1

2

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG Apakah hukum pidana itu ? pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit untuk dijawab, mengingat hukum pidana itu mempunyai banyak segi, yang masing-masing mempunyai arti sendirisendiri. Penerapan hukum pidana berkaitan dengan ruang lingkup hukum pidana itu sendiri dapat bersifat luas dan dapat pula bersifat sempit. Dalam tindak pidana dapat melihat seberapa jauh seseorang telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada orang tersebut karena telah melanggar hukum. Selain itu, tujuan hukum pidana tidak hanya tercapai dengan pengenaan pidana, tetapi merupakan upaya represif yang kuat berupa tindakan-tindakan pengamanan. Perlunya pemahaman terhadap teori-teori serta Asas-Asas Hukum Pidana tersebut bagi peserta diklat, maka Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan R.I menyusun modul mengenai asas-asas hukum pidana dengan tujuan agar peserta Pendidikan dan Pelatihan

3

4

pendahuluan mengerti dan memahami teori-teori maupun asas-asas hukum pidana yang perlu diperhaitkan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai jaksa nantinya.

II. DESKRIPSI SINGKAT Modul asas-asas hukum pidana memberikan pemahaman bagi peserta pendidikan dan pelatihan tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana.

B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mengetahui tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana. IV. POKOK BAHASAN a. Ruang lingkup berlakunya Hukum Pidana. b. Tindak Pidana. c. Hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat). d. Sifat melawan hukum (rechtswdrig, unrecht, wederrechtelijk, onrechmatig). e. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. f. Kesengajaan (dolus, intent, opzet, vorsatz).

III. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Intruksional Umum Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui tentang teori, asas, delik tindak pidana dan dapat menerapkannya dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara pidana.

g. Kealpaan (culpa). h. Kesalahan dalam delik pelanggaran. i. Pidana dan pemidanaan (hukum penitensier). j. Percobaan (poging, attempt). k. Penyertaan. l. Penggabungan tindak pidana (samenloop / concursus).

5

6

m. Alasan / dasar penghapus pidana (straffuitsluitingsgrond, grounds of impiunity.) n. Gugurnya kewenangan menjalankan pidana. V. FASILITAS / MEDIA Fasilitas dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran Pengantar asas-asas hukum pidana antara lain : a) b) c) d) Modul asas-asas hukum pidana; Internet; Peraturan perundang-undangan; Literatur yang terkait. menuntut dan

BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

A. RUANG

BERLAKUNYA

HUKUM

PIDANA

MENURUT WAKTU Penerapan hukum pidana atau suatu perundangundangan pidana berkaitan dengan waktu dan tempat perbuatan dilakukan. Serta berlakunya hukum pidana menurut waktu menyangkut

penerapan hukum pidana dari segi lain. Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan yang bersangkutan, maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali tidak dapat dipidana. Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) Terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Tidak dapat dipidana seseorang kecuali atas perbuatan yang dirumuskan dalam suatu

Dalam perkembangannya amandemen ke-2 UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) berbunyi dan berhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan Pasal 28 J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk - Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang) - Nulla Poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan pidana) - Nullum crimen sine poena tanpa legali (tiada perbuatan pidana undang-undang pidana yang terlebih dulu ada) Adagium ini menganjurkan supaya : 1) Dalam menentukan perbuatan- menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk perbuatan yang dilarang di dalam peraturan macamnya bukan saja tentang yang memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. nilai-nilai agama. perbuatan harusdirumuskan dengan jelas. 2) Dengan cara demikian maka orang Dalam catatan sejarah asas ini dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : “vom psychologishen zwang (paksaan psikologis)” yang akan melakukan perbuatanyang dilarang itu telah mengetahui terlebih . tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”. Karenanya asas ini dapat pula dinyatakan sebagai asas konstitusional.7 8 aturan perundang-undangan yang telah ada dimana adagium : nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang mengandung tiga prinsip dasar : terlebih dahulu.

menyetujui Andaikata juga maka dia ternyata yang dia akan perbuatan dinpandang yang pidana ketentuan pidana berdasar peraturan perundang-undangan (formil). e) Tidak boleh Retroaktif (berlaku surut) f) Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang. b) Tidak diperkenankan suatu Analogi dijatuhkan kepadanya. Hal ini dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Prof. 2) Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. (pengenaan undang-undang terhadap perbuatan yang tidak diatur oleh undang-undang tersebut). Moeljatno menjelaskan inti pengertian yang dimaksud dalam asas legalitas yaitu : 1) Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. d) Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex Certa). Schaffmeister dan Heijder merinci asas ini dalam pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a) Tidak dapat dipidana kecuali ada hukum pidana tidak melakukan perbuatan. 3) Aturan-aturan berlaku surut. c) Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (Hukum tidak tertulis). melakukan dilarang.9 10 dahulu pidana apa yangakan dijatuhkan kepadanya jika nanti betul-betul akan tetapi diperbolehkan penggunaan penafsiran ekstensif. . 3) Dengan demikian dalam batin orang itu akan mendapat tekanan untuk tidak berbuat.

Asas Perlindungan (nasional pasif) IV. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi diwilayah Negara. Asas Teritorial. akan melihat kepada berlakunya B. Asas Universal. asas Pandangan personal ini atau berdasarkan atau dengan cara yang ditentukan undang-undang. apabila ditinjau dari sudut Negara ada 2 (dua) pendapat yaitu : a. Asas Teritorial Asas ini diatur juga dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP pidana yang menyatakan : berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga Negara.11 12 g) Penuntutan hanya dilakukan diluar disebut wilayah Negara. Pada bagian ini. dimana saja. b. III. berkaitan pula dengan orang atau subyek. II. menganut prinsip nasional aktif. juga apabila perbuatan pidana itu dilakukan “Ketentuan dalam perundang- undangan Indonesia diterapkan bagi setiap . RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA hukum pidana menurut ruang tempat dan MENURUT TEMPAT (LEX LOCI) Teori tetang ruang lingkup berlakunya hukum pidana nasional menurut tempat terjadinya. baik dilakuakan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh orang lain (asas territorial). Perundang-undangan hukum pidana Ad. Asas Personal (nasional aktif). Dalam hal ini asas-asas hukum pidana menurut tempat : I. Perbuatan (yurisdiksi hukum pidana nasional). I.

sehingga ada yang mengadili apabila terjadi suatu perbuatan pidana. sewajarnya berlaku bagi Negara yang berdaulat. warga Negara atau orang asing. dan ketentuan ini sudah peraturan-peraturan hukum Negara dimana yang bersangkutan berada. tempat tidak terjadinya mempermasalahkan perbuatan pidana. Asas territorial lebih menitik beratkan pada terjadinya perbuatan pidana di dalam wilayah Negara tidak mempermasalahkan siapa pelakunya. Perluasan dari Asas Teritorialitas diatur dalam pasal 3 KUHP yang menyatakan : “Ketentuan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana didalan kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”. tetapi tidak berarti bahwa perahu (kendaraan air) dan pesawat terbang lalu dianggap bagian wilayah Indonesia. tidak termasuk wilayah territorial suatu Negara. Tujuan dari pasal ini adalah supaya perbuatan pidana yang terjadi di dalam kapal atau pesawat terbang yang berada di perairan bebas atau berada di wilayah udara bebas. Ketentuan ini memperluas berlakunya pasal 2 KUHP.13 14 orang yang melakukan suatu tindak pidana di Indonesia”. Asas territorial yang pada saat ini banyak diikuti oleh Negaranegara di dunia termasuk Indonesia. Sedang dalam asas kedua (asas personal atau asas nasional yang aktif) menitik beratkan pada orang yang melakukan perbuatan pidana. Hal ini adalah wajar karena tiap-tiap orang yang berada dalam wilayah suatu Negara harus tunduk dan patuh kepada . Pasal ini dengan tegas menyatakan asas territorial.

   Kepala Negara asing dan anggota keluarganya. Apabila ada warga Negara asing yang berada dalam suatu wilayah Negara telah melakukan tindak pidana dan tindak pidana dan tidak diadili menurut hukum Negara tersebut maka berarti diplomatik yang dalam perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain. Pejabat-pejabat Negara asing pemerintahan yang berstatus Ad.  Suatu angkatan bersenjata yang terpimpin. II. Di luar Indonesia atau di laut bebas dan laut wilayah Negara lain.15 16 Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar wilayah Indonesia. badan Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer / ABK diatas kapal maupun di luar kapal. Asas-asas Extra Teritorial / kekebalan dan hak-hak Istimewa (Immunity and Previlege). bertentangan dengan kedaulatan Negara tersebut. Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya. pelayaran. Asas Personal Asas Personal atau Asas Nasional yang aktif tidak mungkin digunakan sepenuhnya terhadap warga Negara yang sedang berada dalam wilayah Negara lain yang kedudukannya sama-sama berdaulat. Pasal 5 KUHP hukum Pidana Indonesia berlaku bagi warga Negara Indonesa melakukan di luar Indonesia pidana yang tertentu perbuatan . Alat pelayaran pengertian lebih luas dari kapal. Kapal merupakan bentuk khusus dari alat   Pejabat-pejabat Internasional.

17

18

Kejahatan terhadap keamanan Negara, martabat kepala Negara, penghasutan, dll. Pasal 5 KUHP menyatakan :

dilakukan

juga

jika

terdakwa

menjadi warga Negara sesudah melakukan perbuatan”. Sekalipun rumusan pasal 5 ini memuat

“(1).

Ketetentuan

pidana

dalam Indonesia

perkataan “diterapkan bagi warga Negara Indonesia yang diluar wilayah Indonesia”’, sehingga seolah-olah mengandung asas personal, akan tetapi sesungguhnya pasal 5 KUHP memuat asas melindungi

perundang-undangan

diterapkan bagi warga Negara yang di luar Indonesia melakukan : salah satu kejahatan yang

tersebut dalam Bab I dan Bab II Buku Kedua dan Pasal-Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam Indonesia kejahatan,

kepentingan nasional (asas nasional pasif) karena : Ketentuan pidana yang diberlakukan bagi warga Negara diluar wilayah territorial wilyah Indonesia tersebut hanya pasalpasal tertentu saja, yang dianggap penting sebagai perlindungan terhadap

perundang-undangan dipandang sebagai

sedangkan menurut perundangundangan Negara dimana

kepentingan nasional. Sedangkan untuk asas personal, harus diberlakukan seluruh perundang-undangan hukum pidana bagi warga Negara yang melakukan kejahatan

perbuatan itu dilakukan diancam dengan pidana. (2). Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat

di luar territorial wilayah Negara.

19

20

Ketentuan pasal 5 ayat (2) adalah untuk mencegah agar supaya warga Negara asing yang berbuat kejahatan di Negara asing tersebut, dengan jalan menjadi warga Negara Indonesia (naturalisasi). Bagi Jaksa maupun hakim Tindak Pidana yang dilakukan di negara asing tersebut, apakah menurut undang-undang disana merupakan kejahatan atau

perundang-undangan

Negara

dimana

perbuatan dilakukan terhadapnya tidak diancamkan pidana mati”. Latar belakang ketentuan pasal 6 ayat (1) butir 2 KUHP adalah untuk

melindungi kepentingan nasional timbal balik (mutual legal assistance). Oleh karena itu menurut Moeljatno, sudah sewajarnya pula diadakan imbangan pulu terhadap maksimum pidana yang mungkin dijatuhkan menurut KUHP

pelanggaran, tidak menjadi permasalahan, karena mungkin pembagian tindak

pidananya berbeda dengan di Indonesia, yang penting adalah bahwa tindak pidana tersebut di Negara asing tempat perbuatan dilakukan sedangkan diancam menurut dengan KUHP pidana, Indonesia

Negara asing tadi.

Ad. III. Asas Perlindungan Sekalipun asas personal tidak lagi

merupakan kejahatan, bukan pelanggaran. Ketentuan pasal 6 KUHP : “ Berlakunya pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut

digunakan sepenuhnya tetapi ada asas lain yang memungkinkan diberlakukannya hukum pidana nasional terhadap

perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Negara

21

22

Pasal

4

KUHP

(seteleh

diubah

dan

talon, tanda deviden atau tanda bunga yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang

ditambah

berdasarkan

Undang-undang

No. 4 Tahun 1976) “Ketentuan undangan pidana dalam perundang-

dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau menggunakan suratsurat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak palsu; 4. Salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut mengenai kertas mata yang dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal 479 l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam surat hutang atau penerbangan sipil. keselamatan Indonesia diterapkan bagi

setiap orang yang melakukan di luar Indonesia : 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 108 dan 131; 2. Suatu uang kejahatan atau 104, 106, 107,

uang

dikeluarkan oleh Negara atau bank, ataupun mengenai dan oleh materai merek yang yang

dikeluarkan digunakan Indonesia; 3. Pemalsuan

Pemerintah

sertifikat hutang atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan Dalam pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi kepentingan nasional dan melindungi

Asas Universal Berlakunya pasal 2-5 dan 8 KUHP dibatasi memberlakukan perundang-undangan pidana Indonesia bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Indonesia melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan nasional. .23 24 kepentingan internasional (universal). yaitu : 1) Kejahatan Negara martabat Republik dan / terhadap kejahatan kehormatan Indonesia keamanan terhadap Presiden Wakil oleh hukum pengecualian-pengecualian internasional. IV. Indonesia atau segel / materai dan merek yang digunakan oleh Pasal ini menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga Negara Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang disebutkan dalam pasal tersebut. pemerintah Indonesia (pasal 4 ke-2) 3) Kejahatan surat-surat mengenai hutang pemalsuan sertifkat- atau sertifikat hutang yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia atau bagianbagiannya (pasal 4 ke-3) Dikatakan nasional melindungi karena pasal 4 kepentingan KUHP ini 4) Kejahatan mengenai pembajakan kapal laut Indonesia dan pembajakan pesawat udara Indonesia (pasal 4 ke4) Ad. Bahwa dalam asas melindungi kepentingan internasional (asas universal) adalah dilandasi pemikiran bahwa setiap Negara di dunia wajib turut dan Presiden Republik Indonesia (pasal 4 ke-1) 2) Kejahatan mata uang mengenai atau pemalsuan uang kertas melaksanakan tata hukum sedunia (hukum internasional).

dan mungkin juga menyangkut kapal laut atau pesawat terbang Negara asing. adalah laut atau internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4 ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau uang kertas) dan pasal 4 ke-4 KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak menyebutkan mata uang atau uang kertas Negara mana yang dipalsukan atau kapal laut dan pesawat terbang negara mana yan dibajak. Pasal 7 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- undangan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat yang di luar Indonsia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan Kedua”. akan tetapi juga mungkin menyangkut mata uang atau uang kertas Negara asing. maka asas yang berlaku adalah asas melindungi kepentingan Pemalsuan mata uang atau uang kertas yang dimaksud dalam pasal 4 ke-2 KUHP menyangkut mata uang atau uang kertas Negara Indonesia. dalam Bab XXVIII Buku Indonesia. maka asas yang berlaku diterapkan adalah asas melindungi kepentingan nasional (asas nasional pasif). . mengenai kepemilikan Indonesia. pesawat pembajakan terbang kapal. Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. pembajakan kapal laut atau pesawat terbang adalah mengenai kepemilikan Negara asing.25 26 Dikatakan melindungi kepentingan Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. Pembajakan kapal laut atau pesawat terbang yang dimaksud dalam pasal 4 ke-4 KUHP dapat menyangkut kapal laut Indonesia atau pesawat terbang internasional (asas universal).

210. pertimbangan lain untuk memasukkan Bab . yang di luar Indonesia. begitu pula yang tersebut dalam peraturan mengenai surat laut dan pas kapal di Indonesia. 417. pasal 3. 416. Akan tetapi pasal-pasal dalam pasal 2. 415. melakukan sekalipun salah di luar tindak perahu. pidana satu sebagaimana dimaksudkan dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX buku ketiga. 423. 420. 4 Tahun 1976 yang dimasukkan dalam KUHP pada Buku Kedua Bab XXIX A. kesempatan.27 28 Pasal ini mengenai kejahatan jabatan yang sebagian besar sudah diserap menjadi tindak pidana korupsi. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana / prasarana penerbangan berdasarkan UU No. Dengan telah diundangkannya tindak pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “setiap orang di luar wilayah Negara republik Indonesia yang memberikan bantuan. 388. 418. 387. 435) telah dirubah oleh Undang-undang No. maupun dalam ordonansi perkapalan”. 419. 425. 31 Tahun 1999 tentang undangan Indonesia berlaku nahkoda dan penumpang perahu Indonesia. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan rumusan tersendiri sekalipun masih menyebut unsur-unsur yang terdapat dalam masing-masing pasal KUHP yang diacu. Dalam hal demikian apakah pasal 7 KUHP masih dapat diterapkan ? untuk masalah tersebut harap diperhatikan pasal 16 UU No. pasal 5 sampai dengan pasal 14” Pasal 8 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- tersebut (pasal 209.

pada umumnya pengecualian yang diakui meliputi : 1) Kepala Negara beserta keluarga dari Negara sahabat. internasional. . sekalipun ada di luar kapal.29 30 XXIX A Buku Kedua ke dalam pasal 8 KUHP adalah juga menjadi kenyataan bahwa kejahatan penerbangan sudah 3) Anak buah kapal perang asing yang berkunjung di suatu Negara. Hukum nasional suatu Negara tidak berlaku bagi mereka 2) Duta besar Negara asing beserta keluarganya meeka juga mempunyai hak eksteritorial. Menurut Moeljatno. Menurut hukum adalah internasional teritoir kapal peran yang digunakan sebagai bagian dari kegiatan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorganisir pasal 9 KUHP. Diterapkannya pasal-pasal 2-5-7 dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum-hukum Negara mempunyainya 4) Tentara Negara asing yang ada di dalam wilayah Negara dengan persetujuan Negara itu. dimana mereka mempunyai hak eksteritorial.

“ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang. ditujukan (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility). bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula. b. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :  Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana.H. . Selanjutnya Moeljatno membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid van het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person).. Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya. PENGERTIAN TINDAK PIDANA Hingga saat ini belum ada kesepakatan para sarjana tentang pengertian Tindak pidana  Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat. Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (strafbaar feit). Moeljatno S. Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. pidana selalu mengatur tentang tindak pidana. dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”. UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA Dalam suatu peraturan perundang-undangan ditimbulkan sedangkan kelakuan pidana kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.31 32 BAB III TINDAK PIDANA a.  Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan oleh ancaman atau kejadian yang orang). Menurut Prof.

maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan Simons juga menyebutkan adanya unsur obyektif dan unsur subyektif dari tindak pidana (strafbaar feit). Menurut  Simons. berbuat   atau tidak berbuat atau membiarkan). Perbuatan kesalahan. Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. unsur-unsur tindak pidana menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat “openbaar” atau “dimuka umum”. yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar.33 34 Sedangkan menurut Moeljatno “Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. harus dilakukan dengan (strafbaar feit) adalah : Perbuatan manusia (positif atau negative. Unsur Subyektif :  Orang yang mampu bertanggung jawab  Adanya kesalahan (dollus atau culpa). Unsur Obyektif :  Perbuatan orang  Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu. mengetahui adanya tindak pidana. Untuk   Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband staand) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person). larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”. Diancam dengan pidana (statbaar gesteld) Melawan hukum (onrechtmatig) .  Mungkin ada keadaan tertentu yang perundang-undangan pidana tentang perbuatanperbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja.

memperingan atau memperberat melakukan perbuatan. 531 KUHP Pasal 164 KUHP : barang jahat siapa untuk mengetahui permufakatan .35 36 Kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan. Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. Sementara menurut Moeljatno unsur-unsur Tahun 1971 atau pasal 11 UU No. Apabila penghasutan tidak dilakukan di muka umum maka tidak mungkin diterapkan pasal ini Unsur keadaan ini dapat berupa keadaan yang menentukan. (1) Unsur keadaan yang menentukan misalnya dalam pasal 164. misalnya pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum (supaya melakukan perbuatan pidana atau melakukan kekerasan terhadap penguasa umum). 20 Tahun 2001 tentang pegawai negeri yang menerima hadiah. misalnya unsur pegawai negeri yang diperlukan dalam delik jabatan seperti dalam perkara tindak pidana korupsi. yang dibagi menjadi : a. Kalau yang menerima hadiah bukan pegawai negeri maka tidak perbuatan pidana :  Perbuatan (manusia)  Yang memenuhi rumusan dalam undangundang (syarat formil)  Bersifat melawan hukum (syarat materiil) Unsur-unsur tindak pidana menurut Moeljatno terdiri dari : 1) Kelakuan dan akibat 2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. 3 pidana yang dijatuhkan. 31 Tahun 1999 jo. Unsur obyektif atau non pribadi Yaitu mengenai keadaan di luar si pembuat. UU No. Unsur subyektif atau pribadi Yaitu mengenai diri orang yang mungkin diterapka pasal tersebut b. 165. Pasal 418 KUHP jo.

kejahatan tadi kemudian betul-betul terjadi. kalau orang yang dalam keadaan bahaya tadi kemudian lalu meninggal dunia. jika kemudian orang itu meninggal. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. orang tadi baru melakukan perbuatan pidana. Tentang hal kemudian terjadi kejahatan itu adalah merupakan unsur tambahan. apabila mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan. Apabila penganiayaan tersebut memberitahukannya kehakiman atau kepolisian atau kepada yang terancam. Keharusan memberi pertolongan pada orang yang sedang menghadapi bahaya maut jika tidak memberi pertolongan. Pasal 531 KUHP : barang siapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. 113. 107. Syarat tambahan tersebut tidak dipandang sebagai unsur delik (perbuatan pidana) tetapi sebagai syarat penuntutan. 108. dan pada saat kejahatan masih bisa dicegah dengan sengaja kepada tidak pejabat kepadanya tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain. diancam. 187 dan 187 bis. diancam. (2) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana Misalnya penganiayaan biasa pasal 351 ayat (1) KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. 124. ancaman pidana diperberat menjadi 5 tahun (pasal 351 ayat . Kewajiban untuk melapor kepada yang berwenang. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan menimbulkan luka berat. apabila kejahatan jadi dilakukan. Orang yang tidak melapor baru dapat dikatakan jika melakukan perbuatan pidana. dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.37 38 melakukan kejahatan tersebut pasal 104. 115. 106.

tetapi dalam praktek hal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembuktian perkara pidana. Tanpa ditambahkan kata melawan hukum setiap orang mengerti bahwa memaksa dengan kekerasan atau ancaman unsur-unsur permasalahan “pengertian” unsur-unsur tindak pidana bersifat teoritis. Pentingnya pengertian Sekalipun pemahaman tindak terhadap pidana. Unsur melawan hukum yang dinyatakan sebagai unsur tertulis misalnya pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai pencurian yaitu pengambilan barang orang lain dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum.39 40 2 KUHP). Adakalanya unsur ini tidak dirumuskan secara tertulis rumusan pasal. Apabila tidak dicantumkan maka apabila perbuatan yang didakwakan dapat dibuktikan maka secara diam-diam unsure itu dianggap ada. dan jika mengakibatkan mati ancaman pidana menjad 7 tahun (pasal 351 ayat 3 KUHP). Apabila dicantumkan maka jaksa harus mencantumkan dalam dakwaannya dan dapat diketahui dari doktrin (pendapat ahli) ataupun dari yurisprudensi yan memberikan penafsiran terhadap rumusan . Misalnya pasal 285 KUHP : “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh di luar perkawinan”. tentang dilakukan perbuatan sudah jelas dari istilah atau rumusan kata yang disebut. sebab sifat melawan hukum atau sifat pantang oleh karenanya harus dibuktikan. Pengertian unsur-unsur tindak pidana kekerasan adalah pantang dilakukan atau sudah mengandung sifat melawan hukum. Luka berat dan mati adalah merupakan keadaan tambahan yang memberatkan pidana (3) Unsur melawan hukum Dalam perumusan delik unsur ini tidak selalu dinyatakan sebagai unsur tertulis.

Biasa terjadi bahwa suatu alat bukti hanya penjelasan penegak berguna untuk menentukan pembuktian satu unsur tindak pidana. . agar dengan jelas. harus diuraikan sejelas-jelasnya karena ini menjadi dasar atau dalil untuk berargumentasi. 3) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pemeriksaan di sidang pengadilan berjalan secara obyektif. 2) Dapat menguraikan perbuatan terdakwa yang menggambarkan uraian unsur tindak pidana yang didakwakan sesuai dengan pengertian / penafsiran yang dianut oleh doktrin maupun yurisprudensi. tidak seluruh unsur tindak pidana. yurisprudensi atau dengan cara penafsiran hukum. akan diberikan sehingga hukum 4) Menentukan nilai suatu alat bukti untuk membuktikan unsur tindak pidana. Bagi Jaksa pentingnya memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana adalah : 1) Untuk menyusun surat dakwaan. maka pengertian-pengertian unsur tindak pidana yang dianut dalam doktrin atau kepada saksi atau ahli atau terdakwa untuk menjawab sesuai fakta-fakta yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. atau biasa diulas dalam analisa hukum. 5) Mengarahkan jalannya penyidikan atau memudahkan aparat menerapkan peraturan hukum.41 42 undang-undang yang semula tidak jelas atau terjadi perubahan makna karena perkembangan pengertian dan jaman. 6) Menyusun requisitoir yaitu pada saat uraian penerapan fakta perbuatan kepada unsurunsur tindak pidana yang didakwakan. Dalil-dalil yang digunakan dalam pembuktian akan secara dapat obyektif dipertanggungjawabkan karena berlandaskan teori dan bersifat ilmiah.

Ada dua pendapat : a. 1. disebut Delik-delik intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia ini prohibita). terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Kejahatan dan Pelanggaran Pembagian delik atas kejahatan dan Ialah yang perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. ialah : semacam “pelanggaran”. jadi yang benar-benar sebagai dirasakan oleh pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. Wetsdelicten Ialah perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik.43 44 1. jadi karena ada undang-undang pelanggaran. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik. Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara mengancamnya dengan pidana. 2. sebab ada kejahatan yang baru disadari sebagai delik karena tercantum dalam undang-undang . Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse). pencurian. Ia hanya membrisir atau memasukkan kejahatan dan dalam dalam kelompok kelompok pertama kedua masyarakat bertentangan dengan keadilan misal : pembunuhan. Rechtdelicten c. JENIS-JENIS TINDAK PIDANA Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik. KUHP buku ke II memuat delik-delik yang disebut : pelanggaran criterium apakah yang dipergunakan untuk membedakan kedua jenis delik itu ? KUHP tidak memberi jawaban tentang hal ini. Perbedaan secara kwalitatif ini tidak dapat diterima.

Delik ini digolongkan kejahatan-kejahatan . Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). Delik formil itu adalah delik yang kepada dirasakan bertentangan dengan rasa keadilan. pencurian (pasal 362 KUHP). Dan sebaliknya ada “pelanggaran”. 379. 384. jadi sebenarnya tidak segera dirasakan sebagai bertentangan dengan rasa keadilan. di muka umum menyatakan perasaan kebencian. 373. 382. Seminar Hukum Nasional 1963 tersebut di atas juga berpendapat. b. 407. permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP). Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi. Kejahatan ringan : Dalam KUHP juga sebagai terdapat delik yang perumusannya dititikberatkan perbuatan yang dilarang. sumpah pemalsuan palsu surat (pasal (pasal 242 263 KUHP). b. Oleh karena perbedaan secara demikian itu tidak memuaskan maka dicari ukuran lain. Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang.45 46 pidana. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya dalam perbuatan seperti tercantum rumusan delik. Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materiil) a. KUHP). penyuapan (pasal 209. 352. 302 (1). 315. 375. 210 KUHP). ialah “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”. bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan. 2. yang benar-benar misalnya pasal 364. Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP).

203. 5. Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP). Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. pembunuhan (pasal 338 KUHP). 201. 197. akan tetapi dapa dilakukan dengan cara tidak berbuat. Misal : seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338. 338 KUHP b. 245. pertolongan (pasal 531 (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) . misal : pasal-pasal 187.47 48 baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. 310. Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaan larangan (dus delik commissionis). ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. b. seorang penjaga wissel yang menyebabkan 3. commissa a. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan. c. penipuan (pasal 378 KUHP). 231 ayat 4 dan pasal 359. Delik commisionis. Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten) a. delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP). 340 KUHP). Delik dolus : delik yang memuat unsur kesengajaan. Delik tunggal dan delik berangkai berbuat sesuatu yang dilarang. misal : tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP). Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur misal : pasal 195. ialah 4. Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362. penipuan. 263. penggelapan. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. 197. pencurian. 360 KUHP. tidak menolong orang yang memerlukan KUHP).

misal : merampas pembuat dan orang yang terkena. Delik aduan dibedakan menurut sifatnya. ayat 2). Delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten) Delik yang ada pemberatannya. Delik yang berlangsung terus dan delik selesai (voordurende en aflopende delicten) Delik yang berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus. Delik aduan yang relative ialah mis. Delik berangkai delik. 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. pencurian pada waktu malam hari dsb. : pasal 367. jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP). sebagai : penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (pasal 351 ayat 2. b. 7. disebut relatif karena dalam delik-delik ini ada hubungan istimewa antara si merupakan dilakukan beberapa kali perbuatan. misal : pasal 481 (penadahan sebagai kebiasaan) 6. ps. misal : (pemerasan dengan ancaman pencemaran. . Delik aduan yang absolut. ialah mis. Delik aduan dan delik laporan Laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten) Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. Catatan : perlu dibedakan antara aduan den gugatan dan laporan. 8. 332. 310. Gugatan dipakai dalam acara perdata. hutangnya karena kepada B A. chantage pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa. tidak membayar hanya kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP).49 50 a. : delik apabila yang baru a. : pasal 284. Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali. 3 KUHP). misal : A menggugat B di muka pengadilan. b.

c. pencurian (pasal 362 KUHP). pidana tambahan : a. bahwa unsur pertama tindak pidana itu adalah perbuatan orang. pidana denda. 7 tahun 1955. misal : penganiayaan (pasal 351 KUHP). Dalam pemeriksaan perkara dan juga sifat dari hukum pidana yang dilihat ada / tidaknya kesalahan pada terdakwa. pidana kurungan d. pencabutan hak-hak tertentu b. b. UU darurat tentang tindak pidana dengan pidana kurungan 2. memberi petunjuk bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan itu adalah manusia.”. dimumkannya keputusan hakim ekonomi. 9. Kata “barang siapa” ini tidak dapat diartikan lain dari pada “orang”. pidana pokok : a.51 52 (pasal 363). d. Dalam pasal 10 KUHP disebutkan jenis-jenis pidana yang dapat dikenakan kepada tindak pidana. SUBYEK TINDAK PIDANA Sebagaimana diuraika terdahulu. Ada delik yang ancaman ……. Delik ekonomi (biasanya disebut tindak pidana ekonomi) dan bukan delik ekonomi Apa yang disebut tindak pidana ekonomi itu terdapat dalam pasal 1 UU Darurat No. pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana itu manusia (naturlijke personen). perampasan barang-barang tertentu c. Ini dapat disimpulkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. sehingga pada dasarnya hanya dapat dikenakan pada manusia. yang dapat diganti pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu. Rumusan delik dalam undang-undang lazim dimulai dengan kata-kata : “barang siapa yang Sifat dari pidana tersebut adalah sedemikian rupa. Delik sederhana. misal : pembunuhan kanakkanak (pasal 341 KUHP). yaitu : 1. . Delik ini disebut “geprivelegeerd delict”. pidana mati b. pidana penjara c.

Bahwasanya yang menjadi subyek tindak pidana itu adalah manusia.v. 33-368 pasal 25 ayat 7. misalnya dalam “ordonansi barang-barang yang diawasi” (S. Vide . Dalam perkembangannya apakah kecuali manusia tidak ada sesuatu yang dapat melakukan tindak pidana misalnya badan hukum ? dalam KUHP terdapat pasal yang seakan-akan menyinggung soal ini. akan tetapi disinipun yang diancam pidana adalah orang. Menurut pasal ini yang dapat dipidana adalah orang yang melakukan korporasi.1948-144) harga” dan (S. Ordonansi obat bius S. Atau dalam UU Darurat tentang pengusutan. ini disebut “pembalikan beban pembuktian” (omkering van bewijslast). buka korporasinya. suatu perkumpulan atau badan (korporasi) lain. sesuai dengan penjelasan (M. yang berbunyi : “suatu tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia”. Dalam hukum positip Indonesia. mengenai pengurus atau komisaris perseroan terbatas dan sebagainya yang dalam keadaan pailit merugikan perseroannya.1948-295) “Ordonansi terdapat membebaskan diri. Pengertian kesalahan yang dapat berupa kesengajaan dan kealpaan itu merupakan sikap dalam batin manusia. penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (UU Darurat No. Akan tetapi ajaran ini sudah ditinggalkan. Pasal ini tidak menunjuk ke arah dapat dipidana suatu badan hukum. ialah pasal 59. dan juga pasal 398 dan 399. sesuatu Seorang fungsi anggota dalam pengurus sesuatu dapat pasal 169 : “ikut serta dalam perkumpulan yang terlarang”. apabila dapat membuktikan bahwa pelanggaran itu dilakukan tanpa ikut campurnya.T) terhadap pasal 59 KUHP. Keterangan : di dalam hukum acara. 7 tahun 1955 pasal 15 dimana dalam ayat 1 dan 2 dengan tegas menyebutkan kelihatannya juga menyangkut korporasi sebagai subyek hukum. 27-278 jo.53 54 d. Dalam KUHP juga ada pasal lain yang pengendalian ketentuan yang mengatur apabila suatu badan (hukum) melakuka tindak pidana yang disebut dalam ordonansi-ordonansi itu.

ya bahkan kadang-kadang korporasi sajalah yang dapat menjadi pembuat. 83) menyatakan mengenai persoalan ini (terjemahan) “Untuk sebagian peradilan dengan dibantu oleh ilmu pengetahuan hukum harus menemukan sendiri penyelesaian untuk problem dalam materi baru ini”.l. Dalam pada itu sekarang suda pasti. : (terjemahan) Pompe (hal. korporasi dapat melakukan tindak pidana. Dan dalam hal. bahwa korporasi dapat mempunyai kesalahan dan . bahkan mereka itu dapat mengemukakan alasan tidak adanya kesalahan sama sekali”. 477 van Hattum menulis a. …………. sebab peradilan terhadap badan hukum kiranya akan menduduki tempat yang penting dalam hukum pidana kita. bahwa menurut Hoge Raad. 147) : “agaknya perlu untuk menggambarkan pertumbuhan ajaran ini agak lebih luas dari pada biasanya dalam buku pelajaran. Persoalan mengenai penyertaan dan kesalahan dalam pada itu akan kerap kali menjadi sumber perbedaan pendapat”. sebaiknya pembentuk undang-undang membuat ketentuan-ketentuan umum dalam hal suatu tindak pidana dilakukan oleh suatu korporasi.55 56 bahwa badan hukum dapat menjadi subyek hukum pidana. Van Hattum (hal.

188. Kausalitas Didalam delik-delik yang dirumuskan secara materiil (selanjutnya disebut delik materiil). maka harus dapat dibuktikan bahwa A. bukan suatu essentialia. Perlu diketahui bahwa . Keadaan yang menentukan di sini adalah terampasnya nyawa seseorang.57 58 BAB IV HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (CAUSALITEIT. Selain itu juga merupakan persoalan pada delik-delik yang dikualifikasi oleh akibatnya (door het gevolg gequafili ceerde delicten) misal pasalpasal : 187. Misalnya : Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan. CAUSALITAT) si A. “akibat” ini artinya “perubahan atas suatu keadaan” dimana atau dapat berupa suatu terhadap terdapat unsur akibat sebagai suatu keadaan yang dilarang dan merupakan unsur yang menentukan (essentialia dari delik tersebut). 334 ayat 2 dan 3. 194 ayat 2. paling banyak ada percobaan. sebab jika disini tidak terjadi akibat yang dilarang dalam delik itu. 355 ayat 2 dan 3 KUHP. maka delik (materiil) itu tidak ada. Contoh : matinya Oleh karenanya untuk dapat menuntut seseorang (misalnya X) yang dilakukan melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya seseorang. Persoalan kausalias ini terjadi karena kesulitan untuk menetapkan apa yang menjadi sebab dari suatu akibat. Hubungan sebab akibat (causaliteitsvraagstuk) ini penting dalam delik materiil. 351 ayat 2 dan 3. karena perbuatan X itu maka timbul akibat matinya A. Berbeda dengan dengan delik formil terjadinya akibat itu hanya merupakan accidentalia. pembahayaan perkosaan kepentingan hukum. pasal 333 ayat 2 dan 3. 195 ayat 2.

Teori ekivalensi ini memakai pengertian “sebab” sejalan dengan pengertian yang dipakai dalam logika. maka tidak akan terjadi akibat lingkungan hukum pidana saja. Dalam filsafat terdapat “peringatan”. . dan semua syarat itu nilainya sama. akan tetapi juga dalam lapangan hukum lainnya. Persoalan ini pun terdapat dalam lapangan ilmu pengetahuan lainnya. Teori-teori hendak dagang misalnya dalam persoalan menetapkan hubungan obyektif antara perbuatan (manusia) dan akibat. lalu mati. Kalau satu syarat dihilangkan. bahwa kejadian “B” yang terjadi sesudah kejadian “A”. Akan tetapi sebenarnya tidak boleh tanpa menyebabkan berubahnya akibat. belum tentu disebabkan karena kejadian “A” (post hoc non propter hoc). Teori Ekivalensi (aquivalenz-theorie) atau Bedingungstheorie atau teori condition sine qua non dari von Buri Teori ini mengatakan : tiap syarat adalah sebab.1.59 60 persoalan ini tidak hanya terdapat dalam B. Tiap syarat. Penganiayaan ringan terhadap A itu juga merupakan sebab dari matinya A. maka terjadilah beberapa teori kausalita. Di tengah jalan ia kejatuhan genting. Contoh : A dilukai ringan. tempat dan keadaannya. Dalam hubungan ini baik dipandang terlampau sederhana. dan mempunyai nilai yang sama. Misalnya hukum perdata dalam penentuan ganti rugi dan dalam hukum asuransi. Tidak ada syarat yang dapat dihilangkan (lazim dirumuskan “nicht hiin weggedacht warden kann dan seterusnya) ditelusuri sampai ke sebab. baik positif maupun negatif untuk timbulnya suatu akibat itu adalah sebab. seperti yang senyata-nyatanya. Akibat kongkrit harus bisa kongkrit. Dalam menetapkan apakah yang dapat dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian. misalnya dalam filsafat. yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. kemudian dibawa ke dokter. menurut waktu. Teori-teori Kausalitas (ajaran-ajaran kausalitas) B. sebab kalau satu syarat tidak ada maka akibatnya akan lain pula.

seorang penganut teori begitu Jadi pembuatan pisau itu juga “sebab” dan seterusnya. harus dan dibedakan Di sini beberapa faktor yang kuat (dominant). B. Kebaikan teori ini : mudah diterapkan. Teori-teori Individualisasi Teori-teori ini memilih secara post actum (inconcreto). “bahwa “sebab itu adalah “the whole of antecedents” (1843). maka ada teori-teori lain yang hendak membatasi teori tersebut teori-teori yang akan disebutkan di bawah ini. apabila diperbaiki dan diatur oleh teori kesalahan yang harus diterapkan dijelaskan. Kritik / keberatan terhadap teori ini : hubungan kausal membentang ke belakang tanpa akhir. Teori ekivalensi ini dapat dipandang sebagai pangkal dari teori-teori lain. bahwa terlepas satu sama lain. sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan. Berhubungan dengan keberatan itu. dan juga karena tori ini menarik secara luas sekali dalam membatasi lingkungan berlakunya antara jawaban pertanggung pertanggungjawaban pidana. apabila tidak ada pembuatan pisau. John Stuart Mill (di Inggris) dalam bukunya : Sistem of Logic berpendapat.61 62 dikemukakan. hubungan pidana. artinya setelah peristiwa kongkrit terjadi.2. dari serentetan faktor yang aktif dan pasif dipilih sebab yang paling menentukan dari peristiwa tersebut. tetapi juga penjualan pisau itu kepada A dan penjualan pisau itu tidak ada. Jadi misal : B ditikam oleh A sampai mati. merupakan “akibat” dari “sebab” yang terjadi sebelumnya. Yang merupakan sebab bukan hanya ditikam A. sedang faktor-faktor lainnya . sedang faktor-faktor lainnya dipisahkan sebagai faktorfaktor yang irrelevant (yang tidak perlu / penting). sebab tiap-tiap “sebab” sebenarnya dengan bahwa kausal sebaik-baiknya”. Van Hamel. mengambil dari sekian faktor yang menimbulkan akibat itu ekivalensi berpendapat bahwa “untuk hukum pidana teori ini boleh digunakan.

Teorinya disebut semacam itu. yang tidak biasa. Yang disebut “sebab” adalah syarat-syarat positif dalam keunggulannya (in ihrem Ubergerwicht-bobot yang melebihi) terhadap syarat-syarat yang negatif. artinya menurut pengalaman hidup biasa. Birkmayer (1885) mengemukakan : sebab adalah syarat yang paling kuat (Ursache ist die wirksamste Bedingung) 2. Oleh karena itu teori ini disebut teori adequat (teori adequate. atau menurut perhitungan yang layak. mempunyai kadar (kans) untuk itu. Binding. Teori-teori generalisasi Teori-teori ini melihat secara ante factum (sebelum kejadian/in abstracto) apakah diantara serentetan syarat itu ada perbuatan manusia yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat penganutnya tidak banyak antara lain : 1. Seorang yang menyetir mobil terpaksa keseimbangan positif itu. Akan tetapi apabila orang yang pukul itu menjadi buta itu bukan akibat yang adequate.63 64 hanya merupakan syarat belaka. oleh karena ada pengendara sepeda hendak menyebrang . tentang Ada-quanzttheorie).3. dimana faktor yang positif itu lebih unggul. Satu-satunya sebab ialah faktor atau syarat terakhir dan yang menghilangkan faktor Contoh-contoh ada hubungan sebab akibat yang adequat : a. Dalam teori ini dicari sebab yang adequate untuk timbulnya akibat yang bersangkutan (ad-aequare artinya dibuat sama). Ini suatu akibat yang abnormal. atau tidaknya “Ubergewichtstheorie)” Dikatakan : sebab dari sesuatu perubahan adalah identik dengan perubahan dalam keseimbangan antara faktor yang menahan (negatif) dan faktor yang positif. Penganut- B. biasanya dapat mengakibatkan hidung keluar darah. Suatu jotosan ang mengenai hidung. b. memenangkan mengerem sekonyong-konyong.

melainkan pengetahuan dari hakim. Disini yang dianggap sebab ialah apa yang oleh sipembuat dapat diketahui / diperkirakan bahwa apa yang dilakukan itu pada umumnya dapat menimbulkan akibat semacam itu (Von Kries jadi pandangan atau pengetahuan menentukan). maka perbuatan petani itu benar-benar mempunyai kadar untuk matinya seseorang. Jadi bukan yang diketahui atau yang dapat diketahui oleh sipembuat. Dianipun dapat dikatakan bahwa perbuatan pengendara menimbulkan akibat tertentu itu ? Mengenai hal ini ada beberapa pendirian. tidak timbul akibat semacam itu maka perbuatan petani itu bukanlah sebab. 2. . dimana secara kebetulan bersembunyi / tidur seorang penjahat hingga ikut mati terbakar. Hal yang merupakan persoalan dalam teori ini ialah : bagaimanakah penentuannya. c. Jika biasanya menurut pengalaman sehari-hari. Disini disebut antara lain : 1. Dasar penentuan apakah suatu perbuatan itu dapat menimbulkan akibat ialah keadaan atau hal-hal yang secara obyektif kemudian si pembuatlah yang sepeda itu tidak merupakan penyebab yang adequate untuk timbulnya penyakit trauma tersebut.65 66 jalan yang membelok. diketahui atau pada umumnya diketahui. Penentuan subyektif (subjective ursprungliche Prognose). bahwa suatu sebab itu pada umumnya cocok untuk disangka-sangka Pengendara pengendara mendapat mobil penyakit trauma karena menekan urat. Seorang petani membakar tumpukan rumput kering (hooi). Adakah pen-sebab-an yang adequate ? Jawabannya tergantung dari keadaan. Akan tetapi apabila di daerah itu merupakan kebiasaan orang untuk bersembunyi atau menginap dalam tumpukan rumput. oleh ini sedang ini tidak mobil. Penentuan obyektif.

oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori adequate subyektif dari von Kries ini bukan teori kausalitas yang murni. tetapi tidak berani kebetulan. “objektive nachtragliche Prognose” mati. Simons : Dikatakan olehnya : “suatu perbuatan dapat disebut sebagai sebab dari suatu akibat. Contoh : seorang majikan. Menurut teori ekivalensi : ya. Oleh karena itu lebih memuaskan apabila dipakai teori adequate. sebab seandainya pekerja itu tidak disuruh keluar oleh majikan. melepasnya. ingin sekali agar pekerja itu . apabila menuntut pengalaman manusia pada umumnya harus diperhitungkan kemungkinan. maka ia tidak mati. Penyambaran petir adalah hal yang (voor zien) akan terjadinya akibat atau kalau orang umumnya membayangkan terjadinya akibat itu.67 68 Dasar penentuan (Beurteilungs standpunkte) ini disebut (Rumelin). sehingga juga tidak ada pemidanaan. Beberapa penganut teori adequat yang lain : 1. Dengan ini maka tidak ada hubungan kausal. Harapan itu Sebenarnya dalam teori kausal adequat subyektif (Von Kries) itu tersimpul unsur terkabul dan pekerjanya itu mati disambar petir. Oleh karena dalam ajaran tersebut tersimpul unsur kesalahan. Konsekwensi ini umumnya penentuan tentang kesalahan). jadi bukan teori kausalitas dalam arti yang sesungguhnya. yang sangat membenci pekerjanya. jadi sipembuat dapat membayangkan dan seharusnya dapat membayangkan. Menurut teori ini : perbuatan menyuruh orang ke tempat lain pada umumnya tidak mempunyai kadar untuk kematian seseorang karena disambar petir. Pada waktu hujan yang disertai petir ia menyuruh pekerjanya itu pergi ke suatu tempat dengan harapan agar orang itu disambar petir. Sebab suatu perbuatan baru dianggap sebagai sebab yang adequate apabila sipembuat dapat mengira-ngirakan atau membayangkan dipandang terlalu jauh. maka ia juga menentukan pertanggunganjawab (pidana).

Dalam hal ini teori adequat dapat apakah sebab sesuatu sesuatu rumusan perbuatan akibat delik itu yang yang dari dalam (presumptie).69 70 bahwa dari perbuatan sendiri akan terjadi akibat itu”. Ini kesimpulan pengalaman kita sebagai manusia. Teori ini ditambah dengan . Kami (Ringkasan Hukum Pidana hal. Beliau katakan : “Kehidupan hukum dan perhubungan hukum itu terdiri atas persangkaan. pengalaman akibat yang bersangkutan. kadar. tidak terlihat tersebut di atas : teori ekuivalentie dapat dikatakan teori kausalitas yang benar. itu dapat juga dikatakan. 2. mengikuti yurisprudensi Negeri Belanda. dengan kadarnya memadai sesuatu akibat. ia menggunakan istilah-istilah yang tidak terang misalnya biasanya. Syarat yang pada umumnya. dan memberi keterangan yang cukup memuaskan merupakan dimaksudkan bersangkutan. Mengenai teori adequat dari von Kries. Hukum Pidana itu mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perkosaan dan perbuatan yang membahayakan. bahwa alur peristiwa di dunia ini ada biasa dan normal. 47) berpendirian senada dengan Simons. bahwa teori tersebut sesuai dengan jiwa hukum pidana. itulah yang dianggap sebagai suatu sebab”. yang sesuai dengan asas konkordantie pada waktu itu. Berhubung dengan tugas tersebut maka hukum pidana harus membuat “pagar” terhadap perbuatan-perbuatan yang agaknya mendatangkan kerugian. Tinjauan terhadap teori-teori kausalitas manusia pada umumnya dan sebagainya. Pompe : yang disebut sebab ialah perbuatanperbuatan yang dalam keadaan tertentu itu mempunyai strekking untuk menimbulkan menunjukkan perbuatan-perbuatan tersebut. Akan tetapi kelemahan teori ini tidak mudah dalam kenyataan. penentuan ada dan tidaknya unsur kesalahan pada sipembuat. Dalam yurisprudensi Hindia Belanda. akan tetapi selalu diberi suatu penambahan. 3. dengan mengikuti hal ikhwal yang berada dan menurut pengalaman kita. biasanya.

Putusan Penagadilan Negeri Pontianak 7 Mei 1951. akan tetapi tidak . boleh disebut sebab dari tabrakan itu. Terlindasnya pengendara sepeda motor oleh kereta api itu dipandang oleh pengadilan sebagai akibat langsung dan segera dari penabrakan sepeda motor oleh mobil. oleh karena antara perbuatan terdakwa dan terjadinya kecelakaan itu tidak terdapat hubungan yang langsung. bahwa antara perbuatan dan akibat harus ada hubungan yang langsung dan seketika (onmiddellijk en rechtsreeks) a. c. Disini memang perbuatan si ayah dapat disebut syarat tersebut terus menyopir tidak dianggap sebagai sebab dari kecelakaan yang terjadi. Perbuatan terdakwa. d. Putusan Raad van Justitie Batavia 23 Juli 1937 (. b. Putusan Politierechter Palembang 8 Nopember 1936 diperkuat oleh Hooggerechtshof 2 Pebruari 1937. Akan tetapi dalam pada itu di dalam berbagai putusan pengadilan dapat ditunjukkan adanya persyaratan. Putusan Politierechter Bandung 5 April 1933 Seorang ayah yang membiarkan anaknya yang berumur 14 tahun mengendarai sepeda motornya. dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta Terdakwa sebagai kerani bertanggung jawab atas tenggelamnya satu kapal yang disebabkan oleh terlalu berat muatannya dan yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia. Anak tersebut menabrak orang. oleh karena terdakwa sebagai orang yang mengatur pemasukan barang- (voorwaarde) dari tabrakan itu. yang membiarkan pengemudi itu tetap menyopir. Maka matinya si korban dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan si terdakwa (pengendara mobil). Perbuatan terdakwa yang tidak menarik seorang pengemudi mobil yang sembrono dari tempat kemudi (stuur) dan membiarkan pengemudi Hooggerechtshof condong ke teori adequate.71 72 dengan nyata teori mana yang dipakai. oleh karena antara perbuatan ayah dan tabrakan itu tidak ada hubungan kausal yang langsung. hanya dipandang sebagai suatu syarat dan bukan sebab. Pengendara sepeda motor terpental ke atas rel dan seketika itu dilindas oleh kereta api. 147 hal 115) sebuah mobil menabrak sepeda motor.

yang disebut sebagai sebab ialah “sesuatu yang dilakukan ibu itu pada saat ia tidak memberi susu itu. misal . Yang disebut sebab ialah perbuatan yang positif yang dilakukan oleh sipembuat pada saat akibat itu timbul. Pendirian ini tidak bisa diterima. Pada delik ini ada pelanggaran larangan dengan “tidak berbuat”. Di dalam pertimbangan juga disebut bahwa perbuatan terdakwa mempunyai “hubungan erat” dengan “kecelakaan itu”. Yang disebut sebagai sebab ialah perbuatan yang mendahului akibat yang timbul. Pada delik omissi persoalannya mudah. karena delik omissi itu adalah delik formil. Dalam persoalan ini ada beberapa pendirian : ini). C. Yang ada persoalan ialah pada delik commisionis per omission commissa. Kausalitas dalam hal tidak berbuat Persoalan ini timbul dalam delik-delik omissi dan dalam delik comisionis per ommisionem commissa (delik omissi yang tak sesungguhnya). misal pergi ke toko. Jenis kedua ini sebenarnya delik commissi yang dilakukan dengan “tidak berbuat”. karena kepergian ibu itu tidak bisa dianggap ada perhubungan dengan akibat itu. Teori ini disebut “teori berbuat yang sebelumnya”. Tidak mungkin orang tidak berbuat bisa menimbulkan akibat. b. Pendirian ini didasarkan kepada dalil ilmu pengetahuan alam yang berbunyi bahwa dari keadaan negatif tidak mungkin timbul kedaan positif. Teori inipun tidak dapat diterima. Teori ini dinamakan “teori berbuat lain. karena dalil pengetahuan alam tidak tepat untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan rokhani (seperti hukum pidana berbagai pihak tentang terlalu beratnya muatan pada waktu kapal akan berangkat. Misal : dalam hal seorang ibu membunuh anaknya dengan tidak memberi susu. c.73 74 barang angkutan dalam kapal in casu tidak mempedulikan peringatan-peringatan dari a. sehingga tidak ada persoalan tentang kausalitas.

Apakah orang tua bertanggung jawab sebagai ikut berbuat dalam diperbuat/dilakukan. mengingat keadaan yang kongkrit. Di bawah ini diberi contoh-contoh apakah ada kewajiban berbuat atau tidak : 1) Ada anak yang dibunuh. dalam arti dapat menjadi syarat untuk terjadinya suatu akibat. Dalam delik commisionis per omissionem commissa (delik omissi yang tidak sesungguhnya) “tidak berbuat” itu bukannya “tidak berbuat sama sekali” akan tetapi “tidak berbuat sesuatu”. yang diharapkan untuk penerimaan jabatan dengan akibat yang timbul. Maka dengan pengertian ini hal “tidak berbuat” pada hakekatnya sama dengan “berbuat sesuatu”. Kewajiban itu timbul dari hukum. Teori inipun tidak memuaskan. Kesimpulan mengenai kausalitas dalam hal tidak berbuat : sekarang tidak ada persoalan lagi. tetapi memang sikap memindahkan wesel. orang tuanya mengetahui hal ini. tetapi tidak berbuat apa-apa. bahwa tidak berbuat itu dapat menjadi sebab dari suatu akibat. Seseorang yang tidak berbuat dapat dikatakan sebab dari sesuatu akibat. apabila ia mempunyai kewajiban hukum untuk berbuat.75 76 seorang penjaga wesel yang menyebabkan kecelakaan kereta api karena tidak Jawab (Hof Amsterdam 23 Oktober 1883): tidak. d. 2) Seorang penjaga gudang membiarkan pencuri melakukan aksinya. sebab sebagai penjaga ia berkewajiban untuk menjaga dan berbuat sesuatu. ialah norma-norma lainyang berlaku dalam masyarakat yang teratur. sebab sulit dilihat hubungannya antara semacam itu sangat tercela (laakbaar) dan tidak patut. “Tidak berbuat” sebenarnya juga merupakan “perbuatan”. Sedang menurut teori adequate. ia dapat dipertanggungjawabkan. menurut ajaran ini yang menjadi sebab ialah apa yang dilakukan penjaga wesel. tidak hanya yang nyata-nyata tertulis dalam suatu peraturan tetapi juga dari peraturan-peraturan yang tidak tertulis. pembunuhan ? .

168. 548. BAB IV SIFAT MELAWAN HUKUM (Rechtswdrig. jadi harus dibedakan dari persoalan kesalahan atau pertanggungan jawab pidana yang merupakan segi subyektifnya. 510). Akhirnya perlu diperhatiakn bahwa soal hubungan kausal ini terletak dalam segi obyektif (yang menyangkut perbuatan) dari keseluruhan syarat pemidanaan. Onrechmatig) A. 335 (1). Wederrechtelijk.77 78 dapat juga mempunyai kadar untuk terjadinya akibat. Unrecht. . tegas dipakai istilah “melawan hukum”. b. “tanpa izin” (zonder verlof) (pasal 496. jadi juga dapat menjadi “sebab”. 522. ialah yang menyangkut orangnya. (wederrechtelijk) dalam pasal 167. “dengan melampaui kewenangannya” (pasal 430). Istilah dan Pengertian KUHP memakai istilah bermacam-macam : a. dengan istilah lain misalnya : “tanpa mempunyai hak untuk itu” (pasal 303. “tanpa mengindahkan cara-cara yang ditentukan oleh peraturan umum” (pasal 429). 549).

bertentangan dengan hukum (Simons) 2. Misalnya dalam melaksanakan perintah undang-undang (ps. Ia tidak dapat dikatakan melakukan kejahatan tersebut pasal 333 KUHP.R). bertentangan dengan hak (subyektief recht) orang lain (Noyon) 3. memenuhi unsur-unsur delik tersebut pasal 338 KUHP. . Unsur ini merupakan suatu penilaian obyektif terhadap perbuatan. yang berhak atau rumusan delik sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang”. Tasbestand dalam arti sempit ini terdiri atas tasbestand mer male. sebab mungkin ada hal yang menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. tanpa kewenangan atau tanpa hak. hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum (H. mungkin dipidana pula. berwenang untuk melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang itu. Tasbestand disini dalam arti sempit. Salah satu unsur dari tindak pidana adalah unsur sifat melawan hukum. yang menembak mati seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman pidana mati. ialah unsur seluruhnya dari delik sebagaimana dirumuskan dalam peraturan pidana. ialah masing-masing unsur dari rumusan delik. dan bukan terhadap si Pembuat. Bilamana sesuatu perbuatan itu dikatakan melawan hukum ? Orang akan menjawab : “apabila perbuatan itu masuk dalam dapat dikecualikan atas perbuatan yang memenuhi rumusan delik (tatbestandsmaszig) itu tidak senantiasa bersifat melawan hukum. 50 KUHP) : 1) regu penembak. Pengecualian atas tasbestand mer male. 2) Jaksa menahan orang yang sangat dicurigai telah melakukan kejahatan. Perbuatan mereka tidak melawan hukum. Arti istilah bersifat melawan hukum itu terdapat tiga pendirian: 1. Dalam bahasa Jerman ini disebut “tatbestandsmaszig”.79 80 Alasan pembentuk undang-undang itu mencantumkan unsur sifat melawan hukum itu tegas-tegas dalam sesuatu rumusan delik karena pembentuk undangundang khawatir apalagi unsur melawan hukum itu tak dicantumkan dengan tegas.

Maka timbul persoalan ada tidaknya sifat melawan hukumnya perbuatan. Berhubung dengan pelanggaran adat ini. Namun dalam kasus : seorang ayah memukul seorang pemuda yang memperkosa anak-anaknya seorang menembak mati temannya atas pertanggungjawaban dan untuk membawa laki-laki itu ke Wali Negeri.81 82 karena ia melaksanakan undang-undang (terdapat dalam peraturan hukum acara pidana) sehingga tidak ada unsur melawan hukum. Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas masuk dalam rumusan delik . Contoh lain yang mempermasalahkan unsur melawan hukum adalah : Putusan PN Sawahlunto 10 Setember 1936 sapi-sapi yang sehat itu. sehingga membahayakan permintaan sendiri. karena dalam ekspedisi di Kutub Selatan seorang bioloog membedah binatang-binatang (vivisectie) untuk penyelidikan ilmiah. maka Mamak dari perempuan ini bersama-sama dengan orang lain mendatangi orang tersebut untuk dimintai menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan terdapat di dalam undang-undang. apalagi jauh dari dokter. Alasan Arrest Hoge Raad 20 Pebruari 1933 Seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukkan sapi-sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi-sapi yang sudah sakit mulut dan kuku. karena ia luka-luka berat dan tidak mungkin hidup terus. Oleh karena perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya pintu didobrak. Di dalam kedua contoh tersebut hal yang Seorang perempuan Minangkabau hidup bersama dengan seorang laki-laki dengan siapa ia menurut hukum adat dilarang kawin. Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan Mamak cs melanggar pasal KUHP (merusak ketentraman rumah). dan memidana Mamak 3 bulan penjara dan lain-lainnya masing-masing 2 bulan.

hanya berdasarkan suatu ketentuan undang-undang. Pertimbangannya antara lain : “tidak dapat dikatakan. Putusan Pembagian Ajaran Sifat Melawan Hukum Menjawab persoalan tersebut maka hukum pidana membagi ajaran sifat melawan hukum dalam dua sudut pandang yaitu : 1. sehingga oleh karenanya pasal yang bersangkutan yang tidak berlaku letterlijk terhadap memenuhi (hukum tertulis). bahwa perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan peternakan. bahwa unsur sifat melawan hukum tidak dicantumkan di dalam rumusan delik dan meskipun demikian tidak ada pemidanaan. yang masuk larangan dalam sesuatu undang-undang itu tidaklah mutlak bersifat melawan hukum. Ketika dituntut. jika di dalam hukum positif terdapat alasan untuk suatu perbuatan secara rumusan delik”. . bahwa seseorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti dipidana. akan tetapi tidak adanya sifat melawan hukum itu hanyalah bisa diterima. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan melawan atau bertentangan dengan undang-undang alasan-alasan penghapus pidana. bahwa suatu perbuatan. menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbuatan itu bersifat melawan hukum. mungkin sekali dapat terjadi. karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan ternyata tidak ada.83 84 tesebut dalam pasal 82 undang-undang ternak. sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat hapus. “Memang boleh diakui. Menurut Simons. apabila perbuatan diancam pidana dan Mahkamah Agung Belanda : Pasal 82 Undang- undang ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu. ialah dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan yang membahayakan / mengkhawatirkan. dokter hewan mengemukakan pada pokoknya. apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya dirumuskan sebagai suatu delik dalam undangundang.

b) Zu Dohna mengatakan : Suatu perbuatan itu tidak melawan hukum jika perbuatan itu merupakan upaya yang haq untuk tujuan yang haq (richtiges Mittel zum techten zwecke). Alasan untuk menghapuskan sifat melawan hukum tidak boleh diambil di luar hukum positif dan juga alasan yang disebut dalam undang-undang tidak boleh diartikan lain daripada secara limitatief. tidak hanya yang terdapat dalam undang-undang (yang tertulis) saja.85 86 pengecualian berlakunya ketentuan / larangan itu. jika perbuatan itu bertentangan dengan tujuan ketertiban hukum (den Zwecken der das Zusammenleben regelnden Recht sordnung widerspricht). maka tidak bersifat melawan hukum. menurut ajaran sifat melawan hukum yang materiil Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak. Mayer mengatakan : bersifat (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya sebagaimana para sarjana yang . akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang tidak tertulis. Di sini menurut Zu Dohna perbuatan ayahnya tidak melawan hukum. Contohnya ialah seorang yang memukulpemuda yang memperkosa anak perempuannya. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang menganut ajaran sifat melawan hukum yang meteriil ialah : a) Von Liszt : perkosaan atau pembahayaan terhadap kepentingan hukum hanyalah bersifat melawan hukum materiil (materiel rechts widrig). 2.E. c) M. Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyatanyata masuk dalam rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich). kalau tidak bertentangan dengan tujuan itu.

Misal abortus protus (ps. Persaksian terhadap sifat melawan hukum yang materiil itu harus dilakukan secara hatihati. e) Van Hattum Dengan adanya keputusan Hoge Raad dengan itu menurut hemat saya (mer van Hattum) telah diterima ajaran sifat melawan hukum yang materiil oleh Hoge Raad dan telah dipecahkan persoalan mer azas-azas yang boleh dikatakan benar dalam ajaran “penentuan hukum” dewasa ini (in de hedendaagse leer Her rechtsvir onbetwist). dan istimewa hakim harus membuka diri pada peristiwa-peristiwa yang kongkrit. maka itu menjadikan tanda / indikasi bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum. 348 KUHP) bisa tidak melanggar hukum berdasarkan petunjuk eugenetisch atau sosial. Akan tetapi sifat itu hapus apabila diterobos dengan adanya tentang dokter hewan Huizen itu. obyektif yang berdiri sendiri. Kesimpulan mengenai persoalan melawan hukumnya perbuatan. bila suatu perbuatan itu memenuhi rumusan delik. Kalau perbuatan itu sesuai dengan kulturnorm itu maka sifat melawan hukumnya hapus. Dalam hal ada keraguan mengenai sifat melawan hukum maka tidak boleh ada penjatuhan pidana. Sifat melawan hukum itu. ia katakan : . ditentukan oleh norma kebudayaan (kulturnorm). d) Zevenbergen Onrechtmatigheid adalah syarat yang umum. berarti bertentangan dengan kulturnorm yang diakui oleh negara. apakah yang diharapkan oleh ketertiban hukum. tetapi mengenai hal itu harus diselidiki untuk tiap-tiap kejadian yang kongkrit.87 88 Perbuatan itu melawan hukum materiil atau tidak. yang biasanya ada jika suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. (Eugenetiek adalah ajaran yang mempelajari perbaikan ras / keturunan).

c). Sampai dimanakah rasa keadilan dan keyakinan masyarakat dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. Ini adalah beban yang berat bagi hakim. sedang penganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil alasan itu boleh diambil dan luar hukum yang tertulis. harus kepribadiannya bertanggung jawab masyarakat pada umumnya. Berkaitan dengan hukum tertulis maka hakim dalam perkara kongkrit yang sedang dihadapi harus betul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menghapuskan kekuatan berlakunya peraturan yang tertulis dsb. ialah masyarakat Pancasila mata. pikiran dan perasaan hakim harus tajam untuk dapat menangkap masyarakat. Maka hakim harus benar-benar masyarakat yang mempertimbangkan : a). yang dibuat dengan sah. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis.89 90 alat pembenar (rechtvaardigingsgrond). sebab tiaptiap keputusan harus memuat alasan yang mendasari keputusan mengetahui itu. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. kedengaran apa agar yang sedang terjadi dalam tidak seluruh atas supaya Hakim putusannya dengan sumbang. maka perlu dipertimbangkan betulbetul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. . Bagi mereka yang menganut ajaran sifat melawan hukum yang formil alasan pembenar itu hanya boleh diambil dan hukum yang tertulis. Benarkah yang dipandang adil oleh suatu golongan dalam masyarakat biasa. juga dipandang adil / benar oleh seluruh bagaimanakah keadaan keadaan lebih-lebih masyarakat Indonesia dinamis yang bergerak menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan. b). yang dibuat dengan sah. baik secara formil maupun secara materiil. maka perlu dipertimbangkan betul- kebenaran keputusannya.

ada yang tercantum dengan tegas. Misal A membunuh B dengan alasan bahwa B telah membunuh C kakak dari A. Suatu negara yang mengakui azas nullum delictum dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif. Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum Unsur sifat melawan hukum itu ada dalam rumusan delik : 1. B. Nasional nanti dan masih berlakunya KUHP yang sekarang ini dimana juga masih tercantum azas seperti tersebut dalam pasal 1. maka dalam hal ini adanya unsur tersebut harus dibuktikan undang-undang. apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di luar undang-undang. Memang di daerah yang bersangkutan ada anggapan bahwa hutang nyawa harus disaur dengan nyawa. Ini adalah konsekwensi dari diterimanya azas legalitas untuk KUHP. . Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai sumber hukum yang positif. meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam Kalau Seminar Hukum Nasional tersebut di atas menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil tentunya hal tersebut dalam fungsinya yang negatif.91 92 Mengenai pengertian melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan : dalam fungsinya yang negatif Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. dalam fungsinya yang positif Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik. jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum.

padahal perbuatannya itu sama sekali bukan suatu C. Terhadap delikdelik semacam itu ada perbedaan paham : a. Yang menganggap sifat melawan hukum mempunyai fungsi yang negatif adalah Simons. Ini terjadi jika seorang mengira telah melakukan delict. Putatif Delik . mempunyai fungsi yang positif (merupakan unsur konstitutif) a. jika tak disebut dalam rumusan delik. Yang menganggap sifat melawan hukum itu sebaliknya oleh terdakwa. Sifat melawan hukum disini sebagai unsur konstitutif. unsur dianggap dengan diam-diam ada. Beliau setuju.93 94 2. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang positif untuk dengan pertanyaan apakah ada pengecualian yang menyebabkan hapusnya sifat melawan hukum”. ada pula yang tidak tercantum. “ajaran sifat melawan hukum untuk hukum pidana pada umumnya hanyalah mempunyai hubungan Dalam pembicaraan unsur sifat melawan hukum ini ada delik disebut wahn delict atau putativ delict. Muljatno yang meskipun menganggap unsur sifat melawan hukum adalah syarat mutlak yang tak dapat ditinggalkan”. Prof. kecuali jika dibuktikan sesuatu delik (artinya ada delik kalau perbuatan itu bersifat melawan hukum).l. maka tidak perlu dibuktikan. maka harus dibuktikan. Hazewinkel-Suringa memandang sifat melawan hukum hanya sebagai tanda ciri dari tindak pidana. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang negatif (artinya : tidak ada unsur sifat melawan hukum pada perbuatan merupakan pengecualian untuk adanya suatu delik). Pendapat Simons. van Hamel dan Zevenbergen. b. namun berpendirian. bahwa itu tidak berarti bahwa dalam lapangan procesueel (acara pemeriksaan perkara) sifat itu harus dibebankan pembuktiannya kepada penuntut umum. karena pada umumnya dengan mencocoki rumusan undang-undang sifat melawan hukumnya perbuatan sudah ternyata pula.

sebab perbuatannya itu tidak bersifat melawan hukum. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan bertanggung jawab. Bilamana seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab ? Apakah ukurannya untuk menyatakan adanya kemampuan bertanggung jawab itu ? KUHP tidak memberikan rumusannya. bahwa untuk adanya pertanggungjawab pidana diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung jawab. BAB V KESALAHAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 1.95 96 delik. apabila ia tidak mampu – . Dalam literatur hukum pidana Belanda dijumpai beberapa definisi untuk “kemampuan bertanggung jawab”. Pengertian Kemampuan Bertanggungjawab (Zurechnungsfahigkeit Toerekeningsvatbaarheid) Telah disebutkan.

Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri b. Dikatakan selanjutnya. baik dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya”. Mampu untuk menyadari. bahwa seseorang mampu seseorang itu dikatakan “dapat mempertahankan bertanggung jawab. Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undangundang. akan tetapi juga kurang jelas. bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan c. sebab masih dapat ditanyakan kapankah diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian. yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa.97 98 Simons : “kemampuan bertanggung jawab dapat Van Bemmelen : seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan ialah orang yang dapat mempertahankan hidupnya dengan cara yang patut. Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya-perbuatannya itu : a. b. antara lain demikian : Tidak ada kemampuan bertanggung jawab pada sipelaku Van Hamel : kemampuan bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan : a. yakni apabila : a. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum b. sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan . hidupnya dengan cara yang patut” ? Adapun Memorie van Toelichting (memori penjelasan) secara negative menyebutkan mengenai kemampuan bertanggung jawab itu. Definisi van Bemmelen ini singkat. jika jiwanya sehat.

apabila orang yang normal jiwanya itu mampu bertanggung jawab. namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Definisi-definisi tersebut memang ada manfaatnya. Dalam hal ini berlaku asas “TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas. . Kesalahan 2. perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat. Pengertian Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision). kecuali dinyatakan sebaliknya (lihat pembahasan tentang dasar-dasar penghapus pidana). orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya. ia mampu untuk menilai dengan pikiran atau perasaannya bahwa 2.99 100 dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya. bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). tetapi untuk setiap kali dalam kejadian yang kongkrit dalam praktek peradilan menilai jiwa seorang terdakwa dengan ukuran-ukuran tadi tidaklah mudah.1. Untuk dapat perbuatannya itu dilarang oleh undang-undang dan berbuat sesuai dengan pikiran atau perasaannya itu. meliputi juga kesengajaan). Sebagai dasar untuk mengukur hal tersebut. yang mampu. Seorang terdakwa pada dasarnya dianggap (supposed) mampu bertanggung jawab. Dengan perkataan lain. Dalam persoalan kemampuan bertanggung jawab itu ditanyakan apakah seseorang itu merupakan “normadressat” (sasaran norma).

Bahwa unsur kesalahan itu. Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman (UU No. Untuk salah. artinya bahwa. telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari Tatstrafrecht. Mens rea merupakan subjective guilt melekat pada sipelaku subjective gilt ini berupa intent (kesengajaan setidak-tidaknya negligence (kealpaan). unsur kesalahan sebagai syarat untuk penjatuhan pidana di Negara Anglo Saxon tampak dengan adanya maxim (asas) “Actus non facit reum nisi mens sit rea” atau disingkat dengan asas “mens rea”. Asas “tiada pidana tanpa kesalahan” yang telah disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. Dengan demikian hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai Sculdstrafrecht. Tidak berbeda dengan konsep yang berlaku dalam sistem hukum di Negara Eropa Kontinental. Arti aslinya ialah “evil will” “guilty mind”. Dasar Pemikiran Filosofi dasar yang mempersoalkan kesalahan pembuktian undang-undang. namun berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan. kecuali yang apabila sah pengadilan.101 102 Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dlam peraturan lain. apabila ada orang yang dijatuhi pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. Akan bertentangan dengan rasa keadilan. sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang. menurut karena alat berpijak pada orang yang melakukan tindak pidana (taterstrafrecht). dapat juga dikenal dari pepatah (Jawa) “sing seleh” (yang bersalah pasti salah). mendapat keyakinan. adany pemidanaan harus ada kesalahan pada sipelaku.2. bahwa seorang yang dianggap dapat bertanggung jawab. 4 / 2004) berbunyi : Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. Dalam ilmu hukum pidana dapat dilihat sebagai unsur yang menjadi persyaratan untuk dapat dipertanggungjawabkannya pelaku berpangkal pada pemikiran tentang hubungan antara perbuatan pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada perbuatan orang beserta akibatnya (Tatstrafrecht atau Erfolgstrafrecht) ke arah hukum pidana yang dengan kebebasan kehendak. Mengenai hubungan . 2. penjatuhan pidana disyaratkan adanya kesalahan pada si pelaku.

Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya oleh watak (dalam arti naPasalu-naPasalu manusia dalam hubungan kekuatan satu sama lain) dan motifmotif ialah perangsang-perangsang yang datang dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan watak tersebut. Kesalahan seseorang tidak dihubungkan dengan ada dan tidak adanya kehendak bebas 1. Ini berarti bahwa seseorang. sebab ia . Kesalahan Menurut Beberapa Sarjana tidak mempunyai kehendak bebas. bahwa manusia kehendak itu maka ada pertanggungan-jawab dari seseorang atas perbuatannya. sehingga tidak ada pemidanaan. maka tidak ada pencelaan. Namun meskipun diakui bahwa tidak punya kehendak bebas. Tetapi reaksi terhadap perbuatan yang dilakukan itu berupa tindakan (maatregel) untuk ketertiban masyarakat. Aliran klasik yang melahirkan pada manusia pandangan dasarnya mempunyai tidak punya kehendak bebas. Aliran positivist yang melahirkan pandangan determinisme mengatakan. yang bahwa kehendak bebas (free will) dan ini merupakan sebab dan segala keputusan kehendak.103 104 antara kebebasan kehendak dengan ada atau tidak adanya kesalahan ada 3 pendapat dari : a.3. Dalam pandangan ketiga melihat bahwa ada dan tidak adanya kebebasan kehendak itu untuk hukum pidana tidak menjadi soal (irrelevant). itu tak berarti bahwa orang yang melakukan tindak pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. b. Tanpa ada kebebasan kehendak maka tidak ada kesalahan dan apabila tidak ada kesalahan. berpendapat. dan bukannya pidana dalam arti penderitaan sebagai buah hasil kesalahan oleh si pelaku. c. tidak dapat dicela atas perbuatannya atau dinyatakan mempunyai kesalahan. Justru karena tidak adanya kebebasan indeterminisme.

Selanjutnya ia katakan : “Salah dosa berada.105 106 Guna memberi pengertian lebih lanjut tentang kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya.” dan dalam arti bahwa berdasarkan perbuatannya pelaku”. a. yang bersifat psychisch yang terdapat dapat Vcrraussetzungen. keadaan dapat psychisch dicelakakan (jiwa) kepada itu si celaan. VAN HAMEL mengatakan. KARNI yang mempergunakan istilah “salah dosa” mengatakan mengandung : “Pengertian Celaan salah ini dosa menjadi mengatakan antara lain : “Sebagai dasar untuk pertanggungan jawab dalam hukum pidana ia berupa keadaan psychisch dari si pelaku dan hubungannya terhadap perbuatannya. die aus der Strafcat einen personlichen begrunden). MEZGER mengatakan : kesalahan adalah c. meliputi semua hal. di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat dari berbagai penulis. e. d. dat bestaat uit een strafbaar feit en deswege een strafbare dader). Kesalahan adalah pertanggungan jawab dalam hukum (Schuld is de verant woordelijkheid rechtens)”. VAN HATTUM berpendapat : “Pengertian keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku tindak pidana (Schuldist der Erbegriiffder kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum. jika perbuatan dapat dan patut . dasarnya tanggungan jawab terhadap hukum pidana”. bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psychologis. SIMONS mengartikan kesalahan itu sebagai pengertian yang “sociaal ethisch” dan Verwurf gegen den Tater keseluruhan yang berupa strafbaarfeit termasuk si pelakunya (al het geen psychisch is aan dat complex. b. perhubungan antara keadaan jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya.

baik dengan sengaja.Pengertian kesalahan yang normatif mengandung perlawanan hak. perbuatan itu Dari pengertian-pengertian kesalahan dari beberapa sarjana di atas maka pengertian kesalahan dapat dibagi dalam pengertian sebagai berikut : . POMPE mengatakan norma antara yang lain : “Pada karena Pandangan yang normatif tentang kesalahan ini menentukan kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin atau hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya.107 108 dipertanggungkan atas si perbuat. Hubungan batin tersebut bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. Penilaian normatif artinya penilaian (dari luar) mengenai hubungan antara sipelaku dengan perbuatannya. biasanya sifat melawan hukum itu merupakan segi luarnya. Dalam arti ini kesalahan hanya dipandang sebagai hubungan psychologis (batin) antara pelaku dan perbuatannya. maupun dengan salah”. “Penilaian dari luar” ini merupakan pencelaan dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam masyarakat. perbuatan itu harus dilakukan. Jadi di sini hanya digambarkan (deskriptif) keadaan batin berupa kehendak terhadap dalam kepala sipelaku. tetapi di samping itu harus ada unsur penilaian atau unsur normatif terhadap perbuatannya. ialah apa yang seharusnya diperbuat oleh sipelaku secara extreem dikatakan bahwa “kesalahan seseorang tidaklah terdapat pelanggaran dilakukan kesalahannya. Pengertian kesalahan psychologisch. Yang perbuatan atau akibat perbuatan. Segi dalamnya. . harus boleh dicela karena perbuatan itu. Yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. ialah di dalamkepala dari mereka yang memberi penilaian terhadap sipelaku itu. yang bertalian dengan kehendak si pelaku adalah kesalahan. f. melainkan di dalam kepala orang-orang lain”. pada kesengajaan hubungan batin itu berupa menghendaki perbuatan (beserta akibatnya) dan pada kealpaan tidak ada kehendak demikian.

Ini sejalan dengan pendapat. dan yang memuat segala syarat untuk hidup bersama. Namun demikian. menurut akibatnya ia ada hal yang dapat hidupnya. Bukan “ethische schuld”. dicelakakan (verwijtbaarheid) b.4. di . untuk adanya kesalahan hemat kami harus ada pencelaan ethis. ialah kemampuan bertanggungjawab dan tidak adanya alasan pencelaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana. bahwa “das Recht ist das ethische Minimum”. Jadi orang yang bersalah melakukan sesuatu perbuatan. Arti “kesalahan” dalam hukum Pidana Dalam hukum pidana kesalahan memiliki 3 pengertian yaitu : a. akan tetapi hanya merupakan unsur dari kesalahan atau unsur dari pertanggung-jawaban pidana. Di samping itu ada unsur lain ialah penilaian mengenai keadaan jiwa sipelaku. seperti dikatakan oleh van Hamel. Kesalahan dalam Hukum Pidana Kesalahan ini dapat dilihat dari 2 sudut : a. yang dapat disamakan dengan pengertian dihindarkannya (vermijdbaar-heid) perbuatan yang melawan hukum Dari pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapatlah dimengerti bahwa kesalahan itu mengandung unsur “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”. Di dalam pengertian ini sikap batin si pelaku ialah. kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. melainkan “veranwoordelijkheid rechtens. betapapun kecilnya. menurut hakekatnya ia adalah hal dapat 1.109 110 memberi penilaian pada instansi terakhir adalah hakim. Setidaktidaknya pelaku dapat dicela karena tidak menghormati tata dalam masyarakat. itu berarti bahwa perbuatan itu dapat dicelakakan kepadanya. melainkan pencelaan berdasarkan hukum yang berlaku. yang terdiri dari sesama penghapus kesalahan. 1. yang berupa kesengajaan dan kealpaan tetap diperhatikan. pencelaan disini bukannya pencelaan berdasarkan kesusilaan.

sipelaku harus normal. vorzatz atau (schuldfahigkeit artinya zurechnungsfahigkeit). Disini dipersoalkan apakah orang mampu. b. Dengan diterimanya pengertian kesalahan (dalam arti luas) sebagai dapat maka dicelanya si pelaku atas perbuatannya. Dalam hal ini dipersoalkan sikap batin seseorang pelaku terhadap perbuatannya. berubahlah pengertian kesalahan yang psychologis menjadi pengertian kesalahan yang normatif (normativer schuldbegriff). onachtzaamheid. kesalahan dalam arti sempit. (dolus. maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. kesengajaan intention) atau 2. hubungan batin antara sipelaku dengan tertentu menjadi “normadressat” yang fahrlassigkeit atau negligence). ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. misalnya dengan perbuatannya. Jadi apabila dikatakan. opzet. ialah kealpaan (culpa) seperti yang disebutkan dalam b. c. bahwa orang bersalah 2. . yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). adanya sipelaku kemampuan bertanggungjawab pada atau keadaan jiwa melakukan sesuatu tindak pidana.2 di atas. kesalahan dalam arti bentuk kesalahan (sculdvorm) yang berupa : 1. Pemakaian istilah “kesalahan” dalam arti ini sebaiknya dihindarkan dan digunakan saja istilah “kealpaan”. b. tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada. ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi sipelaku sehingga kesalahannya hapus. Unsur-unsur dari kesalahan (dalam arti yang seluas-luasnya) Kesalahan dalam arti seluas-luasnya amat berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana dimana meliputi : a.111 112 dalamnya terkandung makna dapat dicelanya (verwijtbaarheid) sipelaku atas perbuatannya. kealpaan (culpa. c.

113 114 adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (ps. Kalau ini tidak ada. dapat dipidananya orangnya atau pelakunya mempunyai pertanggungan jawab pidana. (pertanggungan jawab bersangkutan harus pula dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit) 2. maka kita harus senantiasa menyadari akan dua pasangan dalam syarat-syarat pemidaan ialah adanya : 1. . sehingga bisa dipidana. artinya. 49 KUHP) Kalau ketiga-tiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah atau Itulah sebabnya. Sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum tidak dengan sendirinya mempunyai kesalahan. artinya tidak dengan sendirinya dapat dicela atas perbuatan itu. Dalam pada itu harus diingat bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti yang pidana) seluas-luasnya orang yang (strafbaarheid van de persoon). kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak ada perlunya untuk menerapkan kesalahan sipelaku.

(Pompe : 166). (Memorie van Toelichting). menghendaki dan sadar akan perbuatannya. yang berisi menghendaki dan mengetahui itu. orang tak bisa menghendaki akibat. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. melainkan hanya dapat membayangkannya.v. yang mengartikan “kesengajaan” (opzet) sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). dapat diambil dari M. INTENT. Teori-teori Kesengajaan Berhubung dengan keadaan batin orang yang berbuat Unsur kedua dari kesalahan dalam arti yang seluasluasnya (pertanggungjawaban pidana) adalah hubungan batin antara si pelaku terhadap perbuatan. yang dengan sengaja. Jadi dapatlah dikatakan. Teori kehendak (wilstheorie) Inti Apakah yang diartikan dengan sengaja ? KUHP kita tidak memberi definisi. Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan.115 116 BAB VI KESENGAJAAN (DOLUS. Teori ini menitikberatkan b. Zevenbergen) .T. VORSATZ) mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu. bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan. mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons. 1. yang sengaja tidak memberi susu kepada anaknya. Misal : seorang Ibu. maka dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut dua teori sebagai berikut: a. Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk dicelakakan kepada sipelaku itu. Hubungan batin ini bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. OPZET.

maka ia tidak akan berbuat demikian. Ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya. (Frank). Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. kedua-duanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat. akibat yang memang dituju sipelaku. kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn noodzakkelijkheidbewustzijn atau . c. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat).117 118 pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat. dolus directus b. Dalam hal delik materiil harus dihubungkan faktor kausa yang menghubungkan perbuatan dengan akibat (kausalitas) dimana : 1. jengkel dsb. Amenghendaki sakitnya B 2. kedua teori adalah sama. Misal : A menempeleng B. Perhatikan : haruslah ditoh:bedakan antara tujuan dan motif. Dalam praktek penggunaannya. Bentuk Kesengajaan Dalam hal seseorang melakukan sesuatu agar B tidak membohong. kesengajaan yang biasa dan sederhana. Perbuatan sipelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Kalau akibat ini tidak akan ada. kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet) Bentuk kesengajaan ini merupakan bentuk Terhadap perbuatan yang dilakukan sipelaku kedua teori itu tak ada perbedaan. dengan sengaja dapat dibedakan 3 bentuk sikap batin. Motif suatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat misalnya cemburu. Perbedaannya adalah dalam istilahnya saja. yang menunjukkan tingkatan atau bentuk dari kesengajaan sebagai berikut : a.

9 Maret 1911) kemungkinan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus diemban sipelaku. Ia ingin terhadap kematian istri B (Arrest H. A tahu bahwa ada kemungkinan istri B. yang tidak berdosa itu juga akan makan kue tersebut dan meninggal karenanya. 406 KUHP) ada kesengajaan dengan keinsyafan Contoh 2 : A hendak membalas dendam B yang bertempat tinggal di Hoorn.119 120 2. kematian tersebut tidak menjadi persoalan baginya. Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula merupakan diperkirakan sipelaku sebagai Contoh 3 : Seorang yang melakukan penggelapan. menghindarkan diri dari peradilan dunia dan hendak . Contoh 1 : A hendak membunuh B dengan tembakan pistol. akibat ini pasti timbul atau terjadi. merasa bahwa akhirnya ia akan ketahuan. meskipun A tahu akan hal terakhir ini namun ia tetap mengirim kue tersebut. A mengirim kue taart yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya. Jadi dalam kasus ini : Ada kesengajaan sebagai tujuan terhadap matinya B dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan kepastian atau keharusan sebagai syarat tercapainya tujuan.R. oleh karena itu kesengajaan dianggap tertuju pula pada matinya istri B. 1 tadi. Dalam batin si A. Penembakan terhadap B pasti akan memecahkan kaca pemilik restoran itu. Terhadap terbunuhnya B kesengajaan merupakan tujuan sedangkan terhadap rusaknya kaca (ps. akibat yang tidak didinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam no. B duduk di balik kaca jendela restoran.

121

122

membunuh dirinya dengan merencanakan sustu kecelakaan lalu – lintas, Ia menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada otobis yang berisi penumpang. Tujuannya agar uang asuransinya yang sangat tinggi (1 ton) itu dapat dibayarkan kepada soprnya. Tetapi ini gagal, ia tidak mati, hanya luka-luka. Beberapa penumpang bis mengalami luka dan seorang diantaranya luka yang membahayakan jiwa. R.v.J (Raad van Justitie) Semarang yang diperkuat oleh Hoogerechtshof dalam tingkat banding

3. Dolus Eventualis Dolus eventualis lahir karena suatu keadaan dimana sikap batin pelaku dimana pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu. Contoh: Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan lajunya di jalan dalam kota. Dimuka ia lihat

menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan penganiayaan berat. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut: Meskipun terdakwa tidak mengharapkan penumpangpenumpang bis mendapat luka-luka, namun akibat ini ada dalam kesengajaanya, sebab iatetap melakukan perbuatan itu, meskipun ia sadr akan akibat yang mungkin terjadi. Kasus ini adalah pengalaman Jokers, ketika menjadi Jaksa Tinggi (Officier van Justitie) pada R.v.J di Semarang.

sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila ia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa

menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatanya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan unuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia

mengiginkan akibat tadi, namun jelas ia menghendaki hal itu, dalam arti, meskipun ia sadar akan

kemungkinan tentang luka dan matinya anak ia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima

123

124

apa

boleh

buat

kemungkinan

itu,

dengan

Dalam kedua teori itu digambarkan, bahwa dalam batin si – pelaku terjadi suatu proses, bahwa ia lebih baik berbuat dari pada tidak berbuat. Disini ada suatu

melampiaskan naPasalunya untuk menegar kudanya. Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja. Bagaimanakah

yang tidak jelas, oleh karena itu disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”). Menurut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie

menerangkan adanya kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) ? Berdasarkan menetapkan teori dalam kehendak, batinnya, jika bahwa sipelaku ia lebih

“atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku berikut: a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, terhadap perbuatannya adalah sebagai

menghendaki perbuatan yang dilakukan itu, meskipun nanti akan ada akibat yang ia tidak harapkan, dari pada tidak berbuat, maka kesengajaan orang tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu. Berdasarkan teori pengetahuan, pelaku mengetahui / membayangkan akan kemungkinan terjadinyan akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangkan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat; maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hak itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.”

125

126

Dalam perdebatan di Eerste Kamsr mengenai W.v.S. Menteri Modderman mengatakan, bahwa

batin yang berupa kesengajaan (atau kealpaan) itu benar-benar ada pada pelaku. Orang tidak dapat secara pasti mengetahui mengetahui batin orang lain, lebih-lebih bagaimana keadaan batinnya pada waktu orang ini berbuat. Apabila orang ini dengan jujur menerangkan keadaan batinnya yang sebenarnya maka tidak ada kesukaran. Kalau tidak, maka sikap batinnya harus disimpulkan

“voorwaardelijkk opzet” (dolus eventualis) itu ada, apabila kehendak kita langsung ditujukan pada kejahatan tersebut, tetapi meskipun telah mengetahui bahwa keadaan tertentu masih akan terjadi, namun kita berbuat dengan tiada tercegah oleh kemungkinan terjadinya hal yang telah kita ketahui itu. Dengan teori apa boleh buat ini maka sebenarnya tidak perlu lagi untuk membedakan kesengajaan dengan sadar kepastian dan kesengajaan dengan sadar kemungkinan.

dari keadaan lahir, yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim baru mengobyektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh Van Bemmelen:

Dalam

uraian-uraian si-pelaku

diatas

penentuan dengan

tentang melihat A melepaskan tembakan kepada B dalam jarak 2 meter. Meskipun A mungkin, bahwa ia mempunyai

kesengajaan

adalah

bagaimana sikap batinnya perbuatan ataupun akibat perbuatannya. Demikian itu karena kesengajaan dipandang sebagai sikap batin pelaku terhadap perbuatannya. Dengan teori-teori itu diusahakan untuk menetapkan kesengajaan sipelaku Dalam kejadian konkret tidaklah mudah bagi Hakim untuk menentukan bahwa sikap

kesengajaan untuk membunuh B, namun Hakim tetap akan menentukan adanya kesengajaan tersebut, kecuali apabila dapat diterima alasan-alasan yang sangat masuk akal bahwa A tidak tahu pistol itu berisi

Dikatakan. Dalam hal ini diragukan adanya kesenjajaan. Jadi menurut pendirian yang pertama. dilarang. di perlukan syarat. artinya sengaja untuk berbuat jahat (boos opzet). bahwa untuk adanya kesengajaan cukuplah bahwa sipelaku itu melawan hukum (dilarang). ialah yang mengatakan bahwa: a. Dapat saja sipelaku dikatakan berbuat dengan sengaja. sifat kesengajaan itu berwarna dan kesengajaan melakukan pengetahuan sesuatu sipelaku perbuatan bahwa mencakup perbuatanya hubungannya perkataan adanya lain dengan tersimpul melawan adanya kesengajaan sifat kesadaran mengenai hukumnya perbuatan. ada sehingga ada pembebasan. Penganutnya antara lain Zevenbergen. untuk adanya kesengajaan perlu bahwa sipelaku menyadari bahwa perbuatannya menghendaki perbuatan yang dilarang itu. bahwa sengaja disini berarti dolus malus. Kesengajaan tidak berwarna Kalau dikatakan bahwa kesengajaan itu tak berwarna. tahun 1924. Hakim harus sangat berhati-hati. yang mengatakan (dalam bukunya leerboek van het Nederlandsch Strafrecht. bahwa perbuatannya dilarang dan/atau dapat dipidana b. Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna (kleurloos). sedang ia tidak mengetahui bahwa .” Untuk kesengajaan. maka itu berarti.127 128 atau bahwa matinya B itu disebabkan karena kekhilafan dari A. halaman 169). bahwa: Kesengajaan dengan dalam dolus senantiasa molus. Ia tak perlu tahu bahwa perbuatannya terlarang / sifat melawan hukum. Persoalan ini berhubungan dengan masalah: apakah untuk adanya kesengajaan itu sipelaku harus menyadari bahwa perbuatannya itu dilarang (bersifat melawan hukum) ? Mengenai hal ini ada 2 pendapat. harus ada hubungan antara keadaan batin si-pelaku dengan melawan hukumnya perbuatan. bahwa pada sipelaku ada kesadaran.

T.T. 151 dan 152 dan bandingkan letak perkataan sengaja dalam kedua pasal tersebut).129 130 perbuatannya dengan hukum. ia tidak dapat dipidana. Menurut M. Penganut-penganutnya antara lain : Simons. Jonkers. Sebaliknya. M.v.v. bahwa “unsur-unsur delik yang terletak 4. (bacalah ps. itu dilarang atau bertentangan kesengajaan itu berwarna ialah kesalahan itu. Perumusan Unsur Sengaja dalam KUHP Apabila ia sama sekali tidak sadar akan itu. Pompe. Unsur yang terletak di muka M. alasan bahwa (geobjektiveerd). berisi bahwa sipelaku harus sadar bahwa perbuatan itu keliru. memuat suatu asas yang mengatakan antara lain. bahwa ia melakukan suatu perbuatan yang menurut tata susila tidak dibenarkan (zadelijk ongeoorlooid) ? Cukupkah dengan adanya kesengajaan saja atau perlukah adanya “kesengajaanj jahat” (boos opzet) ? Jawabnya tidak akan lain dari pada itu.v. membuktikan terdakwa perkataan “opzettelijk” disebut “diobjektip-kan” kesadaran atau pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan itu. artinya dilepaskan dari kekuasaan kesengajaan. bahwa tiap pada kali ia harus ada karena itu pembentuk undang-undang menetapkan dengan seksama dimana letak perkataan “opzettelijk” itu. jadi termasuk kesengajaan. tidak perlu ada “boos opzet”. mengatakan demikian : “Akan tetapi untuk berbuat dengan sengaja itu apakah sipelaku tidak harus menyadari.T. yang melawan hukum. dibelakang perkataan opzettelijk (dengan sengaja) dikuasai atau diliputi olehnya”. meskipun pada kenyataannya ia melakukan perbuatan yang dilarang. Jadi tidak perlu dibuktikan bahwa . Oleh Keberatan terhadap pendirian bahwa kesengajaan itu berwarna ialah akan merupakan beban yan berat bagi jaksa apabila untuk membuktikan adanya kesengajaan.

. misalnya pada delik pencurian (ps. (dengan tujuan untuk). Kesengajaan disini harus ditujukan kepada hal-hal apa saja ? Pecahkanlah sendiri ! Dalam hal itu asas yang dianut M.. seperti halnya ps. ialah “dapat terjadinya bahaya umum atau bahaya maut tersebut”.. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. Lihat ps.. sehingga tak perlu dibuktian bahwa kesengajaan pelaku ditujukan kepada hal tersebut yang diobjektipkan. 362). perlu mengikuti KUHP sepenuhnya.. pemalsuan surat (ps. dari Unsur ini yang diobjektipkan. Ada pengecualiannya.. untu melihat teks aslinya ialah teks Bahasa Belanda dan mendasarkan penafsiran pada teks tersebut.. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur “met het oogmerk om . Yang menjadi masalah ialah apabila kita menghadapi KUHP dalam teks Bahasa Indonesia.T.. 303 KUHP.. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur ”met het oogmerk om.). oleh karena itu teknik perundang-undangan dalam memberi. Menghadapi teks terjemahan yang diusahakan oleh beberapa penulis sekarang ini tidak ada jalan lain bagi pelaksana hukum misalnya hakim.. itu tidak berlaku untuk semua delik. Tata bahasa kedua bahasa itu tidak sama.. menyusun kalimat tentunya tidak dapat atau tidak .. 152.. misalnya dalam delik pencurian (pasal 362). yang disebut di belakang perkataan sengaja.v. 187 KUHP.sifat perbuatan dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan. 263). Lihat ps.131 132 kesengajaan sipelaku ditujukan kepada hal tersebut. melainkan unsur melawan atau hukum arah subjektif...(dengan tujuan untuk. Di sini ada keadaan-keadaan. ialah apa yang disebut “Tendenz-delikte” atau “Absicht-delikte”. pemalsuan surat (pasal 263)... ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan.. apakah artinya sipelaku yang tidak perlu atau ditanyakan mengetahui menghendakinya... yang sebenarnya bukan teks resmi..... ialah yang disebut “Tendenz-delikte” atau Absicht-delikte”. Demikianlah teknik perundang-undangan yang diikuti oleh KUHP dalam teks Belanda.....

.. beschadigt.. disamping ia berbuat dengan sengaja. pandangan: Mengenai a.. Unsur ini memberi sifat atau arah dari perbuatan yang dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan... Pasal 406: Hij die opzettelijk en wederrechitelijk enig goed dat geheel of ten deele aan een onder toebe hoort.... Contoh: Pasal 333: Hij die opzettelijk iemand wederrechtelijk van devrijhiid berooft of berooft houdt.. onbruik baar maakt of wegmaakt.... Dalam rumusan (dalam bahasa Belanda) yang demikian ini menjadi persoalan apakah sifat melawan hukumnya perbuatan juga hal harus ini diliputi terdapat oleh tiga “sengaja” dan perkataan “melawan hukum”. Apabila ia dengan iktikad baik (te goeder trouw) mengira.. bahwa perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan hukum.... 4.... dalam merumuskan sesuatu delik. Kata “dan” Dalam KUHP (teks Belanda).. Dalam pasal ini jelas bahwa kesengajaan meliputi melawan hukumnya perbuatan dengan perkatan lain kesengajaan.. Kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan kepada sifat melawan hukumnya perbuatan.... maka ia tak dapat dipidana.. Perkataan “en” (dan) menunjukkan kedudukan yang sejajar.133 134 melainkan unsur melawan hukum yang subjektif. vernielt. bahwa ia dalam keadaan tertentu boleh merampas kemerdekaan seseorang. wordt. dengan perkataan lain sifat melawan . Disini ada kesesatan yang bisa membebaskan..... jadi merumuskan sebagai “sengaja dan melawan hukum” (opzettelijk en wederrechtelijk)...1.. terdapat bentuk rumusan: Sengaja tanpa ada rumusan unsur melawan hukum (wederrechtelijk) Sengaja melawan hukum (wederrechtelijk) tanpa kata dan Meyisipkan kata “dan” diantara perkataan pelaku harus tahu.

perkataan “sengaja” dan perkataan “melawan hukum” tidak mempunyai arti. Hoge Raad mengikuti pendapat pertama. Semua delik yang menurut unsur “sengaja yang pertama. Ia terus saja membongkar.135 136 hukum ini diobjektipkan. si-pekerja tidak dapat dipidana karena ia sama sekali tidak mengetahui sifat melawan hukumya perbuatan yang ia lakukan. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya Langemeyer mengikuti pendapat yang ketiga. Bagi Prof. yang berarti dua hal yang terpisah dan tidak berpengaruh satu sama lain. sesuai dengan asas. tetapi sebelum melawan hukum “sebagai” sengaja melawan hukum. meskipun tidak ada perkataan “en” (dan) tersebut : Dalam hukum. sedang Vos. Jadi menurut pendapat ini dalam contoh tersebut di atas. Unsur sifat melawan hukum itu pendapat ini justru mengartikan sengaja dan . Dalam arrest tgl. melawan hukum” dapat dibaca “sengaja dan melawan hukum”. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya. kesengajaan sipelaku harus ditujukan kepada melawan hukumnya perbuatan. Ia merusak dengan sengaja dan dengan melawan hukum. Simons. Muljatno perkataan “dan” diantara Berbeda dengan pendapat ke 2 tersebut. pendapat ini diragukan. Contoh pasal 406 : Seorang pekerja yang mendapat perintah dari pemilik rumah untuk membongkar rumahnya. Van Hamel. bahwa semua unsur yang terletak di belakang perkataan sengaja dikuasai olehnya. tanpa diketahui olehnya rumah itu ganti pemilik. Jadi meskipun ada perkataan dan. maka unsur melawan hukum tidak diliputi oleh kesengajaan. Zevenbergen. Pompe menganut pendapat melaksanakan perintah tersebut. c. b. 21 Desember 1914 dimuat antara lain : karena antara unsur kesengajaan dan unsur melawan hukum ada perkataan “en”. Sipelaku tidak perlu tahu bahwa perbuatannya melawan hukum. Ia dapat dipidana.

137 138 harus dikuasai oleh unsur kesengajaan. c. pelaku misalnya menghendaki dolus matinya orang tertentu. Pelaku harus tahu bahwa yang dilakukan itu bersifat melawan hukum. Kesengajaan Menurut Doktrin rencana lebih dulu”. van bedaard nedenken). dolus premeditatus Bentuk ini mengacu pada rumusan delik yang mensyaratkan unsur “dengan rencana lebih Unsurnya ialah pendirian bahwa kesengajaan dapat lebih pasti atau tidak. Pada dolus determinatus. 340.v. sipelaku menghendaki atau A atau B. akibat yang satu atau yang lain “voorbedachte rade” diperlukan “saat memikirkan dengan tenang” (een tijdstip van kalm overleg. sedang pada indeterminatus pelaku misalnya menembak ke arah gerombolan orang atau menembak dahulu” (met voorbedachte rade) sebagai unsur yang menentukan dalam pasal.T. 5. dan sebagainya. b. 342 KUHP. Istilah tersebut meliputi bagaimana terbentuknya “kesengajaan” dan bukan merupakan bentuk atau tingkat kesengajaan. dolus alternativus Dalam hal ini. dolus determinatus dan indeterminatus Dalam ilmu pengetahuan dikenal beberapa macam kesengajaan : a. Menurut M. Ini terdapat dalam delik-delik yang dirumuskan dalam pasal 363. si pelaku sebelum atau ketika melakukan tindak pidana tersebut. untuk penumpang-penumpang dalam mobil yang tidak mau disuruh berhenti. atau meracun reservoir air minum. Untuk dapat dikatakan “ada . memikirkan secara wajar apa yang ia lakukan atau yang akan ia lakukan.

Di Inggris dan Spanyol pengertian dolus indirectus adalah sama dengan apa yang kita sebut “dolus eventualis”.139 140 d. A memukul B. Hazewinkel-Suringa menganggap hal ini sebagai suatu pengertian yang tidak baik. Macam dolus ini masih dikenal oleh Code Penal Perancis. dolus directus Ini berarti. Ajaran dolus indirectus ini mengingatkan orang kepada ajaran kuno (hukum kanonik) tentang pertanggung-jawab. illicita. B jatuh dan dilindas mobil. bahwa kesengajaan sipelaku tidak hanya ditukaun kepada perbuatannya. meskipun akibat itu tidak dapat dibayangkan sama sekali olehnya dan timbul secara kebetulan. Dolus ini ada. e. Ajaran ini dengan tegas ditolak oleh pembentuk undang-undang. f. Menurut . Versari in re illicita Ajaran tentang “dolus indirectus” mengatakan.menurut melakukan ajaran perbuatan ialah ini versari seseorang terlarang in re yang juga Misalkan membunuh seseorang orang yang lain. bermaksud telah untuk melakukan serangkaian perbuatan misalnya mencekik dan kemudian melemparnya ke dalam sungai. Misalnya A dan B berkelahi. dolus indirectus. Ini oleh Code Penal dipandang sebagai “meutre”. itu dianggap sebagai hal yang ditimbulkan dengan sengaja. diduga atau tidak diduga. dituju atau tidak dituju. bahwa semua akibat dari perbuatan yang dipertanggung-jawabkan atas semua akibatnya. disengaja. melainkan juga kepada akibat perbuatannya. Dipertanggung-jawabkan dalam hukum pidana. apabila dari suatu perbuatan yang dilarang dan dilakukan dengan sengaja timbul akibat yang tidak diinginkan. dolus generalis Pada delik materiil harus ada hubungan kausal antara perbuatan terdakwa dan akibat yang tidak dikehendaki undang-undang.

(melempar ke kali) merupakan perbuatan yang terletak / di luar lapangan hukum pidana atau “menyebabkan kealpaannya”. ialah harapan dari terdakwa secara umum agar orang yang dituju itu mati. Meskipun jalannya peristiwa tidak tepat seperti yang dibayangkan oleh sipelaku. Contoh : Seorang Ibu yang ingin melepaskan diri dari bayinya. Pendirian von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. Simons menyetujui jenis dolus ini.141 142 otopsi (pemeriksaan mayat) matinya orang ini disebabkan karena tenggelam. menaruh bayi itu di pantai dengan harapan agar dibawa oleh arus pasang. jadi pada waktu dilempar ke air ia belum mati. bagaimanapun telah tercapai. dalam arrestnya tanggal 26 Juni 1962. Perbuatan pertama (mencekik) dikualifikasikan sebagai “percobaan pembunuhan”. Menurut ajaran kuno disini ada dolus generalis. maka disini menurut von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. sedang perbuatan kedua dan kedinginan.R. namun karena akibat yang dikenhendaki telah terjadi. Pendirian Von Hippel ini sama dengan pendapat H. namun bayinya mati karena kelaparan . Hazewinkel-Suringa menganggap hal tersebut secara dogmatis tidak tepat. Akan tetapi air pasangnya tidak setinggi yang matinya orang karena diharapkan.

SCHULD. TELEDOR). kata “ schuld” sikap sembrono yang (kealpaan menyebabkan keadaan tadi)”.NEGLIGENCE. Dalam buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat unsur kealpaan. sedang dalam arti sempit adalah bentuk kesalahan yang berupa kealpaan. die de algemene vefligheid van onen of goederen zozeer in gevaar brengen of zo groot en onherstelbaar nadeel sipenyimpan bijzondere personen berokkenen. ia berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga.(er zijn feiten. Ini adalah delik-delik culpa (culpose delicten). Disamping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan. larangan pendek penghati-hati. membahayakan keamanan orang atau atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi. Perkataan culpa dalam arti luas berarti kesalahan pada umumnya. Suatu keadaan. SEMBRONO.143 144 BAB VII KEALPAAN (CULPA) Pasal 359 : menyebabkan hilangnya dan sebagainnya barang yang disita Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang Pasal 360 (CULPA dalam arti sempit). ia sembrono. dat de wet ook de peletusan. kebakaran dst Pasal 231 (4) : Karena kealpaannya . teledor. Pasal 409 : Karena kealpaannya menyebabkan alat-alat perlengkapan (jalan api dsb) hancur dsb. Akibat ini timbul karena ia alpa. sehingga umdang-undang juga bertindak terhadap (teledor). : Karena kealpaannya menyebabkan orang luka berat dsb. Delik-delik itu dimuat antara lain dalam : Pasal 188 : Karena kealpaannya menimbulkan FAHRLASSIGKEIT. NALATIGHEID. yang sedemikian barang. RECKLESSNESS. Hal ini terdapat dalam beberapa delik.

het gebrek aan voorzorg. akan tetapi bukannya kesengajaan yang ringan. waar het feit prong heeft. de tigheid.kealpaan b. moet tekeer gaan”) 1. Hazenwinkel – Suringa Simons: Pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. Ada 3 macam yang masuk kealpaan mengartikan “schuld” (kealpaan) sebagai: 1. di samping Ilmu pengetahuan hukum dan jurispruden 2. Pompe. merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum. Beberapa penulis menyebut beberapa syarat untuk adanya kealpaan: a. (anachtzaamheid): . c. Pengertian kealpaan atau culpa (dalam arti sempit) Menurut M.v. Tidak adanya penghati-hati. kekurangan penduga – duga atau kekurangan penghati-hati.145 146 onvoorzichtigheid. 2.T kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dengan kesengajaan dan dipihal lain dengan hal yang kebetulan (toevel atau caous). 2. in een woord. Van hamel Kealpaan mengandung dua syarat: 1. schuld. dapat diduganya akibat d.

maka ia dapat dikatakan karena kealpaannya mengakibatkan orang lain seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umunya apabila ada dalam situasi yang sama dengan si-pelaku itu. (Pasal. paling hatihati. Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguh-sungguhnya maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana untuk tidak melakukan sesuatu. Dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid) a. dan tidak secara fisik atau psychis.147 148 1. “Orang pada umunya” ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat. Dapat mengirakan (kunnen venvachten) timbulnya akibat 2. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif. paling ahli dan sebagainya. Mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid) 3. Misalnya. 360 (1) K. Sehingga orang lain luka berat. dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa” di simpangan jalan. apabila datangnya bersamaan waktu maka kendaraan dari kiri harus didahulukan”. Undang-undang mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau Tetapi nomor 2 dan 3 hanya apabila mengetahui atau dapat mengetahuinyaitu menyangkut juga kewajiban untuk menghindarkan perbuatannya (=untuk tidak melakukan perbuatan).H. Untuk menentukan adanya kealpaan ini harus dilihat peristiwa demi peristiwa. maka apabila perbuatannya itu mengakibatkan tabrakan. Apabila seorang pengendara dalam hal ini berbuat lain ini berbuat lain daripada apa yang diatur itu.U. b.P) . Yang harus memegang ukuran normatif dari kealpaan itu adalah Hakim.

c. Dalam hali ini si pelaku melakukan sesuatu yang tidak menyadari kemungkinan akan timbulnya abnormal. jadi tidak mungkin ada culpa. maka tidaklah mungkin perbuatan itu perbuatan yang 2. jadi harus culpa lata dan bukanya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan).pelaku tidak berjalan secara tepat. Kerapkali justru karena tanpa berfikir akan kemungkinan timbulnya akibat malah terjadi akibat yang . akan tetapi ia percaya dan mengharap-harap bahwa akibatnya tidak akan terjadi b. bahwa dalam delik-delik culpa sifat melawan hukum telah tersimpul di dalam culpa itu sendiri. Pada delik culpoos kesadaran si. Dalam diajukan delik alasan culpoos tidak mungkin (rechtvaar pembenar digingsgrond). namun culpa menunjukkan kepada tidak patutnya perbuatan itu dan jika perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum. Perbedaan itu bukanlah berarti bahwa kealpaan yang disadari itu sifatnya lebih berat dari pada kealpaan yang tidak disadari. Karena Bentuk kealpaan dapat dibagi dalam 2 (dua bentuk) yaitu a. padahal seharusnya ia dapat menduga sebelumnya. Kealpaan yang disadari (bewuste schuld) Disini sipelaku dapat menyadari tentang apa yang dilakukan beserta akibatnya. Ia menyatakan antara lain “Memang culpa tidak mesti meliputi dapat dicelanya si-pelaku. Kealpaan yang tidak disadari (onbewuste schuld). sesuatu akibat. Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar.149 150 Dalam hubungan ini VOS mengemukakan. Bentuk kealpaan Pada dasarnya orang berfikirdan berbuat secara sadar.

Pada delik penadahan ditujukan kepada hal “bahwa barang yang bersangkutan diperoleh dari kejahatan”. Pasal 287. Rumusan yang dipakai dalam delik-delik tersebut ialah “diketahui” atau “mengerti” bentuk kesengajaan dan “sepatutnya harus di-duga” atau “seharusnya menduga bentuk kealpaan. bahwa Pasal 483. Misalnya: itu”. Kealpaan merupakan pengertian yang normatif bukan suatu pengertian yang menyatakan keadan (bukan feitelijk begrip). 409 dapat disebut delik-delik culpoos dalam arti yang sesungguhnya. Delik “pro parte dolus pro parte culpa” Delik-delik yang di-rumuskan dalam pasal 359. Disamping itu ada delik-delik yang di dalam perumusanya memuat unsur kesengajaan dan kealpaan sekaligus. 288. 292 (delik-delik kesusilaan). yang tidak merupakan dolus eventualis”. Hemat kami perbedaan tersebut tidak banyak artinya. VAN HATTUM mengatakan.151 152 sangat berat. atau kalau umurnya tak ternyata. Penentuan kealpaan seseorang harus dilakukan dari luar. Pada delik Pasal 292 ditujukan kepada unsur “ belum cukup umur dari orang yang sama kelamin “kealpaan yang disadari itu adalah suatu sebutan yang mudah untuk bagian kesadaran kemungkinan (yang ada pada pelaku). bagaimana saharusnya si-pelaku itu berbuat. bahwa belum mampu dikawin”. 188. 3. sedang ancaman pidananya sama. Pada delik-delik Pasal 483 dan Pasal 484 ditujukan kepada unsur “pelaku/orang yang Pasal 480 (penadahan) . Pada delik-delik ini kesengajaan atau kealpaan hanya tertuju kepada salah tertuju kepada salah satu unsur dari delik itu. Pada delik-delik kesusilaan (pasal 287 dan pasal 288) ditujukan kepada “umur-wanita belum lima belas tahun. harus disimpulkan dari situasi tertentu. 484 (delik yang menyangkut pencetak dan penerbit). Muljatno menamakan delik-delik tersebut sebagai delik yang salah satu unsurnya diculpakan. 360.

. terdakwa sebagai pengendara mobil tetap dipidana karena ia pada malam hari menabrak gerobag yang tidak memakai lampu. c. b. maka ini merupakan lampunya indikasi normal. dari maka kealpaannya. Ada dan tidak adanya kealpaan itu harus sekali tidak menagnggap penting apakah terdakwa betulbetul mempunyai dugaan atau tidak.H) menyatakan bahwa wet tidak mengharuskan adanya dugaan pada terdakwa sepatutnya harus menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan.G. tidak dapat dituntut. Cukup dicantumkan uraian kata-kata presis seperti apa yang dirumuskan dalam undang-undang. Arrest Hooggerchtshof (dalam tingkat kasasi) yang membatalkan keputusan Raad van Justitie Medan. Seorang pengemudi mobil pada pagi hari jam 03. atau menetap diluar Indonesia. jadi misalnya untuk delik dalam pasal 480 : benda). Dalam surat dakwaan: a. Hooggerechtshof (H. b. Dalam kasus inipun tidak boleh dilihat “kealpaan orang lain”. Pengendara gerobag alpa. tetapi ini tidak meniadakan kealpaan terdakwa. Kelapaan orang lain tidak dapat meniadakan kealpaan dari terdakwa. yang membebaskan terdakwa yang dituduh melakukan kurang-menduga-duga ? bagaimana keadaan mobilnya ? kalau lampunya kurang terang. Kalau tidak. bahwa diperoleh dari kejahatan”.00 melanggar sekaligus 4 orang yang sedang tidur di tengah jalan raya. seharusnya ia Apabila dapat “schuldheling” (pasal 480). akan tetapi tetap harus ditinjau ada dan tidak adanya kealpaan pada pengemudi mobil. dengan sama mengetahui orang yang tidur di jalan itu. apakah ia kurang hati-hati dan dibuktikan dalam pemeriksaan pengadilan ditetapkan oleh Hakim. Pembuktiannya cukup secara normatif.153 154 menyuruh cetak pada saat penerbitan. yang diketahui atau sepatutnya harus diduga. Contoh : a. maka ini merupakan kealpaan. jadi tidak dilihat apakah terdakwa mengetahui.

bahkan adanya kealpaan juga tidak. lagi Persoalan kesalalahan pada tindak pidana berupa pelanggaran.155 156 BAB VIII KESALAHAN DALAM DELIK PELANGGARAN Dalam hal ini berlakulah ajaran “fait materiel” (de leer an het matericle feit ajaran perbuatan materiil) dimana menurut M. Hal ini penting untuk hukum acara pidana. Dalam rumusan tindak pidana berupa pelanggaran pada dasarnya tidak ada penyebutan tentang kesengajaan atau kealpaan. Pada suatu ketika susu yang dilever oleh D itu ternyata tidak murni (dicampur air).T.R tanggal 14 Pebruari 1916 (arrest air dan susu). Dalam undang-undang unsur-unsur dinyatakan dengan tegas atau dapat diambil dari kata kerja dalam rumusan tindak pidana itu. pula tidak perlu memberi keputusan tentang hal tersebut. pelayan.v. . Contoh : arrest H.B. Yang mengedarkan susu itu D. Pada tidak pidana berupa kejahatan diperlukan adanya kesengajaan atau kealpaan. maka tidak perlu dicantumkan dalam surat tuduhan dan juga tidak perlu dibuktikan. Pasal 303a dan 344 Peraturan Polisi Umum mengancam dengan pidana Barang siapa melever susu dengan nama susu murni. padahal dicampur Duduk perkara. Soalnya apakah terdakwa berbuat/tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Undang-undang atau tidak. : Pada pelanggaran hakim tidak perlu mengadakan pemeriksaan secara khusus tentang adanya kesengajaan. sebab kalau tidak tercantum dalam rumusan Undang-undang. artinya tidak disebut apakah perbuatan dilakukan dengan sengaja atau alpa.. D tidak tahu menahu tentang hal itu. pengusaha (veehouder) menyuruh melever susu kepada para langganan. A.

Permohonan kasasi ini ditolak oleh Hooge Raad. b. dan terhadap alasan yang dikemukakan oleh A. akan tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali (geheel gemis van schuld) peraturan ini dapat diterapkan kepada. H. c. Rechtbank Amsterdam salah menerapkan Pasal 47 W. khususnya dalam pelanggaran.B.B. c.S.P). lebih-lebih pasal 303a dan 344 tersebut mengancam dengan pidana barang siapa melever susu yang tidak murni tanpa memandang ada kesalahan atau tidak.R.S Belanda (Pasal 55 K. mengajukan kasasi.v. tidak terjadi persoalan apakah pelaku materiil (D) dianggap tidak berhak untuk menyelidiki murni dan tidaknya susu yang disuruh melevernya.v.B. Telah dinyatakan terbukti bahwa penuntut kasasi (A A. b. . Ini merupakan tindak pidana berupa pelanggaran. telah menyuruh lakukan perbuatan yang dituduhkan.U. yang memaksa untuk menganggap dalam hal unsur kesalahan tidak dicantumkan dalam rumusan delik. B) telah menyuruh pelayannya (D) untuk melever susu dengan sebutan “susu murni” padahal dicampur dengan air. Hal mana tidak diketahui oleh D. sekalipun ternyata tidak ada kesalahan sama sekali (asas : afwezigheid van alle schuld). tidak ada suatu alasanpun. memberi pertimbangan antara lain sebagai berikut: a. terutama dalam riwayat W. pembentuk Undang-undang menyetujui sistem. dituntut dan dalam tingkat banding dijatuhi pidana. memang dalam pasal 303 tidak disebut dengan tegas bahwa orang yang melakukan perbuatan itu harus mempunyai kesalahan (“enige schuld”). orang yang berbuat harus dipidana yang terdapat dalam Undangundang. tanpa menyelidiki terlebih dahulu apakah pelaku materiil (ialah D) tidak bertanggung-jawab atas perbuatan itu.H.B. sebab telah memutuskan secara tidak benar bahwa A. dengan alasan yang lebih kurang demikian: a.157 158 dengan sesuatu (tidak murni). A.

b. Arrest air dan susu penting untuk perkembangan hukum pidana. maka: a. hal ini harus tegas-tegas ternyata dalam rumusan delik. BAB IX PIDANA DAN PEMIDANAAN (HUKUM PENITENSIER) Sebelum membahas materi ini terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan pidana dan pemidanaan. yang bertentangan dengan rasa keadilan dan asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” yang juga dianut dalam hukum pidana kita. dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian.pengadilan & lembaga pemasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan & pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan. Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana/sentencing sebagai upaya yang sah yang dilandasi oleh hukum . Untuk menerima sistim tersebut (dalam c). Adapun Proses Peradilan Pidana (the criminal) justice process) merupakan struktur. Pidana merupakan nestapa/derita yang dijatuhkan pengadilan) dengan dimana sengaja nestapa oleh itu negara (melalui pada dikenakan seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana dan nestapa itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana. fungsi. ajaran “fait materiel” pada pelanggaran ditinggalkan. Dengan arrest itu.159 160 d. kejaksaan. Diakui untuk pertama kalinya oleh badan pengadilan yang tertinggi (Belanda) berlaku asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld).

Hukuman. Jenis sanksi terhadap suatu pelanggaran dalam hal ini terhadap KUHP dan sumber-sumber hukum pidana lainnya (UU pidana yang memuat sanksi pidana dan UU non pidana yang memuat sanksi pidana). atau setidaknya tidak menyenangkan. ISTILAH Ada beberapa istilah yang digunakan untuk materi ini. Sanksi berupa pidana maupun tindakan inilah yang akan dipelajari oleh hukum penitensier. Menurut beberapa ahli hukum pidana lain.161 162 untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dn meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. 3. Straf. Bentuknya berupa konsekwensi yang menderitakan. yakni norma yang mencerminkan nilai dan struktur masyarakat yang merupakan terhadap reafirmasi “hati nurani simbolis bersama“ atas pelanggaran bentuk sebagai ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu. 2. Jadi pidana berbicara mengenai hukumannya dan pemidanaan berbicara mengenai proses penjatuhan hukuman itu sendiri. hukum penitensier ini merupakan sebagaian dari hukuman pidana positif yaitu bagian yang menentukan: 1. hukuman. Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai sistem hukuman (strafstelsel) dan sistem tindakan . dan Jinayah. Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan Punishment. menurut pendapat Moeljatno: lebih tepat ”pidana” untuk dinamakan Hukum Penitensier/Hukum Sanksi. sebagai pranata sosial. menurut Utrecht. 4. al: Hukum Penitensier. Hukum Sanksi. Lamanya sanksi itu dijalani. Beratnya sanksi itu. Pidana perlu dijatuhkan pada seseorang yang melakukan pelanggaran pidana karena pidana juga berfungsi (matregelstelsel).dan 5. Cara sanksi itu dijalankan. Dalam hal ini pidana sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. Tempat sanksi itu dijalankan.

1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordansi). yang hukum bersifat pidana istimewa: merupakan sanksi terkadang dikatakan melanggar HAM karena melakukan perampasan terhadap harta kekayaan (pidana denda). Dibakar hidup. Sedangkan R. Dimatikan dengan suatu keris 3. jalan terakhir. . Menurut Utrecht suatu dan R. Kerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Sudarto juga berpendapat Jenis-jenis hukuman yang dapat dijatuhkan oleh demikian. unsur-unsur atau ciri-ciri pidana meliputi: 1. Diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang). 3. 22 April 1808.Soesilo. pembatasan kebebasan bergerak/kemerdekaan orang (pidana kurungan/penjara) dan perampasan terhadap nyawa (hukuman mati). peristiwa pidana menurut UU ( orang memenuhi rumusan delik/pasal). 2.163 164 menerjemahkan straf. Dipukul. jalan satu-satunya/tiada jalan lain). Ditahan/dimasukkan dalam penjara 6. 4. Di samping itu hukum pidana merupakan ultimum remedium (senjata pamungkas. dipukul dengan rantai (pidana badan/corporal punishment) 5. terikat pada suatu tiang (hanya untuk pelaku pembakar/pembunuh) 2. Soesilo mendefinisikan pidana / hukum sebagai perasaan tidak enak / sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar UU Hukum Pidana. Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief. Dicap bakar. SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA Pidana dan pemidanaan di Indonesia dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (Wvs) diundangkan yaitu tahun 1915 dan berlaku di indonesia berdasarkan UU No. Suatu pengenaan penderitaan/nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. al: 1. Dikenakan pada seseorang penanggung jawab Pengadilan berdasarkan plakat tgl.

menjatuhkan. dalam hal ini KUHP merupakan peraturan yang dibentuk oleh negara dan perbuatannya merupakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pelaku (dilihat dari sudut subyektif). karena perbuatan tersebut bertentangan dengan tata tertib negara (dilihat dari sudut obyektif). Teori-Teori yang berkaitan dengan Pemidanaan Tujuan Pemidanaan Menurut Doktrin 1. 2. Utrecht juga menambahkan bahwa negaralah yang berhak melakukan hal tersebut. hukuman harus memenuhi 3 syarat: a. Tidak bboleh dengan maksud prevensi (melanggar etika) c. Menurut Leo Polak (aliran retributif). Teori relatif / tujuan (utilitarian). sehingga bersifat seyogyanya hukuman memperbaiki/merehabilitasi karena pelaku kejahatan . Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis).165 166 Selanjutnya kita akan membahas siapakah pihak yang berhak menuntut.Leo Polak. Mereka berpandapat bahwa hukum adalah sesuatu yang harus ada sebagai konsekwensi dilakukannya kejahatan dengan demikian orang yang salah harus dihukum. Kant. para penganutnya antara lain E. 2. Negara sebagai satu-satunya alat yang dapat menjamin kepastian hukum. dan memaksa pelaku untuk menjalankan pidana. Beysens seperti dikutip oleh Utrecht menyatakan pada dasarnya negaralah yang berhak. Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika) b. bukan hanya sekedar sebagai pembalasan. 1. Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik. Hegel. Hukuman pada umumnya bersifat menakutkan. mengingat. menyatakan bahwa penjatuhkan hukuman harus memiliki tujuan tertentu. Negara sebagai organisasi sosial tertinggi oleh karena itu sangat logis jika negara diberi tugas mempertahankan tata tertib masyarakat.

membuat pelaku menderita Upaya prevensi. Tujuan lain yang hendak dicapai dapat berupa upaya prevensi. jadi hukuman dijatuhkan untuk pencegahan yakni ditujukan pada masyarakat luas sebagai contoh pada masyarakat agar tidak meniru perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukan (prevensi umum) dan ditujukan kepada si pelaku sendiri. Jadi hukumanya lebih ditekankan pada treatment dan pembinaan yang disebut juga dengan model medis. Restorative Justice (keadilan yang merestorasi) secara umum bertujuan untuk membuat pelaku mengembalikan keadaan kepada kondisi semula. mencegah terjadinya tindak pidana a. . Teori Gabungan. Keadilan yang bukan saja menjatuhkan sanksi yang seimbang bagi pelaku namun juga memperhatikan keadilan bagi korban. tidak merasa takut dan tidak mengalami kejahatan. tidak disakiti. tidak mengulangi perbuatan/kejahatan serupa. Tujuan yang lain adalah memberikan perlindungan agar orang   Merehabilitasi Pelaku Melindungi Masyarakat Saat ini sedang berkembang apa yang disebut sebagai Restorative Justice sebagai koreksi atas Retributive justice. merupakan gabungan dari teori-teori sebelumnya.167 168 adalah orang yang “sakit moral” sehingga harus diobati. Sehingga pidana bertujuan untuk:   Pembalasan. 3. mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 54 R-KUHP tahun 2005: Pasal 54 (1) Pemidanaan bertujuan: lain/masyarakat pada umumnya terlindung. supaya jera/kapok. Pemahaman ini telah diakomodir oleh R-KUHP tahun 2005. atau kejahatan lain (prevensi khusus).

(2) Rintangan perbuatan. . g. Sikap batin pembuat tindak pidana. Cara melakukan tindak pidana. Kesalahan pembuat tindak pidana. e. c. memulihkan keseimbangan. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban.169 170 b. d. c. Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana h. Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya dan /atau. Dalam pasal 55 R-KUHP juga terdapat pedoman pemidanaan yang belum diatur dalam UU kita. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. memaafkan terpidana. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh f. membebaskan rasa bersalah pada terpidana dan. b. k. i. d. e. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. Pasal 55. atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian. Apakah tindak pidana dilakukan dengan pembuat tindak pidana. j. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia . Motif dan tujuan melakukan tindak pidana. rehabilitasi dan restotaif dalam tujuan pemidanaannya. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. keadaan pribadi pembuat. Pengaruh pidana terhadap massa depan tindak pidana. Dari aturan diatas dapat dicermati bahwa dalam R-KUHP menganut teori prevensi. (1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a. Teori prevensi umum tercermin dari tujuan pemidanaan mencegah dilakukannya tindak berencana.

1/1960. dikonversi: dikali 15) 5. Penjara (sementara waktu atau seumur hidup) 3. pidana denda. dan e. dan mendatangkan rasa damai dalam damai dalam masyarakat. pidana tutupan c. pidana pengawasan d. dengan melakukan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. b. Kurungan 4.171 172 pidana dengan menegakkan norma hukum demi 1. pengumuman keputusan hakim Jenis-jenis Hukuman / Pidana Menurut R-KUHP: Pasal 65 (1) Pidana pokok terdiri atas: a. pidana penjara. Tutupan (UU No. dan memaafkan terpidana.20/1946) b. pidana kerja sosial. Dan restoratif terdapat dalam tujuan pemidanaan yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana. Pasal 67 (1) Pidana tambahan terdiri atas: . Denda (UU No. Hukuman mati 2. Hukuman Tambahan: (2) Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana Pasal 66 Pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. Perampasan barang tertentu 3. pengayoman kepada masyarakat. memulihkan keseimbangan. Pencabutan beberapa hak tertentu 2. Teori rehabilitasi dan resosialisasi tergambar dari tujuan pemidanaan untuk memasyarakatkan terpidana. Jenis-jenis Hukuman/Pidana Menurut Pasal 10 KUHP : a. Hukuman Pokok: 1. membebaskan rasa bersalah pada terpidana.

Diluar KUHP. (4) Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidan pidananya.11 KUHP). . sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak hukum yang hidup dalam Tindak Pidana yang diancam dengan hukuman mati : A. B. baik waktu dan tempat eksekusinya). Kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan secara meluas dan sistematis. perampasan barang tertentu dan/atau tagihan. Hukuman mati dijalankan oleh algojo di tiang gantungan tercantum dalam perumusan tindak pidana. Dalam KUHP :      Pembunuhan berencana Kejahatan terhadap keamanan negara Pencurian dengan pemberatan Pemerasan dengan pemberatan Pembajakan di laut dengan pemberatan.     Terorisme Narkoba Korupsi Pelanggaran HAM Berat. (3) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. 2/1964 : ditembak dibagian jantung dan/atau kepala dan tidak dilakukan di muka umum (rahasia. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut masyarakat. tapi berdasarkan Penpres no.173 174 a. pembayaran ganti kerugian. c. pengumuman putusan hakim. pencabutan hak tertentu. b. d. dan e. Uraian tentang jenis-jenis hukuman menurut KUHP: Hukuman/pidana Mati (diatur dalam pasal 11 jo Pasal 10 KUHP) (ps. (2) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan lain.

maka hukumannya narapaidana/napi Pemasyarakatan (berdasarkan UU No. menggunakan penilaian. Untuk pemulihan kembali hubungan antara narapidana dan masyarakat. di indonesia disebut sabagai Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas). Jika berkelakuan baik. Dilakukan peringatan: Eksekusi baru dapat dilakukan jika orang gila itu sembuh dan wanita tersebut telah melahirkan. dalam hal ini diterapkan hukum yang keras. malam hari kembali ke sel. menyesali perbuatannya dan diharapkan ia dapat memperbaiki diri.12/1995). AS : para hukuman terus menerus ditutup sendiri-sendiri dalam satu kamar sel. Para hukuman mula-mula ditempatkan dalam ruang tertutup terus menerus. di mana para hukuman pada siang hari disuruh bekerja bersama-sama tapi tidak boleh saling bicara. pidana mati tidak dapat dilakukan pada orang yang setelah dihukum menjadi gila dan wanita hamil. Pidana penjara dilakukan di penjara (prison/jail). menurut Utrecht :  Sistem Pennsylvania. disebut juga sebagai silent system. Terhukum diberikan waktu untuk merenung. tapi tidak boleh lebih dari 20 thn). Pembagian Sistem Penjara – gevangenisstelsel. Hukuman/Pidana Penjara (Menurut pasal-pasal dalam KUHP dan UU No. New York. Terhukum hanya melakukan kontak dengan penjaga sel/sipir penjara. 12/1995 tentang Pemasyarakatan) Pasal 12 KUHP:  Hukuman penjara lamanya seumur hidup atau sementara/pidana penjara dilakukan dalam jangka waktu tertentu (min 1 hari-selama-lamanya 15 tahun atau dapat dijatuhkan selama 20 thn. (inmates): Penghuninya Warga disebut Binaan  terhukum diperkenankan melakukan pekerjaan tangan dan secara terbatas dapat menerima tamu. . AS. Sistem Irlandia (Irish System) yang berasal dr mark system. tapi ia tetap dilarang bergaul dengan terhukum lain Sistem Auburn. Kalau dibiarkan bergaul dengan napi lain dikhawatirkan bisa saja menjadi bertambah jahat.175 176 Hukuman mati tidak dapat dijatuhkan pada anak.

Seperti LP Pemuda dan LP Anak laki-laki di Tangerang. Banten. bersyarat). Dalam    Di Indonesia diterapkan ke 5 nya :  Beberapa hukuman dimasukkan dalam satu sel atau 1 orang/1 sel. Mirip dengan sistem Irlandia namun titik berat lebih pada usaha-usaha untuk memperbaiki si pelaku. dan ticket to leave. UK). dengar radio/nonton TV olah raga dsb. Boleh belajar/sekolah dlm LP. masak di dapur. . kerja di bengkel LP untuk buat penerapannya ada ketentuan khusus dari Menteri Kehakiman (Minister of justice). boleh membaca. pendidikan dan pekerjaan yang nantinya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Minimum security/maximum security/Super Maximum Security (SMS) Napi pada umumnya boleh keluar dari sel pada pagi dan/atau siang hari. sore masuk sel sampai besok pagi. diperuntukan bagi terhukum yang berusia tidak lebih dari 30 thn.  Sistem Elmira (NY. kerajinan/furniture. merangkai bunga dsb. menyulam. Jika melakukan pelanggaran berat atau berkelakuan tidak baik ataupun melanggar aturan maka dimasukkan dalam sel sendirian. bersihkan kolam.  Sistem Borstal (LONDON. jadi terpidana diberikan pengajaran. Pelepasan bersyarat dapat dilakukan jika telah menjalani dari ¾ hukumannya.US). publik work prison. Disebut sebagai penjara reformatory yakni tempat untuk memperbaiki orang menjadi warga masyarakat yang berguna. Ada jadwal kegiatannya. disebut juga dengan tutupan sunyi. lalu secara bertahap diberi kelonggaran untuk bergaul satu sama lain. Kemudian diperkenankan kerja sama-sama. Memilih ‘BOS’ – mandor dr kalangan napi sendiri untuk mengatur napi : Tamping/building tender. menjahit. AS). Boleh bekerja di luar sel secara bersama-sama = kerja di kebon/taman. Khusus untuk pelaku yang masih muda yaitu mereka yang berusia kurang dari 19 th.177 178 diperingan : mulai dimasyarakatkan dan dapat diberikan the rise of feformatory (pelepasan  Sistem Osborne (NY.

menempuh hukumannya (pasal 15 KUHP).179 180 Antara warga binaan boleh saling berinteraksi sesuai dengan jam yang telah ditentukan.  Dapat diberikan jika pelepasan telah bersyarat 2/3 PBdr Dengan adanya pidana denda seringkali penerapan Hukum Pidana menjadi kabur karena pidana denda dianggap bukan pidana karena pelaku tadi ada di LP. Selain itu terdapat juga ketentuan tentang pidana percobaan seperti yang diatur dalam Pasal 14a KUHP. Tempatnya diberikan fasilitas yang lebih baik karena terpidana boleh membawa dan menikmati buku bacaan dan radio/tape. tapi lebih bebas. 1/1960) mempertimbangkan bahwa perbuatan yang dilakukan didasari oleh suatu motivasi di yang penjara.  Meskipun hukuman penjara dilakukan bersamasama tapi tetap ada pemisahan mutlak :  Laki-laki dan perempuan  Orang dewasa dan anak di bawah umur  Orang yang dihukum/ditahan – orang yang dihukum karena upaya preventif  Orang militer dan orang sipil Pidana kurungan Dilaksanakan di penjara. Untuk hukuman ini terdapat 1 yurisprudensi di Jogja. Pidana Denda (Pasal 30 ayat (1) KUHP dan UU No. . ada hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara.20/1946) Pidana yang dijatuhkan oleh Hakim dengan reclassering). patut namun dihormati/dihargai. Pidana Tutupan (UU No.

181 182 BAB X PERCOBAAN (POGING. Percobaan yang dapat dipidana menurut system KUHP bukanlah percobaan terhadap I. Yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap tindak pidana yang berupa “kejahatan” saja. Disamping itu perlu dicatat bahwa ketentuan umum dalam pasal 53 (1) diatas tidak berarti bahwa percobaan terhadap semua kejahatan dapat  dipidana. batasan KUHP hanya kapan semua jenis tindak pidana. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. . tidak dijumpai rumusan arti atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “percobaan”. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan. sedangkan percobaan terhadap pelanggaran tidak dipidana sebagimana ditentukan dalam pasal 54 KUHP. PENGERTIAN Di dalam bab IX buku I KUHP (tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab undang-undang). Oleh karena itu percobaan pun terlalu rendah dari KUHP. Redaksi pasal ini jelas tidak merupakan suatu definisi. ATTEMPT) antara percobaan yang dapat dipidana dan yang tidak dapat dipidana. Pengecualian tersebut merumuskan mengenai dikatakan adanya percobaan untuk melakukan kejahatan yang dapat dipidana. tetapi hanya merumuskan syaratsyarat atau unsur-unsur yang menjadi batas misalnya : Percobaan duel / perkelahian tanding (pasal 184 ayat 5). Pada pasal 54 KUHP memperlihatkan adanya pemikiran dari para perumusnya bahwa delik pelanggaran bersifat lebih ringan dari pada kejahatan. yaitu pasal 53 (1) yang menyatakan : “Mencoba melakukan kejahatan dipidana.

dekictsvorm). Percobaan penganiayaan ringan (pasal 352 ayat 2). seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipin tidak Menurut melakukan pandangan sesuatu ini. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. memenuhi semua unsur delik. Termasuk pandangan pertama ini ialah : Prof. Oemar Percobaan dipandang sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (perluasan delik). percobaan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri (delictum sui generis) tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen dalam terhadap hewan (pasal 302 ayat 4). tetap dapat dipidana apabila telah memenuhi rumusan pasal 53 KUHP. Strafausdehnungsgrund (dasar/alasan perluasan pertanggungjawaban pidana). Jadi sifat percobaan adalah untuk memperluas dapat dipidananya orang. Menurut pandangan ini. Percobaan dipandang sebagai (2). tetapi merupakan delik yang sempurna hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa.183 184    Percobaan penganiayaan ringan rumusan-rumusan delik. percobaan pidana tindak merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. Jadi merupakan delik tersendiri (delictum sui generis). Dengan demikian menurut pandangan ini. SIFAT LEMBAGA PERCOBAAN Apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna? Mengenai sifat dari percobaan ini terdapat dua pandangan : (1). bukan memperluas . Ny. Percobaan penganiayaan biasa (pasal 351 ayat 5). Hazewinkel-Suringa Seno Adji. II. dan Porf.

yang ada hanya delik selesai. ialah : a. Dalam konsep “perbuatan karena melakukan merupakan Misalnya percobaan. dan 107 KUHP. Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen delictsvorm). Pada dasarnya seseorang itu dipidana suatu delik. keselamatan masyarakat. Prof. jadi pandangan sebagai delik yang berdiri sendiri. pidana” (pandangan dualistis) ukuran suatu delik didasarkan pada pokok pikiran adanya sifat berbahayanya sendiri bagi perbuatan itu Mengenai contoh yang dikemukakan Prof Moelyatno terakhir ini. Dalam KUHP ada beberapa perbuatan sebagai yang delik dipandang berdiri Mengenai adanya dua pandangan tersebut diatas. b. delik-delik maker (aanslagdelicten) dalam pasal 104. 106.185 186 Termasuk dalam pandangan kedua ini ialah Prof. dapat pula misalnya dikemukakan contoh adanya pasal 163 bis. Moelyatno. walaupun pelaksanaan dari perbuatan itu sebenarnya Alasan Prof. Moelyatno memasukkan belum selesai. sendiri dan merupakan delik selesai. jadi baru percobaan sebagai delik tersendiri. Mulyatno berpendapat bahwa pandangan pertama sesuai dengan alam atau masyarakat individual karena yang diutamakan adalah strafbaarheid van de person (sifat yang . d. Pompe dan Prof. Menurut pasal ini percobaan untuk melakukan penganjuran (poging tot uitloking) atau yang biasa juga disebut penganjuran yang gagal (mislukte uit-lokking) tetap dapat dipidana. c.

yaitu : sikap batin pembuat yang berbahaya (segi subyektif) dan juga sifat berbahayanya perbuatan (segi obyektif). dalam percobaan tidak mungkin dipilih salah satu diantara teori obyektif dan teori subyektif karena jika demikian berarti menyalahi dua inti dari delik percobaan itu. III. Teori Obyektif Menurut teori ini. sedangkan pandangan yang kedua sesuai kita dengan alam atau yang masyarakat sekarang karena diutamakan adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan. Teori obyektif-materiil. pelaksanaan dari teori ini tidak mudah. terdapat beberapa teori sbb: 1. Teori Subyektif Menurut teori ini. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap tata hukum.b. Teori ini melihat dasar patut dipidananya percobaan dari dua segi. Namun karena dalam kenyataanya. UNSUR-UNSUR PERCOBAAN Dari rumusan pasal 53 (1) KUHP diatas jelas terlihat bahwa unsur-unsur percobaan ialah : IV. Di samping itu beliau mengatakan bahwa baik teori subyektif maupun obyektif. Moelyatno dapat dikategorikan sebagai penganut teori campuran. 2. 2. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap kepentingan / benda hukum. Termasuk dalam teori ini ialah pendapat Langemeyer dan Jonkers. IV. Dengan demikian menurut beliau. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan yang dilakukan oleh si pembuat. . apabila dipakai secara murni akan membawa kepada ketidak adilan.1. DASAR PATUT DIPIDANANYA PERCOBAAN Mengenai dasar pemidanaan terhadap percobaan ini. 3. mereka nampaknya lebih cendrung pada teori subyektif. Penganut teori ini antara lain Simons. Prof. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pembuat.a. yaitu : 2. Teori ini terbagi dua. Teori obyektif-formil. Teori Campuran. Niat. Termasuk penganut teori ini ialah Van Hamel. Menurut beliau rumusan delik percobaan dalam pasal 53 KUHP mengandung dua inti yaitu : yang subyektif (niat untuk melakukan kejahatan tertentu) dan yang obyektif (kejahatan tersebut telah mulai dilaksanakan tetapi tidak selesai).187 188 dipidananya orang). ukurannya harus mencakup dua criteria tersebut (subyektif dan obyektif).

tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai/voltooidc poging). Niat jangan disamakan dengan kesenjangan. tetapi akibat yang terlarang tidak terjadi. Tetapi apabila dalam contoh diatas. sama kalau mengahadapi delik selesai. disitu niat 100% menjadi kesengajaan. Misal : A bermaksud membunuh B dengan pistol. Catatan Prof. yaitu subjectieve onrechtselement. Dikatakan ada “percobaan selesai” apabila terdakwa telah melakukan semua perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan. tetapi ternyata pistol tersebut tidak meletus atau tembakan tidak mengenai sasaran. Dalam hal percobaan tertunda (percobaan terhenti atau tidak lengkap/geschorste poging/incompleted attempt). dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. 2. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi perbuatan maka niat masih ada dan merupakan sikap batin yang membari arah kepada perbuatan. niat sudah berubah menjadi kesengajaan karena telah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. c. niat hanya merupakan unsur sifat melawan hukum yang subyektif (subyektif onrechtselement). maka isinya niat jangan diambilkan dari isinya kesengajaan apabila kejahatan timbul. perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan belum dilakukan (misal : picu belum ditarik) sehingga akibat yang terlarang juga belum ada maka dalam hal demikian dikatakan ada “percobaan tidak selesai/tertunda”. Dalam hal ini.189 190 Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa unsur niat sama dengan sengaja dalam segala tingkatan/coraknya. Dari delik percobaan dapat mempunyai dua arti : 1. dalam hal ini maka niat yang belum diwujudkan sebagai perbuatan (belum ditunaikan keluar) . Menurut Moelyatno. Oleh karena itu niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan. menurut Moelyatno. Moelyatno terhadap unsur niat : a. untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi sudah ada sejak niat belum ditunakan jadi perbuatan. niat sama dengan kesengajaan. Dalam hal percobaan selesai (percobaan lengkap/voltoo-ide poging/completed attempt). b. Picu (trekker) pistol telah ditarik. tetapi niat secara potensiil dapat berubah menjadi kesenjangan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju.

Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang obyektif materiil. maka dalam hal ini dikatakan sudah ada . perbuatan pelaksanaan ada pabila telah dimulai/dilakukan perbuatan yang menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang tanpa mensyaratkan adanya perbuatan lain. Jadi yang dipentingkan atau yang dijadikan ukuran oleh VAN HAMEL ialah ternyata adanya sikap batin yang jahat dan berbahaya dari si pembuat. VAN HAMEL berpendapat bahwa dikatakan ada perbuatan pelaksanaan apabila dilihat dari perbuatan yang telah dilakukan telah ternyata adanya kepastian niat untuk melakukan kejahatan. merupakan persoalan pokok dalam percobaan yang cukup sulit karena baik secara teori maupun praktek selalu dipersoalkan batas antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandeling) dan perbuatan pelaksanaan (uitvoeringshandeling). perbuatan pelaksanaan ada apabila telah dimulai perbuatan yang disebut dalam rumusan delik.191 192 masih tetap menjadi niat yaitu baru merupakan sikap batin yang mengarah kepada suatu perbuatan yang melawan hukum. Pada delik materiil. Prof. Sesampainya di rumah B. Dalam memecahkan masalah ini para sarjana menghubungkannya dengan teori atau dasar-dasar patut dipidananya percobaan.2. Unsur kedua ini. b. melepas kaca jendela dan baru saja A masuk rumah lewat jendela itu ia tertangkap. Ukuran demikian menurut VAN HAMEL sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. IV. Contoh untuk delik formil : A bermaksud melakukan pencurian dirumah B untuk melaksanakan aksinya. Ada permulaan pelaksanaan. SIMIONS berpendapat sbb : a. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang subyektif. Apabila digunakan ukuran Van Hamel. kemudian pada malam hari ia mendatangi rumah B. A telah mempersipkan segala sesuatu peralatan untuk mencuri. Dalam hal niat telah berubah menjadi kesengajaan. Pada delik formil. ia mematikan lampu teras. Moelyatno setuju dengan pendapat yang luas bahwa hal itu meliputi juga kesenjangan sebagai keinsyafan kemungkinan.

193

194

perbuatan pelaksanaan, tetapi menurut ukuran Simons baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum mulai melakukan perbuatan seperti yang disebut dalam rumusan delik (pencurian : pasal 362 KUHP) yaitu “ mengambil barang “. Apabila A sudah mengambil barang dan pada saat itu ketahuan dan tertangkap, barulah dikatakan pada saat itu A telah melakukan perbuatan pelaksanaan yang oleh karenanya dapat dituntut telah melakukan percobaan pencurian. Contoh untuk delik materiil : A bermaksud membunuh B dengan meledakkan mobil yang dikendarainya dengan dinamit di suatu tempat yang dilalui B. A telah mempersiapkan dinamit dengan segala peralatan yang diperlukan dengan rapid an menunggu di samping saklar sampai B lewat ditempat itu. Apabila pada saat menunggu itu, gerak gerik A dicurigai dan akhirnya ditangkap, maka menurut ukuran Simons perbuatan A belum merupakan perbuatan pelaksanaan tetapi baru perbuatan persiapan, karena untuk meledakkan dinamit itu masih diperlukan perbuatan lain yaitu mengotakkan/menekan saklarnya.

Dalam menentukan adanya permulaan/perbuatan pelaksanaan dalam delik percobaan Prof Moelyatno berpendapat bahwa ada dua factor yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Sifat atau inti dari delik percobaan, dan 2. Sifat atau inti dari delik pada umumnya Mengingat kedua factor tersebut, maka menurut beliau perbuatan pelaksanaan harus memenuhi 3 syarat yaitu : i. Secara Obyektif, apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik/kejahatn yang dituju atau dengan kata lain, harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut; ii. Secara Subyektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu ditujukan atau diarahkan pada delik/kejahatan yang tertentu tadi; iii. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.

V. PERCOBAAN DALAM YURISPRUDENSI

BEBERAPA

Yurispridensi yang terkenal ialah Arrest HR tahun 1934 tentang Eindhoven.

195

196

Kasus Posisi : H dituduh hendak membakar rumah R (dengan persetujuan R). Pada malam yang telah ditentukan H masuk kerumah R, menaruh pakaian dan barang-barang yang mudah terbakar di tiap kamar, yang semuanya dihubungkan satu sama lain dengan sumbu yang akhirnya dihubungkan pada kompor gas yang mengeluarkan api jika ditembakkan. Trekker (penarik pintol gas) diikatkan dengan tali dan melalui jendela, ujungnya digantungkan di luar rumah yang terletak di pinggir jalan kecil. Pakaianpakaian itu disiram bensin dan jika orang berjalan di tepi jalan menarik talinya maka pistol gas mengeluarkan api dan menyalakan kompor gas dan selanjutnya akan merata keseluruh rumah. Setelah pemasangan pistol dan tali itu selesai, H menyingkirkan benda-benda ke tempat lain. Sementara itu, karena tertarik bau bensin banyak orang berpendapat di dekat tali itu, sehingga H tak mugkin menyelesaikan maksudnya. Terhadap kasus tersebut peradilan (gerechtshop) di Her-togenbosch menyatakan bahwa perbuatan H adalah perbuatan permulaan pelaksanaan dan dijatuhi pidana 4 tahun penjara karena melanggar pasal 53 jo 187 KUHP. H mengajukan kasasi dengan alasan bahwa Hof telah salah menafsirkan pasal 53 KUHP dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya baru merupakan perbuatan persiapan. Jaksa Agung

Muda BEISER menyimpulkan bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan karena belum nyata-nyata merupakan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran. Senada dengan konklusi Beiser, HOGE RAAD berpendapat bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum merupakan perbuatan yang sangat diperlukan untuk pembakaran yang telah diniatkan, ialah yang tidak dapat tidak menuju kearah dan langsung berhubungan dengan kejahatan yang dituju dan juga menurut pengalaman nyata-nyata menuju pembakaran, tanpa sesuatu perbuatan lain dari si pembuat. Atas dasar alasan ini HR membatalkan putusan Hof dan H dilepaskan dari segala tuntutan. Apabila kasus dan putusan pengadilan di atas dihubungkan pendapat para Sarjana yang telah dikemukakan di atas, maka terlihat bahwa : - Konklusi Beiser dan terutama pendapat HR, lebih cocok dengan teori atau pendapat Simons (Teori Obyektif Materiil); - Putusan Hof, lebih sesuai dengan teori atau pendapat Duynstee (Teori Obyetif Formil) Terhadap putusan HR tersebut, DUYNSTEE sendiri menulis bahwa menurut pendapatnya terdakwa H telah mulai dengan perbuatan pelaksanaan pembakaran. Alasan yang dikemukakannya ialah :

197

198

a. Semua perbuatan terdakwa (H) saling berhubungan dan memenuhi rumusan delik; b. Jika HR menganggap perbuatan pelaksanaan yaitu perbuatan yang menimbulkan kejahatan (akibat) tanpa adanya perbuatan lain, berarti jika tiap perbuatan pelaksanaan akan menimbulkan akibat terlarang, maka perbuatan pelaksanaan hanya ada percobaan lengkap saja, ini tidak tepat karena di dalam teori dikenal juga adanya percobaan yang tidak lengkap. Mengenai kasus diatas, Prof. Moelyatno mengemukakan pendapatnya sbb : “Kalau perkara pembakaran di Eindhoven ditinjau dengan ukuran yang saya sarankan, maka mengenai syarat pertama tidak perlu diragukan adanya. Secara potensiil apa yang telah dilakukan terdakwa mendekatkan kepada kejahatan yang dituju. Juga mengenai syarat yang kedua yaitu bahwa yang dituju itu menimbulkan kebakaran, telah wajar. Tinggal syarat yang ketiga, yaitu apakah yang telah dilakukan itu sudah bersifat melawan hukum ? Kalau diingat bahwa rumah itu di diami orang lain di waktu orangnya tidak ada, hemat saya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jadi karena tiga-tiganya syarat sudah dipenuhi, hemat saya putusan yang yang diberikan

oleh Hof’s Hertogenbosch adalah tepat. Terdakwa telah melakukan delik percobaan pembakaran seperti yang ditentukan dalam pasal 53 juncto pasal 187 KUHP”. IV.3. Pelaksanaan tidak selesai bukan sematamata karena kehendak pelaku sendiri. Tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukankarena kehendak sendiri, dapat terjadi dalam hal-hal sbb : a. Adanya penghalang fisik; Misal : tidak matinya orang yang ditembak, karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistol terlepas. Termasuk dalam pengertian penghalang fisik ini ialah apabila adanya kerusakan pada alat yang digunakan (misal : pelurunya macet / tidak meletus, bom waktu yang jamnya rusak). b. Walaupun tidak ada penghalang fisik, tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. Misal : takut segera ditangkap karena gerak geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. c. Adanya penghalang yang disebabkan oleh factor-faktor / keadaan-keadaan

ia masih dapat meneruskannya. maka dalam hal ini dikatakan ada pengunduran diri sukarela.v. tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak delik tersebut. Misal : daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan.  Tindakan penyesalan (Tatiger Reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. . Sehubungan dengan masalah pengunduran diri sukarela ini. Misal : Orang member racun pada minuman si korban.199 200 khusus pada obyek yang menjadi sasaran.T maksud dicantumkannya unsur ke-3 ini dalam pasal 53 KUHP ialah :  Untuk menjamin supaya orang yang dengan kehendaknya sendiri secara sukarela mengrungkan kejahatan yang telah dimulai tetapi belum terlaksana.  Alasan pemaaf (van Hattum. maka menurut M. Dalam hal tidak selesainya perbuatan itu karena kehendak sendiri. ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal. Dengan adanya penjelasan MvT tersebut. tidak dipidana. sering dirumuskan bahwa ada pengnduran diri sukarela. tetapi ia tidak mau meneruskannya. Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri. barang yang kan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkatnya sekuat tenaga. tetapi setelah diminumnya. secara teori dapat dibedakan antara :  Pengunduran diri secara sukarela (Rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan.  Pertimbangan dari segi kemanfaatan (utilitas). Seno Adji). apabila menurut pandangan terdakwa. bahwa usaha yang paling tepat (efektif) untuk mencegah timbulnya kejahatan ialah menjamin tidak dipidananya orang yang telah mulai melakukan kejahatan tetapi kemudian dengan sukarela mengurungkan pelaksanaannya. maka ada pendapat bahwa unsur ketiga ini merupakan :  Alasan pengahpus pidana yang diformulir sebagai unsur (Pompe).

Walaupun Prof. Apakah saksi dapat dipidana karena percobaan sumpah palsu? HR dalam putusannya berpendapat bahwa saksi itu tidak dapat dipidana melakukan . maka saksi tersebut mencabut kembali keterangan palsunya itu. untuk adanya percobaan unsur ke-3 ini (tidak selesainya pelaksanaan perbuatan bukan karena kehendak sendiri) harus ada. Mempunyai konsekuensi materiil Artinya unsur ketiga ini merupakan unsur yang melekat pada percobaan. Mengenai konsekwensi adanya unsur ke-3 dalam perumusan pasal 53 KUHP ini. Ini berarti apabila ada pengunduran diri secara sukarela.201 202  Alasan pengahpusan penuntutan (Vos. diberi stimulans bagi orang-orang lain yang mempunyai niat melakukan kejahatan. Dalam pengunduran sukarela (dan tindakan penyesalan/Tatiger Reue). seprti halnya dirumuskan pada pasal 367 (1) KUHP (pencurian antara suami-istri). Prof. tetapi tidak dituntutnya itu karena dipandang lebuh berguna bagi masyarakat. ada dua pendapat : a. Dengan perkataan lain. Moelyatno). Setelah Jaksa dan Hakim memperingatkan bahwa ia akan dituntut sumpah palsu. Pertimbangan utilitas lain dikemukakan beliau ialah untuk menghemat tenaga dan biaya. namun beliau tidak berkeberatan untuk menuntut orang yang secara sukarela telah mengurngkan niatnya itu apabila telah menimbulkan kerugian. dan pidananya dikurangi menurut kebijaksanaan Hakim. Moelyatno tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan unsur ke-3 ini sebagai alasan pemaaf (fait d’ex-cuse) maupun sebagai alasan pengahpus pidana. Moelyatno memandang unsur ke-3 ini sebagai alasan penghapusan penuntutan. jadi bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri). Menurut beliau dengan tidak dituntutnya terdakwa. sebab perbuatannya tetap tidak baik (yang baik adalah tidak mencoba sama sekali) sehingga tidak ada alasan untuk memaafkan ataupun membenarkan. Jadi ada pertimbangan utilitas. tidak ada fait d’excuxe karena sifat tak baik perbuatan maupun kesalahn tetap ada. Pendapat serupa ini terlihat dalam putusan Hoge Raad tanggal 17 Juni 1889 tentang kasus sumpah palsu. Dalam kasus ini ada tanda-tanda bahwa saksi yang dihadapkan ke persidangan diatas sumpah telah meberikan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan (kesaksian palsu). untuk ditengah-tengah mengundurkan diri secara sukarela. maka tidak ada percobaan.

unsur ke-3 ini tidak merupakan unsur yang melekat pada percobaan. sedangkan sipenganjur tetap dapat dipidana karena telah menganjurkan suatu perbuatan yang terlarang. perbuatannya tetap dipandang sebagai perbuatan terlarang dan soal dipidana tidaknya si pembuat maupun si penganjur adalah masalah pertanggunganjawab. karena hanya menitik beratkan pada sifat bahayanya perbuatan. Pembeda antara percobaan mampu dan tidak mampu ini sebenarnya hanya pada mereka yang menganut teori percobaan yang obyektif. karena lebih . mencuri uang dari sebuah peti uang yang ternyata kosong.203 204 percobaan sumpah palsu karena dalam hal ini ada pengunduran diri secara sukarela. ia merupakan unsur yang berdiri sendiri. Jadi dalam kasus yang dikemukakan diatas. Dalam kasus diatas si pembuat (saksi) tidak dipidana karena (menurut HR) disitu ada pengunduran diri secara sukarela. jadi tidak bersifat accessoir. Tidak selesainya delik atau tidak timbulnya akibat terlarang itu dapat disebabkan karena tidak mempunyai obyek (misal : mencoba menggugurkan bayi yang ternyata tidak hamil. mencoba membunuh orang yang sudah mati. Para penganut teori yang subyektif tidak mengenal pembedaan tersebut. Dengan perkataan lain. meskipun ada pengunduran diri secara sukarela. PERCOBAAN MAMPU DAN TIDAK MAMPU Masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul. b. Menurut pendapat ini. VI. Begitu pula si penganjur tidak dapat dipidana karena adanya pengunduran diri itu perbuatannya (saksi) tidak merupakan perbuatan terlarang. dsb) atau karena tidak mempunyai alat yang digunakan ( misal : mencoba membunuh orang dengan gula yang dikiranya racun). walaupun unsur ini tidak ada (yaitu karena adanya pengunduran diri secara sukarela) maka percobaan tetap dipandang ada. Jadi pendapat kedua ini membedakan antara perbuatan yang dapat dipidana (criminal act) dan pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility). Mempunyai konsekwensi formil (dibidang processuil) Artinya unsur ke-3 itu dicantumkan dalam pasal 153 maka unsur tersebut harus disebutkan didalam surat tuduhan dan dibuktikan.

Apabila dilihat dari keadaan konkritnya. Dari apa yang dikemukakan M. yaitu bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada. b. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai.T mengemukakan : “Syarat-syarat umum percobaan menurut pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu didalam buku II KUHP.v. maka gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh. M.T membedakan antara :  Tidak mampu mutlak. Ukuran yang dikemukakan M.  Tidak mampu relative.v.v. maka alat yang pada umumnya mampu untuk membunuh (misal warangan) dapat menjadi alat yang tidak mampu apabila jumlahnya tidak memenuhi dosis yang cukup mematikan (untuk arsenicum 5 mg). Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan. sedangkan warangan (arsenicum) adalah mampu. . dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan.Keadaan tertentu dari orang yang dituju. dapat dilihat secara abstrak untuk rata-rata orang dan dapat dilihat dari keadaan konkrit tertentu. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena alatnya. Alat itu dapat dilihat sebagai jenis tersendiri dan dapat dilihat dari keadaan konkritnya : .Gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh orang pada umunya. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena obyeknya. Jadi menurut M.V. yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja. Begitu pula orang yang dituju. M. maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada obyeknya. Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya obyek.Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan .v.205 206 menitik beratkan pada sifat berbahayanya sikap batin atau watak si pembuat.T itu ternyata tidak mudah : a. maka juga tidak ada percobaan”.T diatas terlihat bahwa ketidakmampuan relative dapat dilihat dari dua segi : .T tidak mungkin ada percobaan pada obyek yang tidak mampu.Apabila dilihat sebagai jenis tersendiri. . Kalau tidak ada obyeknya. tetapi dapat menjadi alat yang .

Sehubungan dengan tidak jelas dan tidak mudahnya ukuran yang diberikan oleh M. akibat yang merupakan delik yang dituju justru belum terjadi. Sebaliknya .Warangan yang memenuhi dosis 5 mg. Karena pada hakekatnya masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini dalah masalah hubungan kausal yang ada dalam lapangan obyeltif. Van Hattum) yang berusaha menentukan garis pembatas tersebut dengan menggunakan ukuran-ukuran dalam hubungan kausal. . tetapi untuk orang yang sudah biasa warangan sejumlah itu tidak merupakan alat yang mematikan. tetapi dapat juga dikatakan bahwa pistol adalah alat yang mampu untuk membunuh. maka banyak sarjana (misal Simons. apabila perbuatan yang menggunakan alat yang tertentu itu dapat membahayakan benda hukum.T itu. Ukuran-ukuran kausalitas yang digunakan adalah teori generalisasi (adekuat) yang melihat secara ante factum (sebelum peristiwa/akibat) karena memang dalam hal percobaan. jadi tidak menggunakan teori individualisasi yang melihat sesudah terjadinya akibat (post factum). SIMONS Ada percobaan yang mampu. Misal : percobaan pembunuhan dengan pistol yang tidak berpeluru.v. Ukuran atau batas percobaan mampu dan tidak mampu yang dikemukakan oleh para sarjana itu adalah sbb : 1.207 208 mampu mematikan untuk orang yang berpenyakit diabetes. maka banyak sarjana yang menyatakan bahwa batas antara absolute dan relative itu tergantung dari kehendak orang yang menggunakan (willekeurig). Berdasarkan hal-hal diatas. Pompe. Orang dapat mengatakan bahwa pistol yang demikian adalah alat yang absolut tidak mampu. namun dalam hal tertentu bersifat relative karena tidak ada pelurunya. merupakan alat yang mampu untuk membunuh. dengan alat tersebut tidaklah akan ditimbulkan delik maka dalam hal demikian tidak ada percobaan yang mampu. Tidak perlu bahwa bahaya itu harus nyatanyata ada dalam keadaan khusus dimana perbuatan itu dilakukan. Jika menurut keadaan normal. maka para sarjana berusaha memberikan batas atau ukuran antara percobaan yang mampu dan tidak mampu. tergantung dari cara berpikir seseorang mengenai sesuatu hal.

Mencoba membunuh orang dengan mendoakan terus menerus supaya mati. . tetap dikatakan ada percobaan karena meskipun sifat gula adalah tidak mampu secara . Dalam memformulir perbuatan terdakwa secara adekuat kausal itu. Dikatakan ada percobaan yang mampu. tetapi dalam keadaan tertentu dapat membahayakan dan dengan sengaja pula alat itu digunakan. Dalam menggunakan hubungankausal yang adekuat itu. POMPE Ada percobaan mampu. menurut van Hattum yang penting adalah bagaimana merumuskan (memformulir) perbuatan terdakwa yang bersangkutan. karena rasa keadilan tidak membenarkan hal demikian member keuntungan kepada si pembuat. jika perbuatan atau alat yang digunakan mempunyai kecendrungan (strekking) atau menurut sifatnya mampu untuk menimbulkan delik selesai. tetapi penting dilihat dari keseluruhan perbuatan yaitu mencampurkan gula (yang diberikan oleh apotik) yang dikiranya warangan. apabila perbuatan terdakwa ada hubungan kausal yang adekuat dengan akibat yang dilarang oleh undangundang. bukanlah percobaan yang mampu sebaliknya pemberian warangan pada orang yang normal adalah mampu jika jumlahnya memang dapat mematikan orang yang normal. maka persangkaan bahwa alat itu tidak berbahaya akan lenyap dengan diajukan bukti-bukti sebaliknya. van Hattum memberikan ukuran/pedoman sbb : a. b. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan jangan dimasukan. Hal-hal yang merintangi selesainya kejahatan yang dituju jangan dimasukkan. Misal : .209 210 jika alat yang pada umumnya tidak berbahaya. apabila pada hakekatnya perbuatan 2. Perbuatan demikian lalu dapat dipidana. 3. absolute. bukan warangan yang diberikan tetapi gula sehingga tidak menimbulkan kematian. tetapi karena kekeliruan apotik. van Hattum seperti halnya Simons dan Pompe jelas-jelas menggunakan hubungan kausal yang adekuat.Ada orang membeli warangan di apotik untuk melakukan pembunuhan. Dalam hal demikian. VAN HATTUM Dalam menentukan percobaan mampu dan tidakmampu. kedalam makanan orang lain.

211

212

terdakwa membahayakan benda/kepentingan hukum (rechtsgoed). Misal : Dengan maksud menembak musuhnya, seseorang telah mengisi senapanya dengan peluru dan kemudian meletakkannya di suatu tempat untuk menunggu saat yang baik. Sementara itu dengan tidak diketahuinya ada orang lain mengososngkan senapanya itu, sehingga pada saat ditembakkan tidak menimbulkan akibat amtinya orang lain (musuhnya itu). Dalam hal yang demikian, menurut van Hattum janganlah perbuatan terdakwa diformulir sebagai percobaan yang tidak mampu karena kenyataannya ia membunuh dengan alat yang relative tidak mampu yaitu senapan yang kosong. Tetapi harus diformulirkan sbb : “mengarahkan senapan yang semula sudah diisi dengan peluru dan kemudian menembakkannya”. Perbuatan demikian merupakan yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat matinya orang lain (jadi mempunyai hubungan kausal yang adekuat untuk adanya pembunuhan). Dengan demikian perbuatan terdakwa merupakan percobaan yang mampu. Tidak berbeda dengan menembakkan senapan yang pelurunya macet. Dari pendapat van Hattum diatas jelas terlihat bahwa “kosongnya pistol” merupakan hal yang

kebetulan dan mengisi senapandengan peluru dan menembakkannya” merupakan perbuatan yang membahayakan benda hukum orang lain (berupa nyawa). Van Hattum menyatakan bahwa makin banyak hal-hal konkrit yang dimasukkan dalam merumuskan perbuatan terdakwa, maka ketidakmampuan yang relative akan menjadi ketidakmampuan yang absolut. 4. MOELYATNO Dalam memecahkan masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini, Prof. Moelyatno tidak mendasarkan pada teori adekuat kausal karena kenyataanya dalam percobaan tidak sampai menimbulkan kejahatan yang dituju (tidak timbul akibat terlarang). Ukuran yang dugunakan beliau dikembalikan pada ukuran patut dipidananya suatu delik, yaitu adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Jadi ukurannya tidak ditetapkan secara kausatif, tetapi secara normatif. Dikatakan ada percobaan yang mampu apabila perbuatan terdakwa mendekatkan pada terjadinya delik selesai sedemikian rupa sehingga merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perlu dicatat bahwa karena beliau menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil, maka perbuatan itu harus menggelisahkan masyarakat atau tidak pantas dilakukan.

213

214

Ukuran yang digunakan Prof. Moelyatno itu didasarkan pada Eindrucks theorie (teori kesan) yang berasal dari Von Bar, yang dikemukakan didalam bukunya Prof. Edmund Mezger (1952). Menurut teori ini, sudah cukup dikatakan ada percobaan, yang mampu apabila dalam keadaan tertentu ada perbuatan yang menimbulkan kesan keluar bahwa ada permulaan perbuatan yang dapat dipidana. Apabila suatu perbuatan dipandang dari sudut masyarakat telah menimbulkan kesan mengganggu atau melukai tata-hukum, dan oleh karena itu telah menggincangkan kesadaran umum mengenai kepastian berlakunya tata hukum tadi, maka perbuatan demikian sudah mengandung bahaya. Dengan demikian ternyata, menurut Mezger, bahwa di dalam teori kesan terdapat azas general preventive. Misal : perbuatan orang yang hendak membunuh dengan senjata yang ternyata kosong atau macet pelurunya, atau pencuri yang merogoh kantong orang lain yang ternyata kosong. Perbuatan-perbuatan demikian dilihat dari teori kesan sudah merupakan percobaan yang mampu dan oleh karenanya dapat dipidana, karena ada kesan dari luar yaitu dari sudut

masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu telah mengganggu/ melukai tata hukum. Menurut Prof. Moelyatno, dengan memakai ukuran melawan hukumnya perbuatan dalam menentukan mampu tidaknya suatu percobaan berdasar teori kesan, tidak berarti bahwa sifat berbahaya tidaknya percobaan itu dilihat dari sudut hubungan kausal tidak perlu diperhatikan. Pertimbangan segi kausalitas ini tetap penting, tetapi bukan untuk menentukan mampu tidaknya suatu percobaan, melainkan untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dalam hubungan ini beliau membandingkan dengan pasal 23 KUHP Swiss yang menentukan. “Jika alat yang dipakai untuk mencoba melakukan kejahatan, atau obyek/terhadap mana dilakukan kejahatan, adalah sedemikian rupa hingga perbuatan memang tidak mungkin dilaksanakan dengan alat atau terhadap obyek yang demikian itu, maka hakim boleh mengurangi pidana menurut kebijaksanaanya sendiri. Jika si pembuat berbuat karena kebodohan (unverstand) hakim boleh tidak menjatuhkan pidana”. 5. MANGEL AM TATBESTAND Telah dilemukakan diatas bahwa secara teoritis percobaan mampu dan tidak mampu dapat dibedakan mengenai obyeknya maupun

215

216

mengenal alatnya dan dapat pula dibedakan antara tidak mampu yang absolute dan relative. Karena tidak jelasnya batas penetu antara tidak mampu absolute danrelatif, tergantung dari kehendak/ cara berpikir seseorang (bersifat Willekeurig), maka ada pendapat seperti M.v.T yang tidak memasukkan kedalam lapangan percobaan tidak mampu apabila objek tidak mampu. Menurut pendapat aliran ini, percobaan tidak mampu karena obyeknya bukanlah delik percobaan karena tidak cukupnya atau tidak terpenuhinya unsur-unsur delik. Misal dalam hal membunuh orang yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil, disitu tidak terpenuhi unsur delik dalam pasal 333 KUHP yaitu harus adanya nyawa orang (hidup) yang dihilangkan dan unsur delik dalam pasal 346 KUHP (menggugurkan/mematikan kandungan) yaitu harus adanya seorang wanita yang benarbenar mengandung. Dalam ilmu hukum pidana Jerman, tidak adanya atau tidak lengkapnya/ tidak terpenuhinya unsur-unsur delik itu, disebut Mangel am Tatbestand (Mangel =kekurangan; Tatbestand = keadaan yang betul/sempurna atau mencocoki rumusan delik). Istilah ini dikemukakan oleh Graf zu Dohna (1910).

Yang setuju dengan pendapat ini ialah Simons dan Pompe. Menurut Pompe, dalam kedua contoh yang dikemukakan diatas tidak mungkin lagi dikatakan ada percobaan karena maksud/tujuan terdakwa sudah tercapai. Sedangkan van Hamel, tidak setuju dengan mereka yang memandang tidak ada percobaan apabila obyeknya tidak mampu. Menurut beliau memang benar bahwa membunuh bayi yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil adalah tidak mungkin, tetapi hal yang demikian sebenarnya tidak berbeda dengan membunuh bayi yang lahir hidup tetapi kemudian diganti dengan boneka atau mencuri uang dari sebuah kantong yang ternyata kosong. Demikian pula Jonkers tidak setuju bahwa dalam contoh-contoh di atas dikatakan tidak ada percobaan, karena sifat khusu dari percobaan ialah : a. Delik tidak selesai karena hal ikhwal yang tidak tergantung dari kehendak terdakwa; b. Oleh karena dalam pikiran terdakwa (dalam kasus-kasus diatas) adalah mungkin sekali akan melaksanakan delik yang dituju.

maksimum pidana yang dapat dijatuhkan hanya 15 tahun penjara. Sehubungan dengan masalah ini KARNI membedakan antara Mangel am Tatbestand dengan percobaan tidak mampu (istilah beliau “percobaan tak terkenan”). Dalam hal demikian. yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap kejahatan. Ketidak sempurnaan dipenuhinya unsur delik inilah yang menurut Karni merupakan hakekat atau watak hukum dari Mangel am Tatbestand. Bagaimanakah apabila kejahatan yangbersangkutan diancam pidana mati atau penajara seumur hidup. disini ada percobaan yang tidak mampu karena tujuan si pembuat tidak tercapai (jadi berbeda dengan pendapat Pompe). Perbedaan ini terlihat pula dalam pendapat Utrecht. Dalam kedua contoh ini menurut Karni tujuanya sudah tercapai. . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut . sedangkan terhadap pelanggaran tidak dipidana. terdakwa tidak dapat dipidana karena memang tidak ada pasal yang dilanggar dan kepastian hukum terancam (jadi berlainan dengan van Hamel). seperti halnya dalam pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)? Menurut pasal 53 (3). hanya saja unsur delik yang bersangkutan (pasal 332 dan pasal 362 KUHP) tidak terpenuhi secara sempurna. PEMIDANAAN TERHADAP PERCOBAAN Telah dikemukakan di muka bahwa menurut system KUHP. maksimumnya ialah 10 tahun penjara. VII. delik putatief merupakan “rechtsdwaling” sedangkan Mangel am Tatbestand merupakan “feitelijke dwaling”.Orang yang mencuri barang yang ternyata sudah menjadi miliknya. Selanjutnya ditegaskan oleh Karni bahwa Mangel am Tatbestand ini merupakan “kekhilafan tentang anasir delik” yang harus dibedakan dengan salah sangka tentang adanya undang-undang (putatief delict). Jadi misalnya untuk percobaan pembunuhan (pasal 53 jo pasal 338 KUHP). Dalam hal menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil.217 218 Dari alasan yang kedua (b) ini jelas terlihat pandangan yang subyektif tentang percobaan. Sedangkan untuk mangel am Tatbestand dicontohkan sbb: . Dalam hal percobaan terhadap kejahatan.Orang yang melarikan perempuan yang ternyata sudah cukup umur. jadi ini bukan Mangel am Tatbestand. maka menurut pasal 53 (2) KUHp maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah maksimum pidana untuk kejahatan (pasal) yang bersangkutan dikurangi sepertiga.

Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan) : . Sebagai Strafa sdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : . Sedangkan untuk pidana tambahannya. Participation (Perancis). van Hattum. Complicity (Inggris). Delneming (Belanda). hanya bentuknya tidak sempurna. Turut berbuat delik (Karni). Teilnahme/Tatermehrhaeit (Jerman). 3.Penyertaan merupakan suatu delik. 4. maksimum pidana pokok untuk percobaan adalah lebih rendah daripada apabila kejahatan itu telah selesai seluruhnya. Hazewinkel Suringa. 2. B. menurut pasal 53 (4) adalah sama dengan kejahatan selesai. 2. BEBERAPA ISTILAH 1.Penganut a.219 220 KUHP. BAB XI PENYERTAAN A. BEBERAPA PANDANGAN TENTANG SIFAT PENYERTAAN Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan : 1. Turut campur dalam peristiwa pidana (Tresna).Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana . . Turut serta (Utrecht).l : Simons.

b. Co principals (pembuat) 2.3.1. Von Feuerbach membagi penyertaan dalam dua bentuk : a. c.1.a. Pembagian tiga : 2. KUHP Belanda dan Indonesia : b. 2. Menurut Prof.4. Anstifter (penganjur) 2. Moelyatno pandangan yang pertama sesuai dengan alam/pandangan individual karena yang diprimairkan adalah “strafbaarheid van de person” (hal dapat dipidananya orang). b. PENYERTAAN MENURUT KUHP INDONESIA 1. Dader / Pembuat (pasal 47 Belanda / pasal 55 KUHP Indonesia).Penganut a.2.1.3.1. . Accessory D.a. Autores.221 222 .b. Organizer 3.2.2.1. pandangan yang kedua sesuai dengan alam Indonesia karena yang diutamakan adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan. d.a. Pembagian penyertaan menurut KUHP Indonesia adalah : a. Accessories (pembantu) 3.2.2. Gehilfe (pembantu) b.l : Pompe. pandangan pertama tidak dikenal dalam hukum adat. Pembuat/dader (pasal 55) yang terdiri dari : . Instigator (penganjur) 2. Principals (peserta baku). Medeplichtige / pembantu (pasal 48 KUHP Belanda / pasal 56 KUHP Indonesia). c.3.Penyertaan merupakan suatu delik. PEMBAGIAN PENYERTAAN 1. jadi lebih ditekankan pada strafbaarheid van het feit” (hal dapat dipidananya perbuatan). Tater (pembuat) 2. Complices. hanya bentuknya istimewa. Executive of crime 3. Urherber (pembuat) a. Moelyatno. Gehile (pembantu) 2.b.2. d. Roeslsn Saleh. Menurut Moelyatno. Di Jerman : 2. Di Jepang : 2.a. Instigator 3. C.Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana. Terbagi dua : a. Pembagian empat : Di Uni Sovyet : 3.c.1. .2. Di Inggris : d.1. Code Penal Perancis dan Belgia : c. Accessories (peserta pembantu).

Pandangan yang sempit (restrictief) : . van Hamel. Pembantu / mendeplichtige (pasal 56) yang terdiri dari : b. b. Mengenai pengertian pembuat (dader). pembantu pada saat kejahatan belum dilakukan. b. Moelyatno. Pleger (pelaku) a. pembantu pada saat kejahatan dilakukan b. Mengenai hal ini ada beberapa pedoman : 1).v.Dengan demikian mereka yang disebut dalam pasal 55 diatas adalah pembuat. yang menyuruh lakukan (doenpleger) a. Jonkers. . Pelaku (pleger) ialah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik.Penganut : M. Simons. Peradilan Indonesia Pembuat (dalam arti sempit yaitu pelaku) ialah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus dipandang yang bertanggung jawab.223 224 a.1. terutama dalam hal pembuat undangundang tidak menentukan secara pasti siapa yang menjadi pembuat. .3.4. yang turut serta (medepleger) a. . Pompe.1 pada pasal 55 di atas). Dalam praktek sukar menentukannya.2. mereka yang tersebut dalam pasal 55 hanya dipandang sebagai pembuat.Penganut : HR. jadi hanya disamakan saja dengan dader. 2. Pelaku (pleger) a.Pembuat hanyalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik. van Hattum. Hazewinkel-Suringa. jadi hanya pembuat materiil saja (yaitu pada no.T. Pandangan yang luas (extensief) : . penganjur (uitlokker) b.1. . ada dua pandangan : a.2.Menurut pandangan ini.

Doenpleger ialah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain. tetapi tetap memberikan keadaan terlarang itu berlangsung terus. jadi plegers juga termasuk (Hazewinkel-Suringa). pada penyertaan apabila “mereka yang melakukan” (para pelaku) itu diartikan pembuat tunggal. sedang perantara ini hanya diumpamakan sebagai alat.Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati) . Dengan demikian : .225 226 2). doenpleger.Pembuat langsung (onmiddelijke dader.Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan” unsur ketiga inilah yang merupakan tanda ciri dari doenpleger . 2). Pompe Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kewajiban untuk mengakhiri keadaan terlarang itu. didalamnya 3. manus ministra) . . auctor physicus. c. b). Dapat dipahami Alasan : Karena pasal 55 menyebut “mereka yang dipidana” sebagai pembuat”. 3). Peradilan Belanda Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhiri keadaan terlarang. jadi plegers termasuk didalamnya “Pompe”. Hal yang menyebabkan alat (pembuat materiil) tidak dapat dipertanggungjawabkan ialah : .Alat yang dipakai adalah manusia. Kedudukan “pleger” dalam pasal 55 sering dipermasalahkan. Doenpleger (yang menyuruh lakukan) a). Janggal dan tidak pada tempatnya Alasan : Karena pasal 55 berada dibawah bab V yang berjudul “Penyertaan tersangkut beberapa pidana”. manus domina). Mengenai hal ini ada dua pendapat : 1). Karena pasal 55 menyebut “ siapa-siapa yang dinamakan pembuat”.Pembuat tidaklangsung (middelijke dader. auctor intellectuals. Pada Doenpleger terdapat unsur-unsur sbb : .

d). c). maka A tidak bisa menjadi doenpleger. Dalam hal pembuat materiil (alat) seseorang yang belum cukup umur. Namun demikian.  Bila ia berbuat karena daya paksa (pasal 48)  Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yang tidak sah seperti dimaksudkan dalam pasal 51 ayat (2). tetap dikatakan tidak ada doenpleger. d. maka dalam hal ini dimungkinkan ada menyuruh lakukan. Alasan. maka tidak ada menuruh lakukan.227 228  Bila ia tidak sempuna pertumbuhan jiwanya atau rusak jiwanya (pasal 44). . Pendapat kedua : “tidak harus”.1.  Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan ybs. maka ia tidak dapat melakukan “delik jabatan”.2. yang belum begitu sadar akan perbuatannya. Misalnya : A bukan pegawai negeri. jadi A tidak bisa menjadi pembuat langsung (onmiddelijke dader) oleh karena itu ia juga tidak bisa menjadi pembuat tidak langsung. Pendapat pertama : “harus”. apabila yang disuruh itu anak yang masih sangat muda sekali. karena pada dasarnya KUHP menganggap orang yang belum cukup unur itu tetap mampu bertanggungjawab (lihat pasal 45 jo 47). sedangkan B tidak mengetahui pemalsuan tersebut. karena tidakmungkin seorang A menyuruh oarng lain B melakukan sesuatu yang A sendiri tidak dapat melakukannya. Jadi walaupun B (yang disuruh) adalah “ pegawai negeri. B mengambilnya untuk diserahkan kepada A dan ia sama sekali tidak mempunyai maksud untuk memiliki bagi dirinya sendiri. (dalam undangundang) misal A menyuruh B (seorang kuli) untuk mengambil barang dari suatu tempat.  Bila ia keliru (sesat) mengenai salah satu unsur delik. Apakah orang yang menyuruh lakukan (doenpleger) harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? ada dua pendapat : d. misalnya A menyuruh B untuk menguangkan pos wesel yang tanda tangannya dipalsu oleh A.

T : Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut Hazewinkel-Suringa : “Seorang peserta itu bukannya dipidana karena ia melakukan perbuatan (pidana). Medepleger (orang yang turut serta) a. ialah apabila pelaksanaanya bukan. e). sedang yang menyuruh-lakukan itu adlah pejabat”. Walaupun A tidak berkualitas seperti B (yaitu tidak mempunyai kewajiban seperti B).229 230 “Menyuruh-lakukan sesuatu delik jabatan tidak hanya terdapat apabila pembuat materiilnya adalah seorang pejabat. Jika karena lemparan itu ada yang tertimpa dan mati. B mengira bahwa A telah mengadakan pengamanan seperlunya. sehingga untuk menjadi middelijke dader (doenpleger) tidak perlu . A tetap dikatakan sebagai doenpleger dalam delik omissi yang dilakukan oleh B. ada kualitas pribadi seperti pembuat materiil”. Pengertian : 1). sehingga lalai menjalankan tugasnya dan timbul kecelakaan. akan tetapi juga sebaliknya. Arrest HR tgl. Misal : A menyuruh seseorang pekerja B untuk melemparkan benda yang berat dari atap rumah ke bawah. Mungkinkah ada menyuruh lakukan terhadap delik-colpoos? Mungkin.v. tanpa menghiraukan apakah benda itu akan menimpa orang yang kebetulan ada / lewat di bawah atap rumah itu. dalam halo rang yang menyuruh-lakukan dapat menduga sebelumnya bahwa ka nada sesuatu akibat yang tidak diharapkan. maka A dapat dituntu karena menyuruh-lakukan tindak pidana yang tersebut dalam pasal 359 KUHP. Menurut M. Misal : A membius B seorang penjaga keamanan kereta api. 21 April 1913 (kasus Walikota Zaan-dam) menyatakan : “Pasal 55 tidak menyatakan bahwa mereka yang menyuruh lakukan adalah dader. akan tetapi ia justru dipidana walaupun ia tidak melakukan perbuatan”. tetapi bahwa mereka dipidana sebagai dader. Undang-undang tidak memberikan definisi 2). 4.

Persoalan kapan dikatakan ada perbuatan pelaksanaan merupakan persoalan yang sulit (ingat/lihat Bab VI tentang . Yang penting aialah harus ada kesenjangan secara sadar. cukup apabila ada pengertian antara peserta pada saat perbuatan dilakukan dengan tujuan menacpai hasil yang sama. salah seorang memenuhi semua unsur delik.Tidak seorangpun memenuhi unsur-unsur delik seluruhnya tetapi mereka bersama-sama mewujudkan delik itu misalnya : dalam pencurian dengan merusak (pasal 363 ayat (1) ke5) salah seorang melakukan penggangsiran. Menurut Pompe. sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diterimakan kepada kawannya tadi. Misal : dua orang dengan bekerja sama melakukan pencurian disebuah gudang beras. Penentuan kehendak atau kesenjangan masing-masing peserta itu dilakukan secara normatif. “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada dua kemungkinan : Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik. sedang kawannya menghendaki matinya si korban.231 232 berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu. . A yang menabrak orang yang menjadi sasaran. sedang B yang mengambil dompet orang itu. sedang yang lainnya tidak. Misal : dua orang pencopet (A dan B) saling bekerja sama. Adanya kesadaran bersama tidak berarti ada permufakatan lebih dulu. 3). yang menggangsir b. Syarat adanya medepleger :  Ada kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking). Tidak ada turut serta. bila orang yang satu hanya menghendaki untuk menganiaya.  Ada pelaksanaan bersama secara fisik (gezamenlijke ultvoering/physieke samenwerking).

Apakah medepleger harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? Mengenai hal ini ada dua penadapat : 1). Pendapat pertama : “harus”. Yurisprudensi putusan pengadilan Negeri Tulunganggung tanggal 5 Januari 1932 yang kasusnya sbb : A memegang gelang milik orang lain untuk dijualkan.233 234 “percobaan”). Yang penting disini harus ada kerjasama yang erat dan langsung. Sifat-sifat atau keadaan pribadi yang menentukan dapat dipidananya perbuatan. Pendapat kedua : “tidak harus”. Suami A menggadaikan gelang tersebut untuk kepentingannya sendiri. c. 2). hanya berlaku pada pembuat peserta yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Medepleger adalah suatu bentuk daderschap (keadaan / sifat pelaku pembuat). namun secara singkat dapat dikatakan bahwa perbuatan pelaksanaan berarti perbuatan yang langsung menimbulkan selesainya delik ybs. Dalam kasus A dinyatakan salah melakukan penggelapan. Pembuat peserta sebagai pembuat harus mempunyai sifat yang oleh rumusan undang-undang diisyaratkan untuk daderschap. Barang siapa tidak dapat menjadi pembuatan tunggal (alleendader) juga tidak dapat dinamakan pembuat peserta (mededader). sedang status suaminya terhadap barang itu ialah . orang turut serta melakukan adalah pembuat (dader) apabila ada beberapa orang bersama-sama melakukan delik. Batas antara perbuatan pelaksanaan dan perbuatan pembantuan sangatlah sulit dan hal ini akan dibicarakan dalam masalah pembantuan. maka mereka timbal balik terhadap satu sama lain disebut pembuat peserta (mededader). sedang suaminya “turut serta melakukan penggelapan” meskipun suaminya tidak memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 372. dengan persetujuan A. Status A terhadap barang ialah “memiliki dengan melawan hukum barang yang ada padanya bukan karena kejahatan “.

Tercapainya hasil yangmerupakan delik (ditujukan pada akibat). ialah kepada perbuatan yang dilakukan bersama. d. 2. Dalam delik culpa orang tidak menghendaki terjadinya akibat. pada penganjuran (uitlokking) ini ada usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pembuat materiil / auctor physicus. 5. Adapun perbedaannya sbb : Penganjuran Menyuruh-lakukan Menggerakkannya Sarana dengan sarana. Oleh karena itu mereka dapat dituntut bersama-sama melakukan perbuatan yang tersebut dalam pasal 55 jo pasal 359 KUHP. Pengertian : Pengajur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana denganmenggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang untuk melakukan kejahatan. Yaitu ia dapat dari A dan tahu bahwa barang itu bukan milik A. Kerjasama dengan orang lain (ditujukan pada perbuatan). Mungkinkah ada turut serta terhadap delik culpoos ? pada turut serta. Kalau kesenjangan orang turut serta juga harus ditujukan untuk timbulnya delik culpa tersebut. kesengajaannya ditujukan kepada : 1. Jadi hamper sama dengan menyuruhlakukan (doen-pleger). maka mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. maka jelas tidak mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. Keduanya tidak menghendaki sampi matinya orang tersebut.235 236 menggadaikan barang milik orang lain yang ada dalam kekuasaannya karena kejahatan”.menggerakkannya . akan tetapi mereka bersamasama secara sadar melakukan pelemparan barang dan merekapun kurang berhati-hati serta patut menduga akibat yang timbul. Uitlokker (penganjur) a. Akan tetapi jika kesengajaan itu hanya ditujukan kepada adanya kerjasama. Misal : A dan B bersama-sama melemparkan barang berat dari gedung bertingkat dan menimpa orang yang ada di bawah sampai mati.

c.  c. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : 1.237 238 sarana tertentu (limitatif) Pembuat materiil dapat dipertanggungjawa bkan (tidakmerupakan manus ministra) tidak ditentukan (tidak limitatif) Pembuat materiil tidak dapat dipertanggungjawa bkan (merupakan manus ministra) b.  Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan karena hal-hal tersebut pada a dan b (jadi ada psychise causaliteit). Pertanggungjawaban si penganjur. Syarat penganjuran yang dapat dipidana : Berdasarkan pengertian diatas. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : . 4 dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat materiil). sedangkan syarat 3.  Menggerakkannya dengan menggunakan upaya-upaya (sarana-sarana) seperti tersebut dalam undang-undang (bersifat limitatif). Dari lima syarat yang disebutkan diatas.  Pembuat materiil tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana. maka syarat pengajuran yang dapat dipidana ialah :  Ada kesenjangan untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan yang terlarang. d. Mungkinkah ada percobaan pengajuran atau pengajuran yang gagal ? e. Si pembuat materiil tersebut melakukan tindak pidana yang dianjurkan atau percobaan melakukan tindak pidana. Tidak mungkin. jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur.

Tidak mungkin. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh van Hamel dengan mengemukakan alasan bahwa sifat khas dari uitlokking ialah membujuk terjadinya perbuatan dengan sengaja. Kalau orang lain itu tidak dapat menyupir hal mana diketahui oleh pembujuk. ia dapat dikatakan melakukan tindak pidana dalam pasal 359. dan pula dalam arti bahwa yang di bujuk dan pembujuk mempunyai kealpaan yang diisyaratkan oleh undang-undang. orang lain tersebut akan mengendarainya. Mungkin. akan tetapi orang lain itu tidak mau melakukan atau mau melakukan akan tetapi tidak sampai dapat melaksanakan perbuatan yang dapat dipidana. pada pembujuk ada kesengajaan yang ditujukanuntuk menggerakkan orang lain untuk menyupir. b diatas. Simons menganggap bukannya mustahil dalam bentuk demikian seseorang dapat membujuk terjadinya sesuatu perbuatan dengan pengetahuan bahwa orang yang akan melakukan perbuatan itu dapat mengira-ngira kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki atau dapat mengirakan kemungkinan terjadinya akibat tersebut.239 240 (a). maka jika pengendara tersebut melanggar seseorang yang mengakibatkan mati. . Menurut Pompe orang nyata-nyata dapat sengaja menyuruh orang lain untuk melakukan delik culpa. baru terpenuhi syarat 1 dan 2 atau syarat 1 s/d 3) seperti dikemukakan pada no. sedang pemilik mobil dapat dikatakan melakukan pembujukan untuk terjadinya pelanggaran pasal 359 itu. Misal : Seorang pemilik mobil sengaja meminjamkan mobilnya untuk dipakai orang lain dengan mengetahui bahwa dengan pemberian pinjaman itu. (b). dalam arti orang itu sebagai pembujuk mempunyai kesengajaan untuk menggerakkan agar orang lain melakukan perbuatan yang ternyata suatu delik culpa dan inklusif didalam perbuatan sengaja itu termasuk kealpaan. d. Mungkinkah ada percobaan penganjuran atau penganjuran yang gagal ? Penganjuran yang gagal ini dapat terjadi dalam hal seseorang telah dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu tindak pidana dengan menggunakan salah satu sarana dalam pasal 55 (1) ke-2. Jadi. (catatan : Dengan kata lain.

untuk dapat memidana seseorang peserta sebagai Mittater (si turut-serta melakukan / medepleger. tindak pidana itu tidak terjadi maka si pengajur juga tidak dapat dipidana.l si penganjur dipidana apabila orang yang dibujuk melakukan perbuatan yang dapat dipidana. ada dua pandangan : 1). Jadi sudut pandangnya tidak membedakan antara sifat dapat dipidananya perbuatan (tindak pidana) dan sifat dapat dipidananya orang (pertanggungjawaban pidana). Catatan :  Dari uraian diatas jelas. van Heml. Sehubungan dengan pandangan yang pertama diatas. dalam KUHP Jerman (sebelum perubahan tahun 1943). D. maka si pembuat materiil harus melakukan strafbare handlung. 2). Menurut pandangan ini. Penganutnya : Hazewinkel-Suring. Pendapat pertama : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri = onzelfstandig). tidak bergantung pada yang lain). Penganutnya : Blok. “percobaan untuk penganjuran” tetap dapat dipidana. tetapi juga dapat dijatuhi pidana.l sipenganjur tetap dapat dipidana walaupun tindak pidana yang dianjurkan kepada si pelaku tidak terjadi. strafbaarheid (sifat dapat dipidananya si penganjur digantungkan dari apa yang dilakukan oleh orang lain). atau gehilfe / pembantu / medeplichtige). Jadi menurut pandangan kedua ini. yang diartikan bukan saja melakukan perbuatan yang dilarang / diancam pidana. Menurut pendapat ini. van Hattum. anstifter / pengajur uitlokker. dikenal apa yang dinamakan extreme accessoiriteit yaitu bahwa untuk adanya bentuk-bentuk penyertaan harus ada yang bertanggung jawab sebagai Tater (pelaku). Jadi lebih mendekati pandangan monistis. Jomkers. ada / tidaknya penganjuran tidak tergantung pada ada tidaknya atau terjadi / tidaknya tindak pidana. bahwa menurut pendapat pertama (accessoir).241 242 Timbul masalah apakah terhadap percobaan untuk membujuk atau penganjuran yang gagal dapat dipidana ? mengenai hal ini sebelum adanya pasal 163 bis. pengajuran itu ada apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat materiil. Pompe. Dengan demikian apabila si pembuat  . D.p. vos.p. Menururt KUHP Jerman itu. Pendapat kedua : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang tidak accessoir (berdiri sendiri = zelfstanding. Simons. Karena dalam “percobaan untuk penganjuran” ini.

2).-). Delik ini merupakan delik formil. tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri menurut sikap batinya masing-masing berhubung dengan apa yang diperbuatnya.  Pertanggungjawaban peserta tidak lagi digantungkan pada pertanggungjawaban si pelaku atau peserta lainnya. 4. sifat melawan hukumnya perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatannya di hubungkan dengan pelaku atau peserta lainnya. bahwa sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari pada yang ditentukan terhadap percobaan kejahatan. 273) ditambahkan pasal 163 bis kedalam KUHP pasal ini berbunyi : 1). Dari sudut pertanggungjawaban. 2). pada umumnya tiap-tiap peserta tidak berdiri sendiri-sendiri. setelah pada tahun 1925 (S. tetapi dengan ketentuan.243 244 materiil tidak dapat dijatuhi pidana (karena tidak ada kesalahan). jika tidak mengakibatkannya kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana itu disebabakan karenakehendaknya sendiri. Ruslan saleh) yang melihatnya dari dua sudut pandang : 1). Dari sudut perbuatan. mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan. tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri. jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana.l Prof. tidak mungkin ada penyertaan. atau jika percobaan itu tidak dipidana. 197 / jo Pasal diatas mengancam pidana terhadap pembujukan yang gagal dan juga yang tidak menimbulkan akibat. tetapi dipandang berdiri sendiri.500. Pandangan accessoiriteit yang terbatas ini sesuai dengan pandangan dualistis (a. Dengan demikian pasal ini menjadikan perbuatan “ pembujukan yang gagal” sebagai delik yang berdiri sendiri (delictum suigeneris). diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (sekarang menjadi Rp. artinya perumusannya dititikberatkan pada perbuatan si pembuat. jadi jika seseorang dengan . Aturan tersebut tidak berlaku. Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam pasal 55 ke-2. Persoalan percobaan pengajuran atau penganjuran yang gagal ini sekarang sudah tidak menjadi persolan lagi. 1925 No. asal saja pelaku atau peserta lainnya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang.

Misal : A menganjurkan B untuk menganiaya C dan akibat penganiayaan itu C mati. Bagaimanakah apabila B yang dianjuri langsung membunuh C. Menurut Prof. Jadi dapat juga dikenakan kepada “menyuruh lakukan / doenplegen yang gagal”. kalau penganiayaan ringan pasal 352 maksimumnya 3 bulan. asal saja sarana yang dipakai oleh si pembuat termasuk salah satu sarana untuk pembujukan yang tersebut dalam pasal 55 ayat (1) ke2. Dalam pasal 55 ayat (2) dinyatakan bahwa penganjur dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan yang sengaja dianjurkannya beserta akibatnya. Perlu diperhatikan bahwa dalam pasal 163 bis itu digunakan kata-kata “mencoba / berusaha menggerakkan orang lain untuk…”. yaitu kalau penganiayaan biasa pasal 351 (1). Moelyatno. Pertanggungjawaban si penganjur. kalau penganiayaan yang direncanakan pasal 351 (1) maksimumnya 4 tahun penjara dst. Apabila tidak terjadi atau gagalnya pengajuran A itu karena kehendak A sendiri. maka ia sudah dapat dipidana. Bagaimanakah apabila dalam melaksanakan anjuran A untuk menganiaya C itu. Maksimum pidana yang dapat dikenakan adalah maksimum pidana untuk penganiayaan yang terbukti sengaja dianjurkan oleh A. maksimumnya 2 tahun 7 bulan. yaitu pembujukan yang gagal untuk penganiayaan. dalam hal ini matinya C tidak dapat dipertanggungjawabkan pada A (Jadi tidak dapat dituduh berdasar pasal 55 jo 338). karena pembunuhan itu bukan dimaksud (disengaja) oleh A. maka pasal 163 bis tidak dapat dikenakan pada A. Namun demikian. e. jadi gagalnya pengajuran A karena kehendak orang yang ditujuk (B). Dalam hal ini pertanggungjawaban A bukan terhadap perbuatan “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan” (pasal 55 jo 351) tetapi “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan yang berakibat mati” (pasal 55 jo 351 ayat (3)).245 246 salah satu sarana yang tersebut dalam pasal 55 ke-2 itu berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan. A masih dapat dipertanggungjawabkan berdasrkan pasal 163 bis. pasal 163 biss (2) merupakan alasan penghapus penuntutan. Ketentuan pasal 163 bis juga dapat dipertanggungjawabkan pada A dalam hal B (yang dianjuri) tidak mau melaksanakan anjuran dari A walaupun mungkin ia sudah menerima sesuatu pemberian / hadiah dari A. B baru melaksankannya . Jadi maksimumnya bukan 6 tahun (perhatikan redaksi pasal 163 bis). Alasan penghapus pidananya tercantum dalam ayat (2).

Jadi masalah pokoknya berkisar pada sampai seberapa jauh “kesengajaan” menurut pasal 55 (2) itu dapat dipertanggungjawabkan kepada di pembujuk. apakah A dapat dipertanggungjawabkan ? Ada pendapat bahwa dalam hal ini A tidak dapat dipertanggungjawabkan karena matinya D bukan yang dikenhendaki (disengaja dianjurkan) oleh A. tetapi karena “penyimpangan sasaran” (aberretio ictus / afdwalirgsgevallen) tembakan B mengenai D. Tetapi dilihat dari pertanggungjawaban tidak accessoir. Sifat : Dilihat dari perbuatannya. Pendapat ini menghendaki adanya hubungan langsung antara kesengajaan si pembujuk dengan terjadinya delik yang dilakukan oleh orang yang dibujuk. maka perbuatan A tetap dapat disebut “membujuk untuk percobaan pembunuhan terhadap C” (pasal 55 jo 53 jo 338).247 248 sampai taraf percobaan penganiayaan tidak dipidana dan ini berarti “tidak terjadi percobaan kejahatan yanmg dipidana” seperti disebutkan dalam pasal 163 bis. apakah hanya bertanggung jawab terhadap “kesengajaan dengan maksud (yang langsung dituju)” atau meliputi juga seluruh corak kesengajaan. Kalau A membujuk B untuk membunuh C dengan menggunakan pistol. PEMBANTUAN (medeplichtige) a. Apabila pengertian “sengaja yang dianjurkan” dalam pasal 55 (2) meliputi juga dolus eventualis yang dilakukan oleh pembuat materiil. Jenis : Menurut pasal 56 KUHP. ada dua jenis pembantu : Jenis pertama :  Waktunya : Pada saat kejadian dilakukan. Penetuan hal ini dilakukan secara normative oleh Hakim. Pembantuan ini bersifat accessoir artinya untuk adanya pembantuan harus ada orang yang melakukan kejahatan (harus ada orang yang dibantu). 6. jadi karena tidak ada identitas (kesamaan) antara perbuatan yang dibujukkan dengan perbuatan yang benar–benar dilakukan. Artinya dipidananya pembantu tidak tergantung pada dapat tidaknya si pelaku dituntut pidana. . b. Bagaimanakah terhadap matinya D. maka dlam kasus diatas A juga dapat dipertanggungjawabkan terhadap matinya D apabila terbukti bahwa pada saat B (pembuat materiil) menembak C dapat dibayangkan kemungkinan tertembaknya orang lain (b) yang berada di dekat C.

 Caranya : Ditentukan secara limitatif dalam undang-undang (yaitu dengan cara : memberi kesempatan. Perbedaannya adalah sebagai berikut : Penganjuran Kehendak untuk melakukan kejahatan pada pembuat materiil ditimbulkan oleh si pengajur (ada kausalitas psikhis) Pembantuan Kehendak jahat pada pembuat materiil sudah ada sejak semula (tidak ditimbulkan oleh si pembantu). Terhadap pelanggaran tidak dipidana (pasal 60 KUHP). Pembantuan jenis kedua ini mirip dengan penganjuran (uitlokking).  Tidak harus ada kerja sama yang disadari (beweste samenwerking)  Tidak mempunyai Turut Serta Menurut ajaran obyektif : perbuatan merupakan perbuatan pelaksanaan (uitvoering shandelling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus coauctores (diarahkan untuk terwujudnya delik). . ditimbulkan oleh adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta. Sistem yang berasal dari hukm Romawi.249 250  Caranya : Tidak ditentukan secara limitatif dalam undang-undang Jenis kedua :  Waktunya : sebelum kejahatan dilakukan. Terhadap kejahatan maupun pelanggaran dapat dipidana. Maksimum pidananya dikurangi sepertiga (pasal 57-1). Pembantuan jenis pertama ini mirip dengan turut serta (medeplegen) perbedaannya sbb : Pembantuan Menurut ajaran penyertaan obyektif : perbuatannya hanya membantu / menunjang (ondersteuning shanling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus socii (hanya untuk memberi bantuan saja pada orang lain). yaitu : A. sendiri.  Harus ada kerja sama yang disadari (bewuste samenworking)  Mempunyai kepentingan / tujuan kepentingan / tujuan sendiri. Menurut system ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan. sarana atau keterangan). Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif. Maksimum pidananya sam dengan si pembuat.

B. ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. Menurut system ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya). Seperti telah dikemukakan. Dengan adanya dua bentuk penyertaan ini (yang dapat disamakan dengan pembagian autors dan complices di Prancis atau principals dan accessoir di Inggris. di Jerman dibedakan antara Tater (pembuat). - . Sistem. Karena tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sama. Sistem yang pertama ini terdapat dalam Code Penal Prancis dan dianut juga di Inggris. Menurut Prof Moelyatno. maka batas antara masing-masing bentuk penyertaan itu adalah prinsip sekali. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif. artinya harus ditentukan secara tegas. KUHP kita dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran karena : Dalam pasal 55 disebutkan “dipidana sebagai pembuat” dan dalam pasal 56 disebutkan “ dipidana sebagai pembantu”. maka batas antara bentukbentuk penyertaan tidaklah prinsip. Karena pertanggungjawaban para peserta itu berbeda. yang dijadikan titik berat untuk menentukan batas antara pelaku dengan para peserta diletakkan pada perbuatannya dan saat bekerjanya masing-masing (jadi bersifat obyektif). Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. berarti menganut system yang pertama. sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku. Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda. maka ini berarti dianut yang kedua. maka batas antara bentuk-bentuk penyertaan sama. maka jarang termasuk tater harus mempunyai tater-willen (niat untuk menganjurkan) dan yang termasuk Gehilfe harus mempunyai Gehilfewiller (niat untuk membantu orang lain). anstifter (penganjur) dan Gehilfe (pembantu). Adapun yang dijadikan batas antara masing-masing bentuk penyertaan dititik beratkan pada sikap batin masing-masing peserta. tergantung dari perbuatan yang dilakukan. Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. kedua ini dianut dalam KUHP Jerman dan Swiss. Akan tetapi apabila dilhat perbedaan pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat.251 252 tindak pidana itu sendiri. Berdasar teori subyektif.

tetapi cukup secara obyektif menurut bunyinya peraturan saja.Maksimum pidana poko untuk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1). Pasal 231 (3) : Pembantu dipidana lebih berat dari si pembuat.Apabila kejahatan diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. 3). KUHP mengamut system bahwa . Pengecualian terhadap prinsip ini terlihat dalam : a). tetapi cukup bahwa : . sehingga batas antara keduanya ditentukan menurut sikap batinnya. Pertanggungjawaban pembantu. (lihat juga pasal 415 dan 417). jadi sama dengan si pembuat (pasal 57 : 3). 1). maka maksimum pidana untuk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2). b). Perbedaan antara keduanya jangan dicari dalam sikap batin masing-masing. . Dalam hubungan ini yang penting adalah perbedaan antara orang yang menyuruh lakukan dan penganjur. Pidana tambahan untuk pembantu sama dengan ancaman terhadap kejahatannya itu sendiri. dan . c. maka konsekuensinya ialah : A). Prinsip ini terlihat didalam pasal 57 (1) dan (2) yaitu : . B). Perbedaan antara pembuat (dader) dan pembantu (megeplichtige)) adalah prinsipil. apabila orang yang disuruh tidak dapat dipidana sebagai pembuat karena dipandang tidak mempunyai kesalahan.Untuk menjadi orang yang menyuruh lakuka. yang turut serta dan yang menganjurkan.253 254 Selanjutnya dikemukakan oleh beliau. 2). apabila cara-cara yang digunakan untuk menganjurkan tersebut dalam pasal 55 (1) ke-2 dan si pembuat materiil dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pertanggungjawaban seorang pembantu. bahwa apabila pada dasarnya KUHP kita menganut system Code Penal (system pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut system KUHP Jerman (system kedua). Perbedaan dalam pasal 55 antara pelaku orang yang menyuruh lakukan. Pasal 333 (4) : Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. Ini berarti batas antara mereka yang tergolong dalam “daders” itu tidak perlu ditentukan secara subyetif menurut niatnya masing-masing peserta.Untuk menjadi pengajur sudah cukup. (lihat juga pasal 349). dalah tidak prinsipil. Pada prinsipnya KUHP menganut system bahwa pidana poko untuk pembantu lebih ringan dari pembuat.

ia berkelakuan seolah-olah (pura-pura) kehilangan kunci rumah A yang pada waktu itu lewat dan sama sekali tidak tahu bahwa B berdiri dimuka rumah orang lain dan telah merencanakan untuk mencuri. artinya kesengajaan si pembantu harus diarahkan pada kejahatan yang bersangkutan. tetapi ternyata digunakan oleh B untuk mencuri atau untuk membunuh. Dalam contoh-contoh diatas. pasal 284 : perzinahan. Unsur ini harus juga dipenuhi untuk : . bahwa system pemidanaan untuk pembantuan hendaknya dipakai system “facultative Minderbes Taftung / strafmilderung yaitu terserah pada hakim apakah terhadap pembantu pidananya akan dikurangi atau tidak. Pasal 345 : menolong orang lain untuk bunuh diri. 4). pasal 297 : bigamy 4.Doenplegen / menyuruh lakukan (dianalogikan dengan “membujuk”) . PENYERTAAN MUTLAK PERLU (NOODZAKELIJKE DEELNEMING / NECESSARY COMPLICITY). 6. menurut Vos.Medeplegen / turut serta (dianalogikan dengan “membantu”). Pasal 149 : Menyuap (membujuk) seseorang untuk tidak menjalankan haknya untuk memilih. A memberi gunting kepada B yang katanya untuk menggunting kain. Oemar sadji. PENYERTAAN DENGAN KEALPAAN (CULPOSE DEELNEMING) Misal : 1. Terhadap kasus serupa itu Karni juga berpendapat A tidak dapat dipidana karena adanya unsur “sengaja” didalam pasal 56 merupakan anasir subyektif dari pembantuan. 2. pasal 287 : melakukan hubungan kelamin dengan anak perempuan di bawah umur 15 tahun.255 256 pertanggungjawabannya berdiri sendiri (tidak bersifat accessoir). delik baru terjadi kalau ada orang lain (kawan berbuat) yang mau harus ada. Dalam contoh-contoh diatas. Ada pendapat dari Prof Moelyatno dan Prof. 3. Pada waktu B akan memasuki rumah C dengan maksud mencuri. Misal pasal 57 (4) dan 58. menolong B membuka kaca jendela sehingga B dapat masuk ke rumah C. artinya tidak digantungkan pada pertanggungjawaban si pembuat. A tidak dapat dipidana karena adanya untuk “membujuk” atau “membantu” menurut hukum pidana positif harus ada unsur sengaja. F. . E. 2. Misal : 1. Pasal 238 : membujuk orang untuk masuk dinas militer Negara asing. 5.

putusan Rv j Batavia 8-5-1930 3.putusan Rv j Senmarang 20-12-1937 2. tetapi yang dilakukan setelah terjadinya tindak pidana lain.putusan Rv j Batavia 20-3-1936 . 482 : delik penadahan. Membujuk untuk membujuk (pasal 55 jo 56).putusan Landraad Batavia 18-21936 . . . membantu untuk menganjurkan (pasal 56 jo 55) – putusan Hoge Raad 25-1-1950 DALAM AAN . 3. jadi istilah beliau dimasukkan dalam pengertian “noodzakelijke medeplegen” (turut serta yang diharuskan). Mengenai pasal 287. Karni menyebutnya dengan “istilah” bekerja bersama-sama yang diharuskan oleh penegasan delik . G. kami menyatakan tidak keberatan untuk memidana anak gadis tersebut. Inilah yang dimaksud dengan penyertaan yang tidak dapat dihindarkan atau penyertaan yang harus dilakukan.257 258 apabila kawan berbuat itu tidak ada maka delik itu tidak dapat dilakukan. karena yang dimaksud dengan istilah “bekerja / berbuat bersama-sama” oleh beliau adalah sama dengan istilah “turut serta” (medeplegen). membujuk untuk membantu (pasal 55 jo 56). 2. Dalam contoh-contoh diatas sebeanrnya juga merupakan bentuk penyertaan. tetapi ada juga yang menetapkan bahwa kawan pelakunya dapat dipidana. Kami mempersoalkan bagaimana apabila justru yang membujuk terjadinya delik itu adalah anak perempuan yang belum berumur 15 tahun itu ? terhadap hal ini. H. Misal : 1. pasal 223 : menolong orang melepaskan diri dari tahanan. 4. 481. Dalam il. pasal 221 : menyembunyikan penjahat. pasal 483 : menerbitkan tulisan / gambar yang dapat dipidana karena sifatnya.mu hukum pidana Jerman dikenal dengan istilah “Nachtaterschaft” atau “Begunstigung” (bentuk-bentuk “pemudahan”). Pasal 480. Dalam pasal-pasal diatas ada yang menetapkan bahwa dipidana hanya si pelaku. PERBUATAN PENYERTAAN PENYERTAAN (DEELNEMING DEELNEMINGSHANSELINGEN) Misal : 1. Mr. TINDAKAN-TINDAKAN SESUDAH TERJADINYA TINDAK PIDANA SEBAGAI DELIK YANG BERDIRI SENDIRI.

melakukan lebih dari 1 tindak pidana. Yang memandang sebagai masalah pemberian pidana a. I. Ada dua kelompok pandangan persoalan concursus : mengenai 1.l HazewinkelSuringa 2.259 260 Catatan : bagi mereka yang memandang “deelneming” sebagai “Tatbescandausdeh-nungsgrund”. jika satu orang. yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana pada orang tersebut. Namun bagi mereka yang memandangnya sebagi “strafausdehnungsgrund”. contoh-contoh diatas dipandang tidak mungkin atau janggal.l : Pompe. . BAB XII GABUNGAN TINDAK PIDANA (SAMENLOOP / CONCURSUS) Dalam suatu tindak pidana dikatakan telah terjadi suatu perbarengan dalam kondisi. Mezger. BEBERAPA PANDANGAN. contoh-contoh diatas dapat dimaklumi karena penyertaan dipandang sebagai “delichtum sui generic”. Moelyatno. Yang memandang sebagai bentuk khusus dari tindak pidana a. di mana untuk tindak pidana itu belumada putusan hakim diantaranya dan terhadap perkaraperkara pidana itu akan diperiksa serta diputus sekaligus.

. III. Catatan : Diantara perbuatanperbuatan yang dilakukan pada (concursus realis dan perbuatan berlanjut) narus belum ada keputusan hakim. perbuatan tersebut masingmasing merupakan kejahatan atau pelanggaran antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. terlepas dari unsur-unsur tanbahan (dikenal dengan jaran feit materiil). khususnya dalam hal terdakwa hanya melakukan perbuatan. 2. dan ada pula yang melihatnya dari sudut hukum yaitu yang dihubungkan dengan danya akibat / keadaan yang terlarang. PENGERTIAN 1. 3. Ada perbuatan berlanjut. PENGATURAN DIDALAM KUHP Didalam KUHP diatur dalam pasal 63 s/d 71 yang terdiri dari : 1. yaitu dipikikan terlepas dari akibatnya. secara fisik jasmaniah. Perbarengan peraturan (concursus Idealis) pasal 63.261 262 II. Menurut rumusan KUHP : Sebenarnya didalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus. Kesulitan ini timbul karena dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. apabila pasal 64 Seseorang melakukan beberapa. Menurut pendapat sarjana : Adanya istilah “perbuatan/feit” dalam pasal-pasal di atas menimbulkan masalah yang cukup sulit. pasal 63 (suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. namun demikian dari rumusan pasal-pasal diperoleh pengertian sbb :   Concursus Idealis. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) pasal 65 s/d 71. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum /Voortgezettehandeling) pasal 64. “perbuatan” (feit) itu ada meninjaunya secara materiil. 2.

TAVERNE Ada concursus Idealis . maka para sarjana mengemukakan beberapa pendapat : HAZEWINKEL-SURINGA Ada concursus Idealis apabila suatu perbuatan yang sudah memenuhi suatu rumusan delik. - Contoh : Oranga dalam keadaan mabuk mengendarai mobil diwaktu malam tanpa lampu. Dalam hal ini perbuatan hanya satu yaitu “mengendarai mobil”. perbuatan ini masuk pasal 294 (perbuatan cabul dengan anak sendiri yang belum cukup umur) dan pasal 287 (bersetubuh dengan wanita yang belim berusia 15 tahun diluar perkawinan).263 264 Sehubungan dengan kesulitan itu. disamping masuk 281 (melanggar kesusilaan di muka umum). tetapi dilihat dari sudut hukumada dua perbuatan yang masingmasing dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. mau tidak mau (eoipso) masuk pula dalam peraturan pidana lain. yaitu: . POMPE Ada concursus Idealis. Misalnya bersetubuh dengan anak sendiri yang belum berusia 15 th. apabila orang melakukan sesuatu perbuatan konkrit yang diarahkan kepada satu tujuan merupakan benda / obyek aturan hukum. apabila : Dipandang dai sudut hukumpidana ada dua perbuatan atau lebih. Misal : perkosaan dijalan umum. Antara perbuatanperbuatan itu tidak dapat dipikirkan terlepas satu sama lain.

Mengenai syarat “ ada satu keputusan kehendak”. VAN BEMMELEN Ada Concursus Idealis. maka tidak perlu perbuatanperbuatan itu sejenis. Khusus mengenai penjelasan M. Concursus Idealis (pasal 63). Misalnya untuk melampiaskan balas dendamnya kepada B. melanggar pasal 285 (12 th penjara) dan pasal 281 (2 tahun 8 bulan penjara). Menurut ayat 1 digunakan system absorbsi. Misal : perkosaan dijalan umum. asal perbuatan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan tujuan. A melakukan serangkaian perbuatan-perbuatan berupa meludahi. a). Simons . memukul dan akhirnya membunuh. Jadi dalam hal ini ada Concursus Realis. - Contoh : Perkosaan dijalan umum (melanggar pasal 285 & 281 KUHP). “mengendarai mobil dalam keadaan mabul” (menggambarkan keadaan orang / pelakunya) dan kedua “mengendarai mobil tanpa lampu diwaktu malam” (menggambarkan keadaan mobilnya).v. IV. apabila : Dengan melanggar satu kepentingan hukum.T mengenai criteria untuk adanya “perbuatan berlanjut” seperti dikemukakan diatas.265 266 Pertama. yaitu hanya dikenakan satu pidana pokok yang terberat. merobek bajunya. Dengan sendirinya melakukan perbuatan (feit) yang lain pula. SISTEM PEMBERIAN PIDANA / STELSEL PEMIDANAAN 1. mengartikannya secara umum dan lebih luas yaitu “tidak berarti harus ada kehendak untuk tiap-tiap kejahatan”. Simons tidak sependapat. Berdasar pengertian yang luas ini.

Menurut pasal 64 ayat (1). 1 tahun kurungan dan denda 5 juta rupiah. Dalam hal ini perbuatan A tidak dipandang sebagai concursus Realis. dalam hal ini berlaku adagium “lex specialis derogate legi generali” Contoh : seorang ibu membunuh anaknya sendiri pada saat anaknya dilahirkan. maka pidana yang terberat adalah 1 minggu penjara. b). Maksimum pidana penjara yang dikenakan ialah yang terdapat dalam pasal 341 (lex specialis) yaitu 7 tahun penjara. Misal A setelah memalsu mata uang (pasal 244 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun) kemudian menggunakan / mengedarkan mata uang yang palsu itu (pasal 245 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun). maka penetuan pidana yang terberat didasarkan pada urut-urutan jenis pidana seperti tersebut dalam pasal 10 (lihat pasal 69 ayat (1) jo pasal 10).267 268 Maksimum pidana penjara yang dapat dikenakan ialah 12 tahun. Perbuatan berlanjut (pasal 64). Apabila Hakim menghadapi pilihan antara dua pidana poko sejenis yang maksimumnya sama. dan jika berbeda-beda dikenakan satu aturan pidana. pada prinsipnya berlaku system absorbsi yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana. 2. tetapi tetap dipandang sebagai perbuatan berlanjut sehingga ancaman maksimum pidananya dapat dikenakan 15 tahun penjara . jadi misalnya memilih antara 1 minggu penjara. Pasal 64 ayat (2) merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang. Dalam pasal 63 ayat (2) diatur ketentuan khusus yang menyimpang dari prinsip umum dalam ayat (1). Perbuatan ibu ini dapat masuk dalam pasal 338 (15 tahun penjara dan pasal 341 (7 tahun penjara). Apabila menghadapi dua pilihan antara dua pidana pokok yang tidak sejenis. b). maka menurut VOS ditetapkan pidana pokok dengan tambahan yang paling berat. c). d). a). dan jika berbeda-beda dikenakan ketentuan yang memuat ancaman pidana pokok yang terberat.

Dalam hal ini yang dapat digunakan ialah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12 tahun penjara. 5 tahun dan 9 tahun. a. 250.269 270 c). tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum piudana yang terberat ditambah sepertiga. 372 (penggelapan). 379 (penipuan ringan) dan 407 (1) (perusakan barang ringan) yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut. Jadi disini berlaku system absorbsi yang dipertajam.maka menurut pasal 64 ayat (3) dikenakan aturan pidana yang berlaku untuk kejahatan biasa. berlaku pasal 65 yaitu hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari maksimum terberat ditambah sepertiga. karena melebihi jumlah maksimum pidana untuk masing-masing kejahatan tersebut. Dalam hal ini. Pasal 64 ayat (3) merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatn ringan yang terdapat dalam pasal 364 (pencurian ringan). A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan dua tahun penjara. Berarti yang dikenakan adalah pasal 362 (pencurian). Misal : 1). . Misal :  A melakukan 3 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 4 tahun. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok sejenis.masing diancam pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah ancaman pidananya yaitu 10 tahun penjara.. Apabila nilai kerugian yang timbul dari kejahatan-kejahatn ringan yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut itu lebih dari Rp. system ini disebut system Kumulasi yang diperlunak. b. 373 (penggelapan ringan). Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok tidak sejenis berlaku pasal 66 yaitu semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan. 378 (penipuan) atau 406 (perusakan barang). Concursus Realis (pasal 65 s/d 71). 3.  A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing.

Dengan demikian apabila diikuti perhitungan menurut Blok di atas maka jumlah maksimum 8 bulan dapat dipecah misalnya menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan denda 60/134 x Rp.271 272 Dalam hal ini semua jenis pidana (penjara dan kurungan) harus dijatuhkan.(yaitu 50 sen dikalikan 15) jadi untuk denda Rp. 1. 1.000. 2).Menurut Noyon semuanya harus dijatuhkan yaitu 6 bulan penjara dan denda Rp. Dengan demikian pidana yang dijatuhkan misalnya terdiri dari 2 tahun penjara dan 8 bulan kurungan.? mengenai hal ini ada dua pendapat : .-. 333.000.50.000. tiap denda 50 sen atau kurang dihitung sama dengan satu hari kurungan pengganti.76. 1. Adapun maksimumnya adalah 2 tahun ditambah (1/3 x 2) tahun = 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan.000.. Bagaimanakah dalam hal A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam 6 bulan penjara dan denda Rp.= Rp. maka untuk denda Rp.- - - - - (atau dibulatkan menjadi Rp.-_ Perhitungan blok mengenai jumlah pidana kurungan pengganti di atas masih didasarkan pada perhitungan lama sebelum adanya perubahan pidana denda 15 kali menurut UU No. Dengan demikian maksimumnya ialah 6 + (1/3 x 6) bulan = 8 bulan.. 1.= Rp..kurungan penggantinya sama dengan 134 hari (dibulatkan). Menurut perhitungan lama. 1. 1. 334. maka 1 hari kurungan pengganti dihitung sama dengan Rp. Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan maka 6 bulan ini dipecah menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan 1/3 x Rp.Menurut blok perhitungannya sbb : pidana denda dijadikan dulu pidana kurungan pengganti yaitu maksimum 6 bulan (lihat pasal 30 KUHP). . .447.maksimumnya kurungan penggantinya 6 bulan. tetapi karena menurut pasal 30 (3) maksimum kurungan pengganti 6 bulan.000... Dengan telah adanya perubahan pidana denda.000. 18 tahun 1960. 7.30.

. maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini mengenai c.273 274 3). Misal :  A melakukan pencurian ringan (pasal 364) dan penggelapan ringan (pasal 373) yang masing-masing diancam pidana 3 bulan penjara. berlaku pasal 71 yang berbunyi sbb: “Jika seseorang setelah dijatuhi pidana kemudian dinyatakan salah lagi karena melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan pidana itu. khusus untuk pasal 302 (1). Untuk Concursus Realis berupa pelanggaran. Bagaimanakah dalam hal A melakukan dua jenis kejahatan yang terdapat dalam pasal 351 (diancam pidana 2 tahun 8 bulan penjara atau denda Rp. maka maksimum pidana kurungan yang dapat dijatuhkan bukanlah (9+9) bulan = 18 bulan. 373. maka maksimumnya bukan 9 bulan penjara (kumulasi) tetapi 8 bulan penjara. Kalau dipilih ancaman pidana yang sejenis. baik kejahatan maupun pelanggaran untuk diadili pada saat berlainan. system kumulasi itu dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan. Untuk Concursus Realis. Untuk Concursus Realis berupa kejahatan ringan. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah 6 bulan penjara (system kumulasi). Misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam piadan kurungan 6 bulan dan 9 bulan. Namun menurut pasal 70 ayat 2. tetapi maksimumnya adalah 1 tahun 4 bulan atau hanya 16 bulan. berlaku pasal 70 yang menggunakan system kumulasi. 4. Jadi misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam pidana kurungan 9 bulan. e. 352. 379 dan 482 berlaku pasal 70 bis yang menggunakan system kumulasi tetapi dengan pembatan maksimum untuk penjara 8 bulan. maka maksimumnya adalah (6+9) bulan = 15 bulan. maka digunakan system absornsi yang dipertajam / diperberat (pasal 65).  Tetapi apabila A misalnya melakukan 3 kejahatan ringan yang masingmasing diancam pidana penjara 3 bulan. d.-) dalam pasal 360 (diancam pidana 5 tahun penjara atau 1 tahun kurungan ? Dalam hal ini hakim harus mengadakan “pilihan hukum” terlebih dahulu.500. 364.

Dengan contoh diatas. Andaikata untuk keempat tindak pidana itu. Misal : A melakukan kejahatan-kejahatan sbb :  Tgl. 1/1 : pencurian (pasal 362. Kemudian A ditangkap dan diadili dalam satu keputusan. . 5/1 : penganiayaan biasa (pasal 351 diancam 2 tahun 8 bulan). maka jika kemudian ternyata bahwa A pada tanggal 14/1 (jadi sebelum ada keputusan) melakukan penggelapan (pasal 372 yang diancam pidana penjara 4 tahun). ancaman pidana 5 tahun penjara).  Tgl. hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara. maka keputusan yang kedua kalinya ini untuk penggelapan itu paling banyak hanya dijatuhi pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan (putusan sekaligus) dikurangi 6 tahu (putusanI) yaitu 8 bulan penjara.275 276 hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama”. diancam 4 tahun penjara). 10/1 : penadahan (pasal 480. dapatlah bunyi pasal 71 diatas dirumuskan secara singkat sbb : Putusan ke II = (putusan sekaligus) – (putusan ke-I). 20/1 : penipuan (pasal 378.  Tgl. diancam 4 tahun penjara).  Tgl. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah 5 tahun + (1/3 x 5 tahun) = 6 tahun 8 bulan.

Sehingga. M. tidak dihukum.v. Berdasarkan sifatnya ini maka UU pidana mengandung kemungkinan akan dijatuhkannya hukuman yang adil bagi orang-orang tertentu yang mungkin saja tidak bersalah. karena menurut Utrecht. yakni : a. Dengan demikian materi ini menjadi penting untuk memperoleh kepastian dan keadilan hukum dalam penyelesaian suatu perkara pidana. karena : 1) Orangnya tidak dapat dipersalahkan.T dari KUHP (Belanda) dalam penjelasannya mengenai alasan mengahpus pidana ini. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena sakit (pasal 44 KUHP) b. meskipun orang tersebut melakukan suatu tindakan sesuai dengan lukisan perbuatan yang dilarang oleh UU pidana. Pembicaraan selanjutnya akan mengenai alasan penghapus pidana.T menyebut 2 (dua) alasan :  Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang itu (inwendig). UU pidana mengatur hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotesis. aialah alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik. Umur yang masih muda (mengenai umur yang masih muda ini di Indonesia dan juga di negeri Belanda sejak tahun 1905 tidak lagi merupakan lasan penghapus pidana Dalam hukum pidana perlu dikemukakan materi tentang alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannya hukuman.277 278 BAB XIII ALASAN / DASAR PENGHAPUS PIDANA (Strafuitsluitingsgrond. mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasanalasan tidak dapat dipidananya seseorang”.v. M. masih menurut Utrecht. UU pidana seperti UU lainnya mengatur hak-hal yang umum dan yang akan terjadi (mungkin akan terjadi). Alasan atau Dasar Penghapusan Pidana merupakan hal-hal atau keadaan yang dapat mengakibatkan seseorang yang telah melakukan . mengurangkan dan memberatkan pidana”. Bab I dan Bab II KUHP memuat : “ Alasan-alasan yang menghapuskan. Grounds Of Impunity) perbuatan yang dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Pidana (KUHP). tidak dapat dipidana. 2) Perbuatannya tidak lagi merupakan perbuatan yang melawan hukum.

rechtfertigungsgrund). Pasal 221 ayat (2) : menyimpan orang yang melakukan kejahatan dan sebagainya”. meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan dan dapat dipidananya pembuat. Alasan penghapus pidana yang khusus (starfuitingsgronden yang khusus). entschuldigungsdrund. pasal 50 (peraturan perundangundangan) dan pasal 51 (1) (perintah jabatan). maka orang tersebut harus melaporkan.279 280  melainkan menjadi dasar untuk memperingan hukuman). yaitu yang berlaku umum untuk tiap-tiap delik dan disebut dalam pasal 44. yaitu: a. Alasan penghapus pidana yang umum (starfuitingsgronden yang umum). fait justificatif. b) Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan (schulduitsluittingsgrond-fait d’excuse. II.v. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar orang itu (uitwendig). 49. 50 dan 51 KUHP. Disini ia tidak dituntut jika ia hendak menghindarkan penuntut dari istri. ilmu pengetahuan hukm Pidana juga mengadakan pembedaan sendiri. 2. Selain perbedaan yang diterangkan dalam M. 48. ialah : 1. Melaksanakan perintah jabatan (pasal 51). Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan atau pembuatnya. Alasan pembenar yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 48 (keadaan darurat). d. Pasal 166 KUHP : “Ketentuan-ketentuan pasal 164 dan 165 KUHP tidak berlaku pada orang yang karena pemberitahuan itu mendapat bahaya untuk dituntut sendiri dst………………………………………” Pasal 164 dan 165 memuat ketentuan : bila seseorang mengetahui ada makar terhadap suatu kejahatan yang membahayakan Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain. misal : I. Alasan pembenar menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. yaitu yang hanya berlaku unutk delik-delik tertentu saja. Daya paksa atau overmacht (pasal 48).T. Alasan pemaaf menyangkut pribadi si pembuat. dalam arti bahwa orang ini tidak dapat dicela (menurut hukum) . schuldausschliesungsgrund). c. Kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak mungkin ada pemidanaan. Negara dan Kepala Negara. Melaksanakan Undang-undang (pasal 50). suami dan sebagainya (orang-orang yang masih ada hubungan darah). Pembelaan terpaksa atau noodweer (pasal 249). b. pasal 49 ayat (1) (pembelaan terpaksa). maka dibedakan dua jenis alasan penghapus pidana : a) Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond.

281 282 dengan perkataan lain ia tidak bersalah atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. TIDAK MAMPU BERTANGGUNG JAWAB (PASAL 44) : Pasal 44 KUHP memuat ketentuan bahwa tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan DAYA PAKSA-OVERMACHT (PASAL 48 KUHP). Seperti diketahui M. Jadi disini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat. 50 dan 51 KUHP. sehingga tidak mungkin pemidanaan. Pelaku akan diperiksa oleh seorang ahli (yang akan menyampaikan catatan medis). Penafsiran bisa . yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. pasal 49 ayat (2) (noodweer exces). maka kita memerlukan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu yaitu psikiatri forensic. Tidak adanya kemampuan bertanggung jawab mengahpuskan kesalahan mekipun perbuatannya tetap melawan hukum. selanjutnya dari hasil tersebut akan disampaikan di muka persidangan. pasal 51 ayat (2) (dengan itikad baik melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah). sehingga dalam hal ini dapat dikatakan suatu alasan penghapus kesalahan. Pasal 48 KUHP menentukan : “ tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. Apa yang diartikan dengan daya paksa ini dapat dijumpai dalam KUHP. (Mengenai pasal 44 KUHP ini hendaknya dilihat lagi Bab Kemampuan Bertanggung jawab yang membahas tentang kesalahan dan pertanggung jawaban pidana). Untuk membuktikan apakah seseorang yang melakukan tindakpidana ternyata tidak dapat dihukum dengan lasan pasal 44 KUHP. Adapun mengenai pasal 48 (daya paksa) ada dua kemungkinan.T menyebutkan sebagai tak dapat dipertanggung-jawabkan karena sebab yang terletak didalam si pembuat sendiri. dapat merupakan alasan pembenar dan dapat pula merupakan alasan pemaaf. ALASAN PENGHAPUS PIDANA (UMUM) DALAM KUHP.v. 49. meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum. Alasan pemaaf yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 44 (tidak mampu bertanggungjawab). 48. Uraian berikut membahas tentang dasar penghapus pidana yang terdapat dalam pasal 44.

untuk menyerahkan uang yang disimpan oleh B. memberi sifat kepada tekanan atau paksaan itu. Daya paksa yang absolute vis absoluta dapat disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam. Hal yang disebut terakhir ini. melainkan apa yang dapat diharapkan dari seseorang secara wajar. ia tidak menyerahkan dan ditembak mati. Istilah “gedrongen” (didorong) menunjukkan bahwa paksaan itu tak dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan. Pada overmacht (daya paksa) orang ada dalam keadaan dwangpositie (posisi terjepit). bahwa menurut akal sehat tak dapat diharapkan dari si pembuat untuk mengadakan perlawanan. Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar kewajibannya untuk menyimpan surat-surat berharga itu dan menyerahkannya kepada A atau sebaliknya. . Antara sifat dari paksaan di satu pihak dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak harus ada keseiombangan. Contoh : tangan seseorang dipegang oleh orang lain dan dipukulkan pada kaca. Yang dimaksud denganm daya paksa dalam pasal 48 ialah daya paksa relative (vis complusiva). vis compulsive (paksaan yang relatif). Maka dalam overmacht (daya paksa) dapat dibedakan dalam du hal : 1. Yang dimaksud dengan daya paksaan disini bukan paksaan mutlak. Dalam M. (Prof. Perlawanan terhadap paksaan itu tak boleh disertai syarat-syarat yang tinggi sehingga harus menyerahkan nyawa misalnya. sehingga kaca pecah. Kalimat “tidak dapat ditahan” menunjukkan.T dilukiskan sebagai : “setiap kekuatan. Contoh : A mengancam B. B dapat menolak. yang tak dapat ditahan”. Jadi harus ada kekuatan (daya) yang mendesak dia kepada suatu perbuatan yang dalam kata lain tak akan ia lakukan. kasir bank. Sifat dari daya paksa ialah bahwa ia datang dari luar diri si pembuat dan lebih kuat dari padanya.v. dengan meletakkan pistol di dada B. vis absoluta (paksaan yang absolut). Ia ada ditengah-tengah dua hal yang sulit yang sama-sama buruknya. Moelyatno hanya menyebut “karena penagruh daya paksa”). Keadaan ini harus ditinjau secara obyektif. Dalam hal ini paksaan tersebut sama sekali tak dapat ditahan. jadi tak ada paksaan absolut. masuk akal dan sesuai dengan keadaan. 2. yang tidak memberi kesempatan kepada si pembuat menentukan kehendaknya. dan jalan lain juga tidak ada. B dapat berpikir dan menentukan kehendaknya. Maka orang yang pertama tadi tak dapat dikatakan telah melakukan perusakan benda (pasal 406 KUHP). setiap paksaan atau tekanan yang dapat ditahan”.283 284 dilakukan dengan melihat penjelasan yang diberikan oleh pemerintah ketika undang-undang (Belanda) itu dibuat.

maka kedua-duanya akan tenggelam. tanpa melihat sampai di mana si pembuat dapat di cela atas perbuatannya. Maka untuk menyelamatkan diri. Mereka tak mau taat pada undang-undang dan ingin mengikuti pandanganya sendiri mengenai keadilan dan kesusilaan yang menyimpang dari ketenatuan undang-undang. paksaan itu datang dari hal di luar perbuatan orang KUHP kita tidak mengadakan pembedaan tersebut. KEADAAN DARURAT-NOODTOESTAND (PASAL 48 KUHP). Orang yang mendorong tersebut tidak dapat dipidana. Dalam vis compulsiva (daya paksa relative) kita dibedakan daya paksa dalam arti sempit (atau paksaan psikis) dan keadaan darurat. padahal papan itu tak dapat menahan dua orang sekaligus. yang diatur dalam pasal 54 SGB. Ada dua orang yang karena kapalnya karam hendak menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sebuah papan.  Keberatan hati nurani (terhadap masuk dinas tentara) bukan keadaan darurat. Misal : . karena ada dalam keadaan darurat. terdapat 3 bentuk dari keadaan darurat : I. II. namun menurut hukum perbuatan ini karena dapat difahami bahwa merupakan naluri setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Namun di Belanda sejak tahun lima puluhan ada perubahan pandangan. seorang diantaranya mendorong temannya sehingga yang di dorong mati tenggelam dan yang mendorong terhindar dari maut (cerita ini berasal dari CICERO). 52 SGB) dan keadaan darurat disebut notstand. Menurut doktrin.285 286 Paksaan Dario dalam : Kita mengambil contoh dari Arrest H. Hal ini tidak bisa diterima. orang yang tak mau masuk dinas tentara karena suara hati atau hati nuraninya keberatan tetap dihukum. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum. Di Jerman untuk daya paksa ada istilah notigungstand (pasa. Kalau keduaduanya tetap berpegangan pada papan itu.  Hakim tidak boleh begitu saja mengabaikan alasan keberatan hati nurani. Dalam Arrest ini. Daya paksa dalam arti sempit ditimbulkan oleh orang sedang pada keadaan darurat.R tgl 26 Juni 1916 (Arrest “tak mau masuk tentara”). Ia harus memeriksa kemungkinannya masuk kedalam alasan penghapusan pidana yang umum. Mungkin ada orang yang memandang perbuatan itu bertentangan dengan norma kesusilaan. Pertentangan antara dua kepentingan hukum : Contoh klasik : “papan dari carneades”.

tak dapat diterima oleh H. 15 Oktober 1923). Seorang pemilik toko kacamata kepada seorang yang kehilangan kacamatanya. Padahal pada saat itu menurut peraturan penutupan took sudah jam tutup took. (kota pelabuhan) terjangkit penyakit kelamin. Permintaan kasasi oleh jaksa terhadap putusan hakim yang menyatakan bahwa. 26 November 1916).R (putusan tgl. 2. Oleh pengadilan tentara ia dikenakan hukuman 1 (satu) hari. Disini dihadapkan pada dua kewajiban hukum :  Melaksanakan perintah dari atasannya (sebagai tentara)  Memegang teguh rahasia jabatan sebagai dokter.287 288 1. Terdakwa ada dalam keadaan darurat. lalu masuk atau melewati rumah orang lain guna menyelamatkan barang-barangnya. sebab dengan memberi laporan pada atasannya ia berarti melanggar sumpah jabatan sebagai dokter yang harus merahasiakan semua penyakit dari para pasiennya. dan mahkamah tentara tinggi membebaskannya karena ia ada dalam keadaan darurat (putusan tgl. tetapi dokter tadi naik banding. VAN HATTUM dalam hal 351 membandingkan daya memaksa dengan noodtoestand sebagai berikut : Pada daya memaksa dalam arti sempit si pembuat berbuat atau tidak berbuat III. Ia merasa dalam keadaan seperti itu mempunyai kewajiban untuk menolong sesame (Arrest ini disebut Arrest optician). Orang yang sedang menghadapi bahaya kebakaran rumahnya. b) Seorang yang dalam satu hari (pada waktu yang bersamaan) dipanggil menjadi saksi di dua tempat. jadi ia tetap patuh pada sumpah kedokteran. Di sini ia memilih tetap merahasiakan penyakit pasiennya. maka penjual kacamata dapat dikatakan bertindak dalam keadaan memaksa dan khususnya dalam keadaan darurat. sehingga betul-betul dalam keadaan sangat memerlukan pertolongan. Ia memberatkan salah satu. Pertentangan antara kewajiban hukum dangan kewajiban hukum : a) Seorang perwira kesehatan (dokter angkatan laut) diperintahkan atasannya untuk melaporkan apakah ada para perwira-perwira laut yang bebas tugas dan berkunjung ke darat . Dokter tersebut tak mau melaporkan pada atasan. terdakwa (opticien) tak dapat dipidana dan melepas terdakwa dari segala tuntutan. sehingga pemilik took dilarang melakukan penjualan. Namun karena si pembeli itu ternyata tanpa kacamata tak dapat melihat.

Perbuatan orang yang membela diri itu seolah-olah mempertahankan haknya sendiri.289 290 dikarenakan satu tekanan psikis oleh orang lain atau keadaan. c. Ia dororng oleh paksaan psikis dari luar yang sedemikian kuatnya. Tidak terhadap semua serangan dapat diadakan pembelaan. Bagi si pembuat tak ada penentuan kehendak secara bebas. Serangan itu dapat merupakan tindak pidana. sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan. dan harta benda 2. subsidiaritas maksudnya tidak ada cara lain selain membela diri dan proporsionalitas artinya seimbang antara serangan dan pembelaan. BELA PAKSA-PEMBELAAN DARURAT-NOODWEER (PASAL 49 AYAT (1)). misalnya dengan tinju . memenuhi asas subsidiaritas & proporsionalitas. nyawa. adanya serangan. Pada keadaan darurat si pembuat ada dalam suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong dia untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap undang-undang. Tidaklah dapat diharapkan dari seorang warga Negara menerima saja suatu perlakuan yang melawan hukum yang ditujukan kepada dirinya. Dalam pembelaan darurat ada dua hal yang pokok : 1. tapi hal ini tidak perlu asal saja memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diatas. membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melwan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga”. d. melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut : melawan hukum seketika dan langsung ditujukan pada diri sendiri / orang lain terhadap badan / tubuh. Padahal Negara dengan alat-alat perlengkapannya tidak dapat tepat pada waktunya melindungi kepentingan hukum dari orang yang diserang itu : maka pembelaan diri ini bersifat menghilangkan sifat melawan hukum. a. seketika dan langsung b. kehormatan seksual. Syarat pembelaan : a. ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu. b. Contoh serangan yang tidak merupakan tindak pidana. Pasal 49 ayat (1) berbunyi :”tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dialkukan untuk membela dirinya sendiri atau orng lain. Istilah noodmeer atau pembelaan darurat tidak ada dalam KUHP sehingga untuk memahaminya kita memerlukan ajaran dari para ahli hukum pidana .

yakni menunggu belum dapat dikatakan serangan. disini kesengajaan dihilangkan karena orang mengira bahwa dia berada dalam keadaan di mana harus mengadakan pembelaan darurat dalam hal ini harus di lihat peristiwa dari peristiwa oleh karena itu maka harus diterangkan dalam proses verbal. Sifat keadaan darurat tidak ada keseragaman pendapat dari pada penulis yakni ada yang berpendirian sebagai alasan pemaaf dan ada sebagai alasan pembenar. Tentu saja perbuatan B itu harus dilihat dalam keadaan yang menyertai perbuatan itu. Terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak mungkin ada pembelaan darurat. 4. Dalam keadaan darurat dapat dilihat adanya perbenturan antara kepentingan hukum. ialah : jika dapat dicegah atau dihilangkan. Kalau misal A menembak B tidak kena dan A tidak menunjukkan akan menembak lagi.291 292 menyerbu seseorang. sedang dalam pembelaan darurat. Dalam hubungan pembelaan darurat ini ada satu perbuatan orang yang disebut putatief noodweer. sedang dalam pembelaan darurat para penulis memandang sebagai alasan pembenar ialah sebagai penghapus sifat melawan hukum. sedang dalam pembelaan darurat harus ada serangan. Persoalan yang timbul pada serangan ialah : kapankah ada serangan dan kapankah serangan itu berakhir ? Sebagai contoh : A menunggu B di luar rumah. . tetapi B lalu membalas. Dalam keadaan darurat orang dapat bertindak berdasarkan berbagai kepentingan atau alasan sedang dalam pembelaan darurat. Kapan serangan itu ada dan kapan serangan itu berlangsung menurut Hazewinkel-Suringa. kepentingan hukum dan kewajiban hukum serta kewajiban hukum dan kewajiban hukum. maka perbuatan A tersebut. pembelaan itu syarat-syarat sudah ditentukan secara limitative (pasal 49 ayat (1)). dengan perkataan lain dalam keadaan darurat hak berhadapan dengan hak. 3. dalam keadaan darurat tidak perlu adanya serangan. hak berhadapan dengan bukan hak. Sebagai contoh : pembunuh dengan pisau terhunus menyerbu korbannya. Apakah perbedaan pembelaan darurat ? antara keadaan darurat dan 1. karena disini terjadi serangan balasan. maka perbuatan b itu bukanlah perbuatan pembelaan karena terpaksa. 2. mengambil catatan untuk di fotocopy guna kepentingan majikannya tapi tidak untuk dimiliki sendiri. Dalam pembelaan daruart situasi darurat ini ditimbulkan oleh adanya perbuatan melawan hukum yang bisa dihadapi secara sah. Istilah mengancam seketika dan langsung berarti bahwa serangan itu sedang berlangsung dan juga bahaya serangannya.

Disini pembelaan itu perlu dan harus diadakan dan tidak ada jalan lain untuk bertindak. Untuk adanya kelampauan batas pembelaan darurat ini harus ada syarat-syarat sebagai berikut : 1. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang sangat panas). Cara dan alat tersebut harus dibenarkan pula oleh keadaan. pasal 49 ayat (2) dan ayat (1) itu mempunyai hubungan yang erat. Disini juga yang perlu dilihat apakah serangan itu dapat menimbulkan akibat kegoncangan jiwa yang hebat bagi orang biasa pada umumnya.293 294 BELA PAKSA LAMPAU-NOODWEER EXCES (PASAL 49 AYAT 2 KUHP) (pelampauan batas pembelaan darurat atau bela paksa lampau batas) Istilah exces dalam pembelaan darurat tidak dapat kita jumpai dalam pasal 49 ayat (2). yang dimaksud dengan UU ialah : undang-undang dalam arti formil. maka syarat pembelaan yang tersebut dalam pasal 49 ayat (1) disebut sebagai syarat dalam pasal 49 ayat (2). jika perbuatan itu merupakan akibat langsung dari suatu kegoncangan jiwa yang hebat yang disebabkan oleh serangan itu”. Pasal tersebut bunyinya : “tidak dipidana seseorang yang melampaui batas pembelaan yang diperlukan. Mulamula Hoge Raad (HR) menafsirkan secara sempit. Tetapi kemudian pendapat HR berubah dan diartikan dalam arti materiil. dengan kata lain : antara kegoncangan jiwa tersebut dan serangan harus ada hubungan kausal. melampaui asas subsidairitas dan proporsionalitas seperti yang diisyaratkan dalam pasala 49 ayat (1) KUHP. bingung. hasil perundang-undangan dari DPR dan/atau raja. Dalam hubungan ini persoalannya adalah apakah perlu bahwa peraturan perundang-undangan itu menentukan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan sebagai pelaksanaan. apabila peraturan itu memberi wewenang untuk kewajiban . dan mata gelap. Yang menyebabkan kegoncangan jiwa yang hebat itu harus penyerangan itu dan bukan misalnya karena sifat mudah tersinggung. yaitu tiap peraturan yang dibuat oleh alat pembentuk undang-undang yang umum. Sifat dari noodweer exces adalah menghapuskan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). Termasuk disini adalah rasa tajut. Dalam hala ini umumnya cukup. 3. 2. Kelampauan batas pembelaan yang diperlukan. kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan. MENJALANKAN PERINTAH (PASAL 50 KUHP). jadi sabagai alasan pemaaf sementara perbuatannya tetap bersifat melawan hukum. UNDANG-UNDANG Pasal 50 KUHP menentukan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan”.

Maka jika seorang melakukan perintah yangsah ini maka ia tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum. Sesuai pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatan yang sah”. maka orang dapat melaksanakan undang-undang sendiri. Contoh kasus : seorang Letnan Polisi diperintah oleh Kolonel Polisi untuk menangkap pelaku tindak pidana. Dengan perkataan lain kewajiban / tugas itu diperintahkan oleh peraturan undang-undang. Misalnya : Pejabat polisi. Jadi dalam tindakan ini seperti dalam daya memaksa dan dalam pembelaan darurat harus ada keseimbangan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara pelaksanaannya. sehingga pasal 50 tersebut merupakan alasan pembenar. MELAKSANKAN PERINTAH JABATAN (PASAL 51 AYAT (1) DAN (2)).295 296 tersebut dalam melaksanakan perundang-undangan ini diberikan suatu kewajiban. Colonel polisi tersebut berwenang untuk memerintahkannya. tidak dapat berlindung dibawah pasal 50 KUHP ini. Jadi dalam hal ini letnan polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan yang sah. untuk dapat membebaskan diri dari tuntutan hukum. wajar dan masuk akal. meskipun sifatnya sementara. yang menembak mati seorang pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas karena tidak mau berhenti tanda peluitnya. Yang diperbolehkan adalah tindakan eksekutor yang melaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati. Jadi untuk dapat menggunakan pasal 50 ini maka tindakan harus dilakukan secara patut. wewenang atau kewajiban yang didasarkan kepada suatu peraturan. Bilamanakah perintah itu dikatakan sah ? apabila perintah itu berdasarkan tugas. misalnya seperti permintaan bantuan oleh pamong praja kepada angkatan bersenjata (sesuai pasal 413 KUHP). akan tetapi juga dapat menyuruh orang lain untuk melaksankannya. Kejengkelan pejabat tersebut tidak dapat membenarkan tindakannya. Kadang-kadang dalam melaksanakan peraturan undang-undang dapat bertentangan dengan peraturan lain. Dalam hal ini dipakai pedoman : “lex specialis derogate legi generaki” atau “lex posterior derogate legi priori”. Perbuatan orang yang menjalankan peraturan undangundang tidak bersifat melawan hukum. Dalam hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat dijumpai adannya kewajiban dan tugas-tugas/wewenang yang diberikan pada pejabat/orang untuk bertindak. pula harus seimbang dan tidak boleh melampaui . Dalam pasal 51 inipun cara melaksanakan perintah harus patut dan wajar. Anatar orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub-ordinasi (hubungan atasan dan bawahan).

sebabnya ialah pengeluaran dari pemerintah sudah ditentukan pos-pos tertentu. yang tidak masuk dalam mata-anggaran. 2. apabila memenuhi syarat : 1. karena memukul seorang tahanan tidak termasuk wewenang dari seorang anggota polisi. Perintah jabatan ini adalah alasan pembenar. Catatan : Mengenai ketaatan seorang bawahan kepada atasannya Hazewinkel-Suringa mengatakan. Keadaan tersebut adalah merupakan alasan pemaaf. Contoh lainnya : Seorang kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk memukuli seorang tahanan yang menjengkelkan. bahwa ketaatan yang membuta tidak mendisculpeert” (tidak patut di pidananya perbuatan).297 298 batas kepatutan. tetapi ternyata perintah tidak beralasan atau tidak sah. perintah itu berada dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah. jika ia mengira dengan itikad baik bahwa perintah itu sah. Dalam keadaan ini perbuatan orang ini tetap bersifat melawan hukum. akan tetapi pembuatnya tidak dipidana. Contoh lainnya : Seorang kepala kantor memerintahkan kepada bendaharawan untuk mengeluarkan sejumlah uang guna sesuatu pembelian. Syarat pasal 51 ayat (2) KUHP. karena ia patut menduga bahwa perintah itu tidak sah. Andaikata bendaharawan tiu melaksanakan perintah tersebut tapa akibatnya ? perintah tersebut tidak sah karena pembelian mobil itu tidak termasuk dalam wewenang bendaharawan tersebut. dikatakan melakukan perintah jabatan yang tidak sah menghapuskan dapat dipidananya seseorang. misal : mobil. tetapi behubung dengan keadaan pribadinya maka ia tidak dapat dipidana. Sifat dari perbuatan seorang yang melakukan perbuatan karena perintah jabatan yang tidak sah ialah : perbuatannya tetap perbuatan yang melawan hukum. Andaikata bawahan ini mengira bahwa perintah itu sah maka ia tetap dapat dipidana. Disini bendaharawan itu dapat dipidana. Disini agen polisi tidak dapat dipidana karena : ia patut menduga bahwa perintah itu sah dan pelaksanaan perintah itu ada dalam batas wewenangnya. . Sebagai contoh : seorang agen polisi mendapat perintah dari kepala kepolisian untuk menangkap seorang agitator dalam suatu rapat umum atau umumnya seorang yang dituduh telah melakukan kejahatan.

hak yang timbul dari pekerjaan (beroepsrecht) seorang dokter. hak dari orang tua. ijin atau persetujuan dari orang yang dirugikan kepada orang lain mengnai suatu perbuatan yang dapat dipidana. tidak adanya kesalahan sama sekali (avas. Ia dapat berlindung pada “taksi” (avas). ALASAN AVAS. mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming). e. misalnya : a. Dapatkah orang tersebut dipidana ? sesuai dengan pendapat MJ van Bemmelen orang tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. f. Dimuka telah dibicarakan tentang alasan penghapus pidana yang berupa alasan pembenar dan pemaaf (atau alasan penghapus kesalahan) yang terdapat dalam KUHP. diluar undang-undang pun ada alasan penghapus pidana. apabila dilakukan tanpa ijin atau persetujuan (consent of the victim). b. bidan dan penyelidik ilmiah (misalnya untuk vivisectie). tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang materiil (arrest dikter hewan). gurur untuk menertibkan anakanak atau anak didiknya (tuchtrecht). apoteker. Menurut Jan Remmelink. PENGHAPUS PIDANA PUTATIEF DAN penghapus pidana yang putatief. apabila dapat diterima secara wajar bahwa ia boleh berbuat seperti itu. pada kenyataannya ialah bahwa tidak ada alasan penghapus pidana tersebut dalam hal ini ada alasan . d. terjadi eror fact (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi factual) atau eror yuridis (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi yuridis). jika ada kasus-kasus di mana kita dapay membuktikan bahwa tiada kesalahan sama sekali maka kita dapat menggunakan avas untuk : kasus-kasus khusus. c.299 300 ALASAN PENGHAPUS PIDANA DI LUAR UU. pada arrest susu dan air). Alasan penghapus pidana putatief merupakan alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf. Ada kemungkinan bahwa seseorang mengira telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan pembelaan darurat atau dalam menjalankan undangundang atau dalam melaksanakan perintah jabatan yang sah. AVAS merupakan singkatan dari afwezigheid van alle schuld.

Matinya terdakwa (pasal 77 KUHP) d. pencemaran nama baik (319) dan lain-lain. Amnesti Delik Aduan. Delik Aduan Absolut Dalam hal dianggap bahwa kepentingan orang yang terkena tindak pidana itu melebihi kerugian yang diderita oleh umum. persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pasal 287-288). Ne bis in idem (pasal 76 KUHP) c. maka hukum memberikan pilihan kepadanya untuk mencegah atau memulai suatu proses penuntutan. Daluwarsa (pasal 78 KUHP) e. Misal : A. delik aduan dibagi dalam dua bentuk : a. Disini dianggap bahwa kepentingan umum dianggap langsung terkena sehingga pihak yang terkena tindak pidana itu harus menerima adanya penuntutan sekalipun ia sendiri tidak menghendakinya. . GUGURNYA KEWENAGAN MENUNTUT. I. Telah ada pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu untuk pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja (pasal 82 KUHP). Namun demikian terdapat beberapa hal yang menjadi dasar atas gugurnya kewenangan jaksa untuk melakukan penuntutan menurut KUHP adalah : a. Pada prinsipnya kewenangan melakukan penuntutan hadir seketika ada dugaan terjadinya tindak pidana. Kewenangan melakukan penuntutan pada prisipnya tidak berhubungan dengan kehendak perorangan kecuali dalam beberapa delik tertentu diantaranya perzinahan (pasal 284). untuk melarikan wanita (pasal 332). Abolisi b. Tidak adanya pengaduan dalam hal delik aduan (pasal 72-75 KUHP) b.1. Bentuk Delik Aduan Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana.301 302 BAB XIV GUGURNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA Sementara ketentuan diluar KUHP adalah : a.

misalnya :  Untuk perzinahan (pasal 284). selama pemeriksaan dalam siding pengadilan .2. Penarikan kembali pengaduan dapat dilakukan. Delik aduan absolute ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan pasal 293 (perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur) pasal 322 (pelanggaran kewajiban menyimpan rahasia). Belum 18 th / belum cukup umur / dibawah pengampunan (pasal 72) :  Oleh wakil yang sah dalam perkara perdata. Kebanyakan delik-delik ini terkait dengan delik dibidang harta benda (pasal 367 KUHP). Disamping ketentuan umum tersebut diatas . pasal 335 (1) & (2) (perbuatan tidak menyenangkan) atau pasal 369 (pengancaman). ada pula ketentuan-ketentuan khusus. Delik Aduan relative Karakter delik aduan ini tidak terletak pada sifat kejahatan yang dilakukan melainkan pada hubungan antara pelaku / pembantu dan korban. atau Suami / istri (kecuali ybs tidak menghendaki). Dalam hal relasi antara sifat keperdataan yang lahir dari h8ubungan tersebut dapat menjadi alasan dalam mencegah terjadinya penuntutan. b. II. Ketentuan umum menentukan : dalam pasal 72 KUHP 1) Jika ybs. sewaktu-waktu. Yang berhak mengadu (subyek).  Wali pengawas / pengampu  Istrinya  Keluarga sedaraj garis lurus  Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajat ke-3 2) Jika ybs meninggal pasal 73 oleh :    Orang tuanya Anaknya. Yang berhak mengadu hanya suami / istri yang tercemar (ketentuan pasal 72 dan 73 diatas tidak berlaku). Baik hubungan karena keturunan / darah atau dalam hal hubungan perkawinan.303 304 Seorang perempuan muda yang telah disetubuhi boleh memilih untuk menikahi lakilaki yang menyetubuhinya daripada pelaku dijatuhi pidana.

4.305 306 belum dimulai (ayat 4). orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia II. atau orang yang harus memberi ijin bila wanita itu kawin  Jika sudah cukup umur. meskipun undang-undang memberikan jangka waktu 3 bulan (pasal 75). Dasar pikiran atau ratio dari azas ini ialah : a) Untuk menjaga martabat pengadilan (untuk tidak memerosotkan kewibawaan Negara). Bertempat tinggal di luar Indonesia 9 bulan sejak mengetahui adanya kejahatan. NE BIS IN IDEM (PASAL 76) Arti sebeanarnya dari neb is in idem ialah “tidak atau jangan dua kali yang sama”. atau suaminya. Bertempat tinggal di Indonesia 6 bulan sejak mengetahui b. Memang selayakanya pengaduan mencakup pelaporan (aangifte) dengan permohonan dilakukannya penuntutan (verzoek tot vervolging).3. maka kewenangan menuntut menjadi hapus. Jadi ketentuan pasal 75 KUHP tidak berlaku. Tenggang waktu pengajuan pengaduan (pasal 74) a. oleh : wanita ybs. Dibuatnya suatu pengaduan tidak dengan serta merta berarti bahwa ijin memberikan kewenangan penuntutan dilakukan secara final. Bila pengaduan sudah disampaikan. Akan tetapi jika aduan tersebut ditarik kembali. II. Penarikan kembali aduan. Sering juga digunakan istilah “nemodebet bis vexari” (tidak seorangpun atas perbuatnya dapat diganggu / dibahayakan untuk kedua kalinya) yang dalam literature Angka Saxon diterjemahkan menjadi “No one could be put twice in jeopardy for tha same offerice”. pada dasarnya . b) Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat keputusan. B. jaksa penuntut umum tak perlu menunggu lewatnya daluarsa menarik adauan. Diakuinya azas Neb is in idem ini terlihat dalam rumusan pasal 76 KUHP yang berbunyi (ayat (1) sub 1) sbb : “Kecuali dalam hal putusan haikm masih mungkin diulangi (herzeining).  Untuk melarikan wanita (pasal 332) Yang berhak mengadu :  Jika belum cukup umur oleh : wanita ybs.

Keputusan hakim (yang berkekuatan hukum tetap) yang dimaksud disini adalah keputusan terhadap perbuatan atau perkara ybs.307 308 terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap”.1. Adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. yaitu yang dapat berupa : I. Azas ne bis in idem tidak berlaku untuk keputusan hakim yang belum berhubungan dengan pokok perkara. sehingga pengecualian yang tersebut dalam pasal 76 itu (yaitu adanya herzeining merupakan pengecualian terhadap azas ne bis in idem) sebenarnya tidak perlu. III. jadi bukan merupakan tuntutan hukum yang kedua kali.  Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara yang bersangkutan. dengan adanya herzeining berarti putusan itu memang belum berkelanjutan dari tuntutan hukum yang pertama. yang biasanya disebut “penetapan-penetapan” (beschikking). Pelepasan dari segala tuntutan hukum (ontslag van allerechtvervolging) pasal 191 ayat (2) KUHAP (dulu 314 RIB). Dengan adanya syarat ini berarti terhadap putusan tersebut harus sudah tidak ada alat hukum / upaya hukum (rechtsmiddel) yang dapat dipakai untuk merubah keputusan tersebut. b. apabila dipenuhi syarat-syarat sbb :  Ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. . Tentang tidak diterimanya tuntutan Jaksa karena terdakwa tidak melakukan kejahatan. Penjatuhan pidana pasal 193 ayat (1) KUHAP (dulu 315 RIB). Jadi menurut pendapat ini. misalnya : a. Ada pendapat bahwa peninjauan kembali (herzeining) merupakan salah satu upaya hukum. Jadi keputusan-keputusan tersebut sudah mengandung penentuan terbukti tidaknya tindak pidana atau kesalahan terdakwa.  Orang terhadap siap putusan itu dijatuhkan adalah sama. Pembebasan (vrijspraak) pasal 191 (1) KUHAP (dulu 313 RIB). Dengan demikian penuntutan terhadap seseorang dapat hapus berdasar neb is in idem. B. II.

jadi keputusan mengenai hukum pidana. . maka dalam hal B kemudian tertangkap ia tetap masih dapat dituntut walaupun misalnya A dibebaskan.309 310 c. maka orang tersebut di Indonesia dapat dituntut lagi. Apabila misalnya A dan B melakukan tindak pidana bersama-sama. Adanya keputusan hakim yang menjadi syarat neb is in idem ini tidak hanya keputusan hakim Indonesia. Perlu pula diperhatikan bahwa putusanputusan hakim seperti dikemukakan diatas adalah putusan yang menyangkut perkara pidana.Yang telah diberi ampun (grasi). Ini merupakan segi subyektif dari persyaratan neb is in idem. Hal ini disebut dalam pasal 76 (2) dengan syarat putusan hakim asing tersebut harus berupa : a) Putusan yang berupa pembebasan. maka apabila keputusan hakim asing yang berupa pemidanaan baru sebagian dijalani. = voorwaardelijke veroordelling) dan pelepasan bersyarat (V. Orang yang dituntut harus sama. maka putusan ini tidak merupakan alasan untuk neb is in idem dalam perkara gugatan perdata. maka putusan hakim mengnai hal ini tidak menghalangi untuk dilakukannya penuntutan dalam perkara pidananya. menurut Pompe termasuk pidana bersyarat (V. tetapi dapat juga keputusan hakim Negara lain (hakim Dengan syarat-syarat diatas. Apabila misalnya seorang pengendara motor menabrak penjual soto dan dia dituntut secara perdata untuk memberi ganti rugi. apabila yang diputus adsalah perkara pidananya lebih dulu.I. Jadi pasal 76 KUHP tidak mengenai penetapanpenetapan. Jadi dalam hal ini tidak ada neb is in idem.Yang sekuruhnya telah dijalani. Tetang tidak diterimanya perkara penuntutan sudah daluwarsa. Adanya penetapan-penetapan serupa itu tidak merupakan alasan untuk adanya neb is in idem. = voorwaardelijke invrijheidstelling). atau. Begitu pula sebaliknya. c) Putusan berupa pemidanaan : . Dalam pengertian “telah dijalani seluruhnya” putusan hakim asing itu. Jadi tegasnya pasal 76 KUHP hanya berlaku untuk perkara-perkara pidana. b) Putusan yang berupa pelepasan dari tuntutan hukum.V. akan tetapi yang tertangkap dan dituntut pidana baru A. karena asing). atau .

maka dimungkinkan ada Dalam yurisprudensi. maka tidak ada neb is in idem. Apabila dipandang sebagai concursus idealis. ajaran feit materiil pada neb is in idem telah ditinggalkan pada tahuan 1932. sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan beberapa perbuatan. telah memukul dada dan menendang kaki seorang anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya. sehingga terdakwa lepas dari segala tuntutan. Mula-mula terdakwa diputus dan dipidana karena menganiaya polisi (pasal 356 sub. Harus ada feit / perbuatan yang sama. Akan tetapi apabila dipandang sebagai concursus idealis. maka hanya dimungkinkan adanya satu kali penuntutan saja. 2). Terdakwa banding. Kasusnya : Orang yang sedang mabuk ditempat umum mengganggu ketentraman umum. B. kemudian oleh jaksa dituntut lagi mengenai menggangu ketentraman umu dalam keadaan mabuk (pasal 492). Seandainya Jaksa hanya menuntut berdasar pasal 285 (perkosaan) saja dan ternyata tidak terbukti. dan pengadilan tinggi menyatakan ada ne bis in idem. Masalah ini merupakan masalah yang paling sukar. Kalau kasus diatas dipandang sebagai concursus realis. maka apakah Jaksa masih dapat menuntut yang kedua kalinya berdasar pasal 281 (melanggar kesusilaan dimuka umum) ? dan pakah putusan yang pertama merupakan res judicata (putusan yang neb is in idem)? Jawaban terhadap masalah ini tergantung atau berkisar pada apa yang dimaksud dengan “feit”. Catatan : Apabila dipandang sebagai concursus realis. Jaksa mengajukan kasasi ke Hoge Raad dengan . dimana hanya dipandang ada satu perbuatan. Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. Misal : A melakukan pemerkosaan dijalan umum (pasal 285 dan 281). Ini segi obyektif dari neb is in idem (objective identiteit). maka ada neb is in idem. yaitu dengan Arrest HR 27 Juni 1932. Tuntutan kedua ini oleh pengadilan diterima dan terdakwa dijatuhi pidana.2. penuntutan lagi.311 312 - Yang wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena kadaluwarsa. seperi halnya dijumpai dalam concursus/ gabungan tindak pidana.

Waktu terjadinya tindak pidana Misal seorang dituntut telah melakukan pencurian pada tgl 1 Juni 1979. apabila terdakwa dibebaskan unutk tuduhan pencurian tercantum tgl. dapat lebih merugikan kepentingan umum dari pada mengulangi percobaan untuk penerapan undang-undang pidana dengan setepat-tepatnya. c. asal Feitnya tetap. Perbuatannya/ketentuan yang dilanggar : Misal : perbuatan A sebenarnya dapat dikualifisir dalam 3 kemungkinan yaitu : 1) Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain (pasal 338). disamping berlkaitan erat de4ngan masalah concursus. seperti dimaksud dalam pasal 76 HR melihat disini juga ada 2 perbuatan yang mempunyai cirri yang berlainan. jjadi disini tidak ada perbuatan yang sama. 3) Dengan sengaja menganiaya yang berakibat mati (pasal 351 ayat (3)). jaksa dapat mengajukan permintaan unutk “merubah surat tuduhan berdasar pasal 282 HIR. Namun diakui bahwa itu berarti menyempitkan berlakunya pasal 76. kemudian dibebaskan. Disinipun ada neb is in idem. Yang betul. Berdasar tempat pencurian yang sebenarnya dilakukan yaitu di Stadion Diponegoro. Misal semula terdakwa dituduh mencuri di taman Diponegoro. Persoalan feit / perbuatan pada pasal 76. 1 Juni. 2) Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain (pasal 359). artinya kemungkinana penuntutan kembali menjadi longgar. b. halangan dalam penuntutan baru. Dalam hala ini sebenarnya sebelum ada putusan. Jaksa kemudian mengajukan tuduhan lagi. sehingga tuntutan jaksa dapat diterima. Tetapi menurut Pompe. Kesukaran dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perkataan ”feit” dirubah menjadi “strafbaar feit”. tetapi didalam surat tuduhan tercantum tgl 1 Juli 1979. Jaksa tidak dapat menuntut lagi berdasar tgl. . Disini ada neb is in idem. Tempat terjadinya tindak pidana. Dengan perubahan ini menurut Pompe. penerapan pasal 76 lebih mudah. juga berhubungan dengan masalah.313 314 mengatakan bahwa perbuatan terdakwa itu merupakan dua perbuatan dipandang dari sudut hukum pidana. alternativitas dalam tuduhan dapat meliputi masalah : a.

Karena itu adagium punier non (simper) necesse est (menghukum tidak selamanya perlu) menajdi dasar dari keberadaan lembaga ini. D. yaitu :     Untuk semua pelanggaran dan kejahatan percetakan : sesudah 1 tahun. kurungan atau penjara maksimum 3 tahun : daluwarsanya sesudah 6 tahun.1. Konsekwensi dari pemikiran ini adalah bahwa kematian seorang tersangka atau terdakwa menyebabkan kewenangan seorang Jaksa penuntut menjadi gugur. D. kecuali dalm hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal tersebut yang menyangkut vorduurende delict (delik berlangsung terus lihat penjelasan . Hal ini wajar karena KUHP berpendirian bahwa yang dapat menjadi subyek hukum hanyalah orang dan pertanggungan jawab bersifat pribadi. DALUWARSA (VERJARING). Namun demikian yang utama dari ketiga lasan itu adalah kebutuhan untuk memidana dan kesulitan pembuktian menjadi alasan utama.315 316 C.1 Daluwarsa Penuntutan. Dalam hal ini tidak ada suatu tanggungjawab pidana diwariskan. MATINYA TERDAKWA (PASAL 77) DAN MATINYA TERPIDANA (PASAL 83). Ditetapkannya lemabga daluarsa penuntutan dalam KUHP pada dasarnya dilandasi oleh beberapa pemikiran yaitu :  Dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga mengahpuskan keinginan untuk melakukan pembalasan. Sementara kematian seseorang terpidana menyebabkan kewajiban menjalankan pidana menjadi terhapuskan. Menurut pasal 79. D. tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah perbuatan dilakukan. Tenggang waktu daluwarsa ditetapkan dalam pasal 78 (1). Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur hidup : daluwarsanya sesudah 18 tahun.1. Tenggang Waktu Daluwarsa Penuntutan. Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun daluwarsanya 12 tahun. Untuk kejahatan yang diancam denda.  Bahwa pelaku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan.  Berjalannya waktu sekaligus menghapuskan jejak-jejak tindak pidana yang menyebabkan kesulitan pembuktian.

mendakwa / mengajukan . daluwarsa dihitung keesokan hari setelah orang tersebut dibebaskan atau ditemukan meninggal dunia. Tetapi yurisprudensi kemudian menerima pendapat yang lebih sempit. Hanya saja selama acara hukum perdata berlangsung dan belum selesai. dipertangguhkan. - D. a. Penangguhan (scorsing). tenggang daluwarsa tuntutan pidana. jadi tindakan pengusutan tidak lagi dianggap termasuk tindakan penuntutan.317 318 dalam bab tetang jenis delik). Kejahatan terhadap register kependudukan (pasal 556-558 a). Pencegahan (stuiting). - tuduhan. yaitu hanya perbuatan-perbuatan penuntut umum yang langsung menyangkutkan hakimdalam acara pidana (misal menyerahkan perkara ke siding. memohon revisi). sehari setelah data tersebut dimasukkan dalam catatan register. sebelum diadakannya penundaan. jadi selama terhentinya selama ada tindakan penuntutan tenggang waktunya tidak dihitung. 329. Dalam hal ada penundaan/pertangguhan (schorsing) maka tenggang waktu yang telah dilalui.2. tetap diperhitungkan terus.1. Pencegahan dan penangguhan. yaitu perselisihan menurut hukum perdata yang terlebih dulu harus diselesaikan sebelum acara pidana dapat diteruskan. 330 dan 333). b. Menurut pasal 80 (1) tenggang daluwarsa terhenti / tercegah (gestuit) apabila ada tindakan penuntutan (daad van vervolging). Menurut pasal 81 (1) tenggang daluwarsa penuntutan tertunda/tertangguhkan (geschorst) apabila ada perselisihan praejudisiil. Kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang (pasal 328. Pada mulanya tindakan penuntutan diartikan secara luas yaitu mencakup juga tindakan-tindakan pengusutan (daad van opsporing). Menurut pasal 80 (2) sesudah terjadinya pencegahan (stuiting) mulai berjalan tenggang daluwarsa yang baru. Adapun yang diatur dalam pasal 79 adalah : Kejahatan terhadap mata uang (pasal 244) perhitungan daluwarsa didasarkan pada waktu setelah uang dipakai atau diedarkan. Hal ini dimaksudkan agar terdakwa tidak diberi kesempatan untuk menunda-nunda penyelesaian perkara perdatanya dengan perhitungan dapat dipenuhinya tenggang daluwarsa penuntutan pidana.

Daluwarsa kewenangan menjalankan pidana. bahwa pelaku setetlah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan.  Untuk kejahatan lainnya : daluwarsanya sama dengan daluwarsa penuntutan (lihat pasal 78 ) ditambah sepertiga. yaitu “verstekvonnis” (keputusan diluar hadirnya terdakwa). Pencegahan Dan Penagguhan Daluwarsa Pemidanaan.2. dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga menghapuskan keinginan unutk melakukan pembalasan 2. tenggang daluwarsa baru dihitung pada keesokan harinya setelah melarikan diri.  Untuk kejahatan percetakan : daluwarsanya 5 tahun. Daluwarsa Pemidanaan. Tetapi ada putusan hakim yang sudah dapat dieksekusi sebelum keputusan itu berkekuatan tetap. yaitu :  untuk semua pelanggaran : daluwarsanya 2 tahun. kewenangan Menurut pasal 85 (1) tenggang daluwarsa dihitung mulai pada keesokan harinya sesudah putusan hakim dapat dijalankan. Pada umumnya memang putusan hakim yang berkakuatan hukum tetap.1. Sama dengan daluarsa penuntutan maka landasan pemikiran atas daluarsa pemidanaan didasarkan kepada dua hal yaitu : 1. D. Dalam hal ini. Ini tidak sama dengan putusan hakim yang inkracht van gewijsde (putusan ayat berkekuatan tetap). pencegahan (stuiting) pencegahan (stuiting) terhadap daluwarsa hak untuk menjalankan / mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 85 ayat (2)) yaitu : 1) Jika terpidana melarikan diri selama menjalani pidana. Tenggang waktu daluwarsanya diatur dalam pasal 84 (2).2. Perbedaannya disini adalah alasan kesulitan pembuktian tetunya tidak lagi relevan disini.2. Pada ayat (3) ditetapkan bahwa : “tidak ada daluwarsa untuk mejalankan hukuman mati”. D. a.319 320 D. .2.

kecuali dalam hal : . b. walaupun perampasan kemerdekaan itu berhubung dengan pemidanaan lain. E. Dasar pemikiran lembaga grasi menurut Remelink adalah keadaan pada waktu hakim menjatuhkan putusan tidak atau kurang diperhatikan atau mungkin pertimbangan dan yang bila (secara memadai sebelumnya ia keathui. menurut ketentuan pasal 2 ayat (2) grasi hanya dapat dimohonkan bagi terpidana yang dijatuhi pidana mati.  selama terpidana dirampas kemerdekaannya (ada calon tahanan). maka pada esok harinya setelah pencabutan. tetapi pelaksanaannya dihapuskan atau dikurangi / diringankan. penagguhan (schorsing). pidana mati diganti penjara seumur hidup. Keputusan hakim tetap ada.321 322 2) Jika pelepasan bersyarat dicabut Dalam hal ini. dapat berupa :    Tidak mengeksekusi seluruhnya. Grasi dapat dikabulkan manakala hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak akan mencapai tujuan atau sasaran pemidanaan itu sendiri. Grasi. Dalam pasal 2 ayat (3) permohonan grasi hanya dapat diajukaqn 1 (satu) kali. A.1. Dengan demikian selama ada pencegahan. Perihal prosedur Grasi diatur dalam undangundang 22 tahun 2002. Penundaan (schorsing) terhadap daluwarsa hak untuk mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 33 ayat (3) yaitu :  selama perjalanan pidana ditunda menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. akan mendorongnya menjatuhkan pidana atau tindakan lain atau bahkan untuk tidak menjatuhkan sanksi sekalipun. maka jangka lewat waktu yang telah dilalui hilang sama sekali (tidak dihitung). penjara seumur hidup. Hanya mengeksekusi sebagian saja Mengadakan komutasi yaitu jenis pidananya diganti. kurungan diganti dengan denda. Jadi grasi dari presiden. Ketentuan Gugurnya Kewenangan Menuntut Dan Menjalankan Pidana di luar KUHP. penjara paling rendah 2 tahun. misal penjara diganti kurungan. mulai berlaku tenggang daluwarsa baru. Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ybs.

Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) haru terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8. Terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut. Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. dengan persetujuan terpidana (pasal 6 (1-2)) kecuali dalam hal terpidana dijatuhi pidan mati. permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana (pasal 6 ayat (3)). Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Preisden. atau keluarganya kepada Presiden. kecuali dalam hal putusan pidana mati. Permohonan grasi dan slinannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3). II. Permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 diajukan secara tertulis oleh terpidana. Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau oleh keluarga terpidana. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung. Sementara pasal 3 permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana. kuasa hukumnya. penagdilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung.323 324 I. keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi. Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tigta) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 9. .

Abolisi dengan demikian berlaku ante sentiam yang berkaitan dengan dilepaskannya kewenangan melakukan penuntutan atau pelanjutan dari penuntutan yang sudah dimulai. demi kepentingan semua terpidana maupun bukan. termasuk putusan itu sendiri. terdakwa ataupun bukan.3.325 326 E. abolisi merupakan hak prerogative presiden yang ditetapkan dalam UUD 1945 sebelum perubahan. . mereka yang identitasnya diketahui ataupun tidak namun bersalah melakukan tindakan tersebut. Dalam praktek amnesti diberikan karena alasan politik. Seperti halnya grasi dan amnesti. E. Amnesti. Abolisi.2. Abolisi mengandung pengertian penghapusan yang diberikan kepada perseorangan yang mencakup penghapusan seluruh akibat penghukuman seluruh akibat penjatuhan putusan. Oleh karena itu amnesti mencakup perkara dalam fase ante sentantiam (sebelum dijatuhkanya putusan) maupun post sentantiam (pasca proses ajudikasi). Amnesti dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum (yang diterbitkan dalam suatu aturan perundang-undangan) yang memuat pencabutan senua akibat pemidanaan dari suatu delik tertentu atau satu kelompok delik tertentu.

Perbedaannya dengan Concursus Realis ialah pada Residive sudah ada putusan Pengadilan berupa pemidanaan yang telah MKHT sedangkan pada Concursus Realis terdakwa melakukan beberapa perbuatan pidana dan antara perbuatan sang satu dengan yang lain belum ada putrusan Pengadilan yang MKHT. MENURUT KUHP Dalam KUHP ketentuan mengenai Residive tidak diatur secara umum tetapi diatur secara khusus untuk kelompok tindak pidana tertentu baik berupa kejahatan maupun pelanggaran. Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluwarsa dalam residivenya. yaitu : 2. Pemberatan hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu yang tertentu pula. Sistim Residive Umum . Residive merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Dalam ilmu hukum pidana dikenal ada dua sistem residive ini. Disamping itu di dalam KUHP juga memberikan syarat tenggang waktu pengulangan yang tertentu. PENGERTIAN Residive atau pengulangan terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( MKHT) atau “in kracht van gewijsde”. 1. setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dan dilakukan dalam waktu kapan saja.327 328 BAB XV RESIDIVE ( PENGULANGAN TINDAK PIDANA) Menurut sistem ini. kemudian melakukan tindak pidana lagi. merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Sistem Residive Khusus Menurut sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. 1. Jadi dengan demikian KUHP termasuk ke dalam sistem Residive Khusus. 2.

501. Pasal 154. b. ancaman pidana ditambah sepertiga. 492. 477 dan 488 KUHP mensyaratkan bahwa tindak pidana yang diulangi termasuk dalam kelompok jenis tindak pidana tersebut. Pasal 78 s/d 85. yaitu : Pasal : 489.329 330 a.5/1997). Residive terhadap kejahatan dalam pasal : 137(2). Perlu diingat bahwa mengenai tenggang waktu dalam residive tersebut tidak sama. RECIDIVE DI LUAR KUHP Recidive diluar KUHP antara lain diatur di dalam Undang-Undang: i. 161(2). Jadi ada 11 jenis kejahatan yang apabila ada pengulangan menjadi alasan pemberat. Sedangkan untuk residive yang diatur dalam Pasal 486. ii. Tindak Pidana Psikotropika (UU No. 393(2) dan 303 bis (2). Pasal : 137.Tenggang waktu lima tahun. 540. iii. Pasal 72. Syarat-syarat Recidive pelanggaran disebutkan dalam masing-masing pasal yang bersangkutan. 208(2). 549 KUHP. 495. Residive Kejahatan. 155(2). 517. misalnya : i. 530. 512. 157. 144. 3. Ancaman pidana ditambah sepertiga ii. 516. 216(3). 536. 216. 161. Tindak Pidana Narkotika (UU 22 / 1997). 545. . 208. dan pasal 87. Residive Pelanggaran Residive dalam pelanggaran ada 14 jenis tindak pidana. 303 bis dan 321 tenggang waktunya dua tahun . 144(2). 321(2). 163 dan 393 tenggang waktunya lima tahun. 541. 163(2). 544.

Ruang berlakunya hukum pidana dapat dibedakan menurut waktu dan menurut tempat. Jelaskan dimana diatur ruang berlakunya hukum pidana di dalam KUHP dan di luar KUHP ? 2. 5. Apa pentingnya bagai Jaksa memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana ?. Siapa yang dimaksud sebagai Pelaku (dader) menurut pasal 55 KUHP ?.331 SOAL UJIAN DAFTAR PERTANYAAN MATERI DIKLAT ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 1. Moeljatno apa saja yang menjadi unsur dari suatu perbuatan pidana ?. 3. 4. Apa yang dimaksud dengan Recidive ? . Menurut Prof.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful