P. 1
Unio Keuskupan Agung Semarang dalam Sejarah Th 2011

Unio Keuskupan Agung Semarang dalam Sejarah Th 2011

|Views: 334|Likes:
Published by Komsos - AG et al.
dari dokumen arsip UNIO Indonesia
informasi selengkapnya lihat: http://www.unio-indonesia.org
dari dokumen arsip UNIO Indonesia
informasi selengkapnya lihat: http://www.unio-indonesia.org

More info:

Published by: Komsos - AG et al. on Sep 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2015

pdf

text

original

UNIO KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

DALAM PERJALANAN SEJARAH
- Exodus Unio KAS setelah usia lebih dari 50 tahun Munculnya UNIO KAS euskupan Agung Semarang menoreh sejarah berdirinya UNIO Imam Diosesan yang pertama di Indonesia dengan terbentuknya UNIO KAS pada tanggal 15 Juli 1955 dengan “TETUA” pertama adalah Rama Stanislaus Danuwidjaja. Istilah Tetua dipakai (bukan ketua) untuk menghindari kesan hirarkis - organisatoris. Terbentuknya kepengurusan UNIO KAS pertama ini merupakan kelanjutan dari keadaan politik yang memungkinkan diadakannya liburan dan retret bersama sejak sekitar tahun 1952 diantara para Rama. Disusul pula dengan pertemuan dan rekoleksi setiap dua bulan sekali. Kesempatan berkomunikasi diantara para imam praja juga diperkaya dengan terbitnya majalah ‘BERITA’ atas inisatif Rm. JOH. Padmasepoetra dan Rm. A. Purwadiharja. Akhirnya, tekad membangun wadah persaudaraan untuk membantu Uskup dalam karya dan untuk saling membantu dalam menghayati imamat, baik rohani maupun jasmani (bdk. UNIO Sacerdotum Saecularium: Rm. A. Wahyosudibya, kenangan 40 tahun Seminari Tinggi St. Paulus. Catatan: Rama Wahya menulis bahwa UNIO didirikan tahun 1956) muncul dalam sebuah pertemuan (liburan bersama) Rama-Rama di Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Jawa Tengah. Dalam forum silaturahmi diantara para Imam itu muncul gagasan mendirikan perkumpulan imam-imam Diosesan. Atas gagasan ini, Mgr. Albertus Sugijopranoto SJ secara bergurau (kebiasaan beliau menanggapi sesuatu yang baru) berkata: “Apakah itu berarti ingin membentuk serikat buruh?” Mgr. Kartosiswojo Pr ketika dimintai keterangan maksud gurauan tersebut mengatakan: “Itulah kebiasaan Rama Kanjeng, kalau ada sesuatu yang baru, beliau menanggapi dengan gurauan dan kita tidak tahu maksudnya”. Kemunculan UNIO KAS ternyata menjadi embrio untuk UNIO INDONESIA yang mengadakan musyawarah Nasional pertama UNIO INDONESIA di Jakarta tahun 1983. Keterlibatan Mgr. V. Kartasiswaja dan Mgr. Blasius Pujaraharja di UNIO KAS dengan suka duka pembentukan dan geliat awalnya, juga menjadi bidan bagi kemunculan UNIO INDONESIA sebagai federasi dari Unio Keuskupan-Keuskupan se Indonesia. Sepantasnya kita bersyukur untuk tangan-tangan kasih yang dikirim Allah untuk mempersatukan persaudaraan imami bagi kita para imam Diosesan di masing-masing Keuskupan dan di Indonesia pada umumnya. Sub judul tulisan ini memakai kata “EXODUS”, untuk memberi gambaran bagaimana kita para Imam Diosesan KAS melalui para pendahulu dan dalam perjalanan berikut melewati masa-masa awal yang tidak mudah untuk memberi makna pada ke-Projoan. Masa perang itu telah membentuk hakekat dan kiprah para Rama Praja. Sedangkan proses berikut sebetulnya lebih mudah namun tetap khas ketika kita para Imam tamatan Seminari Tinggi Santo Paulus di Kentungan mulai ‘menunjukkan’ kualitasnya. Dan selanjutnya kita bisa merasakan perhatian yang sangat besar dari Bapak Kardinal Darmajuwana dan Mgr. Ignatius Suharyo serta Mgr Yohanes Pujasumarta yang juga imam diosesan dan sangat perhatian dengan imam-imam diosesannya. Dinamika para Imam Diosesan KAS sangat jelas memberi warna untuk menghayati kehidupan menggereja di KAS. Sekarang ini ketika jumlah Imam diosesan KAS sudah 196 (tahbisan terakhir 29 Juni 2010), kita diundang untuk memberi gambaran bagi Citra Imam dalam dunia global. Kita diundang untuk membawa dan mengalami EXODUS baru dalam “sense of urgency”, memiliki kepekaan akan sesuatu yang mendesak dan perlu kita buat di jaman ini, baik bagi keberpihakan Gereja maupun kiprah di tengah masyarakat. Bagi kita, pengalaman Umat Allah Perjanjian Lama yang dituntun oleh Allah memasuki tanah terjanji, juga bisa menjadi pengalaman nyata kita untuk menikmati kebahagiaan sebagai bagian dari gereja lokal KAS. Saat inipun di zaman global ini, kita diundang membuat EXODUS yang baru sebagai imam-imam Diosesan yang sudah berpesta emas. Semoga tua tidak berarti uzur atau renta dan penuh erangan kesakitan, namun justru makin mantab dalam kiprah dan keberpihakan pada korban. Mgr. Suharyo tetap mengirim dan

K

menugaskan imam-imam kita untuk menjadi misionaris domestik dengan melayani Keuskupan Agung Medan, Puwokerto, Manukwari-Sorong, Tanjungselor, dan Malang. Beberapa imam juga pernah ditugaskan ke luar negeri, bukan untuk studi tetapi juga sebagai misionaris seperti di Suriname dan California – USA dan saat ini satu orang sebagai misionaris di Keuskupan Los Angeles – USA. Beberapa rekan imam masih tetap melayani dan menjalankan tugas di Keuskupan Agung Jakarta untuk bertuga di KWI maupun di Binrohkat TNI/Polri. Bahkan Mgr. Suharyo sendiri harus taat kepada Bapa Suci untuk exodus ke Jakarta menjadi uskup Metropolit Jakarta. Demikian juga Mgr. J. Pujasumarta, setelah diangkat menjadi Uskup Bandung di tatar Sunda, akhirnya harus kembali lagi untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam di Keuskupan Agung Semarang. Pengalaman exodus pada jaman global ini. Terbentuknya wadah persaudaraan diantara para Imam Diosesan KAS merupakan kebutuhan bagi para Imam Diosesan KAS yang ingin menghayati kehangatan persaudaraan dan kebersamaan dalam imamat. Perkembangan Imam Diosesan KAS cukup pesat kalau dirunut dari sejak berdirinya Seminari Agung Santo Paulus di Yogyakarta (1936) oleh Mgr. Petrus Willekens SJ - selaku Vikaris Apostolik Batavia. Seminari Agung ini didirikan sebagai Seminari Tinggi yang pertama di Indonesia, untuk pendidikan calon Imam Diosesan di Indonesia. Tanggal 26 Juli 1942, Mgr. Albertus Soegijopranoto SJ, Vikaris Apostolik Semarang mentahbiskan imam lulusan pertama dari Seminari Agung Santo Paulus Yogyakarta. Mereka yang ditahbiskan adalah: Rm. Purwadihardja (untuk Semarang), Rm. H. Voogdt (untuk Padang), Rm. Simon Lengkong dan Rm. Wenceslaus Lengkong (keduanya untuk Manado). Sebutan untuk Imam Diosesan pada awalnya juga mengalami pelbagai perdebatan. Ada yang mengusulkan Rama werel atau Rama kiwipro, artinya Rama jagadan (kesaksian Rama Sandiwan Brata dalam kenangan 40 tahun Seminari Tinggi St. Paulus). Sebutan lain adalah Romo Projo atau Rama Praja, untuk menunjukkan wilayah setempat dari keberadaan Romo itu. Bandingkan dengan istilah “Pamong Praja”. Akhirnya dipakai istilah Imam Diosesan untuk menunjukkan bahwa imam tersebut adalah milik keuskupan (“Diosis”) tertentu. Umat pada waktu itu secara spontan segera menyebut Rama Muda untuk mereka yang belum ditahbiskan dan Rama Praja untuk mereka yang telah menjadi imam. Perkembangan Imam Diosesan KAS dari tahun ke tahun Embrio UNIO KAS adalah kegigihan Imam-imam pribumi sepuluh tahun pertama pada masa kegembalaan Mgr. Alb. Soegijopranoto SJ.

K

ita bisa mengenang sepuluh tahun pertama untuk Imam Diosesan KAS yang memberi wajah kepada Imamat kita sebagai Citra Imam Diosesan yakni 18 imam yang hebat. Kedelapanbelas imam Diosesan pada 10 tahun pertama Imam Diosesan di KAS menunjukkan keterpikatan mereka dengan KAS dengan segala situasi yang melingkungi. Kegigihan mereka untuk menunjukkan citra imam Diosesan diungkapkan oleh Rama J. Harsasusanta Pr. Beliau menulis dalam majalah Rama-Rama UNIO KAS “BERITA”, ketika usia 40 tahun Rama-Rama Praja KAS (Edisi Khsus, 26 Juli 1982). “Sejak Seminari Menengah masalah ini (Hidup dan Karya Imam Praja - Red) sudah menjadi perhatian saya. Makin lama masalah ini bagi saya menjadi makin kongkrit. Suatu masalah yang harus kita pecahkan bersama sebagai Romo Projo. Kita sendirilah sebagai Romo-Romo Projo yang dipersalahkan atau dipertanyakan oleh umat atau yang harus memberi jawaban dengan modus vivendi dan modus operandi yang tepat, sesuai panggilan kita, sesuai perkembangan Gereja di wilayah kita ini, sesuai apa yang dikehendaki oleh Tuhan yang memanggil dan menjadikan kita sebagai imam-imam pelaksana karya penebusan-Nya langsung terhadap umat dan masyarakat pada umumnya, tanpa ikatan dan dukungan suatu tarekat. Kitalah yang harus memulai membuat tradisi yang baik, yang harus ditingkatkan oleh Romo-romo Projo di kemudian hari.” Rama Harsa masih menulis beberapa hal, antara lain: “Keadaan darurat perang yang terjadi antara tahun 1952 hingga 1954 membuat para misionaris Eropa dimasukkan dalam interniran. Dalam keadaan perang yang serba semrawut, Misi dicurigai sebagai milik dan usaha musuh oleh Jepang, maka karya Gereja sangat dipersukar. Pentahbisan Mgr.

Soegijopranoto sebagai Vikaris Apostolik Semarang (6 November 1940) menjelang pecahnya Perang Dunia II jelas sebagai “Divina Providentia”. Dengan penuh keberanian berdasarkan kepercayaan yang tebal atas tuntunan dan berkat Tuhan, Mgr. Soegijo menugaskan Romo-Romo Projonya untuk mengambil oper pekerjaan Romo-Romo Misionaris yang diinternir, sampai ada yang ditugaskan sebagai Pro-Vikaris di Surabaya (Rm. Dwijasusanta dari tahun 1943 – 1947), tugas di Lampung (Rama JOH. Padmasepoetra, tahun 1947 – 1950) bahkan merintis berdirinya SMP dan Seminari Menengah Pringsewu –kemudian menjadi Seminari Palembang. Juga merintis Rawatan Rohani TNI – AD. Bahkan, Romo Hardjowasito yang baru enam bulan menjadi imam, ditugaskan sebagai Rektor Seminari Tinggi St. Paulus di Jogyakarta (Juli 1943 – September 1948)”. Romo Projo yang masih sangat muda dan ditahbiskan dengan previlegi keadaan perang, dengan 13 Rama Praja yang sudah ada, sudah dapat memberi rasa aman dan bangga bagi ‘wajah’ Imam Diosesan KAS. Rama Harsa bisa ‘mbonceng’ dalam laju perkembangan korps Rama-Rama Praja yang sejak 13 tahun lamanya telah dirintis oleh para pionier, dengan segala nama baik dan reputasi yang telah dicapai oleh para perintis awal. Sejak awal, Mgr. Soegijo sudah memberi kesempatan bagi Imam-Imamnya untuk menjadi Misionaris Domestik yaitu Misionaris di keuskupan tetangga, kendati KAS sendiri tentu masih membutuhkan imam-imam itu. Semangat solidaritas dan membantu tempat lain yang kekurangan Imam menjadi semangat dasar yang sudah terbentuk sejak terbentuknya Vikariat Semarang. Setelah para Romo Misionaris keluar dari interniran dan bekerja lagi, sampai beberapa tahun kemudian para Romo Projo “kesilep” lagi dalam pandangan umat yang begitu menghargai dan mengagungkan para romo biarawan, sampai kita kadangkadang dianggap sebagai Romo-Romo “kelas dua”. Patut kita sebut dan kita banggakan 18 Romo perintis Keprojoan di KAS (baca Buku Kenangan 50 th KAS, Bernio: 1942-1992 – Mengenang 10 th pertama Imam Diosesan): 1. Rm. Aloysius Purwadi Purwodihardja 2. Rm. Richardus Sandjaja 3. Rm. Theodorus Hardjawasito 4. Rm. Petrus Canisius Dwidjasusanta 5. Rm. Ignatius Maria Harijadi 6. Rm. Stanislaus Danuwidjaja 7. Rm. J.O.H. Padmasepoetra 8. Rm. Fredericus Kiswana 9. Rm. Alexander Sandiwan Brata 10. Rm. Justinus Kardinal Darmajuwana 11. Rm. Aloysius Pudjohandojo 12. Rm. Theophilus Pusposugondo 13. Rm. Yoh. Fr. Regis Dibjadarmadja 14. Rm. Christophorus Widjajasuparta 15. Rm. Antonius Wignjamartaja 16. Rm. Yosephus Sirdja Harsasusanta 17. Rm. Nikolaus Tjiptaprawata 18. Rm. R. Chang Peng Tu. Imam Diosesan KAS semasa Kardinal Yustinus Darmojuwono inamika kehidupan Imam diosesan pada jamannya Rama Kardinal ditandai dengan berdirinya TOR (Tahun Orientasi Rohani) di Jangli Semarang untuk memberi masa tenang, mengarahkan perhatian pada Yesus yang memanggil serta untuk mengikuti jejakNya dalam pembentukan pribadi calon imam yang utuh. Tanggal 3 Juli 1981 dibuka secara resmi TOR di Jangli 2, bertepatan pula dengan penerimaan surat pengunduran diri Bapak Kardinal sebagai Uskup di KAS dari Bapa Suci Yohanes Paulus II. Rama Kardinal memulai dengan sosialisasi dan memimpin sendiri rekoleksi Rama-Rama Diosesan di Sangkalputung untuk menjelaskan gagasan dasar beliau mendirikan TOR (ini juga untuk yang pertama di Indonesia). Rama H. Natasusila dipercaya menjadi Rektor bersama Rm. JCT. Tarunasayoga untuk mendampingi para Frater. Bapak Kardinal pertama Indonesia ini menyadari bahwa calon imam diosesan perlu dibekali dengan jurus dasar kemampuan

D

olah kerohanian dan kepribadian, sehingga nantinya siap menjadi imam yang bisa bekerja dan mengabdi Gereja sesuai dengan kebutuhan jaman. Pada waktu itu disadari pula bahwa jumlah Imam makin banyak dan persaudaraan makin hidup di antara para Imam. Kehidupan Paroki didorong untuk sampai pada kemandirian dan membentuk paguyuban dalam lingkungan. Kiprah para Imam Diosesan memberi makna bagi mandirinya jemaat dan paroki-paroki, juga meningkatnya peran awam. Ungkapan penyemangat yang terus digulirkan oleh Bapak Kardinal untuk mengajak partisipasi umat dalam hal pendanaan dan keterlibatan hidup adalah: “Sithik ora ditampik, akeh tansoyo pekoleh” Imam Diosesan semasa Kardinal Julius Darmaatmadja SJ ang paling menonjol pada masa penggembalaan Bapa Uskup Julius adalah dinamika kehidupan Gereja KAS yang ditandai dengan digunakannya ARDAS KAS sebagai acuan dasar menggereja di KAS. Mulai tahun 1985 dirumuskan Arah Dasar KAS untuk lima tahunan. Arah dasar dirumuskan untuk jangka waktu lima tahun dengan maksud memberi fokus pada kehidupan menggereja dalam kurun yang terbatas, karena dinamika kehidupan Gereja dan masyarakat yang cepat berubah juga. Waktu lima tahunan dirasa paling cocok untuk memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi gereja karena percepatan perkembangan situasi dalam masyarakat. DKP memberi warna untuk gerak paroki dan lemba-lembaga karya yang ada di KAS. Pengiriman rama-rama diosesan sebagai misionaris domestik juga terus dilaksanakan. Bahkan karya perintisan juga dibuat, misalnya karya pendidikan calon imam diosesan di Parapat – Sumatera Utara yang dimotori oleh Rm. L. Wiryodarmojo (mulai tahun 1982). Karya ini sudah dimulai penjajakannya sejak Mgr. Djajasiswaja menjabat Administrator Diosesan KAS selama tahta lowong dari Bapak Kardinal Darmajuwono.

Y

Menghayati ke-projo-an bersama Mgr. I. Suharyo ama Haryo memasuki Wisma Keuskupan dan menggembalakan Gereja serta Umat Allah KAS dengan latar belakang keilmuannya sebagai dosen kitab suci Sinoptik. Rama asli Sedayu ini juga yang telah ikut merumuskan serta memberi dasar bagi ARDAS KAS yang diberlakukan semasa Mgr. Yulius menggembalakan Gereja KAS. Maka ARDAS terus dilanjutkan dengan fokus pastoral yang makin jelas. Penataan kehidupan jemaat, paroki dan lembaga karya dimotori oleh DKP yang dikomandani oleh ahli spiritual Rm. J. Pujasumarta. Sekarang ini dinamika Gereja KAS begitu nyata dengan aneka bahan pertemuan yang mudah diakses melalui power point sebagai bagian keahlian dari ketua DKP KAS, juga milis UNIO KAS dengan alamat unio-kas@yahoogroups.com. Kesejahteraan Imam Diosesan KAS ditawarkan untuk dibicarakan dengan serius pada masa ini. Semenjak kepengurusan UNIO tahun 2006, ditunjuk oleh Bapa Uskup tim yang membicarakan draft Pedoman Kesejahteraan Imam Diosesan hingga final. Pedoman ini pun selesai disusun dan ditetapkan oleh Bapa Uskup tanggal 31 Desember 2007. Sebagaimana ditulis oleh Mgr. Suharyo dalam kata pengantar Pedoman Dasar Dewan Paroki tahun 2004, disadarai bahwa “Sejak beberapa tahun yang lalu, di Keuskupan Agung Semarang berkembang berbagai wacana dengan berbagai kata kunci seperti Gereja yang hidup, Gereja yang signifikan secara internal dan relevan secara eksternal, transparansi-akuntabilitas-kredibilitas, spiral pastoral, penegasan bersama, pelayanan murah hati, solidaritas, dsb. Wacana-wacana seperti ini menunjukkan dinamika hidup Gereja kita yang sungguh-sungguh ingin terus membarui diri. Agar wacana itu tidak berhenti pada gagasan, tetapi menjadi hidup yang mempunyai roh dan bentuk, dipikirkanlah pembaharuan Pedoman Dasar Dewan Paroki.” Hal baik yang berkembang dalam kesadaran para Rama Diosesan, bersama dengan gerak seluruh paroki adalah meningkatnya solidaritas antar paroki dan pastoran. Kerelaan untuk berbagi beban dan meringkankan kepentingan orang lain, paroki lain dan Rama se keuskupan mulai mengarusi- dinamika kehidupan kita. Mulai tahun 2006 Tim Personalia Keuskupan merumuskan pelbagai kriteri dan tugas untuk jabatan Vikaris, Pastor Kepala dan Pastor Pembantu, juga untuk karya pelayanan di komisi-komisi melalui DKP (Dewan Karya Pastoral). Para imam diosesan yang ditunjuk oleh Uskup menjadi Tim Personalia Keuskupan ini memberi warna bagi

R

profesionalitas karya imamat dengan pelbagai tolok ukur yang bisa dipakai. Hal ini kiranya sejalan dengan perkembangan pemahaman Gereja juga, misalnya dari paham Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus menjadi Gereja Umat Allah dalam Lumen Gentium Konsili Vatikan II. Duc in Altum bersama Mgr. J. Pujasumarta. Tuhan menyelenggarakan Gereja kita dengan pelbagai cara. Setelah Rama Johannes Pujasumarta pada waktu itu sebagai Vikjend KAS dipilih oleh Bapa Suci Benedictus XVI menjadi Uskup Bandung pada tahun 2008, kita merasa ‘harus rela’ kehilangan ikan besar, bukan hanya ikan kecil dari kisah penggandaan lima roti dan dua ikan yang cukup untuk lima ribu orang. Kita juga merasa ‘kehilangan dan harus merelakan” Mgr. Ignatius Suharyo menjadi Uskup Kuajutor KAJ pada bulan Oktober 2009. Selanjutnya, sesudah pengunduran diri Bapa Kardinal Julius Darmaatmadja diterima oleh Bapa Suci, maka Mgr. Suharyo pun menjadi Uskup Agung Jakarta. Gereja KAS mengalami kegembiraan lagi setelah pada bulan November 2010 diumumkan bahwa Mgr. Johannes Pujasumarta diangkat menjadi Uskup agung Semarang. Bandung harus kehilangan lagi gembala utamanya dan ‘rasanya’ Semarang bersorak sorai. Duc in Altum: bertolaklah ke tempat yang dalam terus digemakan dan menjadi semangat hidup dalam menjalani Arah dasar Keuskupan untuk tahun 2011-2015. Empat pilar untuk mewujudkan semangat Ardas dikemas dalam peta jalan (road map) yakni 1). Pengembangan iman yang mendalam dan tangguh. 2). Peningkatan keterlibatan awam dalam bidang sosial, politik dan kemasyarakatan. 3). Pemberdayaan KLMTD, dan 4). Pemeliharaan keutuhan ciptaan. Model menggereja di KAS dalam semangat ardas yang baru ini tidak dengan memberi fokus pastoral untuk kelompok tertentu namun untuk seluruh umat dan pilar-pilar serta lembaga yang ada. Kehadiran Mgr. Puja dalam pelbagai kesempatan dan pengalaman sekian waktu sebagai Vikjend di KAS memudahkan untuk masuk kembali dan segera bertolak ke tempat yang dalam, dalam dinamika pastoral di KAS. Para imampun tidak kesulitan untuk masuk dalam arus dan dinamika hidup menggereja ini. Perkembangan kepengurusan UNIO dan maknanya nsur pengurus dalam UNIO terutama ketua diambil dari golongan usia tahbisan yaitu Junior atau balita, Medior dan Senior. Pemilihan pengurus tahun 2006 ketika jumlah imam medior cukup banyak, maka unsur ketua dipilih dua orang dari usia tahbisan medior. Sedangkan imam senior bersama dengan Rama Vikjend menjadi penasihat. Sejak semula, Rama Vikjend: Ex Officio sebagai penasihat, dan sejak tahun 90an ada Tim Up-Dating untuk mengembangkan bina lanjut dan kegiatan yang sifatnya pembinaan bagi para imam. Tim Persaudaraan mengambil peran besar untuk menghidupkan suasana persaudaraan dan kehangatan diantara para imam dengan merayakan pesta perak imamat atau 40 tahun imamat. Tim ini juga menyelenggarakan peringatan arwah untuk megenangkan Rama-rama yang telah meninggal. Perayaan pesta perak dengan mengundang orangtua para Rama selalu dirindukan sebagai kesempatan reuni dan membangun persaudaraan. Kehangatan terasa melalui perayaan itu. Majalah BERNIO terbit untuk memberi nuansa segar bagi para Rama, terutama dengan lembar merah yang menarik karena berisi pengalaman Rama-Rama yang lucu-lucu dan konyol, namun tidak sampai menyakitkan hati. Halaman serta berita yang spontan dibuka kalau menerima najalah Bernio adalah lembar merah. Ketua-ketua komisariat atau Rayon yang ada di kevikepan menghidupkan dinamika kehidupan ramarama di tingkat rayon atau kevikepan. Juga aneka kegiatan yang tidak lagi terpusat di Sangkalputung atau Salam, namun secara bergantian dihidupkan di rayon supaya suasana kebersamaan dan persaudaraan semakin hidup. Aneka upaya ditata untuk memberi suasana kesejahteraan dan persaudaraan diantara para Imam melalui penarikan solidaritas dan iuran UNIO. Sudah mulai muncul kesadaran untuk mengembangkan kesejahteraan bagi para Rama melalui tarikan iuran setiap bulan dari kas pastoran. Rama-Rama komisariat/rayon berperan besar untuk terkumpulnya dana ini. Perhatian kepada anggota keluarga dari Rama Diosesan yang ‘kesripahan’ atau punya kepentingan tertentu juga bisa diupayakan melalui solidaritas yang dibangun oleh pengurus dan komisariat. Perhatian dari rekan-rekan imam untuk para imam ‘sepuh’ atau senior diungkapkan dengan dana solidaritas antar pastoran

U

maupun kunjungan ke rumah “Domus Pacis” atau ke Wisma Petrus sebagai tempat tinggal para Rama yang sudah purna karya. Selamat menikmati dan mewujudkan persaudaraan imamat bagi UNIO INDONESIA dalam usia pesta perak. Semoga kebahagiaan imamat dan profesionalitas terpancar dari imamat kita yang happy, commited dan profesional hingga mampu bertolak ke tempat yang dalam “Duc in Altum”.
Semarang, 10 Mei 2011 Diolah lagi dari kenangan 50 tahun UNIO KAS FX. Sukendar W, Pr

DOA HARIAN ANGGOTA UNIO
Tuhan Yesus, kami bersyukur kepada-Mu, yang telah memilih kami yang tak pantas ini untuk pelayanan suci-Mu. Terdorong ingin melayani Gereja, kami mohon dengan sangat, agar kami Kauberi ketekunan dalam niat-niat kami; dan hari demi hari semakin Kauresapi semangat panggilan kami: semangat iman dan ketaatan, semangat kerasulan serta kesalehan yang mendalam, dan di atas semuanya, semangat cintakasih; agar dalam diri kami Kau-wujudkan Diri-Mu, ya Kristus, Sang Imam dan Gembala, yang bersama Bapa dan Roh Kudus, hidup sepanjang masa. Ya Bunda dan Perawan Maria, bantulah kami melaksanakan cara hidup itu, dan seraya berkarya bersama segenap diakon, imam dan uskup di seluruh bumi, biarlah kami ikut membangun Gereja yang sungguh-sungguh apostolis, yang makin hari hidup serta memancarkan sinarnya. Amin.

PRAYER OF PRIESTLY COMMITMEN
(Evangelization 2000 Asia Oceania) Abba! Father! We priests thank you For choosing us in your infinite mercy To share in the mystery of Jesus, The High Priest. We renew our priestly commitment: To be untiring in priestly, To be in intimate communion with Jesus To proclaim with courage your Word of life To share Jesus with those who know Him not To bring freedom to the oppressed To a meaningful celebration of the Sacraments To evangelize in all forms of Pastoral Care. May your spirit who anointed us at our ordination Grant us strength to live in communion With the Pope, Bishop and all peoples. May the same Spirit also grant us Perseverance in our priestly ministry to the end. Mary, Mother of Priests, Pray for us. Amen.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->