P. 1
TAHUN BARU HIJRIYAH

TAHUN BARU HIJRIYAH

|Views: 27|Likes:
Published by Fadli Dzil Ikram

More info:

Published by: Fadli Dzil Ikram on Sep 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2012

pdf

text

original

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMEN HIJRAH PADA KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

Elviandri, S.HI., M.Hum (Dosen Universitas Muhammadiyah Riau)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36). Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa, hari berlalu meninggalkan momentum yang takkan pernah kembali. Sungguh, massa begitu jauh karena takkan pernah kembali. Hari ini, Jumat 18 Desember 2009 bertepatan dengan tahun baru Hijriah, 1 Muharram 1431 H. Tahun baru Masehi selalu diwarnai dengan pesta kembang api lengkap dengan malam Old & New di hotel-hotel berbintang dengan tarif wah yang luar biasa! Bagaimana dengan Tahun Baru Hijriyah? Ah, siapa sih yang biasa mengingatnya. Umat Islam sendiri tak banyak yang menggunakannya sebagai kalender pekerjaan atau kegiatan keseharian. Momentum pergantian kalender bulan itu pun setiap tahun berganti begitu saja. Tak ada yang menyambut 1 Muharram sebagai peristiwa yang sangat bersejarah dalam lembaran sejarah Islam. Maklum, kita semua sudah ter-Baratkan. Bahkan, nyaris semua teori keilmuwan yang kita reguk dari sekolah pun impor dari Barat. Tanpa kita sadari Sampai saat ini kita sudah berjarak lebih dari 507.009 hari dari awal Rasulallah Hijrah. Dalam ukuran hidup manusia, rentang waktu ini sangatlah lama. Namun, alhamdulillah, kita yang berada di bumi belahan selatan, yang berjarak ribuan kilometer dari Mekah dan Madinah - dua tempat suci yang penuh dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam - yang terpisahkan selama ratusan ribu hari, yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah saw, tidak pernah mendengarkan kefasihan lidahnya membacakan Kalamullah, tidak pernah menyaksikan sendiri keluhuran dan kemuliaan akhlaknya, masih tetap mengimani Islam dan kerasulan beliau sebagai Nabi terakhir. Inilah milik kita yang paling berharga. Tanpa ini, kita hanyalah entitas makhluk biologi yang tidak berarti apa-apa dan akan menjadi orang-orang yang merugi di akhirat. Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah senantiasa menjaga keimanan kita. Firman Allah di atas, semoga dapat membawa pemahaman kita pada hal – hal sebagai berikut : Pertama, prinsipnya, Allah mencipta waktu yang dibagi – bagi secara tahunan.Dalam satu tahun terdiri atas dua belas bulan, dan dalam bulan tertentu, yaitu sejumlah empat bulan, peruntukannya telah ditentukan pula. Pokok dasar ini kemudian difikir oleh manusia melalui

tahapan berfikir, dan ditemukanlah bahwa perhitungan Allah tersebut ditandai dengan perhitungan Poros matahari atau solar yang dinamai masehi atau “ Tahun Baru Syamsiah “, dan Perhitungan Poros Bulan atau lunar yang dinamai “ Tahun Qomariah “dan Tahun Hijriah. Kedua, ayat tersebut ditutup dengan : Mengandung makna bahwa pembagian waktu, baik menurut perhitungan Matahari atau perhitungan Bulan, agar seseorang cermat memperhitungkan waktu dan tidak menyia – nyiakan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu untuk meningkatkan Taqwa kepada Allah Ta’ala. Karena itulah Allah Ta’ala menentukan bentuk – bentuk Ibadah, dalam penyelenggaraannya, kadang berpedoman putaran Bumi dan Bulan atas Matahari, seperti menentukan waktu sholat lima waktu. Tetapi dalam momentum ibadah Puasa misalnya, Allah menentukan mulainya bulan Ramadlan justru menggunakan pedoman putaran Bulan atas bumi alias Qamariah. Jadi, penghormatan Ibadah Islam berkait langsung dengan fenomena Alam.Penghormatan waktu untuk tidak disia–siakan adalah ibadah, menjaga fenomena Alam dengan cara menjaga Ekosistem Alam adalah juga ibadah dalam bentuk lain. Dan ini ada Nilainya, ada pula pahalanya. Pergantian Waktu Berarti Perbaikan Diri Hijrah mengandung makna teologis, sebuah sikap meninggalkan keyakinan yang mengingkari Tuhan berikut misi-misi yang disampaikan-Nya menuju kepada sikap mempercayai Tuhan berikut seluruh misi-Nya. Pemaknaan ini diambil dari sejumlah ayat Al-Quran. Misalnya: “Dan orangorang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizhalimi, pasti kami menyediakan untuk mereka tempat yang baik di dunia”. (QS. An-Nahl 16:41) atau “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah ….” (QS. Al-Anfal 8:74), dan masih banyak ayat yang lain. Dalam banyak pandangan, ayat-ayat tentang hijrah di atas dapat menunjuk pada makna-makna yang terkait dengan dimensi moralitas dan religius. Mereka mengatakan bahwa hijrah berarti “meninggalkan keinginankeinginan yang rendah, moralitas yang buruk, dan kekeliruan-kekeliruan) menuju kepada kehidupan yang lebih religius dan bermoral mulia. Dari pengertian konsep hijrah di atas maka yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana menghijrahkan dir kita dari hal-hal yang buruk kepada hal-hal yang lebih baik. Salah satun caranya adalah dengan berubah. Ya, perubahan itu memang diperlukan oleh masing-masing insan. Setiap manusia memang pernah berbuat khilaf dan salah, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki diri agar lebih baik. Lalu bagaimanakah cara kita berubah? Tidak lain adalah dengan sesegera mungkin kita melaksanakan aturan Allah. Tersebut dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat Abi Hurairah R.A bahwasannya Rasulullah. bersabda : “ Bersegeralah kamu Sekalian untuk melakukan amal–amal shaleh, karena akan terjadi sesuatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tetapi pada waktu

sore ia kafir. Ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan Dunia ( Riwayat Muslim). Nah, pembaca budiman Rasulullah dalam sabdanya ini memperingatkan : Pertama, Cepat – cepatlah berbuat baik, sebab waktu akan terus melaju cepat per detik meski apapun terjadi. Seiring lajunya waktu berjalan akan terjadi perubahan – perubahan, termasuk niat baik, bisa saja berubah cepat menuju niat yang kurang baik. Untuk itu setiap terbersit niat dalam hati, cepatlah melaksanakan niat baik tersebut agar tidak tertunda – tertunda yang berarti menyiakan waktu. Kedua, Perubahan haruslah menuju yang lebih bagus Amalnya, baik secara mikro untuk diri atau makro untuk umat. Sebab ada syair yang menjelaskan dawuh shahabat Ali Bin Abi Thalib R.A. “ Sisa – sisa usia, tidak akan ada nilainya, apabila tidak setiap pagi dihitung – hitung semakin habis masanya, Seseorang akan menemukan bahwa waktu hilang musnah, Apabila amal buruk tidak ditindas oleh Amal terpuji”. Hari – hari Hisab harus diyakini setiap saat sebelum kita bersua dengan kata hikmah” Dunia Ada Usaha Tiada Hisab, Tapi Akhirat Pasti Hisab Usaha Purna” Agar usia mempunyai makna, maka setiap saat kita harus melakukan sesuatu kebaikan, seberapapun kecilnya amal tersebut. Justru amal yang sepele, karena kecil bentuknya, terkadang malah diterima Allah Ta’ala. Karena itu marilah momen tahun baru Hijriyah ini kita jadikan suatu langkah awal untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Dan marilah kita hijrahkan diri kita masing-masing secara komprehensif (menyeluruh) dengan kesungguhan intelektual, moral, dan spiritual yang kita miliki. semoga tahun ini kita menjadi orang yang beruntung, lebih baik dari kemarin. Harapan selalu ada, tinggal upaya kita. Bangkit Saudaraku, bangkit negeriku. HARAPAN ITU MASIH ADA! Selamat Tahun Baru 1431 H..!!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->