Cairan dan Elektrolit KONSEP PEMBERIAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses

dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah esensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan prosesproses fisiologis yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan ―homeostasis‖. A. Kompartemen Cairan Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu : Cairan Intraselular (CIS) dan Cairan Ekstra Selular (CES). Pada orang normal dengan berat 70 kg, Total Cairan Tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L. persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas. (Guyton & Hall, 1997) 1. Cairan Intraselular (CIS) = 40% dari BB total. Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraselular. 2. Cairan Ekstraselular (CES) = 20% dari BB total. Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari CES menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kir ½ cairan tubuh terkandung didalam CES. Setelah 1 tahun, volume relatif dari CES menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg). Lebih jauh CES dibagi menjadi : a. Cairan interstisial (CIT) : Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume CIT kira-kira sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang dewasa. b. Cairan intravaskular (CIV) : Cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah. Volume relatif dari CIV sama pada orang dewasa dan anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB), 3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah Plasma. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari Sel Darah Merah (SDM) atau eritrosit yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; Sel Darah Putih (SDP) atau leukosit dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah adalah mencakup : - Pengiriman nutrien, misalnya: glokusa dan oksigen ke jaringan. - Transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru. - Pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi. - Transpor hormon ke tempat aksinya. - Sirkulasi panas tubuh. 3. Cairan Transelular (CTS) : Adalah rongga khusus dari tubuh. Contoh CTScairan yang terkandung di dalam meliputi: cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu CTS mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran Gastro-Intestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari. B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. C. Fungsi Cairan Tubuh Sarana untuk mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel. Mengeluarkan buangan-buangan sel. Membantu dalam metabolisme sel. Sebagai pelarut untuk elektrolit dan non elektrolit. Membantu memelihara suhu tubuh. Membantu pencernaan. Mempemudah eliminasi. Mengangkut zat-zat seperti hormon, enzim, SDP, SDM.

Komposisi Cairan Tubuh Semua cairan tubuh adalah air larutan pelarut, substansi terlarut (zat terlarut) : 1. Air Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Rata-rata pria Dewasa hampir 60% dari berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung 55% air dari berat badannya. 2. Solut (terlarut) Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut (zat terlarut) elektrolit dan non-elektrolit. a. Elektrolit : Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain (miliekuivalen/liter) atau dengan berat molekul dalam garam (mEq/L). Jumlah kation dan anion, yang diukur dalam (mol/L atau

Tanda dan Gejala : Iritabilitas otot. 2. • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan. Selain itu sesuai aturan. sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO4ɜ). Kation ekstraselular utama adalah natrium (Na). atau hilangnya natrium yang lebih banyak dari pada air (Dehidrasi Hipotonik). kelainan ginjal dan jantung. uropati pasca obstruksi. Diet Pada saat tubuh kekurangan nutrisi. dalam larutan selalu sama. 2. sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K). Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit a. Gangguan Keseimbangan Cairan 1. 4. . Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. proses ini akan menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung. Syok Hipovolemik Syok Hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ. Hipokalemia Definisi : Kadar K+ Serum di bawah normal (< 3. mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi. kejang. penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam. Sel-sel lemak Mengandung sedikit air. sakit kepala dan keram otot. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine. 3. sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh. nilai elektrolit plasma tidak selalu menunjukkan komposisi elektrolit dari cairan intraselular. diabetes insipidus. E. ataksia. Hiponatremia Definisi : Kadar Na+ Serum di bawah normal (< 135 mEq/L). 7. 5. Namun demikian. yang terdiri atas cairan intraselular dan interstisial. 6. nefropati hiperkalsemik. Usia Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh. sindroma nefrotik. gangguan ginjal. D. sekrosis tubulus akut. Non-elektrolit : Substansi seperti glokusa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat (miligram per 100 ml-mg/dl). disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat. muntah. Temperatur lingkungan Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. secara bermakna mengubah nilai elektrolit palsma. air tubuh menurun dengan peningkatan usia. bingung. konsentrasi darah dan glikolisis otot. diuresis osmotik. Stres Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel. penyakit Addison). Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah : 1. tremor. Etiologi : CHF. hipotiroid. Dehidrasi Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total. 3.milimol/liter) miliekuivalen. disorientasi dan koma. elektrolit dapat dilepaskan dari atau bergerak kedalam atau keluar sel. dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (Dehidrasi Hipertonik). atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama (Dehidrasi Isotonik). b. Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam. Karena kandungan elektrolit dari palsma dan cairan interstisial secara esensial sama. Sakit Keadaan pembedahan. bisa terjadi sakit kepala hebat. nilai elektrolit plasma menunjukkan komposisi cairan ekstraselular. kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia. Hipernatremia Definisi : Na+ Serum di atas normal (>145 mEq/L). Etiologi : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik. Anion ekstraselular utama adalah klorida (Clˉ). • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam. Dua penyebab utama kehilangan darah dari dalam yang cepat adalah cedera pada organ padat dan rupturnya aneurisma aorta abdominalis. Berikut akan disajikan dalam tabel perubahan pada air tubuh total sesuai usia: 2. gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan. karena lebih banyak mengandung lemak tubuh. Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. trauma jaringan. b. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari. Pada situasi ini. metabolisme yang diperlukan dan berat badan. mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air.5 mEq/L). letargi. Pemahaman perbedaan antara dua kompartemen ini penting dalam mengantisipasi gangguan seperti trauma jaringan atau ketidakseimbangan asam-basa. pasien mungkin mual. Non-elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin. tubuh akan memecah cadangan energi. Jenis kelamin Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional.

• Hipoaldosteron. Temuan-temuan lain meliputi parestesi. • Hiponatremia bisa dikoreksi dengan NaCl hipertonik (3%) dengan kecepatan kira-kira 1 mL/kg per jam. . EKG sering memperlihatkan gelombang T datar. terlihat gelombang T runcing (K+ > 6. kelemahan.Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya: muntah. Hiperkalemia • Pemantauan EKG kontinyu jika ada kelainan EKG atau kalium serum > 7 mEq/L. Ini disusul dengan interval PR memanjang. arefleksia dan paralisis ascenden. Hipokalemia • Defisit kalium sukar atau tidak mungkin dikoreksi jika ada hipomagnesia. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum.5 mEq/L/jam sampai gejala mereda.Diuretik.Etiologi : . misalnya pada asidosis. transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan. sedot nasogastrik. F. dan depresi segmen ST. penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. 3. • Pseudohiperkalemia Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama. digitalisasi. • Jika kadar K+ serum > 2. • Terapi oral. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel. 2.Maldistribusi K+. sindrom malabsorpsi. Hiponatremia • Atasi penyakit dasar.5-1 mEq/kgBB/dosis dalam 1 jam. perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis.4 mEq/L dan tidak ada kelainan EKG. Hindari koreksi berlebihan karena dapat menyebabkan central pontine myelinolysis. diuretik hemat kalium. Kemudian Dekstrosa 5% diberikan untuk mengganti defisit air. sedangkan hiponatremia akut lebih agresif. atau jika perlu dengan dialisis. • Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama secara perlahan-lahan. misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik. defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah. mungkin dperlukan diuretik. • Terapi intravena harus digunakan untuk hipokalemia berat dan pada pasien yang tidak tahan dengan suplementasi oral. diare. penyalahgunaan pencahar). Hipernatremia • Hipernatremia dengan deplesi volume harus diatasi dengan pemberian normal saline sampai hemodinamik stabil. Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave.Asupan K+ yang tidak cukup dari diet.5 mEq/L). amplitudo gelombang P mengecil. . • Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries). 4. Ini sering terjadi pada penggunaan diuretik boros kalium.5 mEq/L). kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). mungkin arefleksia. pemberian maksimum 200 mEq per hari. pembedahan mayor. Dosis tidak boleh melebihi dosis maksimum dewasa.86 mEq/ml). • Insufisiensi adrenal. Magnesium harus diganti jika kadar serum rendah. . Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. • Hentikan setiap obat yang ikut menyebabkan hiponatremia. • Kalsium glukonat dapat diberikan iv sebagai 10 ml larutan 10% selama 10 menit untuk menstabilkan myocard dan sistem .Hiperaldosteron. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5. • Jangan naikkan Na serum lebih cepat dari 12 mEq/L dalam 24 jam pada pasien asimptomatik. Selanjutnya defisit air bisa dikoreksi dengan Dekstrosa 5% atau NaCl hipotonik. . 4. hipotensi ortostatik. dan kelainan konduksi. . Penanganan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit 1. emboli arteri akut.Ekskresi berlebihan melalui ginjal. Etiologi : • Ekskresi renal tidak adekuat. Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. • Hipernatremia dengan kelebihan volume diatasi dengan diuresis. luka bakar. Suplementasi K+ (20 mEq KCl) harus diberikan pada awal terapi diuretik. • Pada pasien dengan ekspansi cairan ekstrasel. Cek ulang kadar K+ 2 sampai 4 minggu setelah suplementasi dimulai. K+ bisa diberikan dengan kecepatan 0 sampai 20 mEq/jam. gelombang U. reentry phenomena. Untuk menaikkan jumlah Na yang dibutuhkan untuk menaikkan Na serum sampai 125 mEq/L digunakan rumus: • Larutan pengganti bisa berupa NaCl 3% atau 5% (masing-masing mengandung 0. Jika pasien simptomatik. bisa tingkatkan sebesar 1 sampai 1. • Defisit air tubuh ditaksir sebagai berikut: • Separuh dari defisit air yang dihitung harus diberikan dalam 24 jam pertama. Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal). dan sisa defisit dikoreksi dalam 1 atau 2 hari untuk menghindari edema serebral. • Perpindahan dari intra ke ekstraseluler. penghambat ACE. • Pada anak 0. hemolisis. Pada permulaan.51 mEq/ml dan 0. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam.

lengan bawah atau daerah cubiti.5%.9%. Jenis dan jumlah dan kecepatan cairan rumatan yang diberikan kepada pasien berbeda dengan cairan resusitasi. 2. Untuk dehidrasi ringan. 5 sampai 10 unit regular insulin sebaiknya diberikan dengan 1 ampul glukosa 50% IV selama 5 menit. Dextrose 5%+NaCl 0. Penggunaan jarum anti-karat atau kateter plastik anti trombogenik pada vena perifer biasanya perlu diganti setiap 1-3 hari untuk menghindari infeksi dan macetnya tetesan. b. dan menurunkan osmolaritas serum. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL). Pemberian terapi cairan pada bayi baru lahir dapat dilakukan melalui vena umbilikalis.9%). • Dialisis dibutuhkan pada kasus hiperkalemia berat dan refrakter Pembatasan kalium diindikasikan pada stadium lanjut gagal ginjal (GFR < 15 ml/menit). Pemberian elektrolit rumatan Terapi cairan rumatan bertujuan mengganti kehilangan air normal harian pada pasien rawat inap. Pada anak kecil dan bayi sering digunakan daerah punggung kaki. sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. NaCl 45% hipertonik. Cairan Isotonik : osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah). jadi jumlah cairan yang diperlukan tidak banyak. depan mata kaki dalam atau kepala. Untuk pemberian terapi cairan dalam waktu singkat dapat digunakan vena-vena di punggung tangan. Tujuannya Terapi Cairan dan Elektrolit : 1. sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Terapi Cairan dan Elektrolit Terapi cairan adalah suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat gizi kepada pasien-pasien yang mengalami dehidrasi dan tidak bisa dipenuhi oleh asupan oral biasa melalui minum atau makanan. misal jika ada muntahmuntah atau pasien tidak sadar. misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. Resusitasi Terapi cairan resusitasi adalah pemberian cairan untuk menyelamatkan jiwa pasien yang mengalami syok karena dehidrasi akut dan berat atau perdarahan. dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0. nutrisi parenteral adalah pemberian infus zat gizi (bisa asam amino. umumnya digunakan terapi cairan oral. pasien umumnya masih bisa mendapat air cukup dari minum. Mampu menstabilkan tekanan darah. Bic Nat diberikan sebanyak 40 sampai 150 mEq NaHCO3 iv selama 30 menit atau sebagai bolus iv pada kedaruratan. 3. menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. 4. Cairan hipertonik : osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. Cairan hipotonik : osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). Digunakan pada keadaan sel ―mengalami‖ dehidrasi. sekitar daerah pergelangan tangan. artinya diberikan sebagai jalan masuk obat suntik ke dalam pembuluh darah balik. vena jugularis eksterna atau interna yang ujungnya sedekat mungkin dengan atrium kanan atau di vena cava inferior atau superior. Dextrose 5%+Ringer-Lactate. Sedangkan pada dehidrasi sedang sampai berat. Dengan kata lain. IV line IV line sering disebut juga infus jaga. sehingga memerlukan dukungan infuse untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar tidak jatuh dalam gangguan keseimbangan air dan elektrolit yang bisa mengancam jiwa. Misalnya Ringer-Laktat dan garam . a. Seringkali pasien rawat-inap karena kondisi sakitnya tidak bisa mengkonsumsi air dan elektrolit dalam jumlah cukup melalui minum. G. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. biasanya diberikan cairan melaui infus. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. Pemberian cairan infus lebih dari 3 hari sebaiknya menggunakan kateter besar dan panjang yang ditusukkan pada vena femoralis. dan albumin. Pada pasien-pasien yang mengalami syok karena perdarahan juga membutuhkan terapi cairan untuk menyelamatkan jiwanya.konduksi jantung. khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. 2. sehingga tekanan darah terus menurun). • Insulin menyebabkan perpindahan kalium dari cairan ekstraseluler ke intraseluler. juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. karbohidrat dan lipid) ke dalam pembuluh balik atau vena. sehingga larut dalam serum. meningkatkan produksi urin. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi). Jenis-jenis Cairan dan Elektrolit 1. vena subclavia. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. vena cubiti. Nutrisi parenteral ini diberikan pada pasien yang kekurangan gizi atau asupan gizi melalui oral diperkirakan akan terhambat oleh kondisi penyakit pasien. Misalnya Dextrose 5%. atau asupan oral tidak memungkinkan. Prioritas utama dalam menggantikan volume cairan yang hilang adalah melalui rute enteral / fisiologis misalnya minum atau melalui NGT. Parenteral feeding Parenteral feeding atau nutrisi parenteral artinya pemberian selain melalui enteral. Pada infus jaga. misal hanya 500 ml per hari atau kurang. 3. dan mengurangi edema (bengkak). • Natrium bikarbonat membuat darah menjadi alkali dan menyebabkan kalium berpindah dari ekstra ke intraseluler. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya : • Kristaloid : bersifat isotonik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel. Di sini cairan infus diberikan dengan cepat dan dalam jumlah cairan yang besar sesuai dengan derajat dehidrasi atau perdarahan yang terjadi. Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan). produk darah (darah).

maka berkembang juga teknologi sterilisasi yang lebih mutakhir yaitu metoda Non-Overkill atau disebut juga Bioburden. Secara umum. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena). antara lain: glukosa. hanya cairan infus yang mengandung elektrolit tidak akan mengalami perubahan. 4.(kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter. Dengan demikian infus tetap bermanfaat dan aman untuk diberikan. (mengakibatkan dehidrasi). Sterilitas cairan infus. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam pemberian terapi cairan intravena a. • Diare dan demam. Pada pemanasan tinggi. Yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total (mmol) elektrolit dalam kandungan infus. dengan prosedur sterilisasi akhir pada suhu tinggi yaitu 121oC selama 15 menit. Dari Sisi Pasien Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien. Ca++. Overkill: Pendekatan Overkill dilakukan untuk membunuh semua mikroba. Contohnya adalah albumin dan steroid. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri. Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing. Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan . status hidrasi dan hemodinamik. maka sifatnya hipertonik. Pemberian Cairan Infus Intravena (Intravenous Fluids) Infus cairan Intravena (Intravenous Fluids Infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh. melalui sebuah jarum. rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). sama efektifnya dengan antibiotika intravena. dada. d. (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Cl-. Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun cara ini sangat berisiko dilakukan pada cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino karena bisa jadi nutrisi tersebut pecah dan pecahannya menjadi racun. (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril. yang diperhitungkan bukan hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang. (kehilangan banyak cairan tubuh). Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na+. pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha). Selain suhu sterilisasi yang terlalu tinggi. keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah: • Perdarahan dalam jumlah banyak . • Serangan panas (heat stroke). Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg++. sorbitol. cukup. maltosa. bebas partikel namun kandungannya tetap stabil serta tidak terurai yang diakibatkan pemanasan yang terlampau tinggi. bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain. Dari Sisi Cairan 1. • Fraktur (patah tulang). dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Namun sering terjadi. dan lamanya perawatan. K+. laktat atau asetat. Osmolaritas cairan a. dimana pemanasan akhir yang digunakan tidak lagi harus mencapai 121 derajat. b. c. b. dan tulang punggung. • Semua trauma kepala. meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius. sehingga produk-produk yang dihasilkan dengan metoda ini selain dijamin steril. dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS. (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi). yaitu overkill dan non-overkill (bioburden-based). Pada sterilisasi cairan intravena yang menggunakan metoda sterilisasi uap panas. ada dua pendekatan yang banyak digunakan. fruktosa. Kandungan elektrolit cairan a. lama penyimpanan juga berbanding lurus dengan peningkatan kadar 5-HMF ini. b. Indikasi pemberian obat melalui jalur Intravena Indikasi pemberian obat melalui jalur Intravena antara lain: • Pada seseorang dengan penyakit berat. asam amino. b. Dengan cara ini. cairan ini akan menghasilkan produk dekomposisi yang dinamakan 5-HMF atau 5-Hidroksimetil furfural yang pada kadar tertentu berpotensi menimbulkan gangguan hati. dan tetap berada dalam pembuluh darah. trigliserida. • Luka bakar luas. • Koloid : ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. Jadi. Kandungan lain cairan a. silitol. Metoda ini sudah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Misalnya saja larutan glukosa konsentrasi tinggi. (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Seperti disebutkan sebelumnya. dalam pemberian infus. pasien dengan komplikasi penyakit tertentu. biaya perawatan. Non-overkill (bioburden-based) : sesuai dengan perkembangan kedokteran yang membutuhkan jenis cairan yang lebih beragam contohnya cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino serta obat-obatan yang berasal dari bioteknologi. ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. a. Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.fisiologis. pas atau terlalu banyak. bebas pirogen. b. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). • Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. c. dan kekuatan jantung. • Trauma abdomen (perut) berat. selain elektrolit beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel. 3. 2. Zn++ dan trace element lainnya.

Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous Cannulation) • Pemberian cairan intravena (intravenous fluids). demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. • Lakukan pemeriksaan fisik meliputi : . gangguan mekanisme pernafasan. temperatur tubuh dan neuromuskuler irritability. • Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas. • Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan. Diagnosis Keperawatan Diagnosis keperawatan yang umum terjadi pada klien dengan resiko atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah : • Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ansietas. • Penurunan kardiak output berhubungan dengan dysritmia kardio. . g. BUN. atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pengkajian Pengkajian keperawatan secara umum pada pasien dengan gangguan atau resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi : • Kaji riwayat kesehatan dan kepearawatan untuk identifikasi penyebab gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. • Pemberian kantong darah dan produk darah. Pada keadaan seperti ini. ketidakseimbangan elektrolit. PH serum. . • Kaji manifestasi klinik melalui : . 2. sehingga tidak dapat dipasang jalur infus. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah.Kaji prilaku. e. • Emboli udara. karena ini lokasi pemasangan Fistula Arteri-Vena (A-V shunt) pada tindakan Hemodialisis (cuci darah). Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus: • Rasa perih/sakit. sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). • Review nilai pemeriksaan laboratorium : Berat jenis urine. juga untuk memudahkan pemberian obat). i. .Timbang berat badan klien setiap hari.Kaji turgor kulit. Elektrolit serum. • Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal. Proses Keperawatan 1. namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik. abnormalitas nilai darah arteri. nyeri. • Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan). • Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai. atau ―tusukan‖ berulang pada pembuluh darah. dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok. Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba). dan tingkat kesadaran. subkutan (di bawah kulit). • Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).Auskultasi bunyi /suara nafas. dan intramuskular (disuntikkan di otot). • Tromboflebitis. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa. H. terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. Kreatinin Urine. • Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu). yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena. sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan. sublingual (di bawah lidah).kimiawinya ―polications‖ dan sangat polar. Kontraindikasi dan peringatan pemasangan infus melalui jalur pembuluh darah vena • Inflamasi (bengkak. terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). • Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil. . atau kapiler. Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung. • Reaksi alergi. terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.Kaji intake output. • Pasien tidak dapat minum obat karena muntah. Hematokrit. perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus). f. pada penderita diabetes mellitus. . atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. • Infiltrasi. hydration. Analisa Gas Darah. dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.Monitor vital sign. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus : • Hematoma. yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). tingkat energi. misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa).

Process and Practice.A. ED Soeparman.S. Edisi Yogya 1996 hal. Intravenous Therapy. 8 – 12. Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan yang umum dilakukan pada pasien gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah : a. Yayasan Essentia Medica . M. 3rd Edition WB Saunders 1996. Jakarta. Simposisum hal. Balai Penerbit FKUI. p 95. Hoorn EJ and Halperin ML. b. Shafiee M. • Kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan kekurangan volume cairan. . Roesli. • Gangguan keseimbangan cairan tubuh : berlebih bwerhubungan dengan anuria. diaphoresis. Wirjoatmodjo. J. Mosby Vol 53. Penumpukan cairan di ekstraseluler. Jakarta.Andi Yogyakarta. kayexalate. Provide care seperti : perawatan kulit. 1997. Kumpulan Naskah Temu NAsional dokter PTT. Mosby. Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN. Missouri. d. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti : deuretik. Sylvia Anderson Price. P Waitt. • Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan edema. 1-6. EGC. Med. p 114. 4. Terapi Cairan. Edisi kedua. 2003. Q J Med 2003. 80. KM Fock. gangguan proses keseimbangan. In Kokko & Tannen : Fluids and Electrolytes. Peng. jumlah/dosis pemberian. Sixteenth Edition. FH Feng.• Gangguan keseimbangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare. Fifth Edition. St. DAFTAR PUSTAKA Barbara Kozier. Dolores F. Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 1995. 17 – 32. 1999. c. M Pirmohamed. penurunan kardiak output. • Elektrolit serum dalam batas normal. 2004. Elektrolit dan Metabolik. Fundamental Of Nursing Concept. 3. • Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi dan atau edema. Thaib. Farmedia. Berikan Therapi Intravena (IVFD) sesuai kondisi pasien dan intruksi dokter dengan memperhatikan : jenis cairan. C Waitt. 5 – 16. Rehidrasi . How to select optimal maintenance intravenous fluid therapy. Potassium Disorders. Syok Hipovolemik dan Terapi Cairan. Penuntun Pengobatan Darurat. • Vital sign dalam batas normal.. polyuria. Evaluasi/Kreteria hasil Kreteria hasil meliputi : • Intake dan output dalam batas keseimbangan. FKUI. safe environment. kehilangan cairan lambung. Addison Wsley Nursing. Postgrad. Mark Graber.Ilmu Penyakit Dalam. 96: 601-610 Mizock BA. No 6. Intravenous Therapy. 1987 hal. louis. Troglia S. California. 1995. Saxton. Alih : Peter Anugerah. Martin S. Nova Southeastern University PA Program. Atur intake cairan dan elektrolit. Nutritional support of the hospitalized patient. Jilid I Edisi Kedua. p 367 Tannen RL. komplikasi dari tindakan. Bohn D.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful