V.

METODE GRAVITY
Metode Gravity
5.1 PENDAHULUAN
Metode gravity adalah salah satu metode eksplorasi geofisika
yang digunakan untuk mengukur variasi medan gravitasi bumi
akibat adanya perbedaan densitas antar batuan. Dalam
prakteknya, metode ini mempelajari perbedaan medan gavitasi
dari satu titik terhadap titik observasi lainnya. Sehingga sumber
yang merupakan suatu zona massa dibawah permukaan bumi
akan menyebabkan suatu gangguan pada medan gravitasi.
Gangguan medan gavitasi ini-lah yang disebut sebagai anomali
gravity.
Secara prinsip, metode gravity digunakan karena
kemampuannya dalam membedakan densitas dari suatu
sumber anomali terhadap densitas lingkungan sekitarnya. Dari
variasi densitas tersebut dapat diketahui bentuk struktur bawah
permukaan suatu daerah.
Dalam suatu eksplorasi, baik dalam mencari minyak bumi
maupun mineral, metode gravity ini banyak digunakan pada
tahap penelitian pendahuluan.
5.2 TEORI DASAR
Dasar teori yang digunakan dalam metode gavity adalah hukum
Newton tentang gravitasi bumi. Jika dua benda dengan massa
m
1
dan m
2
dipisahkan oleh jarak r, maka gaya tarik menarik (F)
antara kedua benda tersebut adalah :
5-2
Metode Gravity

r
ˆ
r
m m
F
2
2 1
γ ·

(5-
1)
dengan
r
ˆ = satuan vektor dari m
1
ke m
2
dan

γ
= 6.67 x 10
-11
m
3
kg
-1
s
-2
= konstanta gravitasi
Bila bumi dianggap bulat, homogen dan tidak berotasi maka :
gm
R
M
F
2
· γ ·
(5-
2)
Akan tetapi pada kenyataannya, bumi lebih mendekati bentuk
spheroid, relief permukaannya tidak rata, berotasi, ber-revolusi
dalam sistem matahari serta tidak homogen, sehingga variasi
gravity disetiap titik dipermukaan bumi dipengaruhi oleh
berbagai faktor :
1. Lintang
2. Ketinggian
3. Topografi
4. Pasang surut
5. Variasi densitas bawah permukaan
Dalam melakukan survei gravity diharapkan satu faktor saja
yaitu variasi densitas bawah permukaan. Sehingga pengaruh 4
faktor lainnya harus dikoreksi atau dihilangkan dari harga
pembacaan alat.
Untuk itu diperlukan berbagai koreksi :
a. Koreksi Spheroid dan Geoid.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa bentuk bumi
lebih mendekati bentuk spheroid, sehingga digunakan
spheroid referensi sebagai pendekatan untuk muka laut rata-
rata (geoid) dengan mengabaikan efek benda diatasnya.
5-3
Metode Gravity
Spheroid referensi (g lintang) diberikan oleh persamaan
GRS67 (Geodetic Reference System 1967) :
( ) φ + φ + · φ 2 sin 0000059 . 0 sin 005304 . 0 1 8 . 978031 ) ( g
2 2
(5-
3)
dengan
φ
adalah sudut lintang dalam radian.
b. Koreksi Pasang Surut (Tidal)
Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan efek gravity
benda-benda di luar bumi seperti matahari dan bulan. Efek
gravity bulan di titik P pada permukaan bumi diberikan oleh
persamaan potensial berikut ini:
1
]
1

¸

δ φ + δ φ −
1
]
1

¸

φ −

,
_

¸
¸
δ −

,
_

¸
¸
· t 2 cos cos cos t cos sin 2 sin sin
3
1
sin
3
1
3
R
c
) r ( G U
2 2 2 2
3
m
(5-4)
dimana : φ = lintang, δ = deklinasi, t = moon hour
angle, c = jarak rata-rata ke bulan.
c. Koreksi Apungan (Drift)
Koreksi apungan diberikan sebagai akibat adanya perbedaan
pembacaan gravity dari stasiun yang sama pada waktu yang
berbeda, yang disebabkan karena adanya guncangan pegas
alat gravimeter selama proses transportasi dari satu stasiun
ke stasiun lainnya. Untuk menghilangkan efek ini, akusisi
data didesain dalam suatu rangkaian tertutup, sehingga
besar penyimpangan tersebut dapat diketahui dan
diasumsikan linier pada selang waktu tertentu (t).
) t t (
t t
g g
drift
1 n
1
n
1 n



·
(5-
5)
d. Koreksi Udara Bebas (Free-Air Correction)
5-4
Metode Gravity
Merupakan koreksi pengaruh ketinggian terhadap medan
gravitasi bumi, yang merupakan jarak stasiun terhadap
spheroid referensi. Besarnya faktor koreksi (Free Air
Correction/FAC) untuk daerah ekuator hingga lintang 45
o
atau -45
o
adalah –0,3085 mGal/m. Sehinga besarnya
anomali pada posisi tersebut menjadi FAA (Free Air Anomali),
yaitu:
h 3085 , 0 ) R ( g g ) h R ( FAA
obs
+ − · +
(5-
6)
e. Koreksi Bouguer (Bouguer Correction/BC)
Koreksi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
benda berupa slab tak berhingga yang besarnya diberikan
oleh persamaan:
ρ · h 04185 , 0 BC
(5-
7)
dengan h adalah elevasi dan
ρ
adalah massa jenis.
Salah satu metode yang digunakan untuk mengestimasi
rapat massa adalah metode Nettleton. Dalam metode ini
dilakukan korelasi silang antara perubahan elevasi terhadap
suatu referensi tertentu dengan anomali gravity-nya,
sehingga rapat massa terbaik diberikan oleh harga korelasi
silang terkecil sesuai dengan persamaan:
( ) ∑
·

·

∂ ∆ ∂
− ·
n
1 i
2
i
n
1 i
i i
h
h ) g (
k

(5-8)
Selain metode Nettleton’s, estimasi rapat massa dapat pula
diturunkan melalui metode Parasnis. Selanjutnya, setelah BC
diberikan, anomaly gravity menjadi Simple Bouguer
Anomaly :
5-5
Metode Gravity
BC FAA SBA − ·
(5-9)
f. Koreksi Medan (Terrain Correction)
Koreksi ini diterapkan sebagai akibat dari adanya
pendekatan Bouguer. Bumi tidaklah datar tapi berundulasi
sesuai dengan topografinya. Hal ini yang bersifat
mengurangi dalam SBA (Simple Bouguer Anomaly), sehingga
dalam penerapan koreksi medan, efek gravity blok-blok
topografi yang tidak rata harus ditambahkan terhadap SBA.
Dengan demikian anomali gravity menjadi:
TC SBA CBA + ·
TC BC h 3085 , 0 g g CBA
obs
+ − + − ·
Φ

(5-10)
dengan CBA adalah Complete Bouguer Anomaly dan TC
adalah Terrain Correction. Perhitungan TC ini dapat
menggunakan Hammer chart seperti pada Gambar 5-1.
Berdasarkan besarnya radius dari titik pengukuran gravity,
Hammer Chart tersebut dapat dikelompokkan menjadi :
5-6
M
L
K
J
1
2
3
4
5
6
7
8 9
10
11
12
13
14
15
16
Gambar 5-1 Hammer
chart yang digunakan
untuk menghitung koreksi
medan
Metode Gravity
1. Inner Zone
Memiliki radius yang tidak terlalu besar sehingga
bisa didapatkan dari pengamatan langsung di
lapangan. Dapat dibagi menjadi beberapa zona:
- Zona B : radius 6,56 ft dan dibagi menjadi 4
sektor.
- Zona C : radius 54,6 ft dan dibagi menjadi 6
sektor.
2. Outer Zone
Zona ini memiliki radius yang cukup jauh, sehingga
biasanya perbedaan ketinggian dengan titik
pengukuran gravity menggunakan analisa peta
kontur. Outer Zone dibagi menjadi beberapa zona:
- Zona D : radius 175 ft dan dibagi menjadi 6
sektor.
- Zona E : radius 558 ft dan dibagi menjadi 8
sektor.
- Zona F : radius 1280 ft dan dibagi menjadi 8
sektor.
- Zona G : radius 2936 ft dan dibagi menjadi
12 sektor.
- Zona H : radius 5018 ft dan dibagi menjadi
12 sektor.
- Zona I : radius 8575 ft dan dibagi menjadi 12
sektor.
- Zona J : radius 14612 ft dan dibagi menjadi
12 sektor.
- Zona K sampai M, masing-masing dibagi 12
sektor.
Untuk menghitung Terrain Correction (TC) tiap sektor dapat
digunakan persamaan:
5-7

Metode Gravity

,
_

¸
¸
+ − + + −
ρ
·
2 2
2
2 2
1 1 2
z r z r r r
n
04191 , 0 TC

(5-11)
Terrain correction untuk masing-masing stasiun
pengukuran gravity adalah total dari TC sektor-sektor
dalam satu stasiun pengukuran tersebut.
Selain koreksi-koreksi diatas, terdapat beberapa koreksi lain
dalam metode gravity :
a. Koreksi Eotvos
Koreksi ini dilakukan pada survey gravity yang dilakukan di
laut (marine survey) dengan menggunakan kapal.
Persamaannya adalah:
2
v 004154 , 0 cos sin v 503 , 7 EC + φ α ·

(5-12)
dengan · v kecepatan kapal (knot),
· α
arah kapal, dan
· φ
lintang.
b. Faktor Koreksi Kalibrasi
Kalibrasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa konstanta
pegas dari suatu gravimeter berubah terhadap waktu.
Kalibrasi ini adalah suatu proses untuk mendapatkan hasil
pembacaan dalam mGal yang sesuai dengan standard awal
atau untuk mendapatkan tingkat ketelitian yang sesuai
dengan kondisi awal gravimeter tersebut. Besarnya faktor
kalibrasi adalah:
R
obs
g
g
FKK


·

(5-13)
5-8

Metode Gravity
dengan :
· ∆
obs
g
selisih pembacaan di St.1 dan St.N alat
yang dikalibrasi.

· ∆
R
g
selisih St.1 dan St.N referensi (diketahui).
Faktor Koreksi Kalibrasi ini kemudian dikalikan pada hasil
pembacaan alat di lapangan.
5.3 PENGAMBILAN DATA
Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan data adalah:
1. Gravimeter La Coste Romberg G-502
2. Piringan
3. Altimeter
4. GPS
5. Tali sebagai meteran jarak antar stasiun pengukuran
Hal-hal yang dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan
pengukuran adalah sebagai berikut :
Kalibrasi terhadap data / titik pengukuran yang telah diketahui
nilai gravitasi absolutnya, misalnya IGSN’71
1. Melakukan pengikatan pada base camp terhadap titik
IGSN’71 terdekat yang telah diketahui nilai ketinggian
dan gravitasinya, dengan cara looping.
2. Bila perlu di base camp diamati variasi harian akibat
pasang surut dan akibat faktor yang lainnya.
Setelah melakukan hal di atas barulah pengamatan yang
sebenarnya dilakukan.
5-9

Metode Gravity

Gambar 5.2 Gravimeter La Coste Romberg,
alat yang digunakan dalam pengambilan data
5.4 PENGOLAHAN DATA & INTERPRETASI
Dalam survey gravity, data yang pertama kali harus didapatkan
adalah nilai g observasi di base stasion, sebagai acuan untuk
stasiun-stasiun berikutnya. Setelah pembacaan alat (dalam
mGal) untuk tiap-tiap stasiun yang menjadi target pengukuran,
maka dapat dilakukan proses pengolahan data dengan langkah
pengerjaan sebagai berikut:
a. Skala mGal.
Konversi dari pembacaan alat ke mGal dengan
menggunakan suatu bentuk perumusan tertentu
berdasarkan nilai pembacaan yang didapatkan dalam
pengukuran disetiap stasiun.
b. Perhitungan g Normal
( )
N
g
tidal ) mGal ( skala g
N
+ ·
mGal.
c. Perhitungan Drift
( )
awal n stasiun
awal akhir
awal
N
akhir
N
t t
t t
g g
Drift − ×

,
_

¸
¸


·

mGal.
5-
1
1

h

z
α
½ ∆g
max
x
½
x


1
Metode Gravity
d. Perhitungan g Koreksi
drift g g
N koreksi
− ·
mGal.
e. Perhitungan
g ∆
· ∆g
g
koreksi ke-n
- g
koreksi awal
mGal.
f. Perhitungan g observasi (g
obs
)
g
obs
= g
obs base st.
+ ∆g mGal
g. Perhitungan g lintang
( ) φ + φ + · φ 2 sin 0000059 . 0 sin 005304 . 0 1 8 . 978031 ) ( g
2 2
mGal
h. Perhitungan koreksi udara bebas (FAC).
h 3085 . 0 FAC· mGal
i. Perhitungan free air Anomaly (FAC)
( )
FAC g g FAA
obs
+ − ·
φ mGal
j. Perhitungan Bougueur Correction (BC)
k. Perhitungan Simple Bougueur Anomaly (SBA)
l. Perhitungan Terrain Correction (TC) untuk masing-
masing stasiun pengukuran
m. Perhitungan Complete Bouguer Anomaly (CBA)
n. Pemisahan CBA Regional dan Residual. Pemisahan ini
dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya
metode Moving Average, Persamaan Polynomial, Second
Vertical Derivatif, dll.
Tabel 5-1 Contoh format pengolahan data gravity dalam tabel
N
o
S
t
a
s
i
o
n
W
a
k
t
u
B
a
c
a

A
l
a
t
K
o
n
v
e
r
s
i
P
a
s
u
t
D
r
i
f
t
g
-
o
b
s
L
i
n
t
a
n
g

(
f
)
B
u
j
u
r

(
b
)
g
-
n
o
r
m
a
l
E
l
e
v
a
s
i

F
A
C
F
A
A
B
C
T
C
B
A
5-
1
1

h

z
α
½ ∆g
max
x
½
x


1
1

3
2
0
Metode Gravity
Untuk interpretasi dan pemodelan, dapat digunakan contoh
model gravity sederhana seperti dalam Tabel 5.2 dan Gambar
5.3 di bawah ini.
Tabel 5-2. Anomali gravity yang diasosiasikan dengan bentuk geometri
sederhana (Reynold, 1997)
Model Anomali gravity maksimum Keterangan
Bola
( )
2 3
maks
z / r G 3 / 4 g δρ π · ∆
( ) m x 1.305 z
1/2
·
Silinder
horizontal
z / r G 2 g
2
maks
δρ π · ∆
x z
1/2
·
Silinder
vertikal
( ) d s G 2 g
1 maks
− δρ π · ∆
r G 2 g
maks
δρ π · ∆
( )
2 1 maks
s s L G 2 g − + δρ π · ∆
Jika L → tak
hingga
Jika d = 0
Jika L berhingga
3 x z
1/2
·
Buried slab
(bouguer
plate)
L G 2 g
maks
δρ π · ∆
Untuk L = 1000
m dan
δρ
= 0.1
Mg/m
3
,
g.u. 2 4 g
maks
· ∆
Slab tak
berhingga
( ) d D G 2 g
maks
− δρ π · ∆
Prisma
rectangular
horizontal

¸

,
_

¸
¸
δρ π · ∆
3 2
4 1
maks
r r
r r
ln x G 2 g
( ) ( )
1
1
]
1
φ − φ − φ − φ +

,
_

¸
¸
+
3 1 1 2
1
2
d D
r
r
ln b
5-
1
1

h

z
α
½ ∆g
max
x
½
x


1
1

3
2
0
ρ = 2.07
gr/cc
Qtd

100

400

200
ρ = 2.0
gr/cc
Qa
Metode Gravity
Prisma
rectangular
vertikal
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
δρ π · ∆
L
d
ln b G 2 g
maks
L >> b
5-
0
-1
- 2 1 2
x
/
z
∆g
max
∆g
0.
5
1

h

z
α
½ ∆g
max
x
½
Silinder
horizont
al
spher
e
z = Kedalaman
pusat massa
x

x/z
0.5

1
1

3
2
0
-1
-2
-3

g
L
S
2
S
1
d
r
Silinder
vertikal
-∞ ∞
d
D

g
L
P
r
2
r
1
b
d
Prisma 2D
dengan L
>>b
x

g
x
x
P
O
L
d
D
h
r
2
r
3
r
1
a)
b)
c)
d)
e)

Gambar 5.6 Contoh kontur anomali gravity (a) dan
hasil interpretasinya (b)
ρ = 2.07
gr/cc
Qtd

100

400

200
ρ = 2.0
gr/cc
Qa
Metode Gravity
Gambar 5.3 Estimasi bentuk geometri sederhana dari anomali gravity
(Reynold, 1997)
Gambar 5.4 Contoh penerapan model sederhana pada struktur geologi (a), dan
pemilihan aplikasi model sederhana pada bentuk struktur (b & c)
5-
ANTIKLIN
KUBAH
GARAM
a)
b)
c)
a)
b)
c)
ρ
1
ρ
2
> ρ
1

Gambar 5.6 Contoh kontur anomali gravity (a) dan
hasil interpretasinya (b)
ρ = 2.07
gr/cc
Qtd
Pengamata
n
Model

100
0
-
100
-
200
µGal
0

400

200
m
1 3 5 7 9
km
Gambar 5-5. Contoh interpretasi penampang anomali gravity
daerah Semarang
ρ = 2.0
gr/cc
Qa
Metode Gravity
5-

Gambar 5.6 Contoh kontur anomali gravity (a) dan
hasil interpretasinya (b)
Metode Gravity
REFERENSI
1. Blakely, Richard.J, 1995, Potential Theory in Gravity and
Magnetic Application, Cambridge Univ. Press.
2. Dobrin, Milton. B., and Savit, C.H., 1998, Introduction to
Geophysical Prospecting, McGraw-Hill, Inc.
3. Grant, F.S. and West, G.F., 1965, Interpretation Theory in
Applied Geophysics, McGraw-Hill, Inc.
4. Reynolds, J.M., 1997, An Introduction to Applied and
Environmental Geophysics, John Wiley & Sons.
5. Telford, M.W., Geldart, L.P., Sheriff, R.E. and Keys, D.A.,
1991, Applied Geophysics, Cambridge Univ. Press.
5-

Dari variasi densitas tersebut dapat diketahui bentuk struktur bawah permukaan suatu daerah. baik dalam mencari minyak bumi maupun mineral. 5. Jika dua benda dengan massa m1 dan m2 dipisahkan oleh jarak r. metode gravity digunakan karena kemampuannya dalam membedakan densitas dari suatu sumber anomali terhadap densitas lingkungan sekitarnya.1 PENDAHULUAN Metode gravity adalah salah satu metode eksplorasi geofisika yang digunakan untuk mengukur variasi medan gravitasi bumi akibat adanya perbedaan densitas antar batuan. metode ini mempelajari perbedaan medan gavitasi dari satu titik terhadap titik observasi lainnya. Secara prinsip.2 TEORI DASAR Dasar teori yang digunakan dalam metode gavity adalah hukum Newton tentang gravitasi bumi. maka gaya tarik menarik (F) antara kedua benda tersebut adalah : 5-2 . Sehingga sumber yang merupakan suatu zona massa dibawah permukaan bumi akan menyebabkan suatu gangguan pada medan gravitasi. Gangguan medan gavitasi ini-lah yang disebut sebagai anomali gravity. Dalam prakteknya.Metode Gravity 5. metode gravity ini banyak digunakan pada tahap penelitian pendahuluan. Dalam suatu eksplorasi.

Variasi densitas bawah permukaan Dalam melakukan survei gravity diharapkan satu faktor saja yaitu variasi densitas bawah permukaan. sehingga variasi gravity disetiap titik dipermukaan bumi dipengaruhi oleh berbagai faktor : 1.67 x 10-11 m3kg-1s-2 = konstanta gravitasi (5- Bila bumi dianggap bulat. bumi lebih mendekati bentuk spheroid.Metode Gravity  mm ˆ F= γ 1 2r r2 1) dengan ˆ r = satuan vektor dari m1 ke m2 dan γ = 6. Ketinggian 3. sehingga digunakan spheroid referensi sebagai pendekatan untuk muka laut ratarata (geoid) dengan mengabaikan efek benda diatasnya. Untuk itu diperlukan berbagai koreksi : a. 5-3 . berotasi. Pasang surut 5. Koreksi Spheroid dan Geoid. Sehingga pengaruh 4 faktor lainnya harus dikoreksi atau dihilangkan dari harga pembacaan alat. ber-revolusi dalam sistem matahari serta tidak homogen. homogen dan tidak berotasi maka : F= γ M R2 = gm (5- 2) Akan tetapi pada kenyataannya. Topografi 4. relief permukaannya tidak rata. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa bentuk bumi lebih mendekati bentuk spheroid. Lintang 2.

(5-4) t = moon hour c. Koreksi Pasang Surut (Tidal) Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan efek gravity benda-benda di luar bumi seperti matahari dan bulan. Koreksi Udara Bebas (Free-Air Correction) 5-4 (5- . angle. δ = deklinasi.005304 2φ + 0. Koreksi Apungan (Drift) Koreksi apungan diberikan sebagai akibat adanya perbedaan pembacaan gravity dari stasiun yang sama pada waktu yang berbeda. b.000005922φ ( . yang disebabkan karena adanya guncangan pegas alat gravimeter selama proses transportasi dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Efek gravity bulan di titik P pada permukaan bumi diberikan oleh persamaan potensial berikut ini:  c Um = G(r)   R 3 ( ) (5-  1  2  1 2  2 2 2 δ t 2  3 3 − sin δ   3 − sin φ − sin φ sin cos + cos φ cos δ cos t      dimana : φ = lintang. akusisi data didesain dalam suatu rangkaian tertutup. sehingga besar penyimpangan tersebut dapat diketahui dan diasumsikan linier pada selang waktu tertentu (t). g −g drift n 1 (tn − t1) = tn − t1 5) d. c = jarak rata-rata ke bulan.81 sin sin 3) dengan φ adalah sudut lintang dalam radian. Untuk menghilangkan efek ini.Metode Gravity Spheroid referensi (g lintang) diberikan oleh persamaan GRS67 (Geodetic Reference System 1967) : g φ) = 978031 + 0.

Dalam metode ini dilakukan korelasi silang antara perubahan elevasi terhadap suatu referensi tertentu dengan anomali gravity-nya. sehingga rapat massa terbaik diberikan oleh harga korelasi silang terkecil sesuai dengan persamaan: n ) ∑ ∂(∆g i∂hi i=1 k= − n 2 ∑ ( ∂hi ) i=1 (5-8) Selain metode Nettleton’s. Salah satu metode yang digunakan untuk mengestimasi rapat massa adalah metode Nettleton. estimasi rapat massa dapat pula diturunkan melalui metode Parasnis. anomaly gravity menjadi Simple Bouguer Anomaly : 5-5 . Selanjutnya.3085 mGal/m. hρ (57) dengan h adalah elevasi dan ρ adalah massa jenis. Koreksi Bouguer (Bouguer Correction/BC) Koreksi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan benda berupa slab tak berhingga yang besarnya diberikan oleh persamaan: BC= 004185 . setelah BC diberikan. Sehinga besarnya anomali pada posisi tersebut menjadi FAA (Free Air Anomali).3085 ( ) ( h (56) e. yang merupakan jarak stasiun terhadap spheroid referensi. yaitu: FAAR + h = gobs− g R) + 0. Besarnya faktor koreksi (Free Air Correction/FAC) untuk daerah ekuator hingga lintang 45o atau -45o adalah –0.Metode Gravity Merupakan koreksi pengaruh ketinggian terhadap medan gravitasi bumi.

Bumi tidaklah datar tapi berundulasi sesuai dengan topografinya. Koreksi Medan (Terrain Correction) Koreksi ini diterapkan sebagai akibat dari adanya pendekatan Bouguer. Hal ini yang bersifat mengurangi dalam SBA (Simple Bouguer Anomaly). h (5-10) dengan CBA adalah Complete Bouguer Anomaly dan TC adalah Terrain Correction.Metode Gravity SBA= FAA− BC (5-9) f. efek gravity blok-blok topografi yang tidak rata harus ditambahkan terhadap SBA. Hammer Chart tersebut dapat dikelompokkan menjadi : 5-6 . Dengan demikian anomali gravity menjadi: CBA= SBA+ TC CBA= gobs− gΦ + 03085− BC+ TC . Perhitungan TC ini dapat menggunakan Hammer chart seperti pada Gambar 5-1. sehingga dalam penerapan koreksi medan. 16 15 14 13 12 11 10 9 M L K J 1 2 3 4 5 6 Gambar 5-1 Hammer chart yang digunakan untuk menghitung koreksi medan 8 7 Berdasarkan besarnya radius dari titik pengukuran gravity.

Zona C : radius 54.Zona F : radius 1280 ft dan dibagi menjadi 8 sektor. Untuk menghitung Terrain Correction (TC) tiap sektor dapat digunakan persamaan: 5-7 . . sehingga biasanya perbedaan ketinggian dengan titik pengukuran gravity menggunakan analisa peta kontur.Zona J : radius 14612 ft dan dibagi menjadi 12 sektor.Zona D : radius 175 ft dan dibagi menjadi 6 .Zona K sampai M. 1. sektor.Zona H : radius 5018 ft dan dibagi menjadi 12 sektor. .Zona E : radius 558 ft dan dibagi menjadi 8 sektor.6 ft dan dibagi menjadi 6 sektor. Dapat dibagi menjadi beberapa zona: . .Zona G : radius 2936 ft dan dibagi menjadi 12 sektor. Outer Zone Zona ini memiliki radius yang cukup jauh. masing-masing dibagi 12 sektor.56 ft dan dibagi menjadi 4 sektor. Outer Zone dibagi menjadi beberapa zona: . .Metode Gravity Inner Zone Memiliki radius yang tidak terlalu besar sehingga bisa didapatkan dari pengamatan langsung di lapangan. .Zona B : radius 6. .Zona I : radius 8575 ft dan dibagi menjadi 12 sektor. . 2.

Persamaannya adalah: EC= 7.Metode Gravity ρ  TC= 004191 r − r + r 2 + z2 − r 2 + z2  . Selain koreksi-koreksi diatas. 2 1 1 2 n  (5-11) Terrain correction untuk masing-masing stasiun pengukuran gravity adalah total dari TC sektor-sektor dalam satu stasiun pengukuran tersebut. Faktor Koreksi Kalibrasi Kalibrasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa konstanta pegas dari suatu gravimeter berubah terhadap waktu. φ = lintang. Koreksi Eotvos Koreksi ini dilakukan pada survey gravity yang dilakukan di laut (marine survey) dengan menggunakan kapal. Besarnya faktor kalibrasi adalah: FKK= (5-13) 5-8 ∆gobs ∆g R . dan b.503sin cos + 0. terdapat beberapa koreksi lain dalam metode gravity : a. Kalibrasi ini adalah suatu proses untuk mendapatkan hasil pembacaan dalam mGal yang sesuai dengan standard awal atau untuk mendapatkan tingkat ketelitian yang sesuai dengan kondisi awal gravimeter tersebut. α = arah kapal.004154 v α φ v2 (5-12) dengan v = kecepatan kapal (knot).

Metode Gravity dengan : ∆gobs= selisih pembacaan di St.1 dan St. Melakukan pengikatan pada base camp terhadap titik IGSN’71 terdekat yang telah diketahui nilai ketinggian dan gravitasinya.1 dan St.N referensi (diketahui). ∆g = selisih St. dengan cara looping. Setelah melakukan hal di atas barulah pengamatan yang sebenarnya dilakukan. Gravimeter La Coste Romberg G-502 2.3 PENGAMBILAN DATA Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan data adalah: 1. Tali sebagai meteran jarak antar stasiun pengukuran Hal-hal yang dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengukuran adalah sebagai berikut : Kalibrasi terhadap data / titik pengukuran yang telah diketahui nilai gravitasi absolutnya. 2.N alat yang dikalibrasi. 5-9 . Bila perlu di base camp diamati variasi harian akibat pasang surut dan akibat faktor yang lainnya. 5. R Faktor Koreksi Kalibrasi ini kemudian dikalikan pada hasil pembacaan alat di lapangan. GPS 5. Altimeter 4. misalnya IGSN’71 1. Piringan 3.

alat yang digunakan dalam pengambilan data 5. Konversi dari pembacaan alat ke mGal dengan menggunakan suatu bentuk perumusan tertentu berdasarkan nilai pembacaan yang didapatkan dalam pengukuran disetiap stasiun. = ) −n  t  −  akhir tawal  5- .4 PENGOLAHAN DATA & INTERPRETASI Dalam survey gravity. sebagai acuan untuk stasiun-stasiun berikutnya. Perhitungan Drift −g g  N N Drift  akhir awal × ( tstasiun − tawal mGal. Skala mGal. maka dapat dilakukan proses pengolahan data dengan langkah pengerjaan sebagai berikut: a. data yang pertama kali harus didapatkan adalah nilai g observasi di base stasion.Metode Gravity Gambar 5.2 Gravimeter La Coste Romberg. )+ c. b. Perhitungan g Normal ( gN) gN = skala (mGal tidal mGal. Setelah pembacaan alat (dalam mGal) untuk tiap-tiap stasiun yang menjadi target pengukuran.

Perhitungan g observasi (gobs) gobs = gobs base st. Second Vertical Derivatif. Pemisahan CBA Regional dan Residual. Perhitungan Bougueur Correction (BC) k. + ∆g mGal g. Perhitungan Complete Bouguer Anomaly (CBA) n. Tabel 5-1 Contoh format pengolahan data gravity dalam tabel (f)Lintang g-normal Pasut FAC No FAA Baca Alat Konversi Stasion Waktu Drift Bujur (b) g-obs Elevasi BA BC 5- TC . Perhitungan ∆g ∆g= g koreksi ke-n .g koreksi awal mGal.Metode Gravity d. diantaranya metode Moving Average.81 sin sin ( ) mGal h. Perhitungan Terrain Correction (TC) untuk masingmasing stasiun pengukuran m. = N e. Pemisahan ini dapat dilakukan dengan beberapa metode.000005922φ ( . Perhitungan free air Anomaly (FAC) FAA= gobs− g( φ ) + FAC mGal j. Perhitungan koreksi udara bebas (FAC). Perhitungan g lintang g φ) = 978031 + 0. Perhitungan g Koreksi gkoreksi g − driftmGal.3085 mGal h i.005304 2φ + 0. f. Perhitungan Simple Bougueur Anomaly (SBA) l. dll. FAC= 0. Persamaan Polynomial.

1997) Model Bola Silinder horizontal Silinder vertikal Anomali gravity maksimum ∆gmaks ( 4/3) π Gδρ r3 / z2 = ∆gmaks 2π Gδρ r2 / z = ∆gmaks 2π Gδρ ( s1− d) = ∆gmaks 2π Gδρ r = ∆gmaks 2π Gδρ ( L + s1− s2) = Keterangan z = 1. = ∆gmaks 2π Gδρ ( D− d) =   rr  ∆gmaks 2π Gδρ  xln 1 4  =     r2r3    r  + bln 2  + D( φ2 − φ1) − d( φ1 − φ3)  r    1  5- .u. dapat digunakan contoh model gravity sederhana seperti dalam Tabel 5.3 di bawah ini. Tabel 5-2. Anomali gravity yang diasosiasikan dengan bentuk geometri sederhana (Reynold.305 1/2 ( m x ) z= x 1/2 Jika L → tak hingga Jika d = 0 Jika L berhingga z= x 3 1/2 Buried slab (bouguer plate) Slab tak berhingga Prisma rectangular horizontal ∆gmaks 2π Gδρ L = Untuk L = 1000 m dan δρ = 0.1 Mg/m3.2 dan Gambar 5.Metode Gravity Untuk interpretasi dan pemodelan. ∆gmaks 42g.

Metode Gravity Prisma rectangular vertikal   d ∆gmaks 2π Gδρ bln  =   L  L >> b ∆g ∆g 1 x½ 0.5 e) -3 -2 -1 0 1 S1 d r S2 2 x/z 3 P L Silinder vertikal r2 r1 ∆ g x r3 O d L 5- x D h . 5 a) max Silinder horizont al -∞ x / z c) d D ∞ ½ ∆gmax spher e -2 -1 0 x 1 2 zα z = Kedalaman pusat massa d) ∆ g h P x d b Prisma 2D dengan L L >>b r1 b) ∆ g r2 1 0.

Metode Gravity Gambar 5.4 Contoh penerapan model sederhana pada struktur geologi (a).3 Estimasi bentuk geometri sederhana dari anomali gravity (Reynold.07 gr/cc Qtd ρ = 2. dan n pemilihan aplikasi model sederhana pada bentuk struktur (b & c) Model 100 0 µGal 100 200 7 9 0 200 m 400 1 3 5 km ρ = 2. Contoh interpretasi penampang anomali gravity daerah Semarang . 1997) ANTIKLIN KUBAH GARAM a) a) b) b) ρ2 > ρ 1 ρ1 c) c) Pengamata Gambar 5.0 gr/cc Qa 5- Gambar 5-5.

Metode Gravity Gambar 5.6 Contoh kontur anomali gravity (a) dan hasil interpretasinya (b) 5- .

.W. R.M. Cambridge Univ.H. Press. McGraw-Hill.. and Savit. John Wiley & Sons. Applied Geophysics.Metode Gravity REFERENSI 1. G.F. and West. 3. Milton.J. B. 1998. Interpretation Theory in Applied Geophysics.. Telford. Geldart.P. Dobrin.. Grant. Introduction to Geophysical Prospecting. 1997. Inc. F. Blakely. J. Cambridge Univ.A.S. M. Reynolds. 2.. Inc.. 4. Sheriff. 1991. and Keys. 5- . 1995. Environmental Geophysics. 1965. L. An Introduction to Applied and 5.. Richard. Press. McGraw-Hill. Potential Theory in Gravity and Magnetic Application. D. C.E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful