P. 1
ikhlas dan rida

ikhlas dan rida

|Views: 278|Likes:
Published by miftirizkiana

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: miftirizkiana on Sep 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Manusia juga adalah makhluk yang paling sempurna. Manusia diciptakan dengan takdir yang berbeda-beda satu sama lain. Qadha dan qadar setiap manusia sudah ditentukan jauh sebelum manusia itu diciptakan. Saat manusia terlahir sudah tertulis untuknya siapa jodohnya, berapa lama usianya, dan berapa rizkinya. Tentunya Allah punya maksud menciptakan manusia dengan takdir yang berbedabeda. Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang kuat ada yang lemah. Setiap manusia harus bisa menerima setiap takdir yang telah Allah tentukan untuknya dengan ikhlas dan rida. Tapi kenyataan yang banyak kita temui adalah banyak sekali orang-orang yang tidak bisa menerima takdirnya. Mereka bersedih, merasa susah, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya marah pada Allah dan merasa Allah tidak adil pada mereka. Tetapi ternyata masih ada orang-orang yang bisa menerima dengan ikhlas dan rida takdirnya, walaupun takdir yang mereka terima itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Lalu apa yang menyebabkan orang itu bisa ikhlas dan rida? Serta apa yang sebenarnya dimaksud dengan ikhlas dan rida itu? Kali ini penulis ingin memaparkan pengertian ikhlas dan rida serta bagaimana agar seseorang bisa memiliki rasa ikhlas dan rida pada takdir. Semoga yang membaca makalah ini dapat mengambil manfaat, khususnya penulis sendiri.

1

Dalam bahasa filsafat.” demikian 2 . khaswash‟ dan khawashulkhawash). setan dan malaikat pun tidak bisa mengetahuinya. untuk menguji keikhlasan mungkin saja bisa dilakukan. ialah makrifah dan tauhid yng selanjutnya melahirkan maqam tawakal. agakanya karena itu maka Al-Palimbani tidaj pula menyebutnya. terutama dalam tradisi Kantian. karena “apabila seseorang hamba sampai ke maqam makrifah itu. ia adalah seorang yang mukhlis dan perbuatan seperti itu disebut ikhlas. Pernyataan bahwa “saya ikhlas” belum tentu mencerminkan kadar keikhlasannya.yang bergabung menjadi satu.BAB II IKHLAS DAN RIDA 1. dalam hal ini ia juga mengutip Al-Ghazali. cinta dunia. Dalam ibadah. baik ketika dicaci maupun dipuji. pasti mengalir air hikmah dari dalam hatinya melalui lisannya”. Orang yang berjiwa ikhlas disebut mukhlis. ria. tidak heboh. “mengeerjakan amalnya semata-mata karena Allah. Menurut Al-Palimbani. Dua persoalan itu tidak dibicarakan oleh Al-Ghazali dalam penjelasannya mengenai ikhlas ini. seperti halnya dengan maqamat yang sebelumnya. Pribadi semacam ini akan selalu merasa tenang. Ikhlas itu sebuah rahasia yang amat dalam dan yang mengetahuinya hanya hati nurani dan Allah SWT. Menurut Al-Palimbani. apabila seseorang membersihkan amalnya dari ujub. sebagaimana halnya Al-Ghazali. menurut riwayat. dan amal. “Yang menerangkan bahwa apanila seseoranghamba Allah beramal dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari. Dalam penjelasannya mengenai fadilat ikhlas ini. membentuk apa yang disebut maqam itu. terutama ketika melakukan puasa. sesuatu tindakan dianggap baik dan memiliki nilai moral dalam dirinya. Yang dimaksud dengan mata air hikmah di sini. mantap. takabur “dan sebagainya daripada segala maksiat yang di dalam hati. agaknya . Pengertian Ikhlas Dalam bahasa agama. hal. ikhlas artinya melakukan sesuatu semata untuk memperoleh ridha Allah SWT dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia. ikhlas adalah auatu maqam yang harus dialalui oleh seorang salik dalam perjalanannya kepada Allah. Ikhlas a. Bahkan. AlPalimbani mensitir sebuah hadits Nabi SAW. dan dalam hal ini ia juga tidak menyebut tiga tingkatan („awam. Tetapi dalam uraiannya mengenai maqam ini ia tidak menerangkan tiga unsur -ilmu. basad.

Jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran. Hakikat Ikhlas Setiap sesuatu bisa ternoda oleh yang lain. Jika motivasi pembangkitnya adalah taqarrub kepada Allah. Oleh sebab itu dikatakan.” (An-Nahl: 66) Susu bisa bersih apabila tidak dicampuri oleh darah dan tahik atau setiap hal yang dapat mencampurinya. Pekerjaan membersihkan disebut ikhlas.. Jadi tempatnya adalah hati dan itu berkenaan dengan tujuan dan niat. maka sesungguhnya amal perbuatannya telah keluar dari batas ikhlas dan tidak lagi ikhlas karena mencari ridha Allah bahkan telah tercemari oleh kemusyrikan. Setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati sedikit atau banyak.” Ini karena kemuliaan ikhlas dan sulitnya membersihkan hati dari berbagai kotoran tersebut.”(berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut ikhlas dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan.dikatakan olej Al-Hallaj. Jadi. Manusia senantiasa terikat dalam kepentingan-kepentingan dirinya dan tenggelam dalam berbagai syahwatnya sehingga jarang sekali amal perbuatan atau ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis ini. Sedangkan hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang membangkitkan. ikhlas dan lawannya senantiasa datang kepada hati. pengetahuan tentang hakikat ikhlas dan pengalamannya merupakan lautan yang dalam.” b. Lawan ikhlas adalah syirik. Allah berfirman : . Semua orang tenggelam di dalamnya kecuali sedikit yaitu orang-orang yang 3 . maka itu dinamakan khalis (yang bersih). yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. Atau orang yang membesuk orang sakit agar dibesuk bila dia sakit. apabila menambah ke dalam amal maka dapat mengeruhkan kejernihannya. tetapi tercampur dengan salah satu lintasan pikiran yang mengacu kepada riya‟ atau kepentingan-kepentingan nafsu lainnya sehingga pelaksanaannya terasa lebih ringan disebabkan oleh hal-hal tersebut. Sedangkan ikhlas itu berkenaan dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlish. “Allah mewahyukan kepadanya melalui lintasan-lintasan hatinya…dan tanda orang arif itu kosong hatinya dari duni dan akhirat. Misalnya orang yang berpuasa untuk memanfaatkan perlindungan yang dicapai melalui puasa tersebut di samping niat taqarrub.. “Siapa yang satu saat dari umurnya dapat selamat secara jernih karena mengharap ridha Allah maka sesungguhnya dia telah selamat. Siapa yang bershadaqah dengan tujuan riya‟ (pamrih kepada manusia) maka dia (secara bahasa) disebut sebagai orang yang mukhlish.

dikecualikan di dalam firman-Nya: “Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” (Al-Hijr: 40). Maka hendaknya seorang hamba sangat memperhatikan dan mengawasi hal-hal yang sangat mendetil ini. serta tidak rida terhadap keputusan (takdir) Ku maka hendaknya ia keluar dari kolong langit dan carilah Tuhan selain Aku. Tidak berusaha sebelum datangnya qadha dan qadar. Rida juga berarti mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya hanya perasaan senang dan gembira. salah seorang sufi besar yang hidup di Baghdad. atau sikap seseorang 4 . Pengertian rida ini merupakan perpaduan antara sabar dan tawakal sehingga melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang menerima segala situasi dan kondisi. Rida: Menyenangi Ujian dan Nikmat Secara harfiah. Tidak meminta surga dari Allah dan tidak meminta dijauhkan dari neraka. Jika tdak maka akan tergolong kepada para pengikut syetan tanpa menyadari. Ini merupakan tingkatan rida tertinggi.” Al-Junaid. Apa pun yang datang dan pergi. Merasa senang menerima ujian sebagaimana merasa senang menerima nikmat. menyebutkan bahwa rida adalah meninggalkan usaha. tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya qadha dan qadar. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi. mengikis habis segala perasaan gundah dan benci sehingga yang tertinggal di dalam hatinya hanya perasaan senang dan bahagia. yakni menerima ketentuan Allah dengan segala senang hati. tetap akan merasa bahagia. senang. diterima dengan gembira sebab apa pun yang datang itu adalah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa. tidak bersyukur atas segala nikmatKu. rida artinya rela. Sikap mental seperti ini tumbuh melalui usaha demi usaha. suka. tiada Tuhan selain Aku. Rida a. Suka dan duka. 2. yang mungkin sulit terjangkau oleh kita saat ini. Hal ini menunjukkan sifat rida. serta tidak terlalu bergembira dengan apa yang sudah dimiliki karena semuanya merupakan titipan Allah. Harun Nasution mengatakan bahwa rida berarti tidak berusaha untuk menentang qadha dan qadar Tuhan. yaitu tidak bersedih hati atau berduka terhadap sesuatu yang luput atau telah hilang. melainkan menerima dengan hati yang senang. Sikap anak bayi terhadap orangtuanya. bahkan perasaan cinta bergelora di waktu turunnya cobaan yang berat. Barangsiapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku. Dalam surat Al-Hadid ayat 23 dijelaskan tentang makna rida. perjuangan demi perjuangan. Tuhan menegaskan: “Sesungguhnya Aku ini Allah.

kesadaran akan kelemahan serta kekurangan diri dan kesadaran akan pengetahuan yang terbatasm semakin memantapkan keridaan kepada-Nya. “terimalah dengan penuh keridaan apa saja yang Allah berikan kepadamu. Rida juga berarti suka atau senang. Orang yang telah mencintai Allah. serta senang kepada ajaran dan takdir-Nya. Menurut Qomar Kailani. rida adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir). Seorang muslim yang hakiki adalah orang yang rida pada sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya. sikap rida ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mendatangkan kedamaian di dalam hati dan jiwa. Dalam hal ini. Lebih dari itu. Menurut Syekh Abdul Kadir Jailani. barangkali adalah contoh rida yang dimaksudkan oleh Al-Junaid. yakni memasrahkan diri dan meninggalkan usaha. Dalam sebuah riwayat nabi SAW berpesan. Rida mengandung pengertian menerima dengan lapang dada dengan hati yang terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah. seorang sufi yang hidup pada tahun 470-561 H.” 5 . pasrah tanpa menunjukkan pertentangan sedikit pun terhadap apa yang dilakukan Allah baginya. Sikap mental rida ini. baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib (taqdir) bagi dirinya. Dengan kata lain. Hal ini berarti bahwa seseorang dengan keridaan yang ada dalam hatinya. Apabila seseorang telah mencapai kedudukan (maqam) rida ini maka berarti dia telah mencapai suatu tahapan yang mengantarkannya oada keadaan atau sifat yang mendekati kesempurnaan diri (insan kamil). Menurut Dzun Nun Al-Mishri. Hal ini berangkat dari sebuah keyakinan yang mantap bahwa sesungguhnya ketetapan Allah itu jauh lebih baik daripada apa yang ditetapkan seseorang untuk dirinya sendiri. ketakwaan kepada-Nya dan keridaan terhadap ketetapan-Nya adalah jalan terbaik bagi seseorang mukmin hakiki. merupakan kelanjutan rasa cinta atau perpaduan dari al-hubb atau mahabbah dan sabar. niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya. tidak akan menentang qadha dan qadar Tuhan.yang sedang sakit di hadapan dokter yang merawatnya. tidak membantah atau mengeluh apa pun kepada-Nya. yakni senang menjadikan Allah sebagai Tuhan. sebagian besar sufi berpendapat bahwa rida adalah maqam terakhir dari perjalanan seseorang yang ingin mendekati Tuhan (taqarub ila Allah). hatinya akan menyenangi semua hal yang datang dari-Nya. rida itu adalah senang dan bahagianya hati dengan ketentuanketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan. Orang yang rida adalah mereka yang menerima ketetapan Allah dengan berserah diri (taslim). Bahkan semua ketentuan serta ketetapan dari Tuhan dapat diterimanya dengan segala senang hati. bantahan dan keluhan merupakan sikap yang berlawanan dengan rida. Alhasil.

dan keletihan yang dirasakan oleh seseorang. Sebaliknya. kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. sesungguhnya sangat tergantung pada sejauh mana tingkat penentangannya terhadap takdir dan kecenderungannya dalam mengikuti hawa nafsu. siapa yang tidak rida maka akan merasakan penderitaan dan kepayahan yang terus-menerus dan berkepanjangan. sehingga seseorang akan merasa jauh lebih tenang dan tenteram. Begitu juga jika seseorang mengikuti hawa nafsu dan egonya maka selama itu pula tidak pernah rida pada takdir. Siapa yang rida pada takdir. pasti akan merasakan ketenangan dan ketenteraman. Sehingga di dunia ini dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Dengan demikian.Bentuk keridaan pada ketentuan qadha dan qadar-Nya ini. Keridaan ini akan meringankan seluruh beban hidupnya. rasa gundah. kegalauan. capek. Selanjutnya adalah adanya keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa kehidupan bersama-Nya adalah sesuatu yang sangat indah dan menyenangkan karena Dia adalah sumber keindahan dan kebahagiaan. Rida dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalam jiwa. karena pengertian sabar itu masih terkandung di dalamnya pengakuan adanya sesuatu yang menimbulkan penderitaan. Kegundahan. karena semuanya adalah perbuatan Tuhan. jika ingin mendapatkan ketenangan dan ketenteraman jiwa maka ia harus menentang ego dan hawa nafsunya sendiri. adalah meyakini bahwa Allah adalah Zat yang senantiasa dan akan terus menerus memberikan yang terbaik kepada kita. Seorang hamba yang rida dan menerima apa yang dipilihkan Allah untukknya. sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. “Jikalau mereka sungguh-sunggu rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka. Menurut Al-Ghazali. dan galau akan hilang dari dirinya. „Cukuplah Allah bagi kami‟ maka Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya. arti rida itu “tidak menyangkali akan perbuatan yang diperlakukan Allah atasnya dan (atas) orang lain daripadanya karena sekalian perbuatan yang wuqu‟ (terjadi) di dalam dunia ini…. AtTaubah [9]: 59). Maqam rida ini lebih tinggi dari maqam sabar tadi. Menurut dia. sikap batin seperti itu mungkin saja dimiliki orang yang segenap fikiran dan perasaannya 6 . seperti yang telah disebutkan oleh Al-Quran dan Hadis. dan berkata. Sebaliknya.” (QS. Al-Palimbani juga menganggap rida itu maqam tertinggi yang merupakan buah dari mahabbah. PerbuatanNya dan wajib ia rida akan perbuatan-Nya. sedangkan orang yang sudah berada di maqam rida ini tidak membedakan lagi antara apa yang disebut musibah dan yang disebut nikmat –semuanya diterima dengan gembira. pasti mengetahui bahwa pilihan Allah adala sesuatu yang terbaik bagianya dalam segala situasi dan kondisi. Selain itu sebagaimana halnya Al-Ghazali.

hanya dipandang sebagai salah satu sifat terpuji bukan sesuatu maqam. yang khusus berkenaan dengan diri. pada maqam tertinggi ini.telah dikuasai kecintaan kepada Allah. Manusia yang tak berhijab mengenal kesempurnaan mutlak dan mempunyai makrifat hudhuri (ilmu kehadiran) kepada maqam suci yang sempurna secara mutlak. rida yang lahir dari cinta kepada Allah itu adalah “pintu yang amat besar. baik secara lahir maupun batin. sebagai buah dari cinta yang hakiki kepada-Nya. tidak boleh tidak. walau dirinya tidak tahu dikarenakan penghijaban cahaya fitrah. Menurut urutan yang terdapat dalam kitab Hidayatus-salihin setelah maqam rida ini masih ada lagi satu bab mengenai mengingat mati. Tetapi yang tersebut terakhir ini. karena dalam kehidupan manusia di dunia ini sangat banyak contoh yang menunjukkan bahwa orang yang mencintai sesuatu selalu rela memikul segala pengorbanan untuknya. nampaknya. seadil-adilnya. dalam garis besarnya. Setelah itu kewajiban kaum mukmin ialah tidak menentang ataupun memprotes Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya. Rida Akan Ketetapan Allah Hendaknya sebagai kaum mukmin kita harus selalu rida akan ketetapan Allah SWT. dapat dijelaskan bahwa segala hal. Sedangkan bila diuraikan secara terinci. Yang demikian itu termasuk di antara buah mahabbah dan ma‟rifah yang paling mulia. dan sesempurna-sempurnanya. Dari uraian di atas. Dia-lah yang memberi petunjuk dan kesesatan. yang merupakan kesempurnaan mutlak. kewajiban kaum mukmin ialah menyadari dan meyakini bahwa Allah SWT. ketentuan rida si makhluk akan semua tindakan Tuhannya. Ridha Merupakan Tentara Akal dan konsekuensi Fitrah Makhmurah Manusia secara fitrah cinta Al Haqq SWT. Dalam kata lain. yang merendahkan dan meninggikan serta yang mendatangkan mudarat dan manfaat. agaknya. terbagi menjadi dua bagian: 7 . c. yang (merupakan) jalan masuk kepada makrifah Allah” dan adalah maqam “yang lebih tinggi. Menurut Al-Palimbani. Begitulah. Wajib atas kaum mukmin untuk mengimani bahwa semua perbuatan Allah SWT. maqam orang yaqng muqarrabin. Maka dari iru. seutama-utamanya. b. yang menyengsarakan dan membahagiakan. yakni orang yang hampir kepada Allah. berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. segala kehendak dan keinginan yang mencerminkan tuntutan hawa nafsu manusia telah terhapus dalam kehendak Tuhan yang sudah merupakan sentral wujud-Nya. dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan rida di sini ialah rida terhadap semua yang diridai Allah.

Kedua. e. haruslah terhitung sebagai awal permulaan derajat ketiga bagi ridha.Pertama. yakni maqam mahabbah dan jadzbah (pemikatan). Sekalikali tidaklah dibenarkan kaum mukmin merasa runyam atau putus asa karenanya. mengingat bahwa Ia berhak melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. yakni akhirat. sakit dan kehilangan yang dicintai. Maqam ini. seperti kesehatan dan kekayaan. wajiblah seorang mukmin rida sepenuhnya dengan bagian yang diberikan Allah kepadamu. rida terhadap takdir Allah memiliki dua manfaat. Yakni ridha dengan maqam rububiyah-Nya dan akan terwujud bila seorang salik menjadikan dirinya berada dibawah rububiyah (pemeliharaan) Allah SWT. yakni hamba tidak ridha dengan dirinya. jika tidak mampu. dalam kitab Minhaj al-Abidin. yang paling cocok untuk kondisimu. Derajat kedua: Ridha dengan qadha dan takdir Allah SWT. tepatnya. mengeluarkan dirinya dari kerajaan setan. dan mengingat bahwa Ia telah memilihkan bagimu segala sesuatu yang paling baik untukmu atau. melainkan keridhaannya tergantung pada keridhaan Allah SWT. Tingkatan-tingkatan Rida Rida dan sifat-sifat kesempurnaan jiwa lainnya memiliki banyak tingkatan dan derajat. Adapun manfaat yang diperoleh segera di sini adalah hati yang tenang 8 . maupun sebaliknya (kebahagiaan). sebagaimana kehendaknya juga mengikuti kehendak Allah SWT. bagian ini tidak dapat dibayangkan adanya ketidaksenanganmu padanya kecuali jika dilihat dari sudut pandangmu kepada orang-orang yang melebihimu dalam kedua keadaan tersebut. Manfaat pertama didapatkan untuk saat ini di dunia dan sedangkan manfaat kedua didapatkan pada masa depan. serta ridha dan senang dengan rububiyah-Nya. Atau. d. Yakni senang dengan semua kejadian yang dihadapinya. Yang sebaiknya bagimu dalam keadaan seperti ini ialah rida dan menerima sepenuhnya. seperti penyakit dan kemiskinan. keadaan yang senantiasa menyertai. Manfaat dan Keutamaan Rida Menurut Imam Al-Ghazali (w. Sebagiannya adalah sebagai berikut: Derajat pertama: Ridha pada Allah SWT sebagai Tuhan. 505 H/1111 M) yang bergelar Hujjatul Islam. baik yang manis maupun yang pahit dan gembira dengan semua yang diberikan Allah SWT baik berupa cobaan. Maka mengenai ini. Ialah yang diistilahkan dengan “ridha dengan ridha Allah SWT”. hendaknya sabar dan tawakal. keadaan yang tidak senantiasa menyertai.

dan tenteram serta tidak ada kebimbangan sedikit pun. susah. selalu dalam keadaan berkeluh kesah maka ia akan bingung. seperti yang telah Allah firmankan: “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. „andaikata‟. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah lebih besar (keutamaannya). dan bahkan akan dikenai dosa. seperti apa yang akan terjadi hari esok pada dirinya atau orang lain. Rida kepada Allah dan segala bentuk takdir-Nya. jika seseorang rida dengan takdir-Nya maka ia akan mengistirahatkan pikiran dan hatinya dari hal-hal yang tidak sampai pengetahuan manusia padanya. Apa yang sudah ditakdirkan pasti akan ada dan akan terjadi pada waktunya. demikian pula ridha pemilik surga lebih besar ketimbang surga. Firman-Nya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Al-Bayyinah: 8) “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Manfaat yang akan diperoleh dikemudian hari karena rida pada takdir-Nya. Oleh karena itu. Siapa pun tidak ada yang mampu menahannya walau sebentar. Takdir Allah sudah putus dan putusan Allah sudah terjadi. Kebimbangan hati yang dirasakan dalam memikirkan hal-hal seperti itu berarti menyia-nyiakan umur yang produktif. bahkan ia merupakan puncak pencarian para penghuni surga. Sebagaimana “menyaksikan” Allah di dalam shalat itu lebih besar (keutamaannya) ketimbang shalat. Allah befirman: “Dan (mendapatkan) tempat-tempat yang bagus di surga dan keridhaan Allah adalah lebih besar. Menurut Al-Ghazali.” (Ar-Rahman: 60) Puncak ihsan adalah ridha Allah terhadap hamba-Nya yaitu ganjaran ridha hamba terhadap Allah ta‟ala. Terdapat juga keutamaan-keutamaan Rida. adalah ganjaran kebaikan yang tidak pernah terputus selamanya dan keridaan Allah yakni surga dan segala kenikmatannya. f. jika seseorang tidak rida dengan takdir Allah. sedih. kesal. juga mendatangkan kebahagiaan yang besar pada seseorang karena pada hari Kiamat nanti ia akan digabungkan bersama orang-orang yang benar. Terbukanya pintu Maqam Rida 9 . istirahatkan saja hati dari kata „barangkali‟. Sebaliknya. dan „kalau saja‟. keridaan pada takdir-Nya akan membuat seseorang merasakan lezatnya iman yang tertanam di lubuk hatinya.” (AlAnkabut: 45). tidak menerima keadaan dengan lapang dada.” (At-Taubah: 72) Allah mengangkat ridha di atas surga dan sebagaimana Dia menyebutkannya di atas shalat.

penyaksian penampakan sifat-sifat dan asma‟ (nama-nama Allah SWT). yang hakikatnya adalah mahabbah dan jadzbah. 10 . Ketika ketenangan jiwa menghasilkan pada maqam jamiliyah (kemahaindahan) Al Haqq. penyaksian penampakan zat Allah SWT. tidak mengasilkan akhlak nafsaniyah (akhlak yang berhubungan dengan jiwa dan hati manusia) yang merupakan konsekuensi makrifat. shifat dan af‟al-Nya yang indah sampai kepada hati. Tingkat kedua. maka layak untuk mengisyaratkan pada sebagian landasannya. Kedua. hati mengimani kemahaindahan Allah SWT. Ketiga. dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa nabi Muhammad SAW. ridha dengan qadha Allah SWT menghasilkan kesempurnaan tingkatan dan derajat.Ahmad Ibn „Ujaibah memberikan penjelasan bahwa tidak akan terbuka pintu maqam rida bagi seorang hamba. Tingkatan pertama yang dicapai oleh hamba adalah ilmu (pengetahuan) bahwa Allah SWT Maha indah secara zat. melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya menuju Al-Haq. Pertama. ia berkonsisten (istiqamah) dalam mengerjakan amal shaleh. seandainya seseorang mencapai maqam-maqam „irfan yang yang tinggi tanpa melalui tingkatan ini adalah merupakan kelangkaan dan bukan sebuah tolak ukur bagi kualitas. g. Tingkatan ini adalah bagi para ahli makrifat dan kalbu. ada dalam maqam ini secara sempurna. ia tenggelam dalam nama Allah. dan bersih dari noda. Dan dalam maqam ini. Tingkatan ketiga ialah ketika hamba salik sampai pada derajat ithmi‟nan (kedamaian) dan inilah kedamaian yang sempurna. Dengan kata lain. Landasan-landasan Maqam Ridha Karena maqam ridha merupakan dampak dan perkara makrifat ilahiah seperti segenap maqam khusus lainnya. Tingkatan keempat ialah maqam musyahadah (penyaksian). Dan dua maqam (terakhir) ini lebih tinggi dari ridha dan semacamnya. meskipun roh ridha. sesuai argumentasi ilmiah dan filosofi. Dalam arti. Tingkat ketiga. maka tingkat ridha semakin sempurna. ia bergaul dengan orang-orang yang senantiasa berzikir. secara keseluruhan ada 3 tingkatan: Tingkat pertama. penyaksian penampakan af‟al (perbuatan-perbuatan Allah SWT). Untuk maqam ini. Berdasarkan hal yang lazim dan umum. sifat dan fi‟il. Ilmu burhani (argumentasi) ini yang adalah bagian akal. dimana mereka memalingkan arah (ruang) hati mereka dari alam dan kegelapan. Tingkatan kedua ialah dimana keindahan Allah SWT.

Karena Allah memerintahkan hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan do‟a. kedurhakaan dan kekafiran adalah termasuk qadha‟ Allah dan taqdir-Nya. sehingga kita harus ridha kepadanya. Dengan demikian diketahui bahwa do‟a memohon ampunan dan perlindungan dari berbagai kemaksiatan atau memohon semua sebab yang dapat membantu pelaksanaan agama.” (Ali-Imran: 28) “Hai orang-orang yang beriman. juga tidak bertentangan dengan ridha. tidak bertentangan dengan ridha kepada qadha‟ Allah. diantaranya firman Allah: “Janganlah orang-orang Mu‟min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mu‟min. dan satu cara.” (At-Taubah: 87) Sedangkan tentang membenci orang-orang kafir atau orang-orang yang durhaka dan mengingkari mereka. padahal Rasulullah saw berada dalam maqam ridha yang tertinggi. maka hal ini bukanlah dua hal yang bertentangan.” (Al-Ma’idah: 51) Ridha dan kebencian merupakan dua hal yang bertentangan apabila keduanya disebutkan untuk satu hal.. janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Banyaknya do‟a yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan semua Nabi menunjukkan hal ini.” (Yunus: 7) “Mereka ridha berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang. Dalam masalah ini sebagian orang telah melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa kemaksiatan. kecaman terhadap sebab-sebab kemaksiatan. Jika kita ridha terhadap sesuatu dari satu sisi dan membencinya dari sisi lain.. Demikian pula kebencian kepada kemaksiatan. Do‟a adalah salah satu sarana ibadah kepada Allah. dari satu sisi... kecaman terbadap para pelaku kemaksiatan. Do’a tidak Bertentangan dengan Ridha Do‟a tidak membuat orang yang berdo‟a keluar dari maqam ridha. agar dari do‟a mereka itu terungkapkan kejernihan dzikir 11 . dan mereka telah dikunci mati. Allah mencela mereka karena ridha kepada kemaksiatan. dan upaya untuk menghapuskannya dengan amar ma‟ruf dan nahi munkar. Firman-Nya: “Dan mereka ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu.” (Al-Anbiya’: 90) Sedangkan mengingkari kemaksiatan dan tidak ridha kepadanya juga dijadikan oleh Allah sebagai sarana ibadah kepada-Nya bagi para hamba-Nya. maka terlalu banyak ayat Al-Qur‟an dan hadits yang menyebutkan hal ini.h. Bahkan Allah memuji sebagian hamba-Nya dengan firman-Nya: “Dan mereka berdo‟a kepada Kami dengan harap dan cemas.

dan kekusyu‟an hati . 12 . sehingga dengan demikian doa itu menjadi penjernih hati. dan sebab limpahan berbagai rahasia. kunci pembuka kasyaf.

Rida berarti suka atau senang. 13 . Pribadi ikhlas akan selalu merasa tenang.BAB III PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah yang berjudul “Ikhlas dan Rida” ini adalah sebagai berikut: 1. tidak heboh. 5. serta senang kepada ajaran dan takdir-Nya. 2. yakni senang menjadikan Allah sebagai Tuhan. Rida dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalam jiwa. 4. 3. baik ketika dicaci maupun dipuji. Ikhlas artinya melakukan sesuatu semata untuk memperoleh ridha Allah SWT dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia. mantap. Rida itu maqam tertinggi yang merupakan buah dari mahabbah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->