FISIKA TERAPAN

Penyusun:

Hidjan AG, MSc.Eng
Jurusan Teknik Sipil

No. Diktat : 14/K7.A/UP2AI/2009

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
Agustus 2009
Konsultasi : HP. 082124368899

PRAKATA
Ilmu Fisika merupakan komponen penting yang menjadi tulang punggung pengembangan berbagai macam Teknologi dan merupakan mata kuliah yang diajarkan di berbagai fakultas eksakta seperti Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Pertanian, Farmasi, dan sebagainya. Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai dasar teori dalam perancangan maupun pelaksanaan proses proses industri seperti dalam bidang konstruksi bangunan, mesin, energi, dll. Dalam buku ini disajikan materi yang topik topiknya dipilih untuk menunjang beberapa mata kuliah lain terkait yang ada di jurusan Teknik Sipil. Materi yang disusun terdiri dari Kinematika, Dinamika, Statika, Panas serta Teori Atom dan Molekul. Kinematika merupakan bagian dari mekanika mengenai gerak benda tanpa pembahasan terhadap massa maupun gaya dari benda yang bergerak, sedang dalam Dinamika maka juga dibahas massa maupun gaya dari benda yang bergerak. Adapun Statika merupakan bagian dari mekanika yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan. Adapun Panas sebagai topik yang diperlukan untuk menjelaskan kondisi yang mempengaruhi suatu bangunan serta Teori Atom dan Molekul sebagai basis Ilmu Bahan, merupakan materi yang juga perlu disajikan karena banyak terkait dengan bidang Teknik Sipil. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan, terutama para mahasiswa jurusan Teknik Sipil.. Kami menyadari penulisan buku ini tak lepas dari kekurangan. Karena itu berbagai masukan, saran, maupun kritik konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan agar kwalitas buku ini dapat disempurnakan. Wassala m, Depok, 26 Mei 2009

Hidjan AG i

DAFTAR ISI
Prakata...............................................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii 01. Pendahuluan.................................................................................................1 02. Sistim Satuan dan Analisis Vektor................................................................3 03. Kinematika.................................................................................................19 04. Gravitasi dan Gaya.....................................................................................30 05. Gesekan......................................................................................................36 06. Energi .........................................................................................................41 07. Mesin-mesin Angkat...................................................................................45 08. Momentum dan Tumbukan........................................................................56 09. Elastisitas..............................................................................................................67 10. Getaran Mekanis........................................................................................70 11. Gelombang Mekanis...................................................................................86 12. Momen Inersia...........................................................................................93 13. Fluida........................................................................................................99 14. Keseimbangan……………………………………………....………………….115 15. Panas dan Perpindahan Panas..................................................................119

.... gedung pencakar langit.... Untuk jurusan teknik sipil..... dan Teori Gempa. Hampir seluruh kemajuan teknologi yang ada di dunia ini tak terlepas dari kontribusi Ilmu Fisika. jembatan. Mengingat materi ilmu fisika begitu luas maka topik topik tertentu dipilih agar sesuai dengan bidang ilmu lain yang ditunjangnya...16.. komputer.... Tujuan Pembelajaran Umum Buku ini disusun dengan tujuan agar para mahasiswa jurusan Teknik Sipil mampu memahami prinsip-prinsip dan konsep konsep dasar Ilmu Fisika sebagai pengetahuan . 1..... Gambaran umum mata kuliah Fisika Terapan Fisika merupakan ”Basic Science” yang terkait erat dengan banyak disiplin ilmu yang lain terutama bidang teknik dan rekayasa... kapal laut.......... dan sebagainya pada dasarnya semua dibuat berasaskan teori teori dan konsep konsep ilmu fisika.... dan dalam buku ini pembahasan ditekankan kepada mekanika....1....... Mekanika ditujukan untuk mendasari matakuliah Mekanika Teknik.... dipilih topik topik fisika yang terkait erat dengan disiplin ilmu teknik sipil.. sedang teori panas dan pengetahuan atom-molekul ditujukan untuk mendasari Ilmu Bahan....... PENDAHULUAN 1..130 ii 1...... Atom dan Molekul. Adanya pesawat terbang....2.................. Mekanika Fluida. serta sedikit teori panas dan pengetahuan atom-molekul...

Kemudian juga dibahas topik topik mengenai Panas dan Perpindahan Panas serta Atom-Molekul yang terkait dengan disiplin ilmu Teknik Sipil.4. Gerak lurus dengan kecepatan berubah. ilmu mengenai gerak dengan pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak dan gaya penyebabnya. Getaran Mekanis. Mesin mesin Angkat. Sub topiknya adalah : Gesekan. 1. Momentum dan Tumbukan. Kinematika. Kemudian Dinamika. Kerja dan Energi. Gerak berputar.3. Adapun Statika. dan Gerak berputar dengan kecepatan berubah. 1 1. Gambaran Umum Isi Diktat Diktat ini berisi topik topik yang terdiri dari Kinematika. Sub topiknya mengenai : Gerak lurus. Gerak Parabola. Statika. merupakan ilmu yang membahas benda yang berada dalam keseimbangan mekanis. Dinamika. Proses Pembelajaran . serta Atom dan Molekul. merupakan ilmu mengenai gerak tanpa pembahasan terhadap massa dari benda yang bergerak maupun gaya penyebab geraknya.fundamental untuk menunjang beberapa matakuliah lain yang terkait kemudian dapat menerapkannya di lapangan sesuai dengan keperluan. Gerak melingkar. Momen Inersia. dan Gelombang Mekanis. Teori Panas. Gerak lurus dengan kecepatan konstan.

massa. pengembangan ilmu dan penerapannya di lapangan sesuai dengan bidang mereka. Satuan panjang dalam sistim ini adalah centimeter. Sistim Satuan Sistim satuan yang digunakan dalam buku-buku Fisika sering berbeda satu sama lain.Pembelajaran dilakukan dengan kombinasi dari metode konvensional dan SCL (Student Centered Learning). disempurnakan. Satuan panjang dalam sistim ini adalah meter. mengenali bermacam-macam sistim satuan yang telah disepakati secara internasional dan dapat melakukan konversi antar sistim satuan. 2 1 2. massa. SISTIM SATUAN DAN ANALISIS VEKTOR 2. kilogram. seluruh pembahasan dalam buku ini menggunakan sistim SI. Untuk selanjutnya. menjadi hal yang penting. dan waktu. satuan massa adalah gram. Sistim satuan MKS ini kemudian dikembangkan. dan disepakati secara internasional menjadi Sistim Internasional SI (Le Systeme International d’Unites). satuan massa adalah kilogram.1. dan waktu. Ada tiga sistim satuan yang telah dipakai secara universal dan diakui penggunaannya diseluruh dunia yakni : 1. Metode SCL dimaksudkan agar para mahasiswa lebih aktif dan terlatih mandiri didalam proses pembelajaran. Oleh karena itu. CGS (centimeter gram second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. second) : sistim satuan ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. MKS (meter. . 2. dan satuan waktu adalah sekon. dan satuan waktu adalah sekon.

akan mempermudah proses Contoh Satuan dalam Sistim Satuan CGS: BESARAN Panjang Massa Gaya Energi Waktu Suhu NAMA SATUAN centimeter gram dyne erg sekon celcius o SIMBOL SATUAN cm gr dyne erg s C Contoh Satuan dalam Sistim Satuan FPS (British System): BESARAN Panjang NAMA SATUAN foot SIMBOL SATUAN ft .205 pound massa (FPS). gaya. Demikian pula. second): sistim ini berdasarkan pengukuran terhadap besaran panjang. satuan gaya adalah pound. 3 Setiap satuan dalam suatu Sistim Satuan dapat dikonversikan menjadi satuan dalam Sistim Satuan lain.37 inches (FPS). dan satuan waktu adalah sekon. Dalam sistim satuan FPS terdapat dua macam satuan pound yakni pound massa (untuk satuan massa).. pound. 1meter (SI) = 100centimeter (CGS) = 3. Satuan panjang dalam sistim ini adalah foot. Dengan mengenali dan memahami satuansatuan yang ada dalam tiap sistim maka pengkonversian pada saat diperlukan. dan pound gaya (untuk satuan gaya). 1kilogram (SI) = 1000gram (CGS) = 2. Maka. FPS (foot.281feet (FPS) = 39.3. Sistim satuan FPS ini juga dinamakan sistim Inggeris ( English System/British System) dan banyak digunakan di Eropa. dan waktu.

1.Kuat arus listrik 6.Temperatur (Suhu) 4.Massa 3.Panjang 2. Sudut Bidang b.Intensitas cahaya a.Waktu 5.Sudut Ruang KETERANGAN : NAMA SATUAN meter kilogram kelvin sekon ampere mole candela radian steradian s A mol cd rad sr SIMBOL SATUAN m kg K Satuan Pelengkap (Supplementary Unit) Satuan Pokok : .Panjang Massa Massa Gaya Energi Waktu Suhu inch pound mass slug pound force British Thermal Unit sekon Fahrenheit 4 in lbm slug lbf Btu s o F Sistim Satuan Internasional SI Besaran-besaran fisika dalam SI dibagi menjadi dua macam yakni : Besaran Pokok( BesaranDasar) dan Besaran Turunan.Jumlah zat 7. Besaran Pokok (Dasar) : BESARAN 1.

a. Luas permukaan bola berjari-jari R adalah 4 π R2.3. kemudian dari kedua ujungnya ditarik garis ke pusat lingkaran. besar sudut totalnya = 2π radian. Luas permukaan = R2 Besar sudut ruang Ω =1sr Gambar 2.3o . sehingga 1 rad = 360/2π = 360/2. Karena dalam sebuah lingkaran besar sudutnya adalah 360o.2. maka akan terbentuk sudut ruang yang besarnya 1 steradian. kemudian dari seluruh pinggir luasan tersebut ditarik garis ke pusat bola.Pengertian Sudut Ruang : Ditinjau sebuah benda berbentuk bola. 5 Busur tebal S = R Sudut θ = 1rad Gambar 2. Lingkaran b.141592654 = 57. Apabila diambil sembarang luasan pada permukaan bola seluas R2 (apapun bentuknya). benda berbentuk bola . Dengan demikian maka dalam sebuah lingkaran penuh. besar sudut ruangnya adalah 4 π steradian. berarti 360o = 2π radian. maka akan terbentuk sudut bidang yang besarnya 1 radian. Dengan demikian maka dalam suatu bola. Apabila diambil busur lingkaran S yang panjangnya sama dengan R.1. Pengertian Sudut Bidang Ditinjau sebuah lingkaran dimana panjang dari keliling lingkaran berjari jari R adalah 2πR.

Perlu diperhatikan bahwa sesuai dengan peraturan internasional. Besaran Turunan : Karena merupakan turunan. suatu nama orang yang digunakan untuk satuan dari suatu besaran.m. misalnya satuan untuk kuat arus listrik maka harus ditulis “ampere” dan bukan “Ampere”. demikian pula satuan untuk temperatur harus ditulis “kelvin” dan bukan “Kelvin”. satuan untuk daya adalah “watt” dan bukan “Watt”.0254 m 1609. berikut adalah beberapa contoh : Besaran Gaya (F) Tekanan(P) Energi(E) Daya(P) Nama Satuan newton pascal joule watt Simbol Satuan N Pa J W Pernyataan dalam Satuan Dasar Kg.s-2 Kg.m2.9144 m .3 m 1852. maka satuan dari besaran turunan dapat dinyatakan dengan satuan dari besaran dasar. Terdapat banyak sekali besaran-besaran turunan. maka huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kecil.s-2 Kg.s-3 Daftar konversi beberapa satuan dari Sistim lain ke SI SATUAN LAIN 1 foot (ft) 1 inch (in) 1 mile (mil) 1 mile laut (nautical mile) 1 yard (yd) SATUAN (SI) 0. 6 2.s-2 Kg.3048 m 0.m-1.0 m 0.m2.

4536 kgf 1 pound massa (lb.06854 slug : 1 kg = 2.4536 kg Satuan Gaya : 1 pound (lbf) = 4. Dari FPS ke SI Satuan Panjang : 1 ft = 0.5144 m.37 inch Satuan Massa : 1 kg = 0.in-2 ) 1 knot 1 mach (velocity of sound in air) 7 4. satuan gaya.s-1 350 m.m) 1 slug 1British Thermal Unit (Btu) 1 Psi (lbf.m-2 0.59 kg Dari SI ke FPS Satuan Panjang : 1 m = 3.in .4482 N 0.448 N Contoh Pengkonversian dari FPS ke SI : Contoh 1: Satuan Gaya Torka τ = Momen Gaya = Gaya F x d (dari gaya ke titik acuan): Torka dalam FPS misal dinyatakan sebagai : 1 lbf.281 ft : 1 m = 39. misalnya akan dilakukan konversi dari SI ke FPS atau dari FPS ke SI.8 N.s-1 Proses Konversi dari suatu Sistim Satuan ke Sistim Satuan yang lain Apabila perlu dilakukan konversi satuan dari suatu sistim ke sistim yang lain.4536 kg 14.0254 m Satuan Massa : 1 slug = 14. maka dapat dilakukan dari pengkonversian satuan panjang.22482 lbf : 1 pound (lbm) = 0.594 kg 1055 J 6894.3048 m : 1 inch = 0.2046 lbm : 1 N = 0. dan satuan massa. maka tidak perlu dikonversi. Satuan waktu untuk seluruh sistim satuan adalah sama yakni sekon.1 pound gaya (lbf) = 0.

8 Contoh Pengkonversian dari SI ke FPS : Contoh 1: Torka τ = 1 N.2. . berat.4482 N . jarak. gaya. energi.4482)(0.f)(ft)/(min). posisi. dimana : 1lb. Skalar ditunjukkan dengan huruf biasa.1 lbf. 1min= 60 s . Misalnya : kecepatan. maka daya dalam SI = (4. lintasan.3048m .3048)/(60) = 0. massa. bilangan riil.m Contoh 2: Daya = Usaha per Waktu = U/t Daya dalam FPS misal besarnya dinyatakan sebagai : 1 pound force foot per minutes = 1(lb.0254m) = 0. Vektor adalah suatu kwantitas yang mempunyai besar dan arah.2248)/(10.021 lbf/ft2 .022597 watt. perpindahan. dan operasi perhitungan skalar menggunakan aljabar biasa. percepatan. yang berarti 1m2 = 10. Misalnya : panjang.11298 N. momentum. suhu.448N) x (0. 1ft = 0.8512 lbf. dan lainlain. 2 2.f = 4.22482 lbf)(39.2248 pound force (lbf). sedang 1m = 3.765) = 0.in = 1(4.765 ft2 maka tekanan dalam FPS = (0. Skalar dan Vektor Skalar adalah suatu kwantitas yang hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah.281 ft. usaha (kerja). dan lain-lainnya.m = 1(0. waktu.37 in) = 8. torka. Vektor dapat dinyatakan secara grafis maupun secara trigonometris.in Contoh 2 : Tekanan = Gaya per Luas = F/A Tekanan dalam SI misal besarnya: 1N/m2 dimana 1N = 0.

1. Apabila vektor masuk bidang. digambarkan dengan tanda titik (.5. maka F / F adalah vektor satuan yang mempunyai arah seperti arah F. masing-masing dilambangkan dengan i. j. dengan demikian maka Fx = Fx i . Fz = Fz k 2. Aljabar Vektor Operasi perhitungan vektor yang banyak digunakan dalam aplikasi adalah penjumlahan. dan z. sedang arah anak panah. dan k. sedang apabila vektor keluar bidang. digambarkan dengan tanda silang (x). atau huruf tebal tanpa anak panah diatasnya. Fy = Fy j . jadi F = Fa. dan sebagainya. a (percepatan). Jika F adalah vektor yang besarnya F (huruf tidak tebal) dan bukan nol. Vector Panjang anak panah menyatakan besar vektor. vektor digambarkan dengan huruf yang diberi gambar anak panah diatasnya. dan perkalian. sedang ujung kepala P dinamakan titik terminal. Vektor satuan pada sumbu x. v (kecepatan).) 9 Secara trigonometris. P (momentum linier). Vektor Satuan : adalah vektor yang mempunyai besar satuan.4. suatu vektor F dapat dinyatakan dengan vektor satuan a dalam arah F dikalikan besar F tersebut. Vektor F1 dan F2 Gambar 2. O Gambar 2. F P F (dengan tanda anak panah diatasnya) atau F F1 F2 -F Gambar 2. y. Ujung ekor O dinamakan titik asal vektor. sebagai contoh : F (gaya). menyatakan arah vektor.Secara grafis.2. pengurangan.3. vektor digambarkan sebagai anak panah dengan arah tertentu. Sebuah vector samabesar . r (posisi).

2.7.Sama besar dan searah. Gambar 2. jika vektor F dalam bidang (2dimensi) diuraikan ke sumbu x dan y.7) Keterangan : Fx = Fx i .6.b.a. dan k disebut vektor satuan dan masing-masing mempunyai harga = 1. Fy. F Fy j F Fz k Fy j Fx i Fx i Gambar 2. maka F1 = F2 2. Penguraian Vektor dan sejajar dengan A tetapi berlawanan arah.2. 10 Demikian pula jika sebuah vektor F dalam ruang (3dimensi) diuraikan ke sumbu x. y. dimana besar dan arah vektor harus tetap.1.8. Misal. dan Fz Gambar 2.6). maka A = -A Sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor lain. masing-masing menjadi Fx dan Fy maka Fx dan Fy adalah komponen-komponen dari vektor F (Gambar 2.2. Fz = Fz k . dimana : i. Penjumlahan antara dua buah vektor secara grafis adalah dengan meletakkan ekor dari salah satu vektor di kepala vektor yang lain.1. Fy = Fy j . Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan secara grafis ataupun analitis. Kemudian tarik anak panah dari titik asal O ke ujung akhir seperti pada gambar 2. . j. dan z maka komponen-komponen dari vektor F adalah Fx.

jadi F1 . Penjumlahan vektor 11 FR = O F2 FR F1 2.F2 = F1 + (-F2 ) .1. dan Fz pada gambar 2.2. maka persamaan tersebut .9 F1 F1 F2 = F1 . Fy. sehingga dengan membalikkan arah panah dari F2 hasilnya seperti pada gambar 2. maka diperoleh resultan F yang besar dari nilai resultan tersebut adalah : F = F = √ Fx 2+ Fy2 + 2 Fx.Fy cos θ dapat ditulis : F = F = √ Fx2 + Fy2 Demikian pula apabila Fx.F2 F1 F1 + F2 = O Gambar 2.7 dijumlahkan secara vektor maka diperoleh resultan F yang besar harganya : −−−−−> θ = sudut antara Fx dan Fy Karena sudut antara Fx dan Fy adalah 90o dimana cos 90o = 1.F2 F2 Gambar 2.8 dijumlahkan secara trigonometris. Pengurangan vektor Apabila Fx dan Fy pada gambar 2.8. Pengurangan Vektor Mengurangkan suatu vektor F1 dengan vektor lain F2 sama dengan menjumlahkan vektor F1 dengan negatif dari vektor F2 .9.c.

F = F = √ Fx2 + Fy2 + Fz2 Contoh Soal 1 :

Z+

YX+

a
XY+

b
Z-

Jika b x a = c , tentukan besar dan arah vektor c , dan gambarkan vektornya ! ( Besar b = 3 sedang a = 2 ) 12

Contoh Soal 2: Gaya-gaya berikut bekerja pada sebuah titik, dimana besar dan arah masing-masing gaya adalah: F1= 40N, F2 =70N, F3 = 40N, F4 = 30N, F5 = 80N, F6 = 60N (gambar 2.10).Tentukan besar dan arah gaya resultan FR baik secara grafis y F5
60 30

maupun trigonometris ! F2 F4 F3
30 30

F3 F2 F4 F1 x F5 F6 F1 x y FR

F6

Gambar 2.10 Jawab :

Gambar 2.11

a). Secara Grafis dilakukan dengan meletakkan ekor dari vektor tiap gaya yang dijumlahkan ke kepala vektor yang lain secara simultan (tidak harus berurutan, yang penting besar dan arahnya tetap), kemudian tarik anak panah dari titik asal ke kepala vektor terakhir, dan hasilnya seperti pada gambar 2.11.

b). Secara trigonometris, dapat dilakukan dengan menguraikan tiap gaya menjadi komponen komponen gaya pada sumbu x dan sumbu y, kemudian dijumlahkan secara vektor. Pada arah sumbu x, maka : Σ Fx = F1 cos 0o + F2 cos 30o + F3 cos 60o + F4 cos 90o + F5 cos 120o + F6 cos 210o = 40 cos 0o + 70 cos 30o + 40 cos 60o + 30 cos 90o + 80 cos 120o + 60 cos 210o = 40.1+70.0,866+40.0,5+30.0+80.-0,5+60.-0,866 = 40+60,62+20+0-40-51,96 = 28,66N 13 Pada arah sumbu y, Σ Fy = F1 sin 0o + F2 sin 30o + F3 sin 60o + F4 sin 90o + F5 sin 120o + F6 sin 210o = 40 sin 0o + 70 sin 30o + 40 sin 60o + 30 sin 90o + 80 sin 120o + 60 sin 210o = 40.0+70.0,5+40.0,866+30.1+80.0,866+60.-0,5 = 0+35+34,64+30+69,28-30 = 138,92N Jadi besar gaya resultan FR = √ Fx 2 + Fy 2 = ρ 28,662+138,922 = 141,85N Arah gaya resultan : tg θ = Fy/Fx = 138,92/28,66 = 4,8472 Maka besar sudut θ = 78,34o (terhadap sumbu x) 2.2.1.d. Perkalian Skalar dan Vektor Suatu vektor apabila dikalikan dengan skalar, atau sebaliknya, maka hasilnya adalah vektor. Jadi apabila m adalah skalar, sedang F adalah vektor maka mF = Fm = vektor. Perkalian Skalar (Perkalian Titik) dari dua buah vektor A dan B dituliskan A.B dan dibaca A dot B, didefinisikan sebagai perkalian antara besar harga A dan besar harga B dan cosinus sudut (θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A.B = AB cos θ dan B θ = sudut yang diapit oleh A

dan besarnya : 0 < θ < π Disebut perkalian skalar karena hasil dari perkalian dua buah vektor A dan B tersebut adalah skalar. Contoh Soal 3 : Gaya F = 100N, bekerja terhadap suatu benda sehingga bergerak dengan lintasan d = 5 m dalam arah gaya, maka F.d = W = Fd cos 0o = 100.5.1 = 500 N.m (W = 500 N.m tidak mempunyai arah karena skalar)

14

Hukum-hukum pada perkalian skalar : 1. A.B = B.A 2. A. ( B+C ) = A.B + A.C 3. m ( A.B ) = ( mA ).B = A.( mB ) = ( A.B ) m 4. i.i = j.j = k.k = 1 ; i.j = j.k = k.i = 0 5. Jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : A.B = AxBx + AyBy + AzBz A.A = A2 = Ax2 + Ay2 + Az2 B.B = B2 = Bx2 + By2 + Bz2 6. Jika A dan B masing-masing bukan vektor nol, sedang A.B = 0, maka berarti A dan B saling tegak lurus Perkalian vektor (Perkalian silang) dari vektor A dan vektor B dituliskan A x B (dibaca A cross B) = C , didefiniskan sebagai hasil perkalian antara besar harga vektor A dan besar harga vector B dan sinus sudut ( θ ) yang diapit oleh kedua vektor tersebut. A x B = AB sin θ u = C 0<θ<π u adalah vektor satuan yang menunjukkan arah dari hasil perkalian tersebut,

Apabila F yang diputar ke r searah putaran jarum jam maka arah τ masuk bidang. sedang apabila putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam berarti arah C keluar bidang. Menentukan ”arah” hasil perkalian vektor Untuk menentukan arah dari vektor C. Jika A diputar ke B (melalui sudut yang lebih kecil) dan menghasilkan putaran yang searah jarum jam maka arah C adalah masuk bidang. bekerja terhadap sebuah roda pada posisi r = 0. Apabila A dan B berada pada suatu bidang maka arah C selalu tegak lurus terhadap bidang tersebut. sedang apabila berlawanan dengan arah putaran jarum jam maka arah τ keluar bidang. maka F x r = τ =1000. z z D -y -y A -x B x -x B y A -z x C -z y (a) (b) . 15 Contoh Soal 4: Suatu gaya F =1000 N.m.4 sin 30o = 200 N.yakni arah dari vektor C.4m terhadap acuan O (pusat roda) dalam arah membentuk sudut 30o terhadap garis posisi.0. dimana arah τ adalah tegak lurus terhadap bidang dimana F dan r berada. maka dapat digunakan aturan putaran sekrup.

3.1 = 4 (arah C kebawah) . Pada gambar 2. Karena arah arus air yang kecepatannya 3m/s membentuk sudut 90o terhadap arah dari A ke B dan mempengaruhi gerak kapal. Sebuah kapal menyeberang dari sisi A ke sisi B dengan kecepatan tetap 5m/s. Jika besar A = 2. diukur dari tempat B! Jawab : 5sin30o A 5m/s 30o 5cos30o 3m/s Vektor kecepatan kapal dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan dalam arah sumbu x (5cos30o) dan komponen kecepatan dalam arah sumbu y (5cos30o). Jika besar B = 3.2. Hitung ditempat mana kapal merapat.1 = 6 (arah D keatas).12 (b) Dinyatakan B x A = D = BA sin 90o. dan besar B = 2 maka besar C = 2. Pada gambar 2. dan besar A = 2 maka besar D = 16 Contoh Soal 5 : 4m/s 30o A 400 m 3m/s Lebar suatu sungai 400m. 400 m B B .12.Gambar 2. maka nakhoda mengarahkan kapalnya dengan membentuk sudut 30o terhadap arah A ke B dengan harapan kapal akan merapat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari B (Lihat gambar).12 (a) Dinyatakan A x B = C =AB sin 90o.2.

33m/s 400m A 0.5/4.0.5m/s tg θ = 0. k x i = j 5. jadi θ = 6. A x (B + C) = A x B + A x C 3.1154734 x 400 = 46.5m/s 6.587 o B C Hukum-hukum pada perkalian vektor : 1.587o =0. i x j = k.33 m/s tg θ = tg 6.5= 2. Jika A dan B bukan vektor nol.2m dari tempat B 4. maka jarak BC = 0. A x B = . m(A x B) = (mA) x B = A x (mB) = ( A x B )m 4.1154734 .33 = 0.1154734 = BC/400. i x i = j x j = k x k = 0 . j x k = i.B x A 2.5sin30o = 5. jika : A = Ax i + Ay j + Az k dan B = Bx i + By j + Bz k maka : i A x B = Ax Bx j Ay By k Az = (AyBz – AzBy) i Bz + (AzBx – AxBz) j + (AxBy – AyBx) k 6. sedang A x B = 0. .587o 5cos30o =4.2 m 17 Jadi kapal akan sampai dan merapat di tempat C yang berjarak 46.5m/s 5cos30o 3m/s Ini menjadi : θ 0.

Dapat dibagi menjadi 2 : 1. GLBB Horizontal v . Apabila besar kecepatan benda berubah dalam waktu tertentu dikatakan mempunyai percepatan a (acceleration). maka Lintasan benda adalah : s = v. KINEMATIKA 3.a.maka A sejajar B.1.t v s Gambar 3. Gerak Lurus : adalah gerak yang lintasannya lurus.1 Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) : ada 2 macam : 3.1. Benda yang bergerak dikatakan mempunyai kecepatan v (velocity) yakni harga perubahan perpindahan sebagai fungsi waktu. Pada bab ini pembahasan hanya untuk percepatan seragam (uniform acceleration) dimana besar percepatan disetiap waktu adalah tetap.1. terhadap sekitarnya. 18 3 3. Gerak Lurus dengan kecepatan konstan (tetap) : Apabila benda bergerak dengan kecepatan v dalam waktu t. Gerak Lurus Sebuah benda dikatakan bergerak apabila ada perubahan posisi pada waktu tertentu terhadap acuan tertentu. Percepatan adalah harga perubahan kecepatan per interval waktu t. dan dikatakan diam bila tidak ada perubahan posisi pada setiap waktu.

misal suatu benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas atau sebaliknya.1.t 2 . dan diberi tanda negatif bila kecepatan berkurang.t Besar kecepatan rata-rata v = vt + vo  s = v. GLBB Vertikal Sebuah benda yang bergerak pada arah vertikal. kemudian dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt .(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : s = vo.t ) t  sehingga s = vo .(1) a Persamaan tersebut dapat ditulis : vt .Apabila benda bergerak pada arah horizontal dengan kecepatan awal vo .t  vt = vo + a.vo= a.vo ) 2  vt 2 = vo 2 + 2 a. berarti ada percepatan a yang besarnya : a = vt .1.vo ……. 2 19 s = perpindahan (displacement) s = ( vo + vo + a.s a vo s Gambar 3. t + ½ a.t = (vt + vo )t .vo ) + ½ a. maka akan dipengaruhi a2 vt 2 .t = vo (vt .…………….2 Keterangan : Percepatan a diberi tanda positif jika kecepatan benda bertambah.b. (vt .vo  t t = vt . 3.

Benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu dengan kecepatan awal vo kearah permukaan bumi mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo + gt Besar lintasannya : s = vo.8 m/s2.4 (Tanda g positif karena arah gerak benda sama dengan arah g) . Benda yang dilemparkan dari permukaan bumi ke atas dengan kecepatan awal vo mempunyai persamaan sebagai berikut : Kecepatan pada saat ke t : vt = vo – gt Besar lintasannya : s = vo.t – 1/2 gt 2 20 vt s=h vo g Gambar 3.3 (Tanda g negatif karena arah gerak benda berlawanan dengan arah g) 2.oleh percepatan gravitasi bumi g yang besar rata-ratanya di permukaan bumi = 9.t + 1/2 gt 2 vo s=h vt g Gambar 3.

Benda dilepas dari ketinggian tertentu kearah permukaan bumi (tidak diberi kecepatan awal), disebut gerak jatuh bebas, mempunyai persamaan : Kecepatan pada saat ke t : vt = gt Besar lintasannya : s = 1/2 gt 2

21

vo = 0

s=h vt g

Gambar 3.5 Contoh Soal 1 : Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan konstan 10 m/s melewati sebuah pos polisi. Karena kecepatan pengendara motor itu melebihi batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan, maka tepat ketika ia melewati pos tersebut, seorang polisi mengejarnya dengan mobil patroli dengan percepatan 2 m/s2. tanpa kecepatan awal. Tentukan dimana pengendara motor berhasil ditangkap polisi ! Jawab : Dimanapun pengendara motor ditangkap, besar lintasan yang ditempuh oleh keduanya sama. Lintasan oleh pengendara motor yang melaju dengan kecepatan konstan mempunyai persamaan : s = v.t, sedang lintasan oleh mobil patroli polisi yang melaju dengan percepatan dan tanpa kecepatan awal, persamaannya : s = ½ a.t 2. Dengan demikian maka : v.t = ½ at2  10.t = ½ .2.t2  10 = ½ .2.t  Waktu yang ditempuh : t = 10 s  Maka pengendara motor tersebut ditangkap ditempat yang berjarak s = ½ a.t2 = ½ .2.102 = 100 m, diukur dari pos polisi.

Contoh Soal 2 : Sebuah lift yang bagian atasnya terbuka, bergerak vertikal keatas dengan kecepatan tetap 10m/s terhadap acuan bumi. Ketika sudah berada pada ketinggian 100m, seorang didalam lift melemparkan bola keatas dengan kecepatan 20m/s relatif terhadap lift, sementara lift terus bergerak keatas dengan kecepatan tetap. Hitung tempat tertinggi dari bola yang dilempar, tentukan pula berapa lama waktu yang diperlukan oleh bola sejak dilempar sampai jatuh kembali ke tempat semula di lift tersebut (g = 9,8m/s2). 22

v = g.t s = ½ g.t2 v = 10m/s s = v.t

10 m/s 15,32m

45,92m 10 m/s 20m/s (thd.lift) =30m/s(thd.bumi) v =10 m/s 100m 30,6m

Jawab : Bola dilempar keatas (Dari tempat berketinggian 100m) dengan kecepatan relatif 20m/s terhadap lift, sedang lift sendiri mempunyai kecepatan 10m/s terhadap bumi, berarti kecepatan bola terhadap bumi adalah = 20m/s +10m/s =30m/s.

Karena arah bola melawan arah gravitasi bumi maka persamaan untuk kecepatan bola : vt = vo – g.t ; Pada titik tertinggi kecepatan bola vt = 0 sehingga : 0 = vo – g.t 0 = 30 – 9,8.t ; Maka waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi adalah t = vo/g = 30/9,8 = 3,06 sekon. Adapun lintasan bola yang ditempuh untuk mencapai titik tertinggi = s = vo.t – ½ g.t2 ; s = 30.3,06 – ½.9,8.3,062 = 45,92 m, atau apabila diukur dari permukaan bumi, tempat tertinggi bola = 45,92+100 = 145,92m. 23 Ketika bola sedang bergerak keatas, lift juga tetap bergerak keatas dengan kecepatan tetap 10m/s sehingga ketika bola mencapai titik tertinggi, lintasan yang ditempuh oleh lift adalah s = v.t = 10.3,06 = 30,6m, atau apabila diukur dari permukaan bumi = 30,6 + 100 = 130,6m. Ketika selisih jarak antara posisi lift dan bola 15,32m, lift sedang bergerak keatas dengan persamaan lintasan s = v.t, sedang bola mengalami gerak jatuh bebas dengan persamaan lintasan s = ½ g.t2 dan keduanya bertemu pada suatu tempat dimana total jarak keduanya = v.t + ½ g.t2 , ini = 15,32m sehingga : v.t + ½ g.t2 = 15,32 , atau : 10.t + ½ .9,8.t2 – 15,32 = 0  ini adalah bentuk persamaan kwadrat dalam t: 4,9 t2 + 10.t -15,32 = 0  Gunakan rumus : t
1,2

= (-b+

√b -4.a.c)/2a
2

Diperoleh harga t

=1,07 sekon. Dengan demikian, waktu yang diperlukan bola sejak dilempar sampai mencapai titik tertinggi kemudian kembali ke lift = 3,06 + 1,07 = 4,13 sekon.

4
3.2. Gerak Parabola
Sebuah benda yang dilemparkan atau ditembakkan dengan kecepatan awal vo dan sudut kemiringan tertentu misal θ, maka lintasannya berbentuk parabola (lengkung) akibat pengaruh gravitasi bumi. Apabila komponen kecepatan ini diuraikan ke sumbu x dan sumbu y maka komponen kecepatan yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi g adalah komponen kecepatan yang berada pada sumbu y yakni vy.

dan kecepatan nya. jarak dari tempat ia menginjak pedal gas. setelah 1 sekon.voy = vosinθ y vo θ vox = vocosθ g x Gambar 3.6 24 Kecepatan awal benda berikut : Pada sumbu x : Kecepatan vx = voxcosθ Lintasan sx = vxcosθ.t Lintasan sy = vysinθ.t2 vo dapat diuraikan menjadi komponen kecepatan pada sumbu x dan y dengan persamaan gerak pada masing-masing sumbu sebagai Contoh Soal : Seorang pengendara mobil berpetualang di lereng sebuah bukit. y vo O y vx=vo x . ia sengaja menginjak pedal gas untuk me lompatkan mobilnya ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan 9m/s. Tentukan posisi mobil. t Pada sumbu y : Kecepatan vy = voysinθ − g. Sesampai diujung jalan yang terjal. t − 1/2 g.

25 Jarak mobil setelah dilompatkan 1 sekon diukur dari posisi mula-mula adalah : s = √ x2+y2 = √ (9)2+(-4.9.1 = 9 m. sedang vy = -g.9)2 = 10.t v Jawab : Ketika mobil akan dilompatkan. meskipun kecepatannya tetap. sedang besar sudut θ yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan sudut ω. Tanda negatif menunjukkan bahwa posisi mobil sekarang berada dibawah posisi mula-mula.4.1 = -9. Kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah merupakan jumlah vektor dari komponen kecepatan pada arah sumbu x dan komponen kecepatan pada arah sumbu y. v maka kecepatan linier v = panjang keliling . Waktu yang diperlukan oleh benda untuk ber gerak melingkar 1 kali disebut periode = T.t 2 = -1/2.t = . sedang posisi pada sumbu y (gerakan mobil ini pada sumbu y merupakan gerak jatuh bebas) adalah : y = -1/2g.t = 9.25 m. Besar lintasan S yang ditempuh oleh benda per waktu disebut kecepatan linier v. Gerak Melingkar Suatu benda yang bergerak melingkar dengan jari-jari r. dimana vx = vox = 9 m. dan yo=0.3. 3. Maka besar kecepatan mobil setelah 1 sekon adalah : v = √vx2+vy2 = √(9)2+(-9. posisi pada sumbu x = vox.8.8)2 = √177. posisi mobil adalah xo=0.9 m.8.3 m/s.8 m/s. Dikatakan bahwa ada percepatan “a” yang berperan merubah arah kecepatan tersebut dan disebut percepatan centripetal ac karena arahnya selalu menuju ke pusat lingkaran.9. v Apabila benda bergerak melingkar 1 kali. sedang voy = 0 Setelah bergerak selama 1 sekon. Apabila suatu saat besar kecepatan benda berubah maka dikatakan bahwa benda mengalami percepatan tangensial atau juga disebut percepatan normal at .12 = .vy=-g. Kecepatan awal hanya kearah horizontal saja yakni vox = 9m/s2. arahnya setiap saat berubah.04 = 13.

lingkaran per T, jadi v = 2πr/T (m/s). Besar sudut θ yang ditempuh oleh benda pada saat bergerak melingkar 1kali adalah 2π rad. sehingga kecepatan sudut ω = 2π/T (rad/s). Gambar 3.7 Maka diperoleh hubungan bahwa : v = ω. r. Percepatan centripetal ac = v2/r = ω 2.r rad/s2 26

Adapun besar percepatan tangensial at = α.r ; (Percepatan centripetal (α) arahnya menuju ke pusat lingkaran yang berfungsi merubah arah kecepatan v, sedang percepatan tangensial (at) searah dengan arah kecepatan linier v) Gerak Rotasi dengan Percepatan/Perlambatan: Jika sebuah roda berjari-jari r berputar dengan kecepatan sudut ω o, kemudian dalam waktu t kecepatan sudutnya berubah menjadi ω t , berarti ada percepatan sudut α yang besarnya : ( Perhatikan : kondisi disini identik sekali dengan persamaan pada GLBB!) α = ω t - ω o  t = ω t - ω o …….(1) t α Persamaan tersebut dapat ditulis : ω t - ω o = a.t  ω t = ω o + α.t Besar kecepatan rata-rata ω = ω t + ω o  θ = ω .t = (ω t + ω o )t , maka 2 θ = perpindahan sudut (angular displacement) θ = (ω o +ω o + α.t ) t  sehingga θ = ω o. t + ½ α .t 2 .……….(2) 2 Apabila persamaan (1) di substitusikan ke persamaan (2) maka diperoleh : 2

θ = ω o.t = ω o (ω t - ω o ) + ½. α (ω t - ω o ) 2  ω t2 = ω o2 + 2 α.θ α α2

Energi Kinetik Rotasi : Suatu benda yang berputar merupakan massa yang bergerak, maka mempunyai energi kinetik rotasi. 27 Misal benda tersebut berputar dengan kecepatan sudut ω. Apabila tiap elemen benda bermassa ∆mi bergerak dengan kecepatan linier vi maka energi kinetik totalnya adalah Ek = 1/2Σ∆mi.vi2  Karena v = ω.r , maka besar Energi Kinetiknya adalah : Ek = ½ m.ω 2.r 2  Harga m.r2 disebut momen inercia I, maka I = m.r2, sehingga Ek = ½ I.ω 2 Contoh hubungan antar roda : RPM = Rotation Per Minutes, dimana : 1RPM = 2π/60 rad/s Disini : vA = vB

A A B

B

(Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

vA = vB (Kecepatan linier A = kecepatan linier B)

A B
Contoh Soal 1:

ωA = ω

B

(Kecepatan sudut A = kecepatan sudut B)

Apabila Jari-jari RA = 0,8m, RB = 0,2m, sedang RC = 0,5m, sedang roda C berputar dengan kecepatan sudut sebesar 1000RPM, tentukan kecepatan linier roda C!

A B

C
28

Contoh Soal 2. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sebesar 1800 RPM. Jika direm selama 1 menit, kecepatannya berubah menjadi 1200 RPM. Apabila roda tersebut terus di rem sampai berhenti. a) Tentukan besar perlambatan sudutnya ωt b). Jika terus direm dengan perlambatan tersebut sampai berhenti, hitung lama (t) pengereman
1menit

c). Hitung jumlah putaran roda sejak direm sampai berhenti !

ωo

(Ingat, setiap berputar 1 kali, besar sudutnya θ = 2π rad, berarti untuk menghitung jumlah putaran, sama dengan besar sudut θ dibagi 2π, jadi: Jumlah putaran = θ /2π) Contoh Soal 3 : Rancanglah sebuah tikungan jalan miring yang jari-jari kelengkungannya 100m. Apabila mobil yang melewati tikungan tersebut berkecepatan 25 m/s, berapa sudut kemiringan jalan agar mobil tersebut dapat berlalu dengan aman? Contoh Soal 4 : Jari-jari roda A = 0,5m sedang roda B = 0,2m B A Apabila roda B berputar dengan kecepatan sudut 1000 RPM, tentukan besar kecepatan linier dari Roda A !

m. Dibedakan dua macam gaya yakni : Gaya fundamental (Fundamental force) dan gaya turunan (Derived force). gaya gesek dan gaya pegas. Gaya fundamental adalah gaya yang sudah ada dialam. ada 4 macam yakni : gaya gravitasi. gaya elektromagnetik. Hukum Gravitasi Universal Newton menyatakan bahwa : Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu titik bermassa m terhadap titik massa lain yang bermassa M adalah merupakan gaya tarik menarik yang besarnya berbanding terbalik dengan kwadrat jarak ”r” antar kedua benda tersebut. Adapun gaya turunan merupakan hasil dari operasi gaya fundamental. kedua gaya ini adalah merupakan hasil dari gaya-gaya diantara molekul-molekul. yang secara kwantitatif dinyatakan dalam hukum gravitasi universal yang dikemukakan oleh Newton. dan gaya-gaya ini merupakan keluaran dari gaya elektromagnetik yang adalah merupakan gaya fundamental.M)/r2 F = gaya tarik menarik .(G. Setiap gaya yang beraksi terhadap benda menentukan geraknya. Sebagai contoh. dan gaya nuklir lemah. Adapun gaya tarik menarik yang terjadi antara suatu benda bermassa m dengan bumi yang bermassa M merupakan gaya gravitasi yang bukan gaya turunan. keduanya adalah gaya turunan. Gravitasi Gravitasi merupakan efek universal sebagai akibat adanya gaya tarik menarik antara suatu benda dengan benda lainnya. Dalam analisis terahir. GRAVITASI DAN GAYA 4. gaya nuklir kuat.1.29 5 4. F = .

..G...(1) Apabila persamaan F = m.m.. Energi potensial terkait dengan gaya gravitasi : Gaya gravitasi tergantung kepada jarak dari benda yang dipengaruhinya dari pusat gaya.M.67. maka : m. Besar energi potensial gravitasi Ep = .M/r2 G = konstanta gravitasi yang harganya diperoleh berdasarkan data eksperimen... dengan demikian besar g = G. Oleh karena itu merupakan gaya konservativ dan dapat diturunkan dari fungsi energi potensialnya.m.g juga didiferensialkan maka diperoleh dF = m.g.. Konstanta ini mencirikan kekuatan gaya gravitasi dan hanya bisa diketahui harganya jika kedua massa yang tarik menarik diketahui.M/r2 didiferensialkan ke r diperoleh: dF=-2G. sedang harga ini = Gm.M/r.m.(2G.10 -11 Nm2/kg2 m = massa benda bermassa m (kg) M = massa benda bermassa M (kg) r = jarak antara dua benda (meter) 30 Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa gayanya adalah bersifat tarik menarik.... Karena besar gaya gravitasi yang dialami oleh benda bermassa m akibat adanya percepatan gravitasi g adalah F = m..m...dr/r = .2.g = Gm.F.dg.dr/r3 ) / G..M/r2 .(2) maka diperoleh : dg/g = -2 dr/r KETERANGAN : dg = perubahan besar percepatan gravitas dr = perubahan besar jarak (ketinggian) r 4....G = Konstanta gravitasi universal = 6.M/r 2 ...dr/r3 sehingga dF/F = .dr = - ∫ -Gm..M..m... atau : dF/F = -2dr/r .M/r2 . 2 Apabila persamaan F =G. atau dF/F = dg/g .M.m.. Gaya Hukum Newton : .G.M/r  Ep = .

Gaya Reaksi. jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.Σ Fy =0 . berarti juga gaya resultant yang bekerja pada benda = 0 Jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .2 v Benda bergerak dengan v konstan .Σ Fz =0) v Gambar 4. F = m x a 3.Σ Fz =0) Benda diam Gambar 4. jadi FAksi = .Σ Fy =0 . berarti pada benda tidak ada percepatan linier “a”. maka gaya resultant (gaya netto) yang bekerja pada benda = 0 . Gaya Aksi = . sedang suatu benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan akan terus bergerak dengan kecepatan konstan.sedang arahnya berlawanan dengan gaya aksi tersebut. Suatu benda yang diam akan terus diam. 31 2. Sebuah benda yang dikenai gaya aksi akan melakukan perlawanan dengan gaya reaksi yang sama besar. CARA DINAMIK : a). Jika sebuah benda dikenai gaya “F” maka akan mengalami percepatan “a” yang besarnya berbanding lurus dengan gaya tersebut dan arahnya sama.1. CARA STATIK :Jika benda berada dalam keadaan diam. Jika benda bergerak dengan kecepatan konstan.F Reaksi Cara Menentukan Besar Gaya : 1. jadi ΣF = 0 (Σ Fx =0 .1 2.

berarti ada percepatan “a”.8m/s 2 : (TA = TB = T)! Contoh Soal 3 : Berapa gaya yang diperlukan oleh mesin TA TB untuk mengangkat beban bermassa 1000kg dengan percepatan 2m/s2 ( g = 9.b). maka : ΣF = m x a 32 a vo vt Benda bergerak dengan percepatan “a” Gambar 4.8m/s2 ) F=? . dimana g = 9. Tentukan besar gaya tegangan tali TA dan TB ! 30 TA 60 TB 1000N Contoh Soal 2(Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Tentukan besar gaya percepatan “a” dan gaya tegangan tali T sistim sebagai berikut. Jika benda bergerak dengan kecepatan berubah.3 Contoh Soal 1(Cara Statik ): Sebuah benda berat 1000 newton digantung dengan dua tali seperti pada gambar.

F=100N Sebuah benda ditarik dengan gaya 100N 45o membentuk sudut 45o terhadap horizontal 100kg .8m/s2 1000kg 33 Contoh Soal 4 : (Cara Dinamik dengan percepatan “a” ): Hitung percepatan sistim dan gaya tegangan tali T! 100kg T Licin Sempurna T a 10 kg Contoh Soal 5 : Sebuah lift sewaktu masih kosong . Tentukan massa total para penumpang lift tersebut ! ( g = 9.8m/s2) F=6000N a=2m/s2 1000 kg Contoh Soal 6 : .a A 100kg B 500kg 800kg g = 9. setelah itu mesin lift bekerja dan mengangkat lift ke atas dengan gaya 6000N sehingga lift bergerak dengan percepatan 2m/s2. bermassa sama dengan beban penyeimbangnya =1000kg Kemudian beberapa orang masuk lift.

hitung besar gaya yang dialami oleh tali! Jawab : Frekwensi f = 2 maka periode T = 1/f = ½ =0. Hitung besar gaya tegangan pada tali dan sudut θ nya ! Jawab : 2 F F θ θ A L θ Fcos θ F Fsinθ W = m.v2/R = m.(3. Percepatan centripetal a c = v2/r = 4π R/T2 = 4.8m/s2 34 Dinamika Gerak Melingkar : Contoh Soal 1 : Sebuah peti bermassa 100 kg bergerak melingkar beraturan diatas papan licin sempurna (tanpa gesekan) karena diikat dengan tali yang panjangnya 5 m.Gaya pada tali merupakan gaya centripetal Fc = m.g .57 = 78957 N.ac = 100.Tentukan besar gaya normalnya ! g = 9.5 / 0. Contoh Soal 2 : Sebuah bola bermassa m digantung dengan tali yang panjangnya L kemudian bola diputar sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari R seperti pada gambar. Jika peti menjalani 2 putaran per sekon.14) 2.5 s.52 =789.789.57m/s2 .

v2/R sehingga Σ Fx = F sin θ = m. Gaya gesek kinetik fk : adalah gesekan antara dua permukaan yang bergerak N=W N=W N=W F fs W F fs max W fk W F . GESEKAN N Gesekan (Gaya Gesek) f. Gaya horizontal mengarah ke pusat lingkaran.v2/R m.v2/R F sin θ .R = 4π L / Τ g.m.g/cosθ )sinθ =m.g/cosθ  Masukkan harga F ke persamaan Σ Fx  (m.m.Disini tidak ada gaya vertikal.v2/R  tg θ = v2/g.R = (2πLsinθ/Τ) /g. Ada dua macam gaya gesek : 1. merupakan gaya yang melawan gerak relative dari dua permukaan yang bersinggungan Benda yang belum dikenai gaya kesamping.  cos θ = Τ g. sedang pada arah vertikal. belum meng W Gambar 5. ini pasti harus sebanding dengan m.g = 0  F = m. Gaya gesek statik fs: adalah gesekan antara dua permukaan yang diam 2.R  R = L sin θ. 2πLsinθ/Τ tg θ = v2/g.1 alami gaya gesek apapun./ 4π L  T = 2 π θ /g 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 sehingga : v = 2πR/T = √ L cos 35 6 5.v2/R = 0.R  sin θ /cos θ = 4π L sin θ/ Τ g.tg θ =m. Σ Fy = F cos θ .g. Σ Fy = 0 . baik statik maupun kinetik.R  1 /cos θ = 4π RL / Τ g.

Benda sedang dalam cukup besar sehingga benda tepat akan bergerak. Benda yang diberi gaya F relativ kecil dan benda masih diam.N Disini ada hal penting untuk diperhatikan : Jika F=fk mk benda sedang bergerak dg v konstan. Apabila benda R yang tidak diketahui massanya menarik benda P dan Q sehingga semua bergerak bersama-sama dengan kecepatan konstan. tentukan massa R b).maka berlaku persamaan : fk = µk. Jika F>fk mk benda sedang bergerak dg percepatan“a” f s <µs. sudah timbul gaya gesek statis dimana : 2. Jika massa benda R diganti dengan benda lain yang besar massanya 300kg. maka berlaku persamaan : keadaan bergerak.N 36 Koefisien gesek µ : adalah angka perbandingan antara gaya gesek dengan gaya normal Koefisien gesek µ s : adalah angka perbandingan antara gaya gesek statik maximum dengan gaya normal Koefisien gesek µk : adalah angka perbandingan antara gaya gesek kinetik dengan gaya normal Contoh Soal 1: 1. Benda diberi gaya F yang 3.a).N f s = µs. hitung besar percepatan bersama “a” NQ Np P Q T .Gambar 5.2 1.

5 30o g = 9.4 Contoh Soal 3: . dan C bergerak bersama-sama dengan percepatan a = 2m/s2. tentukan besar massa benda A yang belum diketahui! v konstan Q 100kg Npcos30 WR = mR.g µκ= 0.8 m/s2 R 37 Contoh Soal 2: Jika benda A.R WQ Npsin30 WP 100kg P µκ= 0.Q. dan R bergerak bersama-sama dengan kecepatan v konstan. tentukan massa benda Q seperti pada gambar berikut : µκ=0.2 200kg . Benda P.5 100kg C B A 30o µκ=0.B.

N. Jika koefisien gesekan statik antara roda dan jalan adalah µs .g bergerak dalam lintasan lingkaran. sedang Σ Fy=N-m. .2 v konstan R µκ =0.g =0 Disini f diperlukan untuk menjaga agar mobil tetap W = m.N = m. f = Gaya Gesek mobil pada jalan.200kg Q P µκ = 0.2 200kg 60o 30o 38 Tikungan Datar Mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan datar berjari-jari R.v2/R . berapa kecepatan maksimum (v max m) mobil agar tetap pada jalur tikungan tersebut dengan tidak tergelincir ? Jawab : Anggap gambar kotak kecil adalah mobil yang sedang berbelok di tikungan W = Berat mobil . dimana arah gaya gesek menuju ke pusat kelengkungan tikungan berjari-jari R. N = Gaya Normal .2 µκ =0. maka f Σ Fx = f = µs. N Percepatan ac = v2/R kearah pusat kelengkungan harus disebabkan oleh gaya gesek f = µs.

tetapi gaya gesek maksimum yang tersedia adalah f max = µs.m. sedang N adalah gaya normal pada mobil yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan jalan miring.Besar gaya gesek f akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan.g θ Kotak kecil ditengah tikungan jalan miring adalah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan v. Secara trigonometris dapat dibuktikan bahwa besar .g = m.g yang mana merupakan harga konstan. Jadi terdapat korelasi antara kecepatan mobil v dengan sudut kemiringan θ suatu tikungan.g. Maka jika f max disubstitusikan ke persamaan f dan v maximum ke persamaan v diperoleh : µs.R Ncos θ θ N Nsinθ W=m.v2max / R  Diperoleh : v max = Tikungan Miring .m. mobil dengan kecepatan tertentu bisa berbelok tanpa tergelincir. Apabila sebuah mobil bergerak melingkar pada suatu tikungan miring. meskipun jalan licin (tanpa gesekan). Jelaskan korelasi v dan sudut θ ! 39 √µs. dan ini menentukan kecepatan maksimum mobil agar tidak tergelincir.

R Dalam merancang jalan mobil ataupun kereta api.h .. penyebab gaya m.sudut θ pada mobil sama dengan sudut θ kemiringan jalan... Benda yang berada pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi : Ep = m.... Energi (E) Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja (usaha).g  N = m. Pada keadaan disini. contoh: 1.g.1. nuklir. Disini hanya akan dibahas energi mekanik. ENERGI DAN KERJA 6. dan sebagainya.v2/R .(1) Fy = Ncos cos θ . panas. Energi suatu benda diukur berdasarkan kemampuan kerja yang dapat dilakukan. Jadi jika jari-jari kelengkungan tikungan R = 230 m dan kecepatan v = 25m/s maka sudut kemiringannya adalah : tg θ = v 2/ g. Berbagai macam bentuk energi antara lain: energi mekanik..g / cos θ) sin θ v 2/ g...g/ maka diperoleh : tg θ = = m.(2) = m. oleh karenanya satuan energi sama dengan satuan kerja yakni joule (J) Energi Mekanik banyak macamnya. kimia. jadi : Σ Fx = N sin θ Σ θ = m.R  θ = arc tg {(25)2/ 9.1.230} = 15o 40 7 6.8. ada dua yang penting yakni : 6. tikungan sering dimiringkan untuk kendaraan dengan kecepatan rata-rata. elektromagnetik. cahaya. Energi Potensial Energi Potensial merupakan energi yang dimiliki oleh benda karena posisinya.1.v2/R adalah : N sin θ. Harga N ini dimasukkan ke persamaan (1) diperoleh : (m.v2/R .

h’ Ek = ½ m. s Fcosθ s .x2 6. x = simpangan dari posisi mula-mula 41 6.2.1. Pegas yang ditarik atau ditekan dengan gaya F tertentu sejauh x : x F Gambar 6.g. Semua benda bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v. Bila sebuah benda ditarik dengan gaya F sejauh s.2.2 k = konstanta pegas . Energi Kinetik Energi Kinetik merupakan energi yang dimiliki oleh benda akibat geraknya. maka besar kerjanya adalah : F θ W = F cosθ .1 vmax 2.v2max Ep = 0 Gambar 6. Kerja (W) Kerja didefinisikan sebagai hasil perkalian antara gaya F yang beraksi terhadap Suatu benda dengan lintasan s dari benda tersebut dalam arah yang sama. mempunyai energi kinetik yang besarnya ½ mv2 Gambar 6.3 m v Ek = ½ mv2 Ep = ½ k.v2 h h’ v Ek = ½ m.Ek = 0 Ep = m.

h2 – m.vt2 . hitung pula besar kerja oleh gaya gesek! 2000kg F . Jika koefisien gesek kinetik sepanjang jalan 0.x = m.a.h1 (Kerja = Energi Potensial ditempat 2 – Energi Potensial ditempat 1) Demikian pula pada gerak pegas maka : Kerja W = ½ k.x22 .g. sedang ½ kx12 = Energi Potensial ditempat 1) Contoh Soal 1 : Sebuah mobil menarik beban bermassa 2000kg dengan gaya F sejauh 4000m dan melaju dengan kecepatan konstan.8m/s2. kemudian mendapat percepatan a sehingga dalam waktu t kecepatannya berubah menjadi vt.4 dan g =9.½ m. tentukan besar kerja yang dilakukan oleh mobil . maka Kerja W = F. maka W = m(vt-vo)(vo+vt) t sehingga : 2 t t 2 Kerja W = ½ m. besar energi kinetik maupun energi potensialnya akan berubah-ubah pada setiap tempat sebagai fungsi dari ketinggian. a = vt-vo .x12 (½ kx22 = Energi Potensial ditempat 2.t = (vo+vt) t . demikian pula sebaliknya sehingga besar rata-rata Energi Kinetik = rata-rata Energi Potensial.½ k.Gambar 6.4 Hubungan antara Kerja dan Energi Jika sebuah benda bermassa m ditarik dengan gaya F dalam arah horizontal sejauh x dengan kecepatan awal vo.vo2 (Kerja = Energi Kinetik akhir – Energi Kinetik awal) Untuk sebuah benda jatuh. Dengan demikian maka besar kerja yang dilakukan oleh benda juga dapat dinyatakan : 42 Kerja : W = m. Ketika energi kinetiknya membesar maka energi potensialnya mengecil.x x = v.g.

Kerja yang dilakukan oleh bumi c.8m/s2 Contoh Soal 3 : F sudut Sebuah benda bermassa 200kg ditarik dengan v konstan gaya F sejauh 500m dengan membentuk . Tentukan : a. Kerja yang dijalani oleh beban tsb d.30o Contoh Soal 2 : Seorang dari helikopter berketinggian 200m menarik beban bermassa 100kg dari permukaan bumi kearah atas sehingga beban bergerak dengan percepatan 4m/s2. a = 4m/s2 200m 100kg g=9. Kecepatan akhir beban tersebut. 43 . Kerja yang dilakukan oleh penarik b.

200kg µk=0. terminal. jembatan. Pada masa sekarang.8m/s2 ) B Jarak dari A ke B adalah 200m Seseorang menarik peti dengan gaya F dengan kecepatan konstan dari A ke B Tentukan besar kerja (usaha) yang di lakukan oleh orang tersebut ! ( g = 9. mesin mesin yang banyak diperlukan adalah berupa mesin yang berfungsi mengangkat dan . seperti : Industri. yakni merubah besar maupun arah gaya. jalan raya.5 44 8 7. serta banyak bidang yang lain.2 Contoh Soal 4 : F 100kg 30o A 60o 60o terhadap bidang horizontal. Transportasi. dan sebagainya.1. Pengantar Mesin didefinisikan sebagai alat untuk transformasi gaya. Jika besar koefisien gesek kinetik µk = 0. misalnya gedung.2 hitung besar kerja yang dilakukan oleh penarik! ( g = 9. Pertanian. penggunaan mesin sangat mendominasi berbagai kegiatan manusia di berbagai bidang. Di dunia Teknik Sipil. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. bahkan Kedokteran dan Pendidikan. MESIN-MESIN ANGKAT 7.8m/s2 ) µk=0. mesin pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk melaksanakan kegiatan pembangunan suatu obyek.

digunakan mesin angkat yang berfungsi untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan suatu bangunan.R. misalnya: berubah menjadi panas M. yakni : 7. Terdapat banyak jenis mesin angkat. Ada beberapa besaran yang digunakan untuk menunjukkan ukuran kemampuan mesin. batu.3. hanya berubah menjadi bentuk energi lain yang dalam kondisi tertentu merugikan fungsi mesin. = Si/So untuk mengangkat (Panjang input) So = Panjang yang ditempuh oleh beban (Panjang output) Menurut hukum kekekalan energi.(Distance Ratio): merupakan harga perbandingan antara panjang yang digunakan untuk mengangkat. tentu dengan catatan tidak ada energi yang hilang dalam proses tersebut (Sebenarnya tidak ada energi yang hilang. semakin besar nilai efisiensi suatu mesin yang digunakan. apabila suatu kerja diberikan kepada sebuah sistim (kerja input) maka kerja yang dihasilkan oleh sistim tersebut (kerja output) besarnya haruslah sama. balok kayu.R. D.(Mechanical Advantage): merupakan harga perbandingan antara besar gaya beban yang diangkat dengan gaya yang digunakan untuk mengangkat . dengan panjang yang ditempuh oleh beban 45 Si = Panjang yang digunakan D. tentu semakin baik. lempengan besi.2.memindahkan benda-benda bermassa besar seperti beton.A. dan bahan-bahan bangunan lainnya.A = Fo/Fi . M. baja. Oleh karena itu. Fo = Gaya beban yang diangkat (Gaya output = berat beban) Fi = Gaya yang digunakan untuk mengangkat (Gaya inp 7.

senantiasa terdapat faktor-faktor yang merugikan kerja mesin.Α. Fo. maka berlaku persamaan : FoSo = Kerja output Fi.A. Macam macam mesin angkat . 46 0 < η< 1 Suatu kenyataan bahwa pada sebuah mesin.A. x 100 % D. korosi. Sehingga apabila dalam proses tersebut dianggap tidak ada energi yang hilang (mesin dianggap ideal).R.R. dan lain sebagainya yang tidak diinginkan. sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum thermodinamika. sehingga : M.So = Fi . panas. Hal-hal yang merugikan kerja mesin akan merubah besarnya harga M.Si = Kerja input Persamaan ini bentuknya dapat dirubah menjadi : Fo/Fi = Si /So Sehingga : Efisiensi didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besar kerja output dengan besar kerja input (dinyatakan dalam persen). misalnya gesekan.. (Penjelasan dari pernyataan ini dapat dibaca pada pembahasan terhadap katrol tunggal di halaman selanjutnya).4. 7.akibat gesekan). = D.R. sehingga menyebabkan efisiensi mesin tidak pernah dapat mencapai 100 %. tetapi tidak berpengaruh terhadap harga D. kelembaban.Si Efisiensi η = Μ.

meliputi : Katrol Sistim Pertama.A = 1. Demikian pula harga D. saja.R. karena. Bidang Miring . misalnya katrol tersebut sudah karatan yang menyebabkan roda sukar berputar akibat gesekan.A. yang diperoleh dari Fo / Fi . Dalam keadaan seperti ini maka M. dimana : besar gaya Fi yang digunakan untuk mengangkat beban W (sebagai gaya output Fo) besarnya sama dengan besar So Fo W Fi Si Fo .R.R. Katrol diferensial Weston . Namun meski kondisi katrol demikian. Dalam keadaan demikian maka bisa terjadi bahwa untuk mengangkat beban W yang beratnya misal 1000N ( sebagai Fo ). Kerekan Ketam Tunggal . Katrol Ganda . diperlukan gaya Fi yang lebih besar dari 1000N karena sebagian gaya Fi digunakan untuk melawan gaya gesek pada roda. Dikatakan bahwa. Kerekan Ketam Ganda . jika tali Si bisa ditarik sepanjang x m. Roda Cacing.Beberapa jenis mesin angkat yang akan dibahas dan banyak digunakan untuk menunjang kegiatan dalam bidang teknik sipil adalah : Katrol tunggal . Roda Poros . gaya luar hanya berpengaruh terhadap harga M. (Perhatikan: Fo = W) 47 Tetapi keadaan menjadi lain apabila kondisi mesin tidak ideal. karena untuk menaikkan W setinggi So= x m harus menarik Si sepanjang x m juga. maka beban W tetap naik setinggi x m. Katrol Sistim Kedua. = D. Dongkrak Sekrup Sederhana . b.A. a. dan Katrol Sistim Ketiga . Katrol Ganda. Katrol Tunggal Mesin sederhana ini dalam keadaan ideal mempunyai harga M. Roda Poros Diferensial . juga = 1 yang diperoleh dari Si/So. tidak mempengaruhi harga D.

maka : hubungan antara MA dan DR adalah : Ε fisiensi η = DR Sistim Kedua : Untuk menentukan MA disini. tidak dihitung) Dalam keadaan ideal.4. disini n ada 3 buah ( Katrol tetap yakni no. caranya dengan menghitung jumlah tali yang me nahan beban.dan 3) W cukup besar. x 100% ( 0<η<1) 3 3 2 Fi bebas.A. maka : jika mesin ideal. MA = Fo/Fi = Si/So = 4 12 3 4 5 Fi ( tali nomor 5 tidak dihitung karena M. dimana n = jumlah roda katrol T2 T1 1 Jika massa katrol bebas (nomor 1. disini ada 4 tali. maka perlu dihitung juga! Katrol tetap ( nomor 4) tidak berpengaruh 48 Perhatikan. MA = DR. jika mesin ideal maka MA=DR. tetapi jika mesin tidak ideal.2. maka MA = Fo/Fi = W/Fi = Si/So = 2n .Sistim Pertama : DR = Jarak yang digerakkan oleh kerja Jarak yang dijalani oleh beban 4 T3 DR = 2n .

sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari tali 1 yang sudah dihitung) W Disini jumlah tali yang menahan beban ada 5 tali. maka : Fi 12 3 4 5 MA = Fo/Fi = Si/So = 5 (tali nomor 5 harus dihitung karena ikut menahan beban) W 49 MA = 3 Fi MA = 4 Fi W W .

sedang jari-jari roda kecilnya r.Sistim Ketiga : W = T1+T2+T3+T4 4 T4 T1 = Fi T2 = 2T1 = 2Fi T3 = 2T2 = 2(2Fi) = 22Fi T4 = 2T3 = 2(22Fi) = 23Fi T3 W = Fi+2Fi+22Fi+23Fi W/Fi = (1+2+22+23+…2n) T2 maka untuk n buah katrol : 3 2 1 T4 T3 T2 T1 T1 MA =Fo/Fi =W/Fi = 2n-1 (disini n = seluruh katrol) Fi W 50 Katrol Diferensial Weston : 9 R Fi 1 2 Jari-jari roda besar adalah R. Jika tali di tarik dengan gaya Fi sehingga roda terputar satu kali maka berarti : panjang tali Si yang ditarik = 2πR. .

berarti panjang tali yang ditarik = 2πR (sebagai Si). Ini membuat beban W naik setinggi : 2πR-2πr = πR-πr = So .Fo W Maka tali 1 naik sejauh 2πR juga. ini membuat beban W . atau : MA = 2R/(R-r) Roda Poros : R r Fi Jika tali pada silinder besar ditarik dengan gaya Fi sehingga silinder ter W putar 1 kali.MA = Si/So = 2πR/( πR-πr) . sedang tali 2 turun sejauh 2πr. Dengan 2 Demikian.A. dan beban W pada silinder kecil naik setinggi r R 2πr (sebagai So). maka Si = 2πR. Dengan demikian. Adapun tali 2 pada 2 silinder tengah naik sepanjang 2πr.=Fo/Fi =Si/So=2πR/2πr = R/r 51 Roda Poros Diferensial : r t 1 R Pada saat tali ditarik dengan gaya Fi sehingga semua silinder terputar 1 kali. M. Fi sedang tali 1 pada silinder kecil turun W sepanjang 2πt.

naik setinggi (2πr-2πt)/2 = πr-πt = So MA = Fo/Fi = Si/So= 2πR/ ( π r-πt) atau : MA = 2R/( r-t) R r t Dongkrak Sekrup : W w d L W = berat beban yang diangkat L = panjang lengan untuk kerja (Keliling putarannya=2πL=Si) d = jarak antara gigi sekrup=So Maka : MA=Fo/Fi = Si/So = 2π L/d 52 Bidang Miring : L = panjang bidang miring AB h = tinggi dari C ke B Fi L Wsinθ B Gaya Fi yang bergerak dengan kecepatan konstan besarnya : h sama dengan Wsinθ . sedang .

dengan demikian MA=Fo/Fi=Si/So = 2πL /( 2πr x n1/n2)= L.n1 MA=Fo/Fi=Si/So=L. Si = 2πL Jumlah putaran roda 1 =1 kali Jumlah putaran roda 2= n1/n2 =jumlah putaran silinder beban maka beban W naik setinggi : 2πr x n1/n2 = So.maka Si=2πL L Jumlah putaran oleh roda 4 = 1 kali .θ Fo A W Wcosθ C beban yang dibawa = W = AMA = Fo/Fi = W/Wsinθ Jadi: AMA=1/sinθ = L/h Kerekan Ketam Tunggal : n1 = jumlah gigi di roda 1 n2 = jumlah gigi di roda 2 L n1 L = panjang gagang pemutar r = jari2 silinder tempat beban W=beban yang diangkat=Fo r n2 W Fi=gaya input pada gagang Dalam 1 putaran.n1) 53 Kerekan Ketam Ganda : n4 Dalam 1 putaran gagang.n2/(r.n2/r.

n3.2.Jumlah putaran roda 3 = n4/n3 kali n3 n2 Jumlah putaran roda 2 = n4/n3 kali Jumlah putaran roda 1 = n2/n1 x n4/n3 Jarak yang ditempuh beban W = r 2 πr x (n2/n1) x (n4/n3) = So n1 (2πr x n2/n1 x n4/n3) MA=Fo/Fi=Si/So= 2πL/ W Jadi MA = L.n1.n4) Keteranga n: n4. jarak yang ditempuh adalah 2πR = Si Jika satu putaran roda K menyebabkan roda cacing bergeser 1 gigi. sedang r = jari-jari silinder tempat beban Roda Cacing : C K R = jari-jari roda kerja K C = cacing berulir R r = jari-jari silinder beban W n = jumlah gigi roda cacing r n Dalam satu kali putaran roda- Fi w 54 kerja K. dan 1. dan n1 masing-masing adalah jumlah gigi yang ada di roda 4.n3/(n2.3. n2. maka : silinder .

n2=100 gigi .n/r Contoh Soal 1 : Tentukan besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban 45000N.beban akan terputar 1/n kali. adapun jari-jari tabung tempat beban = r = 0. dan jarak yang ditempuh oleh beban = So = 2πr/n . n3=400 gigi . Jadi: MA = R. tentukan pula besar gaya tegangan tali T3! T4 T3 T2 T4 T3 T2 T1 T1 Fi 4500 Contoh Soal 2 : Pada sebuah Kerekan Ketam Ganda. maka :MA=Fo/Fi=Si/So=2πR/(2πr/n) . n4= 200 gigi .2m Hitung besar gaya Fi yang diperlukan untuk mengangkat beban seberat 30000N! n4 L n3 n2 n1 r 30000N 55 . panjang L=1 m n1=300 gigi.

mn y pm = Σmi yi /Σmi =(m1. Pusat berat merupakan fungís gravitasi.x2) / (m1 + m2) y pm = (m1.x2 .x1.10 8.mn Contoh Soal 1: Tentukan letal pusat massa dari tiga partikel dengan massa m1 = 1kg.y1 + m2.y3 +. m2 = 2kg.y2) x Gambar 8.mn.x3 +.x1 + m2.x2 + m3. Pusat massa : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat pada titik tersebut. dan m3=3kg yang terletak pada titik-titik sudut segitiga sama sisi yang panjang sisinya 1m 56 . y1) x pm = (m1.1 Untuk sejumlah partikel berlaku persamaan : x pm = Σmi xi /Σmi =(m1. Misal ada dua partikel (benda titik) yang massa masing-masing adalah m1 dan m2 berada pada koordinat (x1. MOMENTUM DAN TUMBUKAN Sebelum penjelasan terkait dengan momentum.y2) dari suatu titik acuan 0. y pm) dimana harganya diperoleh dari persamaan : y m1(.xn) /m1 + m2 + m3 +. Pusat berat : adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.y1 + m2.x1+ m2.yn) /m1 + m2 + m3 +.y2) / (m1 +m2) m2(.y1) dan (x2. maka pusat massanya adalah (x pm. terlebih dahulu akan dibahas pengertian tentang pusat massa dan pusat berat.y2 + m3.mn.

1) = 8 kg P 63o m3 (1. 0.0 + 2.866) /1+2 +3 = 0. F3 = 14N Tentukan percepatan dari pusat massa sistim dan tentukan pula arahnya! F2 m1 (-2.0 +3.1) = 8 kg m3 (1.0 + 2.8533 m y pm =(1.433 m Jadi Pusat Massa terletak di titik : P ( 0.2 1m Jawab : x pm = Σmi xi /Σmi y pm = Σmi yi /Σmi x pm =(1.-3) = 4 kg bekerja gaya luar yang besarnya pada masing masing adalah : F1 = 6N .1 +3.y m3 1m 30o m1 1/2m 1/2m m2 x Gambar 8.3 57 . F2 = 16N .1/2) /1+2 +3 = 0.2) = 4 kg m2 (4.433 ) Contoh Soal 2: Pada tiga buah partikel dengan massa : m1 (-2.-3) = 4 kg F3 Gambar 8.8533 .2) = 4 kg F1 a pm m2 (4.0.

89 N Dengan demikian besar percepatan pusat massa = a pm = FR/m = 17.0.4) /4+8 +4 = 0.25) .4 + 4.4) /4+8 +4 = 1. dm = elemen massa Komponen-komponen dari r pm dapat ditentukan dari : z dm r 0 x y Gambar 8. Besar gaya resultan pada sumbu y = Fy = 16 N Gaya Fx dan Fy saling tegak lupus (membentuk sudut 90º.8 + -3.4 + 1.25m Pusat masanya ada pada titik P (1. Tg = Fy/Fx = 16/8 = 2.12m/s2 Gaya resultan FR ini membentuk sudut dengan sumbu x yang besarnya dapat dicari.89/16 = 1. maka besar sudut = 63o Menentukan Pusat Massa Benda dengan Distribusi Massa Kontinyu : Apabila benda yang akan ditentukan pusat massanya berukuran relatif besar (bukan bentuk partikel) maka digunakan persamaan : r pm = ∫ r dm / ∫ dm r pm = posisi pusat massa terhadap titik acuan 0 . maka besar gaya resultan yang bekerja pada pusat massa sistim adalah FR = Fx2 + Fy2 = √82 + 162 = 17.75.8 +1. Adapun besar gaya resultan pada sumbu x = Fx = 14-6 = 8 N .75m y pm =(2.Jawab : Letak pusat massa sistim diperoleh sebagai berikut : x pm =(-2.4 Contoh menentukan pusat massa sebuah batang kecil tipis dengan rapat massa ρ dan panjang batang L : 58 x pm = ∫ x dm/ ∫dm y pm = ∫ ydm / ∫dm z pm = ∫ z dm/ ∫ dm .

v’ – m. m. sedang elemen panjangnya dx.v = momentum mula-mula) m m v Gambar 8.6 Diambil elemen massa dm yang terletak pada jarak x. benda obyek diasumsikan sebagai partikel (benda berukuran relatif kecil) m Gambar 8. Momentum Linier (P) Momentum Linier didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa (m) dari suatu benda yang bergerak dengan kecepatan (v) nya. jadi : I = F. dengan demikian pusat massa batang ini x pm = ∫ x dm / ∫ dm = ∫ xρdx / ∫ρdx = ∫ x dx / ∫ dx  x pm = [1/2 x2] 0 L / [ x ] 0 L = ½ L2/L = ½ L L 8. maka elemen massa dm = ρdx . Jika benda bermassa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v dan kemudian dalam waktu t kecepatannya menjadi v’. maka : F ∫ot dt = m ∫v v’dv  untuk benda yang bergerak dari waktu t =0 sampai ke t.v’ = momentum akhir . Jika tinjauan hanya 1 dimensi kearah memanjang saja maka rapat massa batang adalah = massa per panjang = ρ.v’ – m.t = m.dt = m.1.v .v (m.7 v P = m x v (kg.dx 0 x Gambar 8.8 59 v’ 11 .m/s) Hukum Newton menyatakan bahwa F = m (dv/dt)  F.t = m. Untuk menyederhanakan pembahasan. dan benda bergerak dengan kecepatan mula-mula v dan kecepatan akhir v’ maka hasil integralnya adalah : F. ini dinamakan impuls I.dv.

F2.(m2v2’. benda 1 memberi gaya F1 kepada benda 2. keduanya bergerak searah dengan kecepatan berbeda.t = . Waktu tumbukan pada benda 1 = waktu tumbukan pada benda 2 sehingga : F1. atau salah satu benda bergerak sedang benda yang lain diam. gravitasi.8. ini adalah gaya : aksi = -reaksi.m1v1= . sehingga : F1 = .9 v2 ’ Pada saat terjadi tumbukan. masing-masing sudah mempunyai kecepatan. apabila gaya yang terjadi pada peristiwa ini hanya gaya yang diakibatkan oleh peristiwa tumbukan saja (gaya luar seperti gesekan udara.t  I1 = .m2v2)  m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 Jadi.2.F2 . demikian pula benda2 memberikan gaya F2 kepada benda 1. momentum. 60 . dan energi kinetik sebagai berikut : m1 Ek1=1/2m1v12 P1=m1v1 m2 m2 v1 v2 Ek2=1/2m2v22 P2=m2v2 F2 Ek1’=1/2m1v1’2 m1 m1 F1 m2 Ek2’=1/2m2v2’2 v1’ Gambar 8. Dua buah partikel masing-masing bermassa m1 dan m2 yang bergerak dan akan bertumbukan.I2 . Tumbukan Dua benda dapat bertumbukan apabila keduanya bergerak berlawanan arah. Atau : m1v1’. dan sebagainya diabaikan) maka total momentum kedua benda setelah tumbukan = total momentum kedua benda sebelum tumbukan.

m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). dan antar partikel dapat saling berinteraksi satu sama lain. jadi pada nomor 3 berlaku persamaan : v1’2 = v2’2 (Persamaan ini tidak berlaku untuk no.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja ) 3. 61 . m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b).2) Hukum Kekekalan Momentum Misalkan dalam suatu sistim terdapat sejumlah n partikel yang masing masing mempunyai massa m dan kecepatan v. Tumbukan Elastis Sebagian a). Apabila partikel1bermassa m1 dan kecepatan v1 maka momentumnya m1.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Hanya berlaku persamaan “a” saja) Beda nomor 2 dengan nomor 3 adalah : Pada tumbukan non elastis sama sekali (no.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22 (Kedua persamaan “a” dan “b” berlaku semua) 2.v1. Masing masing partikel memiliki kecepatan dan momentum.3) besar kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah sama.Adapun. sangat tergantung kepada jenis tumbukan yang terjadi sebagai berikut : 1. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2 b). Tumbukan Elastis Sempurna a).v2. Tumbukan Non Elastis Samasekali a). partikel 2 bermassa m2 dan kecepatan v2 dengan momentum m2. apakah total energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan total energi kinetik setelah tumbukan. demikian juga untuk partikel-partikel yang lain.

Pancaran gas melakukan gaya reaksi terhadap roket sehingga menggerakkannya.apm = percepatan pusat massa.v1+m2. .apm Fluar = jumlah vektor semua gaya luar .v3+…. Besar PTot merupakan jumlah vektor semua momentum partikel dalam sistim tersebut. Jika massa total roket mula-mula M dan kecepatannya terhadap bumi adalah v sedang kecepatan pancaran gas terhadap roket adalah u. vpm = kecepatan pusat massa. ini Ini adalah gaya aksi oleh roket terhadap gas. Gas mem M peroleh momentum kearah belakang sedang roket mem peroleh momentum dalam harga yang sama ke depan.vn sehingga : PTot = M. Sistim dengan massa yang berubah v (terhadap bumi) Ditinjau suatu gerakan yang terjadi pada sebuah roket Mula-mula roket memancarkan gas pada ekornya. m. demikian pula v juga variabel dengan demikian laju perubahan momentum roket : dP/dt = d(Mv)/dt = Mdv/dt + vdM/dt 62 .v2+m3. Gaya dalam (gaya antar partikel dalam sistim) tidak akan merubah besar momentum total PTot karena saling meniadakan.Dengan demikian sistim secara keseluruhan mempunyai momentum total PTot.dll) maka jumlah momentum dalam sistim tersebut constan.10 u ( terhadap roket) gas terhadap bumi adalah v+u . maka kecepatan pancaran dM/dt Gb. gravitasi bumi. Kedua gaya ini adalah gaya dalam untuk sistim yang terdiri dari roket dan gas. dmana M = massa total sistim .vpm . Jika ada gaya luar yang bekerja pada sistim maka : F luar = M. jadi : PTot = P1+P2+P3…Pn = m1.n.8. Karena massa bahan bakar gas M akan terus berkurang berarti M adalah variable. Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistim (misal gesekan udara.

sedang banyaknya peluru yang ditembakkan per sekonnya 10 butir. karena F=0 maka:udM/dt = Mdv/dt  dM = elemen massa . Tentukan besar percepatan yang dialami panser akibat menembakkan peluru-peluru tersebut ¡ dM/dt M Gambar 8. Massa total sistim 10000kg. dengan demikian : F = Mdv/dt + vdM/dt – vdM/dt – udM/dt = Mdv/dt –udM/dt Gaya udM/dt disebut gaya dorong pada roket. dt = eleven waktu. oleh karena itu –(v+u)dM/dt adalah laja tertbentuknya momentum pancaran gas. Contoh Soal 1. Laja total dari perubahan momentum sistim adalah jumlah dari kedua faktor ini dan sama dengan gaya luar yang bekerja pada sistim.11 63 . v+u adalah kecepatan dari massa gas terpancar. karena dM/dt bertanda negatif maka gaya dorong mempunyai arah berlawanan dengan arah kecepatan mancar u. Ketika roket sudah lepas dari Medan gravitasi dan bebas dari gesekan dengan udara maka gaya luar F = 0.Adapun laju perubahan momentum gas terpancar : dP/dt = .Gaya luar F dapat berupa gaya gravitasi. Kemudian senapan memuntahkan peluru-peluru bermassa 100 gr dengan kecepatan 500m/s relatif terhadap passer. dan sebagainya. Sebuah senapan mesin dipasang diatas panser diam yang dapat menggelinding bebas tanpa gesekan diatas jalan rata.(v+u) dM/dt Tanda minus digunakan untuk menunjukkan perubahan massa dari gas terpancar Adalah negatif terhadap perubahan massa roket. gesekan udara pada roket. sehingga persamaan menjadi : F + udM/dt =Mdv/dt.

05m/s.a  Jadi besar percepatan yang dialami passer = a = 0.000kg yang bergerak dengan kecepatan 8m/s menumbuk peti diam bermassa 2000kg. massa peluru = 100 g = 0. berarti sama dengan kecepatan peluru terhadap acuan bumi. berarti dM/dt = (0.000(3)+4000(-5) =(10.v1+m2.(1) b).v2 = (m1+m2)v’ 8m/s 10000kg 2000kg 10.1/2m1v1’2 +1/2m2v2’2 = 1/2m1v12 +1/2m2v22  64 .dM/dt = M.m2v2’ m1 ( v1’ . Tentukan besar energi kinetik yang hilang setelah tumbukan jika tumbukan yang terjadi Non Elastis Samasekali ! Kunci : m1.1 = 10000. 500.000(8)+2000(0)=(10.….v2’ ) …. M = 10000kg .Jawab : Karena gesekan dengan gaya luar bisa diabaikan (F = 0) maka : u.v1) = m2 ( v2 .1 kg  Dalam satu sekon ada 10 butir peluru.dv/dt  disini u = kecepatan peluru terhadap panser yang diam.000kg yang bergerak dengan kecepatan 3m/s bertabrakan dengan mobil bermassa 4000kg yang bergerak dengan kecepatan 5m/s pada arah yang berlawanan.000+4000)v’ 3m/s 5m/s 4000kg Pada tumbukan elastis sempurna. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Non Elastis Samasekali.m1v1 = m2v2 . Maka u=500m/s.dv/dt 500 = 10000.(-v2) = (m1+m2)v’ 10.v1+m2. berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik yakni : a). tentukan kecepatan akhir keduanya setelah tumbukan! Kunci : 10000kg m1. m1v1’+ m2v2’ = m1v1+ m2v2  m1v1’ .000+2000)v’ Ek hilang = Ek sebelum – Ek sesudah Contoh Soal 3: Truk bermassa 10.1)(10)/1 = 1 kg/s . Contoh Soal 2: sebuah truk bermassa 10.

v2’ ) ( v2 + v2’ ) …. Jika tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v2 …………(4) Apabila persamaan (3) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 2 yakni v2’. sedang apabila persamaan (4) dimasukkan ke persamaan (1) maka diperoleh besar kecepatan akhir benda 1 yakni v1’ . jadi : v2’ = [2m1v1’ + v2’(m2-m1)] / (m1+m2) v1’ = [2m2v2’ + v1’ (m1-m2)] / (m1+m2) Contoh Soal 4 Bola bermassa 1kg menumbuk bola lain bermassa sama yang diam dengan kecepatan 10m/s.v12) = m2 ( v22 .……(3) v2’ = v1’ + v1 . tentukan kecepatan akhir bola tersebut! 65 .v2’2 ) atau : m1 ( v1’ ..(2) Apabila persamaan (2) dibagi dengan persamaan (1) maka diperoleh : (v1’ + v1) = (v2 + v2’) .v1 …….Apabila angka ½ pada tiap suku dicoret maka : m1v1’2 +m2v2’2 = m1v12 +m2v22 sehingga : m1 ( v1’2 . maka : v1’ = v2 + v2’. Apabila tumbukan yang terjadi adalah Elastis Sempurna.v12) = m2 ( v22 . tentukan kecepatan akhir dari masing-masing bola! 1kg 10m/s 1kg Diam Contoh Soal 5: Sebuah bola bermassa 1kg menumbuk benda bermassa sangat besar dengan kecepatan 8m/s.v1) ( v1’ + v1) = m2 ( v2 .v2’2 )  m1 ( v1’2 .

000 kg Kunci : Anggap massa benda diam = besar tak terhingga.30o---50kg v’ .000.1. Hitung besar Energi Kinetik yang hilang pada peristiwa tumbukan tersebut! (Tidak ada pengaruh gaya luar)! 20 kg V= 40m/s ----------. 1kg 8m/s maka massa bola dapat diabaikan (dianggap nol)! Diam Contoh Soal 6 : Sebuah peti bermassa 20 kg dilemparkan ke dalam kereta bermassa 50 kg yang sedang dalam keadaan diam sehinga kereta bermuatan peti tersebut bergerak horizontal.

Stress σ: didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya gaya F yang beraksi terhadap benda dengan luas penampang lintang A dari benda tersebut. ELASTISITAS Suatu benda yang dapat kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah dikenai gaya disebut bersifat elastis. ∆ L/Lo Y: disebut Modulus Young. Untuk membahas elastisitas.Lo= panjang semula) Untuk kearah ruang : ε = ∆V/Vo (∆V=perubahan volume . suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan. Strain ε : didefinisikan sebagai harga perbandingan antara besarnya perubahan ukuran dengan besar ukuran mula-mula. Pada benda yang dikenai gaya kearah memanjang (ditarik) atau kearah memendek (ditekan) maka berlaku persamaan : F/A = Y.Vo = volume mula-mula ) 1. ∆ V/Vo (Tanda negatif menunjukkan ukuran benda berkurang) B: disebut Modulus Bulk.66 12 9. Untuk kearah memanjang : ε = ∆L/Lo (∆L= perubahan panjang .1.2.B.1 F 2. Jadi : σ = F/A (N/m2) (A = luas penampang lintang benda) 9. Elastisitas pada benda tergantung kepada jenis bahannya yang besar harganya dinyatakan dengan suatu konstanta. didefinisikan beberapa besaran terkait. Benda yang mengalami gaya dari berbagai arah (seperti kubus dibawah) maka berlaku persamaan : F/A = . . sedang yang tak dapat kembali seperti bentuk dan ukuran semula disebut bersifat plastis. suatu konstanta yang harganya tergantung jenis bahan Lo ∆L F A Gambar 9. antara lain : Stress(Tegangan) dan Strain(Regangan) 9.

maka berlaku persamaan : F/A = S.3 Maka persamaan dapat ditulis : (Sudut θ dalam radian!) θ A F S : Modulus Geser θ : besar sudut yang terbentuk(dalam radian) Untuk θ sangat kecil maka : sin F/A =S.x/y Rumus-rumus untuk elastisitas diatas ini berlaku pada daerah dimana stress masih berada dibawah batas elastis (titik b)seperti yang terlihat pada grafik hubungan antara strain(ε) sebagai fungsi dari stress (σ) pada suatu logam sebagai berikut : F/A (Stress σ) a b c a : batas proportional b : batas elastis c : titik dimana benda mulai berubah secara permanen d : batas patah .θ x y F θ = tg θ = θ Gambar 9.2 3.67 F F F F F F Gambar 9. Benda mengalami gaya geser seperti pada gambar dibawah.tg θ = S.

Lo/(A. maka : F.5m2 dan panjangnya 4m.∆L/Lo) diperoleh : ∆L=F.Y)  karena ∆L baja = ∆L tembaga .2m2 disambungkan ke Silinder Logam Tembaga yang mempunyai modulus Young 1.Y) tembaga ¡ 1000N 69 .Lo/(A.4 ∆L/Lo (Strainε) 68 Contoh Soal : Silinder Logam Baja yang mempunyai Modulus Young 2.Lo/(A.1011 N/m2 yang luas penampangnya 0.1011N/m2 dan luas penampang 0.Gambar 9. Tentukan berapa panjang Silinder Logam Baja tersebut! 4m 1000N X=? Kunci : Dari rumus : F/A = (Y. Apabila ditarik dengan gaya 1000N pada kedua ujungnya maka akan menyebabkan pertambahan ukuran panjang kedua benda tersebut sama ( ∆L1=∆L2 ).Y) baja = F.

GETARAN MEKANIS Setiap gerak berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak Harmonik (Periodik). Gerak Harmonik Sederhana (GHS) : GHS adalah gerak periodik yang terjadi apabila gaya balik dari benda yang disimpangkan dari posisi seimbangnya adalah berbanding lurus dengan simpangannya. sedang arah gaya balik tersebut berlawanan dengan arah simpangan. Grafik GHS sebagai fungsi waktu sangat identik dengan grafik Gerak Melingkar Beraturan sebagai berikut : Persamaan umum GHS dapat dituliskan dalam fungsi sinus/cosinus Misal : x = A cos (ωt +θ )  x = simpangan getaran (m) A= simpangan maksimum = Amplitudo (m) ω = 2π/T = 2π f T = periode. Bentuk getaran yang paling sederhana dikenal dengan Gerak Harmonik Sederhana.13 10. 10. Apabila didalam bergerak periodik suatu benda bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama maka gerakannya disebut sebagai GETARAN.1 0 π/2 π 3 π /2 2π . waktu untuk 1x A A alami m bergetar (s) f = frekwensi getaran (Hz) ω = frekwensi sudut Gambar 10.1.

x2= ½ k[A cos (ωt +θ )]2 EP = ½ kA2 cos2 (ωt +θ ) . dan ketika Ek maksimum. Ketika EP maksimum maka harga Ek adalah nol.x2 .v2 = ½ m[. Ketika EP membesar maka EP mengecil. f = 1/T ) Besar Energi Total yang ada pada GHS terdiri dari Energi Potensial dan Energi Kinetik.ω A sin (ω t +θ) Demikian pula dari persamaan kecepatan (v) ini dapat diperoleh harga percepatan (a) dengan cara mendiferensialkan persamaan v ke waktu t : Percepatan pada saat t : a = dv/dt = d2x/dt2 = d[.-A (ωt +θ ) = Fase Getaran = tempat kedudukan titik yang dicapai pada saat t . sedang frekwensi getarannya adalah : f = 1/2π√k/m (Hz)  ( Ingat. 70 Sudut θ disebut : Konstanta Fase Dari persamaan simpangan (x) ini dapat diperoleh harga kecepatan (v) dengan cara mendiferensialkan persamaan x ke waktu t.ωA sin (ωt +θ)]2 = ½ mω 2A2sin2 (ωt +θ) = ½ kA2sin2 (ωt +θ) Harga maximum dari fungsi sinus juga adalah 1. dengan demikian maka : 2 .ω A cos (ω t +θ ) Dari persamaan yang ada dapat dijabarkan bahwa besar periode Tnya (waktu yang diperlukan untuk bergetar satu kali) adalah : T = 2π√m/k (sekon) . demikian pula sebaliknya sehingga harga rata-rata keduanya adalah sama.ω A sin (ω t +θ)]/ dt = . Maka : ET = EP + Ek dimana EP = ½ k. maka : EK maksimum = ½ kA2 Jumlah Energi Potensial + Energi Kinetik disetiap tempat besarnya sama. harga EP adalah nol.v2 Jika harga x disubstitusikan ke persamaan EP maka EP = ½ k. sedang EK = ½ m. jadi : Kecepatan pada saat t : v = dx/dt = d[A cos (ω t +θ )]/dt = . Harga maximum dari fungsi cosinus adalah 1 maka : EP maximum = ½ kA2 Demikian pula jika harga v dimasukkan ke persamaan EK maka : EK = ½ m.

dalam persamaan (1) ini.k. Acos(ω t+θ)/ m  ω = k/m  ω = Karena ω = 2 π / Τ . x =Acos ω t .k.x/m ……. dan tidak ada gaya paksa dari luar yang menambah besar kekuatan gerak benda sehingga energi total getaran juga konstan .k. Oleh karena itu persamaan (1) dapat ditulis : . x =sinω t . x =Asin(ω t+θ) .ω A cos (ω t +θ ) = .(1)  ( k/m = konstan ) .k. x =Acos(ω t+θ) x =A sin(ω t-θ) . F = Gaya Aksi = m. x merupakan fungsi t dimana diferensial (turunan) dua kali dari x terhadap t menghasilkan negative dari x tersebut.d2x/dt2 m. 2 2 √ k/m maka 2π /Τ = √ k/m .dv/dt = m.a = m. tidak ada gaya redaman dari luar yang menghambat gerak benda.k.2 F = m. dan sebagainya. x =cosθ .d2x/dt2 = .x Pada GHS ini terdapat persamaan : d2x/dt2 = . Oleh karena itu maka x bisa dinyatakan dengan persamaan yang mengandung fungsi sinus maupun cosinus.x (Gaya Reaksi) Fb = .a = . misalnya : x =sinθ .Besar energi total ET = ½ kA2 71 Disini getaran diasumsikan sebagai konstan. Kondisi seperti ini dipenuhi oleh fungsi sinus maupun fungsi cosinus.x ( k = konstanta pegas) m ( x = simpangan pegas) Gambar 10.k. Jadi Periode T = 2π √m/k .d2x/dt2 Fb =Gaya Balik = .x  m.

Hitung kecepatannya ketika benda bergetar selama 3 s? b).2m dari titik seimbangnya adalah 100J. B). Sebuah benda bermassa 900 kg bergetar g pegas mengikuti persamaan : x = 5 sin ( 2πt/3 .8m/s2 ) Contoh Soal 3 : 100 kg Energi potensial benda jika bergetar sejauh 0.72 Contoh Soal 1: Sebuah benda bermassa 200kg bergetar mengikuti persamaan : x = 4 cos (2πt/3 -π/5 ) Hitung : a). Percepatan pada saat 6s.1 m ketika mereka masuk ke mobil.π/6) a). C) Total Energinya Contoh Soal 2: Empat penumpang dengan berat seluruhnya 490N yang teramati menyebabkan pegas mobil tertekan sejauh 0. Jika beban total yang sekarang disangga oleh pegas mobil akibat adanya tambahan beban adalah 980N. Tentukan harga konstanta pegasnya ! Contoh Soal 4 : 4. Tentukan besar harga konstanta pegas k ! . hitung periode getaran dari pegas mobil tersebut! ( g=9. Kecepatan pada saat 3 s.

x/m – (b.e t ……. dari sifat inersia benda itu sendiri yang menentang terhadap perubahan Fb Fr m F = Gaya Aksi = m. Redaman juga berasal keadaan.3 Persamaan Getaran Terredam dapat dituliskan : F = .(2) α..Fr  m.b.2.a = m.k.d2x/dt2 = .x/m = 0 baik b maupun m merupakan konstanta. F dimana jika dikalikan dengan kecepatan (=dx/dt) merupakan Gaya Redaman .dx/dt atau : d2x/dt2 = . bisa diambil harga : b/m = 2r . Getaran Bebas Terredam Getaran disini mengalami hambatan karena adanya gaya redaman dari luar sistim.x Fr = Gaya Redaman = .dx/dt)/m d2x/dt2 + (b.k.x . m = massa (konstan) Gambar 10.dx/dt  b = konstanta.k..Fb .73 14 10. .misalnya karena benda mengalami gesekan dengan zat cair. k/m = ω 2 dimana : r = Konstanta Redaman ! maka : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = 0 ……(1) Ini adalah Persamaan Diferensial Homogen Orde Dua dimana penyelesaiannya adalah : x = C.dx/dt)/m + k.d2x/dt2 Fb =Gaya Balik (Reaksi) = .b.

e t mempunyai harga.e 74 Substitusikan harga-harga ini ke persamaan (1) maka : α2 C.e t = 0  C. atau : r2 = ω 2 . C dan α = Konstanta Bebas Jika persamaan (2) didiferensialkan sekali ke t diperoleh : dx/dt = α C.t α. ini adalah bentuk persamaan kwadrat dari α dimana r dan ω merupakan konstanta. α. maka : α2 + 2rα + ω 2 = 0. α. yang menghasilkan harga α1 = − r + √ (r2 – ω 2) dan α2 = − r − (r2 – ω 2) Maka jika harga-harga ini di √ masukkan ke persamaan (2) diperoleh : x = C1. atau : r2 < ω 2 Jika r2 > ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) adalah real dan lebih kecil dari r..e α.. Gerak seperti ini dinamakan OVER DAMPED Jika r2 = ω 2 : maka √ (r2 – ω 2) = 0.exp(− r + √ (r2 – ω 2))t + C2. ini bisa ditulis : x = C1.e t + ω 2C.e ( − r − √ r2 – ω 2) t …. Simpangan partikel akan kembali ke posisi seimbangnya tanpa terjadi getaran. oleh karena itu kita asumsikan bahwa √ (r2 – ω 2) mempunyai harga.e α. ini menyebabkan pangkat − + √(r2–ω 2) dan − √(r2 – ω 2) persamaan (3) r r− juga berharga negatif. meskipun sangat kecil. . Gerak seperti ini disebut CRITICAL DAMPED.t + 2rα C.t Jika persamaan (2) didiferensialkan duakali ke t diperoleh : d2x/dt2 = α2 C.exp (− r + √ (r2 – ω 2))t dimana C1 dan C2 adalah konstanta. α. Bentuk nyata persamaan (3) ini tergantung apakah : r2 > ω 2 . C. dan lebih negatif dari jika r2 > ω 2 Maka simpangan dari partikel akan kembali ke posisi seimbangnya lebih cepat dari jika r2 > ω 2 dan tanpa terjadi getaran. ini berarti perpindahan simpangan x secara kontinyu berkurang dengan waktu.e = bilangan alam = 2. menyebabkan pangkat − r + √ (r2 – ω 2) dan − r − √ (r2 – ω 2) persamaan (3) adalah negatif. harga ini tidak memenuhi persamaan (3).….(3) Pers.e t ( α2 + 2rα + ω 2) = 0 α.e ( − r + √ (r2 – ω 2) t + C2.718281828… ...

e + i.ω ’) t − r. dan e sinθ Maka pers.sinω ’t)) (C1+C2)cosω ’t + i(C1-C2) sinω ’t) adalah konstanta Ambil C1+C2 = a sinθ dan i(C1-C2) = a cosθ .sinθ. sinω ’t)  sehingga dari persamaan ini x = a.t = faktor redaman .t (C1(cosω ’t + i.71828… (ω ’t + θ ) = fase getaran terredam .t (C1.e ( )…. e − r.Jika r2 < ω 2 : maka harga √ (r2 – ω 2) adalah imajiner.t = amplitudo getaran terredam . e − r.t (a. jadi √ (r2 – ω 2) = i√ (ω 2 – r2)  i = bilangan imajiner 75 i = √-1 . disini terjadi getaran bolak balik yang makin lama makin lemah.e ( − i. e +i. t − i.ω ’) t − r − i.cosθ. jadi : . ω ’. √ (ω 2 – r2) = ω ’  ω ’ ini dinamakan : frekwensi sudut getaran teredam ω ’=2π /T’=2πf’  T’=periode getaran teredam .e ( − r + i.i. (4) menjadi : x = e Dapat ditulis : x = e − r.θ ) Jadi : x = e Berdasarkan teori matematik.(5) a. √ (r2 – ω 2) adalah imajiner. Maka disini terjadi GETARAN TERREDAM.t Diperoleh persamaan Simpangan Getaran Terredam x pada waktu t : sin (ω ’t + θ ) ….t − r. e = 2.e ( =e (C1. Harga ini dimasukkan ke persamaan (3) maka : x = C1. + C2.ω ’) t + C2.ω ’) t -i. t + C2.sinω ’t) + C2(cosω ’t ..(4) = cosθ − i = cos θ + i sin θ .θ − r. cosω ’t + a. f’=frekwensi getaran teredam Sehingga periode getaran teredam : T’ = 2π /ω ’ = 2π/ √ (ω 2 – r2) Maka √ (r2 – ω 2) = iω ’  ω ’ = √ (ω 2 – r2) . e − r. dimana a dan θ Maka : x = e − r.t ω ’.e + i. r = konstanta redaman Apabila persamaan ini didiferensialkan ke t menghasilkan persamaan Kecepatan Getaran Teredam pada saat t .

t r2 = ω 2 r2 > ω 2 x = a. e − r. e − r.t ω ’cos (ω ’t + θ) . a.(6) 76 Grafik Simpangan Getaran Terredam sebagai fungsi waktu t : − r. e − r.t -a Gambar 10.v = dx/dt = −r...a. sehingga besar kecepatan v : v = a. jadi P = dET/dt  ET = Energi potensial (Ep) + Energi kinetic Ek)  ET = Ep + Ek . yakni ada daya yang terhambur keluar sistim..t ω ’cos (ω ’t + θ) −−> untuk sin (ω’t +θ) dapat diabaikan. yang berarti mengalami dissipasi daya. e r<< ω maka : −r. e sin (ω ’t + θ ) r2 < ω 2 ) ( Dimana : a +a. e − r. e − r.t − r.4 Dissipasi (hamburan) Daya P dalam Getaran Terredam : Ketika sebuah benda mengalami getaran teredam maka energi total (ET) nya lambat laun akan terus berkurang. Daya P merupakan diferensial dari energi terhadap waktu.t sin (ω ’t +θ) + a..t t −a.

d(½ k.x 2 .. sehingga persamaan ditulis : Ek = ½ k. Dari sini masing-masing energi dapat ditulis : Ep = ½ k.t sin (ω ’t + θ ))2 = ½ k.d2x/dt2 .3.(a. e ω’cos (ω’t + θ)) 2 = ½ m. misal ada benda yang bergerak-gerak diatasnya dengan gaya paksa Fp Fp F = Gaya Aksi = m.a2.t − 2 r.t − 2 r.a2.. getaran tidak mengalami hambatan dari gaya redaman tetapi ada gaya paksa dari luar yang menambah kekuatan gerak benda..ω 2 = k . e − 2 r.a2..t cos 2(ω ’t + θ) −−> −2 r..a2..a2.t − 2 r.Ep = ½ k.t Jadi Besar Energi Total pada saat “ t “ adalah : ET = ½ k. e Daya Terdissipasi = Daya yang hilang keluar sistim adalah P = .a2.a2.t sin 2(ω ’t + θ ) −2 r.t Diperoleh : ET =Ep+Ek = ½ k.t Ek = ½ m. besar ω ’ = ω Ek = ½ m.(7) Maka )/dt  dengan demikian : − 2 r.v2= ½ m.a2.a2..a2. e − 2 r..a2.(8) 15 10. e (ω ’)2cos 2(ω ’t + θ) sehingga Untuk r<< ω maka berdasarkan hubungan √ (ω 2 – r2) = ω ’ ..a = m... e θ) ET = ½ k..dET/dt = .... e −2 r.t P = r. e 77 −2 r. e − r. e cos2(ω ’t + ((sin2(ω ’t + θ ) + cos2(ω ’t + θ)) −−> ET = ½ k.Getaran Paksa (Tak Terredam) Pada peristiwa disini.... e − r..v2 . e − 2 r.x 2 = ½ k(a.. sedang Ek = ½ m.t sin2(ω ’t + θ ) + ½ k.. K..t ω 2cos 2(ω ’t + θ) dimana m. e (watt)….t (joule).

dan apabila didiferensialkan sekali lagi maka : d2x/dt2 = -ω’’2 C sin ω’’t. atau C = (Fmax/k) / ( 1-(ω’’/ω)2 ( Ingat.ω ’’2).5 ω ’’ =2π /T’’=2π f’’  T’’ =periode getaran paksa ..x Fb m Fp = Gaya Paksa : gaya ini merupakan fungsi sinus/cosinus.Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .x = m.. terjadi hanya sesaat xp = Simpangan setelah gaya paksa beraksi terhadap benda yang bergetar ..d2x/dt2  d2x/dt2 +k. sedang harga xp = C sin ω’’t……..(1) Penyelesaian dari persamaan ini adalah x = xc + xp dimana : xc = x complementary (pelengkap) .(2) (C : adalah konstanta yang merupakan Amplitudo dari simpangan getaran!) Diferensial dari xp ke t menghasilkan : dx/dt = ω’’ C cos ω’’t. xp = x particular (khas) Besar harga xc = A sin (ωt +θ ) .. f’’ =frekwensi getaran paksa 78 Fmax sin ω’’t – k. maka diperoleh : -ω’’2 C sin ω’’t + k.(3) masukkan persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1). dari persamaan ini diperoleh harga C = (Fmax/m) / ((k/m). ω = √k/m ) Dengan demikian maka penyelesaian persamaannya : xp = (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 sehingga solusi totalnya : x = xc + xp = A sin (ωt + θ ) + (Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 xc = Simpangan ini bersifat transient. C sinω’’t/m = Fmax sin ω’’t/m . sehingga dapat dituliskan : Fp = Fmax sin ω’’t  Fmax = gaya paksa maksimum ω’’ = frekwensi sudut paksa = 2π/T ”= 2πf ” ω = frekwensi sudut alami = 2π /Τ = 2π f F Gambar 10..k...x/m = Fmax sin ω ’’t/m…..

x . Fp Fp = Gaya Paksa = Fmax sin ω’’t Fr = Gaya Redaman = . dimana : Ep = ½ kx2 = ½ k{(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2 }2 Ek = ½ mv2 = ½ m {ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1-(ω’’/ω))2}2 79 16 10.dx/dt + Fmax sin ω’’t Gambar 10.6 d2x/dt2 = .k.x Persamaan Gaya pada Getaran Paksa Terredam Fr m F dapat dituliskan sebagai : m.k.k.Dengan demikian maka besar kecepatan getarannya pada saat tertentu adalah : v = dx/dt = d [(Fmax/k) sin ω’’t / (1-(ω’’/ω))2] / dt Jadi besar kecepatan v = ω’’ Fmax cos ω’’t / k(1- (ω’’/ω))2 Jadi besar Energi total Et = Ep + Ek.b.d2x/dt2 Fb = Gaya Balik (Reaksi) = .b.dx/dt Fb F = Gaya Aksi = m.d2x/dt2 = .a = m.4. dan gaya paksa dari luar yang memaksa benda untuk terus bergetar.x/m – b(dx/dt)/m + Fmax sin ω’’t/m . Getaran Paksa Terredam Getaran disini mengalami gaya redaman yang menghambat gerakan.

. (6) Jika persamaan (5) dan (6) masing-masing dikwadratkan kemudian dijumlahkan. Fmax /m = fmax ( Ingat .t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’. Α(ω 2-ω’’2) = fmax cosθ .t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Untuk semua nilai t yang memenuhi persamaan ini maka : harga koefisien dari tiap suku dikedua sisi haruslah sama.x/m = Fmax sin ω’’t/m Ambil : k/m = ω 2 .…(2)  A dan ω’’ = konstan Apabila persamaan (2) ini didiferensialkan ke t diperoleh : dx/dt = ω’’Acos (ω’’....t -θ ) …. demikian pula koefisien fungsi cosinus disisi kiri = koefisien fungsi cosinus disisi kanan.d2x/dt2 + b(dx/dt)/m + k...t -θ ) = fmax sin ω’’t fmax sin ω’’t = fmax sin {(ω’’t -θ) + θ } -ω’’2A sin (ω’’.t -θ )+ 2rω’’Acos (ω’’..t -θ ) + 2rω’’Acos (ω’’... fmax disini adalah gaya per massa.t -θ ) …(3) . sehingga : koefisien fungsi sinus disisi kiri = disisi kanan . maka ..t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.. b/m = 2r . maka diperoleh : -ω’’2A sin (ω’’.t -θ ) +ω 2A sin (ω’’.t -θ ) = fmax sin (ω’’t -θ) cosθ + fmax cos(ω’’t -θ) sinθ Α(ω 2-ω’’2)sin (ω’’...(1) Bentuk penyelesaian dari persamaan diferensial ini adalah : x = A sin (ω’’.. bukan frekwensi! ) Maka persamaan menjadi : d2x/dt2 + 2r(dx/dt) + ω 2x = fmax sin ω’’t …….(5) diperoleh : dan 2rω’’A = fmax sinθ . d2x/dt2 = -ω’’2A sin (ω’’..t -θ ) …(4) 80 Masukkan persamaan (3) dan (4) ke persamaan (1).

.......... Maka : tg θ = (9) Resonansi Amplitudo : .. diperoleh : v =dx/dt=d{fmax sin(ω’’t-θ) /√(ω 2-ω’’2)2 +(2rω’’) 2 }/dt = A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 . (8) Untuk menentukan besar sudut θ dapat dilakukan dengan cara membagi persamaan (6) dengan persamaan (5)  (2rω’’A = fmax sinθ ) / ( Α ( ω 2-ω’’2) = fmax cosθ))−−> diperoleh sinθ / cosθ = 2rω’’A /(Α(ω 2-ω’’2)  2rω’’ / (ω 2-ω’’2)………........ 81 Besar kecepatan benda yang bergetar dapat ditentukan dengan menurunkan (mendiferensialkan) simpangan x ke waktu t. fmax adalah = Fmax /m = Gaya Paksa Maksimum per massa benda yang bergetar!) Amplitudo getarannya adalah merupakan besaran yang konstan..........{Α(ω 2-ω’’2)}2 + (2rω’’A)2= fmax2 cos2θ + fmax2 sin2θ = fmax2 (cos2θ + sin2θ) Α2{(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2} = fmax2  Jadi besar : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2......... dan ω’’..fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.......fmax cos(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 Jadi kecepatan getaran pada saat t : v = ω’’.... (8) (Ingat.... (7) Dengan memasukkan harga A pada persamaan (7) ke persamaan (2) maka diperoleh : Persamaan Simpangan Getaran Paksa Terredam : x = fmax sin(ω’’t -θ) /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2.....

sedang ω’’ = 2 π f’’. Jika beda harga antara keduanya semakin kecil maka harga amplitudo semakin besar (Keterangan : ω = 2π f .…………… .Ada frekwensi getaran paksa tertentu yang membuat besar amplitudo getaran menjadi maksimum. maka frekwensi resonansi f’’ sangat mendekati frekwensi alami f = ω/2π . jadi   : d{(ω 2-ω ’’2)2 + (2rω ’’) 2 }/dω ’’ = 0 2(ω 2-ω ’’2)(-2ω ’’) + 4r2(2ω ’’) = 0  ω 2-ω ’’2 =2r2  Dengan demikian : ω ’’ = √ (ω 2-2r2) 82 Karena frekwensi getaran paksa adalah : f ’’= ω’’/ 2π maka : (Ingat.Persamaan amplitudo A menunjukkan bahwa getaran paksa tergantung kepada harga : (ω 2-ω ’’2). yakni tergantung kepada besar harga frekwensi sudut alami ω dan frekwensi sudut paksa ω ’’ dari getaran. yang dinamakan Frekwensi Resonansi. Fmax/m ! ω ’’ = √ (ω 2-2r2) . sehingga jika r=0 maka ω’’= ω Εfek redaman pada respons terhadap resonansi : Ketika kondisi amplitudo adalah maksimum.dimana f’’= frekwensi getaran paksa!). ω’’ = 2π f '') Besar Frekwensi Resonansi (yang membuat amplitudo getaran menjadi maksimum) : f ’’ = √ (ω 2-2r2) / (10) Jika redamannya kecil ( r kecil). Amplitudo getaran akan menjadi maksimum jika harga denominator dari √(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 adalah minimum. Hal ini terjadi jika koefisien dari diferensial (turunan) pertamanya = 0. dan fenomena dimana amplitudo menjadi maksimum ini diberi nama : Resonansi Amplitudo. maka Amaks = fmaks / 2r√(r2+ω’’2)  fmaks = 2π …. dimana f = frekwensi getaran alami.

semakin besar harga amplitudo maksimumnya. serta konstanta redaman ”r”. semakin kecil redaman. Ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran paksa tergantung kepada besar relatif dari frekwensi paksa ω’’ dan frekwensi alami ω.Ini menunjukkan bahwa amplitudo maksimum tergantung kepada redaman ”r”. Efek Redaman pada Ketajaman Resonansi : Amplitudo getaran paksa adalah maksimum untuk suatu nilai tertentu dari frekwensi paksa. nilai frekwensi paksa nyaris sama dengan frekwensi alami. Dibawah ini digambarkan hubungan antara amplitudo getaran paksa A versus perbandingan ω/ω’’ untuk sejumlah redaman yang bervariasi : 83 A (a) (b) (c) r=0 r = kecil . frekwensi sudut paksa dan r adalah konstanta redaman. Untuk redaman kecil. Dibawah kondisi ini maka terjadi resonansi. Telah diketahui bahwa amplitudo dari getaran paksa adalah : A = fmax /√(ω 2-ω’’2)2 + (2rω’’) 2 dimana adalah frekwensi sudut alami.

maka resonansi semakin tajam.(d) r = medium r = besar 0 =ω 0. Pada saat ω’’ bertambah. dan jatuh pelan-pelan ketika redamannya besar. Dapat dilihat bahwa kurva untuk harga ”r” yang kecil akan jatuh dengan cepat dibanding ”r” yang lebih besar. amplitudo adalah nyaris sama untuk semua harga redaman. Kurva (a) menunjukkan amplitudo ketika r = 0. amplitudo getaran akan jatuh dengan cepat ketika redaman adalah kecil. 84 Ini berarti bahwa untuk permulaan yang sama dari kondisi resonansi. Dalam keadaan ini amplitudo menjadi tak terhingga pada saat ω ’’ = ω . Lebih lanjut. Contoh Soal 1 : Sebuah benda bermassa 100 kg bergetar terredam mengikuti persamaan simpangan : x = 4e -0. yakni amplitudo maksimum dari getaran paksa semakin menurun. (c). puncak bergerak kearah bawah. ketika redaman ”r” bertambah.05t cos (2πt/3 . dan (d) menunjukkan bahwa pada saat r bertambah maka puncak kurva bergerak kearah kiri yakni harga ω’’ untuk mana amplitudo maksimumnya berkurang.π/5) .5 ω ’’> ω 1 1. Ketika ω’’ bertambah maka amplitudo juga bertambah dan menjadi maksimum pada harga ω’’ tertentu yang mana tergantung pada redaman. yakni ketika nggak ada redaman. Dapat disimpulkan bahwa : semakin kecil redaman. amplitudo cenderung kearah nol.5 ω ’’< ω 2 ω ’’ ω ’’/ω Keterangan : Untuk frekwensi sudut paksa ω’’sangat kecil. Kurva (b).

dan konstanta redaman adalah 0. frekwensi sudut alami 0.8m/s2 2 85 17 11.π/3) / √ (ω 2−ω”2) +4r2ω”2 Apabila gaya paksa maksimumnya 2000N . GELOMBANG MEKANIS Gelombang adalah gangguan/usikan yang merambat. Dapat dikatakan bahwa gelombang periodik merupakan rangkaian dari gelombang pulsa. massa benda yang bergetar 100kg . dan 3 dimensi. Gelombang yang memerlukan medium (zat penghantar) didalam perambatannya adalah Gelombang Mekanis.04 . Berdasarkan dimensinya maka gelombang ada yang 1 dimensi. Disini akan dibahas Gelombang Mekanis : .06 . sedang gelombang yang tidak membutuhkan medium didalam perambatannya adalah Gelombang Elektromagnetis.02 . Gelombang juga dapat dibagi menjadi gelombang pulsa dan gelombang periodik. Benda yang mengalami getaran paksa terredam mempunyai simpangan getaran : x = fm sin (2πt/6 . frekwensi sudut paksa 0.Hitung besar Energi total getaran pada saat benda bergetar selama 10 sekon! Contoh Soal 2 : 2. tentukan besar amplitudo dari getaran tersebut! g = 9. 2 dimensi.

m2).Pada 3 grafik gelombang pulsa 1 dimensi ini.m2) .dan(3) adalah gelombang pulsa 1 dimensi Adapun pada grafik gelombang periodik 1 dimensi berikut.t) ym = Amplitudo gelombang k = angka gelombang A t -A (berharga k = 2π/λ) λ= panjang gelombang Gambar : Gelombang periodik 1 dimensi Dapat ditulis : y = ym sin (kx-kv.A) (J/s.dA) (J/s. sering dihitung secara elementer.t) 86 Atau : y = ym sin (kx-ω. karena Daya P = Energi per waktu = E/t (J/s =watt) maka I = P/A watt/m2).t (3) x y = f(x-v.dimana : E = elemen energi . Jadi I = E/(t. Dalam perhitungan teoritis. fungsi matematiknya dapat ditulis sebagai : y y y x (1) y = f(x) a x v.t) (Perhatian: pada pembahasan gelombang disini maka simbol untuk Amplitudo tidak menggunakan huruf A tetapi dengan ym karena huruf A disini untuk simbol luas! ) Sebelum menghitung energi gelombang.(2). perlu didefinisikan dulu beberapa pengertian sebagai berikut : Intensitas I adalah besar energi E yang mengenai bidang seluas A per satuan waktu t.t) (2) y = f(x-a) Gambar : (1). demikian pula Daya P : P = dE/dt (watt) . fungsi matematiknya dapat dinyatakan dengan : y = ymsin k (x-v. dt = elemen waktu . dA = elemen luas) . sehingga Intensitas dapat ditulis I =dE/(dt.

t))] = ¼ µdx ω 2.ω.v2 = ½ dm[. ym cos(kx-ω.dA) J/s.t)]/dt = .v2 maka dEK = ½ dm. ini dapat dituliskan dalam bentuk elemen : dET(rata-rata)=dEP(rata-rata)+dEk(rata-rata). maka persamaan kecepatannya dapat diperoleh dengan mendiferensialkan y ke waktu t .Sedang: dEP(rata-rata)=dEk (rata-rata) 87 Karena harga rata-rata energi porensial = harga rata-rata energi kinetik. ym2cos2 (kx-ω .t).A)=dE/(dt.A E I = E/(t.t)] 2 dEK = ½ µdx[. jadi :Kecepatan v = dy/dt = d[ym sin (kx-ω.ω. Harga Energi total gelombang = Energi Potensial + Energi Kinetik. sedang suku yang kedua mengandung waktu t dan merupakan fungsi cosinus.t)) Suku yang pertama tidak mengandung waktu t. maka dengan menghitung salah satu saja. dV=elemen volum. ym cos(kx-ω. dapat diperoleh besar energi total rata-rata.ω. dA= elemen luasan. sedang benda yang hanya 2 dimensi adalah rapat massa luasan σ = m/A atau dm/dA. atau : ET = EP + Ek Harga rata-rata: ET (rata-rata) = EP (rata-rata) + Ek (rata-rata) .m2(=W/m2) Rapat massa untuk benda 3 dimensi dikenal sebagai rapat massa volum ρ yang harganya :ρ = m/V atau dm/dV . Disini akan dihitung besar elemen energi kinetik rata-rata dEk (rata-rata) yang dihitung dari dEk pada gelombang periodik 1 dimensi seperti pada gambar diatas. ym cos(kx-ω. ym2 cos2 (kx-ω. adapun untuk benda 1 dimensi adalah rapat massa linier µ = m/x atau dm/dx (dm = elemen massa. berarti setiap saat harganya tetap sama. Adapun EP (rata-rata) =Ek (rata-rata) . ym2 + 1/4 µdx ω 2. sedang dx = elemen panjang) Pada persamaan simpangan gelombang diatas yakni: y = ym sin (kx-ω.t) .t)] 2 = ½ µdx ω 2. ym2 [ 1/2 (1+ cos2 (kx-ω. Besar energi kinetik EK = ½ m. yang .t)] = ½ µdx ω 2.

ym2 = 1/2 µdx ω 2. Kecepatan bunyi di udara = 350 m/s.1. dibawah 20 Hz = infrasonik . yang berarti Intensitas : I = 1/2 ρ. ym2 Apabila ke dua ruas persamaan ini kita bagi dengan luas A maka diperoleh : P/A = 1/2 (µ/Α).harga rata-ratanya = 0 ( Maksimum fungsi cos = 1. ym2 . Ternyata kemampuan dengar telinga manusia tidak berbanding lurus dengan intensitas bunyi (I) yang datang.v. ym2 Apabila ruas kiri dan ruas kanan didiferensialkan ke t maka : dET /dt(rata-rata) =1/2 µdx/dt ω 2.yang dipakai untuk menghitung besar Intensitas seluruh jenis Gelombang Mekanis 3 dimensi. Ada 2 macam yang biasa digunakan yakni : . disebut frekwensi Audio .000 Hz. BUNYI : Adalah gelombang mekanis longitudinal 3 dimensi yang dapat dideteksi oleh sistim pendengaran manusia. Jangkau frekwensi pendengaran manusia adalah antara : 20 Hz sampai dengan 20. rataratanya=0).000 Hz = ultrasonik.ω 2. sehingga harga rata-rata elemen energi kinetik dEk (rata-rata) = ¼ µdx ω 2.v. ym2 + ¼ µdx ω 2.ym2 Ini adalah rumus Intensitas Gelombang Mekanis 3 dimensi.ω 2. diatas 20. v. termasuk Gelombang Bunyi.ym2 dimana (µ/Α) = ρ. Kecepatan dibawah kecepatan bunyi di udara disebut : subsonik. ym2 Dengan demikian besar Energi Total rata-rata : dET (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. oleh karena itu digunakan besaran lain yang lebih mewakili kesebandingan tersebut. sedang minimumnya = -1. 88 18 11. sedang kecepatan diatas kecepatan bunyi diudara disebut supersonik.ω 2. ym2 yang berarti besar dEP (rata-rata) = ¼ µdx ω 2. ini sama dengan P = 1/2 µ.

Disebut Taraf Intensitas Bunyi (αΙ ) berdasarkan perbandingan logaritmik Intensitas datang dengan Intensitas ambang. Intensitas di A dan di B c). yang persamaannya adalah : α P=1 0log(P/Po)2dB α 2. berdasarkan perbandingan logaritmik Tekanan datang dengan Tekanan ambang. dan S ke C = 30m. S ke B = 20m. tentukan : a). Besar Daya dari sumber S b). yang persamaannya adalah : α log (I/Io) dB .1). Energi yang diterima oleh bidang seluas 4m2 di C! . besar taraf intensitas bunyi ditempat C adalah 80dB. Io= 10-12 W/m2 I = Intensitas bunyi yang datang Ι = 10 Io= Intensitas ambang = Intensitas terlemah yang mulai dapat terdengar 2) Taraf Tekanan Bunyi (αP) berdasarkan tekanan datang. Apabila jarak dari sumber bunyi : S ke A = 10m.10-5 N/m2 P = Tekanan bunyi yang datang Po= Tekanan ambang = Tekanan terlemah yang mulai dapat terdengar 89 P =20 log (P/Po)dB . Po= Contoh Soal 1: Dalam sebuah auditorium.

Sumber bunyi yang bergerak : Ditinjau sirene yang berbunyi dengan frekwensi fo. 1. merambat dengan kecepatan terbatas.10000 kali intensitas ambang Efek Doppler Gelombang mekanis berupa bunyi. ( Berarti periode To = 1/fo ). Efek Doppler adalah peristiwa pergeseran frekwensi dan panjang gelombang sebagai akibat dari gerak sumber bunyi pada suatu medium.C B A Kunci : Daya P diwilayah bola hayal A = P diwilayah bola hayal B = P diwilayah bola hayal C ! Contoh Soal 2 : Taraf intensitas bunyi di ruangan kuliah sebuah kampus yang berdekatan dengan lokasi industri adalah 70 dB. Gelombang ini merambat dengan kecepatan v yang sama . Hitung besar taraf intensitas bunyi di tempat yang baru tersebut! Contoh Soal 2 : Tentukan taraf intensitas bunyi dari suatu sumber bunyi yang intensitasnya sama dengan: a) 100 kali intensitas ambang b). 90 Pergerakan pengamat ataupun sumber bunyi tentu mempengaruhi besar frekwensi yang diukur. Oleh karena itu dimungkinkan untuk seorang pengamat yang mengukur gelombang untuk bergerak relatif terhadap gelombang tersebut. atau sumber gelombang yang bergerak relatif terhadap pengamat. gerak penerima bunyi pada suatu medium. Agar situasi belajar lebih tenang maka ruangan kuliah tersebut dipindah ke tempat lain yang jaraknya 4 kali jauhnya dari tempat semula. atau bahkan gerak dari medfium itu sendiri.

Jadi : f’ = fo(1+|vr|/v). Tetapi jika sirene ini bergerak dengan kecepatan vs terhadap medium. Karena sumber bunyi menjauhi A maka panjang gelombang bertambah sehingga bagi pengamat A : λ’ = λ + vs/fo = (v + vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat A menerima gelombang yang menjauh : f ’ = fo/[ 1 + (vs/v) ] 2. Karena gelombang dari sumber bunyi juga mempunyai kecepatan yang menuju kepada pengamat maka kecepatan pengamat perlu dimodifikasi menjadi : v ’ = v + | vr |  vr = kecepatan relatif dari orang terhadap gelombang .(simetri) kesegala arah. panjang gelombang nya tak berubah. dan panjang gelombangnya λ = v/fo.To = vs/fo. sedang sumber bunyi berada ditengah-tengah antara A dan B. Pengamat yang bergerak : Misal seorang pengamat bergerak ke arah sumber bunyi dengan kecepatan v dimana terdapat sumber bunyi diam dengan frekwensi fo. sedang kecepatan gelombang berkurang dan frekwensi gelombang berkurang. Apabila sumber bunyi bergerak ke kanan mendekati B maka selama satu periode To bergerak pada jarak sebesar vs. panjang gelombangnya juga tak berubah. dengan demikian frekwensi gelombang juga perlu dimodifikasi menjadi:f ’= v’/λ = (v+|vr|)/λ = fo+|vr|/λ = fo(1+|vr|/v). 91 Ketika pengamat bergerak kearah sumber gelombang berjalan. Ketika pengamat bergerak menjauh dari sumber gelombang. dan lebih panjang terhadap arah –vs. dan diujung sebelah kanan terdapat pengamat B. kecepatan gelombang bertambah dan frekwensi bertambah. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut : Diujung sebelah kiri terdapat pengamat A. Dengan demikian panjang gelombang berkurang sebesar λ ’ = λ . .vs/fo = (v – vs)/fo  Frekwensi dimana pengamat B menerima gelombang yang mendekat menjadi : f ’ = v/λ’ = fo [v/(v-vs)] = fo/[1 – (vs/v)] . maka panjang gelombangnya lebih pendek terhadap arah +vs.

MOMEN INERSIA Inersia merupakan sifat pada benda yang menolak terhadap perubahan keadaan. frekwensi yang dirasakan berkurang. Dalam hal ini f’ bertambah atas fo. dengan demikian frekwensi termodifikasi f’ = v’/ λ’ = (v – vr)fo/(v – vs)  Sumber dan pengamat saling mendekat satu sama lain ketika vs dan v mempunyai tanda yang sama. kita dapat tahu siapa yang bergerak. Sumber bunyi bergerak dan Pengamat bergerak : jika semua gerakan berada pada satu garis. Bila sumber dan pengamatb saling menjauhi satu sama lain. Dan efek dari pengamat yang bergerak adalah merubah kecepatan gelombang tetapi tidak merubah panjang gelombang.Maka apabila seorang bergerak menjauhi sumber bunyi. sumber atau pengamat. vr dan v mempunyai tanda yang sama. Jika kita tahu kecepatan relatif. v’ = v – vr .|vr|)/ λ = fo . Catat bahwa persamaan diatas ini adalah tidak simetris diantara sumber dan pengamat. diberi tanda positif bila bergerak kekanan dan negatif bila bergerak kekiri. Apabila kecepatan pengamat dan sumber adalah kecil dibanding v maka dapat ditunjukkan bahwa : f’ = fo{1+(vs-vr)/v} 92 19 12. maka kita dapat menggabungkan keduanya.|vr| . dan vr mempunyai tanda yang berlawanan. f ’ = (v . demikian pula benda yang sedang bergerak dengan kecepatan konstan akan senantiasa berusaha mempertahankan keadaan . Ini bisa dinyatakan dengan : λ ’ = (v – vs)/fo . jadi benda yang diam senantiasa ingin diam. Efek dari sumber yang bergerak adalah merubah panjang gelombang tetapi tidak merubah kecepatan gelombang. misal pada sumbu x. Setiap kecepatan termasuk gelombang. sedang vs mempunyai tanda yang berbeda. kecepatannya sekarang: v ’ = v .|vr|/λ  Jadi : f ’ = fo(1-|vr|/v) 3.

rB2+mC.rA2+mB.r12 + m2. dan Inersia Rotasi adalah ukuran seberapa sukar suatu benda untuk bergerak translasi.r32 + mn.32 = 9 kgm2 2kg B 4m 5kg Sumbu putar A B 3m .ri2 = m1. Bisa dikatakan bahwa inersia adalah ukuran seberapa sukar benda untuk dirubah dari keadaannya. Momen Inersia dibedakan menjadi 2 : Momen Inersia untuk benda partikel dan Momen Inersia untuk benda kontinyu 12.geraknya jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya.02+1.1.r22 + m3. sedang Inersia Rotasi adalah sama dengan Momen Inersia (I). Partikel A. B. Momen Inersia benda partikel : apabila sebuah sistim terdiri dari sejumlah benda yang dapat dianggap partikel (benda titik) maka besar : I = ∑mi.rn2 r1 = jarak benda bermassa m1 ke sumbu putar Contoh 1. dan C diputar mengelilingi sumbu putar seperti pada gambar .rC2 = 2. Tentukan besar momen inersia sistim! 93 Jawab : I = mA. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa Inersia Translasi tak lain adalah adalah sama dengan massa (m) .02+5. Ada 2 inersia : Inersia translasi adalah ukuran seberapa sukar benda untuk bergerak translasi.

dimana dm = σ dA  σ = massa per luas Disini r = jarak dari elemen benda 2 dimensi (dA) bermassa dm ke sumbu putar. Tegak lurus pada pusat tongkat 1 94 Jawab : Rapat massa tongkat kecil adalah λ = M/L  Jadi massa M = λ. ρ = rapat massa benda = dm/dV = massa per volume . dimana : dm = elemen massa = ρdV .2. dimana dm = λ dx  λ = massa per panjang Disini x = jarak dari elemen benda 1 dimensi (dx) bermassa dm ke sumbu putar Untuk benda 2 dimensi : I = ∫ r2dm. dV = elemen volume .C 1kg 12.L L (a) I = x 2 dm = 0 0 L L x 2 λdx = λ 0 L ∫ ∫ ∫ x 2 dx = λ x 3/3 0 L/2 ] = λ L /3= ML /3 3 2 L/2 L/2 . Jadi : dV = elemen volume . R = jarak dari elemen benda 3 dimensi bermassa dm ke sumbu putar Rumus diatas juga berlaku untuk benda 1 dimensi (hanya mempunyai panjang saja) dan benda 2 dimensi (hanya mempunyai luas saja) Untuk benda 1 dimensi : I = ∫ x2dm. dA = elemen luas . Tegak lurus pada ujung tongkat b). Momen Inersia Benda Kontinue : apabila benda yang akan diputar berukuran besar maka besar momen inersianya : I = ∫R2dm . dx = elemen panjang! Contoh 2 : Tentukan besar momen inersia dari tongkat sangat kecil (anggap hanya dimensi) yang panjangnya L bermassa M dan diputar pada sumbu putar yang : x x dx (a) L (b) a).

sedang untuk sumbu yang melalui salah satu sisi bola momen inersianya adalah I = mL2 95 Harga ini juga bisa diperoleh dari rumus I = I pm + M. Hitung momen inersia dari lembaran logam tersebut yang diputar pada sumbu putar yang : a).d2 Ipm = momen inersia pada pusat massa benda r=L r = L/2 pm r = L/2 Tinjau dua buah bola baja yang bermassa sama masing-masing sebesar m dan ambil dua sumbu putar yang parallel. Untuk sumbu yang melalui pusat massa (pm).d2  disini d = L/2. Tegak lurus lembaran logam dan melalui pusat massanya. satu melalui pusat massanya sistim dan satunya lagi melalui salah satu massa bola baja. .(b) I = ∫ x 2 dm = -L/2 ∫ x 2 λdx = λ -L/2 ∫ x 2 dx = λ x 3/3 -L/2 ] = λ L /12= ML /12 3 2 Teorema Sumbu Parallel : momen inersia suatu benda yang mengelilingi suatu sumbu adalah diberikan oleh jumlah momen inersia yang mengelilingi sumbu yang melewati pusat massa dan parallel terhadap sumbu yang diberikan dan hasil perkalian total massa M dari benda dan kwadrat jarak d yang tegak lurus diantara dua sumbu. sedang M = 2m. maka momen inersianya adalah Ipm = m(L/2)2 + m(L/2)2 = mL2/2. Secara matematis dinyatakan sebagai : I = I pm + M. maka : I = mL2/2 + (2m)(L/2)2 = mL2 Contoh 3 : Suatu lembaran logam segi empat tipis bermassa M dengan lebar a dan panjang b.Tegak lurus lembaran logam dan melalui salah satu sudutnya b).

berarti pada x = a/2 dan y = b/2 dan jarak terhadap tiap sudut adalah d2 = (a/2)2 + (b/2)2 Berdasarkan teorema sumbu parallel.a. I = Ipm + Md2 96 Ipm = I – Md2 =M(a2 + b2 )/3 – M (a/2)2 + (b/2)2 Jadi Momen inersianya I = M(a2 + b2 )/12.z O dy a x (a) (b) y dx b y Jawab : Rapat massa lembaran logam tipis yang lebarnya a dan panjangnya b adalah : σ = M/A  σ = M/a. Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder : disini I = ∫ x2dm = ∫ x2 ρ dV = ∫ x2 ρΑdx = ∫ x2 ρΑL/Ldx (x = jarak dari dm ke sumbu putar!) [ ] = M(a + b )(1/3 – 1/4) 2 2 . Contoh 4.b (a) Momen inersia dengan sumbu putar pada salah satu sudutnya (misal sumbu z) : I= dx 0 0 a a b a b ∫ ∫ 2 dy σ ( x2 + y2) = M/ab dx 0 0 b a b 2 ∫ ∫ dy (x 2 + y 2 ) = M/ab b2)/3 (∫ x dx ∫ dy + ∫ dx ∫ y dy ) = M/ab [ (a /3)b + (b /3)a ] = M(a + 3 3 2 0 0 0 0 (b) Pusat massa terletak ditengah-tengah segi empat.b  Massa M = σ.

Menghitung momen inersia silinder pejal yang diputar pada sumbu putar yang sama dengan sumbu silinder : I = ∫ r2dm = ∫ r2 ρ dV = ∫ r2 ρ2π rdrL = ρ2πL∫ r3dr L R ( r = jarak dari elemen dm ke sumbu putar! ) Batas integralnya adalah dari 0 sampai R. dimana dm = ρdV .R2 sehingga : m =ρπR2L L Jadi : I = ½ m. L = panjang silinder) L A putar adalah : h L-h ρ m = ρΑL -h sampai L-h sehingga : I = m/L∫-hL-h x2 dx Diperoleh : I = m/3[L2-3Lh+3h2] kgm2 (Elemen massa dm) x ρ Batas integralnya dari sumbu A dm=ρΑdx dx Contoh 5.1/4[r4]oR = ½ m.R2 kgm2 2πr ρ dr (Elemen massa dm) dm = ρ2πrdrL (Ini adl bentuk elemen dm di dalam silinder jika dibuka!) 97 Contoh 6 : Tentukan harga momen inersia sebuah bola pejal berjari-jari R yang rapat massanya ρ dan diputar dengan sumbu putar pada sumbu x seperti pada gambar! R Jawab : I = ∫ r2dm.(ρΑL = m = massa silinder pejal . ρ2πL∫oR r3dr = ρ2πL.

1. Fluida Statis . maka besar momen inersia : I = 2/5 mR2 . FLUIDA (ZAT ALIR) 13. r2 = R2 – x2 sehingga : dm = ρπ(R2 – x2)dx I = ∫ (R2 – x2 ) ρπ(R2 – x2)dx = ∫ ρπ(R2 – x2)2 dx x Batas integral dari 0 sampai R. 5 5 5 Soal Latihan : Tentukan besar momen inersia dari silinder pejal berjari-jari 0.r x dm = ρπr2dx .2/3R + 1/5 R ) = ρπ ( 8/15 R5 )  Karena m = ρV.2/3R2R3 + 1/5 R5 ) = 0 = ρπ ( R . maka R dx I = ρπ ∫ ( R4-2R2x2+x 4)dx o I = ρπ [ R4x .5m panjang 10m dan rapat massanya 12000 kg/m3 jika diputar dengan sumbu putar yang tegak lurus terhadap sumbu silinder dan posisi sumbu putar tepat ditengah-tengah silinder ! 98 20 13. sedang m = 4/3πR3 = 20/15πR3.2/3R2x3 + 1/5 x 5 ] R = ρπ ( R4R .

Oleh karena itu dalam membahas fluida banyak digunakan besaran tekanan (pressure = P).A  dP = .A dy y A dW=dm.ΣFy = 0  Ditinjau gaya-gaya yang bekerja pada sumbu y : ΣFy = 0  Gaya-gaya yang arahnya kebawah adalah gaya akibat berat elemen zat cair (dW).g ( g = konstanta percepatan gravitasi ) Elemen zat cair ini dalam keadaan statis. Maka : F+dF+dW = F P.g = P.Α. Juga digunakan satuan toricelli (tor) dimana : 1 tor = 133. Ditinjau elemen zat cair bermassa dm yang F=P. A = luas permukaan yang mengalami gaya dalam arah tegak lurus arah gaya) Satuan tekanan adalah N/m2 atau pascal (Pa) .g. 99 Gaya yang arahnya keatas adalah gaya reaksi (F) akibat adanya gaya aksi.dV. dimana : Tekanan P = F/A ( F = gaya yang bekerja .ρ.A ρ = rapat massa berbentuk mirip koin yang luasnya A dan tebalnya dy. terdiri dari zat cair dan zat gas.A Fluida adalah zat alir.dy  Jika persamaan ini diintegralkan .g = ρ.3 Pa dF=dP. Karena massa zat cairnya ρ maka berat elemen zat zair tersebut : dW = dm.Ikatan antar molekul pada fluida jauh lebih lemah dibanding ikatan molekul pada zat padat sehingga apabila ada suatu gaya yang bekerja pada fluida maka akan mengalami respons yang berbeda dengan jika gaya tersebut mengenai zat padat.dy. dan gaya akibat udara diatas permukaan zat cair (dF).g = ρ.g F=P. berarti resultant gaya yang bekerja = 0 Jadi ΣF = 0  ΣFx = 0 .A + ρ. yakni zat yang dapat mengalir.Α. Satuan lain untuk tekanan adalah atmosfir (atm) dimana : 1 atm = 101325 Pa . gaya aksi yang disebabkan oleh berat zat cair diatas koin (F).A + dP.dy.

g.h.g. Berdasarkan rumus : P = Po + ρ.A maka diperoleh : ρ. maka : Fkeatas = P. Apabila harga gaya netto ini dibagi dengan g. dengan demikian volume balok adalah V = A.g.A = Po.y.A = ρ.ρa.g.Po y2-y1 = h y2 y1 dengan memasukkan batas-batas integral.ρa.y. Gaya oleh atmosfir = Fatm = Po. Tinjau sebuah balok yang rapat massanya ρ dengan luas A dan tinggi h. y = jarak vertikal bagian balok yang tercelup air!Gaya kebawah ada dua komponen : Tekanan atmosfir diatas balok dan berat balok itu sendiri. g. ini berarti hanya sebagian saja dari balok yang kebawah kebawah = Po.A.h.A.g.y atau ρ/ρa = y/h  Jika ρ<ρa maka y/h < 1. Gaya keatas yang dialami oleh balok adalah terkait dengan tekanan dari air.A + –F keatas = .A + ρg.Α.h = ρa.g.A  100 Keadaan seimbang – mengapung – menuntut keseimbangan gaya yakni F netto = 0.h P ρ=rapat massa ∫dP = .y.A – Po.A .∫dy  Po – P = .A  Maka resultante gayanya (Gaya netto) pada balok F = F Po.g ( P Gaya apung dan Hukum Archimides Suatu benda apabila dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami beberapa kemungkinan.ρ.ρ. sedang P=F/A. dan gaya akibat berat balok F = m. balok tersebut sebagian tercelup kedalam air yang rapat massanya ρa. tergantung kepada rapat massa dari benda tersebut dan rapat massa dari zat cair itu sendiri.g.g = ρ.A .h. Dimana : P = tekanan pada kedalaman h Po= tekanan pada permukaan luar y1= tempat bertekanan P diukur dari dasar y2= tempat bertekanan Po diukur dari dasar Po y2 y2 − y1) y1 Maka : P = Po + ρ.h.h.h.A +ρa.g Dengan demikian besar gaya kebawah total F ρ.

g.g.A  Apabila V adalah volume benda dibawah permukaan air ( V = y. Archimides mengemukakan prinsip yang berbunyi : Besar gaya apung pada benda yang tercelup sama dengan besar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.A – ( ρ.A > 0  Beda harga dari berat balok ρg.A – 0 = ρ.V . ρ = ρa F keatas .h. Jika ρ > ρa maka balok pasti tenggelam secara penuh. Jaqi Gaya Apung Fapung = F berat benda – F netto.ρa.g. Adapun jika balok tenggelam secara kesdeluruhan.g.A) = ρa.h.A tergantung apakah benda tenggelam sebagian atau secara keseluruhannya ke dalam air) maka kita bisa mengkombinasikan hasil kita ke satu pernyataan tunggal yakni : F apung = ρa. Untuk keadaan tenggelam maka : F netto = ρg.h.g.A.h.g. V’<V .g.A) .V’ = F = ρ.h.h. Fapung = ρa. Gaya apung melawan gaya gravitasi pada benda ( ρ. balok secara keseluruhan tenggelam dalam air dimana y = h.ρa.g. Disini balok akan mengapung tepat dibawah permukaan air karena gaya keatas dan gaya kebawah saling meniadakan.g.V’ = ρ.A dikurangi F netto dikenal sebagai Gaya Apung (Buoyant force).y.V F keatas h y F kebawah 101 (b) F netto = 0 .g. (a) F netto = 0 .g.h.A = ρa.V . Jika ρ=ρ a.A atau h.tenggelam. ρa.h.h.g.A . Untuk kasus balok yang tenggelam sebagian maka Fapung = ρ.A . dimana y >=h maka gaya apungnya : F apung = ρ. V’=V .h.

y=h F kebawah © F netto = ρg.A . dan massa M =200kg. Bak tersebut terapung di danau.8m. ρ > ρa F keatas F kebawah y +y Keterangan : V = Volume total benda : V’ = Volume bagian benda yang tercelup dalam air = Volume air yang dipindahkan oleh benda Contoh Soal 1 : Suatu bak mandi segi empat yang terbuat dari plastik mempunyai panjang L= 1m. Berapa banyak orang yang bermassa masing masing m = 50 kg dapat naik ke bak tersebut sebelum tenggelam? 102 ? .h. lebar W = 0. tinggi t = 0.g.A .6m.ρa.h. V’=V .

1m.0.t. Ini berarti jika bak dinaiki oleh 5 orang (berarti massanya cuma 250 kg) bak masih terapung. Untuk itu kita perlu menghitung volume timah dan volume udara didalamnya. Contoh Soal 2 : Suatu balon timah dengan rapat massa = 11300kg/m3 yang berisi udara berjari-jari R = 0. tetapi jika dinaiki oleh 6 orang (berarti massanya 300 kg) maka bak akan tenggelam.t y W L Jawab : Misalkan jumlah orang yang naik sebanyak x sedang rapat massa air ρa = 1000 kg/m3.1.  ρair.Dalam hal balon tidak tenggelam. Sebelum tenggelam.8. Adapun gaya kebawah dengan sejumlah x orang = Fkebawah = (M+x.L.L.L.W.g .m)g.W.g+x.t. Jika bak tersebut tenggelam sedalam y. persamaan keseimbangannya adalah : ρair.g = (M+x.. Maka volume timah Vt dapat di anggap volume bola luar dikurangi volume bola dalam .M)/m = (1000. maka volume air yang dipindahkan = gaya apung Fapung = ρair. Bak terapung dengan kedalaman y dimana : F apung =F kebawah .1m secara total tercelup dalam tangki air seperti pada gambar dibawah. Berapa ketebalan t dari kulit timah balon jika balon tersebut tidak terapung juga tidak tenggelam? (Anggap t sangat tipis dibanding jari-jari R!)  t << R 103 Jawab : Kita harus menghitung berat air yang dipindahkan oleh balon.y.L. secara pendekatan dapat diasumsikan bahwa tebal balon t jauh lebih kecil dibanding jari-jari balon R  t <<R = 0. Bak akan tenggelam pada saat y = t.t.W.W.6 – 200) / 50 = 280/50 = 5.m)g .g = M.0.m.g  Harga g dikiri dan kanan persamaan dapat dicoret sehingga banyaknya orang = x =(ρair.6.

g Berat air yang dipindahkan = Wa = ρa.g Jadi tebal kulit timah balon t = R.ρ.ρa. maka : t 4/3 πR3 . dimana t=0 R T karena sangat kecil. A1.v1. Persamaan Kontinuitas : Ditinjau suatu elemen zat cair bermassa dm1 yang mengalir di pipa 1 yang luasnya A1 dalam waktu dt ( dt = elemen waktu) dan dengan kecepatan v1.2.dt dm2 = ρdV2 = ρ.dt dm1 = dm2  Maka : . v2 A2 dm2 Jadi : dm1 = ρdV1 = ρ.sehingga jari-jarinya adalah R – t . maka Vt = 4 π R x t Vt = 4 π R t .g  Wa = Wt.g = 4 π R t.ρa / 3 ρ t = 1000. A1.v1. Fluida dinamis Suatu zat cair yang mengalir dapat menghasilkan kondisi yang kompleks. antara lain : zat cair yang mengalir tidak kental. timbulnya gesekan internal. Berat timah Wt =4 π R t. atau 0. yang memenuhi sejumlah kriteria tertentu.Vt. dan sebagainya. maka besar dm1= ρdV1 = ρ.v1.0029m<<0. tidak ada gesekan internal. Elemen massa dm1 tersebut berbentuk koin yang luasnya A1.1 / 3(11300) = 0.g Wa = 4/3 πR3 .ρ. Massa dm1= ρdV1 (dV1=elemen volum). misalnya terjadi pusaran aliran. dan sebagainya. tidak dalam keadaan terkompresi. Disini yang akan dibahas adalah zat cair yang ideal.dt  104 Gerakan dm1menyebabkan elemen massa di pipa 2 bermassa dm2 yang luas pipanya A2 bergerak dengan kecepatan v2 dalam waktu dt juga .1m) 2 2 2 2 T 21 13.ρa.0. A1.0029m = 3 mm ( Bukti bahwa t<< R. alirannya tidak turbulen ( berpusar).

v2 . Pipa pada gambar (a) berisi zat cair yang rapat massanya ρ yang masih diam .v1 = A2.v2 = R (m3/s) ( R disebut Debit ) Persamaan Bernoulli : A2 A1 h1 (a) h2 v2 v1 F1=P1. . atau : A1. A2. A1. sedang luas penampang pipa atas = A2 .v1 = ρ .A1 v1 ρ dm1 ρ. Luas penampang pipa bawah = A1.A1 h1 ∆L1 105 (b) g F2=A2P2 h2 ∆ L2 KETERANGAN : Sebuah pipa mempunyai ukuran penampang yang berbeda pada bagian bawah dan bagian atasnya.

m.v22 − m.h1.h2) = ½ m.g.h2 ( Dinamakan Persamaan Bernoulli ) 106 Keseimbangan Benda Terapung (TOPIK INI TIDAK TERMASUK YANG DIPRESENTASIKAN) Apabila suatu benda dimasukkan ke dalam zat cair maka terdapat dua kemungkinan yakni tenggelam atau terapung.v12 .m/ρ + m. sedang gaya F2 melakukan kerja sebesar = F2.ρ v12 + ρ g. gaya F1 melakukan kerja sebesar = F1∆L1 .m.h1.g. sedang besar energi kinetik dipipa atas = ½ m.∆L2 = volume zat cair yang ditinjau = m/ρ . sedang gaya gravitasi bumi berarah kebawah (berlawanan dengan arah gerak zat cair ) maka kerja oleh gaya gravitasi besarnya = m.g.v12 ½ Berdasarkan Teorema Kerja Energi maka diperoleh persamaan : F1∆L1+ F2.∆L2 + (m.h2) = ½ m.Kemudian pada gambar (2).h2 = ½ m.v12 ½ A1∆L1 = A2.h2 Dengan demikian besar kerja yang dilakukan oleh seluruh gaya (gaya resultan) = F1∆L1+ F2.ρ v22 + ρ g. Maka besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim = ½ m.v22 − m. tutup pipa bawah yang luasnya A1 didorong dengan gaya F1 sampai sejauh ∆L1 menyebabkan tutup pipa atas yang luasnya A2 bergeser sejauh ∆L2 ( Timbul gaya reaksi F2 akibat adanya gaya aksi F1).h1.v22.h2 + ½ .m.g.v12 ½ P1A1∆L1+ P2A2.h1=P2 + ½ .v12 ½ (P1+ P2) /ρ = .h 1. Hal ini terkait dengan adanya dua macam gaya yang bekerja terhadap benda tersebut dan saling berlawanan arah yakni gaya gravitasu dan .∆L2 + (m.g. sehingga : P1.g.h1.g.∆L2 + (m.h1 + g.v12.g.v22 − .m.m/ρ + P2.m.v22 − m.g. ini dapat ditulis : ½ P1+ ½ .v22 − m.g.g.∆L2 Karena zat cair yang bermassa m dipindahkan dari tempat berketinggian h1 ke tempat lain berketinggian h2 . Pada peristiwa ini. Besar energi kinetik dipipa bawah = ½ m.h2) Menurut Teorema Kerja Energi : Besar kerja yang dilakukan oleh gaya resultan yang beraksi terhadap sistim = Besar perubahan Energi Kinetik dalam sistim itu.

gaya dorong keatas oleh zat cair. Dengan kata lain. ada pergeseran sudut kecil. metacentre (M) adalah interseksi dari suatu garis yang melewati pusat gaya apung (B) dan pusat berat dari benda (G). Jika gaya apung lebih besar dari berat benda maka benda akan didorong keatas sampai terapung. tdetapi jika gaya apung lebih kecil dari berat benda maka benda akan tenggelam. ia akan mengalami gaya dorong keatas oleh suatu gaya yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu “. sebaliknya jika gaya gravitasi lebih kecil dari gaya dorong keatas. Titik disekitar mana benda mulai bergetar pada saat terapung disebut metacentre. Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya dorong keatas maka benda akan tenggelam. 107 M 1 A B 2 . Pusat gaya apung adalah tempat suatu titik dimana gaya apung ditetapkan beraksi. benda akan terapung. Jadi. Metacentre Ketika suatu benda terapung pada suatu cairan. dengan kata lain. Archimides menyatakan : “Ketika suatu benda dicelupkan sebagian atau keseluruhannya kedalam zat cair. Kecenderungan dari zat cair untuk mendorong keatas dari benda yang dicelupkan dikenal sebagai gaya apung. gaya resultant yang beraksi pada benda itu adalah sama dengan perbedaan antara gaya keatas oleh zat cair dan gaya kebawah oleh gravitasi. dengan garis vertikal yang melalui pusat gaya apung yang baru B’). kemudian mulai bergetar disekitar titik tertentu. Ini selalu merupakan pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan. ini selalu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda. pusat gaya apung adalah pusat dari wilayah bagian yang dicelupkan.

Maka bagian yang tenggelam sekarang berubah dari acde ke acd1e1. Dalam rancangan modern. kedudukan kapal sekarang adalah mengikuti gambar dengan garis tipis. Maka segitiga . tinggi metacentre suatu kapal senantiasa dihitung dengan teliti untuk mengecek kestabilannya. maka ia akan semakin stabil. Kapal ini mengalami rotasi searah dengan putaran jarum jam seperti pada gambar berikut : 4 D 2b 3 b bθ m 2 M o B’ θ G B d 108 a e1 e c n d1 Anggap ada kapal terapung di air yang mengalami rotasi membentuk sudut kecil θ disekitar titik O.G B’ B 3 C Tinggi metacentre Jarak diantara pusat gravitasi G suatu benda yang terapung dan metacentre M yakni jarak GM disebut tinggi metacentre. Suatu kenyataan bahwa tinggi metacentre suatu benda yang terapung merupakan ukuran kestabilannya. Sebagai akibat rotasi. pusat gaya apung mula-mula B sekarang berubah ke posisi B1. Cara mengukur tinggi metacentre : Asumsikan ada sebuah kapal terapung dengan bebas di air. semakin tinggi metacentre dari suatu benda yang terapung.

m)(b/2)L = ½ (bθ/2)(b/2)L = b2θ.θ = ρ x V (BM x θ )  Jadi BM = I/V = Momen inersia bidang per volume air yang dipindahkan) Maka Tinggi Metacentre  GM =BM +/. Efek gabungan dari kedua gaya ini membentuk kopel yang mana cenderung akan memulihkan atau memutar kapal dalam arah anti putaran jarum jam. pada segitiga siku-siku pusatnya berada pada 1/3 jarak dari tingginya!).L/12. Maka momen gaya dari kopel pemulih (restoring couple) adalah ρ b2θ. sedang momen dari gaya pengganggu (disturbing force) adalah : ρ b2θ. Disini lengan kopelnya adalah sepanjang 2b/3.L/8. b3 θ.L/8. Apabila lebar kapal adalah b. Untuk θ kecil dimana putaran kapal juga kecil.L/8 x 2b/3 = ρ. (Ingat. Jadi massa air pada volume ini =ρ b2θ.L/8 (ρ= massa jenis) Dengan demikian massa air pada segitiga con sepanjang L juga = ρ b2θ. sedang segitiga ocn berada dibawah air. adapun θ adalah sudut kecil dimana kapal berputar sekitar O dan V adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal. maka kapal bisa diasumsikan berputar disekitar titik metacentre M. maka : ρ. Kedua momen ini adalah sama besar. Demikian pula segitiga ocn karena tenggelam kedalam air (berarti bertambahnya gaya apung disebelah kanan) maka ini cenderung memutar kapal kearah putaran jarum jam. L/8 x B1B 109 Masukkan harga Lb2/12 = I (Momen inersia dari bidang kapal yang lebarnya b dan panjangnya L) dan harga BB1 = BM x θ (Lihat gambar untuk θ kecil!). Karena volume air yang dipindahkan adalah sama maka berarti kedua segitiga tadi mempunyai luas wilayah yang sama. Ketika segitiga aom keluar air (berarti berkurangnya gaya apung disebelah kiri) maka ini cenderung memutar kapal kearah anti putaran jarum jam. maka : am = cn = bθ/2 Jika θ kecil maka sin θ = θ.I. L/12 = ρ b2θ.BG . sehingga am = b.aom telah keluar dari air.θ /2 Sedang volume air pada segitiga aom sepanjang L adalah : ½ (a.b3 θ.L/8 x B1B. sedang panjang kapal L. maka : ρ.

sedang tanda – digunakan jika G lebih tinggi dari B Macam-macam Keseimbangan terkait dengan benda yang terapung Keseimbangan Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil dapat kembali ke posisi semula Keseimbangan Tak Stabil : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil tak dapat kembali ke posisi semula dan terlempar ke tempat yang lebih jauh.Permukaan tangki sangat luas dibanding pipa berkelok yang mengalirkan zat cair tersebut.5 m2 mengalirkan zat cair bermassa 0. 110 Contoh Soal 3 : Sebuah tangki raksasa yang tingginya 40m berisi zat cair dengan rapat massa 0. Contoh Soal 1 : Rapat massa air laut 1.9 gr/cm2. ( g = 9.8 m/s2) . (g = 9.105 N/m2.4 gr/cm3.8m/s2).8 m/s2) Contoh Soal 2 : Pipa horizontal dibawah tanah yang luas penampangnya 0.KETERANGAN : Tanda + digunakan jika G lebih rendah dari B . sedang besar debit dalam pipa adalah 1m3/s . Apabila tekanan di pipa bawah adalah 4. Keseimbangan Netral : Jika benda terapung yang diberi pergeseran sudut kecil kedudukannya pindah ke tempat yang baru tetapi dalam keadaan tetap diam.2 m2. Pipa tersebut berbelok keatas setinggi 10 m dan ukuran luas penampangnya mengecil sehingga menjadi 0. hitung besar tekanan zat cair di ujung pipa yang berada diatas! (g = 9. Tentukan besar gaya yang dialami oleh bidang seluas 4 m2 didasar laut yang dalamnya 5000m jika tekanan udara diatas permukaan air adalah 1 atm.9 gr/cm3 .

2m2 Suatu silinder pejal berdiameter 3m mempunyai tinggi 3m.8 x 3 = 2. maka dalamnya bagian yang tercelup adalah = 0. Silinder ini dibuat dari bahan yang specific gravitynya 0. Tekanan di pipa 2 apabila 40m ρ = 0.4 m. A3 = luas pipa 3 A1 = ∞ Tentukan : a). Hitung tinggi metacentrenya dan nyatakan apakah keseimbangannya stabil atau tidak! Gambar : G 3m B O 3m 111 Jawab : Specific gravity adalah harga perbandingan antara rapat massa suatu benda (ρ) dengan rapat massa air (ρair).9 gr/cm2 tekanan di luar 1 atm ! A2 = 0.8 dan ia terapung di air dengan sumbunya vertical.4m2 Contoh Soal 4 : A3 = 0. jadi specific gravity = ρ/ρair . dan jarak pusat gaya apungnya dari bagian .A1 = luas permukaan tangki . A2 = luas pipa 2 . Kecepatan aliran di pipa 2 b).

24 = 0.065m.1152 = 0.2m.2 x 0.5-1.1152m3. Jarak pusat berat dari bagian bawah balok =OG=0.4 π m3 .3m dibawah puncak . silinder dalam keadaan keseimbangan tak stabil.27 π/5.15m.8 dan berukuran 1. Momen inersia benda persegi empat panjang disekitar sumbu pusat dan parallel terhadap sisi yang panjang adalah L.Adapun volume air yang dipindah V = 1.3m B Jarak B ke metacentre M = BM = I/V = 0.2(0.026 m 112 Contoh Soal 6 : Suatu benda terapung berbentuk silinder berdiameter 2m dan dalamnya 1.12m.4 = 5. OB = 2.2m B ke G = BG = OG-OB = 0.0064/0.4/2 = 1. Jadi BG = OG-OB = 1.056m.4 x 0. memindahkan volume air 400 liter sedang pusat gaya apungnya berada pada 1.03 = 0. Dengan demikian. Maka tinggi metacentre GM = BM – BG = 0. Contoh Soal 5 : Balok kayu dengan specific gravity 0.12 = 0.2m. Maka jarak dari 1.3m Momen Inersia dari seksi lingkaran I = π(3)4/64 = 1. Jarak pusat gaya apung B dari bagian bawah balok=OB=0.24/2 = 0.4 π = 0.056 – 0.3/2 = 0.0. Jarak pusat beratnya dari bagian bawah silinder = OG = 3/2 = 1.3 terapung dalam air.b3/12=1.235m. Tentukan tinggi metacentre disekitar sumbu longitudinalnya! 0. dan volume air yang dipindahkan = V = π(3)2/4 x 2.4m Jawab : Dalamnya bagian balok yang tercelup adalah = 0.24m. BM = I/V = 1.2 = 0.3 = .0064m4. Jadi.27 π m4. Bagian bawahnya yang berbentuk kurva (lengkung).3 = 0.235 – 0.5m.03m.4x0.8 x 0.2x0.15-0.4)3/12 =0. G 0. maka tinggi metacentrenya GM = BM-BG = 0.bawah silinder. Tanda minus berarti bahwa metacentre M dibawah pusat berat G.

4 = 2.3m G B Jawab : ”h” adalah jarak antara antara permukaan air dengan bagian puncak benda terapung. Jadi 2.2-h) = π(1.2m3.2m .2-h) = 2. Volume bagian yang berbentuk lengkung 400 liter = 0.3m .6-0.silinder.2-h)  (1.6m3.2/π = 0. Pusat berat seluruh benda terapung ini adalah 0.2 = π/4 (2)2 x (1. OB = 1.2m O 0. Tentukan tinggi metacentre dari benda terapung tersebut ! Gambar : 2m h 1.8m dibawah puncak silinder dan total air yang dipindahkan adalah 2. Kedalaman silinder 1.8m 1.6m3.4m3 . Diameter benda yang terapung = 2m . Volume air yang dipindahkan oleh bagian yang silindris adalah 2.8m . OG = 0.7  113 . Total volume air yang dipindahkan = 2.

4+2.8 = 0. Maka : OB = {(0. (B adalah pusat gaya apung untuk semua benda yang terapung !). Momen inersia bagian lingkaran sekitar permukaan zat cair I = π/64 x d4  I = π/64 x (2l tg α)4 = π/4 ( l4 tg4α) Harga BM dan tinggi metacentre dapat dicari seperti pada teori diatas.182 m. Jarak pusat gaya apung benda terapung yang silindris dari puncak benda terapung adalah OB = 0.Maka h = 1.75 l tg2α  GM = BM – BG ! . BM = I/V = {π/4 ( l4 tg4α)}/ {1/3 πl3 tg2α} = 0.3)+(2. Benda terapung yang berbentuk kerucut : D Ditinjau benda terapung berbentuk kerucut.302 – 0.0 = 0. 2α = Sudut puncak kerucut .92mBG = OB-OG = 0.7854/2.2 – 0.5)/2 = 0. BM = I/V = 0.4x1. d = Diameter pada permukaan d G B α α Zat Cair .7854m2.302m. L = Panjang Kerucut .2x0.85m.5+(1.75L Volume zat cair yang dipindahkan : O V = 1/3 πl3 tg2α .7 = 0. Maka tinggi metacentrenya adalah GM = BM – BG = 0.2-0.5m. D =Diameter .12 = 0.2) = 0.Jarak pusat berat dari O=OG=3L/4 OG = 0. l = Panjang Kerucut yang tercelup zat cair.75 l .92-0. Jarak pusat gaya apung B dari O = OB = 3l/4 ΟΒ=0.85)}/(0.12m Momen inersia I dari bagian silinder atas disekitar pusat beratnya adalah : I = π/64 x (2)4 = 0.

ΣFy=0 . sedang Pusat Berat (Titik Berat) adalah suatu titik pada benda dimana seluruh berat benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut.ΣFz=0) 2. Resultant momen gaya pada sumbu adalah nol.114 22 14. Resultant gaya-gaya yang beraksi terhadap benda adalah nol. (Untuk menentukan arah τ gunakan aturan putaran sekrup seperti pada perkalian vector) . jadi : ΣF=0 (ΣFx=0 . O = titik acuan. jadi τ = r x F . sedang Momen gaya (Torka) τ adalah besaran penyebab gerak rotasi. jadi : Στ =0 (Στx =0 . τ = r x F = r F sin θ (θ = sudut yang diapit oleh r dan F) τ Perjanjian Tanda untuk Torka : O r -τ F O r F o r F +τ . KESEIMBANGAN Pusat Massa(Titik Massa) merupakan suatu titik pada benda dimana seluruh massa benda dapat dianggap terpusat dititik tersebut. Sebuah benda berada dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) jika : 1. dimana besar harganya adalah τ = r F sin θ (θ = sudut antara r teori dan F).Στy =0 . Arah torka senantiasa tegak lurus terhadap bidang dimana r dan F berada.Στz =0) Torka τ : didefinisikan sebagai hasil perkalian antara posisi r dan gaya F. Gaya F adalah besaran penyebab gerak translasi.

Jika searah putaran jarum jam. 9m µs=0. diberi tanda + Jika berlawanan arah putaran.400+6.uhuk.. jadi 400+200 =N1+N2 atau : N1+N2 = 600 2) Στ =0. maka N1= 600-350=250newton. Pusat berat dari jembatan miring ada pada 1/3 panjangnya. Hitung pada posisi ketinggian berapa mahluk tersebut menginjakkan kaki yang menyebabkan jembatan tersebut tepat ambruk? (µs bidang vertikal = 0) 12m Uhuk. Jika berat jembatan 800 N.200-8. Contoh Soal 2.W1+6W2-8N2=0 .4 . maka : +4. 4. Hitung besar gaya normal N1 dan N2 ! N2 Jawab : karena seimbang maka N1 4m 2m 2m ΣF=0 dan Στ =0 Ambil acuan O di ujung kiri papan (Titik acuan O tentukan sendiri!) O W1 W2 1) ΣF=0. maka +W1+W2-N1-N2=0 .N2=0 -> Diperoleh : N2= 350newton. sedang berat mahluk yang akan menyeberang 400N. Papan yang panjangnya 8 m dan berat 400N menahan beban yang beratnya 200N dengan posisi seperti pada gambar. diberi tanda – 115 Contoh Soal 1.

Menurut teori trigonometri. posisi mahluk berada pada ketinggian h. maka : N1= 480 newton. kemudian gambar seluruh vektor gaya yang ada dalam sistim setelah mahluk tersebut naik.1200 = 480 . dan N1 (Tak ada torka oleh N2). Maka : O x N2 12m h . pada segitiga siku-siku berlaku h:12m=x:9m=t :L N1 12m L (panjang sisi miring) 400N t 800N Fs O 9m 9m Anggap pada saat jembatan tepat ambruk ketika diinjak.116 Jawab : Buat acuan O. dan proyeksinya ke bidang datar sejauh x dari acuan O. Posisi gaya 400N terhadap O adalah berjarak = x meter Posisi gaya 800N terhadap O adalah berjarak = 3 meter. misal di ujung bagian bawah papan miring. Sekarang mulai dilakukan perhitungan sesuai dengan teori keseimbangan : 1) ΣF=0 .4. 800N. Torka-torka yang ada dengan acuan O adalah: yang ditimbulkan oleh gayagaya 400N.µsN2 = 0  N1=0. Posisi gaya N1 terhadap O adalah berjarak = 12 meter. karena gaya-gaya yang bekerja ada pada sumbu x dan y maka : ΣFx=0 dan ΣFy=0  Pada arah sumbu y : ΣFy=0  N2-400-800=0  N2 =1200 newton Pada arah sumbu x : ΣFx=0  N1-Fs = 0  N1 . 2)Στ =0 .

4m.x – 2400 = 0 .4)(12)/(9) = 11. sehingga:12. tentukan pusat berat dari mobil tsb diukur dari roda A ! .4m B B adalah 54%.4m : 9m Maka pada posisi mahluk h = (8. h : 12m = x : 9m = t : L . Menurut perbandingan trigonometri.3 = 0  5760 – 400.3 = 0  N1= 480 newton.N1 – 400.8 m/s2 60o Tentukan besar gaya tegangan tali T yang berfungsi menarik beban! Contoh Soal 4 : Berat mobil adalah 10.000N. h : 12m = 8.x – 800. x = 3360/400 = 8.2m jembatan ambruk! 117 Contoh Soal 3 : Mobil derek digunakan untuk mengangkat beban bermassa 2000 kg menggunakan alat seperti pada gambar berikut : B Panjang batang AB=10m Massa batang 100 kg (Pusat berat tepat ditengah) 30o dengan T C 2000 kg A Jarak CB= 0. jadi .x – 800. Apabila gaya normal di roda A adalah 46 % sedang gaya normal di roda A 2.480 – 400.5m g = 9.+12.

Berdasarkan Asas Black. Panas Jenis (c) : adalah banyaknya panas persatuan massa per derajat perubahan temperatur. Persamaan ditulis : C = Q/∆T.c ∆T .1. Panas Panas merupakan bentuk energi yang ditransfer diantara dua benda sebagai akibat adanya beda temperatur (suhu). Satuan untuk panas jenis c adalah joule / kg K.c. Pengukuran terhadap temperatur rendah dan menengah ( sampai 500 C) biasanya digunakan thermometer. ∆T joule. diberi simbol Q. dalam satuan kelvin (K) . 15. Kapasitas panas (C) : dahulu disebut kapasitas termal.1. m = massa benda. sehingga dengan demikian persamaan untuk panas dapat dituliskan : Q = m.118 23 15. apabila suatu benda memberikan panas . Satuan kapasitas panas C adalah joule/kelvin (J/K) 15.2. atom-atom.1868 J Temperatur suatu benda yang menentukan arah aliran panas ketika suatu obyek mengalami kontak panas dengan obyek lain.1. sedang pengukuran terhadap temperatur tinggi digunakan pyrometer. dimana ∆T = perubahan temperatur. Satuan panas dalam SI adalah joule sedang dilapangan sering digunakan satuan kalori (kal)  1 kal = 4. adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu benda sebesar 1oC. Temperatur adalah ukuran dari energi kinetik molekul-molekul.1. atau ion-ion pada mana suatu benda atau zat tersusun. Panas mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat lain yang bertemperatur lebih rendah. PANAS DAN PERPINDAHAN PANAS 15. c = Q/m.

3. a. dikatakan temperatur kedua benda dalam keadaan seimbang. Dinyatakan bahwa panas yang diberikan oleh benda 1 ke benda 2 = panas yang diterima oleh benda dari benda 1 Q1 = Q2  m1. ∆Τ1= m2.c1. Lo Lt ∆L .kepada benda yang lain maka pada saat tertentu temperatur kedua benda sama. Ekspansi dan Kontraksi Pada umumnya benda akan mengalami perubahan ukuran apabila suhu benda berubah. sedang kontraksi adalah berkurangnya ukuran benda jika suhunya diturunkan. c2 = panas jenis benda 2 15. Ekspansi Linier (untuk benda padat dengan peninjauan hanya kearah 1 dimensi.1.c2. akan mengalami perubahan panjang sebesar ∆L yang berbanding lurus dengan ∆t. Efek ini berkaitan dengan perubahan energi atom-atom/molekul-molekul akibat perubahan suhu. Ekspansi adalah bertambahnya ukuran benda jika suhunya dinaikkan.∆Τ2 119 Keterangan : ∆Τ1 = beda suhu benda 1(T1)dengan suhu akhir Ta = (T1-Ta) ∆Τ2 =beda suhu akhir Ta dengan suhu benda 2(T2) = (Ta-T2) m1 = massa benda 1 . m2 = massa benda 2 c1 = panas jenis benda 1 . misal kawat logam) Jika suatu benda padat (rigid body = benda tegar) panjang mula-mula Lo diberi perubahan suhu ∆t.

Lo.yo.αyo.Besar kecilnya perubahan juga tergantung kepada jenis benda.xo.α.∆x yo Ao = xo. dimana xo.∆t. Perhatikan benda 2 dimensi pada gambar berikut ini : xo. sedang pada suhu akhir t panjangnya adalah Lt maka ∆L = Lt – Lo.yo = Ao  Karena koefisien ekspansi umumnya kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 yang ada dalam tanda kurung diatas.∆x = xo.∆y ∆y yo. ini berarti α.t + αxo.∆y + yo.∆y + ∆ x.xo.∆t = α.∆t) .∆t) .yo xo ∆x ∆x.t ) 120 b. dengan demikian persamaan menjadi : Lt = Lo ( 1 + α.∆t kecil sekali relatif terhadap bilangan 2 maka dapat diabaikan sehingga : ∆A =2α.∆t.∆t atau : α = ∆L/Lo∆ t  Jika panjang benda pada suhu mula-mula to adalah Lo. atau At = Ao (1 + 2α.yo∆t (2 + α. setelah dipanasi sampai suhu t maka sisi xo bertambah panjang sebesar ∆x.∆y Luas mula-mula Ao dan suhu mula-mula to.Αο. Ekspansi Bidang (peninjauan kearah 2 dimensi) Jika benda homogen berekspansi maka jarak antara 2 titik dalam zat itu bertambah sebanding koefisien ekspansinya tiap derajat kenaikan suhu.∆t + yo. sisi yo bertambah panjang sebesar ∆y.α. oleh karena itu harus dimasukkan suatu faktor berupa konstanta yang dinamakan koefisien ekspansi linier alpha ( α ) sehingga diperoleh persamaan : ∆L= α. sedang ∆t = t – to. Jika ∆A = At – Ao maka : ∆Α = xo.

∆t)  besaran 3α dinamakan koefisien ekspansi volum γ .∆ t) c.2. suhu air mendidih 672oR : Skala suhu air beku 273K. pada umumnya hanya digunakan untuk pengukuran temperatur rendah dan menengah. 121 Macam-macam Thermometer : Celcius Reamur Rankine Kelvin : Skala suhu air beku 0oC. suhu air mendidih 373K t oC Suhu air mendidih Suhu air membeku Suhu Nol Mutlak 100 0 -273 t or 80 0 -218 t oF 212 32 -460 t oR 672 492 0 tK 373 672 0 Fahrenheit : Skala suhu air beku 32oF. suhu air mendidih 212oF Keterangan : t oC = 4/5 t or = (9/5 t + 32) oF = (273 + t)K t oR = t oF + 460 24 15. Ekspansi Volum (peninjauan kearah 3 dimensi) Dengan cara identik pada teori ekspansi bidang maka dapat diperoleh persamaan ekspansi volum (tiga dimensi)  Vt =Vo(1 + 3α. maka persamaan dapat ditulis : Vt = Vo (1 + γ.∆ t) Termometer : adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperatur (suhu) benda. suhu air mendidih 80or : Skala suhu air beku 492oR. suhu air mendidih 100oC : Skala suhu air beku 0or.Besaran 2α biasa disebut koefisien ekspansi luasan β sehingga persamaan dapat ditulis : At = Ao (1 + β. Perpindahan Panas (Heat Transfer) Mekanisme perpindahan panas dari suatu tempat ke tempat lain ada 3 cara : .

Konduksi Jika suatu bahan misal besi dengan luas permukaan A dan tebal x salah satu sisinya dipanasi maka panas akan mengalir dari sisi yang bersuhu lebih tinggi ke sisi lain yang bersuhu lebih rendah. misal : besi. Apabila lama waktu mengalir adalah t maka besar jumlah energi panas yang mengalir : Q = . Radiasi : Perpindahan panas tidak memerlukan medium untuk perambatannya karena disini panas dibawa oleh gelombang elektromagnetik.1.A. 2. dan fluida lainnya. udara.k. satuannya J/s Secara umum persamaan dituliskan : H = dQ/dt = .A. harganya tergantung jenis bahan (J/smK) T2 A Q k T1 A = luas permukaan (m2) ∆T = (T2 – T1). dinamakan arus panas H. dan sebagainya. ∆T/x . dimana : dQ = elemen panas yang mengalir .∆T/x .dT/dx . Konduksi : Proses perpindahan panas pada medium zat padat dimana energi panas dipindahkan oleh gerakan elektron elektron bebas pada medium tersebut. 3. tembaga. misal radiasi matahari yang datang ke bumi melewati daerah vakum di angkasa luar.t.A. dimana : Q = jumlah panas yang mengalir (J) k = koefisien konduksi. suhu T2>T1 x = tebal bahan (m) x Dengan demikian maka jumlah panas yang mengalir per satuan waktu dinyatakan sebagai : Q/t = .k.k. 122 15.2. misal air. Konveksi : Perpindahan panas oleh perpindahan massa dari benda yang menjadi mediumnya. beton.1.

T2. Tx = k1.. Keterangan : T2 Tx Q k1 k2 T1 A k1 = koefisien konduksi bahan 1 k2 = koefisien konduksi bahan 2 x1 = tebal bahan 1 x2 = tebal bahan 2 Tx = suhu sambungan x1 x2 Pada lapisan bahan 1 : H1 = .k1. maka kondisi demikian disebut dalam keadaan tunak (steady state).(1) Pada lapisan bahan 2 : H2 = .k2. akan diperoleh besar arus panas yang mengalir pada benda yang tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda ini : .x1+k1.A (Tx-T1)/x2…….…….A (T2-Tx)/x1 ……….A (Tx-T1)/x2 Dari persamaan diatas diperoleh besar suhu pada sambungan Tx .A (T2-Tx)/x1 = . menunjukkan adanya penurunan suhu dT = elemen perubahan suhu dx = elemen tebal bahan 123 Arus Panas melalui beberapa jenis bahan Apabila arus panas mengalir melalui dua buah lapisan yang jenisnya berbeda dimana suhu T2 dan T1 besarnya konstan (T2>T1).k1.x2 + k2.T1.dt = elemen waktu .x1 / (k2.x2)  Dengan memasukkan harga Tx ini kedalam persamaan (1) atau (2).…………(2) Karena H1 = H2 maka : .= tanda negatif. Dengan demikian besar arus panas pada lapisan bahan yang satu H1 sama dengan besar arus panas panas pada lapisan bahan dua H2.k2.

dT.2 π.r. secara umum persamaan arus panas dapat dituliskan : H = A (T2 – T1) / Σx/k . 2 π.dr/r = .H = A (T2 – T1) / (x1/k1+x2/k2) Untuk sejumlah n lapisan bahan..L. . atau : H. dalam keadaan ”steady state” dimana harga T2 dan T1 besarnya konstan maka digunakan persamaan : H = . luas permukaan elemen silinder : A = 2 π..k. oleh karena itu perlu dihitung menggunakan teori integral.A.k. karena mengalami pengembangan luas. dimana Σx/k = x1/k1 + x2/k2 + x3/k3 +..L..xn/kn 124 Arus Panas pada benda Bentuk Pipa Pada bab terdahulu aliran panas bergerak searah karena luas permukaan bagian belakang sama dengan luas bagian depan. Jika suhu dibagian dalam pipa T2 sedang suhu dibagian luar pipa T1 dimana T2>T1.dT/dr..k.dT/dx T1 T2 L Berjari-jari : Ra r Rb Ditinjau elemen silinder berjari-jari ”r”(garis tebal).r.. namun tidak demikian untuk panas yang mengalir dari bagian dalam suatu benda berbentuk pipa (silindris) kearah bagian luar. maka H = .L.

Untuk r = Ra.L. besar suhu T = T1.ln(b/c) . apabila arus panas mengalir melalui dinding pipa berlapis banyak yang masing-masing lapisan terbuat dari jenis bahan yang berbeda maka dalam keadaan steady state.L. Suhu di bagian dalam pipa T2.L.2 π.ln a/b = . sedang jari-jari sambungan adalah s.L. H1 = H2 maka : 2π. maka besar suhu T = T2.k (T2-T1)/ln(b/a) J/s 125 Aliran Panas pada pipa dengan Dinding Berlapis Banyak Sebagaimana pada papan datar. besar arus panas H adalah sama pada tiap-tiap lapisan.T2.ln(c/a)+k1. Hargaharga ini merupakan batas integral.k.ln(b/c) + k2. suhu di sambungan Tx.(T2-T1) .ln(c/a) / k2. sehingga apabila dimasukkan ke persamaan diperoleh : H ∫ba dr/r =-2π. H (ln a-ln b)= -2 π. H.ln b/a = + 2 π.L.k2 (Tx-T1)/ln (b/c) Dalam keadaan steady state.T1.k∫T1T2 dT . Ditinjau sebuah pipa tang dindingnya terdiri dari dua jenis bahan yang berbeda. H. sedang untuk r = Rb. misal bahan 1 dibagian dinding dalam pipa mempunyai koefisien konduksi k 1.k2(Tx-T1)/ln(b/c) Dari persamaan ini diperoleh besar suhu pada sambungan (daerah lingkaran tebal) yakni Tx : Tx = k1. jari-jari bagian luar pipa b.k1(T2-Tx)/ln (c/a) Pada dinding luar : H2 = 2π. L. Jari-jari bagian dalam pipa adalah a. sedang bahan 2 dibagian dinding luar pipa mempunyai koefisien konduksi k2 seperti pada gambar dibawah.k1(T2-Tx)/ln(c/a)=2π. dan suhu di bagian luar pipa T1 .k.L. Berikut adalah gambar penampang pipa berlapis dua : b T1 Pada dinding dalam : H1 = 2π.k(T2-T1)  Maka besar arus panas yang mengalir melalui dinding dari bagian dalam pipa ke bagian luar : H = 2π.L.(T2-T1) .L.

dan r4 (perhatikan gambar penampang pipa berlapis banyak pada gambar dibawah). dan jari-jari dari arah bagian dalam pipa menuju bagian luar adalah ro. r2.k. sedang jari-jari bagian luarnya Rb dan bersuhu T1 maka besar arus panasnya dapat dicari sebagai berikut : H = . maka besar arus panas H yang mengalir melalui dinding pipa tersebut adalah : 126 T1 H = 2π. k3.Dengan memasukkan harga Tx ini ke persamaan (1) atau (2) diperoleh harga arus panas H pada pipa dengan dinding berlapis dua : H = 2π. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Apabila sebuah pipa dindingnya terdiri dari 4 lapisan dari bahan bahan yang jenisnya berbeda-beda dengan koefisien konduksi masing masing bahan adalah k1. k2.dT/dr A = luas elemen bola berjari-jari r Rb T1 ( gambar lingkaran tebal) .A. r3. r1. dan k4. L(T2-T1) / [ ln(r1/ro)/k1+ln(r2/r1)/k2+ln(r3/r2)/k3+ln(r4/r3)/k4] Arus Panas pada benda Bentuk Bola Apabila sumber panas mengalir dari dalam sebuah benda homogen berbentuk bola dengan jari-jari bagian dalam Ra dan bersuhu T2.

H = .dT Batas integralnya adalah : T2 >T1 Untuk r = a.K. Tebal kedua bahan sama yakni 4cm.K.48 J/s.dr /r 2 = -4 πk. Contoh Soal : Suatu pipa dinding berlapis 2 dengan jari-jari dinding terluarnya 20cm terbuat dari 2 bahan yang berbeda jenisnya mengalirkan cairan panas bersuhu 60oC.k.m. Apabila suhu di permukaan luar pipa 20oC.4 πk (T2-T1) -H (1/a-1/b) = -4 πk(T2-T1)  Jadi besar arus panasnya adalah : H = 4 π k (T2-T1)/ [(b-a)/ab] Untuk dinding bola yang terdiri dari beberapa lapisan bahan dari jenis yang berbedabeda. dengan cara seperti pada bab-bab terdahulu (yakni dengan persamaan H1=H2) maka besar arus panas yang mengalir dapat dihitung. bahan yang mana yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa agar daya isolasi dinding terhadap panas lebih besar ? (daya isolasi = kebalikan daya konduksi) 20oC b a . 4 π r2 dT/dr Persamaan ini dapat ditulis : H. H [ -1/r ] ba = . besar suhu = T1 127 H ∫ ba dr/r2 = .4 πk ∫ T1T2 dT . sedang koefisien konduksi bahan 2 = 0.m.A = 4 π r2 .04 J/s. besar suhu = T2 Untuk r = b. Koefisien konduksi bahan 1 = 0.

68L Jika bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π. Karena daya isolasi kebalikan dari daya konduksi maka berarti agar daya isolasi dinding pipa lebih besar maka yang harus ditempatkan dibagian dalam pipa adalah bahan 2.48 ] = 2π.599+5.L(40)/[7.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.178 J/s = 251.33L/7.465 = 80πL/7. Adapun jika bahan 2 yang ditempatkan dibagian dalam pipa daya konduksi panasnya lebih kecil.81L Dari hasil perhitungan diperoleh harga arus panas H untuk bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa (bahan 2 diluar) lebih besar jika dibandingkan dengan harga H untuk bahan 2 yang ditempatkan di bagian dalam (bahan 1 diluar).33L/6.192+0. berarti daya konduksi panas lebih besar.58] = 80πL/6. .04 ] = 2π.66 = 32.66 J/s = 251.Jawab : Besar arus panas untuk pipa yang dindingnya tersusun dari 2 jenis bahan yang berbeda adalah : H = 2π.48+ln(20/16)/0.04+ln(20/16)/0. L(T2-T1) / [ ln(c/a)/k1+ln(b/c)/k2 ] Dimana : a = jari-jari dinding dalam b= jari-jari dinding luar c = jari-jari sambungan (gambar lingkaran tebal) 128 Jika bahan 1 yang ditempatkan di bagian dalam pipa : H = 2π.L(60-20) / [ ln(16/12)/0.L(40)/[0.178 = 40.

sedang massa elektron = 9. Massa atom M dihitung dari banyaknya massa proton dan massa netron dalam inti.10-27 kg. sedang muatan listrik elektron = -1. sedang kulit atom berisikan elektron (e) yang bermuatan listrik negatif. STRUKTUR ATOM DAN MOLEKUL Inti atom.10 -19C. Muatan listrik proton = +1.10 -19 coulomb (C). massa netron kurang lebih sama dengan massa proton.67. Atom Atom merupakan elemen dasar dari suatu benda yang tersusun dari inti atom dan kulit atom.1. jadi dapat diabaikan. Nomor atom Z menunjukkan banyaknya proton yang ada dalam suatu atom = banyaknya elektron yang ada dalam atom tersebut. berisi proton (p) dan netron (n) Kulit atom.6. berisi elektron (e) 16.129 25 16.1.10-31 kg. Benda-benda . Massa proton = 1.6. Inti atom terdiri dari proton (p) yang bermuatan listrik positif dan netron (n) yang tidak bermuatan listrik (netral). sedang massa elektron karena relatif kecil tidak dimasukkan dalam perhitungan.

Pauli (1925) mengemukakan prinsip yang dikenal dengan prinsip Exclusi Pauli yang menyatakan bahwa : Dalam setiap atom tidak boleh ada suatu elektron yang mempunyai ke empat bilangan kuantumnya tepat sama dengan yang lain. atau kalau dibalik. ion. 16. Pada orbit n = 1 mempunyai energi terrendah.1. 1 mole suatu zat adalah jumlah/banyaknya zat tersebut yang massanya sama dengan massa atom / molekuler zat itu. dan seterusnya.2. elektron. zat-zat tersebut terdiri atas molekul yang sama jumlahnya. mungkin atom.10 -27 23 butir. Demikian juga untuk 235gram 235U terdapat 1 mole atom-atom uranium.4. 130 Satu mole setiap zat apa saja mengandung sebanyak 6. molekul. (atomic mass unit) dengan simbol u yang kg.67. Berdasarkan kenyataan ini didefinisikan istilah mole.3. Elektron terdapat pada kulit atom. proton.u. Elektron Elecktron merupakan partikel dasar untuk listrik.L. Satuan massa untuk atom dan molekul adalah a.10 besarnya 1..2. Keberadaan setiap elektron pada kulit atom mengikuti aturan tertentu.M.N. suatu tempat dimana elektron mengorbit menempuh lintasan lingkaran mengelilingi inti atom. dan semua muatan listrik merupakan kelipatan muatan elektron. Molekul adalah suatu bentuk atom tunggal atau kelompok atom yang berikatan secara kimia. Bila massa dua zat yang berbeda mempunyai massa molekuler yang sepadan.4. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa : 1 mole carbon12 mempunyai massa 12 gram karena massa atom carbon-12 besarnya 12u. Empat bilangan kuantum electron adalah : a. Tempat kedudukan elektron pada n = 1. dan seterusnya dinamakan kulit K. dan lain sebagainya... Banyaknya elektron disetiap kulit .m.3.yang berada disekitar kita termasuk yang digunakan dalam dunia industri terdiri atas banyak sekali atom-atom dan molekul-molekul.. untuk 12 gram 12C terdapat 1 mole atom-atom carbon.022.. Bilangan Kuantum Utama-n : berharga 1.1. Jadi jumlah zat itu.

sub kulit 2p ( n = 2. +1/2. -1.2. maka m = -2. l = 0 ) masing-masing berisi dua elektron..1.+(l-1).2. +2 d.f. Tabel Bilangan Kuantum Apabila kita akan membuat tabel bilangan kuantum-n.0. akan mem punyai harga m yang banyaknya 2l+1. Banyaknya elektron di setiap sub kulit maksimum 2(2l+1).…..2 .. b.( n-1 ). +1. 131 c. Bilangan Kuantum Spin-s : untuk setiap harga m yang ada.. dengan s = 1/2 dan . dan seterusnya. Jadi apabila n = 1 maka l = 0..1. Maka apabila m = -1. l = 1 ) berisi enam elektron.3. apabila n = 2 maka l = 0 dan l = 1.. dan sub kulit 3s ( n = 3. +1 Untuk l = 2.m.. 0. l = 0..1. 16. Konfigurasi Elektron Susunan electron pada kulit atom dapat dituliskan sebagai berikut : Misal atom natrium Na dengan jumlah elektron 11 buah. Apabila sub kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada sub kulit tersebut kurang dari 2(2l+1).3.2.. l = 0 ) berisi satu elektron. Orbital l = 1. maka m = -1.d. l = 0 ) dan 2s ( n = 2.4. artinya : sub kulit 1s ( n = 1 .+l.. +1/2. 0.. -1/2. -1/2.maksimum adalah 2n2. Jadi apabila l = 1.. terdapat 2 s yang harganya : +1/2 dan -1/2. dituliskan : 11 Na  1s2 2s2 2p6 3s1 . Apabila kulit tidak sepenuhnya terisi maka jumlah elektron pada kulit tersebut kurang dari 2n2 . Jadi untuk l = 0 maka m = 0. bilangan kuantum spin “s”nya : +1/2. dan seterusnya merupakan sub kulit yang dinamakan s. Bilangan Kuantum Azimuth (orbital)-l : berharga l = 0.p. +1. 0. Harga m nya mengikuti rumus : -l.l. Bilangan Kuantum Magnetik-m : untuk setiap harga l yang ada.. -(l-1).. dan s dari kulit M yang terisi penuh elektron maka dapat dilakukan cara sebagai berikut : Kulit M berarti n = 3 . -1/2.

132 Tabel bilangan kuantum untuk 18 buah electron yang berada di kulit M : n l m s 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 0 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 0 0 -1 -1 0 0 +1 +1 -2 -2 -1 -1 0 0 +1 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 -1/2 1/2 . apabila terisi penuh berarti jumlah elektronnya ada 2n2 = 2. untuk l =2 maka m = -2. dengan s = 1/2.-1/2.-1/2 . ( Ingat. 0.-1/2.-1/2.1/2. banyaknya m = 2l+1 )! Perhatian : Untuk kulit M (n=3).1/2. -1. +1. +2. 1/2.-1/2 .1/2.32 = 18 buah.-1/2.1/2. untuk l = 1 maka m = -1.-1/2.-1/2.1/2. -1/2.+1 dengan s = 1/2.0.

-1/2. Ada beberapa sistim ikatan molekul : 16. dan 2 l = 0 .2. 1/2. Atom chlorida Cl mempunyai jumlah elektron 17. 1/2.+1. Karena di kulit ini hanya terisi 1 buah elektron maka atom Na ini tidak stabil dan cenderung melepas elektron terluarnya untuk menjadi ion positif. yakni 2 buah di kulit K.-1/2. 1/2. +1. serta 1 buah di kulitnya yang terluar M. -1/2.+2 133 Jadi semua m ada : 0 .-1/2. -2.0. 1/2. -1. -1/2. 1 . -1/2.0.+1  untuk l = 2 maka m ada 5 buah yaitu -2.1.-1/2 16. Misal atom natrium (Na) dengan jumlah elektron total 11 buah.1/2. Maka atom cenderung untuk mendapatkan atau melepaskan elektron untuk memperoleh kulit tertutup dengan cara bergabung dengan atom lain. 1/2 -1/2.-1. 1/2. dengan . 2 untuk l = 0 maka m ada 1 buah yaitu 0  untuk l = 1 maka m ada 3 buah yaitu -1. 0.1. -1/2. (Ion = atom atau gugusan atom yang bermuatan listrik). Ikatan Molekul Suatu atom berada dalam keadaaan paling stabil jika kulit-kulit elektronnya tertutup (jumlah elektronnya maksimum sesuai dengan aturan Pauli). -1. 8 buah di kulit L. Ikatan Ionik : merupakan ikatan elektrostatik antara ion-ion. 0.3 3 3 2 2 2 +1 +2 +2 -1/2 1/2 -1/2 Tabel untuk kulit M yang terisi penuh elektron diatas berasal dari penjabaran berikut : n = 3  berarti jumlah l ada 3 yakni : l = 0. +2 Tiap 1 buah harga m ada 2 buah s yakni +1/2 dan -1/2. sehingga total bilangan kuantum spin s nya : 1/2. +1 .2. 1/2.

dan 7 buah di kulit terluarnya M. Oleh karena itu disini masih banyak tempat kosong sehingga atom Cl ini tidak stabil dan cenderung untuk menarik elektron dari luar untuk menjadi ion negatif. Akhirnya. Ikatan molekul H2 b). 8 buah di kulit L. Contoh ikatan antara Natrium dengan Chlorin membentuk NaCl : 134 e Na Cl Na+ Cl- 16. dan yang lain negatif karena mendapat tambahan elektron. Ikatan molekul C2 H2 Atom Hidrogen hanya memiliki 1 buah elektron sedang Atom Carbon memiliki 6 buah elektron yakni 2 elektron di kulit dalam (tidak digambar) dan 4 elektron di kulit luar. kedua ion ini tarik menarik membentuk ikatan molekul ”Ionik”.2. Ikatan Covalen : adalah ikatan antar atom dengan cara pemakaian bersama sepasang elektron atau beberapa pasang Contoh : H H H C C H b).perincian : 2 buah di kulit K. Apabila satu-satunya elektron yang ada di kulit terluar atom Na ini pendah ke kulit terluar atom Cl yang banyak kosong maka akan menghasilkan 2 buah ion.2. yang satu bermuatan positif karena kehilangan elektron. Di kulit ini baru terisi penuh jika jumlah elektronnya 8 buah. Disini tampak di kulit terluar Atom Carbon terdapat 6 elektron .

. 2004 Beer.. 1978 Khumar. Gasiorowicz.. 1996 Hibbeler.L.. NY. 4th ed... NY. New Delhi. Laxmi Publications Ltd.D. 2002 Kelvey. Physics for Science & Engineering. A Text Book of Engineering Mechanics. Johnston.. F.. M. 1993 . 1981 Enge. 1994 Counihan. S.. P.2. Addison Wesley Publishing Co. Mc Graw Hill Book Company.1974. Einstein’s Theory of Relativity versus Classical Mechanics. Eurasia Publishing House Ltd.. P...T.R.. London.. Mechanics for Engineers. Prentice Hall Inc. H.. 2004 Marmet. demikian juga jumlah ion ion positif sangat banyak. J.Ikatan Logam : Setiap atom logam pada umumnya hanya mempunyai sedikit elektron di kulit terluarnya. Singapore. A Text Book of Engineering Mechanics. Karena kabut elektron berada dimana mana disela sela antar ion ion positif tersebut maka terjadilah gaya tarik menarik antara ion ion positif dengan kabut elektron dan terjadilah ikatan logam membentuk molekul 135 DAFTAR PUSTAKA Bansal. Grotch. Introduction to Dynamic System Analysis. A Dictionary of Energy.. R.Chand & Company Ltd. Prentice Hall Pearson Education Asia Pte.. R. New Delhi. Mc Graw Hill International Edition.. 2006 Khurmi. New Jersey. Routledge & Kegan Paul Ltd. 16.3. Glaucester. NY. 1987 Burton. Newton Physics Books.. Physics for Scientists and Engineers. Elektron elektron ini sangat mudah lepas dan bergerak bebas keseluruh bagian logam dengan meninggalkan ion logam yang bermuatan positif. Ltd. Harper & Row Publishers. Engineering Mechanics: Dynamics.. Engineering Fluids Mechanics..H. Karena dalam suatu benda logam terdiri dari banyak sekali atom-atomnya maka elektron elektron yang bergerak bebas jumlahnya juga sangat banyak bagai kabut elektron.karena yang 2 elektron berasal ”pinjam” dari elektron ”tetangga” yakni dari Atom H dan Atom C yang dipakai bersama. Fishbane. Introduction to Nuclear Physics. New Delhi.

Anand J. Sounders College Publishing. Engineering Mechanics : Dynamics. Physical Science with Modern Applications. A Text Book of Sound. Kraige. Virginia. 1998 136 . 1992 Miller.G.L. J. 1997 Young.. Freedman. Theory and Problems of Vector Analysis. Massachusets. Mc Graw Hill Book Company.. A. T. Hand Book of Energy Engineering. Harcourt Brace Jovanovich Inc. 2003 Merken. Dillon... Addison Wesley. New Delhi. John Wiley & Sons Ltd. 1974 Thumann. University Physics. 4th ed. 9th ed.. Metha.L.. 1994 Spiegel. P. Har Anand Publications.. P. NY. 5th ed. NY. The Fairmont Press Inc.... M. F. Concepts in Physics.. 1974 Mittal....Meriam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.