P. 1
aqidah akhlak

aqidah akhlak

|Views: 514|Likes:
Published by Nunu Socratezh Hr

More info:

Published by: Nunu Socratezh Hr on Sep 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

http://blog.uin-malang.ac.

id/uchielblog/2011/04/07/metodologi-penelitian-pengaruh-pendidikanaqidah-akhlak-terhadap-tingkah-laku-siswa-di-smpi-01-batu-kabupaten-malang/ A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana dipahami bahwa para remaja berkembang secara integral, dalam arti fungsi–fungsi jiwanya saling mempengaruhi secara organik. Karenanya sepanjang perkembangannya

membutuhkan bimbingan sebaik–baiknya dari orang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap jiwa para remaja yang menurut kodratnya terbuka terhadap pengaruh dari luar. Namun tidak jarang para remaja mengambil jalan pintas untuk mengatasi kemelut batin yang mereka alami itu. Pelarian batin ini terkadang akan mengarah keperbuatan negatif dan merusak, seperti kasus narkoba, tawuran antar pelajar, maupun tindak kriminal merupakan bagian dari kegagalan para remaja dalam menemukan jalan hidup yang dapat menentramkan gejolak batinnya. Sehingga jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima. Sebaliknya, jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku dinilai buruk dan ditolak. Akibatnya peranan serta efektivitas pendidikan agama di SMP sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan demikian jika pendidikan aqidah akhlak yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik. Juga sebagaimana diketahui, bahwa inti ajaran Islam meliputi: masalah keimanan (akidah), masalah keislaman (syari’ah), dan masalah ikhsan (akhlak). Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan. Dengan demikian, akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal, berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia dan alam lingkungan. Demikian pula dengan pendidikan yang bijaksana dan mengetahui metodologi yang tepat bagi masing–masing individu (siswa), diharapkan para remaja dapat mencapai kesempurnaan. Selanjutnya kita tahu bahwa pada umumnya pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta ketrampilan-ketrampilan).

Disamping itu, pada hakekatnya pendidikan merupakan kebutuhan yang utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, bahkan manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian utama tanpa melalui pendidikan. Begitu pula dengan pendidikan aqidah akhlak di Madrasah Aliyah memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan tingkah laku siswa. Apalagi dalam pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak tersebut masih terdapat kelamahan-kelamahan yang mendorong dilakukannya penyempurnaan terus menerus. Kelemahan tersebut terdapat pada materi pendidikan aqidah akhlak yang lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Kendala lainnya adalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekan nilai-nilai keyakinan tauhid dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pembangunan, serta rendahnya peran serta orang tua siswa. Oleh karena itu, agar pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dapat diwujudkan secara optimal, maka perlu memperhatikan faktor-faktor penyebab dari pada tingkah laku. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut: a) b) Struktur sosio-kultural, yaitu pola tingkah laku ideal yang diharapkan. Faktor situasi, yaitu semua kondisi fisik dan sosial ditempat berada dan diterapkannya suatu

sistem sosial. c) Faktor kepribadian, yaitu semua faktor psikologis dan biologis yang mempengaruhi tingkah laku

para pelaku secara perseorangan. Dengan pendidikan aqidah akhlak diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa yang diwujudkan dalam tingkah laku terpuji. Karena tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang didasari oleh pribadi seseorang. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan. Adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya. Dengan demikian dapat disadari betapa pentingnya peranan pendidikan aqidah akhlak dalam membentuk tingkah laku siswa seutuhnya. Maka dari itu, Pendidikan aqidah akhlak mempunyai arti dan peranan penting dalam membentuk tingkah laku siswa seutuhnya. Sebab dengan pendidikan aqidah akhlak ini siswa tidak diarahkan

kepada pencapaian kebahagiaan hidup di dunia saja, tetapi juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat. Dengan pendidikan aqidah akhlak siswa diarahkan mencapai keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan batiniah, keselarasan hubungan antara manusia dalam lingkup sosial masyarakat dan lingkungannya juga hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan dengan pendidikan aqidah akhlak pula siswa akan memiliki derajat yang tinggi yang melebihi makhluk lainnya. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dapat dipandang sebagai suatu wadah untuk membina dan membentuk tingkah laku siswa dalam mengembangkan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Oleh sebab itu pendidikan aqidah akhlak bertujuan untuk menumbuhkan pola tingkah laku siswa yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan aqidah akhlak dengan tujuan semacam itu harus melayani pertumbuhan siswa dalam segala aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah maupun bahasa. Pendidikan aqidah akhlak harus mendorong semua aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. Dan untuk mewujudkan tujuan di atas tentunya harus ditunjang dengan berbagai faktor seperti diantaranya. guru atau pendidik, lingkungan, motivasi dan sarana yang relevan. Perkembangan dan pertumbuhan tingkah laku siswa berjalan cepat atau lambat tergantung pada sejauh mana faktor– faktor pendidikan aqidah akhlak dapat disediakan dan difungsikan sebaik mungkin. Yang dalam hal ini adalah lembaga sekolah pendidikan agama yang diberikan dilingkungan sekolah, lembaga sekolah pendidikan agama tidak hanya menyangkut proses belajar-mengajar yang berlangsung di kelas melalui intelegensia (kecerdasan otak) semata, tetapi juga menyangkut pada hal-hal lain seperti dengan guru, teman dan lingkungan yang sangat berpengaruh pada tingkah lakunya. Dari uraian tersebut di atas timbul keinginan penulis untuk mengkaji lebih dalam tentang “PENGARUH PENDIDIKAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA (STUDI SAMPEL DI SMPI 1 BATU KABUPATEN MALANG)“. Dalam rangka usaha untuk memberikan informasi tentang bagaimana aktifitas pendidikan aqidah akhlak sehubungan dengan tingkah laku siswa di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang? Bagaimana tingkah laku siswa di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang?

Bagaimana pengaruh pendidikan aqidah akhlak terhadap tingkah laku siswa di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat diketahui tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang Untuk mengetahui tingkah laku siswa di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pendidikan aqidah akhlak terhadap tingkah laku siswa di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat: Bagi Lembaga Memperoleh informasi secara konkrit tentang kondisi obyektif lembaga mengenai pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dan pengembangan tingkah laku siswa. Bagi Pengelola Untuk menjadi masukan dan bahan rujukan dalam pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dan pengembangan tingkah laku siswa ke depan. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan yang lebih matang dalam bidang pengajaran dan menambah wawasan dalam bidang penelitian, sehingga dapat dijadikan sebagai latihan dan pengembangan teknik – teknik yang baik khususnya dalam membuat karya tulis ilmiah, juga sebagai kontribusi nyata bagi dunia pendidikan. E. Ruang Lingkup Pembahasan Untuk menfokuskan kajian pada permasalahan yang telah dirumuskan, penulis perlu menegaskan beberapa hal yang berkaitan dengan judul, yaitu: Pendidikan aqidah akhlak

Dalam hal ini peneliti menfokuskan pada pembahasan tentang pendidikan aqidah akhlak pada kelas I. Tingkah laku Untuk tingkah laku ini peneliti menfokuskan pada perbuatan baik dan buruk yang dilakukan siswa SMPI 1 Batu Kabupaten Malang. F. Metode Pembahasan Dan Strategi Penelitian 1. Metode Pembahasan Dalam pembahasan skripsi ini, penulis menggunakan beberapa metode yaitu: a. Metode Induksi Menurut Sukandarrumidi dalam bukunya Metodologi Penelitian mengatakan bahwa metode induksi adalah : “Suatu pola berpikir yang menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual”. Metode ini dimaksud untuk membahas suatu masalah dengan jalan mengumpulkan data dan faktafakta yang bersifat khusus atau peristiwa-peristiwa konkrit yang ada hubungannya dengan pokok bahasan, kemudian diambil pengertian atau kesimpulan. b. Metode Deduksi Dari pendapatnya Sukandarrumidi dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian: “Metode deduksi adalah pola berpikir yang bertitik tolak dari pernyataan yang bersifat umum, dan menarik kesimpulan yang bersifat khusus”. Berdasarkan metode ini penulis mempergunakan untuk membahas permasalahan yang bersifat umum yang ada kaitannya dengan pokok pembahasan kemudian ditarik suatu kesimpulan yang khusus. 2. Strategi Penelitian a. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini termasuk dalam katagori jenis penelitian deskriptip kuantitatif, yaitu: peneliti yang dimaksud untuk mengumpulkan informasi dan membuat deskripsi tentang suatu fenomena, yaitu keadaan fenomena menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.

b. Penentuan Populasi Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Sedangkan menurut Sukandarrumidi populasi adalah keseluruhan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah semua obyek yang akan diteliti yaitu Kepala Madrasah, seluruh guru agama dan seluruh siswa SMPI 1 Batu Kabupaten Malang dengan jumlah…………….siswa. c. Penentuan Sampel Yang dimaksud sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Adapun sampel penelitian ini penulis tentukan dengan menggunakan teknik random sampling yaitu: pengambilan sampel random, peneliti “mencampur” subyek-subyek didalam populasi, sehingga semua subyek dianggap sama, (Suharsimi Arikunto) Dalam artian random sampling mengambil semua individu yang ada dalam populasi, sehingga semua dianggap sama atau diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel dalam penelitian dan dalam pelaksanaannya pengambilan sampel tersebut penulis menentukan dahulu kelas berapa dan apa saja yang akan dijadikan sampel. Sampel ini diambil 25 % atau lebih dari keseluruahan jumlah siswa yaitu kira-kira …………….siswa. Mengenai besar kecilnya sampel siswa yang diambil dalam penelitian penelitian ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa “untuk sekedar ancar-ancar apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar, dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih”(Suharsimi Arikunto).

d. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Observasi Menurut Burhan Bungin metode observasi adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. Metode ini penulis gunakan untuk mengamati kondisi fisik dan non fisik yang berupa gedung, sarana dan prasarana penunjang pendidikan dan kegiatan belajar mengajar di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang.

2. Metode wawancara Metode wawancara yaitu proses meperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai. Data yang diperoleh dengan interview ini, mengenai informasi tentang hal-hal yang berkenaan dengan sejarah berdirinya SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, lokasi SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, dasar dan tujuan pendidikan di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, sistem pengelolaannya, struktur organisasi SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, dan keadaan siswa SMPI 1 Batu Kabupaten Malang. 3. Metode Dokumentasi Menurut Suharsimi Arikunto metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya. 4. Metode Angket Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan angket ini akan diketahui bagaimana pengaruh pendidikan agama Islam terhadap kepribadian siswa di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang . e. Tehnik Analisa Data Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, maka dilanjutkan dengan analisa data. Ini dimaksudkan untuk menginterprestasikan data dari hasil penelitian. Untuk mengolah data yang terkumpul maka dalam penulisan proposal skripsi ini akan menggunakan metode yang sesuai dengan sifat dan jenis datanya. a. Data Kualitatif (data yang tidak berupa angka) Untuk menganalisis data yang bersifat kulaitatif ini akan digunakan teknik reflektif tingking yaitu dengan mengkombinasikan cara berfikir deduktif dan induktif. Dengan cara ini maka analisanya bersumber dari hasil interview dengan Kepala Madrasah, guru agama SMPI 1 Batu Kabupaten Malang. b. Data Kuantitatif dianalisis dengan teknik statistik, yaitu dengan menggunakan rumus : Keterangan :

=Angka indeks korelasi “ r ” product moment. = Jumlah deviasi skor x setelah terlebih dahulu dikuadratkan. = Jumlah deviasi skor y setelah terlebih dahulu dikuadratkan. G. Sistematika Pembahasan Adapun sistematika penulisan proposal skripsi ini sebagai berikut: Bab Pertama, merupakan bab pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup pembahasan, metode pambahasan dan strategi penelitian, serta sistematika pembahasan. Bab kedua, ini merupakan kajian pustaka yang meliputi pengertian pendidikan aqidah akhlak, tujuan pendidikan aqidah akhlak, ruang lingkup pendidikan aqidah akhlak, sumber ajaran pendidikan aqidah akhlak, dan metode pendidikan aqidah akhlak. Selain itu pada bab ini akan dibahas tentang pengertian tingkah laku siswa, macam-macam tingkah laku siswa, faktor–faktor yang mempengaruhi tingkah laku siswa, serta pengaruh pendidikan aqidah akhlak terhadap perubahan tingkah laku siswa. Bab ketiga, merupakan pemaparan hasil dilapangan sesuai dengan urutan masalah atau fokus penelitian, yang meliputi sejarah berdirinya SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, lokasi SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, dasar dan tujuan pendidikan di SMPI 1 Batu Kabupaten Malang, dan sistem pengelolaannya. Serta pada bab ini peneliti akan menganalisis data yang telah diperoleh dilapangan. Hal ini dimaksudkan untuk menginterpretasikan data dari hasil penelitian. Pembahasan pada bab ini dimaksudkan sebagai jawaban terhadap permasalahan yang telah dirumuskan dalam bab pendahuluan. Bab keempat, merupakan kesimpulan dari seluruh rangkaian pembahasan, baik dalam bab pertama, kedua, ketiga, keempat maupun kelima, sehingga pada bab enam ini berisikan kesimpulankesimpulan dan saran-saran yang bersifat konstruktif agar semua upaya yang pernah dilakukan serta segala hasil yang telah dicapai bisa ditingkatkan lagi kepada arah yang lebih baik http://kuliahpemikiran.wordpress.com/2011/02/03/pemikiran-syaikh-taqiyuddin-an-nabhaniterhadap-bidang-studi-akidah-akhlak/ Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak Filed under: Penelitian Ilmiah by kuliahpemikiran — Tinggalkan komentar

Februari 3, 2011

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam mengarungi kancah kehidupan selalu bertemu dengan berbagai permasalahan yang ia hadapi, ia datang ke dunia dengan membawa pesan fitrah dan pengakuan akan kemakhlukan dirinya, sembari terus bergerak dan berupaya menemukan ketentraman dan kepuasaan akan solusi atas permasalahan yang menghampirinya setiap waktu tatkala ia masih berada di alam dunia. Masalah demi masalah dijalani dan dipecahkan oleh manusia, sampai suatu masa, Allah swt. menurunkan Islam sebagai sebuah solusi ilahi untuk semua makhluk, dari titik ini pula manusia ternyata –oleh Islam– dituntut untuk meyakini secara pasti sumber pokok ajarannya –sebagai syarat– agar bangunan syariat yang telah Islam anugerahkan dapat dibangun dengan kokoh dan konsisten. Ketika bangunan sudah kuat, maka akan tampak syariat dengan berbagai aturannya dalam memberi solusi atas problem-problem yang menimpa manusia, dengan syariah itu pula manusia terus berkreasi sampai peradaban Islam terbentuk dengan gemilang. Inilah gambaran akidah Islam, karena itulah menurut Hafidz Abdurrahman, Allah swt. sebenarnya telah memberikan perumpamaan terkait masalah bangunan akidah tersebut dalam al-Quran yang mulia: ْ َ ٍ َ ٍ ُ ُ ََ ‫أَفمنْ أَسَّسَ ب ْنٌَا َنه علَى َتقوَ ى مِنَ َّللاِ ورضْ وان خ ٌْر أَم منْ أَسَّسَ ب ْنٌَا َنه علَى شفا جرف هار فا ْنََارَ بِه فًِ َنار جَ َنم‬ ِ َ ُ ُ َ ْ ٌ َ ٍ َ ِ َ َّ َ ُ ُ ََ َ َّ َ ِ Apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid)-nya di atas dasar ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?(TQS. at-Taubah [9]: 109) Mengenai ayat tersebut, Hafidz Abdurrahman memberikan penjelasan: Konteks ayat ini memang berkaitan dengan bangunan masjid, tetapi bangunan masjid di sini ada yang merupakan produk ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan ada yang tidak. Allah menyatakan, bahwa produk yang dihasilkan dengan landasan takwa dan keridhaan-Nya adalah produk yang kokoh, demikian sebaliknya. Ini artinya, jika bangunan fisik saja dilandasi oleh akidah— yang dinyatakan sebagai faktor ketakwaan dan keridhaan-Nya—akan menjadi bangunan yang kokoh,

lalu bagaimana dengan bangunan non-fisik yang jauh lebih kompleks ketimbang bangunan fisik? Karena itu, ayat ini juga membuktikan, bahwa akidah Islam ini merupakan pondasi kehidupan, baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, sekaligus merupakan sumber kebangkitan, yang akan menentukan kualitas umat ini.[1] Akhirnya akidah Islam menjadi sebuah pemikiran bagi suatu perkara pijakan dasar ketika manusia akan melakukan perbuatan di dunia. Namun pepatah mengatakan ‘tidak ada orang yang sempurna’,sebagai entitas makhluk, manusia ternyata memiliki potensi-potensi untuk melakukan kesalahan pula, termasuk dalam perkara keyakinan, berbagai penyimpangan terjadi dari masa ke masa –baik sengaja maupun tidak sengaja– sampai sekarang kita bisa lihat di berbagai media cetak dan elektronik, bagaimana banyaknya aliran-aliran yang menyimpang dari akidah Islam yang shahih –sebagaimana pernyataan MUI– dibiarkan merajalela, seolah-olah kaum muslimin yang diklaim memiliki banyak sumber daya spiritual, mulai dari Kiyai, Ulama, Ustadz dan Santri seolah-olah tidak memiliki daya dan upaya (baca: lemah) untuk mencegah kerusakan akidah umat tersebut. Karenanya optimisme kaum muslimin dengan akidahnya, seharusnya semakin memunculkan ide-ide brilian untuk bisa bersama-sama menyelesaikan problem kontemporer di bidang akidah atau keimanan tersebut. Selanjutnya dalam perkara cabang syariah, ternyata Islam telah mengajarkan akhlak kepada kaum muslimin, sehingga akhlak –sebagaimana akidah– memiliki peran penting dalam kehidupan kaum muslimin, karenanya ia merupakan perwujudan kebaikan antar individu jika ia

akhlak mahmudah(terpuji), akan tetapi jika ia merupakan akhlak madzmumah (tercela) maka pergaulan sosial pun biasanya menjadi tidak harmonis dan terganggu. Dalam konteks ini Rasulullah saw. pernah memperingatkan betapa pentingnya akhlak terpuji, beliau bersabda: ُ ُ َُُ َ ُ َْ َُُ ْ ُ َ ُُ ِ ‫كرَ م الرَّ جُل دٌِنه ومرُوءته عقلُه وحَ سبه خلُقُه‬ ُ َ Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatan) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukan adalah akhlaknya (HR. Ahmad dan Al-Hakim) [2] Selain itu Rasulullah saw. juga memperingatkan agar umat Islam menjauhi akhlak yang tercela, beliau bersabda: َ َ َ ‫ٌَأْتًِ علَى الناس زمانٌ همتَم بُطونَم، وشرَ فَُم م َتاعَم وقِ ْبلَتَم نِسَاءهم، ود ٌْنَم دَرَ اهمَم ود َنانِ ٌْرهم، أُولَبِك شرُّ ا ْلخ ْلق، الَخالَقَ لََم‬ َ َ ِ َّ َ ُْ ُْ ُ َ َ ُْ ُ ِ ُْ ُ ِ َ ُْ ُ ْ ُ ُ َ ْ ُ ُ َ ْ ُ َ َ ْ ُ ُ ْ ُ ْ ُ ُ َّ ِ ِ َ َ ِ ِ‫ع ْند َّللا‬

Akan tiba suatu zaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata, kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta emas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah swt yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah swt. (HR. Adailami) [3] Nampaknya hadits tersebut seolah-olah menggambarkan kondisi bangsa kita saat ini, sebuah survei yang dilakukan oleh BKKBN pada tahun 2008 di 33 provinsi melaporkan bahwa: 63 % remaja Indonesia usia sekolah SLTP/SMP dan SLTA/SMA sudah melakukan hubungan seksual diluar nikah dan 21 % diantaranya telah melakukan aborsi (JawaPos, 21/12/08).[4] Inilah problem akhlak (baca: moral) yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Sebenarnya sudah banyak sekali karya-karya intelektual yang berbicara seputar keimanan atau akidah yang tentunya bertujuan untuk menyelesaikan permasalah yang terkait dengan akidah atau keimanan tersebut, baik dari ulama salaf, khalaf maupun para ulama muta’akhirin, hingga sampailah pada masa pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924 M. Pada masa ini munculah para pembaharu pemikiran, termasuk salah satunya Syaikh Al-Allamah Taqiyuddin An-Nabhani seorang ulama mujtahid dari palestina, ia telah menyusun berbagai karya termasuk dalam bidang akidah atau keimanan, dan juga sekaligus memberikan kritik terhadap karya-karya pada masa sebelumnya, tak hanya itu ia pun telah menjelaskan kedudukan akhlak dalam pandangan syariah, sehingga menjadi jelaslah korelasi antara akidah dan akhlak. Akidah adalah dasar sedangkan akhlak adalah cabang hukum syariah yang berkenaan dengan sifat-sifat terpuji yang mesti dimiliki oleh kaum muslimin. Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan tersebut, maka penulis yang berangkat dari latar belakang pendidikan, merasa tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul “Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak”. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah? Bagaimana pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akhlak? Bagaimana metodologi pembelajaran akidah dan akhlak menurut Taqiyuddin An-Nabhani? C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah? Untuk mengetahui pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akhlak? Untuk mengetahui metodologi pembelajaran akidah dan akhlak menurut Taqiyuddin An-Nabhani? D. Kerangka Pemikiran Islam merupakan agama yang benar (al-haq), Allah swt. telah menjamin bagi siapa pun (manusia) yang memeluknya dengan sebenar-benarnya, pasti akan ditolong bahkan dimenangkan atas (agama) yang lainnya, dalam konteks ini Allah swt. berjanji dalam al-Quran: َُ َْ ٰ َ ِ ‫وعد َّللا ُ الَّذٌِنَ ءَامنوا مِنكم وَ عملُوا الصَّالِحَ ات لَ ٌَسْ َتخلِفنَم فِى األَرْ ض كمَا اسْ َتخلفَ الَّذٌِنَ مِنْ ق ْبلَِم ولٌَمك َننَّ لَم دٌِ َنَم الَّذِى ارْ َتضى‬ ََ َ ِ ِ َ ُُ ْ ُ َ ِّ َ ُ َ ْ ِ َ ْ ُ َّ َ ْ ُْ ُ ِ ْ ُ َ ُُ َ َ َ َ ََ َ َ َ ِ ُُ ْ ِْ َْ ِ َ‫لََم ولٌَ َبدل ََّنَم مِنْ َبعْ د خوفَِم أَم ًنا, ٌَعْ بدو َننِى الٌَشركونَ بى شٌباً, ومنْ كفرَ َبعْ د ٰذلِك فأ ً ٰلبِك هم ا ْلفاسِ قُون‬ ْ ُ ِّ ُ َ ْ ُ “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. an-Nûr [24]: 55) [5] al-Islâm secara etimologis (bahasa), menurut Imam al-Bajuri adalah: ‫مطلق اإلنقٌاد أي سواء كان لألحكام الشرعٌة أو لغٌرها‬ Ketundukan mutlak, baik terhadap hukum syariah atau hukum selain syariah [6] Adapun secara terminologis (syara’), Imam al-Bajuri menjelaskan: ‫اإلنقٌاد لألحكام الشرعٌة وقٌل اإلسالم هو العمل انتَى‬ (Islam adalah) Tunduk/ patuh terhadap hukum-hukum syariah, dengan kata lain Islam adalah amal yang terakhir (yang dilakukan sampai sempurna semua rukunnya). [7] Menurut Imam al-Jurjani, Islam adalah: ‫الخضوع واالنقٌاد، لما أخبر به الرسول صلى َّللا علٌه وسلم‬

Tunduk dan patuh terhadap informasi yang dibawa Rasulullah saw. [8] Menurut Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin: ‫الدٌن الذي بعث َّللا به محمدا (صلً) ختم َّللا به األدٌان وأكمله لعباده وأتم به علٌَم النعنة ورضٌه لَم دٌنا‬ Din/ Agama yang Muhammad diutus oleh Allah swt untuk membawanya, dengan agama itu Allah swt. menutup ajaran-ajaran agama yang lain, juga sebagai (agama) penyempurna bagi hambahamba-Nya, untuk mencukupkan nikmat-Nya, dan sebagai Agama yang diridhai Allah swt. [9] Adapun menurut Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhâm al-Islâm: ‫الدٌن الذي أنزله َّللا على سٌدنا محمد (صلى) لتنظٌم عالقة اإلنسان بخالقه، وبنفسه، وبغٌره من بنً اإلنسان. وعالقة اإلنسان بخالقه‬ ٍ ‫تشمل العقابد والعبادات، وعالقته بنفسه تشمل األخالق والمطعومات والملبوسات، وعالقته بغٌره من بنً اإلنسان تشمل المعامالت‬ ‫.والعقوبات‬ (Islam merupakan) agama yang diturunkan Allah swt. kepada Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dirinya sendiri, dan sesama manusia. Hubungan manusia dengan Tuhannya meliputi masalah aqidah (keyakinan/ keimanan) dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi akhlaq, makanan-minuman (yang dikonsumsinya), dan pakaian yang dikenakannya. Adapaun hubungan manusia dengan sesamanya meliputi mu’amalah dan uqubat (hukum pidana/ sanksi). [10] Dari sini An-Nabhani telah mendefinisiskan Islam dengan definisi yang lebih lengkap, jelas dan lebih mudah dipahami dari beberapa definisi ulama sebelumnya, ruang lingkupnya meliputi semua aspek kehidupan, yakni: Aturan manusia dengan penciptanya, berupa akidah / keyakinan dan Ibadah. Aturan manusia dengan dirinya sendiri, berupa akhlak, makanan-minuman dan pakaian. Aturan manusia dengan sesama manusia, berupa muamalah dan uqubat (hukum pidana Islam) dan lain sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah swt. dalam surat an-Nahl ayat 89: ْ ُ َ ً َّ َ ِ َ َ َ‫و َنز ْلـ َنا علَ ٌْك ْالك َتابَ تِبْـٌَا ًنا لِكل شًْ ء وهدى ورَ حْ مَة وبشرَ ى لِ ْلمُسْ لِمٌِن‬ َ ً ُ َ ٍ َ ِّ ُ Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS. An-Nahl [16]: 89)

Artinya Islam meliputi semua perkara dengan penjelasan yang sempurna terhadap perkara yang memang diperlukan manusia (untuk aturan hidupnya).[11] Tentu sebagaimana penjelasan AnNabhani diatas, maka sudah pasti Islam telah memberikan aturan-aturan yang jelas tentang perkara akidah atau keimanan dan masalah akhlak, karena itulah kita pasti mendapati semua keterangan tentang akidah atau keimanan beserta akhlak dalam dalil-dalil syariah, karenanya Rasulullah saw. telah bersabda: َ َّ ُ َ ِ ِ ْ ُ ْ َّ َ ِ‫َترَ كت فِ ٌْكم أَمرَ ٌْن لَنْ َتضِ لُّوا مَا َتمسكتم بَِمَا ك َتابَ َّللاِ وسنة رَ سُول َّللا‬ ِ ْ ِ ْ ُْ ُ ْ Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya yakni kitab Allah swt (al-Quran) dan Sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim) [12] Jadi untuk memahami akidah dan akhlak dalam khazanah Islam memerlukan pendefinisian (at-ta’rîf). Maka Imam al-Jurjani telah mendefinisikan at-ta’rîf sebagai berikut: ‫عبارة عن ذكر شًء تستلزم معرفته معرفة شًء آخر‬ ٍ Ungkapan tentang suatu (objek yang diamati), yang untuk mengetahuinya diperlukan pengetahuan yang lain (yang terkait dengannya). [13] Dalam mendalami hakikat akidah dan akhlak beserta hal yang terkait dengannya, maka menurut Hafidz Abdurrahman, definisi (at-ta’rîf) yang benar ialah deskripsi realitas yang bersifat komprehensif dan protektif, artinya definisi itu harus menyeluruh meliputi seluruh aspek yang dideskripsikan (dibahas), dan memproteksi (mencegah) sifat-sifat di luar substansi yang dideskripsikan.[14] Artinya ketika membahas akidah dan akhlak, maka pembahasannya harus meliputi seluruh gambaran tentang akidah dan akhlak dalam Islam beserta dalilnya, juga dalam waktu yang bersamaan harus dapat memproteksi istilah akidah dan akhlak, dari pembahasan yang tidak terkait dengannya, yang biasanya ruang lingkup batasan tersebut telah di terangkan oleh para pakar atau para ulama. Terahir dalam konteks pendidikan, perlu diketahui pula metodologi pembelajaran akidah dan akhlak, agar para peserta didik mampu memahami sekaligus mengamalkan kedua khazanah Islam tersebut. Menurut Abu Yasin metode pengajaran yang benar adalah dengan penyampaian (khitab) dan penerimaan (talaqqiy) pemikiran dari pengajar kepada pelajar, sedangkan instrumennya adalah akal manusia.[15] Adapun dalam konteks Islam, metode Islam dalam pembelajaran menurut Taqiyuddin An-Nabhani adalah:

‫التعمق فً البحث، واالعتقاد بَا ٌتوصل إلٌه من البحث أو بَا ٌبحثه، واخذ ذلك واقعٌا لتطبٌقه فً معترك الحٌاة‬ 1. Mendalam pada pembahasannya 2. Meyakini terhadap hasil yang dicapai dari (dasar) pembahasan maupun terhadap perkara yang dibahas 3. Fakta (hasil proses pembelajaran) tersebut di ambil untuk dilaksanakan (secara praktis) dalam kancah kehidupan.[16] Inilah kerangka pemikiran yang digunakan oleh penulis dalam memecahkan masalah penelitian ini, bahwa akidah dan akhlak merupakan khazanah Islam, sehingga meniscayakan adanya pendefinisian, yang pada klimaksnya akidah dan akhlak tersebut –dalam konteks pendidikan– memerlukan suatu metode, agar transfer of knowledge and value sampai kepada objek yang dituju, yang sudah pasti semuanya sangat penting untuk diketahui. E. Langkah-Langkah Penelitian Langkah-langkah penelitian yang akan penulis lakukan dalam penelitian ini meliputi: 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah content analysis (analisis isi), menurut Bisri metode tersebut digunakan dalam penelitian normatif, seperti penelitian mengenai teks al-Quran dan pemikiran ulama di dalam berbagai kitab fikih, yang dianalisis dengan menggunakan kaidahkaidah bahasa atau kaidah-kaidah lain yang telah dikenal, seperti mantik, kaidah ushul, dan kaidah fikih.[17] Dengan metode ini, penelitian dikonsentrasikan pada pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak beserta metodologi pembelajaran keduanya. 2. Jenis Data Jenis data adalah jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan terhadap masalah yang dirumuskan dan pada tujuan yang telah ditetapkan.[18] Data terbagi dua, data kualitatif –yang berbentuk kata-kata– dan data kuantitatif –data yang berbentuk angka atau bilangan–. [19] Dalam penelitian ini, data yang dijadikan bahan penelitian adalah data kualitatif yang diambil dari literatur kepustakaan, yakni pendapat Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak, beserta metodologi pembelajaran keduanya. 3. Sumber data

Sumber data terbagi dua yakni, data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung (data asli). [20] Secara rinci dalam penelitian ini data primer yang digunakan adalah karya Taqiyuddin An-Nabhani, sebagai berikut: 1. An-Nizhâm al-Islâm (bab Tharîq al-îmân dan al-Akhlâq) 2. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Juz al-Awwal (bab ‘Aqidah Islamiyah dan Tharîqah Islam Fi adDars) 3. Mitsâq al-Ummah (point ‘Iman dan Mujtama’) 4. Mafâhim Hizb at-Tahrîr (point ‘Aqîdah dan al-Akhlâq) Sedangkan data sekunder, adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti adalah tangan kedua).[21] Data sekunder dalam penelitian ini diambil dari buku-buku yang tentunya mendukung data primer. 4. Pengumpulan Data Pada umumnya pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik yang bersifat alternatif maupun kumulatif yang saling melengkapi. Dalam skripsi ini, metode pengumpulan data yang dipakai adalah studi kepustakaan, karena penelitian ini bersifat normatif yang bersumber dari bahan bacaan dengan penelaahan naskah.[22] Dalam tataran praktis, penyusun mengumpulkan data dari kepustakaan atau literatur karya An-Nabhani dan sumber-sumber literatur yang relevan. 5. Analisis Data Menurut Bisri,[23] pada dasarnya analisis data (baca: kualitatif) merupakan penguraian data melalui tahapan: kategorisasi dan klasifikasi, perbandingan, dan pencarian hubungan antar peubah. Sehingga dalam penelitian ini penulis telah melakukan beberapa tahapan, yakni: Tahap pertama, menyeleksi data yang terkumpul, kemudian diklasifikasikan menurut kategori tertentu, dalam konteks ini pendapat dibagi dua, yakni pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap Akidah dan pemahaman-nya terhadap Akhlak. Tahap kedua, memahami dan mengkorelasikan hasil pemahaman An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak, dengan sumber hukum Islam yakni al-Quran dan as-Sunnah, dan juga memahami landasan atau metodologi An-Nabhani dalam menghasilkan pemahaman tersebut.

Tahap ketiga, mencari hubungan antara pemahaman An-Nabhani terkait akidah dan akhlak dengan metodologi pembelajaran akidah dan akhlak tersebut, kemudian akhirnya ditarik kesimpulan dari beberapa tahapan tersebut.

BAB II AKIDAH DAN AKHLAK A. Definisi Akidah Menurut Yusuf Sukriy Farhat, akidah secara etimologis (bahasa) berasal dari ‘aqada – ya’qid*u+ – ‘aqd*an+, yang berarti: rabatha (mengikat), ahkam al-’aqd (membuat asy-syai’ (mengerjakan akad/ secara sempurna/

menguatkan), bana’

simpul), dhamina (menjamin/

menanggung), atsmara(berbuah) dan takatstsafa (tebal/ keras/ kasar).[24] Menurut Muhammad Maghfur, dapat disimpulkan secara etimologis akidah merupakan sesuatu yang diikat, dibenarkan, diyakini atau dipastikan hati.[25] Adapun dari segi penggunaan istilah, menurut Hafidz Abdurrahman –ketika mengutip Mahmud Syalthut– akidah dan iman memiliki konotasi yang sama. Bedanya, istilah ‘aqîdah ini digunakan oleh ulama Ushuluddin, sedangkan istilah îmân digunakan oleh al-Quran dan al-Hadits, sebab al-Quran dan al-Hadits tidak menggunakan istilah akidah namun hanya menggunakan istilah iman.[26] Dalam realitasnya, para ulama telah mendefinisikan akidah atau iman dengan beragam pendapat sebagai berikut : Menurut Abdul Lathif dalam at-Tawhîd, akidah adalah : ‫األمور التً تصدق بَا النفوس، وتطمبن إلٌَا القلوب وتكون ٌقٌنا عند أصحابَا ال شك فٌَا وال رٌب‬ Perkara-perkara yang dibenarkan oleh jiwa, (lalu) hati menjadi tenang, dan orang yang memeluknya menjadi yakin tanpa syak dan ragu. [27] Menurut Al-Atsariy dalam al-Wajîz fi al-’Aqîdah : ‫األمور التً ٌجب أن ٌصدِّقَ بَا القلب ، وتطمبن إِلٌَا النفس ، حتى تكون ٌقٌنا ثابتا ال ٌمازجَا رٌب ، وال ٌخالطَا شك‬ َ ُ Perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hati, yang jiwa tenang karenanya, hingga menjadi keyakinan yang kokoh tanpa tercampur keraguan dan kebimbangan. [28]

Menurut Muhammad Qal’ajiy dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ : ‫االٌمان :ارتباط القلب بما انطوى علٌه ولزمه…… العقٌدة: بفتح العٌن ج عقابد، ما عقد علٌه القلب واطمأن إلٌه‬ Iman adalah terpautnya kalbu terhadap perkara yang memenuhi dan menetapinya …… Akidah (difatahkan huruf ‘ain) jamaknya ‘aqâid, adalah sesuatu yang diyakini hati dan ia merasa tentram terhadapnya. [29] Menurut Imam Nawawi al-Jawi dalam Syarh Safînah, iman adalah : ‫التصدٌق بجمٌع ماجاء به محمد (صلً) بما علم من الدٌن بالضرورة ال مطلقا‬ Pembenaran terhadap semua hal yang dibawa oleh Muhamamd saw. terkait dengan ilmu agama yang sudah pasti kebenarannya, dan bukan terhadap perkara selain itu. [30] Menurut Imam al-Jurjani dalam at-Ta’rîfât : ‫االعتقاد بالقلب واإلقرار باللسان. وقٌل: من شَد وعمل ولم ٌعتقد فَو منافق، ومن شَد ولم ٌعمل واعتقد فَو فاسق، ومن أخل‬ ‫بالشَادة فَو كافر‬ (Iman adalah) meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan ucapan. Implikasinya, orang yang bersaksi dan beramal namun tidak meyakini ia adalah orang munafik, lalu orang yang bersaksi namun tidak beramal dan meyakini ia adalah orang fasik, adapun orang yang melanggar kesaksiannya (syahadat) maka ia adalah orang yang kafir. [31] Menurut Muhammad Husain Abdullah dalam Dirâsât fi al-Fikr : ‫الفكر ة الكلٌة عن الكون واإلنسان والحٌاة، وعما قبل الحٌاة، وعما بعدها، وعن عالقتَا بما قبلَا وما بعدها‬ (Akidah adalah) pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia, kehidupan, (lalu) tentang apa yang ada sebelum kehidupan, (serta) apa yang ada setelah kehidupan, dan tentang hubungan sebelum dan setelah kehidupan tersebut. [32] Sebenarnya masih banyak pendapat terkait istilah akidah dan iman, akan tetapi pendapat diatas sekiranya cukup mewakili. Namun untuk memudahkan, Hafidz Abdurrahman telah merumuskan definisi umum tentang akidah sebagai berikut : Akidah pemikiran menyeluruh mengenai manusia, kehidupan, serta hubungan diantara semuanya dengan apa yang ada sebelum kehidupan (Pencipta) dan setelah kehidupan (Hari Kiamat), serta mengenai hubungan semuanya dengan apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan (Syari’at dan

Hisab), yang diyakini oleh kalbu (wijdân) dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas (yang diimani), dan bersumber dari dalil. [33] Yang tak kalah penting, menurut Muhammad Husain Abdullah [34] syarat akidah atau keimanan yang benar harus meliputi dua perkara penting berikut ini : Pertama, akidah tersebut harus sesuai dengan fitrah (potensi) yang ada dalam diri manusia, menenangkan/ menentramkan jiwa, dan memuaskan gharizah at-taqayyun (naluri beragama/ naluri yang merasa butuh terhadap sang Khaliq). Kedua, harus sesuai dengan akal, maka agar akal manusia dapat puas tentu harus ada dalil yang menunjukan terhadap eksistensi perkara yang di yakini tersebut, baik akli maupun nakli secara proporsional dan sesuai konteks. B. Ruang Lingkup Akidah Akidah Islam adalah iman tentang adanya Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt. [35] Definisi tersebut merupakan perkara yang ma’lum min ad-din bi ad-darurah (perkara agama yang kebenarannya sudah pasti), karena semua ulama sudah melakukan kajian secara detail tentang rukun Iman tersebut. Karena itu bisa dirujuk dalam al-Quran dan al-Hadits : َ َ ُ ِ ْ َ ِ ِّ َ َ ِ ُ ُ ِّ َ ُ ِ ُ ُ َ ِ ُ ُ َ ِ َ َ َ ُ ‫ءَامَنَ الرَّ سُول بِمَا أ ُ ْنزل إِلَ ٌْه مِن رَّ به وا ْلمُؤمنونَ كل ءَامَنَ بِاهللِ ومالَبِكتِه وكتبِه ورسلِه الَنفرق َب ٌْنَ أَحَ د مِّن رُّ سلِه وقالُوا سمِعْ َنا وأَطعْ َنا‬ ٍ ٌّ ُ ِ َ ِ َ ُ ‫غفرَ ا َنك رَ ب َنا وإِلَ ٌْك ا ْلمَصِ ٌْر‬ َ َ َّ َ ْ ُ Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (TQS. AlBaqarah [2]: 285) ُْ ُ َ َ َ‫ورَ د فًِ حَ د ٌْث طو ٌْل : جبْر ٌْل علَ ٌْه السالَم ٌَسْ أَل الرَّ سُول (صلى) فأَخبرْ نًِ عَن ْاإلِ ٌْمَان ؟ قال صلَّى َّللا علَ ٌْه والسالَم : أَنْ تؤمِن‬ َ َ َ ِ َ ْ ُ َّ َ ِ َ ُ َّ ِ َ ُ ِ ِ ٍ ِ َ ِ ِ ِ ِْ َ ْ َ َ َ َ ِّ َ ِ ِ َ ِ َ ِ َ َ َ َ‫باهللِ، ومالَبِكتِهِ، وكتبهِ، وَ رسلِهِ، وا ْلٌَوم ْاألَخِر، وتؤمِنَ با ْلقدَر خٌْره وَ شرهِ، قال صدقت‬ ُْ َ ِ ُُِ َ ِ ِ ْ َ ُ ُ Dalam hadits yang panjang telah diriwayatkan : Jibril as. bertanya kepada Rasul saw., Beritahukan kepada saya tentang Iman ? Rasul saw. bersabda : Hendaklah engkau beriman kepada Allah swt., para Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, dan hendaknya engkau pun beriman kepada

Takdir yang baik dan yang buruknya, (Jibril as.) bekata kamu benar. (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan An-Nasai) [36] 1. Iman Kepada Allah swt. Ruang lingkup iman kepada Allah swt. yakni beriman kepada wujud (eksistensi) Allah swt., juga kepada tauhid rububiyyah (keesaan ketuhanan), tauhid asmâ’ wa shifât (keesaan nama-nama dan sifat-Nya) –baik yang wajib, mustahil dan jaiz–, dan tauhid ulûhiyyah (keesaan ibadah). [37] Iman kepada wujud Allah swt. adalah, pengakuan secara fitrah mayoritas manusia kepada wujud (eksisnya) Allah swt., mereka pun tidak berselisih akan hal tersebut, kecuali orang-orang Atheis (anti tuhan).[38] Iman kepada Allah swt. dalam konteks rububiyyah (ketuhanan) adalah, meyakini bahwa Allah swt. pengatur (Rabb) segala sesuatu, penguasa, pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan – mematikan, yang memberi manfaat – mudharat, pemilik semua perkara termasuk semua kebaikan, tiada sesuatu kecuali terjadi karena (ketentuan) izinnya. [39] Iman kepada Allah swt. dalam asmâ’ wa shifât (keesaan nama-nama dan sifat-Nya) –baik yang wajib, mustahil dan jaiz– adalah, Meyakini bahwa Allah swt. memiliki asmâ’ wa shifât (nama-nama dan sifat-sifat Nya) yang layak dan telah di tetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits (untuk melukiskan diriNya). [40] Iman kepada Allah swt. dalam ulûhiyyah (keesaan ibadah) adalah, meyakini bahwa hanya Allah swt. satu-satunya yang harus disembah baik secara zhahir maupun bathin, dengan tidak berbuat syirik kepada-Nya.[41] Ibadah merupakan penyerahan diri kepada Allah yang terwujud dalam kepatuhan kepada hukum-hukum-Nya, karenanya Allah swt. berfirman : َ ُ َ ُ َّ َ‫إِن ْالحكم إِال َّ ِهللِ ٌَقُصُّ ا ْلحَ ق وَ هوَ خ ٌْر ا ْلفاصِ لِ ٌْن‬ ُ ُْ ِ Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (TQS. Al-An’âm *6+: 57) [42] 2. Iman Kepada Malaikat Iman kepada malaikat artinya, pembenaran yang pasti terhadap eksisnya malaikat, bahwa mereka termasuk ciptaan Allah swt., yang tidak pernah berbuat maksiat kepada-Nya, dan selalu melaksanakan perintah-Nya. َ‫الَ ٌَسْ بقُو َنه با ْلقول وهم بأَمْره ٌَعْ ملُون‬ َ ِ ِ ِ ْ ُ َ ِ َْ ِ ُ ِ Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah Nya.(TQS. Al-Anbiyâ’ *21+: 27) [43]

Ruang lingkup iman kepada malaikat meliputi, iman kepada wjudnya, kepada nama-namanya, kepada sifat-sifatnya dan beriman terhadap tugas mereka yang telah Allah swt. dan Nabi saw. beritakan kepada umat.[44] Beriman kepada sifat-sifat malaikat (yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan manusia) meliputi, bahwa malaikat makhluk ghaib, diciptakan dari cahaya (nûr) (HR. Muslim: 5314), mereka memiliki sayap (QS. Fâthir: 1), mereka bisa berubah bentuk menjadi manusia seperti kasus Jibril yang menjelma menjadi manusia ketika mendatangi Muhammad saw. untuk menyampaikan wahyu (Muslim : 9) dan lain-lain.[45] Iman kepada nama-nama dan tugas-tugas malaikat meliputi –yang masyhur diantaranya–, Jibril as. penyampai wahyu, Malik as. penjaga neraka, Ridhwan penjaga surga, Malaikat Maut (Izrail), Mikail as. mengatur rezeki dan hujan, dua malaikat (Raqib dan Atid) pencatat amal (QS. Qâf: 18), dua malaikat (Munkar dan Nakir) yang berada di alam kubur, dan Israfil peniup sangkakala pada hari kiamat.[46] 3. Iman Kepada Kitab-Kitab Iman kepada kitab-kitab adalah, pembenaran secara pasti, bahwa ia merupakan kalam Allah swt. yang diturunkan kepada utusan-utusan-Nya –dengan wahyu yang beragam kondisi–, semua yang dikandung kitab-kitab tersebut adalah benar –kecuali setelah di nasakh oleh al-Quran–.[47] Kitabkitab tersebut adalah, al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, shuhuf Ibrahim dan Musa as., yang paling utama dari semuanya adalah, Taurat, Injil dan al-Quran, namun yang paling agung, utama dan penghapus (kitab-kitab semuanya) adalah al-Quran. Selain dihapus ajarannya oleh al-Quran, ternyata kitab-kitab yang lain tidak dijaga keontetikannya oleh Allah swt. bahkan para rahib-rahib mereka malah merusak dan menganti ajarannya. [48] Ali al-Hasan mendefinisiskan Al-Qur’an sebagai: kalam Allah yang berupa mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.[49] Al-Quran merupakan kitab yang utama, karena mencakup hukum global akidah dan syariah Allah. Swt. ْ ُ َ ً َّ َ ِ َ َ َ‫و َنز ْلـ َنا علَ ٌْك ْالك َتابَ تِبْـٌَا ًنا لِكل شًْ ء وهدى ورَ حْ مَة وبشرَ ى لِ ْلمُسْ لِمٌِن‬ َ ً ُ َ ٍ َ ِّ ُ Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS. An-Nahl [16]: 89) Rasulullah saw, bersabda :

َ َّ ُ َ َ ِ ْ ُْ ُ ْ ِ ِ ِ ْ ُ ْ َّ َ ِ‫َترَ كت فِ ٌْكم أَمرَ ٌْن لنْ َتضِ لُّوا مَا َتمسكتم بَمَا ك َتابَ َّللاِ وسنة رَ سُول َّللا‬ ِ ْ Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya yakni kitab Allah swt (al-Quran) dan Sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim) [50] 4. Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah swt. Iman kepada Nabi dan Rasul Allah swt. adalah, meyakini bahwa Allah swt. telah mengutus kepada setiap umat manusia, seorang lelaki sebagai utusan yang berdakwah menyampaikan wahyu dari Allah swt., agar manusia menyembah Allah swt., yang diawali oleh Adam as. dan ditutup oleh Nabi Muhammad saw. [51] An-Nawawi Al-Jawi –ketika mengutip pendapat Syaikh ‘Athiyyah– telah merinci jumlah nabi dan rasul sebagai berikut, nabi berjumlah 124.000 orang, yang menjadi rasul sebanyak 313, 314 atau 315. Namun menurut beliau yang wajib diketahui hanya 25 orang yang tercantum dalam alQuran.[52]Sedangkan yang ulul azmi –menurut Ibnu Abbas– yang bersabar dan tabah, ada 5 orang: Muhammad saw., Ibrahim as., Musa as., Isa as., dan Nuh as.[53] Terlepas dari perbedaan pendapat tentang rincian nabi dan rasul, yang pasti bahwa semua nabi diatas kebenaran, mereka semua sama-sama berdakwah untuk akidah tauhid, sebagaimana Allah swt. bersabda : ْ َْ َ ُ َّ ُُ ِ َ‫ولَقد َبعَث َنا فًِ كل أُمة رَ سُوالً أَن اعْ بدوا َّللاَ واجْ َتنِبُوا الطاغوت‬ ٍ َّ ِّ ُ َ َّ Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [54] itu”, Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t. (TQS. An-Nahl [16]: 36) Walau semua nabi dan rasul sama-sama ber-akidah tauhid, namun dalam konteks syariat furu’ (halal dan haram) mereka berbeda. Allah swt bersabda: ‫لِكل جَ ع ْل َنا م ْنكم شِ رْ عَة وم ْنَاجً ا‬ َ ِ َ ً ْ ُ ِ َ ٍّ ُ Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. (TQS. Al-Mâidah [5]: 48) [55] 5. Iman Kepada Hari Akhir Iman kepada hari akhir adalah, keyakinan pasti akan kedatangan hari akhir beserta kejadiankejadiannya, termasuk tanda-tanda kehancuran sebelumnya, misal: kematian, fitnah kubur, azab

dan nikmatnya, tiupan sangkakala, keluarnya makhluk dari kubur, lalu menghadapi alqiyâmah dengan getir dan ketakutan, tercerai bererainya di (padang) al-mahsyar, pemberian lembaran (amal-amal), ditimbang pada mizan, juga ada shirath, al-haudh (telaga Nabi saw. bagi yang berhasil melewati shirath), juga ada syafa’at yang akan dilihatnya, surga beserta kenikmatannya – namun kenikmatan yang tertinggi adalah melihat wajah Allah swt-. Selanjutnya (bagi orang durhaka) ada neraka dan azabnya, –namun azab yang sangat keras adalah terhalangnya mereka (orang-orang durhaka) dari Rabb mereka.[56] Termasuk pengaruh –ruang lingkup– keimanan kepada hari akhir adalah : Pertama, gemar dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan terhadap syariah (karena) mengharap pahala pada hari tersebut. Kedua, takut dalam melakukan maksiat sembari menjauhi oknum-oknum pelakunya, karena takut akan siksa kubur. Ketiga, penghibur bagi kaum mukmin, karena mereka telah meninggalkan dunia yang penuh fitnah, sembari mereka mengharapkan akan nikmat dan pahala pada hari akhir.[57] ََ ُْ ْ ِ ُِ ْ ‫وأَنَّ الَّذٌِنَ الَ ٌُؤمنونَ بِاْألَخِرَ ة أَعْ َتد َنا لََم عذابًا أَلِ ٌْمًا‬ َ Dan Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. (TQS. Al-Isrâ [17]: 10) [58] 6. Iman Kepada Takdir Allah swt. (Qadha’ maupun Qadar) Qadha dan Qadar versi nash syariat, berbeda dengan pembahasan Qadha’ dan Qadar menurut para ulama mutakallimin. Dalam nash syariat Qadha’ tidak selalu disandingkan dengan Qadar.[59] Namun wajib bagi seorang muslim mengimani takdir –keduanya tersebut–, sesuai Sabda Rasulullah saw : ُْ َ ُْ ‫قال (صلَّى): أَنْ تؤمِنَ باهلل … … وتؤمِنَ با ْلقدَر خ ٌْره وَ شرِّ ه‬ ِ َ ِ ِ َ ِ َ ِ ِ ِ َ َ َ Rasul saw. bersabda : Hendaklah engkau beriman kepada Allah swt … …dan hendaknya engkau pun beriman kepada Takdir yang baik dan yang buruknya (itu semua dari Allah swt.) (HR. Muslim, AtTirmidzi, Abu Dawud dan An-Nasai) Pembahasan takdir (Qadar) dalam hadits tersebut adalah Ilmu Allah swt.[60] sedangkan takdir (Qadha’) –dalam ayat-ayat al-Quran– terkait sifat dan perbuatan Allah swt.,[61] intinya Qadha’ maupun Qadar dalam nash syariat hanya berbicara tentang ilmu dan sifat Allah swt. yakni catatan (ilmu Allah) yang menyeluruh tentang segala sesuatu yang ada –baik benda, perbuatan dan semua makhluk– bahwa Allah maha mengetahui dan semuanya terangkum dalam Lauhul

Mahfuzh.[62]Sedangkan masalah Qadha dan Qadar menurut mutakallimin adalah, berkaitan dengan

perbuatan manusia –apakah bebas atau terpaksa oleh ilmu Allah swt– dan khasiyyat (karakteristik) benda yang digunakan manusia dalam melakukan perbuatan –memaksa perbuatan atau tidak–.[63] Inilah ruang ringkup akidah Islam, beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt. C. Definisi Akhlak Menurut Yusuf Sukriy Farhat, secara etimologis akhlak merupakan bentuk plural dari al-khulq danalkhuluq, yang berasal dari khalaq – yakhluq[u] – khalqah wa khalq[an], yang

berarti: awjada(mewujudkan/

mengadakan), abda’a (menciptakan).

sedangkan al-khulq dan al-

khuluq itu sendiri berarti: ath-thab’ (tabiat), al-’adâh (adat/ karakter).[64] Secara terminologis (istilah) akhlak adalah: Menurut Imam al-Ghazali: ‫فالخلق عبارة عن هٌبة فً النفس راسخة، عنَا تصدر األفعال بسَولة وٌسر من غٌر حاجة إلى فكر وروٌة‬ Al-khuluq adalah ungkapan kondisi jiwa yang terdalam, yang darinya melahirkan perilaku secara spontan tanpa perlu pemikiran dan analisis. [65] Menurut Muhammad Husain Abdullah: ‫األخالق اصطالحا: هً الصفات التً أمر َّللا المسلم أن ٌتصف بَا عند قٌامه بأعماله‬ Akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada seorang muslim, agar ketika ia berbuat menggunakan sifat tersebut. [66] Adapun menurut pendapat beberapa ahli tafsir mu’tabar, ketika menafsirkan firman Allah swt.: ‫وإ َِّنك لَعلَى خلُق عظِ ٌم‬ َ َ َ ٍ َ ٍ ُ Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (TQS. Al-Qalam [69]: 4) Menurut Imam Ath-Thabariy[67]: ‫ٌقول تعالى ذكر لنبٌه محمد (صلى) : وإنك ٌا محمد لعلى أدب عظٌم، وذلك أدب القرآن الذي أدّبه َّللا به، وهو اإلسالم وشرابعه‬ ُ ُ ُ ‫…. ذكر لنا أن سعٌد بن هشام سأل عابشة عن خلُق رسول َّللا (صلى) فقالت: ألست تقرأ القرآن؟ قال: قلت: بلى، قالت: فإن خلُق‬ ‫.رسول َّللا صلى َّللا علٌه وسلم كان القرآن‬ Allah swt. berfirman kepada Nabi Muhammad saw.: dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad benar-benar memiliki adab yang agung, dan adab tersebut adalah al-Quran yang telah Allah swt.

ajarkan, yakni Islam dan Syariat-Nya ….. diberitakan pada kami bahwa Sa’id Ibn Hisyam pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.ah. tentang perangai Rasulullah saw., maka beliau menjawab: Tidakkah Kamu membaca al-Qur’an?, Sa’id berkata: aku menjawab: betul aku membaca al-Qur’an, ‘Aisyah r.ah. berkata: Sesungguhnya khuluq (perangai) Rasul saw. adalah al-Qur’an itu sendiri. Menurut Imam Ibnu Katsir[68] riwayat-riwayat yang berbicara tentang khuluq Rasul saw. –sama dengan al-Qur’an– maksudnya ialah: ُ ،‫ومعنى هذا أنه، علٌه السالم، صار امتثال القرآن، أمرً ا ونًٌَا، سجٌة له، وخلقا َتطبعه، وترك طبعه الجبلًِّ، فمَما أمره القرآن فعله‬ َ َّ َ ً ِِ ‫ومَما نَاه عنه تركه. هذا مع ما جَ بَله َّللا علٌه من الخلق العظٌم، من الحٌاء والكرم والشجاعة، والصفح والحلم، وكل خلق جمٌل‬ Maknanya Rasul saw. adalah seperti/ serupa al-Qur’an, baik perintahnya, larangannya, karakter yang beliau miliki, tabiat perangai, dan beliau tidak memiliki karakter al-jibilly (manusia biasa), sehingga apa yang al-Qur’an perintahkan beliau lakukan dan yang dilarang beliau tinggalkan. Karenanya Allah swt. telah menganugerahkan perangai yang agung, berupa sifat pemalu, terhormat, pemberani, pemaaf, lembut, dan semua perangai yang indah. Lafadz khuluq dalam ayat tersebut menurut Imam Al-Mahally dan Asy-Suyuthi

adalah: dîn(agama),[69] sehingga makna ayat tersebut adalah, dan Sesungguhnya kamu benar-benar (memiliki) agama / din/ ajaran yang agung. Jadi akhlak menurut al-Ghazali, naluri yang bersifat fitrah (mirip makna bahasa), menurut imam mufassir akhlak adalah ajaran Islam (ad-dîn, syariat), menurut Husain Abdullah akhlak adalah sifat yang terpuji (mirip makan ‘urf). D. Ruang Lingkup Akhlak Muhammad Husain Abdullah mendefinisikan akhlak sebagai sifat-sifat yang diperintahkan oleh Allah swt. (yang terdapat pada dalil-dalil syariah) kepada seorang muslim, agar ketika ia berbuat menggunakan sifat tersebut. Karena itulah, standar baik dan buruk suatu perangai sangat ditentukan oleh dalil syariat, kaidah syariah mengatakan: َّ ِ ْ ُ ِ ُ ُّ َ َّ ِ ْ ُ ‫) ْاألَصْ ل فِى ْاألَفعَال التقٌد (بحكم الشرعِى‬ Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’ (wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram) [70] Perangai atau akhlak dikatakan baik jika sesuai dengan syariat, sedangkan perangai yang buruk adalah yang tidak sesuai dengan syariat. Karenanya akhlak dapat dibedakan menjadi dua bagian, yakni akhlak yang sesuai dengan syariat atau akhlak mahmudah (mulia/ terpuji), dan akhlak yang

tidak sesuai syariat atau akhlak madzmumah (tercela).[71] Dalam istilah Imam Nawawi al-Jawi, akhlak terpuji terkait dengan pengaruh keimanan, sedangkan akhlak tercela merupakan akibat perbuatan maksiat.[72] Diantara contoh- contoh sifat terpuji adalah:[73] Malu (al-Haya) ُ ‫اَ ْلحَ ٌَاء الَ ٌَأْتًِ إِال َّ بخٌْر‬ ٍ َ ِ Malu tidak akan mendatangkan sesuatu pun kecuali kebaikan. (Mutafaq ‘Alaih) Menahan Diri, Tidak Cepat Marah dan Lemah-lembut ‫اَللََّم منْ ولًَِ مِنْ أَمْر أُمتًِ ش ٌْ ًبا فشق علٌََْم فاشقُق علَ ٌْهِ، ومنْ ولًَِ مِنْ أَمْر أُمتًِ شٌْبا ً فرَ فقَ بَِم فارْ فُق به‬ َّ ِ َّ ِ ِِ ْ َ ِْ َ َ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ْ ِ َ َّ َ َ َ َ َ َّ ُ Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur (wali) dari urusan umatku, kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia. Siapa saja yang menjadi pengatur (wali) dari urusan umatku, kemudian ia lemah-lembut kepada mereka, maka lemah lembutlah Engkau kepadanya. (HR. Muslim) Jujur ُ َ ِ ُ َ ِ ْ ِ ُْ َ ‫…علَ ٌْكم بصِ دق، فإ َِّنه مَعَ ا ْلبرِّ ، وهمَا فًِ ا ْلجَ نة‬ ِ َّ Jujurlah kalian, karena kejujuran akan bersama dengan kebaikan dan keduanya akan ada di surga.(HR. Ibnu Hibban) Mengecek Kebenaran yang Disampaikan dan Cermat Menyampaikannya ْ َ ‫والَ َتقفُ مَا لَ ٌْسَ لَك بِه ع ْلم‬ ٌ ِ ِ َ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya… (TQS. alIsra [17]: 36) Bertutur-kata dengan Baik ٌ َ َ َ ُ ِّ َّ ُ َ َ َ ‫وا ْلكلِمة الطٌ َبة صدقة‬ Perkataan yang baik adalah shadaqah. (Mutafaq ‘alaih) Menampakkan Wajah Berseri َ ْ َ َ ِ ‫الَ َتحْ قِرَ نَّ مِنَ ا ْلمعْ رُوف شٌْبا ً ولَو أَنْ َت ْلقى أَخاك بوجْ ه طلَق‬ َ ٍ َ ٍ َِ َ َ Engkau jangan menyepelekan kebaikan sedikit pun, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. (HR. Muslim)

Diam Kecuali dalam Kebaikan ْ َ ْ َ ِ َ َ ْ ‫منْ كانَ ٌُؤمِنُ بِاهللِ وا ْلٌَوم ْاآلخِر ف ْل ٌَقُل خٌْرً ا أ َْو لِ ٌَصْ مُت‬ ِ ْ َ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.(Mutafaq ‘alaih) Memenuhi Janji ً‫وأ َْوفُوا با ْلعَد إِنَّ ا ْلعَد كانَ مسْ بوال‬ ُ َ َ َْ َ ِْ َ ِ َ Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawaban. (TQS. al-Isra [17]: 34) Marah Karena Allah swt. ً ُ ُ ْ َّ َ َ ِ َ َ ُ َ َ َ َ ُ ُ ًِ‫كسَانًَِ الرَّ سُول (صلى) حلَّة سِ ٌَرَ اءَ، فخرَ جْ ت فِ ٌََْا، فرَ أٌَْت ا ْلغضَبَ فًِْ وجْ َهِ، فشققتََا َب ٌْنَ نِسَاب‬ Rasulullah saw. memberiku pakaian dengan perhiasan dari sutra yang halus, kemudian aku keluar dengan memakainya, maka aku melihat kemurkaan di wajahnya. Aku lalu merobek-robek pakaian itu di hadapan istri-istriku (Mutafaq ‘alaih) 10. Berbaik Sangka kepada Orang Beriman َ ُ َ َ ِْ ُ ِ ْ َ ُِ ْ ْ ‫لَوالَ إ ِْذ سمِعْ ـتمُوهُ ظنَّ ا ْلمُؤمنونَ وا ْلمُؤم َنات بِأ َ ْنفُسِ َم خٌْرً ا‬ Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri,… (TQS. an-Nûr [24]: 12) 11. Baik terhadap Tetangga ُ ُ َ َ ُ ُ َ َّ ِ ْ ُ ِ ِ َ َ ‫مَا زال جبْرٌل ٌُوصِ ٌنًِ با ْلجَ ار حَ تى ظ َن ْنت أ ََّنه سٌُورِّ ثه‬ ِ Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga, hingga aku menduga bahwa jibril akan menjadikannya sebagai ahli waris. (Mutafaq ‘alaih) 12. Amanah ‫إِنَّ َّللا ٌَأْمركم أَنْ تؤدُّوا ْاألَمَا َنات إِلَى أَهْ لََِا‬ ِ َُ ُْ ُ ُ َ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak

menerimanya,…(TQS. an-Nisa [4]: 58) 13. Wara’ (hati-hati) dan Meninggalkan Syubhat

ٌ َ ِ ِ ُ َ ُ َ ُُ ِ ُ َ َ ِ ِ َ ‫فضْ ل ا ْلع ْلم خ ٌْر مِنْ فضْ ل ا ْلعبَادةِ، خ ٌْر د ٌْنِكم ا ْلورَ ع‬ Keutamaan ilmu lebih baik dari keutamaan ibadah. Sebaik-baiknya agama kalian adalah wara’. (HR. ath-Thabrâni dan al-Bazzâr) 14. Memuliakan Ulama, Orang Tua, dan Orang yang Memiliki Keutamaan ْ ُ ِ َ ُّ ُ ِ َ ِ ِ‫إِنَّ مِنْ إِجْ الَل َّللاِ إِكرَ ام ذِي الش ٌْ َبة ا ْلمُسْ لِم، وحَ امل ا ْلقُرْ آن غٌْر ا ْلغَالًِ فٌِه والَ ا ْلجَ افًِ ع ْنهُ، وإِكرَ ام ذِي الس ْلطان ا ْلمقسِ ط‬ ِ َ َ َ ِ ُ ْ َ ُ ْ ِ ِ َ ِ Termasuk memuliakan Allah adalah memuliakan orang tua muslim, memuliakan pengemban alQuran yang tidak melampaui batas dan tidak menentangnya. Juga memuliakan penguasa yang berbuat adil. (Abû Dawud) 15. Mengutamakan dan Menolong Orang Lain َ ِ َ ُ َ ُ ُّ َ َ َ ‫منْ أَصْ َبح وهمه غ ٌْر َّللاِ فلَ ٌْسَ مِنَ َّللاِ فًِ شًْ ء ومنْ لَم ٌََ َتم لِ ْلمُسْ لِم ٌْنَ فلَ ٌْسَ م ْنَم‬ َ ُْ ِ ْ ْ ْ َ َ ٍ َ Siapa yang bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan Allah sedikit pun, dan barang siapa (yang bangun di pagi hari) tidak memperhatikan (urusan) kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan kaum muslimin. (HR. Al-Hâkim no. 8016) 16. Berderma dan Infak di Jalan Kebaikan ُ َ‫قال َّللا ُ َتعَالَى : أَ ْنفِق ٌَا ا ْبنَ آدم أ ُ ْنفِق علَ ٌْك‬ َ ْ ََ َ َ Allah swt. Berfirman: Wahai Manusia, berinfaklah niscaya Aku akan berinfak kepadamu. (Mutafaq ‘alaih) 17. Berpaling dari Orang-orang Bodoh ِ َ‫وأَعْ رضْ عَن ا ْلجَ اهلِ ٌْن‬ ِ ِ َ …Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (TQS. al-A’râf *7+: 199) 18. Taat Dalam Kebaikan, dan lain-lain ُ ِ َ َ ِ‫اَلسعَادةُ كل السعَادة طول ا ْلعمُر فًِ طاعة َّللا‬ ِ ُ ُ ْ ِ َ َّ ُّ ُ َ َّ Kebahagiaan yang paling bahagia adalah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah swt. (HR. AlQadha’i dalam asy-Syihab no. 302, dalam Kasyf al-Khufa dikatakan hadits ini hasan lighairihi) [74] َ َ ُُ َ َ َ ِ َ َ ‫منْ بَاٌَعَ إِمَامًا فأَعْ طاهُ صفقة ٌَده و َثمَرَ ة ق ْلبِه ف ْلٌُعْ طِ ـه إِن اسْ َتطاعَ فإِنْ جَ اء آخر ٌ َنازعه فاضْ ربُوا عنقَ ْاآلخر‬ َ ِِ َََْ َ ِ ُ ِ َ ِ َ ُ ُ ِ ُ ُ َ َ

Siapa saja yang telah membaiat (mengangkat) seorang Imam (khalifah) lalu memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaknya ia menaati semampunya, dan jika datang orang lain yang hendak mengambil alih kekuasaannya, penggallah leher orang itu. (HR. Muslim no. 3431) ‫الَطاعة لِمَخلُوق فًِ معْ صِ ٌة ا ْلخالِق‬ َ ٍ ْ َ َ َ ِ َ ِ َّ Tiada kataatan pada makhluk dalam bermaksiat kepada pencipta (Allah swt.) (HR. Ahmad dan AlHâkim) Adapun akhlak yang tercela dan dilarang oleh syara’, contohnya adalah[75] : Dusta, Tidak Menepati Janji dan Mengkhianati Perjanjian َ ٌ ُ ْ َ ْ ََ َ َ َ ََ َ َ َ‫آ ٌَة ا ْلم َنافِق َثالَث: إِذا حَ دَّث كذبَ وإِذا وعد أَخلَفَ وَ إِذا اؤتمِنَ خان‬ ِ ُ ُ Tanda-tanda orang munafik ada tiga, apabila berbicara ia dusta, jika diberi amanat ia berkhianat, dan jika berjanji ia tidak menepati. (Mutafaq ‘alaih) Berkata Kotor dan Jorok, Banyak Bicara yang Dibuat-buat, Merendahkan Martabat Sesama Muslim, Mengolok-ngolok dan Mencemooh Kaum Muslim, Memaki dan Melaknat (kecuali untuk orang kafir hukumnya boleh) ْ ‫لَ ٌْسَ ا ْلمُؤمِنُ بالطعَان، والَ اللَّعَان، وَ الَ ا ْلفاحِش، وَ الَ ا ْل َبذِيْ ء‬ َ ِ َّ ِ ِ ِ َ ِ Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan melaknat; bukan orang yang keji dan bukan orang yang jorok perkataannya. (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih) Gembira atas Kesusahan yang Menimpa Muslim yang Lain َ َ َّ ِ ِ ْ ُ َ َ‫الَتظَر الشمَاتة ِألَخٌِكَ، ف ٌَرْ حَ مه و ٌَ ْب َتلٌِك‬ َ ُُ Engkau tidak boleh menampakkan rasa gembira atas kesusahan yang menimpa saudaramu. Bisa jadi Allah akan memberi rahmat kepadanya dan memberikan ujian kepadamu. (HR. At-Tirmidzi, hasan) Mengingat-ingat Pemberian dan Seluruh Kebaikan َ َ َ ُْ َََ ُ َُ ‫ٌَاأ ٌَََُّا الَّذٌِنَ ءَامنوا الَ تبْطِ لُوا صدقاتِكم بِا ْلمنِّ و ْاألَذى‬ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebutnyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima),.. (TQS. al-Baqarah [2]: 264) Al-Hasud

َّ ُ َ َُ ‫الٌََزال الناسُ بخٌْر مَالَم ٌَ َتحَ اسدوا‬ ْ ٍ َ ِ Manusia akan senantiasa ada dalam kebaikan selama mereka tidak saling dengki. (HR. ath-Thabrâni, perawinya terpercaya) Menipu dan Makar َ َ َّ َ َ ُ َ َ ُ َ َ َ َّ ِ ‫منْ غش َنا فلٌسَ منا، وا ْلمكر والخدَاع فًِ النار‬ ِ َّ Siapa yang menipu kami, maka bukanlah golongan kami. Makar dan tipu daya itu tempatnya di neraka. (HR. Ibnu Hibban) ً ِ َ َّ ِ َ َ ُ َ ُ ‫مَا مِنْ ع ْبد ٌَسْ َترْ عٌِه َّللا ُ رَ عٌَّة ٌَمُوت ٌَوم ٌَمُوت وهوَ غاشٍّ لِرَ عٌتِه إِال َّ حَ رَّ م َّللا ُ علَ ٌْه ا ْلجَ نة‬ ٍ َ ِ َّ ِ ِ َ َ ْ ُ Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk mengatur urusan rakyat kemudian ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya. (Mutafaq ‘alaih) Marah bukan karena Allah swt. ُ َّ ‫لَ ٌْسَ الشدٌِد بِالصُّرْ عةِ، إ َِّنمَا الشدٌِد منْ ٌَملِك َنفسه ع ْند ا ْلغضب‬ ِ َ َ َ ِ ُ َ ْ ُ ْ َ ُ َّ َ Orang yang kuat bukanlah yang kuat karena berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai dirinya ketika akan marah. (Mutafaq ‘alaih) Berprasangka Buruk kepada kaum Muslim َّ َّ َُ َ ‫ٌَاأ ٌَََُّا الَّذٌِنَ ءَامنوا اجْ َتنِبُوا كثٌِرً ا مِنَ الظنِّ إِنَّ َبعْ ضَ الظنِّ إِثٍم‬ ٌ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (TQS. al-Hujurat [48]: 12) Bermuka Dua َ َ َ ُّ ‫منْ كانَ لَه وجْ ََان فًِ الد ْنٌَا، كانَ لَه ٌَوم ا ْلقٌَِامة لِسَا َنان مِنْ َنار‬ ِ َ َ ُ َ ْ ُ ٍ ِ ِ Barangsiapa bermuka dua ketika di dunia, maka pada hari kiamat kelak akan diberi dua mulut dari api neraka. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban) 10. Zhalim ‫اَلظ ْلم ظلُمَات ٌَوم ا ْلقٌَِامة‬ ِ َ َ ْ ٌ ُ ُ ُّ Kezhaliman itu merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat (HR. Mutafaq ‘alaih)

11. Berbeda antara Perkataan dan Perbuatan َّ ُ َ ُ ُ َ ْ ُ ِ َ َ ِ َّ ُ ُ َ َ ُ َ ‫م َثل الَّذِي ٌعلِّم الناسَ ا ْلخ ٌْرَ وٌ ْنسِ ى نفسهُ، كم َثل السرَ اج ٌُضِ ًْ ء لِلناس وٌحْ رق َنفسه‬ ِ ِّ ِ َ َ َ ْ َ Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang dan melupakan dirinya sendiri adalah bagaikan lentera (lilin) yang menerangi orang, sementara dia sendiri terbakar. (HR. athThabrâni) 12. Sok Suci (kecuali Para Nabi, Ulama dan Menghindari Tuduhan) ُّ َ ُ َ َ َّ ِ ِ ُ ‫فالَ تزكوا أَ ْنفُسكم هُوُ أَعْ لَم بمَن اتقى‬ ُْ َ Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (TQS. An-Najm [53]: 32) 13. Kikir َ ٌ َ ُ َ ‫شرُّ مَا فًِ رَ جُل شح هَالِعٌ، وجبْنٌ خالِع‬ ٌّ ُ ٍ Seburuk-buruk sifat yang ada pada diri seseorang adalah kikir lagi keluh kesah, dan sifat pengecut lagi mengumbar hawa nafsu. (HR. Ahmad) 14. Bermusuh-musuhan …‫والَ َتدَا َبرُوا… وكونوا عبَاد َّللاِ إِخوا ًنا‬ َ ِ ُ ُ َ َْ َ …Janganlah kalian saling bermusuhan …dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang

bersaudara…(Mutafaq ‘alaih) 15. Berani Melakukan Dosa-dosa Kecil َ ُ ُّ ِ َّ ُ َ َ َ ‫إٌَِّاك ومحَ قرَ ات الذنوبِ، فإِنَّ لَََا مِنَ َّللاِ طالِبًا‬ Waspadalah terhadap dosa-dosa kecil, karena dia akan menjadi penuntut disisi Allah. (HR. An-Nasâi, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban) 16. Menangguhkan Pembayaran Suatu Hak َ ُ ْ ‫… مَطل ا ْلغنًِِّ ظ ْلم‬ ٌ ُ Penangguhan atas orang yang mampu terhadap hak yang wajib dibayarnya adalah kezhaliman.(Mutafaq ‘alaih) 17. Tidak Baik dalam Bertetangga

َ َََ َ َ ُْ ُ َ ْ ً ُ َ َ ‫…قال رَ جلٌ: ٌَا رَ سُول َّللاِ إِنَّ فُالَ َنة ٌُذكر مِنْ ك ْثرَ ة صالَتََِا وصدقتََِا وَ صِ ٌَامََا، غ ٌْرَ أ ََّنََا تؤذِي ج ٌْرَ ا َنََا بـلِسَانََِا، قالَ: هًَِ فًِ النار‬ ِ َ ِ َ َ ِ ِ ِ َّ Ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Raulullah, ada seorang wanita diceritakan memiliki banyak amalan shalat, sedekah dan shaum. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya dengan perkataannya.” Rasulullah saw. bersabda, “Wanita itu di neraka… (HR. Al-Bazzâr, Ibnu Hibban dan AlHakim) 18. Menggunjing (al-Ghibah wal Buht) ُُ ‫كل ا ْلمُسْ لِم علَى ا ْلمُسْ لِم حَ رَ ام دمه ومَالُه وعِرْ ضه‬ ُّ ُ َ ُ َ ُ ُّ َ ٌ َ ِ ِ setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Musim) 19. Mengadu-domba (an-Namimah) َ َّ ُ ُ ْ ‫الَ َتدخل ا ْلجَ نة َنمَّام‬ ٌ Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba. (Mutafaq ‘alaih) 20. Memutuskan Tali Silaturahmi ُ ََ َ ََ َ َ َ ُ َ َ َ َ ُ ‫اَلرَّ حْ م معلَّقة با ْلعرْ ش َتقُولُ: منْ وَ صلًِْ وصلَه َّللاُ، ومنْ قطعنًِْ قطعه َّللا‬ ِ َ ِ ٌَ َُ ُ Rahim bergantung di ‘Arsy berkata: “Barangsiapa yang menyambungkan aku, maka Allah akan menyambungkannya, dan barangsiapa yang memutuskan aku maka Allah akan

memutuskannya.”(Mutafaq ‘alaih) 21. Ingin Dilihat dan Ingin Didengar (Riya dan Tasmi) ٌ ُ ‫… … ٌَسِ ٌْر الرِّ ٌَاس شِ رْ ك‬ ِ Riya yang sedikit adalah syirik…… (HR. Ibnu Majah, al-Baihaqi dan al-Hakim) َّ َ َّ َ َ ِ َ َّ ُ‫منْ سمَّعَ الناسَ بعملِه سمَّعَ َّللا ُ بِه سَامِعَ خ ْلقِه وصغرَ هُ وحَ قرَ ه‬ ِ َ ِ َ َِ َ َ Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada manusia, maka Allah akan memperdengarkan amalnya pada pendengaran seluruh makhluk Allah. Allah akan mengecilkan dan menghinakannya (di hari kiamat). (ath-Thabrâni dan al-Baihaqi) 22. Takabur dan Ujub ِّ ُ ُ ُّ ُ ِ َّ ِ ِ ُ ٍ َ ُّ ُ َّ ‫أَالَ أُخبركم بأَهْ ل ا ْلجَ نةِ، كل ضعٌِف م َتضَاعف لَو أَقسم علَى َّللاِ ألَبَرَّ هُ. أَالَ بأَهْ ل النار، كل عتل جَ وَّ اطٍ مُسْ َتكبر‬ َ ََ ْ ْ ٍ ِ ِ ِ ُْ ُ ِْ ٍِْ

Perlu aku beritahukan kepada kalian tentang ahli surga, yaitu setiap orang lemah yang menempatkan dirinya sebagai orang yang lemah. Andaikata ia bersumpah atas nama Allah, maka pasti ia akan melaksanakannya. Perlu aku beritahukan kepada kalian ahli neraka, yaitu setiap orang yang suka memaksa, yang suka berjalan dengan membusungkan dada dan orang yang sombong. (Mutafaq ‘alaih) Inilah objek kajian atau ruang lingkup akhlak secara umum, yakni berbicara tentang perangai yang wajib dimiliki dan perilaku tercela yang mesti dijauhi oleh kaum muslimin.

BAB III AKIDAH DAN AKHLAK MENURUT TAQIYUDDIN AN-NABHANI A. Biografi Taqiyuddin An-Nabhani (1909 – 1977)[76] Nama lengkapnya adalah Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf AnNabhani. Nama An-Nabhani dinisbahkan kepada kabilah Bani Nabhan, kabilah Arab penghuni padang sahara di Palestina. Mereka bermukim di daerah Ijzim, wilayah Haifa, Palestina Utara. Taqiyuddin An-Nabhani dilahirkan di daerah Ijzim pada tahun 1909 M. Beliau mendapat didikan ilmu dan agama di rumah dari ayah beliau sendiri yakni seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestina. Beliau hafal Al-Qur’an seluruhnya di bawah usia 13 tahun. Ibu beliau juga menguasai beberapa cabang ilmu syariah, yang diperolehnya dari ayahnya yang bernama Syaikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf An-Nabhani. Beliau ini adalah seorang qadhi (hakim), penyair, sastrawan, dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah. Beliau banyak mendapat pengaruh dari kakek beliau, Syaikh Yusuf An-Nabhani, dan menimba ilmu beliau yang luas. Beliau berpindah ke sekolah di Akka untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah. Sebelum beliau menamatkan sekolahnya di Akka, beliau telah bertolak ke Kairo meneruskan pendidikannya di Al-Azhar, atas anjuran kakeknya Syaikh Yusuf An-Nabhani. Kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah Al-Azhar tahun 1928 dan tahun yang sama beliau meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan.

Lalu melanjutkan studinya di Kulliyah Darul Ulum cabang Al-Azhar tamat pada tahun 1932. Pada tahun yang sama beliau menamatkan pula kuliahnya di Al-Azhar Asy-Syarif menurut sistem lama, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa syaikh Al-Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid (ilmu kalam), dan yang sejenisnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, An-Nabhani kembali ke Palestina untuk bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah atas negeri di Haifa. Di samping itu beliau juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyah di Haifa. Tahun 1940 beliau diangkat sebagai Musyawir (Asisten Qadhi) hingga tahun 1945, yakni saat beliau dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadhi di Mahkamah Ramallah sampai tahun 1948. Setelah itu, beliau keluar dari Ramallah menuju Syam akibat jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi la’natullah ‘alaihim. Tahun 1948, beliau kembali ke Palestina diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syar’iyah Al-Quds. Kemudian diangkat sebagai anggota Mahkamah Isti’naf (Banding) sampai tahun 1950. Pada tahun 1950 inilah, beliau lalu mengajukan permohonan mengundurkan diri, karena beliau mencalonkan diri untuk menjadi anggota Majelis Niyabi (Majelis Perwakilan). Pada tahun 1951, Syaikh An-Nabhani mendatangi kota Amman untuk menyampaikan ceramahceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung sampai awal tahun 1953, ketika beliau mulai sibuk dalam Hizbut Tahrir, yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga 1953. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani wafat tahun 1398 H/ 1977 M dan dikuburkan di Pekuburan Al-Auza’i di Beirut. Beliau telah meninggalkan kitab-kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya. Karya-karya beliau dapat dikatakan sebagai buah usaha keras pertama yang disajikan oleh seorang pemikir muslim pada era modern ini di dalam jenisnya. Karya-karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani yang paling terkenal, yang memuat pemikiran dan ijtihad beliau antara lain : (1) Nizham al-Islam (Peraturan Hidup Dalam Islam); (2) At-Takattul AlHizbi(Pembentukan Partai Politik Islam); (3) Mafahim Hizb at-Tahrir; (4) An-Nizham Iqthishadi fi alIslam(Sistem Ekonomi Islam); (5) An-Nizhamul Ijtima’i fi al-Islam (Sistem Pergaulan Islam). (6) Nizham al-Hukm fi al-Islam (Sistem Pemerintahan Islam); (7) Ad Dustur (Undang-undang Dasar);

(8)Muqaddimah Dustur (Pengantar Undang-undang Dasar); (9) Ad-Daulah al-Islamiyah (Negara Islam); (10) Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah (Membentuk Kepribadian Islam, Jilid I Tsaqafah Islam; Jilid II Ilmu Fikih; Jilid III Ushul Fikih); (11) Mafahim Siyasiyah li Hizb at-Tahrir (Pemikiran-pemikiran Politik

Hizbut Tahrir); (12) Nazharat Siyasiyah li Hizb at-Tahrir (Pandangan-pandangan Politik Hizbut Tahrir); (13) Nida’ Haar (Seruan Hangat Hizbut Tahrir Kepada Kaum Muslim); (14) Al-Khilafah (Sistem Khilafah Islam); (15) At-Tafkir (Hakikat Berpikir); (16) Ad-Dusiyah; (17) Sur’ah al-Badihah (Kecepatan Berpikir); (18) Nuqthah al-Inthilaq (Titik Tolak Perjuangan); (19) Dukhul al-Mujtama’ (Terjun Ke Masyarakat); (20) Inqadz Falisthin (Pembebasan Palestina); (21) Risalah al-Arab (Missi Arab); (22) Tasalluh Mishr; (23) Al-Ittifaqiyyah ats-Tsuna’iyyah al-Mishriyyah as-Suriyyah wa al-Yamaniyyah; (24) Hall Qadhiyah Falisthin ‘ala ath-Thariqah al-Amirikiyyah wa al-Inkiliziyyah; (25) Nazhariyah al-Faragh as-Siyasi Haula Masyru’ Aizanhawar. Dan apabila karya-karya Taqiyuddin An-Nabhani tersebut ditelaah dengan seksama, terutama yang berkenaan dengan aspek hukum dan ilmu ushul, akan nampak bahwa beliau sesungguhnya adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fuqaha dan mujtahidin terdahulu. Hanya saja, beliau tidak mengikuti salah satu aliran dalam ijtihad yang dikenal di kalangan Ahlus Sunnah. Artinya, beliau tidak mengikuti suatu madzhab tertentu di antara madzhab-madzhab fiqih yang telah dikenal, akan tetapi beliau memilih dan menetapkan (men-tabanni) ushul fiqih tersendiri yang khusus baginya, lalu atas dasar itu beliau mengistinbath hukum-hukum syara’. Namun perlu diingat di sini bahwa ushul fiqih Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani tidaklah keluar dari metode fiqih Sunni, yang membatasi dalildalil syar’i pada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas Syar’iy, yakni Qiyas yang illat-nya terdapat dalam nash-nash syara’ semata.[77] B. Pemahaman Akidah Menurut Taqiyuddin An-Nabhani Pemahaman Taqiyuddin an-Nabhani terkait akidah dan keimanan tidak bergitu berbeda dengan para ulama terdahulu, akan tetapi pada sebagian pembahasan beliau mendetilkan dan mensistematiskan, sebagai berikut: ‫العقٌدة اإلسالمٌة هً اإلٌمان باهلل ومالبكتة وكتبه ورسله والٌوم اآلخر وبالقضاء والقدر خٌرهما وشرهما من َّللا تعالى‬ Akidah Islam adalah iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt.[78] ‫العقٌدة واإلعتقاد بمعنى واحد، هً اإلٌمان، واإلٌمان التصدٌق الجازم المطابق للواقع عن دلٌل‬ Akidah dan al-I’tiqâd sama maknanya yakni iman, dan iman artinya adalah: pembenaran secara pasti (bulat), (yang diimani) sesuai dengan keyataan, (semuanya) berdasarkan dalil (bukti/ baik dalil akli maupun nakli).[79] Karenanya jika pembenaran bukan berasal dari dalil, niscaya tidak akan ada ke-Imanan. Sebab tidak akan ada pembenaran yang pasti kecuali jika pembenaran tersebut bersumber dari dalil. Tatkala

belum ada dalil, tidak akan datang kepastian terhadap apa yang di-Imani, sehingga pembenaran saja terhadap khabar dari berbagai khabar sejatinya (hal itu) tidaklah dianggap sebagai Ke-Imanan. Karena itu setiap perkara yang dituntut oleh ke-Imanan mesti terdapat dalil, hingga menjadi pembenaran terhadap ke-Imanan. Artinya, adanya dalil merupakan syarat mendasar eksisnya keImanan, tanpa memandang dalil tersebut benar atau salah. Dalil sendiri adakalnya secara akli (akal) atau nakli (menukil), jika objek dapat diindra maka dalilnya akli, namun sebaliknya jika objeknya gaib dalilnya nakli.[80] Ruang lingkup akidah Islam yang dibahas oleh An-Nabhani –mengenai pembuktian adanya Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt.– terlihat lebih menekankan dalil aqli (akal), terutama pada empat objek keimanan yakni beriman kepada wujud (eksisnya) Allah swt., terhadap kebenaran al-Quran dari Allah swt., Rasul saw., dan Qadha – Qadar. Selebihnya keimanan objek-objek ghaib, seperti terhadap sifat-sifat Allah swt, Malaikat, Nabi dan Rasul selain Muhammad saw., Kitab-kitab sebelum al-Quran, dan Hari Kiamat, dalilnya adalah naqli (menukil dari al-Quran atau Hadits Mutawatir).[81] Dalil ‘Aqli Iman Kepada Allah swt. (al-Khâliq) ‫على أنّ كل من كان له عقل، ٌدرك من مجرّد وجود األشٌاء التً ٌقع علٌَا حسّه، أنّ لَا خالقا ً خلقَا، ألن المشاهد فٌَا جمٌعَا أنَا‬ ‫ناقصة، وعاجزة ومحتاجة لغٌر ها، فًَ مخلوقة قطعا. ولذلك ٌكفً أن ٌلفت النظر إلى أي شًء فً كون والحٌاة واإلنسان لٌستدل‬ ّ ‫به على وجود الخالق المدبر… وقد وردت مبات اآلٌات فً هذا معى. قالى فً سورة آل عمران: ( إِنَّ فً ِ خ ْلق السمَاوات و ْاألَرْ ض‬ َ ِ َ َّ ِ َ ِ ْ َ ‫. ) واختِالَف الٌَّْل والنََار َآلٌَات ِّأل ُْولِى ْاألَ ْلبَاب‬ ٍ ِ ِ َّ َ ِ ِ Setiap (manusia) yang mempunyai akal, hanya dengan mengindra segala sesuatu yang dapat (terjangkau) oleh indranya, (ia akan paham) bahwa ada sang pencipta (al-khaliq / Allah swt) yang menciptakan sesuatu, karena, segala fenomena tersebut seluruhnya bersifat terbatas, lemah dan membutuhkan (menyandarkan) kepada yang lain, jika keadaan segala sesuatu seperti itu, secara pasti ia adalah makhluk (ciptaan Allah swt). Karena itu cukup memalingkan (mengarahkan) pandangan kepada segala sesuatu di alam semesta, kehidupan dan manusia, agar dengan pandangan tersebut menunjukan adanya al-Khaliq al-Mudabbir (Allah swt)… Nampaknya, telah turun juga ratusan ayat al-Quran dalam konteks ini. (salah satu contohnya) Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran (Ayat: 190) : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi juga pergantian siang dan malam, sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki akal “. [82] Dalil ‘Aqli Kebenaran Al-Quran Berasal dari Allah swt.

‫وأما ثبوت كون القرآن من عند َّللا، فَو أنّ القرآن كتاب عربً جاءبه محمد علٌه الصالة والسالم. فَو إما أن بكون من العرب وإما‬ ‫أن ٌكون من محمد، وإما أن ٌكون من َّللا تعالى. والٌمكن أن ٌكون من غٌر واحد من هؤالء الثالثة، ألنه عربً اللغة واألسلوب. أما‬ َ ْ َ ْ ‫أنه من العرب فباطل ألنه تحداّهم أن ٌأتوا بمثله: ( قُل فأ ُْتوا بِعشر سوَ ر مِّثلِه )، ( قُل فأ ُْتوا بِسورَ ة مِثلِه )، وقد حاولوا أن ٌأتوا بمثله‬ ِ ْ ِ ُ ِ ْ ٍ ُ ِ ْ َ ‫وعجزوا عن ذلك. فَو إذن لٌس من كالمَم، لعجزهم عن اإلتٌا بمثله مع تحدٌه لَم ومحاولتَم اإلتٌان بمثله. وأما أنه من محمد‬ ‫فباطل، ألن محمداً عربً من العرب، ومَما سما العبقري فَو من البشر وواحد من مجتمعه وأمته، وما دام العرب لم ٌأتوا بمثله‬ ‫فٌصدق على محمد العربً أنه ال ٌأتً بمثله فَو لٌس منه، عالوة على أن لمحمد علٌه الصالة والسالم أحادٌث صحٌحة وأخر روٌت‬ ‫عن طرٌق التواتر الذي ٌستحٌل معه إال الصدق، وإذا قورن أي حدٌث بأٌـّة آٌة الٌوجد بٌنَما تشابه فً األسلوب، وكان ٌتلو اآلٌة‬ ،‫المنزلة وٌقول الحدٌث فً وقت واحد، وبٌنَما اختالف فً األسلوب، وكالم الرجل مَما حاول أن ٌنوّ عه فإنه ٌتشابه فً األسلوب‬ ‫ألنه صادراً منه. وبما أنه الٌجد أي تشابه بٌن الحدٌث واآلٌة فً األسلوب فال ٌكون القرآن كالم محمد مطلقا، لالختالف الوضح‬ ْ ‫الصرٌح بٌنه وبٌن كالم محمد. على أن العرب قد ادعوا أن محمدا ٌأتً بالقرآن من غالم نصرانً اسمه (جبر) فرد َّللا تعالى علٌَم‬ ُِ ُ َْ َ ٌ‫) بقوله : ( ولَقد َنعْ لم أ ََّنَم ٌَقُولُونَ إ َِّنمَا ٌعلِّمه َبشر لِسانُ الَّذِى ٌ ْلحدونَ إِلَ ٌْه أعْ جَ مى وهذا لِسانٌ عَرَ بِى مُبٌِن‬ ٌ ِ َ ََ َ ٌ ِ َ ٌ َ ُُ َُ ُْ ُ Pembuktian al-Quran berasal dari Allah swt., (bisa dianalisis sebagai berikut), bahwa al-Quran kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Muhammad saw. (berdasarkan hal tersebut ada beberapa kemungkinan), al-Quran berasal dari orang Arab, berasal dari Muhammad saw., atau berasal dari Allah swt. dan tidak ada kemungkinan yang lain selain tiga hal tadi, sebab al-Quran (mempunyai) bahasa dan uslub (gramatikanya) Arab. Adapun kemungkinan al-Quran dari orang Arab adalah salah, karena orang Arab ditantang untuk membuat yang semisal al-Quran, “Katakanlah, datangkan oleh kalian (orang Arab) sepuluh surat yang serupa dengan al-Quran” (Hûd: 13), “Katakanlah, datangkan oleh kalian sebuah surat yang serupa dengan al-Quran” (Yûnus: 38), sungguh pun orang Arab berupaya untuk membuat yang serupa dengan al-Quran namun mereka lemah untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan adanya tantangan, dan upaya mereka, namun orang Arab (tetap) lemah untuk mendatangkan yang serupa dengan al-Quran, karena itulah al-Quran bukan berasal dari orang Arab. Kemungkinan selanjutnya al-Quran berasal dari Muhammad saw., pernyataan ini salah, karena Muhammad termasuk bangsa Arab pula, walaupun ia memiliki ketinggian intelektualitas, namun ia tetap hanya seorang manusia yang berasal dari masyarakat dan umat (Arabnya), sehingga, selama orang Arab tidak bisa membuat al-Quran, sedangkan Muhammad pun orang Arab, maka dia pun tidak bisa membuat al-Quran yang semisal, karena itu al-Quran bukan dari Muhammad saw. Selain itu, Muhammad pun memiliki Hadits-hadits shahih juga hadits yang diriwayatkan secara mutawatir yang pasti kebenarannya. Tatkala hadits dan ayat al-Quran dibandingkan, keduanya tidak memiliki kesamana dalam gramatikanya (uslub), dalam waktu yang sama Rasul saw. pun membaca ayat alQuran dan juga membaca hadits, yang keduanya tetap terdapat perbedaan gramatika (uslub bahasa) nya. Karena walaupun seseorang berupaya untuk membuat berbagai variasi dalam uslub bahasanya, sesungguhnya uslub bahasa seseorang tersebut tetap ada kemiripan, hal itu karena masih bersumber dari satu orang (yang sama). Kesimpulannya, tidak ada kemiripan uslub bahasa antara hadits dan ayat al-Quran, sehingga al-Quran bukan perkataan Muhammad secara mutlak, dengan

adanya perbedaan yang mencolok nan jelas antara perkataan Muhammad dan al-Quran. Akan tetapi orang Arab juga menuduh Muhammad, (dengan menyatakan) al-Quran tersebut (diajarkan) dari seorang Nashrani bernama Jabr, pernyataan tersebut di bantah oleh Allah swt, dalam firmannya: “Dan Sungguh Kami Mengetahui bahwa mereka berkata, sesungguhnya al-Quran hanyalah diajarkan oleh seorang manusia kepada Muhammad, padahal bahasa orang yang mereka tuduh mengajarkan al-Quran kepada Muhammad, adalah bahasa Asing, sedangkan al-Quran berbahasa Arab yang jelas” (an-Nahl : 103).[83] Dalil ‘Aqli Muhammad saw. adalah Rasulullah (utusan Allah swt.) ،‫وأما ثبوت الحاجة إلى الرسول، فَو أنه ثبت أن اإلنسان مخلوق هلل تعالى، وأن التدٌن فطري فً اإلنسان، ألنه غرٌزة من غرابز‬ ‫فَو فً فطرته ٌقدس خالقه، وهذ التقدٌس هو العبادة، وهً العالقة بٌن اإلنسان والخالق وهذه العالقة إذا تركت دون نظام ٌؤدي‬ ‫تركَا إلى اضطرابَا وإلى عبادة غٌر خالق، فال بد من تنظٌم هذه العالقة بنظام صحٌح، وهذا النظام ال ٌأتً من اإلنسان ألنه ال‬ ‫ٌتأتى له إدراك حقٌقة الخالق حتى ٌضع نظاما بٌنه وبٌنه، فال بد من أن ٌكون هذا النظام من الخالق. وبما أنه البد من أن ٌبلغ الخالق‬ ‫هذا النظام لإلنسان، لذلك كان البد من الرسل ٌبلغون الناس دٌن َّللا تعالى‬ Adapun penetapan (bukti) kebutuhan akan adanya Rasul, bahwa buktinya manusia sungguh merupakan ciptaan Allah ta’ala, dan tadayyun (beragama) hal yang fitrah dalam diri manusia, karena tadayyun (naluri beragama) termasuk bagian dari naluri-naluri (manusia), maka naluri tersebut secara fitrahnya akan mengkultuskan (mensucikan) penciptanya, taqdis (pensucian/ pengkultusan) ini disebut sebagai ibadah, ia merupakan hubungan antara manusia dengan penciptanya (artinya) hubungan ini ketika dibiarkan tanpa aturan (yang jelas) tentu menyebabkan kekacauan yang berujung pada penyembahan (ibadah) kepada ‘selain’ sang Pencipta. Dari sinilah pentingnya hubungan tersebut diatur dengan aturan yang benar, namun aturan (yang benar) tersebut bukan dari manusia (itu sendiri), sebab manusia tidak tahu menahu hakikat sang pencipta sehingga ia meletakan aturan (ibadah) antara dirinya dengan pencipta, maka mestinya aturan (ibadah) ini datang dari sang al-Khaliq (pencipta). Oleh karena itu, sang pencipta (Allah swt) harus menyampaikan aturan (ibadah) ini kepada manusia, yang meniscayakan adanya utusan (para Rasul), sehingga para rasul tersebut menyampaikan agama Allah (Islam) kepada umat manusia. [84] )‫وبما أنه محمد (صلى) هو الذي أتى بالقرآن، وهو كالم َّللا وشرٌعته، وال ٌأتى بشرٌعة َّللا إال األنبٌاء والرسل، فٌكون محمد (صلى‬ ً‫نبٌا ورسوال قطعا بالدلٌل العقل‬ Karenanya, Muhammad saw. adalah orang yang datang bersama dengan Al-Quran (sebagai mujizat), yang merupakan kalamullah dan syariat-Nya, sedangkan tidak ada orang yang membawa syariat Allah swt. Selain para nabi dan rasul, maka secara pasti berdasarkan dalil akli Muhammad saw. adalah nabi dan rasul Allah swt.[85]

Dalil ‘Aqli Kebenaran Qadha’ dan Qadar Perlu menjadi catatan penting bahwa, pembahasan Qadha’ dan Qadar yang dibahas oleh AnNabhani bukan Qadha’ maupun Qadar yang terkait Ilmu atau sifat Allah swt., karena pembahasan Ilmu atau sifat Allah swt. sudah pasti kebenarannya, akan tetapi pembahasan Qadha’ dan Qadar yang dimaksud adalah, merupakan pembahasan kritikan terhadap perkara yang dibahas dan diperselisihkan oleh para ahli Kalam, artinya An-Nabhani mencoba meluruskan pemahaman mutakalimin terkait Qadha’ dan Qadar. Pada dasarnya hasil kesimpulan Qadha’ dan Qadar para ahli Kalam, bermuara pada tiga pendapat, yakni, (1) pendapat Ahl as-Sunnah (aliran teologi al-Asy’ariy)[86], yang menyatakan bahwa: manusia memiliki khasb ikhtiyâri (ketika manusia berkehendak maka Allah swt. menciptakan kehendak tersebut); (2) pendapat Mu’tazilah, yang menyatakan: bahwa sebenarnya manusia itu sendiri yang secara total menciptakan perbuatannya (mirip pendapat kaum free will Yunani); (3) pendapat alJabariyyah, yang menyatakan: Allah swt. yang secara total menciptakan manusia sekaligus perbuatan yang akan mereka kerjakan, sehingga manusia seperti bulu di angkasa yang bergerak sesuai keinginan angin (mirip pendapat kaum fatalis Yunani).[87] Sebenarnya menurut An-Nabhani esensi pembahasan Qadha’ dan Qadar, bukanlah perbuatan hamba/ manusia dipaksa oleh ilmu Allah swt. atau bebas. Namun pembahasan Qadha’ dan Qadar lebih kepada fakta bahwa manusia hidup dalam dua wilayah yang proporsional

yakni, pertama: wilayah yang dia kuasai, yaitu daerah atau zona yang berada dalam wewenang dan kekuasaannya, manusia melakukan perbuatan sesuai pilihannya. Kedua: wilayah yang menguasai manusia, yaitu daerah yang manusia tidak mempunyai wewenang untuk campur tangan dalam kejadian setiap perkara, walaupun perkara tersebut seolah-olah melibatkan manusia atau tidak.[88] Wilayah yang kedua atau wilayah yang menguasai manusia dan manusia tidak memiliki andil dalam hal tersebut, inilah yang disebut dengan Qadha. Sedangkan Qadar adalah khasiyat-khasiyat bendabenda dan dorongan naluri maupun dorongan kebutuhan jasmani yang telah ada dalam diri manusia maupun benda-benda. Qadha’ maupun Qadar dalam makna ini datang dari Allah swt. dan wajib diimani oleh setiap muslim, karena realitasnya memang terdapat dan menimpa pada makhlukmakhluk Allah swt. dan dapat dibuktikan lewat pengindraan manusia.[89] Argumentasi An-Nabhani terkait Qadha’ dalam konteks nizhâm al-wûjud (sunnatullah), bahwa ia benar adanya, sebagai berikut: ً‫فقد أتى إلى هذه الدنٌا على غٌر إرادته، وسٌذهب عنَا على غٌر إرادته، وال تستطٌع أن ٌطٌر بجسمه فقط فً الَواء، وال أن ٌمش‬ ‫بوضعه الطبٌعً على ماء، وال ٌمكن أن ٌخلق لنفسه لون عٌنٌه، ولم ٌوجد شكل رأسه، وال حجم جسمه، وإنما الذي أوجد ذلك كله‬

،‫هو َّللا دون أن ٌكون للعبد المخلوق أي أثر وال أٌة عالمة فً ذلك، ألن َّللا هو الذي خلق نظام الوجود، وجعله منظما للوجود‬ ‫.وجعل الوجود ٌسٌر حسبه وال ٌملك التخلف عنه‬ Misalnya, (manusia) datang ke dunia bukan berdasarkan kehendaknya, begitu juga ketika manusia meninggalkan dunia (mati) itupun bukan keinginannya. Selanjutnya, manusia pun tidak bisa terbang diudara jika hanya dengan badannya (tanpa bantuan kecanggihan teknologi), manusia juga tidak bisa berjalan secara alami diatas air, ia pun tidak mungkin merekayasa bagi dirinya sendiri (secara total) warna asli kedua matanya, tidak pula bentuk kepala, membesarkan tubuh, akan tetapi yang menciptakan itu semua hanya Allah swt. tanpa adanya sedikitpun campur tangan maupun intervensi makhluk. Karena itulah Allah swt. yang menciptakan nizham al-wujud, menjadikannya dikontrol atau diatur oleh-Nya, juga menjadikan segala yang ada berjalan sesuai nizham al-wujud, sehingga tidak ada yang sanggup menyimpangkannya (dari ketentuan-Nya).[90] Sedangkan argumen/ contoh Qadha’ dalam konteks selain nizhâm al-wûjud atau wilayah yang manusia tidak memiliki andil (kontrol) terhadap perkara-perkara atau kejadian yang menimpa manusia maupun benda menimpa manusia, tetapi wilayah tersebut diluar (nizhâm al-wûjud) sunnatullah, adalah: ‫كما لو سقط شخص عن ظَر حابط على شخص آخر فقتله، وكما لو أطلق شخص النار على طٌر فأصابت إنسانا لم ٌكن ٌعلمه‬ ‫فقتله، كما لو َتدَهْ ورَ قطار أو سٌارة أو سقط طابرة لخلل طارئ لم ٌكن باإلمكان تالفٌه فتسبّب عن هذ التدهور والسقوط قتل الركابت‬ َ Sebagaimana, seseorang yang terjatuh dari atas dinding (tembok) lalu menimpa orang lain sampai yang tertimpa itu terbunuh, juga seseorang yang menembak burung namun (sasaran meleset) mengenai orang lain hingga terbunuh, akan tetapi sang penembak tidak tahu menahu kesalahan sasarannya tersebut. Lalu contoh lain, seperti kecelakaan kereta atau mobil atau jatuhnya pesawat karena kerusakan mendadak yang tidak mungkin untuk diperbaiki, sehingga menyebabkan terbunuhnya penumpang.[91] Semua perkara yang ada, baik itu berupa sunnatullah maupun perkara yang menimpa manusia (selain sunnatullah), namun manusia tidak bisa menghindar, itulah yang disebut Qadha’, setiap muslim wajib mengimanai bahwa Qadha’ itu eksis dan benar adanya berasal dari Allah swt. manusia pun tidak akan dihisab karena kejadian tersebut, baik dan buruknya semata-mata dari allah swt. Adapun argumentasi bahwa Qadar itu eksis dan ia merupakan khashiyyat al-asyya’ (khasiat bendabenda) –beserta dorongan naluri maupun dorongan kebutuhan jasmani yang telah ada dalam diri manusia maupun benda-benda– yang Allah swt ciptakan, adalah:

،‫خلق َّللا لَذه األشٌاء خواصّ معٌنة، فخلق فً النار خاصٌة اإلحراق، وفً الخشب خاصٌة اإلحتراق، وفً السكٌن خاصٌة القطع‬ ‫وجعله الزمة حسب نظام الوجود‬ ‫التتخلف … وكما خلق فً األشٌاء خاصٌات كذلك خلق فً اإلنسان الغرابز والحاجات العضوٌة، وجعل فٌَا خاصٌات معٌنة‬ ‫كخواص األشٌاء، فخلق فً غرٌزة النوع خاصٌة المٌل الجنس، وفً الحاجات العضوٌة خاصٌات كالجوع والعطش ونحوهما وجعله‬ ‫الزمة لَا حسب سنة الوجود… هً التً تسمى القدر، ألن َّللا وحده هو الذي خلق األشٌاء و الغرابز والحاجات العضوٌة، وقدّر‬ ‫.فٌَا خواصَا‬ Allah swt. telah menciptakan benda-benda semuanya memiliki khasiat-khasiat tertentu, misalnya (buktinya), Allah swt. telah menciptakan pada api karakteristik untuk membakar, pada kayu terdapat karakteristik bisa terbakar, pisau memiliki karakteristik untuk memotong, semuanya secara pasti tercipta sesuai nizham al-wujud (sunnatullah) yang tidak akan menyelisihi ketentuan Allah swt (kecuali kasus mu’jizat para Nabi as) … dan sebagaimana Allah swt. telah menciptakan pada segala sesuatu memiliki khasiat-khasiat, Allah swt. pun juga telah menciptakan pada diri manusia gharizahgharizah (berbagai naluri) dan kebutuhan jasmani (fisik), Allah swt. telah menciptakan dalam naluri dan kebutuhan jasmani tersebut khasiat-khasiat tertentu seperti khasiat benda-benda. Sehingga secara riil, Allah swt. menciptakan naluri kasih sayang (an-nau’) khasiatnya kecenderungan jenis atau keinginan untuk berketurunan, pada al-hajah al-’udhawiyah (kebutuhan jasmani) khasiat-khasiat tertentu seperti lapar, haus dan lain-lain, semuanya terjadi secara pasti sesuai sunnah al-wujud (sunnatullah) … inilah yang disebut dengan Qadar, karena hanya Allah swt. satu-satunya yang menciptakan benda-benda, gharizah dan kebutuhan jasmani, Allah swt. pula yang menentukan (Qadar) khasiyat-khasiat pada semuanya itu.[92] Jadi semua perkara yang berada diluar andil dan wewenang atau kekuasaan manusia disebut Qadha’, sedangkan Qadar adalah karakteristik yang Allah swt ciptakan pada benda-benda dan diri manusia, Qadar pun bukan wewenang atau kekuasaan manusia untuk menciptakannya. Qadha yang menimpa manusia dan Qadar yang terdapat pada benda dan manusia, tidak terkait akuntabilitas manusia di hari kiamat atau tidak ada hisab bagi manusia, karena semuanya semata-mata dari Allah swt. manusia hanya wajib untuk mengimaninya, bahwa Allah swt lah yang menentukan Qadha’ maupun Qadarnya. Sedangkan wilayah yang dia kuasai –yakni daerah atau zona yang berada dalam wewenang dan kekuasaan manusia, yang ia melakukan perbuatan sesuai pilihannya, termasuk pemanfaatan potensi Qadar yang terdapat pada benda dan manusia– inilah yang akan di hisab pada ahari kiamat, karena ketika manusia makan karena dorongan kebutuhan jasmani (lapar), maka jika ia makan makanan yang halal maka itu pilihan dia dan jika dia makan makanan haram itu pun pilihan dia, manusia pasti

akan dihisab sesuai pilihannya, yakni apakah manusia akan memilih syariat Allah swt. atau akan memilih syariat selain Allah swt. karena itu Allah swt. berfirman[93]: ‫وهد ٌْ َناهُ النجْ دٌْن‬ ََ َ ِ َ َّ Telah kami tunjukan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk) (TQS. Al-Balad [90]: 10) َ ‫فأ َ ْلَمََا فُجورَ هَا و َتقواها‬ ُ َْ َ ََ َ Lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang takwa(TQS. Asy-Syams [91]: ٌ ْ َ َ ِ ٍ ْ ُّ ُ ‫كل َنفس بما َ كسبَت رَ هٌِ َنة‬ Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (TQS. Al-Mudatsir [74]: 38) Adapun objek pembahasan rukun Iman yang lain, selain yang telah disebutkan diatas maka dalilnya adalah dalil nakli (menukil dari al-Quran maupun hadits mutawatir) karena objeknya ghaib, seperti beriman terhadap asma dan sifat-sifat Allah swt, Malaikat, Nabi dan Rasul selain Muhammad saw., Kitab-kitab sebelum al-Quran, dan Hari Kiamat, ini semua dalilnya harus dibangun oleh dalil naqli(menukil dari al-Quran atau Hadits Mutawatir).[94] Tentang asma’ – sifat Allah swt. yang harus diyakini karena bersumber dari dalil qath’i, contohnya:alRabb (Maha Mendidik – Memelihara), ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), alWahid (Maha Tunggal), al-Ahad (Maha Esa), al-Hayy (Maha Hidup), al-Qayyum (Maha Berdiri

Sendiri),al-Ghani (Maha Quddus (Maha

Kaya), al-Awwal (Maha

Pertama), al-Akhir (Maha

Terakhir), al-

Suci),ash-Shamad (tempat

bergantung), al-Haqq (Maha Membentuk

Pasti), al-Khaliq (Maha Rupa), al-Badi’ (Maha

Mencipta), al-Bari’ (Maha

Membuat), al-Mushawwir (Maha

Mengagumkan), ar-Ra’uf (Maha Belas Kasih), at-Tawwab (Maha Penerima Taubat), al-Halim (Maha Penyantun), al-’Afuw (Maha Mengampuni), asy-Syakur (Maha Menerima Syukur), as-Salam (Maha Memberi Keselamatan), al-Mu’min (Maha Memberi Keamanan), al-Muhaymin (Maha Besar), al-Barr (Maha Memiliki Segala Pemberi Melimpahkan Keagungan), alPetunjuk), an-

Memelihara), al-Jabbar (Maha Kebaikan), al-’Aziz (Maha Wadud (Maha

Memaksa),al-’Azhim (Maha

Perkasa), al-Mutakabir(Maha

Mengasih), al-Qadir (Maha

Kuasa), al-Hadiy(Maha

Nashir (Maha Melindungi), ash-Shadiq (Maha Benar), ar-Rafi’ (Maha Meninggikan), ar-Razzaq (Maha Pemberi Rizki), al-Wahhab (Maha Pemberi), al-Iradah (Maha Berkehendak), al-Kalam (Maha

Berbicara), al-Qudrah Maha Berkuasa), Laisa Kamitslih syaiun (Tiada yang Serupa dengan Allah), al’Ilmu (Maha Mengetahui). Al-Baqi (yang Kekal), al-Fatih (Maha Membuka), dan lain sebagainya.[95]

ُ َ‫س ْبحَ انَ رَ بك رَ بِّ ا ْلعِزة عمَّا ٌَصِ فُون‬ َ ِ َّ َ ِّ Maha suci Tuhamnu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan (TQS. Ash-Shâffât [37]: 180) Tentang dalil naqli beriman kepada Para Malaikat, Kitab-Kitab Terdahulu, Nabi – Rasul sebelum Muhammad saw. dan Kedatangan Hari Kiamat. adalah sebagai berikut[96]: َ ِ ِ ُ َِ َ ِ‫شَد َّللا ُ أ ََّنه الَ إِلَه إِال َّ هوَ وا ْلمالَبِكة وأُولُو ا ْلع ْلم قابِمًا با ْلقِسْ ط‬ َ ُ َ َ َ ُ َ ِ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). (TQS. Ali Imran [3]: 18) ً ِّ َ ُ ِّ ِ َ َ ‫وأَ ْنز ْل َنا إِلَ ٌْك ا ْلك َتابَ با ْلحَ ق مصدقا لِمَا َب ٌْنَ ٌَد ٌْه مِنَ ا ْلك َتاب ومَ ٌْم ًنا علَ ٌْه‬ ِ َ ِ َُ َ ِ ِ ِ َ ِ َ Dan kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (TQS. Al-Maidah [5]: 48) َُ ‫ٌَا أ ٌَََُّا الَّذٌِنَ ءَامنوا ءَامنوا باهللِ وَ رَ سُولِه وا ْلك َتاب الَّذِي َنزل علَى رَ سُولِه وا ْلك َتاب الَّذِي أَ ْنزل مِنْ ق ْبل ومنْ ٌَكفُرْ باهللِ ومالَبِكتِه وكتبه‬ ِ ُُِ َ ِ َ َ َ ِ ْ َ َ ُ َ ِ ِ َ ِ ِ ِ َ ِ َ َ َ َ َّ ِ ُِ َ َّ َ ْ َ َ ِ ً ‫ورسلِه وا ْلٌَوم ْاآلخِر فقد ضل ضَالالً َبعٌِدا‬ ِ ْ َ ِ ُ ُ َ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. (TQS. An-Nisa [4]: 136) Adapun dari al-Hadits: ْ ُ َ ِ ُ ُ َ ِ َ ِ َ ِ ِ ُ ُ َ ِ َ َ َ َّ ِ ُْ ‫اإلٌِمانُ أَنْ تؤمِنَ باهللِ ومَالبِكتِه وكتبه وبلِقابِه ورسلِه وتؤمِنَ با ْل َبعْ ث‬ ِ َ ِ Iman itu adalah bahwa engkau beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan pertemuan dengan-Nya, dan para rasul-Nya dan beriman kepada hari kebangkitan. (HR. AlBukhari no. 48) Begitulah ruang lingkup akidah Islam menurut pemahaman An-Nabhani sebagai implikasi penggunaan dalil aqli dan naqlinya. C. Metode Pembelajaran Akidah Islamiyah 1. Mempelajari Secara Mendalam

Menurut An-Nabhani, ketika seseorang ingin mempelajari dan memahami khazanah Islam – termasuk Akidah Islam–, maka seseorang dituntut untuk mempelajari secara mendalam, dan bersungguh-sungguh dalam mencurahkan kemampuan untuk memahaminya: ‫أن تدرس األشٌاء بعمق حتى تدرك حقابقَا ادراكا ً صحٌحاً، ألن هذه الثقافة فكرٌة عمٌقة الجذور ٌحتاج فً دراستَا إلى صبر‬ ‫.وتحمّل‬ (Hendaklah) mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga mengetahui hakikat sesuatu tersebut secara benar, karena tsaqafah ini merupakan pemikiran yang mendalam, dasar pembelajarannya diperlukan kesabaran dan keuletan.[97] Karena itu dalam konteks Akidah Islamiyah, maka pembelajaran harus menjurus pada definisi dan ruang lingkup akidah itu sendiri, beserta dalil dan argument untuk memperkokoh keimanan para peserta didik. 2. Meyakini dan Berbuah Pengamalan Dalam mmpelajari akidah Islamiyah, seorang pelajar dituntut untuk meyakini akidah Islam, dan mampu direfleksikan dalam kehidupannya. ‫أن ٌعتقد الدارس بَا ٌدرس حتى بعمل به، أي أن ٌصدق الحقابق التً ٌدرسَا تصدٌقا ً جازما ً دون أن ٌتطرق إلٌَا أي ارتٌاب إذا‬ ‫كانت مما بتعلق بالعقٌدة، ….فإن التصدٌق الجازم بَذه األفكار ٌجعل االرتباط الحتمً الذي ٌجري طبٌعٌا ً فً داخل اإلنسان بٌن‬ ‫واقعه والمفاهٌم الموجودة لدٌه عن األشٌاء مربوطا ً بَذه األفكار باعتبارها معانً عن الحٌاة، فٌندفع بشوق وحماس إلى العمل بَذه‬ ‫األفكار فٌكون هذا التأثٌر الَابل لَذه الثقافة فً نفوس، إذ تحرك المشاعر نحو الواقع الذي تضمنه الفكر، ألن االعتقاد بَا هو ربط‬ ‫.المشاعر بمفاهٌمَا فٌحصل حٌنبذ االندفاع‬ Seorang pelajar (harus) meyakini terhadap sesuatu yang dipelajari hingga ia mengamalkannya, yakni membenarkan hakikat yang dipelajarinya dengan pembenaran yang pasti tanpa adanya keraguan, jika hal yang dipelajari tersebut berkaitan dengan akidah….Sesungguhnya pembenaran pasti terhadap pemikiran ini, akan menjadi ikatan yang kuat secara alamiah, hal ini terjadi dalam diri manusia antara fakta, dan mafahim manusia yang ada tentang sesuatu yang terikat dengan pemikiran ini, dengan anggapan sebagai makna-makna kehidupan. Dengan kerinduan dan keinginan menggelora akan mendorong untuk mengamalkan pemikiran ini, yang selanjutnya tsaqafah ini menjadi pengaruh yang luar biasa terhadap jiwa, karena akan menggerakkan perasaan seperti fakta yang terkandung dalam pemikiran, sebab keyakinan terhadap tsaqafah tersebut merupakan ikatan perasaan dengan mafahim, maka ketika itu akan menghasilkan dorongan untuk berbuat.[98] Artinya ketika mempelajari akidah Islamiyah, maka dalil atau argumen dalam membangunnya harus tepat, mana yang harus disampaikan kepada peserta didik dengan pemikiran, dan mana yang harus

disampaikan kepada peserta didik dengan dalil nakli (menukil). Selanjutnya secara otomatis, jika akidah sudah kokoh dalam diri sorang peserta didik, tentu apa yang dituntut oleh akidah tersebut pasti akan dipenuhi dan dijalankan. Misalnya: seseorang yang meyakini al-Quran sebagai kalamullah tentu dia akan mengamalkan perintah yang ada didalammnya baik hukum ibadah maupun hukum muamalah dan lain sebagainya sebagainya. Konsekuensi lainnya ketika seseorang meyakini al-Quran kalamullah, maka ia pun dituntut untuk meyakini as-Sunnah dan semua hukum yang ada karena telah diberitakan dalan al-Quran. Dalam konteks ini Allah swt. berfirman: ُِ ْ َ َ ُِ ‫فالَ وَ رَ بك الَ ٌُؤمنونَ حَ تى ٌحَ كمُوك فٌِمَا شجَ رَ َب ٌْ َنَم ثم الَ ٌَجدوا فًِ أَ ْنفُسِ َم حَ رَ جً ا ممَّا قضٌْتَ وٌسلِّمُوا َتسْ لٌِمًا‬ َ ُ َ َ َ ِ َ ِّ ُ َّ َ ِّ ِْ َّ ُ ْ ُ Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An-Nisa [4]: 65) D. Pemahaman Akhlak Menurut Taqiyuddin An-Nabhani 1. Akhlak adalah Bagian dari Syariat Islam (Hukum Syara’) An-Nabhani memandang bahwa akhlak merupakan bagian dari syariat Islam, yakni bagian dari perintah dan larangan Allah swt., bukan suatu sistem yang terpisah,[99] dengan alasan logis sebagai berikut: ‫بل هً من حٌث تفصٌل األحكام، أقل تفصٌال من غٌرها، ولم تجعل لَا فً الفقه بابا خاصا، فال نجد فً كتب الفقه التً تحوي‬ ّ ‫األحكام الشرعٌة بابا ٌسمى باب األخالق، ولم ٌعن الفقَاء والمجتَدون فً أمر األحكام الخلقٌة بالبحث واالستنباط‬ Bahkan sebenarnya akhlak merupakan rincian hukum-hukum yang paling sedikit detilnya dari hukum Islam yang lain. Karena itulah akhlak tidak akan terdapat pada suatu bab khusus dalam fiqih Islam. Maka wajar jika kita tidak menemukan di berbagai kitab fiqih yang berisi hukum-hukum syariah, di dalamnya tercantum bab yang disebut bab akhlak. Para fuqaha dan mujtahidin tidak menitikberatkan dan memfokuskan pembahasan mendalam dan instinbat (penggalian hukum) pada perkara hukum-hukum akhlak.[100] Artinya, secara metodologis Islam terbagi menjadi akidah dan syariat, dan posisi akhlak terdapat pada hukum syariat yang mengtur masalah personal. Alasannya karena di dalam khazanah atau referensi rujukan utama buku-buku fikih –para mujtahidin dan fuqaha– tidak terdapat bab khusus dengan nama bab akhlak, termasuk dalam kitab-kitab hadits pun demikian. Akhlak Islam juga sebenarnya, tidak akan mungkin dipisahkan dari bagian macam-macam hukum syara’, seperti ibadah, muamalah dan lain sebagainya, sehingga khusyu tidak akan nampak kecuali dalam shalat,

jujur dan amanah hanya akan muncul pada muamalah, jadi akhlak merupakan bagian dari hukum syariat, yakni perintah dan larangan Allah swt. yang akan nampak ketika melaksanakan amal perbuatan.[101] 2. Akhlak Islamiyah Bukan Berdasarkan Manfaat Materi Menurut An-Nabhani, seorang muslim ketika berakhlak bukan tuduk pada pertimbangan manfaat dan mudharat semata, namun tunduk pada syariah, yakni perintah dan larangan Allah swt. semata bukan yang lain, karena: ً‫وهذه األخالق القابمة على تبادل المنفعة تجعل صاحبَا منافقا: ٌكون باطنه غٌر ظاهرة، ألن الخلق عنده بنً على المنفعة، فٌدور ف‬ ‫نفسه حٌثما تدور المنفعة‬ Akhlak yang tegak berdasarkan pertukaran manfaat akan menjadikan pelakunya munafik, batinnya berbeda dengan zhahirnya, karena menurutnya akhlaq dibangun berlandaskan nilai manfaat. Sehingga jika ada manfaat yang didapat, maka akhlak akan terwujud dalam dirinya.[102] Karena adakalanya akhlak akan mendatangkan manfaat, namun adakalanya akhlak akan mendatangkan bahaya. Seperti akhlak pengemban dakwah ketika diwajibkan untuk menyatakan kebenaran dihadapan penguasa: َ ُ ُ َ َ ٍ َ َُ ََ ‫سٌد الشَدَاء حَ مْزةُ بْنُ ع ْبد ا ْلمطلِّبِ، ورَ جل قام إِلَى إِمَام جَ ابِر فأَمَرَ هُ و َنََاهُ فق َتله‬ َ ِ َ ُّ ُ ِّ َ َ َ ٌ ُ َ ٍ Penghulu para syuhadâ’ adalah Hamzah bin Abdi aI-Muthallib serta orang yang mendatangi penguasa zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian dia (penguasa tersebut) membunuhnya. (HR. Al-Hâkim, al-Mustadrak No. 4872) Jadi akhlak adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap muslim ketika melakukan aktivitas. Bukan karena materi, misalnya karena mengharapkan keuntungan dari kebaikannya, atau karena pertimbangan emosi, seperti pujian orang lain. Namun, sifatsifat tersebut direalisasikan dalam perbuatan, karena pertimbangan perintah, dan ketika ditinggalkan karena pertimbangan larangan Allah SWT. Sebab, merealisasikan sifat akhlak ini pada dasarnya melaksanakan hukum Allah SWT; baik yang wajib atau sunnah untuk dilaksanakan, dan kadang untuk meninggalkan apa yang haram atau makruh dikerjakan.[103] 3. Standar Baik dan Buruknya Akhlak Berdasarkan Hukum Syariah Mengenai standar baik dan buruknya akhlak, An-Nabhani berpendapat bahwa, seharusnya dikembalikan kepada hukum syariah, dan bukan kepada akal manusia, karena itu An-Nabhani beralasan:

‫وقد بٌّن الشرع الصفات التً ٌعتبر االتصاف بَا خلقا حسنا والتً ٌعتبر االتصاف بَا خلقا سٌبا، فحث على الحسن منَا ونَى عن‬ ‫السٌا: فحث على الصدق، واألمانة، وطالقة الوجه، والحٌاء، وبر الوالدٌن، وصلة الرحم، تفرٌج الكروبات، وأن ٌحب المرء ألخٌه‬ ّ ،‫ما ٌحب لنفسه، واعتبر كل ذلك ومثله حثا على اتباع أوامر َّللا. و نَى عن أضدادها كالكذب والخٌانة والحسد والفجور وأمثلَا‬ ‫واعتبر ذلك ومثله نٌَا عمَّا نَى َّللا عنه‬ Sejatinya syara’ telah menjelaskan sifat-sifat yang dianggap sebagai akhlak yang hasan (baik), dan juga akhlak yang buruk, syariat pun telah menganjurkan kepada setiap muslim agar berakhlak baik dan melarang untuk berakhlak buruk: maka diperintahkanlah seorang muslim agar jujur, amanah, bermuka ramah, malu, berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, membantu yang membutuhkan, mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, semua sifat tersebut dianjurkan untuk dilaksanakan karena mengikuti perintah Allah swt. Syara juga telah melarang kaum muslim dari sifat kebalikannya seperti dusta, khianat, hasad, durhaka dan sebagainya, semua sifat tersebut dilarang karena Allah swt. melarangnya.[104] Manusia ketika memutuskan suatu perkara itu baik atau buruk cenderung relatif dan kebenarannya tidak valid. Terlebih jika dikaitkan dengan pahala dan siksa, misalnya: berjihad atau berperang dijalan Allah swt. merupakan perkara yang melanggar HAM –menurut manusia– dan pasti manusia tidak ada yang mau melaksanakannya karena takut akan berdampak buruk bagi jiwa –seperti kematian-, akan tetapi Allah swt. justru menyatakan sebaliknya: ْ ُ َ َ ُ ُ ُ ِ ُ َ‫كتِبَ علَ ٌْكم ا ْلقِ َتال وهُو كرْ هٌ لَكم وعسَى أَنْ َتكرَ هُوا ش ٌْ ًبا وهوَ خ ٌْر لَكم وعسَى أَنْ تحبُّوا ش ٌْ ًبا وهُو شرٌّ لَكم وَّللا ُ ٌَعْ لَم وأَ ْنتم الَ َتعْ لَمون‬ َ ُْ َ َ َ َ َ َ ُْ ٌ َ ُ َ َ َ َ ُْ ُْ َ ُ ُُ َ Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.(TQS. Al-Baqarah [2]: 216) Dalam pendapat yang lain, An-Nabhani menjelaskan: ‫أماالحكم على األفعال واألشٌاء، من ناحٌة المدح والذم علٌَا فً الدنٌا، والثواب والعقاب علٌَا فً األخرة، فال شك أنه هلل وحده‬ ً‫ولٌس لإلنسان، أي هو للشرع ولٌس للعقل، وذلك كحسن اإلٌمان، وقبح الكفر، وحسن الطاعة، وقبح المعصٌة، وحسن الكذب ف‬ ،‫..…الحرب‬ Adapun hukum terhadap perbuatan dan benda, dari aspek pujian dan celaan di dunia, pahala dan siksa di akhirat, maka tidak ada keraguan bahwa Allah swt satu-satunya yang menetapkannya, bukanlah manusia. Artinya syara’lah yang memutuskan bukan akal manusia. Demikianlah, keimanan adalah baik, sedang kekufuran adalah buruk, taat adalah baik, sedang maksiat adalah buruk, serta berdusta ketika peperangan adalah baik (namun dalam kondisi normal berdusta adalah buruk).[105]

Karena itulah standar baik dan buruk maupun terpuji dan tercela dilihat dari aspek pahala dan siksa, semuanya kembali kepada Allah swt. bukan kepada akal manusia semata, atau kembali kepada dalildalil syariah, dalam konteks ini Allah swt. berfirman: ُِ ُْ ُْ ُ َُ َ ُْ ِ ِ ُ َ ٍ َ َ‫ٌَا أ ٌَََُّا الَّذٌِنَ ءَامنوا أَطِ ٌعُوا َّللاَ وأَطِ ٌعُوا الرَّ سُول وأُولًِ ْاألَمْر م ْنكم فإِنْ َت َنازعْ تم فًِ شًْ ء فردُّوهُ إِلَى َّللاِ والرَّ سُول إِنْ ك ْنتم تؤمنون‬ َ َ َ َ ُْ َ ِ ً‫باهلل وا ْلٌَوم ْاآلَخِر ذلِك خ ٌْر وأَحْ سنُ َتأْوٌال‬ َ َ ٌ َ َ َ ِ ِ ِ ْ َ ِ ِ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (TQS. An-Nisa [4]: 59)[106] 4. Akhlak Bukan Faktor Utama Pembentuk Masyarakat Dalam hal ini, An-Nabhani memberikan studi kritis terhadap pemahaman segelintir kaum muslimin, yang menganggap akhlak sebagai faktor utama pembentuk dan apalagi pembangkit masyarakat, AnNabhani berstatement: ُ ً‫واألخالق التؤثر فً قٌام المجتمع بحال، ألنّ المجتمع ٌقوم على أنظمة الحٌاة، وتؤثر فٌه المشاعر واألفكارُ، وأما الخلق فال ٌؤثر ف‬ ،‫قٌام المجتمع، وال فً رقٌه أو انحطاطه، بل المؤثر هو العرف العام الناجم عن المفاهٌم عن الحٌاة، والمسٌر للمحتمع لٌس الخلق‬ ‫وإنما هً األنظمة التً تطبق فٌه، واألفكار والمشاعر التً ٌحملَا الناس والخلق ذاته ناجم عن األفكار والمشاعر ونتٌجة لتطبٌق‬ ‫النظام‬ Sejatinya akhlak tidak mempengaruhi pembentukan kondisi masyarakat, sebab masyarakat tegak berdasarkan aturan kehidupan, yang mempengaruhinya adalah perasaan-perasaan dan pemikiranpemikiran. Adapun akhlak tidak mempengaruhi pembentukan mesyarakat, tidak juga mempunyai pengaruh (utama) terhadap ketinggian dan kemerosotan (suatu masyarakat), tapi sebenarnya yang mempunyai andil besar adalah kebiasaan umum yang terlahir dari mafahim (persepsi-persepsi) tentang kehidupan, dan yang mengontrol masyarakat bukanlah akhlak, namun aturan yang diterapkan ditengah-tengah mereka, beserta pemikiran dan perasaan yang diemban oleh manusia, jadi akhlak itu sendiri hakikatnya terlahir (terpengaruh) oleh pemikiran-pemikiran, perasaanperasaan, dan hasil penerapan aturan (syariah ditengah-tengah masyarakat).[107] An-Nabhani memandang bahwa untuk membentuk masyarakat yang bangkit, bukan sekedar akhlak yang dibutuhkan, namun lebih dari itu, yakni adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang diterapkan. Sehingga pembentukan akhlak semata untuk menghasilkan masyarakat yang beradab belum mencukupi, namun akan bisa terwujud jika faktor-faktor yang lain pun ikut diperhatikan seperti pemikiran masyarakat apakah sesuai akidah Islam atau tidak, perasaan masyarakat yakni

benci dan ridha masyarakat sudah berdasarkan syara’ atau tidak, dan apakah aturan yang digunakan oleh masyarakat tersebut adalah syariat Islam atau bukan. Karena itu An-Nabhani mendefinisikan masyarakat sebagai berikut: ‫مجموعة من الناس تنشأ بٌنَم عالقات دابمٌة … وكان المجتمع مؤلفا ً من اإلنسان، واألفكار، والمشاعر، واألنظمة … فحٌن تسود‬ ‫األفكار اإلسالمٌة والمشاعر اإلسالمٌة، وٌطبّق النظام اإلسالمً على الناس، ٌوجد المجتمع اإلسالمً … ولذلك لو كان جمٌع الناس‬ ‫مسلمٌن، وكانت األفكار التً ٌحملونَا رأسمالٌة دٌمقراطٌة، والمشاعر التً ٌحملونَا روحٌة كََنوتٌة أو وطنٌة، والنظام الذي ٌطبق‬ ‫علٌَم رأسمالٌا ً دٌمقراطٌاً، فإن المجتمع ٌكون مجتمعا ً غٌر إسالمً ولوكان جل أهْ لِه من المسلمٌن‬ ُّ ُ ِ Masyarakat adalah kumpulan manusia yang diantara mereka terdapat interaksi terus menerus…. Artinya masyarakat tersusun dari (kumpulan) manusia, pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan dan aturan…Maka ketika pemikiran dan perasaan Islam meliputi, dan aturan Islam diterapkan terhadap manusia, maka terbentuklah masyarakat Islam… Karena itulah, seandainya semua manusia itu muslim, sedangkan pemikiran-pemikiran yang diemban mereka adalah kapitalisme-demokrasi, perasaan-perasaan yang mereka emban adalah ruhiyyah mistisme (spiritualisme namun tidak memiliki aturan mengurusi urusan dunia) atau nasionalisme, dan aturan yang mereka terapkan adalah kapitalisme-demokrasi, maka sejatinya masyarakat yang terbentuk bukan masyarakat Islam walaupun pada faktanya disana banyak orang (yang mengaku) muslim.[108] Artinya akhlak itu sendiri lebih merupakan efek dari diterapkannya syariat terhadap masyarakat, dan bukan sebaliknya. Karena itu wajar jika al-Quran tidak terlalu banyak membicarakan akhlak kecuali al-Qalam ayat 4.[109] Karenanya dapat disimpulkan bahwa tonggak masyarakat adalah akidah yang melahirkan aturan kehidupan, sedang akhlak merupakan perwujudan pengaruh dari diterapkannya syariah ditengah masyarakat, karena itu akhlak adalah faktor pembangkit personal (individu), sedang akidah yang melahirkan sistem adalah faktor utama pembangkit kolektif (masyarakat). E. Metode Pembelajaran Akhlak Islamiyah 1. Memahami Standar Perbuatan Manusia Ketika manusia melakukan suatu perbuatan, tentu mereka akan dihisab atas perbuatan yang baik dan yang buruk di hari akhir kelak, karena itulah semestinya manusia harus sangat berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan di dunia ini, karena itu An-Nabhani membuat kaidah ushul, sebagai berikut: ُ ِ‫األَصْ ل فًِ أَفعَال ْاإلِ ْنسَان اَلتقٌد بحكم َّللا‬ ِ ْ ِ ْ ُ ِ ُ ُّ َ َّ ِ Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat hukum Allah swt.[110]

Maka haruslah bagi seorang muslim, sebelum bertindak untuk mengetahui hukum Allah swt. tentang perkara yang akan diperbuatnya. Misalnya seorang pemuda yang sudah matang dari aspek biologisnya, maka ketika pemuda tersebut akan menyalurkan kebutuhan biologisnya tersebut, dia wajib mengetahui hukum Allah swt. tentang perkara tersebut, dia tidak bisa melakukan hubungan suami-istri pada sembarang orang, namun semuanya harus melalui pernikahan: َ َ ََ َ َ ٌ ِ ُ ُ َ ِ ْ ‫ٌَا معْ شرَ الشبَاب مَن اسْ َتطاعَ م ْنكم ا ْلبَاءة ف ْل ٌَ َتزوَّ جْ ومنْ لَم ٌَسْ َتطِ عْ فعلَ ٌْه بِالصَّوم فإ َِّنه لَه وجَ اء‬ ِ ََ ْ َ َ ُُ ِ َ ِ ِ َّ Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang mampu berumah tangga, hendaklah menikah. Namun barangsiapa yang tidak mampu (menikah), hendaknya berpuasa, karena puasa merupakan perisai baginya. (HR. al-Bukhari, No. 4677) Dengan diajarkan kepada peserta didik, tentang hukum pernikahan tersebut, ini akan menghilangkan kerusakan moral akibat pergaulan bebas pada masa sekarang. Begitu pula dengan hukum yang lainnya, misalnya seperti saat berdagang, maka seorang muslim ketika akan bertransaksi dia harus mengetahui dulu hukum tentang ekonomi dalam Islam, sekaligus juga ketika transaksi tersebut sudah terjadi dia pun harus berbuat jujur dalam timbangan, sebagai mana Allah swt. berfirman: ْ َ ِّ َ ُ ٌ َ ُ ْ ُْ َُ ْ َ‫و ٌْل لِّ ْلمطففٌِنَ ، الَّذٌِنَ إِذا اك َتالُوا علَى الناس ٌَسْ َتوفُونَ ، وإِذا كالُوهم أَووَّ زنوهم ٌُخسِ رون‬ َ ُْ َ َ َ ِ َّ Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (TQS. Al-Muthaffifin [83]: 1-3) Dalam konteks ini, para peserta didik bisa memahami bahwa saat bertransaksi dia tidak boleh curang. Begitupun sebagaimana contoh akhlak seorang pejabat yang tidak boleh suap-menyuap dan berkhianat terhadap rakyat dengan janji-janji bohong, karena semuanya termasuk akhlak yang tercela: [111] ‫مِنْ أَخون ا ْلخٌَا َنة تِجَ ارَ ةُ ا ْلوالًِ فًِ رَ عٌتِه‬ ِ َّ ِ ِ ِ ِ َْ َ Khianat yang paling besar adalah bila seorang pejabat memperdagangkan rakyatnya (HR. athThabrani, Musnad No. 1291) ٌ ُْ ِْ ُ ‫الرِّ شوةُ فًِ ا ْلحكم كفر‬ َْ Menyuap dalam urusan pemerintahan adalah kufur (HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir No. 9002) .

Demikianlah ketika mengajarkan akhlak kepada seorang peserta didik, maka mereka harus memahami bahwa perbuatan mereka terikat dengan hukum syara’, karena itu segala macam tindakan yang akan mereka ambil memiliki konsekuensi logis pahala dan siksa di hari hisab kelak, [112] maka inilah yang harus dipahami oleh mereka, bahwa semua perbuatan mereka pasti memiliki hukum baik haram, sunnah, makruh, mubah, maupun wajib. artinya akhlak yang terpuji adalah akhlak yang dianjurkan maupun yang diwajibkan, sedang yang tercela adalah yang dilarang oleh Allah swt. dan Rasul-Nya saw. 2. Pengajaran Bersifat Aplikasi Praktis Kehidupan Sehari-hari An-Nahbani berpendapat –karena akhlak merupakan bagian dari amal shalih seorang muslim, maka metode pembelajarannya pun harus diajarkan secara praktis dan menjauhi teoritis yang akan melupakan mereka dari dunia nyata: ً‫أن ٌدرسَا الشخص دراسة عملٌة تعالج الواقع المدرك المحسوس، ال دراسة مبنٌة على فروض نظرٌة، حتى ٌصف األشًء كما ه‬ ‫على حقٌقتَا لٌعالجَا وٌغٌرها‬ Seseorang mempelajari tsaqafah (ilmu-ilmu ke-Islaman, termausk salah satunya akhlak Islami) sebagai sebuah studi praktis untuk memberi solusi bagi fakta yang terjangkau oleh indra, bukan pembelajaran yang didasari atas teoritis belaka, hingga seorang pelajar mensifati sesuatu seperti hakikatnya untuk memberi solusi dan merubahnya (faktanya).[113] Dalam konteks akhlak, ia merupakan kewajiban yang bersifat individu. Peran penting keteladanan dalam akhlak sangat signufikan, karena itu wajar Allah swt. mengutus Rasul saw. untuk mengajarkan secara praktis hukum-hukum Allah swt., termasuk wilayah akhlak, karena itulah Allah swt. berfirman: َ َ َ َ َ َ ٌ َ َ َْ ‫لَقد كانَ لَكم فًِ رَ سُول َّللاِ أُسْ وةٌ حَ س َنة لِمنْ كانَ ٌَرْ جُو َّللا وا ْلٌَوم ْاآلخِرَ وذكرَ َّللاَ كثٌِرً ا‬ َ ُْ َ ْ َ َ ِ Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (TQS. Al-Ahzab [33]: 21) (Menurut Ibnu Katsir) ayat mulia ini adalah pondasi utama dalam mengikuti teladan Nabi saw. pada aspek perkataan, perbuatan dan segala kondisi beliau, dan dengan ayat ini pun (Allah swt) memerintahkan manusia agar mengikuti keteladanan Nabi saw. pada perang ahzab berupa kesabaran, keteguhan, kewaspadaan, perjuangan, dan kesetiaan menanti pertolongan Allah swt.[114]

Jika dalam kondisi sulit dan kritis seperti perang ahzab saja, kaum muslimin scara praktis harus mengikuti Rasul saw., maka terlebih dalam kondisi aman pun mereka harus mengikuti teladan Rasul saw., kaum muslimin memang wajib mengikuti semua yang diperintahkan Rasul saw., dan bagi generasi awal mengikuti Rasul saw. dalam kondisi aman maupun peperangan dapat dijalani dengan mudah. Karena mereka sanggup melihat langsung perjuangan Rasul saw., tentu itu akan sangat berbekas dalam jiwa para shahabat. Karena itulah seorang pengajar, hendaknya mampu menghadirkan gambaran perilaku mulia yang dilakukan oleh para pengemban dakwah generasi awal murid Nabi saw. yakni para shahabat, kepada para peserta didiknya. Dan harus mampu memotivasi para peserta didik untuk beramal –minimal melaksanakan akhlak yang biasa dilakukan oleh para shahabat, meskipun secara kualitas tetap para shahabat yang terbaik–. Karena itu untuk memotivasi para peserta didik agar beramal dengan akhlak yang terpuji, mereka harus diberi gambaran pahala yang akan didapat dan keutamaannya, sebagai mana sabda saw: َ ِ َ َ ُ َ َ َ ُ َ ْ ِ ْ ْ ‫أَ َتدرُونَ أَيَّ أَهل ْاإلِ ٌْمَان أَفضل إِ ٌْمَـانا ً ؟ قال ُْوا ٌا َ رَ سُول َّللاِ اَ ْلمالَبِكة ؟ قالَ: هم كذلِك و ٌَحِق ذلِك لََم ومَا ٌَمنعَم وقد أَ ْنزلََم َّللا ُ ا ْلم ْنزلَة‬ َ ْ ُ َ َ َّ َ َ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ َ َْ َ ُْ ُ َْ ِ ْ َ َ ُْ َ ْ ‫الَّتًِ أَ ْنزلََم بََِا َبل غ ٌْرَ هم قال ُْوا : ٌا َ رَ سُول َّللاِ فاْألَ ْنبٌَِاء الَّذ ٌْنَ أَكرَ مَم َّللا ُ َتعَالَى بِالنـبُوَّ ة والرسَالَة ؟ قال : هم كذلِك و ٌَحِق لََم ذلِك ومَا‬ ِ ُ َ َ َ ْ ُ َّ َ َ َ َ ْ ُ َ َ ِ ِّ َ ِ ُّ َ ْ ُُ َ ْ ُْ َ َ ِ َ َ ِ َ ْ ْ ٌ َْ ‫ٌَم َنعَم وقد أَ ْنزلََم َّللا ُ ا ْلم ْنزلَة الَّتًِ أَ ْنزلََم بََا َبل غ ٌْرَ هم قال : قُ ْل َنا : فمنْ هم ٌَا رَ سُول َّللا ؟ قالَ: أَقوام ٌَأ ُْتونَ مِنْ َبعْ دِيْ فًِ أَصْ الَب‬ ِ َ َ ُْ َ ْ ُْ ََ ُ ُ َ َْ َ ُْ َ ْ ِ ُْ َ َ َُ ُِْ َ ْ ْ َ ِ ُِْ ْ َ ِ ‫الرِّ جَ ال فٌُؤمنونَ بًْ ولَم ٌَرَ ونًِْ و ٌَجدونَ ْالورَ قَ ا ْلمعلَّقَ ف ٌَعْ مَـل ُْونَ بمَا فِ ٌْه فَؤُ الَء أَفضل أَهْ ل ْاإلِ ٌْمَان إِ ٌْمَا ًنـا‬ َ ِ ُ َ ْ ِ ََ ِ ِ ِ “Tahukah kalian orang yang keimanannya paling utama?” Mereka menjawab: wahai Rasulullah, mereka adalah para malaikat. Baginda Bersabda: “Mereka juga termasuk, dan status itu berhak untuk mereka, dan tiada yang dapat menghalangi mereka, sementara Allah telah memberikan kepada mereka kedudukan yang telah Allah tempatkan mereka dalam kedudukan itu. Tetapi yang aku maksud selain mereka.” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah mereka adalah para Nabi, yang telah dimuliakan oleh Allah dengan kenabian dan kerasulannya.” Baginda bersabda: “Mereka juga termasuk, dan status itu berhak untuk mereka, dan tiada yang dapat menghalangi mereka, sementara Allah telah memberikan kepada mereka kedudukan yang telah Allah tempatkan mereka dalam kedudukan itu. Tetapi yang aku maksud selain mereka.” Umar berkata: Kamipun bertanya: Jika begitu, siapakah mereka itu, wahai Rasulullah? Baginda bersabda: “Suatu kaum yang hidup setelah (zamanku) sebagai orang-orang yang kuat, mereka mengimaniku, sedangkan tidak pernah melihatku. Mereka menemukan kertas yang tergantung (Al-Quran dan As-Sunnah). Kemudian mereka melaksanakan isinya. Mereka inilah yang merupakan orang beriman yang terbaik keimanannya.” (HR. Al-Hakim, al-Mustadrak No. 7094) Dengan hadits tersebut, sejatinya para peserta didik yang lurus hatinya akan merasa terpanggil melaksanakan amal shalih dalam kehidupan mereka, karena mereka merasa spesial, yakni orang yang keimanannya terbaik, walau tidak menyamai shahabat. Para pengajar pun, bisa mempraktekan

bersama-sama para pelajarnya, tentang perkara-perkara yang bersifat amal shalih akhlak. Semua itu disesuaikan dengan usia para peserta didik, dari yang sederhana sampai yang kompleks, misalnya berbuat baik kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga, kepada guru, dan kawan-kawan sekelasnya. Namun ingat bahwa dalam pelaksanaannya, manusia kadang-kadang melakukan kesalahan. Karena itu perlu juga mereka dimotivasi untuk bertaubat ketika berbuat amal yang tercela dan tidak putus terhadap rahmat Allah swt, sebagaimana al-Quran dan Hadits berikut: َ ْ َ ‫ومنْ ٌَعْ مل سُوءًا أ َْو ٌَظلِم َنفسه ثم ٌَسْ َتغفِر َّللاَ ٌَجد َّللاَ غفُورً ا رَ حٌِمًا‬ ِِ َ َ َّ ُ ُ َ ْ ْ ْ ِ ْ Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. An-Nisâ‘ *4+: 110) ُْ ْ ْ ِ َ ْ ْ َ ُ ْ َ ُ ْ ٍ َْ َ ‫والَّذِي َنفسِ ً بِ ٌَدهِ، لَو لَم تذنِبُوا، لَذهَبَ َّللا ُ بِكم، ولَجَ اء بِقوم ٌُذنِبونَ ، ف ٌَسْ َتغفِرونَ َّللاَ َتعَالَى فٌَغفِرْ لََم‬ َ ُْ َ ُْ Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika saja kalian tidak pernah berbuat dosa, pasti Allah sudah melenyapkan kalian, kemudian mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa. Kemudian mereka memohon ampun kepada Allah (atas dosa-dosa yang mereka perbuat), lalu Allah pun akan mengampuni mereka. (HR. Muslim, No. 4936) BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian pemahaman An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak diatas, maka penulis menarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut: Menurut An-Nabhani akidah dan iman bermakna sama yakni: Pembenaran secara pasti atau bulat, yang diimani sesuai dengan kenyataan, dan berdasarkan dalil, baik berupa dalil akli maupun nakli. Akidah Islam adalah iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt., sedangkanpembuktian keimanan untuk objek yang terindra dalilnya bersifat akli, seperti keimanan akan eksistensi Allah, al-Quran, Nabi saw. dan Qadha’ maupun Qadar. Adapun untuk objek ghaib, maka dalil pembuktiannya adalah nakli, yakni menukil dari al-Quran dan Hadits mutawatir. Menurut An-Nabhani Akhlak adalah sifat yang wajib dimiliki oleh seorang muslim ketika melakukan aktivitas. Akhlak adalah bagian syariat Islam, ia tidak berdasarkan kepentingan materi, baik dan

buruk akhlak dikembalikan kepada syariah, dan akhlak bukan faktor utama pembentuk masyarakat namun ia hanya faktor pembentuk dan penguat individu. Metodologi pembelajaran Akidah, menurut An-Nabhani adalah: Mempelajari secara mendalam hakikatnya, meyakini dan berbuah pengamalan. Sedangkan untuk Akhlak adalah: Memahami standar perbuatan manusia dan aplikasi praktis dalam keteladanan kehidupan sehari-hari. B. Saran-saran Penelitian ini masih perlu pembahasan yang lebih komprehensif, mendalam dan membutuhkan ketelitian yang tinggi. Karena itulah kepada peneliti selanjutnya diharapkan agar bisa melakukan penelitian yang lebih baik, berupa pendalaman terhadap objek penelitian tersebut. Pendalaman pada aspek teoritis, berupa referensi yang lebih beragam dengan objektifitas tinggi. Adapun pendalaman pada aspek praktis, berupa penggalian pesan intelektual terhadap makna akidah dan akhlak dalam refleksi kehidupan umat Islam dewasa ini, termasuk kepada civitas akademik. Melakukan pengujian konsep yang telah ditemukan, bisa dilakukan ketika penelitian ini telah diperdalam oleh peneliti selanjutnya, setelah itu kajian konsep yang telah matang bisa langsung diwacanakan dan diaplikasikan kepada kaum intelektual, termasuk civitas akademik. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’ân dan Terjemahnya, Departemen Agama RI. An-Nabhâni, Taqiyuddîn. 2001. Nizhâm al-Islâm, cet. VI (mu’tamadah). t.tp. Min Mansyûrât Hizb atTahrir. . 1994. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Juz Awwal, cet. IV. Beirut: Dâr al-Ummah. . 2005. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Juz ats-Tsâlits, cet. III (mu’tamadah). Beirut: Dâr al-Ummah. (PDF Document) . 2006. At-Tafkîr (Hakekat Berfikir, alih bahasa oleh: Taqiyuddin as-Siba’i), cet. II. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.

. 1989. Mitsâq al-Ummah, t.tp. t.p. (PDF Document) . 2001. Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, cet. VI (mu’tamadah). t.tp. Min Mansyûrât Hizb at-Tahrir. . 2001. At-Takatul al-Hizbiy, cet. IV (mu’tamadah). t.tp. Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr. Abdurrahman, Hafidz. 2004. Diskursus Islam Politik Spiritual, cet. I. Bogor: al-Azhar Press. . 2004. Menyoal Akidah atau Khilafah (rubrik soal jawab), Majalah Dakwah al-Wa’ie No. 49. 01 September 2004. Ali al-Hasan, Muhammad. 2007. Al-Manâr fi ‘Ulûm al-Qur’ân (Pengantar Ilmu-ilmu al-Quran, alih bahasa oleh: Mahbubah), cet. I. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. Al-Jurjani, Ali bin Muhammad. t.t. At-Ta’rifat, t.tp. t.p. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ast-Tsani) An-Nawawi Al-Jawi, Muhammad. t.t. Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Semarang: Maktabah Karya Toha Putra. . t.t. Mirqâh Shu’ûd at-Tasdîq Fi Syarh Sulam at-Tawfîq, Semarang: Maktabah Karya Toha Putra. Abdul Lathif, Ali. 1422 H. At-Tawhid li an-Nasyiah wa al-Mubtadi’in, cet.I, Wijarah asy-Syu’un alIslamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) Al-Humaid Al-Atsariy, Abdul. 1422 H. Al-Wajiz fi ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih, cet. I, Wijarah asySyu’un al-Islamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) ‘Athiyat, Ahmad. 2006. Ath-Tharîq (Jalan Baru Islam, alih bahasa oleh: Dede Koswara), cet. II. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. Ath-Thabariy, Abu Ja’far. 2000. Al-Jâmi’ al-Bayân Fi Ta’wîl al-Qur’ân, juz. XXIII. cet. I, (editor: Muhammad Syakir), t.tmp: Muassasah ar-Risalah. (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) Al-Mahally & As-Suyuthi, Imamayn. t.t. Tafsîr Jalâlayn, juz. II. t.tp. t.p. (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) Bisri, Cik Hasan. 2001. Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi: Bidang Ilmu Agama Islam, cet. I. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Faizh Almath, Muhammad. 2003. Qabasun Min Nuri Muhammad saw (1100 Hadits Terpilih, alih bahasa oleh: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. XIX. Jakarta: Gema Insani Press.

Hasan, Al-Humashi. M. 1999. Tafsîr wa Bayân Mufradât al-Qur’ân, cet. I. Beirut: Muassasah al-Îmân. Husain Abdullah, Muhammad. 1990. Dirâsât fi al-Fikr al-Islâmiy, cet. I. ’Amman: Dâr al-Bayâriq. . 2003. Mafahim Islamiyah (alih bahasa oleh: M. Romli), cet. I. Bangil-Jatim: al-Izzah. Hatimah dkk, Ihat. 2007. Penelitian Pendidikan, cet. I. Bandung: UPI Press Hizbut Tahrir. 2005. Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, alih bahasa oleh: Ust. Yasin), cet. II. Jakarta Selatan: HTI Press. Ibn Shalih Al-Utsaimin, Muhammad. t.t. Nubdzah fi al-’Aqidah al-Islamiyyah, t.tp. t.p. Ibnu Katsir, Abu Fida. 1999. Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Juz. VIII. cet. VIII, (editor. Muhammad Salamah), t.tp: Dar ath-Thayyibah. (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) Ibn Khalil, Syaikh ‘Atha. 1998. Taysîr al-Wushûl Ila al-Ushûl, cet. III, Beirut: Dar al-Ummah. Ismâil, Muhammad. 1958. al-Fikr al-Islâmiy, Beirut: Likutubah al-Wa’yi. Ismail Yusanto, M., Rahmat Kurnia, M., Riza Rosadi, M., Sigit Purnawan, M., Arif Yunus, M., & Karebet Widjajakusuma, M. 2004. Menggagas Pendidikan Islami, cet. I. Bogor: al-Azhar Press. Magfur W, Muhammad. 2002. Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, cet. I. Bangil – Jatim: al-Izzah. Mansur, Hasan, Al-Wahab Khairudin, A. & ‘Anani, Musthafa. t.t. Ad-Dîn al-Islâmiy juz alAwwal,Gontor – Ponorogo: Dar as-Salam. Qal’ah Jiy, Muhammad. 1988. Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, cet. II, Beirut: Dar an-Nafa’is. (AlMaktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) Syukriy, Yûsuf Farhât. 2000. Mu’jam at-Tullâb (’arabiy-’arabiy), cet. I. Beirut: Dâr al-Kutub al’Ilmiyyah. Samarah, Ihsan. 2003. at-Ta’rîf bi asy-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni (Syaikh Taqiyuddin, Meneropong Perjalanan Spiritual dan Dakwahnya. Alih bahasa oleh: M. Siddiq al-Jawi), cet. II. Bogor: Al-Azhar Press. Sulaiman Al-Asyqar, Umar. 2005. Asmâ’ al-Husnâ al-Hâdiyah ila Allah wa al-Ma’rifah bihi (Al-Asma AlHusna, alih bahasa: Syamsuddin & Hasan Suaidi), cet. II, Jakarta: Qisthi Press.

Tim LDK (Lembaga Dakwah Kampus). 2007. Materi Dasar Islam: Islam Mulai dari Akar ke Daunnya,cet. I. Bogor: Al-Azhar Press. Tim Penulis Hizbut Tahrir Indonesia. 2002. Menegakkan Syariat Islam, cet. I. t.tp: Hizbut Tahrir Indonesia. Warson, Munawwir. 2002. al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, cet. XXV. Surabaya: Pustaka Progresif. Yasin, Abu. 2004. Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Khilafah. Alih bahasa oleh: Ahmad Fahrurozy), cet. I. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.

[1] Hafidz Abdurrahman, Menyoal Akidah atau Khilafah (rubrik soal jawab), Majalah Dakwah alWa’ie No. 49 01/09/2004. [2] Dr. M. Faiz Almath, Qabasun Min Nur Muhammad saw (ed. Indonesia: 1100 Hadits Terpilih, alih bahasa: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. 19, Gema Insani Press – Jakarta 2003, hlm. 260 [3] Ibid. hlm. 267 [4] Dikutip dari buletin remaja Gaul Islam, edisi. 006/ Thn I. hlm. 2-3 [5] Asy-Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, Nubdzah fi al-’Aqidah al-Islamiyyah, t.p, t.t. hlm. 2 [6] Al-Imam Muhammad an-Nawawi al-Jawi, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 5 [7] Ibid, hlm. 5 [8] Al-Jurjani, at-Ta’rifat, t.p. t.t. hlm. 6 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) [9] Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, op. cit., hlm. 5 [10] Taqiyuddin An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet. VI, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir – t.p, 2001. hlm. 129 [11] Dr Muhammad Hasan al-Humashi, Tafsîr wa Bayân Mufradât al-Qur’ân, Muassasah al-Îmân – Beirut, cet.1, 1999, hlm. 277 [12] Dr. M. Faiz Almath, op, cit., hlm. 19

[13] Ali Ibn Muhammad Al-Jurjani, at-Ta’rifat, hlm. 19 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) [14] Hafidz Abdurrahman MA, Diskursus Islam Politik Spiritual, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2004. hlm. 1 [15] Abu Yasin, Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Khilafah, alih bahasa: Ahmad Fahrurozi), cet I, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor, 2004, hlm. 11 [16] Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 269 [17] Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Rencana Penlitian dan Penulisan Skripsi – Bidang Ilmu Agama Islam, cet. I. PT. RajaGrafindo Persada – Jakarta, 2001. hlm. 60 [18] Ibid, hlm. 63 [19] Ihat Hatimah dkk, Penelitian Pendidikan, cet. I. UPI Press – Bandung, 2007. hlm. 192-193 [20] Ibid, hlm. 192 [21] Ibid. [22] Cik Hasan Bisri, op. cit., hlm. 65-66 [23] Ibid, hlm. 66-67 [24] Dr. Yusuf Syukriy Farhat. Mu’jam at-Tullâb, cet. I. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah – Beirut, 2000. hlm. 401 [25] Muhammad Maghfur W. MA., Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, cet. I, Al-Izzah – Bangil, 2002. hlm. 244 [26] Hafidz Abdurrahman MA, Islam Politik Spiritual, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2004. hlm. 116 [27] Abdul Lathif, at-Tawhid li an-Nasyiah wa al-Mubtadi’in, cet.I, Wijarah asy-Syu’un al-Islamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H. hlm. 20 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar AtsTsani) [28] Al-Humaid al-Atsariy, al-Wajiz fi ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih, cet. I, Wijarah asy-Syu’un alIslamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H. hlm. 11 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)

[29] Dr. Muhammad Qal’ajiy, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, cet. II, Dar an-Nafa’is – Beirut, 1988. hlm. 75 dan 318 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) [30] Al-Imam Muhammad an-Nawawi al-Jawi, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t. hlm. 8 [31] Al-Jurjani, at-Ta’rifat, t.p. t.t. hlm. 12 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) [32] Dr. Muhammad Husain Abdullah, Dirâsât fi al-Fikr al-Islâmiy, cet. I. Dâr al-Bayâriq’ – ‘Amman, 1990, hlm. 35 [33] Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 114 [34] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 35-36 [35] Tim LDK (Lembaga Dakwah Kampus), Materi Dasar Islam; Islam Mulai dari Akar ke Daunnya, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2007. hlm. 3 [36] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 32 [37] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 22 (CD al-Maktabah Asy-Syamilah versi 2) [38] Ibid. [39] Ibid, hlm. 24 [40] Ibid, hlm. 39; lebih lanjut lihat: Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Asmâ’ al-Husnâ al-Hâdiyah ila Allah wa al-Ma’rifah bihi (Al-Asma Al-Husna, alih bahasa: Syamsuddin & Hasan Suaidi), cet. II, Qisthi Press – Jakarta, 2005 hlm. 1-367; Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja (lihat: ar-Riyâd al-Badî’ah), Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 3 – 6 [41] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 27 [42] Tim Penulis, Menegakkan Syariat Islam, cet. I. Hizbut Tahrir Indonesia – t.tp. 2002. hlm. 8 [43] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 43 [44] Ibid [45] Ibid. hlm.44

[46] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 38; Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, op. cit., hlm. 7; Abdul Lathif, op. cit., hlm. 45; Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, Nubdzah fi al-’Aqidah al-Islamiyyah, t.p, t.t. hlm. 29-30 [47] Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, op. cit., hlm. 9-10 [48] Al-Humaid al-Atsariy, op. cit., hlm. 58 [49] Dr. Muhammad Ali Al-Hasan, Al-Manar fi Ulum al-Qur’an (Pengantar Ilmu-ilmu al-Quran, alih bahasa: Mahbubah), cet. I, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor, 2007. hlm. 5 [50] Dr. M. Faiz Almath, op, cit., hlm. 19 [51] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 55; Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, op. cit., hlm. 10-11 [52] Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Syarh Sulam at-Tawfîq, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 8 [53] Ibid, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t. hlm.11 [54] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t (lihat terjemah Depag). [55] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 55 [56] Ibid, hlm. 68; lihat juga: Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t. hlm. 11-12 [57] Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, op. cit., t.p, t.t. hlm. 44-45 [58] Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 130 [59] Ibid, hlm. 137 [60] Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 139 [61] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 39-40 [62] Tim LDK (Lembaga Dakwah Kampus), Materi Dasar Islam; Islam Mulai dari Akar ke Daunnya, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2007. hlm. 49; Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 161 [63] Ibid, hlm. 146 [64] Dr. Yusuf Syukriy Farhat. op. cit., hlm. 168

[65] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, t.p. t.t. juz II. hlm. 253 (CD Maktabah Asy-Syamilah versi 2) [66] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 52 [67] Abu Ja’far Ath-Thabariy, al-Jâmi’ al-Bayân Fi Ta’wîl al-Qur’ân, cet. I, (ed, Muhammad Syakir), Muassasah ar-Risalah, t.tp., 2000. juz. XXIII. hlm. 528-529 (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) [68] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, cet. 8, (ed. Muhammad Salamah), Dar ath-Thayyibah, t.tp., 1999. juz. VIII. hlm. 189 (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani) [69] Imamayn Al-Mahally dan As-Suyuthi, Tafsîr Jalâlayn, t.p. t.t., juz. II. hlm. 273 (Maktabah AsySyamilah Ishdar Ats-Tsani) [70] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 9 [71] Ibid, hlm. 52 [72] Lihat: Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Syarh Sulam at-Tawfîq, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 58-85 [73] Lihat: Hizbut Tahrir, Min Muqawwimat an-Nafsiyah al-Islamiyyah – Bab Akhlak (Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah. terj: Ust. Yasin), cet.II, Hizbut Tahrir Indonesia – Jakarta Selatan, 2005. hlm. 254 -288 [74] Dr. M. Faiz Almath, Qabasun Min Nur Muhammad saw (ed. Indonesia: 1100 Hadits Pilihan, alih bahasa: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. 19, Gema Insani Press – Jakarta 2003, hlm. 138 [75] Lihat: Hizbut Tahrir, op. cit., hlm. 288-362 [76] Ihsan Samarah, At-Ta’rîf bi asy-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni (Syaikh Taqiyuddin, Meneropong Perjalanan Spiritual & Dakwahnya. terj: M. Siddiq al-Jawi), cet. II. 2003. al-Azhar Press-Bogor. hlm. 535 [77] Ibid [78] An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 29 [79] Ibid, Mitsâq al-Ummah, t.p., 1989. hlm. 4 (PDF Document) [80] An-Nabhani, op. cit., hlm. 29

[81] Ibid, hlm. 30-31 [82] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 6-7 [83] Ibid, hlm. 11 [84] Ibid, hlm. 9-10 [85] Ibid, hlm. 11 [86] Yang dimaksud ahlussunnah disini bukan ahlussunnah mazhab fikih [87] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 15 [88] Ibid, hlm. 16 [89] Ibid, hlm. 16-18 [90] Ibid [91] Ibid, hlm. 17 [92] Ibid, hlm. 17-18 [93] Ibid, hlm. 19-21 [94] Ibid, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 3031; Lihat: At-Tafkir (Hakikat Berfifir, terj: As-Siba’i), cet. II, PTI – Bogor, 2006. hlm. 77-78 [95] Lihat: An-Nabhani, op. cit., hlm. 112-120; Lihat: Muhammad Maghfur W. MA. op. cit. hlm. 265266; Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, op. cit., hlm. 12-13 [96] Lihat: An-Nabhani, op. cit., hlm. 38-43 [97] Ibid, hlm. 268 [98] Ibid, hlm. 268 [99] An-Nahbani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 129 [100] Ibid. hlm. 129-130

[101] Dr. M Husain Abdullah, Dirâsât fi al-Fikr al-Islâmiy, cet. I. Dâr al-Bayâriq’ – ‘Amman, 1990, hlm. 53 [102] An-Nabhani, Mafahaim Hizb at-Tahrir, cet. VI, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir – t.tp. 2001. hlm. 40 [103] Hafidz Abdurrahman MA., Diskursus Islam Politik Spiritual, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2004. hlm. 88 [104] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 131 [105] An-Nabhani, asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Juz ats-Tsâlits, cet. Dar al-Ummah – Beirut. 2005. hlm. 15-16 [106] Lihat: Atha’ Ibn Khalil, Taysîr al-Wushûl Ila al-Ushûl, cet. III, Dar al-Ummah – Beirut. 1998. hlm. 11 [107] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.p., 2001. hlm. 130 [108] An-Nabhani, Mitsaq al-Ummah, t.p., 1989. hlm. 14-15; Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.p., 2001. hlm. 36-37 [109] Lihat: Ahmad ‘Athiyat, ath-Thariq (Jalan Baru Islam, terj: Dede Koswara), cet. II, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor. 2006. hlm. 36 [110] An-Nabhani, asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Juz ats-Tsâlits, cet. Dar al-Ummah – Beirut. 2005. hlm. 25 [111] Dr. M. Faiz Almath, Qabasun Min Nur Muhammad saw (ed. Indonesia: 1100 Hadits Terpilih, alih bahasa: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. 19, Gema Insani Press – Jakarta 2003, hlm. 166 [112] Lihat: QS. Al-Zalzalah [99]: ayat 7-8 [113] Ibid, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 268 [114] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, cet. 8, (ed. Muhammad Salamah), Dar ath-Thayyibah, t.tp., 1999. juz. VI. hlm. 391

http://blog.re.or.id/pendidikan-islam-indonesia.htm

Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yg memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dgn nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yg bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yg bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adl mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9). Menurut Hasan Langgulung yg dikutip oleh Djamaluddin (1999) Pendidikan Islam ialah pendidikan yg memiliki empat macam fungsi yaitu :

 

Menyiapkan generasi muda utk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yg akan datang. Peranan ini berkaitan erat dgn kelanjutan hidup masyarakat sendiri. Memindahkan ilmu pengetahuan yg bersangkutan dgn peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. Memindahkan nilai-nilai yg bertujuan utk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yg menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban. Mendidik anak agar beramal di dunia ini utk memetik hasil di akhirat.

An-Naquib Al-Atas yg dikutip oleh Ali mengatakan pendidikan Islam ialah usaha yg dialakukan pendidik terhadap anak didik utk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yg benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yg tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan (1999: 10 ). Adapun Mukhtar Bukhari yg dikutip oleh Halim Soebahar mengatakan pendidikan Ialam adl seganap kegiatan yg dilakukan seseorang atau suatu lembaga utk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yg mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam (2002: 12). Pendidikan Islam adl jenis pendidikan yg pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita utk mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yg tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yg diselenggarakan (Soebahar 2002: 13). Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dgn pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yg pasti relasi Islam dgn pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yg sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis. Yang dimaksud dgn pendidikan Islam disini adl : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yg dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Keduamerupakan usaha yg sistimatis pragmatis dan

metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yg utama menurut ukuran islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik utk diarahkan mengikuti jalan yg islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Menurut Fadlil Al-Jamali yg dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adl proses yg mengarahkan manusia kepada kehidupan yg baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dgn kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18). Maka dgn demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. oleh krn itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif. Pendidikan islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar ( 1992 : 64) memiliki beberapa prinsip yg membedakan dgn pendidikan lain Prinsip Pendidikan islam antara lain :
     

Prinsip tauhid Prinsip Integrasi Prinsip Keseimbangan Prinsip persamaan Prinsip pendidikan seumur hidup dan Prinsip keutamaan.

Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
 

Untuk membentuk akhlakul karimah. Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental. Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.

Dengan demikian sesungguh pendidikan islam tak saja fokus padaeducation for the brain tetapi juga pada education for the heart. Dalam pandangan islam krn salah satu misi utama pendidikan islam adl dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin maka ia harus seimbang sebab bila ia hanya focus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional maka manusia tak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri bahkan yg terjadi adl demartabatisasi yg menyebabkan manusia kehilangan identitas dan mengalami kegersangan psikologis dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik.

Demikian pula pendidikan islam mesti bersifat integralitik arti ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh kesatuan jasmani rohani kesatuan intelektual emosional dan spiritual kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya. Dasar-Dasar Pendidikan Islam Dalam tiap aktivitas manusia sebagai instrumen transformasi ilmu pengetahuan budaya dan sebagai agen perubahan sosial pendidikan memerlukan satu landasan fundamental atau basik yg kuat. Adapaun dasar yg di maksud adl dasar pendidikan Islam suatu totalitas pendidikan yg wajib bersandar pada landasan dasar sebagaimana yg akan dibahas dalam bagian berikut ini. Pendidikan Islam baik sebagai konsep maupun sebagai aktivitas yg bergaerak dalam rangka pembinaan kepribadian yg utuh paripurna atau syumun memerlukan suatu dasar yg kokoh. kajian tentang pendidikan Islam tak lepas dari landasan yg terkait dgn sumber ajaran Islam yaitu :

Al-Qur’an

Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yg disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam terkandung ajaran pokok yg dapat dikembangkan utk keperluan aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yg terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah. Oleh krn itu pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam sesuai dgn perubahan dan pembaharuan (Darajat 2000: 19).

As-Sunnah

As-Sunnah ialah perkataan perbuatan ataupun pengakuan rasul. Yang di maksud dgn pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yg diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yg juga sama berisi pedoman utk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek utk membina umat menjadi manusia seutuh atau muslim yg bertaqwa. Untuk itulah rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama. Maka dari pada itu Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebab mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahami termasuk yg berkaitan dgn pendidikan. As-Sunnah juga berfungsi sebagai penjelasan terhadap beberapa pembenaran dan mendesak utk segara ditampilkan yaitu :
 

Menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an yg bersifat umum Sunnah mengkhitmati Al-Qur’an.

 Ijtihad

Ijtihad adl istilah para fuqoha yaitu berfikir dgn menggunakan seluruh ilmu yg dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam utk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yg ternyata belum ditegaskan hukum oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dgn demikian ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh krn itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yg sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rasul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yg diperlukan dalam kehidupan yg senantiasa berkembang. Ijtihad dalam bidang pendidikan sejalan dgn perkembangan zaman yg semakin maju bukan saja dibidang materi atau isi melainkan juga dibidang sistem. Secara substansial ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yg diolah oleh akal yg sehat dari para ahli pendidikan Islam.

Al-Kaun

Maksud Allah menurunkan ayat kauniyah tersebut yaitu utk mempermudah pemahaman manusia terhadap lingkungan sekitar sehingga dapat mengakui kebesaran seperti yg terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar- Ra’du ayat 3 yg berbunyi : ‫وهىالدي هد االرض وجعل فيها روسي واًهرا وهي كل الثورت جعل فيها زوجيي اثٌيي يغش اليل الٌهارا ى في دلك اليت لقىم يتفكروى‬ Arti : “Dialah Tuhan yg mmembentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung sungai-sungai padanya. Dia menjadikan pada buah-buahan berpasang-pasangan. Allah jualah yg menutup malam kepada siang sesungguh pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yg berfikir” (Depag RI 1992: 368). Berdasarkan firman Allah di atas bahwa tiap orang berfikir harus mengakui kebesaran Allah dan hal ini relevan utk dijadikan dasar dalam pendidikan Islam.

Unsur-Unsur Pendidikan Islam
Dalam implementasi fungsi pendidikan Islam sangat memperhatikan aspek yg mendukung atau unsur yg turut mendukung terhadap tercapai tujuan dari pendidikan Islam. Adapun aspek atau unsur-unsur tersebut adl : Tujuan Pendidikan Islam Menurut Fadlil Aljamali yg dikutip oleh Abdul Halim Soebahar sebagai berikut: Pertama mengenalkan manusia akan peran diantara sesama (makhluk) dan tanggung jawab pribadinya. Kedua mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawab dalam tata hidup bermasyarakat. Ketiga mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka utk mengetahui hikmah diciptakan serta memberi kemungkinan utk mengambil manfaat dari alam tersebut. Keempat mengenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya (2002: 19-20). Tujuan pendidikan Islam adl tercapai pengajaran pengalaman pembiasaan penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya. Sedangkan menurut Zakiyah Dzarajat tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk insan kamil dgn pola taqwa dapat mengalami perubahan bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Oleh krn itulah tujuan pendidikan Islam itu berlaku selama hidup utk menumbuhkan memupuk mengembangkan memelihara dan

mempertahankan (2000: 31). Hal yg sama pula tujuan pendidikan Islam dapat dipahami dalam firman Allah : ‫يايهاالديي اهٌىا اتقىا هللا حق تقاته والتوىتي اال واًتن هسلوىى‬ Arinya: “Wahai orang-orang yg beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dgn sebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. 3 Ali-Imron: 102). Sedangkan menurut Ahmad D Marimba yg dikutip oleh Halim Soebahar menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adl terbentuk muslim. Dan menurut bahwa tujuan demikian identik dgn tujuan hidup tiap muslim. Adapun tujuan hidup seorang muslim adl menghamba kepada Allah yg berkaitan dgn firman Allah Surat Dzariat 56 yg berbunyi : ‫وها خلقت الجي واالًس اال ليعبدوى‬ Artinya: “Dan aku (Allah) tak menjadikan jin dan manusia melainkan utk meyembah-Ku”. Dan masih banyak beberapa deskripsi yg membahas tentang tujuan pendidikan Islam seperti konfrensi pendidikan di Islamabat tahun 1980 bahwa pendidikan harus merealisasikan cita-cita (idealitas) Islam yg mencakup pengembangan kepribadian muslim secara meyeluruh yg harmonis yg berdasarkan fisiologis dan psikologis maupun yg mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkeseimbangan sehingga terbentuklah muslim yg paripurna berjiwa tawakkal secara total kepada Allah sebagaimana firman Allah Surat AlAn’am Ayat 162: ‫قل اى صالتي وًسكي وهحياي وهواتي هلل رب العلويي‬ Artinya: “Katakanlah sesungguh sholatku ibadahku hidup dan matiku hanya bagi Allah tuhan semesta alam”. Imam Al-Ghazali mengatakan tujuan penddikan Islam adl utk mencapai kesempurnaan manusia yg mendekatkan diri kepada Allah dan bertujuan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (Langgulung 1990: 9). Maka dari pada itu tujuan pendidikan Islam dirumuskan dalam nilai-nilai filosofis yg termuat dalam filsafat pendidikan Islam. Seperti hal dasar pendidikan maka tujuan pendidikan Islam juga identik dgn tujuan Islam itu sendiri. Sedanagkan Muhammad Umar Altomi Al-Zaibani yg dikutip oleh Djalaluddin mengatakan tujuan pendidikan Islam adl utk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak ul karimah. Tujuan ini sama dan sebangun dgn tujuan yg akan dicapai oleh misi kerasulann yaitu “membimbing manusia agar berakhlak mulia”. (2001: 90). Maka dgn demikian tujuan pendidikan Islam yg berdasarkan deskripsi di atas ialah menanamkan makrifat (kesadaran) dalam diri manusia terhadap diri sendiri selaku hamba Allah kesadaran selaku anggota masyarakat yg harus meiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap pembinaan masyarakat serta menanamkan kemampuan manusia utk menolak memanfaatkan alam sekitar sebagai ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia dan kegiatan ibadah kepada pencipta alam itu sendiri. Telah kita ketahui bahwa dasar tujuan pendidikan ditiap-tiap negara itu tak selalu tetap sepanjang masa melainkan sering mengalami perubahan atau pergantian sesuai dgn perkembangan zaman. Perumbakan itu biasa akibat dari pertentangan pendirian atau ideologi yg ada di dalam masyarakat itu. Hal ini kerap kali terjadi lebih-lebih di negara yg belum stabil kehidupan politik krn mereka yg bertentangan itu sadar bahwa pendidikan memegang peranan penting sebagai generasi bangsa. Sama hal dgn tujuan pendidikan di Indonesia juga selalu berubah-rubah dikarenakan kondisi dan situasi politik tak stabil. Hal ini dibuktikan mulai tahun 1946 sampai pada saat sekarang. Dengan demikian tujuan pendidikan itu tak berdiri sendiri melainkan dirumuskan atas dasar hidup bangsa dan cita-cita negara dimana pendidikan itu dilaksanakan. Sikap hidup itu dilandasi oleh norma-norma yg berlaku bagi semua warga negara.

Oleh krn itu sebelum seseorang melaksanakan tugas kependidikan terlebih dahulu harus memahami falsafah negara supaya norma yg melandasi hidup bernegara itu tercermin dari tindakan agar pendidikan yg diarahkan kepada pembentukan sikap posisi pada peserta didik hendak diperhitungkan pula bahwa manusia muda (peserta didik) itu tak hidup tersendiri di dunia ini. (Uhbiyati dkk2001:135-139) Subjek Pendidikan. Subjek pendidikan adl orang yg berkenaan langsung dgn proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik. Peserta didik yaitu pihak yg merupakan sabjek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan atau tindakan pendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah utk membawa anak didik kepada tujuan pendidikan Islam yg dicita-citakan. Dalam PPRI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa yg dimaksud dgn peserta didik ialah anggota masyarakat yg berusaha menyumbangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yg tersedia pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu (PPRI 2005: 12) Pendidik atau guru secara implisit ia telah merelakan diri dan memikul dan menerima sebagai tanggung jawab pendidikan yg terpikul dipundak pada oranag tua. (Dzarajat 2000: 39) Maka dgn demikian subjek pendidikan Islam yaitu semua manusia yg berproses dalam dunia pendidikan baik formal informal maupunn nonformal yg sama-sama mempunyai tujuan demi pengembangan kepribadiannya. Sehingga menjadi insan yg mempunyai kesadaran penuh kepada sang pencipta. Kurikulum dan Materi. Hal penting yg perlu diketahui dalam proses belajar mengajar atau proses kependidikan dalam suatu lembaga adl kurikulum (Arifin 2003: 77). Menurut Soedijarto yg dikutip Khoiron Rosyadi mengartikan kurikulum dgn lima tingkatan yaitu : Pertama sebagai serangkaian tujuan yg menggambarkan berbagai kemapuan (pengetahuan dan keterampilan) nilai dan sikap yg harus dikuasi dan dimiliki oleh peserta didik dari suatu satuan pendidikan; Kedua sebagai kerangka materi yg memberikan gambaran tentang bidangbidang study yg harus dipelajari oleh peserta didik utk menguasai serangkaian kemampuan nilai dan sikap yg secara institusional harus dikuasi oleh peserta didik setelah selesai dgn pendidikannya; Ketiga diartikan sebagai garis besar materi dari suatu bidang study yg telah dipilih utk dijadikan objek belajar. Keempat adalah sebagai panduan dan buku pelajaran yg disusun utk menunjang terjadi proses belajar mengajar; Kelima adalah sebagai bentuk dan jenis kegiatan belajar mengajar yg dialami oleh para pelajar termasuk di dalam berbagai jenis bentuk dan frekuensi evaluasi yg digunakan sebagai bagian terpadu dari strategi belajar mengajar yg direncanakan utk dialami para pelajar. (2004:243-244) Oleh karena itu kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan tak hanya dijabarkan serangkai ilmu pengetahuan yg harus diajarkan pendidik kepada anak didik dan anak didik mempelajarinya. Tetapi juga segala kegiatan yg bersifat kependidikan yg dipandanag perlu krn mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Adapun pengertian kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa latin (suatu jarak yg harus ditempuh dalam pertandingan olahraga) kemudian yg dialihkan kedalam pengertian pendidikan menjadi suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Dan secara termenologi adl menunjukkan tentang segala mata

pelajaran yg dipelajarai dan juga semua pengalamam yg harus diperoleh serta semua kegiatan yg harus dilakukan anak. Adapun yg dimaksud dgn materi yaitu bahan-bahan atau pengalaman belajar ilmu agama Islam yg disusun sedemikian rupa atau disampaikan kepada anak didik.(Uhbiyati 2003:14) Materi dan kurikulum memiliki keterkaitan atau depadensi yg sangat erat mengingat meteri merupakan integral dari kurikulum dan pencapaian materi secara sistematis diatur dari kurikulum yg ada.

Metode Media dan Evaluasi.
Metode merupakan instrumen dan dipergunakan utk mencapai tujuan pendidikan atau alat yg mempunyai fungsi ganda yaitu yg bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Oleh krn itu metode dalam pengertian litter lijk kata “metode” berasal dari bahasa grek yg terdiri dari meta yg berarti “melalui” dan hodos yg berarti “jalan”. Jadi metode berarti “jalan yg dilalui”. Maka secara umum metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu cara itu mungkin baik mungkin tak baik. atau metode juag dapat diartikan sebagai cara utk mempermudah pemberian pemahaman kepada anak didik mengenai bahan atau materi yg diajarkan. (Arifin 2003: 89) Media menurut gerlach dan Eli sebagaimana dikutip Azhar Arsyad mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adl manusia materi atau kejadian yg membangun kondisi yg membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan keterampilan atau sikap (1996: 1) Jadi media merupakan sarana utk mempermudah pemberian pemahaman kepada peserta didik. Evaluasi adl suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi utk menilai keputusan-keputusan yg dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran atau yg dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adl merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku peserta didik berdasarkan standar perhitungan yg bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologis dan spritual religius krn manusia hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yg tak hanya bersikap religius melainkan juga berilmu dan berketarampilan yg sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya. (Arifin 2000: 238) Dalam rangka menilai keberhasilan pendidikan evaluasi penting utk dilaksanakan krn sebagai pijakan dalam merumuskan program-program pendidikan yg akan datang.

Lingkungan
Lingkungan ialah sesuatu yg berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya. Lingkungan sendiri dibagi tiga macam yg keseluruhan mendukung terhadap proses implementasi pendidikan Islam misal masyarakat sekolah dan keluarga. Dalam arti yg luas lingkungan mencakup iklim dan geografis tempat tinggal adat istiadat pengetahuan pendidikan dan alam. Oleh krn itu dgn kata lain lingkungan ialah segala sesuatu yg tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yg senantiasa berkembang. (Daradjat 2000: 63)

Jadi lingkungan mempunyai andil yg sangat signifikan dalam pembentukan sikap dan prilaku yg pada akhir akan membentuk sebuah kepribadian yg sempurna.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->