P. 1
Naskah Drama

Naskah Drama

|Views: 656|Likes:

More info:

Published by: Rizal Ardhi Rahmadani on Sep 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2014

pdf

text

original

Naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarso BAPAK (Drama dua babak) B.

Soelarso Para Pelaku: Bapak, usia 51 tahun Si Sulung, usia 28 tahun Si Bungsu, usia 24 tahun Perwira, usia 26 tahun Bagimu, kemerdekaan bumi pusaka Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara Kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan merebut ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Tentara kolonial telah pula siap siaga untuk melancarkan serangan kilat untuk merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon Tentara Nasional Indonesia. Di kota itulah si Bapak dikagetkan kedatangan putera sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun tanpa kabar berita. Si sulung telah kembali pulang dengan membawa sebuah usul yang amat amat sangat mengagetkan si Bapak. Waktu itu seputar jam 10.00, si Bapak yang sudah lanjut usia, jalan terus-menerus merongrong pikirannya. Bapak : Dia putera sulungku. Si anak hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke daerah pendudukan yang serba aman tenteram. Hem ya-ya, usulnya dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa bertahun hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya dikelap-butakan oleh nina-bobok, lele-buai si penjajah. Bertahun semangatnya dijinakan oleh suap roti-keju. Celaka,oo, betapa celaka nian. Si Bungsu senyum mendatang. Bungsu : Ah Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri. Bapak : Ya, anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada diri sendiri. Tapi bukankah kau tadi bersama abangmu? Bungsu : Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Sayang sekali, kami tidak berhasil menjumpai Mas... Bapak : Tunanganmu? Bungsu : Ah dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu. Bahkan ketika kami mendatangi asramanya, ia tak ada. Kata mereka, ia sedang rapat dinas. Heheh, seolah-olah seluruh, hidupnya tersita untuk urusan-urusan militer saja. Bapak : Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan dalam keadaan begini, bagi seorang prajurit kepentingan negara ada di atas segala. Bukan saja seluruh waktunya, bahkan juga jiwa raganya. Tapi eh, mana abangmu sekarang? Bungsu : Oo, rupanya dia begitu rindu pada bumi kelahirannya. Seluruh penjuru kota dipotreti semua. Tapi kurasa Abang akan segera tiba. Dan sudahkah Bapak membawa usul yang dimajukannya itu?

Mengasolah dulu. Tapi maaf. Sulung : Bapak menjawab dengan penolakan. kota tercintaku ini rupanya sudah berubah wajah. mumpung masih keburu waktu. Dipenuhi penghuni baju seragam menyandang senapan. Tapi atas segalanya. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku. Terus duduk. Bapak : Begitulah Nak suasana kota yang sedang dicekam keadaan darurat perang. melepaskan kacamata dan meletakkan pesawat potret di meja. Bapak. bukan? Bapak : Ya. Nak. Dan. biar aku pergi belanja dulu untuk hidangan makan siang nanti. Si Sulung tertawa . tidak mengapa. Si Sulung mengantar dengan senyum. pertimbangan bukanlah karena masa depan adikmu seorang. lebih karena itu. Abang. kau benar manisku. Bungsu : Jawaban Bapak sangat bijaksana. Sulung : Oh.. Sulung : Huhuh. ya. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan amesin. Bapak : Nak.ya?!? Apa itu ya. Si Bungsu pergi. berganti huru-hara keonaran. Mengasolah. bagaimana dengan putusan Bapak atas usulku itu? Bapak : Menyesal sekali. Bungsu : Ah. kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya. mengenakan kacamata hitam.. kau begitu capek tampaknya. Kau hanya kelihatan keletihan. Sulung : Kemerdekaan!?! Kemerdekaan siapa? Bapak : Bangsa dan bumi pusaka.Setidak-tidaknya demikianlah anggapanmu. adik sayang. bukan maksudku menyindirmu. Dipagari lingkaran kawat berduri.. Sulung : Hem. itulah yang hendak kuputuskan sekarang ini. Nak. Sulung : Ya pertanda akan hilang keamanan.Bapak : Itulah. Karena rumah dan tanah pusaka ini barangkali ya. Bungsu : Nah itulah dia! Si Sulung datang dengan mencangklong pesawat potret. karena bukankah secara kebetulan tunanganmu itu adalah seorang perwira TNI disini. Nak. Bapak? Bapak : Kemerdekaan. Sulung : Bijaksana!?! Ya. Bapak? Bapak : Sesungguhnya.

mungkin kelak aku akan membenarkan tafsir Bapak. seorang patriot akan senantiasa membangkang terhadap tiap politik penjajahan. lambang kuasa. Di sana kami punya wali negara.. kami disana hidup dalam damai. penjajahan. Dan aku seperti juga mereka. sudah dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan? Tidak. anakku renungkanlah kebenaran ucapanku ini. Karena.baik. Bapak. Di atas segalanya. kemerdekaan atau penjajahan selalu soal politik. kurasa wajah kota tercintaku ini tak lama lagi akan hancur lebur ditimpa kebinasaan perang. Dapatkah itu kau artikan suatu kemerdekaan? Sulung : Ah. Di sana segala lapang kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa awak. Bapak : Dan di atas segalanya pula. kita sekarang diburu waktu. Renungkanlah itu.Sulung : Bapak yang baik. . di sana kami hidup merdeka. Tapi sekarang ini dan dalam waktu mendatang yang singkat. apakah sesuatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. bagian terbesar tentara polisi. anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. agar ia segera saja pindah ke pedalaman yang masih jauh dari jangkauan peluru meriam. Nak. kau. Itu akan kurenungkan.. Bukankah dulu semasa kita masih hidup dalam alam Hindia Balanda. kumohon Bapak segera berkenan sekali lagi mempertimbangkan usulku. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Selalu merupakan buah politik. alat negara bangsa awak. Taapi karena dia lebih memberati masa nikahnya dengan seorang perwira TNI. kau wajib merenungkannya. Bapak : Nak. Ketahuilah ya. kecukupan sandang pangan.baik. Bapak : Bagaimana kemerdekaan menurut engkau.. Bapak : Bebaskah kau menuntut kemerdekaan? Sulung : Hoho.. Itu urusan politik Bapak : Nak. Kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan. Sulung : Baik. Dan. Bahkan sebenarnya juga demi masa depan adikku satu-satunya itu. Nak. Bapak. kesejahteraan hidup keluarga dalam suasana aman tenteram dan masa pensiun yang enak. kita bukan politisi.. Karenanya. apakah jaminan perut kenyang. Rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna. Setidak-tidaknya demi kedamaian hidup masa tua Bapak juga. Sebab. Nak? Sulung : Hem. kita hidup serba kecukupan dalam sandang pangan. aku belum bersedia untuk mempertimbangkannya. di sana si putih menjadi yang dipertuan. Renungkanlah . Sulung : Baik . justru karena kesadaran dan pengertian politiknya itulah. Rukun berdampingan antara si putih dan si awak. Dan sebuah bendera asing jadi lambang kedaulatan. Sulung : Menyesal ya. Ia ditentukan oleh kenyataan. apa yang mesti dituntut! Kami di sana manusia manusia merdeka. terpulanglah kepada kehendaknya sendiri. seorang negarawan. Di sana. Bapak berpikir secara politis. Lagipula. Kendati tidak harus berarti menjadi seorang diplomat. Nak. soal kehormatan kebangsaan. aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu. Cuma. Bapak.. setiap patriot pada hakekatnya adalah seorang politikus jua. Bertahun sudah aku hidup di daerah pendudukan sana bersama beribu bangsa awak yang tercinta. Tapi ya. Betapa pun manis bentuk lahirnya. Ya. bangsa awak.. tidak pernah merasa jadi budak belian ataupun tawanan perang. Tapi. Bapak : Namun. telah kupesankan kepadanya.

bila adikmu mantap untuk mengungsi ke sana. apa pun yang terjadi aku akan tetap bertahan di sini. tindak hak. Sulung : Lepas dari setuju atau tidak. Tengoklah sejarah. Bapak. Tapi karena kemerdekaan bumi pusaka. keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Juga marhumah Bundamu. Karenanya. Tapi pengertian cintanya pada kemerdekaan bumi pusakanya! Sulung : Ah. sekarang. Sulung : Ya. perbedaan dalam merumuskan tafsir makna. bukanlah karena sentimen. Dan bila mereka melanda kota ini. apa boleh buat. Dan aku bangga untuk itu. Ya. bahwa antara kita ada perbedaan kutub. Betapa kaum Nasrani begitu pasrah mati dikoyak-koyak singa di zaman Nero. Tapi usulmu itu langsung menyentuh keyakinan-keyakinan pribadi. Lupakanlah semua duka cerita itu. Dan ya. Karena ia tahu dan sadar akan arti pengorbanannya. niscayalah aku ikhlas mati dalam damai di hati. Keyakinan bahwa membangkang penjajah adalah suatu tindak mulia. kebencianku pada mereka. Mutlak! Sebab mengorbankan keyakinan. aku yakin ia akan tidak pernah ragu untuk menentukan ke mana cinta hidupnya akan dibawa. sebaiknya lupakanlah masa lalu. mereka yang Muslim yang Nasrani sama mati ikhlas mati syahid menurut anggapannya. Juga pada adikku seorang yang begitu tinggi kesadaran pengertiannya. insya Allah aku pun akan ikut angkat senjata. Namun dalam setitik amal baktiku itulah. Ya. dan besok.. kini rupanya Bapak menimpakan segala dendam itu pada pemerintah kerajaan. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan.Bapak : Nak. Bapak : Tapi. mungkin sekali pembelaanku akan kurang berarti.. Dan kalaupun aku mesti mati untuk itu. ya. Untuk itulah aku rela dalam menderita dan korbankan segalanya. sekarang. dan besok. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan seorang perwira TNI yang menjadi dasar timbang rasa. Dan menurut jalan pikiran keyakinanku. meski tafsirannya adalah tafsiran yang Bapak rumuskan. bukanlah karena dendam pribadi. Bapak.. Ya. Usulku cuma untuk keselamatan pribadi! Bapak : Kau benar. Bapak memilih jalan . Bagaimana sikapmu dalam perjuangan pembangkangan kita melawan penjajah? Sulung : Sudah kunyatakan tadi. Ya. Betapa membela dan meneguhi keyakinannya. aku kagumi kesabaran dan ketabahan marhumah Bunda. kutemukan bahagia dalam sisa usiaku. Kita menempuh jalan yang beda. Bapak terpanggang oleh api sentimen patriotisme. Nak. usulmu itu wajib ditolak.. silahkan pergi. Dan. Bila ada anakku yang yakin bahwa masa daepannya di daerah pendudukan akan lebih membahagiakan hidupnya. bagiku nilai rasanya sungguh teramat nista. keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. tapi karena keyakinan. Tapi. Nak. Tidak! Pembangkanganku dulu. Nah. lepas dari setuju atau tidak. usulmu memang tak bersangkut-paut dengan kebanggaan-kebanggaan pribadi. lihatlah betapa para satria Muslim syahid dalam membela dan meneguhi keyakinannya. jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan. usulku tak ada sangkut pautnya dengan masalah kebanggaankebanggaan pribadi. Begitulah. silahkan pergi bersamamu. Ya. kita memang musti berbangg diri dalam meneguhi cinta dan keyakinan masing-masing. bila memang Bapak begitu teguh pada pendirian yang Bapak anut. begitu agung cintanya pada kemerdekaan. Nak. Bahkan sampai-sampai almarhumah Bunda wafat dalam siksa kesepian dan kegelisahan karena Bapak selalu keluar masuk penjara. Ya. dulu. Bukan karena rumah dan tanah waris. kau pun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anak-anakku. tibang hatinya.ya aku memang dapat mengerti. izinkan aku tanya. daripada mengorbankan keyakinan-keyakinan yang mereka teguhi. Bapak : Anakku sayang. lantaran dulu Bapak pernah jadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Tidak akan pernah tersia. Meskipun takkan ada bintang jasa dan tugu kenangan baginya. aku kagumi Bapak dalam meneguhi keyakinan.

Di luar kedengaran orang mengetuk-ngetuk pintu. Kami cinta damai. bukan? Karena sejak kedatangannya disini. dimana saja. Bapak : Nak. aku tadi tidak sempat menemui. Bagaimana pun juga. maka pihak kamipun membenarkan tindak pembangkangan bersenjata. Namun bagaimana pun jua. Dik? Tentulah ia amat jengkel padaku. Perwira : Maafkan. tindak kekerasan dalam menindas gerak perjuangan kemerdekaan.. Konsekuensinya memang berat amat. merekalah yang menciptakan segala sengketa berdarah antara sesama kita. Yang penting. Mas? Perwira : Tembakan pistol! . Ya. aku sebaliknya. Bungsu : Lupakanlah. memang keyakinan tidak bisa dipaksakan.. Tapi adalah keliru bila kau menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami. Si Bungsu dan Perwira tersentak kaget. Dan.. Mas ? Mendadak dari dalam kedengaran suara tembakan pistol beberapa kali. lebih memberati kemerdekaan! Dan bila pihak kalian membenarkan tindak paksa. Perwira : Di mana abangmu. Nak. Si Bungsu muncul dengan mencangklong tas penuh berisi bungkusan makanan dan sayur mayur. aku sadar benar akan itu. Adalah kaum penjajah yang menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab atas segala duka cerita bangsa yang terjajah! Sulung : Begitu pendapat. ia selalu tidak berhasil dalam usahanya mengenalku. Dapatkah kini aku memperkenalkan diri ? Bungsu : Tentu. Bungsu : Kau dengar. Dari dalam rumah kedengaran suara-suara isyarat pesawat pemancar isyarat. sejarah membuktikan bahwa sejak kaum penjajah menjangkahi bumi pusaka kita.pembangkangan. permisi. kita tegak pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Nak. Bungsu : Ee. aku pun sangat ingin mengenalnya . benar bagiku. Bapak tersentak keheranan. Dan penuh curiga si Bapak melangkah ke dalam. Tidak juga oleh seorang bapak pada anak kandung sendiri. kedudukan kami adalah bertahan diri. Ya.. kemana semuanya ini. tapi adalah pasti. Dan menurut tanggapanku. Dan dengan penuh kesadaran pula. Politik penjajahan merekalah yang menghasilkan duka cerita di tanah air.. Bapak : Ya. Dan itu sudah kewajibanmu. aku bersedia menanggung segala resikonya. Bapak : Sayang sekali. Nak.. targedi yang terjadi dan bakal terjadi di sini menjadi tanggung jawab kaum ekstrimis. Si Sulung melangkah ke dalam. sekarang Mas sudah berada di sini. keyakinanmu salah. Bapak? Memang Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian itu. dan pihak yang sekeyakinan dengan Bapak. Sadarlah! Sulung : Salah bagi bapak. aku telah mengingatkannya. Satu tragedi.

Bungsu : Bapak. Perwira : Abangmu. Bungsu : Bapak apa yang terjadi ! Bapak : Aku .. tapi bagaimana mungkin bapak bertindak begitu . Si Bapak meletakkan map di atas meja. tidak. barangkali? Si Bungsu mendadak muncul dengan pestol di tangan kanan dan sebuah map tebal di tangan kiri. Barang-barang diletakkan ke atas meja. Adakah Bapak memiliki senjata api itu. Bapak : Nak. jawablah tanyaku tadi.. Perwira : Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Bapak : Apa saja yang kau temukan disana. Dan yang kubawa ini . Bapak : Pistol ini milik putera sulungku.. lihatlah ada alat-alat apa sajakah di kamar dalam sana. Lalu menatap ke arah Perwira yang masih terpaku keheranan. Bungsu : Apa.. di dalam sana. Perwira cepat pergi ke dalam... Perwira : Pistol isyarat. Tangan kiri mengepit lipatan peta militer dan pistol isyarat. seorang pengkhianat... anak kandungku pribadi. Peta militer yang secara terperinci menggambarkan denah kota ini. Si Bapak gemetar tubuhnya. aku telah menembak mati abangmu. pistol diletakkan di atasnya. Katakanlah apa dosa.. Perwira : Sebuah alat pesawat pemancar isyarat radio. Bungsu : Tapi . Si Bungsu menjerit. tangan kanan mencangklong alat peneropong. apa salah abang! Si Bapak terdiam. Si Bapak menoleh ke arah si Bungsu yang masih tersedu.. Sejenak sepi selain sedu sedan si Bungsu.apa dosa abangku seorang! Si Bapak tenang duduk.. Nak? Abangmu.Bungsu : Dari dalam rumah . Mereka saling menatap dengan heran tegang. lengkap dengan tempat-tempat instalasi-instalasi militer. berusaha menguasai diri.. Dik? Bungsu : Setahuku. Bapak : Bagaimana pun juga.. aku telah melakukannya dengan penuh kesadaran.. Si Bungsu terisak pilu. Bapak : Kau dengar sendiri. Kemudian Perwira muncul pula dengan wajah memucat.... . dan suaranya menggemetarlah. kubu-kubu pertahanan kita di sini.

berulang kali menggumam kata-kata “pengkhianat”. Nak bawa kemari jenazah almarhum. cepat merebut potret dari tangan si Bapak. karena ia telah memilih kematian yang paling aib. wajib dihentikan. Sebab dia ternyata opsir dalam Dinas Rahasia Tentara Kerajaan. Tapi cinta kebapaanku ada batasnya. dengan pangkat Letnan! Lengkap dalam bintang-bintang jasa khianatnya menghiasi dada. si Bapak mengeluarkan sebuah potret ukuran kartu pos dari dalam map yang tadi dibawanya. dunia akhirat. . kunci sandi dinas rahasia tentara Kolonial. Si Bapak menghampiri si Bungsu. Tapi dengan kematiannya. Si Bapak mengambil map. dengan tanganku pribadi. Si Bungsu dengan mata terkaca basah mengangguk pelan sambil menahan kerunyaman hatinya. Bapak : Karena. diserahkannya kepada Perwira yang masih tertegun dengan wajah muram. Si Bapak menoleh ke arah Perwira. karena cintaku itulah. aku telah menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Si Bungsu menutupkan kedua belah tangannya pada wajahnya beriring suara melengking pasrah. Nak. Bapak : Nak. aku tidak rela ia meneruskan langkah sesatnya. Si Bungsu menghentikan seduisakannya. Dengan menahan amarah campur kepedihan hati. Potret diperlihatkan kepada si Bungsu dan Perwira. izinkan kubertanya. Bila ia pengkhianat. Karena aku lebih cinta pada bagimu kemerdekaan bangsa dan bumi pusaka. harus ya. Perwira cepat melangkah ke dalam. kenapa musti Bapak sendiri yang menghakimi. pengkhianat! Mata si Bapak terkaca basah. Kemudian seolah potret itu pun terlepas sendiri jatuh ke lantai. sekali ini aku terpaksa memaksakan kehendakku pada anak kandungku sendiri. Dan itu akan kupertanggungjawabkan.Bapak : Dia anak kandungku. Dan bagimu kemerdekaan. Dia anak kandungku pribadi. sekali anak kandungku kujadikan tumbal sesaji. matilah ia di tanganku pribadi. Bapak : Lihat. Ameskipun dengan jalan membunuhnya. Dan dengan kekerasan dalam bentuk pembunuhan! Itu kulakukan tanpa dorongan dendam. Tanpa semangat kebencian pada pribadi almarhum.lihat! Dia dalam seragam tentara Kolonial. Apa yang akan kalian lakukan terhadapnya sekiranya ia sampai tertangkap kalian ? Perwira : Hukum tembak sampai mati. Bapak : Tolonglah. Ya. Dan celakalah ia. dan deraian air mata kepedihannya. Bungsu : Tapi. Karena aku cinta padanya. Ya. Bapak : Bawa! Di dalamnya penuh dokumen rahasia-rahasia militer. Bila saja ia pahlawan. dia anak kandungku pribadi. hendaklah gugur syahid di pangkuan Ibu Kemerdekaan. Gemetar si Bungsu menatap potret. Mungkin sekali juga. Bapak : Itu sudah terlaksana. Dengan kematiannya berakhirlah pula kerja nistanya sebagai pengkhianat. Langkah khianatnya. Bungsu : Abang! Bapak : Tak perlu ia diratapi. Mati dalam khianat.

Bapak : Bagaimanapun juga..35 . Lalu dengan gemetar. Betapa memelas. betapa memelas kemalangan hidupnya. Sekarang jam 11. bapak. Mereka pasti akan segera kemari. ditatapnya wajah jenazah dengan berlinang.. Cepatlah bertindak. Dan kau anakku.00. Keduanya berlari keluar. ya Bapak.. bapak. Perwira : Selamat tinggal.. Bapak : Tidak! Aku tidak akan pergi. Untuk mendobrak pertahan TNI di jalan raya 1.. Bungsu : Selamatlah ya. Terdengar deru pesawat-pesawat terbang. kain diselimutkan lagi menutupi wajah jenazah. tapi henti sejenak di ambang. menembus pertahanan sayap kanan kiri TNI pada jalan raya 1 dan 2. aman. cepat-cepat menarik tangan si Bungsu. Pistol ini akan memadailah untuk itu. Perwira : Ini buku harian mendiang. Sasaran artileri 3 derajat barat laut kota. yang tadi kutemukan dari sakunya. Dan. Mereka sama tersentak. Bungsu : Oo. jam 12. Bapak : Sekarang tanggal 19 Januari! Perwira : Kekuatan kita Cuma satu batalyon. dan dengan berlutut ia menyingkap selimut. Sambil bangkit si Bungsu menggumam lirih. Terdengar ledakan bom-bom menggemuruh. dan kepada-Nya jualah akhirnya manusia kembali. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. besok pagi. Tinggal kirim tanda OK. abangmu kini telah lepas dari cengkeraman tindak khianat. . Beres. Bapak : Belas kasihanilah ia. Perwira muncul dengan mengemban jenazah si sulung yang sudah diselimuti kain. ikutlah bersama bakal suamimu. Semua laporan sudah diterima di Markas Besar. Bungsu : Bapak juga . Perwira mengeluarkan sebuah notes dari saku celananya. Si Bapak memberi isyarat agar jenazah diletakkan di lantai. sebagaimana kita menaruh belas kasihan pada jiwa-jiwa malang... Bungsu : Tidak! Bapak musti ikut kami. Dropping Zone di perbatasan utara kota. Operasi Badai bisa dilaksanakan menurut rencana X. 18 Januari 1949. Bapak : Mereka datang. Aku akan tetap di sini. Bapak : Cepat pergilah! Cepat! Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan. 19 M januari. Cukup diterjunkan satu kompi pasukan payung. cukup dikerahkan satu squadron tank. aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Dan inilah catatannya yang terakhir . bersusul tembakan meriam-meriam. Bungsu : Sesungguhnya manusia itu kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa. Si Bungsu masih dengan mata berkaca basah menghampiri jenazah si Sulung. Keempat batalyon Tiger Brigade digerakkan serentak.

sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan mengampuni dosa tiap hamba-Nya. Bapak : Sekarang. Karena. ya. Selamat berjuang! Perwira dan si Bungsu menghilang pergi. telah tiba saatnya bagiku untuk bikin perhitungan dengan si biang keladi yang menimpaku duka cerita selama berabad di tanah air. Bersusul tembakan gencar. Sekarang btelah tiba saatnya bagiku untuk berikan pengorbananku yang terbesar bagimu. Berbahagialah. Tuhan bersama kalian.Bapak : Selamat berjuang. Bapak : Damailah rohmu di alam baka. Tuhan akan mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dibukanya kain yang menutup bagian wajah jenazah. sejenak ditatap dengan penuh keharuan. kemerdekaan bumi pusaka! SELESAI . Ledakan-ledakan. Lahirkanlah pahlawan pahlawan. Dan dengan gerak tenang pula melangkah ke arah ambang dengan senjata di tangan. Lalu dengan tenang si bapak menghampiri meja. tembakan-tembakan kian dekat menggemuruh. Tenang membukan kunci pistol. Si bapak dengan tenang menghampiri jenazah. Wajah jenazah kembali ditutupkan. mengambil pistol.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->