Makalah Nematoda

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Nematoda mempunyai jumlah spesies yang terbesar diantara cacing-cacing yang hidup sebagai parasit. Nematoda terdiri dari beberapa spesies, yang banyak ditemukan didaerah tropis dan tersebar diseluruh dunia. Seluruh spesies cacing ini berbentuk silindrik (gilig), memanjang dan bilateral simetris.cacing-cacing ini berbeda-beda dalam habitat,siklus hidup,dan hubungan hospes-habitat (host-parasite relationship). Cacing ini bersifat uniseksual sehingga ada jenis jantan dan betina. Cacing yang menginfeksi manusia diantaranya adalah N.americanus dan A.duodenale sedangkan yang menginfeksi hewan

(anjing/kucing) baik liar maupun domestik adalah A.ceylanicum meskipun cacing ini dilaporkan dapat menjadi dewasa dalam usus halus manusia dan tidak pernah menyebabkan creeping eruption, sedangkan A.caninum dan A.braziliense tidak dapat menjadi dewasa dalam usus halus manusia dan menyebabkan creeping eruption pada manusia. Akibat utama yang ditimbulkan bila menginfeksi manusia atau hewan adalah anemia mikrositik hipokromik, karena Nematoda dapat menyebabkan pendarahan di usus. Perbedaan morfologi antar spesies dapat dilihat dari bentuk rongga mulut, ada tidaknya gigi, dan bentuk bursa kopulatriks cacing jantan. tambang tersebar luas di daerah tropis, pencegahan tergantung pada sanitasi lingkungan, kebiasaan berdefikasi, dan memakai alas kaki. Strongyloides stercoralis merupakan cacing Nematoda usus yang hidup parasit pada manusia, namun dalam siklus hidupnya terdapat fase hidup bebas di tanah. Bentuk telurnya sulit dibedakan dengan telur cacing tambang. Manusia dapat terinfeksi melalui 3 cara: yaitu langsung, tak langsung, dan autoinfeksi. Cara pencegahan dan penyebaran cacing ini sama seperti cacing tambang. Obat yang efektif untuk strongyloidiasis adalah thiabendazol. Akibat utama yang ditimbulkan adalah peradangan pada usus, disentri terus-menerus dan rasa sakit pada perut bagian kanan atas. Diagnosis dengan menemukan larva dalam tinja atau dalam sputum penderita. Pada cacing Nematoda usus ada beberapa spesies yang menginfeksi manusia maupun hewan. Nematoda usus terbesar adalah A.lumbricoides yang bersama-sama dengan T.trichiura, serta cacing tambang sering menginfeksi manusia karena telur cacing tersebut semuanya mengalami pemasakan di tanah dan cara penularannya lewat tanah yang terkontaminasi sehingga cacing tersebut termasuk dalam golongan soil-transmitted helminths.

A.lumbricoides, T.trichiura dan E.vermicularis mempunyai stadium infektif yaitu telur yang mengandung larva. Siklus hidup A.lumbricoides lebih rumit karena melewati siklus paruparu, sedangkan T.trichiura dan E.vermicularis tidak. Gejala klinis penyakit cacing ini bila infeksi ringan tidak jelas, biasanya hanya tidak enak pada perut kadang-kadang mual. Infeksi askariasis yang berat dapat menyebabkan kurang gizi dan sering terjadi sumbatan pada usus. Trikhuriasis berat biasanya dapat terjadi anemia, sedangkan pada enterobiasis gejala yang khas adalah gatal-gatal di sekitar anus pada waktu malam hari saat cacing betina keluar dari usus untuk meletakkan telunya di daerah perianal. Diagnosis askariasis dan trikhuriasis

dengan menemukan telur dalam tinja penderita, sedangkan untuk enterobiasis dapat ditegakkan dengan anal swab karena telur E. vermicularis tidak dikeluarkan bersama tinja penderita. Infeksi cacing usus ini tersebar luas di seluruh dunia baik daerah tropis maupun sub tropis. Anak-anak lebih sering terinfeksi dari pada orang dewasa karena kebiasaan main tanah dan kurang/belum dapat menjaga kebersihan sendiri. Semua infeksi cacing usus dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan, pembuangan tinja atau sanitasi yang baik, mengerti cara-cara hidup sehat, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman dan mencuci bersih sayuran/buah yang akan di makan mentah. Obat cacing, seperti piperasin, mebendazole, tiabendazol, dan lain-lain dapat diberikan dengan hasil yang cukup memuaskan. Penyakit filarial cukup populer di negeri ini. Cacing filaria merambat di sekeliling jaringan subkutan dan sekujur pembuluh limfe. Di antara spesies antropofilik yang paling ganas ialah Wuchereria bancrofti, Brugia, malayi, Brugia timori, Onchocerca volvulus, dan Loa loa. Dari nematoda itu, menurut Prof.Dr.Herdiman Pohan, Sp.PD, KPTI dari Guru besar FKUI/RSCM, Brugia dan Wuchereria merupakan spesies terbanyak yang ditemukan di Indonesia, sementara Onchocerca dan Loa loa tidak terdapat. Selain itu, Mansonella ozzardi, Mansonella perstans, serta Mansonella streptocerca, tidak terlalu populer di Indonesia dan penyakit yang ditimbulkan tidak terlalu parah. Satu konsep mutakhir yang menjadi target pengobata ialah terdapatnya endosimbion yang terjadi di dalam tubuh filaria. Para pakar Tropical Medicine menemukan terdapat individu semacam rickettsia yang hidup intraseluler pada setiap stadium Wuchereria, Mansonella, dan Onchocerca yang dinamakan Wolbachia. Konon, individu ini berhubungan endosimbiosis sangat erat dengan filaria sehingga dapat dijadikan target kemoterapi antifilarial. W. bancrofti merupakan spesies yang sangat terkenal di dunia, meski hanya sedikit sekali mahasiswa kedokteran di dunia yang mempelajari secara intensif mata kuliah Parasitologi atau Tropical Medicine. Sekitar 115 juta manusia terinfeksi parasit ini di daerah subtropis dan tropis, meliputi Asia, Pasifik, Afrika, Amerika Selatan, serta Kepulauan Karibia. Spesies dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi) ditemukan di Kepulauan Pasifik dengan vektor Aedes sp., sementara sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan vektor Culex fatigans dan Culex cuenquifasciatus di Indonesia. Vektor Culex juga biasanya ditemukan di daerah-daerah urban, sedangkan vektor Aedes dapat ditemukan di daerah-daerah rural. Brugia malayi lazim ditemui di China, India, Korea, Jepang, Filipina, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Sementara Brugia timori merupakan satwa khas Indonesia yang hanya bisa ditemui di kepulauan Timor. Mirip dengan W.bancrofti, Brugia malayi memiliki juga memiliki dua bentuk periodisitas. Bedanya, biasanya B.malayi dengan periodisitas nokturnal ditemukan di daerah pertanian dengan vektor Anopheles atau Mansonia. Sedangkan spesies dengan periodisitas subperiodik ditemuakn di hutan-hutan dengan vektor Mansonia dan Coquilettidia (jarang).

Ketika cacing masih hidup. limfedema dan perubahan statis-kronis dengan edema pada kulit di atas pembuluh tersebut menjadi tak terhindarkan lagi. namun ketika cacing sudah mati akan terjadi reaksi yang memicu timbulnya granuloma dan fibrosis sekitar limfe. Dilatasi ini mengakibatkan banyaknya cairan plasma yang terisi dari pembuluh darah yang menyebabkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya. Tujuan Tujuan makalah ini disusun adalah antara lain : o Untuk mengetahui klasifikasi Nematoda Usus dan Jaringan o Untuk mengetahui morfologi Nematoda Usus dan Jaringan o Untuk mengetahui siklus hidup Nematoda Usus dan Jaringan o Untuk mengetahui apa saja patologi dan gejala klinis penyakit yang disebabkan oleh Nematoda Usus dan Jaringan o Untuk mengetahui epidemiologi penyakit yang disebabkan oleh Nematoda Usus dan Jaringan . Kemudian akan terjadi obstruksi limfe total karena karakteristik pembuluh limfe bukanlah membentuk kolateral (seperti pembuluh darah). jelaslah bahwa biang keladi edema pada filariasis ialah cacing dewasa yang merusak pembuluh limfe serta mekanisme inflamasi dari tubuh penderita yang mengakibatkan proliferasi jaringan ikat di sekitar pembuluh. Akibatnya. Nah. pembuluh limfe akan tetap paten. Akibat kerusakan pembuluh. infiltrasi inilah yang menyebabkan terjadi proliferasi jaringan ikat dan menyebabkan pembuluh limfe di sekelilingnya menjadi berkelok-kelok serta menyebabkan rusaknya katup-katup di sepanjang pembuluh limfe tersebut. akan terjadi infiltrasi sel-sel plasma. esosinofil. Respon inflamasi ini juga diduga sebagai penyebab granuloma dan proliferatif yang mengakibatkan obstruksi limfe secara total. Cacing dewasa yang tak tahu diri ini melalui saluran limfe aferen atau sinus-sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe pada tempat-tempat yang dilaluinya. B. Jadi. serta makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi. namun akan terjadi malfungsi drainase limfe di daerah tersebut.Prinsip patologis penyakit filariasis bermula dari inflamasi saluran limfe akibat dilalui cacing filaria dewasa (bukan mikrofilaria).

terdapat hampir di seluruh dunia. Stadium dewasa cacing ini hidup di rongga usus muda. pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi. Nematoda Usus (Nematoda Intestinum) 1. sedangkan betina sekitar 22-35 cm.  Morfologi Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm. larva Ascaris akan berkembang menjadi dewasa dan mengadakan kopulasi serta akhirnya bertelur. Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides. . terdiri dari : A. Penyakit yang disebabkannnya disebut Askariasis. yang merupakan penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit.BAB II PEMBAHASAN Terdapat dua jenis nematoda yang terdapat pada jaringan tubuh manusia. Pada cacing betina. Penyakit ini sifatnya kosmopolit. Ascaris lumbricoides  Klasifikasi Ascaris lumbricoides Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Secernemtea : Ascoridida Super family : Ascoridciidea Genus Species  : Ascaris : Ascaris lumbricoides Hospes dan distribusi Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Prevalensi askariasis sekitar 70-80%. Di manusia. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior).

Sedangkan telur yang tak dibuahi. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gtangguan usus ringan seperti mual. Dalam lingkungan yang sesuai. Telur Ascaris lumbricoides berkembang sangat baik pada tanah liat yang memiliki kelembapan tinggi dan pada suhu 25° . Pada kondisi ini. Efek yang serius terjadi bila cacing-cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). atau mulut. Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang baik. telur tumbuh menjadi bentuk infektif (mengandung larva) dalam waktu 2-3 minggu. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia.30° C. bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron.Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Keluar bersama feses Menetas Larva Kerongkongan Menempel pada makanan Aliran Darah Usus Manusia Menembus Usus Tertelan Paru-Paru Telur Ascaris yang berisi embrio diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau ditemukan cacing dewasa pada anus. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. prevalensi askariasis tinggi. apendiks atau ke bronkus dan menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang-kadang perlu tindakan operatif.  Epidemiologi Di Indonesia.000 telur per harinya. nafsu makan berkurang.  Siklus hidup Usus manusia Tersebar Cacing Telur Cacing Termakan Jantung Cacing Dewasa. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan. Pemakaian jamban keluarga dapat memutus rantai siklus hidup Ascaris lumbricoides ini. diare atau konstipasi. terutama pada anak-anak. hidung. Frekuensinya antara 60-90%.  Patologi dan Gejala Klinis Gejala yangh timbul pada penderita dapat disebabkan cacing dewasa dan larva. . telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 3 minggu. biasanya terjadi pada saat berada diparu-paru. Pada keadaan tertentu cacing dewasa mengembara ke saluran empedu.

Enterobius vermicucularis  Klasifikasi Enterobius vermicucularis Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Secernemtea : Oxyurida Super family : Oxyuroidea Genus Species  : Enterobius : Enterobius vermicularis Hospes dan Nama Penyakit Hospesnya manusia. mempunyai dinding yang tembus sinar. Nama penyakitnya adalah oksiuriasis atau entrobiasis.  Siklus Hidup Telur rabditiform tertelan melalui jalan napas menetas di duodenum larva Cacing dewasa di jejunum bagian atas ileum. Di daerah anterior di sekitar leher. Ukuran cacing betina sampai 13 mm. sesudah itu cacing betina mati. sedangkan yang jantan sampai sepanjang 5 mm. sedangan betinanya meruncing. Seekor cacing betina memproduksi telur sebanyak 11000 butir setiap harinyaselama 2 sampai 3 minggu.2. Ynag betina jauh lebih besar dari cacing jantan. kutikulum cacing melebar yang disebut sayap leher. berwarna putih. terdapat 3 buah bibir dan ekor yang melengkung pada jantan. dan berisi larva yang hidup. Esofagus cacing ini juga khas bentuknya oleh karena memiliki bentuk bulbus esofagus ganda. Akibatnya migrasinya ke daerah perianal dan perianeal menimbulkan gatal-gatal yang bila digaruk .  Patologi Cacing dewasa jarang menimbulkan kerusakan jaringan yang berarti.  Morfologi Cacing dewasa berkuran kecil. Telur bentuk asimetrik ini tidak berwarna.

Necator americanus dan Ancylostoma duodenale  Klasifikasi Necator americanus Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida Super family : Rhabditoidea Genus Species  : Necator : Necator americanus Klasifikasi Ancylostoma duodenale Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Secernemtea : Rhabditida Super family : Rhabditoidea Genus Species : Ancylostoma : Ancylostoma duodenale . Kadang-kadang cacingbetina mengadakan migrasi ke daerah vagina dan tuba falopii sehingga menyebabkan radang ringan di daerah tersebut.  Epidemiologi Cacing kremi tersebar luas di seluruh dunia baik di daerah tropik maupun subtropik. Bila tidak ada reinfeksi. akan tetapi jarang menimbulkan apendissitis. cacing betina akan mati. 1991). Meskipuncacing seringkalai dijumpai dalam apendiks. enterobiasis dapat sembuh dengan sendirinya oleh karena 2-3 minggu sesudah bertelur. Di daerah yang bersuhu rendah enterobiasis lebih banyak dijumpai oleh karena di daerah dingin orang jarang mandi dan tidak sering mengganti pakaian dalam (Soedarto. Gatal-gatal ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur penderita.dapat menimbulkan infeksi sekunder. 3.

duodenale ada dua pasang gigi.0050. Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm. Cacing ini tidak mempunyai Hospes perantara.americanus menyebabkan banyak kehilangan darah 0.Tempat hidupnya ada di dalam usus halus terutama jejunum dan duodenum.americanus mempunyai benda kitin. Stadium dewasa Gejala tergantung pada : a). sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron. Di samping itu juga terdapat eosinofilia.34 cc. yang dapat menembus kulit dan dapat hidup dalam 7-8 minggu di tanah.deudenale kira-kira 10. sedangkan pada A. Bukti adanya toksin yang menyebabkan anemia belum ada. cacing jantan 0.  Siklus Hidup Telur darah Larva rabditiform jantung kanan paru Larva filariform bronkus menembus kulit trakea laring kapiler usus halus.  Patologi Gejala nekatoriasis dan ankilostomiasis.000 butir. sedangkan A.duodenale menyerupai huruf C.duodenale 0. sedangkan A. a.americanus biasanya menyerupai huruf S. Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitif kedua cacing ini. adalah manusia. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik.8 cm. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron. Stadium Larva Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit.08-0. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filoariform. Spesies dan jumlah cacing b).1 cc sehari. . Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron. kelurlah larva rabditiform. keadaan gizi menderita (Fe dan protein) Tiap cacing N. Biasanya tidak menyebabkan kematian tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja turun. berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis.Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis. N.americanus tiap hari mengeluarkan telur kira-kira sekitar 9000 butir. Di dalamnya terdapat beberapa sel. b. Biasanya terjadi Adenmia hipokrom mikrosita. Perubahan pada paru biasanya ringan. maka terjadi perubahan kulit yang disebut ground itch. sedangkan A. Bentuk badan N. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1.  Morfologi Cacing betina N.5 hari.

Cacing ini lebih sering ditemukan bersama-sama Ascaris lumbricoides. terutama di daerah sekum dan kolon. dengan memakai alas kaki (sepatu.  Morfologi Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm. Trichuris trichiura (Trichocephalus dispar. sandal). Kebiasaan defeksi dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun penting dalam penyebaran infeksi. humus) dengan suhu optimal untuk N. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir.americanus 28°-32° C. Untuk menghindari infeksi salah satu antara lain. Cacing ini juga kadang-kadang ditemukan di apendiks dan ileum (bagian usus palaing bawah). panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang seluruh . Cacing dewasa hidup di dalam usus besar manusia. sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm. Epidemiologi Insiden tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia terutama di pedesaan khususnya di perkebunan. Penyakit yang disebabkannya disebut Trikuriasis. Bagian distal penyakit yang disebabkan cacing ini disebut Trikuriasis.duodenale 23°-25° C. Bagian anterior langsing seperti cambuk. cacing cambuk)  Klasifikasi Trichuris trichiura Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida Super family : Ttichinelloidea Genus Species  : Trichuris : Trichuris trichiura Hospes dan Nama Penyakit Manusia merupakan hospes cacing ini. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung behubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%. sedangkan untuk A. 4.

terutama sekum.  Patologi dan Gejala Klinis Cacing Trichuris pada manusia terutama hidup di sekum.tubuh. anemia. Telur berukuran 50 – 54 mikron x 32 mikron. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina melatakkan telur kira-kira 30-90 hari. Telur tersebut menjadi matang. hingga terjadi tyrauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. berat badan turun dan kadang-kadang disertai prolapsus rektum. tempat lembab dan tduh dengan suhu optimum kira-kira 30°C. Pada infeksi berat terutama pada anak.  Epidemiologi Yang penting untuk penyebaran. yaitu telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Infeksi berat Trichuris trichiura sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Pada tempat perlekatannya terjadi pendarahan. Kadang-kadang terlihat di mukrosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi. dalam waktu 3 samapai 6 minggu dalam lingkungan yang lembab dan tempat yang teduh. pada cacing betina bentuknys membulat tumpul dan pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. menunjukan gajala-gejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom disentri. cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rrektum. akan tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Telur tumbuh di tanah liat. parasit ini ditemukan pada tinja secara rutin. Penderita terutama anak dengan infeksi Trichuris yang berat dan menahun. . Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Cara infektif secara langsung bila kebetulan hospes menelan telur matang. penyakit adalah kontaminasi tanah dengan tinja. Bagian posterior bentuknya lebih gemuk. menunjukan gajala-gejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom disehuris yang berat dan menahun. Cacing ini memasukan kepalanya ke dalam mukosa usus. Sesudah dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon. sehingga dapat menyebabkan anemia. Di samping ini ternyata cacing ini menghisap darah hospesnya. Kulit telur bagian luar berwarna kuning-kekuningan dan bagian dalamnya jernih. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus.  Siklus Hidup Cacing dewasa hidup di usus besar manusia di tanah telur menjadi infektif telur keluar bersama tinja penderita infeksi terjadi melalui mulut dengan masuknya telur infektif bersama makanan yang tercemar atau tangan yang kotor. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Telur berisi sel telur (dalam tinja segar). Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis jelas atau sma sekali tanpa gejala.

halus. 5. Strongyloides stercoralis  Klasifikasi Strongyloides stercoralis Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida Super family : Rhabiditoidea Genus Species  : Strongyloides : Strongyloides stercoralis Hospes dan Nama Penyakit Manusia merupakan hospes utama cacing ini. tidak berwarna dan panjangnya kira-kira 2mm. Cara berkembang biaknya adalah secara parthenogenesis. .Di berbagai negeri pemakaian tinja sebagai pupuk kebun merupakan sumber infeksi.  Morfologi Cacing dewasa betina hidup sebagai parasit di vilus duodenum dan yeyunum. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar antara 30 – 90 %. Telur bentuk parasitic diletakkan di mukosa usus. Cacing betina berbentuk filiform. kemudian menetas menjadi larva rabditiform yang masuk ke rongga usus serta dikeluarkan bersama tinja. Frkuensi di Indonesia tinggi. Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah pengobatan penderita trikuriasis. Cacing ini tidak mempunyai hospes perantara. pembuatan jamban yang baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan.Cacing ini dapat mengakibatkan penyakit strongilodiasis. Mencuci tangan sebelum makan. mencicu dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negeri-negeri yang memakai tinja sebagai pupuk. walaupun ada yang ditemukan pada hewan. terutama anak.

Dari paru.Infeksi ringan pada umumnya tidak menimbulkan gejala. Autoinfeksi Telur menetas menjadi larva rabditiform di dalam mukosa usus usus larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform menembus mukosa usus. tumbuh menjadi cacing dewasa. larva rabditiform. sekarang jarang ditemukan. di daerah epigastrium tengah dan tidak menjalar. c. di dalam larva filariform  Patologi dan gejala Klinis Bila larva filaform ini menembus kulit. .04 mm. larva rabditiform di tanah berubah menjadi cacing jantan dan betina.Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva yaitu.Bila larva ini menembus kulit manusia. Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada mukosa usus muda. misalnya di negerinegeri tropik beriklim rendah. Siklus Tidak Langsung Pada siklus ini. Larva ini masuk ke dalam hospes baru. Mungkin ada mual dan muntah. b. dan yang jantan berukuran 0. timbul kelainan kulit yang dinamakan creeping eruption yang disertai denagn rasa gatal yang hebat.Cacing betina berukuran 1mm x 0. Sedangkan pada infeksi sedang. sekitar 10-15%.masuk ke dalam peredaran darah veha kemudian melalui jantung sampai ke paru-paru.diare dan konstipasi yang saling bergantian. dapat ditemukan di seluruh traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan di bebagai alat dalam.06mm. kelembapan tinggi dan sanitasi yang kurang. parasit yang mulai dewasa.Pencegahan yang disebabkan cacing ini. berubah menjadi larva filaform dengan bentuk langsing.Pada cacing dewasa yang hidup sebagai parasit. Siklus Langsung Sesudah 2 – 3 hari di tanah. berpasir dan humus.  Epidemiologi Daerah yang panas. tergantung pada sanitasi pembuangan tinja dan melindungi kulit dari tanah yang terkontanimasi. sehingga parasit tertelan. tanah gembur.tarjadi refleks batuk. masuk ke trakea dan laring. Siklus Hidup : Parasit ini mempunyai tiga siklus hidup: a. larva tumbuh. dapat menyebabkan rasa sakit. kemudian sampai di usus halus dan menjadi dewasa. sanagt menguntungkan cacing Strongyloides.menembus alveolus. Cacing betina mengalami pembuahan dan menghasilkan larva rabditiform yang kemudian menjadi larva filaform. misalnya dengan memakai alas kaki. Siklus tidak langsung ini terjadi apabila lingkungan sekitarnya optimum yaitu sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan untuk kehidupan bebas parasit ini.75 mm x 0.Sesudah sampai di laring.Frekuensi di Jakarta pada tahun 1956.

mulut kecil. dan bulat tanpa papel. anjing. dan trikiniasis. seperti tikus.6 mm.  Morfologi Cacing dewasa sangat halus menyerupai rambut. sampai sekum manusia.4-1. ujung anterior langsing. Selain menginfeksi manusia. Trichinella spiralis (Trichina worm. beruang.6. babi. cacing ini juga menginfeksi mamalia lain. Dan tidak terdapat vas deferens yang bisa dikeluarkan sehingga da[at membantu kopulasi. . tidak mempunyai spikulum tepi. Cacing betina panjangnya 3-4 mm. cacing trichina)  Klasifikasi Trichinella spiralis Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida Super family : Ttichinelloidea Genus Species  : Trichinella : Trichinella spiralis Hospes dan Nama Penyakit Cacing ini hidup dalam mukosa duodenum. posteriornya membulat dan tumpul. Penyakit yang disebabkan parasit ini disebut trikinosis. dll. trikinelosis. ujung posteriornya melengkung ke ventral dan mempunyai umbai berbentuk lobus. Cacing jantan panjangnya 1. kucing.

 Epideologi Cacing ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit).spiralis tersebar di alat-alat tersebut. Bila masa akut telah lalu. Pada saat ini timbul gejal nyeri otot (mialgia) dan randang otot (miositis) yang disertai demem. Infeksi pada manusia tergantung pada hilang atau tidak hilangnya penyakit ini dari babi.000 ekor larva/kg berat badan) penderita mungkin meninggal dalam waktu 2-3 minggu. Pada saat cacing dewasa mengadakan invasi ke mukosa usus.  Patologi dan Gejala Klinis Gejala Trikinosis tergantung pada beratnya infeksi disebabkan oleh cacing stadium dewasa dan stadium larva. dapat menyebabkan sembab sekitar mata. atau kelainan jantung. sakit persendian. timbul gejal usus sepertiskit perut diare. mual dan muntah. Frekuensi trikinosis pada manusia ditentukan oleh temuan larva dalam kista di mayat atau melalui tes intrakutan. kecuali di kepulauan Pasifik dan Australia. Larva dapat dimatikan pada suhu 60-70 derajat celcius. Pada infeksi berat (kira-kira 5.  Siklus Hidup Siklus hidup alami yang terjadi antara babi dan tikus infektif babi mengandung kista yang manusia terinfeksi oleh karena makan daging babi atau mamalia lain yang cacing dewasa hidup di dalam dinding usus larva membentuk mengandung kista kista di dalam otot bergaris. bagian anterior runcing dan ujungnya menyerupai tombak. biasanya penderita sembuh secara perlahan-lahan bersamaan dengan dibentuknya kista dalam otot. Seekor cacing betina mengeluarkan larva sampai 1500 buah. larva tidak mati pada daging yang diasap dan diasin. gejala pernafasan dan kelemahan umum. Di daerah tropis dan subtropis frekuensi trikinosis sedikit. tetapi mengeluarkan larva (larvipar). Gejala yang disebakan oleh stadium larva tergantung juga pada alat yang dihinggapi misalnya. Larva tersebar di otot kira-kira 7-28 hari sesudah infeksi. tetapi biasanya kematian terjadi dalam waktu 4-8 minggu sebagai akibat kelainan paru. Dapat juga menyebabkan gejala akibat kelainan jantung dan susunan saraf pusat bila larva T. . Frekuensi ini banyak ditemukan di negara yang penduduknya gemar makan daging babi. Masa tunas gejala usus ini kira-kira 1-2 hari sesudah infeksi. eusinofilia dan hipereosinofilia. kelainan otak.Cacing betina tidak mengeluarkan telur. Panjang larva yang baru dikeluarkan kurang lebih 80-120 mikron.

 Morfologi Toxocara canis jantan mempunyai ukuran panjang bervariasi antara 3. Belum pernah ditemukan infeksi campuran pada satu macam hospes.6 – 8.7 – 10 cm. . yang jantan ekornya lurus dan meruncing (digitiform). Pada Toxocara canis terdapat sayap servikal yang berbentuk seperti lanset. yang betina bulat meruncing. Toxocara canis (dog worm) dan Toxocara cati (cat worm)  Klasifikasi Toxocara canis dan Toxocara cati Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Secernemtea : Ascoridida Super family : Ascoridciidea Genus Species  : Toxocara : Toxocara canis /cati Hospes dan Nama Penyakit Toxocara canis ditemukan pada anjing. Toxocara cati jantan antara 2. Sedangkan yang betina antara 5.8 cm. sehingga kepalanya menyerupai kepala ular kobra. Kadangkadang cacing ini dapat hidup pada manusia sebagai parasit yang mengembara dan menyebabkan penyakit yang disebut Visceral larva migrans. sedangkan Toxocara cati ditemukan pada kucing.5 – 7. Bentuk kedua ekor spesies hamper sama.5 – 14 cm.7. yang betina antara 2.5 cm. bentuknya menyerupai Ascaris lumbricoides muda. sedangkan pada Toxocara cati bentuk sayap lebih lebar.  Siklus Hidup Telur ditelan manusia menetas larva mengembara.

Pada manusia. Caninum menimbulkan kelainan kulit.3 % dan 26. Penyakit tersebut dapat juga disebabkan oleh larva Nematoda lain.4 mm.3 mm. demam dan hepatomegali. Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum  Klasifikasi Strongyloides stercoralis Phylum Class Subclass Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida Super family : Rhabiditoidea Genus Species  : Strongyloides : Strongyloides stercoralis Hospes dan Nama Penyakit Cacing ini hidup di dalam usus halus kucing dan anjing. A. Pencegahan dapat dihindarkan dengan cara melarang anak untuk tidak bermain dengan anjing maupun kucing dan tidak dibiasakan bermain di tanah.7-6. Patologi dan Gejala Klinis Pada manusia larva cacing tidak menjadi dewasa dan mengembara di alat-alat dalam ususnya di hati. Mulutnya . 8. A.  Epidemiologi Prevalensi Toxokariasis pada anjing dan kucing pernah dilaporkan di Jakarta masing-masing mencapai 38.1-8. sedangkan yang betina panjangnya 6.0 %.penyakit yang disebabkan larva yang mengembara disebut visceral larva migrans dengan gejala eosinofilia. braziliense dewasa yang jantan panjangnya 4.braziliense dan A.  Morfologi dan Siklus Hidup Cacing dewasa tidak ditemukan pada manusia.

bersamaan dengan penyakit yang disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia timori W. sedikit menimbul. . Dalam beberapa hari terbentuk terowongan intrakutan sempit yang tampak sebagai garis merah. Wuchereria Bancrofi  Hospes dan Nama penyakit W.braziliense dan A. Sepanjang garis yang berkelok-kelok terdapat vesikel-vesikel kecil dan dapat terjadi infeksi sekunder karena kulit di garuk. Nematoda Jaringan Tubuh 1. Pada tempat larva filariform menembus kulit terjadi papel keras. Secara tidak langsung dapat terinfeksi larva filariform melalui penetrasi kulit dan selanjutnya larva mengembara di kulit. merah dan gatal.mempunyai sepasang gigi besar dan sepasans gigi kecil. gatal sekali dan bertambah panjang menurut gerakan larva didalam kulit. Penyakit ini tergolong dalam filariasislimfatik. Mulutnya mempunyai 3 pasang gigi besar. A. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik besar dengan rays panjang dan langsing.  Patologi dan Gejala Klinis Pada manusia. B. Creeping eruption adalah suatu dermatitis dengan gambaran khas berupa kelaianan intrakutan serpiginosa. creeping disease atau cutaneous larva migrans.Caninum. larva tidak menjadi dewasa dan menyebabkan kelainan kulit yang disebut creeping eruption.bancrofti merupakan parasit manusia dan menyebabkan filariasis bankrofti atau wukereriaisis bankrofti.  Epidemiologi Kucing dan anjing merupakan hospes definitif A. caninum jantan panjangnya 10 mm dan betinanya 14 mm.bancrofti tidak terdapat secara alami pada hewan. Penularan bisa dicegah dengan menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja anjing dan kucing. yang antara lain disebabkan Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik kecil dengan rays pendek.

Pria berkisar dari 20mm ke 34mm panjang dan 350μm untuk 430μm luas. Mikrofilaria ini hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu saja. vektor lalat. Perjalanan penyakit filariasis limfatik dapat dibagi dalam beberapa stadium. Pasifik. disusul dengan obstruktif menahun 10 sampai 15 tahun kemudian. Tiga spesies yang terlibat dalam siklus hidup termasuk Loa loa parasit. tahap larva kemudian ketiga. dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Yang betina berukuran 65 – 100 m X 0.25 mm dan yang jantan 40 mm x 0.1 mm.  Patologi dan gejala klinis Gejala klinis filariasis limfatik dapat dibagi dalam dua kelompok. Miklofilaria yang biasanya tidak menimbulkan kelainan. Distribusi Geografik Parasit ini di daerah subtropis dan tropis. dan ekor. o mikrofilaria pindah ke otot-otot toraks dari tuan rumah terbang. badan. meliputi Asia. Wanita berkisar dari 20mm ke 70mm panjang dan lebar tentang 425μm. .  Daur hidup dan morfologi Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe. bentuknya halus seperti benang dan berwaena putih susu. dan host manusia: o Sebuah terbang vektor menggigit inang manusia terinfeksi dan microfilariase ingests. Amerika Selatan. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dengan ukuran 250 – 300 mikron x 7 – 8 mikron. Afrika. serta Kepulauan Karibia dan telah tersebar diseluruh Indonesia. Loa-Loa  Morfologi dan Daur Hidup Cacing Loa loa memiliki tubuh yang sederhana termasuk kepala. o Mikrofilaria berkembang menjadi larva tahap pertama. Yang disebabkan cacing dewasa menimbulkan limfadenitis dan limfangitis retrograd dalam stadium akut. 9.

Operasi pengangkatan worm dengan mudah dapat dilakukan .  Diagnosis dan pengobatan Metode utama dari diagnosis termasuk adanya mikrofilaria di dalam darah. o Sebuah terbang vektor terinfeksi menggigit inang manusia terinfeksi dan larva tahap ketiga menembus kulit dan memasuki jaringan subkutan manusia. dada.  Patologi dan gejala klinis Loa loa parasit menginfeksi host manusia dengan perjalanan melalui jaringan subkutan seperti punggung. menyebabkan pembengkakan mata. Ini sering terjadi pada sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki tetapi menghilang begitu parasit mulai bergerak lagi. o Larva tumbuh menjadi orang dewasa. Parasit ini menyebabkan radang di kulit mana pun mereka bepergian. nyeri sendi. dan mata. urin. dan adanya pembengkakan kulit. Gejala umum termasuk gatal. tuan rumah manusia akan mengalami peradangan lokal yang dikenal sebagai Calabar bengkak. . dan paru-paru. Parasit juga dapat melakukan perjalanan melalui dan menginfeksi mata. darah perifer. pangkal paha. dan kelelahan. kulit kepala. keberadaan cacing di mata.o Ketiga tahap larva (infeksi) perjalanan ke belalai terbang. Pengobatan umum untuk penyakit ini adalah penggunaan salah satu dari dua obat: diethylcarbamazine (DEC) atau Ivermectin. yang memproduksi mikrofilaria yang telah ditemukan dalam cairan tulang belakang. Jika parasit berhenti di satu tempat untuk waktu singkat.

sedangkan vektor Aedes dapat ditemukan di daerah-daerah rural. Korea. meski hanya sedikit sekali mahasiswa kedokteran di dunia yang mempelajari secara intensif mata kuliah Parasitologi atau Tropical Medicine. S. Afrika.. sementara sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan vektor Culex fatigans dan Culex cuenquifasciatus di Indonesia.  Larva cacing dapat menimbulkan : reaksi alergik.BAB 3 PENUTUP Manusia merupakan hospes dari beberapa Nematoda usus. vermicularis  Larva infektif masuk mulut bersama daging yang dimakan : T.stercoralis  Telur infektif masuk melalui mulut.malayi dengan periodisitas nokturnal ditemukan di daerah pertanian dengan vektor Anopheles atau Mansonia. meliputi Asia. S. Spesies dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi) ditemukan di Kepulauan Pasifik dengan vektor Aedes sp. pencemaran lingkungan oleh tinja manusia dan kapadatan penduduk yang tinggi. Kelainan patologik yang ditimbulkan oleh infeksi cacing parasit usus yaitu:  Cacing dewasa dapat menimbulkan : gangguan pecernaan. Necator americanus. obstruksi usus. cacing tambang.trichiura Anal swab : E. perdarahan dan anemia. Faktor tingginya infeksi cacing usus di Indonesia disebabkan oleh iklim tropik yang panas dan lembap. Brugia malayi lazim ditemui di China. Trichuris trichiura. Filipina. Pasifik. sanitasi lingkungan dan perseorangan buruk. Malaysia. Sebagian besar daripada Nematoda ini merupakan masalah masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. serta Kepulauan Karibia.bancrofti. Mirip dengan W.spiralis W. Sementara Brugia timori merupakan satwa khas Indonesia yang hanya bisa ditemui di kepulauan Timor. India. Penularan cacing Nematoda parasitusus dapat melalui tanah yang disebut Soil transmitted helminth (Ascaris lumbricoides. iritasi usus dan perforasi usus.vermicularis Biopsi otot : T. Ancylostoma duodenale dan Strongyloides stercoralis) dan yang yang tidak ditularkan melalui tanah (Enterobius vermicularis dan Trichinella spiralis) (Retno Widyastuti. Bedanya. Brugia malayi memiliki juga memiliki dua bentuk periodisitas. Sekitar 115 juta manusia terinfeksi parasit ini di daerah subtropis dan tropis.spiralis. biasanya B. Amerika Selatan. kelainan jaringan. sarana jamban keluarga kurang. 2002). alergi. Jepang. Trichuris trichiura  Larva infektif menembus kulit sehat : Cacing tambang.lumbricoides. Sedangkan spesies dengan . bancrofti merupakan spesies yang sangat terkenal di dunia. Penularan cacing Nematoda parasit usus yaitu:  Telur infektif masuk melalui mulut : Ascaris lumbricoides. Diagnosis pasti infeksi nematode parasit usus dilakukan melalui:     Pemeriksaan tinja : A. dan tentu saja Indonesia. pendidikan rendah.stercoralis dan T.trichiura. Vektor Culex juga biasanya ditemukan di daerah-daerah urban. Pemeriksaan mukosa rektum : T. melalui udara atau secara langsung melalui tangan penderita : E.

periodisitas subperiodik ditemuakn di hutan-hutan dengan vektor Mansonia dan Coquilettidia (jarang). . Cacing dewasa yang tak tahu diri ini melalui saluran limfe aferen atau sinus-sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe pada tempat-tempat yang dilaluinya. Prinsip patologis penyakit filariasis bermula dari inflamasi saluran limfe akibat dilalui cacing filaria dewasa (bukan mikrofilaria). Dilatasi ini mengakibatkan banyaknya cairan plasma yang terisi dari pembuluh darah yang menyebabkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful