Beberapa Persoalan Epistemologi Dalam Pengembangan Ilmu Dakwah Oleh Dr. M. Jamil Yusuf, M.

Pd* Abstraks Salah satu pekerjaan penting dalam mengembangkan ilmu dakwah adalah menelusuri landasan ilmiah yang mungkin dapat dibangun. Tujuannya untuk menentukan kerangka pikir yang jelas dalam merumuskan pendekatan baru ilmu dakwah. Penelusuran ini dipandang penting karena banyaknya teori-teori ilmu sosial yang lahir terdahulu dan relatif mapan dalam konteks pengembangan ilmu komunikasi. Landasan ilmiah epistemologi ilmu dakwah merujuk pada tiga pendekatan, yakni menggali ilmu pada sumber utama ajaran Islam dan warisan intelektual Muslim serta dengan menyerap unsur-unsur ilmu sosial dan teknologi mutakhir. Dalam proses kerjanya dapat dilakukan adaptasi dan modifikasi dari unsur-unsur ilmu sosial dan komunikasi, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ilmu dakwah Islam. Dengan epistemologi islami ini dapat ditemukan rumusan ilmu dakwah dalam satu visi, misi dan tujuan yang menempatkan Fakultas Dakwah sebagai pusat studi unggulan dengan nuansa keislaman, keilmuwan dan moral Islami. Dengan proses kerja yang demikian, gerakan ”jalan pintas” dengan mengadopsikan sejumlah matakuliah hasil kerja epistemologi Barat modern secara bertahap dapat diminimalkan. Dalam konteks ini, misalnya pengembangan ilmu pada Fakultas Dakwah memperlihatkan perbedaan epistemik dengan apa yang dikembangkan pada Fakultas Komunikasi dan sebagainya. Kata Kunci: Epistemologi, pengembangan, ilmu dakwah A. Pendahuluan Dakwah pada mulanya dipahami sebagai perintah Allah yang tertuang dalam alQur’an. Bagi setiap Muslim yang taat kepada Allah, maka perintah berdakwah itu wajib dilaksanakan.1 Ketika dakwah dilaksanakan dengan baik, lalu disadari bahwa dakwah itu merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Ketika dakwah disadari sebagai suatu kebutuhan hidup, maka dakwah pun menjadi suatu aktivitas setiap Muslim kapan pun dan di mana pun mereka berada. Kemudian aktivitas dakwah pun berkembang dalam berbagai situasi dan kondisi dengan berbagai dinamikanya. Dalam perkembangan terakhir di Indonesia, khususnya dalam lingkungan perguruan tinggi agama Islam, dakwah telah berkembang menjadi satu disiplin ilmu dan kedudukannya disejajarkan dengan disiplin ilmu-ilmu Islam lainnya, seperti ilmu fiqih, tafsir, hadits, aqidah, akhlak, tasawuf dan sebagainya.2 Al-Qur’an sebenarnya merupakan sumber inspirasi utama bagi pengembangan suatu disiplin ilmu pengetahuan, terutama jika dicermati pada kata kaifa yang terdapat

Dosen tetap Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam pada Fakultas Dakwah IAIN ArRaniry Darussalam Banda Aceh.

*

karena . Dilihat dari posisi dakwah sebagai faktor strategis dalam memajukan umat Islam dan mengembangkan peradabannya. biasanya digunakan untuk pertanyaan yang berkaitan dengan keadaan dan cara.2 pada beberapa ayat al-Qur’an. kata kaifa yang menunjuk kepada cara atau metode adalah: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit. maka seharusnya bangunan epistemologi ilmu dakwah itu lebih mendapat perhatian. istishât dan sebagainya..S. Jika diperhatikan makna kaifa pada ayat kedua di atas. demikian juga dipakai ketika mengembangkan hak-hak reproduksi perempuan. hadits.40:82). pendekatan maslahah mursalah dipakai oleh Asghar Ali Engineer ketika ia membangun konsep Teologi Pembebasan. Banyak bangunan epistemologi hukum Islam itu yang mereka wariskan sampai sekarang dan tetap dipakai dalam memproses hukum Islam. cukup efektif dalam mengembangkan hukum Islam. Pendekatan yang digunakan dalam meng-istinbat hukum. Misalnya. Misalnya. Mujamil Qomar menyebut para mujtahid telah berupaya membangun epistemologi hukum Islam. bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Q. akhlak dan tasawuf. Di samping itu. dengan ungkapan apakah mereka tidak memperhatikan.. Kelemahan-kelemahan dakwah Islam selama ini bersumber pada kelemahan epistemologinya. menunjuk kepada anjuran mempelajari cara dan metode memperoleh ilmu pengetahuan. maslahah mursalah.3 Ilmu fiqh sebagai disiplin ilmu keislaman murni paling responsif terhadap tuntutan epistemologi dibandingkan dengan ilmu tafsir. kata kaifa yang menunjuk keadaan adalah: Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang sebelum mereka. Kata kaifa yang bermakna bagaimana. oleh Masdar Farid Mas’udi ketika ia menawarkan konsep tentang Zakat dan Pajak. seperti qiyâs. tauhid. Bangunan epistemologi hukum Islam itu telah banyak kontribusinya dalam membangun ilmu hukum Islam yang disebut ilmu fiqh.88:17-20). Al-Qur’an pun menggunakan kata kaifa ini dalam konteks yang berbeda. sedangkan kajian mengenai metode dalam pengembangan ilmu tercakup dalam epistemologi. istihsân.S. (Q.4 Yang menjadi persoalan di sini adalah mengapa bangunan epistemologi itu belum berkembang pada disiplin ilmu dakwah.

maka pemecahan persoalan dikotomi epistemologi yang memberi corak keseluruhan pembidangan ilmu pada Fakultas Dakwah itu belum dimulai dari akar masalahnya. sillabus dan rujukan yang digunakan. diharapkan selangkah demi selangkah dapat membendung derasnya pengaruh epistemologi Barat modern dalam pengembangan ilmu dakwah. Landasan Pengembangan Ilmu Dakwah Ada tiga landasan perlunya pengembangan ilmu dakwah. Di samping itu. hanya menyentuh aspek perbedaan nama fakultas dan perbedaan nama jurusan dengan menambah nama ”Islam” yang tidak mempunyai kaitan perbedaan epistemik dengan fakultas dan jurusan non-Islam. Artinya dalam pengembangan ilmu dakwah pada Fakultas Dakwah belum mengkaji masalah ilmu-ilmu sosial dalam level epistemologi yang Islami. peran manusia –sebagai obyek utamanya-dalam kaitan dengan hak dan kewajibannya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.3 epistemologi --dalam konteks seluk beluk ilmu dakwah--. fungsi. setidak-tidaknya hal ini begitu menggejala pada IAIN Ar-Raniry. umat pilihan (khairu ummah) yang mampu merealisasikan nilai-nilai Ilahiyah. maka masalah mendasar yang hendak dibenahi dalam kajian pengembangan ilmu dakwah ini adalah masalah epistemologinya. seperti tabligh (penyampaian). tarbiyah . al-Qur’an memperkenalkan sejumlah istilah kunci mengenai dakwah dan diekspresikan dalam konteks bagaimana kedudukan. ”ya’muruna bi al-ma’ruf” dan ”yanhawna ’an al-munkar”. Dalam konteks ini. al-Qur’an juga memperkenalkan beberapa istilah yang berhubungan dengan tema dakwah.5 Berdasar pada fenomena di atas. yakni ontologi dan aksiologinya. berposisi mempengaruhi komponen lainnya. yakni kecenderungan mengambil “jalan pintas” dengan mengadopsi sejumlah matakuliah hasil kerja epistemologi Barat modern untuk dijadikan matakuliah komponen keahlian jurusan pada Fakultas Dakwah. Perbedaan Fakultas Dakwah dengan Fakultas Komunikasi misalnya. Istilah dakwah dalam al-Qur’an yang dipandang paling populer adalah ”yad’una ila alkhayr”. melaksanakan dan menganjurkan al-ma’ruf serta menjauhi dan mencegah kemungkaran. Dengan asumsi kelemahan di atas. seorang Muslim mempunyai tanggung jawab moral untuk hadir sebagai syuhadaa ’ala al-nas. B. Pertama. Salah satu aspek kelemahan dalam pengembangan ilmu dakwah akhir-akhir ini tercermin pada pengembangan kurikulum. Dengan pembenahan ini. yakni menyerukan al-khayr.

Dengan kajian ini. Ketiga. yakni penyampaian ajaran Islam secara lisan (tabligh). Syukriadi Sambas menyebut munculnya kajian dakwah sebagai satu bidang ilmu Islam. metode. Begitu juga di Indonesia. ditekuni dan dikembangkan. Hal ini amat penting dikaji. ta’lim (pengajaran). bahkan mengenai hakikat dakwah itu sendiri. C. yang semula sebagai satu jurusan pada Fakulkas Ushuluddin. Para pelaku dakwah pun banyak yang belum memahami strategi. Pada tahun 1960 Ahmad Ghalwusy juga menulis buku dengan judul al-Da’wah al-Islamiyah. misalnya di Universitas al-Azhar Mesir. dilihat dakwah sebagai sebuah disiplin ilmu terdapat banyak aspek yang perlu dikembangkan. mengingat ilmu dakwah belum terakumulasi epistemologinya secara jelas dalam sebuah kerangka bangunan keilmuwan yang utuh. Di antara penulis tentang dakwah dari kalangan akademisi program studi tersebut adalah Syekh Ali Mahfudz dengan bukunya Hidayah al-Mursyidin.4 (pendidikan). tawsiyah (nasehat) dan tadzakir (peringatan). seperti masalah kejelasan aspek empiris-rasional dan teologisideal tentang proses dakwah sebagai fenomena keilmuwan. menjadi . Sehingga aktivitasnya terkadang hanya menekankan pada aspek mobilitas dan belum menyentuh aspek landasan ilmu dakwahnya. Kajian Historis Sekitar Pengembangan Ilmu Dakwah Kajian dakwah sebagai salah satu bidang ilmu Islam telah dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. diperlukan kajian yang mendalam mengenai landasan pengembangan ilmu dakwah sebagai salah satu disiplin ilmu Islam dalam rumpun ilmu-ilmu sosial. aktivitas dakwah sudah ada sejak adanya tugas dan fungsi yang harus diemban oleh manusia. Kedua. tabsyir (penyampaian berita gembira). yakni untuk penyelamatan alam semesta dan untuk keselamatan manusia itu sendiri. kajian keilmuwan dakwah Islam dilakukan seiring dengan dibukanya studi dakwah Islam. setidak-tidaknya dapat merupakan cerminan sebagai sebuah rancangan epistemologi ilmu dakwah yang seyogianya dipedomani. Untuk itu. dimana dakwah Islam dikaji dan dikembangkan dalam bentuk program studi. tandzir (penyampaian berita ancaman). Namun aktivitas dakwah seringkali dipahami oleh masyarakat awam sebagai aktivitas praktis. Di sana ditegaskan bahwa dakwah Islam sudah menjadi disiplin ilmu sebagai bagian dari ilmu-ilmu Islam.

tetapi karena kurang representasinya pembicara yang hadir.5 Fakultas Dakwah di lingkungan IAIN dan UIN. Serasehan itu dilandasi oleh suatu kesadaran bahwa: (1) pendirian Fakultas Dakwah bukanlah lahir atas dasar adanya disiplin keilmuwan. dan (2) dakwah Islam diklasifikasi menjadi da`wah bil lisan dan da`wah bil hal (amal shaleh). seminar dan sebagainya. Begitu juga jurnal dan majalah ilmiah bidang ilmu dakwah seperti Jurnal Al-Bayan yang diterbitkan oleh Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry diberikan ISSN 1411-5743 oleh LIPI. mengkomunikasikan. Ada dua gagasan pokok yang disimpulkan dari seminar ini. sebagai ikhtiar kolektif keluarga. dan (2) dengan serasehan ini diharapkan menjadi titik awal pembangunan kerangka keilmuwan dakwah. LIPI sebagai lembaga yang berkompeten menentukan dan menetapkan status keilmuwan suatu bidang ilmu. Pada tahun 1985 IAIN Ar-Raniry mendapat kepercayaan untuk menyusun text-book disiplin ilmu dakwah. Pada tahun 1977 misalnya.8 Pada seminar ini belum menghasilkan apa kerangka teoritis atau epistemologis yang dapat dijadikan landasan pengembangan ilmu dakwah. Pada tahun 1980 diadakan serasehan tentang “Dakwah sebagai Disiplin Ilmu” di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pada tahun 1982 diselenggarakan “Seminar Nasional Dakwah Islam dan Perubahan Sosial” oleh PLP2M di Yogyakarta. mengetengahkan informasi mengenai akidah.7 Apa yang menjadi persoalan berikutnya adalah memantapkan pengembangan dakwah sebagai suatu disiplin ilmu yang mandiri. Upaya ini di tanah air secara berkesinambungan telah dilakukan dengan berbagai upaya seperti serasehan. diadakan “Serasehan Nasional Ilmu Dakwah” di Fakultas Dakwah Sunan Ampel Surabaya. Dari laporan text-book ini ditemukan beberapa konsep utama. yakni: (1) dakwah pada hakikatnya adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah. telah menetapkan ilmu dakwah sebagai bidang ilmu Islam sejajar dengan bidang ilmu Islam lainnya. nilai-nilai dan kebijakankebijakan ajaran Islam yang efektif. maka hasilnya belum sampai kepada apa yang diharapkan. dan Jurusan Ilmu Dakwah pada STAIN dan STAI. jama’ah dan umat (masyarakat) dalam rangka mewujudkan khaira al-ummah (masyarakat yang adil dan makmur diridhai Alah Swt). norma-norma. tetapi lebih didasarkan pada aspek kebutuhan praktisi da’i berpendidikan sarjana.6 Di samping itu. dan (3) . (2) tugas pengkajian ini merupakan tugas ilmu. yakni: (1) bahwa dalam era modern ini perlu dikaji cara-cara menerapkan.

6 oleh karenanya. maka obyek pemikiran itu akan ”diam” saja sehingga tidak diperoleh pengetahuan apa pun. ilmu dakwah didefinisikan sebagai suatu pengetahuan mengenai alternatif-alternatif dan saranasarana yang terbuka bagi terlaksananya komunikasi ”mengajak” dan ”memanggil” umat manusia kepada agama Islam. Dari sudut . maka pemikiran-pemikiran dari berbagai pakar dalam seminar itu ibarat bahan-bahan yang masih tercecer. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut digali dan dikembangkan. Dengan demikian. Seminar itupun menghadirkan para pakar dari berbagai disiplin ilmu. ketiga-tiganya adalah bersifat interrelasi dan interdepedensi. Pada setiap jenis pengetahuan filsafat mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). Jika membicarakan epistemologi ilmu. tidak adanya tenaga ahli yang dapat mengakumulasikan “bangunan” ilmu dakwah. dan ilmu pengembangan masyarakat Islam--. D. cara-cara berpikir juga ada. ilmu bimbingan dan konseling Islam. Ketika dalam kajian ini dibicarakan epistemologi. Dalam konteks ini. Beberapa Persoalan Epistemologi Ilmu Dakwah Dalam pembahasan filsafat. memberi informasi mengenai amar ma’ruf dan nahi munkar agar dapat tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. maka hanya akan sia-sia. sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. yakni ilmu komunikasi dan penyiaran Islam. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikirnya (epistemologinya). Sekiranya obyek pemikiran ada. termasuk bidang-bidang ilmu yang tercakup di dalamnya. Akan tetapi. jenis keahlian dan prospek kerja lulusannya. tetapi tidak diketahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu (aksiologinya). termasuk metodologi. disiplin dan bagian-bagian disiplinnya. cara atau langkah-langkah yang seharusnya ditempuh untuk mendapat ilmu dakwah. berarti dibatasi kajiannya tentang upaya. untuk berdakwah memerlukan ilmu dakwah.10 Jika terdapat obyek pemikiran –dalam konteks ini adalah ontologi ilmu dakwah.9 Pada tahun 1992 dan 1993 kembali diadakan “Seminar Nasional Dakwah sebagai Disiplin Ilmu” dan “Seminar dan Lokakarya Kurikulum Fakultas Dakwah” di Fakultas Dakwah IAIN Syarif Hidayatullah untuk berusaha menjawab persoalan mendasar keilmuwan dakwah Islam. belum jelas apa yang menjadi obyek material dan obyek formal ilmu dakwah. di samping ontologi dan aksiologi. maka seharusnya dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi. epistemologi dikenal sebagai sub-sistem dari filsafat.

pemahaman dan pengembangan ilmu dakwah. A.11 Mudlor Ahmad menyebut enam aspek kajian epistemologi. yakni hakikat. Kedua. batas.7 pandang ini. jika diringkaskan menjadi dua masalah pokok. apa kebenaran itu. mungkinkah mencapai ilmu yang benar. ternyata mereka didukung oleh keunggulan dalam pengembangan metode-metodenya. Jadi. Pertama. tetapi yang utama dari tujuan epistemologi adalah menemukan ”syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Mukti Ali bahkan menyebut di beberapa negara Arab.12 Sedangkan A. Oleh karena itu. tujuan utama epistemologi sebagaimana pendapat Jacques Martain adalah bukan untuk mendapat jawaban ”apakah saya dapat tahu”. yakni dapat menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai merasa puas dengan sekedar memperoleh ilmu dakwah tanpa disertai dengan cara bagaimana memperoleh ilmu dakwah itu. tetapi karena . sumber dan validitas pengetahuan. dan sasaran pengetahuan. yakni masalah sumber ilmu dakwah dan masalah benar tidaknya ilmu dakwah itu berdasarkan sumber-sumber ilmu dakwah.M. apa sumbernya. Keadaan seseorang memperoleh ilmu dakwah itu berorientasi pada hasil. perlu diungkapkan sepintas mengenai seluk beluk di seputar epistemologi. sebelum dikemukakan beberapa persoalan epistemologi pengembangan ilmu dakwah. apa yang dapat diketahui dan sampai di manakah batasannya. unsur. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. tumpuan.14 Di sini ditemukan makna strategis dalam dinamika pengembangan ilmu dakwah.13 Semua pertanyaan itu. Saefuddin menyebut bahwa epistemologi itu harus mampu menjawab pertanyaan: apakah ilmu itu. Ketiga. sedangkan keadaan seseorang yang disertai dengan cara bagaimana memperoleh pengetahuan itu berorientasi pada prosesnya. setidaknya didapat perbedaan yang signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling tepat untuk mengembangkan kreativitas keilmuwan dibandingkan ontologi dan aksiologi. proses menjadi tahu atau ”proses pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. apa hakikatnya. dari mana asalnya. Arifin merinci ruang lingkup kajian epistemologi meliputi hakikat. macam. seperti Saudi Arabia dan Kuwait yang secara ekonomi telah mencapai kemajuan. kedudukan cara bagaimana atau metode dalam epistemologi adalah sebagai alat dalam mencapai pengetahuan. M.15 Suatu bangsa yang berhasil memajukan ilmu pengetahuan.

Obyek material ini termanifestasi dalam disiplin-disiplin ilmu keislaman lainnya yang kemudian berfungsi sebagai ilmu bantu bagi ilmu dakwah. yakni: (1) mengajak dengan lisan dan tulisan (da’wah bil lisan dan bil qalam). Matakuliah-matakuliah ini berdasarkan epistemologi Barat modern kemudian diambil untuk pengembangan ilmu dakwah. metodologi psikoterapi kesehatan mental. Di sini melahirkan penelitian. Kontribusi ilmu pengetahuan Barat modern ditekankan pada proses epistemologi atau metode ilmiah yang dilewati sebagai sarana mencapai kebenaran. dan (3) dan tujuan dakwah Islam. berdasarkan dan kebenaran epistemologik. baik dalam kognisi maupun realitas inderawi. Di sini memunculkan pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari metode spekulatif dalam pengembangan matakuliah pada Fakultas Dakwah.16 Keempat. lingkup obyek pengembangan ilmu dakwah menurut Amrullah Ahmad dapat dibedakan kajiannya menjadi obyek material dan obyek formalnya. seperti Filsafat Umum dan Filsafat Ilmu. konseling. kebenaran epistemoligik dan kebenaran wahyu. seperti matakuliah bidang komunikasi.18 Dari perbandingan ini dapat dipahami kontribusi epistemologi terhadap pengembangan ilmu dakwah. mengajak dengan mengelola hasil-hasil dakwah dalam bentuk lembaga dakwah untuk mencapai sasaran . Kontribusi ilmu pengetahuan Yunani ditekankan pada aspek ontologi yang hendak mengejar kebenaran substantif dan spekulatif. manajemen. khususnya dalam pengembangan kurikulum yang berorientasi kebenaran filsafat. 2.17 Kelima. (2) mengajak dengan perbuatan (da’wah bil hal atau aksi sosial). yakni kegiatan mengajak umat manusia supaya masuk ke jalan Allah (sistem Islam) dalam semua segi kehidupan. Bentuk kegiatan mengajak itu. kontribusi epistemologi terhadap ilmu pengetahuan dapat dilihat dari perbandingan segi tiga antara wilayah Yunani. sejarah dan peradaban Islam. pengetahuan-pengetahuan psikologi. sosiologi.8 tidak ada upaya maksimal untuk mengembangkan metode. Sedangkan obyek formal ilmu dakwah adalah mengkaji salah satu sisi dari obyek material tersebut. Islam dan dunia Barat. sbb: 1. Obyek material ilmu dakwah adalah semua aspek ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. ternyata mereka tetap saja menjadi konsumen terhadap ilmu pengetahuan Barat modern.

Pendekatan seperti ini sering disebut pendekatan holistik. yakni kumpulan pengetahuan yang berasal dari Allah Swt yang dikembangkan oleh umat Islam dalam susunan yang sistematis dan terorganisir mengenai manhaj melaksanakan kewajiban dakwah dengan tujuan ikhtiar mewujudkan khaiul ummah. rasional maupun instuitif.Q.9 3. Ilmu Fiqh dan Ilmu Dakwah dan sebagainya. tetapi diterapkan dalam konstruksi ilmu pengetahuan. seperti Ulumul Qur’an. yakni suatu pendekatan yang tidak mempersoalkan apakah potensi inderawi. Islam tidak menghendaki keterpisahan antara ilmu dan sistem nilai. Dalam hal ini. yakni Allah Swt melalui wahyu-Nya yang mengandung segala hikmah dengan menggunakan segenap potensi manusia (S. Islam meletakkan wahyu sebagai paradigma agamawi yang mengakui eksistensi Allah. akal atau instuisi yang menjadi andalan dalam setiap pengembangan ilmu dakwah. Kepastian itupun harus merujuk pada ”prinsip-prinsip epistemologi kebenaran wahyu dan keimanan”. Asumsinya ialah: (1) manusia akan mengalami putus asa dalam mencapai kebenaran hakiki jika tidak dilandasi oleh wahyu. sebagai berikut:20 . tetapi yang penting adalah kepastian dalam setiap ilmunya. Ulumul Hadits. keimanan dan moral sekaligus. dan (2) ilmu berdasar epistemologi islami ini berdimensi intelektual. Tim Penyusun Kurikulum Nasional Fakultas Dakwah merumuskan pengertian ilmu dakwah. tidak hanya sebatas keyakinan semata. maka inti persoalan epistemologi ilmu dakwah adalah persoalan sumber ilmu pengetahuan. baik dalam bentuk inderawi.19 Dengan melihat pengertian ilmu dakwah di atas. Dengan memperhatikan seluk beluk di seputar epistemologi di atas. Berdasar pada epistemologi islami di atas. Di sini melahirkan pengetahuan berdasarkan kebenaran wahyu dalam pengembangan kurikulum ilmu dakwah. maka antara visi jurusan dan kurikulum yang dikembangkan itu juga ditemukan beberapa persoalan epistemologi. Namun dalam pengembangan kurikulumnya dipandang menyimpan beberapa persoalan. maka pembidangan ilmu dakwah dalam obyek formalnya menjadi empat bidang ilmu dipandang sesuai dan relevan. seperti yang terjadi di Barat. 16: 78). Kontribusi ilmu pengetahuan di dunia Islam ditekankan pada aspek aksiologi yang berfungsi sebagai landasan dalam mengkonstruksi fakta.

Manajemen PMI. Dari 69 SKS matakuliah komponen jurusan. Sosiologi Agama dan Islam. Tentunya semua ini tidak signifikan mencapai visi unggul dalam ilmu komunikasi . dan Praktikum PMI. Dari 63 SKS matakuliah komponen jurusan. lalu kepada semuanya beriorientasi epistemologi Barat modern. yakni: Bimbingan dan Konseling Islam. semuanya berlandaskan epistemologi Barat modern karena memang belum diarahkan pengembangannya kepada manajemen Islam. dirumuskan visi ”unggul dan terkemuka dalam pengkajian. 3. Penutup Perkembangan pemikiran ”dakwah sebagai ilmu” di Indonesia secara akademik akhir-akhir ini dapat dikatakan lebih terarah dibandingkan dengan masa awal perkembangannya di era tahun1970-an. Untuk Jurusan KPI. pengembangan dan penggerak pembangunan masyarakat Islam” dan ditemukan lima matakuliah dengan total bobot 16 SKS yang relevan. Pengembangan Ekonomi Masyarakat dan sebagainya. Sisanya 52 SKS masih berorientasi epistemologi Barat modern. Ketika itu ilmu dakwah baru saja memperoleh status akademik dengan dibukanya Fakultas Dakwah pertama di Indonesia pada IAIN Ar-Raniry tanggal 13 Oktober 1968. seperti Kesehatan Masyarakat.10 1. dan Konseling dan Psikoterapi Islam. dirumuskan visi ”unggul dan terkemuka dalam pengkajian dan pengembangan bimbingan dan konseling Islam bagi kebahagiaan dan kesejahteraan” dan ditemukan dua matakuliah dengan total bobot 4 SKS yang relevan. Selebihnya 60 SKS masih berorientasi epistemologi Barat modern. 4. Untuk Jurusan PMI. 2. Namun ketika para lulusannya memasuki dunia kerja. dirumuskan visi ”sebagai format pengembangan manajemen berbasis manajemen modern”. E. Untuk Jurusan BPI. seperti Teori Konseling dan Psikoterapi. yakni: Dasar-Dasar PMI. di mana persoalan epistemologinya belum diperbincangkan. Konseling Karir dan sebagainya. namun di pihak lain tidak ditemukan kurikulum yang secara spesifik mendidik mahasiswa memiliki kompetensi bidang ilmu komunikasi dan penyiaran Islam tersebut. dirumuskan visi ”sebagai pusat keunggulan dalam bidang ilmu komunikasi dan penyiaran Islam”. dan penyiaran Islam. Untuk Jurusan Manajemen Dakwah.

Dalam kegiatan penyelenggaraan pengabdian pada masyarakat. (Editor). amin. meningkatkan relevansi kurikulum. 1 . hal. Dengan tiga agenda pengembangan ini. Ketika itu. bagaimana cara dan batas-batasnya (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) ilmu dakwah itu mulai diperbincangkan. Civitas akademika dimotivasi supaya mampu mengubah penguasaan ilmu dakwah yang dimilikinya menjadi kebijakan dalam bentuk perumusan model pengembangannya. 35. (Yogyakarta: Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga. Di sini ada kesan bahwa mutu penelitian dosen/mahasiswa masih rendah. pengembangan kurikulum. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pembidangan Ilmu Agama Islam pada Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia. Dalam kegiatan penyelenggaraan penelitian dilakukan: (1) peningkatan kemampuan penelitian. dan (5) kerjasama antar perguruan tinggi. terutama di kalangan pakar dakwah. 1994). hal. Dengan berkembangnya ilmu dakwah menjadi empat bidang ilmu (komunikasi dan penyiaran Islam. 2 Lihat. persoalan apa yang harus diketahui (ontologi). Semua ini berimplikasi pada perumusan visi dan misi. (4) penerbitan jurnal ilmiah. maka perlu ditindaklanjuti dengan agenda pengembangannya melalui kegiatan tridharma perguruan tinggi. Iskandar Zulkarnain dan Zarkasyi Abdul Salam. Dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan dilakukan penyempurnaan visi dan misi jurusan. diharapkan dapat ditemukan kekayaan ide dan wawasan mengenai epistemologi Islami untuk pengembangan ilmu dakwah. pengembangan masyarakat Islam dan manajemen dakwah). 89-93. semoga menjadi sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu dakwah di masa depan. penelitian kebijakan maupun penelitian tindakan. Djamaluddin Ancok dan Fuat Nashori Suroso. bimbingan dan penyuluhan Islam. (2) pengembangan variasi penelitian. prosedur-prosedur akademik dalam keseluruhan proses pendidikan dan dukungan sistem yang diperlukan. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problema-Problema Psikologi. (3) pertemuan ilmiah. dilakukan promosi jasa keahlian melalui aplikasi bidang ilmu dakwah. 1995).11 mereka dipertanyakan masalah spesifikasi keahlian dan teknostruktur pembangunan yang mana yang dapat diisi oleh lulusan Fakultas Dakwah. baik penelitian ilmiah. Akhirnya apa yang ditawarkan dalam makalah ini. perbaikan sillabus sampai pada penyediaan buku daras sebagai rujukan utama. Indikatornya adalah produk penelitian dosen sangat minim dengan gagasan baru.

1. 1959). 16 A. 1991). 61. 1994). x-xi. 7. 1994).. hal. juga aktif menyajikan makalah dalam beberapa seminar. 1976). “Metodologi Ilmu Agama Islam”. 11 M. (Jakarta: Bumi Aksara. (Yogyakarta: Tiara Wacara. disajikan pada Seminar Internasional “Islamic Value-Based Education” yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Provinsi NAD (2008). hal. Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar. (Darussalam Banda Aceh: 200/2008). 2006).I. lahir 10 Agustus 1958 di Woyla. hal. hal. Panduan S1 dan D3 IAIN Ar-Raniry. Makalah disampaikan pada Orientasi Kurikulum Nasional IAIN.Saefuddin. (Banda Aceh: Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry. 9 Ali Hasjmy. Panduan S1…. 63-86. melanjutkan studi S2 pada Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.I. Rusli Karim. Vol. 1991). Materi dan Metode Penyiapan Disiplin Dakwah Islam dalam Kurikulum IAIN 1995. 85. The Degrees of Knowledge. Tentang penulis: Dr. 6 Syukriadi Sambas. 14 Jacques Maritain. 7 Lihat. Kurikulum Nasional Fakultas Dakwah IAIN.Mukti Ali. (1984/1985).Pd. 3 . Fakulti Pengajian Islam UKM Malaysia (2008). Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik. Strategi Pengembangan Keilmuwan dan Kurikulum Pendidikan Tinggi Dakwah Islam. 17 Amrullah Ahmad. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. hal. Selain menjadi peneliti dan menulis di beberapa Jurnal. 12. Diselenggarakan oleh Ditperta Departemen Agama R. dkk. 15 Imam Barnadib. Program Studi Bimbingan dan Konseling (lulus tahun 2000) dan melanjutkan ke Program S3 pada universitas dan program studi yang sama (lulus September 2007). tanggal 18 Mei 1995. hal. No. di Jakarta. di antaranya: (1) Pengembangan Ilmu Konseling Islami pada Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia.12 Mujamil Qomar. Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi.31. 2005). (Bandung: Mizan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 20 Tim Revisi Panduan Program S-1 dan D3 IAIN Ar-Raniry. Departemen Agama R. 2-3. 10 Mujamil Qomar. Jurnal Al-Bayan (Media Kajian dan Pengembangan Dakwah). Jawa Barat. Pengantar Ilmu Dakwah.. M. 73. Kabupaten Aceh Barat adalah dosen tetap pada Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry. hal. 21-22. 105-106. Arifin.. Makalah Seminar Nasional Dalam Rangka Kongres I Profesi Dakwah Islam.M. Jamil Yusuf. Juli-Desember 2006. M. Landasan Metodologi Psikologi Islami. (Jakarta: Erlangga. 2004). Tanggal 13-14 Mei 2003 di Hotel Lingga Bandung. 5 Lihat. hal. hal. 2000). hal. (editor). hal. hal. Epistemologi. Filsafat Pendidikan Islam. Kerjasama IAIN Ar-Raniry dengan Jabatan Ushuluddin & Falsafah. hal. (New York: Scribner. 14. dan (2) Kebijakan Penerapan Konseling Islami dalam Seting Pendidikan Sekolah. Setelah menyelesaikan sarjana (S1) pada Fakultas Tarbiyah (1984). 19 Tim Penyusun Kurikulum Nasional Fakultas Dakwah. Ilmu Dakwah: Kajian Berbagai Aspek. 8 Aep Kusnawan. 63-86. 1989). (Jakarta. 4 Ibid. Tim Revisi Panduan Program S-1 dan D3 IAIN Ar-Raniry. 12 Mudlor Ahmad. Darussalam Banda Aceh: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN Jami’ah Ar-Raniry. hal. Ilmu dan Keinginan Tahu (Epistemologi dalam Filsafat). disajikan pada Seminar Internasional. 18 Noeng Muhadjir. ISSN 1411-5743. 13 A. 6. 44. dalam Taufiq Abdullah dan M.. Editor. Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode. (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta. (Bandung: Trigenda.