P. 1
Dinamika Gerakan Petani Kemunculan Dan Kelangsungannya

Dinamika Gerakan Petani Kemunculan Dan Kelangsungannya

|Views: 196|Likes:
Published by bangun_mustika

More info:

Published by: bangun_mustika on Sep 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2015

pdf

text

original

DINAMIKA GERAKAN PETANI : KEMUNCULAN DAN KELANGSUNGANNYA

(DESA BANJARANYAR KECAMATAN BANJARSARI KABUPATEN CIAMIS)

MOCHAMMAD FAJRIN I34061767

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

RINGKASAN
MOCHAMMAD KEMUNCULAN FAJRIN. DAN DINAMIKA GERAKAN Desa PETANI, Banjaranyar,

KELANGSUNGANNYA.

Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (Di bawah Bimbingan Satyawan Sunito)

Gerakan petani merupakan suatu bentuk perlawanan yang sengaja dilakukan oleh sekelompok petani yang terorganisir untuk menciptakan terjadinya perubahan dalam pola interaksi atau keadilan untuk petani di dalam masyarakat. Gerakan tersebut mempunyai ciri-ciri seperti halnya gerakan sosial yaitu i) memiliki pengorganisasian internal yang rapi, ii) berlangsung lebih lama, iii) gerakan sengaja bertujuan melakukan reorganisasi kehidupan masyarakat internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : i) latar belakang dan proses perebutan tanah di Desa Banjaranyar. ii) apa makna tanah bagi petani Banjaranyar, berkaitan dengan kemuculan gerakan petani (pra-reclaiming). iii) perkembangan gerakan petani Banjaranyar, beserta hubungan gerakan petani dengan berbagai kekuatan sosial baik di dalam dan si luar desa. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus, yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi (participant observation) di lapangan. Metode observasi partisipasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. Peneliti harus dapat memahami gejala-gejala yang ada, sesuai dengan maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh warga masyarakat yang sedang diteliti, termasuk dalam pengertian metode ini adalah wawancara dan mendengarkan serta memahami apa yang didengarnya. Desa Banjaranyar berdiri di atas tanah eks-perkebunan Agris NV. Warga mulai menggarap tanah perkebunan semenjak periode awal kemerdekaan. Pada tahun 1982, penggarapan yang dilakukan warga terusik oleh kedatangan PT RSI.

PT RSI merupakan anak perusahaan PT Bukit Jonggol Asri, pemilik hak kelola atas lahan eks-perkebunan Agris NV. Hak pengelolaan tersebut kemudian beralih melalui aksi tukar guling lahan antara PT RSI dengan pihak Perhutani pada tahun 1996. Kuatnya institusi Negara dan Pemerintah Orde baru yang cenderung represif membuat gerakan perlawanan petani tidak lahir pada saat itu. Tahun 1998, Petani Banjaranyar mulai mengorganisir diri dan melakukan pemotongan pohon jati Perhutani. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan atas kehadiran Perhutani di atas tanah eks-perkebunan. Kejatuhan rezim Orde Baru menciptakan momentum yang memudahkan lahirnya gerakan petani Banjaranyar. Gerakan petani Banjaranyar dapat dilihat sebagai aksi perlawanan petani terhadap perampasan tanah oleh kapital swasta yang didukung negara melalui pemberian hak kelola tanah (HGU). Masuknya kapital swasta ke dalam komunitas petani Banjaranyar, dalam bentuk perampasan tanah, menyebabkan kehidupan petani semakin terpuruk dan menghadapi krisis subsistensi hingga kebatas toleransi. Walaupun begitu, lahirnya gerakan petani Banjaranyar tidak hanya didasarkan pada adanya faktor krisis subsitensi di tingkat petani, termasuk rasionalitas petani, tetapi juga karena terbukanya kesempatan akibat adanya reformasi 1998 di Indonesia. Gerakan petani Banjaranyar yang kemudian bergabung dengan Serikat Petani Pasundan (SPP), telah merubah gerakan petani Banjaranyar baik itu dari segi organisasi gerakan, strategi gerakan, dan kepemimpinan gerakan. Semula gerakan petani Banjaranyar lebih bersifat ke dalam, dengan persatuan sebagai strategi utamanya. Setelah bergabung dengan SPP, gerakan petani Banjaranyar, menjadi lebih terbuka dengan berbagai kekuatan sosial lain, baik di dalam ataupun di luar desa. Hingga tahun 2010, terdapat beberapa kelembagaan di Desa Banjaranyar, yang dapat dikatakan sebagai hasil dari hubungan tersebut, seperti koperasi kredit, organisasi wanita dan leyit.

Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 .DINAMIKA GERAKAN PETANI : KEMUNCULAN DAN KELANGSUNGANNYA (DESA BANJARANYAR KECAMATAN BANJARSARI KABUPATEN CIAMIS) Oleh Mochammad Fajrin I34061767 SKRIPSI Sebagai Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia.

Dosen Pembimbing Dr. Kabupaten Ciamis) Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia. 19550630 198103 1 003 Tanggal Lulus : ______________ . Ir. Soeryo Adiwibowo. Kecamatan Banjarsari. Kemunculan dan Kelangsungannya (Desa Banjaranyar. Menyetujui. Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Dr. MS NIP.DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKUTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan ini menyetakan bahwa Skripsi yang disusun oleh : NAMA MAHASISWA NRP PROGRAM STUDI JUDUL : : : : Mochammad Fajrin I34061767 Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Dinamika Gerakan Petani. 19520326 199103 1 001 Mengetahui. Institut Pertanian Bogor. Satyawan Sunito NIP.

LEMBAR PERNYATAAN DENGAN BERJUDUL INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG DAN “DINAMIKA GERAKAN (DESA PETANI. KABUPATEN CIAMIS. JAWA BARAT)” BELUM DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. KECAMATAN PERNAH BANJARSARI. KEMUNCULAN KELANGSUNGANNYA BANJARANYAR. Bogor. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR – BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN – BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. Mei 2011 Mochammad Fajrin .

Jakarta pada tahun 2003. Fakultas Teknologi Pertanian.2006. Intitut Pertanian Bogor. penulis menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) di SD Perguruan Cikini. dan Fakultas Perikanan.RIWAYAT HIDUP Mochammad Fajrin (penulis) lahir di Jakarta. 2 Desember 1988. Jakarta pada tahun 2000-2003. Fakultas Kehutanan IPB. Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPN 1. Yamin dan Elly Z. Pada periode selanjutnya. penulis dipercaya sebagai ketua HIMASIERA untuk periode 2008-2009. Pada tahun kedua di IPB penulis memilih melanjutkan studi pada jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Pada tahun kedua. dan Sekolah Menengah Umum (SMU) di SMUN 68. Fakultas Ekologi Manusia. Jakarta. Penulis merupakan anak tunggal dari pasangan M. Saat ini penulis aktif menjadi editor lepas di penerbitan dan percetakan Firdaus. penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu Komunikasi dan Pengambangan Masyarakat (HIMASIERA) dan masuk menjadi salah satu staf di divisi fotografi dan cinematografi. penulis mendirikan organisasi perfilman dalam kampus yaitu Agriculture Filmmaker Community (AFC) dan dipercaya sebagai ketua pelaksana dalam program kerja pemutaran film lingkungan di tiga fakultas. Setelah itu. yaitu Fakultas Kehutanan. Jakarta pada tahun 1994 – 2000. penulis aktif menjadi volunteer di FORCI – Dev. terdapat berbagai kegiatan dan organisasi yang pernah dikuti oleh penulis. Bersama kawan – kawan dari fakultas lain. Semenjak memasuki jenjang pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor. . Beberapa waktu setelahnya. Setelah lulus dari jenjang SMU penulis melanjutkan studi di Intitut Pertanian Bogor pada tahun 2006 melalui jalur SPMB. Penulis memulai jenjang pendidikan dengan memasuki Taman Kanak – Kanak (TK) Putra Setia pada tahun 1992 – 1994.

Adapun judul dari skripsi ini ialah Dinamika Gerakan Petani.KATA PENGANTAR Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan berkahnya. Meskipun sungguh disadari oleh penulis. tetapi besar harapan penulis. Kecamatan Banjarasari. sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Mei 2011 Mochammad Fajrin . Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. penelitian kali ini boleh jadi tidak berarti apa – apa di dalam perkembangan studi – studi meengenai gerakan petani di Indonesia. bahwa penulisan skripsi ini dapat menambah pengetahuan diri dan orang – orang di sekitar penulis prihal permasalahan gerakan petani. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui perihal apa dan bagaimana gerakan petani di Desa Banjaranyar. Kemunculan dan Kelangsungannya (Desa Banjaranyar. khususnya yang berkaitan dengan kemunculan dan kelangsungan gerakan petani. Jawa Barat). Bogor. Institut Pertanian Bogor. Kabupaten Ciamis. Fakultas Ekologi Manusia.

memberi saran dan kritik yang membangun. Penulis sangat bersyukur karena penyusunan Skripsi ini dapat rampung tempat pada waktunya dan sesuai dengan yang direncanakan. Bapak Oman. memberikan semangat. Dosen Pembimbing Skripsi. Bung Hermawan . Kepada orang tua penulis M. Ari Mulyono (Mas Ari). Kepada Yusup Napiri Maguantara (Mas Yusup). serta motivasi sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan. Kang Arif. ilmu – ilmu hidup yang sangat beragam. Dr. memberi nasihat dan kritik yang sangat berguna. yang dengan sangat baik mau memberikan tumpangan tempat tinggal. Rachman. Kepada teman – teman kontrakan dan tetangga. dan dengan sangat sabar mau mendengarkan argumen . karena telah dengan sangat baik mau meminjamkan buku yang sangat banyak. yang telah menyayangi. yang dengan sabar mau menjadi teman saya berbagi pemikiran. 5. 3. yang dengan sabar mau menjadi teman satu lingkungan tinggal dengan saya. 2. Penulis menyadari bahwa Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Kang Jek. Anom Kalbuadi. Satyawan Sunito yang telah membimbing dengan penuh kesabaran. memberi dukungan dengan berbagai cara. Kepada sahabat saya Ahsana Riska. dan segala macam informasi yang resmi ataupun tidak.argumen dari penulis. 4. Dan tidak lupa kepada Bapak Mayor dan keluarga. Kepada teman – teman di Serikat Petani Pasundan (SPP). Ibu Wati. Kang Agustiana. asupan makanan yang enak – enak. Raditya M. 6. karena sudah memberi inspirasi dengan gaya ketentaraannya. Kemunculan dan Kelangsungannya”. Agus Budi Wibowo (Mas Bagong). . tetangga sebelah rumah. Hafid Faris Hakim. dan segala bantuan yang saya tidak mampu untuk menyebutkannya satu persatu. Yamin dan Elly Z. Maka dari itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. serta dengan sabar menunggu penulis karena jarang singgah ke rumah.UCAPAN TERIMAKASIH Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Dinamika Gerakan Petani.

8. Irena. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu menyelesaikan Skripsi ini Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dea. Lintang. Tya. Semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Kebersamaan dan segala kenangan yang begitu banyak dan sangat berharga sungguh sangat berbekas pada diri saya. Risman.7. Azis. Bogor. Untung. Ina. Irfan. Kepada teman – teman penulis di Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Cecep. Mei 2 011 Penulis .

...........1....1........1 Makna Tanah Bagi Petani...... DAFTAR TABEL. BAB III PENDEKATAN LAPANG........ Petani dan Tanah...................1... Kepemimpinan.. DAFTAR GAMBAR............................... 1..................... Sistimatika Penulisan............1..................…… BAB II TINJAUAN TEORITIS... 6 2........... Taknis Analisis Data... 35 i    ....…….....5..........……………………………………......................................4................. Sumber Radikalisasi Petani........ Jenis Penelitian…….......................................………………...................................... 7 9 2... 2.......................3........................ Gerakan Petani di Indonesia..…………….................................3............................. 2....................... 2....................................................…………………….....1..........……........................................ 13 2................2.....………………………… 35 3.......………………………............……………….....3...... Teknis Pengumpulan Data.....1. 1 1........……….....1 Organisasi Gerakan....………………………… 3................1...2.....……………………….....3. 4 5 6 2.1.1............................... Unit Analisis.1.......................... 16 2...... 3....................................................………... i iii iv BAB I PENDAHULUAN……………. Gerakan Petani...................………………………………………...4. 6 2....1.... Pengorganisasian Petani..3................ 2......... Definisi Konseptual.... Latar Belakang…………………………………......................................................................1....4.3............ 19 22 24 28 29 32 32 33 34 3.............. Perumusan Masalah..………………..........................................................…………….........................……………………...... 1 1............... 3.....................................DAFTAR ISI DAFTAR ISI……………………………….................................... Kerangka Pemikiran...2...2............. Tinjauan Pustaka............. Tujuan Penelitian.………………….1........1.......2...... 2...

..BAB IV LATAR BELAKANG KEMUNCULAN GERAKAN PETANI..............1.............. 4.2 Sistem Kebun...........……………………….....................................................3... 6...................... Perkebunan Agris NV....... 62 67 71 71 72 75 76 78 80 83 7.……………............................ Kesimpulan................... 6................................................... 6............................................... Koperasi................. Pengorganisiran Petani Banjaranyar dan Aksi Perebutan Tanah............ 37 37 40 40 42 47 49 50 54 55 58 5..........2.................... Organisasi Wanita...................…………………................ Era Orde Baru..... BAB V GERAKAN PETANI BANJARANYAR........................ Desa Banjaranyar…...................1..................................... 4............................................................................................... Makna Tanah Bagi Petani Banjaranyar......... Periode Pasca Kemerdekaan.....3.............................................6.........4................................. DAFTAR PUSTAKA................2............ Kepemimpinan.............. Implikasi Teoritis... Redistribusi Tanah.............. 4.. BAB VII PENUTUP...........3................ 4........... 6......…………........................... 4...............................2.............................. Organisasi Gerakan................2 Strategi Gerakan.............3.................................... 88 91 ii    ...5....... 83 7.....................…………………………...........................................................4.......................2... 4....................1. BAB VI KELANGSUNGAN GERAKAN PETANI BANJARANYAR........................2.....................3..................................................................................................... 6..................4.. 4.......................... 4......2..............1..................1..................... Pembukaan Perkebunan Kopi..................... Lumbung (leyit).......... Pertemuan Dengan Agustiana...................... Sejarah tanah Perkebunan di Desa Banjaranyar......1.2.............……………………… 4..................... 5........ 6... 58 5.................. “Aku” Anggota SPP..........

............ Stakeholder Pada Kasus Petani Desa Banjaranyar............. Desa Banjaranyar.... Tahun 2005..... Tabel 2..... Tabel 3....... Jumlah Produksi Kopi Hindia Belanda Dalam pikul.... Perkebunan 33 38 Pemerintah dan Swasta Tahun 1895 – 1909.. 45 iii    ............................ Tahun 2010.....DAFTAR TABEL Nomor Teks Halaman Tabel 1................. Jumlah Kepala Keluarga Petani menurut Luas Lahan yang Dimiliki..

........................….......………………………………….......... 60 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman Gambar 1.. Tahun 1796 – 1810.......................................... Gambar 2. 29 39 42 Gambar 4.............. dan Sekitarnya.................. Peta Desa Banjaranyar....................... Kecamatan Banjarsari.... Batavia..................... 77 iv    ........... Struktur Organisasi Koperasi Kredit.... Kerangka Pemikiran.......... Gambar 3. Produksi Kopi Priyangan.......... Struktur Organisasi Serikat Petani Pasundan (SPP).........

1997). Selama pemerintahan Soekarno. Ketimpangan struktur kepemilikan dan penguasaan tanah yang ada pada masa kolonial menjadi salah satu pemicu dikeluarkan kebijakan penataan agraria pada masa orde lama (1945 – 1965). Perkebunan – perkebunan swasta besar mulai bermunculan di Sumatera dan Jawa. aliran modal swasta asing deras mengalir membanjiri Indonesia. 1999).1984). pemerintah kolonial dapat memberikan keleluasaan kepada pengusaha swasta asing untuk dapat menyewa tanah dalam waktu yang panjang dan dengan harga yang murah. pada mulanya merupakan tanah garapan milik petani. Semenjak saat itu. kebijakan tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya aksi – aksi perlawanan petani. Seperti yang dituliskan Kuntowijoyo dan Kartodirdjo bahwa. semenjak masa kolonial hingga saat ini. diakui secara legal sebagai landasan hukum pertanahan yang sah. Hal ini ditandai dengan terbukanya ruang yang cukup lapang bagi petani untuk membentuk organisasi ditingkat akar rumput sehingga partisipasi politik ormas petani terbuka luas. Hal ini memberi dampak yang signifikan bagi kehidupan petani. begitu kata Vilfredo Pareto (Wiradi. Karena tidak sedikit dari tanah – tanah perkebunan tersebut. Diterbitkannya undang – undang agraria (Agrarische Wet) pada tahun 1870 oleh pemerintah kolonial menjadi tonggak penting bagi sejarah petani di Indonesia. rakyat mulai merasakan adanya kebebasan (Fauzi. Pada gilirannya. dapat dilihat bagaimana petani selalu mewarnai dinamika sejarah bangsa. radikalisasi petani pada era kolonial terjadi karena pengambilan tanah oleh Pemerintah Kolonial untuk kepentingan aktivitas usaha perkebunan.1 Latar Belakang Sejarah adalah kuburan. (Kartodirdjo. Dengan adanya undang – undang tersebut. Dikeluarkannya Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA 1960) sebagai salah satu kebijakan pemerintah Soekarno.BAB I PENDAHULUAN 1. Meskipun pada tahap pelaksanaannya pelaksanaan UU tersebut 1   . Kuntowijoyo. tetapi tanpa sejarah.“apakah mungkin kita berada disini” ? Dalam sejarah panjang Indonesia. 1984.

sehingga kegiatan politik pada tingkatan desa hanya pada saat pemilu semata. Krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 mendesak lahirnya gagasan reformasi. merupakan bentuk konversi dari hak erfpacht yang ada pada massa kolonial. Reformasi membuka ruang yang lebih besar bagi rakyat dalam menyuarakan aspirasinya. 2001).terhambat baik karena masalah administratif. yang marak pada masa Orde Baru. baik itu pada tingkat pusat atupun daerah. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang menghapus proses politik partisipatif orang desa dan perlibatan militer dalam pengawasan pembangunan desa. Sejalan dengan itu. Nasib petani di Pedesaan semakin terpuruk ketika ideologi developmentalism menjadi pilihan paradigma pembangunan rezim Orde Baru yang pada kenyataannya sangat problematik bagi petani dengan ditopang investasi modal asing secara besar – besaran melalui industrialisasi. Kejatuhan pemerintahan Orde Baru menciptakan ketidakstabilan di bidang politik dan ekonomi. yang dalam operasionalsilasinya sangat memerlukan ketersediaan tanah (Fauzi. Arah kebijakan agraria berubah pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada prakteknya hal ini memotong massa desa dengan partai politik. maupun oposisi dari tuan tanah. korupsi. maka segalanya akan berantakan dengan begitu cepat. Dikeluarkannya Undang Undang No. 2003). Adanya pemberian hak pengelolaan kawasan oleh pemerintah kepada pihak swasta atupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mustain (2007) menyatakan bahwa pengelolaan HGU tersebut dalam praktiknya sering terjadi penyimpangan peruntukan. terutama dengan dukungan dari banyaknya organisasi non pemerintah yang memang pesat juga perkembangannya diseluruh dunia pada awal tahun 1990-an 2   . Sudah menjadi ciri rezim otoriter modern bahwa ketika pusat tidak dapat bertahan. Pada era Orde Baru (1965 – 1998) persoalan land Reform dijadikan hanya sebatas pada masalah teknis birokrasi dan juga menghapus semua legitimasi ormas petani dalam program land reform. rezim ini mempunyai asumsi yang berbeda dalam melihat pembangunan (Fauzi. dan pengasingan terhadap masyarakat sehingga memicu manifestasi konflik. penguasaan. 1999). (Simon Philpott.

dan pembentukan organisasi gerakan pada tingkat lokal desa1. Tanah yang ada di Desa Banjaranyar merupakan tanah milik negara yang dikelola oleh PT RSI. 2007). mengejawantah dalam aksi perebutan tanah yang dilakukan oleh masyarakat atas tanah – tanah yang pernah menjadi tanah garapan penduduk. Presiden kedua Republik Indonesia. kasus Tapos. Salah satu bentuknya. dalam Pinky. hal tersebutlah yang mendasari dilakukannya penelitian kali ini. 3   . 1969). dimana tersedianya sebuah kondisi kondusif di dalam masyarakat yang memungkinkan terjadinya suatu aksi perlawanan petani. Kasus perebutan tanah yang ada di Desa Banjaranyar. pembuatan peta daerah reclaim. Gerakan yang ada di Desa Banjaranyar bersamaan dengan terjadinya reformasi pada tahun 1998. Apabila kita sejajarkan dengan periode waktu pembagian gerakan petani di Indonesia. tetapi juga dirasakan pada masyarakat di tingkat akar rumput. dan kasus Desa Keprasan Gunung Kelud. PT RSI mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) dari pemerintah atas tanah seluas 750 hektar. yang ditandai dengan turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kepmimpinan. Hal ini ditandai dengan adanya pendataan jumlah kepala keluarga desa. putra dari Soeharto.(Hulme dan Edward. Pertanyaan perihal “mengapa dan bagaimana aksi perlawanan petani secara terbuka dapat terjadi hingga saat ini” dapat diperjelas dengan menurunkannya menjadi sebuah pertanyaan besar yaitu “mengapa dan bagaimana                                                              1  Komunikasi pribadi penulis dengan salah satu tokoh masyarakat Desa Bangun Karya. Mengapa dan bagaimana perlawanan petani yang di Desa Banjaranyar. sebuah aksi perlawanan petani tidak mungkin terjadi pada kondisi yang tidak mendukung (Wolf. Adanya gerakan yang terorganisir di dalam Desa Banjaranyar pada tahun 1998 dapat dilihat sebagai salah satu gejala sosiologis. Semangat reformasi tidak hanya dirasakan oleh mahasiwa dan berbagai elemen masyarakat yang melakukan aksi turun ke jalan di kota – kota besar. gerakan yang ada mulai terorganisir pada tahun 1998. PT RSI sendiri merupakan sebuah perusahaan perkebunan swasta yang dimiliki Bambang Trihatmojo. seperti pada kasus wonosobo. pada Studi pendahuluan yang dilaksanakan pada bulan Februari 2010. Karena.

Berkaitan dengan kemunculan (pra – reclaiming) gerakan petani. penelitian kali ini mengkaji kemunculan dan kelangsungan gerakan petani di Desa Banjaranyar. Secara lebih spesifik dapat diuraikan menjadi beberapa pertanyaan analitis.2 Perumusan Masalah Seperti yang telah dipaparkan diawal. apa makna tanah bagi petani di Desa Banjaranyar ? 3. yaitu penyebab atau asal usul (kajian historis) terjadinya aksi perebutan tanah oleh petani dan kondisi masyarakat secara keseluruhan.petani di Desa Banjaranyar dapat merebut dan mempertahankan tanah”. 1. Kabupaten Ciamis. Apabila dilihat dari sisi prosesnya dapatlah dipilah menjadi dua bagian. terjadinya “kemunculan” dari aksi perebutan tanah dan “keberlanjutan” dari aksi perlawanan tersebut. Kecamatan Banjarsari. Proses kemunculan dari gerakan ini dapat menunjukan dua hal secara sekaligus. Pertanyaan perihal kelangsungan (faktor – fakor internal dan eksternal) gerakan petani dalam rangka mempertahankan tanah : • • Bagaimaana perkembangan gerakan petani di Desa Banjaranyar pasca terjadinya aksi perebutan tanah ? Bagaimana hubungan gerakan petani Banjaranyar dengan berbagai kekuatan sosial baik itu di dalam ataupun di luar desa Banjaranyar ? 4   . dapat menunjukan perkembangan gerakan petani berserta kaitaannya dengan berbagai kekuatan sosial lain baik di dalam atau di luar desa. yaitu: 1. Bagaimana latar belakang dan proses perebutan tanah yang dilakukan oleh petani di Desa Banjaranyar ? 2. Proses keberlanjutan dari gerakan sebagai aksi petani untuk mempertahankan tanah.

ii) apa makna tanah bagi petani Banjaranyar. beserta hubungan gerakan petani dengan berbagai kekuatan sosial baik di dalam dan si luar desa. 5   . berkaitan dengan kemuculan gerakan petani (pra-reclaiming).3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : i) latar belakang dan proses perebutan tanah di Desa Banjaranyar. iii) perkembangan gerakan petani Banjaranyar.1.

menekan konsumsi mereka sendiri. udara. Sejalan dengan hal tersebut Shanin (1971) dalam tulisan yang berjudul Peasantry as a Political Factor. ataupun mengatur kembali hubungan mereka dengan pasar. Redistribusi tanah merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh dalam rangka menjalankan program reforma agraria. Di dalam konteks reforma agraria. Redistribusi tanah atau membagi kembali tanah kepada masyarakat bukanlah reforma agraria. Meskipun apabila kita merujuk pada Undang Undang Pokok Agraria. Kata tanah mendapatkan penekanan lebih karena dianggap menaungi kesemua hal tersebut.1 Tinjauan Pustaka 2. dimana hasil produksi sebagian besar digunakan untuk konsumsi pribadi dan untuk memenuhi kewajiban mereka kepada pemegang kekuatan politik dan kekuatan ekonomi.BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2. mereka dapat mempertahankan keberadaannya dengan cara meningkatakan usaha kerja. Shanin (1966) berpendapat bahwa. Reforma agraria tidak hanya 6   .1. kata agraria tidak semata – mata dalam artian tanah semata tetapi juga air. dengan melihat posisinya sebagai golongan yang tersubordinasi serta mempunyai budaya yang tersendiri. apabila komoditas atau hasil produksi pertanian dapat dipertemukan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dari rumah tangga petani akan mencipkan kemerdekaan relatif pada diri petani terhadap produsen pertanian lain dan pasar. tanah menempati posisi yang teramat penting. Istilah reforma agraria sendiri merupakan upaya penataan atau perombakan penguasaan sumberdaya agraria yang adil dan menyeluruh. dan ruang angkasa serta segala sesuatu yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut akan berujung pada terciptanya stabilitas relatif dalam rumah tangga petani. mendefinisikan petani sebagai produsen pertanian skala kecil yang menggunakan peralatan yang sederhana dan mengerjakan lahan dengan tenaga kerja keluarga. yang apabila terjadi krisis. mencirikan petani sebagai kelompok yang berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain.1 Petani dan Tanah Moore (1966).

Di dalam makna keamanan. Secara ekonomi tanah merupakan tempat sumber makanan.1. Neo – populis melihat bahwa satuan ekonomi rumah tangga merupakan bentuk ekonomi yang efisien. Chayanov (Chrysantini.1 Makna Tanah Bagi Petani Bagi petani tanah tidak hanya sebagai komoditas ekonomi. dalam sejarah masyarakat Indonesia. khususnya Indonesia. nilai. Petani memiliki peran vital dalam perkembangan sejarah dunia. Oleh karena itu setiap rumah tangga petani wajib menguasai tanah meskipun kecil. tanah akan membawa rasa aman tertentu bagi petani jika sesuatu terjadi pada diri mereka. Raforma agraria di Indonesia yang tercermin dalam Undang Undang Pokok Agraria memiliki semangat untuk memperkuat fondasi ekonomi di level masyarakat desa.1. Secara sosial tanah berarti eksistensi diri. sebagai tempat melakukan aktivitas produktif. Apabila kita telisik jauh kebelakang. meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani. dan norma). sehingga reforma agraria seharusnya tidak sepotong – sepotong dan hanya berwujud pembagian tanah tetapi merupakan perombakan besar pada struktur sosial ekonomi politik yang terkait dengan tanah pada kehidupan petani. 2005). 7   . 2005).sebatas redistribusi tanah melainkan juga perombakan tatanan sosial ekonomi politik yang lebih luas (Wiradi. tempat mencari penghidupan. 2. pemberontakan petani yang oleh penjajah dianggap sebagai wabah atau penyakit sosial merupakan bukti bahwa petani memiliki peran penting dan posisi politik yang diperhitungkan dalam perkembangan sejarah Indonesia (Sadikin. tetapi juga bermakna sosial dan keamanan. terutama dalam sejarah Jawa Abad XIX. 2000).V. Pandangan ini menempatkan reforma agraria dalam konteks perubahan struktur mendasar dan perubahan institusi (aturan. sebagai tempat untuk menemukan dirinya secara utuh. bahkan tanah merupakan simbol status sosial di dalam masyarakat. dengan penekanan pada kepemilikan tanah. Semangat reforma agraria di Indonesia dipercaya merujuk pada paham neo – populis yang dipopulerkan oleh A. yang berarti tanah membawa efek psikologis bagi petani.

pertambangan. Makna tanah bagi petani akan tergambar dalam nilai – nilai yang mereka anut atau percayai. Kalau tanah sulit untuk didapatkan atau tidak cukup maka salah satu jalan yang ditempuh adalah berkerja semakin keras atau mengintensifikasikan produksi pertanian. Ketika kemudian tanah dapat dimiliki dan diwariskan oleh para petani.Tanah menempati kedudukan strategis dalam kehidupan petani. maka dengan sendirinya akan memperlihatkan cara – cara pemaknaan petani terhadap tanah. tetapi merupakan akumulasi dari nilai – nilai ideologis yang membentuknya. penjualan kayu. memperlihatkan bahwa petani memberikan makna yang bersifat ideologis terhadap tanah. disanalah tempat atau pangkal dari budaya petani itu sendiri. menyatakan bahwa di dalam segala aktivitas yang dilakukan petani di pedesaan seperti bercocok tanam. tanah bahkan dipandang sebagai sikep (istri) kedua (Bahri. seperti halnya tenaga kerja (Labor). Pemaknaan petani terhadap tanah juga dapat dilihat dari pola kehidupan (livelihood) dari petani itu sendiri. ukuran luas tanah minimal yang dapat 8   . 1999). karena tanah merupakan modal utama. Bahri (1999) menyatakan. Karena tanah merupakan penopang kehidupan petani. Thennakoon (2002) dalam sebuah tulisan yang berjudul Rural Livelihood Strategi and Five Capital : A Comparative Study in Selected Villages in Sri Langka. Tanah merupakan bagian penting bagi petani. merupakan biaya tetap (fixed cost) yang menjadi aset mutlak agar petani bisa memenuhi kebutuhan subsistensi keluarganya (Chrysantini. Petani mempertahankan tanah bukan hanya karena nilai komoditasnya. tanah secara utuh merupakan gambaran eksistensi dari si petani itu sendiri. Didalam beberapa kebudayaan. Petani tanpa tanah serasa bukan menjadi petani lagi. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa tanah bagi petani. perburuhan. Berkurang atau direbutnya tanah yang dimiliki petani akan membuat mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan subsistensinya. tanah merupakan warisan dari leluhur yang harus dijaga keberadaannya (nilai sakral). tanah memiliki nilai yang begitu besar. penyimpanan hasil produksi pertanian dan perdagangan kesemuanya berkaitan erat dengan tanah. Di dalam pandangan neo – populis. jika menempatkan penekanan pada gerakan petani dan hubungannya dengan tanah. Di dalam kasus gerakan petani yang ada pada era 1980an. 2005).

1. Para ulama yang berperan sebagai motor penggerak petani banyak menanamkan harapan – harapan akan datangnya sang juru selamat atau Ratu Adil. Dilain pihak latar belakang sosial ekonomi dan politik yang berkembang pada saat itu. Petani tidak dapat ditempatkan pada pilihan yang dikotomis di dalam pemaknaan mereka terhadap tanah. Pertama. 1982). harapan – harapan mesianik dan eskatologi menjadi motivasi utama dalam gerakan perlawanan.2 Sumber Radikalisasi Petani Awal abad ke-20. seperti yang dikutip oleh Bahri (1999). sebagai budaya dapat menentukan tinggi rendahnya status sosial pemiliknya. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai labor – consumer balance yaitu petani bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Kedua. gerakan sosial di Jawa banyak diawali oleh para ulama yang pada mulanya hanya menyebarkan agama Islam tetapi pada kemudian berkembang menjadi gerakan perlawanan rakyat terhadap pemeritah kolonial. seperti mitos akan datangnya Ratu Adil atau juru selamat. tanah bermakna sakral karena berurusan dengan warisan dan masalah – masalah transendental (Handayani. Keempat. Dengan kata lain aspek sosiologis dari gerakan tersebut tidak terlalu dimunculkan (Bahri. dari sisi ekonomi tanah merupakan sarana produksi yang dapat mendatangkan kesejahteraan. 9   . bermunculan kajian gerakan sosial di Indonesia yang lebih menonjolkan pada gagasan atau simbol gerakan mesianik. motivasi – motivasi subyektif menjadi aspek utama yang dikaji. Tanah bagi petani memiliki makna yang multidimensional. secara sosial tanah dapat menetukan posisi seseorang dalam pengambilan keputusan masyarakat. serta pada lapisan mana ajaran tersebut tumbuh subur tidak terlalu dibahas.dimiliki petani amat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga. Hal senada juga dapat kita lihat pada perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Samin di Jawa Tengah. Studi yang ada pada awal abad 20 banyak membahas latar belakang dan nilai – nilai yang dianut oleh para pelaku pemberontakan. 2004) 2. 1999). Dalam tulisan Drewes. Ketiga. Ajaran – ajaran yang mereka kembangkan. memperhitungkan efisiensi pemilikan atau penguasaan tanah sesuai dengan kebutuhan hidup minimum berdasarkan jumlah anggota keluarganya (Kitching.

Eksploitasi kolonial ditambah dengan tekanan demografi yang semakin meningkat. Penguasaan tanah semakin terlepas dari tangan penduduk. dibentuknya negara modern yang ditopang oleh birokrasi dan militer untuk mengontrol wilayah jajahan. Perubahan struktur agraria di pedesaan Asia. pengalihan secara besar – besaran disektor pertanian. Kartodirjo (1991) berpendapat bahwa terdapat dua transformasi penting di era kolonial. 1984). Pertama. Penduduk desa di Asia pada massa pra-kapitalis merupakan sebuah unit rumah tangga yang bertumpu pada tingkat subsisten. Pemerintah kolonial sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada para petani miskin terhadap fluktuasi pasar (Kartodirjo. Pengenalan sistem pertanian modern dalam bentuk perkebunan berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan atas tanah dan tenaga kerja. dipengaruhi adanya sistem kolonialisme.sendi moral ekonomi petani yang didasarkan pada etika subsistensi (Scott. dan desprivasi relatif. mereka yang tidak memiliki tanah beralih menjadi penggarap buruh tani upahan dan buruh perkebunan. desa – desa di Asia terintegrasi dengan sistem kapitalis dunia. mengenai maraknya gerakan perlawanan petani pada masa kolonial. mengakibatkan rusaknya pola – pola yang sudah ada. Keadaan yang sudah sedemikian buruk ternyata belum cukup untuk membuat 10   . Kedermawanan sosial yang semula ada pada masa bagi hasil. Transformasi agraria yang terjadi telah menghilangkan jaring pengaman sosial keluarga – keluarga petani miskin dari bencana kelaparan. Hal yang menarik justru terlihat dalam karakteristik petani itu sendiri. kemerosotan status sosial. dari yang semula merupakan pertanian subsistem menjadi pertanian yang berorientasi ekspor. Kedua. 1976). Melalui kolonialisme. yaitu perubahan struktur Agraria. Kolonialisme dan masuknya ekonomi uang berangsur – angsur telah menghapus jaminan sosial yang ada pada masa pra-kapitalis. kini tidak lagi berlaku umum. serta mengkhianati sendi . khususnya Jawa. meningkatnya eksploitasi. di pedesaan Asia. Salah satu bentuk transformasi tersebut mengejawantah dalam bentuk perkebunan – perkebunan besar.Studi yang dilakukan oleh Scott (1974 dan 1989) dan Popkin (1976). memperlihatkan terdapatnya empat faktor utama penyebab kemarahan kaum tani.

Isu yang terkait dengan hal ini seperti: i) pihak petani ingin 11   . Besarnya lingkup kejutan atas eksploitasi dapat menjadi suatu alasan kolektif petani dalam jumlah besar untuk bertindak. dan hampir terjadi diseluruh wilayah. terjadi ratusan pemberontakan petani dalam rangka menentang pungutan pajak yang dilakukan oleh negara (Kuntowijoyo. serta dapat mengancam jaring pengaman sosial mereka atas sumber – sumber subsistensial. dimana hal tersebut dibarengi dengan peningkatan eksploitasi yang dilakukan oleh negara atau tuan tanah. 1993). maka besar sekali kemungkinan eksploitasi tersebut mencetuskan sebuah aksi perlawanan. Noer Fauzi (1999) berpendapat bahwa. Pertama. menimpa banyak petani. Bentuk dari adaptasi petani dalam menghadapi keadaan di sekelilingnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. 1966). Sifat evolusi petani yang amat sangat terbiasa hidup dalam kesusahan membuat mereka sudah tertempa untuk dapat mempergunakan berbagai cara untuk mempertahankan tingkat subsistensi mereka. Terlebih lagi. Scott (1976) mencoba menjelaskan bahwa lingkup dan sifat dari kejutan – kejutan eksploitasi memiliki arti penting. apabila kejadian tersebut datang secara tiba – tiba sehingga petani sulit untuk melakukan adaptasi dalam menghadapi beban tambahan dan tingkat subsistensinya. dan memecah keluarga besar menjadi keluarga – keluar kecil untuk mengurangi beban mulut yang ditanggung (Shanin. seperti intensifikasi kerja. Ketika dunia dilanda depresi besar pada tahun 1930-an yang juga amat berdampak pada struktur perekonomian kolonial. pada massa pemerintahan Orde Baru terdapat sejumlah penyebab yang dikemudian hari dapat menjadi pemicu terjadinya gerakan petani. pemerintah mewajibkan petani mempergunakan unsur-unsur revolusi hijau demi tercapai dan terjaganya swasembada beras. mengurangi konsumsi atau mengubah pola konsumsi.petani berontak untuk melawan. Aksi perlawanan petani baru dapat terjadi apabila terjadi kemerosotan ekonomi secara mengejutkan. Ekploitasi yang dilakukan secara berkelanjutan dengan kualitas yang terus meningkat. Pemberontakan yang terjadi di pedesaan Jawa sebagian besar disebabkan karena pengambilalihan tanah dalam jumlah yang sangat banyak untuk digunakan usaha – usaha perkebunan. migrasi jangka pendek.

Kedua. v) praktek Koperasi Unit Desa (KUD). Isu yang terkait seperti: i) penolakan petani atas pencerabutan hubungannya dengan tanah. ii) kehancuran sumber daya subsistensi masyarakat adat. dan vii) korupsi hak petani plasma. iii) penyediaan sumber ekonomi dan pemukiman alternatif yang memadai. vi) proses kredit yang tidak diketahui oleh petani plasma dan jumlah hutang yang tidak bisa terbayarkan.mempertahankan penggunaan bibit dan pengelolaan padi secara tradisional. iv) rendahnya produktivitas lahan yang dikelola oleh plasma. iii) harga pupuk dan pestisida yang naik tidak sebanding dengan kenaikan harga gabah. iv) pemukiman kembali (resetlement). Keempat. karena hilangnya hubungan dengan tanah. ii) ganti rugi yang tidak layak. terdapat sejumlah kasus di mana pemerintah melakukan pengambilalihan (penggusuran) tanah yang mengatasnamakan “program pembangunan”. petani yang tergusur sama sekali dari tanahnya. dan iii) pemukiman kembali penduduk (resetlement) yang tidak memadai. perkebunan-perkebunan mengambil alih tanah-tanah yang sebelumnya dikuasai oleh rakyat. ii) ganti rugi tanah yang tidak memadai. baik oleh pemerintah sendiri maupun swasta. Ketiga. serta iv) kemunduran kualitas ekologis di tingkat lokal hingga global. ii) kesempatan kerja yang menyempit karena penggunaan traktor dan mekanisme tebasan. menjadi ‘buruh di tanah sendiri’. Isu yang muncul antara lain: i) pengambilan tanah-tanah produktif rakyat petani untuk PIR . iii) proletarisasi petani. Variasi konflik agraria ini. Isu yang muncul adalah: i) penolakan petani untuk keluar dari tanah yang diklaim. sehingga tidak terjadi transfer of technology. vi) penentuan harga komoditi yang lebih rendah dari harga pasar. ii) tercerabutnya rakyat petani dari tanahnya sendiri. iii) langkanya penyuluhan dari pihak perkebunan inti. adalah konflik perkebunan dengan petani dalam hubungan intiplasma dalam program Perusahaan Inti Rakyat-Perkebunan (PIR-Bun). v) monopoli pemasaran hasil-hasil komoditi oleh pihak inti. konflik akibat eksploitasi hutan. Isu yang terkait seperti: i) penolakan penduduk untuk menyerahkan tanah garapannya. baik oleh oknum inti maupun pihak perantara lainnya. iv) Kredit Usaha Tani (KUT) yang tidak mampu terbayarkan. 12   .Bun.

menurut Scott (1976). pembuat peraturan.1. Scott (1976) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat keberhasilan dan kegagalan dalam sebuah gerakan atau mobilisasi petani. startegi yang digunakan. mereka harus diwakilkan. Perwakilan tersebut. Mereka tidak mampu merepresentasikan diri mereka kedalam sebuah kelas. Petani cenderung memandang bahwa. hingga kondisi subsistensi petani yang sudah melampaui batas toleransi. kondisi – kondisi yang mendorong timbulnya pergerakan. baik dalam berproduksi. Pertama. Petani dianggap selalu bertindak atas nama kelompok. kedua. maupun melakukan perlawanan. petani miskin tidak bisa keluar dari strukturnya atau petani tidak memilliki taktik dalam melakukan perlawanan. Pandangan perihal ketidakmampuan petani dalam mengoraganisir diri sendiri diperkuat oleh Marx (1850) dalam Peasantry as a Class. 1969).3 Pengorganisasian Petani Petani pada dasarnya tidak mempunyai keinginan untuk melakukan perlawanan kecuali ada tekanan atau krisis yang sangat menekan mereka dan adanya pihak luar yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut (Wolf.2. Lahirnya suatu mitos bersama tentang keadilan yang transedental sering dapat menggerakan kaum tani untuk melakukan gerakan sosial. Tekanan struktural. Petani kelas 13   . 1966). dan kekuatan institusional yang dapat melindungi mereka dari tekanan kelas lain. kultural. dan ketiga. meskipun tidak stabil. Gerakan – gerakan perlawanan petani. berpolitik. sangat rentan. faktor kepemimpinan. hal ini sudah cukup untuk menjadi pemicu bagi petani untuk melampiaskan kemarahannya terhadap tatanan sosial yang ada. Mitos – mitos seperti ini mempersatuakan kaum tani hingga mampu membentuk koalisi – koalisi petani. dan hanya dipersatukan untuk sementara waktu oleh suatu impian milenial (Wolf. pada bentuk sederhana seringkali berpusat pada mitos tentang suatu tatanan sosial yang lebih adil dan merata ketimbang dengan tatanan sosial yang sekarang bersifat hirarkis. Wolf (1969) juga menyatakan bahwa petani kelas menengahlah yang menempati posisi penting dalam mendukung gerakan revolusi petani. bahwa petani tidak dapat memperjuangkan kepentingan kelas mereka atas nama mereka sendiri. pada saat yang bersamaan haruslah bertindak sebagai pemimpin.

Pendekatan moral ini mendapatkan kritikan oleh Popkin (1979) yang mengatakan bahwa petani sesungguhnya tidak terlalu mementingkan kelompok dan mampu melakukan perlawanan atas dasar kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Struktur sosial yang terdapat pada masyarakat ini secara horizontal ditandai oleh homogenitas yang tinggi dan secara vertical ditandai oleh struktur yang berbentuk krucut. Pengorganisiran atau mobilisasi petani memerlukan lebih dari sekedar konsensus atau intensitas kebutuhan. tingginya tingkat bunga.menengah paling mudah terkena dampak penyitaan tanah. dan perubahan – perubahan lain yang diakibatkan pasar dunia. Pada struktur sosial yang berbentuk kerucut. Akibatnya. 14   . sehingga ketika terjadi perubahan yang tidak sesuai atau dirasakan akan mengancam kelangsungan kehidupan yang telah mereka miliki. Konsep lain yang dipergunakan Scott (1976) dalam menjelaskan pengorganisiran petani adalah struktur sosial yang terdapat pada masyarakat prakapitalis. Moralitas mendahulukan keselamatan inilah yang kemudian menjadi faktor kunci pendekatan moral ekonomi petani dalam menjelaskan pengorganisiran petani. sehingga sebuah perjuangan tidak ditunggangi oleh free rider (pemboncengan). struktur bawah diduduki para petani penggarap dan buruh tani dengan jumlah yang banyak. Scott (1981). Dalam struktur masyarakat seperti ini faktor kepemimpinan memegang peran penting dalam pengorganisiran petani. fluktuasi pasar. para petani kemudian mengandalkan perlawanan terbuka. pada dasarnya berasumsi bahwa gerakan perlawanan petani semata – mata didasari oleh moralitas tradisional yang berorientasi ke masa lalu dan masa kini saja. juga mempunyai basis ekonomi yang independen dan sumberdaya politik taktis yang tidak dimiliki oleh petani miskin dan buruh tani untuk mendukung suatu gerakan revolusioner. posisi puncak strata sosial diduduki kaum elite yang berjumlah sedikit. petani kelas menengah selain lebih mudah menerima gerakan revolusioner yang menjanjikan restorasi politik dan stabilitas ekonomi. berpendapat bahwa kehidupan petani ditandai oleh hubungan moral sehingga malahirkan moral ekonomi yang lebih mengutamakan “keselamatan” dan menjauhkan diri dari bahaya. dan harus ada kepentingan pribadi. Pendekatan moral petani.

ekonomi pasar. yang selama ini mengklaim mewakili komunitas tradisional. ideologi. tetapi untuk membangun tradisi baru. Namun pada kenyataannya. tetapi lebih dimaksudkan untuk menentang kekuasaan para elite desa (Petani Kaya). Para petani dalam melakukan gerakan biasanya tidak terlalu meperdulikan tujuan – tujuan umum. ii) tidak ada kaitan yang signifikan antara ancaman terhadap subsitensi dan tindakan kolektif. sistem filosofi. adanya perbedaan yang jelas antara rasionalitas individu dengan resionalitas kelompok. Ketidakpuasan petani bersifat jelas. 1979). padahal lebih bertujuan untuk mempertahankan tatanan yang lebih menguntungkan mereka. strata sosial baru di desa) akan menganggu subsistensi dan tatanan sosial – ekonomi petani sehingga membuat petani bersifat reaktif. bukan gerakan untuk mengembalikan tradisi lama (restorasi). menitikberatkan pada keberhasilan penyelesaian atas masalah – masalah lokal. petani tidak mempunyai kesempatan sehingga tidak dapat menjual hasil pertaniannya sendiri ke pasar. Terdapat tiga hal penting yang dapat kita garis bawahi pada penelitian yang dilakukan oleh Popkin (1986). eksploitasi. dan organisasi – organisasi yang revolusioner. terbatas. iii) kalkulasi keterlibatan dalam gerakan lebih penting daripada isu ancaman kelas. dimana keuntungan datang dengan cepat dan bersifat kongkrit. kreatif dan juga ingin menjadi kaya. lokal. Pertama – tama mereka memberikan bantuan bagi proyek – proyek atau aktivitas yang beresiko dan berskala kecil. keberhasilan pengorganisiran petani ditingkat desa. dan cenderung pragmatis. bukan untuk menghancurkan ekonomi pasar tetapi untuk mengontrol kapitalisme. Dengan kata lain. Kapitalisme dan imperialisme (komersialisasi pertanian. antara lain : i) gerakan yang dilakukan para petani adalah gerakan anti-feodal. ekonomi uang. Popkin (1986) menyatakan bahwa. Dalam kasus petani di Vietnam.Petani dipandang sebagai manusia – manusia rasional. Aksi – aksi perlawanan petani biasanya untuk 15   . Kemudian mereka mengembangkan diri dengan mengorganisir petani pada proyek – proyek yang lebih menantang (spekulatif) dan berskala lebih besar yang dapat memberikan keuntungan abstrak jangka panjang (Popkin. semua perlawanan petani tidaklah dimaksudkan untuk menentang program negara (Kasus Revolusi Hijau). teori – teori politik.

Suatu kelompok akan berpartisipasi dalam suatu gerakan yang bersifat kolektif karena ingin mendapatkan keuntungan tertentu atau mendapat insentif. Salert (1976) dalam bukunya yang berjudul Revolution and Revolutionaries : Four Theories.1 Organisasi Gerakan Jo Freeman (1979) dalam tulisan yang berjudul A Model For Analyzing the Strategic Option of Social Movement Organization berpendapat bahwa keputusan strategis dalam sebuah gerakan tidak selalu berasal dari pemimpin gerakan atau sekumpulan elite dalam gerakan. sangat mungkin dikembangakan sifat dan peran psikologis dalam menjelaskan partisipasi petani dalam gerakan petani. Hal ini memperlihatkan bahwa keikutsertaan petani dalam gerakan banyak dipengaruhi oleh jenis.memenuhi kepentingan materil. Orang yang terlibat dalam gerakan lebih banyak didasari oleh pilihan rasionalnya. yaitu i) teori ini melibatkan sifat dan efek psikologis yang diperlukan untuk menjelaskan partisipasi petani dalam aksi kolektif. yaitu 16   . 2. Mereka melakukan pemberontakan atas dasar hitungan untung rugi yang ditanggung dari ketidakpuasan atas keadaan status quo. Dalam melihat organisasi gerakan terdapat empat elemen penting yang harus diperhatikan. perilaku revolusioner akan membentuk pengalaman sosial yang akan mengakibatkan perubahan perilaku sebagian masyarakat. 2007). Dari asumsi tersebut. banyak orang melebih . ii) Pilihan petani difokuskan pada asumsi rasionalitas yang membentuk basis teori tentang putusan sebelum membentuk aksi koletif. bentuk dan isi harapan – harapan yang menurutnya bakal menguntungkan (Mustain. Tetapi.lebihkan teori pilihan rasional dan meninggalkan teori psikologi. Terdapat dua pengembangan teori pilihan rasional.1.3. karena sebagian besar gerakan bukanlah subyek dari sebuah kontrol yang bersifat hirarkis. menyatakan bahwa teori rasional petani memang memberikan pandangan yang cukup bermakna dalam pengorganisiran massa. tetapi yang menjadi pertanyaan “mengapa pilihan rasional itu relevan di dalam aksi perlawanan petani”. Olson (1971) dalam buku yang berjudul The Logic of Collective Action mengkritik argument tersebut dengan menyatakan bahwa pergolakan petani dalam menetang kekuatan pasar tidaklah selalu mendorong terjadinya gerakan petani.

struktur adalah jejaring hubungan 17   . Sayangnya sumberdaya yang ada dalam sebuah gerakan. ii) pembatasan pada pemanfaatan sumberdaya tersebut. Disisi lain.i) sumberdaya yang dimobilisasi. perbedaan mendasar antara organisasi gerakan dengan perkumpulan individu yang berbasis pada suatu ketertarikan. Pada kenyataannya. Joe Freeman (1979) membagi pembatasan dalam pemanfaatan sumberdaya menjadi lima kategori yaitu. Terdapat “pembatasan” antara sumberdaya dengan gerakan yang bertindak seperti penyaring. Akan lebih mudah membayangkan sumberdaya sebagai sesuatu yang abstrak. Sumberdaya terbatas termasuk uang. bukanlah sumberdaya cair yang dapat kita gunakan seenaknya. Sedangkan sumberdaya tidak terbatas adalah manusia itu sendiri. uang misalnya. publikasi juga dapat digunakan untuk melakukan pengumpulan uang. ruang. uang dapat dipergunakan untuk melakukan publikasi ide – ide gerakan. i) nilai yang dianut oleh gerakan. dan v) hubungan dengan kelompok target gerakan. meskipun tidak selamanya akan seperti itu. ii) pengalaman pada masa lalu. Uang dapat membeli ruang. dan manusia yang memiliki jalur kepara pengambil kebijakan. Sumberdaya yang tidak terbatas dapat dipilah menjadi dua kategori besar yaitu manusia yang berkemampuan dan manusia yang tidak berkemampuan. Sumberdaya yang dapat dimafaatkan dalam melakukan gerakan bisa dibagi menjadi dua. iii) struktur organisasi gerakan. sebaliknya. Haruslah disadari bahwa tidak setiap orang dapat memberikan kontribusi yang sama pada satu gerakan. dan penyebaran ide dasar dari gerakan kepada publik secara luas. Manusia yang berkemampuan merupakan manusia yang memiliki kemampuan untuk mengorganisir massa. terletak pada pengelolaan kedua sumberdaya ini. Hal ketiga yang menjadi penting dalam sebuah organisasi gerakan adalah struktur gerakan sosial. iv) ekspektasi. dan iv) ekspektasi atas target yang potensial (tujuan gerakan). bisa digunakan untuk hampir semua kebutuhan dalam sebuah gerakan. Sedangkan manusia yang tidak berkemampuan merupakan manusia yang hanya memiliki waktu dan komitmen kepada gerakan. yaitu sumberdaya terbatas dan sumberdaya tidak terbatas. Menurut Harper (1998). iii) konstituen dari gerakan. manusia yang mempunyai jaringan dengan berbagai kelompok terkait.

dan struktur gerakan yang desentralisasi atau tersegmentasi. perbandingan hasil dari aksi dengan standar norma yang ada di masyarakat. Terdapat dua tipe organisasi petani yang melakukan perlawanan. Gerakan petani yang terorganisasi dari luar (eksternal). ataupun KAAPLAG pada kasus Cimacan. 2007). Institusi Adat pada kasus Tanah Lot. Meskipun tidak dapat kita jadikan patokan. organisasi. Ketiga. BPRPI di Sumatra Timur. Struktur gerakan yang tersentralisasi cenderung membutuhkan sumberdaya yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan gerakan dengan struktur desentralisasi. yakni (1) organisasi yang muncul dari dalam kelompok petani itu sendiri untuk mengatur diri sendiri. Terdapat dua model dari struktur organisai gerakan. Institusi ini tercipta guna menekan kerugian yang didapat dalam usaha mendapatkan insentif. yaitu keberhasilan mereka tergantung pada kemampuan dalam memberikan 18   . Guna mewujudkan gerakan sosial yang efektif terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan ekspektasi atas target dalam organisasi gerakan. Disamping itu. dalam mencapai keberhasilan organisasinya memerlukan mekanisme dengan melaksanakan peraturan tertentu. group. Institusi – institusi petani yang mengorganisir diri sendiri dapat sangat berpengaruh dalam bentuk perlawanan harian petani. Keberhasilan pada suatu gerakan banyak ditentukan pada bagaimana gerakan itu dapat menemukan titik rataan antara ketiga kategori tersebut dengan kondisi dilapangan. definisi mengenai struktur yang diutarakan oleh Harper (1998) dapat membantu kita dalam melihat stuktur dari organisasi gerakan petani seperti Serikat Petani Pasundan (SPP) di Priangan Timur. antara berbagai peran-sosial. (2) organisasi yang muncul dari luar (Mustain. insentif juga dapat menjadi semacam stimulus bagi institusi petani lain yang mengorganisisr dirinya sendiri berdasarkan ketidaksepakatan bersama (kolektif). Kedua adalah upaya – upaya berupa kontrol sosial yang dapat dilakukan oleh gerakan. Pertama adalah struktur dari kesempatan yang terbuka untuk melakukan aksi massa. dan institusi yang membentuk masyarakat tersebut.sosial yang sudah mantab dimana interaksi sudah menjadi rutin dan berulang. dalam menjaga kesinambungan gerakan. yaitu struktur gerakan yang tersentralisasi.

Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok. Organisasi petani dikatakan berhasil apabila organisasi tersebut dapat menyeimbangkan antara pertimbangan insentif individu dengan kebutuhan umum.1. dan tipe demokratik. karena tanpa kelompok tidak akan ada pemimpin. ideologi. Godwin dalam Ecstein (1990) mengemukakan bahwa selain barang – barang kolektif. khususnya yang berbahaya seperti perang grilya yang sesungguhnya. tujuan. anggota dipandang selayaknya mesin. bahkan hingga sampai aktivitas kelompok. Pemimpin merupakan figur sentral yang menyatukan kelompok. Kepemimpinan dapat juga dikatakan sebagai suatu kemampuan untuk menangani orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi yang sedikit mungkin antar anggota kelompok.2 Kepemimpinan Pemimpin dan kepemimpinan merupakan satu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan. Hal yang paling diutamakan adalah orientasi pada pelaksanaan dan penyelesaian tugas. Seorang pemimpin yang otoriter cenderung memperlakukan para bawahannya sama dengan alat lain dalam organisasi. 2. tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan 19   . tipe kharismatik. suasana. yang mampu mengundang para pengikutnya untuk berpartisipasi secara aktif.insentif. keluarga mereka juga dapat meminta penambahan tanah selain yang telah diberikan kepada pendukung secara umum. Terdapat beberapa tipe kepemimpinan seperti tipe otokratik. Insentif tersebut diperuntukan para pengikut dan pejuang. Kepemimpinan tipe otokratik dapat dilihat sebagai seorang pemimpin yang sangat egois. di samping dapat meminta pengurangan pajak dan sewa tanah. organisasi – organisasi revolusioner tersebut juga menawarkan insentif untuk mendorong partisipasi dalam berbagai macam aktivitas.3. tipe laissez faire. Pemimpin dapat dipandang sebagai agen primer yang menentukan struktur. tipe paternalistik. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang atau beberapa orang dalam kelompok dalam mengelola gejala – gejala sosial.

Sehingga pada tipe kepemimpinan ini seorang pemimpin tidak akan banyak melakukan intervensi.kepentingan bawahannya. Kepemimpinan demokratik lebih menekankan peran pemimpin sebagai seorang koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi. Pemimpin dengan kepemimpinan otoktarik akan selalu menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya. walau terkadang si pengikut tidak dapat menjelaskan kegagumannya secara kongkrit. Salah satu cirinya ialah penghormatan yang begitu tinggi kepada orang tua dan orang yang dituakan. Pada umumnya pemimpin semacam ini merupakan tokoh – tokoh adat. Pemimpinan dengan kepemimpinan paternalistik bersifat kebapakan. dan tugas apa yang harus ditunaikan. sasaran apa yang akan dicapai. dimana pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan pada anggota menengah. khususnya agraris. karena kekaguman anggota akan seseorang pemimpin tidak semudah itu dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Pembagian tugas tersebut membuat adanya pembagian tugas dan 20   . Kepemimpinan ini erat kaitannya dengan tata nilai yang ada di dalam masyrakat tradisional atau pedesaan. Kesulitan yang sering kali muncul pada kelompok dengan kepemimpinan kharismatik adalah regenerasi pemimpin. Kharakteristik yang khas dari kepemimpinan kharismatik ialah daya tarik dari sang pemimpin yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut pemimpin yang sangat dikagumi pengikutnya. tetua desa dan guru. Kepemimpinan tipe paternalistik banyak ditemui dimasyarakat tradisional. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif. Kepemimpinan tipe kharismatik akan amat bertumpu pada sang pemimpin. Seluruh anggota organisasi dianggap sudah mengetahui dan memahami tujuan organisasi. Pemimpin menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang harus dicapai oleh organisasi. Seorang pemimpin kharismatik akan sulit digantikan. dalam artian bertindak sebagai tauladan atau panutan masyarakat. ulama. Pemimpin dengan tipe kepemimpinan laissez faire berpandangan bahwa organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang – orang dewasa.

haruslah mampu mambangun gerakan yang memenuhi tiga kriteria yaitu memiliki sumberdaya. Seorang pemimpin dengan kepemimpinan demokratik akan disegani bukan ditakuti. pemersatu.peran yang jelas. Mereka berada dalam keadaan yang benar – benar tersubordiasi. Mengingat pentingnya faktor kepemimpinan yang ada. Masyarakat pedesaan apabila dilihat secara horisontal akan memperlihatkan homogenitas yang tinggi. Petani penggarap dan buruh tani pada dasarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk melakukan perlawanan. berserta herarki kekuasaannya. Petani (Peasant) menjalani hidup hanya pada keadaan subsistensi mereka. dan perlawanan petani tidak mungkin terjadi dalam keadaan tidak berdaya (Wolf. suatu strategi “dari dan untuk individu sesuai dengan politiknya”. maka dapat diasumsikan bahwa gerakan perlawanan petani tidak mungkin terjadi tanpa adanya pemimpin. pemimpin mendistribusikan ulang sumberdaya. sedang secara vertikal akan memperlihatkan bentuk krucut. Pertama. Kedua. 1895). mereka harus diwakilkan (Marx. faktor kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting. dari struktur sosial yang ada. Di dalam perjalanannya petani juga tidak memiliki kekuatan untuk mendefinisikan diri mereka sendiri kedalam sebuah kelas. 1966). Scott (1976) menggunakan pendekatan struktur sosial dan relasi sosial dalam melihat sebuah gerakan petani. dan pemberi kekuatan guna melawan penindasan dari kelas diatasnya. pemberontakan budak terhadap majikannya untuk mengambil alih posisi majikannya. terdapat enam teknik yang dapat digunakan pemimpin petani dalam mendapatkan dan mengelola sumberdaya. dimana setiap surplus yang mereka dapatkan akan terhisap oleh kekuatan ekonomi dan politik yang ada. para pemimpin mendorong pengikutnya untuk melakukan penjarahan. Popkin (1986) menyatakan. sedangkan pada bagian atas diisi oleh para elite yang berjumlah sedikit. 21   . sedangkan pemimpin dipegang oleh kelompok elite yang berada pada puncak. Pemimpin gerakan petani. dimana pada bagian bawah diisi oleh petani penggarap dan buruh tani dengan masa terbesar. adanya anggota baru. Para perwakilan ini pada saat yang bersamaan juga bertindak sebagai pemimpin. contohnya. tekanan yang begitu besar membuat benar – benar dalam keadaan impoten. dan mempertahankan anggota lama. Didalam struktur masyarakat yang seperti ini.

Rusia.contohnya pemberontak Vietnam mengumpulkan donasi dalam jumlah besar dan sebagian dari uang tersebut dipergunakan untuk membiayai para guru.1. Revolusi yang terjadi di 22   . persoalan. Petani berjuang lebih disebabkan untuk pemenuhan atas tujuan – tujuan konkrit. Hal yang tidak kalah penting yang harus diperhatikan pemimpin gerakan adalah pengikut gerakan itu sendiri. radikalisme perkotaan di negara – negara agraris dan semi agraris tidak akan mampu menuntaskan sebuah transformasi sosial (Bahri. dan China. dan tanpa menjadi golongan yang terorganisir untuk diri mereka sendiri. Kelima. melibatkan aset untuk mendapatkan lebih banyak tanah hak milik. Ini akan menyelesaikan masalah kolektif petani dengan cara meminimalisir persaingan dalam mendapatkan keuntungan di antara anggota kelompok. dan keluhan yang dapat menarik perhatian kelompoknya secara berlebihan. ataupun “tatanan dunia baru”. dan pembangunan rumah ibadah. 2. Keenam. Tanpa adanya pemberontakan petani. 1991). Ketiga. pembangunan jalan. baik itu dalam merekrut anggota baru ataupun mempertahankan anggota lama. seperti makanan.4 Gerakan Petani Abad ke-18 hingga abad ke-19. Sebagai contoh. adanya campur tangan pemimpin gerakan pada urusan yang berhubungan dengan para pendukungnya di pemerintahan lokal. sumberdaya yang ada selalu dibuat dalam kondisi yang sedikit. pemberontakan petani terbukti menjadi faktor yang sangat penting dalam semua revolusi sosial yang pernah terjadi di Perancis. “sosialisme”. pemimpin gerakan merahasiakan kebaikan. atau kebebasan (Skocpol. pemimpin gerakan mencari penyokong yang dapat menyediakan sumberdaya. Skocpol (1991) menyatakan bahwa petani berpartisipasi dalam sebuah gerakan tanpa melakukan perubahan pada visi yang radikal mengenai masyarakat nasional baru yang diinginkan. 1999). Pemimpin gerakan haruslah mampu membantu petani dalam memenuhi kebutuhan yang bersifat kongkrit dan singkat. pemimpin gerakan dapat mematahkan monopoli kaum elite pada institusi politik. Pemimpin gerakan tidak dapat mengatasi dilema petani hanya dengan ideologi dan mimpi – mimpi tentang “revolusi”. Keempat. sehingga selalu diharapkan oleh para petani miskin dan dapat mengobarkan semangat perlawanan.

Ia menganggap bahwa sumber radikalisme petani berdasarkan pada pemilikan atau penguasaan alat produksi tanah. dan kebudayaan petani tidak serta merta membuat para ahli dapat mendefnisikan petani secara mudah. Kekhususan kultural yang dimiliki oleh petani baik itu pada perkembangan nilai – nilai.Inggris dan Jerman pada tahun 1848 pada umumnya dipimpin gerakan revolusioner perkotaan mengalami kegagalan karena tidak terjadinya pemberontakan pertani terhadap para tuan tanah di pedesaan. tetapi juga semakin berkembang ketika menganalisa lapisan petani mana yang terlibat aktif dalam pemberontakan. Hal berbeda dapat ditemui pada pandangan Wolf (1966) yang menyatakan bahwa petani menengahlah yang paling dapat diandalkan dalam melakukan pemberontakan. menyatakan bahwa tidak mungkin mendefinisikan petani dengan ketepatan yang mutlak karena batasannya kabur pada ujung kenyataan sosial itu sendiri. terlebih lagi petani kelas menengah memiliki sumberdaya minimal untuk melakukan perlawanan. Gerakan petani dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari gerakan sosial (Handayani. Marx (1895) juga menyatakan bahwa sesungguhnya petani dalam melakukan pemberontakan tidak dapat berdiri sendiri. Petani kelas menengah jelas terganggu dengan keberadaan tuan tanah baik itu dalam akses terhadap pasar ataupun tekanan kultural yang dirasakan oleh mereka. Petani membutuhkan pemimpin yang bertugas mewakili mereka dalam melakukan perlawanan terhadap kelas penindas. Hanya saja adanya bukti penguasaan tanah secara de facto dan cara hidup yang khas dengan mengelola tanah. Meskipun masih didalam tulisan yang sama. Petani kelas bawah atau buruh tani tanpa tanah yang menggantungkan hidupnya kepada tuan tanah. Jumlah buruh tani tak bertanah yang besar memang merupakan sumber potensial untuk melakukan pemberontakan atau revolusi tetapi pendapat ini tidak selamanya benar dan berlaku disemua tempat. tidak akan memiliki kekuatan untuk melawan. persepsi. 2004). dapat dijadikan salah satu ciri yang membedakan petani dengan yang lain. Marx (1895) menyatakan bahwa lapisan buruh tani atau proletariat pedesaan merupakan lapisan yang paling revolusioner. Persoalan tidak berhenti pada apa dan bagaimana mendefinisikan petani. Para ahli telah banyak mencoba untuk melakukan 23   . Moore (1966).

Kemunculan gerakan sosial ditandai adanya kegelisahan akibat kesenjangan antara nilai-nilai harapan dan kenyataan hidup sehari-hari. pemberontakan petani candi udik (1892). Sadikin (2005) mencoba merangkum berbagai definisi gerakan sosial yang diutarakan para ahli. Perlawanan banyak dipimpin oleh tokoh – tokoh lokal. gerakan Mangkuwijoyo di Desa Merbung. Bahri (1999) berpendapat bahwa. Keempat. baik ulama ataupun bangsawan lokal. baik itu penyebab terjadinya gerakan ataupun dalam struktur dan pola gerakan. Ketiga. Kartosuro (1886). dengan membentuk sebuah gerakan yang terorganisir. Kedua. pandangan dan sikap politik atas 24   .19. dan tidak memiliki hubungan antara gerakan yang satu dengan yang lain. Kelima. Seperti gerakan Haji Rifangi di Pekalongan (1860). gerakan sosial tidak identik dengan gerakan politik yang terlibat dalam perebutan kekuasaan secara langsung. Maka itu.1. dan peristiwa Gedangan (1904). pemberontakan petani Banten (1888). dalam artian adanya organisasi dalam lingkup yang luas yang menyatukan gerakan. Gerakan yang ada bersifat sangat lokal. Herbert Blumer (1939).4. baik secara formal ataupun tidak.pendefinisian prihal gerakan sosial. dalam Sadikin (2005) berpendapat bahwa gerakan sosial merupakan sebagai suatu kegiatan bersama untuk menentukan suatu tatanan baru dalam kehidupan.1 Gerakan Petani di Indonesia Pada pertengahan abad ke. suatu kelompok masyarakat mendambakan tatanan hidup yang baru. Klaten (1886). sebagai ciri – ciri atau karakter yang melekat dalam gerakan sosial. kita dapat melihat banyak bermunculan gerakan perlawanan petani di berbagai tempat. gerakan sosial merupakan satu bentuk perilaku koletif. gerakan petani yang ada abad ke-19 belum menunjukan ciri – ciri modern. Gerakan Tirtowiat alias Raden Joko di Desa Bangkalan. gerakan sosial senantiasa memiliki tujuan untuk membuat perubahan sosial atau mempertahankan suatu kondisi. sporadis. gerakan sosial merupakan perilaku kolektif yang terorganisir. Pertama. 2. gerakan sosial merupakan gejala yang lahir dalam kondisi masyarakat yang konfliktual. Kesemua gerakan yang terjadi pada kurun waktu tersebut memiliki beberapa kesamaan.

Jawa Barat. Banten. Tujuan dari gerakan pun tidak lagi hanya terbatas pada penuntasan masalah di tingkatan lokal. Boikot dan pemogokan merupakan bentuk perlawanan yang diadopsi dari gerakan buruh dan kelas menengah perkotaan untuk menentang kekuasaan pemilik modal dan pemerintah yang saat itu sedang marak terjadi di daratan Eropa. tetapi perubahan sistem politik. Orang – orang seperti Tirtoadisuryo. Soe Hok Gie (1964) dalam Skripsinya yang berjudul Dibawah Lentera Merah menyatakan bahwa. terasa lebih tertata dengan adanya pembakuan struktur organisasi. dan diterapkannya metode pengorganisiran masyarakat. Hal ini begitu berbeda dengan gerakan yang lahir pada awal abad ke – 20. karena para motor penggerak organisasi semacam Serikat Islam (SI). dan Tjokroaminoto. Struktur dan pola gerakan yang ada. berhasil mempertemukan gerakan petani di pedesaan dengan gagasan revolusioner kemerdekaan. dan Indische Social – Democratische Partij (ISDP) merupakan anak para bangsawan yang mendapatkan keistimewaan untuk dapat bersekolah hingga kejenjang universitas. dan instrumen gerakan yang tertata rapih sehingga dapat memberikan seruan keseluruh negeri. Sebagai contoh Serikat Islam (SI). sistem keanggotaan. seperti boikot dan pemogokan. bermetamorfasa menjadi pejuang – pejuang kemerdekaan yang gigih. Hal ini pada dasarnya dapat dilihat sebagai suatu hal yang wajar. salah satu organisasi yang sangat berpengaruh pada waktu itu. Indische Partij (IP). merupakan anak para bangsawan yang telah 25   . Petani yang semula hanya paham prihal cangkul dan persoalan desa. Pada tahun 1912.struktur kekuasaan. Samanhudi. yaitu gugatan dan penggantian sistem pemerintah kolonial. dan Sumatera. Organisasi – organisasi modern yang lahir pada awal abad ke – 20 berhasil memperkenalkan pola perlawanan yang sama sekali berbeda dengan pola perlawanan petani yang ada sebelumnya. kehadiran organisasi semacam Sarekat Islam telah merubah kondisi sosial-politik yang ada dimasa kolonial. seperti pembentukan tatanan masyarakat baru pengganti tatanan masyarakat kolonial. bahkan banyak diantara mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi Eropa. terjadi pengorganisiran petani secara masif di wilayah Jawa Tengah.

karena pada beberapa kasus BTI justru melindungi tuan tanah yang menjadi simpatisan dari PKI. Dilain pihak. Bersamaan dengan itu. Persatuan Tani Nahdatul Ulama (PETANU) yang bernaung di bawah NU. yang mayoritas pemilik tanah – tanah luas dan pangreh praja di pedesaan. PKI mengklaim dirinya sebagai perwakilan dari para petani tak bertanah. Gerakan petani mulai aktif pada pertengahan tahun 1980-an. di wilayah perkotaan juga tumbuh gerakan mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang masuk kepedesaan dengan berbagai kegiatan baik itu dalam hal sosial politik.mengenyam pendidikan kolonial tetapi tidak pernah melupakan akar budaya bangsanya. sebagai akibat dari intervensi modal yang sangat intensif di wilayah pedesaan. pendidikan. menjadi peta gerakan petani pasca kemerdekaan hingga tahun 1965. Pada massa itu mahasiswa yang sebelumnya dibungkam oleh Pemerintahan Soeharto mulai turun ke jalan. khususnya pada periode waktu 1950 – 1965. serta Barisan Tani Indonesia (BTI) yang memiliki hubungan yang erat dengan PKI. hal ini justru mentah dengan sendirinya. LSM yang sudah lebih berpengalaman dalam menangani permasalahan 26   . di Departemen Agraria dan Dewan Pertimbangan Agung. Petani – petani mulai kehilangan patron politik karena banyak dari para pemimpin gerakan dari kelas menengah perkotaan sudah dibunuh dan yang hidup mendapatkan tekanan yang luar biasa dari Rezim Orde Baru. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada posisi ini petani kembali pada tradisi penyesuian diri dan mencari jalan masing – masing untuk mempertahankan hidup. Pasca kemerdekaan. Kehadiran organisasi tani seperti Serikat Tani Islam Indonesia (STII) yang bernaung di bawah Masyumi. dan advokasi. hampir seluruh organisasi petani yang ada merupakan perpanjangan tangan dari berbagai partai politik ditingkat nasional. Persatuan Tani Indonesia (PETANI) yang bernaung di bawah PNI. Akan tetapi. Perdebatan politis yang sangat tajam terlihat ketika penyusunan Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA). pemerintah melarang seluruh organisasi petani yang ada di masa pemerintahan Presiden Soekarno. PNI dan partai – partai islam berkepentingan untuk membela para pendukungnya.

dan pada massa orde baru mereka bergantung pada gerakan mahasiswa dan LSM. Petani mulai berkenalan dengan aksi massa dan demontrasi setelah menjalin hubungan dengan kelompok – kelompok gerakan di perkotaan khususnya mahasiswa. Serikat Petani Pasundan (SPP) yang ada di wilayah Priangan Timur memiliki keterkaitan yang sangat jelas dengan gerakan mahasiswa di kota Ciamis. Maka pada akhir 80-an dan awal 90-an terjadi aliansi gerakan petani dengan mahasiswa dalam bentuk demonstrasi ke DPRD dan kantor – kantor Gubernur. Petani masih amat bergantung pada kelompok. dan ISDP. dan Garut. amat jelas terlihat bahwa petani tidak memiliki kemampuan untuk dapat mengorganisir diri mereka sendiri. Apabila pada awal abad ke -19 mereka bersandar pada para bangsawan dan tokoh lokal. Pasca jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998. Tetapi apabila dilihat secara lebih mendalam. Dilihat dari sisi yang lain. Tasik. IP. Di dalam tubuh gerakan mahasiswa sendiri sudah terjadi pergeseran orientasi. kritik gerakan mahasiswa pada tahun 1980-an kepada gerakan sebelumnya adalah tidak adanya penyambung antara gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat.petani lebih banyak mengambil jalan pembelaan litigasi diperadilan atau mengirim surat protes kepemerintah.kelompok gerakan diperkotaan. juga memiliki keterkaitan dengan LBH Surabaya dan Kesmalita (Kesatuan Mahasiswa Blitar) di Jogjakarta. sedang pada awal kemerdekaan hingga 1965 mereka bergantung pada partai politik. pada pertengahan abad ke – 19 mereka bersandar pada organisasi kepartaian seperti SI. 27   . Gerakan petani di Desa Keprasan Kabupaten Blitar. begitu banyak terjadi gerakan perlawanan petani diberbagai daerah. Adapun yang terjadi pada saat ini dipandang tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada massa sebelumnya. belum terlihat adanya petani yang dapat mengorganisisr diri mereka sendiri hingga menjadi sebuah gerakan petani.

serta makna tanah bagi petani dan pada faktor – fakto subyektif. Lihat gambar 1. terdapat beberapa hal yang dapat dilihat sebagai faktor – faktor penyebab terjadi gerakan petani.                                           28   . seperti radikalisasi petani. Pasca terbetuknya organisasi gerakan dan terjadinya redistribusi tanah. yaitu basis material atau tanah dan aspek politik petani.faktor meterialnya seperti sejarah penguasaan tanah. yaitu pada faktor . serta pengorganisiran petani. Pada periode kemunculan gerakan.2 Kerangka Berpikir Pembahasan prihal kemunculan dan kelangsungan gerakan petani dapat dipilah dalam dua alur yang berjalan secara paralel.2. pembahasan selanjutnya berfokus pada dinamika atau kelangsungan dari gerakan petani. baik yang dipengaruhi oleh kondisi didalam organisasi gerakan ataupun pengaruh dari kekuatan sosial lain di luar gerakan petani.

: Terpisah Gambar 1.(Faktor – Faktor Material) ‐SEJARAH PENGUASAAN TANAH    ‐MAKNA TANAH BAGI PETANI    ‐AKSES TERHADAP TANAH        ‐REDISTRIBUSI TANAH  ‐LIVELIHOOD   GERAKAN PETANI :  ‐ORGANISASI GERAKAN  KEMUNCULAN GERAKAN  --------------------------------------------------------------------------------------------------‐STRATEGI GERAKAN  (KONDISI KONDUSIF)  ‐KEPEMIMPINAN GERAKAN  ‐RADIKALISASI PETANI  ‐PENGORGANISASIAN PETANI  ‐KESADARAN POLITIK  ‐PERKEMBANGAN  KELEMBAGAAN GERAKAN  ‐PENGARUH  AKTOR LUAR PETANI  (Faktor – Faktor Subyektif) Keterangan : : Berhubungan : Meliputi -------. Kerangka Berpikir Penelitian 29   .

ataupun alih fungsi tanah serta kaitannya dengan orang atau sekolompok orang disekitar tanah. pembatasan kerja. seperti penindasan. Pengorganisiran Petani : Proses mobilisisasi petani. pengekangan hak. dsb. Seringkali catatan histografis berbentuk sejarah lisan (oral history). sakral. pungutan pajak. Dalam gerakan tersebut diharapkan mempunyai ciri-ciri seperti halnya gerakan sosial yaitu 1) memiliki pengorganisasian internal yang rapi. Radikalisasi Petani : Faktor – faktor atau kondisi yang dapat memicu terjadinya aksi perlawanan petani. mengelola. perebutan. dan mengembangkan sumberdaya agraria khususnya tanah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Gerakan Petani : suatu bentuk perlawanan yang sengaja dilakukan oleh sekelompok petani yang terorganisir untuk menciptakan terjadinya perubahan dalam pola interaksi keadilan untuk petani di dalam masyarakat. ataupun kultural. baik itu pembahasan soal kepemilikan. dapat bersifat ekonomi. Pada umumnya. penyawaan. kondisi tersebut berasal dari luar masyarakat petani. Sejarah Penguasaan Tanah : catatan – catatan histografis atau dokumen sejarah yang berkisah tentang tanah. guna mencapai suatu tujuan tertentu. pengorganisiran dapat bersifat formal atau informal. 3) gerakan sengaja bertujuan melakukan reorganisasi kehidupan masyarakat internal maupun eksternal.2.3 Definisi Konseptual Petani : Individu atau sekelompok orang yang memiliki (de facto). 2) berlangsung lebih lama. baik berupa sumberdaya yang bersifat terbatas seperti uang dan makanan ataupun individu petani itu sendiri. Makna Tanah Bagi Petani : intepretasi yang timbul dari ikatan – ikatan yang ada antara petani dengan tanah. 30   .

memiliki tujuan yang jelas. pemimpin merupakan tokoh sentral atau motor penggerak pada sebuah gerakan petani. yang didalamnya terdapat struktur (hierarki) organisasi. Pemimpin Gerakan : orang atau sekelompok orang yang bertugas untuk memimpin suatu gerakan. Pola Pertanian : tata cara bercocok tanah yang dipergunakan oleh sekelompok orang atau masyarakat didalam suatu luasan lahan.Organisasi Gerakan : betuk formal dari pengorganisiran petani. perkebunan. Redistribusi Tanah : Pembagian kembali objek redistribusi atau tanah kepada petani. Strategi Gerakan : cara atau media yang digunakan gerakan petani guna mencapai suatu tujuan. demonstrasi atau aksi massa. dsb. ataupun persawahan. pemogokan. dan adanya unsur kepemimpinan. Pola ini dapat berupa sistem kebun. dapat berupa aksi boikot. 31   .

termasuk dalam pengertian metode ini adalah wawancara dan mendengarkan serta memahami apa yang didengarnya (Denzin and Lincoln. pengamatan. yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus. Peneliti harus dapat memahami gejala-gejala yang ada. introspeksi. Ini berarti penelitian kualitatif bekerja dalam seting yang alami. 2009). Kabupaten Ciamis. Maka itu. teks sejarah. pengalaman pribadi. yang berupaya untuk memahami. Peneliti dalam upaya memahami kehidupan objek penelitian telah melakukan live in di lokasi tersebut. 2009). agar dapat melihat secara langsung mengetahui dan memahami berbagai kondisi masyarakat. 32   . riwayat hidup. sesuai dengan maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh warga masyarakat yang sedang diteliti. Metode observasi partisipasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. interaksional dan visual: yang menggambarkan momen rutin dan problematis. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris seperti studi kasus. Jawa Barat.BAB III PENDEKATAN LAPANG 3. serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif (Denzin and Lincoln. memberi tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi (participant observation) di lapangan. scope temporal dalam penelitian ini akan dilaksanakan selama enam bulan yaitu April sampai Agustus 2010. Sementara scope spatial dalam penelitian ini terfokus pada masyarakat petani Desa Banjaranyar yang berlokasi di Kecamatan Banjarsari. wawancara.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.

Responden adalah stakeholder yang dinilai relevan untuk memperkuat bobot analisis penelitian yaitu. Responden penelitian dipilih secara purposif berdasar telaah peran dalam proses gerakan petani. LBH SPP. Lihat tabel 1. Daftar Stakeholder dan Perannya Dalam Kasus Gerakan Petani Desa Banjaranyar Tahun 2010 Di dalam Desa Banjaranyar Individu Petani atau massa nonstruktural di Desa Banjaranyar.3. dan Perangkat Desa Banjaranyar. Gerakan petani tersebut memperjuangkan nasib petani Banjaranyar yang meliputi sekitar 195 kepala keluarga. dalam hal ini mereka petani tidak bertanah Pelaku Sejarah Lokal Tokoh Masyarakat Perangkat Desa Di luar Desa Banjaranyar Individu Sekjen Serikat Petani Pasundan Anggota DPRD Ciamis Organisasi Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar 1 Koperasi Usaha Tani SPP Organisasi LBH SPP FARMACI PT. RSI Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis                                     33   . termasuk buruh tani.2 Unit Analisis Unit analisis adalah gerakan petani yang terhimpun dalam Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar . FARMACI. Tabel 1. pengurus Serikat Petani Pasundan (SPP) pendamping.

progress report. kecamatan. ekonomi. Data sekunder adalah jenis data yang mengutip dari sumber lain. b) wawancara mendalam dengan stakeholders. Wawancara langsung dilakukan terhadap: 1) Pemimpin Gerakan. Sejarah lisan sangat membantu memberikan penjelasan mengenai hal – hal yang berkaitan dengan kesinambungan (continuity) dan perubahan (discontinuity) kehidupan sosial. politik. problamatika. 5)Masyarakat lain. Teknik pengumpulan data ini dilakukan melalui a) wawancara tertuntun dengan menggunakan daftar pertanyaan. 3) Pejabat tingkat kabupaten. 2) Pamong desa. pandangan dan perkembangan sebuah kasus. Analisis difokuskan pada era reformasi. proposal. fenomena.3 Teknik Pengumpulan Data Data bersumber dari data primer dan sekunder. yang akan menguraikan sejarah. Data sekunder diperoleh peneliti dari: • • Arsip-arsip kantor pertanahan di tingkat kabupaten. dan kelurahan. Pengumpulan data untuk studi peristiwa bersumber dari 1) surat. yaitu tahun 1997 hingga tahun 2010. Arsip – arsip kasus sengketa lahan Serikat Petani Pasundan (SPP) 34   . terutama berupa social memory atau community’s collective memory yang dapat dipakai menyusun sejarah Desa Banjaranyar. Penelitian kali ini juga menggunakan pendekatan sejarah (historical approach).3. dan dokumen internal. Namun karena keterbatasan sumber – sumber tulisan. 3) dokumen administrasi. memorandum. dan desa 4) Petani. dan c) diskusi dengan stakeholder. 1992). 4) kliping dan artikel dalam media massa. Pendekatan sejarah lisan dimaksud untuk menggali ingatan kolektif. dan budaya melalui ingatan kolektif atau disebut sebagai history of memory or memory of history (Fentress dan Wickham. dan pengumuman lain. 2) agenda. dan tulisan laporan peristiwa. maka pendekatan sejarah lisan (oral history) dijadikan sebagai salah satu pilihan penting dalam upaya pengumpulan data. Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumbernya untuk mengetahui sejarah. khususnya yang berkaitan dengan gerakan petani Banjaranyar. hasil penemuan. kecamatan. dan dilematika di dalam gerakan petani Banjaranyar.

interview.4 Teknik Analisis Data Teknik analisis data terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut. 3. pencapaian kesimpulan dari penelitian (Surakhmad. melakukan penilaian dan pengamatan terhadap data primer dan sekunder yang selanjutnya disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Keempat. 35   . internet dan laporan penelitian yang telah dipublikasikan. dan berita pers. arsip. dan mengumpulkan data dari kepustakaan. melakukan intepretasi data untuk dikaji berdasar kerangka dasar teori. majalah. Artikel-artikel tentang topik dalam surat kabar. data dikumpulkan dengan cara observasi langsung. Kedua.• • • Surat resmi dari Pemda Kabupaten Ciamis yang berkaitannya dengan topik. pertama. 1994). Arsip-arsip dan laporan penelitian dari lembaga advokasi yang mengenai kasus tersebut. Ketiga.

kasus kejadian wabah penyakit (busung lapar). variabel sarana prasarana dan akses. Pada bagian utara Banjaranyar berbatasan dengan Desa Karang Mukti. sebelah timur berbatasan dengan Desa Cigayam. Kajian yang dilakukan SKPD Ciamis didasarkan pada empat variabel utama. semoga Desa Banjaranyar dapat berkembang menjadi daerah yang maju seperti Kota Banjar. Sehingga. Pertama. Keempat. Kedua. 36   . variabel sosial dan ekonomi penduduk. dan presentasi rumah tangga petani. seperti keluarga pengguna listrik. dan sumber air bersih. Desa Banjaranyar merupakan satu dari enam puluh satu desa tertinggal yang berada di dalam wilayah Kabupaten Ciamis. Ketiga. tepatnya di wilayah Kecamatan Banjarsari. sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kalijaya dan Pasawahan. diadakan kajian oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Ciamis prihal desa tertinggal. Nama Banjaranyar sendiri berasal dari adanya kota yang bernama Banjar. dan pada bagian barat berbatasan dengan Desa Cikupa. Tahun 2007.1 Desa Banjaranyar Desa Banjaranyar secara administratif masuk kedalam wilayah Kabupaten Ciamis. fasilitas kesehatan. yaitu seperti fasilitas pendidikan. variabel alam dan lingkungan yang menunjukan pemafaatan prasaranan dan potensi ekonomi desa. karena ini merupakan desa baru maka nama Anyar pun disandingkan dengan kata Banjar. Pada akhir tahun 1990an terjadi pemekaran Desa Cigayam menjadi dua desa yaitu Desa Cigayam dan Desa Banjaranyar. sanitasi. penggunaan bahan bakar. Desa Banjaranyar masuk kedalam wilyah Desa Cigayam. jumlah tenaga kesehatan. persentase penduduk yang bekerja sebagai buruh tani. nama Banjaranyar dapat diartikan sebagai daerah Banjar yang baru. Desa Banjaranyar terletak di 108’32 bujur timur dan 07’30 bujur selatan. variabel keadaan penduduk yaitu hal – hal yang menunjukan tingkat kesejahteraan penduduk meliputi tingkat kepadatan penduduk per kilometer persegi. Nama tersebut mengandung harapan. Secara geografis. Sebelum adanya pemekaran.BAB IV LATAR BELAKANG KEMUNCULAN GERAKAN PETANI 4.

sanitasi atau fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) dinilai amat kurang. 135 KK memiliki tanah antara 0.70 Sumber : Data Monografi Desa Banjaranyar Tahun 2005 Struktur kepemilikan tanah yang ada di Desa Banjaranyar dirasa masih timpang. tidak serta merta membuat adanya pemerataan dalam kepemilikan tanah. Kondisi jalan yang berbatu memperlambat waktu tempuh dari dan menuju Banjaranyar.04 9. Jarak antara Banjaranyar dengan Kota Banjarsari. tetapi butuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai ke Desa Banjaranyar. sebanyak 739 KK tidak memiliki tanah dan bekerja sebagai buruh tani 37   . Sebagian besar masyarakat Desa Banjaranyar bekerja di sektor pertanian. Hal ini tercermin di dalam data monografi desa. Pada tahun 2007 hanya satu dari lima warga Banajaranyar yang memiliki fasilitas MCK di dalam rumah.5 – 1 >1 739 135 255 10 Jumlah Kepala Keluarga Petani (%) 52. Jumlah Kepala Keluarga Petani Menurut Luas Lahan yang Dimiliki. dan 255 KK memiliki tanah dengan luasan dibawan 0. Selain kondisi jalan yang belum baik.Desa Banjaranyar dinyatakan amat kurang kurang pada poin ketiga yaitu sarana prasarana dan akses jalan. tetapi hanya 10 KK yang memiliki tanah lebih besar dari 1 hektar.51 15.5 – 1 hektar. Penduduk Desa Banajaranyar berjumlah 4283 orang atau 1420 KK (Kepala Keluarga) dan sebanyak 1139 KK bekerja disektor pertanian. Jumlah Kepala Keluarga (KK) yang bekerja sebagai petani ada 400 KK. Banyaknya warga masyarakat yang bekerja di sektor pertanian.5 hektar. Sisanya. yang merupakan Ibu Kota Kecamatan Banjarsari.5 0. Tahun 2005 No Luasan Tanah (Hektar) Jumlah Kepala Keluarga Petani (KK) 1 2 3 4 0 0 – 0. Desa Banjaranyar.84 0. sesungguhnya hanya 15 kilometer. Tabel 2.

Berdasarkan pembagian daerah melalui Sistem Karesidenan yang ada dimasa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Desa Banjaranyar, yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Ciamis, masuk kedalam wilayah Karesidenan Priyangan Timur. Pada tahun 1950an, Karesidenan Priyangan Timur dijadikan daerah basis massa perjungan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo. Penetrasi gerakan DI/TII yang masuk hingga ke desa – desa, boleh jadi meredam penetrasi gerakan komunis yang mulai marak kembali pada akhir tahun 1950an. Tahun 1966, pasca terjadinya Gerakan 30 September (G30S) 1965, terjadi pembunuhan masal orang - orang yang dituduh sebagai komunis. Aksi pembunuhan masal yang terjadi di berbagai daerah, dirasa tidak terlalu memepengaruhi kehidupan warga. Karena kondisi Desa Banjarnyar pada saat itu relatif stabil. Orang – orang yang menggarap lahan bekas perkebunan AGRIS NV tidak dibunuh atau dikebiri hak – haknya karena tuduhan komunis. Sehingga penggarapan lahan bekas perkebunan AGRIS NV terus berjalan hingga akhir tahun 1970an.

Gambar 2. Peta Desa Banjaranyar, Kecamatan Banjarsarsari

38
 

4.2 Sejarah Tanah Perkebunan Di Desa Banjaranyar 4.2.1 Pembukaan Perkebunan Kopi Desa Banjaranyar berdiri di atas tanah perkebunan yang dahulunya dikelola oleh perusahaan perkebunan swasta asing bernama AGRIS NV. Kontur tanah Desa Banjaranyar yang berbukit – bukit, hawa dingin yang menyelimuti desa, orang – orang yang berkomunikasi dengan bahasa sunda, dan keterkaitan dengan sejarah panjang dengan perkebunan kopi, memang mengingatkan pada kisah Prijangansteelsel yang tertulis di dalam buku Max Havelaar. Sejarah tanah perkebunan yang ada di Desa Banjaranyar dapat dirunut hingga awal tahun 1700-an. Yaitu, ketika tanah Priyangan bersama dengan Batavia (Jakarta) dan sebagian kecil wilayah Majenang dijadikan daerah penanaman kopi oleh VOC (Vereeningde Oost Indische Compagnie). Tepatnya pada tahun 1707, VOC menetapkan tanah Priyangan sebagai salah satu daerah ujicoba penanaman kopi. Keberhasilan dari uji coba tersebut, memicu dilakukannnya pembukaan perkebunan kopi secara masif ditanah Priyangan. Perkebunan kopi Priyangan yang dibuka pada priode tahun 1707 – 1730 tidak menggunakan tanah garapan rakyat, melainkan tanah – tanah bukaan baru di wilayah hutan. Di Ciamis sendiri, dalam data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis tahun 2005, tercatat beberapa perkebunan kopi besar yang ada pada periode tersebut, seperti Perkebunan Bangkelung, Gunung Bitung, Panawangan, dan Perkebunan Cigayam. Di dalam area lahan Perkebunan Cigayam inilah, tepatnya disisi sebelah utara perkebunan, dikemudian hari lahir sebuah desa yang bernama Desa Banjaranyar. Berdasarkan pada sistem pengelolaan perkebunan kopi yang ada pada awal abad ke -18. Pengelolaan perkebunan kopi Priyangan, pada tahapan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada para bupati dan dilakukan

menurut sistem feodal. Melalui tata cara kerja paksa, penduduk diwajibkan untuk melakukan kerja rodi, seperti pembukaan lahan baru ditanah hutan, penggarapan lahan, penanaman biji kopi, pemeliharaan, dan pengangkutan panen biji kopi dari perkebunan ke tempat penampungan. Pelaksanaan penanaman kopi paksa yang dilakukan di Priyangan ini kemudian dikenal sebagai dengan sebutan Sistem Priangan atau Prijanganstelsel (Kartodirdjo, 1991).

39
 

Awal abad ke – 18 daerah Priyangan, khususnya Priyangan Timur, merupakan daerah dataran tinggi dengan jumlah penduduk yang sedikit. Dari data VOC Cirebon, seperti yang dikutip oleh Kartodirdjo (1991), pada tahun 1705 daerah Priyangan timur dan tengah hanya dihuni oleh 10.000 kepala keluarga. Jumlah penduduk yang begitu terbatas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perkebunan akan tenaga kerja. Guna memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja di perkebunan, pada periode tersebut terjadi mobilisasi tenaga kerja dari luar kedalam wilayah Priyangan. Tercatat pada tahun 1720 daerah Priyangan timur dan tengah telah dihuni oleh 20.000 kepala keluarga. Sehingga dengan kata lain, selama diberlakukannya Sistem Priyangan (Prijanganstelsel) terjadi peningkatan sebesar seratus persen atau 10.000 kepala keluarga dalam tempo lima belas tahun. Berhasilnya penanaman kopi di daerah Priyangan ditopang oleh empat faktor (Kartodirdjo, 1991). Pertama, faktor alami yang membuat kopi dapat tumbuh dengan baik di Priyangan, baik itu di dataran tinggi ataupun dataran rendah. Kedua,daerah Priyangan yang memiliki topografi pegunung memberi perlindungan yang baik bagi tanaman kopi dari tiupan angin yang kuat. Ketiga, karakteristik tanah, khususnya pada pada tanah perkebunan yang baru dibuka di atas tanah hutan, sangat cocok untuk tanaman kopi. Keempat, faktor ekonomi, harga pembayaran kopi pada masa – masa awal (1707 – 1720) tidak hanya stabil dan bagus, tetapi juga termasuk tinggi. Hal ini tercermin dari data harga pembelian VOC di daerah Priyangan, bahwa harga pasaran biji kopi 15 – 40 kali lebih besar dari harga beras dalam takaran yang sama. Faktor terakhir yang tidak kalah penting yaitu tidak adanya aksi perlawanan secara besar - besar yang dilakukan petani Priyangan guna mencegah penanaman kopi di daerah mereka. Perkebunan – perkebunan kopi yang ada di wilayah Priyangan tidak menggunakan tanah garapan masyarakat untuk keperluan perkebunan. Pada periode 1700 – 1730 tidak ditemukan adanya perebutan tanah garapan (tanaman pangan) rakyat oleh pihak perkebunan kopi. Perkebunan – perkebunan kopi yang ada di Priyangan dibangun diatas tanah kehutanan yang tidak digarap oleh rakyat. Kartodirdjo (1991) mengistilahkan fenomena perluasan tanah perkebunan kopi di Priyangan sebagai “celah angin surplus” atau vent-forsurplus.

40
 

000 100. ketika beekerja di tanah garapannya. Batavia. Menurut para tetua desa. Hingga saat penelitian ini dilaksanakan.000 0 1796 1797 1798 1799 1807 1808 1809 1810 Sumber : Sartono Kartodirdjo.000 Kopi 40. 4.000 60. Hal tersebut kemudian terabadikan dalam sebuah lagu berjudul “Dengkleung dengdek”. dan Sekitarnya Tahun 1796 – 1810 Kopi 120. menurut kisah sejarah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis.000 80. Pada bait awal lagu ini bercerita tentang pahitnya kehidupan dimasa taman kopi Priyangan. Sedangkan. 1991. lagu tersebut diciptakan oleh Bupati Aria pada saat beliau menjabat sebagai Bupati Galuh pada tahun 1839 – 1886.2 Perkebunan AGRIS NV Lahirnya Undang – Undangn Agraria Hindia Belanda (Agrarische Wet) pada tahun 1870 memberikan warna baru bagi perjalanan sejarah perkebunan di 41   . lagu Dengkleung dengdek masih sering dinyanyikan oleh para petani tua Desa Banjaranyar. Pada bait selanjutnya lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang sedih berkepanjangan karena ditinggal sang pujaan hati yang harus bekerja di perkebunan kopi. Getirnya kehidupan yang dialami oleh para pekerja di perkebunan – perkebunan kopi Priyangan berbekas dalam ingatan para petani di Desa Banjaranyar.000 20.2. dalam Sejarah Perkebunan Di Indonesia : Kajian Sosial Ekonomi. lagu Dengkleung Dengdek diciptakan oleh para buruh yang bekerja di Perkebunan Kopi Priyangan.Gambar 3 Produksi Kopi Priyangan.

pasca diterbitkannya Agrarische Wet 1870 pemerintah secara formal memberikan kebebasan dan keluasaan kepada para pemodal untuk melakukan usaha – usaha perkebunan. pada kenyataannya struktur sosial – politik masyarakat yang masih tradisional dan semi feodal. Salah satu hal yang dapat disoroti didalam Agrariche Wet adalah keberadaan dari Hak Erfpacht yaitu hak untuk melakukan pengolahan diatas sebidang tanah yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial kepada pihak swasta dalam jangka waktu tertentu. Perusahaan – perusahaan ini secara kolektif bernaung di bawah Cultuuralbank atau Unie guna mengatasi permasalah dalam hal permodalan. Tetapi. kesempatan yang ada banyak dipergunakan oleh pengusaha perseorangan. AGRIS NV merupakan perkebunan yang berdiri diatas lahan seluas 755.Indonesia. Hak Erfpacht yang dimiliki oleh AGRIS 42   . serta wabah penyakit pada tanaman kopi yang terjadi pada tahun 1890an yang mengakibatkan kebangkrutan pada banyak perusahaan perseorangan. salah satunya ialah AGRIS NV. Maka. 1991). 2007). Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis yang dihimpun hingga tahun 2010. membuat posisi petani tidak dalam kondisi yang kuat dan cenderung dirugikan. Hal tersebut menimbulkan desakan untuk mengganti perusahaan perseorangan dengan perusahaan besar berbentuk NV. Pada awalnya. Sehingga perusahaan perkebunan berubah menjadi perusahaan besar dengan kapital-intensif (Kartodirdjo. Pada momentum inilah perusahan perkebunan masuk kedalam jaringan perbankan. Para penguasaha perkebunan diberikan akses langsung kepada para petani untuk melakukan penyewaan tanah dan penyerapan tenaga kerja.07 Ha. Pada perjalanannya. Apabila pada masa sewa tanah terdapat pemisahan antara pemerintah dengan perkebunan.orang yang telah berpengalaman dalam teknik penanaman dan penglolaan perkebunan pada massa Sistem Tanam Paksa (Mustain. Para penguasaha perseorangan tersebut merupakan orang . Pada masa sistem tanam paksa pemerintah menghendaki adanya penyatuan kembali antara pemerintah dengan kehidupan perusahaan dalam menangani produksi tanaman ekspor. timbul berbagai permasalahan seperti krisis yang terjadi pada tahun 1875 dan 1895.

Perubahan komoditas yang ditanam.000 pikul. 472. di perkebunan AGRIS NV pada periode awal 1900an. Pertama yaitu faktor alam. 214) berbatasan dengan Desa Cigayam. melainkan menanam pohon karet sebagai komoditas utama. Cikaso. tercatat bahwa Blok Cigayam merupakan perkebunan dengan tanaman kopi sebagai komoditas utamanya. dengan kode No. Penyebaran wabah penyakit tersebut memiliki dampak besar pada hasil produksi kopi di Hindia Belanda secara keseluruhan.53 Ha (Erf Verf No. dikarenakan dua hal yaitu faktor alam dan kebijakan liberalisasi ekonomi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial. dan Pasawahan. Verf No.20). yang terbagi atas dua blok. yang berbatasan dengan Desa Cikaso.53 Ha (Erf. Blok kedua berada diselatan dengan luas tanah 377. teh. Perkebunan AGRIS NV tidak lagi menanam kopi.NV dikeluarkan pada tanggal 30 November 1928. dari kopi menjadi karet. Hak yang dimiliki AGRIS NV atas tanah tersebut akan habis pada 24 Januari 1975. indogo. Pada periode awal tahun 1900an. Karena pada periode tersebut tanaman kopi terjangkit wabah penyakit yang menyebar dibeberapa tempat di Priyangan. Blok Cigayam inilah yang kemudian pada tahun 1928 menjadi tanah erfpacht yang hak pengelolaannya diberikan kepada perusahaan perkebunan AGRIS NV. dan kina.1909 yang hanya menghasilkan kopi sebesar 371. hingga akhirnya masuk ketanaman kopi yang berada di daerah Galuh (Ciamis).000 pikul. 43   .1904. hasil keseluruhan panen kopi mencapai 615. Hal ini dapat dilihat dari data komoditas hasil perkebunan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1900 hingga tahun 1909. Blok pertama berada disebelah utara dengan luas tanah 377. Pada tahun 1900 . Didalam laporan berita acara perkebunan VOC tahun 1720. Pemerintah Hindia Belanda mencoba memperkenalkan beberapa tanaman pengganti kopi seperti karet. dimana kemudian terjadi penurunan drastis pada tahun 1905 .

000 403. dapat dilihat sebagai jalan yang ditempuh perusahaan perkebunan guna menjawab kebutuhan pasar global. Stasiun percobaan dan penelitian disokong dengan adanya teknologi maju. juga menuntut adanya R and D atau pengembangan dan penelitian dalam hal peningkatan hasil produksi (Kartodirdjo. Pemerintah Kolonial tidak lagi dapat memaksakan pihak perkebunan.000 Sumber : Cowan. seperti yang terjadi pada massa Sistem Tanam Paksa. 1961.000 98. perkebunan AGRIS NV dengan memegang Hak Erfpacht yang diberikan Pemerintah Hindia Belanda. tata kerja yang lebih efisien dan juga kepekaan terhadap pasar global.000 Produksi Kopi Perkebunan Swasta (pikul) 446. 1991). meskipun pada tahun 1925 dilakukan introdusir varietas kopi robusta yang dikenal tanahan terhadap wabah penyakit oleh Pemerintah Kolonial.Tabel 3. Economic Development of Southeast – Asia. Jumlah Produksi Kopi Hindia Belanda. Strukur organisasi perusahaan perkebunan AGRIS NV tidak berbeda jauh dengan perusahaan perkebunan berbentuk “NV” pada umumnya.000 273. Perkebunan AGRIS NV tetap melakukan penanaman karet dan tidak berubah kembali menjadi perkebunan kopi. Karena perkebunan memiliki kebebasan untuk menentukan komoditas yang akan ditanam. memiliki kemerdekaan penuh untuk mengatur segala sesuatu di dalam perkebunan. Kedua yaitu diterbitkannya Agrarisch Wet pada tahun 1870 sebagai bentuk dari kebijakan liberaliasi ekonomi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda (Wiradi. 44   . Sehingga.000 212. Perusahan perkebunan berbentuk “NV” selain bercirikan kapital – intensif. Pasca Agrarisch Wet. baik itu berkaitan dengan komoditas yang ditanam ataupun sistim pengelolaan perkebunan. 2000). Ditanamnya pohon karet sebagai komoditas utama di perkebunan AGRIS NV. Perkebunan Pemerintah dan Swasta Tahun 1895 – 1909 (dalam pikul) Tahun Produksi Kopi Perkebunan Pemerintah (pikul) 1895 – 1899 1900 – 1904 1905 – 1909 314.

Hanya saja. Tidak diketahui secara jelas apakah desa disekitar perkebunan AGRIS NV merupakan hasil evolusi dari bedeng buruh kopi dimasa Prijangansteelsel atau bukan. terdapat pada logat bahasa yang digunakan.Lapisan atas struktur organisasi perusahaan perkebunan berbentuk “NV”. Sedangkan. selain para pekerja yang berasal dari desa sekitar perkebunan. Titik pembeda antara buruh pendatang dengan orang desa sekitar yang menjadi buruh. 1991). terdapat seorang administratuer dan beberapa opzichter. Lokasi perkebunan AGRIS NV tidak terlalu jauh dari pemukiman warga. dengan para pribumi yang berada pada lapisan bawah terjalin dalam suatu mekanisme tertentu. pada lapisan bawah terdapat buruh – buruh yang dikelompokan ke dalam beberapa regu (ploeg) dan dipimpin oleh seorang kepala regu (ploeg baas) (Kartodirdjo. menurut para tetua Desa Banjaranyar. yang diisi oleh orang – orang Eropa. terutama dibagian penyadapan getah karet. Opzicher merupakan pembantu pemimpin umum yang mengepalai beberapa mandor dan bertugas mengawasi kinerja perkebunan. Di dalam perusahaan perkebunan AGRIS NV kepala regu sering kali disebut sebagai “mandor”. Administratuer ialah pimpinan umum yang merupakan sutu jabatan puncak yang ada di perusahaan perkebunan. Mandor selain bertugas sebagai kepala regu juga bertidak sebagai penghubung antara para buruh perkebunan dengan para Opzicher. terdapat buruh perkebunan yang berasal dari penduduk desa. para wanita desa juga ada yang bekerja di perkebunan. Sedangkan pada lapisan atas para Opzicher-lah yang bertindak sebagai “schakel” atau penghubung mata rantai.hari. Sehingga praktis tidak pernah terjadi komunikasi secara langsung antara seorang pemipin perkebunan atau Administratuer dengan para buruh perkebunan. Tetapi. Walaupun seluruh buruh perkebunan AGRIS NV menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa komunikasi sehari . Komunikasi yang terjadi antara orang Eropa yang berada pada lapisan atas. dalam artian mudah dijangkau oleh penduduk desa sekitar perkebunan. dialek sunda yang berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain dapat dijadikan salah satu indikator penentu darimana buruh tersebut berasal. Guna memenuhi kebutuhan perkebunan akan tenaga kerja. Perkebunan AGRIS NV juga mengambil tenaga kerja dari luar daerah Ciamis. 45   . Bahkan.

Agrarische Wet 1870 yang menjadi dasar dari hak penggunaan lahan bagi banyak perusahaan perkebunan kemudian dihapuskan. Hal ini juga mempengaruhi kondisi perusahaan – perusahaan perkebunan yang ada di Indonesia.3 Periode Pasca Kemerdekaan Pasca diproklamirkannya teks proklamasi oleh Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. terjadi perubahan besar pada peta politik di Indonesia. Lahan yang semula dikelola sebagai perkebunan karet. hiburan. maka rakyat menerima perbedaan tersebut sebagai suatu hal yang biasa. sudah menjadi rahasia umum dikalangan buruh dan penduduk sekitar perkebunan. Bahkan. dan berbagai pelayanan lainnya. pada sore harinya dapat kembali ke desa untuk melanjutkan perkerjaan di rumah.Titik – titik sentuh antara perusahaan perkebunan dengan rakyat yang mudah menimbulkan konflik seperti perampasan tanah garapan dan lahan pemukiman warga. dibakar oleh warga. tetapi lebih bertujuan untuk memberi kemudahan bagi para pemodal asing. terdapat buruh perkebunan yang telah selesai bekerja. Perbedan tersebut terdapat pada berbagai macam sisi seperti akses pendidikan. AGRIS NV sebagai salah satu perusahaan perkebunan asing yang mendapatkan hak penglolaan lahan dari Pemerintah Hindia Belanda terjebak dalam kondisi yang tidak jelas. Keberadaan perkebunan membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk desa sekitar. Letak perkebunan yang dekat dengan desa membuat kehidupan di perkebunan tidak terisolasi dari dunia luar. Namun. transportasi. Cerita – cerita prihal kebiasaan para administratuer dan opzcher yang suka menghabiskan waktu di Kota Bandung dan Ciamis untuk bersenang – senang. Perbedaan yang mencolok memang terlihat pada taraf hidup golongan atas (administratuer dan opzicher) dengan taraf hidup golongan bawah (buruh perkebunan).2. Fenomena Tricle down effect atau efek tetesan justru dirasakan oleh penduduk desa sekitar perkebunan. Para administratuer dan opczhier tidak lagi diketahui 46   . 4. tidak ditemukan di perkebunan AGRIS NV. karena kesadaran akan diskriminasi belum berkembang dimasyarakat. Produk kebijakan Pemerintah Hindia Belanda tersebut dianggap tidak memihak pada kepentingan rakyat Indonesia.

tanah perkebunan asing dan seluruh tanah perkebunan asing akan dikembalikan kepada rakyat. Di dalam podato tersebut. Pertama. warga tetap menggarap lahan AGRIS NV. Besar kemungkinan. penyadapan pohon karet. Pada akhir tahun 1940an. sedangkan perkebunan milik Pemerintah Kolonial diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. hingga bisa terdengar ditelinga warga Banjaranyar. Dari 42 Hak Erfpacht 47   . warga sekitar perkebunan AGRIS NV mulai melakukan penggarapan di atas tanah perkebunan. Luasan tanah yang digarap oleh masing – masing kelurga pun berbeda – beda. tanah bekas perkebunan Agris NV tidak masuk kedalam daftar tanah yang akan dikelola Pemerintah. para petinggi perkebunan tersebut ikut dalam eksodus warga Eropa yang keluar dari Indonesia pada massa Pendudukan Jepang (1943 – 1945). Dua kejadian penting yang terjadi pada periode tahun 1950an tersebut. Perkebunan – perkebunan yang ada pada saat itu akan berdiri di bawah Pusat Perkebuna Negara Baru (PPN – Baru) dan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) yang kesemuanya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1950an. ketika Pemerintah Republik menasionalisasi aset perkebunan. yaitu pasca Perundingan Meja Bundar di tahun 1949. yaitu nasionasasi seluruh aset terutama aset perkebunan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada saat ditetapkannya keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). sehingga pengarapanpun terus dilanjutkan.keberadaannya. Kedua. bergantung dari jumah anggota keluarganya. begitu sebaliknya. Presiden Soekarno memerintahkan warga untuk menggarap tanah . Praktis pada saat itu tidak ada kegiatan dari perusahaan perkebunan di atas tanah perkebunan. Pada tahun 1955. Pada keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga besar akan menggarap luasan tanah yang besar. salah satunya dipicu oleh pidato Presiden Soekarno yang tersebar melalui radio – radio. baik itu berupa penanaman. seluruh perkebunan milik asing harus dikembalikan. Penggarapan yang dilakukan oleh warga tidak dilaksanakan secara berkelompok. Penggarapan yang dilakukan oleh warga. atupun pengasapan getah karet. tetapi digarap oleh masing – masing keluarga. praktis tidak mempengaruhi aktivitas warga dalam menggarap lahan bekas perkebunan AGRIS NV. terdapat dua kejadian penting ditingkat nasional yang cukup mempengaruhi kondisi perkebunan di Kabupaten Ciamis.

berdasar pada SK. Nama Bambang Trihatmojo yang merupakan pemilik perusahaan telah memberi dampak tersendiri bagi warga Desa Banjarnyar. Bukit Jonggol Asri. hanya lahan perkebunan di daerah Batulawang.2. Pada tahap pelaksanaannya. Menurut penuturan Bapak Oman yang merupakan salah satu tokoh masyarakat di Desa Banjarnyar. PT.Men No. dengan kata lain PT RSI tidak mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah eks-perkebunan AGRIS NV secara langsung. Karangkamiri. tanah seluas 755.yang ada di Kabupaten Ciamis. Warga Banjaranyar cenderung enggan untuk melakukan perlawanan guna mencegah masuknya perusahaan dilahan eks-perkebunan. Pada saat ini. RSI ditanah bekas perkebunan AGRIS NV. tetapi melalui PT Bukit Jonggol Asri selaku perusahaan induk. seluruh lahan yang dikelola oleh PNP tersebut. Tanah perkebunan Blok Cigayam (AGRIS NV) tidak termasuk dalam daftar tanah tersebut.000 hektar lahan didaerah Jonggol pada tahun 1990an. Sehingga. Cikupa. baik itu jual beli tanah dengan masyarakat ataupun perizinan ditingkat pemerintah desa dan kecamatan.Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis yang dihimpun hingga tahun 2010. aktivitas penggarapan rakyat terusik dengan masuknya PT. PT Bukit Jonggol Asri (BJA) merupakan salah satu perusahaan properti yang terkemuka di Indonesia. Nama perusahaan ini mulai mencuat kepermukaan setelah terlibat dalam proyek pengembangan 30. pada tahun 1982 datang seorang wanita yang bernama Ibu Jua. Ciparanti. Cigugur. Wanita ini disebut – sebut sebagai utusan PT RSI untuk mengurus masalah pertanahan.4 Era Orde Baru Pada tahun 1982. PT Bukit Jonggol Asri memberikan kuasa kelola kepada PT RSI selaku anak perusahaan.07 hektar yang berada di wilayah Kecamatan Banjarsari dibebaskan kepada PT. Bukit Jonggol Asri merupakan salah satu perusahaan yang berada dibawah Group Bimantara yang dimiliki oleh Bambang Trihatmojo. 4. dan Bangunharja yang masuk kedalam daftar tanah yang akan dikelola oleh Pemerintah melalui Perusahaan Negara Perkebunan (PNP). 1 yang dikeluarkan pada tanggal 24 Januari 1975. 48   . salah satu putra dari Presiden Soeharto. Cimanggu. dikelola PT.

PT. mulai merebak ditengah – tengah masyarakat.3 Pengorganisiran Petani Banjaranyar dan Aksi Perebutan Tanah Kerusuhan Tasik yang terjadi pada tanggal 26 Desember 1997 dan kejatuhan Presiden Soeharto dari tampuk kepemimpinan pada tahun 1998. melakukan penanaman bibit pohon jati di tanah seluas 708. khususnya masyarakat Desa Banjaranyar. RSI berencana mengembangkan usaha gula singkong. beberapa hari setelahnya. mulai mempertanyaan prihal hak pengelolaan lahan yang dimiliki oleh Perhutani. Tanah yang dahulu merupakan lahan perkebunan AGRIS NV akan dirubah menjadi perkebunan singkong terpadu. Pada perjalanannya.5 hektar. Pada tahun 1996. 4.Mereka lebih memilih untuk diam. Perhutani selaku penerima hak pengelolaan tanah. meskipun dalam perencanaan pengambangan perusahaan. Warga Desa Banjaranyar. memberi dampak psikologis bagi warga Kabupaten Ciamis. Kegiatan penanaman dan pengelolaan pohon jati oleh Perhutani kemudian terhenti pada tahun 1998. Di dalam perencanaan pengembangan perusahaan yang disampaikan kepada masyarakat. Sedangkan tanah – tanah yang telah digarap oleh rakyat akan dibeli dengan harga yang layak oleh perusahaan. terutama Camat Kecamatan Banjarsari selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). tanah – tanah garapan warga termasuk di dalam lahan yang akan digunakan oleh perusahaan. pejabat IRPH Perhutani Ciamis. proses jual beli inilah yang terjebak dalam kondisi yang tidak jelas. juga tidak dapat memberi kepastian prihal jual beli tersebut. yang sebagian besar berkerja disektor pertanian. RSI dengan Perhutani diperkuat dengan kehadiran Bapak Jamaludi. 49   . Dipihak masyarakat. tidak ada kepastian tentang kapan waktu pembelian dan harga dari tanah yang akan dibeli oleh perusahaan. Dipihak Pemerintah Daerah. Bapak Eman selaku Camat dari Kecamatan Banjarsari mengabarkan kepada masyarakat bahwa tanah eks-perkebunan AGRIS NV sudah tidak lagi dikelola oleh PT RSI. Pernyataan prihal tukar guling lahan antara PT. Hak pengelolaan tanah tersebut sudah dialihkan kepada Perhutani. Pasca kejadian tersebut. Masyarakat mulai berani untuk berbicara. Cerita – cerita tentang ketidakadilan dan kemiskinan yang dialami oleh warga di sekitar lahan eks-perkebunan.

yang dimotori oleh Bapak Oman.diam. Aksi penebangan pohon ini tidak bertujuan untuk mencuri kayu. ketika melakukan penebangan jati Perhutani. beberapa hari setelah penebanganpun tidak ada warga Banjaranyar yang mengambil kayu tersebut. Ibu – ibu. Hal ini dibuktikan dengan dibiarkannya kayu hasil tebangan berserakan dikawasan perkebunan. Bahkan. melainkan bertujuan merusak pohon jati yang menjadi simbol keberadaan Perhutani diatas lahan eks-perkebunan. Seiring berjalannya waktu. rata – rata warga berhasil menebang pohon jati seluas 5 hektar. Menurut penuturan Ibu Wati istri dari Pak Oman. Susana mencekam yang ada di desa mendorong mereka untuk tidak membicarakan aksi penebangan ini di ruang publik. 50   . Hingga setelah kurang lebih sebulan dilakukan penebangan pohon jati Perhutani. Pada awalnya penebangan hanya dilakukan oleh lima orang. Tetapi. dari hari ke hari jumlah warga yang ikut melakukan penebangan makin bertambah. Para lelaki Banjaranyar memang menjadi motor dalam aksi penebangan ini. Pada gilirannya. seperti diwarung ketika berbelanja ataupun dipengajian rutin masjid. para gadis. tidak ada satu pun dari mereka yang mau membicarakan hal tersebut diruang publik. baik itu Kepolisian. isu – isu yang berkembang di tengah masyarakat berubah menjadi aksi penyerangan terhadap lahan eksperkebunan. Penebangan pohon dilakukan pada malam hari. karena dinilai berbahaya dan penuh dengan resiko. Pada setiap malamnya. hampir seluruh lelaki Desa Banjaranyar ikut andil dalam penebangan tersebut. Pak oman biasanya pergi pada pukul sebelas malam dan baru kembali sebelum adzan subuh atau sekitar pukul setengah empat pagi.Warga juga mulai mempertanyakan prihal apa manfaat yang dapat mereka terima dari hak pengelolaan tersebut. berawal dari penebangan pohon jati Perhutani secara diam . dan anak – anak dilarang untuk ikut andil dalam penebangan. Aksi penyerangan lahan eks-perkebunan oleh warga. dengan harapan pelaku penebangan tidak diketahui oleh pihak berwajib. Ia dan para istri lainnya sesungguhnya tau apa yang dilakukan suami dan anak lelaki mereka. TNI ataupun petugas Perhutani.

Di dalam salah satu pernyataannya setelah menjadi Presiden. Pada akhir tahun 1998.Besarnya luas lahan yang telah ditebang oleh warga. pernyataan Gus Dur prihal penggarapan tanah perkebunan juga sampai ketelinga warga Banjaranyar. Banbinsa yang semula jarang melakukan pemeriksaan keliling desa. mulai mengusik Perhutani selaku pengelola lahan. Pak Oman diminta untuk mengakui bahwa ia dan warga lainnya telah melakukan pencurian kayu di wilayah kerja Perhutani. tetapi tidak melakukan pencurian kayu. 51   . Sehari setelah kembalinya Pak Oman ke desa. Pria – pria berbaju dinas TNI dan Brimob dari Kepolisian mulai sering terlihat di sekitaran desa. Warga menjadi semakin solid dan berani menunjukan ketidaksukaan mereka terhadap kehadiran Perhutani dilahan eks-perkebunan. Pada tahun 1999. Ia berdalih bahwa pohon – pohon jati yang berada dilahan eks-perkebunan AGRIS NV baru berumur 1 – 3 tahun. Setelah seharian penuh diintrogasi oleh petugas. pada akhirnya Pak Oman mengakui bahwa ia melakukan penebangan kayu. tetapi justru lebih mengobarkan semangat perlawanan. diputuskan bahwa aksi penebangan pohon jati dihentikan dan tanah – tanah yang kosong karena ditebang akan digarap oleh warga. Abdurahman Wahid atau Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik ke – 4. mulai rutin melakukan patroli. Pak Oman yang dipandang sebagai penggerak warga dipanggil oleh Danrem Ciamis untuk dimintai keterangan. Gus Dur menyatakan bahwa rakyat diperbolehkan untuk menggarap tanah – tanah perkebunan dan tanah – tanah rakyat yang dahulu direbut oleh perkebunan akan dikembalikan kepada rakyat. orang – orang yang menebang pohon jati perhutani merupakan para pencuri kayu. Meskipun tidak mendengar dan melihat secara langsung. Isu yang berkembang pada saat itu. melalui Sidang Umum Istimewa MPR. Rumah Bapak Oman beberapa kali didatangi oleh anggota TNI yang menanyakan soal penebangan kayu di arel perkebunan. Para pencuri kayu ini akan ditangkap dan dimasukan ke penjara. Pemanggilan Pak Oman ke Danrem Ciamis tidak menyurutkan semangat perlawanan warga. warga berkumpul disamping rumah Pak Oman untuk membicarakan kelanjutan aksi penebangan. masih terlalu muda untuk dijual. Dari hasil musyawarah tersebut.

Pasca tersebarnya kabar tersebut, semangat Warga Banjaranyar untuk menggarap dan menuntut hak atas tanah semakin membesar. Pada tanggal 26 April 1999 , warga Desa Banajaranyar bersepakat untuk membentuk Panitia Pembebasan Tanah. Panitia Pembebasan Tanah merupakan organisasi bentukan warga yang betugas untuk mewakili warga dalam memperjuangkan hak – hak mereka atas tanah. Pak Oman ditunjuk sebagai ketua dari panitia pembebasan tanah. Sedangkan jumlah anggota panitia pembebasan tanah, tidak pernah diketahui secara pasti. Karena tidak pernah dilakukan pendataan prihal jumlah anggota. Seluruh anggota panitia merupakan warga Banjaranyar yang mau ikut memperjuangkan hak mereka atas tanah eksperkebunan. Menurut Beno, salah seorang pemuda Desa Banjaranyar, pada waktu pembentukan panitia, warga sangat solid, setiap pertemuan panitia selalu disesaki warga. Pada waktu itu, penduduk Banjaranyar percaya bahwa dengan berjuang secara bersama mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan tanah. Perjuangan yang dilakukan Panita Pembebasan Tanah Desa Banjaranyar tidak hanya sebatas memotori warga untuk melakukan penggarapan di tanah eksperkebunan. Pertemuan – pertemuan dengan para pemangku kepentingan lain juga dijalankan, seperti pertemuan dengan Dinas Kehutanan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Meskipun pertemuan - pertemuan tersebut bukanlah inisiasi warga Banjaranyar tetapi undangan dari pemangku kepentingan lain. Di dalam berbagai pertemuan dengan BPN, diketahui bahwa

sesungguhnya status tanah eks-perkebunan berada dalam kondisi yang tidak jelas. Hak Erfpacht yang dimiliki oleh AGRIS NV seharusnya hangus sebelum massa habis waktunya, yaitu tahun 1945. Pemerintah Hindia Belanda selaku pemberi Hak Erfpacht, telah jatuh dan digantikan dengan Pemerintah Republik Indonesia. Maka dengan sendirinya Hak Erfpacht yang telah dikeluarkan kepada AGRIS NV tidak berlaku lagi, karena Pemerintah Hindia Belanda sudah tidak ada. Selain itu, aksi tukar guling lahan antara PT. Bukit Jonggol Asri, selaku penerima Hak Guna Usaha (HGU) lahan eks-perkebunan, dengan Perhutani dinggap tidak sah. Hal ini dikarenakan tidak adanya bukti tertulis yang mendasari dilakukannya tukarguling lahan antara PT. Bukit Jonggol Asri dengan Perhutani. Baik Perhutani ataupun Badan Pertanahan nasional, sama – sama tidak dapat

52
 

membuktikan bahwa hak kelola lahan eks-perkebunan AGRIS NV telah diberikan kepada pihak Perhutani. Telebih lagi, pada akhir Desember 1999, Perhutani membantah telah mendapatkan hak kelola lahan dan tidak tau menahu soal tukar guling lahan eks-perkebunan AGRIS NV dengan PT. Bukit Jonggol Asri. Hal inilah yang kemudian menambah keyakinan warga untuk terus menggarap lahan eks-perkebunan. Karena tanah tersebut dianggap sebagai tanah tak bertuan.

4.3.1 Pertemuan Dengan Agustiana Pasca dilakukannya pertemuan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Kota Ciamis. Pak Oman dan beberapa orang warga Banjaranyar bertemu dengan Agustiana yang pada saat itu bergabung dengan aktivis mahasiswa Ciamis, Tasik, dan Garut dalam YAPEMAS (Yayasan Pengembangan Masyarakat). Di dalam pertemuan tersebut Agustiana mengajak warga Banjaranyar untuk melakukan perjuangan bersama dalam memperjuangkan hak atas tanah dengan membentuk Serikat Petani Pasundan (SPP). Menurut Agustiana, pada tahun 1999 di daerah Priayangan Timur begitu banyak kasus persengketaan tanah, baik itu di atas tanah perkebunan ataupun di atas tanah kehutanan (Perhutani). Pasca terjadinya reformasi pada tahun 1998, warga yang semula ditekan oleh Pemerintah Orde Baru mulai berani menuntut hak mereka atas tanah. Hal ini dibarengi dengan meningkatnya gerakan mahasiswa di kawasan Ciamis, Tasik dan Garut. Ia berpendapat bahwa, gerakan mahasiswa yang membesar pada tahun 1998 dapat bertahan, hanya apabila bergabung dengan gerakan rakyat, seperti gerakan petani dalam menuntut tanah. Menurut Bapak Oman, Agustiana mengajak warga Banjaranyar untuk bergabung membentuk Serikat Petani Pasundan (SPP) dan membubarkan Panitia Pembebasan Tanah. Panitia Pembebasan Tanah dianggap tidak akan dapat bertahan lama, karena hanya bertujuan untuk mendapatkan tanah dan selesai pada kasus Banjarnyar. Sedangkan Serikat Petani Pasundan (SPP) tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan hak atas tanah tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tanah tersebut. Selain daripada itu, bergabungnya warga Banjaranyar dapat menjadi penyokong dalam membantu

53
 

penyelesaian kasus sengketa tanah di desa – desa lain di wilayah Ciamis, Tasik, dan Garut. Pasca pertemuan dengan Agustiana di depan gedung BPN, Pak Oman mengumpulkan warga Banjaranyar untuk membicarakan usulan bergabungnya gerakan warga Banjaranyar dalam menuntut hak atas tanah dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Pertemuan yang digelar setelah waktu sholat isya dan diadakan di dekat rumah Pak Oman juga turut dihadiri Agustianan sebagai perwakilan dari YAPEMAS. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, pada akhirnya warga Banjaranyar bersepakat untuk bergabung dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Tanggal 24 Januari 2000 di Kota Garut, bersama dengan petani dari daerah Ciamis, Tasik, Garut, warga Desa Banjaranyar ikut mendeklarasikan berdirinya Serikat Petani Pasundan (SPP). Panitia Pembebasan Tanah yang semula menjadi wadah organisasi gerakan petani Banjaranyar dalam menuntut hak atas tanah dibubarkan dan digantikan dengan Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar.

4.4 Makna Tanah Bagi Petani Banajaranyar “dulu beno waktu awal nikah, beras aja dikirim dari sini. Coba liat sekarang, alahamdulillah udah mulai bisa mandiri. Tanah dia 250 bata ajah, cukup tuh buat idup...” (Wati, petani penggarap) Hubungan – hubungan yang terjadi antara tanah dengan petani Banjaranyar tidak hanya didasarkan pada hubungan ekonomi semata. Tanah boleh jadi merupakan tempat dimana mereka menjalani mata pencaharian sebagai petani. Terlebih lagi, diatas tanah tersebut jugalah petani Banjarnyar menjalin hubungan yang berdasarkan ikatan – ikantan solidaritas sosial. Ketika ada petani yang gagal panen atau mengalami musibah maka beban ini tidak semata – mata ditanggung oleh petani tersebut. Begitu pula ketika terdapat salah saorang anak muda yang baru menikah. Anggota komunitas lainnya secara swadaya akan membantu guna mengurangi beban yang diderita. Bantuan sering kali berupa beras dan hasil bumi lainnya, tetapi tidak jarang bantuan dapat pula berupa pekerjaan seperti menggarap tanah garapan tetangganya.

54
 

masa tinggal ngegarap aja gak mau. petani Banjaranyar berani melakukan gerakan perlawanan. petani penggarap) Bagi petani Banjaranyar tanah erat kaitannya dengan rasa aman.. “susah berarti kalo gak punya tanah. Kuatnya institusi Negara dan Pemerintahan yang cenderung represif selama masa Orde Baru. berarti kan dia males orangnya.. miskin kemauannya.. kalo ada gitu anak muda sini yang gak ada tanah. Aman dari sisi ekonomi berarti petani tersebut mempunyai jaminan atas penghasilan yang akan didapatnya dari hasil pertanian. sepetak aja gitu... itu juga bukan beli. Sehingga Tercipta garansi – garansi secara psikologis. Baru setelah kejatuhan rezim Orde Baru dan melemahnya institusi Negara pada tahun 1998... Orang yang tidak punya tanah garapan dipersepsikan sebagai manusia yang miskin ekonominya. paling sekarang – sekarang aja ada yang beli.“kalo saya mening punya tanah tapi susah makan daripada bisa makan tapi gak punya tanah.. Sekdes Banjaranyar) Penduduk Banjaranyar cenderung tidak memiliki banyak pilihan mata pencaharian. paling sewa buat balong. lagian sih. menciptakan kepercayaan diri bagi si petani dalam mengarungi hidup. aman dari sisi ekonomi dan aman sisi sosial. kalo gak punya tanah mah... dijamin susah cari istri juga. 55   . Rasa aman yang diberikan dari keberadaan tanah inilah yang kemudian terusik dengan kehadiran PT RSI dilahan eks-perkebunan pada awal tahun 1980an. dan miskin semangatnya.. Aman dari sisi sosial dapat dilihat dari persepsi masyarakat prihal orang yang tidak punya tanah garapan. orang sini tanah jarang yang beli. Sebagian besar masyarakat merupakan orang yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian...” (Ati. Hal inilah yang kemudian menciptakan ketergantungan yang tinggi antara penduduk Banjaranyar dengan tanah.. Bingung de.... Keberadaan tanah garapan memungkinkan petani untuk dapat memanfaatkan potensi dari tanah tersebut. bahwa masih ada harapan akan hasil panen dari tanaman di atas tanah garapan.” (Jandi.. dari dulu juga kan. membuat petani Banjaranyar tidak mampu untuk melakukan gerakan perlawanan.

iuran wajib bulanan di Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar didasarkan pada luasan tanah yang digarap oleh masing – masing petani... Orang yang dianggap berjasa dalam perjuangan perebutan tanah akan mendapatkan empat hingga lima kavling tanah. Petani yang menggarap tanah satu kavling akan ditarik iuran sebesar dua puluh ribu rupiah dan untuk dua kavling akan dikenakan iuran empat puluh ribu rupiah. Orang – orang tersebut mendapatkan tanah garapan lebih besar daripada warga pada umumnya.Secara de jure. bagi petani Banjaranyar juga dapat dipandang sebagai sarana ekstistensi mereka dikehidupan bermasyarakat... mesti gelut dulu sama orang yang loreng – loreng itu. Pasca masa perebutan tanah eks-perkebunan AGRIS NV oleh warga. Tanah.... sesungguhnya petani yang menggarap tanah eksperkebunan AGRIS NV belum diakui kepemilikan atas tanah garapannya oleh Negara.” (Oman. petani penggrap) “embung jual tanah sih.. tanah dijadikan alat penghargaan bagi warga Banjaranyar yang dinggap berjasa bagi perjuangan perebutan tanah.. garap juga gak kuat.. mudah kita temui di Desa Banjaranyar.. Sebagai contoh. dan jual beli pohon dibawah tegakan kayu... Apabila masing – masing warga hanya mendapatkan satu hingga dua kapling tanah. kepikiran juga enggak. “ijon” tanaman kayu rakyat. makanya nanem jengjeng. Kegiatan – kegiatan seperti “ngaborong” untuk pekerja penggarap tanah. baik itu setifikat kepemilikan per-individu ataupun secara kelompok..” (Adminah. tar kalo dah gede baru jual. nambahin ongkos munggah haji. tinggal ke haji belom.. bapak dapetnya susah.. ibu kan dah tua. 56   . jadi gak bakal dijual. dengan satu kavling sama dengan dua ratus lima puluh bata. “tanah itu idup mati. Karena Badan Pertanahan Nasional (BPN) selaku pihak yang berwenang belum mengeluarkan setifikat kepemilikan atas tanah tersebut.. petani penggarap) Segala macam kegiatan ekonomi yang terjadi diatas tanah garapan memang tidak dapat menyingkirkan makna tanah dari unsur ekonomi.

Tasik. OTL berdiri ditingkatan desa dengan tujuan menjaga kesinambungan gerakan massa di tingkat akar rumput. mekanisme penerimaan anggota. dan kesediaan untuk mengikuti aksi – aksi atau demonstrasi yang dilakukan oleh SPP. Wajib memiliki rasa solidaritas baik sesama anggota maupun sesama manusia tanpa memandang suku. Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar dibubarkan dan digantikan dengan Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar. Pada tanggal 26 April 1999. Organisasi ini merupakan wadah perjuangan warga Banjaranyar untuk mendapatkan hak atas tanah di lahan eks-perkebunan AGRIS NV. 57   . Sekjen SPP. warga Banjaranyar membentuk Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar.BAB V GERAKAN PETANI BANJARANYAR 5. Pasca bergabungnya warga Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Pendefinisian garis perjungan SPP dijabarkan melalui 9 kewajiban anggota SPP. Bergabungnya gerakan Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP) ditandai dengan ikrar bersama di Garut pada tahun 2000. yang diikuti oleh warga Banjaranyar dan petani lain dari wilayah Ciamis. Oraganisai Tani Lokal (OTL) Banjaranyar merupakan salah satu dari organisasi petani lokal yang berada dibawah Serikat Petani Pasundan (SPP). OTL juga merupakan sarana penghubung atau jalur informasi antara anggota SPP di desa dengan kesekertariatan SPP di Kota Ciamis. Menurut Agustiana. kepatuhan pada segala tata pertaturan di dalam SPP. yaitu : 1.1 Organisasi Gerakan Bergabungnya gerakan petani Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP) membawa sejumlah konsekuensi. Selain bertujuan untuk menanamkan nilai – nilai gerakan. Konsekuensi tersebut berupa pembubaran Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar. Garut. pendirian OTL baik itu di Desa Banjaranyar ataupun di desa – desa lainnya bertujuan untuk menjaga massa pada tingkat akar rumput agar tetap teguh pada garis perjuangan SPP. OTL inilah yang kemudian mempermudah sekertariat SPP untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi desa dan segala permasalahan yang ada di dalam masyarakat desa.

Wajib memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang hakiki. tiga orang deputi atau wakil dan tiga orang kepala divisi. Secara struktural keberadaan divisi masuk ke dalam kesekertariatan Sekjen. Wajib mengikuti dan membangun sikap bergotong royong. 58   . 5. wilayah kerja dibagi kembali menjadi tiga yaitu Ciamis tengah. yaitu Koordinator wilayah Garut. Ciamis Selatan. Wajib mencari ilmu dan membangun kepintaran dan kecerdasan. OTL Banjaranyar berada di bawah Koordinator wilayah Ciamis. dan Koordinator wilayah Ciamis.2. Tiga orang kepala divisi dibagi berdasarkan fungsi pendukung oraganisasi. Kongres akan memberikan mandat penuh kepada seorang Sekertaris Jendral (Sekjen) untuk menjalankan organisasi. Tetapi khusus untuk wilayah Kabupaten Ciamis. 6. 9. Koordinator wilayah Tasik. dan divisi informasi dan telekomunikasi. 3. Hingga saat ini. guna memenuhi kebutuhan organisasi keberadaan divisi mengalami beberapa penyesuaian. Wajib berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan dan kehidupan yang layak. Wajib ikut melaksanakan musyawarah dalam pengambilan keputusan organisasi. Tiga orang koordinator yang dibagi berdasarkan wilayah kerja. divisi pengolahan sumberdaya hutan. Wajib menjadi pemimpin masyarakat yang arif dan bijaksana. Pada lapisan atas terdapat terdapat Kongres Dewan Pimpinan OTL sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. dan Ciamis Utara. Organisasi Tani Lokal berada pada lapisan yang paling bawah. 4. terdapat dua divisi baru. tepatnya Ciamis Tengah. 8. Di dalam menjalankan roda organisasi Sekjen akan dibantu oleh tiga orang Koordinator. Pada perkembangannya. Wajib menjaga lingkungan hidup dan kelestarian alam. Wajib iman dan takwa terhadap Allah SWT. Hal ini disebabkan karena banyaknya kasus sengketa lahan yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis. 7. seperti divisi penguatan organisasi. yaitu divisi pengembangan ekonomi masyarakat dan divisi hukum yang kemudian berkembangan menjadi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SPP.

DPP Wilayah  Koord DPP Kab Garut  Koord.Jen  Koord. Tetapi. Mendaftarkan diri pada dewan pimpinan Organisasi Tani Lokal setempat dan direkomendir oleh Koordinator Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal. Hal ini merujuk pada profile SPP yang dikeluarkan pada tahun 2001. DPP Wilayah  DPP OTL  DPP OTL DPP OTL  DPP OTL  DPP OTL DPP OTL  Anggota Gambar 4. Kongres Dewan Pimpinan OTL Kesekretariatan Sek. DPP Wilayah  Koord DPP Kab Ciamis  Koord. Hingga saat ini tercatat. hingga saat ini pertanggungjawaban tersebut belum pernah dilakukan. dalam hal ini Sekjen SPP kepada Dewan Pimpinan OTL. DPP Wilayah  Koord. Semenjak berdirinya SPP pada tahun 2000 hingga dilakukannya penelitian ini pada tahun 2010. terdapat 190 Kepala Keluarga (KK) yang terdaftar sebagai anggota dari OTL Banjaranyar. DPP Wilayah Koord DPP Kab Tasikmalaya  Koord. Apabila ada seseorang yang berkeinginan untuk menjadi anggota. Sekjen Serikat Petani Pasundan (SPP) tetap dipegang oleh Agustiana. 59   . maka orang tersebut wajib memenuhi beberapa persyaratan atau disebut sebagai tata tertib anggota. mekanisme pertanggungjawaban dilakukan melalui temu OTL yang dilakukan setiap tiga bulanan di sekretariat SPP. seharusnya dilakukan satu kali setiap dua tahun. Pada prakteknya.Pertanggungjawaban sekertariat SPP. DPP Wilayah  Koord. Struktur Organisasi Serikat Petani Pasundan (SPP) Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar beranggotakan warga masyarakat Desa Banjaranyar. Lama waktu kepengurusan seorang Sekjen tidak diketahui secara pasti. yaitu : 1.

5. Hal-hal yang belum tercantum dari poin 1 sampai dengan poin 13 akan diatur dan dimusyawarahkan dikemudian hari. 13. 6. Hal ini jelas berbeda dengan organisasi yang sebelumnya dibetuk oleh warga Banjaranyar. yaitu Panitia Pembebasan Tanah (PPT).2. Membayar iuran wajib anggota yang diputuskan secara musyawarah yang besarnya ditetapkan oleh musyawarah Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal masing-masing. 9. Di dalam PPT tidak dikenal adanya persyaratan khusus untuk masuk menjadi anggota organisasi. 11. Berjuang merebut keadilan dan kecerdasan. Menjaga nama baik Serikat Petani Pasundan. Meningkatkan kebersamaan dan gotong-royong. Menjalin silahturahmi dengan sesama anggota dan pimpinan Organisasi Tani Lokal dan sesama anggota lainnya 7. dan budaya bagi anggota. 14. 10. Memelihara dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup yang berkeadilan dan kesetaraan. Mengontrol dan mengawasi kinerja Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal masing-masing. Melaksanakan 9 (Sembilan) Wajib SPP. sosial. 8. politik. 12. Berjuang membangun kepintaran dan kecerdasan. Melaksanakan agenda dan program yang telah diputuskan secara parsitipatif oleh musyawarah Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal. Memiliki kartu anggota Serikat Petani Pasundan. Memperjuangkan hak untuk membangun kesejahteraan ekonomi. 4. cukup 60   . 3. Seluruh warga Banjaranyar yang berkeinginan bergabung dengan PPT.

tata tertib anggota. Maka. tetapi juga bertindak sebagai pemersatu dari para anggota OTL. Setelah seorang ketua terpilih menjadi ketua OTL. OTL Banjaranyar dipimpin oleh seorang ketua yang dibantu sekertaris OTL dan bendahara OTL. barulah kemudian ketua OTL diberikan hak untuk dapat memilih sekertaris dan bendahara. Seluruh peraturan yang ada dimusyawarahkan di dalam rapat Dewan Pimpinan OTL Serikat Petani Pasundan (SPP). khususnya hak petani atas 61   . Pendamping inilah yang kemudian bertugas mengadvokasi para petani dan menyadarkan petani prihal hak dan kewajiban mereka. Pendamping adalah para mahasiswa yang ikut andil dalam perjuangan petani. Butir – butir peraturan baik itu 9 wajib anggota ataupun tata tertib anggota. asalkan orang tersebut merupakan anggota SPP. pendamping SPP berada di dalam kesekertarian Sekjen dan bertanggungjawab langsung kepada Sekjen SPP. Mekanisme pemilihan ketua OTL di Desa Banajaranyar dilakukan secara musyawarah. dalam artian keduanya memiliki kewajiban untuk mentaati 9 wajib anggota. Hal ini merupakan salah satu konsekuensi yang harus ditanggung gerakan petani Banjaranyar ketika bergabung dengan SPP. Kedua tipe anggota tersebut diperlakukan sama. dan segala keputusan Dewan Pimpinan OTL SPP. dengan sendirinya orang tersebut sudah menjadi anggota PPT. Di dalam tubuh SPP terdapat dua macam keanggotaan yaitu anggota dan pendamping. Sistem keanggotaan yang ada di OTL Banjaranyar memang merujuk pada pada sistem keanggotaan yang ada di Serikat Petani Pasundan (SPP). Sebagian besar pendamping merupakan mahasiswa yang berasal dari universitas yang ada tiga Kabupaten di Priyangan Timur. Tasik. Keberadaan ketua OTL tidak hanya bertugas untuk menjalankan amanah organisasi. tidak ditetapkan oleh OTL Banjaranyar sendiri. Anggota merupakan para petani yang berada di desa dalam wilayah kerja dan berada di bawah koordinasi OTL.datang dan ikut aktif di dalam setiap rapat dan kegiatan PPT. yaitu Garut. Secara struktural. Setelah disepakati oleh seluruh anggota Dewan Pimpinan OTL SPP. Seluruh anggota OTL berhak mencalonkan siapapun. Ciamis. untuk segera dilaksanakan. maka peraturan tersebut akan disebarkan keseluruh anggota.

Orang tani. Penyebaran ide – ide perjuangan dilakukan melalui pertemuan desa. serta pembicaraan informal lainnya. pertemuan panitia tanah. Selain meluasnya ruang gerak..” (Oman. Guyub ajah yang penting. Pendudukan ini diawali dengan pemotongan pohon – pohon jati Perhutani.. lebih banyak menggunakan 62   . kan gak mungkin. tiap ada pertemuan rame. dibentuklah organisasi untuk mewadahi perjungan guna mendapatkan hak atas tanah. Polisi juga takut kalo gitu mah. perlawanan yang dilakukan oleh petani Banjaranyar berupa pendudukan lahan eks-perkebunan. memang dianggap sebagai cara yang paling ampuh untuk merebut dan mempertahankan tanah.2 Strategi Gerakan Bergabungnya gerakan petani Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Penyebaran ide perjungan tidak hanya terbatas pada para petani penggarap. “waktu panitia kita pikir gini. Pada mulanya. rembuk warga.. 5. tidak jarang pada prakteknya para pendamping ini harus juga belajar bercocok tanam kepada para petani. dateng semua. Emang keliatan si. Meskipun. Pada periode tahun 1999 – 2000 ketika terbentuknya panitia pembebasan tanah. semua orang dateng. tetapi seluruh warga Desa Banjaranyar. Terbentuknya organisasi yang kemudian disebut sebagai Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar berhasil meningkatkan persatuan diantara petani penggarap. orang dagang. yang dikuti dengan penggarapan dilahan tersebut.tanah. persatuan diantara warga Banjaranyar. telah memperbesar ruang gerak dari gerakan petani Banjaranyar. yaitu Karesidenan Priayangan Timur. Gerakan petani yang semula hanya berputar pada lingkup desa dan satu daerah reclaim berkembang menjadi sebuah gerakan petani ditingkatan regional. masa dia mau nangkep sekampung. yang penting nyatu dulu. Media komunikasi yang dipakai. Setelah dianggap memiliki kekuatan yang cukup. petani penggarap) Persatuan yang terjadi di antara warga desa juga disokong oleh penyebaran ide gerakan yang gencar dilakukan oleh para anggota panitia.. guru. penggabungan ini juga berdampak pada strategi gerakan yang digunakan.

Bagaimana agar rakyat didesa tidak miskin. Bahkan. “kami mengesampingkan negara. Di dalam profile SPP yang dikeluarkan pada tahun 2001.. setelah bergabungnya gerakan petani Banjaranyar dengan dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). karena fungsi negara proses dari rakyat ini. penguatan jaringan dengan aktivis mahasiswa dan LSM. baru berupa pertemuan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Ciamis diakhir tahun 1999. baik yang bersifat kedalam ataupun keluar desa. Jadi seluruh anggota SPP harus mampu ngasih manfaat kedesanya.. Karena manusia memang tugasnya jadi khalifah. Tidak ada selebaran ataupu pamflet yang disebarkan untuk memasifkan gerakan. melainkan hanya kepada anggota SPP. ataupun institusi di luar desa seperti penggunaan media massa. Penggunaan strategi guna memanfaatkan sumberdaya. Penyebaran ide gerakan tidak lagi ditujukan kepada seluruh warga desa.. dapat memiliki tanah. pemimpin. strategi yang digunakan dalam melakukan perlawanan mengalami perubahan. khususnya OTL Banjaranyar. Sekjen Serikat Petani Pasundan) Seluruh anggota OTL Banjaranyar selalu didorong untuk dapat berperan di desa. dan harus mau dan mampu jadi pemimpin di desa.” (Agustiana. Pada tahun 2000.komunikasi langsung dari mulut ke mulut. individu.. Selain ikut andil dalam program – program yang dikeluarkan oleh Pemerintah desa. khalifah dalam menguasai sumberdaya agraria. Strategi perjuangan yang digunakan pada massa terbentuknya panita pembebasan tanah memang lebih bersifat ke dalam desa. Perjuangan keluar desa yang sempat dilakukan oleh panitia pembebasan tanah. anggota OTL juga dituntut untuk ikut dalam program pemerintah pusat yang mengalir ke desa. serta audiensi dengan para pemangku kepentingan belum dilakukan secara maksimal. seluruh anggota SPP diwajibkan untuk menjadi seorang khalifah..... Khalifah dimuka bumi. pada periode kepemimpinan 63   . Sistem keanggotaan yang diterapkan oleh SPP telah merubah tata cara penyebaran ide gerakan di dalam desa. dan juga khalifah dalam membuat dan menjalankan kebijakan di tingkatan desa. dan juga terlibat dalam proses pembuatan kebijakan di tingakat desa.

Bagi para pendamping yang bertugas di kesekertariatan Sekjen. menghubungi media masa.00. rasa takut apabila melakukan perlawanan di luar desa. Pasca tahun 2000. Perubahan strategi gerakan jelas terlihat pada hubungan gerakan petani Banajaranyar dengan berbagai kekuatan diluar desa. dan perbekalan selama dilakukannya aksi demontrasi. petani Banajaranyar tidak pernah sekalipun melakukan aksi demontrasi. bertugas untuk mengurus perizinan aksi di Kepolisian. Besaran iuran aksi disesuaikan dengan luas tanah yang digarap. salah satu pendamping yang ada di OTL Banajaranyar. Uang hasil iuran anggota tersebut kemudian digunakan untuk menyewa truk. serta mengurus 64   . dapat dikatakan bertujuan untuk meminimalisir resistensi yang berasal dari dalam desa. Pada massa panitia pembebasan tanah. Kehadiran para mahasiswa inilah yang kemudian memberikan warna baru pada strategi gerakan yang digunakan.000. Berbagai macam peran yang diambil oleh anggota OTL di desa. Menurut Hermawan. baik itu ke Pemerintah Pusat (Jakarta) ataupun ke Pemerintah Daerah (Bandung dan Ciamis). jauhnya jarak antara Desa Banjaranyar dengan pusat pemerintahan dan ketidaktahuan tentang apa itu demontrasi menjadi beberapa faktor penyebab tidak dipilihnya demonstrasi sebagai strategi perlawanan. Keterbatasan dana. menetukan target dan tuntutan aksi. untuk setiap kavling tanah garapan anggota akan dikenai iuran sebesar Rp 20. sudah tidak terhitung berapa kali OTL Banjaranyar sudah melakukan aksi demontrasi. untuk mengangkut masa aksi. sudah ada semacam pembagian tugas. tetapi juga para mahasiswa yang kemudian menjadi pendamping di dalam organisasi. Segala macam rintangan tersebut akan menjadi berkali – kali lipat kesulitannya apabila di dalam desa sendiri ada resistensi pada keberadaan OTL Banjaranyar (SPP). Para pengurus OTL di Desa Banjaranyar bertugas untuk mengumpulkan massa aksi dan uang dari para anggota. perjuangan mendapatkan tanah merupakan perjalanan yang penuh dengan rintangan.saat ini Kepada Desa Banajaranyar merupakan anggota Serikat Petani Pasundan (SPP). Serikat Petani Pasundan (SPP) tidak hanya berisikan para petani. Pada setiap aksi demontrasi.

Pejabat juga kan sering susah ditemuin nya. Penggunaan media masa.. yaitu Garut. posisi penting SPP berada pada arah dukungan masa gerakan. Tasik. kan dia jadi tau kalo kita ini masih terus berjuang.. Hingga saat ini terdapat empat orang anggota SPP yang telah menjadi anggota dewan di DPRD Ciamis. kasih dong. orang Jakarta tau. dianggap dapat membantu perjungan mereka.bantuan hukum apabila ada anggota yang tertangkap selama demonstrasi berlangsung. yang menyatakan bahwa anggota SPP merupakan para pencuri kayu. 65   . dan Ciamis. Demontrasi yang dilakukan Serikat Petani Pasundan (SPP) tidak hanya diikuti oleh OTL Banjaranyar. Kalo berita kita ada di tipi sama koran gitu.. Ada apa disini. “pake wartawan kan supaya semua orang jadi tau. Begitu pula dengan Pemilu Kepala Daerah Kabupaten Ciamis... baik saat demonstrasi ataupun tidak. Aksi demontrasi terakhir yang dilakukan pada Juli 2010. baik ditingkat eksekutif ataupun legislatif. Bupati) dan perwakilan dilegislatif (DPR. Hingga saat ini terdapat 36 OTL yang tersebar di tiga wilayah Kabupaten. mas juga jadi tau. terutama masyarakat di luar lingkup desa. Bandung tau. Kemampuan media untuk dapat membentuk opini masyarakat. mekipun tidak ada anggota SPP yang mencalonkan diri sebagai Bupati.. tidak kurang dari 6000 orang turut memenuhi Kota Bandung dengan satu tuntutan. pendamping Serikat Petani Pasundan) Strategi gerakan yang baru pada tahun 2004 mulai dilakukan ialah intervensi pada ranah politik praktis. juga merupakan hal baru bagi gerakan petani Banjaranyar. Perubahan sistem pemilihan umum dimanfaat dengan cara memasukan anggota SPP menjadi calon anggota legislatif. tetapi seluruh OTL wajib mengikuti setiap aksi demonstrasi. Pada tahun 2004 sistem pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia dirubah menjadi sistem pemilihan langsung.. Gubernur. DPRD). Tuntutan yang dibawa ialah permintaan kepada Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat untuk mencabut penyataannya. berhak memilih langsung pemimpin diekskutif (Presiden. hoyong tanah yeuh pak. Seluruh penduduk Indonesia yang telah memenuhi persyaratan...” (Hermawan.

guna melawan kelas – kelas penindas.. dijamin gak bakal didukung sama SPP.. Dosa tuh dia. kan kita dituduh makar.. Kita ini mau ingetin pemerintah kalo petani itu ada.. biar bisa ngingetinnya tiap hari... Marx (1875) menganalogikan petani seperti kentang di dalam keranjang. Sesekali ia mengeluhkan 66   . pisang. Ladang yang berisi tanaman cokelat (kakao).” (Jek.. petani itu susah. saya juga yakin gak bakal menang tuh.. kan urusan masing – masing. Perwakilan inilah yang kemudian bertugas untuk memimpin dan membantu mereka. makanya sekarang blangsak gitu.. dan dua buah balong (kolam ikan) dirawatnya setiap hari dengan bantuan istri dan beberapa orang tetangga.” (Agustiana. termasuk OTL Banjaranyar di dalam nya. yang meskipun bersatu susungguhnya terpisah antara satu dengan yang lain... Petani membutuhkan perwakilan yang berasal dari kelas yang berbeda untuk menyatukan dan menyatakan diri mereka ke dalam sebuah kelas. kalo diingetin susah ya kita masuk dong. Di dalam prosesnya SPP. pukul dua siang Oman kembali kerumah.. kalo orang – orangnya saya gak bisa jamin ya. Koordinator Wilayah Ciamis Serikat Petani Pasundan) 5.. Tubuh tua Oman sudah tidak lagi mampu bekerja sehari penuh di ladang. ngapain kita dukung puying jadi anggota DPRD. Pria berusia 57 tahun ini telah lima jam berada di ladang.. Sekjen Serikat Petani Pasundan) Intervensi keranah politik praktis. berangkat dari kesadaran bahwa perjuangan perebutan hak – hak petani atas tanah sulit berhasil bila tidak ada dukungan dari pemerintah.... memilih untuk tidak hanya memaksa dan menunggu kebaikan Pemerintah tetapi juga berperan aktif dalam terhadap jalannya pemerintahan. Gerakan petani merupakan sarana yang digunakan untuk dapat memaksa pemerintah memperhatikan hak – hak petani.. kepemimpinan merupakan salah satu syarat penting terbentuknya gerakan petani.. Rabu 2 Juni 2010. singkong. tapi bagi calon bupati yang tidak mendukung perjuangan SPP.. kopi.3 Kepemimpinan Selayaknya yang dinyatakan oleh Scott (1971).“SPP itu tidak akan mendukung salah satu calon. “dulu waktu susno jadi Kapolda. kalo mau makar.

hingga sekolah yang baik untuk anak – anak mereka. 67   . Ia berusaha menyadarkan warga bahwa di dalam tanah eksperkebunan. Tahun 1998. Kejatuhan rezim Orde Baru menciptakan momentum dan menumbuhkan keberanian diantara warga Banjaranyar untuk melawan... Oman mengajak beberapa warga untuk membabat tanaman jati yang ditanam Perhutani di lahan eks-perkebunan... mau idup aja mesti ke kota. tetapi juga karena dipandang sebagai orang yang mampu memberi suri tauladan. Oman lebih banyak diam ketika aksi demonstrasi ataupun pertemuan dengan para pemangku kepentingan. cukup membuat ia mengetahui kondisi diluar desa. Berdasarkan tipe – tipe kepemimpinan. seperti soal tanah garapan.. Terlebih lagi penyakit chikungunya yang dideritanya dalam tiga minggu terakhir membuat seluruh persendiannya sering terasa sakit.” (Oman. Oman dihormati di desa sebagai seorang tetua desa. Ia bukanlah seorang orator ulung yang dapat membuat orang – orang terpukau ketika berpidato. buat idup aja. terutama pada waktu malam hari. lelaki ini telah berhasil membakar semangat warga Banajaranyar untuk merebut tanah eks-perkebunan AGRIS NV. Siapa yang menyangka. tapi ini kan susah.. ngegarap juga bukan buat dijual. membuat aksi pembabatan pohon jati semakin mudah dilakukan. Pengalamannya selama lebih dari 25 tahun menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS).. Warga Banjaranyar sering datang ke rumah Oman untuk bertanya prihal banyak hal. Oman ditunjuk sebagai ketua... Pada saat pembentukan Panitia Persiapan Tanah Banjaranyar.. “tanah ada didepan mata masa digarap aja gak boleh. Kemampuan Oman dalam mempengaruhi orang lain ketika berbicara secara langsung. kalo warga disini udah pada kaya sih gak papa. Petani Panggarap) Oman dipandang sebagai seorang yang gigih dan berpengetahuan luas. kepemimpinan Oman dapat digolongkan kedalam tipe kepemimpinan paternalistik. juga terdapat hak mereka. permasalahan seputar pertanian. bukan hanya karena sudah cukup berumur.kondisi tubuhnya yang mudah sekali lemas. Penampilan Oman dirasa kurang meyakinkan untuk menjadi seorang pemimpin gerakan petani.

Kedua orang ini mempunyai tipe kepemimpinan yang berbeda. Sehingga. Ia dan beberapa orang lainnya ditangkap oleh pihak Kepolisian dan dituduh sebagai dalang dari kerusuhan Tasik. ia juga menjadikan rumahnya sebagai rumah bagi semua orang. Pertemuan rutin anggota ia buat sedemikian rupa sehingga tidak terasa membosankan bagi anggota. dan Tasik. Letak rumah Oman berada di tengah jalur penghubung antara Kota Banjarsari dengan Desa Pasawahan dan Desa Bangunkarya. juga dapat dikatakan sebagai pertemuan dua orang pemimpin. Garut. para anggota ataupun pendamping SPP dari desa lain sering kali singgah di rumah Oman. Oman jugalah yang menyusun strategi selama pembabatan berlangsung. Tidak banyak perubahan pada gaya kepemimpinan Oman. yaitu Priyangan Timur. Ia lebih sebagai “bapak” bagi para anggota OTL. Persoalan – persoalan yang dibahas tidak melulu mengenai tanah garapan dan strategi aksi perlawanan. Bergabungnya gerakan petani Banjaranyar. Hampir setiap hari selepas bekerja di ladang. baik itu di lahan perkebunan ataupun Perhutani. Setelah keluar dari penjara. Agustiana dan beberapa aktivis mahasiswa melakukan pengorganisiran petani di wilayah Ciamis. Selain membuka ruang untuk para anggota disetiap pertemuan rutin. Pengorganisiran ini difokuskan pada aksi perebutan hak atas tanah. Nama Agustiana mulai dikenal oleh penduduk Priyangan Timur dan sekitarnya. Para anggota diberikan ruang untuk menyampaikan keluh kesah dan segala permasalahan pribadi mereka. 68   . Pada saat gerakan petani Banjaranyar meleburkan diri kedalam Serikat Petani Pasundan.Ia adalah penggagas aksi pembabatan pohon jati Perhutani. Oman selalu kedatangan tamu. oman kembali ditunjuk menjadi Ketua Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar. Apabila ada yang tidak tersampaikan pada pertemuan rutin. baik para anggota ataupun orang luar desa. maka Agustiana merupakan sosok pemimpin yang kharismatik. Oman yang merupakan pemimpin gerakan petani pada tingkat desa bertemua dengan Agustiana yang merupakan pemimpin gerakan petani ditingkat daerah. setiap anggota OTL bisa menyampaikannya di rumah Oman. pasca terjadinya kerusuhan Tasik pada tahun 1997. Apabila Oman memiliki gaya kepemimpinan yang paternalistik. dengan memanfaatkan momentum reformasi.

coba liat..... gak ada sih kayaknya. baru dampingin satu desa ajah... Permasalahan justru timbul pada regenerasi dari kepemimpinan didalam tubuh Serikat Petani Pasundan (SPP).. Pendamping Serikat Petani Pasundan) “gak tau.. mau Bupati.Agustiana merupakan pemimpin yang memiliki begitu banyak pengikut.00 sebelum sebelum berangkat ke Arab Saudi. lagian juga yang laen kan sadar diri.” (Wati.. Petani Penggarap) 69   . kekaguman. pada minggu pertama bulan Juni 2010. gak ada ganti nya. punya istri berapa juga dia mah pantes – pantes aja.. pukul 19. membuat seakan – akan sosok Agustiana tidak tergantikan sebagai seorang pemimpin.. beranggapan bahwa tidak ada satu orang pun anggota SPP yang pantas menggantikan Agustiana.. Agustiana menjalankan ibadah umroh. Balas jasa. Garut.. merupakan beberapa contoh dari kesan yang disampaikan anggota SPP terhadap sosok Agustiana. Loyalitas yang begitu besar kepada Agustiana.. “Agustiana mah kasep..” (Oman. udah mau jadi anggota dewan. Loyalitas anggota SPP terhadap sosok Agustiana. khususnya yang berada dikesekertariatan Sekjen dan OTL Banjaranyar. susah nyari orang konsisten kayak dia gitu. DPRD. Pesan tersebut berisikan permohonan izin pamit ke tanah suci dan permohonan doa untuk keselamatan selama beribadah. bahkan terlihat pada kehidupan sehari – hari. dan Tasik. Sebagai contoh. ulet... semua juga nurut ama dia.... gigih. dan perhatian dengan nasip petani.. dia itu peduli sama nasip petani. Petani Penggarap) “saya juga bingung kalo ditanya siapa gantinya kang agus. Agustiana mengirimkan pesan singkat kepada Koordinator wilayah Ciamis. Pada malam harinya di Desa Banjaranyar.10 tidak kurang dari 40 orang anggota OTL Banjaranyar datang ke rumah Oman dengan berpakaian muslim lengkap. Beberapa saat kemudian. pinter... BPN.. Mereka semua datang dengan tujuan untuk mendoakan Agustiana agar selamat selama menjalankan ibadah umroh. beda derajat gitu. Pukul 10.. gak ada yang pantes gantiin kayaknya sih.” (Hermawan... dan yang paling penting. kalo sekarang.. Bagi seluruh anggota SPP.. kooordinator mengirimkan pesan tersebut kepada seluruh ketua OTL di wilayah kerjanya masing – masing.

Seseorang bisa mendapatkan tanah garapan apabila sudah berusia 21 tahun atau sudah menikah.1 Redistribusi Tanah Pada tahun 2000. Di Desa Banjaranyar terdapat 195 orang yang kemudian mendapatkan tanah.BAB VI KELANGSUNGAN GERAKAN PETANI BANJARANYAR 6. maka tanah tersebut akan diambil kembali dan diberikan kepada petani yang mau dan mampu untuk menggarap. seperti kapol. barulah di antaranya diperbolehkan ditanami tumbuhan lain. Pembagian tanah juga melihat dari kapasitas petani penerima tanah dalam menggarap.35 hektar diredistribusikan kepada warga desa sekitar perkebunan. perjuangan warga atas lahan eks-perkebunan AGRIS NV mulai membuahkan hasil. kayu afrika. Tanah dengan kemiringan 60 derajat atau lebih. dan Desa Banjaranyar. dan tanaman buah (nangka. Ketiga. Tanaman kayu seperti Albasia (jengjeng/sengon). Setelah ditanami tanaman kayu. dll) amat dianjurkan pada tanah tersebut. durian. Lahan perkebunan seluas 708. yaitu ramah lingkungan. berkeadilan yaitu pembagian luasan tanah tidak berat sebelah atau hanya menguntungkan satu atau dua orang semata. Kedua. singkong. dan berkeadilan Pertama. Desa Pasawahan.beda. Redistribusi tanah yang ada di Desa Banjaranyar didasarkan pada tiga hal. yaitu Desa Kalijaya. karena tanah dengan kemiring lebih dari 60 derat amat rentan terjadi longsor. manggis. Petani yang mendapatkan tanah di 70   . Apabila tanah yang telah diberikan tidak digarap selama tiga tahun. ramah lingkungan yaitu pada setiap pembagian tanah faktor alam menjadi hal yang harus diperhatikan. berkesinambungan. tidak boleh ditanami tanaman musiman. dan pisang. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan tanah. tetapi juga dari usia petani dan jumlah anggota keluarga petani. Luasan tanah yang diterima antar petani pun berbeda . Kapasitas petani dalam menggarap tidak hanya dilihat dari keahlian seseorang. berkesinambungan yaitu kemampuan dan kemauan petani dalam menggarap tanah. Desa Cigayam. Selain penggarapan yang dilakukan secara berkesinambungan. keberadaan tanah redistribusi juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Pada saat Indonesia dikuasai oleh Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Segala tata peraturan redistribusi tanah yang ada di Desa Banjaranyar. tidak padat modal. hak pengelolaan lahan diberikan kepada PT. merujuk pada peraturan redistribusi tanah yang dikeluarkan oleh Serikat Petani Pasundan (SPP). tepatnya pada era Ode Baru. sistem perkebunan komersial pada dasarnya merupakan sistem perkebunan Eropa (European plantation). tanah seluas 708 hektar dibagikan kepada warga di desa sekitar perkebunan. redistribusi tanah diserahkan kepada pengurus OTL dengan terlebih dahulu bermusyawarah bersama para anggota OTL.pinggir jalan desa maka akan mendapatkan tanah seluas 140 bata atau 2000 meter persegi. Tenaga kerja yang dipergunakan untuk menggarap tanah terpusat pada tenaga 71   . dengan karet sebagai komoditas utama. Perubahan kepemimpinan nasional. 6. Di Desa Banjaranyar. Pada tingkat pelaksanaan. Sistem perkebunan tersebut sama sekali berbeda dengan sistem kebun (garden system) yang telah lama ada di Indonesia. para petani menggarap secara mandiri dan dengan sendirinya menghapuskan sistem perkebunan yang semula ada. Pada perjalanannya. Pasca kemerdekaan. Pada tahun 2000. juga turut merubah kondisi perkebunan. Hingga tahun 1998. termasuk OTL Banjaranyar. terjadi tukar guling hak kelolaan lahan antara PT RSI dengan Perhutani. maka akan mendapatkan tanah garapan seluas 33000 meter persegi. Sedangkan petani yang mendapatkan tanah di tengah atau jauh dari jalan desa. barulah peraturan tersebut diterapkan diseluruh OTL. Setelah disepakati secara bersama. lahan tersebut dikelola oleh perusahaan perkebunan AGRIS NV. Sistem kebun merupakan usaha pertanian dengan skala kecil. RSI.2 Sistem Kebun Sartono Kartodirdjo (1991) menyatakan bahwa. Perhutani melakukan penanaman pohon jati pada lahan tersebut. kurang berorientasi pasar dan sumber tenaga kerjanya terpusat pada anggota keluarga. penggunaan lahan terbatas. Peraturan tersebut pada awalnya dimusyawarahkan di dalam pertemuan rutin tiga bulanan para ketua OTL di sekretariat SPP. Tanah redistribusi warga pada mulanya merupakan lahan perkebunan kopi.

yaitu menjual ke-pengumpul. Mereka cukup menunggu di tanah garapan mereka masing – masing. ataupun pemanenan dalam jumlah yang besar. harga kelapa jatuh pasca kepemimpinan SBY. pemimpin gerakan petani Banjaranyar. Salah satu hal yang paling menonjol dari tanah garapan petani Banjaranyar ialah keberadaan dari tanaman kayu. Apabila petani ingin menjual pohon sengon mereka kepada pengumpul mereka tidak perlu membawa batang pohon sengon ketempat pengumpulan kayu. khususnya pohon sengon (jengjeng). sistem ijon dan dijual langsung pabrik pengolahan. maka pekerjaan tersebut akan dibantu oleh buruh tani. Terdapat tiga cara yang biasa digunakan petani Banjaranyar untuk menjual kayu sengon (jengjeng). singkong. dan kelapa. Sehingga besar kecilnya jumlah anggota keluarga amat mempengaruhi cepat lambatnya penggarapan dan jenis tanaman yang akan ditanam. Menurut penuturan Oman. Sedangkan kelapa dijual kepada pengumpul kelapa yang ada di Kota Banjarsari. Pengumpul merupakan sebutan bagi orang yang memborong tanaman kayu rakyat. pohon sengon merupakan salah satu tanaman yang banyak ditanam karena memberikan penghasilan besar bagi petani. Apabila ada perkerjaan yang tergolong berat. Sekdes (Sekertaris Desa) Banjaranyar. selalu ada saja pengumpul yang berkeliling desa untuk memborong kayu. Setiap butir buah kelapa dihargai tujuh ratus rupiah. Tanaman pangan seperti singkong dan pisang pada umumnya dikonsumsi sendiri. dapat digunakan sebagai pakan ternak. Ibu Kota Kecamatan.kerja keluarga. Sedangkan daun dan ranting – ranting muda. Tanah yang digarap oleh petani Banjaranyar sebagian besar merupakan kebun campur yang didominasi oleh tanaman sengon (jengjeng). Batang (kayu) pohon sengon sangat mudah untuk dijual dan memiliki harga yang tinggi. seperti pembuatan kolam ikan. Harga tetinggi ada pada massa kepemimpinan Presiden Habiebie. untuk setiap butir kelapa dihargai lima ribu rupiah. 72   . Pohon sengon apabila dijual kepada pengumpul. pisang. Seorang petani di Desa Banjaranyar bisa menanam empat puluh hingga seratus pohon sengon di atas tanah garapannya. Karena hampir setiap hari. pembersihan dan pembukaan lahan. Menurut penuturan Jandi.

Sistem kebun memberikan keleluasaan kepada petani untuk dapat menanam dan memanfaatkan hasil pertanian sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Hal ini dimungkinkan karena pengambilan keputusan yang berkaitan dengan komoditas pertanian dan pemanfaatan hasil berada pada tingkat rumah tangga petani. yaitu petani akan mendapatkan harga jual yang rendah.lima puluh tanaman sengon yang berumur lima tahun. Memang terdapat kelemahan ketika menjual pohon sengon dengan cara ijon.000. Pabrik tidak menyediakan fasilitas penjemputan dan penebangan di Desa Banjaranyar. akan dibeli dengan harga tiga juta rupiah. dan menunda penjualan sepuluh pohon sengon sisanya. Setelah waktu panen barulah sengon tersebut diambil oleh penangguk ijon. karena apabila dijual pada waktu panen. Sebagai contoh. Pada bulan Juni. AP dan PT.00. Penjualan pohon sengon langsung ke pabrik pengolahan kayu lebih menguntungkan petani. BKL. Karena harga beli per batang kayu sengon bisa mencapai Rp 100. Penangguk ijon tidak selalu berperan sebagai pengumpul. Sistem kebun (garden system) juga dapat dilihat sebagai jalan yang ditempuh petani Banjaranyar untuk mendapatkan kemerdekaan pada sektor ekonomi. Ia memiliki dua puluh pohon sengon diatas tanah garapannya. atau tiga puluh ribu per batang. Beno seorang petani penggarap di Desa Banjaranyar. Hal ini sungguh merugikan petani. Sebagai contoh untuk lima puluh batang pohon sengon yang dijual dengan sistem ijon hanya dihargai satu setengah juta rupiah. ia menjual sepuluh pohon sengon. karena sering kali petani sengon meng-ijon-kan tanaman sengonnya kepada warga desa lain yang dianggap kaya. Hanya saja untuk memasukan kayu ke pabrik petani harus menanggung sendiri biaya penebangan dan pengangkutan kayu. pohon sengon akan berharga tidak kurang dari enam puluh ribu per batang. membutuhkan uang untuk biaya anaknya masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ijon merupakan cara penjualan pohon sengon sebelum masa panen tiba. Terdapat dua pabrik yang biasa menjadi tempat tujuan penjualan kayu sengon petani Banjaranyar yaitu PT. Ketiga ialah menjual pohon sengon langsung ke pabrik pengolahan kayu. Ia beranggapan bahwa sepuluh batang pohon sengon sudah cukup 73   .

Karena pada sistem pengelolaan lahan berbasis perkebunan. memberikan usulan agar setiap OTL memiliki organisasi wanita. pengambilan keputusan berada pada tingkat pengelola lahan perkebunan (manajer perkebunan atau administrature) bukan pada rumah tangga petani.untuk memenuhi biaya sekolah anaknya. seperti pertemuan rutin.. Ibu Wati. ketika semangat para bapak – bapak sedang menurun. relawan untuk menjadi massa aksi.. Organisasi ini berisikan para wanita yang telah dewasa. Keberadaan dari Organisasi Kewanitaan didukung penuh oleh Serikat Petani Pasundan (SPP) selaku organisasi induk. 6. setelah dilaksanakannya redistribusi lahan ditahun 2000.. Sehingga... Ia berpendapat bahwa... dan partisipasi dalam berbagai kegiatan di sekretariat SPP. tugas sang wanitalah untuk menumbuhkan semangat itu kembali. ketika anaknya memerlukan biaya untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA). terutama para istri dan anak dari anggota OTL yang sebagian besar laki – laki. jadi bayarnya cepet. mana ada yang awet.3 Organisasi Wanita Tahun 2005. Kemerdekaan semacam inilah yang tidak dapat dimiliki oleh petani pada pengelolaan lahan berbasis sistem perkebunan.” (Wati. wanita terutama ibu – ibu bisa lebih militan dibanding bapak – bapak. pelatihan organisasi. yang pada tahun 2005 sudah menjadi Ketua OTL Banjaranyar. “kalo ibu – ibu mah gak hese.. kalo pengajian ibu – ibu sampe sekarang juga masih. lagian ibu – ibu juga lebih kompak. Sedangkan sepuluh pohon sengon sisanya akan ditebang nanti.. Usulan ini disampaikannya pada rapat tiga bulanan ketua – ketua OTL di sekretariat SPP... Hal ini ditandai dengan semakin sedikitnya partisipasi anggota dalam berbagai kegiatan OTL. seperti pelatihan kepemimpinan.. terjadi penurunan semangat para anggota OTL Banjaranyar. coba liat pengajian bapak – bapak. pelatihan 74   . Hal tersebut terlihat dalam pelatihan – pelatihan yang difasilitasi SPP. dimintain iuran juga cepet.. iuran aksi demontrasi. kan kalo ditagih gitu ibu – ibu pada malu.. Ketua OTL Banjaranyar) Tahun 2005 dibentuklah organisasi wanita OTL Banjaranyar yang secara struktural berada di bawah Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar.

sesungguhnya berangkat dari kenyataan bahwa para ibu inilah yang memiliki intensitas yang lebih tinggi dengan tanah garapan dan rumah tangga daripada para lelaki. Di Desa Banjaranyar. tidak jarang penarikan uang iuran aksi juga dibantu oleh anak – anak gadis yang berumur belasan tahun. membuat penyebaran ide gerakan berjalan secara efektif dan efisien. Keberadaan organisasi ini telah berhasil menumbuhkan kembali semangat perjuangan petani Banjaranyar. tapi bisa buat lain – lain juga. Penguatan organisasi gerakan tidak lagi hanya dilakukan pada tingkatan kelompok ataupun desa. Pendamping Serikat Petani Pasundan) Koperasi OTL Banjaranyar berdiri pada tahun Juni 2009.. Tiap – tiap anggota diwajibkan membayar iuran sebesar lima belas ribu rupiah perbulan. Bahkan. Tapi supaya petani hidup dengan layak.. penguatan organisasi dilakukan pada tingkat rumah tangga. para wanita yang tergabung di organisasi wanita OTL berperan besar dalam persiapan aksi demonstrasi.4 Koperasi “tujuan dari adanya SPP itu bukan cuma supaya petani dapet tanah. 75   . nah.... Bahkan. Tetapi. Intensitas yang tinggi antara seorang ibu dan anggota anggota keluarga yang lain dalam satu rumah tangga petani. kami adakan pelatihan tata cara bertani. penyebaran ide gerakan bisa dilakukan setiap hari di dalam rumah setiap anggota OTL. naik ekonomi nya. Penarikan uang iuran antar sesama ibu – ibu mempermudah pengumpulan uang. dan pelatihan pertanian. salah satu jalannya kita diriin koperasi ini” (Erna. melalui tangan para ibu. Hingga saat penelitian ini berlansung.penangan konflik. bukan buat menggurui tapi supaya tani nya mereka tidak hanya sebatas buat makan. Ibu – ibu inilah yang kemudian berkeliling desa guna mengumpulkan uang iuran aksi dan melakukan pendataan bagi anggota yang akan ikut aksi demonstrasi. terdapat empat puluh delapan orang yang terdaftar sebagai anggota koperasi. 6. Iuran inilah yang kemudian dijadikan modal untuk melaksanakan kegiatan koperasi... Pelatihan kepemimpinan dan penanganan konflik..

Setiap anggota berhak menyimpan dan meminjam sejumlah uang jika telah memenuhi sejumlah persyaratan.Koperasi yang diberinama Koperasi Kredit ini. Koperasi ini dipimpin oleh seorang ketua yang dibantu oleh seorang sekertaris dan bendahara. Seluruh kegiatan koperasi dilakukan oleh pengurus dan diawasi oleh Dewan Pengawas Koperasi. Khusus untuk pemberian izin pengeluaran kredit dan besaran kredit yang akan diberikan. Dewan Pengawas Pengurus Koperasi : Ketua. pengumpulan uang iuran bulanan. ia harus menjadi anggota koperasi terlebih dahulu. pendaftaran anggota. Setiap orang yang berkeinginan untuk bergabung diwajibkan untuk membayar iuran pokok sebesar dua puluh lima ribu rupiah dan iuran bulanan sebesar lima belas ribu rupiah. Kegiatan koperasi meliputi pendataan anggota. pengurusan uang kas. Apabila ada seseorang yang ingin menyimpan uang di koperasi kredit. sedangkan pengurus koperasi hanya bertugas untuk mencatat datanya. sekertaris. Anggota koperasi yang berhak melakukan pinjaman ialah mereka yang telah menjadi anggota selama setahun dan membayar iuran bulanan.Struktur Organisasi Koperasi Kredit 76   . diolah dan dikeluarkan oleh Dewan Kredit. mengkhususkan diri pada usaha keuangan simpan pinjam. bendahara Dewan Kredit  Anggota Keterangan : : Pengawasan : Koordinasi : Kepengurusan Gambar 5 . dan pencatatan kredit.

5 Lumbung (leyit) Lumbung merupakan istilah yang diberikan oleh masyarakat di Kampung Bulaksitu. Koperasi kredit berkembang melalui pendidikan.. salah seorang pendamping SPP.” 6.Seluruh kegiatan koperasi akan dievaluasi satu kali pada setiap bulannya. tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk meminjam dan menabung sejumlah uang.. dan 77   . Selain mengevaluasi.. lumbung yang ada di Desa Banjaranyar bukanlah semata – mata nama dari sebuah tempat penyimpanan gabah milik petani. Apabila kita telisik lebih dalam. Evaluai tersebut dilakukan oleh petugas dari Dinas Koperasi Propinsi Jawa Barat (Dinkop Jabar).. Menurut penuturan Hermawan. tetapi juga diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan melalui berbagai pelatihan.... Desa Banjaranyar kesebuah tempat penyimpanan gabah yang berada di belakang rumah Ibu Wati. khususnya dalam bidang pengelolaan keuangan.. Kopreasi kredit dikontrol melalui pendidikan. Dinkop Jabar juga memtugas membimbing pengurus koperasi kredit. Jaringan yang dibangun oleh SPP (Kesekertariatan Sekjen) dengan berbagai Organisasi Non – Pemerintah (ORNOP). Pentingnya pendidikan sebagai dasar berjalannya kegiatan koperasi. Sehingga masyarakat lebih nyaman menyebut bangunan tersebut dengan sebutan lumbung daripada leyit. Lumbung merupakan kelembagaan rakyat yang dibangun atas inisiasi bersama antara petani Banjaranyar dengan lembaga dari luar desa yaitu KRKP (Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan). gerakan mahasiswa. “Koperasi kredit mencapai hasil gilang gemilang. Para anggota koperasi.. Koperasi kredi dimulai dengan pendidikan. terlihat jelas dalam slogan yang tertulis di setiap buku tabungan anggota. Berdirinya koperasi ini juga membawa harapan besar terhadap peningkatan kemampun para anggota koperasi... baik itu berupa pengiriman anggota pada berbagai pelatihan terkait ataupun turorial secara langsung. Dan bergantung pada pendidikan. pada masyarakat Sunda terdapat istilah sendiri untuk menyebut lumbung yaitu dengan istilah “leyit”.

Salah satu program yang masih berjalan pada saat penelitian ini dilakukan ialah program leyit atau lumbung masyarakat. Bencana yang dialami warga Banjaranyar sesungguhnya tidak hanya gempa bumi. Sedangkan di tingkat desa. Ibukota Kecamatan. warga tidak bisa mengharapkan bahan pangan dari hasil pertanian karena sawah mereka belum memasuki masa panen. program – program bantuan. Satu kepala keluarga akan memiliki satu keanggotaan dilumbung.kelompok – kelompok masyarakat. warga hanya bergantung pada bantuan yang datang dari luar desa. dan pengenalan teknologi baru acap kali ada di Desa Banjaranyar. Pembangunan lumbung atau leyit dilatarbelakangi oleh adanya bencana gempa Tasik yang terjadi pada tahun 2009. diharapkan dapat mencegah terjadinya kelangkaan pangan dikemudian hari. Penelitian – penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari dalam dan luar negeri. Di Desa Banjaranyar sebanyak delapan rumah warga tercatat rusak berat dan dua puluh tujuh rumah rusak ringan. Menurut Ibu Wati apabila sebuah keluarga memiliki anak yang sudah menikah. Keanggotaan lumbung pun tidak 78   . Sehingga. Hal ini juga diperparah dengan ketiadaannya cadangan pangan yang dimiliki oleh warga. Lumbung memiliki anggota yang dilihat berdasarkan kepala keluarga. bantuan dari pemerintah pun tidak terlalu bisa diharapkan karena lambatnya pengiriman bantuan. tetapi kelangkaan pangan yang terjadi setelah gempa tersebut. Bantuan yang pertama kali masuk ke wilayah desa bukanlah bantuan yang berasal dari pemerintah tetapi bantuan dari Serikat Petani Pasundan (SPP). Keberadaan Lumbung sebagai tempat penyimpanan gabah yang dimiliki secara kolektif oleh masyarakat. Menurut penuturan Ibu Wati. membuat hubungan antara petani dengan kekuatan sosial diluar desa menjadi lebih sering terjadi. Gempa Bumi sebesar 7. membuat warga kesulitan dalam memperoleh bahan pangan. Baik itu yang disebabkan karena bencana alam ataupun karena kegagalan panen.3 SR berhasil merusak beberapa bangunan dan rumah warga. Keanggotaan disini berarti anggota diperbolehkan untuk menyimpan atupun meminjam gabah dilumbung tersebut. Jauhnya jarak antara Desa Banjaranyar dengan pasar yang berada di Kota Banjarsari. maka anak tersebut diperbolehkan untuk memilki keanggotaan terpisah dengan keluarga lamanya.

gabah yang dipinjam oleh anggota haruslah dikembalikan dalam bentuk gabah. Keterbukaan yang ada di dalam gerakan petani Banjaranyar. Apabila anggota mengadakan hajatan seperti pernikahan atau sunatan. Proses penyimpananpun biasanya dilakukan anggota sewaktu musim panen tiba. Setiap anggota diperbolehkan meminjam gabah yang ada dilumbung dan diwajibkan mengembalikan pinjaman tersebut dengan melebihkan lima kilogram dari total pinjaman. Bagi warga yang tidak mempunyai lahan. Sehingga apabila sewaktu – waktu dibutuhkan gabah masih tersedia didalam lumbung. itupun diperbolehkan untuk meminjam. peminjaman gabah tidak hanya disebabkan karena bencana alam atau terjadinya kegagalan panen pada sawah anggota. tetapi ingin menyimpan gabah dilumbung hal itu dapat dilakukan. Keanggotaan lumbung bersifat sukarela. peminjaman gabah banyak dilakukan pada periode musim panen menuju musim tanam. Dari keberadaan lumbung ini sedikit banyak dapat terlihat seperti apa sesungguhnya pola hubungan yang dibangun antara gerakan petani Banjaranyar dengan kekuatan sosial lain yang berada di luar desa. Pengembalian pinjaman tidak dapat digantikan dengan uang. serta jejaring yang dibangun melalui Serikat Petani Pasundan (SPP) sebagai organisasi induk menjadikan gerakan petani Banjaranyar menjadi gerakan petani yang inklusive. apabila diibaratkan dalam satu kali panen seorang anggota mendapatkan tujuh pocong padi. Pada umumnya. Pengembalian pinjaman anggota banyak dilakukan sewaktu musim panen tiba. maka ia harus menyisihkan dua pocong untuk disimpan ke dalam lumbung. Keterbukaan semacam ini pula yang kemudian membuat OTL Banjaranyar menjadi sebuah organisasi gerakan yang begitu dinamis dalam menanggapi perubahan dari luar organisasi. Hal ini dimaksudkan agar cadangan gabah yang ada didalam lumbung dapat terus bertambah.tertutup hanya pada masyarakat yang memiliki lahan saja. Menurut Bapak Oman. Sebagai contoh. 79   . seorang warga diberikan kebebasan untuk menjadi anggota lumbung dan ketika ia merasa tidak nyaman. Terdapat beberapa peraturan yang diterapkan dalam proses simpan pinjam di lumbung ini. sehingga ia membutuhkan gabah. ia pun diberikan kebebasan untuk keluar dari keanggotaan lumbung.

Maka.. Beno. mungkin dikit orang sini yang punya tanah garapan kali ya... SPP sudah dikenal luas oleh masyarakat. organisasi – organisai gerakan mahasiswa. Ibu Wati. Hal tersebut kemudian diperkuat dengan aksi – aksi demontrasi yang diadakan SPP dengan melibatkan ribuan massa.Pemerintah (ORNOP). Nama besar SPP sebagai organisasi tani terbesar di Priyangan Timur. susah juga itu. “orang spp kan yang dulu perjuangin tanah. Sebgai Contoh... pada tahun 2004 setelah diberlakukannya sistem Pemilihan Umum (Pemilu) secara langsung.. para anggota OTL mendapatkan pengakuan dari warga desa lain sebagai seorang pejuang dan pembela hak . ketua OTL Banjaranyar. lagian dulu. Otang.. Strategi intervensi yang dilakukan SPP pada ranah politik praktis juga menjadikan jaringan SPP semakin meluas.6.. Pasca 10 tahun keberadaan SPP di wilayah Priyangan Timur. Apabila pada tahun – tahun awal perjuangan. menciptakan kesan bahwa SPP merupakan sebuah organisasi yang kuat dan memiliki massa yang begitu banyak. khususnya aparat dan pejabat Pemerintah Daerah.hak petani. jaringan SPP meluas hingga ke lembaga – lembaga pemerintahan... dan kelompok – kelompok masyarakat. kalo gak punya tanah juga bisa ngeburuh 80   . baik di dalam ataupun di luar desa. kalo gak ada ya.6 “Aku” Anggota SPP Kelangsungan dari gerakan petani di Desa Banjaranyar salah satunya juga ditopang oleh nama besar dari Serikat Petani Pasundan (SPP). sekarang mau tani tanah udah ada. Hal inilah yang kemudian menciptakan kengganan bagi aparat Perintah (Kepolisian.. TNI. ditunjuk sebagai ketua pemuda Desa Banjaranyar.. Selain itu.. secara tidak langsung membuat anggotanya mendapatkan keistimewaan. jaringan hanya sebatas pada Organisasi Non. Di dalam Desa Banjaranyar. mau kerja mesti kekota dulu. dan Pegawai Dinas Kabupaten) untuk “bermain – main” dengan anggota SPP. ditunjuk sebagai ketua pelaksana program desa dasawisma di Desa Banjaranyar. terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) Desa Banjaranyar. anggota OTL Banjaranyar. Kisah – kisah keberhasilan SPP dalam merebut tanah dibanyak wilayah Priyangan Timur. anak muda itu susah cari kerja disini. seperti DPRD dan Pemerintah Kabupaten. sekertaris OTL Banjaranyar. para pemimpin OTL juga diberikan ruang khusus di Desa dalam berbagai kesempatan.

Seorang anggota OTL Banjaranyar pergi ke kota Ciamis dengan mengendarai sepeda motor.” (Jandi.. Hal inilah yang kemudian menciptakan rasa bangga para diri anggota karena merasa mendapat perlakuan khusus dari aparat pemerintah. gratis juga lagi.. ya pantes atuh jadi pada pinter gitu. ngajarin ke yang laen juga. Bukan anggota SPP) Keistimewaan juga dirasakan anggota OTL ketika berurusan dengan aparat Pemerintah.kejadian sejenis juga dapat dengan mudah ditemui pada pengalaman anggota OTL Banjaranyar diberbagai kesempatan.” (Adminah. orang tersebut ditangkap oleh petugas Kepolisian karena tidak mengenakan helm (pelindung kepala) ketika berkendara. 81   . Setelah memasuki Kota Ciamis... penjaga warung. Kejadian ... ia mengeluarkan Kartu Tanda Anggota SPP. kan orang SPP dapet pelatihan mulu.kan.... Sekertaris Desa Banjaranyar. lagian juga dia kan pada dapet pelatihan bukan buat sendiri... bukan anggota SPP) “iya lah. dan pada saat itu juga ia dilepaskan tanpa alasan yang jelas. Salah satu kasus yang terjadi pada bulan Juni 2010. Ketika ditangkap.

Ia menggambarkan petani sebagai sekelompok manusia yang yang lebih mengutamakan “dahulukan keselamatan” dan menjauhkan diri dari bahaya. apabila terjadi pelanggaran terhadap kewajiban itu. sehingga pemenuhan atas kebutuhan dasar petani tidak lagi menjadi hal yang mendesak. 82   . masuknya PT RSI (1983 – 1996) dan Perhutani (1996 – 1998) membuat petani Banjaranyar tidak dapat lagi melakukan penggarapan di atas tanah perkebunan. Scott (1976) tidak pernah menggambarkan petani sebagai sebuah kelompok masyarakat yang begitu reaktif. Namun.1 Implikasi Teoritis Pembahasan prihal gerakan petani sesungguhnya dapat dilihat melalui perpektif moral ekonomi petani. kewajiban – kewajiban ekonomis kaum elite adalah memerhatikan kebutuhan petani. dalam artian begitu mudah melakukan pemberontakan. maka yang tertinggal hanyalah kewajiban – kewajiban ekonomis kaum elite. Kekuatan moral dan harapan – harapan ini sudah cukup untuk menjadi bara api. Bahkan mereka menyatakan bahwa kehadiran PT RSI tidak memberikan manfaat apa – apa bagi warga dan hanya menguntungkan para pemilik perusahaan dan pemerintah. menyesuaikan tuntutan mereka akan tenaga kerja dan padi. Scott (1994) menganalogikan petani pada kondisi tersebut ibarat orang yang terandam didalam air hingga sebatas hidung. Ia menyatakan bahwa kehidupan petani ditandai oleh hubungan moral sehingga melahirkan moral ekonomi. apabila tekanan struktural dan kultural hingga kondisi subsistensi petani yang sudah melampauai batas toleransi. yang dipelopori oleh Scott (1976).BAB VII PENUTUP 7. maka tidak ada lagi pilihan bagi petani selain melakukan pemberontakan. Begitupun dengan gerakan petani Banjaranyar. yang dikemudian hari dapat berubah menjadi aksi kemarahan dan tindakan kekerasan. sehingga riak yang begitu kecil saja sudah dapat menenggelamkannya. Di mata petani miskin. serta menyediakan pangan di musim paceklik. Ketika pertumbuhan negara hanya berupa perlindungan dan pertumbuhan fisik semata. dimana tekanan tersebut berdampak sedemikian parah dan terjadi dalam tempo yang relatif singkat.

Gerakan petani tidak melawan kapitalisme. merupakan sebuah kenyataan di Desa Banjaranyar. Salah satu contohnya pada proses tata niaga kayu sengon di Desa Banjaranyar. Bapak Oman tidak hanya bertindak sebagai pemimpin gerakan. Bahkan. terasa begitu dominan. Struktur masyarakat yang seperti ini membuat faktor kepemimpinan menjadi faktor penting didalam gerakan perlawanan petani. pasca dilakukannya redistribusi tanah. tetapi melawan perampasan tanah oleh para kapitalis perkebunan yang menyebabkan petani kehilangan eksistensi diri dan sumber penghidupannya. Struktur krucut seperti yang dikatakan Scott (1976). Struktur kerucut seperti ini. Bahkan. Gerakan petani Banjaranyar boleh jadi tidak pas apabila disandingkan dengan teori ekonomi politik sebagaimana disampaikan Popkin (1979) dalam The Rational Peasant : The Politic Economy of Rural Society in Vietnam. Di dalam tulisannya. Tetapi. petani Banjaranyar justru berusaha untuk menjalin hubungan dengan pasar dengan memanfaatkan berbagai jaringan didalam ataupun diluar desa. Peran Bapak Oman dalam gerakan petani Banjaranyar. Popkin (1979) menolak pendekatan moral ekonomi Scott (1976) yang beranggapan bahwa gerakan petani sebagai reakasi difensif untuk mempertahankan institusi dan norma – norma tradisional dari ancaman kapitalisme dan kolonialisme.Konsep lain yang digunakan Scott (1976) dalam menjelaskan gerakan petani ialah konsep kepemimpinan dan struktur sosial. Popkin (1979) lebih fokus pada tindakan . Struktur sosial yang ada dimasyarakat pedesaan. dapat ditemui di Desa Banjaranyar. sedangkan pada lapisan bawah dihuni oleh para petani penggarap dan buruh tani dalam jumlah yang banyak. pernyataan Popkin (1979) bahwa gerakan perlawanan petani terjadi ketika sebagian besar individu merasa dirugikan setelah melakukan tawar menawar dengan negara.tindakan rasional petani. Petani merupakan individu – individu yang bebas 83   . posisi puncak statifikasi sosial dihuni oleh oleh kaum elite yang berjumlah sedikit. secara hirizontal ditandai dengan homogenitas yang tinggi dan secara vertikal ditandai dengan struktur yang berbentuk kerucut. gerakan petani Banjaranyar terkesan bergantung pada sosok Bapak Oman. tetapi juga sebagai motor sekaligus pemersatu dari gerakan petani Banjaranyar.

baik itu pada tingkat pusat atupun daerah. terutama dengan dukungan dari banyaknya organisasi non pemerintah yang memang pesat juga perkembangannya diseluruh dunia pada awal tahun 1990-an (Hulme dan Edward. Namun. Hal ini diperkuat oleh Geoff Forrester seperti dikutip oleh oleh Simon Philpott (2003) menyatakan bahwa Presiden Soeharto baru saja dipilih sebagai Presiden secara bulat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dua bulan sebelumnya. kendati para elit pendukung dan demonstrasi jalanan banyak menyuarakan ketidaksetujuan. Reformasi sendiri dimaknai sebagai sebagi suatu gerakan pembaharu yang bertujuan untuk mengoreksi bekerjanya berbagai instansi dan berusaha menghilangkan berbagai kebobrokan yang dianggap sebagai sumber malfunction 84   . seperti kebanyakan orang lainnya. Pilihan strategi gerakan petani Banjaranyar dengan melakukan pendudukan lahan pada dasarnya bisa disebut sebagai sebuah pilihan yang rasional. 2007). hanya sedikit pengamat Indonesia yang meramalkan akhir kekuasaan Soeharto akan datang begitu cepat.mengembangkan kreativitasnya secara rasional. (Simon Philpott. Wolf (1966). yang memperkirakan bahwa pada pertengahan tahun 1998 akan terjadi kejatuhan rezim Soeharto. Kejatuhan pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998 menciptakan ketidakstabilan dibidang politik dan ekonomi. meskipun dalam pelaksanaannya terlihat sisi – sisi komunalitas dan emosionalitas. memang melahirkan pertanyaan besar prihal situasi dan kondisi yang terjadi pada saat tersebut. Sudah menjadi ciri rezim otoriter modern bahwa ketika pusat tidak dapat bertahan. baik itu yang berasal dari Negara barat ataupun timur. dalam Pinky. Karena. Pada awal tahun 1998 hanya segelintir manusia. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mendesak lahirnya gagasan reformasi. maka segalanya akan berantakan dengan begitu cepat. Reformasi membuka ruang yang lebih besar bagi rakyat dalam menyuarakan aspirasinya. Petani juga manusia yang ingin kaya. 2003). Kemunculan gerakan petani pada tahun 1998. tetapi tindakan masing – masing individu petani Banjaranyar (untuk ikut atau tidak ikut melakukan pendudukan lahan) sudah tentu melalui pemikiran dan pertimbangan individu secara rasional. menyatakan bahwa sebuah pemberontakan tidak akan mungkin terjadi pada situasi yang tidak mendukung.

merupakan suatu penjelasan dari apa yang terjadi pada petani Banjaranyar pasca redistribusi tanah. Pola pertanian kebun yang dilakukan oleh petani Banjaranyar memberikan keleluasaan dan kemerdekaan relatif pada rumah tangga petani terhadap produsen petani lain dan pasar. Hasil dari luasan tanah garapan yang rata – rata dua hingga tiga kavling per-keluarga petani. Tanah – tanah perkebunan yang kemudian digarap oleh warga memang tidak hanya bertindak sebagai simbol perjuangan. melainkan hanya selected aspects dari tata sosial yang ada. Hal tersebut akan berujung pada terciptanya stabilitas relatif dalam rumah tangga petani. Saturnino M. hingga September 2000. Dalam konteks yang lebih makro. Namun. apabila komoditas atau hasil produksi pertanian bila dapat dipertemukan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dari rumah tangga petani. termasuk lahan perkebunan PT. mengejawantah dalam aksi – aksi okupasi tanah yang dilakukan oleh masyarakat atas tanah – tanah yang pernah menjadi tanah garapan rakyat. neoliberalisme secara signifikan telah mengubah dinamika 85   . (Wiradi. yang apabila terjadi krisis. sudah dapat dipertemukan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga petani. Salah satu bentuknya. 2009). Berdasarkan data Dirjen Perkebunan. Reformasi juga berusaha membongkar nilai – nilai tetapi tidak seluruhnya. Semangat reformasi 1998 tidak hanya dirasakan oleh mahasiwa dan berbagai elemen masyarakat yang melakukan aksi turun ke jalan di kota – kota besar. maka akan mencipkan kemerdekaan relatif pada diri petani terhadap produsen pertanian lain dan pasar. tetapi juga dirasakan pada masyarakat di tingkatan akar rumput. juga bertindak sebagai alat produksi yang kemudian diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup petani itu sendiri. dalam suatu tata sosial. Shanin (1966) berpendapat bahwa. Departemen Kehutanan dan Perkebunan.nya institusi – institusi. dan 48. mereka dapat mempertahankan keberadaannya dengan cara meningkatakan usaha kerja.830 ha pada perkebunan Negara. ataupun mengatur kembali hubungan mereka dengan pasar. menekan konsumsi mereka sendiri. Boras Jr (2010) menyatakan bahwa. jumlah luas tanah yang di reclaim mencapai 118. RSI yang kemudian digarap oleh petani Banjaranyar.051 ha pada perkebunan swasta. Boleh jadi apa yang dikatakan Shanin (1966).

desentralisasi sepihak “dari bawah”. berujung pada diversifikasi mata pencaharian (desa dan desa-kota. memainkan kunci utama dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem agraria. juga dapat dilihat sebagai salah satu dampak dari proses restrukturisasi global-lokal. Orang – orang yang semula bermata pencaharian disektor pertanian. off-farm. nasional. non-farm) yang dijalankan dengan terpaksa atau sebaliknya menjadi semakin tersebar luas. Boras (2010) kemudian menekankan pada dampak. celakanya terjadi secara bersamaan dengan gelombang restrukturisasi agraria. Proses serempak yang terjadi oleh globalisasi “dari atas”. Proses global – lokal inilah yang kemudian mempengaruhi gerakan agraria dalam berbagai bentuk. tetapi untuk 86   . Buruknya kondisi masyarakat pertanian di pedesaan. yang ia sebut sebagai ”pemenang dan pecudang” dalam proses restrukturisasi global-lokal saat ini. yang memberikan kekuasaan penuh pada kapital domestik dan korporasi untuk mendikte syarat – syarat pertukaran dan produksi pertanian.hubungan pertukaran di dalam dan di antara negara – negara yang berada di utaraselatan. regional. Kehadiran SPP tidak semata – mata menjadi gerakan yang “melokalisasi” perlawanan – perlawanan mereka sebagai respons terhadap desentralisasi yang parsial. pada gilirannya didefinisikan ulang dan hak kepemilikan atas tanah telah direstrukturisasi guna menopang kapital swasta. Proses yang secara luas terjadi pada masyarakat pedesaan itu. ataupun internasional). SPP merupakan sebuah gerakan yang menyatukan berbagai macam permasalahan pada tingkatan yang benar – benar lokal. kemudian dengan cepat menghadapi kondisi yang teramat buruk. on-farm. ataupun berfokus pada segala macam aktivitas yang bertujuan untuk menggantikan fungsi negara dalam hal isu – isu pembangunan seperti memberikan pelayanan sosial pada masyarakat. Tetapi. dan proses ini telah menggoncang masyarakat pedesaan hingga keakar – akarnya. seperti yang disampaikan Boras (2010). Kehadiran SPP bukan dalam rangka menggantikan peran dan fungsi negara. dan privatisasi “dari samping” melalui negara sebagai pusatnya. Akses dan kontrol terhadap tanah. yang di dalam strategi gerakannya juga memanfaatkan segala macam sumberdaya dari berbagai level (lokal. menjadi sebuah gerakan pada tingkatan regional. Fenomena muncul dan berkembangnya gerakan petani Banjaranyar yang kemudian tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP).

tetapi juga karena terbukanya kesempatan akibat reformasi 1998. lahirnya gerakan petani Banjaranyar tidak hanya didasarkan pada adanya faktor krisis subsitensi di tingkat petani.memaksa negara dan kekuatan ekonomi-politik (kapital swasta dan BUMN) lainya untuk dapat menjalankan kewajiban mereka untuk memenuhi kebutuhan petani. termasuk rasionalitas petani. khususnya permasalahan yang berkaitan dengan akses dan kontrol petani terhadap tanah. Pasca redistribusi tanah yang dilakukan pada tahun 2000. Masuknya kapital swasta ke dalam komunitas petani Banjaranyar.2 Kesimpulan Gerakan petani Banjaranyar dapat dilihat sebagai aksi perlawanan petani terhadap perampasan tanah oleh kapital swasta yang didukung negara melalui pemberian hak kelola tanah (HGU). Secara ekonomi kehidupan petani Banjaranyar yang mendapatkan tanah juga menjadi lebih baik. dalam bentuk perampasan tanah. ii) petani mengalami diversifikasi mata pencaharian atau mobilitas profesi. secara de facto tanah eks-perkebunan sudah dikuasai oleh petani. 7. Hal inilah yang kemudian melahirkan anggapan bahwa kehadiran kapital swasta tidak membawa manfaat bagi masyarakat Banjaranyar. Faktor kekuatan dan kekuasaan negara tetap menjadi persoalan untuk lahirnya sebuah pemberontakan petani. Tanah – tanah garapan hasil redistribusi telah berhasil memberikan keleluasaan dan kemerdekaan relatif kepada petani terhadap petani lain dan pasar. dalam artian terjadinya peningkatan penghasilan petani. yang memungkinkan tokoh gerakan seperti Pak Oman untuk dapat mengorganisir petani Banjaranyar. menyebabkan kehidupan petani semakin terpuruk dan menghadapi krisis subsistensi hingga kebatas toleransi. Kondisi kehidupan petani yang sudah sedemikian terpuruk tetap saja tidak membuat petani Banjaranyar memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukan pemberontakan. Kondisi ini berakibat pada : i) terjadinya degradasi sosial dan hilangnya eksistensi diri petani. secara horizontal : dari petani menjadi buruh industri atau pekerja di sektor informal dan secara vertikal : dari petani dengan lahan terbatas menjadi petani yang tidak memiliki lahan atau buruh tani. Oleh karena itu. Hasil pertanian dari tanah 87   .

LSM) lainnya. Tetapi. Gerakan petani Banjaranyar yang kemudian tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP) memang berhasil meningkatkan posisi tawar petani dihadapan para pemangku kepentingan (pemerintah pusat. Kenyataan bahwa gerakan petani Banjaranyar dapat bertahan hingga 12 tahun. Pada kenyataannya kehadiran gerakan petani. Keberhasilan menguasai kembali tanah dan adanya peningkatan ekonomi sebenarnya tidak serta merta membuat seluruh persoalan yang ada menjadi selesai. pada beberapa kasus justru memperkuat posisi elite desa dan tidak signifikan membantu petani kecil sebagai pihak yang termarginalkan. memperhitungkan efisiensi pemilikan atau penguasaan tanah sesuai dengan kebutuhan hidup minimum berdasarkan jumlah anggota keluarganya. Keberadaan gerakan petani di Desa Banjaranyar hingga saat ini (1998 – 2010). para petani tidak bertanah atau buruh tani justru banyak didominasi oleh petani yang bukan anggota SPP. Para elite baru ini yang kemudian disokong dengan kisah heroik tetang aksi perebutan tanah dan kepemilikan de facto atas tanah redistribusi eks-perkebunan. petani yang meningkat posisi tawarnya adalah petani yang memiliki KTA SPP (Kartu Tanda Anggota SPP) dan tidak semua petani di Desa Banjaranyar merupakan anggota SPP. pemerintah daerah. Fenomena ini justru memperlihatkan bahwa petani miskin memiliki kecederungan yang begitu kuat untuk selalu berada dalam ”situasi kemiskinan” dimana petani miskin akan tetap menjadi pihak yang lemah dan termarjinalkan. Perbaikan ekonomi bagi para pemegang tanah garapan juga melahirkan permasalahan baru seperti munculnya kesenjangan sosial antara peserta reclaiming dan bukan peserta reclaiming. keberadaannya yang mengejawantah dalam bentuk organisasi gerakan (OTL Banjaranyar) secara terus menerus dalam 88   . Kiching (1982). Pada tahun 2010 ketika penelitian ini dilakukan. justru melahirkan golongan elite baru di Desa Banjaranyar. Tetapi. boleh jadi dapat dipandang sebagai sebuah prestasi dalam konteks keberlanjutan sebuah gerakan petani. BUMN. perusahaan swasta.redistribusi. menyebut fenomena ini sebagai labor – consumer balance yaitu petani bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan subsisten petani.

Organisasi gerakan (OTL Banjaranyar) belum mampu bertranformasi menjadi institusi ekonomi yang dapat menyokong dan mepermudah kehidupan petani Banjaranyar. Terlepas dari berbagai permasalahan itu semua. tetapi kurang maksimal dalam hal membantu petani memenuhi kebutuhan seperti pupuk. sesungguhnya gerakan petani Banjaranyar dapat dilihat sebagai sebuah gerakan kemanusiaan. sangat maksimal apabila menjadi pusat informasi “aksi reclaiming tanah Desa Banjaranyar”. Terlebih lagi. melainkan juga simbol harga diri sebagai manusia pedesaan yang hidupnya bersumber dari sektor pertanian. 89   . “tiadalah mungkin ada petani kalau tidak ada tanah yang bisa digarap”.kurun waktu 12 tahun justru melahirkan masalah baru. bibit. tanah tidak hanya sebagai simbol eksistensi diri sebagai petani. dll. Sehingga perampasan tanah bagi petani juga dapat dilihat sebagai perampasan hak hidup dari petani itu sendiri. OTL Banjaranyar saat ini. Karena tanah menjadi sumber sekaligus taruhan hidup bagi petani. Seperti halnya pameo yang ada di daerah Priangan Timur yang menyatakan bahwa. modal tanam. akses pasar.

2009. G. 1982.. Jakarta : Pustaka Jaya -----------. Yogyakarta : STPN Press dan Sajogyo Institute Chrysantini. S. Peasantry as a Class. Sejarah Perkebunan di Indonesia. Jakarta : Sekertariat Bina Desa Boras Jr. Jurnal. Syaiful dkk. Program Pascasarjanan Studi Ilmu Politik Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah. Merampas Tanah Rakyat : Kasus Tapos dan Cimacan. Penyunting : Soediono M. Dwi Wahyu. 1971. 2001. 2005. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia -----------. Pinky. Yogyakarta : Bentang Intervisi Utama Marx. Development and Underdevelopment in Historical Perspective. London : Methuen & Co Ltd Kuntowijoyo. 1989.DAFTAR PUSTAKA Aji. 2008. Joe. Gerakan Petani Pagilaran : Kecamatan Blado Kabupaten Batang Jawa Tengah. Middlesex : Penguin Books. Gerakan dan Pertumbuhan Organisasi Petani di Indonesia : Studi Kasus Gerakan Petani Era 1980-an. Pemberontakan Petani Banten 1888. kajian sosial ekonomi. Pengalaman Serikat Petani Pasundan Menggarap Lahan – Lahan Perkebunan dan Kehutanan. dalam Teodor Shanin (ed). 1895. 2004. Berkeley : University of California Press Fauzi. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Bahri. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi. Mancur. Yogyakarta : Pustakapelajar Eckstein. 1966.. Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia. 1999. Lincoln. Radikalisasi Petani : Esai – Esai Sejarah. Kay. Dianto dan Anton Lucas. Tanah Untuk Penggarap. Cambirdge : Harvard University Press 90   . Noer. Yogjakarta : Universitas Gajah Mada Kartodirjo. A Model for Analyzing The Strategic Option of Social Movement. 1979. Petani dan Penguasa . Bandung : Yayasan AKATIGA Denzin. Social Origins of Dictatorship and Democracy : Lord and Peasant in the Making of the Modern World. Cambridge Handayani. Yogyakarta : Aditya Media Kitching. 1993. Noman K dan Yvonna S. Middlesex : Penguin Books Mustain. Susan. Handbook of Qualitattive Research. Petani vs Penguasan : Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara. The Logic of Collective Action : Public Goods and The Theory of Group. 1999. edisi revisi. Berawal Dari Tanah : Melihat ke Dalam Aksi Pendudukan Tanah. M. C. Gerakan – Gerakan Agraria Transnasional. 2010. Gutomo Bayu. 1971 Moore. 1984. Yogjakarta : Ar Ruzz media Olson. 1991. Latin American Social Movement. 2007. Power and Popular Protest. Barirington. 2007. Edelman. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan KPA Freeman. Bogor : Pustaka Latin Bachriadi. Dua Abad Penguasaan Tanah : Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa Dari Masa ke Masa.P. Sartono. Karl.

10 No. Sayogyo. 2003. penerjemah : A. Yayasan Akatiga Salert. Yogyakarta : INSIST Press Wolf.Philpott. Bandung : Yayasan AKATIGA Wiradi. 2000. 2000. dan Cina.1 Juni : Perdebatan Konseptual Tentang Kaum Marginal. Yogyakarta : LKIS Popkin. Revolution and Revolutionaries : Four Theories. 1991. Samuel L. Senjata Orang –Orang Kalah : Bentuk – Bentuk Perlawanan Sehari – Sehari Kaum tani. Konflik Agraria. Reforma Agraria : Perjalanan yang Belum Berakhir. Peasantry as a Political Factor. Jakarta : Penerbit Yayasan Padamu Negeri Sadikin. 1989. New Heaven : Yale University Press ---------. 2005. Perlawanan Petani. Middlesex : Penguin Books. Gunawan. Uzair Fauzan. On Peasant Rebellion. New York : Elsevier Scott. Eric R. Jakarta : Erlangga Suhendar. Negara dan Revolusi Sosial : Suatu Analisis Komparatif Tentang Perancis. dalam Teodor Shanin (ed). Barbara. The Moral Economy Of The Peasent. New York : Rmunk Me Sharpe ---------. Berkeley: University of California Press Popkin. Rahman Zainudin. Petani dan Konflik Agraria. The Rational. 1976. Peasant Resistance. Simon. 1986. Teodor. 1998. 1971 91   . Middlesex : Penguin Books. 1976. 1966. penerjemah Nurudin MHD. Mien Joebhaar. 1971 Skocpol. The Political Economy of Rural Society in Vietnam. Endang dan Yohana Budi Winarni. 1969. Ali. Peasant. Meruntuhkan Indonesia : Politik Postkolonial dan Otorianisme. Samuel L. Petani Rasional. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia Shanin. Rusia. James C. dalam Teode Shanin (ed). Jurnal Analisis Sosial Vol. Theda. Dan Gerakan Sosial. 1979.

Jalan Desa Gambar 8. Dokumentasi Gambar 6.Lampiran 1. Tanah Garapan 92   . Akses Jalan Menuju Tanah Garapan Gambar 7.

Pemanenan Tanaman Kayu Gambar 10. Hasil Panen 93   .Gambar 9.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->