P. 1
Modul Ketidakpastian

Modul Ketidakpastian

|Views: 461|Likes:
Published by Yasheive saadi

More info:

Published by: Yasheive saadi on Sep 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/08/2014

pdf

text

original

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

MODUL A DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN DALAM PERCOBAAN
1. Tujuan • • • • Mengenal dan dapat menggunakan alat ukur dasar dalam fisika Mampu menentukan ketidakpastian pada pengukuran tunggal Mampu menentukan ketidakpastian pada pengukuran berulang Dapat mengolah data dan menuliskannya dalam aturan baku

2. Waktu Pengerjaan Agar dapat dicapai tujuan di atas, maka diperlukan 2 - 2,5 jam untuk pemahaman di rumah dan ± 1,5 jam di laboratorium. 3. Rujukan 1. Petunjuk praktikum Fisika Dasar I, Lab. Fisika Dasar ITB 1995 2. B. Darmawan Djonoputro, Teori Ketidakpastian, 1984 4. Alat-alat 1. Penggaris plastik 2. Jangka sorong 3. Mikrometer sekrup 4. Neraca teknis 5. Balok besi 6. Silinder logam 7. Plat logam Yang harus dibawa oleh mahasiswa 1. Buku Jurnal dan Kertas Milimeter Blok 2. Penggaris dan alat-alat tulis 3. Kalkulator 5. Pendahuluan Suatu pengukuran besaran fisika, seperti panjang, suhu, kuat arus dll selalu diliputi ketidakpastian, hal tersebut sudah menjadi prinsip umum dalam fisika eksperimental. Sebabnya adalah : 1. Keterbatasan alat ukur (Least Count/nst=nilai skala terkecil) 2. Kesalahan pengukuran (human error), misalnya kesalahan pembacaan pada satu sesi percobaan dari serangkaian percobaan. 3. Kesalahan sistem, berupa • Kesalahan kalibrasi alat ukur • Kesalahan titik nol • Kesalahan pegas (akibat umur alat) Kesalahan-kesalahan tersebut menyebabkan hasil pengukuran tidak tepat benar seperti seharusnya, dapat lebih besar atau lebih kecil. Inilah yang dimaksud ketidakpastian dalam percobaan. Least Count (nst = nilai skala terkecil) Setiap alat ukur pada umumnya memiliki keterbatasan daya ukur, atau keterbatasan kemampuan dalam mengukur suatu besaran, keterbatasan ini disebut Least Count atau nilai skala terkecil. Dalam suatu alat ukur jarang sekali terdapat skala yang berjarak kurang dari 1 mm, hal ini karena mata manusia umumnya sulit melihat jarak kurang dari 1 mm. Nonius Pada beberapa alat ukur, terdapat alat bantu skala yang disebut nonius. Nonius membuat seolah-olah dua garis skala yang kecil menjadi besar, dan mudah dilihat.. Pada gambar 1.1 di bawah ini skala nonius (bagian bawah) titik 0 nya berimpit dengan nilai 2 dan angka 10 nya berimpit dengan 2,9. Artinya 9 skala utama dibagi menjadi 10 bagian. Sehingga jarak antara skala nonius seakan-akan 0,01 pada skala utama.

1

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

S k a la U t a m a
2 3

0

1

2

3

4

5

6 7 8 1.1 Gambar 9 0

S k a la N o n iu s

Misalnya, seperti gambar 1.2 di bawah ini. Pada gambar tersebut setelah diukur panjang suatu benda skala utama menunjuk antara 80,4 dan 80,5. Untuk menentukannya dibutuhkan skala nonius. Pada skala nonius, lihatlah skala yang paling berimpit dengan skala utama. Ternyata skala nonius 7. Jadi panjang benda adalah 80,47. Skala Utama 81 80 80,5

0 7 Nonius Gambar 1.2 6. Alat-Alat Ukur Dasar Jangka Sorong • Fungsi jangka sorong adalah : 1. Mengukur panjang bagian luar benda 2. Mengukur panjang bagian rongga (dalam) benda 3. Mengukur kedalaman lubang • Cara menggunakannya : 1. Apabila pengunci K ditekan maka bagian B dapat bergeser bebas 2. Jarak antara A dan B mengukur bagian luar sebuah benda 3. Jarak antara C dan D mengukur bagian dalam sebuah benda 4. Jarak antara E dan F menunjukan kedalaman benda yang diukur 5. Skala utama U terdapat dua jenis yaitu dalam cm dan inchi 6. Nonius ada pada bagian yang bisa bergeser N

C

D

U
0 0 1 2 3 1 4 5 6 2 7 8 3 inch cm

E

F

N K

A

B

2

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

Gambar 1.3 Mikrometer Sekrup • Fungsi Mikrometer sekrup : Mikrometer sekrup hanya dapat mengukur benda yang panjangnya kurang dari 2,50 cm. Tetapi ketelitiannya lebih baik dari Jangka Sorong. • Cara menggunakannya : 1. Benda yang akan diukur dijepitkan antara A dan B, dengan memutar C. Tapi tidak perlu terjepit terlalu keras. 2. Skala utama terletak pada S 3. Skala nonius terletak pada bagian N. Jika C diputar penuh maka 1 putaran skala nonius akan tepat sama dengan 1 mm skala utama. 4. Pada skala utama panjang benda ditentukan dengan cara melihat berapa skala tepi nonius berada pada skala utama, dan untuk membaca skala nonius dilakukan dengan cara melihat skala yang berimpit dengan garis poros P

0

1

2

A

B

S N

C

F

Gambar 1.4 Neraca Teknis • Bagian-Bagian Neraca Teknis A. Statip penumpu B. Lengan neraca C. Sekrup pengatur keseimbangan D. Jarum penunjuk keseimbangan dan skalanya E. Bandul keseimbangan dan pasangannya F. Piringan G. Meja alas neraca H. Sekrup pengatur naik-turunnya neraca I. Sekrup pengatur meja alas • Mempersiapkan Neraca Teknis 1. Bandul keseimbangan harus berimpit dengan pasangannya, yaitu dengan mengatur sekrup pengatur meja alas I 2. Angkatlah lengan neraca dengan memutar H. Dan seimbangkan lengan neraca dengan memperhatikan jarum penunjuk keseimbangan. Apabila jarak ayunan ke kiri kira-kira sama dengan jarak ayunan ke kanan, artinya lengan neraca sudah setimbang. Bila belum aturlah dengan memutar sekrup C. 3. Jika 1 dan 2 sudah tercapai, putar kembali sekrup H agar lengan neraca turun. Neraca siap dipakai. • Cara menggunakan : 1. Letakkan benda yang akan ditimbang pada salah satu piringan dan anak timbangan yang kira-kira sama beratnya, pada piringan lainnya

3

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

2. Angkat lengan neraca dengan memutar H, bila sudah seimbang berat benda adalah berat anak timbangan. Apabila belum, turunan lengan neraca dengan memutar H dan tambah atau kurangi anak timbangan sampai setimbang.

B C C

E F D F

H I I

G

Gambar 1.5 7. Ketidakpastian Pada Pengukuran Tunggal Pengukuran tunggal artinya pengukuran yang (karena suatu hal) dilakukan hanya sekali. Maka ketidak pastiannya ∆x adalah : ∆x = 1/2 nst Sehingga hasil pengukuran adalah : x = x ± ∆x…………………….(1.1) Misalnya : Kuat arus diukur dengan miliamperemeter dengan jarum penunjuk (tebal) seperti gambar di bawah., maka hasil penukurannya adalah : I = 2,6 ± 0.05 mA

m A 2 3

Gambar 1.6 Artinya adalah bahwa kuat arus di sekitar 2,6 mA, antara 2,55 mA - 2,65 mA 8. Ketidakpastian pada pengukuran berulang Agar ketepatan hasil percobaan lebih akurat lagi, maka kita harus mengulang-ulang suatu percobaan. Makin banyak percobaan dilakukan, hasilnya akan lebih baik.

4

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

Dalam ilmu statistika dasar disebutkan bahwa : • nilai terbaik dari suatu percobaan berulang adalah rata-rata dari sampel :

x + x + x + .... 2 3 = 1 x n

…………………….(1.2)

n menunjukan banyaknya percobaan yang dilakukan dan angka x1, x2, x3 dan seterusnya menunjukan hasil percobaan ke 1, ke 2, ke 3 dan seterusnya. • Ketidakpastiannya adalah standar deviasi dari rata-rata :

1 nΣx i2 − (Σx i ) 2 S− = n −1 x n
atau boleh juga menggunakan :

……………………….(1.3a)

S=

∑(X
n i =1

i

−X

)

2

(n − 1)

Deviasi standar inilah yang digunakan sebagai ∆x pengukuran berulang. Contoh : Sebuah pengukuran berulang panjang suatu besaran fisika menghasilkan : 10,1 ; 10,3 ; 10,3 ; 10,4 ; 10,4 ; 10,5 ; 10,6 ;10,6 ; 10,6 ; 10,7 (cm) Berapakah hasil pengukuran beserta ketidakpastiannya ? Agar lebih mudah maka bisa dituliskan dalam bentuk tabel : i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Σ 1092,33 xi 10,1 10,3 10,3 10,4 10,4 10,5 10,6 10,6 10,6 10,7 xi2 102,01 106,09 106,09 108,16 108,16 110,25 112,36 112,36 112,36 114,49 104,5

Dengan menggunakan persamaan (1.2) maka rata-ratanya adalah : x = 104,5/10 = 10,45 cm dan ketidakpastiannya dihitung menurut rumus (1.3) :

1 10(1092,33 ) − (104,5) Δx = 10 9 5

2

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

≅ 0.06 sehingga hasil pengukurannya : x = (10,45 ± 0,06) = (1,045 ± 0,006) x 101 cm 9. Pengukuran Langsung dan Tak-Langsung Sebuah pengukuran langsung adalah, apabila besaran fisis yang kita ingin dapatkan dari sebuah pengukuran, langsung diperoleh dari pengukuran itu, misalnya kuat arus dengan amperemeter, panjang benda dengan jangka sorong, massa benda dengan neraca teknis. Sedangkan pengukuran tak-langsung adalah pengukuran besaran fisis yang diperoleh tidak langsung dari sebuah pengukuran, akan tetapi hasil pengukuran itu diolah melalui persamaan-persamaan matematis sebelum diperoleh hasil akhirnya. Contohnya adalah, mengukur hambatan dengan mengukur kuat arus dan tegangannya, mengukur volume balok dengan mengukur panjang, lebar dan tingginya, dll. Sehingga pengukuran pada dasarnya dibagi dalam empat kategori :  Pengukuran Langsung-Tunggal  Pengukuran Langsung-Berulang  Pengukuran Tak Langsung-Tunggal  Pengukuran Tak Langsung-Berulang Atau mungkin kombinasi dari tunggal dan berulang pada pengukuran tak langsung, seperti yang akan kita lakukan dalam percobaan ini, yaitu mengukur massa jenis suatu benda dengan mengukur massanya secara tunggal, dan menghitung volumenya tak-langsung dengan mengukur panjang, lebar, tinggi atau diameternya secara berulang. Pengukuran langsung-tunggal, penulisan hasilnya telah dibahas pada poin ke 7, dan pengukuran langsung-berulang pada poin ke delapan. Untuk pengukuran tak langsungtunggal akan dibahas berikut ini Pengukuran Tak Langsung-Tunggal Jika kita ingin "mengukur" (lebih tepatnya menghitung) besaran fisika C, dengan mengukur A dan B masing-masing satu kali ukur, melalui suatu fungsi (rumus) C = C(A,B). Dimana : A = Ao ± ∆A, (∆A didapat melalui NST) B = Bo ± ∆B, (∆B didapat melalui NST) Maka : C = Co ± ∆C dihitung melalui : Co = C(Ao,Bo), dan (1.4) (1.5)

Supaya lebih jelas, misalkan seorang praktikan melakukan pengukuran tak-langsung untuk mengukur hambatan R, dengan mengukur kuat arus I dan tegangannya V. Didapatkan hasil : I = Io ± ∆I V = Vo ± ∆V Bagaimana cara menghitung Ro dan ∆R-nya ? Untuk menghitung Ro, caranya adalah dengan melalui rumus atau persamaan yang menghubungkan R, I dan V, dalam hal ini adalah hukum Ohm, dimana : (1.6)

 ∂C(Ao ,Bo )  ∂C(Ao ,Bo ) ΔC =  ΔA +  ΔB ∂A ∂B    

V Ro = o Io

Dan untuk mendapatkan nilai ∆R, adalah dengan melakukan derivasi atau turunan parsial pada persamaan tersebut (persamaan 1.5), terhadap masing-masing variabel yang terlibat, dalam hal ini V dan I, sehingga :

 ∂R(Vo ,Io )   ∂R(Vo ,Io )  ∆V +  ∆I ΔR =      ∂V ∂I     V 6 1 = ΔV + ( − o )ΔI I I2 o o

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

(1.7)

Contoh : Sebuah pengukuran untuk menentukan hambatan-ohmik suatu benda mendapatkan hasil : I = (5,00 ± 0,50) mA V = (4,00 ± 0,50) V Berapakah hambatannya ? Jawab : Untuk menghitung Ro, kita gunakan persamaan (1.6)

Ro =

Vo 4 = = 200Ω Io 5x10−3

Sedangkan ketidakpastiannya dihitung melalui persamaan (1.7) :

ΔR = =

V 1 ΔV − 2o ΔI Io Io

1 4,00 − (0,50) − (0,50x103 ) −3 −3 2 5,00x10 (5,00x10 ) = 20Ω
Sehingga hasil "pengukuran" hambatan dituliskan sebagai : R = (200 ± 20) Ω = (2,00 ± 0,20) x 102 Ω Pengukuran Tak Langsung-Berulang Kita ingin melakukan "pengukuran" (atau penghitungan) suatu besaran fisika dengan mengukur besaran A dan B keduanya secara berulang melalui fungsi (rumus) C = C(A,B). Dengan : A = Ao ± ∆A (Ao didapat dari rata-rata, ∆A didapat dengan standar deviasi) B = Bo ± ∆B (Bo didapat dari rata-rata, ∆B didapat dengan standar deviasi) Maka : C = Co ± ∆C, dimana : Co= C(Ao,Bo), dan (1.8)

 ∂C(AO ,BO )  ∂C(AO ,BO ) ΔC =   ΔA 2 +   ΔB2 + .... ∂A ∂B    

2

2

(1.9)

Contoh sederhana, jika kita ingin mendapatkan volume balok, yaitu dengan melakukan pengukuran berulang terhadap panjang, lebar dan tinggi atau tebalnya. Kasus seperti ini berhubungan dengan statistika, sehingga dalam mencari ketidakpastiannya berhubungan dengan standar deviasi dan juga rata-rata. Misal : Sebuah pengukuran dengan penggaris masing-masing lima kali terhdap panjang, lebar, tinggi balok didapatkan hasil : Panjang : ( 5,2 ; 5,1 ; 5,0 ; 5,0 ; 5,1) cm Lebar : (3,0 ; 3,0 ; 3,1 ;3,0 ;3,0 ) cm Tinggi : (1,0 ; 1,0 ;1,1 ; 1,2 ; 1,0 ) cm Berapakah volume dan ketidakpastiannya ? Jawab :  Untuk panjang balok Rata-rata panjang dihitung menurut persamaan (1.2), sehingga didapatkan : P = 5,08 cm Dan ketidakpastiannya dihitung dengan persamaan (1.3) :

7

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

∆P ≈ 0,08 cm Sehingga ditulis : P = 5,08 ± 0,08

Untuk lebar balok Rata-rata lebar dihitung menurut persamaan (1.2) sehingga didapatkan : L = 3,02 cm Dan ketidakpastiannya dihitung menurut persamaan (1.3) : ∆L ≈ 0,045 cm Sehingga ditulis : L = 3,020 ± 0,045 cm Untuk tinggi balok Rata-rata tinggi balok dihitung menurut persamaan (1.2) : T = 1,06 cm Ketidakpastiannya dihitung melalui persamaan (1.3) : ∆T ≈ 0,09 cm Sehingga ditulis : T = 1,06 ± 0,09 cm Untuk Volume Rata-rata volume, sesuai dengan persamaan (1.8) adalah :

V = P x L x T = (5,08) (3,02) (1,06) 16,2cm3 x x ≈
Dan ketidakpastiannya, menurut (1.9) :

ΔV = L xT xΔP2 + L xP xΔT2 + P xT xΔL2 ≈ 0,16cm3
Sehingga bisa dituliskan : V = 16,2 ± 0,16 cm3 = (1,620 ± 0,016) x 10 cm3 10. Aturan Baku Penulisan Dalam hal penulisan suatu hasil pengukuran, khususnya pengukuran berulang, terdapat suatu aturan yang baku, yaitu : (x ± ∆x) x 10 a Dengan ketidakpastian (ktp) relatif adalah ∆x dan x nilainya ada diantara 10<x<-10, a adalah bilangan bulat. Sehingga hasil pengukuran pada contoh di atas, yaitu (10,45 ± 0,06), adalah : Ktp relatifnya = 0,006/10,45 ≅ 0,0006 Untuk mengetahui jumlah angka berarti dipergunakan aturan jika angka pertama pada ∆x selain nol 1, 2,3 atau 4, maka diambil dua angka penting. Jika angka pertama selain nol adalah 5, 6, 7, 8 atau 9, maka cukup menuliskan satu angka penting. Cara membulatkan angka mengikuti aturan pembulatan, yaitu :  Jika angka awal yang akan dihilangkan kurang dari 5, maka dibulatkan ke bawah  Jika angka awal yang akan dihilangkan lebih dari 5, maka dibulatkan ke atas  Jika angka yang akan dihilangkan sama dengan 5, maka angka sebelumnya harus genap jika ganjil, dan dibiarkan jika genap. (digenapkan) Di bawah ini sebuah contoh : Misal sebuah pengukuran 123,2 + 0,02, bagaimana cara menuliskan angka dalam aturan baku ? Jawab : Karena angka pertama selain nol pada 0,02 adalah 2 maka dituliskan dalam dua angka penting yaitu 0,020, sehingga hasil pengukuran dituliskan : (1,232 ± 0,020) x 102 11. Tugas Pendahuluan

2

2

2

2

2

2

8

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

1. Apakah kegunaan skala bantu (nonius) dalam suatu alat ukur? 2. Jika dari sebuah pengukuran tunggal didapatkan : X = 2,00 ± 0,05 Y = 4,00 ± 0,5 Maka tentukan nilai Z dan ketidakpastiannya, jika rumus yang menghubungkan X, Y dan Z adalah :

Z = 3X + Y 2
3. Sebuah pengukuran pada suatu benda berbentuk kotak, mendapatkan hasil sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 Panjang-p (cm) 4,30 4,25 4,25 4,30 4,30 Lebar-l (cm) 6,35 6,35 6,35 6,35 6,30 Tinggi-t (cm) 2,50 2,55 2,50 2,50 2,50

Jika massa benda ditimbang secara tunggal pada neraca pegas dan hasilnya 80,5 gr, berapakah massa jenis benda dan ketidakpastiannya (ketidakpastian neraca teknis adalah 0,002 gr) ? 12.Tugas di Laboratorium Pada praktikum kali ini anda akan ditugaskan menentukan jenis bahan dari bendabenda yang anda observasi, caranya adalah menghitung massa jenis benda tersebut kemudian mencocokkannya dengan tabel massa jenis berbagai bahan. Untuk itu harus diketahui terlebih dahulu massa dan volumenya. Massa benda dtimbang dengan neraca teknis dan volume didapatkan dengan menghitungnya setelah diukur panjang, tinggi atau lebar benda. Berikut langkah-langkah percobaannya : Untuk Balok a. Ukurlah panjang, lebar dan tebalnya menggunakan jangka sorong sebanyak sepuluh kali pada tempat yang berbeda dan catat hasilnya dalam tabel. Data ini dipakai untuk menentukan volume balok b. Kemudian timbanglah balok anda untuk menghitung massa pada neraca teknis sebanyak satu kali dan catat hasilnya dalam tabel data. Untuk Plat a. Ukurlah panjang, lebar dan tebalnya menggunakan jangka sorong atau mikrometer sekrup atau penggaris sebanyak sepuluh kali pada tempat yang berbeda dan catat hasilnya dalam tabel. Data ini dipakai untuk menentukan volume balok b. Kemudian timbanglah plat logam anda untuk menghitung massa pada neraca teknis sebanyak satu kali dan catat hasilnya dalam tabel data. Untuk Silinder a. Ukurlah tinggi dan diameter silinder dengan menggunakan jangka sorong pada tempat yang berlainan sebanyak sepuluh kali dan catat hasilnya pada tabel data. Data ini akan digunakan untuk menghitung silinder. b. Kemudian timbanglah plat logam anda untuk menghitung massa pada neraca teknis sebanyak satu kali dan catat hasilnya dalam tabel data.

13. PENGOLAHAN DATA Dalam sebuah percobaan dikenal ketidakpastian, yaitu ukuran ketelitian sebuah pengukuran, atau juga menunjukkan tingkat ketelitian sebuah alat ukur, atau dapat juga diartikan kemungkinan penyimpangan suatu pengukuran.

9

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

Untuk menghitung ketidakpastian volume benda yang anda hitung Untuk Volume Plat dan Balok 1. Hitung rata-rata panjang (P), lebar (L) dan tinggi (T) dengan menggunakan persamaan :

X=
2.

∑X
i =1

N

i

Dengan N adalah banyaknya percobaan dan X dapat berarti panjang, lebar, tinggi dll, sedangkan i adalah percobaan ke-I Kemudian hitung ketidakpastian P, L dan T dengan menggunakan standar deviasi ∆X persamaan 1.3b boleh juga 1.3a :

N

ΔX =

∑ [X
i =1

N

i

− X] 2

N −1

Dengan X adalah rata-rata. 3. Sehingga hasil pengukuran panjang, lebar dan tinggi dapat dituliskan beserta ketidakpastiannya : P = P ± ∆P L = L ± ∆L T = T ± ∆T 4. Langkah selanjutnya adalah menghitung volume dan ketidakpastiannya. Untuk menghitung volume adalah dengan menggunakan rumus volume biasa yaitu :

V=PxLxT
Dengan ketidakpastiannya dihitung dengan menggunakan :

ΔV = P ⋅ L ⋅ ΔT + P ⋅ T ⋅ ΔL + L ⋅ T ⋅ ΔP
Sehingga volume hasil pengukuran dapat dituliskan :

V = V ± ΔV
Untuk silinder 1. Hitung rata-rata tinggi (T) dan diameter (D) dengan cara yang sama seperti langkah 1 dan 2 seperti pada balok, sehingga dapat dituliskan ke dalam bentuk : T = T ± ∆T D = D ± ∆D 2. Selanjutnya kita hitung volume silinder beserta ketidakpastiannya Volume silinder dihitung dengan cara biasa :

V=

1 πD 2 ⋅ T 4

Dan ketidakpastiannya dihitung melalui :

ΔV =

1 1 π D ⋅ T ⋅ ΔD + π ⋅ D 2 ⋅ ΔT 2 4

10

Laboratorium Fisika UNIKOM

Dasar Pengukuran dan Ketidakpastian Percobaan

Untuk menghitung massa jenis beserta ketidakpastiannya Massa jenis dihitung dengan :

ρ=

m V

Dengan m adalah massa benda yang ditimbang. Sedangkan ketidakpastiannya dihitung dengan persamaan :

 m  1 2 Δρ =  − 2  ⋅ ΔV 2 +   ⋅ ( 0,68 ⋅ Δm )  V  V

2

2

14. Tugas Jurnal Akhir Praktikum • Laporkan semua hasil pengukuran di atas • Tuliskan Panjang, Lebar, Tebal balok dalam aturan baku (beserta ketidakpastiannya) dalam tabel yang telah disediakan. • Hitung Volume Balok beserta ketidakpastiannya • Hitung Massa jenis balok beserta ketidakpastiannya • Tentukan bahan balok dengan mencocokan hasil perhitungan massa jenis ρ balok dengan tabel massa jenis (yang ada di Lab Fisika). • Lampirkan data hasil praktikum pada jurnal akhir anda per kelompok.

11

Laboratorium Fisika UNIKOM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->