HUKUM HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

Islam Adalah agama samawi, agama yang di turunkan kepada nabi Muhammad Saw. Adalah wahyu Allah terakhir untuk manusia. Oleh karena itu,agama ini sudah sempurna dan senantiasa sesuai dengan tingkat perkembangan manusia sejak di turunkannya, 21 abad yang lalu hingga akhir peradaban manusia atau kiamat nanti. Ada suatu syariat atau ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah SWT setelah melalui proses panjang selama 23 tahun berangsur-angsur agar mudah di serap dan di pahami oleh manusia yang meliputi berbagai macam pokok pembahasan di ataranya: a. Akidah b. Ibadah c. Ahlaq d. Muamalat e. Hukum Dalam pelaksanaannya islam memiliki sumber hukum atau norma yang nantinya menjadi pedoman bagi kaum muslimin, untuk menentukan hukum suatu tindakan, dan menuntunnya kepada jalan menuju tujuan tersebut, dan menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia dalam berhubungan dengan tuhannya ataupun sesama manusia. Adapun sumber-sumber hukum yang utama dalam islam adalah : 1. Al Qur’an 2. As sunnah 3. Ijtihad Sumber-sumber hukum di atas harus di terapkan dalam kehidupan dan tingkah laku kita di muka bumi ini agar terciptanya kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sumber hukum di atas memberikan petunjuk kepada kita sebagai umat muslim untuk menuju arah pencapaian kebahagiaan yang hakiki.

1

Al Qur’an tertulis dalam mushaf dan sampai kepada manusia secara mutawatir. diaawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas. b. a. kalimat. karena itu. Al Qur’an memiliki sejumlah nama yang di dalam namanya itu terkandung fungsi dan peranannya bagi manusia. Qaraa yang berarti bacaan atau sesuatu yang di baca sehari-hari. ini di nyatakan dalam firman Allah (QS. HUKUM ISLAM ADALAH HUKUM YANG BERSUMBER DAN MENJADI DASAR AGAMA ISLAM 1. Alkitab yang berarti tulisan atau yang di tulis karena ayat-ayat Al Qur’an itu tertulis. dan ayat-ayat. Dan membacanya bernilai ibadah. Melalui perantara malaikat Jibril. Dengan tulisan itu orang dapat membaca dan memahami isinya dan sekaligus dapat mengabadikannya. terdiri dari huruf. Dalam nama ini terkandung bahwa Al Qur’an bagi umat islam merupakan bacaan harian. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. 18:1) Yang artinya : 2 .A. kata Al Qur’an sebagai nama kitab. Al-Hasyr. Al Qur’an Secara terminologi Al Qur’an adalah kalamullah yang di turunkan kepada Nabi terakhir. yaitu Nabi Muhammad Saw. Penamaan Al Qur’an dengan Alkitab ini diungkapkan dalam firman Allah (Al-Kahfi. 59:21) Yang artinya : Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung. karena membacanya merupakan ibadah. setiap muslim harus biasa membaca Al Qur’an. pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.

yaitu sesuatu yang dikatakan atau perbuatan yang di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Menurut istilah sunnah berarti perkataan Nabi. perbuatan dan keterangannya (taqrir). 2. Hak adalah nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang datang dari Allah SWT sebaliknya batil adalah keburukan dan kesalahan yang harus di jauhkan. Al-Furqaan. 4:59) : 3 . Sunnah fi’liyah yaitu sunnah dalam bentuk perbuatan. Alfurqaan yang berarti pembeda atau pemisah dengan memahami Al Qur’an orang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil.Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (AlQuran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Berdasarkan definisi di atas sunnah di bagi menjadi 3 yaitu : a. As Sunnah Menurut bahasa As-sunnah berarti perjalanan. Al Qur’an dan As-Sunnah adalah rujukan yang pasti dan tetap bagi segala macam perselisihan yang timbul di kalangan umat islam sehinga tidak melahirkan pertentangan dan permusuhan. c. Yang artinya : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hambaNya. Yang menerangkan hukum-hukum dan maksud Al Qur’an. An-nisa. c. agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Sunnah taqririyah adalah ketetapan Nabi. yaitu diamnya Nabi atas perkataan atau perbuatan sahabat.sholat dan sebagainya. seperti firman Allah (QS. 25:1). Penamaan Al Qur’an dengan Alfurqaan dinyatakan dalam firman Allah (QS. pekerjaan atau cara. yang menerangkan cara melaksanakan ibadah misalnya cara berwudu. tapi tidak ditegur atau dilarangnya. Sunnah qauliah adalah dalam bentuk pekataan atau ucapan Rosululloh Saw. b.

Ijtihad Ijtihad berarti menggunakan seluruh kesanggupan berpikir untuk menentukan hukum syara dengan jalan mengeluarkan hukum dari kitab dan sunnah. Oleh karena itu. mungkin saja antara mujtahid satu dengan mujtahid yang lain hasilya berbeda. karena seorang mujtahid tidak terlepas dari lingkungan budayanya dan pada akhirnya berpengaruh kepada hasil ijtihadnya. 4 . Hal ini di sebabkan perbedaan pengalaman. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. 3. Al-ahzab. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. melahirkan dzanniyah (persangkaan kuat kepada benar). ilmu serta adat kebiasaan yang berpengaruh kepada hasil ijtihad mereka. yaitu ahli fikih yang menghabiskan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat (dzan tehadap suatu hukum agama dengan jalan istinbat dari Al Qur’an dan As-Sunnah. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Disamping itu As-sunnah merupakan rujukan perilaku yang dikehendaki oleh Al Qur’an.Yang artinya : Hai orang-orang yang beriman. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya). Demikian pula hasil ijtihad yang dilakukan pada suatu waktu dapat berbeda dengan hasil yang didapatkan pada waktu yang lain. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. :21) : Yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Beliau menjadi tauladan yang nyata bagi seluruh kaum muslimin. segala yang diinginkan oleh Al Qur’an dapat di lihat dari apa yang dilakukan oleh Rosulullah. dan ulil amri di antara kamu. Kebenaran hasil ijtihad tidak bersifat mutlak. Bahkan bisa saja hasil ijtihad di suatu tempat berbeda dengan hasil ijtihad di tempat lain. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). sebagaimana firman Allah (QS.

setuju atau sependapat.Bukhori. a. disebabkan oleh adanya persamaan di antara keduanya. berdasarkan sesuatu hukum yang sudah di tentukan oleh nash. Oleh karena itu. Namun. Hal ini diisyaratkan oleh nabi dalam sabdayna yang berarti: Hakim apabila berijtihad kemudian dapat mencapai kebenaran. Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat atau kesepakatan semua ahli ijtihad ummat setelah wafatnya Nabi pada suatu masa tentang suatu hukum. Macam-macam ijtihad Dilihat dari pelaksanaan. Tidak semua masalah agama dapat diijtihadkan. tidak berarti bahwa setiap mujtahid itu benar atau salah. ijtihad terdiri atas tigamacam: 1. ijtihad fardhi adalah ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid secara pribadi. hukum-hukum yang sudah pasti tidak boleh diijtihadkan lagi. Apabila ia berijtihad kemudian tidak mencapai kebenaran. ijma sukuti adalah ketika para ulama mujtahidin berdiam diri. Ijma Ijma menurut bahasa adalah sepakat. 5 . Sedangkan ijtihad jama’i atau ijma adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mujtahid secara berkelompok. Karena yang dapat mengukur kebenaran secara mutlak hanya Allah semata. Qiyas menurut bahasa adalah mengukur sesuatu dengan lainnya dan mempersamakannya.Kendati pun demikian.(HR. ijtihad dapat di bagi kepada dua macam. hal ini bukan sesuatu yang menghambat pelaksanaan hukum Islam. yaitu ijtihad fardhi dan ijtihad jama’i. dan ijma sukuti (diam ). tidak menengelurkan pendapatnya atas hasil ijtihad para ulama lain. Qiyas. 2. kemungkinan perbedaan antara ijma ulama di suatu tempat dengan tempat yang lain sangat besar. Ijma terdiri atas ijma qauli (ucapan ). Antara kelompok ulama yang satu dengan ulama lainya tidak mungkin dapat disatukan pendapatnya. Muslim). Dilihat dari segi materi. Ijma pada masa sekarang dihadapkan pada persoalan banyaknya para ulama dan tempat tinggalnya yang tersebar di seluruh pelosok dunia. Karena itu. masalah yang diijtihadkan adalah hukum-hukum syara yang tidak mempunyai dalil qath’i (pasti).ijma qauli maksudnya para ulama mujtahidin menetapkan pendapatnya baik dengan ucapan maupun dengan tulisan yang menerangkan persetujuanya atas pendapat mujtahid lain di masanya . diamnya itu bukan karena takut atau malu.maka ia mendapat dua pahala. Menurut istilah adalah menetapakan sesuatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya. maka ia mendapat satu pahala.

” Al Qur’an sangat berkepentingan dalam penjaminan bagi persamaan seluruh entitas kemanusiaan.prinsip atau dalil-dalil yang berkaitan dengan kebaikan.Al-A’raf.Al-Thur. “hak persamaan dan kebebasan. Al-Nisa.”hak hidup. termasuk di dalamnya untuk menjadi penentang Tuhan.” Al Qur’an sangat menekankan perlunya kehidupan seseorang demi suatu tujuan yaitu menyembah penciptanya. yang bahwa kebenaran Islam dapat didekati melalui angle berbagai pola budaya. Mashalihul mursalah Mashalihul mursalah adalah menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiah atas dasar pertimbangan kegunaan dan kemanfaataan yang sesuai dengan tujuan syariat islam. 185&199. 4. setidaknya kita menjumpai adanya limabelas hak yang tertera dan harus dijamin oleh setiap manusia dengan jelas dalam Al Qur’an. Istihsan Istihsan adalah menetapkan suatu hukum terhadap suatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip. Al-Syura. keadilan. kapan saja dan di mana saja. Altahrim. Universalisme Islam juga menghasilkan pandangan dari arah lain. maka berarti bahwa kebenaran juga dapat ditentukan pada setiap bangsa dan masa. Logikanya ialah. Baik tertindas karena kultur mauoun struktur. Terutama bagi orang-orang yang tertindas. maka hal itu tidak saja menghasilkan pandangan bahwa ia berlaku untuk semua tempat dan waktu. 58&105&135. maka Islam bukan hanya mengandung ajaran kemanusiaan.10. Karena itu agama Islam kemudian juga sangat dikenal sebagai agama pembebas. Barang siapa membunuh tanpa alas an yang benar. sekalipun tidak ada dalil-dalil secara ekplisit dari Al Qur’an dan hadis. Pertama. jika islam kita tangkap sebagai ajaran yang universal.3. B. HAM MENURUT ISLAM Sebagai agama yang diperuntukan bagi seluruh manusia. dan sebagainya dari Al Qur’an dan hadis. 10&38. tetapi juga mewajibkan proses aplikasi bagi tumbuhnya aspek kemanusiaan yang universal dengan melihat dan mengapresiasi tradisi-tradisi local yang beragam. Citra pembebasn dan persamaan itu dapat kita lihat dalam QS. Kedua. Al-imran. sebagai warisan para Utusan Tuhan yang pernah datang ke bangsa yang bersangkutan. 104 & 110&159. baginya juga 6 . serta memberikan kebebasan bagi mereka untuk berbuat apa saja. kasih saying. jika Islam itu universal. 21. dan jika keuniversalannya menghasilkan diutusnya rasul-rasul untuk setiap bangsa dan masa.karenanya Al Qur’an mengutuk seseorang yang membunuh nyawa tanapa suatu alas an yang dapat membenarkannya. Ada beberapa hak kemanusiaan yang secara tekstual digariskan dalam Alqur’an.

Orang islam juga dilarang memasuki rumah tetangga kecuali setelah mendapat izinnya. AtTaubah: 122.AlBayinah. Karena keluarga adalah tulang punggung agama dan Negara.” Al Qur’an sangat menganjurkan setiap manusia untuk berpikir. Jaminan kesederajatan ini dapat dilihat dalamQ. Sehingga kaum Muslim diharuskan pandai dalam segala urusannya. Al-Baqarah: 233. Hal ini terdapat dalam Q.S. Hal tersebut terdapat dalam Q. Juga dilarang mengolok-olok sesama manusia.mendapat hukuman kematian (qishas).” Al Qur’an menyarankan bagi setiap orang untuk menikah dengan etika yang yang dijelaskan kemudian. 17-18&45. At-taha: 132.S. At-toubah: 6. Pengakuan itu dapat kita baca dalam Q.S. Kelima.” hak bebas memilih agama.An-nur:27.”hak sederajat. “Al Qur’an sangat menghargai bagi seseorang yang mau saling menolong dan saling melindungi.Al-ihsan. Al-Nahl: 125. Al-Kahfi: 29: Yunus: 99.”hak memperoleh perlindungan. Bagi siapa saja yang ingin beragama selain Islam. orang tua tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap anak-anaknya. Al-Alaq: 1-5. Al-Ankabut:46.S. Sehingga setiap orang punya hak yang sama untuk berkeluarga. Sampai-sampai. An-nisa: 17&32&34.S.Al-Bakoroh:187&221&223. Hal tersebut terdapat dalamQ.” Al Qur’an meminta kepada semua orang tanpa kecuali untuk menghormati dan menjaga kehormati seseorang.”hak menikah dan berkeluarga. Sikap ini terdapat dalam Q. Kedelapan. Al-Baqarah: 217 & 256. 27&28. Sikap dan perintah ini dapat kita lihat dalam Q. 5.12-17.” Setiap anak mempunyai hak yang dijamin juga oleh Al Qur’an.” Setiap orang tanpa kecuali dijamin kesamaannya. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan yang punya rumah. 8.”hak kehormatan pribadi. Yang membedakan dari setiap orang hanyalah ketakwaanya. Hal ini terdapat dalamQ. 45. Al Qur’an menyatakan harus mempertanggung jawabkannya di hadapan tuhan. bagi orang muslim apabila diminta untuk melindungi orang musrik diwaktu perang diapun harus melindunginya. 256. Sehingga menjadi urusan privat antara Tuhan dan manusia yang bersangkutan. ArRum: 21. At-Tahrim: 6. dengan jaminan tersebut.” Al Qur’an juga menjamin kebebasan seseorang dalam beragama. Al-Hujarat: 13 and Al-Bakarah: 228. Al Qur’an menganggap sama dengan membunuh jiwa-jiwa yang lainnya. Keempat. Dan barang siapa membunuh satu jiwa. bertindak dan berbuat sesuai dengan kaidah ilmiah.”hak anak terhadap orang tuanya. bahkan untuk tidak beragama.S. Al-Hujarat: 11-12. Al-Isra.Al-balad. Al-Nur. Al-Israa: 23-24. 7 .”hak memperoleh pendidikan dan berperan serta dalam pengembangan iptek. Ketujuh. Al-Baqarah. Kesembilan. Ketiga.S. Keenam. An-Nisa:148149.S. Terutama berkenaan dengan hal-hal yang dianjurkan oleh agama. Al-maidah.

AlMumtahanah: 8. orang tersebut berbuat salah.S. ialah bangsa. Al-Nahl: 125. Dan kelimabelas adalah “hak menjadi tahanan dan narapidana. Bahkan beribadah dan bekerja dalam Islam harus seimbang. Kesebelas. Al Qur’an sangat tidak menyukai setiap soal yang dilewati dengan unsur-unsur non-kwalitatif (KKN). Kecuali nantinya terbukti.” Seseorang dijamin haknya untuk memiliki harta.Kesepuluh. Al-baqarah: 29 dan Al-Nisa: 29. Aliimran: 130.”hak bebas bertindak dan mencari suaka. Al-Mulk: 15. PERBEDAAN DIANTARA KONSEP HAM DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT.”hak memperoleh kesempatan yang sama. Dan bagi siapa saja yang diminta perlindungan atau suaka. yang hidup dalam suatu Negara. Al-Baqarah: 275.” Setiap orang mempunyai otak yang dapat dan harus dipergunakan untuk menerima ilmu. Jelasnya. “hak memiliki harta pribadi.S. Ketigabelas. Karena itu setiap orang Islam punya hak yang sama dalam pengolahan dan penikmatan hasil-hasil ilmu pengetahuan.S. dia berhak menjadi narapidana atau tahanan yang dijamin keselamatannya dari siapa pun. harus memberikannya tanpa pandang bulu. Al-Nisa: 161. Al-Mumtahanah: 9.” Al Qur’an menjamin setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam setiap hal tanpa pandang bulu. Hal ini terdapat dalam Q. Keempatbelas. Hal ini terdapat dalam Q. Hal ini terdapat dalamQ. Hal ini terdapat dalam Q. An-Nisa: 97. Dan sebelum itu.” Siapa saja yang dianggap bersalah berhak mendapat perlindungan sampai adanya pengadilan yang memutuskan perkaranya. dapat meminta suaka atau perlindungan pada siapa pun. Al-Baqaraah: 105&286. Ham menurut pandanga barat Bahwasannya yang dikehendaki dengan rakyat oleh demokrasi modern sebagai yang terkenal di dunia barat. 8 . Al-Ahqaf: 19. C. jenis. dll. 1.S. Hal ini terdapat dalam Q. memproduksi ilmu dan menyebarkannya. Sikap Itu dapat dilihat dalam Q. Karena itu Islam melarang seseorang hidup dalam kemiskinan. Dengan begitu. “hak menikmati hasil untuk produk ilmu.S. bahasa dan adat istiadat.”hak untuk bekerja. anggota-anggotannya diikat oleh persamaan darah. harta pribadi seseorang harus cukup. Tugas itu juga setingkat mulianya dengan beribadah. sebab akan mendekatkan diri pada kekufuran.” Al Qur’an menyarankan seseorang untuk beribadah. Al-Qashas:77. dengan catatan tidak berlebihan dan diamalkan untuk berjuang di jalan Tuhan. tetapi dengan tidak melupakan tugas kerja selama di dunia. Keduabelas.” Setiap orang yang merasa terancam.S.demokrasi tidak terlepas dari prinsip kebangsaan yang menimbulakan kefanatikan kepada bangsa sendiri.

menjadi undang-undang moral. adalah universal. yang menyampaikan kepada keridhaan Allah dan mewujudkan tuntutan kejiwaan manusia. Umat Islam tidaklah diikat oleh kesatuan tempat. Umat itulah yang mempunyai siyadah. Ibnu khaldun dalam menakrifkan imamah mengatakan: “ imamah adalah untuk mewujudkan kemaslahatan akhirat dan kemaslahatan dunia yang kembali kepada kemaslahatan akhirat. dan ruangnya. adanya iklim. Dia hanya bermaksud mewujudkan kebahagiaan bangsa. Kekuasaan umat ( rakyat) dalam demokrasi barat. dengan ketentuan tidak menyimpang dari yang telah digariskan oleh kedua sumber ini. yang mempunyai hak membuat undang-undang atau yang membatalkannya. Undang-undang inilah yang diliputi oleh Al Qur’an dan As Sunnah. ialah bahwasanya Rosululloh adalah Rosul yang diutus kepada segenap manusia. 2. Atau majelis yang dibentuknya.Tujuan demokrasai barat baik yang modern ataupun yang kuno. tetapi dibatasi oleh syariat agama Allah yang dipeluknya. adalah terbatas untuk tujuan keduniaan atau materil belaka. sebagaimana harus menjadikan agama (qanun akhlaqy) ukuran yang dipergunakan untuk mengukur pekerjaan umat dan tindak tanduknya. 9 . Untuk memperoleh yang demikian itu ditumpahkanlah darah manusia. Pemerintah islam wajib melihat dalam segala gerak-geriknya kepada urusan-urusan akhirat. Segala orang yang akidah Islam.karena dialah tujuan pokok dan wajib menyelesaikan segala amal kebajikan yang diperintahkan oleh agama. hal ini tidak menghalangi adanya Negara-negara. adalah mutlak. Akan tetapi kehendak umat ini haruslah berdasarkan kepada apa yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. dari jenis apapun. Maka pandangan Islam. Kita mengakui bahwasannya kehendak umat merupakan salah satu sumber undangundang. Al Qur’an dan As Sunnah memberikan hak kepada rakyat untuk menentukan sesuatu. Akan tetapi di dalam islam. adanya kebangsaan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umum. Walaupun demikian. warna kulit apapun. Tetapi pengikatpengikat yang pokok. karena segala kemaslahatan dunia dalam pandangan syara harus dikaitkan dengan kemaslahatan akhirat”. darah dan bahasa. kekuatan umat itu tidak mutlak. Dalil untuk ini. yaitu seperti meningkatkan pendapatan (kekayaan) atau memperoleh kemenangan dalam perang. ialah prikemanusiaan.ketetapan yang yang dikeluarkan oleh majelis ini. Rakyat di dalam Islam (di dalam demokrasi Islam) diharuskan mengikuti undang-undang akhlak dan prinsip-prinsipnya. Semua ini dipandang pengikat-pengikat yang sekunder. dan tanah air yang manapun. Rakyat tidak boleh bertindak di luar batas undang-undang itu. Ham menurut pandangan Islam Dalam Islam. maka dia itu seseorang anggota di dalam Negara Islam. ialah kesatuan akidah. untuk ketinggian bangsa atau untuk menguasai pasaran dunia.

khususnya kaum muslimin. sedangkan tentang urusan mereka. maka maafkanlah mereka. karena pentingnya. sebagaimana halnya istilah sosial-politik lainnya. kata syuuraa menjadi salah satu nama surat Al Qur’an. Plato menyifatinya sebagai “pemerintahan orang-orang bodoh”." Kedua. dan “cratio” atau “crato” yang dalam bahasa Yunani berarti pemerintahan. Aristoteles menamakannya “pemerintahan orang-orang miskin tak berkeutamaan”.. legislatif. Dalam ayat Alquran ini. Pertama. Islam mewajibkan adanya kepemimpinan kenegaraan untuk 10 . dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Bahkan. Sebagian besar definisi “demokrasi” berhubungan dengan prinsip pemikirannya. MUSYAWARAH Syuuraa atau musyaawarah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. bertawakallah kepada Allah SWT. sistem pemerintahan semacam ini ditentang oleh filsuf-filsuf besar.. Pertama kali. musyawarah dan ijma merupakan hal yang penting dalam kaum muslim karena merupakan unsur-unsur terbentuknya demokrasi dalam umat islam 1. yudikatif dsb. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya. menyambut) seruan Tuhan mereka dan mendirikan shalat (dengan sempurna). ekskutif. mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan (tertentu/yang penting). DEMOKRASI DALAM ISLAM Asal kata demokrasi adalah “demos”.Dalam ayat ini. sebuah kosa kata Yunani berarti masyarakat. "Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi. D. ". yaitu surat ke-42. telah memberatkannya dengan beberapa kewajiban dan beberapa pertanggung jawaban. tidak memiliki definisi yang pasti. Allah berfirman. kita bisa simak pada QS Al-Syuuraa [42]: 38. masalah musyawarah disebut pada tiga ayat. Di dalam Alquran. istilah ini digunakan untuk suatu sistem demokrasi langsung. dalam ajaran Islam disebut Musyawarah sesama Rakyat (Syura baina’r-ra’iyah).. Abu Nasr Al-Farabi dan Ibn Rusyd menyebutnya sebagai “kebusukan dalam pemerintahan utama (madinah fadhilah)”. Allah berfirman. yakni masyarakat secara langsung menempati posisi pemerintahan. istilah ini digunakan sekitar lima abad sebelum Masehi. mereka memutuskannya dengan musyawarah di antara mereka.Agama telah memfardhukan atasnya beberapa kewajiban. tanpa terkait dengan jabatan dalam kekuasaan kenegaraannya. Istilah demokrasi. kita bisa lihat dan baca pada QS 'Ali 'Imraan [3]: 159. Mereka berperan dalam seluruh aktivitas politik. Sampai masa renaissance. Sejak dulu." Musyawarah sesama muslim. kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad.

semua pihak dituntut bertanggung jawab atas keputusan-keputusan Syura. maka perintah kepada Nabi saw agar bermusyawarah ditujukan kepada baginda dalam kepastiannya sebagai kepala negara/kepala pemerintahan.memelihara. maka bertawallah kepada Allah. Teknis pelaksanaan dan kelengkapan-kelengkapan operasionalnya tidaklah ditetapkan secara baku.S. semua harus mengamankan dan mensejahterakan semua. adanya wakil-wakil rakyat. Kedua: Keputusan-keputusan yang diambil dalam Syura (musyawah) itu dinyatakan tidak sah bila bertentangan dengan syari’at Islam. Ini untuk pertama kalinya diwajibkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw melalui ayat 159 Surat Ali Imran: Artinya : "Maka disebabkan rahmat Allah jualah engkau (Muhammad) berlaku lemahlembut kepada mereka. melainkan diserahkan kepada masyarakat itu sendiri. Para Ulama sepanjang masa mencatatkan dua batas mengenai Syura ini. Sekiranya engkau bersikap kasar Lagi berhati keras tentulah mereka menjauhkan diri darimu. a. Tegasnya pada pejabat pemerintahan wajib bermusyawarah dengan rakyatnya. semua orang diminta untuk betawakal dan berahlakulkarimah. adanya negara dan pemerintahan tidak menghapuskan kemerdekaan individu. Karena itu maafkanlah mereka. Dengan ajaran Islam ini disebut Syura baina ‘Ihakim wa ‘rra’iyah. jika dibentuk. 11 . membangun.dan bermusyawarahlah denagan mereka dalam urusan itu. Sebab prinsip terpenting didalam Syura itu ialah terwujudnya kehidupan yang baik dan maju. dan tidak terpasungnya kemerdekaan yang merupakan hak semua pihak. dan atau bertentangan dengan hukum-hukum Islam . tidak untuk mengelabui rakyat. Semua harus terjamin hak dan kemerdekaannya. Sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang bertawakalah kepadaNya"(Q. yaitu: Pertama: Tidak dibenarkan memusyawarahkan suatu ketetapan agama yang telah diputuskan secara jelas dan tegas oleh Al-Quran dan Sunnah. Para pejabat negara ini juga diwajibkan bermusyawarah. Ali Imran: 159). Oleh karena ayat ini termasuk ayat Madaniyah. Ketentuan dan Batasan Musyawarah Islami merupakan prinsip yang ideologis berkenaan dengan semua persoalan suatu bangsa. mohonkanlah ampunan bagi mereka. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad.dan memimpin rakyat ke jalan yang benar. pastilah terbentuk pemerintahan. Dalam kaitan ini musyawarah hanya boleh dilakukan untuk memecahkan soal-soal teknis pengaturan dan pelaksanaanya saja. adanya pemerintahan tidak menjadi lembaga yang menjajah rakyatnya.

Bila perbedaan dimaksudkan tidak dapat diselesaikan dalam waktu musyawarah karena menemui jalan buntu. perlu memiliki lima kelengkapan: 1. 4. Kelima bekal inilah yang seharusnya dimiliki. Meski ada ketentuan dan batasan musyawarah. Materi yang dibahas dalam forum musyawarah itu tidak ditempatkan dalam kungkungan subyektifitasnya. Kedua sifat ini meyuburkan dan menyegarkan akal pikiran serta meniadakan sifat hasud dan dengki. 2. 5. kembalilah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasullah (Sunnah) jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. 3. Kematangan pikiran yang dilengkapi dengan pengalaman yang cukup. Dengan bekal ini dapat diharapakan akan timbul pertimbangan-pertimbangan yang baik dan melegakan. (QS an-Nisa’:59) 12 . Rasullah saw bersabda: yang artinya : "Siapa melakukan musyawarah tidaklah akan kehilangan kepintaran.Seseorang yang akan terjun ke gelanggang musyawarah. waktu. baik oleh ahli Syura dari kalangan rakyat atau wakil rakyat maupun dari kalangan pengemban mandat pemerintahan. Beragama dan bertaqwa dengan baik. dana dan daya. Inilah sebabnya Rasullah sering bermusyawarah dengan sahabat-sahabat. dan hal-hal yang membuat emosinya tidak stabil. tapi tetap saja ada kemungkinan beda pendapat yang boleh jadi disebabkan oleh perbedaan sudut pandang atau oleh perbedaan skala prioritas menurut ruang. Siapa meninggalkan musyawarah belum tentu terjamin dari kesalahan". baikberkenaan masalah-masalah kehidupan masyarakat luas maupun dalam menghadapi peperangan melawan musuh. Yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik kesudahannya". Bebas dari hal-hal yang mengganggu ketenangan berpikir. maka Islam menganjurkan agar kembali kepada Al-Quran dan Sunnah Rasullah bersabda: yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman ! taatilah Allah dan taatilah RasuluNya dan Ulil Amri di kalangan kamu. Musyawarah yang dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat demikianlah yang bisa dijamin akan membawa rahmat. Rasullah saw pernah mengatakan bahwa orang yang beragama dan bertaqwa dengan baik itu merupakan jalan menuju keputusan yang baik pula. seperti target-target pribadi atau hawa nafsu yang hendak dipuaskan. Berkemauan untuk menuju kebenaran dan penuh kasih sayang. dan oleh para Ulama disebut Ikhtilafu Tanawwu’ yang dapat ditolerir. menurut Imamal Mawardi. Maka jika kamu berbeda pendapat tentang suatu (urusan). Perbedaan seperti ini dibenarkan.

" Menurut istilah ijma'. sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid. seperti perkataan seseorang ( ) yang berati "kaum itu telah sepakat (sependapat) tentang yang demikian itu. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. 13 . Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar RA itu. a. taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. pengertian ijma' Ijma' menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma'. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an dan al-Hadits 1. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu'amalat. pemimpin atau penguasa. 2. kepala negara. Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa. Dasar hukum ijma' Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an. al-Hadits dan akal pikiran. keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. IJMA Ijma ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn alQur'an dan al-Hadits.2. ialah kesepakatan mujtahid umat Islam tentang hukum syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin." (an-Nisâ': 59) Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal. Al-Qur'an Allah SWT berfirman: Artinya: "Hai orang-orang yang beriman. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama.

Abu Daud dan Tirmidzi) 14 . Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma' (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai." (Ali Imran: 103) Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu. sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa yang tidak mengikuti ijma' para mujtahidin. AI-Hadits Bila para mujtahid telah melakukan ijma' tentang hukum syara' dari suatu peristiwa atau kejadian. yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid. maka ijma' itu hendaklah diikuti. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma'." (an-Nisâ': 115) Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu'minîna yang berarti jalan orangorang yang beriman. sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan. jangan sekali-kali bercerai-berai.Firman AIlah SWT: Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (HR. karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta." b. Firman Allah SWT: Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman. mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka. Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

seperti qiyas. seperti dengan pernyataan lisan. maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam. maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma' sebagai berikut: 1. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara') dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Sebaliknya jika dalam berijtihad. karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash. hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma'. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Rukun-rukun ijma' Dari definisi dan dasar hukum ijma' di atas. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. karena ijma' itu harus dilakukan oleh beberapa orang. istihsan dan sebagainya. 3. Ijma' yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari'ah. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. 3. tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan. kemudian pendapatnya boleh diamalkan. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid. ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya. maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur'an dan al-Hadits. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas. 4. sehingga ia harus menerima suatu keputusan. atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan. dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma'. maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma'. maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Akal pikiran Setiap ijma' yang dilakukan atas hukum syara'. 15 .c. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada. 2.

kaum muslimin kehilangan tempat bertanya. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu. perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya. yaitu: 1. beliau merupakan sumber hukum. Karena itu amat sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian. yaitu al-Qur'an dan al-Hadits. seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan. 2. mereka berijtihad. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat pada jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma'. mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin.4. golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya. Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah. sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia. mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. Disamping itu daerah Islam semakin luas. belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin. Setelah Khalifah Utsman terbunuh. masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu. Tiongkok Selatan. timbul golongan Khawarij. belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami. kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur'an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya. adakalanya menunggu ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. Seandainya ada ijma' itu. sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika. dan 3. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Karena itu kaum muslimin masih satu. dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma'. Periode Rasulullah SAW. semasa dinasti Abbasiyah. sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya. Pada masa Rasulullah SAW. Periode sesudahnya. Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. maka ijma' dapat dibagi atas tiga periode. Kemungkinan terjadinya ijma' Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang. Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum. disamping daerah Islam belum begitu luas. 16 . peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal. Setiap ada peristiwa atau kejadian. namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap.

Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul halli wal 'aqdi. 5. Ijma' mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar. tetapi ada peraturan atau undangundang yang khusus bagi umat Islam. ijma' qauli atau ijma' haqiqi. yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas. mayoritas penduduknya beragama Hindu. Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. dan enam tahun pertama Khalifah Utsman. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas. Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. Diterangkan bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam. dan c. 17 . maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma' itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma' lokal.Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. ljma' bayani. 2. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad. Khalifah Umar bin Khattab. hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Undang-undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Ijma' tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang. maka ijma' terdiri atas: 1. Macam-macam ijma' Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi. Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma'. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka. Misalnya India. namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma'. baik berupa ucapan atau tulisan. mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam. Ditinjau dari segi cara terjadinya. Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam. Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan.

tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain. Umar. Ijma' sukuti. dapat dibagi kepada: 1.2. Ijma'-ijma' itu ialah: 1. tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya. Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma'. Ijma' sahabat. Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma' yang dihubungkan dengan masa terjadi. tetapi Madzhab Syafi'i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam. yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Ijma' shaikhan. Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma' tersebut tidak dapat dilakukan lagi. Utsman dan Ali bin Abi Thalib. 18 . yaitu hukum yang dihasilkan ijma' itu adalah qath'i diyakini benar terjadinya. 4. Ijma' khulafaurrasyidin. 2. yaitu ijma' yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Madzhab Hanafi menjadikan ijma' ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam. yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas. Ijma' seperti ini disebut juga ijma' 'itibari. ljma' dhanni. yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Ijma' ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki. Ijma' ahli Madinah. tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijma' ulama Kufah. yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. yaitu ijma' yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. yaitu ijma' yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar. 5. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup. yaitu hukum yang dihasilkan dari ijma. 3. ljma' qath'i. 2. masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful