1

2

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG Apakah hukum pidana itu ? pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit untuk dijawab, mengingat hukum pidana itu mempunyai banyak segi, yang masing-masing mempunyai arti sendirisendiri. Penerapan hukum pidana berkaitan dengan ruang lingkup hukum pidana itu sendiri dapat bersifat luas dan dapat pula bersifat sempit. Dalam tindak pidana dapat melihat seberapa jauh seseorang telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada orang tersebut karena telah melanggar hukum. Selain itu, tujuan hukum pidana tidak hanya tercapai dengan pengenaan pidana, tetapi merupakan upaya represif yang kuat berupa tindakan-tindakan pengamanan. Perlunya pemahaman terhadap teori-teori serta Asas-Asas Hukum Pidana tersebut bagi peserta diklat, maka Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan R.I menyusun modul mengenai asas-asas hukum pidana dengan tujuan agar peserta Pendidikan dan Pelatihan

3

4

pendahuluan mengerti dan memahami teori-teori maupun asas-asas hukum pidana yang perlu diperhaitkan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai jaksa nantinya.

II. DESKRIPSI SINGKAT Modul asas-asas hukum pidana memberikan pemahaman bagi peserta pendidikan dan pelatihan tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana.

B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mengetahui tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana. IV. POKOK BAHASAN a. Ruang lingkup berlakunya Hukum Pidana. b. Tindak Pidana. c. Hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat). d. Sifat melawan hukum (rechtswdrig, unrecht, wederrechtelijk, onrechmatig). e. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. f. Kesengajaan (dolus, intent, opzet, vorsatz).

III. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Intruksional Umum Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui tentang teori, asas, delik tindak pidana dan dapat menerapkannya dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara pidana.

g. Kealpaan (culpa). h. Kesalahan dalam delik pelanggaran. i. Pidana dan pemidanaan (hukum penitensier). j. Percobaan (poging, attempt). k. Penyertaan. l. Penggabungan tindak pidana (samenloop / concursus).

5

6

m. Alasan / dasar penghapus pidana (straffuitsluitingsgrond, grounds of impiunity.) n. Gugurnya kewenangan menjalankan pidana. V. FASILITAS / MEDIA Fasilitas dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran Pengantar asas-asas hukum pidana antara lain : a) b) c) d) Modul asas-asas hukum pidana; Internet; Peraturan perundang-undangan; Literatur yang terkait. menuntut dan

BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

A. RUANG

BERLAKUNYA

HUKUM

PIDANA

MENURUT WAKTU Penerapan hukum pidana atau suatu perundangundangan pidana berkaitan dengan waktu dan tempat perbuatan dilakukan. Serta berlakunya hukum pidana menurut waktu menyangkut

penerapan hukum pidana dari segi lain. Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan yang bersangkutan, maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali tidak dapat dipidana. Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) Terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Tidak dapat dipidana seseorang kecuali atas perbuatan yang dirumuskan dalam suatu

perbuatan harusdirumuskan dengan jelas. nilai-nilai agama. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”. tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan. 2) Dengan cara demikian maka orang Dalam catatan sejarah asas ini dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : “vom psychologishen zwang (paksaan psikologis)” yang akan melakukan perbuatanyang dilarang itu telah mengetahui terlebih . Karenanya asas ini dapat pula dinyatakan sebagai asas konstitusional.7 8 aturan perundang-undangan yang telah ada dimana adagium : nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang mengandung tiga prinsip dasar : terlebih dahulu. Dalam perkembangannya amandemen ke-2 UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) berbunyi dan berhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan Pasal 28 J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk - Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang) - Nulla Poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan pidana) - Nullum crimen sine poena tanpa legali (tiada perbuatan pidana undang-undang pidana yang terlebih dulu ada) Adagium ini menganjurkan supaya : 1) Dalam menentukan perbuatan- menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk perbuatan yang dilarang di dalam peraturan macamnya bukan saja tentang yang memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral.

Prof. d) Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex Certa). Hal ini dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Schaffmeister dan Heijder merinci asas ini dalam pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a) Tidak dapat dipidana kecuali ada hukum pidana tidak melakukan perbuatan. menyetujui Andaikata juga maka dia ternyata yang dia akan perbuatan dinpandang yang pidana ketentuan pidana berdasar peraturan perundang-undangan (formil). 3) Aturan-aturan berlaku surut.9 10 dahulu pidana apa yangakan dijatuhkan kepadanya jika nanti betul-betul akan tetapi diperbolehkan penggunaan penafsiran ekstensif. (pengenaan undang-undang terhadap perbuatan yang tidak diatur oleh undang-undang tersebut). b) Tidak diperkenankan suatu Analogi dijatuhkan kepadanya. 3) Dengan demikian dalam batin orang itu akan mendapat tekanan untuk tidak berbuat. 2) Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. c) Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (Hukum tidak tertulis). . Moeljatno menjelaskan inti pengertian yang dimaksud dalam asas legalitas yaitu : 1) Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. e) Tidak boleh Retroaktif (berlaku surut) f) Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang. melakukan dilarang.

Asas Personal (nasional aktif). berkaitan pula dengan orang atau subyek. Pada bagian ini. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi diwilayah Negara. II. I. Perbuatan (yurisdiksi hukum pidana nasional). Asas Universal. III. baik dilakuakan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh orang lain (asas territorial). b. Dalam hal ini asas-asas hukum pidana menurut tempat : I. juga apabila perbuatan pidana itu dilakukan “Ketentuan dalam perundang- undangan Indonesia diterapkan bagi setiap . Asas Perlindungan (nasional pasif) IV. dimana saja. RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA hukum pidana menurut ruang tempat dan MENURUT TEMPAT (LEX LOCI) Teori tetang ruang lingkup berlakunya hukum pidana nasional menurut tempat terjadinya. apabila ditinjau dari sudut Negara ada 2 (dua) pendapat yaitu : a. menganut prinsip nasional aktif. akan melihat kepada berlakunya B.11 12 g) Penuntutan hanya dilakukan diluar disebut wilayah Negara. Asas Teritorial. Perundang-undangan hukum pidana Ad. asas Pandangan personal ini atau berdasarkan atau dengan cara yang ditentukan undang-undang. Asas Teritorial Asas ini diatur juga dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP pidana yang menyatakan : berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga Negara.

Pasal ini dengan tegas menyatakan asas territorial. Hal ini adalah wajar karena tiap-tiap orang yang berada dalam wilayah suatu Negara harus tunduk dan patuh kepada . Asas territorial yang pada saat ini banyak diikuti oleh Negaranegara di dunia termasuk Indonesia. Perluasan dari Asas Teritorialitas diatur dalam pasal 3 KUHP yang menyatakan : “Ketentuan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana didalan kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”. tidak termasuk wilayah territorial suatu Negara. Tujuan dari pasal ini adalah supaya perbuatan pidana yang terjadi di dalam kapal atau pesawat terbang yang berada di perairan bebas atau berada di wilayah udara bebas. sewajarnya berlaku bagi Negara yang berdaulat. tempat tidak terjadinya mempermasalahkan perbuatan pidana. sehingga ada yang mengadili apabila terjadi suatu perbuatan pidana. tetapi tidak berarti bahwa perahu (kendaraan air) dan pesawat terbang lalu dianggap bagian wilayah Indonesia. Asas territorial lebih menitik beratkan pada terjadinya perbuatan pidana di dalam wilayah Negara tidak mempermasalahkan siapa pelakunya. dan ketentuan ini sudah peraturan-peraturan hukum Negara dimana yang bersangkutan berada. Ketentuan ini memperluas berlakunya pasal 2 KUHP. warga Negara atau orang asing.13 14 orang yang melakukan suatu tindak pidana di Indonesia”. Sedang dalam asas kedua (asas personal atau asas nasional yang aktif) menitik beratkan pada orang yang melakukan perbuatan pidana.

Pasal 5 KUHP hukum Pidana Indonesia berlaku bagi warga Negara Indonesa melakukan di luar Indonesia pidana yang tertentu perbuatan .15 16 Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar wilayah Indonesia. II. Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya.    Kepala Negara asing dan anggota keluarganya. Asas Personal Asas Personal atau Asas Nasional yang aktif tidak mungkin digunakan sepenuhnya terhadap warga Negara yang sedang berada dalam wilayah Negara lain yang kedudukannya sama-sama berdaulat. pelayaran. bertentangan dengan kedaulatan Negara tersebut. badan Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer / ABK diatas kapal maupun di luar kapal.  Suatu angkatan bersenjata yang terpimpin. Pejabat-pejabat Negara asing pemerintahan yang berstatus Ad. Apabila ada warga Negara asing yang berada dalam suatu wilayah Negara telah melakukan tindak pidana dan tindak pidana dan tidak diadili menurut hukum Negara tersebut maka berarti diplomatik yang dalam perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain. Di luar Indonesia atau di laut bebas dan laut wilayah Negara lain. Alat pelayaran pengertian lebih luas dari kapal. Asas-asas Extra Teritorial / kekebalan dan hak-hak Istimewa (Immunity and Previlege). Kapal merupakan bentuk khusus dari alat   Pejabat-pejabat Internasional.

17

18

Kejahatan terhadap keamanan Negara, martabat kepala Negara, penghasutan, dll. Pasal 5 KUHP menyatakan :

dilakukan

juga

jika

terdakwa

menjadi warga Negara sesudah melakukan perbuatan”. Sekalipun rumusan pasal 5 ini memuat

“(1).

Ketetentuan

pidana

dalam Indonesia

perkataan “diterapkan bagi warga Negara Indonesia yang diluar wilayah Indonesia”’, sehingga seolah-olah mengandung asas personal, akan tetapi sesungguhnya pasal 5 KUHP memuat asas melindungi

perundang-undangan

diterapkan bagi warga Negara yang di luar Indonesia melakukan : salah satu kejahatan yang

tersebut dalam Bab I dan Bab II Buku Kedua dan Pasal-Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam Indonesia kejahatan,

kepentingan nasional (asas nasional pasif) karena : Ketentuan pidana yang diberlakukan bagi warga Negara diluar wilayah territorial wilyah Indonesia tersebut hanya pasalpasal tertentu saja, yang dianggap penting sebagai perlindungan terhadap

perundang-undangan dipandang sebagai

sedangkan menurut perundangundangan Negara dimana

kepentingan nasional. Sedangkan untuk asas personal, harus diberlakukan seluruh perundang-undangan hukum pidana bagi warga Negara yang melakukan kejahatan

perbuatan itu dilakukan diancam dengan pidana. (2). Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat

di luar territorial wilayah Negara.

19

20

Ketentuan pasal 5 ayat (2) adalah untuk mencegah agar supaya warga Negara asing yang berbuat kejahatan di Negara asing tersebut, dengan jalan menjadi warga Negara Indonesia (naturalisasi). Bagi Jaksa maupun hakim Tindak Pidana yang dilakukan di negara asing tersebut, apakah menurut undang-undang disana merupakan kejahatan atau

perundang-undangan

Negara

dimana

perbuatan dilakukan terhadapnya tidak diancamkan pidana mati”. Latar belakang ketentuan pasal 6 ayat (1) butir 2 KUHP adalah untuk

melindungi kepentingan nasional timbal balik (mutual legal assistance). Oleh karena itu menurut Moeljatno, sudah sewajarnya pula diadakan imbangan pulu terhadap maksimum pidana yang mungkin dijatuhkan menurut KUHP

pelanggaran, tidak menjadi permasalahan, karena mungkin pembagian tindak

pidananya berbeda dengan di Indonesia, yang penting adalah bahwa tindak pidana tersebut di Negara asing tempat perbuatan dilakukan sedangkan diancam menurut dengan KUHP pidana, Indonesia

Negara asing tadi.

Ad. III. Asas Perlindungan Sekalipun asas personal tidak lagi

merupakan kejahatan, bukan pelanggaran. Ketentuan pasal 6 KUHP : “ Berlakunya pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut

digunakan sepenuhnya tetapi ada asas lain yang memungkinkan diberlakukannya hukum pidana nasional terhadap

perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Negara

21

22

Pasal

4

KUHP

(seteleh

diubah

dan

talon, tanda deviden atau tanda bunga yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang

ditambah

berdasarkan

Undang-undang

No. 4 Tahun 1976) “Ketentuan undangan pidana dalam perundang-

dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau menggunakan suratsurat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak palsu; 4. Salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut mengenai kertas mata yang dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal 479 l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam surat hutang atau penerbangan sipil. keselamatan Indonesia diterapkan bagi

setiap orang yang melakukan di luar Indonesia : 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 108 dan 131; 2. Suatu uang kejahatan atau 104, 106, 107,

uang

dikeluarkan oleh Negara atau bank, ataupun mengenai dan oleh materai merek yang yang

dikeluarkan digunakan Indonesia; 3. Pemalsuan

Pemerintah

sertifikat hutang atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan Dalam pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi kepentingan nasional dan melindungi

Bahwa dalam asas melindungi kepentingan internasional (asas universal) adalah dilandasi pemikiran bahwa setiap Negara di dunia wajib turut dan Presiden Republik Indonesia (pasal 4 ke-1) 2) Kejahatan mata uang mengenai atau pemalsuan uang kertas melaksanakan tata hukum sedunia (hukum internasional). IV. pemerintah Indonesia (pasal 4 ke-2) 3) Kejahatan surat-surat mengenai hutang pemalsuan sertifkat- atau sertifikat hutang yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia atau bagianbagiannya (pasal 4 ke-3) Dikatakan nasional melindungi karena pasal 4 kepentingan KUHP ini 4) Kejahatan mengenai pembajakan kapal laut Indonesia dan pembajakan pesawat udara Indonesia (pasal 4 ke4) Ad.23 24 kepentingan internasional (universal). . yaitu : 1) Kejahatan Negara martabat Republik dan / terhadap kejahatan kehormatan Indonesia keamanan terhadap Presiden Wakil oleh hukum pengecualian-pengecualian internasional. Indonesia atau segel / materai dan merek yang digunakan oleh Pasal ini menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga Negara Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang disebutkan dalam pasal tersebut. Asas Universal Berlakunya pasal 2-5 dan 8 KUHP dibatasi memberlakukan perundang-undangan pidana Indonesia bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Indonesia melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan nasional.

pesawat pembajakan terbang kapal. adalah laut atau internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4 ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau uang kertas) dan pasal 4 ke-4 KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak menyebutkan mata uang atau uang kertas Negara mana yang dipalsukan atau kapal laut dan pesawat terbang negara mana yan dibajak. . dalam Bab XXVIII Buku Indonesia. Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. mengenai kepemilikan Indonesia. maka asas yang berlaku diterapkan adalah asas melindungi kepentingan nasional (asas nasional pasif).25 26 Dikatakan melindungi kepentingan Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. akan tetapi juga mungkin menyangkut mata uang atau uang kertas Negara asing. Pasal 7 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- undangan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat yang di luar Indonsia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan Kedua”. pembajakan kapal laut atau pesawat terbang adalah mengenai kepemilikan Negara asing. dan mungkin juga menyangkut kapal laut atau pesawat terbang Negara asing. Pembajakan kapal laut atau pesawat terbang yang dimaksud dalam pasal 4 ke-4 KUHP dapat menyangkut kapal laut Indonesia atau pesawat terbang internasional (asas universal). maka asas yang berlaku adalah asas melindungi kepentingan Pemalsuan mata uang atau uang kertas yang dimaksud dalam pasal 4 ke-2 KUHP menyangkut mata uang atau uang kertas Negara Indonesia.

417. melakukan sekalipun salah di luar tindak perahu. pasal 3. pasal 5 sampai dengan pasal 14” Pasal 8 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- tersebut (pasal 209. 425. pidana satu sebagaimana dimaksudkan dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX buku ketiga. Dengan telah diundangkannya tindak pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “setiap orang di luar wilayah Negara republik Indonesia yang memberikan bantuan. 423. Dalam hal demikian apakah pasal 7 KUHP masih dapat diterapkan ? untuk masalah tersebut harap diperhatikan pasal 16 UU No. Akan tetapi pasal-pasal dalam pasal 2. begitu pula yang tersebut dalam peraturan mengenai surat laut dan pas kapal di Indonesia. 416. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan rumusan tersendiri sekalipun masih menyebut unsur-unsur yang terdapat dalam masing-masing pasal KUHP yang diacu. 4 Tahun 1976 yang dimasukkan dalam KUHP pada Buku Kedua Bab XXIX A. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana / prasarana penerbangan berdasarkan UU No. 210. 387. 435) telah dirubah oleh Undang-undang No. 419. maupun dalam ordonansi perkapalan”. 388.27 28 Pasal ini mengenai kejahatan jabatan yang sebagian besar sudah diserap menjadi tindak pidana korupsi. 420. 418. 415. 31 Tahun 1999 tentang undangan Indonesia berlaku nahkoda dan penumpang perahu Indonesia. yang di luar Indonesia. pertimbangan lain untuk memasukkan Bab . kesempatan.

Menurut Moeljatno. Hukum nasional suatu Negara tidak berlaku bagi mereka 2) Duta besar Negara asing beserta keluarganya meeka juga mempunyai hak eksteritorial. Menurut hukum adalah internasional teritoir kapal peran yang digunakan sebagai bagian dari kegiatan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorganisir pasal 9 KUHP. sekalipun ada di luar kapal.29 30 XXIX A Buku Kedua ke dalam pasal 8 KUHP adalah juga menjadi kenyataan bahwa kejahatan penerbangan sudah 3) Anak buah kapal perang asing yang berkunjung di suatu Negara. . pada umumnya pengecualian yang diakui meliputi : 1) Kepala Negara beserta keluarga dari Negara sahabat. internasional. dimana mereka mempunyai hak eksteritorial. Diterapkannya pasal-pasal 2-5-7 dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum-hukum Negara mempunyainya 4) Tentara Negara asing yang ada di dalam wilayah Negara dengan persetujuan Negara itu.

b. .H. dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”.  Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan oleh ancaman atau kejadian yang orang). pidana selalu mengatur tentang tindak pidana. PENGERTIAN TINDAK PIDANA Hingga saat ini belum ada kesepakatan para sarjana tentang pengertian Tindak pidana  Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat. oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula. Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya. Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :  Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana. bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Moeljatno S. ditujukan (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility). Menurut Prof.31 32 BAB III TINDAK PIDANA a. UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA Dalam suatu peraturan perundang-undangan ditimbulkan sedangkan kelakuan pidana kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.. Selanjutnya Moeljatno membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid van het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person). Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (strafbaar feit). larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. “ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang.

Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. Untuk   Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband staand) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person). Unsur Subyektif :  Orang yang mampu bertanggung jawab  Adanya kesalahan (dollus atau culpa). yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar. maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan Simons juga menyebutkan adanya unsur obyektif dan unsur subyektif dari tindak pidana (strafbaar feit). berbuat   atau tidak berbuat atau membiarkan).  Mungkin ada keadaan tertentu yang perundang-undangan pidana tentang perbuatanperbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Perbuatan kesalahan. harus dilakukan dengan (strafbaar feit) adalah : Perbuatan manusia (positif atau negative. Menurut  Simons. mengetahui adanya tindak pidana. Unsur Obyektif :  Perbuatan orang  Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu. Diancam dengan pidana (statbaar gesteld) Melawan hukum (onrechtmatig) . Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja. unsur-unsur tindak pidana menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat “openbaar” atau “dimuka umum”. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”.33 34 Sedangkan menurut Moeljatno “Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum.

31 Tahun 1999 jo. Sementara menurut Moeljatno unsur-unsur Tahun 1971 atau pasal 11 UU No. misalnya pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum (supaya melakukan perbuatan pidana atau melakukan kekerasan terhadap penguasa umum). 165. yang dibagi menjadi : a. 20 Tahun 2001 tentang pegawai negeri yang menerima hadiah. (1) Unsur keadaan yang menentukan misalnya dalam pasal 164. Pasal 418 KUHP jo. misalnya unsur pegawai negeri yang diperlukan dalam delik jabatan seperti dalam perkara tindak pidana korupsi. Kalau yang menerima hadiah bukan pegawai negeri maka tidak perbuatan pidana :  Perbuatan (manusia)  Yang memenuhi rumusan dalam undangundang (syarat formil)  Bersifat melawan hukum (syarat materiil) Unsur-unsur tindak pidana menurut Moeljatno terdiri dari : 1) Kelakuan dan akibat 2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. Unsur obyektif atau non pribadi Yaitu mengenai keadaan di luar si pembuat.35 36 Kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan. Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. UU No. 531 KUHP Pasal 164 KUHP : barang jahat siapa untuk mengetahui permufakatan . memperingan atau memperberat melakukan perbuatan. Unsur subyektif atau pribadi Yaitu mengenai diri orang yang mungkin diterapka pasal tersebut b. 3 pidana yang dijatuhkan. Apabila penghasutan tidak dilakukan di muka umum maka tidak mungkin diterapkan pasal ini Unsur keadaan ini dapat berupa keadaan yang menentukan.

dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. apabila kejahatan jadi dilakukan. Orang yang tidak melapor baru dapat dikatakan jika melakukan perbuatan pidana. 113. Keharusan memberi pertolongan pada orang yang sedang menghadapi bahaya maut jika tidak memberi pertolongan. Apabila penganiayaan tersebut memberitahukannya kehakiman atau kepolisian atau kepada yang terancam. kejahatan tadi kemudian betul-betul terjadi. diancam. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan menimbulkan luka berat. Tentang hal kemudian terjadi kejahatan itu adalah merupakan unsur tambahan. 107. diancam. 115. 124. Kewajiban untuk melapor kepada yang berwenang. orang tadi baru melakukan perbuatan pidana. dan pada saat kejahatan masih bisa dicegah dengan sengaja kepada tidak pejabat kepadanya tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain. kalau orang yang dalam keadaan bahaya tadi kemudian lalu meninggal dunia. 108. 187 dan 187 bis. Pasal 531 KUHP : barang siapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. Syarat tambahan tersebut tidak dipandang sebagai unsur delik (perbuatan pidana) tetapi sebagai syarat penuntutan. 106. (2) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana Misalnya penganiayaan biasa pasal 351 ayat (1) KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. ancaman pidana diperberat menjadi 5 tahun (pasal 351 ayat . dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.37 38 melakukan kejahatan tersebut pasal 104. jika kemudian orang itu meninggal. apabila mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan.

sebab sifat melawan hukum atau sifat pantang oleh karenanya harus dibuktikan. Unsur melawan hukum yang dinyatakan sebagai unsur tertulis misalnya pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai pencurian yaitu pengambilan barang orang lain dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum.39 40 2 KUHP). Pengertian unsur-unsur tindak pidana kekerasan adalah pantang dilakukan atau sudah mengandung sifat melawan hukum. Misalnya pasal 285 KUHP : “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh di luar perkawinan”. Apabila dicantumkan maka jaksa harus mencantumkan dalam dakwaannya dan dapat diketahui dari doktrin (pendapat ahli) ataupun dari yurisprudensi yan memberikan penafsiran terhadap rumusan . Adakalanya unsur ini tidak dirumuskan secara tertulis rumusan pasal. Pentingnya pengertian Sekalipun pemahaman tindak terhadap pidana. Tanpa ditambahkan kata melawan hukum setiap orang mengerti bahwa memaksa dengan kekerasan atau ancaman unsur-unsur permasalahan “pengertian” unsur-unsur tindak pidana bersifat teoritis. tetapi dalam praktek hal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembuktian perkara pidana. dan jika mengakibatkan mati ancaman pidana menjad 7 tahun (pasal 351 ayat 3 KUHP). Luka berat dan mati adalah merupakan keadaan tambahan yang memberatkan pidana (3) Unsur melawan hukum Dalam perumusan delik unsur ini tidak selalu dinyatakan sebagai unsur tertulis. tentang dilakukan perbuatan sudah jelas dari istilah atau rumusan kata yang disebut. Apabila tidak dicantumkan maka apabila perbuatan yang didakwakan dapat dibuktikan maka secara diam-diam unsure itu dianggap ada.

2) Dapat menguraikan perbuatan terdakwa yang menggambarkan uraian unsur tindak pidana yang didakwakan sesuai dengan pengertian / penafsiran yang dianut oleh doktrin maupun yurisprudensi. 3) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pemeriksaan di sidang pengadilan berjalan secara obyektif. atau biasa diulas dalam analisa hukum. . Bagi Jaksa pentingnya memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana adalah : 1) Untuk menyusun surat dakwaan. 5) Mengarahkan jalannya penyidikan atau memudahkan aparat menerapkan peraturan hukum. akan diberikan sehingga hukum 4) Menentukan nilai suatu alat bukti untuk membuktikan unsur tindak pidana. Dalil-dalil yang digunakan dalam pembuktian akan secara dapat obyektif dipertanggungjawabkan karena berlandaskan teori dan bersifat ilmiah. tidak seluruh unsur tindak pidana. maka pengertian-pengertian unsur tindak pidana yang dianut dalam doktrin atau kepada saksi atau ahli atau terdakwa untuk menjawab sesuai fakta-fakta yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. agar dengan jelas. harus diuraikan sejelas-jelasnya karena ini menjadi dasar atau dalil untuk berargumentasi.41 42 undang-undang yang semula tidak jelas atau terjadi perubahan makna karena perkembangan pengertian dan jaman. yurisprudensi atau dengan cara penafsiran hukum. Biasa terjadi bahwa suatu alat bukti hanya penjelasan penegak berguna untuk menentukan pembuktian satu unsur tindak pidana. 6) Menyusun requisitoir yaitu pada saat uraian penerapan fakta perbuatan kepada unsurunsur tindak pidana yang didakwakan.

Rechtdelicten c. Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse). 2. jadi karena ada undang-undang pelanggaran. KUHP buku ke II memuat delik-delik yang disebut : pelanggaran criterium apakah yang dipergunakan untuk membedakan kedua jenis delik itu ? KUHP tidak memberi jawaban tentang hal ini. sebab ada kejahatan yang baru disadari sebagai delik karena tercantum dalam undang-undang . Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia ini prohibita). 1. Perbedaan secara kwalitatif ini tidak dapat diterima. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. ialah : semacam “pelanggaran”. disebut Delik-delik intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. JENIS-JENIS TINDAK PIDANA Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik. Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara mengancamnya dengan pidana. Wetsdelicten Ialah perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. Ada dua pendapat : a. terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Kejahatan dan Pelanggaran Pembagian delik atas kejahatan dan Ialah yang perbuatan yang bertentangan dengan keadilan.43 44 1. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik. Ia hanya membrisir atau memasukkan kejahatan dan dalam dalam kelompok kelompok pertama kedua masyarakat bertentangan dengan keadilan misal : pembunuhan. jadi yang benar-benar sebagai dirasakan oleh pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. pencurian.

Kejahatan ringan : Dalam KUHP juga sebagai terdapat delik yang perumusannya dititikberatkan perbuatan yang dilarang. Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). Delik ini digolongkan kejahatan-kejahatan . 2. 384. 302 (1). di muka umum menyatakan perasaan kebencian. 407.45 46 pidana. 352. Oleh karena perbedaan secara demikian itu tidak memuaskan maka dicari ukuran lain. KUHP). 382. 373. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya dalam perbuatan seperti tercantum rumusan delik. Seminar Hukum Nasional 1963 tersebut di atas juga berpendapat. yang benar-benar misalnya pasal 364. Delik formil itu adalah delik yang kepada dirasakan bertentangan dengan rasa keadilan. 210 KUHP). sumpah pemalsuan palsu surat (pasal (pasal 242 263 KUHP). Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materiil) a. 315. ialah “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”. bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan. Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi. Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP). 375. jadi sebenarnya tidak segera dirasakan sebagai bertentangan dengan rasa keadilan. b. Dan sebaliknya ada “pelanggaran”. b. pencurian (pasal 362 KUHP). penyuapan (pasal 209. 379. permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP).

Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362. 203. pencurian. misal : tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP).47 48 baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. 5. akan tetapi dapa dilakukan dengan cara tidak berbuat. Delik commisionis. 340 KUHP). pertolongan (pasal 531 (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) . tidak menolong orang yang memerlukan KUHP). ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. 231 ayat 4 dan pasal 359. Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaan larangan (dus delik commissionis). 245. Delik dolus : delik yang memuat unsur kesengajaan. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP). 197. 201. seorang penjaga wissel yang menyebabkan 3. penipuan. Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur misal : pasal 195. Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten) a. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan. Misal : seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338. Delik tunggal dan delik berangkai berbuat sesuatu yang dilarang. 338 KUHP b. Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP). Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. b. pembunuhan (pasal 338 KUHP). 310. misal : pasal-pasal 187. penggelapan. 197. commissa a. 360 KUHP. ialah 4. c. penipuan (pasal 378 KUHP). 263.

Gugatan dipakai dalam acara perdata. : pasal 367. 8. Delik aduan yang relative ialah mis. hutangnya karena kepada B A.49 50 a. chantage pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa. sebagai : penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (pasal 351 ayat 2. 3 KUHP). Delik aduan dan delik laporan Laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten) Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. Delik berangkai delik. Delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. ialah mis. disebut relatif karena dalam delik-delik ini ada hubungan istimewa antara si merupakan dilakukan beberapa kali perbuatan. 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. Delik yang berlangsung terus dan delik selesai (voordurende en aflopende delicten) Delik yang berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus. Delik aduan dibedakan menurut sifatnya. 7. misal : A menggugat B di muka pengadilan. ps. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten) Delik yang ada pemberatannya. b. 332. misal : merampas pembuat dan orang yang terkena. : delik apabila yang baru a. pencurian pada waktu malam hari dsb. . Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali. Delik aduan yang absolut. jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP). ayat 2). misal : (pemerasan dengan ancaman pencemaran. b. 310. Catatan : perlu dibedakan antara aduan den gugatan dan laporan. tidak membayar hanya kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP). : pasal 284. misal : pasal 481 (penadahan sebagai kebiasaan) 6.

pidana tambahan : a. Delik sederhana. yang dapat diganti pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu. d. dimumkannya keputusan hakim ekonomi. pidana pokok : a. pidana denda. c. Rumusan delik dalam undang-undang lazim dimulai dengan kata-kata : “barang siapa yang Sifat dari pidana tersebut adalah sedemikian rupa.”. UU darurat tentang tindak pidana dengan pidana kurungan 2. 9. pencurian (pasal 362 KUHP). SUBYEK TINDAK PIDANA Sebagaimana diuraika terdahulu. Ini dapat disimpulkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. memberi petunjuk bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan itu adalah manusia. 7 tahun 1955. Delik ekonomi (biasanya disebut tindak pidana ekonomi) dan bukan delik ekonomi Apa yang disebut tindak pidana ekonomi itu terdapat dalam pasal 1 UU Darurat No. pidana penjara c. pencabutan hak-hak tertentu b. b. pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana itu manusia (naturlijke personen). Ada delik yang ancaman ……. pidana mati b. pidana kurungan d. yaitu : 1. sehingga pada dasarnya hanya dapat dikenakan pada manusia. perampasan barang-barang tertentu c. Delik ini disebut “geprivelegeerd delict”. bahwa unsur pertama tindak pidana itu adalah perbuatan orang. misal : pembunuhan kanakkanak (pasal 341 KUHP). . misal : penganiayaan (pasal 351 KUHP). Dalam pemeriksaan perkara dan juga sifat dari hukum pidana yang dilihat ada / tidaknya kesalahan pada terdakwa. Dalam pasal 10 KUHP disebutkan jenis-jenis pidana yang dapat dikenakan kepada tindak pidana.51 52 (pasal 363). Kata “barang siapa” ini tidak dapat diartikan lain dari pada “orang”.

Atau dalam UU Darurat tentang pengusutan. sesuatu Seorang fungsi anggota dalam pengurus sesuatu dapat pasal 169 : “ikut serta dalam perkumpulan yang terlarang”. misalnya dalam “ordonansi barang-barang yang diawasi” (S. Menurut pasal ini yang dapat dipidana adalah orang yang melakukan korporasi. penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (UU Darurat No. Pasal ini tidak menunjuk ke arah dapat dipidana suatu badan hukum. Dalam perkembangannya apakah kecuali manusia tidak ada sesuatu yang dapat melakukan tindak pidana misalnya badan hukum ? dalam KUHP terdapat pasal yang seakan-akan menyinggung soal ini. yang berbunyi : “suatu tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia”. suatu perkumpulan atau badan (korporasi) lain. buka korporasinya. ialah pasal 59. 33-368 pasal 25 ayat 7. Akan tetapi ajaran ini sudah ditinggalkan. Dalam hukum positip Indonesia. Ordonansi obat bius S. apabila dapat membuktikan bahwa pelanggaran itu dilakukan tanpa ikut campurnya. mengenai pengurus atau komisaris perseroan terbatas dan sebagainya yang dalam keadaan pailit merugikan perseroannya.v. 27-278 jo. akan tetapi disinipun yang diancam pidana adalah orang.1948-144) harga” dan (S. Bahwasanya yang menjadi subyek tindak pidana itu adalah manusia. Dalam KUHP juga ada pasal lain yang pengendalian ketentuan yang mengatur apabila suatu badan (hukum) melakuka tindak pidana yang disebut dalam ordonansi-ordonansi itu. ini disebut “pembalikan beban pembuktian” (omkering van bewijslast).T) terhadap pasal 59 KUHP.1948-295) “Ordonansi terdapat membebaskan diri. 7 tahun 1955 pasal 15 dimana dalam ayat 1 dan 2 dengan tegas menyebutkan kelihatannya juga menyangkut korporasi sebagai subyek hukum.53 54 d. dan juga pasal 398 dan 399. sesuai dengan penjelasan (M. Vide . Keterangan : di dalam hukum acara. Pengertian kesalahan yang dapat berupa kesengajaan dan kealpaan itu merupakan sikap dalam batin manusia.

bahwa menurut Hoge Raad. korporasi dapat melakukan tindak pidana. Persoalan mengenai penyertaan dan kesalahan dalam pada itu akan kerap kali menjadi sumber perbedaan pendapat”. …………. 83) menyatakan mengenai persoalan ini (terjemahan) “Untuk sebagian peradilan dengan dibantu oleh ilmu pengetahuan hukum harus menemukan sendiri penyelesaian untuk problem dalam materi baru ini”. Dan dalam hal. 477 van Hattum menulis a. : (terjemahan) Pompe (hal. sebab peradilan terhadap badan hukum kiranya akan menduduki tempat yang penting dalam hukum pidana kita. Dalam pada itu sekarang suda pasti. 147) : “agaknya perlu untuk menggambarkan pertumbuhan ajaran ini agak lebih luas dari pada biasanya dalam buku pelajaran. bahkan mereka itu dapat mengemukakan alasan tidak adanya kesalahan sama sekali”. sebaiknya pembentuk undang-undang membuat ketentuan-ketentuan umum dalam hal suatu tindak pidana dilakukan oleh suatu korporasi. Van Hattum (hal.l.55 56 bahwa badan hukum dapat menjadi subyek hukum pidana. bahwa korporasi dapat mempunyai kesalahan dan . ya bahkan kadang-kadang korporasi sajalah yang dapat menjadi pembuat.

maka harus dapat dibuktikan bahwa A. Kausalitas Didalam delik-delik yang dirumuskan secara materiil (selanjutnya disebut delik materiil). 334 ayat 2 dan 3. 195 ayat 2. Hubungan sebab akibat (causaliteitsvraagstuk) ini penting dalam delik materiil. “akibat” ini artinya “perubahan atas suatu keadaan” dimana atau dapat berupa suatu terhadap terdapat unsur akibat sebagai suatu keadaan yang dilarang dan merupakan unsur yang menentukan (essentialia dari delik tersebut). Berbeda dengan dengan delik formil terjadinya akibat itu hanya merupakan accidentalia. Perlu diketahui bahwa . Keadaan yang menentukan di sini adalah terampasnya nyawa seseorang. Persoalan kausalias ini terjadi karena kesulitan untuk menetapkan apa yang menjadi sebab dari suatu akibat. maka delik (materiil) itu tidak ada. 351 ayat 2 dan 3. bukan suatu essentialia. Contoh : matinya Oleh karenanya untuk dapat menuntut seseorang (misalnya X) yang dilakukan melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya seseorang. 194 ayat 2. Selain itu juga merupakan persoalan pada delik-delik yang dikualifikasi oleh akibatnya (door het gevolg gequafili ceerde delicten) misal pasalpasal : 187. Misalnya : Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan. 355 ayat 2 dan 3 KUHP. CAUSALITAT) si A. paling banyak ada percobaan.57 58 BAB IV HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (CAUSALITEIT. karena perbuatan X itu maka timbul akibat matinya A. pasal 333 ayat 2 dan 3. pembahayaan perkosaan kepentingan hukum. sebab jika disini tidak terjadi akibat yang dilarang dalam delik itu. 188.

Tiap syarat. maka terjadilah beberapa teori kausalita. kemudian dibawa ke dokter. Dalam menetapkan apakah yang dapat dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian. lalu mati. Dalam filsafat terdapat “peringatan”. misalnya dalam filsafat. Tidak ada syarat yang dapat dihilangkan (lazim dirumuskan “nicht hiin weggedacht warden kann dan seterusnya) ditelusuri sampai ke sebab. Persoalan ini pun terdapat dalam lapangan ilmu pengetahuan lainnya. Kalau satu syarat dihilangkan. Penganiayaan ringan terhadap A itu juga merupakan sebab dari matinya A. Contoh : A dilukai ringan. Teori Ekivalensi (aquivalenz-theorie) atau Bedingungstheorie atau teori condition sine qua non dari von Buri Teori ini mengatakan : tiap syarat adalah sebab. yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. menurut waktu. baik positif maupun negatif untuk timbulnya suatu akibat itu adalah sebab. Akibat kongkrit harus bisa kongkrit. sebab kalau satu syarat tidak ada maka akibatnya akan lain pula. dan semua syarat itu nilainya sama.59 60 persoalan ini tidak hanya terdapat dalam B. belum tentu disebabkan karena kejadian “A” (post hoc non propter hoc). seperti yang senyata-nyatanya. maka tidak akan terjadi akibat lingkungan hukum pidana saja.1. Di tengah jalan ia kejatuhan genting. Teori-teori hendak dagang misalnya dalam persoalan menetapkan hubungan obyektif antara perbuatan (manusia) dan akibat. Dalam hubungan ini baik dipandang terlampau sederhana. Teori-teori Kausalitas (ajaran-ajaran kausalitas) B. dan mempunyai nilai yang sama. Teori ekivalensi ini memakai pengertian “sebab” sejalan dengan pengertian yang dipakai dalam logika. Akan tetapi sebenarnya tidak boleh tanpa menyebabkan berubahnya akibat. Misalnya hukum perdata dalam penentuan ganti rugi dan dalam hukum asuransi. . akan tetapi juga dalam lapangan hukum lainnya. tempat dan keadaannya. bahwa kejadian “B” yang terjadi sesudah kejadian “A”.

Yang merupakan sebab bukan hanya ditikam A. maka ada teori-teori lain yang hendak membatasi teori tersebut teori-teori yang akan disebutkan di bawah ini. “bahwa “sebab itu adalah “the whole of antecedents” (1843). Van Hamel. merupakan “akibat” dari “sebab” yang terjadi sebelumnya. B.61 62 dikemukakan. dan juga karena tori ini menarik secara luas sekali dalam membatasi lingkungan berlakunya antara jawaban pertanggung pertanggungjawaban pidana. hubungan pidana. apabila diperbaiki dan diatur oleh teori kesalahan yang harus diterapkan dijelaskan. Jadi misal : B ditikam oleh A sampai mati. mengambil dari sekian faktor yang menimbulkan akibat itu ekivalensi berpendapat bahwa “untuk hukum pidana teori ini boleh digunakan. sebab tiap-tiap “sebab” sebenarnya dengan bahwa kausal sebaik-baiknya”. Teori ekivalensi ini dapat dipandang sebagai pangkal dari teori-teori lain. sedang faktor-faktor lainnya dipisahkan sebagai faktorfaktor yang irrelevant (yang tidak perlu / penting). Teori-teori Individualisasi Teori-teori ini memilih secara post actum (inconcreto). Berhubungan dengan keberatan itu. artinya setelah peristiwa kongkrit terjadi. sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan. sedang faktor-faktor lainnya .2. bahwa terlepas satu sama lain. apabila tidak ada pembuatan pisau. seorang penganut teori begitu Jadi pembuatan pisau itu juga “sebab” dan seterusnya. John Stuart Mill (di Inggris) dalam bukunya : Sistem of Logic berpendapat. Kebaikan teori ini : mudah diterapkan. dari serentetan faktor yang aktif dan pasif dipilih sebab yang paling menentukan dari peristiwa tersebut. tetapi juga penjualan pisau itu kepada A dan penjualan pisau itu tidak ada. harus dan dibedakan Di sini beberapa faktor yang kuat (dominant). Kritik / keberatan terhadap teori ini : hubungan kausal membentang ke belakang tanpa akhir.

tentang Ada-quanzttheorie). Seorang yang menyetir mobil terpaksa keseimbangan positif itu. Yang disebut “sebab” adalah syarat-syarat positif dalam keunggulannya (in ihrem Ubergerwicht-bobot yang melebihi) terhadap syarat-syarat yang negatif. Oleh karena itu teori ini disebut teori adequat (teori adequate. b. Ini suatu akibat yang abnormal. dimana faktor yang positif itu lebih unggul. Satu-satunya sebab ialah faktor atau syarat terakhir dan yang menghilangkan faktor Contoh-contoh ada hubungan sebab akibat yang adequat : a. biasanya dapat mengakibatkan hidung keluar darah. Binding. atau tidaknya “Ubergewichtstheorie)” Dikatakan : sebab dari sesuatu perubahan adalah identik dengan perubahan dalam keseimbangan antara faktor yang menahan (negatif) dan faktor yang positif. Dalam teori ini dicari sebab yang adequate untuk timbulnya akibat yang bersangkutan (ad-aequare artinya dibuat sama). mempunyai kadar (kans) untuk itu. Akan tetapi apabila orang yang pukul itu menjadi buta itu bukan akibat yang adequate. atau menurut perhitungan yang layak. Birkmayer (1885) mengemukakan : sebab adalah syarat yang paling kuat (Ursache ist die wirksamste Bedingung) 2. Teori-teori generalisasi Teori-teori ini melihat secara ante factum (sebelum kejadian/in abstracto) apakah diantara serentetan syarat itu ada perbuatan manusia yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat penganutnya tidak banyak antara lain : 1.3. memenangkan mengerem sekonyong-konyong. Suatu jotosan ang mengenai hidung. Penganut- B. yang tidak biasa. oleh karena ada pengendara sepeda hendak menyebrang .63 64 hanya merupakan syarat belaka. artinya menurut pengalaman hidup biasa. Teorinya disebut semacam itu.

melainkan pengetahuan dari hakim. Penentuan subyektif (subjective ursprungliche Prognose). Adakah pen-sebab-an yang adequate ? Jawabannya tergantung dari keadaan. Dianipun dapat dikatakan bahwa perbuatan pengendara menimbulkan akibat tertentu itu ? Mengenai hal ini ada beberapa pendirian.65 66 jalan yang membelok. Jadi bukan yang diketahui atau yang dapat diketahui oleh sipembuat. Hal yang merupakan persoalan dalam teori ini ialah : bagaimanakah penentuannya. Disini yang dianggap sebab ialah apa yang oleh sipembuat dapat diketahui / diperkirakan bahwa apa yang dilakukan itu pada umumnya dapat menimbulkan akibat semacam itu (Von Kries jadi pandangan atau pengetahuan menentukan). c. Disini disebut antara lain : 1. Seorang petani membakar tumpukan rumput kering (hooi). Akan tetapi apabila di daerah itu merupakan kebiasaan orang untuk bersembunyi atau menginap dalam tumpukan rumput. tidak timbul akibat semacam itu maka perbuatan petani itu bukanlah sebab. Jika biasanya menurut pengalaman sehari-hari. oleh ini sedang ini tidak mobil. bahwa suatu sebab itu pada umumnya cocok untuk disangka-sangka Pengendara pengendara mendapat mobil penyakit trauma karena menekan urat. diketahui atau pada umumnya diketahui. 2. maka perbuatan petani itu benar-benar mempunyai kadar untuk matinya seseorang. . Dasar penentuan apakah suatu perbuatan itu dapat menimbulkan akibat ialah keadaan atau hal-hal yang secara obyektif kemudian si pembuatlah yang sepeda itu tidak merupakan penyebab yang adequate untuk timbulnya penyakit trauma tersebut. Penentuan obyektif. dimana secara kebetulan bersembunyi / tidur seorang penjahat hingga ikut mati terbakar.

Oleh karena dalam ajaran tersebut tersimpul unsur kesalahan. Contoh : seorang majikan. sebab seandainya pekerja itu tidak disuruh keluar oleh majikan. Beberapa penganut teori adequat yang lain : 1. Simons : Dikatakan olehnya : “suatu perbuatan dapat disebut sebagai sebab dari suatu akibat. maka ia juga menentukan pertanggunganjawab (pidana). oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori adequate subyektif dari von Kries ini bukan teori kausalitas yang murni. Menurut teori ini : perbuatan menyuruh orang ke tempat lain pada umumnya tidak mempunyai kadar untuk kematian seseorang karena disambar petir. Penyambaran petir adalah hal yang (voor zien) akan terjadinya akibat atau kalau orang umumnya membayangkan terjadinya akibat itu. yang sangat membenci pekerjanya. sehingga juga tidak ada pemidanaan. ingin sekali agar pekerja itu . Menurut teori ekivalensi : ya.67 68 Dasar penentuan (Beurteilungs standpunkte) ini disebut (Rumelin). melepasnya. apabila menuntut pengalaman manusia pada umumnya harus diperhitungkan kemungkinan. Sebab suatu perbuatan baru dianggap sebagai sebab yang adequate apabila sipembuat dapat mengira-ngirakan atau membayangkan dipandang terlalu jauh. Dengan ini maka tidak ada hubungan kausal. Harapan itu Sebenarnya dalam teori kausal adequat subyektif (Von Kries) itu tersimpul unsur terkabul dan pekerjanya itu mati disambar petir. Pada waktu hujan yang disertai petir ia menyuruh pekerjanya itu pergi ke suatu tempat dengan harapan agar orang itu disambar petir. Oleh karena itu lebih memuaskan apabila dipakai teori adequate. Konsekwensi ini umumnya penentuan tentang kesalahan). maka ia tidak mati. “objektive nachtragliche Prognose” mati. tetapi tidak berani kebetulan. jadi sipembuat dapat membayangkan dan seharusnya dapat membayangkan. jadi bukan teori kausalitas dalam arti yang sesungguhnya.

69 70 bahwa dari perbuatan sendiri akan terjadi akibat itu”. dan memberi keterangan yang cukup memuaskan merupakan dimaksudkan bersangkutan. Kami (Ringkasan Hukum Pidana hal. Dalam hal ini teori adequat dapat apakah sebab sesuatu sesuatu rumusan perbuatan akibat delik itu yang yang dari dalam (presumptie). Akan tetapi kelemahan teori ini tidak mudah dalam kenyataan. Tinjauan terhadap teori-teori kausalitas manusia pada umumnya dan sebagainya. Berhubung dengan tugas tersebut maka hukum pidana harus membuat “pagar” terhadap perbuatan-perbuatan yang agaknya mendatangkan kerugian. dengan mengikuti hal ikhwal yang berada dan menurut pengalaman kita. tidak terlihat tersebut di atas : teori ekuivalentie dapat dikatakan teori kausalitas yang benar. penentuan ada dan tidaknya unsur kesalahan pada sipembuat. Ini kesimpulan pengalaman kita sebagai manusia. 2. bahwa alur peristiwa di dunia ini ada biasa dan normal. Hukum Pidana itu mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perkosaan dan perbuatan yang membahayakan. 3. itu dapat juga dikatakan. bahwa teori tersebut sesuai dengan jiwa hukum pidana. biasanya. 47) berpendirian senada dengan Simons. mengikuti yurisprudensi Negeri Belanda. pengalaman akibat yang bersangkutan. yang sesuai dengan asas konkordantie pada waktu itu. Pompe : yang disebut sebab ialah perbuatanperbuatan yang dalam keadaan tertentu itu mempunyai strekking untuk menimbulkan menunjukkan perbuatan-perbuatan tersebut. Mengenai teori adequat dari von Kries. Teori ini ditambah dengan . Syarat yang pada umumnya. kadar. Dalam yurisprudensi Hindia Belanda. Beliau katakan : “Kehidupan hukum dan perhubungan hukum itu terdiri atas persangkaan. dengan kadarnya memadai sesuatu akibat. itulah yang dianggap sebagai suatu sebab”. ia menggunakan istilah-istilah yang tidak terang misalnya biasanya. akan tetapi selalu diberi suatu penambahan.

Putusan Politierechter Palembang 8 Nopember 1936 diperkuat oleh Hooggerechtshof 2 Pebruari 1937. Anak tersebut menabrak orang. Putusan Raad van Justitie Batavia 23 Juli 1937 (.71 72 dengan nyata teori mana yang dipakai. b. Putusan Politierechter Bandung 5 April 1933 Seorang ayah yang membiarkan anaknya yang berumur 14 tahun mengendarai sepeda motornya. yang membiarkan pengemudi itu tetap menyopir. Maka matinya si korban dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan si terdakwa (pengendara mobil). Putusan Penagadilan Negeri Pontianak 7 Mei 1951. Terlindasnya pengendara sepeda motor oleh kereta api itu dipandang oleh pengadilan sebagai akibat langsung dan segera dari penabrakan sepeda motor oleh mobil. Pengendara sepeda motor terpental ke atas rel dan seketika itu dilindas oleh kereta api. Disini memang perbuatan si ayah dapat disebut syarat tersebut terus menyopir tidak dianggap sebagai sebab dari kecelakaan yang terjadi. Perbuatan terdakwa yang tidak menarik seorang pengemudi mobil yang sembrono dari tempat kemudi (stuur) dan membiarkan pengemudi Hooggerechtshof condong ke teori adequate. Perbuatan terdakwa. hanya dipandang sebagai suatu syarat dan bukan sebab. oleh karena terdakwa sebagai orang yang mengatur pemasukan barang- (voorwaarde) dari tabrakan itu. bahwa antara perbuatan dan akibat harus ada hubungan yang langsung dan seketika (onmiddellijk en rechtsreeks) a. Akan tetapi dalam pada itu di dalam berbagai putusan pengadilan dapat ditunjukkan adanya persyaratan. d. 147 hal 115) sebuah mobil menabrak sepeda motor. boleh disebut sebab dari tabrakan itu. oleh karena antara perbuatan ayah dan tabrakan itu tidak ada hubungan kausal yang langsung. oleh karena antara perbuatan terdakwa dan terjadinya kecelakaan itu tidak terdapat hubungan yang langsung. c. akan tetapi tidak . dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta Terdakwa sebagai kerani bertanggung jawab atas tenggelamnya satu kapal yang disebabkan oleh terlalu berat muatannya dan yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia.

Teori ini disebut “teori berbuat yang sebelumnya”. b. Pada delik omissi persoalannya mudah. Pada delik ini ada pelanggaran larangan dengan “tidak berbuat”. c. Teori ini dinamakan “teori berbuat lain. karena dalil pengetahuan alam tidak tepat untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan rokhani (seperti hukum pidana berbagai pihak tentang terlalu beratnya muatan pada waktu kapal akan berangkat. Yang disebut sebab ialah perbuatan yang positif yang dilakukan oleh sipembuat pada saat akibat itu timbul. Pendirian ini tidak bisa diterima. yang disebut sebagai sebab ialah “sesuatu yang dilakukan ibu itu pada saat ia tidak memberi susu itu. Jenis kedua ini sebenarnya delik commissi yang dilakukan dengan “tidak berbuat”. Misal : dalam hal seorang ibu membunuh anaknya dengan tidak memberi susu. Yang disebut sebagai sebab ialah perbuatan yang mendahului akibat yang timbul. karena delik omissi itu adalah delik formil. misal pergi ke toko. Tidak mungkin orang tidak berbuat bisa menimbulkan akibat.73 74 barang angkutan dalam kapal in casu tidak mempedulikan peringatan-peringatan dari a. C. Yang ada persoalan ialah pada delik commisionis per omission commissa. Teori inipun tidak dapat diterima. Dalam persoalan ini ada beberapa pendirian : ini). Pendirian ini didasarkan kepada dalil ilmu pengetahuan alam yang berbunyi bahwa dari keadaan negatif tidak mungkin timbul kedaan positif. Kausalitas dalam hal tidak berbuat Persoalan ini timbul dalam delik-delik omissi dan dalam delik comisionis per ommisionem commissa (delik omissi yang tak sesungguhnya). karena kepergian ibu itu tidak bisa dianggap ada perhubungan dengan akibat itu. misal . sehingga tidak ada persoalan tentang kausalitas. Di dalam pertimbangan juga disebut bahwa perbuatan terdakwa mempunyai “hubungan erat” dengan “kecelakaan itu”.

Seseorang yang tidak berbuat dapat dikatakan sebab dari sesuatu akibat. orang tuanya mengetahui hal ini.75 76 seorang penjaga wesel yang menyebabkan kecelakaan kereta api karena tidak Jawab (Hof Amsterdam 23 Oktober 1883): tidak. ia dapat dipertanggungjawabkan. yang diharapkan untuk penerimaan jabatan dengan akibat yang timbul. tidak hanya yang nyata-nyata tertulis dalam suatu peraturan tetapi juga dari peraturan-peraturan yang tidak tertulis. Teori inipun tidak memuaskan. ialah norma-norma lainyang berlaku dalam masyarakat yang teratur. menurut ajaran ini yang menjadi sebab ialah apa yang dilakukan penjaga wesel. sebab sulit dilihat hubungannya antara semacam itu sangat tercela (laakbaar) dan tidak patut. Di bawah ini diberi contoh-contoh apakah ada kewajiban berbuat atau tidak : 1) Ada anak yang dibunuh. Sedang menurut teori adequate. Apakah orang tua bertanggung jawab sebagai ikut berbuat dalam diperbuat/dilakukan. Kesimpulan mengenai kausalitas dalam hal tidak berbuat : sekarang tidak ada persoalan lagi. Kewajiban itu timbul dari hukum. tetapi tidak berbuat apa-apa. Dalam delik commisionis per omissionem commissa (delik omissi yang tidak sesungguhnya) “tidak berbuat” itu bukannya “tidak berbuat sama sekali” akan tetapi “tidak berbuat sesuatu”. d. sebab sebagai penjaga ia berkewajiban untuk menjaga dan berbuat sesuatu. 2) Seorang penjaga gudang membiarkan pencuri melakukan aksinya. Maka dengan pengertian ini hal “tidak berbuat” pada hakekatnya sama dengan “berbuat sesuatu”. “Tidak berbuat” sebenarnya juga merupakan “perbuatan”. pembunuhan ? . dalam arti dapat menjadi syarat untuk terjadinya suatu akibat. bahwa tidak berbuat itu dapat menjadi sebab dari suatu akibat. mengingat keadaan yang kongkrit. apabila ia mempunyai kewajiban hukum untuk berbuat. tetapi memang sikap memindahkan wesel.

jadi harus dibedakan dari persoalan kesalahan atau pertanggungan jawab pidana yang merupakan segi subyektifnya. Akhirnya perlu diperhatiakn bahwa soal hubungan kausal ini terletak dalam segi obyektif (yang menyangkut perbuatan) dari keseluruhan syarat pemidanaan. 168. “dengan melampaui kewenangannya” (pasal 430). BAB IV SIFAT MELAWAN HUKUM (Rechtswdrig. b.77 78 dapat juga mempunyai kadar untuk terjadinya akibat. jadi juga dapat menjadi “sebab”. “tanpa mengindahkan cara-cara yang ditentukan oleh peraturan umum” (pasal 429). 510). dengan istilah lain misalnya : “tanpa mempunyai hak untuk itu” (pasal 303. 522. 335 (1). (wederrechtelijk) dalam pasal 167. Istilah dan Pengertian KUHP memakai istilah bermacam-macam : a. 548. “tanpa izin” (zonder verlof) (pasal 496. . 549). ialah yang menyangkut orangnya. Onrechmatig) A. Unrecht. Wederrechtelijk. tegas dipakai istilah “melawan hukum”.

hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum (H. Misalnya dalam melaksanakan perintah undang-undang (ps. Arti istilah bersifat melawan hukum itu terdapat tiga pendirian: 1. dan bukan terhadap si Pembuat. ialah unsur seluruhnya dari delik sebagaimana dirumuskan dalam peraturan pidana. tanpa kewenangan atau tanpa hak. 50 KUHP) : 1) regu penembak. Unsur ini merupakan suatu penilaian obyektif terhadap perbuatan. bertentangan dengan hukum (Simons) 2. bertentangan dengan hak (subyektief recht) orang lain (Noyon) 3.R). 2) Jaksa menahan orang yang sangat dicurigai telah melakukan kejahatan. Tasbestand disini dalam arti sempit. yang berhak atau rumusan delik sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang”. Dalam bahasa Jerman ini disebut “tatbestandsmaszig”. Ia tidak dapat dikatakan melakukan kejahatan tersebut pasal 333 KUHP. mungkin dipidana pula. yang menembak mati seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman pidana mati.79 80 Alasan pembentuk undang-undang itu mencantumkan unsur sifat melawan hukum itu tegas-tegas dalam sesuatu rumusan delik karena pembentuk undangundang khawatir apalagi unsur melawan hukum itu tak dicantumkan dengan tegas. berwenang untuk melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang itu. Pengecualian atas tasbestand mer male. Salah satu unsur dari tindak pidana adalah unsur sifat melawan hukum. Bilamana sesuatu perbuatan itu dikatakan melawan hukum ? Orang akan menjawab : “apabila perbuatan itu masuk dalam dapat dikecualikan atas perbuatan yang memenuhi rumusan delik (tatbestandsmaszig) itu tidak senantiasa bersifat melawan hukum. memenuhi unsur-unsur delik tersebut pasal 338 KUHP. sebab mungkin ada hal yang menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. Perbuatan mereka tidak melawan hukum. . Tasbestand dalam arti sempit ini terdiri atas tasbestand mer male. ialah masing-masing unsur dari rumusan delik.

Di dalam kedua contoh tersebut hal yang Seorang perempuan Minangkabau hidup bersama dengan seorang laki-laki dengan siapa ia menurut hukum adat dilarang kawin. Namun dalam kasus : seorang ayah memukul seorang pemuda yang memperkosa anak-anaknya seorang menembak mati temannya atas pertanggungjawaban dan untuk membawa laki-laki itu ke Wali Negeri. Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan Mamak cs melanggar pasal KUHP (merusak ketentraman rumah). dan memidana Mamak 3 bulan penjara dan lain-lainnya masing-masing 2 bulan. sehingga membahayakan permintaan sendiri. Berhubung dengan pelanggaran adat ini. Contoh lain yang mempermasalahkan unsur melawan hukum adalah : Putusan PN Sawahlunto 10 Setember 1936 sapi-sapi yang sehat itu. apalagi jauh dari dokter. Oleh karena perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya pintu didobrak. karena ia luka-luka berat dan tidak mungkin hidup terus. Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas masuk dalam rumusan delik . maka Mamak dari perempuan ini bersama-sama dengan orang lain mendatangi orang tersebut untuk dimintai menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan terdapat di dalam undang-undang. Alasan Arrest Hoge Raad 20 Pebruari 1933 Seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukkan sapi-sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi-sapi yang sudah sakit mulut dan kuku. Maka timbul persoalan ada tidaknya sifat melawan hukumnya perbuatan. karena dalam ekspedisi di Kutub Selatan seorang bioloog membedah binatang-binatang (vivisectie) untuk penyelidikan ilmiah.81 82 karena ia melaksanakan undang-undang (terdapat dalam peraturan hukum acara pidana) sehingga tidak ada unsur melawan hukum.

akan tetapi tidak adanya sifat melawan hukum itu hanyalah bisa diterima. dokter hewan mengemukakan pada pokoknya. Putusan Pembagian Ajaran Sifat Melawan Hukum Menjawab persoalan tersebut maka hukum pidana membagi ajaran sifat melawan hukum dalam dua sudut pandang yaitu : 1. bahwa perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan peternakan. apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya dirumuskan sebagai suatu delik dalam undangundang. mungkin sekali dapat terjadi.83 84 tesebut dalam pasal 82 undang-undang ternak. ialah dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan yang membahayakan / mengkhawatirkan. apabila perbuatan diancam pidana dan Mahkamah Agung Belanda : Pasal 82 Undang- undang ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu. bahwa suatu perbuatan. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan melawan atau bertentangan dengan undang-undang alasan-alasan penghapus pidana. yang masuk larangan dalam sesuatu undang-undang itu tidaklah mutlak bersifat melawan hukum. Ketika dituntut. bahwa seseorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti dipidana. karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan ternyata tidak ada. jika di dalam hukum positif terdapat alasan untuk suatu perbuatan secara rumusan delik”. Menurut Simons. menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbuatan itu bersifat melawan hukum. hanya berdasarkan suatu ketentuan undang-undang. Pertimbangannya antara lain : “tidak dapat dikatakan. . bahwa unsur sifat melawan hukum tidak dicantumkan di dalam rumusan delik dan meskipun demikian tidak ada pemidanaan. “Memang boleh diakui. sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat hapus. sehingga oleh karenanya pasal yang bersangkutan yang tidak berlaku letterlijk terhadap memenuhi (hukum tertulis).

2. Di sini menurut Zu Dohna perbuatan ayahnya tidak melawan hukum. c) M. maka tidak bersifat melawan hukum. tidak hanya yang terdapat dalam undang-undang (yang tertulis) saja. akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang tidak tertulis.E. kalau tidak bertentangan dengan tujuan itu.85 86 pengecualian berlakunya ketentuan / larangan itu. Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyatanyata masuk dalam rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich). Contohnya ialah seorang yang memukulpemuda yang memperkosa anak perempuannya. Alasan untuk menghapuskan sifat melawan hukum tidak boleh diambil di luar hukum positif dan juga alasan yang disebut dalam undang-undang tidak boleh diartikan lain daripada secara limitatief. menurut ajaran sifat melawan hukum yang materiil Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang menganut ajaran sifat melawan hukum yang meteriil ialah : a) Von Liszt : perkosaan atau pembahayaan terhadap kepentingan hukum hanyalah bersifat melawan hukum materiil (materiel rechts widrig). b) Zu Dohna mengatakan : Suatu perbuatan itu tidak melawan hukum jika perbuatan itu merupakan upaya yang haq untuk tujuan yang haq (richtiges Mittel zum techten zwecke). Mayer mengatakan : bersifat (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya sebagaimana para sarjana yang . jika perbuatan itu bertentangan dengan tujuan ketertiban hukum (den Zwecken der das Zusammenleben regelnden Recht sordnung widerspricht).

87 88 Perbuatan itu melawan hukum materiil atau tidak. tetapi mengenai hal itu harus diselidiki untuk tiap-tiap kejadian yang kongkrit. 348 KUHP) bisa tidak melanggar hukum berdasarkan petunjuk eugenetisch atau sosial. Kalau perbuatan itu sesuai dengan kulturnorm itu maka sifat melawan hukumnya hapus. e) Van Hattum Dengan adanya keputusan Hoge Raad dengan itu menurut hemat saya (mer van Hattum) telah diterima ajaran sifat melawan hukum yang materiil oleh Hoge Raad dan telah dipecahkan persoalan mer azas-azas yang boleh dikatakan benar dalam ajaran “penentuan hukum” dewasa ini (in de hedendaagse leer Her rechtsvir onbetwist). ditentukan oleh norma kebudayaan (kulturnorm). d) Zevenbergen Onrechtmatigheid adalah syarat yang umum. Persaksian terhadap sifat melawan hukum yang materiil itu harus dilakukan secara hatihati. ia katakan : . apakah yang diharapkan oleh ketertiban hukum. Kesimpulan mengenai persoalan melawan hukumnya perbuatan. yang biasanya ada jika suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. obyektif yang berdiri sendiri. bila suatu perbuatan itu memenuhi rumusan delik. Sifat melawan hukum itu. (Eugenetiek adalah ajaran yang mempelajari perbaikan ras / keturunan). Akan tetapi sifat itu hapus apabila diterobos dengan adanya tentang dokter hewan Huizen itu. maka itu menjadikan tanda / indikasi bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum. Misal abortus protus (ps. berarti bertentangan dengan kulturnorm yang diakui oleh negara. dan istimewa hakim harus membuka diri pada peristiwa-peristiwa yang kongkrit. Dalam hal ada keraguan mengenai sifat melawan hukum maka tidak boleh ada penjatuhan pidana.

sebab tiaptiap keputusan harus memuat alasan yang mendasari keputusan mengetahui itu. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. Berkaitan dengan hukum tertulis maka hakim dalam perkara kongkrit yang sedang dihadapi harus betul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menghapuskan kekuatan berlakunya peraturan yang tertulis dsb. pikiran dan perasaan hakim harus tajam untuk dapat menangkap masyarakat. b).89 90 alat pembenar (rechtvaardigingsgrond). baik secara formil maupun secara materiil. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. sedang penganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil alasan itu boleh diambil dan luar hukum yang tertulis. maka perlu dipertimbangkan betulbetul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. . Sampai dimanakah rasa keadilan dan keyakinan masyarakat dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. c). ialah masyarakat Pancasila mata. Bagi mereka yang menganut ajaran sifat melawan hukum yang formil alasan pembenar itu hanya boleh diambil dan hukum yang tertulis. yang dibuat dengan sah. maka perlu dipertimbangkan betul- kebenaran keputusannya. Ini adalah beban yang berat bagi hakim. yang dibuat dengan sah. kedengaran apa agar yang sedang terjadi dalam tidak seluruh atas supaya Hakim putusannya dengan sumbang. Maka hakim harus benar-benar masyarakat yang mempertimbangkan : a). harus kepribadiannya bertanggung jawab masyarakat pada umumnya. Benarkah yang dipandang adil oleh suatu golongan dalam masyarakat biasa. juga dipandang adil / benar oleh seluruh bagaimanakah keadaan keadaan lebih-lebih masyarakat Indonesia dinamis yang bergerak menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan.

Memang di daerah yang bersangkutan ada anggapan bahwa hutang nyawa harus disaur dengan nyawa. ada yang tercantum dengan tegas. . Ini adalah konsekwensi dari diterimanya azas legalitas untuk KUHP. B. jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum.91 92 Mengenai pengertian melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan : dalam fungsinya yang negatif Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum Unsur sifat melawan hukum itu ada dalam rumusan delik : 1. Nasional nanti dan masih berlakunya KUHP yang sekarang ini dimana juga masih tercantum azas seperti tersebut dalam pasal 1. dalam fungsinya yang positif Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik. meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam Kalau Seminar Hukum Nasional tersebut di atas menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil tentunya hal tersebut dalam fungsinya yang negatif. Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai sumber hukum yang positif. Misal A membunuh B dengan alasan bahwa B telah membunuh C kakak dari A. Suatu negara yang mengakui azas nullum delictum dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif. maka dalam hal ini adanya unsur tersebut harus dibuktikan undang-undang. apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di luar undang-undang.

Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang positif untuk dengan pertanyaan apakah ada pengecualian yang menyebabkan hapusnya sifat melawan hukum”. unsur dianggap dengan diam-diam ada. maka tidak perlu dibuktikan. namun berpendirian. kecuali jika dibuktikan sesuatu delik (artinya ada delik kalau perbuatan itu bersifat melawan hukum). mempunyai fungsi yang positif (merupakan unsur konstitutif) a. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang negatif (artinya : tidak ada unsur sifat melawan hukum pada perbuatan merupakan pengecualian untuk adanya suatu delik). Ini terjadi jika seorang mengira telah melakukan delict. ada pula yang tidak tercantum. maka harus dibuktikan. karena pada umumnya dengan mencocoki rumusan undang-undang sifat melawan hukumnya perbuatan sudah ternyata pula. Pendapat Simons. Yang menganggap sifat melawan hukum itu sebaliknya oleh terdakwa. Sifat melawan hukum disini sebagai unsur konstitutif. Putatif Delik . Prof. “ajaran sifat melawan hukum untuk hukum pidana pada umumnya hanyalah mempunyai hubungan Dalam pembicaraan unsur sifat melawan hukum ini ada delik disebut wahn delict atau putativ delict. Yang menganggap sifat melawan hukum mempunyai fungsi yang negatif adalah Simons. padahal perbuatannya itu sama sekali bukan suatu C. bahwa itu tidak berarti bahwa dalam lapangan procesueel (acara pemeriksaan perkara) sifat itu harus dibebankan pembuktiannya kepada penuntut umum.l. Hazewinkel-Suringa memandang sifat melawan hukum hanya sebagai tanda ciri dari tindak pidana. Beliau setuju. jika tak disebut dalam rumusan delik. b. Muljatno yang meskipun menganggap unsur sifat melawan hukum adalah syarat mutlak yang tak dapat ditinggalkan”. Terhadap delikdelik semacam itu ada perbedaan paham : a. van Hamel dan Zevenbergen.93 94 2.

Bilamana seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab ? Apakah ukurannya untuk menyatakan adanya kemampuan bertanggung jawab itu ? KUHP tidak memberikan rumusannya. apabila ia tidak mampu – . sebab perbuatannya itu tidak bersifat melawan hukum. Dalam literatur hukum pidana Belanda dijumpai beberapa definisi untuk “kemampuan bertanggung jawab”.95 96 delik. BAB V KESALAHAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 1. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan bertanggung jawab. Pengertian Kemampuan Bertanggungjawab (Zurechnungsfahigkeit Toerekeningsvatbaarheid) Telah disebutkan. bahwa untuk adanya pertanggungjawab pidana diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung jawab.

Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undangundang. Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri b. sebab masih dapat ditanyakan kapankah diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian. Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa. akan tetapi juga kurang jelas. baik dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya”. sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan .97 98 Simons : “kemampuan bertanggung jawab dapat Van Bemmelen : seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan ialah orang yang dapat mempertahankan hidupnya dengan cara yang patut. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum b. b. Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya-perbuatannya itu : a. yakni apabila : a. Dikatakan selanjutnya. Mampu untuk menyadari. yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. Definisi van Bemmelen ini singkat. hidupnya dengan cara yang patut” ? Adapun Memorie van Toelichting (memori penjelasan) secara negative menyebutkan mengenai kemampuan bertanggung jawab itu. bahwa seseorang mampu seseorang itu dikatakan “dapat mempertahankan bertanggung jawab. bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan c. jika jiwanya sehat. antara lain demikian : Tidak ada kemampuan bertanggung jawab pada sipelaku Van Hamel : kemampuan bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan : a.

apabila orang yang normal jiwanya itu mampu bertanggung jawab. perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). Dalam hal ini berlaku asas “TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas. yang mampu. . Pengertian Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya. tetapi untuk setiap kali dalam kejadian yang kongkrit dalam praktek peradilan menilai jiwa seorang terdakwa dengan ukuran-ukuran tadi tidaklah mudah. Untuk dapat perbuatannya itu dilarang oleh undang-undang dan berbuat sesuai dengan pikiran atau perasaannya itu. Dengan perkataan lain. Kesalahan 2. kecuali dinyatakan sebaliknya (lihat pembahasan tentang dasar-dasar penghapus pidana). Definisi-definisi tersebut memang ada manfaatnya. namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Dalam persoalan kemampuan bertanggung jawab itu ditanyakan apakah seseorang itu merupakan “normadressat” (sasaran norma). ia mampu untuk menilai dengan pikiran atau perasaannya bahwa 2. Sebagai dasar untuk mengukur hal tersebut.1.99 100 dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya. Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision). Seorang terdakwa pada dasarnya dianggap (supposed) mampu bertanggung jawab. meliputi juga kesengajaan). dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat.

Dalam ilmu hukum pidana dapat dilihat sebagai unsur yang menjadi persyaratan untuk dapat dipertanggungjawabkannya pelaku berpangkal pada pemikiran tentang hubungan antara perbuatan pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada perbuatan orang beserta akibatnya (Tatstrafrecht atau Erfolgstrafrecht) ke arah hukum pidana yang dengan kebebasan kehendak. Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman (UU No. dapat juga dikenal dari pepatah (Jawa) “sing seleh” (yang bersalah pasti salah). Untuk salah. Mens rea merupakan subjective guilt melekat pada sipelaku subjective gilt ini berupa intent (kesengajaan setidak-tidaknya negligence (kealpaan). bahwa seorang yang dianggap dapat bertanggung jawab. 4 / 2004) berbunyi : Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari Tatstrafrecht. Asas “tiada pidana tanpa kesalahan” yang telah disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. Bahwa unsur kesalahan itu. Dengan demikian hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai Sculdstrafrecht. penjatuhan pidana disyaratkan adanya kesalahan pada si pelaku. artinya bahwa. Akan bertentangan dengan rasa keadilan.101 102 Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dlam peraturan lain. Tidak berbeda dengan konsep yang berlaku dalam sistem hukum di Negara Eropa Kontinental. unsur kesalahan sebagai syarat untuk penjatuhan pidana di Negara Anglo Saxon tampak dengan adanya maxim (asas) “Actus non facit reum nisi mens sit rea” atau disingkat dengan asas “mens rea”. 2. mendapat keyakinan. Arti aslinya ialah “evil will” “guilty mind”.2. telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Mengenai hubungan . menurut karena alat berpijak pada orang yang melakukan tindak pidana (taterstrafrecht). sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang. kecuali yang apabila sah pengadilan. namun berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan. Dasar Pemikiran Filosofi dasar yang mempersoalkan kesalahan pembuktian undang-undang. apabila ada orang yang dijatuhi pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. adany pemidanaan harus ada kesalahan pada sipelaku.

b.103 104 antara kebebasan kehendak dengan ada atau tidak adanya kesalahan ada 3 pendapat dari : a. Tanpa ada kebebasan kehendak maka tidak ada kesalahan dan apabila tidak ada kesalahan. itu tak berarti bahwa orang yang melakukan tindak pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. tidak dapat dicela atas perbuatannya atau dinyatakan mempunyai kesalahan. yang bahwa kehendak bebas (free will) dan ini merupakan sebab dan segala keputusan kehendak.3. sehingga tidak ada pemidanaan. Aliran positivist yang melahirkan pandangan determinisme mengatakan. Dalam pandangan ketiga melihat bahwa ada dan tidak adanya kebebasan kehendak itu untuk hukum pidana tidak menjadi soal (irrelevant). maka tidak ada pencelaan. sebab ia . Ini berarti bahwa seseorang. Tetapi reaksi terhadap perbuatan yang dilakukan itu berupa tindakan (maatregel) untuk ketertiban masyarakat. Namun meskipun diakui bahwa tidak punya kehendak bebas. c. Aliran klasik yang melahirkan pada manusia pandangan dasarnya mempunyai tidak punya kehendak bebas. Kesalahan seseorang tidak dihubungkan dengan ada dan tidak adanya kehendak bebas 1. dan bukannya pidana dalam arti penderitaan sebagai buah hasil kesalahan oleh si pelaku. bahwa manusia kehendak itu maka ada pertanggungan-jawab dari seseorang atas perbuatannya. berpendapat. Kesalahan Menurut Beberapa Sarjana tidak mempunyai kehendak bebas. Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya oleh watak (dalam arti naPasalu-naPasalu manusia dalam hubungan kekuatan satu sama lain) dan motifmotif ialah perangsang-perangsang yang datang dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan watak tersebut. Justru karena tidak adanya kebebasan indeterminisme.

VAN HAMEL mengatakan. Kesalahan adalah pertanggungan jawab dalam hukum (Schuld is de verant woordelijkheid rechtens)”. a.” dan dalam arti bahwa berdasarkan perbuatannya pelaku”. Selanjutnya ia katakan : “Salah dosa berada. dasarnya tanggungan jawab terhadap hukum pidana”. d. di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat dari berbagai penulis. e. keadaan dapat psychisch dicelakakan (jiwa) kepada itu si celaan.105 106 Guna memberi pengertian lebih lanjut tentang kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. yang bersifat psychisch yang terdapat dapat Vcrraussetzungen. VAN HATTUM berpendapat : “Pengertian keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku tindak pidana (Schuldist der Erbegriiffder kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum. SIMONS mengartikan kesalahan itu sebagai pengertian yang “sociaal ethisch” dan Verwurf gegen den Tater keseluruhan yang berupa strafbaarfeit termasuk si pelakunya (al het geen psychisch is aan dat complex. die aus der Strafcat einen personlichen begrunden). b. KARNI yang mempergunakan istilah “salah dosa” mengatakan mengandung : “Pengertian Celaan salah ini dosa menjadi mengatakan antara lain : “Sebagai dasar untuk pertanggungan jawab dalam hukum pidana ia berupa keadaan psychisch dari si pelaku dan hubungannya terhadap perbuatannya. jika perbuatan dapat dan patut . dat bestaat uit een strafbaar feit en deswege een strafbare dader). bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psychologis. perhubungan antara keadaan jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. MEZGER mengatakan : kesalahan adalah c. meliputi semua hal.

maupun dengan salah”. Hubungan batin tersebut bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. “Penilaian dari luar” ini merupakan pencelaan dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam masyarakat. ialah apa yang seharusnya diperbuat oleh sipelaku secara extreem dikatakan bahwa “kesalahan seseorang tidaklah terdapat pelanggaran dilakukan kesalahannya. tetapi di samping itu harus ada unsur penilaian atau unsur normatif terhadap perbuatannya. harus boleh dicela karena perbuatan itu. yang bertalian dengan kehendak si pelaku adalah kesalahan. baik dengan sengaja. pada kesengajaan hubungan batin itu berupa menghendaki perbuatan (beserta akibatnya) dan pada kealpaan tidak ada kehendak demikian.107 108 dipertanggungkan atas si perbuat.Pengertian kesalahan yang normatif mengandung perlawanan hak. Dalam arti ini kesalahan hanya dipandang sebagai hubungan psychologis (batin) antara pelaku dan perbuatannya. Jadi di sini hanya digambarkan (deskriptif) keadaan batin berupa kehendak terhadap dalam kepala sipelaku. Yang perbuatan atau akibat perbuatan. Penilaian normatif artinya penilaian (dari luar) mengenai hubungan antara sipelaku dengan perbuatannya. . Segi dalamnya. perbuatan itu Dari pengertian-pengertian kesalahan dari beberapa sarjana di atas maka pengertian kesalahan dapat dibagi dalam pengertian sebagai berikut : . f. melainkan di dalam kepala orang-orang lain”. Yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. Pengertian kesalahan psychologisch. perbuatan itu harus dilakukan. POMPE mengatakan norma antara yang lain : “Pada karena Pandangan yang normatif tentang kesalahan ini menentukan kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin atau hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya. ialah di dalamkepala dari mereka yang memberi penilaian terhadap sipelaku itu. biasanya sifat melawan hukum itu merupakan segi luarnya.

1. dicelakakan (verwijtbaarheid) b. yang terdiri dari sesama penghapus kesalahan. seperti dikatakan oleh van Hamel. bahwa “das Recht ist das ethische Minimum”. Bukan “ethische schuld”.109 110 memberi penilaian pada instansi terakhir adalah hakim. untuk adanya kesalahan hemat kami harus ada pencelaan ethis. Di samping itu ada unsur lain ialah penilaian mengenai keadaan jiwa sipelaku. yang berupa kesengajaan dan kealpaan tetap diperhatikan. Jadi orang yang bersalah melakukan sesuatu perbuatan. ialah kemampuan bertanggungjawab dan tidak adanya alasan pencelaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana. Di dalam pengertian ini sikap batin si pelaku ialah. menurut hakekatnya ia adalah hal dapat 1. menurut akibatnya ia ada hal yang dapat hidupnya.4. betapapun kecilnya. itu berarti bahwa perbuatan itu dapat dicelakakan kepadanya. Ini sejalan dengan pendapat. kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. Namun demikian. Kesalahan dalam Hukum Pidana Kesalahan ini dapat dilihat dari 2 sudut : a. pencelaan disini bukannya pencelaan berdasarkan kesusilaan. melainkan pencelaan berdasarkan hukum yang berlaku. akan tetapi hanya merupakan unsur dari kesalahan atau unsur dari pertanggung-jawaban pidana. Arti “kesalahan” dalam hukum Pidana Dalam hukum pidana kesalahan memiliki 3 pengertian yaitu : a. yang dapat disamakan dengan pengertian dihindarkannya (vermijdbaar-heid) perbuatan yang melawan hukum Dari pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapatlah dimengerti bahwa kesalahan itu mengandung unsur “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”. melainkan “veranwoordelijkheid rechtens. di . Setidaktidaknya pelaku dapat dicela karena tidak menghormati tata dalam masyarakat. dan yang memuat segala syarat untuk hidup bersama.

yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). c. Unsur-unsur dari kesalahan (dalam arti yang seluas-luasnya) Kesalahan dalam arti seluas-luasnya amat berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana dimana meliputi : a. Disini dipersoalkan apakah orang mampu. kealpaan (culpa. . misalnya dengan perbuatannya. hubungan batin antara sipelaku dengan tertentu menjadi “normadressat” yang fahrlassigkeit atau negligence). bahwa orang bersalah 2. maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. sipelaku harus normal. Dengan diterimanya pengertian kesalahan (dalam arti luas) sebagai dapat maka dicelanya si pelaku atas perbuatannya. Jadi apabila dikatakan. c. ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada.111 112 dalamnya terkandung makna dapat dicelanya (verwijtbaarheid) sipelaku atas perbuatannya. berubahlah pengertian kesalahan yang psychologis menjadi pengertian kesalahan yang normatif (normativer schuldbegriff). b. b. Pemakaian istilah “kesalahan” dalam arti ini sebaiknya dihindarkan dan digunakan saja istilah “kealpaan”. Dalam hal ini dipersoalkan sikap batin seseorang pelaku terhadap perbuatannya. (dolus.2 di atas. kesalahan dalam arti sempit. opzet. onachtzaamheid. ialah kealpaan (culpa) seperti yang disebutkan dalam b. vorzatz atau (schuldfahigkeit artinya zurechnungsfahigkeit). kesengajaan intention) atau 2. ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi sipelaku sehingga kesalahannya hapus. kesalahan dalam arti bentuk kesalahan (sculdvorm) yang berupa : 1. adanya sipelaku kemampuan bertanggungjawab pada atau keadaan jiwa melakukan sesuatu tindak pidana.

dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit) 2. . Dalam pada itu harus diingat bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti yang pidana) seluas-luasnya orang yang (strafbaarheid van de persoon). Kalau ini tidak ada. artinya tidak dengan sendirinya dapat dicela atas perbuatan itu. maka kita harus senantiasa menyadari akan dua pasangan dalam syarat-syarat pemidaan ialah adanya : 1. Sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum tidak dengan sendirinya mempunyai kesalahan.113 114 adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (ps. (pertanggungan jawab bersangkutan harus pula dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak ada perlunya untuk menerapkan kesalahan sipelaku. 49 KUHP) Kalau ketiga-tiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah atau Itulah sebabnya. sehingga bisa dipidana. artinya. dapat dipidananya orangnya atau pelakunya mempunyai pertanggungan jawab pidana.

melainkan hanya dapat membayangkannya. yang dengan sengaja. bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan.115 116 BAB VI KESENGAJAAN (DOLUS. Hubungan batin ini bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. (Memorie van Toelichting). yang mengartikan “kesengajaan” (opzet) sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). yang sengaja tidak memberi susu kepada anaknya. yang berisi menghendaki dan mengetahui itu. Misal : seorang Ibu. Teori ini menitikberatkan b. INTENT. mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons. 1. Teori-teori Kesengajaan Berhubung dengan keadaan batin orang yang berbuat Unsur kedua dari kesalahan dalam arti yang seluasluasnya (pertanggungjawaban pidana) adalah hubungan batin antara si pelaku terhadap perbuatan. menghendaki dan sadar akan perbuatannya. OPZET. Jadi dapatlah dikatakan. Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk dicelakakan kepada sipelaku itu. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya.T. Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan. (Pompe : 166).v. Zevenbergen) . orang tak bisa menghendaki akibat. VORSATZ) mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu. dapat diambil dari M. Teori kehendak (wilstheorie) Inti Apakah yang diartikan dengan sengaja ? KUHP kita tidak memberi definisi. maka dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut dua teori sebagai berikut: a.

c. Perbedaannya adalah dalam istilahnya saja. (Frank). Misal : A menempeleng B.117 118 pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat. Ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya. akibat yang memang dituju sipelaku. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat). kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn noodzakkelijkheidbewustzijn atau . maka ia tidak akan berbuat demikian. kesengajaan yang biasa dan sederhana. Dalam praktek penggunaannya. Kalau akibat ini tidak akan ada. kedua-duanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat. Perhatikan : haruslah ditoh:bedakan antara tujuan dan motif. kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet) Bentuk kesengajaan ini merupakan bentuk Terhadap perbuatan yang dilakukan sipelaku kedua teori itu tak ada perbedaan. kedua teori adalah sama. jengkel dsb. Bentuk Kesengajaan Dalam hal seseorang melakukan sesuatu agar B tidak membohong. Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. Motif suatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat misalnya cemburu. dolus directus b. Amenghendaki sakitnya B 2. Dalam hal delik materiil harus dihubungkan faktor kausa yang menghubungkan perbuatan dengan akibat (kausalitas) dimana : 1. yang menunjukkan tingkatan atau bentuk dari kesengajaan sebagai berikut : a. dengan sengaja dapat dibedakan 3 bentuk sikap batin. Perbuatan sipelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang.

meskipun A tahu akan hal terakhir ini namun ia tetap mengirim kue tersebut. Terhadap terbunuhnya B kesengajaan merupakan tujuan sedangkan terhadap rusaknya kaca (ps. 1 tadi. menghindarkan diri dari peradilan dunia dan hendak . 406 KUHP) ada kesengajaan dengan keinsyafan Contoh 2 : A hendak membalas dendam B yang bertempat tinggal di Hoorn. akibat yang tidak didinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam no. oleh karena itu kesengajaan dianggap tertuju pula pada matinya istri B.R. merasa bahwa akhirnya ia akan ketahuan. akibat ini pasti timbul atau terjadi. 9 Maret 1911) kemungkinan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus diemban sipelaku.119 120 2. kematian tersebut tidak menjadi persoalan baginya. Penembakan terhadap B pasti akan memecahkan kaca pemilik restoran itu. Ia ingin terhadap kematian istri B (Arrest H. Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula merupakan diperkirakan sipelaku sebagai Contoh 3 : Seorang yang melakukan penggelapan. Jadi dalam kasus ini : Ada kesengajaan sebagai tujuan terhadap matinya B dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan kepastian atau keharusan sebagai syarat tercapainya tujuan. A mengirim kue taart yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya. A tahu bahwa ada kemungkinan istri B. Contoh 1 : A hendak membunuh B dengan tembakan pistol. yang tidak berdosa itu juga akan makan kue tersebut dan meninggal karenanya. B duduk di balik kaca jendela restoran. Dalam batin si A.

121

122

membunuh dirinya dengan merencanakan sustu kecelakaan lalu – lintas, Ia menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada otobis yang berisi penumpang. Tujuannya agar uang asuransinya yang sangat tinggi (1 ton) itu dapat dibayarkan kepada soprnya. Tetapi ini gagal, ia tidak mati, hanya luka-luka. Beberapa penumpang bis mengalami luka dan seorang diantaranya luka yang membahayakan jiwa. R.v.J (Raad van Justitie) Semarang yang diperkuat oleh Hoogerechtshof dalam tingkat banding

3. Dolus Eventualis Dolus eventualis lahir karena suatu keadaan dimana sikap batin pelaku dimana pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu. Contoh: Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan lajunya di jalan dalam kota. Dimuka ia lihat

menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan penganiayaan berat. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut: Meskipun terdakwa tidak mengharapkan penumpangpenumpang bis mendapat luka-luka, namun akibat ini ada dalam kesengajaanya, sebab iatetap melakukan perbuatan itu, meskipun ia sadr akan akibat yang mungkin terjadi. Kasus ini adalah pengalaman Jokers, ketika menjadi Jaksa Tinggi (Officier van Justitie) pada R.v.J di Semarang.

sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila ia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa

menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatanya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan unuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia

mengiginkan akibat tadi, namun jelas ia menghendaki hal itu, dalam arti, meskipun ia sadar akan

kemungkinan tentang luka dan matinya anak ia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima

123

124

apa

boleh

buat

kemungkinan

itu,

dengan

Dalam kedua teori itu digambarkan, bahwa dalam batin si – pelaku terjadi suatu proses, bahwa ia lebih baik berbuat dari pada tidak berbuat. Disini ada suatu

melampiaskan naPasalunya untuk menegar kudanya. Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja. Bagaimanakah

yang tidak jelas, oleh karena itu disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”). Menurut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie

menerangkan adanya kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) ? Berdasarkan menetapkan teori dalam kehendak, batinnya, jika bahwa sipelaku ia lebih

“atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku berikut: a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, terhadap perbuatannya adalah sebagai

menghendaki perbuatan yang dilakukan itu, meskipun nanti akan ada akibat yang ia tidak harapkan, dari pada tidak berbuat, maka kesengajaan orang tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu. Berdasarkan teori pengetahuan, pelaku mengetahui / membayangkan akan kemungkinan terjadinyan akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangkan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat; maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hak itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.”

125

126

Dalam perdebatan di Eerste Kamsr mengenai W.v.S. Menteri Modderman mengatakan, bahwa

batin yang berupa kesengajaan (atau kealpaan) itu benar-benar ada pada pelaku. Orang tidak dapat secara pasti mengetahui mengetahui batin orang lain, lebih-lebih bagaimana keadaan batinnya pada waktu orang ini berbuat. Apabila orang ini dengan jujur menerangkan keadaan batinnya yang sebenarnya maka tidak ada kesukaran. Kalau tidak, maka sikap batinnya harus disimpulkan

“voorwaardelijkk opzet” (dolus eventualis) itu ada, apabila kehendak kita langsung ditujukan pada kejahatan tersebut, tetapi meskipun telah mengetahui bahwa keadaan tertentu masih akan terjadi, namun kita berbuat dengan tiada tercegah oleh kemungkinan terjadinya hal yang telah kita ketahui itu. Dengan teori apa boleh buat ini maka sebenarnya tidak perlu lagi untuk membedakan kesengajaan dengan sadar kepastian dan kesengajaan dengan sadar kemungkinan.

dari keadaan lahir, yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim baru mengobyektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh Van Bemmelen:

Dalam

uraian-uraian si-pelaku

diatas

penentuan dengan

tentang melihat A melepaskan tembakan kepada B dalam jarak 2 meter. Meskipun A mungkin, bahwa ia mempunyai

kesengajaan

adalah

bagaimana sikap batinnya perbuatan ataupun akibat perbuatannya. Demikian itu karena kesengajaan dipandang sebagai sikap batin pelaku terhadap perbuatannya. Dengan teori-teori itu diusahakan untuk menetapkan kesengajaan sipelaku Dalam kejadian konkret tidaklah mudah bagi Hakim untuk menentukan bahwa sikap

kesengajaan untuk membunuh B, namun Hakim tetap akan menentukan adanya kesengajaan tersebut, kecuali apabila dapat diterima alasan-alasan yang sangat masuk akal bahwa A tidak tahu pistol itu berisi

halaman 169). yang mengatakan (dalam bukunya leerboek van het Nederlandsch Strafrecht. untuk adanya kesengajaan perlu bahwa sipelaku menyadari bahwa perbuatannya menghendaki perbuatan yang dilarang itu. bahwa pada sipelaku ada kesadaran. Dalam hal ini diragukan adanya kesenjajaan. bahwa untuk adanya kesengajaan cukuplah bahwa sipelaku itu melawan hukum (dilarang). sifat kesengajaan itu berwarna dan kesengajaan melakukan pengetahuan sesuatu sipelaku perbuatan bahwa mencakup perbuatanya hubungannya perkataan adanya lain dengan tersimpul melawan adanya kesengajaan sifat kesadaran mengenai hukumnya perbuatan. Jadi menurut pendirian yang pertama. bahwa perbuatannya dilarang dan/atau dapat dipidana b. ialah yang mengatakan bahwa: a. Ia tak perlu tahu bahwa perbuatannya terlarang / sifat melawan hukum.127 128 atau bahwa matinya B itu disebabkan karena kekhilafan dari A. Dapat saja sipelaku dikatakan berbuat dengan sengaja. Persoalan ini berhubungan dengan masalah: apakah untuk adanya kesengajaan itu sipelaku harus menyadari bahwa perbuatannya itu dilarang (bersifat melawan hukum) ? Mengenai hal ini ada 2 pendapat. tahun 1924. Dikatakan. ada sehingga ada pembebasan. Kesengajaan tidak berwarna Kalau dikatakan bahwa kesengajaan itu tak berwarna.” Untuk kesengajaan. di perlukan syarat. bahwa sengaja disini berarti dolus malus. harus ada hubungan antara keadaan batin si-pelaku dengan melawan hukumnya perbuatan. dilarang. artinya sengaja untuk berbuat jahat (boos opzet). Hakim harus sangat berhati-hati. Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna (kleurloos). bahwa: Kesengajaan dengan dalam dolus senantiasa molus. sedang ia tidak mengetahui bahwa . maka itu berarti. Penganutnya antara lain Zevenbergen.

memuat suatu asas yang mengatakan antara lain.129 130 perbuatannya dengan hukum. mengatakan demikian : “Akan tetapi untuk berbuat dengan sengaja itu apakah sipelaku tidak harus menyadari. Sebaliknya. Unsur yang terletak di muka M. yang melawan hukum. Jadi tidak perlu dibuktikan bahwa . 151 dan 152 dan bandingkan letak perkataan sengaja dalam kedua pasal tersebut).T. itu dilarang atau bertentangan kesengajaan itu berwarna ialah kesalahan itu.v.T. Oleh Keberatan terhadap pendirian bahwa kesengajaan itu berwarna ialah akan merupakan beban yan berat bagi jaksa apabila untuk membuktikan adanya kesengajaan.T. dibelakang perkataan opzettelijk (dengan sengaja) dikuasai atau diliputi olehnya”. membuktikan terdakwa perkataan “opzettelijk” disebut “diobjektip-kan” kesadaran atau pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan itu. Penganut-penganutnya antara lain : Simons. berisi bahwa sipelaku harus sadar bahwa perbuatan itu keliru. M.v. (bacalah ps. jadi termasuk kesengajaan. meskipun pada kenyataannya ia melakukan perbuatan yang dilarang. alasan bahwa (geobjektiveerd). bahwa ia melakukan suatu perbuatan yang menurut tata susila tidak dibenarkan (zadelijk ongeoorlooid) ? Cukupkah dengan adanya kesengajaan saja atau perlukah adanya “kesengajaanj jahat” (boos opzet) ? Jawabnya tidak akan lain dari pada itu. Perumusan Unsur Sengaja dalam KUHP Apabila ia sama sekali tidak sadar akan itu. Pompe. ia tidak dapat dipidana. artinya dilepaskan dari kekuasaan kesengajaan. bahwa “unsur-unsur delik yang terletak 4. Menurut M. tidak perlu ada “boos opzet”. Jonkers.v. bahwa tiap pada kali ia harus ada karena itu pembentuk undang-undang menetapkan dengan seksama dimana letak perkataan “opzettelijk” itu.

. misalnya pada delik pencurian (ps. Menghadapi teks terjemahan yang diusahakan oleh beberapa penulis sekarang ini tidak ada jalan lain bagi pelaksana hukum misalnya hakim. Tata bahasa kedua bahasa itu tidak sama..).. ialah apa yang disebut “Tendenz-delikte” atau “Absicht-delikte”. pemalsuan surat (pasal 263)..... sehingga tak perlu dibuktian bahwa kesengajaan pelaku ditujukan kepada hal tersebut yang diobjektipkan.. itu tidak berlaku untuk semua delik...sifat perbuatan dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan. untu melihat teks aslinya ialah teks Bahasa Belanda dan mendasarkan penafsiran pada teks tersebut. Lihat ps.. yang sebenarnya bukan teks resmi. 362).. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. 152.. Yang menjadi masalah ialah apabila kita menghadapi KUHP dalam teks Bahasa Indonesia. Demikianlah teknik perundang-undangan yang diikuti oleh KUHP dalam teks Belanda.T.. menyusun kalimat tentunya tidak dapat atau tidak ... seperti halnya ps.. misalnya dalam delik pencurian (pasal 362). dari Unsur ini yang diobjektipkan. (dengan tujuan untuk).. 303 KUHP. perlu mengikuti KUHP sepenuhnya.(dengan tujuan untuk. pemalsuan surat (ps... Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur “met het oogmerk om . Di sini ada keadaan-keadaan.. 263). melainkan unsur melawan atau hukum arah subjektif. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur ”met het oogmerk om.. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan.. ialah “dapat terjadinya bahaya umum atau bahaya maut tersebut”..131 132 kesengajaan sipelaku ditujukan kepada hal tersebut.v. apakah artinya sipelaku yang tidak perlu atau ditanyakan mengetahui menghendakinya.. Kesengajaan disini harus ditujukan kepada hal-hal apa saja ? Pecahkanlah sendiri ! Dalam hal itu asas yang dianut M. Lihat ps. 187 KUHP.. Ada pengecualiannya. yang disebut di belakang perkataan sengaja. oleh karena itu teknik perundang-undangan dalam memberi. ialah yang disebut “Tendenz-delikte” atau Absicht-delikte”...

. Disini ada kesesatan yang bisa membebaskan. Dalam rumusan (dalam bahasa Belanda) yang demikian ini menjadi persoalan apakah sifat melawan hukumnya perbuatan juga hal harus ini diliputi terdapat oleh tiga “sengaja” dan perkataan “melawan hukum”..133 134 melainkan unsur melawan hukum yang subjektif.. bahwa ia dalam keadaan tertentu boleh merampas kemerdekaan seseorang... Perkataan “en” (dan) menunjukkan kedudukan yang sejajar... bahwa perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan hukum.. dengan perkataan lain sifat melawan .. Pasal 406: Hij die opzettelijk en wederrechitelijk enig goed dat geheel of ten deele aan een onder toebe hoort. Kata “dan” Dalam KUHP (teks Belanda)...... dalam merumuskan sesuatu delik.... vernielt... Unsur ini memberi sifat atau arah dari perbuatan yang dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan. Contoh: Pasal 333: Hij die opzettelijk iemand wederrechtelijk van devrijhiid berooft of berooft houdt...... maka ia tak dapat dipidana.. onbruik baar maakt of wegmaakt.. pandangan: Mengenai a. wordt.. disamping ia berbuat dengan sengaja.. jadi merumuskan sebagai “sengaja dan melawan hukum” (opzettelijk en wederrechtelijk). beschadigt... Dalam pasal ini jelas bahwa kesengajaan meliputi melawan hukumnya perbuatan dengan perkatan lain kesengajaan. Apabila ia dengan iktikad baik (te goeder trouw) mengira. terdapat bentuk rumusan: Sengaja tanpa ada rumusan unsur melawan hukum (wederrechtelijk) Sengaja melawan hukum (wederrechtelijk) tanpa kata dan Meyisipkan kata “dan” diantara perkataan pelaku harus tahu. Kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan kepada sifat melawan hukumnya perbuatan... 4..1.

Ia merusak dengan sengaja dan dengan melawan hukum. Jadi menurut pendapat ini dalam contoh tersebut di atas. bahwa semua unsur yang terletak di belakang perkataan sengaja dikuasai olehnya. Jadi meskipun ada perkataan dan. Contoh pasal 406 : Seorang pekerja yang mendapat perintah dari pemilik rumah untuk membongkar rumahnya. maka unsur melawan hukum tidak diliputi oleh kesengajaan. Hoge Raad mengikuti pendapat pertama. Zevenbergen. Dalam arrest tgl. Semua delik yang menurut unsur “sengaja yang pertama.135 136 hukum ini diobjektipkan. 21 Desember 1914 dimuat antara lain : karena antara unsur kesengajaan dan unsur melawan hukum ada perkataan “en”. b. Ia dapat dipidana. tetapi sebelum melawan hukum “sebagai” sengaja melawan hukum. tanpa diketahui olehnya rumah itu ganti pemilik. c. Sipelaku tidak perlu tahu bahwa perbuatannya melawan hukum. Pompe menganut pendapat melaksanakan perintah tersebut. perkataan “sengaja” dan perkataan “melawan hukum” tidak mempunyai arti. kesengajaan sipelaku harus ditujukan kepada melawan hukumnya perbuatan. sedang Vos. melawan hukum” dapat dibaca “sengaja dan melawan hukum”. Unsur sifat melawan hukum itu pendapat ini justru mengartikan sengaja dan . Simons. si-pekerja tidak dapat dipidana karena ia sama sekali tidak mengetahui sifat melawan hukumya perbuatan yang ia lakukan. Van Hamel. Ia terus saja membongkar. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya Langemeyer mengikuti pendapat yang ketiga. sesuai dengan asas. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya. Bagi Prof. meskipun tidak ada perkataan “en” (dan) tersebut : Dalam hukum. Muljatno perkataan “dan” diantara Berbeda dengan pendapat ke 2 tersebut. yang berarti dua hal yang terpisah dan tidak berpengaruh satu sama lain. pendapat ini diragukan.

Pelaku harus tahu bahwa yang dilakukan itu bersifat melawan hukum. si pelaku sebelum atau ketika melakukan tindak pidana tersebut. 5. Kesengajaan Menurut Doktrin rencana lebih dulu”. Untuk dapat dikatakan “ada . Menurut M. sedang pada indeterminatus pelaku misalnya menembak ke arah gerombolan orang atau menembak dahulu” (met voorbedachte rade) sebagai unsur yang menentukan dalam pasal.T. dan sebagainya. dolus premeditatus Bentuk ini mengacu pada rumusan delik yang mensyaratkan unsur “dengan rencana lebih Unsurnya ialah pendirian bahwa kesengajaan dapat lebih pasti atau tidak. Istilah tersebut meliputi bagaimana terbentuknya “kesengajaan” dan bukan merupakan bentuk atau tingkat kesengajaan. 342 KUHP. van bedaard nedenken). Pada dolus determinatus. akibat yang satu atau yang lain “voorbedachte rade” diperlukan “saat memikirkan dengan tenang” (een tijdstip van kalm overleg. atau meracun reservoir air minum.v. 340. dolus alternativus Dalam hal ini. sipelaku menghendaki atau A atau B. b. pelaku misalnya menghendaki dolus matinya orang tertentu. dolus determinatus dan indeterminatus Dalam ilmu pengetahuan dikenal beberapa macam kesengajaan : a. c.137 138 harus dikuasai oleh unsur kesengajaan. untuk penumpang-penumpang dalam mobil yang tidak mau disuruh berhenti. memikirkan secara wajar apa yang ia lakukan atau yang akan ia lakukan. Ini terdapat dalam delik-delik yang dirumuskan dalam pasal 363.

melainkan juga kepada akibat perbuatannya. diduga atau tidak diduga. bahwa semua akibat dari perbuatan yang dipertanggung-jawabkan atas semua akibatnya. Dipertanggung-jawabkan dalam hukum pidana. bermaksud telah untuk melakukan serangkaian perbuatan misalnya mencekik dan kemudian melemparnya ke dalam sungai. B jatuh dan dilindas mobil. dolus indirectus.139 140 d. Ajaran dolus indirectus ini mengingatkan orang kepada ajaran kuno (hukum kanonik) tentang pertanggung-jawab. Misalnya A dan B berkelahi. Hazewinkel-Suringa menganggap hal ini sebagai suatu pengertian yang tidak baik. illicita. bahwa kesengajaan sipelaku tidak hanya ditukaun kepada perbuatannya. Di Inggris dan Spanyol pengertian dolus indirectus adalah sama dengan apa yang kita sebut “dolus eventualis”. apabila dari suatu perbuatan yang dilarang dan dilakukan dengan sengaja timbul akibat yang tidak diinginkan. disengaja. Versari in re illicita Ajaran tentang “dolus indirectus” mengatakan. dolus generalis Pada delik materiil harus ada hubungan kausal antara perbuatan terdakwa dan akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. Macam dolus ini masih dikenal oleh Code Penal Perancis.menurut melakukan ajaran perbuatan ialah ini versari seseorang terlarang in re yang juga Misalkan membunuh seseorang orang yang lain. e. itu dianggap sebagai hal yang ditimbulkan dengan sengaja. f. dituju atau tidak dituju. Dolus ini ada. meskipun akibat itu tidak dapat dibayangkan sama sekali olehnya dan timbul secara kebetulan. A memukul B. dolus directus Ini berarti. Ini oleh Code Penal dipandang sebagai “meutre”. Ajaran ini dengan tegas ditolak oleh pembentuk undang-undang. Menurut .

maka disini menurut von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. namun bayinya mati karena kelaparan . dalam arrestnya tanggal 26 Juni 1962.141 142 otopsi (pemeriksaan mayat) matinya orang ini disebabkan karena tenggelam. Meskipun jalannya peristiwa tidak tepat seperti yang dibayangkan oleh sipelaku. (melempar ke kali) merupakan perbuatan yang terletak / di luar lapangan hukum pidana atau “menyebabkan kealpaannya”. Pendirian Von Hippel ini sama dengan pendapat H. ialah harapan dari terdakwa secara umum agar orang yang dituju itu mati. Pendirian von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. Menurut ajaran kuno disini ada dolus generalis. sedang perbuatan kedua dan kedinginan. Akan tetapi air pasangnya tidak setinggi yang matinya orang karena diharapkan. Simons menyetujui jenis dolus ini. menaruh bayi itu di pantai dengan harapan agar dibawa oleh arus pasang. namun karena akibat yang dikenhendaki telah terjadi. bagaimanapun telah tercapai.R. Contoh : Seorang Ibu yang ingin melepaskan diri dari bayinya. Perbuatan pertama (mencekik) dikualifikasikan sebagai “percobaan pembunuhan”. Hazewinkel-Suringa menganggap hal tersebut secara dogmatis tidak tepat. jadi pada waktu dilempar ke air ia belum mati.

ia sembrono. membahayakan keamanan orang atau atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi. Disamping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan. Hal ini terdapat dalam beberapa delik. Perkataan culpa dalam arti luas berarti kesalahan pada umumnya.(er zijn feiten. sehingga umdang-undang juga bertindak terhadap (teledor). Suatu keadaan. yang sedemikian barang. Ini adalah delik-delik culpa (culpose delicten). larangan pendek penghati-hati. teledor. ia berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga. : Karena kealpaannya menyebabkan orang luka berat dsb. kebakaran dst Pasal 231 (4) : Karena kealpaannya . SCHULD. kata “ schuld” sikap sembrono yang (kealpaan menyebabkan keadaan tadi)”. TELEDOR). RECKLESSNESS.NEGLIGENCE. Akibat ini timbul karena ia alpa. NALATIGHEID. SEMBRONO. Dalam buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat unsur kealpaan. die de algemene vefligheid van onen of goederen zozeer in gevaar brengen of zo groot en onherstelbaar nadeel sipenyimpan bijzondere personen berokkenen. dat de wet ook de peletusan. Pasal 409 : Karena kealpaannya menyebabkan alat-alat perlengkapan (jalan api dsb) hancur dsb. Delik-delik itu dimuat antara lain dalam : Pasal 188 : Karena kealpaannya menimbulkan FAHRLASSIGKEIT. sedang dalam arti sempit adalah bentuk kesalahan yang berupa kealpaan.143 144 BAB VII KEALPAAN (CULPA) Pasal 359 : menyebabkan hilangnya dan sebagainnya barang yang disita Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang Pasal 360 (CULPA dalam arti sempit).

kekurangan penduga – duga atau kekurangan penghati-hati. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum. 2. moet tekeer gaan”) 1. Van hamel Kealpaan mengandung dua syarat: 1. waar het feit prong heeft. Hazenwinkel – Suringa Simons: Pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. dapat diduganya akibat d. di samping Ilmu pengetahuan hukum dan jurispruden 2.v. Ada 3 macam yang masuk kealpaan mengartikan “schuld” (kealpaan) sebagai: 1. schuld. 2.T kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dengan kesengajaan dan dipihal lain dengan hal yang kebetulan (toevel atau caous). in een woord. (anachtzaamheid): . Pompe. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum. merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. c. akan tetapi bukannya kesengajaan yang ringan. Beberapa penulis menyebut beberapa syarat untuk adanya kealpaan: a. de tigheid.kealpaan b.145 146 onvoorzichtigheid. Tidak adanya penghati-hati. Pengertian kealpaan atau culpa (dalam arti sempit) Menurut M. het gebrek aan voorzorg.

Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguh-sungguhnya maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana untuk tidak melakukan sesuatu. “Orang pada umunya” ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat. (Pasal. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif. maka apabila perbuatannya itu mengakibatkan tabrakan. Dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid) a. Undang-undang mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau Tetapi nomor 2 dan 3 hanya apabila mengetahui atau dapat mengetahuinyaitu menyangkut juga kewajiban untuk menghindarkan perbuatannya (=untuk tidak melakukan perbuatan). apabila datangnya bersamaan waktu maka kendaraan dari kiri harus didahulukan”. Apabila seorang pengendara dalam hal ini berbuat lain ini berbuat lain daripada apa yang diatur itu.U.P) . Misalnya. Untuk menentukan adanya kealpaan ini harus dilihat peristiwa demi peristiwa. Sehingga orang lain luka berat. Mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid) 3.H.147 148 1. Yang harus memegang ukuran normatif dari kealpaan itu adalah Hakim. dan tidak secara fisik atau psychis. b. 360 (1) K. Dapat mengirakan (kunnen venvachten) timbulnya akibat 2. maka ia dapat dikatakan karena kealpaannya mengakibatkan orang lain seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umunya apabila ada dalam situasi yang sama dengan si-pelaku itu. paling hatihati. paling ahli dan sebagainya. dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa” di simpangan jalan.

Kealpaan yang tidak disadari (onbewuste schuld). jadi harus culpa lata dan bukanya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan). Perbedaan itu bukanlah berarti bahwa kealpaan yang disadari itu sifatnya lebih berat dari pada kealpaan yang tidak disadari. Karena Bentuk kealpaan dapat dibagi dalam 2 (dua bentuk) yaitu a. akan tetapi ia percaya dan mengharap-harap bahwa akibatnya tidak akan terjadi b. Dalam diajukan delik alasan culpoos tidak mungkin (rechtvaar pembenar digingsgrond). Bentuk kealpaan Pada dasarnya orang berfikirdan berbuat secara sadar. Kealpaan yang disadari (bewuste schuld) Disini sipelaku dapat menyadari tentang apa yang dilakukan beserta akibatnya. Ia menyatakan antara lain “Memang culpa tidak mesti meliputi dapat dicelanya si-pelaku. Dalam hali ini si pelaku melakukan sesuatu yang tidak menyadari kemungkinan akan timbulnya abnormal. Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar.pelaku tidak berjalan secara tepat. sesuatu akibat. c. Pada delik culpoos kesadaran si.149 150 Dalam hubungan ini VOS mengemukakan. namun culpa menunjukkan kepada tidak patutnya perbuatan itu dan jika perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum. maka tidaklah mungkin perbuatan itu perbuatan yang 2. jadi tidak mungkin ada culpa. bahwa dalam delik-delik culpa sifat melawan hukum telah tersimpul di dalam culpa itu sendiri. padahal seharusnya ia dapat menduga sebelumnya. Kerapkali justru karena tanpa berfikir akan kemungkinan timbulnya akibat malah terjadi akibat yang .

Rumusan yang dipakai dalam delik-delik tersebut ialah “diketahui” atau “mengerti” bentuk kesengajaan dan “sepatutnya harus di-duga” atau “seharusnya menduga bentuk kealpaan. Disamping itu ada delik-delik yang di dalam perumusanya memuat unsur kesengajaan dan kealpaan sekaligus. sedang ancaman pidananya sama. 484 (delik yang menyangkut pencetak dan penerbit). Delik “pro parte dolus pro parte culpa” Delik-delik yang di-rumuskan dalam pasal 359. 288. yang tidak merupakan dolus eventualis”. 3. VAN HATTUM mengatakan. harus disimpulkan dari situasi tertentu. 188. Pada delik Pasal 292 ditujukan kepada unsur “ belum cukup umur dari orang yang sama kelamin “kealpaan yang disadari itu adalah suatu sebutan yang mudah untuk bagian kesadaran kemungkinan (yang ada pada pelaku). 409 dapat disebut delik-delik culpoos dalam arti yang sesungguhnya. Hemat kami perbedaan tersebut tidak banyak artinya. Pada delik-delik Pasal 483 dan Pasal 484 ditujukan kepada unsur “pelaku/orang yang Pasal 480 (penadahan) . Pada delik-delik ini kesengajaan atau kealpaan hanya tertuju kepada salah tertuju kepada salah satu unsur dari delik itu. Pada delik penadahan ditujukan kepada hal “bahwa barang yang bersangkutan diperoleh dari kejahatan”. Misalnya: itu”. Penentuan kealpaan seseorang harus dilakukan dari luar. 360. Muljatno menamakan delik-delik tersebut sebagai delik yang salah satu unsurnya diculpakan.151 152 sangat berat. Pasal 287. bagaimana saharusnya si-pelaku itu berbuat. 292 (delik-delik kesusilaan). bahwa belum mampu dikawin”. atau kalau umurnya tak ternyata. Kealpaan merupakan pengertian yang normatif bukan suatu pengertian yang menyatakan keadan (bukan feitelijk begrip). bahwa Pasal 483. Pada delik-delik kesusilaan (pasal 287 dan pasal 288) ditujukan kepada “umur-wanita belum lima belas tahun.

Hooggerechtshof (H. yang diketahui atau sepatutnya harus diduga.153 154 menyuruh cetak pada saat penerbitan. b. seharusnya ia Apabila dapat “schuldheling” (pasal 480). Contoh : a. atau menetap diluar Indonesia.H) menyatakan bahwa wet tidak mengharuskan adanya dugaan pada terdakwa sepatutnya harus menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan. maka ini merupakan lampunya indikasi normal. Arrest Hooggerchtshof (dalam tingkat kasasi) yang membatalkan keputusan Raad van Justitie Medan. Pembuktiannya cukup secara normatif.G. c. dengan sama mengetahui orang yang tidur di jalan itu. Dalam surat dakwaan: a. Kalau tidak.00 melanggar sekaligus 4 orang yang sedang tidur di tengah jalan raya. Ada dan tidak adanya kealpaan itu harus sekali tidak menagnggap penting apakah terdakwa betulbetul mempunyai dugaan atau tidak. dari maka kealpaannya. Dalam kasus inipun tidak boleh dilihat “kealpaan orang lain”. Kelapaan orang lain tidak dapat meniadakan kealpaan dari terdakwa. tidak dapat dituntut. b. maka ini merupakan kealpaan. Cukup dicantumkan uraian kata-kata presis seperti apa yang dirumuskan dalam undang-undang. bahwa diperoleh dari kejahatan”. Seorang pengemudi mobil pada pagi hari jam 03. apakah ia kurang hati-hati dan dibuktikan dalam pemeriksaan pengadilan ditetapkan oleh Hakim. akan tetapi tetap harus ditinjau ada dan tidak adanya kealpaan pada pengemudi mobil. yang membebaskan terdakwa yang dituduh melakukan kurang-menduga-duga ? bagaimana keadaan mobilnya ? kalau lampunya kurang terang. . tetapi ini tidak meniadakan kealpaan terdakwa. Pengendara gerobag alpa. terdakwa sebagai pengendara mobil tetap dipidana karena ia pada malam hari menabrak gerobag yang tidak memakai lampu. jadi tidak dilihat apakah terdakwa mengetahui. jadi misalnya untuk delik dalam pasal 480 : benda).

Soalnya apakah terdakwa berbuat/tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Undang-undang atau tidak. Pasal 303a dan 344 Peraturan Polisi Umum mengancam dengan pidana Barang siapa melever susu dengan nama susu murni. lagi Persoalan kesalalahan pada tindak pidana berupa pelanggaran. pula tidak perlu memberi keputusan tentang hal tersebut. pengusaha (veehouder) menyuruh melever susu kepada para langganan. padahal dicampur Duduk perkara. Contoh : arrest H. : Pada pelanggaran hakim tidak perlu mengadakan pemeriksaan secara khusus tentang adanya kesengajaan. Hal ini penting untuk hukum acara pidana. Dalam undang-undang unsur-unsur dinyatakan dengan tegas atau dapat diambil dari kata kerja dalam rumusan tindak pidana itu. artinya tidak disebut apakah perbuatan dilakukan dengan sengaja atau alpa.155 156 BAB VIII KESALAHAN DALAM DELIK PELANGGARAN Dalam hal ini berlakulah ajaran “fait materiel” (de leer an het matericle feit ajaran perbuatan materiil) dimana menurut M. Pada suatu ketika susu yang dilever oleh D itu ternyata tidak murni (dicampur air). Pada tidak pidana berupa kejahatan diperlukan adanya kesengajaan atau kealpaan.R tanggal 14 Pebruari 1916 (arrest air dan susu). Dalam rumusan tindak pidana berupa pelanggaran pada dasarnya tidak ada penyebutan tentang kesengajaan atau kealpaan. pelayan.v. A..B. maka tidak perlu dicantumkan dalam surat tuduhan dan juga tidak perlu dibuktikan. .T. Yang mengedarkan susu itu D. sebab kalau tidak tercantum dalam rumusan Undang-undang. D tidak tahu menahu tentang hal itu. bahkan adanya kealpaan juga tidak.

c. . memang dalam pasal 303 tidak disebut dengan tegas bahwa orang yang melakukan perbuatan itu harus mempunyai kesalahan (“enige schuld”). memberi pertimbangan antara lain sebagai berikut: a.B.R. H.B. terutama dalam riwayat W. pembentuk Undang-undang menyetujui sistem. c. b.S Belanda (Pasal 55 K.v. lebih-lebih pasal 303a dan 344 tersebut mengancam dengan pidana barang siapa melever susu yang tidak murni tanpa memandang ada kesalahan atau tidak.v.U. Permohonan kasasi ini ditolak oleh Hooge Raad. b. Ini merupakan tindak pidana berupa pelanggaran. akan tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali (geheel gemis van schuld) peraturan ini dapat diterapkan kepada. A.H. dan terhadap alasan yang dikemukakan oleh A.B. sekalipun ternyata tidak ada kesalahan sama sekali (asas : afwezigheid van alle schuld). B) telah menyuruh pelayannya (D) untuk melever susu dengan sebutan “susu murni” padahal dicampur dengan air. sebab telah memutuskan secara tidak benar bahwa A.S. Rechtbank Amsterdam salah menerapkan Pasal 47 W. tanpa menyelidiki terlebih dahulu apakah pelaku materiil (ialah D) tidak bertanggung-jawab atas perbuatan itu. mengajukan kasasi. Hal mana tidak diketahui oleh D.157 158 dengan sesuatu (tidak murni).B. yang memaksa untuk menganggap dalam hal unsur kesalahan tidak dicantumkan dalam rumusan delik. Telah dinyatakan terbukti bahwa penuntut kasasi (A A.P). orang yang berbuat harus dipidana yang terdapat dalam Undangundang. khususnya dalam pelanggaran. dengan alasan yang lebih kurang demikian: a. tidak terjadi persoalan apakah pelaku materiil (D) dianggap tidak berhak untuk menyelidiki murni dan tidaknya susu yang disuruh melevernya. tidak ada suatu alasanpun. telah menyuruh lakukan perbuatan yang dituduhkan. dituntut dan dalam tingkat banding dijatuhi pidana.

BAB IX PIDANA DAN PEMIDANAAN (HUKUM PENITENSIER) Sebelum membahas materi ini terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan pidana dan pemidanaan. kejaksaan. Dengan arrest itu. ajaran “fait materiel” pada pelanggaran ditinggalkan. hal ini harus tegas-tegas ternyata dalam rumusan delik. Adapun Proses Peradilan Pidana (the criminal) justice process) merupakan struktur. Diakui untuk pertama kalinya oleh badan pengadilan yang tertinggi (Belanda) berlaku asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld). Untuk menerima sistim tersebut (dalam c). yang bertentangan dengan rasa keadilan dan asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” yang juga dianut dalam hukum pidana kita. fungsi. Pidana merupakan nestapa/derita yang dijatuhkan pengadilan) dengan dimana sengaja nestapa oleh itu negara (melalui pada dikenakan seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana dan nestapa itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana. Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana/sentencing sebagai upaya yang sah yang dilandasi oleh hukum . Arrest air dan susu penting untuk perkembangan hukum pidana.pengadilan & lembaga pemasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan & pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan. b. dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian. maka: a.159 160 d.

Jadi pidana berbicara mengenai hukumannya dan pemidanaan berbicara mengenai proses penjatuhan hukuman itu sendiri. 4. Jenis sanksi terhadap suatu pelanggaran dalam hal ini terhadap KUHP dan sumber-sumber hukum pidana lainnya (UU pidana yang memuat sanksi pidana dan UU non pidana yang memuat sanksi pidana). 2. Sanksi berupa pidana maupun tindakan inilah yang akan dipelajari oleh hukum penitensier. Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai sistem hukuman (strafstelsel) dan sistem tindakan . Beratnya sanksi itu. Tempat sanksi itu dijalankan. dan Jinayah. sebagai pranata sosial. Hukuman. atau setidaknya tidak menyenangkan. Bentuknya berupa konsekwensi yang menderitakan. Lamanya sanksi itu dijalani. Dalam hal ini pidana sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. hukuman.161 162 untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dn meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. ISTILAH Ada beberapa istilah yang digunakan untuk materi ini. menurut pendapat Moeljatno: lebih tepat ”pidana” untuk dinamakan Hukum Penitensier/Hukum Sanksi. yakni norma yang mencerminkan nilai dan struktur masyarakat yang merupakan terhadap reafirmasi “hati nurani simbolis bersama“ atas pelanggaran bentuk sebagai ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu. menurut Utrecht. al: Hukum Penitensier. Straf.dan 5. Menurut beberapa ahli hukum pidana lain. hukum penitensier ini merupakan sebagaian dari hukuman pidana positif yaitu bagian yang menentukan: 1. Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan Punishment. Pidana perlu dijatuhkan pada seseorang yang melakukan pelanggaran pidana karena pidana juga berfungsi (matregelstelsel). 3. Cara sanksi itu dijalankan. Hukum Sanksi.

Kerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Dimatikan dengan suatu keris 3. pembatasan kebebasan bergerak/kemerdekaan orang (pidana kurungan/penjara) dan perampasan terhadap nyawa (hukuman mati). Di samping itu hukum pidana merupakan ultimum remedium (senjata pamungkas. jalan terakhir. Menurut Utrecht suatu dan R. terikat pada suatu tiang (hanya untuk pelaku pembakar/pembunuh) 2. Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief. Suatu pengenaan penderitaan/nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. unsur-unsur atau ciri-ciri pidana meliputi: 1. yang hukum bersifat pidana istimewa: merupakan sanksi terkadang dikatakan melanggar HAM karena melakukan perampasan terhadap harta kekayaan (pidana denda). Sedangkan R. 3. Ditahan/dimasukkan dalam penjara 6. .163 164 menerjemahkan straf. Dikenakan pada seseorang penanggung jawab Pengadilan berdasarkan plakat tgl. 1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordansi). Soesilo mendefinisikan pidana / hukum sebagai perasaan tidak enak / sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar UU Hukum Pidana. Sudarto juga berpendapat Jenis-jenis hukuman yang dapat dijatuhkan oleh demikian. jalan satu-satunya/tiada jalan lain). 2.Soesilo. 22 April 1808. dipukul dengan rantai (pidana badan/corporal punishment) 5. Dicap bakar. Dibakar hidup. al: 1. Diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang). peristiwa pidana menurut UU ( orang memenuhi rumusan delik/pasal). SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA Pidana dan pemidanaan di Indonesia dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (Wvs) diundangkan yaitu tahun 1915 dan berlaku di indonesia berdasarkan UU No. 4. Dipukul.

Mereka berpandapat bahwa hukum adalah sesuatu yang harus ada sebagai konsekwensi dilakukannya kejahatan dengan demikian orang yang salah harus dihukum. para penganutnya antara lain E. Negara sebagai organisasi sosial tertinggi oleh karena itu sangat logis jika negara diberi tugas mempertahankan tata tertib masyarakat. dan memaksa pelaku untuk menjalankan pidana. Kant. Tidak bboleh dengan maksud prevensi (melanggar etika) c. Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis).165 166 Selanjutnya kita akan membahas siapakah pihak yang berhak menuntut. Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika) b. Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik. Menurut Leo Polak (aliran retributif).Leo Polak. dalam hal ini KUHP merupakan peraturan yang dibentuk oleh negara dan perbuatannya merupakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pelaku (dilihat dari sudut subyektif). hukuman harus memenuhi 3 syarat: a. menjatuhkan. menyatakan bahwa penjatuhkan hukuman harus memiliki tujuan tertentu. karena perbuatan tersebut bertentangan dengan tata tertib negara (dilihat dari sudut obyektif). Hegel. Hukuman pada umumnya bersifat menakutkan. sehingga bersifat seyogyanya hukuman memperbaiki/merehabilitasi karena pelaku kejahatan . 2. 2. mengingat. bukan hanya sekedar sebagai pembalasan. Negara sebagai satu-satunya alat yang dapat menjamin kepastian hukum. Utrecht juga menambahkan bahwa negaralah yang berhak melakukan hal tersebut. Beysens seperti dikutip oleh Utrecht menyatakan pada dasarnya negaralah yang berhak. Teori relatif / tujuan (utilitarian). Teori-Teori yang berkaitan dengan Pemidanaan Tujuan Pemidanaan Menurut Doktrin 1. 1.

3.167 168 adalah orang yang “sakit moral” sehingga harus diobati. Pemahaman ini telah diakomodir oleh R-KUHP tahun 2005. Tujuan lain yang hendak dicapai dapat berupa upaya prevensi. Sehingga pidana bertujuan untuk:   Pembalasan. Keadilan yang bukan saja menjatuhkan sanksi yang seimbang bagi pelaku namun juga memperhatikan keadilan bagi korban. Restorative Justice (keadilan yang merestorasi) secara umum bertujuan untuk membuat pelaku mengembalikan keadaan kepada kondisi semula. . tidak merasa takut dan tidak mengalami kejahatan. Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 54 R-KUHP tahun 2005: Pasal 54 (1) Pemidanaan bertujuan: lain/masyarakat pada umumnya terlindung. merupakan gabungan dari teori-teori sebelumnya. membuat pelaku menderita Upaya prevensi. jadi hukuman dijatuhkan untuk pencegahan yakni ditujukan pada masyarakat luas sebagai contoh pada masyarakat agar tidak meniru perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukan (prevensi umum) dan ditujukan kepada si pelaku sendiri. tidak mengulangi perbuatan/kejahatan serupa. supaya jera/kapok. mencegah terjadinya tindak pidana a. mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. atau kejahatan lain (prevensi khusus). Teori Gabungan. Tujuan yang lain adalah memberikan perlindungan agar orang   Merehabilitasi Pelaku Melindungi Masyarakat Saat ini sedang berkembang apa yang disebut sebagai Restorative Justice sebagai koreksi atas Retributive justice. Jadi hukumanya lebih ditekankan pada treatment dan pembinaan yang disebut juga dengan model medis. tidak disakiti.

Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. Pengaruh pidana terhadap massa depan tindak pidana. d. k. c. Apakah tindak pidana dilakukan dengan pembuat tindak pidana. dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. e. Pasal 55. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia . . Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana h. (2) Rintangan perbuatan. Dalam pasal 55 R-KUHP juga terdapat pedoman pemidanaan yang belum diatur dalam UU kita. e. membebaskan rasa bersalah pada terpidana dan. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh f. c. i. keadaan pribadi pembuat. rehabilitasi dan restotaif dalam tujuan pemidanaannya. Motif dan tujuan melakukan tindak pidana. atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian. (1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a. Sikap batin pembuat tindak pidana. b. Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya dan /atau. Dari aturan diatas dapat dicermati bahwa dalam R-KUHP menganut teori prevensi. memaafkan terpidana. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. g. Cara melakukan tindak pidana. dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. memulihkan keseimbangan. d. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna.169 170 b. Kesalahan pembuat tindak pidana. j. Teori prevensi umum tercermin dari tujuan pemidanaan mencegah dilakukannya tindak berencana.

Pencabutan beberapa hak tertentu 2. dan e. Hukuman Tambahan: (2) Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana Pasal 66 Pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. pidana tutupan c. membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Dan restoratif terdapat dalam tujuan pemidanaan yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana. pidana denda. pengayoman kepada masyarakat. dan mendatangkan rasa damai dalam damai dalam masyarakat. pengumuman keputusan hakim Jenis-jenis Hukuman / Pidana Menurut R-KUHP: Pasal 65 (1) Pidana pokok terdiri atas: a. Denda (UU No. dikonversi: dikali 15) 5. Kurungan 4. b. pidana pengawasan d. Perampasan barang tertentu 3. pidana kerja sosial. 1/1960. dan memaafkan terpidana. Pasal 67 (1) Pidana tambahan terdiri atas: .20/1946) b. Hukuman mati 2. Tutupan (UU No. Hukuman Pokok: 1.171 172 pidana dengan menegakkan norma hukum demi 1. Penjara (sementara waktu atau seumur hidup) 3. Teori rehabilitasi dan resosialisasi tergambar dari tujuan pemidanaan untuk memasyarakatkan terpidana. Jenis-jenis Hukuman/Pidana Menurut Pasal 10 KUHP : a. pidana penjara. dengan melakukan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. memulihkan keseimbangan.

(4) Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidan pidananya. perampasan barang tertentu dan/atau tagihan. dan e. pengumuman putusan hakim. tapi berdasarkan Penpres no. Uraian tentang jenis-jenis hukuman menurut KUHP: Hukuman/pidana Mati (diatur dalam pasal 11 jo Pasal 10 KUHP) (ps. d. . sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak hukum yang hidup dalam Tindak Pidana yang diancam dengan hukuman mati : A.173 174 a. baik waktu dan tempat eksekusinya). pembayaran ganti kerugian. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut masyarakat. (2) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok.     Terorisme Narkoba Korupsi Pelanggaran HAM Berat. Kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan secara meluas dan sistematis. Diluar KUHP. (3) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. B. 2/1964 : ditembak dibagian jantung dan/atau kepala dan tidak dilakukan di muka umum (rahasia.11 KUHP). c. Dalam KUHP :      Pembunuhan berencana Kejahatan terhadap keamanan negara Pencurian dengan pemberatan Pemerasan dengan pemberatan Pembajakan di laut dengan pemberatan. b. Hukuman mati dijalankan oleh algojo di tiang gantungan tercantum dalam perumusan tindak pidana. pencabutan hak tertentu. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan lain.

Para hukuman mula-mula ditempatkan dalam ruang tertutup terus menerus. Sistem Irlandia (Irish System) yang berasal dr mark system. malam hari kembali ke sel. di indonesia disebut sabagai Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas). Dilakukan peringatan: Eksekusi baru dapat dilakukan jika orang gila itu sembuh dan wanita tersebut telah melahirkan. New York. maka hukumannya narapaidana/napi Pemasyarakatan (berdasarkan UU No.12/1995). disebut juga sebagai silent system. Kalau dibiarkan bergaul dengan napi lain dikhawatirkan bisa saja menjadi bertambah jahat. Untuk pemulihan kembali hubungan antara narapidana dan masyarakat. menggunakan penilaian. 12/1995 tentang Pemasyarakatan) Pasal 12 KUHP:  Hukuman penjara lamanya seumur hidup atau sementara/pidana penjara dilakukan dalam jangka waktu tertentu (min 1 hari-selama-lamanya 15 tahun atau dapat dijatuhkan selama 20 thn. Hukuman/Pidana Penjara (Menurut pasal-pasal dalam KUHP dan UU No. . menurut Utrecht :  Sistem Pennsylvania. tapi tidak boleh lebih dari 20 thn). AS : para hukuman terus menerus ditutup sendiri-sendiri dalam satu kamar sel. Pidana penjara dilakukan di penjara (prison/jail). AS. di mana para hukuman pada siang hari disuruh bekerja bersama-sama tapi tidak boleh saling bicara. pidana mati tidak dapat dilakukan pada orang yang setelah dihukum menjadi gila dan wanita hamil. (inmates): Penghuninya Warga disebut Binaan  terhukum diperkenankan melakukan pekerjaan tangan dan secara terbatas dapat menerima tamu. Terhukum hanya melakukan kontak dengan penjaga sel/sipir penjara. tapi ia tetap dilarang bergaul dengan terhukum lain Sistem Auburn. Pembagian Sistem Penjara – gevangenisstelsel.175 176 Hukuman mati tidak dapat dijatuhkan pada anak. menyesali perbuatannya dan diharapkan ia dapat memperbaiki diri. Terhukum diberikan waktu untuk merenung. dalam hal ini diterapkan hukum yang keras. Jika berkelakuan baik.

 Sistem Borstal (LONDON. Minimum security/maximum security/Super Maximum Security (SMS) Napi pada umumnya boleh keluar dari sel pada pagi dan/atau siang hari. Boleh belajar/sekolah dlm LP. Ada jadwal kegiatannya.  Sistem Elmira (NY.US). dengar radio/nonton TV olah raga dsb. Dalam    Di Indonesia diterapkan ke 5 nya :  Beberapa hukuman dimasukkan dalam satu sel atau 1 orang/1 sel. publik work prison. bersihkan kolam. Jika melakukan pelanggaran berat atau berkelakuan tidak baik ataupun melanggar aturan maka dimasukkan dalam sel sendirian. menjahit. kerajinan/furniture. bersyarat). Disebut sebagai penjara reformatory yakni tempat untuk memperbaiki orang menjadi warga masyarakat yang berguna. AS). UK). diperuntukan bagi terhukum yang berusia tidak lebih dari 30 thn. Boleh bekerja di luar sel secara bersama-sama = kerja di kebon/taman. Mirip dengan sistem Irlandia namun titik berat lebih pada usaha-usaha untuk memperbaiki si pelaku. menyulam. Banten. dan ticket to leave. sore masuk sel sampai besok pagi. pendidikan dan pekerjaan yang nantinya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. . jadi terpidana diberikan pengajaran. Seperti LP Pemuda dan LP Anak laki-laki di Tangerang. Memilih ‘BOS’ – mandor dr kalangan napi sendiri untuk mengatur napi : Tamping/building tender. Kemudian diperkenankan kerja sama-sama. masak di dapur. merangkai bunga dsb. boleh membaca. Khusus untuk pelaku yang masih muda yaitu mereka yang berusia kurang dari 19 th.177 178 diperingan : mulai dimasyarakatkan dan dapat diberikan the rise of feformatory (pelepasan  Sistem Osborne (NY. kerja di bengkel LP untuk buat penerapannya ada ketentuan khusus dari Menteri Kehakiman (Minister of justice). disebut juga dengan tutupan sunyi. lalu secara bertahap diberi kelonggaran untuk bergaul satu sama lain. Pelepasan bersyarat dapat dilakukan jika telah menjalani dari ¾ hukumannya.

1/1960) mempertimbangkan bahwa perbuatan yang dilakukan didasari oleh suatu motivasi di yang penjara.  Dapat diberikan jika pelepasan telah bersyarat 2/3 PBdr Dengan adanya pidana denda seringkali penerapan Hukum Pidana menjadi kabur karena pidana denda dianggap bukan pidana karena pelaku tadi ada di LP. Selain itu terdapat juga ketentuan tentang pidana percobaan seperti yang diatur dalam Pasal 14a KUHP. Tempatnya diberikan fasilitas yang lebih baik karena terpidana boleh membawa dan menikmati buku bacaan dan radio/tape.20/1946) Pidana yang dijatuhkan oleh Hakim dengan reclassering).179 180 Antara warga binaan boleh saling berinteraksi sesuai dengan jam yang telah ditentukan. . Pidana Denda (Pasal 30 ayat (1) KUHP dan UU No. ada hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara. tapi lebih bebas. menempuh hukumannya (pasal 15 KUHP). Untuk hukuman ini terdapat 1 yurisprudensi di Jogja.  Meskipun hukuman penjara dilakukan bersamasama tapi tetap ada pemisahan mutlak :  Laki-laki dan perempuan  Orang dewasa dan anak di bawah umur  Orang yang dihukum/ditahan – orang yang dihukum karena upaya preventif  Orang militer dan orang sipil Pidana kurungan Dilaksanakan di penjara. patut namun dihormati/dihargai. Pidana Tutupan (UU No.

Pengecualian tersebut merumuskan mengenai dikatakan adanya percobaan untuk melakukan kejahatan yang dapat dipidana. PENGERTIAN Di dalam bab IX buku I KUHP (tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab undang-undang). jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan.181 182 BAB X PERCOBAAN (POGING. Oleh karena itu percobaan pun terlalu rendah dari KUHP. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”. . dan tidak selesainya pelaksanaan itu. tetapi hanya merumuskan syaratsyarat atau unsur-unsur yang menjadi batas misalnya : Percobaan duel / perkelahian tanding (pasal 184 ayat 5). batasan KUHP hanya kapan semua jenis tindak pidana. tidak dijumpai rumusan arti atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “percobaan”. Yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap tindak pidana yang berupa “kejahatan” saja. yaitu pasal 53 (1) yang menyatakan : “Mencoba melakukan kejahatan dipidana. ATTEMPT) antara percobaan yang dapat dipidana dan yang tidak dapat dipidana. Pada pasal 54 KUHP memperlihatkan adanya pemikiran dari para perumusnya bahwa delik pelanggaran bersifat lebih ringan dari pada kejahatan. Disamping itu perlu dicatat bahwa ketentuan umum dalam pasal 53 (1) diatas tidak berarti bahwa percobaan terhadap semua kejahatan dapat  dipidana. sedangkan percobaan terhadap pelanggaran tidak dipidana sebagimana ditentukan dalam pasal 54 KUHP. Redaksi pasal ini jelas tidak merupakan suatu definisi. Percobaan yang dapat dipidana menurut system KUHP bukanlah percobaan terhadap I.

Dengan demikian menurut pandangan ini. dekictsvorm). memenuhi semua unsur delik. Oemar Percobaan dipandang sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (perluasan delik). Jadi merupakan delik tersendiri (delictum sui generis). seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipin tidak Menurut melakukan pandangan sesuatu ini. Ny. Jadi sifat percobaan adalah untuk memperluas dapat dipidananya orang. percobaan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri (delictum sui generis) tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen dalam terhadap hewan (pasal 302 ayat 4). Strafausdehnungsgrund (dasar/alasan perluasan pertanggungjawaban pidana). Hazewinkel-Suringa Seno Adji. percobaan pidana tindak merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. Termasuk pandangan pertama ini ialah : Prof. II. SIFAT LEMBAGA PERCOBAAN Apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna? Mengenai sifat dari percobaan ini terdapat dua pandangan : (1). Menurut pandangan ini. Percobaan dipandang sebagai (2). bukan memperluas . Percobaan penganiayaan biasa (pasal 351 ayat 5). Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. dan Porf.183 184    Percobaan penganiayaan ringan rumusan-rumusan delik. Percobaan penganiayaan ringan (pasal 352 ayat 2). tetap dapat dipidana apabila telah memenuhi rumusan pasal 53 KUHP. tetapi merupakan delik yang sempurna hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa.

Menurut pasal ini percobaan untuk melakukan penganjuran (poging tot uitloking) atau yang biasa juga disebut penganjuran yang gagal (mislukte uit-lokking) tetap dapat dipidana. sendiri dan merupakan delik selesai. keselamatan masyarakat. dapat pula misalnya dikemukakan contoh adanya pasal 163 bis. d. Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen delictsvorm). Pada dasarnya seseorang itu dipidana suatu delik. b. Mulyatno berpendapat bahwa pandangan pertama sesuai dengan alam atau masyarakat individual karena yang diutamakan adalah strafbaarheid van de person (sifat yang . Prof. yang ada hanya delik selesai. walaupun pelaksanaan dari perbuatan itu sebenarnya Alasan Prof. pidana” (pandangan dualistis) ukuran suatu delik didasarkan pada pokok pikiran adanya sifat berbahayanya sendiri bagi perbuatan itu Mengenai contoh yang dikemukakan Prof Moelyatno terakhir ini. ialah : a. Moelyatno. c. jadi pandangan sebagai delik yang berdiri sendiri.185 186 Termasuk dalam pandangan kedua ini ialah Prof. 106. Dalam konsep “perbuatan karena melakukan merupakan Misalnya percobaan. Pompe dan Prof. Dalam KUHP ada beberapa perbuatan sebagai yang delik dipandang berdiri Mengenai adanya dua pandangan tersebut diatas. dan 107 KUHP. Moelyatno memasukkan belum selesai. delik-delik maker (aanslagdelicten) dalam pasal 104. jadi baru percobaan sebagai delik tersendiri.

dalam percobaan tidak mungkin dipilih salah satu diantara teori obyektif dan teori subyektif karena jika demikian berarti menyalahi dua inti dari delik percobaan itu. . pelaksanaan dari teori ini tidak mudah. III. Menurut beliau rumusan delik percobaan dalam pasal 53 KUHP mengandung dua inti yaitu : yang subyektif (niat untuk melakukan kejahatan tertentu) dan yang obyektif (kejahatan tersebut telah mulai dilaksanakan tetapi tidak selesai). 2. ukurannya harus mencakup dua criteria tersebut (subyektif dan obyektif). Moelyatno dapat dikategorikan sebagai penganut teori campuran. Dengan demikian menurut beliau. Prof. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pembuat. Penganut teori ini antara lain Simons. Niat. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan yang dilakukan oleh si pembuat. DASAR PATUT DIPIDANANYA PERCOBAAN Mengenai dasar pemidanaan terhadap percobaan ini. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap tata hukum. sedangkan pandangan yang kedua sesuai kita dengan alam atau yang masyarakat sekarang karena diutamakan adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan. IV. yaitu : sikap batin pembuat yang berbahaya (segi subyektif) dan juga sifat berbahayanya perbuatan (segi obyektif). 2. Namun karena dalam kenyataanya. terdapat beberapa teori sbb: 1. Termasuk dalam teori ini ialah pendapat Langemeyer dan Jonkers. Di samping itu beliau mengatakan bahwa baik teori subyektif maupun obyektif. 3. Teori obyektif-formil.b. Teori Obyektif Menurut teori ini. Termasuk penganut teori ini ialah Van Hamel. Teori obyektif-materiil. Teori Subyektif Menurut teori ini. UNSUR-UNSUR PERCOBAAN Dari rumusan pasal 53 (1) KUHP diatas jelas terlihat bahwa unsur-unsur percobaan ialah : IV. yaitu : 2.187 188 dipidananya orang). Teori ini melihat dasar patut dipidananya percobaan dari dua segi.a.1. Teori Campuran. apabila dipakai secara murni akan membawa kepada ketidak adilan. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap kepentingan / benda hukum. Teori ini terbagi dua. mereka nampaknya lebih cendrung pada teori subyektif.

Catatan Prof. Tetapi apabila dalam contoh diatas. Niat jangan disamakan dengan kesenjangan. Oleh karena itu niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan. tetapi niat secara potensiil dapat berubah menjadi kesenjangan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju. Dalam hal percobaan tertunda (percobaan terhenti atau tidak lengkap/geschorste poging/incompleted attempt). b. Menurut Moelyatno. niat sama dengan kesengajaan. Dalam hal percobaan selesai (percobaan lengkap/voltoo-ide poging/completed attempt). niat hanya merupakan unsur sifat melawan hukum yang subyektif (subyektif onrechtselement). Picu (trekker) pistol telah ditarik. perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan belum dilakukan (misal : picu belum ditarik) sehingga akibat yang terlarang juga belum ada maka dalam hal demikian dikatakan ada “percobaan tidak selesai/tertunda”. dalam hal ini maka niat yang belum diwujudkan sebagai perbuatan (belum ditunaikan keluar) . tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai/voltooidc poging).189 190 Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa unsur niat sama dengan sengaja dalam segala tingkatan/coraknya. Dikatakan ada “percobaan selesai” apabila terdakwa telah melakukan semua perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan. Dalam hal ini. Misal : A bermaksud membunuh B dengan pistol. untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi sudah ada sejak niat belum ditunakan jadi perbuatan. Moelyatno terhadap unsur niat : a. tetapi akibat yang terlarang tidak terjadi. 2. tetapi ternyata pistol tersebut tidak meletus atau tembakan tidak mengenai sasaran. niat sudah berubah menjadi kesengajaan karena telah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. yaitu subjectieve onrechtselement. disitu niat 100% menjadi kesengajaan. sama kalau mengahadapi delik selesai. dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. menurut Moelyatno. Dari delik percobaan dapat mempunyai dua arti : 1. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi perbuatan maka niat masih ada dan merupakan sikap batin yang membari arah kepada perbuatan. c. maka isinya niat jangan diambilkan dari isinya kesengajaan apabila kejahatan timbul.

perbuatan pelaksanaan ada apabila telah dimulai perbuatan yang disebut dalam rumusan delik. maka dalam hal ini dikatakan sudah ada . Jadi yang dipentingkan atau yang dijadikan ukuran oleh VAN HAMEL ialah ternyata adanya sikap batin yang jahat dan berbahaya dari si pembuat. perbuatan pelaksanaan ada pabila telah dimulai/dilakukan perbuatan yang menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang tanpa mensyaratkan adanya perbuatan lain. Pada delik materiil. Moelyatno setuju dengan pendapat yang luas bahwa hal itu meliputi juga kesenjangan sebagai keinsyafan kemungkinan. ia mematikan lampu teras.191 192 masih tetap menjadi niat yaitu baru merupakan sikap batin yang mengarah kepada suatu perbuatan yang melawan hukum. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang subyektif. Pada delik formil. Apabila digunakan ukuran Van Hamel. Ukuran demikian menurut VAN HAMEL sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. Dalam hal niat telah berubah menjadi kesengajaan. VAN HAMEL berpendapat bahwa dikatakan ada perbuatan pelaksanaan apabila dilihat dari perbuatan yang telah dilakukan telah ternyata adanya kepastian niat untuk melakukan kejahatan. Sesampainya di rumah B. melepas kaca jendela dan baru saja A masuk rumah lewat jendela itu ia tertangkap.2. Unsur kedua ini. b. merupakan persoalan pokok dalam percobaan yang cukup sulit karena baik secara teori maupun praktek selalu dipersoalkan batas antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandeling) dan perbuatan pelaksanaan (uitvoeringshandeling). Contoh untuk delik formil : A bermaksud melakukan pencurian dirumah B untuk melaksanakan aksinya. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang obyektif materiil. kemudian pada malam hari ia mendatangi rumah B. Dalam memecahkan masalah ini para sarjana menghubungkannya dengan teori atau dasar-dasar patut dipidananya percobaan. Ada permulaan pelaksanaan. IV. SIMIONS berpendapat sbb : a. Prof. A telah mempersipkan segala sesuatu peralatan untuk mencuri.

193

194

perbuatan pelaksanaan, tetapi menurut ukuran Simons baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum mulai melakukan perbuatan seperti yang disebut dalam rumusan delik (pencurian : pasal 362 KUHP) yaitu “ mengambil barang “. Apabila A sudah mengambil barang dan pada saat itu ketahuan dan tertangkap, barulah dikatakan pada saat itu A telah melakukan perbuatan pelaksanaan yang oleh karenanya dapat dituntut telah melakukan percobaan pencurian. Contoh untuk delik materiil : A bermaksud membunuh B dengan meledakkan mobil yang dikendarainya dengan dinamit di suatu tempat yang dilalui B. A telah mempersiapkan dinamit dengan segala peralatan yang diperlukan dengan rapid an menunggu di samping saklar sampai B lewat ditempat itu. Apabila pada saat menunggu itu, gerak gerik A dicurigai dan akhirnya ditangkap, maka menurut ukuran Simons perbuatan A belum merupakan perbuatan pelaksanaan tetapi baru perbuatan persiapan, karena untuk meledakkan dinamit itu masih diperlukan perbuatan lain yaitu mengotakkan/menekan saklarnya.

Dalam menentukan adanya permulaan/perbuatan pelaksanaan dalam delik percobaan Prof Moelyatno berpendapat bahwa ada dua factor yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Sifat atau inti dari delik percobaan, dan 2. Sifat atau inti dari delik pada umumnya Mengingat kedua factor tersebut, maka menurut beliau perbuatan pelaksanaan harus memenuhi 3 syarat yaitu : i. Secara Obyektif, apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik/kejahatn yang dituju atau dengan kata lain, harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut; ii. Secara Subyektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu ditujukan atau diarahkan pada delik/kejahatan yang tertentu tadi; iii. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.

V. PERCOBAAN DALAM YURISPRUDENSI

BEBERAPA

Yurispridensi yang terkenal ialah Arrest HR tahun 1934 tentang Eindhoven.

195

196

Kasus Posisi : H dituduh hendak membakar rumah R (dengan persetujuan R). Pada malam yang telah ditentukan H masuk kerumah R, menaruh pakaian dan barang-barang yang mudah terbakar di tiap kamar, yang semuanya dihubungkan satu sama lain dengan sumbu yang akhirnya dihubungkan pada kompor gas yang mengeluarkan api jika ditembakkan. Trekker (penarik pintol gas) diikatkan dengan tali dan melalui jendela, ujungnya digantungkan di luar rumah yang terletak di pinggir jalan kecil. Pakaianpakaian itu disiram bensin dan jika orang berjalan di tepi jalan menarik talinya maka pistol gas mengeluarkan api dan menyalakan kompor gas dan selanjutnya akan merata keseluruh rumah. Setelah pemasangan pistol dan tali itu selesai, H menyingkirkan benda-benda ke tempat lain. Sementara itu, karena tertarik bau bensin banyak orang berpendapat di dekat tali itu, sehingga H tak mugkin menyelesaikan maksudnya. Terhadap kasus tersebut peradilan (gerechtshop) di Her-togenbosch menyatakan bahwa perbuatan H adalah perbuatan permulaan pelaksanaan dan dijatuhi pidana 4 tahun penjara karena melanggar pasal 53 jo 187 KUHP. H mengajukan kasasi dengan alasan bahwa Hof telah salah menafsirkan pasal 53 KUHP dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya baru merupakan perbuatan persiapan. Jaksa Agung

Muda BEISER menyimpulkan bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan karena belum nyata-nyata merupakan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran. Senada dengan konklusi Beiser, HOGE RAAD berpendapat bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum merupakan perbuatan yang sangat diperlukan untuk pembakaran yang telah diniatkan, ialah yang tidak dapat tidak menuju kearah dan langsung berhubungan dengan kejahatan yang dituju dan juga menurut pengalaman nyata-nyata menuju pembakaran, tanpa sesuatu perbuatan lain dari si pembuat. Atas dasar alasan ini HR membatalkan putusan Hof dan H dilepaskan dari segala tuntutan. Apabila kasus dan putusan pengadilan di atas dihubungkan pendapat para Sarjana yang telah dikemukakan di atas, maka terlihat bahwa : - Konklusi Beiser dan terutama pendapat HR, lebih cocok dengan teori atau pendapat Simons (Teori Obyektif Materiil); - Putusan Hof, lebih sesuai dengan teori atau pendapat Duynstee (Teori Obyetif Formil) Terhadap putusan HR tersebut, DUYNSTEE sendiri menulis bahwa menurut pendapatnya terdakwa H telah mulai dengan perbuatan pelaksanaan pembakaran. Alasan yang dikemukakannya ialah :

197

198

a. Semua perbuatan terdakwa (H) saling berhubungan dan memenuhi rumusan delik; b. Jika HR menganggap perbuatan pelaksanaan yaitu perbuatan yang menimbulkan kejahatan (akibat) tanpa adanya perbuatan lain, berarti jika tiap perbuatan pelaksanaan akan menimbulkan akibat terlarang, maka perbuatan pelaksanaan hanya ada percobaan lengkap saja, ini tidak tepat karena di dalam teori dikenal juga adanya percobaan yang tidak lengkap. Mengenai kasus diatas, Prof. Moelyatno mengemukakan pendapatnya sbb : “Kalau perkara pembakaran di Eindhoven ditinjau dengan ukuran yang saya sarankan, maka mengenai syarat pertama tidak perlu diragukan adanya. Secara potensiil apa yang telah dilakukan terdakwa mendekatkan kepada kejahatan yang dituju. Juga mengenai syarat yang kedua yaitu bahwa yang dituju itu menimbulkan kebakaran, telah wajar. Tinggal syarat yang ketiga, yaitu apakah yang telah dilakukan itu sudah bersifat melawan hukum ? Kalau diingat bahwa rumah itu di diami orang lain di waktu orangnya tidak ada, hemat saya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jadi karena tiga-tiganya syarat sudah dipenuhi, hemat saya putusan yang yang diberikan

oleh Hof’s Hertogenbosch adalah tepat. Terdakwa telah melakukan delik percobaan pembakaran seperti yang ditentukan dalam pasal 53 juncto pasal 187 KUHP”. IV.3. Pelaksanaan tidak selesai bukan sematamata karena kehendak pelaku sendiri. Tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukankarena kehendak sendiri, dapat terjadi dalam hal-hal sbb : a. Adanya penghalang fisik; Misal : tidak matinya orang yang ditembak, karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistol terlepas. Termasuk dalam pengertian penghalang fisik ini ialah apabila adanya kerusakan pada alat yang digunakan (misal : pelurunya macet / tidak meletus, bom waktu yang jamnya rusak). b. Walaupun tidak ada penghalang fisik, tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. Misal : takut segera ditangkap karena gerak geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. c. Adanya penghalang yang disebabkan oleh factor-faktor / keadaan-keadaan

Misal : Orang member racun pada minuman si korban. sering dirumuskan bahwa ada pengnduran diri sukarela. maka menurut M. bahwa usaha yang paling tepat (efektif) untuk mencegah timbulnya kejahatan ialah menjamin tidak dipidananya orang yang telah mulai melakukan kejahatan tetapi kemudian dengan sukarela mengurungkan pelaksanaannya.199 200 khusus pada obyek yang menjadi sasaran. Dengan adanya penjelasan MvT tersebut. Seno Adji). Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri. Dalam hal tidak selesainya perbuatan itu karena kehendak sendiri. .T maksud dicantumkannya unsur ke-3 ini dalam pasal 53 KUHP ialah :  Untuk menjamin supaya orang yang dengan kehendaknya sendiri secara sukarela mengrungkan kejahatan yang telah dimulai tetapi belum terlaksana. maka ada pendapat bahwa unsur ketiga ini merupakan :  Alasan pengahpus pidana yang diformulir sebagai unsur (Pompe). Sehubungan dengan masalah pengunduran diri sukarela ini.  Pertimbangan dari segi kemanfaatan (utilitas).  Tindakan penyesalan (Tatiger Reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. maka dalam hal ini dikatakan ada pengunduran diri sukarela. tetapi setelah diminumnya. secara teori dapat dibedakan antara :  Pengunduran diri secara sukarela (Rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan. tetapi ia tidak mau meneruskannya. tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak delik tersebut.  Alasan pemaaf (van Hattum. apabila menurut pandangan terdakwa. ia masih dapat meneruskannya. tidak dipidana.v. ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal. Misal : daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan. barang yang kan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkatnya sekuat tenaga.

untuk adanya percobaan unsur ke-3 ini (tidak selesainya pelaksanaan perbuatan bukan karena kehendak sendiri) harus ada. Dalam pengunduran sukarela (dan tindakan penyesalan/Tatiger Reue). seprti halnya dirumuskan pada pasal 367 (1) KUHP (pencurian antara suami-istri). maka saksi tersebut mencabut kembali keterangan palsunya itu. jadi bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri).201 202  Alasan pengahpusan penuntutan (Vos. tetapi tidak dituntutnya itu karena dipandang lebuh berguna bagi masyarakat. Mengenai konsekwensi adanya unsur ke-3 dalam perumusan pasal 53 KUHP ini. Jadi ada pertimbangan utilitas. maka tidak ada percobaan. Moelyatno memandang unsur ke-3 ini sebagai alasan penghapusan penuntutan. Pertimbangan utilitas lain dikemukakan beliau ialah untuk menghemat tenaga dan biaya. Menurut beliau dengan tidak dituntutnya terdakwa. Ini berarti apabila ada pengunduran diri secara sukarela. diberi stimulans bagi orang-orang lain yang mempunyai niat melakukan kejahatan. Moelyatno). Moelyatno tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan unsur ke-3 ini sebagai alasan pemaaf (fait d’ex-cuse) maupun sebagai alasan pengahpus pidana. sebab perbuatannya tetap tidak baik (yang baik adalah tidak mencoba sama sekali) sehingga tidak ada alasan untuk memaafkan ataupun membenarkan. tidak ada fait d’excuxe karena sifat tak baik perbuatan maupun kesalahn tetap ada. namun beliau tidak berkeberatan untuk menuntut orang yang secara sukarela telah mengurngkan niatnya itu apabila telah menimbulkan kerugian. Prof. Setelah Jaksa dan Hakim memperingatkan bahwa ia akan dituntut sumpah palsu. dan pidananya dikurangi menurut kebijaksanaan Hakim. ada dua pendapat : a. Apakah saksi dapat dipidana karena percobaan sumpah palsu? HR dalam putusannya berpendapat bahwa saksi itu tidak dapat dipidana melakukan . Dalam kasus ini ada tanda-tanda bahwa saksi yang dihadapkan ke persidangan diatas sumpah telah meberikan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan (kesaksian palsu). Walaupun Prof. Pendapat serupa ini terlihat dalam putusan Hoge Raad tanggal 17 Juni 1889 tentang kasus sumpah palsu. Dengan perkataan lain. untuk ditengah-tengah mengundurkan diri secara sukarela. Mempunyai konsekuensi materiil Artinya unsur ketiga ini merupakan unsur yang melekat pada percobaan.

Pembeda antara percobaan mampu dan tidak mampu ini sebenarnya hanya pada mereka yang menganut teori percobaan yang obyektif. Menurut pendapat ini.203 204 percobaan sumpah palsu karena dalam hal ini ada pengunduran diri secara sukarela. perbuatannya tetap dipandang sebagai perbuatan terlarang dan soal dipidana tidaknya si pembuat maupun si penganjur adalah masalah pertanggunganjawab. sedangkan sipenganjur tetap dapat dipidana karena telah menganjurkan suatu perbuatan yang terlarang. meskipun ada pengunduran diri secara sukarela. unsur ke-3 ini tidak merupakan unsur yang melekat pada percobaan. Mempunyai konsekwensi formil (dibidang processuil) Artinya unsur ke-3 itu dicantumkan dalam pasal 153 maka unsur tersebut harus disebutkan didalam surat tuduhan dan dibuktikan. mencuri uang dari sebuah peti uang yang ternyata kosong. ia merupakan unsur yang berdiri sendiri. Dalam kasus diatas si pembuat (saksi) tidak dipidana karena (menurut HR) disitu ada pengunduran diri secara sukarela. karena hanya menitik beratkan pada sifat bahayanya perbuatan. karena lebih . walaupun unsur ini tidak ada (yaitu karena adanya pengunduran diri secara sukarela) maka percobaan tetap dipandang ada. Tidak selesainya delik atau tidak timbulnya akibat terlarang itu dapat disebabkan karena tidak mempunyai obyek (misal : mencoba menggugurkan bayi yang ternyata tidak hamil. b. Dengan perkataan lain. dsb) atau karena tidak mempunyai alat yang digunakan ( misal : mencoba membunuh orang dengan gula yang dikiranya racun). PERCOBAAN MAMPU DAN TIDAK MAMPU Masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul. Para penganut teori yang subyektif tidak mengenal pembedaan tersebut. jadi tidak bersifat accessoir. Begitu pula si penganjur tidak dapat dipidana karena adanya pengunduran diri itu perbuatannya (saksi) tidak merupakan perbuatan terlarang. Jadi pendapat kedua ini membedakan antara perbuatan yang dapat dipidana (criminal act) dan pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility). mencoba membunuh orang yang sudah mati. VI. Jadi dalam kasus yang dikemukakan diatas.

Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan. maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada obyeknya.v.Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan . b.v.v.v.T membedakan antara :  Tidak mampu mutlak. Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya obyek. dapat dilihat secara abstrak untuk rata-rata orang dan dapat dilihat dari keadaan konkrit tertentu. Begitu pula orang yang dituju. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena alatnya. M. M. maka juga tidak ada percobaan”. dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan.205 206 menitik beratkan pada sifat berbahayanya sikap batin atau watak si pembuat. Jadi menurut M. . Dari apa yang dikemukakan M. yaitu bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada.Apabila dilihat dari keadaan konkritnya. Kalau tidak ada obyeknya.Apabila dilihat sebagai jenis tersendiri.  Tidak mampu relative.Gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh orang pada umunya. sedangkan warangan (arsenicum) adalah mampu. yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja.T itu ternyata tidak mudah : a. Alat itu dapat dilihat sebagai jenis tersendiri dan dapat dilihat dari keadaan konkritnya : .T mengemukakan : “Syarat-syarat umum percobaan menurut pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu didalam buku II KUHP. maka gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh.Keadaan tertentu dari orang yang dituju. maka alat yang pada umumnya mampu untuk membunuh (misal warangan) dapat menjadi alat yang tidak mampu apabila jumlahnya tidak memenuhi dosis yang cukup mematikan (untuk arsenicum 5 mg). Ukuran yang dikemukakan M. . tetapi dapat menjadi alat yang .V. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena obyeknya. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai.T tidak mungkin ada percobaan pada obyek yang tidak mampu.T diatas terlihat bahwa ketidakmampuan relative dapat dilihat dari dua segi : .

Ukuran-ukuran kausalitas yang digunakan adalah teori generalisasi (adekuat) yang melihat secara ante factum (sebelum peristiwa/akibat) karena memang dalam hal percobaan. tergantung dari cara berpikir seseorang mengenai sesuatu hal. Ukuran atau batas percobaan mampu dan tidak mampu yang dikemukakan oleh para sarjana itu adalah sbb : 1. Pompe. Berdasarkan hal-hal diatas. Sebaliknya . Karena pada hakekatnya masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini dalah masalah hubungan kausal yang ada dalam lapangan obyeltif. .207 208 mampu mematikan untuk orang yang berpenyakit diabetes.T itu. SIMONS Ada percobaan yang mampu. jadi tidak menggunakan teori individualisasi yang melihat sesudah terjadinya akibat (post factum). Orang dapat mengatakan bahwa pistol yang demikian adalah alat yang absolut tidak mampu. tetapi untuk orang yang sudah biasa warangan sejumlah itu tidak merupakan alat yang mematikan. akibat yang merupakan delik yang dituju justru belum terjadi. maka banyak sarjana (misal Simons. maka banyak sarjana yang menyatakan bahwa batas antara absolute dan relative itu tergantung dari kehendak orang yang menggunakan (willekeurig).v. maka para sarjana berusaha memberikan batas atau ukuran antara percobaan yang mampu dan tidak mampu. Van Hattum) yang berusaha menentukan garis pembatas tersebut dengan menggunakan ukuran-ukuran dalam hubungan kausal. tetapi dapat juga dikatakan bahwa pistol adalah alat yang mampu untuk membunuh. dengan alat tersebut tidaklah akan ditimbulkan delik maka dalam hal demikian tidak ada percobaan yang mampu.Warangan yang memenuhi dosis 5 mg. namun dalam hal tertentu bersifat relative karena tidak ada pelurunya. Sehubungan dengan tidak jelas dan tidak mudahnya ukuran yang diberikan oleh M. merupakan alat yang mampu untuk membunuh. Tidak perlu bahwa bahaya itu harus nyatanyata ada dalam keadaan khusus dimana perbuatan itu dilakukan. Jika menurut keadaan normal. apabila perbuatan yang menggunakan alat yang tertentu itu dapat membahayakan benda hukum. Misal : percobaan pembunuhan dengan pistol yang tidak berpeluru.

Dalam memformulir perbuatan terdakwa secara adekuat kausal itu. tetapi karena kekeliruan apotik. jika perbuatan atau alat yang digunakan mempunyai kecendrungan (strekking) atau menurut sifatnya mampu untuk menimbulkan delik selesai. . tetap dikatakan ada percobaan karena meskipun sifat gula adalah tidak mampu secara . 3. apabila perbuatan terdakwa ada hubungan kausal yang adekuat dengan akibat yang dilarang oleh undangundang.Mencoba membunuh orang dengan mendoakan terus menerus supaya mati. bukanlah percobaan yang mampu sebaliknya pemberian warangan pada orang yang normal adalah mampu jika jumlahnya memang dapat mematikan orang yang normal. Dalam menggunakan hubungankausal yang adekuat itu. Misal : . van Hattum seperti halnya Simons dan Pompe jelas-jelas menggunakan hubungan kausal yang adekuat. apabila pada hakekatnya perbuatan 2. VAN HATTUM Dalam menentukan percobaan mampu dan tidakmampu. karena rasa keadilan tidak membenarkan hal demikian member keuntungan kepada si pembuat. bukan warangan yang diberikan tetapi gula sehingga tidak menimbulkan kematian.209 210 jika alat yang pada umumnya tidak berbahaya. absolute. kedalam makanan orang lain. Dikatakan ada percobaan yang mampu. tetapi penting dilihat dari keseluruhan perbuatan yaitu mencampurkan gula (yang diberikan oleh apotik) yang dikiranya warangan. b. menurut van Hattum yang penting adalah bagaimana merumuskan (memformulir) perbuatan terdakwa yang bersangkutan. Dalam hal demikian. POMPE Ada percobaan mampu. Perbuatan demikian lalu dapat dipidana.Ada orang membeli warangan di apotik untuk melakukan pembunuhan. tetapi dalam keadaan tertentu dapat membahayakan dan dengan sengaja pula alat itu digunakan. Hal-hal yang merintangi selesainya kejahatan yang dituju jangan dimasukkan. maka persangkaan bahwa alat itu tidak berbahaya akan lenyap dengan diajukan bukti-bukti sebaliknya. van Hattum memberikan ukuran/pedoman sbb : a. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan jangan dimasukan.

211

212

terdakwa membahayakan benda/kepentingan hukum (rechtsgoed). Misal : Dengan maksud menembak musuhnya, seseorang telah mengisi senapanya dengan peluru dan kemudian meletakkannya di suatu tempat untuk menunggu saat yang baik. Sementara itu dengan tidak diketahuinya ada orang lain mengososngkan senapanya itu, sehingga pada saat ditembakkan tidak menimbulkan akibat amtinya orang lain (musuhnya itu). Dalam hal yang demikian, menurut van Hattum janganlah perbuatan terdakwa diformulir sebagai percobaan yang tidak mampu karena kenyataannya ia membunuh dengan alat yang relative tidak mampu yaitu senapan yang kosong. Tetapi harus diformulirkan sbb : “mengarahkan senapan yang semula sudah diisi dengan peluru dan kemudian menembakkannya”. Perbuatan demikian merupakan yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat matinya orang lain (jadi mempunyai hubungan kausal yang adekuat untuk adanya pembunuhan). Dengan demikian perbuatan terdakwa merupakan percobaan yang mampu. Tidak berbeda dengan menembakkan senapan yang pelurunya macet. Dari pendapat van Hattum diatas jelas terlihat bahwa “kosongnya pistol” merupakan hal yang

kebetulan dan mengisi senapandengan peluru dan menembakkannya” merupakan perbuatan yang membahayakan benda hukum orang lain (berupa nyawa). Van Hattum menyatakan bahwa makin banyak hal-hal konkrit yang dimasukkan dalam merumuskan perbuatan terdakwa, maka ketidakmampuan yang relative akan menjadi ketidakmampuan yang absolut. 4. MOELYATNO Dalam memecahkan masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini, Prof. Moelyatno tidak mendasarkan pada teori adekuat kausal karena kenyataanya dalam percobaan tidak sampai menimbulkan kejahatan yang dituju (tidak timbul akibat terlarang). Ukuran yang dugunakan beliau dikembalikan pada ukuran patut dipidananya suatu delik, yaitu adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Jadi ukurannya tidak ditetapkan secara kausatif, tetapi secara normatif. Dikatakan ada percobaan yang mampu apabila perbuatan terdakwa mendekatkan pada terjadinya delik selesai sedemikian rupa sehingga merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perlu dicatat bahwa karena beliau menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil, maka perbuatan itu harus menggelisahkan masyarakat atau tidak pantas dilakukan.

213

214

Ukuran yang digunakan Prof. Moelyatno itu didasarkan pada Eindrucks theorie (teori kesan) yang berasal dari Von Bar, yang dikemukakan didalam bukunya Prof. Edmund Mezger (1952). Menurut teori ini, sudah cukup dikatakan ada percobaan, yang mampu apabila dalam keadaan tertentu ada perbuatan yang menimbulkan kesan keluar bahwa ada permulaan perbuatan yang dapat dipidana. Apabila suatu perbuatan dipandang dari sudut masyarakat telah menimbulkan kesan mengganggu atau melukai tata-hukum, dan oleh karena itu telah menggincangkan kesadaran umum mengenai kepastian berlakunya tata hukum tadi, maka perbuatan demikian sudah mengandung bahaya. Dengan demikian ternyata, menurut Mezger, bahwa di dalam teori kesan terdapat azas general preventive. Misal : perbuatan orang yang hendak membunuh dengan senjata yang ternyata kosong atau macet pelurunya, atau pencuri yang merogoh kantong orang lain yang ternyata kosong. Perbuatan-perbuatan demikian dilihat dari teori kesan sudah merupakan percobaan yang mampu dan oleh karenanya dapat dipidana, karena ada kesan dari luar yaitu dari sudut

masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu telah mengganggu/ melukai tata hukum. Menurut Prof. Moelyatno, dengan memakai ukuran melawan hukumnya perbuatan dalam menentukan mampu tidaknya suatu percobaan berdasar teori kesan, tidak berarti bahwa sifat berbahaya tidaknya percobaan itu dilihat dari sudut hubungan kausal tidak perlu diperhatikan. Pertimbangan segi kausalitas ini tetap penting, tetapi bukan untuk menentukan mampu tidaknya suatu percobaan, melainkan untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dalam hubungan ini beliau membandingkan dengan pasal 23 KUHP Swiss yang menentukan. “Jika alat yang dipakai untuk mencoba melakukan kejahatan, atau obyek/terhadap mana dilakukan kejahatan, adalah sedemikian rupa hingga perbuatan memang tidak mungkin dilaksanakan dengan alat atau terhadap obyek yang demikian itu, maka hakim boleh mengurangi pidana menurut kebijaksanaanya sendiri. Jika si pembuat berbuat karena kebodohan (unverstand) hakim boleh tidak menjatuhkan pidana”. 5. MANGEL AM TATBESTAND Telah dilemukakan diatas bahwa secara teoritis percobaan mampu dan tidak mampu dapat dibedakan mengenai obyeknya maupun

215

216

mengenal alatnya dan dapat pula dibedakan antara tidak mampu yang absolute dan relative. Karena tidak jelasnya batas penetu antara tidak mampu absolute danrelatif, tergantung dari kehendak/ cara berpikir seseorang (bersifat Willekeurig), maka ada pendapat seperti M.v.T yang tidak memasukkan kedalam lapangan percobaan tidak mampu apabila objek tidak mampu. Menurut pendapat aliran ini, percobaan tidak mampu karena obyeknya bukanlah delik percobaan karena tidak cukupnya atau tidak terpenuhinya unsur-unsur delik. Misal dalam hal membunuh orang yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil, disitu tidak terpenuhi unsur delik dalam pasal 333 KUHP yaitu harus adanya nyawa orang (hidup) yang dihilangkan dan unsur delik dalam pasal 346 KUHP (menggugurkan/mematikan kandungan) yaitu harus adanya seorang wanita yang benarbenar mengandung. Dalam ilmu hukum pidana Jerman, tidak adanya atau tidak lengkapnya/ tidak terpenuhinya unsur-unsur delik itu, disebut Mangel am Tatbestand (Mangel =kekurangan; Tatbestand = keadaan yang betul/sempurna atau mencocoki rumusan delik). Istilah ini dikemukakan oleh Graf zu Dohna (1910).

Yang setuju dengan pendapat ini ialah Simons dan Pompe. Menurut Pompe, dalam kedua contoh yang dikemukakan diatas tidak mungkin lagi dikatakan ada percobaan karena maksud/tujuan terdakwa sudah tercapai. Sedangkan van Hamel, tidak setuju dengan mereka yang memandang tidak ada percobaan apabila obyeknya tidak mampu. Menurut beliau memang benar bahwa membunuh bayi yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil adalah tidak mungkin, tetapi hal yang demikian sebenarnya tidak berbeda dengan membunuh bayi yang lahir hidup tetapi kemudian diganti dengan boneka atau mencuri uang dari sebuah kantong yang ternyata kosong. Demikian pula Jonkers tidak setuju bahwa dalam contoh-contoh di atas dikatakan tidak ada percobaan, karena sifat khusu dari percobaan ialah : a. Delik tidak selesai karena hal ikhwal yang tidak tergantung dari kehendak terdakwa; b. Oleh karena dalam pikiran terdakwa (dalam kasus-kasus diatas) adalah mungkin sekali akan melaksanakan delik yang dituju.

maksimum pidana yang dapat dijatuhkan hanya 15 tahun penjara. terdakwa tidak dapat dipidana karena memang tidak ada pasal yang dilanggar dan kepastian hukum terancam (jadi berlainan dengan van Hamel).217 218 Dari alasan yang kedua (b) ini jelas terlihat pandangan yang subyektif tentang percobaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut . Bagaimanakah apabila kejahatan yangbersangkutan diancam pidana mati atau penajara seumur hidup. sedangkan terhadap pelanggaran tidak dipidana. Dalam kedua contoh ini menurut Karni tujuanya sudah tercapai.Orang yang melarikan perempuan yang ternyata sudah cukup umur. disini ada percobaan yang tidak mampu karena tujuan si pembuat tidak tercapai (jadi berbeda dengan pendapat Pompe). Dalam hal demikian. yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap kejahatan. Jadi misalnya untuk percobaan pembunuhan (pasal 53 jo pasal 338 KUHP). maka menurut pasal 53 (2) KUHp maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah maksimum pidana untuk kejahatan (pasal) yang bersangkutan dikurangi sepertiga. PEMIDANAAN TERHADAP PERCOBAAN Telah dikemukakan di muka bahwa menurut system KUHP. Selanjutnya ditegaskan oleh Karni bahwa Mangel am Tatbestand ini merupakan “kekhilafan tentang anasir delik” yang harus dibedakan dengan salah sangka tentang adanya undang-undang (putatief delict). Dalam hal menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil. delik putatief merupakan “rechtsdwaling” sedangkan Mangel am Tatbestand merupakan “feitelijke dwaling”. maksimumnya ialah 10 tahun penjara. hanya saja unsur delik yang bersangkutan (pasal 332 dan pasal 362 KUHP) tidak terpenuhi secara sempurna. Perbedaan ini terlihat pula dalam pendapat Utrecht. jadi ini bukan Mangel am Tatbestand. VII. Ketidak sempurnaan dipenuhinya unsur delik inilah yang menurut Karni merupakan hakekat atau watak hukum dari Mangel am Tatbestand. Dalam hal percobaan terhadap kejahatan.Orang yang mencuri barang yang ternyata sudah menjadi miliknya. Sehubungan dengan masalah ini KARNI membedakan antara Mangel am Tatbestand dengan percobaan tidak mampu (istilah beliau “percobaan tak terkenan”). . Sedangkan untuk mangel am Tatbestand dicontohkan sbb: . seperti halnya dalam pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)? Menurut pasal 53 (3).

Teilnahme/Tatermehrhaeit (Jerman).Penganut a.Penyertaan merupakan suatu delik. BEBERAPA ISTILAH 1. Turut campur dalam peristiwa pidana (Tresna). Sedangkan untuk pidana tambahannya. BEBERAPA PANDANGAN TENTANG SIFAT PENYERTAAN Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan : 1. Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan) : . Sebagai Strafa sdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : .219 220 KUHP. Turut serta (Utrecht).Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana . B. 2. menurut pasal 53 (4) adalah sama dengan kejahatan selesai.l : Simons. Hazewinkel Suringa. . maksimum pidana pokok untuk percobaan adalah lebih rendah daripada apabila kejahatan itu telah selesai seluruhnya. Participation (Perancis). Turut berbuat delik (Karni). Delneming (Belanda). BAB XI PENYERTAAN A. 2. hanya bentuknya tidak sempurna. Complicity (Inggris). 4. van Hattum. 3.

a. Anstifter (penganjur) 2.l : Pompe.2. PEMBAGIAN PENYERTAAN 1. Instigator 3. Di Jerman : 2. jadi lebih ditekankan pada strafbaarheid van het feit” (hal dapat dipidananya perbuatan).3. Executive of crime 3. Dader / Pembuat (pasal 47 Belanda / pasal 55 KUHP Indonesia). Di Inggris : d.1. Urherber (pembuat) a. Organizer 3.1.2. Complices.a. Code Penal Perancis dan Belgia : c. PENYERTAAN MENURUT KUHP INDONESIA 1.1. Di Jepang : 2.1. Instigator (penganjur) 2. . d.1. .c.221 222 .Penganut a.2. Tater (pembuat) 2. Menurut Prof. Gehilfe (pembantu) b.2.b. hanya bentuknya istimewa. Moelyatno.2. Accessory D. Principals (peserta baku). Moelyatno pandangan yang pertama sesuai dengan alam/pandangan individual karena yang diprimairkan adalah “strafbaarheid van de person” (hal dapat dipidananya orang).2.3. Medeplichtige / pembantu (pasal 48 KUHP Belanda / pasal 56 KUHP Indonesia). Pembagian empat : Di Uni Sovyet : 3. d. Pembagian tiga : 2. c.b. Menurut Moelyatno. Accessories (peserta pembantu). KUHP Belanda dan Indonesia : b. Terbagi dua : a. Pembuat/dader (pasal 55) yang terdiri dari : .4.3. Roeslsn Saleh.1.a. c. Pembagian penyertaan menurut KUHP Indonesia adalah : a.Penyertaan merupakan suatu delik. b. Von Feuerbach membagi penyertaan dalam dua bentuk : a. Autores. 2. Co principals (pembuat) 2.b. pandangan yang kedua sesuai dengan alam Indonesia karena yang diutamakan adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan.a.Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana. C. Accessories (pembantu) 3.1. pandangan pertama tidak dikenal dalam hukum adat. Gehile (pembantu) 2.2.

jadi hanya disamakan saja dengan dader. b. Jonkers. terutama dalam hal pembuat undangundang tidak menentukan secara pasti siapa yang menjadi pembuat.Pembuat hanyalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik.2. pembantu pada saat kejahatan belum dilakukan.3. Pandangan yang luas (extensief) : . Pandangan yang sempit (restrictief) : . . penganjur (uitlokker) b. Simons. Mengenai pengertian pembuat (dader). Hazewinkel-Suringa. Mengenai hal ini ada beberapa pedoman : 1). Moelyatno. Dalam praktek sukar menentukannya.1. jadi hanya pembuat materiil saja (yaitu pada no.v.Dengan demikian mereka yang disebut dalam pasal 55 diatas adalah pembuat. b.Penganut : M.4. van Hattum.Menurut pandangan ini.1. Pelaku (pleger) ialah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik.1 pada pasal 55 di atas). yang turut serta (medepleger) a. ada dua pandangan : a.223 224 a. van Hamel.2. Peradilan Indonesia Pembuat (dalam arti sempit yaitu pelaku) ialah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus dipandang yang bertanggung jawab. .Penganut : HR. mereka yang tersebut dalam pasal 55 hanya dipandang sebagai pembuat. . pembantu pada saat kejahatan dilakukan b. Pompe. Pelaku (pleger) a. . Pleger (pelaku) a.T. 2. Pembantu / mendeplichtige (pasal 56) yang terdiri dari : b. yang menyuruh lakukan (doenpleger) a.

manus ministra) . didalamnya 3. Doenpleger ialah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain. Hal yang menyebabkan alat (pembuat materiil) tidak dapat dipertanggungjawabkan ialah : . Janggal dan tidak pada tempatnya Alasan : Karena pasal 55 berada dibawah bab V yang berjudul “Penyertaan tersangkut beberapa pidana”. 2). doenpleger. Pada Doenpleger terdapat unsur-unsur sbb : .Alat yang dipakai adalah manusia. Doenpleger (yang menyuruh lakukan) a).Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati) . auctor physicus. jadi plegers termasuk didalamnya “Pompe”.Pembuat langsung (onmiddelijke dader. Mengenai hal ini ada dua pendapat : 1). c. pada penyertaan apabila “mereka yang melakukan” (para pelaku) itu diartikan pembuat tunggal. Dengan demikian : . b). sedang perantara ini hanya diumpamakan sebagai alat. Kedudukan “pleger” dalam pasal 55 sering dipermasalahkan. Pompe Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kewajiban untuk mengakhiri keadaan terlarang itu. Peradilan Belanda Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhiri keadaan terlarang. .Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan” unsur ketiga inilah yang merupakan tanda ciri dari doenpleger . auctor intellectuals.225 226 2).Pembuat tidaklangsung (middelijke dader. manus domina). 3). tetapi tetap memberikan keadaan terlarang itu berlangsung terus. Dapat dipahami Alasan : Karena pasal 55 menyebut “mereka yang dipidana” sebagai pembuat”. jadi plegers juga termasuk (Hazewinkel-Suringa). Karena pasal 55 menyebut “ siapa-siapa yang dinamakan pembuat”.

d. misalnya A menyuruh B untuk menguangkan pos wesel yang tanda tangannya dipalsu oleh A. Alasan. . Namun demikian. sedangkan B tidak mengetahui pemalsuan tersebut. yang belum begitu sadar akan perbuatannya. maka tidak ada menuruh lakukan. (dalam undangundang) misal A menyuruh B (seorang kuli) untuk mengambil barang dari suatu tempat.  Bila ia keliru (sesat) mengenai salah satu unsur delik. Dalam hal pembuat materiil (alat) seseorang yang belum cukup umur. Misalnya : A bukan pegawai negeri. Pendapat pertama : “harus”. jadi A tidak bisa menjadi pembuat langsung (onmiddelijke dader) oleh karena itu ia juga tidak bisa menjadi pembuat tidak langsung. karena tidakmungkin seorang A menyuruh oarng lain B melakukan sesuatu yang A sendiri tidak dapat melakukannya. Pendapat kedua : “tidak harus”. maka A tidak bisa menjadi doenpleger. Apakah orang yang menyuruh lakukan (doenpleger) harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? ada dua pendapat : d. d). c).  Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan ybs. maka dalam hal ini dimungkinkan ada menyuruh lakukan. maka ia tidak dapat melakukan “delik jabatan”.2. karena pada dasarnya KUHP menganggap orang yang belum cukup unur itu tetap mampu bertanggungjawab (lihat pasal 45 jo 47). Jadi walaupun B (yang disuruh) adalah “ pegawai negeri. apabila yang disuruh itu anak yang masih sangat muda sekali.227 228  Bila ia tidak sempuna pertumbuhan jiwanya atau rusak jiwanya (pasal 44). B mengambilnya untuk diserahkan kepada A dan ia sama sekali tidak mempunyai maksud untuk memiliki bagi dirinya sendiri.  Bila ia berbuat karena daya paksa (pasal 48)  Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yang tidak sah seperti dimaksudkan dalam pasal 51 ayat (2).1. tetap dikatakan tidak ada doenpleger.

sehingga untuk menjadi middelijke dader (doenpleger) tidak perlu . Misal : A membius B seorang penjaga keamanan kereta api.229 230 “Menyuruh-lakukan sesuatu delik jabatan tidak hanya terdapat apabila pembuat materiilnya adalah seorang pejabat. sedang yang menyuruh-lakukan itu adlah pejabat”. maka A dapat dituntu karena menyuruh-lakukan tindak pidana yang tersebut dalam pasal 359 KUHP. ada kualitas pribadi seperti pembuat materiil”. Menurut M. akan tetapi juga sebaliknya. B mengira bahwa A telah mengadakan pengamanan seperlunya. Pengertian : 1). Medepleger (orang yang turut serta) a. akan tetapi ia justru dipidana walaupun ia tidak melakukan perbuatan”. e). Undang-undang tidak memberikan definisi 2). 21 April 1913 (kasus Walikota Zaan-dam) menyatakan : “Pasal 55 tidak menyatakan bahwa mereka yang menyuruh lakukan adalah dader. dalam halo rang yang menyuruh-lakukan dapat menduga sebelumnya bahwa ka nada sesuatu akibat yang tidak diharapkan. tanpa menghiraukan apakah benda itu akan menimpa orang yang kebetulan ada / lewat di bawah atap rumah itu. Jika karena lemparan itu ada yang tertimpa dan mati. Walaupun A tidak berkualitas seperti B (yaitu tidak mempunyai kewajiban seperti B). Arrest HR tgl. ialah apabila pelaksanaanya bukan. Mungkinkah ada menyuruh lakukan terhadap delik-colpoos? Mungkin.v. sehingga lalai menjalankan tugasnya dan timbul kecelakaan.T : Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut Hazewinkel-Suringa : “Seorang peserta itu bukannya dipidana karena ia melakukan perbuatan (pidana). Misal : A menyuruh seseorang pekerja B untuk melemparkan benda yang berat dari atap rumah ke bawah. tetapi bahwa mereka dipidana sebagai dader. 4. A tetap dikatakan sebagai doenpleger dalam delik omissi yang dilakukan oleh B.

sedang kawannya menghendaki matinya si korban. . Penentuan kehendak atau kesenjangan masing-masing peserta itu dilakukan secara normatif. sedang yang lainnya tidak. Adanya kesadaran bersama tidak berarti ada permufakatan lebih dulu.Tidak seorangpun memenuhi unsur-unsur delik seluruhnya tetapi mereka bersama-sama mewujudkan delik itu misalnya : dalam pencurian dengan merusak (pasal 363 ayat (1) ke5) salah seorang melakukan penggangsiran. Yang penting aialah harus ada kesenjangan secara sadar. sedang B yang mengambil dompet orang itu. Misal : dua orang pencopet (A dan B) saling bekerja sama. Misal : dua orang dengan bekerja sama melakukan pencurian disebuah gudang beras. cukup apabila ada pengertian antara peserta pada saat perbuatan dilakukan dengan tujuan menacpai hasil yang sama.  Ada pelaksanaan bersama secara fisik (gezamenlijke ultvoering/physieke samenwerking). salah seorang memenuhi semua unsur delik. Menurut Pompe. yang menggangsir b. Persoalan kapan dikatakan ada perbuatan pelaksanaan merupakan persoalan yang sulit (ingat/lihat Bab VI tentang . Syarat adanya medepleger :  Ada kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking). sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diterimakan kepada kawannya tadi.231 232 berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu. 3). A yang menabrak orang yang menjadi sasaran. Tidak ada turut serta. “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada dua kemungkinan : Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik. bila orang yang satu hanya menghendaki untuk menganiaya.

dengan persetujuan A. maka mereka timbal balik terhadap satu sama lain disebut pembuat peserta (mededader). Pendapat pertama : “harus”. Medepleger adalah suatu bentuk daderschap (keadaan / sifat pelaku pembuat). Yang penting disini harus ada kerjasama yang erat dan langsung. Batas antara perbuatan pelaksanaan dan perbuatan pembantuan sangatlah sulit dan hal ini akan dibicarakan dalam masalah pembantuan. Dalam kasus A dinyatakan salah melakukan penggelapan. sedang suaminya “turut serta melakukan penggelapan” meskipun suaminya tidak memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 372. Yurisprudensi putusan pengadilan Negeri Tulunganggung tanggal 5 Januari 1932 yang kasusnya sbb : A memegang gelang milik orang lain untuk dijualkan. hanya berlaku pada pembuat peserta yang mempunyai sifat-sifat tersebut. c. sedang status suaminya terhadap barang itu ialah . Pembuat peserta sebagai pembuat harus mempunyai sifat yang oleh rumusan undang-undang diisyaratkan untuk daderschap. Status A terhadap barang ialah “memiliki dengan melawan hukum barang yang ada padanya bukan karena kejahatan “. Barang siapa tidak dapat menjadi pembuatan tunggal (alleendader) juga tidak dapat dinamakan pembuat peserta (mededader). 2). Pendapat kedua : “tidak harus”. namun secara singkat dapat dikatakan bahwa perbuatan pelaksanaan berarti perbuatan yang langsung menimbulkan selesainya delik ybs.233 234 “percobaan”). orang turut serta melakukan adalah pembuat (dader) apabila ada beberapa orang bersama-sama melakukan delik. Apakah medepleger harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? Mengenai hal ini ada dua penadapat : 1). Sifat-sifat atau keadaan pribadi yang menentukan dapat dipidananya perbuatan. Suami A menggadaikan gelang tersebut untuk kepentingannya sendiri.

Oleh karena itu mereka dapat dituntut bersama-sama melakukan perbuatan yang tersebut dalam pasal 55 jo pasal 359 KUHP. Pengertian : Pengajur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana denganmenggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang untuk melakukan kejahatan. Mungkinkah ada turut serta terhadap delik culpoos ? pada turut serta. d. Uitlokker (penganjur) a. Dalam delik culpa orang tidak menghendaki terjadinya akibat. Akan tetapi jika kesengajaan itu hanya ditujukan kepada adanya kerjasama. Kerjasama dengan orang lain (ditujukan pada perbuatan). kesengajaannya ditujukan kepada : 1. 5. akan tetapi mereka bersamasama secara sadar melakukan pelemparan barang dan merekapun kurang berhati-hati serta patut menduga akibat yang timbul. 2. Jadi hamper sama dengan menyuruhlakukan (doen-pleger). Misal : A dan B bersama-sama melemparkan barang berat dari gedung bertingkat dan menimpa orang yang ada di bawah sampai mati.menggerakkannya . maka jelas tidak mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. Yaitu ia dapat dari A dan tahu bahwa barang itu bukan milik A. ialah kepada perbuatan yang dilakukan bersama.235 236 menggadaikan barang milik orang lain yang ada dalam kekuasaannya karena kejahatan”. pada penganjuran (uitlokking) ini ada usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pembuat materiil / auctor physicus. Keduanya tidak menghendaki sampi matinya orang tersebut. Kalau kesenjangan orang turut serta juga harus ditujukan untuk timbulnya delik culpa tersebut. Adapun perbedaannya sbb : Penganjuran Menyuruh-lakukan Menggerakkannya Sarana dengan sarana. Tercapainya hasil yangmerupakan delik (ditujukan pada akibat). maka mungkin ada turut serta melakukan secara culpa.

jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur. Dari lima syarat yang disebutkan diatas. 4 dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat materiil). Tidak mungkin. Pertanggungjawaban si penganjur. Si pembuat materiil tersebut melakukan tindak pidana yang dianjurkan atau percobaan melakukan tindak pidana. c.237 238 sarana tertentu (limitatif) Pembuat materiil dapat dipertanggungjawa bkan (tidakmerupakan manus ministra) tidak ditentukan (tidak limitatif) Pembuat materiil tidak dapat dipertanggungjawa bkan (merupakan manus ministra) b.  Pembuat materiil tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : . d. Syarat penganjuran yang dapat dipidana : Berdasarkan pengertian diatas.  Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan karena hal-hal tersebut pada a dan b (jadi ada psychise causaliteit). maka syarat pengajuran yang dapat dipidana ialah :  Ada kesenjangan untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan yang terlarang.  Menggerakkannya dengan menggunakan upaya-upaya (sarana-sarana) seperti tersebut dalam undang-undang (bersifat limitatif). Mungkinkah ada percobaan pengajuran atau pengajuran yang gagal ? e.  c. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : 1. sedangkan syarat 3.

Tidak mungkin. Kalau orang lain itu tidak dapat menyupir hal mana diketahui oleh pembujuk. baru terpenuhi syarat 1 dan 2 atau syarat 1 s/d 3) seperti dikemukakan pada no. Mungkin. Jadi. . (b). dalam arti orang itu sebagai pembujuk mempunyai kesengajaan untuk menggerakkan agar orang lain melakukan perbuatan yang ternyata suatu delik culpa dan inklusif didalam perbuatan sengaja itu termasuk kealpaan. Simons menganggap bukannya mustahil dalam bentuk demikian seseorang dapat membujuk terjadinya sesuatu perbuatan dengan pengetahuan bahwa orang yang akan melakukan perbuatan itu dapat mengira-ngira kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki atau dapat mengirakan kemungkinan terjadinya akibat tersebut. Menurut Pompe orang nyata-nyata dapat sengaja menyuruh orang lain untuk melakukan delik culpa. orang lain tersebut akan mengendarainya. ia dapat dikatakan melakukan tindak pidana dalam pasal 359. d. akan tetapi orang lain itu tidak mau melakukan atau mau melakukan akan tetapi tidak sampai dapat melaksanakan perbuatan yang dapat dipidana. dan pula dalam arti bahwa yang di bujuk dan pembujuk mempunyai kealpaan yang diisyaratkan oleh undang-undang. b diatas. Misal : Seorang pemilik mobil sengaja meminjamkan mobilnya untuk dipakai orang lain dengan mengetahui bahwa dengan pemberian pinjaman itu.239 240 (a). pada pembujuk ada kesengajaan yang ditujukanuntuk menggerakkan orang lain untuk menyupir. sedang pemilik mobil dapat dikatakan melakukan pembujukan untuk terjadinya pelanggaran pasal 359 itu. Mungkinkah ada percobaan penganjuran atau penganjuran yang gagal ? Penganjuran yang gagal ini dapat terjadi dalam hal seseorang telah dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu tindak pidana dengan menggunakan salah satu sarana dalam pasal 55 (1) ke-2. maka jika pengendara tersebut melanggar seseorang yang mengakibatkan mati. (catatan : Dengan kata lain. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh van Hamel dengan mengemukakan alasan bahwa sifat khas dari uitlokking ialah membujuk terjadinya perbuatan dengan sengaja.

Penganutnya : Hazewinkel-Suring. Sehubungan dengan pandangan yang pertama diatas. strafbaarheid (sifat dapat dipidananya si penganjur digantungkan dari apa yang dilakukan oleh orang lain). Dengan demikian apabila si pembuat  . Simons. Catatan :  Dari uraian diatas jelas. “percobaan untuk penganjuran” tetap dapat dipidana. bahwa menurut pendapat pertama (accessoir). ada / tidaknya penganjuran tidak tergantung pada ada tidaknya atau terjadi / tidaknya tindak pidana. atau gehilfe / pembantu / medeplichtige). Pendapat pertama : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri = onzelfstandig). yang diartikan bukan saja melakukan perbuatan yang dilarang / diancam pidana. ada dua pandangan : 1). Menurut pendapat ini. Jadi sudut pandangnya tidak membedakan antara sifat dapat dipidananya perbuatan (tindak pidana) dan sifat dapat dipidananya orang (pertanggungjawaban pidana). untuk dapat memidana seseorang peserta sebagai Mittater (si turut-serta melakukan / medepleger. Menurut pandangan ini. dalam KUHP Jerman (sebelum perubahan tahun 1943). tindak pidana itu tidak terjadi maka si pengajur juga tidak dapat dipidana.l si penganjur dipidana apabila orang yang dibujuk melakukan perbuatan yang dapat dipidana. tetapi juga dapat dijatuhi pidana. vos.p. van Hattum. D. Jadi menurut pandangan kedua ini. Karena dalam “percobaan untuk penganjuran” ini. Jomkers. Pompe. 2).l sipenganjur tetap dapat dipidana walaupun tindak pidana yang dianjurkan kepada si pelaku tidak terjadi. anstifter / pengajur uitlokker. Menururt KUHP Jerman itu. Jadi lebih mendekati pandangan monistis. Pendapat kedua : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang tidak accessoir (berdiri sendiri = zelfstanding. pengajuran itu ada apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat materiil. Penganutnya : Blok. dikenal apa yang dinamakan extreme accessoiriteit yaitu bahwa untuk adanya bentuk-bentuk penyertaan harus ada yang bertanggung jawab sebagai Tater (pelaku). maka si pembuat materiil harus melakukan strafbare handlung.241 242 Timbul masalah apakah terhadap percobaan untuk membujuk atau penganjuran yang gagal dapat dipidana ? mengenai hal ini sebelum adanya pasal 163 bis. tidak bergantung pada yang lain). van Heml.p. D.

tidak mungkin ada penyertaan. tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri. atau jika percobaan itu tidak dipidana.l Prof.500. tetapi dipandang berdiri sendiri. jadi jika seseorang dengan . 2). artinya perumusannya dititikberatkan pada perbuatan si pembuat. pada umumnya tiap-tiap peserta tidak berdiri sendiri-sendiri. sifat melawan hukumnya perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatannya di hubungkan dengan pelaku atau peserta lainnya. tetapi dengan ketentuan. Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam pasal 55 ke-2. 273) ditambahkan pasal 163 bis kedalam KUHP pasal ini berbunyi : 1). Dengan demikian pasal ini menjadikan perbuatan “ pembujukan yang gagal” sebagai delik yang berdiri sendiri (delictum suigeneris). 1925 No.  Pertanggungjawaban peserta tidak lagi digantungkan pada pertanggungjawaban si pelaku atau peserta lainnya. Dari sudut pertanggungjawaban. 2). Pandangan accessoiriteit yang terbatas ini sesuai dengan pandangan dualistis (a. asal saja pelaku atau peserta lainnya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang. Ruslan saleh) yang melihatnya dari dua sudut pandang : 1). Dari sudut perbuatan. tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri menurut sikap batinya masing-masing berhubung dengan apa yang diperbuatnya. Delik ini merupakan delik formil. 4. setelah pada tahun 1925 (S. bahwa sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari pada yang ditentukan terhadap percobaan kejahatan. 197 / jo Pasal diatas mengancam pidana terhadap pembujukan yang gagal dan juga yang tidak menimbulkan akibat.-). diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (sekarang menjadi Rp. jika tidak mengakibatkannya kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana itu disebabakan karenakehendaknya sendiri. jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana.243 244 materiil tidak dapat dijatuhi pidana (karena tidak ada kesalahan). mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan. Persoalan percobaan pengajuran atau penganjuran yang gagal ini sekarang sudah tidak menjadi persolan lagi. Aturan tersebut tidak berlaku.

dalam hal ini matinya C tidak dapat dipertanggungjawabkan pada A (Jadi tidak dapat dituduh berdasar pasal 55 jo 338). Pertanggungjawaban si penganjur. Menurut Prof. e.245 246 salah satu sarana yang tersebut dalam pasal 55 ke-2 itu berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan. maka ia sudah dapat dipidana. yaitu pembujukan yang gagal untuk penganiayaan. Dalam hal ini pertanggungjawaban A bukan terhadap perbuatan “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan” (pasal 55 jo 351) tetapi “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan yang berakibat mati” (pasal 55 jo 351 ayat (3)). yaitu kalau penganiayaan biasa pasal 351 (1). pasal 163 biss (2) merupakan alasan penghapus penuntutan. Bagaimanakah apabila B yang dianjuri langsung membunuh C. A masih dapat dipertanggungjawabkan berdasrkan pasal 163 bis. Dalam pasal 55 ayat (2) dinyatakan bahwa penganjur dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan yang sengaja dianjurkannya beserta akibatnya. kalau penganiayaan yang direncanakan pasal 351 (1) maksimumnya 4 tahun penjara dst. maka pasal 163 bis tidak dapat dikenakan pada A. Misal : A menganjurkan B untuk menganiaya C dan akibat penganiayaan itu C mati. Ketentuan pasal 163 bis juga dapat dipertanggungjawabkan pada A dalam hal B (yang dianjuri) tidak mau melaksanakan anjuran dari A walaupun mungkin ia sudah menerima sesuatu pemberian / hadiah dari A. Namun demikian. karena pembunuhan itu bukan dimaksud (disengaja) oleh A. Alasan penghapus pidananya tercantum dalam ayat (2). kalau penganiayaan ringan pasal 352 maksimumnya 3 bulan. B baru melaksankannya . jadi gagalnya pengajuran A karena kehendak orang yang ditujuk (B). Perlu diperhatikan bahwa dalam pasal 163 bis itu digunakan kata-kata “mencoba / berusaha menggerakkan orang lain untuk…”. Maksimum pidana yang dapat dikenakan adalah maksimum pidana untuk penganiayaan yang terbukti sengaja dianjurkan oleh A. Jadi dapat juga dikenakan kepada “menyuruh lakukan / doenplegen yang gagal”. Jadi maksimumnya bukan 6 tahun (perhatikan redaksi pasal 163 bis). Bagaimanakah apabila dalam melaksanakan anjuran A untuk menganiaya C itu. maksimumnya 2 tahun 7 bulan. Apabila tidak terjadi atau gagalnya pengajuran A itu karena kehendak A sendiri. Moelyatno. asal saja sarana yang dipakai oleh si pembuat termasuk salah satu sarana untuk pembujukan yang tersebut dalam pasal 55 ayat (1) ke2.

maka perbuatan A tetap dapat disebut “membujuk untuk percobaan pembunuhan terhadap C” (pasal 55 jo 53 jo 338). jadi karena tidak ada identitas (kesamaan) antara perbuatan yang dibujukkan dengan perbuatan yang benar–benar dilakukan. tetapi karena “penyimpangan sasaran” (aberretio ictus / afdwalirgsgevallen) tembakan B mengenai D. Penetuan hal ini dilakukan secara normative oleh Hakim.247 248 sampai taraf percobaan penganiayaan tidak dipidana dan ini berarti “tidak terjadi percobaan kejahatan yanmg dipidana” seperti disebutkan dalam pasal 163 bis. Apabila pengertian “sengaja yang dianjurkan” dalam pasal 55 (2) meliputi juga dolus eventualis yang dilakukan oleh pembuat materiil. ada dua jenis pembantu : Jenis pertama :  Waktunya : Pada saat kejadian dilakukan. . Tetapi dilihat dari pertanggungjawaban tidak accessoir. Pembantuan ini bersifat accessoir artinya untuk adanya pembantuan harus ada orang yang melakukan kejahatan (harus ada orang yang dibantu). PEMBANTUAN (medeplichtige) a. b. Jenis : Menurut pasal 56 KUHP. Jadi masalah pokoknya berkisar pada sampai seberapa jauh “kesengajaan” menurut pasal 55 (2) itu dapat dipertanggungjawabkan kepada di pembujuk. Sifat : Dilihat dari perbuatannya. Kalau A membujuk B untuk membunuh C dengan menggunakan pistol. maka dlam kasus diatas A juga dapat dipertanggungjawabkan terhadap matinya D apabila terbukti bahwa pada saat B (pembuat materiil) menembak C dapat dibayangkan kemungkinan tertembaknya orang lain (b) yang berada di dekat C. apakah A dapat dipertanggungjawabkan ? Ada pendapat bahwa dalam hal ini A tidak dapat dipertanggungjawabkan karena matinya D bukan yang dikenhendaki (disengaja dianjurkan) oleh A. Artinya dipidananya pembantu tidak tergantung pada dapat tidaknya si pelaku dituntut pidana. apakah hanya bertanggung jawab terhadap “kesengajaan dengan maksud (yang langsung dituju)” atau meliputi juga seluruh corak kesengajaan. Pendapat ini menghendaki adanya hubungan langsung antara kesengajaan si pembujuk dengan terjadinya delik yang dilakukan oleh orang yang dibujuk. Bagaimanakah terhadap matinya D. 6.

Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif.249 250  Caranya : Tidak ditentukan secara limitatif dalam undang-undang Jenis kedua :  Waktunya : sebelum kejahatan dilakukan. Perbedaannya adalah sebagai berikut : Penganjuran Kehendak untuk melakukan kejahatan pada pembuat materiil ditimbulkan oleh si pengajur (ada kausalitas psikhis) Pembantuan Kehendak jahat pada pembuat materiil sudah ada sejak semula (tidak ditimbulkan oleh si pembantu). Maksimum pidananya sam dengan si pembuat. Pembantuan jenis pertama ini mirip dengan turut serta (medeplegen) perbedaannya sbb : Pembantuan Menurut ajaran penyertaan obyektif : perbuatannya hanya membantu / menunjang (ondersteuning shanling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus socii (hanya untuk memberi bantuan saja pada orang lain). Sistem yang berasal dari hukm Romawi. Menurut system ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan. Maksimum pidananya dikurangi sepertiga (pasal 57-1). sendiri. yaitu : A. Pembantuan jenis kedua ini mirip dengan penganjuran (uitlokking).  Harus ada kerja sama yang disadari (bewuste samenworking)  Mempunyai kepentingan / tujuan kepentingan / tujuan sendiri.  Caranya : Ditentukan secara limitatif dalam undang-undang (yaitu dengan cara : memberi kesempatan.  Tidak harus ada kerja sama yang disadari (beweste samenwerking)  Tidak mempunyai Turut Serta Menurut ajaran obyektif : perbuatan merupakan perbuatan pelaksanaan (uitvoering shandelling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus coauctores (diarahkan untuk terwujudnya delik). ditimbulkan oleh adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta. . Terhadap kejahatan maupun pelanggaran dapat dipidana. sarana atau keterangan). Terhadap pelanggaran tidak dipidana (pasal 60 KUHP).

maka batas antara bentukbentuk penyertaan tidaklah prinsip. - . KUHP kita dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran karena : Dalam pasal 55 disebutkan “dipidana sebagai pembuat” dan dalam pasal 56 disebutkan “ dipidana sebagai pembantu”. yang dijadikan titik berat untuk menentukan batas antara pelaku dengan para peserta diletakkan pada perbuatannya dan saat bekerjanya masing-masing (jadi bersifat obyektif). B. Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. Adapun yang dijadikan batas antara masing-masing bentuk penyertaan dititik beratkan pada sikap batin masing-masing peserta. maka batas antara masing-masing bentuk penyertaan itu adalah prinsip sekali. artinya harus ditentukan secara tegas. di Jerman dibedakan antara Tater (pembuat). Berdasar teori subyektif. kedua ini dianut dalam KUHP Jerman dan Swiss. Sistem. Menurut Prof Moelyatno. Karena tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sama. maka jarang termasuk tater harus mempunyai tater-willen (niat untuk menganjurkan) dan yang termasuk Gehilfe harus mempunyai Gehilfewiller (niat untuk membantu orang lain). anstifter (penganjur) dan Gehilfe (pembantu). Sistem yang pertama ini terdapat dalam Code Penal Prancis dan dianut juga di Inggris. Seperti telah dikemukakan. Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. maka batas antara bentuk-bentuk penyertaan sama.251 252 tindak pidana itu sendiri. sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku. Dengan adanya dua bentuk penyertaan ini (yang dapat disamakan dengan pembagian autors dan complices di Prancis atau principals dan accessoir di Inggris. Karena pertanggungjawaban para peserta itu berbeda. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif. Akan tetapi apabila dilhat perbedaan pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat. ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. berarti menganut system yang pertama. maka ini berarti dianut yang kedua. tergantung dari perbuatan yang dilakukan. Menurut system ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya). Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda.

Perbedaan antara keduanya jangan dicari dalam sikap batin masing-masing. bahwa apabila pada dasarnya KUHP kita menganut system Code Penal (system pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut system KUHP Jerman (system kedua). jadi sama dengan si pembuat (pasal 57 : 3). tetapi cukup bahwa : . Dalam pertanggungjawaban seorang pembantu. dan .253 254 Selanjutnya dikemukakan oleh beliau. maka maksimum pidana untuk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2).Maksimum pidana poko untuk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1). Ini berarti batas antara mereka yang tergolong dalam “daders” itu tidak perlu ditentukan secara subyetif menurut niatnya masing-masing peserta. yang turut serta dan yang menganjurkan. 1).Untuk menjadi pengajur sudah cukup. sehingga batas antara keduanya ditentukan menurut sikap batinnya. (lihat juga pasal 415 dan 417). Pasal 333 (4) : Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. Pidana tambahan untuk pembantu sama dengan ancaman terhadap kejahatannya itu sendiri. Pertanggungjawaban pembantu. apabila orang yang disuruh tidak dapat dipidana sebagai pembuat karena dipandang tidak mempunyai kesalahan. Dalam hubungan ini yang penting adalah perbedaan antara orang yang menyuruh lakukan dan penganjur. c. dalah tidak prinsipil. Pada prinsipnya KUHP menganut system bahwa pidana poko untuk pembantu lebih ringan dari pembuat. B).Untuk menjadi orang yang menyuruh lakuka. Perbedaan dalam pasal 55 antara pelaku orang yang menyuruh lakukan. 2). Prinsip ini terlihat didalam pasal 57 (1) dan (2) yaitu : . Pengecualian terhadap prinsip ini terlihat dalam : a). . tetapi cukup secara obyektif menurut bunyinya peraturan saja. 3). Pasal 231 (3) : Pembantu dipidana lebih berat dari si pembuat. maka konsekuensinya ialah : A). Perbedaan antara pembuat (dader) dan pembantu (megeplichtige)) adalah prinsipil. (lihat juga pasal 349). b).Apabila kejahatan diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. KUHP mengamut system bahwa . apabila cara-cara yang digunakan untuk menganjurkan tersebut dalam pasal 55 (1) ke-2 dan si pembuat materiil dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam contoh-contoh diatas. artinya tidak digantungkan pada pertanggungjawaban si pembuat. menurut Vos. 4). F. Pasal 345 : menolong orang lain untuk bunuh diri. pasal 284 : perzinahan. A tidak dapat dipidana karena adanya untuk “membujuk” atau “membantu” menurut hukum pidana positif harus ada unsur sengaja. 3. Misal : 1. . 2. tetapi ternyata digunakan oleh B untuk mencuri atau untuk membunuh. 2. PENYERTAAN DENGAN KEALPAAN (CULPOSE DEELNEMING) Misal : 1. Pasal 238 : membujuk orang untuk masuk dinas militer Negara asing. Terhadap kasus serupa itu Karni juga berpendapat A tidak dapat dipidana karena adanya unsur “sengaja” didalam pasal 56 merupakan anasir subyektif dari pembantuan. Unsur ini harus juga dipenuhi untuk : .Doenplegen / menyuruh lakukan (dianalogikan dengan “membujuk”) . Dalam contoh-contoh diatas. Pada waktu B akan memasuki rumah C dengan maksud mencuri. bahwa system pemidanaan untuk pembantuan hendaknya dipakai system “facultative Minderbes Taftung / strafmilderung yaitu terserah pada hakim apakah terhadap pembantu pidananya akan dikurangi atau tidak. menolong B membuka kaca jendela sehingga B dapat masuk ke rumah C. A memberi gunting kepada B yang katanya untuk menggunting kain. Oemar sadji.255 256 pertanggungjawabannya berdiri sendiri (tidak bersifat accessoir). delik baru terjadi kalau ada orang lain (kawan berbuat) yang mau harus ada. 5. Ada pendapat dari Prof Moelyatno dan Prof.Medeplegen / turut serta (dianalogikan dengan “membantu”). ia berkelakuan seolah-olah (pura-pura) kehilangan kunci rumah A yang pada waktu itu lewat dan sama sekali tidak tahu bahwa B berdiri dimuka rumah orang lain dan telah merencanakan untuk mencuri. PENYERTAAN MUTLAK PERLU (NOODZAKELIJKE DEELNEMING / NECESSARY COMPLICITY). artinya kesengajaan si pembantu harus diarahkan pada kejahatan yang bersangkutan. Pasal 149 : Menyuap (membujuk) seseorang untuk tidak menjalankan haknya untuk memilih. pasal 297 : bigamy 4. Misal pasal 57 (4) dan 58. pasal 287 : melakukan hubungan kelamin dengan anak perempuan di bawah umur 15 tahun. E. 6.

karena yang dimaksud dengan istilah “bekerja / berbuat bersama-sama” oleh beliau adalah sama dengan istilah “turut serta” (medeplegen).257 258 apabila kawan berbuat itu tidak ada maka delik itu tidak dapat dilakukan.putusan Rv j Senmarang 20-12-1937 2. Membujuk untuk membujuk (pasal 55 jo 56). pasal 223 : menolong orang melepaskan diri dari tahanan. TINDAKAN-TINDAKAN SESUDAH TERJADINYA TINDAK PIDANA SEBAGAI DELIK YANG BERDIRI SENDIRI.putusan Landraad Batavia 18-21936 . tetapi yang dilakukan setelah terjadinya tindak pidana lain. Kami mempersoalkan bagaimana apabila justru yang membujuk terjadinya delik itu adalah anak perempuan yang belum berumur 15 tahun itu ? terhadap hal ini. 482 : delik penadahan. 3. Dalam il. pasal 483 : menerbitkan tulisan / gambar yang dapat dipidana karena sifatnya. G. kami menyatakan tidak keberatan untuk memidana anak gadis tersebut. 481. membujuk untuk membantu (pasal 55 jo 56). Dalam contoh-contoh diatas sebeanrnya juga merupakan bentuk penyertaan. . 4. Pasal 480.putusan Rv j Batavia 8-5-1930 3. Inilah yang dimaksud dengan penyertaan yang tidak dapat dihindarkan atau penyertaan yang harus dilakukan. Misal : 1. membantu untuk menganjurkan (pasal 56 jo 55) – putusan Hoge Raad 25-1-1950 DALAM AAN . tetapi ada juga yang menetapkan bahwa kawan pelakunya dapat dipidana. . Dalam pasal-pasal diatas ada yang menetapkan bahwa dipidana hanya si pelaku.putusan Rv j Batavia 20-3-1936 . PERBUATAN PENYERTAAN PENYERTAAN (DEELNEMING DEELNEMINGSHANSELINGEN) Misal : 1. pasal 221 : menyembunyikan penjahat. Mengenai pasal 287. 2. Karni menyebutnya dengan “istilah” bekerja bersama-sama yang diharuskan oleh penegasan delik . Mr.mu hukum pidana Jerman dikenal dengan istilah “Nachtaterschaft” atau “Begunstigung” (bentuk-bentuk “pemudahan”). H. jadi istilah beliau dimasukkan dalam pengertian “noodzakelijke medeplegen” (turut serta yang diharuskan).

melakukan lebih dari 1 tindak pidana. contoh-contoh diatas dapat dimaklumi karena penyertaan dipandang sebagai “delichtum sui generic”.l HazewinkelSuringa 2. contoh-contoh diatas dipandang tidak mungkin atau janggal. I. Moelyatno. BEBERAPA PANDANGAN. . jika satu orang. Yang memandang sebagai bentuk khusus dari tindak pidana a. BAB XII GABUNGAN TINDAK PIDANA (SAMENLOOP / CONCURSUS) Dalam suatu tindak pidana dikatakan telah terjadi suatu perbarengan dalam kondisi. Ada dua kelompok pandangan persoalan concursus : mengenai 1. Mezger. yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana pada orang tersebut.259 260 Catatan : bagi mereka yang memandang “deelneming” sebagai “Tatbescandausdeh-nungsgrund”. Namun bagi mereka yang memandangnya sebagi “strafausdehnungsgrund”. di mana untuk tindak pidana itu belumada putusan hakim diantaranya dan terhadap perkaraperkara pidana itu akan diperiksa serta diputus sekaligus. Yang memandang sebagai masalah pemberian pidana a.l : Pompe.

3. Catatan : Diantara perbuatanperbuatan yang dilakukan pada (concursus realis dan perbuatan berlanjut) narus belum ada keputusan hakim. Kesulitan ini timbul karena dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. terlepas dari unsur-unsur tanbahan (dikenal dengan jaran feit materiil). apabila pasal 64 Seseorang melakukan beberapa. 2. 2. III. Perbarengan peraturan (concursus Idealis) pasal 63. Ada perbuatan berlanjut. PENGERTIAN 1. secara fisik jasmaniah. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum /Voortgezettehandeling) pasal 64. pasal 63 (suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. perbuatan tersebut masingmasing merupakan kejahatan atau pelanggaran antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. dan ada pula yang melihatnya dari sudut hukum yaitu yang dihubungkan dengan danya akibat / keadaan yang terlarang.261 262 II. PENGATURAN DIDALAM KUHP Didalam KUHP diatur dalam pasal 63 s/d 71 yang terdiri dari : 1. namun demikian dari rumusan pasal-pasal diperoleh pengertian sbb :   Concursus Idealis. Menurut rumusan KUHP : Sebenarnya didalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) pasal 65 s/d 71. “perbuatan” (feit) itu ada meninjaunya secara materiil. khususnya dalam hal terdakwa hanya melakukan perbuatan. yaitu dipikikan terlepas dari akibatnya. Menurut pendapat sarjana : Adanya istilah “perbuatan/feit” dalam pasal-pasal di atas menimbulkan masalah yang cukup sulit. .

- Contoh : Oranga dalam keadaan mabuk mengendarai mobil diwaktu malam tanpa lampu. apabila : Dipandang dai sudut hukumpidana ada dua perbuatan atau lebih. Misal : perkosaan dijalan umum. Antara perbuatanperbuatan itu tidak dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. maka para sarjana mengemukakan beberapa pendapat : HAZEWINKEL-SURINGA Ada concursus Idealis apabila suatu perbuatan yang sudah memenuhi suatu rumusan delik. mau tidak mau (eoipso) masuk pula dalam peraturan pidana lain. Dalam hal ini perbuatan hanya satu yaitu “mengendarai mobil”. POMPE Ada concursus Idealis. disamping masuk 281 (melanggar kesusilaan di muka umum). apabila orang melakukan sesuatu perbuatan konkrit yang diarahkan kepada satu tujuan merupakan benda / obyek aturan hukum. TAVERNE Ada concursus Idealis . perbuatan ini masuk pasal 294 (perbuatan cabul dengan anak sendiri yang belum cukup umur) dan pasal 287 (bersetubuh dengan wanita yang belim berusia 15 tahun diluar perkawinan). yaitu: .263 264 Sehubungan dengan kesulitan itu. Misalnya bersetubuh dengan anak sendiri yang belum berusia 15 th. tetapi dilihat dari sudut hukumada dua perbuatan yang masingmasing dapat dipikirkan terlepas satu sama lain.

Berdasar pengertian yang luas ini. Jadi dalam hal ini ada Concursus Realis. memukul dan akhirnya membunuh.T mengenai criteria untuk adanya “perbuatan berlanjut” seperti dikemukakan diatas. Dengan sendirinya melakukan perbuatan (feit) yang lain pula. IV. Khusus mengenai penjelasan M. Misalnya untuk melampiaskan balas dendamnya kepada B. Simons . maka tidak perlu perbuatanperbuatan itu sejenis. “mengendarai mobil dalam keadaan mabul” (menggambarkan keadaan orang / pelakunya) dan kedua “mengendarai mobil tanpa lampu diwaktu malam” (menggambarkan keadaan mobilnya). - Contoh : Perkosaan dijalan umum (melanggar pasal 285 & 281 KUHP). VAN BEMMELEN Ada Concursus Idealis.v. yaitu hanya dikenakan satu pidana pokok yang terberat. a). asal perbuatan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan tujuan. mengartikannya secara umum dan lebih luas yaitu “tidak berarti harus ada kehendak untuk tiap-tiap kejahatan”. Menurut ayat 1 digunakan system absorbsi.265 266 Pertama. Mengenai syarat “ ada satu keputusan kehendak”. Simons tidak sependapat. merobek bajunya. A melakukan serangkaian perbuatan-perbuatan berupa meludahi. Misal : perkosaan dijalan umum. melanggar pasal 285 (12 th penjara) dan pasal 281 (2 tahun 8 bulan penjara). Concursus Idealis (pasal 63). apabila : Dengan melanggar satu kepentingan hukum. SISTEM PEMBERIAN PIDANA / STELSEL PEMIDANAAN 1.

Maksimum pidana penjara yang dikenakan ialah yang terdapat dalam pasal 341 (lex specialis) yaitu 7 tahun penjara.267 268 Maksimum pidana penjara yang dapat dikenakan ialah 12 tahun. d). maka pidana yang terberat adalah 1 minggu penjara. tetapi tetap dipandang sebagai perbuatan berlanjut sehingga ancaman maksimum pidananya dapat dikenakan 15 tahun penjara . Apabila menghadapi dua pilihan antara dua pidana pokok yang tidak sejenis. Menurut pasal 64 ayat (1). b). dalam hal ini berlaku adagium “lex specialis derogate legi generali” Contoh : seorang ibu membunuh anaknya sendiri pada saat anaknya dilahirkan. dan jika berbeda-beda dikenakan satu aturan pidana. c). Perbuatan berlanjut (pasal 64). Apabila Hakim menghadapi pilihan antara dua pidana poko sejenis yang maksimumnya sama. maka penetuan pidana yang terberat didasarkan pada urut-urutan jenis pidana seperti tersebut dalam pasal 10 (lihat pasal 69 ayat (1) jo pasal 10). dan jika berbeda-beda dikenakan ketentuan yang memuat ancaman pidana pokok yang terberat. 1 tahun kurungan dan denda 5 juta rupiah. jadi misalnya memilih antara 1 minggu penjara. Pasal 64 ayat (2) merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang. Dalam hal ini perbuatan A tidak dipandang sebagai concursus Realis. maka menurut VOS ditetapkan pidana pokok dengan tambahan yang paling berat. Perbuatan ibu ini dapat masuk dalam pasal 338 (15 tahun penjara dan pasal 341 (7 tahun penjara). 2. Dalam pasal 63 ayat (2) diatur ketentuan khusus yang menyimpang dari prinsip umum dalam ayat (1). Misal A setelah memalsu mata uang (pasal 244 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun) kemudian menggunakan / mengedarkan mata uang yang palsu itu (pasal 245 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun). a). pada prinsipnya berlaku system absorbsi yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana. b).

maka menurut pasal 64 ayat (3) dikenakan aturan pidana yang berlaku untuk kejahatan biasa. 5 tahun dan 9 tahun. .269 270 c).. tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum piudana yang terberat ditambah sepertiga. a. system ini disebut system Kumulasi yang diperlunak. Misal :  A melakukan 3 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 4 tahun. berlaku pasal 65 yaitu hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari maksimum terberat ditambah sepertiga. Misal : 1). Dalam hal ini. karena melebihi jumlah maksimum pidana untuk masing-masing kejahatan tersebut.  A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing. Pasal 64 ayat (3) merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatn ringan yang terdapat dalam pasal 364 (pencurian ringan). 250. b. 373 (penggelapan ringan). Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok tidak sejenis berlaku pasal 66 yaitu semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok sejenis.masing diancam pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun. Berarti yang dikenakan adalah pasal 362 (pencurian). Jadi disini berlaku system absorbsi yang dipertajam. 3. Dalam hal ini yang dapat digunakan ialah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12 tahun penjara. 372 (penggelapan). Concursus Realis (pasal 65 s/d 71). A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan dua tahun penjara. Apabila nilai kerugian yang timbul dari kejahatan-kejahatn ringan yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut itu lebih dari Rp. 379 (penipuan ringan) dan 407 (1) (perusakan barang ringan) yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah ancaman pidananya yaitu 10 tahun penjara. 378 (penipuan) atau 406 (perusakan barang).

000.30. maka 1 hari kurungan pengganti dihitung sama dengan Rp.Menurut blok perhitungannya sbb : pidana denda dijadikan dulu pidana kurungan pengganti yaitu maksimum 6 bulan (lihat pasal 30 KUHP)..(yaitu 50 sen dikalikan 15) jadi untuk denda Rp.000.-. 1.000. 1. 1..000. 7. Dengan demikian apabila diikuti perhitungan menurut Blok di atas maka jumlah maksimum 8 bulan dapat dipecah misalnya menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan denda 60/134 x Rp.? mengenai hal ini ada dua pendapat : . 1. .. maka untuk denda Rp.. Dengan demikian pidana yang dijatuhkan misalnya terdiri dari 2 tahun penjara dan 8 bulan kurungan.50. Dengan demikian maksimumnya ialah 6 + (1/3 x 6) bulan = 8 bulan.- - - - - (atau dibulatkan menjadi Rp. Bagaimanakah dalam hal A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam 6 bulan penjara dan denda Rp. tetapi karena menurut pasal 30 (3) maksimum kurungan pengganti 6 bulan. tiap denda 50 sen atau kurang dihitung sama dengan satu hari kurungan pengganti. 1. Adapun maksimumnya adalah 2 tahun ditambah (1/3 x 2) tahun = 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan. Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan maka 6 bulan ini dipecah menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan 1/3 x Rp. Dengan telah adanya perubahan pidana denda.447.-_ Perhitungan blok mengenai jumlah pidana kurungan pengganti di atas masih didasarkan pada perhitungan lama sebelum adanya perubahan pidana denda 15 kali menurut UU No.76.000. 334. 1. 333. .= Rp.000. 18 tahun 1960.271 272 Dalam hal ini semua jenis pidana (penjara dan kurungan) harus dijatuhkan.kurungan penggantinya sama dengan 134 hari (dibulatkan).maksimumnya kurungan penggantinya 6 bulan.Menurut Noyon semuanya harus dijatuhkan yaitu 6 bulan penjara dan denda Rp.. Menurut perhitungan lama. 2).= Rp.

maka maksimum pidana kurungan yang dapat dijatuhkan bukanlah (9+9) bulan = 18 bulan.273 274 3).500. system kumulasi itu dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan. Untuk Concursus Realis berupa pelanggaran. Namun menurut pasal 70 ayat 2. 379 dan 482 berlaku pasal 70 bis yang menggunakan system kumulasi tetapi dengan pembatan maksimum untuk penjara 8 bulan. 373. maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini mengenai c. 352. 4. Kalau dipilih ancaman pidana yang sejenis. Untuk Concursus Realis. Untuk Concursus Realis berupa kejahatan ringan. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah 6 bulan penjara (system kumulasi). maka maksimumnya adalah (6+9) bulan = 15 bulan. khusus untuk pasal 302 (1). 364. d.  Tetapi apabila A misalnya melakukan 3 kejahatan ringan yang masingmasing diancam pidana penjara 3 bulan. e. Jadi misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam pidana kurungan 9 bulan. baik kejahatan maupun pelanggaran untuk diadili pada saat berlainan. Misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam piadan kurungan 6 bulan dan 9 bulan. Bagaimanakah dalam hal A melakukan dua jenis kejahatan yang terdapat dalam pasal 351 (diancam pidana 2 tahun 8 bulan penjara atau denda Rp. berlaku pasal 70 yang menggunakan system kumulasi. . tetapi maksimumnya adalah 1 tahun 4 bulan atau hanya 16 bulan. berlaku pasal 71 yang berbunyi sbb: “Jika seseorang setelah dijatuhi pidana kemudian dinyatakan salah lagi karena melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan pidana itu. Misal :  A melakukan pencurian ringan (pasal 364) dan penggelapan ringan (pasal 373) yang masing-masing diancam pidana 3 bulan penjara. maka digunakan system absornsi yang dipertajam / diperberat (pasal 65). maka maksimumnya bukan 9 bulan penjara (kumulasi) tetapi 8 bulan penjara.-) dalam pasal 360 (diancam pidana 5 tahun penjara atau 1 tahun kurungan ? Dalam hal ini hakim harus mengadakan “pilihan hukum” terlebih dahulu.

 Tgl.  Tgl. . 20/1 : penipuan (pasal 378. diancam 4 tahun penjara). hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara.275 276 hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama”. Dengan contoh diatas. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah 5 tahun + (1/3 x 5 tahun) = 6 tahun 8 bulan. 5/1 : penganiayaan biasa (pasal 351 diancam 2 tahun 8 bulan). Kemudian A ditangkap dan diadili dalam satu keputusan. maka keputusan yang kedua kalinya ini untuk penggelapan itu paling banyak hanya dijatuhi pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan (putusan sekaligus) dikurangi 6 tahu (putusanI) yaitu 8 bulan penjara. ancaman pidana 5 tahun penjara). 1/1 : pencurian (pasal 362. maka jika kemudian ternyata bahwa A pada tanggal 14/1 (jadi sebelum ada keputusan) melakukan penggelapan (pasal 372 yang diancam pidana penjara 4 tahun).  Tgl. dapatlah bunyi pasal 71 diatas dirumuskan secara singkat sbb : Putusan ke II = (putusan sekaligus) – (putusan ke-I). 10/1 : penadahan (pasal 480. diancam 4 tahun penjara). Misal : A melakukan kejahatan-kejahatan sbb :  Tgl. Andaikata untuk keempat tindak pidana itu.

v. karena menurut Utrecht. Pembicaraan selanjutnya akan mengenai alasan penghapus pidana. M. yakni : a. Grounds Of Impunity) perbuatan yang dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Pidana (KUHP). Bab I dan Bab II KUHP memuat : “ Alasan-alasan yang menghapuskan. tidak dapat dipidana. Sehingga. Umur yang masih muda (mengenai umur yang masih muda ini di Indonesia dan juga di negeri Belanda sejak tahun 1905 tidak lagi merupakan lasan penghapus pidana Dalam hukum pidana perlu dikemukakan materi tentang alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannya hukuman.T menyebut 2 (dua) alasan :  Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang itu (inwendig). Alasan atau Dasar Penghapusan Pidana merupakan hal-hal atau keadaan yang dapat mengakibatkan seseorang yang telah melakukan . masih menurut Utrecht. Dengan demikian materi ini menjadi penting untuk memperoleh kepastian dan keadilan hukum dalam penyelesaian suatu perkara pidana. karena : 1) Orangnya tidak dapat dipersalahkan.v.277 278 BAB XIII ALASAN / DASAR PENGHAPUS PIDANA (Strafuitsluitingsgrond. tidak dihukum. UU pidana seperti UU lainnya mengatur hak-hal yang umum dan yang akan terjadi (mungkin akan terjadi). 2) Perbuatannya tidak lagi merupakan perbuatan yang melawan hukum. mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasanalasan tidak dapat dipidananya seseorang”. meskipun orang tersebut melakukan suatu tindakan sesuai dengan lukisan perbuatan yang dilarang oleh UU pidana. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena sakit (pasal 44 KUHP) b.T dari KUHP (Belanda) dalam penjelasannya mengenai alasan mengahpus pidana ini. UU pidana mengatur hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotesis. aialah alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik. Berdasarkan sifatnya ini maka UU pidana mengandung kemungkinan akan dijatuhkannya hukuman yang adil bagi orang-orang tertentu yang mungkin saja tidak bersalah. M. mengurangkan dan memberatkan pidana”.

maka orang tersebut harus melaporkan. meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. schuldausschliesungsgrund). 50 dan 51 KUHP. Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan atau pembuatnya. yaitu yang hanya berlaku unutk delik-delik tertentu saja. fait justificatif. Alasan pembenar yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 48 (keadaan darurat).T. suami dan sebagainya (orang-orang yang masih ada hubungan darah). II. Alasan pembenar menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. ilmu pengetahuan hukm Pidana juga mengadakan pembedaan sendiri. yaitu: a. Alasan penghapus pidana yang umum (starfuitingsgronden yang umum). Disini ia tidak dituntut jika ia hendak menghindarkan penuntut dari istri. 49. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar orang itu (uitwendig). 48. Melaksanakan Undang-undang (pasal 50).279 280  melainkan menjadi dasar untuk memperingan hukuman). Alasan pemaaf menyangkut pribadi si pembuat. pasal 50 (peraturan perundangundangan) dan pasal 51 (1) (perintah jabatan). rechtfertigungsgrund). Selain perbedaan yang diterangkan dalam M. Pasal 221 ayat (2) : menyimpan orang yang melakukan kejahatan dan sebagainya”. Negara dan Kepala Negara. Melaksanakan perintah jabatan (pasal 51). ialah : 1. Kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak mungkin ada pemidanaan. Pembelaan terpaksa atau noodweer (pasal 249). misal : I. maka dibedakan dua jenis alasan penghapus pidana : a) Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond. sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan dan dapat dipidananya pembuat. entschuldigungsdrund. yaitu yang berlaku umum untuk tiap-tiap delik dan disebut dalam pasal 44. Alasan penghapus pidana yang khusus (starfuitingsgronden yang khusus). c. b) Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan (schulduitsluittingsgrond-fait d’excuse. Pasal 166 KUHP : “Ketentuan-ketentuan pasal 164 dan 165 KUHP tidak berlaku pada orang yang karena pemberitahuan itu mendapat bahaya untuk dituntut sendiri dst………………………………………” Pasal 164 dan 165 memuat ketentuan : bila seseorang mengetahui ada makar terhadap suatu kejahatan yang membahayakan Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain.v. Daya paksa atau overmacht (pasal 48). b. 2. d. pasal 49 ayat (1) (pembelaan terpaksa). dalam arti bahwa orang ini tidak dapat dicela (menurut hukum) .

281 282 dengan perkataan lain ia tidak bersalah atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. sehingga tidak mungkin pemidanaan. Apa yang diartikan dengan daya paksa ini dapat dijumpai dalam KUHP. dapat merupakan alasan pembenar dan dapat pula merupakan alasan pemaaf. meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum. Alasan pemaaf yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 44 (tidak mampu bertanggungjawab). Penafsiran bisa . Pelaku akan diperiksa oleh seorang ahli (yang akan menyampaikan catatan medis). Untuk membuktikan apakah seseorang yang melakukan tindakpidana ternyata tidak dapat dihukum dengan lasan pasal 44 KUHP. TIDAK MAMPU BERTANGGUNG JAWAB (PASAL 44) : Pasal 44 KUHP memuat ketentuan bahwa tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan DAYA PAKSA-OVERMACHT (PASAL 48 KUHP). sehingga dalam hal ini dapat dikatakan suatu alasan penghapus kesalahan. pasal 51 ayat (2) (dengan itikad baik melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah). Uraian berikut membahas tentang dasar penghapus pidana yang terdapat dalam pasal 44.T menyebutkan sebagai tak dapat dipertanggung-jawabkan karena sebab yang terletak didalam si pembuat sendiri. Jadi disini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat. pasal 49 ayat (2) (noodweer exces).v. Tidak adanya kemampuan bertanggung jawab mengahpuskan kesalahan mekipun perbuatannya tetap melawan hukum. Adapun mengenai pasal 48 (daya paksa) ada dua kemungkinan. yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. ALASAN PENGHAPUS PIDANA (UMUM) DALAM KUHP. maka kita memerlukan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu yaitu psikiatri forensic. Seperti diketahui M. Pasal 48 KUHP menentukan : “ tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. 50 dan 51 KUHP. selanjutnya dari hasil tersebut akan disampaikan di muka persidangan. (Mengenai pasal 44 KUHP ini hendaknya dilihat lagi Bab Kemampuan Bertanggung jawab yang membahas tentang kesalahan dan pertanggung jawaban pidana). 49. 48.

Keadaan ini harus ditinjau secara obyektif. Contoh : tangan seseorang dipegang oleh orang lain dan dipukulkan pada kaca. sehingga kaca pecah. Maka dalam overmacht (daya paksa) dapat dibedakan dalam du hal : 1. 2.v. ia tidak menyerahkan dan ditembak mati. jadi tak ada paksaan absolut. setiap paksaan atau tekanan yang dapat ditahan”. Antara sifat dari paksaan di satu pihak dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak harus ada keseiombangan. yang tidak memberi kesempatan kepada si pembuat menentukan kehendaknya. melainkan apa yang dapat diharapkan dari seseorang secara wajar. vis compulsive (paksaan yang relatif). dan jalan lain juga tidak ada. Dalam M. masuk akal dan sesuai dengan keadaan. Contoh : A mengancam B. Jadi harus ada kekuatan (daya) yang mendesak dia kepada suatu perbuatan yang dalam kata lain tak akan ia lakukan. bahwa menurut akal sehat tak dapat diharapkan dari si pembuat untuk mengadakan perlawanan. kasir bank. Maka orang yang pertama tadi tak dapat dikatakan telah melakukan perusakan benda (pasal 406 KUHP).283 284 dilakukan dengan melihat penjelasan yang diberikan oleh pemerintah ketika undang-undang (Belanda) itu dibuat. vis absoluta (paksaan yang absolut). Pada overmacht (daya paksa) orang ada dalam keadaan dwangpositie (posisi terjepit). Kalimat “tidak dapat ditahan” menunjukkan. Perlawanan terhadap paksaan itu tak boleh disertai syarat-syarat yang tinggi sehingga harus menyerahkan nyawa misalnya. memberi sifat kepada tekanan atau paksaan itu. .T dilukiskan sebagai : “setiap kekuatan. Sifat dari daya paksa ialah bahwa ia datang dari luar diri si pembuat dan lebih kuat dari padanya. Ia ada ditengah-tengah dua hal yang sulit yang sama-sama buruknya. (Prof. yang tak dapat ditahan”. Yang dimaksud dengan daya paksaan disini bukan paksaan mutlak. B dapat menolak. Hal yang disebut terakhir ini. Moelyatno hanya menyebut “karena penagruh daya paksa”). untuk menyerahkan uang yang disimpan oleh B. Dalam hal ini paksaan tersebut sama sekali tak dapat ditahan. Daya paksa yang absolute vis absoluta dapat disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam. Yang dimaksud denganm daya paksa dalam pasal 48 ialah daya paksa relative (vis complusiva). B dapat berpikir dan menentukan kehendaknya. dengan meletakkan pistol di dada B. Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar kewajibannya untuk menyimpan surat-surat berharga itu dan menyerahkannya kepada A atau sebaliknya. Istilah “gedrongen” (didorong) menunjukkan bahwa paksaan itu tak dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan.

tanpa melihat sampai di mana si pembuat dapat di cela atas perbuatannya. Misal : . Pertentangan antara dua kepentingan hukum : Contoh klasik : “papan dari carneades”. Mereka tak mau taat pada undang-undang dan ingin mengikuti pandanganya sendiri mengenai keadilan dan kesusilaan yang menyimpang dari ketenatuan undang-undang.R tgl 26 Juni 1916 (Arrest “tak mau masuk tentara”). KEADAAN DARURAT-NOODTOESTAND (PASAL 48 KUHP). orang yang tak mau masuk dinas tentara karena suara hati atau hati nuraninya keberatan tetap dihukum. Kalau keduaduanya tetap berpegangan pada papan itu. Dalam Arrest ini. Hal ini tidak bisa diterima. karena ada dalam keadaan darurat. Mungkin ada orang yang memandang perbuatan itu bertentangan dengan norma kesusilaan. Orang yang mendorong tersebut tidak dapat dipidana. Di Jerman untuk daya paksa ada istilah notigungstand (pasa. namun menurut hukum perbuatan ini karena dapat difahami bahwa merupakan naluri setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 52 SGB) dan keadaan darurat disebut notstand. Namun di Belanda sejak tahun lima puluhan ada perubahan pandangan. terdapat 3 bentuk dari keadaan darurat : I. II. Maka untuk menyelamatkan diri.  Hakim tidak boleh begitu saja mengabaikan alasan keberatan hati nurani. seorang diantaranya mendorong temannya sehingga yang di dorong mati tenggelam dan yang mendorong terhindar dari maut (cerita ini berasal dari CICERO). paksaan itu datang dari hal di luar perbuatan orang KUHP kita tidak mengadakan pembedaan tersebut. Menurut doktrin.285 286 Paksaan Dario dalam : Kita mengambil contoh dari Arrest H. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum. maka kedua-duanya akan tenggelam. Dalam vis compulsiva (daya paksa relative) kita dibedakan daya paksa dalam arti sempit (atau paksaan psikis) dan keadaan darurat. Daya paksa dalam arti sempit ditimbulkan oleh orang sedang pada keadaan darurat. padahal papan itu tak dapat menahan dua orang sekaligus.  Keberatan hati nurani (terhadap masuk dinas tentara) bukan keadaan darurat. Ada dua orang yang karena kapalnya karam hendak menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sebuah papan. yang diatur dalam pasal 54 SGB. Ia harus memeriksa kemungkinannya masuk kedalam alasan penghapusan pidana yang umum.

Terdakwa ada dalam keadaan darurat. 26 November 1916). Ia merasa dalam keadaan seperti itu mempunyai kewajiban untuk menolong sesame (Arrest ini disebut Arrest optician). Permintaan kasasi oleh jaksa terhadap putusan hakim yang menyatakan bahwa. maka penjual kacamata dapat dikatakan bertindak dalam keadaan memaksa dan khususnya dalam keadaan darurat. terdakwa (opticien) tak dapat dipidana dan melepas terdakwa dari segala tuntutan. sebab dengan memberi laporan pada atasannya ia berarti melanggar sumpah jabatan sebagai dokter yang harus merahasiakan semua penyakit dari para pasiennya. Di sini ia memilih tetap merahasiakan penyakit pasiennya. (kota pelabuhan) terjangkit penyakit kelamin.287 288 1. lalu masuk atau melewati rumah orang lain guna menyelamatkan barang-barangnya. dan mahkamah tentara tinggi membebaskannya karena ia ada dalam keadaan darurat (putusan tgl. tak dapat diterima oleh H. Pertentangan antara kewajiban hukum dangan kewajiban hukum : a) Seorang perwira kesehatan (dokter angkatan laut) diperintahkan atasannya untuk melaporkan apakah ada para perwira-perwira laut yang bebas tugas dan berkunjung ke darat . Dokter tersebut tak mau melaporkan pada atasan. Ia memberatkan salah satu. Oleh pengadilan tentara ia dikenakan hukuman 1 (satu) hari. b) Seorang yang dalam satu hari (pada waktu yang bersamaan) dipanggil menjadi saksi di dua tempat. Namun karena si pembeli itu ternyata tanpa kacamata tak dapat melihat. sehingga pemilik took dilarang melakukan penjualan. 15 Oktober 1923). jadi ia tetap patuh pada sumpah kedokteran. Disini dihadapkan pada dua kewajiban hukum :  Melaksanakan perintah dari atasannya (sebagai tentara)  Memegang teguh rahasia jabatan sebagai dokter. 2. tetapi dokter tadi naik banding. Seorang pemilik toko kacamata kepada seorang yang kehilangan kacamatanya.R (putusan tgl. Orang yang sedang menghadapi bahaya kebakaran rumahnya. VAN HATTUM dalam hal 351 membandingkan daya memaksa dengan noodtoestand sebagai berikut : Pada daya memaksa dalam arti sempit si pembuat berbuat atau tidak berbuat III. sehingga betul-betul dalam keadaan sangat memerlukan pertolongan. Padahal pada saat itu menurut peraturan penutupan took sudah jam tutup took.

membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melwan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga”. melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut : melawan hukum seketika dan langsung ditujukan pada diri sendiri / orang lain terhadap badan / tubuh. Contoh serangan yang tidak merupakan tindak pidana. Serangan itu dapat merupakan tindak pidana. Bagi si pembuat tak ada penentuan kehendak secara bebas. Dalam pembelaan darurat ada dua hal yang pokok : 1. Perbuatan orang yang membela diri itu seolah-olah mempertahankan haknya sendiri. Istilah noodmeer atau pembelaan darurat tidak ada dalam KUHP sehingga untuk memahaminya kita memerlukan ajaran dari para ahli hukum pidana . Padahal Negara dengan alat-alat perlengkapannya tidak dapat tepat pada waktunya melindungi kepentingan hukum dari orang yang diserang itu : maka pembelaan diri ini bersifat menghilangkan sifat melawan hukum. Pasal 49 ayat (1) berbunyi :”tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dialkukan untuk membela dirinya sendiri atau orng lain. a. ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu. sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan. BELA PAKSA-PEMBELAAN DARURAT-NOODWEER (PASAL 49 AYAT (1)). d.289 290 dikarenakan satu tekanan psikis oleh orang lain atau keadaan. c. b. memenuhi asas subsidiaritas & proporsionalitas. nyawa. Pada keadaan darurat si pembuat ada dalam suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong dia untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap undang-undang. adanya serangan. misalnya dengan tinju . Syarat pembelaan : a. tapi hal ini tidak perlu asal saja memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diatas. Ia dororng oleh paksaan psikis dari luar yang sedemikian kuatnya. Tidak terhadap semua serangan dapat diadakan pembelaan. subsidiaritas maksudnya tidak ada cara lain selain membela diri dan proporsionalitas artinya seimbang antara serangan dan pembelaan. kehormatan seksual. seketika dan langsung b. dan harta benda 2. Tidaklah dapat diharapkan dari seorang warga Negara menerima saja suatu perlakuan yang melawan hukum yang ditujukan kepada dirinya.

291 292 menyerbu seseorang. Apakah perbedaan pembelaan darurat ? antara keadaan darurat dan 1. 3. Sebagai contoh : pembunuh dengan pisau terhunus menyerbu korbannya. maka perbuatan b itu bukanlah perbuatan pembelaan karena terpaksa. ialah : jika dapat dicegah atau dihilangkan. Istilah mengancam seketika dan langsung berarti bahwa serangan itu sedang berlangsung dan juga bahaya serangannya. pembelaan itu syarat-syarat sudah ditentukan secara limitative (pasal 49 ayat (1)). Dalam pembelaan daruart situasi darurat ini ditimbulkan oleh adanya perbuatan melawan hukum yang bisa dihadapi secara sah. . Persoalan yang timbul pada serangan ialah : kapankah ada serangan dan kapankah serangan itu berakhir ? Sebagai contoh : A menunggu B di luar rumah. disini kesengajaan dihilangkan karena orang mengira bahwa dia berada dalam keadaan di mana harus mengadakan pembelaan darurat dalam hal ini harus di lihat peristiwa dari peristiwa oleh karena itu maka harus diterangkan dalam proses verbal. Kalau misal A menembak B tidak kena dan A tidak menunjukkan akan menembak lagi. 2. Sifat keadaan darurat tidak ada keseragaman pendapat dari pada penulis yakni ada yang berpendirian sebagai alasan pemaaf dan ada sebagai alasan pembenar. karena disini terjadi serangan balasan. mengambil catatan untuk di fotocopy guna kepentingan majikannya tapi tidak untuk dimiliki sendiri. kepentingan hukum dan kewajiban hukum serta kewajiban hukum dan kewajiban hukum. Dalam keadaan darurat orang dapat bertindak berdasarkan berbagai kepentingan atau alasan sedang dalam pembelaan darurat. Terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak mungkin ada pembelaan darurat. hak berhadapan dengan bukan hak. maka perbuatan A tersebut. Kapan serangan itu ada dan kapan serangan itu berlangsung menurut Hazewinkel-Suringa. sedang dalam pembelaan darurat harus ada serangan. sedang dalam pembelaan darurat. Dalam hubungan pembelaan darurat ini ada satu perbuatan orang yang disebut putatief noodweer. dengan perkataan lain dalam keadaan darurat hak berhadapan dengan hak. yakni menunggu belum dapat dikatakan serangan. dalam keadaan darurat tidak perlu adanya serangan. Tentu saja perbuatan B itu harus dilihat dalam keadaan yang menyertai perbuatan itu. tetapi B lalu membalas. Dalam keadaan darurat dapat dilihat adanya perbenturan antara kepentingan hukum. 4. sedang dalam pembelaan darurat para penulis memandang sebagai alasan pembenar ialah sebagai penghapus sifat melawan hukum.

Tetapi kemudian pendapat HR berubah dan diartikan dalam arti materiil. melampaui asas subsidairitas dan proporsionalitas seperti yang diisyaratkan dalam pasala 49 ayat (1) KUHP. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang sangat panas). Dalam hubungan ini persoalannya adalah apakah perlu bahwa peraturan perundang-undangan itu menentukan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan sebagai pelaksanaan.293 294 BELA PAKSA LAMPAU-NOODWEER EXCES (PASAL 49 AYAT 2 KUHP) (pelampauan batas pembelaan darurat atau bela paksa lampau batas) Istilah exces dalam pembelaan darurat tidak dapat kita jumpai dalam pasal 49 ayat (2). yang dimaksud dengan UU ialah : undang-undang dalam arti formil. MENJALANKAN PERINTAH (PASAL 50 KUHP). hasil perundang-undangan dari DPR dan/atau raja. Termasuk disini adalah rasa tajut. Pasal tersebut bunyinya : “tidak dipidana seseorang yang melampaui batas pembelaan yang diperlukan. kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan. yaitu tiap peraturan yang dibuat oleh alat pembentuk undang-undang yang umum. dengan kata lain : antara kegoncangan jiwa tersebut dan serangan harus ada hubungan kausal. pasal 49 ayat (2) dan ayat (1) itu mempunyai hubungan yang erat. jadi sabagai alasan pemaaf sementara perbuatannya tetap bersifat melawan hukum. Sifat dari noodweer exces adalah menghapuskan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). Disini juga yang perlu dilihat apakah serangan itu dapat menimbulkan akibat kegoncangan jiwa yang hebat bagi orang biasa pada umumnya. Mulamula Hoge Raad (HR) menafsirkan secara sempit. 3. Kelampauan batas pembelaan yang diperlukan. Untuk adanya kelampauan batas pembelaan darurat ini harus ada syarat-syarat sebagai berikut : 1. maka syarat pembelaan yang tersebut dalam pasal 49 ayat (1) disebut sebagai syarat dalam pasal 49 ayat (2). Yang menyebabkan kegoncangan jiwa yang hebat itu harus penyerangan itu dan bukan misalnya karena sifat mudah tersinggung. Disini pembelaan itu perlu dan harus diadakan dan tidak ada jalan lain untuk bertindak. UNDANG-UNDANG Pasal 50 KUHP menentukan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan”. apabila peraturan itu memberi wewenang untuk kewajiban . Dalam hala ini umumnya cukup. jika perbuatan itu merupakan akibat langsung dari suatu kegoncangan jiwa yang hebat yang disebabkan oleh serangan itu”. dan mata gelap. 2. bingung. Cara dan alat tersebut harus dibenarkan pula oleh keadaan.

Kadang-kadang dalam melaksanakan peraturan undang-undang dapat bertentangan dengan peraturan lain. Bilamanakah perintah itu dikatakan sah ? apabila perintah itu berdasarkan tugas.295 296 tersebut dalam melaksanakan perundang-undangan ini diberikan suatu kewajiban. wajar dan masuk akal. Jadi dalam hal ini letnan polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan yang sah. Perbuatan orang yang menjalankan peraturan undangundang tidak bersifat melawan hukum. Jadi untuk dapat menggunakan pasal 50 ini maka tindakan harus dilakukan secara patut. yang menembak mati seorang pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas karena tidak mau berhenti tanda peluitnya. Jadi dalam tindakan ini seperti dalam daya memaksa dan dalam pembelaan darurat harus ada keseimbangan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara pelaksanaannya. Sesuai pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatan yang sah”. MELAKSANKAN PERINTAH JABATAN (PASAL 51 AYAT (1) DAN (2)). akan tetapi juga dapat menyuruh orang lain untuk melaksankannya. pula harus seimbang dan tidak boleh melampaui . misalnya seperti permintaan bantuan oleh pamong praja kepada angkatan bersenjata (sesuai pasal 413 KUHP). Yang diperbolehkan adalah tindakan eksekutor yang melaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati. Kejengkelan pejabat tersebut tidak dapat membenarkan tindakannya. Colonel polisi tersebut berwenang untuk memerintahkannya. Anatar orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub-ordinasi (hubungan atasan dan bawahan). wewenang atau kewajiban yang didasarkan kepada suatu peraturan. Misalnya : Pejabat polisi. Dengan perkataan lain kewajiban / tugas itu diperintahkan oleh peraturan undang-undang. Contoh kasus : seorang Letnan Polisi diperintah oleh Kolonel Polisi untuk menangkap pelaku tindak pidana. maka orang dapat melaksanakan undang-undang sendiri. Maka jika seorang melakukan perintah yangsah ini maka ia tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum. untuk dapat membebaskan diri dari tuntutan hukum. Dalam pasal 51 inipun cara melaksanakan perintah harus patut dan wajar. meskipun sifatnya sementara. Dalam hal ini dipakai pedoman : “lex specialis derogate legi generaki” atau “lex posterior derogate legi priori”. sehingga pasal 50 tersebut merupakan alasan pembenar. tidak dapat berlindung dibawah pasal 50 KUHP ini. Dalam hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat dijumpai adannya kewajiban dan tugas-tugas/wewenang yang diberikan pada pejabat/orang untuk bertindak.

Contoh lainnya : Seorang kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk memukuli seorang tahanan yang menjengkelkan. Keadaan tersebut adalah merupakan alasan pemaaf. misal : mobil. Andaikata bawahan ini mengira bahwa perintah itu sah maka ia tetap dapat dipidana. karena memukul seorang tahanan tidak termasuk wewenang dari seorang anggota polisi. Contoh lainnya : Seorang kepala kantor memerintahkan kepada bendaharawan untuk mengeluarkan sejumlah uang guna sesuatu pembelian. Dalam keadaan ini perbuatan orang ini tetap bersifat melawan hukum. Sifat dari perbuatan seorang yang melakukan perbuatan karena perintah jabatan yang tidak sah ialah : perbuatannya tetap perbuatan yang melawan hukum. perintah itu berada dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah. Disini agen polisi tidak dapat dipidana karena : ia patut menduga bahwa perintah itu sah dan pelaksanaan perintah itu ada dalam batas wewenangnya. tetapi ternyata perintah tidak beralasan atau tidak sah. Syarat pasal 51 ayat (2) KUHP. yang tidak masuk dalam mata-anggaran.297 298 batas kepatutan. dikatakan melakukan perintah jabatan yang tidak sah menghapuskan dapat dipidananya seseorang. . akan tetapi pembuatnya tidak dipidana. 2. tetapi behubung dengan keadaan pribadinya maka ia tidak dapat dipidana. Disini bendaharawan itu dapat dipidana. karena ia patut menduga bahwa perintah itu tidak sah. bahwa ketaatan yang membuta tidak mendisculpeert” (tidak patut di pidananya perbuatan). jika ia mengira dengan itikad baik bahwa perintah itu sah. Sebagai contoh : seorang agen polisi mendapat perintah dari kepala kepolisian untuk menangkap seorang agitator dalam suatu rapat umum atau umumnya seorang yang dituduh telah melakukan kejahatan. Catatan : Mengenai ketaatan seorang bawahan kepada atasannya Hazewinkel-Suringa mengatakan. Andaikata bendaharawan tiu melaksanakan perintah tersebut tapa akibatnya ? perintah tersebut tidak sah karena pembelian mobil itu tidak termasuk dalam wewenang bendaharawan tersebut. Perintah jabatan ini adalah alasan pembenar. sebabnya ialah pengeluaran dari pemerintah sudah ditentukan pos-pos tertentu. apabila memenuhi syarat : 1.

ALASAN AVAS. AVAS merupakan singkatan dari afwezigheid van alle schuld. terjadi eror fact (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi factual) atau eror yuridis (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi yuridis). PENGHAPUS PIDANA PUTATIEF DAN penghapus pidana yang putatief. apoteker. apabila dapat diterima secara wajar bahwa ia boleh berbuat seperti itu. Dapatkah orang tersebut dipidana ? sesuai dengan pendapat MJ van Bemmelen orang tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. Ada kemungkinan bahwa seseorang mengira telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan pembelaan darurat atau dalam menjalankan undangundang atau dalam melaksanakan perintah jabatan yang sah. Dimuka telah dibicarakan tentang alasan penghapus pidana yang berupa alasan pembenar dan pemaaf (atau alasan penghapus kesalahan) yang terdapat dalam KUHP. ijin atau persetujuan dari orang yang dirugikan kepada orang lain mengnai suatu perbuatan yang dapat dipidana. bidan dan penyelidik ilmiah (misalnya untuk vivisectie). jika ada kasus-kasus di mana kita dapay membuktikan bahwa tiada kesalahan sama sekali maka kita dapat menggunakan avas untuk : kasus-kasus khusus. Ia dapat berlindung pada “taksi” (avas). d. f. misalnya : a. hak dari orang tua. pada kenyataannya ialah bahwa tidak ada alasan penghapus pidana tersebut dalam hal ini ada alasan . gurur untuk menertibkan anakanak atau anak didiknya (tuchtrecht).299 300 ALASAN PENGHAPUS PIDANA DI LUAR UU. pada arrest susu dan air). tidak adanya kesalahan sama sekali (avas. apabila dilakukan tanpa ijin atau persetujuan (consent of the victim). hak yang timbul dari pekerjaan (beroepsrecht) seorang dokter. mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming). tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang materiil (arrest dikter hewan). diluar undang-undang pun ada alasan penghapus pidana. e. b. Alasan penghapus pidana putatief merupakan alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf. Menurut Jan Remmelink. c.

Disini dianggap bahwa kepentingan umum dianggap langsung terkena sehingga pihak yang terkena tindak pidana itu harus menerima adanya penuntutan sekalipun ia sendiri tidak menghendakinya. Tidak adanya pengaduan dalam hal delik aduan (pasal 72-75 KUHP) b. Abolisi b. Bentuk Delik Aduan Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. untuk melarikan wanita (pasal 332). Ne bis in idem (pasal 76 KUHP) c.301 302 BAB XIV GUGURNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA Sementara ketentuan diluar KUHP adalah : a. Amnesti Delik Aduan. maka hukum memberikan pilihan kepadanya untuk mencegah atau memulai suatu proses penuntutan. Telah ada pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu untuk pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja (pasal 82 KUHP). Matinya terdakwa (pasal 77 KUHP) d. delik aduan dibagi dalam dua bentuk : a. GUGURNYA KEWENAGAN MENUNTUT. Delik Aduan Absolut Dalam hal dianggap bahwa kepentingan orang yang terkena tindak pidana itu melebihi kerugian yang diderita oleh umum. Pada prinsipnya kewenangan melakukan penuntutan hadir seketika ada dugaan terjadinya tindak pidana. persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pasal 287-288). Namun demikian terdapat beberapa hal yang menjadi dasar atas gugurnya kewenangan jaksa untuk melakukan penuntutan menurut KUHP adalah : a. I. Daluwarsa (pasal 78 KUHP) e. pencemaran nama baik (319) dan lain-lain.1. . Kewenangan melakukan penuntutan pada prisipnya tidak berhubungan dengan kehendak perorangan kecuali dalam beberapa delik tertentu diantaranya perzinahan (pasal 284). Misal : A.

Disamping ketentuan umum tersebut diatas . Penarikan kembali pengaduan dapat dilakukan. Belum 18 th / belum cukup umur / dibawah pengampunan (pasal 72) :  Oleh wakil yang sah dalam perkara perdata. Dalam hal relasi antara sifat keperdataan yang lahir dari h8ubungan tersebut dapat menjadi alasan dalam mencegah terjadinya penuntutan. Baik hubungan karena keturunan / darah atau dalam hal hubungan perkawinan. Yang berhak mengadu hanya suami / istri yang tercemar (ketentuan pasal 72 dan 73 diatas tidak berlaku). pasal 335 (1) & (2) (perbuatan tidak menyenangkan) atau pasal 369 (pengancaman). Delik aduan absolute ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan pasal 293 (perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur) pasal 322 (pelanggaran kewajiban menyimpan rahasia). b. Yang berhak mengadu (subyek).  Wali pengawas / pengampu  Istrinya  Keluarga sedaraj garis lurus  Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajat ke-3 2) Jika ybs meninggal pasal 73 oleh :    Orang tuanya Anaknya. Delik Aduan relative Karakter delik aduan ini tidak terletak pada sifat kejahatan yang dilakukan melainkan pada hubungan antara pelaku / pembantu dan korban. II. atau Suami / istri (kecuali ybs tidak menghendaki). selama pemeriksaan dalam siding pengadilan . misalnya :  Untuk perzinahan (pasal 284). sewaktu-waktu. ada pula ketentuan-ketentuan khusus.303 304 Seorang perempuan muda yang telah disetubuhi boleh memilih untuk menikahi lakilaki yang menyetubuhinya daripada pelaku dijatuhi pidana. Ketentuan umum menentukan : dalam pasal 72 KUHP 1) Jika ybs. Kebanyakan delik-delik ini terkait dengan delik dibidang harta benda (pasal 367 KUHP).2.

Penarikan kembali aduan. Bertempat tinggal di luar Indonesia 9 bulan sejak mengetahui adanya kejahatan. b) Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat keputusan. pada dasarnya . Memang selayakanya pengaduan mencakup pelaporan (aangifte) dengan permohonan dilakukannya penuntutan (verzoek tot vervolging).305 306 belum dimulai (ayat 4). Dibuatnya suatu pengaduan tidak dengan serta merta berarti bahwa ijin memberikan kewenangan penuntutan dilakukan secara final. jaksa penuntut umum tak perlu menunggu lewatnya daluarsa menarik adauan. Dasar pikiran atau ratio dari azas ini ialah : a) Untuk menjaga martabat pengadilan (untuk tidak memerosotkan kewibawaan Negara). maka kewenangan menuntut menjadi hapus.  Untuk melarikan wanita (pasal 332) Yang berhak mengadu :  Jika belum cukup umur oleh : wanita ybs. Diakuinya azas Neb is in idem ini terlihat dalam rumusan pasal 76 KUHP yang berbunyi (ayat (1) sub 1) sbb : “Kecuali dalam hal putusan haikm masih mungkin diulangi (herzeining). II. oleh : wanita ybs. meskipun undang-undang memberikan jangka waktu 3 bulan (pasal 75). Akan tetapi jika aduan tersebut ditarik kembali. atau suaminya. B.4. NE BIS IN IDEM (PASAL 76) Arti sebeanarnya dari neb is in idem ialah “tidak atau jangan dua kali yang sama”. orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia II. Tenggang waktu pengajuan pengaduan (pasal 74) a. Sering juga digunakan istilah “nemodebet bis vexari” (tidak seorangpun atas perbuatnya dapat diganggu / dibahayakan untuk kedua kalinya) yang dalam literature Angka Saxon diterjemahkan menjadi “No one could be put twice in jeopardy for tha same offerice”. Bertempat tinggal di Indonesia 6 bulan sejak mengetahui b. Jadi ketentuan pasal 75 KUHP tidak berlaku. Bila pengaduan sudah disampaikan. atau orang yang harus memberi ijin bila wanita itu kawin  Jika sudah cukup umur.3.

yaitu yang dapat berupa : I. III.307 308 terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap”. Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara yang bersangkutan. Jadi menurut pendapat ini. Pembebasan (vrijspraak) pasal 191 (1) KUHAP (dulu 313 RIB).  Orang terhadap siap putusan itu dijatuhkan adalah sama. b. B. Ada pendapat bahwa peninjauan kembali (herzeining) merupakan salah satu upaya hukum. Adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Penjatuhan pidana pasal 193 ayat (1) KUHAP (dulu 315 RIB). .  Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. Keputusan hakim (yang berkekuatan hukum tetap) yang dimaksud disini adalah keputusan terhadap perbuatan atau perkara ybs. sehingga pengecualian yang tersebut dalam pasal 76 itu (yaitu adanya herzeining merupakan pengecualian terhadap azas ne bis in idem) sebenarnya tidak perlu. Azas ne bis in idem tidak berlaku untuk keputusan hakim yang belum berhubungan dengan pokok perkara. Dengan adanya syarat ini berarti terhadap putusan tersebut harus sudah tidak ada alat hukum / upaya hukum (rechtsmiddel) yang dapat dipakai untuk merubah keputusan tersebut. misalnya : a. apabila dipenuhi syarat-syarat sbb :  Ada putusan yang berkekuatan hukum tetap.1. Dengan demikian penuntutan terhadap seseorang dapat hapus berdasar neb is in idem. Pelepasan dari segala tuntutan hukum (ontslag van allerechtvervolging) pasal 191 ayat (2) KUHAP (dulu 314 RIB). dengan adanya herzeining berarti putusan itu memang belum berkelanjutan dari tuntutan hukum yang pertama. Jadi keputusan-keputusan tersebut sudah mengandung penentuan terbukti tidaknya tindak pidana atau kesalahan terdakwa. yang biasanya disebut “penetapan-penetapan” (beschikking). Tentang tidak diterimanya tuntutan Jaksa karena terdakwa tidak melakukan kejahatan. II. jadi bukan merupakan tuntutan hukum yang kedua kali.

tetapi dapat juga keputusan hakim Negara lain (hakim Dengan syarat-syarat diatas. Apabila misalnya A dan B melakukan tindak pidana bersama-sama. Jadi dalam hal ini tidak ada neb is in idem. Tetang tidak diterimanya perkara penuntutan sudah daluwarsa. karena asing). = voorwaardelijke invrijheidstelling). Jadi tegasnya pasal 76 KUHP hanya berlaku untuk perkara-perkara pidana. maka orang tersebut di Indonesia dapat dituntut lagi.I. maka putusan ini tidak merupakan alasan untuk neb is in idem dalam perkara gugatan perdata.Yang sekuruhnya telah dijalani. Apabila misalnya seorang pengendara motor menabrak penjual soto dan dia dituntut secara perdata untuk memberi ganti rugi. b) Putusan yang berupa pelepasan dari tuntutan hukum. Adanya keputusan hakim yang menjadi syarat neb is in idem ini tidak hanya keputusan hakim Indonesia. Perlu pula diperhatikan bahwa putusanputusan hakim seperti dikemukakan diatas adalah putusan yang menyangkut perkara pidana. jadi keputusan mengenai hukum pidana.309 310 c. Jadi pasal 76 KUHP tidak mengenai penetapanpenetapan. maka dalam hal B kemudian tertangkap ia tetap masih dapat dituntut walaupun misalnya A dibebaskan. Adanya penetapan-penetapan serupa itu tidak merupakan alasan untuk adanya neb is in idem. Begitu pula sebaliknya. akan tetapi yang tertangkap dan dituntut pidana baru A.Yang telah diberi ampun (grasi). c) Putusan berupa pemidanaan : . Dalam pengertian “telah dijalani seluruhnya” putusan hakim asing itu. Hal ini disebut dalam pasal 76 (2) dengan syarat putusan hakim asing tersebut harus berupa : a) Putusan yang berupa pembebasan. . apabila yang diputus adsalah perkara pidananya lebih dulu. menurut Pompe termasuk pidana bersyarat (V. = voorwaardelijke veroordelling) dan pelepasan bersyarat (V. maka apabila keputusan hakim asing yang berupa pemidanaan baru sebagian dijalani. atau. Orang yang dituntut harus sama.V. atau . maka putusan hakim mengnai hal ini tidak menghalangi untuk dilakukannya penuntutan dalam perkara pidananya. Ini merupakan segi subyektif dari persyaratan neb is in idem.

B.311 312 - Yang wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena kadaluwarsa. ajaran feit materiil pada neb is in idem telah ditinggalkan pada tahuan 1932. kemudian oleh jaksa dituntut lagi mengenai menggangu ketentraman umu dalam keadaan mabuk (pasal 492). seperi halnya dijumpai dalam concursus/ gabungan tindak pidana. sehingga terdakwa lepas dari segala tuntutan. Jaksa mengajukan kasasi ke Hoge Raad dengan . 2). Catatan : Apabila dipandang sebagai concursus realis. Terdakwa banding. Akan tetapi apabila dipandang sebagai concursus idealis. maka ada neb is in idem. maka hanya dimungkinkan adanya satu kali penuntutan saja. dan pengadilan tinggi menyatakan ada ne bis in idem. Ini segi obyektif dari neb is in idem (objective identiteit). sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan beberapa perbuatan. Misal : A melakukan pemerkosaan dijalan umum (pasal 285 dan 281). maka apakah Jaksa masih dapat menuntut yang kedua kalinya berdasar pasal 281 (melanggar kesusilaan dimuka umum) ? dan pakah putusan yang pertama merupakan res judicata (putusan yang neb is in idem)? Jawaban terhadap masalah ini tergantung atau berkisar pada apa yang dimaksud dengan “feit”. Tuntutan kedua ini oleh pengadilan diterima dan terdakwa dijatuhi pidana. Seandainya Jaksa hanya menuntut berdasar pasal 285 (perkosaan) saja dan ternyata tidak terbukti. maka dimungkinkan ada Dalam yurisprudensi. Mula-mula terdakwa diputus dan dipidana karena menganiaya polisi (pasal 356 sub. Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. maka tidak ada neb is in idem. Masalah ini merupakan masalah yang paling sukar. Kasusnya : Orang yang sedang mabuk ditempat umum mengganggu ketentraman umum. dimana hanya dipandang ada satu perbuatan. penuntutan lagi. Kalau kasus diatas dipandang sebagai concursus realis. yaitu dengan Arrest HR 27 Juni 1932.2. Harus ada feit / perbuatan yang sama. Apabila dipandang sebagai concursus idealis. telah memukul dada dan menendang kaki seorang anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya.

2) Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain (pasal 359). disamping berlkaitan erat de4ngan masalah concursus. c. Tempat terjadinya tindak pidana. artinya kemungkinana penuntutan kembali menjadi longgar. tetapi didalam surat tuduhan tercantum tgl 1 Juli 1979. jaksa dapat mengajukan permintaan unutk “merubah surat tuduhan berdasar pasal 282 HIR.313 314 mengatakan bahwa perbuatan terdakwa itu merupakan dua perbuatan dipandang dari sudut hukum pidana. Dengan perubahan ini menurut Pompe. halangan dalam penuntutan baru. Waktu terjadinya tindak pidana Misal seorang dituntut telah melakukan pencurian pada tgl 1 Juni 1979. sehingga tuntutan jaksa dapat diterima. Tetapi menurut Pompe. Disini ada neb is in idem. Namun diakui bahwa itu berarti menyempitkan berlakunya pasal 76. 1 Juni. juga berhubungan dengan masalah. alternativitas dalam tuduhan dapat meliputi masalah : a. seperti dimaksud dalam pasal 76 HR melihat disini juga ada 2 perbuatan yang mempunyai cirri yang berlainan. Jaksa kemudian mengajukan tuduhan lagi. Persoalan feit / perbuatan pada pasal 76. Kesukaran dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perkataan ”feit” dirubah menjadi “strafbaar feit”. . Dalam hala ini sebenarnya sebelum ada putusan. b. Disinipun ada neb is in idem. jjadi disini tidak ada perbuatan yang sama. Yang betul. 3) Dengan sengaja menganiaya yang berakibat mati (pasal 351 ayat (3)). Misal semula terdakwa dituduh mencuri di taman Diponegoro. Jaksa tidak dapat menuntut lagi berdasar tgl. penerapan pasal 76 lebih mudah. apabila terdakwa dibebaskan unutk tuduhan pencurian tercantum tgl. Berdasar tempat pencurian yang sebenarnya dilakukan yaitu di Stadion Diponegoro. kemudian dibebaskan. Perbuatannya/ketentuan yang dilanggar : Misal : perbuatan A sebenarnya dapat dikualifisir dalam 3 kemungkinan yaitu : 1) Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain (pasal 338). asal Feitnya tetap. dapat lebih merugikan kepentingan umum dari pada mengulangi percobaan untuk penerapan undang-undang pidana dengan setepat-tepatnya.

Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur hidup : daluwarsanya sesudah 18 tahun. Namun demikian yang utama dari ketiga lasan itu adalah kebutuhan untuk memidana dan kesulitan pembuktian menjadi alasan utama. MATINYA TERDAKWA (PASAL 77) DAN MATINYA TERPIDANA (PASAL 83). Untuk kejahatan yang diancam denda. Menurut pasal 79.  Bahwa pelaku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan.1 Daluwarsa Penuntutan. D. tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah perbuatan dilakukan. Tenggang Waktu Daluwarsa Penuntutan. Hal ini wajar karena KUHP berpendirian bahwa yang dapat menjadi subyek hukum hanyalah orang dan pertanggungan jawab bersifat pribadi. kecuali dalm hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal tersebut yang menyangkut vorduurende delict (delik berlangsung terus lihat penjelasan .1. Tenggang waktu daluwarsa ditetapkan dalam pasal 78 (1). D. Dalam hal ini tidak ada suatu tanggungjawab pidana diwariskan. DALUWARSA (VERJARING). Konsekwensi dari pemikiran ini adalah bahwa kematian seorang tersangka atau terdakwa menyebabkan kewenangan seorang Jaksa penuntut menjadi gugur.315 316 C. kurungan atau penjara maksimum 3 tahun : daluwarsanya sesudah 6 tahun. Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun daluwarsanya 12 tahun. Sementara kematian seseorang terpidana menyebabkan kewajiban menjalankan pidana menjadi terhapuskan.  Berjalannya waktu sekaligus menghapuskan jejak-jejak tindak pidana yang menyebabkan kesulitan pembuktian. D. Ditetapkannya lemabga daluarsa penuntutan dalam KUHP pada dasarnya dilandasi oleh beberapa pemikiran yaitu :  Dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga mengahpuskan keinginan untuk melakukan pembalasan. yaitu :     Untuk semua pelanggaran dan kejahatan percetakan : sesudah 1 tahun.1. Karena itu adagium punier non (simper) necesse est (menghukum tidak selamanya perlu) menajdi dasar dari keberadaan lembaga ini.

Menurut pasal 81 (1) tenggang daluwarsa penuntutan tertunda/tertangguhkan (geschorst) apabila ada perselisihan praejudisiil. sehari setelah data tersebut dimasukkan dalam catatan register. yaitu hanya perbuatan-perbuatan penuntut umum yang langsung menyangkutkan hakimdalam acara pidana (misal menyerahkan perkara ke siding. Menurut pasal 80 (2) sesudah terjadinya pencegahan (stuiting) mulai berjalan tenggang daluwarsa yang baru. daluwarsa dihitung keesokan hari setelah orang tersebut dibebaskan atau ditemukan meninggal dunia. jadi selama terhentinya selama ada tindakan penuntutan tenggang waktunya tidak dihitung.1. yaitu perselisihan menurut hukum perdata yang terlebih dulu harus diselesaikan sebelum acara pidana dapat diteruskan. Menurut pasal 80 (1) tenggang daluwarsa terhenti / tercegah (gestuit) apabila ada tindakan penuntutan (daad van vervolging). Hanya saja selama acara hukum perdata berlangsung dan belum selesai. Tetapi yurisprudensi kemudian menerima pendapat yang lebih sempit.317 318 dalam bab tetang jenis delik). 330 dan 333). Hal ini dimaksudkan agar terdakwa tidak diberi kesempatan untuk menunda-nunda penyelesaian perkara perdatanya dengan perhitungan dapat dipenuhinya tenggang daluwarsa penuntutan pidana. Penangguhan (scorsing). 329. memohon revisi). tetap diperhitungkan terus. Dalam hal ada penundaan/pertangguhan (schorsing) maka tenggang waktu yang telah dilalui. jadi tindakan pengusutan tidak lagi dianggap termasuk tindakan penuntutan. - tuduhan. Pencegahan (stuiting). sebelum diadakannya penundaan. Pada mulanya tindakan penuntutan diartikan secara luas yaitu mencakup juga tindakan-tindakan pengusutan (daad van opsporing). dipertangguhkan. a. Kejahatan terhadap register kependudukan (pasal 556-558 a). tenggang daluwarsa tuntutan pidana. b.2. Kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang (pasal 328. - D. Pencegahan dan penangguhan. Adapun yang diatur dalam pasal 79 adalah : Kejahatan terhadap mata uang (pasal 244) perhitungan daluwarsa didasarkan pada waktu setelah uang dipakai atau diedarkan. mendakwa / mengajukan .

yaitu “verstekvonnis” (keputusan diluar hadirnya terdakwa). Tenggang waktu daluwarsanya diatur dalam pasal 84 (2). Perbedaannya disini adalah alasan kesulitan pembuktian tetunya tidak lagi relevan disini.  Untuk kejahatan lainnya : daluwarsanya sama dengan daluwarsa penuntutan (lihat pasal 78 ) ditambah sepertiga. a. Tetapi ada putusan hakim yang sudah dapat dieksekusi sebelum keputusan itu berkekuatan tetap.319 320 D. Dalam hal ini.2.2. Pada ayat (3) ditetapkan bahwa : “tidak ada daluwarsa untuk mejalankan hukuman mati”. kewenangan Menurut pasal 85 (1) tenggang daluwarsa dihitung mulai pada keesokan harinya sesudah putusan hakim dapat dijalankan. Daluwarsa kewenangan menjalankan pidana.1.2. D. yaitu :  untuk semua pelanggaran : daluwarsanya 2 tahun. Daluwarsa Pemidanaan.  Untuk kejahatan percetakan : daluwarsanya 5 tahun. tenggang daluwarsa baru dihitung pada keesokan harinya setelah melarikan diri. pencegahan (stuiting) pencegahan (stuiting) terhadap daluwarsa hak untuk menjalankan / mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 85 ayat (2)) yaitu : 1) Jika terpidana melarikan diri selama menjalani pidana. Pencegahan Dan Penagguhan Daluwarsa Pemidanaan. bahwa pelaku setetlah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. Sama dengan daluarsa penuntutan maka landasan pemikiran atas daluarsa pemidanaan didasarkan kepada dua hal yaitu : 1. dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga menghapuskan keinginan unutk melakukan pembalasan 2. Ini tidak sama dengan putusan hakim yang inkracht van gewijsde (putusan ayat berkekuatan tetap).2. D. . Pada umumnya memang putusan hakim yang berkakuatan hukum tetap.

tetapi pelaksanaannya dihapuskan atau dikurangi / diringankan. Keputusan hakim tetap ada. walaupun perampasan kemerdekaan itu berhubung dengan pemidanaan lain. menurut ketentuan pasal 2 ayat (2) grasi hanya dapat dimohonkan bagi terpidana yang dijatuhi pidana mati. Penundaan (schorsing) terhadap daluwarsa hak untuk mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 33 ayat (3) yaitu :  selama perjalanan pidana ditunda menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. misal penjara diganti kurungan. penagguhan (schorsing). E. A. Dengan demikian selama ada pencegahan. Dasar pemikiran lembaga grasi menurut Remelink adalah keadaan pada waktu hakim menjatuhkan putusan tidak atau kurang diperhatikan atau mungkin pertimbangan dan yang bila (secara memadai sebelumnya ia keathui.321 322 2) Jika pelepasan bersyarat dicabut Dalam hal ini. Ketentuan Gugurnya Kewenangan Menuntut Dan Menjalankan Pidana di luar KUHP. Perihal prosedur Grasi diatur dalam undangundang 22 tahun 2002. Dalam pasal 2 ayat (3) permohonan grasi hanya dapat diajukaqn 1 (satu) kali. akan mendorongnya menjatuhkan pidana atau tindakan lain atau bahkan untuk tidak menjatuhkan sanksi sekalipun. Grasi dapat dikabulkan manakala hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak akan mencapai tujuan atau sasaran pemidanaan itu sendiri. dapat berupa :    Tidak mengeksekusi seluruhnya. penjara seumur hidup. Jadi grasi dari presiden. Grasi. Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ybs. maka pada esok harinya setelah pencabutan.1. pidana mati diganti penjara seumur hidup. maka jangka lewat waktu yang telah dilalui hilang sama sekali (tidak dihitung). Hanya mengeksekusi sebagian saja Mengadakan komutasi yaitu jenis pidananya diganti.  selama terpidana dirampas kemerdekaannya (ada calon tahanan). kurungan diganti dengan denda. kecuali dalam hal : . b. penjara paling rendah 2 tahun. mulai berlaku tenggang daluwarsa baru.

323 324 I. dengan persetujuan terpidana (pasal 6 (1-2)) kecuali dalam hal terpidana dijatuhi pidan mati. II. kecuali dalam hal putusan pidana mati. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung. kuasa hukumnya. Permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 diajukan secara tertulis oleh terpidana. Terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut. permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana (pasal 6 ayat (3)). atau keluarganya kepada Presiden. . Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tigta) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 9. Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Preisden. penagdilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung. Sementara pasal 3 permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana. Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya. Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau oleh keluarga terpidana. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi. Salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. Permohonan grasi dan slinannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3). Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) haru terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8.

2. Abolisi mengandung pengertian penghapusan yang diberikan kepada perseorangan yang mencakup penghapusan seluruh akibat penghukuman seluruh akibat penjatuhan putusan. Oleh karena itu amnesti mencakup perkara dalam fase ante sentantiam (sebelum dijatuhkanya putusan) maupun post sentantiam (pasca proses ajudikasi). demi kepentingan semua terpidana maupun bukan. abolisi merupakan hak prerogative presiden yang ditetapkan dalam UUD 1945 sebelum perubahan. terdakwa ataupun bukan. E. Seperti halnya grasi dan amnesti. Abolisi dengan demikian berlaku ante sentiam yang berkaitan dengan dilepaskannya kewenangan melakukan penuntutan atau pelanjutan dari penuntutan yang sudah dimulai. . Abolisi.325 326 E. Dalam praktek amnesti diberikan karena alasan politik. Amnesti. Amnesti dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum (yang diterbitkan dalam suatu aturan perundang-undangan) yang memuat pencabutan senua akibat pemidanaan dari suatu delik tertentu atau satu kelompok delik tertentu. termasuk putusan itu sendiri.3. mereka yang identitasnya diketahui ataupun tidak namun bersalah melakukan tindakan tersebut.

327 328 BAB XV RESIDIVE ( PENGULANGAN TINDAK PIDANA) Menurut sistem ini. Pemberatan hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu yang tertentu pula. Sistim Residive Umum . kemudian melakukan tindak pidana lagi. PENGERTIAN Residive atau pengulangan terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( MKHT) atau “in kracht van gewijsde”. Dalam ilmu hukum pidana dikenal ada dua sistem residive ini. setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dan dilakukan dalam waktu kapan saja. Jadi dengan demikian KUHP termasuk ke dalam sistem Residive Khusus. Perbedaannya dengan Concursus Realis ialah pada Residive sudah ada putusan Pengadilan berupa pemidanaan yang telah MKHT sedangkan pada Concursus Realis terdakwa melakukan beberapa perbuatan pidana dan antara perbuatan sang satu dengan yang lain belum ada putrusan Pengadilan yang MKHT. 2. Disamping itu di dalam KUHP juga memberikan syarat tenggang waktu pengulangan yang tertentu. Sistem Residive Khusus Menurut sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. 1. 1. Residive merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluwarsa dalam residivenya. yaitu : 2. MENURUT KUHP Dalam KUHP ketentuan mengenai Residive tidak diatur secara umum tetapi diatur secara khusus untuk kelompok tindak pidana tertentu baik berupa kejahatan maupun pelanggaran. merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan.

Residive Kejahatan. 544. 161. iii. 492. . 3. Pasal 154. 216. 144. Tindak Pidana Psikotropika (UU No. yaitu : Pasal : 489. 501. Residive Pelanggaran Residive dalam pelanggaran ada 14 jenis tindak pidana. 208. 216(3). Ancaman pidana ditambah sepertiga ii. Perlu diingat bahwa mengenai tenggang waktu dalam residive tersebut tidak sama. 144(2).329 330 a. 495.Tenggang waktu lima tahun.5/1997). 208(2). 163(2). Pasal 78 s/d 85. 477 dan 488 KUHP mensyaratkan bahwa tindak pidana yang diulangi termasuk dalam kelompok jenis tindak pidana tersebut. 545. b. 540. 517. 516. 393(2) dan 303 bis (2). 161(2). misalnya : i. Syarat-syarat Recidive pelanggaran disebutkan dalam masing-masing pasal yang bersangkutan. 321(2). Sedangkan untuk residive yang diatur dalam Pasal 486. 536. 530. 549 KUHP. Pasal : 137. 541. 157. RECIDIVE DI LUAR KUHP Recidive diluar KUHP antara lain diatur di dalam Undang-Undang: i. 163 dan 393 tenggang waktunya lima tahun. ancaman pidana ditambah sepertiga. Tindak Pidana Narkotika (UU 22 / 1997). dan pasal 87. 303 bis dan 321 tenggang waktunya dua tahun . 155(2). Jadi ada 11 jenis kejahatan yang apabila ada pengulangan menjadi alasan pemberat. Pasal 72. 512. ii. Residive terhadap kejahatan dalam pasal : 137(2).

Siapa yang dimaksud sebagai Pelaku (dader) menurut pasal 55 KUHP ?. Ruang berlakunya hukum pidana dapat dibedakan menurut waktu dan menurut tempat. Apa yang dimaksud dengan Recidive ? . 5.331 SOAL UJIAN DAFTAR PERTANYAAN MATERI DIKLAT ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 1. Apa pentingnya bagai Jaksa memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana ?. Moeljatno apa saja yang menjadi unsur dari suatu perbuatan pidana ?. 3. Jelaskan dimana diatur ruang berlakunya hukum pidana di dalam KUHP dan di luar KUHP ? 2. Menurut Prof. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful