BAB I PENDAHULUAN

Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Manusia juga adalah makhluk yang paling sempurna. Manusia diciptakan dengan takdir yang berbeda-beda satu sama lain. Qadha dan qadar setiap manusia sudah ditentukan jauh sebelum manusia itu diciptakan. Saat manusia terlahir sudah tertulis untuknya siapa jodohnya, berapa lama usianya, dan berapa rizkinya. Tentunya Allah punya maksud menciptakan manusia dengan takdir yang berbedabeda. Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang kuat ada yang lemah. Setiap manusia harus bisa menerima setiap takdir yang telah Allah tentukan untuknya dengan ikhlas dan rida. Tapi kenyataan yang banyak kita temui adalah banyak sekali orang-orang yang tidak bisa menerima takdirnya. Mereka bersedih, merasa susah, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya marah pada Allah dan merasa Allah tidak adil pada mereka. Tetapi ternyata masih ada orang-orang yang bisa menerima dengan ikhlas dan rida takdirnya, walaupun takdir yang mereka terima itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Lalu apa yang menyebabkan orang itu bisa ikhlas dan rida? Serta apa yang sebenarnya dimaksud dengan ikhlas dan rida itu? Kali ini penulis ingin memaparkan pengertian ikhlas dan rida serta bagaimana agar seseorang bisa memiliki rasa ikhlas dan rida pada takdir. Semoga yang membaca makalah ini dapat mengambil manfaat, khususnya penulis sendiri.

1

pasti mengalir air hikmah dari dalam hatinya melalui lisannya”. apabila seseorang membersihkan amalnya dari ujub. seperti halnya dengan maqamat yang sebelumnya. Menurut Al-Palimbani. dan dalam hal ini ia juga tidak menyebut tiga tingkatan („awam. basad. Pernyataan bahwa “saya ikhlas” belum tentu mencerminkan kadar keikhlasannya. “Yang menerangkan bahwa apanila seseoranghamba Allah beramal dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari. mantap. ialah makrifah dan tauhid yng selanjutnya melahirkan maqam tawakal. sebagaimana halnya Al-Ghazali. khaswash‟ dan khawashulkhawash). Orang yang berjiwa ikhlas disebut mukhlis. sesuatu tindakan dianggap baik dan memiliki nilai moral dalam dirinya.” demikian 2 . menurut riwayat. terutama dalam tradisi Kantian. Dalam bahasa filsafat. baik ketika dicaci maupun dipuji.BAB II IKHLAS DAN RIDA 1. agakanya karena itu maka Al-Palimbani tidaj pula menyebutnya. terutama ketika melakukan puasa.yang bergabung menjadi satu. Bahkan. ia adalah seorang yang mukhlis dan perbuatan seperti itu disebut ikhlas. agaknya . ikhlas artinya melakukan sesuatu semata untuk memperoleh ridha Allah SWT dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia. Menurut Al-Palimbani. Yang dimaksud dengan mata air hikmah di sini. Pengertian Ikhlas Dalam bahasa agama. cinta dunia. Dalam penjelasannya mengenai fadilat ikhlas ini. untuk menguji keikhlasan mungkin saja bisa dilakukan. karena “apabila seseorang hamba sampai ke maqam makrifah itu. Ikhlas a. Tetapi dalam uraiannya mengenai maqam ini ia tidak menerangkan tiga unsur -ilmu. ikhlas adalah auatu maqam yang harus dialalui oleh seorang salik dalam perjalanannya kepada Allah. Ikhlas itu sebuah rahasia yang amat dalam dan yang mengetahuinya hanya hati nurani dan Allah SWT. AlPalimbani mensitir sebuah hadits Nabi SAW. “mengeerjakan amalnya semata-mata karena Allah. ria. Pribadi semacam ini akan selalu merasa tenang. dan amal. takabur “dan sebagainya daripada segala maksiat yang di dalam hati. dalam hal ini ia juga mengutip Al-Ghazali. Dua persoalan itu tidak dibicarakan oleh Al-Ghazali dalam penjelasannya mengenai ikhlas ini. tidak heboh. membentuk apa yang disebut maqam itu. Dalam ibadah. setan dan malaikat pun tidak bisa mengetahuinya. hal.

Pekerjaan membersihkan disebut ikhlas.” (An-Nahl: 66) Susu bisa bersih apabila tidak dicampuri oleh darah dan tahik atau setiap hal yang dapat mencampurinya. Misalnya orang yang berpuasa untuk memanfaatkan perlindungan yang dicapai melalui puasa tersebut di samping niat taqarrub. maka sesungguhnya amal perbuatannya telah keluar dari batas ikhlas dan tidak lagi ikhlas karena mencari ridha Allah bahkan telah tercemari oleh kemusyrikan. pengetahuan tentang hakikat ikhlas dan pengalamannya merupakan lautan yang dalam. “Allah mewahyukan kepadanya melalui lintasan-lintasan hatinya…dan tanda orang arif itu kosong hatinya dari duni dan akhirat. Jadi tempatnya adalah hati dan itu berkenaan dengan tujuan dan niat. ikhlas dan lawannya senantiasa datang kepada hati. Semua orang tenggelam di dalamnya kecuali sedikit yaitu orang-orang yang 3 . Lawan ikhlas adalah syirik. Jika motivasi pembangkitnya adalah taqarrub kepada Allah. Sedangkan ikhlas itu berkenaan dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlish. Manusia senantiasa terikat dalam kepentingan-kepentingan dirinya dan tenggelam dalam berbagai syahwatnya sehingga jarang sekali amal perbuatan atau ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis ini. Siapa yang bershadaqah dengan tujuan riya‟ (pamrih kepada manusia) maka dia (secara bahasa) disebut sebagai orang yang mukhlish. Sedangkan hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang membangkitkan. yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. Setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati sedikit atau banyak. apabila menambah ke dalam amal maka dapat mengeruhkan kejernihannya. “Siapa yang satu saat dari umurnya dapat selamat secara jernih karena mengharap ridha Allah maka sesungguhnya dia telah selamat. maka itu dinamakan khalis (yang bersih).. Jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran. Allah berfirman : .” Ini karena kemuliaan ikhlas dan sulitnya membersihkan hati dari berbagai kotoran tersebut.”(berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah. Hakikat Ikhlas Setiap sesuatu bisa ternoda oleh yang lain. tetapi tercampur dengan salah satu lintasan pikiran yang mengacu kepada riya‟ atau kepentingan-kepentingan nafsu lainnya sehingga pelaksanaannya terasa lebih ringan disebabkan oleh hal-hal tersebut..” b. Atau orang yang membesuk orang sakit agar dibesuk bila dia sakit. Jadi.dikatakan olej Al-Hallaj. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut ikhlas dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan. Oleh sebab itu dikatakan.

Hal ini menunjukkan sifat rida. salah seorang sufi besar yang hidup di Baghdad. diterima dengan gembira sebab apa pun yang datang itu adalah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa. 2. melainkan menerima dengan hati yang senang. Harun Nasution mengatakan bahwa rida berarti tidak berusaha untuk menentang qadha dan qadar Tuhan. Tidak meminta surga dari Allah dan tidak meminta dijauhkan dari neraka. Ini merupakan tingkatan rida tertinggi. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi. Jika tdak maka akan tergolong kepada para pengikut syetan tanpa menyadari. yakni menerima ketentuan Allah dengan segala senang hati.” Al-Junaid. serta tidak rida terhadap keputusan (takdir) Ku maka hendaknya ia keluar dari kolong langit dan carilah Tuhan selain Aku. atau sikap seseorang 4 . Rida juga berarti mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya hanya perasaan senang dan gembira. Pengertian rida ini merupakan perpaduan antara sabar dan tawakal sehingga melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang menerima segala situasi dan kondisi. yaitu tidak bersedih hati atau berduka terhadap sesuatu yang luput atau telah hilang. tiada Tuhan selain Aku. suka. perjuangan demi perjuangan. bahkan perasaan cinta bergelora di waktu turunnya cobaan yang berat. Suka dan duka. Barangsiapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku. Tuhan menegaskan: “Sesungguhnya Aku ini Allah. tetap akan merasa bahagia. Maka hendaknya seorang hamba sangat memperhatikan dan mengawasi hal-hal yang sangat mendetil ini. serta tidak terlalu bergembira dengan apa yang sudah dimiliki karena semuanya merupakan titipan Allah. tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya qadha dan qadar. rida artinya rela. Sikap anak bayi terhadap orangtuanya. Dalam surat Al-Hadid ayat 23 dijelaskan tentang makna rida. Rida: Menyenangi Ujian dan Nikmat Secara harfiah. Rida a. Merasa senang menerima ujian sebagaimana merasa senang menerima nikmat.dikecualikan di dalam firman-Nya: “Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” (Al-Hijr: 40). Apa pun yang datang dan pergi. mengikis habis segala perasaan gundah dan benci sehingga yang tertinggal di dalam hatinya hanya perasaan senang dan bahagia. tidak bersyukur atas segala nikmatKu. Tidak berusaha sebelum datangnya qadha dan qadar. Sikap mental seperti ini tumbuh melalui usaha demi usaha. senang. menyebutkan bahwa rida adalah meninggalkan usaha. yang mungkin sulit terjangkau oleh kita saat ini.

Lebih dari itu. “terimalah dengan penuh keridaan apa saja yang Allah berikan kepadamu. rida itu adalah senang dan bahagianya hati dengan ketentuanketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan. bantahan dan keluhan merupakan sikap yang berlawanan dengan rida. hatinya akan menyenangi semua hal yang datang dari-Nya.” 5 . Menurut Dzun Nun Al-Mishri. kesadaran akan kelemahan serta kekurangan diri dan kesadaran akan pengetahuan yang terbatasm semakin memantapkan keridaan kepada-Nya. Dalam hal ini. Orang yang telah mencintai Allah. Bahkan semua ketentuan serta ketetapan dari Tuhan dapat diterimanya dengan segala senang hati. Apabila seseorang telah mencapai kedudukan (maqam) rida ini maka berarti dia telah mencapai suatu tahapan yang mengantarkannya oada keadaan atau sifat yang mendekati kesempurnaan diri (insan kamil). pasrah tanpa menunjukkan pertentangan sedikit pun terhadap apa yang dilakukan Allah baginya. Hal ini berarti bahwa seseorang dengan keridaan yang ada dalam hatinya. Sikap mental rida ini. serta senang kepada ajaran dan takdir-Nya. tidak membantah atau mengeluh apa pun kepada-Nya. Rida juga berarti suka atau senang. sebagian besar sufi berpendapat bahwa rida adalah maqam terakhir dari perjalanan seseorang yang ingin mendekati Tuhan (taqarub ila Allah). niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya. sikap rida ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mendatangkan kedamaian di dalam hati dan jiwa. ketakwaan kepada-Nya dan keridaan terhadap ketetapan-Nya adalah jalan terbaik bagi seseorang mukmin hakiki. Hal ini berangkat dari sebuah keyakinan yang mantap bahwa sesungguhnya ketetapan Allah itu jauh lebih baik daripada apa yang ditetapkan seseorang untuk dirinya sendiri. Menurut Syekh Abdul Kadir Jailani. Orang yang rida adalah mereka yang menerima ketetapan Allah dengan berserah diri (taslim). Alhasil. yakni memasrahkan diri dan meninggalkan usaha. seorang sufi yang hidup pada tahun 470-561 H. Seorang muslim yang hakiki adalah orang yang rida pada sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya. barangkali adalah contoh rida yang dimaksudkan oleh Al-Junaid. baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib (taqdir) bagi dirinya. merupakan kelanjutan rasa cinta atau perpaduan dari al-hubb atau mahabbah dan sabar. tidak akan menentang qadha dan qadar Tuhan. Dengan kata lain. Menurut Qomar Kailani. Rida mengandung pengertian menerima dengan lapang dada dengan hati yang terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah. rida adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir). Dalam sebuah riwayat nabi SAW berpesan. yakni senang menjadikan Allah sebagai Tuhan.yang sedang sakit di hadapan dokter yang merawatnya.

jika ingin mendapatkan ketenangan dan ketenteraman jiwa maka ia harus menentang ego dan hawa nafsunya sendiri. siapa yang tidak rida maka akan merasakan penderitaan dan kepayahan yang terus-menerus dan berkepanjangan. capek.Bentuk keridaan pada ketentuan qadha dan qadar-Nya ini. rasa gundah. Seorang hamba yang rida dan menerima apa yang dipilihkan Allah untukknya. Al-Palimbani juga menganggap rida itu maqam tertinggi yang merupakan buah dari mahabbah. dan galau akan hilang dari dirinya. Selanjutnya adalah adanya keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa kehidupan bersama-Nya adalah sesuatu yang sangat indah dan menyenangkan karena Dia adalah sumber keindahan dan kebahagiaan. sedangkan orang yang sudah berada di maqam rida ini tidak membedakan lagi antara apa yang disebut musibah dan yang disebut nikmat –semuanya diterima dengan gembira. Sebaliknya. Menurut Al-Ghazali. arti rida itu “tidak menyangkali akan perbuatan yang diperlakukan Allah atasnya dan (atas) orang lain daripadanya karena sekalian perbuatan yang wuqu‟ (terjadi) di dalam dunia ini…. sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. Selain itu sebagaimana halnya Al-Ghazali. sesungguhnya sangat tergantung pada sejauh mana tingkat penentangannya terhadap takdir dan kecenderungannya dalam mengikuti hawa nafsu. Maqam rida ini lebih tinggi dari maqam sabar tadi. AtTaubah [9]: 59). Keridaan ini akan meringankan seluruh beban hidupnya. kegalauan. PerbuatanNya dan wajib ia rida akan perbuatan-Nya. dan keletihan yang dirasakan oleh seseorang. karena pengertian sabar itu masih terkandung di dalamnya pengakuan adanya sesuatu yang menimbulkan penderitaan. Rida dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalam jiwa. dan berkata. sikap batin seperti itu mungkin saja dimiliki orang yang segenap fikiran dan perasaannya 6 . kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. pasti akan merasakan ketenangan dan ketenteraman. „Cukuplah Allah bagi kami‟ maka Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya. Menurut dia. Kegundahan. karena semuanya adalah perbuatan Tuhan. “Jikalau mereka sungguh-sunggu rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka.” (QS. Sebaliknya. sehingga seseorang akan merasa jauh lebih tenang dan tenteram. Begitu juga jika seseorang mengikuti hawa nafsu dan egonya maka selama itu pula tidak pernah rida pada takdir. pasti mengetahui bahwa pilihan Allah adala sesuatu yang terbaik bagianya dalam segala situasi dan kondisi. Dengan demikian. seperti yang telah disebutkan oleh Al-Quran dan Hadis. Sehingga di dunia ini dia tidak akan mendapatkan apa-apa. adalah meyakini bahwa Allah adalah Zat yang senantiasa dan akan terus menerus memberikan yang terbaik kepada kita. Siapa yang rida pada takdir.

walau dirinya tidak tahu dikarenakan penghijaban cahaya fitrah. Ridha Merupakan Tentara Akal dan konsekuensi Fitrah Makhmurah Manusia secara fitrah cinta Al Haqq SWT. sebagai buah dari cinta yang hakiki kepada-Nya. Maka dari iru. Rida Akan Ketetapan Allah Hendaknya sebagai kaum mukmin kita harus selalu rida akan ketetapan Allah SWT. seadil-adilnya. Tetapi yang tersebut terakhir ini. yang merendahkan dan meninggikan serta yang mendatangkan mudarat dan manfaat. berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. tidak boleh tidak. agaknya. dalam garis besarnya. b. yang menyengsarakan dan membahagiakan. kewajiban kaum mukmin ialah menyadari dan meyakini bahwa Allah SWT. Menurut urutan yang terdapat dalam kitab Hidayatus-salihin setelah maqam rida ini masih ada lagi satu bab mengenai mengingat mati. Menurut Al-Palimbani. Begitulah. maqam orang yaqng muqarrabin. hanya dipandang sebagai salah satu sifat terpuji bukan sesuatu maqam. nampaknya. Dalam kata lain. dan sesempurna-sempurnanya. Sedangkan bila diuraikan secara terinci. yakni orang yang hampir kepada Allah. Dari uraian di atas. Manusia yang tak berhijab mengenal kesempurnaan mutlak dan mempunyai makrifat hudhuri (ilmu kehadiran) kepada maqam suci yang sempurna secara mutlak. c. Yang demikian itu termasuk di antara buah mahabbah dan ma‟rifah yang paling mulia. yang khusus berkenaan dengan diri. dapat dijelaskan bahwa segala hal. yang (merupakan) jalan masuk kepada makrifah Allah” dan adalah maqam “yang lebih tinggi. karena dalam kehidupan manusia di dunia ini sangat banyak contoh yang menunjukkan bahwa orang yang mencintai sesuatu selalu rela memikul segala pengorbanan untuknya. segala kehendak dan keinginan yang mencerminkan tuntutan hawa nafsu manusia telah terhapus dalam kehendak Tuhan yang sudah merupakan sentral wujud-Nya. Dia-lah yang memberi petunjuk dan kesesatan. ketentuan rida si makhluk akan semua tindakan Tuhannya. Setelah itu kewajiban kaum mukmin ialah tidak menentang ataupun memprotes Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya. pada maqam tertinggi ini. terbagi menjadi dua bagian: 7 . seutama-utamanya. baik secara lahir maupun batin. Wajib atas kaum mukmin untuk mengimani bahwa semua perbuatan Allah SWT.telah dikuasai kecintaan kepada Allah. yang merupakan kesempurnaan mutlak. rida yang lahir dari cinta kepada Allah itu adalah “pintu yang amat besar. dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan rida di sini ialah rida terhadap semua yang diridai Allah.

Maqam ini. Kedua. Yakni ridha dengan maqam rububiyah-Nya dan akan terwujud bila seorang salik menjadikan dirinya berada dibawah rububiyah (pemeliharaan) Allah SWT. Derajat kedua: Ridha dengan qadha dan takdir Allah SWT. melainkan keridhaannya tergantung pada keridhaan Allah SWT. baik yang manis maupun yang pahit dan gembira dengan semua yang diberikan Allah SWT baik berupa cobaan. Yang sebaiknya bagimu dalam keadaan seperti ini ialah rida dan menerima sepenuhnya. Ialah yang diistilahkan dengan “ridha dengan ridha Allah SWT”. Manfaat pertama didapatkan untuk saat ini di dunia dan sedangkan manfaat kedua didapatkan pada masa depan. Adapun manfaat yang diperoleh segera di sini adalah hati yang tenang 8 . jika tidak mampu. dalam kitab Minhaj al-Abidin. Sebagiannya adalah sebagai berikut: Derajat pertama: Ridha pada Allah SWT sebagai Tuhan. bagian ini tidak dapat dibayangkan adanya ketidaksenanganmu padanya kecuali jika dilihat dari sudut pandangmu kepada orang-orang yang melebihimu dalam kedua keadaan tersebut. yakni hamba tidak ridha dengan dirinya. dan mengingat bahwa Ia telah memilihkan bagimu segala sesuatu yang paling baik untukmu atau. Manfaat dan Keutamaan Rida Menurut Imam Al-Ghazali (w. rida terhadap takdir Allah memiliki dua manfaat. seperti kesehatan dan kekayaan. yakni akhirat. haruslah terhitung sebagai awal permulaan derajat ketiga bagi ridha. mengeluarkan dirinya dari kerajaan setan. Maka mengenai ini. keadaan yang tidak senantiasa menyertai. hendaknya sabar dan tawakal. Tingkatan-tingkatan Rida Rida dan sifat-sifat kesempurnaan jiwa lainnya memiliki banyak tingkatan dan derajat. yakni maqam mahabbah dan jadzbah (pemikatan). Atau.Pertama. d. yang paling cocok untuk kondisimu. 505 H/1111 M) yang bergelar Hujjatul Islam. maupun sebaliknya (kebahagiaan). Yakni senang dengan semua kejadian yang dihadapinya. keadaan yang senantiasa menyertai. e. tepatnya. mengingat bahwa Ia berhak melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. serta ridha dan senang dengan rububiyah-Nya. sebagaimana kehendaknya juga mengikuti kehendak Allah SWT. seperti penyakit dan kemiskinan. sakit dan kehilangan yang dicintai. Sekalikali tidaklah dibenarkan kaum mukmin merasa runyam atau putus asa karenanya. wajiblah seorang mukmin rida sepenuhnya dengan bagian yang diberikan Allah kepadamu.

Manfaat yang akan diperoleh dikemudian hari karena rida pada takdir-Nya. selalu dalam keadaan berkeluh kesah maka ia akan bingung.” (At-Taubah: 72) Allah mengangkat ridha di atas surga dan sebagaimana Dia menyebutkannya di atas shalat. juga mendatangkan kebahagiaan yang besar pada seseorang karena pada hari Kiamat nanti ia akan digabungkan bersama orang-orang yang benar. seperti yang telah Allah firmankan: “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. istirahatkan saja hati dari kata „barangkali‟. dan „kalau saja‟.” (AlAnkabut: 45). Oleh karena itu. keridaan pada takdir-Nya akan membuat seseorang merasakan lezatnya iman yang tertanam di lubuk hatinya. seperti apa yang akan terjadi hari esok pada dirinya atau orang lain. Firman-Nya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Takdir Allah sudah putus dan putusan Allah sudah terjadi. Terbukanya pintu Maqam Rida 9 . Terdapat juga keutamaan-keutamaan Rida. Apa yang sudah ditakdirkan pasti akan ada dan akan terjadi pada waktunya. sedih. kesal. demikian pula ridha pemilik surga lebih besar ketimbang surga. susah. bahkan ia merupakan puncak pencarian para penghuni surga. Menurut Al-Ghazali. „andaikata‟. Siapa pun tidak ada yang mampu menahannya walau sebentar. Sebagaimana “menyaksikan” Allah di dalam shalat itu lebih besar (keutamaannya) ketimbang shalat. tidak menerima keadaan dengan lapang dada. jika seseorang rida dengan takdir-Nya maka ia akan mengistirahatkan pikiran dan hatinya dari hal-hal yang tidak sampai pengetahuan manusia padanya. dan bahkan akan dikenai dosa. Rida kepada Allah dan segala bentuk takdir-Nya. Kebimbangan hati yang dirasakan dalam memikirkan hal-hal seperti itu berarti menyia-nyiakan umur yang produktif.” (Ar-Rahman: 60) Puncak ihsan adalah ridha Allah terhadap hamba-Nya yaitu ganjaran ridha hamba terhadap Allah ta‟ala. adalah ganjaran kebaikan yang tidak pernah terputus selamanya dan keridaan Allah yakni surga dan segala kenikmatannya. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah lebih besar (keutamaannya).dan tenteram serta tidak ada kebimbangan sedikit pun. jika seseorang tidak rida dengan takdir Allah. Sebaliknya.” (Al-Bayyinah: 8) “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Allah befirman: “Dan (mendapatkan) tempat-tempat yang bagus di surga dan keridhaan Allah adalah lebih besar. f.

maka tingkat ridha semakin sempurna. penyaksian penampakan sifat-sifat dan asma‟ (nama-nama Allah SWT). Dalam arti. ada dalam maqam ini secara sempurna. Ketika ketenangan jiwa menghasilkan pada maqam jamiliyah (kemahaindahan) Al Haqq. yang hakikatnya adalah mahabbah dan jadzbah. Tingkat kedua. penyaksian penampakan zat Allah SWT. ia bergaul dengan orang-orang yang senantiasa berzikir. seandainya seseorang mencapai maqam-maqam „irfan yang yang tinggi tanpa melalui tingkatan ini adalah merupakan kelangkaan dan bukan sebuah tolak ukur bagi kualitas. hati mengimani kemahaindahan Allah SWT. dan bersih dari noda. ridha dengan qadha Allah SWT menghasilkan kesempurnaan tingkatan dan derajat. meskipun roh ridha. Tingkat ketiga. Untuk maqam ini. Tingkatan kedua ialah dimana keindahan Allah SWT. shifat dan af‟al-Nya yang indah sampai kepada hati. Dengan kata lain. Ketiga. Kedua. Dan dalam maqam ini. ia berkonsisten (istiqamah) dalam mengerjakan amal shaleh. secara keseluruhan ada 3 tingkatan: Tingkat pertama. sesuai argumentasi ilmiah dan filosofi. penyaksian penampakan af‟al (perbuatan-perbuatan Allah SWT). 10 . sifat dan fi‟il. Pertama. Dan dua maqam (terakhir) ini lebih tinggi dari ridha dan semacamnya. dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa nabi Muhammad SAW. melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya menuju Al-Haq. Tingkatan ketiga ialah ketika hamba salik sampai pada derajat ithmi‟nan (kedamaian) dan inilah kedamaian yang sempurna. Berdasarkan hal yang lazim dan umum. maka layak untuk mengisyaratkan pada sebagian landasannya. Ilmu burhani (argumentasi) ini yang adalah bagian akal. ia tenggelam dalam nama Allah. g. Tingkatan ini adalah bagi para ahli makrifat dan kalbu. dimana mereka memalingkan arah (ruang) hati mereka dari alam dan kegelapan. Tingkatan pertama yang dicapai oleh hamba adalah ilmu (pengetahuan) bahwa Allah SWT Maha indah secara zat. Tingkatan keempat ialah maqam musyahadah (penyaksian).Ahmad Ibn „Ujaibah memberikan penjelasan bahwa tidak akan terbuka pintu maqam rida bagi seorang hamba. tidak mengasilkan akhlak nafsaniyah (akhlak yang berhubungan dengan jiwa dan hati manusia) yang merupakan konsekuensi makrifat. Landasan-landasan Maqam Ridha Karena maqam ridha merupakan dampak dan perkara makrifat ilahiah seperti segenap maqam khusus lainnya.

Do‟a adalah salah satu sarana ibadah kepada Allah. juga tidak bertentangan dengan ridha. Dalam masalah ini sebagian orang telah melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa kemaksiatan. janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).. dan mereka telah dikunci mati.” (Al-Anbiya’: 90) Sedangkan mengingkari kemaksiatan dan tidak ridha kepadanya juga dijadikan oleh Allah sebagai sarana ibadah kepada-Nya bagi para hamba-Nya..” (At-Taubah: 87) Sedangkan tentang membenci orang-orang kafir atau orang-orang yang durhaka dan mengingkari mereka. Do’a tidak Bertentangan dengan Ridha Do‟a tidak membuat orang yang berdo‟a keluar dari maqam ridha. padahal Rasulullah saw berada dalam maqam ridha yang tertinggi.” (Yunus: 7) “Mereka ridha berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang. dan satu cara.” (Al-Ma’idah: 51) Ridha dan kebencian merupakan dua hal yang bertentangan apabila keduanya disebutkan untuk satu hal. dan upaya untuk menghapuskannya dengan amar ma‟ruf dan nahi munkar. kecaman terbadap para pelaku kemaksiatan. maka terlalu banyak ayat Al-Qur‟an dan hadits yang menyebutkan hal ini. Bahkan Allah memuji sebagian hamba-Nya dengan firman-Nya: “Dan mereka berdo‟a kepada Kami dengan harap dan cemas. kecaman terhadap sebab-sebab kemaksiatan. kedurhakaan dan kekafiran adalah termasuk qadha‟ Allah dan taqdir-Nya.h. tidak bertentangan dengan ridha kepada qadha‟ Allah. Firman-Nya: “Dan mereka ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu. Banyaknya do‟a yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan semua Nabi menunjukkan hal ini. agar dari do‟a mereka itu terungkapkan kejernihan dzikir 11 . diantaranya firman Allah: “Janganlah orang-orang Mu‟min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mu‟min.” (Ali-Imran: 28) “Hai orang-orang yang beriman. maka hal ini bukanlah dua hal yang bertentangan. sehingga kita harus ridha kepadanya.. Karena Allah memerintahkan hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan do‟a. Jika kita ridha terhadap sesuatu dari satu sisi dan membencinya dari sisi lain. Dengan demikian diketahui bahwa do‟a memohon ampunan dan perlindungan dari berbagai kemaksiatan atau memohon semua sebab yang dapat membantu pelaksanaan agama. dari satu sisi.. Demikian pula kebencian kepada kemaksiatan. Allah mencela mereka karena ridha kepada kemaksiatan.

12 . sehingga dengan demikian doa itu menjadi penjernih hati. kunci pembuka kasyaf.dan kekusyu‟an hati . dan sebab limpahan berbagai rahasia.

Ikhlas artinya melakukan sesuatu semata untuk memperoleh ridha Allah SWT dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia. tidak heboh. Rida dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalam jiwa. 5. Pribadi ikhlas akan selalu merasa tenang. yakni senang menjadikan Allah sebagai Tuhan. serta senang kepada ajaran dan takdir-Nya. 3. 2. Rida berarti suka atau senang. Rida itu maqam tertinggi yang merupakan buah dari mahabbah. baik ketika dicaci maupun dipuji. 4. mantap.BAB III PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah yang berjudul “Ikhlas dan Rida” ini adalah sebagai berikut: 1. 13 .