P. 1
Buletin Atra Dista Edisi Perdana

Buletin Atra Dista Edisi Perdana

|Views: 27|Likes:
Published by atradista

More info:

Published by: atradista on Sep 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

ahli penyetelan pipa.

Beberapa lama setelah itu, Hadi kemudian hijrah ke Kalimantan Timur, Banjarmasin, disana ia bekerja sebagai seorang pefiter. Lama merantau, akhirnya Hadi kembali lagi ke tanah kelahirannya Pulau Jawa.

Kini di usianya yang hampir pensiun, Hadi berharap dapat menjalankan tugasnya sebagai penjaga keamanan di SMA ITP dengan baik, dan juga menjadi kepala rumah tangga, untuk tetap mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. (W: Fitria)

Edisi Perdana 17 Agustus 2011

POTRET

E-Mail: persintaps@yahoo.co.id MERDEKA !MERDEKA! MERDEKA! 66 Tahun Indonesia merdeka, bangsa dan negara kita yang tercinta tetap jaya selamanya. Meski rintangan dan hambatan tidak kunjung reda, tetap teguh berdiri sang dwi warna di tanah merdeka dan berdaulat ini. Penghormatan yang setinggi-tingginya bagi para leluhur kita yang telah mengangkat senjata di medan laga. Bukan pekerjaan mudah menyatukan berbagai golongan, kepentingan, sejarah, kebudayaan, dan bangsa dalam sebuah perjuangan yang sama. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Semoga kita dengan sebaikbaiknya mampu menegakkan martabat bangsa sebagai sesunggu-sunggunya bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Dengan cara apa saja kita sebagai remaja bisa lakukan. HUT Republik Indonesia kali ini bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan. Maka ini merupakan mo-

Blog: persintaps.blogdetik.com mentum bagi kita untuk memperbaiki diri dan mewujudkan mimpi serta citacita para pahlawan bangsa ini. Akhirnya setelah sempat berhenti beberapa lama, dalam menerbitkan buletin sekolah. Kini tim Pers Intaps kembali menerbitkan buletin sekolah, dengan konsep dan isi yang berbeda. Dengan nama “Atra Dista”, tim Pers Intaps berharap buletin kali ini mampu menjadi tolak ukur dalam pengembangan dunia jurnalistik dan membuka pola pikir baru dikalangan siswa SMA untuk lebih kritis dalam bersikap dan mengeluarkan aspirasinya. Tim Pers Intaps, meminta maaf apabila dalam buletin “Atra Dista” edisi perdana kali ini belum mampu memberikan hasil yang terbaik, hal itu dikarenakan, banyak hal yang sedang dihadapi tim Pers Intaps dalam penyusunan buletin ini. Maka dari itu kami berharap kritik dan saran dari para pembaca untuk pengembangan dan kemajuan buletin untuk edisi selanjutnya.

Materi Pondok Ramadhan oleh H. Fachrur Rozi

(F: Ishack)

Antusias, siswa kelas X mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan

(F: Ishack)

(F: Eko)

Hafalan surat-surat pendek dari AlQur’an, salah satu syarat agar bisa lulus dalam Pondok Ramadhan

Praktek Sholat Jenazah

(F: Eko)

Tim Redaksi : Pembina : Marga Bagus S.; Ketua Redaksi : Nurul H.; Editor : Aldino K., Andy Eko N; Sekretaris : Rani P.; Tim Peliput : Tim Jurnalistik; Fotografer : Ishack D.K.; Distributor : Deden F.; Alamat redaksi : Jl. Dukuh Menanggal XII/4 Surabaya 60234, Telp. 083857429499, E-mail : intapspers@yahoo.co.id

intapspers@yahoo.co.id

Follow : @Pers_intaps

Pers Intaps

Pers Intap’s

FOKUS

Ekslusif Wawancara dengan Kepala Sekolah
Sesuai Permendiknas No 39 tahun 2008 pasal 3, sebagai pengacuan pembentukan Sekbid OSIS yang didalamnya terdapat poin-poin, seperti poin Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa hingga poin Komunikasi dalam Bahasa Inggris, apakah kebijakan-kebijakan diatas telah terealisasikan oleh SMA ITP Surabaya dengan benar? “Sekbid OSIS SMA ITP berjumlah 6 dan itu hanyalah sementara, sewaktu-waktu bisa dirombak tergantung siswanya.” tutur kepala sekolah yang juga guru matematika ini. Sedangkan dalam Pasal 6, sebagai acuan pendanaan pembinaan kesiswaan disekolah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah. Apakah Pendanaan Pembinaan Kesiswaan di SMA ITP Surabaya telah terealisasikan dengan benar? “Pendanaan Pembinaan Siswa untuk kegiatan ekstrakulikuler harus membuat proposal pengajuan dana kepada sekolah agar diberi anggaran dana yang diinginkan dan tidak ada pemungutan liar dari Sekolah melalui Siswa.” tuturnya. (W: Brasta/Saifudin)

Menurut Permendiknas No 39 tahun 2008 yang memuat tentang poinpoin pembinaan yang dibagi dalam 4 jalur pembinaan kesiswaan yaitu organisasi kesiswaan yang berupa OSIS, Latihan Kepemimpinan, Kegiatan Ekstrakulikuler, Kegiatan Wawasan Wiyata Mandala. Apakah poin-poin diatas sudah dilaksanakan dengan prosedur yang benar? Maka untuk itu Tim peliput Jurnalis SMA ITP pun mengadakan wawancara dengan Drs.Hari Pribawanto,M.Pd. selaku kepala sekolah SMA ITP Surabaya untuk mengklarifikasikan soal Permendiknas No 39 tahun 2008. Menurut Drs. Hari Pribawanto,M.Pd. “Ke-4 jalur pembinaan kesiswaan telah dilaksanakan dengan optimal dan sudah mencakup semua elemenelemen pembinaan kesiswaan, seperti kegiatan OSIS yang sudah terlaksana dan wawasan Wiyata Mandala yang sudah terlaksana pada waktu MOS.” Dia pun menuturkan “Sekolah SMA ITP Surabaya telah berstandar nasional dan kualitasnya sudah setara dengan SMA Negeri, maka SMA ITP telah merencanakan untuk merealisasikan sarana dan prasarana yang ada saat ini.”
(F: Ishack)

Mereka yang tidak mampu akan mendapatkan bantuan dan perhatian serius dari Dispendik. Jumlah dana Bopda untuk SMK sebesar Rp152.000 per siswa per bulan. SMA senilai Rp 150.000 per siswa, SMA RSBI Rp 240.000 per siswa, dan SMK RSBI Rp 270.000 tiap bulan per siswa. Rincian anggaran Bopda tahun 2011 ini, SMA Negeri sebesar Rp26,1 miliar, SMA Swasta Rp26,4 miliar, SMP Negeri Rp 35,2 miliar, SMP swasta sebesar Rp61,9 miliar, SD Negeri sebesar Rp 85,3 miliar dan SD swasta sebesar Rp31,9 miliar. Sementara itu, SMK Negeri sebesar Rp13,0 miliar dan SMK Swasta sebesar Rp 75,1 miliar. Namun sayangnya beberapa sekolah justru menyelewengkan dana BOPDA. Diantaranya SMK 1 Ketintang Surabaya, Kepala Sekolah diduga kuat tersandung kasus korupsi terkait penyelewengan dana anggaran Bopda Rp. 1,4 miliar. Hal ini diperkuat dengan penemuan Kejaksaan Negeri Surabaya, yang menemukan kejanggalan laporan pertanggung jawaban penggunaan dana Bopda dan 10 CV fiktif, sebagai pelaksana proyek renovasi gedung SMK I Ketintang dalam proposal pengajuan Bopda ke Pemkot Surabaya. Berikutnya Kasus SMA Kartika IV yang akan disidangkan, setelah pihak kejaksaan melimpahkan perkara dugaan Korupsi yang merugikan negara sekitar Rp 300 juta tersebut ke Pengadilan Tipikor Surabaya. Meski terlambat, Dispendik kota Surabaya merancang sistem database untuk mengawasi penggunaan dana Bopda di masing- masing sekolah penerima. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyimpangan penggunaan dana BOPDA. Kepala Dispendik Kota Surabaya Sahudi mengatakan, tiap sekolah nanti harus memasukkan semua pengeluaran dana Bopda di database sekolah. Database ini akan secara otomatis terkoneksi lewat jaringan internet dan masuk di database milik Dispendik. Jika ternyata ada kesalahan dalam laporan, maka database itu akan secara otomatis memberi tanda bahwa laporan kurang lengkap. Bukan hanya itu saja, peran Komite sekolah serta orang tua wali murid juga dibutuhkan untuk mengawasi, agar tidak terjadi penyelewengan ataupun salah dalam menggunakan dana BOPDA. (W: Arum/Dino)

SOSOK

Dedikasi Sang Penjaga Keamanan
telah ditinggal sang istri tercinta, dikarenakan sakit yang kunjung tidak sembuh. Kini sebagai orang tua tunggal, Hadi tetap semangat dalam menjalani aktifitas sehari-harinya, sebagai bapak kepala rumah tangga, dan juga sebagai pegawai di tempat kerjanya. Asam garam telah ia rasakan, setelah lulus dari SMA Antartika Sidoarjo, Hadi mencoba untuk merantau ke Pulau Sumatra, disana ia bekerja sebagai tukang stel. Tak lama setelah itu ia pindah ke Aceh, disana ia bekerja sebagai pefiter,

HOT ISUE

Polemik BOPDA

Pemberian biaya operasional pendidikan daerah (Bopda) untuk sekolah menengah atas (SMA) diharapkan mampu menekan sumbangan dana pendidikan yang dibebankan sekolah pada setiap siswa. Dinas pendidikan (Dispendik) kota Surabaya menyatakan, dengan diberikannya dana Bopda untuk SMA, diharapkan tidak ada lagi siswa yang tidak menempuh pendidikan menengah. Langkah ini sebagai wujud pencanangan gerakan wajib belajar (Wajar) 12 tahun. Di sisi lain, Dispendik memberikan kuota sebanyak lima persen bagi siswa yang tidak mampu di masing-masing sekolah.

Lima tahun sudah Pak Hadi panggilan akrab Suhadi Pramono ini, telah mengabdi sebagai Penjaga Keamanan (Security) di SMA ITP Surabaya. Pria kelahiran Surabaya 52 tahun silam ini, mempunyai dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Keduanya kini telah memilih dunianya masing-masing sesuai keinginannya. Beberapa bulan yang lalu Hadi
(F: Ishack)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->