Modul III

Turunan (Diferensial)
Definisi turunan pertama
Turunan pertama dari suatu fungsi pada suatu titik merupakan koefisien arah
dari fungsi pada titik itu. Koefisien arah b dari suatu garis lurus merupakan tangen
sudut inklinasi (kecenderungan atau rasio perubahan dalam jarak vertikal dengan jarak
horizontal ketika suatu titik bergerak sepanjang garis ke mana saja. Jadi turunan dalam
suatu fungsi y = f(x) ialah suatu pertambahan x(=∆x) yang mengakibatkan pertambahan
y(=∆y) dalam hubungan fungsi itu. Misal fungsi y=a+bx dengan grafiknya.
0 X
1
X
2
Y
1
Y
2
Y
X
Y = f ( x )
Q ( X
2
, Y
2
)
P ( X
1
, Y
1
)
X
Y
Koefisien arah dari setiap garis adalah konstan yaitu tingkat atau laju perubahan dari y
ketika x berubah, konstan sepanjang garis itu. Akan tetapi untuk kurva lainnya,
koefisien arah tidak konstan dan harus ditentukan untuk setiap titik tertentu.
Misal bahwa pada titik P(x
1
,y
1
) dan titik Q(x
2
,y
2
) adalah titik pada y=f(x).
Koefisien arah dari garis yang menghubungkan P dan Q adalah:
x
y
x x
y y
b tg


·


· ·
1 2
1 2
ϕ
Hubungan antara x dan y dalam fungsi y=f(x), maka dapat ditulis hubungannya
sesudah pertambahan tersebut.
Differensial
57
x
) x ( f ) x x ( f
x
lim
x
y
x
lim
: maka , x Jika
x
) x ( f ) x x ( f
x
y
) x ( f ) x x ( f y
y ) x x ( f y
) x x ( f y y

− ∆ +
→ ∆
·


→ ∆
→ ∆

− ∆ +
·


− ∆ + · ∆
− ∆ + · ∆
∆ + · ∆ +
0 0
0
x
y


disebut kuosien diferensi dan mencerminkan tingkat perubahan rata-rata variabel
terikat y terhadap variabel bebas x. Proses penurunan sebuah fungsi disebut juga proses
pendeferensian atau diferensi, jadi pada dasarnya merupakan proses penarikan limit atas
suatu kuosien diferensi dalam hal pertambahan variabel bebasnya mendekati nol. Hasil
yang diperoleh dari proses diferensiasi tersebut dinamakan turunan atau derivatif dan
ditulis dengan
dx
dy
atau y’ atau f’(x) dan didefinisikan sebagai:
x
) x ( f ) x x ( f
x
lim
x
y
x
lim
dx
dy

− ∆ +
→ ∆
·


→ ∆
·
0 0
Contoh: Hitunglah
dx
dy
dari fungsi y=f(x) = x
2
Penyelesaian:
y+∆y=(x+∆x)
2
y+∆y=x
2
+2x∆x+∆x
2
∆y=x
2
+2x∆x+∆x
2
-y
∆y=x
2
+2x∆x+∆x
2
-(x
2
)
∆y=x
2
+2x∆x+∆x
2
-x
2
∆y=2x∆x+∆x
2
x
dx
dy
x x
x
lim
x
y
x
lim
x
y
2
2
0 0
·
∆ +
→ ∆
·


→ ∆
·


Differensial
58
Contoh 2: carilah
dx
dy
dari fungsi y=5x
2
+3
Penyelesaian:
x x x
x
lim
dx
dy
x
x x x x x
x
lim
dx
dy
x
x ) x x x x (
x
lim
dx
dy
x
) x ( ) x x (
x
lim
dx
dy
10 5 10
0
3 5 3 5 10 5
0
3 5 3 2 5
0
3 5 3 5
0
2 2 2
2 2 2
2 2
· ∆ +
→ ∆
·

− − + ∆ + ∆ +
→ ∆
·

− − + ∆ + ∆ +
→ ∆
·

+ − + ∆ +
→ ∆
·
Contoh 3: carilah
dx
dy
dari fungsi y=x
2
+3x-10
Penyelesaian:
x
x x x x
x dx
dy
x
x x x x x x x x
x dx
dy
x
x x x x x x
x dx
dy
x
x f x x f
x dx
dy

∆ + ∆ + ∆
→ ∆
·

+ − − − ∆ + + ∆ + ∆ +
→ ∆
·

− + − − ∆ + + ∆ +
→ ∆
·

− ∆ +
→ ∆
·
) 3 2
0
lim
10 3 10 3 3 2
0
lim
) 10 3 ( 10 ) ( 3 ) (
0
lim
) ( ) (
0
lim
2
2 2 2
2 2
3 2 3 2
0
lim
) 3 2 (
0
lim
+ · + ∆ +
→ ∆
·

+ ∆ + ∆
→ ∆
·
x x x
x dx
dy
x
x x x
x dx
dy
Soal Latihan
Carilah turunan fungsi (turunan pertama) yaitu
dx
dy
menurut definsi turunan:
1. y=f(x)=3x
2
-x
2. y=f(x)=x
3
+2x
3. x
2
-2x+5
4. y=2x
2
+2
Differensial
59
3.2. Kaidah-kaidah Diferensial
Kaidah-kaidah diferensial (turunan) adalah aturan-aturan yang meliputi
pengerjaan bagaimana menurunkan suatu fungsi. Suatu fungsi dikatakan dapat
diferensiasi di titik x=x
0
, jika turunan di titik tersebut ada. Suatu fungsi dikatakan dapat
diferensir pada suatu interfal/selang, jika dapat dideferensir di setiap titik dalam interval
tersebut.
Kaidah Diferensial fungsi Aljabar
Bila U dan V merupakan fungsi-fungsi x yang dapat diferensir, maka
1. y=k; k=konstanta
0 10
0
1
· → ·
· · ·
dx
dy
y : Contoh
y ) k (
dx
d
dx
dy
2. y=U
n
3 1 4 4
1
4 4 x x
dx
dy
x y : Contoh
) x ( f u ; nU ) U (
dx
d
dx
dy
n n
· · → ·
· · ·


3. y=kU, k=konstanta.
4 4 5
1
15 5 3 3 x x ) (
dx
dy
x Y : Contoh
kU ) U (
dx
d
k ) kU (
dx
d
dx
dy
· · → ·
· · ·
4. y=Ut V; U=f(x); V=f(x)
x x
dx
dy
x x y
: Contoh
V U ) U (
dx
d
) V (
dx
d
) V U (
dx
d
dx
dy
10 3
5
2
2 3
1 1
+ ·
+ ·
t · t · t ·
5. y=UV; U=f(x); V=f(x)
U V UV U
dx
d
V V
dx
d
U
dx
dy
1 1 1
) ( ) ( + · + ·
Differensial
60
4
4 4 2 2 3
2 3
20
12 8 ) 3 ( 4 ) 8 (
) 4 )( ( :
x
dx
dy
x x x x x x
dx
dy
x x y Contoh
·
+ · + ·
·
6. y=U/V; U=f(x); V=f(x)
4
1
16
4
16
8 12
4
8 3 4
4
0
4
4
4
4 4
2 2
3 2 2
2
3
2
1 1
2
· ·

·

· → ·


·

·
x
x
x
x x
dx
dy
) x (
) x ( x ) x ( x
dx
dy
x
x
y : Contoh
V ;
V
UV VU
v
) V (
dx
d
U ) U (
dx
d
V
dx
dy
7. y=
v
k
; k=konstanta; v=f(x)
x dx
dy
y
x
x
) x (
) x (
dx
dy
x
y : Contoh
V
kV
V
) V (
dx
d
k
dx
dy
5
4
25
20
5
10 2
5
2
1
4 2 2 2
2
1
2
· ·
· · → ·
· ·
Kaidah Differensial Fungsi Logaritma
Dalam matematika, terutama mengenai fungsi logaritma, banyak timbul
suatu limit yang nilainya e, yaitu:
Lim (1+
n
1
)
n
= e
n∞
Kalau n diganti dengan bilangan-bilangan 2,3,4,… sampai tak terhingga
(1+
2
1
)
2
= 2,…
(1+
3
1
)
3
= 2,…
(1+
4
1
)
4
= 2,…
Differensial
61
sampai n = ∞
(1+
n
1
)
n
= 2,71828182… = e
Bilangan e dalam teori adalah pokok bilangan logaritma asli (alami). Logaritma
asli/alami itu ditulis dengan lambang ”ln”.
Contoh:
e
log e = 1 ditulis dengan ln e = 1
Penyelesaian:
Jika suatu fungsi y=logx, maka turunannya:
e log
x dx
dy
x log y jadi
e log
x
' y
dx
dy
x
e log
x
)
x
x
(
x
lim
log ' y
dx
dy
x
)
x
x
log(
x
x
x
lim
' y
dx
dy
x
)
x
x
log(
x
lim
x
x
) x x (
log
x
lim
' y
dx
dy
x
x log ) x x log(
x
lim
' y
dx
dy
x
x
1
1
1
0
1
0
1
0 0
0
· → ·
· ·
·
1
1
1
1
]
1

¸


+
→ ∆
· ·

+

→ ∆
· ·


+
→ ∆
·

∆ +
→ ∆
· ·

− ∆ +
→ ∆
· ·

Contoh:
1. y = log3x  y = log 3 + log x
y = 0,4771+logx 
dx
dy
= 0 +
x
1
log e =
x
1
log e
2. y = log 3x
2
 y = log 3 + log x
2
= log 3 + 2log x
dx
dy
= 0 +
x
2
log e =
x
2
log e
++ Jika y = ln x, maka turunannya:
dx
dy
= y’=
x
1
Differensial
62
Contoh:
1. y = ln x2  y = 2 ln x
dx
dy
= 2 .
x
1
=
x
2
2. y = 5 lnx
3
 y = 15 ln x
dx
dy
= 15.
x
1
=
x
15
++ Jika y = log u, dimana u=f(x) adalah fungsi diferensiabel dari x, maka turunannya:
( )
dx
du
e
U
U
dx
d
e
U dx
dy
log
1
log
1
· ·
e
x
e
x dx
dy
dx
du
x U x y
x y x y
Contoh
log
5 3
9
) 3 ( log
5 3
3
0
3 5 3 ); 5 3 log( 3 301 , 0
) 5 3 log( 2 log ) 5 3 ( 2 log
:
3 3
+
·
+
+ ·
· → + · + + ·
+ + · → + ·
++ Jika y = ln U, dimana U=f(x) adalah fungsi diferensial dari x, maka turunannya:
dx
du
U
) U (
dx
d
U dx
dy 1 1
· ·
Contoh:
y = ln (2x
2
+5x)
2

Misal U = 2x2+5x 
dx
du
= 4x + 5
y = ln U  y = 2 ln U
x x
x
x x
) x (
dx
dy
) x (
x x
) x (
U dx
dy
5 2
10 8
5 2
5 4 2
5 4
5 2
2
5 4
2
2 2
2
+
+
·
+
+
·
+
+
· + ·
Untuk memudahkan memahami diferensial atau turunan fungsi logaritma, secara
singkat diberikan rumus-rumus logaritma:
Differensial
63
b b log a .
x log n x log .
log .
a log .
b a : maka , c b log .
b log
a log
b log .
b log a log
b
a
log .
b log a log ab log .
a
n
a
a
c a
a
·
·
·
·
· ·
·
− ·
+ ·
8
7
0 1 6
1 5
4
3
2
1
3.2.3. Diferensial (Turunan) fungsi eksponensial
++ Jika y=e
x
, maka
dx
dy
= e
x
Contoh:
1. y = 4 e
x

dx
dy
= 4e
x
++ Jika y = e
u
, dimana U=f(x) adalah fungsi diferensibel dari x, maka turunannya:
dx
du
e U
dx
d
e
dx
dy
u u
· · ) (
x x x x
x x
e x x e
dx
dy
x
dx
du
x x U Misal
e Y
Contoh
2 3 3 2
3 4
2
4 4
4
2 4 ) 2 4 (
2 4 2 :
. 1
:
+ − + −
+ −
+ − · + − ·
+ − · → + − ·
·
6 3 2 3
6 3
3 ) 3 (
3 6 3 :
. 2
+ +
+
· ·
· → + ·
·
x x
x
e e
dx
dy
dx
du
x u misal
e Y
Differensial
64
) 1 ln 2 (
] ln 2 [
] ln 2 [
)
1
( ln 2
1
ln ln
. 4
] 1 )[ 1 ( 2
)] 1 ( 1 [ ) 1 ( 2
2 ) 1 ( ) 1 ( 2
) 1 ( 2 ) 1 )( 1 ( 2
) 1 (
2
) 2 ( :
) 1 ( . 3
2
2
2
2
2
2 2
2
2 2
2
2
2
2 2
2
2 2 2
2
2
2 2
2 2
+ ·
+ ·
+ ·
+ ·
·
·
+ + + ·
+ + + ·
+ + + ·
+ ·
+ · + ·
+ ·
·
· → ·
+ ·
+
+
+ +
+
+ +
+
x x x
dx
dy
x x x x
dx
dy
x x x y
dx
dy
x
x x x
dy
dx
y
x x y
x y
e x x x
x x e x
xe x x e
dx
du
V
dx
dv
U
dx
dy
x x
dx
dv
x V
xe
x e
dx
du
e U misal
x e Y
x
x
x
x
x
x x
x
x x
x

,
_

¸
¸
+ ·
1
]
1

¸

+ ·
+ ·
· → ·
x
x
e x
dx
dy
x e
x
e
y
dx
dy
x e
x
e
dx
dy
y
x e y x y
x e
x
x
x x
x e
x
x
ln
1
ln
ln )
1
(
1
ln ln . 5
++ Jika y = a
x
maka turunannya:
a a a y
dx
dy
x
ln ln · ·
Differensial
65
10 ln 10 10 . 1
:
x x
dx
dy
y
Contoh
· → ·
++ Jika y=a
u
, dimana U=f(x) adalah fungsi diferensiabel, maka turunannya:
( )
( ) 10 ln 10 1 2
1 2 10 ln 10
1 2 :
10 . 2
ln ) 2 3 (
) 2 3 ( ln
2 3 2 :
. 1
:
ln ) ( ln
2
2
2
3
3
3
2
2 2
2 2
2 3
2
x x
x x
x x
x x
x x
x x
u u
x
x
dx
dy
x
dx
du
x x U misal
y
a a x
dx
dy
x a a
dx
dy
x
dx
du
x x U misal
a y
Contoh
dx
du
a a U
dx
d
a a
dx
dy



+
+
+
− ·
− ·
− · → − ·
·
+ ·
+ ·
+ · → + ·
·
· ·
Latihan Soal
Hitunglah turunan pertama (
dx
dy
) dari fungsi berikut:
1. y = 10x
4
2. y = 4 √x
3. y = 2x
4
– 6x
3
+8x
2
+10
4. y = x
3
(x
2
+4)
5.
1
2
+
·
x
x
y
6.
2 5
3
+ + · x x y
7. y = log(2x+10)
2
8. y = ln (x
2
+1)
4
9. y = e
2x+1
10. y = e
2x
ln(x
2
+3x)
2
Differensial
66
11.
x
x
y
) 1 ln( +
·
12. y = x
2
(x+1) + lnx
2
13. y = ln (x+√x+4)
14. y = 8
3x+2
15. y = a
x
x
a
2.2.4. Diferensial Fungsi Kebalikan
Diferensial dari fungsi kebalikan (inverse) sama dengan kebalikan dari
turunan fungsinya. Jika y=f(x) dan x=g(x) adalah fungsi diferensiabel inverse, maka:
dy
) y ( dg
dx
) x ( df
atau ,
dy
dx
dx
dy
1
1
·
·
Contoh :
1. Jika x = y
3
+ 5y
2
+ 10. Carilah
dx
dy
y y
dx
dy
dx
dy
y y
dx
dy
10 3
1 1
10 3
2
2
+
· ·
+ ·
2. Jika x =
3
1
y
3
+ 2y. Cari
dx
dy
2
1 1
2 2
3
1
3
2
2 2
+
· ·
+ · +

,
_

¸
¸
·
y
dy
dx
dx
dy
y y
dx
dy
3. Jika x = ln (y
3
+3y+5). Carilah
dx
dy
Differensial
67
( )
3 3
5 3
5 3
3 3
3 3
5 3
1
2
3
3
2
2
3
+
+ +
·
+ +
+
·
+
+ +
·
y
y y
dx
dy
y y
y
dy
dx
y
y y dy
dx
4. Jika
dx
dy
Carilah , e x
y y 2
2
+ −
·
( )
y y
y y
e y
dx
dy
) y ( e
dy
dx
2
2
2
2
2 2
1
2 2
+ −
+ −
+ −
·
+ − ·
2.2.5. Diferensial (Turunan) tingkat lebih tinggi
Dalam beberapa masalah sering suatu fungsi diturunkan lebih dari satu kali.
Hasil dari dua atau lebih penurunan suatu fungsi disebut sebagai turunan tingkat lebih
tinggi (higher order derivative)
Turunan dari turunan pertama adalah turunan kedua dan diberi simbol
2
2
dx
y d
atau
y’’ atau f’’’(x). Turunan kedua diturunkan lagi menjadi turunan ketiga yakni
3
3
dx
y d
atau
y’’’ atau f’’’(x) dan seterusnya. Secara umum turunan ke n dari y=f(x) diperoleh dengan
menurunkan sebanyak n kali dan dinyatakan dengan:
) y (
dx
d
atau , Y atau ), x ( f atau
dx
y d
n
) n ( n
n
n
Differensial
68
Contoh:
0
2880
2880
1440
36 480
4 36 120
4 12 24
1 2 3 4 . 1
7
7
6
6
5
5
2
4
4
3
3
3
4
2
2
3 5
2 4 6
·
·
·
·
− ·
+ − ·
+ − ·
+ + − ·
dx
y d
dx
y d
x
dx
y d
x
dx
y d
x
dx
y d
x x
dx
y d
x x x
dx
dy
x x x y
2.2.6. Diferensial Fungsi Implisit
Fungsi y = f(x) yang selalu kita gunakan dalam pembahasan selama ini
merupakan fungsi eksplisit. Kadang-kadang kita temui beberapa persamaan berbentuk
f(x,y)=0 yaitu menunjukan y sebagai fungsi implisit. Untuk mencari turunannya dapat
dilakukan melalui dua cara yaitu:
1. Bentuk fungsi diubah lebih dahulu kedalam fungsi eksplisit, baru kemudian
dicari turunannya.
2. Dipecahkan melalui cara diferensial fungsi implisit.
Contoh:
( )
1 2
2
2 1 2
2 2
0 2 2
, 0 . 1
2
2
2
2
2 2
+

·
− · +
− · +
· + − +
· + −
xy
y x
dx
dy
y x
dx
dy
xy
y x
dx
dy
dx
dy
xy
dx
dy
x y
dx
dy
xy
dx
dy
carilah y x xy
Differensial
69
2 4 2
0 2 2 4
0 2 . 2
3 2
2 3
2 2 4
+ − · +
· − + +
· − + +
x
dx
dy
dx
dy
y x
dx
dy
dx
dy
y x x
x y y x x
2.2.7. Diferensial Fungsi Berantai
Bila y adalah suatu fungsi dari U dan U merupakan dari x, maka y adalah
fungsi dari suatu fungsi atau dapat dikatakan merupakan suatu fungsi berantai.
Jika y = g(u) dan u = h(x) atau y = g [h(x)] = f(x), maka turunannya adalah:
Differensial
70
( )
x
dx
du
x u misal
dx
dy
Carilah x y
Contoh
dx
du
du
dy
dx
dy
2 1 :
, 1 1
:
.
2
3
2
2
· → + ·
+ ·
·
( )
( )
3
1
2
3
1
2
3
1
3
1
1
3
2
3
2
1 3
4
2 . 1
3
2
2 .
3
2
3
2
3
2
+
· + ·
·
· ·
·


− −
x
x
x x
dx
dy
x U
dx
dy
U U
du
dy
U Y
( )
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
( ) ( )
2
2
2
2
2
2
2
2 2
2
5
2
4
4 5
2
5
2
1 3
6
1 3
1
6
6
1 3
1
1
1
1
1
1
1 1 1
, 3 ,
1
. 3
1 4 1 2 5
1 4 5
5
1 4 1 2 :
1 2 . 2
+
·
+
·
·
+
·
+
·
+
− +
·
+
− +
·
·
·
+
·
+ + + ·
+ ·
·
· → ·
+ · → + + ·
+ + ·
U
U
U
U
du
dx
U
du
dy
U
Y
dx
dy
Y
Y Y
y
y y
dy
dx
du
dy
dy
dx
du
dx
dy
dx
Carilah U y
y
y
x
x x x
dx
dy
x U
dx
dy
dx
du
du
dy
dx
dy
U
du
dy
U Y
x
dx
du
x x u misal
x x Y
2.2.8. Diferensial Fungsi Trigonometri
Fungsi trigonometri dinyatakan dalam bentuk y = Sin x; y = Cos x; y = tgx
dan sebagainya, x=menyatakan besar suatu sudut dan y=menyatakan nilai fungsi. Besar
sudut ditentukan dengan radian.
Turunan y=f(x)=Sinx adalah f’(x)=y’=Cosx atau
dx
d
(Sinx) = Cosx
1. Cosx
dx
dy
y x y · · → · ' sin
Differensial
71
( )
( ) ( )
( ) Cosx x Cos x x Cos
x
x x Cos
x
x
x Sin
x
x
x x xCos
x
x
x x xCos
x
x
x x x x x
x
x
Sinx x x Sin
x dx
dy
Bukti
· + ·
,
_

¸
¸
∆ +
→ ∆
·

,
_

¸
¸
∆ +
→ ∆


→ ∆
·

,
_

¸
¸
∆ + ∆
→ ∆
·

,
_

¸
¸
∆ + ∆
→ ∆
·

∆ + − ∆ +
→ ∆
·

− ∆ +
→ ∆
·
) 0 (
2
1
2
1
0
lim
. 1
2
1
0
lim
.
2
1
2
1
0
lim
2
1
. 2
2
1
2
1
sin 2
0
lim
2
1
2
1
sin 2
0
lim
2
2
1
cos
2
1
sin 2
0
lim
0
lim
:
Dengan Cara yang sama, maka:
xCtgx Co
dx
dy
x Co y
SecxTgx
dx
dy
Secx y
x Co
x Sin dx
dy
Cotgx y
x Sec
x Cos dx
dy
tgx y
Sinx
dx
dy
Cosx y
sec sec . 6
. 5
sec
1
. 4
1
. 3
. 2
2
2
2
2
− · → ·
· → ·
− − · → ·
· · → ·
− · → ·
Bila u=f(x), maka:
Differensial
72
dx
du
UCtgU Co
dx
dy
U Co y
dx
du
SecUtgU
dx
dy
SecU y
dx
du
U Co
dx
dy
atau
dx
du
U Sin dx
dy
CtgU y
dx
du
xU Sec
dx
dy
atau
dx
du
U Cos dx
dy
tgU y
dx
du
SinU
dx
dy
CosU y
dx
du
CosU
dx
dy
SinU y
sec sec . 6
. 5
sec
1
. 4
1
. 3
. 2
. 1
2
2
2
2
− · → ·
· → ·
− ·
− · → ·
·
· → ·
− · → ·
· → ·
Beberapa Contoh
x Sin
dx
dy
x Cos
x Cos CosU CosU
dx
dy
CosU
du
dy
y SinU y
dx
du
u x
x Sin y
2 2 2 . 2
5 5 5 ) 5 (
'
5 5
5 . 1
− · →
· · ·
· · → ·
· → ·
·
Cosx Sinx y + · . 3
Carilah gradien grafik fungsi pada π
4
1
· x
y=Sinx+Cosx
0 2
2
1
2
2
1
4
1
4
1
'
· − ·
− ·
− · ·
π π Sin Cos
dx
dy
Sinx Cosx y
dx
dy
Differensial
73
x Cos x Sin
dx
dy
x Cos U x Cos U
dx
dy
y
U
dx
dy
U y
x Cos
dx
du
x Sin U misal
x Sin
3 3 12
3 12 3 3 4 '
4
3 3 3
3 . 4
3
3 3
3 4
4
·
· · ·
· → ·
· → ·
Soal Latihan
Carilah turunan pertama (
dx
dy
) dari fungsi trigonometri berikut:
1. y = Sin (1- x
2
1
)
2. y = Cos
2
4x
3. y = Sin2xTgx
4. y = 4Sec2x + Cos
3
2x
5. y = Cos(2-x)
6. y = Cos (3x
2
-1)
7. y = x
2
Sin3x
8. y =
x
x Cos2
9. y =
Sinx
3 2
3
10. y = xcosx + 2x
3
Sinx
11. y = ½ TgxSin2x
12. y = Sin2x
x x 4
2
+
13. y = Sin
3
(2x+1) Cos2x
14. y =
x
Sinx
3
2
15. Tentukan persamaan garis singgung pada parabola
y=5x
2
+ 2x – 12 di titik (2,12)
16. Tentukan persamaan garis singgung di titik (1,-1)
pada kurva
x
x y
2
2
− ·
Differensial
74
17. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y =
(x
2
+ 1)
2
di titik dengan absis x=1.
18. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y =
2√x di titik (4,4). Carilah titik potong dengan sumbu x.
19. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y =
x
2
+ 5 yang sejajar dengan garis 12x – y = 17.
20. Jika garis singgung kurva y = ax + bx
-2
pada titik (-
1,1) sejajar dengan garis 4x – y + 65 = 0. Tentukan nilai a dan b.
3.3. Penentuan Gradien Garis Singgung Kurva
Misal garis g menyinggung kurva y=f(x) di titik (a,f(a)) maka gradien g adalah:
( )
) (
) (
0
lim
1
a f
x
a f x a f
x
tg mg
·

− ∆ +
→ ∆
· · α
Y = f ( x )
x
X
Y
a
g
Y = f ' ( a )
f ( a + x ) - f ( a )
Apabila titik P (x
o
,y
o
) pada kurva y = f(x) maka gradien (koefisien arah) dari garis
singgung kurva di P adalah:
( )
0 0
, y x
dx
dy
mg ·
Adapun persamaan garis singgung pada kurva di titik P adalah:
y - y
o
= mg (x - x
o
)
Contoh:
1. Tentukan gradien garis isnggung pada kurva y=x
2
+3x di titik (1,4)
Penyelesaian:
y=x
2
+3x
Differensial
75

dx
dy
= 2x + 3
Koefisien arah (gradien) garis singgung kurva di titik (1,4) adalah :
mg = y’(1) = 2(1) + 3 = 5
mg = 5
2. Diberikan kurva parabola y=x
2
. Titik P(2,4) terletak pada kurva parabola.
Tentukan persamaan garis singgung di P pada kurva tersebut.
Penyelesaian:
y=x
2

x
dx
dy
2 ·
mg =
dx
dy
di titik P = 2(2) = 4
Persamaan garis singgung di P (2,4)
y-4=4(x-2)
y-4=4x-8
y=4x-4
3.4. Garis Normal
Garis yang tegak pada garis singgung di titik singgungnya pada kurva y=f(x)
dinamakan garis normal atau normal kurva.
Dari grafik dapat dilihat bahwa,
Differensial
76
Y = f ( x )
G a r i s s i n g g u n g g
P
X
Y
1
α α
( )
α
α α α
tg
Ctg tg tg

· − · + ·
1
90
0
1
m tg
1 1
·
− α
Jadi gradien dari garis normal adalah
m
1

, dengan m gradien dari garis singgung.
Persamaan dari garis normal pada kurva di titik P(x
o
, y
o
) adalah:
( )
0 0
1
x x
m
y y − − · −
Contoh:
Diberikan persamaan parabola y=x
2
diamana titik P (2,4) terletak pada parabola.
Tentukan persamaan normal kurva di titik P tersebut.
Penyelesaian:
y=x
2

x y
dx
dy
2
'
· ·
mg=2(2) = 4
Gradien persamaan normal kurva =
m
1

. Persamaan normal kurva
y-4=-1/4(x-2)
y-4=-1/4x+1/2
y=-1/4x + 4 ½
(2x
2
y+1)
dx
dy
= -4x
3
+2
Soal Latihan
1. Carilah
dx
dy
dari:
a. x = log (2y+1)
2
b. x = ln (y
2
+5y+10)
2. Jika
1
2
+ · t x
, Carilah
dx
dt
dan
2
2
dx
t d
3. Carilah turunan kedua dari fungsi-fungsi berikut
a. y = e
2x
b. y = e
ln(x2-3x)
4. Jika persamaan x
2
y+y-25=0, Carilah
dx
dy
Differensial
77
1 2
2 4
2
3
+
+ −
·
y x
x
dx
dy
5. Jika persamaan x
2
-y
2
-1=0, carilah
dx
dy
6. Jika x
3
+y
3
-3xy=0, Carilah
dx
dy
3.5. Penentuan Selang (Interval) Fungsi Naik dan
Turun
Jika kurva y=f(x) naik apabila f’(x)>c dan kurva y=f(x) turun apabila f’(x)<c.
Selang (interval) yang menentukan f’(x)>0 dan f’(x)<0 dapat ditentukan dengan
menggambarkan garis bilangan dari f’(x).
Contoh:
Tentukan selang fungsi naik dan turun dari y=f(x)=x
3
+3x
2
-24x
Penyelesaian:
y=f(x) = x
3
+3x2-24x
= 3(x
2
+2x-8)
= 3(x+4)(x-2)
x
1
= -4; x
2
= 2
+ + + + + - - - - - - - - - - - - - + + + + + +
-4 0 2 f’(x)
f’(x)>0 untuk x<-4 atau x>2
f’(x)<0 untuk –4<x<2
Dengan demikian, maka fungsi naik untuk x<-4 atau x>2 dan fungsi turun untuk
-4<x<2.
Persamaan garis singgung pada lingkaran di titik P(x
1
,y
1
) adalah:
x
1
.x + y
1.
y = r
2
Contoh:
Tentukan persamaan garis singgung pada lingkaran x
2
+y
2
=25 yang ditarik dari titik
(0,10).
Penyelesaian:
Persamaan garis singgung pada lingkaran x
2
+y
2
=25 adalah 0x+10y = 25
10y=25 
2
5
10
25
· · y
Differensial
78
Untuk
2
5
· y maka x
2
+
2
2
5

,
_

¸
¸
= 25
x
2
=25 -
4
25
x = t
4
75
4
25
25 · −
x = t
3
2
5
Ambil x=+ 3
2
5
, maka persamaan garis singgung melalui titik ( 3
2
5
;
2
5
) adalah:
10 3 10 3
25
2
5
3
2
5
+ − · → · +
· +
x y y x
y x
3.6. Penerapan Diferensial Dalam Produksi Ternak
Perhitungan diferensial biasa digunakan dalam kecepatan (laju) pertumbuhan
berat badan, produksi susu dan produksi telur yaitu dengan mendeferensial fungsi
pertumbuhannya jika model pertumbuhan dinyatakan dengan y = f(x), maka kecepatan
pertumbuhan merupakan turunan pertama dari fungsi tersebut yaitu y’ = f’(x) =
dx
dy
.
Kurva Pertumbuhan
Kurva pertumbuhan yang normal dalam biologi termasuk dalam bidang peternakan
akan membentuk huruf S atau signoid. Model kurva pertumbuhan yang berbentuk huruf
S tersebut disebut kurva logistik dengan model matematika sebagai berikut:
) (
1
t f
e
k
y
+
·
y : berat masa (bisa berbentuk berat badan, produksi susu, dsb)
t : Waktu (bisa berbentuk umur)
k : Asymtot
f(t) = a
0
+ a
1
t + a
2
t
2
+ …+ a
k
t
k
(berbentuk polinomial)
Differensial
79
Untuk yang sederhana biasanya didekati dengan fungsi linier yaitu f(t) = a
0
+ a
1
x
sehingga modelnya menjadi :
kt
t a a
be
k
y
berbentuk bisa
atau
e
k
y

+
+
·
+
·
1
:
: ,
1
1 0
dan kurvanya adalah :
X
Y
Berdasarkan besarnya kecepatan tumbuh pertumbuhan dapat dibedakan dua macam
fase yang dibatasi oleh titik belok (titik refleksi), yaitu:
1. Fase akselarasi | pertumbuhan dini
2. Fase retardasi | fase pertumbuhan lambat
Pada fase akselarasi terjadi pertumbuhan yang cepat dengan laju pertumbuhan yang
tinggi. Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan massa kian meningkat dari waktu ke
waktu. Sebaliknya pada fase retardasi terjadi pertumbuhan yang lambat dengan laju
pertumbuhan yang kecil. Model kurva pertumbuhan dalam bidang peternakan ataupun
kurva pertumbuhan bakteri antara lain:
1. y = ab
x
b = koefisien pertumbuhan
Model diatas bisa dibuat menjadi model linier
dengan transformasi log atau ln
log y = log a + xlogb atau
log y = log a + log b(x) atau
ln y = ln a + ln b(x)
2. y = ax
b
(Model Alometrik)
Differensial
80
b = koefisien pertumbuhan
Model alometrik juga bisa dibuat linier seperti model diatas yaitu:
log y = log a + b logx atau ln y = ln a + b lnx
Adapun kurvanya berbentuk:
X
Y
X
Y
X
Y
Disamping model pertumbuhan tersebut masih banyak pertumbuhan yang lain
yang bisa digunakan dalam bidang peternakan.
Contoh:
Kurva pertumbuhan anak ayam broiler mengikuti model y = a(x+1)
b
dari umur
0 minggu sampai 6 minggu. Bila a=berat telas sebesar 40 g dan b, y=berat
badan; x=umur dalam minggu. Merupakan koefisien pertumbuhan sebesar 1,5
a. Berapa kecepatan pertumbuhan pada umur 4 minggu
b. Berapa berat badan anak ayam pada umur 6 minggu.
Penyelesaian:
y=a(x+1)
b
Kecepatan pertumbuhan: y’ =
dx
dy
= ab(x+=1)
b-1
dx
dy
= ab (x+1)
b-1

a=40 ; b=1,5 ; maka
dx
dy
= 40 (1,5) (4+1)
1,5-1
= 40 (1,5) (5)
0,5

= 134,16
b. Kecepatan pertumbuhan pada umur 4 minggu sebesar 134,16 g
c. Berat badan pada umur 6 minggu sebesar
y = a (x+1)
b
y = 40 (6+1)
1,5
Differensial
81
y = 740,81
Berat badan pada umur 6 minggu sebesar 740,81 g
3.7. Konsep Nilai Ekstrim
Dalam kehidupan sehari-hari baik di bidang ilmu pengetahuan maupun bidang
biologi (peternakan, pertanian, kedokteran), teknik dan bidang sosial, ekonomi kita
sering dituntut untuk menyelesaikan problema / msalah yang menyangkut konsep nilai
ekstrim. Dalam masalah ini fungsi tidak diberikan begitu saja melainkan berupa satu
masalah dimana kita dituntut untuk merubah menjadi kalimat matematika yang dapat di
ekivalensikan dalam bentuk suatu fungsi tertentu. Jadi kita harus memilih dari sekian
persamaan tersebut manakah yang merupakan variabel tidak bebas. Interpertasi ini
sangat penting sekali, karena dengan interpertasi yang slah akan kita dapatkan suatu
bentuk fungsi yang lain sekali dari yang kita harapkan dan juga ekstrimnya
menyimpang dari apa yang kita harapkan.
Lokal (relatif)
Maksimum
Absolut
Nilai Ekstrim
Lokal (relatif)
Minimum
Absolut
3.7.1. Maksimum dan Minimum
Suatu fungsi y = f(x) dikatakan mempunyai maksimum lokal (maksiumum
relatif) pada x = a bila f(a) lebih besar dari sebarang nilai f(x) lainnya dari x disekitar a
dan dikatakan mempunyai minimum lokal (minimum relatif) pada x=a bila f(a) lebih
kecil dari sebarang nilai f(x) lainnya untuk x disekitar a. Maksimum dan minimum lokal
suatu fungsi ini adalah maksimum dan minimum untuk jarak tertentu yang berdekatan,
sedangkan maksimum dan minimum absolut dari suatu fungsi mempunyai jarak yang
lebih besar lagi dan terletak pada titik paling tinggi atau paling rendah dari jarak
tersebut, melebihi maksimum atau minimum lokal yang manapun. Jadi dapat dikatakan
bahwa f(x) mempunyai nilai maksimum absolut pada nilai x=a dalam batas b≤ x≤ c,
apabila nilai f(x) pada x=a, mempunyai nilai paling tinggi, f(a1)>f(x).
Sedangkan f(x) mempunyai nilai maksimum lokal pada x=a dalam batas b≤ x≤ c,
apabila nilai f(x) pada x=a
2
mempunyai nilai terbesar dibandingkan nilai f(x) yang
Differensial
82
berdekatan dengan nilai a
2
. Dengan cara yang sama pula dapat kita katakan konsep
minimum lokal. Dengan demikian suatu fungsi yang mempunyai titik minimum
kurvanya berbentuk cembung ke bawah (convex down ward). Bisa terjadi satu nilai
maksimum lokal dari suatu fungsi lebih kecil dari nilai minimum lokal dari fungsi
tersebut dalam suatu jarak tertentu.
Apabila f’(a)=0 atau f‘(a) tidak tertentu jika a=0, maka a merupakan titik kritis yaitu
maksimum atau minimum. Dengan demikian nilai-nilai maksimum atau minimum bisa
diketahui dengan cara menentukan nilai-nilai kritisnya terlebih dahulu.
3.7.2. Penentuan Titik Kritis
Jika f(x) dapat dideferensir dalam selang b x a ≤ ≤ , jika f(x) memiliki nilai
relatif maksimum dan minimum di titik x=x
0
dimana
0 ) ( ' ,
0
· 〈 〈 x f maka b x a
. Titik
kritis ditentukan sebagai berikut :
Cara I
1. Tentukan f’(x) = 0 untuk harga – harga kritis.
2. Letakkan nilai – nilai kritis pada skala bilangan maka terbentuk beberapa selang.
3. Tentukan tanda dari f’(x) pada setiap selang.
4. Untuk x bertambah melalui setiap nilai kritis x = x
0
maka
- f (x) bernilai maksimum = f (x
0
) jika f’(x) berubah dari positif ke negatif.
- f (x) bernilai minimum = f (x
0
) jika f’(x) berubah dari negatif ke positif.
Differensial
83
M a k s L o k a l
M i n L o k a l
M a k s L o k a l
M i n L o k a l
c x b
absolut maks ) (
≤ ≤
c b
c x b
untuk absolut
≤ ≤
Min
x = b
f ( b )
- f (x) tidak bernilai maksimum atau minimum di x = x
0
jika f’ (x) tidak berubah.
Cara II
1. Tentukan f’(x) = 0 untuk harga – harga kritis.
2. Fungsi di deferensir sekali lagi (dicari turunan kedua) f’’(x)
- Bila
0 ) ( ' ' 〈 x f
mempunyai nilai maksimum.
- Bila
0 ) ( ' ' 〉 x f
mempunyai nilai minimum.
Contoh cara I
Jika fungsi y = f (x) = x
3
+ 3x
2
– 24x (Tentukan hatga ekstrim (Maks atau Min))
Jawab :
y = f (x) = x
3
+ 3x
2
– 24x
y’= f’(x) = 3x
2
+ 6x – 24 = 0
= x
2
+ 2x – 8
= 3 (x + 4) (x – 2) = 0
x
1
= - 4 dan x
2
= 2
+++++++++ ----------------------------- ++++++++++ f ‘ (x)
- 4 2
f’(x) berubah dari positif ke negatif bernilai maksimum untuk x = 4 , maka nilai
maksimum y = (- 4)
3
+ 3 (- 4)
2
– 24 (- 4) = 80
f’(x) berubah dari negatif ke positif bernilai minimum untuk x = 2 , maka nilai
minimum = 2
2
+ 3 (2)
2
– 24 (2) = - 28
Cara II
y = f (x) = x
3
+ 3x
2
– 24x
y’= f’(x) = 3x
2
+ 6x – 24
f’(x) = 0 3 (x + 4) (x – 2)
x
1
= - 4 x
2
= 2
f’’(x) = 6x + 6
untuk x
1
= 4 f’’(x) = 6 (-4) + 6 = -18 < 0
maka harga ekstrim maksimum adalah :
Differensial
84
y
maks
= (- 4)
3
+ 3 (-4) – 24 (- 4) = 80
Untuk x
2
= 2 f’’(x) = 6 (2) – 6 = 6 > 0
Maka harga ekstrim minimum
y
min
= (2)
3
+ 3 (2) – 24 (2) = -28
3.7.3. Titik Belok
Titik kritis yang bukan merupakan titik maksimum atau minimum dari suatu
fungsi f(x), berarti fungsi tersebut merupakan titik belok. Suatu fungsi yang turunan
keduanya d
2
y/dx
2
= y
’’
adalah nol (
2
2
dx
y d
= 0 ) maka fungsi tersebut mempunyai titik
belok selain mungkin juga mempunyai titik maksimum atau minimum lokal. Telah kita
ketahui bahwa bila
2
2
dx
y d
= y’’ < 0 berarti fungsi f(x) mempunyai titik maksimum dan
bila
2
2
dx
y d
> 0 berarti fungsi f(x) mempunyai titik minimum, sedangkan bila
2
2
dx
y d
= y’’ =
0 berarti f(x) mempunyai titik belok.
Contoh
Bila diketahui y = - x
3
+ 3x
3
+ 2x = 4, tentukan titik beloknya !
Jawab :
y = - x
3
+ 3x
3
+ 2x + 4
dx
dy
= y’ = - 3x
2
+ 6x + 2
2
2
dx
y d
= y’’= - 6x + 6
syarat mempunyai titik belok
2
2
dx
y d
= 0
- 6x + 6 = 0 - 6x = - 6
x = 1
Differensial
85
Berarti fungsi : y = - (1)
3
+ 3 (1)
2
+ 2 (1) + 4 = 8
Sehingga titik beloknya adalah ( 1, 8 )
Nilai ekstrim yang mengandung lebih dari dua variabel bebas
Nilai – nilai ekstrim dari sebuah fungsi yang mengandung lebih dari dua variabel bebas
dapat dicari dengan pengujian sampai turunan keduanya. Untuk y = f (x
1
, x
2
), maka
akan mempunyai titik ekstrim jika
0
1
·
dx
dy
dan
0
2
·
dx
dy
.
Syarat diatas adalah syarat yang diperlukan agar fungsinya mencapai titik ekstrim.
Guna mengetahui apakah titik ekstrim itu berupa titik maksimum atau minimum
dibutuhkan syarat yang dibutuhkan.
Maksimum bila
0
2
1
2
<
dx
y d
dan
0
2
2
2
<
dx
y d
Minimum bila
0
2
1
2
>
dx
y d
dan
0
2
2
2
>
dx
y d
Dalam hal
2
1
2
dx
y d
dan
2
2
2
dx
y d
sama dengan nol, tak bisa ditegaskan nilai ekstrimnya. Untuk
kasus semacam ini diperlukan penyelidikan dan penelitian lebih lanjut.
Contoh
Selidikilah apakah titik ekstrim dari fungsi berikut ini merupakan titik maksimum atau
titik minimum y = - x
1
2
+ 12x
1
– x
2
2
+ 10x
2
– 50
Jawab :
1.
1
dx
dy
= 0
1
dx
dy
= -2x
1
+ 12 = 0
- 2x
1
= -12 x
1
= 6
2.
2
dx
dy
= 0 - 2x
2
+ 10 = 0
- 2x
2
= - 10 x
2
= 5
y = - (6)
2
+ 12 (6) – (5)
2
+ 10 (5) – 50 = 21
0 2
2
1
2
< − ·
dx
y d
0 2
2
2
2
< − ·
dx
y d
Differensial
86
Kurva
2
1
2
dx
y d
dan
2
2
2
dx
y d
< 0 maka titik ekstrim maksimum dengan y
maks
= 21
3.8. Diferensial Parsial
Suatu fungsi yang hanya mengandung satu variabel bebas (independen) hanya
akan memiliki satu macam turunan. Apabila y = f(x), maka turunannya hanyalah y
terhadap x yaitu y’ =
dx
dy
atau f’(x) atau
dx
d
.
Sebaliknya jika suatu fungsi yang mengandung lebih dari satu variabel bebas,
maka tutunannya akan lebih dari satu macam sesuai dengan jumlah macam variabel
bebasnya. Jadi jika kita memiliki n macam variabel bebas, maka akan memiki n macam
tutunan.
Jika y = f ( x
1
, x
2
), maka akan terdapat dua macam tutunan , yaitu turunan y
terhadap x
1
dan y terhadap x
2
.
y = f ( x
1
, x
2
)
fx
1
(x
1
, x
2
) =
1
dx
dy
y
fx
2
(x
1
, x
2
) =
2
dx
dy
2
2
1
1
. . dx
dx
dy
dx
dx
dy
dy + ·
y = f ( x
1
, x
2
, x
3
)
f ( x
1
,

x
2
, x
3
) =
1
dx
dy
y’ f ( x
1
,

x
2
, x
3
) =
2
dx
dy
f ( x
1
,

x
2
, x
3
) =
3
dx
dy
3
3
2
2
1
1
. . . dx
dx
dy
dx
dx
dy
dx
dx
dy
dy + + ·
1
dx
dy
,
2
dx
dy
dan
3
dx
dy
adalah diferensial parsial, sedangkan dy adalah diferensial total.
Differensial
87
Contoh
y = x
1
4
+ 5x
2
2
– 4x
1
2
x
2
– 10 x
1
x
2
2
+ 5x
2
– 8
1.
1
dx
dy
= 4x
1
3
– 8 x
1
x
2
– 10 x
2
2
2.
2
dx
dy
= 10x
2
– 4x
1
2
– 20 x
1
x
2
+ 5
Dalam mendeferensialkannnya terhadap x
1
yang dilambangkan dengan
1
dx
dy
hanya suku
– suku yang mengandung variabel x
1
yang diperlukan, sedangkan suku – suku lainnya
dianggap sebagai konstanta, dan tutunannya adalah nol.
Differensial
88

y + ∆y = f ( x + ∆x ) ∆y = f ( x + ∆x ) − y ∆y = f ( x + ∆x ) − f ( x ) ∆y f ( x + ∆x ) − f ( x ) = ∆x ∆x Jika ∆x → 0 , maka : lim ∆y lim f ( x + ∆x ) − f ( x ) = ∆x → 0 ∆x ∆x → 0 ∆x ∆y disebut kuosien diferensi dan mencerminkan tingkat perubahan rata-rata variabel ∆x terikat y terhadap variabel bebas x. Proses penurunan sebuah fungsi disebut juga proses pendeferensian atau diferensi, jadi pada dasarnya merupakan proses penarikan limit atas suatu kuosien diferensi dalam hal pertambahan variabel bebasnya mendekati nol. Hasil yang diperoleh dari proses diferensiasi tersebut dinamakan turunan atau derivatif dan ditulis dengan dy atau y’ atau f’(x) dan didefinisikan sebagai: dx lim ∆y lim f ( x + ∆x ) − f ( x ) dy = = dx ∆x → 0 ∆x ∆x → 0 ∆x dy dari fungsi y=f(x) = x2 dx

Contoh: Hitunglah Penyelesaian: y+∆y=(x+∆x)2

y+∆y=x2+2x∆x+∆x2

∆y=x2+2x∆x+∆x2-y ∆y=x2+2x∆x+∆x2-(x2) ∆y=x2+2x∆x+∆x2-x2 ∆y=2x∆x+∆x2
lim ∆y lim ∆y = = 2 x + ∆x ∆x ∆x → 0 ∆x ∆x → 0 dy = 2x dx

Differensial

58

Contoh 2: carilah

dy dari fungsi y=5x2+3 dx

Penyelesaian: lim 5( x + ∆x ) 2 + 3 − ( 5 x 2 + 3 ) dy = dx ∆x → 0 ∆x lim 5( x 2 + 2 x∆x + ∆x 2 ) + 3 − 5 x 2 − 3 dy = dx ∆x → 0 ∆x lim 5 x 2 + 10 x∆x + 5∆x 2 + 3 − 5 x 2 − 3 dy = dx ∆x → 0 ∆x lim dy = 10 x + 5∆x = 10 x dx ∆x → 0

Contoh 3: carilah

dy dari fungsi y=x2+3x-10 dx

Penyelesaian: lim f ( x + ∆x ) − f ( x ) dy = dx ∆x → 0 ∆x lim ( x + ∆x) 2 + 3( x + ∆x) − 10 − ( x 2 + 3 x − 10) dy = dx ∆x → 0 ∆x lim x 2 + 2 x∆x + ∆x 2 + 3x + 3∆x − 10 − x 2 − 3 x + 10 dy = dx ∆x → 0 ∆x lim 2 x∆x + ∆x 2 + 3∆x) dy = dx ∆x → 0 ∆x lim ∆x(2 x + ∆x + 3) dy = dx ∆x → 0 ∆x lim dy = 2 x + ∆x + 3 = 2 x + 3 dx ∆x → 0 Soal Latihan Carilah turunan fungsi (turunan pertama) yaitu 1. y=f(x)=3x2-x 2. y=f(x)=x3+2x 3. x2-2x+5 4. y=2x2+2 dy menurut definsi turunan: dx

Differensial

59

y=UV. U=f(x). y=k.3. y=kU. y=U± V. Suatu fungsi dikatakan dapat diferensir pada suatu interfal/selang. V=f(x) dy d d d = (U ± V ) = (V ) ± (U ) = U 1 ± V 1 dx dx dx dx Contoh : y = x 3 + 5x 2 dy = 3 x 2 + 10 x dx 5. jika turunan di titik tersebut ada. Kaidah-kaidah Diferensial Kaidah-kaidah diferensial (turunan) adalah aturan-aturan yang meliputi pengerjaan bagaimana menurunkan suatu fungsi. Kaidah Diferensial fungsi Aljabar Bila U dan V merupakan fungsi-fungsi x yang dapat diferensir. y=Un dy d = ( U n ) = nU n −1 . u = f ( x ) dx dx dy Contoh : y = x 4 → = 4 x 4−1 = 4 x 3 dx 3. U=f(x). V=f(x) dy d d = U (V ) + V 1 (U ) = UV 1 + V 1U dx dx dx Differensial 60 . jika dapat dideferensir di setiap titik dalam interval tersebut. maka 1. Suatu fungsi dikatakan dapat diferensiasi di titik x=x0. k=konstanta.2. dy d d = ( kU ) = k ( U ) = kU 1 dx dx dx dy Contoh : Y = 3 x 5 → = 3( 5 )x 4 = 15 x 4 dx 4. k=konstanta dy d = ( k ) = y1 = 0 dx dx dy Contoh : y = 10 → =0 dx 2.

V ≠ 0 dx v2 V2 x3 dy 4 x 2 ( 3 x 2 ) − x 3 ( 8 x ) Contoh : y = 2 → = dx 4x ( 4 x 2 )2 dy 12 x 4 − 8 x 4 4x 4 1 = = = 4 4 dx 4 16 x 16 x k 7.… 3 1 (1+ )4 = 2. v=f(x) v d k (V ) dy kV 1 = dx 2 = 2 dx V V 2 dy 2( 10 x ) 20 x Contoh : y = 2 → = = dx ( 5 x 2 ) 2 25 x 4 5x dy 4 y1 = = dx 5 x Kaidah Differensial Fungsi Logaritma Dalam matematika. banyak timbul suatu limit yang nilainya e. yaitu: 1 Lim (1+ )n = e n n∞ Kalau n diganti dengan bilangan-bilangan 2. k=konstanta. y=U/V. U=f(x). y= .… 2 1 (1+ )3 = 2.… sampai tak terhingga 1 (1+ )2 = 2.… 4 Differensial 61 .Contoh : y = ( x 3 )(4 x 2 ) dy = x 3 (8 x) + 4 x 2 (3x 2 ) = 8 x 4 + 12 x 4 dx dy = 20 x 4 dx 6. terutama mengenai fungsi logaritma. V=f(x) d d V (U ) − U (V ) dy VU 1 − UV 1 dx = dx = .3.4.

maka turunannya: lim log( x + ∆x ) − log x dy = y' = ∆x → 0 dx ∆x ( x + ∆x ) ∆x log log( 1 + ) lim lim dy x x = y' = = ∆x → 0 ∆x → 0 dx ∆x ∆x x ∆x lim ∆x log( 1 + x ) dy = y' = ∆x → 0 dx x x  lim ∆x ∆x  (1 + )   dy x  ∆x → 0  = log e = y' = log   dx x x     dy 1 = y' = log e dx x dy 1 jadi y = log x → = log e dx x Contoh: 1. Logaritma asli/alami itu ditulis dengan lambang ”ln”. maka turunannya: dy 1 = y’= dx x Differensial 62 .4771+logx  = 0 + log e = log e dx x x 2.71828182… = e n Bilangan e dalam teori adalah pokok bilangan logaritma asli (alami). y = log 3x2  y = log 3 + log x2 = log 3 + 2log x dy 2 2 = 0 + log e = log e dx x x ++ Jika y = ln x.sampai n = ∞ 1 (1+ )n = 2. Contoh: elog e = 1 ditulis dengan ln e = 1 Penyelesaian: Jika suatu fungsi y=logx. y = log3x  y = log 3 + log x dy 1 1 y = 0.

= dx x x 2. y = ln x2  y = 2 ln x dy 1 2 =2.Contoh: 1. dimana U=f(x) adalah fungsi diferensial dari x.301 + 3 log(3 x + 5). y = 5 lnx3  y = 15 ln x dy 1 15 = 15. dimana u=f(x) adalah fungsi diferensiabel dari x. = dx x x ++ Jika y = log u. maka turunannya: dy 1 d 1 du = log e (U ) = log e dx U dx U dx Contoh : y = log 2(3x + 5)3 → y = log 2 + log(3 x + 5)3 du y = 0. secara singkat diberikan rumus-rumus logaritma: Differensial 63 . maka turunannya: dy 1 d 1 du = (U ) = dx U dx U dx Contoh: y = ln (2x2+5x)2 Misal U = 2x2+5x  du = 4x + 5 dx y = ln U  y = 2 ln U dy 2 2 = ( 4x + 5 ) = 2 ( 4x + 5 ) dx U 2 x + 5x dy 2( 4 x + 5 ) 8 x + 10 = = dx 2 x 2 + 5 x 2 x 2 + 5 x Untuk memudahkan memahami diferensial atau turunan fungsi logaritma.U = 3 x + 5 → =3 dx dy 3 9 = 0+ log e(3) = log e dx 3x + 5 3x + 5 ++ Jika y = ln U.

++ Jika y=ex. maka Contoh: 1.3. Y = e − x 4 +2 x Misal : U = − x 4 + 2 x → du = −4 x 3 + 2 dx 4 4 dy = e − x + 2 x (−4 x 3 + 2) = −4 x 3 + 2e − x + 2 x dx 2. 3. maka : a c = b log a = 1 log 1 = 0 log x n = n log x a a log b = b Diferensial (Turunan) fungsi eksponensial dy = ex dx 3. 7. maka turunannya: dy d du = eu (U ) = e u dx dx dx Contoh : 1. 8. 4. 6.1. 5. 2. Y = e 3 x + 6 misal : u = 3x + 6 → du =3 dx dy = e 3 x + 2 (3) = 3e 3 x +6 dx Differensial 64 . log ab = log a + log b a log = log a − log b b log a a log b = log b a a a log b = c . dimana U=f(x) adalah fungsi diferensibel dari x.2. y = 4 ex  dy = 4ex dx ++ Jika y = eu.

y = x e → ln y = e x ln x 1 dy 1 = e x ( ) + e x ln x y dx x ex  dy = y  + e x ln x  dx x  x dy 1  = x e e x  + ln x  dx x  ++ Jika y = ax maka turunannya: dy = y ln a = a x ln a dx x Differensial 65 .3. Y = e x 2 +2 ( x + 1) 2 2 misal : U = e x = 2 xe x 2 +2 → 2 du = e x + 2 (2 x) dx +2 V = ( x + 1) 2 dv = 2( x + 1)(1) = 2( x + 1) dx dy dv du =U +V dx dx dx = ex 2 +2 2( x + 1) + ( x + 1) 2 2 xe x 2 2 +2 = 2( x + 1)e x +2 [1 + x( x + 1)] 2 = 2( x + 1)[1 + x 2 + x]e x 4. y = x x 2 +2 ln y = x 2 ln x 1 dx 1 = 2 x ln x + x 2 ( ) y dy x dy = y[2 x ln x + x ] dx 2 dy = x x [2 x ln x + x] dx 2 dy = x x x(2 ln x + 1) dx 5.

y = a x 3 +2x misal : U = x 3 + 2 x → du = 3x 2 + 2 dx 3 dy = a x + 2 x ln a (3 x 2 + 2) dx 3 dy = (3 x 2 + 2)a x + 2 x ln a dx 2. y = x3(x2+4) 5. y = 10x4 2. dimana U=f(x) adalah fungsi diferensiabel.Contoh : dy = 10 x ln 10 dx ++ Jika y=au. y = ln (x2+1)4 9. y= x x2 +1 y = x 3 + 5x + 2 7. y = 2x4 – 6x3+8x2+10 4. y = 4 √x dy ) dari fungsi berikut: dx 3. maka turunannya: 1. y = log(2x+10)2 8. y = e2xln(x2+3x)2 Differensial 66 . y = 10 x → dy d du = a u ln a (U ) = a u ln a dx dx dx Contoh : 1. y = e2x+1 10. 6. y = 10 x 2 −x misal : U = x 2 − x → du = 2x − 1 dx = ( 2 x − 1)10 x Latihan Soal 2 dy = 10 x − x ln 10( 2 x − 1) dx 2 −x ln 10 Hitunglah turunan pertama ( 1.

y = ax xa 2. maka: dy 1 = . atau dx dx dy df ( x ) 1 = dg ( y ) dx dy Contoh : 1. Jika y=f(x) dan x=g(x) adalah fungsi diferensiabel inverse.2. Jika x = ln (y3+3y+5). Jika x = y3 + 5y2 + 10. y = 83x+2 15.4. Carilah dy = 3 y 2 + 10 y dx dy 1 1 = = dy 3 y 2 + 10 y dx dx 2. Carilah Differensial 67 . y = ln (x+√x+4) 14. y = x2(x+1) + lnx2 13. Cari 3 dx 1 = 3  y 2 + 2 = y 2 + 2  3 1 1 = = 2 dx y + 2 dy dy dx dy dx 3.11. Diferensial Fungsi Kebalikan Diferensial dari fungsi kebalikan (inverse) sama dengan kebalikan dari turunan fungsinya. Jika x = dy dx dy dx 1 3 dy y + 2y. y = ln( x + 1) x 12.

2.dx 1 = 3 3y 2 + 3 dy y + 3 y + 5 dx 3y 2 + 3 = dy y 3 + 3 y + 5 dy y 3 + 3 y + 5 = dx 3y 2 + 3 −y 4.5. atau Y ( n ) . Secara umum turunan ke n dari y=f(x) diperoleh dengan menurunkan sebanyak n kali dan dinyatakan dengan: dny atau dx n dn ( y) dx f n ( x ). Hasil dari dua atau lebih penurunan suatu fungsi disebut sebagai turunan tingkat lebih tinggi (higher order derivative) Turunan dari turunan pertama adalah turunan kedua dan diberi simbol d2y atau dx 2 d3y atau dx 3 y’’ atau f’’’(x). Jika x = e 2 ( ) +2 y .Carilah dy dx 2 dx = e − y + 2 y ( −2 y + 2 ) dy dy 1 = 2 dx ( − 2 y + 2) e − y + 2 y 2. Diferensial (Turunan) tingkat lebih tinggi Dalam beberapa masalah sering suatu fungsi diturunkan lebih dari satu kali. atau Differensial 68 . Turunan kedua diturunkan lagi menjadi turunan ketiga yakni y’’’ atau f’’’(x) dan seterusnya.

baru kemudian dicari turunannya. Contoh: 1.Contoh: 1. Dipecahkan melalui cara diferensial fungsi implisit. carilah 2 xy dy dx dy dy + y 2 − 2x + =0 dx dx dy dy 2 xy + = 2x − y 2 dx dx ( 2 xy + 1) dy = 2 x − y 2 dx dy 2 x − y 2 = dx 2 xy + 1 Differensial 69 .y)=0 yaitu menunjukan y sebagai fungsi implisit. Bentuk fungsi diubah lebih dahulu kedalam fungsi eksplisit. Diferensial Fungsi Implisit Fungsi y = f(x) yang selalu kita gunakan dalam pembahasan selama ini merupakan fungsi eksplisit. Untuk mencari turunannya dapat dilakukan melalui dua cara yaitu: 1.6. xy 2 − x 2 + y = 0.2. y = 4 x 6 − 3 x 4 + 2 x 2 + 1 dy = 24 x 5 − 12 x 3 + 4 x dx d2y = 120 x 4 − 36 x + 4 2 dx d3y = 480 x 3 − 36 3 dx d4y = 1440 x 2 dx 4 d5y = 2880 x dx 5 d6y = 2880 dx 6 d7y =0 dx 7 2. 2. Kadang-kadang kita temui beberapa persamaan berbentuk f(x.

maka y adalah fungsi dari suatu fungsi atau dapat dikatakan merupakan suatu fungsi berantai.7. Jika y = g(u) dan u = h(x) atau y = g [h(x)] = f(x). dx du dx Contoh : 1 y = x 2 + 1 3 . maka turunannya adalah: dy dy du = .2 x dx 3 1 − dy 2 2 = x + 1 3 .2 x = dx 3 2 1 ( ) 4x 3 x2 +1 3 ( ) 1 Differensial 70 .2.2. Diferensial Fungsi Berantai Bila y adalah suatu fungsi dari U dan U merupakan dari x. x 4 + x 2 y 2 + y − 2 x = 0 dy dy 4x 3 + 2x 2 y + −2=0 dx dx dy dy 2x 2 y + = −4 x 3 + 2 dx dx 2. Carilah misal : u = x 2 + 1 → 2 ( ) 2 dy dx du = 2x dx Y =U 3 dy 2 3 −1 2 − 3 = U = U du 3 3 1 dy 2 − 3 = U .

y = sin x → y ' = dy = Cosx dx d (Sinx) = Cosx dx Differensial 71 .2. y = 3U 2 . x=menyatakan besar suatu sudut dan y=menyatakan nilai fungsi. Besar sudut ditentukan dengan radian. y = Cos x. Carilah y +1 dy dx dy = dy du ( y + 1)(1) − y (1) = Y + 1 − Y = ( y + 1) 2 ( Y + 1) 2 1 1 = = 2 2 ( Y + 1) 3U 2 + 1 ( ) dy = 6U du dx 1 6U = 6U = 2 2 du 3U 2 + 1 3U 2 + 1 ( ) ( ) 2. x = dx du dx dy dy dx y dx . Diferensial Fungsi Trigonometri Fungsi trigonometri dinyatakan dalam bentuk y = Sin x. Y = 2 x 2 + x + 1 ( ) 5 misal : u = 2 x 2 + x + 1 → Y =U5 → du = 4x + 1 dx dy = 5U 4 du dy dy du = dx du dx dy = 5U 4 ( 4 x + 1) dx 5 dy = 5 2 x 2 + x + 1 ( 4 x + 1) dx ( ) 3. Turunan y=f(x)=Sinx adalah f’(x)=y’=Cosx atau 1.8.2. y = tgx dan sebagainya.

4. dy = − Sinx dx dy 1 y = tgx → = = Sec 2 x dx Cos 2 x dy 1 y = Cotgx → =− − Co sec 2 x 2 dx Sin x dy y = Secx → = SecxTgx dx dy y = Co sec x → = −Co sec xCtgx dx Bila u=f(x). Cos x + ∆x  = Cos x + 1 (0) = Cosx 2 ∆x → 0 2   ( ) Dengan Cara yang sama. y = Cosx → 3. Cos x + ∆x  ∆x → 0 1 ∆x → 0 2   ∆x 2 lim 1   = 1. maka: 2. maka: Differensial 72 . 5. ∆x 2 1 lim Sin 2 ∆x lim 1   = .Bukti : lim Sin( x + ∆x ) − Sinx dy = dx ∆x → 0 ∆x 1 1 lim 2 sin 2 ( x + ∆x − x ) cos 2 ( 2 x + ∆x ) = ∆x → 0 ∆x 1 1   2 sin ∆xCos x + ∆x  lim 2 2   = ∆x → 0 ∆x 1 1   2 sin ∆xCos x + ∆x  lim 2 2   = 1 ∆x → 0 2. 6.

3. y = SinU → 2. dy du = CosU dx dx dy du y = CosU → = − SinU dx dx dy 1 du y = tgU → = atau dx Cos 2U dx dy du = Sec 2 xU dx dx dy 1 du y = CtgU → =− atau dx Sin 2U dx dy du = −Co sec 2 U dx dx dy du y = SecU → = SecUtgU dx dx dy du y = Co sec U → = −Co sec UCtgU dx dx Beberapa Contoh 1. 5. 4. y = Sin5 x du 5x = u → =5 dx y = SinU → y ' = dy = CosU du dy = CosU (5) = 5CosU = 5Cos5 x dx dy 2. Cos 2 x → = −2 Sin 2 x dx 3. 6.1. y = Sinx + Cosx 1 Carilah gradien grafik fungsi pada x = π 4 y=Sinx+Cosx dy = y ' = Cosx − Sinx dx dy 1 1 = Cos π − Sin π dx 4 4 1 1 = 2− 2 =0 2 2 Differensial 73 .

14. 13. 3. 9. Sin 4 3 x misal U = Sin3 x → y =U4 → y' = du = 3Cos3x dx dy = 4U 3 dx dy = 4U 3 3Cos3 x = 12U 3Cos3x dx dy = 12 Sin 3 3 x Cos3 x dx Soal Latihan Carilah turunan pertama ( 1. 8.4. 15. 2. 11. 7. 4. 5. 16. 12.x ) 2 y = Cos24x y = Sin2xTgx y = 4Sec2x + Cos32x y = Cos(2-x) y = Cos (3x2-1) y = x2Sin3x y= y= Cos2 x x 3 2 3 Sinx y = xcosx + 2x3Sinx y = ½ TgxSin2x y = Sin2x x 2 + 4 x y = Sin3(2x+1) Cos2x y= 2 Sinx 3x Tentukan persamaan garis singgung pada parabola y=5x2 + 2x – 12 di titik (2. 2 pada kurva y = x − dy ) dari fungsi trigonometri berikut: dx 1 y = Sin (1.12) Tentukan persamaan garis singgung di titik (1. 10.-1) 2 x 74 Differensial . 6.

4) Penyelesaian: y=x2+3x Differensial 75 . y 0 ) dx Adapun persamaan garis singgung pada kurva di titik P adalah: y .3.17. 20. Jika garis singgung kurva y = ax + bx-2 pada titik (- 1. 18.xo) Contoh: 1.f(a ) g x a X Apabila titik P (xo. Tentukan gradien garis isnggung pada kurva y=x2+3x di titik (1. 19.yo) pada kurva y = f(x) maka gradien (koefisien arah) dari garis singgung kurva di P adalah: mg = dy ( x0 .f(a)) maka gradien g adalah: lim f ( a + ∆x ) − f (a) mg = tgα = ∆x → 0 ∆x = f 1 (a ) Y Y = f '( a ) Y = f(x ) f(a + x ) . Carilah titik potong dengan sumbu x. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = 2√x di titik (4.4). Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = (x2 + 1)2 di titik dengan absis x=1. Tentukan nilai a dan b. 3.yo = mg (x .1) sejajar dengan garis 4x – y + 65 = 0. Penentuan Gradien Garis Singgung Kurva Misal garis g menyinggung kurva y=f(x) di titik (a. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x2 + 5 yang sejajar dengan garis 12x – y = 17.

Y Y = f( x ) G a r is s in g g u n g g P α α1 X Dari grafik dapat dilihat bahwa.4) y-4=4(x-2) y-4=4x-8 y=4x-4 3.4) adalah : mg = y’(1) = 2(1) + 3 = 5 mg = 5 2.dy = 2x + 3 dx Koefisien arah (gradien) garis singgung kurva di titik (1. tgα 1 = tg 90 0 + α = −Ctgα = ( ) 1 − tgα 1 1 = − tgα m Differensial 76 .4) terletak pada kurva parabola. Garis Normal Garis yang tegak pada garis singgung di titik singgungnya pada kurva y=f(x) dinamakan garis normal atau normal kurva. Penyelesaian: y=x2 mg = dy = 2x dx dy di titik P = 2(2) = 4 dx Persamaan garis singgung di P (2. Tentukan persamaan garis singgung di P pada kurva tersebut. Diberikan kurva parabola y=x2. Titik P(2.4.

Carilah dy dx 77 Differensial . Tentukan persamaan normal kurva di titik P tersebut. Carilah dt d 2t dan dx dx 2 3. Persamaan dari garis normal pada kurva di titik P(xo. x = ln (y2+5y+10) 2.4) terletak pada parabola. y = e2x b. y = eln(x2-3x) 4. Jika x = t 2 + 1 . Jika persamaan x2y+y-25=0. x = log (2y+1)2 b. Carilah dy dari: dx a. Carilah turunan kedua dari fungsi-fungsi berikut a.Jadi gradien dari garis normal adalah − 1 m . Penyelesaian: y=x2  dy = y ' = 2x dx 1 ( x − x0 ) m mg=2(2) = 4 Gradien persamaan normal kurva = − 1 m . yo) adalah: y − y0 = − Contoh: Diberikan persamaan parabola y=x2 diamana titik P (2. dengan m gradien dari garis singgung. Persamaan normal kurva y-4=-1/4(x-2) y-4=-1/4x+1/2 y=-1/4x + 4 ½ (2x2y+1) dy = -4x3+2 dx dy − 4 x 3 + 2 = dx 2 x 2 y + 1 Soal Latihan 1.

5.y = r2 Contoh: Tentukan persamaan garis singgung pada lingkaran x2+y2=25 yang ditarik dari titik (0.x + y1. Persamaan garis singgung pada lingkaran di titik P(x1. x2 = 2 +++++-------------++++++ -4 0 2 f’(x)>0 untuk x<-4 atau x>2 f’(x)<0 untuk –4<x<2 Dengan demikian. carilah 6. Carilah dy dx dy dx 3. Selang (interval) yang menentukan f’(x)>0 dan f’(x)<0 dapat ditentukan dengan menggambarkan garis bilangan dari f’(x). Penentuan Selang (Interval) Fungsi Naik dan Turun Jika kurva y=f(x) naik apabila f’(x)>c dan kurva y=f(x) turun apabila f’(x)<c. Contoh: Tentukan selang fungsi naik dan turun dari y=f(x)=x3+3x2-24x Penyelesaian: y=f(x) = x3+3x2-24x = 3(x2+2x-8) = 3(x+4)(x-2) x1 = -4.10). Jika persamaan x2-y2-1=0. Jika x3+y3-3xy=0. maka fungsi naik untuk x<-4 atau x>2 dan fungsi turun untuk -4<x<2.5. Penyelesaian: Persamaan garis singgung pada lingkaran x2+y2=25 adalah 0x+10y = 25 10y=25  y = Differensial f’(x) 25 5 = 10 2 78 .y1) adalah: x1.

dsb) : Waktu (bisa berbentuk umur) : Asymtot f(t) = a0 + a1t + a2t2 + …+ aktk (berbentuk polinomial) Differensial 79 .Untuk y = x2=25 x=± x=± 25 4 5 5 maka x2 +   = 25 2 2 2 25 − 5 3 2 25 = 4 75 4 Ambil x=+ 5 5 5 3 . Penerapan Diferensial Dalam Produksi Ternak Perhitungan diferensial biasa digunakan dalam kecepatan (laju) pertumbuhan berat badan. produksi susu dan produksi telur yaitu dengan mendeferensial fungsi pertumbuhannya jika model pertumbuhan dinyatakan dengan y = f(x). ) adalah: 2 2 2 5 5 3 x + y = 25 2 2 3 x + y = 10 → y = − 3 x + 10 3. dx : berat masa (bisa berbentuk berat badan. maka kecepatan pertumbuhan merupakan turunan pertama dari fungsi tersebut yaitu y’ = f’(x) = Kurva Pertumbuhan Kurva pertumbuhan yang normal dalam biologi termasuk dalam bidang peternakan akan membentuk huruf S atau signoid. maka persamaan garis singgung melalui titik ( 3 . Model kurva pertumbuhan yang berbentuk huruf S tersebut disebut kurva logistik dengan model matematika sebagai berikut: y= y t k k 1 + e f (t ) dy .6. produksi susu.

Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan massa kian meningkat dari waktu ke waktu. y = abx b = koefisien pertumbuhan Model diatas bisa dibuat menjadi model linier dengan transformasi log atau ln log y = log a + xlogb atau log y = log a + log b(x) atau ln y = ln a + ln b(x) 2. Model kurva pertumbuhan dalam bidang peternakan ataupun kurva pertumbuhan bakteri antara lain: 1.Untuk yang sederhana biasanya didekati dengan fungsi linier yaitu f(t) = a0 + a1x sehingga modelnya menjadi : . Fase retardasi | fase pertumbuhan lambat Pada fase akselarasi terjadi pertumbuhan yang cepat dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Sebaliknya pada fase retardasi terjadi pertumbuhan yang lambat dengan laju pertumbuhan yang kecil. yaitu: 1. y = axb (Model Alometrik) Differensial 80 . atau : 1 + e a0 + a1t bisa berbentuk : k y= 1 + be − kt dan kurvanya adalah : Y y= k X Berdasarkan besarnya kecepatan tumbuh pertumbuhan dapat dibedakan dua macam fase yang dibatasi oleh titik belok (titik refleksi). Fase akselarasi | pertumbuhan dini 2.

16 g c.b = koefisien pertumbuhan Model alometrik juga bisa dibuat linier seperti model diatas yaitu: log y = log a + b logx atau ln y = ln a + b lnx Adapun kurvanya berbentuk: Y Y Y X X X Disamping model pertumbuhan tersebut masih banyak pertumbuhan yang lain yang bisa digunakan dalam bidang peternakan. Berapa berat badan anak ayam pada umur 6 minggu. y=berat badan. Contoh: Kurva pertumbuhan anak ayam broiler mengikuti model y = a(x+1)b dari umur 0 minggu sampai 6 minggu. Merupakan koefisien pertumbuhan sebesar 1.16 b. maka = 40 (1.5-1 = 40 (1.5) (5)0.5) (4+1)1.5 a. Penyelesaian: y=a(x+1)b Kecepatan pertumbuhan: y’ = dy dx dy dx = ab (x+1)b-1 a=40 . b=1. x=umur dalam minggu. Berapa kecepatan pertumbuhan pada umur 4 minggu b. Bila a=berat telas sebesar 40 g dan b.5 = 134. Berat badan pada umur 6 minggu sebesar y = a (x+1)b y = 40 (6+1)1. Kecepatan pertumbuhan pada umur 4 minggu sebesar 134.5 Differensial 81 dy = ab(x+=1)b-1 dx .5 .

Konsep Nilai Ekstrim Dalam kehidupan sehari-hari baik di bidang ilmu pengetahuan maupun bidang biologi (peternakan.81 Berat badan pada umur 6 minggu sebesar 740. Maksimum dan minimum lokal suatu fungsi ini adalah maksimum dan minimum untuk jarak tertentu yang berdekatan.7.1. Dalam masalah ini fungsi tidak diberikan begitu saja melainkan berupa satu masalah dimana kita dituntut untuk merubah menjadi kalimat matematika yang dapat di ekivalensikan dalam bentuk suatu fungsi tertentu.7. melebihi maksimum atau minimum lokal yang manapun. Sedangkan f(x) mempunyai nilai maksimum lokal pada x=a dalam batas b≤ x≤ c.81 g 3. sedangkan maksimum dan minimum absolut dari suatu fungsi mempunyai jarak yang lebih besar lagi dan terletak pada titik paling tinggi atau paling rendah dari jarak tersebut. apabila nilai f(x) pada x=a2 mempunyai nilai terbesar dibandingkan nilai f(x) yang Differensial 82 .y = 740. Jadi kita harus memilih dari sekian persamaan tersebut manakah yang merupakan variabel tidak bebas. Interpertasi ini sangat penting sekali. Jadi dapat dikatakan bahwa f(x) mempunyai nilai maksimum absolut pada nilai x=a dalam batas b≤ x≤ c. Maksimum dan Minimum Suatu fungsi y = f(x) dikatakan mempunyai maksimum lokal (maksiumum relatif) pada x = a bila f(a) lebih besar dari sebarang nilai f(x) lainnya dari x disekitar a dan dikatakan mempunyai minimum lokal (minimum relatif) pada x=a bila f(a) lebih kecil dari sebarang nilai f(x) lainnya untuk x disekitar a. pertanian. apabila nilai f(x) pada x=a. kedokteran). karena dengan interpertasi yang slah akan kita dapatkan suatu bentuk fungsi yang lain sekali dari yang kita harapkan dan juga ekstrimnya menyimpang dari apa yang kita harapkan. f(a1)>f(x). teknik dan bidang sosial. mempunyai nilai paling tinggi. Lokal (relatif) Maksimum Absolut Nilai Ekstrim Lokal (relatif) Minimum Absolut 3. ekonomi kita sering dituntut untuk menyelesaikan problema / msalah yang menyangkut konsep nilai ekstrim.

Titik kritis ditentukan sebagai berikut : Cara I 1. Apabila f’(a)=0 atau f‘(a) tidak tertentu jika a=0. Untuk x bertambah melalui setiap nilai kritis x = x0 maka f (x) bernilai maksimum = f (x0) jika f’(x) berubah dari positif ke negatif. Dengan cara yang sama pula dapat kita katakan konsep minimum lokal. Tentukan f’(x) = 0 untuk harga – harga kritis. Penentuan Titik Kritis Jika f(x) dapat dideferensir dalam selang a ≤ x ≤ b . M aks Loka l b ( c ) maks absolut b≤x ≤c M in L o k a l M aks Lokal Min absolut untuk b≤x ≤c x=b f(b ) M in L o k a l 3.berdekatan dengan nilai a2. Bisa terjadi satu nilai maksimum lokal dari suatu fungsi lebih kecil dari nilai minimum lokal dari fungsi tersebut dalam suatu jarak tertentu. Dengan demikian nilai-nilai maksimum atau minimum bisa diketahui dengan cara menentukan nilai-nilai kritisnya terlebih dahulu. maka f ' ( x) = 0 . jika f(x) memiliki nilai relatif maksimum dan minimum di titik x=x0 dimana a 〈 x0 〈 b .7.2. 83 Differensial . f (x) bernilai minimum = f (x0) jika f’(x) berubah dari negatif ke positif. Dengan demikian suatu fungsi yang mempunyai titik minimum kurvanya berbentuk cembung ke bawah (convex down ward). 2. Letakkan nilai – nilai kritis pada skala bilangan maka terbentuk beberapa selang. maka a merupakan titik kritis yaitu maksimum atau minimum. 4. Tentukan tanda dari f’(x) pada setiap selang. 3.

maka nilai maksimum y = (.Cara II f (x) tidak bernilai maksimum atau minimum di x = x0 jika f’ (x) tidak berubah. maka nilai 3 (x + 4) (x – 2) x2 = 2 f’’(x) = 6 (-4) + 6 = -18 < 0 84 maka harga ekstrim maksimum adalah : . Contoh cara I Jika fungsi y = f (x) = x3 + 3x2 – 24x (Tentukan hatga ekstrim (Maks atau Min)) Jawab : y = f (x) = x3 + 3x2 – 24x y’= f’(x) = 3x2 + 6x – 24 = 0 = x2 + 2x – 8 = 3 (x + 4) (x – 2) = 0 x1 = .4)3 + 3 (.4 dan x2 = 2 +++++++++ -4 ----------------------------- ++++++++++ f ‘ (x) 2 f’(x) berubah dari positif ke negatif bernilai maksimum untuk x = 4 . 1. Fungsi di deferensir sekali lagi (dicari turunan kedua) f’’(x) Bila f ' ' ( x) 〈 0 mempunyai nilai maksimum. Tentukan f’(x) = 0 untuk harga – harga kritis.4)2 – 24 (.4 f’’(x) = 6x + 6 untuk x1 = 4 Differensial bernilai minimum untuk x = 2 . Bila f ' ' ( x) 〉 0 mempunyai nilai minimum.4) = 80 f’(x) berubah dari negatif ke positif minimum = 22 + 3 (2)2 – 24 (2) = . 2.28 Cara II y = f (x) = x3 + 3x2 – 24x y’= f’(x) = 3x2 + 6x – 24 f’(x) = 0 x1 = .

7.x3 + 3x3 + 2x = 4. Suatu fungsi yang turunan keduanya d y/dx = y 2 2 ’’ d2y adalah nol ( = 0 ) maka fungsi tersebut mempunyai titik dx 2 belok selain mungkin juga mempunyai titik maksimum atau minimum lokal.4)3 + 3 (-4) – 24 (. sedangkan bila = y’’ = dx 2 dx 2 0 berarti f(x) mempunyai titik belok.4) = 80 f’’(x) = 6 (2) – 6 = 6 > 0 Untuk x2 = 2 Maka harga ekstrim minimum ymin = (2)3 + 3 (2) – 24 (2) = -28 3.3x2 + 6x + 2 d2y = y’’= .3.6x + 6 dx 2 syarat mempunyai titik belok . Telah kita ketahui bahwa bila d2y = y’’ < 0 berarti fungsi f(x) mempunyai titik maksimum dan dx 2 bila d2y d2y > 0 berarti fungsi f(x) mempunyai titik minimum.6 x=1 Differensial 85 d2y =0 dx 2 . Contoh Bila diketahui y = .6x + 6 = 0 .ymaks = (. tentukan titik beloknya ! Jawab : y dy dx = .6x = . berarti fungsi tersebut merupakan titik belok.x3 + 3x3 + 2x + 4 = y’ = . Titik Belok Titik kritis yang bukan merupakan titik maksimum atau minimum dari suatu fungsi f(x).

d2y d2y < 0 dan <0 Maksimum bila 2 2 dx1 dx 2 d2y d2y > 0 dan >0 Minimum bila 2 dx12 dx 2 Dalam hal d2y d2y dan 2 2 sama dengan nol.2x2 = .10 x2 = 5 y = .2x1 = -12 x1 = 6 . maka akan mempunyai titik ekstrim jika dy dy = 0 dan =0. dy = 0 dx1 dy = 0 dx 2 dy = -2x1 + 12 = 0 dx1 . 8 ) Nilai ekstrim yang mengandung lebih dari dua variabel bebas Nilai – nilai ekstrim dari sebuah fungsi yang mengandung lebih dari dua variabel bebas dapat dicari dengan pengujian sampai turunan keduanya. tak bisa ditegaskan nilai ekstrimnya.(1)3 + 3 (1)2 + 2 (1) + 4 = 8 Sehingga titik beloknya adalah ( 1. .(6)2 + 12 (6) – (5)2 + 10 (5) – 50 = 21 d2y = −2 < 0 dx12 d2y = −2 < 0 2 dx 2 Differensial 86 2.x12 + 12x1 – x22 + 10x2 – 50 Jawab : 1. Contoh Selidikilah apakah titik ekstrim dari fungsi berikut ini merupakan titik maksimum atau titik minimum y = . Untuk y = f (x1 . dx1 dx 2 Syarat diatas adalah syarat yang diperlukan agar fungsinya mencapai titik ekstrim.Berarti fungsi : y = . Untuk dx1 dx 2 kasus semacam ini diperlukan penyelidikan dan penelitian lebih lanjut. Guna mengetahui apakah titik ekstrim itu berupa titik maksimum atau minimum dibutuhkan syarat yang dibutuhkan.2x2 + 10 = 0 . x2 ).

x2 .dx1 + .dx 2 + . sedangkan dy adalah diferensial total. Jika y = f ( x1 . x2 ) fx1 (x1 . dx dx Sebaliknya jika suatu fungsi yang mengandung lebih dari satu variabel bebas. x3 ) = dy dy dy . maka tutunannya akan lebih dari satu macam sesuai dengan jumlah macam variabel bebasnya. Diferensial Parsial Suatu fungsi yang hanya mengandung satu variabel bebas (independen) hanya akan memiliki satu macam turunan.d2y d2y Kurva dan 2 < 0 dx12 dx 2 maka titik ekstrim maksimum dengan ymaks = 21 3. dx1 dx 2 dx3 Differensial 87 . x2 .dx3 dx1 dx 2 dx3 f ( x1. Jadi jika kita memiliki n macam variabel bebas. x2 . dan adalah diferensial parsial. x3 ) = dx 2 dy f ( x1. x3 ) dy dx1 dy y’ f ( x1. x3 ) = dx3 dy dy dy dy = . x2 ). y = f ( x1 . maka akan memiki n macam tutunan.8. x2 . maka turunannya hanyalah y terhadap x yaitu y’ = dy d atau f’(x) atau . maka akan terdapat dua macam tutunan .dx1 + . yaitu turunan y terhadap x1 dan y terhadap x2. x2) = dy dy .dx 2 dx1 dx 2 dy dx 2 dy dx1 dy = y = f ( x1 . x2) = y fx2 (x1. Apabila y = f(x).

Differensial 88 . sedangkan suku – suku lainnya dianggap sebagai konstanta. dan tutunannya adalah nol. 2.Contoh y = x14 + 5x22 – 4x12x2 – 10 x1x22 + 5x2 – 8 1. dy = 4x13 – 8 x1x2 – 10 x22 dx1 dy = 10x2 – 4x12 – 20 x1x2 + 5 dx 2 dy hanya suku dx1 Dalam mendeferensialkannnya terhadap x1 yang dilambangkan dengan – suku yang mengandung variabel x1 yang diperlukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful