Sejarah yang melatarbelakangi lahirnya uu 26 tahun 2000 tentang peradilan HAM di Indonesia

:

Sebagai bangsa yang pernah diinjak-injak imperialisme, bangsa Indonesia menyadari betul arti hak asasi manusia. Karena itu, para pendiri negara sudah memikirkannya sejak awal kemerdekaan. Masalah hak asasi manusia pun dicantumkan dalam Pembukaan dan Batang tubuh UUD 1945. Apa yang dicantumkan itu, tiga tahun lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam perkembangannya, pasal-pasal mengenai hak asasi manusia ini banyak dicantumkan dalam Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950, juga berhasil menyepakati seperangkat rancangan pasal mengenai hak asasi manusia untuk draf Undang-Undang Dasar baru yang sedang disiapkan. Namun dengan dikeluarkanya Dekrit Presiden 1959 yang menyatakan berlaku kembalinya UUD 1945 kesepakatan tersebut dihentikan. Secara horizontal pengaturan HAM dalam UUD 1945 relatif telah ditegaskan. Namun secara vertikal yang mengacu kepada peraturan perundang-undangan dibawah UUD, pengaturan HAM mengalami pasang surut yang tidak bisa dipisahkan dengan konfigurasi politik pemerintah pada era tertentu. Sebagaimana dimaklumi bahwa pengaturan hak-hak hukum (legal rights), yang ditegaskan dalam peraturan perundang-undangan dibawah UUD, mengalami era keterbukaan sejak pemerintahan Habibie dan seterusnya. Gambaran ini menunjukan bahwa semangat yang dikandung dalam nilai-nilai dasar HAM dalam UUD 1945 tidaklah serta-merta membuahkan political will pemerintah dalam menyiapkan ketentuan perundang-undangan, baik dalam tataran undang-undang dan sebagainya. Memang terdapat faktor yang kompleks, misalnya pada tahun keberlakuan UUD 1945 (periode I), Konstitusi RIS 1949, dan UUDS 1950, yakni tidak kondusifnya kehidupan pemerintahan sebagaimana lazimnya. Akibat, ketentuan tentang HAM yang diatur lebih lanjut dalam peraturan-peraturan organik menjadi terkendala. Memasuki Orde Baru kepemimpinan Soeharto (1966-1998), rakyat menaruh harapan yang besar, khususnya dalam pemulihan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, tidak ketinggalan juga perhatian terhadap upaya-upaya perlindungan dan jaminan atas HAM. Meskipun, UUD 1945 telah berlaku pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, akan tetapi dirasa perlu untuk segera dikeluarkan kebijakan-kebijakan yang sistematis dan strategis dalam penegakan HAM di Indonesia. Namun dengan rezim yang berkuasa saat itu terkesan otoriter maka pembicaraan mengenai HAM menjadi pembicaraan publik saja.

yang dalam waktu dekat ini direncanakan akan dapat disebarluaskan kepada masyarakat guna mendapat penyempurnaan. satu diantaranya yang saya ketuai yang mempunyai tugas.Di sinilah pertama kalinya Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) menetapkan sebuah ketetapan MPRS No. Selengkapnya A. Panitia termaksud di atas setelah mengadakan sidang-sidangnya sejak bulan Agustus-November yang lalu telah menghasilkan dua buah perumusan yang dituangkan dalam bentuk sebuah PIAGAM TENTANG HAK-HAK AZASI MANUSIA DAN HAK-HAK SERTA KEWAJIBAN WARGA NEGARA. Nasution. mempelajari Hak-hak Asasi Manusia dalam hubungannya Demokrasi Terpimpin. tidak mengurangi arti pentingnya kehadiran Piagam HAM sebagai rule of the game of constitution. MPRS telah membentuk empat buah panitia Ad Hoc MPRS. Rencana perumusan piagam HAM ini mendapat respon positif dari masyarakat. Piagam Hak-Hak Asasi Manusia dan hak-hak serta kewajiban warga Negara. menurut Todung Mulya Lubis. A3/I/Ad HocB/MPRS/ 1966 diberinama. It is clear that it formslly paved the way for the revival of human rights. dan berdasarkan hasil-hasil tersebut menyusun perincian-perincian Hak-hak Asasi Manusia yang harus diperlakukan di Indonesia sesuai dengan UUD 1945. Namun. It gave new momentumto the creation of a human rights policy and was an attempt to formulate what was called the rule of the game of the constitution. H. Namun. Ketetapan ini memberikan perintah agar secepatnya membentuk panitia kecil yang akan membahas sebuah Piagam Hak Asasi Manusia. pada Sidang Umum MPRS . Memang. terdapat kritikan terhadap rumusan Piagam HAM MPRS. hal tersebut dikarenakan rumusan HAM yang terdiri dari Mukaddimah dan 31 pasal mengandung muatan-muatan HAM yang lebih jelas dan tegas. XIV/MPRS/1966. Berdasarkan putusan MPRS tanggal 6 Maret 1967 Nomor 34/B/1967 hasil Panitia Ad Hoc diterima untuk dibahas pada persidangan berikutnya. kemudian pimpinan MPRS menetapkan rancangan Piagam HAM yang tertuang dalam rancangan pimpinan MPRS RI No. Todung mengatakan sebagai berikut: In spirit of the Charter’s ambiguity. XIV/MPRS/1966 tentang Pembentukan Panitia-Panitia Ad Hoc. Setidaknya. Menindaklanjuti hal itu. dalam rangka pelaksanaan Ketetapan MPRS No. ketua MPRS mengatakan sebagai berikut: Sebagaimana saudara-saudara kiranya telah ketahui. hal tersebut.

Pertama. pengaturan HAM dalam masa Orde Baru tidaklah dalam bentuk piagam HAM. Ada dua tujuan pokok Komisi Nasional. lembaga MPRS dinilai tidak bersih dari Demokrasi Terpimpin model Soekarno. Dalam kebijakan selanjutnya. maka pemerintah Orde Baru membentuk sebuah komisi yang bernama Komisi Nasional HAM.tahun 1968. Karena itu. melalui Ketetapan MPR No. Tap MPR ini memberikan penegasan bahwa penegakan HAM dilakukan secara struktural. kembali ditegas eksistensi HAM. 50 Tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993. yang disebut juga Komisi Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. Untuk memajukan dan melindungi HAM yang sesuai dengan prinsip Negara berdasarkan atas hukum sekaligus agar langkah percepatan penegakan HAM berjalan efektif. Sikap demikian menjadi bukti bahwa Orde Baru hanya mengakui hak-hak hukum masyarakat sebagaimana telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. MPRS tidak dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis meskipun menyangkut jaminan hak-hak asasi manusia. melainkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. UUD 1945. Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) mengusulkan perlunya masalah HAM dijadikan ketetapan MPR yang akan diajukan dalam Sidang Umum MPR tahun 1998. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Tahun 1998. Dengan pembentukan KOMNAS HAM tersebut maka kelihatan dengan terang hubungan yang erat antara penegakan HAM disatu pihak dan penegakan hukum dipihak lainnya. kultural. Dalam perspektif Orde Baru. Untuk menyambut sidang umum MPR tahun 1998. seiring dengan upaya mematangkan konsolidasi pemerintahan kearah pembangunan. maka apa yang telah direncanakan oleh MPRS ini menjadi deadlock tanpa diperoleh kejelasan yang berarti. permasalahan HAM harus dimasukan dalam agenda nasional. dan . dan Piagam PBB serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM): dan kedua meningkatkan perlindungan hak asasi manusia guna mendukung terwujudnya tujuan pembangunan nasional yaitu pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Disisi lain dengan semakin matangnya konsolidasi kekuatan Orde Baru. membantu perkembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila. sebagai lembaga. Seiring derasnya arus globalisasi. rancangan piagam tersebut tidak dibahas karena sidang lebih mengutamakan membahas masalah nasional setelah terjadi tragedi Gerakan 30 September dan menata kembali kehidupan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

diatur kerangka Kerja Komnas HAM melalui Kepres No. menegakan. dan secara institusional. terdapat pandangan baru bahwa penegakan HAM. pemajuan. Sebagai anggota PBB. Konvensi tersebut berhasil disepakati dalam sidang majelis umum PBB tanggal 10 Desember 1985 dan berlaku efektif sejak 26 Juni 1987. Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi . Peran serta ini merupakan sebuah kebulatan tekad bersama bahwa penegakan HAM adalah tanggung jawab bersama dari seluruh komponen masyarakat. termasuk pemerintah sendiri. Tujuan Rencana Aksi Nasional adalah untuk menjamin peningkatan.181 Tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. dan menyebarluaskan pemahaman mengenai HAM kepada seluruh masyarakat. Rencana Aksi Nasional dilaksanakan secara bertahap dalam sebuah program lima tahunan. budaya dan agama berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Againts Torture and Other Cruel. Hal ini menunjukan kesinambungan program yang sebenarnya dapat saja ditinjau dan disempurnakan. dan perlindungan hak-hak asasi manusia Indonesia dengan mempertimbangkan nilai-nilai adat istiadat. Pada tanggal 9 Oktober 1998 Pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No. penegakan HAM juga diperankan oleh Komisi Nasional HAM yang ditetapkan dengan undang-undang. Dalam pelaksanaannya maka dibentuklah sebuah Panitia Nasional yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada presiden. melibatkan peran serta lembaga-lembaga negara beserta aparatur pemerintah. Komitmen Indonesia atas hal tersebut terlihat dari keluarnya Undang-Undang No. Secara struktural. Keluarnya kepres ini didorong oleh kesadaran yang tinggi tentang kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat sebagaiman amanat UUD 1945 bahwa warga Negara mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum dan pemerintahan. Tujuannya adalah agar terciptanya sikap menghormati. Pada masa pemerintahan Habibie (1998-1999) tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1998. dibutuhkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat. pada tanggal 23 Oktober 1985 Indonesia turut serta menandatangani sebuah konvensi yang menentang segala bentuk penyiksaan yang tidak manusiawi.institusional. Disini. tetapi juga membutuhkan sebuah langkah kongkret dan sinergis dari segenap lapisan masyarakat. ternyata tidaklah semata-mata dicapai melalui sebuah “Piagam HAM” saja.129 Tahun 1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia. Secara kultural.

Tidak Manusiawi.dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negra. Sebagai bagian dari HAM. Majelis Umum PBB memberikan kekuatan hukum yang mengikat bagi semangat penghapusan diskriminasi rasial dengan menerima Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. yakni Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kewajiban Dasar Manusia (KDM). 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Maka. tidak terkecuali bagi Indonesia. pemerintah. Dalam hal kedudukannya. XVII/MPR/1998. Awalnya Konvensi ini disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 21 Desember 1965 dengan Resolusi 2106A (XX). UU ini memiliki nilai penting dalam menjamin hak dan kebebasan berpendapat sebagai hak asasi manusia. tidak memungkinkan terlaksananya dan tegaknya hak asasi manusia. UU ini menegaskan dua hal yang prinsipil.Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Adapun KDM adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan. Korelasi keduanya menunjukan terdapatnya keseimbangan tatanan dalam kehidupan masyarakat. dan setiap orang dan demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. pada tanggal 23 September 1999 diberlakukanlah UU No. atau Merendahkan Martabat Manusia). dengan pengesahan konvensi ini Indonesia semakin menyatakan komitmennya dalam penegakan HAM di Indonesia. pada tanggal 26 Oktober 1998 berlaku UU No. Sejalan dengan kegiatan RANHAM. 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan International Convention of the Elimination of All Forms of Racial Discrimination 1965 (Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial 1965). HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati. Antara Hak Asasi Manusia (HAM) dengan Kewajiban Dasar Manusia (KDM) terdapat korelasi. maka pada tanggal 25 Mei 1999 pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Internasional PBB penghapusan diskriminasi rasial yang tertuang dalam UU No. UU ini merupakan payung hukum dari seluruh peraturan perundang-undangan yang menyangkut HAM. Sebagaimana layaknya hak menuntut adanya pula kewajiban bagi pihak yang lain. hukum. Dalam rangka melaksanakan Ketetapan MPR No. yang disingkat menjadi UU HAM. . 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Pengertian “kejahatan terhadap kemanusiaan” dalam pasal 9 UU no.26/2000 juga sumir karena tidak ada parameter yang tegas untuk mendefinisikan unsur “meluas”. sesuai dengan amanat Bab IX Pasal 104 Ayat (1) UU No. yang disingkat menjadi UU Pengadilan HAM. Jika memang demikian. Tentang Konsep Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Sementara.26/2000 dengan definisi tindak kejahatan serupa menurut hukum internasional. untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat. a. Sayangnya adopsi tersebut dilakukan dengan beberapa distorsi yang pada akhirnya melemahkan konsep kejahatan terhadap kemanusian itu sendiri. Maka. dalam bagian mengenai definisi konsep-konsep tentang kejahatan terhadap kemanusiaan. …” . Oleh karena itu Pengadilan HAM ini dikhawatirkan oleh banyak pihak tidak akan dapat memberikan effective remedy bagi korban pelanggaran HAM.Selanjutnya. Implikasinya. Ketidakjelasan defenisi menyangkut ketiga elemen tersebut mengakibatkan (pembuktian) pemidanaan terhadap kejahatan-kejahatan yang dimaksud akan menjadi sulit. delik kejahatan Internasional (delicta juris gentium) diluar dua jenis kejahatan tersebut seperti misalnya kejahatan agresi dan kejahatan perang serta pelanggaran terhadap Konvensi Geneva tidak ter-cover di dalam Undang-Undang ini.26/2000 mengadopsi pengertian yang terdapat dalam Statuta Roma. dengan adanya amanat tersebut pada tanggal 23 November 2000 secara resmi berlaku UU No. Padahal penjelasan Undang-Undang ini secara eksplisit menyatakan bahwa UU ini mengacu pada Statuta Roma. dibentuklah sebuah pengadilan khusus HAM yang dilingkungan Peradilan Umum. 39 Tahun 1999.26/2000? Selain itu. mengapa tidak juga dimasukkan Kejahatan Perang dan Kejahatan Agresi ke dalam yurisdiksi pengadilan HAM dalam UU no. “sistematik” dan “intensi” yang menjadi unsur utama bentuk kejahatan ini. ternyata ada ketidaksesuaian yang sangat signifikan antara bentuk-bentuk pelanggaran berat hak asasi manusia sebagaimana yang dicantumkan dalam UU no.26 tahun 2000 sebagaimana tercantum dalam pasal 7 hanya meliputi dua macam kejahatan yaitu genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. dan tentang tanggung jawab komando UU No. secara teoretis. para pelanggar HAM yang bisa diadili menjadi semakin “sedikit” karena kejahatan yang dapat diadili oleh Pengadilan ini hanya meliputi dua jenis kejahatan itu saja. Kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) yang rumusannya terdapat dalam pasal 9 UU No 26 tahun 2000 berbunyi sebagai berikut: “Kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinyabahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. UU NO 26 Tahun 2000 dan hubungannya dengan hukum internasional Pelanggaran HAM Berat dalam UU no.

yaitu pasal 28 ayat 1 (a) Statuta Roma secara tegas menyatakan bahwa komandan militer seharusnya “mengetahui bahwa pasukan tersebut melakukan atau hendak melakukan kejahatan…” .” Dalam rumusan pasal 9 UU no. sumber dari pasal spesifik tersebut. Selain itu dalam UU No.Dalam Statuta roma. artinya. unsur meluas atau sistematik juga dapat ditelusuri melalui unsur tindak pidana (element of crime) yang dilakukan pada korban sipil.” Padahal. b. Konsep Tanggung Jawab Komando Ketentuan pidana dalam UU no.26/2000 juga melingkupi tanggung jawab komando (command responsibility). Dengan demikian Jaksa Penuntut Umum harus dapat menunjukkan dan membuktikan adanya “keperluan” (urgensi) untuk mengadili para penanggung jawab komando. …” Pengertian di atas. Pasal ini secara tegas menguatkan pengertian kejahatan terhadap kemanusiaan dalam pasal 9 yang cenderung ditujukan pada pelaku langsung di lapangan.26/2000 tidak terdapat pencantuman secara detail dan eksplisit mengenai jenis tindakan kejahatan seksual yang masuk dalam yuisdiksi Pengadilan HAM. padahal di Statuta Roma yang setara adalah bobot kekerasan/kejahatannya (equal gravity). Pengertian tanggung jawab komando dalam pasal ini dijabarkan sebagai berikut: “komando militer atau seseorang yang secara efektif bertindak sebagai komando militer dapatdipertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang berada dalam yurisdiksi pengadilan HAM. secara implisit menegaskan bahwa tanggung jawab komando dalam kasus pelanggaran berat hak asasi manusia yang diatur melalui UU ini bukanlah sebuah hal yang bersifat otomatis dan wajib. inter alia the deprivation of access to food and medicine. melainkan juga bisa diacu pada intensivitas bentuk kejahatan yang dilakukan. calculated to bring about the destruction of part of a population. Dengan tidak adanya “pertimbangan” ini maka bisa dibilang secara otomatis membatasi pembuktian unsur meluas semata-mata pada jumlah korban dan luasan geografis. Prinsip ini terpapar dengan jelas dalam rumusan pasal 7 ayat 2 mengenai penjelasan definitif atas “extermination” (pemusnahan): “… includes the intentional infliction of conditions of life.26/2000 terma “calculated” tidak disertakan. dan bukan hanya pelaku lapangan saja. Namun pasal 42 ayat 1 Undang-Undang ini mempunyai beberapa kelemahan dengan konsekuensi hukum yang besar. yang dilakukan oleh pasukan yang berada dibawah komando dan pengendaliannya yang efektif. Lebih lanjut. meluas dapat tidak hanya mengacu pada massivitas korban atau luasan wilayah kejadian. pasal 42 ayat 1 (a) mensyaratkan penanggung jawab komando untuk “seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat. yang menggunakan kata “dapat” (could) dan bukannya “akan” (shall) atau “harus” (should). Dalam pasal 9g tidak menyertakan penjelasan definitif mengenai “bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya yang setara” Ini berimplikasi pada bisa diinterpretasikannya kejahatan seksual lain sebagai bentuknya yang setara.

apakah perlu atau tidak (obligation of conduct). (2) ia mempunyai kesempatan untuk mengambil tindakan. Tentang apakah seseorang tersebut “seharusnya mengetahui” harus diuji sesuai keadaan yang terjadi dan dengan melihat juga orang/pejabat lain yang setara dengan tertuduh.Distorsi ini berarti mengabaikan adanya kewajiban dari pemegang tanggung jawab komando untuk mencegah terjadinya kejahatan. Selain Statute Roma banyak juga konvensi2 internasional yang diadaptasi dalam menunjang penegakan HAM diIndonesia. pasal ini berimplikasi pada pengadilan terpaksa menekankan fokus perhatiannya pada proses. atau akan terjadi dan dilakukan oleh bawahannya. dan secara otomatis mengabaikan pada kenyataan apakah tindakan yang diambil oleh penanggung jawab komando berhasil mencegah dan menghentikan kejahatan atau tidak (obligation of result). atau penyerta. yaitu apakah tindakan yang dilakukan sudah layak atau tidak. Standar hukum kebiasaan internasional untuk “kealpaan” dan “kelalaian” dalam arti yang luas menyatakan bahwa seorang atasan bertanggung jawab secara pidana jika: (1) ia seharusnya mengetahui (should have had knowledge) bahwa pelanggaran hukum telah dan atau sedang terjadi. Meskipun dalam pasal 42 ayat 1 (b) pengabaian ini dikoreksi dengan kalimat “komando militer tersebut tidak melakukan tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya untuk mencegah dan menghentikan perbuatan tersebut. penganjur. tidak ada indikasi bahwa tanggung jawab pidana tersebut akan dihilangkan jika ada tindakan yang telah dilakukan oleh si atasan namun pelanggaran / kejahatan oleh bawahan tetap terjadi. dan (3) ia gagal mengambil tindakan korektif yang seharusnya dilakukan sesuai keadaan yang ada atau terjadi saat itu. …” namun tidak ada definisi dan batasan yang tegas tentang apa yang “layak” dan “perlu” dilakukan oleh penanggung jawab komando.seperti : . Pasal tersebut mengakui adanya pertanggungjawaban pidana jika seseorang “mengetahui atau mempunyai alasan untuk tahu” (knew or had reason to know) kelakuan bawahannya. Kalimat ini berkaitan dengan adanya kegagalan untuk mencegah suatu kejahatan atau menghalangi tindakan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh bawahannya atau menghukum mereka yang telah melakukan tindak pidana. selain harus bertanggung jawab jika menjadi pelaku langsung. Padahal. Pasal 7(3) Statuta ICTY juga secara interpretatif mencerminkan standar kebiasaan internasional tersebut. seorang atasan seharusnya juga bertanggung jawab secara pidana atas kelalaian melaksanakan tugas (dereliction of duty) dan kealpaan (negligence). Meskipun pasal ini memfokuskan pada keadaan dimana seorang bawahan akan melakukan suatu tindak pidana atau telah melakukannya. Selain itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful