P. 1
Persentil Dan Antropometri

Persentil Dan Antropometri

|Views: 2,992|Likes:
Published by Dinda Arlini Cahya

More info:

Published by: Dinda Arlini Cahya on Sep 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as ODT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2013

pdf

text

original

(ERGONOMI

)
PERSENTIL DAN ANTROPOMETRI
OLEH
DINDA ARLINI CAHYA
115060701111051
TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2012
PERSENTIL DAN ANTROPOMETRI
1.1 Antropometri
1.1.1 Pengertian Antropometri
Istilah Antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti
ukuran. Antropometri diartikan sebagai suatu ilmu yang secara khusus berkaitan dengan pengukuran
tubuh manusia yang digunakan untuk menentukan perbedaan pada individu, kelompok, dan
sebagainya. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dan lainnya) berat
dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Antropometri dapat juga diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara
struktur dan fungsi tubuh ( termasuk bentuk dan ukuran tubuh ) dengan disain alat – alat yang
digunakan manusia
1.1.2 Tujuan dan Peranan Antropometri
Antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri, perancangan pakaian,
ergonomik, dan arsitektur. Sedangkan tujuan dari antropometri yaitu :
1. Untuk mengurangi tingkat kelelahan kerja,
2. Untuk meningkatkan performasi kerja, dan
3. Meminimasi potensi kecelakaan kerja.
1.1.3 Jenis-jenis Antropometri
Ada dua jenis antropometri, yaitu :
1. Antropometri Statis (Struktural)
Pengukuran manusia pada posisi diam dan linier pada permukaan tubuh. Disebut juga
pengukuran dimensi struktur tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak
bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain
meliputi : Berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau
panjang lutut pada saat berdiri atau duduk, panjang lengan, dan sebagainya, tinggi selangkang, tinggi
siku, tinggi mata, rentang bahu, tinggi pertengahan pundak pada posisi duduk, jarak pantat-ibu jari
kaki, dan tinggi mata pada posisi duduk.
2. Antropometri Dinamis (Fungsional)
Pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau
memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan
kegiatannya. Hal pokok yang ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh ini
adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan –
gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan – kegiatan tertentu. Cara
pengukuran kali ini dilakukan pada saat tubuh melakukan gerakan - gerakan kerja atau dalam
posisi yang “dinamis” . Antropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang
dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses prancangan fasilitas ataupun ruang kerja.
Terdapat tiga kelas pengukuran antropometridinamis, yaitu :
1. Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan
mekanis dari suatu aktifitas, contohnya mempelajari performasi seseorang,
2. Pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat bekerja dan
3. Pengukuran variabilitas kerja.
1.1.4 Anthropolometer
Anthropolometer adalah suatu alat untuk mengukurj arak, ketinggian dan sudut suatu titik dari
suatu posisi acuan tertentu. Realisasinya, alat ini berguna sebagai alat bantu untuk mendisain atau
mengetahui posisi alat-alat atau instrumen pengendali dari suatu mesin atau sistem kerja terhadap
posisi operatornya.
1.2 Persentil
1.2.1 Pengertian Persentil
Persentil adalah suatu nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari orang yang memiliki
ukuran pada atau dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh, persentil ke-95 akan menunjukkan 95%
populasi akan berada pada atau dibawah ukuran tersebut, sedangkan persentil ke-5 akan menunjukkan
5% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran itu .Dalam antropometri, angka persentil ke-95
akan menggambarkan ukuran manusia yang “terbesar” dan persentil ke-5 sebaliknya akan
menunjukkan ukuran “terkecil”. Bilamana diharapkan ukuran yang mampu mengakomodasikan 95%
dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2.5-th dan 97.5-th persentil sebagai batas-batasnya.
1.3 Data Antropometri
Data antropometri adalah data mengenai ukuran dimensi tubuh manusia. Data antropometri
diperoleh dari pengukuran bagian tubuh manusia.
1.3.1 Penggunaan Data Antropometri
Data antropometri digunakan untuk :
1. Perancangan areal kerja
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas ( tools) dan sebagainya.
3 Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian , kursi, meja, komputer dan lain-lain.
4 Perancangan lingkungan kerja fisik.
1.3.2 Faktor-faktor Variasi yang Mempengaruhi Pengambilan Data Antropometri
Manusia pada umumnya akan berbeda – beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya.
Disini ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah
semestinya seseorang perancang produk harus memperhatika faktor – faktor tersebut yang antara lain
adalah :
1. Umur, dari suatu penelitian yang dilakukan oleh A. F Roche dan G. H Davila (1972) di USA
memperoleh kesimpulan bahwa laki – laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai
dengan usia 21.2 tahun, sedangkan wanita 17.3 tahun ; meskipun ada sekitar 10% yang
masih terus bertambah tinggi sampai usia 23.5 tahun (laki – laki) dan 21.1 tahun (wanita).
Seterlah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah
menjadi penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahun.
2. Jenis Kelamin (sex), Dimensi tubuh laki – laki pada umumnya lebih besar dibandingkan
dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dan lain-lain
3. Suku/Bangsa (ethnic), setiap suku bangsa ataupun kelompok ethnic akan memiliki
karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainnya.
4. Posisi Tubuh (posture), sikap (posture atau posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran
tubuh oleh sebab itu posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran.
Selain faktor – faktor tersebut diatas masih ada pula beberapa faktor lain yang mempengaruhi
variabilitas ukuran tubuh manusia seperti :
1. Cacat tubuh, dimana data antropometri ini akan diperlukan untuk merancangan produk bagi
orang – orang cacat (kursi roda, kaki/tangan palsu, dll)
2. Tebal/tipisnya pakaian yang harus dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda akan
memberikan variansi yang berbeda – beda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi
pakaian.
3. Kehamilan (pregnancy), dimana kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan
ukuran tubuh (khususnya perempuan).
1.3.4 Konsep Disain Berdasar Data Antropometri
Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan
mengoperasikannya, maka prinsip – prinsip apa yang harus diambil di dalam aplikasi data antropometri
tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu seperti diuraikan berikut ini :
1. Prinsip Perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim
Disini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran produk, yaitu :
a. Bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti
terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan rata – ratanya
b. Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang
ada)
Secara umum aplikasi data antropometri untuk perancangan produk ataupun fasilitas kerja
akan menetapkan nilai 5-th percentile untuk dimensi maksimum dan 95-th untuk dimensi
minimumnya
2. Prinsip Perancangan Produk Yang Bisa Dioprasikan Diantara Rentang Ukuran Tertentu
Disini rancangan bisa dirubah – rubah ukurannya sehingga cukup pleksibel dioperasikan oleh
setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh. Dalam kaitannya untuk
mendapatkan rancangan yang fleksibel, semacam ini maka data antropometri yang umum
diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th s/d 95-th percentile.
3. Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata – rata ukuran manusia. Problem
pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berbeda dalam ukuran
rata – rata.
Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data antropometri untuk bisa diaplikasikan dalam
berbagai rancangan produk atau pun fasilitas kerja, maka gambar berikut akan memberika informasi
tentang berbagai macam anggota tubuh yang perlu diukur :
1. Antropometri Tangan
Keterangan :
a. Panjang tangan yang diukur dari pergelangan tangan sampai ujung jari
b. Panjang telapak tangan yang diukur dari pergelangan tangan sampai batas telapak tangan
c. Panjang ibu jari
d. Panjang jari telunjuk
e. Panjang jari tengah
f. Panjang jari manis
g. Panjang jari kelingking
h. Lebar ibu jari
i. Tebal ibu jari
j. Lebar jari telunjuk
k. Tebal jari telunjuk
l. Lebar telapak tangan dalam keadaan tertutup rapat,
m. Lebar telapak tangan yang diukur sampai ibu jari dalam keadaan tertutup rapat
n. Lebar telapak tangan (minimum)
o. Tebal telapak tangan
p. Tebal telapak tangan yang diukur sampai dengan ibu jari
q. Diameter pegangan (maksimum)
r. Lebar tangan maksimum yang diukur dari ujung ibu jari sampai dengan ujung jari kelingking
dalam keadaan terlentang
s. Lebar fungsional maksimum yang diukur dari ibu jari kejari lain
t. Segi empat minimum yang dapat dilewati telapak tangan
2. Antropometri Kaki
Keterangan :
a. Panjang telapak kaki yang diukur dari ujung kaki sampai ujung ibu jari kaki
b. Panjang telapak lengan kaki
c. Panjang kaki sampai jari kelingking
d. Lebar kaki
e. Lebar tangkai kaki
f. Tinggi mata kaki
g. Tinggi bagian tengah telapak kaki
h. Jarak horizontal tangkai mata kaki
3. Data Antropometri Kepala
Keterangan :
a. Panjang Kepala
b. Lebar kepala
c. Diameter maksimum dari dagu
d. Dagu kepuncak kepala
e. Telinga kepuncak kepala
f. Telinga kebelakang kepala
g. Antara dua telinga
h. Mata kepuncak kepala
i. Mata kebelakang kepala
j. Antara dua pupil kepala
k. Hidung kepuncak kepala
l. Hidung kebelakang kepala
m. Mulut kepuncak kepala
n. Lebar mulut
4. Antropometri yang diperlukan
Keterangan :
a. Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala)
b. Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak
c. Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak
d. Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)
e. Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam gambar tidak
ditunjukan)
f. Tinggi tubuh dalam posisi duduk (dukur dari atas tempat duduk/pantat sampai dengan
kepala)
g. Tinggi mata dalam posisi duduk
h. Tinggi bahu dalam posisi duduk
i. Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)
j. tebal atau lebar paha
k. panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan ujung lutut
l. panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari lutut/betis
m. Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk
n. Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha
o. Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk)
p. Lebar pinggul/pantat
q. Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukan pada gambar)
r. Lebar perut
s. Panjang siku yang diukur dari siku smpai dengan ujung jari – jari dalam posisi siku tegak
lurus
t. Lebar kepala
u. Panjang tangan diukur dari pergelangan tangan sampai dengan ujung jari
v. Lebar telapak tangan
w. Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar – lebar kesamping kiri – kanan (tidak
ditunjukan dalam gambar)
x. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai dengan
telapak tangan yang terjangkau lurus keatas (vertikal)
y. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur seperti halnya no 24 tetapi dalam
posisi duduk (tidak ditunjukan dalam gambar)
z. Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan
Data antropometri dibuat sesuai dengan ukuran tubuh laki – laki dan perempuan, harga rata –
rata (
Χ
), standar deviasi (σX) serta percentile tertentu (5-th, 50-th dan 95-th).
1.4 Aplikasi Distribusi Normal Dalam Penetapan Data Antropometri
Problem adanya variasi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana kita mampu
merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu sesuai” (adjustable) dengan suatu
rentang ukuran tertentu.
Distribusi Normal dengan Data Antropometri 95-th Percentile
Untuk penetapan data antropometri ini, pemakaian distribusi normal akan umum diterapkan.
Dalam statistik, distribusi normal dapat formulasikan berdasarkan harga rata – rata (mean,
X
) dan
simpangan standarnya (standa deviation, σX) dari data yang ada. Dari nilai yang ada maka
“percentiles” dapat ditetapkan sesuai dengan tabel probabilitas distribusi normal.
Pemakaian nilai – nilai percentile yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data antopometri
dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut :
Percentile Perhitungan
1-st
Χ
- 2.325 σX
2.5-th
Χ
- 1.96 σX
5-th
Χ
- 1.645 σX
10-th
Χ
- 1.28 σX
50-th
Χ
90-th
Χ
+ 1.28 σX
95-th
Χ
+ 1.645 σX
97.5-th
Χ
+ 1.96 σX
99-th
Χ
+ 2.325 σX
1.5 Perhitungan Data Antropometri Dengan Menggunakan Rumus Persentil Statistik
Perhitungan data antropometri dalam menentukan persentil dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus dari statistik, Adapun langkah – langkah dalam menentukan nilai persentil dalam
statistik adalah sebagai berikut yaitu :
1. Menentukan nilai yang terkecil sampai nilai yang terbesar dari suatu distribusi kelompok.
Nilai tersebut digunakan untuk menentukan nilai range, adapun rumus dalam menentukan
nilai range adalah :
1, 96 σX 1, 96 σX
X
2, 5%
95%
2, 5%
N(X, σX)
2, 5-th percentile 97, 5-th percentile
R = Dmax – Dmin
Dimana :
R = Nilai range
Dmax = Data terbesar
Dmin = Data terkecil
2. Menentukan kelas interval atau biasa disingkat dengan sebutan kelas, adapun rumus dalam
menentukan kelas adalah sebagai berikut:
K = 1 + 3,3 Log N
Dimana :
K = Kelas
N = Jumlah data
3. Menentukan nilai interval, adapun rumus dalam menentukan nilai interval adalah sebagai
berikut:
K
R
I ·
4. Menghitung nilai persentil. Adapun dalam menentukan nilai persentil yang harus dilakukan
terlebih dahulu yaitu menentukan letak dari nilai LCB, adapun rumus dalam menentukan
letak persentil adalah sebagai berikut:
( )
100
ixN
Pi ·
Dimana :
Pi = Letak persentil
i = nilai persentil ke-n
N = Jumlah data
5. Setelah diketahui letak dari persentil, maka langkah selanjut menghitung nilai dari persenti,
adapun rumus dari nilai persentil adalah sebagai berikut:
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
+ ·

fi
ixN
I LCB P
F 1
100
Dimana :
P = Nilai persentil
LCB = Lower Class Boundary
F 1 −
= Nilai komulatif frekuensi sebelum LCB
fi
= Nilai frekuensi
6. Dalam menentukan banyaknya kelas (K) dilakukan secara trial and error. Diusahakan agar
setiap tidak ada yang mempunyai frekuensi nol (0)
7. Limit kelas (Class Limit)
a. Untuk batas bawah (Lower Class Limit) / LCL diambil dari data terkecil suatu
interval kelas tersebut
b. Untuk batas atas (Upper Class Limit) / UCL diambil dari data terbesar suatu interval
kelas tersebut
8. Batas Atas (Class Boundary)
a. Untuk batas kelas bawah (Lower Class Boundary) / LCB
LCB = LCL – ½ skala terkecil
b. Untuk batas kelas atas (Upper Class Boundary) / UCB
UCB = UCL – ½ skala terkecil
9. Titik tengah kelas
CM = (LCL + UCL) / 2
10. Dilanjutkan dengan membuat tabel distribusi frekuensi, dan untuk mempermudah dalam
mencari ukuran tendensi sentral sama dengan data diskrit tetapi Xi pada data kontiniu
diganti dengan titik tengah kelas (CM)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->