INFUS CAIRAN INTRAVENA (MacamMacam Cairan Infus

)
September 16, 2010 by yuda handaya Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah: 1. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 2. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 3. Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 4. ―Serangan panas‖ (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi) 5. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi) 6. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh) 7. Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain: 1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan. 2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya ―polications‖ dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung. 3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan

Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil. atau kapiler. Hematoma. 3. 3. subkutan (di bawah kulit). Pemberian cairan intravena (intravenous fluids). demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. 2. juga untuk memudahkan pemberian obat) 6. misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa). Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur Pembuluh Darah Vena 1. atau ―tusukan‖ berulang pada pembuluh darah. dan intramuskular (disuntikkan di otot). Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan. 2. 4. 2. dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok. namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik. sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba). karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah). nyeri. yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena. atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri. Emboli udara. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: 1. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah. sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa. Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu). sehingga tidak dapat dipasang jalur infus. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai. sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena).pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus). pada penderita diabetes mellitus. Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous Cannulation) 1. Pemberian kantong darah dan produk darah. sublingual (di bawah lidah). Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan). terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas. Tromboflebitis. Inflamasi (bengkak. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan. terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. . 4. Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. 3. Infiltrasi. 5. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki). 5. 4.

khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi.Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus: • Rasa perih/sakit • Reaksi alergi Jenis Cairan Infus: 1. sehingga ―menarik‖ cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Misalnya Dextrose 5%. menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya: 1. sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Maka cairan ―ditarik‖ dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi). dan albumin. meningkatkan produksi urin. Kristaloid: bersifat isotonik. Dextrose 5%+NaCl 0. Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Mampu menstabilkan tekanan darah. Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL). . misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. dan menurunkan osmolaritas serum. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. Digunakan pada keadaan sel ―mengalami‖ dehidrasi.9%). 1. Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah). Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel. Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan). produk darah (darah). dan mengurangi edema (bengkak). dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0. 1. sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.9%. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. NaCl 45% hipertonik. sehingga tekanan darah terus menurun).5%. dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. sehingga larut dalam serum. Dextrose 5%+Ringer-Lactate.

asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran 4. Pada pemberian sebelum operasi sesar. Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui. maka sifatnya hipertonik. dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi: 1. JENIS-JENIS CAIRAN INFUS ASERING Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut. Mempunyai efek vasodilator 5. demam berdarah dengue (DHF). Contohnya adalah albumin dan steroid. Pada kasus bedah. dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati 2.1. syok hemoragik. Komposisi: Setiap liter asering mengandung:       Na 130 mEq K 4 mEq Cl 109 mEq Ca 3 mEq Asetat (garam) 28 mEq Osmos 273 m/l Keunggulan:  1. dehidrasi berat. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. luka bakar. Pada kasus stroke akut. Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA. demam) . RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus 3. trauma. dan tetap berada dalam pembuluh darah. Asetat dimetabolisme di otot.

Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml):      Na 30 mEq/L K 0 mEq/L Cl 20 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B . Mensuplai kalium 20 mEq/L 4. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) 3.2. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal 3. < 24 jam pasca operasi 3. pada keadaan asupan oral terbatas 2. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak 2. Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L KA-EN 4A Indikasi : 1. pada keadaan asupan oral terbatas 2. Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B KA-EN MG3 Indikasi : 1. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) 3. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A 4. sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: 1. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Tanpa kandungan kalium. Kecepatan sebaiknya 300500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak 4. Bayi prematur atau bayi baru lahir.

Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia 3. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun 2. luka bakar) Otsu-RL Indikasi: 1. Resusitasi 2.5 gr/L Otsu-NS Indikasi: 1.Indikasi: 1. Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor. Dosis: 0. Mengandung 400 kcal/L AMIPAREN Indikasi: . Suplai ion bikarbonat 3. stres berat dan defisiensi protein 3. insufisiensi adrenokortikal.3 gr/kg BB/jam 4. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi: 1. misal diare 3. infeksi berat. Asidosis metabolik MARTOS-10 Indikasi: 1. Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik 2. o o o o o Na 30 mEq/L K 8 mEq/L Cl 28 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 37. Kehilangan Na > Cl. Untuk resusitasi 2. Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum.

menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Digunakan pada keadaan sel ―mengalami‖ dehidrasi. Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan 2. Nitrisi dini pasca operasi 3. 3. dan menurunkan osmolaritas serum. sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. 5. 4. 7. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2. dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0.1. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL). · Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah). 3. 6. Tifoid Jenis Cairan Infus · Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI Penderita GI yang dipuasakan Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar. sehingga larut dalam serum. Maka cairan ―ditarik‖ dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi).5%. sehingga tekanan darah terus menurun).9%). Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. 2. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel. 4. 2. Stres metabolik berat Luka bakar Infeksi berat Kwasiokor Pasca operasi Total Parenteral Nutrition Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit AMINOVEL-600 Indikasi: 1. trauma dan pasca operasi) Stres metabolik sedang Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) PAN-AMIN G Indikasi: 1. . 5.

Dextrose 5%+NaCl 0. khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Dextrose 5%+Ringer-Lactate. Misalnya Dextrose 5%. Cairan hipertonik. Cairan hipotonik.9%). dan menurunkan osmolaritas serum. sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Mampu menstabilkan tekanan darah. dan mengurangi edema (bengkak). misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. · Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. Cairan Isotonik. sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. Digunakan pada keadaan sel ―mengalami‖ dehidrasi. Maka cairan ―ditarik‖ dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi). Macam atau jenis cairan infus dan kegunaanya : 1.· Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. meningkatkan produksi urin. Adalah cairan infuse yang osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah). NaCl 45% hipertonik. sehingga ―menarik‖ cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.9%. sehingga ―menarik‖ cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Mampu menstabilkan tekanan darah. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL). dan albumin. maka sifatnya hipertonik. dan mengurangi edema (bengkak). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan). Adalah cairan infuse yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). dan tetap berada dalam pembuluh darah. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya: · Kristaloid: bersifat isotonik. sehingga tekanan darah terus menurun). meningkatkan produksi urin. juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya : . sehingga larut dalam serum. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. Contohnya adalah albumin dan steroid. Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. produk darah (darah). 2. 3. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah.

Jumlah kehilangan air tubuh ini berbeda sesuai dengan umur. Cairan pemeliharaan (rumatan) : Tujuannya adalah untuk mengganti kehilangan air tubuh lewat urin. maka sebagai cairan pengganti adalah hipotonik. paru dan keringat. dengan perhatian khusus untuk natrium. dan tetap berada dalam pembuluh darah. Kristaloid: bersifat isotonik. dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. misalnya dekstrose 5 % dalam ringer laktat (D5RL). Sebagai cairan pengganti untuk tujuan ini digunakan cairan isotonis. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. pengganti dan tujuan khusus. Cairan elektrolit (kristaloid) : Sesuai dengan penggunaannya dapat dibagi menjadi beberapa golongan. D5 NaCl.9 %. Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. Cairan kristaloid untuk pemeliharaan misalnya dekstrosa 5% dalam NaCl 0. feses. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. asites drainase lambung dsb). Cairan yang digunakan dalam terapi Cairan yang sering digunakan ialah cairan elektrolit (kristaloid) cairan non-elektrolit. 2. yaitu: Dewasa : 1. .1. Sediaan Cairan Pemeliharaan (rumatan) Cairan pengganti : Tujuannya adalah untuk mengganti kehilangan air tubuh yang disebabkan oleh sekuestrasi atau proses patologi yang lain (misalnya fistula.5 – 2 ml/kg/jam Anak-anak : 2 – 4 ml/kg/jam Bayi : 4 – 6 ml/kg/jam Orok (neonatus) : 3 ml/kg/jam Mengingat cairan yang hilang dengan cara ini sedikit sekali mengandung elektrolit. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah.45% (D5NaCl 0. efusi pleura. NaCl 0. yaitu untuk pemeliharaan.45). dan cairan koloid. dengan perhatian khusus untuk konsentrasi natrium. maka sifatnya hipertonik. Contohnya adalah albumin dan steroid.

dapat juga digunakan sebagai cairan pemeliharaan. NaCl 3 %. Plasma. Haemacel. Albumin. Cairan koloid : Disebut juga sebagai plasma ekspander. . Sumber: http://id. respon Cushing mungkin muncul. JENIS-JENIS CAIRAN INFUS Adapun jenis-jenis cairan infus yang biasa digunakan adalah :  Cairan hipotonik : osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). Sediaan Cairan Koreksi Cairan non elektrolit : Contoh dekstrose 5 %. digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dan kalori.Sediaan Cairan Pengganti Cairan untuk tujuan khusus (koreksi): Yang dimaksud adalah cairan kristaloid yang digunakan khusus.5 %. Darah. Dengan hipertensi intrakranial berat. dan menurunkan osmolaritas serum.com/medicine-and-health/nutrition/2194198-cairaninfus/#ixzz1uBophZNT F. karena memiliki kemampuan besar dalam mempertahankan volume intra-vaskuler. bradikardia. dll. 10 %. sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju.shvoong. Trias Cushing klasik melibatkan hipertensi sistemik. Cairan koloid ini digunakan untuk menggantikan kehilangan cairan intra-vaskuler. misalnya natrium bikarbonat 7. Contoh cairan ini antara lain : Dekstran. dan depresi pernafasan. sehingga larut dalam serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi).

Misalnya D extrose 5%.D extrose 5%+NaCl 0.5%.9%. sehingga tekanan darah terus menurun). menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak).  Kristaloid : bersifat isotonik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba -tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel. NaCl 45% hipertonik. Contohnya : adalah NaCl 45% danD ekstrosa 2. Misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0. dan mengurangi edema (bengkak). produk darah (darah). dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. . Mampu menstabilkan tekanan darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh.Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi. khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi.  Cairan hipertonik : osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan). Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. dan albumin. sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. D extrose 5%+Ringer-Lactate. meningkatkan produksi urin. juga pada pasien hiperglikemia ( kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik.  Cairan Isotonik : osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah).9%). Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL).

luka bakar. syok hemoragik. NaCl 0. Cairan bisa bersifat hipertonis (contohnya . Komposisi: Setiap liter asering mengandung:  Na 130 mEq  K 4 mEq  Cl 109 mEq  Ca 3 mEq  Asetat (garam) 28 mEq Keunggulan:  Asetat dimetabolisme di otot. Dekstrosa 10 % dalam NaCl. Dekstrosa 5 % dalam air. Koloid : ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. Cairan bisa bersifat hipotonis (contohnya . Contohnya adalah albumin dan steroid Jenis-jenis Cairan Intravena 1. Cairan bisa bersifat isotonis (contohnya . dehidrasi berat. Dektrosa 10 % dalam air. dll) 2. Dektrosa 20 % dalam air) ASERING Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut. traum a. NaCl 5 %) 3. RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus  Pada kasus bedah. Ringer laktat / RL. asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran  Mempunyai efek vasodilator .9 %. demam berdarah dengue (DHF). dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati  Pada pemberian sebelum operasi cesar. dan tetap berada dalam pembuluh darah. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. maka sifatnya hipertonik.

Kecepatan sebaiknya 300 500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak  Bayi prematur atau bayi baru lahir. pada keadaan supan oral terbatas  Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)  Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A  Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B KA-EN MG3 Indikasi :  Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. demam)  Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Pada kasus stroke akut. misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi  Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui.pada keadaan asupan oral terbatas  Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)  Mensuplai kalium 20 mEq/L  Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L KA-EN 4A Indikasi : . sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi:  Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA.

misal diare  Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak  Tanpa kandungan kalium. insufisiensi adrenokortikal.5 gr/L Otsu-NS Indikasi:  Untuk resusitasi  Kehilangan Na > Cl. luka bakar) . sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal  Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml):  Na 30 mEq/L  K 0 mEq/L  Cl 20 mEq/L  Laktat 10 mEq/L  Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B Indikasi:  Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun  Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia  Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi:  Na 30 mEq/L  K 8 mEq/L  Cl 28 mEq/L  Laktat 10 mEq/L  Glukosa 37.

trauma dan pasca operasi)  Stres metabolik sedang . stres berat dan defisiensi protein  Dosis: 0. infeksi berat.Otsu-RL Indikasi:  Resusitasi  Suplai ion bikarbonat  Asidosis metabolik MARTOS-10 Indikasi:  Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik  Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor.3 gr/kg BB/jam  Mengandung 400 kcal/L AMIPAREN Indikasi:  Stres metabolik berat  Luka bakar  Infeksi berat  Kwasiokor  Pasca operasi  Total Parenteral Nutrition  Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit AMINOVEL-600 Indikasi:  Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI  Penderita GI yang dipuasakan  Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar.

Tetesan Makro : 1cc = 15 tetes Rumus : Tetesan/menit = Jumlah cairan yang dimasukkan (cc) Lamanya infus (jam) x 4 2. Dewasa: (makro dengan 20 tetes/ml) TETESAN PERMENIT = JUMLAH CAIRAN YANG MASUK/LAMANYA INFUS (JAM) X3 atau TETESAN PERMENIT = KEBUTUHAN CAIRAN X FAKTOR TETESAN / LAMANYA INFUS (JAM) X 60 MENIT Keterangan: Faktor tetesan infus bermacam-macam. MENGHITUNG TETESAN INFUS Berikut penjelasan dan contoh bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus: 1. Tetesan Mikro : 1cc = 60 tetes Rumus : Tetesan/menit = Jumlah cairan yang dimasukkan (cc) Lamanya infus (jam) a. Contoh: Seorang pasien dewasa diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam maka tetesan per menit adalah: . hal ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes/menit. 15 tetes/menit dan 20 tetes/menit). Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) PAN-AMIN G Indikasi:  Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan  Nutrisi dini pasca operasi  Tifoid G.

maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT (MIKRO) = 250 / 2 = 125 TETES PERMENIT .TETESAN PERMENIT= 1000 ml /1 X 3 = 333/menit atau TETESAN PERMENIT= 1000 ml x 20 / 1 x 60 menit = 333/menit b. Anak TETESAN PERMENIT (MIKRO) = JUMLAH CAIRAN YANG MASUK / LAMANYA INFUS (JAM) Contoh: Seorang pasien neonatus dan febris diperlukan rehidrasi dengan 250 mikroL dalam 2 jam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful