P. 1
Resiko Dan Penanggulangan Cidera Pada Anak Usia

Resiko Dan Penanggulangan Cidera Pada Anak Usia

|Views: 274|Likes:
Published by Septriani Patiung

More info:

Published by: Septriani Patiung on Sep 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2015

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN

A. STIMULASI DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

Kemampuan dan tumbuh kembang anak perlu dirangsang oleh orang tua agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai umurnya. Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepatberkembang dibandingkan anak yang kurang bahkan tidak mendapat stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Berbagai macam stimulasi seperti stimulasi visual (penglihatan), verbal (bicara), auditif (pendengaran), taktil (sentuhan) dll dapat mengoptimalkan perkembangan anak. Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Pada tahap perkembangan awal anak berada pada tahap sensori motorik. Pemberian stimulasi visual pada ranjang bayi akan meningkatkan perhatian anak terhadap lingkungannya, bayi akan gembira dengan tertawa-tawa dan menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya. Tetapi bila rangsangan itu terlalu banyak, reaksi dapat seba;liknya yaitu perhatian anak akan berkurang dan anak akan menangis. Pada tahun-tahun pertama anak belajar mendengarkan. Stimulus verbal pada periode ini sangat penting untuk perkembangan bahasa anak pada tahun pertama kehidupannya. Kualitas dan kuantitas vokal seorang anak dapat bertambah dengan stimulasi verbal dan anak akan belajar menirukan kata-kata yang didengarnya. Tetapi bila simulasi auditif terlalu banyak (lingkungan ribut) anak akan mengalami kesukaran dalam membedakan berbagai macam suara. Stimulasi visual dan verbal pada permulaan perkembangan anak merupakan stimulasi awal yang penting, karena dapat menimbulkan sifat-sifat ekspresif misalnya mengangkat alis, membuka mulut dan mata seperti ekspresi keheranan, dll. Selain itu anak juga memerlukan stimulasi taktil, kurangnya stimulasi taktil dapat menimbulkan penyimpangan perilaku sosial, emosional dan motorik. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang diperlukan anak, misalnya dengan bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain dll. Stimulasi ini

akan menimbulkan rasa aman dan rasa percaya diri pada anak, sehingga anak akan lebih responsif terhadap lingkungannya dan lebih berkembang. Pada anak yang lebih besar yang sudah mampu berjalan dan berbicara, akan senang melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap lingkungannya. Motif ini dapat diperkuat atau diperlemah oleh lingkungannya melalui sejumlah rekasi yang diberikan terhapap perilaku anak tersebut. Misalnya anak akan belajar untuk mengetahui perilaku mana yang membuat ibu senang/mendapat pujian dari ibu, dan perilaku mana yang mendapat marah dari ibu. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang responsif akan memperlihatkan perilaku eksploratif yang tinggi. Stimulasi verbal juga dibutuhkan pada tahap perkembangan ini. Dengan penguasaan bahasa, anak akan mengembangkan ide-idenya melalui pertanyaanpertanyaan, yang selanjutnya akan mempengaruhi perkembangan kognitifnya (kecerdasan). Pada masa sekolah, perhatian anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, perhatian mulai teralih ke teman sebayanya. Akan sangat menguntungkan apabila anak mempunyai banyak kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Melalui sosialisasi anak akan memperoleh lebih banyak stimulasi sosial yang bermanfaat bagi perkembangan sosial anak. Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program untuk anak-anak prasekolah yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak sedini mungkin, dengan menggunakan APE (alat permainan edukatif). APE adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk pengembangan aspek fisik (kegiatan-kegiatan yang menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak), aspek bahasa (dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar), aspek kecerdasan (dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna dll.), dan aspek sosial (khususnya dalam hubungannya dengan interaksi antara ibu dan anak, keluarga, dan masyarakat). Bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang adalah ‟makanan‟ yang penting untuk perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan makan untuk pertumbuhan badan. Bermain bagi anak tidak sekedar mengisi waktu luang saja, tetapi melalui bermain anak belajar mengendalikan dan mengkoordinasikan ototototnya, melibatkan persaan, emosi, dan pikirannya. Sehingga dengan bermain anak mendapat berbagai pengalaman hidup, selain itu bila dikakukan bersama orang tuanya hubungan orang tua dan anak menjadi semakin akrab dan orang tua juga akan segera mengetahui kalau terdapat gangguan perkembangan anak secara dini. Buku bacaan anak juga penting karena akan menambah kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menambah wawasan terhadap lingkungannya. Untuk perkembangan motorik serta pertumbuhan otot-otot tubuh diperlukan stimulasi

yang terarah dengan bermain, latihan-latihan atau olah raga. Anak perlu diperkenalkan dengan olah raga sedini mungkin, misalnya melempar/menangkap bola, melompat, main tali, naik sepeda dll). Seorang ahli mengatakan bahwa prioritas untuk anak adalah makanan, perawatan kesehatan, dan bermain. Makanan yang baik, pertumbuhan yang adekuat, dan kesehatan yang terpelihara adalah penting, tetapi perkembangan intelektual juga diperlukan. Bermain merupakan ”sekolah” yang berharga bagi anak sehingga perkembangan intelektualnya optimal. Di bawah ini ada beberapa contoh alat permainan balita dan perkembangan yang distimuli: 1. Pertumbuhan fisisk/motorik kasar: Sepeda roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik atau didorong 2. Motorik halus: Gunting, pensil, bola, balok, lilin. 3. Kecerdasan/kognitif: Buku bergambar, buku cerita, puzzle, lego, boneka, pensil warna, radio. 4. Bahasa: Buku bergambar, buku cerita, majalah, radio tape, TV 5. Menolong diri sendiri: Gelas/piring plastik, sendok, baju, sepatu, kaos kaki 6. Tingkah laku social: Alat permainan yang dapat dipakai bersama, misalnya congklak, kotak pasir, bola, tali.

B. RESIKO DAN PENANGGULANGAN CIDERA PADA ANAK USIA :  6-12 bulan Cidera akibat kendaraan bermotor Aspirasi Tercekik Jath Keracunan Kematian Pemahaman tentang tumbang kembang anak dan pengawasan yang tepat dapat mengurangi resiko cidera yang terjadi pada anak.  Toddler (1-3 tahun / batita) Keracunan Tenggelam Kecelakaan kendaraan Cidera luka Kematian Dapat diantisipasi dengan cara menjauhkan barang-barang berbahaya terhadap keselamatan anak, mengawasi setiap tindakan yang dilakukan, menjaga kebersihan lantai, orang tua lebih memahami tentang pertumbuhan anaknya  Preschool (3-5 tahun) Jatuh Terluka Cidera fraktur Tersengat listrik/terbakar Kematian Pemberian informasi dan pemahaman kepada anak tentang tindakan dan permainan yang dilakukan, tingkatkan pengawasan terhadap aktifitas anak.  Usia Sekolah Keracunan Kecelakaan Infeksi bakteri dan virus Nutrisi / gizi Perkelahian Kematian Perhatian orang tua tentang sikap anak dan memberikan nilai-nilai moral yang baik namun hak pada anak harus selalu di arahkan oleh orang tua. Selain itu peran pendidikan agama juga harus berikan pada anak sejak usia dini.

 Remaja Perkelahian Obat-obatan(Napza) Kecelakaan Pembunuhan Kematian Pada usia ini anak memang sudah memiliki kebebasan dalam bertindak namun harus tetap dalam pengawasan orang tua. Informasi yg tepat dari orang tua menjadi sarana yang berguna pada anak.

C. TOILET TRAINING PADA ANAK A. Pengertian Toilet Training Toilet Training pada anak adalah merupakan suatu usaha melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar atau latihan menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya (toilet). B. Keuntungan dilakukan Toilet Training  Kemandirian Toilet Training juga dapat menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar  Mengetahui bagian-bagian tubuh dan fungsinya Toilet Training bermanfaat pada anak sebab anak dapat mengetahui bagianbagian tubuh serta fungsinya ( anatomi ) tubuhnya. Dalam proses toilet training terjadi pergantian implus atau rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. C. Factor-faktor yang mendukung Toilet Training pada anak  Kesiapan Fisik 1. 2. 3. 4. Usia telah mencapai 18-24 bulan Dapat jongkok kurang dari 2 jam Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan pakaian

 Kesiapan Mental 1. Mengenal rasa ingin berkemih dan devekasi 2. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih 3. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang lain  Kesiapan Psikologis 1. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu 2. Mempunyai rasa ingin tahu dan penasarsan terhadap kebiasaan orang dewasa dalam BAK dan BAB

3. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana dan ingin segera diganti  Kesiapan Anak 1. Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan devekasi 2. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan devekasi pada anaknya 3. Tidak mengalami koflik tertentu atau stress keluarga yang berarti (Perceraian) D. Usia yang tepat dilakukan Toilet Training Toilet Training dapat berlangsung pada usia 1-3 tahun atau usia balita, sebab kemampuan spingter ani unytuk mengontrol rasa ingin devekasi telah berfungsi. Namun setiao anak kemampuanya berbeda tergantung factor fisisk dan psikologisnya E. Cara-cara melakukan Toilet Training  Teknik lisan Usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum dan sesudah buang air kecil dan buang air besar. Cara ini bener dilakukan oleh orang tua dan mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk buang air kecil dan buang air besar. Dimana kesiapan psikologis anak akan semakin matnag sehingga anak mampu melakukan buang air kecil dan buang air besar  Teknik modeling Usaha untuk melatih anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan cara memberikan contoh dan anak menirukannya. Cara ini juga dapat dilakukan dengan membiasakan anak uang bair kecil dan buang air besar dengan cara mengajaknya ke toilet dan memberikan pispot dalam keadaan yang aman. Namun dalam memberikan contoh orang tua harus melakukannya secara benar dan mengobservasi waktu memberikan contoh toilet training dan memberikan pujian saat anak berhasil dan tidak memarahi saat anak gagal dalam melakukan toilet training. F. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama Toilet Training

1. Hindari pemakain popok sekali pakai 2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan buang air kecil dan buang air besar 3. Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat bangun tidur 4. Jangan marah bila anak dalam melakukan toilet training G. Tanda anak siap untuk melakukan Toilet Training 1. Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari minimal 3-4 jam 2. Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol 3. Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan menggunakan kata-kata pup 4. Sudah mampu member tahu bila celana atau popok sekali pakainya sugah basah dan kotor 5. Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara memegang alat kelamin atau minta ke kamar mandi 6. Bias memakai dan melepas celana sendiri 7. Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah meringis, merah atau jongkok saat merasa BAB dan BAK 8. Tertarik dengan kebiasaan masuk ke kamar mandi seperti kebiasaan orang sekitarnya 9. Minta diajari menggunakan toilet 10. Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu F. Pedoman Toilet Training Pada Anak Pedoman Untuk Orang Tua Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet. The American Academy of Pediatrics telah mengembangkan brosur ini untuk membantu anak anda melewati tahap penting perkembangan sosial. G. Pengenalan Konsep ToiletTraining Toilet training merupakan carauntuk melatih anak agar bisamengontrol hajatnya apakah itusaat ia ingin buang air kecil BAK atau buang air besar BAB,Selain itu anak diharapkanmampu BAK dan BAB di tempat yangtelah ditentukan  Strategi pengenalan Toilete Training

UNTUK BAK (Buang Air Kecil) Kenalkan dulu istilah-istilah BAK, seperti kata pis pipis, dll. Kenalkan suasana kamar mandi Biarkan si kecil bereksplorasi dengan isi kamar mandi. Untuk BAK kenali tanda tanda saat si kecil akan BAK. Ini bisa dimulai dengan cara Anda membawanya ke toilet setiap 2 atau 3 jam sekali Atau lebih mudahnya setengah jam hingga satu jam setelah minum. Pujilah bila ia berhasil meskipun kemajuannya tidak secepat yang Anda inginkan

 UNTUK BAB (Buang Air Besar) Kenalkan juga dulu istilah BAB, seperti kata pup, eek, dll terutama saat si kecil selesai melakukan aktitivas tersebut Pastikan si kecil sudah bisa duduk dengan baik tapi tetap Anda pegang selama proses BAB Peluk si kecil saat berlangsungnya BAB tapi jangan terlalu erat hanya untuk memastikan bahwa dia aman dan otomatis pelukan ini bisa memberikan kenyamanan ketenangan buat si kecil Ajak si kecil menyanyi, ini merupakan salah satu cara yang efekfif untuk mengurangi ketegangan si kecil saat melakukan proses BAB. Atau bisa juga diajak cerita tentang hal-hal yang dia sukai, misalnya mainkan ekspresi waiah dan tubuh anda yang mengikuti ekspresi muka si kecil saat ngedan. Ini akan mempermudah anda nantinya untuk meminta si kecil ngedan pada proses BABnya. Sekali waktu memang si kecil bosan dan tidak sabaran. Tidak masalah turuti saja keinginannya & Jangan paksakan ia duduk melakukan proses BAB karena justru prosesnya dijamin gagal. Lama-kelamaan si kecil akan paham bahwa proses ngedan lebih enak & nyaman dilakukan di atas toilet daripada berdiri Proses akan disertai dengan „nyebokin‟ Karena biasanya anda akan berebut selang atau gayung dengan anak. Namun kuncinya adalah kesabaran, ketika nyebokin anda harus pelan-pelan basuh pantat si kecil sambil liat ke matanya dan bilang bahwa itu kotoran yang harus di buang.

Mengajarkan TT sebaiknya santai dan hindari kemarahan. Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol kapan dan dimana anak ingin BAK atau BAB kecuali anak itu sendiri. Hindari pemaksaan yang berlebihan. Anak pada usia TT mulai timbul kesadaran terhadap diri sendiri. Mereka mencari cara untuk menguji keterbatasan mereka. Beberapa anak melakukannya dengan cara nenahan keinginan BAB-nya.  Perhatikan tanda-tanda berikut ini untuk menilai kesiapan anda:
  

Anak anda tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau setelah tidur siang. BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi Ekspresi wajah, postur tubuh dan kata-kata yang menunjukkan keinginan BAB atau BAK.

 Keadaan stress di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadangkadang sangat bijaksana untuk menunda TT dalam situasi berikut ini:
  

Keluarga anda baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu dekat. Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan seorang bayi. Ada penyakit berat, kematian atau seseorang dalam keluarga sedang mengalami krisis.

 Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan dalam TT, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.
    

Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta membantu melepas pakaian. Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang koor dan ingin diganti. Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot. Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak yang lebih besar.

H. Bagaimana mengajar anak anda menggunakan toilet ? Anda seharusnya memutuskan dengan hati-hati kata-kata apa yang akan digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian tubuh, urine, dan feses. Ingatlah bahwa kata-kata tersebut akan didengar juga oleh teman, tetangga, guru, dan orang-orang lain. Sebaiknya gunakan kata-kata yang sudah umum digunakan supaya tidak membingungkan atau mempermalukan anak anda.

Hindari penggunaan kata-kata “kotor”, “nakal” atau jorok untuk menggambarkan urine atau feses. Istilah negatif ini akan membuat anak anda merasa malu dan bingung. Ajarkan BAB dan BAK dengan cara sederhana. Anak anda mungkin ingin tahu dan mencoba untuk bermain dengan fesesnya. Anda dapat mencegah hal ini tanpa membuat anak anda sedih, katakan bahwa feses bukan sesuatu untuk dimainkan. Ketika anak anda sudah siap, anda sebaiknya memilih pot (potty chair) untuk BAK atau BAB. Pot lebih mudah digunakan untuk anak kecil, karena pendek sehingga anak tidak sulit untuk duduk diatasnya dan kaki anak dapat mencapai lantai. Anak-anak sering tertarik dengan aktifitas dalam kamar mandi keluarga. Kadangkadang biarkan mereka memperhatikan orang tuanya saat pergi ke kamar mandi. Dengan melihat orang dewasa menggunakan toilet akan membuat mereka mempunyai keinginan yang sama. Jika memungkinkan ibu sebaiknya memperlihatkan cara yang benar kepada anak perempuannya, sedangkan ayah kepada anak laki-lakinya. Anak-anak dapat juga mempelajari cara ini dari kakak atau teman-temannya. Ajarkan anak anda untuk memberitahukan bila dia ingin BAB atau BAK, Anak anda sering memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda lain kali harus memberi tahu anda sebelumnya. Sebelum BAB anak anda mungkin merintih, atau mengeluarkan suara-suara aneh, jongkok, atau berhenti beberapa saat. saat mengedan wajahnya akan menjadi merah. Jelaskan pada anak tanda-tanda tersebut adalah petunjuk saatnya menggunakan toilet. Kadang-kadang lebih lama mengenal keinginan untuk BAK daripada keinginan untuk BAB. Beberapa anak belum dapat mengontrol keinginan BAK selama beberapa bulan setelah mereka dapat mengontrol BAB. Beberapa anak mampu mengontrol BAK terlebih dahulu. Sebagian besar anak laki-laki belajar BAK dengan cara duduk terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara berdiri. Ingatlah bahwa semua anak berbeda. Ketika anak anda tampak ingin BAK atau BAB, pergilah ke pot. Biarkan anak anda duduk di pot beberapa menit, Jelaskan bahwa anda ingin anak anda BAB

atau BAK di situ. Bergembiralah, jangan memperlihatkan ketegangan. Jika anak anda protes dengan keras, jangan memaksa. Mungkin anak anda belum saatnya untuk memulai TT. Sebaiknya anak dilatih menggunakan pot secara rutin, misalnya menjadi kegiatan pertama di pagi hari ketika anak anda bangun, setelah makan, atau sebelum tidur siang. Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengontrol kapan anak anda BAB atau BAK. Keberhasilan Toilete Training tergantung pada cara pengajaran bertahap yang sesuai dengan anak anda. Anda harus mendukung usaha anak anda. Jangan menginginkan hasil yang terlalu cepat. Berikan anak anda pelukan dan pujian jika mereka berhasil. Bila terjadi kesalahan jangan mamarahi atau membuat mereka sedih. Hukuman akan membuat mereka merasa bersalah dan membuat TT menjadi lebih lama. Ajarkan anak anda kebiasaan menjaga kebersihan. Tunjukkan cara cebok yang benar. Anak perempuan seharusnya membersihkan dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman dari rektum ke vagina atau kandung kemih. Pastikan anak laki-laki maupun perempuan mencuci tangan mereka setelah BAB atau BAK. Beberapa anak percaya bahwa urine atau feses adalah bagian dari tubuh mereka, melihat fesesnya disiram mungkin menakutkan dan sulit untuk dimengerti. Beberapa anak takut mereka akan tersedot ke dalam toilet bila disiram saat mereka masih duduk di atasnya. Orang tua harus mengajarkan mereka keinginan untuk mengontrol, biarkan mereka mencoba menyiram tissue ke dalam toilet. Hal tersebut akan menghilangkan ketakutan mereka terhadap suara berisik air dan mereka dapat melihat benda yang menghilang, masuk ke dalam toilet. Ketika anak anda mulai sering berhasil, tingkatkan dengan penggunaan celan latihan (training pants). Kejadian tersebut menjadi sangat istimewa. Anak anda akan merasa bangga telah mendapat kepercayaan dan merasa tumbuh. Bagaimana pun juga bersiaplah terhadap terjadinya “kecelakaan”. Akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum TT selesai. Sebaiknya tetap melanjutkan latihan duduk di pot di siang hari. Jika anak anda dapat menggunakan pot dengan sukses, ini merupakan kesempatan untuk memuji. Bila tidak ini masih merupakan latihan yang baik.

Pada awalnya, banyak anak akan BAB atau BAK segera setelah diangkat dari toilet. Perlu waktu untuk anak anda belajar relaksasi otot-ototnya untuk mengontrol BAB atau BAK. Bila sering terjadi “kecelakaan” seperti ini, berarti anak anda belum siap untuk TT. Kadang-kadang anak anda akan meminta popok saat merasa akan BAB dan berdiri di satu tempat tertentu untuk defekasi. Ajak anak anda mengenali tandatanda keinginan BAB. Anjurkan kemampuannya dengan duduk di atas pot tanpa popok. Pola defekasi bervariasi. Beberapa anak 2-3 kali per hari. Anak lain 2-3 hari sekali. Feses yang lunak membuat TT lebih mudah untuk anak dan orang tua. Terlalu memaksa anak dalam TT dapat menimbulkan masalah BAB jangka panjang. Bicarakan dengan dokter anak anda bila terjadi perubahan kebiasaan BAB atau bila anak anda menjadi tidak nyaman. Jangan gunakan laksatif, supositoria, atau enema, kecuali dianjurkan oleh dokter. Sebagian besar anak dapat mengontrol BAB dan BAK di siang hari saat usia 3-4 tahun. Bahkan setelah anak anda tidak mengompol di siang hari masih perlu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tidak mengompol di malam hari. Sebagian besar anak perempuan dan lebih dari 75% anak laki-laki mampu tidak mengompol di malam hari setelah usia 5 tahun. Anak anda akan menunjukkan kepada anada jika dia sudah siap pindah dari pot ke toilet sesungguhnya. Pastikan anak anda cukup tinggi, dan latihlah tahap demi tahap bersama mereka.

D. PENDIDIKAN DASAR PSIKOMOTOR PADA ANAK Kemampuan motorik halus dan motorik kasar Pada dasarnya setiap anak adalah unik. Masing-masing memiliki kemampuan perkembangan dan melalui tahapan perkembangan dengan kecepatannya sendiri-sendiri. Namun secara umum, ada beberapa tahapan perkembangan motoris yang perlu diketahui oleh orang tua dan bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sehingga mereka dapat mengawasi dan mengevaluasi bagaimana tahapan perkembangan motorik masing-masing anak. Secara umum kemampuan motoris manusia dibagi menjadi dua macam, motorik halus dan motorik kasar. Kemampuan motorik kasar adalah kemampuan menggerakkan yang berkaitan dengan otot-otot besar yang ada di tangan, kaki, telapak dan seluruh tubuh; geraka motorik kasar digunakan untuk berjalan, melompat, berlari dan lainnya. Sedangkan kemampuan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus di tangan, pergelangan tangan dan jemari; contohnya seperti memegang pensil atau mainan. Kita perlu membedakan kedua jenis kemampuan motoris ini, karena keduanya dapat menjadi indikasi perkembangan motoris anak. Namun perlu dipahami pula bahwa kedua jenis kemampuan motoris ini dapat saling berkaitan atau hadir secara bersamaan, contohnya: anak yang mampu mengambil barang dari rak memiliki baik motorik kasar dan halus; motorik kasar karena melakukan berjalan ke arah rak dan menggerakkan tangan dan lengan untuk meraih barang dan motorik halus karena mampu memegang mainan. Contoh lainnya, ketika anak yang mampu memungut mainan dari lantai (motorik halus) biasanya telah mampu belajar duduk tegak sendiri (motorik kasar). Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap gerakan anak terdiri dari koordinasi motorik kasar dan motorik halus, dan kedua jenis kemampuan psikomotorik ini merupakan dasar perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain dan bekerja. Dalam tabel 1 dijelaskan secara singkat mengenai beberapa tahapan perkembangan motoris anak, dan apa yang dapat dilakukan oleh orang tua atau bunda PAUD untuk melakukan pendampingam pada anak dengan tahapan perkembangan tertentu (Ratna, 2010). Tabel 1. Beberapa tahapan perkembangan motorik anak Usia 12-15 bulan
   

Perkembangan psikomotor Lebih lincah, bergerak ke sana dan kemari Berdiri dengan kekuatan kaki yang lebih baik walau belum sempurna. Keseimbangan lebih baik

Usaha yang dapat dilakukan pengasuh  Menyediakan ruang gerak yang aman  Bertindak secara cepat dan memberikan rasa aman dan

Tertarik naik tangga

dorongan agar anak berani berdiri Menemani anak naik tangga dan menjaganya agar tidak jatuh

16-18 bulan

Mulai mampu berjalan tanpa bantuan; bisa berhenti dan kemudian jalan lagi; turun naik tangga lebih berani; bisa mengangkat/menyepak dengan satu kaki dan tetap seimbang dalam 2-3 detik dengan satu tangan dipegangi Dapat menggigit (gigi tumbuh sudah lebih banyak) dan mengunyah dan minum lebih lancar

Mengawasi dan menciptakan lingkungan yang aman Melatih keseimbangan dan minat anak mengeksplorasi ruang Memberi sarana gerak anak seperti bola Mengajak anak memeriksa gigi dan aktivitas menyikat gigi Memberikan variasi makanan untuk melatih daya kunyah

20-23 bulan

 

Berlari lebih seimbang dan mampu mengatur jarak dan menghindari rintangan Mampu melompat, turun dari kursi Motorik halus berkembang lebih pesat seperti membuka lembaran buku, memungut benda kecil di lanta dengan 2 jari

Melatih anak mengamati sekitar sebelum berlari dan mampu mengantisipasi rintangan Melibatkan anak untuk melakukan beberapa hal sendiri

24-35 bulan

Lebih mampu mengendalikan tubuhnya dan cenderung bergerak

Anak mulai dilibatkan dalam

terus (lari, lompat, memanjat) Toilet training lebih baik, mampu mengindikasikan kebutuhan buang air kecil (BAK) dan buang air besar(BAB)

kegiatan bermain di tempat umum, seperi kelompok bermain beberapa kali seminggu Sigap menyikapi tanda yang diberikan anak ketika BAK atau BAB

4 tahun
  

Lebih efektif mengontrol gerakan berhenti, memulai, dan berputar Dapat menuruni tangga dengan berganti kaki Minat menggerakan pensil, krayon

Melatih kemampuan gerak lebih efektif Mendampingi latihan motorik halus seperti menggambar dan mewarnai

5 tahun
  

Dapat melakukan gerakan start, berputar, atau berhenti secara efektif Dapat melakukan jingkat dengan sangat mudah Kemampuan motorik halus semakin berkembang (menggunting, menempel)

Mendampingi belajar menulis huruf dan angka Mendampingi penggunaan alat tulis, menggunti serta mengelem kertas

Faktor Menghambat atau Mendukung perkembangan Kemampuan Psikomotor Anak Perlu dipahami bahwa perkembangan motorik anak dapat berjalan tidak optimal atau terhambat. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menghambat perkembangan motorik anak yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam usaha pendampingan perkembangan psikomotorik anak. 1. Pengaruh biologis. Faktor genetik atau kondisi media dapat mempengaruhi kemampuan motorik anak. Contoh: jika orang tua memiliki sebab genetis kelemahan otot, maka anak juga akan mengalami gangguan motoris otot; atau pada anak dengan autis biasanya sangat sulit meningkatkan kemampuan motoriknya karena kelainan pada kondisi tubuhnya.

2. Faktor pola asuh orang tua yang otoriter ataupun terlalu memaksa anak di luar kemampuannya. Apabila orangtua memaksakan peningkatan atau latihan kemampuan psikomotor anak, kebanyakan malah akan merasa canggung, takut salah tidak hingga tidak percaya pada diri sendiri serta merasa tertekan. 3. Pengaruh lingkungan. Kemampuan psikomotorik utama pada masa kanak adalah berjalan dan memegang benda, keduanya merupakan dasar bagi perkembangan keterampilan motoris yang lebih kompleks seperti bermain dan belajar. Keterampilan ini berkembang dan atau diajarkan kepada anak pada masing- masing keluarga mereka. Oleh karena itu keluarga merupakan media paling awal yamg mempengaruhi pembentukan perkembangan psikomotorik anak. 4. Interior ruang belajar. Perilaku anak juga turut dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya, terutama berupa kondisi fisik tempat (ruangan) dan tata ruang dan peralatan perabot (interior). Ruang yang baik untuk perkembangan motorik anak adalah ruangan yang menyediakan area beraktivitas. Anak suka bereksplorasi dengan tangannya melalui manipulasi dengan benda-benda, terutama alat-alat permainannya. Penggunaan interior sebaiknya seimbang serta menghindari ketidakteraturan atas unsur-unsur perancangan seperti: bentuk perabot, tekstur, warna, penerangan, dan akustik. Jika suatu lingkungan yang dirancang dengan baik, bukan hanya memberikan kemudahan belajar, tetapi juga dapat mengurangi masalah perilaku-perilaku negatif anak. Oleh sebab itu, kelengkapan fasilitas belajar dan bermain serta penataannya yang baik dapat mempengaruhi psikomotorik anak.

Stimulasi Perkembangan Psikomotor Anak Tumbuh kembang kemampuan psikomotorik anak juga memerlukan stimulasi guna tercapai pengoptimalannya. Beberapa diantaranya adalah: 1. 2. 3. 4. Diberikan dasar dasar ketarmpilan untuk menulis dan menggambar Keterampilan berolah raga atau menggunakan alat olah raga Gerakan geraka permainan, seperti melompat memanjat dan berlari Baris berbaris secara sederhana

Perkembangan psikomotorik anak akan lebih optimal jika lingkungan tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk bergerak secara bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan karena dapat memberikan stimulasi perkembangan otot, meningkatkan koordinasi dan pengembangan kekuatan tubuhnya. Jika kegiatan anak di dalam ruangan, ruangan sebaiknya dipersiapan untuk tetap menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk berlari melompat dan menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Kemampuan motorik halus dapat dikembangkan dengan cara anak seperi: menggali pasir dan tanah, menuangkan air mengambil dan mengumpulkan batu batu, dedaunan atau benda kecil lainya, dan bermain

permainan luar ruangan seperti kelereng. Kemampuan psikomotorik halus ini merupakan modal dasar untuk menulis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->