KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN IMTAQ

M. Ghaza Kusairi (Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam) Keberadaan seorang pemimpin dalam organisasi sangat dibutuhkan untuk membawa organisasi kepada tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai gaya kepemimpinan akan mewarnai perilaku seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Bagaimanapun gaya kepemimpinan seseorang tentunya akan diarahkan untuk kepentingan bersama yaitu kepentingan anggota dan organisasi. Dalam sebuah lembaga pendidikan, salah satu elemen yang berperan penting sebagai agent of change adalah pemimpin yang memimpin lembaga pendidikan tersebut. Hal ini karena pemimpinlah yang menjadi “pengemudi” ke mana lembaga pendidikan yang pimpinnya itu akan dibawa. Peran key position kemajuan dan perkembangan tidak keliru dialamatkan kepada kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah sebagai agen perubahan dalam sekolah mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mempunyai leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengelolah sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan sumber daya manusia hendaknya mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Kepemimpinan merupakan prilaku mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu dalam rangka tercapainya tujuan organisasi. Secara lebih sederhana dibedakan antara kepemimpinan dan manajemen, yaitu pemimpin mengerjakan suatu yang benar (people who do think right), sedangkan manajer mengerjakan suatu dengan benar (people do right think). Landasan inilah yang menjadi acuan mendasar untuk melihat peran pemimpin dalam suatu organisasi. Perbedaan ini memberikan gambaran bahwa pemimpin biasanya terkait dengan tingkat kebijakan puncak atau pengambil keputusan puncak yang bersifat menyeluruh dalam organisasi, sedangkan menejer merupakan pengambil keputusan tingkat menengah.[1] Sehingga kepemimpinan kepala sekolah juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah, yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Dalam abad modern ini, berbagai penjelasan dalam organisasi memerlukan pemimpin yang berorientasikan pada perubahan. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa organisasi sesuai dengan asas-asas manajemen modern[2], sekaligus mampu mengembangkan lingkungan organisasi yang berawawas iman dan taqwa dalam kegiatan seharihari. Suatu kenyataan bahwa kemerosotan akhlak akhir-akhir ini tidak hanya menimpa kalangan orang dewasa tetapi telah merembet pada kalangan pelajar tunas-tunas muda. Orang tua,

Pelopor dalam menjalankan aktivitas manajemen. Sebagai pengatur. Karena sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. yaitu perencanaan. Sedangkan Roeslan Abd. Keberadaan sekolah sebagai organisasi pendidikan akan berpengaruh terhadap keefektifan model kepemimpinan kepala sekolah yang diterapkan. sehingga keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah. dimana kelebihankelebihan tersebut diantaranya adalah sifat-sifat yang dimiliki berkaitan dengan kepemimpinannya. Pemersatu dan motivasi para bawahan dalam melaksanakan aktivitas organisasi. Sedangkan bersifat unik menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Penanggung jawab dan pembuat kebijakan-kebijakan organisasi. Oleh karena itu. (b) kelebihan dalam rohaniah dan (c) kelebihan dalam badaniah. bahwa setiap dan semua organisasi apapun jenisnya pasti memiliki dan memerlukan seorang pemimpin yang harus menjalankan kepemimpinan . pengorganisasian. mabukmabukan.[4] Kepemimpinan adalah aktor dari sebuah rencana yang kemudian diaplikasikan dalam suatu organisasi. sekolah yang sifatnya kompleks dan unik itulah. Berkaitan dengan masalah sifat-sifat pemimpin sebagai syarat utama kepemimpinan. maka sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Kelebihan sifat ini merupakan syarat utama menjadi seorang pemimpin yang sukses.pendidik. Disinilah peran kepemimpinan kepala sekolah dituntut untuk mampu membimbing bawahannya yaitu peserta didik.[3] Pada umumnya seorang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya. 5. pengarah aktivitas organisasi untuk mencapai suatu tujuan.[5] Sebagaimana telah dikatakan oleh Nawawi. Ghoni menyatakan bahwa. Dalam memimpin suatu organisasi sekolah. (b) sifat-sifat yang berkaitan dengan watak. keras kapala. yaitu: (a) kelebihan menggunakan pikiran. dimana pemimpin dan kepemimpinan yang baik itu dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. dan pengawasan serta pengelolaan sumber daya manusia yang ada. 4. pengarahan. dan (c) sifat-sifat yang berhubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin. Model atau gaya kepemimpinan mana yang paling sesuai masih menjadi pertanyaan. pergaulan bebas. kepala sekolah dapat menekankan salah satu bentuk atau model kepemimpinan yang ada. Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik. serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Peran kepemimpinan kepala sekolah sangat berperanan penting dalam mengembangan lingkungan berwawasan iman dan taqwa pada organisasi yang dipimpinnya. sebagaimana dinyatakan oleh Slikbour bahwa sifat-sifat kepemimpinan itu meliputi: (a) sifatsifat serta kemampuan dalam bidang intelektual. bergaya hidup mewah dan pendek kata perilaku mereka tidak mencerminkan pelajar yang berpendidikan. 3. kelebihan seorang pemimpin meliputi 3 (tiga) hal. Perilaku mereka yang nakal. Sebagai pelopor dalam memajukan organisasi dan lain-lain. tawuran. 2. dan mereka yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial banyak mengeluh terhadap perilaku mereka yang tidak baik. pesta obat-obatan terlarang.

[6] Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[9] Dalam ajaran Islam sendiri banyak ayat al-Qur‟an maupun hadits Nabi SAW baik secara lagsung maupun tidak langsung yang menjelaskan pengertian dari kepemimpinan. padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman.(leadership) dan manajemen (management) bagi keseluruhan organisasi sebagai satu kesatuan. dan jauhilah Thaghut itu‟.” Mereka berkata. al-Baqarah: 30)[8] Namun demikian. namun tenyata proses mempengaruhinya dilakukan secara berbeda-beda. “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[7] Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi: ÇÚö‘ F{$# Zpxÿ‹ Î=yz ( Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’ Îû øŒÎ)ur tA$s% š •• /u‘ à7Ïÿó¡o„ ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur pkŽ Ïù$ pkŽ Ïù `tB ߉ Å¡øÿム$ &(#þqä9$s% ã@yèøgrBr ?tB Ÿw tbqßJn=÷ès$ &tA$s% þ’ ÎoTÎ) ãNn=ôãr ( ßxÎm7|¡çR x8ω ôJpt¿2 â¨Ïd‰ s)çRur y7s9 Artianya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. èpt7É)»tã #( #${ä‟s#»n=ž Ò9$# 4 (#rçŽ •Å¡sù ’ Îû ÇÚö‘ F š úüÎ/Éj‹ s3ßJø9$# Artinya: Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyeruhkan). „sembahlah Allah (saja). Maka berjalanlah kalian dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul) (QS. š c%x.” (QS. an-Nahl: 36)[10] . “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Proses pelaksanaan kegiatan mempengaruhi yang berbeda inilah yang kemudian menghasilkan tingkatan-tingkatan dalam kepemimpinan. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin. “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. walaupun dari definisi kepemimpinan tersebut bertitik tolak dari pemberian pengaruh kepada orang lain untuk melaksanakan apa yang dikehendaki pemimpin untuk menuju suatu tujuan secara efektif dan efisien. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi. maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif. Diantaranya sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi: r߉ ç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur #( &Âcr §wqß™» &ô‰ s)s9ur $uZ÷Wyèt/ ’ Îû Èe@à2 7p¨Bé Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmø‹ n=tã #$!|Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B “ y‰yd ª rã•ÝàR$$sù y#ø‹ x. Seorang pemimpin dituntut harus mampu membimbing anngotanya kearah yang baik. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan di antara mereka ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Kepemimpinan juga dapat dikatakan penting apabila mampu memanfaatkan dan mengelola potensi setiap sumber daya yang ada.

dikatakan oleh Ahmad Djazuli bahwa dalam tujuan pendidkan nasional. dan (c) kecerdasan spiritual. Dalam hal ini. berilmu.[12] Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik. ”Dalam pembukaan UUD 1945 dalam menyebutkan bahwa konsep mencerdaskan kehidupan bangsa harus dimaknai secara luas. mandiri. cakap. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi: tR $ur #Y‘ &ö/ä3‹ Î=÷dr &tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr pkššr‟¯»tš$ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊ #y‰ ž w yfÏtø:$#ur $pköŽ n=tæ$$ydߊ qè%ur â¨$¨Z9$# äou‘ Ï© tbqè=yèøÿtƒ ur $tB tbrâ•sD÷sム&tB öNèdt•tBr$! #$!© tbqÝÁ÷ètƒ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. tetapi harus diimbangi dengan membina kecerdasan emosional dan keagamaan. dijelaskan bahwa pada dasarnya para Rasul diutus kepada manusia sebenarnya hanyalah untuk memimpin umat dan mengelurkannya dari kegelapan menuju kepada aqidah yang lurus yaitu menyembah hanya kepada Allah SWT. sistem pendidikan nasional dan seluruh upaya pendidikan sebagai satu sistem yang terpadu harus secara sistematis diarahkan untuk menghasilkan manusia yang utuh. pendidik hendaknya tidak hanya membina kecerdasan intelektual. (b) kecerdasan emosional.Dalam surat An-Nahl ayat 36 tersebut. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk selalu berada dalam kebaikan. Dalam menjalankan organisasi sekolah seorang kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mengemudikan dan menjalankan organisasinya. Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan imtaq di sekolah sangat penting sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan. kreatif. 20 Tahum 2003 pasal 3 yang berbunyi. salah satunya adalah potensi agama atau fitrah agama yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. Artinya. sebagai ciri pokoknya adalah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. yakni meliputi (a) kecerdasan intelektual. wawasan dan keterampilan semata. Dalam artian bahwa seorang pemimpin harus mempu membawa perubahan. Di atasnya malaikat-malaikat yang . peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu. pada hakikatnya seorang pemimpin adalah harus bertanggung jawab terhadap apa yang sedang dipimpinnya. Hal ini berarti bahwa pembinaan imtaq bukan hanya tugas dari bidang studi pendidikan agama saja melainkan tugas pendidikan secara keseluruhan sebagai suatu sistem. pembinaan imtaq merupakan inti tujuan pendidikan nasional. “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai dengan UU NO. sehat. karena perubahan merupakan tujuan pokok dari kepemimpinan. Dengan kata lain memberikan nilai-nilai agama atau imtaq dalam ilmu pengetahuan atau memberikan moralitas agama kepada ilmu. Tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin. Selaras dengan hal tersebut. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[11] Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. dan kepemimpinannya akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT.

kasar-kasar. Ini berarti. sangat memperhatinkan. Al-Thariim: 6)[13] Dengan demikian. keras-keras. kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran yang besar untuk mengatasi krisi moral dan akhlak yang melanda bangsa Indonesia saat ini terutama krisis moral dan akhlak yang melanda peserta didik. Berdasarkan pemikiran bahwa sekolah pada dasarnya adalah sebuah organisasi. yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. (3) pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler berwawasan Imtaq. (2) integrasi Iptek dan Imtaq dalam proses pembelajaran. Sehingga pemimpin juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah. yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengembangkan lima strategi. lembaga pendidikan sekolah yang efektif dinilai merupakan salah satu wahana yang sangat efektif untuk mencapai tujuan pendidikan. dan (5) melaksanakan kerjasama antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. seorang pemimpin berperan penting dalam mengembangkan lingkungan yang berwawasan imtaq. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam mencapai tujuan bersama (shared goal). segala perubahan dan pengembangan lingkungan berwawasan imtaq pada suatu lembaga pendidikan bukanlah suatu yang kebetulan namun memiliki sebab akibat tersendiri. ini mengindikasikan adanya kegagalan kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin organisasi untuk menciptakan peserta didik imam dan taqwa kepada Allah SWT. namun bagaimanapun besarnya potensi ataupun rangsangan baik internal maupun eksternal tidak akan berimplikasi positif tanpa diimbangi oleh kepemimpinan ideal. Latar belakang pendidikan kepala sekolah dalam kepemimpinnya sangat mempengaruhi terhadap pengembangan lingkungan berwawasan iman dan taqwa tersebut. Kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi personel yang mendukung proses belajar mengajar dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan. Ada tiga hal yang mendorong terjadinya perubahan dalam sebuah organisasi yaitu faktor internal.[14] Keimanan dan ketaqwaan siswa merupakan core tujuan pendidikan nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut.[15] Dengan demikian. Sedangkan kepemimpinan yang dimaksud dalam lembaga pendidikan adalah kepemimpinan pendidikan (educational leadership). maka pengembangan lingkungan berwawasan imtaq tidak lepas dari unsur baik internal maupun eksternal. (4) penciptaan situasi yang kondusif dalam kehidupan sosial di sekolah. faktor eksternal dan change agent (pemimpin). Dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan siswa melalui lembaga pendidikan sekolah. yakni (1) optimalisasi pelaksanaan Pendidikan Agama Islam. Kenakalan peserta didik sekarang ini. . Disinilah ketertarikan peneliti terhadap judul tesis tersebut yaitu Model Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Lingkungan Berwawasan Iman dan Taqwa di SMA Negeri 1 Malang. dengan alasan karena melalui proses pendidikan di sekolah peserta didik akan memperoleh bukan saja aspek pengetahuan dan keterampilan. tetapi juga sikap. Dalam hal ini. kepimpinan kepala sekolah untuk mengembangkan lingkungan berwawasan iman dan taqwa kepada Allah SWT sangat dibutuhkan.

2009). 7 [3] Wahjosumidjo. hlm. Keagamaan dan Kebudayaan. Teori & Prilaku Organisasi (Malang: UMM-Press Malang. hlm. hlm. Kepemimpinan Kepala Sekolah Berwawasan Visioner-Transformatif Dalam Otonomi Pendidikan. Fakultas Tarbiyah UIN-Malang Edisi 59. dimana guru lebih menekankan tercapainya meteri ajar secara kuantitatif dari pada menanamkan nilai agama kepada anak sebagai kerangka spritual dan pedoman moral untuk menatap masa depan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. [1] Rasmianto. 2003. hlm. 1999). 358 . tt. 18 [7] Nanang Fattah. Asas-Asas Kepemimpinan Dalam Islam (Surabaya. Landasan Manajemen Pendidikan. hlm. 88 [8] Al-Imam Abul Fida Isma‟il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi. 15 [2] Veithzal Rivai.d.. Dalam mengembangkan lingkungan berwawasan iman dan taqwa di sekolah kepada para peserta didik tidak hanya dibebankan kepada para guru-guru agama saja. Islamic Leadership: Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual (Jakarta: Bumi Askara. Arviyan Arifin. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Mudjia Rahardjo: Jika kita mau jujur. hlm. Imam Munawir..Oleh karena itu. 2000). 2003). Al-Baqarah (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 81 [4] Ach. 1999).[16] Pengembangan iman dan taqwa pada peserta didik di lingkungan sekolah selama ini hanya dibebankan kepada guru. Malang: Jurnal el-Harakah. Wacana Kependidikan. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal ini bisa dilihat dengan jelas pada aktivitas belajar mengajar di kelas. hlm. pengembangan iman dan taqwa siswa merupakan tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin. hlm 176 [6] Hadari Nawawi. Tafsir Ibnu Kasir: Juz 1 Al-Fatihah s. tidak hanya dibebankan kepada guru-guru pendidikan agama Islam. 2009). pendidikan agama yang terjadi saat ini sesungguhnya tidak lebih dari upaya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tentang ilmu agama kepada anak didik dari pada upaya mendidik anak dalam arti yang luas melalui metode pembelajaran seperti yang terjadi dalam bidang studi ilmu umum. Mohyi. tetapi juga tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin. Pengembangan imtaq selama ini hanya dibebankan kepada para guru-guru pendidikan agama Islam yanga lebih bersifat mentransfer ilmu pengetahuan tentang ilmu agama yang hanya mengutamakan pencapaian materi ajar secara kuantitatif dari pada menanamkan nilai agama kepada siswa. Usaha Nasional). 180181 [5] EK. sehingga peran kepala sekolah sebagai pemimpin tidak berjalan dengan baik. Kepemimpinan Kepela Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahan) (Jakarta: Raja Grafindo Persada.

hlm. hlm. Sugeng Listyo Prabowo. hlm. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2000). hlm. 58 . 372 [12] Achmad Djazuli. Agama dan Moralitas: Reaktualisasi Pendidikan Agama Di Masa Transisi (Dalam Quo Vadis Pendidikan Islam. Pembaca Pendidikan Islam. 2005). 326 [14] Wahjosimudjo. Quraish Shihab. Tafsir Al-Maraghi:Juz 14 (Semarang: CV. dkk. Suti‟ah. Kesan dan Keserasian Al-Qur’an) (Jakarta: Lentera Hati. [15] http://pemberdayaan-sekolah-berwawasan-imtaq. Toha Putra. 2002). Sosial dan Keagamaan) (Malang: UIN Press. 27. 2 [13] M. 1992). hlm. hlm. Standar Nasional Pendidikan (Surabaya: Wacana Intelektual. Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Pemasalahannya (Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2009). 2009). volume 14. Peningkatan Wawasan Keagaamaan (Islam) Guru Bukan Pendidikan Agama SLTP dan SLTA (Jakarta:DIKNAS. SISDIKNAS. 140-141 [11] Himpunan Undang-Undang Republik Indonesia: Guru dan Dosen. 2006). 30 [10] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi.html. Tafsir Al-Mishbah (Pesan. hlm. diakses pada tanggal 7 Maret 2011 [16] Mudjia Rahardjo.[9] Muhaimin.