“Landasan Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum”

“Landasan

Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum”

(Sebagai Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum)

Dosen Mata Kuliah Manerah, M.Pd

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Disusun Oleh : Kelompok 4 1.

1) Irvani Mufidah

(109018300083)

2) Neneng Komalasari (109018300101) 3) Deasy Ajeng WP. (1090183000 )

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDYATULLAH JAKARTA 2011

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur marilah kita panjatkan pada Allah SWT yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya diatas makhluk-makhluk yang lain.Juga tidak lupa pula shalawat dan salam atas pemimpin umat islam yakni baginda besar Muhammad SAW, beserta para sahabat dan pengikunya hingga akhir zaman. Alhamdulillah berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang singkat ini dengan judul “Landasan Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum”. Makalah ini terdiri dari pokok-pokok bahasan materi yang membahas mengenai Landasan perkembangan kurikulum yakni meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosial-budaya dalam pengembangan kurikulum. Materi ini disajikan secara ringkas yang kami ambil dari beberapa sumber referensi terpilih. Terima kasih kepada Ibu Manerah, M.Pd selaku dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum, yang telah membimbing kami untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Selain itu kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang bersedia mempelajari dan memberikan masukan atas makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas mata kuliah

........................... dan bagi kita semua selaku calon pendidik generasi umat Islam di masa depan..................... b.. Bidang-Bidang Psikologi yang Mendasari Kurikulum........................... Manfaat Filsafat......... Jakarta............. Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum a............ Pengertian Filosofis..................... PEMBAHASAN ...................... Pengertian Psikologis.......................... d......................... A............................................. D.................................................................... Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum a............ Cabang-cabang Filosofis............. 3 c..... Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya.........yang bersangkutan........................... 31 Maret 2011 Penyusun Kelompok Empat i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......... BAB I . 2 b........................ C.................................... PENDAHULUAN .. Landasan Sosiologis (Sosial Budaya) dalam Pengembangan Kurikulum 5 5 4 4 2 1 2 i ii ................ Hubungan Antara Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan.............................. B............ DAFTAR ISI........... BAB II ................................................................................... Landasan Pengembangan Kurikulum...

............ Titik tolak berarti pengembangan kurikulum dapat didorong oleh pembaharuan tertentu seperti penemuan teori belajar yang baru dan perubahan tuntutan masyarakat terhadap fungsi sekolah.. landasan psikologis serta landasan sosial budaya........ landasan sosial budaya dan landasan perkembangan ilmu dan teknologi........... Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkan. dan tuntutan kultur terentu................. dan sebagainya berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia................ b................ pertanian............. .......................... landasan psikologis... Pengertian Sosiologis.................... seperti dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tuntutantuntutan sejarah masa lalu..........a.................... 8 9 11 BAB III ................ Sedangkan pada makalah ini hanya dibahas tentang landasan filosofis............... Landasan pengembangan kurikulum dapat menjadi titik tolak sekaligus titik sampai.............. nilai-nilai masyarakat.. Kalau bidang-bidang lain seperti ekonomi. Hal itu disebabkan pendidikan berpengaruh langsung terhadap perkembangan manusia....................[1] Adapun landasan-landasan utama dalam pengembangan kurikulum yaitu: landasan filosofis............. Titik sampai berarti urikulum harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat merealisasi perkembangan tertentu...... arsitektur. PENUTUP . 14 ii 1 BAB I PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia...................... perkembangan seluruh aspek kepribadian manusia.... pendidikan berkaitan langsung dengan pembentukan manusia. c......... Kebudayaan dan Kurikulum..... 13 DAFTAR PUSTAKA .............. Masyarakat dan Kurikulum........ perbedaan latar belakang murid...........

yaitu landasan filosofis. landasan psikologis. Filsafat pendidikan menjadi landasan untuk merancang tujuan pendidikan. Landasan filosofis Pengembangan Kurikulum a. landasan sosial-budaya. Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan di dalam perkembangan kehidupan manusia. Landasan Pengembangan Kurikulum Kurikulum sebagai rancangan pendidikan memunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluru kegiatan pendidikan. Pengertian Istilah filsafat adalah terjemahan dari bahasa inggris “phylosophy”yang berasal dari perpaduan bahasa Yunani “philien” yang berarti cinta (love) dan “sophia” (wisdom) yang berarti kebijaksanaan. menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. Dengan kata lain.BAB II “Landasan Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum” A. yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran). filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat. B. prinsip-prinsip belajar serta perangkat pengalaman belajar yang bersifat mendidik. Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau love of wisdom. serta perkembangan ilmu dan teknologi. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasanlandasan yang kuat. penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Filsafat pendidikan menggambarkan manusia yang ideal yang diharapkan oleh masyarakat. Filsafat pendidikan dipengaruhi oleh dua hal yang pokok yakni: . Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat.[2] Secara operasional filsafat mengandung dua pengertian. yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dsan penelitian yang mendalam.

kesahihan pengetahuan. teologi (hakikat ketuhanan) dan antropologi filsafat (hakikat manusia). Secara sederhana dapat ditafsirkan bahwa filsafat pendidikan adalah hal yang diyakini dan diharapkan oleh seseorang. antara lain: 1. Kejelasan. Konsisten dengan pengalaman. Hal ini menunjukkan pentingnya filsafat pendidikan sebagai landasan dalam rangka pengembangan kurikulum. filsafat atau keyakinan harus jelas dan tidak boleh meragukan. filsafat pendidikan harus dirumuskan berdasarkan kriteria yang bersifat umum dan objektif. pengetahuan). yang membahas kebenaran dan membahas hakikat pengetahuan (sumber pengetahuan. mengemukakan kriteria. Aksiologi. 2. Epistemologi. Cabang-cabang Filsafat Ada tiga cabang besar filasafat. dan estetika (hakikat keindahan). Metafisika. Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau perbuatan seseorang atau masyarakat. yang sesuai dengan kehidupan individu. sesuai dengan nilai-nilai yang disetujui oleh individu dan masyarakat. Filsafat pendidikan sebagai sumber tujuan. dan batas-batas . Karena itu. Nilai-nilai filsafat pendidikan harus dilaksanakan dalam perilaku sehari-hari. 2.[3] Hopkin dalam bukunya interaction the Democratic process.1) 2) Cita-cita nasional Kebutuhan peserta didik yang hidup di masyarakat Filsafat pendidikan sebagai suatu pandangan hidup bukan menjadi hiasan lidah belaka. yaitu: 1. 3. yang membahas hakikat nilai dengan cabang-cabangnya etika (hakikat kebaikan). b. Konsisten dengan kenyataan. dan hakikat penalaran (induktif dan deduktif). 3. Dalam filsafat pendidikan terkandung cita-cita tentang model manusia yang diharapkan. dan (2) metafisika khusus yang meliputi kosmologi (hakikat alam semesta). metode mencari pengetahuan. yang membahas segala yang ada dalam alam ini dan membahas hakikat kenyataan atau realitas yang meliputi (1) metafisika umum. berdasarkan penyelididkan yang akurat. melainkan harus meresapi tingkah laku semua anggota masyarakat.

Filsafat merupakan bunga. hingga manakah tujuan itu tercapai. bukan akar pendidikan c. 4. bangsa. Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan. filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama. Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan. tetapi kontak tersebut tidak penting d. 5. dan negara. Tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya. seperti pendidikan sama dengan kehidupan C. Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut. Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari kontak dengan filsafat. yaitu: 1. kita mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan b. Filsafat dan teori pendidikan menjadi satu John Dewey menyatakan. d. praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat Brubacher (1950). 2. Filsafat dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan. Manusia yang bagaimanakah yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan itu? 3. Hubungan Antara Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan Donald Butler (1957) mengatakan. Manfaat Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahan pendidikan. Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di sekolah? Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat.c. Dengan demikian filsafat memiliki manfaat dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan. filsafat memberikan arah & metodologi terhadap praktek pendidikan. Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum . mengemukakan 4 pandangan tentang hubungan ini : a.

Sementara itu Ross Vasta. Pengertian Apa yang dimaksud dengan kondisi psikologis itu? Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu. baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Kondisi ini pun berbeda pula bergantung pada konteks. Prilaku-prilaku tersebut merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya. perkembangan seluruh aspek kehidupannya. Karakteristik perilaku individu pada tahap-tahap perkembangan. Jadi. Psikologi Perkembangan Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi.P. baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku" (J. 1979). peranan. Apa yang dididikkan dan bagaimana cara mendidiknya. b. dkk. Bidang-Bidang Psikologi yang Mendasari Kurikulum Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. afektif. yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. dan psikomotor. karena perbedaan tahap perkembangannya. Chaplin. Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi pendidiknya. serta pola-pola perkembangan individu menjadi kejian Psikologi Perkembangan. prilaku kognitif. Kondisi psikologis setiap individu berbeda. 1.[4] Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu. juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan peserta didik secara optimal. tetapi dengan pendidikna di sekolah tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi dan lebih luas. yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa. perlu disesuaikan dengan pola-pola perkembangan anak.a. dan status individu diantara individu-individu lainnya. (1992) mengemukakan bahwa psikologi perkembangan adalah "Cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati". anak selalu berada dalam proses perkembangan. anak tetap berkembang. latar belakang sosial-budaya. Tanpa pendidikan di sekolah. Sejak kelahiran sampai menjelang kematian. minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum. yaitu Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar. .

Teori perkembangan Ada tiga teori pendekatan tentang perkembangan individu. Dalam perkembangan kognitif menurut piaget. dan pendekatan ipsatif (ipsative approach). Menurut pendekatan pentahapan. pola-pola perkemmbangan dan kemampuan. Kedua. Olson. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan dari dari kemampuan kognitif anak. para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. yaitu pendekatan pentahapan (stage approach). Menurut mereka pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa balita itu dapat mengganggu perkembangan pada masa-masa berikutnya. Ia mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkat usia. Metode dalam psikologi perkembangan Pengetahuan tentang perkembangan individu diperoleh melalui studi yang bersifat longitudinal. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya. Dalam pendekatan yang bersifat khusus. Studi demikian pernah dilakukan oleh Jean Peaget tentang perkembangan kognitif anak. sejak lahir sampai dengan dewasa.[5] b. dikenal dua variasi. Metode sosiologik digunakan oleh Robert Huvighurst. Dalam pendekatan pentahapan. Pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan. yang terpenting . sosiologik. Metode lain yang sering digunakan untuk mengkaji perkembangan anak adalah studi kasus. dan sebagainya. pendekatan yang bersifat khusus mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan saja. seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Erikson. Ia mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan. kholberg. Studi Psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya. psikoanalitik. Pertama. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. Dengan mempelajari kasus-kasus tertentu. Studi ini ba nyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya. perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. serta perilaku mereka. kita mengenal pentahapan-pentahapan dari piaget. terutama pada masa kanak-kanak (balita). atau studi kasus. pendekatan yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan. mencatat ciri-ciri fisik dan mental. cross sectional. Metode cross sectional pernah dilakukan oleh Arnold Gessel.a. pendekatan diferrensial (diferential approach).

usia 11-15 tahun 2. Menurut Morris L. eksploratif. Landasan Sosiologis (Sosial Budaya) dalam Pengembangan Kurikulum a. yaitu: 1. dan Cognitive Gestalt Field. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan vcara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan. anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensin apa-apa dari kelahirannya. Segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif. . Perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat dilihat. hlm. Melalui penguasaan kategori itu. menyatakan belajar adalah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pengertian Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Mengapa pengembangan kurikulum harus mengacu pada landasan sosiologis? Anak-anak berasal dari masyarakat. sekolah. termasuk struktur tubuhnya sendiri. Psikologi Belajar Psikologi Belajar merupakan studi tentang bagaimana individu belajar. 3. Tahap sensorimotor. religi yang membentuknya). 226-227) ada tiga keluarga atau rumpun teori belajar. Belajar merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut. diamati. anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. usia 7-11 tahun 4. Hunt (1980. usia 0-2 tahun 2. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut piaget. Menurut rumpun teori mental secara herediter.adalah penguasaan dan kategori konsep-konsep. Gestalt Field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan. Secara sederhana belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. anak mengenal lingkungan dan memecahkan berbagai problemayang dihadapi dalam lingkungannya. afektif. usia 2-4 tahun 3. Menurut rumpun teori belajar behaviorisme. Tahap praoperasional. yaitu teori disiplin mental. Rumpun ketiga yakni kognitif gestalt field. Tahap Formal Operasional. imajinatif dan kreatif. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan (keluarga. maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapat dikatagorikan sebagai perilaku belajar. budaya. Bigge dan Mourice P. masyarakat atau berupa lingkungan manusia. D. alam. Tahap Konkret Oprasional. 2.[6] 1. behaviorisme.

Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. pendidikan adalah “enkulturasi” atau pembudayaan. dan mampu membangun masyarakatnya. berinteraksi. Masyarakat dan Kurikulum Masyarakat adalah suatu kelompok individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke dalam kelompok-kelompok berbeda. yaitu: logika. atau suatu kelompok individu yang terorganisir yang berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan kelompok atau masyarakat lainnya. mengerti. dan berdasarkan pandangan antrofologi. estetika berkaitan dengan aspek emosi atau . serta dipupuk kemampuan dirinya menjadi manusia. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam melaksanakan pendidikan. maupun non formal dalam lingkungan masyarakat. estetika. tetapi manusia yang lebih bermutu. terdapat tiga sumber nilai yang ada dalam masyarakat untuk dikembangkan melalui proses pendidikan. menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat dan mampu meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk yang berbudaya. karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu bekerja sama. tujuan. “Dengan pendidikan. Dengan demikian. pendidikan adalah proses sosialisasi. yang membedakan masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya adalah kebudayaan. pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan. dan diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat. karakteristik kekayaan. dan etika. isi. dan perkembangan masyarakat yang tersebut”. Pendidikan adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. Oleh karena itu. dan reaksi seseorang terhadap lingkungannya sangat tergantung kepada kebudayaan dimana ia hidup. kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang lain dan asing terhadap masyarakatnya. Menurut Daud Yusuf (1982). Dalam konteks inilah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia. Hal ini mempunyai implikasi bahwa apa yang menjadi keyakinan pemikiran seseorang. Jika dipandang dari sosiologi. formal.[7] Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi warga masyarakat diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting. b.mendapatkan pendidikan baik informal. dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya. Logika adalah aspek pengetahuan dan penalaran. maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi.

Mengajar keterampilan. Penerapan teori. Meningkatkan perilaku etik. hukum. agar apa yang diberikan kepada siswa relevan dan berguna bagi kehidupan siswa di masyarakat. Perubahan sosial budaya. Kebutuhan masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat itu sendiri. Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada hakikatnya adalah hasil kebudayaan manusia. sehingga hasil belajar yang dicapai oleh siswa lebih bermakna dalam hidupnya. Pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan kebutuhan masyarakat dan perkembangan masyarakat. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah nilai-nilai yang bersumber pada logika (pikiran). semakin meningkat sehingga tuntutan hidup pun semakin tinggi. 3. dan etika berkaitan dengan aspek nilai. 4. melainkan juga dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya. Tyler (1946). 7. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam suatu masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengubah kebutuhan masyarakat. . 6. Tanner dan Tanner (1984) menyatakan bahwa tuntutan masyarakat adalah salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum. yaitu: 1. 2. maka kehidupan manusia semakin luas. Calhoun. Mentransmisikan budaya. Membentuk kedisiplinan. dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosial pendidikan.perasaan. dan Memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi. Light. Mendorong adaptasi lingkungan. Pendidikan harus mengantisipasi tuntutan hidup ini sehingga dapat mempersiapkan anak didik untuk hidup wajar sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Untuk dapat menjawab tuntutan tersebut bukan hanya pemenuhan dari segi isi kurikulumnya saja. Mendorong bekerja berkelompok. Oleh karena itu guru sebagai pembina dan pelaksana kurikulum dituntut lebih peka mengantisipasi perkembangan masyarakat. 5. dan konsep-konsep yang terdapat dalam semua ilmu pengetahuan yang ada dalam kurikulum. Dalam konteks inilah kurikulum sebagai program pendidikan harus dapat menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat. prinsip. Taba (1963). harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

cita-cita. yaitu: a) Ide. Berdasarkan uraian di atas. kebutuhan masyarakat pada umumnya juga berpengaruh terhadap individu-individu sebagai anggota masyarakat. nilai-nilai. Kebudayaan dan Kurikulum Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan ide atau gagasan. kemauan (etika) serta perasaan (estetika) manusia dalam rangka perkembangan kepribadian manusia. b) Kegiatan. yaitu tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat. cara berpikir. Untuk terciptanya proses pendidikan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat diperlukan kurikulum yang landasan pengembangannya memperhatikan faktor perkembangan masyarakat. pengetahuan. Adanya perbedaan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya sebagian besar disebabkan oleh kualitas individu-individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut. Dalam sistem sosial. nilai. Perkembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup. Secara lebih rinci. dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Wujud kebudayaan ini bersifat abstrak yang berada dalam alam pikiran manusia dan warga masyarakat di tempat kebudayaan itu berada. Di sisi lain. IPTEK. Daoed Yusuf (1981) mendefinisikan kebudayaan sebagai segenap perwujudan dan keseluruhan hasil pikiran (logika). Oleh karena itu pengembangan kurikulum yang hanya berdasarkan pada keterampilan dasar saja tidak akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang bersifat teknologis dan mengglobal. pekembangan hubungan dengan manusia. dan diobservasi. kesenian. sangatlah penting memperhatikan faktor karakterstik masyarakat dalam pengembangan kurikulum. Tindakan ini disebut sistem sosial. gagasan. konsep. dan lain-lain. bisa dilihat. dan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. masyarakat tradisional berbeda dengan masyarakat modern. norma. kebudayaan diwujudkan dalam tiga gejala. peraturan. Akan tetapi pengembangan kurikulum juga harus ditekankan pada pengembangan individu dan keterkaitannya dengan lingkungan sosial setempat. hubungan manusia dengan alam.Masyarakat kota berbeda dengan masyarakat desa. dan nilai yang telah disepakati oleh masyarakat. kepercayaan. Perkembangan masyarakat menuntut tersedianya proses pendidikan yang relevan. Salah satu ciri masyarakat adalah selalu berkembang. c. aktivitas manusia bersifat konkrit. Tindakan berpola manusia tentu didasarkan oleh wujud kebudayaan yang .

Faktor kebudayaan merupakan bagian yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan pertimbangan: 1) Individu lahir tidak berbudaya. Pendidikan di sekolah pada dasarnya bertujuan mendidik anggota masyarakat agar dapat hidup berintegrasi. sistem sosial dalam bentuk aktivitas manusia merupakan refleksi dari ide. gagasan. Semua itu dapat diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan budaya. sekolah/lembaga pendidikan mempunyai tugas khusus untuk memberikan pengalaman kepada para peserta didik dengan salah satu alat yang disebut kurikulum. sikap-sikap. pertanian. berinteraksi dan beradaptasi dengan anggota masyarakat lainnya serta meningkatkan kualitas hidupnya sebagai mahluk berbudaya. dan sesuai dengan inti pembahasan kami maka dapat disimpulkan tiga landasan pengembangan kurikulum. dan sebagainya. Artinya. dan sebagainya. Wujud kebudayaan yang ketiga ini ialah seluruh fisik perbuatan atau hasil karya manusia di masyarakat. cita-cita. dan kecakapan. dan sekolah/lembaga pendidikan. keterampilan. masyarakat sekitar. nelayan. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada permusan tujua pendidikan. Hal ini membawa implikasi bahwa kurikulum sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan harus bermuatan kebudayaan yang bersifat umum seperti: nilai-nilai. sikap. hakikat manusia. pengembangan isi atau . Oleh karena itu wujud kebudayaan yang ketiga ini adalah produk dari wujud kebudayaan yang pertama dan kedua. baik dalam hal kebiasaan. keluarga. hakikat pengetahuan. yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas. pengetahuan. konsep. dan norma yang telah dimilikinya. pengetahuan. dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.pertama. Aspek sosiologis adalah yang berkenaan dengan kondisi sosial masyarakat yang sangat beragam. BAB III KESIMPULAN Pada prinsipnya ada empat landasan pokok yang harus dijadikan dasar dalam setiap pengembangan kurikulum. c) Benda hasil karya manusia. Landasan Filosofis. seperti masyarakat industri. 2) Kurikulum pada dasarnya harus mengakomodasi aspek-aspek sosial dan budaya. nilai. Oleh karena itu. yakni sebagai berikut : 1.

Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. (1997). Jakarta: Bumi Aksara Mudyahardo. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaru besar dalam pengembangan kurikulum. 1993). (1993). Psikologi perkembangan mempelajari proses dan karaktersitik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan. Redja. Karakterstik sosial budaya di mana peserta didik hidup berimplikasi pada program pendidikan yang akan dikembangkan. yaitu teori belajar kognitif. 19-20 [2] . Landasan-Landasan Filosofis Pendidikan.83 [3] Oemar Hamalik. serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik. 2008) hal. Nana Syaodih. Soemanto. 3. Hlm. Oemar. ( Jakarta: PT Bumi Aksara. Jakarta: PT Bumi Aksara. (Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. Wasty. 2. Wasty. (Jakarta. dan humanistic. Bandung: Fakultas Ilmu Soetopo. DAFTAR PUSTAKA Hamalik. Landasan sosial budaya adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antrofologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar. Landasan-Landasan Pendidikan UPI Filosofis Pendidikan. Hendyat. Hendyat. (2001). Sukmadinata. Soemanto. Bumi Aksara:2008)hal. behavioristik. Bandung: Remaja Rosdakarya [1] Soetopo. Kurikulum dan Pembelajaran. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. penentuan strategi.(2008). Landasan psikologis adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. 46 Redja Mudyahardo.materi pendidikan. Kurikulum dan Pembelajaran.

58 [4] ///////////////// Disajikan Sebagai Makalah Pendamping Pada “International Seminar and Lokakarya on Education: Management of Strategic to Improve Students Competences” Minggu. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. landasan psikologis. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dari sekian landasan tadi. proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan asumsi–asumsi yang bersumber dalam bidang kajian psikologi. 46-47. Dalam hal ini kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku peserta didik (peserta didik) ke arah yang diharapkan oleh pendidikan.Nana Syaodih Sukmadinata. maupun landasan filosofis pengembangan kurikulum. 46 [5] Ibid. Landasan pengembangan kurikulum diantaranya. landasan sosial dan budaya. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Oleh sebab itu. saya mencoba mengembangkan dan memaparkan landasan psikologis dalam pengembangan suatu kurikulum. mempunyai hubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. landasan fisiologis. B. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Nelson Mandela– A. diantaranya landasan dalam pengembangannya. 1997) hlm. PEMBATASAN MASALAH . Jawa Barat “Education is the most powerfull weapon to change the world” –Pemimpin besar dari Afrika Selatan. Landasan psikologis pengembangan kurikulum menuntut kurikulum untuk memperhatikan dan mempertimbangkan aspek peserta didik dalam pelaksanaan kurikulum sehingga nantinya pada saat pelaksanaan kurikulum apa yang menjadi tujuan kurikulum akan tercapai secara optimal. 52-55 [7] Nana Syaodih Sukmadinata. LATAR BELAKANG Dalam proses pengembangan sebuah kurikulum banyak hal yang perlu diperhatikan. 28 Juni 2009 Aula Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri Depok. 1997) hlm. Sehingga unsur psikologis dalam pengembangan kurikulum mutlak perlu diperhatikan. 1997) hlm. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kurikulum sebagai suatu program dan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. hlm. [6] Nana Syaodih Sukmadinata.

antara lain. Peserta didik merupakan individu yang sedang berada dalam proses perkembangan (fisik. intelektual. dalam pengembangan kurikulum yang senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta didik.Dalam pemaparan makalah ini. baik penyesuaian dari segi materi/bahan yang harus diberikan/dipelajari peserta didik. yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. tugas-tugas perkembangan individu. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar. baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku. pengertian sejenis menyebutkan bahwa psikologi merupakan suatu ilmu yang berkaitan dengan proses mental. maupun dari segi penyampaian dan proses belajar serta penyesuaian dari unsur–unsur upaya pendidikan lainnya. Oleh sebab itu. beberapa permasalahan yang melatarbelakangi penyusunan makalah ini. pentahapan perkembangan. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. aspek-aspek perkembangan. Pada dasarnya terdapat dua cabang ilmu psikologi yang berkaitan erat dalam proses pengembangan kurikulum. 3. serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar. dan sebagainya). Dengan menerapkan landasan psikologi dalam proses pengembangan kurikulum diharapkan dapat diupayakan pendidikan yang dilaksanakan relevan dengan hakikat peserta didik. Perkembangan yang dialami oleh peserta didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar. yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam proses pengembangan kurikulum. Tugas utama seorang guru sebagai pendidik adalah membantu untuk mengoptimalkan perkembangan peserta didiknya berdasarkan tugas–tugas perkembangannya. yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum[3]. dalam hal ini proses . moral. LANDASAN PSIKOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM Psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungan[1]. Bagaimana unsur psikologis mempengaruhi proses pengembangan kurikulum? Mengapa aspek psikologis perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum?. dan Cabang psikologis apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum? Apa saja implikasi landasan psikologis pada proses pengembangan maupun pelaksanaan kurikulum? C. 4. social emosional. Guru sebagai pendidik harus mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal. ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa[2]. 1. 2. serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu. Karakteristik perilaku tiap individu pada tiap tingkat perkembangan merupakan kajian yang terdapat dalam cabang psikologi perkembangan.

Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap pengembangan kurikulum terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu diberikan kepada peserta didik dan bagaimana peserta didik harus mempelajarinya. Psikologi Perkembangan dan Kurikulum Anak sejak dilahirkan sudah memperlihatkan keunikan–keunikan yang berbeda satu sama lainnya.pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar. Implikasi dari hal tersebut terhadap pengembangan kurikulum. 3. 4. memiliki perbedaan di samping persamaannya. 2. Bahan/materi pembelajaran yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan. minat dan perhatian anak. tingkat kesulitan dan kelayakannya serta manfaatnya yang disesuaikan dengan tahap dan tugas perkembangan peserta didik. minat. 1. Strategi pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Kurikulum selain menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik. Pandangan tentang anak sebagai makhluk yang unik sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum pendidikan. Tiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat. dan 5. Di dalam psikologi perkembangan terdapat banyak pandangan ahli berkenaan dengan perkembangan individu pada tiap–tiap fase perkembangan. disediakan pula pembelajaran pilihan sesuai minat dan bakat anak. dan ketrampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan bathin. 3. nilai/sikap. Hal ini menggambarkan bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk berkembang. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara operasional selalu berpusat pada perubahan tingkah laku anak didik. 1. bahan tersebut mudah diterima oleh anak. Media yang digunakan selalu menarik perhatian dan minat anak didik. antara lain. 2. Implikasi lain dari pengetahuan tentang anak sebagai peserta didik terhadap proses pembelajaran (actual curriculum) dapat diuraikan sebagai berikut. seperti pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan dan gerakan–gerakan tubuhnya. Kurikulum memuat tujuan yang mengandung pengetahuan. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam hal penentuan isi kurikulum yang diberikan/dipelajari peserta didik. dan kebutuhannya. Psikologi Belajar dan Kurikulum . baik tingkat kedalaman dan keluasan materi. 4. berarti berkenaan dengan strategi pelaksanaan kurikulum. 1. 2. Sistem evaluasi berpadu dalam satu kesatuan yang menyeluruh dan berkesinambungan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan dilaksanakan secara terus – menerus. Setiap anak merupakan pribadi tersendiri. Di samping disediakan pembelajaran yang bersifat umum (program inti) yang harus dipelajari peserta didik di sekolah.

Segala perubahan perilaku yang trejadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. daya mengamati. teori kondisioning.daya berpikir anak sering dilatih dengan pembelajaran berhitung misalnya. Menurut teori ini. Thorndike yang memunculkan tiga teori belajar yaitu. terdapat 3 rumpun teori yang mencakup teori koneksionisme/asosiasi. Daya yang telah terlatih dipindahkan ke dalam pembentukan lain. Behaviorisme muncul dari adanya pandangan bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Organismic/Cognitive Gestalt Field Menurut teori ini keseluruhan lebih bermakna daripada bagian-bagian. Teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory) Menurut teori ini anak sejak dilahirkan memiliki potensi atau daya tertentu (faculties) yang masing–masing memiliki fungsi tertentu. law of exercise. pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi 3 kelas. masyarakat. antara lain[5] . a. daya mencurahkan pendapat. dan law of effect. daya berpikir. Hukum latihan/pengulangan (exercise/repetition) stimulus dan respon akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang – ulang. Tokoh utama teori ini yaitu Edward L. seperti potensi/daya mengingat. Psikologi belajar yang berkembang sampai saat ini. Pemindahan (transfer) ini mutlak dilakukan melalui latihan (drill).Merupakan suatu cabang ilmu yang mengkaji bagaimana individu belajar. daya mengingat dilatih dengan menghapal sesuatu. Menurut hukum kesiapan (readiness) hubungan antara stimulus dengan respon akan terbentuk bila ada kesiapan pada system syaraf individu. Behaviorisme menganggap bahwa perkembangan individu tidak muncul dari hal yang bersifat mental. Potensi– potensi tersebut dapat dilatih agar dapat berfungsi secara optimal. pada dasarnya belajar merupakan hubungan respon – stimulus. Hukum akibat (effect) menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan. Manusia dianggap sebagai makhluk yang melakukan hubungan . Perkembangan individu dipengaruhi oleh lingkungan (keluarga. c. dan sejenisnya. perkembangan hanya menyangkut hal yang bersifat nyata yang dapat dilihat dan diamati. lembaga pendidikan. cara pembelajaran pada umumnya melalui hafalan dan latihan-latihan. daya memecahkan masalah. dan teori operant conditioning (reinforcement). Belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. Perubahan yang terjadi secara insting/terjadi karena secara kebetulan bukan termasuk belajar. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus – respon seoptimal mungkin. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia belajar berasal dari kata ajar yang berarti suatu petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/diturut[4]. Menurut teori ini kehidupan tunduk pada hukum S – R (stimulus – respon) atau aksi-reaksi. b. karena itu pengertian pembelajaran dalam konteks ini melatih anak didik dalam daya-daya itu. Behaviorisme Dalam aliran behaviorisme ini. law of readiness.

Dalam pelaksanaannnya dianjurkan dalam pengembangannya kurikulum tidak hanya terpaku pada proses pembelajaran yang ada tetapi mengembangkan proses pembelajaran yang bersifat ekstra untuk memenuhi kebutuhan peserta . Belajar menurut teori ini bukanlah sebatas menghapal tetapi memecahkan masalah. Seluruh kepribadiannya diharapkan utuh melalui program pembelajaran yang terpadu. sikap. survey lapangan. dan ketrampilan secara berimbang. Ia dibina untuk menjadi manusia seutuhnya yang memiliki keseimbangan lahir dan batin antara pengetahuan dengan sikapnya. hubungan ini dijalin oleh stimulus dan respon. peserta didik lebih berperan dalam hal proses pembelajaran. kemudian individu melakukan interaksi dengannya terus-menerus sehingga terjadi suatu proses pembelajaran. Pelajaran yang yang diberikan kepada peserta didik bersumber pada suatu masalah atau pkok yang luas yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Manusia tidak pernah berhenti untuk belajar. Dalam hal ini guru lebih berperan sebagai pembimbing bukan sumber informasi sebagaimana diungkapkan dalam pandangan koneksionisme. demonstrasi. dan metode belajar yang dipakai adalah metode ilmiah dengan cara anak didik dihadapkan pada suatu permasalahan yang cara penyelesaiannya diserahkan kepada masingmasing anak didik yang pada akhirnya peserta didik dibimbing untuk mengambil suatu kesimpulan bersama dari apa yang telah dipelajari. mereaksi. anak diimbing untuk mendapat pengetahuan. Dalam proses pembelajaran peserta didik harus aktif dengan pengolahan bahan pembelajaran melalui diskusi. Prinsip-prinsip maupun penerapan dari organismic/cognitive gestalt field. dapat menyelaraskan sikap dan ketrampilannya. Belajar berdasarkan pengalaman Proses belajar adalah bekerja. antara lain . Stimulus yang hadir diseleksi menurut tujuannya. memahami. Ketrampilan menghubungkan bagian-bagian pengetahuan untuk diperoleh sesuatu kesimpulan merupakan wujud pemahaman. Pemahaman mengandung makna penguasaan pengetahuan. hal ini dilakukan karena faktor kebutuhan. dan sejenisnya Belajar adalah proses berkelanjutan Belajar adalah proses sepanjang masa. kerja kelompok. peserta didik mengolah bahan pembelajaran dengan reaksi seluruh pelajaran oleh keseluruhan jiwanya. belajar berlangsung berdasarkan pengalaman yaitu kegiatan interaksi antara individu dengan lingkungannya. dan mengalami. Belajar berkat pemahaman Belajar merupakan proses pemahaman.timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan. Tanya jawab. Belajar adalah pembentukan kepribadian Anak dipandang sebagai makhluk keseluruhan. Belajar berdasarkan keseluruhan Prinsip ini mempunyai pandangan sebagaimana proses pembelajaran terpadu.

Graw Hill Companies.com/2009/08/pengembangan-kurikulum http://apadefinisinya. yang mengkaji bagaimana seseorang melakukan kegiatan belajar. Bandung: PT. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI. 2007 . Psikologi perkembangan memandang aspek kesiapan peserta didik dalam proses pelaksanaan kurikulum.wordpress. Dalam kaitan ini motivasi sangat menentukan dan diperlukan. antara lain.. perhatian. Diane E. terdapat dua aspek psikologi antara lain. 2005 http://ahmadsudrajat.com/2007/08/04/psikologi-belajar Papalia. 2007 Pusat Bahasa Depdiknas.com/2008/09/landasan-pengembangan-kurikulum. Human Development. Jakarta: Balai Pustaka. teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory). cara dia menerima suatu rangsang/informasi sehingga terjadi suatu proses belajar.blogspot. 2005 Sukarman. Psikologi Perkembangan. Kamus Besar Bahasa Indonesia—Edisi ketiga. D. 2008 Purwanto. KESIMPULAN Pengembangan kurikulum yang ada di Indonesia. Bandung: PT. Mc. dan organismic/cognitive gestalt field. Pengembangan Kurikulum – electronic book Kurikulum dan Teknologi Pendidikan – UPI. Ngalim. Dalam pengembangan kurikulum aspek psikologi patut dipertimbangkan. beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum perlu memandang dan memperhatikan faktor psikologi perkembangan dari tiap-tiap peserta didik.html http://zularman. behaviorisme.didik. et. Terdapat tiga bagian dari psikologi belajar. DAFTAR PUSTAKA Desmita. Psikologi belajar merupakan bagian dari psikologi. Psikologi yang dimaksud di sini.wordpress. pada proses pelaksanaan kurikulum faktor psikologi dari pebelajar perlu diperhatikan. cetakan ketiga. Keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan anak didik tetapi menyangkut minat. dan kebutuhannya. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis—cet. Remaja Rosdakarya. Diantara landasan pengembangan kurikulum yang perlu dipertimbangkan yaitu landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum. kedelapanbelas. psikologi perkembangan dan psikologi belajar. saat ini telah banyak mengalami perubahan. Dadang. Remaja Rosdakarya. al. Banyak hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum di suatu negara termasuk Indonesia.

2007. h. Pengembangan Kurikulum – electronic book Kurikulum dan Tekhnologi Pendidikan – UPI.901 [3] http://apadefinisinya. 20 [2] KBBI. Nana.com/2007/08/04/psikologibelajar . Pengembangan Kurikum: Teori dan Praktek. 1997 [1] Drs. h. M. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI.com/2008/09/landasan-pengembangan-kurikulum. Bandung: P. Remaja Rosdakarya.Syaodih. 17 [5] http://zularman.T.wordpress. Dadang Sukarman.blogspot.html [4] Op.Pd. 2005. cit. h.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful