HUKUM HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

Islam Adalah agama samawi, agama yang di turunkan kepada nabi Muhammad Saw. Adalah wahyu Allah terakhir untuk manusia. Oleh karena itu,agama ini sudah sempurna dan senantiasa sesuai dengan tingkat perkembangan manusia sejak di turunkannya, 21 abad yang lalu hingga akhir peradaban manusia atau kiamat nanti. Ada suatu syariat atau ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah SWT setelah melalui proses panjang selama 23 tahun berangsur-angsur agar mudah di serap dan di pahami oleh manusia yang meliputi berbagai macam pokok pembahasan di ataranya: a. Akidah b. Ibadah c. Ahlaq d. Muamalat e. Hukum Dalam pelaksanaannya islam memiliki sumber hukum atau norma yang nantinya menjadi pedoman bagi kaum muslimin, untuk menentukan hukum suatu tindakan, dan menuntunnya kepada jalan menuju tujuan tersebut, dan menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia dalam berhubungan dengan tuhannya ataupun sesama manusia. Adapun sumber-sumber hukum yang utama dalam islam adalah : 1. Al Qur’an 2. As sunnah 3. Ijtihad Sumber-sumber hukum di atas harus di terapkan dalam kehidupan dan tingkah laku kita di muka bumi ini agar terciptanya kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sumber hukum di atas memberikan petunjuk kepada kita sebagai umat muslim untuk menuju arah pencapaian kebahagiaan yang hakiki.

1

diaawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas.A. kata Al Qur’an sebagai nama kitab. Dengan tulisan itu orang dapat membaca dan memahami isinya dan sekaligus dapat mengabadikannya. terdiri dari huruf. dan ayat-ayat. Al Qur’an Secara terminologi Al Qur’an adalah kalamullah yang di turunkan kepada Nabi terakhir. Dan membacanya bernilai ibadah. 18:1) Yang artinya : 2 . ini di nyatakan dalam firman Allah (QS. 59:21) Yang artinya : Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung. Dalam nama ini terkandung bahwa Al Qur’an bagi umat islam merupakan bacaan harian. b. Al-Hasyr. setiap muslim harus biasa membaca Al Qur’an. Penamaan Al Qur’an dengan Alkitab ini diungkapkan dalam firman Allah (Al-Kahfi. yaitu Nabi Muhammad Saw. pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. a. karena membacanya merupakan ibadah. HUKUM ISLAM ADALAH HUKUM YANG BERSUMBER DAN MENJADI DASAR AGAMA ISLAM 1. Al Qur’an memiliki sejumlah nama yang di dalam namanya itu terkandung fungsi dan peranannya bagi manusia. Al Qur’an tertulis dalam mushaf dan sampai kepada manusia secara mutawatir. kalimat. Qaraa yang berarti bacaan atau sesuatu yang di baca sehari-hari. Alkitab yang berarti tulisan atau yang di tulis karena ayat-ayat Al Qur’an itu tertulis. karena itu. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Melalui perantara malaikat Jibril.

As Sunnah Menurut bahasa As-sunnah berarti perjalanan. Sunnah qauliah adalah dalam bentuk pekataan atau ucapan Rosululloh Saw. Al-Furqaan. Berdasarkan definisi di atas sunnah di bagi menjadi 3 yaitu : a. yaitu sesuatu yang dikatakan atau perbuatan yang di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw. yaitu diamnya Nabi atas perkataan atau perbuatan sahabat. Alfurqaan yang berarti pembeda atau pemisah dengan memahami Al Qur’an orang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Yang artinya : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hambaNya. perbuatan dan keterangannya (taqrir). Al Qur’an dan As-Sunnah adalah rujukan yang pasti dan tetap bagi segala macam perselisihan yang timbul di kalangan umat islam sehinga tidak melahirkan pertentangan dan permusuhan. 4:59) : 3 . Penamaan Al Qur’an dengan Alfurqaan dinyatakan dalam firman Allah (QS. Yang menerangkan hukum-hukum dan maksud Al Qur’an.Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (AlQuran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. 25:1). c. Menurut istilah sunnah berarti perkataan Nabi. Sunnah taqririyah adalah ketetapan Nabi. 2. b. Sunnah fi’liyah yaitu sunnah dalam bentuk perbuatan. tapi tidak ditegur atau dilarangnya. Hak adalah nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang datang dari Allah SWT sebaliknya batil adalah keburukan dan kesalahan yang harus di jauhkan. yang menerangkan cara melaksanakan ibadah misalnya cara berwudu.sholat dan sebagainya. seperti firman Allah (QS. c. agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. pekerjaan atau cara. An-nisa.

segala yang diinginkan oleh Al Qur’an dapat di lihat dari apa yang dilakukan oleh Rosulullah. Disamping itu As-sunnah merupakan rujukan perilaku yang dikehendaki oleh Al Qur’an. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Ijtihad Ijtihad berarti menggunakan seluruh kesanggupan berpikir untuk menentukan hukum syara dengan jalan mengeluarkan hukum dari kitab dan sunnah. yaitu ahli fikih yang menghabiskan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat (dzan tehadap suatu hukum agama dengan jalan istinbat dari Al Qur’an dan As-Sunnah. 4 . Hal ini di sebabkan perbedaan pengalaman. melahirkan dzanniyah (persangkaan kuat kepada benar). karena seorang mujtahid tidak terlepas dari lingkungan budayanya dan pada akhirnya berpengaruh kepada hasil ijtihadnya. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya). Demikian pula hasil ijtihad yang dilakukan pada suatu waktu dapat berbeda dengan hasil yang didapatkan pada waktu yang lain. ilmu serta adat kebiasaan yang berpengaruh kepada hasil ijtihad mereka. Al-ahzab. mungkin saja antara mujtahid satu dengan mujtahid yang lain hasilya berbeda. Beliau menjadi tauladan yang nyata bagi seluruh kaum muslimin. 3. sebagaimana firman Allah (QS. dan ulil amri di antara kamu. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Kebenaran hasil ijtihad tidak bersifat mutlak. Oleh karena itu.Yang artinya : Hai orang-orang yang beriman. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). :21) : Yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Bahkan bisa saja hasil ijtihad di suatu tempat berbeda dengan hasil ijtihad di tempat lain. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Qiyas menurut bahasa adalah mengukur sesuatu dengan lainnya dan mempersamakannya. ijtihad fardhi adalah ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid secara pribadi.Kendati pun demikian. Ijma pada masa sekarang dihadapkan pada persoalan banyaknya para ulama dan tempat tinggalnya yang tersebar di seluruh pelosok dunia. hal ini bukan sesuatu yang menghambat pelaksanaan hukum Islam. ijtihad dapat di bagi kepada dua macam. maka ia mendapat satu pahala. Apabila ia berijtihad kemudian tidak mencapai kebenaran. hukum-hukum yang sudah pasti tidak boleh diijtihadkan lagi. Oleh karena itu.Bukhori. Karena itu. Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat atau kesepakatan semua ahli ijtihad ummat setelah wafatnya Nabi pada suatu masa tentang suatu hukum. berdasarkan sesuatu hukum yang sudah di tentukan oleh nash. ijtihad terdiri atas tigamacam: 1. Hal ini diisyaratkan oleh nabi dalam sabdayna yang berarti: Hakim apabila berijtihad kemudian dapat mencapai kebenaran. Tidak semua masalah agama dapat diijtihadkan. tidak berarti bahwa setiap mujtahid itu benar atau salah. disebabkan oleh adanya persamaan di antara keduanya. diamnya itu bukan karena takut atau malu. Dilihat dari segi materi. 2. masalah yang diijtihadkan adalah hukum-hukum syara yang tidak mempunyai dalil qath’i (pasti). ijma sukuti adalah ketika para ulama mujtahidin berdiam diri. Ijma Ijma menurut bahasa adalah sepakat. Ijma terdiri atas ijma qauli (ucapan ). Qiyas. Sedangkan ijtihad jama’i atau ijma adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mujtahid secara berkelompok. Macam-macam ijtihad Dilihat dari pelaksanaan. setuju atau sependapat.(HR.maka ia mendapat dua pahala. tidak menengelurkan pendapatnya atas hasil ijtihad para ulama lain.ijma qauli maksudnya para ulama mujtahidin menetapkan pendapatnya baik dengan ucapan maupun dengan tulisan yang menerangkan persetujuanya atas pendapat mujtahid lain di masanya . Namun. Antara kelompok ulama yang satu dengan ulama lainya tidak mungkin dapat disatukan pendapatnya. Menurut istilah adalah menetapakan sesuatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya. kemungkinan perbedaan antara ijma ulama di suatu tempat dengan tempat yang lain sangat besar. dan ijma sukuti (diam ). yaitu ijtihad fardhi dan ijtihad jama’i. Muslim). a. 5 . Karena yang dapat mengukur kebenaran secara mutlak hanya Allah semata.

Istihsan Istihsan adalah menetapkan suatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip. serta memberikan kebebasan bagi mereka untuk berbuat apa saja. Altahrim. dan sebagainya dari Al Qur’an dan hadis. B. Citra pembebasn dan persamaan itu dapat kita lihat dalam QS. 58&105&135.” Al Qur’an sangat menekankan perlunya kehidupan seseorang demi suatu tujuan yaitu menyembah penciptanya. maka Islam bukan hanya mengandung ajaran kemanusiaan. maka berarti bahwa kebenaran juga dapat ditentukan pada setiap bangsa dan masa. 10&38. Barang siapa membunuh tanpa alas an yang benar. Al-Syura. 185&199. kasih saying. “hak persamaan dan kebebasan. Al-imran.karenanya Al Qur’an mengutuk seseorang yang membunuh nyawa tanapa suatu alas an yang dapat membenarkannya. Universalisme Islam juga menghasilkan pandangan dari arah lain.prinsip atau dalil-dalil yang berkaitan dengan kebaikan. 21. termasuk di dalamnya untuk menjadi penentang Tuhan.” Al Qur’an sangat berkepentingan dalam penjaminan bagi persamaan seluruh entitas kemanusiaan. maka hal itu tidak saja menghasilkan pandangan bahwa ia berlaku untuk semua tempat dan waktu. keadilan. jika islam kita tangkap sebagai ajaran yang universal.10. dan jika keuniversalannya menghasilkan diutusnya rasul-rasul untuk setiap bangsa dan masa. sebagai warisan para Utusan Tuhan yang pernah datang ke bangsa yang bersangkutan. HAM MENURUT ISLAM Sebagai agama yang diperuntukan bagi seluruh manusia. Ada beberapa hak kemanusiaan yang secara tekstual digariskan dalam Alqur’an. jika Islam itu universal. setidaknya kita menjumpai adanya limabelas hak yang tertera dan harus dijamin oleh setiap manusia dengan jelas dalam Al Qur’an. Mashalihul mursalah Mashalihul mursalah adalah menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiah atas dasar pertimbangan kegunaan dan kemanfaataan yang sesuai dengan tujuan syariat islam. Logikanya ialah.”hak hidup. tetapi juga mewajibkan proses aplikasi bagi tumbuhnya aspek kemanusiaan yang universal dengan melihat dan mengapresiasi tradisi-tradisi local yang beragam. Baik tertindas karena kultur mauoun struktur.3.Al-A’raf. Karena itu agama Islam kemudian juga sangat dikenal sebagai agama pembebas. yang bahwa kebenaran Islam dapat didekati melalui angle berbagai pola budaya. Al-Nisa. Pertama. Kedua. kapan saja dan di mana saja. sekalipun tidak ada dalil-dalil secara ekplisit dari Al Qur’an dan hadis.Al-Thur. Terutama bagi orang-orang yang tertindas. baginya juga 6 . 4. 104 & 110&159.

Al-Israa: 23-24. 7 . Karena keluarga adalah tulang punggung agama dan Negara. Al-Hujarat: 11-12.S. Al-maidah. Keenam.S. Pengakuan itu dapat kita baca dalam Q. AtTaubah: 122.” Al Qur’an sangat menganjurkan setiap manusia untuk berpikir. bagi orang muslim apabila diminta untuk melindungi orang musrik diwaktu perang diapun harus melindunginya. orang tua tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap anak-anaknya. Jaminan kesederajatan ini dapat dilihat dalamQ.S.” Al Qur’an juga menjamin kebebasan seseorang dalam beragama.” Al Qur’an menyarankan bagi setiap orang untuk menikah dengan etika yang yang dijelaskan kemudian. Sikap ini terdapat dalam Q.S. Juga dilarang mengolok-olok sesama manusia.Al-Bakoroh:187&221&223.AlBayinah. Al-Hujarat: 13 and Al-Bakarah: 228. Al-Ankabut:46. Hal tersebut terdapat dalam Q.mendapat hukuman kematian (qishas). Kesembilan.”hak sederajat. Orang islam juga dilarang memasuki rumah tetangga kecuali setelah mendapat izinnya. Sehingga menjadi urusan privat antara Tuhan dan manusia yang bersangkutan. Al-Baqarah. Kelima. Sehingga kaum Muslim diharuskan pandai dalam segala urusannya. Hal ini terdapat dalam Q. At-toubah: 6. 8.S. Al-Kahfi: 29: Yunus: 99. Al-Alaq: 1-5. Sampai-sampai. 256.”hak anak terhadap orang tuanya. At-Tahrim: 6. Al Qur’an menganggap sama dengan membunuh jiwa-jiwa yang lainnya. Al-Isra. 5. Ketiga.Al-balad.”hak memperoleh pendidikan dan berperan serta dalam pengembangan iptek.” Al Qur’an meminta kepada semua orang tanpa kecuali untuk menghormati dan menjaga kehormati seseorang. Terutama berkenaan dengan hal-hal yang dianjurkan oleh agama.”hak kehormatan pribadi. dengan jaminan tersebut.S. Yang membedakan dari setiap orang hanyalah ketakwaanya. An-nisa: 17&32&34.S. Hal ini terdapat dalamQ. An-Nisa:148149. Al-Nahl: 125. 45. Dan barang siapa membunuh satu jiwa.Al-ihsan.” Setiap orang tanpa kecuali dijamin kesamaannya.” hak bebas memilih agama. Al-Nur. At-taha: 132. Kedelapan. Ketujuh. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan yang punya rumah. Al Qur’an menyatakan harus mempertanggung jawabkannya di hadapan tuhan. bertindak dan berbuat sesuai dengan kaidah ilmiah.” Setiap anak mempunyai hak yang dijamin juga oleh Al Qur’an.12-17. “Al Qur’an sangat menghargai bagi seseorang yang mau saling menolong dan saling melindungi. Al-Baqarah: 217 & 256. Keempat.S.An-nur:27. ArRum: 21. Al-Baqarah: 233. Sikap dan perintah ini dapat kita lihat dalam Q. 17-18&45. bahkan untuk tidak beragama. Bagi siapa saja yang ingin beragama selain Islam.”hak menikah dan berkeluarga. 27&28. Sehingga setiap orang punya hak yang sama untuk berkeluarga. Hal tersebut terdapat dalamQ.”hak memperoleh perlindungan.

8 . Ham menurut pandanga barat Bahwasannya yang dikehendaki dengan rakyat oleh demokrasi modern sebagai yang terkenal di dunia barat. bahasa dan adat istiadat.” Setiap orang mempunyai otak yang dapat dan harus dipergunakan untuk menerima ilmu. yang hidup dalam suatu Negara.” Al Qur’an menyarankan seseorang untuk beribadah.S.S. Bahkan beribadah dan bekerja dalam Islam harus seimbang. Hal ini terdapat dalam Q. Ketigabelas. AlMumtahanah: 8. “hak memiliki harta pribadi. anggota-anggotannya diikat oleh persamaan darah. dapat meminta suaka atau perlindungan pada siapa pun.”hak memperoleh kesempatan yang sama. C.demokrasi tidak terlepas dari prinsip kebangsaan yang menimbulakan kefanatikan kepada bangsa sendiri. Al-baqarah: 29 dan Al-Nisa: 29. Karena itu setiap orang Islam punya hak yang sama dalam pengolahan dan penikmatan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Al-Qashas:77. Hal ini terdapat dalam Q.” Al Qur’an menjamin setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam setiap hal tanpa pandang bulu. Hal ini terdapat dalamQ. Keduabelas. jenis. Aliimran: 130. Hal ini terdapat dalam Q. PERBEDAAN DIANTARA KONSEP HAM DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT. orang tersebut berbuat salah.” Setiap orang yang merasa terancam. Dan kelimabelas adalah “hak menjadi tahanan dan narapidana. Tugas itu juga setingkat mulianya dengan beribadah.S. Keempatbelas. Dengan begitu.Kesepuluh. Al-Ahqaf: 19. memproduksi ilmu dan menyebarkannya. dengan catatan tidak berlebihan dan diamalkan untuk berjuang di jalan Tuhan.”hak untuk bekerja. Karena itu Islam melarang seseorang hidup dalam kemiskinan. dll. Al Qur’an sangat tidak menyukai setiap soal yang dilewati dengan unsur-unsur non-kwalitatif (KKN). An-Nisa: 97. Sikap Itu dapat dilihat dalam Q. Al-Mumtahanah: 9. ialah bangsa. tetapi dengan tidak melupakan tugas kerja selama di dunia. Kesebelas.” Siapa saja yang dianggap bersalah berhak mendapat perlindungan sampai adanya pengadilan yang memutuskan perkaranya.S. dia berhak menjadi narapidana atau tahanan yang dijamin keselamatannya dari siapa pun. Al-Nisa: 161. Dan bagi siapa saja yang diminta perlindungan atau suaka. “hak menikmati hasil untuk produk ilmu. Al-Baqaraah: 105&286. Al-Baqarah: 275. Kecuali nantinya terbukti. harta pribadi seseorang harus cukup. 1.”hak bebas bertindak dan mencari suaka. Al-Mulk: 15. harus memberikannya tanpa pandang bulu. Jelasnya. Hal ini terdapat dalam Q.S.S. sebab akan mendekatkan diri pada kekufuran.” Seseorang dijamin haknya untuk memiliki harta. Dan sebelum itu. Al-Nahl: 125.

Segala orang yang akidah Islam. dan tanah air yang manapun. 9 . yang mempunyai hak membuat undang-undang atau yang membatalkannya. sebagaimana harus menjadikan agama (qanun akhlaqy) ukuran yang dipergunakan untuk mengukur pekerjaan umat dan tindak tanduknya. Rakyat tidak boleh bertindak di luar batas undang-undang itu. dari jenis apapun. Rakyat di dalam Islam (di dalam demokrasi Islam) diharuskan mengikuti undang-undang akhlak dan prinsip-prinsipnya. Walaupun demikian. Maka pandangan Islam. Dia hanya bermaksud mewujudkan kebahagiaan bangsa.ketetapan yang yang dikeluarkan oleh majelis ini. Kekuasaan umat ( rakyat) dalam demokrasi barat. Atau majelis yang dibentuknya. adalah mutlak.karena dialah tujuan pokok dan wajib menyelesaikan segala amal kebajikan yang diperintahkan oleh agama. Dalil untuk ini. Semua ini dipandang pengikat-pengikat yang sekunder. ialah bahwasanya Rosululloh adalah Rosul yang diutus kepada segenap manusia. ialah kesatuan akidah. Akan tetapi di dalam islam. adanya iklim. 2. karena segala kemaslahatan dunia dalam pandangan syara harus dikaitkan dengan kemaslahatan akhirat”. tetapi dibatasi oleh syariat agama Allah yang dipeluknya. untuk ketinggian bangsa atau untuk menguasai pasaran dunia. warna kulit apapun. adalah universal. Kita mengakui bahwasannya kehendak umat merupakan salah satu sumber undangundang. Akan tetapi kehendak umat ini haruslah berdasarkan kepada apa yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Tetapi pengikatpengikat yang pokok. ialah prikemanusiaan. Al Qur’an dan As Sunnah memberikan hak kepada rakyat untuk menentukan sesuatu. dan ruangnya. maka dia itu seseorang anggota di dalam Negara Islam. yang menyampaikan kepada keridhaan Allah dan mewujudkan tuntutan kejiwaan manusia. adanya kebangsaan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umum. Pemerintah islam wajib melihat dalam segala gerak-geriknya kepada urusan-urusan akhirat. dengan ketentuan tidak menyimpang dari yang telah digariskan oleh kedua sumber ini. kekuatan umat itu tidak mutlak. menjadi undang-undang moral. hal ini tidak menghalangi adanya Negara-negara. Undang-undang inilah yang diliputi oleh Al Qur’an dan As Sunnah. Ibnu khaldun dalam menakrifkan imamah mengatakan: “ imamah adalah untuk mewujudkan kemaslahatan akhirat dan kemaslahatan dunia yang kembali kepada kemaslahatan akhirat. Umat itulah yang mempunyai siyadah. Untuk memperoleh yang demikian itu ditumpahkanlah darah manusia. darah dan bahasa. Ham menurut pandangan Islam Dalam Islam.Tujuan demokrasai barat baik yang modern ataupun yang kuno. yaitu seperti meningkatkan pendapatan (kekayaan) atau memperoleh kemenangan dalam perang. Umat Islam tidaklah diikat oleh kesatuan tempat. adalah terbatas untuk tujuan keduniaan atau materil belaka.

Pertama.Dalam ayat ini. Plato menyifatinya sebagai “pemerintahan orang-orang bodoh”. tanpa terkait dengan jabatan dalam kekuasaan kenegaraannya. Di dalam Alquran. Sampai masa renaissance. istilah ini digunakan sekitar lima abad sebelum Masehi. Allah berfirman. sedangkan tentang urusan mereka. ekskutif. DEMOKRASI DALAM ISLAM Asal kata demokrasi adalah “demos”. "Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi. karena pentingnya.. musyawarah dan ijma merupakan hal yang penting dalam kaum muslim karena merupakan unsur-unsur terbentuknya demokrasi dalam umat islam 1. yaitu surat ke-42. Aristoteles menamakannya “pemerintahan orang-orang miskin tak berkeutamaan”. kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad. dan “cratio” atau “crato” yang dalam bahasa Yunani berarti pemerintahan.. kata syuuraa menjadi salah satu nama surat Al Qur’an. yakni masyarakat secara langsung menempati posisi pemerintahan. Bahkan. mereka memutuskannya dengan musyawarah di antara mereka. "." Kedua. Mereka berperan dalam seluruh aktivitas politik. legislatif. masalah musyawarah disebut pada tiga ayat." Musyawarah sesama muslim. MUSYAWARAH Syuuraa atau musyaawarah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. kita bisa lihat dan baca pada QS 'Ali 'Imraan [3]: 159. khususnya kaum muslimin. Sejak dulu. Abu Nasr Al-Farabi dan Ibn Rusyd menyebutnya sebagai “kebusukan dalam pemerintahan utama (madinah fadhilah)”. sebuah kosa kata Yunani berarti masyarakat. D. telah memberatkannya dengan beberapa kewajiban dan beberapa pertanggung jawaban.Agama telah memfardhukan atasnya beberapa kewajiban. sebagaimana halnya istilah sosial-politik lainnya.. sistem pemerintahan semacam ini ditentang oleh filsuf-filsuf besar. Dalam ayat Alquran ini. dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Allah berfirman. Pertama kali. yudikatif dsb. Sebagian besar definisi “demokrasi” berhubungan dengan prinsip pemikirannya. bertawakallah kepada Allah SWT. Islam mewajibkan adanya kepemimpinan kenegaraan untuk 10 . istilah ini digunakan untuk suatu sistem demokrasi langsung. tidak memiliki definisi yang pasti. menyambut) seruan Tuhan mereka dan mendirikan shalat (dengan sempurna). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya. kita bisa simak pada QS Al-Syuuraa [42]: 38. maka maafkanlah mereka. Istilah demokrasi. dalam ajaran Islam disebut Musyawarah sesama Rakyat (Syura baina’r-ra’iyah). mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan (tertentu/yang penting).

semua harus mengamankan dan mensejahterakan semua. melainkan diserahkan kepada masyarakat itu sendiri. Sekiranya engkau bersikap kasar Lagi berhati keras tentulah mereka menjauhkan diri darimu.dan memimpin rakyat ke jalan yang benar. Tegasnya pada pejabat pemerintahan wajib bermusyawarah dengan rakyatnya. membangun. Sebab prinsip terpenting didalam Syura itu ialah terwujudnya kehidupan yang baik dan maju. Teknis pelaksanaan dan kelengkapan-kelengkapan operasionalnya tidaklah ditetapkan secara baku. Karena itu maafkanlah mereka. Dengan ajaran Islam ini disebut Syura baina ‘Ihakim wa ‘rra’iyah. semua orang diminta untuk betawakal dan berahlakulkarimah.memelihara. Ketentuan dan Batasan Musyawarah Islami merupakan prinsip yang ideologis berkenaan dengan semua persoalan suatu bangsa. Dalam kaitan ini musyawarah hanya boleh dilakukan untuk memecahkan soal-soal teknis pengaturan dan pelaksanaanya saja. a. adanya negara dan pemerintahan tidak menghapuskan kemerdekaan individu. semua pihak dituntut bertanggung jawab atas keputusan-keputusan Syura. dan tidak terpasungnya kemerdekaan yang merupakan hak semua pihak. Kedua: Keputusan-keputusan yang diambil dalam Syura (musyawah) itu dinyatakan tidak sah bila bertentangan dengan syari’at Islam. Oleh karena ayat ini termasuk ayat Madaniyah. maka bertawallah kepada Allah.dan bermusyawarahlah denagan mereka dalam urusan itu. Ali Imran: 159). Sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang bertawakalah kepadaNya"(Q.S. yaitu: Pertama: Tidak dibenarkan memusyawarahkan suatu ketetapan agama yang telah diputuskan secara jelas dan tegas oleh Al-Quran dan Sunnah. dan atau bertentangan dengan hukum-hukum Islam . mohonkanlah ampunan bagi mereka. 11 . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad. adanya wakil-wakil rakyat. Ini untuk pertama kalinya diwajibkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw melalui ayat 159 Surat Ali Imran: Artinya : "Maka disebabkan rahmat Allah jualah engkau (Muhammad) berlaku lemahlembut kepada mereka. Para Ulama sepanjang masa mencatatkan dua batas mengenai Syura ini. pastilah terbentuk pemerintahan. jika dibentuk. Para pejabat negara ini juga diwajibkan bermusyawarah. tidak untuk mengelabui rakyat. Semua harus terjamin hak dan kemerdekaannya. maka perintah kepada Nabi saw agar bermusyawarah ditujukan kepada baginda dalam kepastiannya sebagai kepala negara/kepala pemerintahan. adanya pemerintahan tidak menjadi lembaga yang menjajah rakyatnya.

dan hal-hal yang membuat emosinya tidak stabil. Bila perbedaan dimaksudkan tidak dapat diselesaikan dalam waktu musyawarah karena menemui jalan buntu. Rasullah saw bersabda: yang artinya : "Siapa melakukan musyawarah tidaklah akan kehilangan kepintaran.Seseorang yang akan terjun ke gelanggang musyawarah. Materi yang dibahas dalam forum musyawarah itu tidak ditempatkan dalam kungkungan subyektifitasnya. tapi tetap saja ada kemungkinan beda pendapat yang boleh jadi disebabkan oleh perbedaan sudut pandang atau oleh perbedaan skala prioritas menurut ruang. Siapa meninggalkan musyawarah belum tentu terjamin dari kesalahan". Kelima bekal inilah yang seharusnya dimiliki. Rasullah saw pernah mengatakan bahwa orang yang beragama dan bertaqwa dengan baik itu merupakan jalan menuju keputusan yang baik pula. Kedua sifat ini meyuburkan dan menyegarkan akal pikiran serta meniadakan sifat hasud dan dengki. seperti target-target pribadi atau hawa nafsu yang hendak dipuaskan. dan oleh para Ulama disebut Ikhtilafu Tanawwu’ yang dapat ditolerir. dana dan daya. Musyawarah yang dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat demikianlah yang bisa dijamin akan membawa rahmat. Meski ada ketentuan dan batasan musyawarah. 5. Yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik kesudahannya". kembalilah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasullah (Sunnah) jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. 4. menurut Imamal Mawardi. baik oleh ahli Syura dari kalangan rakyat atau wakil rakyat maupun dari kalangan pengemban mandat pemerintahan. Kematangan pikiran yang dilengkapi dengan pengalaman yang cukup. maka Islam menganjurkan agar kembali kepada Al-Quran dan Sunnah Rasullah bersabda: yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman ! taatilah Allah dan taatilah RasuluNya dan Ulil Amri di kalangan kamu. perlu memiliki lima kelengkapan: 1. Berkemauan untuk menuju kebenaran dan penuh kasih sayang. Dengan bekal ini dapat diharapakan akan timbul pertimbangan-pertimbangan yang baik dan melegakan. Perbedaan seperti ini dibenarkan. Maka jika kamu berbeda pendapat tentang suatu (urusan). 3. Beragama dan bertaqwa dengan baik. (QS an-Nisa’:59) 12 . baikberkenaan masalah-masalah kehidupan masyarakat luas maupun dalam menghadapi peperangan melawan musuh. Inilah sebabnya Rasullah sering bermusyawarah dengan sahabat-sahabat. Bebas dari hal-hal yang mengganggu ketenangan berpikir. 2. waktu.

pemimpin atau penguasa. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar RA itu. seperti perkataan seseorang ( ) yang berati "kaum itu telah sepakat (sependapat) tentang yang demikian itu. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. 13 . maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin. Al-Qur'an Allah SWT berfirman: Artinya: "Hai orang-orang yang beriman. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu'amalat. IJMA Ijma ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn alQur'an dan al-Hadits. Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa. taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. al-Hadits dan akal pikiran.2. kepala negara." (an-Nisâ': 59) Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal. namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an dan al-Hadits 1. pengertian ijma' Ijma' menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal. Dasar hukum ijma' Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an. a." Menurut istilah ijma'. ialah kesepakatan mujtahid umat Islam tentang hukum syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma'. 2.

" (HR. sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa yang tidak mengikuti ijma' para mujtahidin. karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta." b. Firman Allah SWT: Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 103) Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu. jangan sekali-kali bercerai-berai. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma' (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai. yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma'. mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka." (an-Nisâ': 115) Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu'minîna yang berarti jalan orangorang yang beriman. Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. AI-Hadits Bila para mujtahid telah melakukan ijma' tentang hukum syara' dari suatu peristiwa atau kejadian. maka ijma' itu hendaklah diikuti. sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan. Abu Daud dan Tirmidzi) 14 .Firman AIlah SWT: Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.

Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada. 4. karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma' sebagai berikut: 1. maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam. 15 . maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma'. Akal pikiran Setiap ijma' yang dilakukan atas hukum syara'. 3. maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma'. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. seperti qiyas. karena ijma' itu harus dilakukan oleh beberapa orang. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. 2. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara') dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash. dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. istihsan dan sebagainya. Sebaliknya jika dalam berijtihad. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas. 3. kemudian pendapatnya boleh diamalkan. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma'. atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan. maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur'an dan al-Hadits. seperti dengan pernyataan lisan. Rukun-rukun ijma' Dari definisi dan dasar hukum ijma' di atas. ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya. maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan. sehingga ia harus menerima suatu keputusan.c. Ijma' yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari'ah. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam.

mereka berijtihad. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar. perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi. Pada masa Rasulullah SAW. Seandainya ada ijma' itu. Disamping itu daerah Islam semakin luas. semasa dinasti Abbasiyah. belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin. 16 . adakalanya menunggu ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. kaum muslimin kehilangan tempat bertanya. Setiap ada peristiwa atau kejadian. peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal. mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. disamping daerah Islam belum begitu luas. belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan. dan 3. sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia.4. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat pada jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). Periode sesudahnya. yaitu: 1. 2. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu. Kemungkinan terjadinya ijma' Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang. sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika. maka ijma' dapat dibagi atas tiga periode. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya. yaitu al-Qur'an dan al-Hadits. sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya. Periode Rasulullah SAW. golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya. Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman. tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma'. timbul golongan Khawarij. namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap. beliau merupakan sumber hukum. Karena itu kaum muslimin masih satu. Karena itu amat sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian. Setelah Khalifah Utsman terbunuh. kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur'an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah. mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma'. Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. Tiongkok Selatan. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum. semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya.

Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam. mayoritas penduduknya beragama Hindu. maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma' itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma' lokal. dan c. Misalnya India. Macam-macam ijma' Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi. hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang. 2. ijma' qauli atau ijma' haqiqi. Ditinjau dari segi cara terjadinya. 5. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas. dan enam tahun pertama Khalifah Utsman. Undang-undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad. namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. Diterangkan bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam. tetapi ada peraturan atau undangundang yang khusus bagi umat Islam. 17 . Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul halli wal 'aqdi. baik berupa ucapan atau tulisan. yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma'. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma'.Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. maka ijma' terdiri atas: 1. Ijma' mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar. yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas. tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan. Khalifah Umar bin Khattab. Ijma' tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka. ljma' bayani.

Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma' tersebut tidak dapat dilakukan lagi. tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain. masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain. 2. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup. 2. Ijma' ahli Madinah. tetapi Madzhab Syafi'i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam. Ijma' ulama Kufah. Madzhab Hanafi menjadikan ijma' ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam.2. yaitu hukum yang dihasilkan dari ijma. 4. yaitu ijma' yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas. yaitu hukum yang dihasilkan ijma' itu adalah qath'i diyakini benar terjadinya. Ijma' seperti ini disebut juga ijma' 'itibari. 3. yaitu ijma' yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar. Ijma' sukuti. tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Utsman dan Ali bin Abi Thalib. 18 . Umar. dapat dibagi kepada: 1. ljma' dhanni. Ijma' sahabat. Ijma' ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki. ljma' qath'i. Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma' yang dihubungkan dengan masa terjadi. Ijma' shaikhan. yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. 5. yaitu ijma' yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya. Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma'. Ijma' khulafaurrasyidin. yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Ijma'-ijma' itu ialah: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful