HUKUM HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

Islam Adalah agama samawi, agama yang di turunkan kepada nabi Muhammad Saw. Adalah wahyu Allah terakhir untuk manusia. Oleh karena itu,agama ini sudah sempurna dan senantiasa sesuai dengan tingkat perkembangan manusia sejak di turunkannya, 21 abad yang lalu hingga akhir peradaban manusia atau kiamat nanti. Ada suatu syariat atau ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah SWT setelah melalui proses panjang selama 23 tahun berangsur-angsur agar mudah di serap dan di pahami oleh manusia yang meliputi berbagai macam pokok pembahasan di ataranya: a. Akidah b. Ibadah c. Ahlaq d. Muamalat e. Hukum Dalam pelaksanaannya islam memiliki sumber hukum atau norma yang nantinya menjadi pedoman bagi kaum muslimin, untuk menentukan hukum suatu tindakan, dan menuntunnya kepada jalan menuju tujuan tersebut, dan menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia dalam berhubungan dengan tuhannya ataupun sesama manusia. Adapun sumber-sumber hukum yang utama dalam islam adalah : 1. Al Qur’an 2. As sunnah 3. Ijtihad Sumber-sumber hukum di atas harus di terapkan dalam kehidupan dan tingkah laku kita di muka bumi ini agar terciptanya kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sumber hukum di atas memberikan petunjuk kepada kita sebagai umat muslim untuk menuju arah pencapaian kebahagiaan yang hakiki.

1

karena membacanya merupakan ibadah. Alkitab yang berarti tulisan atau yang di tulis karena ayat-ayat Al Qur’an itu tertulis. Dalam nama ini terkandung bahwa Al Qur’an bagi umat islam merupakan bacaan harian. 18:1) Yang artinya : 2 . Melalui perantara malaikat Jibril. a. b. ini di nyatakan dalam firman Allah (QS. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Penamaan Al Qur’an dengan Alkitab ini diungkapkan dalam firman Allah (Al-Kahfi. setiap muslim harus biasa membaca Al Qur’an. Al-Hasyr. pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Al Qur’an memiliki sejumlah nama yang di dalam namanya itu terkandung fungsi dan peranannya bagi manusia. Al Qur’an tertulis dalam mushaf dan sampai kepada manusia secara mutawatir. kalimat. 59:21) Yang artinya : Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung. Dan membacanya bernilai ibadah. diaawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas. karena itu. terdiri dari huruf. kata Al Qur’an sebagai nama kitab. dan ayat-ayat. yaitu Nabi Muhammad Saw.A. Dengan tulisan itu orang dapat membaca dan memahami isinya dan sekaligus dapat mengabadikannya. Al Qur’an Secara terminologi Al Qur’an adalah kalamullah yang di turunkan kepada Nabi terakhir. HUKUM ISLAM ADALAH HUKUM YANG BERSUMBER DAN MENJADI DASAR AGAMA ISLAM 1. Qaraa yang berarti bacaan atau sesuatu yang di baca sehari-hari.

tapi tidak ditegur atau dilarangnya. 25:1). Sunnah qauliah adalah dalam bentuk pekataan atau ucapan Rosululloh Saw. Penamaan Al Qur’an dengan Alfurqaan dinyatakan dalam firman Allah (QS. yaitu sesuatu yang dikatakan atau perbuatan yang di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Al-Furqaan. perbuatan dan keterangannya (taqrir). 4:59) : 3 . yang menerangkan cara melaksanakan ibadah misalnya cara berwudu. Sunnah taqririyah adalah ketetapan Nabi. c. Sunnah fi’liyah yaitu sunnah dalam bentuk perbuatan. Al Qur’an dan As-Sunnah adalah rujukan yang pasti dan tetap bagi segala macam perselisihan yang timbul di kalangan umat islam sehinga tidak melahirkan pertentangan dan permusuhan. b. pekerjaan atau cara. agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. As Sunnah Menurut bahasa As-sunnah berarti perjalanan. seperti firman Allah (QS. Alfurqaan yang berarti pembeda atau pemisah dengan memahami Al Qur’an orang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. yaitu diamnya Nabi atas perkataan atau perbuatan sahabat. Yang artinya : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hambaNya. Menurut istilah sunnah berarti perkataan Nabi. Yang menerangkan hukum-hukum dan maksud Al Qur’an. 2. An-nisa. Hak adalah nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang datang dari Allah SWT sebaliknya batil adalah keburukan dan kesalahan yang harus di jauhkan.sholat dan sebagainya. Berdasarkan definisi di atas sunnah di bagi menjadi 3 yaitu : a. c.Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (AlQuran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.

Disamping itu As-sunnah merupakan rujukan perilaku yang dikehendaki oleh Al Qur’an. Demikian pula hasil ijtihad yang dilakukan pada suatu waktu dapat berbeda dengan hasil yang didapatkan pada waktu yang lain. Ijtihad Ijtihad berarti menggunakan seluruh kesanggupan berpikir untuk menentukan hukum syara dengan jalan mengeluarkan hukum dari kitab dan sunnah. karena seorang mujtahid tidak terlepas dari lingkungan budayanya dan pada akhirnya berpengaruh kepada hasil ijtihadnya. 3. mungkin saja antara mujtahid satu dengan mujtahid yang lain hasilya berbeda. segala yang diinginkan oleh Al Qur’an dapat di lihat dari apa yang dilakukan oleh Rosulullah.Yang artinya : Hai orang-orang yang beriman. Hal ini di sebabkan perbedaan pengalaman. Oleh karena itu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. Al-ahzab. Kebenaran hasil ijtihad tidak bersifat mutlak. dan ulil amri di antara kamu. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. yaitu ahli fikih yang menghabiskan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat (dzan tehadap suatu hukum agama dengan jalan istinbat dari Al Qur’an dan As-Sunnah. 4 . sebagaimana firman Allah (QS. ilmu serta adat kebiasaan yang berpengaruh kepada hasil ijtihad mereka. Bahkan bisa saja hasil ijtihad di suatu tempat berbeda dengan hasil ijtihad di tempat lain. Beliau menjadi tauladan yang nyata bagi seluruh kaum muslimin. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya). melahirkan dzanniyah (persangkaan kuat kepada benar). :21) : Yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya).

(HR. Qiyas menurut bahasa adalah mengukur sesuatu dengan lainnya dan mempersamakannya. diamnya itu bukan karena takut atau malu. Karena itu. ijtihad dapat di bagi kepada dua macam. berdasarkan sesuatu hukum yang sudah di tentukan oleh nash. Karena yang dapat mengukur kebenaran secara mutlak hanya Allah semata. Hal ini diisyaratkan oleh nabi dalam sabdayna yang berarti: Hakim apabila berijtihad kemudian dapat mencapai kebenaran.ijma qauli maksudnya para ulama mujtahidin menetapkan pendapatnya baik dengan ucapan maupun dengan tulisan yang menerangkan persetujuanya atas pendapat mujtahid lain di masanya . Macam-macam ijtihad Dilihat dari pelaksanaan. Muslim). Dilihat dari segi materi. yaitu ijtihad fardhi dan ijtihad jama’i. Namun. Ijma terdiri atas ijma qauli (ucapan ). dan ijma sukuti (diam ). Qiyas. hukum-hukum yang sudah pasti tidak boleh diijtihadkan lagi. hal ini bukan sesuatu yang menghambat pelaksanaan hukum Islam. Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat atau kesepakatan semua ahli ijtihad ummat setelah wafatnya Nabi pada suatu masa tentang suatu hukum. Antara kelompok ulama yang satu dengan ulama lainya tidak mungkin dapat disatukan pendapatnya. tidak berarti bahwa setiap mujtahid itu benar atau salah. Tidak semua masalah agama dapat diijtihadkan.Bukhori. kemungkinan perbedaan antara ijma ulama di suatu tempat dengan tempat yang lain sangat besar. ijtihad terdiri atas tigamacam: 1. Oleh karena itu. Ijma Ijma menurut bahasa adalah sepakat. 2. masalah yang diijtihadkan adalah hukum-hukum syara yang tidak mempunyai dalil qath’i (pasti). a. disebabkan oleh adanya persamaan di antara keduanya. Apabila ia berijtihad kemudian tidak mencapai kebenaran. tidak menengelurkan pendapatnya atas hasil ijtihad para ulama lain. Sedangkan ijtihad jama’i atau ijma adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mujtahid secara berkelompok. 5 . Ijma pada masa sekarang dihadapkan pada persoalan banyaknya para ulama dan tempat tinggalnya yang tersebar di seluruh pelosok dunia. maka ia mendapat satu pahala.maka ia mendapat dua pahala.Kendati pun demikian. setuju atau sependapat. Menurut istilah adalah menetapakan sesuatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya. ijtihad fardhi adalah ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid secara pribadi. ijma sukuti adalah ketika para ulama mujtahidin berdiam diri.

kasih saying. sekalipun tidak ada dalil-dalil secara ekplisit dari Al Qur’an dan hadis. dan jika keuniversalannya menghasilkan diutusnya rasul-rasul untuk setiap bangsa dan masa. 4. termasuk di dalamnya untuk menjadi penentang Tuhan. keadilan. Mashalihul mursalah Mashalihul mursalah adalah menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiah atas dasar pertimbangan kegunaan dan kemanfaataan yang sesuai dengan tujuan syariat islam. Pertama. jika islam kita tangkap sebagai ajaran yang universal. maka berarti bahwa kebenaran juga dapat ditentukan pada setiap bangsa dan masa.Al-A’raf. kapan saja dan di mana saja. 21. Ada beberapa hak kemanusiaan yang secara tekstual digariskan dalam Alqur’an. yang bahwa kebenaran Islam dapat didekati melalui angle berbagai pola budaya. HAM MENURUT ISLAM Sebagai agama yang diperuntukan bagi seluruh manusia. Barang siapa membunuh tanpa alas an yang benar. Istihsan Istihsan adalah menetapkan suatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip. dan sebagainya dari Al Qur’an dan hadis. Al-Nisa. maka Islam bukan hanya mengandung ajaran kemanusiaan. Altahrim.3. Terutama bagi orang-orang yang tertindas.prinsip atau dalil-dalil yang berkaitan dengan kebaikan. 104 & 110&159. Karena itu agama Islam kemudian juga sangat dikenal sebagai agama pembebas. 58&105&135. maka hal itu tidak saja menghasilkan pandangan bahwa ia berlaku untuk semua tempat dan waktu. “hak persamaan dan kebebasan.” Al Qur’an sangat berkepentingan dalam penjaminan bagi persamaan seluruh entitas kemanusiaan.”hak hidup. Al-Syura. serta memberikan kebebasan bagi mereka untuk berbuat apa saja. B.” Al Qur’an sangat menekankan perlunya kehidupan seseorang demi suatu tujuan yaitu menyembah penciptanya. jika Islam itu universal. 185&199. Citra pembebasn dan persamaan itu dapat kita lihat dalam QS. Baik tertindas karena kultur mauoun struktur. sebagai warisan para Utusan Tuhan yang pernah datang ke bangsa yang bersangkutan. Kedua.10. Al-imran. 10&38. setidaknya kita menjumpai adanya limabelas hak yang tertera dan harus dijamin oleh setiap manusia dengan jelas dalam Al Qur’an. baginya juga 6 . Universalisme Islam juga menghasilkan pandangan dari arah lain. Logikanya ialah. tetapi juga mewajibkan proses aplikasi bagi tumbuhnya aspek kemanusiaan yang universal dengan melihat dan mengapresiasi tradisi-tradisi local yang beragam.karenanya Al Qur’an mengutuk seseorang yang membunuh nyawa tanapa suatu alas an yang dapat membenarkannya.Al-Thur.

”hak menikah dan berkeluarga. Kelima.S. At-Tahrim: 6.An-nur:27. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan yang punya rumah.S. An-Nisa:148149. Orang islam juga dilarang memasuki rumah tetangga kecuali setelah mendapat izinnya. Al Qur’an menganggap sama dengan membunuh jiwa-jiwa yang lainnya. 27&28.”hak memperoleh pendidikan dan berperan serta dalam pengembangan iptek.Al-Bakoroh:187&221&223.12-17. Dan barang siapa membunuh satu jiwa.”hak anak terhadap orang tuanya.” Setiap orang tanpa kecuali dijamin kesamaannya. Pengakuan itu dapat kita baca dalam Q.S. 256. Sikap ini terdapat dalam Q. Keempat. Keenam. orang tua tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap anak-anaknya. Sehingga kaum Muslim diharuskan pandai dalam segala urusannya. bahkan untuk tidak beragama. 7 . Sampai-sampai. Juga dilarang mengolok-olok sesama manusia. AtTaubah: 122.S. Karena keluarga adalah tulang punggung agama dan Negara.” Al Qur’an menyarankan bagi setiap orang untuk menikah dengan etika yang yang dijelaskan kemudian. Al-Nahl: 125.S.” Al Qur’an meminta kepada semua orang tanpa kecuali untuk menghormati dan menjaga kehormati seseorang. Bagi siapa saja yang ingin beragama selain Islam.”hak kehormatan pribadi. Al-Baqarah. Al-Israa: 23-24. At-toubah: 6.S. Jaminan kesederajatan ini dapat dilihat dalamQ.” Al Qur’an juga menjamin kebebasan seseorang dalam beragama. Al-Ankabut:46. Kesembilan. Al-Hujarat: 13 and Al-Bakarah: 228. Kedelapan. Ketujuh. Al-maidah. Al-Isra.S. 5. Yang membedakan dari setiap orang hanyalah ketakwaanya. “Al Qur’an sangat menghargai bagi seseorang yang mau saling menolong dan saling melindungi. Al-Nur. dengan jaminan tersebut.Al-ihsan. ArRum: 21. Al-Alaq: 1-5. Hal ini terdapat dalamQ.mendapat hukuman kematian (qishas). 45. Al Qur’an menyatakan harus mempertanggung jawabkannya di hadapan tuhan. Sikap dan perintah ini dapat kita lihat dalam Q.AlBayinah. Hal ini terdapat dalam Q.” Setiap anak mempunyai hak yang dijamin juga oleh Al Qur’an.”hak sederajat. 17-18&45.”hak memperoleh perlindungan. Ketiga. Hal tersebut terdapat dalam Q. 8.Al-balad. Hal tersebut terdapat dalamQ. An-nisa: 17&32&34.S. Al-Baqarah: 217 & 256. Sehingga menjadi urusan privat antara Tuhan dan manusia yang bersangkutan. Al-Baqarah: 233.” hak bebas memilih agama. At-taha: 132. Al-Kahfi: 29: Yunus: 99.” Al Qur’an sangat menganjurkan setiap manusia untuk berpikir. Al-Hujarat: 11-12. Sehingga setiap orang punya hak yang sama untuk berkeluarga. Terutama berkenaan dengan hal-hal yang dianjurkan oleh agama. bagi orang muslim apabila diminta untuk melindungi orang musrik diwaktu perang diapun harus melindunginya. bertindak dan berbuat sesuai dengan kaidah ilmiah.

Al-Mumtahanah: 9. anggota-anggotannya diikat oleh persamaan darah. “hak menikmati hasil untuk produk ilmu.S.” Seseorang dijamin haknya untuk memiliki harta. Al-baqarah: 29 dan Al-Nisa: 29. 1. Al-Qashas:77. Karena itu setiap orang Islam punya hak yang sama dalam pengolahan dan penikmatan hasil-hasil ilmu pengetahuan. AlMumtahanah: 8. Hal ini terdapat dalamQ. Al Qur’an sangat tidak menyukai setiap soal yang dilewati dengan unsur-unsur non-kwalitatif (KKN). Sikap Itu dapat dilihat dalam Q. dapat meminta suaka atau perlindungan pada siapa pun. Al-Mulk: 15. dia berhak menjadi narapidana atau tahanan yang dijamin keselamatannya dari siapa pun. C. Al-Nahl: 125. Kesebelas.demokrasi tidak terlepas dari prinsip kebangsaan yang menimbulakan kefanatikan kepada bangsa sendiri. Karena itu Islam melarang seseorang hidup dalam kemiskinan. Al-Baqaraah: 105&286. dengan catatan tidak berlebihan dan diamalkan untuk berjuang di jalan Tuhan.S.” Al Qur’an menjamin setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam setiap hal tanpa pandang bulu. Hal ini terdapat dalam Q. harta pribadi seseorang harus cukup.Kesepuluh. Hal ini terdapat dalam Q. 8 . Keempatbelas. dll. Hal ini terdapat dalam Q. Kecuali nantinya terbukti.”hak bebas bertindak dan mencari suaka. Aliimran: 130.”hak untuk bekerja. jenis. Jelasnya.” Al Qur’an menyarankan seseorang untuk beribadah. bahasa dan adat istiadat.S. Dan sebelum itu. Dan kelimabelas adalah “hak menjadi tahanan dan narapidana. memproduksi ilmu dan menyebarkannya. Bahkan beribadah dan bekerja dalam Islam harus seimbang.” Setiap orang yang merasa terancam.S. yang hidup dalam suatu Negara. PERBEDAAN DIANTARA KONSEP HAM DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT. Ham menurut pandanga barat Bahwasannya yang dikehendaki dengan rakyat oleh demokrasi modern sebagai yang terkenal di dunia barat.” Setiap orang mempunyai otak yang dapat dan harus dipergunakan untuk menerima ilmu. orang tersebut berbuat salah.S. Keduabelas. “hak memiliki harta pribadi. sebab akan mendekatkan diri pada kekufuran. An-Nisa: 97.” Siapa saja yang dianggap bersalah berhak mendapat perlindungan sampai adanya pengadilan yang memutuskan perkaranya. Al-Baqarah: 275. Al-Nisa: 161.”hak memperoleh kesempatan yang sama. harus memberikannya tanpa pandang bulu. Dan bagi siapa saja yang diminta perlindungan atau suaka. ialah bangsa. Dengan begitu. Ketigabelas. Tugas itu juga setingkat mulianya dengan beribadah. Hal ini terdapat dalam Q. Al-Ahqaf: 19. tetapi dengan tidak melupakan tugas kerja selama di dunia.S.

dan ruangnya. yaitu seperti meningkatkan pendapatan (kekayaan) atau memperoleh kemenangan dalam perang. adanya iklim. maka dia itu seseorang anggota di dalam Negara Islam. hal ini tidak menghalangi adanya Negara-negara. karena segala kemaslahatan dunia dalam pandangan syara harus dikaitkan dengan kemaslahatan akhirat”. adalah universal. Kita mengakui bahwasannya kehendak umat merupakan salah satu sumber undangundang. 9 . Dalil untuk ini. warna kulit apapun. sebagaimana harus menjadikan agama (qanun akhlaqy) ukuran yang dipergunakan untuk mengukur pekerjaan umat dan tindak tanduknya. Rakyat di dalam Islam (di dalam demokrasi Islam) diharuskan mengikuti undang-undang akhlak dan prinsip-prinsipnya. Undang-undang inilah yang diliputi oleh Al Qur’an dan As Sunnah. Semua ini dipandang pengikat-pengikat yang sekunder. Pemerintah islam wajib melihat dalam segala gerak-geriknya kepada urusan-urusan akhirat. Ibnu khaldun dalam menakrifkan imamah mengatakan: “ imamah adalah untuk mewujudkan kemaslahatan akhirat dan kemaslahatan dunia yang kembali kepada kemaslahatan akhirat. dan tanah air yang manapun. Tetapi pengikatpengikat yang pokok. Segala orang yang akidah Islam. adalah terbatas untuk tujuan keduniaan atau materil belaka. Rakyat tidak boleh bertindak di luar batas undang-undang itu. Kekuasaan umat ( rakyat) dalam demokrasi barat. Walaupun demikian. ialah bahwasanya Rosululloh adalah Rosul yang diutus kepada segenap manusia. kekuatan umat itu tidak mutlak. ialah prikemanusiaan. menjadi undang-undang moral. Akan tetapi kehendak umat ini haruslah berdasarkan kepada apa yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Umat itulah yang mempunyai siyadah. Dia hanya bermaksud mewujudkan kebahagiaan bangsa. yang mempunyai hak membuat undang-undang atau yang membatalkannya. Maka pandangan Islam.karena dialah tujuan pokok dan wajib menyelesaikan segala amal kebajikan yang diperintahkan oleh agama.Tujuan demokrasai barat baik yang modern ataupun yang kuno.ketetapan yang yang dikeluarkan oleh majelis ini. Al Qur’an dan As Sunnah memberikan hak kepada rakyat untuk menentukan sesuatu. yang menyampaikan kepada keridhaan Allah dan mewujudkan tuntutan kejiwaan manusia. ialah kesatuan akidah. Untuk memperoleh yang demikian itu ditumpahkanlah darah manusia. dari jenis apapun. darah dan bahasa. adalah mutlak. Ham menurut pandangan Islam Dalam Islam. tetapi dibatasi oleh syariat agama Allah yang dipeluknya. Akan tetapi di dalam islam. adanya kebangsaan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umum. dengan ketentuan tidak menyimpang dari yang telah digariskan oleh kedua sumber ini. untuk ketinggian bangsa atau untuk menguasai pasaran dunia. 2. Umat Islam tidaklah diikat oleh kesatuan tempat. Atau majelis yang dibentuknya.

mereka memutuskannya dengan musyawarah di antara mereka. tanpa terkait dengan jabatan dalam kekuasaan kenegaraannya. kata syuuraa menjadi salah satu nama surat Al Qur’an. yakni masyarakat secara langsung menempati posisi pemerintahan. bertawakallah kepada Allah SWT. DEMOKRASI DALAM ISLAM Asal kata demokrasi adalah “demos”. kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad. sebuah kosa kata Yunani berarti masyarakat. Pertama. Sampai masa renaissance. masalah musyawarah disebut pada tiga ayat. Allah berfirman. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya. kita bisa simak pada QS Al-Syuuraa [42]: 38. kita bisa lihat dan baca pada QS 'Ali 'Imraan [3]: 159. karena pentingnya. istilah ini digunakan untuk suatu sistem demokrasi langsung.." Musyawarah sesama muslim. legislatif. MUSYAWARAH Syuuraa atau musyaawarah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. telah memberatkannya dengan beberapa kewajiban dan beberapa pertanggung jawaban. Islam mewajibkan adanya kepemimpinan kenegaraan untuk 10 . ekskutif.. Pertama kali. yaitu surat ke-42. D. maka maafkanlah mereka. ". Allah berfirman." Kedua. dan “cratio” atau “crato” yang dalam bahasa Yunani berarti pemerintahan. mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan (tertentu/yang penting). dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.. khususnya kaum muslimin. Sejak dulu. sebagaimana halnya istilah sosial-politik lainnya.Dalam ayat ini. Plato menyifatinya sebagai “pemerintahan orang-orang bodoh”. musyawarah dan ijma merupakan hal yang penting dalam kaum muslim karena merupakan unsur-unsur terbentuknya demokrasi dalam umat islam 1. Sebagian besar definisi “demokrasi” berhubungan dengan prinsip pemikirannya. Di dalam Alquran. Abu Nasr Al-Farabi dan Ibn Rusyd menyebutnya sebagai “kebusukan dalam pemerintahan utama (madinah fadhilah)”. istilah ini digunakan sekitar lima abad sebelum Masehi. dalam ajaran Islam disebut Musyawarah sesama Rakyat (Syura baina’r-ra’iyah). Istilah demokrasi. Aristoteles menamakannya “pemerintahan orang-orang miskin tak berkeutamaan”.Agama telah memfardhukan atasnya beberapa kewajiban. tidak memiliki definisi yang pasti. "Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi. sistem pemerintahan semacam ini ditentang oleh filsuf-filsuf besar. yudikatif dsb. sedangkan tentang urusan mereka. Mereka berperan dalam seluruh aktivitas politik. menyambut) seruan Tuhan mereka dan mendirikan shalat (dengan sempurna). Dalam ayat Alquran ini. Bahkan.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad. adanya pemerintahan tidak menjadi lembaga yang menjajah rakyatnya. adanya wakil-wakil rakyat. Ketentuan dan Batasan Musyawarah Islami merupakan prinsip yang ideologis berkenaan dengan semua persoalan suatu bangsa.dan bermusyawarahlah denagan mereka dalam urusan itu. membangun. Dalam kaitan ini musyawarah hanya boleh dilakukan untuk memecahkan soal-soal teknis pengaturan dan pelaksanaanya saja. Tegasnya pada pejabat pemerintahan wajib bermusyawarah dengan rakyatnya. Para pejabat negara ini juga diwajibkan bermusyawarah. Semua harus terjamin hak dan kemerdekaannya. Ali Imran: 159). maka bertawallah kepada Allah. semua harus mengamankan dan mensejahterakan semua. mohonkanlah ampunan bagi mereka.dan memimpin rakyat ke jalan yang benar. Karena itu maafkanlah mereka. Sebab prinsip terpenting didalam Syura itu ialah terwujudnya kehidupan yang baik dan maju. dan tidak terpasungnya kemerdekaan yang merupakan hak semua pihak.memelihara. Oleh karena ayat ini termasuk ayat Madaniyah. a. adanya negara dan pemerintahan tidak menghapuskan kemerdekaan individu. maka perintah kepada Nabi saw agar bermusyawarah ditujukan kepada baginda dalam kepastiannya sebagai kepala negara/kepala pemerintahan. Kedua: Keputusan-keputusan yang diambil dalam Syura (musyawah) itu dinyatakan tidak sah bila bertentangan dengan syari’at Islam. yaitu: Pertama: Tidak dibenarkan memusyawarahkan suatu ketetapan agama yang telah diputuskan secara jelas dan tegas oleh Al-Quran dan Sunnah. Teknis pelaksanaan dan kelengkapan-kelengkapan operasionalnya tidaklah ditetapkan secara baku. Sekiranya engkau bersikap kasar Lagi berhati keras tentulah mereka menjauhkan diri darimu. semua pihak dituntut bertanggung jawab atas keputusan-keputusan Syura. melainkan diserahkan kepada masyarakat itu sendiri. semua orang diminta untuk betawakal dan berahlakulkarimah. dan atau bertentangan dengan hukum-hukum Islam . Dengan ajaran Islam ini disebut Syura baina ‘Ihakim wa ‘rra’iyah. 11 . pastilah terbentuk pemerintahan. tidak untuk mengelabui rakyat. Ini untuk pertama kalinya diwajibkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw melalui ayat 159 Surat Ali Imran: Artinya : "Maka disebabkan rahmat Allah jualah engkau (Muhammad) berlaku lemahlembut kepada mereka. jika dibentuk. Sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang bertawakalah kepadaNya"(Q.S. Para Ulama sepanjang masa mencatatkan dua batas mengenai Syura ini.

Perbedaan seperti ini dibenarkan. Bila perbedaan dimaksudkan tidak dapat diselesaikan dalam waktu musyawarah karena menemui jalan buntu. Musyawarah yang dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat demikianlah yang bisa dijamin akan membawa rahmat. Dengan bekal ini dapat diharapakan akan timbul pertimbangan-pertimbangan yang baik dan melegakan. kembalilah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasullah (Sunnah) jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik kesudahannya". 3. Siapa meninggalkan musyawarah belum tentu terjamin dari kesalahan". seperti target-target pribadi atau hawa nafsu yang hendak dipuaskan. maka Islam menganjurkan agar kembali kepada Al-Quran dan Sunnah Rasullah bersabda: yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman ! taatilah Allah dan taatilah RasuluNya dan Ulil Amri di kalangan kamu. Kelima bekal inilah yang seharusnya dimiliki. menurut Imamal Mawardi. waktu. dan oleh para Ulama disebut Ikhtilafu Tanawwu’ yang dapat ditolerir.Seseorang yang akan terjun ke gelanggang musyawarah. Berkemauan untuk menuju kebenaran dan penuh kasih sayang. Rasullah saw pernah mengatakan bahwa orang yang beragama dan bertaqwa dengan baik itu merupakan jalan menuju keputusan yang baik pula. Rasullah saw bersabda: yang artinya : "Siapa melakukan musyawarah tidaklah akan kehilangan kepintaran. baikberkenaan masalah-masalah kehidupan masyarakat luas maupun dalam menghadapi peperangan melawan musuh. Inilah sebabnya Rasullah sering bermusyawarah dengan sahabat-sahabat. perlu memiliki lima kelengkapan: 1. dan hal-hal yang membuat emosinya tidak stabil. Materi yang dibahas dalam forum musyawarah itu tidak ditempatkan dalam kungkungan subyektifitasnya. 2. Kedua sifat ini meyuburkan dan menyegarkan akal pikiran serta meniadakan sifat hasud dan dengki. Beragama dan bertaqwa dengan baik. 5. 4. Meski ada ketentuan dan batasan musyawarah. dana dan daya. Kematangan pikiran yang dilengkapi dengan pengalaman yang cukup. baik oleh ahli Syura dari kalangan rakyat atau wakil rakyat maupun dari kalangan pengemban mandat pemerintahan. Bebas dari hal-hal yang mengganggu ketenangan berpikir. (QS an-Nisa’:59) 12 . tapi tetap saja ada kemungkinan beda pendapat yang boleh jadi disebabkan oleh perbedaan sudut pandang atau oleh perbedaan skala prioritas menurut ruang. Maka jika kamu berbeda pendapat tentang suatu (urusan).

2. pemimpin atau penguasa. pengertian ijma' Ijma' menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal." (an-Nisâ': 59) Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal. Al-Qur'an Allah SWT berfirman: Artinya: "Hai orang-orang yang beriman. 13 . a. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja. taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Dasar hukum ijma' Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an. IJMA Ijma ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn alQur'an dan al-Hadits. kepala negara. namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an dan al-Hadits 1. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu'amalat. maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin. sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid. Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa." Menurut istilah ijma'. 2. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma'. al-Hadits dan akal pikiran. ialah kesepakatan mujtahid umat Islam tentang hukum syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar RA itu. keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. seperti perkataan seseorang ( ) yang berati "kaum itu telah sepakat (sependapat) tentang yang demikian itu.

" (Ali Imran: 103) Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu. mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma'. sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa yang tidak mengikuti ijma' para mujtahidin. AI-Hadits Bila para mujtahid telah melakukan ijma' tentang hukum syara' dari suatu peristiwa atau kejadian. yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid.Firman AIlah SWT: Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma' (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai." b. jangan sekali-kali bercerai-berai. maka ijma' itu hendaklah diikuti. karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta. Abu Daud dan Tirmidzi) 14 . sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan." (an-Nisâ': 115) Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu'minîna yang berarti jalan orangorang yang beriman. Firman Allah SWT: Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman." (HR.

maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma'. 4. Sebaliknya jika dalam berijtihad. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara') dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas. hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma'. batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. seperti dengan pernyataan lisan. istihsan dan sebagainya. maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma'. Akal pikiran Setiap ijma' yang dilakukan atas hukum syara'. sehingga ia harus menerima suatu keputusan. Ijma' yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari'ah. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. seperti qiyas. ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya. karena ijma' itu harus dilakukan oleh beberapa orang. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma' sebagai berikut: 1. karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash. kemudian pendapatnya boleh diamalkan. 3. 3. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja. maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur'an dan al-Hadits. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash. atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan. dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan.c. 2. karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Rukun-rukun ijma' Dari definisi dan dasar hukum ijma' di atas. maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam. 15 . Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan.

Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum. kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur'an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma'. Pada masa Rasulullah SAW. dan 3. timbul golongan Khawarij. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu. Disamping itu daerah Islam semakin luas. tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma'. 2. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah. namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap. beliau merupakan sumber hukum. Periode sesudahnya. Kemungkinan terjadinya ijma' Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang. adakalanya menunggu ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. disamping daerah Islam belum begitu luas. Seandainya ada ijma' itu. mereka berijtihad. maka ijma' dapat dibagi atas tiga periode. kaum muslimin kehilangan tempat bertanya. 16 . sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya. Karena itu amat sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian. masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid. kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar. semasa dinasti Abbasiyah. Setiap ada peristiwa atau kejadian. yaitu: 1. belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin. mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan. Tiongkok Selatan. golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami. sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia. perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi. sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika. Karena itu kaum muslimin masih satu. semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat pada jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). yaitu al-Qur'an dan al-Hadits. Periode Rasulullah SAW. Setelah Khalifah Utsman terbunuh. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu.4. peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal.

Undang-undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma'. maka ijma' terdiri atas: 1. tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan. tetapi ada peraturan atau undangundang yang khusus bagi umat Islam. Diterangkan bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam. Khalifah Umar bin Khattab. dan c. baik berupa ucapan atau tulisan. Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas. 5. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma'. Ditinjau dari segi cara terjadinya. namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. dan enam tahun pertama Khalifah Utsman. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka. mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam. Macam-macam ijma' Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi. Ijma' mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar. Misalnya India. Ijma' tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih. Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul halli wal 'aqdi. maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma' itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma' lokal. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad. yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas. Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam.Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. 17 . hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang. ljma' bayani. 2. mayoritas penduduknya beragama Hindu. ijma' qauli atau ijma' haqiqi. Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam.

dapat dibagi kepada: 1. ljma' dhanni. yaitu hukum yang dihasilkan dari ijma. Ijma' sahabat. Ijma' ahli Madinah. yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma' yang dihubungkan dengan masa terjadi. 3. tetapi Madzhab Syafi'i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam. 4. tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain. Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma' tersebut tidak dapat dilakukan lagi. 2. Umar. Ijma' seperti ini disebut juga ijma' 'itibari. 5. yaitu ijma' yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Ijma' ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki. yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas. yaitu hukum yang dihasilkan ijma' itu adalah qath'i diyakini benar terjadinya. tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma'. yaitu ijma' yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar. Ijma' shaikhan. ljma' qath'i. Ijma' sukuti. Ijma' khulafaurrasyidin. masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain. Madzhab Hanafi menjadikan ijma' ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam. 2. tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya. yaitu ijma' yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW.2. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup. Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Ijma' ulama Kufah. Ijma'-ijma' itu ialah: 1. 18 . yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.