ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM

I. PENDAHULUAN
Sebagai salah satu ilmu keIslaman, Ilmu kalam sangat lah penting untuk di ketahui oleh seorang muslim yang mana
pembahasan dalam ilmu kalam ini adalah pembahasan tentang aqidah dalam Islam yang merupakan inti dasar agama,
karena persolaan aqidah Islam ini memiliki konsekwensi yang berpengarah pada keyakinan yang berkaitan dengan
bagaimana seseorang harus meng interpretasikan tuhan itu sebagai sembahannya hingga terhindar dari jurang kesesatan
dan dosa yang tak terampunkan (syirik).
Memang, Pembahasan pokok dalam Agama Islam adalah aqidah, namun dalam kenyataanya masalah pertama yang
muncul di kalangan umat Islam bukanlah masalah teologi, melainkan persolaan di bidang politik, hal ini di dasari dengan
fakta sejarah yang menunjukkan bahwa, titik awal munculnya persolan pertama ini di tandai dengan lahirnya kelompok-
kelompok dari kaum muslimin yang telah terpecah yang kesemuanya itu di awAli dengan persoalan politik yang kemudian
memunculkan kelompok-kelompok dengan berbagai Aliran teologi dan berbagai pendapat-pendapat yang berbeda-beda.
Dalam pembahasan Ilmu Kalam, kita dihadapkan pada barbagai macam gerakan pemikiran-pemikiran besar yang
kesemuanya itu dapat dijadikan sebagai gambaran bahwa agama Islam telah hadir sebagai pelopor munculnya pemikiran-
pemikiran yang hingga sekarang semuanya itu dapat kita jumpai hampir di seluruh dunia. Hal ini juga dapat dijadikan alasan
bahwa Islam sebagi mana di jumpai dalam sejarah, bukanlah sesempit yang dipahami pada umumnya, karena Islam
dengan bersumber pada al—Quran dan As-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas.
II. ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM
Problematika teologis di kalangan umat Islam baru muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib (656-661M)
yang ditandai dengan munculnya kelompok dari pendukung Ali yang memisahkan diri mereka karena tidak setuju dengan
sikap Ali yang menerima Tahkim dalam menyelesaikan konfliknya dengan muawiyah bin abi Sofyan, gubernur syam, pada
waktu perang siffin. Kelompok ini selanjutnya dikenal dengan Kelompok Khawarij.
Lahirnya Kelompok Khawarij ini dengan berbagai pendapatnya selanjutnya, menjadi dasar kemunculan kelompok baru
yang dikenal dengan nama Murji‘ah. lahirnya Aliran teologi inipun mengawali kemunculan berbagai Aliran-Aliran teologi
lainnya. Dan dalam perkembangannya telah banyak melahirkan berbagai Aliran teologi yang masing-masing mempunyai
latar belakang dan sejarah perkembangan yang berbeda-beda.Berikut ini akan dibahas tentang pertumbuhan dan
perkembangan Aliran tersebut berikut pokok-pokok pikiran nya masing-masing.
1. Aliran Khawarij.
1. Pengertian dan latar belakang timbulnya Aliran khawarij
Aliran Khawarij merupakan Aliran teologi tertua yang merupakn Aliran pertama yang muncul dalam teologi Islam. Menurut
ibnu Abi Bakar Ahmad Al-Syahrastani, bahwa yang disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak
dan telah di sepakati para jema‘ah, baik ia keluar pada masa sahabat khulafaur rasyidin, atau pada masa tabi‘in secara
baik-baik. Menurut bahasa nama khawarij ini berasal dari kata ―kharaja‖ yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada
mereka yang keluar dari barisan Ali.[1] Kelompok ini juga kadang kadang menyebut dirinya Syurah yang berarti ―golongan
yang mengorbankan dirinya untuk allahdi samping itu nama lain dari khawarij ini adalah Haruriyah, istilah ini berasal dari
kata harura, nama suatu tempat dekat kufah, yang merupakan tempat mereka menumpahakn rasa penyesalannya kapada
Ali bin abi Thalib yang mau berdamai dengan Mu‘awiyah.[2]
Kelompok khawarij ini merupakan bagian dari kelompok pendukung Ali yang memisahkan diri, dengan beralasan ketidak
setujuan mereka terhadap sikap Ali bin abi Thalib yang menerima tahkim (arbitrase) dalam upaya untuk menyelesaikan
persilisihan dan konfliknya dengan mu‘awiyah bin abi sofyan, gubernur syam, pada waktu perang siffin.
Latar belakang ketidak setujuan mereka itu, beralasan bahwa tahkim itu merupakan penyelesaian masalah yang tidak di
dasarkan pada ajaran Al-Qur‘an, tapi ditentukan oleh manusia sendiri, dan orang yang tidak Memutuskan hukum dengan
al-quran adalah kafir. Dengan demikian, orang yang melakukan tahkim dan merimanya adalah kafir.[3]
Atas dasar ini, kemudian golongan yang semula mendukung Ali ini selanjutnya berbalik menentang dan memusuhi Ali
beserta tiga orang tokoh pelaku tahkim lainnya yaitu Abu Musa Al-Asyari, Mu‘awiyah bin Abi Sofyan dan Amr Bin Ash.Untuk
itu mereka berusaha keras agar dapat membunuh ke empat tokoh ini, dan menurut fakta sejarah, hanya Ali yang berhasil
terbunuh ditangan mereka.
1. Tokoh-tokoh Khawarij
Diantara tokoh-tokoh khawarij yang terpenting adalah :
1. Abdullah bin Wahab al-Rasyidi, pimpinan rombongan sewaktu mereka berkumpul di Harura (pimpinan Khawarij
pertama)
2. Urwah bin Hudair
3. Mustarid bin sa‘ad
4. Hausarah al-Asadi
5. Quraib bin Maruah
6. Nafi‘ bin al-azraq (pimpinan al-Azariqah)
7. Abdullah bin Basyir
8. Zubair bin Ali
9. Qathari bin Fujaah
10. Abd al-Rabih
11. Abd al Karim bin ajrad
12. Zaid bin Asfar
13. Abdullah bin ibad[4]
C. Sekte-sekte dan ajaran pokok Khawarij
Terpecahnya Khawarij ini menjadi beberapa sekte, mengawali dan mempercepat kehancurannya dan sehingga Aliran ini
hanya tinggal dalam catatan sejarah. Sekte-Sekte tersebut adalah: [5]
1. Al-Muhakkimah
2. Al-Azariqah
3. Al-Najdat
4. Al-baihasyiah
5. Al-Ajaridah
6. Al-Sa‘Alibah
7. Al-Ibadiah
8. Al Sufriyah
Secara umum ajaran-ajaran pokok Khawarij adalah:
1. Orang Islam yang melakukan Dosa besar adalah kafir; dan harus di bunuh.
2. Orang-orang yang terlibat dalam perang jamal (perang antara Aisyah, Talhah, dan zubair, dengan Ali bin abi
tahAlib) dan para pelaku tahkim—termasuk yang menerima dan mambenarkannya – di hukum kafir;
3. Khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat. [6]
4. Khalifah tidak harus keturunan Arab. Dengan demikian setiap orang muslim berhak menjadi Khalifah apabila suda
memenuhi syarat-syarat.
5. Khalifah di pilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syari‘at islam, dan di
jatuhi hukuman bunuh bila zhalim.
6. Khalifah sebelum Ali adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa kekhalifahannya Usman r.a dianggap
telah menyeleweng,
7. Khalifah Ali dianggap menyelewang setelah terjadi Tahkim (Arbitrase).[7]
1. 2. Aliran Murji’ah
1. Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Murji‘ah
Aliran Murji‘ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap
orang yang melakukan dosa besar, sebagai mana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Mereka menangguhkan penilaian
terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan tuhan, karena hanya tuhanlah yang mengetahui
keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan
mereka. Orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada tuhansealin allah dan Nabi
Muhammad sebagai Rasulnya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap
mangucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap
mukmin, bukan kafir.[8]
Pandangan mereka itu terlihat pada kata murji‘ah yang barasal dari kata arja-a yang berarti menangguhkan, mengakhirkan
dan memberi pengharapan.
Hal-hal yang melatarbelakangi kehadiran murji‘ah antara lain adalah : [9]
1. adanya perbedaan pendapat antara Syi‘ah dan Khawarij; mengkafirkan pihak-pihak yang ingin merebut kekuasaan
ali dan mengakfirkan orang- yang terlihat dan menyetujui tahkim dalam perang siffin.
2. adanya pendapat yang menyalahkan aisyah dan kawan-kawan yang menyebabkan terjadinya perang jamal.
3. adanya pendapat yang menyalahkan orang yang ingin merebut kekuasaan Usman bin Affan. [10]
1. Ajaran-ajaran Murji‘ah
1. Ajaran-ajaran pokok murji‘ah dapat disimpulan sebagai berikut: .
2. Iman Hanya membenarkan (pengakuan) di dalam Hati
3. Orang islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir. Muslim tersebut tetap mukmin selama ia
mengakui dua kalimat syahadt.
4. Hukum terhadap perbuatan manusia di tangguhkan hingga hari kiamat[11]
1. Tokoh dan sekte dalam murji‘ah
Dalam perkembangannya, Murji‘ah mengalami berbagai perbedaan pendapat dikalangan pengikutnya yang mendasari
lahirnya aliran-aliran,


selanjutnya, aliran murji‘ah ini
terpecah menjadi beberapa macam sekte, ada yang moderat, ada pula yang ekstrem.
Tokoh murji‘ah Moderat antara lain adalah hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusufdan
beberapa ahli hadits[12], yang berpendapat, bagaimanapun besarnya dosa seseorang, kemungkinan mendapat ampunan
dari tuhan masih ada. Sedangkan yang ekstrem antara lain ialah kelompok Jahmiyah, pengikut Jaham bin Shafwan.
Kelompok ini berpendapat, sekalipun seseorang menyatakan dirinya musyrik, orang itu tidak dihukum kafir.[13]
1. 3. Aliran Qadariyah
1. Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Qadariyah
Qadariyah berakar pada qadara yang dapat berarti memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan.Sedangkan
sebagai suatu aliran dalam ilmu kalam, qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan
penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. Dalam paham
qadariyah manusia di pandang mempunyai qudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal
dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar dan qada Tuhan[14]
Mazhab qadariyah muncul sekitar tahun 70 H(689 M). Ajaran-ajaran tentang Mazhab ini banyak memiliki persamaan
dengan ajaran Mu‘tazilah sehingga Aliran Qadariyah ini sering juga disebut dengan aliran Mu‘tazilah, kesamaan keduanya
terletak pada kepercayaan kedunya yang menyatakan bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan dan perbuatannya,
dan tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia ini, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan
qadar Allah SWT.[15]
Aliran ini merupakan aliran yang suka mendahulukan akal dan pikiran dari pada prinsip ajaran Al -Qur‘an dan hadits sendiri.
Al-Qur‘an dan Hadits mereka tafsirkan berdasarkan logika semata-mata. Padahal kita tahu bahwa logika itu tidak bisa
menjamin seluruh kebenaran, sebab logika itu hanya jalan pikiran yang menyerap hasil tangkapan panca indera yang serba
terbatas kemampuannya. Jadi seharusnya logika dan akal pikiranlah yang harus tunduk kepada Al-Qura‘n dan Hadits,
bukan sebaliknya.[16]
Tokoh utama Qadariyah ialah Ma‘bad Al-Juhani dan Ghailan al Dimasyqi. Kedua tokoh ini yang mempersoalkan tentang
Qadar.
1. Pokok-pokok ajaran Qadariyah
Menurut Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Fajrul Islam halaman 297/298, pokok-pokok ajaran qadariyah adalah :
1. Orang yang berdosa besar itu bukanlah kafir, dan bukanlahmukmin, tapi fasik dan orang fasikk itu masuk neraka
secara kekal.
2. Allah SWT. Tidak menciptakan amal perbuatan manusia, melainkan manusia lah yang menciptakannyadan karena
itulah maka manusia akan menerima pembalasan baik (surga) atas segala amal baiknya, dan menerima balasan
buruk (siksa Neraka) atas segala amal perbuatannya yang salah dan dosakarena itu pula, maka Allah berhak
disebut adil.
3. Kaum Qadariyah mengatakan bahwa Allah itu maha esa atau satu dalam ati bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat
azali, seprti ilmu, Kudrat, hayat, mendengar dan melihat yang bukan dengan zat nya sendiri. Menurut mereka
Allah SWT, itu mengetahui, berkuasa, hidup, mendengar, dan meilahat dengan zatnya sendiri.
4. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk,
walaupun Allah tidak menurunkan agama. Sebab, katanya segala sesuatu ada yang memiliki sifat yang
menyebabkan baik atau buruk. [17]
Selanjutnya terlepas apakah paham qadariyah itu di pengaruhi oleh paham luar atau tidak, yang jelas di dalam Al -Qur‘an
dapat di jumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan paham qadariyah .
Dalam surat Al Ra‘ad Ayat 11, di jelaskan
ž cÎ ( #$!© w ç Éi tóã $ tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rç Éi tóã $ tB ö’ÍkŦàÿRr'Î/ 3
―Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan diri mereka sendiri‖
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 29, allah menegaskan
È@è%ur , ysø9$# `ÏB óOä3În/§ ` ) yJsù uä!$x© `ÏB÷sã ù=sù ÆtBur uä!$x© ö àÿõ3u ù=sù
―Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa
yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir‖.
Dengan demikian paham qadariyah memilki dasar yang kuat dalam islam, dan tidaklah beralasan jika ada sebagian orang
menilai paham ini sesat atau kelaur dari islam
1. 4. Aliran Jabariyah
1. Pengerian, dan latar belakang Kemunculan jabariyah.
Nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Sedangkan menurut al-Syahrastani bahwa
Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebutkepada
Allah.[18] Dan dalam bahasa inggris disebut dengan fatalism atau predestination, yaitu paham yang menyatakan bahwa
perbuatan manusia di tentukan sejak semula oleh qada dan qadar tuhan.
Menurut catatan sejarah, paham jabariyah ini di duga telah ada sejak sebalum agama Islam datangke masyarakat arab.
Kehidupan bangsa arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah
memberi
kan pengaruh besar terhadap hidup mereka, dengan keadaan yang sangat tidak
bersahabat dengan mereka pada waktu itu. Hal ini kemudian mendasari mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa, dan
menyebankan mereka semata-mata tunduk dan patuh kepada kehendak tuhan.[19]
Munculnya mazhab ini berkaitan dengan munculnya Qadariyah. Daerah kelahirannya pun berdekatan. Qadariyah muncul di
irak, jabariyah di khurasan. Aliran ini pada mulanya di pelopori oleh al-ja‘ad bin dirham. Namun, dalam perkembangannya.
Aliran ini di sebarluaskan oleh jahm bin Shafwan. Karena itu aliran ini terkadang disebut juga dengan Jahmiah.
1. Pokok-pokok paham jabariyah.
Selanjutnya, yang menjadi dasar yang sejajar dengan pemahaman pada aliran jabariyah ini dijelaskan Al -Qur‘an
diantaranya :
Dalam surat al-saffat ayat 96 :
ª!$#ur ö/ä3s)n=s $ } tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ
―Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu‖.
Dalam surat al Insan ayat 30, dinyatakan
$ tBur tbrâä!$t±n@ HwÎ) br& uä!$t±o ª!$# 4 ÇÌÉÈ.
―Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah‖.
Jaham bin Shafwan mempunyai pendirian bahwa manusia itu terpaksa, tidak mempunyai pilihan dan kekuasaan. Manusia
tidak bisa berbuat lain dari apa yang telah di lakukannya. Allah SWT, telah mentakdirkan ats dirinya segala amal perbuatan
yang mesti di kerjakannya, dan segala perbuatan itu adalah ciptaan allah, sama seperti apa yang dia ciptakan pada benda-
benda yang tidak bernyawa. Oleh karena itu, jaham menginterpretasikan bahwa pahala dan siksa merupakan paksaan
dalam arti bahwa allah telah mentakdirkan seseorang itu baik sekaligus memberi pahala dan allah telah mentakdirkan
seseorang itu berdosa sekaligus juga menyiksanya.
Sehingga, dalam realisasinya, orang yang termakan paham ini bisa menjadi apatis dan beku hidupnya, tidak bisa berbuat
apa-apa, selain berpangku tangan, menunggu takdir Allah semata-mata dan berusahapun tidak. Karena mereka telah
berkeyakinan bahwa allah telah mentakdirkan segala sesuatu, dan manusia tidak bisa mengusahakan sesuatu itu.
Disisi lain, aliran ini tetap berpendapat bahwa manusia tetap mendapat pahala atau siksa karena perbuatan baik atau jahat
yang dilakukannya. Paham bahwa perbuatan yang dilakukan manusia adalah sebenarnya perbuatan tuhan tidak menafikan
adanya pahala dan siksa.
Berkenaan dengan itu perlu dipertegas bahwa Jabariyah yang di kemukakan Jaham bin Shafwan adalah paham yang
ekstrem. Sementara itu terdapat pula paham jabariyah yang moderat, seperti yang diajarkan oleh Husain Bin Muhammad
al.Najjar dan Dirar Ibn ‗Amr.
Menurut Najjar dan Dirar, bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan Manusia baik perbuatan itu positif maupun negatif
Tetapi dalam melakukan perbuatan itu manusia mempunyai bagian daya yang diciptakan dalam diri manusia oleh tuhan,
mempunyai efek, sehingga manusia mampu melakukan perbuatanitu.Daya yang diperoleh untuk mewujudkan perbuatan-
perbuatan inilah yang kemudian disebut Kasb atau acquisition.[20]
Menurut paham ini manusia tidak hanya bagaikan wayang di gerakkan oleh dalang, tetapi manusia dan Tuhan terdapat
kerja sama dalam mewujudkan suatu perbuatan, dan manusia tidak semata-mata di paksa dalam melaksanakan
perbuatannya.
1. 5. Aliran Mu’tazilah
1. Pengertian dan latar belakang munculnya Mu‘tazilah
Perkataan Mu‘tazilah berasal dari kata Í‘tizal‖ yang artinya ―memisahkan diri‖, pada mulanya nama ini di berikan oleh orang
dari luar mu‘tazilah karena pendirinya, Washil bin Atha‘, tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya, Hasan al -
Bashri. Dalam perkembangan selanjutnya, nama ini kemudian di setujui oleh pengikut Mu‘tazilah dan di gunakan sebagai
nama dari bagi aliran teologi mereka.
Aliran mu‘tazilah lahir kurang lebih 120 H, pada abad permulaan kedua hijrah di kota basyrah dan mampu bertahan sampai
sekarang, namun sebenarnya, aliran ini telah muncul pada pertengahan abad pertama hijrah yakni diisitilahkan pada para
sahabat yang memisahkan diri atau besikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik. Yakni pada peristiwa meletusnya
perang jamal dan perang siffin, yang kemudian mendasari sejumlah sahabat yang tidak mau terlibat dalam konflik tersebut
dan memilih untuk menjauhkan diri mereka dan memilih jalan tengah.
Disisi lain, yang melatarbelakangi munculnya kedua Mu‘tazilah diatas tidaklah sama dan tidak ada hubungannya karena
yang pertama lahir akibat kemelut politik, sedangkan yang kedua muncul karena didorong oleh persoalan aqidah.[21]
Dalam perkembangannya, Mu‘tazilah pimpinan Washil bin Atha‘ lah yang menjadi salah satu aliran teologi dalam islam.
1. Pokok-pokok ajaran Mu‘tazilah
Ada lima prinsip pokok ajaran Mu‘tazilah yang mengharuskan bagi pemeluk ajaran ini untuk memegangnya, yan dirumuskan
oleh Abu Huzail al-Allaf :
1. al Tauhid (keesaan Allah)
2. al ‗Adl (keadlilan tuhan)
3. al Wa‘d wa al wa‘id (janji dan ancaman)
4. al Manzilah bain al Manzilatain (posisi diantara posisi)
5. amar mauruf dan Nahi mungkar.[22]
1. Tokoh-tokoh Mu‘tazilah
Diantara para tokoh-tokoh yang berpengaruh pada Mu‘tazilah yaitu:
1.
1. Washil bin Atha‘
2. Abu Huzail al-Allaf
3. Al Nazzam
4. Al-Jubba‘i[23]
1. 6. Ahlussunah Wal- Jamaah
1. Pengertian dan para tokoh serta pemikiran-pemikiran mereka.
Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW, dan jemaah berarti sahabat nabi. Jadi
Ahlussunnah wal jama‘ah mengandung arti ―penganut Sunnah (ittikad) nabi dan para sahabat beliau.[24]
Ahlussunnah sering juga disebut dengan Sunni dapat di bedakan menjadi 2 pengertian, yaitu khusus dan umum, Sunni
dalam pengertian umum adalah lawan kelompok Syiah, Dalam pengertian ini, Mu’tazilah sebagai mana juga Asy‘ariyah
masuk dalam barisan Sunni. Sunni dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalambarisan Asy‘ariyah dan
merupakan lawan Mu‘tazilah.[25]
Aliran ini, muncul sebagai reaksi setelah munculnya aliran Asy’ariyah dan maturidiyah,dua aliran yang menentang ajaran-
ajaran Mu‘tazilah.
Tokoh utama yang juga merupakan pendiri mazhab ini adalah Abu al hasan al Asy‘ari dan Abu Mansur al Maturidi.
a. Abu al Hasan al Asy‘ari
1. Pokok-pokok pemikirannya
 Sifat-sifat Tuhan. Menurutnya, Tuhan memiliki sifat sebagaiman di sebut di dalam Alqur‘an, yang di sebut sebagai
sifat-sifat yang azali, Qadim, dan berdiri diatas zat tuhan. Sifat-sifat itu bukanlah zat tuhan dan bukan pula lain dari
zatnya.
 Al-Qur‘an, Manurutnya, al-Quran adalah qadim dan bukan makhluk diciptakan.
 Melihat Tuhan, menurutnya, Tuhan dapat dilihat dengan mata oleh manusia di akhirat nanti.
 Perbuatan Manusia. Menurutnya, perbuatan manusia di ciptakan tuhan, bukan di ciptakan oleh manusia itu
sendiri.
 Antrophomorphisme
 Keadlian Tuhan, Menurutnya, tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di
akhirat. Sebab semua itu marupakan kehendak mutlak tuhan sebab tuhan maha kuasa atas segalanya.
 Muslim yang berbuat dosa. Menurutnya, yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat diakhir hidupnya tidaklah
kafir dan tetap mukmin.[26]
1. Abu manshur Al-Maturidi
1.Pokok-pokok pemikirannya :
 Sifat Tuhan. Pendapatnya sejalan dengan al Asy‘ari
 Perbuatan Manusia. Menurtnya, Perbuatan manusia sebenarnya di wujudkan oleh manusia itu sendiri, dan bukan
merupakan perbuatan tuhan.
 Al Quran. Pendapatnya sejalan dengan al Asy‘ari
 Kewajiban tuhan. Menurutnya, tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
 Muslim yang berbuat dosa. Pendapatnya sejalan dengan al Asy‘ari
 Janji tuhan. Menurutnya, janji pahala dan siksa mesti terjadi, dan itu merupakan janji tuhan yang tidak mungkin di
pungkirinya.
 Antrophomorphisme. [27]
1. 7. Aliran Syiah
1. Pengertian dan kemunculannya Syi‘ah
Secara bahasa Syi‘ah berarti pengikut. Yang dimaksud dengan pengikut disini ialah para pendukung Ali bin Abi Thalib.
Secara istilah Syi‘ah sering di maksudkan pada kaum muslimin yang dalam bidang spritual dan keagamaannya selalu
merujuk pada keturuan Nabi Muhammad SAW, atau yang sebut sebagai ahl al-bait.selanjutnya, istilah yiah ini untuk
pertama kalinya di tujukan pada para pengikut ali (syi‘ah ali), pemimpin pertama ahl- al bait pada masa Nabi Muhammad
SAW.
Para pengikut ali yang disebut syi‘ah ini diantaranya adalah Abu Dzar al Ghiffari, Miqad bin Al aswad dan Ammar bin
Yasir.[28]
Mengenai latar belakng munculnya aliran ini, terdapat dua pendapat, pertama menurut Abu Zahrah, Syi‘ah mulai muncul
pada akhir dari masa jabatan Usman bin Affankemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi
Thalib, Adapun menurut Watt, Syi‘ah bener-bener muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu‘awiyah yang
dikenal denganPerang siffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan ali terhadap arbitrase yang diatwarkan
Mu‘awiyah, pasukan Ali di ceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali –kelak di sebut Syi‘ah dan
kelompok lain menolak sikap Ali, kelak di sebut Khawarij.[29]
1. Pokok-Pokok Pikiran Syi‘ah[30]
Kaum Syi‘ah memiliki lima prinsip utama yang wajib di percayai oleh penganutnya. Kelima prinsip itu adalah :
1. al Tauhid
Kaum Syi‘ah mengimani sepenuhnya bahwa allah itu ada, Maha esa, tunggal, tempat bergantung, segala makhluk, tidak
beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang menyamainya. Dan juga mereka mempercayai adanya sifat-
sifat Allah.
1. al ‗adl
Kaum Syi‘ah mempunyai keyakinan bahwa Allah Maha Adil. Allah tidak melakukan perbuatan zhalim dan perbuatan buruk,
ia tidak melakukan perbuatan buruk karena ia melarang keburukan, mencela kezaliman dan orang yang berbuat zalim.
1. al Nubuwwah
Kepercayaan Syi‘ah terhadap para Nabi-nabi juga tidak berbeda dengan keyakinan umat muslim yang lain. Menurut
mereka, Allah mengutussejumlah nabi dan rasul ke muka bumi untnk membimbing umat manusia.
1. al imamah
Menurut Syi‘ah, Imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia sekaligus, ia pengganti rasul dalam
memelihara Syari‘at, melaksanakan Hudud, dan mewujudkan kebaikan dan ketentraman umat.
1. al ma‘ad
Ma‘ad berarti tempat kembali (hari akhirat), kaum Syi‘ah sangat percaya sepenuhnya akan adanya hari akhirat, bahwa hari
akhirat itu pasti terjadi.
1. 8. Aliran Salafiyah
1. Pengertian dan latar belakang munculnya Salafiyah
Secara bahasa salafiyah berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu, yang dimaksud terdahulu disini adalah orang-orang
terdahulu yang semasa Rasul SAW, para sahabat, para tabi‘in, dan tabitt tabi‘in. sedangakan salafiyah berarti orang-orang
yang mengikuti salaf.[31]
Istilah salaf mulai dikenal dan muncul beberapa abad abad sesudah Rasul SAW wafat, yaitu sejak ada orang atau golongan
yang tidak puas memahami al Qur‘an dan hadits tanpa ta‘wil, terutama untuk menjelaskan maksud-maksud tersirat dari
ayat-ayat al-Qur‘an sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah SWT.[32]
Orang yang termasuk dalam kategori salaf adalah orang yang hidup sebelum tahun 300 hijriah, orang yang hidup sesudah
tahun 300 H termasuk dalam kategori khalaf.
1. Tokoh-tokoh ulama salaf dan perkembangan Aliran salafiyah.
Tokoh terkenal ulama salaf adalah Ahmad bin Hambal. Nama lengkapnya, Ahmad, bin Muhammad bin Hambal, beliau juga
di kenal sebgai pendiri dan tokoh mazhab Hambali. .
Tokoh salafiyah yang terkenal lainnya adalah Taqiyuddin Abu al Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abd al salam bin
Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah al Hambali, atau yang lebih di kenal dengan nama Ibnu Taimiyah. Beliau merupakan
seorang teolog dan ahli Hukum yang banyak menghasilkan karya tulis.beliau juga ahli di bidang tafsir dan hadist.
Dalam perkembangannya, ajaran yang bermula pada Imam Ahmad bin Hanbal ini, selanjutnya di kembangkan oleh Ibnu
Taimiyah, kemudian di suburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab.dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara
Spodaris.
Pada abad ke 20 M gerakan ini muncul dengan dimensi baru. Tokoh-tokohnya adalah Jamaluddin al Afgani, Muhammad
Abduh dan Rasyid Ridha.
Salafiyah baru al afgani ini terdiri dari 3 komponen pokok yakni :
1. Keyakinan bahwa kemajuan dan kejayaan umat Islam hanya mungkin di wujudkan jika mereka kembali kepada
ajaran Islam yang masih murni dan kembali pada ajaran Islam yang masih murni, dan meneladani pokok hidup
sahabat Nabi. Komponen pertama ini merupakan satu unsur yang di miliki oleh salfiyah sebelumnya.
2. perlwanan terhadap kolonialisme dan mominasi barat, baik politik, ekonomi, maupun kebudayaan.
3. pengakuan terhadap keunggulan barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Al Afgani dapat di katakan sebagai penganut salafiyah modern karena dalam rumusan pahamnya yang banyak meletakkan
unsur-unsur moderenismesebagai mana terlihat pada komponen 2 dan 3 diatas.
Syekh Muhammad Abduh adalah murid Al afgani dan Muhammad Rasyid Ridaha adalah murid dari Muhammad Abduh,
meskipun dalam beberapa hal antara dengan guru berbeda dalam banyak hal mereka sama.
III. PENUTUP
Dari uraian diatas, dapat kita pahami bahwa Islam telah hadir sebagai pelopor lahirnya pemikiran-pemikiran yang hingga
sekarang semuanya itu dapat kita jumpai hampir di seluruh dunia. Hal ini juga dapat dijadikan alasan bahwa Islam sebagi
mana di jumpai dalam sejarah, bukanlah sesempit yang dipahami pada umumnya, karena Islam dengan bersumber pada
al—Quran dan As-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas.
Sekarang, bagaimana kita menaggapi pemikiran-pemikiran tersebut yang kesemuanya memiliki titik pertentangan dan
persamaan masing-masing dan tentunya pendapat-pendapat mereka memiliki argumentasi-argumentasi yang bersumber
pada al-Qur‘an dan Hadits. Namun pendapat mana diantara pendapat-pendapat tersebut yang paling baik, tidaklah bisa kita
nilai sekarang. Kerana penilaian sesungguhnya ada pada sisi Allah yang akan diberikanNya di akhirat nanti.
Penilaiaan baik tidaknya suatu pendapat dalam pandangan manusia mungkin di lakukan dengan mencoba menghubungkan
pendapat tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam sejarah. Disisi lain, kita juga bisa menilai baik
tidaknya suatu pendapat atau paham dengan mengaitkannya pada kenyataan yang berlaku dimasyarakat dan dapat
bertahan dalam kehidupan manusia, dan juga pendapat tersebut banyak di ikuti oleh Manusia.
MAKALAH
ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM
Diajukan untuk Memenuhi Tugas
dalam Mata Pelajaran Ilmu Kalam
Disusun Oleh :
MUFDIL TUHRI
FIRMANSYAH
RIZKIAWAN HASRA PUTRA
RISKA TRIA WULANDARI
DINA EPRIANA
Guru Bidang Studi :
YESI NOFIA, S.PdI
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1
(MAN) 1 SUNGAI PENUH
TAHUN 2007
KATA PENGANTAR
Pertama tama penulis panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan rahmat, hidayah serta inayahNya yang
telah dilimpahkan kepada penulis sehingga makalah ini dapat di selesaikan, selanjutnya, Sholawat dan salam penulis
haturkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing manusia menuju jalan
kebenaran, Rahmatan lil ‘Alamin.
Makalah yang berjudul ―ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM‖ ini disusun untuk melengkapi tugas dalam mata pelajaran
Ilmu Kalam dan disampaikan pada diskusi dalam pembahasan Ilmu Kalam.
Selanjutnya, dalam penyusunannya makalah ini tentunya tidaklah luput dari kekurangan-kekurangan maka dari itu, Penulis
sangat mengharapkan saran dan kritikan dari yang sehat dari pembaca sekalian untuk lebih kesempurnaan makalah ini.
Sungai Penuh, Agustus 2007
PENULIS
DAFTAR PUSTAKA
Asmuni, Yusran, Ilmu Tauhid, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 1996
Nata, Abuddin, Ilmu kalam, Filsafat, dan tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1995
Rozak, Abdul, dkk . Ilmu kalam. Bandung:CV. Pustaka setia,2006.
Zainuddin, H, Ilmu Tauhid, Jakarta:PT Rineka Cipta, 1992
DAFTAR PUSTAKA

[1] Drs. Abuddin Nata, M.A, Ilmu kalam, Filsafat, dan tasawuf,. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995. Hal. 29
[2] Drs. H. M Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 1996. Hal.
[3] Ibid. Hal. XV
[4] Ibid, Hal. 104
[5] Drs. Abuddin Nata, op. cit. Hal. 30
[6] Drs. H. M. Yusran asmuni, op.cit. Hal. 105.
[7] DR. Abdul Rozak,M.Ag. dkk . Ilmu kalam. Bandung:CV. Pustaka setia,2006. Hal. 51et.seq
[8] Drs. Abuddin Nata. Op.cit . Hal. 33
[9] Drs. H.M Yusran Asmuni, op.cit. Hal. 106
[10] Ibid, Hal. 34
[11] Ibid, Hal. 106
[12] Drs. Abuddin Nata. Op.cit . Hal. 34
[13] Drs. H.M Yusran Asmuni, op.cit. Hal. 108
[14] Drs. Abuddin Nata, op.cit.Hal 36
[15] Drs. H.M. Yusran Asmuni, po.cit. Hal. 109
[16] Drs. H. Zainuddin, Ilmu Tauhid, Jakarta:PT Rineka Cipta, 1992. Hal. 45
[17] Ibid. hal. 47
[18] Drs. Abuddin Nata. Op.cit . Hal. 39
[19] Ibid. hal. 40
[20] Ibid. Hal. 42
[21] Drs. H. M. Yusran Asmuni. Op.cit.Hal 114
[22] Ibid, Hal. 115
[23] Ibid, Hal. 117 et seq
[24] Ibid. Hal. 121.
[25] DR. Abdul Rozak, M.Ag. Dkk, Op.Cit.Hal. 119.
[26] Drs. H.M. Yusran Asmuni, op. cit. Hal. 122 et seq.
[27] Ibid. Hal. 128 et seq
[28] DR. Abdul Rozak, M.Ag. Dkk, Op.Cit.Hal. 89
[29] Ibid, Hal. 90
[30] Drs. H.M. Yusran Asmuni, op. cit. Hal. 135 et seq.
[31] Ibid, Hal. 147
[32] Ibid, Hal. 147
BAB I
PENDAHULUAN

Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit yang dipahami pada umumnya. Dalam sejarah
pemikiran Islam, terdapat lebih dari satu aliran yang berkembang. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat
dikalangan ulama-ulama kalam dalam memahami ayat-ayat al-Quran.

Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan ada pula ayat
yang menunjukkan bahwa segala yang terjadi itu ditentukan oleh Allah, bukan kewenangan manusia . Dari perbedaan
pendapat inilah lahir aliran Qadaryiah dan Jabariyah. Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai
kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain manusia mempunya
qudrah (kekuatan atas perbuatannya). Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai
kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya. Kalaupun ada kehendak dan kebebasan yang dimiliki
manusia, kehendak dan kebebasan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun, karena yang menentukannya adalah
kehendak Allah semata .

Kedua aliran ini masing-masing bersandar kepada ayat-ayat al-Quran. Qadariyah antara lain bersandar pada surat al-
Mudatsir ayat 38 yang artinya: tiap-tiap diri bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya. Sedangkan
Jabariyah bersandar pada surat al-Hadid ayat 22 yang artinya: tidak ada bencana yang menimpa bumi dan diri kamu,
kecuali telah ditentukan didalam buku sebelum kami wujudkan .
Dalam sejarah teologi Islam, paham Qadariyah selanjutnya dianut oleh kaum Mu‟tazilah, sedangkan paham
Jabariyah terdapat dalam aliran Asy‟ariah.


BAB II
PEMBAHASAN
A. QADARIYAH
1. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Qadariyah
Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata yang artinya kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi,
qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan . Aliran ini
berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau
meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa qadariyah
dipakai untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam
mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qadariyah berasal dari pengertian
bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari
pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan .

Seharusnya, sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah
laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat. Namun sebutan tersebut telah melekat pada kaum sunni, yang
percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak . Menurut Ahmad Amin dalam Rosihon Anwar, sebutan
ini diberikan kepada para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadits yang menimbulkan kesan
negatif bagi nama Qadariyah . Hadits tersebut berbunyi:

artinya: “Kaum Qadariyah adalah
majusinya umat ini.

Tentang kapan munculnya faham Qadariyah dalam Islam, tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa
ahli teologi Islam yang menghubungkan faham qadariyah ini dengan kaum Khawarij. Pemahaman mereka (kaum
khawarij) tentang konsep iman, pengakuan hati dan amal dapat menimbulkan kesadaran bahwa manusia mampu
sepenuhnya memilih dan menentukan tindakannya sendiri. Menurut Ahmad Amin seperti dikutip Abuddin Nata,
berpendapat bahwa faham qadariyah pertama sekali dimunculkan oleh Ma‟bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy
. Sementara itu Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyun, memberi informasi lain bahwa yang pertama sekali
memunculkan faham qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik
lagi ke agama Kristen. Dari orang inilah Ma‟bad dan Ghailan mengambil faham ini . Orang Irak yang dimaksud,
sebagaimana dikatan Muhammad Ibnu Syu‟ib yang memperoleh informasi dari Al-Auzai, adalah Susan.

Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qadariyah muncul, ada banyak kesulitan untuk menentukannya. Para
peneliti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut qadariyah ketika itu banyak sekali.
Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Basri. Sebagian lain
berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus, diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang
banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah.
Faham ini mendapat tantangan keras dari umat Islam ketika itu. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya
reaksi keras ini, pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya
dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa Arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan,
mereka merasa diri mereka lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam
sekelilingnya. Sehingga ketika faham qadariyah dikembangkan, mereka tidak dapat menerimanya karena dianggap
bertentangan dengan Islam. Kedua, tantangan dari pemerintah, karena para pejabat pemerintahan menganut faham
jabariyah. Pemerintah menganggap faham qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya
kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai dan
bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.

2. Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Qadariyah
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tokoh yang pertama kali memunculkan faham qadariyah dalam
Islam adalah Ma‟bad Al-Jauhani dan temannya Ghailan Al-Dimasyqy.
1. Ma‟bad Al-Jauhani
Menurut Al-Zahabi dalam kitabnya Mizan al-I‟tidal, yang dikutip Ahmad Amin dalam Sirajuddin Zar, menerangkan
bahwa ia adalah tabi‟in yang dapat dipercaya, tetapi ia memberikan contoh yang tidak baik dan mengatakan tentang
qadar. Lalu ia dibunuh oleh al-Hajjaj karena ia memberontak bersama Ibnu al-Asy‟as. Tampaknya disini ia dibunuh
karena soal politik, meskipun kebanyakan mengatakan bahwa terbunuhnya karena soal zindik. Ma‟bad Al-Jauhani
pernah belajar kepada Hasan Al-Bashri, dan banyak penduduk Basrah yang mengikuti alirannya .

2. Ghailan Ibnu Muslim Al-Damasyqy
Sepeninggal Ma‟bad, Ghailan Ibnu Muslim al-dimasyqy yang dikenal juga dengan Abu Marwan. Menurut Khairuddin
al-Zarkali dalam Sirajuddin Zar menjelaskan bahwa Ghailan adalah seorang penulis yang pada masa mudanya
pernah menjadi pengikut Al-Haris Ibnu Sa‟id yang dikenal sebagai pendusta. Ia pernah taubat terhadap pengertian
faham qadariyahnya dihadapan Umar Ibnu Abdul Aziz, namun setelah Umar wafat ia kembali lagi dengan
mazhabnya . Ia akhirnya mati dihukum bunuh oleh Hisyam „Abd al-Malik (724-743). Sebelum dijatuhi hukuman
bunuh diadakan perdebatan antara Ghailan dan al-Awza‟i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri .

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, menurut Harun Nasution, nama qadariyah adalah sebutan bagi kaum yang
mengingkari qadar, yang mendustakan bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah. Nama qadariyah bukan
berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan .

Dalam ajarannya, aliran qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan
perbuatannya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak
melaksanakan kehendaknya itu. Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusialah
yang menentukan, tanpa ada campur tangan Tuhan.

Penjelasan yang menyatakan bahwa manusia mempunyai qudrah lebih lanjut dijelaskan oleh „Ali Musthafha al-
Ghurabi antara lain menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dan menjadikan baginya
kekuatan agar dapat melaksanakan apa yang dibebankan oleh Tuhan kepadanya, karena jika Allah memberi beban
kepada manusia, namun Ia tidak memberikan kekuatan, maka beban itu adalah sia-sia, sedangkan kesia-siaan itu
bagi Allah adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi . Dengan demikin dapat disimpulkan bahwa faham qadariyah
telah meletakkan manusia pada posisi merdeka dalam menentukan tingkah laku dan kehendaknya. Jika manusia
berbuat baik maka hal itu adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri serta berdasarkan kemerdekaan dan
kebebasan memilih yang ia miliki. Oleh karena itu jika seseorang diberi ganjaran yang baik berupa surga di akhirat,
atau diberi siksaan di neraka, maka semua itu adalah atas pilihannya sendiri.

Selanjutnya, terlepas apakah faham qadariyah itu dipengaruhi oleh faham dari luar atau tidak, yang jelas di dalam Al-
Quran dapat dijumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan faham qadariyah sebagaimana disebutkan diatas ,
diantaranya adalah:
Dalam surat al-Ra‟d ayat 11, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri
mereka sendiri”.

Dalam surat Fushshilat ayat 40, Allah berfirman:
“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

Dalam surat al-Kahfi ayat 29, Allah berfirman:
“Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia
beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.

Dengan demikian faham qadariyah memiliki dasar yang kuat dalam Islam, dan tidaklah beralasan jika ada sebagian
orang menilai faham ini sesat atau keluar dari Islam.

B. JABARIYAH
1. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Jabariyah
Secara bahasa jabariyah berasal dari kata yang mengandung pengertian memaksa. Di dalam kamus Al-Munjid
dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya
melakukan sesuatu. Sedangkan secara istilah, jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan
menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam
keadaan terpaksa (majbur) . Menurut Harun Nasution jabariyah adalah faham yang menyebutkan bahwa segala
perbuatan manusia telah ditentukan oleh qadha dan qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang
dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, namun diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya.
Di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang
mengistilahkan bahwa jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya .

Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran jabariyah tidak ada penjelasan yang jelas. Abu Zahra menuturkan
bahwa faham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang
masalah qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan .

Pendapat lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat
Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara
hidup mereka. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas
ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh
hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.

Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah
keadaan di sekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi
kesukaran-kesukaran hidup. Artinya mereka banyak bergantung pada alam, sehingga menyebabkan mereka
menganut faham fanatisme . Faham ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja‟d bin Dirham kemudian disebarkan oleh
Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran
jahmiyah dalam kalangan Murji‟ah. Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam gerakan
melawan Bani Umayah. Sebenarnya benih-benih faham jabariyah juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa
sejarah diantaranya:
1. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan, Nabi melarang
mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat
Tuhan mengenai takdir.

2. Khalifah Umar bin al-Khattab pernah menangkap seorang pencuri. Ketika diinterogasi pencuri itu berkata “Tuhan
telah menentukan aku mencuri” mendengar itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu yaitu
hukuman potong tangan dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.

3. Ketika Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang itu
bertanya apabila (perjalanan menuju perang Siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala
sebagai balasannya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa qadha dan qadar Tuhan bukanlah sebuah paksaan.
Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan, maka tidak ada pahala dengan siksa, gugur pula janji dan dan
ancaman Allah, dan tidak ada pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa.

4. Adanya bibit pengaruh faham jabariyah yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ada
sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran jabariyah muncul karena ada pengaruh dari pemikiran asing yaitu
pengaruh agama Yahudi bermazhab qurra dan dar agama Kristen bermazhab yacobit.
Paparan diatas menjelaskan bahwa, bibit faham jabariyah telah muncul sejak awal periode Islam. Namun, jabariyah
sebagai suatu pola pikir atau aliran yang dianut, dipelajari dan dikembangkan, baru terjadi pada masa pemerintahan
Daulah Bani Umayah, yakni oleh kedua tokoh yang telah disebutkan diatas.

2. Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Jabariyah
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa yang pertama kali memperkenalkan faham jabariyah adalah Ja‟d
bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.
1. Al-Ja‟d bin Dirham
Ja‟d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen
yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan Bani Umayah, tetapi setelah
tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial, Bani Umayah menolaknya. Kemudia Al-Ja‟d lari ke Kufah dan disana
ia bertemu dengan Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan .

2. Jahm Ibnu Shafwan
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia termasuk Maulana Bani Rasib, juga seorang tabi‟in
berasal dari Khurasan, dan bertempat tinggal di Khuffah, ia seorang da‟i yang fasih dan lincah (orator). Ia menjabat
sebagai sekretaris Harits bin Surais seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah di Khurasan. Ia
ditawan dalam pemberontakan dan dibunuh pada tahun 128H. Ia dibunuh karena masalah politik dan tidak ada
kaiatannya dengan agama .

Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu ekstrim dan moderat. Di antara ajaran jabariyah ekstrim
adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya
sendiri, tetapi perbuatannya yang dipaksakan atas dirinya.

Sebagai penganut dan penyebar faham jabariyah, banyak usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar keberbagai
tempat, seperti ke Tirmidz dan Balk . Pendapatnya mengenai persoalan teologi adalah sebagai berikut:
a. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan
tidak mempunyai pilihan.
b. Surge dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.
c. Iman adalah ma‟rifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya dengan konsep Iman yang
dimajukan kaum Murji‟ah.
d. Kalam Tuhan adalah makhluk Allah mahasuci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara,
mendengar dan melihat. Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.

Ajaran pokok Ja‟d bin Dirham secara umum sama dengan pikiran Jahm. Al-Ghuraby menjelaskannya sebagai
berikut:
a. Al-Qur‟an itu adalah makhluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan Allah
b. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk seperti berbicara, melihat, mendengar
c. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya .
Berbeda dengan jabariyah ekstrim, jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan
manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik. Tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga
yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud
dengan kasab . Menurut faham kasab, manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan), tidak seperti wayang yang
dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang
diciptakan Tuhan . Yang termasuk tokoh jabariyah moderat adalah sebagai berikut:
1) An-Najjar
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar. Di antara pendapat-pendapatnya adalah:
1. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan
perbuatan-perbuatan itu. Itulah yang disebut kasab.
2. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi an-Najjar mengatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan
potensi hati (ma‟rifat) pada mata, sehingga manusia dapat melihat Tuhan

2) Adh-Dhirar
Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera ke enam. Ia juga berpendapat bahwa hujjah
yang dapat diterima setelah Nabi adalah Ijtihad. Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan
hukum.
Adapun golongan jabariyah mengatakan bahwa tidak ada ikhtiar bagi manusia, sebab Tuhan telah lebih dahulu
menentukan segala-galanya. Sementara Ahlussunnah menetapkan usaha dan ikhtiar bagi manusia dan Allah yang
menentukan. Jadi, orang akan mendapat pahala dengan usaha dan ikhtiarnya, juga sebaliknya ia akan mendapat
dosa oleh sebab usaha dan ikhtiarnya.
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam al-Qur‟an sendiri banyak terdapat ayat-ayat
yang melatar belakangi lahirnya faham jabariyah di antaranya:
Dalam surat Ash-Shaffat ayat 96, Allah berfirman:
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Dalam surat Al-An‟am ayat 111, Allah berfirman:
“Mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki”.

Dalam surat Al-Anfal ayat 17, Allah berfirman:
“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar”.

Ayat-ayat diatas terkesan membawa seseorang pada alam pikiran jabariyah. Mungkin inilah yang menyebabkan pola
pikir jabariyah masih tetap ada di kalangan umat Islam hingga kini walaupun anjurannya telah tiada. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa, manusia dalam paham jabariyah adalah sangat lemah, tak berdaya, terikat
dengan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari
aturan dan skenario serta kehendak Tuhan.


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa, baik aliran qadariyah maupun jabariyah nampaknya
memperlihatkan faham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada al-Quran. Hal ini
memperlihatkan betapa terbukanya kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat dalam Islam. Namun pendapat
mana yang lebih baik tidaklah bisa dinilai sekarang. Penilaian yang sesungguhnya akan diberikan oleh Tuhan di
akhirat nanti. Penilaian baik atau tidaknya suatu pendapat dalam pandangan manusia mungkin bisa dilakukan
dengan mencoba menghubungkan pendapat tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam sejarah.
Pendapat yang baik adalah apabila ia berlaku di masyarakat dan dapat bertahan dalam kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, 1995, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Harun Nasution, 1986, Teologi Islam: aliran-aliran, sejarah, analisa dan perbandingan, Jakarta: UI Press.
Rosihon Anwar, dkk, 2006, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia.
Sirajuddin Zar, 2003, Teologi Islam: aliran dan ajarannya, Padang: IAIN Press.

dan menurut fakta sejarah.[7] 2. Al-Muhakkimah Al-Azariqah Al-Najdat Al-baihasyiah Al-Ajaridah Al-Sa‘Alibah Al-Ibadiah Al Sufriyah Secara umum ajaran-ajaran pokok Khawarij adalah: 1.itu mereka berusaha keras agar dapat membunuh ke empat tokoh ini. 3. Khalifah di pilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syari‘at islam. 2. Demikian pula orang mukmin yang melukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan mereka. Dengan demikian setiap orang muslim berhak menjadi Khalifah apabila suda memenuhi syarat-syarat. 5. 11. hanya Ali yang berhasil terbunuh ditangan mereka. 6. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap . Khalifah Ali dianggap menyelewang setelah terjadi Tahkim (Arbitrase). Abdullah bin Wahab al-Rasyidi.a dianggap telah menyeleweng. 1. 2. 12. [6] Khalifah tidak harus keturunan Arab. Sekte-Sekte tersebut adalah: [5] 1. Tokoh-tokoh Khawarij Diantara tokoh-tokoh khawarij yang terpenting adalah : 1. 4. karena hanya tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. dengan Ali bin abi tahAlib) dan para pelaku tahkim—termasuk yang menerima dan mambenarkannya – di hukum kafir. Talhah. 9. 8. tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa kekhalifahannya Usman r. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan tuhan. 2. dan zubair. 4. dan harus di bunuh. Aliran Murji’ah Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Murji‘ah Aliran Murji‘ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar. 6. 13. 1. 5. 6. 4. Khalifah sebelum Ali adalah sah. 7. 7. 8. Sekte-sekte dan ajaran pokok Khawarij Terpecahnya Khawarij ini menjadi beberapa sekte. dan di jatuhi hukuman bunuh bila zhalim. sebagai mana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. mengawali dan mempercepat kehancurannya dan sehingga Aliran ini hanya tinggal dalam catatan sejarah. Orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada tuhansealin allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya. 5. Orang-orang yang terlibat dalam perang jamal (perang antara Aisyah. pimpinan rombongan sewaktu mereka berkumpul di Harura (pimpinan Khawarij pertama) Urwah bin Hudair Mustarid bin sa‘ad Hausarah al-Asadi Quraib bin Maruah Nafi‘ bin al-azraq (pimpinan al-Azariqah) Abdullah bin Basyir Zubair bin Ali Qathari bin Fujaah Abd al-Rabih Abd al Karim bin ajrad Zaid bin Asfar Abdullah bin ibad[4] C. 10. 3. Orang Islam yang melakukan Dosa besar adalah kafir. 1. 3. 7. Khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat.

adanya pendapat yang menyalahkan orang yang ingin merebut kekuasaan Usman bin Affan.[13] 1. Kelompok ini berpendapat. Kedua tokoh ini yang mempersoalkan tentang Qadar. 2. yang berpendapat. Murji‘ah mengalami berbagai perbedaan pendapat dikalangan pengikutnya yang mendasari lahirnya aliran-aliran. 1. 3. mengkafirkan pihak-pihak yang ingin merebut kekuasaan ali dan mengakfirkan orang. Padahal kita tahu bahwa logika itu tidak bisa menjamin seluruh kebenaran. aliran murji‘ah ini terpecah menjadi beberapa macam sekte. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar dan qada Tuhan[14] Mazhab qadariyah muncul sekitar tahun 70 H(689 M). bukan sebaliknya. 4. kemungkinan mendapat ampunan dari tuhan masih ada. [10] Ajaran-ajaran Murji‘ah Ajaran-ajaran pokok murji‘ah dapat disimpulan sebagai berikut: . Dalam paham qadariyah manusia di pandang mempunyai qudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. . 3. ada pula yang ekstrem. bukan kafir. Jadi seharusnya logika dan akal pikiranlah yang harus tunduk kepada Al-Qura‘n dan Hadits. 1. Muslim tersebut tetap mukmin selama ia mengakui dua kalimat syahadt.mangucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. 2. 1. 1. Abu Hanifah. mengakhirkan dan memberi pengharapan. qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. dan tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia ini. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap mukmin. kesamaan keduanya terletak pada kepercayaan kedunya yang menyatakan bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan dan perbuatannya. orang itu tidak dihukum kafir. Aliran Qadariyah Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Qadariyah Qadariyah berakar pada qadara yang dapat berarti memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan.[15] Aliran ini merupakan aliran yang suka mendahulukan akal dan pikiran dari pada prinsip ajaran Al-Qur‘an dan hadits sendiri.Sedangkan sebagai suatu aliran dalam ilmu kalam. selanjutnya. Abu Yusufdan beberapa ahli hadits[12]. Tokoh murji‘ah Moderat antara lain adalah hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Hal-hal yang melatarbelakangi kehadiran murji‘ah antara lain adalah : [9] 1. Ajaran-ajaran tentang Mazhab ini banyak memiliki persamaan dengan ajaran Mu‘tazilah sehingga Aliran Qadariyah ini sering juga disebut dengan aliran Mu‘tazilah. pengikut Jaham bin Shafwan. Sedangkan yang ekstrem antara lain ialah kelompok Jahmiyah. Al-Qur‘an dan Hadits mereka tafsirkan berdasarkan logika semata-mata.yang terlihat dan menyetujui tahkim dalam perang siffin. adanya perbedaan pendapat antara Syi‘ah dan Khawarij. sebab logika itu hanya jalan pikiran yang menyerap hasil tangkapan panca indera yang serba terbatas kemampuannya. Iman Hanya membenarkan (pengakuan) di dalam Hati Orang islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir. dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar Allah SWT.[16] Tokoh utama Qadariyah ialah Ma‘bad Al-Juhani dan Ghailan al Dimasyqi. ada yang moderat.[8] Pandangan mereka itu terlihat pada kata murji‘ah yang barasal dari kata arja-a yang berarti menangguhkan. sekalipun seseorang menyatakan dirinya musyrik. bagaimanapun besarnya dosa seseorang. Hukum terhadap perbuatan manusia di tangguhkan hingga hari kiamat[11] Tokoh dan sekte dalam murji‘ah Dalam perkembangannya. adanya pendapat yang menyalahkan aisyah dan kawan-kawan yang menyebabkan terjadinya perang jamal. 3.

Selanjutnya terlepas apakah paham qadariyah itu di pengaruhi oleh paham luar atau tidak. Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. tapi fasik dan orang fasikk itu masuk neraka secara kekal. Allah SWT. mendengar dan melihat yang bukan dengan zat nya sendiri. melainkan manusia lah yang menciptakannyadan karena itulah maka manusia akan menerima pembalasan baik (surga) atas segala amal baiknya. di jelaskan ã( m’rRÿà¦ÅkBNc4 t$ ãótiÉã( ( myL®c4 /Î)sqö )#Bw$ ãótiÉç wž#$!© )Îcž ž ž ž ž ž ž ―Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan diri mereka sendiri‖ Dalam Surat Al-Kahfi ayat 29. katanya segala sesuatu ada yang memiliki sifat yang menyebabkan baik atau buruk. Orang yang berdosa besar itu bukanlah kafir. Qadariyah muncul di irak. 4.ž ru%%@B ž ž ž ž ―Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Aliran ini pada mulanya di pelopori oleh al-ja‘ad bin dirham. Pokok-pokok ajaran Qadariyah Menurut Dr. itu mengetahui. dan menerima balasan buruk (siksa Neraka) atas segala amal perbuatannya yang salah dan dosakarena itu pula.[18] Dan dalam bahasa inggris disebut dengan fatalism atau predestination. Tidak menciptakan amal perbuatan manusia. dan bukanlahmukmin. dan meilahat dengan zatnya sendiri. [17] 3. Menurut mereka Allah SWT. Dalam surat Al Ra‘ad Ayat 11. 1. pokok-pokok ajaran qadariyah adalah : 1. Kehidupan bangsa arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberi kan pengaruh besar terhadap hidup mereka. . hidup.1. dan menyebankan mereka semata-mata tunduk dan patuh kepada kehendak tuhan. Ahmad Amin dalam kitabnya Fajrul Islam halaman 297/298. Aliran Jabariyah 1. Hal ini kemudian mendasari mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa. yang jelas di dalam Al-Qur‘an dapat di jumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan paham qadariyah . Karena itu aliran ini terkadang disebut juga dengan Jahmiah. mendengar. yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia di tentukan sejak semula oleh qada dan qadar tuhan. Nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Pengerian. maka Allah berhak disebut adil. Pokok-pokok paham jabariyah. Aliran ini di sebarluaskan oleh jahm bin Shafwan. Dengan demikian paham qadariyah memilki dasar yang kuat dalam islam.[19] Munculnya mazhab ini berkaitan dengan munculnya Qadariyah. paham jabariyah ini di duga telah ada sejak sebalum agama Islam datangke masyarakat arab. dan latar belakang Kemunculan jabariyah. Sedangkan menurut al-Syahrastani bahwa Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebutkepada Allah. Kaum Qadariyah mengatakan bahwa Allah itu maha esa atau satu dalam ati bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat azali. dalam perkembangannya. seprti ilmu. allah menegaskan B LB¦Åõt@B LB !ã(@B @n!$$© mqsLB @n!$$© øs(sLtø ® ó/ntcä4ó qL` $# øs(. Namun. Menurut catatan sejarah. jabariyah di khurasan. Kudrat. berkuasa. Daerah kelahirannya pun berdekatan. dan tidaklah beralasan jika ada sebagian orang menilai paham ini sesat atau kelaur dari islam 1. hayat. walaupun Allah tidak menurunkan agama. 2. dengan keadaan yang sangat tidak bersahabat dengan mereka pada waktu itu. 4. Sebab. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir‖.

telah mentakdirkan ats dirinya segala amal perbuatan yang mesti di kerjakannya. 1. yang kemudian mendasari sejumlah sahabat yang tidak mau terlibat dalam konflik tersebut dan memilih untuk menjauhkan diri mereka dan memilih jalan tengah. dan manusia tidak bisa mengusahakan sesuatu itu. aliran ini tetap berpendapat bahwa manusia tetap mendapat pahala atau siksa karena perbuatan baik atau jahat yang dilakukannya. tidak bisa berbuat apa-apa. Karena mereka telah berkeyakinan bahwa allah telah mentakdirkan segala sesuatu. jaham menginterpretasikan bahwa pahala dan siksa merupakan paksaan dalam arti bahwa allah telah mentakdirkan seseorang itu baik sekaligus memberi pahala dan allah telah mentakdirkan seseorang itu berdosa sekaligus juga menyiksanya. Menurut Najjar dan Dirar. Paham bahwa perbuatan yang dilakukan manusia adalah sebenarnya perbuatan tuhan tidak menafikan adanya pahala dan siksa. Yakni pada peristiwa meletusnya perang jamal dan perang siffin. . Allah SWT. pada mulanya nama ini di berikan oleh orang dari luar mu‘tazilah karena pendirinya.Daya yang diperoleh untuk mewujudkan perbuatanperbuatan inilah yang kemudian disebut Kasb atau acquisition. dan manusia tidak semata-mata di paksa dalam melaksanakan perbuatannya. selain berpangku tangan. Disisi lain. bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan Manusia baik perbuatan itu positif maupun negatif Tetapi dalam melakukan perbuatan itu manusia mempunyai bagian daya yang diciptakan dalam diri manusia oleh tuhan. kecuali bila dikehendaki Allah‖. dan segala perbuatan itu adalah ciptaan allah. pada abad permulaan kedua hijrah di kota basyrah dan mampu bertahan sampai sekarang.Selanjutnya. aliran ini telah muncul pada pertengahan abad pertama hijrah yakni diisitilahkan pada para sahabat yang memisahkan diri atau besikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik. Jaham bin Shafwan mempunyai pendirian bahwa manusia itu terpaksa. namun sebenarnya. mempunyai efek. Aliran mu‘tazilah lahir kurang lebih 120 H. Aliran Mu’tazilah Pengertian dan latar belakang munculnya Mu‘tazilah Perkataan Mu‘tazilah berasal dari kata Í‘tizal‖ yang artinya ―memisahkan diri‖. yang menjadi dasar yang sejajar dengan pemahaman pada aliran jabariyah ini dijelaskan Al-Qur‘an diantaranya : Dalam surat al-saffat ayat 96 : ã(@B ãsy% qss%Lt rusr$ {s!$#@B m4ntL®ä L ―Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu‖. Berkenaan dengan itu perlu dipertegas bahwa Jabariyah yang di kemukakan Jaham bin Shafwan adalah paham yang ekstrem. 5. menunggu takdir Allah semata-mata dan berusahapun tidak. Sehingga. orang yang termakan paham ini bisa menjadi apatis dan beku hidupnya. Dalam surat al Insan ayat 30. tidak mempunyai pilihan dan kekuasaan. nama ini kemudian di setujui oleh pengikut Mu‘tazilah dan di gunakan sebagai nama dari bagi aliran teologi mereka. Manusia tidak bisa berbuat lain dari apa yang telah di lakukannya. Washil bin Atha‘. tetapi manusia dan Tuhan terdapat kerja sama dalam mewujudkan suatu perbuatan. seperti yang diajarkan oleh Husain Bin Muhammad al.[20] Menurut paham ini manusia tidak hanya bagaikan wayang di gerakkan oleh dalang. Oleh karena itu.Najjar dan Dirar Ibn ‗Amr. 1. sehingga manusia mampu melakukan perbuatanitu. dinyatakan s!$# / r#irª ã(@B ãsB&n!$ãBäu @çc® sB& @n!$ãBt$ ž ―Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu). Hasan alBashri. dalam realisasinya. sama seperti apa yang dia ciptakan pada bendabenda yang tidak bernyawa. Dalam perkembangan selanjutnya. Sementara itu terdapat pula paham jabariyah yang moderat. tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya.

1. 1. muncul sebagai reaksi setelah munculnya aliran Asy’ariyah dan maturidiyah. Pokok-pokok pemikirannya       Sifat-sifat Tuhan. Antrophomorphisme Keadlian Tuhan. a. Sebab semua itu marupakan kehendak mutlak tuhan sebab tuhan maha kuasa atas segalanya. dan jemaah berarti sahabat nabi. Sifat-sifat itu bukanlah zat tuhan dan bukan pula lain dari zatnya. 4. 1.Jamaah Pengertian dan para tokoh serta pemikiran-pemikiran mereka. Al-Qur‘an. Mu‘tazilah pimpinan Washil bin Atha‘ lah yang menjadi salah satu aliran teologi dalam islam. Washil bin Atha‘ Abu Huzail al-Allaf Al Nazzam Al-Jubba‘i[23] 6. Menurutnya. menurutnya. Mu’tazilah sebagai mana juga Asy‘ariyah masuk dalam barisan Sunni. Perbuatan Manusia.[24] Ahlussunnah sering juga disebut dengan Sunni dapat di bedakan menjadi 2 pengertian. Menurutnya. Tuhan dapat dilihat dengan mata oleh manusia di akhirat nanti.dua aliran yang menentang ajaranajaran Mu‘tazilah. Sunni dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalambarisan Asy‘ariyah dan merupakan lawan Mu‘tazilah. 1. 5.Disisi lain. 3. 2. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok Syiah. 3. Ahlussunah Wal. yaitu khusus dan umum. Jadi Ahlussunnah wal jama‘ah mengandung arti ―penganut Sunnah (ittikad) nabi dan para sahabat beliau.[25] Aliran ini. Tuhan memiliki sifat sebagaiman di sebut di dalam Alqur‘an. al Tauhid (keesaan Allah) al ‗Adl (keadlilan tuhan) al Wa‘d wa al wa‘id (janji dan ancaman) al Manzilah bain al Manzilatain (posisi diantara posisi) amar mauruf dan Nahi mungkar.[22] Tokoh-tokoh Mu‘tazilah Diantara para tokoh-tokoh yang berpengaruh pada Mu‘tazilah yaitu: 1. Tokoh utama yang juga merupakan pendiri mazhab ini adalah Abu al hasan al Asy‘ari dan Abu Mansur al Maturidi. Manurutnya. Melihat Tuhan. al-Quran adalah qadim dan bukan makhluk diciptakan. 4. . Abu al Hasan al Asy‘ari 1. yang melatarbelakangi munculnya kedua Mu‘tazilah diatas tidaklah sama dan tidak ada hubungannya karena yang pertama lahir akibat kemelut politik. perbuatan manusia di ciptakan tuhan. Menurutnya. 1. Pokok-pokok ajaran Mu‘tazilah Ada lima prinsip pokok ajaran Mu‘tazilah yang mengharuskan bagi pemeluk ajaran ini untuk memegangnya. Dalam pengertian ini. sedangkan yang kedua muncul karena didorong oleh persoalan aqidah. bukan di ciptakan oleh manusia itu sendiri. Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW. Qadim. yan dirumuskan oleh Abu Huzail al-Allaf : 1. yang di sebut sebagai sifat-sifat yang azali.[21] Dalam perkembangannya. dan berdiri diatas zat tuhan. 2. tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di akhirat.

Sifat Tuhan. al ‗adl Kaum Syi‘ah mempunyai keyakinan bahwa Allah Maha Adil.[28] Mengenai latar belakng munculnya aliran ini. ia tidak melakukan perbuatan buruk karena ia melarang keburukan. Menurutnya.selanjutnya. dan bukan merupakan perbuatan tuhan. Perbuatan manusia sebenarnya di wujudkan oleh manusia itu sendiri. tidak diperanakkan. janji pahala dan siksa mesti terjadi.Pokok-pokok pemikirannya :        1. Menurutnya. segala makhluk. Kelima prinsip itu adalah : 1. yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat diakhir hidupnya tidaklah kafir dan tetap mukmin. Al Quran. mencela kezaliman dan orang yang berbuat zalim. pertama menurut Abu Zahrah. satu kelompok mendukung sikap Ali –kelak di sebut Syi‘ah dan kelompok lain menolak sikap Ali. Muslim yang berbuat dosa. Allah mengutussejumlah nabi dan rasul ke muka bumi untnk membimbing umat manusia. Pokok-Pokok Pikiran Syi‘ah[30] Kaum Syi‘ah memiliki lima prinsip utama yang wajib di percayai oleh penganutnya. Menurut mereka. Menurtnya. Miqad bin Al aswad dan Ammar bin Yasir. dan tidak ada seorang pun yang menyamainya.[29] 1. sebagai respon atas penerimaan ali terhadap arbitrase yang diatwarkan Mu‘awiyah. Dalam peperangan ini. pasukan Ali di ceritakan terpecah menjadi dua. Pendapatnya sejalan dengan al Asy‘ari Janji tuhan. al Tauhid Kaum Syi‘ah mengimani sepenuhnya bahwa allah itu ada. Syi‘ah bener-bener muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu‘awiyah yang dikenal denganPerang siffin. istilah yiah ini untuk pertama kalinya di tujukan pada para pengikut ali (syi‘ah ali). 1. kelak di sebut Khawarij. Menurutnya. al Nubuwwah Kepercayaan Syi‘ah terhadap para Nabi-nabi juga tidak berbeda dengan keyakinan umat muslim yang lain. Dan juga mereka mempercayai adanya sifatsifat Allah. 1. Maha esa.[26] Abu manshur Al-Maturidi 1. terdapat dua pendapat. Pendapatnya sejalan dengan al Asy‘ari Kewajiban tuhan. tempat bergantung. . pemimpin pertama ahl. 1. tidak beranak. Pendapatnya sejalan dengan al Asy‘ari Perbuatan Manusia. [27] 7. dan itu merupakan janji tuhan yang tidak mungkin di pungkirinya. Syi‘ah mulai muncul pada akhir dari masa jabatan Usman bin Affankemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. 1. Para pengikut ali yang disebut syi‘ah ini diantaranya adalah Abu Dzar al Ghiffari. Allah tidak melakukan perbuatan zhalim dan perbuatan buruk. Antrophomorphisme. tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu. Yang dimaksud dengan pengikut disini ialah para pendukung Ali bin Abi Thalib. Muslim yang berbuat dosa.al bait pada masa Nabi Muhammad SAW. Secara istilah Syi‘ah sering di maksudkan pada kaum muslimin yang dalam bidang spritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturuan Nabi Muhammad SAW. tunggal. Adapun menurut Watt. Aliran Syiah Pengertian dan kemunculannya Syi‘ah Secara bahasa Syi‘ah berarti pengikut. atau yang sebut sebagai ahl al-bait.

[31] Istilah salaf mulai dikenal dan muncul beberapa abad abad sesudah Rasul SAW wafat. bin Muhammad bin Hambal. Pada abad ke 20 M gerakan ini muncul dengan dimensi baru. Aliran Salafiyah Pengertian dan latar belakang munculnya Salafiyah Secara bahasa salafiyah berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu. Salafiyah baru al afgani ini terdiri dari 3 komponen pokok yakni : 1.1. yaitu sejak ada orang atau golongan yang tidak puas memahami al Qur‘an dan hadits tanpa ta‘wil. 1. 1.dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara Spodaris. Imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia sekaligus. Nama lengkapnya. Tokoh terkenal ulama salaf adalah Ahmad bin Hambal. atau yang lebih di kenal dengan nama Ibnu Taimiyah. ajaran yang bermula pada Imam Ahmad bin Hanbal ini. dan tabitt tabi‘in. 2. melaksanakan Hudud. Dalam perkembangannya. bahwa hari akhirat itu pasti terjadi. al imamah Menurut Syi‘ah. kaum Syi‘ah sangat percaya sepenuhnya akan adanya hari akhirat. Komponen pertama ini merupakan satu unsur yang di miliki oleh salfiyah sebelumnya. 1. ekonomi. kemudian di suburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab. . yang dimaksud terdahulu disini adalah orang-orang terdahulu yang semasa Rasul SAW.[32] Orang yang termasuk dalam kategori salaf adalah orang yang hidup sebelum tahun 300 hijriah. 8. 3. Keyakinan bahwa kemajuan dan kejayaan umat Islam hanya mungkin di wujudkan jika mereka kembali kepada ajaran Islam yang masih murni dan kembali pada ajaran Islam yang masih murni. beliau juga di kenal sebgai pendiri dan tokoh mazhab Hambali. PENUTUP . al ma‘ad Ma‘ad berarti tempat kembali (hari akhirat). dan meneladani pokok hidup sahabat Nabi. Beliau merupakan seorang teolog dan ahli Hukum yang banyak menghasilkan karya tulis. Tokoh salafiyah yang terkenal lainnya adalah Taqiyuddin Abu al Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abd al salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah al Hambali. sedangakan salafiyah berarti orang-orang yang mengikuti salaf. terutama untuk menjelaskan maksud-maksud tersirat dari ayat-ayat al-Qur‘an sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah SWT. dan mewujudkan kebaikan dan ketentraman umat. baik politik. para tabi‘in. perlwanan terhadap kolonialisme dan mominasi barat. Tokoh-tokohnya adalah Jamaluddin al Afgani. Ahmad. para sahabat. 1. maupun kebudayaan. selanjutnya di kembangkan oleh Ibnu Taimiyah. Al Afgani dapat di katakan sebagai penganut salafiyah modern karena dalam rumusan pahamnya yang banyak meletakkan unsur-unsur moderenismesebagai mana terlihat pada komponen 2 dan 3 diatas. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. pengakuan terhadap keunggulan barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Syekh Muhammad Abduh adalah murid Al afgani dan Muhammad Rasyid Ridaha adalah murid dari Muhammad Abduh. ia pengganti rasul dalam memelihara Syari‘at. Tokoh-tokoh ulama salaf dan perkembangan Aliran salafiyah. meskipun dalam beberapa hal antara dengan guru berbeda dalam banyak hal mereka sama. III. orang yang hidup sesudah tahun 300 H termasuk dalam kategori khalaf.beliau juga ahli di bidang tafsir dan hadist.

. Namun pendapat mana diantara pendapat-pendapat tersebut yang paling baik. Sekarang. selanjutnya. Rahmatan lil ‘Alamin. hidayah serta inayahNya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga makalah ini dapat di selesaikan.Dari uraian diatas. MAKALAH ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM Diajukan untuk Memenuhi Tugas dalam Mata Pelajaran Ilmu Kalam Disusun Oleh : MUFDIL TUHRI FIRMANSYAH RIZKIAWAN HASRA PUTRA RISKA TRIA WULANDARI DINA EPRIANA Guru Bidang Studi : YESI NOFIA. Selanjutnya. Penilaiaan baik tidaknya suatu pendapat dalam pandangan manusia mungkin di lakukan dengan mencoba menghubungkan pendapat tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam sejarah. Disisi lain. tidaklah bisa kita nilai sekarang. Hal ini juga dapat dijadikan alasan bahwa Islam sebagi mana di jumpai dalam sejarah. bukanlah sesempit yang dipahami pada umumnya. Makalah yang berjudul ―ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM‖ ini disusun untuk melengkapi tugas dalam mata pelajaran Ilmu Kalam dan disampaikan pada diskusi dalam pembahasan Ilmu Kalam. dapat kita pahami bahwa Islam telah hadir sebagai pelopor lahirnya pemikiran-pemikiran yang hingga sekarang semuanya itu dapat kita jumpai hampir di seluruh dunia. Kerana penilaian sesungguhnya ada pada sisi Allah yang akan diberikanNya di akhirat nanti. karena Islam dengan bersumber pada al—Quran dan As-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas. Sholawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing manusia menuju jalan kebenaran. kita juga bisa menilai baik tidaknya suatu pendapat atau paham dengan mengaitkannya pada kenyataan yang berlaku dimasyarakat dan dapat bertahan dalam kehidupan manusia. S. Penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan dari yang sehat dari pembaca sekalian untuk lebih kesempurnaan makalah ini. dalam penyusunannya makalah ini tentunya tidaklah luput dari kekurangan-kekurangan maka dari itu. bagaimana kita menaggapi pemikiran-pemikiran tersebut yang kesemuanya memiliki titik pertentangan dan persamaan masing-masing dan tentunya pendapat-pendapat mereka memiliki argumentasi-argumentasi yang bersumber pada al-Qur‘an dan Hadits. dan juga pendapat tersebut banyak di ikuti oleh Manusia.PdI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 (MAN) 1 SUNGAI PENUH TAHUN 2007 KATA PENGANTAR Pertama tama penulis panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan rahmat.

Hal. Hal. 1995. Hal. M. op. 47 [18] Drs. Abdul. Ilmu Tauhid.cit. Hal.2006. 51et.Ag.A. Hal. dan tasawuf. Bandung:CV. op.cit . Pustaka setia. Filsafat. 108 [14] Drs. Hal. Abuddin Nata.cit . H. [7] DR. cit. po. Hal. 1992 DAFTAR PUSTAKA [1] Drs. 33 [9] Drs. op. Ilmu kalam. 106 [10] Ibid. Yusran asmuni. Abuddin Nata. H. Ilmu Tauhid. Yusran Asmuni. Abdul Rozak.M Yusran Asmuni. M. Agustus 2007 PENULIS DAFTAR PUSTAKA Asmuni. Abuddin Nata. 45 [17] Ibid. 1995 Rozak.seq [8] Drs. 104 [5] Drs. [3] Ibid. dan tasawuf.2006.cit. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. M Yusran Asmuni. dkk . dkk . Ilmu kalam.cit . Pustaka setia. hal. Op. Hal. 106 [12] Drs. 34 [13] Drs. Hal. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Op. Bandung:CV. op.Sungai Penuh. Ilmu Tauhid. Abuddin Nata. Ilmu Tauhid. Ilmu kalam.. Hal.cit.cit. XV [4] Ibid. H. Abuddin. 39 . Jakarta:PT Rineka Cipta.cit. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Yusran. Filsafat. Ilmu kalam. Abuddin Nata. op. 30 [6] Drs. Hal. Hal. H. Jakarta:PT Rineka Cipta. 29 [2] Drs. Zainuddin. Hal. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.M.M Yusran Asmuni. H. Zainuddin. H. Abuddin Nata. 1992.Hal 36 [15] Drs.M. 34 [11] Ibid. Hal. Hal. 109 [16] Drs. Op. 105. Hal. H. 1996 Nata. 1996.

[19] Ibid. 115 [23] Ibid. M.Ag. Op. Kalaupun ada kehendak dan kebebasan yang dimiliki manusia. Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya. Hal. Hal. 89 [29] Ibid. 42 [21] Drs.M.Cit. M. 122 et seq.Cit. Abdul Rozak. ternyata tidak sesempit yang dipahami pada umumnya. 147 [32] Ibid. [25] DR. cit. 135 et seq. [31] Ibid. 117 et seq [24] Ibid. 121. 90 [30] Drs.M. Dkk. Hal.Hal. karena yang menentukannya adalah kehendak Allah semata . M. kehendak dan kebebasan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun. Yusran Asmuni. Hal. kecuali telah ditentukan didalam buku sebelum kami wujudkan . Hal. Dengan kata lain manusia mempunya qudrah (kekuatan atas perbuatannya).Hal 114 [22] Ibid. H. Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Qadariyah antara lain bersandar pada surat alMudatsir ayat 38 yang artinya: tiap-tiap diri bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya. Op. Sedangkan Jabariyah bersandar pada surat al-Hadid ayat 22 yang artinya: tidak ada bencana yang menimpa bumi dan diri kamu. Hal. [26] Drs. Hal. Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan ada pula ayat yang menunjukkan bahwa segala yang terjadi itu ditentukan oleh Allah.cit. 40 [20] Ibid. Dkk. Abdul Rozak. Dari perbedaan pendapat inilah lahir aliran Qadaryiah dan Jabariyah. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama-ulama kalam dalam memahami ayat-ayat al-Quran. Yusran Asmuni.Ag. 128 et seq [28] DR. Dalam sejarah pemikiran Islam. H. terdapat lebih dari satu aliran yang berkembang. H. Hal. Hal. hal. bukan kewenangan manusia .Hal. [27] Ibid. 147 BAB I PENDAHULUAN Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah. 119. Kedua aliran ini masing-masing bersandar kepada ayat-ayat al-Quran. op. cit. Op. Yusran Asmuni. op. Hal. .

Hadits tersebut berbunyi: majusinya umat ini. sebagaimana dikatan Muhammad Ibnu Syu‟ib yang memperoleh informasi dari Al-Auzai. Secara terminologi. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan . Para peneliti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut qadariyah ketika itu banyak sekali. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Tentang kapan munculnya faham Qadariyah dalam Islam. Namun. adalah Susan. yaitu dari kata yang artinya kemampuan dan kekuatan. Menurut Ahmad Amin seperti dikutip Abuddin Nata. paham Qadariyah selanjutnya dianut oleh kaum Mu‟tazilah. ada banyak kesulitan untuk menentukannya. Seharusnya. tidak dapat diketahui secara pasti. diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah. Namun sebutan tersebut telah melekat pada kaum sunni. artinya: “Kaum Qadariyah adalah . sebutan ini diberikan kepada para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadits yang menimbulkan kesan negatif bagi nama Qadariyah . Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus. Faham ini mendapat tantangan keras dari umat Islam ketika itu. ada beberapa ahli teologi Islam yang menghubungkan faham qadariyah ini dengan kaum Khawarij.Dalam sejarah teologi Islam. sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku manusia. pertama. Berdasarkan pengertian diatas. sedangkan paham Jabariyah terdapat dalam aliran Asy‟ariah. Menurut Ahmad Amin dalam Rosihon Anwar. berpendapat bahwa faham qadariyah pertama sekali dimunculkan oleh Ma‟bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy . Dari orang inilah Ma‟bad dan Ghailan mengambil faham ini . Pemahaman mereka (kaum khawarij) tentang konsep iman. Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qadariyah muncul. Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. Kehidupan bangsa Arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. seperti pendapat Harun Nasution. BAB II PEMBAHASAN A. baik yang bagus maupun yang jahat. pengakuan hati dan amal dapat menimbulkan kesadaran bahwa manusia mampu sepenuhnya memilih dan menentukan tindakannya sendiri. dapat dipahami bahwa qadariyah dipakai untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya reaksi keras ini. QADARIYAH 1. karena masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Orang Irak yang dimaksud. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Qadariyah Qadariyah berasal dari bahasa Arab. Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Basri. qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan . Sementara itu Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyun. memberi informasi lain bahwa yang pertama sekali memunculkan faham qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik lagi ke agama Kristen. yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak .

Dengan demikin dapat disimpulkan bahwa faham qadariyah telah meletakkan manusia pada posisi merdeka dalam menentukan tingkah laku dan kehendaknya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya. menurut Harun Nasution. Oleh karena itu jika seseorang diberi ganjaran yang baik berupa surga di akhirat. Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri. Ia pernah taubat terhadap pengertian faham qadariyahnya dihadapan Umar Ibnu Abdul Aziz. namun setelah Umar wafat ia kembali lagi dengan mazhabnya . aliran qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya. karena para pejabat pemerintahan menganut faham jabariyah. 1. manusialah yang menentukan. Pemerintah menganggap faham qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat. Kedua. Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Qadariyah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. mereka tidak dapat menerimanya karena dianggap bertentangan dengan Islam. yang dikutip Ahmad Amin dalam Sirajuddin Zar. namun Ia tidak memberikan kekuatan. Ma‟bad Al-Jauhani Menurut Al-Zahabi dalam kitabnya Mizan al-I‟tidal. sedangkan kesia-siaan itu bagi Allah adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi . Ma‟bad Al-Jauhani pernah belajar kepada Hasan Al-Bashri. Menurut Khairuddin al-Zarkali dalam Sirajuddin Zar menjelaskan bahwa Ghailan adalah seorang penulis yang pada masa mudanya pernah menjadi pengikut Al-Haris Ibnu Sa‟id yang dikenal sebagai pendusta. karena jika Allah memberi beban kepada manusia. Ia akhirnya mati dihukum bunuh oleh Hisyam „Abd al-Malik (724-743). menerangkan bahwa ia adalah tabi‟in yang dapat dipercaya. 2. 2. tantangan dari pemerintah. maka beban itu adalah sia-sia. Nama qadariyah bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan . meskipun kebanyakan mengatakan bahwa terbunuhnya karena soal zindik. Lalu ia dibunuh oleh al-Hajjaj karena ia memberontak bersama Ibnu al-Asy‟as. yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan. Ghailan Ibnu Muslim al-dimasyqy yang dikenal juga dengan Abu Marwan. Ghailan Ibnu Muslim Al-Damasyqy Sepeninggal Ma‟bad.mereka merasa diri mereka lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya. tanpa ada campur tangan Tuhan. Jika manusia berbuat baik maka hal itu adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri serta berdasarkan kemerdekaan dan kebebasan memilih yang ia miliki. maka semua itu adalah atas pilihannya sendiri. tetapi ia memberikan contoh yang tidak baik dan mengatakan tentang qadar. Sebelum dijatuhi hukuman bunuh diadakan perdebatan antara Ghailan dan al-Awza‟i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri . Tampaknya disini ia dibunuh karena soal politik. bahwa tokoh yang pertama kali memunculkan faham qadariyah dalam Islam adalah Ma‟bad Al-Jauhani dan temannya Ghailan Al-Dimasyqy. yang mendustakan bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah. dan banyak penduduk Basrah yang mengikuti alirannya . atau diberi siksaan di neraka. . Penjelasan yang menyatakan bahwa manusia mempunyai qudrah lebih lanjut dijelaskan oleh „Ali Musthafha alGhurabi antara lain menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dan menjadikan baginya kekuatan agar dapat melaksanakan apa yang dibebankan oleh Tuhan kepadanya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak melaksanakan kehendaknya itu. nama qadariyah adalah sebutan bagi kaum yang mengingkari qadar. Sehingga ketika faham qadariyah dikembangkan. Dalam ajarannya.

terlepas apakah faham qadariyah itu dipengaruhi oleh faham dari luar atau tidak. Dalam surat Fushshilat ayat 40. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan . Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. Di dalam kamus Al-Munjid dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Artinya mereka banyak bergantung pada alam. Pendapat lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Sedangkan secara istilah. dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. yang jelas di dalam AlQuran dapat dijumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan faham qadariyah sebagaimana disebutkan diatas . Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. dan tidaklah beralasan jika ada sebagian orang menilai faham ini sesat atau keluar dari Islam. Di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat karena tidak memiliki kemampuan. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman. Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan di sekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. namun diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya. B. Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran jabariyah tidak ada penjelasan yang jelas.Selanjutnya. sehingga menyebabkan mereka . Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Allah berfirman: “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur) . Menurut Harun Nasution jabariyah adalah faham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan oleh qadha dan qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri”. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. diantaranya adalah: Dalam surat al-Ra‟d ayat 11. Abu Zahra menuturkan bahwa faham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa bani Umayyah. Dalam surat al-Kahfi ayat 29. Dengan demikian faham qadariyah memiliki dasar yang kuat dalam Islam. tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Allah berfirman: “Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Ada yang mengistilahkan bahwa jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya . Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Jabariyah Secara bahasa jabariyah berasal dari kata yang mengandung pengertian memaksa. JABARIYAH 1.

Jahm Ibnu Shafwan Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. jabariyah sebagai suatu pola pikir atau aliran yang dianut. Ia ditawan dalam pemberontakan dan dibunuh pada tahun 128H. dipelajari dan dikembangkan. Paparan diatas menjelaskan bahwa.menganut faham fanatisme . Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. dan tidak ada pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. bibit faham jabariyah telah muncul sejak awal periode Islam. Ia termasuk Maulana Bani Rasib. Ketika diinterogasi pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri” mendengar itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu yaitu hukuman potong tangan dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. yakni oleh kedua tokoh yang telah disebutkan diatas. bahwa yang pertama kali memperkenalkan faham jabariyah adalah Ja‟d bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. juga seorang tabi‟in berasal dari Khurasan. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan Bani Umayah. 3. Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Bani Umayah menolaknya. yaitu ekstrim dan moderat. Sebenarnya benih-benih faham jabariyah juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah diantaranya: 1. 2. Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah di Khurasan. 2. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa qadha dan qadar Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Khalifah Umar bin al-Khattab pernah menangkap seorang pencuri. 2. Orang itu bertanya apabila (perjalanan menuju perang Siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. Dalam sejarah teologi Islam. 1. baru terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan. tinggal di Damaskus. Ia dibunuh karena masalah politik dan tidak ada kaiatannya dengan agama . maka tidak ada pahala dengan siksa. Al-Ja‟d bin Dirham Ja‟d adalah seorang Maulana Bani Hakim. dan bertempat tinggal di Khuffah. ia seorang da‟i yang fasih dan lincah (orator). Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan Bani Umayah. Adanya bibit pengaruh faham jabariyah yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Di antara ajaran jabariyah ekstrim . Namun. 4. tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial. tidak ada pahala sebagai balasannya. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. Faham ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja‟d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran jabariyah muncul karena ada pengaruh dari pemikiran asing yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab qurra dan dar agama Kristen bermazhab yacobit. Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyah dalam kalangan Murji‟ah. Kemudia Al-Ja‟d lari ke Kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan . Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Jabariyah Seperti yang telah disinggung sebelumnya. Ketika Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. gugur pula janji dan dan ancaman Allah.

Inilah yang dimaksud dengan kasab . Ajaran pokok Ja‟d bin Dirham secara umum sama dengan pikiran Jahm. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. mendengar c. Jadi. banyak usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar keberbagai tempat. Berbeda dengan jabariyah ekstrim. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk seperti berbicara. . mendengar dan melihat. Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum. Kalam Tuhan adalah makhluk Allah mahasuci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. sehingga manusia dapat melihat Tuhan 2) Adh-Dhirar Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera ke enam. Sementara Ahlussunnah menetapkan usaha dan ikhtiar bagi manusia dan Allah yang menentukan. Tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik. Menurut faham kasab. Ia juga berpendapat bahwa hujjah yang dapat diterima setelah Nabi adalah Ijtihad. c. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya . juga sebaliknya ia akan mendapat dosa oleh sebab usaha dan ikhtiarnya. Akan tetapi an-Najjar mengatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma‟rifat) pada mata. Dalam hal ini.adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri. jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia. Di antara pendapat-pendapatnya adalah: 1. seperti ke Tirmidz dan Balk . tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan . sebab Tuhan telah lebih dahulu menentukan segala-galanya. Yang termasuk tokoh jabariyah moderat adalah sebagai berikut: 1) An-Najjar Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar. b. Iman adalah ma‟rifat atau membenarkan dalam hati. Al-Qur‟an itu adalah makhluk. tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. ia tidak mempunyai daya. Adapun golongan jabariyah mengatakan bahwa tidak ada ikhtiar bagi manusia. Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak. Allah berfirman: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. Tidak ada yang kekal selain Tuhan. Itulah yang disebut kasab. Oleh karena itu. orang akan mendapat pahala dengan usaha dan ikhtiarnya. manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan). dalam al-Qur‟an sendiri banyak terdapat ayat-ayat yang melatar belakangi lahirnya faham jabariyah di antaranya: Dalam surat Ash-Shaffat ayat 96. Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan Allah b. Al-Ghuraby menjelaskannya sebagai berikut: a. dia baru. Pendapatnya mengenai persoalan teologi adalah sebagai berikut: a. Surge dan neraka tidak kekal. pendapatnya dengan konsep Iman yang dimajukan kaum Murji‟ah. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. melihat. 2. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. tetapi perbuatannya yang dipaksakan atas dirinya. Sebagai penganut dan penyebar faham jabariyah. d.

sejarah. Ayat-ayat diatas terkesan membawa seseorang pada alam pikiran jabariyah. Allah berfirman: “Mereka tidak akan beriman. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Allah berfirman: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar. Penilaian yang sesungguhnya akan diberikan oleh Tuhan di akhirat nanti. manusia dalam paham jabariyah adalah sangat lemah. kecuali jika Allah menghendaki”. baik aliran qadariyah maupun jabariyah nampaknya memperlihatkan faham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada al-Quran. Padang: IAIN Press. Teologi Islam: aliran dan ajarannya. Harun Nasution. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari aturan dan skenario serta kehendak Tuhan. Filsafat dan Tasawuf. 2003. Mungkin inilah yang menyebabkan pola pikir jabariyah masih tetap ada di kalangan umat Islam hingga kini walaupun anjurannya telah tiada. Rosihon Anwar. BAB III PENUTUP A. Ilmu Kalam. 1986. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa. dkk. Dalam surat Al-Anfal ayat 17. terikat dengan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Jakarta: UI Press. 1995.Dalam surat Al-An‟am ayat 111. 2006. . Bandung: Pustaka Setia. Penilaian baik atau tidaknya suatu pendapat dalam pandangan manusia mungkin bisa dilakukan dengan mencoba menghubungkan pendapat tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam sejarah. tak berdaya. Namun pendapat mana yang lebih baik tidaklah bisa dinilai sekarang. Ilmu Kalam. Hal ini memperlihatkan betapa terbukanya kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat dalam Islam. DAFTAR PUSTAKA Abuddin Nata. Teologi Islam: aliran-aliran. tetapi Allah-lah yang melempar”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa. Sirajuddin Zar. Pendapat yang baik adalah apabila ia berlaku di masyarakat dan dapat bertahan dalam kehidupan manusia. analisa dan perbandingan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful