P. 1
Demensia Askep

Demensia Askep

|Views: 776|Likes:
Published by Turah Putra

More info:

Published by: Turah Putra on Sep 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN KOGNITIF ( DEMENSIA

)

OLEH KELOMPOK 8 A3-F

1. Pande Rismayanti 2. Wulandari Dewi 3. Andika Sentana Putra 4. Ni Made Arianti

(09.321.) (09.321.) (09.321.) (09.321.0655)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau progresif di mana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi,termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar,kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotandalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular, dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006). Menurut data Asia Pasifik tahun 2006, jumlah orang yang menderita demensia di wilayah Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan meningkat lebih daridua kali lipat dan peningkatan ini akan lebih cepat dibandingkan dengan yangterjadi di negara-negara barat. Sementara di dunia, pada tahun 2040 jumlahpenderita demensia diperkirakan menjadi sekitar 80 juta orang. (Demensia dikawasan asia pasifik, 2006). Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan,penurunan emosi atau

perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringandalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana,menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-katayang tepat. Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkankesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapatmenjalankan fungsi sosialnya. Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia lanjut.Bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 501tahun. Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapasaja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih sejak dini disertai penerapan gaya hidupsehat. (Harvey, R. J., Robinson, M. S. & Rossor, M. N, 2003)

B . RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas, adapun permasalahan yang hendak kelompok kemukakan dalam penulisan makalah ini, yaitu mengenai bagaimana gambaran klinis dari polisitemia serta bagaimana proses asuhan keperawatan pada klien dengan demensia ?

C . TUJUAN DAN MANFAAT Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain : 1. Melakukan pengkajian keperawatan pasien lansia dengan demensia 2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan pasien lansia dengan demensia 3. Melakukan tindakan keperawatan dalam berbagai pendekatan tindakan keperawatan pasien lansia dengan demensia 4. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pasien lansia dengan demensia

BAB II PEMBAHASAN

A. KONSEP DEMENSIA 1. Pengertian Demensia Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku. Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan mempengaruhi aktivitas social dan okupasi yang normal juga aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). (Mickey Stanley, 2006) Demensia tipe alzhimer adalah proses degenerative yang terjadi pertama-tama pada sel yang terletak pada dasar otak depan yang mengirim informasi ke korteks serebral dan hipokampus. Sel yang terpengaruh pertama kali kehilangan kemampuannya untuk mengeluarkan asetilkolin lalu terjadi degenerasi. Jika degenerasi ini mulai berlangsung, dewasa ini tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali sel-sel atau menggantikannya.(Kushariyadi, 2010) Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal.Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia, namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi. Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.

Pada usia muda, demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera hebat, penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan hancurnya sel-sel otak. Tetapi demensia biasanya timbul secara perlahan dan menyerang usia diatas 60 tahun. Namun demensia bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Sejalan dengan bertambahnya umur, maka perubahan di dalam otak bisa menyebabkan hilangnya beberapa ingatan (terutama ingatan jangka pendek) dan penurunan beberapa kemampuan belajar. Perubahan normal ini tidak mempengaruhi fungsi. Lupa pada usia lanjut bukan merupakan pertanda dari demensia maupun penyakit Alzheimer stadium awal. Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih serius, yang makin lama makin parah. Pada penuaan normal, seseorang bisa lupa akan hal-hal yang detil; tetapi penderita demensia bisa lupa akan keseluruhan peristiwa yang baru saja terjadi.

2. Epidemiologi

Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang. Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk indonesia mengalami demensia dengan berbagai penyebab, yang salah satu diantaranya adalah alzeimer. Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.

Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori. 2004). kegagalan metabolisme energi. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson. infeksi virus. trauma. defisit formasi sel-sel filament predisposisi heriditer. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan calcium intraseluler. tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat. N. neurotransmiter. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika.3. adanya formasi radikal bebas atau terdapat produksi protein abnormal yang non spesifik. kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir Untuk demensia tipe Alzheimer ada beberapa penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam. Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika. Etiologi Demensia Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. demensia Lewy body. polusi udara/industri. C. kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kongnitif dengan penurunan daya ingat secara progresif. demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. penyakit vascular (pembuluh darah). Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik. kegagalan metabolisme energi.V. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace. dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler. gangguan fungsi imunitas. & Rabins. tetapi beberapa penelitian telah membuktikan .L. Dasar kelainan patologi penyakit Alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal. P. tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor genetika.

   Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru. Beberapa factor lain yang menyebabkan alzeimer :       Faktor genetic Faktor infeksi Faktor lingkungan Faktor imunologis Faktor trauma Faktor neurotransmitter 4. agnosia. Orang yang pertama kali mendefinisikan penyakit ini adalah Alois Alzheimer sekitar tahun 1910. ditemukan adanya : afasia. Kehilangan inisiatif. kecurigaan). Perubahan kepribadian (depresi. Demensia Tipe Alzheimer Dari semua pasien dengan demensia. obsesitive.bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat. dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika. 50 – 60 % memiliki demensia tipe ini. Klasifikasi a. Demensia pada penyakit Alzheimer belum diketahui secara pasti penyebabnya. Daya ingat terganggu. . Demensia ini ditandai dengan gejala :   Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif. apraksia. walaupun pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi post mortem telah ditemukan lose selective neuron kolinergik yang strukturnya dan bentuk fungsinya juga terjadi perubahan. gangguan fungsi eksekutif.

vit B Defisiensi. Demensia dapat ditegakkan juga dengan MRI dan aliran darah sentral.b. hipertensi. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus. Pencegahan pada demensia ini dapat dilakukan dengan menurunkan faktor resiko misalnya . Kelainan gaya berjalan. Reversibel 2. aritmia. . Demensia prasenilis (<65th)  Menurut perjalanan penyakit: 1. Palsi pseudobulbar. DM. Demensia senilis (>65th) 2. Demensia vaskuler merupakan demensia kedua yang paling sering pada lansia. Demensia Vaskuler Penyakit ini disebabkan adanya defisit kognitif yang sama dengan Alzheimer tetapi terdapat gejala-gejala / tanda-tanda neurologis fokal seperti :      Peningkatan reflek tendon dalam. subdural hematoma. sehingga perlu dibedakan dengan demensi Alzheimer. merokok. Pedoman diagnostik penyakit demensia vaskuler :    Terdapat gejala demensia Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata Onset mendadak dengan adanya gejala neurologis fokal  Menurut Umur: 1. Respontar eksensor. intoxikasi Pb. Kelemahan anggota gerak. Hipotiroidisma.

protein prukesor amiloid (APP). serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah intracranial. Multiple sklerosis 15. Patofisiologi Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada penyakit Alzheimer. antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid. Neurosifilis 16. Morbus Pick 10. terdapat perubahan morfologik (structural) dan . Secara maskroskopik. Tipe non-Alzheimer 3. Menurut sifat klinis: 17. Palsi Supranuklear progresif 14. Morbus Huntington 9. Tipe Alzheimer 2. perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron korteks dan hippocampus. Kerusakan neuron tersebut terjadi secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak. Pseudo-demensia 5. Demensia Lobus frontal-temporal 6. bagian dari suatu protein besar. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia) 5. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker 12. Demensia vaskular 4. Morbus Parkinson 8. Menurut kerusakan struktur otak 1. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS) 7. Secara mikroskopik. Prion disease 13. Demensia proprius 18. Morbus Jakob-Creutzfeldt 11.

Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga menggagu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor. dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh. Lesi khas lain adalah plak senilis. APP terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein “tau”. Selain karena lesi. hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer. Dengan kolapsnya system transport internal. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau. terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing – masing terluka. Dalam SSP. Secara neurokimia kelainan pada otak . secara kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama – sama. salah satunya A-beta.biokimia pada neuron – neuron. tidak dapat larut. Abeta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. protein tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril – fibril plak yang membeku. matang. padat.

mengacau). depresi. menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar. halusinasi pendengaran atau penglihatan. Gejala Klinis Demensia yang paling banyak ditemukan yaitu tipe Alzheimer Demensia Alzheimer Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat. Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti.” . gangguan tidur. Wahan (curiga.Pathway (terlampir) 6. tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.  Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium. berhitung dan aktifitas spontan menurun. penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai. gangguan bahasa (afasia). dan ada gangguan visuospasial. depresi berat prevalensinya 15-20%. yaitu : Stadium I Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori. dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Penderita mudah bingung. dan disebutr stadium demensia. nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor. “Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami Stadium II Berlangsung selama 2-10 tahun. berkelana. sampai menuduh ada yang mencuri barangnya). Kematian selsel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Gejalanya antara lain: Disorientasi. agitasi (gelisah.

mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi. tidak bergerak dan membisu.Gejala klinisnya antara lain: Penderita menjadi vegetatif. kematian terjadi akibat infeksi atau trauma. Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal. Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang. mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif.. mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. mulai . tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat. daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri. Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan. kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama. Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia.

Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.dari pengkajian latar belakang individu. halusinasi. disorientasi spasial. Mahoney. pemeriksaan fisik. apatis. rasa takut dan gugup yang tak beralasan. marah. tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. seperti : acuh tak acuh. sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. cemas. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. bulan. 1998). mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali  Ekspresi yang berlebihan. “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. menarik diri dan gelisah . misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi. Pada penderita demensia. pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.C.  Adanya perubahan perilaku. tempat penderita demensia berada  Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar.  Gangguan orientasi waktu dan tempat. misalnya: lupa hari. minggu. Hurley. kerusakan fungsi tubuh. depresi. menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi. L. agitasi. marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain. pengkajian syaraf. melawan. E. dan kabur dari tempat tinggal (Volicer. A. Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan.. tahun. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi.. ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti. Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb:  Menurunnya daya ingat yang terus terjadi.

Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia. Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema. Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. . hewan dan alat dengan susah payah  Pemeriksaan laboratonium. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia. Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia. Diagnosis Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:  Pembedaan antara delirium dan demensia  Bagian otak yang terkena  Penyebab yang potensial reversibel  Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)  Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut  Mengelompokkan benda. sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah. mungkin mereka tidak akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita. walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka. pemeriksaan EEC  Pencitraan otak amat penting CT atau MRI  Peran Keluarga Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.7.

termasuk pencitraan otak yang tepat. faktor risiko yang berperan pada penyakit kardiovaskular harus diidentifikasi dan ditanggulangi secara terapetik. Riwayat medis yang lengkap. dan masalah psikologis saat mereka merawat pasien selama periode waktu yang lama. penyakit jantung. dan tes laboratorium. Pemeliharaan kesehatan fisik pasien. latihan yang tepat. dan pengobatan farmakologis simptomatik diindikasikan dalam pengobatan sebagian besar jenis demensia. Pendekatan pengobatan umum pada pasien demensia adalah untuk memberikan perawatan medis suportif. hiperlipidemia. kesedihan. pemeriksaan fisik. . karena penghentian merokok disertai dengan perbaikan perfusi serebral dan fungsi kognitif. dan disfungsi kardiopulmonal. dan pengobatan masalah medis yang menyertai. lingkungan yang mendukung. diabetes dan ketergantungan alkohol. Pengobatan simptomatik termasuk pemeliharaan diet gizi. termasuk gejala perilaku yang mengganggu. perhatian terhadap masalah visual dan audiotoris. Pasien dengan merokok harus diminta untuk berhenti. dan pengobatan farmakologis untuk gejala spesifik. Perhatian khusus karena diberikan pada pengasuh atau anggota keluarga yang menghadapi frustasi. Penatalaksanaan Beberapa kasus demensia dianggap dapat diobati karena jaringan otak yang disfungsional dapat menahan kemampuan untuk pemulihan jika pengobatan dilakukan tepat pada waktunya. 8. harus dilakukan segera setelah diagnosis dicurigai. terapi diarahkan untuk mengobati gangguan dasar. seperti infeksi saluran kemih. ulkus dekubitus.Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia. Jika diagnosis demensia vaskular dibuat. Jika pasien menderita akibat suatu penyebab demensia yang dapat diobati. obesitas. terapi rekreasi dan aktivitas. bantuan emosional untuk pasien dan keluarganya. Faktor-faktor tersebut adalah hipertensi.

cholinedan lecithin merupakan salah satu pilihan dan memberi hasil lumayan. vasopressin dan ACTH perlu memperoleh perhatian. c. demensia ini juga disebabkan oleh defisiensi neurotransmitter lainnya. Denganlecith in hasilnya cenderung negatif. kombinasi kolinergik dan noradrenergic ternyata bersifat kompleks. pemberian ACTH dapat memperbaiki daya konsentrasi dan memperbaiki keadaan umum. Pemberian prekursor. Dengancholine ada sedikit perbaikan terutama dalam fungsi verbal dan visual. Nootropic agents Dari golongan nootropic substances ada dua jenis obat yang sering digunakan dalam terapi demensia. Pemberian cholinergic-enhancing agents menunjukkan hasil yang lumayan pada beberapa penderita. Keduanya berpengaruh terhadap katekolamin. Cholinedan lecithin Defisit asetilkolin di korteks dan hipokampus pada demensia Alzheimer dan hipotesis tentang sebab dan hubungannya dengan memori mendorong peneliti untuk mengarahkan perhatiannya pada neurotransmitter. namun demikian secara keseluruhan tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali. namun demikian tidak memperlihatkan hal yang istimewa. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa demensia alzheimerntidak semata-mata disebabkan oleh defisiensi kolinergik. Sementara itu. walaupun dengan dosis yang berlebih sehingga kadar dalam serum mencapai 120 persen dan dalam cairan serebrospinal naik sampai 58 persen. ialahnicer goline dan co-dergocrine mesylate. d. b. telah banyak dilakukan penelitian. Co-dergocrine mesylate memperbaiki perfusi serebral dengan cara mengurangi tahanan vaskular dan meningkatkan konsumsi . Pada lansia tanpa gangguan psiko-organik. Neuropeptida dapat memperbaiki daya ingat semantik yang berkaitan dengan informasi dan kata-kata. Obat untuk demensia Cholinergic-enhancing agents Untuk terapi demensia jenis Alzheimer. vasopressin dan ACTH Pemberian neuropetida. Neuropeptide. a. pemberian obat kombinasi ini harus hati-hati karena dapat terjadi interaksi yang mengganggu sistem kardiovaskular.

Obat ini memperbaiki perilaku. Dihydropyridine Pada lansia dengan perubahan mikrovaskular dan neuronal. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.bermain alat music. aktivitas. e.belajar bahasa. seperti : 1.membaca. Pencegahan demensia Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia ataupun menunda terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan 2.nicergoline tampak bermanfaat untuk memperbaiki perasaan hati dan perilaku. Lipophilic dihydropyridine bermanfaat untuk mengatasi kerusakan susunan saraf pusat pada lansia.menulis.oksigen otak. 3. dengan demikian sangat dianjurkan sebagai terapi alternatif untuk lansia terutama yang mengidap hipertensi esensial 9. Ini mencakup teka teki dan permainan kata. L-type calcium channels menunjukkan pengaruh yang kuat. serta memperbaiki kognisi. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.  Tetap berinteraksi dengan lingkungan. Tidak hanya kegiatan ini .atau menggambar. dan mengurangi bingung. Nimodipin bermanfaat untuk mengembalikan fungsi kognitif yang menurun pada lansia dan demensia jenis Alzheimer. Kegiatan merangsang mental dapat meningkatkan kemampuan anda untuk menangani dan mengkompensasi perubahan yang berhubungan dengan demensia. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif  Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama. Nimodipin memelihara sel-sel endothelial/kondisi mikrovaskular tanpa dampak hipotensif. 5. Jagalah pikiran anda agar tetap aktif. berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi 4. Disisi lain.

Biasanya ditemukan pada ikan dan kacangkacangan tertentu dapat memiliki efek perlindungan dan menurunkan resiko terkena demensia. Pertahankan pola makan sehat. Diet yang sehat adalah penting karena menurut penelitian bahwa makanan seperti buah-buahan. Mereka dan yang polio menerima tampaknya vaksinasi secara untuk influenza.difteri signifikan mengurangi resiko demensia karena memiliki efek perlindungan terhadap berkembangnya demensia. 6. Pada akhirnya penderita tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan bisa kehilangan kemampuan berbicara. . 8.tetapi juga membantu menurunkan efek.yang membantu menunda terjadinya demensia. Suasana hatinya sering berubah-ubah dan senang berjalan-jalan (berkelana). Endapan yang terjadi dalam otak orang-orang dengan kolesterol tinggi merupakan salah satu penyebab demesia vaskuler.sayuran dan omega 3 dan asam lemak. Turunkan kadar homosistein. Prognosis Pada sebagian besar demensia stadium lanjut terjadi penurunan fungsi otak yang hampir menyeluruh. 9. Dapatkan vaksinasi. Turunkan kadar kolesterol. 7. Penderita lebih menarik dirinya dan tidak mampu mengendalikan perilakunya. Semakin sering melakukan aktivitas maka semakin menguntungkan. 10.tetanus. Penelitian awal menunjukkan bahwa tiga dosis tinggi vitamin B-asam folat-B6 dan B12 membantu menurunkan kadar homosistein dan berguna untuk memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer.

Eliminasi Gejala: Dorongan berkemih Tanda: Inkontinensia urine/feaces. Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak mampu untuk melakukan kewajiban. kesalahan persepsi terhadap lingkungan. gerakan yang sangat bermanfaat. Integritas ego Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan. Makanan/cairan . menyembunyikan barang. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA 1. gerakan berulang ( melipat membuka lipatan melipat kembali kain ).B. mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa membacanya) . penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah penempatannya telah dicuri. cenderung konstipasi/ imfaksi dengan diare. ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara program televisi. perubahan citra tubuh dan harga diri yang dirasakan. b. duduk dan menonton yang lain. ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa yang dilakukannya. kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang. hobi. Pengkajian 1. Sirkulasi Gejala: Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. atau berjalan-jalan. gangguan pola tidur Letargi: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa. c. tidak berdaya. aktivitas pertama mungkin menumpuk benda tidak bergerak dan emosi stabil. Aktifitas istirahat Gejala: Merasa lelah Tanda: Siang/malam gelisah. Pengkajian Pengkajian yang dilakukan secara umum pada penyakit demensia antara lain: a. e. hipertensi. d. Gangguan keterampilan motorik. episode emboli (merupakan factor predisposisi). kehilangan multiple.

bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak memiliki arti. dan tampak semakin kurus (tahap lanjut). . Hiygene Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan. Tanda : Ekimosis. luka bakar dan sebagainya). menggunakan alat makan. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif. kesulitan dalam menemukan kata.kata yang benar ( terutama kata benda ). dan atau gambaran yang kabur. trauma kecelakaan ( jatuh. mengingkari terhadap rasa lapar/ kebutuhan untuk makan. factor psikososial sebelumnya. Kenyamanan Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi factor predisposisi atau factor akselerasinya). Tanda : Kehilangan control social.Gejala: Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor predisposisi) perubahan dalam pengecapan.perilaku tidak tepat. Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia. mengingat yang berlalu. kebiasaan personal yang kurang. emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ). lupa langkah-langkah untuk buang air. lupa untuk pergi kekamar mandi. Tanda: Kehilangan kemampuan untuk mengunyah. Interaksi social Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. f. Neurosensori Gejala : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif. makan. nafsu makan. Kehilangan kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap ( kehilangan keterampilan motorik halus ). pusing atau kadang-kadang sakit kepala. keluhan hipokondria tentang kelelahan. mengambil keputusan. pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul. dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik. menghindari/menolak makan (mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan). h. atau bicaranya tidak terdengar. terpenggal-penggal. Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian tubuh dalam ruang tertentu ). kehilangan berat badan. g. penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang terdekat). kebiasaan pembersihan buruk. tidak dapat menemukan kamar mandi dan kurang berminat pada atau lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain untuk memasak makanan dan menyiapkannya dimeja. laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain i.

 Demensia terjadi akibat kerusakan yang terjadi di dalam susunan saraf pusat terkait dengan proses penuaan. Perkembangan dari senile plaques atau lesi yang anatomik terkait dengan penuaan. komunikasi). Atrofi dari tegangan dengan perluasan sulci dan gyri paling banyak di daerah frontal. Pada pengkajian Lansia dengan masalah demensia bisa digolongkan dalam pengkajian sistem saraf secara umum. penggunaan glukosa. Peningkatan akumulasi intrasel dari pigmen lipofuscin menyebabkan intisel mengasumsikan posisi yang abnormal. aliran darah. kontrol temperatur. pendengaran. peningkatan kadar serotonin dan monoamin oksidase menyebabkan perubahan dalam fungsi neurotransmiter dan depresi. recall. penurunan kadar dopamin menyebabkan penyakit parkinson’s. afek. pada interpretasi sensory (penglihatan. kemampuan dalam koping dengan kejadian multipel (depresi.  Penurunan jumlah neuron menyebabkan penurunan dalam kekuatan transmisi dari otak ke anggota badan dan mengakibatkan perubahan ambang bekerja dari organ dan sistem. memory dan kemampuan kognitif). mood mengakibatkan gangguan tidur. dalam pergerakan (kekuatan motorik. Perubahan metabolik dari kompleks sinaptik menyebabkan efek neurotransmiter berhubungan dengan fungsi otak dengan tidur. intoleransi terhadap dingin dan depresi. peraba dan perasa). penciuman. Fungsi Metabolik dan Fisiologik Menurunnya konsumsi oksigen menyebabkan penurunan energi intraseluler.  Perubahan umum dalam sirkulasi otak menyebabkan kekacauan mental (association retrieval.  Penurunan kadar norepinephrine. Perubahan umum dari sistem saraf yang terkait dengan Proses Menua adalah sebagai berikut: Struktur Otak:        Kehilangan berat otak karena penuaan menyebabkan pengurangan jumlah dari neuron dengan kehilangan area yang besar dari cortex dan cerebellum. . kelincahan dan ketangkasan). Dilatasi dari ventrikel karena proses menua.

 Peningkatan recovery time dari susunan saraf otonom menyebabkan pemanjangan waktu untuk kembali ke fungsi organ awal setelah stimulasi mengakibatkan kecemasan dan ketegangan akibat stimulasi yang berlebihan. mengurangi pergerakan dan berkedip. sleep apnea dan tidur sebentar.   Penurunan dendrites pada saraf. capek.   Pengurangan pada tahap IV menyebabkan rasa lemas. Tahap III tetap sama. lesi pada akson menyebabkan penurunan pada hantaran saraf tepi dan memperlambat waktu reaksi. sinap. waktu tahap IV sangat berkurang atau terlewati semua dengan penuaan. Insomnia. Perubahan Electroencephalographic (EEG)  Pada pembacaan menampakkan satu siklus yang lebih rendah daripada tahap lain yang matang. Perubahan Pola Tidur   Tetap pada tahap I dan II untuk jangka waktu yang lama dan mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur.  Penurunan dalam sensitivitas dari cones di retina terhadap warna menyebabkan kesulitan dalam membedakan warna (merah dan hijau menjadi hitam). letargi dan depresi. pada malam hari atau adaptasi yang lambat untuk melihat dalam gelap.  Waktu tidur REM sebanding dengan tahap lain dari masa dewasa tetapi penuaan mengakibatkan mimpi kurang dan pengurangan pada REM mengakibatkan mudah terangsang. Perubahan ekstra piramidal menyebabkan perubahan affect. Fungsi dan Struktur Sensori  Penurunan ukuran pupil dan perubahan respon cahaya yang minimal menyebabkan kesulitan melihat dalam gelap. cemas dan tegang. menyebabkan frekuensi bangun saat malam hari dan penurunan intensitas dari tidur membuat lebih mudah untuk bangun dan tidak mendapatkan tidur yang cukup. meningkat dengan usia menyebabkan gangguan pola tidur dan penyimpangan. .

5) Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif. curiga. 9) Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan. gelisah. tingkah laku defensive. otot tidak terkoordinasi.2. 3) Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan. orang dan waktu. 4) Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori ditandai dengan keluhan verbal tentang kesulitan tidur. dan tingkah laku agresif. kemunduran hobi. 6) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan pemecahan masalah tidak adekuat ditandai dengan cepat marah. 7) Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan persepsi ditandai dengan disorientasi tempat. perubahan sensori. halusinasi. . transmisi atau integrasi sensori (penyakit neurologis. tidak mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur. 2) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi. kelemahan. hilang konsentrsi. keprihatinan. 8) Risiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mudah lupa. tidak mampu berkomunikasi. mudah tersinggung. gangguan tidur. apatis. mudah tersinggung. tingkah laku curiga. Diagnosa Keperawatan 1) Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis (degenerasi neuron ireversibel) ditandai dengan hilang ingatan atau memori. kekacauan mental. aktivitas kejang. nyeri) ditandai dengan cemas. frustasi atas kehilangan kemandiriannya ditandai dengan penurunan kemampuan melakukan perawatan diri. terus-menerus terjaga. tampak cemas. tidak mampu menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas dengan akurat. gelisah.

evaluasi Catatan: orientasi secara berulang dapat meningkatkan respon yang negative/tingkat frustasi c. Kebisingan merupakan berlebihan sensori yang mengatasi anggapan diri yang negative Mampu mengenali perubahan berpikir tingkah laku dalam atau dan mengenai perubahan perilaku factor penyebab Mampu c. perubahan rentang b. Intervensi No Diagnosa keperawatan 1 Perubahan pikir dengan fisiologis Tujuan dan kriteria Intervensi hasil proses Setelah diberikan Mandiri keperawatan klien mengenali dalam a. Bicarakan dengan keluarga derajat kognitif. mampu menginterpretasikan stimulasi menilai dan realitas hilang atau hilang tidak Mampu memperlihatkan kemampuan kognitifuntuk menjalani konsekuensi kejadian menegangkan terhadap emosi dan pikiran tentang diri Mampu mengembangkan strategi untuk dengan akurat. perhatian. Kaji gangguan seperti orientasi. Mengurangi kecemasan emosional. konsentrsi. meningkatkan pengembangan evaluasi positif mengurangi psikologis yang b. memengaruhi rencan intervensi. kemarahan.3. kemampuan berpikir. Pertahankan meningkatkan . Kembangkan lingkungan mendukung hubungan perawat terapeutik yang dan klienyang Mandiri a. Memberikan perbandingan akan datang dasar yang dan diri yang dan konflik dan seperti Rasional berhubungan tindakan perubahan diharapkan mampu (degenerasi neuron perubahan ireversibel) ditandai berpikir dengan KH: dengan ingatan memori.

Gunakan suara yang agak rendah dan penyakit. komunikasi otak pusat dalam terganggu berbicara dengan . diinginkan. kebingungan dan d. pada klien terutama dengan perlahan dan tenang gangguan perceptual e. Lakukan pendekatan dengan cara persepsi/perasaan. Nama adalah bentuk identitas diri dan menimbulkan pengenalan terhadap realita dan klien g. Seiring perkembangan dan yang g. terancam e. Menimbulkan perhatian.memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak lingkungan yang gangguan neuron d. Tatap wajah ketika berbicara klien dengan f. Pendekatan buru klien kesalahan terburu- menyenangkan dan tenang menyebabkan bingung. ancaman. Panggil klien tinggi dank Ucapan eras dengan namanya menimbulkan stress/marah mencetuskan konfrontasi respons marah h. Meningkatkan pemahaman. f.

memberi pengalaman positif j. Lamunan j. Orientasi . menstimulasi komunikasi. Berhenti sejenak di antara kalimat/pertanyaan. Membantu dengan proses i. Provokasi menurunkan harga diri dan ancaman mencetuskan merupakan yang agitasi yang tidak sesuai l. Menimbulkan respons verbal. Gunakan kata-kata keseluruhan i. kalimat dan Ulangi tersebut kebutuhan instruksi sesuai menurunkan frustasi k. Mengarahkan perhatian penghargaan. Beri isyarat tertentu. Dengarkan dengan dalam membantu meningkatkan disorientasi. meningkatkan pemahaman.perlahan pada klien sehingga menghilangkan kemampuan dalam klien respons penerimaan pesan dan percakapan h. gunakan terbuka kalimat alat kata klien bantu dalam dan Isyarat secara pendek.

jika distraksi. Tertawa membantu dan argumentasi. Gunakan Bicarakan kejadian sebenarnya klien mengungkapkan ide yang salah. konfrontasi negative dalam komunikasi dan meningkatkan kestabilan emosi l. arti. Keterpaksaan pertanyaan. Beri kata yang benar k. delusi n. pada meningkatkan realita pembicaraan Interpretasikan perasaan realita klien.penuh perhatian klien. penghargaan diri dan kemuliaan (kebahagiaan) personal m. tentang yang saat tidak meningkatkan kecemasan . Hindari kritikan. dan kata. dan menurunkan keikutsertaan meningkatkan kecurigaan.

Antisiklotik. masalah penglihatan dan terutama gangguan berdiri berjalan. Dapat meningkatkan kesadaran mental dan tetapi memerlukan . seperti haloperidol (haldol).m. meningkatkan kekacauan mental. tioridazin (Mallril) Kolaborasi a. Hindari klien dari aktivitas komunikasi dipaksakan dan yang n. halusinasi. seperti b. Gunakan hal yang humoris berinteraksi klien saat pada Kolaborasi a. b. Dapat digunakan untuk mengontrol agitasi. Vasodilator. Mallril jarang digunakan karena adanya beberapa efek samping yang bersifat ekstrapiramidal.

c. beri . Bantu klien untuk memahami halusinasi neurologis. ditandai strategi psikososial c. Titamin penelitian lanjut. gangguan nyeri) tidur. kembangkan lingkungan suportif yang dan Mandiri a.siklandelat (Cyclospasmol) c. mampu berkomunikasi. transmisi dapat berkurang atau atau sensori integrasi terkontrol dengan KH: (penyakit tidak Mengalami penurunan halusinasi Mengembangkan hubungan perawat – klien terapeutik b. Dalam lebih penelitian cara merupakan yang terus dilakukan menerus untuk menyelidiki kemanfaatan dari tiamin dosis tinggi selama fase awal penyakit untuk memperlambat berkembangnya gangguan/meningk atan kognisi sederhana keadaan secara 2 Perubahan persepsi Setelah sensori berhubungan dengan tindakan diharapkan diberikan Mandiri keperawatan perubahan a. Meningkatkan koping dan halusinasi c. Meningkatkan kenyamanan menurunkan kecemasan pada klien b. Untuk membantu klien informasi dalam memahami menurunkan dan perubahan persepsi sensori klien persepsi.

e. untuk mengurangi tentang halusinasi .pengobatan dan cara mengatasi d.hubungannya dengan sifat halusinasi stress atau mengatur prilaku.membatasi /menurunkan kesalahan interpretasi stimulasi mata atau alat bantu pendengaran keperluan sesuai . Keterlibatan atau persepsi bagaimana tersebut mempengaruhi klien termasuk penurunan penglihatan pendengaran atau gangguan dan hal memperlihatkan masalah yang bersifat asimetris menyebabkan klien kehilangan otak mengidentifikasi factor yang eksternal berperan terhadap perubahan kemampuan persepsi sensori kemampuan pada salah satu sisi tubuh (gangguan unilateral). anjurkan menggunakan strategi mengurangi e. kaji derajat sensori d. ajarkan untuk stress f. halusinasi. Meningkatkan masukan sensori. cemas. gelisah.dengan apatis. Klien tidak dapat mengenali rasa lapar . Mendemonstrasikan respon yang sesuai stimulasi Perawat mampu stresor/pengalaman emosional yang traumatic. Untuk halusinasi menurunkan akan kebutuahan untuk kaca f.

hari Mempertahankan rasa berharga pada diri dan identitas pribadi yang positif Membuat pernyataan positif status kesehatan) d. cemas.sehari- dengan klien b. Untuk membangun diharapkan klien dapat dengan aktivitas hari dan kepercayaan dan rasa aman perubahan beradaptasi aktivitas perubahan sehari. Jalin saling hubungan mendukung Mandiri a. Konsistensi . Untuk menentukan c. makan. Orientasikan lingkungan rutinitas baru pada dan b. laku laku tampak mudah : Mengidentifikasi perubahan Mampu beradaptasi pada perubahan dan perasaan terganggu c. tingkah defensive.3 Sindrom relokasi berhubungan dengan dalam kehidupan stress Setelah tindakan diberikan Mandiri keperawatan a. Memberi kesempatan mengontrol lingkungan melindungi dan dari tentang lingkungan yang baru Memperlihatkan penerimaan terhadap perubahan lingkungan penyesuaian kehidupan Mampu menunjukan tentang dan kelainan tingkah laku e. perubahan krisis persepsi klien tentang kejadian dan tingkat serangan. lingkungan aktivitas kehidupan sehari. gelisah. Tempatkan pada d. perkembangan. Kaji tingkat stressor (seperti penyesuaian diri. Menurunkan kecemasan dan hari ditandai dengan lingkungan dengan KH kebingungan. sebaginya dan dengan terdekat aktivitas waktu dan meningkatkan masalah tingkah laku. dan tingkah agresif. Perawatan di rumah sakit aktivitas mengubah klien dan ruangan pribadi jika mungkin bergabung orang dalam perawatan. Tentukan jadwal e. kekacauan mental. tersinggung. keprihatinan. peran akibat keluarga. tingkah laku curiga.

Menurunkan ketegangan. Identifikasi kekuatan klien yang dimiliki sebelumnya pengalaman menyakitkan Menggunakan bantuan dari sumber yang tepat selama waktu pada baru pengaturan lingkungan f. mudah tersinggung. mempertahankan rasa saling percaya dan dan informasi yang menyenangkan mengenai kegiatan/peristiwa orientasi. Perilaku katastropik menimbulkan ini panic . Catat tingkah laku.perasaan yang aktivitas yang wajar dan masukkan mengurangi kebingungan meningkatkan kebersamaan dan rasa sesuai/tidak cemas dan rasa takut dalam kegiatan rutin berkurang Tidak menyimpan f. defensive h. Saat klien mengetahui secara perlahan tentang apa yang terjadi. koping klien akan meningkat h. munculnya perasaan curiga/paranoid. Berikan penjelasan g. Stress rasa nyaman/nyeri dan meningkat. Memfasilitasi bantuan dengan komunikasi dan manajemen dari kekurangan sekarang serta selanjutnya g. tidak fisik kelelahan mencetuskan penurunan tingkah laku dan gangguan komunikasi.

dalam tenang dan waktu member klien untuk memperoleh kendali terhadap perilaku dan emosinya memberikan untuk kesempatan “beristirahat” j.dan rasa bermusuhan i. meningkatkan kualitas hidup Mandiri a. Memberikan keyakinan. Rasa menurunkan takut. menuunkan dan dan diterima rasa respons stress. Menenangkan situasi i. Pertahankan keadaan Tempatkan lingkungan yang tenang. Gunakan jika mengalami paranoid/sedang mengalami sesaat 4 Perubahan tidur dengan pola Setelah dilakukan Mandiri keperawatan a. Irama sirkadian (siklus tidur-bangun)yang tersinkronisasi disebabkan oleh tidur siang yang singkat berhubungan tindakan perubahan diharapkan tidak terjadi pola tidur lingkungan ditandai gangguan dengan verbal kesulitan keluhan pada klien dengan KH : tentang tidur. Jangan menganjurkan klien tidur siang apabila berakibat negative tidur pada efek terhadap malam agitasi sentuhan tidak dengan yang j. Atasi tingkah laku agresif pendekatan tenang k. Memahami factor penyebab gangguan . agresif k.

waktu penggunaan kortikosteroid. Buat intervensi jadwal e. Hambatan kortikal terbiasa makan malam dari klien hari tidur yang adekuat dengan terhadap yang penurunan pikiran melayang- mengganggu d. Memberika lingkungan nyaman meningkatkan (mematikan ventilasi yang untuk tidur lampu. respons karenanya kardiovaskular terhadap suara emningkatkan otomatik. Gangguan tidur terjadi untuk dengan seringnya tidur . menghindari kebisingan) meningkat selama tidur e. insomnia ksi penyebab tidur c.terus-menerus terjaga. tidak - pola tidur Mampu menentukan penyebab inadekuat Mampu memahami rencana untuk menangani/mengore khusus tidur hari b. termasuk perubahan mengganggu tidur mood. Mengubah pola yang sudah asupan pada terbukti tidur d. ruang layang (melamun) Tampak melaporkan beristirahat cukup atau dapat yang pada formasi reticular akan berkurang selama tidur. Tentukan kebiasaan tidak adekuat Mampu menciptakan pola dan rutinitas waktu tidur malam dengan kebiasaan (memberi hangat) klien susu c. respons adekuat. Evaluasi efek obat b. Derangement klien .diuretik) (steroid yang terjadi bila psikis terdapat mampu menentukan kebutuhan/ tidur. suhu yang sesuai.

memungkinkan waktu tidur lebih dan mengganggu pemulihan sehubungan dengan psikologis fisiologis. Aktivitas mental fisik yang dan lama mengakibatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan. Evaluasi tingkat stress/orientasi sesuai perkembangan demi hari hari laku tidak kooperatif (sindrom sundower) . irama terganggu gangguan dan sehingga sirkadian lama(memeriksa tanda vital. meningkatkan agitasi menghambat istirahat h. anjurkan latihan saat siang hari. turunkan aktivitas mental/fisik pada sore hari f. mengubah posisi) f. Peningkatan kebingungan. Risiko g. aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan waktu meningkatkan tidur g. tingkah dan waktu h. Hindari penggunaan “pengikatan” secara terus menerus gangguan sensori. disorientasi. Berikan kesempatan untuk tidur sejenak.

Identifikasi kesulitan a. Katakan pada klien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur mempertahankan kestabilan lingkungan. Turunkan minuman Lakukan jumlah sore. Putarkan musik yang lembut atau “suara yang jernih” menghambat suara lain dari lingkungan sekitar yang menghambat tidur akan 5 Kurang diberikan Mandiri Mandiri a. Penguatan saatnya tidur bahwa dan i.dapat mengurangi tidur i. Masalah perawatan Setelah . Berikan makanan kecil sore hari. Catatan : penundaan waktu diindikasikan klien tidur agar membuang kelebihan energy dan memfasilitasi tidur j. dan masase punggung k. intervensi. berkemih perasaan mengantuk k. mandi. Meningkatkan relaksasi dengan j. Menurunkan stimulasi sensori dengan akan untuk selama sebelum tidur l. susu hangat. Buat secara jadwal tidur teratur. Menurunkan kebutuhan bangun berkemih malam hari l. Memahami penyebab diri berhubungan tindakan keperawatan dalam berpakaian/ yang mempengaruhi dengan intoleransi diharapkan klien dapat perawatan diri.

Seiring penyakit.  Mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber pribadi/ yang komunitas dapat b. Perhatikan tanda-tanda nonverbal fisiologis. melakukan perawatan dengan kognitif apraksia. Identifikasi kebutuhan kebersihan diri dan berikan sesuai dengan bantuan kebutuhan perawatan kulit. d. terengah-engah. banyak waktu d.Pekerjaan yang tadinya mudah sekarang menjadi terhambat karena melakukan penurunan motorik dan perubahan kognitif. penurunan seperti dapat dengan atau diminimalkan menyesuaikan memerlukan tahan dan kekuatan dengan KH : ditandai penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. kebersihan perkembangan kebutuhan dasar mungkin dilupakan. Beri untuk tugas. b. apatis/ depresi. c. Kehilangan sensori dan penurunan fungsi bahasa menyebabkan mengungkapkan kebutuhan diri perawatan cara seperti ingin dengan klien dengan nonverbal.aktivitas. menurunnya merawat dirinya sesuai daya dengan kemampuannya dengan  Mampu aktivitas diri seperti: keterbatasan gerak fisik. memberikan bantuan. rambut/kuku/ bersihkan kaca mata. berkemih memegang dirinya. dan gosok gigi. . sesuai tingkat kemampuan. yang adanya c. konsultasi dari ahli lain.

klien haraga yang negatif realitas bahwa masih dapat menggunakan untuk merasakan adanya harapan dan mulai sisi yang sakit dan menerima situasi baru. dan diri Dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mepertahankan patisipasi aktif c.Mengakui menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara tanpa yang akurat diri c. . Kaji perubahan dari a. Meningkatkan yang rapi kepercayaan hidup. untuk dan indah. terdekat situasi perubahan membantu memperlambat kemajuan penyakit. Bantu pakaian mengenakan e. 6. individu Setelah efektif diberikan Mandiri Mandiri a. sedang terjadi . Pernyataan pengakuan penolakan mengingatkan kembali kejadian fakta tentang terhadap tubuh. tidak ditandai cepat curiga. .e. Dukung kemampuan b. Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian sebagai seluruh Mengizinkan bagian dari tubuh. Kepatuhan koping program berjalan terhadap latihan dan mudah tersinggung.Mampu menyatakan penerimaan terhadap situasi .Mampu menyatakan atau mengkomunikasika n dengan orang tentang dan yang b. Koping tidak berhubungan dengan pemecahan masalah adekuat dengan marah. Menentukan bantuan asuhan keperawatan gangguan persepsi individual dalam diharapkan koping dan hubungan dengan menyusun rencana individu menjadi efektif derajat perawatan atau dengan kriteria hasil : ketidakmampuan pemilihan intervensi.

bosan dan merasa sendiri. Klien Demensia sering secara merasa malu.belajar mengontrol sisi yang sehat d. apatis. tidak adekuat. Klien dibantu dan didukung untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (seperti meningkatnya mobilitas) e. Beri psikologis menyeluruh dukungan d. Setiap upaya dibuat untuk mendukung klien keluar darii tugas-tugas yang termasuk koping dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk klien . Bentuk pada aktivitas program pada keseluruhan hari untuk mencegha waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah padda tidak adanya keinginan dari apatis. Perasaan ini dapat disebabkan fisik akibat keadaan yang lambat dan upaya yang besar dibutuhkan terhadap tugas-tugas kecil. Bentuk aktivitas keseluruhan hari program e.

hal-hal f. Monitor tidur gangguan h. Anjurkan orang yang terdekat mengizinkan melakukan untuk untuk klien sewaktu mencapai tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping.mandiri. dan withdrawal intervensi dan evaluasi lebih lanjut Kolaborasi a. terjadinya dimana depresi memerlukan konsentrasi. Dukung perilaku atau g. g. Klien dapat beradaptasi usaha peningkatan seperti minat terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu mendatang. . Dapat mengindikasikan peningkatan letargi. Menghidupkan kembali dirinya perasaan dan kemandirian membantu semaksimal mungkin perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses rehabilitasi. masa atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi h. Dapat memfasilitasi perubahan peran bila ada indikasi yang penting untuk perkembangan perasaan. Apapun yang dilakukan hanya untuk keamanan f. Rujuk pada ahli Kolaborasi neuropsikologi dan konseling a.

dan agar tidak miskomunikasi. komunikasi verbal dengan kriteria hasil :  Membuat teknik/metode komunikasi dapat sesuai yang b. atau papan tulis. dukungan partisipasi kelompok menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada kejadian ini. Hambatan komunikasi berhubungan dengan persepsi perubahan ditandai verbal Setelah diberikan Mandiri Mandiri a.Kerjasama fisioterapi. Menentukan carab. gambar. terapi obat-obatan. cara berkomunikasi seperti mempertahankan kontak pertanyaan jawaban ya mata. klien dalam mengalami hambatan berkomunikasi. Kaji kemampuan a. Untuk menentukan asuhan keperawatan. psikoterapi. menggunakan kertas pensil/bolpoint. klien untuk tingkat kemampuan diharapkan klien tidak berkomunikasi. terjadi dapat dan dengan disorientasi tempat. dengan atau dimengerti kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi tidak. dan . Untuk membantu proses berkomunikasi dengan klien. orang dan waktu. 7. bahasa isyarat.

Usahakan/ bantuan memilih menu berikan b.  Mengubah kemunduran hobi. 8. Klien dalam tidak mampu pilihan menentukan kebutuhan nutrisi terhadap Setelah asupan yang benar. Kolaborasi dengan ahli bahasa. Untuk klien memudahkan dalam perawat panggilan di tempat mudah dijangkau dan berikan cara menggunakannya. Risiko wicara Kolaborasi a. kebutuhan panggilan dengan Penuhi klien. jika Kolaborasi a. Identifikasi kebutuhan perubahan nutrisi tindakan keperawatan klien/keluarga untuk membantu kurang dari diharapkan klien mengenai kebutuhan perencanaan pendidikan kebutuhan tubuh mendapat nutrisi yang makan berhubungan seimbang dengan KH: dengan mudah lupa. perubahn sensori. Kaji pengetahuan a. diet . Letakkan bel/lampu c.penjelas arti dari yang komunikasi disampaikan. Memberikan terapi bicara pada klien. penjelasan memanggil saat membutuhkan bantuan. c. dilakukan Mandiri Mandiri a. Jawab tersebut segera.  Mendapat pola b. Katakan kepada klien bahwa perawat siap membantu dibutuhkan.

aktivitas kejang. Berikan makanan c. Makan mengakibatkan panas mulut yang terlalu panas terbakar atau menolak untuk makan Kolaborasi: atau a. Pertolongan terhadap utama fungsi bowell atau BAB 9. Hindari sesuai.nutrisi seimbang. Mengidentifikasi risiko di lingkungan dan mempertinggi perawat cedera berhubungan tindakan dengan kesulitan diharapkan cedera keseimbangan. b. Makan makanan kecil meningkatkan masukan yang sesuai kecil setiap jam sesuai kebutuhan  Mempertahankan/ mendapat kembali berat badan yang d. Bantuan diperlukan untuk mengembangkan keseimbangan diet dan menemukan aktifitas mempermudah koping adaptif. Klien dengan tingkah laku impulsif berisiko dengan lingkungan trauma karena kurang . tidak otot dengan KH : Meningkatkan tingkat aktivitas Dapat beradaptasi tidak terkoordinasi.tingkah laku impulsive dan penurunan visual. kelemahan. Kaji derajat gngguan kemampuan. konsultasikan dengan ahli gizi kebutuhan / makan yang disukai b. yang c. keluarga mengidentifikasi risiko terjadinya persepsi Bantu Mandiri a. Rujuk makanan d.  Ikut serta dalam yang Kolaborasi : a. Pemberian suppositoria dan pelumas faeces / pencahar. kesadaran akan bahaya. Risiko terhadap Setelah dilakukan Mandiri keperawatan Risiko terjadi a.

untuk risiko mengurangi bahaya mungkin timbul yang mampu memgendalikan perilaku. Perlambatan d. Klien dengan kognitif. Hilangkan sumber gangguan gangguan adalah awal bahaya lingkungan memperbaikinya trauma akibat tidak bertanggung terhadap jawab kebutuhan keamanan dasar c. Mempertahankan c. Gunakan sesuai lingkungan fisik/kebutuhan klien pakaian dengan metabolisme mengakibatkan hipotermia. Klien yang tidak dapat proses yang rasa proses . Alihkan saat teragitasi perhatian perilaku keamanan menghindari konfrontasi meningkatkan yang risiko dengan terjadinya trauma d. persepsi terjadi Penurunan visual trauma/cedera Tidak mengalami trauma/cedera Keluarga mengenali potensial lingkungan mengidentifikasi tahap-tahap untuk di dan b. persepsi berisiko terjatuh b. Hipotalamus dipengaruhi penyakit menyebabkan kedinginan e.

e.hipot ensi ortostatik. Membahayakan klien. Ukuran dosis/penggantian obat diperlukan untuk mengurangi gangguan f. Kaji efek samping obat. meningkatkan agitasi dan fraktur lansia dengan timbul pada risiko klien kesempatan keluarga tinggal bersama klien selama agitasi akut periode (berhubungan penurunan kalsium tulang) .gangguan penglihatan. gangguan gastrointestinal) f. Hindari penggunaan restrain menerus. keracunan tanda (tanda melaporkan tanda/gejala dapat obat menimbulkan ekstrapiramidal. terusBerikan kadar toksisitas pada lansia.

nyeri) ditandai dengan cemas. tidak mampu berkomunikasi. Perubahan berhubungan persepsi. persepsi dengan atau sensori perubahan integrasi   Mengalami penurunan halusinasi Mengembangkan strategi psikososial untuk mengurangi stress atau mengatur prilaku. Implementasi (implementasi sesuai dengan intervensi) 5. ancaman. apatis. dan kebingungan 2. gangguan tidur. halusinasi. tidak mampu menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas dengan akurat.  Mendemonstrasikan respon yang sesuai stimulasi  Perawat mampu mengidentifikasi factor eksternal yang berperan terhadap perubahan  kemampuan persepsi sensori transmisi sensori (penyakit neurologis. tingkah laku yang tidak diinginkan. gelisah. Evaluasi No. hilang konsentrsi. Dx 1. .4. Diagnosa Keperawatan Perubahan proses pikir berhubungan dengan (degenerasi perubahan neuron fisiologis ireversibel) Evaluasi  Mampu memperlihatkan kemampuan kognitifuntuk menjalani konsekuensi kejadian yang menegangkan terhadap emosi dan pikiran tentang diri   Mampu mengembangkan strategi untuk mengatasi anggapan diri yang negative Mampu mengenali perubahan dalam berpikir atau tingkah laku dan factor penyebab  Mampu memperlihatkan penurunan ditandai dengan hilang ingatan atau memori.

tingkah laku defensive. mudah tersinggung.hari    Mempertahankan rasa berharga pada diri dan identitas pribadi yang positif Membuat pernyataan positif tentang lingkungan yang baru Memperlihatkan penerimaan terhadap perubahan lingkungan dan penyesuaian kehidupan  Mampu menunjukan tentang perasaan yang sesuai/tidak cemas dan rasa takut berkurang   Tidak menyimpan pengalaman menyakitkan Menggunakan bantuan dari sumber yang tepat selama waktu pengaturan pada lingkungan baru 4. kekacauan mental. gelisah. dan tingkah laku agresif. tampak cemas. tingkah laku curiga. terus-menerus terjaga. tidak mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur. keprihatinan.3.   Mengidentifikasi perubahan Mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas kehidupan sehari. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan. Perubahan pola tidur dengan ditandai perubahan dengan berhubungan lingkungan verbal    Memahami factor penyebab gangguan pola tidur Mampu menentukan penyebab tidur inadekuat Mampu memahami rencana khusus untuk menangani/mengoreksi penyebab tidur tidak adekuat keluhan tentang kesulitan tidur.  Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan terhadap pikiran yang melayang-layang .

dengan melakukan penurunan aktivitas menggunakan komunitas yang dapat memberikan bantuan. Koping individu tidak efektif  Mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi  Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi  Mengakui dan menggabungkan berhubungan masalah tidak dengan pemecahan ditandai adekuat dengan cepat marah. kemunduran hobi. perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa haraga diri yang negative 7. . Mendapat diet nutrisi yang seimbang.  Mampu mengidentifikasi sumber dan pribadi/ menurunnya daya tahan dan kekuatan ditandai kemampuan sehari-hari.(melamun)  Tampak atau melaporkan dapat beristirahat yang cukup 5.  Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan. 6. perubahn sensori. Kurang perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas. 8. Risiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mudah lupa. mudah tersinggung. Hambatan berhubungan komunikasi dengan verbal perubahan  Membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi    Mengubah pola asupan yang benar. curiga. Mempertahankan/ mendapat kembali berat badan yang sesuai.  Ikut serta dalam aktifitas yang persepsi ditandai dengan disorientasi tempat. orang dan waktu.

. 9. otot tidak terkoordinasi. Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan.    Meningkatkan tingkat aktivitas Dapat beradaptasi dengan lingkungan untuk mengurangi risiko trauma/cedera Tidak mengalami trauma/cedera  Keluarga mengenali potensial di lingkungan dan mengidentifikasi tahaptahap untuk memperbaikinya kelemahan. aktivitas kejang.mempermudah koping adaptif.

2006.Wahjudi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Keperawatan Gerontik.2002 . L.Edisi2. Arif.2010. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. 1997.Mickey. EGC. Salemba Medika: Jakarta Nugroho. 2008. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.Buku Kedokteran EGC. 2003. Kushariyadi.Jakarta. Jakarta: FKUI Muttaqin.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Carpenito.Edisi2. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Lumbantobing. Askep pada Klien Lanjut Usia.J.1999 Stanley.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->