ASKEP PANKREATITIS

I. Konsep medis

A. Pankreatitis Akut 1. Pengertian Pankreatitis akut merupakan keadaan inflamasi pankreas yang bersifat reversibel. 2. Etiologi Faktor-faktor etiologik pada pankreatitis akut yaitu: a. Metabolik 1) Alkoholisme 2) Hiperlipoproteinemia 3) Hiperkalsemia 4) Obat-obatan (misalnya, diuretik tiazid) 5) Genetik b. Mekanis 1) Trauma 2) Batu empedu 3) Jejas iatrogenik a) Jejas perioperatif b) Prosedur endoskopik dengan penyuntikan zat warna

abdomen dapat tetap lunak jika tidak terjadi peritonitis. rasa sakit ini dapat bersifat menyebar dan sulit ditentukan lokasinya. dan dengan penurunan peristaltis. Awitannya sering bersifat akut dan terjadi 24 hingga 48 jam setelah makan atau setelah mengkonsumsi minuman keras. adanya massa abdominal yang dapat diraba tetapi batasnya tidak jelas. Peningkatan tegangan pada kapsul pankreas dan obstruksi duktus pankreatikus juga turut manimbulkan rasa sakit. Secara khas rasa sakit terjadi pada bagian tengah ulu hati (midepigastrium). Umumnya rasa sakit semakin parah setelah makan dan tidak dapat diredakan dengan pemberian antasid.c. . Ekimosis (memar) di daerah pinggang dan di sekitar umbilikus merupakan tanda yang menunjukkan adanya pankreatitis hemoragik yang berat. terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas yang mengalami inflamasi tersebut sehingga timbul rangsangan pada ujung-ujung saraf. Rasa sakit dan nyeri tekan pada abdomen yang disertai nyeri pada punggung. Vaskuler 1) Syok 2) Atheroembolisme 3) Poliarteritis nodosa d. Namun demikian. Infeksi 1) Parotitis (mumps) 2) Coxsackievirus 3) Mycoplsma pneumoniae 3. Manifestasi Klinik Nyeri abdomen yang hebat merupakan gejala utama pankreatitis. Perut yang kaku atau mirip papan dapat terjadi dan merupakan tanda yang fatal. Rasa sakit dapat disertai dengan distensi abdomen.

Gangguan pernapsan serta hipoksia lazim terjadi. konfusi dan agitasi dapat terjadi. dan pasien dapat memperlihatkan gejala infiltrasi paru yang difus. Gejala panas. Batu empedu dapat terjepit di dalam ampula Vateri. yaitu menuju lisosom dan bukan menuju sekresi. tripsin yang sudah diaktifkan tersebut akan mengubah (i) berbagai proenzim menjadi aktif (ii) prekalikrein menjadi kalikrein yang akan mengaktifkan sistem kinin serta pembekuan. Leukosit dalam jaringan parenkim akan melepaskan sitokin proinflamatorik yang menggalakkan inflamasi local dan edema. Tripsin sendiri normalnya diaktifkan oleh enteropeptidase duodenal.Mual dan muntah umumnya dijumpai pada pankreatitis akut. Keadaan ini dapat disebabkan oleh kerusakan karna virus (parotitis). Ciri-ciri pankreatitis meliputi proteolisis jaringan. Enzim-enzim eksokrin pankreas mengalami kesalahan arah dalam perjalanannya. 4. Defek transportasi-intraseluler proenzim. lipolisis dan perdarahan. takipnu dan hasil pemeriksaan gas darah abnormal. Patogenesis pankreatitis akut berpusat pada aktivitas tripsin yang tidak tepat di dalam pankreas. sianosis dan kulit yang dingin serta basah disamping gejala hipotensi. trauma atau iskemia. amilase dan lipase disekresikan dalam bentuk aktif sementara protease. ikterus. . cairan kaya enzim menumpuk dan menimbulkan jejas parenkim pankreas. Hasil nettonya berupa inflamasi pankreas dan trombosis. Hipotensi yang terjadi bersifat khas dan mencerminkan keadaan hipovolemia serta syok yang disebabkan oleh kehilangan sejumlah besar cairan yang kaya protein karna cairan ini mengalir ke dalam jaringan dan rongga peritoneum. dispnu. Jejas primer sel asiner. Patofisiologi Pankreas menyekresikan sejumlah enzim. obat-obatan. c. Mekanisme yang dikemukakan untuk aktivitas enzim pankreas meliputi hal-hal berikut ini: a. Muntahan biasanya berasal dari isi lambung tetapi juga dapat mengandung getah empedu. hidrolisis proenzim di dalam lisosom akan menyebabkan aktivitas dan pelepasan enzim. terjadi karna efek destruktif enzim-enzim pankreas yang dilepas dari sel-sel asiner. di sebelah proksimal obstruksi. b. Obstruksi duktus penkreatikus. Pasien dapat mengalami takikardi. elastase dan fosfolipase disekresikan sebagai proenzim yang dalam keadaan normal harus diaktifkan oleh tripsin di dalam duodenum.

Penggunaan morfin dan turunannya harus dihindari karna preparat ini dapat menyebabkan spasme sfingter Oddi. Perawatan Intensif. Pankreatitis herediter ditandai oleh serangan rekuren pankreatitis yang hebat dan sudah di mulai sejak usia kanak-kanak. Preparat simetidin (Tagamet) juga digunakan untuk menurunkan sekresi asam hidroklorida. Pemasangan NGT dengan pengisapan (suction) isi lambung dapat dilakukan untuk meredakan gejala mual dan muntah. menimbulkan kehilangan suatu tempat pada tripsin yang esensial untuk inaktivasi enzim itu sendiri (mekanisme pengaman yang penting untuk mengatur aktivitas enzim tripsin). Koreksi terhadap kehilangan cairan serta darah dan kadar albumin yang rendah diperlukan untuk mempertahankan volume cairan dan mencegah gagal ginjal akut. Antiemetik dapat diberikan untuk mencegah muntah. Kazal tipe I (SPINK1). Pelaksanaan TPN (total parenteral nutrition) pada pankreatitis akut biasanya menjadi bagian terapi yang penting. Semua asupan peroral harus dihentikan untuk menghambat stimulasi dan sekresi pankreas. mengurangi distensi abdomen yang nyeri dan ileus paralitik. Penanganan Nyeri. 2) Gen inhibitor protease serin. yang menimbulkan protein yang cacat sehingga tidak lagi mampu memperlihatkan aktivitas tripsin. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien pankreatitis akut bersifat asimtomatik dan ditujukan untuk mencegah atau mengatasi komplikasi. serta untuk mengeluarkan asam hidroklorida agar asam ini tidak kembali mengalir kedalam duodenum serta menstimulasi pankreas. 5. Pemberian obat pereda nyeri yang adekuat merupakan tindakan yang esensial dalam perjalanan penyakit pankreatitis akut karna akan mengurangi rasa nyeri dan kegelisahan yang dapat menstimulasi sekresi pankreas.d. Alkohol dapat meningkatkan jejas sel asiner lewat perjalanan proenzim intraseluler yang salah arah dan pengendapan sumbatan protein yang mengental serta bertambah banyak di dalam duktud pankreatikus sehingga terjadi inflamasi dan obstruksi lokal. e. . Kelainan ini disebabkan oleh mutasi germ line (garis-turunan sel tunas) pada: 1) Gen tripsinogen kationik (PRSS1).

3. 2. Pemberian makanan yang rendah lemak dan protein dimulai secara bertahap. hiperlipidemia. Penatalaksanaan Pasca-akut. Perawatan respiratorius yang agresif diperlukan karna resiko untuk terjadinya elevasi diafragma. Pemasangan drain bilier (untuk drainase eksternal) danstent (selang indwelling) dalam duktus pankreatikus melalui endoskoppi telah dilakukan dengan keberhasilan yang terbatas. yang dirigasi dan diganti balutannya setiap 2 sampai 3 hari sekali untuk menghilangkan debris nekrotik. Etiologi Keadaan yang paling sering menyebabkan pankreatitis kronik adalah alkoholisme. pankreatitis herediter dan malnutrisidefisiensi-protein. B. namun pembedahan dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa pankreatitis (laparatomi diagnostik). infiltrasi serta efusi dalam paru. dan atelektasis cenderung tinggi. Perawatan respiratorius dapat berkisar dari pemantauan gas darah arteri yang ketat. Manifestasi Klinik . Terapi ini akan membentuk kembali aliran pankreas dan akibatnya. Pankreatitis Kronik 1. Meskipun pasien yang berada dalam keadaan sakit berat mempunyai resiko bedah yang buruk. Intervensi Bedah.Perawatan Respiratorius. Drainase Bilier. akan mengurangi rasa sakit serta menaikkan berat badan. Antasid dapat diberikan ketika gejala akut pankreatitis mulai menghilang. Hipoksemia terjadi dengan frekuensi yang bermakna pada penderita pankreatitis akut sekalipun pada pemeriksaan sinar-X tidak tampak adanya kelainan. Penyebab lain adalah hiperkalsemia. untuk membentuk kembali drainase pankreas atau untuk melakukan reseksi atau pengangkatan jaringan pankreas yang nekrotik. pankreas divisum. Pengertian Pankreatitis kronik diartikan sebagai destruksi parenkim eksokrin pankreas yang ireversibel. pemberian oksigen hingga intubasi dan ventilasi mekanis. Pasien yang menjalani operasi pankreas dapat memiliki lebih dari satu drain yang terpasang pada tempat pascaoperatif dan luka insisi terbuka.

khususnya protein dan lemak akan terganggu. yang lain merasakan nyeri tumpul. Sebagian pasien mengeluhkan nyeri hebat. Keadaan ini disebut steatore. dan menangani insufisiensi eksokrin serta endokrin yang terdapat pada pankreatitis. semakin sering dan lama. disertai muntah. proses pencernaan bahan makanan. mengurangi rasa nyeri sera gangguan rasa nyaman. Hasil akhirnya adalah obstruksi mekanis duktus pankreatikus. Terapi ditujukan untuk mencegah serta menangani serangan akut. Di samping itu akan terjadi pula atrofi epitel duktus tersebut. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pankreatitis kronik bergantung pada kelainan yang mungkin menjadi penyebab pada setiap pasien. serangan nyeri yang berulang-ulang tersebut terasa semakin hebat. Dengan semakin berlanjutnya proses penyakit. koledokus dan duodenum. konstan dan membandel. Selaian itu. Malabsorpsi terjadi kemudian pada penyakit tersebut ketika fungsi pankreas mash tersisa 10%. kalsifikasi pada kelenjar pankreas dan terbentuknya batu kalsium di dalam saluran kelenjar dapat terjadi. Nyeri dan gangguan rasa nyaman pada badomen diatasi dan dicegah dengan penggunaan metode nonopioid untuk mengatasi nyeri. inflamasi dan destruksi sel-sel pankreas yang melaksanakan fungsi sekresi (destruksi parenkim endokrin pankreas). Hal ini disebabkan oleh penurunan asupan makanan akibat anoreksia atau perasaan takut bahwa makan akan memicu serangan berikutnya.Pankreatitis kronik ditandai oleh serangan nyeri yang hebat di daerah abdomen dan punggung. 4. 5. Dengan semakin berlanjutnya penyakit. Kenyataannya. pasien dan keluarganya juga ditekankan tentang pentingnya menghindari alkohol serta makanan lain yang oleh pasien sendiri dirasakan cenderung menimbulkan nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen. tidak ada bentuk terapi lain yang dapat meredakan rasa nyeri tersebut jika pasien sendiri terus menerus mengkonsumsi alkohol dan hal ini harus ditegaskan pada pasien. maka tekanan dalam pankreas akan meningkat. Patofisiologi Pankreas mengalami kehancuran anatomis dan fungsional yang progresif. Penurunan berat badan merupakan masalah utama pada pankreatitis kronik. Defekasi akan terjadi lebih sering dan feses menjadi berbuih serta berbau busuk akibat gangguan pencernaan lemak yang menyebabkan feses tersebut banyak mengandung lemak. . Akibatnya. Dengan digantikannya sel-sel pankreas (sel-sel asiner pankreas) yang normal oleh jaringan ikat akibat serangan pankreatitis berulang-ulang dan efek toksik dari alkohol dan metabolitnya.

Pankreatikojejunostomi dengan anastomosis side-to-side atau penyambungan duktus pankreatikus dengan jejunum memungkinkan drainase sekresi pankreas kedalam jejunum. insufisiensi eksokrin. ketegangan muskuler dan bising usus. Status pernapasan. dan hasil-hasil perkusi dada yang abnormal. termasuk suara pekak pada basis paru dan taktil fremitus yang abnormal juga harus didokumentasikan. Pembedahan umumnya dilakukan untuk mengurangi nyeri abdomen serta gangguan rasa nyaman. memulihkan drainase sekresi pankreas dan mengurangi frekuensi serangan pankreatitis akut. lokasi dan hubungannya dengan makan dan konsumsi alkohol serta hasl berbagai upaya yang dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri perlu dicatat. II. pemberian insulin atau obat-obatan hipoglikemia oral. Pengkajian Riwayat kesehatan difokuskan pada karakteristik nyeri abdomen serta adanya gangguan rasa nyaman yang dialami pasien. Status emosional serta psikologis pasien dan anggota keluarganya serta upaya mereka untuk mengatasinya harus dikaji karna mereka sering merasa takut dan cemas mengingat beratnya gejala pasien serta sakit yang dideritanya. diare dan pengeluaran feses yang berlemak harus ditanyakan. suara tambahan. nyeri tekan. Adanya abdomen yang kaku seperti papan atau yang lunak harus dicatat. Munculnya rasa nyeri. muntah. Suara napas yang normal. B. keberadaan penyakit diabetes.Diabetes melitus yang terjadi akibat disfungsi sel-sel pulau Langerhans pankreas dapat diatasi dengan diet. Riwayat masalah gastrointestinal. Tindakan bedah yang akan dilakukan tergantung pada kelainan anatomis dan fungsional pankreas yang mencakup lokasi penyakit di dalam pankreas. Bahaya hipoglikemia yang berat akibat penggunaan alkohol harus ditekankan pada pasien dan anggota keluarganya. Terapi pengganti enzim pankreas diperlukan bagi pasien yang menderita malabsorpsi dan steatore. frekuensi dan corak pernapasan serta suara pernapasan harus dikaji. Pemeriksaan abdomen harus dilakukan untuk mengkaji rasa sakit. yang mencakup mual. stenosis bilier dan pseudokista pankreas. Diagnosa Keperawatan . Status cairan serta nutrisi pasien dan riwayat serangan batu empedu serta konsumsi alkohol harus dikaji. Konsep Keperawatan A.

3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kebilangan berlebihan. gangguan peristaltik. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala. duktus bilier. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala. Mengikuti program terapeutik. 4. 2. Rencana Keperawatan 1. gangguan proses pembekuan. Ditandai dengan: keluhan nyeri. Defisiensi nutrisi. focus pada diri sendiri. penurunan pemasukan oral. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama: statis cairan tubuh. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah. duktus bilier. Mengatakan nyeri hilang/terkontrol. peningkatan ukuran dasar vaskuler. Ditandai dengan: keluhan pemasukan makanan tidak adekuat. enggan makan. Nyeri berhubungan dengan obstruksi pankreas. pembatasan diet. perubahan pH pada sekresi.Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan Pankreatitis adalah: 1. C. b. keluhan gangguan sensasi pengecap. kontaminasi kimia pada permukaan peritoneal oleh eksudat pankreas/autodigestif oleh pankreas. Nyeri berhubungan dengan obstruksi pankreas. kehilangan enzim pencernaan dan insulin. perilaku distraksi/tegang. wajah meringis. perdarahan. Tujuan: a. . kontaminasi kimia pada permukaan peritoneal oleh eksudat pankreas/autodigestif oleh pankreas. penurunan berat badan.

yang dapat mendasari masalah/komplikasi dan dapat memperberat depresi pernapasan. Menunjukkan penggunaan metode yang menghilangkan nyeri. . c. sehingga menurunkan aktivitas pankreas. R/ nyeri berat/lama dapat meningkatkan syok dan lebih sulit hilang. b. f. R/ rangsangan sensoridapat mengaktifkan enzim pankreas. Nyeri terlokalisir menunjukkan terjadinya pseudokista atau abses. Selidiki keluhan verbal nyeri.c. khususnya pada adanya aliran cairan dari fistula dinding abdomen. Catat faktorfaktor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri. d. lihat lokasi dan intensitas khusus (skala 0-10). Pertahankan perawatan kulit. Berikan lingkungan tenang. meningkatkan nyeri. Pertahankan lingkungan bebas makanan berbau. dosis lebih sering). Ajarkan teknik relaksasi. R/ menurunkan laju metabolik dan rangsangan/sekresi GI. Nyeri pada kuadran kiri atas diduga keterlibatan ekor pankreas. berat dan tidak berhubungan pada pankreatitis akut atau perdarahan. R/ meningkatkan relaksasi dan memampukan pasien untuk memfokuskan perhatian. Pertahankan tirah baring selama serangan akut. e. Nyeri tersembunyi pada kuadran kanan atas menunjukkan keterlibatan kepala pankreas. Nyeri berat sering merupakan gejala utama pada pasien pankreatitis kronik. Intervensi a. Berikan analgesik pada waktu yang tepat (lebih kecil. R/ nyeri sering menyebar. memerlukan dosis obat lebih besar. dapat meningkatkan koping.

Ukur masukan dan haluaran termasuk muntah/aspirasi gaster. Catat warna dan karakter drainase gaster juga pH dan adanya darah. Awasi TD. perdarahan.diare. gangguan proses pembekuan. Intervensi a. Tujuan: mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil. c. d. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kebilangan berlebihan. turgor kulit baik. Timbang berat badan sesuai indikasi. nadi perifer kuat.R/ enzimpankreas dapat mencerna kulit dan jaringan dinding abdomen. R/ indikator fisiologis lanjut dari dehidrasi. e. Hitung keseimbangan cairan 24 jam. R/ indikator kebutuhan penggantian/keefektifan terapi. R/ resiko perdarahan gaster tinggi. dan secara individu mengeluarkan jumlah urin adekuat. b. kulit/membrane mukosa kering. namun edema. Penurunan curah jantung/perfusi organ buruk sekunder terhadap episode hipotensi dapat mencetuskan luasnya komplikasi sistemik. Catat turgor kulit. peningkatan ukuran dasar vaskuler. R/ penurunan berat badan menunjukkan hipovolemia. R/ perpindahan cairan. pengisian kapiler cepat. . keluhan haus. dan menghilangkan vasodilator (kinin) dan factor depresan jantung yang dipicu oleh iskemia pankreas dapat menyebabkan hipertensi berat. retensi cairan dan asites mungkin ditunjukkan oleh peningkatan atau berat badan stabil. perdarahan. menimbulkan luka bakar kimiawi. 2.

Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan bilai laboratorium normal. R/ perubahan jantung/distritmia dapat menunjukkan hipovolemia dan/atau ketidakseimbangan elektrolit. Berikan penggantian cairan sesuai indikasi. catat adanya/karakter bising usus. dan keluhan mual. penurunan pemasukan oral. Auskultasi bunyi jantung. Kaji abdomen. 3. R/ pilihan cairan pengganti kurang penting pada kecepatan dan keadekuatan perbaikan volume. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah. kehilangan enzim pencernaan dan insulin. umumnya hipokalemia/hipokalsemia. perubahan pola hidup untuk meningkatkan da/atau mempertahankan beratbdan normal. mengakibatkan penurunan/tidak adanya bising usus. c. b. Intervensi a. Berikan perawatan oral.f. b. Kolaborasi g. . R/ disetensi abdomen dan atoni usus sering terjadi. Tujuan: a. Menunjukkan perilaku. Tidak mengalami malnutrisi. catat frekuensi dan irama. Awasi/catat perubahan irama. distensi abdomen. R/ menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/iritasi membran mukosa kering sehubungan dengan dehidrasi dan bernapas dengan mulut bila NG dipasang. pembatasan diet.

Observasi warna/konsistensi/jumlah feses dan bau. Ganti balutan dengan cepat. d. Kolaborasi e. R/ membatasi sumber infeksi. Meningkatkan waktu penyembuhan. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama: statis cairan tubuh. bebas tanda infeksi. Tidak demam. R/ mencegah ransangan dan pengeluaran enzim pankreas bila kimus dan asam HCL masuk ke duodenum. b. perubahan pH pada sekresi. Pertahankan status puasa dan penghisapan gaster pada fase akut. R/ mewaspadakan terjadinya hiperglikemia karna peningkatan pengeluaran glukagon (kerusakan sel alfa) atau penurunan pengeluaran insulin (kerusakan sel beta). Tekankan pentingnya mencuci tangan dengan baik. Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual. Berpartisipasi pada aktivitas untuk menurunkan resiko infeksi. gangguan peristaltik. b.c. . R/ steatore terjadi karna pencernaan lemak tidak sempurna. Defisiensi nutrisi. Intervensi a. c. dimana dapat menimbulkan sepsis pada pasien. Tujuan: a. 4. Gunakan tehnik aseptik ketat bila mengganti balutan bedah atau bekerja dengan infus kateter/selang.

Nyeri dapat teratasi dengan kriteria klien mengatakan nyeri hilang/terkontrol dan mengikuti program terapeutik.R/ menurunkan resiko kontaminasi silang. c. bunyi napas. f. . D. penurunan/tidak adanya bising usus. dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien. kekakuan nyeri tekan. Akumulasi cairan asites dapat menyebabkan peningkatan diafragma dan pernapasan abdomen dangkal. e. Catat adanya batuk dan produksi sputum. Observasi frekuensi dan karakteristik pernapasan. Evaluasi 1. R/ ikterik kolestatik dan penurunan fungsi paru mungkin tanda pertama sepsis dari organisme gram negatif. Dorong posisi sering. Observasi adanya demam dan distress pernapasan berhubungan dengan ikterik. Kaji adanya peningkatan nyeri abdomen. E. R/ meningkatkan ventilasi segmen paru dan meningkatkan mobilitas sekresi. napas dalam dan batuk. R/ akumulasi cairan dan keterbatasan mobilitas mencetuskan infeksi pernapasan dan atelektasis. d. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan dalam kasus. R/ diduga peritonitis.

Jakarta. pengisian kapiler cepat. EGC. Marilynn E. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. EGC. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria klien mampu mempertahankan hidrasi adekuat dengan tanda vital dalam batas normal. DAFTAR PUSTAKA Doenges. 2001.. (Edisi 8). dan secara individu mengeluarkan jumlah urin adekuat. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria klien mampu menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan bilai laboratorium normal dan tidak mengalami malnutrisi. Jakarta .2. Rencana Asuhan Kepeawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. nadi perifer kuat.. Mitchell. . (Edisi 3). 1999.. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Richard N. Resiko tinggi terhadap infeksi tidak terjadi dengan kriteria klien bebas tanda infeksi. 2008. EGC. Jakarta. turgor kulit baik. Suzanne C. 4. Smeltzer. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful