P. 1
ASKEP PANKREATITIS

ASKEP PANKREATITIS

|Views: 249|Likes:
Published by Yuli Wahyuni

More info:

Published by: Yuli Wahyuni on Sep 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2014

pdf

text

original

ASKEP PANKREATITIS

I. Konsep medis

A. Pankreatitis Akut 1. Pengertian Pankreatitis akut merupakan keadaan inflamasi pankreas yang bersifat reversibel. 2. Etiologi Faktor-faktor etiologik pada pankreatitis akut yaitu: a. Metabolik 1) Alkoholisme 2) Hiperlipoproteinemia 3) Hiperkalsemia 4) Obat-obatan (misalnya, diuretik tiazid) 5) Genetik b. Mekanis 1) Trauma 2) Batu empedu 3) Jejas iatrogenik a) Jejas perioperatif b) Prosedur endoskopik dengan penyuntikan zat warna

abdomen dapat tetap lunak jika tidak terjadi peritonitis. Rasa sakit dapat disertai dengan distensi abdomen. Ekimosis (memar) di daerah pinggang dan di sekitar umbilikus merupakan tanda yang menunjukkan adanya pankreatitis hemoragik yang berat. Perut yang kaku atau mirip papan dapat terjadi dan merupakan tanda yang fatal. Vaskuler 1) Syok 2) Atheroembolisme 3) Poliarteritis nodosa d. Manifestasi Klinik Nyeri abdomen yang hebat merupakan gejala utama pankreatitis. Awitannya sering bersifat akut dan terjadi 24 hingga 48 jam setelah makan atau setelah mengkonsumsi minuman keras. Umumnya rasa sakit semakin parah setelah makan dan tidak dapat diredakan dengan pemberian antasid.c. Rasa sakit dan nyeri tekan pada abdomen yang disertai nyeri pada punggung. Infeksi 1) Parotitis (mumps) 2) Coxsackievirus 3) Mycoplsma pneumoniae 3. Peningkatan tegangan pada kapsul pankreas dan obstruksi duktus pankreatikus juga turut manimbulkan rasa sakit. rasa sakit ini dapat bersifat menyebar dan sulit ditentukan lokasinya. adanya massa abdominal yang dapat diraba tetapi batasnya tidak jelas. terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas yang mengalami inflamasi tersebut sehingga timbul rangsangan pada ujung-ujung saraf. Namun demikian. . dan dengan penurunan peristaltis. Secara khas rasa sakit terjadi pada bagian tengah ulu hati (midepigastrium).

b. 4. c. konfusi dan agitasi dapat terjadi. Obstruksi duktus penkreatikus. lipolisis dan perdarahan. elastase dan fosfolipase disekresikan sebagai proenzim yang dalam keadaan normal harus diaktifkan oleh tripsin di dalam duodenum. cairan kaya enzim menumpuk dan menimbulkan jejas parenkim pankreas. obat-obatan. Gejala panas. yaitu menuju lisosom dan bukan menuju sekresi. . sianosis dan kulit yang dingin serta basah disamping gejala hipotensi. tripsin yang sudah diaktifkan tersebut akan mengubah (i) berbagai proenzim menjadi aktif (ii) prekalikrein menjadi kalikrein yang akan mengaktifkan sistem kinin serta pembekuan. Keadaan ini dapat disebabkan oleh kerusakan karna virus (parotitis). ikterus. takipnu dan hasil pemeriksaan gas darah abnormal. Leukosit dalam jaringan parenkim akan melepaskan sitokin proinflamatorik yang menggalakkan inflamasi local dan edema. Patofisiologi Pankreas menyekresikan sejumlah enzim.Mual dan muntah umumnya dijumpai pada pankreatitis akut. Defek transportasi-intraseluler proenzim. Pasien dapat mengalami takikardi. amilase dan lipase disekresikan dalam bentuk aktif sementara protease. Batu empedu dapat terjepit di dalam ampula Vateri. di sebelah proksimal obstruksi. Jejas primer sel asiner. terjadi karna efek destruktif enzim-enzim pankreas yang dilepas dari sel-sel asiner. Hasil nettonya berupa inflamasi pankreas dan trombosis. Tripsin sendiri normalnya diaktifkan oleh enteropeptidase duodenal. Hipotensi yang terjadi bersifat khas dan mencerminkan keadaan hipovolemia serta syok yang disebabkan oleh kehilangan sejumlah besar cairan yang kaya protein karna cairan ini mengalir ke dalam jaringan dan rongga peritoneum. Ciri-ciri pankreatitis meliputi proteolisis jaringan. Mekanisme yang dikemukakan untuk aktivitas enzim pankreas meliputi hal-hal berikut ini: a. Muntahan biasanya berasal dari isi lambung tetapi juga dapat mengandung getah empedu. Enzim-enzim eksokrin pankreas mengalami kesalahan arah dalam perjalanannya. Gangguan pernapsan serta hipoksia lazim terjadi. hidrolisis proenzim di dalam lisosom akan menyebabkan aktivitas dan pelepasan enzim. trauma atau iskemia. dan pasien dapat memperlihatkan gejala infiltrasi paru yang difus. Patogenesis pankreatitis akut berpusat pada aktivitas tripsin yang tidak tepat di dalam pankreas. dispnu.

Koreksi terhadap kehilangan cairan serta darah dan kadar albumin yang rendah diperlukan untuk mempertahankan volume cairan dan mencegah gagal ginjal akut. Antiemetik dapat diberikan untuk mencegah muntah. Semua asupan peroral harus dihentikan untuk menghambat stimulasi dan sekresi pankreas. Alkohol dapat meningkatkan jejas sel asiner lewat perjalanan proenzim intraseluler yang salah arah dan pengendapan sumbatan protein yang mengental serta bertambah banyak di dalam duktud pankreatikus sehingga terjadi inflamasi dan obstruksi lokal. Penanganan Nyeri. Perawatan Intensif. Pemberian obat pereda nyeri yang adekuat merupakan tindakan yang esensial dalam perjalanan penyakit pankreatitis akut karna akan mengurangi rasa nyeri dan kegelisahan yang dapat menstimulasi sekresi pankreas. mengurangi distensi abdomen yang nyeri dan ileus paralitik. 2) Gen inhibitor protease serin. Kelainan ini disebabkan oleh mutasi germ line (garis-turunan sel tunas) pada: 1) Gen tripsinogen kationik (PRSS1). Kazal tipe I (SPINK1). Pankreatitis herediter ditandai oleh serangan rekuren pankreatitis yang hebat dan sudah di mulai sejak usia kanak-kanak. Preparat simetidin (Tagamet) juga digunakan untuk menurunkan sekresi asam hidroklorida. Penggunaan morfin dan turunannya harus dihindari karna preparat ini dapat menyebabkan spasme sfingter Oddi. . serta untuk mengeluarkan asam hidroklorida agar asam ini tidak kembali mengalir kedalam duodenum serta menstimulasi pankreas.d. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien pankreatitis akut bersifat asimtomatik dan ditujukan untuk mencegah atau mengatasi komplikasi. Pemasangan NGT dengan pengisapan (suction) isi lambung dapat dilakukan untuk meredakan gejala mual dan muntah. 5. e. Pelaksanaan TPN (total parenteral nutrition) pada pankreatitis akut biasanya menjadi bagian terapi yang penting. yang menimbulkan protein yang cacat sehingga tidak lagi mampu memperlihatkan aktivitas tripsin. menimbulkan kehilangan suatu tempat pada tripsin yang esensial untuk inaktivasi enzim itu sendiri (mekanisme pengaman yang penting untuk mengatur aktivitas enzim tripsin).

hiperlipidemia. Pankreatitis Kronik 1. pemberian oksigen hingga intubasi dan ventilasi mekanis. 3. Antasid dapat diberikan ketika gejala akut pankreatitis mulai menghilang. namun pembedahan dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa pankreatitis (laparatomi diagnostik). Etiologi Keadaan yang paling sering menyebabkan pankreatitis kronik adalah alkoholisme. infiltrasi serta efusi dalam paru. untuk membentuk kembali drainase pankreas atau untuk melakukan reseksi atau pengangkatan jaringan pankreas yang nekrotik. 2. dan atelektasis cenderung tinggi. Manifestasi Klinik . Pemasangan drain bilier (untuk drainase eksternal) danstent (selang indwelling) dalam duktus pankreatikus melalui endoskoppi telah dilakukan dengan keberhasilan yang terbatas. pankreas divisum.Perawatan Respiratorius. Pengertian Pankreatitis kronik diartikan sebagai destruksi parenkim eksokrin pankreas yang ireversibel. yang dirigasi dan diganti balutannya setiap 2 sampai 3 hari sekali untuk menghilangkan debris nekrotik. Intervensi Bedah. Penyebab lain adalah hiperkalsemia. Pemberian makanan yang rendah lemak dan protein dimulai secara bertahap. Meskipun pasien yang berada dalam keadaan sakit berat mempunyai resiko bedah yang buruk. Drainase Bilier. Penatalaksanaan Pasca-akut. akan mengurangi rasa sakit serta menaikkan berat badan. Hipoksemia terjadi dengan frekuensi yang bermakna pada penderita pankreatitis akut sekalipun pada pemeriksaan sinar-X tidak tampak adanya kelainan. pankreatitis herediter dan malnutrisidefisiensi-protein. Perawatan respiratorius dapat berkisar dari pemantauan gas darah arteri yang ketat. Terapi ini akan membentuk kembali aliran pankreas dan akibatnya. Pasien yang menjalani operasi pankreas dapat memiliki lebih dari satu drain yang terpasang pada tempat pascaoperatif dan luka insisi terbuka. Perawatan respiratorius yang agresif diperlukan karna resiko untuk terjadinya elevasi diafragma. B.

5. disertai muntah. Terapi ditujukan untuk mencegah serta menangani serangan akut. yang lain merasakan nyeri tumpul. Hal ini disebabkan oleh penurunan asupan makanan akibat anoreksia atau perasaan takut bahwa makan akan memicu serangan berikutnya. maka tekanan dalam pankreas akan meningkat. Akibatnya. Penurunan berat badan merupakan masalah utama pada pankreatitis kronik. Dengan semakin berlanjutnya penyakit. Kenyataannya. Selaian itu. inflamasi dan destruksi sel-sel pankreas yang melaksanakan fungsi sekresi (destruksi parenkim endokrin pankreas). Dengan semakin berlanjutnya proses penyakit. 4. Dengan digantikannya sel-sel pankreas (sel-sel asiner pankreas) yang normal oleh jaringan ikat akibat serangan pankreatitis berulang-ulang dan efek toksik dari alkohol dan metabolitnya. Malabsorpsi terjadi kemudian pada penyakit tersebut ketika fungsi pankreas mash tersisa 10%. serangan nyeri yang berulang-ulang tersebut terasa semakin hebat. proses pencernaan bahan makanan. khususnya protein dan lemak akan terganggu. Keadaan ini disebut steatore. semakin sering dan lama. Patofisiologi Pankreas mengalami kehancuran anatomis dan fungsional yang progresif. kalsifikasi pada kelenjar pankreas dan terbentuknya batu kalsium di dalam saluran kelenjar dapat terjadi. Di samping itu akan terjadi pula atrofi epitel duktus tersebut. koledokus dan duodenum. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pankreatitis kronik bergantung pada kelainan yang mungkin menjadi penyebab pada setiap pasien. . tidak ada bentuk terapi lain yang dapat meredakan rasa nyeri tersebut jika pasien sendiri terus menerus mengkonsumsi alkohol dan hal ini harus ditegaskan pada pasien. mengurangi rasa nyeri sera gangguan rasa nyaman. Hasil akhirnya adalah obstruksi mekanis duktus pankreatikus. konstan dan membandel. Defekasi akan terjadi lebih sering dan feses menjadi berbuih serta berbau busuk akibat gangguan pencernaan lemak yang menyebabkan feses tersebut banyak mengandung lemak.Pankreatitis kronik ditandai oleh serangan nyeri yang hebat di daerah abdomen dan punggung. Sebagian pasien mengeluhkan nyeri hebat. dan menangani insufisiensi eksokrin serta endokrin yang terdapat pada pankreatitis. Nyeri dan gangguan rasa nyaman pada badomen diatasi dan dicegah dengan penggunaan metode nonopioid untuk mengatasi nyeri. pasien dan keluarganya juga ditekankan tentang pentingnya menghindari alkohol serta makanan lain yang oleh pasien sendiri dirasakan cenderung menimbulkan nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen.

termasuk suara pekak pada basis paru dan taktil fremitus yang abnormal juga harus didokumentasikan. lokasi dan hubungannya dengan makan dan konsumsi alkohol serta hasl berbagai upaya yang dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri perlu dicatat. Munculnya rasa nyeri.Diabetes melitus yang terjadi akibat disfungsi sel-sel pulau Langerhans pankreas dapat diatasi dengan diet. Status pernapasan. Status cairan serta nutrisi pasien dan riwayat serangan batu empedu serta konsumsi alkohol harus dikaji. Tindakan bedah yang akan dilakukan tergantung pada kelainan anatomis dan fungsional pankreas yang mencakup lokasi penyakit di dalam pankreas. Suara napas yang normal. Pembedahan umumnya dilakukan untuk mengurangi nyeri abdomen serta gangguan rasa nyaman. Bahaya hipoglikemia yang berat akibat penggunaan alkohol harus ditekankan pada pasien dan anggota keluarganya. Pankreatikojejunostomi dengan anastomosis side-to-side atau penyambungan duktus pankreatikus dengan jejunum memungkinkan drainase sekresi pankreas kedalam jejunum. Konsep Keperawatan A. Adanya abdomen yang kaku seperti papan atau yang lunak harus dicatat. Status emosional serta psikologis pasien dan anggota keluarganya serta upaya mereka untuk mengatasinya harus dikaji karna mereka sering merasa takut dan cemas mengingat beratnya gejala pasien serta sakit yang dideritanya. memulihkan drainase sekresi pankreas dan mengurangi frekuensi serangan pankreatitis akut. diare dan pengeluaran feses yang berlemak harus ditanyakan. pemberian insulin atau obat-obatan hipoglikemia oral. Riwayat masalah gastrointestinal. II. Terapi pengganti enzim pankreas diperlukan bagi pasien yang menderita malabsorpsi dan steatore. stenosis bilier dan pseudokista pankreas. Diagnosa Keperawatan . nyeri tekan. B. yang mencakup mual. ketegangan muskuler dan bising usus. insufisiensi eksokrin. muntah. dan hasil-hasil perkusi dada yang abnormal. frekuensi dan corak pernapasan serta suara pernapasan harus dikaji. Pengkajian Riwayat kesehatan difokuskan pada karakteristik nyeri abdomen serta adanya gangguan rasa nyaman yang dialami pasien. Pemeriksaan abdomen harus dilakukan untuk mengkaji rasa sakit. suara tambahan. keberadaan penyakit diabetes.

perilaku distraksi/tegang. enggan makan. Ditandai dengan: keluhan nyeri. 2. kontaminasi kimia pada permukaan peritoneal oleh eksudat pankreas/autodigestif oleh pankreas. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala. 3. Nyeri berhubungan dengan obstruksi pankreas. pembatasan diet. duktus bilier. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kebilangan berlebihan. peningkatan ukuran dasar vaskuler. Mengikuti program terapeutik. Defisiensi nutrisi. b. C. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama: statis cairan tubuh. Tujuan: a. wajah meringis. penurunan berat badan. Nyeri berhubungan dengan obstruksi pankreas. kehilangan enzim pencernaan dan insulin. duktus bilier. penurunan pemasukan oral. Ditandai dengan: keluhan pemasukan makanan tidak adekuat. gangguan proses pembekuan. Rencana Keperawatan 1. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala. keluhan gangguan sensasi pengecap.Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan Pankreatitis adalah: 1. Mengatakan nyeri hilang/terkontrol. gangguan peristaltik. kontaminasi kimia pada permukaan peritoneal oleh eksudat pankreas/autodigestif oleh pankreas. 4. perdarahan. focus pada diri sendiri. perubahan pH pada sekresi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah. .

c. R/ nyeri sering menyebar. Nyeri pada kuadran kiri atas diduga keterlibatan ekor pankreas. b. dapat meningkatkan koping. R/ rangsangan sensoridapat mengaktifkan enzim pankreas. Pertahankan lingkungan bebas makanan berbau. Intervensi a. Ajarkan teknik relaksasi. Nyeri terlokalisir menunjukkan terjadinya pseudokista atau abses. R/ meningkatkan relaksasi dan memampukan pasien untuk memfokuskan perhatian. sehingga menurunkan aktivitas pankreas. Nyeri berat sering merupakan gejala utama pada pasien pankreatitis kronik. Pertahankan tirah baring selama serangan akut. Selidiki keluhan verbal nyeri. yang dapat mendasari masalah/komplikasi dan dapat memperberat depresi pernapasan. d. lihat lokasi dan intensitas khusus (skala 0-10). c. f. . e. Berikan lingkungan tenang. R/ menurunkan laju metabolik dan rangsangan/sekresi GI. memerlukan dosis obat lebih besar. berat dan tidak berhubungan pada pankreatitis akut atau perdarahan. Pertahankan perawatan kulit. dosis lebih sering). R/ nyeri berat/lama dapat meningkatkan syok dan lebih sulit hilang. Nyeri tersembunyi pada kuadran kanan atas menunjukkan keterlibatan kepala pankreas. khususnya pada adanya aliran cairan dari fistula dinding abdomen. Catat faktorfaktor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri. Berikan analgesik pada waktu yang tepat (lebih kecil. Menunjukkan penggunaan metode yang menghilangkan nyeri. meningkatkan nyeri.

c. dan secara individu mengeluarkan jumlah urin adekuat. Catat warna dan karakter drainase gaster juga pH dan adanya darah. Awasi TD. Ukur masukan dan haluaran termasuk muntah/aspirasi gaster. gangguan proses pembekuan. 2. nadi perifer kuat. R/ penurunan berat badan menunjukkan hipovolemia. b. Tujuan: mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil. namun edema. menimbulkan luka bakar kimiawi. Catat turgor kulit. kulit/membrane mukosa kering. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kebilangan berlebihan. Penurunan curah jantung/perfusi organ buruk sekunder terhadap episode hipotensi dapat mencetuskan luasnya komplikasi sistemik. e. Intervensi a. . peningkatan ukuran dasar vaskuler.diare. R/ resiko perdarahan gaster tinggi. Timbang berat badan sesuai indikasi. retensi cairan dan asites mungkin ditunjukkan oleh peningkatan atau berat badan stabil. dan menghilangkan vasodilator (kinin) dan factor depresan jantung yang dipicu oleh iskemia pankreas dapat menyebabkan hipertensi berat. perdarahan. perdarahan. turgor kulit baik. R/ indikator fisiologis lanjut dari dehidrasi. R/ perpindahan cairan. R/ indikator kebutuhan penggantian/keefektifan terapi.R/ enzimpankreas dapat mencerna kulit dan jaringan dinding abdomen. d. keluhan haus. Hitung keseimbangan cairan 24 jam. pengisian kapiler cepat.

Auskultasi bunyi jantung. pembatasan diet. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah. umumnya hipokalemia/hipokalsemia. c. perubahan pola hidup untuk meningkatkan da/atau mempertahankan beratbdan normal. catat adanya/karakter bising usus. distensi abdomen. Kolaborasi g. 3. b.f. Berikan perawatan oral. penurunan pemasukan oral. . Intervensi a. kehilangan enzim pencernaan dan insulin. Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan bilai laboratorium normal. R/ perubahan jantung/distritmia dapat menunjukkan hipovolemia dan/atau ketidakseimbangan elektrolit. Awasi/catat perubahan irama. Tidak mengalami malnutrisi. catat frekuensi dan irama. Menunjukkan perilaku. R/ menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/iritasi membran mukosa kering sehubungan dengan dehidrasi dan bernapas dengan mulut bila NG dipasang. b. dan keluhan mual. R/ disetensi abdomen dan atoni usus sering terjadi. Berikan penggantian cairan sesuai indikasi. mengakibatkan penurunan/tidak adanya bising usus. Tujuan: a. Kaji abdomen. R/ pilihan cairan pengganti kurang penting pada kecepatan dan keadekuatan perbaikan volume.

Observasi warna/konsistensi/jumlah feses dan bau. 4. Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual. Gunakan tehnik aseptik ketat bila mengganti balutan bedah atau bekerja dengan infus kateter/selang.c. Berpartisipasi pada aktivitas untuk menurunkan resiko infeksi. R/ membatasi sumber infeksi. gangguan peristaltik. . perubahan pH pada sekresi. b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama: statis cairan tubuh. Meningkatkan waktu penyembuhan. d. Ganti balutan dengan cepat. R/ mencegah ransangan dan pengeluaran enzim pankreas bila kimus dan asam HCL masuk ke duodenum. Tujuan: a. Tekankan pentingnya mencuci tangan dengan baik. Kolaborasi e. Tidak demam. R/ steatore terjadi karna pencernaan lemak tidak sempurna. dimana dapat menimbulkan sepsis pada pasien. R/ mewaspadakan terjadinya hiperglikemia karna peningkatan pengeluaran glukagon (kerusakan sel alfa) atau penurunan pengeluaran insulin (kerusakan sel beta). Intervensi a. b. bebas tanda infeksi. c. Pertahankan status puasa dan penghisapan gaster pada fase akut. Defisiensi nutrisi.

D. penurunan/tidak adanya bising usus. Observasi adanya demam dan distress pernapasan berhubungan dengan ikterik. R/ akumulasi cairan dan keterbatasan mobilitas mencetuskan infeksi pernapasan dan atelektasis. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan dalam kasus. Kaji adanya peningkatan nyeri abdomen. d. R/ ikterik kolestatik dan penurunan fungsi paru mungkin tanda pertama sepsis dari organisme gram negatif. R/ diduga peritonitis. R/ meningkatkan ventilasi segmen paru dan meningkatkan mobilitas sekresi. Dorong posisi sering. Catat adanya batuk dan produksi sputum. c. E. Observasi frekuensi dan karakteristik pernapasan. Nyeri dapat teratasi dengan kriteria klien mengatakan nyeri hilang/terkontrol dan mengikuti program terapeutik. f. bunyi napas. Evaluasi 1. kekakuan nyeri tekan. Akumulasi cairan asites dapat menyebabkan peningkatan diafragma dan pernapasan abdomen dangkal. e. napas dalam dan batuk. dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien. .R/ menurunkan resiko kontaminasi silang.

Resiko tinggi terhadap infeksi tidak terjadi dengan kriteria klien bebas tanda infeksi.. (Edisi 3).. 3. EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (Edisi 8). nadi perifer kuat. Rencana Asuhan Kepeawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. . 2008. dan secara individu mengeluarkan jumlah urin adekuat. Suzanne C. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. DAFTAR PUSTAKA Doenges. pengisian kapiler cepat. Mitchell. Jakarta. Jakarta .2. Smeltzer. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria klien mampu mempertahankan hidrasi adekuat dengan tanda vital dalam batas normal. 4. turgor kulit baik. EGC.. Richard N. Jakarta. 2001. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria klien mampu menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan bilai laboratorium normal dan tidak mengalami malnutrisi. Marilynn E. 1999.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->