1

2

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG Apakah hukum pidana itu ? pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit untuk dijawab, mengingat hukum pidana itu mempunyai banyak segi, yang masing-masing mempunyai arti sendirisendiri. Penerapan hukum pidana berkaitan dengan ruang lingkup hukum pidana itu sendiri dapat bersifat luas dan dapat pula bersifat sempit. Dalam tindak pidana dapat melihat seberapa jauh seseorang telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada orang tersebut karena telah melanggar hukum. Selain itu, tujuan hukum pidana tidak hanya tercapai dengan pengenaan pidana, tetapi merupakan upaya represif yang kuat berupa tindakan-tindakan pengamanan. Perlunya pemahaman terhadap teori-teori serta Asas-Asas Hukum Pidana tersebut bagi peserta diklat, maka Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan R.I menyusun modul mengenai asas-asas hukum pidana dengan tujuan agar peserta Pendidikan dan Pelatihan

3

4

pendahuluan mengerti dan memahami teori-teori maupun asas-asas hukum pidana yang perlu diperhaitkan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai jaksa nantinya.

II. DESKRIPSI SINGKAT Modul asas-asas hukum pidana memberikan pemahaman bagi peserta pendidikan dan pelatihan tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana.

B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mengetahui tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana. IV. POKOK BAHASAN a. Ruang lingkup berlakunya Hukum Pidana. b. Tindak Pidana. c. Hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat). d. Sifat melawan hukum (rechtswdrig, unrecht, wederrechtelijk, onrechmatig). e. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. f. Kesengajaan (dolus, intent, opzet, vorsatz).

III. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Intruksional Umum Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui tentang teori, asas, delik tindak pidana dan dapat menerapkannya dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara pidana.

g. Kealpaan (culpa). h. Kesalahan dalam delik pelanggaran. i. Pidana dan pemidanaan (hukum penitensier). j. Percobaan (poging, attempt). k. Penyertaan. l. Penggabungan tindak pidana (samenloop / concursus).

5

6

m. Alasan / dasar penghapus pidana (straffuitsluitingsgrond, grounds of impiunity.) n. Gugurnya kewenangan menjalankan pidana. V. FASILITAS / MEDIA Fasilitas dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran Pengantar asas-asas hukum pidana antara lain : a) b) c) d) Modul asas-asas hukum pidana; Internet; Peraturan perundang-undangan; Literatur yang terkait. menuntut dan

BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

A. RUANG

BERLAKUNYA

HUKUM

PIDANA

MENURUT WAKTU Penerapan hukum pidana atau suatu perundangundangan pidana berkaitan dengan waktu dan tempat perbuatan dilakukan. Serta berlakunya hukum pidana menurut waktu menyangkut

penerapan hukum pidana dari segi lain. Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan yang bersangkutan, maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali tidak dapat dipidana. Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) Terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Tidak dapat dipidana seseorang kecuali atas perbuatan yang dirumuskan dalam suatu

Dalam perkembangannya amandemen ke-2 UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) berbunyi dan berhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan Pasal 28 J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk - Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang) - Nulla Poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan pidana) - Nullum crimen sine poena tanpa legali (tiada perbuatan pidana undang-undang pidana yang terlebih dulu ada) Adagium ini menganjurkan supaya : 1) Dalam menentukan perbuatan- menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk perbuatan yang dilarang di dalam peraturan macamnya bukan saja tentang yang memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. Karenanya asas ini dapat pula dinyatakan sebagai asas konstitusional.7 8 aturan perundang-undangan yang telah ada dimana adagium : nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang mengandung tiga prinsip dasar : terlebih dahulu. tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan. nilai-nilai agama. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”. perbuatan harusdirumuskan dengan jelas. 2) Dengan cara demikian maka orang Dalam catatan sejarah asas ini dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : “vom psychologishen zwang (paksaan psikologis)” yang akan melakukan perbuatanyang dilarang itu telah mengetahui terlebih .

d) Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex Certa). Prof. 3) Dengan demikian dalam batin orang itu akan mendapat tekanan untuk tidak berbuat. Hal ini dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. c) Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (Hukum tidak tertulis). menyetujui Andaikata juga maka dia ternyata yang dia akan perbuatan dinpandang yang pidana ketentuan pidana berdasar peraturan perundang-undangan (formil). Moeljatno menjelaskan inti pengertian yang dimaksud dalam asas legalitas yaitu : 1) Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. b) Tidak diperkenankan suatu Analogi dijatuhkan kepadanya. (pengenaan undang-undang terhadap perbuatan yang tidak diatur oleh undang-undang tersebut). melakukan dilarang. 2) Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. e) Tidak boleh Retroaktif (berlaku surut) f) Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang. Schaffmeister dan Heijder merinci asas ini dalam pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a) Tidak dapat dipidana kecuali ada hukum pidana tidak melakukan perbuatan. .9 10 dahulu pidana apa yangakan dijatuhkan kepadanya jika nanti betul-betul akan tetapi diperbolehkan penggunaan penafsiran ekstensif. 3) Aturan-aturan berlaku surut.

Asas Personal (nasional aktif). Dalam hal ini asas-asas hukum pidana menurut tempat : I. dimana saja. I.11 12 g) Penuntutan hanya dilakukan diluar disebut wilayah Negara. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi diwilayah Negara. RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA hukum pidana menurut ruang tempat dan MENURUT TEMPAT (LEX LOCI) Teori tetang ruang lingkup berlakunya hukum pidana nasional menurut tempat terjadinya. III. asas Pandangan personal ini atau berdasarkan atau dengan cara yang ditentukan undang-undang. berkaitan pula dengan orang atau subyek. Perbuatan (yurisdiksi hukum pidana nasional). menganut prinsip nasional aktif. b. juga apabila perbuatan pidana itu dilakukan “Ketentuan dalam perundang- undangan Indonesia diterapkan bagi setiap . Asas Teritorial. Asas Universal. Asas Teritorial Asas ini diatur juga dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP pidana yang menyatakan : berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga Negara. Asas Perlindungan (nasional pasif) IV. akan melihat kepada berlakunya B. II. Perundang-undangan hukum pidana Ad. Pada bagian ini. baik dilakuakan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh orang lain (asas territorial). apabila ditinjau dari sudut Negara ada 2 (dua) pendapat yaitu : a.

Asas territorial lebih menitik beratkan pada terjadinya perbuatan pidana di dalam wilayah Negara tidak mempermasalahkan siapa pelakunya. sewajarnya berlaku bagi Negara yang berdaulat. sehingga ada yang mengadili apabila terjadi suatu perbuatan pidana. Perluasan dari Asas Teritorialitas diatur dalam pasal 3 KUHP yang menyatakan : “Ketentuan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana didalan kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”. warga Negara atau orang asing. tidak termasuk wilayah territorial suatu Negara.13 14 orang yang melakukan suatu tindak pidana di Indonesia”. tempat tidak terjadinya mempermasalahkan perbuatan pidana. Hal ini adalah wajar karena tiap-tiap orang yang berada dalam wilayah suatu Negara harus tunduk dan patuh kepada . Pasal ini dengan tegas menyatakan asas territorial. Tujuan dari pasal ini adalah supaya perbuatan pidana yang terjadi di dalam kapal atau pesawat terbang yang berada di perairan bebas atau berada di wilayah udara bebas. dan ketentuan ini sudah peraturan-peraturan hukum Negara dimana yang bersangkutan berada. Asas territorial yang pada saat ini banyak diikuti oleh Negaranegara di dunia termasuk Indonesia. tetapi tidak berarti bahwa perahu (kendaraan air) dan pesawat terbang lalu dianggap bagian wilayah Indonesia. Ketentuan ini memperluas berlakunya pasal 2 KUHP. Sedang dalam asas kedua (asas personal atau asas nasional yang aktif) menitik beratkan pada orang yang melakukan perbuatan pidana.

Kapal merupakan bentuk khusus dari alat   Pejabat-pejabat Internasional. Pasal 5 KUHP hukum Pidana Indonesia berlaku bagi warga Negara Indonesa melakukan di luar Indonesia pidana yang tertentu perbuatan .15 16 Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar wilayah Indonesia. Asas Personal Asas Personal atau Asas Nasional yang aktif tidak mungkin digunakan sepenuhnya terhadap warga Negara yang sedang berada dalam wilayah Negara lain yang kedudukannya sama-sama berdaulat. Asas-asas Extra Teritorial / kekebalan dan hak-hak Istimewa (Immunity and Previlege).  Suatu angkatan bersenjata yang terpimpin. Apabila ada warga Negara asing yang berada dalam suatu wilayah Negara telah melakukan tindak pidana dan tindak pidana dan tidak diadili menurut hukum Negara tersebut maka berarti diplomatik yang dalam perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain. pelayaran.    Kepala Negara asing dan anggota keluarganya. Pejabat-pejabat Negara asing pemerintahan yang berstatus Ad. badan Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer / ABK diatas kapal maupun di luar kapal. Di luar Indonesia atau di laut bebas dan laut wilayah Negara lain. bertentangan dengan kedaulatan Negara tersebut. Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya. II. Alat pelayaran pengertian lebih luas dari kapal.

17

18

Kejahatan terhadap keamanan Negara, martabat kepala Negara, penghasutan, dll. Pasal 5 KUHP menyatakan :

dilakukan

juga

jika

terdakwa

menjadi warga Negara sesudah melakukan perbuatan”. Sekalipun rumusan pasal 5 ini memuat

“(1).

Ketetentuan

pidana

dalam Indonesia

perkataan “diterapkan bagi warga Negara Indonesia yang diluar wilayah Indonesia”’, sehingga seolah-olah mengandung asas personal, akan tetapi sesungguhnya pasal 5 KUHP memuat asas melindungi

perundang-undangan

diterapkan bagi warga Negara yang di luar Indonesia melakukan : salah satu kejahatan yang

tersebut dalam Bab I dan Bab II Buku Kedua dan Pasal-Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam Indonesia kejahatan,

kepentingan nasional (asas nasional pasif) karena : Ketentuan pidana yang diberlakukan bagi warga Negara diluar wilayah territorial wilyah Indonesia tersebut hanya pasalpasal tertentu saja, yang dianggap penting sebagai perlindungan terhadap

perundang-undangan dipandang sebagai

sedangkan menurut perundangundangan Negara dimana

kepentingan nasional. Sedangkan untuk asas personal, harus diberlakukan seluruh perundang-undangan hukum pidana bagi warga Negara yang melakukan kejahatan

perbuatan itu dilakukan diancam dengan pidana. (2). Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat

di luar territorial wilayah Negara.

19

20

Ketentuan pasal 5 ayat (2) adalah untuk mencegah agar supaya warga Negara asing yang berbuat kejahatan di Negara asing tersebut, dengan jalan menjadi warga Negara Indonesia (naturalisasi). Bagi Jaksa maupun hakim Tindak Pidana yang dilakukan di negara asing tersebut, apakah menurut undang-undang disana merupakan kejahatan atau

perundang-undangan

Negara

dimana

perbuatan dilakukan terhadapnya tidak diancamkan pidana mati”. Latar belakang ketentuan pasal 6 ayat (1) butir 2 KUHP adalah untuk

melindungi kepentingan nasional timbal balik (mutual legal assistance). Oleh karena itu menurut Moeljatno, sudah sewajarnya pula diadakan imbangan pulu terhadap maksimum pidana yang mungkin dijatuhkan menurut KUHP

pelanggaran, tidak menjadi permasalahan, karena mungkin pembagian tindak

pidananya berbeda dengan di Indonesia, yang penting adalah bahwa tindak pidana tersebut di Negara asing tempat perbuatan dilakukan sedangkan diancam menurut dengan KUHP pidana, Indonesia

Negara asing tadi.

Ad. III. Asas Perlindungan Sekalipun asas personal tidak lagi

merupakan kejahatan, bukan pelanggaran. Ketentuan pasal 6 KUHP : “ Berlakunya pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut

digunakan sepenuhnya tetapi ada asas lain yang memungkinkan diberlakukannya hukum pidana nasional terhadap

perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Negara

21

22

Pasal

4

KUHP

(seteleh

diubah

dan

talon, tanda deviden atau tanda bunga yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang

ditambah

berdasarkan

Undang-undang

No. 4 Tahun 1976) “Ketentuan undangan pidana dalam perundang-

dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau menggunakan suratsurat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak palsu; 4. Salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut mengenai kertas mata yang dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal 479 l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam surat hutang atau penerbangan sipil. keselamatan Indonesia diterapkan bagi

setiap orang yang melakukan di luar Indonesia : 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 108 dan 131; 2. Suatu uang kejahatan atau 104, 106, 107,

uang

dikeluarkan oleh Negara atau bank, ataupun mengenai dan oleh materai merek yang yang

dikeluarkan digunakan Indonesia; 3. Pemalsuan

Pemerintah

sertifikat hutang atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan Dalam pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi kepentingan nasional dan melindungi

pemerintah Indonesia (pasal 4 ke-2) 3) Kejahatan surat-surat mengenai hutang pemalsuan sertifkat- atau sertifikat hutang yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia atau bagianbagiannya (pasal 4 ke-3) Dikatakan nasional melindungi karena pasal 4 kepentingan KUHP ini 4) Kejahatan mengenai pembajakan kapal laut Indonesia dan pembajakan pesawat udara Indonesia (pasal 4 ke4) Ad. yaitu : 1) Kejahatan Negara martabat Republik dan / terhadap kejahatan kehormatan Indonesia keamanan terhadap Presiden Wakil oleh hukum pengecualian-pengecualian internasional. Bahwa dalam asas melindungi kepentingan internasional (asas universal) adalah dilandasi pemikiran bahwa setiap Negara di dunia wajib turut dan Presiden Republik Indonesia (pasal 4 ke-1) 2) Kejahatan mata uang mengenai atau pemalsuan uang kertas melaksanakan tata hukum sedunia (hukum internasional). . Asas Universal Berlakunya pasal 2-5 dan 8 KUHP dibatasi memberlakukan perundang-undangan pidana Indonesia bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Indonesia melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan nasional. Indonesia atau segel / materai dan merek yang digunakan oleh Pasal ini menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga Negara Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang disebutkan dalam pasal tersebut.23 24 kepentingan internasional (universal). IV.

. dalam Bab XXVIII Buku Indonesia. adalah laut atau internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4 ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau uang kertas) dan pasal 4 ke-4 KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak menyebutkan mata uang atau uang kertas Negara mana yang dipalsukan atau kapal laut dan pesawat terbang negara mana yan dibajak. Pembajakan kapal laut atau pesawat terbang yang dimaksud dalam pasal 4 ke-4 KUHP dapat menyangkut kapal laut Indonesia atau pesawat terbang internasional (asas universal).25 26 Dikatakan melindungi kepentingan Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. maka asas yang berlaku diterapkan adalah asas melindungi kepentingan nasional (asas nasional pasif). dan mungkin juga menyangkut kapal laut atau pesawat terbang Negara asing. Pasal 7 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- undangan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat yang di luar Indonsia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan Kedua”. pesawat pembajakan terbang kapal. pembajakan kapal laut atau pesawat terbang adalah mengenai kepemilikan Negara asing. mengenai kepemilikan Indonesia. Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. maka asas yang berlaku adalah asas melindungi kepentingan Pemalsuan mata uang atau uang kertas yang dimaksud dalam pasal 4 ke-2 KUHP menyangkut mata uang atau uang kertas Negara Indonesia. akan tetapi juga mungkin menyangkut mata uang atau uang kertas Negara asing.

pidana satu sebagaimana dimaksudkan dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX buku ketiga. 423. pasal 5 sampai dengan pasal 14” Pasal 8 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- tersebut (pasal 209. kesempatan. 416. 31 Tahun 1999 tentang undangan Indonesia berlaku nahkoda dan penumpang perahu Indonesia. 387. 4 Tahun 1976 yang dimasukkan dalam KUHP pada Buku Kedua Bab XXIX A. 420. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana / prasarana penerbangan berdasarkan UU No. Dalam hal demikian apakah pasal 7 KUHP masih dapat diterapkan ? untuk masalah tersebut harap diperhatikan pasal 16 UU No. pasal 3.27 28 Pasal ini mengenai kejahatan jabatan yang sebagian besar sudah diserap menjadi tindak pidana korupsi. yang di luar Indonesia. pertimbangan lain untuk memasukkan Bab . begitu pula yang tersebut dalam peraturan mengenai surat laut dan pas kapal di Indonesia. 415. 435) telah dirubah oleh Undang-undang No. 417. 388. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan rumusan tersendiri sekalipun masih menyebut unsur-unsur yang terdapat dalam masing-masing pasal KUHP yang diacu. 425. 210. maupun dalam ordonansi perkapalan”. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 419. 418. melakukan sekalipun salah di luar tindak perahu. Akan tetapi pasal-pasal dalam pasal 2. Dengan telah diundangkannya tindak pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “setiap orang di luar wilayah Negara republik Indonesia yang memberikan bantuan.

. Hukum nasional suatu Negara tidak berlaku bagi mereka 2) Duta besar Negara asing beserta keluarganya meeka juga mempunyai hak eksteritorial. sekalipun ada di luar kapal.29 30 XXIX A Buku Kedua ke dalam pasal 8 KUHP adalah juga menjadi kenyataan bahwa kejahatan penerbangan sudah 3) Anak buah kapal perang asing yang berkunjung di suatu Negara. pada umumnya pengecualian yang diakui meliputi : 1) Kepala Negara beserta keluarga dari Negara sahabat. dimana mereka mempunyai hak eksteritorial. Menurut Moeljatno. Diterapkannya pasal-pasal 2-5-7 dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum-hukum Negara mempunyainya 4) Tentara Negara asing yang ada di dalam wilayah Negara dengan persetujuan Negara itu. Menurut hukum adalah internasional teritoir kapal peran yang digunakan sebagai bagian dari kegiatan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorganisir pasal 9 KUHP. internasional.

Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :  Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana.H. ditujukan (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility). pidana selalu mengatur tentang tindak pidana. Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya.31 32 BAB III TINDAK PIDANA a.. . b. dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”. PENGERTIAN TINDAK PIDANA Hingga saat ini belum ada kesepakatan para sarjana tentang pengertian Tindak pidana  Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. “ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang. Menurut Prof. Selanjutnya Moeljatno membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid van het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person). bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. Moeljatno S.  Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan oleh ancaman atau kejadian yang orang). Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (strafbaar feit). UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA Dalam suatu peraturan perundang-undangan ditimbulkan sedangkan kelakuan pidana kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula.

Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. harus dilakukan dengan (strafbaar feit) adalah : Perbuatan manusia (positif atau negative. Untuk   Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband staand) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person). Perbuatan kesalahan. Diancam dengan pidana (statbaar gesteld) Melawan hukum (onrechtmatig) . mengetahui adanya tindak pidana. unsur-unsur tindak pidana menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat “openbaar” atau “dimuka umum”. Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”. Unsur Subyektif :  Orang yang mampu bertanggung jawab  Adanya kesalahan (dollus atau culpa). Menurut  Simons.  Mungkin ada keadaan tertentu yang perundang-undangan pidana tentang perbuatanperbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. berbuat   atau tidak berbuat atau membiarkan). yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar. maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan Simons juga menyebutkan adanya unsur obyektif dan unsur subyektif dari tindak pidana (strafbaar feit). Unsur Obyektif :  Perbuatan orang  Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu.33 34 Sedangkan menurut Moeljatno “Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum.

Unsur subyektif atau pribadi Yaitu mengenai diri orang yang mungkin diterapka pasal tersebut b. misalnya unsur pegawai negeri yang diperlukan dalam delik jabatan seperti dalam perkara tindak pidana korupsi.35 36 Kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan. Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. Unsur obyektif atau non pribadi Yaitu mengenai keadaan di luar si pembuat. Sementara menurut Moeljatno unsur-unsur Tahun 1971 atau pasal 11 UU No. memperingan atau memperberat melakukan perbuatan. yang dibagi menjadi : a. 531 KUHP Pasal 164 KUHP : barang jahat siapa untuk mengetahui permufakatan . UU No. Pasal 418 KUHP jo. 3 pidana yang dijatuhkan. 165. (1) Unsur keadaan yang menentukan misalnya dalam pasal 164. Apabila penghasutan tidak dilakukan di muka umum maka tidak mungkin diterapkan pasal ini Unsur keadaan ini dapat berupa keadaan yang menentukan. misalnya pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum (supaya melakukan perbuatan pidana atau melakukan kekerasan terhadap penguasa umum). 20 Tahun 2001 tentang pegawai negeri yang menerima hadiah. Kalau yang menerima hadiah bukan pegawai negeri maka tidak perbuatan pidana :  Perbuatan (manusia)  Yang memenuhi rumusan dalam undangundang (syarat formil)  Bersifat melawan hukum (syarat materiil) Unsur-unsur tindak pidana menurut Moeljatno terdiri dari : 1) Kelakuan dan akibat 2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. 31 Tahun 1999 jo.

apabila kejahatan jadi dilakukan. kejahatan tadi kemudian betul-betul terjadi. 115. ancaman pidana diperberat menjadi 5 tahun (pasal 351 ayat . orang tadi baru melakukan perbuatan pidana. dan pada saat kejahatan masih bisa dicegah dengan sengaja kepada tidak pejabat kepadanya tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain. 187 dan 187 bis. kalau orang yang dalam keadaan bahaya tadi kemudian lalu meninggal dunia. apabila mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan. 107. Orang yang tidak melapor baru dapat dikatakan jika melakukan perbuatan pidana. Syarat tambahan tersebut tidak dipandang sebagai unsur delik (perbuatan pidana) tetapi sebagai syarat penuntutan. Pasal 531 KUHP : barang siapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. 106. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.37 38 melakukan kejahatan tersebut pasal 104. Tentang hal kemudian terjadi kejahatan itu adalah merupakan unsur tambahan. 108. dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Keharusan memberi pertolongan pada orang yang sedang menghadapi bahaya maut jika tidak memberi pertolongan. (2) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana Misalnya penganiayaan biasa pasal 351 ayat (1) KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. diancam. jika kemudian orang itu meninggal. 124. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan menimbulkan luka berat. 113. diancam. Apabila penganiayaan tersebut memberitahukannya kehakiman atau kepolisian atau kepada yang terancam. Kewajiban untuk melapor kepada yang berwenang.

Pentingnya pengertian Sekalipun pemahaman tindak terhadap pidana. Apabila dicantumkan maka jaksa harus mencantumkan dalam dakwaannya dan dapat diketahui dari doktrin (pendapat ahli) ataupun dari yurisprudensi yan memberikan penafsiran terhadap rumusan . Unsur melawan hukum yang dinyatakan sebagai unsur tertulis misalnya pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai pencurian yaitu pengambilan barang orang lain dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum. tentang dilakukan perbuatan sudah jelas dari istilah atau rumusan kata yang disebut. Apabila tidak dicantumkan maka apabila perbuatan yang didakwakan dapat dibuktikan maka secara diam-diam unsure itu dianggap ada. tetapi dalam praktek hal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembuktian perkara pidana. dan jika mengakibatkan mati ancaman pidana menjad 7 tahun (pasal 351 ayat 3 KUHP). Luka berat dan mati adalah merupakan keadaan tambahan yang memberatkan pidana (3) Unsur melawan hukum Dalam perumusan delik unsur ini tidak selalu dinyatakan sebagai unsur tertulis. sebab sifat melawan hukum atau sifat pantang oleh karenanya harus dibuktikan. Tanpa ditambahkan kata melawan hukum setiap orang mengerti bahwa memaksa dengan kekerasan atau ancaman unsur-unsur permasalahan “pengertian” unsur-unsur tindak pidana bersifat teoritis.39 40 2 KUHP). Adakalanya unsur ini tidak dirumuskan secara tertulis rumusan pasal. Pengertian unsur-unsur tindak pidana kekerasan adalah pantang dilakukan atau sudah mengandung sifat melawan hukum. Misalnya pasal 285 KUHP : “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh di luar perkawinan”.

2) Dapat menguraikan perbuatan terdakwa yang menggambarkan uraian unsur tindak pidana yang didakwakan sesuai dengan pengertian / penafsiran yang dianut oleh doktrin maupun yurisprudensi. Dalil-dalil yang digunakan dalam pembuktian akan secara dapat obyektif dipertanggungjawabkan karena berlandaskan teori dan bersifat ilmiah. Biasa terjadi bahwa suatu alat bukti hanya penjelasan penegak berguna untuk menentukan pembuktian satu unsur tindak pidana. yurisprudensi atau dengan cara penafsiran hukum. atau biasa diulas dalam analisa hukum. 5) Mengarahkan jalannya penyidikan atau memudahkan aparat menerapkan peraturan hukum. 6) Menyusun requisitoir yaitu pada saat uraian penerapan fakta perbuatan kepada unsurunsur tindak pidana yang didakwakan. agar dengan jelas. tidak seluruh unsur tindak pidana.41 42 undang-undang yang semula tidak jelas atau terjadi perubahan makna karena perkembangan pengertian dan jaman. akan diberikan sehingga hukum 4) Menentukan nilai suatu alat bukti untuk membuktikan unsur tindak pidana. harus diuraikan sejelas-jelasnya karena ini menjadi dasar atau dalil untuk berargumentasi. Bagi Jaksa pentingnya memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana adalah : 1) Untuk menyusun surat dakwaan. maka pengertian-pengertian unsur tindak pidana yang dianut dalam doktrin atau kepada saksi atau ahli atau terdakwa untuk menjawab sesuai fakta-fakta yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. . 3) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pemeriksaan di sidang pengadilan berjalan secara obyektif.

pencurian.43 44 1. KUHP buku ke II memuat delik-delik yang disebut : pelanggaran criterium apakah yang dipergunakan untuk membedakan kedua jenis delik itu ? KUHP tidak memberi jawaban tentang hal ini. Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse). Kejahatan dan Pelanggaran Pembagian delik atas kejahatan dan Ialah yang perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. Perbedaan secara kwalitatif ini tidak dapat diterima. Wetsdelicten Ialah perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. ialah : semacam “pelanggaran”. sebab ada kejahatan yang baru disadari sebagai delik karena tercantum dalam undang-undang . Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia ini prohibita). Ada dua pendapat : a. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. JENIS-JENIS TINDAK PIDANA Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik. Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara mengancamnya dengan pidana. terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. disebut Delik-delik intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. Rechtdelicten c. 2. Ia hanya membrisir atau memasukkan kejahatan dan dalam dalam kelompok kelompok pertama kedua masyarakat bertentangan dengan keadilan misal : pembunuhan. jadi karena ada undang-undang pelanggaran. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik. jadi yang benar-benar sebagai dirasakan oleh pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. 1.

407. permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP). Kejahatan ringan : Dalam KUHP juga sebagai terdapat delik yang perumusannya dititikberatkan perbuatan yang dilarang. 375. Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). b. 302 (1). 379. 382. sumpah pemalsuan palsu surat (pasal (pasal 242 263 KUHP). 2. pencurian (pasal 362 KUHP). Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP). b. Delik formil itu adalah delik yang kepada dirasakan bertentangan dengan rasa keadilan. Oleh karena perbedaan secara demikian itu tidak memuaskan maka dicari ukuran lain. bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan. Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang. Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya dalam perbuatan seperti tercantum rumusan delik. Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materiil) a. Dan sebaliknya ada “pelanggaran”. 373. yang benar-benar misalnya pasal 364. jadi sebenarnya tidak segera dirasakan sebagai bertentangan dengan rasa keadilan. 352. Seminar Hukum Nasional 1963 tersebut di atas juga berpendapat.45 46 pidana. KUHP). di muka umum menyatakan perasaan kebencian. 210 KUHP). 384. 315. Delik ini digolongkan kejahatan-kejahatan . ialah “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”. penyuapan (pasal 209.

47 48 baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. 203. 197. commissa a. pertolongan (pasal 531 (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) . Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur misal : pasal 195. akan tetapi dapa dilakukan dengan cara tidak berbuat. b. 197. 338 KUHP b. ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. seorang penjaga wissel yang menyebabkan 3. 245. 201. 5. penggelapan. 360 KUHP. Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. Delik dolus : delik yang memuat unsur kesengajaan. ialah 4. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan. 231 ayat 4 dan pasal 359. 263. pencurian. Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP). Delik commisionis. c. misal : tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP). Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. penipuan (pasal 378 KUHP). tidak menolong orang yang memerlukan KUHP). 340 KUHP). Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten) a. penipuan. misal : pasal-pasal 187. Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362. pembunuhan (pasal 338 KUHP). Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaan larangan (dus delik commissionis). delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP). 310. Delik tunggal dan delik berangkai berbuat sesuatu yang dilarang. Misal : seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338.

7. misal : (pemerasan dengan ancaman pencemaran. misal : merampas pembuat dan orang yang terkena. chantage pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa. Delik yang berlangsung terus dan delik selesai (voordurende en aflopende delicten) Delik yang berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus. ialah mis. Delik aduan yang relative ialah mis. hutangnya karena kepada B A. 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. tidak membayar hanya kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP). jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP). Gugatan dipakai dalam acara perdata. Delik aduan dan delik laporan Laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten) Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. 332. : delik apabila yang baru a. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten) Delik yang ada pemberatannya. disebut relatif karena dalam delik-delik ini ada hubungan istimewa antara si merupakan dilakukan beberapa kali perbuatan. sebagai : penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (pasal 351 ayat 2. Delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. b. 8. : pasal 284. . 310. misal : pasal 481 (penadahan sebagai kebiasaan) 6. b. Delik berangkai delik. Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali. Catatan : perlu dibedakan antara aduan den gugatan dan laporan.49 50 a. Delik aduan yang absolut. ps. ayat 2). misal : A menggugat B di muka pengadilan. Delik aduan dibedakan menurut sifatnya. : pasal 367. pencurian pada waktu malam hari dsb. 3 KUHP).

51 52 (pasal 363). 7 tahun 1955. b. misal : penganiayaan (pasal 351 KUHP). UU darurat tentang tindak pidana dengan pidana kurungan 2. yang dapat diganti pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu. bahwa unsur pertama tindak pidana itu adalah perbuatan orang. pencabutan hak-hak tertentu b. SUBYEK TINDAK PIDANA Sebagaimana diuraika terdahulu. misal : pembunuhan kanakkanak (pasal 341 KUHP). c. Delik sederhana. Delik ini disebut “geprivelegeerd delict”. Ini dapat disimpulkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. Delik ekonomi (biasanya disebut tindak pidana ekonomi) dan bukan delik ekonomi Apa yang disebut tindak pidana ekonomi itu terdapat dalam pasal 1 UU Darurat No. pidana mati b. Kata “barang siapa” ini tidak dapat diartikan lain dari pada “orang”. pidana kurungan d. pidana tambahan : a. 9. pidana penjara c. pidana denda. yaitu : 1. pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana itu manusia (naturlijke personen). Dalam pasal 10 KUHP disebutkan jenis-jenis pidana yang dapat dikenakan kepada tindak pidana. sehingga pada dasarnya hanya dapat dikenakan pada manusia.”. perampasan barang-barang tertentu c. memberi petunjuk bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan itu adalah manusia. Rumusan delik dalam undang-undang lazim dimulai dengan kata-kata : “barang siapa yang Sifat dari pidana tersebut adalah sedemikian rupa. Ada delik yang ancaman ……. d. Dalam pemeriksaan perkara dan juga sifat dari hukum pidana yang dilihat ada / tidaknya kesalahan pada terdakwa. . dimumkannya keputusan hakim ekonomi. pidana pokok : a. pencurian (pasal 362 KUHP).

Ordonansi obat bius S. 33-368 pasal 25 ayat 7. suatu perkumpulan atau badan (korporasi) lain. Bahwasanya yang menjadi subyek tindak pidana itu adalah manusia. Dalam perkembangannya apakah kecuali manusia tidak ada sesuatu yang dapat melakukan tindak pidana misalnya badan hukum ? dalam KUHP terdapat pasal yang seakan-akan menyinggung soal ini.v. ini disebut “pembalikan beban pembuktian” (omkering van bewijslast). penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (UU Darurat No.T) terhadap pasal 59 KUHP. Vide . sesuai dengan penjelasan (M. apabila dapat membuktikan bahwa pelanggaran itu dilakukan tanpa ikut campurnya. yang berbunyi : “suatu tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia”.1948-295) “Ordonansi terdapat membebaskan diri. dan juga pasal 398 dan 399. Keterangan : di dalam hukum acara. 27-278 jo. Akan tetapi ajaran ini sudah ditinggalkan. Menurut pasal ini yang dapat dipidana adalah orang yang melakukan korporasi. Dalam KUHP juga ada pasal lain yang pengendalian ketentuan yang mengatur apabila suatu badan (hukum) melakuka tindak pidana yang disebut dalam ordonansi-ordonansi itu. 7 tahun 1955 pasal 15 dimana dalam ayat 1 dan 2 dengan tegas menyebutkan kelihatannya juga menyangkut korporasi sebagai subyek hukum. Pengertian kesalahan yang dapat berupa kesengajaan dan kealpaan itu merupakan sikap dalam batin manusia. mengenai pengurus atau komisaris perseroan terbatas dan sebagainya yang dalam keadaan pailit merugikan perseroannya. ialah pasal 59. akan tetapi disinipun yang diancam pidana adalah orang.1948-144) harga” dan (S. Pasal ini tidak menunjuk ke arah dapat dipidana suatu badan hukum. Atau dalam UU Darurat tentang pengusutan. sesuatu Seorang fungsi anggota dalam pengurus sesuatu dapat pasal 169 : “ikut serta dalam perkumpulan yang terlarang”. misalnya dalam “ordonansi barang-barang yang diawasi” (S. buka korporasinya.53 54 d. Dalam hukum positip Indonesia.

477 van Hattum menulis a. Van Hattum (hal.55 56 bahwa badan hukum dapat menjadi subyek hukum pidana. sebab peradilan terhadap badan hukum kiranya akan menduduki tempat yang penting dalam hukum pidana kita. bahwa menurut Hoge Raad. …………. Dalam pada itu sekarang suda pasti. Dan dalam hal. 147) : “agaknya perlu untuk menggambarkan pertumbuhan ajaran ini agak lebih luas dari pada biasanya dalam buku pelajaran. bahkan mereka itu dapat mengemukakan alasan tidak adanya kesalahan sama sekali”. : (terjemahan) Pompe (hal. korporasi dapat melakukan tindak pidana.l. Persoalan mengenai penyertaan dan kesalahan dalam pada itu akan kerap kali menjadi sumber perbedaan pendapat”. 83) menyatakan mengenai persoalan ini (terjemahan) “Untuk sebagian peradilan dengan dibantu oleh ilmu pengetahuan hukum harus menemukan sendiri penyelesaian untuk problem dalam materi baru ini”. bahwa korporasi dapat mempunyai kesalahan dan . sebaiknya pembentuk undang-undang membuat ketentuan-ketentuan umum dalam hal suatu tindak pidana dilakukan oleh suatu korporasi. ya bahkan kadang-kadang korporasi sajalah yang dapat menjadi pembuat.

paling banyak ada percobaan. Selain itu juga merupakan persoalan pada delik-delik yang dikualifikasi oleh akibatnya (door het gevolg gequafili ceerde delicten) misal pasalpasal : 187. Perlu diketahui bahwa . maka harus dapat dibuktikan bahwa A. Persoalan kausalias ini terjadi karena kesulitan untuk menetapkan apa yang menjadi sebab dari suatu akibat. maka delik (materiil) itu tidak ada. Keadaan yang menentukan di sini adalah terampasnya nyawa seseorang. Misalnya : Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan. Contoh : matinya Oleh karenanya untuk dapat menuntut seseorang (misalnya X) yang dilakukan melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya seseorang. Kausalitas Didalam delik-delik yang dirumuskan secara materiil (selanjutnya disebut delik materiil). sebab jika disini tidak terjadi akibat yang dilarang dalam delik itu. 355 ayat 2 dan 3 KUHP. CAUSALITAT) si A. Berbeda dengan dengan delik formil terjadinya akibat itu hanya merupakan accidentalia. pasal 333 ayat 2 dan 3.57 58 BAB IV HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (CAUSALITEIT. bukan suatu essentialia. “akibat” ini artinya “perubahan atas suatu keadaan” dimana atau dapat berupa suatu terhadap terdapat unsur akibat sebagai suatu keadaan yang dilarang dan merupakan unsur yang menentukan (essentialia dari delik tersebut). 188. Hubungan sebab akibat (causaliteitsvraagstuk) ini penting dalam delik materiil. 194 ayat 2. 351 ayat 2 dan 3. pembahayaan perkosaan kepentingan hukum. 195 ayat 2. 334 ayat 2 dan 3. karena perbuatan X itu maka timbul akibat matinya A.

tempat dan keadaannya. .59 60 persoalan ini tidak hanya terdapat dalam B. maka terjadilah beberapa teori kausalita. maka tidak akan terjadi akibat lingkungan hukum pidana saja. bahwa kejadian “B” yang terjadi sesudah kejadian “A”. Akan tetapi sebenarnya tidak boleh tanpa menyebabkan berubahnya akibat. belum tentu disebabkan karena kejadian “A” (post hoc non propter hoc). yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. lalu mati. Teori-teori hendak dagang misalnya dalam persoalan menetapkan hubungan obyektif antara perbuatan (manusia) dan akibat.1. menurut waktu. dan semua syarat itu nilainya sama. Contoh : A dilukai ringan. Kalau satu syarat dihilangkan. dan mempunyai nilai yang sama. sebab kalau satu syarat tidak ada maka akibatnya akan lain pula. Tiap syarat. Teori-teori Kausalitas (ajaran-ajaran kausalitas) B. baik positif maupun negatif untuk timbulnya suatu akibat itu adalah sebab. Tidak ada syarat yang dapat dihilangkan (lazim dirumuskan “nicht hiin weggedacht warden kann dan seterusnya) ditelusuri sampai ke sebab. akan tetapi juga dalam lapangan hukum lainnya. misalnya dalam filsafat. kemudian dibawa ke dokter. Persoalan ini pun terdapat dalam lapangan ilmu pengetahuan lainnya. Dalam hubungan ini baik dipandang terlampau sederhana. Teori Ekivalensi (aquivalenz-theorie) atau Bedingungstheorie atau teori condition sine qua non dari von Buri Teori ini mengatakan : tiap syarat adalah sebab. Dalam filsafat terdapat “peringatan”. Akibat kongkrit harus bisa kongkrit. Penganiayaan ringan terhadap A itu juga merupakan sebab dari matinya A. seperti yang senyata-nyatanya. Teori ekivalensi ini memakai pengertian “sebab” sejalan dengan pengertian yang dipakai dalam logika. Dalam menetapkan apakah yang dapat dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian. Misalnya hukum perdata dalam penentuan ganti rugi dan dalam hukum asuransi. Di tengah jalan ia kejatuhan genting.

apabila tidak ada pembuatan pisau.61 62 dikemukakan. Jadi misal : B ditikam oleh A sampai mati. Van Hamel. merupakan “akibat” dari “sebab” yang terjadi sebelumnya. hubungan pidana. Yang merupakan sebab bukan hanya ditikam A. Kritik / keberatan terhadap teori ini : hubungan kausal membentang ke belakang tanpa akhir. dari serentetan faktor yang aktif dan pasif dipilih sebab yang paling menentukan dari peristiwa tersebut. sebab tiap-tiap “sebab” sebenarnya dengan bahwa kausal sebaik-baiknya”. maka ada teori-teori lain yang hendak membatasi teori tersebut teori-teori yang akan disebutkan di bawah ini. B. bahwa terlepas satu sama lain. Teori-teori Individualisasi Teori-teori ini memilih secara post actum (inconcreto). sedang faktor-faktor lainnya dipisahkan sebagai faktorfaktor yang irrelevant (yang tidak perlu / penting). artinya setelah peristiwa kongkrit terjadi. Teori ekivalensi ini dapat dipandang sebagai pangkal dari teori-teori lain. dan juga karena tori ini menarik secara luas sekali dalam membatasi lingkungan berlakunya antara jawaban pertanggung pertanggungjawaban pidana. John Stuart Mill (di Inggris) dalam bukunya : Sistem of Logic berpendapat. Kebaikan teori ini : mudah diterapkan. seorang penganut teori begitu Jadi pembuatan pisau itu juga “sebab” dan seterusnya. “bahwa “sebab itu adalah “the whole of antecedents” (1843). mengambil dari sekian faktor yang menimbulkan akibat itu ekivalensi berpendapat bahwa “untuk hukum pidana teori ini boleh digunakan.2. sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan. tetapi juga penjualan pisau itu kepada A dan penjualan pisau itu tidak ada. apabila diperbaiki dan diatur oleh teori kesalahan yang harus diterapkan dijelaskan. Berhubungan dengan keberatan itu. sedang faktor-faktor lainnya . harus dan dibedakan Di sini beberapa faktor yang kuat (dominant).

Teorinya disebut semacam itu. Ini suatu akibat yang abnormal. Akan tetapi apabila orang yang pukul itu menjadi buta itu bukan akibat yang adequate. atau menurut perhitungan yang layak. Binding. Teori-teori generalisasi Teori-teori ini melihat secara ante factum (sebelum kejadian/in abstracto) apakah diantara serentetan syarat itu ada perbuatan manusia yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat penganutnya tidak banyak antara lain : 1. atau tidaknya “Ubergewichtstheorie)” Dikatakan : sebab dari sesuatu perubahan adalah identik dengan perubahan dalam keseimbangan antara faktor yang menahan (negatif) dan faktor yang positif. oleh karena ada pengendara sepeda hendak menyebrang . Yang disebut “sebab” adalah syarat-syarat positif dalam keunggulannya (in ihrem Ubergerwicht-bobot yang melebihi) terhadap syarat-syarat yang negatif. artinya menurut pengalaman hidup biasa. biasanya dapat mengakibatkan hidung keluar darah. tentang Ada-quanzttheorie). Satu-satunya sebab ialah faktor atau syarat terakhir dan yang menghilangkan faktor Contoh-contoh ada hubungan sebab akibat yang adequat : a. Penganut- B. dimana faktor yang positif itu lebih unggul. Suatu jotosan ang mengenai hidung. yang tidak biasa.63 64 hanya merupakan syarat belaka.3. Oleh karena itu teori ini disebut teori adequat (teori adequate. b. memenangkan mengerem sekonyong-konyong. mempunyai kadar (kans) untuk itu. Seorang yang menyetir mobil terpaksa keseimbangan positif itu. Birkmayer (1885) mengemukakan : sebab adalah syarat yang paling kuat (Ursache ist die wirksamste Bedingung) 2. Dalam teori ini dicari sebab yang adequate untuk timbulnya akibat yang bersangkutan (ad-aequare artinya dibuat sama).

Disini disebut antara lain : 1.65 66 jalan yang membelok. oleh ini sedang ini tidak mobil. dimana secara kebetulan bersembunyi / tidur seorang penjahat hingga ikut mati terbakar. melainkan pengetahuan dari hakim. . Adakah pen-sebab-an yang adequate ? Jawabannya tergantung dari keadaan. Akan tetapi apabila di daerah itu merupakan kebiasaan orang untuk bersembunyi atau menginap dalam tumpukan rumput. tidak timbul akibat semacam itu maka perbuatan petani itu bukanlah sebab. c. Disini yang dianggap sebab ialah apa yang oleh sipembuat dapat diketahui / diperkirakan bahwa apa yang dilakukan itu pada umumnya dapat menimbulkan akibat semacam itu (Von Kries jadi pandangan atau pengetahuan menentukan). Dasar penentuan apakah suatu perbuatan itu dapat menimbulkan akibat ialah keadaan atau hal-hal yang secara obyektif kemudian si pembuatlah yang sepeda itu tidak merupakan penyebab yang adequate untuk timbulnya penyakit trauma tersebut. Penentuan subyektif (subjective ursprungliche Prognose). diketahui atau pada umumnya diketahui. Hal yang merupakan persoalan dalam teori ini ialah : bagaimanakah penentuannya. bahwa suatu sebab itu pada umumnya cocok untuk disangka-sangka Pengendara pengendara mendapat mobil penyakit trauma karena menekan urat. maka perbuatan petani itu benar-benar mempunyai kadar untuk matinya seseorang. Jika biasanya menurut pengalaman sehari-hari. 2. Dianipun dapat dikatakan bahwa perbuatan pengendara menimbulkan akibat tertentu itu ? Mengenai hal ini ada beberapa pendirian. Jadi bukan yang diketahui atau yang dapat diketahui oleh sipembuat. Seorang petani membakar tumpukan rumput kering (hooi). Penentuan obyektif.

melepasnya. Simons : Dikatakan olehnya : “suatu perbuatan dapat disebut sebagai sebab dari suatu akibat. tetapi tidak berani kebetulan. “objektive nachtragliche Prognose” mati. ingin sekali agar pekerja itu . oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori adequate subyektif dari von Kries ini bukan teori kausalitas yang murni. Harapan itu Sebenarnya dalam teori kausal adequat subyektif (Von Kries) itu tersimpul unsur terkabul dan pekerjanya itu mati disambar petir. apabila menuntut pengalaman manusia pada umumnya harus diperhitungkan kemungkinan. Beberapa penganut teori adequat yang lain : 1. maka ia tidak mati. Menurut teori ini : perbuatan menyuruh orang ke tempat lain pada umumnya tidak mempunyai kadar untuk kematian seseorang karena disambar petir. Konsekwensi ini umumnya penentuan tentang kesalahan). Pada waktu hujan yang disertai petir ia menyuruh pekerjanya itu pergi ke suatu tempat dengan harapan agar orang itu disambar petir. sehingga juga tidak ada pemidanaan. jadi sipembuat dapat membayangkan dan seharusnya dapat membayangkan. Menurut teori ekivalensi : ya. Dengan ini maka tidak ada hubungan kausal. sebab seandainya pekerja itu tidak disuruh keluar oleh majikan. yang sangat membenci pekerjanya. Oleh karena itu lebih memuaskan apabila dipakai teori adequate. Sebab suatu perbuatan baru dianggap sebagai sebab yang adequate apabila sipembuat dapat mengira-ngirakan atau membayangkan dipandang terlalu jauh. maka ia juga menentukan pertanggunganjawab (pidana). Oleh karena dalam ajaran tersebut tersimpul unsur kesalahan. Penyambaran petir adalah hal yang (voor zien) akan terjadinya akibat atau kalau orang umumnya membayangkan terjadinya akibat itu. jadi bukan teori kausalitas dalam arti yang sesungguhnya. Contoh : seorang majikan.67 68 Dasar penentuan (Beurteilungs standpunkte) ini disebut (Rumelin).

penentuan ada dan tidaknya unsur kesalahan pada sipembuat. dengan kadarnya memadai sesuatu akibat. Beliau katakan : “Kehidupan hukum dan perhubungan hukum itu terdiri atas persangkaan. yang sesuai dengan asas konkordantie pada waktu itu. Syarat yang pada umumnya. Berhubung dengan tugas tersebut maka hukum pidana harus membuat “pagar” terhadap perbuatan-perbuatan yang agaknya mendatangkan kerugian. Pompe : yang disebut sebab ialah perbuatanperbuatan yang dalam keadaan tertentu itu mempunyai strekking untuk menimbulkan menunjukkan perbuatan-perbuatan tersebut. tidak terlihat tersebut di atas : teori ekuivalentie dapat dikatakan teori kausalitas yang benar. biasanya. Akan tetapi kelemahan teori ini tidak mudah dalam kenyataan. dan memberi keterangan yang cukup memuaskan merupakan dimaksudkan bersangkutan. Tinjauan terhadap teori-teori kausalitas manusia pada umumnya dan sebagainya. Ini kesimpulan pengalaman kita sebagai manusia. mengikuti yurisprudensi Negeri Belanda. 2. kadar. pengalaman akibat yang bersangkutan. Mengenai teori adequat dari von Kries. 47) berpendirian senada dengan Simons.69 70 bahwa dari perbuatan sendiri akan terjadi akibat itu”. Dalam hal ini teori adequat dapat apakah sebab sesuatu sesuatu rumusan perbuatan akibat delik itu yang yang dari dalam (presumptie). dengan mengikuti hal ikhwal yang berada dan menurut pengalaman kita. akan tetapi selalu diberi suatu penambahan. Dalam yurisprudensi Hindia Belanda. bahwa teori tersebut sesuai dengan jiwa hukum pidana. Kami (Ringkasan Hukum Pidana hal. 3. itu dapat juga dikatakan. Teori ini ditambah dengan . bahwa alur peristiwa di dunia ini ada biasa dan normal. itulah yang dianggap sebagai suatu sebab”. ia menggunakan istilah-istilah yang tidak terang misalnya biasanya. Hukum Pidana itu mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perkosaan dan perbuatan yang membahayakan.

Putusan Penagadilan Negeri Pontianak 7 Mei 1951. oleh karena antara perbuatan ayah dan tabrakan itu tidak ada hubungan kausal yang langsung. Perbuatan terdakwa. akan tetapi tidak . Anak tersebut menabrak orang. Disini memang perbuatan si ayah dapat disebut syarat tersebut terus menyopir tidak dianggap sebagai sebab dari kecelakaan yang terjadi. Putusan Politierechter Bandung 5 April 1933 Seorang ayah yang membiarkan anaknya yang berumur 14 tahun mengendarai sepeda motornya. oleh karena antara perbuatan terdakwa dan terjadinya kecelakaan itu tidak terdapat hubungan yang langsung. Pengendara sepeda motor terpental ke atas rel dan seketika itu dilindas oleh kereta api. bahwa antara perbuatan dan akibat harus ada hubungan yang langsung dan seketika (onmiddellijk en rechtsreeks) a. Perbuatan terdakwa yang tidak menarik seorang pengemudi mobil yang sembrono dari tempat kemudi (stuur) dan membiarkan pengemudi Hooggerechtshof condong ke teori adequate. dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta Terdakwa sebagai kerani bertanggung jawab atas tenggelamnya satu kapal yang disebabkan oleh terlalu berat muatannya dan yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia. Maka matinya si korban dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan si terdakwa (pengendara mobil). Akan tetapi dalam pada itu di dalam berbagai putusan pengadilan dapat ditunjukkan adanya persyaratan. oleh karena terdakwa sebagai orang yang mengatur pemasukan barang- (voorwaarde) dari tabrakan itu. yang membiarkan pengemudi itu tetap menyopir.71 72 dengan nyata teori mana yang dipakai. hanya dipandang sebagai suatu syarat dan bukan sebab. 147 hal 115) sebuah mobil menabrak sepeda motor. b. Putusan Raad van Justitie Batavia 23 Juli 1937 (. Putusan Politierechter Palembang 8 Nopember 1936 diperkuat oleh Hooggerechtshof 2 Pebruari 1937. d. boleh disebut sebab dari tabrakan itu. c. Terlindasnya pengendara sepeda motor oleh kereta api itu dipandang oleh pengadilan sebagai akibat langsung dan segera dari penabrakan sepeda motor oleh mobil.

Teori ini dinamakan “teori berbuat lain. Pendirian ini tidak bisa diterima. c. Yang disebut sebab ialah perbuatan yang positif yang dilakukan oleh sipembuat pada saat akibat itu timbul. b. Misal : dalam hal seorang ibu membunuh anaknya dengan tidak memberi susu. Yang ada persoalan ialah pada delik commisionis per omission commissa. karena kepergian ibu itu tidak bisa dianggap ada perhubungan dengan akibat itu. Yang disebut sebagai sebab ialah perbuatan yang mendahului akibat yang timbul. Pendirian ini didasarkan kepada dalil ilmu pengetahuan alam yang berbunyi bahwa dari keadaan negatif tidak mungkin timbul kedaan positif. Pada delik omissi persoalannya mudah. karena dalil pengetahuan alam tidak tepat untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan rokhani (seperti hukum pidana berbagai pihak tentang terlalu beratnya muatan pada waktu kapal akan berangkat. sehingga tidak ada persoalan tentang kausalitas. Tidak mungkin orang tidak berbuat bisa menimbulkan akibat. Dalam persoalan ini ada beberapa pendirian : ini). karena delik omissi itu adalah delik formil. misal . Kausalitas dalam hal tidak berbuat Persoalan ini timbul dalam delik-delik omissi dan dalam delik comisionis per ommisionem commissa (delik omissi yang tak sesungguhnya). Jenis kedua ini sebenarnya delik commissi yang dilakukan dengan “tidak berbuat”. Pada delik ini ada pelanggaran larangan dengan “tidak berbuat”. Teori inipun tidak dapat diterima. Teori ini disebut “teori berbuat yang sebelumnya”.73 74 barang angkutan dalam kapal in casu tidak mempedulikan peringatan-peringatan dari a. C. yang disebut sebagai sebab ialah “sesuatu yang dilakukan ibu itu pada saat ia tidak memberi susu itu. misal pergi ke toko. Di dalam pertimbangan juga disebut bahwa perbuatan terdakwa mempunyai “hubungan erat” dengan “kecelakaan itu”.

orang tuanya mengetahui hal ini. Seseorang yang tidak berbuat dapat dikatakan sebab dari sesuatu akibat. tetapi tidak berbuat apa-apa. ialah norma-norma lainyang berlaku dalam masyarakat yang teratur. Teori inipun tidak memuaskan. apabila ia mempunyai kewajiban hukum untuk berbuat. tidak hanya yang nyata-nyata tertulis dalam suatu peraturan tetapi juga dari peraturan-peraturan yang tidak tertulis. “Tidak berbuat” sebenarnya juga merupakan “perbuatan”.75 76 seorang penjaga wesel yang menyebabkan kecelakaan kereta api karena tidak Jawab (Hof Amsterdam 23 Oktober 1883): tidak. mengingat keadaan yang kongkrit. sebab sebagai penjaga ia berkewajiban untuk menjaga dan berbuat sesuatu. pembunuhan ? . dalam arti dapat menjadi syarat untuk terjadinya suatu akibat. Di bawah ini diberi contoh-contoh apakah ada kewajiban berbuat atau tidak : 1) Ada anak yang dibunuh. sebab sulit dilihat hubungannya antara semacam itu sangat tercela (laakbaar) dan tidak patut. yang diharapkan untuk penerimaan jabatan dengan akibat yang timbul. bahwa tidak berbuat itu dapat menjadi sebab dari suatu akibat. Maka dengan pengertian ini hal “tidak berbuat” pada hakekatnya sama dengan “berbuat sesuatu”. Dalam delik commisionis per omissionem commissa (delik omissi yang tidak sesungguhnya) “tidak berbuat” itu bukannya “tidak berbuat sama sekali” akan tetapi “tidak berbuat sesuatu”. Kewajiban itu timbul dari hukum. menurut ajaran ini yang menjadi sebab ialah apa yang dilakukan penjaga wesel. ia dapat dipertanggungjawabkan. tetapi memang sikap memindahkan wesel. 2) Seorang penjaga gudang membiarkan pencuri melakukan aksinya. Apakah orang tua bertanggung jawab sebagai ikut berbuat dalam diperbuat/dilakukan. d. Sedang menurut teori adequate. Kesimpulan mengenai kausalitas dalam hal tidak berbuat : sekarang tidak ada persoalan lagi.

“tanpa izin” (zonder verlof) (pasal 496. 549). 335 (1). Istilah dan Pengertian KUHP memakai istilah bermacam-macam : a. jadi harus dibedakan dari persoalan kesalahan atau pertanggungan jawab pidana yang merupakan segi subyektifnya. Unrecht. 548. 522. Wederrechtelijk. b. BAB IV SIFAT MELAWAN HUKUM (Rechtswdrig. 168. . “dengan melampaui kewenangannya” (pasal 430). ialah yang menyangkut orangnya. dengan istilah lain misalnya : “tanpa mempunyai hak untuk itu” (pasal 303. jadi juga dapat menjadi “sebab”. Onrechmatig) A. (wederrechtelijk) dalam pasal 167.77 78 dapat juga mempunyai kadar untuk terjadinya akibat. “tanpa mengindahkan cara-cara yang ditentukan oleh peraturan umum” (pasal 429). 510). tegas dipakai istilah “melawan hukum”. Akhirnya perlu diperhatiakn bahwa soal hubungan kausal ini terletak dalam segi obyektif (yang menyangkut perbuatan) dari keseluruhan syarat pemidanaan.

bertentangan dengan hak (subyektief recht) orang lain (Noyon) 3. sebab mungkin ada hal yang menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. bertentangan dengan hukum (Simons) 2. berwenang untuk melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang itu. hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum (H. Perbuatan mereka tidak melawan hukum. Ia tidak dapat dikatakan melakukan kejahatan tersebut pasal 333 KUHP. Bilamana sesuatu perbuatan itu dikatakan melawan hukum ? Orang akan menjawab : “apabila perbuatan itu masuk dalam dapat dikecualikan atas perbuatan yang memenuhi rumusan delik (tatbestandsmaszig) itu tidak senantiasa bersifat melawan hukum. 50 KUHP) : 1) regu penembak. Pengecualian atas tasbestand mer male. memenuhi unsur-unsur delik tersebut pasal 338 KUHP. 2) Jaksa menahan orang yang sangat dicurigai telah melakukan kejahatan. ialah masing-masing unsur dari rumusan delik. yang menembak mati seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman pidana mati. Tasbestand dalam arti sempit ini terdiri atas tasbestand mer male.79 80 Alasan pembentuk undang-undang itu mencantumkan unsur sifat melawan hukum itu tegas-tegas dalam sesuatu rumusan delik karena pembentuk undangundang khawatir apalagi unsur melawan hukum itu tak dicantumkan dengan tegas. Tasbestand disini dalam arti sempit. Salah satu unsur dari tindak pidana adalah unsur sifat melawan hukum. tanpa kewenangan atau tanpa hak. Unsur ini merupakan suatu penilaian obyektif terhadap perbuatan. yang berhak atau rumusan delik sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang”. Misalnya dalam melaksanakan perintah undang-undang (ps. Arti istilah bersifat melawan hukum itu terdapat tiga pendirian: 1.R). ialah unsur seluruhnya dari delik sebagaimana dirumuskan dalam peraturan pidana. Dalam bahasa Jerman ini disebut “tatbestandsmaszig”. dan bukan terhadap si Pembuat. . mungkin dipidana pula.

Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan Mamak cs melanggar pasal KUHP (merusak ketentraman rumah). Namun dalam kasus : seorang ayah memukul seorang pemuda yang memperkosa anak-anaknya seorang menembak mati temannya atas pertanggungjawaban dan untuk membawa laki-laki itu ke Wali Negeri. sehingga membahayakan permintaan sendiri. Oleh karena perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya pintu didobrak. Di dalam kedua contoh tersebut hal yang Seorang perempuan Minangkabau hidup bersama dengan seorang laki-laki dengan siapa ia menurut hukum adat dilarang kawin. apalagi jauh dari dokter. karena ia luka-luka berat dan tidak mungkin hidup terus. Alasan Arrest Hoge Raad 20 Pebruari 1933 Seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukkan sapi-sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi-sapi yang sudah sakit mulut dan kuku.81 82 karena ia melaksanakan undang-undang (terdapat dalam peraturan hukum acara pidana) sehingga tidak ada unsur melawan hukum. karena dalam ekspedisi di Kutub Selatan seorang bioloog membedah binatang-binatang (vivisectie) untuk penyelidikan ilmiah. Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas masuk dalam rumusan delik . Maka timbul persoalan ada tidaknya sifat melawan hukumnya perbuatan. Berhubung dengan pelanggaran adat ini. dan memidana Mamak 3 bulan penjara dan lain-lainnya masing-masing 2 bulan. Contoh lain yang mempermasalahkan unsur melawan hukum adalah : Putusan PN Sawahlunto 10 Setember 1936 sapi-sapi yang sehat itu. maka Mamak dari perempuan ini bersama-sama dengan orang lain mendatangi orang tersebut untuk dimintai menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan terdapat di dalam undang-undang.

yang masuk larangan dalam sesuatu undang-undang itu tidaklah mutlak bersifat melawan hukum. bahwa suatu perbuatan. menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbuatan itu bersifat melawan hukum. sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat hapus. Ketika dituntut. bahwa perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan peternakan. hanya berdasarkan suatu ketentuan undang-undang. jika di dalam hukum positif terdapat alasan untuk suatu perbuatan secara rumusan delik”. mungkin sekali dapat terjadi. Putusan Pembagian Ajaran Sifat Melawan Hukum Menjawab persoalan tersebut maka hukum pidana membagi ajaran sifat melawan hukum dalam dua sudut pandang yaitu : 1. akan tetapi tidak adanya sifat melawan hukum itu hanyalah bisa diterima. Pertimbangannya antara lain : “tidak dapat dikatakan. . karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan ternyata tidak ada. apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya dirumuskan sebagai suatu delik dalam undangundang. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan melawan atau bertentangan dengan undang-undang alasan-alasan penghapus pidana. “Memang boleh diakui. bahwa unsur sifat melawan hukum tidak dicantumkan di dalam rumusan delik dan meskipun demikian tidak ada pemidanaan. sehingga oleh karenanya pasal yang bersangkutan yang tidak berlaku letterlijk terhadap memenuhi (hukum tertulis).83 84 tesebut dalam pasal 82 undang-undang ternak. Menurut Simons. dokter hewan mengemukakan pada pokoknya. apabila perbuatan diancam pidana dan Mahkamah Agung Belanda : Pasal 82 Undang- undang ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu. ialah dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan yang membahayakan / mengkhawatirkan. bahwa seseorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti dipidana.

Contohnya ialah seorang yang memukulpemuda yang memperkosa anak perempuannya. 2. Alasan untuk menghapuskan sifat melawan hukum tidak boleh diambil di luar hukum positif dan juga alasan yang disebut dalam undang-undang tidak boleh diartikan lain daripada secara limitatief. c) M. Mayer mengatakan : bersifat (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya sebagaimana para sarjana yang . Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyatanyata masuk dalam rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich). jika perbuatan itu bertentangan dengan tujuan ketertiban hukum (den Zwecken der das Zusammenleben regelnden Recht sordnung widerspricht). Di sini menurut Zu Dohna perbuatan ayahnya tidak melawan hukum. menurut ajaran sifat melawan hukum yang materiil Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak.E. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang menganut ajaran sifat melawan hukum yang meteriil ialah : a) Von Liszt : perkosaan atau pembahayaan terhadap kepentingan hukum hanyalah bersifat melawan hukum materiil (materiel rechts widrig). maka tidak bersifat melawan hukum.85 86 pengecualian berlakunya ketentuan / larangan itu. akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang tidak tertulis. kalau tidak bertentangan dengan tujuan itu. b) Zu Dohna mengatakan : Suatu perbuatan itu tidak melawan hukum jika perbuatan itu merupakan upaya yang haq untuk tujuan yang haq (richtiges Mittel zum techten zwecke). tidak hanya yang terdapat dalam undang-undang (yang tertulis) saja.

348 KUHP) bisa tidak melanggar hukum berdasarkan petunjuk eugenetisch atau sosial. yang biasanya ada jika suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. bila suatu perbuatan itu memenuhi rumusan delik. obyektif yang berdiri sendiri. ditentukan oleh norma kebudayaan (kulturnorm). apakah yang diharapkan oleh ketertiban hukum. (Eugenetiek adalah ajaran yang mempelajari perbaikan ras / keturunan). tetapi mengenai hal itu harus diselidiki untuk tiap-tiap kejadian yang kongkrit. Kalau perbuatan itu sesuai dengan kulturnorm itu maka sifat melawan hukumnya hapus. berarti bertentangan dengan kulturnorm yang diakui oleh negara. maka itu menjadikan tanda / indikasi bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum. d) Zevenbergen Onrechtmatigheid adalah syarat yang umum.87 88 Perbuatan itu melawan hukum materiil atau tidak. Persaksian terhadap sifat melawan hukum yang materiil itu harus dilakukan secara hatihati. Sifat melawan hukum itu. ia katakan : . Akan tetapi sifat itu hapus apabila diterobos dengan adanya tentang dokter hewan Huizen itu. Misal abortus protus (ps. Kesimpulan mengenai persoalan melawan hukumnya perbuatan. dan istimewa hakim harus membuka diri pada peristiwa-peristiwa yang kongkrit. e) Van Hattum Dengan adanya keputusan Hoge Raad dengan itu menurut hemat saya (mer van Hattum) telah diterima ajaran sifat melawan hukum yang materiil oleh Hoge Raad dan telah dipecahkan persoalan mer azas-azas yang boleh dikatakan benar dalam ajaran “penentuan hukum” dewasa ini (in de hedendaagse leer Her rechtsvir onbetwist). Dalam hal ada keraguan mengenai sifat melawan hukum maka tidak boleh ada penjatuhan pidana.

Maka hakim harus benar-benar masyarakat yang mempertimbangkan : a). ialah masyarakat Pancasila mata. kedengaran apa agar yang sedang terjadi dalam tidak seluruh atas supaya Hakim putusannya dengan sumbang. . maka perlu dipertimbangkan betul- kebenaran keputusannya. baik secara formil maupun secara materiil. Berkaitan dengan hukum tertulis maka hakim dalam perkara kongkrit yang sedang dihadapi harus betul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menghapuskan kekuatan berlakunya peraturan yang tertulis dsb. Bagi mereka yang menganut ajaran sifat melawan hukum yang formil alasan pembenar itu hanya boleh diambil dan hukum yang tertulis.89 90 alat pembenar (rechtvaardigingsgrond). yang dibuat dengan sah. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. sedang penganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil alasan itu boleh diambil dan luar hukum yang tertulis. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. b). pikiran dan perasaan hakim harus tajam untuk dapat menangkap masyarakat. sebab tiaptiap keputusan harus memuat alasan yang mendasari keputusan mengetahui itu. Benarkah yang dipandang adil oleh suatu golongan dalam masyarakat biasa. yang dibuat dengan sah. c). maka perlu dipertimbangkan betulbetul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. Sampai dimanakah rasa keadilan dan keyakinan masyarakat dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. Ini adalah beban yang berat bagi hakim. juga dipandang adil / benar oleh seluruh bagaimanakah keadaan keadaan lebih-lebih masyarakat Indonesia dinamis yang bergerak menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan. harus kepribadiannya bertanggung jawab masyarakat pada umumnya.

Suatu negara yang mengakui azas nullum delictum dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif.91 92 Mengenai pengertian melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan : dalam fungsinya yang negatif Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di luar undang-undang. Memang di daerah yang bersangkutan ada anggapan bahwa hutang nyawa harus disaur dengan nyawa. maka dalam hal ini adanya unsur tersebut harus dibuktikan undang-undang. Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai sumber hukum yang positif. . meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam Kalau Seminar Hukum Nasional tersebut di atas menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil tentunya hal tersebut dalam fungsinya yang negatif. B. dalam fungsinya yang positif Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik. Ini adalah konsekwensi dari diterimanya azas legalitas untuk KUHP. Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum Unsur sifat melawan hukum itu ada dalam rumusan delik : 1. Nasional nanti dan masih berlakunya KUHP yang sekarang ini dimana juga masih tercantum azas seperti tersebut dalam pasal 1. Misal A membunuh B dengan alasan bahwa B telah membunuh C kakak dari A. ada yang tercantum dengan tegas. jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum.

Prof. jika tak disebut dalam rumusan delik.93 94 2. Ini terjadi jika seorang mengira telah melakukan delict. maka tidak perlu dibuktikan. Hazewinkel-Suringa memandang sifat melawan hukum hanya sebagai tanda ciri dari tindak pidana. Yang menganggap sifat melawan hukum mempunyai fungsi yang negatif adalah Simons. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang positif untuk dengan pertanyaan apakah ada pengecualian yang menyebabkan hapusnya sifat melawan hukum”. unsur dianggap dengan diam-diam ada. “ajaran sifat melawan hukum untuk hukum pidana pada umumnya hanyalah mempunyai hubungan Dalam pembicaraan unsur sifat melawan hukum ini ada delik disebut wahn delict atau putativ delict. b. ada pula yang tidak tercantum. maka harus dibuktikan. Terhadap delikdelik semacam itu ada perbedaan paham : a. van Hamel dan Zevenbergen. Yang menganggap sifat melawan hukum itu sebaliknya oleh terdakwa. mempunyai fungsi yang positif (merupakan unsur konstitutif) a. kecuali jika dibuktikan sesuatu delik (artinya ada delik kalau perbuatan itu bersifat melawan hukum). namun berpendirian. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang negatif (artinya : tidak ada unsur sifat melawan hukum pada perbuatan merupakan pengecualian untuk adanya suatu delik). Pendapat Simons.l. Beliau setuju. Sifat melawan hukum disini sebagai unsur konstitutif. Muljatno yang meskipun menganggap unsur sifat melawan hukum adalah syarat mutlak yang tak dapat ditinggalkan”. bahwa itu tidak berarti bahwa dalam lapangan procesueel (acara pemeriksaan perkara) sifat itu harus dibebankan pembuktiannya kepada penuntut umum. Putatif Delik . padahal perbuatannya itu sama sekali bukan suatu C. karena pada umumnya dengan mencocoki rumusan undang-undang sifat melawan hukumnya perbuatan sudah ternyata pula.

bahwa untuk adanya pertanggungjawab pidana diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung jawab.95 96 delik. Dalam literatur hukum pidana Belanda dijumpai beberapa definisi untuk “kemampuan bertanggung jawab”. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan bertanggung jawab. sebab perbuatannya itu tidak bersifat melawan hukum. Bilamana seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab ? Apakah ukurannya untuk menyatakan adanya kemampuan bertanggung jawab itu ? KUHP tidak memberikan rumusannya. apabila ia tidak mampu – . BAB V KESALAHAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 1. Pengertian Kemampuan Bertanggungjawab (Zurechnungsfahigkeit Toerekeningsvatbaarheid) Telah disebutkan.

hidupnya dengan cara yang patut” ? Adapun Memorie van Toelichting (memori penjelasan) secara negative menyebutkan mengenai kemampuan bertanggung jawab itu. sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan . Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri b. sebab masih dapat ditanyakan kapankah diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum b. antara lain demikian : Tidak ada kemampuan bertanggung jawab pada sipelaku Van Hamel : kemampuan bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan : a. bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan c. Mampu untuk menyadari. Dikatakan selanjutnya. Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undangundang. Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa. akan tetapi juga kurang jelas. bahwa seseorang mampu seseorang itu dikatakan “dapat mempertahankan bertanggung jawab.97 98 Simons : “kemampuan bertanggung jawab dapat Van Bemmelen : seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan ialah orang yang dapat mempertahankan hidupnya dengan cara yang patut. Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya-perbuatannya itu : a. yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan. yakni apabila : a. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. b. baik dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya”. Definisi van Bemmelen ini singkat. jika jiwanya sehat.

1. meliputi juga kesengajaan). Untuk dapat perbuatannya itu dilarang oleh undang-undang dan berbuat sesuai dengan pikiran atau perasaannya itu. orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya. yang mampu. kecuali dinyatakan sebaliknya (lihat pembahasan tentang dasar-dasar penghapus pidana). . Dengan perkataan lain. Dalam persoalan kemampuan bertanggung jawab itu ditanyakan apakah seseorang itu merupakan “normadressat” (sasaran norma). Seorang terdakwa pada dasarnya dianggap (supposed) mampu bertanggung jawab. Kesalahan 2. tetapi untuk setiap kali dalam kejadian yang kongkrit dalam praktek peradilan menilai jiwa seorang terdakwa dengan ukuran-ukuran tadi tidaklah mudah. dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat. Dalam hal ini berlaku asas “TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas. perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. Definisi-definisi tersebut memang ada manfaatnya. ia mampu untuk menilai dengan pikiran atau perasaannya bahwa 2.99 100 dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya. bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision). namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Pengertian Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Sebagai dasar untuk mengukur hal tersebut. apabila orang yang normal jiwanya itu mampu bertanggung jawab.

Asas “tiada pidana tanpa kesalahan” yang telah disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. artinya bahwa. sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang. 4 / 2004) berbunyi : Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. namun berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan. Dasar Pemikiran Filosofi dasar yang mempersoalkan kesalahan pembuktian undang-undang. Tidak berbeda dengan konsep yang berlaku dalam sistem hukum di Negara Eropa Kontinental. Dalam ilmu hukum pidana dapat dilihat sebagai unsur yang menjadi persyaratan untuk dapat dipertanggungjawabkannya pelaku berpangkal pada pemikiran tentang hubungan antara perbuatan pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada perbuatan orang beserta akibatnya (Tatstrafrecht atau Erfolgstrafrecht) ke arah hukum pidana yang dengan kebebasan kehendak. Untuk salah. menurut karena alat berpijak pada orang yang melakukan tindak pidana (taterstrafrecht). telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Mens rea merupakan subjective guilt melekat pada sipelaku subjective gilt ini berupa intent (kesengajaan setidak-tidaknya negligence (kealpaan). mendapat keyakinan. tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari Tatstrafrecht. adany pemidanaan harus ada kesalahan pada sipelaku. Arti aslinya ialah “evil will” “guilty mind”. penjatuhan pidana disyaratkan adanya kesalahan pada si pelaku. kecuali yang apabila sah pengadilan. unsur kesalahan sebagai syarat untuk penjatuhan pidana di Negara Anglo Saxon tampak dengan adanya maxim (asas) “Actus non facit reum nisi mens sit rea” atau disingkat dengan asas “mens rea”. Dengan demikian hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai Sculdstrafrecht. apabila ada orang yang dijatuhi pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. Mengenai hubungan . 2. Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman (UU No.101 102 Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dlam peraturan lain.2. dapat juga dikenal dari pepatah (Jawa) “sing seleh” (yang bersalah pasti salah). Akan bertentangan dengan rasa keadilan. Bahwa unsur kesalahan itu. bahwa seorang yang dianggap dapat bertanggung jawab.

dan bukannya pidana dalam arti penderitaan sebagai buah hasil kesalahan oleh si pelaku. tidak dapat dicela atas perbuatannya atau dinyatakan mempunyai kesalahan. maka tidak ada pencelaan. Tanpa ada kebebasan kehendak maka tidak ada kesalahan dan apabila tidak ada kesalahan. Tetapi reaksi terhadap perbuatan yang dilakukan itu berupa tindakan (maatregel) untuk ketertiban masyarakat.103 104 antara kebebasan kehendak dengan ada atau tidak adanya kesalahan ada 3 pendapat dari : a. yang bahwa kehendak bebas (free will) dan ini merupakan sebab dan segala keputusan kehendak. Aliran klasik yang melahirkan pada manusia pandangan dasarnya mempunyai tidak punya kehendak bebas. Ini berarti bahwa seseorang. itu tak berarti bahwa orang yang melakukan tindak pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Justru karena tidak adanya kebebasan indeterminisme. bahwa manusia kehendak itu maka ada pertanggungan-jawab dari seseorang atas perbuatannya. berpendapat. sebab ia . Dalam pandangan ketiga melihat bahwa ada dan tidak adanya kebebasan kehendak itu untuk hukum pidana tidak menjadi soal (irrelevant). Aliran positivist yang melahirkan pandangan determinisme mengatakan. sehingga tidak ada pemidanaan. Kesalahan Menurut Beberapa Sarjana tidak mempunyai kehendak bebas. Kesalahan seseorang tidak dihubungkan dengan ada dan tidak adanya kehendak bebas 1.3. b. Namun meskipun diakui bahwa tidak punya kehendak bebas. Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya oleh watak (dalam arti naPasalu-naPasalu manusia dalam hubungan kekuatan satu sama lain) dan motifmotif ialah perangsang-perangsang yang datang dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan watak tersebut. c.

d. dat bestaat uit een strafbaar feit en deswege een strafbare dader). Selanjutnya ia katakan : “Salah dosa berada. e. die aus der Strafcat einen personlichen begrunden). MEZGER mengatakan : kesalahan adalah c. dasarnya tanggungan jawab terhadap hukum pidana”.” dan dalam arti bahwa berdasarkan perbuatannya pelaku”. meliputi semua hal. keadaan dapat psychisch dicelakakan (jiwa) kepada itu si celaan. VAN HAMEL mengatakan. jika perbuatan dapat dan patut . di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat dari berbagai penulis. b. bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psychologis. VAN HATTUM berpendapat : “Pengertian keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku tindak pidana (Schuldist der Erbegriiffder kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum. KARNI yang mempergunakan istilah “salah dosa” mengatakan mengandung : “Pengertian Celaan salah ini dosa menjadi mengatakan antara lain : “Sebagai dasar untuk pertanggungan jawab dalam hukum pidana ia berupa keadaan psychisch dari si pelaku dan hubungannya terhadap perbuatannya. perhubungan antara keadaan jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. yang bersifat psychisch yang terdapat dapat Vcrraussetzungen. SIMONS mengartikan kesalahan itu sebagai pengertian yang “sociaal ethisch” dan Verwurf gegen den Tater keseluruhan yang berupa strafbaarfeit termasuk si pelakunya (al het geen psychisch is aan dat complex. a. Kesalahan adalah pertanggungan jawab dalam hukum (Schuld is de verant woordelijkheid rechtens)”.105 106 Guna memberi pengertian lebih lanjut tentang kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya.

Hubungan batin tersebut bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. pada kesengajaan hubungan batin itu berupa menghendaki perbuatan (beserta akibatnya) dan pada kealpaan tidak ada kehendak demikian. maupun dengan salah”. Jadi di sini hanya digambarkan (deskriptif) keadaan batin berupa kehendak terhadap dalam kepala sipelaku. Yang perbuatan atau akibat perbuatan. melainkan di dalam kepala orang-orang lain”. harus boleh dicela karena perbuatan itu. Segi dalamnya. tetapi di samping itu harus ada unsur penilaian atau unsur normatif terhadap perbuatannya. Pengertian kesalahan psychologisch. yang bertalian dengan kehendak si pelaku adalah kesalahan. Dalam arti ini kesalahan hanya dipandang sebagai hubungan psychologis (batin) antara pelaku dan perbuatannya. ialah di dalamkepala dari mereka yang memberi penilaian terhadap sipelaku itu. ialah apa yang seharusnya diperbuat oleh sipelaku secara extreem dikatakan bahwa “kesalahan seseorang tidaklah terdapat pelanggaran dilakukan kesalahannya. “Penilaian dari luar” ini merupakan pencelaan dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam masyarakat. perbuatan itu harus dilakukan. biasanya sifat melawan hukum itu merupakan segi luarnya. POMPE mengatakan norma antara yang lain : “Pada karena Pandangan yang normatif tentang kesalahan ini menentukan kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin atau hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya. f. Yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. Penilaian normatif artinya penilaian (dari luar) mengenai hubungan antara sipelaku dengan perbuatannya. perbuatan itu Dari pengertian-pengertian kesalahan dari beberapa sarjana di atas maka pengertian kesalahan dapat dibagi dalam pengertian sebagai berikut : . .107 108 dipertanggungkan atas si perbuat.Pengertian kesalahan yang normatif mengandung perlawanan hak. baik dengan sengaja.

pencelaan disini bukannya pencelaan berdasarkan kesusilaan. Di samping itu ada unsur lain ialah penilaian mengenai keadaan jiwa sipelaku. betapapun kecilnya. Bukan “ethische schuld”. Setidaktidaknya pelaku dapat dicela karena tidak menghormati tata dalam masyarakat. dan yang memuat segala syarat untuk hidup bersama. bahwa “das Recht ist das ethische Minimum”. yang dapat disamakan dengan pengertian dihindarkannya (vermijdbaar-heid) perbuatan yang melawan hukum Dari pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapatlah dimengerti bahwa kesalahan itu mengandung unsur “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”. melainkan “veranwoordelijkheid rechtens. yang berupa kesengajaan dan kealpaan tetap diperhatikan. akan tetapi hanya merupakan unsur dari kesalahan atau unsur dari pertanggung-jawaban pidana. Di dalam pengertian ini sikap batin si pelaku ialah. ialah kemampuan bertanggungjawab dan tidak adanya alasan pencelaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana. menurut akibatnya ia ada hal yang dapat hidupnya.4.109 110 memberi penilaian pada instansi terakhir adalah hakim. melainkan pencelaan berdasarkan hukum yang berlaku. yang terdiri dari sesama penghapus kesalahan. kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. untuk adanya kesalahan hemat kami harus ada pencelaan ethis. 1. seperti dikatakan oleh van Hamel. Kesalahan dalam Hukum Pidana Kesalahan ini dapat dilihat dari 2 sudut : a. itu berarti bahwa perbuatan itu dapat dicelakakan kepadanya. di . Ini sejalan dengan pendapat. menurut hakekatnya ia adalah hal dapat 1. dicelakakan (verwijtbaarheid) b. Jadi orang yang bersalah melakukan sesuatu perbuatan. Arti “kesalahan” dalam hukum Pidana Dalam hukum pidana kesalahan memiliki 3 pengertian yaitu : a. Namun demikian.

bahwa orang bersalah 2. kealpaan (culpa. adanya sipelaku kemampuan bertanggungjawab pada atau keadaan jiwa melakukan sesuatu tindak pidana. kesengajaan intention) atau 2. ialah kealpaan (culpa) seperti yang disebutkan dalam b. Dalam hal ini dipersoalkan sikap batin seseorang pelaku terhadap perbuatannya. . (dolus. Jadi apabila dikatakan. sipelaku harus normal. b.111 112 dalamnya terkandung makna dapat dicelanya (verwijtbaarheid) sipelaku atas perbuatannya. ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi sipelaku sehingga kesalahannya hapus. b. hubungan batin antara sipelaku dengan tertentu menjadi “normadressat” yang fahrlassigkeit atau negligence). misalnya dengan perbuatannya. tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada. Unsur-unsur dari kesalahan (dalam arti yang seluas-luasnya) Kesalahan dalam arti seluas-luasnya amat berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana dimana meliputi : a. Dengan diterimanya pengertian kesalahan (dalam arti luas) sebagai dapat maka dicelanya si pelaku atas perbuatannya. c. vorzatz atau (schuldfahigkeit artinya zurechnungsfahigkeit). opzet. yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). berubahlah pengertian kesalahan yang psychologis menjadi pengertian kesalahan yang normatif (normativer schuldbegriff). onachtzaamheid.2 di atas. kesalahan dalam arti bentuk kesalahan (sculdvorm) yang berupa : 1. maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. kesalahan dalam arti sempit. c. Disini dipersoalkan apakah orang mampu. Pemakaian istilah “kesalahan” dalam arti ini sebaiknya dihindarkan dan digunakan saja istilah “kealpaan”.

Kalau ini tidak ada. dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit) 2. 49 KUHP) Kalau ketiga-tiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah atau Itulah sebabnya. kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak ada perlunya untuk menerapkan kesalahan sipelaku. Dalam pada itu harus diingat bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti yang pidana) seluas-luasnya orang yang (strafbaarheid van de persoon). (pertanggungan jawab bersangkutan harus pula dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. artinya. maka kita harus senantiasa menyadari akan dua pasangan dalam syarat-syarat pemidaan ialah adanya : 1.113 114 adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (ps. . Sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum tidak dengan sendirinya mempunyai kesalahan. artinya tidak dengan sendirinya dapat dicela atas perbuatan itu. sehingga bisa dipidana. dapat dipidananya orangnya atau pelakunya mempunyai pertanggungan jawab pidana.

Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk dicelakakan kepada sipelaku itu.115 116 BAB VI KESENGAJAAN (DOLUS. melainkan hanya dapat membayangkannya. yang dengan sengaja. maka dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut dua teori sebagai berikut: a. Zevenbergen) . OPZET. INTENT. VORSATZ) mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu. mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons. Hubungan batin ini bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. yang sengaja tidak memberi susu kepada anaknya.T. (Memorie van Toelichting). Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. Teori-teori Kesengajaan Berhubung dengan keadaan batin orang yang berbuat Unsur kedua dari kesalahan dalam arti yang seluasluasnya (pertanggungjawaban pidana) adalah hubungan batin antara si pelaku terhadap perbuatan. 1. dapat diambil dari M. Jadi dapatlah dikatakan. (Pompe : 166). Teori ini menitikberatkan b. yang berisi menghendaki dan mengetahui itu. bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan. yang mengartikan “kesengajaan” (opzet) sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). orang tak bisa menghendaki akibat. Misal : seorang Ibu. Teori kehendak (wilstheorie) Inti Apakah yang diartikan dengan sengaja ? KUHP kita tidak memberi definisi. menghendaki dan sadar akan perbuatannya.v.

Motif suatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat misalnya cemburu. yang menunjukkan tingkatan atau bentuk dari kesengajaan sebagai berikut : a. kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn noodzakkelijkheidbewustzijn atau . (Frank). Perhatikan : haruslah ditoh:bedakan antara tujuan dan motif.117 118 pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat. Perbuatan sipelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. akibat yang memang dituju sipelaku. dengan sengaja dapat dibedakan 3 bentuk sikap batin. Misal : A menempeleng B. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat). kesengajaan yang biasa dan sederhana. Dalam hal delik materiil harus dihubungkan faktor kausa yang menghubungkan perbuatan dengan akibat (kausalitas) dimana : 1. dolus directus b. jengkel dsb. kedua-duanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat. c. Dalam praktek penggunaannya. Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. Amenghendaki sakitnya B 2. Perbedaannya adalah dalam istilahnya saja. Kalau akibat ini tidak akan ada. maka ia tidak akan berbuat demikian. kedua teori adalah sama. kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet) Bentuk kesengajaan ini merupakan bentuk Terhadap perbuatan yang dilakukan sipelaku kedua teori itu tak ada perbedaan. Bentuk Kesengajaan Dalam hal seseorang melakukan sesuatu agar B tidak membohong. Ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya.

R. Dalam batin si A. akibat yang tidak didinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam no. menghindarkan diri dari peradilan dunia dan hendak . yang tidak berdosa itu juga akan makan kue tersebut dan meninggal karenanya.119 120 2. oleh karena itu kesengajaan dianggap tertuju pula pada matinya istri B. B duduk di balik kaca jendela restoran. meskipun A tahu akan hal terakhir ini namun ia tetap mengirim kue tersebut. Jadi dalam kasus ini : Ada kesengajaan sebagai tujuan terhadap matinya B dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan kepastian atau keharusan sebagai syarat tercapainya tujuan. 1 tadi. Penembakan terhadap B pasti akan memecahkan kaca pemilik restoran itu. akibat ini pasti timbul atau terjadi. Contoh 1 : A hendak membunuh B dengan tembakan pistol. kematian tersebut tidak menjadi persoalan baginya. Ia ingin terhadap kematian istri B (Arrest H. A tahu bahwa ada kemungkinan istri B. Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula merupakan diperkirakan sipelaku sebagai Contoh 3 : Seorang yang melakukan penggelapan. merasa bahwa akhirnya ia akan ketahuan. 406 KUHP) ada kesengajaan dengan keinsyafan Contoh 2 : A hendak membalas dendam B yang bertempat tinggal di Hoorn. 9 Maret 1911) kemungkinan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus diemban sipelaku. A mengirim kue taart yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya. Terhadap terbunuhnya B kesengajaan merupakan tujuan sedangkan terhadap rusaknya kaca (ps.

121

122

membunuh dirinya dengan merencanakan sustu kecelakaan lalu – lintas, Ia menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada otobis yang berisi penumpang. Tujuannya agar uang asuransinya yang sangat tinggi (1 ton) itu dapat dibayarkan kepada soprnya. Tetapi ini gagal, ia tidak mati, hanya luka-luka. Beberapa penumpang bis mengalami luka dan seorang diantaranya luka yang membahayakan jiwa. R.v.J (Raad van Justitie) Semarang yang diperkuat oleh Hoogerechtshof dalam tingkat banding

3. Dolus Eventualis Dolus eventualis lahir karena suatu keadaan dimana sikap batin pelaku dimana pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu. Contoh: Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan lajunya di jalan dalam kota. Dimuka ia lihat

menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan penganiayaan berat. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut: Meskipun terdakwa tidak mengharapkan penumpangpenumpang bis mendapat luka-luka, namun akibat ini ada dalam kesengajaanya, sebab iatetap melakukan perbuatan itu, meskipun ia sadr akan akibat yang mungkin terjadi. Kasus ini adalah pengalaman Jokers, ketika menjadi Jaksa Tinggi (Officier van Justitie) pada R.v.J di Semarang.

sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila ia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa

menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatanya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan unuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia

mengiginkan akibat tadi, namun jelas ia menghendaki hal itu, dalam arti, meskipun ia sadar akan

kemungkinan tentang luka dan matinya anak ia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima

123

124

apa

boleh

buat

kemungkinan

itu,

dengan

Dalam kedua teori itu digambarkan, bahwa dalam batin si – pelaku terjadi suatu proses, bahwa ia lebih baik berbuat dari pada tidak berbuat. Disini ada suatu

melampiaskan naPasalunya untuk menegar kudanya. Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja. Bagaimanakah

yang tidak jelas, oleh karena itu disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”). Menurut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie

menerangkan adanya kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) ? Berdasarkan menetapkan teori dalam kehendak, batinnya, jika bahwa sipelaku ia lebih

“atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku berikut: a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, terhadap perbuatannya adalah sebagai

menghendaki perbuatan yang dilakukan itu, meskipun nanti akan ada akibat yang ia tidak harapkan, dari pada tidak berbuat, maka kesengajaan orang tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu. Berdasarkan teori pengetahuan, pelaku mengetahui / membayangkan akan kemungkinan terjadinyan akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangkan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat; maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hak itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.”

125

126

Dalam perdebatan di Eerste Kamsr mengenai W.v.S. Menteri Modderman mengatakan, bahwa

batin yang berupa kesengajaan (atau kealpaan) itu benar-benar ada pada pelaku. Orang tidak dapat secara pasti mengetahui mengetahui batin orang lain, lebih-lebih bagaimana keadaan batinnya pada waktu orang ini berbuat. Apabila orang ini dengan jujur menerangkan keadaan batinnya yang sebenarnya maka tidak ada kesukaran. Kalau tidak, maka sikap batinnya harus disimpulkan

“voorwaardelijkk opzet” (dolus eventualis) itu ada, apabila kehendak kita langsung ditujukan pada kejahatan tersebut, tetapi meskipun telah mengetahui bahwa keadaan tertentu masih akan terjadi, namun kita berbuat dengan tiada tercegah oleh kemungkinan terjadinya hal yang telah kita ketahui itu. Dengan teori apa boleh buat ini maka sebenarnya tidak perlu lagi untuk membedakan kesengajaan dengan sadar kepastian dan kesengajaan dengan sadar kemungkinan.

dari keadaan lahir, yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim baru mengobyektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh Van Bemmelen:

Dalam

uraian-uraian si-pelaku

diatas

penentuan dengan

tentang melihat A melepaskan tembakan kepada B dalam jarak 2 meter. Meskipun A mungkin, bahwa ia mempunyai

kesengajaan

adalah

bagaimana sikap batinnya perbuatan ataupun akibat perbuatannya. Demikian itu karena kesengajaan dipandang sebagai sikap batin pelaku terhadap perbuatannya. Dengan teori-teori itu diusahakan untuk menetapkan kesengajaan sipelaku Dalam kejadian konkret tidaklah mudah bagi Hakim untuk menentukan bahwa sikap

kesengajaan untuk membunuh B, namun Hakim tetap akan menentukan adanya kesengajaan tersebut, kecuali apabila dapat diterima alasan-alasan yang sangat masuk akal bahwa A tidak tahu pistol itu berisi

dilarang. bahwa perbuatannya dilarang dan/atau dapat dipidana b. untuk adanya kesengajaan perlu bahwa sipelaku menyadari bahwa perbuatannya menghendaki perbuatan yang dilarang itu. Dikatakan. Penganutnya antara lain Zevenbergen. yang mengatakan (dalam bukunya leerboek van het Nederlandsch Strafrecht. Jadi menurut pendirian yang pertama. ada sehingga ada pembebasan. bahwa pada sipelaku ada kesadaran.127 128 atau bahwa matinya B itu disebabkan karena kekhilafan dari A. harus ada hubungan antara keadaan batin si-pelaku dengan melawan hukumnya perbuatan. sedang ia tidak mengetahui bahwa . bahwa untuk adanya kesengajaan cukuplah bahwa sipelaku itu melawan hukum (dilarang). Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna (kleurloos). artinya sengaja untuk berbuat jahat (boos opzet). Hakim harus sangat berhati-hati. Kesengajaan tidak berwarna Kalau dikatakan bahwa kesengajaan itu tak berwarna. bahwa sengaja disini berarti dolus malus. maka itu berarti. di perlukan syarat. sifat kesengajaan itu berwarna dan kesengajaan melakukan pengetahuan sesuatu sipelaku perbuatan bahwa mencakup perbuatanya hubungannya perkataan adanya lain dengan tersimpul melawan adanya kesengajaan sifat kesadaran mengenai hukumnya perbuatan. halaman 169). Persoalan ini berhubungan dengan masalah: apakah untuk adanya kesengajaan itu sipelaku harus menyadari bahwa perbuatannya itu dilarang (bersifat melawan hukum) ? Mengenai hal ini ada 2 pendapat. Ia tak perlu tahu bahwa perbuatannya terlarang / sifat melawan hukum. ialah yang mengatakan bahwa: a. Dalam hal ini diragukan adanya kesenjajaan.” Untuk kesengajaan. Dapat saja sipelaku dikatakan berbuat dengan sengaja. tahun 1924. bahwa: Kesengajaan dengan dalam dolus senantiasa molus.

(bacalah ps. alasan bahwa (geobjektiveerd). bahwa ia melakukan suatu perbuatan yang menurut tata susila tidak dibenarkan (zadelijk ongeoorlooid) ? Cukupkah dengan adanya kesengajaan saja atau perlukah adanya “kesengajaanj jahat” (boos opzet) ? Jawabnya tidak akan lain dari pada itu. yang melawan hukum. 151 dan 152 dan bandingkan letak perkataan sengaja dalam kedua pasal tersebut).v. Penganut-penganutnya antara lain : Simons. itu dilarang atau bertentangan kesengajaan itu berwarna ialah kesalahan itu.T. ia tidak dapat dipidana. jadi termasuk kesengajaan. Menurut M. Sebaliknya. Pompe. Jonkers. Perumusan Unsur Sengaja dalam KUHP Apabila ia sama sekali tidak sadar akan itu. artinya dilepaskan dari kekuasaan kesengajaan.T. mengatakan demikian : “Akan tetapi untuk berbuat dengan sengaja itu apakah sipelaku tidak harus menyadari. bahwa “unsur-unsur delik yang terletak 4.v. dibelakang perkataan opzettelijk (dengan sengaja) dikuasai atau diliputi olehnya”. membuktikan terdakwa perkataan “opzettelijk” disebut “diobjektip-kan” kesadaran atau pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan itu. Unsur yang terletak di muka M. Oleh Keberatan terhadap pendirian bahwa kesengajaan itu berwarna ialah akan merupakan beban yan berat bagi jaksa apabila untuk membuktikan adanya kesengajaan.v. Jadi tidak perlu dibuktikan bahwa . bahwa tiap pada kali ia harus ada karena itu pembentuk undang-undang menetapkan dengan seksama dimana letak perkataan “opzettelijk” itu. memuat suatu asas yang mengatakan antara lain.T. tidak perlu ada “boos opzet”.129 130 perbuatannya dengan hukum. berisi bahwa sipelaku harus sadar bahwa perbuatan itu keliru. M. meskipun pada kenyataannya ia melakukan perbuatan yang dilarang.

.... ialah apa yang disebut “Tendenz-delikte” atau “Absicht-delikte”. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur ”met het oogmerk om. Ada pengecualiannya.131 132 kesengajaan sipelaku ditujukan kepada hal tersebut.. dari Unsur ini yang diobjektipkan. misalnya pada delik pencurian (ps.. sehingga tak perlu dibuktian bahwa kesengajaan pelaku ditujukan kepada hal tersebut yang diobjektipkan. Lihat ps.)... Demikianlah teknik perundang-undangan yang diikuti oleh KUHP dalam teks Belanda. Kesengajaan disini harus ditujukan kepada hal-hal apa saja ? Pecahkanlah sendiri ! Dalam hal itu asas yang dianut M. yang sebenarnya bukan teks resmi. Lihat ps. perlu mengikuti KUHP sepenuhnya...... itu tidak berlaku untuk semua delik. (dengan tujuan untuk). seperti halnya ps.... untu melihat teks aslinya ialah teks Bahasa Belanda dan mendasarkan penafsiran pada teks tersebut. melainkan unsur melawan atau hukum arah subjektif. Yang menjadi masalah ialah apabila kita menghadapi KUHP dalam teks Bahasa Indonesia.. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur “met het oogmerk om ..v. yang disebut di belakang perkataan sengaja.T. apakah artinya sipelaku yang tidak perlu atau ditanyakan mengetahui menghendakinya. 152. 187 KUHP..(dengan tujuan untuk. 362).. pemalsuan surat (ps... 263). misalnya dalam delik pencurian (pasal 362).. ialah yang disebut “Tendenz-delikte” atau Absicht-delikte”. Menghadapi teks terjemahan yang diusahakan oleh beberapa penulis sekarang ini tidak ada jalan lain bagi pelaksana hukum misalnya hakim. Tata bahasa kedua bahasa itu tidak sama.. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. 303 KUHP. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. menyusun kalimat tentunya tidak dapat atau tidak ... oleh karena itu teknik perundang-undangan dalam memberi. pemalsuan surat (pasal 263)..sifat perbuatan dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan.. Di sini ada keadaan-keadaan. ialah “dapat terjadinya bahaya umum atau bahaya maut tersebut”.

Kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan kepada sifat melawan hukumnya perbuatan.. Dalam rumusan (dalam bahasa Belanda) yang demikian ini menjadi persoalan apakah sifat melawan hukumnya perbuatan juga hal harus ini diliputi terdapat oleh tiga “sengaja” dan perkataan “melawan hukum”.... maka ia tak dapat dipidana.. dengan perkataan lain sifat melawan ...... dalam merumuskan sesuatu delik. Apabila ia dengan iktikad baik (te goeder trouw) mengira....... Contoh: Pasal 333: Hij die opzettelijk iemand wederrechtelijk van devrijhiid berooft of berooft houdt... vernielt....1. disamping ia berbuat dengan sengaja. terdapat bentuk rumusan: Sengaja tanpa ada rumusan unsur melawan hukum (wederrechtelijk) Sengaja melawan hukum (wederrechtelijk) tanpa kata dan Meyisipkan kata “dan” diantara perkataan pelaku harus tahu... beschadigt..... Unsur ini memberi sifat atau arah dari perbuatan yang dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan. wordt.. onbruik baar maakt of wegmaakt. bahwa ia dalam keadaan tertentu boleh merampas kemerdekaan seseorang. Disini ada kesesatan yang bisa membebaskan.. Kata “dan” Dalam KUHP (teks Belanda).133 134 melainkan unsur melawan hukum yang subjektif. Pasal 406: Hij die opzettelijk en wederrechitelijk enig goed dat geheel of ten deele aan een onder toebe hoort.. 4.. Perkataan “en” (dan) menunjukkan kedudukan yang sejajar. Dalam pasal ini jelas bahwa kesengajaan meliputi melawan hukumnya perbuatan dengan perkatan lain kesengajaan.. bahwa perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan hukum.. pandangan: Mengenai a. jadi merumuskan sebagai “sengaja dan melawan hukum” (opzettelijk en wederrechtelijk).

Zevenbergen. 21 Desember 1914 dimuat antara lain : karena antara unsur kesengajaan dan unsur melawan hukum ada perkataan “en”.135 136 hukum ini diobjektipkan. Dalam arrest tgl. Bagi Prof. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya Langemeyer mengikuti pendapat yang ketiga. b. perkataan “sengaja” dan perkataan “melawan hukum” tidak mempunyai arti. Unsur sifat melawan hukum itu pendapat ini justru mengartikan sengaja dan . kesengajaan sipelaku harus ditujukan kepada melawan hukumnya perbuatan. si-pekerja tidak dapat dipidana karena ia sama sekali tidak mengetahui sifat melawan hukumya perbuatan yang ia lakukan. Contoh pasal 406 : Seorang pekerja yang mendapat perintah dari pemilik rumah untuk membongkar rumahnya. Muljatno perkataan “dan” diantara Berbeda dengan pendapat ke 2 tersebut. Jadi menurut pendapat ini dalam contoh tersebut di atas. sesuai dengan asas. melawan hukum” dapat dibaca “sengaja dan melawan hukum”. Van Hamel. tanpa diketahui olehnya rumah itu ganti pemilik. Hoge Raad mengikuti pendapat pertama. yang berarti dua hal yang terpisah dan tidak berpengaruh satu sama lain. c. Ia terus saja membongkar. Semua delik yang menurut unsur “sengaja yang pertama. Sipelaku tidak perlu tahu bahwa perbuatannya melawan hukum. pendapat ini diragukan. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya. Ia merusak dengan sengaja dan dengan melawan hukum. Ia dapat dipidana. tetapi sebelum melawan hukum “sebagai” sengaja melawan hukum. bahwa semua unsur yang terletak di belakang perkataan sengaja dikuasai olehnya. sedang Vos. Jadi meskipun ada perkataan dan. maka unsur melawan hukum tidak diliputi oleh kesengajaan. Simons. Pompe menganut pendapat melaksanakan perintah tersebut. meskipun tidak ada perkataan “en” (dan) tersebut : Dalam hukum.

sipelaku menghendaki atau A atau B. Menurut M.v.137 138 harus dikuasai oleh unsur kesengajaan. memikirkan secara wajar apa yang ia lakukan atau yang akan ia lakukan. van bedaard nedenken). c. 5. akibat yang satu atau yang lain “voorbedachte rade” diperlukan “saat memikirkan dengan tenang” (een tijdstip van kalm overleg. sedang pada indeterminatus pelaku misalnya menembak ke arah gerombolan orang atau menembak dahulu” (met voorbedachte rade) sebagai unsur yang menentukan dalam pasal. Pelaku harus tahu bahwa yang dilakukan itu bersifat melawan hukum. dolus determinatus dan indeterminatus Dalam ilmu pengetahuan dikenal beberapa macam kesengajaan : a. 342 KUHP. dan sebagainya. 340. atau meracun reservoir air minum. Kesengajaan Menurut Doktrin rencana lebih dulu”. untuk penumpang-penumpang dalam mobil yang tidak mau disuruh berhenti. pelaku misalnya menghendaki dolus matinya orang tertentu.T. Ini terdapat dalam delik-delik yang dirumuskan dalam pasal 363. Istilah tersebut meliputi bagaimana terbentuknya “kesengajaan” dan bukan merupakan bentuk atau tingkat kesengajaan. b. si pelaku sebelum atau ketika melakukan tindak pidana tersebut. dolus premeditatus Bentuk ini mengacu pada rumusan delik yang mensyaratkan unsur “dengan rencana lebih Unsurnya ialah pendirian bahwa kesengajaan dapat lebih pasti atau tidak. dolus alternativus Dalam hal ini. Pada dolus determinatus. Untuk dapat dikatakan “ada .

bahwa semua akibat dari perbuatan yang dipertanggung-jawabkan atas semua akibatnya. Macam dolus ini masih dikenal oleh Code Penal Perancis. disengaja.menurut melakukan ajaran perbuatan ialah ini versari seseorang terlarang in re yang juga Misalkan membunuh seseorang orang yang lain. dolus indirectus. itu dianggap sebagai hal yang ditimbulkan dengan sengaja. Ajaran ini dengan tegas ditolak oleh pembentuk undang-undang. illicita. bermaksud telah untuk melakukan serangkaian perbuatan misalnya mencekik dan kemudian melemparnya ke dalam sungai. B jatuh dan dilindas mobil. Ajaran dolus indirectus ini mengingatkan orang kepada ajaran kuno (hukum kanonik) tentang pertanggung-jawab. e. Di Inggris dan Spanyol pengertian dolus indirectus adalah sama dengan apa yang kita sebut “dolus eventualis”. diduga atau tidak diduga. apabila dari suatu perbuatan yang dilarang dan dilakukan dengan sengaja timbul akibat yang tidak diinginkan. dolus directus Ini berarti. dolus generalis Pada delik materiil harus ada hubungan kausal antara perbuatan terdakwa dan akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. Dolus ini ada.139 140 d. Menurut . dituju atau tidak dituju. Ini oleh Code Penal dipandang sebagai “meutre”. Hazewinkel-Suringa menganggap hal ini sebagai suatu pengertian yang tidak baik. Dipertanggung-jawabkan dalam hukum pidana. Misalnya A dan B berkelahi. A memukul B. meskipun akibat itu tidak dapat dibayangkan sama sekali olehnya dan timbul secara kebetulan. f. melainkan juga kepada akibat perbuatannya. bahwa kesengajaan sipelaku tidak hanya ditukaun kepada perbuatannya. Versari in re illicita Ajaran tentang “dolus indirectus” mengatakan.

Akan tetapi air pasangnya tidak setinggi yang matinya orang karena diharapkan. namun bayinya mati karena kelaparan . sedang perbuatan kedua dan kedinginan. menaruh bayi itu di pantai dengan harapan agar dibawa oleh arus pasang. maka disini menurut von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan.141 142 otopsi (pemeriksaan mayat) matinya orang ini disebabkan karena tenggelam. Pendirian von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. dalam arrestnya tanggal 26 Juni 1962. Menurut ajaran kuno disini ada dolus generalis. Pendirian Von Hippel ini sama dengan pendapat H.R. (melempar ke kali) merupakan perbuatan yang terletak / di luar lapangan hukum pidana atau “menyebabkan kealpaannya”. Meskipun jalannya peristiwa tidak tepat seperti yang dibayangkan oleh sipelaku. Perbuatan pertama (mencekik) dikualifikasikan sebagai “percobaan pembunuhan”. Hazewinkel-Suringa menganggap hal tersebut secara dogmatis tidak tepat. Simons menyetujui jenis dolus ini. ialah harapan dari terdakwa secara umum agar orang yang dituju itu mati. bagaimanapun telah tercapai. jadi pada waktu dilempar ke air ia belum mati. namun karena akibat yang dikenhendaki telah terjadi. Contoh : Seorang Ibu yang ingin melepaskan diri dari bayinya.

NALATIGHEID. dat de wet ook de peletusan. die de algemene vefligheid van onen of goederen zozeer in gevaar brengen of zo groot en onherstelbaar nadeel sipenyimpan bijzondere personen berokkenen. ia sembrono. kebakaran dst Pasal 231 (4) : Karena kealpaannya . sedang dalam arti sempit adalah bentuk kesalahan yang berupa kealpaan. SEMBRONO. : Karena kealpaannya menyebabkan orang luka berat dsb. SCHULD. Perkataan culpa dalam arti luas berarti kesalahan pada umumnya. Delik-delik itu dimuat antara lain dalam : Pasal 188 : Karena kealpaannya menimbulkan FAHRLASSIGKEIT. teledor. larangan pendek penghati-hati. Hal ini terdapat dalam beberapa delik. kata “ schuld” sikap sembrono yang (kealpaan menyebabkan keadaan tadi)”. Disamping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan.143 144 BAB VII KEALPAAN (CULPA) Pasal 359 : menyebabkan hilangnya dan sebagainnya barang yang disita Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang Pasal 360 (CULPA dalam arti sempit). sehingga umdang-undang juga bertindak terhadap (teledor). TELEDOR).NEGLIGENCE.(er zijn feiten. Pasal 409 : Karena kealpaannya menyebabkan alat-alat perlengkapan (jalan api dsb) hancur dsb. Ini adalah delik-delik culpa (culpose delicten). Akibat ini timbul karena ia alpa. RECKLESSNESS. Dalam buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat unsur kealpaan. Suatu keadaan. membahayakan keamanan orang atau atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi. yang sedemikian barang. ia berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga.

schuld. c. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum.145 146 onvoorzichtigheid. (anachtzaamheid): . het gebrek aan voorzorg. Van hamel Kealpaan mengandung dua syarat: 1. dapat diduganya akibat d. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum. Pompe.v.kealpaan b. in een woord. 2. 2. akan tetapi bukannya kesengajaan yang ringan. waar het feit prong heeft. di samping Ilmu pengetahuan hukum dan jurispruden 2. Beberapa penulis menyebut beberapa syarat untuk adanya kealpaan: a. Ada 3 macam yang masuk kealpaan mengartikan “schuld” (kealpaan) sebagai: 1. Pengertian kealpaan atau culpa (dalam arti sempit) Menurut M.T kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dengan kesengajaan dan dipihal lain dengan hal yang kebetulan (toevel atau caous). kekurangan penduga – duga atau kekurangan penghati-hati. Tidak adanya penghati-hati. merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. Hazenwinkel – Suringa Simons: Pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. moet tekeer gaan”) 1. de tigheid.

U. Untuk menentukan adanya kealpaan ini harus dilihat peristiwa demi peristiwa. maka ia dapat dikatakan karena kealpaannya mengakibatkan orang lain seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umunya apabila ada dalam situasi yang sama dengan si-pelaku itu. Dapat mengirakan (kunnen venvachten) timbulnya akibat 2. apabila datangnya bersamaan waktu maka kendaraan dari kiri harus didahulukan”.147 148 1. dan tidak secara fisik atau psychis. Misalnya.H. “Orang pada umunya” ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat. 360 (1) K. dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa” di simpangan jalan. Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguh-sungguhnya maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana untuk tidak melakukan sesuatu. maka apabila perbuatannya itu mengakibatkan tabrakan. Yang harus memegang ukuran normatif dari kealpaan itu adalah Hakim. paling ahli dan sebagainya.P) . (Pasal. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif. Mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid) 3. paling hatihati. Apabila seorang pengendara dalam hal ini berbuat lain ini berbuat lain daripada apa yang diatur itu. Sehingga orang lain luka berat. Undang-undang mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau Tetapi nomor 2 dan 3 hanya apabila mengetahui atau dapat mengetahuinyaitu menyangkut juga kewajiban untuk menghindarkan perbuatannya (=untuk tidak melakukan perbuatan). Dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid) a. b.

c. Perbedaan itu bukanlah berarti bahwa kealpaan yang disadari itu sifatnya lebih berat dari pada kealpaan yang tidak disadari. namun culpa menunjukkan kepada tidak patutnya perbuatan itu dan jika perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum. bahwa dalam delik-delik culpa sifat melawan hukum telah tersimpul di dalam culpa itu sendiri. Kealpaan yang tidak disadari (onbewuste schuld).149 150 Dalam hubungan ini VOS mengemukakan.pelaku tidak berjalan secara tepat. Karena Bentuk kealpaan dapat dibagi dalam 2 (dua bentuk) yaitu a. jadi tidak mungkin ada culpa. Pada delik culpoos kesadaran si. Kealpaan yang disadari (bewuste schuld) Disini sipelaku dapat menyadari tentang apa yang dilakukan beserta akibatnya. Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar. Dalam hali ini si pelaku melakukan sesuatu yang tidak menyadari kemungkinan akan timbulnya abnormal. akan tetapi ia percaya dan mengharap-harap bahwa akibatnya tidak akan terjadi b. jadi harus culpa lata dan bukanya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan). maka tidaklah mungkin perbuatan itu perbuatan yang 2. Kerapkali justru karena tanpa berfikir akan kemungkinan timbulnya akibat malah terjadi akibat yang . Dalam diajukan delik alasan culpoos tidak mungkin (rechtvaar pembenar digingsgrond). sesuatu akibat. Ia menyatakan antara lain “Memang culpa tidak mesti meliputi dapat dicelanya si-pelaku. Bentuk kealpaan Pada dasarnya orang berfikirdan berbuat secara sadar. padahal seharusnya ia dapat menduga sebelumnya.

360. Pada delik-delik kesusilaan (pasal 287 dan pasal 288) ditujukan kepada “umur-wanita belum lima belas tahun. Penentuan kealpaan seseorang harus dilakukan dari luar. 188. bahwa belum mampu dikawin”. VAN HATTUM mengatakan. Muljatno menamakan delik-delik tersebut sebagai delik yang salah satu unsurnya diculpakan. 288. Misalnya: itu”. Pada delik-delik ini kesengajaan atau kealpaan hanya tertuju kepada salah tertuju kepada salah satu unsur dari delik itu. Pada delik-delik Pasal 483 dan Pasal 484 ditujukan kepada unsur “pelaku/orang yang Pasal 480 (penadahan) . atau kalau umurnya tak ternyata. Pasal 287. Delik “pro parte dolus pro parte culpa” Delik-delik yang di-rumuskan dalam pasal 359. bahwa Pasal 483. 3. 292 (delik-delik kesusilaan). 409 dapat disebut delik-delik culpoos dalam arti yang sesungguhnya. yang tidak merupakan dolus eventualis”. harus disimpulkan dari situasi tertentu. Pada delik penadahan ditujukan kepada hal “bahwa barang yang bersangkutan diperoleh dari kejahatan”. Disamping itu ada delik-delik yang di dalam perumusanya memuat unsur kesengajaan dan kealpaan sekaligus.151 152 sangat berat. sedang ancaman pidananya sama. Pada delik Pasal 292 ditujukan kepada unsur “ belum cukup umur dari orang yang sama kelamin “kealpaan yang disadari itu adalah suatu sebutan yang mudah untuk bagian kesadaran kemungkinan (yang ada pada pelaku). 484 (delik yang menyangkut pencetak dan penerbit). Kealpaan merupakan pengertian yang normatif bukan suatu pengertian yang menyatakan keadan (bukan feitelijk begrip). Hemat kami perbedaan tersebut tidak banyak artinya. bagaimana saharusnya si-pelaku itu berbuat. Rumusan yang dipakai dalam delik-delik tersebut ialah “diketahui” atau “mengerti” bentuk kesengajaan dan “sepatutnya harus di-duga” atau “seharusnya menduga bentuk kealpaan.

G. b. seharusnya ia Apabila dapat “schuldheling” (pasal 480). Seorang pengemudi mobil pada pagi hari jam 03. Pengendara gerobag alpa. tidak dapat dituntut. jadi tidak dilihat apakah terdakwa mengetahui. maka ini merupakan kealpaan. atau menetap diluar Indonesia. c. yang membebaskan terdakwa yang dituduh melakukan kurang-menduga-duga ? bagaimana keadaan mobilnya ? kalau lampunya kurang terang. maka ini merupakan lampunya indikasi normal. Cukup dicantumkan uraian kata-kata presis seperti apa yang dirumuskan dalam undang-undang. . Kalau tidak. bahwa diperoleh dari kejahatan”. Arrest Hooggerchtshof (dalam tingkat kasasi) yang membatalkan keputusan Raad van Justitie Medan. dengan sama mengetahui orang yang tidur di jalan itu.153 154 menyuruh cetak pada saat penerbitan. terdakwa sebagai pengendara mobil tetap dipidana karena ia pada malam hari menabrak gerobag yang tidak memakai lampu. Hooggerechtshof (H.00 melanggar sekaligus 4 orang yang sedang tidur di tengah jalan raya. yang diketahui atau sepatutnya harus diduga. Pembuktiannya cukup secara normatif. Ada dan tidak adanya kealpaan itu harus sekali tidak menagnggap penting apakah terdakwa betulbetul mempunyai dugaan atau tidak. Dalam kasus inipun tidak boleh dilihat “kealpaan orang lain”. akan tetapi tetap harus ditinjau ada dan tidak adanya kealpaan pada pengemudi mobil.H) menyatakan bahwa wet tidak mengharuskan adanya dugaan pada terdakwa sepatutnya harus menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan. dari maka kealpaannya. jadi misalnya untuk delik dalam pasal 480 : benda). Contoh : a. Dalam surat dakwaan: a. b. tetapi ini tidak meniadakan kealpaan terdakwa. Kelapaan orang lain tidak dapat meniadakan kealpaan dari terdakwa. apakah ia kurang hati-hati dan dibuktikan dalam pemeriksaan pengadilan ditetapkan oleh Hakim.

155 156 BAB VIII KESALAHAN DALAM DELIK PELANGGARAN Dalam hal ini berlakulah ajaran “fait materiel” (de leer an het matericle feit ajaran perbuatan materiil) dimana menurut M. A.. Pada tidak pidana berupa kejahatan diperlukan adanya kesengajaan atau kealpaan. maka tidak perlu dicantumkan dalam surat tuduhan dan juga tidak perlu dibuktikan. pula tidak perlu memberi keputusan tentang hal tersebut.T.R tanggal 14 Pebruari 1916 (arrest air dan susu). Dalam rumusan tindak pidana berupa pelanggaran pada dasarnya tidak ada penyebutan tentang kesengajaan atau kealpaan. Pasal 303a dan 344 Peraturan Polisi Umum mengancam dengan pidana Barang siapa melever susu dengan nama susu murni. Yang mengedarkan susu itu D. sebab kalau tidak tercantum dalam rumusan Undang-undang. Pada suatu ketika susu yang dilever oleh D itu ternyata tidak murni (dicampur air). Soalnya apakah terdakwa berbuat/tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Undang-undang atau tidak. . Contoh : arrest H. : Pada pelanggaran hakim tidak perlu mengadakan pemeriksaan secara khusus tentang adanya kesengajaan.v. lagi Persoalan kesalalahan pada tindak pidana berupa pelanggaran. Dalam undang-undang unsur-unsur dinyatakan dengan tegas atau dapat diambil dari kata kerja dalam rumusan tindak pidana itu. pelayan. padahal dicampur Duduk perkara. Hal ini penting untuk hukum acara pidana. pengusaha (veehouder) menyuruh melever susu kepada para langganan. bahkan adanya kealpaan juga tidak.B. D tidak tahu menahu tentang hal itu. artinya tidak disebut apakah perbuatan dilakukan dengan sengaja atau alpa.

c. dan terhadap alasan yang dikemukakan oleh A. sebab telah memutuskan secara tidak benar bahwa A. . tanpa menyelidiki terlebih dahulu apakah pelaku materiil (ialah D) tidak bertanggung-jawab atas perbuatan itu. dengan alasan yang lebih kurang demikian: a.B. pembentuk Undang-undang menyetujui sistem. Hal mana tidak diketahui oleh D.H.B. orang yang berbuat harus dipidana yang terdapat dalam Undangundang. Rechtbank Amsterdam salah menerapkan Pasal 47 W. dituntut dan dalam tingkat banding dijatuhi pidana. yang memaksa untuk menganggap dalam hal unsur kesalahan tidak dicantumkan dalam rumusan delik.v. mengajukan kasasi. memberi pertimbangan antara lain sebagai berikut: a.U. A. sekalipun ternyata tidak ada kesalahan sama sekali (asas : afwezigheid van alle schuld). tidak terjadi persoalan apakah pelaku materiil (D) dianggap tidak berhak untuk menyelidiki murni dan tidaknya susu yang disuruh melevernya. lebih-lebih pasal 303a dan 344 tersebut mengancam dengan pidana barang siapa melever susu yang tidak murni tanpa memandang ada kesalahan atau tidak.v. akan tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali (geheel gemis van schuld) peraturan ini dapat diterapkan kepada. khususnya dalam pelanggaran. H. Ini merupakan tindak pidana berupa pelanggaran. telah menyuruh lakukan perbuatan yang dituduhkan.S Belanda (Pasal 55 K. c.R. memang dalam pasal 303 tidak disebut dengan tegas bahwa orang yang melakukan perbuatan itu harus mempunyai kesalahan (“enige schuld”). b. terutama dalam riwayat W.157 158 dengan sesuatu (tidak murni). Permohonan kasasi ini ditolak oleh Hooge Raad.S.P).B. Telah dinyatakan terbukti bahwa penuntut kasasi (A A. tidak ada suatu alasanpun. B) telah menyuruh pelayannya (D) untuk melever susu dengan sebutan “susu murni” padahal dicampur dengan air. b.B.

dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian. Arrest air dan susu penting untuk perkembangan hukum pidana. ajaran “fait materiel” pada pelanggaran ditinggalkan. BAB IX PIDANA DAN PEMIDANAAN (HUKUM PENITENSIER) Sebelum membahas materi ini terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan pidana dan pemidanaan. maka: a.159 160 d. Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana/sentencing sebagai upaya yang sah yang dilandasi oleh hukum . Adapun Proses Peradilan Pidana (the criminal) justice process) merupakan struktur. b. Dengan arrest itu. kejaksaan. fungsi. yang bertentangan dengan rasa keadilan dan asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” yang juga dianut dalam hukum pidana kita. Diakui untuk pertama kalinya oleh badan pengadilan yang tertinggi (Belanda) berlaku asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld). Untuk menerima sistim tersebut (dalam c).pengadilan & lembaga pemasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan & pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan. hal ini harus tegas-tegas ternyata dalam rumusan delik. Pidana merupakan nestapa/derita yang dijatuhkan pengadilan) dengan dimana sengaja nestapa oleh itu negara (melalui pada dikenakan seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana dan nestapa itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana.

hukuman. Bentuknya berupa konsekwensi yang menderitakan. Tempat sanksi itu dijalankan. 2.dan 5. Sanksi berupa pidana maupun tindakan inilah yang akan dipelajari oleh hukum penitensier. sebagai pranata sosial. Dalam hal ini pidana sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. hukum penitensier ini merupakan sebagaian dari hukuman pidana positif yaitu bagian yang menentukan: 1. Jadi pidana berbicara mengenai hukumannya dan pemidanaan berbicara mengenai proses penjatuhan hukuman itu sendiri. menurut pendapat Moeljatno: lebih tepat ”pidana” untuk dinamakan Hukum Penitensier/Hukum Sanksi. Beratnya sanksi itu.161 162 untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dn meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. Menurut beberapa ahli hukum pidana lain. Pidana perlu dijatuhkan pada seseorang yang melakukan pelanggaran pidana karena pidana juga berfungsi (matregelstelsel). Cara sanksi itu dijalankan. Lamanya sanksi itu dijalani. menurut Utrecht. Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai sistem hukuman (strafstelsel) dan sistem tindakan . 4. ISTILAH Ada beberapa istilah yang digunakan untuk materi ini. yakni norma yang mencerminkan nilai dan struktur masyarakat yang merupakan terhadap reafirmasi “hati nurani simbolis bersama“ atas pelanggaran bentuk sebagai ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu. Hukuman. Straf. atau setidaknya tidak menyenangkan. 3. Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan Punishment. al: Hukum Penitensier. Jenis sanksi terhadap suatu pelanggaran dalam hal ini terhadap KUHP dan sumber-sumber hukum pidana lainnya (UU pidana yang memuat sanksi pidana dan UU non pidana yang memuat sanksi pidana). Hukum Sanksi. dan Jinayah.

Sedangkan R.Soesilo. jalan satu-satunya/tiada jalan lain). Dipukul. 2. Di samping itu hukum pidana merupakan ultimum remedium (senjata pamungkas. yang hukum bersifat pidana istimewa: merupakan sanksi terkadang dikatakan melanggar HAM karena melakukan perampasan terhadap harta kekayaan (pidana denda). Dibakar hidup. 3. 4. 22 April 1808. 1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordansi). Dicap bakar. unsur-unsur atau ciri-ciri pidana meliputi: 1. peristiwa pidana menurut UU ( orang memenuhi rumusan delik/pasal). Menurut Utrecht suatu dan R. Dimatikan dengan suatu keris 3.163 164 menerjemahkan straf. Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief. terikat pada suatu tiang (hanya untuk pelaku pembakar/pembunuh) 2. Dikenakan pada seseorang penanggung jawab Pengadilan berdasarkan plakat tgl. SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA Pidana dan pemidanaan di Indonesia dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (Wvs) diundangkan yaitu tahun 1915 dan berlaku di indonesia berdasarkan UU No. Suatu pengenaan penderitaan/nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. Kerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang). jalan terakhir. al: 1. Ditahan/dimasukkan dalam penjara 6. Sudarto juga berpendapat Jenis-jenis hukuman yang dapat dijatuhkan oleh demikian. . Soesilo mendefinisikan pidana / hukum sebagai perasaan tidak enak / sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar UU Hukum Pidana. dipukul dengan rantai (pidana badan/corporal punishment) 5. pembatasan kebebasan bergerak/kemerdekaan orang (pidana kurungan/penjara) dan perampasan terhadap nyawa (hukuman mati).

Teori relatif / tujuan (utilitarian). Hegel. menyatakan bahwa penjatuhkan hukuman harus memiliki tujuan tertentu. Teori-Teori yang berkaitan dengan Pemidanaan Tujuan Pemidanaan Menurut Doktrin 1. Utrecht juga menambahkan bahwa negaralah yang berhak melakukan hal tersebut. menjatuhkan. para penganutnya antara lain E.Leo Polak. Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika) b. Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis). 1. karena perbuatan tersebut bertentangan dengan tata tertib negara (dilihat dari sudut obyektif). hukuman harus memenuhi 3 syarat: a. dalam hal ini KUHP merupakan peraturan yang dibentuk oleh negara dan perbuatannya merupakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pelaku (dilihat dari sudut subyektif). mengingat. sehingga bersifat seyogyanya hukuman memperbaiki/merehabilitasi karena pelaku kejahatan . Hukuman pada umumnya bersifat menakutkan. 2. Menurut Leo Polak (aliran retributif). Negara sebagai satu-satunya alat yang dapat menjamin kepastian hukum.165 166 Selanjutnya kita akan membahas siapakah pihak yang berhak menuntut. Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik. bukan hanya sekedar sebagai pembalasan. Mereka berpandapat bahwa hukum adalah sesuatu yang harus ada sebagai konsekwensi dilakukannya kejahatan dengan demikian orang yang salah harus dihukum. 2. Beysens seperti dikutip oleh Utrecht menyatakan pada dasarnya negaralah yang berhak. Kant. Tidak bboleh dengan maksud prevensi (melanggar etika) c. Negara sebagai organisasi sosial tertinggi oleh karena itu sangat logis jika negara diberi tugas mempertahankan tata tertib masyarakat. dan memaksa pelaku untuk menjalankan pidana.

atau kejahatan lain (prevensi khusus). . merupakan gabungan dari teori-teori sebelumnya. 3.167 168 adalah orang yang “sakit moral” sehingga harus diobati. supaya jera/kapok. Pemahaman ini telah diakomodir oleh R-KUHP tahun 2005. tidak disakiti. tidak merasa takut dan tidak mengalami kejahatan. jadi hukuman dijatuhkan untuk pencegahan yakni ditujukan pada masyarakat luas sebagai contoh pada masyarakat agar tidak meniru perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukan (prevensi umum) dan ditujukan kepada si pelaku sendiri. tidak mengulangi perbuatan/kejahatan serupa. Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 54 R-KUHP tahun 2005: Pasal 54 (1) Pemidanaan bertujuan: lain/masyarakat pada umumnya terlindung. Tujuan lain yang hendak dicapai dapat berupa upaya prevensi. mencegah terjadinya tindak pidana a. Sehingga pidana bertujuan untuk:   Pembalasan. membuat pelaku menderita Upaya prevensi. Tujuan yang lain adalah memberikan perlindungan agar orang   Merehabilitasi Pelaku Melindungi Masyarakat Saat ini sedang berkembang apa yang disebut sebagai Restorative Justice sebagai koreksi atas Retributive justice. Restorative Justice (keadilan yang merestorasi) secara umum bertujuan untuk membuat pelaku mengembalikan keadaan kepada kondisi semula. mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. Jadi hukumanya lebih ditekankan pada treatment dan pembinaan yang disebut juga dengan model medis. Keadilan yang bukan saja menjatuhkan sanksi yang seimbang bagi pelaku namun juga memperhatikan keadilan bagi korban. Teori Gabungan.

Apakah tindak pidana dilakukan dengan pembuat tindak pidana. Pengaruh pidana terhadap massa depan tindak pidana. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia . . Kesalahan pembuat tindak pidana. memaafkan terpidana. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh f. Dari aturan diatas dapat dicermati bahwa dalam R-KUHP menganut teori prevensi. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. e. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. c. keadaan pribadi pembuat. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. d. j. Cara melakukan tindak pidana. k. Dalam pasal 55 R-KUHP juga terdapat pedoman pemidanaan yang belum diatur dalam UU kita. Pasal 55. dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. Sikap batin pembuat tindak pidana. rehabilitasi dan restotaif dalam tujuan pemidanaannya. b. c. Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana h. g. Motif dan tujuan melakukan tindak pidana. (1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a. memulihkan keseimbangan. atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian. dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. membebaskan rasa bersalah pada terpidana dan. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. i.169 170 b. Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya dan /atau. e. (2) Rintangan perbuatan. Teori prevensi umum tercermin dari tujuan pemidanaan mencegah dilakukannya tindak berencana. d.

Perampasan barang tertentu 3. Dan restoratif terdapat dalam tujuan pemidanaan yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana. memulihkan keseimbangan. Denda (UU No. b. Jenis-jenis Hukuman/Pidana Menurut Pasal 10 KUHP : a.171 172 pidana dengan menegakkan norma hukum demi 1. dengan melakukan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. Hukuman Tambahan: (2) Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana Pasal 66 Pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. pidana tutupan c. pidana pengawasan d. pidana kerja sosial. 1/1960. Hukuman mati 2. Hukuman Pokok: 1. pengayoman kepada masyarakat. dikonversi: dikali 15) 5. dan memaafkan terpidana. pengumuman keputusan hakim Jenis-jenis Hukuman / Pidana Menurut R-KUHP: Pasal 65 (1) Pidana pokok terdiri atas: a. dan mendatangkan rasa damai dalam damai dalam masyarakat. pidana denda.20/1946) b. pidana penjara. dan e. Penjara (sementara waktu atau seumur hidup) 3. Teori rehabilitasi dan resosialisasi tergambar dari tujuan pemidanaan untuk memasyarakatkan terpidana. Kurungan 4. membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Pencabutan beberapa hak tertentu 2. Pasal 67 (1) Pidana tambahan terdiri atas: . Tutupan (UU No.

    Terorisme Narkoba Korupsi Pelanggaran HAM Berat. tapi berdasarkan Penpres no. c. d. Uraian tentang jenis-jenis hukuman menurut KUHP: Hukuman/pidana Mati (diatur dalam pasal 11 jo Pasal 10 KUHP) (ps. pencabutan hak tertentu.11 KUHP). Hukuman mati dijalankan oleh algojo di tiang gantungan tercantum dalam perumusan tindak pidana. B.173 174 a. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan lain. b. Kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan secara meluas dan sistematis. pembayaran ganti kerugian. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak hukum yang hidup dalam Tindak Pidana yang diancam dengan hukuman mati : A. Dalam KUHP :      Pembunuhan berencana Kejahatan terhadap keamanan negara Pencurian dengan pemberatan Pemerasan dengan pemberatan Pembajakan di laut dengan pemberatan. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut masyarakat. (2) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. Diluar KUHP. (3) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. . 2/1964 : ditembak dibagian jantung dan/atau kepala dan tidak dilakukan di muka umum (rahasia. pengumuman putusan hakim. (4) Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidan pidananya. perampasan barang tertentu dan/atau tagihan. dan e. baik waktu dan tempat eksekusinya).

Kalau dibiarkan bergaul dengan napi lain dikhawatirkan bisa saja menjadi bertambah jahat. tapi tidak boleh lebih dari 20 thn).12/1995). menurut Utrecht :  Sistem Pennsylvania. malam hari kembali ke sel. Pembagian Sistem Penjara – gevangenisstelsel. 12/1995 tentang Pemasyarakatan) Pasal 12 KUHP:  Hukuman penjara lamanya seumur hidup atau sementara/pidana penjara dilakukan dalam jangka waktu tertentu (min 1 hari-selama-lamanya 15 tahun atau dapat dijatuhkan selama 20 thn. di indonesia disebut sabagai Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas). Para hukuman mula-mula ditempatkan dalam ruang tertutup terus menerus. Hukuman/Pidana Penjara (Menurut pasal-pasal dalam KUHP dan UU No. Terhukum diberikan waktu untuk merenung. . Terhukum hanya melakukan kontak dengan penjaga sel/sipir penjara. Sistem Irlandia (Irish System) yang berasal dr mark system. New York. Untuk pemulihan kembali hubungan antara narapidana dan masyarakat. Jika berkelakuan baik. Pidana penjara dilakukan di penjara (prison/jail). Dilakukan peringatan: Eksekusi baru dapat dilakukan jika orang gila itu sembuh dan wanita tersebut telah melahirkan. di mana para hukuman pada siang hari disuruh bekerja bersama-sama tapi tidak boleh saling bicara.175 176 Hukuman mati tidak dapat dijatuhkan pada anak. (inmates): Penghuninya Warga disebut Binaan  terhukum diperkenankan melakukan pekerjaan tangan dan secara terbatas dapat menerima tamu. AS. menggunakan penilaian. AS : para hukuman terus menerus ditutup sendiri-sendiri dalam satu kamar sel. menyesali perbuatannya dan diharapkan ia dapat memperbaiki diri. maka hukumannya narapaidana/napi Pemasyarakatan (berdasarkan UU No. tapi ia tetap dilarang bergaul dengan terhukum lain Sistem Auburn. pidana mati tidak dapat dilakukan pada orang yang setelah dihukum menjadi gila dan wanita hamil. dalam hal ini diterapkan hukum yang keras. disebut juga sebagai silent system.

Boleh bekerja di luar sel secara bersama-sama = kerja di kebon/taman. Boleh belajar/sekolah dlm LP. masak di dapur. menyulam.177 178 diperingan : mulai dimasyarakatkan dan dapat diberikan the rise of feformatory (pelepasan  Sistem Osborne (NY. Kemudian diperkenankan kerja sama-sama. Jika melakukan pelanggaran berat atau berkelakuan tidak baik ataupun melanggar aturan maka dimasukkan dalam sel sendirian. bersyarat). disebut juga dengan tutupan sunyi. dengar radio/nonton TV olah raga dsb. Dalam    Di Indonesia diterapkan ke 5 nya :  Beberapa hukuman dimasukkan dalam satu sel atau 1 orang/1 sel. Seperti LP Pemuda dan LP Anak laki-laki di Tangerang. Pelepasan bersyarat dapat dilakukan jika telah menjalani dari ¾ hukumannya. . menjahit.  Sistem Borstal (LONDON. lalu secara bertahap diberi kelonggaran untuk bergaul satu sama lain. boleh membaca. Mirip dengan sistem Irlandia namun titik berat lebih pada usaha-usaha untuk memperbaiki si pelaku. Banten.  Sistem Elmira (NY. Minimum security/maximum security/Super Maximum Security (SMS) Napi pada umumnya boleh keluar dari sel pada pagi dan/atau siang hari. bersihkan kolam. Khusus untuk pelaku yang masih muda yaitu mereka yang berusia kurang dari 19 th. merangkai bunga dsb. AS). pendidikan dan pekerjaan yang nantinya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. kerja di bengkel LP untuk buat penerapannya ada ketentuan khusus dari Menteri Kehakiman (Minister of justice). kerajinan/furniture. Disebut sebagai penjara reformatory yakni tempat untuk memperbaiki orang menjadi warga masyarakat yang berguna. publik work prison. UK). sore masuk sel sampai besok pagi. jadi terpidana diberikan pengajaran.US). Memilih ‘BOS’ – mandor dr kalangan napi sendiri untuk mengatur napi : Tamping/building tender. Ada jadwal kegiatannya. diperuntukan bagi terhukum yang berusia tidak lebih dari 30 thn. dan ticket to leave.

 Dapat diberikan jika pelepasan telah bersyarat 2/3 PBdr Dengan adanya pidana denda seringkali penerapan Hukum Pidana menjadi kabur karena pidana denda dianggap bukan pidana karena pelaku tadi ada di LP. tapi lebih bebas. patut namun dihormati/dihargai. menempuh hukumannya (pasal 15 KUHP). ada hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara. 1/1960) mempertimbangkan bahwa perbuatan yang dilakukan didasari oleh suatu motivasi di yang penjara.179 180 Antara warga binaan boleh saling berinteraksi sesuai dengan jam yang telah ditentukan. Pidana Denda (Pasal 30 ayat (1) KUHP dan UU No. Pidana Tutupan (UU No. Selain itu terdapat juga ketentuan tentang pidana percobaan seperti yang diatur dalam Pasal 14a KUHP. . Tempatnya diberikan fasilitas yang lebih baik karena terpidana boleh membawa dan menikmati buku bacaan dan radio/tape. Untuk hukuman ini terdapat 1 yurisprudensi di Jogja.20/1946) Pidana yang dijatuhkan oleh Hakim dengan reclassering).  Meskipun hukuman penjara dilakukan bersamasama tapi tetap ada pemisahan mutlak :  Laki-laki dan perempuan  Orang dewasa dan anak di bawah umur  Orang yang dihukum/ditahan – orang yang dihukum karena upaya preventif  Orang militer dan orang sipil Pidana kurungan Dilaksanakan di penjara.

Yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap tindak pidana yang berupa “kejahatan” saja. Pada pasal 54 KUHP memperlihatkan adanya pemikiran dari para perumusnya bahwa delik pelanggaran bersifat lebih ringan dari pada kejahatan. Disamping itu perlu dicatat bahwa ketentuan umum dalam pasal 53 (1) diatas tidak berarti bahwa percobaan terhadap semua kejahatan dapat  dipidana. Percobaan yang dapat dipidana menurut system KUHP bukanlah percobaan terhadap I. Redaksi pasal ini jelas tidak merupakan suatu definisi. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”. yaitu pasal 53 (1) yang menyatakan : “Mencoba melakukan kejahatan dipidana. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan. . batasan KUHP hanya kapan semua jenis tindak pidana. tetapi hanya merumuskan syaratsyarat atau unsur-unsur yang menjadi batas misalnya : Percobaan duel / perkelahian tanding (pasal 184 ayat 5). dan tidak selesainya pelaksanaan itu. ATTEMPT) antara percobaan yang dapat dipidana dan yang tidak dapat dipidana.181 182 BAB X PERCOBAAN (POGING. tidak dijumpai rumusan arti atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “percobaan”. Pengecualian tersebut merumuskan mengenai dikatakan adanya percobaan untuk melakukan kejahatan yang dapat dipidana. Oleh karena itu percobaan pun terlalu rendah dari KUHP. PENGERTIAN Di dalam bab IX buku I KUHP (tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab undang-undang). sedangkan percobaan terhadap pelanggaran tidak dipidana sebagimana ditentukan dalam pasal 54 KUHP.

seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipin tidak Menurut melakukan pandangan sesuatu ini. Jadi merupakan delik tersendiri (delictum sui generis). Menurut pandangan ini. Percobaan dipandang sebagai (2). bukan memperluas . memenuhi semua unsur delik. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. tetapi merupakan delik yang sempurna hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa. percobaan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri (delictum sui generis) tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen dalam terhadap hewan (pasal 302 ayat 4). II. dekictsvorm). Oemar Percobaan dipandang sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (perluasan delik). dan Porf. Ny. Jadi sifat percobaan adalah untuk memperluas dapat dipidananya orang. Percobaan penganiayaan biasa (pasal 351 ayat 5). Dengan demikian menurut pandangan ini. SIFAT LEMBAGA PERCOBAAN Apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna? Mengenai sifat dari percobaan ini terdapat dua pandangan : (1).183 184    Percobaan penganiayaan ringan rumusan-rumusan delik. percobaan pidana tindak merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. tetap dapat dipidana apabila telah memenuhi rumusan pasal 53 KUHP. Strafausdehnungsgrund (dasar/alasan perluasan pertanggungjawaban pidana). Termasuk pandangan pertama ini ialah : Prof. Percobaan penganiayaan ringan (pasal 352 ayat 2). Hazewinkel-Suringa Seno Adji.

jadi baru percobaan sebagai delik tersendiri. Mulyatno berpendapat bahwa pandangan pertama sesuai dengan alam atau masyarakat individual karena yang diutamakan adalah strafbaarheid van de person (sifat yang . Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen delictsvorm). b. jadi pandangan sebagai delik yang berdiri sendiri. walaupun pelaksanaan dari perbuatan itu sebenarnya Alasan Prof. Dalam konsep “perbuatan karena melakukan merupakan Misalnya percobaan. pidana” (pandangan dualistis) ukuran suatu delik didasarkan pada pokok pikiran adanya sifat berbahayanya sendiri bagi perbuatan itu Mengenai contoh yang dikemukakan Prof Moelyatno terakhir ini. Pada dasarnya seseorang itu dipidana suatu delik. 106. keselamatan masyarakat. ialah : a. dapat pula misalnya dikemukakan contoh adanya pasal 163 bis. Menurut pasal ini percobaan untuk melakukan penganjuran (poging tot uitloking) atau yang biasa juga disebut penganjuran yang gagal (mislukte uit-lokking) tetap dapat dipidana. Moelyatno. delik-delik maker (aanslagdelicten) dalam pasal 104. d. c. dan 107 KUHP.185 186 Termasuk dalam pandangan kedua ini ialah Prof. sendiri dan merupakan delik selesai. Pompe dan Prof. yang ada hanya delik selesai. Prof. Dalam KUHP ada beberapa perbuatan sebagai yang delik dipandang berdiri Mengenai adanya dua pandangan tersebut diatas. Moelyatno memasukkan belum selesai.

Teori Obyektif Menurut teori ini. Teori obyektif-formil. Teori Campuran. Di samping itu beliau mengatakan bahwa baik teori subyektif maupun obyektif. terdapat beberapa teori sbb: 1. III. Dengan demikian menurut beliau. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pembuat. ukurannya harus mencakup dua criteria tersebut (subyektif dan obyektif). yaitu : 2. Moelyatno dapat dikategorikan sebagai penganut teori campuran. 2. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap tata hukum. Teori Subyektif Menurut teori ini. pelaksanaan dari teori ini tidak mudah. Niat. Termasuk dalam teori ini ialah pendapat Langemeyer dan Jonkers. 2. Teori ini melihat dasar patut dipidananya percobaan dari dua segi. Penganut teori ini antara lain Simons.b. DASAR PATUT DIPIDANANYA PERCOBAAN Mengenai dasar pemidanaan terhadap percobaan ini. Menurut beliau rumusan delik percobaan dalam pasal 53 KUHP mengandung dua inti yaitu : yang subyektif (niat untuk melakukan kejahatan tertentu) dan yang obyektif (kejahatan tersebut telah mulai dilaksanakan tetapi tidak selesai).187 188 dipidananya orang). Termasuk penganut teori ini ialah Van Hamel.1.a. dalam percobaan tidak mungkin dipilih salah satu diantara teori obyektif dan teori subyektif karena jika demikian berarti menyalahi dua inti dari delik percobaan itu. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap kepentingan / benda hukum. Teori ini terbagi dua. 3. Teori obyektif-materiil. IV. yaitu : sikap batin pembuat yang berbahaya (segi subyektif) dan juga sifat berbahayanya perbuatan (segi obyektif). sedangkan pandangan yang kedua sesuai kita dengan alam atau yang masyarakat sekarang karena diutamakan adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan. mereka nampaknya lebih cendrung pada teori subyektif. UNSUR-UNSUR PERCOBAAN Dari rumusan pasal 53 (1) KUHP diatas jelas terlihat bahwa unsur-unsur percobaan ialah : IV. apabila dipakai secara murni akan membawa kepada ketidak adilan. Prof. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan yang dilakukan oleh si pembuat. Namun karena dalam kenyataanya. .

Dalam hal ini. Picu (trekker) pistol telah ditarik. dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. Dalam hal percobaan tertunda (percobaan terhenti atau tidak lengkap/geschorste poging/incompleted attempt). Tetapi apabila dalam contoh diatas. niat hanya merupakan unsur sifat melawan hukum yang subyektif (subyektif onrechtselement). disitu niat 100% menjadi kesengajaan. Misal : A bermaksud membunuh B dengan pistol. tetapi ternyata pistol tersebut tidak meletus atau tembakan tidak mengenai sasaran.189 190 Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa unsur niat sama dengan sengaja dalam segala tingkatan/coraknya. Dari delik percobaan dapat mempunyai dua arti : 1. 2. tetapi akibat yang terlarang tidak terjadi. c. niat sudah berubah menjadi kesengajaan karena telah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Dalam hal percobaan selesai (percobaan lengkap/voltoo-ide poging/completed attempt). menurut Moelyatno. b. Moelyatno terhadap unsur niat : a. perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan belum dilakukan (misal : picu belum ditarik) sehingga akibat yang terlarang juga belum ada maka dalam hal demikian dikatakan ada “percobaan tidak selesai/tertunda”. niat sama dengan kesengajaan. maka isinya niat jangan diambilkan dari isinya kesengajaan apabila kejahatan timbul. yaitu subjectieve onrechtselement. tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai/voltooidc poging). Niat jangan disamakan dengan kesenjangan. Dikatakan ada “percobaan selesai” apabila terdakwa telah melakukan semua perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan. sama kalau mengahadapi delik selesai. Catatan Prof. tetapi niat secara potensiil dapat berubah menjadi kesenjangan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju. Oleh karena itu niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi perbuatan maka niat masih ada dan merupakan sikap batin yang membari arah kepada perbuatan. dalam hal ini maka niat yang belum diwujudkan sebagai perbuatan (belum ditunaikan keluar) . Menurut Moelyatno. untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi sudah ada sejak niat belum ditunakan jadi perbuatan.

ia mematikan lampu teras.2. b. Unsur kedua ini. Dalam memecahkan masalah ini para sarjana menghubungkannya dengan teori atau dasar-dasar patut dipidananya percobaan. Dalam hal niat telah berubah menjadi kesengajaan. melepas kaca jendela dan baru saja A masuk rumah lewat jendela itu ia tertangkap. Prof. Jadi yang dipentingkan atau yang dijadikan ukuran oleh VAN HAMEL ialah ternyata adanya sikap batin yang jahat dan berbahaya dari si pembuat. VAN HAMEL berpendapat bahwa dikatakan ada perbuatan pelaksanaan apabila dilihat dari perbuatan yang telah dilakukan telah ternyata adanya kepastian niat untuk melakukan kejahatan. Apabila digunakan ukuran Van Hamel. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang subyektif. SIMIONS berpendapat sbb : a. Ada permulaan pelaksanaan. kemudian pada malam hari ia mendatangi rumah B. IV. perbuatan pelaksanaan ada apabila telah dimulai perbuatan yang disebut dalam rumusan delik. maka dalam hal ini dikatakan sudah ada . Sesampainya di rumah B. perbuatan pelaksanaan ada pabila telah dimulai/dilakukan perbuatan yang menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang tanpa mensyaratkan adanya perbuatan lain. Pada delik formil. Contoh untuk delik formil : A bermaksud melakukan pencurian dirumah B untuk melaksanakan aksinya. A telah mempersipkan segala sesuatu peralatan untuk mencuri. Moelyatno setuju dengan pendapat yang luas bahwa hal itu meliputi juga kesenjangan sebagai keinsyafan kemungkinan. merupakan persoalan pokok dalam percobaan yang cukup sulit karena baik secara teori maupun praktek selalu dipersoalkan batas antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandeling) dan perbuatan pelaksanaan (uitvoeringshandeling).191 192 masih tetap menjadi niat yaitu baru merupakan sikap batin yang mengarah kepada suatu perbuatan yang melawan hukum. Ukuran demikian menurut VAN HAMEL sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang obyektif materiil. Pada delik materiil.

193

194

perbuatan pelaksanaan, tetapi menurut ukuran Simons baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum mulai melakukan perbuatan seperti yang disebut dalam rumusan delik (pencurian : pasal 362 KUHP) yaitu “ mengambil barang “. Apabila A sudah mengambil barang dan pada saat itu ketahuan dan tertangkap, barulah dikatakan pada saat itu A telah melakukan perbuatan pelaksanaan yang oleh karenanya dapat dituntut telah melakukan percobaan pencurian. Contoh untuk delik materiil : A bermaksud membunuh B dengan meledakkan mobil yang dikendarainya dengan dinamit di suatu tempat yang dilalui B. A telah mempersiapkan dinamit dengan segala peralatan yang diperlukan dengan rapid an menunggu di samping saklar sampai B lewat ditempat itu. Apabila pada saat menunggu itu, gerak gerik A dicurigai dan akhirnya ditangkap, maka menurut ukuran Simons perbuatan A belum merupakan perbuatan pelaksanaan tetapi baru perbuatan persiapan, karena untuk meledakkan dinamit itu masih diperlukan perbuatan lain yaitu mengotakkan/menekan saklarnya.

Dalam menentukan adanya permulaan/perbuatan pelaksanaan dalam delik percobaan Prof Moelyatno berpendapat bahwa ada dua factor yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Sifat atau inti dari delik percobaan, dan 2. Sifat atau inti dari delik pada umumnya Mengingat kedua factor tersebut, maka menurut beliau perbuatan pelaksanaan harus memenuhi 3 syarat yaitu : i. Secara Obyektif, apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik/kejahatn yang dituju atau dengan kata lain, harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut; ii. Secara Subyektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu ditujukan atau diarahkan pada delik/kejahatan yang tertentu tadi; iii. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.

V. PERCOBAAN DALAM YURISPRUDENSI

BEBERAPA

Yurispridensi yang terkenal ialah Arrest HR tahun 1934 tentang Eindhoven.

195

196

Kasus Posisi : H dituduh hendak membakar rumah R (dengan persetujuan R). Pada malam yang telah ditentukan H masuk kerumah R, menaruh pakaian dan barang-barang yang mudah terbakar di tiap kamar, yang semuanya dihubungkan satu sama lain dengan sumbu yang akhirnya dihubungkan pada kompor gas yang mengeluarkan api jika ditembakkan. Trekker (penarik pintol gas) diikatkan dengan tali dan melalui jendela, ujungnya digantungkan di luar rumah yang terletak di pinggir jalan kecil. Pakaianpakaian itu disiram bensin dan jika orang berjalan di tepi jalan menarik talinya maka pistol gas mengeluarkan api dan menyalakan kompor gas dan selanjutnya akan merata keseluruh rumah. Setelah pemasangan pistol dan tali itu selesai, H menyingkirkan benda-benda ke tempat lain. Sementara itu, karena tertarik bau bensin banyak orang berpendapat di dekat tali itu, sehingga H tak mugkin menyelesaikan maksudnya. Terhadap kasus tersebut peradilan (gerechtshop) di Her-togenbosch menyatakan bahwa perbuatan H adalah perbuatan permulaan pelaksanaan dan dijatuhi pidana 4 tahun penjara karena melanggar pasal 53 jo 187 KUHP. H mengajukan kasasi dengan alasan bahwa Hof telah salah menafsirkan pasal 53 KUHP dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya baru merupakan perbuatan persiapan. Jaksa Agung

Muda BEISER menyimpulkan bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan karena belum nyata-nyata merupakan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran. Senada dengan konklusi Beiser, HOGE RAAD berpendapat bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum merupakan perbuatan yang sangat diperlukan untuk pembakaran yang telah diniatkan, ialah yang tidak dapat tidak menuju kearah dan langsung berhubungan dengan kejahatan yang dituju dan juga menurut pengalaman nyata-nyata menuju pembakaran, tanpa sesuatu perbuatan lain dari si pembuat. Atas dasar alasan ini HR membatalkan putusan Hof dan H dilepaskan dari segala tuntutan. Apabila kasus dan putusan pengadilan di atas dihubungkan pendapat para Sarjana yang telah dikemukakan di atas, maka terlihat bahwa : - Konklusi Beiser dan terutama pendapat HR, lebih cocok dengan teori atau pendapat Simons (Teori Obyektif Materiil); - Putusan Hof, lebih sesuai dengan teori atau pendapat Duynstee (Teori Obyetif Formil) Terhadap putusan HR tersebut, DUYNSTEE sendiri menulis bahwa menurut pendapatnya terdakwa H telah mulai dengan perbuatan pelaksanaan pembakaran. Alasan yang dikemukakannya ialah :

197

198

a. Semua perbuatan terdakwa (H) saling berhubungan dan memenuhi rumusan delik; b. Jika HR menganggap perbuatan pelaksanaan yaitu perbuatan yang menimbulkan kejahatan (akibat) tanpa adanya perbuatan lain, berarti jika tiap perbuatan pelaksanaan akan menimbulkan akibat terlarang, maka perbuatan pelaksanaan hanya ada percobaan lengkap saja, ini tidak tepat karena di dalam teori dikenal juga adanya percobaan yang tidak lengkap. Mengenai kasus diatas, Prof. Moelyatno mengemukakan pendapatnya sbb : “Kalau perkara pembakaran di Eindhoven ditinjau dengan ukuran yang saya sarankan, maka mengenai syarat pertama tidak perlu diragukan adanya. Secara potensiil apa yang telah dilakukan terdakwa mendekatkan kepada kejahatan yang dituju. Juga mengenai syarat yang kedua yaitu bahwa yang dituju itu menimbulkan kebakaran, telah wajar. Tinggal syarat yang ketiga, yaitu apakah yang telah dilakukan itu sudah bersifat melawan hukum ? Kalau diingat bahwa rumah itu di diami orang lain di waktu orangnya tidak ada, hemat saya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jadi karena tiga-tiganya syarat sudah dipenuhi, hemat saya putusan yang yang diberikan

oleh Hof’s Hertogenbosch adalah tepat. Terdakwa telah melakukan delik percobaan pembakaran seperti yang ditentukan dalam pasal 53 juncto pasal 187 KUHP”. IV.3. Pelaksanaan tidak selesai bukan sematamata karena kehendak pelaku sendiri. Tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukankarena kehendak sendiri, dapat terjadi dalam hal-hal sbb : a. Adanya penghalang fisik; Misal : tidak matinya orang yang ditembak, karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistol terlepas. Termasuk dalam pengertian penghalang fisik ini ialah apabila adanya kerusakan pada alat yang digunakan (misal : pelurunya macet / tidak meletus, bom waktu yang jamnya rusak). b. Walaupun tidak ada penghalang fisik, tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. Misal : takut segera ditangkap karena gerak geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. c. Adanya penghalang yang disebabkan oleh factor-faktor / keadaan-keadaan

. ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal. tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak delik tersebut.v.T maksud dicantumkannya unsur ke-3 ini dalam pasal 53 KUHP ialah :  Untuk menjamin supaya orang yang dengan kehendaknya sendiri secara sukarela mengrungkan kejahatan yang telah dimulai tetapi belum terlaksana. Dengan adanya penjelasan MvT tersebut. Misal : Orang member racun pada minuman si korban. secara teori dapat dibedakan antara :  Pengunduran diri secara sukarela (Rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan. Dalam hal tidak selesainya perbuatan itu karena kehendak sendiri. Seno Adji). Misal : daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan. tetapi ia tidak mau meneruskannya. maka dalam hal ini dikatakan ada pengunduran diri sukarela. sering dirumuskan bahwa ada pengnduran diri sukarela. Sehubungan dengan masalah pengunduran diri sukarela ini. maka ada pendapat bahwa unsur ketiga ini merupakan :  Alasan pengahpus pidana yang diformulir sebagai unsur (Pompe). bahwa usaha yang paling tepat (efektif) untuk mencegah timbulnya kejahatan ialah menjamin tidak dipidananya orang yang telah mulai melakukan kejahatan tetapi kemudian dengan sukarela mengurungkan pelaksanaannya.199 200 khusus pada obyek yang menjadi sasaran. tetapi setelah diminumnya.  Alasan pemaaf (van Hattum.  Tindakan penyesalan (Tatiger Reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri. barang yang kan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkatnya sekuat tenaga. ia masih dapat meneruskannya. apabila menurut pandangan terdakwa.  Pertimbangan dari segi kemanfaatan (utilitas). tidak dipidana. maka menurut M.

Menurut beliau dengan tidak dituntutnya terdakwa. Dalam kasus ini ada tanda-tanda bahwa saksi yang dihadapkan ke persidangan diatas sumpah telah meberikan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan (kesaksian palsu).201 202  Alasan pengahpusan penuntutan (Vos. maka tidak ada percobaan. Jadi ada pertimbangan utilitas. Moelyatno memandang unsur ke-3 ini sebagai alasan penghapusan penuntutan. maka saksi tersebut mencabut kembali keterangan palsunya itu. Ini berarti apabila ada pengunduran diri secara sukarela. Dalam pengunduran sukarela (dan tindakan penyesalan/Tatiger Reue). sebab perbuatannya tetap tidak baik (yang baik adalah tidak mencoba sama sekali) sehingga tidak ada alasan untuk memaafkan ataupun membenarkan. Walaupun Prof. Moelyatno). untuk adanya percobaan unsur ke-3 ini (tidak selesainya pelaksanaan perbuatan bukan karena kehendak sendiri) harus ada. Prof. dan pidananya dikurangi menurut kebijaksanaan Hakim. Apakah saksi dapat dipidana karena percobaan sumpah palsu? HR dalam putusannya berpendapat bahwa saksi itu tidak dapat dipidana melakukan . Mengenai konsekwensi adanya unsur ke-3 dalam perumusan pasal 53 KUHP ini. jadi bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri). Mempunyai konsekuensi materiil Artinya unsur ketiga ini merupakan unsur yang melekat pada percobaan. tetapi tidak dituntutnya itu karena dipandang lebuh berguna bagi masyarakat. Pendapat serupa ini terlihat dalam putusan Hoge Raad tanggal 17 Juni 1889 tentang kasus sumpah palsu. Dengan perkataan lain. Setelah Jaksa dan Hakim memperingatkan bahwa ia akan dituntut sumpah palsu. ada dua pendapat : a. namun beliau tidak berkeberatan untuk menuntut orang yang secara sukarela telah mengurngkan niatnya itu apabila telah menimbulkan kerugian. Moelyatno tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan unsur ke-3 ini sebagai alasan pemaaf (fait d’ex-cuse) maupun sebagai alasan pengahpus pidana. tidak ada fait d’excuxe karena sifat tak baik perbuatan maupun kesalahn tetap ada. diberi stimulans bagi orang-orang lain yang mempunyai niat melakukan kejahatan. untuk ditengah-tengah mengundurkan diri secara sukarela. seprti halnya dirumuskan pada pasal 367 (1) KUHP (pencurian antara suami-istri). Pertimbangan utilitas lain dikemukakan beliau ialah untuk menghemat tenaga dan biaya.

Tidak selesainya delik atau tidak timbulnya akibat terlarang itu dapat disebabkan karena tidak mempunyai obyek (misal : mencoba menggugurkan bayi yang ternyata tidak hamil. Dengan perkataan lain. Begitu pula si penganjur tidak dapat dipidana karena adanya pengunduran diri itu perbuatannya (saksi) tidak merupakan perbuatan terlarang. PERCOBAAN MAMPU DAN TIDAK MAMPU Masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul. VI. meskipun ada pengunduran diri secara sukarela. mencoba membunuh orang yang sudah mati. Para penganut teori yang subyektif tidak mengenal pembedaan tersebut. sedangkan sipenganjur tetap dapat dipidana karena telah menganjurkan suatu perbuatan yang terlarang. perbuatannya tetap dipandang sebagai perbuatan terlarang dan soal dipidana tidaknya si pembuat maupun si penganjur adalah masalah pertanggunganjawab. Jadi pendapat kedua ini membedakan antara perbuatan yang dapat dipidana (criminal act) dan pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility). Menurut pendapat ini. dsb) atau karena tidak mempunyai alat yang digunakan ( misal : mencoba membunuh orang dengan gula yang dikiranya racun). Mempunyai konsekwensi formil (dibidang processuil) Artinya unsur ke-3 itu dicantumkan dalam pasal 153 maka unsur tersebut harus disebutkan didalam surat tuduhan dan dibuktikan. Jadi dalam kasus yang dikemukakan diatas. unsur ke-3 ini tidak merupakan unsur yang melekat pada percobaan.203 204 percobaan sumpah palsu karena dalam hal ini ada pengunduran diri secara sukarela. mencuri uang dari sebuah peti uang yang ternyata kosong. Dalam kasus diatas si pembuat (saksi) tidak dipidana karena (menurut HR) disitu ada pengunduran diri secara sukarela. b. Pembeda antara percobaan mampu dan tidak mampu ini sebenarnya hanya pada mereka yang menganut teori percobaan yang obyektif. ia merupakan unsur yang berdiri sendiri. karena lebih . jadi tidak bersifat accessoir. walaupun unsur ini tidak ada (yaitu karena adanya pengunduran diri secara sukarela) maka percobaan tetap dipandang ada. karena hanya menitik beratkan pada sifat bahayanya perbuatan.

Alat itu dapat dilihat sebagai jenis tersendiri dan dapat dilihat dari keadaan konkritnya : . Dari apa yang dikemukakan M.T membedakan antara :  Tidak mampu mutlak. sedangkan warangan (arsenicum) adalah mampu.T itu ternyata tidak mudah : a.Apabila dilihat sebagai jenis tersendiri. maka juga tidak ada percobaan”. dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai.T mengemukakan : “Syarat-syarat umum percobaan menurut pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu didalam buku II KUHP. Ukuran yang dikemukakan M.205 206 menitik beratkan pada sifat berbahayanya sikap batin atau watak si pembuat.T diatas terlihat bahwa ketidakmampuan relative dapat dilihat dari dua segi : . M. Jadi menurut M.v.Keadaan tertentu dari orang yang dituju. maka alat yang pada umumnya mampu untuk membunuh (misal warangan) dapat menjadi alat yang tidak mampu apabila jumlahnya tidak memenuhi dosis yang cukup mematikan (untuk arsenicum 5 mg). Begitu pula orang yang dituju. b. .  Tidak mampu relative.v.v. Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan. tetapi dapat menjadi alat yang .v. Kalau tidak ada obyeknya.Apabila dilihat dari keadaan konkritnya.T tidak mungkin ada percobaan pada obyek yang tidak mampu. M. maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada obyeknya. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena obyeknya. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena alatnya.Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan . yaitu bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada. Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya obyek. dapat dilihat secara abstrak untuk rata-rata orang dan dapat dilihat dari keadaan konkrit tertentu. .V. yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja.Gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh orang pada umunya. maka gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh.

Sehubungan dengan tidak jelas dan tidak mudahnya ukuran yang diberikan oleh M. Karena pada hakekatnya masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini dalah masalah hubungan kausal yang ada dalam lapangan obyeltif. SIMONS Ada percobaan yang mampu. maka banyak sarjana (misal Simons. jadi tidak menggunakan teori individualisasi yang melihat sesudah terjadinya akibat (post factum). merupakan alat yang mampu untuk membunuh. tetapi dapat juga dikatakan bahwa pistol adalah alat yang mampu untuk membunuh. Tidak perlu bahwa bahaya itu harus nyatanyata ada dalam keadaan khusus dimana perbuatan itu dilakukan.v. . Orang dapat mengatakan bahwa pistol yang demikian adalah alat yang absolut tidak mampu. tetapi untuk orang yang sudah biasa warangan sejumlah itu tidak merupakan alat yang mematikan.Warangan yang memenuhi dosis 5 mg. akibat yang merupakan delik yang dituju justru belum terjadi. Misal : percobaan pembunuhan dengan pistol yang tidak berpeluru. Berdasarkan hal-hal diatas. tergantung dari cara berpikir seseorang mengenai sesuatu hal. maka para sarjana berusaha memberikan batas atau ukuran antara percobaan yang mampu dan tidak mampu. Pompe. Van Hattum) yang berusaha menentukan garis pembatas tersebut dengan menggunakan ukuran-ukuran dalam hubungan kausal.T itu. Jika menurut keadaan normal. Ukuran atau batas percobaan mampu dan tidak mampu yang dikemukakan oleh para sarjana itu adalah sbb : 1. namun dalam hal tertentu bersifat relative karena tidak ada pelurunya. Ukuran-ukuran kausalitas yang digunakan adalah teori generalisasi (adekuat) yang melihat secara ante factum (sebelum peristiwa/akibat) karena memang dalam hal percobaan. maka banyak sarjana yang menyatakan bahwa batas antara absolute dan relative itu tergantung dari kehendak orang yang menggunakan (willekeurig). Sebaliknya .207 208 mampu mematikan untuk orang yang berpenyakit diabetes. apabila perbuatan yang menggunakan alat yang tertentu itu dapat membahayakan benda hukum. dengan alat tersebut tidaklah akan ditimbulkan delik maka dalam hal demikian tidak ada percobaan yang mampu.

.209 210 jika alat yang pada umumnya tidak berbahaya. menurut van Hattum yang penting adalah bagaimana merumuskan (memformulir) perbuatan terdakwa yang bersangkutan. apabila pada hakekatnya perbuatan 2. VAN HATTUM Dalam menentukan percobaan mampu dan tidakmampu. b. Hal-hal yang merintangi selesainya kejahatan yang dituju jangan dimasukkan. Dalam menggunakan hubungankausal yang adekuat itu. van Hattum memberikan ukuran/pedoman sbb : a. absolute. Misal : .Ada orang membeli warangan di apotik untuk melakukan pembunuhan. karena rasa keadilan tidak membenarkan hal demikian member keuntungan kepada si pembuat. bukanlah percobaan yang mampu sebaliknya pemberian warangan pada orang yang normal adalah mampu jika jumlahnya memang dapat mematikan orang yang normal. POMPE Ada percobaan mampu.Mencoba membunuh orang dengan mendoakan terus menerus supaya mati. Dikatakan ada percobaan yang mampu. 3. van Hattum seperti halnya Simons dan Pompe jelas-jelas menggunakan hubungan kausal yang adekuat. bukan warangan yang diberikan tetapi gula sehingga tidak menimbulkan kematian. tetapi penting dilihat dari keseluruhan perbuatan yaitu mencampurkan gula (yang diberikan oleh apotik) yang dikiranya warangan. apabila perbuatan terdakwa ada hubungan kausal yang adekuat dengan akibat yang dilarang oleh undangundang. Dalam hal demikian. tetap dikatakan ada percobaan karena meskipun sifat gula adalah tidak mampu secara . maka persangkaan bahwa alat itu tidak berbahaya akan lenyap dengan diajukan bukti-bukti sebaliknya. Perbuatan demikian lalu dapat dipidana. jika perbuatan atau alat yang digunakan mempunyai kecendrungan (strekking) atau menurut sifatnya mampu untuk menimbulkan delik selesai. tetapi dalam keadaan tertentu dapat membahayakan dan dengan sengaja pula alat itu digunakan. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan jangan dimasukan. tetapi karena kekeliruan apotik. kedalam makanan orang lain. Dalam memformulir perbuatan terdakwa secara adekuat kausal itu.

211

212

terdakwa membahayakan benda/kepentingan hukum (rechtsgoed). Misal : Dengan maksud menembak musuhnya, seseorang telah mengisi senapanya dengan peluru dan kemudian meletakkannya di suatu tempat untuk menunggu saat yang baik. Sementara itu dengan tidak diketahuinya ada orang lain mengososngkan senapanya itu, sehingga pada saat ditembakkan tidak menimbulkan akibat amtinya orang lain (musuhnya itu). Dalam hal yang demikian, menurut van Hattum janganlah perbuatan terdakwa diformulir sebagai percobaan yang tidak mampu karena kenyataannya ia membunuh dengan alat yang relative tidak mampu yaitu senapan yang kosong. Tetapi harus diformulirkan sbb : “mengarahkan senapan yang semula sudah diisi dengan peluru dan kemudian menembakkannya”. Perbuatan demikian merupakan yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat matinya orang lain (jadi mempunyai hubungan kausal yang adekuat untuk adanya pembunuhan). Dengan demikian perbuatan terdakwa merupakan percobaan yang mampu. Tidak berbeda dengan menembakkan senapan yang pelurunya macet. Dari pendapat van Hattum diatas jelas terlihat bahwa “kosongnya pistol” merupakan hal yang

kebetulan dan mengisi senapandengan peluru dan menembakkannya” merupakan perbuatan yang membahayakan benda hukum orang lain (berupa nyawa). Van Hattum menyatakan bahwa makin banyak hal-hal konkrit yang dimasukkan dalam merumuskan perbuatan terdakwa, maka ketidakmampuan yang relative akan menjadi ketidakmampuan yang absolut. 4. MOELYATNO Dalam memecahkan masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini, Prof. Moelyatno tidak mendasarkan pada teori adekuat kausal karena kenyataanya dalam percobaan tidak sampai menimbulkan kejahatan yang dituju (tidak timbul akibat terlarang). Ukuran yang dugunakan beliau dikembalikan pada ukuran patut dipidananya suatu delik, yaitu adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Jadi ukurannya tidak ditetapkan secara kausatif, tetapi secara normatif. Dikatakan ada percobaan yang mampu apabila perbuatan terdakwa mendekatkan pada terjadinya delik selesai sedemikian rupa sehingga merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perlu dicatat bahwa karena beliau menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil, maka perbuatan itu harus menggelisahkan masyarakat atau tidak pantas dilakukan.

213

214

Ukuran yang digunakan Prof. Moelyatno itu didasarkan pada Eindrucks theorie (teori kesan) yang berasal dari Von Bar, yang dikemukakan didalam bukunya Prof. Edmund Mezger (1952). Menurut teori ini, sudah cukup dikatakan ada percobaan, yang mampu apabila dalam keadaan tertentu ada perbuatan yang menimbulkan kesan keluar bahwa ada permulaan perbuatan yang dapat dipidana. Apabila suatu perbuatan dipandang dari sudut masyarakat telah menimbulkan kesan mengganggu atau melukai tata-hukum, dan oleh karena itu telah menggincangkan kesadaran umum mengenai kepastian berlakunya tata hukum tadi, maka perbuatan demikian sudah mengandung bahaya. Dengan demikian ternyata, menurut Mezger, bahwa di dalam teori kesan terdapat azas general preventive. Misal : perbuatan orang yang hendak membunuh dengan senjata yang ternyata kosong atau macet pelurunya, atau pencuri yang merogoh kantong orang lain yang ternyata kosong. Perbuatan-perbuatan demikian dilihat dari teori kesan sudah merupakan percobaan yang mampu dan oleh karenanya dapat dipidana, karena ada kesan dari luar yaitu dari sudut

masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu telah mengganggu/ melukai tata hukum. Menurut Prof. Moelyatno, dengan memakai ukuran melawan hukumnya perbuatan dalam menentukan mampu tidaknya suatu percobaan berdasar teori kesan, tidak berarti bahwa sifat berbahaya tidaknya percobaan itu dilihat dari sudut hubungan kausal tidak perlu diperhatikan. Pertimbangan segi kausalitas ini tetap penting, tetapi bukan untuk menentukan mampu tidaknya suatu percobaan, melainkan untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dalam hubungan ini beliau membandingkan dengan pasal 23 KUHP Swiss yang menentukan. “Jika alat yang dipakai untuk mencoba melakukan kejahatan, atau obyek/terhadap mana dilakukan kejahatan, adalah sedemikian rupa hingga perbuatan memang tidak mungkin dilaksanakan dengan alat atau terhadap obyek yang demikian itu, maka hakim boleh mengurangi pidana menurut kebijaksanaanya sendiri. Jika si pembuat berbuat karena kebodohan (unverstand) hakim boleh tidak menjatuhkan pidana”. 5. MANGEL AM TATBESTAND Telah dilemukakan diatas bahwa secara teoritis percobaan mampu dan tidak mampu dapat dibedakan mengenai obyeknya maupun

215

216

mengenal alatnya dan dapat pula dibedakan antara tidak mampu yang absolute dan relative. Karena tidak jelasnya batas penetu antara tidak mampu absolute danrelatif, tergantung dari kehendak/ cara berpikir seseorang (bersifat Willekeurig), maka ada pendapat seperti M.v.T yang tidak memasukkan kedalam lapangan percobaan tidak mampu apabila objek tidak mampu. Menurut pendapat aliran ini, percobaan tidak mampu karena obyeknya bukanlah delik percobaan karena tidak cukupnya atau tidak terpenuhinya unsur-unsur delik. Misal dalam hal membunuh orang yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil, disitu tidak terpenuhi unsur delik dalam pasal 333 KUHP yaitu harus adanya nyawa orang (hidup) yang dihilangkan dan unsur delik dalam pasal 346 KUHP (menggugurkan/mematikan kandungan) yaitu harus adanya seorang wanita yang benarbenar mengandung. Dalam ilmu hukum pidana Jerman, tidak adanya atau tidak lengkapnya/ tidak terpenuhinya unsur-unsur delik itu, disebut Mangel am Tatbestand (Mangel =kekurangan; Tatbestand = keadaan yang betul/sempurna atau mencocoki rumusan delik). Istilah ini dikemukakan oleh Graf zu Dohna (1910).

Yang setuju dengan pendapat ini ialah Simons dan Pompe. Menurut Pompe, dalam kedua contoh yang dikemukakan diatas tidak mungkin lagi dikatakan ada percobaan karena maksud/tujuan terdakwa sudah tercapai. Sedangkan van Hamel, tidak setuju dengan mereka yang memandang tidak ada percobaan apabila obyeknya tidak mampu. Menurut beliau memang benar bahwa membunuh bayi yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil adalah tidak mungkin, tetapi hal yang demikian sebenarnya tidak berbeda dengan membunuh bayi yang lahir hidup tetapi kemudian diganti dengan boneka atau mencuri uang dari sebuah kantong yang ternyata kosong. Demikian pula Jonkers tidak setuju bahwa dalam contoh-contoh di atas dikatakan tidak ada percobaan, karena sifat khusu dari percobaan ialah : a. Delik tidak selesai karena hal ikhwal yang tidak tergantung dari kehendak terdakwa; b. Oleh karena dalam pikiran terdakwa (dalam kasus-kasus diatas) adalah mungkin sekali akan melaksanakan delik yang dituju.

terdakwa tidak dapat dipidana karena memang tidak ada pasal yang dilanggar dan kepastian hukum terancam (jadi berlainan dengan van Hamel). Sedangkan untuk mangel am Tatbestand dicontohkan sbb: . Sehubungan dengan masalah ini KARNI membedakan antara Mangel am Tatbestand dengan percobaan tidak mampu (istilah beliau “percobaan tak terkenan”). jadi ini bukan Mangel am Tatbestand. disini ada percobaan yang tidak mampu karena tujuan si pembuat tidak tercapai (jadi berbeda dengan pendapat Pompe). hanya saja unsur delik yang bersangkutan (pasal 332 dan pasal 362 KUHP) tidak terpenuhi secara sempurna. yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap kejahatan.Orang yang mencuri barang yang ternyata sudah menjadi miliknya. Bagaimanakah apabila kejahatan yangbersangkutan diancam pidana mati atau penajara seumur hidup. Dalam hal demikian. delik putatief merupakan “rechtsdwaling” sedangkan Mangel am Tatbestand merupakan “feitelijke dwaling”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut .Orang yang melarikan perempuan yang ternyata sudah cukup umur. . VII. maksimumnya ialah 10 tahun penjara. PEMIDANAAN TERHADAP PERCOBAAN Telah dikemukakan di muka bahwa menurut system KUHP. Dalam hal percobaan terhadap kejahatan. Selanjutnya ditegaskan oleh Karni bahwa Mangel am Tatbestand ini merupakan “kekhilafan tentang anasir delik” yang harus dibedakan dengan salah sangka tentang adanya undang-undang (putatief delict). sedangkan terhadap pelanggaran tidak dipidana. Ketidak sempurnaan dipenuhinya unsur delik inilah yang menurut Karni merupakan hakekat atau watak hukum dari Mangel am Tatbestand. Dalam kedua contoh ini menurut Karni tujuanya sudah tercapai. seperti halnya dalam pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)? Menurut pasal 53 (3). Perbedaan ini terlihat pula dalam pendapat Utrecht. Jadi misalnya untuk percobaan pembunuhan (pasal 53 jo pasal 338 KUHP). Dalam hal menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil. maka menurut pasal 53 (2) KUHp maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah maksimum pidana untuk kejahatan (pasal) yang bersangkutan dikurangi sepertiga. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan hanya 15 tahun penjara.217 218 Dari alasan yang kedua (b) ini jelas terlihat pandangan yang subyektif tentang percobaan.

Sedangkan untuk pidana tambahannya. 3. Complicity (Inggris). 2. Participation (Perancis). B. Turut berbuat delik (Karni). maksimum pidana pokok untuk percobaan adalah lebih rendah daripada apabila kejahatan itu telah selesai seluruhnya. menurut pasal 53 (4) adalah sama dengan kejahatan selesai.Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana . Delneming (Belanda). BEBERAPA ISTILAH 1.219 220 KUHP. Teilnahme/Tatermehrhaeit (Jerman). BEBERAPA PANDANGAN TENTANG SIFAT PENYERTAAN Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan : 1. Turut serta (Utrecht). Hazewinkel Suringa.Penyertaan merupakan suatu delik. . Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan) : . 4. hanya bentuknya tidak sempurna.Penganut a. Turut campur dalam peristiwa pidana (Tresna). van Hattum.l : Simons. BAB XI PENYERTAAN A. 2. Sebagai Strafa sdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : .

3. d.a. Instigator 3. .1. Instigator (penganjur) 2. C.3. Executive of crime 3. . Dader / Pembuat (pasal 47 Belanda / pasal 55 KUHP Indonesia).a.b.c.4. jadi lebih ditekankan pada strafbaarheid van het feit” (hal dapat dipidananya perbuatan). Tater (pembuat) 2. Medeplichtige / pembantu (pasal 48 KUHP Belanda / pasal 56 KUHP Indonesia).2.a. Accessories (pembantu) 3.2. Von Feuerbach membagi penyertaan dalam dua bentuk : a. Principals (peserta baku). Accessories (peserta pembantu).2. Pembagian tiga : 2. Accessory D. Di Inggris : d.2. PENYERTAAN MENURUT KUHP INDONESIA 1. Di Jepang : 2. Roeslsn Saleh.Penyertaan merupakan suatu delik. 2.Penganut a. Moelyatno pandangan yang pertama sesuai dengan alam/pandangan individual karena yang diprimairkan adalah “strafbaarheid van de person” (hal dapat dipidananya orang). KUHP Belanda dan Indonesia : b. Co principals (pembuat) 2. PEMBAGIAN PENYERTAAN 1.b. Pembagian empat : Di Uni Sovyet : 3.l : Pompe.2. Complices. hanya bentuknya istimewa. Di Jerman : 2. Gehile (pembantu) 2. Terbagi dua : a. d.2.1. Gehilfe (pembantu) b. Menurut Moelyatno.1. Menurut Prof. Urherber (pembuat) a.1.221 222 .2.3. Code Penal Perancis dan Belgia : c.b. Anstifter (penganjur) 2. pandangan pertama tidak dikenal dalam hukum adat. b. pandangan yang kedua sesuai dengan alam Indonesia karena yang diutamakan adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Autores.1. c. Pembuat/dader (pasal 55) yang terdiri dari : . Pembagian penyertaan menurut KUHP Indonesia adalah : a.1. Organizer 3. Moelyatno.a. c.Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana.1.

pembantu pada saat kejahatan dilakukan b. yang turut serta (medepleger) a.1. . jadi hanya disamakan saja dengan dader. Simons.2. b. b. . yang menyuruh lakukan (doenpleger) a. Moelyatno.Penganut : M. van Hattum.3.Pembuat hanyalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik.1 pada pasal 55 di atas). Peradilan Indonesia Pembuat (dalam arti sempit yaitu pelaku) ialah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus dipandang yang bertanggung jawab. terutama dalam hal pembuat undangundang tidak menentukan secara pasti siapa yang menjadi pembuat. 2.v.T. penganjur (uitlokker) b. Pelaku (pleger) ialah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik. mereka yang tersebut dalam pasal 55 hanya dipandang sebagai pembuat. . .Dengan demikian mereka yang disebut dalam pasal 55 diatas adalah pembuat.Menurut pandangan ini. Jonkers. Pelaku (pleger) a. Pandangan yang sempit (restrictief) : . Pleger (pelaku) a. ada dua pandangan : a. pembantu pada saat kejahatan belum dilakukan.4. Pandangan yang luas (extensief) : . Pembantu / mendeplichtige (pasal 56) yang terdiri dari : b. van Hamel.1. Hazewinkel-Suringa. Mengenai hal ini ada beberapa pedoman : 1). Pompe.223 224 a. jadi hanya pembuat materiil saja (yaitu pada no.Penganut : HR.2. Mengenai pengertian pembuat (dader). Dalam praktek sukar menentukannya.

doenpleger. 3).Pembuat langsung (onmiddelijke dader. Peradilan Belanda Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhiri keadaan terlarang. didalamnya 3. c. 2). sedang perantara ini hanya diumpamakan sebagai alat. jadi plegers termasuk didalamnya “Pompe”.Pembuat tidaklangsung (middelijke dader. manus domina).Alat yang dipakai adalah manusia. jadi plegers juga termasuk (Hazewinkel-Suringa). Kedudukan “pleger” dalam pasal 55 sering dipermasalahkan. Pada Doenpleger terdapat unsur-unsur sbb : . auctor physicus. Doenpleger ialah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain. tetapi tetap memberikan keadaan terlarang itu berlangsung terus.Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati) .225 226 2). Mengenai hal ini ada dua pendapat : 1). Doenpleger (yang menyuruh lakukan) a).Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan” unsur ketiga inilah yang merupakan tanda ciri dari doenpleger . manus ministra) . . Dengan demikian : . auctor intellectuals. Janggal dan tidak pada tempatnya Alasan : Karena pasal 55 berada dibawah bab V yang berjudul “Penyertaan tersangkut beberapa pidana”. pada penyertaan apabila “mereka yang melakukan” (para pelaku) itu diartikan pembuat tunggal. Karena pasal 55 menyebut “ siapa-siapa yang dinamakan pembuat”. b). Dapat dipahami Alasan : Karena pasal 55 menyebut “mereka yang dipidana” sebagai pembuat”. Pompe Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kewajiban untuk mengakhiri keadaan terlarang itu. Hal yang menyebabkan alat (pembuat materiil) tidak dapat dipertanggungjawabkan ialah : .

maka dalam hal ini dimungkinkan ada menyuruh lakukan. Apakah orang yang menyuruh lakukan (doenpleger) harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? ada dua pendapat : d. Pendapat kedua : “tidak harus”. karena pada dasarnya KUHP menganggap orang yang belum cukup unur itu tetap mampu bertanggungjawab (lihat pasal 45 jo 47).1. d. maka ia tidak dapat melakukan “delik jabatan”. d). Jadi walaupun B (yang disuruh) adalah “ pegawai negeri.227 228  Bila ia tidak sempuna pertumbuhan jiwanya atau rusak jiwanya (pasal 44).  Bila ia berbuat karena daya paksa (pasal 48)  Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yang tidak sah seperti dimaksudkan dalam pasal 51 ayat (2). apabila yang disuruh itu anak yang masih sangat muda sekali. sedangkan B tidak mengetahui pemalsuan tersebut. (dalam undangundang) misal A menyuruh B (seorang kuli) untuk mengambil barang dari suatu tempat. karena tidakmungkin seorang A menyuruh oarng lain B melakukan sesuatu yang A sendiri tidak dapat melakukannya. Pendapat pertama : “harus”.  Bila ia keliru (sesat) mengenai salah satu unsur delik. c). B mengambilnya untuk diserahkan kepada A dan ia sama sekali tidak mempunyai maksud untuk memiliki bagi dirinya sendiri.  Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan ybs. Misalnya : A bukan pegawai negeri. yang belum begitu sadar akan perbuatannya. maka A tidak bisa menjadi doenpleger. tetap dikatakan tidak ada doenpleger.2. misalnya A menyuruh B untuk menguangkan pos wesel yang tanda tangannya dipalsu oleh A. Alasan. Dalam hal pembuat materiil (alat) seseorang yang belum cukup umur. jadi A tidak bisa menjadi pembuat langsung (onmiddelijke dader) oleh karena itu ia juga tidak bisa menjadi pembuat tidak langsung. maka tidak ada menuruh lakukan. . Namun demikian.

e). Misal : A membius B seorang penjaga keamanan kereta api. Arrest HR tgl. Undang-undang tidak memberikan definisi 2). A tetap dikatakan sebagai doenpleger dalam delik omissi yang dilakukan oleh B.229 230 “Menyuruh-lakukan sesuatu delik jabatan tidak hanya terdapat apabila pembuat materiilnya adalah seorang pejabat. Menurut M. sehingga untuk menjadi middelijke dader (doenpleger) tidak perlu . 4.v. dalam halo rang yang menyuruh-lakukan dapat menduga sebelumnya bahwa ka nada sesuatu akibat yang tidak diharapkan. 21 April 1913 (kasus Walikota Zaan-dam) menyatakan : “Pasal 55 tidak menyatakan bahwa mereka yang menyuruh lakukan adalah dader. ialah apabila pelaksanaanya bukan. akan tetapi juga sebaliknya. tetapi bahwa mereka dipidana sebagai dader. maka A dapat dituntu karena menyuruh-lakukan tindak pidana yang tersebut dalam pasal 359 KUHP. B mengira bahwa A telah mengadakan pengamanan seperlunya. sehingga lalai menjalankan tugasnya dan timbul kecelakaan. sedang yang menyuruh-lakukan itu adlah pejabat”. Walaupun A tidak berkualitas seperti B (yaitu tidak mempunyai kewajiban seperti B). akan tetapi ia justru dipidana walaupun ia tidak melakukan perbuatan”. Misal : A menyuruh seseorang pekerja B untuk melemparkan benda yang berat dari atap rumah ke bawah. Pengertian : 1).T : Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut Hazewinkel-Suringa : “Seorang peserta itu bukannya dipidana karena ia melakukan perbuatan (pidana). Mungkinkah ada menyuruh lakukan terhadap delik-colpoos? Mungkin. tanpa menghiraukan apakah benda itu akan menimpa orang yang kebetulan ada / lewat di bawah atap rumah itu. Medepleger (orang yang turut serta) a. Jika karena lemparan itu ada yang tertimpa dan mati. ada kualitas pribadi seperti pembuat materiil”.

3). Yang penting aialah harus ada kesenjangan secara sadar.  Ada pelaksanaan bersama secara fisik (gezamenlijke ultvoering/physieke samenwerking). Misal : dua orang pencopet (A dan B) saling bekerja sama. A yang menabrak orang yang menjadi sasaran. sedang B yang mengambil dompet orang itu. sedang yang lainnya tidak. yang menggangsir b. Tidak ada turut serta. “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada dua kemungkinan : Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik. sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diterimakan kepada kawannya tadi. Menurut Pompe. Adanya kesadaran bersama tidak berarti ada permufakatan lebih dulu. sedang kawannya menghendaki matinya si korban. cukup apabila ada pengertian antara peserta pada saat perbuatan dilakukan dengan tujuan menacpai hasil yang sama. salah seorang memenuhi semua unsur delik. Penentuan kehendak atau kesenjangan masing-masing peserta itu dilakukan secara normatif. Misal : dua orang dengan bekerja sama melakukan pencurian disebuah gudang beras.231 232 berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu. . Persoalan kapan dikatakan ada perbuatan pelaksanaan merupakan persoalan yang sulit (ingat/lihat Bab VI tentang . bila orang yang satu hanya menghendaki untuk menganiaya.Tidak seorangpun memenuhi unsur-unsur delik seluruhnya tetapi mereka bersama-sama mewujudkan delik itu misalnya : dalam pencurian dengan merusak (pasal 363 ayat (1) ke5) salah seorang melakukan penggangsiran. Syarat adanya medepleger :  Ada kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking).

namun secara singkat dapat dikatakan bahwa perbuatan pelaksanaan berarti perbuatan yang langsung menimbulkan selesainya delik ybs. Yang penting disini harus ada kerjasama yang erat dan langsung. Apakah medepleger harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? Mengenai hal ini ada dua penadapat : 1). sedang suaminya “turut serta melakukan penggelapan” meskipun suaminya tidak memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 372. Yurisprudensi putusan pengadilan Negeri Tulunganggung tanggal 5 Januari 1932 yang kasusnya sbb : A memegang gelang milik orang lain untuk dijualkan. 2). sedang status suaminya terhadap barang itu ialah . Barang siapa tidak dapat menjadi pembuatan tunggal (alleendader) juga tidak dapat dinamakan pembuat peserta (mededader). Medepleger adalah suatu bentuk daderschap (keadaan / sifat pelaku pembuat). Status A terhadap barang ialah “memiliki dengan melawan hukum barang yang ada padanya bukan karena kejahatan “. Pendapat pertama : “harus”. Sifat-sifat atau keadaan pribadi yang menentukan dapat dipidananya perbuatan. Dalam kasus A dinyatakan salah melakukan penggelapan. hanya berlaku pada pembuat peserta yang mempunyai sifat-sifat tersebut. orang turut serta melakukan adalah pembuat (dader) apabila ada beberapa orang bersama-sama melakukan delik.233 234 “percobaan”). maka mereka timbal balik terhadap satu sama lain disebut pembuat peserta (mededader). Batas antara perbuatan pelaksanaan dan perbuatan pembantuan sangatlah sulit dan hal ini akan dibicarakan dalam masalah pembantuan. c. Suami A menggadaikan gelang tersebut untuk kepentingannya sendiri. Pembuat peserta sebagai pembuat harus mempunyai sifat yang oleh rumusan undang-undang diisyaratkan untuk daderschap. Pendapat kedua : “tidak harus”. dengan persetujuan A.

Tercapainya hasil yangmerupakan delik (ditujukan pada akibat). Akan tetapi jika kesengajaan itu hanya ditujukan kepada adanya kerjasama. Misal : A dan B bersama-sama melemparkan barang berat dari gedung bertingkat dan menimpa orang yang ada di bawah sampai mati. Kalau kesenjangan orang turut serta juga harus ditujukan untuk timbulnya delik culpa tersebut. Yaitu ia dapat dari A dan tahu bahwa barang itu bukan milik A. ialah kepada perbuatan yang dilakukan bersama. akan tetapi mereka bersamasama secara sadar melakukan pelemparan barang dan merekapun kurang berhati-hati serta patut menduga akibat yang timbul. Dalam delik culpa orang tidak menghendaki terjadinya akibat. Keduanya tidak menghendaki sampi matinya orang tersebut.menggerakkannya . kesengajaannya ditujukan kepada : 1. maka jelas tidak mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. Kerjasama dengan orang lain (ditujukan pada perbuatan).235 236 menggadaikan barang milik orang lain yang ada dalam kekuasaannya karena kejahatan”. pada penganjuran (uitlokking) ini ada usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pembuat materiil / auctor physicus. Mungkinkah ada turut serta terhadap delik culpoos ? pada turut serta. d. maka mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. Oleh karena itu mereka dapat dituntut bersama-sama melakukan perbuatan yang tersebut dalam pasal 55 jo pasal 359 KUHP. Jadi hamper sama dengan menyuruhlakukan (doen-pleger). Uitlokker (penganjur) a. 2. Adapun perbedaannya sbb : Penganjuran Menyuruh-lakukan Menggerakkannya Sarana dengan sarana. Pengertian : Pengajur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana denganmenggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang untuk melakukan kejahatan. 5.

Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : . Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : 1. sedangkan syarat 3. d.  c.  Menggerakkannya dengan menggunakan upaya-upaya (sarana-sarana) seperti tersebut dalam undang-undang (bersifat limitatif). Dari lima syarat yang disebutkan diatas. Pertanggungjawaban si penganjur. Mungkinkah ada percobaan pengajuran atau pengajuran yang gagal ? e. 4 dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat materiil). Si pembuat materiil tersebut melakukan tindak pidana yang dianjurkan atau percobaan melakukan tindak pidana. c. jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur. Tidak mungkin.  Pembuat materiil tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana.  Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan karena hal-hal tersebut pada a dan b (jadi ada psychise causaliteit). Syarat penganjuran yang dapat dipidana : Berdasarkan pengertian diatas.237 238 sarana tertentu (limitatif) Pembuat materiil dapat dipertanggungjawa bkan (tidakmerupakan manus ministra) tidak ditentukan (tidak limitatif) Pembuat materiil tidak dapat dipertanggungjawa bkan (merupakan manus ministra) b. maka syarat pengajuran yang dapat dipidana ialah :  Ada kesenjangan untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan yang terlarang.

(catatan : Dengan kata lain. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh van Hamel dengan mengemukakan alasan bahwa sifat khas dari uitlokking ialah membujuk terjadinya perbuatan dengan sengaja. Menurut Pompe orang nyata-nyata dapat sengaja menyuruh orang lain untuk melakukan delik culpa. ia dapat dikatakan melakukan tindak pidana dalam pasal 359. b diatas. pada pembujuk ada kesengajaan yang ditujukanuntuk menggerakkan orang lain untuk menyupir. Kalau orang lain itu tidak dapat menyupir hal mana diketahui oleh pembujuk. orang lain tersebut akan mengendarainya. maka jika pengendara tersebut melanggar seseorang yang mengakibatkan mati. d. Tidak mungkin. sedang pemilik mobil dapat dikatakan melakukan pembujukan untuk terjadinya pelanggaran pasal 359 itu. dan pula dalam arti bahwa yang di bujuk dan pembujuk mempunyai kealpaan yang diisyaratkan oleh undang-undang. Jadi. (b). baru terpenuhi syarat 1 dan 2 atau syarat 1 s/d 3) seperti dikemukakan pada no. akan tetapi orang lain itu tidak mau melakukan atau mau melakukan akan tetapi tidak sampai dapat melaksanakan perbuatan yang dapat dipidana.239 240 (a). dalam arti orang itu sebagai pembujuk mempunyai kesengajaan untuk menggerakkan agar orang lain melakukan perbuatan yang ternyata suatu delik culpa dan inklusif didalam perbuatan sengaja itu termasuk kealpaan. Mungkin. Misal : Seorang pemilik mobil sengaja meminjamkan mobilnya untuk dipakai orang lain dengan mengetahui bahwa dengan pemberian pinjaman itu. Simons menganggap bukannya mustahil dalam bentuk demikian seseorang dapat membujuk terjadinya sesuatu perbuatan dengan pengetahuan bahwa orang yang akan melakukan perbuatan itu dapat mengira-ngira kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki atau dapat mengirakan kemungkinan terjadinya akibat tersebut. Mungkinkah ada percobaan penganjuran atau penganjuran yang gagal ? Penganjuran yang gagal ini dapat terjadi dalam hal seseorang telah dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu tindak pidana dengan menggunakan salah satu sarana dalam pasal 55 (1) ke-2. .

anstifter / pengajur uitlokker. Pendapat kedua : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang tidak accessoir (berdiri sendiri = zelfstanding. Karena dalam “percobaan untuk penganjuran” ini. Jadi sudut pandangnya tidak membedakan antara sifat dapat dipidananya perbuatan (tindak pidana) dan sifat dapat dipidananya orang (pertanggungjawaban pidana).p. tetapi juga dapat dijatuhi pidana. “percobaan untuk penganjuran” tetap dapat dipidana. van Hattum. Menururt KUHP Jerman itu. Jadi lebih mendekati pandangan monistis. ada / tidaknya penganjuran tidak tergantung pada ada tidaknya atau terjadi / tidaknya tindak pidana. D. Penganutnya : Blok. Penganutnya : Hazewinkel-Suring.l sipenganjur tetap dapat dipidana walaupun tindak pidana yang dianjurkan kepada si pelaku tidak terjadi. pengajuran itu ada apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat materiil. vos.p. Jadi menurut pandangan kedua ini. Jomkers.241 242 Timbul masalah apakah terhadap percobaan untuk membujuk atau penganjuran yang gagal dapat dipidana ? mengenai hal ini sebelum adanya pasal 163 bis. dalam KUHP Jerman (sebelum perubahan tahun 1943). van Heml. atau gehilfe / pembantu / medeplichtige). ada dua pandangan : 1). strafbaarheid (sifat dapat dipidananya si penganjur digantungkan dari apa yang dilakukan oleh orang lain). tindak pidana itu tidak terjadi maka si pengajur juga tidak dapat dipidana. Pendapat pertama : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri = onzelfstandig). bahwa menurut pendapat pertama (accessoir). untuk dapat memidana seseorang peserta sebagai Mittater (si turut-serta melakukan / medepleger. tidak bergantung pada yang lain). dikenal apa yang dinamakan extreme accessoiriteit yaitu bahwa untuk adanya bentuk-bentuk penyertaan harus ada yang bertanggung jawab sebagai Tater (pelaku). Dengan demikian apabila si pembuat  . Pompe.l si penganjur dipidana apabila orang yang dibujuk melakukan perbuatan yang dapat dipidana. Simons. Sehubungan dengan pandangan yang pertama diatas. Menurut pendapat ini. Menurut pandangan ini. Catatan :  Dari uraian diatas jelas. 2). D. maka si pembuat materiil harus melakukan strafbare handlung. yang diartikan bukan saja melakukan perbuatan yang dilarang / diancam pidana.

pada umumnya tiap-tiap peserta tidak berdiri sendiri-sendiri. Pandangan accessoiriteit yang terbatas ini sesuai dengan pandangan dualistis (a.-). diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (sekarang menjadi Rp. atau jika percobaan itu tidak dipidana. tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri. Dari sudut perbuatan.243 244 materiil tidak dapat dijatuhi pidana (karena tidak ada kesalahan). jadi jika seseorang dengan .  Pertanggungjawaban peserta tidak lagi digantungkan pada pertanggungjawaban si pelaku atau peserta lainnya. sifat melawan hukumnya perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatannya di hubungkan dengan pelaku atau peserta lainnya. bahwa sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari pada yang ditentukan terhadap percobaan kejahatan. Ruslan saleh) yang melihatnya dari dua sudut pandang : 1). 4. jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana. asal saja pelaku atau peserta lainnya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang. artinya perumusannya dititikberatkan pada perbuatan si pembuat. Aturan tersebut tidak berlaku. setelah pada tahun 1925 (S. 273) ditambahkan pasal 163 bis kedalam KUHP pasal ini berbunyi : 1). Persoalan percobaan pengajuran atau penganjuran yang gagal ini sekarang sudah tidak menjadi persolan lagi. 2). 197 / jo Pasal diatas mengancam pidana terhadap pembujukan yang gagal dan juga yang tidak menimbulkan akibat. 1925 No. Dari sudut pertanggungjawaban. jika tidak mengakibatkannya kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana itu disebabakan karenakehendaknya sendiri. tidak mungkin ada penyertaan. mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan. Dengan demikian pasal ini menjadikan perbuatan “ pembujukan yang gagal” sebagai delik yang berdiri sendiri (delictum suigeneris). Delik ini merupakan delik formil. tetapi dengan ketentuan.l Prof. 2). tetapi dipandang berdiri sendiri. Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam pasal 55 ke-2.500. tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri menurut sikap batinya masing-masing berhubung dengan apa yang diperbuatnya.

245 246 salah satu sarana yang tersebut dalam pasal 55 ke-2 itu berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan. Jadi dapat juga dikenakan kepada “menyuruh lakukan / doenplegen yang gagal”. maksimumnya 2 tahun 7 bulan. Apabila tidak terjadi atau gagalnya pengajuran A itu karena kehendak A sendiri. Jadi maksimumnya bukan 6 tahun (perhatikan redaksi pasal 163 bis). Namun demikian. kalau penganiayaan yang direncanakan pasal 351 (1) maksimumnya 4 tahun penjara dst. yaitu kalau penganiayaan biasa pasal 351 (1). Bagaimanakah apabila B yang dianjuri langsung membunuh C. jadi gagalnya pengajuran A karena kehendak orang yang ditujuk (B). maka ia sudah dapat dipidana. B baru melaksankannya . e. kalau penganiayaan ringan pasal 352 maksimumnya 3 bulan. Dalam hal ini pertanggungjawaban A bukan terhadap perbuatan “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan” (pasal 55 jo 351) tetapi “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan yang berakibat mati” (pasal 55 jo 351 ayat (3)). asal saja sarana yang dipakai oleh si pembuat termasuk salah satu sarana untuk pembujukan yang tersebut dalam pasal 55 ayat (1) ke2. Dalam pasal 55 ayat (2) dinyatakan bahwa penganjur dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan yang sengaja dianjurkannya beserta akibatnya. pasal 163 biss (2) merupakan alasan penghapus penuntutan. Ketentuan pasal 163 bis juga dapat dipertanggungjawabkan pada A dalam hal B (yang dianjuri) tidak mau melaksanakan anjuran dari A walaupun mungkin ia sudah menerima sesuatu pemberian / hadiah dari A. dalam hal ini matinya C tidak dapat dipertanggungjawabkan pada A (Jadi tidak dapat dituduh berdasar pasal 55 jo 338). Moelyatno. Misal : A menganjurkan B untuk menganiaya C dan akibat penganiayaan itu C mati. Bagaimanakah apabila dalam melaksanakan anjuran A untuk menganiaya C itu. yaitu pembujukan yang gagal untuk penganiayaan. karena pembunuhan itu bukan dimaksud (disengaja) oleh A. Pertanggungjawaban si penganjur. Menurut Prof. A masih dapat dipertanggungjawabkan berdasrkan pasal 163 bis. maka pasal 163 bis tidak dapat dikenakan pada A. Perlu diperhatikan bahwa dalam pasal 163 bis itu digunakan kata-kata “mencoba / berusaha menggerakkan orang lain untuk…”. Maksimum pidana yang dapat dikenakan adalah maksimum pidana untuk penganiayaan yang terbukti sengaja dianjurkan oleh A. Alasan penghapus pidananya tercantum dalam ayat (2).

b. maka perbuatan A tetap dapat disebut “membujuk untuk percobaan pembunuhan terhadap C” (pasal 55 jo 53 jo 338). Penetuan hal ini dilakukan secara normative oleh Hakim. jadi karena tidak ada identitas (kesamaan) antara perbuatan yang dibujukkan dengan perbuatan yang benar–benar dilakukan. apakah hanya bertanggung jawab terhadap “kesengajaan dengan maksud (yang langsung dituju)” atau meliputi juga seluruh corak kesengajaan. tetapi karena “penyimpangan sasaran” (aberretio ictus / afdwalirgsgevallen) tembakan B mengenai D. Jenis : Menurut pasal 56 KUHP. ada dua jenis pembantu : Jenis pertama :  Waktunya : Pada saat kejadian dilakukan. Pendapat ini menghendaki adanya hubungan langsung antara kesengajaan si pembujuk dengan terjadinya delik yang dilakukan oleh orang yang dibujuk. apakah A dapat dipertanggungjawabkan ? Ada pendapat bahwa dalam hal ini A tidak dapat dipertanggungjawabkan karena matinya D bukan yang dikenhendaki (disengaja dianjurkan) oleh A. Kalau A membujuk B untuk membunuh C dengan menggunakan pistol. Bagaimanakah terhadap matinya D. Tetapi dilihat dari pertanggungjawaban tidak accessoir. 6. Pembantuan ini bersifat accessoir artinya untuk adanya pembantuan harus ada orang yang melakukan kejahatan (harus ada orang yang dibantu). Jadi masalah pokoknya berkisar pada sampai seberapa jauh “kesengajaan” menurut pasal 55 (2) itu dapat dipertanggungjawabkan kepada di pembujuk. Artinya dipidananya pembantu tidak tergantung pada dapat tidaknya si pelaku dituntut pidana. PEMBANTUAN (medeplichtige) a. Apabila pengertian “sengaja yang dianjurkan” dalam pasal 55 (2) meliputi juga dolus eventualis yang dilakukan oleh pembuat materiil.247 248 sampai taraf percobaan penganiayaan tidak dipidana dan ini berarti “tidak terjadi percobaan kejahatan yanmg dipidana” seperti disebutkan dalam pasal 163 bis. maka dlam kasus diatas A juga dapat dipertanggungjawabkan terhadap matinya D apabila terbukti bahwa pada saat B (pembuat materiil) menembak C dapat dibayangkan kemungkinan tertembaknya orang lain (b) yang berada di dekat C. . Sifat : Dilihat dari perbuatannya.

Pembantuan jenis kedua ini mirip dengan penganjuran (uitlokking). sarana atau keterangan). Maksimum pidananya dikurangi sepertiga (pasal 57-1). Perbedaannya adalah sebagai berikut : Penganjuran Kehendak untuk melakukan kejahatan pada pembuat materiil ditimbulkan oleh si pengajur (ada kausalitas psikhis) Pembantuan Kehendak jahat pada pembuat materiil sudah ada sejak semula (tidak ditimbulkan oleh si pembantu). Maksimum pidananya sam dengan si pembuat.249 250  Caranya : Tidak ditentukan secara limitatif dalam undang-undang Jenis kedua :  Waktunya : sebelum kejahatan dilakukan. Terhadap kejahatan maupun pelanggaran dapat dipidana.  Harus ada kerja sama yang disadari (bewuste samenworking)  Mempunyai kepentingan / tujuan kepentingan / tujuan sendiri. Menurut system ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan. Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif. Pembantuan jenis pertama ini mirip dengan turut serta (medeplegen) perbedaannya sbb : Pembantuan Menurut ajaran penyertaan obyektif : perbuatannya hanya membantu / menunjang (ondersteuning shanling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus socii (hanya untuk memberi bantuan saja pada orang lain). ditimbulkan oleh adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta. sendiri.  Tidak harus ada kerja sama yang disadari (beweste samenwerking)  Tidak mempunyai Turut Serta Menurut ajaran obyektif : perbuatan merupakan perbuatan pelaksanaan (uitvoering shandelling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus coauctores (diarahkan untuk terwujudnya delik).  Caranya : Ditentukan secara limitatif dalam undang-undang (yaitu dengan cara : memberi kesempatan. yaitu : A. Sistem yang berasal dari hukm Romawi. . Terhadap pelanggaran tidak dipidana (pasal 60 KUHP).

artinya harus ditentukan secara tegas. B. maka batas antara bentukbentuk penyertaan tidaklah prinsip. - .251 252 tindak pidana itu sendiri. Karena pertanggungjawaban para peserta itu berbeda. kedua ini dianut dalam KUHP Jerman dan Swiss. Akan tetapi apabila dilhat perbedaan pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat. ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. maka batas antara bentuk-bentuk penyertaan sama. Menurut system ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya). Adapun yang dijadikan batas antara masing-masing bentuk penyertaan dititik beratkan pada sikap batin masing-masing peserta. Menurut Prof Moelyatno. Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. Sistem yang pertama ini terdapat dalam Code Penal Prancis dan dianut juga di Inggris. KUHP kita dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran karena : Dalam pasal 55 disebutkan “dipidana sebagai pembuat” dan dalam pasal 56 disebutkan “ dipidana sebagai pembantu”. maka jarang termasuk tater harus mempunyai tater-willen (niat untuk menganjurkan) dan yang termasuk Gehilfe harus mempunyai Gehilfewiller (niat untuk membantu orang lain). Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. di Jerman dibedakan antara Tater (pembuat). yang dijadikan titik berat untuk menentukan batas antara pelaku dengan para peserta diletakkan pada perbuatannya dan saat bekerjanya masing-masing (jadi bersifat obyektif). Seperti telah dikemukakan. Karena tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sama. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif. sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku. maka ini berarti dianut yang kedua. tergantung dari perbuatan yang dilakukan. berarti menganut system yang pertama. maka batas antara masing-masing bentuk penyertaan itu adalah prinsip sekali. anstifter (penganjur) dan Gehilfe (pembantu). Sistem. Dengan adanya dua bentuk penyertaan ini (yang dapat disamakan dengan pembagian autors dan complices di Prancis atau principals dan accessoir di Inggris. Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda. Berdasar teori subyektif.

jadi sama dengan si pembuat (pasal 57 : 3). Perbedaan antara pembuat (dader) dan pembantu (megeplichtige)) adalah prinsipil. Pada prinsipnya KUHP menganut system bahwa pidana poko untuk pembantu lebih ringan dari pembuat. yang turut serta dan yang menganjurkan. bahwa apabila pada dasarnya KUHP kita menganut system Code Penal (system pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut system KUHP Jerman (system kedua). Perbedaan antara keduanya jangan dicari dalam sikap batin masing-masing. Pasal 333 (4) : Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. KUHP mengamut system bahwa . tetapi cukup bahwa : . c. tetapi cukup secara obyektif menurut bunyinya peraturan saja.Maksimum pidana poko untuk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1). . Ini berarti batas antara mereka yang tergolong dalam “daders” itu tidak perlu ditentukan secara subyetif menurut niatnya masing-masing peserta.Untuk menjadi orang yang menyuruh lakuka. sehingga batas antara keduanya ditentukan menurut sikap batinnya. 3). B). Prinsip ini terlihat didalam pasal 57 (1) dan (2) yaitu : . maka maksimum pidana untuk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2). Pidana tambahan untuk pembantu sama dengan ancaman terhadap kejahatannya itu sendiri. Pasal 231 (3) : Pembantu dipidana lebih berat dari si pembuat. 1). Dalam hubungan ini yang penting adalah perbedaan antara orang yang menyuruh lakukan dan penganjur. (lihat juga pasal 349).253 254 Selanjutnya dikemukakan oleh beliau. Pertanggungjawaban pembantu. dalah tidak prinsipil. apabila orang yang disuruh tidak dapat dipidana sebagai pembuat karena dipandang tidak mempunyai kesalahan. (lihat juga pasal 415 dan 417). dan . Pengecualian terhadap prinsip ini terlihat dalam : a). maka konsekuensinya ialah : A). 2). b).Apabila kejahatan diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. apabila cara-cara yang digunakan untuk menganjurkan tersebut dalam pasal 55 (1) ke-2 dan si pembuat materiil dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan dalam pasal 55 antara pelaku orang yang menyuruh lakukan.Untuk menjadi pengajur sudah cukup. Dalam pertanggungjawaban seorang pembantu.

Dalam contoh-contoh diatas. PENYERTAAN MUTLAK PERLU (NOODZAKELIJKE DEELNEMING / NECESSARY COMPLICITY). Oemar sadji. pasal 284 : perzinahan. A tidak dapat dipidana karena adanya untuk “membujuk” atau “membantu” menurut hukum pidana positif harus ada unsur sengaja. Pasal 238 : membujuk orang untuk masuk dinas militer Negara asing. . 3. Unsur ini harus juga dipenuhi untuk : . Misal : 1. 6. pasal 287 : melakukan hubungan kelamin dengan anak perempuan di bawah umur 15 tahun. F. tetapi ternyata digunakan oleh B untuk mencuri atau untuk membunuh.Medeplegen / turut serta (dianalogikan dengan “membantu”). Terhadap kasus serupa itu Karni juga berpendapat A tidak dapat dipidana karena adanya unsur “sengaja” didalam pasal 56 merupakan anasir subyektif dari pembantuan. Pasal 345 : menolong orang lain untuk bunuh diri. PENYERTAAN DENGAN KEALPAAN (CULPOSE DEELNEMING) Misal : 1. artinya tidak digantungkan pada pertanggungjawaban si pembuat. Pada waktu B akan memasuki rumah C dengan maksud mencuri.Doenplegen / menyuruh lakukan (dianalogikan dengan “membujuk”) .255 256 pertanggungjawabannya berdiri sendiri (tidak bersifat accessoir). bahwa system pemidanaan untuk pembantuan hendaknya dipakai system “facultative Minderbes Taftung / strafmilderung yaitu terserah pada hakim apakah terhadap pembantu pidananya akan dikurangi atau tidak. pasal 297 : bigamy 4. Misal pasal 57 (4) dan 58. 5. 2. Ada pendapat dari Prof Moelyatno dan Prof. Pasal 149 : Menyuap (membujuk) seseorang untuk tidak menjalankan haknya untuk memilih. artinya kesengajaan si pembantu harus diarahkan pada kejahatan yang bersangkutan. Dalam contoh-contoh diatas. menurut Vos. menolong B membuka kaca jendela sehingga B dapat masuk ke rumah C. E. A memberi gunting kepada B yang katanya untuk menggunting kain. 4). 2. ia berkelakuan seolah-olah (pura-pura) kehilangan kunci rumah A yang pada waktu itu lewat dan sama sekali tidak tahu bahwa B berdiri dimuka rumah orang lain dan telah merencanakan untuk mencuri. delik baru terjadi kalau ada orang lain (kawan berbuat) yang mau harus ada.

Mr.putusan Rv j Senmarang 20-12-1937 2. Misal : 1. TINDAKAN-TINDAKAN SESUDAH TERJADINYA TINDAK PIDANA SEBAGAI DELIK YANG BERDIRI SENDIRI.putusan Rv j Batavia 20-3-1936 . pasal 223 : menolong orang melepaskan diri dari tahanan. 2.putusan Landraad Batavia 18-21936 . membantu untuk menganjurkan (pasal 56 jo 55) – putusan Hoge Raad 25-1-1950 DALAM AAN .putusan Rv j Batavia 8-5-1930 3. . tetapi yang dilakukan setelah terjadinya tindak pidana lain. . 3. Pasal 480. Kami mempersoalkan bagaimana apabila justru yang membujuk terjadinya delik itu adalah anak perempuan yang belum berumur 15 tahun itu ? terhadap hal ini. Membujuk untuk membujuk (pasal 55 jo 56). pasal 483 : menerbitkan tulisan / gambar yang dapat dipidana karena sifatnya. G.257 258 apabila kawan berbuat itu tidak ada maka delik itu tidak dapat dilakukan. jadi istilah beliau dimasukkan dalam pengertian “noodzakelijke medeplegen” (turut serta yang diharuskan). Mengenai pasal 287. Karni menyebutnya dengan “istilah” bekerja bersama-sama yang diharuskan oleh penegasan delik . H. 4. 481. Dalam contoh-contoh diatas sebeanrnya juga merupakan bentuk penyertaan. Dalam pasal-pasal diatas ada yang menetapkan bahwa dipidana hanya si pelaku. kami menyatakan tidak keberatan untuk memidana anak gadis tersebut. 482 : delik penadahan. PERBUATAN PENYERTAAN PENYERTAAN (DEELNEMING DEELNEMINGSHANSELINGEN) Misal : 1. Dalam il. membujuk untuk membantu (pasal 55 jo 56).mu hukum pidana Jerman dikenal dengan istilah “Nachtaterschaft” atau “Begunstigung” (bentuk-bentuk “pemudahan”). pasal 221 : menyembunyikan penjahat. Inilah yang dimaksud dengan penyertaan yang tidak dapat dihindarkan atau penyertaan yang harus dilakukan. karena yang dimaksud dengan istilah “bekerja / berbuat bersama-sama” oleh beliau adalah sama dengan istilah “turut serta” (medeplegen). tetapi ada juga yang menetapkan bahwa kawan pelakunya dapat dipidana.

contoh-contoh diatas dapat dimaklumi karena penyertaan dipandang sebagai “delichtum sui generic”. melakukan lebih dari 1 tindak pidana. Yang memandang sebagai masalah pemberian pidana a. Mezger.l : Pompe. Moelyatno. Yang memandang sebagai bentuk khusus dari tindak pidana a.l HazewinkelSuringa 2. BEBERAPA PANDANGAN. BAB XII GABUNGAN TINDAK PIDANA (SAMENLOOP / CONCURSUS) Dalam suatu tindak pidana dikatakan telah terjadi suatu perbarengan dalam kondisi.259 260 Catatan : bagi mereka yang memandang “deelneming” sebagai “Tatbescandausdeh-nungsgrund”. . Namun bagi mereka yang memandangnya sebagi “strafausdehnungsgrund”. yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana pada orang tersebut. Ada dua kelompok pandangan persoalan concursus : mengenai 1. I. contoh-contoh diatas dipandang tidak mungkin atau janggal. di mana untuk tindak pidana itu belumada putusan hakim diantaranya dan terhadap perkaraperkara pidana itu akan diperiksa serta diputus sekaligus. jika satu orang.

PENGERTIAN 1. dan ada pula yang melihatnya dari sudut hukum yaitu yang dihubungkan dengan danya akibat / keadaan yang terlarang. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) pasal 65 s/d 71. 2. khususnya dalam hal terdakwa hanya melakukan perbuatan. namun demikian dari rumusan pasal-pasal diperoleh pengertian sbb :   Concursus Idealis. PENGATURAN DIDALAM KUHP Didalam KUHP diatur dalam pasal 63 s/d 71 yang terdiri dari : 1. perbuatan tersebut masingmasing merupakan kejahatan atau pelanggaran antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. 3. apabila pasal 64 Seseorang melakukan beberapa. Kesulitan ini timbul karena dalam ilmu pengetahuan hukum pidana.261 262 II. “perbuatan” (feit) itu ada meninjaunya secara materiil. . III. Catatan : Diantara perbuatanperbuatan yang dilakukan pada (concursus realis dan perbuatan berlanjut) narus belum ada keputusan hakim. yaitu dipikikan terlepas dari akibatnya. Menurut pendapat sarjana : Adanya istilah “perbuatan/feit” dalam pasal-pasal di atas menimbulkan masalah yang cukup sulit. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum /Voortgezettehandeling) pasal 64. Ada perbuatan berlanjut. Perbarengan peraturan (concursus Idealis) pasal 63. 2. Menurut rumusan KUHP : Sebenarnya didalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus. pasal 63 (suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. terlepas dari unsur-unsur tanbahan (dikenal dengan jaran feit materiil). secara fisik jasmaniah.

- Contoh : Oranga dalam keadaan mabuk mengendarai mobil diwaktu malam tanpa lampu. Antara perbuatanperbuatan itu tidak dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. perbuatan ini masuk pasal 294 (perbuatan cabul dengan anak sendiri yang belum cukup umur) dan pasal 287 (bersetubuh dengan wanita yang belim berusia 15 tahun diluar perkawinan).263 264 Sehubungan dengan kesulitan itu. mau tidak mau (eoipso) masuk pula dalam peraturan pidana lain. Misalnya bersetubuh dengan anak sendiri yang belum berusia 15 th. apabila orang melakukan sesuatu perbuatan konkrit yang diarahkan kepada satu tujuan merupakan benda / obyek aturan hukum. yaitu: . TAVERNE Ada concursus Idealis . maka para sarjana mengemukakan beberapa pendapat : HAZEWINKEL-SURINGA Ada concursus Idealis apabila suatu perbuatan yang sudah memenuhi suatu rumusan delik. apabila : Dipandang dai sudut hukumpidana ada dua perbuatan atau lebih. Dalam hal ini perbuatan hanya satu yaitu “mengendarai mobil”. POMPE Ada concursus Idealis. Misal : perkosaan dijalan umum. disamping masuk 281 (melanggar kesusilaan di muka umum). tetapi dilihat dari sudut hukumada dua perbuatan yang masingmasing dapat dipikirkan terlepas satu sama lain.

Khusus mengenai penjelasan M. Menurut ayat 1 digunakan system absorbsi. maka tidak perlu perbuatanperbuatan itu sejenis. asal perbuatan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan tujuan. SISTEM PEMBERIAN PIDANA / STELSEL PEMIDANAAN 1. Dengan sendirinya melakukan perbuatan (feit) yang lain pula. Concursus Idealis (pasal 63). Misalnya untuk melampiaskan balas dendamnya kepada B.v. - Contoh : Perkosaan dijalan umum (melanggar pasal 285 & 281 KUHP). merobek bajunya. a). apabila : Dengan melanggar satu kepentingan hukum. “mengendarai mobil dalam keadaan mabul” (menggambarkan keadaan orang / pelakunya) dan kedua “mengendarai mobil tanpa lampu diwaktu malam” (menggambarkan keadaan mobilnya). memukul dan akhirnya membunuh. mengartikannya secara umum dan lebih luas yaitu “tidak berarti harus ada kehendak untuk tiap-tiap kejahatan”.T mengenai criteria untuk adanya “perbuatan berlanjut” seperti dikemukakan diatas. yaitu hanya dikenakan satu pidana pokok yang terberat. Simons . Jadi dalam hal ini ada Concursus Realis. Berdasar pengertian yang luas ini.265 266 Pertama. Misal : perkosaan dijalan umum. IV. Simons tidak sependapat. A melakukan serangkaian perbuatan-perbuatan berupa meludahi. Mengenai syarat “ ada satu keputusan kehendak”. melanggar pasal 285 (12 th penjara) dan pasal 281 (2 tahun 8 bulan penjara). VAN BEMMELEN Ada Concursus Idealis.

Misal A setelah memalsu mata uang (pasal 244 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun) kemudian menggunakan / mengedarkan mata uang yang palsu itu (pasal 245 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun). dan jika berbeda-beda dikenakan satu aturan pidana. 2. b). pada prinsipnya berlaku system absorbsi yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana. b). Maksimum pidana penjara yang dikenakan ialah yang terdapat dalam pasal 341 (lex specialis) yaitu 7 tahun penjara. Apabila Hakim menghadapi pilihan antara dua pidana poko sejenis yang maksimumnya sama. Pasal 64 ayat (2) merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang. dalam hal ini berlaku adagium “lex specialis derogate legi generali” Contoh : seorang ibu membunuh anaknya sendiri pada saat anaknya dilahirkan. d). Dalam pasal 63 ayat (2) diatur ketentuan khusus yang menyimpang dari prinsip umum dalam ayat (1). Perbuatan berlanjut (pasal 64). Dalam hal ini perbuatan A tidak dipandang sebagai concursus Realis. jadi misalnya memilih antara 1 minggu penjara. dan jika berbeda-beda dikenakan ketentuan yang memuat ancaman pidana pokok yang terberat. Apabila menghadapi dua pilihan antara dua pidana pokok yang tidak sejenis. 1 tahun kurungan dan denda 5 juta rupiah. a). Perbuatan ibu ini dapat masuk dalam pasal 338 (15 tahun penjara dan pasal 341 (7 tahun penjara). maka penetuan pidana yang terberat didasarkan pada urut-urutan jenis pidana seperti tersebut dalam pasal 10 (lihat pasal 69 ayat (1) jo pasal 10).267 268 Maksimum pidana penjara yang dapat dikenakan ialah 12 tahun. maka pidana yang terberat adalah 1 minggu penjara. tetapi tetap dipandang sebagai perbuatan berlanjut sehingga ancaman maksimum pidananya dapat dikenakan 15 tahun penjara . Menurut pasal 64 ayat (1). c). maka menurut VOS ditetapkan pidana pokok dengan tambahan yang paling berat.

378 (penipuan) atau 406 (perusakan barang). Misal :  A melakukan 3 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 4 tahun. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok sejenis. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok tidak sejenis berlaku pasal 66 yaitu semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan.269 270 c). tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum piudana yang terberat ditambah sepertiga.  A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing. Misal : 1). b. Dalam hal ini yang dapat digunakan ialah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12 tahun penjara. A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan dua tahun penjara. 372 (penggelapan). Dalam hal ini. karena melebihi jumlah maksimum pidana untuk masing-masing kejahatan tersebut. 250.masing diancam pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun. system ini disebut system Kumulasi yang diperlunak. Pasal 64 ayat (3) merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatn ringan yang terdapat dalam pasal 364 (pencurian ringan). 379 (penipuan ringan) dan 407 (1) (perusakan barang ringan) yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut. 3. Concursus Realis (pasal 65 s/d 71). a. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah ancaman pidananya yaitu 10 tahun penjara. Berarti yang dikenakan adalah pasal 362 (pencurian). 5 tahun dan 9 tahun. berlaku pasal 65 yaitu hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari maksimum terberat ditambah sepertiga. Jadi disini berlaku system absorbsi yang dipertajam. .. Apabila nilai kerugian yang timbul dari kejahatan-kejahatn ringan yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut itu lebih dari Rp.maka menurut pasal 64 ayat (3) dikenakan aturan pidana yang berlaku untuk kejahatan biasa. 373 (penggelapan ringan).

.Menurut blok perhitungannya sbb : pidana denda dijadikan dulu pidana kurungan pengganti yaitu maksimum 6 bulan (lihat pasal 30 KUHP).447. 1. 1.= Rp..maksimumnya kurungan penggantinya 6 bulan.000.-_ Perhitungan blok mengenai jumlah pidana kurungan pengganti di atas masih didasarkan pada perhitungan lama sebelum adanya perubahan pidana denda 15 kali menurut UU No. 1.76.? mengenai hal ini ada dua pendapat : . 2). 333. maka untuk denda Rp.. Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan maka 6 bulan ini dipecah menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan 1/3 x Rp. Adapun maksimumnya adalah 2 tahun ditambah (1/3 x 2) tahun = 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan.000. maka 1 hari kurungan pengganti dihitung sama dengan Rp.(yaitu 50 sen dikalikan 15) jadi untuk denda Rp. Dengan demikian apabila diikuti perhitungan menurut Blok di atas maka jumlah maksimum 8 bulan dapat dipecah misalnya menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan denda 60/134 x Rp.000.-. . Menurut perhitungan lama. Dengan demikian pidana yang dijatuhkan misalnya terdiri dari 2 tahun penjara dan 8 bulan kurungan.- - - - - (atau dibulatkan menjadi Rp. 1.= Rp.Menurut Noyon semuanya harus dijatuhkan yaitu 6 bulan penjara dan denda Rp. 1..000. Dengan telah adanya perubahan pidana denda..30. Bagaimanakah dalam hal A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam 6 bulan penjara dan denda Rp.000. tiap denda 50 sen atau kurang dihitung sama dengan satu hari kurungan pengganti.50. .271 272 Dalam hal ini semua jenis pidana (penjara dan kurungan) harus dijatuhkan.kurungan penggantinya sama dengan 134 hari (dibulatkan). 18 tahun 1960. 7.000. tetapi karena menurut pasal 30 (3) maksimum kurungan pengganti 6 bulan. 1. Dengan demikian maksimumnya ialah 6 + (1/3 x 6) bulan = 8 bulan. 334.

maka digunakan system absornsi yang dipertajam / diperberat (pasal 65).  Tetapi apabila A misalnya melakukan 3 kejahatan ringan yang masingmasing diancam pidana penjara 3 bulan.500. Untuk Concursus Realis berupa kejahatan ringan.-) dalam pasal 360 (diancam pidana 5 tahun penjara atau 1 tahun kurungan ? Dalam hal ini hakim harus mengadakan “pilihan hukum” terlebih dahulu. d. 379 dan 482 berlaku pasal 70 bis yang menggunakan system kumulasi tetapi dengan pembatan maksimum untuk penjara 8 bulan. 352. Kalau dipilih ancaman pidana yang sejenis. berlaku pasal 71 yang berbunyi sbb: “Jika seseorang setelah dijatuhi pidana kemudian dinyatakan salah lagi karena melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan pidana itu. 364. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah 6 bulan penjara (system kumulasi). maka maksimumnya bukan 9 bulan penjara (kumulasi) tetapi 8 bulan penjara. berlaku pasal 70 yang menggunakan system kumulasi. baik kejahatan maupun pelanggaran untuk diadili pada saat berlainan. e.273 274 3). Bagaimanakah dalam hal A melakukan dua jenis kejahatan yang terdapat dalam pasal 351 (diancam pidana 2 tahun 8 bulan penjara atau denda Rp. 373. Untuk Concursus Realis berupa pelanggaran. tetapi maksimumnya adalah 1 tahun 4 bulan atau hanya 16 bulan. Jadi misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam pidana kurungan 9 bulan. . system kumulasi itu dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan. Untuk Concursus Realis. maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini mengenai c. Misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam piadan kurungan 6 bulan dan 9 bulan. khusus untuk pasal 302 (1). 4. maka maksimumnya adalah (6+9) bulan = 15 bulan. Misal :  A melakukan pencurian ringan (pasal 364) dan penggelapan ringan (pasal 373) yang masing-masing diancam pidana 3 bulan penjara. Namun menurut pasal 70 ayat 2. maka maksimum pidana kurungan yang dapat dijatuhkan bukanlah (9+9) bulan = 18 bulan.

Misal : A melakukan kejahatan-kejahatan sbb :  Tgl. Andaikata untuk keempat tindak pidana itu.  Tgl. maka keputusan yang kedua kalinya ini untuk penggelapan itu paling banyak hanya dijatuhi pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan (putusan sekaligus) dikurangi 6 tahu (putusanI) yaitu 8 bulan penjara. dapatlah bunyi pasal 71 diatas dirumuskan secara singkat sbb : Putusan ke II = (putusan sekaligus) – (putusan ke-I). 10/1 : penadahan (pasal 480. hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara. diancam 4 tahun penjara). 5/1 : penganiayaan biasa (pasal 351 diancam 2 tahun 8 bulan). 1/1 : pencurian (pasal 362.  Tgl. maka jika kemudian ternyata bahwa A pada tanggal 14/1 (jadi sebelum ada keputusan) melakukan penggelapan (pasal 372 yang diancam pidana penjara 4 tahun). 20/1 : penipuan (pasal 378. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah 5 tahun + (1/3 x 5 tahun) = 6 tahun 8 bulan. . Dengan contoh diatas. diancam 4 tahun penjara).  Tgl. ancaman pidana 5 tahun penjara). Kemudian A ditangkap dan diadili dalam satu keputusan.275 276 hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama”.

yakni : a. M.T dari KUHP (Belanda) dalam penjelasannya mengenai alasan mengahpus pidana ini. tidak dihukum. Dengan demikian materi ini menjadi penting untuk memperoleh kepastian dan keadilan hukum dalam penyelesaian suatu perkara pidana. Alasan atau Dasar Penghapusan Pidana merupakan hal-hal atau keadaan yang dapat mengakibatkan seseorang yang telah melakukan .v. 2) Perbuatannya tidak lagi merupakan perbuatan yang melawan hukum. Umur yang masih muda (mengenai umur yang masih muda ini di Indonesia dan juga di negeri Belanda sejak tahun 1905 tidak lagi merupakan lasan penghapus pidana Dalam hukum pidana perlu dikemukakan materi tentang alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannya hukuman. UU pidana mengatur hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotesis. Berdasarkan sifatnya ini maka UU pidana mengandung kemungkinan akan dijatuhkannya hukuman yang adil bagi orang-orang tertentu yang mungkin saja tidak bersalah.v. mengurangkan dan memberatkan pidana”. karena : 1) Orangnya tidak dapat dipersalahkan. Grounds Of Impunity) perbuatan yang dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Pidana (KUHP). masih menurut Utrecht. Pembicaraan selanjutnya akan mengenai alasan penghapus pidana. tidak dapat dipidana. M. Sehingga.T menyebut 2 (dua) alasan :  Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang itu (inwendig). UU pidana seperti UU lainnya mengatur hak-hal yang umum dan yang akan terjadi (mungkin akan terjadi). Bab I dan Bab II KUHP memuat : “ Alasan-alasan yang menghapuskan. meskipun orang tersebut melakukan suatu tindakan sesuai dengan lukisan perbuatan yang dilarang oleh UU pidana. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena sakit (pasal 44 KUHP) b.277 278 BAB XIII ALASAN / DASAR PENGHAPUS PIDANA (Strafuitsluitingsgrond. aialah alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik. karena menurut Utrecht. mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasanalasan tidak dapat dipidananya seseorang”.

50 dan 51 KUHP. II. 49. Alasan penghapus pidana yang umum (starfuitingsgronden yang umum). yaitu yang berlaku umum untuk tiap-tiap delik dan disebut dalam pasal 44. Alasan pembenar yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 48 (keadaan darurat). Pasal 166 KUHP : “Ketentuan-ketentuan pasal 164 dan 165 KUHP tidak berlaku pada orang yang karena pemberitahuan itu mendapat bahaya untuk dituntut sendiri dst………………………………………” Pasal 164 dan 165 memuat ketentuan : bila seseorang mengetahui ada makar terhadap suatu kejahatan yang membahayakan Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain. b. 48. meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. Kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak mungkin ada pemidanaan. rechtfertigungsgrund). fait justificatif. Pembelaan terpaksa atau noodweer (pasal 249). d.v. dalam arti bahwa orang ini tidak dapat dicela (menurut hukum) . entschuldigungsdrund.T. maka orang tersebut harus melaporkan. Disini ia tidak dituntut jika ia hendak menghindarkan penuntut dari istri. Alasan pemaaf menyangkut pribadi si pembuat. Melaksanakan Undang-undang (pasal 50). misal : I. schuldausschliesungsgrund). pasal 50 (peraturan perundangundangan) dan pasal 51 (1) (perintah jabatan). Melaksanakan perintah jabatan (pasal 51). Pasal 221 ayat (2) : menyimpan orang yang melakukan kejahatan dan sebagainya”. yaitu yang hanya berlaku unutk delik-delik tertentu saja. Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan atau pembuatnya. Selain perbedaan yang diterangkan dalam M. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar orang itu (uitwendig).279 280  melainkan menjadi dasar untuk memperingan hukuman). suami dan sebagainya (orang-orang yang masih ada hubungan darah). maka dibedakan dua jenis alasan penghapus pidana : a) Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond. Negara dan Kepala Negara. c. yaitu: a. b) Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan (schulduitsluittingsgrond-fait d’excuse. sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan dan dapat dipidananya pembuat. pasal 49 ayat (1) (pembelaan terpaksa). ilmu pengetahuan hukm Pidana juga mengadakan pembedaan sendiri. Alasan pembenar menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. Daya paksa atau overmacht (pasal 48). 2. ialah : 1. Alasan penghapus pidana yang khusus (starfuitingsgronden yang khusus).

meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum. (Mengenai pasal 44 KUHP ini hendaknya dilihat lagi Bab Kemampuan Bertanggung jawab yang membahas tentang kesalahan dan pertanggung jawaban pidana).281 282 dengan perkataan lain ia tidak bersalah atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. 49. 48. 50 dan 51 KUHP. Uraian berikut membahas tentang dasar penghapus pidana yang terdapat dalam pasal 44. Tidak adanya kemampuan bertanggung jawab mengahpuskan kesalahan mekipun perbuatannya tetap melawan hukum. Pelaku akan diperiksa oleh seorang ahli (yang akan menyampaikan catatan medis). sehingga dalam hal ini dapat dikatakan suatu alasan penghapus kesalahan. pasal 51 ayat (2) (dengan itikad baik melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah). Untuk membuktikan apakah seseorang yang melakukan tindakpidana ternyata tidak dapat dihukum dengan lasan pasal 44 KUHP. Adapun mengenai pasal 48 (daya paksa) ada dua kemungkinan. Apa yang diartikan dengan daya paksa ini dapat dijumpai dalam KUHP.v. yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. selanjutnya dari hasil tersebut akan disampaikan di muka persidangan. pasal 49 ayat (2) (noodweer exces). dapat merupakan alasan pembenar dan dapat pula merupakan alasan pemaaf.T menyebutkan sebagai tak dapat dipertanggung-jawabkan karena sebab yang terletak didalam si pembuat sendiri. Penafsiran bisa . sehingga tidak mungkin pemidanaan. Seperti diketahui M. Alasan pemaaf yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 44 (tidak mampu bertanggungjawab). maka kita memerlukan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu yaitu psikiatri forensic. TIDAK MAMPU BERTANGGUNG JAWAB (PASAL 44) : Pasal 44 KUHP memuat ketentuan bahwa tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan DAYA PAKSA-OVERMACHT (PASAL 48 KUHP). Jadi disini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat. Pasal 48 KUHP menentukan : “ tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. ALASAN PENGHAPUS PIDANA (UMUM) DALAM KUHP.

Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar kewajibannya untuk menyimpan surat-surat berharga itu dan menyerahkannya kepada A atau sebaliknya. ia tidak menyerahkan dan ditembak mati. Dalam M. dengan meletakkan pistol di dada B. Jadi harus ada kekuatan (daya) yang mendesak dia kepada suatu perbuatan yang dalam kata lain tak akan ia lakukan.v. Yang dimaksud denganm daya paksa dalam pasal 48 ialah daya paksa relative (vis complusiva). setiap paksaan atau tekanan yang dapat ditahan”. Kalimat “tidak dapat ditahan” menunjukkan. sehingga kaca pecah. B dapat menolak. memberi sifat kepada tekanan atau paksaan itu. Ia ada ditengah-tengah dua hal yang sulit yang sama-sama buruknya. yang tak dapat ditahan”. . untuk menyerahkan uang yang disimpan oleh B. Maka dalam overmacht (daya paksa) dapat dibedakan dalam du hal : 1. Perlawanan terhadap paksaan itu tak boleh disertai syarat-syarat yang tinggi sehingga harus menyerahkan nyawa misalnya. Antara sifat dari paksaan di satu pihak dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak harus ada keseiombangan. Maka orang yang pertama tadi tak dapat dikatakan telah melakukan perusakan benda (pasal 406 KUHP). Daya paksa yang absolute vis absoluta dapat disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam. (Prof.T dilukiskan sebagai : “setiap kekuatan. jadi tak ada paksaan absolut. Yang dimaksud dengan daya paksaan disini bukan paksaan mutlak. vis absoluta (paksaan yang absolut). kasir bank. Istilah “gedrongen” (didorong) menunjukkan bahwa paksaan itu tak dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan. Contoh : tangan seseorang dipegang oleh orang lain dan dipukulkan pada kaca. Dalam hal ini paksaan tersebut sama sekali tak dapat ditahan. 2. Keadaan ini harus ditinjau secara obyektif. Hal yang disebut terakhir ini. Moelyatno hanya menyebut “karena penagruh daya paksa”). B dapat berpikir dan menentukan kehendaknya. bahwa menurut akal sehat tak dapat diharapkan dari si pembuat untuk mengadakan perlawanan. vis compulsive (paksaan yang relatif). dan jalan lain juga tidak ada. melainkan apa yang dapat diharapkan dari seseorang secara wajar.283 284 dilakukan dengan melihat penjelasan yang diberikan oleh pemerintah ketika undang-undang (Belanda) itu dibuat. Contoh : A mengancam B. masuk akal dan sesuai dengan keadaan. Sifat dari daya paksa ialah bahwa ia datang dari luar diri si pembuat dan lebih kuat dari padanya. yang tidak memberi kesempatan kepada si pembuat menentukan kehendaknya. Pada overmacht (daya paksa) orang ada dalam keadaan dwangpositie (posisi terjepit).

Dalam vis compulsiva (daya paksa relative) kita dibedakan daya paksa dalam arti sempit (atau paksaan psikis) dan keadaan darurat. Orang yang mendorong tersebut tidak dapat dipidana.  Keberatan hati nurani (terhadap masuk dinas tentara) bukan keadaan darurat. 52 SGB) dan keadaan darurat disebut notstand. Misal : . terdapat 3 bentuk dari keadaan darurat : I. Hal ini tidak bisa diterima.285 286 Paksaan Dario dalam : Kita mengambil contoh dari Arrest H. Ia harus memeriksa kemungkinannya masuk kedalam alasan penghapusan pidana yang umum. Mungkin ada orang yang memandang perbuatan itu bertentangan dengan norma kesusilaan. Di Jerman untuk daya paksa ada istilah notigungstand (pasa. Maka untuk menyelamatkan diri. Pertentangan antara dua kepentingan hukum : Contoh klasik : “papan dari carneades”. Dalam Arrest ini. KEADAAN DARURAT-NOODTOESTAND (PASAL 48 KUHP). Daya paksa dalam arti sempit ditimbulkan oleh orang sedang pada keadaan darurat. Ada dua orang yang karena kapalnya karam hendak menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sebuah papan. maka kedua-duanya akan tenggelam. seorang diantaranya mendorong temannya sehingga yang di dorong mati tenggelam dan yang mendorong terhindar dari maut (cerita ini berasal dari CICERO). Mereka tak mau taat pada undang-undang dan ingin mengikuti pandanganya sendiri mengenai keadilan dan kesusilaan yang menyimpang dari ketenatuan undang-undang. paksaan itu datang dari hal di luar perbuatan orang KUHP kita tidak mengadakan pembedaan tersebut. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum.  Hakim tidak boleh begitu saja mengabaikan alasan keberatan hati nurani. tanpa melihat sampai di mana si pembuat dapat di cela atas perbuatannya. namun menurut hukum perbuatan ini karena dapat difahami bahwa merupakan naluri setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. karena ada dalam keadaan darurat. padahal papan itu tak dapat menahan dua orang sekaligus. Kalau keduaduanya tetap berpegangan pada papan itu. Menurut doktrin. yang diatur dalam pasal 54 SGB. orang yang tak mau masuk dinas tentara karena suara hati atau hati nuraninya keberatan tetap dihukum. II.R tgl 26 Juni 1916 (Arrest “tak mau masuk tentara”). Namun di Belanda sejak tahun lima puluhan ada perubahan pandangan.

sehingga betul-betul dalam keadaan sangat memerlukan pertolongan. tetapi dokter tadi naik banding. terdakwa (opticien) tak dapat dipidana dan melepas terdakwa dari segala tuntutan. Terdakwa ada dalam keadaan darurat. Seorang pemilik toko kacamata kepada seorang yang kehilangan kacamatanya. Dokter tersebut tak mau melaporkan pada atasan. Oleh pengadilan tentara ia dikenakan hukuman 1 (satu) hari. VAN HATTUM dalam hal 351 membandingkan daya memaksa dengan noodtoestand sebagai berikut : Pada daya memaksa dalam arti sempit si pembuat berbuat atau tidak berbuat III. Ia merasa dalam keadaan seperti itu mempunyai kewajiban untuk menolong sesame (Arrest ini disebut Arrest optician). jadi ia tetap patuh pada sumpah kedokteran. lalu masuk atau melewati rumah orang lain guna menyelamatkan barang-barangnya. maka penjual kacamata dapat dikatakan bertindak dalam keadaan memaksa dan khususnya dalam keadaan darurat. sebab dengan memberi laporan pada atasannya ia berarti melanggar sumpah jabatan sebagai dokter yang harus merahasiakan semua penyakit dari para pasiennya. (kota pelabuhan) terjangkit penyakit kelamin.287 288 1. 15 Oktober 1923). sehingga pemilik took dilarang melakukan penjualan. 26 November 1916). dan mahkamah tentara tinggi membebaskannya karena ia ada dalam keadaan darurat (putusan tgl. Orang yang sedang menghadapi bahaya kebakaran rumahnya.R (putusan tgl. Padahal pada saat itu menurut peraturan penutupan took sudah jam tutup took. 2. Ia memberatkan salah satu. Di sini ia memilih tetap merahasiakan penyakit pasiennya. Namun karena si pembeli itu ternyata tanpa kacamata tak dapat melihat. Pertentangan antara kewajiban hukum dangan kewajiban hukum : a) Seorang perwira kesehatan (dokter angkatan laut) diperintahkan atasannya untuk melaporkan apakah ada para perwira-perwira laut yang bebas tugas dan berkunjung ke darat . b) Seorang yang dalam satu hari (pada waktu yang bersamaan) dipanggil menjadi saksi di dua tempat. tak dapat diterima oleh H. Permintaan kasasi oleh jaksa terhadap putusan hakim yang menyatakan bahwa. Disini dihadapkan pada dua kewajiban hukum :  Melaksanakan perintah dari atasannya (sebagai tentara)  Memegang teguh rahasia jabatan sebagai dokter.

memenuhi asas subsidiaritas & proporsionalitas. seketika dan langsung b. a. Perbuatan orang yang membela diri itu seolah-olah mempertahankan haknya sendiri. tapi hal ini tidak perlu asal saja memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diatas. Tidaklah dapat diharapkan dari seorang warga Negara menerima saja suatu perlakuan yang melawan hukum yang ditujukan kepada dirinya. Serangan itu dapat merupakan tindak pidana.289 290 dikarenakan satu tekanan psikis oleh orang lain atau keadaan. Padahal Negara dengan alat-alat perlengkapannya tidak dapat tepat pada waktunya melindungi kepentingan hukum dari orang yang diserang itu : maka pembelaan diri ini bersifat menghilangkan sifat melawan hukum. Syarat pembelaan : a. Bagi si pembuat tak ada penentuan kehendak secara bebas. d. dan harta benda 2. sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan. c. melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut : melawan hukum seketika dan langsung ditujukan pada diri sendiri / orang lain terhadap badan / tubuh. Pada keadaan darurat si pembuat ada dalam suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong dia untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap undang-undang. kehormatan seksual. adanya serangan. b. Ia dororng oleh paksaan psikis dari luar yang sedemikian kuatnya. Dalam pembelaan darurat ada dua hal yang pokok : 1. misalnya dengan tinju . nyawa. Contoh serangan yang tidak merupakan tindak pidana. BELA PAKSA-PEMBELAAN DARURAT-NOODWEER (PASAL 49 AYAT (1)). Pasal 49 ayat (1) berbunyi :”tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dialkukan untuk membela dirinya sendiri atau orng lain. Istilah noodmeer atau pembelaan darurat tidak ada dalam KUHP sehingga untuk memahaminya kita memerlukan ajaran dari para ahli hukum pidana . Tidak terhadap semua serangan dapat diadakan pembelaan. membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melwan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga”. subsidiaritas maksudnya tidak ada cara lain selain membela diri dan proporsionalitas artinya seimbang antara serangan dan pembelaan. ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu.

yakni menunggu belum dapat dikatakan serangan. Dalam keadaan darurat dapat dilihat adanya perbenturan antara kepentingan hukum. hak berhadapan dengan bukan hak. sedang dalam pembelaan darurat harus ada serangan. karena disini terjadi serangan balasan. maka perbuatan A tersebut.291 292 menyerbu seseorang. sedang dalam pembelaan darurat. Dalam hubungan pembelaan darurat ini ada satu perbuatan orang yang disebut putatief noodweer. dalam keadaan darurat tidak perlu adanya serangan. pembelaan itu syarat-syarat sudah ditentukan secara limitative (pasal 49 ayat (1)). sedang dalam pembelaan darurat para penulis memandang sebagai alasan pembenar ialah sebagai penghapus sifat melawan hukum. Dalam keadaan darurat orang dapat bertindak berdasarkan berbagai kepentingan atau alasan sedang dalam pembelaan darurat. Kapan serangan itu ada dan kapan serangan itu berlangsung menurut Hazewinkel-Suringa. Apakah perbedaan pembelaan darurat ? antara keadaan darurat dan 1. Istilah mengancam seketika dan langsung berarti bahwa serangan itu sedang berlangsung dan juga bahaya serangannya. . 3. Sebagai contoh : pembunuh dengan pisau terhunus menyerbu korbannya. Kalau misal A menembak B tidak kena dan A tidak menunjukkan akan menembak lagi. Tentu saja perbuatan B itu harus dilihat dalam keadaan yang menyertai perbuatan itu. 4. maka perbuatan b itu bukanlah perbuatan pembelaan karena terpaksa. 2. Terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak mungkin ada pembelaan darurat. disini kesengajaan dihilangkan karena orang mengira bahwa dia berada dalam keadaan di mana harus mengadakan pembelaan darurat dalam hal ini harus di lihat peristiwa dari peristiwa oleh karena itu maka harus diterangkan dalam proses verbal. kepentingan hukum dan kewajiban hukum serta kewajiban hukum dan kewajiban hukum. dengan perkataan lain dalam keadaan darurat hak berhadapan dengan hak. Dalam pembelaan daruart situasi darurat ini ditimbulkan oleh adanya perbuatan melawan hukum yang bisa dihadapi secara sah. tetapi B lalu membalas. mengambil catatan untuk di fotocopy guna kepentingan majikannya tapi tidak untuk dimiliki sendiri. Persoalan yang timbul pada serangan ialah : kapankah ada serangan dan kapankah serangan itu berakhir ? Sebagai contoh : A menunggu B di luar rumah. Sifat keadaan darurat tidak ada keseragaman pendapat dari pada penulis yakni ada yang berpendirian sebagai alasan pemaaf dan ada sebagai alasan pembenar. ialah : jika dapat dicegah atau dihilangkan.

Termasuk disini adalah rasa tajut. Sifat dari noodweer exces adalah menghapuskan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). bingung. Tetapi kemudian pendapat HR berubah dan diartikan dalam arti materiil. yang dimaksud dengan UU ialah : undang-undang dalam arti formil. hasil perundang-undangan dari DPR dan/atau raja. Untuk adanya kelampauan batas pembelaan darurat ini harus ada syarat-syarat sebagai berikut : 1. dan mata gelap. 2. Disini pembelaan itu perlu dan harus diadakan dan tidak ada jalan lain untuk bertindak. Mulamula Hoge Raad (HR) menafsirkan secara sempit. Dalam hala ini umumnya cukup. pasal 49 ayat (2) dan ayat (1) itu mempunyai hubungan yang erat. MENJALANKAN PERINTAH (PASAL 50 KUHP). Kelampauan batas pembelaan yang diperlukan. Pasal tersebut bunyinya : “tidak dipidana seseorang yang melampaui batas pembelaan yang diperlukan. melampaui asas subsidairitas dan proporsionalitas seperti yang diisyaratkan dalam pasala 49 ayat (1) KUHP. jika perbuatan itu merupakan akibat langsung dari suatu kegoncangan jiwa yang hebat yang disebabkan oleh serangan itu”. jadi sabagai alasan pemaaf sementara perbuatannya tetap bersifat melawan hukum. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang sangat panas). Yang menyebabkan kegoncangan jiwa yang hebat itu harus penyerangan itu dan bukan misalnya karena sifat mudah tersinggung. apabila peraturan itu memberi wewenang untuk kewajiban . 3. Cara dan alat tersebut harus dibenarkan pula oleh keadaan.293 294 BELA PAKSA LAMPAU-NOODWEER EXCES (PASAL 49 AYAT 2 KUHP) (pelampauan batas pembelaan darurat atau bela paksa lampau batas) Istilah exces dalam pembelaan darurat tidak dapat kita jumpai dalam pasal 49 ayat (2). dengan kata lain : antara kegoncangan jiwa tersebut dan serangan harus ada hubungan kausal. Disini juga yang perlu dilihat apakah serangan itu dapat menimbulkan akibat kegoncangan jiwa yang hebat bagi orang biasa pada umumnya. UNDANG-UNDANG Pasal 50 KUHP menentukan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan”. Dalam hubungan ini persoalannya adalah apakah perlu bahwa peraturan perundang-undangan itu menentukan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan sebagai pelaksanaan. kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan. maka syarat pembelaan yang tersebut dalam pasal 49 ayat (1) disebut sebagai syarat dalam pasal 49 ayat (2). yaitu tiap peraturan yang dibuat oleh alat pembentuk undang-undang yang umum.

Jadi dalam tindakan ini seperti dalam daya memaksa dan dalam pembelaan darurat harus ada keseimbangan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara pelaksanaannya. misalnya seperti permintaan bantuan oleh pamong praja kepada angkatan bersenjata (sesuai pasal 413 KUHP). maka orang dapat melaksanakan undang-undang sendiri. sehingga pasal 50 tersebut merupakan alasan pembenar. Jadi dalam hal ini letnan polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan yang sah. Dalam hal ini dipakai pedoman : “lex specialis derogate legi generaki” atau “lex posterior derogate legi priori”. meskipun sifatnya sementara. Dalam pasal 51 inipun cara melaksanakan perintah harus patut dan wajar. tidak dapat berlindung dibawah pasal 50 KUHP ini. MELAKSANKAN PERINTAH JABATAN (PASAL 51 AYAT (1) DAN (2)). Maka jika seorang melakukan perintah yangsah ini maka ia tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum. akan tetapi juga dapat menyuruh orang lain untuk melaksankannya. Perbuatan orang yang menjalankan peraturan undangundang tidak bersifat melawan hukum. Yang diperbolehkan adalah tindakan eksekutor yang melaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati. Dalam hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat dijumpai adannya kewajiban dan tugas-tugas/wewenang yang diberikan pada pejabat/orang untuk bertindak. untuk dapat membebaskan diri dari tuntutan hukum. Misalnya : Pejabat polisi.295 296 tersebut dalam melaksanakan perundang-undangan ini diberikan suatu kewajiban. Colonel polisi tersebut berwenang untuk memerintahkannya. Kejengkelan pejabat tersebut tidak dapat membenarkan tindakannya. Sesuai pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatan yang sah”. pula harus seimbang dan tidak boleh melampaui . Dengan perkataan lain kewajiban / tugas itu diperintahkan oleh peraturan undang-undang. Kadang-kadang dalam melaksanakan peraturan undang-undang dapat bertentangan dengan peraturan lain. Jadi untuk dapat menggunakan pasal 50 ini maka tindakan harus dilakukan secara patut. Contoh kasus : seorang Letnan Polisi diperintah oleh Kolonel Polisi untuk menangkap pelaku tindak pidana. yang menembak mati seorang pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas karena tidak mau berhenti tanda peluitnya. Anatar orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub-ordinasi (hubungan atasan dan bawahan). Bilamanakah perintah itu dikatakan sah ? apabila perintah itu berdasarkan tugas. wewenang atau kewajiban yang didasarkan kepada suatu peraturan. wajar dan masuk akal.

bahwa ketaatan yang membuta tidak mendisculpeert” (tidak patut di pidananya perbuatan). Sifat dari perbuatan seorang yang melakukan perbuatan karena perintah jabatan yang tidak sah ialah : perbuatannya tetap perbuatan yang melawan hukum. yang tidak masuk dalam mata-anggaran. karena ia patut menduga bahwa perintah itu tidak sah. karena memukul seorang tahanan tidak termasuk wewenang dari seorang anggota polisi. . Keadaan tersebut adalah merupakan alasan pemaaf. Syarat pasal 51 ayat (2) KUHP. 2. Catatan : Mengenai ketaatan seorang bawahan kepada atasannya Hazewinkel-Suringa mengatakan. Andaikata bendaharawan tiu melaksanakan perintah tersebut tapa akibatnya ? perintah tersebut tidak sah karena pembelian mobil itu tidak termasuk dalam wewenang bendaharawan tersebut. Perintah jabatan ini adalah alasan pembenar. Disini agen polisi tidak dapat dipidana karena : ia patut menduga bahwa perintah itu sah dan pelaksanaan perintah itu ada dalam batas wewenangnya. jika ia mengira dengan itikad baik bahwa perintah itu sah. misal : mobil. Dalam keadaan ini perbuatan orang ini tetap bersifat melawan hukum. sebabnya ialah pengeluaran dari pemerintah sudah ditentukan pos-pos tertentu. Andaikata bawahan ini mengira bahwa perintah itu sah maka ia tetap dapat dipidana. dikatakan melakukan perintah jabatan yang tidak sah menghapuskan dapat dipidananya seseorang. tetapi ternyata perintah tidak beralasan atau tidak sah. perintah itu berada dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah. tetapi behubung dengan keadaan pribadinya maka ia tidak dapat dipidana. Sebagai contoh : seorang agen polisi mendapat perintah dari kepala kepolisian untuk menangkap seorang agitator dalam suatu rapat umum atau umumnya seorang yang dituduh telah melakukan kejahatan. akan tetapi pembuatnya tidak dipidana. Contoh lainnya : Seorang kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk memukuli seorang tahanan yang menjengkelkan. Disini bendaharawan itu dapat dipidana.297 298 batas kepatutan. apabila memenuhi syarat : 1. Contoh lainnya : Seorang kepala kantor memerintahkan kepada bendaharawan untuk mengeluarkan sejumlah uang guna sesuatu pembelian.

d. apabila dilakukan tanpa ijin atau persetujuan (consent of the victim). jika ada kasus-kasus di mana kita dapay membuktikan bahwa tiada kesalahan sama sekali maka kita dapat menggunakan avas untuk : kasus-kasus khusus. apoteker. Alasan penghapus pidana putatief merupakan alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf. Ada kemungkinan bahwa seseorang mengira telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan pembelaan darurat atau dalam menjalankan undangundang atau dalam melaksanakan perintah jabatan yang sah. mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming). Menurut Jan Remmelink. diluar undang-undang pun ada alasan penghapus pidana. Dimuka telah dibicarakan tentang alasan penghapus pidana yang berupa alasan pembenar dan pemaaf (atau alasan penghapus kesalahan) yang terdapat dalam KUHP. bidan dan penyelidik ilmiah (misalnya untuk vivisectie). pada arrest susu dan air). ijin atau persetujuan dari orang yang dirugikan kepada orang lain mengnai suatu perbuatan yang dapat dipidana.299 300 ALASAN PENGHAPUS PIDANA DI LUAR UU. hak yang timbul dari pekerjaan (beroepsrecht) seorang dokter. ALASAN AVAS. Dapatkah orang tersebut dipidana ? sesuai dengan pendapat MJ van Bemmelen orang tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. terjadi eror fact (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi factual) atau eror yuridis (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi yuridis). PENGHAPUS PIDANA PUTATIEF DAN penghapus pidana yang putatief. tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang materiil (arrest dikter hewan). tidak adanya kesalahan sama sekali (avas. e. Ia dapat berlindung pada “taksi” (avas). f. apabila dapat diterima secara wajar bahwa ia boleh berbuat seperti itu. gurur untuk menertibkan anakanak atau anak didiknya (tuchtrecht). AVAS merupakan singkatan dari afwezigheid van alle schuld. b. c. hak dari orang tua. misalnya : a. pada kenyataannya ialah bahwa tidak ada alasan penghapus pidana tersebut dalam hal ini ada alasan .

301 302 BAB XIV GUGURNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA Sementara ketentuan diluar KUHP adalah : a. pencemaran nama baik (319) dan lain-lain. Matinya terdakwa (pasal 77 KUHP) d. Tidak adanya pengaduan dalam hal delik aduan (pasal 72-75 KUHP) b. delik aduan dibagi dalam dua bentuk : a. maka hukum memberikan pilihan kepadanya untuk mencegah atau memulai suatu proses penuntutan.1. GUGURNYA KEWENAGAN MENUNTUT. Telah ada pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu untuk pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja (pasal 82 KUHP). Misal : A. Pada prinsipnya kewenangan melakukan penuntutan hadir seketika ada dugaan terjadinya tindak pidana. I. untuk melarikan wanita (pasal 332). Amnesti Delik Aduan. Abolisi b. Kewenangan melakukan penuntutan pada prisipnya tidak berhubungan dengan kehendak perorangan kecuali dalam beberapa delik tertentu diantaranya perzinahan (pasal 284). Daluwarsa (pasal 78 KUHP) e. Ne bis in idem (pasal 76 KUHP) c. Bentuk Delik Aduan Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. . Delik Aduan Absolut Dalam hal dianggap bahwa kepentingan orang yang terkena tindak pidana itu melebihi kerugian yang diderita oleh umum. persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pasal 287-288). Namun demikian terdapat beberapa hal yang menjadi dasar atas gugurnya kewenangan jaksa untuk melakukan penuntutan menurut KUHP adalah : a. Disini dianggap bahwa kepentingan umum dianggap langsung terkena sehingga pihak yang terkena tindak pidana itu harus menerima adanya penuntutan sekalipun ia sendiri tidak menghendakinya.

Baik hubungan karena keturunan / darah atau dalam hal hubungan perkawinan.2. Belum 18 th / belum cukup umur / dibawah pengampunan (pasal 72) :  Oleh wakil yang sah dalam perkara perdata. misalnya :  Untuk perzinahan (pasal 284). Ketentuan umum menentukan : dalam pasal 72 KUHP 1) Jika ybs. selama pemeriksaan dalam siding pengadilan .  Wali pengawas / pengampu  Istrinya  Keluarga sedaraj garis lurus  Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajat ke-3 2) Jika ybs meninggal pasal 73 oleh :    Orang tuanya Anaknya. ada pula ketentuan-ketentuan khusus. sewaktu-waktu. atau Suami / istri (kecuali ybs tidak menghendaki).303 304 Seorang perempuan muda yang telah disetubuhi boleh memilih untuk menikahi lakilaki yang menyetubuhinya daripada pelaku dijatuhi pidana. Yang berhak mengadu (subyek). Delik Aduan relative Karakter delik aduan ini tidak terletak pada sifat kejahatan yang dilakukan melainkan pada hubungan antara pelaku / pembantu dan korban. Dalam hal relasi antara sifat keperdataan yang lahir dari h8ubungan tersebut dapat menjadi alasan dalam mencegah terjadinya penuntutan. Disamping ketentuan umum tersebut diatas . Yang berhak mengadu hanya suami / istri yang tercemar (ketentuan pasal 72 dan 73 diatas tidak berlaku). Delik aduan absolute ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan pasal 293 (perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur) pasal 322 (pelanggaran kewajiban menyimpan rahasia). II. b. Penarikan kembali pengaduan dapat dilakukan. Kebanyakan delik-delik ini terkait dengan delik dibidang harta benda (pasal 367 KUHP). pasal 335 (1) & (2) (perbuatan tidak menyenangkan) atau pasal 369 (pengancaman).

meskipun undang-undang memberikan jangka waktu 3 bulan (pasal 75). Bila pengaduan sudah disampaikan. Dibuatnya suatu pengaduan tidak dengan serta merta berarti bahwa ijin memberikan kewenangan penuntutan dilakukan secara final. NE BIS IN IDEM (PASAL 76) Arti sebeanarnya dari neb is in idem ialah “tidak atau jangan dua kali yang sama”. Tenggang waktu pengajuan pengaduan (pasal 74) a. pada dasarnya . maka kewenangan menuntut menjadi hapus. Memang selayakanya pengaduan mencakup pelaporan (aangifte) dengan permohonan dilakukannya penuntutan (verzoek tot vervolging).  Untuk melarikan wanita (pasal 332) Yang berhak mengadu :  Jika belum cukup umur oleh : wanita ybs. Penarikan kembali aduan. Diakuinya azas Neb is in idem ini terlihat dalam rumusan pasal 76 KUHP yang berbunyi (ayat (1) sub 1) sbb : “Kecuali dalam hal putusan haikm masih mungkin diulangi (herzeining). orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia II. atau orang yang harus memberi ijin bila wanita itu kawin  Jika sudah cukup umur. atau suaminya. jaksa penuntut umum tak perlu menunggu lewatnya daluarsa menarik adauan. B. Akan tetapi jika aduan tersebut ditarik kembali. oleh : wanita ybs. II. b) Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat keputusan.3. Bertempat tinggal di luar Indonesia 9 bulan sejak mengetahui adanya kejahatan.305 306 belum dimulai (ayat 4). Jadi ketentuan pasal 75 KUHP tidak berlaku.4. Sering juga digunakan istilah “nemodebet bis vexari” (tidak seorangpun atas perbuatnya dapat diganggu / dibahayakan untuk kedua kalinya) yang dalam literature Angka Saxon diterjemahkan menjadi “No one could be put twice in jeopardy for tha same offerice”. Dasar pikiran atau ratio dari azas ini ialah : a) Untuk menjaga martabat pengadilan (untuk tidak memerosotkan kewibawaan Negara). Bertempat tinggal di Indonesia 6 bulan sejak mengetahui b.

yang biasanya disebut “penetapan-penetapan” (beschikking).  Orang terhadap siap putusan itu dijatuhkan adalah sama. Tentang tidak diterimanya tuntutan Jaksa karena terdakwa tidak melakukan kejahatan. apabila dipenuhi syarat-syarat sbb :  Ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. .307 308 terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap”. sehingga pengecualian yang tersebut dalam pasal 76 itu (yaitu adanya herzeining merupakan pengecualian terhadap azas ne bis in idem) sebenarnya tidak perlu.  Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. yaitu yang dapat berupa : I. Jadi menurut pendapat ini. B. Keputusan hakim (yang berkekuatan hukum tetap) yang dimaksud disini adalah keputusan terhadap perbuatan atau perkara ybs. dengan adanya herzeining berarti putusan itu memang belum berkelanjutan dari tuntutan hukum yang pertama. II.1. III. Dengan adanya syarat ini berarti terhadap putusan tersebut harus sudah tidak ada alat hukum / upaya hukum (rechtsmiddel) yang dapat dipakai untuk merubah keputusan tersebut. Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara yang bersangkutan. Ada pendapat bahwa peninjauan kembali (herzeining) merupakan salah satu upaya hukum. Azas ne bis in idem tidak berlaku untuk keputusan hakim yang belum berhubungan dengan pokok perkara. Jadi keputusan-keputusan tersebut sudah mengandung penentuan terbukti tidaknya tindak pidana atau kesalahan terdakwa. Pelepasan dari segala tuntutan hukum (ontslag van allerechtvervolging) pasal 191 ayat (2) KUHAP (dulu 314 RIB). Adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Dengan demikian penuntutan terhadap seseorang dapat hapus berdasar neb is in idem. b. jadi bukan merupakan tuntutan hukum yang kedua kali. misalnya : a. Penjatuhan pidana pasal 193 ayat (1) KUHAP (dulu 315 RIB). Pembebasan (vrijspraak) pasal 191 (1) KUHAP (dulu 313 RIB).

maka apabila keputusan hakim asing yang berupa pemidanaan baru sebagian dijalani. maka putusan hakim mengnai hal ini tidak menghalangi untuk dilakukannya penuntutan dalam perkara pidananya. atau. Jadi tegasnya pasal 76 KUHP hanya berlaku untuk perkara-perkara pidana. b) Putusan yang berupa pelepasan dari tuntutan hukum. Adanya penetapan-penetapan serupa itu tidak merupakan alasan untuk adanya neb is in idem. maka orang tersebut di Indonesia dapat dituntut lagi. menurut Pompe termasuk pidana bersyarat (V.V. Orang yang dituntut harus sama. = voorwaardelijke veroordelling) dan pelepasan bersyarat (V. Hal ini disebut dalam pasal 76 (2) dengan syarat putusan hakim asing tersebut harus berupa : a) Putusan yang berupa pembebasan. Ini merupakan segi subyektif dari persyaratan neb is in idem. Perlu pula diperhatikan bahwa putusanputusan hakim seperti dikemukakan diatas adalah putusan yang menyangkut perkara pidana. Adanya keputusan hakim yang menjadi syarat neb is in idem ini tidak hanya keputusan hakim Indonesia. Jadi pasal 76 KUHP tidak mengenai penetapanpenetapan. akan tetapi yang tertangkap dan dituntut pidana baru A. jadi keputusan mengenai hukum pidana. . tetapi dapat juga keputusan hakim Negara lain (hakim Dengan syarat-syarat diatas.Yang telah diberi ampun (grasi). Tetang tidak diterimanya perkara penuntutan sudah daluwarsa. Apabila misalnya seorang pengendara motor menabrak penjual soto dan dia dituntut secara perdata untuk memberi ganti rugi.I. Dalam pengertian “telah dijalani seluruhnya” putusan hakim asing itu. Jadi dalam hal ini tidak ada neb is in idem. karena asing). atau .309 310 c. maka putusan ini tidak merupakan alasan untuk neb is in idem dalam perkara gugatan perdata. c) Putusan berupa pemidanaan : . = voorwaardelijke invrijheidstelling). maka dalam hal B kemudian tertangkap ia tetap masih dapat dituntut walaupun misalnya A dibebaskan. Begitu pula sebaliknya. Apabila misalnya A dan B melakukan tindak pidana bersama-sama. apabila yang diputus adsalah perkara pidananya lebih dulu.Yang sekuruhnya telah dijalani.

maka dimungkinkan ada Dalam yurisprudensi. seperi halnya dijumpai dalam concursus/ gabungan tindak pidana. Kalau kasus diatas dipandang sebagai concursus realis.311 312 - Yang wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena kadaluwarsa. Tuntutan kedua ini oleh pengadilan diterima dan terdakwa dijatuhi pidana. telah memukul dada dan menendang kaki seorang anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya. B. Apabila dipandang sebagai concursus idealis. Harus ada feit / perbuatan yang sama. Misal : A melakukan pemerkosaan dijalan umum (pasal 285 dan 281). Mula-mula terdakwa diputus dan dipidana karena menganiaya polisi (pasal 356 sub. ajaran feit materiil pada neb is in idem telah ditinggalkan pada tahuan 1932. maka hanya dimungkinkan adanya satu kali penuntutan saja.2. maka tidak ada neb is in idem. kemudian oleh jaksa dituntut lagi mengenai menggangu ketentraman umu dalam keadaan mabuk (pasal 492). Masalah ini merupakan masalah yang paling sukar. 2). Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. maka apakah Jaksa masih dapat menuntut yang kedua kalinya berdasar pasal 281 (melanggar kesusilaan dimuka umum) ? dan pakah putusan yang pertama merupakan res judicata (putusan yang neb is in idem)? Jawaban terhadap masalah ini tergantung atau berkisar pada apa yang dimaksud dengan “feit”. Ini segi obyektif dari neb is in idem (objective identiteit). Jaksa mengajukan kasasi ke Hoge Raad dengan . yaitu dengan Arrest HR 27 Juni 1932. sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan beberapa perbuatan. Catatan : Apabila dipandang sebagai concursus realis. Kasusnya : Orang yang sedang mabuk ditempat umum mengganggu ketentraman umum. dan pengadilan tinggi menyatakan ada ne bis in idem. maka ada neb is in idem. Terdakwa banding. Akan tetapi apabila dipandang sebagai concursus idealis. penuntutan lagi. dimana hanya dipandang ada satu perbuatan. Seandainya Jaksa hanya menuntut berdasar pasal 285 (perkosaan) saja dan ternyata tidak terbukti. sehingga terdakwa lepas dari segala tuntutan.

alternativitas dalam tuduhan dapat meliputi masalah : a. Perbuatannya/ketentuan yang dilanggar : Misal : perbuatan A sebenarnya dapat dikualifisir dalam 3 kemungkinan yaitu : 1) Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain (pasal 338). Disini ada neb is in idem. c. kemudian dibebaskan. juga berhubungan dengan masalah. Disinipun ada neb is in idem. seperti dimaksud dalam pasal 76 HR melihat disini juga ada 2 perbuatan yang mempunyai cirri yang berlainan. . Jaksa kemudian mengajukan tuduhan lagi. Yang betul.313 314 mengatakan bahwa perbuatan terdakwa itu merupakan dua perbuatan dipandang dari sudut hukum pidana. artinya kemungkinana penuntutan kembali menjadi longgar. Berdasar tempat pencurian yang sebenarnya dilakukan yaitu di Stadion Diponegoro. Persoalan feit / perbuatan pada pasal 76. apabila terdakwa dibebaskan unutk tuduhan pencurian tercantum tgl. Namun diakui bahwa itu berarti menyempitkan berlakunya pasal 76. 1 Juni. Kesukaran dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perkataan ”feit” dirubah menjadi “strafbaar feit”. Waktu terjadinya tindak pidana Misal seorang dituntut telah melakukan pencurian pada tgl 1 Juni 1979. sehingga tuntutan jaksa dapat diterima. 3) Dengan sengaja menganiaya yang berakibat mati (pasal 351 ayat (3)). Jaksa tidak dapat menuntut lagi berdasar tgl. jjadi disini tidak ada perbuatan yang sama. Tetapi menurut Pompe. Dengan perubahan ini menurut Pompe. Tempat terjadinya tindak pidana. halangan dalam penuntutan baru. tetapi didalam surat tuduhan tercantum tgl 1 Juli 1979. Dalam hala ini sebenarnya sebelum ada putusan. disamping berlkaitan erat de4ngan masalah concursus. dapat lebih merugikan kepentingan umum dari pada mengulangi percobaan untuk penerapan undang-undang pidana dengan setepat-tepatnya. penerapan pasal 76 lebih mudah. 2) Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain (pasal 359). asal Feitnya tetap. b. jaksa dapat mengajukan permintaan unutk “merubah surat tuduhan berdasar pasal 282 HIR. Misal semula terdakwa dituduh mencuri di taman Diponegoro.

Tenggang Waktu Daluwarsa Penuntutan.1. Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur hidup : daluwarsanya sesudah 18 tahun. D. kurungan atau penjara maksimum 3 tahun : daluwarsanya sesudah 6 tahun.315 316 C.1. Konsekwensi dari pemikiran ini adalah bahwa kematian seorang tersangka atau terdakwa menyebabkan kewenangan seorang Jaksa penuntut menjadi gugur. yaitu :     Untuk semua pelanggaran dan kejahatan percetakan : sesudah 1 tahun. D. Tenggang waktu daluwarsa ditetapkan dalam pasal 78 (1). Menurut pasal 79. kecuali dalm hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal tersebut yang menyangkut vorduurende delict (delik berlangsung terus lihat penjelasan .  Berjalannya waktu sekaligus menghapuskan jejak-jejak tindak pidana yang menyebabkan kesulitan pembuktian. tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah perbuatan dilakukan. Karena itu adagium punier non (simper) necesse est (menghukum tidak selamanya perlu) menajdi dasar dari keberadaan lembaga ini. Sementara kematian seseorang terpidana menyebabkan kewajiban menjalankan pidana menjadi terhapuskan. Ditetapkannya lemabga daluarsa penuntutan dalam KUHP pada dasarnya dilandasi oleh beberapa pemikiran yaitu :  Dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga mengahpuskan keinginan untuk melakukan pembalasan. Dalam hal ini tidak ada suatu tanggungjawab pidana diwariskan. Hal ini wajar karena KUHP berpendirian bahwa yang dapat menjadi subyek hukum hanyalah orang dan pertanggungan jawab bersifat pribadi.1 Daluwarsa Penuntutan. Namun demikian yang utama dari ketiga lasan itu adalah kebutuhan untuk memidana dan kesulitan pembuktian menjadi alasan utama. D.  Bahwa pelaku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. MATINYA TERDAKWA (PASAL 77) DAN MATINYA TERPIDANA (PASAL 83). Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun daluwarsanya 12 tahun. Untuk kejahatan yang diancam denda. DALUWARSA (VERJARING).

tetap diperhitungkan terus. sebelum diadakannya penundaan. yaitu perselisihan menurut hukum perdata yang terlebih dulu harus diselesaikan sebelum acara pidana dapat diteruskan. Menurut pasal 81 (1) tenggang daluwarsa penuntutan tertunda/tertangguhkan (geschorst) apabila ada perselisihan praejudisiil. mendakwa / mengajukan . jadi tindakan pengusutan tidak lagi dianggap termasuk tindakan penuntutan. b. tenggang daluwarsa tuntutan pidana. Dalam hal ada penundaan/pertangguhan (schorsing) maka tenggang waktu yang telah dilalui. - D. Hal ini dimaksudkan agar terdakwa tidak diberi kesempatan untuk menunda-nunda penyelesaian perkara perdatanya dengan perhitungan dapat dipenuhinya tenggang daluwarsa penuntutan pidana. a. jadi selama terhentinya selama ada tindakan penuntutan tenggang waktunya tidak dihitung. Kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang (pasal 328. 330 dan 333). - tuduhan. Pencegahan dan penangguhan. dipertangguhkan. 329. Menurut pasal 80 (2) sesudah terjadinya pencegahan (stuiting) mulai berjalan tenggang daluwarsa yang baru. Pencegahan (stuiting). sehari setelah data tersebut dimasukkan dalam catatan register. memohon revisi). Menurut pasal 80 (1) tenggang daluwarsa terhenti / tercegah (gestuit) apabila ada tindakan penuntutan (daad van vervolging). Tetapi yurisprudensi kemudian menerima pendapat yang lebih sempit. Hanya saja selama acara hukum perdata berlangsung dan belum selesai.1. Pada mulanya tindakan penuntutan diartikan secara luas yaitu mencakup juga tindakan-tindakan pengusutan (daad van opsporing). yaitu hanya perbuatan-perbuatan penuntut umum yang langsung menyangkutkan hakimdalam acara pidana (misal menyerahkan perkara ke siding.2.317 318 dalam bab tetang jenis delik). Kejahatan terhadap register kependudukan (pasal 556-558 a). daluwarsa dihitung keesokan hari setelah orang tersebut dibebaskan atau ditemukan meninggal dunia. Penangguhan (scorsing). Adapun yang diatur dalam pasal 79 adalah : Kejahatan terhadap mata uang (pasal 244) perhitungan daluwarsa didasarkan pada waktu setelah uang dipakai atau diedarkan.

Tenggang waktu daluwarsanya diatur dalam pasal 84 (2). kewenangan Menurut pasal 85 (1) tenggang daluwarsa dihitung mulai pada keesokan harinya sesudah putusan hakim dapat dijalankan. . Pada ayat (3) ditetapkan bahwa : “tidak ada daluwarsa untuk mejalankan hukuman mati”.2. Daluwarsa kewenangan menjalankan pidana.2. D.319 320 D.2. Perbedaannya disini adalah alasan kesulitan pembuktian tetunya tidak lagi relevan disini. D. Pada umumnya memang putusan hakim yang berkakuatan hukum tetap. bahwa pelaku setetlah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga menghapuskan keinginan unutk melakukan pembalasan 2. Dalam hal ini. pencegahan (stuiting) pencegahan (stuiting) terhadap daluwarsa hak untuk menjalankan / mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 85 ayat (2)) yaitu : 1) Jika terpidana melarikan diri selama menjalani pidana. Pencegahan Dan Penagguhan Daluwarsa Pemidanaan.  Untuk kejahatan lainnya : daluwarsanya sama dengan daluwarsa penuntutan (lihat pasal 78 ) ditambah sepertiga. yaitu :  untuk semua pelanggaran : daluwarsanya 2 tahun.  Untuk kejahatan percetakan : daluwarsanya 5 tahun. a. Daluwarsa Pemidanaan. Tetapi ada putusan hakim yang sudah dapat dieksekusi sebelum keputusan itu berkekuatan tetap. yaitu “verstekvonnis” (keputusan diluar hadirnya terdakwa).1. tenggang daluwarsa baru dihitung pada keesokan harinya setelah melarikan diri. Ini tidak sama dengan putusan hakim yang inkracht van gewijsde (putusan ayat berkekuatan tetap). Sama dengan daluarsa penuntutan maka landasan pemikiran atas daluarsa pemidanaan didasarkan kepada dua hal yaitu : 1.2.

penagguhan (schorsing). maka jangka lewat waktu yang telah dilalui hilang sama sekali (tidak dihitung). Dalam pasal 2 ayat (3) permohonan grasi hanya dapat diajukaqn 1 (satu) kali. akan mendorongnya menjatuhkan pidana atau tindakan lain atau bahkan untuk tidak menjatuhkan sanksi sekalipun. Grasi dapat dikabulkan manakala hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak akan mencapai tujuan atau sasaran pemidanaan itu sendiri.1. penjara seumur hidup. maka pada esok harinya setelah pencabutan. Hanya mengeksekusi sebagian saja Mengadakan komutasi yaitu jenis pidananya diganti. walaupun perampasan kemerdekaan itu berhubung dengan pemidanaan lain. kecuali dalam hal : . E. A. Perihal prosedur Grasi diatur dalam undangundang 22 tahun 2002. Penundaan (schorsing) terhadap daluwarsa hak untuk mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 33 ayat (3) yaitu :  selama perjalanan pidana ditunda menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dasar pemikiran lembaga grasi menurut Remelink adalah keadaan pada waktu hakim menjatuhkan putusan tidak atau kurang diperhatikan atau mungkin pertimbangan dan yang bila (secara memadai sebelumnya ia keathui. penjara paling rendah 2 tahun. Jadi grasi dari presiden.  selama terpidana dirampas kemerdekaannya (ada calon tahanan). mulai berlaku tenggang daluwarsa baru. Keputusan hakim tetap ada. Dengan demikian selama ada pencegahan. b. kurungan diganti dengan denda. tetapi pelaksanaannya dihapuskan atau dikurangi / diringankan. dapat berupa :    Tidak mengeksekusi seluruhnya. pidana mati diganti penjara seumur hidup. misal penjara diganti kurungan. Grasi. Ketentuan Gugurnya Kewenangan Menuntut Dan Menjalankan Pidana di luar KUHP.321 322 2) Jika pelepasan bersyarat dicabut Dalam hal ini. menurut ketentuan pasal 2 ayat (2) grasi hanya dapat dimohonkan bagi terpidana yang dijatuhi pidana mati. Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ybs.

Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. Salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. II. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) haru terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8. Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi. atau keluarganya kepada Presiden. Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau oleh keluarga terpidana. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung. Permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 diajukan secara tertulis oleh terpidana. Sementara pasal 3 permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana. penagdilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung.323 324 I. Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Preisden. kuasa hukumnya. Terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut. Permohonan grasi dan slinannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3). Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tigta) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 9. kecuali dalam hal putusan pidana mati. permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana (pasal 6 ayat (3)). . dengan persetujuan terpidana (pasal 6 (1-2)) kecuali dalam hal terpidana dijatuhi pidan mati. Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya.

3. Abolisi dengan demikian berlaku ante sentiam yang berkaitan dengan dilepaskannya kewenangan melakukan penuntutan atau pelanjutan dari penuntutan yang sudah dimulai. . demi kepentingan semua terpidana maupun bukan. mereka yang identitasnya diketahui ataupun tidak namun bersalah melakukan tindakan tersebut. Dalam praktek amnesti diberikan karena alasan politik.2. E. Amnesti. Oleh karena itu amnesti mencakup perkara dalam fase ante sentantiam (sebelum dijatuhkanya putusan) maupun post sentantiam (pasca proses ajudikasi).325 326 E. terdakwa ataupun bukan. termasuk putusan itu sendiri. Amnesti dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum (yang diterbitkan dalam suatu aturan perundang-undangan) yang memuat pencabutan senua akibat pemidanaan dari suatu delik tertentu atau satu kelompok delik tertentu. Seperti halnya grasi dan amnesti. Abolisi. Abolisi mengandung pengertian penghapusan yang diberikan kepada perseorangan yang mencakup penghapusan seluruh akibat penghukuman seluruh akibat penjatuhan putusan. abolisi merupakan hak prerogative presiden yang ditetapkan dalam UUD 1945 sebelum perubahan.

327 328 BAB XV RESIDIVE ( PENGULANGAN TINDAK PIDANA) Menurut sistem ini. Disamping itu di dalam KUHP juga memberikan syarat tenggang waktu pengulangan yang tertentu. Residive merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. 1. kemudian melakukan tindak pidana lagi. 2. Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluwarsa dalam residivenya. PENGERTIAN Residive atau pengulangan terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( MKHT) atau “in kracht van gewijsde”. Jadi dengan demikian KUHP termasuk ke dalam sistem Residive Khusus. MENURUT KUHP Dalam KUHP ketentuan mengenai Residive tidak diatur secara umum tetapi diatur secara khusus untuk kelompok tindak pidana tertentu baik berupa kejahatan maupun pelanggaran. Sistem Residive Khusus Menurut sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. yaitu : 2. 1. setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dan dilakukan dalam waktu kapan saja. merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Pemberatan hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu yang tertentu pula. Perbedaannya dengan Concursus Realis ialah pada Residive sudah ada putusan Pengadilan berupa pemidanaan yang telah MKHT sedangkan pada Concursus Realis terdakwa melakukan beberapa perbuatan pidana dan antara perbuatan sang satu dengan yang lain belum ada putrusan Pengadilan yang MKHT. Sistim Residive Umum . Dalam ilmu hukum pidana dikenal ada dua sistem residive ini.

501. 208(2). Residive Kejahatan. yaitu : Pasal : 489. Perlu diingat bahwa mengenai tenggang waktu dalam residive tersebut tidak sama. 216(3). 208. Pasal 78 s/d 85. Residive terhadap kejahatan dalam pasal : 137(2). 393(2) dan 303 bis (2). misalnya : i. 161(2). 155(2). 216.329 330 a. Tindak Pidana Narkotika (UU 22 / 1997). . 163 dan 393 tenggang waktunya lima tahun. 549 KUHP. 492. 144. 512. Sedangkan untuk residive yang diatur dalam Pasal 486. 163(2). 536. Tindak Pidana Psikotropika (UU No. 321(2). Residive Pelanggaran Residive dalam pelanggaran ada 14 jenis tindak pidana. 161. 303 bis dan 321 tenggang waktunya dua tahun . Pasal 154. 495. 540. Pasal 72. ii.5/1997). ancaman pidana ditambah sepertiga. 541. 545. 144(2).Tenggang waktu lima tahun. dan pasal 87. 157. 3. Pasal : 137. b. iii. RECIDIVE DI LUAR KUHP Recidive diluar KUHP antara lain diatur di dalam Undang-Undang: i. 516. Syarat-syarat Recidive pelanggaran disebutkan dalam masing-masing pasal yang bersangkutan. 477 dan 488 KUHP mensyaratkan bahwa tindak pidana yang diulangi termasuk dalam kelompok jenis tindak pidana tersebut. 517. Jadi ada 11 jenis kejahatan yang apabila ada pengulangan menjadi alasan pemberat. 544. 530. Ancaman pidana ditambah sepertiga ii.

Ruang berlakunya hukum pidana dapat dibedakan menurut waktu dan menurut tempat. Menurut Prof. 5. Apa yang dimaksud dengan Recidive ? . 3. Jelaskan dimana diatur ruang berlakunya hukum pidana di dalam KUHP dan di luar KUHP ? 2. Apa pentingnya bagai Jaksa memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana ?. Moeljatno apa saja yang menjadi unsur dari suatu perbuatan pidana ?.331 SOAL UJIAN DAFTAR PERTANYAAN MATERI DIKLAT ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 1. Siapa yang dimaksud sebagai Pelaku (dader) menurut pasal 55 KUHP ?. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful