064/0.2m.3m dibawah puncak .5m.1152m3. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0.5-1.065m.2m B ke G = BG = OG-OB = 0. dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2.24m.15m.3 terapung dalam air.2 = 0.0.4 π = 0.bawah silinder.2x0.12m.4/2 = 1.27 π m4. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0.4 = 5.27 π/5.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1. Maka jarak dari 1.2(0. Jadi BG = OG-OB = 1. Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0.24 = 0. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0. OB = 2. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.4 x 0.235 – 0. Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).3/2 = 0.4 π m3 . G 0. silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.15-0.8 dan berukuran 1. Jadi.3 = 0.2m.235m.8 x 0.0064m4.026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1.Adapun volume air yang dipindah V = 1.24/2 = 0. BM = I/V = 1.056m. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L. maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1.3 = .4x0.03 = 0.03m. Dengan demikian.1152 = 0.12 = 0.4)3/12 =0.056 – 0.

Diameter benda yang terapung = 2m .8m 1.3m .2m O 0.6-0. Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0. Kedalaman silinder 1.2/π = 0. OG = 0.2-h) = π(1.2 = π/4 (2)2 x (1.silinder.2m3.7  113 . Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0. OB = 1.2-h) = 2.2-h)  (1.3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung.6m3. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.4m3 .6m3.8m . Total volume air yang dipindahkan = 2. Jadi 2.2m .4 = 2.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2. Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.

2 – 0.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0.92mBG = OB-OG = 0.5+(1.Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0. Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut.7 = 0. Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0.2-0.85m. 2α = Sudut puncak kerucut . Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas.85)}/(0.7854m2.75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α .2) = 0.8 = 0.92-0.3)+(2.5)/2 = 0.302m.75 l . (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !).12 = 0.182 m.75 l tg2α  GM = BM – BG ! . BM = I/V = 0. l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair. BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0.0 = 0.7854/2.5m. D =Diameter . L = Panjang Kerucut .302 – 0.4+2. Maka : OB = {(0.2x0. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair . Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0.4x1.Maka h = 1. Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0.

ΣFy=0 . Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol. sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. jadi : Στ =0 (Στx =0 . Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi. jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 . sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi. τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ .114 22 14. Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1.ΣFz=0) 2. Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol.Στy =0 . (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) . KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. O = titik acuan. dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F). Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada.Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F. jadi τ = r x F .

diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran. Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar. sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N. maka : +4. 9m µs=0. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. Contoh Soal 2. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1. maka N1= 600-350=250newton.Jika searah putaran jarum jam.4 . Jika berat jembatan 800 N.200-8.W1+6W2-8N2=0 .. Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0.400+6.N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton. 4. maka +W1+W2-N1-N2=0 . Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk.uhuk.

kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik.116 Jawab : Buat acuan O. misal di ujung bagian bawah papan miring. pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak.4. 800N. Maka : O x N2 12m h . Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter. karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 . 2)Στ =0 . Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N. dan N1 (Tak ada torka oleh N2). Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 .µsN2 = 0  N1=0. posisi mahluk berada pada ketinggian h. Menurut teori trigonometri.1200 = 480 . Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter. maka : N1= 480 newton. dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O.

h : 12m = 8.2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0.3 = 0  5760 – 400. jadi . tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! .5m g = 9.x – 2400 = 0 .3 = 0  N1= 480 newton.000N. x = 3360/400 = 8.+12.4)(12)/(9) = 11.N1 – 400.480 – 400. Menurut perbandingan trigonometri.4m B B adalah 54%.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8. h : 12m = x : 9m = t : L .4m. sehingga:12.x – 800. Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2.x – 800.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10.

1.1. dimana ∆T = perubahan temperatur. apabila suatu benda memberikan panas . 15. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer. Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K. adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m. m = massa benda. Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer. Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu).2. diberi simbol Q. Berdasarkan Asas Black.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain.1. ∆T joule. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah. atom-atom. PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15.c. dalam satuan kelvin (K) . Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal. Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15.1.c ∆T . c = Q/m. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul. atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4.118 23 15. Persamaan ditulis : C = Q/∆T.

∆Τ1= m2. Lo Lt ∆L . Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu.c2. akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t.kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama. misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t.3. a.c1. Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan. m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 . c2 = panas jenis benda 2 15.1. Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang. sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan. Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 .

α.xo.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas.yo.∆y + yo.xo.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda.Lo.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo.yo xo ∆x ∆x.yo∆t (2 + α. Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo. ini berarti α. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y.α.∆t.∆t) .t + αxo.Αο. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x.∆x = xo.∆t = α. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to.αyo. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo.∆t) .∆t + yo. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.∆y + ∆ x.t ) 120 b.∆t. atau At = Ao (1 + 2α. sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo. sedang ∆t = t – to.∆y ∆y yo.∆x yo Ao = xo. dimana xo.

suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF. pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah.Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : . maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ. Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K.∆ t) c. suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or.2.∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda. 121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC.∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ .

dT/dx .1. 3. beton. dan fluida lainnya.A. ∆T/x . dimana : dQ = elemen panas yang mengalir . misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar. udara. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1). 122 15. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi.∆T/x . satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = .k. suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = . misal air.A. misal : besi. Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = . 2.A.2. dan sebagainya. Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah.k. Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut. Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya.k. dinamakan arus panas H.t.1. tembaga.

dt = elemen waktu . menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1).T1.…………(2) Karena H1 = H2 maka : .x2 + k2. Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .A (T2-Tx)/x1 = .. akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : .k1.A (T2-Tx)/x1 ……….x1+k1.k2.A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx .k2. Tx = k1.x1 / (k2. Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2.…….T2.(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = .A (Tx-T1)/x2……. maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state).= tanda negatif.k1.x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).

dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = .dr/r = ....L.A.L.H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan. karena mengalami pengembangan luas. maka H = ...dT.L. . 2 π.dT/dr.r.r. dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +.xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan.2 π. atau : H.k.. oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral. Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1. luas permukaan elemen silinder : A = 2 π.k. namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar.k.dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal). secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k .

L.k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state.k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar.L.ln a/b = . jari-jari bagian luar pipa b. maka besar suhu T = T2. Jari-jari bagian dalam pipa adalah a. besar suhu T = T1.ln(b/c) + k2.ln b/a = + 2 π. H.2 π. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah.k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1. H1 = H2 maka : 2π.k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π. H.T1.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π.ln(b/c) . H (ln a-ln b)= -2 π. apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state.L. L.ln(c/a) / k2.(T2-T1) . dan suhu di bagian luar pipa T1 .L.L.k.(T2-T1) . sedang untuk r = Rb. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π. Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1.L.T2.L.k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π. sedang jari-jari sambungan adalah s.k∫T1T2 dT .L. Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan.ln(c/a)+k1. suhu di sambungan Tx. Hargaharga ini merupakan batas integral.k. Suhu di bagian dalam pipa T2.Untuk r = Ra.

k.A. maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. k3.dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) . r3.Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π. r2. dan k4. r1. dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1. k2. dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah). sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = . L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2.

Koefisien konduksi bahan 1 = 0. besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = .dr /r 2 = -4 πk.k.dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a. dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung.4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda. Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC.K.m. Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC. bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a .A = 4 π r2 . besar suhu = T2 Untuk r = b. Tebal kedua bahan sama yakni 4cm.04 J/s. H = .48 J/s.m.4 πk ∫ T1T2 dT . H [ -1/r ] ba = . 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H.K. sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0.

04+ln(20/16)/0.33L/6.81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar).L(60-20) / [ ln(16/12)/0.178 J/s = 251. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.04 ] = 2π. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.58] = 80πL/6.465 = 80πL/7. .66 J/s = 251. berarti daya konduksi panas lebih besar.178 = 40.33L/7.192+0.599+5.48+ln(20/16)/0.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.L(40)/[0. Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil.66 = 32.48 ] = 2π.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π.L(40)/[7.68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.

129 25 16. sedang massa elektron = 9. Benda-benda . Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom. Muatan listrik proton = +1. jadi dapat diabaikan.6.10 -19C.10-27 kg. berisi elektron (e) 16.1.10 -19 coulomb (C). sedang muatan listrik elektron = -1.1. Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti. STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom.6. sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan. sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif. berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom. massa netron kurang lebih sama dengan massa proton.10-31 kg.67. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral). Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut. Massa proton = 1.

. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6. dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron.. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah.2.3. proton. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1.yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul.3. Banyaknya elektron disetiap kulit .2. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon. Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole. dan lain sebagainya. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu. molekul.10 -27 23 butir. Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain.4. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya. atau kalau dibalik.10 besarnya 1.u. mungkin atom. ion.N. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a.4..1. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom. 16. elektron. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik.022. dan seterusnya. Jadi jumlah zat itu. (atomic mass unit) dengan simbol u yang kg. Tempat kedudukan elektron pada n = 1.M.67.m.L. Elektron terdapat pada kulit atom. dan seterusnya dinamakan kulit K.. Empat bilangan kuantum electron adalah : a.1..

dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 . bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2. sub kulit 2p ( n = 2. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n. Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 .. -1/2.. -(l-1).( n-1 ). Harga m nya mengikuti rumus : -l.. b. terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. maka m = -2. Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1).2 ..2. -1.f.+(l-1). +1. Jadi apabila l = 1. +1.. +1 Untuk l = 2.2. akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1.3.. +2 d. dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 . l = 0. -1/2.4.1. 0.... +1/2.1. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada. Jadi untuk l = 0 maka m = 0. Orbital l = 1. Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1).1. 16. dan seterusnya..m..maksimum adalah 2n2. -1/2.l. maka m = -1. Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada.. dan sub kulit 3s ( n = 3. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 . 131 c. Jadi apabila n = 1 maka l = 0.3. 0. dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s.. dengan s = 1/2 dan .0.p. l = 1 ) berisi enam elektron. 0. Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah.d. Maka apabila m = -1. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1. +1/2.. l = 0 ) berisi satu elektron.….2. l = 0 ) dan 2s ( n = 2. Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0.+l. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron.

banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3). -1.1/2.-1/2. -1/2. 132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 . untuk l = 1 maka m = -1. +1. 1/2. +2.-1/2.1/2.-1/2.-1/2. dengan s = 1/2.1/2. apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2. untuk l =2 maka m = -2.+1 dengan s = 1/2.0.-1/2.-1/2 .-1/2.1/2.1/2.-1/2 . 0.32 = 18 buah. ( Ingat.

1/2. sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2. 1 . Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif.-1/2. 1/2 -1/2. dengan . Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0.-1/2 16. 8 buah di kulit L.2. -1/2. Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah. yakni 2 buah di kulit K.1. -1/2.+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2.-1/2. -1.1. +1. Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli). -2. 1/2. -1/2. -1/2. 1/2. 1/2. -1. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2. 1/2. 0.2.-1. serta 1 buah di kulitnya yang terluar M. 0. dan 2 l = 0 . Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain. 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1. 1/2.0.+2 133 Jadi semua m ada : 0 .1/2.+1. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17. (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik). -1/2.0. +1 .

Ikatan molekul H2 b).perincian : 2 buah di kulit K. 8 buah di kulit L. Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b).2. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”. Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron . yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron. Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion. Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16.2. Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar. dan 7 buah di kulit terluarnya M. Akhirnya.

Physics for Science & Engineering. Engineering Mechanics: Dynamics. Glaucester. H. 2002 Kelvey. Mechanics for Engineers... 1994 Counihan. 1981 Enge...1974. Ltd. New Jersey.karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama.. Laxmi Publications Ltd.. Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron.R..H. S. Harper & Row Publishers.. Prentice Hall Inc. Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal.. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics. Eurasia Publishing House Ltd. A Dictionary of Energy. Johnston. Newton Physics Books. Routledge & Kegan Paul Ltd. 1987 Burton. Physics for Scientists and Engineers.3. NY. P. 2004 Marmet.T.Chand & Company Ltd. Introduction to Nuclear Physics. J. Gasiorowicz. Singapore.. London. Grotch.. NY. F. Engineering Fluids Mechanics.. 1993 .. Addison Wesley Publishing Co. 16. Prentice Hall Pearson Education Asia Pte.. P.L. 1978 Khumar. NY... 2006 Khurmi.. Introduction to Dynamic System Analysis. A Text Book of Engineering Mechanics. R. New Delhi. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak.2.... A Text Book of Engineering Mechanics. M. New Delhi.D. 1996 Hibbeler. 2004 Beer. 4th ed. Mc Graw Hill International Edition. Fishbane. New Delhi.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya. R. Mc Graw Hill Book Company..

J. NY. Theory and Problems of Vector Analysis. Concepts in Physics. 5th ed. Sounders College Publishing. 1974 Mittal. T.. Engineering Mechanics : Dynamics.L. University Physics. Anand J. NY.. 1997 Young. New Delhi.Meriam.. M.. 1992 Miller.. P. Metha. Freedman. 4th ed. Harcourt Brace Jovanovich Inc. P. 9th ed. Virginia. Mc Graw Hill Book Company.. Kraige. 1998 136 .. The Fairmont Press Inc. John Wiley & Sons Ltd.. Hand Book of Energy Engineering.. 1994 Spiegel. Dillon.L. Massachusets.. 2003 Merken. 1974 Thumann.G.. A. Physical Science with Modern Applications.. A Text Book of Sound.. Har Anand Publications. Addison Wesley.. F.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.