Epidemiologi Malaria

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKARAN 2010 BAB I PENDAHULUAN Pada pidato Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada Peringatan Hari Malaria Sedunia Ke-2 Pada tanggal 25 April 2009 : ”Sampai tahun 2007, 80% Kabupaten/Kota di Indonesia masih endemis malaria. Jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2008 sebanyak 1.624.930 orang.jumlah ini mungkin lebih besar dari keadaan yang sebenarnya karena lokasi yang endemis malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan sarana transportasi yang sulit dan akses pelayanan kesehatan masih rendah. Menurut perhitungan para ahli ekonomi kesehatan dengan jumlah kasus tersebut sudah dapat menimbulkan kerugian sebesar 3,3 triliun rupiah.” 6 Di Indonesia sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi, terutama di daerah Indonesia bagian timur. Di daerah trasmigrasi dimana terdapat campuran penduduk yang berasal dari daerah yang endemis dan tidak endemis malaria, di daerah endemis malaria masih sering terjadi letusan kejadian luar biasa (KLB) malaria Oleh karena kejadian luar biasa ini menyebabkan insiden rate penyakit malaria masih tinggi di daerah tersebut.3 Indonesia merupakan salah satu negara yang masih tergolong berisiko malaria serta sering mengalami kejadian luar biasa (KLB). Ini bisa dilihat dari jumlah penderita malaria pada dua tahun terakhir; pada tahun 2006 terdapat sekitar dua juta kasus malaria klinis, sedangkan tahun 2007 menjadi 1,7 juta kasus. Jumlah penderita positif malaria (hasil pemeriksaan mikroskop) tahun 2006 sekitar 350 ribu kesakitan dan tahun 2007 sekitar 311 ribu kesakitan. Daerah endemis malaria tinggi, sebagian besar berada di wilayah timur Indonesia, yang umumnya merupakan daerah terpencil dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan yang kurang baik serta transportasi dan komunikasi yang relatif sulit; sedangkan di Pulau Jawa dan Bali, malaria berada pada kantong-kantong di daerah pantai dan pegunungan.5,8,9 Akibat dari perpindahan penduduk dan arus transportasi yang cepat, penderita malaria bisa dijumpai di daerah yang tidak ada penularan. Seperti di Jakarta, walaupun tidak ada penularan malaria, tidak jarang ditemukan penderita malaria dan bahkan sampai ada penderita yang meninggal karena tidak pasti diagosanya dan terlambat atau salah pengobatan. 4 Setiap dokter yang bekerja di Indonesia perlu memahami penyakit malaria, mampu mendiagnosa, mengobati, mengetahui komplikasi dan penanganannya, serta dapat memberi nasehat mengenai pencegahannya. 4 Dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010, Pembangunan Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional yaitu untuk mewujudkan manusia sehat, produktif dan mempunyai daya saing tinggi. Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang mempunyai

derajat kesehatan tinggi. Dengan memahami epidemiologi penyakit malaria diharapkan dapat dilakukan pemberantasan yang tepat, sehingga eliminasi penyakit malaria di Indonesia dapat terwujud. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Istilah epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari: Epi : atas, pada Demos : rakyat Logos : ilmu Maka epidemiologi sebenarnya berarti: ”ilmu mengenai hal-hal yang terjadi pada rakyat”. Ruang lingkup epidemiologi yang semula mempelajari penyakit menular lambat laun diperluas, sehingga epidemiologi menjadi ”ilmu yang mempelajari factor-faktor yang menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada rakyat”. (1) Definisi epidemiologi lainnya ialah ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian dan factor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan dan kematian dalam populasi manusia. Epidemiologi juga meliputi pemberian cirri pada distribusi status kesehatan, penyakit atau kesehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, geografi, agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, waktu, tempat, orang dan sebagainya.7 Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus Plasmodium. Malaria pada manusia dapat disebabkan P. malariae, P. vivax, P. falciparum dan P. ovale. Penularan malaria dilakukan oleh nyamuk betina dari tribus Anopheles. Dari sekitar 400 spesies nyamuk anopheles telah ditemukan 67 spesies yang dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya ditemukan di Indonesia. Selain itu gigitan nyamuk malaria dapat ditularkan secara langsung melalui transfuse darah atau jarum suntik yang tercemar dari ibu hamil kepada bayinya.1 Epidemiologi malaria ialah ilmu yang mempelajari factor-faktor yang menentukan distribusi malaria pada masyarakat dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk menanggulangi penyakit tersebut.1 2.2 Penyakit Malaria 2.2.1 Siklus Hidup Plasmodium spp Siklus hidup semua spesies parasit malaria pada manusia adalah sama, yaitu mengalami stadiumstadium yang berpindah dari vektor nyamuk ke manusia dan kembali ke nyamuk lagi. Siklus hidup tersebut terdiri dari siklus seksual (sporogoni) yang berlangsung pada nyamuk Anopheles spp. betina, dan siklus aseksual yang berlangsung pada manusia yang terdiri dari fase eritrosit (erythrocytic schizogony) dan fase yang berlangsung di dalam parenkim sel hepar (exoerythrocytic schizogony).

Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia. ovale. sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah akan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina). Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi oleh skizon akan pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Pada P. Siklus ini disebut sebagai siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Pada dinding luar lambung nyamuk. sporozoit yang berada di dalam kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dalam peredaran darah selama lebih kurang 30 menit. betina. Gambar 2. tetapi ada yang menjadi bentuk dormant yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel heti selama berbulan-bulan samapi bertahun-tahun.2 Gejala Klinis Penyakit malaria yang ditemukan berdasarkan gejala-gejala klinis dengan gejala utama demam mengigil secara berkala dan sakit kepala kadang-kadang dengan gejala klinis lain sebagai berikut : • Badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan darah dan berkeringat. gamet jantan dan gamet betina akan melakukan pembuahan menjadi zigot. tergantung spesisnya). seperti gejala diatas disertai kejang-kejang dan penurunan. • Sakit kepala yang berat. Siklus pada manusia Pada saat nyamuk Anopheles spp. Pada suatu saat.1 Siklus Hidup Plasmodium Spp 2. Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8 – 30 merozoit. Setelah itu. Zigot kemudian akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Siklus ini dikenal sebagai silkus eritrositer. di dalam tubuh nyamuk. bila imunutas tubuh menurun. betina yang infektif menghisap darah manusia. vivax dan P. • Dalam keadaan menahun (kronis) gejala diatas. Di dalam sel darah merah. • Pada anak. makin muda usia makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret (diare) dan pusat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat kunjungan ke . • Nafsu makan menurun. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10. • Malaria berat.2. terus menerus.000 merozoit hati (tergantung spesiesnya). Apabila nyamuk Anopheles spp betina menghisap darah yang mengandung gametosit. sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon. khususnya pada infeksi dengan plasmodium Falciparum. Setelah 2 – 3 siklus skizogoni darah. ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit.1. 1. disertai pembesaran limpa. Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah.000 – 30. • Mual-mual kadang-kadang diikuti muntah. sporozoit akan masuk ke dalam sel hepar dan menjadi trophozoit hati. hipnozoit ini akan kembali aktif dan menimbulkan kekambuhan (relaps). Siklus pada nyamuk Anopheles spp.

Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Strain ini terutama dijumpai didaerah Utara dan Rusia nama yang diusulkan untuk strain ini adalaJl plasmodium vivax hibernans. • Gejala klasik malaria merupakan suatu paroksisme biasanya terdiri atas 3 stadium yang berurutan yaitu : 1. Penularan bukan alamiah seperti penularan malalui transfusi darah. Masa inkubasi ini bervariasi antara 9 -30 hari tergantung pada species parasit. Stadium dingin (cold stage). 3 Cara penularan. 2. 3 . 3 Gejala Klasik dari malaria meliputi : 1. paling pendek pada plasmodium Falciparum dan paling panjang pada plasmodium malaria. kulit kering dan pucat. Stadium Dingin Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. pengobatan yang pernah didapat sebelumnya dan tingkat imunitas penderita. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.atau berasal dari daerah malaria. apakah secara alamiah atau bukan alamiah. • Plasmodium malariae 28 -30 hari. Khususnya di daerah yang tidak mempunyai fasilitas laboratorium serangan demam yang pertama didahului oleh masa inkubasi (intrisik). Bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan. juga mempengaruhi. Masa inkubasi ini tergantung pada intensitas infeksi. 3 Di daerah endemis malaria ketiga stadium gejala klinis di atas tidak berurutan dan bahkan tidak semua stadium ditemukan pada penderita sehingga definisi malaria klinis seperti dijelaskan sebelumnya dipakai untuk pedoman penemuan penderita di daerah endemisitas. 3. plasmodium vivax setelah 16 hari dan plasmodium maJariae setelah 40 hari lebih. masa inkubasinya tergantung pada jumlah parasit yang turut masuk bersama darah dan tingkat imunitas penerima arah. 3 Masa inkubasi pada penularan secara alamiah bagi masing-masing species parasit adalah sebagai berikut : • Plasmodium Falciparum 12 hari. • Plasmodium vivax dan Plasmodium Ovale 13 -17 hari. Stadium berkeringat (sweating stage). Secara umum dapat dikatakan bahwa masa inkubasi bagi plasmodium falciparum adalah 10 hari setelah transfusi. Ketiga gejala klinis tersebut diatas ditemukan pada penderita berasal dari daerah non endemis yang mendapat penularan didaerah endemis atau yang pertama kali menderita penyakit malaria. Beberapa strain dari Plasmodium vivax mempunyai masa inkubasi yang jauh lebih panjang yakni sampai 9 bulan. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia nadi cepat tetapi lemah. Stadium demam (Hot stage).

Pemeriksaan pada saat penderita demam akan meningkatkan ditemukannya parasit. Adapun pemeriksaan darah yang dapat dilakukan melalui: 2 1. 3 Pada plasmodium vivax dan P. black water fever biasanya dijumpai pada mereka yang menderita infeksi P. 3 Gejala mungkin berupa koma/pingsan. hanya interval demamnya tidak jelas. kadang-kadang sampai dibawah suhu normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. Suhu badan meningkat dengan cepat. Preparat Tetes Darah Tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak . falcifarum yang berulang -ulang dan infeksi yang cukup berat. Muka merah. pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Kematian paling banyak disebabkan oleh jenis malaria ini. Demam disebabkan oleh pecahnya sison darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah kedalam aliran darah. riwayat pengobatan kuratif maupun preventif. ovate sison-sison dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap tiga hari terhitung dari serangan demam sebelumnya. Stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Black water fever yang merupakan gejala berat adalah munculnya hemoglobin pada air seni yang menyebabkan warna air seni menjadi merah tua atau hitam. hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut. Serangan demam di ikuti oleh periode laten yang lamanya tergantung pada proses pertumbuhan parasit dan tingkat kekebalan yang kemudian timbul pada penderita. pemeriksaan darah tepi untuk menegakkan diagnosis. Stadium Berkeringat Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah. vivax/P. Pada plasmodium malariaa. nadi menjadi kuat lagi. Gejala lain dari black water fever adalah ikterus dan muntah-muntah yang warnanya sama dengan warna empedu. Untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak. 2 Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik. stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain.3 2. fenomena tersebut 72 jam sehingga disebut malaria P. Nama malaria tertiana bersumber dari fenomena ini.3 Diagnosis Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita tentang asal penderita apakah dari daerah endemic malaria. kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar. ovale. riwayat berpergian ke daerah malaria.2. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofosoit dan sison). 3 3. sakit kepala menjadi –jadi dan muntah kerap terjadi. Biasanya penderita merasa sangat hasil dan suhu badan dapat meningkat sampai 41°C atau lebih. gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. Stadium Demam Setelah merasa kedinginan. tergantung pada species parasit dan umur dari penderita. Gejala-gejala yang disebutkan diatas tidak selalu sama pada setiap penderita.2. kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. Kadang–kadang gejalanya mirip kholera atau dysentri.

Selain itu juga bekerja membunuh plasmodium dalam semua stadium termasuk gametosit. vivax maupun lainnya. Obat ini termasuk dalam kelompok seskuiterpen lakton mempunyai beberapa formula seperti : artemisin. Dosis orang dewasa yaitu artesunate (50mg/tablet) 200mg pada hari I-III (4 tablet). 2x sehari. 1. Sedangkan ACT kombinasi tidak tetap.4 Pengobatan Secara global WHO telah menetapkan dipakainya obat ACT (Artemisinin base Combination Therapy). 2 Dari kombinasi yang tersedia di Indonesia saat ini ialah kombinasi dan artesunat + amodiakuin dengan nama dagang “Artesdiaquine” atau Artesumoon. 2 mg/kg/hari untuk 6 hari 1. Untuk Amodiaquine (200 mg/tablet) yaitu 3 tablet hari I dan II dan 1 ½ tablet hari ke-III. falciparum. dan hal ini disebut ACT (Artemisin base Combination Therapy). 1.2. Preparat Tetes Darah Tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium jika dengan preparat darah tebal sulit ditemukan. Beberapa obat golongan Artemisin ialah: 2 1. Karenanya WHO memberikan petunjuk penggunaan artemisninin dengan mengkombinasikan dengan obat antimalaria yang lain.untuk menemukan parasit malaria dibandingkan preparat darah tipis. L yang disebut dalam bahasa Cina sebagai Qinghaosu. 10 mg/kg untuk 6 hari.2 Golongan Artemisinin Berasal dari tanaman Artemisia annua. Artemeter 4 mg/kg dibagi 2 dosis hari ke-I. artemeter. Kombinasi ini berupa kombinasi dosis tetap (fixed dose) dan kombinasi dosis tidak tetap (non-fixed dose). 2 2. hari ke-II-V: dosis tunggal. Artemisinin 20 mg/kgBB dibagi 2 dosis pada hari ke-I. P. Artesunat Hari ke-I: 2 mg/KgBB. Golongan artemisinin (ART) telah dipilih sebagai obat utama karena efektif dalam mengatasi plasmodium yang resisten dengan pengobatan. misalnya:2 ü Artesunate + mefloquine ü Artesunate + amodiaquine ü Artesunate + kloroquine . Juga efektif juga terhadap semua spesies P. asam artelinik. Pengobatan ACT (Artemisin base Combination Therapy) Pengobatan artemisin secara monoterapi akan mengakibatkan terjadinya rekrudesensi. dan dihidroartemisin.

Kina Sulfat 1 tablet 220 mg. Vivax. beberapa daerah masih cukup efektif baik terhadap klorokuin maupun sulfadoksin pirimetamin (kegagalan masih kurang 25%). terbagi 10 mg/kgBB hari I dan hari II. sedangkan nyamuk malaria disebut sebagai definitive host (pejamu tetap). 1. yaitu sebagai berikut : . dosis 3 x 10 mg/kg BB selama 7 hari.ü Artesunate + pyronaridine ü Artecom + Primaquine Obat Non-ACT Walaupun resistensi terhadap obat-obat standar golongan non ACT telah dilaporkan dari seluruh propinsi di Indonesia. 2. Manusia disebut sebagai immediate host (pejamu sementera). Vivax dosisnya 15 mg/hari selama 14 hari yaitu membunuh gamet dan hipnozoit. (2) agent (penyebab penyakit). 2. dapat dipakai untuk P. dipakai untuk pengobatan pelengkap atau radikal terhadap P. terdapat sejumlah pertanyaan penting yang harus selalu diingat. Hal-hal tersebut ialah hubungan antara host (pejamu).What : Apakah sebenarnya yang terjadi (atau kejadian apa)? Apakah ada wabah.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Epidemiologi Terdapat hal-hal penting yang harus diuraikan dalam mempelajari epidemiologi malaria. Vivax. 1. Dalam epidemiologi. kejadian luar biasa. Falciparum dan P. Sulfadoksin-Pirimetamin 1 tablet mengandung 500 mg sulfadoksin dan 25 pirimetamin. Pada P. Falciparum dosisnya 45 mg (3 tablet) dosis tunggal untuk membunuh gamet. Hubungan tersebut dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut :10 1. dosis orang dewasa ialah 3 tablet dosis tunggal. agent (penyebab). Di beberapa daerah menggunakan obat standar seperti klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin masih dapat digunakan dengan pengawasan terhadap respon pengobatan. terdapat tiga faktor yang harus selalu diperhatikan dan diselidiki hubungannya yaitu (1) host (manusia). Falciparum maupun P. Selain ketiga komponen di atas. Obat non-ACT antara lain:2 1. dan (3) environment (lingkungan). Primakuin 1 tablet 15 mg. 1. 5 mg /kgBB pada hari III. dan environment (lingkungan). Kloroquin difosfat/Sulfat Dosis 25mg basa/kgBB untuk 3 hari. atau ada peningkatan jumlah suatu penyakit? . sedangkan untuk P.

1 Host 2. penyebaran penyakit malaria ditentukan oleh tiga faktor yang dikenal sebagai host. Kekebalan ada dua macam yaitu kekebalan alamiah (natural immunity) yaitu kekebalan yang timbul tanpa memerlukan infeksi terlebih dahulu dan kekebalan yang didapat (acquired immunity) yang juga terbadi menjadi dua jenis yaitu kekebalan aktif (active immunity) merupakan penguatan dari mekanisme tubuh sebagai akibat dari infeksi sebelumnya atau akibat dari vaksinasi dan kekebalan pasif (passive immunity) yaitu kekebalan yang didapat dari pemindahan antibodi atau zat-zat yang .3. lahir prematur dan kematian janin intrauterin. Secara skematis. atau pada musim-musim tertentu? .faciparum. Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut di atas saling mendukung. pada orang yang mempunyai Haemoglobin S (Hb S) tinggi ternyata tahan terhadap infeksi P. agent.10 Kekurangan enzym Glukose 6 phospate dehydrogenase (G6PD) ternyata dapat memberi perlindungan terhadap infeksi P.1 Manusia sebagai intermediate host (pejamu sementara) Secara umum dapat dikatakan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat terkena penyakit malaria. dan environment.When : Bilamana kejadian tersebut berlangsung? Apakah insidental.Where : Di mana kejadian terjadi atau berlangsung? Apakah di perkotaan. pedesaan. berat badan lahir rendah.3. sepanjang tahun. Penelitian menunjukkan bahwa Hb S menghambat perkembangbiakan P. abortus. Keuntungan dari kurangnya enzym ini ternyata merugikan dari segi pengobatan penderita dengan obat-obatan golongan sulfonamide dan primakuin dimana dapat terjadi hemolisa darah. tetapi apabila mengenai kaum ibu hamil maka akan menyebabkan anemia yang lebih berat. 10 Kekebalan/imunitas terhadap penyakit malaria adalah adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan Plasmodium yang masuk atau membatasi perkembangbiakannya. Seperti yang telah disebutkan di atas.1 Hubungan Antara Host.1 Ras atau suku bangsa. pegunungan? .falciparum yang berat.. dan Enviroment HOST AGENT ENVIRONMENT 2. Bagi host ada beberapa factor intrinsic yang mempengaruhi derajat kerentanan pejamu terhadap penyebab. Agent.1.1 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan mempunyai respons imun yang lebih kuat dibandingkan laki-laki.Who : Siapakah yang terkena penyakit tersebut? Bagaimana dengan umur dan jenis kelaminnya? Apakah ia pendatang? dan lain sebagainya. ketiga faktor tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Bagan 2.falciparum pada waktu invasi sel darah merah maupun pada waktu pertumbuhannya.

2 Peta Penyebaran Nyamuk Anopheles spp di Dunia Tabel 2. A. Keadaan gizi agaknya tidak menambah kerentanan terhadap malaria.berfungsi aktif dari ibu kepada janinnya atau melalui pemberian serum dari seseorang yang kebal penyakit. vanus 1.1. tesselatus * * * * * * * * * * * * * * Irian Jaya Jawa * * * Sumatera * * * * * * Kalimantan * * * * * * * * * Sulawesi * * * . aitkenii 1. Akan tetapi anak yang bergizi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi baik. A.2 Nyamuk sebagai definitive host (pejamu tetap) Malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk betina anopheles. Penyebaran geografik vektor malaria di Indonesia Pulau 1. barbirostris 1. Dari lebih 400 spesies anopheles di dunia. A.1.3. beazai 1.1 2. A. A. A. hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. sinensis 1. umbrosus 1. A. roperi * 1. A. Ada beberap studi yang menunjukkan pada anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria cerebral dibandingkan dengan anak yang bergizi buruk. letifer 1. nigerrimus 1. A. A. 10 Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah endemis malaria erat hubungannya dengan infeksi malaria. A. A. bancrofti * 1. Gambar 2. kochi 1.

1 Kehidupan nyamuk sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan yang ada. seperti suhu. A. maculatus). punctulatus. sebagian Anopheles ditemukan di dataran rendah. annularis 1. An. 2) Kesukaan menghisap darah manusia atau antropofilia. An. curah hujan. punctulatus 1. antara lain ada nyamuk yang hidup di air payau pada tingkat salinitas tertentu (An. 3) Frekuensi menghisap darah (ini tergantung dari suhu). ada yang hidup di sawah (An. koliensis * 1. leucoshyrus 1. A. namun bisa juga hidup di daerah beriklim sedang dan bahkan di daerah Antarika. sundaicus. air bersih di pegunungan (An. sundaicus 1. A. . A. balabacensi s * 1. genangan air yang terkena sinar matahari (An. kelembaban. subpictus). A. aconitus 1.1 Semua vektor tersebut hidup sesuai dengan kondisi ekologi setempat. A. dan sebagainya. subpictus 1. flavirostris 1. A. minimus 1. farauti * 1. Anopheles jarang ditemukan pada ketinggian 2000 – 2500 m. A.1. A. farauti). maculatus * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Nyamuk Anopheles terutama hidup di daerah tropik dan subtropik. A. aconitus). A. 1 Efektifitas vektor untuk menularkan malaria ditentukan hal-hal sebagai berikut: 1) Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia. A.

1 Jarak terbang nyamuk Anopheles adalah terbatas.ovale P. Nyamuk Anopheles dapat terbawa pesawat terbang atau kapal laut dan menyebarkan malaria ke daerah yang non endemik.ovale di dalam hati dapat berkembang menjadi skizon jaringan primer dan hipnozoit.vivax dan P.2 Parasit Plasmodium sebagai penyebab (agent) Agar dapat hidup terus. 2) Eksofilik : suka tinggal diluar rumah.falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek. Gametosit P. 3) Endofagi : menggigit dalam rumah/bangunan. biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari tempat perkembangbiakan.falciparum Siklus eksoeritrositik primer (hari) 5. 5) Antroprofili : suka menggigit manusia.ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah. parasit penyebab penyakit malaria harus berada dalam tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan betina pada saat yang sesuai untuk penularan.7 Siklus aseksual dalam darah (hari) 48 Masa prepaten (hari) 6-25 P. sporozoit P. 6) Zoofili : suka menggigit binatang. dengan jumlah yang berbedabeda menurut spesiesnya. 5) Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi jumlah yang berbeda-beda menurut spesies. P. 1 2.vivax dan P. Bila ada angin yang kuat nyamuk Anopheles bisa terbawa sampai 30 km.3. Walaupun begitu. gejala yang lebih ringan dan mempunyai masa inkubasi yang lebih lama daripada P. akan tetapi menghasilkan parasitemia yang paling tinggi.vivax P. 4) Eksofagi : menggigit diluar rumah/bangunan.falciparum.2 Karakteristik Spesies Plasmodium No 1 2 3 Karakteristik P. P. Parasit juga harus menyesuaikan diri dengan sifat-sifat spesies nyamuk Anopheles yang antropofilik agar sporogoni memungkinkan sehingga dapat menghasilkan sporozoit yang infektif.malariae 8 48 8-27 9 50 12-20 14-15 72 18-59 . Hipnozoit ini menjadi sumber terjadinya relaps. 1 Tabel 2. 1 Sifat-sifat spesifik parasitnya berbeda untuk setiap spesies Plasmodium dan hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. Kebiasaan makan dan istrahat nyamuk Anopheles dapat dikelompokkan menjadi: 1 1) Endofilik : suka tinggal dalam rumah/bangunan. 1 Nyamuk Anopheles betina menggigit antara waktu senja dan subuh.4) Lamanya sporogoni (berkebangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi efektif).falciparum baru berkembang setelah 8—15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah.

8—11 hari untuk P. sedangkan P. Besar kecilnya pengaruh hujan terhadap perkembangan nyamuk tergantung kepada jenis dan derasnya hujan. jenis vektor dan jenis tempat perindukan.vivax dari daerah Pasifik Barat (antara lain Irian Jaya) mempunyai pola relaps yang berbeda.3. P.7°C masa inkubasi intrinsik adalah 10—12 hari untuk P. mungkin tidak dapat menginfeksi vektor dari daerah lain.falciparum.3. Lamanya masa inkubasi dan pola terjadinya relaps juga berbeda menurut geografisnya. 1 d) Ketinggian .4 5 6 7 Masa inkubasi (hari) Keluarnya gametosit (hari) 7-27 8-15 13-17 5 10 8-16 14 5 15 12-14 23-69 5-23 15 16-35 Jumlah merozoit per sizon jaringan 30-40. 1 a) Suhu Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam tubuh nyamuk. sehingga penularannya akan semakin meningkat. 14—15 hari untuk P.vivax dari daerah Eropa Utara mempunyai masa inkubasi yang lama. Pola resistensi di Irian Jaya juga berbeda dengan di Sumatera dan Jawa. India.3.vivax.1 2. Pengaruh suhu ini berbeda untuk setiap spesies. Strain suatu spesies yang menginfeksi vektor lokal.000 Siklus sporogoni dalam nyamuk (hari) 9-22 Sumber: Bruce-Chwatt1 Setiap spesies Plasmodium terdiri dari berbagai strain yang secara morfologis tidak dapat dibedakan.malariae dan P.1 Lingkungan fisik Faktor geografi dan meteorologi di Indonesia sangat menguntungkan transmisi malaria. 1 c) Hujan Pada umunya hujan akan memudahkan perkembangan nyamuk dan akan terjadi epidemi malaria. Pada suhu 26.3 Faktor lingkungan (environtment) 2. Suhu yang optimal berkisar antara 20—30°C. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin pendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik. Terjadinya resistensi terhadap obat anti malaria juga berbeda menurut strain geografis parasit. Tingkat kelembaban 63% yang terdapat di Punjab. Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk akan menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit.ovale. merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk. 1 b) Kelembaban Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk meskipun tidak berpengaruh pada parasit.

Berbagai kegiatan manusia seperti pembuatan bendungan. 1 g) Arus air A. kerbau dan babi dapat mempengaruhi jumlah gigitan nyamuk pada manusia apabila ternak tersebut dikandangkan tidak jauh dari rumah.barbirostris dapat hidup baik pada tempat yang teduh maupun yang terang. ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva.3. Akan tetapi hal ini dapat berubah bila terjadi pemanasan bumi dan pengaruh El-Nino. pengetahuan. Aspek sosial budaya yang erat hubungannya dengan penyakit yang disebabkan oleh parasit meliputi kebiasaan.3 Lingkungan sosial budaya Dalam keberhasilan usaha pencegahan penyakit malaria. pertambangan dan pembangunan pemukiman baru/transmigrasi sering mengakibatkan .3. sikap. 1 h) Kadar garam A.sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya 12—18% dan tidak akan berkembang pada kadar garam lebih dari 40%.3. sedangkan spesies lainnya ada yang menyukai aliran air yang deras dan ada yang menyukai air yang tergenang. Hal ini disebabkan karena mereka dapat menghalangi sinar matahari atau juga dapat melindungi larva dari serangan makhluk hidup lainnya. 1 f) Sinar matahari Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda tergantung spesiesnya. memasang kawat kasa pada rumah dan menggunakan obat nyamuk. lumut.3.barbirostris menyukai tempat perindukan yang airnya mengalir lambat atau statis. Adanya ternak seperti sapi. Hal ini disebabkan turunnya suhu rata-rata.2 Lingkungan biologik Tumbuhan bakau. aspek sosial budaya ikut berperan karena timbul dan hilangnya suatu penyakit dipengaruhi juga oleh aspek sosial budaya yang ada di masyarakat. 1 2.Secara umum transmisi malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah.l. mujair. dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Adanya jenis ikan pemakan larva atau jentik seperti ikan kepala timah (Panchax spp). nila. A. Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam. nilai tradisi.sundaicus lebih suka tempat yang teduh. pembuatan jalan. 1 2. sedangkan A. dengan menyehatkan lingkungan. dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik akan memudahkan gigitan nyamuk. dan persepsi masyarakat tentang penyakit atau sakit. kepercayaan. menggunakan kelambu. 1 e) Angin Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dengan manusia. Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria a.

Arus pariwisata dan perjalanan dari daerah endemis dapat mengakibatkan meningkatnya kasus malaria yang diimpor.3. P. SPR baru bermakna bila ABER meningkat. mass fever survey (MFS) dan lain-lain. 1 Pengamatan Rutin Malaria menggunakan parameter sebagai berikut: 1.1 Pengamatan dapat dilakukan secara rutin melalui PCD (Passive Case Detection) oleh fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit atau ACD (Active Case Detection) oleh petugas khusus seperti PMD (Pembantu Malaria Desa) di Jawa-Bali. Parasite Formula (PF) PF adalah proporsi dari tiap parasit di suatu daerah. Spesies yang mempunyai PF tertinggi disebut spesies yang dominan. Annual Blood Examination Rate (ABER) ABER = Jumlah sediaan darah yang diperiksa Penduduk yang diamati x100 ABER merupakan ukuran dari efisiensi operasional.4 Penilaian Situasi Malaria Situasi malaria di suatu daerah dapat ditentukan melalui kegiatan surveilans (pengamatan) epidemiologi. Interpretasi dari masing-masing dominansi adalah sebagai berikut: 1 1. falciparum dominan: • penularan masih baru/belum lama . 1 1. penularan malaria dilakukan melalui survey malariomatrik (MS). Penurunan API yang disertai penurunan ABER belum tentu berarti penurunan insidens.1 Peperangan dan perpindahan penduduk dapat menjadi faktor penting untuk meningkatkan angka kejadian malaria. mass blood survey (MBS). 1 1.perubahan lingkungan yang menguntungkan penularan malaria (‘man-made malaria’). ABER diperlukan untuk menilai API. Di daerah luar Jawa-Bali yang tidak pernah mengalami program pembasmian malaria dan tidak mempunyai PMD sehingga pengamatan rutin tidak bisa dilaksanakan. Slide Positivity Rate (SPR) SPR adalah persentase sediaan darah yang positif. Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terus menerus atas distribusi dan kecenderungan suatu penyakit melalui pengumpulan data yang sistematis agar dapat ditentukan penanggulangan yang setepat-tepatnya. Seperti penilaian API. Annual Parasite Incidence (API) API = Kasus malaria yang dikonfirmasikan dalam 1 tahun Jumlah penduduk daerah tersebut x1000 Kasus malaria ditemukan melalui ACD dan PCD dan dikonfirmasikan dengan pemeriksaan mikroskopik. 1 2. Penurunan API berarti penurunan insidens bila ABER meningkat 1.

malariae mempunyai siklus sporogoni yang paling panjang dibandingkan spesies lain) 1 1. P. hal ini harus dinyatakan secara khusus. Hasil pengamatan dinyatakan dengan proporsi pengunjung ke unit kesehatan tersebut (mis. Kelompok umur yang dicakup biasanya adalah golongan 2-9 tahun dan 0-1 tahun.1 : teraba pada insipirasi maksimal H. H. Penderita demam/klinis malaria unit-unit kesehatan yang belum mempunyai fasilitas laboratorium dan mikroskopis dapat melakukan pengamatan terhadap penderita demam atau gejala klinis malaria. P. proporsi yang meningkat sudah bias menunjukkan kemungkinan adanya wabah/kejadian luar biasa dan mengambil tindakan yang diperlukan. Pada MS dapat dikumpulkan parameter sebagai berikut: 1. 1 Survei malariometrik (MS) biasanya dilakukan di daerah yang belum mempunyai program penanggulangan malaria yang teratur. falciparum baru pada hari ke-8) 1 pengobatan radikal kurang sempurna sehingga timbul rekurens 1. sedangkan P. Spleen Rate (SR) SR menggambarkan persentase penduduk yang limpanya membesar. s/d d. Parasite Rate (PR) PR adalah persentase penduduk yang darahnya mengandung parasit malaria pada saat tertentu.3 : teraba di bawah garis horisontal melalui umbilicus .• pengobatan kurang sempurna/rekrudesensi 1. 2. biasanya golongan umur 2-9 tahun. Bila yang diperiksa kelompok dewasa. 1. 1 1. Meskipun hasilnya tidak sebaik penggunaan parameter a.2 : teraba tapi proyeksinya tidak melebihi garis horisontal yang ditarik melalui pertengahan arcus costae dan umbilicus pada garis mamilaris kiri. Besarnya limpa dinyatakan berdasarkan klasifikasi Hacket sebagai berikut: 1 H. Nilai data akan meningkat bila disertai pemeriksaan sediaan darah (dapat dikirim ke laboratorium terdekat). terutama di luar Jawa-Bali.0 : tidak teraba (pada insipirasi maksimal) H. Puskesmas atau Puskesmas Pembantu) yang menderita demam atau gejala klinis malaria.. malariae dominan: • kita berhadapan dengan vektor yang berumur panjang (P. vivax timbul pada hari 23 parasitemia. PR kelompok 01 tahun mempunyai arti khusus dan disebut Infant Parasite Rate (IPR) dan dianggap sebagai indeks transmisi karena menunjukkan adanya transmisi lokal. vivax dominan: • • transmisi dini yang tinggi dengan vector yang paten (gametosit P.

Hasilnya adalah parasite rate (PR) dan parasite formula (PF). Parameter penting yang perlu diketahui adalah a. 1.l: Man Biting Rate (gigitan nyamuk per hari per orang). 1 1. Survey Lingkungan Data mengenai lingkungan seperti data meteorologi dan demografi harus diusahakan dari instansi lain di luar kesehatan. Parous Rate (nyamuk yang telah bertelur). Tanpa mengetahui sifat-sifat (bionomic) vector setempat tidak akan dapat disusun upaya pemberantasan yang berhasil. perlu dilakukan studi/survey khusus seperti misalnya:1 • • • studi resistensi parasit terhadap berbagai obat malaria survei prevalensi defisiensi G6PD pada masyarakat daerah tertentu (misalnya bila primakuin akan digunakan sebagai profilaksis) studi resistensi vector terhadap berbagai insektisida yang akan dipakai. Ini dilaksanakan bila MBS tidak bias dilaksanakan karena keterbatasan biaya. 1 1. Sporozoit Rate (nyamuk dengan sporosoit dalam kelenjar liurnya). Human Blood Index (nyamuk dengan jumlah darah manusia dalam lambungnya). Average Enlarged Spleen (AES) AES adalah rata-rata pembesaran limpanya dapat diraba. Indeks ini diperoleh dengan mengkalikan jumlah limpa yang membesar pada tiap ukuran limpa (menurut Hacket) dengan pembesaran limpa pada suatu golongan umur tersebut. 3. baik yang alamiah maupun yang buatan manusia. 4.4 : teraba di bawah garis horisontal pertengahan umbilicus-symphisis pubis H. 3. AES bermanfaat untuk mengukur keberhasilan suatu program pemberantasan. 1 Survei-survei lain yang dapat dilaksanakan untuk menilai situasi malaria adalah: 1.4 1. 1 1. dan waktu.H.5 : teraba di bawah garis H. Inoculation Rate (man biting rate x sporozoit rate) 1 1. Survei-survei lain Sesuai dengan kebutuhan program penanggulangan malaria. AES seharusnya menurun lebih cepat daripada SR bila endemisitas menurun. Mosquito Density (jumlah nyamuk yang ditangkap dalam 1 jam). 5. Yang penting diketahui adalah data tentang tempat-tempat perindukan nyamuk. . tenaga. Survey Entomologi Survei ini sama penting dengan survey malariometrik terdahulu. 2. Mass Blood Survey (MBS) Pada MBS seluruh penduduk di suatu daerah tertentu diperiksa darahnya. Mass Fever Survey (MFS) Pada MFS semua penduduk yang menderita demam atau menderita demam dalam waktu sebulan sebelum survey diperiksa darahnya.

• • studi mengenai aspek social-budaya. endemisitas malaria di suatu daerah dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1 1. yaitu: receptivity dan vulnerability. Meningkatnya reservoir (penderita yang infektif). proyek kehutanan. 1 Receptivity adalah adanya vektor malaria dalam jumlah besar dan terdapatnya factor-faktor ekologis yang memudahkan penularan. misalnya transmigran yang ‘mudik’ atau berkunjung dari daerah endemik ke kampong asalnya yang sudah bebas malaria.3. IFAT. Penggolongan lain adalah stable dan unstable malaria menurut Mac-Donald. Adanya berbagai metode serologi (ELISA. Hal ini sering disebabkan pindahnya penduduk yang tidak imun ke suatu daerah yang endemik. mesoendemik : SR 11-50% 3. 3. a. dsb. holoendemik : SR 75% (dewasa : 25%) Di daerah holoendemik.5 Malaria Di Masyarakat Adanya malaria di masyarakat dapat dibedakan sebagai endemik atau epidemik. Kemungkinan masuknya penderita malaria ke daerah dimana dijumpai adanya vektor malaria disebut ‘malariogenic potential’. Kelompok ini mungkin tanpa gejala klinik namun darahnya mengandung gametosit. Malaria di suatu daerah dikatakan endemik bila insidensnya menetap untuk waktu yang lama.1 Berdasarkan spleen rate (SR) pada kelompok 2-9 tahun. Epidemi atau kejadian luar biasa (KLB) malaria adalah terjadinya peningkatan jumlah penderita atau kematian karena malaria yang secara statistik bermakna bila dibandingkan dengan waktu sebelumnya (periode 3 tahun yang lalu). Meningkatnya jumlah dan umur (longevity) dari vektor penular. misalnya pada proyek transmigrasi. hiperendemik : SR 50% 4. Vulnerability menunjukkan suatu daerah malaria atau . SR pada orang dewasa rendah karena imunitas tinggi yang disebabkan transmisi tinggi sepanjang tahun. pertambangan. dll) untuk mengukur antibody terhadap berbagai stadium parasit malaria memungkinkan diadakannya studi sero-epidemiologi untu melengkapi data malariometrik yang ada dan memahami transmisi serta perkembangan imunitas penyakit malaria dengan lebih baik. 4. Meningkatnya kerentanan penduduk. 2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya epidemic (KLB) malaria adalah: 1 1. Hal ini bisa disebabkan perubahan iklim/lingkungan atau menurunnya jumlah ternak sehingga nyamuk zoofilik menjadi antropofilik.l ‘health seeking behaviour’ yang berkaitan dengan penyakit malaria studi sero-epidemiologi. 2. Meningkatnya efektivitas dari vektor setempat dalam menularkan malaria. hipoendemik : SR 10% 2. yang dipengaruhi oleh dua factor.

Amerika Utara.1 Negara Bangladesh Insidens (ribu) 125 P.3 miliar atau 41% dari penduduk dunia.5 s/d 2.8 Penduduk Berisiko (juta) 100 .6 Penyebaran Malaria Di Dunia Malaria adalah penyakit yang penyebarannya di dunia sangat luas. sebagian Timur Tengah. sebagian besar Amerika Selatan.7 juta kematian. Situasi malaria di Asia Tenggara dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.3. Setiap tahun jumlah kasus malaria berjumlah 300-500 juta dan mengakibatkan 1. Irian Jaya. Introduced : kasus kedua yang berasal dari kasus imported. sedangkan malaria bersifat unstable apabila fluktuasi transmisi dari tahun ke tahun cukup tinggi. perlu dipertanyakan asal-usul infeksinya: • • • • • • Indigenous : bila transmisi terjadi setempat atau lokal. falciparum (%) 43. pertanian. dan Cina. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. sebagian besar Karibia. falciparum di sebagian besar wilayah endemik malaria.kemungkinan masuknya seorang atau sekelompok penderita malaria dan atau vektor yang telah terinfeksi. Imported : bila berasal dari luar daerah. Australia. dan wisatawan. wanita hamil dan penduduk non-imun yang mengunjungi daerah endemic malaria seperti pekerja migran (khususnya kehutanan. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2. Malaria yang unstable lebih mudah ditanggulangi daripada malaria yang stable. pengungsi. Malaria menurunkan status kesehatan dan kemampuan bekerja penduduk dan menjadi hambatan penting untuk pembangunan social dan ekonomi.1 Suatu masalah penting yang mempersulit penanggulangan malaria ialah berkembangnya resistensi terhadap klorokuin khususnya dari P. 1 Dalam pembahasan penyakit malaria di suatu daerah. transmigran.1 Penduduk yang paling berisiko terkena malaria adalah anak balita.3 Situasi malaria di Asia Tenggara pada tahun 1996. pertambangan). terutama di Afrika Sub-Sahara. Relaps : kasus rekrudesensi (kambuh dalam 8 minggu) atau rekurensi (kambuh dalam lebih dari 24 minggu) Unclassified : asal-usulnya tidak diketahui atau sulit dilacak Malaria di suatu daerah bersifat stable apabila transmisi di daerah tersebut tinggi tanpa banyak fluktuasi selama bertahun-tahun. Wilayah di dunia yang kini sudah bebas dari malaria adalah Eropa. dan beberapa daerah lainnya. 1 2.1 Tabel 2. Resistensi terhadap sulfodoksin/pirimetamin dan meflokuin juga telah ditemukan di berbagai daerah Asia Tenggara dan Amerika Selatan. Resistensi P. Pulau Nias. vivax terhadap klorokuin juga telah dilaporkan di Papua New Guinea. Induced : bila kasus berasal dari tranfusi darah atau suntikan. yakni antara garis bujur 60° di utara dan 40° di selatan yang meliputi lebih dari 100 negara yang beriklim tropis dan subtropis.

4 850 100 42 14 10 40 2.6 0.3. baik yang bersifat administrative maupun teknis.5 58. namun kemudian mengalami banyak hambatan. cara-cara yang ditempuh disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan masing-masing negara dan wilayah. Penemuan Sesuai kemampuan Sangat penting/mutlak perlu . 4.9 85.4 berikut: Tabel 2. Program pembasmian ini pada permulaannya sangat berhasil.850 100 59 7 143 88 45. 5.5 9. Biaya Harus baik 1. 1.7.3. Tujuan Pemberantasan Pembasmian Menurunkan malaria sehingga Menghentikan transmisi malaria tidak menjadi masalah kesehatandan menghilangkan reservoir malaria Tidak seluruh wilayah transmisi Seluruh wilayah yang mempunyai malaria transmisi malaria Tidak terbatas Relatif kecil namun terus menerus Terbatas (sekitar 8 tahun) Relatif besar namun tidak terus menerus Harus sempurna 1. melaksanakan program pembasmian malaria di Jawa-Bali.1 38. 2.6 65. 6.Bhutan India Indonesia Myanmar Nepal Sri Lanka Thailand 16 2.5 21. Indonesia.1 Pemberantasan Malaria Di Dunia Tujuan dari pemberantasan malaria adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian sedemikian rupa sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat. 3. Meskipun pembasmian tetap menjadi tujuan akhir.7 Pemberantasan Malaria 2. Jangkauan 1. sesuai dengan kebijaksanaan WHO yang diputuskan dalam World Health Assembly (WHA) 1955. Manajemen/stand ar pengelolaan 1. Waktu 1. sehingga pada tahun 1969 ditinjau kembali oleh WHA.1 Perbedaan antara program pembasmian dan pemberantasan malaria dapat dilihat pada tabel 2.4 Perbedaan antara program pemberantasan dan pembasmian malaria 1 1. Antara tahun 1959 dan 1968.

1 Untuk pelaksanaan program pembasmian malaria dibutuhkan suatu organisasi tersendiri yang disebut KOPEM (Komando Operasi Pembasmian Malaria) yang mempunyai unit sampai di desa. Fase penyerangan: penyemprotan rumah dengan insektisida yang mempunyai efek residual disertai dengan PCD dan ACD. Membunuh jentik (berbagai antilarva) baik secara kimiawi (larvisida) maupun biologik (ikan. penjaringan rumah. Pembasmian malaria berlangsung dalam 4 fase: 1. kendaraan. Menghindari atau mengurangi kontak/gigitan nyamuk anopheles (pemakaian kelambu. Mengurangi tempat perindukan (source reduction) 5. jamur. Kegiatan terpenting ialah PCD dan ACD. 1 Program pemberantasan malaria dapat didefinisikan sebagai usaha terorganisasi untuk melaksanakan berbagai upaya menurunkan penyakit dan kematian yang diakibatkan malaria. dsb) 2. 3. Fase persiapan: pengenalan wilayah. penyediaan tenaga. Fase ini berakhir bila selama 3 tahun berturutturut tidak ditemukan lagi kasus malaria indigenous.khusus 1. alat. replen. Membunuh nyamuk dewasa (dengan menggunakan berbagai insektisida) 3. 2. ACD mutlak perlu. Fase konsolidasi: fase ini dimulai dari API (Annual Parasite Incidence) kurang dari 1%. bahan. 4. berfungsinya suatu jaringan pelayanan kesehatan primer. obat nyamuk. Sejak tahun 1968 KOPEM telah dibubarkan dan program pemberantasan malaria diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan umum yang ada. Mengobati penderita malaria 6. Evaluasi Survey malariometrik ACD bukan keharusan Harus membuktikan tidak adanya kasus indigenous. Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis) 7. tumbuhan. bakteri) 4. 1 Berbagai kegiatan yang dapat dijalankan unutk mengurangi malaria ialah: 1. a. 7.l. Vaksinasi (masih dalam tahap riset dan clinical trial) 1 Konferensi Malaria Global yang dihadiri semua menteri kesehatan di dunia yang diadakan di Amsterdam pada tahun 1992 telah menetapkan Strategi Global Pemberantasan Malaria sebagai . Fase pemeliharaan (maintenance): fase ini dapat berjalan beberapa tahun untuk mempertahankan hasil yang dicapai sampai dinyatakan bebas malaria oleh tim WHO setelah beberapa syarat dipenuhi. sehingga tidak menjadi masalah kesehatan yang utama.

dan Meningkatkan kemampuan lokal di bidang penelitian dasar dan terapan agar dimungkinkan terlaksananya penilaian keadaan malaria secara tepat. menanggulangi atau mencegah wabah malaria. Para pemimpin dunia juga telah bersepakat untuk mengurangi kematian malaria sampai setengahnya dalam tahun 2010 dan separuhnya lagi dalam tahun 2015. termasuk pengendalian vektor. Pengaturan irigasi dan pola tanam padi. 1 2.7. Kegiatan KOPEM dimulai di Jawa-Bali dan Lampung dan . 1 Para pengelola kesehatan di setiap tingkat harus dapat menyesuaikan strategi ini pada tingkat lokal dan para petugas kesehatan harus mendapat pendidikan tambahan untuk menghadapi malaria secara efektif. Jakarta dan sekitarnya. Laporan kemudian adalah tentang adanya wabah malaria seperti di Cirebon pada tahun 1852-1854. Merencanakan dan melaksanakan upaya preventif yang selektif dan berkesinambungan (sustainable). Pemberantasan terutama dilaksanakan dengan obat kina. khususnya faktor ekologis. Menemukan secara dini. 1 Direktur Jenderal WHO. 4 Sesuai dengan kebijakan WHO. misalnya di lembah Cihea. dibuat beberapa uji coba dengan penyemprotan DDT di rumah yang hasilnya cukup memuaskan. Jawa Barat. ternyata juga efektif. 4 Setelah Perang Dunia ke-2. khususnya mengenai malaria pada pekerja perkebunan di Sumatera Utara. maka tahap berikut (1951-1959) adalah pemberantasan dengan menggunakan insektisida.2 Sejarah Pemberantasan Malaria Di Indonesia Laporan pertama mengenai malaria dibuat oleh dokter-dokter militer pada permulaan abad ke-19. upaya pemberantasan ditingkatkan menjadi pembasmian malaria (1959-1968) yang bertujuan untuk menghentikan transmisi malaria di seluruh Indonesia pada tahun 1970. Kegiatan dimulai dengan dibentuknya organisasi vertikal khusus. Dr.3. Pada tahun 1958 ada 18 juta penduduk yang dilindungi dengan penyemprotan rumah dengan DDT. yaitu KOPEM (Komando Operasi Pembasmian Malaria). 4 Pada tahap awal (1919-1927) pemberantasan malaria dilaksanakan dengan perbaikan sanitasi lingkungan untuk mengurangi perindukan nyamuk anopheles yang terpenting (species sanitation) serta pengobatan dengan kina. kota-kota di pantai utara Jawa serta beberapa daerah perkebunan serta persawahan di Jawa Barat merupakan daerah endemik malaria. Studi mengenai malaria yang lebih lengkap berasal dari permulaan abad ke-20. Gro Harlem Bruntland telah mengambil inisiatif ‘Roll Back Malaria’ untuk meningkatkan pembangunan pelayanan kesehatan dan kerjasama intersektoral dalam rangka pemberantasan malaria.berikut: 1 • • • • Menyediakan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat. Penimbunan dan penyaluran genangan air dan lagun ternyata member hasil yang baik. sosial ekonomik penyakit malaria. Untuk keperluan tersebut telah dibentuk Biro Malaria Pusat yang bersama Dinas Pekerjaan Umum mengadakan pemberantasan malaria melalui pengaturan irigasi dan pengaturan saluran air (drainase).4 Sebelum tahun 1925.

KOPEM direorganisasi dan diintegrasikan ke dalam struktur organisasi pelayanan kesehatan umum yang ada.000 kematian akibat malaria. operasi pembasmian (penyemprotan rumah dan pencarian serta pengobatan penderita secara aktif) berjalan lancer. khususnya di Indonesia Bagian Timur difokuskan pada daerah prioritas (transmigrasi dan wilayah pembangunan). Bila resisten terhadap klorokuin maka dapat diberikan doksisiklin 100mg/hari atau mefloquin 250 mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/minggu ditambah proguanil 200mg/hari. elektrik .8 Pencegahan dan Vaksin Malaria Tindakan pencegahan infeksi malaria sangat penting untuk individu yang non imun. Surveilans ditingkatkan dengan mengikutkan peran serta masyarakat dan lintas sektor disertai kasus malaria dan pemberantasan jentik dengan penanganan lingkungan. Vaksinasi terhadap malaria masih dalam pengembangan.3. Ketergantungan pada insektisida makin dikurangi (sejak 1992. bantuan luar negeri dihentikan dan kegiatan pembasmian malaria mengalami kemunduran sejak 1965. Pada masa peralihan yang sulit ini situasi malaria di daerah eks KOPEM bertambah buruk dan API (Annual Parasite Incidence) dan SPR meningkat menjadi 4. asap. Bila masih sensitif kloroquin maka dapat diberikan 2 tablet klorokuin (250 mg klorokuin difosfat) setiap minggu. Hasil tersebut sangat menggembirakan bila diingat bahwa dalam tahun 1956 Dr. Angka SPR meningkat lagi dan pada tahun 1968 SPR menjadi 0. Bila akan menggunakan profilaksis maka harus diketahui sensitivitas Plasmodium di tempat tujuan.52%. 4 Pada puncak kegiatan KOPEM. Leimena memperkirakan di Indonesia ada 30 juta penderita malaria dan 120. Penyemprotan rumah dilakukan lebih selektif dan cakupan pengobatan diperluas. Oleh karenanya sangat dianjurkan melakukan tindakan pencegahan dengan cara :1) tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida: permethrin) 2) Menggunakan obat pembunuh nyamuk (mosquitoes repellents): gosok. 4 Akibat perubahan politik di Indonesia. 1 minggu sebelum berangkat dan 4 minggu setelah tiba kembali. 4 Kegiatan pemberantasan di Jawa-Bali kemudian diarahkan untuk mempersempit penyebaran fokus malaria dan di luar Jawa-Bali. Hal yang menyulitkan ialah banyaknya antigen yang terdapat pada plasmodium selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur plasmodium. 4) Memproteksi tempat tinggal/kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti nyamuk. 3)Mencegah berada di alam bebas dimana nyamuk dapat menggigit atau menggunakan proteksi (baju lengan panjang atau stocking). 4 2. BAB III KESIMPULAN . yaitu tahun 1965.mencakup 2/3 dari penduduk Indonesia. Dengan bantuan luar negeri (USAID dan WHO). sedangkan di daerah lainnya ditingkatkan fasilitas untuk pengobatan. spray. seluruh penduduk Jawa.15%. Bali. dan strategi pembasmian ditinggalkan dan diganti strategi pemberantasan. dan Lampung telah terlindung dan dicapai Slide Positivity Rate (SPR) sebesar 0.4% dan 4. khususnya pada turis nasional dan internasional. DDT tidak boleh dipakai lagi) dan penyemprotan rumah dilaksanakan lebih selektif.7% pada tahun 1973.

Epidemiologi malaria ialah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran malaria dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Host merupakan makhluk hidup. Untuk melakukan penilaian situasi malaria terhadap suatu daerah. agent (penyebab penyakit). atau ACD (Active Case Detection) oleh petugas khusus seperti PMD (Pembantu Malaria Desa). dan environment (lingkungan). yakni hubungan antara host (pejamu). termasuk didalamnya manusia sebagai pejamu sementara. dilakukan suatu kegiatan berupa surveilans epidemiologi. Agent berupa parasit genus Plasmodium yang hidup di dalam tubuh manusia dan tubuh nyamuk. Epidemiologi penyakit malaria Perbincangan tentang penyakit malaria diangkat kembali oleh A. Environment adalah tempat dimana manusia dan nyamuk berada. Surveilans epidemiologi tersebut dapat dilakukan secara rutin melalui PCD (Passive Case Detection) oleh fasilitas-fasilitas kesehatan.Arsunan Arsin yang memilihnya menjadi topik utama dalam pidato pengukuhan guru besar dalam bidang . Terdapat hal penting yang harus diuraikan dalam mempelajari epidemiologi malaria. dan nyamuk sebagai pejamu tetap.

curah hujan. Dalam keadaan tertentu dapat terjadi penularan dengan bentuk Tropozoit.falciparum.vivax. P. Pada manusia hanya 4 (empat) spesies yang dapat berkembang. sejak tahun 1950 telah berhasil dibasmi di hampir seluruh benua Eropa dan di daerah seperti Amerika Tengah dan Amerika Selatan. kelembaban udara. Kamis (23/12/10). Lebih lanjut disebutkan bahwa penyakit malaria di Indonesia tersebar di seluruh pulau dengan tingkat endemisitas yang berbeda-beda. dimana manusia sebagai host. Jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 237 (BPS.falciparum. beberapa faktor lingkungan yang cukup ideal mendukung keberadaan penyakit malaria di Indonesia. penyakit malaria sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat tak lepas dari unsur segitiga epidemiologit. Spesies yang terbanyak dijumpai adalah P.malariae. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang dapat terkena penyakit malaria. agent (penyebab penyakit) dan environment (lingkungan). Dalam ilmu epidemiologi sering disebut dengan segitiga epidemiologi yakni hubungan timbal balik antara host (pejamu). agent dan environment. Hal ini dibuktikan dengan dimasukkannya upaya pengendalian malaria sebagai salah satu isu penting pencapaian millennium development goals (MDGs) atau tujuan pembangunan millenium. Sementara penyakit merupakan outcome dari adanya interaksi antara host. Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin karena berkaitan dengan perbedaan tingkat kekebalan dan frekuensi keterpaparan gigitan nyamuk. lingkungan biologik dan lingkungan sosial-budaya. ketinggian. 1980). Menurutnya. yaitu P. Penyakit malaria adalah suatu penyakit akut atau sering kronis yang disebabkan oleh parasit genus plasmodium (Class Sporozoa). Penyakit terjadi karena adanya ketidak-seimbangan (inbalancing) dari ketiga komponen tersebut. Penanganan Penyakit Penyakit malaria. misalnya melalui transfusi darah. Namun penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa bagian benua Afrika dan Asia Tenggara . angin). Diperkirakan 15 juta kasus baru terjadi setiap tahun. beberapa faktor yang berinteraksi dalam kejadian dan penularan penyakit malaria. melalui plasenta dari ibu kepada bayinya dan penularan melalui jarum suntik yang terkontaminasi. dan P. Faktor Lingkungan. 2010) dan 40 persen diantaranya tinggal di daerah dengan risiko penularan malaria atau lebih dari 100 juta orang hidup di daerah endemi malaria.vivax dan P. Faktor Agent (plasmodium). Sampai saat ini malaria masih menjadi fokus perhatian utama dalam upaya penurunan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular baik regional maupun global dan penyakit ini masuk dalam kategori “re-emergency disease”. parasit plasmodium sebagai agent dan kondisi lingkungan (environment) yang mendukung. antara lain: Faktor host (manusia). antara lain: lingkungan fisik (suhu. dan hanya 20 persen diobati di sarana pelayanan kesehatan. Pada bagian akhir pidatonya.epidemiologi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.ovale (Bruce-Chwatt. disebutkan bahwa dari aspek epidemiologi. P. Penularan malaria terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang mengandung Sporozoit. Penyakit malaria berkaitan dengan keterbelakangan dan kemiskinan serta berdampak pada penurunan produktifitas kerja dan penurunan tingkat kecerdasan anak usia sekolah.

Diperkirakan sekitar 100 juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya. beberapa hari . dibandingkan dengan Atabrine atau quinine. klorokuin dianggap lebih mampu menangkal dan menyembuhkan demam rimba secara total. Pendekatan Kesmas Penyakit Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Amerika Selatan dan Afrika. protozoa tumbuh didalam sel hati. Strain jenis ini ditemukan terutama di wilayah Asia Tenggara (Vietnam dan Malaysia). Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya. ahli obat-obatan Jerman berhasil menemukan Atabrine (quinacrine hydrocloride) yang kadar racunnya lebih rendah. organisme yang menyebabkan malaria tropika. Penggunaan Mefloquine bisa sebagai pengobatan dan sebagai pencegahan. juga dianggap lebih efektif dalam menekan jenis-jenis malaria. Sejak akhir perang dunia kedua (sekitar tahun 1945). Suatu kombinasi dari sulfadoxine dan pyrimethamine digunakan untuk pencegahan di daerah-daerah yang terjangkit malaria yang telah kebal terhadap klorokuin. Sejarah penanganan penyakit malaria. Obat tersebut (klorokuin) juga mengandung kadar racun paling rendah daripada obat-obatan lain yang terdahulu (Atabrine dan quinine ) serta terbukti efektif karena tidak perlu digunakan secara terus menerus. Pada tahun 1930. Kina mampu menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah meski merupakan tumbuhan beracun.yang pada umumnya negara berkembang dan berada pada wilayah tropis. Penyakit malaria dalam pendekatan ilmu kesehatan masyarakat berfokus pada upaya preventif. Pada masa inkubasi malaria. sementara proguanil digunakan hanya sebagai pencegahan. sekitar 1 persen diantaranya berakibat fatal berupa kematian. Para ahli juga sedang meneliti efek samping yang merugikan dari penggunaan Mefloquine. Ilmu kesehatan masyarakat dalam hal ini epidemiologi berupaya menemukenali faktor-faktor risiko seseorang terjangkit penyakit malaria agar dapat menghindarkan diri dari serangan penyakit malaria. Strain plasmodium falciparum juga kebal terhadap obat-obatan dari getah batang pohon kina. Namun perkembangan terbaru memperlihatkan adanya strain yang memiliki daya tahan terhadap klorokuin serta obat anti malaria sintetik lain dari strain Plasmodium falciparum. yang lebih dikenal dengan nama kina. malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Selanjutnya menyerang sel-sel darah merah hingga orang sehat tersebut akan sakit malaria dalam waktu kurang lebih 12 hari. Cara penularan penyakit malaria melalui gigitan nyamuk malaria (anopheles). Saat ini penggunaan Mefloquine telah terbukti efektif terhadap strain malaria yang kebal terhadap klorokuin. sejak tahun 1638 telah diatasi dengan getah dari batang pohon cinchona. Apabila nyamuk anopheles menggigit orang sehat maka parasit akan di tularkan ke orang sehat tersebut dan akan berkembang biak. Fakta lain juga membuktikan jenis nyamuk pembawa malaria (anopheles) telah memiliki daya tahan terhadap insektisida seperti DDT. Akibat munculnya strain parasit yang kebal terhadap obat-obatan tersebut terjadi peningkatan jumlah kasus penyakit malaria di beberapa negara tropis. sehingga dianggap lebih efektif daripada quinine.

para turis dari Amerika dan Eropa Barat yang datang ke Asia dan Amerika Tengah diberikan obat anti malaria seperti profilaksis (obat pencegah) seiring peningkatan prevalensi penyakit malaria. (2) Malaria quartana. nila merah. mujair dll. gupi. menggunakan obat nyamuk. gejala dapat timbul sangat mendadak. pasang kawat kasa pada ventilasi. penderita mengalami demam tidak teratur dengan disertai gejala terserangnya bagian otak. antara lain: (1) Malaria tertiana. Upaya selanjutnya adalah pengobatan pencegahan. (3) Malaria serebral. organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah sehingga menyebabkan demam. gotong royong membersihkan lingkungan sekitar. menimbun genangan air. koma disertai gejala malaria yang berat. dimana penderita merasakan demam muncul setiap hari ketiga. disebabkan oleh Plasmodium malariae. penderita merasakan demam setiap hari keempat. memakai obat oles anti nyamuk. mirip Stroke. Ada beberapa bentuk manifestasi penyakit malaria. disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Upaya berikutnya adalah membersihkan lingkungan. minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria. . Dalam kesehatan wisata (travel health). membersihkan lumut. Obat-obat pencegah malaria seringkali tetap digunakan hingga beberapa minggu setelah kembali dari bepergian. apalagi para turis yang datang ke tempat yang dijangkiti oleh penyakit malaria yang sedang mewabah. menjauhkan kandang ternak dari rumah. dan mengurangi berada di luar rumah pada malam hari. Beberapa upaya pencegahan penyakit malaria adalah menghindari gigitan nyamuk dengan cara tidur memakai kelambu. Upaya lainnya adalah menebarkan ikan pemakan jentik. 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria. bahkan memasuki fase koma dan kematian yang mendadak. (4) Malaria pernisiosa. disebabkan oleh Plasmodium vivax. seperti ikan kepala timah.sebelum gejala pertama terjadi. disebabkan oleh Plasmodium vivax.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful