1

2

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG Apakah hukum pidana itu ? pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit untuk dijawab, mengingat hukum pidana itu mempunyai banyak segi, yang masing-masing mempunyai arti sendirisendiri. Penerapan hukum pidana berkaitan dengan ruang lingkup hukum pidana itu sendiri dapat bersifat luas dan dapat pula bersifat sempit. Dalam tindak pidana dapat melihat seberapa jauh seseorang telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada orang tersebut karena telah melanggar hukum. Selain itu, tujuan hukum pidana tidak hanya tercapai dengan pengenaan pidana, tetapi merupakan upaya represif yang kuat berupa tindakan-tindakan pengamanan. Perlunya pemahaman terhadap teori-teori serta Asas-Asas Hukum Pidana tersebut bagi peserta diklat, maka Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan R.I menyusun modul mengenai asas-asas hukum pidana dengan tujuan agar peserta Pendidikan dan Pelatihan

3

4

pendahuluan mengerti dan memahami teori-teori maupun asas-asas hukum pidana yang perlu diperhaitkan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai jaksa nantinya.

II. DESKRIPSI SINGKAT Modul asas-asas hukum pidana memberikan pemahaman bagi peserta pendidikan dan pelatihan tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana.

B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mengetahui tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana. IV. POKOK BAHASAN a. Ruang lingkup berlakunya Hukum Pidana. b. Tindak Pidana. c. Hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat). d. Sifat melawan hukum (rechtswdrig, unrecht, wederrechtelijk, onrechmatig). e. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. f. Kesengajaan (dolus, intent, opzet, vorsatz).

III. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Intruksional Umum Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui tentang teori, asas, delik tindak pidana dan dapat menerapkannya dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara pidana.

g. Kealpaan (culpa). h. Kesalahan dalam delik pelanggaran. i. Pidana dan pemidanaan (hukum penitensier). j. Percobaan (poging, attempt). k. Penyertaan. l. Penggabungan tindak pidana (samenloop / concursus).

5

6

m. Alasan / dasar penghapus pidana (straffuitsluitingsgrond, grounds of impiunity.) n. Gugurnya kewenangan menjalankan pidana. V. FASILITAS / MEDIA Fasilitas dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran Pengantar asas-asas hukum pidana antara lain : a) b) c) d) Modul asas-asas hukum pidana; Internet; Peraturan perundang-undangan; Literatur yang terkait. menuntut dan

BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

A. RUANG

BERLAKUNYA

HUKUM

PIDANA

MENURUT WAKTU Penerapan hukum pidana atau suatu perundangundangan pidana berkaitan dengan waktu dan tempat perbuatan dilakukan. Serta berlakunya hukum pidana menurut waktu menyangkut

penerapan hukum pidana dari segi lain. Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan yang bersangkutan, maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali tidak dapat dipidana. Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) Terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Tidak dapat dipidana seseorang kecuali atas perbuatan yang dirumuskan dalam suatu

Dalam perkembangannya amandemen ke-2 UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) berbunyi dan berhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan Pasal 28 J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk - Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang) - Nulla Poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan pidana) - Nullum crimen sine poena tanpa legali (tiada perbuatan pidana undang-undang pidana yang terlebih dulu ada) Adagium ini menganjurkan supaya : 1) Dalam menentukan perbuatan- menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk perbuatan yang dilarang di dalam peraturan macamnya bukan saja tentang yang memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan. 2) Dengan cara demikian maka orang Dalam catatan sejarah asas ini dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : “vom psychologishen zwang (paksaan psikologis)” yang akan melakukan perbuatanyang dilarang itu telah mengetahui terlebih . keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.7 8 aturan perundang-undangan yang telah ada dimana adagium : nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang mengandung tiga prinsip dasar : terlebih dahulu. Karenanya asas ini dapat pula dinyatakan sebagai asas konstitusional. perbuatan harusdirumuskan dengan jelas. nilai-nilai agama.

Schaffmeister dan Heijder merinci asas ini dalam pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a) Tidak dapat dipidana kecuali ada hukum pidana tidak melakukan perbuatan. 3) Aturan-aturan berlaku surut.9 10 dahulu pidana apa yangakan dijatuhkan kepadanya jika nanti betul-betul akan tetapi diperbolehkan penggunaan penafsiran ekstensif. 3) Dengan demikian dalam batin orang itu akan mendapat tekanan untuk tidak berbuat. e) Tidak boleh Retroaktif (berlaku surut) f) Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang. b) Tidak diperkenankan suatu Analogi dijatuhkan kepadanya. Prof. Hal ini dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. 2) Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. Moeljatno menjelaskan inti pengertian yang dimaksud dalam asas legalitas yaitu : 1) Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. c) Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (Hukum tidak tertulis). menyetujui Andaikata juga maka dia ternyata yang dia akan perbuatan dinpandang yang pidana ketentuan pidana berdasar peraturan perundang-undangan (formil). d) Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex Certa). melakukan dilarang. (pengenaan undang-undang terhadap perbuatan yang tidak diatur oleh undang-undang tersebut). .

juga apabila perbuatan pidana itu dilakukan “Ketentuan dalam perundang- undangan Indonesia diterapkan bagi setiap . b. Asas Universal.11 12 g) Penuntutan hanya dilakukan diluar disebut wilayah Negara. akan melihat kepada berlakunya B. Asas Teritorial Asas ini diatur juga dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP pidana yang menyatakan : berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga Negara. Perbuatan (yurisdiksi hukum pidana nasional). Asas Teritorial. Asas Personal (nasional aktif). III. I. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi diwilayah Negara. Dalam hal ini asas-asas hukum pidana menurut tempat : I. baik dilakuakan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh orang lain (asas territorial). RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA hukum pidana menurut ruang tempat dan MENURUT TEMPAT (LEX LOCI) Teori tetang ruang lingkup berlakunya hukum pidana nasional menurut tempat terjadinya. Perundang-undangan hukum pidana Ad. dimana saja. apabila ditinjau dari sudut Negara ada 2 (dua) pendapat yaitu : a. berkaitan pula dengan orang atau subyek. Asas Perlindungan (nasional pasif) IV. II. asas Pandangan personal ini atau berdasarkan atau dengan cara yang ditentukan undang-undang. Pada bagian ini. menganut prinsip nasional aktif.

13 14 orang yang melakukan suatu tindak pidana di Indonesia”. Pasal ini dengan tegas menyatakan asas territorial. Asas territorial lebih menitik beratkan pada terjadinya perbuatan pidana di dalam wilayah Negara tidak mempermasalahkan siapa pelakunya. Perluasan dari Asas Teritorialitas diatur dalam pasal 3 KUHP yang menyatakan : “Ketentuan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana didalan kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”. Hal ini adalah wajar karena tiap-tiap orang yang berada dalam wilayah suatu Negara harus tunduk dan patuh kepada . sewajarnya berlaku bagi Negara yang berdaulat. warga Negara atau orang asing. sehingga ada yang mengadili apabila terjadi suatu perbuatan pidana. tidak termasuk wilayah territorial suatu Negara. Asas territorial yang pada saat ini banyak diikuti oleh Negaranegara di dunia termasuk Indonesia. Sedang dalam asas kedua (asas personal atau asas nasional yang aktif) menitik beratkan pada orang yang melakukan perbuatan pidana. Tujuan dari pasal ini adalah supaya perbuatan pidana yang terjadi di dalam kapal atau pesawat terbang yang berada di perairan bebas atau berada di wilayah udara bebas. tetapi tidak berarti bahwa perahu (kendaraan air) dan pesawat terbang lalu dianggap bagian wilayah Indonesia. Ketentuan ini memperluas berlakunya pasal 2 KUHP. dan ketentuan ini sudah peraturan-peraturan hukum Negara dimana yang bersangkutan berada. tempat tidak terjadinya mempermasalahkan perbuatan pidana.

Pasal 5 KUHP hukum Pidana Indonesia berlaku bagi warga Negara Indonesa melakukan di luar Indonesia pidana yang tertentu perbuatan . Asas Personal Asas Personal atau Asas Nasional yang aktif tidak mungkin digunakan sepenuhnya terhadap warga Negara yang sedang berada dalam wilayah Negara lain yang kedudukannya sama-sama berdaulat.15 16 Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar wilayah Indonesia. Di luar Indonesia atau di laut bebas dan laut wilayah Negara lain.    Kepala Negara asing dan anggota keluarganya. Alat pelayaran pengertian lebih luas dari kapal. Asas-asas Extra Teritorial / kekebalan dan hak-hak Istimewa (Immunity and Previlege). bertentangan dengan kedaulatan Negara tersebut. Kapal merupakan bentuk khusus dari alat   Pejabat-pejabat Internasional. Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya. Pejabat-pejabat Negara asing pemerintahan yang berstatus Ad.  Suatu angkatan bersenjata yang terpimpin. pelayaran. badan Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer / ABK diatas kapal maupun di luar kapal. Apabila ada warga Negara asing yang berada dalam suatu wilayah Negara telah melakukan tindak pidana dan tindak pidana dan tidak diadili menurut hukum Negara tersebut maka berarti diplomatik yang dalam perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain. II.

17

18

Kejahatan terhadap keamanan Negara, martabat kepala Negara, penghasutan, dll. Pasal 5 KUHP menyatakan :

dilakukan

juga

jika

terdakwa

menjadi warga Negara sesudah melakukan perbuatan”. Sekalipun rumusan pasal 5 ini memuat

“(1).

Ketetentuan

pidana

dalam Indonesia

perkataan “diterapkan bagi warga Negara Indonesia yang diluar wilayah Indonesia”’, sehingga seolah-olah mengandung asas personal, akan tetapi sesungguhnya pasal 5 KUHP memuat asas melindungi

perundang-undangan

diterapkan bagi warga Negara yang di luar Indonesia melakukan : salah satu kejahatan yang

tersebut dalam Bab I dan Bab II Buku Kedua dan Pasal-Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam Indonesia kejahatan,

kepentingan nasional (asas nasional pasif) karena : Ketentuan pidana yang diberlakukan bagi warga Negara diluar wilayah territorial wilyah Indonesia tersebut hanya pasalpasal tertentu saja, yang dianggap penting sebagai perlindungan terhadap

perundang-undangan dipandang sebagai

sedangkan menurut perundangundangan Negara dimana

kepentingan nasional. Sedangkan untuk asas personal, harus diberlakukan seluruh perundang-undangan hukum pidana bagi warga Negara yang melakukan kejahatan

perbuatan itu dilakukan diancam dengan pidana. (2). Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat

di luar territorial wilayah Negara.

19

20

Ketentuan pasal 5 ayat (2) adalah untuk mencegah agar supaya warga Negara asing yang berbuat kejahatan di Negara asing tersebut, dengan jalan menjadi warga Negara Indonesia (naturalisasi). Bagi Jaksa maupun hakim Tindak Pidana yang dilakukan di negara asing tersebut, apakah menurut undang-undang disana merupakan kejahatan atau

perundang-undangan

Negara

dimana

perbuatan dilakukan terhadapnya tidak diancamkan pidana mati”. Latar belakang ketentuan pasal 6 ayat (1) butir 2 KUHP adalah untuk

melindungi kepentingan nasional timbal balik (mutual legal assistance). Oleh karena itu menurut Moeljatno, sudah sewajarnya pula diadakan imbangan pulu terhadap maksimum pidana yang mungkin dijatuhkan menurut KUHP

pelanggaran, tidak menjadi permasalahan, karena mungkin pembagian tindak

pidananya berbeda dengan di Indonesia, yang penting adalah bahwa tindak pidana tersebut di Negara asing tempat perbuatan dilakukan sedangkan diancam menurut dengan KUHP pidana, Indonesia

Negara asing tadi.

Ad. III. Asas Perlindungan Sekalipun asas personal tidak lagi

merupakan kejahatan, bukan pelanggaran. Ketentuan pasal 6 KUHP : “ Berlakunya pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut

digunakan sepenuhnya tetapi ada asas lain yang memungkinkan diberlakukannya hukum pidana nasional terhadap

perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Negara

21

22

Pasal

4

KUHP

(seteleh

diubah

dan

talon, tanda deviden atau tanda bunga yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang

ditambah

berdasarkan

Undang-undang

No. 4 Tahun 1976) “Ketentuan undangan pidana dalam perundang-

dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau menggunakan suratsurat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak palsu; 4. Salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut mengenai kertas mata yang dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal 479 l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam surat hutang atau penerbangan sipil. keselamatan Indonesia diterapkan bagi

setiap orang yang melakukan di luar Indonesia : 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 108 dan 131; 2. Suatu uang kejahatan atau 104, 106, 107,

uang

dikeluarkan oleh Negara atau bank, ataupun mengenai dan oleh materai merek yang yang

dikeluarkan digunakan Indonesia; 3. Pemalsuan

Pemerintah

sertifikat hutang atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan Dalam pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi kepentingan nasional dan melindungi

.23 24 kepentingan internasional (universal). yaitu : 1) Kejahatan Negara martabat Republik dan / terhadap kejahatan kehormatan Indonesia keamanan terhadap Presiden Wakil oleh hukum pengecualian-pengecualian internasional. IV. pemerintah Indonesia (pasal 4 ke-2) 3) Kejahatan surat-surat mengenai hutang pemalsuan sertifkat- atau sertifikat hutang yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia atau bagianbagiannya (pasal 4 ke-3) Dikatakan nasional melindungi karena pasal 4 kepentingan KUHP ini 4) Kejahatan mengenai pembajakan kapal laut Indonesia dan pembajakan pesawat udara Indonesia (pasal 4 ke4) Ad. Asas Universal Berlakunya pasal 2-5 dan 8 KUHP dibatasi memberlakukan perundang-undangan pidana Indonesia bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Indonesia melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan nasional. Bahwa dalam asas melindungi kepentingan internasional (asas universal) adalah dilandasi pemikiran bahwa setiap Negara di dunia wajib turut dan Presiden Republik Indonesia (pasal 4 ke-1) 2) Kejahatan mata uang mengenai atau pemalsuan uang kertas melaksanakan tata hukum sedunia (hukum internasional). Indonesia atau segel / materai dan merek yang digunakan oleh Pasal ini menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga Negara Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang disebutkan dalam pasal tersebut.

maka asas yang berlaku adalah asas melindungi kepentingan Pemalsuan mata uang atau uang kertas yang dimaksud dalam pasal 4 ke-2 KUHP menyangkut mata uang atau uang kertas Negara Indonesia. maka asas yang berlaku diterapkan adalah asas melindungi kepentingan nasional (asas nasional pasif). Pembajakan kapal laut atau pesawat terbang yang dimaksud dalam pasal 4 ke-4 KUHP dapat menyangkut kapal laut Indonesia atau pesawat terbang internasional (asas universal). Pasal 7 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- undangan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat yang di luar Indonsia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan Kedua”. Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. mengenai kepemilikan Indonesia. adalah laut atau internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4 ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau uang kertas) dan pasal 4 ke-4 KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak menyebutkan mata uang atau uang kertas Negara mana yang dipalsukan atau kapal laut dan pesawat terbang negara mana yan dibajak. . pesawat pembajakan terbang kapal. pembajakan kapal laut atau pesawat terbang adalah mengenai kepemilikan Negara asing. dan mungkin juga menyangkut kapal laut atau pesawat terbang Negara asing. akan tetapi juga mungkin menyangkut mata uang atau uang kertas Negara asing. dalam Bab XXVIII Buku Indonesia.25 26 Dikatakan melindungi kepentingan Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas.

420. yang di luar Indonesia. melakukan sekalipun salah di luar tindak perahu. 417. Dengan telah diundangkannya tindak pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “setiap orang di luar wilayah Negara republik Indonesia yang memberikan bantuan. 210. 388. 423. 418. pasal 5 sampai dengan pasal 14” Pasal 8 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- tersebut (pasal 209. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 415. 387. pidana satu sebagaimana dimaksudkan dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX buku ketiga. 31 Tahun 1999 tentang undangan Indonesia berlaku nahkoda dan penumpang perahu Indonesia. 4 Tahun 1976 yang dimasukkan dalam KUHP pada Buku Kedua Bab XXIX A. 435) telah dirubah oleh Undang-undang No. kesempatan. Akan tetapi pasal-pasal dalam pasal 2. maupun dalam ordonansi perkapalan”. 425.27 28 Pasal ini mengenai kejahatan jabatan yang sebagian besar sudah diserap menjadi tindak pidana korupsi. 416. Dalam hal demikian apakah pasal 7 KUHP masih dapat diterapkan ? untuk masalah tersebut harap diperhatikan pasal 16 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan rumusan tersendiri sekalipun masih menyebut unsur-unsur yang terdapat dalam masing-masing pasal KUHP yang diacu. pertimbangan lain untuk memasukkan Bab . sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana / prasarana penerbangan berdasarkan UU No. 419. begitu pula yang tersebut dalam peraturan mengenai surat laut dan pas kapal di Indonesia. pasal 3.

29 30 XXIX A Buku Kedua ke dalam pasal 8 KUHP adalah juga menjadi kenyataan bahwa kejahatan penerbangan sudah 3) Anak buah kapal perang asing yang berkunjung di suatu Negara. . Hukum nasional suatu Negara tidak berlaku bagi mereka 2) Duta besar Negara asing beserta keluarganya meeka juga mempunyai hak eksteritorial. sekalipun ada di luar kapal. Menurut Moeljatno. Diterapkannya pasal-pasal 2-5-7 dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum-hukum Negara mempunyainya 4) Tentara Negara asing yang ada di dalam wilayah Negara dengan persetujuan Negara itu. dimana mereka mempunyai hak eksteritorial. Menurut hukum adalah internasional teritoir kapal peran yang digunakan sebagai bagian dari kegiatan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorganisir pasal 9 KUHP. internasional. pada umumnya pengecualian yang diakui meliputi : 1) Kepala Negara beserta keluarga dari Negara sahabat.

Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya. ditujukan (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility).H. Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :  Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana. oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula. Selanjutnya Moeljatno membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid van het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person). PENGERTIAN TINDAK PIDANA Hingga saat ini belum ada kesepakatan para sarjana tentang pengertian Tindak pidana  Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat. Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (strafbaar feit). Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. .. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu.  Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan oleh ancaman atau kejadian yang orang). Moeljatno S. “ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang. dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”. bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Menurut Prof. b.31 32 BAB III TINDAK PIDANA a. UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA Dalam suatu peraturan perundang-undangan ditimbulkan sedangkan kelakuan pidana kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. pidana selalu mengatur tentang tindak pidana.

larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”.  Mungkin ada keadaan tertentu yang perundang-undangan pidana tentang perbuatanperbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. mengetahui adanya tindak pidana. berbuat   atau tidak berbuat atau membiarkan). Unsur Subyektif :  Orang yang mampu bertanggung jawab  Adanya kesalahan (dollus atau culpa). Perbuatan kesalahan. Menurut  Simons. yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar. harus dilakukan dengan (strafbaar feit) adalah : Perbuatan manusia (positif atau negative. Untuk   Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband staand) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person). unsur-unsur tindak pidana menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat “openbaar” atau “dimuka umum”.33 34 Sedangkan menurut Moeljatno “Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. Unsur Obyektif :  Perbuatan orang  Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu. Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja. Diancam dengan pidana (statbaar gesteld) Melawan hukum (onrechtmatig) . maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan Simons juga menyebutkan adanya unsur obyektif dan unsur subyektif dari tindak pidana (strafbaar feit).

misalnya unsur pegawai negeri yang diperlukan dalam delik jabatan seperti dalam perkara tindak pidana korupsi. Unsur obyektif atau non pribadi Yaitu mengenai keadaan di luar si pembuat. 3 pidana yang dijatuhkan. (1) Unsur keadaan yang menentukan misalnya dalam pasal 164. 31 Tahun 1999 jo. memperingan atau memperberat melakukan perbuatan. 531 KUHP Pasal 164 KUHP : barang jahat siapa untuk mengetahui permufakatan . Unsur subyektif atau pribadi Yaitu mengenai diri orang yang mungkin diterapka pasal tersebut b. 20 Tahun 2001 tentang pegawai negeri yang menerima hadiah. Sementara menurut Moeljatno unsur-unsur Tahun 1971 atau pasal 11 UU No. Kalau yang menerima hadiah bukan pegawai negeri maka tidak perbuatan pidana :  Perbuatan (manusia)  Yang memenuhi rumusan dalam undangundang (syarat formil)  Bersifat melawan hukum (syarat materiil) Unsur-unsur tindak pidana menurut Moeljatno terdiri dari : 1) Kelakuan dan akibat 2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. yang dibagi menjadi : a. 165. misalnya pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum (supaya melakukan perbuatan pidana atau melakukan kekerasan terhadap penguasa umum). Pasal 418 KUHP jo. Apabila penghasutan tidak dilakukan di muka umum maka tidak mungkin diterapkan pasal ini Unsur keadaan ini dapat berupa keadaan yang menentukan.35 36 Kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan. UU No.

jika kemudian orang itu meninggal. Orang yang tidak melapor baru dapat dikatakan jika melakukan perbuatan pidana. 115. (2) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana Misalnya penganiayaan biasa pasal 351 ayat (1) KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. 108. 187 dan 187 bis. kalau orang yang dalam keadaan bahaya tadi kemudian lalu meninggal dunia.37 38 melakukan kejahatan tersebut pasal 104. orang tadi baru melakukan perbuatan pidana. kejahatan tadi kemudian betul-betul terjadi. Pasal 531 KUHP : barang siapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. apabila mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan. Tentang hal kemudian terjadi kejahatan itu adalah merupakan unsur tambahan. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Keharusan memberi pertolongan pada orang yang sedang menghadapi bahaya maut jika tidak memberi pertolongan. diancam. Kewajiban untuk melapor kepada yang berwenang. apabila kejahatan jadi dilakukan. 124. 113. 106. Apabila penganiayaan tersebut memberitahukannya kehakiman atau kepolisian atau kepada yang terancam. Syarat tambahan tersebut tidak dipandang sebagai unsur delik (perbuatan pidana) tetapi sebagai syarat penuntutan. ancaman pidana diperberat menjadi 5 tahun (pasal 351 ayat . diancam. 107. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan menimbulkan luka berat. dan pada saat kejahatan masih bisa dicegah dengan sengaja kepada tidak pejabat kepadanya tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain.

Tanpa ditambahkan kata melawan hukum setiap orang mengerti bahwa memaksa dengan kekerasan atau ancaman unsur-unsur permasalahan “pengertian” unsur-unsur tindak pidana bersifat teoritis.39 40 2 KUHP). Luka berat dan mati adalah merupakan keadaan tambahan yang memberatkan pidana (3) Unsur melawan hukum Dalam perumusan delik unsur ini tidak selalu dinyatakan sebagai unsur tertulis. tentang dilakukan perbuatan sudah jelas dari istilah atau rumusan kata yang disebut. Misalnya pasal 285 KUHP : “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh di luar perkawinan”. tetapi dalam praktek hal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembuktian perkara pidana. Apabila tidak dicantumkan maka apabila perbuatan yang didakwakan dapat dibuktikan maka secara diam-diam unsure itu dianggap ada. dan jika mengakibatkan mati ancaman pidana menjad 7 tahun (pasal 351 ayat 3 KUHP). Pentingnya pengertian Sekalipun pemahaman tindak terhadap pidana. Unsur melawan hukum yang dinyatakan sebagai unsur tertulis misalnya pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai pencurian yaitu pengambilan barang orang lain dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum. sebab sifat melawan hukum atau sifat pantang oleh karenanya harus dibuktikan. Apabila dicantumkan maka jaksa harus mencantumkan dalam dakwaannya dan dapat diketahui dari doktrin (pendapat ahli) ataupun dari yurisprudensi yan memberikan penafsiran terhadap rumusan . Pengertian unsur-unsur tindak pidana kekerasan adalah pantang dilakukan atau sudah mengandung sifat melawan hukum. Adakalanya unsur ini tidak dirumuskan secara tertulis rumusan pasal.

. Biasa terjadi bahwa suatu alat bukti hanya penjelasan penegak berguna untuk menentukan pembuktian satu unsur tindak pidana. tidak seluruh unsur tindak pidana. atau biasa diulas dalam analisa hukum. agar dengan jelas. 6) Menyusun requisitoir yaitu pada saat uraian penerapan fakta perbuatan kepada unsurunsur tindak pidana yang didakwakan. yurisprudensi atau dengan cara penafsiran hukum. maka pengertian-pengertian unsur tindak pidana yang dianut dalam doktrin atau kepada saksi atau ahli atau terdakwa untuk menjawab sesuai fakta-fakta yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. Bagi Jaksa pentingnya memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana adalah : 1) Untuk menyusun surat dakwaan.41 42 undang-undang yang semula tidak jelas atau terjadi perubahan makna karena perkembangan pengertian dan jaman. harus diuraikan sejelas-jelasnya karena ini menjadi dasar atau dalil untuk berargumentasi. 2) Dapat menguraikan perbuatan terdakwa yang menggambarkan uraian unsur tindak pidana yang didakwakan sesuai dengan pengertian / penafsiran yang dianut oleh doktrin maupun yurisprudensi. akan diberikan sehingga hukum 4) Menentukan nilai suatu alat bukti untuk membuktikan unsur tindak pidana. 5) Mengarahkan jalannya penyidikan atau memudahkan aparat menerapkan peraturan hukum. 3) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pemeriksaan di sidang pengadilan berjalan secara obyektif. Dalil-dalil yang digunakan dalam pembuktian akan secara dapat obyektif dipertanggungjawabkan karena berlandaskan teori dan bersifat ilmiah.

jadi yang benar-benar sebagai dirasakan oleh pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. 2. Rechtdelicten c. sebab ada kejahatan yang baru disadari sebagai delik karena tercantum dalam undang-undang . terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Ada dua pendapat : a. Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia ini prohibita). Wetsdelicten Ialah perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik.43 44 1. ialah : semacam “pelanggaran”. jadi karena ada undang-undang pelanggaran. Kejahatan dan Pelanggaran Pembagian delik atas kejahatan dan Ialah yang perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. pencurian. 1. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik. Ia hanya membrisir atau memasukkan kejahatan dan dalam dalam kelompok kelompok pertama kedua masyarakat bertentangan dengan keadilan misal : pembunuhan. disebut Delik-delik intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara mengancamnya dengan pidana. KUHP buku ke II memuat delik-delik yang disebut : pelanggaran criterium apakah yang dipergunakan untuk membedakan kedua jenis delik itu ? KUHP tidak memberi jawaban tentang hal ini. Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse). JENIS-JENIS TINDAK PIDANA Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik. Perbedaan secara kwalitatif ini tidak dapat diterima.

384. penyuapan (pasal 209. jadi sebenarnya tidak segera dirasakan sebagai bertentangan dengan rasa keadilan. 210 KUHP). yang benar-benar misalnya pasal 364. 382. 2. pencurian (pasal 362 KUHP). permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP). Dan sebaliknya ada “pelanggaran”. Kejahatan ringan : Dalam KUHP juga sebagai terdapat delik yang perumusannya dititikberatkan perbuatan yang dilarang. di muka umum menyatakan perasaan kebencian. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang. Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP). 302 (1). ialah “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”. 375. Delik ini digolongkan kejahatan-kejahatan . Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materiil) a. sumpah pemalsuan palsu surat (pasal (pasal 242 263 KUHP). Oleh karena perbedaan secara demikian itu tidak memuaskan maka dicari ukuran lain. 373. Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). 379. 352. bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan. Seminar Hukum Nasional 1963 tersebut di atas juga berpendapat. KUHP). Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi. 407. b. Delik formil itu adalah delik yang kepada dirasakan bertentangan dengan rasa keadilan.45 46 pidana. b. 315. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya dalam perbuatan seperti tercantum rumusan delik.

Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP). ialah 4. Misal : seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338.47 48 baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. 197. 231 ayat 4 dan pasal 359. 203. seorang penjaga wissel yang menyebabkan 3. pencurian. 338 KUHP b. misal : pasal-pasal 187. 245. pembunuhan (pasal 338 KUHP). ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. 201. penggelapan. tidak menolong orang yang memerlukan KUHP). commissa a. 310. b. Delik tunggal dan delik berangkai berbuat sesuatu yang dilarang. Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362. 360 KUHP. penipuan. c. 263. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. penipuan (pasal 378 KUHP). 340 KUHP). Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan. delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP). Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaan larangan (dus delik commissionis). Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur misal : pasal 195. pertolongan (pasal 531 (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) . Delik dolus : delik yang memuat unsur kesengajaan. akan tetapi dapa dilakukan dengan cara tidak berbuat. Delik commisionis. 197. 5. misal : tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP). Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten) a.

: pasal 284. Delik aduan yang absolut. ayat 2). b. Delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. Catatan : perlu dibedakan antara aduan den gugatan dan laporan. Delik aduan yang relative ialah mis. Delik aduan dibedakan menurut sifatnya. 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. 332. b. misal : merampas pembuat dan orang yang terkena. ialah mis.49 50 a. 7. . jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP). Delik yang berlangsung terus dan delik selesai (voordurende en aflopende delicten) Delik yang berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus. disebut relatif karena dalam delik-delik ini ada hubungan istimewa antara si merupakan dilakukan beberapa kali perbuatan. 310. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten) Delik yang ada pemberatannya. : pasal 367. Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali. Gugatan dipakai dalam acara perdata. ps. misal : pasal 481 (penadahan sebagai kebiasaan) 6. misal : A menggugat B di muka pengadilan. misal : (pemerasan dengan ancaman pencemaran. : delik apabila yang baru a. tidak membayar hanya kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP). Delik aduan dan delik laporan Laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten) Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. chantage pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa. pencurian pada waktu malam hari dsb. Delik berangkai delik. hutangnya karena kepada B A. 8. sebagai : penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (pasal 351 ayat 2. 3 KUHP).

Kata “barang siapa” ini tidak dapat diartikan lain dari pada “orang”. .51 52 (pasal 363). Delik sederhana. Dalam pasal 10 KUHP disebutkan jenis-jenis pidana yang dapat dikenakan kepada tindak pidana. pidana tambahan : a. Dalam pemeriksaan perkara dan juga sifat dari hukum pidana yang dilihat ada / tidaknya kesalahan pada terdakwa. memberi petunjuk bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan itu adalah manusia. pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana itu manusia (naturlijke personen). perampasan barang-barang tertentu c. b. 7 tahun 1955. yaitu : 1. misal : pembunuhan kanakkanak (pasal 341 KUHP). UU darurat tentang tindak pidana dengan pidana kurungan 2. pidana pokok : a. pidana mati b. Delik ini disebut “geprivelegeerd delict”. SUBYEK TINDAK PIDANA Sebagaimana diuraika terdahulu. misal : penganiayaan (pasal 351 KUHP). d. bahwa unsur pertama tindak pidana itu adalah perbuatan orang. pidana kurungan d. sehingga pada dasarnya hanya dapat dikenakan pada manusia. yang dapat diganti pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu. Ini dapat disimpulkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. pidana denda. c.”. Delik ekonomi (biasanya disebut tindak pidana ekonomi) dan bukan delik ekonomi Apa yang disebut tindak pidana ekonomi itu terdapat dalam pasal 1 UU Darurat No. Rumusan delik dalam undang-undang lazim dimulai dengan kata-kata : “barang siapa yang Sifat dari pidana tersebut adalah sedemikian rupa. pencabutan hak-hak tertentu b. pencurian (pasal 362 KUHP). 9. dimumkannya keputusan hakim ekonomi. Ada delik yang ancaman ……. pidana penjara c.

mengenai pengurus atau komisaris perseroan terbatas dan sebagainya yang dalam keadaan pailit merugikan perseroannya. Atau dalam UU Darurat tentang pengusutan. suatu perkumpulan atau badan (korporasi) lain. penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (UU Darurat No.1948-144) harga” dan (S.53 54 d. apabila dapat membuktikan bahwa pelanggaran itu dilakukan tanpa ikut campurnya. sesuatu Seorang fungsi anggota dalam pengurus sesuatu dapat pasal 169 : “ikut serta dalam perkumpulan yang terlarang”. yang berbunyi : “suatu tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia”. ialah pasal 59. Ordonansi obat bius S. Dalam hukum positip Indonesia. Bahwasanya yang menjadi subyek tindak pidana itu adalah manusia. 7 tahun 1955 pasal 15 dimana dalam ayat 1 dan 2 dengan tegas menyebutkan kelihatannya juga menyangkut korporasi sebagai subyek hukum. sesuai dengan penjelasan (M. Dalam KUHP juga ada pasal lain yang pengendalian ketentuan yang mengatur apabila suatu badan (hukum) melakuka tindak pidana yang disebut dalam ordonansi-ordonansi itu. buka korporasinya. ini disebut “pembalikan beban pembuktian” (omkering van bewijslast). Keterangan : di dalam hukum acara. dan juga pasal 398 dan 399. misalnya dalam “ordonansi barang-barang yang diawasi” (S. Dalam perkembangannya apakah kecuali manusia tidak ada sesuatu yang dapat melakukan tindak pidana misalnya badan hukum ? dalam KUHP terdapat pasal yang seakan-akan menyinggung soal ini.1948-295) “Ordonansi terdapat membebaskan diri. akan tetapi disinipun yang diancam pidana adalah orang. Vide . 27-278 jo.v. 33-368 pasal 25 ayat 7. Pengertian kesalahan yang dapat berupa kesengajaan dan kealpaan itu merupakan sikap dalam batin manusia.T) terhadap pasal 59 KUHP. Menurut pasal ini yang dapat dipidana adalah orang yang melakukan korporasi. Pasal ini tidak menunjuk ke arah dapat dipidana suatu badan hukum. Akan tetapi ajaran ini sudah ditinggalkan.

83) menyatakan mengenai persoalan ini (terjemahan) “Untuk sebagian peradilan dengan dibantu oleh ilmu pengetahuan hukum harus menemukan sendiri penyelesaian untuk problem dalam materi baru ini”. Dalam pada itu sekarang suda pasti. Persoalan mengenai penyertaan dan kesalahan dalam pada itu akan kerap kali menjadi sumber perbedaan pendapat”. 147) : “agaknya perlu untuk menggambarkan pertumbuhan ajaran ini agak lebih luas dari pada biasanya dalam buku pelajaran. bahkan mereka itu dapat mengemukakan alasan tidak adanya kesalahan sama sekali”. Van Hattum (hal. ya bahkan kadang-kadang korporasi sajalah yang dapat menjadi pembuat. sebaiknya pembentuk undang-undang membuat ketentuan-ketentuan umum dalam hal suatu tindak pidana dilakukan oleh suatu korporasi. 477 van Hattum menulis a. sebab peradilan terhadap badan hukum kiranya akan menduduki tempat yang penting dalam hukum pidana kita. bahwa korporasi dapat mempunyai kesalahan dan . korporasi dapat melakukan tindak pidana. bahwa menurut Hoge Raad. Dan dalam hal.55 56 bahwa badan hukum dapat menjadi subyek hukum pidana. : (terjemahan) Pompe (hal. ………….l.

Keadaan yang menentukan di sini adalah terampasnya nyawa seseorang. Kausalitas Didalam delik-delik yang dirumuskan secara materiil (selanjutnya disebut delik materiil). 355 ayat 2 dan 3 KUHP. 194 ayat 2. bukan suatu essentialia. karena perbuatan X itu maka timbul akibat matinya A. 351 ayat 2 dan 3. pembahayaan perkosaan kepentingan hukum. Selain itu juga merupakan persoalan pada delik-delik yang dikualifikasi oleh akibatnya (door het gevolg gequafili ceerde delicten) misal pasalpasal : 187. Contoh : matinya Oleh karenanya untuk dapat menuntut seseorang (misalnya X) yang dilakukan melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya seseorang. sebab jika disini tidak terjadi akibat yang dilarang dalam delik itu. Misalnya : Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan. 188. Persoalan kausalias ini terjadi karena kesulitan untuk menetapkan apa yang menjadi sebab dari suatu akibat. pasal 333 ayat 2 dan 3. “akibat” ini artinya “perubahan atas suatu keadaan” dimana atau dapat berupa suatu terhadap terdapat unsur akibat sebagai suatu keadaan yang dilarang dan merupakan unsur yang menentukan (essentialia dari delik tersebut). Berbeda dengan dengan delik formil terjadinya akibat itu hanya merupakan accidentalia. CAUSALITAT) si A. Perlu diketahui bahwa . paling banyak ada percobaan. 195 ayat 2. 334 ayat 2 dan 3.57 58 BAB IV HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (CAUSALITEIT. maka harus dapat dibuktikan bahwa A. maka delik (materiil) itu tidak ada. Hubungan sebab akibat (causaliteitsvraagstuk) ini penting dalam delik materiil.

.1. sebab kalau satu syarat tidak ada maka akibatnya akan lain pula. Akan tetapi sebenarnya tidak boleh tanpa menyebabkan berubahnya akibat. Teori-teori Kausalitas (ajaran-ajaran kausalitas) B. Teori-teori hendak dagang misalnya dalam persoalan menetapkan hubungan obyektif antara perbuatan (manusia) dan akibat. Di tengah jalan ia kejatuhan genting. bahwa kejadian “B” yang terjadi sesudah kejadian “A”. lalu mati. misalnya dalam filsafat. Misalnya hukum perdata dalam penentuan ganti rugi dan dalam hukum asuransi. Teori ekivalensi ini memakai pengertian “sebab” sejalan dengan pengertian yang dipakai dalam logika. yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. menurut waktu. Teori Ekivalensi (aquivalenz-theorie) atau Bedingungstheorie atau teori condition sine qua non dari von Buri Teori ini mengatakan : tiap syarat adalah sebab. Persoalan ini pun terdapat dalam lapangan ilmu pengetahuan lainnya. maka tidak akan terjadi akibat lingkungan hukum pidana saja. Dalam hubungan ini baik dipandang terlampau sederhana. seperti yang senyata-nyatanya. Tiap syarat. Dalam menetapkan apakah yang dapat dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian.59 60 persoalan ini tidak hanya terdapat dalam B. Penganiayaan ringan terhadap A itu juga merupakan sebab dari matinya A. Tidak ada syarat yang dapat dihilangkan (lazim dirumuskan “nicht hiin weggedacht warden kann dan seterusnya) ditelusuri sampai ke sebab. maka terjadilah beberapa teori kausalita. Contoh : A dilukai ringan. Kalau satu syarat dihilangkan. tempat dan keadaannya. Akibat kongkrit harus bisa kongkrit. belum tentu disebabkan karena kejadian “A” (post hoc non propter hoc). baik positif maupun negatif untuk timbulnya suatu akibat itu adalah sebab. Dalam filsafat terdapat “peringatan”. akan tetapi juga dalam lapangan hukum lainnya. dan semua syarat itu nilainya sama. dan mempunyai nilai yang sama. kemudian dibawa ke dokter.

John Stuart Mill (di Inggris) dalam bukunya : Sistem of Logic berpendapat. “bahwa “sebab itu adalah “the whole of antecedents” (1843). hubungan pidana. sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan. apabila tidak ada pembuatan pisau. B. artinya setelah peristiwa kongkrit terjadi.61 62 dikemukakan. sebab tiap-tiap “sebab” sebenarnya dengan bahwa kausal sebaik-baiknya”. Yang merupakan sebab bukan hanya ditikam A. Kebaikan teori ini : mudah diterapkan. Van Hamel. dan juga karena tori ini menarik secara luas sekali dalam membatasi lingkungan berlakunya antara jawaban pertanggung pertanggungjawaban pidana.2. dari serentetan faktor yang aktif dan pasif dipilih sebab yang paling menentukan dari peristiwa tersebut. seorang penganut teori begitu Jadi pembuatan pisau itu juga “sebab” dan seterusnya. Teori ekivalensi ini dapat dipandang sebagai pangkal dari teori-teori lain. sedang faktor-faktor lainnya . Jadi misal : B ditikam oleh A sampai mati. Kritik / keberatan terhadap teori ini : hubungan kausal membentang ke belakang tanpa akhir. maka ada teori-teori lain yang hendak membatasi teori tersebut teori-teori yang akan disebutkan di bawah ini. mengambil dari sekian faktor yang menimbulkan akibat itu ekivalensi berpendapat bahwa “untuk hukum pidana teori ini boleh digunakan. apabila diperbaiki dan diatur oleh teori kesalahan yang harus diterapkan dijelaskan. Berhubungan dengan keberatan itu. bahwa terlepas satu sama lain. harus dan dibedakan Di sini beberapa faktor yang kuat (dominant). sedang faktor-faktor lainnya dipisahkan sebagai faktorfaktor yang irrelevant (yang tidak perlu / penting). Teori-teori Individualisasi Teori-teori ini memilih secara post actum (inconcreto). merupakan “akibat” dari “sebab” yang terjadi sebelumnya. tetapi juga penjualan pisau itu kepada A dan penjualan pisau itu tidak ada.

Dalam teori ini dicari sebab yang adequate untuk timbulnya akibat yang bersangkutan (ad-aequare artinya dibuat sama). Binding. Ini suatu akibat yang abnormal. oleh karena ada pengendara sepeda hendak menyebrang . tentang Ada-quanzttheorie). atau tidaknya “Ubergewichtstheorie)” Dikatakan : sebab dari sesuatu perubahan adalah identik dengan perubahan dalam keseimbangan antara faktor yang menahan (negatif) dan faktor yang positif. mempunyai kadar (kans) untuk itu. atau menurut perhitungan yang layak. Oleh karena itu teori ini disebut teori adequat (teori adequate. Teorinya disebut semacam itu.3. biasanya dapat mengakibatkan hidung keluar darah. Seorang yang menyetir mobil terpaksa keseimbangan positif itu. dimana faktor yang positif itu lebih unggul. Akan tetapi apabila orang yang pukul itu menjadi buta itu bukan akibat yang adequate. Yang disebut “sebab” adalah syarat-syarat positif dalam keunggulannya (in ihrem Ubergerwicht-bobot yang melebihi) terhadap syarat-syarat yang negatif. Suatu jotosan ang mengenai hidung. Teori-teori generalisasi Teori-teori ini melihat secara ante factum (sebelum kejadian/in abstracto) apakah diantara serentetan syarat itu ada perbuatan manusia yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat penganutnya tidak banyak antara lain : 1. memenangkan mengerem sekonyong-konyong.63 64 hanya merupakan syarat belaka. Birkmayer (1885) mengemukakan : sebab adalah syarat yang paling kuat (Ursache ist die wirksamste Bedingung) 2. yang tidak biasa. b. Satu-satunya sebab ialah faktor atau syarat terakhir dan yang menghilangkan faktor Contoh-contoh ada hubungan sebab akibat yang adequat : a. Penganut- B. artinya menurut pengalaman hidup biasa.

c. Seorang petani membakar tumpukan rumput kering (hooi). melainkan pengetahuan dari hakim. Penentuan obyektif.65 66 jalan yang membelok. dimana secara kebetulan bersembunyi / tidur seorang penjahat hingga ikut mati terbakar. diketahui atau pada umumnya diketahui. tidak timbul akibat semacam itu maka perbuatan petani itu bukanlah sebab. Jika biasanya menurut pengalaman sehari-hari. Hal yang merupakan persoalan dalam teori ini ialah : bagaimanakah penentuannya. Adakah pen-sebab-an yang adequate ? Jawabannya tergantung dari keadaan. Penentuan subyektif (subjective ursprungliche Prognose). oleh ini sedang ini tidak mobil. maka perbuatan petani itu benar-benar mempunyai kadar untuk matinya seseorang. 2. . Dianipun dapat dikatakan bahwa perbuatan pengendara menimbulkan akibat tertentu itu ? Mengenai hal ini ada beberapa pendirian. Akan tetapi apabila di daerah itu merupakan kebiasaan orang untuk bersembunyi atau menginap dalam tumpukan rumput. bahwa suatu sebab itu pada umumnya cocok untuk disangka-sangka Pengendara pengendara mendapat mobil penyakit trauma karena menekan urat. Disini disebut antara lain : 1. Dasar penentuan apakah suatu perbuatan itu dapat menimbulkan akibat ialah keadaan atau hal-hal yang secara obyektif kemudian si pembuatlah yang sepeda itu tidak merupakan penyebab yang adequate untuk timbulnya penyakit trauma tersebut. Disini yang dianggap sebab ialah apa yang oleh sipembuat dapat diketahui / diperkirakan bahwa apa yang dilakukan itu pada umumnya dapat menimbulkan akibat semacam itu (Von Kries jadi pandangan atau pengetahuan menentukan). Jadi bukan yang diketahui atau yang dapat diketahui oleh sipembuat.

“objektive nachtragliche Prognose” mati. Harapan itu Sebenarnya dalam teori kausal adequat subyektif (Von Kries) itu tersimpul unsur terkabul dan pekerjanya itu mati disambar petir. Konsekwensi ini umumnya penentuan tentang kesalahan). yang sangat membenci pekerjanya. ingin sekali agar pekerja itu . Oleh karena dalam ajaran tersebut tersimpul unsur kesalahan. jadi bukan teori kausalitas dalam arti yang sesungguhnya. Sebab suatu perbuatan baru dianggap sebagai sebab yang adequate apabila sipembuat dapat mengira-ngirakan atau membayangkan dipandang terlalu jauh. sebab seandainya pekerja itu tidak disuruh keluar oleh majikan. apabila menuntut pengalaman manusia pada umumnya harus diperhitungkan kemungkinan. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori adequate subyektif dari von Kries ini bukan teori kausalitas yang murni.67 68 Dasar penentuan (Beurteilungs standpunkte) ini disebut (Rumelin). Menurut teori ekivalensi : ya. sehingga juga tidak ada pemidanaan. jadi sipembuat dapat membayangkan dan seharusnya dapat membayangkan. Beberapa penganut teori adequat yang lain : 1. tetapi tidak berani kebetulan. melepasnya. Menurut teori ini : perbuatan menyuruh orang ke tempat lain pada umumnya tidak mempunyai kadar untuk kematian seseorang karena disambar petir. Penyambaran petir adalah hal yang (voor zien) akan terjadinya akibat atau kalau orang umumnya membayangkan terjadinya akibat itu. Pada waktu hujan yang disertai petir ia menyuruh pekerjanya itu pergi ke suatu tempat dengan harapan agar orang itu disambar petir. Dengan ini maka tidak ada hubungan kausal. maka ia juga menentukan pertanggunganjawab (pidana). maka ia tidak mati. Contoh : seorang majikan. Simons : Dikatakan olehnya : “suatu perbuatan dapat disebut sebagai sebab dari suatu akibat. Oleh karena itu lebih memuaskan apabila dipakai teori adequate.

penentuan ada dan tidaknya unsur kesalahan pada sipembuat. Akan tetapi kelemahan teori ini tidak mudah dalam kenyataan. bahwa teori tersebut sesuai dengan jiwa hukum pidana. dan memberi keterangan yang cukup memuaskan merupakan dimaksudkan bersangkutan. Teori ini ditambah dengan . 47) berpendirian senada dengan Simons. Berhubung dengan tugas tersebut maka hukum pidana harus membuat “pagar” terhadap perbuatan-perbuatan yang agaknya mendatangkan kerugian. Ini kesimpulan pengalaman kita sebagai manusia. bahwa alur peristiwa di dunia ini ada biasa dan normal. mengikuti yurisprudensi Negeri Belanda. akan tetapi selalu diberi suatu penambahan. yang sesuai dengan asas konkordantie pada waktu itu. ia menggunakan istilah-istilah yang tidak terang misalnya biasanya. Syarat yang pada umumnya. Tinjauan terhadap teori-teori kausalitas manusia pada umumnya dan sebagainya. itulah yang dianggap sebagai suatu sebab”. Dalam yurisprudensi Hindia Belanda. 2. Pompe : yang disebut sebab ialah perbuatanperbuatan yang dalam keadaan tertentu itu mempunyai strekking untuk menimbulkan menunjukkan perbuatan-perbuatan tersebut. kadar. dengan kadarnya memadai sesuatu akibat.69 70 bahwa dari perbuatan sendiri akan terjadi akibat itu”. Dalam hal ini teori adequat dapat apakah sebab sesuatu sesuatu rumusan perbuatan akibat delik itu yang yang dari dalam (presumptie). Mengenai teori adequat dari von Kries. itu dapat juga dikatakan. tidak terlihat tersebut di atas : teori ekuivalentie dapat dikatakan teori kausalitas yang benar. biasanya. pengalaman akibat yang bersangkutan. 3. Beliau katakan : “Kehidupan hukum dan perhubungan hukum itu terdiri atas persangkaan. dengan mengikuti hal ikhwal yang berada dan menurut pengalaman kita. Kami (Ringkasan Hukum Pidana hal. Hukum Pidana itu mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perkosaan dan perbuatan yang membahayakan.

c.71 72 dengan nyata teori mana yang dipakai. oleh karena antara perbuatan terdakwa dan terjadinya kecelakaan itu tidak terdapat hubungan yang langsung. hanya dipandang sebagai suatu syarat dan bukan sebab. Perbuatan terdakwa. Putusan Raad van Justitie Batavia 23 Juli 1937 (. Disini memang perbuatan si ayah dapat disebut syarat tersebut terus menyopir tidak dianggap sebagai sebab dari kecelakaan yang terjadi. 147 hal 115) sebuah mobil menabrak sepeda motor. yang membiarkan pengemudi itu tetap menyopir. oleh karena antara perbuatan ayah dan tabrakan itu tidak ada hubungan kausal yang langsung. Akan tetapi dalam pada itu di dalam berbagai putusan pengadilan dapat ditunjukkan adanya persyaratan. d. akan tetapi tidak . Putusan Penagadilan Negeri Pontianak 7 Mei 1951. Terlindasnya pengendara sepeda motor oleh kereta api itu dipandang oleh pengadilan sebagai akibat langsung dan segera dari penabrakan sepeda motor oleh mobil. Putusan Politierechter Bandung 5 April 1933 Seorang ayah yang membiarkan anaknya yang berumur 14 tahun mengendarai sepeda motornya. Perbuatan terdakwa yang tidak menarik seorang pengemudi mobil yang sembrono dari tempat kemudi (stuur) dan membiarkan pengemudi Hooggerechtshof condong ke teori adequate. b. Anak tersebut menabrak orang. oleh karena terdakwa sebagai orang yang mengatur pemasukan barang- (voorwaarde) dari tabrakan itu. dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta Terdakwa sebagai kerani bertanggung jawab atas tenggelamnya satu kapal yang disebabkan oleh terlalu berat muatannya dan yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia. bahwa antara perbuatan dan akibat harus ada hubungan yang langsung dan seketika (onmiddellijk en rechtsreeks) a. Putusan Politierechter Palembang 8 Nopember 1936 diperkuat oleh Hooggerechtshof 2 Pebruari 1937. Pengendara sepeda motor terpental ke atas rel dan seketika itu dilindas oleh kereta api. boleh disebut sebab dari tabrakan itu. Maka matinya si korban dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan si terdakwa (pengendara mobil).

Pendirian ini didasarkan kepada dalil ilmu pengetahuan alam yang berbunyi bahwa dari keadaan negatif tidak mungkin timbul kedaan positif. Pada delik ini ada pelanggaran larangan dengan “tidak berbuat”.73 74 barang angkutan dalam kapal in casu tidak mempedulikan peringatan-peringatan dari a. b. Pendirian ini tidak bisa diterima. C. Di dalam pertimbangan juga disebut bahwa perbuatan terdakwa mempunyai “hubungan erat” dengan “kecelakaan itu”. yang disebut sebagai sebab ialah “sesuatu yang dilakukan ibu itu pada saat ia tidak memberi susu itu. karena dalil pengetahuan alam tidak tepat untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan rokhani (seperti hukum pidana berbagai pihak tentang terlalu beratnya muatan pada waktu kapal akan berangkat. Yang ada persoalan ialah pada delik commisionis per omission commissa. Yang disebut sebagai sebab ialah perbuatan yang mendahului akibat yang timbul. misal . Jenis kedua ini sebenarnya delik commissi yang dilakukan dengan “tidak berbuat”. karena delik omissi itu adalah delik formil. misal pergi ke toko. Teori ini dinamakan “teori berbuat lain. Pada delik omissi persoalannya mudah. Teori ini disebut “teori berbuat yang sebelumnya”. Teori inipun tidak dapat diterima. sehingga tidak ada persoalan tentang kausalitas. Misal : dalam hal seorang ibu membunuh anaknya dengan tidak memberi susu. c. Kausalitas dalam hal tidak berbuat Persoalan ini timbul dalam delik-delik omissi dan dalam delik comisionis per ommisionem commissa (delik omissi yang tak sesungguhnya). Tidak mungkin orang tidak berbuat bisa menimbulkan akibat. Dalam persoalan ini ada beberapa pendirian : ini). Yang disebut sebab ialah perbuatan yang positif yang dilakukan oleh sipembuat pada saat akibat itu timbul. karena kepergian ibu itu tidak bisa dianggap ada perhubungan dengan akibat itu.

menurut ajaran ini yang menjadi sebab ialah apa yang dilakukan penjaga wesel. sebab sulit dilihat hubungannya antara semacam itu sangat tercela (laakbaar) dan tidak patut. ialah norma-norma lainyang berlaku dalam masyarakat yang teratur. d. pembunuhan ? . Dalam delik commisionis per omissionem commissa (delik omissi yang tidak sesungguhnya) “tidak berbuat” itu bukannya “tidak berbuat sama sekali” akan tetapi “tidak berbuat sesuatu”. “Tidak berbuat” sebenarnya juga merupakan “perbuatan”. dalam arti dapat menjadi syarat untuk terjadinya suatu akibat. orang tuanya mengetahui hal ini. mengingat keadaan yang kongkrit. sebab sebagai penjaga ia berkewajiban untuk menjaga dan berbuat sesuatu. Sedang menurut teori adequate. Teori inipun tidak memuaskan. Maka dengan pengertian ini hal “tidak berbuat” pada hakekatnya sama dengan “berbuat sesuatu”. tetapi tidak berbuat apa-apa. Seseorang yang tidak berbuat dapat dikatakan sebab dari sesuatu akibat. 2) Seorang penjaga gudang membiarkan pencuri melakukan aksinya. tidak hanya yang nyata-nyata tertulis dalam suatu peraturan tetapi juga dari peraturan-peraturan yang tidak tertulis. Di bawah ini diberi contoh-contoh apakah ada kewajiban berbuat atau tidak : 1) Ada anak yang dibunuh.75 76 seorang penjaga wesel yang menyebabkan kecelakaan kereta api karena tidak Jawab (Hof Amsterdam 23 Oktober 1883): tidak. Apakah orang tua bertanggung jawab sebagai ikut berbuat dalam diperbuat/dilakukan. bahwa tidak berbuat itu dapat menjadi sebab dari suatu akibat. yang diharapkan untuk penerimaan jabatan dengan akibat yang timbul. Kesimpulan mengenai kausalitas dalam hal tidak berbuat : sekarang tidak ada persoalan lagi. ia dapat dipertanggungjawabkan. apabila ia mempunyai kewajiban hukum untuk berbuat. tetapi memang sikap memindahkan wesel. Kewajiban itu timbul dari hukum.

Onrechmatig) A. “tanpa izin” (zonder verlof) (pasal 496. Unrecht. BAB IV SIFAT MELAWAN HUKUM (Rechtswdrig. tegas dipakai istilah “melawan hukum”. jadi harus dibedakan dari persoalan kesalahan atau pertanggungan jawab pidana yang merupakan segi subyektifnya. jadi juga dapat menjadi “sebab”. . 335 (1). dengan istilah lain misalnya : “tanpa mempunyai hak untuk itu” (pasal 303. b. 548. (wederrechtelijk) dalam pasal 167. Istilah dan Pengertian KUHP memakai istilah bermacam-macam : a. 510). “dengan melampaui kewenangannya” (pasal 430). 522. ialah yang menyangkut orangnya. Akhirnya perlu diperhatiakn bahwa soal hubungan kausal ini terletak dalam segi obyektif (yang menyangkut perbuatan) dari keseluruhan syarat pemidanaan. Wederrechtelijk. 549). 168.77 78 dapat juga mempunyai kadar untuk terjadinya akibat. “tanpa mengindahkan cara-cara yang ditentukan oleh peraturan umum” (pasal 429).

mungkin dipidana pula. yang menembak mati seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman pidana mati. Arti istilah bersifat melawan hukum itu terdapat tiga pendirian: 1. Bilamana sesuatu perbuatan itu dikatakan melawan hukum ? Orang akan menjawab : “apabila perbuatan itu masuk dalam dapat dikecualikan atas perbuatan yang memenuhi rumusan delik (tatbestandsmaszig) itu tidak senantiasa bersifat melawan hukum. memenuhi unsur-unsur delik tersebut pasal 338 KUHP. Unsur ini merupakan suatu penilaian obyektif terhadap perbuatan. dan bukan terhadap si Pembuat. . bertentangan dengan hak (subyektief recht) orang lain (Noyon) 3. Misalnya dalam melaksanakan perintah undang-undang (ps. tanpa kewenangan atau tanpa hak. hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum (H. Tasbestand dalam arti sempit ini terdiri atas tasbestand mer male. Salah satu unsur dari tindak pidana adalah unsur sifat melawan hukum. 2) Jaksa menahan orang yang sangat dicurigai telah melakukan kejahatan. sebab mungkin ada hal yang menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. Ia tidak dapat dikatakan melakukan kejahatan tersebut pasal 333 KUHP. ialah masing-masing unsur dari rumusan delik. bertentangan dengan hukum (Simons) 2. 50 KUHP) : 1) regu penembak.R). Perbuatan mereka tidak melawan hukum. berwenang untuk melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang itu. Dalam bahasa Jerman ini disebut “tatbestandsmaszig”. Pengecualian atas tasbestand mer male.79 80 Alasan pembentuk undang-undang itu mencantumkan unsur sifat melawan hukum itu tegas-tegas dalam sesuatu rumusan delik karena pembentuk undangundang khawatir apalagi unsur melawan hukum itu tak dicantumkan dengan tegas. yang berhak atau rumusan delik sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang”. ialah unsur seluruhnya dari delik sebagaimana dirumuskan dalam peraturan pidana. Tasbestand disini dalam arti sempit.

Maka timbul persoalan ada tidaknya sifat melawan hukumnya perbuatan. Contoh lain yang mempermasalahkan unsur melawan hukum adalah : Putusan PN Sawahlunto 10 Setember 1936 sapi-sapi yang sehat itu. Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan Mamak cs melanggar pasal KUHP (merusak ketentraman rumah). dan memidana Mamak 3 bulan penjara dan lain-lainnya masing-masing 2 bulan. Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas masuk dalam rumusan delik . karena dalam ekspedisi di Kutub Selatan seorang bioloog membedah binatang-binatang (vivisectie) untuk penyelidikan ilmiah. Alasan Arrest Hoge Raad 20 Pebruari 1933 Seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukkan sapi-sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi-sapi yang sudah sakit mulut dan kuku. apalagi jauh dari dokter.81 82 karena ia melaksanakan undang-undang (terdapat dalam peraturan hukum acara pidana) sehingga tidak ada unsur melawan hukum. Di dalam kedua contoh tersebut hal yang Seorang perempuan Minangkabau hidup bersama dengan seorang laki-laki dengan siapa ia menurut hukum adat dilarang kawin. Oleh karena perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya pintu didobrak. maka Mamak dari perempuan ini bersama-sama dengan orang lain mendatangi orang tersebut untuk dimintai menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan terdapat di dalam undang-undang. karena ia luka-luka berat dan tidak mungkin hidup terus. sehingga membahayakan permintaan sendiri. Namun dalam kasus : seorang ayah memukul seorang pemuda yang memperkosa anak-anaknya seorang menembak mati temannya atas pertanggungjawaban dan untuk membawa laki-laki itu ke Wali Negeri. Berhubung dengan pelanggaran adat ini.

“Memang boleh diakui. bahwa seseorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti dipidana. menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbuatan itu bersifat melawan hukum. yang masuk larangan dalam sesuatu undang-undang itu tidaklah mutlak bersifat melawan hukum.83 84 tesebut dalam pasal 82 undang-undang ternak. Pertimbangannya antara lain : “tidak dapat dikatakan. sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat hapus. bahwa suatu perbuatan. ialah dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan yang membahayakan / mengkhawatirkan. Menurut Simons. jika di dalam hukum positif terdapat alasan untuk suatu perbuatan secara rumusan delik”. . sehingga oleh karenanya pasal yang bersangkutan yang tidak berlaku letterlijk terhadap memenuhi (hukum tertulis). bahwa perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan peternakan. bahwa unsur sifat melawan hukum tidak dicantumkan di dalam rumusan delik dan meskipun demikian tidak ada pemidanaan. mungkin sekali dapat terjadi. apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya dirumuskan sebagai suatu delik dalam undangundang. akan tetapi tidak adanya sifat melawan hukum itu hanyalah bisa diterima. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan melawan atau bertentangan dengan undang-undang alasan-alasan penghapus pidana. apabila perbuatan diancam pidana dan Mahkamah Agung Belanda : Pasal 82 Undang- undang ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu. karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan ternyata tidak ada. dokter hewan mengemukakan pada pokoknya. Ketika dituntut. hanya berdasarkan suatu ketentuan undang-undang. Putusan Pembagian Ajaran Sifat Melawan Hukum Menjawab persoalan tersebut maka hukum pidana membagi ajaran sifat melawan hukum dalam dua sudut pandang yaitu : 1.

akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang tidak tertulis. menurut ajaran sifat melawan hukum yang materiil Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak. maka tidak bersifat melawan hukum. Di sini menurut Zu Dohna perbuatan ayahnya tidak melawan hukum. Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyatanyata masuk dalam rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich). jika perbuatan itu bertentangan dengan tujuan ketertiban hukum (den Zwecken der das Zusammenleben regelnden Recht sordnung widerspricht). Alasan untuk menghapuskan sifat melawan hukum tidak boleh diambil di luar hukum positif dan juga alasan yang disebut dalam undang-undang tidak boleh diartikan lain daripada secara limitatief. Contohnya ialah seorang yang memukulpemuda yang memperkosa anak perempuannya.85 86 pengecualian berlakunya ketentuan / larangan itu. tidak hanya yang terdapat dalam undang-undang (yang tertulis) saja. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang menganut ajaran sifat melawan hukum yang meteriil ialah : a) Von Liszt : perkosaan atau pembahayaan terhadap kepentingan hukum hanyalah bersifat melawan hukum materiil (materiel rechts widrig). 2. Mayer mengatakan : bersifat (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya sebagaimana para sarjana yang . c) M. kalau tidak bertentangan dengan tujuan itu.E. b) Zu Dohna mengatakan : Suatu perbuatan itu tidak melawan hukum jika perbuatan itu merupakan upaya yang haq untuk tujuan yang haq (richtiges Mittel zum techten zwecke).

ditentukan oleh norma kebudayaan (kulturnorm). 348 KUHP) bisa tidak melanggar hukum berdasarkan petunjuk eugenetisch atau sosial. Persaksian terhadap sifat melawan hukum yang materiil itu harus dilakukan secara hatihati. (Eugenetiek adalah ajaran yang mempelajari perbaikan ras / keturunan). Akan tetapi sifat itu hapus apabila diterobos dengan adanya tentang dokter hewan Huizen itu. dan istimewa hakim harus membuka diri pada peristiwa-peristiwa yang kongkrit. yang biasanya ada jika suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. Dalam hal ada keraguan mengenai sifat melawan hukum maka tidak boleh ada penjatuhan pidana. Kesimpulan mengenai persoalan melawan hukumnya perbuatan. maka itu menjadikan tanda / indikasi bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum. bila suatu perbuatan itu memenuhi rumusan delik. tetapi mengenai hal itu harus diselidiki untuk tiap-tiap kejadian yang kongkrit. ia katakan : . e) Van Hattum Dengan adanya keputusan Hoge Raad dengan itu menurut hemat saya (mer van Hattum) telah diterima ajaran sifat melawan hukum yang materiil oleh Hoge Raad dan telah dipecahkan persoalan mer azas-azas yang boleh dikatakan benar dalam ajaran “penentuan hukum” dewasa ini (in de hedendaagse leer Her rechtsvir onbetwist). apakah yang diharapkan oleh ketertiban hukum. obyektif yang berdiri sendiri. berarti bertentangan dengan kulturnorm yang diakui oleh negara. Misal abortus protus (ps. Kalau perbuatan itu sesuai dengan kulturnorm itu maka sifat melawan hukumnya hapus. d) Zevenbergen Onrechtmatigheid adalah syarat yang umum. Sifat melawan hukum itu.87 88 Perbuatan itu melawan hukum materiil atau tidak.

Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. maka perlu dipertimbangkan betul- kebenaran keputusannya. baik secara formil maupun secara materiil. harus kepribadiannya bertanggung jawab masyarakat pada umumnya. . juga dipandang adil / benar oleh seluruh bagaimanakah keadaan keadaan lebih-lebih masyarakat Indonesia dinamis yang bergerak menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan. pikiran dan perasaan hakim harus tajam untuk dapat menangkap masyarakat. maka perlu dipertimbangkan betulbetul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. yang dibuat dengan sah. yang dibuat dengan sah. Ini adalah beban yang berat bagi hakim. Berkaitan dengan hukum tertulis maka hakim dalam perkara kongkrit yang sedang dihadapi harus betul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menghapuskan kekuatan berlakunya peraturan yang tertulis dsb. b). sedang penganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil alasan itu boleh diambil dan luar hukum yang tertulis.89 90 alat pembenar (rechtvaardigingsgrond). c). Sampai dimanakah rasa keadilan dan keyakinan masyarakat dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. Maka hakim harus benar-benar masyarakat yang mempertimbangkan : a). ialah masyarakat Pancasila mata. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. Benarkah yang dipandang adil oleh suatu golongan dalam masyarakat biasa. Bagi mereka yang menganut ajaran sifat melawan hukum yang formil alasan pembenar itu hanya boleh diambil dan hukum yang tertulis. kedengaran apa agar yang sedang terjadi dalam tidak seluruh atas supaya Hakim putusannya dengan sumbang. sebab tiaptiap keputusan harus memuat alasan yang mendasari keputusan mengetahui itu.

ada yang tercantum dengan tegas. Misal A membunuh B dengan alasan bahwa B telah membunuh C kakak dari A. Suatu negara yang mengakui azas nullum delictum dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif. Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum Unsur sifat melawan hukum itu ada dalam rumusan delik : 1. jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum. Ini adalah konsekwensi dari diterimanya azas legalitas untuk KUHP. meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam Kalau Seminar Hukum Nasional tersebut di atas menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil tentunya hal tersebut dalam fungsinya yang negatif. apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di luar undang-undang. Nasional nanti dan masih berlakunya KUHP yang sekarang ini dimana juga masih tercantum azas seperti tersebut dalam pasal 1. maka dalam hal ini adanya unsur tersebut harus dibuktikan undang-undang. Memang di daerah yang bersangkutan ada anggapan bahwa hutang nyawa harus disaur dengan nyawa.91 92 Mengenai pengertian melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan : dalam fungsinya yang negatif Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai sumber hukum yang positif. B. dalam fungsinya yang positif Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik. .

Ini terjadi jika seorang mengira telah melakukan delict.l. Sifat melawan hukum disini sebagai unsur konstitutif. van Hamel dan Zevenbergen. “ajaran sifat melawan hukum untuk hukum pidana pada umumnya hanyalah mempunyai hubungan Dalam pembicaraan unsur sifat melawan hukum ini ada delik disebut wahn delict atau putativ delict. mempunyai fungsi yang positif (merupakan unsur konstitutif) a. maka harus dibuktikan. Hazewinkel-Suringa memandang sifat melawan hukum hanya sebagai tanda ciri dari tindak pidana. Yang menganggap sifat melawan hukum mempunyai fungsi yang negatif adalah Simons. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang positif untuk dengan pertanyaan apakah ada pengecualian yang menyebabkan hapusnya sifat melawan hukum”.93 94 2. Yang menganggap sifat melawan hukum itu sebaliknya oleh terdakwa. kecuali jika dibuktikan sesuatu delik (artinya ada delik kalau perbuatan itu bersifat melawan hukum). karena pada umumnya dengan mencocoki rumusan undang-undang sifat melawan hukumnya perbuatan sudah ternyata pula. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang negatif (artinya : tidak ada unsur sifat melawan hukum pada perbuatan merupakan pengecualian untuk adanya suatu delik). ada pula yang tidak tercantum. Pendapat Simons. unsur dianggap dengan diam-diam ada. b. Prof. Muljatno yang meskipun menganggap unsur sifat melawan hukum adalah syarat mutlak yang tak dapat ditinggalkan”. Putatif Delik . bahwa itu tidak berarti bahwa dalam lapangan procesueel (acara pemeriksaan perkara) sifat itu harus dibebankan pembuktiannya kepada penuntut umum. jika tak disebut dalam rumusan delik. Terhadap delikdelik semacam itu ada perbedaan paham : a. padahal perbuatannya itu sama sekali bukan suatu C. Beliau setuju. maka tidak perlu dibuktikan. namun berpendirian.

Bilamana seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab ? Apakah ukurannya untuk menyatakan adanya kemampuan bertanggung jawab itu ? KUHP tidak memberikan rumusannya. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan bertanggung jawab. BAB V KESALAHAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 1. bahwa untuk adanya pertanggungjawab pidana diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung jawab. apabila ia tidak mampu – . Dalam literatur hukum pidana Belanda dijumpai beberapa definisi untuk “kemampuan bertanggung jawab”. sebab perbuatannya itu tidak bersifat melawan hukum. Pengertian Kemampuan Bertanggungjawab (Zurechnungsfahigkeit Toerekeningsvatbaarheid) Telah disebutkan.95 96 delik.

Definisi van Bemmelen ini singkat. bahwa seseorang mampu seseorang itu dikatakan “dapat mempertahankan bertanggung jawab. Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa. yakni apabila : a. bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan c.97 98 Simons : “kemampuan bertanggung jawab dapat Van Bemmelen : seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan ialah orang yang dapat mempertahankan hidupnya dengan cara yang patut. jika jiwanya sehat. Dikatakan selanjutnya. Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri b. baik dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya”. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum b. antara lain demikian : Tidak ada kemampuan bertanggung jawab pada sipelaku Van Hamel : kemampuan bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan : a. Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undangundang. Mampu untuk menyadari. yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan. sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan . akan tetapi juga kurang jelas. b. hidupnya dengan cara yang patut” ? Adapun Memorie van Toelichting (memori penjelasan) secara negative menyebutkan mengenai kemampuan bertanggung jawab itu. Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya-perbuatannya itu : a. sebab masih dapat ditanyakan kapankah diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian.

kecuali dinyatakan sebaliknya (lihat pembahasan tentang dasar-dasar penghapus pidana). Dengan perkataan lain. dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat. orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya. Untuk dapat perbuatannya itu dilarang oleh undang-undang dan berbuat sesuai dengan pikiran atau perasaannya itu.1. Pengertian Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. meliputi juga kesengajaan). Kesalahan 2.99 100 dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya. bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). Dalam hal ini berlaku asas “TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas. Seorang terdakwa pada dasarnya dianggap (supposed) mampu bertanggung jawab. . tetapi untuk setiap kali dalam kejadian yang kongkrit dalam praktek peradilan menilai jiwa seorang terdakwa dengan ukuran-ukuran tadi tidaklah mudah. apabila orang yang normal jiwanya itu mampu bertanggung jawab. namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Dalam persoalan kemampuan bertanggung jawab itu ditanyakan apakah seseorang itu merupakan “normadressat” (sasaran norma). Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision). Definisi-definisi tersebut memang ada manfaatnya. perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. Sebagai dasar untuk mengukur hal tersebut. yang mampu. ia mampu untuk menilai dengan pikiran atau perasaannya bahwa 2.

101 102 Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dlam peraturan lain. Asas “tiada pidana tanpa kesalahan” yang telah disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. apabila ada orang yang dijatuhi pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. namun berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan.2. Arti aslinya ialah “evil will” “guilty mind”. sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang. Mens rea merupakan subjective guilt melekat pada sipelaku subjective gilt ini berupa intent (kesengajaan setidak-tidaknya negligence (kealpaan). tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari Tatstrafrecht. artinya bahwa. mendapat keyakinan. 2. unsur kesalahan sebagai syarat untuk penjatuhan pidana di Negara Anglo Saxon tampak dengan adanya maxim (asas) “Actus non facit reum nisi mens sit rea” atau disingkat dengan asas “mens rea”. Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman (UU No. penjatuhan pidana disyaratkan adanya kesalahan pada si pelaku. menurut karena alat berpijak pada orang yang melakukan tindak pidana (taterstrafrecht). bahwa seorang yang dianggap dapat bertanggung jawab. telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Dalam ilmu hukum pidana dapat dilihat sebagai unsur yang menjadi persyaratan untuk dapat dipertanggungjawabkannya pelaku berpangkal pada pemikiran tentang hubungan antara perbuatan pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada perbuatan orang beserta akibatnya (Tatstrafrecht atau Erfolgstrafrecht) ke arah hukum pidana yang dengan kebebasan kehendak. Dasar Pemikiran Filosofi dasar yang mempersoalkan kesalahan pembuktian undang-undang. kecuali yang apabila sah pengadilan. adany pemidanaan harus ada kesalahan pada sipelaku. 4 / 2004) berbunyi : Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. Dengan demikian hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai Sculdstrafrecht. Akan bertentangan dengan rasa keadilan. dapat juga dikenal dari pepatah (Jawa) “sing seleh” (yang bersalah pasti salah). Mengenai hubungan . Untuk salah. Tidak berbeda dengan konsep yang berlaku dalam sistem hukum di Negara Eropa Kontinental. Bahwa unsur kesalahan itu.

Dalam pandangan ketiga melihat bahwa ada dan tidak adanya kebebasan kehendak itu untuk hukum pidana tidak menjadi soal (irrelevant). b. maka tidak ada pencelaan. berpendapat. yang bahwa kehendak bebas (free will) dan ini merupakan sebab dan segala keputusan kehendak. sebab ia . Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya oleh watak (dalam arti naPasalu-naPasalu manusia dalam hubungan kekuatan satu sama lain) dan motifmotif ialah perangsang-perangsang yang datang dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan watak tersebut. Tetapi reaksi terhadap perbuatan yang dilakukan itu berupa tindakan (maatregel) untuk ketertiban masyarakat. Justru karena tidak adanya kebebasan indeterminisme. Aliran positivist yang melahirkan pandangan determinisme mengatakan. Ini berarti bahwa seseorang. tidak dapat dicela atas perbuatannya atau dinyatakan mempunyai kesalahan. Aliran klasik yang melahirkan pada manusia pandangan dasarnya mempunyai tidak punya kehendak bebas. Namun meskipun diakui bahwa tidak punya kehendak bebas. itu tak berarti bahwa orang yang melakukan tindak pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.3. bahwa manusia kehendak itu maka ada pertanggungan-jawab dari seseorang atas perbuatannya. dan bukannya pidana dalam arti penderitaan sebagai buah hasil kesalahan oleh si pelaku. sehingga tidak ada pemidanaan.103 104 antara kebebasan kehendak dengan ada atau tidak adanya kesalahan ada 3 pendapat dari : a. Tanpa ada kebebasan kehendak maka tidak ada kesalahan dan apabila tidak ada kesalahan. c. Kesalahan seseorang tidak dihubungkan dengan ada dan tidak adanya kehendak bebas 1. Kesalahan Menurut Beberapa Sarjana tidak mempunyai kehendak bebas.

KARNI yang mempergunakan istilah “salah dosa” mengatakan mengandung : “Pengertian Celaan salah ini dosa menjadi mengatakan antara lain : “Sebagai dasar untuk pertanggungan jawab dalam hukum pidana ia berupa keadaan psychisch dari si pelaku dan hubungannya terhadap perbuatannya. SIMONS mengartikan kesalahan itu sebagai pengertian yang “sociaal ethisch” dan Verwurf gegen den Tater keseluruhan yang berupa strafbaarfeit termasuk si pelakunya (al het geen psychisch is aan dat complex. b. MEZGER mengatakan : kesalahan adalah c. bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psychologis. VAN HAMEL mengatakan. e. meliputi semua hal.105 106 Guna memberi pengertian lebih lanjut tentang kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. keadaan dapat psychisch dicelakakan (jiwa) kepada itu si celaan. Selanjutnya ia katakan : “Salah dosa berada. d. Kesalahan adalah pertanggungan jawab dalam hukum (Schuld is de verant woordelijkheid rechtens)”. dasarnya tanggungan jawab terhadap hukum pidana”.” dan dalam arti bahwa berdasarkan perbuatannya pelaku”. dat bestaat uit een strafbaar feit en deswege een strafbare dader). di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat dari berbagai penulis. perhubungan antara keadaan jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. jika perbuatan dapat dan patut . die aus der Strafcat einen personlichen begrunden). yang bersifat psychisch yang terdapat dapat Vcrraussetzungen. a. VAN HATTUM berpendapat : “Pengertian keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku tindak pidana (Schuldist der Erbegriiffder kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum.

Penilaian normatif artinya penilaian (dari luar) mengenai hubungan antara sipelaku dengan perbuatannya. Yang perbuatan atau akibat perbuatan. biasanya sifat melawan hukum itu merupakan segi luarnya. tetapi di samping itu harus ada unsur penilaian atau unsur normatif terhadap perbuatannya. melainkan di dalam kepala orang-orang lain”. ialah di dalamkepala dari mereka yang memberi penilaian terhadap sipelaku itu. baik dengan sengaja. pada kesengajaan hubungan batin itu berupa menghendaki perbuatan (beserta akibatnya) dan pada kealpaan tidak ada kehendak demikian. . POMPE mengatakan norma antara yang lain : “Pada karena Pandangan yang normatif tentang kesalahan ini menentukan kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin atau hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya. Yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. maupun dengan salah”. perbuatan itu harus dilakukan. f. ialah apa yang seharusnya diperbuat oleh sipelaku secara extreem dikatakan bahwa “kesalahan seseorang tidaklah terdapat pelanggaran dilakukan kesalahannya.107 108 dipertanggungkan atas si perbuat. Dalam arti ini kesalahan hanya dipandang sebagai hubungan psychologis (batin) antara pelaku dan perbuatannya. Jadi di sini hanya digambarkan (deskriptif) keadaan batin berupa kehendak terhadap dalam kepala sipelaku. Hubungan batin tersebut bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. harus boleh dicela karena perbuatan itu. Pengertian kesalahan psychologisch. yang bertalian dengan kehendak si pelaku adalah kesalahan.Pengertian kesalahan yang normatif mengandung perlawanan hak. perbuatan itu Dari pengertian-pengertian kesalahan dari beberapa sarjana di atas maka pengertian kesalahan dapat dibagi dalam pengertian sebagai berikut : . “Penilaian dari luar” ini merupakan pencelaan dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam masyarakat. Segi dalamnya.

betapapun kecilnya. menurut akibatnya ia ada hal yang dapat hidupnya. itu berarti bahwa perbuatan itu dapat dicelakakan kepadanya. kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. yang berupa kesengajaan dan kealpaan tetap diperhatikan. untuk adanya kesalahan hemat kami harus ada pencelaan ethis. Kesalahan dalam Hukum Pidana Kesalahan ini dapat dilihat dari 2 sudut : a. Setidaktidaknya pelaku dapat dicela karena tidak menghormati tata dalam masyarakat. menurut hakekatnya ia adalah hal dapat 1. melainkan “veranwoordelijkheid rechtens. Bukan “ethische schuld”.4. seperti dikatakan oleh van Hamel. Ini sejalan dengan pendapat. Namun demikian. di . dicelakakan (verwijtbaarheid) b. yang dapat disamakan dengan pengertian dihindarkannya (vermijdbaar-heid) perbuatan yang melawan hukum Dari pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapatlah dimengerti bahwa kesalahan itu mengandung unsur “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”. Di samping itu ada unsur lain ialah penilaian mengenai keadaan jiwa sipelaku. yang terdiri dari sesama penghapus kesalahan. 1. Jadi orang yang bersalah melakukan sesuatu perbuatan.109 110 memberi penilaian pada instansi terakhir adalah hakim. Di dalam pengertian ini sikap batin si pelaku ialah. Arti “kesalahan” dalam hukum Pidana Dalam hukum pidana kesalahan memiliki 3 pengertian yaitu : a. bahwa “das Recht ist das ethische Minimum”. dan yang memuat segala syarat untuk hidup bersama. melainkan pencelaan berdasarkan hukum yang berlaku. akan tetapi hanya merupakan unsur dari kesalahan atau unsur dari pertanggung-jawaban pidana. ialah kemampuan bertanggungjawab dan tidak adanya alasan pencelaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana. pencelaan disini bukannya pencelaan berdasarkan kesusilaan.

sipelaku harus normal. Dalam hal ini dipersoalkan sikap batin seseorang pelaku terhadap perbuatannya. ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. vorzatz atau (schuldfahigkeit artinya zurechnungsfahigkeit). kesalahan dalam arti sempit.2 di atas. Pemakaian istilah “kesalahan” dalam arti ini sebaiknya dihindarkan dan digunakan saja istilah “kealpaan”. kesalahan dalam arti bentuk kesalahan (sculdvorm) yang berupa : 1. Jadi apabila dikatakan. onachtzaamheid. ialah kealpaan (culpa) seperti yang disebutkan dalam b.111 112 dalamnya terkandung makna dapat dicelanya (verwijtbaarheid) sipelaku atas perbuatannya. hubungan batin antara sipelaku dengan tertentu menjadi “normadressat” yang fahrlassigkeit atau negligence). Unsur-unsur dari kesalahan (dalam arti yang seluas-luasnya) Kesalahan dalam arti seluas-luasnya amat berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana dimana meliputi : a. opzet. kesengajaan intention) atau 2. ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi sipelaku sehingga kesalahannya hapus. misalnya dengan perbuatannya. maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada. Disini dipersoalkan apakah orang mampu. Dengan diterimanya pengertian kesalahan (dalam arti luas) sebagai dapat maka dicelanya si pelaku atas perbuatannya. c. berubahlah pengertian kesalahan yang psychologis menjadi pengertian kesalahan yang normatif (normativer schuldbegriff). (dolus. . b. bahwa orang bersalah 2. kealpaan (culpa. c. adanya sipelaku kemampuan bertanggungjawab pada atau keadaan jiwa melakukan sesuatu tindak pidana. yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). b.

Dalam pada itu harus diingat bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti yang pidana) seluas-luasnya orang yang (strafbaarheid van de persoon). artinya tidak dengan sendirinya dapat dicela atas perbuatan itu.113 114 adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (ps. Sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum tidak dengan sendirinya mempunyai kesalahan. 49 KUHP) Kalau ketiga-tiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah atau Itulah sebabnya. (pertanggungan jawab bersangkutan harus pula dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. sehingga bisa dipidana. Kalau ini tidak ada. dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit) 2. maka kita harus senantiasa menyadari akan dua pasangan dalam syarat-syarat pemidaan ialah adanya : 1. dapat dipidananya orangnya atau pelakunya mempunyai pertanggungan jawab pidana. . kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak ada perlunya untuk menerapkan kesalahan sipelaku. artinya.

mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons. Misal : seorang Ibu.115 116 BAB VI KESENGAJAAN (DOLUS. (Pompe : 166). dapat diambil dari M. menghendaki dan sadar akan perbuatannya. Hubungan batin ini bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. OPZET. yang dengan sengaja. yang mengartikan “kesengajaan” (opzet) sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). yang berisi menghendaki dan mengetahui itu. Zevenbergen) . Teori ini menitikberatkan b. Teori kehendak (wilstheorie) Inti Apakah yang diartikan dengan sengaja ? KUHP kita tidak memberi definisi. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk dicelakakan kepada sipelaku itu. bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan. 1. Jadi dapatlah dikatakan. VORSATZ) mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu.T.v. Teori-teori Kesengajaan Berhubung dengan keadaan batin orang yang berbuat Unsur kedua dari kesalahan dalam arti yang seluasluasnya (pertanggungjawaban pidana) adalah hubungan batin antara si pelaku terhadap perbuatan. (Memorie van Toelichting). orang tak bisa menghendaki akibat. INTENT. melainkan hanya dapat membayangkannya. maka dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut dua teori sebagai berikut: a. Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan. yang sengaja tidak memberi susu kepada anaknya.

akibat yang memang dituju sipelaku. maka ia tidak akan berbuat demikian. Kalau akibat ini tidak akan ada. (Frank). kesengajaan yang biasa dan sederhana. Amenghendaki sakitnya B 2. Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. Misal : A menempeleng B. kedua teori adalah sama. kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn noodzakkelijkheidbewustzijn atau . dolus directus b. Dalam hal delik materiil harus dihubungkan faktor kausa yang menghubungkan perbuatan dengan akibat (kausalitas) dimana : 1. kedua-duanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat. dengan sengaja dapat dibedakan 3 bentuk sikap batin. c.117 118 pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat. Dalam praktek penggunaannya. Bentuk Kesengajaan Dalam hal seseorang melakukan sesuatu agar B tidak membohong. yang menunjukkan tingkatan atau bentuk dari kesengajaan sebagai berikut : a. Perbuatan sipelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Perbedaannya adalah dalam istilahnya saja. jengkel dsb. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat). kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet) Bentuk kesengajaan ini merupakan bentuk Terhadap perbuatan yang dilakukan sipelaku kedua teori itu tak ada perbedaan. Perhatikan : haruslah ditoh:bedakan antara tujuan dan motif. Motif suatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat misalnya cemburu. Ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya.

Ia ingin terhadap kematian istri B (Arrest H. Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula merupakan diperkirakan sipelaku sebagai Contoh 3 : Seorang yang melakukan penggelapan. Jadi dalam kasus ini : Ada kesengajaan sebagai tujuan terhadap matinya B dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan kepastian atau keharusan sebagai syarat tercapainya tujuan. A mengirim kue taart yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya. 406 KUHP) ada kesengajaan dengan keinsyafan Contoh 2 : A hendak membalas dendam B yang bertempat tinggal di Hoorn. Terhadap terbunuhnya B kesengajaan merupakan tujuan sedangkan terhadap rusaknya kaca (ps. menghindarkan diri dari peradilan dunia dan hendak . oleh karena itu kesengajaan dianggap tertuju pula pada matinya istri B.R. akibat yang tidak didinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam no. merasa bahwa akhirnya ia akan ketahuan. Contoh 1 : A hendak membunuh B dengan tembakan pistol. 9 Maret 1911) kemungkinan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus diemban sipelaku. kematian tersebut tidak menjadi persoalan baginya. akibat ini pasti timbul atau terjadi. yang tidak berdosa itu juga akan makan kue tersebut dan meninggal karenanya.119 120 2. A tahu bahwa ada kemungkinan istri B. B duduk di balik kaca jendela restoran. Penembakan terhadap B pasti akan memecahkan kaca pemilik restoran itu. 1 tadi. meskipun A tahu akan hal terakhir ini namun ia tetap mengirim kue tersebut. Dalam batin si A.

121

122

membunuh dirinya dengan merencanakan sustu kecelakaan lalu – lintas, Ia menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada otobis yang berisi penumpang. Tujuannya agar uang asuransinya yang sangat tinggi (1 ton) itu dapat dibayarkan kepada soprnya. Tetapi ini gagal, ia tidak mati, hanya luka-luka. Beberapa penumpang bis mengalami luka dan seorang diantaranya luka yang membahayakan jiwa. R.v.J (Raad van Justitie) Semarang yang diperkuat oleh Hoogerechtshof dalam tingkat banding

3. Dolus Eventualis Dolus eventualis lahir karena suatu keadaan dimana sikap batin pelaku dimana pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu. Contoh: Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan lajunya di jalan dalam kota. Dimuka ia lihat

menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan penganiayaan berat. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut: Meskipun terdakwa tidak mengharapkan penumpangpenumpang bis mendapat luka-luka, namun akibat ini ada dalam kesengajaanya, sebab iatetap melakukan perbuatan itu, meskipun ia sadr akan akibat yang mungkin terjadi. Kasus ini adalah pengalaman Jokers, ketika menjadi Jaksa Tinggi (Officier van Justitie) pada R.v.J di Semarang.

sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila ia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa

menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatanya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan unuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia

mengiginkan akibat tadi, namun jelas ia menghendaki hal itu, dalam arti, meskipun ia sadar akan

kemungkinan tentang luka dan matinya anak ia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima

123

124

apa

boleh

buat

kemungkinan

itu,

dengan

Dalam kedua teori itu digambarkan, bahwa dalam batin si – pelaku terjadi suatu proses, bahwa ia lebih baik berbuat dari pada tidak berbuat. Disini ada suatu

melampiaskan naPasalunya untuk menegar kudanya. Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja. Bagaimanakah

yang tidak jelas, oleh karena itu disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”). Menurut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie

menerangkan adanya kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) ? Berdasarkan menetapkan teori dalam kehendak, batinnya, jika bahwa sipelaku ia lebih

“atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku berikut: a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, terhadap perbuatannya adalah sebagai

menghendaki perbuatan yang dilakukan itu, meskipun nanti akan ada akibat yang ia tidak harapkan, dari pada tidak berbuat, maka kesengajaan orang tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu. Berdasarkan teori pengetahuan, pelaku mengetahui / membayangkan akan kemungkinan terjadinyan akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangkan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat; maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hak itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.”

125

126

Dalam perdebatan di Eerste Kamsr mengenai W.v.S. Menteri Modderman mengatakan, bahwa

batin yang berupa kesengajaan (atau kealpaan) itu benar-benar ada pada pelaku. Orang tidak dapat secara pasti mengetahui mengetahui batin orang lain, lebih-lebih bagaimana keadaan batinnya pada waktu orang ini berbuat. Apabila orang ini dengan jujur menerangkan keadaan batinnya yang sebenarnya maka tidak ada kesukaran. Kalau tidak, maka sikap batinnya harus disimpulkan

“voorwaardelijkk opzet” (dolus eventualis) itu ada, apabila kehendak kita langsung ditujukan pada kejahatan tersebut, tetapi meskipun telah mengetahui bahwa keadaan tertentu masih akan terjadi, namun kita berbuat dengan tiada tercegah oleh kemungkinan terjadinya hal yang telah kita ketahui itu. Dengan teori apa boleh buat ini maka sebenarnya tidak perlu lagi untuk membedakan kesengajaan dengan sadar kepastian dan kesengajaan dengan sadar kemungkinan.

dari keadaan lahir, yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim baru mengobyektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh Van Bemmelen:

Dalam

uraian-uraian si-pelaku

diatas

penentuan dengan

tentang melihat A melepaskan tembakan kepada B dalam jarak 2 meter. Meskipun A mungkin, bahwa ia mempunyai

kesengajaan

adalah

bagaimana sikap batinnya perbuatan ataupun akibat perbuatannya. Demikian itu karena kesengajaan dipandang sebagai sikap batin pelaku terhadap perbuatannya. Dengan teori-teori itu diusahakan untuk menetapkan kesengajaan sipelaku Dalam kejadian konkret tidaklah mudah bagi Hakim untuk menentukan bahwa sikap

kesengajaan untuk membunuh B, namun Hakim tetap akan menentukan adanya kesengajaan tersebut, kecuali apabila dapat diterima alasan-alasan yang sangat masuk akal bahwa A tidak tahu pistol itu berisi

halaman 169). untuk adanya kesengajaan perlu bahwa sipelaku menyadari bahwa perbuatannya menghendaki perbuatan yang dilarang itu. yang mengatakan (dalam bukunya leerboek van het Nederlandsch Strafrecht. ialah yang mengatakan bahwa: a. Dikatakan.” Untuk kesengajaan. Dalam hal ini diragukan adanya kesenjajaan. Jadi menurut pendirian yang pertama. di perlukan syarat. Persoalan ini berhubungan dengan masalah: apakah untuk adanya kesengajaan itu sipelaku harus menyadari bahwa perbuatannya itu dilarang (bersifat melawan hukum) ? Mengenai hal ini ada 2 pendapat. ada sehingga ada pembebasan. sifat kesengajaan itu berwarna dan kesengajaan melakukan pengetahuan sesuatu sipelaku perbuatan bahwa mencakup perbuatanya hubungannya perkataan adanya lain dengan tersimpul melawan adanya kesengajaan sifat kesadaran mengenai hukumnya perbuatan. maka itu berarti. sedang ia tidak mengetahui bahwa . dilarang. bahwa: Kesengajaan dengan dalam dolus senantiasa molus. bahwa untuk adanya kesengajaan cukuplah bahwa sipelaku itu melawan hukum (dilarang). Dapat saja sipelaku dikatakan berbuat dengan sengaja. bahwa pada sipelaku ada kesadaran. Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna (kleurloos). bahwa perbuatannya dilarang dan/atau dapat dipidana b. Hakim harus sangat berhati-hati. Kesengajaan tidak berwarna Kalau dikatakan bahwa kesengajaan itu tak berwarna. bahwa sengaja disini berarti dolus malus. tahun 1924. harus ada hubungan antara keadaan batin si-pelaku dengan melawan hukumnya perbuatan. Penganutnya antara lain Zevenbergen.127 128 atau bahwa matinya B itu disebabkan karena kekhilafan dari A. Ia tak perlu tahu bahwa perbuatannya terlarang / sifat melawan hukum. artinya sengaja untuk berbuat jahat (boos opzet).

bahwa ia melakukan suatu perbuatan yang menurut tata susila tidak dibenarkan (zadelijk ongeoorlooid) ? Cukupkah dengan adanya kesengajaan saja atau perlukah adanya “kesengajaanj jahat” (boos opzet) ? Jawabnya tidak akan lain dari pada itu. ia tidak dapat dipidana. artinya dilepaskan dari kekuasaan kesengajaan. yang melawan hukum. Oleh Keberatan terhadap pendirian bahwa kesengajaan itu berwarna ialah akan merupakan beban yan berat bagi jaksa apabila untuk membuktikan adanya kesengajaan. itu dilarang atau bertentangan kesengajaan itu berwarna ialah kesalahan itu. Sebaliknya.v. 151 dan 152 dan bandingkan letak perkataan sengaja dalam kedua pasal tersebut).129 130 perbuatannya dengan hukum. bahwa tiap pada kali ia harus ada karena itu pembentuk undang-undang menetapkan dengan seksama dimana letak perkataan “opzettelijk” itu. Jonkers. bahwa “unsur-unsur delik yang terletak 4. tidak perlu ada “boos opzet”.T. mengatakan demikian : “Akan tetapi untuk berbuat dengan sengaja itu apakah sipelaku tidak harus menyadari. Perumusan Unsur Sengaja dalam KUHP Apabila ia sama sekali tidak sadar akan itu. Menurut M. M.T.v. meskipun pada kenyataannya ia melakukan perbuatan yang dilarang.v. membuktikan terdakwa perkataan “opzettelijk” disebut “diobjektip-kan” kesadaran atau pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan itu. berisi bahwa sipelaku harus sadar bahwa perbuatan itu keliru. (bacalah ps. Penganut-penganutnya antara lain : Simons. Pompe.T. Jadi tidak perlu dibuktikan bahwa . memuat suatu asas yang mengatakan antara lain. Unsur yang terletak di muka M. alasan bahwa (geobjektiveerd). dibelakang perkataan opzettelijk (dengan sengaja) dikuasai atau diliputi olehnya”. jadi termasuk kesengajaan.

. itu tidak berlaku untuk semua delik.. perlu mengikuti KUHP sepenuhnya.131 132 kesengajaan sipelaku ditujukan kepada hal tersebut. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur ”met het oogmerk om.. Menghadapi teks terjemahan yang diusahakan oleh beberapa penulis sekarang ini tidak ada jalan lain bagi pelaksana hukum misalnya hakim. ialah yang disebut “Tendenz-delikte” atau Absicht-delikte”. ialah “dapat terjadinya bahaya umum atau bahaya maut tersebut”. 362). ialah apa yang disebut “Tendenz-delikte” atau “Absicht-delikte”.. Ada pengecualiannya.. pemalsuan surat (ps. Tata bahasa kedua bahasa itu tidak sama.. Yang menjadi masalah ialah apabila kita menghadapi KUHP dalam teks Bahasa Indonesia... Demikianlah teknik perundang-undangan yang diikuti oleh KUHP dalam teks Belanda.. Di sini ada keadaan-keadaan.... sehingga tak perlu dibuktian bahwa kesengajaan pelaku ditujukan kepada hal tersebut yang diobjektipkan.. seperti halnya ps. misalnya dalam delik pencurian (pasal 362).. yang disebut di belakang perkataan sengaja. pemalsuan surat (pasal 263). 187 KUHP.. menyusun kalimat tentunya tidak dapat atau tidak ...).(dengan tujuan untuk. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. 303 KUHP.. Kesengajaan disini harus ditujukan kepada hal-hal apa saja ? Pecahkanlah sendiri ! Dalam hal itu asas yang dianut M. dari Unsur ini yang diobjektipkan. oleh karena itu teknik perundang-undangan dalam memberi.. Lihat ps. (dengan tujuan untuk). Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur “met het oogmerk om ... Lihat ps. apakah artinya sipelaku yang tidak perlu atau ditanyakan mengetahui menghendakinya.. misalnya pada delik pencurian (ps.T... 152. melainkan unsur melawan atau hukum arah subjektif.. untu melihat teks aslinya ialah teks Bahasa Belanda dan mendasarkan penafsiran pada teks tersebut.. yang sebenarnya bukan teks resmi. 263)..v.. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan.sifat perbuatan dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan.

. pandangan: Mengenai a. Dalam rumusan (dalam bahasa Belanda) yang demikian ini menjadi persoalan apakah sifat melawan hukumnya perbuatan juga hal harus ini diliputi terdapat oleh tiga “sengaja” dan perkataan “melawan hukum”.. Dalam pasal ini jelas bahwa kesengajaan meliputi melawan hukumnya perbuatan dengan perkatan lain kesengajaan. beschadigt. bahwa ia dalam keadaan tertentu boleh merampas kemerdekaan seseorang........ maka ia tak dapat dipidana.. dengan perkataan lain sifat melawan . Kata “dan” Dalam KUHP (teks Belanda).. onbruik baar maakt of wegmaakt.. Contoh: Pasal 333: Hij die opzettelijk iemand wederrechtelijk van devrijhiid berooft of berooft houdt. Unsur ini memberi sifat atau arah dari perbuatan yang dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan..133 134 melainkan unsur melawan hukum yang subjektif.. jadi merumuskan sebagai “sengaja dan melawan hukum” (opzettelijk en wederrechtelijk)... terdapat bentuk rumusan: Sengaja tanpa ada rumusan unsur melawan hukum (wederrechtelijk) Sengaja melawan hukum (wederrechtelijk) tanpa kata dan Meyisipkan kata “dan” diantara perkataan pelaku harus tahu. Disini ada kesesatan yang bisa membebaskan. disamping ia berbuat dengan sengaja.... 4... Pasal 406: Hij die opzettelijk en wederrechitelijk enig goed dat geheel of ten deele aan een onder toebe hoort.... vernielt... Perkataan “en” (dan) menunjukkan kedudukan yang sejajar. wordt. Apabila ia dengan iktikad baik (te goeder trouw) mengira. dalam merumuskan sesuatu delik...1.. bahwa perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan hukum... Kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan kepada sifat melawan hukumnya perbuatan...

Hoge Raad mengikuti pendapat pertama.135 136 hukum ini diobjektipkan. kesengajaan sipelaku harus ditujukan kepada melawan hukumnya perbuatan. bahwa semua unsur yang terletak di belakang perkataan sengaja dikuasai olehnya. perkataan “sengaja” dan perkataan “melawan hukum” tidak mempunyai arti. meskipun tidak ada perkataan “en” (dan) tersebut : Dalam hukum. tetapi sebelum melawan hukum “sebagai” sengaja melawan hukum. Contoh pasal 406 : Seorang pekerja yang mendapat perintah dari pemilik rumah untuk membongkar rumahnya. Bagi Prof. si-pekerja tidak dapat dipidana karena ia sama sekali tidak mengetahui sifat melawan hukumya perbuatan yang ia lakukan. Unsur sifat melawan hukum itu pendapat ini justru mengartikan sengaja dan . pendapat ini diragukan. Jadi meskipun ada perkataan dan. b. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya. Jadi menurut pendapat ini dalam contoh tersebut di atas. maka unsur melawan hukum tidak diliputi oleh kesengajaan. Semua delik yang menurut unsur “sengaja yang pertama. Van Hamel. sedang Vos. 21 Desember 1914 dimuat antara lain : karena antara unsur kesengajaan dan unsur melawan hukum ada perkataan “en”. tanpa diketahui olehnya rumah itu ganti pemilik. yang berarti dua hal yang terpisah dan tidak berpengaruh satu sama lain. Simons. Ia merusak dengan sengaja dan dengan melawan hukum. Muljatno perkataan “dan” diantara Berbeda dengan pendapat ke 2 tersebut. c. sesuai dengan asas. Sipelaku tidak perlu tahu bahwa perbuatannya melawan hukum. melawan hukum” dapat dibaca “sengaja dan melawan hukum”. Ia dapat dipidana. Dalam arrest tgl. Zevenbergen. Pompe menganut pendapat melaksanakan perintah tersebut. Ia terus saja membongkar. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya Langemeyer mengikuti pendapat yang ketiga.

Untuk dapat dikatakan “ada . atau meracun reservoir air minum. Pelaku harus tahu bahwa yang dilakukan itu bersifat melawan hukum. dolus alternativus Dalam hal ini. untuk penumpang-penumpang dalam mobil yang tidak mau disuruh berhenti. Ini terdapat dalam delik-delik yang dirumuskan dalam pasal 363. Menurut M. van bedaard nedenken). 340. dolus premeditatus Bentuk ini mengacu pada rumusan delik yang mensyaratkan unsur “dengan rencana lebih Unsurnya ialah pendirian bahwa kesengajaan dapat lebih pasti atau tidak. c. dolus determinatus dan indeterminatus Dalam ilmu pengetahuan dikenal beberapa macam kesengajaan : a. sipelaku menghendaki atau A atau B. b. 342 KUHP. Istilah tersebut meliputi bagaimana terbentuknya “kesengajaan” dan bukan merupakan bentuk atau tingkat kesengajaan.T. memikirkan secara wajar apa yang ia lakukan atau yang akan ia lakukan.137 138 harus dikuasai oleh unsur kesengajaan. Pada dolus determinatus. pelaku misalnya menghendaki dolus matinya orang tertentu. 5. akibat yang satu atau yang lain “voorbedachte rade” diperlukan “saat memikirkan dengan tenang” (een tijdstip van kalm overleg. Kesengajaan Menurut Doktrin rencana lebih dulu”. sedang pada indeterminatus pelaku misalnya menembak ke arah gerombolan orang atau menembak dahulu” (met voorbedachte rade) sebagai unsur yang menentukan dalam pasal. dan sebagainya. si pelaku sebelum atau ketika melakukan tindak pidana tersebut.v.

dolus indirectus. bahwa kesengajaan sipelaku tidak hanya ditukaun kepada perbuatannya. Di Inggris dan Spanyol pengertian dolus indirectus adalah sama dengan apa yang kita sebut “dolus eventualis”. illicita. f. Ini oleh Code Penal dipandang sebagai “meutre”. e. Dipertanggung-jawabkan dalam hukum pidana. dolus directus Ini berarti. diduga atau tidak diduga. bermaksud telah untuk melakukan serangkaian perbuatan misalnya mencekik dan kemudian melemparnya ke dalam sungai. Menurut . disengaja.139 140 d. B jatuh dan dilindas mobil. bahwa semua akibat dari perbuatan yang dipertanggung-jawabkan atas semua akibatnya. dolus generalis Pada delik materiil harus ada hubungan kausal antara perbuatan terdakwa dan akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. dituju atau tidak dituju. itu dianggap sebagai hal yang ditimbulkan dengan sengaja. melainkan juga kepada akibat perbuatannya. Ajaran dolus indirectus ini mengingatkan orang kepada ajaran kuno (hukum kanonik) tentang pertanggung-jawab. Misalnya A dan B berkelahi. meskipun akibat itu tidak dapat dibayangkan sama sekali olehnya dan timbul secara kebetulan. Ajaran ini dengan tegas ditolak oleh pembentuk undang-undang. Hazewinkel-Suringa menganggap hal ini sebagai suatu pengertian yang tidak baik. apabila dari suatu perbuatan yang dilarang dan dilakukan dengan sengaja timbul akibat yang tidak diinginkan. Macam dolus ini masih dikenal oleh Code Penal Perancis. A memukul B. Dolus ini ada.menurut melakukan ajaran perbuatan ialah ini versari seseorang terlarang in re yang juga Misalkan membunuh seseorang orang yang lain. Versari in re illicita Ajaran tentang “dolus indirectus” mengatakan.

bagaimanapun telah tercapai. (melempar ke kali) merupakan perbuatan yang terletak / di luar lapangan hukum pidana atau “menyebabkan kealpaannya”. Menurut ajaran kuno disini ada dolus generalis. Pendirian von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. namun bayinya mati karena kelaparan . Meskipun jalannya peristiwa tidak tepat seperti yang dibayangkan oleh sipelaku.R. Simons menyetujui jenis dolus ini. jadi pada waktu dilempar ke air ia belum mati. Akan tetapi air pasangnya tidak setinggi yang matinya orang karena diharapkan. dalam arrestnya tanggal 26 Juni 1962. namun karena akibat yang dikenhendaki telah terjadi. Perbuatan pertama (mencekik) dikualifikasikan sebagai “percobaan pembunuhan”. ialah harapan dari terdakwa secara umum agar orang yang dituju itu mati.141 142 otopsi (pemeriksaan mayat) matinya orang ini disebabkan karena tenggelam. Contoh : Seorang Ibu yang ingin melepaskan diri dari bayinya. maka disini menurut von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. Pendirian Von Hippel ini sama dengan pendapat H. Hazewinkel-Suringa menganggap hal tersebut secara dogmatis tidak tepat. sedang perbuatan kedua dan kedinginan. menaruh bayi itu di pantai dengan harapan agar dibawa oleh arus pasang.

Dalam buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat unsur kealpaan. die de algemene vefligheid van onen of goederen zozeer in gevaar brengen of zo groot en onherstelbaar nadeel sipenyimpan bijzondere personen berokkenen. teledor. larangan pendek penghati-hati.(er zijn feiten. : Karena kealpaannya menyebabkan orang luka berat dsb. NALATIGHEID. ia sembrono. kebakaran dst Pasal 231 (4) : Karena kealpaannya . Perkataan culpa dalam arti luas berarti kesalahan pada umumnya. sehingga umdang-undang juga bertindak terhadap (teledor). sedang dalam arti sempit adalah bentuk kesalahan yang berupa kealpaan. Disamping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan. yang sedemikian barang. SCHULD. Ini adalah delik-delik culpa (culpose delicten). ia berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga. Akibat ini timbul karena ia alpa. membahayakan keamanan orang atau atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi. SEMBRONO.NEGLIGENCE. Delik-delik itu dimuat antara lain dalam : Pasal 188 : Karena kealpaannya menimbulkan FAHRLASSIGKEIT. Suatu keadaan. Hal ini terdapat dalam beberapa delik. TELEDOR).143 144 BAB VII KEALPAAN (CULPA) Pasal 359 : menyebabkan hilangnya dan sebagainnya barang yang disita Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang Pasal 360 (CULPA dalam arti sempit). kata “ schuld” sikap sembrono yang (kealpaan menyebabkan keadaan tadi)”. dat de wet ook de peletusan. Pasal 409 : Karena kealpaannya menyebabkan alat-alat perlengkapan (jalan api dsb) hancur dsb. RECKLESSNESS.

moet tekeer gaan”) 1.kealpaan b. het gebrek aan voorzorg. kekurangan penduga – duga atau kekurangan penghati-hati. (anachtzaamheid): .145 146 onvoorzichtigheid. Pengertian kealpaan atau culpa (dalam arti sempit) Menurut M. de tigheid. Hazenwinkel – Suringa Simons: Pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. schuld. Beberapa penulis menyebut beberapa syarat untuk adanya kealpaan: a.T kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dengan kesengajaan dan dipihal lain dengan hal yang kebetulan (toevel atau caous). c. Van hamel Kealpaan mengandung dua syarat: 1. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum. 2. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum. di samping Ilmu pengetahuan hukum dan jurispruden 2. dapat diduganya akibat d. Pompe. Tidak adanya penghati-hati. merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. Ada 3 macam yang masuk kealpaan mengartikan “schuld” (kealpaan) sebagai: 1. 2.v. waar het feit prong heeft. in een woord. akan tetapi bukannya kesengajaan yang ringan.

Mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid) 3. Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguh-sungguhnya maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana untuk tidak melakukan sesuatu. b. maka apabila perbuatannya itu mengakibatkan tabrakan. Untuk menentukan adanya kealpaan ini harus dilihat peristiwa demi peristiwa. “Orang pada umunya” ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat. paling hatihati. maka ia dapat dikatakan karena kealpaannya mengakibatkan orang lain seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umunya apabila ada dalam situasi yang sama dengan si-pelaku itu. Dapat mengirakan (kunnen venvachten) timbulnya akibat 2.H. Misalnya. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif. (Pasal. dan tidak secara fisik atau psychis.U. apabila datangnya bersamaan waktu maka kendaraan dari kiri harus didahulukan”. Apabila seorang pengendara dalam hal ini berbuat lain ini berbuat lain daripada apa yang diatur itu. Yang harus memegang ukuran normatif dari kealpaan itu adalah Hakim. Sehingga orang lain luka berat. dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa” di simpangan jalan. 360 (1) K.P) .147 148 1. Undang-undang mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau Tetapi nomor 2 dan 3 hanya apabila mengetahui atau dapat mengetahuinyaitu menyangkut juga kewajiban untuk menghindarkan perbuatannya (=untuk tidak melakukan perbuatan). Dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid) a. paling ahli dan sebagainya.

c. padahal seharusnya ia dapat menduga sebelumnya. namun culpa menunjukkan kepada tidak patutnya perbuatan itu dan jika perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum. Dalam diajukan delik alasan culpoos tidak mungkin (rechtvaar pembenar digingsgrond). jadi harus culpa lata dan bukanya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan). sesuatu akibat. Kerapkali justru karena tanpa berfikir akan kemungkinan timbulnya akibat malah terjadi akibat yang . bahwa dalam delik-delik culpa sifat melawan hukum telah tersimpul di dalam culpa itu sendiri.pelaku tidak berjalan secara tepat. Dalam hali ini si pelaku melakukan sesuatu yang tidak menyadari kemungkinan akan timbulnya abnormal. Perbedaan itu bukanlah berarti bahwa kealpaan yang disadari itu sifatnya lebih berat dari pada kealpaan yang tidak disadari. Kealpaan yang disadari (bewuste schuld) Disini sipelaku dapat menyadari tentang apa yang dilakukan beserta akibatnya. Bentuk kealpaan Pada dasarnya orang berfikirdan berbuat secara sadar. Ia menyatakan antara lain “Memang culpa tidak mesti meliputi dapat dicelanya si-pelaku. Karena Bentuk kealpaan dapat dibagi dalam 2 (dua bentuk) yaitu a. Kealpaan yang tidak disadari (onbewuste schuld). maka tidaklah mungkin perbuatan itu perbuatan yang 2. Pada delik culpoos kesadaran si. jadi tidak mungkin ada culpa. Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar. akan tetapi ia percaya dan mengharap-harap bahwa akibatnya tidak akan terjadi b.149 150 Dalam hubungan ini VOS mengemukakan.

409 dapat disebut delik-delik culpoos dalam arti yang sesungguhnya. atau kalau umurnya tak ternyata. 3. Pada delik Pasal 292 ditujukan kepada unsur “ belum cukup umur dari orang yang sama kelamin “kealpaan yang disadari itu adalah suatu sebutan yang mudah untuk bagian kesadaran kemungkinan (yang ada pada pelaku). 484 (delik yang menyangkut pencetak dan penerbit). 292 (delik-delik kesusilaan). VAN HATTUM mengatakan. Misalnya: itu”. Pada delik-delik kesusilaan (pasal 287 dan pasal 288) ditujukan kepada “umur-wanita belum lima belas tahun.151 152 sangat berat. bagaimana saharusnya si-pelaku itu berbuat. Kealpaan merupakan pengertian yang normatif bukan suatu pengertian yang menyatakan keadan (bukan feitelijk begrip). 188. bahwa Pasal 483. Pada delik penadahan ditujukan kepada hal “bahwa barang yang bersangkutan diperoleh dari kejahatan”. Pada delik-delik Pasal 483 dan Pasal 484 ditujukan kepada unsur “pelaku/orang yang Pasal 480 (penadahan) . Delik “pro parte dolus pro parte culpa” Delik-delik yang di-rumuskan dalam pasal 359. bahwa belum mampu dikawin”. Hemat kami perbedaan tersebut tidak banyak artinya. Disamping itu ada delik-delik yang di dalam perumusanya memuat unsur kesengajaan dan kealpaan sekaligus. sedang ancaman pidananya sama. Pada delik-delik ini kesengajaan atau kealpaan hanya tertuju kepada salah tertuju kepada salah satu unsur dari delik itu. 360. Rumusan yang dipakai dalam delik-delik tersebut ialah “diketahui” atau “mengerti” bentuk kesengajaan dan “sepatutnya harus di-duga” atau “seharusnya menduga bentuk kealpaan. harus disimpulkan dari situasi tertentu. yang tidak merupakan dolus eventualis”. 288. Muljatno menamakan delik-delik tersebut sebagai delik yang salah satu unsurnya diculpakan. Pasal 287. Penentuan kealpaan seseorang harus dilakukan dari luar.

seharusnya ia Apabila dapat “schuldheling” (pasal 480). yang membebaskan terdakwa yang dituduh melakukan kurang-menduga-duga ? bagaimana keadaan mobilnya ? kalau lampunya kurang terang. bahwa diperoleh dari kejahatan”. yang diketahui atau sepatutnya harus diduga. Dalam surat dakwaan: a. dengan sama mengetahui orang yang tidur di jalan itu. . jadi misalnya untuk delik dalam pasal 480 : benda). tetapi ini tidak meniadakan kealpaan terdakwa. apakah ia kurang hati-hati dan dibuktikan dalam pemeriksaan pengadilan ditetapkan oleh Hakim.H) menyatakan bahwa wet tidak mengharuskan adanya dugaan pada terdakwa sepatutnya harus menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan. Hooggerechtshof (H. Cukup dicantumkan uraian kata-kata presis seperti apa yang dirumuskan dalam undang-undang. maka ini merupakan lampunya indikasi normal. b. Dalam kasus inipun tidak boleh dilihat “kealpaan orang lain”.153 154 menyuruh cetak pada saat penerbitan. Pengendara gerobag alpa. c. b. tidak dapat dituntut. dari maka kealpaannya. Pembuktiannya cukup secara normatif. jadi tidak dilihat apakah terdakwa mengetahui. Kelapaan orang lain tidak dapat meniadakan kealpaan dari terdakwa. Contoh : a. maka ini merupakan kealpaan. Kalau tidak. terdakwa sebagai pengendara mobil tetap dipidana karena ia pada malam hari menabrak gerobag yang tidak memakai lampu. Arrest Hooggerchtshof (dalam tingkat kasasi) yang membatalkan keputusan Raad van Justitie Medan. akan tetapi tetap harus ditinjau ada dan tidak adanya kealpaan pada pengemudi mobil.G. Ada dan tidak adanya kealpaan itu harus sekali tidak menagnggap penting apakah terdakwa betulbetul mempunyai dugaan atau tidak. atau menetap diluar Indonesia.00 melanggar sekaligus 4 orang yang sedang tidur di tengah jalan raya. Seorang pengemudi mobil pada pagi hari jam 03.

pelayan.T.v. Yang mengedarkan susu itu D. Hal ini penting untuk hukum acara pidana. artinya tidak disebut apakah perbuatan dilakukan dengan sengaja atau alpa. lagi Persoalan kesalalahan pada tindak pidana berupa pelanggaran. pengusaha (veehouder) menyuruh melever susu kepada para langganan.155 156 BAB VIII KESALAHAN DALAM DELIK PELANGGARAN Dalam hal ini berlakulah ajaran “fait materiel” (de leer an het matericle feit ajaran perbuatan materiil) dimana menurut M.. Pasal 303a dan 344 Peraturan Polisi Umum mengancam dengan pidana Barang siapa melever susu dengan nama susu murni. Dalam undang-undang unsur-unsur dinyatakan dengan tegas atau dapat diambil dari kata kerja dalam rumusan tindak pidana itu. Pada tidak pidana berupa kejahatan diperlukan adanya kesengajaan atau kealpaan. A.B.R tanggal 14 Pebruari 1916 (arrest air dan susu). pula tidak perlu memberi keputusan tentang hal tersebut. bahkan adanya kealpaan juga tidak. D tidak tahu menahu tentang hal itu. : Pada pelanggaran hakim tidak perlu mengadakan pemeriksaan secara khusus tentang adanya kesengajaan. Contoh : arrest H. sebab kalau tidak tercantum dalam rumusan Undang-undang. padahal dicampur Duduk perkara. Soalnya apakah terdakwa berbuat/tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Undang-undang atau tidak. Dalam rumusan tindak pidana berupa pelanggaran pada dasarnya tidak ada penyebutan tentang kesengajaan atau kealpaan. . maka tidak perlu dicantumkan dalam surat tuduhan dan juga tidak perlu dibuktikan. Pada suatu ketika susu yang dilever oleh D itu ternyata tidak murni (dicampur air).

R.S. c. b. Ini merupakan tindak pidana berupa pelanggaran. Telah dinyatakan terbukti bahwa penuntut kasasi (A A. tanpa menyelidiki terlebih dahulu apakah pelaku materiil (ialah D) tidak bertanggung-jawab atas perbuatan itu. sekalipun ternyata tidak ada kesalahan sama sekali (asas : afwezigheid van alle schuld). dituntut dan dalam tingkat banding dijatuhi pidana. tidak ada suatu alasanpun.H.B. B) telah menyuruh pelayannya (D) untuk melever susu dengan sebutan “susu murni” padahal dicampur dengan air.U.S Belanda (Pasal 55 K. A.v. terutama dalam riwayat W. sebab telah memutuskan secara tidak benar bahwa A. memang dalam pasal 303 tidak disebut dengan tegas bahwa orang yang melakukan perbuatan itu harus mempunyai kesalahan (“enige schuld”). dengan alasan yang lebih kurang demikian: a. .v. lebih-lebih pasal 303a dan 344 tersebut mengancam dengan pidana barang siapa melever susu yang tidak murni tanpa memandang ada kesalahan atau tidak.P).157 158 dengan sesuatu (tidak murni). khususnya dalam pelanggaran. b. H. akan tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali (geheel gemis van schuld) peraturan ini dapat diterapkan kepada. yang memaksa untuk menganggap dalam hal unsur kesalahan tidak dicantumkan dalam rumusan delik. mengajukan kasasi. pembentuk Undang-undang menyetujui sistem. dan terhadap alasan yang dikemukakan oleh A. c. Permohonan kasasi ini ditolak oleh Hooge Raad. orang yang berbuat harus dipidana yang terdapat dalam Undangundang. tidak terjadi persoalan apakah pelaku materiil (D) dianggap tidak berhak untuk menyelidiki murni dan tidaknya susu yang disuruh melevernya. Hal mana tidak diketahui oleh D.B. memberi pertimbangan antara lain sebagai berikut: a.B. telah menyuruh lakukan perbuatan yang dituduhkan.B. Rechtbank Amsterdam salah menerapkan Pasal 47 W.

Untuk menerima sistim tersebut (dalam c). ajaran “fait materiel” pada pelanggaran ditinggalkan. Adapun Proses Peradilan Pidana (the criminal) justice process) merupakan struktur. Dengan arrest itu. BAB IX PIDANA DAN PEMIDANAAN (HUKUM PENITENSIER) Sebelum membahas materi ini terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan pidana dan pemidanaan. Pidana merupakan nestapa/derita yang dijatuhkan pengadilan) dengan dimana sengaja nestapa oleh itu negara (melalui pada dikenakan seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana dan nestapa itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana. maka: a. kejaksaan. Arrest air dan susu penting untuk perkembangan hukum pidana. Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana/sentencing sebagai upaya yang sah yang dilandasi oleh hukum .159 160 d. yang bertentangan dengan rasa keadilan dan asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” yang juga dianut dalam hukum pidana kita. Diakui untuk pertama kalinya oleh badan pengadilan yang tertinggi (Belanda) berlaku asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld). dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian. b.pengadilan & lembaga pemasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan & pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan. hal ini harus tegas-tegas ternyata dalam rumusan delik. fungsi.

al: Hukum Penitensier. menurut pendapat Moeljatno: lebih tepat ”pidana” untuk dinamakan Hukum Penitensier/Hukum Sanksi. 4. Beratnya sanksi itu. hukuman. Pidana perlu dijatuhkan pada seseorang yang melakukan pelanggaran pidana karena pidana juga berfungsi (matregelstelsel). Tempat sanksi itu dijalankan. dan Jinayah. Lamanya sanksi itu dijalani. Menurut beberapa ahli hukum pidana lain. Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan Punishment. Bentuknya berupa konsekwensi yang menderitakan. Jadi pidana berbicara mengenai hukumannya dan pemidanaan berbicara mengenai proses penjatuhan hukuman itu sendiri. 3. atau setidaknya tidak menyenangkan. Hukum Sanksi. menurut Utrecht. ISTILAH Ada beberapa istilah yang digunakan untuk materi ini. Straf. Cara sanksi itu dijalankan. hukum penitensier ini merupakan sebagaian dari hukuman pidana positif yaitu bagian yang menentukan: 1. Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai sistem hukuman (strafstelsel) dan sistem tindakan .161 162 untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dn meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. yakni norma yang mencerminkan nilai dan struktur masyarakat yang merupakan terhadap reafirmasi “hati nurani simbolis bersama“ atas pelanggaran bentuk sebagai ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu.dan 5. Hukuman. Jenis sanksi terhadap suatu pelanggaran dalam hal ini terhadap KUHP dan sumber-sumber hukum pidana lainnya (UU pidana yang memuat sanksi pidana dan UU non pidana yang memuat sanksi pidana). Sanksi berupa pidana maupun tindakan inilah yang akan dipelajari oleh hukum penitensier. sebagai pranata sosial. Dalam hal ini pidana sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. 2.

terikat pada suatu tiang (hanya untuk pelaku pembakar/pembunuh) 2. 4. Sudarto juga berpendapat Jenis-jenis hukuman yang dapat dijatuhkan oleh demikian. pembatasan kebebasan bergerak/kemerdekaan orang (pidana kurungan/penjara) dan perampasan terhadap nyawa (hukuman mati). Diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang). Kerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Suatu pengenaan penderitaan/nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. dipukul dengan rantai (pidana badan/corporal punishment) 5. peristiwa pidana menurut UU ( orang memenuhi rumusan delik/pasal). Dikenakan pada seseorang penanggung jawab Pengadilan berdasarkan plakat tgl. Dipukul. SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA Pidana dan pemidanaan di Indonesia dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (Wvs) diundangkan yaitu tahun 1915 dan berlaku di indonesia berdasarkan UU No. unsur-unsur atau ciri-ciri pidana meliputi: 1. 3. al: 1. 22 April 1808. Soesilo mendefinisikan pidana / hukum sebagai perasaan tidak enak / sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar UU Hukum Pidana. Dicap bakar. Sedangkan R. jalan satu-satunya/tiada jalan lain). 2. . yang hukum bersifat pidana istimewa: merupakan sanksi terkadang dikatakan melanggar HAM karena melakukan perampasan terhadap harta kekayaan (pidana denda).Soesilo.163 164 menerjemahkan straf. Ditahan/dimasukkan dalam penjara 6. Dibakar hidup. Di samping itu hukum pidana merupakan ultimum remedium (senjata pamungkas. jalan terakhir. Dimatikan dengan suatu keris 3. Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief. Menurut Utrecht suatu dan R. 1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordansi).

Teori relatif / tujuan (utilitarian). sehingga bersifat seyogyanya hukuman memperbaiki/merehabilitasi karena pelaku kejahatan . Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika) b. Utrecht juga menambahkan bahwa negaralah yang berhak melakukan hal tersebut. Teori-Teori yang berkaitan dengan Pemidanaan Tujuan Pemidanaan Menurut Doktrin 1. Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik. 1. hukuman harus memenuhi 3 syarat: a. bukan hanya sekedar sebagai pembalasan. para penganutnya antara lain E. Negara sebagai organisasi sosial tertinggi oleh karena itu sangat logis jika negara diberi tugas mempertahankan tata tertib masyarakat. Tidak bboleh dengan maksud prevensi (melanggar etika) c. mengingat. menjatuhkan. Kant. Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis).Leo Polak. Mereka berpandapat bahwa hukum adalah sesuatu yang harus ada sebagai konsekwensi dilakukannya kejahatan dengan demikian orang yang salah harus dihukum. menyatakan bahwa penjatuhkan hukuman harus memiliki tujuan tertentu.165 166 Selanjutnya kita akan membahas siapakah pihak yang berhak menuntut. karena perbuatan tersebut bertentangan dengan tata tertib negara (dilihat dari sudut obyektif). Hukuman pada umumnya bersifat menakutkan. Menurut Leo Polak (aliran retributif). Hegel. Negara sebagai satu-satunya alat yang dapat menjamin kepastian hukum. 2. dalam hal ini KUHP merupakan peraturan yang dibentuk oleh negara dan perbuatannya merupakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pelaku (dilihat dari sudut subyektif). dan memaksa pelaku untuk menjalankan pidana. Beysens seperti dikutip oleh Utrecht menyatakan pada dasarnya negaralah yang berhak. 2.

Keadilan yang bukan saja menjatuhkan sanksi yang seimbang bagi pelaku namun juga memperhatikan keadilan bagi korban. Sehingga pidana bertujuan untuk:   Pembalasan. Pemahaman ini telah diakomodir oleh R-KUHP tahun 2005. tidak merasa takut dan tidak mengalami kejahatan.167 168 adalah orang yang “sakit moral” sehingga harus diobati. mencegah terjadinya tindak pidana a. Tujuan lain yang hendak dicapai dapat berupa upaya prevensi. 3. atau kejahatan lain (prevensi khusus). Tujuan yang lain adalah memberikan perlindungan agar orang   Merehabilitasi Pelaku Melindungi Masyarakat Saat ini sedang berkembang apa yang disebut sebagai Restorative Justice sebagai koreksi atas Retributive justice. Jadi hukumanya lebih ditekankan pada treatment dan pembinaan yang disebut juga dengan model medis. Restorative Justice (keadilan yang merestorasi) secara umum bertujuan untuk membuat pelaku mengembalikan keadaan kepada kondisi semula. tidak disakiti. tidak mengulangi perbuatan/kejahatan serupa. jadi hukuman dijatuhkan untuk pencegahan yakni ditujukan pada masyarakat luas sebagai contoh pada masyarakat agar tidak meniru perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukan (prevensi umum) dan ditujukan kepada si pelaku sendiri. supaya jera/kapok. mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. . membuat pelaku menderita Upaya prevensi. Teori Gabungan. merupakan gabungan dari teori-teori sebelumnya. Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 54 R-KUHP tahun 2005: Pasal 54 (1) Pemidanaan bertujuan: lain/masyarakat pada umumnya terlindung.

Kesalahan pembuat tindak pidana. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia . memulihkan keseimbangan. d. dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. rehabilitasi dan restotaif dalam tujuan pemidanaannya. d. Motif dan tujuan melakukan tindak pidana.169 170 b. . Sikap batin pembuat tindak pidana. j. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh f. membebaskan rasa bersalah pada terpidana dan. keadaan pribadi pembuat. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian. g. e. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. Cara melakukan tindak pidana. Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya dan /atau. Pengaruh pidana terhadap massa depan tindak pidana. Dari aturan diatas dapat dicermati bahwa dalam R-KUHP menganut teori prevensi. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. Teori prevensi umum tercermin dari tujuan pemidanaan mencegah dilakukannya tindak berencana. b. c. Dalam pasal 55 R-KUHP juga terdapat pedoman pemidanaan yang belum diatur dalam UU kita. k. (1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a. Pasal 55. memaafkan terpidana. i. c. Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana h. Apakah tindak pidana dilakukan dengan pembuat tindak pidana. e. dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. (2) Rintangan perbuatan. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana.

20/1946) b. Pencabutan beberapa hak tertentu 2. pidana kerja sosial. Penjara (sementara waktu atau seumur hidup) 3. Denda (UU No. pengayoman kepada masyarakat. dan e. memulihkan keseimbangan. Hukuman mati 2. pidana tutupan c. dikonversi: dikali 15) 5. pidana pengawasan d. Hukuman Tambahan: (2) Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana Pasal 66 Pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. Perampasan barang tertentu 3. Pasal 67 (1) Pidana tambahan terdiri atas: . pidana penjara.171 172 pidana dengan menegakkan norma hukum demi 1. membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Tutupan (UU No. dan mendatangkan rasa damai dalam damai dalam masyarakat. pidana denda. Jenis-jenis Hukuman/Pidana Menurut Pasal 10 KUHP : a. dan memaafkan terpidana. Hukuman Pokok: 1. dengan melakukan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. b. pengumuman keputusan hakim Jenis-jenis Hukuman / Pidana Menurut R-KUHP: Pasal 65 (1) Pidana pokok terdiri atas: a. 1/1960. Teori rehabilitasi dan resosialisasi tergambar dari tujuan pemidanaan untuk memasyarakatkan terpidana. Dan restoratif terdapat dalam tujuan pemidanaan yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana. Kurungan 4.

2/1964 : ditembak dibagian jantung dan/atau kepala dan tidak dilakukan di muka umum (rahasia. Uraian tentang jenis-jenis hukuman menurut KUHP: Hukuman/pidana Mati (diatur dalam pasal 11 jo Pasal 10 KUHP) (ps. b. dan e. d. tapi berdasarkan Penpres no. baik waktu dan tempat eksekusinya). sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan lain. (4) Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidan pidananya. pengumuman putusan hakim. pencabutan hak tertentu. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut masyarakat. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak hukum yang hidup dalam Tindak Pidana yang diancam dengan hukuman mati : A. Hukuman mati dijalankan oleh algojo di tiang gantungan tercantum dalam perumusan tindak pidana. c. (3) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. perampasan barang tertentu dan/atau tagihan. . Dalam KUHP :      Pembunuhan berencana Kejahatan terhadap keamanan negara Pencurian dengan pemberatan Pemerasan dengan pemberatan Pembajakan di laut dengan pemberatan. Kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan secara meluas dan sistematis. (2) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok.     Terorisme Narkoba Korupsi Pelanggaran HAM Berat.11 KUHP). pembayaran ganti kerugian. Diluar KUHP. B.173 174 a.

Para hukuman mula-mula ditempatkan dalam ruang tertutup terus menerus. menggunakan penilaian.175 176 Hukuman mati tidak dapat dijatuhkan pada anak. Dilakukan peringatan: Eksekusi baru dapat dilakukan jika orang gila itu sembuh dan wanita tersebut telah melahirkan. menyesali perbuatannya dan diharapkan ia dapat memperbaiki diri. New York. pidana mati tidak dapat dilakukan pada orang yang setelah dihukum menjadi gila dan wanita hamil. malam hari kembali ke sel. maka hukumannya narapaidana/napi Pemasyarakatan (berdasarkan UU No. disebut juga sebagai silent system. AS. Jika berkelakuan baik. Kalau dibiarkan bergaul dengan napi lain dikhawatirkan bisa saja menjadi bertambah jahat. Terhukum diberikan waktu untuk merenung. Pidana penjara dilakukan di penjara (prison/jail). . di mana para hukuman pada siang hari disuruh bekerja bersama-sama tapi tidak boleh saling bicara. dalam hal ini diterapkan hukum yang keras. Pembagian Sistem Penjara – gevangenisstelsel. tapi tidak boleh lebih dari 20 thn). menurut Utrecht :  Sistem Pennsylvania. di indonesia disebut sabagai Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas). Terhukum hanya melakukan kontak dengan penjaga sel/sipir penjara. (inmates): Penghuninya Warga disebut Binaan  terhukum diperkenankan melakukan pekerjaan tangan dan secara terbatas dapat menerima tamu. 12/1995 tentang Pemasyarakatan) Pasal 12 KUHP:  Hukuman penjara lamanya seumur hidup atau sementara/pidana penjara dilakukan dalam jangka waktu tertentu (min 1 hari-selama-lamanya 15 tahun atau dapat dijatuhkan selama 20 thn. AS : para hukuman terus menerus ditutup sendiri-sendiri dalam satu kamar sel. Sistem Irlandia (Irish System) yang berasal dr mark system. tapi ia tetap dilarang bergaul dengan terhukum lain Sistem Auburn. Hukuman/Pidana Penjara (Menurut pasal-pasal dalam KUHP dan UU No.12/1995). Untuk pemulihan kembali hubungan antara narapidana dan masyarakat.

Disebut sebagai penjara reformatory yakni tempat untuk memperbaiki orang menjadi warga masyarakat yang berguna. Jika melakukan pelanggaran berat atau berkelakuan tidak baik ataupun melanggar aturan maka dimasukkan dalam sel sendirian. UK). Dalam    Di Indonesia diterapkan ke 5 nya :  Beberapa hukuman dimasukkan dalam satu sel atau 1 orang/1 sel. publik work prison. diperuntukan bagi terhukum yang berusia tidak lebih dari 30 thn. menjahit. dan ticket to leave. bersihkan kolam. . disebut juga dengan tutupan sunyi. kerja di bengkel LP untuk buat penerapannya ada ketentuan khusus dari Menteri Kehakiman (Minister of justice). Minimum security/maximum security/Super Maximum Security (SMS) Napi pada umumnya boleh keluar dari sel pada pagi dan/atau siang hari.US). lalu secara bertahap diberi kelonggaran untuk bergaul satu sama lain. Ada jadwal kegiatannya. bersyarat). boleh membaca. Mirip dengan sistem Irlandia namun titik berat lebih pada usaha-usaha untuk memperbaiki si pelaku. menyulam. pendidikan dan pekerjaan yang nantinya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. sore masuk sel sampai besok pagi. Memilih ‘BOS’ – mandor dr kalangan napi sendiri untuk mengatur napi : Tamping/building tender. AS). Boleh bekerja di luar sel secara bersama-sama = kerja di kebon/taman.177 178 diperingan : mulai dimasyarakatkan dan dapat diberikan the rise of feformatory (pelepasan  Sistem Osborne (NY.  Sistem Borstal (LONDON. kerajinan/furniture. Banten.  Sistem Elmira (NY. Seperti LP Pemuda dan LP Anak laki-laki di Tangerang. jadi terpidana diberikan pengajaran. Boleh belajar/sekolah dlm LP. dengar radio/nonton TV olah raga dsb. merangkai bunga dsb. Kemudian diperkenankan kerja sama-sama. Pelepasan bersyarat dapat dilakukan jika telah menjalani dari ¾ hukumannya. Khusus untuk pelaku yang masih muda yaitu mereka yang berusia kurang dari 19 th. masak di dapur.

Pidana Denda (Pasal 30 ayat (1) KUHP dan UU No.  Dapat diberikan jika pelepasan telah bersyarat 2/3 PBdr Dengan adanya pidana denda seringkali penerapan Hukum Pidana menjadi kabur karena pidana denda dianggap bukan pidana karena pelaku tadi ada di LP.179 180 Antara warga binaan boleh saling berinteraksi sesuai dengan jam yang telah ditentukan. menempuh hukumannya (pasal 15 KUHP). Pidana Tutupan (UU No. . Untuk hukuman ini terdapat 1 yurisprudensi di Jogja. Tempatnya diberikan fasilitas yang lebih baik karena terpidana boleh membawa dan menikmati buku bacaan dan radio/tape.20/1946) Pidana yang dijatuhkan oleh Hakim dengan reclassering). tapi lebih bebas. Selain itu terdapat juga ketentuan tentang pidana percobaan seperti yang diatur dalam Pasal 14a KUHP. 1/1960) mempertimbangkan bahwa perbuatan yang dilakukan didasari oleh suatu motivasi di yang penjara. ada hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara.  Meskipun hukuman penjara dilakukan bersamasama tapi tetap ada pemisahan mutlak :  Laki-laki dan perempuan  Orang dewasa dan anak di bawah umur  Orang yang dihukum/ditahan – orang yang dihukum karena upaya preventif  Orang militer dan orang sipil Pidana kurungan Dilaksanakan di penjara. patut namun dihormati/dihargai.

Yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap tindak pidana yang berupa “kejahatan” saja. Percobaan yang dapat dipidana menurut system KUHP bukanlah percobaan terhadap I. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”. . Disamping itu perlu dicatat bahwa ketentuan umum dalam pasal 53 (1) diatas tidak berarti bahwa percobaan terhadap semua kejahatan dapat  dipidana. batasan KUHP hanya kapan semua jenis tindak pidana. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan. Redaksi pasal ini jelas tidak merupakan suatu definisi. tidak dijumpai rumusan arti atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “percobaan”. Pengecualian tersebut merumuskan mengenai dikatakan adanya percobaan untuk melakukan kejahatan yang dapat dipidana. ATTEMPT) antara percobaan yang dapat dipidana dan yang tidak dapat dipidana. tetapi hanya merumuskan syaratsyarat atau unsur-unsur yang menjadi batas misalnya : Percobaan duel / perkelahian tanding (pasal 184 ayat 5). Pada pasal 54 KUHP memperlihatkan adanya pemikiran dari para perumusnya bahwa delik pelanggaran bersifat lebih ringan dari pada kejahatan. Oleh karena itu percobaan pun terlalu rendah dari KUHP. PENGERTIAN Di dalam bab IX buku I KUHP (tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab undang-undang). yaitu pasal 53 (1) yang menyatakan : “Mencoba melakukan kejahatan dipidana. sedangkan percobaan terhadap pelanggaran tidak dipidana sebagimana ditentukan dalam pasal 54 KUHP. dan tidak selesainya pelaksanaan itu.181 182 BAB X PERCOBAAN (POGING.

Oemar Percobaan dipandang sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (perluasan delik). seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipin tidak Menurut melakukan pandangan sesuatu ini. tetap dapat dipidana apabila telah memenuhi rumusan pasal 53 KUHP. dan Porf. memenuhi semua unsur delik. Percobaan penganiayaan biasa (pasal 351 ayat 5). percobaan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri (delictum sui generis) tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen dalam terhadap hewan (pasal 302 ayat 4). bukan memperluas . Dengan demikian menurut pandangan ini. Strafausdehnungsgrund (dasar/alasan perluasan pertanggungjawaban pidana). SIFAT LEMBAGA PERCOBAAN Apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna? Mengenai sifat dari percobaan ini terdapat dua pandangan : (1). Hazewinkel-Suringa Seno Adji. Termasuk pandangan pertama ini ialah : Prof. percobaan pidana tindak merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. Menurut pandangan ini. dekictsvorm).183 184    Percobaan penganiayaan ringan rumusan-rumusan delik. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. II. Ny. Jadi sifat percobaan adalah untuk memperluas dapat dipidananya orang. tetapi merupakan delik yang sempurna hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa. Jadi merupakan delik tersendiri (delictum sui generis). Percobaan dipandang sebagai (2). Percobaan penganiayaan ringan (pasal 352 ayat 2).

b. jadi pandangan sebagai delik yang berdiri sendiri. pidana” (pandangan dualistis) ukuran suatu delik didasarkan pada pokok pikiran adanya sifat berbahayanya sendiri bagi perbuatan itu Mengenai contoh yang dikemukakan Prof Moelyatno terakhir ini. dapat pula misalnya dikemukakan contoh adanya pasal 163 bis. Pompe dan Prof. yang ada hanya delik selesai. Prof. ialah : a. d. Pada dasarnya seseorang itu dipidana suatu delik. sendiri dan merupakan delik selesai. delik-delik maker (aanslagdelicten) dalam pasal 104. Moelyatno. Dalam KUHP ada beberapa perbuatan sebagai yang delik dipandang berdiri Mengenai adanya dua pandangan tersebut diatas. Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen delictsvorm). dan 107 KUHP. 106. Menurut pasal ini percobaan untuk melakukan penganjuran (poging tot uitloking) atau yang biasa juga disebut penganjuran yang gagal (mislukte uit-lokking) tetap dapat dipidana. c. Dalam konsep “perbuatan karena melakukan merupakan Misalnya percobaan. Mulyatno berpendapat bahwa pandangan pertama sesuai dengan alam atau masyarakat individual karena yang diutamakan adalah strafbaarheid van de person (sifat yang . walaupun pelaksanaan dari perbuatan itu sebenarnya Alasan Prof. Moelyatno memasukkan belum selesai. jadi baru percobaan sebagai delik tersendiri. keselamatan masyarakat.185 186 Termasuk dalam pandangan kedua ini ialah Prof.

b. Teori ini melihat dasar patut dipidananya percobaan dari dua segi. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan yang dilakukan oleh si pembuat. Niat. Penganut teori ini antara lain Simons. Teori Obyektif Menurut teori ini. 2. yaitu : sikap batin pembuat yang berbahaya (segi subyektif) dan juga sifat berbahayanya perbuatan (segi obyektif). Teori Campuran. Dengan demikian menurut beliau. yaitu : 2. . Di samping itu beliau mengatakan bahwa baik teori subyektif maupun obyektif.a. 3. Prof. 2. Teori obyektif-materiil. apabila dipakai secara murni akan membawa kepada ketidak adilan. sedangkan pandangan yang kedua sesuai kita dengan alam atau yang masyarakat sekarang karena diutamakan adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan. Teori obyektif-formil. Teori Subyektif Menurut teori ini. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap tata hukum. Moelyatno dapat dikategorikan sebagai penganut teori campuran. Termasuk penganut teori ini ialah Van Hamel. Teori ini terbagi dua. mereka nampaknya lebih cendrung pada teori subyektif. terdapat beberapa teori sbb: 1.1. Namun karena dalam kenyataanya. pelaksanaan dari teori ini tidak mudah. UNSUR-UNSUR PERCOBAAN Dari rumusan pasal 53 (1) KUHP diatas jelas terlihat bahwa unsur-unsur percobaan ialah : IV. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap kepentingan / benda hukum. Termasuk dalam teori ini ialah pendapat Langemeyer dan Jonkers. III.187 188 dipidananya orang). Menurut beliau rumusan delik percobaan dalam pasal 53 KUHP mengandung dua inti yaitu : yang subyektif (niat untuk melakukan kejahatan tertentu) dan yang obyektif (kejahatan tersebut telah mulai dilaksanakan tetapi tidak selesai). DASAR PATUT DIPIDANANYA PERCOBAAN Mengenai dasar pemidanaan terhadap percobaan ini. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pembuat. IV. dalam percobaan tidak mungkin dipilih salah satu diantara teori obyektif dan teori subyektif karena jika demikian berarti menyalahi dua inti dari delik percobaan itu. ukurannya harus mencakup dua criteria tersebut (subyektif dan obyektif).

disitu niat 100% menjadi kesengajaan. Tetapi apabila dalam contoh diatas. dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi sudah ada sejak niat belum ditunakan jadi perbuatan. niat sama dengan kesengajaan.189 190 Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa unsur niat sama dengan sengaja dalam segala tingkatan/coraknya. 2. perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan belum dilakukan (misal : picu belum ditarik) sehingga akibat yang terlarang juga belum ada maka dalam hal demikian dikatakan ada “percobaan tidak selesai/tertunda”. Misal : A bermaksud membunuh B dengan pistol. tetapi niat secara potensiil dapat berubah menjadi kesenjangan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju. b. Picu (trekker) pistol telah ditarik. c. tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai/voltooidc poging). sama kalau mengahadapi delik selesai. Dalam hal percobaan tertunda (percobaan terhenti atau tidak lengkap/geschorste poging/incompleted attempt). Oleh karena itu niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi perbuatan maka niat masih ada dan merupakan sikap batin yang membari arah kepada perbuatan. Dalam hal ini. maka isinya niat jangan diambilkan dari isinya kesengajaan apabila kejahatan timbul. dalam hal ini maka niat yang belum diwujudkan sebagai perbuatan (belum ditunaikan keluar) . Moelyatno terhadap unsur niat : a. niat sudah berubah menjadi kesengajaan karena telah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Niat jangan disamakan dengan kesenjangan. Dikatakan ada “percobaan selesai” apabila terdakwa telah melakukan semua perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan. Dari delik percobaan dapat mempunyai dua arti : 1. tetapi ternyata pistol tersebut tidak meletus atau tembakan tidak mengenai sasaran. yaitu subjectieve onrechtselement. Menurut Moelyatno. tetapi akibat yang terlarang tidak terjadi. niat hanya merupakan unsur sifat melawan hukum yang subyektif (subyektif onrechtselement). menurut Moelyatno. Dalam hal percobaan selesai (percobaan lengkap/voltoo-ide poging/completed attempt). Catatan Prof.

2. A telah mempersipkan segala sesuatu peralatan untuk mencuri. melepas kaca jendela dan baru saja A masuk rumah lewat jendela itu ia tertangkap. Ukuran demikian menurut VAN HAMEL sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. Dalam hal niat telah berubah menjadi kesengajaan. Moelyatno setuju dengan pendapat yang luas bahwa hal itu meliputi juga kesenjangan sebagai keinsyafan kemungkinan. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang subyektif. Unsur kedua ini. Pada delik materiil. Dalam memecahkan masalah ini para sarjana menghubungkannya dengan teori atau dasar-dasar patut dipidananya percobaan. Sesampainya di rumah B. IV. perbuatan pelaksanaan ada pabila telah dimulai/dilakukan perbuatan yang menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang tanpa mensyaratkan adanya perbuatan lain. perbuatan pelaksanaan ada apabila telah dimulai perbuatan yang disebut dalam rumusan delik. maka dalam hal ini dikatakan sudah ada . b. Apabila digunakan ukuran Van Hamel. Ada permulaan pelaksanaan.191 192 masih tetap menjadi niat yaitu baru merupakan sikap batin yang mengarah kepada suatu perbuatan yang melawan hukum. Prof. Contoh untuk delik formil : A bermaksud melakukan pencurian dirumah B untuk melaksanakan aksinya. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang obyektif materiil. ia mematikan lampu teras. Pada delik formil. Jadi yang dipentingkan atau yang dijadikan ukuran oleh VAN HAMEL ialah ternyata adanya sikap batin yang jahat dan berbahaya dari si pembuat. SIMIONS berpendapat sbb : a. VAN HAMEL berpendapat bahwa dikatakan ada perbuatan pelaksanaan apabila dilihat dari perbuatan yang telah dilakukan telah ternyata adanya kepastian niat untuk melakukan kejahatan. kemudian pada malam hari ia mendatangi rumah B. merupakan persoalan pokok dalam percobaan yang cukup sulit karena baik secara teori maupun praktek selalu dipersoalkan batas antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandeling) dan perbuatan pelaksanaan (uitvoeringshandeling).

193

194

perbuatan pelaksanaan, tetapi menurut ukuran Simons baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum mulai melakukan perbuatan seperti yang disebut dalam rumusan delik (pencurian : pasal 362 KUHP) yaitu “ mengambil barang “. Apabila A sudah mengambil barang dan pada saat itu ketahuan dan tertangkap, barulah dikatakan pada saat itu A telah melakukan perbuatan pelaksanaan yang oleh karenanya dapat dituntut telah melakukan percobaan pencurian. Contoh untuk delik materiil : A bermaksud membunuh B dengan meledakkan mobil yang dikendarainya dengan dinamit di suatu tempat yang dilalui B. A telah mempersiapkan dinamit dengan segala peralatan yang diperlukan dengan rapid an menunggu di samping saklar sampai B lewat ditempat itu. Apabila pada saat menunggu itu, gerak gerik A dicurigai dan akhirnya ditangkap, maka menurut ukuran Simons perbuatan A belum merupakan perbuatan pelaksanaan tetapi baru perbuatan persiapan, karena untuk meledakkan dinamit itu masih diperlukan perbuatan lain yaitu mengotakkan/menekan saklarnya.

Dalam menentukan adanya permulaan/perbuatan pelaksanaan dalam delik percobaan Prof Moelyatno berpendapat bahwa ada dua factor yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Sifat atau inti dari delik percobaan, dan 2. Sifat atau inti dari delik pada umumnya Mengingat kedua factor tersebut, maka menurut beliau perbuatan pelaksanaan harus memenuhi 3 syarat yaitu : i. Secara Obyektif, apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik/kejahatn yang dituju atau dengan kata lain, harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut; ii. Secara Subyektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu ditujukan atau diarahkan pada delik/kejahatan yang tertentu tadi; iii. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.

V. PERCOBAAN DALAM YURISPRUDENSI

BEBERAPA

Yurispridensi yang terkenal ialah Arrest HR tahun 1934 tentang Eindhoven.

195

196

Kasus Posisi : H dituduh hendak membakar rumah R (dengan persetujuan R). Pada malam yang telah ditentukan H masuk kerumah R, menaruh pakaian dan barang-barang yang mudah terbakar di tiap kamar, yang semuanya dihubungkan satu sama lain dengan sumbu yang akhirnya dihubungkan pada kompor gas yang mengeluarkan api jika ditembakkan. Trekker (penarik pintol gas) diikatkan dengan tali dan melalui jendela, ujungnya digantungkan di luar rumah yang terletak di pinggir jalan kecil. Pakaianpakaian itu disiram bensin dan jika orang berjalan di tepi jalan menarik talinya maka pistol gas mengeluarkan api dan menyalakan kompor gas dan selanjutnya akan merata keseluruh rumah. Setelah pemasangan pistol dan tali itu selesai, H menyingkirkan benda-benda ke tempat lain. Sementara itu, karena tertarik bau bensin banyak orang berpendapat di dekat tali itu, sehingga H tak mugkin menyelesaikan maksudnya. Terhadap kasus tersebut peradilan (gerechtshop) di Her-togenbosch menyatakan bahwa perbuatan H adalah perbuatan permulaan pelaksanaan dan dijatuhi pidana 4 tahun penjara karena melanggar pasal 53 jo 187 KUHP. H mengajukan kasasi dengan alasan bahwa Hof telah salah menafsirkan pasal 53 KUHP dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya baru merupakan perbuatan persiapan. Jaksa Agung

Muda BEISER menyimpulkan bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan karena belum nyata-nyata merupakan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran. Senada dengan konklusi Beiser, HOGE RAAD berpendapat bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum merupakan perbuatan yang sangat diperlukan untuk pembakaran yang telah diniatkan, ialah yang tidak dapat tidak menuju kearah dan langsung berhubungan dengan kejahatan yang dituju dan juga menurut pengalaman nyata-nyata menuju pembakaran, tanpa sesuatu perbuatan lain dari si pembuat. Atas dasar alasan ini HR membatalkan putusan Hof dan H dilepaskan dari segala tuntutan. Apabila kasus dan putusan pengadilan di atas dihubungkan pendapat para Sarjana yang telah dikemukakan di atas, maka terlihat bahwa : - Konklusi Beiser dan terutama pendapat HR, lebih cocok dengan teori atau pendapat Simons (Teori Obyektif Materiil); - Putusan Hof, lebih sesuai dengan teori atau pendapat Duynstee (Teori Obyetif Formil) Terhadap putusan HR tersebut, DUYNSTEE sendiri menulis bahwa menurut pendapatnya terdakwa H telah mulai dengan perbuatan pelaksanaan pembakaran. Alasan yang dikemukakannya ialah :

197

198

a. Semua perbuatan terdakwa (H) saling berhubungan dan memenuhi rumusan delik; b. Jika HR menganggap perbuatan pelaksanaan yaitu perbuatan yang menimbulkan kejahatan (akibat) tanpa adanya perbuatan lain, berarti jika tiap perbuatan pelaksanaan akan menimbulkan akibat terlarang, maka perbuatan pelaksanaan hanya ada percobaan lengkap saja, ini tidak tepat karena di dalam teori dikenal juga adanya percobaan yang tidak lengkap. Mengenai kasus diatas, Prof. Moelyatno mengemukakan pendapatnya sbb : “Kalau perkara pembakaran di Eindhoven ditinjau dengan ukuran yang saya sarankan, maka mengenai syarat pertama tidak perlu diragukan adanya. Secara potensiil apa yang telah dilakukan terdakwa mendekatkan kepada kejahatan yang dituju. Juga mengenai syarat yang kedua yaitu bahwa yang dituju itu menimbulkan kebakaran, telah wajar. Tinggal syarat yang ketiga, yaitu apakah yang telah dilakukan itu sudah bersifat melawan hukum ? Kalau diingat bahwa rumah itu di diami orang lain di waktu orangnya tidak ada, hemat saya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jadi karena tiga-tiganya syarat sudah dipenuhi, hemat saya putusan yang yang diberikan

oleh Hof’s Hertogenbosch adalah tepat. Terdakwa telah melakukan delik percobaan pembakaran seperti yang ditentukan dalam pasal 53 juncto pasal 187 KUHP”. IV.3. Pelaksanaan tidak selesai bukan sematamata karena kehendak pelaku sendiri. Tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukankarena kehendak sendiri, dapat terjadi dalam hal-hal sbb : a. Adanya penghalang fisik; Misal : tidak matinya orang yang ditembak, karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistol terlepas. Termasuk dalam pengertian penghalang fisik ini ialah apabila adanya kerusakan pada alat yang digunakan (misal : pelurunya macet / tidak meletus, bom waktu yang jamnya rusak). b. Walaupun tidak ada penghalang fisik, tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. Misal : takut segera ditangkap karena gerak geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. c. Adanya penghalang yang disebabkan oleh factor-faktor / keadaan-keadaan

 Tindakan penyesalan (Tatiger Reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. sering dirumuskan bahwa ada pengnduran diri sukarela. Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri. secara teori dapat dibedakan antara :  Pengunduran diri secara sukarela (Rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan. . ia masih dapat meneruskannya. barang yang kan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkatnya sekuat tenaga. Misal : daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan.v.T maksud dicantumkannya unsur ke-3 ini dalam pasal 53 KUHP ialah :  Untuk menjamin supaya orang yang dengan kehendaknya sendiri secara sukarela mengrungkan kejahatan yang telah dimulai tetapi belum terlaksana. apabila menurut pandangan terdakwa.  Pertimbangan dari segi kemanfaatan (utilitas).  Alasan pemaaf (van Hattum. maka dalam hal ini dikatakan ada pengunduran diri sukarela. Misal : Orang member racun pada minuman si korban. Dalam hal tidak selesainya perbuatan itu karena kehendak sendiri. maka ada pendapat bahwa unsur ketiga ini merupakan :  Alasan pengahpus pidana yang diformulir sebagai unsur (Pompe). tetapi ia tidak mau meneruskannya. bahwa usaha yang paling tepat (efektif) untuk mencegah timbulnya kejahatan ialah menjamin tidak dipidananya orang yang telah mulai melakukan kejahatan tetapi kemudian dengan sukarela mengurungkan pelaksanaannya. Dengan adanya penjelasan MvT tersebut. tetapi setelah diminumnya. Sehubungan dengan masalah pengunduran diri sukarela ini. maka menurut M. Seno Adji). tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak delik tersebut. tidak dipidana.199 200 khusus pada obyek yang menjadi sasaran. ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal.

maka saksi tersebut mencabut kembali keterangan palsunya itu. Dalam pengunduran sukarela (dan tindakan penyesalan/Tatiger Reue).201 202  Alasan pengahpusan penuntutan (Vos. Prof. ada dua pendapat : a. Pertimbangan utilitas lain dikemukakan beliau ialah untuk menghemat tenaga dan biaya. Pendapat serupa ini terlihat dalam putusan Hoge Raad tanggal 17 Juni 1889 tentang kasus sumpah palsu. sebab perbuatannya tetap tidak baik (yang baik adalah tidak mencoba sama sekali) sehingga tidak ada alasan untuk memaafkan ataupun membenarkan. untuk adanya percobaan unsur ke-3 ini (tidak selesainya pelaksanaan perbuatan bukan karena kehendak sendiri) harus ada. Moelyatno tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan unsur ke-3 ini sebagai alasan pemaaf (fait d’ex-cuse) maupun sebagai alasan pengahpus pidana. seprti halnya dirumuskan pada pasal 367 (1) KUHP (pencurian antara suami-istri). namun beliau tidak berkeberatan untuk menuntut orang yang secara sukarela telah mengurngkan niatnya itu apabila telah menimbulkan kerugian. dan pidananya dikurangi menurut kebijaksanaan Hakim. Moelyatno memandang unsur ke-3 ini sebagai alasan penghapusan penuntutan. Dalam kasus ini ada tanda-tanda bahwa saksi yang dihadapkan ke persidangan diatas sumpah telah meberikan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan (kesaksian palsu). Dengan perkataan lain. Menurut beliau dengan tidak dituntutnya terdakwa. Walaupun Prof. jadi bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri). Jadi ada pertimbangan utilitas. maka tidak ada percobaan. Apakah saksi dapat dipidana karena percobaan sumpah palsu? HR dalam putusannya berpendapat bahwa saksi itu tidak dapat dipidana melakukan . untuk ditengah-tengah mengundurkan diri secara sukarela. Moelyatno). tetapi tidak dituntutnya itu karena dipandang lebuh berguna bagi masyarakat. diberi stimulans bagi orang-orang lain yang mempunyai niat melakukan kejahatan. Mengenai konsekwensi adanya unsur ke-3 dalam perumusan pasal 53 KUHP ini. Ini berarti apabila ada pengunduran diri secara sukarela. Setelah Jaksa dan Hakim memperingatkan bahwa ia akan dituntut sumpah palsu. Mempunyai konsekuensi materiil Artinya unsur ketiga ini merupakan unsur yang melekat pada percobaan. tidak ada fait d’excuxe karena sifat tak baik perbuatan maupun kesalahn tetap ada.

perbuatannya tetap dipandang sebagai perbuatan terlarang dan soal dipidana tidaknya si pembuat maupun si penganjur adalah masalah pertanggunganjawab. Para penganut teori yang subyektif tidak mengenal pembedaan tersebut. unsur ke-3 ini tidak merupakan unsur yang melekat pada percobaan. sedangkan sipenganjur tetap dapat dipidana karena telah menganjurkan suatu perbuatan yang terlarang. Jadi pendapat kedua ini membedakan antara perbuatan yang dapat dipidana (criminal act) dan pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility). meskipun ada pengunduran diri secara sukarela. mencuri uang dari sebuah peti uang yang ternyata kosong. dsb) atau karena tidak mempunyai alat yang digunakan ( misal : mencoba membunuh orang dengan gula yang dikiranya racun). Dalam kasus diatas si pembuat (saksi) tidak dipidana karena (menurut HR) disitu ada pengunduran diri secara sukarela. mencoba membunuh orang yang sudah mati. karena hanya menitik beratkan pada sifat bahayanya perbuatan. walaupun unsur ini tidak ada (yaitu karena adanya pengunduran diri secara sukarela) maka percobaan tetap dipandang ada. Mempunyai konsekwensi formil (dibidang processuil) Artinya unsur ke-3 itu dicantumkan dalam pasal 153 maka unsur tersebut harus disebutkan didalam surat tuduhan dan dibuktikan. Jadi dalam kasus yang dikemukakan diatas. Menurut pendapat ini.203 204 percobaan sumpah palsu karena dalam hal ini ada pengunduran diri secara sukarela. PERCOBAAN MAMPU DAN TIDAK MAMPU Masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul. VI. b. ia merupakan unsur yang berdiri sendiri. jadi tidak bersifat accessoir. Dengan perkataan lain. Begitu pula si penganjur tidak dapat dipidana karena adanya pengunduran diri itu perbuatannya (saksi) tidak merupakan perbuatan terlarang. Tidak selesainya delik atau tidak timbulnya akibat terlarang itu dapat disebabkan karena tidak mempunyai obyek (misal : mencoba menggugurkan bayi yang ternyata tidak hamil. Pembeda antara percobaan mampu dan tidak mampu ini sebenarnya hanya pada mereka yang menganut teori percobaan yang obyektif. karena lebih .

v. maka juga tidak ada percobaan”. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena alatnya.Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan . yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja. Kalau tidak ada obyeknya. sedangkan warangan (arsenicum) adalah mampu. b.T itu ternyata tidak mudah : a. dapat dilihat secara abstrak untuk rata-rata orang dan dapat dilihat dari keadaan konkrit tertentu.V. Alat itu dapat dilihat sebagai jenis tersendiri dan dapat dilihat dari keadaan konkritnya : . Mengenai percobaan yang tidak mampu karena obyeknya. Begitu pula orang yang dituju. Ukuran yang dikemukakan M. M.Keadaan tertentu dari orang yang dituju.  Tidak mampu relative.Gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh orang pada umunya. .T mengemukakan : “Syarat-syarat umum percobaan menurut pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu didalam buku II KUHP. maka alat yang pada umumnya mampu untuk membunuh (misal warangan) dapat menjadi alat yang tidak mampu apabila jumlahnya tidak memenuhi dosis yang cukup mematikan (untuk arsenicum 5 mg). maka gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh. dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan.T tidak mungkin ada percobaan pada obyek yang tidak mampu.v. Jadi menurut M. .205 206 menitik beratkan pada sifat berbahayanya sikap batin atau watak si pembuat. M.Apabila dilihat sebagai jenis tersendiri.T membedakan antara :  Tidak mampu mutlak.T diatas terlihat bahwa ketidakmampuan relative dapat dilihat dari dua segi : . maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada obyeknya. Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya obyek. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai. tetapi dapat menjadi alat yang . Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan. yaitu bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada.Apabila dilihat dari keadaan konkritnya. Dari apa yang dikemukakan M.v.v.

tergantung dari cara berpikir seseorang mengenai sesuatu hal.207 208 mampu mematikan untuk orang yang berpenyakit diabetes. jadi tidak menggunakan teori individualisasi yang melihat sesudah terjadinya akibat (post factum). Orang dapat mengatakan bahwa pistol yang demikian adalah alat yang absolut tidak mampu.Warangan yang memenuhi dosis 5 mg. Sebaliknya . Sehubungan dengan tidak jelas dan tidak mudahnya ukuran yang diberikan oleh M. tetapi dapat juga dikatakan bahwa pistol adalah alat yang mampu untuk membunuh. Pompe. Ukuran-ukuran kausalitas yang digunakan adalah teori generalisasi (adekuat) yang melihat secara ante factum (sebelum peristiwa/akibat) karena memang dalam hal percobaan. Ukuran atau batas percobaan mampu dan tidak mampu yang dikemukakan oleh para sarjana itu adalah sbb : 1. akibat yang merupakan delik yang dituju justru belum terjadi. Jika menurut keadaan normal. maka para sarjana berusaha memberikan batas atau ukuran antara percobaan yang mampu dan tidak mampu.T itu. Karena pada hakekatnya masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini dalah masalah hubungan kausal yang ada dalam lapangan obyeltif. tetapi untuk orang yang sudah biasa warangan sejumlah itu tidak merupakan alat yang mematikan. maka banyak sarjana yang menyatakan bahwa batas antara absolute dan relative itu tergantung dari kehendak orang yang menggunakan (willekeurig). SIMONS Ada percobaan yang mampu. maka banyak sarjana (misal Simons. Berdasarkan hal-hal diatas. merupakan alat yang mampu untuk membunuh. . namun dalam hal tertentu bersifat relative karena tidak ada pelurunya. dengan alat tersebut tidaklah akan ditimbulkan delik maka dalam hal demikian tidak ada percobaan yang mampu.v. Misal : percobaan pembunuhan dengan pistol yang tidak berpeluru. apabila perbuatan yang menggunakan alat yang tertentu itu dapat membahayakan benda hukum. Van Hattum) yang berusaha menentukan garis pembatas tersebut dengan menggunakan ukuran-ukuran dalam hubungan kausal. Tidak perlu bahwa bahaya itu harus nyatanyata ada dalam keadaan khusus dimana perbuatan itu dilakukan.

jika perbuatan atau alat yang digunakan mempunyai kecendrungan (strekking) atau menurut sifatnya mampu untuk menimbulkan delik selesai. karena rasa keadilan tidak membenarkan hal demikian member keuntungan kepada si pembuat.Ada orang membeli warangan di apotik untuk melakukan pembunuhan. bukan warangan yang diberikan tetapi gula sehingga tidak menimbulkan kematian. van Hattum memberikan ukuran/pedoman sbb : a. kedalam makanan orang lain. Dikatakan ada percobaan yang mampu. 3. tetapi karena kekeliruan apotik. tetapi penting dilihat dari keseluruhan perbuatan yaitu mencampurkan gula (yang diberikan oleh apotik) yang dikiranya warangan. bukanlah percobaan yang mampu sebaliknya pemberian warangan pada orang yang normal adalah mampu jika jumlahnya memang dapat mematikan orang yang normal. absolute. apabila pada hakekatnya perbuatan 2. tetapi dalam keadaan tertentu dapat membahayakan dan dengan sengaja pula alat itu digunakan. Dalam hal demikian. Dalam menggunakan hubungankausal yang adekuat itu. Dalam memformulir perbuatan terdakwa secara adekuat kausal itu. b. menurut van Hattum yang penting adalah bagaimana merumuskan (memformulir) perbuatan terdakwa yang bersangkutan. VAN HATTUM Dalam menentukan percobaan mampu dan tidakmampu. POMPE Ada percobaan mampu.209 210 jika alat yang pada umumnya tidak berbahaya. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan jangan dimasukan. apabila perbuatan terdakwa ada hubungan kausal yang adekuat dengan akibat yang dilarang oleh undangundang. . van Hattum seperti halnya Simons dan Pompe jelas-jelas menggunakan hubungan kausal yang adekuat. Misal : . Perbuatan demikian lalu dapat dipidana. Hal-hal yang merintangi selesainya kejahatan yang dituju jangan dimasukkan.Mencoba membunuh orang dengan mendoakan terus menerus supaya mati. tetap dikatakan ada percobaan karena meskipun sifat gula adalah tidak mampu secara . maka persangkaan bahwa alat itu tidak berbahaya akan lenyap dengan diajukan bukti-bukti sebaliknya.

211

212

terdakwa membahayakan benda/kepentingan hukum (rechtsgoed). Misal : Dengan maksud menembak musuhnya, seseorang telah mengisi senapanya dengan peluru dan kemudian meletakkannya di suatu tempat untuk menunggu saat yang baik. Sementara itu dengan tidak diketahuinya ada orang lain mengososngkan senapanya itu, sehingga pada saat ditembakkan tidak menimbulkan akibat amtinya orang lain (musuhnya itu). Dalam hal yang demikian, menurut van Hattum janganlah perbuatan terdakwa diformulir sebagai percobaan yang tidak mampu karena kenyataannya ia membunuh dengan alat yang relative tidak mampu yaitu senapan yang kosong. Tetapi harus diformulirkan sbb : “mengarahkan senapan yang semula sudah diisi dengan peluru dan kemudian menembakkannya”. Perbuatan demikian merupakan yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat matinya orang lain (jadi mempunyai hubungan kausal yang adekuat untuk adanya pembunuhan). Dengan demikian perbuatan terdakwa merupakan percobaan yang mampu. Tidak berbeda dengan menembakkan senapan yang pelurunya macet. Dari pendapat van Hattum diatas jelas terlihat bahwa “kosongnya pistol” merupakan hal yang

kebetulan dan mengisi senapandengan peluru dan menembakkannya” merupakan perbuatan yang membahayakan benda hukum orang lain (berupa nyawa). Van Hattum menyatakan bahwa makin banyak hal-hal konkrit yang dimasukkan dalam merumuskan perbuatan terdakwa, maka ketidakmampuan yang relative akan menjadi ketidakmampuan yang absolut. 4. MOELYATNO Dalam memecahkan masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini, Prof. Moelyatno tidak mendasarkan pada teori adekuat kausal karena kenyataanya dalam percobaan tidak sampai menimbulkan kejahatan yang dituju (tidak timbul akibat terlarang). Ukuran yang dugunakan beliau dikembalikan pada ukuran patut dipidananya suatu delik, yaitu adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Jadi ukurannya tidak ditetapkan secara kausatif, tetapi secara normatif. Dikatakan ada percobaan yang mampu apabila perbuatan terdakwa mendekatkan pada terjadinya delik selesai sedemikian rupa sehingga merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perlu dicatat bahwa karena beliau menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil, maka perbuatan itu harus menggelisahkan masyarakat atau tidak pantas dilakukan.

213

214

Ukuran yang digunakan Prof. Moelyatno itu didasarkan pada Eindrucks theorie (teori kesan) yang berasal dari Von Bar, yang dikemukakan didalam bukunya Prof. Edmund Mezger (1952). Menurut teori ini, sudah cukup dikatakan ada percobaan, yang mampu apabila dalam keadaan tertentu ada perbuatan yang menimbulkan kesan keluar bahwa ada permulaan perbuatan yang dapat dipidana. Apabila suatu perbuatan dipandang dari sudut masyarakat telah menimbulkan kesan mengganggu atau melukai tata-hukum, dan oleh karena itu telah menggincangkan kesadaran umum mengenai kepastian berlakunya tata hukum tadi, maka perbuatan demikian sudah mengandung bahaya. Dengan demikian ternyata, menurut Mezger, bahwa di dalam teori kesan terdapat azas general preventive. Misal : perbuatan orang yang hendak membunuh dengan senjata yang ternyata kosong atau macet pelurunya, atau pencuri yang merogoh kantong orang lain yang ternyata kosong. Perbuatan-perbuatan demikian dilihat dari teori kesan sudah merupakan percobaan yang mampu dan oleh karenanya dapat dipidana, karena ada kesan dari luar yaitu dari sudut

masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu telah mengganggu/ melukai tata hukum. Menurut Prof. Moelyatno, dengan memakai ukuran melawan hukumnya perbuatan dalam menentukan mampu tidaknya suatu percobaan berdasar teori kesan, tidak berarti bahwa sifat berbahaya tidaknya percobaan itu dilihat dari sudut hubungan kausal tidak perlu diperhatikan. Pertimbangan segi kausalitas ini tetap penting, tetapi bukan untuk menentukan mampu tidaknya suatu percobaan, melainkan untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dalam hubungan ini beliau membandingkan dengan pasal 23 KUHP Swiss yang menentukan. “Jika alat yang dipakai untuk mencoba melakukan kejahatan, atau obyek/terhadap mana dilakukan kejahatan, adalah sedemikian rupa hingga perbuatan memang tidak mungkin dilaksanakan dengan alat atau terhadap obyek yang demikian itu, maka hakim boleh mengurangi pidana menurut kebijaksanaanya sendiri. Jika si pembuat berbuat karena kebodohan (unverstand) hakim boleh tidak menjatuhkan pidana”. 5. MANGEL AM TATBESTAND Telah dilemukakan diatas bahwa secara teoritis percobaan mampu dan tidak mampu dapat dibedakan mengenai obyeknya maupun

215

216

mengenal alatnya dan dapat pula dibedakan antara tidak mampu yang absolute dan relative. Karena tidak jelasnya batas penetu antara tidak mampu absolute danrelatif, tergantung dari kehendak/ cara berpikir seseorang (bersifat Willekeurig), maka ada pendapat seperti M.v.T yang tidak memasukkan kedalam lapangan percobaan tidak mampu apabila objek tidak mampu. Menurut pendapat aliran ini, percobaan tidak mampu karena obyeknya bukanlah delik percobaan karena tidak cukupnya atau tidak terpenuhinya unsur-unsur delik. Misal dalam hal membunuh orang yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil, disitu tidak terpenuhi unsur delik dalam pasal 333 KUHP yaitu harus adanya nyawa orang (hidup) yang dihilangkan dan unsur delik dalam pasal 346 KUHP (menggugurkan/mematikan kandungan) yaitu harus adanya seorang wanita yang benarbenar mengandung. Dalam ilmu hukum pidana Jerman, tidak adanya atau tidak lengkapnya/ tidak terpenuhinya unsur-unsur delik itu, disebut Mangel am Tatbestand (Mangel =kekurangan; Tatbestand = keadaan yang betul/sempurna atau mencocoki rumusan delik). Istilah ini dikemukakan oleh Graf zu Dohna (1910).

Yang setuju dengan pendapat ini ialah Simons dan Pompe. Menurut Pompe, dalam kedua contoh yang dikemukakan diatas tidak mungkin lagi dikatakan ada percobaan karena maksud/tujuan terdakwa sudah tercapai. Sedangkan van Hamel, tidak setuju dengan mereka yang memandang tidak ada percobaan apabila obyeknya tidak mampu. Menurut beliau memang benar bahwa membunuh bayi yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil adalah tidak mungkin, tetapi hal yang demikian sebenarnya tidak berbeda dengan membunuh bayi yang lahir hidup tetapi kemudian diganti dengan boneka atau mencuri uang dari sebuah kantong yang ternyata kosong. Demikian pula Jonkers tidak setuju bahwa dalam contoh-contoh di atas dikatakan tidak ada percobaan, karena sifat khusu dari percobaan ialah : a. Delik tidak selesai karena hal ikhwal yang tidak tergantung dari kehendak terdakwa; b. Oleh karena dalam pikiran terdakwa (dalam kasus-kasus diatas) adalah mungkin sekali akan melaksanakan delik yang dituju.

Orang yang mencuri barang yang ternyata sudah menjadi miliknya. Bagaimanakah apabila kejahatan yangbersangkutan diancam pidana mati atau penajara seumur hidup. Sedangkan untuk mangel am Tatbestand dicontohkan sbb: . delik putatief merupakan “rechtsdwaling” sedangkan Mangel am Tatbestand merupakan “feitelijke dwaling”. Dalam hal percobaan terhadap kejahatan. VII. jadi ini bukan Mangel am Tatbestand. hanya saja unsur delik yang bersangkutan (pasal 332 dan pasal 362 KUHP) tidak terpenuhi secara sempurna. Sehubungan dengan masalah ini KARNI membedakan antara Mangel am Tatbestand dengan percobaan tidak mampu (istilah beliau “percobaan tak terkenan”). Dalam hal demikian. PEMIDANAAN TERHADAP PERCOBAAN Telah dikemukakan di muka bahwa menurut system KUHP. seperti halnya dalam pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)? Menurut pasal 53 (3).217 218 Dari alasan yang kedua (b) ini jelas terlihat pandangan yang subyektif tentang percobaan.Orang yang melarikan perempuan yang ternyata sudah cukup umur. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan hanya 15 tahun penjara. Perbedaan ini terlihat pula dalam pendapat Utrecht. Selanjutnya ditegaskan oleh Karni bahwa Mangel am Tatbestand ini merupakan “kekhilafan tentang anasir delik” yang harus dibedakan dengan salah sangka tentang adanya undang-undang (putatief delict). . Jadi misalnya untuk percobaan pembunuhan (pasal 53 jo pasal 338 KUHP). Dalam kedua contoh ini menurut Karni tujuanya sudah tercapai. disini ada percobaan yang tidak mampu karena tujuan si pembuat tidak tercapai (jadi berbeda dengan pendapat Pompe). yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap kejahatan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut . Ketidak sempurnaan dipenuhinya unsur delik inilah yang menurut Karni merupakan hakekat atau watak hukum dari Mangel am Tatbestand. Dalam hal menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil. terdakwa tidak dapat dipidana karena memang tidak ada pasal yang dilanggar dan kepastian hukum terancam (jadi berlainan dengan van Hamel). maksimumnya ialah 10 tahun penjara. sedangkan terhadap pelanggaran tidak dipidana. maka menurut pasal 53 (2) KUHp maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah maksimum pidana untuk kejahatan (pasal) yang bersangkutan dikurangi sepertiga.

. Turut serta (Utrecht). maksimum pidana pokok untuk percobaan adalah lebih rendah daripada apabila kejahatan itu telah selesai seluruhnya. Delneming (Belanda).l : Simons. 3. Complicity (Inggris). 4. B. BEBERAPA PANDANGAN TENTANG SIFAT PENYERTAAN Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan : 1. Turut berbuat delik (Karni). 2. van Hattum. Hazewinkel Suringa. Participation (Perancis). BEBERAPA ISTILAH 1.Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana .Penganut a. menurut pasal 53 (4) adalah sama dengan kejahatan selesai.Penyertaan merupakan suatu delik. 2. BAB XI PENYERTAAN A.219 220 KUHP. Sedangkan untuk pidana tambahannya. Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan) : . Sebagai Strafa sdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : . Teilnahme/Tatermehrhaeit (Jerman). Turut campur dalam peristiwa pidana (Tresna). hanya bentuknya tidak sempurna.

d. Dader / Pembuat (pasal 47 Belanda / pasal 55 KUHP Indonesia). d.3. Von Feuerbach membagi penyertaan dalam dua bentuk : a.3. Di Jerman : 2.2. c.4. Pembagian tiga : 2.b. 2. . Urherber (pembuat) a.3. Organizer 3.Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana. Pembuat/dader (pasal 55) yang terdiri dari : . Di Inggris : d.2. Gehile (pembantu) 2.b. . Principals (peserta baku). pandangan yang kedua sesuai dengan alam Indonesia karena yang diutamakan adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan. hanya bentuknya istimewa.1. Instigator 3. Moelyatno. Co principals (pembuat) 2. Medeplichtige / pembantu (pasal 48 KUHP Belanda / pasal 56 KUHP Indonesia). Code Penal Perancis dan Belgia : c. jadi lebih ditekankan pada strafbaarheid van het feit” (hal dapat dipidananya perbuatan).c.2.1.a. Pembagian penyertaan menurut KUHP Indonesia adalah : a. C.a. Menurut Moelyatno.1. Accessory D. pandangan pertama tidak dikenal dalam hukum adat. Moelyatno pandangan yang pertama sesuai dengan alam/pandangan individual karena yang diprimairkan adalah “strafbaarheid van de person” (hal dapat dipidananya orang). Instigator (penganjur) 2. Anstifter (penganjur) 2.Penyertaan merupakan suatu delik. PENYERTAAN MENURUT KUHP INDONESIA 1.1. Menurut Prof. Accessories (peserta pembantu). Complices. b.2. PEMBAGIAN PENYERTAAN 1. Gehilfe (pembantu) b. Terbagi dua : a.2. Roeslsn Saleh. c.Penganut a. Autores. KUHP Belanda dan Indonesia : b.2.1. Di Jepang : 2. Tater (pembuat) 2.b. Pembagian empat : Di Uni Sovyet : 3. Accessories (pembantu) 3.a.l : Pompe. Executive of crime 3.2.221 222 .a.1.1.

pembantu pada saat kejahatan dilakukan b. ada dua pandangan : a. Hazewinkel-Suringa. . Pandangan yang luas (extensief) : . b. Pembantu / mendeplichtige (pasal 56) yang terdiri dari : b.Pembuat hanyalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik.223 224 a. .4. . Simons. mereka yang tersebut dalam pasal 55 hanya dipandang sebagai pembuat. Jonkers.1. van Hamel. . Pelaku (pleger) ialah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik. Peradilan Indonesia Pembuat (dalam arti sempit yaitu pelaku) ialah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus dipandang yang bertanggung jawab. 2. yang turut serta (medepleger) a. van Hattum.Penganut : M.Penganut : HR. penganjur (uitlokker) b. Moelyatno. yang menyuruh lakukan (doenpleger) a.3.Menurut pandangan ini.v. Dalam praktek sukar menentukannya. jadi hanya pembuat materiil saja (yaitu pada no. b. jadi hanya disamakan saja dengan dader.1.2.T. terutama dalam hal pembuat undangundang tidak menentukan secara pasti siapa yang menjadi pembuat.2. Mengenai hal ini ada beberapa pedoman : 1). Pompe. Mengenai pengertian pembuat (dader).1 pada pasal 55 di atas). pembantu pada saat kejahatan belum dilakukan. Pleger (pelaku) a. Pelaku (pleger) a. Pandangan yang sempit (restrictief) : .Dengan demikian mereka yang disebut dalam pasal 55 diatas adalah pembuat.

jadi plegers juga termasuk (Hazewinkel-Suringa). . 2). Dapat dipahami Alasan : Karena pasal 55 menyebut “mereka yang dipidana” sebagai pembuat”. Kedudukan “pleger” dalam pasal 55 sering dipermasalahkan.Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati) . Peradilan Belanda Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhiri keadaan terlarang. Hal yang menyebabkan alat (pembuat materiil) tidak dapat dipertanggungjawabkan ialah : .225 226 2). manus domina). auctor intellectuals.Alat yang dipakai adalah manusia. Pompe Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kewajiban untuk mengakhiri keadaan terlarang itu. sedang perantara ini hanya diumpamakan sebagai alat. Pada Doenpleger terdapat unsur-unsur sbb : .Pembuat tidaklangsung (middelijke dader.Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan” unsur ketiga inilah yang merupakan tanda ciri dari doenpleger . Doenpleger ialah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain. Karena pasal 55 menyebut “ siapa-siapa yang dinamakan pembuat”. b). jadi plegers termasuk didalamnya “Pompe”. doenpleger. pada penyertaan apabila “mereka yang melakukan” (para pelaku) itu diartikan pembuat tunggal. Mengenai hal ini ada dua pendapat : 1). Janggal dan tidak pada tempatnya Alasan : Karena pasal 55 berada dibawah bab V yang berjudul “Penyertaan tersangkut beberapa pidana”. auctor physicus. Dengan demikian : . 3). c. manus ministra) . didalamnya 3. Doenpleger (yang menyuruh lakukan) a). tetapi tetap memberikan keadaan terlarang itu berlangsung terus.Pembuat langsung (onmiddelijke dader.

Pendapat kedua : “tidak harus”. Apakah orang yang menyuruh lakukan (doenpleger) harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? ada dua pendapat : d.  Bila ia keliru (sesat) mengenai salah satu unsur delik. d).  Bila ia berbuat karena daya paksa (pasal 48)  Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yang tidak sah seperti dimaksudkan dalam pasal 51 ayat (2). karena tidakmungkin seorang A menyuruh oarng lain B melakukan sesuatu yang A sendiri tidak dapat melakukannya. yang belum begitu sadar akan perbuatannya. . Pendapat pertama : “harus”.2. apabila yang disuruh itu anak yang masih sangat muda sekali.227 228  Bila ia tidak sempuna pertumbuhan jiwanya atau rusak jiwanya (pasal 44). (dalam undangundang) misal A menyuruh B (seorang kuli) untuk mengambil barang dari suatu tempat. sedangkan B tidak mengetahui pemalsuan tersebut.  Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan ybs. Alasan. Namun demikian. maka ia tidak dapat melakukan “delik jabatan”. maka dalam hal ini dimungkinkan ada menyuruh lakukan. d. jadi A tidak bisa menjadi pembuat langsung (onmiddelijke dader) oleh karena itu ia juga tidak bisa menjadi pembuat tidak langsung. tetap dikatakan tidak ada doenpleger. maka tidak ada menuruh lakukan. c). Dalam hal pembuat materiil (alat) seseorang yang belum cukup umur. Misalnya : A bukan pegawai negeri. B mengambilnya untuk diserahkan kepada A dan ia sama sekali tidak mempunyai maksud untuk memiliki bagi dirinya sendiri. Jadi walaupun B (yang disuruh) adalah “ pegawai negeri. karena pada dasarnya KUHP menganggap orang yang belum cukup unur itu tetap mampu bertanggungjawab (lihat pasal 45 jo 47). maka A tidak bisa menjadi doenpleger. misalnya A menyuruh B untuk menguangkan pos wesel yang tanda tangannya dipalsu oleh A.1.

v. Walaupun A tidak berkualitas seperti B (yaitu tidak mempunyai kewajiban seperti B). ialah apabila pelaksanaanya bukan. B mengira bahwa A telah mengadakan pengamanan seperlunya. Misal : A menyuruh seseorang pekerja B untuk melemparkan benda yang berat dari atap rumah ke bawah. A tetap dikatakan sebagai doenpleger dalam delik omissi yang dilakukan oleh B. Arrest HR tgl. Pengertian : 1).T : Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut Hazewinkel-Suringa : “Seorang peserta itu bukannya dipidana karena ia melakukan perbuatan (pidana). maka A dapat dituntu karena menyuruh-lakukan tindak pidana yang tersebut dalam pasal 359 KUHP. sehingga lalai menjalankan tugasnya dan timbul kecelakaan. sehingga untuk menjadi middelijke dader (doenpleger) tidak perlu . tetapi bahwa mereka dipidana sebagai dader. Medepleger (orang yang turut serta) a. Undang-undang tidak memberikan definisi 2). tanpa menghiraukan apakah benda itu akan menimpa orang yang kebetulan ada / lewat di bawah atap rumah itu. 21 April 1913 (kasus Walikota Zaan-dam) menyatakan : “Pasal 55 tidak menyatakan bahwa mereka yang menyuruh lakukan adalah dader. Menurut M. akan tetapi ia justru dipidana walaupun ia tidak melakukan perbuatan”.229 230 “Menyuruh-lakukan sesuatu delik jabatan tidak hanya terdapat apabila pembuat materiilnya adalah seorang pejabat. Jika karena lemparan itu ada yang tertimpa dan mati. Mungkinkah ada menyuruh lakukan terhadap delik-colpoos? Mungkin. akan tetapi juga sebaliknya. 4. Misal : A membius B seorang penjaga keamanan kereta api. ada kualitas pribadi seperti pembuat materiil”. sedang yang menyuruh-lakukan itu adlah pejabat”. dalam halo rang yang menyuruh-lakukan dapat menduga sebelumnya bahwa ka nada sesuatu akibat yang tidak diharapkan. e).

cukup apabila ada pengertian antara peserta pada saat perbuatan dilakukan dengan tujuan menacpai hasil yang sama. Menurut Pompe. Penentuan kehendak atau kesenjangan masing-masing peserta itu dilakukan secara normatif.  Ada pelaksanaan bersama secara fisik (gezamenlijke ultvoering/physieke samenwerking). 3). . salah seorang memenuhi semua unsur delik.Tidak seorangpun memenuhi unsur-unsur delik seluruhnya tetapi mereka bersama-sama mewujudkan delik itu misalnya : dalam pencurian dengan merusak (pasal 363 ayat (1) ke5) salah seorang melakukan penggangsiran. yang menggangsir b. Misal : dua orang dengan bekerja sama melakukan pencurian disebuah gudang beras. “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada dua kemungkinan : Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik. bila orang yang satu hanya menghendaki untuk menganiaya. sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diterimakan kepada kawannya tadi. Syarat adanya medepleger :  Ada kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking). A yang menabrak orang yang menjadi sasaran. Yang penting aialah harus ada kesenjangan secara sadar. Tidak ada turut serta. sedang B yang mengambil dompet orang itu.231 232 berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu. Misal : dua orang pencopet (A dan B) saling bekerja sama. sedang kawannya menghendaki matinya si korban. Persoalan kapan dikatakan ada perbuatan pelaksanaan merupakan persoalan yang sulit (ingat/lihat Bab VI tentang . Adanya kesadaran bersama tidak berarti ada permufakatan lebih dulu. sedang yang lainnya tidak.

namun secara singkat dapat dikatakan bahwa perbuatan pelaksanaan berarti perbuatan yang langsung menimbulkan selesainya delik ybs. hanya berlaku pada pembuat peserta yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Batas antara perbuatan pelaksanaan dan perbuatan pembantuan sangatlah sulit dan hal ini akan dibicarakan dalam masalah pembantuan. c. Pendapat pertama : “harus”. sedang suaminya “turut serta melakukan penggelapan” meskipun suaminya tidak memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 372. Sifat-sifat atau keadaan pribadi yang menentukan dapat dipidananya perbuatan. Yang penting disini harus ada kerjasama yang erat dan langsung. Suami A menggadaikan gelang tersebut untuk kepentingannya sendiri. Yurisprudensi putusan pengadilan Negeri Tulunganggung tanggal 5 Januari 1932 yang kasusnya sbb : A memegang gelang milik orang lain untuk dijualkan. Medepleger adalah suatu bentuk daderschap (keadaan / sifat pelaku pembuat). dengan persetujuan A. Dalam kasus A dinyatakan salah melakukan penggelapan. Barang siapa tidak dapat menjadi pembuatan tunggal (alleendader) juga tidak dapat dinamakan pembuat peserta (mededader). sedang status suaminya terhadap barang itu ialah . Apakah medepleger harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? Mengenai hal ini ada dua penadapat : 1). orang turut serta melakukan adalah pembuat (dader) apabila ada beberapa orang bersama-sama melakukan delik. Pendapat kedua : “tidak harus”. Pembuat peserta sebagai pembuat harus mempunyai sifat yang oleh rumusan undang-undang diisyaratkan untuk daderschap. Status A terhadap barang ialah “memiliki dengan melawan hukum barang yang ada padanya bukan karena kejahatan “. maka mereka timbal balik terhadap satu sama lain disebut pembuat peserta (mededader).233 234 “percobaan”). 2).

Mungkinkah ada turut serta terhadap delik culpoos ? pada turut serta. d. akan tetapi mereka bersamasama secara sadar melakukan pelemparan barang dan merekapun kurang berhati-hati serta patut menduga akibat yang timbul. Oleh karena itu mereka dapat dituntut bersama-sama melakukan perbuatan yang tersebut dalam pasal 55 jo pasal 359 KUHP. Kerjasama dengan orang lain (ditujukan pada perbuatan). Adapun perbedaannya sbb : Penganjuran Menyuruh-lakukan Menggerakkannya Sarana dengan sarana. Uitlokker (penganjur) a. Misal : A dan B bersama-sama melemparkan barang berat dari gedung bertingkat dan menimpa orang yang ada di bawah sampai mati. 5. maka jelas tidak mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. Keduanya tidak menghendaki sampi matinya orang tersebut. Tercapainya hasil yangmerupakan delik (ditujukan pada akibat).235 236 menggadaikan barang milik orang lain yang ada dalam kekuasaannya karena kejahatan”. Pengertian : Pengajur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana denganmenggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang untuk melakukan kejahatan. Yaitu ia dapat dari A dan tahu bahwa barang itu bukan milik A. maka mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. ialah kepada perbuatan yang dilakukan bersama. Kalau kesenjangan orang turut serta juga harus ditujukan untuk timbulnya delik culpa tersebut. pada penganjuran (uitlokking) ini ada usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pembuat materiil / auctor physicus. Akan tetapi jika kesengajaan itu hanya ditujukan kepada adanya kerjasama. Dalam delik culpa orang tidak menghendaki terjadinya akibat. Jadi hamper sama dengan menyuruhlakukan (doen-pleger). kesengajaannya ditujukan kepada : 1.menggerakkannya . 2.

sedangkan syarat 3. 4 dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat materiil). Si pembuat materiil tersebut melakukan tindak pidana yang dianjurkan atau percobaan melakukan tindak pidana. Tidak mungkin. jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur. maka syarat pengajuran yang dapat dipidana ialah :  Ada kesenjangan untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan yang terlarang. Pertanggungjawaban si penganjur. Syarat penganjuran yang dapat dipidana : Berdasarkan pengertian diatas.237 238 sarana tertentu (limitatif) Pembuat materiil dapat dipertanggungjawa bkan (tidakmerupakan manus ministra) tidak ditentukan (tidak limitatif) Pembuat materiil tidak dapat dipertanggungjawa bkan (merupakan manus ministra) b.  c. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : 1.  Pembuat materiil tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana. c. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : . Dari lima syarat yang disebutkan diatas. d. Mungkinkah ada percobaan pengajuran atau pengajuran yang gagal ? e.  Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan karena hal-hal tersebut pada a dan b (jadi ada psychise causaliteit).  Menggerakkannya dengan menggunakan upaya-upaya (sarana-sarana) seperti tersebut dalam undang-undang (bersifat limitatif).

d. Menurut Pompe orang nyata-nyata dapat sengaja menyuruh orang lain untuk melakukan delik culpa. maka jika pengendara tersebut melanggar seseorang yang mengakibatkan mati. orang lain tersebut akan mengendarainya. Jadi. sedang pemilik mobil dapat dikatakan melakukan pembujukan untuk terjadinya pelanggaran pasal 359 itu. (b). pada pembujuk ada kesengajaan yang ditujukanuntuk menggerakkan orang lain untuk menyupir. b diatas. Mungkinkah ada percobaan penganjuran atau penganjuran yang gagal ? Penganjuran yang gagal ini dapat terjadi dalam hal seseorang telah dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu tindak pidana dengan menggunakan salah satu sarana dalam pasal 55 (1) ke-2.239 240 (a). . Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh van Hamel dengan mengemukakan alasan bahwa sifat khas dari uitlokking ialah membujuk terjadinya perbuatan dengan sengaja. Simons menganggap bukannya mustahil dalam bentuk demikian seseorang dapat membujuk terjadinya sesuatu perbuatan dengan pengetahuan bahwa orang yang akan melakukan perbuatan itu dapat mengira-ngira kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki atau dapat mengirakan kemungkinan terjadinya akibat tersebut. baru terpenuhi syarat 1 dan 2 atau syarat 1 s/d 3) seperti dikemukakan pada no. Tidak mungkin. dan pula dalam arti bahwa yang di bujuk dan pembujuk mempunyai kealpaan yang diisyaratkan oleh undang-undang. Kalau orang lain itu tidak dapat menyupir hal mana diketahui oleh pembujuk. Mungkin. akan tetapi orang lain itu tidak mau melakukan atau mau melakukan akan tetapi tidak sampai dapat melaksanakan perbuatan yang dapat dipidana. Misal : Seorang pemilik mobil sengaja meminjamkan mobilnya untuk dipakai orang lain dengan mengetahui bahwa dengan pemberian pinjaman itu. (catatan : Dengan kata lain. ia dapat dikatakan melakukan tindak pidana dalam pasal 359. dalam arti orang itu sebagai pembujuk mempunyai kesengajaan untuk menggerakkan agar orang lain melakukan perbuatan yang ternyata suatu delik culpa dan inklusif didalam perbuatan sengaja itu termasuk kealpaan.

Dengan demikian apabila si pembuat  . Penganutnya : Blok. vos. tidak bergantung pada yang lain). tindak pidana itu tidak terjadi maka si pengajur juga tidak dapat dipidana. D. Catatan :  Dari uraian diatas jelas. Jadi lebih mendekati pandangan monistis. Sehubungan dengan pandangan yang pertama diatas. Penganutnya : Hazewinkel-Suring. tetapi juga dapat dijatuhi pidana. Pompe. Jadi sudut pandangnya tidak membedakan antara sifat dapat dipidananya perbuatan (tindak pidana) dan sifat dapat dipidananya orang (pertanggungjawaban pidana). ada / tidaknya penganjuran tidak tergantung pada ada tidaknya atau terjadi / tidaknya tindak pidana. Jomkers. ada dua pandangan : 1). Menurut pandangan ini. Menururt KUHP Jerman itu. Menurut pendapat ini. dikenal apa yang dinamakan extreme accessoiriteit yaitu bahwa untuk adanya bentuk-bentuk penyertaan harus ada yang bertanggung jawab sebagai Tater (pelaku). Pendapat kedua : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang tidak accessoir (berdiri sendiri = zelfstanding. D. atau gehilfe / pembantu / medeplichtige).p. van Heml. van Hattum. “percobaan untuk penganjuran” tetap dapat dipidana. untuk dapat memidana seseorang peserta sebagai Mittater (si turut-serta melakukan / medepleger. bahwa menurut pendapat pertama (accessoir).241 242 Timbul masalah apakah terhadap percobaan untuk membujuk atau penganjuran yang gagal dapat dipidana ? mengenai hal ini sebelum adanya pasal 163 bis. dalam KUHP Jerman (sebelum perubahan tahun 1943). Jadi menurut pandangan kedua ini. Karena dalam “percobaan untuk penganjuran” ini. 2). strafbaarheid (sifat dapat dipidananya si penganjur digantungkan dari apa yang dilakukan oleh orang lain). yang diartikan bukan saja melakukan perbuatan yang dilarang / diancam pidana. pengajuran itu ada apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat materiil. Simons. Pendapat pertama : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri = onzelfstandig).p. anstifter / pengajur uitlokker.l sipenganjur tetap dapat dipidana walaupun tindak pidana yang dianjurkan kepada si pelaku tidak terjadi.l si penganjur dipidana apabila orang yang dibujuk melakukan perbuatan yang dapat dipidana. maka si pembuat materiil harus melakukan strafbare handlung.

tetapi dipandang berdiri sendiri. jadi jika seseorang dengan .500. jika tidak mengakibatkannya kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana itu disebabakan karenakehendaknya sendiri. pada umumnya tiap-tiap peserta tidak berdiri sendiri-sendiri. setelah pada tahun 1925 (S. tetapi dengan ketentuan.l Prof.243 244 materiil tidak dapat dijatuhi pidana (karena tidak ada kesalahan). artinya perumusannya dititikberatkan pada perbuatan si pembuat. mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan. asal saja pelaku atau peserta lainnya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang. tidak mungkin ada penyertaan. bahwa sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari pada yang ditentukan terhadap percobaan kejahatan. 273) ditambahkan pasal 163 bis kedalam KUHP pasal ini berbunyi : 1). 2).  Pertanggungjawaban peserta tidak lagi digantungkan pada pertanggungjawaban si pelaku atau peserta lainnya. Aturan tersebut tidak berlaku. 1925 No. Dari sudut pertanggungjawaban. tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri. diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (sekarang menjadi Rp.-). Dengan demikian pasal ini menjadikan perbuatan “ pembujukan yang gagal” sebagai delik yang berdiri sendiri (delictum suigeneris). Pandangan accessoiriteit yang terbatas ini sesuai dengan pandangan dualistis (a. jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana. Dari sudut perbuatan. Persoalan percobaan pengajuran atau penganjuran yang gagal ini sekarang sudah tidak menjadi persolan lagi. Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam pasal 55 ke-2. tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri menurut sikap batinya masing-masing berhubung dengan apa yang diperbuatnya. 2). 4. atau jika percobaan itu tidak dipidana. Delik ini merupakan delik formil. sifat melawan hukumnya perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatannya di hubungkan dengan pelaku atau peserta lainnya. Ruslan saleh) yang melihatnya dari dua sudut pandang : 1). 197 / jo Pasal diatas mengancam pidana terhadap pembujukan yang gagal dan juga yang tidak menimbulkan akibat.

Jadi maksimumnya bukan 6 tahun (perhatikan redaksi pasal 163 bis). Ketentuan pasal 163 bis juga dapat dipertanggungjawabkan pada A dalam hal B (yang dianjuri) tidak mau melaksanakan anjuran dari A walaupun mungkin ia sudah menerima sesuatu pemberian / hadiah dari A. Bagaimanakah apabila B yang dianjuri langsung membunuh C.245 246 salah satu sarana yang tersebut dalam pasal 55 ke-2 itu berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan. Dalam hal ini pertanggungjawaban A bukan terhadap perbuatan “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan” (pasal 55 jo 351) tetapi “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan yang berakibat mati” (pasal 55 jo 351 ayat (3)). maka pasal 163 bis tidak dapat dikenakan pada A. dalam hal ini matinya C tidak dapat dipertanggungjawabkan pada A (Jadi tidak dapat dituduh berdasar pasal 55 jo 338). A masih dapat dipertanggungjawabkan berdasrkan pasal 163 bis. Menurut Prof. yaitu kalau penganiayaan biasa pasal 351 (1). B baru melaksankannya . Maksimum pidana yang dapat dikenakan adalah maksimum pidana untuk penganiayaan yang terbukti sengaja dianjurkan oleh A. asal saja sarana yang dipakai oleh si pembuat termasuk salah satu sarana untuk pembujukan yang tersebut dalam pasal 55 ayat (1) ke2. Namun demikian. kalau penganiayaan yang direncanakan pasal 351 (1) maksimumnya 4 tahun penjara dst. maka ia sudah dapat dipidana. Jadi dapat juga dikenakan kepada “menyuruh lakukan / doenplegen yang gagal”. jadi gagalnya pengajuran A karena kehendak orang yang ditujuk (B). Moelyatno. Pertanggungjawaban si penganjur. maksimumnya 2 tahun 7 bulan. kalau penganiayaan ringan pasal 352 maksimumnya 3 bulan. Apabila tidak terjadi atau gagalnya pengajuran A itu karena kehendak A sendiri. e. karena pembunuhan itu bukan dimaksud (disengaja) oleh A. Bagaimanakah apabila dalam melaksanakan anjuran A untuk menganiaya C itu. Dalam pasal 55 ayat (2) dinyatakan bahwa penganjur dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan yang sengaja dianjurkannya beserta akibatnya. Perlu diperhatikan bahwa dalam pasal 163 bis itu digunakan kata-kata “mencoba / berusaha menggerakkan orang lain untuk…”. Alasan penghapus pidananya tercantum dalam ayat (2). yaitu pembujukan yang gagal untuk penganiayaan. pasal 163 biss (2) merupakan alasan penghapus penuntutan. Misal : A menganjurkan B untuk menganiaya C dan akibat penganiayaan itu C mati.

jadi karena tidak ada identitas (kesamaan) antara perbuatan yang dibujukkan dengan perbuatan yang benar–benar dilakukan. PEMBANTUAN (medeplichtige) a. Sifat : Dilihat dari perbuatannya. Jenis : Menurut pasal 56 KUHP. ada dua jenis pembantu : Jenis pertama :  Waktunya : Pada saat kejadian dilakukan.247 248 sampai taraf percobaan penganiayaan tidak dipidana dan ini berarti “tidak terjadi percobaan kejahatan yanmg dipidana” seperti disebutkan dalam pasal 163 bis. b. Penetuan hal ini dilakukan secara normative oleh Hakim. 6. Kalau A membujuk B untuk membunuh C dengan menggunakan pistol. . Pembantuan ini bersifat accessoir artinya untuk adanya pembantuan harus ada orang yang melakukan kejahatan (harus ada orang yang dibantu). Tetapi dilihat dari pertanggungjawaban tidak accessoir. Bagaimanakah terhadap matinya D. Pendapat ini menghendaki adanya hubungan langsung antara kesengajaan si pembujuk dengan terjadinya delik yang dilakukan oleh orang yang dibujuk. Apabila pengertian “sengaja yang dianjurkan” dalam pasal 55 (2) meliputi juga dolus eventualis yang dilakukan oleh pembuat materiil. maka perbuatan A tetap dapat disebut “membujuk untuk percobaan pembunuhan terhadap C” (pasal 55 jo 53 jo 338). apakah A dapat dipertanggungjawabkan ? Ada pendapat bahwa dalam hal ini A tidak dapat dipertanggungjawabkan karena matinya D bukan yang dikenhendaki (disengaja dianjurkan) oleh A. tetapi karena “penyimpangan sasaran” (aberretio ictus / afdwalirgsgevallen) tembakan B mengenai D. Artinya dipidananya pembantu tidak tergantung pada dapat tidaknya si pelaku dituntut pidana. apakah hanya bertanggung jawab terhadap “kesengajaan dengan maksud (yang langsung dituju)” atau meliputi juga seluruh corak kesengajaan. Jadi masalah pokoknya berkisar pada sampai seberapa jauh “kesengajaan” menurut pasal 55 (2) itu dapat dipertanggungjawabkan kepada di pembujuk. maka dlam kasus diatas A juga dapat dipertanggungjawabkan terhadap matinya D apabila terbukti bahwa pada saat B (pembuat materiil) menembak C dapat dibayangkan kemungkinan tertembaknya orang lain (b) yang berada di dekat C.

sendiri. ditimbulkan oleh adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta. sarana atau keterangan). Pembantuan jenis kedua ini mirip dengan penganjuran (uitlokking). Pembantuan jenis pertama ini mirip dengan turut serta (medeplegen) perbedaannya sbb : Pembantuan Menurut ajaran penyertaan obyektif : perbuatannya hanya membantu / menunjang (ondersteuning shanling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus socii (hanya untuk memberi bantuan saja pada orang lain). Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif. Perbedaannya adalah sebagai berikut : Penganjuran Kehendak untuk melakukan kejahatan pada pembuat materiil ditimbulkan oleh si pengajur (ada kausalitas psikhis) Pembantuan Kehendak jahat pada pembuat materiil sudah ada sejak semula (tidak ditimbulkan oleh si pembantu). Terhadap kejahatan maupun pelanggaran dapat dipidana. Terhadap pelanggaran tidak dipidana (pasal 60 KUHP). Sistem yang berasal dari hukm Romawi.249 250  Caranya : Tidak ditentukan secara limitatif dalam undang-undang Jenis kedua :  Waktunya : sebelum kejahatan dilakukan. .  Harus ada kerja sama yang disadari (bewuste samenworking)  Mempunyai kepentingan / tujuan kepentingan / tujuan sendiri.  Caranya : Ditentukan secara limitatif dalam undang-undang (yaitu dengan cara : memberi kesempatan. Maksimum pidananya dikurangi sepertiga (pasal 57-1).  Tidak harus ada kerja sama yang disadari (beweste samenwerking)  Tidak mempunyai Turut Serta Menurut ajaran obyektif : perbuatan merupakan perbuatan pelaksanaan (uitvoering shandelling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus coauctores (diarahkan untuk terwujudnya delik). Menurut system ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan. Maksimum pidananya sam dengan si pembuat. yaitu : A.

251 252 tindak pidana itu sendiri. B. maka batas antara masing-masing bentuk penyertaan itu adalah prinsip sekali. ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. maka batas antara bentukbentuk penyertaan tidaklah prinsip. Sistem. Berdasar teori subyektif. berarti menganut system yang pertama. Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda. di Jerman dibedakan antara Tater (pembuat). kedua ini dianut dalam KUHP Jerman dan Swiss. yang dijadikan titik berat untuk menentukan batas antara pelaku dengan para peserta diletakkan pada perbuatannya dan saat bekerjanya masing-masing (jadi bersifat obyektif). artinya harus ditentukan secara tegas. maka jarang termasuk tater harus mempunyai tater-willen (niat untuk menganjurkan) dan yang termasuk Gehilfe harus mempunyai Gehilfewiller (niat untuk membantu orang lain). maka ini berarti dianut yang kedua. - . Karena pertanggungjawaban para peserta itu berbeda. Karena tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sama. Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif. Menurut system ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya). tergantung dari perbuatan yang dilakukan. Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. Menurut Prof Moelyatno. maka batas antara bentuk-bentuk penyertaan sama. Sistem yang pertama ini terdapat dalam Code Penal Prancis dan dianut juga di Inggris. Adapun yang dijadikan batas antara masing-masing bentuk penyertaan dititik beratkan pada sikap batin masing-masing peserta. KUHP kita dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran karena : Dalam pasal 55 disebutkan “dipidana sebagai pembuat” dan dalam pasal 56 disebutkan “ dipidana sebagai pembantu”. sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku. anstifter (penganjur) dan Gehilfe (pembantu). Dengan adanya dua bentuk penyertaan ini (yang dapat disamakan dengan pembagian autors dan complices di Prancis atau principals dan accessoir di Inggris. Akan tetapi apabila dilhat perbedaan pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat. Seperti telah dikemukakan.

tetapi cukup bahwa : . Dalam hubungan ini yang penting adalah perbedaan antara orang yang menyuruh lakukan dan penganjur. 1). Pasal 333 (4) : Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. jadi sama dengan si pembuat (pasal 57 : 3). Pada prinsipnya KUHP menganut system bahwa pidana poko untuk pembantu lebih ringan dari pembuat. KUHP mengamut system bahwa . apabila orang yang disuruh tidak dapat dipidana sebagai pembuat karena dipandang tidak mempunyai kesalahan. 2). Ini berarti batas antara mereka yang tergolong dalam “daders” itu tidak perlu ditentukan secara subyetif menurut niatnya masing-masing peserta. maka maksimum pidana untuk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2).253 254 Selanjutnya dikemukakan oleh beliau. Pidana tambahan untuk pembantu sama dengan ancaman terhadap kejahatannya itu sendiri. Prinsip ini terlihat didalam pasal 57 (1) dan (2) yaitu : . b). Perbedaan antara keduanya jangan dicari dalam sikap batin masing-masing.Untuk menjadi orang yang menyuruh lakuka. Pasal 231 (3) : Pembantu dipidana lebih berat dari si pembuat. Perbedaan antara pembuat (dader) dan pembantu (megeplichtige)) adalah prinsipil.Untuk menjadi pengajur sudah cukup. tetapi cukup secara obyektif menurut bunyinya peraturan saja. . Pertanggungjawaban pembantu.Apabila kejahatan diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. dalah tidak prinsipil.Maksimum pidana poko untuk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1). sehingga batas antara keduanya ditentukan menurut sikap batinnya. (lihat juga pasal 415 dan 417). Dalam pertanggungjawaban seorang pembantu. yang turut serta dan yang menganjurkan. bahwa apabila pada dasarnya KUHP kita menganut system Code Penal (system pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut system KUHP Jerman (system kedua). dan . apabila cara-cara yang digunakan untuk menganjurkan tersebut dalam pasal 55 (1) ke-2 dan si pembuat materiil dapat dipertanggungjawabkan. (lihat juga pasal 349). Perbedaan dalam pasal 55 antara pelaku orang yang menyuruh lakukan. 3). c. Pengecualian terhadap prinsip ini terlihat dalam : a). maka konsekuensinya ialah : A). B).

ia berkelakuan seolah-olah (pura-pura) kehilangan kunci rumah A yang pada waktu itu lewat dan sama sekali tidak tahu bahwa B berdiri dimuka rumah orang lain dan telah merencanakan untuk mencuri. delik baru terjadi kalau ada orang lain (kawan berbuat) yang mau harus ada.Doenplegen / menyuruh lakukan (dianalogikan dengan “membujuk”) . menurut Vos. menolong B membuka kaca jendela sehingga B dapat masuk ke rumah C. Misal : 1. PENYERTAAN DENGAN KEALPAAN (CULPOSE DEELNEMING) Misal : 1. Dalam contoh-contoh diatas. 5. pasal 287 : melakukan hubungan kelamin dengan anak perempuan di bawah umur 15 tahun. . E. artinya kesengajaan si pembantu harus diarahkan pada kejahatan yang bersangkutan. Unsur ini harus juga dipenuhi untuk : . tetapi ternyata digunakan oleh B untuk mencuri atau untuk membunuh. pasal 284 : perzinahan. Pada waktu B akan memasuki rumah C dengan maksud mencuri.255 256 pertanggungjawabannya berdiri sendiri (tidak bersifat accessoir). Oemar sadji. Pasal 149 : Menyuap (membujuk) seseorang untuk tidak menjalankan haknya untuk memilih. 2. F. Pasal 345 : menolong orang lain untuk bunuh diri. PENYERTAAN MUTLAK PERLU (NOODZAKELIJKE DEELNEMING / NECESSARY COMPLICITY). 2. pasal 297 : bigamy 4. 6. Terhadap kasus serupa itu Karni juga berpendapat A tidak dapat dipidana karena adanya unsur “sengaja” didalam pasal 56 merupakan anasir subyektif dari pembantuan.Medeplegen / turut serta (dianalogikan dengan “membantu”). A memberi gunting kepada B yang katanya untuk menggunting kain. 4). 3. Pasal 238 : membujuk orang untuk masuk dinas militer Negara asing. bahwa system pemidanaan untuk pembantuan hendaknya dipakai system “facultative Minderbes Taftung / strafmilderung yaitu terserah pada hakim apakah terhadap pembantu pidananya akan dikurangi atau tidak. Dalam contoh-contoh diatas. Misal pasal 57 (4) dan 58. Ada pendapat dari Prof Moelyatno dan Prof. A tidak dapat dipidana karena adanya untuk “membujuk” atau “membantu” menurut hukum pidana positif harus ada unsur sengaja. artinya tidak digantungkan pada pertanggungjawaban si pembuat.

G.mu hukum pidana Jerman dikenal dengan istilah “Nachtaterschaft” atau “Begunstigung” (bentuk-bentuk “pemudahan”). jadi istilah beliau dimasukkan dalam pengertian “noodzakelijke medeplegen” (turut serta yang diharuskan). Membujuk untuk membujuk (pasal 55 jo 56). Dalam pasal-pasal diatas ada yang menetapkan bahwa dipidana hanya si pelaku. 2. membujuk untuk membantu (pasal 55 jo 56). Kami mempersoalkan bagaimana apabila justru yang membujuk terjadinya delik itu adalah anak perempuan yang belum berumur 15 tahun itu ? terhadap hal ini. karena yang dimaksud dengan istilah “bekerja / berbuat bersama-sama” oleh beliau adalah sama dengan istilah “turut serta” (medeplegen). .putusan Landraad Batavia 18-21936 . Misal : 1. pasal 221 : menyembunyikan penjahat. Mengenai pasal 287. 3. 4. 482 : delik penadahan. Karni menyebutnya dengan “istilah” bekerja bersama-sama yang diharuskan oleh penegasan delik . pasal 223 : menolong orang melepaskan diri dari tahanan. H. kami menyatakan tidak keberatan untuk memidana anak gadis tersebut. Pasal 480. Inilah yang dimaksud dengan penyertaan yang tidak dapat dihindarkan atau penyertaan yang harus dilakukan. tetapi yang dilakukan setelah terjadinya tindak pidana lain.putusan Rv j Batavia 20-3-1936 .putusan Rv j Batavia 8-5-1930 3. TINDAKAN-TINDAKAN SESUDAH TERJADINYA TINDAK PIDANA SEBAGAI DELIK YANG BERDIRI SENDIRI. Mr.putusan Rv j Senmarang 20-12-1937 2. Dalam il. 481. .257 258 apabila kawan berbuat itu tidak ada maka delik itu tidak dapat dilakukan. Dalam contoh-contoh diatas sebeanrnya juga merupakan bentuk penyertaan. pasal 483 : menerbitkan tulisan / gambar yang dapat dipidana karena sifatnya. PERBUATAN PENYERTAAN PENYERTAAN (DEELNEMING DEELNEMINGSHANSELINGEN) Misal : 1. tetapi ada juga yang menetapkan bahwa kawan pelakunya dapat dipidana. membantu untuk menganjurkan (pasal 56 jo 55) – putusan Hoge Raad 25-1-1950 DALAM AAN .

Mezger. Yang memandang sebagai bentuk khusus dari tindak pidana a. BAB XII GABUNGAN TINDAK PIDANA (SAMENLOOP / CONCURSUS) Dalam suatu tindak pidana dikatakan telah terjadi suatu perbarengan dalam kondisi. contoh-contoh diatas dipandang tidak mungkin atau janggal. Namun bagi mereka yang memandangnya sebagi “strafausdehnungsgrund”. Ada dua kelompok pandangan persoalan concursus : mengenai 1.259 260 Catatan : bagi mereka yang memandang “deelneming” sebagai “Tatbescandausdeh-nungsgrund”. Yang memandang sebagai masalah pemberian pidana a. jika satu orang. contoh-contoh diatas dapat dimaklumi karena penyertaan dipandang sebagai “delichtum sui generic”. BEBERAPA PANDANGAN.l HazewinkelSuringa 2. yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana pada orang tersebut. melakukan lebih dari 1 tindak pidana.l : Pompe. I. di mana untuk tindak pidana itu belumada putusan hakim diantaranya dan terhadap perkaraperkara pidana itu akan diperiksa serta diputus sekaligus. . Moelyatno.

261 262 II. PENGATURAN DIDALAM KUHP Didalam KUHP diatur dalam pasal 63 s/d 71 yang terdiri dari : 1. apabila pasal 64 Seseorang melakukan beberapa. perbuatan tersebut masingmasing merupakan kejahatan atau pelanggaran antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. terlepas dari unsur-unsur tanbahan (dikenal dengan jaran feit materiil). 2. dan ada pula yang melihatnya dari sudut hukum yaitu yang dihubungkan dengan danya akibat / keadaan yang terlarang. . 3. Menurut rumusan KUHP : Sebenarnya didalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus. III. pasal 63 (suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. Catatan : Diantara perbuatanperbuatan yang dilakukan pada (concursus realis dan perbuatan berlanjut) narus belum ada keputusan hakim. namun demikian dari rumusan pasal-pasal diperoleh pengertian sbb :   Concursus Idealis. Kesulitan ini timbul karena dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. khususnya dalam hal terdakwa hanya melakukan perbuatan. Perbarengan peraturan (concursus Idealis) pasal 63. 2. yaitu dipikikan terlepas dari akibatnya. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) pasal 65 s/d 71. secara fisik jasmaniah. “perbuatan” (feit) itu ada meninjaunya secara materiil. PENGERTIAN 1. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum /Voortgezettehandeling) pasal 64. Menurut pendapat sarjana : Adanya istilah “perbuatan/feit” dalam pasal-pasal di atas menimbulkan masalah yang cukup sulit. Ada perbuatan berlanjut.

tetapi dilihat dari sudut hukumada dua perbuatan yang masingmasing dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. apabila orang melakukan sesuatu perbuatan konkrit yang diarahkan kepada satu tujuan merupakan benda / obyek aturan hukum. perbuatan ini masuk pasal 294 (perbuatan cabul dengan anak sendiri yang belum cukup umur) dan pasal 287 (bersetubuh dengan wanita yang belim berusia 15 tahun diluar perkawinan). Dalam hal ini perbuatan hanya satu yaitu “mengendarai mobil”. Antara perbuatanperbuatan itu tidak dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. Misal : perkosaan dijalan umum. disamping masuk 281 (melanggar kesusilaan di muka umum). apabila : Dipandang dai sudut hukumpidana ada dua perbuatan atau lebih. Misalnya bersetubuh dengan anak sendiri yang belum berusia 15 th. yaitu: . POMPE Ada concursus Idealis. TAVERNE Ada concursus Idealis . maka para sarjana mengemukakan beberapa pendapat : HAZEWINKEL-SURINGA Ada concursus Idealis apabila suatu perbuatan yang sudah memenuhi suatu rumusan delik.263 264 Sehubungan dengan kesulitan itu. mau tidak mau (eoipso) masuk pula dalam peraturan pidana lain. - Contoh : Oranga dalam keadaan mabuk mengendarai mobil diwaktu malam tanpa lampu.

T mengenai criteria untuk adanya “perbuatan berlanjut” seperti dikemukakan diatas. Menurut ayat 1 digunakan system absorbsi. Simons tidak sependapat.v. SISTEM PEMBERIAN PIDANA / STELSEL PEMIDANAAN 1. mengartikannya secara umum dan lebih luas yaitu “tidak berarti harus ada kehendak untuk tiap-tiap kejahatan”. - Contoh : Perkosaan dijalan umum (melanggar pasal 285 & 281 KUHP). A melakukan serangkaian perbuatan-perbuatan berupa meludahi. Misal : perkosaan dijalan umum. Dengan sendirinya melakukan perbuatan (feit) yang lain pula. asal perbuatan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan tujuan. Mengenai syarat “ ada satu keputusan kehendak”. apabila : Dengan melanggar satu kepentingan hukum. maka tidak perlu perbuatanperbuatan itu sejenis. melanggar pasal 285 (12 th penjara) dan pasal 281 (2 tahun 8 bulan penjara). merobek bajunya. Khusus mengenai penjelasan M. a). Simons . Jadi dalam hal ini ada Concursus Realis. Misalnya untuk melampiaskan balas dendamnya kepada B. IV. memukul dan akhirnya membunuh.265 266 Pertama. Berdasar pengertian yang luas ini. VAN BEMMELEN Ada Concursus Idealis. Concursus Idealis (pasal 63). “mengendarai mobil dalam keadaan mabul” (menggambarkan keadaan orang / pelakunya) dan kedua “mengendarai mobil tanpa lampu diwaktu malam” (menggambarkan keadaan mobilnya). yaitu hanya dikenakan satu pidana pokok yang terberat.

Dalam pasal 63 ayat (2) diatur ketentuan khusus yang menyimpang dari prinsip umum dalam ayat (1). Misal A setelah memalsu mata uang (pasal 244 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun) kemudian menggunakan / mengedarkan mata uang yang palsu itu (pasal 245 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun). 2. tetapi tetap dipandang sebagai perbuatan berlanjut sehingga ancaman maksimum pidananya dapat dikenakan 15 tahun penjara . a). c). jadi misalnya memilih antara 1 minggu penjara. b). Dalam hal ini perbuatan A tidak dipandang sebagai concursus Realis. Maksimum pidana penjara yang dikenakan ialah yang terdapat dalam pasal 341 (lex specialis) yaitu 7 tahun penjara.267 268 Maksimum pidana penjara yang dapat dikenakan ialah 12 tahun. Apabila menghadapi dua pilihan antara dua pidana pokok yang tidak sejenis. maka penetuan pidana yang terberat didasarkan pada urut-urutan jenis pidana seperti tersebut dalam pasal 10 (lihat pasal 69 ayat (1) jo pasal 10). pada prinsipnya berlaku system absorbsi yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana. d). dan jika berbeda-beda dikenakan ketentuan yang memuat ancaman pidana pokok yang terberat. Menurut pasal 64 ayat (1). 1 tahun kurungan dan denda 5 juta rupiah. Perbuatan ibu ini dapat masuk dalam pasal 338 (15 tahun penjara dan pasal 341 (7 tahun penjara). maka pidana yang terberat adalah 1 minggu penjara. Pasal 64 ayat (2) merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang. b). dan jika berbeda-beda dikenakan satu aturan pidana. maka menurut VOS ditetapkan pidana pokok dengan tambahan yang paling berat. Perbuatan berlanjut (pasal 64). Apabila Hakim menghadapi pilihan antara dua pidana poko sejenis yang maksimumnya sama. dalam hal ini berlaku adagium “lex specialis derogate legi generali” Contoh : seorang ibu membunuh anaknya sendiri pada saat anaknya dilahirkan.

Misal : 1). maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah ancaman pidananya yaitu 10 tahun penjara. system ini disebut system Kumulasi yang diperlunak. A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan dua tahun penjara.  A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing. b. tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum piudana yang terberat ditambah sepertiga. Concursus Realis (pasal 65 s/d 71). Berarti yang dikenakan adalah pasal 362 (pencurian). Apabila nilai kerugian yang timbul dari kejahatan-kejahatn ringan yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut itu lebih dari Rp. 378 (penipuan) atau 406 (perusakan barang). 379 (penipuan ringan) dan 407 (1) (perusakan barang ringan) yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok sejenis.masing diancam pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun. Dalam hal ini. . Dalam hal ini yang dapat digunakan ialah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12 tahun penjara. karena melebihi jumlah maksimum pidana untuk masing-masing kejahatan tersebut. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok tidak sejenis berlaku pasal 66 yaitu semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan. 250. 3. Pasal 64 ayat (3) merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatn ringan yang terdapat dalam pasal 364 (pencurian ringan). 373 (penggelapan ringan).269 270 c). berlaku pasal 65 yaitu hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari maksimum terberat ditambah sepertiga.maka menurut pasal 64 ayat (3) dikenakan aturan pidana yang berlaku untuk kejahatan biasa. 5 tahun dan 9 tahun. 372 (penggelapan). Jadi disini berlaku system absorbsi yang dipertajam. Misal :  A melakukan 3 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 4 tahun. a..

333.-. tetapi karena menurut pasal 30 (3) maksimum kurungan pengganti 6 bulan. 1.- - - - - (atau dibulatkan menjadi Rp.50. 334. 1. Adapun maksimumnya adalah 2 tahun ditambah (1/3 x 2) tahun = 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan.-_ Perhitungan blok mengenai jumlah pidana kurungan pengganti di atas masih didasarkan pada perhitungan lama sebelum adanya perubahan pidana denda 15 kali menurut UU No.000.= Rp.000. Dengan demikian pidana yang dijatuhkan misalnya terdiri dari 2 tahun penjara dan 8 bulan kurungan.. .maksimumnya kurungan penggantinya 6 bulan. Dengan telah adanya perubahan pidana denda.447.(yaitu 50 sen dikalikan 15) jadi untuk denda Rp.30. 1.271 272 Dalam hal ini semua jenis pidana (penjara dan kurungan) harus dijatuhkan.000. 1. 1. Dengan demikian maksimumnya ialah 6 + (1/3 x 6) bulan = 8 bulan.000.000.. 2). 7.Menurut Noyon semuanya harus dijatuhkan yaitu 6 bulan penjara dan denda Rp.Menurut blok perhitungannya sbb : pidana denda dijadikan dulu pidana kurungan pengganti yaitu maksimum 6 bulan (lihat pasal 30 KUHP).. Dengan demikian apabila diikuti perhitungan menurut Blok di atas maka jumlah maksimum 8 bulan dapat dipecah misalnya menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan denda 60/134 x Rp. tiap denda 50 sen atau kurang dihitung sama dengan satu hari kurungan pengganti. Menurut perhitungan lama.000. .76.? mengenai hal ini ada dua pendapat : . 1.kurungan penggantinya sama dengan 134 hari (dibulatkan). Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan maka 6 bulan ini dipecah menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan 1/3 x Rp. 18 tahun 1960.. maka untuk denda Rp. maka 1 hari kurungan pengganti dihitung sama dengan Rp.= Rp.. Bagaimanakah dalam hal A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam 6 bulan penjara dan denda Rp.

system kumulasi itu dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan. khusus untuk pasal 302 (1).500. Jadi misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam pidana kurungan 9 bulan.-) dalam pasal 360 (diancam pidana 5 tahun penjara atau 1 tahun kurungan ? Dalam hal ini hakim harus mengadakan “pilihan hukum” terlebih dahulu. maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini mengenai c. Untuk Concursus Realis berupa kejahatan ringan. Untuk Concursus Realis berupa pelanggaran. Bagaimanakah dalam hal A melakukan dua jenis kejahatan yang terdapat dalam pasal 351 (diancam pidana 2 tahun 8 bulan penjara atau denda Rp. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah 6 bulan penjara (system kumulasi). 379 dan 482 berlaku pasal 70 bis yang menggunakan system kumulasi tetapi dengan pembatan maksimum untuk penjara 8 bulan. tetapi maksimumnya adalah 1 tahun 4 bulan atau hanya 16 bulan. 352. 4. Misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam piadan kurungan 6 bulan dan 9 bulan. Namun menurut pasal 70 ayat 2. berlaku pasal 70 yang menggunakan system kumulasi.  Tetapi apabila A misalnya melakukan 3 kejahatan ringan yang masingmasing diancam pidana penjara 3 bulan. . berlaku pasal 71 yang berbunyi sbb: “Jika seseorang setelah dijatuhi pidana kemudian dinyatakan salah lagi karena melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan pidana itu. maka maksimum pidana kurungan yang dapat dijatuhkan bukanlah (9+9) bulan = 18 bulan. Kalau dipilih ancaman pidana yang sejenis. d. maka maksimumnya bukan 9 bulan penjara (kumulasi) tetapi 8 bulan penjara. Untuk Concursus Realis. baik kejahatan maupun pelanggaran untuk diadili pada saat berlainan. maka maksimumnya adalah (6+9) bulan = 15 bulan. 373.273 274 3). e. 364. maka digunakan system absornsi yang dipertajam / diperberat (pasal 65). Misal :  A melakukan pencurian ringan (pasal 364) dan penggelapan ringan (pasal 373) yang masing-masing diancam pidana 3 bulan penjara.

Andaikata untuk keempat tindak pidana itu. Kemudian A ditangkap dan diadili dalam satu keputusan. 5/1 : penganiayaan biasa (pasal 351 diancam 2 tahun 8 bulan). ancaman pidana 5 tahun penjara). maka jika kemudian ternyata bahwa A pada tanggal 14/1 (jadi sebelum ada keputusan) melakukan penggelapan (pasal 372 yang diancam pidana penjara 4 tahun). diancam 4 tahun penjara). maka keputusan yang kedua kalinya ini untuk penggelapan itu paling banyak hanya dijatuhi pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan (putusan sekaligus) dikurangi 6 tahu (putusanI) yaitu 8 bulan penjara.275 276 hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama”. dapatlah bunyi pasal 71 diatas dirumuskan secara singkat sbb : Putusan ke II = (putusan sekaligus) – (putusan ke-I).  Tgl. 10/1 : penadahan (pasal 480.  Tgl. diancam 4 tahun penjara). Misal : A melakukan kejahatan-kejahatan sbb :  Tgl. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah 5 tahun + (1/3 x 5 tahun) = 6 tahun 8 bulan. Dengan contoh diatas. . hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara. 20/1 : penipuan (pasal 378. 1/1 : pencurian (pasal 362.  Tgl.

aialah alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik.277 278 BAB XIII ALASAN / DASAR PENGHAPUS PIDANA (Strafuitsluitingsgrond. tidak dapat dipidana. M. Berdasarkan sifatnya ini maka UU pidana mengandung kemungkinan akan dijatuhkannya hukuman yang adil bagi orang-orang tertentu yang mungkin saja tidak bersalah. M. Dengan demikian materi ini menjadi penting untuk memperoleh kepastian dan keadilan hukum dalam penyelesaian suatu perkara pidana. Umur yang masih muda (mengenai umur yang masih muda ini di Indonesia dan juga di negeri Belanda sejak tahun 1905 tidak lagi merupakan lasan penghapus pidana Dalam hukum pidana perlu dikemukakan materi tentang alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannya hukuman. Alasan atau Dasar Penghapusan Pidana merupakan hal-hal atau keadaan yang dapat mengakibatkan seseorang yang telah melakukan . karena : 1) Orangnya tidak dapat dipersalahkan.v.T menyebut 2 (dua) alasan :  Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang itu (inwendig).v.T dari KUHP (Belanda) dalam penjelasannya mengenai alasan mengahpus pidana ini. Bab I dan Bab II KUHP memuat : “ Alasan-alasan yang menghapuskan. UU pidana seperti UU lainnya mengatur hak-hal yang umum dan yang akan terjadi (mungkin akan terjadi). UU pidana mengatur hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotesis. meskipun orang tersebut melakukan suatu tindakan sesuai dengan lukisan perbuatan yang dilarang oleh UU pidana. karena menurut Utrecht. Grounds Of Impunity) perbuatan yang dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Pidana (KUHP). masih menurut Utrecht. Sehingga. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena sakit (pasal 44 KUHP) b. mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasanalasan tidak dapat dipidananya seseorang”. 2) Perbuatannya tidak lagi merupakan perbuatan yang melawan hukum. tidak dihukum. yakni : a. Pembicaraan selanjutnya akan mengenai alasan penghapus pidana. mengurangkan dan memberatkan pidana”.

maka orang tersebut harus melaporkan. Negara dan Kepala Negara. Disini ia tidak dituntut jika ia hendak menghindarkan penuntut dari istri. fait justificatif. 50 dan 51 KUHP. suami dan sebagainya (orang-orang yang masih ada hubungan darah). Daya paksa atau overmacht (pasal 48). Alasan penghapus pidana yang umum (starfuitingsgronden yang umum). 49. maka dibedakan dua jenis alasan penghapus pidana : a) Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond. sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan dan dapat dipidananya pembuat. entschuldigungsdrund. misal : I. dalam arti bahwa orang ini tidak dapat dicela (menurut hukum) . schuldausschliesungsgrund).T. Pembelaan terpaksa atau noodweer (pasal 249). pasal 50 (peraturan perundangundangan) dan pasal 51 (1) (perintah jabatan). II. Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan atau pembuatnya. yaitu yang hanya berlaku unutk delik-delik tertentu saja.v. ilmu pengetahuan hukm Pidana juga mengadakan pembedaan sendiri. Pasal 221 ayat (2) : menyimpan orang yang melakukan kejahatan dan sebagainya”. yaitu: a. Melaksanakan perintah jabatan (pasal 51). Alasan penghapus pidana yang khusus (starfuitingsgronden yang khusus). meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. pasal 49 ayat (1) (pembelaan terpaksa). Alasan pembenar yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 48 (keadaan darurat). rechtfertigungsgrund). Kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak mungkin ada pemidanaan. c. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar orang itu (uitwendig). Pasal 166 KUHP : “Ketentuan-ketentuan pasal 164 dan 165 KUHP tidak berlaku pada orang yang karena pemberitahuan itu mendapat bahaya untuk dituntut sendiri dst………………………………………” Pasal 164 dan 165 memuat ketentuan : bila seseorang mengetahui ada makar terhadap suatu kejahatan yang membahayakan Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain. Alasan pembenar menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. d.279 280  melainkan menjadi dasar untuk memperingan hukuman). Selain perbedaan yang diterangkan dalam M. Melaksanakan Undang-undang (pasal 50). Alasan pemaaf menyangkut pribadi si pembuat. ialah : 1. b. 48. b) Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan (schulduitsluittingsgrond-fait d’excuse. 2. yaitu yang berlaku umum untuk tiap-tiap delik dan disebut dalam pasal 44.

maka kita memerlukan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu yaitu psikiatri forensic. TIDAK MAMPU BERTANGGUNG JAWAB (PASAL 44) : Pasal 44 KUHP memuat ketentuan bahwa tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan DAYA PAKSA-OVERMACHT (PASAL 48 KUHP). dapat merupakan alasan pembenar dan dapat pula merupakan alasan pemaaf. Untuk membuktikan apakah seseorang yang melakukan tindakpidana ternyata tidak dapat dihukum dengan lasan pasal 44 KUHP. (Mengenai pasal 44 KUHP ini hendaknya dilihat lagi Bab Kemampuan Bertanggung jawab yang membahas tentang kesalahan dan pertanggung jawaban pidana). 49. ALASAN PENGHAPUS PIDANA (UMUM) DALAM KUHP. Tidak adanya kemampuan bertanggung jawab mengahpuskan kesalahan mekipun perbuatannya tetap melawan hukum. Penafsiran bisa . Seperti diketahui M. pasal 51 ayat (2) (dengan itikad baik melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah). sehingga dalam hal ini dapat dikatakan suatu alasan penghapus kesalahan. selanjutnya dari hasil tersebut akan disampaikan di muka persidangan. pasal 49 ayat (2) (noodweer exces). 48. Jadi disini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat.T menyebutkan sebagai tak dapat dipertanggung-jawabkan karena sebab yang terletak didalam si pembuat sendiri. Alasan pemaaf yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 44 (tidak mampu bertanggungjawab).281 282 dengan perkataan lain ia tidak bersalah atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. Pasal 48 KUHP menentukan : “ tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. sehingga tidak mungkin pemidanaan.v. Pelaku akan diperiksa oleh seorang ahli (yang akan menyampaikan catatan medis). meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum. 50 dan 51 KUHP. Apa yang diartikan dengan daya paksa ini dapat dijumpai dalam KUHP. Adapun mengenai pasal 48 (daya paksa) ada dua kemungkinan. Uraian berikut membahas tentang dasar penghapus pidana yang terdapat dalam pasal 44.

Istilah “gedrongen” (didorong) menunjukkan bahwa paksaan itu tak dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan. B dapat berpikir dan menentukan kehendaknya. kasir bank. (Prof. Yang dimaksud denganm daya paksa dalam pasal 48 ialah daya paksa relative (vis complusiva). Daya paksa yang absolute vis absoluta dapat disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam. B dapat menolak. masuk akal dan sesuai dengan keadaan. Contoh : A mengancam B. Perlawanan terhadap paksaan itu tak boleh disertai syarat-syarat yang tinggi sehingga harus menyerahkan nyawa misalnya. dan jalan lain juga tidak ada. untuk menyerahkan uang yang disimpan oleh B. Antara sifat dari paksaan di satu pihak dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak harus ada keseiombangan. Dalam hal ini paksaan tersebut sama sekali tak dapat ditahan. Keadaan ini harus ditinjau secara obyektif. sehingga kaca pecah. Pada overmacht (daya paksa) orang ada dalam keadaan dwangpositie (posisi terjepit). Moelyatno hanya menyebut “karena penagruh daya paksa”). melainkan apa yang dapat diharapkan dari seseorang secara wajar. Dalam M. vis absoluta (paksaan yang absolut). bahwa menurut akal sehat tak dapat diharapkan dari si pembuat untuk mengadakan perlawanan. Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar kewajibannya untuk menyimpan surat-surat berharga itu dan menyerahkannya kepada A atau sebaliknya.v. Contoh : tangan seseorang dipegang oleh orang lain dan dipukulkan pada kaca. Kalimat “tidak dapat ditahan” menunjukkan. Maka dalam overmacht (daya paksa) dapat dibedakan dalam du hal : 1. setiap paksaan atau tekanan yang dapat ditahan”. memberi sifat kepada tekanan atau paksaan itu. yang tak dapat ditahan”. vis compulsive (paksaan yang relatif). 2. Maka orang yang pertama tadi tak dapat dikatakan telah melakukan perusakan benda (pasal 406 KUHP). jadi tak ada paksaan absolut. ia tidak menyerahkan dan ditembak mati. . Jadi harus ada kekuatan (daya) yang mendesak dia kepada suatu perbuatan yang dalam kata lain tak akan ia lakukan. Sifat dari daya paksa ialah bahwa ia datang dari luar diri si pembuat dan lebih kuat dari padanya. yang tidak memberi kesempatan kepada si pembuat menentukan kehendaknya. Ia ada ditengah-tengah dua hal yang sulit yang sama-sama buruknya.T dilukiskan sebagai : “setiap kekuatan. Yang dimaksud dengan daya paksaan disini bukan paksaan mutlak. dengan meletakkan pistol di dada B. Hal yang disebut terakhir ini.283 284 dilakukan dengan melihat penjelasan yang diberikan oleh pemerintah ketika undang-undang (Belanda) itu dibuat.

Dalam vis compulsiva (daya paksa relative) kita dibedakan daya paksa dalam arti sempit (atau paksaan psikis) dan keadaan darurat. Hal ini tidak bisa diterima. Mereka tak mau taat pada undang-undang dan ingin mengikuti pandanganya sendiri mengenai keadilan dan kesusilaan yang menyimpang dari ketenatuan undang-undang. Menurut doktrin. II. Daya paksa dalam arti sempit ditimbulkan oleh orang sedang pada keadaan darurat. 52 SGB) dan keadaan darurat disebut notstand. seorang diantaranya mendorong temannya sehingga yang di dorong mati tenggelam dan yang mendorong terhindar dari maut (cerita ini berasal dari CICERO). terdapat 3 bentuk dari keadaan darurat : I. Maka untuk menyelamatkan diri. paksaan itu datang dari hal di luar perbuatan orang KUHP kita tidak mengadakan pembedaan tersebut. padahal papan itu tak dapat menahan dua orang sekaligus. KEADAAN DARURAT-NOODTOESTAND (PASAL 48 KUHP).285 286 Paksaan Dario dalam : Kita mengambil contoh dari Arrest H.  Hakim tidak boleh begitu saja mengabaikan alasan keberatan hati nurani. tanpa melihat sampai di mana si pembuat dapat di cela atas perbuatannya. Namun di Belanda sejak tahun lima puluhan ada perubahan pandangan. Kalau keduaduanya tetap berpegangan pada papan itu. namun menurut hukum perbuatan ini karena dapat difahami bahwa merupakan naluri setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.R tgl 26 Juni 1916 (Arrest “tak mau masuk tentara”).  Keberatan hati nurani (terhadap masuk dinas tentara) bukan keadaan darurat. orang yang tak mau masuk dinas tentara karena suara hati atau hati nuraninya keberatan tetap dihukum. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum. yang diatur dalam pasal 54 SGB. Ia harus memeriksa kemungkinannya masuk kedalam alasan penghapusan pidana yang umum. Di Jerman untuk daya paksa ada istilah notigungstand (pasa. Orang yang mendorong tersebut tidak dapat dipidana. maka kedua-duanya akan tenggelam. karena ada dalam keadaan darurat. Ada dua orang yang karena kapalnya karam hendak menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sebuah papan. Dalam Arrest ini. Misal : . Pertentangan antara dua kepentingan hukum : Contoh klasik : “papan dari carneades”. Mungkin ada orang yang memandang perbuatan itu bertentangan dengan norma kesusilaan.

Permintaan kasasi oleh jaksa terhadap putusan hakim yang menyatakan bahwa. Terdakwa ada dalam keadaan darurat. 2. Namun karena si pembeli itu ternyata tanpa kacamata tak dapat melihat. VAN HATTUM dalam hal 351 membandingkan daya memaksa dengan noodtoestand sebagai berikut : Pada daya memaksa dalam arti sempit si pembuat berbuat atau tidak berbuat III. dan mahkamah tentara tinggi membebaskannya karena ia ada dalam keadaan darurat (putusan tgl. (kota pelabuhan) terjangkit penyakit kelamin. Dokter tersebut tak mau melaporkan pada atasan. 15 Oktober 1923). Orang yang sedang menghadapi bahaya kebakaran rumahnya.287 288 1. sehingga betul-betul dalam keadaan sangat memerlukan pertolongan. maka penjual kacamata dapat dikatakan bertindak dalam keadaan memaksa dan khususnya dalam keadaan darurat. lalu masuk atau melewati rumah orang lain guna menyelamatkan barang-barangnya. sehingga pemilik took dilarang melakukan penjualan. Ia memberatkan salah satu. Oleh pengadilan tentara ia dikenakan hukuman 1 (satu) hari. 26 November 1916). tetapi dokter tadi naik banding. tak dapat diterima oleh H.R (putusan tgl. Ia merasa dalam keadaan seperti itu mempunyai kewajiban untuk menolong sesame (Arrest ini disebut Arrest optician). Pertentangan antara kewajiban hukum dangan kewajiban hukum : a) Seorang perwira kesehatan (dokter angkatan laut) diperintahkan atasannya untuk melaporkan apakah ada para perwira-perwira laut yang bebas tugas dan berkunjung ke darat . Disini dihadapkan pada dua kewajiban hukum :  Melaksanakan perintah dari atasannya (sebagai tentara)  Memegang teguh rahasia jabatan sebagai dokter. sebab dengan memberi laporan pada atasannya ia berarti melanggar sumpah jabatan sebagai dokter yang harus merahasiakan semua penyakit dari para pasiennya. jadi ia tetap patuh pada sumpah kedokteran. Di sini ia memilih tetap merahasiakan penyakit pasiennya. Seorang pemilik toko kacamata kepada seorang yang kehilangan kacamatanya. b) Seorang yang dalam satu hari (pada waktu yang bersamaan) dipanggil menjadi saksi di dua tempat. Padahal pada saat itu menurut peraturan penutupan took sudah jam tutup took. terdakwa (opticien) tak dapat dipidana dan melepas terdakwa dari segala tuntutan.

Ia dororng oleh paksaan psikis dari luar yang sedemikian kuatnya. nyawa. BELA PAKSA-PEMBELAAN DARURAT-NOODWEER (PASAL 49 AYAT (1)). d. tapi hal ini tidak perlu asal saja memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diatas. membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melwan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga”. seketika dan langsung b. Padahal Negara dengan alat-alat perlengkapannya tidak dapat tepat pada waktunya melindungi kepentingan hukum dari orang yang diserang itu : maka pembelaan diri ini bersifat menghilangkan sifat melawan hukum. memenuhi asas subsidiaritas & proporsionalitas. Serangan itu dapat merupakan tindak pidana. adanya serangan. Perbuatan orang yang membela diri itu seolah-olah mempertahankan haknya sendiri. b. dan harta benda 2.289 290 dikarenakan satu tekanan psikis oleh orang lain atau keadaan. kehormatan seksual. Contoh serangan yang tidak merupakan tindak pidana. Pada keadaan darurat si pembuat ada dalam suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong dia untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap undang-undang. Dalam pembelaan darurat ada dua hal yang pokok : 1. Istilah noodmeer atau pembelaan darurat tidak ada dalam KUHP sehingga untuk memahaminya kita memerlukan ajaran dari para ahli hukum pidana . subsidiaritas maksudnya tidak ada cara lain selain membela diri dan proporsionalitas artinya seimbang antara serangan dan pembelaan. misalnya dengan tinju . Tidaklah dapat diharapkan dari seorang warga Negara menerima saja suatu perlakuan yang melawan hukum yang ditujukan kepada dirinya. sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan. Tidak terhadap semua serangan dapat diadakan pembelaan. a. Bagi si pembuat tak ada penentuan kehendak secara bebas. c. Syarat pembelaan : a. Pasal 49 ayat (1) berbunyi :”tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dialkukan untuk membela dirinya sendiri atau orng lain. melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut : melawan hukum seketika dan langsung ditujukan pada diri sendiri / orang lain terhadap badan / tubuh. ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu.

tetapi B lalu membalas. maka perbuatan b itu bukanlah perbuatan pembelaan karena terpaksa. Dalam keadaan darurat dapat dilihat adanya perbenturan antara kepentingan hukum. 3. 4. sedang dalam pembelaan darurat. Kapan serangan itu ada dan kapan serangan itu berlangsung menurut Hazewinkel-Suringa. . Dalam hubungan pembelaan darurat ini ada satu perbuatan orang yang disebut putatief noodweer.291 292 menyerbu seseorang. Sebagai contoh : pembunuh dengan pisau terhunus menyerbu korbannya. maka perbuatan A tersebut. Dalam keadaan darurat orang dapat bertindak berdasarkan berbagai kepentingan atau alasan sedang dalam pembelaan darurat. Sifat keadaan darurat tidak ada keseragaman pendapat dari pada penulis yakni ada yang berpendirian sebagai alasan pemaaf dan ada sebagai alasan pembenar. Tentu saja perbuatan B itu harus dilihat dalam keadaan yang menyertai perbuatan itu. hak berhadapan dengan bukan hak. dengan perkataan lain dalam keadaan darurat hak berhadapan dengan hak. yakni menunggu belum dapat dikatakan serangan. Kalau misal A menembak B tidak kena dan A tidak menunjukkan akan menembak lagi. Dalam pembelaan daruart situasi darurat ini ditimbulkan oleh adanya perbuatan melawan hukum yang bisa dihadapi secara sah. kepentingan hukum dan kewajiban hukum serta kewajiban hukum dan kewajiban hukum. sedang dalam pembelaan darurat para penulis memandang sebagai alasan pembenar ialah sebagai penghapus sifat melawan hukum. mengambil catatan untuk di fotocopy guna kepentingan majikannya tapi tidak untuk dimiliki sendiri. Apakah perbedaan pembelaan darurat ? antara keadaan darurat dan 1. 2. sedang dalam pembelaan darurat harus ada serangan. karena disini terjadi serangan balasan. pembelaan itu syarat-syarat sudah ditentukan secara limitative (pasal 49 ayat (1)). ialah : jika dapat dicegah atau dihilangkan. dalam keadaan darurat tidak perlu adanya serangan. Persoalan yang timbul pada serangan ialah : kapankah ada serangan dan kapankah serangan itu berakhir ? Sebagai contoh : A menunggu B di luar rumah. Istilah mengancam seketika dan langsung berarti bahwa serangan itu sedang berlangsung dan juga bahaya serangannya. disini kesengajaan dihilangkan karena orang mengira bahwa dia berada dalam keadaan di mana harus mengadakan pembelaan darurat dalam hal ini harus di lihat peristiwa dari peristiwa oleh karena itu maka harus diterangkan dalam proses verbal. Terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak mungkin ada pembelaan darurat.

maka syarat pembelaan yang tersebut dalam pasal 49 ayat (1) disebut sebagai syarat dalam pasal 49 ayat (2). pasal 49 ayat (2) dan ayat (1) itu mempunyai hubungan yang erat. jadi sabagai alasan pemaaf sementara perbuatannya tetap bersifat melawan hukum. 3. yang dimaksud dengan UU ialah : undang-undang dalam arti formil. Mulamula Hoge Raad (HR) menafsirkan secara sempit. Termasuk disini adalah rasa tajut. Untuk adanya kelampauan batas pembelaan darurat ini harus ada syarat-syarat sebagai berikut : 1. Tetapi kemudian pendapat HR berubah dan diartikan dalam arti materiil. hasil perundang-undangan dari DPR dan/atau raja. dan mata gelap. melampaui asas subsidairitas dan proporsionalitas seperti yang diisyaratkan dalam pasala 49 ayat (1) KUHP. yaitu tiap peraturan yang dibuat oleh alat pembentuk undang-undang yang umum. kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan. bingung. Dalam hala ini umumnya cukup. UNDANG-UNDANG Pasal 50 KUHP menentukan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan”. 2. Disini pembelaan itu perlu dan harus diadakan dan tidak ada jalan lain untuk bertindak. apabila peraturan itu memberi wewenang untuk kewajiban . Cara dan alat tersebut harus dibenarkan pula oleh keadaan. Kelampauan batas pembelaan yang diperlukan. Sifat dari noodweer exces adalah menghapuskan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). dengan kata lain : antara kegoncangan jiwa tersebut dan serangan harus ada hubungan kausal.293 294 BELA PAKSA LAMPAU-NOODWEER EXCES (PASAL 49 AYAT 2 KUHP) (pelampauan batas pembelaan darurat atau bela paksa lampau batas) Istilah exces dalam pembelaan darurat tidak dapat kita jumpai dalam pasal 49 ayat (2). MENJALANKAN PERINTAH (PASAL 50 KUHP). Pasal tersebut bunyinya : “tidak dipidana seseorang yang melampaui batas pembelaan yang diperlukan. Yang menyebabkan kegoncangan jiwa yang hebat itu harus penyerangan itu dan bukan misalnya karena sifat mudah tersinggung. jika perbuatan itu merupakan akibat langsung dari suatu kegoncangan jiwa yang hebat yang disebabkan oleh serangan itu”. Disini juga yang perlu dilihat apakah serangan itu dapat menimbulkan akibat kegoncangan jiwa yang hebat bagi orang biasa pada umumnya. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang sangat panas). Dalam hubungan ini persoalannya adalah apakah perlu bahwa peraturan perundang-undangan itu menentukan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan sebagai pelaksanaan.

tidak dapat berlindung dibawah pasal 50 KUHP ini. Colonel polisi tersebut berwenang untuk memerintahkannya. wajar dan masuk akal. Jadi dalam tindakan ini seperti dalam daya memaksa dan dalam pembelaan darurat harus ada keseimbangan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara pelaksanaannya. misalnya seperti permintaan bantuan oleh pamong praja kepada angkatan bersenjata (sesuai pasal 413 KUHP). Dengan perkataan lain kewajiban / tugas itu diperintahkan oleh peraturan undang-undang. akan tetapi juga dapat menyuruh orang lain untuk melaksankannya. Misalnya : Pejabat polisi. Sesuai pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatan yang sah”. Kejengkelan pejabat tersebut tidak dapat membenarkan tindakannya. pula harus seimbang dan tidak boleh melampaui . Dalam hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat dijumpai adannya kewajiban dan tugas-tugas/wewenang yang diberikan pada pejabat/orang untuk bertindak. wewenang atau kewajiban yang didasarkan kepada suatu peraturan. Jadi dalam hal ini letnan polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan yang sah. Contoh kasus : seorang Letnan Polisi diperintah oleh Kolonel Polisi untuk menangkap pelaku tindak pidana. maka orang dapat melaksanakan undang-undang sendiri. sehingga pasal 50 tersebut merupakan alasan pembenar. Maka jika seorang melakukan perintah yangsah ini maka ia tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum. MELAKSANKAN PERINTAH JABATAN (PASAL 51 AYAT (1) DAN (2)). Dalam pasal 51 inipun cara melaksanakan perintah harus patut dan wajar. untuk dapat membebaskan diri dari tuntutan hukum. Kadang-kadang dalam melaksanakan peraturan undang-undang dapat bertentangan dengan peraturan lain. yang menembak mati seorang pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas karena tidak mau berhenti tanda peluitnya. Yang diperbolehkan adalah tindakan eksekutor yang melaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati. Dalam hal ini dipakai pedoman : “lex specialis derogate legi generaki” atau “lex posterior derogate legi priori”. Bilamanakah perintah itu dikatakan sah ? apabila perintah itu berdasarkan tugas.295 296 tersebut dalam melaksanakan perundang-undangan ini diberikan suatu kewajiban. Perbuatan orang yang menjalankan peraturan undangundang tidak bersifat melawan hukum. Anatar orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub-ordinasi (hubungan atasan dan bawahan). Jadi untuk dapat menggunakan pasal 50 ini maka tindakan harus dilakukan secara patut. meskipun sifatnya sementara.

karena memukul seorang tahanan tidak termasuk wewenang dari seorang anggota polisi. tetapi behubung dengan keadaan pribadinya maka ia tidak dapat dipidana. apabila memenuhi syarat : 1.297 298 batas kepatutan. 2. . tetapi ternyata perintah tidak beralasan atau tidak sah. Disini agen polisi tidak dapat dipidana karena : ia patut menduga bahwa perintah itu sah dan pelaksanaan perintah itu ada dalam batas wewenangnya. Keadaan tersebut adalah merupakan alasan pemaaf. Catatan : Mengenai ketaatan seorang bawahan kepada atasannya Hazewinkel-Suringa mengatakan. Syarat pasal 51 ayat (2) KUHP. bahwa ketaatan yang membuta tidak mendisculpeert” (tidak patut di pidananya perbuatan). dikatakan melakukan perintah jabatan yang tidak sah menghapuskan dapat dipidananya seseorang. perintah itu berada dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah. Contoh lainnya : Seorang kepala kantor memerintahkan kepada bendaharawan untuk mengeluarkan sejumlah uang guna sesuatu pembelian. akan tetapi pembuatnya tidak dipidana. sebabnya ialah pengeluaran dari pemerintah sudah ditentukan pos-pos tertentu. Contoh lainnya : Seorang kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk memukuli seorang tahanan yang menjengkelkan. misal : mobil. jika ia mengira dengan itikad baik bahwa perintah itu sah. Sebagai contoh : seorang agen polisi mendapat perintah dari kepala kepolisian untuk menangkap seorang agitator dalam suatu rapat umum atau umumnya seorang yang dituduh telah melakukan kejahatan. yang tidak masuk dalam mata-anggaran. Andaikata bawahan ini mengira bahwa perintah itu sah maka ia tetap dapat dipidana. Perintah jabatan ini adalah alasan pembenar. Dalam keadaan ini perbuatan orang ini tetap bersifat melawan hukum. karena ia patut menduga bahwa perintah itu tidak sah. Disini bendaharawan itu dapat dipidana. Sifat dari perbuatan seorang yang melakukan perbuatan karena perintah jabatan yang tidak sah ialah : perbuatannya tetap perbuatan yang melawan hukum. Andaikata bendaharawan tiu melaksanakan perintah tersebut tapa akibatnya ? perintah tersebut tidak sah karena pembelian mobil itu tidak termasuk dalam wewenang bendaharawan tersebut.

apoteker. ijin atau persetujuan dari orang yang dirugikan kepada orang lain mengnai suatu perbuatan yang dapat dipidana. Menurut Jan Remmelink. apabila dilakukan tanpa ijin atau persetujuan (consent of the victim). AVAS merupakan singkatan dari afwezigheid van alle schuld. ALASAN AVAS. d.299 300 ALASAN PENGHAPUS PIDANA DI LUAR UU. Ada kemungkinan bahwa seseorang mengira telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan pembelaan darurat atau dalam menjalankan undangundang atau dalam melaksanakan perintah jabatan yang sah. hak yang timbul dari pekerjaan (beroepsrecht) seorang dokter. diluar undang-undang pun ada alasan penghapus pidana. tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang materiil (arrest dikter hewan). bidan dan penyelidik ilmiah (misalnya untuk vivisectie). Dapatkah orang tersebut dipidana ? sesuai dengan pendapat MJ van Bemmelen orang tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. misalnya : a. Dimuka telah dibicarakan tentang alasan penghapus pidana yang berupa alasan pembenar dan pemaaf (atau alasan penghapus kesalahan) yang terdapat dalam KUHP. jika ada kasus-kasus di mana kita dapay membuktikan bahwa tiada kesalahan sama sekali maka kita dapat menggunakan avas untuk : kasus-kasus khusus. Ia dapat berlindung pada “taksi” (avas). apabila dapat diterima secara wajar bahwa ia boleh berbuat seperti itu. pada arrest susu dan air). terjadi eror fact (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi factual) atau eror yuridis (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi yuridis). c. f. PENGHAPUS PIDANA PUTATIEF DAN penghapus pidana yang putatief. Alasan penghapus pidana putatief merupakan alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf. mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming). tidak adanya kesalahan sama sekali (avas. hak dari orang tua. pada kenyataannya ialah bahwa tidak ada alasan penghapus pidana tersebut dalam hal ini ada alasan . b. gurur untuk menertibkan anakanak atau anak didiknya (tuchtrecht). e.

Ne bis in idem (pasal 76 KUHP) c. Amnesti Delik Aduan. Tidak adanya pengaduan dalam hal delik aduan (pasal 72-75 KUHP) b. . Matinya terdakwa (pasal 77 KUHP) d. persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pasal 287-288). Abolisi b. maka hukum memberikan pilihan kepadanya untuk mencegah atau memulai suatu proses penuntutan. Telah ada pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu untuk pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja (pasal 82 KUHP). Daluwarsa (pasal 78 KUHP) e. Kewenangan melakukan penuntutan pada prisipnya tidak berhubungan dengan kehendak perorangan kecuali dalam beberapa delik tertentu diantaranya perzinahan (pasal 284). Misal : A. Disini dianggap bahwa kepentingan umum dianggap langsung terkena sehingga pihak yang terkena tindak pidana itu harus menerima adanya penuntutan sekalipun ia sendiri tidak menghendakinya. pencemaran nama baik (319) dan lain-lain.301 302 BAB XIV GUGURNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA Sementara ketentuan diluar KUHP adalah : a. untuk melarikan wanita (pasal 332). Bentuk Delik Aduan Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Namun demikian terdapat beberapa hal yang menjadi dasar atas gugurnya kewenangan jaksa untuk melakukan penuntutan menurut KUHP adalah : a. GUGURNYA KEWENAGAN MENUNTUT. delik aduan dibagi dalam dua bentuk : a. Pada prinsipnya kewenangan melakukan penuntutan hadir seketika ada dugaan terjadinya tindak pidana.1. Delik Aduan Absolut Dalam hal dianggap bahwa kepentingan orang yang terkena tindak pidana itu melebihi kerugian yang diderita oleh umum. I.

Kebanyakan delik-delik ini terkait dengan delik dibidang harta benda (pasal 367 KUHP).303 304 Seorang perempuan muda yang telah disetubuhi boleh memilih untuk menikahi lakilaki yang menyetubuhinya daripada pelaku dijatuhi pidana. misalnya :  Untuk perzinahan (pasal 284). Belum 18 th / belum cukup umur / dibawah pengampunan (pasal 72) :  Oleh wakil yang sah dalam perkara perdata. ada pula ketentuan-ketentuan khusus. sewaktu-waktu. pasal 335 (1) & (2) (perbuatan tidak menyenangkan) atau pasal 369 (pengancaman). Delik Aduan relative Karakter delik aduan ini tidak terletak pada sifat kejahatan yang dilakukan melainkan pada hubungan antara pelaku / pembantu dan korban. Dalam hal relasi antara sifat keperdataan yang lahir dari h8ubungan tersebut dapat menjadi alasan dalam mencegah terjadinya penuntutan.2. Disamping ketentuan umum tersebut diatas . atau Suami / istri (kecuali ybs tidak menghendaki). II. Yang berhak mengadu (subyek). selama pemeriksaan dalam siding pengadilan .  Wali pengawas / pengampu  Istrinya  Keluarga sedaraj garis lurus  Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajat ke-3 2) Jika ybs meninggal pasal 73 oleh :    Orang tuanya Anaknya. b. Ketentuan umum menentukan : dalam pasal 72 KUHP 1) Jika ybs. Baik hubungan karena keturunan / darah atau dalam hal hubungan perkawinan. Yang berhak mengadu hanya suami / istri yang tercemar (ketentuan pasal 72 dan 73 diatas tidak berlaku). Penarikan kembali pengaduan dapat dilakukan. Delik aduan absolute ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan pasal 293 (perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur) pasal 322 (pelanggaran kewajiban menyimpan rahasia).

Bertempat tinggal di Indonesia 6 bulan sejak mengetahui b.4. b) Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat keputusan. Akan tetapi jika aduan tersebut ditarik kembali. NE BIS IN IDEM (PASAL 76) Arti sebeanarnya dari neb is in idem ialah “tidak atau jangan dua kali yang sama”. oleh : wanita ybs. Dasar pikiran atau ratio dari azas ini ialah : a) Untuk menjaga martabat pengadilan (untuk tidak memerosotkan kewibawaan Negara). Memang selayakanya pengaduan mencakup pelaporan (aangifte) dengan permohonan dilakukannya penuntutan (verzoek tot vervolging). Dibuatnya suatu pengaduan tidak dengan serta merta berarti bahwa ijin memberikan kewenangan penuntutan dilakukan secara final. Penarikan kembali aduan. Jadi ketentuan pasal 75 KUHP tidak berlaku. jaksa penuntut umum tak perlu menunggu lewatnya daluarsa menarik adauan. B. Diakuinya azas Neb is in idem ini terlihat dalam rumusan pasal 76 KUHP yang berbunyi (ayat (1) sub 1) sbb : “Kecuali dalam hal putusan haikm masih mungkin diulangi (herzeining). Bertempat tinggal di luar Indonesia 9 bulan sejak mengetahui adanya kejahatan. Sering juga digunakan istilah “nemodebet bis vexari” (tidak seorangpun atas perbuatnya dapat diganggu / dibahayakan untuk kedua kalinya) yang dalam literature Angka Saxon diterjemahkan menjadi “No one could be put twice in jeopardy for tha same offerice”. atau suaminya.  Untuk melarikan wanita (pasal 332) Yang berhak mengadu :  Jika belum cukup umur oleh : wanita ybs. atau orang yang harus memberi ijin bila wanita itu kawin  Jika sudah cukup umur. pada dasarnya . maka kewenangan menuntut menjadi hapus. Bila pengaduan sudah disampaikan. Tenggang waktu pengajuan pengaduan (pasal 74) a. meskipun undang-undang memberikan jangka waktu 3 bulan (pasal 75). orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia II. II.3.305 306 belum dimulai (ayat 4).

Azas ne bis in idem tidak berlaku untuk keputusan hakim yang belum berhubungan dengan pokok perkara. apabila dipenuhi syarat-syarat sbb :  Ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. . Jadi keputusan-keputusan tersebut sudah mengandung penentuan terbukti tidaknya tindak pidana atau kesalahan terdakwa.307 308 terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap”. misalnya : a. yaitu yang dapat berupa : I. III. Penjatuhan pidana pasal 193 ayat (1) KUHAP (dulu 315 RIB). jadi bukan merupakan tuntutan hukum yang kedua kali.  Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu.1. Dengan demikian penuntutan terhadap seseorang dapat hapus berdasar neb is in idem. Keputusan hakim (yang berkekuatan hukum tetap) yang dimaksud disini adalah keputusan terhadap perbuatan atau perkara ybs. Dengan adanya syarat ini berarti terhadap putusan tersebut harus sudah tidak ada alat hukum / upaya hukum (rechtsmiddel) yang dapat dipakai untuk merubah keputusan tersebut. Ada pendapat bahwa peninjauan kembali (herzeining) merupakan salah satu upaya hukum. B. Jadi menurut pendapat ini. Tentang tidak diterimanya tuntutan Jaksa karena terdakwa tidak melakukan kejahatan. Pembebasan (vrijspraak) pasal 191 (1) KUHAP (dulu 313 RIB). II. b. sehingga pengecualian yang tersebut dalam pasal 76 itu (yaitu adanya herzeining merupakan pengecualian terhadap azas ne bis in idem) sebenarnya tidak perlu. dengan adanya herzeining berarti putusan itu memang belum berkelanjutan dari tuntutan hukum yang pertama.  Orang terhadap siap putusan itu dijatuhkan adalah sama. Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara yang bersangkutan. Pelepasan dari segala tuntutan hukum (ontslag van allerechtvervolging) pasal 191 ayat (2) KUHAP (dulu 314 RIB). Adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. yang biasanya disebut “penetapan-penetapan” (beschikking).

menurut Pompe termasuk pidana bersyarat (V. tetapi dapat juga keputusan hakim Negara lain (hakim Dengan syarat-syarat diatas.309 310 c. Jadi dalam hal ini tidak ada neb is in idem. maka dalam hal B kemudian tertangkap ia tetap masih dapat dituntut walaupun misalnya A dibebaskan. jadi keputusan mengenai hukum pidana. atau . Adanya keputusan hakim yang menjadi syarat neb is in idem ini tidak hanya keputusan hakim Indonesia.Yang sekuruhnya telah dijalani. atau. Apabila misalnya seorang pengendara motor menabrak penjual soto dan dia dituntut secara perdata untuk memberi ganti rugi. Perlu pula diperhatikan bahwa putusanputusan hakim seperti dikemukakan diatas adalah putusan yang menyangkut perkara pidana.I. Adanya penetapan-penetapan serupa itu tidak merupakan alasan untuk adanya neb is in idem. b) Putusan yang berupa pelepasan dari tuntutan hukum. apabila yang diputus adsalah perkara pidananya lebih dulu. Begitu pula sebaliknya. Dalam pengertian “telah dijalani seluruhnya” putusan hakim asing itu. maka putusan hakim mengnai hal ini tidak menghalangi untuk dilakukannya penuntutan dalam perkara pidananya.V. maka orang tersebut di Indonesia dapat dituntut lagi. c) Putusan berupa pemidanaan : . maka putusan ini tidak merupakan alasan untuk neb is in idem dalam perkara gugatan perdata. maka apabila keputusan hakim asing yang berupa pemidanaan baru sebagian dijalani. Apabila misalnya A dan B melakukan tindak pidana bersama-sama. Ini merupakan segi subyektif dari persyaratan neb is in idem. = voorwaardelijke veroordelling) dan pelepasan bersyarat (V.Yang telah diberi ampun (grasi). Jadi pasal 76 KUHP tidak mengenai penetapanpenetapan. akan tetapi yang tertangkap dan dituntut pidana baru A. Hal ini disebut dalam pasal 76 (2) dengan syarat putusan hakim asing tersebut harus berupa : a) Putusan yang berupa pembebasan. karena asing). Orang yang dituntut harus sama. = voorwaardelijke invrijheidstelling). Jadi tegasnya pasal 76 KUHP hanya berlaku untuk perkara-perkara pidana. Tetang tidak diterimanya perkara penuntutan sudah daluwarsa. .

maka ada neb is in idem. Catatan : Apabila dipandang sebagai concursus realis. Kasusnya : Orang yang sedang mabuk ditempat umum mengganggu ketentraman umum. B. maka hanya dimungkinkan adanya satu kali penuntutan saja. Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. seperi halnya dijumpai dalam concursus/ gabungan tindak pidana. dimana hanya dipandang ada satu perbuatan. kemudian oleh jaksa dituntut lagi mengenai menggangu ketentraman umu dalam keadaan mabuk (pasal 492). Seandainya Jaksa hanya menuntut berdasar pasal 285 (perkosaan) saja dan ternyata tidak terbukti. Tuntutan kedua ini oleh pengadilan diterima dan terdakwa dijatuhi pidana. maka apakah Jaksa masih dapat menuntut yang kedua kalinya berdasar pasal 281 (melanggar kesusilaan dimuka umum) ? dan pakah putusan yang pertama merupakan res judicata (putusan yang neb is in idem)? Jawaban terhadap masalah ini tergantung atau berkisar pada apa yang dimaksud dengan “feit”. Ini segi obyektif dari neb is in idem (objective identiteit). Mula-mula terdakwa diputus dan dipidana karena menganiaya polisi (pasal 356 sub. Akan tetapi apabila dipandang sebagai concursus idealis. dan pengadilan tinggi menyatakan ada ne bis in idem. sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan beberapa perbuatan. Terdakwa banding. Harus ada feit / perbuatan yang sama. Jaksa mengajukan kasasi ke Hoge Raad dengan . 2). Misal : A melakukan pemerkosaan dijalan umum (pasal 285 dan 281).2. maka dimungkinkan ada Dalam yurisprudensi. Kalau kasus diatas dipandang sebagai concursus realis. ajaran feit materiil pada neb is in idem telah ditinggalkan pada tahuan 1932. maka tidak ada neb is in idem. yaitu dengan Arrest HR 27 Juni 1932. penuntutan lagi. Masalah ini merupakan masalah yang paling sukar. telah memukul dada dan menendang kaki seorang anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya. sehingga terdakwa lepas dari segala tuntutan. Apabila dipandang sebagai concursus idealis.311 312 - Yang wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena kadaluwarsa.

3) Dengan sengaja menganiaya yang berakibat mati (pasal 351 ayat (3)). 1 Juni. Tempat terjadinya tindak pidana. Dalam hala ini sebenarnya sebelum ada putusan. seperti dimaksud dalam pasal 76 HR melihat disini juga ada 2 perbuatan yang mempunyai cirri yang berlainan. Namun diakui bahwa itu berarti menyempitkan berlakunya pasal 76. c. Tetapi menurut Pompe. disamping berlkaitan erat de4ngan masalah concursus.313 314 mengatakan bahwa perbuatan terdakwa itu merupakan dua perbuatan dipandang dari sudut hukum pidana. tetapi didalam surat tuduhan tercantum tgl 1 Juli 1979. Dengan perubahan ini menurut Pompe. Perbuatannya/ketentuan yang dilanggar : Misal : perbuatan A sebenarnya dapat dikualifisir dalam 3 kemungkinan yaitu : 1) Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain (pasal 338). jaksa dapat mengajukan permintaan unutk “merubah surat tuduhan berdasar pasal 282 HIR. apabila terdakwa dibebaskan unutk tuduhan pencurian tercantum tgl. Berdasar tempat pencurian yang sebenarnya dilakukan yaitu di Stadion Diponegoro. sehingga tuntutan jaksa dapat diterima. Kesukaran dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perkataan ”feit” dirubah menjadi “strafbaar feit”. Misal semula terdakwa dituduh mencuri di taman Diponegoro. . artinya kemungkinana penuntutan kembali menjadi longgar. jjadi disini tidak ada perbuatan yang sama. alternativitas dalam tuduhan dapat meliputi masalah : a. halangan dalam penuntutan baru. Waktu terjadinya tindak pidana Misal seorang dituntut telah melakukan pencurian pada tgl 1 Juni 1979. b. Disinipun ada neb is in idem. juga berhubungan dengan masalah. 2) Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain (pasal 359). Jaksa tidak dapat menuntut lagi berdasar tgl. dapat lebih merugikan kepentingan umum dari pada mengulangi percobaan untuk penerapan undang-undang pidana dengan setepat-tepatnya. Persoalan feit / perbuatan pada pasal 76. Disini ada neb is in idem. Jaksa kemudian mengajukan tuduhan lagi. Yang betul. asal Feitnya tetap. penerapan pasal 76 lebih mudah. kemudian dibebaskan.

Hal ini wajar karena KUHP berpendirian bahwa yang dapat menjadi subyek hukum hanyalah orang dan pertanggungan jawab bersifat pribadi. kecuali dalm hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal tersebut yang menyangkut vorduurende delict (delik berlangsung terus lihat penjelasan . D. MATINYA TERDAKWA (PASAL 77) DAN MATINYA TERPIDANA (PASAL 83). kurungan atau penjara maksimum 3 tahun : daluwarsanya sesudah 6 tahun. Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur hidup : daluwarsanya sesudah 18 tahun.1. Menurut pasal 79. Sementara kematian seseorang terpidana menyebabkan kewajiban menjalankan pidana menjadi terhapuskan. D. Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun daluwarsanya 12 tahun. Konsekwensi dari pemikiran ini adalah bahwa kematian seorang tersangka atau terdakwa menyebabkan kewenangan seorang Jaksa penuntut menjadi gugur.  Bahwa pelaku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. Untuk kejahatan yang diancam denda.315 316 C. Dalam hal ini tidak ada suatu tanggungjawab pidana diwariskan. yaitu :     Untuk semua pelanggaran dan kejahatan percetakan : sesudah 1 tahun. tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah perbuatan dilakukan. Karena itu adagium punier non (simper) necesse est (menghukum tidak selamanya perlu) menajdi dasar dari keberadaan lembaga ini.1 Daluwarsa Penuntutan.1. Tenggang Waktu Daluwarsa Penuntutan. D. Tenggang waktu daluwarsa ditetapkan dalam pasal 78 (1). DALUWARSA (VERJARING). Ditetapkannya lemabga daluarsa penuntutan dalam KUHP pada dasarnya dilandasi oleh beberapa pemikiran yaitu :  Dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga mengahpuskan keinginan untuk melakukan pembalasan.  Berjalannya waktu sekaligus menghapuskan jejak-jejak tindak pidana yang menyebabkan kesulitan pembuktian. Namun demikian yang utama dari ketiga lasan itu adalah kebutuhan untuk memidana dan kesulitan pembuktian menjadi alasan utama.

yaitu hanya perbuatan-perbuatan penuntut umum yang langsung menyangkutkan hakimdalam acara pidana (misal menyerahkan perkara ke siding. Pencegahan (stuiting). jadi tindakan pengusutan tidak lagi dianggap termasuk tindakan penuntutan. Menurut pasal 81 (1) tenggang daluwarsa penuntutan tertunda/tertangguhkan (geschorst) apabila ada perselisihan praejudisiil.1. mendakwa / mengajukan . Tetapi yurisprudensi kemudian menerima pendapat yang lebih sempit. Menurut pasal 80 (1) tenggang daluwarsa terhenti / tercegah (gestuit) apabila ada tindakan penuntutan (daad van vervolging). Adapun yang diatur dalam pasal 79 adalah : Kejahatan terhadap mata uang (pasal 244) perhitungan daluwarsa didasarkan pada waktu setelah uang dipakai atau diedarkan. b. dipertangguhkan. tenggang daluwarsa tuntutan pidana. 330 dan 333). memohon revisi).317 318 dalam bab tetang jenis delik). Menurut pasal 80 (2) sesudah terjadinya pencegahan (stuiting) mulai berjalan tenggang daluwarsa yang baru. a. sehari setelah data tersebut dimasukkan dalam catatan register. yaitu perselisihan menurut hukum perdata yang terlebih dulu harus diselesaikan sebelum acara pidana dapat diteruskan. sebelum diadakannya penundaan. tetap diperhitungkan terus. Kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang (pasal 328. Hanya saja selama acara hukum perdata berlangsung dan belum selesai. jadi selama terhentinya selama ada tindakan penuntutan tenggang waktunya tidak dihitung. - D. Dalam hal ada penundaan/pertangguhan (schorsing) maka tenggang waktu yang telah dilalui. daluwarsa dihitung keesokan hari setelah orang tersebut dibebaskan atau ditemukan meninggal dunia. Penangguhan (scorsing). Pencegahan dan penangguhan.2. 329. Kejahatan terhadap register kependudukan (pasal 556-558 a). Pada mulanya tindakan penuntutan diartikan secara luas yaitu mencakup juga tindakan-tindakan pengusutan (daad van opsporing). Hal ini dimaksudkan agar terdakwa tidak diberi kesempatan untuk menunda-nunda penyelesaian perkara perdatanya dengan perhitungan dapat dipenuhinya tenggang daluwarsa penuntutan pidana. - tuduhan.

Tetapi ada putusan hakim yang sudah dapat dieksekusi sebelum keputusan itu berkekuatan tetap.2. tenggang daluwarsa baru dihitung pada keesokan harinya setelah melarikan diri.2. kewenangan Menurut pasal 85 (1) tenggang daluwarsa dihitung mulai pada keesokan harinya sesudah putusan hakim dapat dijalankan.2. pencegahan (stuiting) pencegahan (stuiting) terhadap daluwarsa hak untuk menjalankan / mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 85 ayat (2)) yaitu : 1) Jika terpidana melarikan diri selama menjalani pidana. yaitu “verstekvonnis” (keputusan diluar hadirnya terdakwa). dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga menghapuskan keinginan unutk melakukan pembalasan 2.2. Daluwarsa kewenangan menjalankan pidana. a.  Untuk kejahatan percetakan : daluwarsanya 5 tahun. Perbedaannya disini adalah alasan kesulitan pembuktian tetunya tidak lagi relevan disini. Dalam hal ini.  Untuk kejahatan lainnya : daluwarsanya sama dengan daluwarsa penuntutan (lihat pasal 78 ) ditambah sepertiga. D. Pada ayat (3) ditetapkan bahwa : “tidak ada daluwarsa untuk mejalankan hukuman mati”. Pencegahan Dan Penagguhan Daluwarsa Pemidanaan. Tenggang waktu daluwarsanya diatur dalam pasal 84 (2).319 320 D. Sama dengan daluarsa penuntutan maka landasan pemikiran atas daluarsa pemidanaan didasarkan kepada dua hal yaitu : 1. Pada umumnya memang putusan hakim yang berkakuatan hukum tetap. Ini tidak sama dengan putusan hakim yang inkracht van gewijsde (putusan ayat berkekuatan tetap). .1. D. bahwa pelaku setetlah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. Daluwarsa Pemidanaan. yaitu :  untuk semua pelanggaran : daluwarsanya 2 tahun.

akan mendorongnya menjatuhkan pidana atau tindakan lain atau bahkan untuk tidak menjatuhkan sanksi sekalipun. Dengan demikian selama ada pencegahan. tetapi pelaksanaannya dihapuskan atau dikurangi / diringankan. Keputusan hakim tetap ada. Dasar pemikiran lembaga grasi menurut Remelink adalah keadaan pada waktu hakim menjatuhkan putusan tidak atau kurang diperhatikan atau mungkin pertimbangan dan yang bila (secara memadai sebelumnya ia keathui. pidana mati diganti penjara seumur hidup. penagguhan (schorsing). Hanya mengeksekusi sebagian saja Mengadakan komutasi yaitu jenis pidananya diganti. mulai berlaku tenggang daluwarsa baru.  selama terpidana dirampas kemerdekaannya (ada calon tahanan). Grasi dapat dikabulkan manakala hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak akan mencapai tujuan atau sasaran pemidanaan itu sendiri. A. misal penjara diganti kurungan. Dalam pasal 2 ayat (3) permohonan grasi hanya dapat diajukaqn 1 (satu) kali. penjara seumur hidup. b. Jadi grasi dari presiden. kurungan diganti dengan denda. maka jangka lewat waktu yang telah dilalui hilang sama sekali (tidak dihitung). Grasi.321 322 2) Jika pelepasan bersyarat dicabut Dalam hal ini.1. maka pada esok harinya setelah pencabutan. E. Perihal prosedur Grasi diatur dalam undangundang 22 tahun 2002. penjara paling rendah 2 tahun. kecuali dalam hal : . menurut ketentuan pasal 2 ayat (2) grasi hanya dapat dimohonkan bagi terpidana yang dijatuhi pidana mati. Penundaan (schorsing) terhadap daluwarsa hak untuk mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 33 ayat (3) yaitu :  selama perjalanan pidana ditunda menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. walaupun perampasan kemerdekaan itu berhubung dengan pemidanaan lain. Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ybs. dapat berupa :    Tidak mengeksekusi seluruhnya. Ketentuan Gugurnya Kewenangan Menuntut Dan Menjalankan Pidana di luar KUHP.

Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Preisden. Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau oleh keluarga terpidana. Salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. Permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 diajukan secara tertulis oleh terpidana. . Sementara pasal 3 permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana. Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) haru terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8. dengan persetujuan terpidana (pasal 6 (1-2)) kecuali dalam hal terpidana dijatuhi pidan mati. permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana (pasal 6 ayat (3)). II. kuasa hukumnya. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. penagdilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung.323 324 I. keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi. kecuali dalam hal putusan pidana mati. Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tigta) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 9. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung. atau keluarganya kepada Presiden. Terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut. Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya. Permohonan grasi dan slinannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3).

E. termasuk putusan itu sendiri.325 326 E. Seperti halnya grasi dan amnesti. Abolisi mengandung pengertian penghapusan yang diberikan kepada perseorangan yang mencakup penghapusan seluruh akibat penghukuman seluruh akibat penjatuhan putusan. mereka yang identitasnya diketahui ataupun tidak namun bersalah melakukan tindakan tersebut. . Amnesti. Oleh karena itu amnesti mencakup perkara dalam fase ante sentantiam (sebelum dijatuhkanya putusan) maupun post sentantiam (pasca proses ajudikasi). abolisi merupakan hak prerogative presiden yang ditetapkan dalam UUD 1945 sebelum perubahan. demi kepentingan semua terpidana maupun bukan. Abolisi. Dalam praktek amnesti diberikan karena alasan politik. Amnesti dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum (yang diterbitkan dalam suatu aturan perundang-undangan) yang memuat pencabutan senua akibat pemidanaan dari suatu delik tertentu atau satu kelompok delik tertentu.3.2. Abolisi dengan demikian berlaku ante sentiam yang berkaitan dengan dilepaskannya kewenangan melakukan penuntutan atau pelanjutan dari penuntutan yang sudah dimulai. terdakwa ataupun bukan.

yaitu : 2. Dalam ilmu hukum pidana dikenal ada dua sistem residive ini. Sistim Residive Umum . Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluwarsa dalam residivenya.327 328 BAB XV RESIDIVE ( PENGULANGAN TINDAK PIDANA) Menurut sistem ini. setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dan dilakukan dalam waktu kapan saja. Pemberatan hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu yang tertentu pula. Sistem Residive Khusus Menurut sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. Jadi dengan demikian KUHP termasuk ke dalam sistem Residive Khusus. Residive merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. 2. 1. MENURUT KUHP Dalam KUHP ketentuan mengenai Residive tidak diatur secara umum tetapi diatur secara khusus untuk kelompok tindak pidana tertentu baik berupa kejahatan maupun pelanggaran. Disamping itu di dalam KUHP juga memberikan syarat tenggang waktu pengulangan yang tertentu. merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Perbedaannya dengan Concursus Realis ialah pada Residive sudah ada putusan Pengadilan berupa pemidanaan yang telah MKHT sedangkan pada Concursus Realis terdakwa melakukan beberapa perbuatan pidana dan antara perbuatan sang satu dengan yang lain belum ada putrusan Pengadilan yang MKHT. PENGERTIAN Residive atau pengulangan terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( MKHT) atau “in kracht van gewijsde”. kemudian melakukan tindak pidana lagi. 1.

540. b. Tindak Pidana Narkotika (UU 22 / 1997). Residive Kejahatan. 517. Sedangkan untuk residive yang diatur dalam Pasal 486. Pasal 78 s/d 85. 144. 161.329 330 a. Pasal 154. 216. Syarat-syarat Recidive pelanggaran disebutkan dalam masing-masing pasal yang bersangkutan. 321(2). 303 bis dan 321 tenggang waktunya dua tahun . 393(2) dan 303 bis (2). 541.5/1997). 163(2). Perlu diingat bahwa mengenai tenggang waktu dalam residive tersebut tidak sama. 157. 477 dan 488 KUHP mensyaratkan bahwa tindak pidana yang diulangi termasuk dalam kelompok jenis tindak pidana tersebut. Residive Pelanggaran Residive dalam pelanggaran ada 14 jenis tindak pidana. 549 KUHP. iii. 495. dan pasal 87.Tenggang waktu lima tahun. Residive terhadap kejahatan dalam pasal : 137(2). 545. 155(2). . ancaman pidana ditambah sepertiga. 161(2). 501. 536. RECIDIVE DI LUAR KUHP Recidive diluar KUHP antara lain diatur di dalam Undang-Undang: i. Pasal : 137. Tindak Pidana Psikotropika (UU No. 516. 208. 530. 512. ii. 544. misalnya : i. 208(2). 492. Ancaman pidana ditambah sepertiga ii. yaitu : Pasal : 489. 163 dan 393 tenggang waktunya lima tahun. 144(2). 216(3). Pasal 72. 3. Jadi ada 11 jenis kejahatan yang apabila ada pengulangan menjadi alasan pemberat.

3. Menurut Prof. 4. Apa yang dimaksud dengan Recidive ? . Apa pentingnya bagai Jaksa memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana ?. Ruang berlakunya hukum pidana dapat dibedakan menurut waktu dan menurut tempat.331 SOAL UJIAN DAFTAR PERTANYAAN MATERI DIKLAT ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 1. Jelaskan dimana diatur ruang berlakunya hukum pidana di dalam KUHP dan di luar KUHP ? 2. 5. Siapa yang dimaksud sebagai Pelaku (dader) menurut pasal 55 KUHP ?. Moeljatno apa saja yang menjadi unsur dari suatu perbuatan pidana ?.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful