P. 1
makalah ilmiah

makalah ilmiah

|Views: 472|Likes:
Published by Ridho Mizwar
makalah ilmiah
makalah ilmiah

More info:

Published by: Ridho Mizwar on Sep 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2013

pdf

text

original

PENINGKATAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS Diajukan untuk mengikuti lomba

karya ilmiah remaja dengan tema: Pemanfaatan Sampah Organik di Lingkungan SMA N 102 dengan cara membuat KOMPOS dalam rangka meningkatkan kreatifitas siswa

Disusun oleh

Kelas :

SEKOLAH MENENGAH ATAS

KATA PENGANTAR

1

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena, atas berkat dan kehendak-Nyalah karya ilmiah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Penulisan karya ilmiah yang berjudul Peningkatan Kegiatan Ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) Melalui Pembuatan Pupuk Kompos memilki tujuan untuk mengikuti, lomba karya ilmiah dengan tema “Pemanfaatan Sampah Organik di Lingkungan SMA N 102 dengan cara membuat KOMPOS dalam rangka meningkatkan kreatifitas siswa”, yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Pendidikan Menengah Tinggi (SUDIN Dikmenti). Selain itu karya ilmiah juga bertujuan untuk memaparkan bagaimana cara mengolah sampah organik. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menemukan banyak kesulitan, terutama keterbatasan mengenai penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Tetapi berkat bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak akhirnya penulis pun dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karena itu penulis turut mengucapkan terima kasih kepada : 1. Kepala SMA Negeri 102, Bapak Drs. H. Edi Sumarto atas kepercayaan yang diberikan untuk mengikuti lomba karya ilmiah 2. Ibu Dra. H. Meilin sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang telah mengizinkan kami untuk mengikuti lomba ini. 3. Ibu Dra. H. Iswarni dan Ibu Sri Nuryani, S.Pd selaku guru pembimbing yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan dalam proses penyelesaian naskah karya ilmiah ini. 4. Staf dan Karyawan SMA Negeri 102 atas bantuanya dalam menyediakan alat untuk proses pengetikan naskah karya ilmiah. 5. Ayah dan Ibu penulis tersayang yang telah memberikan dukungan atau motivasi secara moral maupun spiritual. 6. Tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang telah membantu dalam proses penelitian. 7. Siswa-siswi kelas XI IPA yang setia menemani dan memberikan dukungan selama proses pembuatan karya ilmiah. 8. Serta, semua pihak yang turut serta dalam pembuatan karya ilmiah ini. Sebagai pelajar, penulis menyadarai bahwa pengetahuan yang dimiliki masih

2

Maka. Jakarta. agar dengan adanya karya ilmiah ini tidak hanya meningkatkan kreatifitas siswa di SMA Negeri 102 melainkan juga dapat membantu memperbaiki keadaan ekonomi penduduk sekitar.terbatas sehingga dalam karya ilmiah ini masih ditemukan banyak kekurangan. kritik dan saran dirasakan sangat dibutuhkan untuk kemajuan penulis di masa yang akan datang. Penulis berharap. 07 Juni 2008 PENULIS DAFTAR ISI Halaman 3 .

............................... 9 B.............. 5 D............. 6 E.... Saran……………………………………………………...... 18 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A...... 16 F.......................... Komposisi Sampah…………………………………….... Tujuan Penelitian.................... 4 BAB I PENDAHULUAN A.................................................................... 7 BAB II PEMBAHASAN..... Pengelolaan Sampah…………………………………......................... Mutu kompos…………………………………………… 17 G..................... 20 BIODATA…………………………………………………………………… 21 4 ... Langkah – Langkah Pembuatan Kompos…………… 15 E..................................... Manfaat Kompos………………………………………........ Sistematika Penulisan............. Metode Penelitian........................................................................ Hipotesis........ Kesimpulan……………………………………………… 19 B........................................................................................KATA PENGANTAR......... 6 G..... Waktu dan Lokasi Penelitian........ 5 C..... 6 F..... Perumusan Masalah................ Latar Belakang.................................................. 19 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….............................................................. 12 D. 9 C.................................. 2 DAFTAR ISI....... 5 B... 8 BAB III PENINGKATAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS A................................... Alat dan Bahan.................................... Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan...........

Jika kita berbicara tentang permasalahan sampah ini. dengan cara itu pula para petani bisa meminimaliskan penggunaan pupuk anorganik. Latar Belakang Melihat keadaan lingkungan kita yang setiap hari dipermasalahkan oleh samapah yang semakin menggunung seolah sampah ini menjadi masalah atau momok utama yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat. B. sebenarnya sampah ini banyak sekali manfaatnya antara lain dapat membuat pupuk organik. Walaupun ada yang merugikan antara lain menyebabkan kerugian yang berdampak berbahaya sekali bagi kehidupan makhluk hidup di dunia. Bagaimana cara pengolahan sampah anorganik menjadi barang ekonomis? 5 . Sehingga masyarakat di beberapa Negara bahkan diseluruh dunia berlomba-lomba menyelesaikan hal tersebut. Perumusan Masalah Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini adalah: 1.BAB 1 PENDAHULUAN A. Karena dengan pupuk anorganik itu bisa membuat kerusakan lingkungan antara lain pencemaran di dalam air dan tanah. Sebenarnya banyak sekali cara untuk menangani masalah sampah ini contohnya dnegan cara daur ulang yang bisa menghasilkan KOMPOS alami yang bias dimanfaatkan oleh para petani dan masyarakat.

Tujuan Penelitian Penulisan karya ilmiah ini dilakukan untuk memenuhi tugas lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Pendidikan Menengah Tinggi (SUDIN Dikmenti) yang diharapkan dapat bermanfaat dalam kehidupan manusia dan mempermudah bagaimana cara memanfaatkan sampah dengan baik dan benar. Teknik Pengamatan Langsung Pada teknik ini penulis terjun langsung kedalam proses pengolahan sampah. penulis menggunakan metode observasi dan browsing di internet. Mengetahui langkah . Waktu dan Lokasi Penelitian 6 .langkah pembuatan pupuk kompos. Metode Penelitian Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan. 4. yaitu sebagai berikut : 1. F. Mengetahui dan menemukan manfaat kompos. 3. Hipotesis Dengan mengolah sampah organik dapat meningkatkan kreatifitas ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) serta membantu perekonomian penduduk sekitar. Studi Literatur Pada metode ini penulis membaca literature-literatur yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah 2. D. Apa manfaat dari pupuk kompos? C. Mengetahui bagaimana cara mengolah sampah. tujuan dari penelitian dan penulisan karya ilmiah ini adalah : 1.2. Mengetahui sampai mana pengetahuan siswa mengenai sampah. E. 2. Secara terperinci. Adapun teknik-teknik yang dipergunakan pada penelitian ini.

pengelolaan sampah.Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian adalah sekitar 3 minggu. Kegiatan ini diawali dengan perumusan masalah. Dan pada bab ketiga terdapat paparan mengenai pengertian sampah. Dalam bab yang pertama terdapat latar belakang. dan sistematika penulisan. dan manfaat kompos. alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan kompos. kegiatan lapangan. Bab III. G. pengolahan data. Sementara dalam bab kedua terdapat deskripsi umum dari kompos. metode penelitian. perumusan masalah. pengamatan hingga penulisan hasil penelitian. mutu kompos. yaitu Bab I. langkah – langkah pembuatan kompos. hipotesis. Kemudian pada bab yang terakhir terdapat kesimpulan dari seluruh isi karya ilmiah serta saran. tujuan penelitian. komposisi sampah. 7 . pengumpulan data. Bab II. tepatnya selesai pada tanggal 3 Juni 2008 dan mengambil lokasi di wilayah SMA Negeri 102. faktor yang mempengaruhi proses pengomposan. Sistematika Penulisan Pada karya ilmiah ini terdapat tiga bab.

yaitu bagian organik dan anorganik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis. ciptaan (terutama hasil karangan). 8 . dsb). meningkatkan (usaha. tetapi bukan yang biologis. sudah sampai umur untuk kawin. 2003). seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa. yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri). Kemudian remaja yang juga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka.BAB II PEMBAHASAN Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka. pemberian air yang cukup.dan kegiatan ialah aktivitas.H. Sampah terdiri dari dua bagian. pekerjaan. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang. tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang. perbuatan. serta pupuk merupakan penyubur tanaman yg ditambahkan ke tanah untuk menyediakan senyawaan unsur yang diperlukan oleh tanaman. industri dan kegiatan pertanian. dan penambahan aktivator pengomposan. Masih berasal dari sumber yang sama ekstrakurikuler yaitu berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum. kegiatan.1999) adalah mulai dewasa. Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai. Crawford. lembab. dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J. usaha. Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. sedangkan ilmiah ialah bersifat ilmu. sementara karya adalah pekerjaan. memenuhi syarat (kaidah ilmu pengetahuan). Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous).1999) peningkatan adalah proses. perdagangan. buatan. mengaturan aerasi. cara. khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga. secara ilmu pengetahuan. hasil perbuatan.

Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. Pengelolaan Sampah Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan. baik kertas koran. dan sebagainya. botol dan gelas minuman. maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik. B. dan sampah anorganik sebesar ± 30%. Sampah Anorganik. yaitu sampah yang tidak mudah membusuk. yaitu: 1. dan kertas. Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan di kawasan wisata alam adalah: 9 . kayu. 2.Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%. sampah dibedakan menjadi dua. sayuran. Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik. dan sebagainya. plastik mainan. kaleng. yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan. Komposisi Sampah Berdasarkan komposisinya. sebesar 60 – 70%. kertas. HVS. serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya (produk daur ulang). sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai BAB III PENINGKATAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS A. seperti plastik wadah pembungkus makanan. daun-daun kering. kaca. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya. kaleng. botol dan gelas bekas minuman. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan. maupun karton. Sampah Organik.

atau kertas daur ulang. Pemanfaatan kembali secara langsung. 2). sisa sampah akhir yang benarbenar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%. c. Pemanfaatan sampah organik. misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas. plastik. seperti composting (pengomposan). Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan wisata. Dengan pengelolaan sampah yang baik. pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda. harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). terdiri atas: 1). kaleng. Tempat Pembuangan Sampah Akhir Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik. jumlahnya mencapai ± 10%.a. Pemanfaatan sampah anorganik. misalnya menjual barang bekas seperti kertas. Mengapa kita harus mengolah sampah? 10 . Pemanfaatan Kembali Kegiatan pemanfaatan sampah kembali. Di Indonesia. botol. mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS. gelas dan botol air minum dalam kemasan. b. baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung. koran bekas. Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam. serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah. Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan yang sering dikunjungi wisatawan.

kain perca dsbnya. masih banyak warga kota yang membuang sampah di sembarang tempat. Gas H2S dan NH3 yang dihasilkan. air. walaupun jumlahnya sedikit. plastik. pembakaran 1 ton sampah akan menghasilkan 30 kg gas CO. sisa sayuran. justru sering menimbulkan masalah. Membakar potongan kayu akan menghasilkan senyawa formaldehida yang mengakibatkan kanker. Timbunan sampah yang dihasilkan terus bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk kota. kolera. Gas yang jika dihirup akan berikatan sangat kuat dengan hemoglobin darah sehingga dapat menyebabkan tubuh orang menghirup akan akan kekurangan O2 dan menimbulkan kematian. buah-buah. 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik. misalnya sungai. pencemaran udara. Beberapa kajian membuktikan. dengan komposisi. ranting. Sampah organik yang masih agak basah seperti daun. Sebagian besar sampah di kota dibuang ke TPA. Akibatnya sampah akan menyumbat saluran sehingga menyebabkan banjir. khususnya di daerah perkotaan sering menjadi masalah. plastik air kemasan. Namun pengolahan di TPA yang sebagian besar dengan sistem open dumping. tanah sampai masalah estetika. Pembakaran sampah organik juga akan menghasilkan gas methana. daun. mulai dari masalah kesehatan. Yang dimaksud sampah organik adalah sampah yang berasal dari benda hidup.Sampah. pemicu kanker (karsiogenik) bahkan kematian. kaleng. Sebagai gambaran. batang. plastik sisa sampo. Sementara itu. Satu ton sampah organik akan menghasilkan 9 kg 11 . Polutan yang dihasilkan akibat pembakaran sampah dapat menyebabkan gangguan kesehatan. namun dapat menyebabkan bau yang tidak enak. H2S dan NH3. ranting. Di sisi kesehatan tumpukan sampah tersebut akan menjadi salah satu sumber penularan penyakit seperti disentri. Karena sampah yang dibakar akan menghasilkan zat atau gas polutan yang tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi juga berbahaya langsung terhadap manusia. penangganan sampah dengan cara seperti itu akan menghasilkan gas polutan seperti methan. Selain itu ternyata tidak sedikit warga kota yang menanggani sampah dengan cara dibakar. Cara-cara seperti justru dapat menimbulkan masalah serius. besi. sisa sayuran atau buah jika dibakar tidak akan semua terbakar dan menghasilkan partikel-partikel padat yang akan beterbangan. ikan. Sehari setiap warga kota menghasilkan rata-rata 900 gram. seperti sisa makanan. Sedangkan yang termasuk sampah anorganik adalah. pes dsbnya. saluran drainase atau rawa-rawa. kaca. ampas kelapa dsbnya.

kulit jeruk 6 bulan. Kertas jika dibuang ke alam butuh waktu 2. Menurut beberapa kajian diketahui asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali lebih besar dari asap rokok. kain nilon 30-40 tahun. Berikut disajikan peralatan yang digunakan.partikel padat yang mengandung senyawa hidrokarbon berbahaya. Butuh waktu berbulan-bulan. Akibatnya jika volume sampah yang dihasilkan warga kota banyak dan lama hancur. Padahal faktanya banyak perumahan atau kampung orang kaya yang justru menjadi sumber sampah utam di perkotaan. Salah satu diantaranya adalah benopirena. Di sisi lain. Dan tidak sedikit pemulung yang kerap dimasukkan sebagai bagian dari warga miskin kota yang justru “mengolah” sampah di kota sehingga mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA. Sementara itu ada satu jenis sampah yang tidak bisa hancur sampai kapan pun. Keberadaan warga miskin di kota seringkali menjadi kambinghitam karena dituding sebagai penyebab kota kotor dengan sampah. Alat dan Bahan Pengomposan secara aerobik Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. C. tidak semua sampah jika dibuang ke alam akan mudah hancur. plastik 50-80 tahun dan aluminium 80-100 tahun. sepatu kulit yang dibuang ke halaman baru bisa hancur setelah 20-40 tahun. Kardus butuh 5 bulan. 1. bahkan ada yang puluhan tahun baru bisa hancur. maka akan dibutuhkan lahan yang luas untuk TPA.5 bulan untuk bisa hancur. Sekop 12 . Sebagai gambaran. 2. Wadah atau plastik ⇒ Sebagai tempat atau wadah selama proses pembuatan kompos. yaitu strefom. busa sabun (Deterjen) baru bisa terurai setelah 20-25 tahun.

Termometer ⇒ Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan ⇒ Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat ⇒ Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah 6. Sarung tangan 13 .⇒ Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya 3. Garpu/cangkrang ⇒ Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah 4. Sepatu boot ⇒ Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya 8. Saringan/ayakan ⇒ Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai ⇒ Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan ⇒ Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar 5. Timbangan ⇒ Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan ⇒ Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan 7.

Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.⇒ Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan 9. baik secara aerobik maupun anaerobik. Kapang Protozoa Jamur tingkat tinggi Cacing tanah. Aktinomicetes. 14 . Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Masker ⇒ Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya Tabel Organisme Yang Membantu Pembuatan Kompos Kelompok Organisme Mikroflora Mikrofanuna Makroflora Makrofauna Organisme Bakteri. SuperDec. 104 . BioPos. 105 108. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes). Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan.105 Teknologi pengomposan sampah sangat beragam.106 104 . ActiComp. rayap. dll Jumlah/gr kompos 109 . kutu. Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. OrgaDec. dengan atau tanpa aktivator pengomposan.109. EM4. Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). semut. karena mudah dan murah untuk dilakukan.

sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. tanah gembur. fisika dan biologi tanah. 2. D. 3. Pada hari ketiga setelah ada bau masam. sampah kota. Kemudian secukupnya agar bau bisa tertahan. Perciki air secukupnya. tetapi untuk wadah yang berukuran lebih besar sebaiknya campuran diaduk. sisa sayuran dan makanan ditaburi kapur (dolomide) untuk menambah unsur hara hasil kompos. lubangi bagianbawahnya untuk saluran cairan coklat (lindi) hasil pengomposan. sisa makanan ditumpuk di atas pasir itu. Untuk lapisan berikutnya dapat mulai lagi dengan diperciki air. serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. Lalu sisa sayuran. sisa sayuran/makanan. sampah hijauan. seperti kotoran hewan. eklamasi pantai pasca penambangan. menggemburkan kembali tanah pertanian. Dasar wadah itu diberi pasir. Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen. menggemburkan kembali tanah petamanan. lumpur cair dan limbah industri pertanian. sebagai bahan penutup sampah di TPA. 15 .Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia. Langkah – Langkah Pembuatan Kompos Cara pembuatan kompos dari sampah organik: 1. dan sebagai media tanaman. tambahkan tanah gembur 6. 4. Untuk wadah berdiameter 10 cm campuran tidak perlu diaduk. diberi pasir. Sediakan wadah berdiameter 10 cm (yang tidak dipakai lagi). 5. sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis. Pembuatan kompos dilakukan secara berlapis-lapis. 7.

Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain: Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air bahan(kelembaban). Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. daun kering diremas-remas sampai hancur. perciki air. kemudian masukkan ke dalam wadah plastik. mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.Waktu yang diperlukan untuk menjadi kompos sekitar satu setengah bulan. Caranya. Tanda-tanda pengomposan sudah selesai campuran menjadi hitam dan tidak bau. Selain sisa sayur/makanan. Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). daun tanaman yang kering bisa dikomposkan. Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut. Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Apabila rasio C/N terlalu tinggi. media tanam di rumah sendiri atau jika dijual bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Setelah satu setengah bulan daun kering sudah menjadi kompos yang berwarna hitam. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. E. 16 . Apabila aerasi terhambat. maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap.

volume udara berkurang. hara akan tercuci.60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba.Porositas Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Kelembaban 40 . Apabila rongga dijenuhi oleh air. Temperatur yang berkisar antara 30 . Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.5 sampai 7. Sebagai contoh. pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. secara temporer atau lokal. proses pelepasan asam. aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba.4. akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman). pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6. 17 . sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan.8 hingga 7. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Apabila kelembaban di bawah 40%. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air.

5. nilai gizi. 7. dan jumlah panen) Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah 18 . Mutu kompos Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut : ⇒ Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah 2. Manfaat Kompos Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek: Aspek Ekonomi : 1. 6. 4. 2. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah 2. ⇒ Nisbah C/N sebesar 10 – 20. tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya. 3. G. 8. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan Aspek bagi tanah/tanaman: 1. meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi. ⇒ Tidak larut dalam air.F. Mengurangi volume/ukuran limbah 3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya Aspek Lingkungan : 1. Meningkatkan kesuburan tanah Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah Meningkatkan kapasitas jerap air tanah Meningkatkan aktivitas mikroba tanah Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa.

2. Kesimpulan Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini. Perlunya kerjasama dari para siswa untuk mencanangkan pengolahan sampah. kesimpulan penulis adalah sebagai berikut : 1. Dengan pembuatan kompos dapat membantu meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) serta memajukan perekonomian masyarakat sekitar. 2. Saran Berdasarkan pembahasan tersebut saran penulis adalah sebagai berikut : 1. B. 19 . Sebagai penerus bangsa.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Pembuatan kompos dapat membantu proses penggemburan tanah. seorang pelajar sebaiknya mampu memanfaatkan sampah organik untuk menghasilkan barang ekonomis.

Kamus Besar Bahasa Indonesia.id http://www.go.org http://www.id http://uplink.bppt.id http://lingkunganku.org 20 .multiply. Jakarta: Balai Pustaka http://www.net http://id.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.wikipedia.go. 1988.com http://matoa.dephut.kimia-lipi.or.

21 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->