P. 1
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI (FAHMI YAHYA) TEKNIK PERTAMBANGAN UNPAR

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI (FAHMI YAHYA) TEKNIK PERTAMBANGAN UNPAR

2.0

|Views: 4,186|Likes:
Published by Fahmi Yahya
MERUPAKAN LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI TEKNIK PERTAMBANGAN UNIVERSITAS PALANGKARAYA (FAHMI YAHYA - DBD 111 0022)
MERUPAKAN LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI TEKNIK PERTAMBANGAN UNIVERSITAS PALANGKARAYA (FAHMI YAHYA - DBD 111 0022)

More info:

Published by: Fahmi Yahya on Sep 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2015

pdf

text

original

1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI

Disusun Oleh :

FAHMI YAHYA
DBD 111 0022

LABORATORIUM KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
TAHUN 2012

2

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KRISTALOGRAFI DAN
MINERALOGI

DISUSUN OLEH :

FAHMI YAHYA
DBD 111 0022

PALANGKA RAYA, JUNI 2012

MENYETUJUI ,

DOSEN PEMBIMBING
PRAKTIKUM

FAHRUL INDRAJAYA, ST
NIP. 19791215 200812 1 001

ASISTEN PRAKTIKUM

ANGELIA LAURA CHRISTAVENI
DBD 108 007

3

DAFTAR ISI

BAB I. KRISTALOGRAFI .......................................................................... 1

I.1. Sistem Reguler.......................................................................... 4

I.2. Sistem Tetragonal ..................................................................... 5

I.3. Sistem Triklin ........................................................................... 7

I.4. Sistem Monoklin ...................................................................... 8

Lampiran

BAB II. MINERALOGI FISIK .................................................................... 10

II.1. Warna ....................................................................................... 12

II.2. Perawakan kristal (crystal habit) .............................................. 13

II.3. Kilap (luster) ............................................................................ 22

II.4. Kekerasan (hardness) ............................................................... 24

II.5. Gores (streak) ........................................................................... 26

II.6. Belahan (cleavage) ................................................................... 26

II.7. Pecahan (fracture) .................................................................... 27

II.9. Berat jenis (Specific gravity) .................................................... 28

II.10. Kemagnetan ............................................................................. 29

II.11. Derajat ketransparanan ............................................................. 29

Lampiran

BAB III.PENUTUP ........................................................................................ 31

III.1. Kesimpulan ............................................................................... 31

III.2. Saran ......................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA

4

BAB I

KRISTALOGRAFI

Kristalografi adalah suatu cabang dari mineralogi yang mempelajari sistem kristal.
Kristalografi merupakan salah satu cabang dari mineralogi yang mempelajari mengenai sistem-
sistem kristal serta bertujuan untuk menentukan susunan atom dalam zat padat. Kristal adalah
bahan padat homogeny yang membentuk bagan polyhedral yang teratur, biasanya anisotropy.
Tersusun oleh komposisikimia tertentu yang membentuk ikatan atom tertentu yang dikelilingi oleh
bidang permukaan yang halus yang mengikuti hukum geometri tertentu.
Ada beberapa ketentuan agar dapat disebut sebagai Kristal, diantaranya adalah padat,
tidak dapat teruraikan menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan proses fisika, memiliki
stuktur bentuk, bidang serta sudut inklimasi pada setiap kristal tertentu. Kebanyakan material
kristalin memiliki berbagai jenis cacat kristalografis. Jenis dan struktur cacat-cacat tersebut dapat
berefek besar pada sifat-sifat material tersebut. Meskipun istilah "kristal" memiliki makna yang
sudah ditentukan dalam ilmu material dan fisika zat padat, dalam kehidupan sehari-hari "kristal"
merujuk pada benda padat yang menunjukkan bentuk geometri tertentu. Berbagai bentuk kristal
tersebut dapat ditemukan dialam. Bentuk-bentuk kristal ini bergantung pada jenis ikatan molekuler
antara atom-atom untuk menentukan strukturnya, dan juga keadaan terciptanya kristal tersebut.
Beberapa material kristalin mungkin menunjukkan sifat-sifat elektrik khas, seperti efek feroelektrik
atau efek piezoelektrik. Kelakuan cahaya dalam kristal dijelaskan dalam optika kristal. Dalam
struktu rdielektrik periodik serangkaian sifat-sifat optis unik dapat ditemukan seperti yang dijelaskan
dalamkristal fotonik. Kristalografi adalah ilmu - ilmu yang mempelajari tentang:
-

Sifat Geometri, memberikan pengertian letak, panjang dan jumlah sumbu kristal yang menyusun
suatu bentuk kristal tertentu dan jumlah serta bentuk luar yang membatasinya.

-

Perkembangan dan pertumbuhan kenampakkan luar, bahwa disamping mempelajari bentuk-
bentuk dasar yaitu suatu bidang pada situasi permukaan, juga mempelajari kombinasi antara
satu bentuk kristal dengan bentuk kristal lainnya yang masih dalam satu sistem kristalografi,
ataupun dalam arti kembaran dari kristal yang terbentuk kemudian.

-

Struktur dalam, membicarakan susunan dan jumlah sumbu-sumbu kristal juga menghitung
parameter dan parameter rasio.

-

Sifat fisis kristal, sangat tergantung pada struktur (susunan atom-atomnya). Besar kecilnya kristal
tidak mempengaruhi, yang penting bentuk dibatasi oleh bidang-bidang kristal: sehingga akan
dikenal 2 zat yaitu kristalin dan non kristalin.

5

Kimia Kristal

Komposisi kimia suatu mineral merupakan hal yang sangat mendasar, beberapa
sifat-sifat mineral/kristal tergantung kepadanya. Sifat-sifat mineral/kristal tidak hanya
tergantung pada komposisi tetapi juga kepada susunan meruang dari atom-atom penyusun
dan ikatan antar atom-atom penyusun kristal/mineral. Kimia kristal sejak penemuan sinar X,
penyelidikan kristalografisinar X telah mengembangkan pengertian tentang hubungan
antarkimia dan struktur. Tujuannya adalah :
1. Mengetahui hubungan antara susunan atom dan komposisi kimia dari suatu jenis
krisal.
2. Dalam bidang geokimia, mempelajari kimia kristal adalah untuk memprediksi struktur
kristal dari komposisi kimia dengan diberikan temperatur dan tekanan.

Daya Ikat dalam Kristal

Daya yang mengikat atom (atau ion atau grup ion) dari zat padakristalin adalah
bersifat listrik di alam. Tipe dan intensitasnya sangat berkaitan dengan sifat-sifat fisik dan
kimia dari mineral. Kekerasan,belahan daya lebur, kelistrikan dan konduktivitas termal, dan
koefisien ekspansi termal berhubungan secara lansung terhadap daya ikat.
Secara umum, ikatan kuat memiliki kekerasan yang lebih tinggi, titik leleh yang lebih
tinggi dan koefisien ekspansi termal yang lebih rendah. Ikatan kimia dari suatu kristal dapat
dibagi menjadi 4 macam yaitu : ionik, kovalen, logam dan van der waals.

1) GEOMETRI KRISTAOGRAFI

Sumbu dan Sudut Kristalografi

Sumbu kristalografi ialah garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal. Kristal
mempunyai 3 bentuk dimensi, yaitu panjang, lebar, dan tebal atau tinggi. Tetapi dalam
penggambarannya dibuat dimensi sehingga proyeksi orthogonal. Sumbu yang tegak lurus
pada bidang kertas adalah sumbu a. Sumbu horizontal pada bidang kertas adalah sumbu b.
Sumbu yang vertikal pada bidang kertas adalah sumbu c.

6

Sudut Kristalografi

Sumbu Kristalografi
Gambar 1.1. Sudut dan Sumbu Kristalografi

Sudut kristalografi adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan sumbu-sumbu kristalografi pada
titik potong (pusat kristal).

sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu b dan sumbu c.

sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu a dan sumbu c.

sudut ialah sudut yang dibentuk antara sumbu a dan sumbu b.

7

Tujuh prinsip letak bidang kristal terhadap susunan salib sumbu kristalografi.

Gambar 1.2. Tujuh Prinsip Letak Bidang Kristal

8

2) KLAS SIMETRI

Pengelompokan dalam klas simetri berdasarkan pada :
1. Sumbu Simetri
2. Bidang Simetri
3. Titik Simetri atau pusat simetri
1. Sumbu Simetri

Sumbu simetri adalah garis lurus yang dibuat melalui pusat kristal, dimana
apabila kristal tersebut sebagai poros putarannya, maka pada kedudukan tertentu,
kristal tersebut akan menunjukan kenampakan-kenampakan seperti semula. Ada 4
jenis sumbu simetri yaitu : sumbu simetri gyre, sumbu simetri gyre polair, sumbu
cermin putar dan sumbu invers putar.
Sumbu simetri gyre berlaku bila kenampakkan (kondigurasi) satu sam lain
pada kedua belah pihak/ kedua ujung sumbu sama. Dinotasikan dengan
huruf L (linear) atau g (gyre) dituliskan pada kanan atas atau kanan bawah.
Misal L4 = L4

= g4 = g4
.

Gambar 1.3. Digyre (L2

= l2g2

= g2)

Apabila kristal diputar 360o

dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya,

akan muncul dua kali kenampakan yang sama.

9

Gambar 1.4. Trigyre (L2

= l2g2

= g2)

Apabila kristal diputar 360o

dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya.

Akan muncul 3 kali kenampakan yang sama.

Gambar 1.5. Tetragyre (L4

= L4 = g4

= g4)

Apabila kristaldiputar 360o

dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya,

akan 4 kali kenampakannya

10

Gambar 1.6. Hexagyre (L6

= L6 = g6

= g6)

Apabila kristal diputar 360o

dengan sumbu tersebut sebagai poros putarannya.

Akan muncul 6 kali kenampakan yang sama
Sumbu simetri gyre polair berlaku bila kenampakkan (konfigurasi) satu sama
lain pada kedua belah pihak berbeda/ tidak sama. Jika pada salah satu
sisinya berupa sudut maka pada sisi lainnya berupa bidang. Dinotasikan
dengan huruf L (linear) atau g (gyre). Misal L2 = g2.

(i)

(ii)

(iii)

(iv)

Gambar 1.7. Sumbu Simetri Gyre Polair

Keterangan : (i)

Digyre polair (L2 = g2)

(ii)

Trigyre polair (L3 = g3)
(iii) Tetrahyre polair (L4 = g4)
(iv) Hexagyre polair (L6 = g6)

11

Sumbu cermin putar didapatkan dari kombinasi suatu perputaran dimana
sumbu tersebut sebagai porosnya, dengan pencerminan ke arah suatu
bidang cermin putar yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Dinotasikan

dengan huruf “S” (spilegel Axepy).

a. Digyroide (S2)
b. Trigyriode (S3)
c. Tetragyroide (S4)
d. Hexagyroide (S6)

- Digyroide (S2)

Gambar 1.8. Digyroide (S2)
Sumbu cermi putar bernilai 2, besar perputarannya 180o

. 1 putaran sebesar 180o

menuju 1‟, dilanjutkan dengan pencerminan tegak lurus bidang cermin putaran

menempati 2. 2 diputar 180o

menuju 2‟, kemudian dicerminkan menempati 1 kembali.

Dari 1 – 1‟ menempati 2
2 – 2‟ menempati 1

12

- Trigyroide (S3)

Gambar 1.9. Trigyroide (S3)
Sumbu cermin putar bernilai 3, besar perputaran 120o

. Dalam penentuan dan cara
mendapatkan sumbu bernilai tiga caranya sama dengan digyroide. Cermin putaran
menempati.
Dari 1 lewat 1‟ menempati 2
Dari 2 lewat 2‟ menempati 3
Dari 3 lewat 3‟ menempati 4
Dari 4 lewat 4‟ menempati 5
Dari 5 lewat 5‟ menempati 6
Dari 6 lewat 6‟ menempati 1

13

- Tetragyroide (S4)

Gambar 1.10. Tetragyroide (S4)
sumbu cermin putar bernilai 4, besar perputaran 90o.

Dari 1 lewat 1‟ menempati 2
Dari 2 lewat 2‟ menempati 3
Dari 3 lewat 3‟ menempati 4
Dari 4 lewat 4‟ menempati 1

Pada kenampakan pertama, tetragyroide merupakan dyrogire, asal susunan
keseluruhan diputar sebesar 180o
.

14

- Hexagyroide (S6)

Gambar 1.11. Hexagyroide (S6)
Sumbu cermin putar bernilai 6, besar perputaran 60o

, kenampakan pertama

hexagyroide juga trigyroide, dengan perputaran sebesar 120o
.

Dari 1 lewat 1‟ menempati 2
Dari 2 lewat 2‟ menempati 3
Dari 3 lewat 3‟ menempati 4
Dari 4 lewat 4‟ menempati 5
Dari 5 lewat 5‟ menempati 6
Dari 6 lewat 6‟ menempati 1

15

Sumbu inversi putar merupakan hasil perputaran dengan sumbu tersebut
sebagai poros putarannya, dilanjutkan dengan menginversikan (membalik)
melalui titik pusat simetri pada sumbu tersebut. Misal L4

i, L6

i dan sebagainya.

(i)

(ii)

(iii)

(iv)

Gambar 1.12. Sumbu Invers Putar
Keterangan: (i) Sumbu invers putar bernilai 2
(i) Sumbu invers putar bernilai 3
(ii) Sumbu invers putar bernilai 4
(iii) Sumbu invers putar bernilai 6
2. Bidang Simetri Kristal

Bidang simetri adalah bidang bayangan yang dapat membelah kristal
menjadi dua bagian yang sama, dimana bagian yang satu merupakan
pencerminan dari yang lain. Bidang simetri ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
bidang simetri aksial dan bidang simetri menengah. Bidang simetri aksial bila
bidang tersebut membagi kristal melalui dua sumbu utama (sumbu kristal). Bidang
simetri aksial ini dibedakan menjadi dua, yaitu bidang simetri vertikal, yang melalui
sumbu vertikal dan bidang simetri horisontal, yang berada tegak lurus terhadap
sumbu c. Bidang simetri menengah adalah bidang simetri yang hanya melalui satu
sumbu kristal. Bidang simetri ini sering pula dikatakan sebagai bidang siemetri
diagonal.

16

Gambar 1.13. sumbu utama horizontal dan vertikal
Bidang simetri utama ada 2 yaitu:
-

Bidang utama horizontal dinotasikan

-

Bidang utama vertikal dinotasikan

Gambar 1.14. bidang simetri tambahan

3. Pusat Simetri Kristal

Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri bila kita dapat membuat
garis bayangan tiap-tiap titik pada permukaan kristal menembus pusat kristal dan
akan menjumpai titik yang lain pada permukaan di sisi yang lain dengan jarak yang
sama terhadap pusat kristal pada garis bayangan tersebut. Atau dengan kata lain,
kristal mempunyai pusat simetri bila tiap bidang muka kristal tersebut mempunyai
pasangan dengan kriteria bahwa bidang yang berpasangan tersebut berjarak sama
dari pusat kristal, dan bidang yang satu merupakan hasil inversi melalui pusat
kristal dari bidang pasangannya.

17

Sistem Kristalografi dibagi menjadi 7 sistem, yakni:

1. Sistem Isometrik

Sistem ini juga disebut sistem kristal regular, atau dikenal pula dengan sistem kristal kubus
atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.
Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing sumbunya.

2. Sistem Tetragonal

Sama dengan system Isometrik, sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masing-
masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama. Sedangkan
sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya lebih panjang.

3. Sistem Hexagonal

Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu
lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain.
Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang
atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).

4. Sistem Trigonal

Jika kita membaca beberapa referensi luar, sistem ini mempunyai nama lain yaitu
Rhombohedral, selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal
Hexagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem
Trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk segitiga
dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.

5. Sistem Orthorhombik

Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling
tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang
berbeda.

6. Sistem Monoklin

Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya.
Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi sumbu c tidak
tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang tidak sama,
umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek.

7. Sistem Triklin

Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus.
Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
Berikut dijelaskan mengenai 4 sistem kristal yakni Isometrik (reguler), Tetragonal, Triklin dan
Monoklin.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->