PENINGKATAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS Diajukan untuk mengikuti lomba

karya ilmiah remaja dengan tema: Pemanfaatan Sampah Organik di Lingkungan SMA N 102 dengan cara membuat KOMPOS dalam rangka meningkatkan kreatifitas siswa

Disusun oleh

Kelas :

SEKOLAH MENENGAH ATAS

KATA PENGANTAR

1

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena, atas berkat dan kehendak-Nyalah karya ilmiah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Penulisan karya ilmiah yang berjudul Peningkatan Kegiatan Ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) Melalui Pembuatan Pupuk Kompos memilki tujuan untuk mengikuti, lomba karya ilmiah dengan tema “Pemanfaatan Sampah Organik di Lingkungan SMA N 102 dengan cara membuat KOMPOS dalam rangka meningkatkan kreatifitas siswa”, yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Pendidikan Menengah Tinggi (SUDIN Dikmenti). Selain itu karya ilmiah juga bertujuan untuk memaparkan bagaimana cara mengolah sampah organik. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menemukan banyak kesulitan, terutama keterbatasan mengenai penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Tetapi berkat bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak akhirnya penulis pun dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karena itu penulis turut mengucapkan terima kasih kepada : 1. Kepala SMA Negeri 102, Bapak Drs. H. Edi Sumarto atas kepercayaan yang diberikan untuk mengikuti lomba karya ilmiah 2. Ibu Dra. H. Meilin sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang telah mengizinkan kami untuk mengikuti lomba ini. 3. Ibu Dra. H. Iswarni dan Ibu Sri Nuryani, S.Pd selaku guru pembimbing yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan dalam proses penyelesaian naskah karya ilmiah ini. 4. Staf dan Karyawan SMA Negeri 102 atas bantuanya dalam menyediakan alat untuk proses pengetikan naskah karya ilmiah. 5. Ayah dan Ibu penulis tersayang yang telah memberikan dukungan atau motivasi secara moral maupun spiritual. 6. Tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang telah membantu dalam proses penelitian. 7. Siswa-siswi kelas XI IPA yang setia menemani dan memberikan dukungan selama proses pembuatan karya ilmiah. 8. Serta, semua pihak yang turut serta dalam pembuatan karya ilmiah ini. Sebagai pelajar, penulis menyadarai bahwa pengetahuan yang dimiliki masih

2

Maka. Penulis berharap. agar dengan adanya karya ilmiah ini tidak hanya meningkatkan kreatifitas siswa di SMA Negeri 102 melainkan juga dapat membantu memperbaiki keadaan ekonomi penduduk sekitar. Jakarta. 07 Juni 2008 PENULIS DAFTAR ISI Halaman 3 . kritik dan saran dirasakan sangat dibutuhkan untuk kemajuan penulis di masa yang akan datang.terbatas sehingga dalam karya ilmiah ini masih ditemukan banyak kekurangan.

...... Alat dan Bahan............................................. Langkah – Langkah Pembuatan Kompos…………… 15 E......................................... 9 B........................ 6 E........... 5 C......................................... Manfaat Kompos………………………………………..... Latar Belakang................. Perumusan Masalah.............................. Metode Penelitian.............. 8 BAB III PENINGKATAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS A................................................................................. 5 D............................................................... 6 G........................ 18 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A............. 4 BAB I PENDAHULUAN A....... Saran…………………………………………………….. Kesimpulan……………………………………………… 19 B.. 7 BAB II PEMBAHASAN..................................................................... Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan........................................... Tujuan Penelitian............. Hipotesis....KATA PENGANTAR........... 20 BIODATA…………………………………………………………………… 21 4 . Pengelolaan Sampah…………………………………........... 16 F............................ Sistematika Penulisan.. 2 DAFTAR ISI... 5 B........................ Komposisi Sampah……………………………………......... 19 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………......................... Mutu kompos…………………………………………… 17 G.................................... 9 C............. Waktu dan Lokasi Penelitian....................... 12 D.... 6 F..............

sebenarnya sampah ini banyak sekali manfaatnya antara lain dapat membuat pupuk organik.BAB 1 PENDAHULUAN A. Karena dengan pupuk anorganik itu bisa membuat kerusakan lingkungan antara lain pencemaran di dalam air dan tanah. Jika kita berbicara tentang permasalahan sampah ini. Sebenarnya banyak sekali cara untuk menangani masalah sampah ini contohnya dnegan cara daur ulang yang bisa menghasilkan KOMPOS alami yang bias dimanfaatkan oleh para petani dan masyarakat. Perumusan Masalah Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini adalah: 1. dengan cara itu pula para petani bisa meminimaliskan penggunaan pupuk anorganik. Bagaimana cara pengolahan sampah anorganik menjadi barang ekonomis? 5 . Latar Belakang Melihat keadaan lingkungan kita yang setiap hari dipermasalahkan oleh samapah yang semakin menggunung seolah sampah ini menjadi masalah atau momok utama yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat. B. Sehingga masyarakat di beberapa Negara bahkan diseluruh dunia berlomba-lomba menyelesaikan hal tersebut. Walaupun ada yang merugikan antara lain menyebabkan kerugian yang berdampak berbahaya sekali bagi kehidupan makhluk hidup di dunia.

Mengetahui langkah . Teknik Pengamatan Langsung Pada teknik ini penulis terjun langsung kedalam proses pengolahan sampah. tujuan dari penelitian dan penulisan karya ilmiah ini adalah : 1. 2. yaitu sebagai berikut : 1. Metode Penelitian Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan.2. 3. Mengetahui dan menemukan manfaat kompos. D. Mengetahui sampai mana pengetahuan siswa mengenai sampah. Mengetahui bagaimana cara mengolah sampah. Adapun teknik-teknik yang dipergunakan pada penelitian ini. 4. penulis menggunakan metode observasi dan browsing di internet. Waktu dan Lokasi Penelitian 6 . E. Studi Literatur Pada metode ini penulis membaca literature-literatur yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah 2. F. Secara terperinci.langkah pembuatan pupuk kompos. Apa manfaat dari pupuk kompos? C. Tujuan Penelitian Penulisan karya ilmiah ini dilakukan untuk memenuhi tugas lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Pendidikan Menengah Tinggi (SUDIN Dikmenti) yang diharapkan dapat bermanfaat dalam kehidupan manusia dan mempermudah bagaimana cara memanfaatkan sampah dengan baik dan benar. Hipotesis Dengan mengolah sampah organik dapat meningkatkan kreatifitas ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) serta membantu perekonomian penduduk sekitar.

yaitu Bab I. tepatnya selesai pada tanggal 3 Juni 2008 dan mengambil lokasi di wilayah SMA Negeri 102.Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian adalah sekitar 3 minggu. mutu kompos. pengumpulan data. langkah – langkah pembuatan kompos. pengolahan data. faktor yang mempengaruhi proses pengomposan. komposisi sampah. 7 . G. Sementara dalam bab kedua terdapat deskripsi umum dari kompos. hipotesis. Kegiatan ini diawali dengan perumusan masalah. pengamatan hingga penulisan hasil penelitian. metode penelitian. alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan kompos. Dalam bab yang pertama terdapat latar belakang. pengelolaan sampah. Kemudian pada bab yang terakhir terdapat kesimpulan dari seluruh isi karya ilmiah serta saran. Bab II. Sistematika Penulisan Pada karya ilmiah ini terdapat tiga bab. Dan pada bab ketiga terdapat paparan mengenai pengertian sampah. dan manfaat kompos. tujuan penelitian. dan sistematika penulisan. kegiatan lapangan. Bab III. perumusan masalah.

industri dan kegiatan pertanian. Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat. 2003). cara. sudah sampai umur untuk kawin. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat.1999) peningkatan adalah proses.H. lembab. tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang. kegiatan. yaitu bagian organik dan anorganik. sementara karya adalah pekerjaan. dsb). memenuhi syarat (kaidah ilmu pengetahuan). secara ilmu pengetahuan. khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous). Kemudian remaja yang juga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka. buatan. pemberian air yang cukup. Sampah terdiri dari dua bagian. Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga. mengaturan aerasi. serta pupuk merupakan penyubur tanaman yg ditambahkan ke tanah untuk menyediakan senyawaan unsur yang diperlukan oleh tanaman. perdagangan. Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang. sedangkan ilmiah ialah bersifat ilmu. Crawford. dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis. Masih berasal dari sumber yang sama ekstrakurikuler yaitu berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum. ciptaan (terutama hasil karangan). dan penambahan aktivator pengomposan. usaha.1999) adalah mulai dewasa. meningkatkan (usaha. hasil perbuatan. 8 . pekerjaan. tetapi bukan yang biologis. perbuatan. yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri).BAB II PEMBAHASAN Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka.dan kegiatan ialah aktivitas. seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa.

dan sebagainya. kayu. botol dan gelas minuman. maupun karton. kaleng. daun-daun kering. dan kertas. sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai BAB III PENINGKATAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS A. Pengelolaan Sampah Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan. sayuran. kaca. baik kertas koran. botol dan gelas bekas minuman. yaitu: 1. HVS. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan.Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%. sebesar 60 – 70%. sampah dibedakan menjadi dua. Sampah Organik. dan sebagainya. kaleng. seperti plastik wadah pembungkus makanan. kertas. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. plastik mainan. serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit. maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya. Komposisi Sampah Berdasarkan komposisinya. Sampah Anorganik. 2. yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan. maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya (produk daur ulang). B. yaitu sampah yang tidak mudah membusuk. Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik. dan sampah anorganik sebesar ± 30%. Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan di kawasan wisata alam adalah: 9 .

misalnya menjual barang bekas seperti kertas. kaleng. Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung. pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda. Pemanfaatan Kembali Kegiatan pemanfaatan sampah kembali. Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam.a. mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS. atau kertas daur ulang. plastik. Dengan pengelolaan sampah yang baik. Di Indonesia. Pemanfaatan sampah organik. c. Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan yang sering dikunjungi wisatawan. gelas dan botol air minum dalam kemasan. Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan wisata. botol. baik secara langsung maupun tidak langsung. b. seperti composting (pengomposan). harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). terdiri atas: 1). Pemanfaatan sampah anorganik. misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas. jumlahnya mencapai ± 10%. koran bekas. Pemanfaatan kembali secara langsung. Tempat Pembuangan Sampah Akhir Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik. serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah. 2). Mengapa kita harus mengolah sampah? 10 . sisa sampah akhir yang benarbenar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%.

Namun pengolahan di TPA yang sebagian besar dengan sistem open dumping. 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik. masih banyak warga kota yang membuang sampah di sembarang tempat. Sebagian besar sampah di kota dibuang ke TPA. seperti sisa makanan. Satu ton sampah organik akan menghasilkan 9 kg 11 . khususnya di daerah perkotaan sering menjadi masalah. plastik sisa sampo. Timbunan sampah yang dihasilkan terus bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk kota. Di sisi kesehatan tumpukan sampah tersebut akan menjadi salah satu sumber penularan penyakit seperti disentri. kolera. pes dsbnya. Gas H2S dan NH3 yang dihasilkan. sisa sayuran atau buah jika dibakar tidak akan semua terbakar dan menghasilkan partikel-partikel padat yang akan beterbangan. Sementara itu. H2S dan NH3. batang. justru sering menimbulkan masalah. Yang dimaksud sampah organik adalah sampah yang berasal dari benda hidup. Sebagai gambaran. ranting. plastik. ampas kelapa dsbnya. plastik air kemasan. Selain itu ternyata tidak sedikit warga kota yang menanggani sampah dengan cara dibakar. pencemaran udara. Sedangkan yang termasuk sampah anorganik adalah. Beberapa kajian membuktikan. mulai dari masalah kesehatan. air. buah-buah. Gas yang jika dihirup akan berikatan sangat kuat dengan hemoglobin darah sehingga dapat menyebabkan tubuh orang menghirup akan akan kekurangan O2 dan menimbulkan kematian. dengan komposisi. namun dapat menyebabkan bau yang tidak enak. Akibatnya sampah akan menyumbat saluran sehingga menyebabkan banjir. misalnya sungai. penangganan sampah dengan cara seperti itu akan menghasilkan gas polutan seperti methan. daun. Karena sampah yang dibakar akan menghasilkan zat atau gas polutan yang tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi juga berbahaya langsung terhadap manusia. pemicu kanker (karsiogenik) bahkan kematian. sisa sayuran. Cara-cara seperti justru dapat menimbulkan masalah serius. walaupun jumlahnya sedikit. pembakaran 1 ton sampah akan menghasilkan 30 kg gas CO. Sampah organik yang masih agak basah seperti daun. Sehari setiap warga kota menghasilkan rata-rata 900 gram. besi. ikan. kain perca dsbnya. saluran drainase atau rawa-rawa. Pembakaran sampah organik juga akan menghasilkan gas methana. Polutan yang dihasilkan akibat pembakaran sampah dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Membakar potongan kayu akan menghasilkan senyawa formaldehida yang mengakibatkan kanker. kaca. ranting.Sampah. tanah sampai masalah estetika. kaleng.

Menurut beberapa kajian diketahui asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali lebih besar dari asap rokok. Akibatnya jika volume sampah yang dihasilkan warga kota banyak dan lama hancur. Berikut disajikan peralatan yang digunakan. Kardus butuh 5 bulan. bahkan ada yang puluhan tahun baru bisa hancur. yaitu strefom. C. sepatu kulit yang dibuang ke halaman baru bisa hancur setelah 20-40 tahun. tidak semua sampah jika dibuang ke alam akan mudah hancur. maka akan dibutuhkan lahan yang luas untuk TPA. Keberadaan warga miskin di kota seringkali menjadi kambinghitam karena dituding sebagai penyebab kota kotor dengan sampah. Salah satu diantaranya adalah benopirena. Kertas jika dibuang ke alam butuh waktu 2. Padahal faktanya banyak perumahan atau kampung orang kaya yang justru menjadi sumber sampah utam di perkotaan. Butuh waktu berbulan-bulan. 1. Sebagai gambaran. Sementara itu ada satu jenis sampah yang tidak bisa hancur sampai kapan pun. busa sabun (Deterjen) baru bisa terurai setelah 20-25 tahun. Alat dan Bahan Pengomposan secara aerobik Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. kulit jeruk 6 bulan. 2. Dan tidak sedikit pemulung yang kerap dimasukkan sebagai bagian dari warga miskin kota yang justru “mengolah” sampah di kota sehingga mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.5 bulan untuk bisa hancur. plastik 50-80 tahun dan aluminium 80-100 tahun. Di sisi lain. Wadah atau plastik ⇒ Sebagai tempat atau wadah selama proses pembuatan kompos. Sekop 12 .partikel padat yang mengandung senyawa hidrokarbon berbahaya. kain nilon 30-40 tahun.

Saringan/ayakan ⇒ Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai ⇒ Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan ⇒ Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar 5. Garpu/cangkrang ⇒ Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah 4.⇒ Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya 3. Sepatu boot ⇒ Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya 8. Termometer ⇒ Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan ⇒ Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat ⇒ Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah 6. Timbangan ⇒ Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan ⇒ Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan 7. Sarung tangan 13 .

baik secara aerobik maupun anaerobik. ActiComp. rayap. semut. 105 108. Masker ⇒ Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya Tabel Organisme Yang Membantu Pembuatan Kompos Kelompok Organisme Mikroflora Mikrofanuna Makroflora Makrofauna Organisme Bakteri.⇒ Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan 9. EM4. Aktinomicetes. karena mudah dan murah untuk dilakukan. Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan.109. OrgaDec. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. dll Jumlah/gr kompos 109 . 14 . Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Kapang Protozoa Jamur tingkat tinggi Cacing tanah. Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit.106 104 .105 Teknologi pengomposan sampah sangat beragam. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes). BioPos. kutu. SuperDec. dengan atau tanpa aktivator pengomposan. 104 .

Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia. 5. menggemburkan kembali tanah petamanan. Untuk lapisan berikutnya dapat mulai lagi dengan diperciki air. 2. lumpur cair dan limbah industri pertanian. lubangi bagianbawahnya untuk saluran cairan coklat (lindi) hasil pengomposan. sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia. 15 . 3. serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. seperti kotoran hewan. menggemburkan kembali tanah pertanian. eklamasi pantai pasca penambangan. Pada hari ketiga setelah ada bau masam. Lalu sisa sayuran. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis. Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen. tanah gembur. 7. Kemudian secukupnya agar bau bisa tertahan. Sediakan wadah berdiameter 10 cm (yang tidak dipakai lagi). diberi pasir. Untuk wadah berdiameter 10 cm campuran tidak perlu diaduk. sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. sampah hijauan. Dasar wadah itu diberi pasir. fisika dan biologi tanah. sebagai bahan penutup sampah di TPA. dan sebagai media tanaman. Perciki air secukupnya. 4. sisa makanan ditumpuk di atas pasir itu. sampah kota. sisa sayuran dan makanan ditaburi kapur (dolomide) untuk menambah unsur hara hasil kompos. tetapi untuk wadah yang berukuran lebih besar sebaiknya campuran diaduk. sisa sayuran/makanan. tambahkan tanah gembur 6. D. Pembuatan kompos dilakukan secara berlapis-lapis. Langkah – Langkah Pembuatan Kompos Cara pembuatan kompos dari sampah organik: 1.

Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Setelah satu setengah bulan daun kering sudah menjadi kompos yang berwarna hitam. Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut. media tanam di rumah sendiri atau jika dijual bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. 16 . Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air bahan(kelembaban). maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. E.Waktu yang diperlukan untuk menjadi kompos sekitar satu setengah bulan. Caranya. Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). perciki air. Apabila rasio C/N terlalu tinggi. daun tanaman yang kering bisa dikomposkan. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Tanda-tanda pengomposan sudah selesai campuran menjadi hitam dan tidak bau. mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat. Selain sisa sayur/makanan. Apabila aerasi terhambat. Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. daun kering diremas-remas sampai hancur. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. Kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. kemudian masukkan ke dalam wadah plastik. Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain: Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1.

pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%. sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Sebagai contoh. pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan.4. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup.60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Kelembaban 40 . proses pelepasan asam. Apabila kelembaban di bawah 40%. aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6. 17 . Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. secara temporer atau lokal. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma. Temperatur yang berkisar antara 30 .60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat.8 hingga 7. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.5. akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman). maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu. hara akan tercuci. Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Apabila rongga dijenuhi oleh air.5 sampai 7. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.Porositas Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. volume udara berkurang. Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air.

Meningkatkan kesuburan tanah Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah Meningkatkan kapasitas jerap air tanah Meningkatkan aktivitas mikroba tanah Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa. 7. Mengurangi volume/ukuran limbah 3. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan Aspek bagi tanah/tanaman: 1. Mutu kompos Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut : ⇒ Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah. 5. 6. 2. ⇒ Nisbah C/N sebesar 10 – 20. 4. 8. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah 2. dan jumlah panen) Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah 18 . ⇒ Tidak larut dalam air.F. tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya. meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah 2. 3. Manfaat Kompos Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek: Aspek Ekonomi : 1. nilai gizi. G. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya Aspek Lingkungan : 1.

Kesimpulan Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini. B. Dengan pembuatan kompos dapat membantu meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) serta memajukan perekonomian masyarakat sekitar. Perlunya kerjasama dari para siswa untuk mencanangkan pengolahan sampah. Sebagai penerus bangsa. seorang pelajar sebaiknya mampu memanfaatkan sampah organik untuk menghasilkan barang ekonomis.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. 2. kesimpulan penulis adalah sebagai berikut : 1. 2. Pembuatan kompos dapat membantu proses penggemburan tanah. 19 . Saran Berdasarkan pembahasan tersebut saran penulis adalah sebagai berikut : 1.

go. Jakarta: Balai Pustaka http://www. Kamus Besar Bahasa Indonesia.wikipedia.com http://matoa.net http://id.multiply.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.id http://lingkunganku.bppt.kimia-lipi.go.id http://www.org http://www.or.id http://uplink. 1988.dephut.org 20 .

21 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful