P. 1
Makalah Sumber Hukum Islam

Makalah Sumber Hukum Islam

|Views: 251|Likes:
Published by anon_371565923

More info:

Published by: anon_371565923 on Sep 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2014

pdf

text

original

1

MAKALAH
SUMBER HUKUM ISLAM
(Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam)

Dosen Pengampu:
Ikhwanul Abrori S.A, M.A.



FISIKA / II B
Kelompok VI

1. Silvia Alifatul Fikri 11 421 041
2. Dyestia Avarini V. 11 421 053
3. Endang Suparningsih 11 421 066


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
IKIP PGRI MADIUN
2012

2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui wahyu
yang kini terdapat dalam Al Qur‟an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW
sebagai Rosul-Nya melalui sunnah beliau yang kini tersimpan baik dalam kitab-
kitab hadist.
Hukum Islam juga memiliki beberapa tujuan, antara lain :
 Untuk ditaati dan dijalankan oleh umat Islam
 Sebagai pedoman hidup
Sumber Hukum Umat Islam menurut Mahmud Syaltuth dibagi menjadi 3 macam
yaitu :
1. Al Qur‟an ( Sumber Hukum Pertama dan Utama )
2. Al Hadits ( Sumber Hukum ke Dua setelah Al Qur‟an )
3. Ijtihad / Ra‟yu / Akal
Dalam makalah ini kita akan membahas tentang Pengertian Sumber Hukum
Islam, Fungsi Hukum Islam dalam kehidupan masyarakat dan Kontribusi Umat
Islam dalam Perumusan Sistem hukum Nasional.

B. Tujuan
1. Untuk menyelesaikan tugas pembuatan makalah pendidikan agama tentang
Sumber Hukum Islam dan Kontribusi Umat Islam di Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengertian Hukum Islam.
3. Untuk mengetahui macam – macam Sumber Hukum Islam.
4. Untuk mengetahui fungsi Hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.
5. Untuk mengetahui kontibusi Umat Islam dalam Perumusan Sistem Hukum
Nasional.


3

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SUMBER HUKUM ISLAM
Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui wahyu
yang kini terdapat dalam Al Qur‟an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad
SAWsebagai Rosul-Nya melalui sunnah beliau yang kini tersimpan baik dalam
kitab-kitab hadist.
Hukum Islam juga memiliki beberapa tujuan, antara lain :
 Untuk ditaati dan dijalankan oleh umat Islam
 Sebagai pedoman hidup

B. MACAM-MACAM SUMBER HUKUM ISLAM
Sumber hukum Islam menurut Mahmud Syaltuth di bagi menjadi tiga macam,
antara lain :
1. Al Qur’an ( Sumber hukum Pertama )
a. Pengertian Al Qur‟an
Al Qur‟an merupakan sumber hukum utama dan menempati kedudukan
pertama dari sumber – sumber hukum yang lain dan merupakan aturan dasar
yang paling tinggi. Al Qur‟an juga dapat dikatakan sebagai Kitab mu‟jizat
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang
datang kepada kita dengan jalan mutawattir dan dipandang ibadah bagi yang
membaca. Sumber hukum maupun ketentuan norma yang ada tidak boleh
menyimpang dan bertentangan dengan isi Al Qur‟an.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Al Qur‟an diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW untuk disampaikan kepada manusia dan manusia wajib
mengamalkan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Firman
Allah SWT dalam surat Al maidah ayat 49 :
÷pÒ¡4Ò ª7¯;O- ª×´4LuO4
.E©) 4·4O^Ò¡ +.- ºº4Ò
;7)l4©·> ¯ª¬-47.-4Ou-Ò¡
¯ª¬-¯OEOuÞ-4Ò pÒ¡ ¬CONLg^¼4C
4

}4N ^*u¬4 .4` 4·4O^Ò¡ +.-
El^O·¯)³ W p)¯·· W-¯O-¯4O·>
¯ªÞUu×·· 4©^^Ò¡ ÷³C@ONC
+.- pÒ¡ ª×g=¯O´NC ^*u¬4l)
¯ªjgj±O+^¬O ¯ Ep)³4Ò -LOOg1E
=}g)` +EEL¯- 4pO¬³´OE¼·¯
^j_÷

Artinya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka
tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah
kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan
Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa
mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik.”

b. Pedoman Al Qur‟an dalam menetapkan hukum
Pedoman Al Qur‟an dalam menetapkan hukum sesuai dengan
perkembangan dan kemampuan manusia, baik secara fisik maupun rohani.
Manusia selalu berawal dari kelemahan dan ketidakmampuan. Untuk itu Al
Qur‟an berpedoman kepada 3 hal, yaitu :
× Tidak memberatkan
× Meminimalisir beban
× Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum
× Kemaslahatan umat
× Keadilan yang merata



5

c. Fungsi Al Qur‟an
 Al Huda Linnas yaitu Petunjuk bagi manusia. Al Qur‟an tidak hanya
untuk umat Islam saja tetapi untuk semua manusia.
 Pedoman hidup
 Al Furqon yaitu Pembeda antara yang hak dan yang bathil, antara
yang bebar dan yang salah, antara yang halal dan yang harm.
 Ad-Dziki yaitu untuk peringatan bagi muttaqin. Munttaqin harus
tetap diperingati karena ketakwaan seseorang mengalami naik turun.
 As-Syifa‟u Linnas yaitu obat bagi jiwa manusia.
 Mau‟idhoh yaitu sebagai suri tauladan bagi manusia.
 Bahan renungan atau pemikiran bagi orang –orang yang mau berfikir
untuk mendapat pelajaran berharga.
 Sumber ilmu pengetahuan yang sangat menarik untuk dikaji dan
dipelajari sepanjang massa.

d. Isi Kandungan Al Qur‟an
× Akidah
× Akhlak
× Ibadah / mu‟amalah
× Janji dan ancaman
× Kisah-kisah umat terdahulu

e. Keaslian Al Qur‟an
Faktor – faktor yang mempengaruhi Al Qur‟an sampai saat ini tetap asli
adalah :
 Mempunyai Sejarah penulisan yang sangat gemilang. Tiap ayat Al
Qur‟an turun, oleh Nabi disampaikan kepada para sahabat. Sahabat
yang mampu baca dan tulis kemudian menulis ayat tersebut, sedang
yang tidak mampu mereka menghafalkannya. Setelah nabi
Muhammad SAW wafat, tulisan Al Qur‟an diberbagai media tulis
disalin dalam suatu madzhab yang dinamakan madzhab utsmani.
6

 Ayat Al Qur‟an selain ditulis juga dihafal oleh para sahabat yang
tidak mampu menulis
 Al Qur‟an tidak kehilangan bahasa aslinya karena Al Qur‟an tidak
boleh diterjemahkan tanpa disertai aslinya.
 Allah berjanji menjaganya dengan menggerakan hati manusia untuk
menghafal (hafdl) Al Qur‟an atau terus menerus mempelajari baik
secara formal maupun informal. Sebagaimana firman Allah SWT
dalam surat Al Hijr : 9
^^)³ ÷}^4º± 4L^¯EO4^ 4O^g]~.-
^^)³4Ò +O·¯ 4pOO¬g¼O4O¯ ^_÷
Artinya:”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya (ayat Ini memberikan jaminan tentang kesucian dan
kemurnian Al Quran selama-lamanya)”.
f. Kemu‟jizatan Al Qur‟an
Al-Qur‟an sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW dimana
kemu‟jizatannya terletak pada keindahan bahasanya dan isi kandungan
Al Qur‟an yang sesuai dengan Ilmu dan teknologi modern.

2. Al Hadist ( Sumber Hukum Islam Kedua )
a. Pengertian Hadits
Pengertian Al hadits menurut bahasa adalah sesuatu yang baru, bekas
dan bekas.
Sedangkan pengertian Hadits menurut istilah adalah semua yang
disandarkan pada Nabi baik berupa ucapan (qouliyah), perbuaan (fi‟liyah),
ketetapan (taqririyah) dan cita–cita (hammiyyah).
Al Qur‟an dan Al Hadits merupakan dua sumber hukum pokok syariat
Islam yang tetap dan orang Islam tidak akan mungkin bisa memahami
syari‟at Islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali kepada kepada
kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang Ulama pun
7

juga tidak doperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan mengambil salah
satu dari keduanya.
Banyak kita jumpai ayat-ayat Al Qur‟an dan Hadits–hadits yang
memberikan pengertian bahwa hadist merupakan sumber hukum Islam
selain Al Qur‟an yang wajib diikuti, dan diamalkan baik dalam bentuk
perintah maupun larangannya.

b. Fungsi Al Hadits atau As-Sunnah terhadap Al Qur‟an
× Memperkuat hukum – hukum Al Qur‟an
× Tafsil yaitu merinci ayat Al Qur‟an yang bersifat mujmal
× Bayan yaitu enjelaskan ayat – ayat yang bersifat global
× Tasri‟ yaitu menetapkan hukum yang belum ada dalam Al Qur‟an
× Takhsis, yaitu menetapkan hukum yang belum ditetapkan oleh Al-
Qur‟an

c. Macam – macam As Sunnah / Hadits :
1. Ditinjau dari kualitas :
× Hadits Shahih adalah hadits yang sanadnya sambung, tidak
bertentangan riwayat orang banyak, tidak cacat, rawi adil dan
dapat dipercaya.
× Hadits Hasan adalah hadits yang memenuhi persyaratan hadits
shahih tetapi ada salah satu perowinya tidak kuat hafalannya
(sama dengan shahih tapi riwayatnya tidak mashur atau populer).
× Hadits Dhoif adalah Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits
Shahih dan Hasan.
× Hadits Maudhu‟ adalah Hadits yang tidak dibuat oleh seseorang,
tetapi dikatakan berasal diri nabi Muhammad SAW.

2. Ditinjau dari jumlah perawinya :
× Hadits Mutawatir adalah hadits yang sejak awal diriwayatkan
oleh orang banyak kepada orang banyak yang tidak terhitung
jumlahnya dan tidak mungkin mereka sepakat berdusta.
8

× Hadits mansyur adalah hadits yang sejak awal diriwayatkan oleh
beberapa orang kemudian oleh orang banyak sehingga menjadi
masyur.
× Hadits Ahad adalah hadits yang sejak awal diriwayatkan oleh satu
orang kemudian beberapa orang.

d. Istilah – istilah dalam Hadits
× Sanad adalah urutan rawi dari awal sampai akhir
× Matan adalah teks atau bunyi hadits
× Rowi adalah orang yang meriwayatkan hadits

3. Ijtihad atau Ra’yu atau Akal
a. Pengertian Ijtihad
Menurut bahasa ijtihad berarti bersungguh-sungguh, rajin dan giat.
Menurut istilah ijtuhad berarti usaha yang sungguh-sungguh dari seorang
ahli hukum / fuqoha untuk mengetahui hukum syari‟at. Menurut Al-
Ghozali Ijtihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk
menetapkan hukum dengan jalan istilah (mengeluarkan hukum dari kitab
Al-Qur‟an dan sunah).

b. Fungsi Ijtihad
× Sebagai sumber hukum atau ajaran Islam ketiga
× Untuk membuktikan bahwa ajaran Islam sesuai dengan jaman,
sampai hari kiamat
× Sebagai bukti bahwa Islam memberi kebebasan berfikir

c. Hukum melakukan Ijtihad :
× Wajib ain (bila ditamya hukum suatu masalah, masalah akan hilang
sebelum hukum diketahui)
× Wajib kijayah ( bila ditanya hukum suatu masalah, masalah tidak
akan hilang sebelum hukum diketahui sedang selain dia ada mujtahid
lain)
9

× Sunnah (ijtihad suatu masalah yang belum terjadi)

d. Syarat-syarat Ijtihad (Mujtahid):
 Mengetahui nash Al Qur‟an dan Al Hadits
 Mengetahui maksud dan rahasia hukum Islam
 Mengetahui kaidah-kaidah kalliyah / umum syari‟at
 Mengetahui bahasa arab sebagai dasar memahami Al Qur‟an
 Mengetahui Ilmu Ushul Fiqih
 Mengetahui ilmu mantiq /pasti
 Mengetahui taro‟ah asliyah / pradyga tak bersalah / mubah
 Mengetahui ijma‟

e. Macam-macam Ijtihad
1) Ijma’
Ijma‟ adalah berkumpul / kesepakatan para mustahid umat
Nabi Muhammad setelah beliau wafat pada satu masa tertentu
tentang masalah tertentu.
Kesepakatan terjadi dengan 3 cara:
1. Dengan ucapan / qauli
2. Dengan perbuatan / fi‟li
3. Dengan diam / sukuti
2) Qiyas
Qiyas adalah menyamakan hukum sesuatu yang tidak disebut
hukumnya dalam nash ( Al Qur‟an dan Al Hadits ) dengan sesuatu
yang disebut hukumnya dalam nash karena ada kesamaan „ilat atau
sifat.
3) Istihsan
Istihsan adalah berpindahnya seorang mujtahid dari hukum yang
dikehendaki oleh Qiyas Khafy ( samar-samar ), atau dari hukum
kully ( umum ) kepada hukum yang bersifat pengecualian.


10

4) Istishab
Istishab adalah mengambil hukum yang telah ada atau ditetapkan
pada masa lalu dan tetap dipakai hingga masa-masa selanjutnya,
sebelum ada hukum yang mengubahnya. Misalnya seseorang ragu-
ragu apakah sudah wudhu atau belum? Dalam keadaan seperti ini,
ketentuan harusnya berpegang kepada “belum wudhu”, karena
hukum yang asal adalah belum wudhu.
5) Mashalihul Mursalah
Mashalihul Mursalah adalah penetapan hukum berdasarkan
kepada kemaslahatan, yaitu manfaat bagi manusia atau menolak
kemadhorotan atas mereka.
6) Al ‘Urf
Al „Urf adalah segala sesuatu yang sudah saling dikenal dan
dijalankan oleh suatu masyarakat dan sudah menjadi adat istiadat,
baik berupa perkataan maupun perbuatan.
7) Syar’u Man Qablana
Syar‟u Man Qablana adalah syari‟at yang diturunkan kepada
orang-orang sebelum kita, yaitu ajaran agama sebelum datangnya
agama islam.
8) Saddudz Dzari’ah
Saddudz Dzari‟ah adalah melarang perkara-perkara yang lahirnya
boleh, karena ia membuka jalan dan menjadi pendorong kepada
perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama.
9) Mazhab Shahaby
Mazhab Shahabi adalah fatwa-fatwa para sahabat mengenai
berbagai masalah yang dinyatakan setelah Rasulullah SAW wafat.

C. FUNGSI HUKUM ISLAM DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan
orang lain. Manusia membutuhkan pertolongan satu sama lain dan memerlukan
organisasi dalam memperoleh kemajuan dan dinamika kehidupannya. Setiap
individu dan kelompok sosial memiliki kepentingan. Namun demikan kepentingan
11

itu tidak selalu sama satu saama lain, bahkan mungkin bertentangan. Hal itu
mengandung potensi terjadinya benturan dan konflik. Maka hal itu membutuhkan
aturan main. Agar kepentingan individu dapat dicapai secara adil, maka dibutuhkan
penegakkan aturan main tersebut. Aturan main itulah yang kemudian disebut dengan
hukum islam yang dan menjadi pedomaan setiap pemeluknya.
Dalam hal ini hukum islam memiliki tiga orientasi, yaitu:
a. Mendidik indiividu (tahdzib al-fardi) untuk selalu menjadi sumber kebaikan,
b. Menegakkan keadilan (iqamat al-„adl),
c. Merealisasikan kemashlahatan (al-mashlahah).
Oreintasi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi manusia dalam jangka pendek
dalam kehidupan duniawi tetapi juga harus menjamin kebahagiaan kehidupan di
akherat yang kekal abadi, baik yang berupa hukum-hukum untuk menggapai
kebaikan dan kesempurnaan hidup (jalbu al manafi‟), maupun pencegahan kejahatan
dan kerusakan dalam kehidupan (dar‟u al-mafasid). Begitu juga yang berkaitan
dengan kepentingan hubungan antara Allah dengan makhluknya maupun
kepentingan orientasi hukum itu sendiri.
Ruang lingkup hukum Islam sangat luas. Yang diatur dalam hukum Islam bukan
hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antara manusia
dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain dalam masyarakat, manusia
dengan benda, dan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Dalam Al Qur‟an
cukup banyak ayat-ayat yang terkait dengan masalah pemenuhan dan perlindungan
terhadap hak asasi manusia serta larangan bagi seorang muslim untuk melakukan
pelanggaran hak asasi manusia. Bagi tiap orang ada kewajiban untuk mentaati
hukum yang terdapat dalam Al Qur‟an dan Hadits. Peranan hukum Islam dalam
kehidupan bermasyarakat sebenarnya cukup banyak, tetapi peranan utamanya, yaitu:
1. Fungsi Ibadah
Fungsi utama hukum Islam adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Hukum Islam adalah ajaran Allah yang harus dipatuhi umat manusia, dan
kepatuhannya merupakan ibadah yang sekaligus juga merupakan indikasi
keimanan seseorang. Dalam QS Adz-Dzariyaat:56, Allah SWT berfirman:
12

4`4Ò ¬e^³ÞUE= O}´_^¯- "·^e"-4Ò
·º)³ ÷pÒ÷³+lu¬4Og¯ ^)g÷

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku”.

2. Fungsi Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Hukum Islam sebagai hukum yang ditunjukkan untuk mengatur hidup dan
kehidupan umat manusia, jelas dalam praktik akan selalu bersentuhan dengan
masyarakat. Sebagai contoh, proses pengharaman riba dan khamar, jelas
menunjukkan adanya keterkaitan penetapan hukum (Allah) dengan subyek dan
obyek hukum (perbuatan mukallaf). Penetap hukum tidak pernah mengubah atau
memberikan toleransi dalam hal proses pengharamannya. Riba atau khamar
tidak diharamkan sekaligus, tetapi secara bertahap. Ketika suatu hukum lahir,
yang terpenting adalah bagaimana agar hukum tersebut dipatuhi dan
dilaksanakan dengan kesadaran penuh. Penetap hukum sangat mengetahui
bahwa cukup riskan kalau riba dan khamar diharamkan sekaligus bagi
masyarakat pecandu riba dan khamar. Berkaca dari episode dari pengharaman
riba dan khamar, akan tampak bahwa hukum Islam berfungsi sebagai salah satu
sarana pengendali sosial. Hukum Islam juga memperhatikan kondisi masyarakat
agar hukum tidak dilecehkan dan tali kendali terlepas. Secara langsung, akibat
buruk riba dan khamar memang hanya menimpa pelakunya. Namun secara tidak
langsung, lingkungannya ikut terancam bahaya tersebut. Oleh karena itu, kita
dapat memahami, fungsi kontrol yang dilakukan lewat tahapan pengharaman
riba dan khamar. Fungsi ini dapat disebut amar ma’ruf nahi munkar. Dari fungsi
inilah dapat dicapai tujuan hukum Islam, yakni mendatangkan kemaslahatan dan
menghindarkan kemudharatan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

3. Fungsi Zawajir
Fungsi ini terlihat dalam pengharaman membunuh dan berzina, yang disertai
dengan ancaman hukum atau sanksi hukum. Qishash, Diyat, ditetapkan untuk
tindak pidana terhadap jiwa/ badan, hudud untuk tindak pidana tertentu
13

(pencurian , perzinaan, qadhaf, hirabah, dan riddah), dan ta’zir untuk tindak
pidana selain kedua macam tindak pidana tersebut. Adanya sanksi hukum
mencerminkan fungsi hukum Islam sebagai sarana pemaksa yang melindungi
warga masyarakat dari segala bentuk ancaman serta perbuatan yang
membahayakan. Fungsi hukum Islam ini dapat dinamakan dengan Zawajir.

4. Fungsi Tandhim wa Islah al-Ummah
Fungsi hukum Islam selanjutnya adalah sebagai sarana untuk mengatur
sebaik mungkin dan memperlancar proses interaksi sosial, sehingga terwujudlah
masyarakat yang harmonis, aman, dan sejahtera. Dalam hal-hal tertentu, hukum
Islam menetapkan aturan yang cukup rinci dan mendetail sebagaimana terlihat
dalam hukum yang berkenaan dengan masalah yang lain, yakni masalah
muamalah, yang pada umumnya hukum Islam dalam masalah ini hanya
menetapkan aturan pokok dan nilai-nilai dasarnya. Perinciannya diserahkan
kepada para ahli dan pihak-pihak yang berkompeten pada bidang masing-
masing, dengan tetap memperhatikan dan berpegang teguh pada aturan pokok
dan nilai dasar tersebut. Fungsi ini disebut dengan Tanzim wa ishlah al-ummah.
Ke empat fungsi hukum Islam tersebut tidak dapat dipilah-pilah begitu saja
untuk bidang hukum tertentu, tetapi satu dengan yang lain saling terkait.

D. KONTRIBUSI UMAT ISLAM DALAM PERUMUSAN SISTEM HUKUM
NASIONAL
1. Lahirnya UUD 1945
Umat Islam bagian dari warga negara Republik Indonesia mereka terbiasa
dengan peraturan, baik peraturan antara manusia dengan Allah, manusia dengan
manusia, manusia dengan alam. Maka ketikaJepang yang menjajah Indonesia
memberi kesempatan membentuk BPUPKI (Badan Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia), umat Islam tidak menyia-nyiakan kesempatan ini,
mereka mengambil peran untuk perumusan sistem perundang-undangan nasional
yaitu baik perumusan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Diantara
mereka adalah K.H Wahid Hasyim, Abi Kusno, Agus Salim, K.H Kahar
Mudzakir dan lain-lain.
14

2. Lahirnya UU Perkawinan
Ketentuan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-
Undang No.1 Tahun 1974. Undang-Undang ini dikuatkan dengan Lembaran
Negara Republik Indonesia No.1 Tahun 1974 tentang Penjelasan terhadap UU
No. 1 Tahun 1974.
Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 diatur dalam Peraturan
Pemerintah R.I. No. 9 Tahun 1975.
Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal ( 1 ) disebutkan bahwa
perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam lembaran Negara RI No. 1 Tahun 1974 tentang penjelasan atas
undang-undang No. 1 Tahun 1974, disebutkan bahwa bagi orang-orang
Indonesia asli yang beragama Islam berlaku hukum agama yang telah direalisir
daerah, bagi orang Islam berlaku hukum islam dan bagi orang Kristen berlaku
Huwelijks-ordonantie, bagi orang Cina menggunakan Undang-Undang Hukum
Perdata dengan sedikit perubahan, bagi orang Timur Asing lainnya da warga
Indonesia keturunan Timur Asing lainnya berlaku Hukum Adat mereka, dan
bagi orang Eropa dan warga Indonesia Keturunan Eropa dan yang disamakan
dengan mereka berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

3. Lahirnya UU Peradilan Agama
Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang penduduknya sangat
beragam dari segi etnik, budaya dan agama. Mayoritas penduduk Indonesia
beragama Islam. Hukum agama datang ke Indonesia bersamaan dengan hadirnya
agama. Oleh karena itu sebagai mayoritas beragama Islam, maka hukum Islam
merupakan salah satu sistem yang berlaku di tengah-tengah masyarakat
Indonesia.
Ada beberapa peraturan baik berupa undang-undang peraturan pemerintah,
keputusan presiden yang didalamnya berisi tentang hukum Islam, diataranya
adalah :
15

a. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Banyak pasal
dalam undang-udang ini berasal dari hukum Islam.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1977 tentang perwakafan dan tanah
milik.
c. Instruksi presiden No 13 tahun 1980 tentang perjanjian bagi hasil.
d. Undang-undang No 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama merupakan salah
satu perundang-undangan pelaksanaan dari undang-undang No 14 tahun
1970 tentang pokok-pokok kekuasaan hakim.
e. Instruksi Presiden No 1 tahun 1991 tentang Komplikasi Hukum Islam (KHI).
KHI berisi tentang himpunan hukum Islam yang berkenaan dengan
perkawinan, waris dan wakaf.
f. Undang-undang No 7 tahun 1992 dan peraturan pemerintah No 70 dan 72
tentang Bagian bagi hasil.
g. Undang-undang No 38 tahun 1999 tentang penyelenggaran ibadah haji.

4. Dalam Pengelolaan Zakat
Zakat merupakan salah satu sendi pokok ajaran Islam. Bahkan Al Qur‟an
menjadikan zakat dan sholat sebagai lambang dari keseluruhan ajaran Islam.
Mengingat pentingnya kedudukan zakat dalam ajaran Islam, maka hukum
membayar zakat adalah fardhu „ain bgi setiap muslim sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan agama. Di Indonesia sendiri ini juga terdapat Undang-
Undang yang mengatur tentang pengelolaan zakat, diantaranya yang terdapat
dalam UUD no 39 th 1999 pasal 1 yang menyatakan bahwa :
a. Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian
serta pendayagunaan zakat.
b. Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan
yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya.
c. Muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang muslim yang
berkewajiban menunaikan zakat.
d. Mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat.
16

e. Agama adalah agama Islam.
f. Menteri adalah menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggungjawabnya
meliputi bidang agama


















17

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui wahyu
yang kini terdapat dalam Al Qur‟an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad
SAWsebagai Rosul-Nya melalui sunnah beliau yang kini tersimpan baik dalam
kitab-kitab hadist.
Sumber Hukum Umat Islam menurut Mahmud Syaltuth dibagi menjadi 3
macam yaitu : Al Qur‟an (Sumber Hukum Pertama dan Utama), Al Hadits (Sumber
Hukum ke Dua setelah Al Qur‟an), Ijtihad/ Ra‟yu/Akal.
Peranan hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya cukup
banyak, tetapi peranan utamanya, yaitu : Fungsi Ibadah, Fungsi Amar Ma‟ruf Nahi
Munkar, Fungsi Zawajir, Fungsi Tandhim wa Islah al-Ummah.
Kontribusi umat Islam dalam perumusan sistem hukum nasional antara lain:
umat Islam ikut serta dalam penyusunan UUD 1945, UU Perkawinan, UU Peradilan
Agama, UU Zakat.










18

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 2004. Garis-garis Besar Program Pengajaran Mata Pelajaran
Faqih. Ditjen Bimbingan Islam.
Qosim Rizal. 2009. Pengamalan Fiqih untuk Kelas XI Madrsah Aliyah. Yogyakarta:
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Tim Dosen Agama Islam Ikip Malang. 1999. Pendidikan Agama Islam I untuk
Mahasiswa. Malang:Penerbit IKIP Malang.
Siti dan Rifai. 2011. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI.
Madiun: Penerbit IKIP PGRI Madiun.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->