“Landasan Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum”

“Landasan

Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum”

(Sebagai Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum)

Dosen Mata Kuliah Manerah, M.Pd

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Disusun Oleh : Kelompok 4 1.

1) Irvani Mufidah

(109018300083)

2) Neneng Komalasari (109018300101) 3) Deasy Ajeng WP. (1090183000 )

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDYATULLAH JAKARTA 2011

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur marilah kita panjatkan pada Allah SWT yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya diatas makhluk-makhluk yang lain.Juga tidak lupa pula shalawat dan salam atas pemimpin umat islam yakni baginda besar Muhammad SAW, beserta para sahabat dan pengikunya hingga akhir zaman. Alhamdulillah berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang singkat ini dengan judul “Landasan Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum”. Makalah ini terdiri dari pokok-pokok bahasan materi yang membahas mengenai Landasan perkembangan kurikulum yakni meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosial-budaya dalam pengembangan kurikulum. Materi ini disajikan secara ringkas yang kami ambil dari beberapa sumber referensi terpilih. Terima kasih kepada Ibu Manerah, M.Pd selaku dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum, yang telah membimbing kami untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Selain itu kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang bersedia mempelajari dan memberikan masukan atas makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas mata kuliah

............ dan bagi kita semua selaku calon pendidik generasi umat Islam di masa depan.............................. Cabang-cabang Filosofis............................................................yang bersangkutan...................... 3 c...... Bidang-Bidang Psikologi yang Mendasari Kurikulum.... Jakarta......................... PEMBAHASAN ................................................ Landasan Sosiologis (Sosial Budaya) dalam Pengembangan Kurikulum 5 5 4 4 2 1 2 i ii ............................... DAFTAR ISI.. BAB I ................... d........................................................ Pengertian Filosofis........................... D...... Hubungan Antara Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan................ C.. Pengertian Psikologis.............. A................................................. 31 Maret 2011 Penyusun Kelompok Empat i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................. Landasan Pengembangan Kurikulum............................. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya.................... 2 b.......... Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum a....... Manfaat Filsafat.................... b........................................ BAB II ........... PENDAHULUAN .......... B. Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum a.....

. landasan psikologis serta landasan sosial budaya..... 8 9 11 BAB III ........................... Titik tolak berarti pengembangan kurikulum dapat didorong oleh pembaharuan tertentu seperti penemuan teori belajar yang baru dan perubahan tuntutan masyarakat terhadap fungsi sekolah..... Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkan.......... landasan psikologis............................................ perkembangan seluruh aspek kepribadian manusia.. 13 DAFTAR PUSTAKA .......................... c........................... arsitektur...... Pengertian Sosiologis.............. Kebudayaan dan Kurikulum........ perbedaan latar belakang murid... Titik sampai berarti urikulum harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat merealisasi perkembangan tertentu...... 14 ii 1 BAB I PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia...... pendidikan berkaitan langsung dengan pembentukan manusia... Masyarakat dan Kurikulum....... Hal itu disebabkan pendidikan berpengaruh langsung terhadap perkembangan manusia............ ..a... dan tuntutan kultur terentu.. dan sebagainya berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia.... Landasan pengembangan kurikulum dapat menjadi titik tolak sekaligus titik sampai....... landasan sosial budaya dan landasan perkembangan ilmu dan teknologi.................... seperti dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tuntutantuntutan sejarah masa lalu.... b... nilai-nilai masyarakat. Kalau bidang-bidang lain seperti ekonomi... Sedangkan pada makalah ini hanya dibahas tentang landasan filosofis......................................... PENUTUP .... pertanian..........................[1] Adapun landasan-landasan utama dalam pengembangan kurikulum yaitu: landasan filosofis......

Filsafat pendidikan menggambarkan manusia yang ideal yang diharapkan oleh masyarakat. yaitu landasan filosofis. penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan di dalam perkembangan kehidupan manusia. yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran). Landasan Pengembangan Kurikulum Kurikulum sebagai rancangan pendidikan memunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluru kegiatan pendidikan.[2] Secara operasional filsafat mengandung dua pengertian. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasanlandasan yang kuat. Landasan filosofis Pengembangan Kurikulum a. Filsafat pendidikan menjadi landasan untuk merancang tujuan pendidikan. Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum. B. yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dsan penelitian yang mendalam. Filsafat pendidikan dipengaruhi oleh dua hal yang pokok yakni: . menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. landasan psikologis. landasan sosial-budaya. Dengan kata lain. serta perkembangan ilmu dan teknologi. Pengertian Istilah filsafat adalah terjemahan dari bahasa inggris “phylosophy”yang berasal dari perpaduan bahasa Yunani “philien” yang berarti cinta (love) dan “sophia” (wisdom) yang berarti kebijaksanaan.BAB II “Landasan Filosofis dan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum” A. Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau love of wisdom. prinsip-prinsip belajar serta perangkat pengalaman belajar yang bersifat mendidik. filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat.

filsafat atau keyakinan harus jelas dan tidak boleh meragukan. dan estetika (hakikat keindahan). Aksiologi. 2. 3. Secara sederhana dapat ditafsirkan bahwa filsafat pendidikan adalah hal yang diyakini dan diharapkan oleh seseorang. kesahihan pengetahuan. yang sesuai dengan kehidupan individu. Konsisten dengan kenyataan. Hal ini menunjukkan pentingnya filsafat pendidikan sebagai landasan dalam rangka pengembangan kurikulum. Cabang-cabang Filsafat Ada tiga cabang besar filasafat. 2. Konsisten dengan pengalaman. pengetahuan).1) 2) Cita-cita nasional Kebutuhan peserta didik yang hidup di masyarakat Filsafat pendidikan sebagai suatu pandangan hidup bukan menjadi hiasan lidah belaka. metode mencari pengetahuan. Nilai-nilai filsafat pendidikan harus dilaksanakan dalam perilaku sehari-hari. teologi (hakikat ketuhanan) dan antropologi filsafat (hakikat manusia). b. mengemukakan kriteria. antara lain: 1. yang membahas kebenaran dan membahas hakikat pengetahuan (sumber pengetahuan. Karena itu. berdasarkan penyelididkan yang akurat. Filsafat pendidikan sebagai sumber tujuan. Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau perbuatan seseorang atau masyarakat. dan hakikat penalaran (induktif dan deduktif). 3. Metafisika. sesuai dengan nilai-nilai yang disetujui oleh individu dan masyarakat. yang membahas hakikat nilai dengan cabang-cabangnya etika (hakikat kebaikan). filsafat pendidikan harus dirumuskan berdasarkan kriteria yang bersifat umum dan objektif. Kejelasan. yaitu: 1. Dalam filsafat pendidikan terkandung cita-cita tentang model manusia yang diharapkan. Epistemologi. dan batas-batas . yang membahas segala yang ada dalam alam ini dan membahas hakikat kenyataan atau realitas yang meliputi (1) metafisika umum. dan (2) metafisika khusus yang meliputi kosmologi (hakikat alam semesta). melainkan harus meresapi tingkah laku semua anggota masyarakat.[3] Hopkin dalam bukunya interaction the Democratic process.

Hubungan Antara Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan Donald Butler (1957) mengatakan. d. kita mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. seperti pendidikan sama dengan kehidupan C. yaitu: 1. Tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya. Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum . Filsafat dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan. 2. bukan akar pendidikan c. Manfaat Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahan pendidikan.c. Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan. 5. mengemukakan 4 pandangan tentang hubungan ini : a. Manusia yang bagaimanakah yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan itu? 3. dan negara. tetapi kontak tersebut tidak penting d. hingga manakah tujuan itu tercapai. Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut. Filsafat dan teori pendidikan menjadi satu John Dewey menyatakan. Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan. Filsafat merupakan bunga. Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di sekolah? Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat. filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama. Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari kontak dengan filsafat. Dengan demikian filsafat memiliki manfaat dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan. filsafat memberikan arah & metodologi terhadap praktek pendidikan. bangsa. Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan b. 4. praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat Brubacher (1950).

dan status individu diantara individu-individu lainnya. Karakteristik perilaku individu pada tahap-tahap perkembangan. 1. yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum. prilaku kognitif. Prilaku-prilaku tersebut merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya. Jadi. Chaplin. afektif. baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku" (J. Kondisi ini pun berbeda pula bergantung pada konteks. perlu disesuaikan dengan pola-pola perkembangan anak. tetapi dengan pendidikna di sekolah tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi dan lebih luas. perkembangan seluruh aspek kehidupannya.[4] Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu. Sejak kelahiran sampai menjelang kematian. peranan. b. anak selalu berada dalam proses perkembangan. Tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan peserta didik secara optimal.a.P. (1992) mengemukakan bahwa psikologi perkembangan adalah "Cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati". Psikologi Perkembangan Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi. Tanpa pendidikan di sekolah. serta pola-pola perkembangan individu menjadi kejian Psikologi Perkembangan. latar belakang sosial-budaya. Kondisi psikologis setiap individu berbeda. yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa. Bidang-Bidang Psikologi yang Mendasari Kurikulum Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Pengertian Apa yang dimaksud dengan kondisi psikologis itu? Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu. yaitu Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar. karena perbedaan tahap perkembangannya. dan psikomotor. 1979). juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi pendidiknya. Apa yang dididikkan dan bagaimana cara mendidiknya. Sementara itu Ross Vasta. anak tetap berkembang. . dkk. baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

yaitu pendekatan pentahapan (stage approach). yang terpenting . pendekatan yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan. Erikson. Metode dalam psikologi perkembangan Pengetahuan tentang perkembangan individu diperoleh melalui studi yang bersifat longitudinal. dan sebagainya. Ia mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. Pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan.a. dikenal dua variasi. pola-pola perkemmbangan dan kemampuan. Olson. serta perilaku mereka. pendekatan diferrensial (diferential approach). Teori perkembangan Ada tiga teori pendekatan tentang perkembangan individu. Dalam pendekatan pentahapan. dan pendekatan ipsatif (ipsative approach).[5] b. para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. mencatat ciri-ciri fisik dan mental. psikoanalitik. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan. perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. terutama pada masa kanak-kanak (balita). Pertama. Metode cross sectional pernah dilakukan oleh Arnold Gessel. Studi Psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya. Studi demikian pernah dilakukan oleh Jean Peaget tentang perkembangan kognitif anak. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya. Dalam pendekatan yang bersifat khusus. Dengan mempelajari kasus-kasus tertentu. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan dari dari kemampuan kognitif anak. Metode sosiologik digunakan oleh Robert Huvighurst. sejak lahir sampai dengan dewasa. Menurut pendekatan pentahapan. cross sectional. atau studi kasus. seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Ia mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkat usia. Metode lain yang sering digunakan untuk mengkaji perkembangan anak adalah studi kasus. kholberg. sosiologik. Kedua. kita mengenal pentahapan-pentahapan dari piaget. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam perkembangan kognitif menurut piaget. Menurut mereka pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa balita itu dapat mengganggu perkembangan pada masa-masa berikutnya. pendekatan yang bersifat khusus mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan saja. Studi ini ba nyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya.

Belajar merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut. Melalui penguasaan kategori itu. dan Cognitive Gestalt Field. Landasan Sosiologis (Sosial Budaya) dalam Pengembangan Kurikulum a. anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. . 226-227) ada tiga keluarga atau rumpun teori belajar. Hunt (1980. anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensin apa-apa dari kelahirannya. Mengapa pengembangan kurikulum harus mengacu pada landasan sosiologis? Anak-anak berasal dari masyarakat. masyarakat atau berupa lingkungan manusia. Rumpun ketiga yakni kognitif gestalt field. behaviorisme. Psikologi Belajar Psikologi Belajar merupakan studi tentang bagaimana individu belajar. usia 7-11 tahun 4. Pengertian Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. anak mengenal lingkungan dan memecahkan berbagai problemayang dihadapi dalam lingkungannya. Menurut rumpun teori mental secara herediter.[6] 1. Perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat dilihat. imajinatif dan kreatif. alam. Menurut Morris L. usia 2-4 tahun 3.adalah penguasaan dan kategori konsep-konsep. termasuk struktur tubuhnya sendiri. D. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut piaget. maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapat dikatagorikan sebagai perilaku belajar. Menurut rumpun teori belajar behaviorisme. hlm. Secara sederhana belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. afektif. religi yang membentuknya). diamati. Segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif. Tahap praoperasional. Bigge dan Mourice P. 2. yaitu teori disiplin mental. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan (keluarga. menyatakan belajar adalah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Tahap Formal Operasional. 3. Tahap sensorimotor. Gestalt Field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan vcara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan. Tahap Konkret Oprasional. usia 11-15 tahun 2. eksploratif. sekolah. yaitu: 1. budaya. usia 0-2 tahun 2.

kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang lain dan asing terhadap masyarakatnya. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam melaksanakan pendidikan. dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya. estetika. pendidikan adalah “enkulturasi” atau pembudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. yang membedakan masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya adalah kebudayaan. Menurut Daud Yusuf (1982). berinteraksi. yaitu: logika. tetapi manusia yang lebih bermutu. dan reaksi seseorang terhadap lingkungannya sangat tergantung kepada kebudayaan dimana ia hidup. estetika berkaitan dengan aspek emosi atau . Logika adalah aspek pengetahuan dan penalaran. Masyarakat dan Kurikulum Masyarakat adalah suatu kelompok individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke dalam kelompok-kelompok berbeda. dan diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat. “Dengan pendidikan. atau suatu kelompok individu yang terorganisir yang berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan kelompok atau masyarakat lainnya. karakteristik kekayaan. karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu bekerja sama. dan berdasarkan pandangan antrofologi. dan etika. Oleh karena itu. dan mampu membangun masyarakatnya. Hal ini mempunyai implikasi bahwa apa yang menjadi keyakinan pemikiran seseorang. tujuan. Jika dipandang dari sosiologi. mengerti. menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat dan mampu meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk yang berbudaya. serta dipupuk kemampuan dirinya menjadi manusia. formal. Pendidikan adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. dan perkembangan masyarakat yang tersebut”. b. Dalam konteks inilah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia. Dengan demikian. pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan. maupun non formal dalam lingkungan masyarakat. isi.mendapatkan pendidikan baik informal. maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi.[7] Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi warga masyarakat diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting. terdapat tiga sumber nilai yang ada dalam masyarakat untuk dikembangkan melalui proses pendidikan. pendidikan adalah proses sosialisasi.

Tyler (1946). dan konsep-konsep yang terdapat dalam semua ilmu pengetahuan yang ada dalam kurikulum. yaitu: 1. Calhoun. Mendorong adaptasi lingkungan. 4. 7. Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada hakikatnya adalah hasil kebudayaan manusia. dan Memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi. Untuk dapat menjawab tuntutan tersebut bukan hanya pemenuhan dari segi isi kurikulumnya saja. 6. dan etika berkaitan dengan aspek nilai. semakin meningkat sehingga tuntutan hidup pun semakin tinggi. Mengajar keterampilan. melainkan juga dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya. 2. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah nilai-nilai yang bersumber pada logika (pikiran). Taba (1963). . Pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan kebutuhan masyarakat dan perkembangan masyarakat. hukum.perasaan. Dalam konteks inilah kurikulum sebagai program pendidikan harus dapat menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat. Kebutuhan masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat itu sendiri. Mendorong bekerja berkelompok. 3. 5. Perubahan sosial budaya. Pendidikan harus mengantisipasi tuntutan hidup ini sehingga dapat mempersiapkan anak didik untuk hidup wajar sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat. agar apa yang diberikan kepada siswa relevan dan berguna bagi kehidupan siswa di masyarakat. sehingga hasil belajar yang dicapai oleh siswa lebih bermakna dalam hidupnya. Meningkatkan perilaku etik. Penerapan teori. harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Membentuk kedisiplinan. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam suatu masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengubah kebutuhan masyarakat. Tanner dan Tanner (1984) menyatakan bahwa tuntutan masyarakat adalah salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum. Oleh karena itu guru sebagai pembina dan pelaksana kurikulum dituntut lebih peka mengantisipasi perkembangan masyarakat. Mentransmisikan budaya. prinsip. dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosial pendidikan. maka kehidupan manusia semakin luas. Light.

cita-cita. IPTEK. masyarakat tradisional berbeda dengan masyarakat modern. Wujud kebudayaan ini bersifat abstrak yang berada dalam alam pikiran manusia dan warga masyarakat di tempat kebudayaan itu berada. bisa dilihat. kepercayaan. yaitu tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat. b) Kegiatan. Dalam sistem sosial. Oleh karena itu pengembangan kurikulum yang hanya berdasarkan pada keterampilan dasar saja tidak akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang bersifat teknologis dan mengglobal. Adanya perbedaan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya sebagian besar disebabkan oleh kualitas individu-individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut. kesenian. norma. hubungan manusia dengan alam. dan lain-lain. Tindakan ini disebut sistem sosial. Untuk terciptanya proses pendidikan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat diperlukan kurikulum yang landasan pengembangannya memperhatikan faktor perkembangan masyarakat. kemauan (etika) serta perasaan (estetika) manusia dalam rangka perkembangan kepribadian manusia. peraturan. Kebudayaan dan Kurikulum Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan ide atau gagasan. sangatlah penting memperhatikan faktor karakterstik masyarakat dalam pengembangan kurikulum. yaitu: a) Ide. Salah satu ciri masyarakat adalah selalu berkembang. pekembangan hubungan dengan manusia. Di sisi lain. c. pengetahuan. Daoed Yusuf (1981) mendefinisikan kebudayaan sebagai segenap perwujudan dan keseluruhan hasil pikiran (logika). Berdasarkan uraian di atas. konsep.Masyarakat kota berbeda dengan masyarakat desa. nilai. Akan tetapi pengembangan kurikulum juga harus ditekankan pada pengembangan individu dan keterkaitannya dengan lingkungan sosial setempat. dan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. dan nilai yang telah disepakati oleh masyarakat. Perkembangan masyarakat menuntut tersedianya proses pendidikan yang relevan. Secara lebih rinci. kebudayaan diwujudkan dalam tiga gejala. cara berpikir. Perkembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup. kebutuhan masyarakat pada umumnya juga berpengaruh terhadap individu-individu sebagai anggota masyarakat. gagasan. dan diobservasi. dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. nilai-nilai. Tindakan berpola manusia tentu didasarkan oleh wujud kebudayaan yang . aktivitas manusia bersifat konkrit.

pengetahuan. Semua itu dapat diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan budaya. Faktor kebudayaan merupakan bagian yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan pertimbangan: 1) Individu lahir tidak berbudaya. sistem sosial dalam bentuk aktivitas manusia merupakan refleksi dari ide. cita-cita.pertama. nelayan. dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. sikap. hakikat pengetahuan. keluarga. konsep. Aspek sosiologis adalah yang berkenaan dengan kondisi sosial masyarakat yang sangat beragam. Artinya. dan sebagainya. dan kecakapan. masyarakat sekitar. berinteraksi dan beradaptasi dengan anggota masyarakat lainnya serta meningkatkan kualitas hidupnya sebagai mahluk berbudaya. 2) Kurikulum pada dasarnya harus mengakomodasi aspek-aspek sosial dan budaya. dan norma yang telah dimilikinya. pengetahuan. yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas. hakikat manusia. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada permusan tujua pendidikan. seperti masyarakat industri. Oleh karena itu wujud kebudayaan yang ketiga ini adalah produk dari wujud kebudayaan yang pertama dan kedua. BAB III KESIMPULAN Pada prinsipnya ada empat landasan pokok yang harus dijadikan dasar dalam setiap pengembangan kurikulum. baik dalam hal kebiasaan. sikap-sikap. keterampilan. gagasan. sekolah/lembaga pendidikan mempunyai tugas khusus untuk memberikan pengalaman kepada para peserta didik dengan salah satu alat yang disebut kurikulum. Hal ini membawa implikasi bahwa kurikulum sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan harus bermuatan kebudayaan yang bersifat umum seperti: nilai-nilai. c) Benda hasil karya manusia. pertanian. nilai. Oleh karena itu. yakni sebagai berikut : 1. Wujud kebudayaan yang ketiga ini ialah seluruh fisik perbuatan atau hasil karya manusia di masyarakat. pengembangan isi atau . dan sekolah/lembaga pendidikan. Pendidikan di sekolah pada dasarnya bertujuan mendidik anggota masyarakat agar dapat hidup berintegrasi. Landasan Filosofis. dan sebagainya. dan sesuai dengan inti pembahasan kami maka dapat disimpulkan tiga landasan pengembangan kurikulum.

Soemanto. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. 2008) hal. behavioristik. 2. Karakterstik sosial budaya di mana peserta didik hidup berimplikasi pada program pendidikan yang akan dikembangkan. Landasan-Landasan Filosofis Pendidikan. Wasty. Hlm. Bumi Aksara:2008)hal. 19-20 [2] . Jakarta: Bumi Aksara Mudyahardo. Oemar. Hendyat. sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar. (1993). (2001). Kurikulum dan Pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Hamalik. Psikologi perkembangan mempelajari proses dan karaktersitik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan.83 [3] Oemar Hamalik. Bandung: Fakultas Ilmu Soetopo. 3. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaru besar dalam pengembangan kurikulum. (Jakarta. Landasan psikologis adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Hendyat. Sukmadinata. Redja. Bandung: Remaja Rosdakarya [1] Soetopo. ( Jakarta: PT Bumi Aksara.materi pendidikan. (Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. 46 Redja Mudyahardo. Landasan sosial budaya adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antrofologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Kurikulum dan Pembelajaran. Nana Syaodih. dan humanistic. (1997). penentuan strategi. Soemanto. yaitu teori belajar kognitif. Jakarta: PT Bumi Aksara.(2008). 1993). Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik. Wasty. Landasan-Landasan Pendidikan UPI Filosofis Pendidikan.

52-55 [7] Nana Syaodih Sukmadinata. Jawa Barat “Education is the most powerfull weapon to change the world” –Pemimpin besar dari Afrika Selatan. 46 [5] Ibid.Nana Syaodih Sukmadinata. landasan psikologis. Landasan psikologis pengembangan kurikulum menuntut kurikulum untuk memperhatikan dan mempertimbangkan aspek peserta didik dalam pelaksanaan kurikulum sehingga nantinya pada saat pelaksanaan kurikulum apa yang menjadi tujuan kurikulum akan tercapai secara optimal. B. proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan asumsi–asumsi yang bersumber dalam bidang kajian psikologi. maupun landasan filosofis pengembangan kurikulum. Oleh sebab itu. LATAR BELAKANG Dalam proses pengembangan sebuah kurikulum banyak hal yang perlu diperhatikan. Kurikulum sebagai suatu program dan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. 1997) hlm. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. 46-47. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. PEMBATASAN MASALAH . [6] Nana Syaodih Sukmadinata. 28 Juni 2009 Aula Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri Depok. Landasan pengembangan kurikulum diantaranya. Sehingga unsur psikologis dalam pengembangan kurikulum mutlak perlu diperhatikan. 58 [4] ///////////////// Disajikan Sebagai Makalah Pendamping Pada “International Seminar and Lokakarya on Education: Management of Strategic to Improve Students Competences” Minggu. 1997) hlm. landasan sosial dan budaya. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. 1997) hlm. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nelson Mandela– A. Dalam hal ini kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku peserta didik (peserta didik) ke arah yang diharapkan oleh pendidikan. hlm. landasan fisiologis. Dari sekian landasan tadi. saya mencoba mengembangkan dan memaparkan landasan psikologis dalam pengembangan suatu kurikulum. mempunyai hubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. diantaranya landasan dalam pengembangannya. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa[2]. baik penyesuaian dari segi materi/bahan yang harus diberikan/dipelajari peserta didik. aspek-aspek perkembangan. 2. dan Cabang psikologis apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum? Apa saja implikasi landasan psikologis pada proses pengembangan maupun pelaksanaan kurikulum? C. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar. 3. serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar. maupun dari segi penyampaian dan proses belajar serta penyesuaian dari unsur–unsur upaya pendidikan lainnya. Karakteristik perilaku tiap individu pada tiap tingkat perkembangan merupakan kajian yang terdapat dalam cabang psikologi perkembangan. Bagaimana unsur psikologis mempengaruhi proses pengembangan kurikulum? Mengapa aspek psikologis perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum?. beberapa permasalahan yang melatarbelakangi penyusunan makalah ini. Oleh sebab itu. dalam pengembangan kurikulum yang senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta didik. yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. 1. Perkembangan yang dialami oleh peserta didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar. moral. intelektual. antara lain. Pada dasarnya terdapat dua cabang ilmu psikologi yang berkaitan erat dalam proses pengembangan kurikulum. serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu. yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum[3]. Guru sebagai pendidik harus mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal. social emosional. yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya.Dalam pemaparan makalah ini. baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku. pentahapan perkembangan. tugas-tugas perkembangan individu. Tugas utama seorang guru sebagai pendidik adalah membantu untuk mengoptimalkan perkembangan peserta didiknya berdasarkan tugas–tugas perkembangannya. maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam proses pengembangan kurikulum. dan sebagainya). pengertian sejenis menyebutkan bahwa psikologi merupakan suatu ilmu yang berkaitan dengan proses mental. 4. LANDASAN PSIKOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM Psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungan[1]. Peserta didik merupakan individu yang sedang berada dalam proses perkembangan (fisik. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan. dalam hal ini proses . Dengan menerapkan landasan psikologi dalam proses pengembangan kurikulum diharapkan dapat diupayakan pendidikan yang dilaksanakan relevan dengan hakikat peserta didik.

berarti berkenaan dengan strategi pelaksanaan kurikulum. Hal ini menggambarkan bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk berkembang. antara lain. memiliki perbedaan di samping persamaannya. minat dan perhatian anak.pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar. 1. 2. Bahan/materi pembelajaran yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan. Implikasi lain dari pengetahuan tentang anak sebagai peserta didik terhadap proses pembelajaran (actual curriculum) dapat diuraikan sebagai berikut. 3. 4. Sistem evaluasi berpadu dalam satu kesatuan yang menyeluruh dan berkesinambungan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan dilaksanakan secara terus – menerus. 3. minat. tingkat kesulitan dan kelayakannya serta manfaatnya yang disesuaikan dengan tahap dan tugas perkembangan peserta didik. Implikasi dari hal tersebut terhadap pengembangan kurikulum. Psikologi Belajar dan Kurikulum . seperti pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan dan gerakan–gerakan tubuhnya. 1. disediakan pula pembelajaran pilihan sesuai minat dan bakat anak. baik tingkat kedalaman dan keluasan materi. Di samping disediakan pembelajaran yang bersifat umum (program inti) yang harus dipelajari peserta didik di sekolah. Psikologi Perkembangan dan Kurikulum Anak sejak dilahirkan sudah memperlihatkan keunikan–keunikan yang berbeda satu sama lainnya. dan 5. 4. Kurikulum memuat tujuan yang mengandung pengetahuan. Di dalam psikologi perkembangan terdapat banyak pandangan ahli berkenaan dengan perkembangan individu pada tiap–tiap fase perkembangan. Tiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat. dan ketrampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan bathin. dan kebutuhannya. bahan tersebut mudah diterima oleh anak. Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap pengembangan kurikulum terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu diberikan kepada peserta didik dan bagaimana peserta didik harus mempelajarinya. Media yang digunakan selalu menarik perhatian dan minat anak didik. 2. Pandangan tentang anak sebagai makhluk yang unik sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum pendidikan. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara operasional selalu berpusat pada perubahan tingkah laku anak didik. Strategi pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam hal penentuan isi kurikulum yang diberikan/dipelajari peserta didik. 1. Kurikulum selain menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik. nilai/sikap. Setiap anak merupakan pribadi tersendiri. 2.

c. dan teori operant conditioning (reinforcement). Organismic/Cognitive Gestalt Field Menurut teori ini keseluruhan lebih bermakna daripada bagian-bagian. Teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory) Menurut teori ini anak sejak dilahirkan memiliki potensi atau daya tertentu (faculties) yang masing–masing memiliki fungsi tertentu. masyarakat. daya berpikir. Menurut hukum kesiapan (readiness) hubungan antara stimulus dengan respon akan terbentuk bila ada kesiapan pada system syaraf individu. Pemindahan (transfer) ini mutlak dilakukan melalui latihan (drill). Manusia dianggap sebagai makhluk yang melakukan hubungan . cara pembelajaran pada umumnya melalui hafalan dan latihan-latihan. daya mengamati. Daya yang telah terlatih dipindahkan ke dalam pembentukan lain. keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Hukum akibat (effect) menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan. pada dasarnya belajar merupakan hubungan respon – stimulus. Perubahan yang terjadi secara insting/terjadi karena secara kebetulan bukan termasuk belajar. a. terdapat 3 rumpun teori yang mencakup teori koneksionisme/asosiasi. pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi 3 kelas. Menurut teori ini. Tokoh utama teori ini yaitu Edward L. lembaga pendidikan. Behaviorisme Dalam aliran behaviorisme ini. daya memecahkan masalah. Psikologi belajar yang berkembang sampai saat ini. law of readiness. Thorndike yang memunculkan tiga teori belajar yaitu. Hukum latihan/pengulangan (exercise/repetition) stimulus dan respon akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang – ulang. Segala perubahan perilaku yang trejadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus – respon seoptimal mungkin. daya mengingat dilatih dengan menghapal sesuatu. antara lain[5] . Belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. daya mencurahkan pendapat. Behaviorisme muncul dari adanya pandangan bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. perkembangan hanya menyangkut hal yang bersifat nyata yang dapat dilihat dan diamati. karena itu pengertian pembelajaran dalam konteks ini melatih anak didik dalam daya-daya itu. teori kondisioning. Behaviorisme menganggap bahwa perkembangan individu tidak muncul dari hal yang bersifat mental. dan law of effect. Perkembangan individu dipengaruhi oleh lingkungan (keluarga. Potensi– potensi tersebut dapat dilatih agar dapat berfungsi secara optimal. b. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia belajar berasal dari kata ajar yang berarti suatu petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/diturut[4]. dan sejenisnya.daya berpikir anak sering dilatih dengan pembelajaran berhitung misalnya. seperti potensi/daya mengingat.Merupakan suatu cabang ilmu yang mengkaji bagaimana individu belajar. Menurut teori ini kehidupan tunduk pada hukum S – R (stimulus – respon) atau aksi-reaksi. law of exercise.

Tanya jawab. Prinsip-prinsip maupun penerapan dari organismic/cognitive gestalt field. anak diimbing untuk mendapat pengetahuan. survey lapangan. Stimulus yang hadir diseleksi menurut tujuannya.timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan. Manusia tidak pernah berhenti untuk belajar. peserta didik mengolah bahan pembelajaran dengan reaksi seluruh pelajaran oleh keseluruhan jiwanya. Ia dibina untuk menjadi manusia seutuhnya yang memiliki keseimbangan lahir dan batin antara pengetahuan dengan sikapnya. Belajar berkat pemahaman Belajar merupakan proses pemahaman. Dalam proses pembelajaran peserta didik harus aktif dengan pengolahan bahan pembelajaran melalui diskusi. Pelajaran yang yang diberikan kepada peserta didik bersumber pada suatu masalah atau pkok yang luas yang harus dipecahkan oleh peserta didik. memahami. dapat menyelaraskan sikap dan ketrampilannya. demonstrasi. dan metode belajar yang dipakai adalah metode ilmiah dengan cara anak didik dihadapkan pada suatu permasalahan yang cara penyelesaiannya diserahkan kepada masingmasing anak didik yang pada akhirnya peserta didik dibimbing untuk mengambil suatu kesimpulan bersama dari apa yang telah dipelajari. Seluruh kepribadiannya diharapkan utuh melalui program pembelajaran yang terpadu. Belajar menurut teori ini bukanlah sebatas menghapal tetapi memecahkan masalah. mereaksi. belajar berlangsung berdasarkan pengalaman yaitu kegiatan interaksi antara individu dengan lingkungannya. hal ini dilakukan karena faktor kebutuhan. Dalam hal ini guru lebih berperan sebagai pembimbing bukan sumber informasi sebagaimana diungkapkan dalam pandangan koneksionisme. Belajar berdasarkan pengalaman Proses belajar adalah bekerja. hubungan ini dijalin oleh stimulus dan respon. antara lain . Dalam pelaksanaannnya dianjurkan dalam pengembangannya kurikulum tidak hanya terpaku pada proses pembelajaran yang ada tetapi mengembangkan proses pembelajaran yang bersifat ekstra untuk memenuhi kebutuhan peserta . dan sejenisnya Belajar adalah proses berkelanjutan Belajar adalah proses sepanjang masa. Pemahaman mengandung makna penguasaan pengetahuan. Belajar adalah pembentukan kepribadian Anak dipandang sebagai makhluk keseluruhan. Ketrampilan menghubungkan bagian-bagian pengetahuan untuk diperoleh sesuatu kesimpulan merupakan wujud pemahaman. dan ketrampilan secara berimbang. kemudian individu melakukan interaksi dengannya terus-menerus sehingga terjadi suatu proses pembelajaran. dan mengalami. peserta didik lebih berperan dalam hal proses pembelajaran. Belajar berdasarkan keseluruhan Prinsip ini mempunyai pandangan sebagaimana proses pembelajaran terpadu. kerja kelompok. sikap.

dan kebutuhannya. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis—cet. KESIMPULAN Pengembangan kurikulum yang ada di Indonesia. behaviorisme. Diane E. cetakan ketiga. dan organismic/cognitive gestalt field. Psikologi yang dimaksud di sini. Dalam kaitan ini motivasi sangat menentukan dan diperlukan. Diantara landasan pengembangan kurikulum yang perlu dipertimbangkan yaitu landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum.wordpress. antara lain. beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum perlu memandang dan memperhatikan faktor psikologi perkembangan dari tiap-tiap peserta didik. Psikologi belajar merupakan bagian dari psikologi.blogspot. terdapat dua aspek psikologi antara lain. Remaja Rosdakarya. psikologi perkembangan dan psikologi belajar. pada proses pelaksanaan kurikulum faktor psikologi dari pebelajar perlu diperhatikan. 2007 . Bandung: PT. DAFTAR PUSTAKA Desmita. Kamus Besar Bahasa Indonesia—Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan anak didik tetapi menyangkut minat. cara dia menerima suatu rangsang/informasi sehingga terjadi suatu proses belajar. kedelapanbelas. saat ini telah banyak mengalami perubahan.didik. 2005 http://ahmadsudrajat. al.com/2009/08/pengembangan-kurikulum http://apadefinisinya. Terdapat tiga bagian dari psikologi belajar. 2007 Pusat Bahasa Depdiknas. yang mengkaji bagaimana seseorang melakukan kegiatan belajar.com/2008/09/landasan-pengembangan-kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum aspek psikologi patut dipertimbangkan. Graw Hill Companies. Psikologi Perkembangan. 2008 Purwanto. Banyak hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum di suatu negara termasuk Indonesia. Bandung: PT. Psikologi perkembangan memandang aspek kesiapan peserta didik dalam proses pelaksanaan kurikulum.html http://zularman.wordpress. D. teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory). perhatian.. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI. et. Dadang. Ngalim.com/2007/08/04/psikologi-belajar Papalia. Mc. Remaja Rosdakarya. 2005 Sukarman. Pengembangan Kurikulum – electronic book Kurikulum dan Teknologi Pendidikan – UPI. Human Development.

17 [5] http://zularman. 2005. Dadang Sukarman.Pd. 2007. M. h.com/2007/08/04/psikologibelajar .901 [3] http://apadefinisinya.T.html [4] Op. h. Bandung: P. cit. h.blogspot. Pengembangan Kurikum: Teori dan Praktek.Syaodih. 1997 [1] Drs.wordpress. Remaja Rosdakarya. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI. Nana. Pengembangan Kurikulum – electronic book Kurikulum dan Tekhnologi Pendidikan – UPI. 20 [2] KBBI.com/2008/09/landasan-pengembangan-kurikulum.