BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pajak secara bebas dapat dikatakan sebagai suatu kewajiban warga negara berupa

pengabdian serta peran aktif warga negara dan anggota masyarakat untuk membiayai berbagai keperluan negara dalam Pembangunan Nasional, tanpa adanya imbalan secara langsung yang pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang Perpajakan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara. Dengan semakin berkembangnya kondisi usaha dan bisnis baik ditingkat nasional maupun internasional, maka penghasilan yang diterima wajib pajak badan dalam negeri juga meningkat. Badan atau perusahaan merupakan subjek pajak dalam negeri dimana wajib pajak badan ini merupakan penyumbang bagi penerimaan negara dari sektor pajak yaitu pajak penghasilan badan. Dalam hal menjalankan usaha, suatu badan atau perusahaan harus membuat pembukuan untuk menunjang kegiatan usahanya. Sama halnya dalam perpajakan, pembukuan juga wajib dibuat oleh wajib pajak yang berbentuk badan untuk mempermudah menghitung pajaknya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai wajib pajak badan, kewajiban dan hak wajib pajak badan dalam perpajakan dan cara penghitungan pajak dari wajib pajak badan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Badan Menurut UU No.28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pasal 1 angka 3, Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, BUMN atau BUMD dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi

Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Pajak Penghasilan Badan Pada pasal 1 UU Pajak Penghasillan. yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan atau memiliki kewajiban subjektif dan kewajiban objektif serta telah mendaftarkan diri untuk memproleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). atau organisasi lainnya. yaitu badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Wajib Pajak Badan Wajib Pajak Badan adalah Badan seperti yang dimaksud pada UU KUP. 2. .sosial poltik. Wajib Pajak Badan dalam negeri. lembaga dan bentuk badan lainnya. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak badan yang bersangkutan. dan pemungut pajak. pemotong pajak. yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak badan baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. C. termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Badan seperti yang dimaksud dalam UU KUP. yaitu badan yang tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia. Wajib Pajak Badan luar negeri. meliputi pembayar pajak. B. Yang menjadi objek pajak PPh Badan adalah penghasilan. Adapun subjek dari PPh Badan yaitu : 1. dan atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha melalui BUT di Indonesia. dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Pembukuan adalah proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mendapatkan data & informasi keuangan yang meliputi keadaan harta.. yang dikenakan PPN dengan tarif 0% (nol persen) dan yang dikenakan PPnBM. 2. Sebagaimana terdapat pada pasal 28 ayat (1) UU KUP. Pembukuan : Menurut UU No.(enam ratus juta rupiah) maka tidak diwajibkan untuk dikukuhkan sebagai PKP. .D. wajib menyelenggarakan pembukuan. kecuali pengusaha kecil tersebut memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP. penghasilan dan biaya serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa yang terutang maupun yang tidak terutang PPN. Kewajiban mendaftarkan diri Dalam hal ini mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan apabila wajib pajak badan melakukan kegiatan penyerahan barang kena pajak dan atau jasa kena pajak atau ekspor barang kena pajak yang terutang PPN berdasarkan UU PPN 1984. “Dirjen Pajak menerbitkan NPWP dan/atau mengukuhkan PKP secara jabatan apabila WP atau PKP tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ayat (2). apabila peredaran brutonya lebih dari 600 juta maka wajib mengukuhkan diri menjadi PKP. modal. Jadi.000. Pada pasal 2 ayat (4) UU KUP. kewajiban atau utang. Kewajiban untuk menyelenggarakan pembukuan. Untuk wajib pajak badan atau pengusaha kecil yaitu selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dengan jumlah peredaran bruto tidak lebih dari Rp600. maka wajib pajak badan tersebut memiliki kewajiban untuk dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak (PKP).28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. yaitu WP orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan WP badan di Indonesia.000. Kewajiban Wajib Pajak Badan dalam Perpajakan Berikut kewajiban dari Wajib Pajak Badan : 1.

dan c. diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual dan stelsel kas.yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan penghitungan rugi/laba pada saat tahun pajak berakhir. 3. PPh Pasal 22. Metode penilaian persediaan. memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya. Kewajiban pajak sendiri (seperti PPh Pasal 25/29). Misalnya dalam penerapan : Stelsel pengakuan penghasilan. dengan menggunakan huruf latin. dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menkeu. b. Ketentuan mengenai Pembukuan : Pembukuan tersebut harus diselenggarakan dengan: a. harus diselenggarakan di Indonesia. PPh Pasal 21/Pasal 26 . Prinsip Taat Asas : Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan dengan tahuntahun sebelumnya untuk mencegah penggeseran laba atau rugi. Jenis-jenis pajak yang menjadi kewajiban Wajib Pajak Badan secara umum bisa diuraikan sebagai berikut: a. d. Kewajiban memungut PPN dan atau PPn BM (jika ada) yang khusus berlaku bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP). diantaranya yaitu: a. perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat persetujuan dari Dirjen Pajak. satuan mata uang rupiah. b. Tahun buku. dan PPh Final). angka Arab. Metode penyusutan dan amortisasi. c. PPh Pasal 23/26. Kewajiban melakukan pemotongan dan pemungutan. Kewajiban memotong atau memungut (pot/put) pajak atas penghasilan orang lain (misalnya: PPh Pasal 21/26.

atau lebih bayar. atau mungkin juga nihil (PPh Pasal 21 yang sudah disetor sama dengan PPh Pasal 21 yang terutang). . jasa manajeman. termasuk PPh Pasal 26 yang terutang atas penghasilan orang pribadi berstatus WP luar negeri. seperti tenaga ahli. sesuai dengan ketentuan Pasal 21 UU PPh. yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 23 UU PPh.Yaitu PPh yang wajib dipotong atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan. pada SPT Masa PPh Pasal 21 pada akhir tahun nantinya timbul kurang bayar. Bisa jadi. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. PPh Pasal 23 Yaitu PPh yang dipotong atas penghasilan berupa dividen. serta imbalan jasa sehubungan dengan jasa-jasa seperti jasa teknik. yang dibayar atau terutang oleh perusahaan. yang terutang pada setiap masa pajak. PPh Pasal 21 yang dilaporkan dalam SPT Masa merupakan angsuran atau pajak dibayar di muka untuk PPh Pasal 21 yang terutang pada akhir tahun pajak yang bersangkutan. PPh yang dipotong mengacu pada ketentuan Pasal 26 UU PPh atau berdasarkan tax treaty. Pada dasarnya. royalty. hadiah dan penghargaan selain yang telah dikenakan PPh Pasal 21. SPT Masa PPh Pasal 21 pada Akhir Tahun Pajak Merupakan pelaporan atas PPh Pasal 21 yang telah dihitung dan dilunasi pada suatu tahun pajak. Kewajiban PPh Pasal 21/Pasal 26 yang harus dilaksanakan. jasa. atau kegiatan yang diterima atau diperoleh orang pribadi. dan jasa lain. kepada orang pribadi yang berstatus WP luar negeri. PPh Pasal 26 yang terutang atas pembayaran kepada orang pribadi yang berstatus Wajib Pajak Luar Negeri juga wajib dilaporkan pada SPT Masa PPh Pasal 21. meliputi: SPT Masa PPh Pasal 21/26 pada setiap Masa Pajak Merupakan pelaporan atas PPh Pasal 21 yang telah dihitung dan disetor oleh Wajib Pajak Badan. bunga. yang termasuk objek PPh Pasal 21. Dalam hal terdapat pembayaran penghasilan. b. jasa konsultan. SPT Masa PPh Pasal 21 untuk Akhir Tahun Pajak sebenarnya merupakan penghitungan ulang atas PPh Pasal 21 yang telah dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember. Wajib Pajak Badan wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut maupun penghasilan orang pribadi lainnya.

royalti. d. Penghitungan dan penyetoran PPh Pasal 26 sebaiknya tetap dilakukan secara tersendiri. pelaporannya melalui SPT Masa PPh Pasal 23 dan atau Pasal 26. seandainya Wajib Pajak Badan menyewa gedung dari pihak lain untuk dipergunakan sebagai kantor. e.c. imbalan sehubungan dengan jasa. Misalnya. PPh Pasal 26 Yaitu PPh yang dipotong atas penghasilan berupa dividen. maka Wajib Pajak Badan wajib memotong. PPh Pasal 25 Yaitu pembayaran angsuran PPh dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh WP untuk setiap bulan. pekerjaan dan kegiatan. Jadi. dan melaporkan PPh Final yang terutang atas sewa kantor tersebut. Besarnya PPh Pasal 25 yang wajib disetor setiap bulan dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 25 UU PPh beserta ketentuan pelaksanaannya. 1) Jika objek pajaknya cenderung sama dengan PPh Pasal 21 dan penerima penghasilannya adalah orang pribadi berstatus WP luar negeri. PPh Final Yaitu PPh yang dipotong atas jenis penghasilan tertentu atau jenis usaha tertentu yang diatur secara khusus (special treatment) melalui peraturan pemerintah. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 26 UU PPh. serta pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima/diperoleh WP luar negeri. maka pelaporannya melalui SPT Masa PPh Pasal 21 dan atau Pasal 26. 2) Jika penerima penghasilannya berbentuk badan dan berstatus WP luar negeri. menyetor. PPh Pasal 29 . PPh Final atas persewaan tanah dan atau bangunan. hadiah dan penghargaan. f. bunga. meskipun untuk pelaporannya digabungkan dengan PPh Pasal 21 atau PPh Pasal 23. sewa dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta. tergantung pada jenis objek pajaknya serta penerima penghasilannya.

memperpanjang waktu penyampaian SPT 3. Hak untuk mendapat pembinaan dan pengarahan dari fiskus 2. dengan memperhitungkan kredit pajak berupa angsuran PPh Pasal 25 yang telah disetor setiap bulan dan PPh yang telah dipotong/dipungut oleh pihak lain. banding dan gugatan serta peninjauan kembali ke Mahkamah Agung 4. Kewajiban menaati pemeriksaan pajak E. dan memperoleh imbalan bungan dari keterlambatan pembayaran kelebihan pajak oleh DJP 8. Kewajiban melunasi bea materai 8. Hak untuk mengajukan keberatan. menunda penagihan pajak. Hak untuk membetulkan. Hak untuk memperoleh kelebihan pembayaran pajak 5. Kewajiban membayar dan menyetorkan pajak 6. g. yang meliputi suatu masa pajak. Hak untuk mendapat fasilitas perpajakan 7. Hak untuk melakukan pengkreditan pajak masukan terhadap pajak keluaran 9. 4. Kewajiban membuat faktur pajak 7. PPN Yaitu pemungutan pajak atas penyerahan BKP (Barang Kena Pajak) atau JKP (Jasa Kena Pajak) yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) di dalam Daerah Pabean. . Hak mengajukan permohonan untuk mengangsur pembayaran pajak. Hak Wajib Pajak Badan dalam Perpajakan Adapun hak dari wajib pajak dalam perpajakan.Yaitu kewajiban untuk melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang pada akhir tahun pajak. terdapat Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM) yang juga terutang sesuai ketentuan UU yang berlaku. Kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) 5. Dalam hal BKP tergolong barang mewah. yaitu : 1. Hak dalam hal wajib pajak dilakukan pemeriksaan 6. Hak mengurangi penghasilan kena pajak dengan biaya yang dikeluarkan sesuai biaya fiskal.

Saat Terutang. Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapat validasi. Berikut perbedaan diantara keduanya. SSP atau sarana administrasi lain dianggap sah apabila telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). maksimal disampaikan pada akhir bulan keempat setelah tahun pajak berakhir. pph badan harus dibayar paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir (angsuran pajak). Pembayaran pajak harus digunakan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak. Hari libur nasional temasuk hari yang diliburkan untuk penyelengaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan. G. untuk pelaporan SPT. Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional.F. Beda Tetap (Permanent Difference) . Penyetoran dan Pelaporan PPh Badan Saat terutang dari pajak penghasilan badan adalah pada saat badan atau perusahaan tersebut sudah mendapat penghasilan atau laba. maka pembayaran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Cara Penghitungan Pajak Penghasilan (PPh) Badan Terjadi perbedaan pengakuan pendapatan dan biaya antara pembukuan komersil dengan pembukuan menurut perpajakan. Pajak Penghasilan (PPh) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaiman telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008. Pembayaran pajak dilakukan melaui Bank Persepsi atau bank Devisi Persepsi atau Kantor Pos Persepsi dengan sistem pembayaran secara online. Apabila pajak terutang untuk satu tahun pajak lebih besar dari jumlah kredit pajak maka penyetoran kekurangan pajak yang terutang (pph pasal 29) harus dilunasi selambat-lambatnya sebelum SPT Tahunan disampaikan.

Misal: dividen yang diterima oleh Perseroan Terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal sebesar 25% atau lebih pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan. daftar nominatif atas penghapusan piutang). Sanksi perpajakan berupa bunga. Misalnya : a. 3. Menurut akuntasi komersial merupakan penghasilan. Biaya-biaya yang menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan karena tidak memenuhi syaratsyarat tertentu (misalnya: daftar nominatif biaya entertainment. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan sedangakan menurut ketentuan PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final. b. denda. . d. Penghasilan ini dikenakan pajak tersendiri (final) sehingga dipisahkan (tidak perlu digabung) dengan penghasilan lainnya dalam menghitung PPh terutang. Biaya-biaya yang digunakan untuk memperoleh penghasilan yang bukan obyek pajak atau pengenaan pajaknya bersifat final. Menurut akuntansi komersial merupakan beban (biaya) sedangkan menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto (Pasal 9 UU PPh). d. 2. Misalnya yaitu : a. Rugi-laba selisih kurs. sedangkan menurut ketentuan Pajak Penghasilan bukan penghasilan. c. Penyisihan piutang tak tertagih. Metode penyusutan.1. c. Beda Sementara (Temporary Difference) Beda waktu merupakan perbedaan metode yang digunakan antara akuntansi komersial dengan ketentuan fiskal. Metode penilaian persediaan. Misal: penghasilan atas bunga deposito atau tabungan lainnya yang telah dipotong PPh Final oleh Bank sebesar 20%. b. dan kenaikan.

Rekonsiliasi fiskal dilakukan terhadap seluruh unsur penyusunan laporan laba rugi. Rekonsiliasi fiskal adalah suatu mekanisme penyesuaian pelaporan keuangan wajib pajak badan menurut ketentuan komersial diubah menjadi menurut ketentuan perpajakan atau fiskal. Wajib pajak yang memiliki penghasilan yang bukan objek pajak 3. Wajib pajak mengeluarkan biaya-biaya yang tidak boleh menjadi pengurang penghasilan (pasal 9 UU PPh) 4. secara ringkas rekonsiliasi fiskal dilakukan terhadap : 1. meliputi pendapatan dan biaya. harus diketahui laba fiskal dalam tahun pajak yang didapat dari rekonsiliasi fiskal. Untuk melakukan penghitungan PPh Badan. Rekonsiliasi fiskal adalah sebuah lampiran SPT tahunan PPh Badan berupa kertas kerja yang berisi penyesuaian antara laba/rugi sebelum pajak menurut komersial dengan laba/rugi menurut SPT Tahunan (perpajakan). Berikut langkah-langkah penghitungan PPh Badan : Jumlah penghasilan neto bruto Biaya Penghasilan neto komersial Koreksi fiskal: Positif Negatif xxxx xxxx – xxxx xxxx (xxxx) +- .Pengertian Rekonsiliasi Fiskal Karena terjadi perbedaan pengakuan dalam menyusun laporan keuangan antara komersil dengan perpajakan maka perlu dilakukan penyesuaian atau rekonsiliasi fiskal. Wajib pajak mengeluarkan biaya yang boleh menjadi pengurang (biaya fiskal) tetapi metode pengakuan biaya tersebut diatur oleh ketentuan fiskal 5. Dimana koreksi fiskal ini terdiri dari koreksi positif dan koreksi negatif. Wajib pajak mengeluarkan biaya yang dikeluarkan bersama untuk mendapatkan pendapatan yang telah dikenakan PPh final Dalam rekonsiliasi fiskal terdapat koreksi fiskal. Wajib pajak yang memiliki penghasilan final 2. Koreksi positif adalah koreksi yang mengakibatkan laba fiskal bertambah atau rugi fiskal berkurang. Koreksi negatif adalah koreksi yang mengakibatkan laba fiskal berkurang atau rugi fiskal bertambah.

jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan kebawah dalam ribuan rupiah penuh. Adapun berbagai fasilitas dan insentif perpajakan bagi wajib pajak badan.000.000. b. Fasilitas tarif pasal 17 ayat (2B) UU PPh Dimana fasilitas ini diberikan kepada WP Badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka dan paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor. Untuk keperluan penerapan tarif pajak. misalnya daya saing. Wajib Pajak Badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50. sebagai berikut : 1.800.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) Fasilitas perpajakan diberikan untuk memberikan kemudahan bagi sektor-sektor usaha tertentu dengan pertimbangan tertentu. diperdagangkan dibursa efek .Penghasilan neto fiskal Kompensasi kerugian Penghasilan kena pajak PPh terutang Kredit pajak: Dipotong/dipungut pihak ketiga Telah dibayar sendiri Jumlah kredit pajak Kurang/lebih bayar xxxx xxxx – xxxx xxxx xxxx xxxx + xxxx – xxxx Perhitungan PPh Terutang a. d.000.000. Tarif tertinggi 25% (dua puluh lima persen) mulai berlaku sejak tahun pajak 2010. Fasilitas perpajakan yang berkaitan dengan tarif pajak a.000. c. penyerapan lapangan kerja dan perlindungan kepentingan umum. Wajib Pajak Badan dalan negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif PPh Pasal 17 yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.

000.00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif PPh Pasal 17 yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) 2.000. Misalnya kegiatan . baik yang baru berdiri maupun yang telah ada. Pihak yang berhak mendapat fasilitas ini adalah wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi.800. 3) Kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 tahun.000. Jadi pihak-pihak yang memiliki usaha dan membantu kehidupan bangsa akan mendapat fasilitas perpajakan. b. serta melakukan penanaman modal baru maupun perluasan dari usaha yang telah ada pada bidang usaha tertentu dan daerah tertentu. 2) Penyusutan dan maortisasi yang dipercepat. b.000.Indonesia. Fasilitas tarif pasal 31E ayat (1) UU PPh Fasilitas ini diberikan kepada Wajib Pajak Badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50. Fasilitas untuk PPN atau PPnBM Dalam bidang PPN terdapat dua fasilitas yaitu pajak terutang tidak dipungut dan pembebasan dari pengenaan pajak yang dapat berlaku sementara atau selamanya. a.000. Fasilitas bagi perseroan yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh tarif 5% lebih rendah dari tarif yang berlaku. Fasilitas PPh untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu dan atau didaerah-daerah tertentu. Fasilitas perpajakan yang berkaitan dengan non tarif atau insentif Fasilitas ini dapat berupa pajak dibebaskan. tidak dipungut. 4) Pengenaan PPh atas deviden yang dibayarkan kepada subjek pajak luar negeri sebesar 10% atau tarif lebih rendah menurut persetujuan penghindaran pajak berganda yang berlaku. atau ditanggung pemerintah. Fasilitas yang diberikan yaitu : 1) Pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30% dari jumlah penanaman yang dilakukan.

Fasilitas perpajakan karena pengecualian terkait kondisi tertentu BAB III PENUTUP Kesimpulan dan Saran Wajib pajak badan dan pajak penghasilan badan merupakan bagian yang sangat kompleks dalam perpajakan. POLRI.yang sifatnya untuk menyendiakan alat-alat TNI. Melalui penelitian tanpa pemeriksaan dengan jangka waktu tiga bulan untuk PPh dan satu bulan untuk PPN. Begitu juga dengan hak dan kewajiban dari wajib pajak badan. 4. Baik dari segi macam-macam usaha yang termasuk badan dalam pengertian pajak maupun cara penghitungan pajak penghasilan itu sendiri. PPh pasal 22 misal atas impor emas batangan untuk ekspor emas batangan. Fasilitas yang membutuhkan surat keterangan bebas (SKB) SKB dapat diajukan oleh WP kepada kantor pajak yang terkait dengan kewajiban PPh pasal 21. Kewajiban menyelenggarakan pembukuan bagi wajib pajak badan tanpa . PPh pasal 23 atas pemotongan PPh bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI. Dan kegiatan yang meningkatkan kecerdasan bangsa seperti buku-buku pelajaran. Pengembalian pendahuluan kelebihan pajak Fasilitas ini berkaitan dengan pengembalian kelebihan pajak yang mana wajib pajak yang memenuhi kriteria tertentu didahulukan daripada wajib pajak lainnya. dll. SKB terkait PPN. b. Fasilitas perpajakan terkait kondisi-kondisi tertentu a. 3. Pengurangan PPh pasal 25 karena keadaan perubahan usaha c. dll.

.memandang omzet karena wajib pajak badan dirasa telah terbentuk dalam suatu organisasi yang terarah sehingga mampu menyelenggarakan pembukuan perpajakan. Dan perbedaan yang terjadi pada laporan keuangan komersil dengan laporan keuangan pajak membuat wajib pajak harus melakukan penyesuaian agar didapat laba fiskal dengan cara merekonsiliasinya. Wajib pajak badan juga memiliki berbagai fasilitas yang diberikan dengan ketentuan dan krietria tertentu agar memudahkan wajib pajak dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Sehingga penerimaan negara disektor pajak menjadi maksimal.