Bab I Pendahuluan

Kedelai telah menunjukan beberapa keuntungan kesehatan yang disebabkan karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan kandungan fitokimianya. Kedelai tidak hanya kaya protein, tetapi mengandung mineral yang berguna seperti, kalsium, besi, dan serat terlarut. Protein kedelai memenuhi kebutuhan protein pada manusia. Protein dan isoflavon dari kedelai telah terbukti menurunkan resiko penyakit jantung dan sebagai antikanker. Isoflavon merupakan subkelas dari flavonoid atau isomer flavon yang merupakan flavonoid minor, yang jumlahnya sangat sedikit dan sebagai bagi tumbuhan berfungsi sebagai fitoaleksin yaitu senyawa pelindung yang terbentuk dalam tumbuhan untuk pertahanan terhadap serangan penyakit. Isoflavon di alam sering dijumpai dialam dalam bentuk glikosidanya (terikat pada gugus gula). Bentuk glikon dari isoflavon larut dalam pelarut polar, sedangkan bentuk aglikonnya larut dalam pelarut nonpolar. Flavonoid minor isoflavon penyebarannya terbatas pada beberapa jenis tumbuhan. Salah satunya terdapat pada tanaman kacang kedelai (Glycine max). Senyawa isoflavon yang terdapat di kacang kedelai antara lain genistein dan daidzein. Isoflavon sukar dicirikan karena reaksinya tidak khas dengan pereaksi warna manapun. Beberapa isoflavon (misalnya daidzein) memberikan warna biru muda cemerlang dengan sinar UV bila diuapi dengan ammonia, tetapi kebanyakan yang lain (misalnya genistein) tampak sebagai bercak lembayung pudar yang dengan ammonia berubah menjadi coklat pudar (Harbone, 1987). Isoflavon merupakan bagian dari kelompok flavonoid. Isoflavon ditemukan sebagian besar pada kacang kedelai dan memiliki struktur kimia yang hampir sama dengan hormone estrogen. Isoflavon utama yang ditemukan pada kacang kedelai adalah genistein dan daidzein. Karena strukturnya yang mirip dengan estrogen dan dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen lain, isoflavon dari kedelai sering digunakan sebagai fitoestrogen (McCuey, 2004) Struktur isoflavon kedelai yang mirip dengan estrogen dan kemudahannya untuk berinteraksi dengan estrogen reseptor membuat isoflavon ini diduga bermanfaat dalam mengatasi sistem somatik, perasaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan menopause. Mengkonsumsi suplemen fitoisoflavon telah terbukti dapat berpengaruh pada gejala premenopause. Isoflavonoid dari kedelai juga berpotensi sebagai sarana alternatif dalam terapi kesehatan jangka panjang yang berhubungan dengan menopause dan khususnya osteoporosis (McCuey, 2004). Isoflavon ini boleh dibilang hanya terdapat pada kedelai saja. Isoflavon ini berfungsi melakukan regulasi untuk menghambat pertumbuhan kanker terutama kanker prostat. Selain berfungsi untuk mencegah kanker prostat, biji kedelai juga berfungsi untuk menurunkan resiko terkena penyakit jantung, diabetes, ginjal dan osteoporosis (Asih, 2009). Karena begitu pentingnya fungsi tanaman ini, serta dugaan terhadap adanya senyawa golongan isoflavon yang dikandung, maka banyak penelitan - penelitian dilakukan mengenai isolasi dan identifikasi senyawa golongan isoflavon dari biji kedelai (Glycine max).

1

dan tidak memerlukan keahlian. Serbuk ini kemudian dimaserasi yaitu perendaman dengan pelarut. Dengan metode ini didapatkan harga Rf yang spotnya dapat diperjelas dengan penampak bercak dan dilihat dibawah sinar UV. Teknik maserasi dipilih karena peralatan yang digunakan sederhana. Dengan demikian.Proses identifikasi isoflavon pada kedelai dimulai dengan pengumpulan bahan. kedudukan gugus hidroksil fenol bebas pada inti flavonoid dapat ditentukan dengan menambahkan pereaksi geser ke dalam larutan cuplikan dan mengamati pergeseran puncak serapan yang terjadi. metode ini dilakukan untuk memisahkan senyawa isoflavon yang ada dalam fraksi hasil kromatografi kolom. Pengujian dengan geseran spektum membantu dalam menentukan pola oksigenasi. Selanjutnya adalah pemisahan dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Setelah pemisahan dengan KLT. metode ini dipilih karena dengan metode ini akan didapat fraksi – fraksi yang akan membantu dalam analisis selanjutnya. Teknik lanjutan setelah maserasi yang digunakan adalah kromatografi kolom lambat. dilakukan pengujian dengan geseran spektrum. Dengan teknik maserasi bahan aktif dapat diperoleh dari simplisia dengan maksimal. Disamping itu. maserasi dilakukan untuk mengeluarkan bahan aktif dari serbuk simplisia. secara tidak langsung cara ini berguna untuk menentukan kedudukan gula atau metal yang terikat pada salah satu gugus hidroksil fenol (Markham. karena perendaman yang dilakukan lebih dari satu hari. kemudian penyederhanaan bentuk bahan dengan mengubah biji menjadi bentuk serbuk. 1988) Bab II ISI 2 .

Struktur Kimia . Kedelai memiliki kandungan isoflavon yang tinggi. Senyawa aglikon adalah genestein.2. Bentuk senyawa demikian ini mempunyai aktivitas fisiologi kecil karena berada dalam bentuk glikosida. Hal ini ditunjukkan oleh Murata yang membuktikan bahwa faktor-2 (6. baik melalui proses fermentasi maupun proses nonfermentasi. Senyawa Isoflavonoid Isoflavonoid adalah salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan.7. daidzin. 2.7. dan daidzein. danglistin.Genistein dan Daidzein 3 . Senyawa isoflavon pada umumnya berupa senyawa kompleks atau konjugasi dengan senyawa gula melalui ikatan glikosida (Snyder. Kandungan isoflavon pada kedelai berkisar antara 24mg/gram kedelai. Hasil transformasi lebih lanjut dari senyawa aglikon menghasilkan senyawa yang mempunyai aktivitas biologi lebih tinggi yaitu faktor-2 (6. khususnya dari golongan leguminoceae (tanaman berbunga kupu-kupu). khususnya pada bagian hipokotil (germ) yang akan tumbuh menjadi tanaman..1. Isoflavonoid termasuk dalam golongan flavonoid (kelompok senyawa fenol) dengan kerangka dasar 1..Isoflavon . Jenis senyawa isoflavon utama pada kedelai adalah genistin.2-diarilpropan. Selama proses pengolahan.2. terutama melalui proses hidrolisa sehingga diperoleh senyawa isoflavon bebas yang disebut dengan aglikon yang memiliki aktivitas lebih baik.4′-trihidroksi isoflavon). 1987).4′-trihidroksi isoflavon) mempunyai aktivitas antioksidan dan antihemolitik lebih baik dari daidzein dan genistein(Murata. 1985). glisitein.senyawa isoflavon dapat mengalami transformasi.

Titik leleh 315 ~ 316 ℃.Identifikasi isoflavon Pemeriksaan golongan flavonoid dapat dilakukan dengan uji warna yaitu : 1. lalu diaktivasi pada suhu 1200 C selama 30 menit 4 .23. . hampir tidak larut dalam air. Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua menjadi kuning muda. Berat molekulnya 270. Test dengan H2SO4 (pekat) Beberapa mililiter sampel dalam alcohol ditambahkan 2-4 tetes larutan H2SO4 (pekat).2. 2.298º C.Identifikasi genistein dan daidzein Dapat dilakukan dengan identifikasi KLT-Spektrofotodensitometri • • Disiapkan plat silica gel GF 254 dengan ukuran 10 x 10 cm Plat silica selanjutnya dicuci dengan 3 mL metanol. Puncak penyerapan UV 250nm.3. larut dalam alkali encer dan membentuk warna kuning. 3. Test Wilstatter Beberapa mililiter sampel dalam alcohol ditambahkan 2-4 tetes larutan HCl dan 2-3 potong kecil logam Mg. Test dengan NaOH 10% Beberapa mililiter sampel dalam alcohol ditambahkan 2-4 tetes larutan NaOH 10%. Titik lelehnya antara 297 . Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua menjadi orange. Sifat – sifat Sifat dari genistein adalah larut dalam pelarut organik umum. Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua menjadi merah tua. Sifat dari daidzein adalah titik lebur 315 ~ 323 ° C (dekomposisi).4 Identifikasi . 2.

303 bh 261. serta berperan sebagai pelindung terhadap tekanan lingkungan yang banyak (Dixon et al. dan dapat disebabkan oleh tekanan lingkungan seperti kekurangan gizi. 327bh 2. sintase chalcone (c2). UDP-GLC: flavonoid 3 – Oglukosiltransferase (bz1). 5 . lalu plat dikeringkan dengan dianginanginkan Plat dilihat di bawah sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm Discan pada spektrofotodensitometer pada panjang gelombang 200-800 nm • • • Kemudian data hasil scanning dianalisis dan dicocokkan dengan literature. Gen ini termasuk amonia liase fenilalanin (PAL). anthocyanin. chalcone isomerase (chi).5.5 mL metanol. 249. dan paparan sinar UV ( Dixon dan Paiva. 1. dan kelas tertentu phytoalexins yang memiliki peran dalam perkembangan normal. 328 276. ). 328bh NaOMe ( λmaks nm) 259. chamber dijenuhkan dengan eluen Masing-masing fraksi dan ekstrak pembanding ditotolkan pada plat sebanyak 10 μl pada titik yang berbeda dengan jarak penotolan 0. Nama kandungan Daidzein Genistein MeOH ( λmaks nm) 238bh. No. 289bh. 260bh. serangan patogen. 1995. dingin berkepanjangan. flavanon 3-hidroksilase (f3h). flavanon / reduktase dihydroflavanol (a1).5 ) sebanyak 10 mL Fraksi dan ekstrak pembanding direkonstitusi dengan 0. 1995 ). yang memberikan senyawa banyak termasuk lignin. dan glutathione S-transferase (bz2).• • • Disiapkan eluen n-heksana : kloroform : etil asetat ( 9: 1: 0. sintase proantosianidin (a2). Set gen encoding enzim dari jalur dengan tahapan perkembangan dan jaringan-diatur secara khusus.7 cm Plat dielusi hingga mencapai jarak elusi 8 cm. Biosintesis Isoflavon disintesis sebagai bagian dari jalur fenilpropanoid. Jalur fenilpropanoid memiliki beberapa cabang umum untuk kacang-kacangan maupun non-kacangan. 2.

yang diubah menjadi daidzein (Gambar diagram parsial ). flavon. Enzim kunci ini yang diarahkan perantara jalur fenilpropanoid dari flavonoid untuk isoflavonoid adalah isoflavon sintase (IFS). Gen pengkode enzim digarisbawahi telah terbukti diaktifkan pada jagung oleh C1 dan panah R. adalah produk dari sintase chalcone isomerase dan chalcone. serta beberapa jalur cabang. 6 . naringenin.Diagram parsial dari jalur fenilpropanoid menampilkan intermediet dan enzim yang terlibat dalam sintesis isoflavon. Aktivitas senyawa chalcone reduktase (CHR) diperlukan untuk menghasilkan substrat untuk sintesis kedua isoflavon. dan anthocyanin. liquiritigenin. flavonol. Kacang-kacangan dan beberapa spesies lainnya memiliki fungsi enzimatik yang unik yang melakukan migrasi 2. Enzim ditunjukkan dalam huruf miring. enzim yang umum untuk kebanyakan tanaman (Gambar diagram parsial ). Substrat ini. putus – putus mewakili beberapa langkah. Substrat untuk memproduksi isoflavon genistein adalah perantara dalam cabang dari jalur fenilpropanoid yang mengarah pada sintesis dari flavonoid.3 pada cincin B-dari naringenin atau liquiritigenin. proanthocyanidins. sehingga menghasilkan isoflavon. yang meliputi flavanon. Enzim dalam huruf tebal dikodekan oleh gen dinyatakan sebagai transgen dalam penelitian ini.

dan merupakan tanaman semusim. serta 18 hingga 30 mikron di bagian tengah. sedangkan hipodermis berbentuk "bearercells" dengan tinggi 40 hingga 120 mikron dan lebar 30 hingga 40 mikron di bagian atas dan dasar.4680 pada 40ºC.6. lebar sekitar 5-8 mm. batang. Retak Menjong (Lampung). Morfologi Tanaman Kedelai Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak. berbentuk semak. Kadale (Ujung Pandang).5 sampai 33 mg. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya.922 ke 0. Kacang Rimang (Minangkabau). Minyak kacang kedelai berwarna kuning emas. 2006). 100 biji kedelai beratnya antara 14.928. indeks bias 1. nilai penyabunan 190-195. Kacang Bulu (Sunda). Lawui (Bima). 7 . dan tebal antara 4-7 mm. yaitu akar. jika dipanaskan sampai 260oC berubah menjadi pucat. dan biji sehingga pertumbuhannya bisa optimal (Irwan. Merrill Menurut Handbook of Pharmacognosy deskripsi biji kedelai adalah sebagai berikut. Soyaboon (Belanda) Nama asing Klasifikasi Tanaman Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Marga Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonnae : Leguminales : Leguminoceae : Glycine : Glycine max L. Merrill Nama lokal : Kedelai (Indonesia). nilai yodium 130-142.2. Kedhele (Madura). Tumbuhan asal Kedelai (Glycine max L) Nama Tanaman Nama ilmiah : Glycine max L. Biji kedelai berwarna kuning pucat atau kekuning-kuningan. Epidermis dari beberapa kulit biji terdiri dari sel-sel prisma poligon dengan tinggi 45 sampai 60 mikron dan lebar 7 sampai 20 mikron. Biji berbentuk bulat telur. Sarupapa (Titak). daun. dengan panjang sekitar 6-11 mm. Dele (Jawa). akibat penebalan dinding antiklinal selulosa. Gadelei (Halmahera) : Soybean (Inggris). dengan berat jenis 0. polong.

000 tanaman/hektar. Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Artinya. yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang. Jumlah batang bisa menjadi sedikit bila penanaman dirapatkan dari 250. namun demikian. tetapi ada juga varietas kedelai yang tidak bercabang. sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Pada kondisi normal. Perkembangan akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah. yaitu stadium kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun 8 . ada varietas hasil persilangan yang mempunyai tipe batang mirip keduanya sehingga dikategorikan sebagai semideterminate atau semiindeterminate. Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Hipokotil dan dua keping kotiledon yang masih melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. kecukupan unsur hara. walaupun tanaman sudah mulai berbunga. Jumlah batang tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan jumlah biji yang diproduksi. Perbedaan sistem pertumbuhan batang ini didasarkan atas keberadaan bunga pada pucuk batang. jenis tanah. belum tentu produksi kedelai juga banyak (Irwan. Disamping itu.000 tanaman/hektar menjadi 500. Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam. akar adventif terjadi karena cekaman tertentu. Bagian batang kecambah yang berada diatas kotiledon tersebut dinamakan epikotil. Pada umumnya. umumnya akar tunggang hanya tumbuh pada kedalaman lapisan tanah olahan yang tidak terlalu dalam. Pertumbuhan batang kedelai dibedakan menjadi dua tipe. walaupun jumlah cabang banyak. Cabang akan muncul di batang tanaman. • Daun Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan. Jumlah cabang tergantung dari varietas dan kondisi tanah. yaitu tipe determinate dan indeterminate. serta ketersediaan air di dalam tanah. • Batang dan cabang Hipokotil pada proses perkecambahan merupakan bagian batang. Jumlah buku batang indeterminate umumnya lebih banyak dibandingkan batang determinate. misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi. mulai dari pangkal akar sampai kotiledon. cara pengolahan lahan. Sementara pertumbuhan batang tipe indeterminate dicirikan bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun. sekitar 30-50 cm. Sementara akar serabut dapat tumbuh pada kedalaman tanah sekitar 20-30 cm. sekitar 3-4 hari setelah berkecambah dan akan semakin bertambah banyak dengan pembentukan akar-akar muda yang lain (Irwan. 2006). Akar serabut ini mula-mula tumbuh di dekat ujung akar tunggang. 2006).• Akar Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil. Pertumbuhan akar tunggang dapat mencapai panjang sekitar 2 m atau lebih pada kondisi yang optimal. Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah. jumlah buku berkisar 15-30 buah. Jumlah buku pada batang tanaman dipengaruhi oleh tipe tumbuh batang dan periode panjang penyinaran pada siang hari.

daun mempunyai bulu dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi. Umumnya. Bentuk daun diperkirakan mempunyai korelasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Rontoknya bunga ini dapat terjadi pada setiap posisi buku pada 1. Pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Umumnya. sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Oleh karena itu. seperti di Indonesia. tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. yaitu stadia vegetatif dan stadia reproduktif. tetapi biasanya antara 3-20 buah/mm2. yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Jumlah bulu pada varietas berbulu lebat.10 hari setelah mulai terbentuk bunga. Kepadatan bulu bervariasi. Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. dapat mencapai 3-4 kali lipat dari varietas yang berbulu normal. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam. • Bunga Tanaman kacang-kacangan. Pada suhu tinggi dan kelembaban rendah. termasuk tanaman kedelai. 2006). khususnya saat pembentukan bunga. Jumlah bunga yang rontok tidak dapat membentuk polong yang cukup besar. Warna bunga yang umum pada berbagai varietas kedelai hanya dua. hanya berkisar 20-80%. berjumlah antara 190-320 buah/m2. Anjasmoro. keenam. Bunga pertama yang terbentuk umumnya pada buku kelima. Hama penggerek polong ternyata sangat jarang menyerang varietas kedelai yang berbulu lebat. maupun batang tanaman kedelai (Irwan. Setiap ketiak tangkai daun yang mempunyai kuncup bunga dan dapat berkembang menjadi polong disebut sebagai buku subur. atau pada buku yang lebih tinggi. tergantung varietas. dan Mahameru. sedangkan varietas yang berbulu jarang yaitu Wilis.0025 mm. Daun mempunyai stomata. Stadium vegetatif mulai dari tanaman berkecambah sampai saat berbunga.Umumnya. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak tangkai daun yang diberi nama rasim. mempunyai dua stadium tumbuh. daerah yang mempunyai tingkat kesuburan tanah tinggi sangat cocok untuk varietas kedelai yang mempunyai bentuk daun lebar. jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak tangkai daun lebih banyak.bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa pertumbuhan. Dieng. sedangkan stadia reproduktif mulai dari pembentukan bunga sampai pemasakan biji. Lebat-tipisnya bulu pada daun kedelai berkait dengan tingkat toleransi varietas kedelai terhadap serangan jenis hama tertentu. Tanaman kedelai di Indonesia yang mempunyai panjang hari rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi (>30° C). polong. • Polong dan biji 9 . Contoh varietas yang berbulu lebat yaitu IAC 100. bentuk daun kedelai ada dua. Jumlah bunga pada tipe batang determinate umumnya lebih sedikit dibandingkan pada batang tipe indeterminate. Tidak setiap kuncup bunga dapat tumbuh menjadi polong. antara 2-25 bunga. Periode berbunga pada tanaman kedelai cukup lama yaitu 3-5 minggu untuk daerah subtropik dan 2-3 minggu di daerah tropik. Hal ini akan merangsang pembentukan bunga. Tanaman kedelai termasuk peka terhadap perbedaan panjang hari. yaitu putih dan ungu. Panjang bulu bisa mencapai 1 mm dan lebar 0. para peneliti pemulia tanaman kedelai cenderung menekankan pada pembentukan varietas yang tahan hama harus mempunyai bulu di daun.

Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong. coklat. hijau. Bentuk biji bervariasi. agak gepeng. 2. tidak rusak dan dapat digunakan atau disimpan dalam jangka waktu relatif lama dengan cara mengurangi kandungan air dan menghentikan reaksi enzimatik yang mungkin dapat menguraikan senyawa bioaktif dan menurunkan mutu atau merusak simplisia itu. yaitu bulat. atau kombinasi campuran dari warna-warna tersebut. yaitu kulit biji dan janin (embrio).Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. mulai dari kuning. antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. • Pencucian Air yang digunakan dapat dari berbagai sumber namun tetap harus memperhatikan kemungkinan adanya pencemaran. kerikil. dan bahan yang rusak. Biji kedelai terbagi menjadi dua bagian utama. Pada ujung hilum terdapat mikrofil. dan bulat telur. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam. tergantung pada varietas tanaman. Biji dapat dapat dipanen pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah. jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50. hitam. Simplisia • Pengumpulan bahan baku (Pemanenan) Waktu panen suatu organ tanaman dari suatu jenis tanaman sangat berhubungan erat dengan pembentukan senyawa bioaktif dalam organ tanaman tersebut. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. dan besar (>13 g/100 biji). Namun demikian. biji kedelai dapat langsung ditanam. 2006). Pada kulit biji terdapat bagian yang disebut pusar (hilum) yang berwarna coklat. sedang (10-13 g/100 biji). rumput. biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13% (Irwan. Panjang polong muda sekitar 1 cm. atau putih. • Sortasi basah Sortasi basah dilakukan untuk membersihkan benda-benda asing dari luar.7. hitam. bagian tanaman lain. Waktu yang tepat untuk panen adalah pada saat senyawa bioaktif berada dalam jumlah maksimal pada organ tanaman yang dikumpulkan. Gambar polong kedelai Di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3 biji. Namun demikian. Seperi tanah. • Pengeringan Tujuan pengeringan organ tanaman atau tanaman yang dipanen adalah untuk mendapatkan simplisia yang awet. bahkan ratusan. dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak. sebagian besar biji berbentuk bulat telur. mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji). Pada setiap tanaman. Air dalam sel dan jaringan tumbuhan yang ada setelah sel atau jaringan itu mati akan 10 . Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Warna kulit biji bervariasi. Setiap biji kedelai mempunyai ukuran bervariasi. Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai. berupa lubang kecil yang terbentuk pada saat proses pembentukan biji. bagian lain tanaman.

• Pengepakan dan Penyimpanan Mutu simplisia akan menjadi turun kalau kondisi penyimpanan tidak diperhatikan. Ekstraksi dan isolasi 11 . dan kotoran udara lain. Ruang penyimpanan simplisia yang telah diwadahi juga perlu diperhatikan. biji. sehingga uv terhalang (uv dapat merusak zat aktif).merupakan media pertumbuhan jamur. sinar matahari langsung. Tujuan penyimpanan yang baik dari suatu simplisia adalah untuk mencegah menurunnya mutu simplisia dalam masa penyimpanan. kulit kayu.8. 2. • Sortasi kering Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir penyiapan simplisia. dapat dilakukan dengan dua cara pengeringan yaitu dengan panas sinar matahari langsung dan tidak dikenai sinar matahari langsung. Demikian pula enzim-enzim tertentu dalam sel akan menguraikan senyawa bioaktif tertentu. Proses ini dilakukan sebelum simplisia dibungkus kemudian disimpan. Digunakan kain hitam karena kain hitam dapat menyerap panas bukan sinarnya. yaitu pengeringan alamiah dan pengeringan buatan. rimpang). kelembaban relatif rendah. Tujuan sortasi disini adalah memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering. Wadah dari logam tidak dianjurkan karena dalam beberapa hal berpengaruh terhadap kadar senyawa aktif. dan lain-lain) dan mengandung senyawa bioaktif yang relatif stabil. Di samping itu perlu juga diatur letak dan susunan wadah di dalam ruang sehingga memudahkan orang mencari simplisia yang diperlukan. sesaat setelah sel mati dan selama sel atau organ tersebut masih mengandung jumlah air tertentu yang memungkinkan reaksi enzimatik berlangsung. kedap udara diperlukan untuk simplisia. Udara tropik dengan kelembaban tinggi memudahkan pertumbuhan jamur. Suhu rendah. Pengaruh-pengaruh luar yang perlu dicegah antara lain masuknya serangga. tekanan. Pengeringan buatan menggunakan alat yang dapat diatur suhu. adalah kondisi ruang yang dianjurkan. tekanan udara dalam ruang relatif tinggi dari tekanan udara luar atau sistem sirkulasi udara yang baik. Wadah dari plastik tebal kualitas baik atau dari gelas berwarna gelap relative baik. Pengeringan alamiah bergantung dari zat aktif yang dikandung dalam organ tanaman yang dikeringkan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua tahap. Kekedapan terhadap udara luar diperlukan untuk mencegah masuknya kelembaban udara yang tinggi dari luar ke dalam wadah. Pengeringan yang tidak dikenai sinar matahari langsung dilakukan dengan diangin-anginkan di tempat teduh (bunga) atau ditutup dengan kain hitam (daun. Pengeringan dengan sinar matahari langsung dilakukan untuk mengeringkan organ tanaman yang relatif keras (kayu. Wadah yang bersih. dan sirkulasi udaranya. kelembaban.

Begitu sampel masuk ke dalam fase diam. Bila fase gerak telah mencapai batas yang ditentukan. 12 . Setelah itu kecepatan aliran kolom diatur dan bubur dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam kolom sampai seluruh bubur masuk ke dalam kolom. Silika gel 60 (70-100) Mesh terlebih dahulu dipanaskan dalam oven pada suhu 1100C.61 g. Noda yang terbentuk diamati dengan lampu UV 254 nm dan 366 nm kemudian dihitung Rf-nya. Kromatografi kolom Fase diam yang digunakan pada kromatografi kolom adalah silika gel. dan dikeringkan di udara terbuka. Setelah kering lalu dimasukkan dalam bejana. Hasil hidrolisis diekstraksi dengan nheksana. kemudian sampel dimasukkan dengan hati-hati melalui dinding kolom dan aliran fase gerak diatur. Setelah bubur masuk.Ekstraksi Sekitar 1740 g serbuk biji kedelai dimaserasi dengan metanol teknis sebanyak 10L. Kromatografi lapis tipis ( KLT ) Pemisahan dengan KLT digunakan untuk mencari fase gerak yang terbaik yang akan digunakan dalam kromatografi kolom. b). Sedikit fraksi positif flavonoid yaitu fraksi n-heksana dilarutkan dengan pelarutnya (eluen yang akan dipakai) kemudian ditotolkan pada plat kromatografi lapis tipis dengan menggunakan pipa kapiler. etil asetat dan n-butanol. Fraksi hasil KLT penggabungan yang mempunyai pola pemisahan sama (harga Rf sama) digabungkan. kemudian diuapkan dengan penguap putar vakum dan masing-masing kelompok fraksi yang diperoleh diuji dengan pereaksi flavonoid. Pemisahan dan pemurnian dilakukan dengan cara kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom. kemudian ditambahkan sedikit fase geraknya sehingga menjadi bubur.82 g. a). Bejana kromatografi sebelum digunakan untuk elusi. Fase diam yang digunakan pada KLT adalah silika gel GF254 dan sebagai fase gerak digunakan nheksana. plat diangkat. Sebagai penampak noda digunakan asam sulfat. kloroform. Ekstrak n-heksana yang diperoleh diuapkan dengan penguap putar vakum sehingga diperoleh ekstrak kental n-heksana sebanyak 2. Ekstrak yang diperoleh kemudian disaring dan diuapkan dengan menggunakan penguap putar vakum (rotary vacuum evaporator) sampai diperoleh ekstrak kental metanol sebanyak 71. fase diam ini dielusi hingga homogen (kolom ini didiamkan selama 1 hari sehingga diperoleh pemampatan yang sempurna). kemudian keseluruhan fraksi yang dihasilkan dilakukan KLT penggabungan. Sementara itu sampel dilarutkan dalam pelarut. fase gerak ditambahkan secara kontinyu sampai terjadi pemisahan. Ekstrak ini kemudian dihidrolisis dengan HCl 2N selama 2-3 jam.. sedangkan fase geraknya digunakan fase gerak yang memberikan pemisahan terbaik pada KLT. kemudian ekstrak kental yang diperoleh diuji dengan uji flavonoid. Eluat ditampung pada botol penampung fraksi setiap 3 mL. terlebih dahulu dijenuhkan dengan fase geraknya. Pelarut (fase gerak yang digunakan) dimasukkan ke dalam kolom sampai hampir penuh dan keadaan kran kolom tertutup.

lalu dikocok. Anti tumor/ anti kanker 13 . kemudian diukur panjang gelombangnya. Pengukuran spektrum dengan pereaksi geser AlCl3 dilakukan dengan menambahkan enam tetes pereaksi geser AlCl3 ke dalam larutan persediaan. Kemudian diukur panjang gelombangnya. cuplikan dibuang dan sel dicuci. b). cuplikan dibuang dan sel dicuci. 2. aluminium klorida dan asam klorida. kemudian diukur panjang gelombangnya.2. aluminium klorida. Setelah diukur. Akhirnya cuplikan dibuang dan sel dicuci. dikocok hingga bercampur. Tahapan keja penggunaan pereaksi geser adalah sebagai berikut : a). ditambahkan 3 tetes NaOH ke dalam kuvet. Untuk spektrum dengan pereaksi geser AlCl3 + HCl dilakukan dengan cara menambahkan tiga tetes HCl. kemudian diukur serapannya. Pengukuran spektrum NaOAc + H3BO3 diukur setelah ditambahkan serbuk H3BO3 pada larutan persediaan yang kemudian dicampur/dikocok (banyaknya serbuk H3BO3 kira-kira setengah dari NaOAc yang ditambahkan sebelumnya). a). Campuran yang terbentuk selanjutnya ditempatkan pada dua buah lempeng kristal NaCl dan dimasukkan ke dalam alat inframerah. Karakterisasi gugus fungsi golongan senyawa flavonoid dengan spektrofotometer inframerah (IR) Isolat aktif yang diduga golongan senyawa flavonoid yang telah murni dicampur dengan nujol. c). Pengukuran spektrum dengan pereaksi geser NaOAc dilakukan dengan cara menambahkan serbuk NaOAc dalam kuvet yang berisi larutan persediaan hingga terdapat kira-kira 2 nm lapisan NaOAc pada dasar kuvet. kemudian dicampur dan diukur. Setelah mengukur spektrum cuplikan dalam metanol. b). Penentuan struktur molekul Karakterisasi golongan senyawa flavonoid dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri inframerah.10. Sebanyak 1 mg isolat dilarutkan dalam 100 mL methanol (larutan persediaan). natrium asetat dan asam borat. natrium asetat. Selanjutnya untuk mengetahui kedudukan gugus hidroksi pada inti flavanoid dilakukan dengan menambahkan pereaksi geser ke dalam larutan cuplikan. Setelah diukur. Karakterisasi golongan senyawa flavonoid dengan spektrafotometer UV-Vis Pengukuran spektrum UV-Vis dilakukan pada panjang gelombang 250-500 nm.9. kemudian diukur. Pereaksi geser yang digunakan antara lain natrium hidroksida. Aktivitas biologic a.

dan mungkin juga otak (Barnes dan Kein. dan empedu bersifat responsif terhadap _-ER ini. Khusus pada wanita. hormon ini peranannya lebih luas. dikatakan bahwa estrogen juga dapat mencegah risiko kanker. Efek yang lebih luas terbukti pula pada perlakuan terhadap tepung kedelai. Potensi tersebut antara lain : • • • • • menghambat perkembangan sel kanker payudara menghambat aktivitas enzim DNA isomerase II menghambat regulasi siklus sel sifat antioksidan dan anti angiogenik yang disebabkan oleh sifat reaktif terhadap senyawa radikal bebas sifat mutagenic pada gen endoglin ( gen transforman factor pertumbuhan beta atau TGFβ ). Anti Kolesterol Efek isoflavon terhadap penurunan kolesterol telah terbukti tidak saja pada binatang percobaan seperti tikus dan kelinci. Mekanisme ini dapat berlangsung apabila konsentrasi genistein lebih besar dari 5μM.Dari sejumlah senyawa flavonoida dan isoflavonoida. tetapi juga pada manusia. 14 . Beberapa target organ seperti pertumbuhan dada. tidak saja berfungsi sebagai sistem reproduksi. Di sisi lain. yang banyak disebut berpotensi sebagai anti tumor / anti kanker adalah genistein. produksi estrogen menurun sehinngga dapat menimbulkan berbagai gangguan. Pada wanita menjelang menopause. dimana tidak saja kolesterol yang turun. tetapi juga trigliserida VLDL dan LDL. Estrogen dan osteoporosis Estrogen merupakan hormon yang diproduksi terutama oleh ovarium dan sebagian oleh ginjal pada bagian korteks adrenalis. c. Untuk itu. Dalam melakukan kerjanya. Dalam keadaan demikian. tetapi juga berfungsi untuk tulang. baik pada wanita maupun pada pria. jantung. yang berakibat pada penurunan kandungan kolesterol. Isoflavon. perlu dipikirkan bagaimana mensubstitusi hormon agar fungsi hormonalnya masih dapat dipertahankan. estrogen membutuhkan estrogen reseptor (ERs) yang dapat "on/off" di bawah kendali gen pada kromosom yang disebut _-ER. 1998). Dalam tubuh kita berfungsi antara lain untuk pertumbuhan secara normal. b. serta untuk memelihara kesehatan tubuh pada orang dewasa. penggunaan estrogen yang dikombinasikan dengan progesteron sinttetik (hormon RT) dapat mencegah proses osteoporosis. yang merupakan isoflavon aglikon (bebas). tulang. Mekanisme lain penurunan kolesterol oleh isoflavon diterangkan melalui pengaruh terhadap peningkatan katabolisme sel lemak untuk pembentukan energy.

. Murata dan Ikehata (1968) mengatakan bahwa efek antihemolisis (pecahnya sel-sel darah merah) dari ekstrak tempe naik berbanding lurus dengan waktu inkubasi. d. mempunyai sifat menghambat agregasi platelet (keping-keping sel darah). Di samping aktivitas tersebut. dilatan koroner. (1986) menyatakan bahwa isoflavon dan poli-metoksiflavone yang diekstrak dari tanaman Leguminosa Milletha riticalata dan Baishinia champiomi yang terikat pada protein. khususnya efek estrogenik. Walaupun ikatannya lemah. senyawa flavon mempunyai aktivitas vasodilator yang telah dijual dalam bentuk obat. 15 . terbukti berpotensi sebagai anti-kontriksi pembuluh darah (konsentrasi 5 µg/ml) dan juga berpotensi menghambat pembentukan LDL (low density lipoprotein). maka adanya isoflavon yang bersifat estrogenik dapat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses klasifikasi. 7. OWR adalah penyakit keturunan dimana pasien menderita perdarahan hidung pada periode tertentu karena mutasi genetik yang menyebabkan kerusakan protein yang berfungsi sebagai signal terhadap hormon TGF-ß (transforming growth factor-betha). Studi di Universitas Yale menunjukkan bahwa pasien penderita (Osler-Weber-Rendu atau OWR) dengan diet kedelai hampir dapat menghentikan perdarahan hidung. Jha. Mengingat hormon estrogen berpengaruh pula terhadap metabolisme tulang. 1997). ternyata mempunyai struktur 6. dann menghambat introphy otot jantung (cardio trophyc) sehingga dapat memperlancar sistem sirkulasi darah. dimana equol ini mempunyai struktur fenolik yang mirip dengan hormon estrogen. 1990).74' tri hidroksi isoflavan. isoflavon dapat melindungi proses osteoporosis pada tulang sehingga tulang tetap padat dan masif. yaitu Crataegut (Schwabe) dan Cratylene (Madaus) yang diekstrak dari tanaman Citaegus oxycantha. setelah dikristalisasi dan diidentifikasi. 1985. Dengan kata lain. 4'trihidroksi isoflavon (Faktor-II) dengan daya antihemolisis setaraf dengan vitamin E dalam percobaannya pada darah yang tanpa atau telah diinduksi lebih dulu dengan asam dialurat. Hasil ekstraksi tersebut. Penghentian perdarahan ini dapat diteranngkan melalui fungsi isoflavon sebagai interface dengan TGF-ß. Khususnya isoflavon pada tempe yang aktif sebagai antioksidan. Efek estrogenik ini terkait dengan struktur isoflavon yang dapat ditransformasikan menjadi equol. terutama proses klasifikasi. yaitu 6. tetapi dengan ßER mempunyai ikatan sama dengan estrogen. Pengaruh pada Sistem Sirkulasi dan Penyakit Jantung Koroner Berbagai pengaruh positif isoflavon terhadap sistem peredaran darah dan penyakit jantung banyak ditunjukkan oleh para peneliti pada aspek yang berlainan. Dengan demikian. Senyawa isoflavon terbukti juga mempunyai efek hormonal. Hasil penelitian Chen dkk. Obat lain yang berpotensi pula untuk melancarkan sirkulasi darah yaitu Tebonin (Schwabe) yang diekstrak dari tanaman Ginko biloba (Achmad.khususnya genistein. dapat terikat dengan _-ER. isoflavon dapat mengurangi terjadinya arteriosclerosis pada pembuluh darah (Jha.

Senyawa isoflavon pada umumnya berupa senyawa kompleks atau konjugasi dengan senyawa gula melalui ikatan glikosida (Snyder. 2000). 1987). Isoflavonoid termasuk dalam golongan flavonoid (kelompok senyawa fenol) dengan kerangka dasar 1.. dkk. 16 . Bab III Penutup Kesimpulan Isoflavonoid adalah salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan.2-diarilpropan.Pengaruh isoflavon terhadap penurunan tekanan darah dan risiko CVD (cardio vascular desease) banyak dihubungakan dengan sifat hipolipidemik dan hipokholesteremik senyawa isoflavon (Teramoto. khususnya dari golongan leguminoceae (tanaman berbunga kupu-kupu).

Jenis senyawa isoflavon utama pada kedelai adalah genistin. Paiva NL (1992) Stress response in alfalfa (Medicago sativa L. Paiva NL (1995) Stress-induced phenylpropanoid metabolism.Identifikasi isoflavon bisa dilakukan dengan uji warna. danglistin. Isoflavon mempunyai beberapa khasiat diantaranya: . Kwolek WF (1983) Soybean isoflavones: effect of environment and variety on composition. Paiva NL (1995) The isoflavonoid phytoalexin pathway: from enzymes to genes to transcription factors. 17 . Bentuk senyawa demikian ini mempunyai aktivitas fisiologi kecil karena berada dalam bentuk glikosida. yaitu : 1. serta berperan sebagai pelindung terhadap tekanan lingkungan yang banyak (Dixon et al. ). dapat dilakukan dengan identifikasi KLTSpektrofotodensitometri. anthocyanin. Physiol Plant93:385–392. Test dengan NaOH 10% 3. Antifungal activity of medicarpin and its biosynthetic precursors: implications for the genetic manipulation of stress metabolites. Isoflavon disintesis sebagai bagian dari jalur fenilpropanoid.anti kolesterol . Eldridge AC.Kedelai memiliki kandungan isoflavon yang tinggi. Dixon RA.Plant Cell 7:1085–1097. dan kelas tertentu phytoalexins yang memiliki peran dalam perkembangan normal.Hormon estrogen Daftar Pustaka • • • • Blount JW. 1995. Kandungan isoflavon pada kedelai berkisar antara 24mg/gram kedelai.Physiol Mol Plant Pathol 41:333–349.): XVI. daidzin. J Agric Food Chem 31:394–396. Dixon RA. Dixon RA. .anti tumor / anti kanker . Harrison MJ. Test dengan H2SO4 (pekat) . yang memberikan senyawa banyak termasuk lignin. khususnya pada bagian hipokotil (germ) yang akan tumbuh menjadi tanaman.Identifikasi genistein dan daidzein. Jalur fenilpropanoid memiliki beberapa cabang umum untuk kacang-kacangan maupun non-kacangan. Karakterisasi golongan senyawa flavonoid dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri inframerah. Test Wilstatter 2.

Welle R. Lau SC. in Handbook of Phytoalexin Metabolism and Action. Hahlbrock K (1981) Flavonoids.unud. Mackay S. Grisebach H (1988) Isolation of a novel NADPH-dependent reductase which coacts with chalcone synthase in the biosynthesis of 6′-deoxychalcone. Roberts K. Pueppke JL (1996) The genetics and biochemical basis for nodulation of legumes by rhizobia. cv. O'Keefe DP. eds Daniel M.ac. Arch Biochem Biophys 367:146–150. Eur J Biochem 155:311–318. Am J Clin Nutr 70:439S–450S. pp 85–116. Odell J. Merida A. Grisbach H. www. the key enzyme for biosynthesis of isoflavones in legumes. erratum Jung W. Schroder J (1991) Induced plant responses to pathogen attack: analysis and heterologous expression of the key enzyme in the biosynthesis of phytoalexins in soybean (Glycine max L. Physiol Plant 107:142–149. Dixon RA (1999) Molecular characterization of the enzyme catalyzing the aryl migration reaction of isoflavonoid biosynthesis in soybean. Fader G. Eur J Biochem 196:423–430. in Biochemistry of Plants.id www. Tamagnone L. Schroder G. Fader G. Yu O. FEBS Lett 236:221–225. Winkel-Shirley B (1999) Evidence for enzyme complexes in the phenylpropanoid and flavonoid pathways.scribd. Odell J. Schiltz E. Steele CL. eds Stumpf PK. Crit Rev Biotechnol 16:1–51. Welle R.Conn EE (Academic Press. Gijzen M. Parr A. McGonigle B Identification and expression of isoflavone synthase. Grisebach H (1986) Enzymic synthesis of isoflavones. McGonigle B (2000) Nat Biotechnol 18: 559 Kochs G. Jung W. 7:425–456. Lau SC.• • • • • • • • • • • • • Graham TL (1995) Cellular biochemistry of phenylpropanoid responses of soybean to infection by Phytophthora sojae. Martin C (1998) The AmMYB308 and AmMYB330 transcription factors fromAntirrhinum regulate phenylpropanoid and lignin biosynthesis in transgenic tobacco. Harosoy 63).Nat Biotechnol182000208212.ejournal. Merr. New York). Culianez-Macia FA. Yu O. Messina MJ (1999) Legumes and soybeans: overview of their nutritional profiles and health effects. O'Keefe DP. Plant Cell 10:135–154. Qutob D. New York). Purkayastha RP (Marcel Dekker.com 18 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful