masalah Kesehatan dan Kebijakan Kesehatan di Indonesia pada Agregat ibu

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak antara lain: anemia pada ibu hamil, kekurangan kalori dan protein pada bayi dan anak-anak, terutama di daerah endemic, kekurangan vitamin A pada anak, anemia pada kelompok mahasiswa, anak-anak usia sekolah, serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan cakupan imunisasi. Permasalahan tersebut harus ditangani secara sungguh-sungguh karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas bahan baku sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang. Salah satu ukuran untuk menggambarkan pencapaian hasil pembangunan suatu negara termasuk pembangunan bidang kesehatan digunakan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Beberapa indikator IPM adalah kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Salah satu indikator kesehatan adalah umur harapan hidup sebagai ukuran pencapaian derajat kesehatan masyarakat. IPM negara Indonesia berada di peringkat 108 dari 177 negara di dunia, lebih rendah dari negaranegara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa penduduk yag berusia muda (0-14 tahun) sebesar 29,30%, usia produktif (15-64 tahun) sebesar 65,05 % dan usia lanjut (> 65 tahun) sebesar 5,65%. Dengan beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2007 sebesar 53,73 %. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2006 sebesar 49,90%. Angka kematian Ibu/maternal bersama dengan Angka kematian Bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan sektor pembangunan kesehatan . AKI (Angka Kematian Ibu) mengacu kepada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan nifas. Hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI tahun 2007

Secara konkrit.2 Rumusan Masalah 1. belum ada semacam Watch Group untuk penganggaran dan penyaluran dana pemerintah untuk KIA. Kebijakan – kebijakan kesehatan apa saja yg dilakukan untuk agregat ibu di indonesia? 4. Dalam proses penganggaran dan penyaluran anggaran untuk KIA saat ini. diperlukan perbaikan sistem penganggaran dan penyaluran anggaran pemerintah. Untuk mengatasi hambatan dan sumbatan yang ada dalam upaya pencapaian MDG 4 dan 5 baik dari segi teknis program maupun pembiayaan. Akibatnya dana pemerintah pusat tidak mampu secara efektif menjangkau yang membutuhkan.000 kelahiran hidup. Banyak hambatan baik dari segi teknis program maupun dari faktor pembiayaan kesehatan yang mempengaruhi upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan. namun di dalam pelaksanaannya banyak menghadapi kendala. Hasilnya adalah ada berbagai hambatan dan sumbatan dalam peraturan. Faktor. masih belum banyak peranan LSM dan universitas. Saat ini telah dilakukan analisis mengenai hambatan dan sumbatan (bottleneck) pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat dan daerah.sebesar 228 per 100. Upaya pencapaian MDG 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak dan MDG 5 untuk meningkatkan kesehatan ibu di Indonesia sampai saat ini masih berat. Aktor-aktor pelaku lebih banyak pada Kementrian (Kesehatan dan Keuangan). DPR.faktor apa saja yang mempengaruhi masalah kesehatan? . Sistem desentralisasi kesehatan yang telah diterapkan selama bertahun-tahun memberi kesempatan daerah untuk lebih berperan dalam merencanakan dan melaksanakan program kesehatan khususnya untuk kesehatan ibu dan anak.000 kelahiran hidup. Apakah yang dimaksud dengan kebijakan kesehatan? 2. sistem penyaluran. Telah dilakukan pula berbagai diskusi dan pengamatan tentang pendanaan kesehatan ibu dari pemerintah pusat selama beberapa tahun terkahir. Angka ini dibandingkan AKI tahun 2002 sebesar 307 per 100. dan aspek politik. Masalah apa saja yang terjadi pada agregat ibu di indonesia? 3. dan Bappenas. 1.

Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berperilaku. Definisi Kebijakan Kebijakan merupakan aturan tertulis yang dimana merupakan keputusan formal organisasi. Mengetahui kebijakan-kebijakan kesehatan pada agregat ibu di indonesia 4. 2.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk : 1. kebijakan di bidang lingkungan. Mengetahui kebijakan kesehatan BAB II PEMBAHASAN 2. dan kebijakan di bidang kesehatan. Kebijakan harus memberi peluang diintepretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. kebijakan di bidang ekonomi. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation). Mengetahui masalah kesehatan pada agregat ibu di indonesia 3. Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan 5. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. dan apa yang tidak boleh”.1. Upaya kebijakan kesehatan reproduksi apa saja yg ada di indonesia? 1. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. kebijakan lebih bersifat adaptif dan intepratatif.5. Mengetahui pengertian kebijakan kesehatan. Sedangkan Kebijakan publik adalah Sekumpulan rencana kegiatan yang dimaksudkan untuk memberi efek . Kebijakan merupakan Praktik pemerintahan yang ditujukan dan diarahkan untuk kepentingan seluruh interaksi sosial seperti kebijakan pertahanan nasional. yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk menciptakan tatanilai baru dalam masyarakat. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik. yang bersifat mengikat.

Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Menghadapi masalah ini maka pada bulan Mei 1988 dicanangkan program Safe Motherhood yang mempunyai prioritas pada peningkatan pelayanan kesehatan wanita terutama pada masa kehamilan. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Analisis kebijakan adalah suatu aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan. (3) Keppres. (2) Peraturan Pemerintah. Contoh kebijakan adalah: (1) Undang-Undang. masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa. persalinan dan pasca persalinan. (6) Keputusan Bupati. dan (7) Keputusan Direktur. Setiap kebijakan yang dicontohkan di sini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh obyek kebijakan. disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. secara kritis menilai.perbaikan terhadap kondisi-kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dimana hasil-hasil keputusan yang diambil oleh pelaku-pelaku tertentu untuk tujuan-tujuan publik atau produk akhir setiap pemerintahan dalam arti merupakan suatu kesepakatan terakhir antara eksekutif dengan legislatif (wakil rakyat) dimana hasil keputusan-keputusan eksekutif sebagai respons terhadap lingkungannya dan dipercayai akan bermanfaat pada perbaikan kondisi sosio-eknomis masyarakat serta disepakati atau disetujui oleh legislative. menerapkan. meso. yang secara bersamasama membentuk siklus aktivitas yang komplek dan tidak linear. . dan mengkomunikasikan substansi kebijakan. Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketikapersalinan.2 Masalah – masalah Kesehatan Pada Agregat Ibu Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan kesehatan ibu di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang berhubungan dengan persalinan. Proses analisis kebijakan terdiri atas tiga tahap utama yang saling terkait. (4) Kepmen. Fakta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. 2. (5) Perda. dan mikro. Contoh di atas juga memberi pengetahuan pada kita semua bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro. alamiah dan kodrati.

permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. 1993). ikan laut. Pada penelitian yang dilakukan yang dilakukan di RS Hasan Sadikin. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Di Jawa Tengah. Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan. Bandung.pantangan terhadap beberapa makanan. 69 diantaranya tidak pernah memeriksakan kehamilannya atau baru datang pertama kali pada kehamilan 7 -9 bulan (Wibowo. yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek.7%. dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. dan 132 ibu yang meninggal. kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah pedesaan. Dari data SKRT 1986 terlihat bahwa prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia sebesar 73. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat. Contoh lain di daerah Subang. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin. Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi. ibu hamil pantang makan dengan . Disamping itu. Sementara. udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi saat melahirkan. dan angka menurun dengan adanya program-program perbaikan gizi menjadi 33% pada tahun 1995. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan darah.

1993). Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu. ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. pemilihan penolong persalinan. "kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan. biaya murah. Sejumlah faktor memandirikan peranan dalam proses ini. mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup. kemampuan penolong persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi keadaan gawat. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih. Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat. Secara medis. kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang. Di daerah pedesaan. Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. (Wibowo. ibu duduk dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan). mulai dari ada tidaknya faktor resiko kesehatan ibu. namun praktek-praktek tradisional tertentu masih dilakukan. . Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan rninyak kelapa untuk memperlancar persalinan). keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan kesehatan. selain ibunya kurang gizi. Selain itu. nenas. larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang.

Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis. Namun. pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). terutama di daerah pedesaan. ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI. kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. tidak tersedianya transportasi. faktor geografis dan kendala ekonomi. Secara tradisional. Selain pada masa hamil. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. 1996). Umumnya. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula. memasukkan Ramu-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan. ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu.. atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Pantangan ataupun anjuran ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al. . keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua. dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh. Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan.

seperti seorang ibu hamil tidak boleh makan terlalu banyak dan ibu postpartum tidak boleh makan telur. yaitu jauhnya layanan kesehatan. yaitu adanya keyakinan terhadap mitos-mitos tertentu. antara lain : • • • Masih tingginya angka kematian ibu. dll. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. beberapa permasalahan kesehatan terkatit dengan agregat ibu di Indonesia.3 Kebijakan – kebijakan Kesehatan Pada Agregat Ibu Kebijakan di bidang kesehatan merupakan Tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk menyelamatkan dan meningkatkan kesehatan serta memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.Berdasarkan uraian di atas. karena mahalnya biaya persalinan di rumah sakit • Faktor geografis. Target MDG4 adalah menurunkan angka kematian ibu dan bayi menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990 – 2015. sehingga masih banyak ibu yang melahirkan di dukun. 2. sehingga ibu dan keluarga terlambat mendapatkan penganan yang tepat • Faktor budaya. akibat perdarahan persalinan Kurangnya pendidikan dan rendahnya informasi tentang kehamilan dan persalinan Faktor ekonomi. Pemberian ASI secara eklusif selama 6 bulan dan . Yaitu dengan pemberian makanan tambahan yg sesuai dan semua tenaga kesehatan yang bekerja disarana kesehatan agar menginformasikan kepada semua ibu melahirkan agar memberikan ASI eklusive dengan mengacu pada 10 langkah keberhasilan menyusui. 2. Adapun kebijakan yang di berikan yaitu: 1. Kepmenkes RI 450/MENKES/SK/IV 2004 tentang pemberian ASI secara eklusif bagi bayi di Indonesia sejak lahir sampai usia 6 bulan dan dianjurkan sampai anak berusia 2 tahun.nilai dan kepercayaan. daging.

62 % .diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan AKB. imunisasi Tetanus Toxoid (TT) serta pemberian tablet besi kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua fasilitas kesehatan. Deteksi Resiko. terutama dalam Bab V. . Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan. b. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Pelayanan Kesehatan Dasar yang terdiri dari : a. Pelayanan Kesehatan ibu dan anak : Kebijakan tentang KIA secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal. Visi dan Misi Departemen Kesehatan yaitu meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas kesehatan swasta. UU No. Rujukan Kasus Resti dan Penanganan Komplikasi.23 tahun 1992 tentang kesehatan. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi Kebidanan. pemeriksaan tinggi fundus uteri.77.21 %. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan ibu hamil K1 dan K4. 3. dokter umum. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan. persalinan. maka untuk mencapai upaya tersebut adalah : 1. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 70. bidan dan perawat) seperti pengukuran berat badan dan tekanan darah. c. Perlindungan kesehatan reproduksi sebagai pencegahan penyakit infeksi menular pada ibu dan anak.

dll) sebesar 22. Sedangkan rata-rata jumlah anak lahir hidup per wanita usia 15-19 tahun adalah 1. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Masa subur seorang wanita memiliki peranan penting bagi terjadinya kehamilan sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup tinggi. Campak.02%). Resti/komplikasi kandungan meliputi Hb < > 140 mmHg.52%) dan 3 orang (17. tokoh masyarakat.17% sedangkan deteksi risiko oleh masyarakat (kader. ekslampsia. diastole > 90 mmHg).DPT. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu. 2. Deteksi risiko oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 sebesar 46. TT).98 di pedesaan. Menurut hasil penelitian. ketuban pecah dini. infeksi berat/sepsis. usia subur seorang wanita terjadi antara usia 15-49 tahun. potensial/resti KLB. imunisasi untuk wanita usia subur/ibu hamil TT dan imunisasi untuk anak SD (kelas 1. . DT dan kelas 2-3.79 untuk daerah perkotaan dan 1. persentase wanita berumur 10 tahun keatas yang pernah kawin dengan jumlah anak yang dilahirkan hidup terbesar adalah 2 orang (23. HB). Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. sedangkan kegiatan imunisasi tambahan dilakukan atas dasar ditemukannya masalah seperti desa non UCI. Resti komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2007. letak sungsang pada primigravida. Oedeme nyata. perdarahan pervaginam. ditemukan/diduga adanya virus polio liar atau kegiatan lainnya berdasarkan kebijakan teknis. wanita/ pasangan lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB. 1orang (19. Pelayanan Imunisasi Kegiatan imunisasi rutin meliputi pemberian imunisasi untuk bayi 0-1 tahun (BCG.Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan KIA maupun di masyarakat. persalinan prematur.08%. Polio.11%). 3.

Pencapaian UCI pada tahun 2007 sebesar 71. dengan cara memberikan konseling tentang ASI sejak kehamilan. Petugas kesehatan sangat berperan dalam keberhasilan proses menyusui. penularan vertikal HIV dan syphilis dalam kehamilan 4. penganggaran dalam APBD misalnya untuk pelatihan-pelatihan untuk petugas kesehatan dan promosi. 2. Peningkatan kesadaran akan HIV/AIDS 2. Petugas kesehatan (bidan. perawat. kebijakan dan rencana untuk mencegah malaria dalam kehamilan dan malaria bawaan.Pencapaian UCI pada dasarnya merupakan proksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada kelompok bayi. melaksanakan inisiasi menyusui dini (IMD) pada saat . Adapun Program-program kebijakan pemerintah terhadap kesehatan ibu dan anak di Indonesia yang sedang berlangsung diantara meliputi : 1. Dinkes Tidak semua pemda menindaklanjuti secara kongkrit peraturan tentang pemberian ASI eklusif melalui 10 langkah keberhasilan menyusui. Perawatan Penyakit Anak yang Terpadu (IMCI) 2. dokter) Masih banyak petugas kesehatan yang belum menjalankan kebijakan ini. Making Pregnancy Safer 5. Rencana Kesehatan Remaja Nasional 3. Dalam hal ini pemerintah menargetkan pencapaian UCI pada wilayah administrasi desa dan kelurahan.18 % dengan target nasional UCI 80%.4 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Faktor yang mempengaruhi kemunduran pelaksanaan kebijakan: 1. Pemda. misalkan dalam perda (termasuk reward dan sangsi bagi yang melaksanakannya). berarti eilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31). Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu.

Ibu bekerja. Meskipun sudah ada peraturan dan kode etik tentang pemasaran susu formula. sehingga WHO (2009) merekomendasikan pemberian ASI pada ibu yang telah yang telah mendapat ARV profilaksi. accessabel. Penelitian terbaru membuktikan bahwa pemberian ARV pada ibu hamil lebih awal dan dilanjutkan selama menyusui terbukti dapat mencegah transmisi virus HIV melalui ASI. pneumonia. . safety. Beberapa hambatan kurang berperannya petugas kesehatan dalam menjalankan kewajibannya dalam kontek ASI ekslusif lebih banyak karena kurang termotivasinya petugas untuk menjalankan peran mereka disamping pengetahuan konseling ASI yang masih kurang. Promosi produsen susu formula. yaitu kemungkinan anak tertular/ terinfeksi virus HIV dari ASI dan kerugian akibat anak tidak mendapat ASI syang berakibat meningkatkan risiko terjadinya diare. 3. sustainable (AFASS). Gencarnya promosi produsen susu formula baik untuk publik maupun untuk petugas kesehatan (dengan memberikan bantuan untuk kegiatan ilmiah) menghambat pemberian ASI ekslusif. Dengan semakin banyaknya prosentasi ibu menyususi yang bekerja akan menghambat praktek pemberian ASI ekslusif. Ibu dengan HIV positif.persalinan dan mendukung pemberian ASI dengan 10 langkah kebehasilan menyusui. Meskipun sudah ada SKB bersama 3 menteri tentang hak ibu bekerja yang menyusui dalam prakteknya tidak semua tempat kerja mendukung praktek pemberian ASI 5. tetapi dalam pelaksanaanya masih ada produsen yang tidak melaksanakan secara benar. Sebelumnya WHO merekomendasikan salah satu cara dalam Preventive mother to child transmission (PMCT) adalah menghentikan pemberian ASI kecuali bila susu formula tidak memenuhi syarat affordable. kurang gizi dan infeksi lain. 4. Pemberian ASI pada ibu dengan HIV positif didasarkan kalkulasi antara kerugian dan manfaat penghentian atau melanjutkan pemberian ASI.

dan hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas. seperti air bersih. 3. . bantuan susu formula menyebabkan turunnya pencapaian ASI eklusif.5 Upaya Kebijakan dan Strategi Nasional dalam Kesehatan Reproduksi di Indonesia Dalam rangka mencapai tujuan kesehatan reproduksi perlu disusun kebijakan dan strategi umum yang dapat memayungi pelaksanaan upaya seluruh komponen kesehatan reproduksi di Indonesia. Pada kondisi yang darurat pemberian ASI menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula. Menempatkan upaya kesehatan reproduksi menjadi salah satu prioritas Pembangunan Nasional. Melaksanakan upaya kesehatan reproduksi secara holistik dan terpadu melalui pendekatan siklus hidup. misalnya: anak piatu.5. yaitu: telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu. maka distribusi maupun penggunaannya harus di monitor oleh tenaga yang terlatih. bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui. dan tidak boleh dengan menggunakan dot. Bila mendapat sumbangan susu formula. Belajar dari pengalaman tsunami di Aceh dan gempa di DIY. Melaksanakan percepatan upaya kesehatan reproduksi dan pemenuhan hak reproduksi ke seluruh Indonesia. dan harus diberikan konseling pada ibu tentang penyiapan dan pemberian susu formula yang aman. 2. 2.1 Upaya Kebijakan Umum 1. diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat menyusu. Upaya penanganan kesehatan reproduksi harus dilaksanakan dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk peningkatan kualitas hidup manusia. Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare.6. bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. 2. Kondisi darurat misalnya bencana. persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya. kekurangan gizi dan kematian bayi. dan relaktasi tidak memungkinkan.

Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation).5. Kesimpulan Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. Menggunakan pendekatan keadilan dan kesetaraan gender di semua upaya kesehatan reproduksi. Menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas bagi keluarga miskin. organisasi profesi dan LSM. dan mengkomunikasikan substansi kebijakan. Analisis kebijakan adalah suatu aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan. menerapkan. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. BAB III PENUTUP 3. secara kritis menilai. 3. Masing-masing penanggungjawab komponen mengembangkan upaya kesehatan reproduksi sesuai ruang lingkupnya dengan menjalin kemitraan dengan sektor terkait. Menempatkan dan memfungsikan Komisi Kesehatan Reproduksi (KKR) pada tingkat Menteri Koordinator serta membentuk KKR di provinsi dan kabupaten/kota. Mengupayakan kecukupan anggaran dana pelaksanaan kesehatan reproduksi. dan apa yang tidak boleh”. Proses analisis kebijakan terdiri atas tiga tahap utama yang saling terkait. 4. Mengupayakan terbitnya peraturan perundangan di bidang kesehatan reproduksi. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik.1. Meningkatkan advokasi. sosialisasi dan komitmen politis di semua tingkat. . Kebijakan harus memberi peluang diintepretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. 5. 2. 5. kebijakan lebih bersifat adaptif dan intepratatif. yang secara bersamasama membentuk siklus aktivitas yang komplek dan tidak linear.4. 2.2 Upaya Strategi Umum 1.

http://rhizaners.html .com/2011/05/masalah-kesehatan-dan-kebijakan.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful