P. 1
Perubahan Paradigma Perencanaan Pembangunan Berbasis Masyarakat

Perubahan Paradigma Perencanaan Pembangunan Berbasis Masyarakat

|Views: 478|Likes:
Published by Julien Consacrare
Grup Presentation
Grup Presentation

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Julien Consacrare on Sep 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2014

pdf

text

original

Oleh : Kelompok 1

BAB I LATAR BELAKANG
Pembangunan merupakan sebuah proses pengembangan kapasitas masyarakat dalam jangka panjang sehingga memerlukan perencanaan yang tepat dan akurat. Perencanaan (planning)  • when • where kesejahteraan masyarakat • how

Namun kenyataannya, pembangunan tidak sesuai dengan yang diharapkan, khususnya menyangkut kebutuhan masyarakat. Maka perlu mengkaji konsep perencanaan pembangunan berbasis masyarakat untuk mencapai pembangunan yang efektif.

BAB II RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana paradigma perencanaan pembangunan yang terjadi selama ini ? 2. Bagaimana model perencanaan yang baik yang berbasis pada masyarakat ?

BAB III PEMBAHASAN

A. PARADIGMA PERENCANAAN PEMBANGUNAN Masa orde baru, pemerintahan berdasarkan pada asas dekonsentrasi, desentralisasi, dan pembantuan. Dasar hukum : UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Perencanaan yang dipakai adalah berpola top-down planning. Dampaknya : • pemerintah lokal menjadi pasif, tak ada perencanaan • perencanaan terpusat, tak berbasis masyarakat • kelanjutan berjalannya program tidak jelas Masuk era reformasi (turunnya Presiden Soeharto), atas dorongan derah, terbitlah UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Sistem Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Diperbaharui dengan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang No. 33 tahun 2004 tentang Sistem Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, memberikan kewenangan penuh pada Pemda untuk mengembangkan daerahnya berdasarkan potensi yang ada. Kewenangan penuh atas daerahnya, menghasilkan suatu konsekuensi baru, yaitu : • dibutuhkan data yang lebih lengkap dan akurat • dibutuhkan SDM yang lebih baik untuk pembangunan daerahnya • dibutuhkan partisipasi masyarakat dan pihak swasta • dibutuhkan kreativitas untuk sumber pendapatan daerah UU No. 25 Tahun 2005 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), menyatakan bahwa perencanaan daerah terintegrasi dengan perencanaan nasional. Artinya : pusat harus mengetahui aktivitas pembangunan di setiap daerah, dan setiap perencanaan seluruh daerah akan dipilah dan didaftarkan dalam SPPN.

Kemudian sesuai dengan Undang-undang tersebut bahwa Pemerintah Daerah diharuskan memiliki 5 (lima) dokumen perencanaan yaitu : • Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) • Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) • Rencana Stategis Satuan Kerja Pemerintah Daerah (Renstra SKPD) • Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) SPPN  top-down & bottom-up tujuan : menjamin keseimbangan antara prioritas nasional dengan aspriasi prioritas lokal. Namun kenyataannya, jaminan adanya keseimbangan antara prioritas nasional dengan aspirasi lokal dalam perencanaan pembangunan daerah hanya tampak diatas kertas saja. Akibatnya, hasil perencanaan dan proses pembangunan, terutama di tingkat daerah yang lebih kecil, menjadi tidak berkelanjutan.

Banyak faktor yang menjadi hambatan atau kendala dalam mendorong peran serta masyarakat dalam perencanaan, seperti : • partisipasi masyarakat yang terlambat • partisipasi komunitas sungguh sangat sedikit • sedikitnya masyarakat yang terorganisir dan mapan untuk mengajukan masukan • tidak tersedianya waktu untuk musyawarah antara pemerintah dengan masyarakat • Secara umum, komunitas tidak memiliki sumberdaya yang baik dalam hal keahlian atau ruang untuk membuat aspirasinya didengar secara efektif

B. KAJIAN TEORI PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT John Friedmann (1987) memberikan definisi lebih luas mengenai planning sebagai upaya menjembatani pengetahuan ilmiah dan teknik (scientific and technical knowledge) kepada tindakan-tindakan dalam domain publik, menyangkut proses pengarahan social dan proses transformasi social. Dikaitkan dengan kelembagaan, system perencanaan diklasifikasikan sebagai berikut : • Perencanaan sebagai Social Reform • Perencanaan sebagai Policy Analysis • Perencanaan sebagai Social Learning • Perencanaan sebagai Social Transformation Berdasarkan definisi luas planning yang dikemukakan oleh John Friedmann dapat disimpulkan bahwa filosofi peran serta masyarakat dalam perencanaan mengalami suatu pergeseran, dari for people sebagai sifat perencanaan social reform menjadi by people sebagai sifat perencanaan dalam social learning.

Peran serta masyarakat memiliki keuntungan sosial, politik, planning dan keuntungan lainnya, yaitu : • Dari pandangan sosial, keuntungan utamanya adalah untuk mengaktifkan populasi perkotaan yang cenderung individualistik, tidak punya komitmen dan dalam kasus yang ekstrim teralienasi. • Dari segi politik, partisipasi publik juga akan membantu dewan (konselor) dan para pembuat keputusan lainnya untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai permintaan-permintaan dan aspirasi konstituen mereka • Dan segi planning partisipasi menyediakan sebuah forum untuk saling tukar gagasan dan prioritas, penilaian akan public interest dalam dinamikanya serta diterimanya proposal - proposal perencanaan • Keuntungan lain dari public participation adalah kemungkinan tercapainya hubungan yang lebih dekat antara warga dengan otoritas kota dan menggantikan perilaku they / we menjadi perilaku us.

Perencanaan merupakan usaha yang secara sadar, terorganisasi dan terus menerus dilakukan guna memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif untuk mencapai tujuan tertentu (Waterston, 165: 26). Pemikiran perencanaan Social Reform pada dasarnya merupakan paradigma perencanaan yang dikembangkan melalui pemikiran bahwa pemerintah sebagai pemegang kekuasaan berhak untuk menentukan arah pembangunan, namun tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat. Karakterisitik Social Reform : • Pemerintah mempunyai peran yang sangat besar dalam penentuan arah pembangunan. • Masyarakat tidak berperan dalam perencanaan. • Diterapkan pada negara-negara yang bersifat diktator. • Memfokuskan perencanaan dari atas dan bersifat radikal. Dalam Social Reform, suatu negara memiliki peran dalam penentuan arah pembangunan kemasyarakatan. Negara menyusun dan merencanakan berbagai arahan dan pedoman pembangunan untuk dilaksanakan dan diikuti oleh masyarakat. Seorang perencana memanfaatkan kekuatan dan kekuasaan negara untuk mengarahkan dan merencanakan pembangunan masyarakat.

C. STUDI KASUS PERENCANAAN PEMBANGUNAN
1) Ayo Dukung Sei Mangke Jadi KEK (Sumber : Sumut Pos) Kawasan industri Sei Mangke di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, merupakan salah satu proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Rencananya, kawasan ini akan dijadikan sebagai Kawasann Ekonomi Khusus (KEK) sesuai hasil rapat Dewan Nasional KEK pada 28 Oktober 2011 yang lalu. Saat ini kawasan ini sudah dilirik oleh berbagai investor besar internasional, seperti Unilever, PNG, dan lainnya. Walaupun telah dilirik investor besar, baik dari dalam maupun luar negeri, tapi masih ada kendala untuk proyek KEK Sumut ini, salah satunya adalah peralihan dari Hak Guna Usaha (HGU) ke Hak Pengolahan Lahan (HPL).

2) DPD RI Terima Usulan Pembangunan di Daerah Batu Bara (Sumut Pos) MEDAN – Anggota DPD RI DR H Rahmat Shah mengungkapkan rasa bangganya akan rintisan-rintisan pembangunan yang diperjuangkan oleh para kepala daerah kabupaten/kota di Sumatera Utara. Khususnya, seperti yang telah dilakukan oleh Bupati Batu Bara H OK Arya Zulkarnain, SH MM maupun oleh beberapa bupati/walikota lainnya. Rahmat berharap, apa yang telah dirintis oleh OK Arya dapat dijadikan inspirasi bagi kepala daerah lainnya yang ingin memajukan masyarakat dan daerah mereka masing-masing. Pernyataan ini disampaikan Rahmat melalui Staff Ahli DPD RI, Bechta Perkasa Asky, MA yang menghadiri acara Pembukaan Tubuh Ban Rel Kereta Api Ruas Bandar Tinggi Kuala Tanjung dalam Rangka MP3EI yang berlangsung di Jalan Access Road PT Inalum (Simpang Water in Take), Tanjung Gading, Kamis (24/11). Menurut Rahmat, upaya penambahan jalur kereta api ruas Bandar Tinggi – Kuala Tanjung merupakan sebuah solusi akan kebutuhan infrastruktur yang sangat dibutuhkan untuk memajukan perekonomian daerah Batubara. Dalam hal ini, khususnya, maupun daerah-daerah yang berhubungan langsung dengannya. Infrastruktur yang baik merupakan sebuah bentuk efektifitas dan efisiensi terhadap biaya pembangunan. Kelancaran-kelancaran yang dihasilkan dari adanya infrastruktur yang baik, jelas akan memberi keuntungan yang tidak sedikit bagi masyarakat dan daerah tentunya. Oleh karenanya, masih menurut Rahmat, hendaknya upaya penambahan jalur kereta api yang telah dimulai ini dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dikerjakan dengan sebagus mungkin dan dalam pelaksanaannya terhindar dari unsur-unsur mengambil keuntungan segelintir ataupun sekelompok orang maupun golongan. Pekerjaan pembangunan ini harus terhindar dari unsur KKN agar dapat dihasilkan karya monumental para pejabat terkait sebagai persembahan terbaik untuk kepentingan masyarakat dan daerah. Sebagaimana dilaporkan, pembangunan rel Kereta Api ruas Bandar Tinggi-Kuala Tanjung sepanjang 18,5 km merupakan salah satu dari lima proyek pembangunan infrastruktur di kabupaten Batu Bara yang sudah ditetapkan di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Sementara itu, Bupati Batu Bara mengaku, salah satu tahapan penting dalam upaya yang mereka lakukan untuk memperjuangkan hak finansial pembangunan di daerah pada level pusat adalah melakukan ekspose rencana pembangunan kabupaten Batu Baru di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, Bupati Batu Bara H OK Arya Zulkarnain, SH,MM menyampaikan Proposal Usul Pembangunan Jalan dan Jembatan Menuju Pelabuhan Kuala Tanjung Dalam Rangka MP3EI 2011-2025 kepada Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) untuk diperjuangkan di dalam RAPBN 2012. Berkas Proposal tersebut diterima oleh Staff Ahli DPD RI, Bechta Perkasa Asky, MA untuk disampaikan ke DPD RI. (*/ila)

2) Tapsel Bangun Jembatan Penghubung (Sumber : WASPADA Online) TAPANULI SELATAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan (Tapsel) membangun jembatan senilai Rp2,7 miliar di Desa Sitampa Simatoras, Kecamatan Batang Angkola. Jembatan dengan panjang 60 meter dan lebar enam meter itu akan menghubungkan 17 desa di Kecamatan Batang Angkola dan Kecamatan Sayurmatinggi.Sejumlah desa yang akan menerima manfaat pembangunan jembatan di antaranya, Sigalangan, Sitampa Simatoras, Sigulang Losung, Hurase,Huta Padang. Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Batang Angkola Fadil Harahap mengatakan,pembangunan itu atas usulan masyarakat Desa Sigalangan dan desa lainnya. “Dari 2005,masyarakat dibeberapa desa sudah mengusulkannya kepada pemerintah, namun pada tahun ini baru dapat direalisasikan,”ungkapnya. Selama ini masyarakat di 17 desa itu harus melewati jembatan gantung yang dibangun sejak zaman Belanda. Jembatan itu merupakan satu-satunya sarana penghubung masyarakat untuk keluar masuk desa mereka. Bupati Syahrul M Pasaribu mengungkapkan, jembatan itu dibangun dengan menggunakan anggaran dari pemerintah tingkat I Sumatera Utara( Sumut). Menurut rencana,jembatan itu akan bisa dioperasikan pada awal 2012. “Anggaran untuk pembangunannya kurang lebih Rp2,7miliar, dan diperkirakan akan siap dibangun awal 2012,”tegasnya.

4) Realisasi Pembangunan Pasar Percontohan Samosir 90 Persen (Sumber : ANTARA Sumut, Portalnya Orang Sumut) Samosir, Sumut, 7/12 (ANTARA) – Realisasi fisik pembangunan pasar percontohan Onan Baru Pangururan, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, hingga sekarang sudah mencapai 90 persen. “Pengerjaan poyek yang berasal dari APBN itu, diperkirakan tuntas seratus persen pada pertengahan Desember, untuk menyokong kegiatan perekonomian di daerah tersebut,” kata Kabag Humas Pemkab Samosir, Gomgom Naibaho di Pangururan, Rabu. Saat ini, kata dia, tahapan pekerjaan hanya tinggal membenahi selokan dan pembersihan sisa-sisa material atau sudah boleh disebut dalam proses sentuhan akhir (finishing touch). Ia mengatakan, pembangunan pasar sebanyak 1.082 unit dengan ukuran 2 x 2 meter perpetak tersebut, dilengkapi dengan kantor unit pengelola serta jalan keliling pasar selebar enam meter. Sumber dananya, lanjut Gomgom, berasal dari anggaran Kemendag RI untuk Pasar Pangururan agar menjadi salah satu pasar percontohan dari sepuluh pasar percontohan terbaik di Indonesia. Menurut dia, pasar percontohan yang letaknya persis di jantung kota Pangurran tersebut, dinilai sangat potensial untuk meningkatan kesejahteraan hidup masyarakat sekitarnya, sesuai kondisi Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba. Dulunya, kata dia, pasar itu hanya berfungsi sebagai pasar kecamatan, lalu berubah menjadi pasar kabupaten dan sekarang bisa dikategorikan sebagai salah satu pasar yang layak serta merupakan pasar tradisonal paling maju di antara berbagai daerah di Indonesia. Keberadaan Pasar Pangururan itu, menurut dia, sangat vital bagi masyarakat, terutama dalam menyokong denyut nadi perekonomian serta merupakan salah satu pusat kegiatan yang ramai didatangi pedagang dari luar pulau Samosir. “Letaknya sangat strategis, karena berdekatan dengan bibir pantai Danau Toba dan pemandangan danau terlihat membentang luas dengan sangat indah,” katanya. Selain itu, katanya, di sekitar pasar juga sudah mulai banyak dibangun ruko-ruko permanen, menambah kelengkapan infrastruktur yang dibutuhkan dan di dekatnya sudah dibangun terminal angkutan, meski belum berfungsi maksimal. Gomgom menjelaskan, awal Maret 2011, Menteri Perdagangan saat itu, Mari Elka Pangestu beserta jajarannya telah melakukan peninjauan ke pasar tersebut dan menetapkannya sebagai salah satu pasar penerima program percontohan Kementerian Perdagangan tahun 2011. “Pasar percontohan tersebut merupakan program yang direalisasikan sesuai kehidupan sosial budaya setempat dan akan dijadikan sebagai pasar yang bersih dan ramah lingkungan,” katanya. ***5*** (T.pso-219) (T.PSO-219/C/S023/S023)

D. MODEL PERENCANAAN BERBASIS MASYARAKAT
1. Top-down planning
Kelebihan • Masyarakat tidak perlu bekerja serta memberi masukan program tersebut sudah dapat berjalan sendiri karena adanya peran pemerintah yang optimal. • Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah. • Mengoptimalkan kinerja para pekerja di pemerintahan dalam merealisasikan suatu program. Kelemahan • Masyarakat tidak bisa berperan lebih aktif dikarenakan peran pemerintah yang lebih dominan bila dibanding peran dari masyarakat itu sendiri. • Masyarakat tidak bisa melihat sebarapa jauh suatu program telah dilaksanakan. • Peran masyarakat hanya sebagai penerima keputusan atau hasil dari suatu program tanpa mengetahui jalannya proses pembentukan program tersebut dari awal hingga akhir. • Tujuan utama dari program tersebut yang hendaknya akan dikirimkan kepada masyarakat tidak terwujud dikarenakan pemerintah pusat tidak begitu memahami hal-hal yang diperlukan oleh masyarakat. • Masyarakat akan merasa terabaikan karena suara mereka tidak begitu diperhitungkan dalam proses berjalannya suatu proses. • Masyarakat menjadi kurang kreatif dengan ideide mereka.

2. Bottom-up planning
Kelebihan Kelemahan

• Peran masyarakat dapat optimal dalam • Pemerintah akan tidak begitu berharga karena memberikan masukan atau ide-ide perannya tidak begitu besar. kepada pemerintah dalam menjalakan • Hasil dari suatu program tersebut belum tentu suatu program. biak karena adanya perbedaan tingkat • Tujuan yang diinginkan oleh masyarakat pendidikan dan bisa dikatakan cukup rendah akan dapat berjalan sesuai dengan bila dibanding para pegawai pemerintahan. keinginan masyrakat karena ide-idenya • Hubungan masyarakat dengan pemerintah berasal dari masyarakat itu sendiri tidak akan berlan lebih baik karena adanya sehingga masayarakat bisa melihat apa selisih paham atau munculnya ide-ide yang yang diperlukan dan apa yang berbeda dan akan menyebabkan kerancuan diinginkan. bahkan salah faham antara masyarakat dengan • Pemerintah tidak perlu bekerja secara pemerintah dikarenakan kurang jelasnya optimal dikarenakan ada peran masing-masing tugas dari pemerintah dan masyarakat lebih banyak. juga masyarakat. • Masyarakat akan lebih kreatif dalam mengeluarkan ide-ide yang yang akan digunakan dalam suatu jalannya proses suatu program.

3. Perencanaan Gabungan Adalah perencaan yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan program yang diinginkan oleh masyarakat yang merupakan kesepakatan bersama antara pemerintah dan juga masyarakat sehingga peran antar satu dan keduanya saling berkaitan. Sistem ini dianggap yang paling baik, yaitu suatu sistem gabungan dari kedua janis sistem tersebut karena banyak sekali kelebihan yang terdapat didalamya antara lain adalah selain masyarakat mampu berkreasi dalam mengembangkan ide-ide mereka sehingga mampu berjalan beriringan bersama dengan pemerintah sesuai dengan tujuan utama yang diinginkan dalam mencapai kesuksesan dalam menjalankan suatu program tersebut.

Model perencanaan berbasis masyarakat secara universal

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->