P. 1
Landasan Pendidikan (Konsep Dasar Pendidikan)

Landasan Pendidikan (Konsep Dasar Pendidikan)

|Views: 646|Likes:
Published by Nofy Ongko
Landasan Pendidikan BAB I
Konsep Dasar Pendidkan
Landasan Pendidikan BAB I
Konsep Dasar Pendidkan

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Nofy Ongko on Sep 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Aktivitas pendidikan pada kehidupan manusia mengalami

perkembangan sejajar dengan perkembangan tingkat hidup manusia, dari kegiatan pendidikan yang sangat sederhana, tanpa rencana yang kongkrit, tanpa tujuan yang jelas berkembang menjadi kegiatan yang semakin disadari, direncanakan ,dan dipikirkan secara masak, dan hasil yang semakin jelas. dengan melihat pola hidup manusia yang sekarang masih bertaraf hidup sederhana, meskipun tidak sama persis, pendidikan hanya dilakukan oleh orang tua untuk anaknya sendiri, dalam bentuk yang sangat sederhana, dan hanya sekedar membantu anak mempersiapkan diri menghadapi tuntutan hidup yang relatif sederhana juga, semakin lama berkembang sampai taraf dewasa ini yang pendidikan menjadi sesuatu yang rumit dan harus dipikirkan dan dirancang semasak – masaknya. Pemikiran yang mendalam tentang pendidikan membawa persoalan ini ke pemikiran yang lebih dapat dipertanggung jawabkan, yaitu pemikiran ilmiah. setapak demi setapak pendidikan berkembang menjadi ilmu dalam arti pemikiran dan pelaksanaannya didasari kaidah – kaidah ilmiah. Pada mulanya pendidikan hanya merupakan kegiatan praktis, namun sejalan dengan tahap hidup manusia yang memasuki era pemikiran ilmiah, pendidikan mulai juga menjadi salah satu sasaran ilmu pengetahuan. dalam perkembangannya ilmu pendidikan terkait dan terpengaruh perkembangan ilmu pada umumnya, mulai pendidikan merupakan bagian dari filsafat sampai akhirnya menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Dalam kedudukannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri pendidikan berkembang tidak sendirian tetapi terpengaruh juga oleh perkembangan ilmu – ilmu yang lain. Pendidikan memanfaatkan temuan – temuan psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, fisiologi, dan sebagainya.

1

Dengan

pemikiran

pendidikan

dan

dengan

memperhatikan

perkembangan ilmu –ilmu yang lain maka pendidikan berkembang menjadi ilmu yang bersifat teoritik maupun terapan. Sebagai ilmu teoritik ilmu

pendidikan berusaha mempertahankan dan mengembangkan jati dirinya sebagai ilmu yang mandiri dan sejajar dengan ilmu – ilmu yang lain, sedangkan sebagai ilmu terapan pendidikan berupaya meningkatkan konstribusinya kepada kemaslahatan umat manusia.

1.2 Rumusan Masalah Adapun masalah - masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Apa hakikat dan konsepsi dasar pendidikan ? Apa pengertian dari pendidikan ? Mengapa manusia perlu di didik ? Bagaimanakah pendidikan sebagai suatu proses transformasi nilai ? Apa tujuan dari pendidikan ? Mengapa ilmu pendidikan sebagai ilmu normatif ? Apa saja pendekatan dalam mempelajari pendidikan ? Bagaimanakah relevansi teori pendidikan ?

1.3 Tujuan Pembahasan 1. 2 3 4 5 6 7 8 Untuk mengetahui hakikat dan konsepsi dasar pendidikan Untuk mengetahui arti dari pendidikan Untuk mengetahui sebab manusia perlu di didik Untuk mengetahui pendidikan sebagai suatu proses transformasi nilai Untuk mengetahui tujuan dari pendidikan Untuk mengetahui prinsip sebab ilmu pendidikan sebagai ilmu normatif Untuk mengetahui pendekatan dalam mempelajari pendidikan Untuk mengetahui relevansi teori pendidikan

2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hakikat dan Konsepsi Dasar Pendidikan Dalam kedudukannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri pendidikan berkembang tidak sendirian tetapi terpengaruh juga oleh perkembangan ilmu – ilmu yang lain. Pendidikan memanfaatkan temuan – temuan psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, fisiologi, dan sebagainya. Dengan pemikiran pendidikan dan dengan memperhatikan perkembangan ilmu –ilmu yang lain maka pendidikan berkembang menjadi ilmu yang bersifat teoritik maupun terapan. Sebagai ilmu teoritik, ilmu pendidikan berusaha mempertahankan dan mengembangkan jati dirinya sebagai ilmu yang mandiri dan sejajar dengan ilmu – ilmu yang lain, sedangkan sebagai ilmu terapan pendidikan berupaya meningkatkan konstribusinya kepada kemaslahatan umat manusia. Akibat pengaruh spesialisasi dan percabangan ilmu pendidikan maupun karena pengaruh komponen –komponen di luar ilmu pendidikan juga dihadapkan kepada tantangan – tantangan, baik dalam segi teoritiknya maupun segi penerapannya. Menjelang akhir abad XX eksistensi ilmu pendidikan cenderung dirongrong keberadaannya, terutama telah bergesernya istilah dan hakikat pendidikan menjadi pengajaran atau pembelajaran dan hal ini sangat berpengaruh pada penerapannya, yaitu dari kegiatan internalisasi norma menjadi kegiatan yang menekankan pada penyampaian pengetahuan, termasuk tentang nilai. Langeveld seorang ahli pedagogic dari negeri Belanda

mengemukakan batasan pendidikan, bahwa pendidikan ialah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu usaha yang didasari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksankan di dalam maupun luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup.

3

Ada beberapa konsepsi dasar tentang pendidikan yang akan dilaksanakan, yaitu : 1. Bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup (life long education). Dalam hal ini berarti bahwa usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia itu lahir dari kandungan ibunya sampai ia tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari konsep pendidikan sepanjang hayat ialah, bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah. Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, dalam lingkungan sekolah, dan dalam lingkungan masyarakat. 2. Bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pemerintah tidak boleh memonopoli segalanya, melainkan bersama dengan keluarga dan masyarakat, berusaha agar pendidikan mencapai tujuan yang telah ditentukan. 3. Bagi manusia pendidikan itu merupakan suatu keharusan karena pendidikan, manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang. Henderson mengemukakan bahwa pendidikan suatu hal yang tidak dapat dielekkan oleh manusia, suatu perbuatan yang tidak boleh terjadi, karena pendidikan itu membimbing generasi muda untuk mencapai suatu generasi yang lebih baik.

2.2 Pengetian Pendidikan Dalam pengertian khusus, pendidikan diartikan sebagai suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa, kepada anak untuk mencapai kedewasaanya. Di sini jelas, bahwa yang menjadi tujuan pendidikan ialah kedewasaan. Secara umum indikator dari manusia dewasa adalah : 1. Manusia yang mandiri, dapat hidup sendiri, mengambil keputusan sendiri tidak menggantungkan diri kepada orang lain 2. Bertanggung jawab terhadap perbuatannya, dan dapat diminta pertanggung jawaban tersebut. Lain dengan anak, ia tidak dapat diminta pertanggung jawaban atas perbuatannya

4

3. Telah mampu memahami norma – norma serta moral dalam kehidupan, dan sekaligus berkesanggupan untuk melaksanakan norma dan moral tersebut dalam hidup dan kehidupannya, yang dimanifestasikan dalam kehidupan bersama Dalam arti yang luas pendidikan berisi tiga pengertian, yaitu pendidikan, pengajaran, dan latihan. Ketiga istilah tersebut mengandung pengertian yang berbeda. Secara sepintas saja bagi orang awam mungkin akan dianggap sama saja artinya. Dalam praktek sehari – hari di lapangan, kita sering mendengar kata – kata seperti : pendidikan olahraga, pengajaran olahraga, latihan olahraga; pendidikan kemiliteran, pengajaran (pelajaran) kemiliteran, latihan kemiliteran, dan sebagainya. Kalau kita perhatikan ketiga istilah diatas (pendidikan, pengajaran, latihan) dapat diikutkan predikat yang sama. Ketiga istilah tadi akan lebih jelas kalau kita lihat dalam konteks kata kerjanya, dalam bentuk mendidik, mengajar, dan melatih. Istilah mendidik menurut Darji Darmodiharjo, menunjukkan usaha yang lebih ditujukkan kepada pengembangan budi pekerti, semangat, kecintaan rasa kesusilaan, ketakwaan, dan lain – lain. Istilah mengajar menurut Sikun pribadi berarti memberi pelajaran tentang berbagai ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan intelektualnya. Sedangkan istilah melatih, merupakan suatu usaha untuk memberi sejumlah keterampilan tertentu yang dilakukan secara berulang – ulang, sehingga akan terjadi suatu pembiasan dalam bertindak. Pendidikan pada hakikatnya akan berusaha mengubah perilaku. Tetapi perilaku mana yang dapat terjangkau oleh pendidikan, karena hewan pun adalah makhluk yang berperilaku. Dalam hal ini Khonstamm

menegemukakan beberapa jenis perilaku dari berbagai makhluk sebagai berikut : 1. Anorganis, yaitu suatu gerakan yang terjadi pada benda – benda mati, tidak bernyawa. Gerakan ini ditentukan atau tergantung kepada hukum kausal (sebab akibat). Manusia dilemparkan dari gedung bertingkat tiga misalnya, ia akan jatuh ke bawah, sama seperti halnya kalau kita melemparkan batu (benda mati). Hal ini terjadi karena adanya gaya tarik bumi.

5

2. Organis/abati, yaitu yang terjadi pada tumbuh – tumbuhan. Manusia maupun hewan, sama – sama memiliki perilaku ini, manusia maupun hewan bernafas, tumbuhan juga bernafas. Dalam tubuh manusia maupun hewan terjadi peredaran zat –zat makanan, seperti halnya juga terjadi pada tumbuh – tumbuhan. Gerakan ini terjadi secara otomatis, tidak perlu dipelajari. Setiap makhluk hidup dengan sendirinya memiliki gerakan nabati ini. 3. Hewani, perilaku ini lebih tinggi derajatnya daripada perilaku nabati. Perilaku ini bersifat instintif (seperti insting lapar, insting seks, insting berkelahi), dapat diperbaiki sampai taraf tertentu, dan memilih kesadaran indra, dimana manusia dan hewan dapat mengamati lingkungan karena dilengkapi oleh alat indra. 4. Manusiawi, merupakan perilaku yang hanya terdapat pada manusia. Adapun ciri – ciri perilaku ini adalah :   Manusia berkemauan untuk menguasai hawa nafsu Manusia memiliki kesadaran intelektual, ia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan manusia makhluk berbudaya   Manusia memiliki kesadaran diri, dapat menyadari sifat – sifat yang ada pada dirinya, manusia dapat mengadakan introspeksi Manusia adalah makhluk sosial, membutuhkan orang lain untuk hidup bersama – sama, beroganisasi, dan bernegara. Manusia memiliki bahasa simbolis, baik secara tertulis maupun secara lisan  Manusia dapat menyadari nilai – nilai (etika maupun estetika) dan dapat berbuat sesuai dengan nilai – nilai tersebut, dan memiliki kata hati Ciri – ciri tersebut di atas sama sekali tidak dimiliki oleh hewan, yang dengan ciri – ciri itulah manusia dapat di didik,dapat memperbaiki perilakunya, dalam bentuk suatu pribadi yang utuh.

6

2.3 Manusia Perlu Di Didik Beberapa asumsi yang memungkinkan manusia itu perlu mendapatkan pendidikan : 1. Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya. Manusia begitu lahir ke dunia, perlu mendapatkan uluran orang lain untuk dapat melangsungkan kehidupannya 2. Manusia lahir tidak langsung dewasa. Untuk menuju kehidupan yang dewasa, bagi manusia perlu dipersiapkan, lebih – lebih pada masyarakat modern. Untuk memperoleh bekal itulah diperoleh dengan pendidikan, dimana otang tua atau generasi tua akan, mewariskan pengetahuan, nilai – nilai, serta keterampilannya kepada anak – anaknya atau generasi penerus 3. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Ia tidak akan menjadi manusia, seandainya tidak hidup bersama dengan manusia lagi

2.4 Pendidikan Sebagai Suatu Proses Transformasi Nilai Pendidikan sebagai suatu proses transformasi nilai mencakup nilai – nilai religi, nilai – nilai kebudayaan, nilai pengetahuan dan teknologi, serta nilai keterampilan. nilai – nilai yang akan kita transformasikan tersebut dalam mempertahankan, mengembangkan, bahkan kalau perlu mengubah

kebudayaan yang dimiliki masyarakat, agar proses transformasi itu berjalan lancar. Agar transformasi itu berjalan lancar, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu : 1. Adanya hubungan edukatif yang baik antara pendidik dan anak didik. Hubungan ini dapat diartikan sebagai suatu hubungan yang diliputi kasih sayang, sehingga terjadi hubungan yang didasarkan atas kewibawaan 2. Adanya metode pendidikan yang sesuai, sesuai dengan kemampuan pendidik dengan materi serta tujuan yang akan dicapai, dan dengan situasi dan kondisi dimana pendidikan tersebut berlangsung 3. Adanya sarana dan perlengkapan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan. Sarana tersebut harus didasarkan atas pengabdian terhadap anak didik, harus disesuaikan dengan setiap nilai yang ditransformasikan

7

4. Adanya suasana yang memadai, sehingga proses transformasi nilai – nilai tersebut berjalan dengan wajar dalam suasana yang menyenangkan

2.5 Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan merupakan suatu gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam menentukan suatu tujuan, ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan, seperti dikemukakan UNESCO yaitu tujuan pendidikan harus mengandung ketiga nilai sebagai berikut : 1. Autonomy (Otonomi) yang berarti memberikan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan kepada individu maupun kelompok, untuk dapat hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik 2. Equity (Keadilan) yang berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberikan kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberinya pendidikan dasar yang sama 3. Survival (Bertahan) yang berarti bahwa, dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya Dengan ketiga nilai di atas, pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang baik, manusia – manusia yang lebih berkebudayaan, manusia sebagai individu yang memilki kepribadian yang lebih baik

2.6 Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Normatif Menurut Sistemnya Ilmu Pengetahuan Dibedakan Dalam 2 Hal A. Ilmu – ilmu murni terlepas dari empiris, misalnya matematika B. Ilmu – ilmu empiris berdasarkan pengalaman. Jadi objeknya ialah gejala kehidupan, misalnya alam, gejala – gejala hidup, atau situasi pendidikan  Ilmu – ilmu empiris dibagi atas : 1) Ilmu – ilmu alam 2) Ilmu – ilmu rohani

8

Ilmu – ilmu rohani mencari objeknya di dalam keaktifan rohani manusia. Melalui produk dari keaktifan – keaktifan itu misalnya berbicara, bahasa, kesusastraan, mengajar - belajar dan praktik – praktik mendidik lainnya.  Ilmu – ilmu rohani dibagi menjadi : 1) Ilmu – ilmu normatif 2) Ilmu – ilmu deskriptif Penetapan objek dari ilmu – ilmu pendidikan akan tergantung pada apa yang ditegaskan pengertian “mendidik”. Jadi dalam hal ini dipakai suatu norma untuk mengukur. Selain itu ada pula pembagian yang bersifat teoritis dan praktis. Jadi ada ilmu mendidik teoritis, yang dibagi menjadi ilmu mendidik sistematis dan ilmu mendidik historis, serta ilmu mendidik praktis. Ilmu pendidikan itu adalah ilmu yang memerlukan pemikiran teoritis. Beberapa contoh konkret sebagai berikut : A. Setiap pendidik mendengarkan kritik – kritik, catatan – catatan,

sumbangan pikiran dari para ahli atau orang lain. Ia mulai memikirkan secara kritis tindakan – tindakan dalam perbuatan mendidiknya Ia dapat belajar dari kritik, catatan, dan saran orang lain. Gunning pernah menulis : “Mempelajari ilmu mendidik berarti mengubah diri sendiri menjadi lain”. Jadi ada pemikiran teoritis tentang tindakan mendidik itu sendiri, sehingga terlihat bahwa teori itu perlu B. Salah satu masalah yang perlu pemikiran teoritis ialah apakah anak didik itu perlu berkembang. Sampai sejauh mana lingkungan didik dan potensi kreativitas anak didik berkembang. Pemikiran ini sangat mendasar yang selalu dibicarakan dari abad ke abad. Hal ini memerlukan pemikiran teoritis C. Jika kita membaca rumusan tujuan pendidikan dari masa ke masa, kita akan mempunyai gambaran bagaimana orang memperagakan suatu gambaran ideal tentang manusia dan masyarakat yang diinginkan D. Pendidikan membutuhkan jangka waktu panjang. Karena pendidikan bercorak perbuatan mendidik. Dalam perbuatan biasanya orang dapat melihat dan memeriksakan hasilnya dengan segera. Hasil pendidikan itu

9

baru dilihat pada generasi berikutnya. Untuk meneliti hasil pendidikan itu orang harus melihat bagaimana cara bertindak, cara mendidik, dan cara hidup anak bila telah dewasa Dapat disimpulkan, bahwa pendidikan memerlukan dimensi – dimensi sebagai berikut : 1. Pengetahuan dirinya sebagai pendidik 2. Pengetahuan tentang tujuan pendidikan 3. Pengetahuan tentang anak didiknya 4. Setelah mempunyai pengetahuan tentang anak didik, dicarinya cara – cara mendidik yang sesuai dengan keadaan anak untuk membawa ke arah pencapaian tujuan 5. Akhirnya kita perlu pengetahuan tentang martabat manusia pada umumnya pemikiran teoritis tentang martabat anak sebagai manusia dan hal ini diuraikan dalam filsafat antropologi/filsafat manusia. Dari uraian tersebut kita dapat melihat ilmu pendidikan memerlukan pemikiran teoritis. Pengertian teoritis disini diartikan sebagai pemikiran yang disusun secara teratur dan sistematis. Pokok yang tersusun dalam pemikiran yang bersifat teoritis antara lain : 1. Masalah tujuan pendidikan. Tipe manusia yang bagaimana yang menjadi norma, dalil asasi antropologi yang memungkinkan terjadinya proses didik 2. Faktor kondisis si terdidik yang memungkinkan dapat terdidik

2.7 Pendekatan Dalam Mempelajari Pendidikan Dalam mempelajari pendidikan sebagai suatu teori, ada beberapa pendekatan yang sudah dilaksanakan, yaitu pendekatan secara religius, pendekatan secara falsafah, dan pendekatan secara ilmiah 1. Pendekatan Religius Suatu pendekatan religius terhadap pendidikan, berarti bahwa ajaran agama dapat dijadikan sumber inspirasi untuk menyusun teori pendidikan, yang dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan pendidikan. Metode yang dipergunakan dalam menyusun teori

pendidikan ialah thetis deduktif. Dikatakan thetis karena bertitik dari

10

dalil – dalil atau aksioma – aksioma agama yang tidak dapat kita tolak kebenarannya. Dikatakan deduktif karena teori pendidikan disusun dari prinsip – prinsip yang berlaku umum, diterapkan untuk memikirkan masalah – masalah khusus. Ajaran yang berlaku umum dijadikan sebgai pangkal untuk memikirkan prinsip – prinsip pendidikan yang khusus. 2. Pendekatan Falsafah Pendekatan falsafah terhadap pendidikan, ialah suatu pendekatan untuk menelaah, dan memecahkan masalah – masalah pendidikan dengan menggunakan prinsip filsafat. Pengetahuan atau teori pendidikan yang di hasilkan dengan pendekatan falsaf ini, ialah “Filsafat Pendidikan”. Menurut Henderson : “Filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan untuk menelaah dan memecahkan masalah – masalah pendidikan”. Cara kerja dan hasil – hasil daripada filsafat dapat dipergunakan untuk membantu memecahkan masalah dalam hidup dan kehidupan ini. Masalah – masalah tersebut diantaranya tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia, dan juga nilai sebagai pandangan hidup manusia. Apa yang tersimpul dalam konsep istilah yang berhubungan dengan ilmu pendidikan dapat dijelaskan dalam bentuk pokok – pokok pikiran beserta bagan skematisnya, sebagai berikut :

11

1. Ideografis sejarah pendidikan

    

Demografi Etnologi Geografi Sejarah sosiografi

Teoriti s 2. Nomotetis pend. Sistematis pend. Teoritis asas – asas pend.
      Ekologi Hayat Kimia (chemistry) Matematika Fisika psikologi

SCIENCE PAEDAGOGIKA

3. Normatif filsafat pendidikan

    

Estetika Etika Logika Metafisika Paedagogika

Praktis

4. Positif – applied perbandingan pendidikan

       

Human ekologi Industri & teknologi Kedokteran Pertanian Psikologi ekologi Psikologi industri Psikologi pendidikan Psikologi sosial

Bagan Skematis Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan Normatif

12

A. Sebagai ilmu penegtahuan normatif, ilmu pendidikan merumuskan kaidah – kaidah norma – norma atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia. Atau ilmu pendidikan bertugas merumuskan peraturan – peraturan tentang tingkah laku perbuatan makhluk manusia dalam kehidupan dan penghidupannya B. Sebgai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan ialah menanamkan sistem – sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar – dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat C. Ilmu pendidikan erat hubungannya dengan ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan normatif lainnya, yang dalam sejarah perkembangan merupakan bagian yang tak terpisahkan. Baru pada abad modern ini memisahkan diri sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di samping menyebabkan lahirnya cabang ilmu pengetahuan baru, yaitu filsafat pendidikan D. Ilmu pengetahuan yang dapat dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan normatif meliputi agama, filsafat dengan segala cabangnya, yaitu metafisika, etika, estetika, dan logika, way of life social masyarakat, kaidah fundamental Negara maupun tradisi kepercayaan bangsa E. Agama , filsafat dengan cabangnya serta istilah yang ekuivalen, lainnya, menentukan dasar – dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan pendidikan manusia, dan selanjutnya akan menetukan tingkah laku perbuatan manusia dalam

kehidupannya F. Dalam perumusan tujuan – tujuan proximate dan ultimate pendidikan akan ditetapkan hakikat dan sifat hakikat manusia dan segi – segi pendidikan yang akan dibina dan dikembangkan melalui proses pendidikan sebagimana yang tercantum atau dirumuskan dalam sistem pendidikan G. Sistem pendidikan bertugas merumuskan alat – alat, prasarana, pelaksanaan, tekni – teknik atau pola – pola proses pendidikan dan

13

pengajaran. Dengan apa akan dicapai dan dibina tujuan – tujuan pendidikan, dan ini meliputi problematika kepemimpinan dan metode pendidikan, politik pendidikan sampai kepada seni mendidik H. Isi moral pendidikan atau tujuan perantara adalah berisi perumusan norma – norma atau nilai spiritual etis yang akan dijadikan sistem nilai pendidikan dan merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan, yang berlaku di segala jenis dan tingkat pendidikan I. Sewajarnya setiap manusia memiliki filsafat hidup tentang kehidupan dan penghidupannya. Suatu keharusan agar setiap pendidik dan guru memiliki dan membina filsafat pendidikan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajarannya, baik di dalam maupun di luar lembaga pendidikan formal sekolah J. Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normatif dasar – dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakikat manusia, hakikat dan segi – segi pendidikan, isi moral pendidikan, sistem pendidikan meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan dan metodologi pengajarannya, pola – pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat 3. Pendekatan Ilmiah Pendekatan ilmiah terhadap pendidikan, yaitu suatu pendekatan terhadap pendidikan dengan menggunakan ilmu (science) untuk mempelajari, memelaah, serta memecahkan masalah – masalah pendidikan. Cara kerja yang dipergunakan ialah sebagaimana prinsip – prinsip dan metode kerja ilmu pengetahuan. Henderson mengemukakan, bahwa science of education ingin menumbangkan pengetahuan yang diperolehnya melalui eksperimen, melaui analisis, pengukuran,

perhitungan, klasifikasi, dan perbandingan. Science of education menghasilakan ilmu pendidikan sebagai terapan dari ilmu dasarnya. Misalnya Psikologi pendidikan, merupakan terapan dari psikologi untuk menelaah dan memecahkan masalah – masalah pendidikan. Pendekatan

14

ilmiah ingin menelaah masalah – masalah pendidikan secara ilmiah mempelajari proses – proses psikologi, sosiologis, proses sosiokultural, proses ekologis, Karena akan mempengaruhi dan membentuk

pendidikan. Verifikasi terhadap teori yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dilakukan dengan jalan mengujinya dalam praktik atau pengalaman berdasarkan pengindraan. Fisafat menggunakan hasil – hasil ilmu penegtahuan. Verifikasi dilakukan filsafat dengan jalan melalui akal – akal pikiran yang didasarkan kepada semua pengalaman insan, sehingga demikian filsafat dapat menelaah masalah – masalah yang mungkin oleh ilmu tidak dapat dicarikan penyelesaiannya. Harold Tilus, membandingkan antara filsafat dengan ilmu sebagai berikut : A. Ilmu berhubungan dengan lapangan yang terbatas, filsafat mencoba berhubungan dengan keseluruhan pengalaman untuk memperoleh sesuatu pandangan yang lebih komprehensif tentang sesuatu B. Ilmu melukiskan fakta – fakta dari dunia fenomenal secara sistematis, sedangkan filsafat merenungkan tentang makna segala sesuatu dengan menggunakan akal pikiran C. Ilmu menggunakan pendekatan analitik dan deskriptif, sedangkan filsafat sistetik atau sinoptik, berhubungan dengan sifat – sifat dan kualitas alam dan hidup secara keseluruhan D. Ilmu menghilangkan faktor – faktor pribadi yang subjektif, sedangkan filsafat tertarik kepada personality nilai – nilai dan semua pengalaman E. Ilmu tertarik kepada sesuatu sebagaimana adanya, sedangkan filsafat tidak hanya tertarik kepada bagian – bagian yang nyata, melainkan juga kepada kemungkinan – kemungkinan yang ideal dari suatu benda, nilai serta maknanya F. Ilmu menelti dan mengontrol proses alam, sedangkan tugas filsafat mengadakan kritik, menilai, dan mengkoordinasi tujuan G. Ilmu lebih menekankan deskripsi hukum - hukum fenomena dan hukum – hukum kansai. Filsafat tertarik dengan hal – hal yang berhubungan dengan pertanyaan – pertanyaan “why” dan “how”.

15

Jadi, pendekatan yang perlu kita lakukan ialah pendekatan multidisplin secara terpadu. Pendekatan secara falsafah, pendekatan secara ilmiah, pendekatan secara religi bahkan mungkin pendekatan secara seni, kita laksanakan secara terpadu, tidak berdiri masing – masing. Antara pendekatan yang satu dengan yang lain harus memilki hubungan komplementer, saling melengkapi satu sama lainnya.

2.8 Relevansi Teori Pendidikan Antara teori dan praktik pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yang memiliki hubungan komplementer, yang saling mengisi satu sama lainnya. Praktik pendidikan seperti pelaksanaan pendidikan dalam lingkungan keluarga, pelaksanaan pendidikan di sekolah, pelaksanaan pendidikan di masyarakat, dapat dijadikan sumber dalam penyusunan suatu teori pendidikan. Dan suatu teori pendidikan dapat dijadikan sebagai suatu pedoman dalam melaksanakan praktik pendidikan tersebut. Teori pendidikan mutlak perlu dipelajar secar akademik, apalagi bagi mereka yang dipersiapkan untuk menjadi seorang pendidik. Walupun tidak dipersiapkan untuk menjadi seorang pendidik, minimal seorang akan mendidik anak – anaknya sendiri. Bagi para mahasiswa yang dipersiapkan untuk menjadi tenaga kependidikan, suatu keharusan mempelajari teori pendidikan (misalnya, landasan pendidikan, psikologi pendidikan, metodologi pengajaran, administrasi pendidikan, dan sebgainya). Karena kalau tidak, mungkin ia akan terjerumus kepada apa yang dikemukakan oleh Gunning tadi, dimana perbuatan pendidik (guru) tersebut seperti perbuatan orang yang tidak waras, suatu perbuatan yang tidak berencana, tidak tentu arah tujuanya. Teori pendidikan perlu/harus kita pelajari, karena yang akan dihadapi adalah manusia, menyangkut nasib hidup dan kehidupan manusia, menyangkut harkat martabat manusia, serta hak asasinya. Perbuatan mendidik bukan perbuatan yang sembrono, melainkan sutau perbuatan yang harus betul – betul disadarinya, dalam rangka membimbing anak kepada suatu tujuan yang akan dicapai. Kita perlu memahami teori pendidikan, karena teori pendidikan akan memberikan manfaat :

16

1. Memberi arah serta tujuan mana yang akan dicapai 2. Untuk memperkecil kesalahan dalam praktik, atas dasar teori pendidikan, diketahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan 3. Berfungsi sebagai tolak ukur, sejauh mana kita telah berhasil melaksanakan tugas dalam pendidikan itu Walaupun kita telah memahami berbagai teori pendidikan, kita tidak boleh menganggap bahwa kita telah memilki resep untuk menjalankan tugas dalam pendidikan. Hai lini dikemukakan oleh Prof. Sikun Pribadi dalam buku yang dieditnya Landasan Pendidikan, sebagai berikut : “Itu sebabnya mengapa suatu upaya pendidikan tidak dapat dan tidak boleh dikemukakan dalam bentuk resep atau aturan yang tetap untuk dijalankan. Yang penting bukan resepnya, melainkan kepribadian dan kreativitas pendidik sendiri. Pendidikan (walaupun harus didukung oleh ilmu pendidikan atau pendagogic) dalam pelaksanaanya lebih merupakan seni daripada teori”. Karena itulah setiap tindakan dalam pendidikan, tidak begitu saja dengan sendirinya dapat menerapkan teori yang ada. Dalam praktiknya kita harus memperhatikan anak itu sendiri, tergantung kepada kepribadian pendidik, situasi dan kondisi lingkungan, tujuan yang akan kita capai.

17

BAB III PENUTUP

3.1 Artikel Ciri – Ciri Sekolah Yang Melaksanakan Pembelajaran Aktif Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.

A. Ekspektasi Sekolah, Kreativitas, Dan Inovasi Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”. Sekolah menyelenggarakan ajang „kompetisi‟ yang mendidik dan sehat. Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, bunga, tempat sampah). Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual. Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun. Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah. Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang. Sekolah rapi, bersih, dan teratur. Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah. Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat. B. Sumber Daya Manusia Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru. Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah. Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.

18

Guru mengenal baik nama-nama peserta didik. Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian. Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik. Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar. Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik. Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas. Peserta didik berani bertanya kepada guru. C. Lingkungan, Fasilitas, dan Sumber Belajar Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar. Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru. Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik. Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu. Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain. Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi. Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru. D. Proses Belajar-Mengajar dan Penilaian Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antar mata pelajaran yang relevan. Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar. Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan. Tidak ada ulangan umum, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan

19

telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.  Keterkaitan dengan Psikologi (5W+1H) What : Ciri – ciri sekolah yang melaksanakan pembelajaran aktif Who : Sekolahan yang telah/belum melakukan pembelajaran aktif When : Pada saat sekolah dituntut untuk melaksanakan pembelajaran aktif Where : Seluruh sekolahan di Indonesia Why : Karena konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. (untuk menunjang kegiatan pembelajaran aktif) How : Dengan cara mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif dengan sebaik mungkin, menjadikan sekolahan sesuai dengan indikator Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas

Umpan Balik Yang Efektif Bagi Siswa Umpan balik merupakan sebuah proses di kelas yang telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti praktik pembelajaran sejak tahun 1970an hingga sekarang ini. Secara konsisten, para peneliti telah menemukan buktibukti bahwa ketika guru mampu menggunakan prosedur umpan balik yang efektif ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswanya. Bahkan, hasil studi yang dilakukan Bellon, Bellon, dan Blank menunjukkan bahwa dibandingkan dengan berbagai perilaku mengajar lainnya, pemberian umpan balik akademik ternyata lebih berkorelasi dengan prestasi belajar siswa. Dengan tanpa memandang kelas, status sosial ekonomi, ras, atau keadaan sekolah korelasi ini cenderung konsisten. Ketika umpan balik dan prosedur korektif digunakan secara tepat ternyata sebagian besar siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya hingga di atas 20% . Umpan balik yang efektif merupakan bagian integral dari sebuah dialog instruksional antara guru

20

dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan dirinya sendiri, dan bukanlah sebuah praktik yang terpisahkan. Terkait dengan umpan balik yang efektif ini, Black dan Wiliam mencatat tiga komponen penting yaitu : 1. Recognition of the desired goal. Umpan balik diberikan sebagai respons atas kinerja siswa. Kinerja siswa adalah kesanggupan siswa untuk dapat menunjukkan penguasaannya atas berbagai tujuan pembelajarannya. Salah satu metode yang cukup efektif untuk memastikan bahwa siswa memahami tujuan pembelajarannya yaitu dengan cara melibatkan mereka dalam menetapkan “kriteria keberhasilan” yang bisa dilihat atau didengar. Misalnya, guru dapat memperlihatkan beberapa contoh produk sebagai tujuan pembelajaran yang patut ditiru oleh para siswa, menunjukkan kalimat-kalimat yang benar dengan ditulis menggunakan huruf kapital, kesimpulan yang diambil dari data, penyajian tabel atau grafik dan sejenisnya. 2. Evidence about present position Istilah ”bukti” di sini menunjuk kepada informasi atau fakta tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, khusunya tentang sejauhmana tujuan pembelajaran telah tercapai dan sejauhmana tujuan pembelajaran itu belum tercapai. Grant Wiggin mengemukakan bahwa umpan balik bukanlah tentang pemberian pujian atau celaan, persetujuan atau ketidaksetujuan, tetapi sebagai usaha untuk memberikan nilai atau makna. Umpan balik pada dasarnya bersifat netral yang menggambarkan apa yang telah dilakukan dan tidak dilakukan siswa. Selain itu, bahwa umpan balik juga harus bersifat obyektif, deskriptif dan disampaikan pada waktu yang tepat yakni pada saat tujuan pembelajaran masih segar dalam benak siswa. 3. Some understanding of a way to close the gap between the two. Umpan balik yang efektif yaitu harus dapat memberikan bimbingan kepada setiap siswa tentang bagaimana melakukan perbaikan. Black dan Wiliam menegaskan bahwa setiap siswa harus diberi bantuan dan kesempatan untuk melakukan perbaikan. Guru tidak hanya memberikan umpan balik yang mencerminkan tentang kinerja yang berkaitan dengan

21

tujuan pembelajaran siswanya, tetapi juga harus dapat memberikan strategi dan tips tentang cara yang lebih efektif untuk mencapai tujuan, serta kesempatan untuk menerapkan umpan balik yang diterimanya.  Keterkaitan dengan Psikologi (5W+1H) What : Umpan balik yang efektif bagi siswa Who : Guru dan siswa

When : Pada saat guru memberikan umpan balik kepada siswa Where : Di sekolah Why : Karena umpan balik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa How : Dengan cara melaksanakan tiga komponen yang dicatat oleh Black dan Wiliam

Motivasi Dalam Belajar

Motivasi memegang peranan yang amat penting dalam belajar, Maslow (1945) dengan teori kebutuhannya, menggambarkan hubungan hirarkhis dan berbagai kebutuhan, di ranah kebutuhan pertama merupakan dasar untuk timbul kebutuhan berikutnya. Jika kebutuhan pertama telah terpuaskan, barulah manusia mulai ada keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang selanjutnya. Pada kondisi tertentu akan timbul kebutuhan yang tumpang tindih, contohnya adalah orang ingin makan bukan karena lapar tetapi karena ada kebutuhan lain yang mendorongnya. Jika suatu kebutuhan telah terpenuhi atau perpuaskan, itu tidak berarti bahwa kebutuhan tesebut tidak akan muncul lagi untuk selamanya, tetapi kepuasan itu hanya untuk sementara waktu saja. Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan tersebut (Maslow, 1954). Mengutip pendapat Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), “motivation is energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk

22

mencapai tujuan. Dari perumusan yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: 1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, 2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal), 3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang. Penjelasan mengenai fungsi-fungsi motivasi adalah: 1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. 2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau citacita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh. 3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. (Ngalim Purwanto, 2002: 71) Jenis-jenis motivasi : 1. Motivasi intrinsik, yang timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperolah informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain. 2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Seperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu. (Tabrani, 1992: 120) Beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut: 1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar hendaknya seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai siswa.

23

2.

Hadiah. Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi.

3.

Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4.

Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari hal yang paling kecil seperti, “beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.

5.

Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6.

Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar dan membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik, khususnya bagi mereka yang secara prestasi tertinggal oleh siswa lainnya.

7.

Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik, entah itu ketika siswa belajar sendiri maupun secara kelompok

8.

Menggunakan metode yang bervariasi. Seperti Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM, mapun yang lainnya.

9.

Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media visual maupun audio visual.

24

 Keterkaitan dengan Psikologi (5W+1H) What : Motivasi dalam belajar Who : Guru dan siswa

When : Saat proses belajar Where : Di sekolah Why : Karena motivasi berguna untuk pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu How : Dengan cara melaksanakan strategi untuk menumbuhkan motivasi

25

3.2 Kesimpulan Pendidikan diartikan sebagai suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa, kepada anak untuk mencapai kedewasaanya. Tujuan pendidikan merupakan suatu gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam menentukan suatu tujuan. Dalam ilmu pendidikan terdapat tiga pendekatan untuk mempelajarinya diantaranya pendekatan religius, pendekatan filsafat, dan pendekatan ilmu. namun pendekatan yang paling tepat dilakukan adalah pendekatan multidisplin secara terpadu. Pendekatan secara falsafah, pendekatan secara ilmiah, pendekatan secara religi bahkan mungkin pendekatan secara seni, kita laksanakan secara terpadu, tidak berdiri masing – masing. Antara pendekatan yang satu dengan yang lain harus memilki hubungan komplementer, saling melengkapi satu sama lainnya. Walaupun kita telah memahami berbagai teori pendidikan, kita tidak boleh menganggap bahwa kita telah memilki resep untuk menjalankan tugas dalam pendidikan. Karena itulah setiap tindakan dalam pendidikan, tidak begitu saja dengan sendirinya dapat menerapkan teori yang ada. Dalam praktiknya kita harus memperhatikan anak itu sendiri, tergantung kepada kepribadian pendidik, situasi dan kondisi lingkungan, tujuan yang akan kita capai.

26

DAFTAR PUSTAKA

Roesminingsih, MV. Prof. Dr. dan Drs. Lamijan Hadi Susarno, 2012, Teori dan Praktek Pendidikan, Surabaya: Unesa University Press. Goleman, Daniel, 2004, Emitional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ, Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama. Ngalim Purwanto, 2002, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Tabrani Rusyan, 2001, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. http://nadhirin.blogspot.com/

27

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->