P. 1
Makalah Cairan Dan Elektrolit

Makalah Cairan Dan Elektrolit

|Views: 1,198|Likes:
Published by Sulaiman Gayo

More info:

Published by: Sulaiman Gayo on Sep 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2014

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Cairan tubuh merupakan factor penting dalam berbagai proses fisiologis didalam tubuh manusia. Kemampuan kita untuk bertahan hidup sangat tergantung dari cairan yang terdapat dalam tubuh kita. Oleh karena itu, terdapat berbagai mekanisme yang berfungsi untuk mengatur volume dan komposisi cairan tubuh agar tetap dalam keadaan seimbang atau disebut juga dalam keadaan Homeostasis.Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk mensuplai berbagai bahan yang penting melalui darah keseluruh jaringan. Sistem-sistem lainya seperti ginjal, paru-paru dan hati berfungsi untuk menjaga jumlah dan komposisi cairan dalam tubuh agar selalu dalam keadaan seimbang. Apabila terjadi ketidak seimbangan antara cairan yang ada dalam tubuh dan cairan yang dibutuhkan oleh tubuh, maka akan terjadi ketidak seimbangan atau terjadi gangguan pada berbagai system yang berhubungan dengan kebutuhan cairan tersebut. Kelainan tersebut dapat berupa kelebihan cairan maupun kekurangan cairan. Cairan yang kita bahas adalah cairan tubuh yang salah satu komposisinya adalah elektrolit, dimana cairan tersebut menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. Jumlah cairan pada pria dan wanita itu tidak sama, hal ini disebabkan oleh karena pada seorang wanita jumlah jaringan lemaknya lebih besar daripada seorang pria. Pada bayi baru lahir jumlah cairan tubuhnya dapat mencapai 75% dari berat badan, namun semua ini akan berubah dan menurun dengan bertambahnya usia. Jadi persentase cairan tubuh (45% -80%, 45% pada wanita 60tahun dan 80% pada bayi laki-laki) disebabkan oleh variasi dari jumlah jaringan lemak tubuh yang hanya mengandung kurang dari 10% air, sedangkan otot skelet yang banyak terdapat pda tubuh seorang pria mengandung lebih dari 75% air dan ginjal mengandung lebih dari 80% air.

1

Dari penjelasan diatas mengenai jumlah caiaran tubuh sesuai jenis kelamin dan umur juga jumlah caiaran tubuh dalam setiap jaringan tubuh dapat kita lihat pada table berikut ini Umur(tahun) Baru lahir 1-5 10 - 16 17 - 39 40 - 59 60+ Laki-laki(%) 80 65 60 60 55 50 Wanita(%) 75 65 60 50 47 45 Nama jaringan Ginjal Jantung Paru-paru Otot skelet Otak Kulit Tulang Jar. Lemak Air dalam %| 83 79 79 76 75 72 22 10

B. TUJUAN PENULISAN a. Tujuan umum  Terciptanya pengertian tentang cairan dan elektrolit  Memahami akan pentingnya cairan dan elektrolit dalam mendukung kesehatan dan keseimbangan tubuh manusia  Mampu menganalisa dampak ketidak seimbangan cairan dan elektrolit  Mampu menerapkan pengetahuan tentang cairan dan elektrolit dalam kehidupan b. Tujuan khusus Kami sebagai penyusun makalah ini mengharapkan setelah selesai pembuatan makalah ini kami dapat:  Mengerti pengertian tentang cairan dan elektrolit  Memahami dampak ketidak seimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh dan pengarunya terhadap kesehatan  Mampu menerapkan pemantauan kebutuhan dan keseimbangan cairan dan elektrolit  Mampu menganalisa factor-faktor yang relevan dengan cairan dan elektrolit.

2

C. METODE PENULISAN Metode penulisan makalah ini saya susun secara deskritif dengan cara mengumpulkan data atau bahan dari beberapa Referensi dan internet terpercaya dan buku tentang Fisiologi Guyton pada pokok bahasan “cairan dan elektrolit” yang kemudian memilah bagian yang terpenting.

D. SISTEMATIKA PENULISAN Unruk memudahkan pembaca dalam memahami makalah ini, saya menyusun dengan membagi berdasarkan pokok basahan

3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. PERTUKARAN CAIRAN TUBUH Pemasukan air setiap harinya (daily intake of water) terutama terjadi melalui oral misalnya minuman dan makanan. Kira-kira 2/3 dari jumlah air yang masuk ini adalah dalam bentuk murni dan lainnya dalam bentuk makanan. Sebagian kecil air ini merupakan hasil dari proses oksidasi hydrogen didalam makanan, yang jumlahnya berkisar 150-250ml/hari, tergantung dari kecepatan metabolisme tubuh seseorang. Jumlah cairan yang masuk termasuk juga hasil sintesa didalam tubuh yang berkisar 2300 ml/hari. Pengeluaran cairan dari tubuh dalam keadaan Normal sebagian besar terjadi melalui urine yang jumlahnya kurang lebih 1400 ml/hari. Namun dalam keadaankeadaan tertentu, seperti dalam keadaan latihan yang berat, akan terjadi kehilangan cairan yang terbesar melalui keringat. Kehilangan cairan melalui proses difusi melalui kulit dan proses evaporasi melalui saluran pernafasan biasa disebut juga insensible water loss. Kehilangan cairan melaui proses ini tidak dapat dirasakan mekanismenya. Kehilangan cairan melalui kulit yang rata-rata berkisar 350ml/hari terjadi oleh karena berdifusinya molekul air melalui sel-sel pada kulit. Berdifusinya cairan melalui kulit dibatasi oleh adanya lapisan epitel bertanduk yang banyak mengandung cholesterol. Pada penderita luka bakar yang luas, lapisan ini akan mengalami kerusakan, sehingga proses difusi akan meningkat dan kehilangan cairan akan meningkat jumlahnya sampai dapat mencapai 3-5 liter/hari. Jumlah cairan yang hilang melalui proses evaporasi(penguapan)rata-rata 350ml/hari,oleh karena tekanan atmosfir akan berkurang dengan berkurangnya suhu,maka kehilangan cairan akan lebih besar pada suhu yang sangatdingin dan lebih kecil pada suhu yang hangat. Hal ini dapat dirasakan dengan adanya perasaan kering pada saluran nafas pada suhu dingin. Pada suhu yang sangat panas kehilangan cairan melaui keringat akan meningkat, sehingga akan menyebabkan berkurangnya cairan tubuh dengan cepat. Pengeluaran cairan melalui keringat ini berfungsi untuk mengeluarkan panas dari tubuh.

4

Pada latihan fisik yang berat kehilangan cairan tubuh melalui dua mekanisme yaitu: a) Latihan fisik menyebabkan meningkatnya kecepatan ventilasi sehingga jumlah cairan yang hilang melaui saluran pernafasan akan meningkat. b) Latihan fisik menyebabkan meningkatnya produksi panas pada tubuh dengan konsekwensi meningkatnya cairan yang hilang melalui keringat.

B. PEMBAGIAN CAIRAN TUBUH

1. CAIRAN EKSTRASEL DAN CAIRAN INTRASEL Cairan tubuh terdiri atas cairan ekstrasel dan caiaran intrasel.Dimana 1/3 dari cairan tubuh total terdiri dari cairan ekstrasel dan 2/3 merupakan cairan intrasel. Distribusi cairan tubuh adalah sebagai berikut:a. Otot 50%, b. Kulit 20%, c. Darah 20% dan Organ-organ lain 20%.

A. CAIRAN EKSTRASEL Cairan ekstrasel adalah semua cairan yang terdapat diluar sel atau biasa disebut CES. Cairan ekstrasel terdiri dari ion-ion dan berbagai bahan nutrisi yang dibutuhkan oleh sel untuk

mempertahankan fungsi sel, seperti pertumbuhan,perkembangan dan fungsi khusus lainya.Karena peranannya yang penting ini,maka cairan ekstrasel disebut juga internal environment.Cairan ini bergerak secara constant pada seluruh tubuh dan ditransport secara cepat kedalam sirkulasi melalui dinding kapiler. Cairan ekstrasel terdiri atas beberapa komponen yaitu:

Plasma,Cairan interstitial dan Cairan transeluler.

B. CAIRAN INTRASEL Sekitar 25 liter dari 40 liter cairan dalam tubuh kita terdapat dalam 100 triliun sel, disebut cairan intraseluler yang meliputi 2/3 dari seluruh cairan tubuh.Cairan intrasel juga biasa disebut CIS.Cairan intrasel yang terdapat pada setiap sel mempunyai komposisi yng berbeda, tetapi konsentrasinya dari tiap komposisi ini dapat dikatakan sama dari sel satu ke sel lainya. Cairan intrasel ini mempunyai pH yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pH pada cairan ekstrasel yaitu berkisar 6,8 sampai 7,2.

5

2. CAIRAN INTERSTITIAL Cairan interstitial merupakan cairan yang terdapat diantara sel, termasuk diantaranya adalah cairan linfe. Cairan interstitial merupakan 75% dari jumlah cairan ekstrasel atau kurang lebih 10.5liter pada seseorang dengan berat badan 70kg.

3. CAIRAN TRANSELULAR Cairantranselular dipisahkan dengan cairan ekstrasel lainya oleh lapisan sel epitel. Cairan transelular merupakan cairan yang terdapat pada lumen saluran pencernaan, keringat, cairan serebrospinal, cairan pleura, cairan pericardial, cairan intra okuler, cairan synovial, cairan peritoneum, empedu dan cairan kokhlea. Cairan yang terdapat pada lumen saluran pencernaan merupakan ½ dari seluruh cairan transelular, disusul oleh cairan serebrospinalis dan empedu.

C. KOMPOSISI CAIRAN TUBUH Komposisi cairan ekstrasel dan cairan intrasel berbeda satu sama lainya,namun komposisi cairan tubuh yang utama adalah AIR dan ELEKTROLIT. Jadi elektrolit merupakan cairan tubuh yang sangat penting untuk kelangsungsungan kehidupan ataupun untuk keseimbangan dalam tubuh. Elektrolit terdiri atas Kation dan Anion. Kation adalah ion yang bermuatan positif sedangkan Anion adalah ion yang bermuatan negative. Monovalent kation membawa 1muatan listrik pada molekulnya, sedang divalent kation membawa 2 muatan listrik pada molekulnya. Pada cairan tubuh jumlah antara kation dan anion harus sama untuk mempertahankan”electrical neutrality”. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah partikel kation harus sama dengan jumlah partikel anion, namun, plasma protein misalnya, mempunyai beberapa muatan negative atau anion, sehingga kation atau muatan positif harus ada untuk mengimbangi tiap molekul protein.

Komposisi dari elektrolit baik pada intraseluler maupun pada plasma adalah: a. Kation : Natrium(Na+),Kalium(K+),Kalsium(Ca++),Magnesium(Mg++) b. Anion : Klorida(Cl-),Bikarbonat(HCO3-),Fosfat(HPO42-),Sulfat(SO42-) dan protein.

6

Cairan ekstrasel mengandung banyak kation dan anion juga bahan nutrisi untuk sel. Bahan nutrisi untuk sel tersebut seperti: oksigen, glucose, asam lemak dan asam amino. cairan ekstrasel juga mengandung

karbondioksida yang ditransport dari sel menuju keparu-paru untuk diekskresi, serta berbagai hasil metabolisme dari sel yang akan diekskresi melalui ginjal.

D. DINAMIKA DAN KESEIMBANGAN CAIRAN TUBUH. Dalam menjalankan fungsinya,tubuh selalu berusaha mempertahan kan keseimbangan antara cairan ekstrasel dan cairan intrasel.Salah satu hal yang merupakan masalah penting dalam kedokteran klinis adalah

mempertahankan cairan tubuh yang sesuai dan memelihara keseimbangan yang sempurna antara volume cairan ekstrasel dan volume cairan intrasel pada orang yag sakit.Dalam bahasan ini kita akan membicarakan berbagai factor yang mempengaruhi keseimbangan cairan serta factor osmotic yang menyebabkan perpindahan cairan antara ruang ekstrasel dan ruang intrasel.

1. Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh Peristiwa ini terjadi dalam tiga fase yaitu : a. Fase pertama : Plasma darah pindah dari seluruh tubuh kedalam

system sirkulasi,nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan traktus gastrointestinal. b. Fase kedua : Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari

darah kapiler dan sel. c. Fase ketiga : Cairan dan substansi yang ada didalamnya berpindah

dari cairan interstitial masuk kedalam sel.Pembuluh darah kapiler dan membrane sel yang merupakan membrane semipermeabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah.

2. Pergerakan cairan tubuh a. Osmosis Dan Tekanan Osmotik Bila suatu membrane yang terletak diantara dua ruangan yang berisi cairan bersifat permeable terhadap air tetapi tidak terhadap bahan-bahan tertentu,maka membrane ini disebut bersifat semipermeabel. Bila konsentrasi bahan tersebut lebih besar pada salah satu sisi membrane dibandingkan

7

dengan sisi membrane lainya, maka air akan melewati membrane menuju kesisi yang mempunyai konsentrasi yang lebih besar. Keadaan ini disebut osmosis. Osmosis terjadi oleh karena pergerakan kinetic dari setiap partikel dari ion atau molekul pada larutan pada kedua sisi dari membrane. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila suhu pada kedua sisi dari membrane adalah sama, partikel pada kedua sisi membrane akan mempunyai energy untuk pergerakan kinetic yang sama. Namun oleh karena partikel bahan-bahan yanh tidak permeable pada kedua larutan menggantikan molekul air, akibatnya potensi kimia air akan berkurang sesuai dengan konsentrasi bahanbahan yang tidak permeable tersebut. daerah dimana konsentrasi baha-bahan yang tidak larut itu rendah, maka potensi kimia air akan lebih besar dibandingkan pada daerah dimana konsentrasi bahan-bahan yang tidak permeable lebih rendah kesisi dimana konsentrasi bahan-bahan yang tidak permeabelnya lebih tinggi. Na+ adalah ion utama yang mempengaruhi osmolalitas cairan ekstrasel dan berfungsi mengikat air agar tetap berada diluar sel.Sebaliknya, K+ merupakan ion utama yang mempengaruhi osmolalitas dan berfungsi menahan air agar tetap berada didalam sel. Jumlah tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan proses osmosis disebut Tekanan osmotic. Tekanan osmotic untuk plasma adalah 5450mmHg dan cairan intrasel 5430 dan cairan interstitial 5430mmHg.

b. Difusi Materi padat, partikel berpindah dari konsentrasi tinggi kerendah. Faktor yang mempengaruhi laju difusi adalah: 1) Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi 2) Peningkatan permeabilitas 3) Peningkatan luas permukaan difusi 4) Berat molekul substansi 5) Jarak yang ditempuh untuk difusi.

c. Filtrasi Perpindahan air dan substansi yang dapat larut secara bersama sebagai respon karena tekanan cairan. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas permukaan membrane dan permeabilitas membrane. Tekanan yang dihasilkan likuid dalam sebuah ruanganya disebut tekanan hidostatik.

8

d. Transport Aktif Memerlukan lebih banyak ATP karena untuk menggerakan berbagai materi guna menembus membrane sel. Contohnya pompa Na untuk keluar dari sel dan kalium masuk ke sel.

E. KESEIMBANGAN OSMOTIK EKSTRASEL DAN INTRASEL Bila tekanan osmotic pada salah satu sisi membrane sel meningkat, misalnya dengan memasukan sel kedalam air, maka pada kedua sisi membrane tidak terjadi keseimbangan osmotic. Bila sel dimasukan kedalam larutan yang mempunyai osmolalitas yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan osmolalitas cairan intrasel maka akan segera terjadi osmosis air kedalam sel, sehingga sel akan membengkak dan cairan intrasel akan mengalami pengenceran sampai osmolalitasnya sama dengan caiaran diluar sel dan proses osmosis akan berhenti. Sebaliknya bila sel dimasukan kedalam larutan yang mempunyai osmolalitas yang jauh lebih tinggi dari cairan intrasel maka air akan keluar dari sel melalui proses osmosis, memekatkan cairan intrasel dan mengencerkan cairan ekstrasel. Hal ini menyebabkan sel akan mengkerut, sampai konsentrasi ekstrasel dan intrasel menjadi seimbang. Perpindahan air melalui membrane dengan proses osmosis dapat terjadi dengan begitu cepat sehingga setiap gangguan keseimbangan osmosis antara kedua kompartemen cairan tubuh disetiap jaringan akan segera

dikoreksi dalam beberapa detik atau menit.Namun pada seluruh tubuh kecepatan osmosis tidak berlangsung sedemikian cepatnya oleh karena cairan yang masuk kedalam tubuh harus melalui saluran pencernaan, selanjutnya ditransport oleh darah keseluruh jaringan sebelum proses osmosis berlangsung.Pada orang normal dibutuhkan sampai 30 menit untuk tercapainya keseimbangan osmosis diseluruh tubuh setelah minum air.

ASUPAN CAIRAN DAN HALAUAN CAIRAN Osmoreseptor memantau osmolalitas,akan mendeteksi kehilangan cairan dan akan mengaktifkan pusat rasa haus.Cairan dikeluarkan melalui ginjal dan saluran gastrointestinal.Kehilangan air diatur oleh saraf simpatis.

9

Dua macam kehilangan air yaitu: 1. Kehilangan air tak kasat mata.Ginjal melaui produksi urine(400-1500ml). 2. Kehilangan air kasat mata.Skin dan keringat (350-400ml),lungs(350-400ml) dan saluran pencernaan melalui feces(100-200ml). Mekanisme terjadinya haus melalui peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel akan merangsang osmoreseptor dihipothalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan keneuron hypothalamus yang mensintesis vasopressin.Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior kedalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya diduktus koligen. Ikatan vasopressin dengan reseptornya memicu terbentuknya aquaporin yaitu kanal air dimembran bagian apeks duktus koligen. Pembentukan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorpsi cairan kevasa recta.Hal ini

menyebabkan urine yang terbentuk diduktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan didalam tubuh akan tetap dipertahan kan.Pengaturan fisiologis asam basa dilakukan oleh paru-paru dan ginjal. 1. Elektrolit Ekstrasel Kation utama diekstraseluler adalah Na berfungsi membantu saraf dan sel otot berinteraksi.Klorida berfungsi mempertahankan tekanan osmotic.Diperlukan oleh sel mukosa lambung untuk memproduksi asam hidroklorida.Kalsium sebagai kation utama yang ikut serta dalam pembentukan tulang dan gigi,berfungsi mensetabilkan membrane sel dan mengurangi permeabilitas terhadap Na dan transmit inpuls saraf dan untuk kontraksi otot.Bikarbonat menjadi agen buffer dalam darah. 2. Elektrolit Intrasel Kation utama diintraseluler adalah K berfungsi mengatur eksitabilitas atau ambang rangsang merupakan konduksi impuls saraf,mengatur potensial

membrane,mengatur kontraksi otot dan kemampuan berespon membrane miokardia dan mengontrol osmolalitas intrasel.Fosfor penting untuk metabolism energy,memainkan peranan dalam meneralisasi tulang dan gigi,mempertahankan keseimbangan asam-basa.Magnesium sebagai katalis reaksi enzim,mengatur kontraksi neuromuscular,menciptakan fungsi normal saraf dan system

kardiovaskuler,membantu sintesa protein dan transportasi Na dan K.

10

BAB III PEMBAHASAN

GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT. Berbagai keadaan dapat meneyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan caiaran tubuh. Gangguan keseimbangan cairan tubu ini dapat berupa gangguan keseimbangan volume,komposisi,distribusi maupun kombinasi dari ketiganya.Pada dasarnya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat terjadi berupa kelebihan dan kekurangan cairan.

EDEMA Istilah edema berasal dari bahasa Yunani yang berarti bengkak. Jaringan menjadi bengkak atau edema bila terdapat akumulasi cairan yang berlebihan. Pada umumnya edema terjadi pada ruang ekstrasel, terutama pada ruang interstitial. Namun edema dapat juga timbul pada ruang intrasel,yang terjadi oleh karena adanya proses peradangan pada jaringan yang menyebabkan permeabilitas membran meningkat dan memungkinkan ion Na+ dan ion lainya masuk kedalam sel.dan disertai juga masuknya air kedalam sel. Adanya gangguan metabolism pada sel serta kurangnya suplai bahan-bahan nutrisi kesel juga dapat menyebabkan edema intrasel. Hal ini terjadi pada daerah dimana aliran darah local mengalami hambatan sehingga suplai oksigen dan bahan-bahan nutrisi lainya akan menurun dan mengakibatkan metabolism jaringan terganggu yang selanjutnya menekan aktifitas Na+-K+ pump yang berfungsi memompa Na+ keluar dari sel, dan terjadi osmosis air masuk kedalam sel. MEKANISME TERJADINYA EDEMA Edema yang terjadi pada ruang interstitial dapat terjadi melalui dua mekanisme utama yaitu: 1. Adanya perubahan dalam hemodinamik kapiler yang menyebabkan cairan dapat bergerak keluar dari ruang intravaskuler ke ruang interstitial 2. Retensi Na+ dan air oleh ginjal.

11

*Edema akibat gangguan hemodinamik Edema secara klinik akan timbul bila volume cairan yang terdapat pada ruang interstitial mencapai paling kurang 2.5 samapai 3 liter.Pertukaran cairan antara plasma dan ruang interstitial ditentukan oleh tekanan hidrostatik kapiler dan tekanan koloid osmotic pada kedua kompartemen cairan tubuh tersebut.Hubungan antara tekanan hidrostatik kapiler dan tekanan koloid osmotic dapat dilihat pada persamaan dibawah ini: F = K{(Pp-Pi)-(Op-Oi)} Dimana: F = Filtrasi K = Permeabilitas kapiler Pp = Tekanan hidrostatik plasma Pi = Tekanan hidrostatik interstitial Op = Tekanan koloid osmotic plasma Oi = Tekanan koloid osmotic interstitial Nilai negative pada tekanan hidrostatik interstitial kemungkinan disebabkan oleh masuknya cairan interstitial kedalam pembuluh linfe. Tekanan hidrostatik kapiler ditimbulkan oleh adanya kontraksi jantung. Bila tekanan darah meningkat spincter akan berkontraksi dan aliran darah yang masuk kekapiler akan berkurang sehingga peningkatan tekanan hidrostatik ini dapat menjelaskan mengapa pada penderita hipertensi jarang terjadi edema bila tekanan darah menurun, spincter akan berdilatasi, sehingga tekanan hidrostatik kapiler tetap dipertahankan dalam batas-batas normal. Sebaliknya pada daerah venule pengaturan resistensi kapiler tidaklah seefektif pada daerah kapiler, akibatnya peningkatan tekanan vena akan meningkatkan tekanan hidrostatik kapiler.

Peningkatan tekanan vena dapat ditimbulkan oleh dua factor: a. Peningkatan volume darah pada vena b. Adanya obstruksi pada system vena Peningkatan volume darah pada vena dapat terjadi pada penderita gagal jantung dan obstruksi system vena dapat terjadi pada penderita chirocis hepatis.

12

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENYEBABKAN EDEMA 1. Meningkatnya Tekanan Hidrostatik Kapiler A. Meningkatnya tekanan vena a. kegagalan pompa vena: paralisis otot, imobilisasi sebagian tubuh dan kegagalan katub vena. b. Obstruksi vena local c. Kegagalan jantung B. Retensi Na+ dan air : Kegagalan ginjal C. Menurunya resistensi arteriole a) Panas tubuh berlebihan b) Paralisis system saraf simpatis c) Efek obat-obat vasodilator 2. Menurunya Tekanan Koloid Osmotik Plasma A. Kehilangan protein melalui urine B. Kehilangan protein melalui kulit C. Kegagalan produksi protein : Sindroma Nefritik : Luka bakar dan luka –luka lainya : Penyakit hati dan malnutrisi protein atau kalori serius 3. Meningkatnya Permeabilitas Kapiler A. Reaksi imun yang menyebabkan pelepasan histamine dan hasil imun lainya B. Toksin C. Infeksi bakteri D. Difesiensi vitamin terutama vitamin C E. Ischemia yang lama F. Luka bakar.

4. Obstruksi Saluran Linfe A. Kanker yang menyumbat kelenjar linfe

13

B. Sumbatan kelenjar linfe oleh infeksi terutama filariasis C. Kelainan congenital dari pembuluh linfe. Edema dapat terjadi bila terjadi perubahan pada salah satu atau lebih dari factor-faktor tersebut diatas.Didalam klinik terdapat dua keadaan yang paling sering menimbulkan edema yang bersifat menyeluruh pada seluruh tubuh yaitu kegagalan jantung dan sindroma nefrotik. Edema ini dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu: 1) Jantung gagal memompa darah dari vena kearteri,hal ini Menyebabkan tekanan vena dan kapiler meningkat. 2) Tekanan arteri menurun sehingga output air dan Na+ oleh ginjal menurun. 3) Berkurangnya aliran darah keginjal mengakibatkan terjadinya sekresi rennin,hal ini menyebabkan pembentukan angiotensin II dan aldesteron yang akan menyebabkan retensi air dan Na+.Dan ketiga hal ini secara bersama-sama menyebabkan edema pada penderita gagal jantung. Sedangkan pada penderita sindroma nefrotik, membrane basalis glomerulus mengalami kerusakan sehingga permeabilitasnya terhadap protein meningkat. Akibatnya banyak protein terutama albumin yang keluar melalui dinding kapiler glomerolus dan diekskresi melalui urine. Kehilangan protein ini menyebabkan tekanan koloid osmotic menurun dan tidak dapat mencegah keluarnya cairan dari kapiler keruang interstitial. Edema biasanya terjadi bila konsentrasi protein plasma menurun. Retensi Na+ dan air oleh ginjal dan keadaan edema diakibatkan oleh ketidak mampuan ginjal untuk melakukan ekskresi dan keadaan ini terjadi terutama pada penderita penyakit ginjal.

SAFETY FACTOR YANG MENGHAMBAT TERJADINYA EDEMA Walaupun setiap gangguan seperti yang dijelaskan diatas dapat menyebabkan edema,biasanya edema akan timbul bila abnormalitas sudah mencapai tahap tertentu.misalnya,peningkatan tekanan yang mendorong mencapai 10mmHg sampai 15mmHg. terjadinya filtrasi harus

14

Hal ini disebabkan oleh adanya safety factor yang terdiri dari 3 komponen: 1) Bila terjadi pengeluaran cairan menuju ruang interstitial,tekanan hidrostatik interstitial akan meningkat dan terjadi pengenceran protein interstitial sehingga tekanan koloid osmotic interstitial akan menurun dan edema dapat dicegah. 2) Meningkatnya tekanan hidrostatik interstitial akan menyebabkan aliran linfe akan meningkat 10 sampai 50 kali.hal ini akan menyebabkan kelebihan cairan akan dikeluarkan melalui system linfatik. 3) Akibat meningkatnya aliran linfe,maka transport protein dari ruang interstitial akan meningkat dan tekanan koloid osmotic akan menurun.keadaan ini disebut washdown protein.pada waktu proses washdown ini terjadi perbedaan tekanan interstitial akan meningkat sehingga terjadi absorbs cairan dari ruang interstitial kekapiler.

GANGGUAN VOLUME CAIRAN Gangguan volume cairan dibagi menjadi dua yaitu hipovolemik(kekurangan cairan) dan hipervolemik(kelebihan cairan).

I.

Kekurangan Cairan a. Isotonik-cairan dan ion hilang;penurunan volume darah b. Hypertonik-cairan yang hilang lebih besar dari kehilangan ion c. Hypotonik-ion yang hilang lebih besar dari kehilangan cairan

II.

Kelebihan Cairan a. Isotonik(CHF)-hanya ekstrasel yang kelebihan cairan b. Hypertonik-jarang terjadi-kelebihan Na;cairan berpindah dari intrasel keekstrasel. c. Hypotonik-water intoxication;life threatening;cairan berpindah masuk keintrasel dan seluruh kompartemen tubuh.

III.

Ketidak Seimbangan Elektrolit a. Ketidak Seimbangan Natrium Terjadi hiponatremia atau hipernatremia.Jika Na menurun,tubuh akan menurunkan eksresi air untuk mempertahankan osmolalitas serum agar normal.Bila berlanjut menurun,maka volume darah akan dipertahankan. b. Ketidak Seimbangan Kalium Terjadi hipokalamia karena penggunaan diuretic yang membuang kalium dan hiperkalemia karena gagal ginjal.

15

c. Ketidak Seimbangan Magnesium Terjadi hipomagnesemia yang menurunkan iritabilitas neuromuscular dan hipermagnesemia yang menurunkan eksitabilitas sel-sel otot.

d. Ketidak seimbangan kalsium e. Ketidak seimbangan klorida Muntah,drainase nasogastrik atau drainase fistula menyebabkan hipokloremia.

IV.

Ketidak seimbangan asam basa 1. Asidosis respiratori disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi.Pembentukan H2CO3 meningkat dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.

2. Alkalosis Metabolik Disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat

hiperventilasi.Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukan ion H menurun. 3. Asidosis Metabolik Asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru,diare akut,DM,olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonar sehingga kadar ion H bebas meningkat.

4. Alkalosis Metabolik Terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena difesiensi asam non karbonat.Akibatnya kosentrasi bikarbonat meningkat.hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis.hilangnya ion H akan myebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat,sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat.

5. Dehidrasi Pada berbagai keadaan,terjadi kekurangan cairan ekstrasel oleh karena hilangnya cairan dari tubuh.Kekurangan air yang murni jarang terjadi,sebagian besar kehilangan air akan disertai dengan kehilangan elektrolit.Kehilangan air tanpa disertai kehilangan elektrolit dapat terjadi

16

pada penderita diabetes insipidus.istilah dehidrasi secara klinis berarti kekurangan air dan elektrolit.Istilah dehidrasi sering disalah gunakan dengan hipovolemi yang berarti kurangnya cairan intravaskuler.

Dehidrasi dapat disebabkan oleh berbagai keadaan,seperti dibawah ini: 1. Hilangnya Cairan Melalui Saluran Pencernaan  Muntah  Diare  Obstruksi usus  Peritonitis  Fistula 2. Hilangnya Cairan Melalui Ginjal  Insufisiensi Adrenal  Diuresis osmotic  Diabetes insipidus  Diuretik yang berlebihan 3. Hilangnya Cairan Melalui Kulit Dan Saluran Nafas  Keringat berlebihan  Luka bakar  Keganasan paru

Dehidrasi dapat dibagi menurut perubahan volume yang terjadi dan konsentrasi osmolar cairan ekstrasel. Dengan demikian dehidrasi dapat dibagi menjadi: A. Dehidrasi Isosmotik Pada dehidrasi ini,pada awalnya yang hilang berasal dari plasma dan kemudian diganti oleh cairan dari ruang interstitial.Tidak terjadi perubahan osmolalitas cairan ekstrasel sehingga tidak terjadi pengeluaran cairan dari ruang intrasel.Penyebab dehidrasi isosmotik misalnya,eksudasi plasma dari luka bakar,diare dan muntah.

B. Dehidrasi Hiperosmotik Pengeluaran cairan dari plasma akan menimbulkan keadaan

hiperosmotik,sehingga cairan akan keluar dari ruang interstitial menuju ke plasma.Peningkatan osmolalitas caiaran interstitial akan menyebabkan cairan

17

dari ruang intrasel akan masuk keruang ekstrasel.Ahirnya baik cairan ekstrasel maupun cairan intrasel akan berkurang.Penyrbab dehidrasi hiperosmotik misalnya,kurangnya intake air,diabetes insipidus,demam dan kehilangan cairan yang berlebihan dari kulit.

C. Dehidrasi Hiposmotik Pada dehidrasi hiposmotik,pada awalnya kehilangan NaCl juga akan menyebabkan kehilangan air.Keadaan ini akan diikuti dengan terjadinya retensi air oleh ginjal,tetapi kehilangan NaCl akan tetap berlangsung.Keadaan ini akan menyebabkan menurunya osmolalitas cairan ekstrasel dan terjadi perpindahan cairan dari ruang ekstrasel menuju ke ruaang intrasel.Pada ahirnya volume cairan ekstrasel akan berkurang dan volume cairan intrasel akan meningkat dan osmolalitas cairan ekstrasel dan cairan intrasel berkurang.Penyebab dehidrasi hiposmotik misalnya:hilangnya NaCl yang berlebihan melalui keringat dan kehilangan NaCl akibat insufisiensi adrenal(Addisons Disease).

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEIMBANGAN CAIRAN, ELEKTROLIT DAN ASAM BASA. 1) USIA Tubuh bayi memiliki proporsi lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa seperti yang sudah digambarkan pada table diatas,namun juga memiliki kerentanan untuk mengalami kehilangan volume cairan.Pada lansia,elastisitas kulit menurun 45%-50% dari berat badan;kehilangan massa otot dan proporsi lemak meningkat.Area menilai turgor kulit:    Forehead Sternum Abdomen

RENAL-Menurun filtrasi,meningkatkan pengeluaran cairan;ekskresi sisa metabolism menurun.mssa otot-resiko tinggi didehidrasi dan penurunan pemasukan cairan. NEURO-berkurang reflex seperti pada pusat rasa haus; ENDOKRIN,Atrofi otot dan adrenal;regulasi Na dan K berkurang resiko hiponatremia dan hiperkalemia.

18

2) UKURAN TUBUH Individu gemuk dan wanita memiliki sedikit proporsi air karena wanita memiliki lemak pada payudara dan paha disbanding pria. 3) Temperatur lingkungan 4) Gaya hidup Kebiasaan yang mempegaruhi keseimbangan cairan yaitu: diet,stress dan olahraga. 5) Kondisi sakit 6) Tindakan medis 7) Pengobatan 8) Pembedahan. Hipovolemia(kekurangan volume cairan) Pada pasien dengan hipovolemia ini didapatkan tanda dan gejala antara lain:Pusing,kelemahan,keletihan,sinkope,anoreksia,mual,muntah ,haus,kekacauan mental,konstipasi dan oliguria. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan atau akibat lanjut dari kekurangan volume cairan adalah:Dehidrasi ringan,sedang sampai dehidrasi berat.Renjatan hipovolemik,Kejang pada dehidrasi hipertonik. Hipervolemia(Kelebihan volume cairan) Pada pasien dengan gangguan hipervolemia ini biasanya akan timbul tanda dan gejala sebagai berikut:Sesak nafas dan Ortopnea.Dan komplikasi atau akibat lanjut dari gangguan ini adalah:Gagal ginjal akut atau kronik,berhubungan dengan peningkatan preload penurunan kontraktilitas dan penurunan curah jantung,infark miokard,gagal jantung kongestif,gagal jantung kiri,penyakit katub,takikardi/aritmia,penyakit hepar,berhubungan dengan kerusakan arus balik vena,varicose vena,penyakit vaskuler perifer dan flebitis kronis.

19

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN Setelah membahas semua yang berhubungan dengan cairan dan elektrolit, maka kita dapat menyimpulkan bahwa betapa pentingnya cairan dan elektrolit untuk tubuh kita. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan beberapa hal yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas dari cairan tersebut. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolalitas ekstrasel dengan

mempertahankan keseimbangan caiaran. Dalam hal ini ginjal merupakan osmoreseptor yang selalu memantau osmolalitas dan mengaktifkan

osmoreseptor yang ada pada hipotalamus yang akan dilanjutkan penghantaran rangsangan ini ke neuron hypothalamus yang mensintesis vasopressin yang akan dilepaskan oleh hipofisis posterior kedalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya didalam duktus koligen. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine

sesuai dengan kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga berperan dalam mempertahan kan keseimbangan asam basa dengan megatur keluaran ion hydrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan.Selain ginjal yang turut berperan dalam keseimbangan asam basa adalah paru-paru. Dalam tubuh, sering terjadi gangguan akibat kekurangan cairan dan elektrolit yang terjadi secara bersamaan namun dapat juga terjadi gangguan akibat kekurangan atau ketidak seimbangan dari salah satunya ataupun kekurangan air murni meskipun jarang terjadi.Tubuh dapat kehilangan cairan bukan hanya dalam keadaan sakit tetapi bisa kehilangan cairan dalam keadaan tubuh sehat, namun kehilangan cairan ini dalam batas-batas normal dan masih dapat ditoleransi serta sesuai dengan jumlah cairan yang masuk, cairan yang dibutuhkan dan cairan yang dikeluarkan oleh tubuh. Kehilangan caiaran yang mengakibatkan kekurangan air dan elektrolit yang biasa disebut dengan DEHIDRASI tidak sama dengan hipovolemi yang berarti berkurangnya cairan intravaskuler. Namun dehidrasi merupakan salah satu akibat lanjutan dari hipovolemi.

20

B. SARAN Berdasarkan beberapa kesimpulan diatas maka,penulis mengajukan beberapa saran yang ditujukan kepada diri saya sendiri dan mengajak kepada teman-teman maupun pembaca lain untuk menjadi bahan pertimbangan dan masukan demi meningkatkan mutu dan kualitas kita sebagai seorang perawat.Yaitu: i. Perlunya mempelajari secara mendalam tentang materi cairan dan elektrolit ini, untuk dapat memahami dan megerti tentang apa yang dimaksud dengan cairan dan elektrolit serta pentingnya cairan dan elektrolit terhadap tubuh manusia. ii. Pentingnya mengetahui mekanisme-mekanisme, proses dan semua yang terjadi dalam tubuh yang berhubungan dengan cairan dan elektrolit serta gangguan-gangguan yang dapat diakaibatkan oleh cairan dan elektrolit sehingga kita sebagai perawat dapat mengetahui sampai dimana dan mengapa gangguan yang disebabkan oleh cairan dan elektrolit ini sehingga kita dapat menentukan dan merencanakan tindakan keperawatan apa yang akan kita lakukan atau kita berikan kepada pasien dengan gangguan yang disebabkan atau gangguan yang menyebabkan cairan dan elektolit tidak dalam keadaan yang normal. Sehingga kita dapat menjadi seorang Dokter yang Profesioanal dalam menangani pasien kita nantinya. Aamiin.

21

DAFTAR PUSTAKA

Guyton AC, Hall MN: Textbook of Medical Physiology, 10/e. Philadelphia, WB Saunders, 2000. Rhoades RA, Tanner GA: Medical Physiology. Boston, Little Brown and Company, 1995. www.pssplab.com/journal/01.pdf http://ababar.blogspot.com/2012/02/kebutuhan-cairan-tubuh-manusia.html http://iyah2008.files.wordpress.com/2011/03/cairan-tubuh.jpg http://www.scribd.com/doc/7244500/Kebutuhan-Cairan-Dan-Elektrolit http://www.scribd.com/doc/17059905/Cairan-Dan-Elektrolit-Dalam-Tubuh-Manusia http://www.docstoc.com/docs/76025823/materi-ajar-cairan-dan-elektrolit-tubuh

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->