P. 1
Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup, Fungsi Dan Jenis Supervisi

Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup, Fungsi Dan Jenis Supervisi

|Views: 2,866|Likes:
Published by Dahlia Tambajong

More info:

Published by: Dahlia Tambajong on Sep 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah pelaku utama dalam dunia pendidikan. Semua unsur-unsur pendidikan, manusialah yang menjalannya. Akan tetapi, tiada manusia di dunia ini yang sempurna. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya, tentu saja haruslah ada pihak yang mengawasi pelaksanaan pendidikan tersebut. Jika pendidikan tersebut tidak diawasi, banyak personal-personal yang menyalah gunakan wewenang dan kewajibannya. Karena tidak bisa diungkiri pada dasarnya manusia memiliki rasa kurang cukup atas apa yang telah didapatkannya. Manusia selalu ingin mendapatkan lebih baik lagi dari pada apa yang ia dapatkan. Apabila keinginan ini tidak terkontrol maka timbullah tindakan-tindakan yang tercela, seperti korupsi baik waktu maupun material. Selain unsur manusia yang serba kekurangan, pendidikan juga harus mengikuti perkembangan zaman. Dimana perkembangan zaman sekarangan ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Semua hal yang tadinya mustahil kini tidak mustahil lagi. Dalam hal ini, pendidikan juga harus mengikuti perkembangan zaman. Baik materi yang disampaikan maupun strategi-strategi bahkan metodemetode yang digunakan oleh para pendidik harus sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini. Agar para guru dapat memberikan materi dan metode yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka ia harus sering diberikan arahan-arahan yang baik dan latihan-latihan. Dari masalah-masalah diatas, timbullah pertanyaan dalam pemikiran penulis diantaranya: Lantas siapakah yang berhak memberikan pengawasan pendidikan tersebut? Siapakah yang diberi kewajiban dan wewenang untuk memberikan bimbingan dan pelatihan kepada guru-guru sehingga guru dapat memberikan

1

pengajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman? Penulis akan membahas masalah ini pada bab berikutnya B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas penulis dapat menarik rumusan masalah yang akan dibahas menjadi pembahsan makalah ini yaitu mengenai Konsep Dasar Supervisi Pendidikan yang mencakup : 1. Apa pengertian Supervisi Pendidikan? 2. Apa tujuan dan ruang lingkup Suervisi Pendidikan? 3. Apa Fungsi dan Jenis Supervisi Pendidikan?

C. Tujuan Makalah 1. Tujuan Umum : Tujuan pembuatan makalah ini pada umumnya adalah agar : Menambah khazanah pengetahuan mengenai Supervisi 2.Tujuan Khusus Makalah ini juga bertujuan secara khusus yaitu untuk memenuhi mata kuliah ADM dan Supervisi

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Supervisi Pendidikan Dari segi etimologi, supervisi diambil dari kata super artinya mempunyai kelebihan tertentu seperti kelebihan dalam kedudukan, pangkat dan kualitas, sedangkan visi artinya melihat atau mengawasi. Sedangkan dalam arti terminologi, ada beberapa definisi yang akhirnya dari beberapa definisi itu dapat disimpulkan bahwa supervisi pendidikan adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaannya secara aktif. Supervisi pendidikan ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar. Yang dimaksud dengan situasi belajar mengajar adalah situasi di mana terjadi proses interaksi antara guru dan murid dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar adalah seni. mengajar dalam pekerjaan disekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik Sebetulnya apabila dicermati secara rinci, kegiatan supervisi yang sesuai dengan sasarannya dapat dibedakan menjadi dua yaitu: supervisi akademik, supervisi ini lebih menitikberatkan pengamatan pada masalah akademik, yaitu yang langsung berada dalam lingkup kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru unuk membantu siswa ketika sedang dalam proses belajar mengajar. Dan yang kedua adalah supervisi administrasi, yang lebih menitikberatkan pengamatan pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran. Di samping dua macam supervisi yang disebut dengan objeknya atau sasarannya, ada lagi supervisi yang lebih luas yaitu supervisi lembaga dan akreditasi. Yang membedakan antara kedua hal tersebut adalah pelaku dan waktu

3

dilaksanakannya. Supervisi lembaga dilakukan oleh orang yang ada di dalam lembaga yaitu kepala sekolah dan dari luar lembaga yaitu pengawas secara terus menerus, sedangkan supervisi akreditasi dilakukan oleh tim dari luar hanya dalam waktu-waktu tertentu. Tujuannya sama yaitu meningkatkan kualitas lembaga baik parsial maupun keseluruhan. Dengan kata lain yang menjadi sasaran atau objek supervisi akademik, supervisi administrasi, supervisi lembaga, dan supervisi akreditasi adalah sama yaitu meningkatkan kualitas lembaga, tetapi lingkup dan harapan tentang kualitasnya berbeda.

B. Tujuan Supervisi Pendidikan 1. Tujuan a. Tujuan umum supervisi pendidikan di sekolah Tujuan umum supervisi pendidikan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan umum pendidikan, yaitu kedewasaan (Poerwanto, 1981: 25). Suatu proses supervisi diharuskan membantu guru agar dapat membantu anak mencapai kedewasaan, yaitu membuat anak didik sanggup mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab sendiri (Ametembun, 1981: 25). Seorang guru harus dibantu untuk dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang baik bagi murid, sehingga murid dapat berbuat sendiri dan berani bertanggung jawab perbuatannya. menciptakan Kepala sekolah situasi dan kondisi atas harus berusaha membuat guru dapat itu, yaitu dengan supervisi. Tujuan

supervisi pendidikan, harus tidak terlepas dari arah tujuan pendidikan nasional. Seorang supervisor harus dapat membantu guru agar dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang mengarah kepada tercapainya tujuan nasional, yaitu: Pendidikan nasional menurut UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam

4

rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Visi dan misi pendidikan nasional telah menjadi rumusan dan dituangkan pada bagian “penjelasan” atas UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Visi dan misi pendidikan nasional ini adalah merupakan bagian dari strategi pembaruan sistem pendidikan, yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut : 1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; 2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; 3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; 4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai global; 5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks negara Kesatuan RI. pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan

5

Berdasarkan uraian di atas berarti tujuan supervisi sejalan dengan tujuan pendidikan, baik tujuan umum maupun tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian, seorang supervisor memang harus seorang yang banyak pengetahuan dan pengalamannya dari orang yang disupervisinya, karena tujuan pendidikan di sekolah juga menyangkut tujuan pendidikan secara umum. Seorang supervisor tidak bekerja dalam kekosongan, ia harus selalu jeli melihat jauh ke depan terhadap apa saja yang dilakukannya. Guru adalah ujung tombak sekolah dalam melaksanakan misinya dimana telah ditetapkan. b. Tujuan khusus supervisi pendidikan di sekolah Tujuan khusus (operasional) supervisi pendidikan yang ingin dicapai melalui kegiatan nyata supervisi, adalah
1)

bila

tombaknya bengkok tentu tujuan pendidikan akan meleset dari yang

Membantu guru agar lebih mengerti/menyadari tujuan –tujuan Kenyataan di lapangan, adalah masih banyaknya guru yang

pendidikan di sekolah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan itu. terpaku pada tugas rutin, yaitu mengajar dari jam ke jam dan dari kelas ke kelas lain, tanpa sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari tujuan yang besar, di mana mata pelajaran hanya sebagai alat. Banyak guru yang hanya mengutamakan menyelesaikan tugas dengan tujuan-tujuan jangka pendek, padahal jauh di depannya ada tujuan yang lebih utama, yaitu pencapaian tujuan pendidikan. Misalnya, apakah guru tahu apa tujuan pengajaran tata bahasa bagi hidup anak?
2)

Membantu guru agar mereka lebih menyadari dan mengerti Sistem klasikal memang mempunyai kelemahan, namun itu

kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi siswanya. bukanlah hambatan atau alasan guru tidak bisa berbuat banyak bagi siswanya. Misalnya, menyamaratakan kemampuan siswa di satu kelas, mengabaikan hambatan-hambatan yang bersifat pribadi. Anak

6

pada usia sekolah, terutama di Indonesia banyak menghadapi masalah, baik yang bersumber dari dirinya maupun dari keluarga dan lingkungannya, karena itu mereka perlu diperhatikan secara khusus, sebab kalau tidak demikian guru bias menganggap siswa bodoh, padahal bukan itu masalahnya
3)

Membantu guru mengadakan diagnosa secara kritis, dan

kesulitan-kesulitan mengajar dan belajar murid serta menolong mereka merencanakan perbaikan Tujuan ini akan terwujud terutama apabila poin (b) di atas tercapai dengan baik. Artinya apabila guru telah menemukan pokok persoalan, apakah itu datang dari dirinya sendiri atau dari murid, dan kalau guru sudah menemukan pokok persoalannya ia harus dapat secara tepat merencanakan perbaikan pengajaran (remedial teaching).
4)

Memperbesar kasadaran guru terhadap tata kerja yang

demokratis dan kooperatif serta memperbesar kesediaan untuk tolong menolong Di sekolah masih banyak guru yang merasa bahwa tugasnya di muka kelas adalah miliknya sendiri, yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain dan tugas itulah yang harus dikerjakannya selagi ia masih menjadi guru. Padahal tidaklah demikian, karena sekolah adalah milik bersama yang harus dicapai dengan cara bersama. hal ini muncul karena masih banyak guru yang tidak mengerti tentang tata kerja sekolah, karena itu perlu diciptakan situasi dam kondisi yang menciptakan sikap terbuka, demokratif dan kooperatif, sehingga muncul kebersamaan dalam kepemimpinan sekolah.

5)

Membantu guru meningkatkan kemampuan penampilannya di

muka kelas

7

Penampilan mengajar memang tidak semata ditentukan oleh penguasaan bahan, tapi apabila guru sudah menguasai bahan adalah modal, namun tak sedikit guru yang mempunyai modal tapi tak dapat mengembangkannya, karena ia tidak tahu bagaimana cara membelanjakannya, apalagi ada guru yang kesaratan muatan (bahan), ia justru tenggelam dalam materi. Guru yang begini sering tampak kacau di muka kelas, karena ia asyik dengan dirinya sendiri, sedangkan murid tak tahu apa yang harus diperhatikan dan dipelajari.
6)

Membantu guru untuk lebih memanfaatkan pengalamanPengalaman adalah guru yang paling berharga, dan akan menjadi

pengalamannya sendiri suatu hal yang amat berharga apabila guru disadarkan dengan pengalamannya sendiri memberikan petunjuk yang amat bijaksana dalam memecahkan persoalan pengajaran di kelas, apalagi guru yang telah lama mengajar, pasti mempunyai segudang pengalaman yang dapat dipilihnya untuk menghadapi persoalan yang baru. Misalnya, guru yang berpengalaman menghadapi siswa yang nakal, akan lunak bagi menghadapi salahnya.
7)

siswa yang nakal berikutnya, karena ia sudah tahu

Memperkenalkan guru atau karyawan baru kepada situasi Guru adalah suatu profesi dan punya kode etik. Jauh sebelum ia

dan kondisi sekolah dan profesinya tampil, sebaiknya ia telah tahu semua itu. Tanpa ada kesadaran yang demikian guru bisa tidak berbeda dengan aktor/aktris film, yang dapat bermain sandiwara, sedangkan murid harus memandang guru dari satu watak yang mantap yang konsisten setiap waktu dan tempat. Guru yang tidak mengetahui kedudukannya sebagai guru mengakibatkan sekolah akan kehilangan wibawa. Sekolah bukanlah tempat orang-orang yang bermuka dua, dan orang-orang yang terpaksa. Guru harus paham benar dengan ungkapan masuk kandang kambing ia harus mengembek

8

dan masuk kandang kerbau menguak. Misalnya, apabila seseorang telah memilih menjadi guru ia harus merelakan dirinya lebur dalam suasana etika sebagai guru, dan harus menjadi sekolah sebagai tempat pengabdian yang utama, dan segala perbuatannya demi sekolah.
8)

Menghindarkan guru dari segala tuntutan yang di luar

batas kemampuan dan kewenangannya, baik tuntutan dari dalam maupun dari luar sekolah Dalam situasi dan kondisi sekarang guru sangat menjadi harapan, namun demikian apabila berlebihan justu kekecewaan, karena guru punya batas kemampuan sebagai manusia, lagi pula kewenangannya amat terbatas guru sebagai manusia bisa tidak boleh di peras tenaga dan waktunya hanya untuk sekolah, dan masuyarakat harus ingat bahwa tak mungkin pada saat ini guru memperluas wewenangnya sampai ke jalan-jalan. Misalnnya, bila terjadi kenakalan remaja, seperti perkelahian pelajar di beberapa kota besar, itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan guru, karena terjadi di luar sekolah, kalau katanya guru juga harus mengetahui keadaan siswanya di luar sekolah itu sebenarnya sering tidak disukai orang tua murid, karena dianggap mencampuri urusan pribadi, kalau sudah terjadi seperti perkelahian baru orang tua menyalahkan guru, dan ini sebenarnya yang harus dinetralisir oleh seorang supervisor akan guru Sebaiknnya sekolah, terutama Departemen tidak berasa bersalah uterlalu besar, karena itu memang bvukan wewenangnya. Pendidikan dan tugas sebagai guru Kebudayaan jangan terlalu banyak membebani guru dengan tanpa memperhatikan batas kemampuan maksimal

manusia, apalagi wanita yang telah bersuami dan mempunyai anak. Kalau kegiatan sudah melawati batas kemampuan guru justru yang terladi sebaliknya.
9)

Membantu guru dalam menggunakan alat-alat pelajaran

modern.

9

Perkembangan teknologi pengajaran dewasa ini sudah hampir sampai puncak, karena sudah memanfaatkan semaksimal mungkin produk teknologi canggih, terutama teknologi komunikasi, baik perangkat lunaknya (programnya) maupun perangkat kerasnya. Seperti OHP (Over Head Projector), slide, proyektor, vidio kaset, dan lain-lain. Coba dibayangkan kalau guru belum dipersiapkan mengenal tentu akan menciptakan kelucuan di muka kelas, karena biasanya ada yang tahu dahulu justru memberi petunjuk kepada gurunya, jadi terbalik.
10)

Membantu guru dalam menilai kemajuan secara tepat

Artinya guru harus dapat melakukan pengukuran yang tepat, sehingga ia dapat memilih mana kemajuan murid yang diusa-hakannya dan mana oleh murid sendiri. Karena dengan mengetahui hal itu guru dapat menilai dirinya sendiri, dan akan dapat memberikan nilai plus kepada murid yang melebihi batas usaha guru, dengan demikian kemajuan murid lebih bersih dan tepat. Sebab masih ada guru yang menilai kurang objektif, misalnya ada guru yang memberi nilai yang tidak boleh melewati batas gurunya (dosennya).
11)

nilai

yang

diperolehnya

dulu

dari

Membantu guru memanfaatkan sumber-sumber belajar dan Masih banyak guru yang tidak menyadari bahwa apa yang ada

pengalaman belajar murid disekelilingnya dapat dimanfaatkannya dalam proses belajar-mengajar. Dia hanya selalu terpaku kepada cara dan contoh yang ada di dalam buku pokok, padahal caranya bisa diubah dengan contoh yang ada disekeliling anak, misalnya kalau guru berada di lingkungan anak petani karet, maka kalau menjelaskan masalah fotosintesis dalam pelajaran biologi, gunakan pohon karet, jangan pohon pisang yang tidak tumbuh dilingkungan anak, kalau perlu sampel pohon karet dibawa ke kelas.

10

Hal yang perlu diketahui juga oleh guru adalah pengalaman belajar pada anak tidak bisa dipatahkan dengan teori belajar, tapi yang harus dilakukan guru adalah membimbing pengalaman belajar yang sudah ada. Misalnya, kalau teori mengajarkan belajar yang baik itu subuh sedangkan anak yang tidak punya waktu karena membantu orang tua memotong karet, dan ia hanya punya waktu pada menjelang kalau sudah malam lampu tidak ada, maka magrib, karena cara itu yang

dikembangkan. Kalau misalnya anak bisa belajar sambil bekerja (mencangkul) di sawah, situasi itulah yang perlu dimanfaatkan, bukan mematahkannya. 2. Ruang Lingkup Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa materi supervisi pendidikan telah mulai diperkenalkan mata kuliah Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan, yang menunjukkan bahwa materi supervisi tidak terlepas dari Administrasi Pendidikan pada umumnya. Rifai (1982: 124) mengatakan, bahwa di mana ada administrasi harus ada supervisi, dan jika ada supervisi tentu ada suatu yang dilaksanakan, ada administrasi sesuatu. Dengan demikian, kedudukan supervisi pendidikan sama pentingnya dengan administrasi pendidikan, namun secara hirarkis supervisi merupakan salah satu fase atau tahap dari administrasi. Thomas H Briggs dalam Rifai (1982: 225) menegaskan, bahwa supervisi merupakan bagian atau aspek dari administrasi. Khususnya yang mengenai usaha peningkatan guru sampai kepada taraf penampilan tertentu. Sarwoto (1985: 104) menjelaskan bahwa secara teoritis yang menjadi objek supervisi ada dua aspek, yaitu: a. Aspek manusianya, seperti sikap terhadap tugas, disiplin kerja, moral kerja, kejujuran, ketaatan terhadap peraturan organisasi, kerajinan, kecakapan kerja, kemampuan dalam bekerja sama, watak; b. Aspek kegiatannya, seperti cara bekerja kerja (cara mengajar), metoda pendekatan terhadap siswa, efisiensi kerja, dan hasil kerja.

11

Pendapat Sarwoto ini secara jelas membedakan apa yang menjadi objek pengawasan (controlling) dan supervisi (supervision). C. Fungsi Dan Jenis Supervisi Pendidikan 1. Fungsi Secara umum fungsi supervisi adalah perbaikan pengajaran. Berikut ini berbagai pendapat tentang fungsi supervisi, di antaranya adalah: a. sehingga ada perbaikan. b. Franseth Jane, menyatakan bahwa fungsi supervisi memberi bantuan terhadap program pendidikan melalui bermacam-macam cara sehingga kualitas kehidupan akan diperbaiki. c. W.H. Burton dan Leo J. Bruckner menjelaskan bahwa fungsi utama dari supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar. d. Kimball Wiles, mengatakan bahwa fungsi supervisi ialah memperbaiki situasi belajar anak-anak. Usaha perbaikan merupakan proses yang kontinyu sesuai dengan perubahan masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan. Perubahan masyarakat membawa pula konsekuensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Suatu penemuan baru mengakibatkan timbulnya dimensi-dimensi dan persepektif baru dalam bidang ilmu pengetahuan. Makin jauh pembahasan tentang supervisi makin nampak bahwa kunci supervisi bukan hanya membicarakan perbaikan itu sendiri, melainkan supervisi yang diberikan kepada guru-guru, menurut T.H. Briggs juga merupakan alat untuk mengkoordinasi, menstimulasi dan mengarahkan pertumbuhan guru-guru. Fungsi supervisi pendidikan dibedakan menjadi 2 (dua) bagian, yakni : Ayer, Fred E, menganggap fungsi supervisi untuk memelihara program pengajaran yang ada sebaik-baiknya

12

a. Fungsi utama, yang membantu sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, khususnya perkembangan individu para siswa.
b. Fungsi tambahan, yang membantu sekolah membina guru-guru agar dapat

bekerja dengan baik dan berkontak dengan masyarakat dalam rangka penyesuaian diri dan penggalakan kemajuna masyarakat. Dalam suatu analisa fungsi supervisi yang diberikan oleh Swearingen, terdapat 8 fungsi supervisi, yakni: a. Mengkoordinasi Semua Usaha Sekolah. Koordinasi yang baik diperlukan terhadap semua usaha sekolah untuk mengikuti perkembangan sekolah yang makin bertambah luas dan usahausaha sekolah yang makin menyebar, diantaranya: - Usaha tiap guru. - Usaha-usaha sekolah. - Usaha-usaha pertumbuhan jabatan. b. Memperlengkapi Kepemimpinan Sekolah. Yakni, melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dan kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah. c. Memperluas Pengalaman. Yakni, memberi pengalaman-pengalaman baru kepada anggota-anggota staff sekolah, sehingga selalu anggota staff makin hari makin bertambah pengalaman dalam hal mengajarnya. d. Menstimulasi Usaha-Usaha yang Kreatif. Yakni, kemampuan untuk menstimulir segala daya kreasi baik bagi anakanak, orang yang dipimpinnya dan bagi dirinya sendiri. e. Memberikan Fasilitas dan Penilaian yang Kontinyu. Penilaian terhadap setiap usaha dan program sekolah misalnya, memiliki bahan-bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar, kemajuan murid-muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu. f. Menganalisa Situasi Belajar

13

Situasi belajar merupakan situasi dimana semua faktor yang memberi kemungkinan bagi guru dalam memberi pengalaman belajar kepada murid untuk mencapai tujuan pendidikan. g. Memberi Pengetahuan dan Ketrampilan pada Setiap Anggota Staf. Supervisi berfungsi memberi stimulus dan membantu guru agar mereka memperkembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam belajar. h. Mengintegrasikan Tujuan dan Pembentukan Kemampuan. Fungsi supervisi di sini adalah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar akan nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri sendiri. Menurut Ametembun ada 4 (empat) fungsi supervisi pendidikan : a. Penelitian b. Penilaian c. Perbaikan d. Pembinaan Fungís supervior (pengawas) oleh karenanya menjadi penting, sebagaimana tertuang dalam Kepmen PAN Nomor 118/1996 yang menyebutkan bahwa pengawas diberikan tanggung jawab dan wewenang penuh untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan, penilaian dan pembinaan teknis serta administratif pada satuan pendidikan. Untuk kepentingan pembahasan lebih lanjut, fungsi yang bergayut dengan supervisi klinis yaitu meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Segi-segi proses intruksional yang perlu mendapat perhatian supervisor, yaitu (Pidarta, 1986:24) 2. Jenis Supervisi Pendidikan a. Supervisi Klinis (Clinical Supervision) Kata “klinis” diadopsi dari cara pelayanan seorang dokter kepada seorang pasien yang memeriksakan sakitnya. Istilah “klinis” dalam

14

supervisi ini sebagaimana telah disinggung di muka, memberikan unsurunsur khusus sebagai berikut : 1) Hubungan tatap muka antara supervisor dengan calon guru

dalam proses supervisi terjalin dengan baik 2) Hubungannya terpusat pada keinginan/kerisauan (concern) calon

guru yang berpusat pada tingkah laku aktual di kelas. 3) 4)
5)

Observasi dilakukan secara langsung dan cermat. Data observasi dideskripsi secara mendetail. Analisis dan interpretasi observasi dilakukan secara bersama

antara supervisor dan calon guru. 6) 7) Pemberian bimbigan oleh supervisor lebih bersifat pembinaan. Berlangsung dalam suasana akrab (intim) dengan sikap saling

terbuka dari supervisor dan calon guru, tanpa kecurigaan dan tekanan. Supervisi klinis merupakan pembinaan professional yang dilakukan secara sistematik kepada calon guru sesuai dengan kebutuhan calon guru yang bersangkutan dengan tujuan untuk membina ketrampilan mengajarnya. Pembinaan itu diberikan dengan cara memungkinkan calon guru menentukan sendiri cara-cara untuk memperbaiki kekurangannya sendiri. Supervisi klinis lebih banyak dilakukan dalam latihan mengajar calon guru, khususnya dalam pengajaran mikro (micro/peer teaching). Praktik supervisi klinis merupakan perbaikan dari praktik kepembimbingan mengajar yang lama, yang dilakukan setelah calon guru melaksanakan latihan mengajar. Supervisi klinis tidak hanya dipakai dalam pendidikan prajabatan atau pemberian pembinaan dalam jabatan, tetapi juga dapat digunakan dalam memberikan vonis terhadap mahasiswa dalam ujian skripsi ataupun tesis, agar tidak mendebarkan hati mahasiswa yang sedang diuji.

15

Berikut adalah pendapat dari para ahli : 1) R. Weller mengutarakan bahwa “Supervisi Klinis” adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui suatu siklus yang sistematik dalam perencanaa, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. 2) K.A. Achenson & M.D. Gall (1980 : 25) mengemukakan bahwa “Supervisi Klinis” adalah suatu model supervisi yang mengandung 3 (tiga) fase, yakni pertemuan perencanaan, observasi kelas dan pertemaun balikan. Dengan demikian, supervisi klinis adalah suatu proses kepemimpinan dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan profesional calon guru khususnya dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tertentu. b. Validasi Teman Sebaya (Peer Validation) Validasi adalah suatu istilah yang hampir sama dengan penilaian atau evaluasi. Apabila penilaian merupakan suatu pengukuran, maka validasi adalah suatu kegiatan penilaian secara terus menerus yang mengarah pada pencapaian suatu standar. Istilah validasi digunakan dalam hubungannya dengan penilaian yang dilakukan terhadap lembaga pendidikan, bukan terhadap peserta didik. Agar tujuan peningkatan lembaga dapat tercapai, maka VTS diharapkan dapat memenuhinya, karena : 1) Setiap personel lembaga terlibat dalam kegiatan evaluasi

terhadap dirinya sendiri (internal evaluation)

16

2)

Setiap personel lembaga akan sadar untuk menjaga serta

meningkatkan mutu lembaganya sendiri. 3) Dalam VTS dihasilkan avaluasi data yang sebenarnya dan

lengkap. 4) Validator (pengamat dan penilai) yang dating dari lembaga lain

sebagai teman sejawat dari personel lembaga yang dinilai (akan) memperoleh pengalaman dan pandangan tentang isi lembaga lain (2X change ideas) Komponen dalam VTS terdiri dari 2 (dua) komponen utama, yaitu komponen pelaksana dan komponen instrumen. 1. Komponen Pelaksana (terdiri dari tiga tim) a) Fasilitator, terdiri atas Pembina dan Pelaksana

Fasilitator adalah panitia penyelenggara demi terjadinya VTS b) Penulis Profil Lembaga, terdiri dari sejumlah staf

pengajar/karyawan lembaga yang divalidasi (banyaknya tergantung kebutuhan/tugas) c) lain : • • • • Jumlah anggota tim ditentukan berdasarkan beban tugas Anggota tim memiliki keahlian sesuai bidang yang akan divalidasi Memiliki kemampuan untuk melakukan VTS Anggota tim berasal dari berbagai kalangan teman sejawat Validator, terdiri atas beberapa orang yang pemilihannya antara

2. Komponen Instrumen (ada tiga buah instrument penting)

17

a. • • • • • • b.

Profil Lembaga, meliputi 6 (enam) komponen antara lain : Pengelolaan Kurikulum Guru Peserta didik Sarana dan Prasarana Evaluasi Standar Lembaga

Kondisi yang ideal, antara lain : • • Keadaan atau kondisinya baik (sarana dan prasarana) Berdaya guna dan berhasil guna yang tinggi dalam Proses Pendidikan dan Pengajaran • Menghasilkan lulusan (output) tenaga-tenaga professional yang bermutu. c. Pedoman Penggunaan Standar Lembaga

Salah satu langkah dalam kegitan VTS yang penting dijalankan oleh Tim Validator adalah mencari dan mengumpulkan informasi/data tentang komponen-komponen lembaga, selanjutnya dibandingkan dengan isi standar . untuk membantu memudahkan validator diberi petunjuk tentang : indikator, sumber-sumber informasi, teknik, tolak ukur penilaian. 1. Tahap Persiapan

18

Dalam tahap persiapan ini ketiga komponen Pelaksanaan VTS melakukan kegiatan sebagai berikut : a. Penulisan Profil Lembaga b. Penujukkan Tim Validator c. Pertemaun Tim Validator 2. Tahap Pelaksanaan a. Rapat Pendahuluan b. Mengumpulakn Informasi/Data c. Menelaah Informasi/Data d. Penyusunan Laporan e. Penyampaian Rekomendasi 3. Penyerahan Laporan Bila tim validator telah menyampaikan rekomendasinya kepada lembaga yang divalidasi, maka selesailah seluruh kegitan VTS.

BAB III PENUTUP

19

A. Kesimpulan Demikianlah uraian mengenai supervisi akademik, antara konsep teoritik dan kenyataannya. Pelaksanaan supervisi pengajaran di lapangan, kenyataannya masih jauh dari konsep teoritik yang dikembangkan di jurusan/program manajemen pendidikan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, diperlukan sosialisasi dan “tekanan” dari pihakpihak yang komit terhadap kualitas pendidikan kepada para pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan. Hal ini secara bersama-sama harus dilakukan dengan pengembangan budaya mutu dalam pendidikan, yang intinya terletak pada kualitas proses pembelajaran di dalam kelas. B. Saran-saran Berangkat dari kenyataan dan kendala pelaksanaan supervisi di Indonesia, maka untuk menuju pada supervisi yang ideal diperlukan langkah-langkah antara lain: 1. Menegaskan, dan apabila diperlukan memisahkan jabatan supervisor dengan jabatan pengawas dalam struktur birokrasi pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini, terdapat dua pilihan, yaitu mengarahkan jabatan pengawas agar terartikulasi pada peran dan tugas sebagai supervisor, atau mengangkat supervisor secara khusus dan tetap membiarkan jabatan pengawas melaksanakan fungsi pengawasan. 2. Memperbaiki pola pendidikan prajabatan maupun inservice rekrutmen, seleksi, penugasan, serta penilaian dan promosi jabatan supervisor/pengawas. 3. Dalam konteks otonomi daerah, jabatan supervisor dapat diangkat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. DAFTAR PUSTAKA Aqib, Zainal & Elham Rohmanto. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: CV. Yrama Widya.

20

Bafadal, Ibrahim. 1992. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara Burhanuddin, dkk. 2007. Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional. Malang: Rosindo. Edisi Revisi. Burhanuddin, H. dkk (ed.). 2003. Manajemen Pendidikan: Analisis Substantif dan Aplikasinya dalam Institusi Pendidikan. Malang: UM Press. Dharma, Surya. Peran dan Fungsi Pengawas Sekolah/ Madrasah. Dalam Jurnal Tenaga Kependidikan Volume 3, No. 1, April 2008. Ekosusilo, Madyo. 1998. Supervisi Pengajaran dalam Latar Budaya Jawa. Sukoharjo: Univet Bantara Press.

KATA PENGANTAR

21

Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat yang diberikan Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Konsep Dasar Supervisi Pendidikan” tepat pada waktunya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu penulis dalam membuat makalah ini dan teman-teman yang telah memberi motivasi dan dorongan serta semua pihak yang berkaitan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan baik dan tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang. Bengkulu, Maret 2012

Penyusun

i

22

MAKALAH
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
“ Konsep Dasar Supervisi Pendidikan ”

Oleh :

Arke Perwinti Herta Apriliyah

Dosen Pembimbing :

Masrifa Hidayani, S.Ag.,M.Pd
JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN (BENGKULU) 2012

23

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................... KATA PENGANTAR.......................................................................................... DAFATR ISI........................................................................................................ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang......................................................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................................... C. Tujuan Makalah....................................................................................... BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Supervisi Pendidikan............................................................. B. Tujuan Dan Ruang Lingkup..................................................................... C. Fungsi dan Jenis ...................................................................................... BAB III PENUTUP A. Kesimpulan............................................................................................... B. Kritik dan Saran ...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 19 19 iii 3 4 12 1 2 2 i ii

ii

24

iii

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->