KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN IMTAQ

M. Ghaza Kusairi (Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam) Keberadaan seorang pemimpin dalam organisasi sangat dibutuhkan untuk membawa organisasi kepada tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai gaya kepemimpinan akan mewarnai perilaku seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Bagaimanapun gaya kepemimpinan seseorang tentunya akan diarahkan untuk kepentingan bersama yaitu kepentingan anggota dan organisasi. Dalam sebuah lembaga pendidikan, salah satu elemen yang berperan penting sebagai agent of change adalah pemimpin yang memimpin lembaga pendidikan tersebut. Hal ini karena pemimpinlah yang menjadi “pengemudi” ke mana lembaga pendidikan yang pimpinnya itu akan dibawa. Peran key position kemajuan dan perkembangan tidak keliru dialamatkan kepada kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah sebagai agen perubahan dalam sekolah mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mempunyai leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengelolah sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan sumber daya manusia hendaknya mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Kepemimpinan merupakan prilaku mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu dalam rangka tercapainya tujuan organisasi. Secara lebih sederhana dibedakan antara kepemimpinan dan manajemen, yaitu pemimpin mengerjakan suatu yang benar (people who do think right), sedangkan manajer mengerjakan suatu dengan benar (people do right think). Landasan inilah yang menjadi acuan mendasar untuk melihat peran pemimpin dalam suatu organisasi. Perbedaan ini memberikan gambaran bahwa pemimpin biasanya terkait dengan tingkat kebijakan puncak atau pengambil keputusan puncak yang bersifat menyeluruh dalam organisasi, sedangkan menejer merupakan pengambil keputusan tingkat menengah.[1] Sehingga kepemimpinan kepala sekolah juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah, yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Dalam abad modern ini, berbagai penjelasan dalam organisasi memerlukan pemimpin yang berorientasikan pada perubahan. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa organisasi sesuai dengan asas-asas manajemen modern[2], sekaligus mampu mengembangkan lingkungan organisasi yang berawawas iman dan taqwa dalam kegiatan seharihari. Suatu kenyataan bahwa kemerosotan akhlak akhir-akhir ini tidak hanya menimpa kalangan orang dewasa tetapi telah merembet pada kalangan pelajar tunas-tunas muda. Orang tua,

dan mereka yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial banyak mengeluh terhadap perilaku mereka yang tidak baik. 5. bahwa setiap dan semua organisasi apapun jenisnya pasti memiliki dan memerlukan seorang pemimpin yang harus menjalankan kepemimpinan . Karena sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. tawuran. dan (c) sifat-sifat yang berhubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin. keras kapala. Perilaku mereka yang nakal. Berkaitan dengan masalah sifat-sifat pemimpin sebagai syarat utama kepemimpinan. serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. 4. Model atau gaya kepemimpinan mana yang paling sesuai masih menjadi pertanyaan. dimana pemimpin dan kepemimpinan yang baik itu dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pemersatu dan motivasi para bawahan dalam melaksanakan aktivitas organisasi. yaitu perencanaan. sehingga keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah. pesta obat-obatan terlarang. pengorganisasian. dimana kelebihankelebihan tersebut diantaranya adalah sifat-sifat yang dimiliki berkaitan dengan kepemimpinannya. pergaulan bebas. Oleh karena itu. pengarahan. Dalam memimpin suatu organisasi sekolah.[4] Kepemimpinan adalah aktor dari sebuah rencana yang kemudian diaplikasikan dalam suatu organisasi.[3] Pada umumnya seorang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pelopor dalam menjalankan aktivitas manajemen. (b) sifat-sifat yang berkaitan dengan watak. kepala sekolah dapat menekankan salah satu bentuk atau model kepemimpinan yang ada. Sebagai pengatur. (b) kelebihan dalam rohaniah dan (c) kelebihan dalam badaniah. bergaya hidup mewah dan pendek kata perilaku mereka tidak mencerminkan pelajar yang berpendidikan. Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik. yaitu: (a) kelebihan menggunakan pikiran. 2. pengarah aktivitas organisasi untuk mencapai suatu tujuan. Kelebihan sifat ini merupakan syarat utama menjadi seorang pemimpin yang sukses. Disinilah peran kepemimpinan kepala sekolah dituntut untuk mampu membimbing bawahannya yaitu peserta didik. Keberadaan sekolah sebagai organisasi pendidikan akan berpengaruh terhadap keefektifan model kepemimpinan kepala sekolah yang diterapkan. Penanggung jawab dan pembuat kebijakan-kebijakan organisasi. Sebagai pelopor dalam memajukan organisasi dan lain-lain. dan pengawasan serta pengelolaan sumber daya manusia yang ada. Sedangkan Roeslan Abd. mabukmabukan. 3.pendidik. Ghoni menyatakan bahwa.[5] Sebagaimana telah dikatakan oleh Nawawi. kelebihan seorang pemimpin meliputi 3 (tiga) hal. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. maka sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Sedangkan bersifat unik menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. sekolah yang sifatnya kompleks dan unik itulah. Peran kepemimpinan kepala sekolah sangat berperanan penting dalam mengembangan lingkungan berwawasan iman dan taqwa pada organisasi yang dipimpinnya. sebagaimana dinyatakan oleh Slikbour bahwa sifat-sifat kepemimpinan itu meliputi: (a) sifatsifat serta kemampuan dalam bidang intelektual.

namun tenyata proses mempengaruhinya dilakukan secara berbeda-beda.” Mereka berkata. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi: ÇÚö‘ F{$# Zpxÿ‹ Î=yz ( Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’ Îû øŒÎ)ur tA$s% š •• /u‘ à7Ïÿó¡o„ ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur pkŽ Ïù$ pkŽ Ïù `tB ߉ Å¡øÿム$ &(#þqä9$s% ã@yèøgrBr ?tB Ÿw tbqßJn=÷ès$ &tA$s% þ’ ÎoTÎ) ãNn=ôãr ( ßxÎm7|¡çR x8ω ôJpt¿2 â¨Ïd‰ s)çRur y7s9 Artianya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. Proses pelaksanaan kegiatan mempengaruhi yang berbeda inilah yang kemudian menghasilkan tingkatan-tingkatan dalam kepemimpinan. Maka berjalanlah kalian dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul) (QS.[6] Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[9] Dalam ajaran Islam sendiri banyak ayat al-Qur‟an maupun hadits Nabi SAW baik secara lagsung maupun tidak langsung yang menjelaskan pengertian dari kepemimpinan. èpt7É)»tã #( #${ä‟s#»n=ž Ò9$# 4 (#rçŽ •Å¡sù ’ Îû ÇÚö‘ F š úüÎ/Éj‹ s3ßJø9$# Artinya: Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyeruhkan). „sembahlah Allah (saja). Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan di antara mereka ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Kepemimpinan juga dapat dikatakan penting apabila mampu memanfaatkan dan mengelola potensi setiap sumber daya yang ada. “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. walaupun dari definisi kepemimpinan tersebut bertitik tolak dari pemberian pengaruh kepada orang lain untuk melaksanakan apa yang dikehendaki pemimpin untuk menuju suatu tujuan secara efektif dan efisien. al-Baqarah: 30)[8] Namun demikian.[7] Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. š c%x. padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman.” (QS. Seorang pemimpin dituntut harus mampu membimbing anngotanya kearah yang baik. Diantaranya sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi: r߉ ç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur #( &Âcr §wqß™» &ô‰ s)s9ur $uZ÷Wyèt/ ’ Îû Èe@à2 7p¨Bé Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmø‹ n=tã #$!|Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B “ y‰yd ª rã•ÝàR$$sù y#ø‹ x. “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.(leadership) dan manajemen (management) bagi keseluruhan organisasi sebagai satu kesatuan. “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif. dan jauhilah Thaghut itu‟. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi. ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. an-Nahl: 36)[10] .

Di atasnya malaikat-malaikat yang . kreatif. berakhlak mulia. yakni meliputi (a) kecerdasan intelektual. sehat. Sesuai dengan UU NO. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. mandiri. (b) kecerdasan emosional. berilmu. pendidik hendaknya tidak hanya membina kecerdasan intelektual. salah satunya adalah potensi agama atau fitrah agama yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.[11] Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. dikatakan oleh Ahmad Djazuli bahwa dalam tujuan pendidkan nasional. karena perubahan merupakan tujuan pokok dari kepemimpinan. “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. dan kepemimpinannya akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT. Dengan kata lain memberikan nilai-nilai agama atau imtaq dalam ilmu pengetahuan atau memberikan moralitas agama kepada ilmu. wawasan dan keterampilan semata. pembinaan imtaq merupakan inti tujuan pendidikan nasional. tetapi harus diimbangi dengan membina kecerdasan emosional dan keagamaan. Dalam menjalankan organisasi sekolah seorang kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mengemudikan dan menjalankan organisasinya. ”Dalam pembukaan UUD 1945 dalam menyebutkan bahwa konsep mencerdaskan kehidupan bangsa harus dimaknai secara luas.Dalam surat An-Nahl ayat 36 tersebut. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk selalu berada dalam kebaikan. pada hakikatnya seorang pemimpin adalah harus bertanggung jawab terhadap apa yang sedang dipimpinnya. Dalam artian bahwa seorang pemimpin harus mempu membawa perubahan. Dalam hal ini. 20 Tahum 2003 pasal 3 yang berbunyi. Hal ini berarti bahwa pembinaan imtaq bukan hanya tugas dari bidang studi pendidikan agama saja melainkan tugas pendidikan secara keseluruhan sebagai suatu sistem. sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi: tR $ur #Y‘ &ö/ä3‹ Î=÷dr &tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr pkššr‟¯»tš$ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊ #y‰ ž w yfÏtø:$#ur $pköŽ n=tæ$$ydߊ qè%ur â¨$¨Z9$# äou‘ Ï© tbqè=yèøÿtƒ ur $tB tbrâ•sD÷sム&tB öNèdt•tBr$! #$!© tbqÝÁ÷ètƒ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. sistem pendidikan nasional dan seluruh upaya pendidikan sebagai satu sistem yang terpadu harus secara sistematis diarahkan untuk menghasilkan manusia yang utuh. sebagai ciri pokoknya adalah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Artinya. peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu. dijelaskan bahwa pada dasarnya para Rasul diutus kepada manusia sebenarnya hanyalah untuk memimpin umat dan mengelurkannya dari kegelapan menuju kepada aqidah yang lurus yaitu menyembah hanya kepada Allah SWT. Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan imtaq di sekolah sangat penting sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin. cakap. dan (c) kecerdasan spiritual.[12] Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Selaras dengan hal tersebut.

dengan alasan karena melalui proses pendidikan di sekolah peserta didik akan memperoleh bukan saja aspek pengetahuan dan keterampilan. lembaga pendidikan sekolah yang efektif dinilai merupakan salah satu wahana yang sangat efektif untuk mencapai tujuan pendidikan. (4) penciptaan situasi yang kondusif dalam kehidupan sosial di sekolah. sangat memperhatinkan. Al-Thariim: 6)[13] Dengan demikian.kasar-kasar. Kenakalan peserta didik sekarang ini. Sehingga pemimpin juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah. maka pengembangan lingkungan berwawasan imtaq tidak lepas dari unsur baik internal maupun eksternal. (3) pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler berwawasan Imtaq. segala perubahan dan pengembangan lingkungan berwawasan imtaq pada suatu lembaga pendidikan bukanlah suatu yang kebetulan namun memiliki sebab akibat tersendiri. Disinilah ketertarikan peneliti terhadap judul tesis tersebut yaitu Model Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Lingkungan Berwawasan Iman dan Taqwa di SMA Negeri 1 Malang. Berdasarkan pemikiran bahwa sekolah pada dasarnya adalah sebuah organisasi. Dalam hal ini. namun bagaimanapun besarnya potensi ataupun rangsangan baik internal maupun eksternal tidak akan berimplikasi positif tanpa diimbangi oleh kepemimpinan ideal. keras-keras. kepimpinan kepala sekolah untuk mengembangkan lingkungan berwawasan iman dan taqwa kepada Allah SWT sangat dibutuhkan. Dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan siswa melalui lembaga pendidikan sekolah. yakni (1) optimalisasi pelaksanaan Pendidikan Agama Islam. yaitu membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran yang besar untuk mengatasi krisi moral dan akhlak yang melanda bangsa Indonesia saat ini terutama krisis moral dan akhlak yang melanda peserta didik. Ada tiga hal yang mendorong terjadinya perubahan dalam sebuah organisasi yaitu faktor internal. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam mencapai tujuan bersama (shared goal). (2) integrasi Iptek dan Imtaq dalam proses pembelajaran. Sedangkan kepemimpinan yang dimaksud dalam lembaga pendidikan adalah kepemimpinan pendidikan (educational leadership). ini mengindikasikan adanya kegagalan kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin organisasi untuk menciptakan peserta didik imam dan taqwa kepada Allah SWT. dan (5) melaksanakan kerjasama antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat.[15] Dengan demikian. tetapi juga sikap. seorang pemimpin berperan penting dalam mengembangkan lingkungan yang berwawasan imtaq. Untuk mencapai tujuan tersebut. Ini berarti.[14] Keimanan dan ketaqwaan siswa merupakan core tujuan pendidikan nasional. Latar belakang pendidikan kepala sekolah dalam kepemimpinnya sangat mempengaruhi terhadap pengembangan lingkungan berwawasan iman dan taqwa tersebut. Kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi personel yang mendukung proses belajar mengajar dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan. yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengembangkan lima strategi. . faktor eksternal dan change agent (pemimpin).

81 [4] Ach. Arviyan Arifin. tetapi juga tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin. 7 [3] Wahjosumidjo. hlm. hlm. 15 [2] Veithzal Rivai.. 2003. 2009). Kepemimpinan Kepela Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahan) (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Islamic Leadership: Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual (Jakarta: Bumi Askara. hlm 176 [6] Hadari Nawawi. 18 [7] Nanang Fattah. hlm. Kepemimpinan Kepala Sekolah Berwawasan Visioner-Transformatif Dalam Otonomi Pendidikan. Wacana Kependidikan. 2009). Asas-Asas Kepemimpinan Dalam Islam (Surabaya. pendidikan agama yang terjadi saat ini sesungguhnya tidak lebih dari upaya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tentang ilmu agama kepada anak didik dari pada upaya mendidik anak dalam arti yang luas melalui metode pembelajaran seperti yang terjadi dalam bidang studi ilmu umum.d. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Mudjia Rahardjo: Jika kita mau jujur. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1999). [1] Rasmianto. Malang: Jurnal el-Harakah. hlm. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 358 . Dalam mengembangkan lingkungan berwawasan iman dan taqwa di sekolah kepada para peserta didik tidak hanya dibebankan kepada para guru-guru agama saja.[16] Pengembangan iman dan taqwa pada peserta didik di lingkungan sekolah selama ini hanya dibebankan kepada guru. Al-Baqarah (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 88 [8] Al-Imam Abul Fida Isma‟il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi. Mohyi. Hal ini bisa dilihat dengan jelas pada aktivitas belajar mengajar di kelas. 1999). tt. dimana guru lebih menekankan tercapainya meteri ajar secara kuantitatif dari pada menanamkan nilai agama kepada anak sebagai kerangka spritual dan pedoman moral untuk menatap masa depan. pengembangan iman dan taqwa siswa merupakan tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin. Fakultas Tarbiyah UIN-Malang Edisi 59. Imam Munawir. sehingga peran kepala sekolah sebagai pemimpin tidak berjalan dengan baik. Tafsir Ibnu Kasir: Juz 1 Al-Fatihah s. 180181 [5] EK.. Landasan Manajemen Pendidikan. 2000). hlm. 2003). hlm. Pengembangan imtaq selama ini hanya dibebankan kepada para guru-guru pendidikan agama Islam yanga lebih bersifat mentransfer ilmu pengetahuan tentang ilmu agama yang hanya mengutamakan pencapaian materi ajar secara kuantitatif dari pada menanamkan nilai agama kepada siswa. tidak hanya dibebankan kepada guru-guru pendidikan agama Islam. Keagamaan dan Kebudayaan. Usaha Nasional). Teori & Prilaku Organisasi (Malang: UMM-Press Malang. hlm.Oleh karena itu.

diakses pada tanggal 7 Maret 2011 [16] Mudjia Rahardjo. hlm. dkk. SISDIKNAS. 30 [10] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi.html. Toha Putra. 27. hlm. Peningkatan Wawasan Keagaamaan (Islam) Guru Bukan Pendidikan Agama SLTP dan SLTA (Jakarta:DIKNAS. 2002). Pembaca Pendidikan Islam. hlm. 2000). Suti‟ah. 2009). Kesan dan Keserasian Al-Qur’an) (Jakarta: Lentera Hati. 372 [12] Achmad Djazuli. 326 [14] Wahjosimudjo. hlm. 58 . Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Pemasalahannya (Jakarta: RajaGrafindo Persada. hlm. Standar Nasional Pendidikan (Surabaya: Wacana Intelektual. 140-141 [11] Himpunan Undang-Undang Republik Indonesia: Guru dan Dosen. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sosial dan Keagamaan) (Malang: UIN Press. 2009). [15] http://pemberdayaan-sekolah-berwawasan-imtaq. 2006).[9] Muhaimin. 2005). 1992). 2 [13] M. Tafsir Al-Mishbah (Pesan. Sugeng Listyo Prabowo. volume 14. hlm. Tafsir Al-Maraghi:Juz 14 (Semarang: CV. Quraish Shihab. Agama dan Moralitas: Reaktualisasi Pendidikan Agama Di Masa Transisi (Dalam Quo Vadis Pendidikan Islam. hlm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful