P. 1
Teori Siklus

Teori Siklus

|Views: 54|Likes:
Published by liza_seoul

More info:

Published by: liza_seoul on Sep 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2013

pdf

text

original

TEORI SOSIO-HISTORS SIKLUS

Ibn Khaldun, nama ini begitu mashur dikalangan pemikir dan Ilmuwan Barat. Ia adalah pemikir dan Ilmuwan Muslim yang pemikiranya dianggap murni dan baru pada zamannya. Tak heran ide-idenya tentang masyarakat Arab seperti yang tertuang dalam buku fenomenalnya “muqaddimah” dianggap sebagai bibit dari kelahiran Ilmu Sosiologi. Penelitiannya tentang sejarah dengan menggunakan metode yang berbeda dari penelitian Ilmuwan pada saat itu juga disebut sebagai bibit dari kemunculan Filsafat Sejarah seperti yang ada sekarang. Kehidupannya yang malang melintang di Tunisia (Afrika) dan Andalusia, serta hidup dalam dunia politik tak ayal mendukung pemikirannya tentang Politik serta Sosiologi tajam dan mampu memberikan sumbangsih yang besar pada Ilmu Pengetahuan. Tahapan Timbul Tenggelamnya Peradaban Berdasarkan teorinya „ashabiyyah, Ibn Khaldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu Negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap, yaitu: 1.Tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. 2.Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya. 3.Tahap sejahtera, ketika kedaulatan telah dinikmati. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara. 4.Tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya. 5.Tahap hidup boros dan berlebihan. Pada tahap ini, penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan. Pada tahap ini, negara tinggal menunggu kehancurannya. Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu: 1. Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. 2. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. 3. Generasi yang

tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Rentang waktu lingkaran kehidupan rezim politik kurang lebih sama yakni sekitar 100 tahun atau tiga generasi. untuk kemudian dibakar sebelum siap untuk .dewasa. Ada lingkaran perubahan ikatan sosial atau solidaritas kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup ditambah dengan „Ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi. Ibn Khaldun juga menuturkan bahwa sebuah Peradaban besar dimulai dari masyarakat yang telah ditempa dengan kehidupan keras. Asal Mula Negara (daulah) Menurut Ibn Khaldun manusia diciptakan sebagai makhluk politik atau sosial. maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu. Sebagai contoh dari butir-butir gandum untuk menjadi potongan roti memerlukan proses yang panjang. Lebih lanjut. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain. Perubahannya melalui tiga tahap (1) ada solidaritas sangat kuat yang ditimbulkan oleh kekerasan kondisi kehidupan nomaden digurun pasir (2) Munculnya kultur kehidupan menetap di lokasi tertentu dan meningkatnya kemakmuran memperburuk ikatan kelompok dan memperlemah solidaritas (3) ini menyebabkan hancurnya ikatan sosial. dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus. membubarkan kelompok. lalu diikuti oleh kristalisasi kelompok berdasarkanikatan sosial baru. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memedulikan nasib negara. Selain itu Ibnu Khaldun melihat keteraturan lingkaran kehidupan peradaban. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. kemiskinan dan penuh perjuangan. Sedang untuk memenuhi makanan yang sedikit dalam waktu satu hari saja memerlukan banyak pekerjaan. sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi sosial merupakan sebuah keharusan (dharury) Pendapat ini agaknya mirip dengan pendapat Al-Mawardi dan Abi Rabi‟. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini.uzur. Butirbutir gandum tersebut harus ditumbuk dulu. yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya. menyerupai lingkaran kehidupan organism : tumbuh. manusia hanya mungkin bertahan untuk hidup dengan bantuan makanan. dan menurut Ibnu Khaldun proses ini berlangsung sekitar satu abad.

Artinya. Tanpa organisasi tersebut eksistensi manusia tidak akan lengkap. mempunyai otoritas dan kekuasaan atas mereka sebagai pengendali/ wazi‟ (‫ . Kebutuhan akan adanya seseorang yang mempunyai otoritas dan bisa mengendalikan ini kemudian meningkat. Hal ini karena Allah ketika menciptakan alam semesta telah membagi-bagi kekuatan antara makhluk-makhluk hidup. sehingga dengan akal dan tangan yang diberikan Tuhan padanya tidak memungkinkan untuk mempertahankan diri dari serangan manusia yang lain karena setiap manusia mempunyai akal dan tangan pula. dan inilah peradaban. Didukung dengan rasa kebersamaan yang terbentuk bahwa seorang pemimpin (rais) dalam mengatur dan menjadi penengah tidak dapat bekerja sendiri sehingga membutuhkan tentara yang kuat dan loyal. tidak serta merta ada. Ia adalah seseorang dari masyarakat itu sendiri. tetapi dibutuhkan seorang petani. manusia dalam mempertahankan hidupnya dengan makanan membutuhkan manusia yang lain.)عزاولا‬Dengan demikian tidak akan ada anggota masyarakat yang menyerang sesama anggota masyarakat lain. bahkan banyak hewan-hewan yang mempunyai kekuatan lebih dari yang dimiliki oleh manusia. menurut Ibn Khaldun manusia memerlukan bantuan dalam hal pembelaan diri terhadap ancaman bahaya. Dan watak agresif adalah sesuatu yang alami bagi setiap makhluk. Begitu juga gandum-gandum yang ada. sehingga organisasi kemasyarakatn merupakan sebuah keharusan. seorang yang berpengaruh kuat atas anggota masyarakat.dimakan. maka masyarakat memerlukan seseorang yang dengan pengaruhnya dapat betindak sebagai penengah dan pemisah antara anggota masyarakat. Dengan akal dan tangan ini manusia bisa mempertahankan hidup dengan berladang. Untuk itulah diperlukan sesuatu yang lain untuk menangkal watak agresif manusia terhadap lainnya. ataupun melakukan kegiatan untuk mempertahankan hidup lainya. dan kehendak Tuhan untuk mengisi dunia ini dengan ummat manusia dan membiarkannya berkembang biak sebagai khalifah tidak akan terlaksana. Sedang manusia diberikan akal atau kemampuan berfikir dan dua buah tangan oleh Tuhan. dan untuk semuanya itu dibutuhkan alat-alat yang untuk mengadakannya membutuhkan kerjasama dengan pandai kayu atau besi. . Tetapi sekali lagi untuk mempertahankan hidup tersebut manusia tetap saling membutuhkan bantuan dari yang lainnya. Oleh karenanya Allah memberikan kepada masing-masing makhluk hidup suatu anggota badan yang khusus untuk membela diri. Setelah organisasi masyarakat terbentuk. Selain kebutuhan makanan untuk mempertahankan hidup. Ini karena manusia mempunyai watak agresif dan tidak adil.

Farabi. dan Solidaritas Sosial Selain apa yang telah dipaparkan di atas. Yaitu cinta dan kasih sayang seorang manusia kepada saudara atau tetangganya ketika salah satu darinya diperlakukan tidak adil atau disakiti. al-Mawardi. Keduanya merupakan fenomena yang alamiah dan Niscaya (dharury). Penduduk kota menurutnya banyak berurusan dengan hidup enak. Daerah yang subur berpengaruh terhadap persoalan agama. Tetapi yang membedakannya bahwa penelitian yang dilakukan Ibn Khaldun dalam Muwaddimahnya bukan sekadar kajian filososif. Jiwa mereka telah dikotori oleh berbagai macam akhlak tercela. meskipun juga berurusan dengan dunia. serta pembantu-pembantu yang lain hingga terbentuklah sebuah Dinasti (daulah) atau kerajaan (mulk. nasionalisme. Mereka terbiasa hidup mewah dan banyak mengikuti hawa nafsu. solidaritas kelompok. Ibn Abi Rabi‟. Pemikiran Ibn Khaldun dalam hal ini agaknya mirip dengan yang dikemukakan oleh Aristoteles. Ibn Khaldun berpendapat bahwa ada faktor lain pembentuk Negara (daulah).)ا‬Teorinya tentang „ashabiyah inilah yang melambungkan namanya dimata para pemikir modern.perdana Menteri. masyarakat primitif. . Orang-orang yang taat beragama sedikit sekali yang tinggal di kota-kota karena kota telah dipenuhi kekerasan dan masa bodoh. sebagian orang yang hidup di padang pasir adalah orang zuhud. atau daerah gurun) dan Hadharah (‫()ةراضح‬kehidupan kota. namun masih dalam batas kebutuhan. melainkan kajian yang berdasarkan pada pengamatan Inderawi dan analisis perbandingan data-data yang obyektif. Sedangkan orang-orang Badui. Orang-orang Badui yang hidup sederhana dibanding orang-orang kota serta hidup berlapar-lapar dan meninggalkan makanan yang mewah lebih baik dalam beragama dibandingkan dengan orang yang hidup mewah dan berlebih. Sosiologi Masyarakat: Peradaban Badui. yaitu „ashabiyah ( ‫ . „Ashabiyah mengandung makna Group feeling. atau sentimen sosial. Orang Kota. masyarakat beradab). teori yang membedakannya dari pemikir Muslim lainnya. sebagai upaya untuk memahami manusia pada masa lampau dan kini untuk meramalkan masa depan dengan berbagai kecenderungannya. hawa nafsu dan kesenangan. Oleh karena itu. meskipun ia sendiri mengatakan bahwa teorinya ini adalah yang baru. Sehingga pemikirannya dalam hal ini bukan hal baru. fanatisme kesukuan. dan bukan dalam kemewahan. Ibn Khaldun dalam hal ini memunculkan dua kategori sosial fundamental yaitu Badawah (‫()ةوادب‬komunitas pedalaman.

Tak ayal lagi. Setiap suku biasanya terikat pada keturunan yang bersifat khusus (khas) atau umum („aam). Mereka hidup liar di tempat-tempat jauh di luar kota dan tak pernah mendapatkan pengawasan tentara. Begitu solidaritas sosial memperoleh kedaulatan atas golongannya. maka ia akan . Mereka larut dalam kenikmatan dan kemewahan. apabila solidaritas masing-masing individu mengakui keunggulan solidaritas sosial sang pemimpin. dia akan lebih mudah memiliki kekuasaan daripada golongan lain.Orang Badui lebih berani daripada penduduk kota. Oleh karena itulah. Karena penduduk kota malas dan suka yang mudah-mudah. Pendapat Ibn khaldun dalam hal ini tidak mengherankan. maka akan siap untuk tunduk dan patuh mengikutinya. Untuk bertahan hidup masyarakat pedalaman harus memiliki sentimen kelompok („ashabiyyah) yang merupakan kekuatan pendorong dalam perjalanan sejarah manusia. Di dalam memimpin kaum. Sifat kepemimpinan selalu dimiliki orang yang memiliki solidaritas sosial. Karena itu. Bangsa-bangsa liar lebih mampu memiliki kekuasaan daripada bangsa lainnya. karena beliau melakukan penelitian pada masyarakat „Arab dan Barbar khususnya yang memang menjalani kehidupan sukar dipadang pasir. suku liar lebih berani dibanding yang lainnya. mempertahankan diri dan mengalahkan musuh. Mereka mempercayakan urusan keamanan diri dan harta kepada penguasa. Sebabnya. mereka sendiri yang mempertahankan diri mereka sendiri dan tidak minta bantuan pada orang lain. Karena solidaritas sosial itulah yang mempersatukan tujuan. Solidaritas sosial menjadi syarat kekuasaan. Klan yang memiliki „ashabiyyah kuat tersebut dapat berkembang menjadi sebuah negeri. mereka lebih mampu memiliki kekuasaan dan merampas segala sesuatu yang berada dalam genggaman bangsa lain. Solidaritas pada keturunan yang bersifat khusus ini lebih mendarah-daging daripada solidaritas dari keturunan yang bersifat umum. Maka solidaritas sosial yang dimiliki oleh pemimpin harus lebih kuat daripada solidaritas lain yang ada. Tujuan terakhir solidaritas adalah kedaulatan. Sebab. memimpin hanya dapat dilaksanakan dengan kekuasaan. Apabila di antara golongan ini ada yang lebih hebat terbiasa hidup di padang pasir dan lebih liar. adalah karena kekuasaan dimiliki melalui keberanian dan kekerasan. pembangkit suatu klan. harus ada satu solidaritas sosial yang berada di atas solidaritas sosial masing-masing individu. Oleh karena itu. Sedangkan orang Badui hidup memencilkan diri dari masyarakat. sehingga dia memperoleh kekuasaan dan sanggup memimpin rakyatnya dengan sempurna. Kehidupan padang pasir merupakan sumber keberanian.

keduanya akan bercampur yang secara bersama-sama menuntun tujuan yang lebih tinggi dari kedaulatan. Agama dapat memperkokoh solidaritas kelompok tersebut dan menambah keampuhannya. dan hubungan antara pelindung dan yang dilindungi. Karena bangsa yang demikian lebih mampu memperoleh kekuasaan dan mengadakan kontrol secara penuh dalam menaklukan golongan lai. Tetapi menurutnya pula. Jika solidaritas sosial dapat menaklukan solidaritas lain. angkuh. Bisa juga ketika negara sudah berumur tua. Hanya karena Agama yang dibawa oleh Nabi mereka akhirnya bisa dipersatukan dan dikendalikan. Inilah yang terjadi pada orang-orang Turki yang masuk ke kedaulatan Bani Abbas. Dalam situasi demikian. Semakin besar kemewahan dan kenikmatan mereka semakin dekat mereka dari kehancuran. bukan tambah memperoleh kedaulatan. Tujuan akhir dari solidaritas sosial („ashabiyyah) adalah kedaulatan. kedaulatannya akan sangat luas. Sebab menurutnya. tetapi tetap ia membutuhkan motivasimativasi lain yang bertumpu pada hal-hal diluar Agama. maka orang-orang yang berada di bawahnya akan sebanding. Akhirnya. Kemewahan telah menghancurkan dan melenyapkan solidaritas sosial. maka butuh solidaritas lain. maka solidaritas sosial yang baru akan merebut kedaulatan negara. bahwa motivasi Agama saja tidak cukup sehingga tetap dibutuhkan solidaritas kelompok („ashabiyyah). maka ia akan digantikan oleh orang yang memiliki solidaritas yang campur di dalam solidaritas sosial. negara akan memasukkan para pengikut solidaritas sosial yang kuat ke dalam kedaulatannya dan dijadikan sebagai alat untuk mendukung negara. Jika solidaritas sosial itu setara.mencari solidaritas golongan lain yang tak ada hubungan dengannya. apabila suatu negara sudah tua umurnya dan para pembesarnya yang terdiri dari solidaritas sosial sudah tidak lagi mendukungnya. Homogenitas juga berpengaruh dalam pembentukan sebuah Dinasti yang besar. Jika suatu negara sudah hancur. persekutuan atau aliansi. ikatan darah atau persamaan keTuhanan. tempat tinggal berdekatan atau bertetangga. Khusus bangsa Arab menurut Ibn Khaldun. Menurut Ibn Khaldun apabila suatu bangsa itu liar. persamaan Ketuhananlah yang membuat mereka berhasil mendirikan Dinasti. kasar. Adalah jarang sebuah Dinasti dapat berdiri di kawasan . „Ashabiyyah tersebut terdapat pada watak manusia yang dasarnya bisa bermacam-macam. Bangsa Arab adalah Bangsa yang paling tidak mau tunduk satu sama lain. Aka tetapi hambatan jalan mencapai kedaulatan adalah kemewahan. „Ashabiyyah yang ada hanya „ashabiyyah kesukuan/qabilah yang tidak memungkinkan mendirikan sebuah dinasti karena sifat mereka. ambisius dan masing-masing ingin menjadi pemimpin.

loyalitas yang besar dari rakyatnya. Memiliki sifat „adil. sebab seluruh bangsa Arab mengakui kenyataan akan kewibawaannya. menjaga ketertiban. Ibn Khaldun menilai bahwa seorang Raja haruslah berasal dari solidaritas kelompok yang paling dominan. imamah wajib karena akal/ perlunya manusia terhadap organisasi sosial. Tetapi ada juga yang berpendapat. Sedang pemimpinnya disebut Khalifah. Dalam kaitannya tentang „ashabiyyah. yang dibuktikan dengan dibai‟atnya Abu Bakar sebagai khalifah. Dengan jumlahnya yang banyak dan solidaritas kelompoknya yang kuat. Sebab dalam mengendalikan sebuah negara. serta mereka hormat pada keunggulan suku Quraisy. Dan hal ini hanya bisa terjadi jika ia berasal dari kelompok yang dominan. Hanya dengan hegemonitas akan menimbulkan solidaritas yang kuat sehingga tercipta sebuah Dinasti yang besa. dan pandangan yang berbeda-beda sehingga kemungkinan untuk membentuk sebuah Dinasti yang besar merupakan hal yang sulit. serta melindungi negara dari ancaman musuh baik dari luar maupun dalam dia membutuhkan dukungan. Dan jika kepemimpinan dipegang oleh suku lain. 3. Mempunyai kemampuan. Imam. Ibn Khaldun berpendapat sama dengan Pemikir Muslim sebelumnya tentang keutamaan keturunan Quraisy. Khilafah adalah pengganti Nabi Muhammad dengan tugas mempertahankan agama dan menjalankan kepemimpinan dunia. Sulthanah Khilafah menurut Ibn Khaldun adalah pemerintahan yang berlandaskan Agama yang memerintahkan rakyatnya sesuai dengan petunjuk Agama baik dalam hal keduniawian atau akhirat. Imamah. Ia mengemukakan bahwa orang-orang Quraisy adalah pemimpinpemimpin terkemuka. yaitu: 1. aspirasi.yang mempunyai beragam aneka suku. dan dengan keanggunannya suku Quraisy memiliki wibawa yang tinggi. Imam atau Sulthan. Lembaga imamah adalah wajib menurut hukum agama. Keturunan Quraisy. Khilafah. Maka pemerintahan yang dilandaskan pada Agama disebut dengan Khilafah. Imamah atau Sulthananh. sebab dalam keadaan demikian masing-masing suku mempunyai kepentingan. Namun hukum wajibnya adalah fardhu kifayah (Muqaddimah: 191-193). ataupun Sulthan. maka yang terjadi . 4. 5. Ibn Khaldun sendiri menetapkan 5 syarat bagi khalifah. Sehat Panca indera dan badannya. original dan tampil dari bani Mudhar. 2. Berdasarkan teori „ashabiyah. Maka tidak heran jika kepemimpinan Islam dipercayakan kepada mereka. Memiliki pengetahuan.

solidaritas. maka kepala Negara disebut Khalifah . Padahal Nabi menginginkan persatuan. atau ada suku lain yang mempunyai „ashabiyyah yang tinggi dan kebibawaan yang tinggi. atau kerajaan insitusional yang dapat mewujudkan keadilan sampai batas tertentu. atau inkonstitusional. Pemerintahan yang berlandaskan Agama (siyasah Diniyyah). baik yang bersifat keduniawian maupun keukhrawian. Pemerintahan yang berdasarkan nalar (siyasah „aqliyah). otokrasi. Bentuk Pemerintahan seperti ini dipuji disatu sisi tetapi dicela disatu sisi. dan anarki. hingga ketika suku Quraisy telah dalam keadaan tidak berwibawa. Bentuk-Bentuk Pemerintahan Ibn Khaldun berpendapat bentuk pemerintahan ada 3: 1. 3. Dan karena yang dipakai sebagai asas kebijaksanaan pemerintahan itu adalah ajaran Agama. dan juga kepemimpinan dari suku Quraisy sudah tidak dapat lagi diharapkan. Pemikiran Ibn Khaldun dalam hal ini mirip dengan pemikiran Al-Mawardi ataupun Ghazali. Pemerintahan jenis ini pada zaman sekarang serupa dengan pemerintahan Republik. karena dengan hukum yang bersumber dari ajaran Agama akan terjamin tidak saja keamanan dan kesejahteraan di dunia tetapi juga di akhirat. yaitu pemerintahan yang membawa masyarakatnya sesuai dengan tujuan nafsu. yaitu pemerintahan yang membawa rakyatnya sesuai dengan rasio dalam mencapai kemaslahatan duniawi dan mencegah kemudharatan. Ini hanya didasarkan pada kewibawaan dan solidaritas yang tinggi pada suku Quraisy pada saat itu. Tetapi Ibn Khaldun merealisasikannya dengan teori „Ashabiyyah seperti dijelaskan di atas. penindasan. atau syarat keturunan Quraisy didahulukan daripada kemampuan. Pemerintahan yang natural (siyasah thabi‟iyah). dan persaudaraan (Muqaddimah: 194). yaitu pemerintahan yang membawa semua rakyatnya sesuai dengan tuntunan agama. Artinya. Pemerintahan jenis ini pada zaman sekarang menyerupai pemerintahan otoriter. individualis. bahwa khalifah haruslah dari golongan Quraisy. khususnya Islam. Pemerintahan yang berasaskan Undang-undang yang dibuat oleh para cendekiawan dan orang pandai. 2. Menurut Ibn Khaldun model pemerintahan seperti inilah yang terbaik. solidaritas. maka kepemimpinan dapat berpindah ke suku atau kelompok lain yang mempunyai kewibawaan.adalah pembangkangan serta berujung pada kehancuran. dan kemampuan yang lebih. Tetapi menurut Ibn Khaldun hal ini jangan diartikan bahwa kepemimpinan itu dimonopoli oleh suku Quraisy. seorang raja dalam memerintah kerajaan (mulk) lebih mengikuti kehendak dan hawa nafsunya sendiri dan tidak memperhatikan kepentingan rakyat yang akibatnya rakyat sukar mentaati akibat timbulnya terror.

Jakarta : Prenada Media Piotr Sztompka. Ia tidak memandang pada sisi personalnya. oleh karena ia adalah pengganti Nabi dalam memelihara kelestarian Agama dan kesejahteraan duniawi rakyatnya. Dari pembagian pemerintahan di atas.George. 2005. 2005. Sehingga menurutnya substansi setiap pemerintahan adalah undang-undang yang menjelaskan karakter suatu sistem pemerintahan. diterjemahkan Alimandan. DAFTAR PUSTAKA Ritzer. Khalifah. Sosiologi Perubahan Sosial. juga pada jabatan Imam itu sendiri. nampak bahwa Ibn Khaldun menempuh jalur baru dibanding Al-Farabi dan Ibn Abi Rabi‟ dalam pengklasifikasian pemerintahan. Jakarta : Prenada Media . Imam. karena sebagai pemimpin dia ibarat Imam Salat yang harus diikuti oleh rakyatnya sebagai makmum (Muqaddimah: 191).dan Imam. Teori Sosiologi Modern. melainkan pada makna fungsional keimamahan itu sendiri.

TUGAS PERUBAHAN SOSIAL Oleh : CITRA RAFIKA/20084 Kosentrasi Sosiologi-Antropologi PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->