PENGERTIAN HUKUM BAGI MASYARAKAT

Ilmu pengetahuan memang berkembang begitu cepat. Hal ini dimungkinkan, karena ia mengibaskan cara orang mengusahakan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang sangat sakral dalam pandangan teologia, ilmu hukum adalah merupakan salah satu bagian kajian yang tak pernah putus seiring dengan kemajuan teknologi dan manusianya dalam kehidupan masyarakat sehingga pandangan-pandangan tentang ilmu hukum itu sering berbenturan dengan keadaan yang ada dimana kajiannya lebih bersifat integral dan bukan pada bagian ilmu yang tersendiri. hukum mempunyai karateristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan. Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan ilmu hukum menetapkan standar perosedur, ketentuanketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aturan hukum. Sifat preskriptif keilmuan hukum ini merupakan sesuatu yang substansial di dalam ilmu hukum. Hal ini tidak akan mungkin dapat dipelajari oleh disiplin lain yang objeknya juga hukum. Suatu langkah awal dari substansi ilmu hukum ini adalah perbincangan mengenai makna hukum di dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini ilmu hukum bukan hanya menempatkan hukum sebagai suatu gejara sosial yang hanya dipandang dari luar; melainkan masuk kedalam hal yang lebih esinsial yaitu sisi intriksik dari hukum. Dalam setiap perbincangan yang demikian tentu saja akan menjawab pertanyaan mengapa dibutuhkan hukum sedangkan sudah ada norma-norma sosial yang lain. Apakah yang diinginkan dengan kehadiran hukum. Dalam perbincangan yang demikian, ilmu hukum akan menyoal apa yang tujuan hukum. Dalam hal demikian apa yang menjadi senyatanya ada berhadapan dengan apa yang seharusnya. Pada perbincangan akan dicari jawaban yang nantinya akan menjembantani antara dua realitas tersebut.

Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintahperintah dan larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam masyarakat yang seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat. Oleh karena itu, pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah/ penguasa. Untuk lebih memudahkan batasan pengertian hukum, perlu kalian ketahui unsur-unsur dan ciri-ciri hukum, yaitu: a. Unsur-unsur hukum di antaranya ialah:
   

Peraturan mengenai tingkah laku dalam pergaulan masyarakat; Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib; Peraturan itu pada umumnya bersifat memaksa, dan Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas. b. Ciri-ciri hukum yaitu: Adanya perintah dan/atau larangan Perintah dan/atau larangan itu harus ditaati setiap orang. Tujuan Hukum Secara umum tujuan hukum dirumuskan sebagai berikut: a. Untuk mengatur tata tertib masyarakat secara damai dan adil. b. Untuk menjaga kepentingan tiap manusia supaya kepentingan itu tidak dapat diganggu. c. Untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam pergaulan manusia.

kesusilaan. Hukum berusaha membawa jaminan bagi seseorang. Misalnya kepentingan penjual menerima pembayaran dan kepentingan pembeli menerima barang/jasa. nilai nilai yang terdapat dalam manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada. Misalnya pasal 1474 dan 1513 KUH Perdata.HUKUM SEBAGAI GEJALA SOSIAL Manusia. yang mendorong pertumbuhan sosiologi hukum. dari lahir sampai meninggal. Hukum adalah suatu gejala sosial. hukum menjadi suatu aspek dari kebudayaan Seperti halnya dengan agama. Oleh ketentuan tersebut maka dua kepentingan disetarakan. supaya perdamaian dalam masyarakat tetap terpelihara. Masing-masing manusia berkepentingan yang sama dan yang berbeda. Sebab itu. adat istiadat. kebiasaan. Hukum sebagai gejala sosial. „ . Petunjuk itu menjadi suatu gejala sosial yang terdapat dalam masyarakat. Ketentuan pertama membawa jaminan bagi pembeli menerima penyerahan barang. Sebagai gejala sosial. bahwa hukum harus dibersihkan dari anasir anasir sosiologis Kesadaran hukum dan kepatuhan hukum kesadaran : tidak ada sanksi. agama dan kesusilaan. yang masing-masing menjadi anasir-anasir kebudayaan kita. bahwa kepentingannya diperhatikan oleh tiap orang lain. yang telah dilakukan secara ilmiah. merupakan perumusan dari kalangan hukum mengenai penilaian tersebut. Petunjuk itu diberi nama kaidah (norm) terdapat dalam hukum. Manusia adalah anggota masyarakat. Oleh Aristoteles (ahli filsafat Yunani) berkata Manusia itu “zoon politicon”. hidup dalam pergaulan di antara manusia lain. Pertentangan antara kepentingan itu dapat menimbulkan kekacauan bilamana tidak ada suatu kekuasaan yakni tata tertib yang dapat menyeimbangkan (in evenwicht houden) kepentingan yang bertentangan tersebut. Dan tiada masyarakat yang tidak mengenal hukum. maka oleh manusia sendiri dibuat petunjuk hidup (levensvoorschriften). adat istiadat dan kebiasaan. Ketentuan kedua membawa jaminan bagi penjual menerima pembayaran.

kebiasaan. dan sifat yang sama. hukuman yang bersifat represif malah memberikan upaya untuk hukum yang restitutif dengan penekanan kepada kompensasi. masyarakat tidak terdiferensiasi atau tidak terbagi-bagi. Masyarakat modern terikat secara bersama kepada masyarakat organik. Kontrak dan hukum kontrak adalah titik pusat dari masyarakat modern dan pengaruh dari perkembangan masyarakat melalui hubungan-hubungan dari regulasi yang dibuat. Tipe organik ditandai dengan kelompok masyakarat modern yang heterogen dan terbagi-bagi ke dalam pembagian kerja yang kompleks. Hukuman dievaluasi sebagai pola untuk menentukan hukuman apa yang paling baik dijatuhkan kepada pelanggar dan dapat digunakan sebagai upaya rehabilitasi pelanggar. yang merupakan hal terpenting dalam hukum modern. manusia membagi mereka ke dalam hubungan tak terhitung banyaknya dan kompleksitas hubungan. dan hukuman digunakan sebagai upaya auntuk melindungi dan mengutamakan solidaritas sosial. Secara singkat dapat dikatakan.HUKUM SEBAGAI SOLIDARITAS SOSIAL Menurut Durkheim ada dua tipe solidaritas masyarakat: tipe mekanikal dan tipe organik. Solidaritas mekanikal relatif hubungannya lebih sederhana dan masyarakat yang homogen dimana persatuan ditunjukkan dengan kedekatan ikatan interpersonal. ide. . posisi Durkheim ialah sanksi hukum merefleksikan solidaritas mekanik. Hukuman berkaitan dengan upaya restitusi dan pemberian kesembuhan atas tindakan penyimpangan yang diderita oleh korban. Pelaku tindak pidana dihukum sebagai contoh kepada komunitas masyarakat bahwa penyimpangan tidak mendapat toleransi. kesaling ketergantungan dan pembagian kerja muncul dari kesepakatan bersama. Di dalam masyarakat modern yang heterogen. Sebagai korespondensi atas kedua tipe solidaritas ada dua tipe hukum yakni hukum represif dan hukum restitutif. Melalui kontrak. sebuah tindakan kriminal dianggap menyerang kesadaran masyarakat secara kolektif. Solidaritas mekanik diasosiasikan oeh Durkheim dengan hukum yang represif dan sanksi pidana. Dalam masyarakat homogen. Dasar hubungan solidaritas saling ketergantungan dari orang-orang dan grup yang luas dengan fungsi yang beraneka ragam. Hukuman adalah rekasi mekanikal. Tidak ada sama sekali kepedulian terhadap upaya rehabilitasi untuk pihak pelaku kesalahan. Tindak kejahatan dianggap sebagai tindakan yang menyerang orang lain dan bukan merupakan pelanggaran terhadap kesadaran kolektif dalam masyarakat.

dasar dan inti lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiba. Bahasan mengenai keadilan hukum bagi masyarakat miskin memang perlu untuk diungkapkan. Setiap orang berhak merasakan sebuah keadilan termasuk juga keadilan hukum. pada kenyataanya. Hukum berlaku top-down. Keadaan ini di perparah lagi dengan pengetahuan kaum miskin yang terbatas tentang hukum. Hukum tidak membedakan status. Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelasyang lebih rendah. Sorokin. Terkadang terkesan bahwa hukum lebih berpihak pada kaum strata atas. Hukum tidak memandang kaya atau miskinnya seseorang. tidak demikian. Kelas sosial yang lebih tinggi akan diperlakukan lebih istimewa daripada kelas sosial yang tingkatannya lebih rendah. . atau apapun sebutannya. Menurut Pitirim A. Yang menentukan hukum adalah kaum kalangan atas dan kaum strata bawah dianggap sebagai alat struktur dan pelaksana dari struktur. kasta-kasta sosial. Salah satu asas hukum adalah equality before the law yang artinya adalah kedudukan setiap orang adalah sama di hadapan hukum. saat hukum menghadapkan antara kaum strata atas dengan kaum strata bawah kaum strata atas secara tidak langsung lebih unggul. (Soekanto.HUKUM DAN STRATIFIKASI SOSIAL Keadilan adalah milik setiap orang. 1982: 228) Stratifikasi sosial merupakan suatu proses terjadinya pelapisan sosial di dalam masyarakat yang terwujud dalam kelas-kelas. hak-hak. Realita yang ada sekarang ini adalah hukum tidak berpihak pada kaum miskin Masyarakat mempunyai struktur yang bertingkat. Setiap orang baik kaya ataupun miskin punya hak yang sama untuk merasakan keadilan hukum. kedudukan. Selanjutnya menurut Sorokin. Oleh karena itu. Tingkatan-tingkatan di dalam masyarakat ini desebut dengan stratifikasi social. Stratifikasi berdampak pada diskriminasi antara kelas sosial satu dengan kelas sosial yang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lapisan kelas atas masih dianggap sebagai personifikasi dari sebuah struktur dalam masyarakat. Pada posisi inilah kaum strata bawah mulai tertekan. kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. istimewa dan prestise. Tertekan oleh sebuah aturan yang ditetapkan oleh strata atas.Social Stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirarkhis). kasta. Sebagaimana juga yang terdapat dalam sebuah asas hukum yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum (equality before the law). Hukum yang dibuat oleh kaum strata atas dimasuki oleh kepentingan-kepentingan mereka sendiri. dan kelas sosial. Semua sama dihadapan hukum. Stratifikasi Sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan. Hukum menjanjikan adanya kesetaraan di hadapan hukum. Adanya diskriminasi di dalam masyarakat yang disebabkan oleh pembedaan kelas sosial ini coba diatasi dengan hukum. Namun. Artinya bahwa hukum ditentukan oleh kalangan atas kemudian diterapkan pada masyarakat kalangan bawah. Termasuk juga struktur hukumnya.

dan rules of adjudication. Aturan primer hanya merupaka ketentuan – ketentuan informal tetapi kehidupan manusia terus berkembang dan semakin kompleks sehingga kosekwensinya dapat menjadikan aturan primer tersebut menjadi pudar dan disini peraturan sekunder menjadi peran yang sangat penting yang hal ini dapat dilihat bahwa aturan sekunder meruapak rules of recognition.HUKUM DAN KOMPLIT SOSIAL Dalam Pergaulan hidup manusia diatur oleh berbagai macam kaidah (Norma). namun terdapat pertentangan diantara para ahli hukum dimana terdapat perbedaan dari sumber sanksinya dan pelaksanaanya. Sekiranya semua hal ini dapat dipahami bahwa hukum digunukan untuk tujuan perdamaian. Kaidah kepercayaan ditujukan untuk mencapai kehidupan yang beriman. Kaidah disini difungsikan sebagai aturan untuk memberikan arahan dalam pergaulan hidup manusia yang diklasifikasikan dalam kaidah – kaidah kepercayaan dan kaidah – kaidah kesusilaan. Dalam sosiologi hukum. Adalah hal yang sulit dalam membedakan antara hukum dan kaidah – kaidah secara tegas. sedangkan kaidah kesusilaan sendiri bertujuan agar manusia hidup berakhlak / mempunyai hati nurani yang bersih. kaidah yang didukung oleh kekuasaan pusat diterapkan dalam bentuk hukum. yang tujuannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih aman dan tertib. . rules of change. Walaupun terdapat perbedaan namun inti dari sistem hukum sendiri sebenarnya terletak pada kesatuan aturan primer dan aturan sekunder. namun terdapat cirri – cirri khusus di dalam hukum dimana hukum bertindak sebagai alat kekuasaan pusat untuk menciptakan kesimbangan didalam kehidupan bernegara. Pergaulan hidup manusia dapat mempengaruhi pola – pola berpikir manusia dan akan disalurkan dengan sifat dan karakter yang negative maupun positive.

Roucek (1965) menyatakan pengendalian sosial: “a collective term for those processes. persuaded. ditandai dengan pemberian kewenangan bagi negara untuk melakukan paksaan fisik. or compelled to conform to the usages and life-values of groups” (istilah kolektif yang mengacu pada proses terencana atau tidak terencana tatkala individu diajarkan. Lihat kembali catatan kuliah mengenai model AGIL ini. Sehubungan dengan status ini. Contoh status adalah ibu. orang kulit hitam. by which individuals are taught. Akan tetapi sosiolog mengartikan status sebagai posisi di dalam kelompok atau masyarakat. tentara. d. Peter L. yaitu kekuatan paksaan dari luar individu. Mencopot seseorang dari jabatan. Bandingkan dengan pandangan Roucek berikut ini. planned or unplanned. c. Berger & Brigitte Berger (1981) mengartikan pengendalian sosial sebagai: “Various means used by a society to bring recalcitrant members back into line” (aneka cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang). .HUKUM DAN PENGENDALIAN SOSIAL Emile Durkheim pernah menyebut tentang FAKTA SOSIAL. Hukum dapat dipakai untuk sarana pengendalian sosial. Mengucilkan dari pergaulan. teman. Joseph S. FAKTA SOSIAL yang paling kuat daya paksanya adalah hukum. Fakta sosial ini mengendalikan perilaku (social control) individu-individu. pengaruhnya. kyai. Roucek -> ditujukan pada semua proses sosialisasi. maupun prestisenya. Sehubungan dengan struktur sosial dikenal istilah status. Model AGIL yang diperkenalkan oleh Parsons (cybernetic model of system regulation) tampaknya sejalan dengan wacana hukum sebagai sarana pengendalian sosial ini. Struktur sosial adalah salah satu elemen tatanan sosial. dll. Mempermalukan di depan umum. dan lain-lain. Struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. dibujuk. dibedakan antara ascribed statuses (status yang diperoleh) dan achieved statuses (status yang diraih) a. mekanisme pengendalian sosial lainnya: Membayar ganti rugi/denda. b. atau dipaksa menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok). Artinya letak seseorang di antara orang yang lainnya dalam suatu struktur sosial. Definisi Pengendalian Sosial: Berger -> terbatas pada mereka yang membangkang (recalcitrant). Secara umum status dipahami sebagai urutan orang berdasarkan kekayaannya.

entah itu konflik psikologial .Hal inilah yang menjadi objek kajian dari rekayasa sosial ini dimana campur tangan sebuah gerakan ilmiah lebih dimaksudkan untuk menggeser cara pandang masyarakat kearah yang „benar‟ demi tercapainya tujuan tertentu. Masyarakat pada umumnya menginginkan adanya perubahan sosial kearah yang lebih baik sehingga perubahan sosial harus dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terencana.Adanya gagasan atas perubahan sosial kearah yang lebih baik dengan cara yang benar dan lebih realistis dapat mendorong keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam misi atas perubahan sosial tersebut.Rekaya sosial merupakan sebuah jalan mencapai sebuah perubahan sosial secara terencana. Disinilah peran rekayasa sosial dalam merubah gaya bermasyarakat seperti ini. Pada dasarnya pola-pola kontrol sosial tidak dimaksudkan untuk mengendalikan masyarakat tetapi lebih kepada cara untuk membuka ruang bagi masyarakat untuk beraktualisasi sehingga dapat terlihat jelas peran dari masyarakat tersebut dalam proses perubahan sosial.HUKUM DAN REKAYASA SOSIAL Rekaya sosial (Social engineering) adalah campur tangan gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial. Masyarakat pada umumnya mempercayai sesuatu apabila mayoritas persepsi yang berkembangkan merujuk pada pembenaran hal tersebut sehingga kelompok masyarakat intelektual sering kali terlibat dalam perang cara pandang maupun gagasan yang terkesan „ego‟ demi sebuah pengakuan atas cara berpikir dari masing-masing pihak.Untuk itu perlu diadakannya rekayasa sosial agar kesalahan-kesalahan berpikir seperti ini dapat diatasi sehingga masyarakat dapat melihat permaslahan yang dihadapinya sebagai sesuatu yang konkrit.Menurut Dr Jalaludin Rakhmat rekayasa sosial terjadi karena terdapat beberapa kesalahan pemikiran manusia dalam memperlakukan masalah sosial yang disebut para ilmuwan dengan sebutan intellectual cul-de-sac yang menggambarkan kebuntuan berpikir. REKAYASA SOSIAL SEBAGAI ALAT KONTROL SOSIAL Di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat beberapa pola atau cara penyelesaian konflik yang berujung pada terciptanya konflik yang lain. emosional maupun kontak fisik antar sesama individu ataupun kelompok masyarakat.Gerakan ilmiah yang dimaksudkan disini adalah sebuah gagasan atas perubahan tingkat/taraf kehidupan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan dan kemandirian. .Untuk itu perlu adanya perombakan yang dimulai dari cara pandang/paradigma manusia atas sebuah perubahan.Salah satu bentuk kesalahan pemikiran lainnya adalah permasalahan sosial yang kerap dikait-kaitkan dengan mitos ataupun kepercayaan manusia akan suatu gerakan abtrak „ilusi‟ yang tanpa disadari dapat merubah tatanan kehidupan bermasyaratnya. Rekayasa sosial timbul akibat adanya sentimen atas kondisi manusia.

Dalam dinamika politik .Lawrence M. Politik mampu memicu adanya perubahan sosial apabila masyarakat ikut berpartisipasi sebagai eksekutor dari perubahan itu tetapi tidak hanya pemerintah . William Dahl seorang penulis asal Austria juga pernah menyebut perubahan sosial dengan sebutan “changed of law” atau perubahan hukum/aturan.sehingga keseragaman pemikiran akan hal ini perlu dilakukan agar perubahan sosial ini dapat lebih mudah direalisasikan. . Friedman seorang adalah yang pertama mengemukakan fungsi hukum sebagai rekayasa sosial yang kemudian dijadikan dasar atas kontrol sosial di dalam kehidupan bermasyarakat. William Dahl menganggap bahwa pemahaman terhadap perubahan sosial dapat lebih mudah apabila membagi masyarakat menjadi dua kelompok .Perubahan yang dimaksudkan disini adalah efek dari perubahan sosial yang dihasilkan dari rekayasa sosial itu sendiri.Hukum merupakan alat utama dari hasil rekayasa sosial yang kemudian dijadikan dasar terbentuknya suatu masyarakat yang sejahtera karena aturan-aturan yang diterapkan ditujukan untuk terciptanya sebuah keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. dan Fidel Castro serta Che Guevara pada Revolusi Kuba. Dalam dinamika politik .Doktrinasi yang dilakukan bukan semata-mata timbul akibat kesenjangan antara pemimpin dan masyarakat tetapi tuntutan atas perubahan sistem yang tidak stabil dan tidak mampu meng-integrasi-kan masyarakat sehingga hasil dari konflik ini tidak hanya berujung pada perubahan sistem politik (Reformasi) tetapi juga perubahan yang lebih luas dan dalam (Revolusi). yaitu masyarakat yang satu sebagai pihak konservatif dan lainnya sebagai pihak yang radikal. REKAYASA SOSIAL SEBAGAI ALAT P0LITIK Politik dan Rekayasa sosial adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan meskipun pada dasarnya keduanya hampir tidak berbeda satu sama lainnya karena keduanya bertujuan mengorganisir masyarakat untuk tujuan tertentu . Seperti halnya Lawrence . konflik harus ada tetapi jalan keluarnya juga telah dipersiapkan dan itulah titik utama dari sasaran perubahan sosial. rekayasa sosial kerap digunakan untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. hanya saja rekayasa sosial punya ruang lingkup yang lebih luas serta tidak terbatas pada permasalahan kekuasan semata. masyarakat pada pada umumnya mempunyai pola yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam menginpresentasekan jalan kepada perubahan sosial ini.Perbedaan pandangan dapat dilihat dari konfrontasi dua kubu ini sehingga permasalahan paling substansif dari konflik inilah yang kemudian dijadikan referensi atas perubahan sosial tersebut.Menurut Dahl perencanaan konflik melalui doktrin progresif kepada masyarakat merupakan suatu syarat utama terciptanya perubahan sosial secara cepat . Dahl mengambil beberapa contoh negara yang pemimpinnya menggunakan strategi „battle ideology‟ atau perang ideologi lewat jalur konsolidasi “bawah tanah” untuk menciptakan konflik . cara seperti ini digunakan oleh beberapa pesohor seperti Khomeini ketika Revolusi Iran .

Rekaya sosial merupakan alat yang mampu mengintegrasikan masyarakat . Tidak dapat disangkal bahwa apabila perang berkepanjangan tanpa adanya diplomasi maka kemerdekaan tidaklah dapat tercapai . keinginan yang timbul disebabkan oleh keadaan yang sama dan perasaan sepenanggunan pun timbul karena hal tersebut. meskipun bila nantinya indonesia mampu memerdekakan diri lewat hal ini maka hanya sebagian besar pulau jawalah yang akan disebut „indonesia‟. pancasila.Soekarno menyadari hal ini sebagai proses menuju perubahan . Maka perlu adanya kesepahaman dari masing-masing delegasi atas apa yang disebut kemerdekaan. oleh karena itu perlu adanya konversi lewat jalur persuasif yaitu diplomasi.Sebagai alat utama para pelopor kemerdekaan mengambil bahasa melayu dan mengkonversinya menjadi bahasa nasional sehingga penggunaan bahasa ini dilegalkan sebelum indonesia merdeka.Hal serupa pada dasarnya pernah terjadi juga saat Nazi melakukan upaya pembinasaan kaum yahudi pada perang dunia II.Soekarno maupun Moh.Bentuk-bentuk lainnya bisa kita temukan dalam beberapa slogan kenegaraan maupun dasar ideologi kita . REKAYASA SOSIAL SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA. hal ini dikarenakan adanya tujuan yaitu perubahan ataupun mengendalikan stagnasi akibat keadaan yang telah memenui syarat sebagai masyarakat yang sejahtera. Ir. beberapa wacana atas kemerdekaan digunakan untuk mengintegrasikan masyarakat.Salah satu contoh adalah paham nasionalisme hingga patriotik yang menjadi landasan suatu perjuangan atas kemerdekaan yang diimpiimpikan. hal inilah yang kemudian menjadi subjek dari rekayasa sosial dimana hasil dari hal itu adalah peperangan yang pada sadarnya sebagai jalan kebebasan berpolitik bagi seluruh kaum semit di dunia. .Tetapi pada dasarnya tujuan Nazi bukan semata-mata melenyapkan kaum yahudi dari Jerman tetapi semua penentang Nazi meskipun polemik yang kemudian berkembang adalah upaya genocide yang dilakukan Nazi . Ir. Disinilah rekayasa sosial digunakan .Sebagaimana kita tahu dalam sejarah indonesia bahwa kemerdekaan diraih atas keinginan melepaskan diri dari penjajahan .konsolidasi untuk merampungkan seluruh pulau-pulau di nusantara menjadi satu kesatuan adalah senjata utama untuk meraih kemerdekaan secara de jure maupun de facto. Tetapi tentu pemaparan atas hal ini lebih kompleks apabila kita coba mengkaji makna dari sistem yang telah dibentuk pasca kemedekaan.Hatta sadar betul bahwa mengincar kemenangan lewat jalur peperangan tidak mampu membawa indonesia pada gerbang kemerdekaan selain adanya korban jiwa dan harta benda peperangan bisa saja berlangsung bertahun-tahun lamanya tanpa ada solusi atas permasalahan tersebut . tetapi proses ini tidaklah mudah untuk dijalani .

yaitu keragaman ideologi.Seperti tindakan preventif terhadap ancaman seperti yang terjadi ketika perang dunia I dan II dimana pemerintahan blok Timur menganggap adanya expansi politik besar-besaran yang dilakukan pihak Amerika dan hal ini blok barat sehingga mencari celah peperangan . Disisi lain .Meskipun isu politik pada saat itu tidak digemborkan secara gamblang namun pada dasarnya tujuan utama proses perubahan sosial di indonesia pada saat itu adalah perubahan sistem politik dan pengambil alihan kekuasaan dari pemerintahaan kolonial kekaisaran jepang.Peran kaum intelektual pada detik-detik kemerdekaan pun tidak lepas dari proses perubahan sosial yang telah direncanakan jauh sebelumnya. rekaya sosial kerap menjadi alat utama untuk mengembangkan isu-isu lainnya. meskipun isu adanya westernisasi ini tidak diakui pada sidang PBB di jenewa namun bila menilik dari masing-masing pihak maka yang akan ditemukan adalah keragaman yang satu dengan yang lain . .Konsep perubahan sosial banyak diwarnai dengan isu-isu sensitif seperti pendidikan hingga sandang pangan yang memadai sehinga Keinginan kemerdekaan tidak hanya timbul akibat adanya penjajahan tetapi pula karena keinginan untuk bersatu dalam satu payung.Terpecahnya kedua blok dan rampungnya negaranegara di masing-masing blok ini merupakan hasil dari rekayasa sosial dimana dari masingmasing pihak berusaha mengintegrasikan diri bersama anggotanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful