P. 1
Jajanan Anak Yang Tidak Sehat (Autosaved)

Jajanan Anak Yang Tidak Sehat (Autosaved)

5.0

|Views: 1,117|Likes:
Published by id id sayyid sabiq
hubungan teknologi dan lingkungan masyarakat
hubungan teknologi dan lingkungan masyarakat

More info:

Published by: id id sayyid sabiq on Sep 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

02/03/2016

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Makalah ini membahas tentang jajanan anak yang tidak sehat. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah, demikian halnya berpengaruh pada pola makan anak. Sebagai orang tua mungkin perlu kita sadari bahwa makana dari luar rumah (di sekolah) member kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi sebesar 31,1% dan protein sebesar 27,4%. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sejumlah 78% anak sekolah jajan di lingkungan sekolah, baik di kantin maupun dari penjaja sekitar sekolah (Badan POM, 2008). Karena itu dapat difahami peran penting makanan jajanan pada pertumbuhan dan prestasi belajar.

Maraknya jajanan anak-anak disekolahan yang tidak sehat. Negeri ini harus berwawasan kesehatan guna mewujudkan masyarakat yang sehat. Maraknya makanan atau jajanan anak-anak yang tidak sehat perlu adanya kerja sama dengan pemerintah industri-industri makanan dalam pengawasan pangan. Keamanan pangan merupakan syarat utama yang harus dimiliki industri yang beredar di pasaran. Adapun sebagai orang tua harus bisa menjelaskan pada anak untuk menghindari jajanan yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan, memperhatikan keinginan anak-anak terhadap makanan, dan menyediakan aneka makanan sehat untuk bekal sekolah. Maraknya makanan atau jajanan yang berbahaya dikalangan anak-anak sebagian cara pintas produsen untuk memasarkan barangnya supaya banyak di minati dan cepat laku. Para produsen menggunakan pewarna makanan dijadikan bahan pengawet serta bahan supaya makanan terlihat menarik sebagai daya tarik pembeli. Anak-anak menjadi pusat sasaran karena anak-anak tidak tahu apakah makanan itu mengandung pengawet atau tidak. Anak-anak hanya melihat dari kemasannya. Dampak dari mengkonsumsi jajanan yang mengandung bahan pewarna dan pengawet pada makanan umum lainnya bisa muncul untuk jangka pendek, bisa juga pada jangka panjang. Jangka pendek, terjadi keracunan makanan sebab tercemar mikroorganisme, parasit, atau bahan racun kimiawi (pestisida). Muntah dan diare sehabis mengonsumsi jajanan paling sering ditemukan. Bahaya jangka panjang jajanan yang tidak menyehatkan apabila bahan tambahan dalam makanan-minuman bersifat pemantik kanker, selain kemungkinan gangguan kesehatan lainnya (Doktersehat.com, 2011).

1

Alonemisery (2011: 1) akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di zaman sekarang ini, maka semakin banyak jenis bahan makanan yang diproduksi, dijual dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan lebih praktis. Semua jenis makanan siap santap dan minuman awet tersebut dapat menjadi busuk dan masih layak untuk dikonsumsi. Kemudahan tersebut dapat terwujud diantaranya berkat perkembangan teknologi produksi dan pengunaan bahan tambahan makanan (BTM). Apabila masalah ini diselesaikan bisa membawa dampak baik bagi penerus banggas untuk meminimalisir pengkonsumsian zat-zat berbahaya. Maka dari itu disamping penyuluhan atau pemahaman masalah kesehatan makanan jajanan oleh pemerintah atau lembaga swasta, pihak sekolah, orang tua, dan pedagang saling bekerja sama dalam satu kegiatan yang saling mengikat sehingga semua kepentingan saling terpenuhi. Itu semua bisa berlangsung apabila ada kepedulian dan komitmen masing-masing pihak.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas timbul rumusan masalah diantaranya: 1) Zat-zat berbahaya apa sajakah yang terkandung pada jajanan anak-anak? Dan apa dampak dari mengkonsumsi jajanan yang menggunakan bahan berbahaya? 2) Adakah hubungan makanan jajanan tidak sehat dengan kemajuan teknologi sekarang? 3) Bagaimana upaya untuk menghindari jajanan berbahaya?

C. Kajian Pustaka a) Makanan jajanan Makanan jajanan adalah semua makanan yang dijajakan pada waktu istirahat dan dikonsumsi sebagai pengganjal dan penunda waktu makan. Sipat dan jenis makanan ini sangat beraneka ragam, dari mulai makanan tradisional sampai dengan makanan yang sudah modern. Para penjual mempercantik penampilan demi memperoleh daya jual yang tinggi, makanan akan sangat menarik jika mempunyai warna yang menggugah selera. Anggapan ini memang sepenuhnya benar tetapi menjadi bencana jika kita menambahkan pewarna makanan tanpa kendali pada semua jenis makanan agar tampilannya menarik. Dalam beberapa kasus yang sering ditayangkan di televisi bahkan ada juga yang menambahkan pewarna pakaian pada beberapa makanan yang diproduksi untuk mempercantik tampilannya.
2

b) Pewarna Makanan Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampakan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, di antaranya adalah:    memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan dan menstabilkan warna, serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.

Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning. Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi. Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya. c) Keamanan Makanan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat. Aman yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, mikrobiologis, kimia, logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi dalam hal ini yaitu makanana jajanan yang sering dijajakan di sekolah-sekolah dasar. Soeharjo (1989:1) “pada umumnya anak-anak sering jajan di sekolah tanpa mengetahui nama makanan (jajanan) yang baik nilai gizinya. Sedangkan kalau ditinjau dari segi kesehatan makana jajanan di sekolah tersebut rata-rata tidak bersih atau kurang terjamin sehingga menimbulkan penyakit.” Hasil penelitian BPOM terhadap 163 sampel dari 10 propinsi dan sebanyak 80 sampel (80%) tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan produk. Dari produk makanan jajanan itu banyak ditemukan penggunaan bahan pengawet dan pewarna yang dapat mengganggu kesehatan anak sekolah seperti penyakit kanker dan ginjal. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Ravianto ( 2000 ) di kota Makassar menunjukkan bahwa semua sampel (100%) makanan dan minuman jajanan yang dijual di lapangan karebosi mengandung siklamat. Selain itu Bahan Tamabahan Makanan (BTM) banyak digunakan pada makanan jajanan anak sekolah. Salah satunya pewarna untuk memperbaiki dan memberi warna agar lebih menarik.
3

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan zat pewarna sintetis (uji kualitatif kromatografi kertas saring menggunakan benang wol) pada makanan jajanan yang dijual di lingkungan SD Al Azhar (favorit) dan SDN Tembalang (bukan favorit) di Kota Semarang. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah, demikian halnya berpengaruh pada pola makan anak. Sebagai orang tua mungkin perlu kita sadari bahwa makana dari luar rumah (di sekolah) memberi kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi sebesar 31,1% dan protein sebesar 27,4%. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sejumlah 78% anak sekolah jajan di lingkungan sekolah, baik di kantin maupun dari penjaja sekitar sekolah (Badan POM, 2008). Dampak dari mengkonsumsi jajanan yang mengandung bahan pewarna dan pengawet pada makanan umum lainnya bisa muncul untuk jangka pendek, bisa juga pada jangka panjang. Jangka pendek, terjadi keracunan makanan sebab tercemar mikroorganisme, parasit, atau bahan racun kimiawi (pestisida). Muntah dan diare sehabis mengonsumsi jajanan paling sering ditemukan. Bahaya jangka panjang jajanan yang tidak menyehatkan apabila bahan tambahan dalam makanan-minuman bersifat pemantik kanker, selain kemungkinan gangguan kesehatan lainnya (Doktersehat.com, 2011). Dalam artikel syiar islam (kompas, 2008) bahan pengawet yang digunakan pada jajanan anak salah satunya adalah rhodamin B, methanol yellow, formalin, boraks, MSG, kalsium benzoate, sulfur dioksida, kalium asetat, asam sorbat.

D. Hipotesis Banyak zat-zat atau bahan makanan yang berbahaya yang terkandung dalam jajanan anak. Dampak dari mengkonsumsi jajanan yang mengandung bahan pewarna dan pengawet pada makanan umum lainnya bisa muncul untuk jangka pendek, bisa juga pada jangka panjang. Jangka pendek, terjadi keracunan makanan sebab tercemar mikroorganisme, parasit, atau bahan racun kimiawi (pestisida). Muntah dan diare sehabis mengonsumsi jajanan paling sering ditemukan. Bahaya jangka panjang jajanan yang tidak menyehatkan apabila bahan tambahan dalam makanan-minuman bersifat pemantik kanker, selain kemungkinan gangguan kesehatan lainnya. Adanya kemajuan teknologi zaman sekarang, khususnya pada teknologi pangan memudahkan orang untuk membutan makanan atau bahan olahan makanan diproduksi lebih awet (menggunakan bahan pengawet atau zaat kimia yang berbahaya). Cara supaya anak menghindari jajanan yang tidak sehat, yaitu pemantauan jajanan anak dan peningkatan pengawasan keamanan pangan oleh pemerintah serta pengawasan dari orang tua anak.

4

BAB II Isi Pembahasan

A. Makanan jajanan Jajanan yang tidak sehat merupakan jajanan atau makanan yang tidak memenuhi syarat keamanan panagan sebagaimana dalam undang-undang nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat. Aman yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, mikrobiologis, kimia, logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Maraknya makanan atau jajanan yang berbahaya dikalangan anak-anak sebagian cara pintas produsen untuk memasarkan barangnya supaya banyak di minati dan cepat laku. Para produsen menggunakan pewarna makanan dijadikan bahan pengawet serta bahan supaya makanan terlihat menarik sebagai daya tarik pembeli. Anak-anak menjadi pusat sasaran karena anak-anak tidak tahu apakah makanan itu mengandung pengawet atau tidak. Anak-anak hanya melihat dari kemasannya.

B. Bahan Berbahaya Pada Makanan Jajanan Dalam artikel syiar islam (kompas, 2008) bahan tambahan apa saja yang sering digunakan pada jajanan anak? Salah satunya adalah lain pewarna buatan. Yang sering digunakan adalah rhodamin B (warna merah) dan methanil yellow (kuning). Padahal, keduanya biasa digunakan sebagai pewarna tekstil. Pewarna alamiah tentu kurang menarik, apalagi untuk jajanan anak-anak. Padahal, kalau mau, untuk pewarna bisa menggunakan kunyit, misalnya. Konsumsi tinggi bahan pewarna tadi bisa memicu diare, alergi, sampai kanker atau kerusakan ginjal. Bahan tambahan lain adalah formalin yang sering digunakan sebagai pengawet. Sebetulnya, formalin digunakan untuk membunuh bakteri pembusuk atau untuk mengawetkan jasad mahluk hidup, tapi disalah gunakan untuk mengawetkan makanan. Bila dikonsumsi dalam konsentrasi tinggi, formalin dapat memengaruhi kerja saraf. Jika mau, sebetulnya bisa menggunakan garam atau laos untuk mengawetkan makanan. Teknik pembuatan atau penyimpanan juga memengaruhi keawetan. Kalau tempat pembuatan steril, otomatis juga akan lebih mengawetkan makanan. Boraks juga sering digunakan sebagai bahan tambahan. Di beberapa daerah, boraks dikenal dengan sebutan bleng. Boraks digunakan untuk mengenyalkan atau

5

merenyahkan makanan, misalnya bakso, mi, atau kerupuk. Untuk mi, selain dikasih formalin, terkadang juga diberi semacam cairan lilin agar tidak lengket. Bahan tambahan lain yang harus diwaspadai adalah MSG (bumbu penyedap masakan) dan pemanis buatan. Meski efek MSG berbeda-beda pada setiap anak, tergantung usia, tapi untuk amannya, sebaiknya tidak usah diberi MSG. MSG bisa berdampak ke gangguan di hati, menimbulkan gangguan alergi, depresi, bahkan mengganggu keseimbangan fungsi otak. MSG juga sebaiknya tidak dikonsumsi ibu hamil, karena bisa masuk ke plasenta, sementara pemanis buatan, pada tingkat tertentu bisa menjadi karsinogen. Adapun Beberapa zat pengawet yang sering ditambahkan pada produk makanan antara lain: 1. Kalsium Benzoat Bahan pengawet ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri penghasil toksin (racun), spora dan bakteri bukan pembusuk. Senyawa ini dapat memengaruhi rasa. Bahan makanan atau minuman yang diberi kalsium benzoat dapat memberikan kesan aroma fenol, yaitu seperti aroma obat cair. Asam benzoat digunakan untuk mengawetkan minuman ringan, minuman anggur, sari buah, sirup, dan ikan asin. Bahan ini bisa memicu terjadinya serangan asma pada penderita asma, serta mereka yang peka terhadap aspirin. 2. Sulfur Dioksida Bahan pengawet ini banyak ditambahkan pada sari buah, buah kering, kacang kering, sirup dan acar. Meski bermanfaat, penambahan bahan pengawet tersebut berisiko menyebabkan perlukaan pada lambung, mempercepat serangan asma, memicu alergi, serta menyebabkan kanker. 3. Kalium Asetat Bahan pengawet ini biasanya ditambahkan pada makanan yang asam. Kalium asetat tidak aman karena bisa menyebabkan rusaknya ginjal. 4. Asam Sorbat Beberapa produk beraroma jeruk, berbahan keju, salad, dan produk minuman kerap ditambahi asam sorbat. Meski aman dalam konsentrasi tinggi, bahan pengawet ini bisa membuat perlukaan di kulit. Annisa (Sjahmin Moehdi, 1998:128) mengemukakan bahwa “bagi ibu-ibu yang senang mencari mudahnya pekerjaan dan ingin praktisnya maka sebagi penggantinya selalu memberikan makanan pada anak-anaknya dari warung atau penjaja.”

6

C. Dampak Mengkonsumsi Jajanan Berbahaya Dampak dari mengkonsumsi jajanan yang mengandung bahan pewarna dan pengawet pada makanan umum lainnya bisa muncul untuk jangka pendek, bisa juga pada jangka panjang. Jangka pendek, terjadi keracunan makanan sebab tercemar mikroorganisme, parasit, atau bahan racun kimiawi (pestisida). Muntah dan diare sehabis mengonsumsi jajanan paling sering ditemukan. Bahaya jangka panjang jajanan yang tidak menyehatkan apabila bahan tambahan dalam makanan-minuman bersifat pemantik kanker, selain kemungkinan gangguan kesehatan lainnya (Doktersehat.com, 2011). Apabila kita perhatikan maka kita akan menyadari bahwa banyak sekali makanan yang dijual di sekitar kita menggunakan saus sambal, saus cabe, saus tomat, kecap, saos ubi, dan lain sebagainya buatan pabrik yang mengandung bahan pengawet dan bahan kimia lain. Sebenarnya jika kita konsumsi saus tersebut terlalu banyak maka kita akan mendapat resiko tinggi gangguan kesehatan karena terkandung zat-zat yang tidak boleh berlebihan di dalam badan kita. Beberapa Jenis atau Macam Bahaya Gangguan Akibat Kebanyakan Makan Saus: 1.Penyakit Kanker Di dalam saos terdapat logam berat pada asam benzoat yang berfungsi sebagai bahan pengawet agar tidak mudah basi/busuk saosnya. 2. Alergi / Iritasi Tenggorokan / Radang Tenggorokan Seseorang bisa saja kena radang teggorokan akibat makan saos kerena asam benzoate dan kandungan lainnya bisa saja merupakan pemicu alergi atau iritasi pada tenggorokan kita, terlebih pada anak-anak. 3. Memicu Asma Parah Anak kecil yang punya bakat asma bisa mudah sesak napas karena dipicu oleh zat-zat pada saos. Orang dewasa pun mungkin saja bisa sensitif pada saus. 4. Gangguan Sistem Ekskresi (Sistem Pembuangan) Organ tubuh manusia bisa dirusak oleh zat-zat pada saus seperti ginjal dan menyebabkan masalah pencernaan lain yang cukup mengganggu. 5. Gangguan Sistem Syaraf Saos olahan pabrik dan industri rumahan yang mengandung timbal beresiko tinggi menyebabkan gangguan saraf di otak pada orang dewasa dan anak-anak. Selain hal tersebut di atas pada penyedap makanan baik saus, kecap, micin, dan lain-lain bisa mengandung natrium/sodium (msg/mng) tinggi yang bisa menyebabkan
7

sindrom rumah makan cina (chinese restaurant syndrome), formalin dan boraks yang bisa merusak organ tubuh manusia, dan lain sebagainya.

8

BAB III Solusi dan Saran

A. Solusi a) Rencana Kebijakan 1) Pemantauan jajanan anak secara berkala oleh pihak pemerintah 2) Peningkatan pengawasan keamanan pangan yang dilaksanakan secara mandiri oleh komunitas sekolah, dan pemberdayaan masyarakat termasuk penerapan sanksi social. 3) Pilih jajajan dari merk yang sudah terkenal, yang sudah terdaftar di BPOM RI,
mendapatkan sertifikasi Halal, dan lebih baik lagi jika sudah mendapatkan sertifikasi ISO 22000 (FOOD SAFETY MANAGEMENT SYSTEM).

b) Rencana Tindakan 1) Jelaskan pada anak untuk menghindari jajanan yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan. 2) Beri tahu tempat jajan yang sehat dilihat dari sudut pandang kebersihan tempat, jenis-jenis menu sehat. 3) Menyediakan aneka makanan sehat. 4) Memperhatikan keinginan anak-anak terhadap makanan.

B. Saran Agar anak tidak jajan sembarangan dan tidak jatuh sakit, orang tua harus bisa memberi tahu kepada anak-anak tentang bahaya mengkonsumsin jajanan yang tidak sehat. Ajarkan dari sekarang mengenai bahaya makan sembarangan agar mereka tidak menyalahkan kita kelak setelah mereka beranjak dewasa. Hindari terlalu banyak mengonsumsi junkfood atau makanan sampah seperti ham burger, friend chicken (ayam goreng), kentang goreng (french fries), mie instant, dan lain-lain. Mari jaga kesehatan kita dari sekarang, jangan mau dikerjai makanan yang kita makan. Sebagai orang yang melek informasi bisa melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila menemukan pedagang yang melanggar yang jajanannya tidak sehat harap melaporkannya. Save our children and save our healty.

9

C. Kesimpulan Makanan jajanan masih diperlukan system dalam kerangka pengembangan dan kualitas anak baik psikis maupun biologis. Jajanan diperlukan dalam pola kehidupan rumah tangga terlebih untuk ibu yang kariri. Adanya kemajuan ilmu teknologi, kemudahannya bagi para produsen memproduksi bahan makanan tanpa memandang dari segi kesehatannya. Maka dari itu perlunya pengawasan dan pembinaan dari pemerintah terhadap keamanan pangan. Dengan demikian harus diupayakan agar makanan jajanan bernilai positif, tidak merusak kebiasaan makan, tidak merusak kesehatan dan pertumbuhan anak serta membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia

10

Daftar Pustaka

(2011). Tips Untuk Anak yang Suka Jajan.[online]. Tersedia:http://pendidikananakusiadini2.blogspot.com/2011/02/tips-untuk-anak-yang-sukajajan.html [ 23 September 2011] Alonemisery. (2011). Dampak Mengkonsumsi Saus Pada Jajanan Anak Sekolah yang Mengandung Zat Pewarna Sintetis Rhodamin-b dan Mentanil Yellow Di Sd Negeri 1 X Purwokerto. [online]. Tersedia:http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/01/dampakmengkonsumsi-saus-pada-jajanan.html [23 September 2011] Andi, N. (2011). Bahaya Saos Sambal Bagi Kesehatan.[Online]. Tersedia:http://sehatmu.blogspot.com/2010/02/bahaya-saossambal-bagi-kesehatan.html [27 September 2011] Idii. (2011). Tips Jajanan Sehat Bagi Anak.[online]. Tersedia:http://ldiipurwakarta.wordpress.com/2011/05/08/tips-jajanan-sehat-bagi-anak/ [23September 2011] [Online]. Tersedia:http://doktersehat.com/bahaya-makanan-jajanan-di-sekitar-kita/29-072011 [27 September 2011]
Nur, A. (2011). “Jajanan Anak Yang Tidak Sehat”. Makalah pada Ilmu Teknoligi dan Masyarakat, Bandung.

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->