BAB I PENDAHULUAN

Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Manusia juga adalah makhluk yang paling sempurna. Manusia diciptakan dengan takdir yang berbeda-beda satu sama lain. Qadha dan qadar setiap manusia sudah ditentukan jauh sebelum manusia itu diciptakan. Saat manusia terlahir sudah tertulis untuknya siapa jodohnya, berapa lama usianya, dan berapa rizkinya. Tentunya Allah punya maksud menciptakan manusia dengan takdir yang berbedabeda. Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang kuat ada yang lemah. Setiap manusia harus bisa menerima setiap takdir yang telah Allah tentukan untuknya dengan ikhlas dan rida. Tapi kenyataan yang banyak kita temui adalah banyak sekali orang-orang yang tidak bisa menerima takdirnya. Mereka bersedih, merasa susah, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya marah pada Allah dan merasa Allah tidak adil pada mereka. Tetapi ternyata masih ada orang-orang yang bisa menerima dengan ikhlas dan rida takdirnya, walaupun takdir yang mereka terima itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Lalu apa yang menyebabkan orang itu bisa ikhlas dan rida? Serta apa yang sebenarnya dimaksud dengan ikhlas dan rida itu? Kali ini penulis ingin memaparkan pengertian ikhlas dan rida serta bagaimana agar seseorang bisa memiliki rasa ikhlas dan rida pada takdir. Semoga yang membaca makalah ini dapat mengambil manfaat, khususnya penulis sendiri.

1

pasti mengalir air hikmah dari dalam hatinya melalui lisannya”. Bahkan. tidak heboh. terutama dalam tradisi Kantian. Pengertian Ikhlas Dalam bahasa agama. sebagaimana halnya Al-Ghazali. ikhlas adalah auatu maqam yang harus dialalui oleh seorang salik dalam perjalanannya kepada Allah. untuk menguji keikhlasan mungkin saja bisa dilakukan. dalam hal ini ia juga mengutip Al-Ghazali. basad. cinta dunia. “mengeerjakan amalnya semata-mata karena Allah.BAB II IKHLAS DAN RIDA 1. dan amal. ialah makrifah dan tauhid yng selanjutnya melahirkan maqam tawakal. Dua persoalan itu tidak dibicarakan oleh Al-Ghazali dalam penjelasannya mengenai ikhlas ini. hal.” demikian 2 . Dalam ibadah. Dalam penjelasannya mengenai fadilat ikhlas ini. agaknya . mantap. dan dalam hal ini ia juga tidak menyebut tiga tingkatan („awam. ia adalah seorang yang mukhlis dan perbuatan seperti itu disebut ikhlas. Menurut Al-Palimbani. Pernyataan bahwa “saya ikhlas” belum tentu mencerminkan kadar keikhlasannya. Orang yang berjiwa ikhlas disebut mukhlis. Yang dimaksud dengan mata air hikmah di sini. membentuk apa yang disebut maqam itu. terutama ketika melakukan puasa. Ikhlas itu sebuah rahasia yang amat dalam dan yang mengetahuinya hanya hati nurani dan Allah SWT. “Yang menerangkan bahwa apanila seseoranghamba Allah beramal dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari. agakanya karena itu maka Al-Palimbani tidaj pula menyebutnya. takabur “dan sebagainya daripada segala maksiat yang di dalam hati.yang bergabung menjadi satu. sesuatu tindakan dianggap baik dan memiliki nilai moral dalam dirinya. Ikhlas a. AlPalimbani mensitir sebuah hadits Nabi SAW. Menurut Al-Palimbani. khaswash‟ dan khawashulkhawash). seperti halnya dengan maqamat yang sebelumnya. ikhlas artinya melakukan sesuatu semata untuk memperoleh ridha Allah SWT dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia. Dalam bahasa filsafat. menurut riwayat. ria. baik ketika dicaci maupun dipuji. karena “apabila seseorang hamba sampai ke maqam makrifah itu. Tetapi dalam uraiannya mengenai maqam ini ia tidak menerangkan tiga unsur -ilmu. setan dan malaikat pun tidak bisa mengetahuinya. Pribadi semacam ini akan selalu merasa tenang. apabila seseorang membersihkan amalnya dari ujub.

dikatakan olej Al-Hallaj. tetapi tercampur dengan salah satu lintasan pikiran yang mengacu kepada riya‟ atau kepentingan-kepentingan nafsu lainnya sehingga pelaksanaannya terasa lebih ringan disebabkan oleh hal-hal tersebut. yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. pengetahuan tentang hakikat ikhlas dan pengalamannya merupakan lautan yang dalam.” Ini karena kemuliaan ikhlas dan sulitnya membersihkan hati dari berbagai kotoran tersebut. Jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran.. Jadi. Lawan ikhlas adalah syirik. “Siapa yang satu saat dari umurnya dapat selamat secara jernih karena mengharap ridha Allah maka sesungguhnya dia telah selamat. Pekerjaan membersihkan disebut ikhlas. maka itu dinamakan khalis (yang bersih). Siapa yang bershadaqah dengan tujuan riya‟ (pamrih kepada manusia) maka dia (secara bahasa) disebut sebagai orang yang mukhlish. Sedangkan hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang membangkitkan. Jadi tempatnya adalah hati dan itu berkenaan dengan tujuan dan niat. Atau orang yang membesuk orang sakit agar dibesuk bila dia sakit. Sedangkan ikhlas itu berkenaan dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlish. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut ikhlas dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan. Allah berfirman : . “Allah mewahyukan kepadanya melalui lintasan-lintasan hatinya…dan tanda orang arif itu kosong hatinya dari duni dan akhirat. Oleh sebab itu dikatakan. apabila menambah ke dalam amal maka dapat mengeruhkan kejernihannya. Semua orang tenggelam di dalamnya kecuali sedikit yaitu orang-orang yang 3 . maka sesungguhnya amal perbuatannya telah keluar dari batas ikhlas dan tidak lagi ikhlas karena mencari ridha Allah bahkan telah tercemari oleh kemusyrikan.. Setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati sedikit atau banyak. Misalnya orang yang berpuasa untuk memanfaatkan perlindungan yang dicapai melalui puasa tersebut di samping niat taqarrub. Manusia senantiasa terikat dalam kepentingan-kepentingan dirinya dan tenggelam dalam berbagai syahwatnya sehingga jarang sekali amal perbuatan atau ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis ini. Jika motivasi pembangkitnya adalah taqarrub kepada Allah. ikhlas dan lawannya senantiasa datang kepada hati.” (An-Nahl: 66) Susu bisa bersih apabila tidak dicampuri oleh darah dan tahik atau setiap hal yang dapat mencampurinya.”(berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah.” b. Hakikat Ikhlas Setiap sesuatu bisa ternoda oleh yang lain.

salah seorang sufi besar yang hidup di Baghdad. Suka dan duka. Harun Nasution mengatakan bahwa rida berarti tidak berusaha untuk menentang qadha dan qadar Tuhan. Dalam surat Al-Hadid ayat 23 dijelaskan tentang makna rida. tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya qadha dan qadar. serta tidak rida terhadap keputusan (takdir) Ku maka hendaknya ia keluar dari kolong langit dan carilah Tuhan selain Aku. Barangsiapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku. yaitu tidak bersedih hati atau berduka terhadap sesuatu yang luput atau telah hilang. menyebutkan bahwa rida adalah meninggalkan usaha. yakni menerima ketentuan Allah dengan segala senang hati. Merasa senang menerima ujian sebagaimana merasa senang menerima nikmat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi. 2. Rida juga berarti mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya hanya perasaan senang dan gembira.dikecualikan di dalam firman-Nya: “Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” (Al-Hijr: 40). tiada Tuhan selain Aku. tidak bersyukur atas segala nikmatKu. Hal ini menunjukkan sifat rida. diterima dengan gembira sebab apa pun yang datang itu adalah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa. Tidak berusaha sebelum datangnya qadha dan qadar. Maka hendaknya seorang hamba sangat memperhatikan dan mengawasi hal-hal yang sangat mendetil ini. Ini merupakan tingkatan rida tertinggi. Sikap mental seperti ini tumbuh melalui usaha demi usaha. atau sikap seseorang 4 . Pengertian rida ini merupakan perpaduan antara sabar dan tawakal sehingga melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang menerima segala situasi dan kondisi. melainkan menerima dengan hati yang senang. Tuhan menegaskan: “Sesungguhnya Aku ini Allah. rida artinya rela. Sikap anak bayi terhadap orangtuanya. perjuangan demi perjuangan. Apa pun yang datang dan pergi. yang mungkin sulit terjangkau oleh kita saat ini. Rida a. mengikis habis segala perasaan gundah dan benci sehingga yang tertinggal di dalam hatinya hanya perasaan senang dan bahagia. senang. bahkan perasaan cinta bergelora di waktu turunnya cobaan yang berat. Tidak meminta surga dari Allah dan tidak meminta dijauhkan dari neraka. Rida: Menyenangi Ujian dan Nikmat Secara harfiah. suka. tetap akan merasa bahagia.” Al-Junaid. Jika tdak maka akan tergolong kepada para pengikut syetan tanpa menyadari. serta tidak terlalu bergembira dengan apa yang sudah dimiliki karena semuanya merupakan titipan Allah.

Bahkan semua ketentuan serta ketetapan dari Tuhan dapat diterimanya dengan segala senang hati. sebagian besar sufi berpendapat bahwa rida adalah maqam terakhir dari perjalanan seseorang yang ingin mendekati Tuhan (taqarub ila Allah). yakni memasrahkan diri dan meninggalkan usaha. Alhasil. kesadaran akan kelemahan serta kekurangan diri dan kesadaran akan pengetahuan yang terbatasm semakin memantapkan keridaan kepada-Nya. tidak akan menentang qadha dan qadar Tuhan. Menurut Dzun Nun Al-Mishri. Apabila seseorang telah mencapai kedudukan (maqam) rida ini maka berarti dia telah mencapai suatu tahapan yang mengantarkannya oada keadaan atau sifat yang mendekati kesempurnaan diri (insan kamil). barangkali adalah contoh rida yang dimaksudkan oleh Al-Junaid. Rida juga berarti suka atau senang. niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya. Dengan kata lain. Hal ini berarti bahwa seseorang dengan keridaan yang ada dalam hatinya. yakni senang menjadikan Allah sebagai Tuhan. ketakwaan kepada-Nya dan keridaan terhadap ketetapan-Nya adalah jalan terbaik bagi seseorang mukmin hakiki. Dalam sebuah riwayat nabi SAW berpesan. baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib (taqdir) bagi dirinya. tidak membantah atau mengeluh apa pun kepada-Nya. pasrah tanpa menunjukkan pertentangan sedikit pun terhadap apa yang dilakukan Allah baginya. hatinya akan menyenangi semua hal yang datang dari-Nya. rida itu adalah senang dan bahagianya hati dengan ketentuanketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan.yang sedang sakit di hadapan dokter yang merawatnya. Menurut Syekh Abdul Kadir Jailani. Lebih dari itu. seorang sufi yang hidup pada tahun 470-561 H. merupakan kelanjutan rasa cinta atau perpaduan dari al-hubb atau mahabbah dan sabar. Seorang muslim yang hakiki adalah orang yang rida pada sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya. Orang yang rida adalah mereka yang menerima ketetapan Allah dengan berserah diri (taslim). serta senang kepada ajaran dan takdir-Nya. Hal ini berangkat dari sebuah keyakinan yang mantap bahwa sesungguhnya ketetapan Allah itu jauh lebih baik daripada apa yang ditetapkan seseorang untuk dirinya sendiri. “terimalah dengan penuh keridaan apa saja yang Allah berikan kepadamu. Rida mengandung pengertian menerima dengan lapang dada dengan hati yang terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah. Menurut Qomar Kailani. Orang yang telah mencintai Allah. Sikap mental rida ini.” 5 . bantahan dan keluhan merupakan sikap yang berlawanan dengan rida. sikap rida ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mendatangkan kedamaian di dalam hati dan jiwa. rida adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir). Dalam hal ini.

Menurut dia. seperti yang telah disebutkan oleh Al-Quran dan Hadis. „Cukuplah Allah bagi kami‟ maka Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya. arti rida itu “tidak menyangkali akan perbuatan yang diperlakukan Allah atasnya dan (atas) orang lain daripadanya karena sekalian perbuatan yang wuqu‟ (terjadi) di dalam dunia ini…. Rida dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalam jiwa. karena pengertian sabar itu masih terkandung di dalamnya pengakuan adanya sesuatu yang menimbulkan penderitaan. “Jikalau mereka sungguh-sunggu rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka.Bentuk keridaan pada ketentuan qadha dan qadar-Nya ini. Sebaliknya. pasti mengetahui bahwa pilihan Allah adala sesuatu yang terbaik bagianya dalam segala situasi dan kondisi. sesungguhnya sangat tergantung pada sejauh mana tingkat penentangannya terhadap takdir dan kecenderungannya dalam mengikuti hawa nafsu. capek. kegalauan.” (QS. PerbuatanNya dan wajib ia rida akan perbuatan-Nya. karena semuanya adalah perbuatan Tuhan. pasti akan merasakan ketenangan dan ketenteraman. jika ingin mendapatkan ketenangan dan ketenteraman jiwa maka ia harus menentang ego dan hawa nafsunya sendiri. Kegundahan. Al-Palimbani juga menganggap rida itu maqam tertinggi yang merupakan buah dari mahabbah. Sehingga di dunia ini dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebaliknya. rasa gundah. Begitu juga jika seseorang mengikuti hawa nafsu dan egonya maka selama itu pula tidak pernah rida pada takdir. sikap batin seperti itu mungkin saja dimiliki orang yang segenap fikiran dan perasaannya 6 . dan keletihan yang dirasakan oleh seseorang. AtTaubah [9]: 59). sehingga seseorang akan merasa jauh lebih tenang dan tenteram. dan berkata. Selanjutnya adalah adanya keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa kehidupan bersama-Nya adalah sesuatu yang sangat indah dan menyenangkan karena Dia adalah sumber keindahan dan kebahagiaan. siapa yang tidak rida maka akan merasakan penderitaan dan kepayahan yang terus-menerus dan berkepanjangan. Keridaan ini akan meringankan seluruh beban hidupnya. Seorang hamba yang rida dan menerima apa yang dipilihkan Allah untukknya. Dengan demikian. dan galau akan hilang dari dirinya. Menurut Al-Ghazali. sedangkan orang yang sudah berada di maqam rida ini tidak membedakan lagi antara apa yang disebut musibah dan yang disebut nikmat –semuanya diterima dengan gembira. kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. adalah meyakini bahwa Allah adalah Zat yang senantiasa dan akan terus menerus memberikan yang terbaik kepada kita. Selain itu sebagaimana halnya Al-Ghazali. Maqam rida ini lebih tinggi dari maqam sabar tadi. Siapa yang rida pada takdir.

c. Rida Akan Ketetapan Allah Hendaknya sebagai kaum mukmin kita harus selalu rida akan ketetapan Allah SWT. Dia-lah yang memberi petunjuk dan kesesatan. Tetapi yang tersebut terakhir ini. Menurut Al-Palimbani. dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan rida di sini ialah rida terhadap semua yang diridai Allah. Maka dari iru. yang menyengsarakan dan membahagiakan. rida yang lahir dari cinta kepada Allah itu adalah “pintu yang amat besar. maqam orang yaqng muqarrabin. Yang demikian itu termasuk di antara buah mahabbah dan ma‟rifah yang paling mulia. baik secara lahir maupun batin. Manusia yang tak berhijab mengenal kesempurnaan mutlak dan mempunyai makrifat hudhuri (ilmu kehadiran) kepada maqam suci yang sempurna secara mutlak. terbagi menjadi dua bagian: 7 . seutama-utamanya. berlangsung dengan cara sebaik-baiknya.telah dikuasai kecintaan kepada Allah. segala kehendak dan keinginan yang mencerminkan tuntutan hawa nafsu manusia telah terhapus dalam kehendak Tuhan yang sudah merupakan sentral wujud-Nya. ketentuan rida si makhluk akan semua tindakan Tuhannya. hanya dipandang sebagai salah satu sifat terpuji bukan sesuatu maqam. Ridha Merupakan Tentara Akal dan konsekuensi Fitrah Makhmurah Manusia secara fitrah cinta Al Haqq SWT. kewajiban kaum mukmin ialah menyadari dan meyakini bahwa Allah SWT. yang merupakan kesempurnaan mutlak. tidak boleh tidak. Sedangkan bila diuraikan secara terinci. Wajib atas kaum mukmin untuk mengimani bahwa semua perbuatan Allah SWT. dalam garis besarnya. dan sesempurna-sempurnanya. Begitulah. b. seadil-adilnya. Setelah itu kewajiban kaum mukmin ialah tidak menentang ataupun memprotes Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya. pada maqam tertinggi ini. walau dirinya tidak tahu dikarenakan penghijaban cahaya fitrah. yang khusus berkenaan dengan diri. Dari uraian di atas. sebagai buah dari cinta yang hakiki kepada-Nya. agaknya. karena dalam kehidupan manusia di dunia ini sangat banyak contoh yang menunjukkan bahwa orang yang mencintai sesuatu selalu rela memikul segala pengorbanan untuknya. Dalam kata lain. yang (merupakan) jalan masuk kepada makrifah Allah” dan adalah maqam “yang lebih tinggi. yakni orang yang hampir kepada Allah. dapat dijelaskan bahwa segala hal. nampaknya. yang merendahkan dan meninggikan serta yang mendatangkan mudarat dan manfaat. Menurut urutan yang terdapat dalam kitab Hidayatus-salihin setelah maqam rida ini masih ada lagi satu bab mengenai mengingat mati.

seperti penyakit dan kemiskinan. seperti kesehatan dan kekayaan. d. jika tidak mampu. mengeluarkan dirinya dari kerajaan setan. Manfaat pertama didapatkan untuk saat ini di dunia dan sedangkan manfaat kedua didapatkan pada masa depan. Maqam ini. Kedua. dan mengingat bahwa Ia telah memilihkan bagimu segala sesuatu yang paling baik untukmu atau.Pertama. dalam kitab Minhaj al-Abidin. Atau. yakni akhirat. mengingat bahwa Ia berhak melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Yakni senang dengan semua kejadian yang dihadapinya. 505 H/1111 M) yang bergelar Hujjatul Islam. rida terhadap takdir Allah memiliki dua manfaat. Derajat kedua: Ridha dengan qadha dan takdir Allah SWT. Adapun manfaat yang diperoleh segera di sini adalah hati yang tenang 8 . Sekalikali tidaklah dibenarkan kaum mukmin merasa runyam atau putus asa karenanya. Sebagiannya adalah sebagai berikut: Derajat pertama: Ridha pada Allah SWT sebagai Tuhan. yakni hamba tidak ridha dengan dirinya. wajiblah seorang mukmin rida sepenuhnya dengan bagian yang diberikan Allah kepadamu. Tingkatan-tingkatan Rida Rida dan sifat-sifat kesempurnaan jiwa lainnya memiliki banyak tingkatan dan derajat. Yang sebaiknya bagimu dalam keadaan seperti ini ialah rida dan menerima sepenuhnya. haruslah terhitung sebagai awal permulaan derajat ketiga bagi ridha. Ialah yang diistilahkan dengan “ridha dengan ridha Allah SWT”. Manfaat dan Keutamaan Rida Menurut Imam Al-Ghazali (w. Maka mengenai ini. yang paling cocok untuk kondisimu. Yakni ridha dengan maqam rububiyah-Nya dan akan terwujud bila seorang salik menjadikan dirinya berada dibawah rububiyah (pemeliharaan) Allah SWT. hendaknya sabar dan tawakal. keadaan yang senantiasa menyertai. serta ridha dan senang dengan rububiyah-Nya. tepatnya. keadaan yang tidak senantiasa menyertai. bagian ini tidak dapat dibayangkan adanya ketidaksenanganmu padanya kecuali jika dilihat dari sudut pandangmu kepada orang-orang yang melebihimu dalam kedua keadaan tersebut. melainkan keridhaannya tergantung pada keridhaan Allah SWT. maupun sebaliknya (kebahagiaan). baik yang manis maupun yang pahit dan gembira dengan semua yang diberikan Allah SWT baik berupa cobaan. e. yakni maqam mahabbah dan jadzbah (pemikatan). sakit dan kehilangan yang dicintai. sebagaimana kehendaknya juga mengikuti kehendak Allah SWT.

selalu dalam keadaan berkeluh kesah maka ia akan bingung. f. jika seseorang tidak rida dengan takdir Allah. dan „kalau saja‟. sedih. jika seseorang rida dengan takdir-Nya maka ia akan mengistirahatkan pikiran dan hatinya dari hal-hal yang tidak sampai pengetahuan manusia padanya. dan bahkan akan dikenai dosa.” (Ar-Rahman: 60) Puncak ihsan adalah ridha Allah terhadap hamba-Nya yaitu ganjaran ridha hamba terhadap Allah ta‟ala. Sebagaimana “menyaksikan” Allah di dalam shalat itu lebih besar (keutamaannya) ketimbang shalat.” (AlAnkabut: 45). seperti apa yang akan terjadi hari esok pada dirinya atau orang lain. adalah ganjaran kebaikan yang tidak pernah terputus selamanya dan keridaan Allah yakni surga dan segala kenikmatannya. keridaan pada takdir-Nya akan membuat seseorang merasakan lezatnya iman yang tertanam di lubuk hatinya. Manfaat yang akan diperoleh dikemudian hari karena rida pada takdir-Nya. susah. Sebaliknya. istirahatkan saja hati dari kata „barangkali‟. juga mendatangkan kebahagiaan yang besar pada seseorang karena pada hari Kiamat nanti ia akan digabungkan bersama orang-orang yang benar. bahkan ia merupakan puncak pencarian para penghuni surga. demikian pula ridha pemilik surga lebih besar ketimbang surga. Terdapat juga keutamaan-keutamaan Rida. Rida kepada Allah dan segala bentuk takdir-Nya. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah lebih besar (keutamaannya).” (Al-Bayyinah: 8) “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).dan tenteram serta tidak ada kebimbangan sedikit pun.” (At-Taubah: 72) Allah mengangkat ridha di atas surga dan sebagaimana Dia menyebutkannya di atas shalat. Firman-Nya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. „andaikata‟. Kebimbangan hati yang dirasakan dalam memikirkan hal-hal seperti itu berarti menyia-nyiakan umur yang produktif. tidak menerima keadaan dengan lapang dada. Menurut Al-Ghazali. kesal. Siapa pun tidak ada yang mampu menahannya walau sebentar. Terbukanya pintu Maqam Rida 9 . seperti yang telah Allah firmankan: “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Allah befirman: “Dan (mendapatkan) tempat-tempat yang bagus di surga dan keridhaan Allah adalah lebih besar. Oleh karena itu. Apa yang sudah ditakdirkan pasti akan ada dan akan terjadi pada waktunya. Takdir Allah sudah putus dan putusan Allah sudah terjadi.

Tingkatan ketiga ialah ketika hamba salik sampai pada derajat ithmi‟nan (kedamaian) dan inilah kedamaian yang sempurna. ada dalam maqam ini secara sempurna. Dan dalam maqam ini. Kedua. Ilmu burhani (argumentasi) ini yang adalah bagian akal. Tingkat ketiga. Berdasarkan hal yang lazim dan umum. Tingkat kedua. Untuk maqam ini. maka tingkat ridha semakin sempurna. secara keseluruhan ada 3 tingkatan: Tingkat pertama. dimana mereka memalingkan arah (ruang) hati mereka dari alam dan kegelapan. sifat dan fi‟il. ia bergaul dengan orang-orang yang senantiasa berzikir. Tingkatan pertama yang dicapai oleh hamba adalah ilmu (pengetahuan) bahwa Allah SWT Maha indah secara zat. melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya menuju Al-Haq. hati mengimani kemahaindahan Allah SWT. Tingkatan ini adalah bagi para ahli makrifat dan kalbu. Tingkatan kedua ialah dimana keindahan Allah SWT. Dalam arti.Ahmad Ibn „Ujaibah memberikan penjelasan bahwa tidak akan terbuka pintu maqam rida bagi seorang hamba. meskipun roh ridha. Tingkatan keempat ialah maqam musyahadah (penyaksian). penyaksian penampakan zat Allah SWT. Landasan-landasan Maqam Ridha Karena maqam ridha merupakan dampak dan perkara makrifat ilahiah seperti segenap maqam khusus lainnya. sesuai argumentasi ilmiah dan filosofi. penyaksian penampakan af‟al (perbuatan-perbuatan Allah SWT). ia berkonsisten (istiqamah) dalam mengerjakan amal shaleh. tidak mengasilkan akhlak nafsaniyah (akhlak yang berhubungan dengan jiwa dan hati manusia) yang merupakan konsekuensi makrifat. Ketiga. dan bersih dari noda. yang hakikatnya adalah mahabbah dan jadzbah. ia tenggelam dalam nama Allah. 10 . maka layak untuk mengisyaratkan pada sebagian landasannya. Pertama. dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa nabi Muhammad SAW. shifat dan af‟al-Nya yang indah sampai kepada hati. Ketika ketenangan jiwa menghasilkan pada maqam jamiliyah (kemahaindahan) Al Haqq. Dengan kata lain. Dan dua maqam (terakhir) ini lebih tinggi dari ridha dan semacamnya. penyaksian penampakan sifat-sifat dan asma‟ (nama-nama Allah SWT). ridha dengan qadha Allah SWT menghasilkan kesempurnaan tingkatan dan derajat. g. seandainya seseorang mencapai maqam-maqam „irfan yang yang tinggi tanpa melalui tingkatan ini adalah merupakan kelangkaan dan bukan sebuah tolak ukur bagi kualitas.

janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Dengan demikian diketahui bahwa do‟a memohon ampunan dan perlindungan dari berbagai kemaksiatan atau memohon semua sebab yang dapat membantu pelaksanaan agama. juga tidak bertentangan dengan ridha. Dalam masalah ini sebagian orang telah melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa kemaksiatan. dari satu sisi.” (Al-Ma’idah: 51) Ridha dan kebencian merupakan dua hal yang bertentangan apabila keduanya disebutkan untuk satu hal. maka terlalu banyak ayat Al-Qur‟an dan hadits yang menyebutkan hal ini.” (Yunus: 7) “Mereka ridha berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang. Banyaknya do‟a yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan semua Nabi menunjukkan hal ini.. Jika kita ridha terhadap sesuatu dari satu sisi dan membencinya dari sisi lain.. padahal Rasulullah saw berada dalam maqam ridha yang tertinggi. Karena Allah memerintahkan hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan do‟a.” (At-Taubah: 87) Sedangkan tentang membenci orang-orang kafir atau orang-orang yang durhaka dan mengingkari mereka. Firman-Nya: “Dan mereka ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu. Bahkan Allah memuji sebagian hamba-Nya dengan firman-Nya: “Dan mereka berdo‟a kepada Kami dengan harap dan cemas. kedurhakaan dan kekafiran adalah termasuk qadha‟ Allah dan taqdir-Nya. kecaman terhadap sebab-sebab kemaksiatan. Do’a tidak Bertentangan dengan Ridha Do‟a tidak membuat orang yang berdo‟a keluar dari maqam ridha.” (Ali-Imran: 28) “Hai orang-orang yang beriman. maka hal ini bukanlah dua hal yang bertentangan. dan mereka telah dikunci mati.h..” (Al-Anbiya’: 90) Sedangkan mengingkari kemaksiatan dan tidak ridha kepadanya juga dijadikan oleh Allah sebagai sarana ibadah kepada-Nya bagi para hamba-Nya. agar dari do‟a mereka itu terungkapkan kejernihan dzikir 11 . diantaranya firman Allah: “Janganlah orang-orang Mu‟min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mu‟min. dan satu cara.. kecaman terbadap para pelaku kemaksiatan. Do‟a adalah salah satu sarana ibadah kepada Allah. tidak bertentangan dengan ridha kepada qadha‟ Allah. Allah mencela mereka karena ridha kepada kemaksiatan. dan upaya untuk menghapuskannya dengan amar ma‟ruf dan nahi munkar. Demikian pula kebencian kepada kemaksiatan. sehingga kita harus ridha kepadanya.

12 .dan kekusyu‟an hati . sehingga dengan demikian doa itu menjadi penjernih hati. kunci pembuka kasyaf. dan sebab limpahan berbagai rahasia.

5. yakni senang menjadikan Allah sebagai Tuhan. Ikhlas artinya melakukan sesuatu semata untuk memperoleh ridha Allah SWT dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia.BAB III PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah yang berjudul “Ikhlas dan Rida” ini adalah sebagai berikut: 1. Rida itu maqam tertinggi yang merupakan buah dari mahabbah. 2. 4. serta senang kepada ajaran dan takdir-Nya. baik ketika dicaci maupun dipuji. Rida berarti suka atau senang. tidak heboh. Pribadi ikhlas akan selalu merasa tenang. 13 . mantap. Rida dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalam jiwa. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful