P. 1
bukulahanrawa

bukulahanrawa

|Views: 652|Likes:
Published by Mohammed Isnain

More info:

Published by: Mohammed Isnain on Sep 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2013

pdf

text

original

Sections

Subagyo H.

Lahan Rawa Pasang Surut

24

2.1. TANAH LAHAN RAWA PASANG SURUT

Dalam keadaan alamiah, tanah-tanah pada lahan rawa pasang surut
merupakan tanah yang jenuh air atau tergenang dangkal, sepanjang tahun atau
dalam waktu yang lama, beberapa bulan, dalam setahun. Dalam klasifikasi
Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah rawa termasuk tanah basah,
atau "wetsoils", yang dicirikan oleh kondisi aquik, yakni saat ini mengalami
penjenuhan air dan reduksi secara terus-menerus atau periodik. Proses
pembentukan tanah yang dominan adalah pembentukan horison tanah tereduksi
berwarna kelabu-kebiruan, disebut proses gleisasi, dan pembentukan lapisan
gambut di permukaan. Bentuk wilayah, atau topografi lahan rawa pasang surut
adalah sangat rata (flat) sejauh mata memandang, dengan ketinggian tempat
relatif kecil, yaitu sekitar 0-0,5 m dpl di pinggir laut sampai sekitar 5 m dpl di
wilayah lebih ke pedalaman.

Secara umum, ada dua jenis tanah yang terbentuk, yaitu tanah gambut
(peat soils), dan tanah non-gambut, atau tanah mineral basah (wet mineral soils).
Tanah mineral yang terdapat di wilayah rawa, seluruhnya merupakan endapan
bahan halus, berupa debu halus dan lumpur yang diendapkan air pasang
ditambah dengan bahan aluvium yang dibawa ke muara oleh air sungai. Oleh
karena itu, tanah yang terbentuk semuanya merupakan tanah aluvial basah, yang
di permukaannya terdapat lapisan gambut tipis (<20 cm), atau agak tebal, antara
20-50 cm. Yang terakhir ini disebut tanah mineral-bergambut (peaty-soils).
Apabila ketebalan lapisan gambut sudah melebihi 50 cm, sudah tidak dapat lagi
dikatakan sebagai tanah mineral, tetapi sudah termasuk tanah gambut.

Dalam sistem klasifikasi tanah lama, tanah aluvial yang selalu jenuh air
disebut Aluvial Hidromorf, dan yang relatif agak kering tidak selalu basah disebut
Aluvial (saja). Tanah aluvial yang memiliki lapisan gambut tipis (<20 cm) di
permukaan, disebut Glei Humus Rendah; sedangkan yang lapisan gambutnya
agak tebal (20-50 cm), disebut Glei Humus. Sementara tanah gambut disebut
Organosol. Dalam klasifikasi Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999),
kelompok tanah Aluvial termasuk dalam (ordo) Entisols, atau Inceptisols;
sedangkan tanah gambut disebut Histosols.

Sesuai dengan pembagian lahan rawa, penyebaran dan sifat-sifat atau
karakteristik tanah yang terbentuk akan mengikuti pola landform yang ada, dan
berbeda antara ketiga zona wilayah rawa. Dalam bab ini dibahas lebih rinci dua
zona wilayah lahan rawa, yaitu zona I: wilayah rawa pasang surut air asin/payau,

Subagyo

25

dan zona II: wilayah rawa pasang surut air tawar. Sedangkan zona III: wilayah
rawa lebak/rawa non pasang surut disajikan pada Bab III.

2.1.1. Zona I: Wilayah rawa pasang surut air asin/payau

Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah
rawa pasang surut terdepan, yang berhubungan langsung dengan laut lepas.
Biasanya, wilayah rawa ini menempati bagian terdepan dan pinggiran pulau-
pulau delta serta bagian tepi estuari, yang dipengaruhi langsung oleh pasang
surut air laut/salin. Sebagai contoh, pulau-pulau delta di muara S. Musi dan
Banyuasin di Sumatera Selatan, antara lain adalah Delta Upang, Delta Telang,
dan P. Rimau. Di muara S. Batanghari di Jambi, yakni Delta Berbak; di muara S.
Barito dan Kapuas di Kalimantan Selatan, adalah Delta Pulau Petak. Di muara
Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, adalah beberapa pulau delta yang dibentuk
oleh S. Kapuas Kecil, Punggur Besar, Ambawang, dan S. Kubu.

Pada zona wilayah rawa ini, terdapat kenampakan-kenampakan (features)
bentang alam (landscape) spesifik yang mempunyai bentuk dan sifat-sifat yang
khas disebut landform. Sebagian besar wilayah zona I termasuk dalam landform
marin. Pembagian lebih detail dari landform marin, disebut sub-landform, pada
zona I rawa pasang surut air asin/payau dapat dilihat pada irisan vertikal tegak
lurus pantai, dan diilustrasikan pada Gambar 2.1a dan 2.1b.

Gambar 2.1a. Penampang skematis zona I wilayah rawa pasang surut air asin/
payau, merupakan pantai lepas yang memiliki beting pasir pantai
(coastal dunes)

Lahan Rawa Pasang Surut

26

Gambar 2.1b. Penampang skematis zona I wilayah rawa pasang surut air asin/
payau, pantai pada bagian yang terlindung dalam estuari, atau
teluk

Seperti telah diuraikan sebelumnya, di bagian terdepan terdapat “dataran
lumpur”, atau “mud-flats”, yang terbenam sewaktu pasang dan muncul sebagai
daratan lumpur tanpa vegetasi sewaktu air surut. Di belakang dataran lumpur,
pada pantai yang ombaknya kuat dan pantainya berpasir, dapat terbentuk bukit-
bukit rendah (beting) pasir pantai. Tanah yang terbentuk di sini merupakan tanah
berpasir. Di belakangnya terdapat danau-danau kecil dan sempit yang disebut
laguna (lagoons), biasanya ditempati tanah-tanah basah bertekstur liat. Lebih ke
dalam ke arah daratan, dijumpai rawa pasang surut bergaram (tidal salt marsh)
yang sebagian masih selalu digenangi pasang dan ditumbuhi hutan bakau/
mangove. Sebagian lagi, di wilayah belakangnya terdapat bagian lahan yang
kadang masih dipengaruhi air pasang melalui sungai-sungai kecil (creeks),
namun juga sudah ada pengaruh air tawar (fresh-water) yang kuat dari wilayah
hutan rawa dan gambut air tawar yang menempati depresi/cekungan lebih ke
darat. Bagian lahan yang dipengaruhi air payau ini ditumbuhi banyak spesies,
tetapi yang terutama adalah nipah (Nipa fruticans), panggang (Sonneratia acida),
dan pedada (Araliceae).

Tanah di zona I, seluruhnya terbentuk dari endapan marin, yaitu terbentuk
dalam lingkungan laut/marin, yang secara khas dicirikan oleh kandungan mineral
besi-sulfida berukuran sangat halus, beberapa mikron (0,001 mm), yang disebut
pirit. Ditinjau dari sifat kematangan tanah (soil ripeness), tanah pada zona I
umumnya bervariasi dari masih mentah (unripe) sampai setengah matang (half
ripe
). Profil tanah umumnya menunjukkan tanah bagian atas (upper layers)
teroksidasi setebal 25-50 cm, setengah matang sampai hampir matang (nearly
ripe
), tekstur liat berdebu, dan berwarna kelabu sampai coklat kekelabuan tua.

Subagyo

27

Lapisan tanah bawah (subsoil) tereduksi, mentah sampai setengah matang,
tekstur liat berdebu, dan umumnya berwarna kelabu gelap-sangat gelap
terkadang hitam, atau kelabu kehijauan.

Pada bagian "dataran bergaram" yang ditumbuhi bakau/mangrove, karena
pengaruh air laut pasang, tanahnya bersifat salin, mempunyai reaksi alkalis (pH
>7,5), mengandung garam/salinitas tinggi, dan merupakan wilayah tipologi lahan
salin. Pada bagian yang dipengaruhi air payau, tanah umumnya bereaksi
mendekati netral (pH 6,5-7,5) karena pengaruh air tawar dengan kandungan
garam lebih rendah, dan merupakan wilayah tipologi lahan agak-salin. Pada
wilayah rawa belakang yang dipengaruhi air tawar, tanah bereaksi semakin
masam, dan terbentuk lapisan gambut di permukaan, yang bersifat lebih
memasamkan tanah.

Wilayah zona I, khususnya di bagian sub-landform "dataran bergaram",
atau "salt-marsh", baik yang dipengaruhi air asin/salin maupun air payau, akibat
salinitas atau kandungan garam yang masih tinggi, tanah umumnya tidak sesuai
untuk pertanian. Oleh karenanya, tanah tersebut tidak direklamasi, baik oleh
penduduk maupun oleh pemerintah.

2.1.2. Zona II: Wilayah rawa pasang surut air tawar

Seperti telah diuraikan sebelumnya, lokasi zona II masih terdapat pada
wilayah daerah aliran bagian bawah, tetapi lebih ke arah hulu, dimana pengaruh
langsung air laut/salin sudah tidak ada lagi, tetapi energi pasang surut masih
terasa berupa naik dan turunnya air (tawar) sungai mengikuti siklus gerakan air
pasang surut. Wilayahnya dapat mencakup seluruh pulau-pulau delta kecil,
seperti Delta Upang dan Delta Telang, atau sebagian besar wilayah pulau besar,
seperti Delta Berbak dan Delta Pulau Petak. Secara keseluruhan, wilayah ini
umumnya dimasukkan sebagai landform fluvio-marin, karena terbentuk dari
gabungan pengaruh sungai (fluvio) dan pengaruh marin.

Satuan-satuan sub-landform yang terdapat di zona II dapat dilihat lebih
jelas pada wilayah yang terletak di antara dua sungai besar. Penampang
skematis sub-landform di antara dua sungai besar pada zona II diilustrasikan
pada Gambar 2.2.

Lahan Rawa Pasang Surut

28

Gambar 2.2. Penampang skematis sub-landform di antara dua sungai besar
pada zona II lahan rawa pasang surut air tawar

Oleh karena pengaruh sungai masih kuat, di sepanjang pinggir sungai
terbentuk tanggul sungai alam (natural levee) yang sempit dan lebarnya
bervariasi, makin ke arah hilir relatif sempit dan tidak begitu nyata terlihat di
lapangan. Tetapi ke arah hulu, kenampakannya di potret udara lebih jelas,
terutama karena perbedaan vegetasi yang tumbuh. Lebarnya yang tercatat
adalah sekitar 0,2-1 km, dan setempat-setempat sampai sekitar 2 km. Tanggul
sungai dapat terbentuk sebagai akibat pengendapan muatan sedimen sungai
yang terjadi selama berabad-abad, setiap kali sungai meluap ke daratan selama
musim hujan. Bahan endapan berupa debu halus dan lumpur, akan mengendap
pertama-tama di pinggir sungai, sementara bahan yang lebih halus berupa liat,
akan diendapkan pada wilayah di belakang tanggul. Tanah yang terbentuk di
bagian tanggul sungai alam, merupakan endapan sungai (fluviatile) yang
tebalnya beragam, dari sekitar 0,5 m sampai lebih dari 1,5 m, menutupi endapan
dasar yang merupakan endapan marin. Oleh karena terbentuk dari bahan relatif
agak kasar, debu kasar dan halus serta lumpur, tanah tanggul sungai (levee
soils
) umumnya bertekstur sedang, dengan kandungan fraksi debu relatif tinggi,
seperti lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu, dan liat berdebu.

Pada wilayah di belakang tanggul sungai, permukaan tanah umumnya
berangsur menurun ke arah cekungan/depresi besar di hampir bagian tengah
wilayah di antara dua sungai besar. Wilayah di antara tanggul sungai dan
cekungan/depresi besar di bagian tengah, disebut sub-landform dataran rawa
belakang (backswamp). Dari pengamatan lapangan di areal hutan gambut di
antara S. Sebangau-Kahayan-Kapuasmurung-Barito di Kalimantan Tengah,
peralihan dari tanggul sungai ke arah cekungan/depresi, menunjukkan penurunan

Subagyo

29

tanah dasar mineral tidak selalu terjadi secara berangsur, tetapi dapat juga
menurun secara mendadak dalam jarak yang relatif pendek, dan menjadi bagian
dari cekungan/depresi besar. Ini berarti dataran rawa belakangnya sangat sempit,
atau tidak ada.

Depresi besar di sekitar bagian tengah wilayah di antara dua sungai besar
ditempati tanah gambut. Posisi depresi di berbagai wilayah pulau delta tidak
selalu persis di bagian tengah, tetapi seringkali menyamping mengikuti bentuk
pulau delta. Batasan tanah gambut yang sederhana adalah memiliki kandungan
bahan organik lebih dari 65% (berdasarkan berat) dengan ketebalan gambut
lebih dari 0,5 m. Definisi tanah gambut yang disebut Histosols dalam Taksonomi
Tanah (Soil Survey Staff, 1999), lebih rumit, yaitu (i) harus tersusun dari bahan
tanah organik, (ii) jenuh air selama 1 bulan atau lebih setiap tahun, dan (iii)
ketebalannya minimal 0,4 atau 0,6 m tergantung dari tingkat dekomposisi bahan
gambut dan bobot-jenisnya.

Tanah gambut yang menempati cekungan/depresi besar mempunyai
ketebalan yang bervariasi. Di bagian pinggir ditempati gambut dangkal dengan
ketebalan 0,5-1 m, dan gambut sedang dengan ketebalan 1-2 m, dan seringkali
mengandung sisipan-sisipan lapisan tanah mineral. Keduanya biasanya
merupakan gambut topogen yang relatif subur (eutrofik). Semakin ke bagian
tengah depresi, lapisan gambut semakin tebal dan kesuburan bahan gambutnya
cenderung makin menurun. Tanah gambut dalam (2-3 m) dan gambut sangat-
dalam (>3 m) yang terbentuk disebut gambut ombrogen, dengan tingkat
kesuburan sedang (mesotrofik) sampai rendah (oligotrofik). Oleh karena
perbedaan pertumbuhan vegetasi hutan di bagian pinggir dan bagian tengah
cekungan, permukaan tanah gambut semakin meninggi di bagian tengah dan
membentuk semacam kubah dari tanah gambut, yang disebut kubah gambut
(peat dome). Ketinggian relatif di bagian tengah kubah, dapat mencapai sekitar 3-
5 m. Bentuk kubah gambut umumnya “lonjong” atau hampir bujur telur, dan
ukurannya cukup besar. Sebagai contoh dua kubah gambut di Delta Pulau Petak
yang diteliti Lembaga Penelitian Tanah tahun 1972, masing-masing berukuran
sekitar 4-9 km lebar dan 8-15 km panjang; serta 8-12 km lebar, dan 15-24 km
panjang (SRI, 1973). Dua buah kubah gambut di areal Proyek Pengembangan
Lahan Gambut Satu Juta Hektar (PLG) yang disurvei Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat tahun 1996, masing-masing mempunyai dimensi Iebar dan panjang
sekitar 17-22 km, dan 23-45 km (Subagyo, 2002).

Lahan Rawa Pasang Surut

30

Pada awal pembukaan lahan rawa pasang surut di Sumatera dan
Kalimantan, yang survei tanahnya dilakukan secara intensif antara tahun 1969
dan 1984, banyak ditemukan wilayah kubah gambut di berbagai tempat, baik di
Sumatera maupun di Kalimantan. Di Sumatera, kubah gambut ditemukan di
daerah rawa Sumatera Selatan, seperti di Sugihan Kiri, Delta Upang, Delta
Telang, Pulau Rimau, dan Karang Agung Ulu (Wiradinata dan Hardjosusastro,
1979), serta di Delta Reteh antara S. Reteh dan S. Inderagiri di Provinsi Riau. Di
Kalimantan Barat, terdapat beberapa kubah gambut besar di Delta S. Kapuas, di
antara S. Kapuas Kecil, Punggur Besar, Ambawang, dan Kubu-Terentang, pada
wilayah rawa pasang surut sebelah selatan kota Pontianak, di bagian muara S.
Kapuas (LPT, 1969). Di Provinsi Kalimantan Tengah, wilayah kubah gambut
ditemukan sangat luas di wilayah delta antara S. Mentaya, Katingan, Sebangau,
Kahayan, Kapuas, dan Barito (Jaya, 2002).

Dewasa ini, yakni sekitar 35 tahun kemudian, sebagian dari wilayah kubah
gambut tersebut, terutama yang telah berhasil dijadikan areal pemukiman
transmigrasi, telah lenyap dijadikan lahan pertanian. Yang tersisa umumnya
tinggal berupa wilayah lahan gambut sempit yang ditempati gambut dangkal atau
tanah bergambut. Sebagai contoh, wilayah dimana kubah gambut telah lenyap
atau tinggal sedikit sekali, di antaranya terdapat di Delta Upang, Delta Telang,
Sugihan Kiri, dan Pulau Rimau di Sumatera Selatan, serta Delta Pulau Petak di
Kalimantan Selatan.

Bagian yang terluas dari zona II adalah wilayah dataran rawa belakang,
yakni wilayah bertopografi datar yang menempati posisi di antara tanggul sungai
dan cekungan/depresi di bagian tengah antara dua sungai besar. Di berbagai
pulau delta, baik di Sumatera maupun Kalimantan, wilayah rawa belakang ini
merupakan wilayah yang menjadi tujuan reklamasi rawa oleh P4S-PU (1969-
1984), dan dewasa ini merupakan persawahan pasang surut yang utama di lahan
rawa. Menurut BPS (2001) luas lahan sawah yang aktif ditanami padi adalah
591.877 ha, terutama tersebar di delapan provinsi, yang bila diurutkan dari yang
terluas sampai tersempit adalah Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Riau, Lampung, dan Sumatera
Utara.

Sebagaimana pada zona I, endapan dasar yang membentuk tanah rawa di
wilayah rawa belakang adalah endapan marin, oleh karena itu sering disebut
sebagai tanah aluvial marin. Ciri yang unik dari tanah aluvial marin adalah adanya

Subagyo

31

senyawa besi-sulfida (FeS2) yang disebut pirit. Kandungan pirit di tanah rawa
pasang surut umumnya rendah, yakni hanya sekitar 0-5%, namun walaupun
kadarnya rendah, temyata di kemudian hari menjadi permasalahan utama yang
berat, atau sangat sulit diatasi, apabila tanah rawa dibuka untuk pertanian.
Masalahnya dimulai pada saat rawa direklamasi, yaitu dengan penggalian
saluran-saluran drainase besar, seperti saluran primer, sekunder, dan tersier,
dengan tujuan untuk mengeringkan wilayah agar tanah rawa yang semula basah
atau tergenang menjadi tanah yang relatif lebih kering yang siap digunakan
sebagai lahan pertanian.

Akibat adanya saluran-saluran drainase tersebut, permukaan air tanah
menjadi turun, dan tanah bagian atas menjadi kering dan terbuka. Akibat adanya
oksigen di udara, maka tanah bagian atas ini mengalami oksidasi, sementara
tanah bagian bawah masih tetap berada di lingkungan air tanah, yaitu tetap
dalam kondisi tereduksi. Pirit yang terbentuk dalam suasana reduksi dalam
endapan laut di dekat pantai dengan kandungan bahan organik tinggi, berasal
dari vegetasi pantai seperti api-api dan bakau/mangrove. Dalam kondisi reduksi,
pirit bersifat stabil sesuai dengan suasana lingkungan pembentukannya. Akibat
penurunan air tanah, pirit yang berada di tanah bagian atas ikut terbuka
(exposed) di lingkungan yang aerob, dan mengalami oksidasi, menghasilkan
asam sulfat dan senyawa besi bebas bervalensi 3 (Fe-III). Hasil akhirnya
merupakan tanah ber-reaksi masam ekstrim (pH <3,5), dan banyak mengandung
ion-ion sulfat (SO4), besi bervalensi 2 (Fe-II), dan aluminium (AI3+

). Tanah ber-
reaksi masam ekstrim yang banyak mengandung ion sulfat ini disebut tanah
sulfat masam
, atau “acid sulphate soils”. Seringkali juga disebut tanah sulfat
masam aktual, atau “actual acid sulphate soils”. Sebaliknya, semua tanah marin
yang mengandung pirit belum teroksidasi, mempunyai reaksi tanah agak masam
(pH 4,6-5,5), tetapi berpotensi akan menjadi ekstrim masam bila mengalami
drainase berlebihan, disebut tanah sulfat masam potensial, atau “potential acid
sulphate soils”.
Tanah bagian atas yang sudah teroksidasi, karena berwarna
coklat, atau kelabu kecoklatan berkaratan besi coklat kemerahan, kadang disebut
“brown layer”. Sedangkan tanah bawah yang tereduksi penuh, yang berwarna
kelabu, kelabu gelap, atau kelabu kehijauan, sering disebut ”gray layer”.

Profil tanah sulfat masam aktual umumnya menunjukkan tanah bagian atas
teroksidasi, setebal 50-100 cm, hampir matang sampai matang, reaksi masam
ekstrim (pH <3,5), atau sangat masam (pH 3,5-4,0), tekstur umumnya liat

Lahan Rawa Pasang Surut

32

berdebu, berwarna coklat, coklat kemerahan atau kelabu. Lapisan tanah bawah
tereduksi, setengah matang sampai mentah, reaksi tanah sangat masam sampai
agak masam (pH >4,0), tekstur liat berdebu sampai liat, dan umumnya berwarna
kelabu-kelabu gelap.

Profil tanah sulfat masam potensial, tanah bagian atas teroksidasi relatif
lebih tipis sekitar 25-75 cm, setengah matang sampai hampir matang, reaksi
tanah sangat masam-agak masam (pH >4,0), tekstur umumnya liat berdebu, dan
warnanya kelabu tua sampai coklat kekelabuan. Lapisan bawah tereduksi, hampir
mentah (practically unripe) sampai mentah, reaksi tanah masam-agak masam
(pH >4,0), tekstur liat berdebu sampai liat, dan warnanya kelabu tua sampai
kelabu gelap.

Tanah sulfat masam aktual, karena memiliki reaksi masam ekstrim, dan
banyak kandungan ion-ion yang bersifat racun/toksik, sehingga tidak sesuai
untuk tanaman pertanian. Tanaman padi yang ditanam di tanah ini tidak
menghasilkan gabah yang berarti. Lahan ini banyak ditinggalkan petani
transmigran, sehingga menjadi lahan bongkor dan ditutupi semak-semak lebat.
Vegetasi alami yang mampu tumbuh adalah yang toleran terhadap kemasaman
tinggi, terdapat di Delta pulau Petak biasanya berupa purun (Lepironia
mucronata
), atau purun tikus (Fimbristylis sp.), dan gelam (Melaleuca
leucadendron
).

2.2. GENESIS TANAH RAWA

Seperti telah diuraikan sebelumnya, lahan rawa pasang surut berada di
bagian muara sungai-sungai besar, berupa pulau-pulau delta berukuran relatif
kecil yang terpisah dari daratan, atau sebagai pulau-pulau delta besar yang
menyambung ke daratan, dan diapit oleh dua sungai besar. Sebagai contoh yang
pertama adalah Delta (pulau) Upang, Delta Telang, dan Pulau Rimau pada muara
S. Musi-Banyuasin di Sumatera Selatan. Contoh yang kedua adalah Delta Berbak
pada S. Batanghari di Jambi, Delta Reteh antara S. Reteh dan Inderagiri di Riau,
dan Delta Pulau Petak antara S. Kapuasmurung dan Barito di Kalimantan
Selatan.

Dengan mempertimbangkan posisi lahan rawa tersebut, dapat dimengerti
bahwa lahan rawa pasang surut terbentuk karena proses akreasi (accreation),
yaitu proses pelebaran daratan baru ke arah laut yang terjadi secara alami,

Subagyo

33

karena pengendapan bahan-bahan sedimen yang dibawa sungai (sedimen load)
di wilayah bagian muara sungai besar. Di bagian muara sungai, pada saat air
sungai yang bereaksi sekitar netral (pH 5-6), bertemu dengan air laut yang
bereaksi sekitar alkalis (pH 7-9), maka muatan sedimen sungai yang berupa
bahan halus, liat sampai debu halus, akan "menjojot" yakni membentuk
gumpalan-gumpalan kecil yang mengendap di dasar laut. Pengendapan yang
intensif terjadi selama musim hujan dan terus-menerus berlangsung selama
berabad-abad, lambat laun membentuk "dataran lumpur", atau "mudflats" yang
muncul sebagai daratan tanpa vegetasi sewaktu air surut, dan tenggelam di
bawah air sewaktu air pasang. Sejalan dengan waktu, tumbuhan yang toleran air
asin, khususnya api-api (Avicennia sp.) dan bakau/mangrove (Rhizophora sp.,
Bruguiera sp.) akan tumbuh di lumpur, yang menjebak lebih banyak sedimen,
sehingga dataran lumpur terbangun secara vertikal semakin tinggi, dan akhirnya
menjadi dataran rawa pasang surut, “tidal marsh”, atau “salt marsh”, yang
ditumbuhi oleh hutan bakau/mangrove.

Mencermati bentuk-bentuk pantai di Indonesia dimana lokasi rawa pasang
surut berada, dapat disimpulkan bahwa pantai-pantai Indonesia bukan termasuk
“shorelines of submergence” (Strahler, 1973), yaitu bentuk-bentuk pantai yang
terbentuk karena permukaan air laut naik, atau kerak bumi menurun. Juga tidak
termasuk “shorelines of submergence”, yaitu bentuk-bentuk pantai yang terjadi
karena permukaan air laut menurun, atau kerak bumi meninggi. Tetapi termasuk
dalam “neutral submergence”, yaitu apabila pantai terbentuk sebagai akibat
penambahan bahan-bahan baru ke dalam laut. Kata netral di sini diartikan, tidak
ada perubahan relatif pada posisi permukaan air laut atau posisi kerak bumi.
Bentuk-bentuk pantai Indonesia, karena berbentuk delta-delta, dapat dimasukkan
sebagai “delta shorelines”.

Dari sekian banyak wilayah rawa di pulau-pulau delta di Indonesia,
tampaknya yang paling intensif diteliti dari aspek kIasifikasi tanah, proses fisika
dan kimia, pengelolaan air dan kesuburan tanah, serta aspek lingkungan dari
reklamasi tanah sulfat masam adalah Delta Pulau Petak. Riset dilakukan oleh tim
gabungan antara peneliti-peneliti dari “Land and Water Research Group
(LAWOO)” dan dari Badan Litbang Pertanian (AARD), berlangsung dari Oktober
1987 sampai sekitar Maret 1991. Genesis, atau proses pembentukan Delta Pulau
Petak dilaporkan oleh Jansen et al. (1990) dan Prasetyo et al. (1990).

Sampai sekitar 5.500 tahun yang lalu, seluruh wilayah Delta Pulau Petak
sekarang ini masih merupakan wilayah teluk yang berpantai dangkal. Dari 5.500

Lahan Rawa Pasang Surut

34

tahun sebelum masehi (SM), kenaikan permukaan air laut secara berangsur
(eustatik) berkurang atau berhenti, dan perluasan secara lateral dari pantai asli
mulai teljadi. Perluasan lateral karena proses akreasi yang membentuk Delta
Pulau Petak berlangsung melalui 3 fase sedimentasi, yaitu fase sedimentasi I,
dari 5.500 sampai 4.000-3.500 tahun SM, fase sedimentasi II, dari 4.000-3.500
tahun SM sampai 1.000-700 tahun SM, dan fase sedimentasi III dari 1.000-700
tahun SM. Pada fase I, bahan sedimen dipasok dari S. Barito dan Kapuas; pada
fase II sumber bahan sedimen berasal dari S. Barito dan S. Pulau Petak; dan
fase III sumber sedimen adalah S. Kapuasmurung dan Barito, dan membentuk
garis pantai yang ada sekarang ini.

Genesis tanah gambut di wilayah rawa pantai Indonesia diperkirakan
dimulai sekitar 5.000-4.000 tahun yang lalu (Subagyo, 2002), dan diperkirakan
hampir bersamaan waktunya dengan dimulainya proses akreasi yang membentuk
wilayah pulau-pulau delta di rawa pasang surut yang ada sekarang ini. Mengikuti
informasi geologi, diketahui bahwa berdasarkan “radiometric dating” periode
zaman es Pleistosin (Pleistocene glaciation) yang terakhir, yaitu zaman es
(glacial) Wisconsin (di Amerika Utara) yang setara dengan zaman es Wurm (di
Eropa) berakhir sekitar 18.000/15.000-10.000 tahun yang lalu (Strahler, 1973).
Dengan melelehnya lapisan es/ gletser zaman es Wisconsin dan Wurm tersebut,
permukaan air laut di seluruh dunia secara berangsur (eustatic) naik.
Diperkirakan kenaikan permukaan laut di seluruh dunia terjadi selama akhir
zaman Pleistosin sampai awal Holosin (Holocene), sekitar 100-135 m (Davis et
al.,
1976; Holmes, 1978). Di perairan laut Indonesia, kenaikan permukaan air laut
diperkirakan !ebih dari 100 m (Andriesse, 1997), atau sekitar 120 m (Neuzil,
1997).

Stabilisasi permukaan laut di wilayah pantai di sebagian besar Asia
Tenggara tercapai sekitar 6.000-5.000 tahun yang lalu (Diemont dan Pons,
1991), atau 6.000-4.000 tahun yang lalu (Neuzil, 1997), sementara Brinkman dan
Pons (1968) menyebutkan sekitar 5.500 tahun yang lalu. Dengan adanya
permukaan laut yang sudah relatif stabil waktu itu, proses pelebaran/perluasan
pantai secara lateral akibat sedimentasi bahan-bahan halus yang dibawa sungai,
yakni proses akreasi pantai, diperkirakan mulai terjadi, diikuti dengan
pembentukan tanah gambut. Berbagai data pengukuran “C-14 dating” contoh-
contoh tanah gambut di Sumatera dan Kalimantan untuk memperkirakan umur
pembentukan gambut, memperkuat estimasi mulainya proses akreasi di wilayah
pantai di Indonesia. Sebagai contoh: di pantai timur P. Sumatera, gambut di

Subagyo

35

sekitar S. Batanghari di Jambi menunjukkan umur 4.300 tahun SM (Cameron et
al.,
1987), gambut di Bengkalis, dan S. Siak Kanan di Riau, masing-masing
berumur 5.730-4.740 dan 5.220-3.620 tahun SM (Neuzil, 1997). Di pantai P.
Kalimantan, gambut di Teluk Keramat, Kalimantan Barat, menunjukkan umur
4.040-2.570 tahun SM (Neuzil, 1997), di dekat S. Mahakam, Kalimantan Timur,
4.400-3.850 tahun SM (Diemont dan Pons, 1991). Contoh gambut dari S. Lassa
dan Baram di Serawak, Malaysia, menunjukkan umur masing-masing 6.500-
5.000 dan 4.000 tahun SM (Neuzil, 1997).

2.3. PIRIT DALAM TANAH RAWA

Seperti telah diuraikan sebelumnya, di dalam lumpur dan endapan marin
tereduksi, serta lapisan tanah bawah tereduksi pada tanah sulfat masam
potensial dan sulfat masam aktual pada lahan rawa pasang surut air salin/payau
(Zona I) dan air tawar (Zona II), terdapat pirit.

Pirit adalah mineral berkristal oktahedral, termasuk sistem kubus, dari
senyawa besi-sulfida (FeS2) yang terbentuk di dalam endapan marin kaya bahan
organik, dalam lingkungan air laut/payau yang mengandung senyawa sulfat (SO4)
larut. Dengan menggunakan teknik SEM (Scanning Electron Microscope)
diketahui bahwa partikel-partikel pirit berada dalam bentuk kristal, yang individu-
individu kristal tunggalnya sangat halus, terbanyak berukuran <1 mikron (1
mikron=0,001 mm), dan sebagian kecil 2-9 mikron. Bentuk kristal tunggal dari
kubus bervariasi, dan bentuk (kristal) oktahedral adalah yang paling dominan,
diikuti bentuk piritohedral, yang semuanya termasuk sistem (kristalografi) kubus,
atau isometrik. Pirit mengandung 46,55% Fe (berdasarkan berat), dan 53,45% S
(Michaelsen dan Phi, 1998). Dilihat di bawah mikroskop polarisasi, menggunakan
cahaya biasa (normal) dan terpolarisasi, kristal-kristal pirit berwarna hitam/opak,
tetapi apabila digunakan cahaya merkuri warnanya hijau muda cerah (bright)
(Van Dam dan Pons, 1973). Selain berbentuk kristal tunggal-oktahedral, atau
agregat lepas, umumnya kristal tunggal saling bergabung membentuk agregat
lonjong (elliptical), atau membulat (spherical) yang padat, yang disebut
“framboid”, sehingga ukurannya sedikit lebih besar, yakni berkisar dari 1-14
mikron, dengan rata-rata enam mikron. Beberapa agregat pirit framboid
berukuran sampai 100 mikron. Kristal-kristal pirit berbentuk oktahedral dan
framboidal dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Lahan Rawa Pasang Surut

36

Gambar 2.3. Kristal-kristal pirit diobservasi dengan mikroskop elektron scanning
(SEM), (a) memperlihatkan kristal besar berbentuk oktahedral dan
framboidal; (b) memperlihatkan framboidal besar yang tersusun
dari kristal-kristal tunggal oktahedral berukuran kecil (Michaelsen
dan Phi, 1998)

a

b

Subagyo

37

Dalam lapisan tanah yang mengandung pirit, partikel pirit tergabung
dengan jaringan sisa-sisa akar mangrove, atau tersebar dalam matriks tanah. Di
lapangan, lapisan tanah yang mengandung pirit berwarna lebih gelap/hitam (hue
10YR, 2,5Y, 5Y, N, dan 5GY; kroma 1), sering bercampur dengan sisa-sisa daun
atau akar tumbuhan bakau atau nipah, dan kadang berbau busuk (H2S).

Secara umum kandungan pirit yang terdapat dalam tanah sulfat masam
potensial relatif tidak tinggi, maksimum 6-7 persen (berdasarkan berat), dan
kandungan yang paling umum bervariasi dari 1-4 persen (Van Bremen, 1973).
Pada tanah sulfat masam potensial di Vietnam, kandungan pirit sampai sedalam
90 cm, berkisar dari 0,2 sampai 5,5-6% (berdasarkan berat). Lapisan bagian atas
sampai 50 cm, kandungan piritnya bervariasi 0-3,5%, dan meningkat ke lapisan
lebih bawah (Michaelsen dan Phi, 1998). Walaupun kandungan pirit yang
terdapat dalam tanah marin, khususnya sulfat masam potensial relatif kecil,
namun ternyata kemudian merupakan permasalahan atau kendala berat dalam
pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian.

Penyebaran kandungan pirit dan pH-H2O lapangan di dalam profil tanah
rawa di Delta Pulau Petak, yang diambil dari lokasi dekat laut (Tabunganen)
sampai Iokasi yang jauh dari laut (Talaran), dan beberapa contoh profil dari
Vietnam disajikan pada Tabel 2.1.

Jarak dekat atau jauhnya Iokasi profil dari laut, tampaknya tidak
berpengaruh pada kandungan pirit setiap lapisan di dalam profil tanah.
Kandungan pirit pada profil tanah di Tabunganen, yang terdekat dengan laut,
tidak lebih tinggi dari kandungan pirit pada profil tanah dari Talaran, yang terletak
paling jauh dari laut. Sementara kandungan pirit pada profil tanah di Belawang,
yang terletak cukup jauh dari laut, ternyata justru menunjukkan kandungan pirit
yang paling tinggi. Sedangkan kandungan pirit pada profil tanah di Sakalagun,
hanya berseberangan dengan lokasi Belawang, paling rendah.

Lahan Rawa Pasang Surut

38

Tabel 2.1. Kandungan pirit dan pH-H2O lapang pada tanah rawa di Delta Pulau
Petak, Indonesia dan di Vietnam

Profil

Kedalaman pH-(H2O)
lapang

Pirit

Profil

KedalamanpH-(H2O)
lapang

Pirit

cm

%FeS2

cm

%FeS2

Indonesia

TAB 4/I
4/II
4/III
4/IV
4/V
4/VI
4/VII

11
33
52
85
125
155
180

5,0
5,4
5,3
5,1
4,9
5,3
5,8

0,24
0,24
1,07
4,71
2,52
2,11

Vietnam

RMB -1
-2
-3
-4

15
30
50
90

-
1,10
2,40
4,90

LUP 1/I
1/II
1/III
1/IV
1/V
1/VI
1/VII

5
15
32
51
70
95
135

6,1
6,5
6,2
6,4
6,1
6,3
5,6

0,25
0,22
0,07
0,11
0,50
0,20
2,76

RA -1
-2
-3
-4

15
30
50
90

-
1,20
2,70
6,00

JEL 1/I
1/II
1/III
1/V
1/VI

5
15
30
67
115

5,2
5,4
5,5
5,9
5,8

0,14
0,15
0,14
0,15
1,35

RM -1
-2
-3
-4

15
30
50
90

-
0,70
0,90
3,10

SPT 2/II
2/III
2/IV
2/V

5
20
38
56

3,5
3,6
3,9
4,9

0,16
0,15
1,29
6,96

R

-1
-2
-3
-4

15
30
50
90

-
0,40
2,40
3,30

SAK 2/I
2/II
2/III
2/IV
2/V
2/VI
2/VII

7
25
42
62
90
120
145

4,5
4,8
4,8
4,9
5,0
4,8
5,8

0,05
0,07
0,06
0,07
0,07
0,07
0,45

F2X47-A

-B21
-B22
-B23
-BC
-C

22
57
85
115
150
230

3,7
3,1
3,0
3,2
2,8
2,9

1,45

0,14
0,82
0,80

BEL 6/II
6/III
6/IV
6/V
6/VI
6/VII

20
50
80
100
120
140

3,1
3,0
4,0
4,3
4,4
4,5

0,24
3,92
5,76
4,33
3,30
0,30

A2X5-B21
-B22
-BC
-C

25
68
86
295

3,4
3,3
3,0
2,6

0,09
0,09
0,25
0,96

TAL 3/II
3/III
3/IV
3/V
3/VI
3/VII
3/VII

10
32
54
69
83
98
115

3,3
3,2
3,4
3,3
3,5
3,6
3,7

0,10
0,15
0,12
0,15
4,32
3,90
6,11

TL1 -B23
-

1BC

-C1

89
111
178

3,4
2,7
2,8

0,08
0,61
1,12

Sumber: Konsten dan Sarwani (1990) (data diproses); Konsten et al. (1986); Michaelsen and Phi
(1998).
TAB = Tabunganen; LUP = Lupakluar; JEL = Jelapat; SPT = Serapat; SAK = Sakalagun; BEL =
Belawang; TAL = Talaran. Dari Tabunganen ke Talaran, lokasinya makin jauh dari laut.

Subagyo

39

Perhitungan data kandungan pirit dari 22 profil tanah rawa yang terdiri atas
100 contoh dari Pulau Petak, Indonesia, dan 17 profil yang terdiri atas 59 contoh
dari Vietnam, menunjukkan variasi data rata-rata kandungan pirit dan simpangan
baku (standard deviation) seperti disajikan pada Tabel 2.2. Kandungan pirit tanah
rawa, sebagaimana diwakili dari data tanah rawa di Delta Pulau Petak, dengan
menggunakan skala kandungan pirit menurut Pons (1970) yaitu rendah (few):
<1,20%, sedang (common): 1,21-2,40%, tinggi (many): 2,41-4,50%, dan sangat
tinggi (abundant): >4,50%, menunjukkan bahwa kandungan pirit pada lapisan
tanah atas (0-50 cm) beragam dari 0,05-4,24%.

Tabel 2.2. Kandungan pirit pada tanah rawa di Indonesia dan Vietnam

Kandungan pirit

Tanah sulfat masam

Variasi

Rata-rata Simpangan baku
…………………….. % ……………………..

Delta Pulau Petak, Indonesia

- Tanah bagian atas teroksidasi (0-50 cm) 0,05-4,240,52 (rendah) ± 0,94
- Lapisan bawah (50-100 cm)

0,07-6,961,89 (sedang) ± 2,60

- Tanah bawah tereduksi (100-150 cm)

0,30-6,112,61 (tinggi)

± 1,89

- Lapisan tanah tereduksi (150-200 cm)

2,11-6,003,54 (tinggi)

± 2,14

Vietnam

- Tanah bagian atas teroksidasi (0-50 cm) 0,00-3,500,87 (rendah) ± 1,13
- Lapisan bawah (50-100 cm)

0,09-6,002,45 (tinggi)

± 2,27

- Tanah bawah tereduksi (100-150 cm)

0,10-1,240,60 (rendah) ± 0,43

- Lapisan tanah tereduksi (150-200 cm)

0,14-1,120,71 (rendah) ± 0,37

Kesimpulan yang dapat ditarik dari observasi data pada Tabel 2.2 tersebut
adalah bahwa kandungan pirit pada tanah rawa bagian atas yang teroksidasi di
Indonesia, umumnya rendah. Kandungan pirit dalam tanah cenderung meningkat
ke lapisan bawah, yaitu termasuk sedang. Lebih ke bawah pada lapisan bawah
tereduksi, pada kedalaman lebih dari 1 m tergolong tinggi.

Lain halnya dengan kandungan pirit tanah rawa Vietnam, sampai
kedalaman sekitar 1 m sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tanah rawa dari
Delta Pulau Petak. Kandungan pirit rata-rata pada tanah bagian atas, sama-sama
rendah, tetapi kandungan pirit di bagian tanah bawah tereduksi sedalam 1-2 m,
menjadi rendah kembali. Bahan sedimen yang diendapkan di tanah rawa
Vietnam mungkin berbeda dengan bahan sedimen yang membentuk tanah rawa
di Delta Pulau Petak.

Lahan Rawa Pasang Surut

40

Dengan menggunakan simulasi model untuk tanah sulfat masam (SMASS:
Simulation Model for Acid Sulphate Soils
) yang divalidasi dengan kondisi
lapangan tanah sulfat masam potensial di Barambai I dan II, Delta Pulau Petak,
dari kurva prediksi hubungan antara kedalaman dan kandungan pirit yang dibuat
van Wijk et al. (1992) dapat diprediksi bahwa pada kondisi pengelolaan air normal
yang dilakukan saat ini, dalam 5 tahun ke depan, pirit pada kedalaman 40 cm
menurun dari kondisi awal sekitar 3,9% menjadi sekitar 2,3%, atau terjadi
penurunan kandungan pirit rata-rata sekitar 0,32% per tahun. Dengan perbaikan
pengelolaan air, berupa pencucian tambahan pada akhir musim hujan dengan
menggunakan air berkualitas lebih baik dari saluran tersier, dapat diprediksi
terjadi penurunan kandungan pirit dari sekitar 3,9% menjadi 2%, atau rata-rata
sekitar 0,38% per tahun. Namun, kurva prediksi tersebut tidak menunjukkan
perubahan kandungan pirit pada kedalaman tanah lebih dalam, antara 50-100
cm. Kandungan pirit praktis tidak berubah, dan tetap tinggi antara 4,2-6,5%, baik
sesudah 5 maupun 10 tahun, walaupun telah dilakukan perlakuan perbaikan
pengelolaan air.

2.3.1. Pembentukan dan oksidasi pirit

Proses pembentukan pirit telah disarikan oleh Langenhoff (1986)
berdasarkan makalah Pons et al. (1982) dan publikasi Dent (1986), metalui
beberapa tahap:

Reduksi sulfat (SO4) menjadi sulfida (S) oleh bakteri pereduksi sulfat dalam
lingkungan anaerobik;

Oksidasi parsial sulfida menjadi polisulfida (misalnya Fe3S4: Greigite; Fe4S5:
Pyrrhotite), atau unsur S; diikuti pembentuksan FeS, dari sulfida terlarut, besi
oksida (FeOOH, Fe2O3), atau mineral silikat mengandung unsur Fe;

Pembentukan FeS2 dari penggabungan FeS dengan unsur S, atau presipitasi
langsung dari besi (Fe-II) terlarut dengan ion-ion polisulfida.

Reaksi keseluruhan pembentukan pirit, dari besi-oksida (Fe2O3) sebagai
sumber Fe, digambarkan sebagai berikut:

Fe2O3 + 4SO42-

+ 8CH2O + ½O2 → 2FeS2 + 8HCO3-

+ 4H2O

sulfat

bahan organik

PIRIT karbonat

Subagyo

41

Bahan baku pembentukan pirit dengan demikian adalah besi-oksida, ion
sulfat, bahan organik (ditulis sebagai CH2O), kondisi reduksi, dan bakteri
pereduksi sulfat. Kondisi seperti ini terdapat pada lumpur atau bahan endapan
dalam lingkungan air asin/payau, yang kaya bahan organik berasal dari vegetasi
api-api dan bakau/mangrove. Da!am suasana jenuh air atau anaerobik, oleh
adanya ion mono-karbonat (HCO3

-

), pH tanah endapan adalah netral sampai

agak alkalis, sehingga kondisi pirit stabil dan tidak berbahaya.

Namun apabila lahan rawa pasang surut direklamasi, yaitu dengan
dibuatnya jaringan tata air makro berupa saluran-saluran primer, sekunder
sampai tersier, lahan mengalami pengeringan/pengatusan, air tanah menjadi
turun, maka lingkungan pirit menjadi terbuka (exposed) di udara. Dalam suasana
aerobik, pirit menjadi tidak stabil karena bereaksi dengan oksigen udara. Reaksi
oksidasi pirit dengan oksigen berjalan lambat, dan dipercepat oleh adanya bakteri
Thiobacillus ferrooxidans. Seluruh reaksinya digambarkan sebagai berikut:

FeS2 + 15/4O2 + 7/2 H2O → Fe(OH)3 + 2SO4

2-

+ 4H+

PIRIT oksigen

besi-III (koloidal) asam sulfat

Hasil reaksi adalah dihasilkannya besi-III koloidal, dan asam sulfat yang
terlarut menjadi ion sulfat dan melimpahnya ion H+

, yang mengakibatkan pH
tanah turun drastis dari awalnya netral-agak alkalis (pH 5,5-6,5) menjadi masam
ekstrim (pH 1,3 sampai <3,5). Namun, apabila tanah memiliki cukup besar
senyawa-senyawa penetralisir, seperti ion OH-

, kapur (CaCO3), basa-basa dapat
tukar, dan mineral-mineral silikat mudah melapuk, pH tanah tidak sampai turun di
bawah pH 4,0. Adanya liat marin yang mengandung cukup mineral liat smektit
yang jenuh basa-basa, juga ikut membuffer penurunan pH tanah.

Terlalu banyaknya ion H+

dalam larutan tanah akan merusak struktur

mineral liat, dan membebaskan banyak ion aluminium (Al3+

) yang bersifat toksik
terhadap tanaman. Sebagian besar dari besi-III koloidal yang terbentuk, pada
akhimya mengkristal menjadi oksida besi “goethite”, yang berwarna coklat
kemerahan, berupa karatan, selaput atau nodul-nodul dalam tanah, dan dinding-
dinding saluran drainase.

Dalam kondisi oksidasi yang sangat kuat, misalnya oleh air tanah yang
turun terlalu dalam, atau akibat penggalian saluran drainase, bahan endapan
marin secara tiba-tiba diangkat ke lingkungan udara terbuka, oksidasi pirit akan

Lahan Rawa Pasang Surut

42

menghasilkan mineral jarosit, yang nampak sebagai karatan-karatan berwarna
kuning jerami, yang juga sangat masam.

FeS2 + 15/4O2 + 5/2H2O + 1/3K+

→ 1/3KFe3(SO4)2(OH)6 + 4/3SO4 + 4H+

PIRIT oksigen

JAROSIT

asam sulfat

Jarosit stabil dalam kondisi teroksidasi (potensial redoks > 400-500 mV)
pada lingkungan masam (pH 2-4).

2.3.2. Kondisi tanah sesudah oksidasi pirit

Berbagai pengamatan di berbagai daerah transmigrasi yang menyertai
pembukaan lahan rawa pasang surut di Kalimantan Tengah (Pangkoh, Anjir
Basarang), Kalimantan Selatan (Delta Pulau Petak, Barambai), Sumatera Selatan
(Sugihan Kanan), Jambi (Pamusiran), dan Riau, menunjukkan bahwa pada
tahun-tahun awal pembukaan, banyak wilayah persawahan transmigrasi yang
dibangun oleh proyek P4S, dilaporkan penduduk transmigran sebagai
persawahan yang produktif, dengan rata-rata produksi padi mencapai 2,5-3 ton
GKP/ha.

Namun dengan berjalannya waktu, sesuai dengan selesainya saluran-
saluran primer, sekunder dan tersier, banyak areal sawah mulai menurun
produksinya, dan sesudah beberapa tahun hasilnya sangat rendah. Khususnya
sesudah rehabilitasi saluran, dimana saluran-saluran diperdalam dan dibersihkan,
tanpa diikuti pembuatan pintu-pintu pengatur tingginya permukaan air, degradasi
lahan sawah semakin akut. Banyak areal sawah, yang sesudah 5 tahun berturut-
turut digarap tidak pernah menghasilkan padi sama sekali, dan mulai banyak
yang ditinggalkan petani. Selanjutnya lahan ditutupi vegetasi liar, seperti purun,
purun tikus, paku-pakuan, semak-semak gelam, atau semak dari vegetasi lain
yang toleran terhadap kondisi tanah masam ekstrim. Lahan sawah yang telah
mengalami degradasi menjadi bongkor/mati, dan tidak pernah digarap lagi dan
ditinggalkan, sehingga menjadi lahan tidur yang ditutupi semak belukar.

Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa pada tahun awal pembukaan,
lahan sawah aslinya merupakan tanah sulfat masam potensial dengan lapisan
tanah yang mengandung pirit atau bahan sulfidik relatif dangkal (<50 cm). Air

Subagyo

43

tanah relatif masih dangkal, dan reaksi tanah masih agak masam-netral (4,5-5,5).
Namun, dengan selesainya saluran-saluran primer dan sekunder yang berukuran
besar dan dalam, penurunan permukaan air tanah semakin besar, dan oksidasi
pirit mulai berlangsung cepat, khususnya selama musim kemarau. Didukung oleh
kondisi tata air mikro berupa pembuangan air di petakan-petakan sawah, serta di
saluran kuarter dan tersier berjalan tidak lancar, degradasi lahan sawah semakin
dipercepat, dan berakhir menjadi lahan sawah bongkor/mati yang ditumbuhi
semak-semak lebat.

Seperti telah diuraikan, dalam kondisi awal/asli, dalam suasana jenuh air
atau anaerobik, pirit bersifat stabil dan tidak berbahaya. Oleh adanya ion mono-
karbonat (HCO3), sebagai salah satu produk pembentukan pirit, pH tanah
cenderung mendekati netral sampai agak alkalis. Pada kondisi awal pembukaan
lahan, kondisi tanah sawah seperti ini masih cukup kondusif untuk pertanaman
padi sawah.

Sesudah lahan mengalami drainase, dan penurunan permukaan air tanah
yang melebihi kedalaman lapisan pirit, kemudian diikuti oksidasi pirit di musim
kemarau, kondisi tanah sawah di bagian atas sedalam 0-50 cm mengalami
perubahan drastis. Tanah marin yang semula berupa sulfat masam potensial
dapat berubah mendekati sifat-sifat tanah sulfat masam aktual, yang dicirikan
oleh reaksi tanah ekstrim masam dengan pH < 3,5. Kondisi tanah di lingkungan
perakaran 0-50 cm, pada akhir musim kemarau (sekitar Agustus-Oktober)
dicerminkan oleh sifat-sifat berikut:

pH tanah turun drastis, umumnya di bawah pH 4,0. Pada pH ini, ion aluminium

(AI3+

) akan dibebaskan dalam tarutan tanah, dan dapat mencapal konsentrasi
yang bersifat toksik terhadap pertumbuhan padi atau tanaman lain.

Konsentrasi besi-III yang tinggi dan adanya ion AI yang melimpah dalam
larutan tanah, akan mengikat ion fosfat yang tersedia, sehingga mengurangi
fosfat yang tersedia, bahkan mengakibatkan kahat/defisiensi P.

Adanya ion AI yang berlebihan akan mengganti basa-basa dapat tukar pada
kompleks pertukaran kation, dan membebaskan ion Ca, Mg, dan K ke dalam
larutan tanah, yang selanjutnya dapat “tercuci keluar karena dibawa hanyut
oleh air yang mengalir. Tidak hanya pasokan K menjadi terbatas, tetapi juga
mengakibatkan kahat unsur Ca dan Mg.

Lahan Rawa Pasang Surut

44

Secara ringkas, akibat penurunan pH tanah di bawah pH 3,5 terjadi keracunan

ion H+

, AI, SO4

2-

, dan Fe-III, serta penurunan kesuburan tanah alami akibat
hilangnya basa-basa tanah, sehingga tanah mengalami kahat P, K, Ca, dan
Mg. Bloomfield dan Coulter (1973) melaporkan bahwa telah terjadi kahat unsur
hara makro (K, Ca, Mg), dan mikro (Mn, Zn, Cu, dan Mo) pada berbagai tanah
sulfat masam di daerah tropika.

2.3.3. Pengaruh penggenangan

Memasuki musim hujan yang berlangsung dari sekitar Oktober/November
sampai dengan Maret/April, air tanah berangsur naik ke permukaan, dan
tergantung kondisi tata air makro dan mikro, seringkali dapat menggenangi tanah.
Tanah kembali menjadi jenuh air, atau bahkan tergenang. Kondisi tanah dalam
lapisan perakaran sesudah penggenangan di musim hujan adalah sebagai
berikut:

Dalam kondisi tergenang, redoks potensial tanah menjadi lebih tinggi, dan pH
tanah meningkat kembali, yang mengakibatkan konsentrasi ion H dan AI dalam
larutan tanah menurun, atau kurang bersifat toksik, tetapi masalah-masalah
baru muncul.

Kandungan ion sulfat (SO4

2-

) dalam larutan tanah meningkat kembali. Ini

diakibatkan oleh hidrolisis AI-sulfat hidrat:

AIOHSO4 + 2H2O7 → AI(OH)3 + 2H+

+ SO4

2-

Atau, desorpsi sulfat yang diadsorpsi kompleks pertukaran liat tanah

Tanah-SO4 + 2H2O → Tanah-(OH)2 + 2H+

+ SO4

2-

Dalam kondisi tergenang, oksigen yang berada dalam tanah dalam waktu relatif
singkat segera digunakan oleh bakteria aerobik, sehingga konsentrasinya
mendekati nol, oleh karena diffusi oksigen udara pada tanah jenuh air sangat
lambat. Dalam lingkungan reduksi, tanpa oksigen, bakteri anaerobik akan
memanfaatkan semua senyawa-senyawa teroksidasi sebagai sumber
oksigennya.

Tahap pertama yang mengalami reduksi adalah nitrat (NO3

-

), sehingga semua

nitrat akan direduksi menjadi ion amonium (NH4

+

). Setelah semua nitrat lenyap,

Subagyo

45

sebarang oksida-mangan (MnO2) yang ada akan direduksi menjadi ion Mn2+
.
Dalam 1-3 minggu penggenangan, hampir seluruh Mn dapat tukar, direduksi
menjadi Mn2+

(Konsten et al., 1990). Sesudah semua MnO2 habis, reduksi
sebarang Fe-III (ferri-oksida) mulai terjadi, yang menghasilkan Fe-II (ferro) yang
melimpah, dan peningkatan pH oleh karena dihasilkannya senyawa
hidrokarbonat dalam larutan tanah.

Fe(OH)3 + ¼ CH2O + 2H+

→ Fe2+

+ ¼ CO2 + 1 ¼ H2O

Peningkatan pH larutan tanah bersifat menstabilkan reduksi Fe-III, sehingga
dihasilkan ion Fe-II dalam konsentrasi tinggi yang bersifat toksik terhadap
tanaman. Selain itu, jumlah ion Fe-II yang melimpah mendesak ke luar basa-
basa dapat tukar Ca dan Mg dari kompleks adsorpsi tanah, sehingga
jumlahnya meningkat dalam larutan tanah. Kedua unsur hara ini dengan mudah
terbawa keluar dari lingkungan akar oleh air yang mengalir.

Sesudah semua ferri-oksida tereduksi, reduksi sulfat mulai terjadi, yang
berakibat menurunkan konsentrasi ion sulfat dan ion H+

(karena digunakan

untuk membentuk bikarbonat), dan disertai dengan peningkatan pH tanah.

SO4

2-

+ 2CH2O → H2S + 2HCO3

-

Proses reduksi sulfat terjadi pada potensial redoks antara -0,12V dan -0,19V,
serta hanya terjadi di atas pH 5,0, tetapi juga pada reaksi lebih masam, pH 2,8-
3,4 (Konsten et al., 1990). Sulfida yang terbentuk segera bereaksi dengan Fe-II
yang tersedia dalam larutan tanah, dan membentuk senyawa ferro-sulfida.
Adanya reduksi sulfat pada lapisan tanah ditandai oleh karatan FeS yang
berwarna hitam, dan terkadang oleh bau (busuk) H2S. Senyawa H2S yang
dihasilkan dari reduksi sulfat bersifat sangat toksik terhadap pertumbuhan
tanaman.

Secara ringkas, akibat penggenangan selama musim hujan, terjadi peningkatan
pH tanah, dan penurunan konsentrasi AI. Namun, kemungkinan dapat terjadi
keracunan ion Fe-ll, dan Mn karena konsentrasinya yang sangat tinggi dalam
larutan tanah. Kemungkinan juga terjadi keracunan H2S, dan pencucian unsur
basa Ca dan Mg yang berakibat menurunkan kesuburan alami tanah rawa.

Demikian seriusnya permasalahan budidaya tanaman yang timbul akibat
oksidasi pirit, apabila senyawa-senyawa yang bersifat racun, yakni ion H+

, Al3+
,

Lahan Rawa Pasang Surut

46

SO42-

, dan Fe-III, serta Fe2+

, Mn2+

, dan H2S tersebut tidak dapat terbuang dari
lingkungan perakaran, maka pertumbuhan tanaman yang normal sulit sekali
diharapkan. Lambat atau cepat, tanah akan mengalami degradasi dan
menunjukkan gejala bongkor, atau mati suri. Teknik pengelolaan tanah yang
sesuai, dan pengelolaan air yang tepat, yang mampu membuang atau melakukan
pencucian unsur-unsur beracun secara efektif, baik dengan air pasang
berkualitas baik, dan atau dengan air hujan, merupakan salah satu kunci utama
keberhasilan pertanian di lahan rawa. Selain itu, penggunaan bahan amelioran
seperti kapur pertanian (kaptan), dolomit, batuan fosfat (rock phosphate), abu
sisa pembakaran tumbuhan, abu dapur, dan abu volkan merupakan tindakan
yang sangat diperlukan untuk memperbaiki lingkungan perakaran,
mempertahankan kesuburan tanah, dan meningkatkan produktivitas tanah rawa.

2.4. TANAH RAWA DALAM TAKSONOMI TANAH

Tanah rawa merupakan tanah yang terdapat pada “lahan basah”, atau
wetland”, dan terdiri atas tanah-tanah basah, atau “wetsoils”. Secara umum
tanah rawa terdiri atas dua kelompok tanah, yaitu tanah mineral dan tanah
gambut. Dalam kondisi asli alami, tanah rawa merupakan tanah yang selalu jenuh
air atau tergenang, sepanjang tahun atau dalam waktu yang lama, beberapa
bulan, dalam setahun.

Sistem klasifikasi Taksonomi Tanah, atau “Soil Taxonomy” (Soil Survey
Staff, 1975; 1999; 2003) adalah sistem klasifikasi tanah “morfometrik”, yaitu
berdasarkan sifat-sifat morfologi tanah yang dapat diobservasi dan diukur.
Klasifikasi suatu tanah ditetapkan berdasarkan adanya horison penciri/diagnostik
dan karakteristik-karakteristik tanah penciri, yang didefinisikan secara kuantitatif.
Untuk itu dibedakan (i) horison permukaan penciri, atau disebut epipedon, (ii)
horison bawah (subsurface) penciri, dan (iii) karakteristik penciri/diagnostik
lainnya.

Seperti pada sistem klasifikasi Taksonomi Tumbuh-tumbuhan, yang
mengenal tingkatan atau kategori klasifikasi dari yang paling atas
(pengelompokkan secara garis besar) sampai yang paling detail: Phyllum-
Subphyllum-Class-Order-Family-Genus-Species, dan Subspecies. Dalam sistem
Taksonomi Tanah juga dikenal “taxa”, atau kategori klasifikasi, yang bila
diurutkan dari yang paling atas, adalah Ordo (order), Subordo (suborder), Jenis

Subagyo

47

Tanah (Great group), Subgrup/Macam tanah (Subgroup), Famili (Family), dan
Seri tanah (Series).

2.4.1. Sifat-sifat penciri/diagnostik

Dalam Taksonomi Tanah, kondisi jenuh air atau tergenang pada tanah
rawa yang merupakan salah satu karakterisitk penciri utama, diberi istilah kondisi
aquik” (aquic condition), yakni mengalami penjenuhan air, atau saturasi, dan
(proses) reduksi secara terus-menerus atau periodik. Jenis penjenuhan yang
dominan adalah penjenuhan air yang berasal dari bawah, yaitu datang dari air
tanah, sehingga semua lapisan tanah dari permukaan tanah sampai sedalam 200
cm atau lebih, jenuh air. Jenis penjenuhan seperti ini disebut “endosaturasi
(endosaturation). Pada lahan basah, proses pembentukan tanah yang dominan
adalah gleisasi dan pembentukan gambut di permukaan tanah. Gleisasi adalah
terbentuknya lapisan tanah berwarna “glei” yaitu kelabu (N 7-4/0), kelabu (5Y 7-
4/1), kelabu gelap kehijauan (5B 7-4/1), atau kelabu kebiruan (5B 7-4/1) akibat
proses reduksi terus-menerus atau periodik yang berlangsung lama.

Pembentukan lapisan gambut di permukaan tanah setelah mencapai
ketebalan tertentu, dapat dimasukkan sebagai “epipedon histik”. Pada tanah
yang masih asli alami, ketebalan gambutnya disyaratkan antara 20-40 cm.
Apabila bahan gambut tiga-perempat bagian dari volumenya tersusun dari lumut
spaghnum, atau apabila bobot-isinya <0,1 g/cm3

, disyaratkan mempunyai
ketebalan gambut 20-60 cm. Tetapi, apabila berupa lapisan tanah olah, Ap, maka
syarat ketebalannya adalah 25 cm. Sementara itu, tanah yang mempunyai
ketebalan gambut di permukaan kurang dari 25 cm, diperlakukan sebagai tanah
mineral (murni).

Secara genetis, tanah rawa pada awalnya berasal dari endapan marin
berupa lumpur cair berwarna kelabu gelap, seperti yang terdapat pada dataran
lumpur (mudflats). Sesuai dengan perkembangannya setelah lebih lama terbuka
di udara dan mengalami oksidasi, tanah rawa akan berubah menjadi lebih padat,
karena kandungan airnya berkurang, bersifat lembek, dengan konsistensi
lekat/sangat lekat, serta plastis. Perkembangan selanjutnya akan berubah
menjadi tanah relatif kering yang padat, konsistensinya agak teguh waktu
lembab, dan menjadi agak keras/keras sewaktu kering. Perubahan tanah rawa
dari kondisi lumpur cair, yang masih “mentah”, beralih ke kondisi lembek yang

Lahan Rawa Pasang Surut

48

lekat dan plastis, dan akhirnya berubah menjadi tanah relatif kering yang padat
dan teguh, yaitu kondisi “matang”, disebut proses “pematangan tanah” (ripening
process
).

Derajat atau tingkat pematangan tanah ditunjukkan oleh nilai-n, yang
sebenarnya menyatakan jumlah air (dalam gram) yang diabsorb oleh satu gram
liat dalam tanah, dan dihitung dari rumus: n = (A-0,2 R)/(L + 3H), dimana:
A=kadar air dalam tanah pada kapasitas lapang; R=% kandungan fraksi debu
dan pasir; L=% kandungan liat; dan H=% kandungan bahan organik (% karbon
organik dikalikan 1,724). Semua faktor dihitung berdasarkan berat-kering tanah.

Tingkat pematangan tanah dapat ditetapkan di lapangan, dengan uji
remas, yaitu dengan cara meremas tanah rawa dalam telapak tangan. Hubungan
tingkat pematangan tanah dengan nilai-n, dan perkiraan kandungan airnya
menurut Pons dan Zonneveld (1965) disajikan pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Tingkat pematangan tanah rawa berdasarkan nilai-n

Tingkat pematangan

Nilai-n

Kandungan air (%)

Mentah (totally unripe)

>2,0

>80

Agak mentah (practically unripe)

1,4-2,0

70-80

Setengah matang (half ripe)

1,0-1,4

60-70

Hampir matang (nearly ripe)

0,7-1,0

50-60

Matang (ripe)

<0,7

<50

Sumber: Pons dan Zonneveld (1965)

Seperti telah diuraikan sebelumnya, semua tanah rawa yang berasal dari
endapan marin mengandung senyawa besi-oksida yang disebut pirit (FeS2).
Secara spesifik, dalam Taksonomi Tanah, senyawa besi-sulfida ini tidak disebut
pirit, tetapi sebagai “bahan sulfidik” (sulfidic materials), karena dipikirkan tidak
seluruhnya hanya tersusun dari senyawa FeS2, tetapi juga senyawa besi-sulfida
lainnya, termasuk H2S.

Sementara lapisan yang mengandung bahan sulfidik yang telah
teroksidasi, menghasilkan asam sulfat, unsur besi, dan berbagai ion ikutan
lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman, dianggap telah mengalami proses
pembentukan tanah, dan disebut “horison sulfurik”. Keduanya, yakni bahan
sulfidik dan horison sulfurik, merupakan sifat dan horison penciri utama pada
tanah rawa pasang surut. Definisi keduanya adalah sebagai berikut.

Subagyo

49

Bahan sulfidik (sulfida: unsur S) merupakan bahan tanah mineral atau
bahan tanah organik yang mengandung senyawa sulfida yang dapat teroksidasi,
dan memiliki:

pH >3,5; dan
apabila sebagai lapisan setebal 1 cm diinkubasi pada suhu ruangan, dalam
keadaan aerob dan lembab (pada kapasitas lapang), dalam waktu delapan
minggu, pH-nya turun 0,5 unit atau lebih, menjadi pH 4,0 atau kurang.
Pengukuran pH (H2O) diiakukan pada rasio tanah/air 1:1, atau dengan air
minimal untuk memungkinkan pengukuran.

Horison sulfurik (sulfuric acid = asam sulfaf) merupakan lapisan atau
horison tanah setebal 15 cm atau lebih, tersusun dari bahan tanah mineral atau
bahan tanah organik, yang memiliki:

pH 3,5 atau kurang; dan
menunjukkan bukti bahwa adanya pH yang rendah disebabkan oleh asam
sulfat. Bukti-bukti tersebut, boleh satu atau lebih, dapat berupa:

- adanya konsentrasi jarosit;

- terletak langsung di atas (Iapisan) bahan sulfidik;

- kandungan sulfat-Iarut air, (SO4)2-, 0,05% atau lebih.

Salah satu karakteristik penciri lain, yang mungkin ditemukan pada tanah
rawa pada zona I: lahan rawa pasang surut air asin/payau, adalah tanah-tanah
yang karena pengaruh pasang air laut mempunyai kadar garam larut (air),
natrium (NaCl) atau garam-garam lain yang tinggi. Pada musim kemarau, sering
terlihat lapisan garam yang tipis menutupi permukaan tanah. Tanah umumnya
mempunyai reaksi alkalis (pH 7,5-8,5). Dalam istilah Taksonomi Tanah,
digolongkan pada tanah-tanah salin atau sodik, atau mungkin mempunyai
horison salik, yang keduanya mempunyai kandungan unsur sodium (natrium)
tinggi. Definisi keduanya adalah sebagai berikut.

Tanah-tanah salin, atau sodik, (sodium, atau natrium: Na) adalah tanah
yang jenuh air sampai sedalam 100 cm, dan

pada separuh atau lebih dari tanah bagian atas mempunyai “kejenuhan
sodium” sebesar 15% atau lebih, atau nilai “rasio adsorpsi sodium” (SAR:
sodium adsorption ratio
) 13 atau lebih;

Lahan Rawa Pasang Surut

50

kejenuhan sodium dan nilai SAR ini semakin berkurang pada kedalaman di
bawah 50 cm.

Horison salik (sal atau salt = garam) adalah horison akumulasi garam,
terutama “halite”, yaitu bentuk kristal dari garam dapur (NaCl), dan merupakan:

horison setebal 15 cm atau lebih, yang selama 3 bulan atau lebih secara
berturut-turut dalam setahun,

dalam bentuk pasta jenuh air, mempunyai daya hantar listrik (DHL) (electrical
conductivity
) 30 dS/m atau lebih; dan

hasil perkalian antara DHL, dalam satuan dS/m, dan ketebalan horison, dalam
satuan cm, mencapai nilai 900 atau lebih.

Pada tanah-tanah rawa dalam zona I, sering juga dijumpai tanah-tanah
yang tingkat pematangannya tergolong “mentah” sampai “setengah matang”,
karena merupakan tanah yang semula berasal dari dataran lumpur, yang karena
secara periodik terbuka di udara mengalami proses pematangan awal. Tanah-
tanah yang masih “muda” tingkat perkembangannya ini mempunyai sifat “hidrik”,
yaitu dicirikan oleh kandungan air yang relatif tinggi. Definisi secara kuantitatif
adalah:

Sifat hidrik (hydro, atau adanya air) adalah pada semua lapisan di antara
kedalaman 20 dan 50 cm dari permukaan tanah, mempunyai nilai-n lebih dari 0,7
dan kandungan (fraksi) liat 8% atau lebih.

Pada tanah-tanah rawa dalam zona II, terdapat tanah-tanah yang
menempati (sublandform) tanggul sungai alam (natural levee) yang terbentuk
karena pengendapan muatan sedimen yang dibawa sungai sewaktu terjadi banjir
musiman, dan sering disebut endapan fluviatil (fiuvius = sungai). Dalam
Taksonomi Tanah, terbentuk oleh sedimentasi bahan yang berulang kali, dicirikan
secara kuantitatif mempunyai kandungan C-organik yang naik-turun, atau
berkurang secara tidak teratur di antara kedalaman 25-125 cm, dan mencapai
kandungan C-organik 0,2% atau lebih pada kedalaman 125 cm dari permukaan
tanah.

Subagyo

51

2.4.2. Klasifikasi tanah mineral

Sesuai dengan bahan-bahan penyusunnya, berupa bahan tanah mineral
dan bahan tanah organik, dalam lingkungan basah atau tergenang, tanah rawa
dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu tanah mineral dan tanah gambut. Tanah
mineral pada lahan rawa secara dominan berasal dari sedimentasi dalam
lingkungan laut/marin, sehingga bahan induknya berupa endapan marin yang
mengandung bahan sulfidik. Berdasarkan pada tingkat perkembangan tanah,
yang diekspresikan pada tingkat pematangan tanah (nilai-n dan kandungan liat),
adanya horison sulfurik, dan tanda-tanda alterasi, atau perkembangan tanah lain,
seperti terbentuknya struktur tanah, warna yang tidak berubah saat terbuka di
udara, maka tanah mineral lahan rawa termasuk dalam dua kelompok besar, atau
ordo tanah, yaitu Entisols dan Inceptisols.

Entisols, berasal dari suku kata "recent”, adalah istilah geologi yang berarti
terbentuk di zaman Holosin (± 11.000 tahun SM) yaitu zaman sekarang ini, maka
berarti tanah yang paling “muda” umurnya. Inceptisols, berasal dari kata
"inceptum”, atau “beginning”, artinya tanah yang sudah mulai menunjukkan
tanda-tanda awal pembentukan tanah, seperti tanah menjadi agak matang
sampai matang, terbentuknya struktur tanah, dan terbentuknya horison sulfurik.

Tanah mineral rawa termasuk tanah basah, yang secara dominan dicirikan
oleh kondisi aquik (aqua: air). Oleh karena itu, tanah rawa dari (ordo) Entisols dan
Inceptisols, termasuk dalam subordo Aquents (Aqu+ents) dan Aquepts
(Aqu+epts).

Dalam Aquents terdapat lima great grup, yaitu (i) yang mempunyai bahan
sulfidik di dalam kedalaman 0-50 cm, disebut Sulfaquents; (ii) yang masih
“mentah” dengan kandungan air tinggi, yaitu nilai-n >0,7 dan kandungan fraksi liat
>8%, disebut Hydraquents; (iii) yang berasal dari bahan endapan sungai (fluvio =
sungai), ditunjukkan kandungan C-organik pada kedalaman 15-125 cm menurun
secara tidak teratur, dan mencapai 0,25% atau lebih pada kedalaman 125 cm,
disebut Fluvaquents; (iv) yang secara dominan mengalami penjenuhan
endosaturasi, disebut Endoaquents; dan (v) yang bertekstur pasir kasar, yakni
pasir halus berlempung atau lebih kasar (psammos = pasir), seperti pada beting
pasir pantai, disebut Psammaquents.

Dalam Aquepts terdapat empat great grup, yaitu (i) yang mempunyai
horison sulfurik pada kedalaman 0-50 cm, disebut Sulfaquepts; (ii) yang karena
pengaruh air pasang dari air laut, banyak mengandung garam natrium/sodium,

Lahan Rawa Pasang Surut

52

atau mempunyai horison salik atau berupa tanah salin, disebut Halaquepts; (iii)
yang mempunyai lapisan bahan organik cukup tebal di permukaan, yaitu
epipedon histik, disebut Humaquepts; dan (iv) yang secara dominan mengalami
penjenuhan endosaturasi, disebut Endoaquepts.

Pada tingkat subgrup, masing-masing great grup ditambahkan nama
awalan, yang merupakan sifat murni subgrup itu sendiri, disebut “Typic”, atau sifat
tambahan ke great grup yang sama, atau great grup/subordo tanah yang lain.
Pada Aquents, sifat-sifat tambahan tersebut umumnya berasal dari great grup
yang sama, yaitu selain “Histic”, “Sulfic”,dan “Sodic”, juga terdapat “Haplic”,
“Thapto-Histic
”, dan ”Aeric”. Pada Aquepts, sifat-sifat tambahan dapat berasal
dari great grup yang sama, seperti “Histicdan Sulfic”, “Aeric”, dan “Vertic”, atau
sifat tambahan dari great grup/subordo tanah yang lain, seperti “Salidic”,
Hydraquentic”, dan ”Fiuvaquentic”. Arti dari masing-masing sifat tambahan ini
adalah:
Haplic : sifat minimum (haplos = sederhana) pada tanah marin yang bukan
Hydraquent, yaitu ditunjukkan oleh nilai-n 0,7 atau kurang, atau
kandungan liat <8%.
Thapto-Histic: adanya lapisan bahan tanah organik tertimbun, tebalnya 20 cm
atau lebih, pada kedalaman 0-100 cm dari permukaan tanah.
Aeric : akibat (proses) oksidasi pada kedalaman antara 25-75 cm, terdapat
satu horison atau lebih berwarna kekuningan (2,5Y; 5Y) atau
kemerahan (10YR; 7,5YR), dengan kroma rendah dan value tinggi.
Vertic : adanya rekahan-rekahan (cracks) di dalam kedalaman 0-125 cm,
dan horison setebal 15 cm atau lebih yang menunjukkan adanya
bidang-bidang kilir (slickensides) atau memiliki agregat-agregat
berbentuk baji (wedge shape).
Salidic : mempunyai horison salik pada kedalaman 0-75 cm dari permukaan.
Horison salik adalah ciri utama (subordo) Salids, dari tanah-tanah
ordo Aridisols.
Hydraquentic: mempunyai nilai-n > 0,7 dan kandungan liat > 8%, pada satu
atau lebih lapisan, di antara kedalaman 20-50 cm dari permukaan.
Kedua ciri tersebut merupakan ciri utama great grup Hydraquents.
Fluvaquentic: mempunyai kandungan C-organik menurun secara tidak teratur
di dalam kedalaman 25-125 cm; atau kandungan C-organik pada
kedalaman 125 cm sebesar 0,2% atau lebih. Kedua sifat tersebut
merupakan ciri diagnostik pada great grup Fluvaquents.

Subagyo

53

Dalam kaitan ini, tanah sulfat masam potensial, karena mempunyai pirit

atau bahan sulfidik belum teroksidasi, dalam Taksonomi Tanah diklasifikasi

sebagai Entisols, termasuk great grup Sulfaquents. Sedangkan tanah sulfat

masam aktual, yang proses oksidasi bahan sulfidiknya belum selesai dan

ditunjukkan oleh pH tanah antara 3,5-4,0, diklasifikasikan sebagai Entisols, yaitu

masuk subgrup Sulfic Hydraquents, Sulfic Fluvaquents, atau Sulfic Endoaquents.

Sementara tanah sulfat masam aktual yang oksidasi bahan sulfidiknya sudah

selesai, yang ditunjukkan dengan pH tanah < 3,5, diklasifikasikan sebagai

lnceptisols dan termasuk Sulfaquepts.

Tanah-tanah basah yang relatif masih mentah pada wilayah rawa zona I,

diklasifikasikan sebagai Hydraquents, dapat termasuk sebagai Sulfic, Sodic, atau

Thapto-Histic Hydraquents. Tanah-tanah pada beting, atau bukit-bukit pasir

pantai, apabila basah dengan kondisi aquik, diklasifikasikan sebagai

Psammaquents. Apabila kering tidak mempunyai ciri-ciri kondisi aquik,

dimasukkan sebagai Psamments, yakni Entisols yang bertekstur pasir kasar.

Apabila pasirnya didominasi oleh pasir kuarsa (quartz), termasuk dalam (great

grup) Quartzipsamments, dan jika bukan kuarsa diklasifikasikan sebagai (great

grup) Udipsamments, yaitu Psamments yang berada di lingkungan iklim

lembab/humid (udus = lembab/humid).

Tanah-tanah tanggul sungai, sebagian besar merupakan Fluvaquents,

apabila mempunyai ciri kondisi aquik, dan dapat termasuk (subgrup) Sulfic

Fluvaquents jika masih mempunyai bahan sulfidik relatif belum teroksidasi, atau

belum sempurna teroksidasi. Atau sebagai Thapto-Histic Fluvaquents, jika

terdapat bahan organik tertimbun di dalam tanahnya, atau sebagai Aeric

Fluvaquents, jika tidak mengandung bahan sulfidik, tetapi tanah bagian atasnya

antara 25-75 cm, sudah teroksidasi. Tanah tanggul sungai yang kering, dan tidak

mempunyai ciri kondisi aquik, diklasifikasikan sebagai (subordo) Fluvents.

Lahan Rawa Pasang Surut

54

2.4.3. Klasifikasi tanah gambut

Dalam sistem klasifikasi Taksonomi Tanah, tanah gambut disebut
Histosols, dan didefinisikan secara kuantitatif atau terukur, mengikuti definisi ini,
maka Histosols harus terdiri atas bahan tanah organik, yaitu:

kandungan C-organik minimal 12%, apabila tidak mengandung fraksi liat (0%);

atau

kandungan C-organik minimal 18%, apabila mengandung fraksi liat 60% atau

lebih; atau

jika kandungan fraksi liat antara 0-60%, maka kandungan C-organik adalah
12% + (% kandungan liat dikalikan 0,1).

Tingkat dekomposisi atau pelapukan/perombakan bahan organik gambut
dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu fibrik (awal), hemik (tengahan), dan saprik
(Ianjut)
, tergantung dari kandungan serat (fibers) yang menyusunnya.

Fibrik : gambut dengan tingkat dekomposisi awal, yaitu kandungan serat
tumbuhan lebih dari 75%, atau masih lebih dari tiga perempat bagian
dari volumenya.

Hemik : gambut dengan tingkat dekomposisi tengahan, yaitu kandungan
serat antara 17-75%, atau tinggal antara 1/6-3/4 bagian volumenya.

Saprik : gambut dengan tingkat dekomposisi lanjut, yaitu kandungan seratnya
kurang dari 17%, atau tinggal kurang dari 1/6 bagian dari volumenya.
Gambut saprik biasanya berwarna kelabu sangat gelap sampai
hitam. Sifat-sifatnya, baik sifat fisik maupun kimianya, relatif sudah
stabil.

Batasan tanah gambut sebagai Histosols, dengan demikian adalah:

(i) terdiri atas bahan tanah organik; dan

(ii) jenuh air, selama 1 bulan atau lebih setiap tahun, dan

(iii) ketebalannya minimal 60 cm, apabila tersusun dari bahan fibrik, atau jika
bobot-isinya kurang dari 0,1 g/cm3

; atau

(iv) ketebalannya minimal 40 cm, apabila tersusun dari bahan saprik, atau bahan
hemik, atau jika terdiri atas bahan fibrik kandungan serat jaringan kurang dari
¾ bagian volume, dan bobot-isinya harus 0,1 g/cm3

atau lebih.

Subagyo

55

Pada taksa, atau kategori lebih ke bawah yaitu tingkat subordo, Histosols
pada wilayah rawa berdasarkan tingkat dekomposisi bahan gambutnya dibagi
menjadi tiga subordo, yaitu Fibrists, Hemists, dan Saprists. Tanah gambut di
wilayah rawa pasang surut, mempunyai tanah dasar mineral berupa endapan
marin yang mengandung bahan sulfidik, sehingga keberadaan bahan sulfidik
atau horison sulfurik berikut kedalamannya dari permukaan tanah, termasuk
dalam definisi tanah gambut, dan ikut menentukan namanya.

Pada Hemists dan Saprists, yang mempunyai bahan sulfidik di dalam
kedalaman 0-100 cm dari permukaan tanah, disebut great grup Sulfihemists dan
Sulfisaprists. Apabila mempunyai horison sulfurik di dalam kedalaman 0-50 cm,
disebut (great grup) Sulfohemists dan Sulfosaprists. Di dalam definisi Histosols,
tidak disebutkan keberadaan horison sulfurik di dalam kedalaman 50-100 cm dari
permukaan tanah, oleh karena di alam memang tidak ditemukan horison sulfurik
pada kedalaman tersebut. Apabila bahan sulfidik terletak lebih dalam, yaitu pada
kedalaman lebih dari 100 cm (1 m), disebut Haplohemists dan Haplosaprists.
Akan halnya Fibrists, di daerah tropika, tampaknya belum ditemukan Fibrists
yang mempunyai bahan sulfidik di dalam kedalaman 0-100 cm, ataupun horison
sulfurik di dalam kedalaman 0-50 cm dari permukaan. Yang ditemukan umumnya
mempunyai bahan sulfidik yang terletak dalam, yaitu lebih dari 100 cm, dan oleh
karena itu disebut (great grup) Haplofibrists.

Untuk menetapkan sifat-sifat Histosols, dimana suatu sifat atau ciri tanah
harus ditetapkan, misalnya apakah bahan gambutnya dari tipe fibrik, hemik, atau
saprik, ataukah ada sisipan tanah mineral, atau lapisan air di dalam tanah
gambut, digunakan “penampang kontrol” (control section) yaitu kedalaman tanah
gambut, dihitung dari permukaan tanah gambut, dimana sesuatu sifat harus
ditetapkan. Untuk tanah gambut, kedalaman penampang kontrol adalah 130 atau
160 cm, dan terdiri atas tiga lapisan gambut, atau “tier”, yaitu tier permukaan, tier
bawah (permukaan), dan tier dasar. Tier permukaan umumnya 0-30 cm, tetapi
bila bahan gambutnya dari lumut spaghnum, atau bobot isinya <0,1 g/cm3
,
ketebalan tier permukaan adalah 0-60 cm. Tier bawah biasanya 60 cm, dan tier
dasar umumnya 40 cm, kecuali jika penampang kontrol berakhir pada lapisan
yang keras/padat, yang disebut lapisan atau kontak densik, lithik, atau paralithik.

Pada tingkat subgrup Histosols, sebagaimana pada tanah mineral, masing-
masing great grup ditambahkan nama awalan, yang akhirnya membentuk nama
dari subgrup masing-masing. Subgrup yang mempunyai sifat murni, yaitu tidak

Lahan Rawa Pasang Surut

56

mempunyai sifat atau ciri-ciri great grup yang sama atau great grup/subordo yang
lain, disebut”Typic”. Yang mempunyai sifat tambahan dari great grup yang sama,
atau great grup/subordo tanah yang lain, dikatakan mempunyai sifat peralihan,
dan terbawa dalam nama subgrupnya. Sifat-sifat peralihan tersebut adalah
“Hydric”, “Terric”, “Hemic”, “Sapric”, “Fibric”, “Halic”, dan “Fluvaquentic”, serta
didefinisikan sebagai berikut:

Hydric : terdapat lapisan air di dalam penampang kontrol, di bawah tier
permukaan, atau umumnya di dalam kedalaman antara 30-130 cm dari
permukaan tanah.

Terric : mempunyai satu lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih, di dalam
penampang kontrol, di bawah tier permukaan, atau umumnya di dalam
kedalaman antara 30-130 cm dari permukaan tanah.

Hemic : mempunyai satu atau lebih lapisan gambut dari bahan hemik atau
saprik, dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di dalam penampang
kontrol, di bawah tier permukaan, atau umumnya di dalam kedalaman
antara 30-130 cm dari permukaan tanah.

Sapric : mempunyai satu atau lebih lapisan gambut saprik, dengan ketebalan
total 25 cm atau lebih di dalam penampang kontrol, di bawah tier
permukaan, atau umumnya di dalam kedalaman antara 30-130 cm dari
permukaan tanah.

Fibric : mempunyai satu atau lebih lapisan gambut fibrik, dengan ketebalan total
25 cm atau lebih di dalam penampang kontrol, di bawah tier
permukaan, atau umumnya di dalam kedalaman antara 30-130 cm dari
permukaan tanah.

Halic : mempunyai satu lapisan setebal 30 cm atau lebih di dalam penampang
kontrol, yang seluruh lapisan tersebut, selama 6 bulan atau lebih,
memiliki daya hantar listrik (electrical conductivity) sebesar 30 dS/m
atau lebih.

Fluvaquentic: mempunyai satu lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau dua
atau lebih lapisan mineral dengan sebarang ketebalan, di dalam
penampang kontrol, di bawah tier permukaan, atau umumnya di dalam
kedalaman antara 30-130 cm dari permukaan tanah.

Tidak setiap great grup mempunyai semua sifat peralihan tersebut,
misalnya Sulfosaprists hanya mempunyai “Typic” saja; sedangkan Sulfihemists

Subagyo

57

dan Sulfisaprists hanya mempunyai “Terric” dan “Typic”; sementara Haplohemists
memiliki 6 subgrup, yaitu Typic, Hydric, Terric, Fibric, Sapric, dan Fluvaquentic
Haplohemists.

Dikaitkan pada penyebaran tanah gambut di lapangan, pada wilayah rawa
zona I, umumnya ditemukan gambut topogen dangkal (51-100 cm) sampai
sedang (101-200 cm) pada cekungan-cekungan dangkal, yang termasuk Typic
atau Terric Sulfihemists, sesekali ditemukan Typic Sulfohemists. Pada wilayah
rawa zona II, juga terdapat gambut dangkal sampai sedang, pada cekungan-
cekungan pada (landform) rawa belakang. Gambut-gambut dangkal umumnya
merupakan gambut topogen yang termasuk Terric Sulfihemists atau Terric
Sulfisaprists, dan gambut sedang merupakan Typic Haplohemists dan
Fluvaquentic Haplohemists.

Pada wilayah kubah gambut, seperti diketemukan di wilayah gambut di
lokasi PLG 1 juta hektar di Kalimantan Tengah, di bagian pinggir kubah gambut,
merupakan gambut dangkal topogen yang terutama terdiri atas Terric
Sulfihemists dan Terric Haplohemists, serta sebagian kecil Typic Haplohemists.
Ke arah pusat kubah gambut, ditemukan gambut sedang ombrogen, yang
diklasifikasikan sebagai Typic Haplohemists dan Terric Haplohemists, serta Terric
Sulfihemists. Selanjutnya mencapai gambut-dalam (200-300 cm) dan gambut-
sangat dalam (>300 cm) bersifat ombrogen, dan komposisinya sama, yaitu
sebagian besar merupakan Typic Haplohemists dan sebagian kecil Typic
Haplofibrists.

2.5. TIPOLOGI LAHAN DAN SIFAT KIMIA TIPE-TIPE LAHAN

2.5.1. Tipologi lahan

Reklamasi lahan rawa pasang surut selalu diawali dengan pembuatan
saluran-saluran primer, sekunder, dan tersier, yang dimaksudkan untuk
mendrainase atau mengeringkan seluruh kawasan reklamasi agar tahapan
pemanfaatan lahan untuk pertanian dapat tercapai. Pada kenyataannya, sesudah
selesainya penggalian saluran-saluran tersebut, permukaan air tanah menjadi
turun, dan tanah terbebas dari kondisi jenuh air, dan setelah beberapa waktu
mencapai kondisi siap pakai sebagai lahan pertanian. Pada lahan petani,

Lahan Rawa Pasang Surut

58

mengikuti kondisi hidrotopografi permukaan lahan, ada bagian-bagian lahan yang
selalu terkena genangan setiap kali pasang naik, tetapi ada juga bagian lahan
yang tidak pernah terkena genangan pasang. Bagian yang rendah yang selalu
tergenang pasang harian, umumnya telah disawahkan.

a. Klasifikasi tipologi lahan versi awal

Dalam awal pelaksanaan Proyek Penelitian Pertanian Lahan pasang Surut
dan Rawa, SWAMPS-II, sekitar tahun 1986-1987, (Proyek PPLPSR-Swamps II,
1993a), dirasakan perlunya pembagian kelompok-kelompok tanah rawa yang
kurang-Iebih sama sifat-sifatnya, dan memiliki respons yang relatif sama pula
terhadap perlakuan pengelolaan tanah dan air. Hal ini diperlukan untuk
perencanaan dan pengujian model usahatani yang akan dikembangkan, dimana
penelitiannya dilaksanakan melalui pendekatan agroekosistem.

Telah diketahui bahwa pada lahan rawa terdapat agroekosistem tanah
gambut dan tanah mineral. penggunaan sistem klasifikasi murni seperti
Taksonomi Tanah, untuk membedakan antara Sulfihemists dan Sulfohemists
serta Sulfaquents dan Sulfaquepts, yaitu tanah gambut dan tanah mineral yang
bahan sulfidiknya belum dan sudah teroksidasi, dirasakan rumit dan kurang
praktis oleh para praktisi dan peneliti agronomis yang menangani pengelolaan
tanah dan air, serta upaya peningkatan produktivitas lahan rawa pasang surut.

Berdasarkan pertimbangan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam
pemanfaatan dan pengelolaan lahan rawa adalah: (a) kedalaman lapisan
mengandung pirit/bahan sulfidik, dan kondisinya masih tereduksi atau sudah
mengalami proses oksidasi, (b) ketebalan dan tingkat dekomposisi gambut serta
kandungan hara gambut, (c) pengaruh luapan pasang dari air salin/payau, (d)
lama dan kedalaman genangan air banjir, dan (e) keadaan lapisan tanah bawah,
atau substratum, apakah endapan sungai, endapan marin, atau pasir kuarsa,
maka I P.G. Widjaja-Adhi, sekitar 1986-1987, mengusulkan penggunaan
klasifikasi tipe-tipe lahan, atau tipologi lahan pada wilayah rawa pasang surut dan
rawa lebak dengan persyaratan-persyaratan atau kriteria-kriterianya seperti
tercantum pada Tabel 2.4.

Subagyo

59

Tabel 2.4. Tipologi lahan di wilayah rawa pasang surut dan rawa lebak, versi
tahun 1987

Tipologi lahan

Simbol

Kriteria

Lahan potensial

P

Kadar pirit <2% belum mengalami proses
oksidasi, terletak pada kedalaman >50 cm
dari permukaan tanah, termauk tanah sulfat
masam potensial. Kendala produksi dan
kemungkinan munculnya kendala tersebut
diperkirakan kecil.

Sulfat masam
potensial

SM Lapisan pirit dengan kadar >2% tidak/belum
mengalami proses oksidasi, dan terletak lebih
dangkal, <50 cm dari pemukaan tanah.

Lahan sulfat
masam

Sulfat masam aktual

SM Memiliki horison sulfurik, dengan jarosit/
brown layer, pH (H2O)<3,5.

Lahan gambut

Gambut-dangkal
Gambut-sedang
Gambut-dalam
Gambut-sangat dalam
Lahan bergambut

G-1
G-2
G-3
G-4
G-0

Terbentuk dari bahan gambut, yang (1) jenuh
air dalam waktu lama, dan tersusun dari
bahan tanah organik, atau (2) tidak pernah
jenuh air selama lebih dari beberapa hari,
dan kadar C-organik 20%. Ketebalan gambut
pada G-1: 50-100 cm; G-2: 100-200 cm; G-3:
200-300 cm; G-4: >300 cm; dan G-0: <50
cm.

Lahan salin, atau
pantai

Lahan rawa di zona I: rawa pasang surut air
salin/payau, dan dapat berupa lahan
potensial, sulfat masam, atau gambut.
Mendapat intrusi air laut lebih dari 4 bulan
dalam setahun; kandungan Na dalam larutan
tanah antara 8-15%.

Lahan lebak

Lebak pematang
Lebak tengahan
Lebak dalam

Lahan rawa di zona III: rawa non-pasang
surut, atau rawa lebak. Tanahnya berupa
Aluvial, Aluvial bergambut, atau gambut.
Lama dandalamnya genangan pada lebak
pematang: <3 bulan, <50 cm; lebak
tengahan: 3-6 bulan, 50-100 cm; lebak
dalam: >6 bulan, >100 cm.

Sumber: Proyek PLPSR-Swamps II (1993a)
Widjaja-Adhi et al. (1992)

b. Klasifikasi tipologi lahan versi tahun 1995

Klasifikasi tipologi lahan seperti yang tercantum pada Tabel 2.4 tersebut,
digunakan antara tahun 1986-1999. Perubahan kecil yang dibuat tahun 1998-
1999 (Proyek PSLPSS, 1998; 1999), hanyalah membagi lahan potensial (bahan
sulfidik >50 cm), menjadi lahan potensial-1 (bahan sulfidik >100 cm) dan lahan
potensial-2 (bahan sulfidik 50-100 cm), serta penamaan lahan bergambut

Lahan Rawa Pasang Surut

60

menjadi lahan sulfat masam potensial bergambut, dengan kedalaman lapisan
gambut di permukaan tanah antara 25-50 cm. Sebelumnya Nugroho et al. (1991)
juga membagi lahan salin pantai ke dalam dua tipe lahan, yaitu tanah/lahan agak
salin, salin 1 (S1), yang dipengaruhi air asin/payau, dan tanah/lahan salin, salin 2
(S2), yang dipengaruhi air asin. Disebut tanah salin apabila kadar garam >1.000
ppm, atau daya hantar listrik >1.400 dS/m, tetapi tidak disebutkan kriteria atau
batas pembagian kandungan garam, atau daya hantar listrik, antara lahan agak
salin dan lahan salin.

Klasifikasi tipologi lahan seperti ini relatif mudah dipahami, oleh karena itu
secara luas telah digunakan untuk klasifikasi tipologi lahan pertanian guna
pengelolaan lahan rawa secara terpadu oleh institusi dan berbagai proyek
penelitian lahan rawa Badan Litbang Pertanian Dep. Pertanian seperti, Balittra
(Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa) Banjarbaru, proyek SWAMPS-II (1985-
1994), ISDP (Integrated Swamp Development Project) (1994-2000), dan Proyek
PSLPSS (Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut
Sumatera Selatan) (1997-2000). Demikian juga berbagai tulisan dan makalah
tentang lahan rawa dari tahun 1985 sampai dengan sekitar tahun 2002, masih
banyak yang menggunakan istilah-istilah tipologi lahan tersebut.

Namun dalam perkembangannya, telah timbul berbagai kritikan tentang
penamaan tipologi lahan tersebut, yang seringkali menimbulkan “kerancuan dan
kesalahpengertian” (Sudarsono, 1999). Yang dipersoalkan, sebenarnya hanyalah
terletak pada istilah: “lahan potensial (P), untuk lahan pasang surut yang lapisan
bahan sulfidiknya terdapat pada kedalaman >50 cm” vs “sulfat masam potensial
(SMP), untuk lahan pasang surut yang lapisan bahan sulfidik terletak pada
kedalaman <50 cm”. Lahan potensial yang dianggap berpotensi pertanian nomer
1-2 di lahan rawa dan SMP yang berpotensi pertanian nomer 3, sama-sama
menggunakan kata “potensial”.

Untuk menanggapi kritikan tersebut, Widjaja-Adhi (1995a), kemudian
merevisi penamaan tipologi lahan 1985-1999 tersebut. Kini, semua lahan
potensial dan sulfat masam potensial (SMP) yang sama-sama memiliki bahan
sulfidik/pirit yang belum mengalami proses oksidasi, disebut “Aluvial bersulfida
(SMP)
”, dan pembagian selanjutnya didasarkan pada kedalaman bahan sulfidik
dari permukaan tanah. Sedangkan lahan sulfat masam aktual (SMA), dimana
bahan sulfidik telah mengalami proses oksidasi membentuk senyawa sulfat
(SO4), kini disebut “Aluvial bersulfat (SMA)”. Pembagian selanjutnya didasarkan

Subagyo

61

pada nilai pH <3,5 (horison sulfurik), atau pH >3,5 (bahan sulfidik sedang
teroksidasi) dan letak kedalamannya (<100 cm, atau >100 cm) dari permukaan
tanah. Perkembangan penamaan tipologi lahan dari versi awal (1985-1990), dan
versi terakhir yang diusulkan tahun 1995, disajikan pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Tipologi lahan rawa pasang surut, versi tahun 1995

Klasifikasi tipologi
lahan, 1992-
1993

Klasifikasi tipologi lahan
menurut Widjaja-Adhi, 1995

Simbol

Kedalaman pirit/bahan
sulfidik

Aluvial bersulfida sangat dalam

SMP-3 >100 cm

Lahan potensial

Aluvial bersulfida dalam

SMP-2 50-100 cm

Aluvial bersulfida dangkal

SMP-1 <50 cm

Aluvial bersulfida dangkal bergambut
(Histik sulfat masam)

HSM/G-0 <50 cm; bergambut
<50 cm

Aluvial bersulfat-1

SMA-1 <100 cm (pH-H2O >3,5)

Aluvial bersulfat-2

SMA-2 <100 cm (pH-H2O <3,5)

Lahan sulfat
masam

Aluvial bersulat-3

SMA-3 >100 cm (pH-H2O <3,5)

Lahan salin

Salinitas dapat terjadi pada berbagai
tipologi pada tanah mineral

S

<50 cm; >50 cm

Gambut-dangkal

G-1

Ketebalan gambut 50-100
cm

Gambut-tengahan

G-2

Ketebalan gambut 101-
200 cm

Gambut-dalam

G-3

Ketebalan gambut 201-
300 cm

Lahan gambut

Gambut-sangat dalam

G-4

Ketebalan gambut >300
cm

Sumber : Widjaja-Adhi et al. (1992) dan Proyek PLPSR-Swamps II (1993b)
Widjaja-Adhi (1995a)

c. Usulan perbaikan tipologi lahan versi tahun 1995

Pada uraian berikut akan diuraikan usulan-usulan perbaikan pada tipologi
lahan versi terakhir (Widjaja-Adhi, 1995a). Pengalaman di lapangan di berbagai
tempat pada tanah persawahan pasang surut yang sudah “stabil” milik penduduk
setempat seperti di daerah Muara Dadahup, dekat lokasi Proyek PLG 1 Juta
hektar di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa
kedalaman lapisan bahan sulfidik pada sawah-sawah stabil tersebut umumnya
terletak pada kedalaman 100 cm atau lebih dari permukaan tanah.

Lahan Rawa Pasang Surut

62

Sementara pada sawah-sawah tetap tersebut, yang produktivitasnya lebih
rendah, lapisan bahan sulfidik berada pada kedalaman antara 50-100 cm. Hal
yang sama juga ditemukan pada lahan persawahan pasang surut yang sudah
“stabil” di Iokasi pemukiman transmigrasi di Delta Upang dan Delta Telang,
Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Setatan.

Tampaknya lahan potensial yang kedalaman lapisan bahan sulfidik >50
cm, merupakan lahan yang relatif “terbaik”, atau “paling potensial”, diantara
lahan-Iahan marginal di wilayah rawa pasang surut. Sedangkan lapisan bahan
sulfidik yang kedalamannya 100 cm atau lebih, bersifat “lebih baik, atau lebih
potensial” lagi.

Akibat perbedaan potensinya, perlu dipisahkan antara lahan terbaik nomer-
1, Lahan Potensial-1 (Pot-1), yang kedalaman lapisan bahan sulfidik >100 cm,
dan lahan-lahan terbaik nomer-2, Lahan Potensial-2 (Pot-2), yang kedalaman
lapisan bahan sulfidiknya antara 50-100 cm. Hal inipun sudah dikerjakan pada
survei karakterisasi lahan rawa di Sumatera Selatan (Proyek PSLPSS, 1998),
dan sudah pula terliput dalam tipologi lahan versi 1995, yang disebut Aluvial
bersulfida sangat dalam, SMP-3, dan Aluvial bersulfida dalam, SMP-2 (Tabel
2.4).

Lahan dengan potensi pertanian agak kurang, adalah lahan sulfat masam
potensial, SMP, yang memiliki lapisan bahan sulfidik relatif belum mengalami
proses oksidasi, pada kedalaman <50 cm, atau antara 0-50 cm dari permukaan
tanah. Lahan ini masih memiliki lapisan gambut di permukaan setebal <50 cm,
disebut SMP-G (bergambut), atau HSM (Histik sulfat masam), atau G-O (tanah
bergambut), sebenarnya memiliki potensi kesuburan yang lebih baik dari pada
SMP yang lapisan gambutnya sudah habis, karena adanya lapisan gambut yang
ikut menyumbang tingkat kesuburan tanahnya. Sebenarnya hal yang sama juga
terjadi pada lahan potensial bergambut, atau Pot-G (bergambut), tetapi tipe lahan
ini pada umumnya tidak ditemukan lagi di lapangan, mungkin karena potensi
pertaniannya yang lebih baik, sudah digunakan secara intensif untuk persawahan
atau pertanian lahan kering, sehingga lapisan gambutnya sudah lenyap, atau
tidak terdeteksi lagi.

Lahan yang potensi pertaniannya lebih rendah lagi akibat banyaknya
kendala, adalah lahan sulfat masam aktual, SMA. Ada dua tipe lahan SMA:
pertama, potensinya relatif lebih baik, menunjukkan lapisan bahan sulfidik pada
kedalaman <50 cm sedang mengalami proses oksidasi, tetapi relatif belum

Subagyo

63

tuntas/habis, yang dicirikan oleh pH-H2O di lapangan antara 3,5-4,0, disebut
SMA-1. Kedua, dimana lapisan bahan sulfidik pada kedalaman yang sama, < 50
cm, relatif sudah tuntas teroksidasi dan dicirikan oleh pH-H2O di lapangan < 3,5,
disebut SMA-2.

Secara teoritis, oksidasi pirit mulai terjadi saat penurunan air tanah telah
mencapai lapisan yang mengandung bahan sulfidik. Dengan semakin
menurunnya permukaan air tanah, udara yang mengandung oksigen akan masuk
melalui pori-pori atau rekahan-rekahan dalam tanah. Lingkungan pirit menjadi ter-
exposed dan pirit lalu mengalami proses oksidasi. Karena udara masuk dari
atmosfer di atas tanah, maka proses oksidasi yang paling efektif akan terjadi di
lapisan tanah bagian atas (0-50 cm). Makin ke bawah, pada lapisan 50-100 cm,
intensitas oksidasi pirit diperkirakan makin berkurang, karena adanya gerakan
naik air kapiler dari permukaan air tanah di bawah kedalaman 100 cm. Inilah
sebabnya mengapa definisi tanah Sulfaquepts menyebutkan harus memiliki
horison sulfurik (tebal 15 cm atau lebih, dengan pH-H2O <3,5) yang batas
atasnya berada pada kedalaman 0-50 cm dari permukaan tanah. Taksonomi
Tanah (Soil Survey Staff, 1999) tidak pernah menyebutkan adanya horison
sulfurik pada kedalaman antara 50-100 cm, dan terlebih lagi pada kedalaman
>100 cm.

Proses oksidasi pirit yang efektif, ditunjukkan oleh pH-H2O <3,5, pada
lapisan tanah lebih dari 1 m (100 cm), walaupun masih menjadi bahan
perdebatan, diperkirakan tidak dapat terjadi, ataupun kalau terjadi, tidak dapat
berlangsung lama. Alasannya yang pertama, diperlukan penurunan permukaan
air tanah minimal 1,5 m atau 2 m untuk memicu terjadinya proses oksidasi pirit
yang efektif, yang tidak dipengaruhi gerakan naik air kapiler. Selain proses difusi
udara ke lapisan di bawah 1 m yang berjarak relatif jauh, mungkin sangat sulit
mencapai penurunan permukaan air tanah sampai sedalam 1,5-2 m pada tanah
rawa pada (landform) rawa belakang, walaupun yang mempunyai tipe luapan C,
dengan kedalaman air tanah <0,5 m, dan tipe luapan D yang memiliki kedalaman
air tanah >0,5 m. Alasan kedua, seandainya dapat terjadi oksidasi cukup intensif
pada musim kemarau pada lapisan tanah sedalam lebih dari 1 m, akibat dari
konduktivitas hidraulik tanah rawa, baik yang vertikal maupun horisontal/lateral,
yang relatif cepat, maka proses oksidasi tidak dapat berlangsung lama,
sementara ada kemungkinan hasil-hasil oksidasi bahan sulfidik di tanah bagian
atas <50 cm akan segera tercuci, yang pada akhirnya justru akan membentuk

Lahan Rawa Pasang Surut

64

lahan potensial-1. Atas dasar alasan-alasan ini, diperkirakan bahwa lahan sulfat
masam aktual-3, SMA-3, yang memiliki pH-H2O <3,5 pada kedalaman > 100 cm,
yang secara teoritis mungkin saja terjadi, seperti halnya dengan lahan potensial
bergambut (Pot-G), tetapi tidak pernah dijumpai/ ditemukan di lapangan.

Mengenai tipologi lahan pada tanah gambut, yang membagi tanah gambut
berdasarkan ketebalan bahan gambut, secara umum tidak ada masalah.
Walaupun disebutkan bahwa faktor kematangan, atau tingkat dekomposisi bahan
gambut, yakni fibrik, hemik, dan saprik; kandungan hara gambut, apakah
oligotrofik, mesotrofik, atau eutrofik; serta bahan tanah bawah, atau substratum,
apakah endapan sungai, endapan marin, atau pasir kuarsa, cukup berpengaruh
pada pemanfaatan dan pengelolaan lahan rawa, tidak digunakan dalam kriteria
tipe-tipe lahan gambut.

Oleh karena sebagian besar tanah rawa, kecuali sedikit tanah-tanah
tanggul sungai alam, merupakan endapan marin, maka tanah gambut yang
terbentuk di cekungan/depresi juga memiliki tanah dasar berupa endapan marin
yang mengandung bahan sulfidik. Kontribusi konsep horison dan sifat-sifat penciri
yang didefinisikan secara kuantitatif untuk tanah rawa dari Taksonomi Tanah,
baik tanah mineral maupun tanah gambut, seperti bahan sulfidik, horison sulfurik,
tanah salin atau sifat sodik, dapat diaplikasikan pada kedua kelompok tanah
tersebut, untuk mempertajam pembagian tipologi lahan.

Atas dasar uraian di atas, usulan perbaikan klasifikasi tipologi lahan
Widjaja-Adhi versi 1995, pada dasarnya adalah:

1. Tipe-tipe lahan diurutkan mulai dari yang potensinya relatif terbaik, dan
dipisahkan antara tanah mineral dan tanah gambut. Lahan potensial-1 atau
aluvial bersulfida sangat dalam yang diberi simbol SMP-1 ditempatkan lebih
dahulu daripada lahan potensiai-2, ataualuvial bersulfat dalam, yang diberi
simbol SMP-2.

2. Dalam kelompok lahan sulfat masam potensial, SMP yang bergambut,
diurutkan lebih dahulu, dan dapat diberi simbol HSM (histik sulfat masam),
SMP-G (bergambut), atau G-O (tanah bergambut). Untuk menghormati versi
aslinya, digunakan simbol HSM. Definisi bergambut digunakan batasan
Taksonomi Tanah, yaitu mempunyai epipedon histik dengan ketebalan
gambut 20-50 cm. Karena potensi pertaniannya relatif lebih rendah, SMP

Subagyo

65

yang biasa atau lapisan gambutnya tipis, 0-20 cm, disebut aluvial bersulfida
dangkal dan diberi simbol SMP-3.

3. Sesuai potensinya, untuk kelompok lahan sulfat masam aktual, urutannya
sudah benar, yaitu terlebih dulualuvial bersulfat-1, yang diberi simbol SMA-1,
dan diikuti aluvial bersulfat-2, yang diberi simbol SMA-2. Berdasarkan alasan
yang telah diuraikan, untuk sementara sampai benar-benar dapat ditemukan
di lapangan, aluvial bersulfat-3, atau SMA-3, tidak dimunculkan dalam tabel
tipologi lahan.

4. Lahan salin, mengikuti pembagian Nugroho et al. (1991) dibagi menjadi dua,
yaitu lahan agak salin, S-1, yang dipengaruhi air salin/payau; dan lahan salin,
S-2, yang dipengaruhi air salin/air laut. Pembagiannya untuk sementara
menggunakan batasan tanah Halaquepts, dan lahan salin versi awal (1992-
1993), yaitu % kejenuhan natrium 8-15% untuk S-1, dan >15% untuk S-2.

5. Pembagian tipologi lahan untuk tanah gambut relatif tetap sama, hanya
diperbaiki dengan memasukkan kriteria adanya horison sulfurik dan bahan
sulfidik, dan letak kedalamannya dalam bahan gambut. Sehingga apabila
nantinya ditemukan horison sulfurik pada kedalaman 0-50 cm, ataupun
bahan sulfidik/pirit pada kedalaman 0-100 cm, kendala yang mungkin timbul
jika dibuka untuk tujuan pertanian dapat diketahui sejak awal dari nama tipe
lahan gambut yang bersangkutan.

6. Semua nama tipe-tipe lahan diperlakukan sebagai nama-diri (proper names),
seperti nama provinsi: Jawa Barat, nama kota: Makassar, nama orang:
Soekarno, sehingga huruf awalnya menggunakan huruf kapital, Contohnya:
Lahan Potensial, Aluvial Bersulfat Dangkal, dan Sulfat Masam Aktual. Untuk
tanah gambut, digunakan nama diri hanya untuk huruf pertama dan
disambung dengan garis datar pendek untuk menyatakan tingkat kedalaman
gambut, contoh Gambut-dangkal, Gambut-sedang, Gambut-dalam, dan
seterusnya.

Pembagian tipologi lahan berdasarkan usulan perbaikan yang diuraikan di
atas, berikut klasifikasinya dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999)
disajikan pada Tabel 2.6.

Lahan Rawa Pasang Surut

66

Tabel 2.6. Pembagian tipologi lahan dan klasifikasinya dalam Taksonomi Tanah
1999

Klasifikasi tipologi
lahan, 1987-1995*

Klasifikasi tipologi
lahan, 1998-1999**

Klasifikasi tipologi
lahan (2004)

Kedalaman pirit/
bahan sulfidik#

Taksonomi tanah
(1999;2003)@

Lahan potensial-1
(Pot-1)

Aluvial bersulfida
sangat dalam
(SMP-1)

101-150 cm
(bahan sulfidik)
pH >4,0

ENTISOLS
Typic/Aeric/Sodic
Hydraquents;
Fluvaquents;
Endoaquents

Lahan potensial

Lahan potensial-2
(Pot-2)

Aluvial bersulfida
dalam (SMP-2)

51-100 cm
(bahan sulfidik)
pH >4,0

ENTISOLS

Sulfic Hydraquents/
Fluvaquents/Endoa
quents

Sulfat masam
potensial (SMP)

Aluvial bersulfida
dangkal (SMP-3)

0-50 cm
(bahan sulfidik)
pH >4,0

ENTISOLS

Typic/Haplic/Thapto
-Histic Sulfaquents

Sulfat masam
potensial bergambut
(SMP-G) (gambut 20-
50 cm)

Aluvial Bersulfida
dangkal bergambut
(histik sulfat
masam: HSM)

0-50 cm
(bahan sulfidik)

ENTISOLS

Histic Sulfaquents

Sulfat masam aktual-1
(SMA-1)

Aluvial bersulfat-1
(SMA-1)

0-100 cm
(pH 3,5-4,0)
(bahan sulfidik
teroksidasi)

ENTISOLS: Sulfic
Hydraquents/
Fluvaquents/
INCEPTISOLS:
Sulfic Endoaquepts

Lahan sulfat
masam

Sulfat masam aktual-2
(SMA-2)

Aluvial bersulfat-2
(SMA-2)

50-150 cm
(Lapisan tanah 0-
50 cm, pH <3,5)

INCEPTISOLS:
Typic Sulfaquepts,
Hydraquentic
Sulfaquepts, Salidic
Sulfaquepts

Lahan agak salin
(S-1)

0-150 cm
(pH >6,0;ESP 8-
15%)

ENTISOLS: Typic
Hydraquents/Endoa
quents

Lahan salin

Lahan salin (LS)

Lahan salin (S-2)

0-150 cm
(pH >6,0;ESP
>15%)

ENTISOLS: Typic
Hydraquents/Endoa
quents

Gambut-dangkal
(G-1)

Tebal gambut
50-100 cm (0-
100 cm, tanpa
bahan sulfidik)

HISTOSOLS

Haplofibrists/Haploh
emists/
Haplosaprists

Lahan gambut

Gambut-dangkal
(50-100 cm gambut)
(GDK)

Gambut-dangkal
bersulfida (G-1sf)

Tebal gambut
50-100 cm (0-
100 cm, bahan
sulfidik)

HISTOSOLS:
Typic/Terric
Sulfihemists/Sulfisa
prists

Subagyo

67

Klasifikasi tipologi
lahan, 1987-1995*

Klasifikasi tipologi
lahan, 1998-1999**

Klasifikasi tipologi
lahan (2004)

Kedalaman pirit/
bahan sulfidik#

Taksonomi tanah
(1999;2003)@

Gambut-dangkal
bersulfat (G-1sr)

Tebal gambut
50-100 cm (0-50
cm, horison
sulfurik)

HISTOSOLS: Typic
Sulfohemists/Typic
Sulfosaprists

Gambut-sedang (G-
2)

Tebal gambut
101-200 cm (0-
200 cm, tanpa
bahan sulfidik)

HISTOSOLS

Haplofibrists/Haploh
emists/
Haplosaprists

Gambut-sedang
bersulfida (G-2sf)

Tebal gambut
101-200 cm (0-
100 cm, bahan
sulfidik)

HISTOSOLS:
Typic/Terric
Sulfihemists/Sulfisa
prists

Gambut-sedang
(101-200 cm gambut)
(GSD)

Gambut-sedang
bersulfat (G-2sr)

Tebal gambut
101-200 cm (0-
50 cm, horison
sulfurik)

HISTOSOLS: Typic
Sulfohemists/Sulfos
aprists

Gambut-dalam (G-
3)

Tebal gambut
201-300 cm (0-
300 cm, tanpa
bahan sulfidik)

HISTOSOLS

Haplofibrists/Haploh
emists/
Haplosaprists

Gambut-dalam
(201-300 cm gambut)
(GDL)

Gambut-dalam
bersulfida (G-3sf)

Tebal gambut
201-300 cm (0-
100 cm, bahan
sulfidik)

HISTOSOLS:
Typic/Terric
Sulfihemists/Sulfisa
prists

Gambut-sangat dalam
( >300 cm gambut)
(GSDL)

Gambut-sangat
dalam (G-4)

Tebal gambut
>300 cm (>300
cm, tanpa bahan
sulfidik)

HISTOSOLS

Haplofibrists/Haploh
emists/
Haplosaprists

*) Widjaja-Adhi et al. (1992) dan PPPLPSR-Swamps Il (1993a; 1993b); ** Proyek PSLPSS (1998;
1999); @ Soil Survey Staff (1999; 2003); # Kedalaman pirit/bahan sulfidik dihitung dari permukaan
tanah mineral; Ketebalan gambut dihitung dari permukaan tanah gambut.

6
8

Gambar 2.4. Skema pembagian tipologi lahan rawa pasang surut, berdasarkan kedalaman bahan sulfidik/pirit,
dan ketebalan gambut

L
a
h
a
n
R
a
w
a
P
a
s
a
n
g
S
u
r
u
t

Subagyo

69

2.5.2. Sifat-sifat kimia tipe-tipe lahan

Untuk dapat menguraikan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah dari tanah-
tanah rawa pasang surut, telah dikumpulkan data hasil analisis tanah dari 346
profil tanah mineral dan 378 profil tanah gambut, yang diperoleh dari
survei/inventarisasi tanah Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S)
dan kegiatan lainnya di Sumatera dan Kalimantan. Dari Sumatera, khususnya
berasal dari survei pelaksanaan P4S dan kegiatan lain di Sumatera Selatan, yaitu
Air Saleh (IPB, 1978a), Karangagung (IPB, 1978b), dan Karangagung Tengah
(PPT, 1989). Dari provinsi Riau, berasal dari S. Reteh (IPB, 1969), S. Enok-Delta
S. Retih (LPT, 1974), Bunut-Kuala Kampar (LPT, 1975), S. Rokan (LPT, 1976a),
dan S. Siak (LPT, 1976b). Sedangkan yang dari Kalimantan, sebagian besar dari
survei dan pemetaan tanah pulau-pulau delta di aliran bawah S. Kahayan,
Kapuas, dan Barito, di wilayah Proyek Pengembangan Gambut (PLG) satu juta
hektar, 1996-1998 (Puslittanak, 1997; 1998a; 1998b), dan di Delta Pulau Petak
(SRI, 1973), serta sebagian kecil dari wilayah rawa di provinsi Kalimantan Timur.

Uraian ringkas dari sifat-sifat kimia tanah, yang diberikan berikut ini
diurutkan dari tanah mineral, yaitu Tanah Tanggul Sungai, Lahan Potensial-1,
Lahan Potensiai-2, Sulfat Masam Potensial (SMP), Sulfat Masam Aktual (SMA),
dan Tanah Salin; serta Tanah Gambut, yakni Tanah Sulfat Masam Potensial
Bergambut, Gambut-dangkal, Gambut-sedang, Gambut-dalam, dan Gambut-
sangat dalam. Data tekstur, pH-H2O, dan kandungan sifat/ hara merupakan rata-
rata dari hasil analisis tanah semua profil yang tersedia dari masing-masing
tipologi lahan. Setiap sifat-sifat tanah dinilai tinggi, sedang, atau rendah
berdasarkan kriteria evaluasi standar yang biasa digunakan di Puslittanah dan
Agroklimat. Data sifat-sifat untuk tanah mineral disajikan pada Tabel 2.7,
sedangkan untuk tanah gambut pada Tabel 2.8.

a. Tanah mineral

Tanah tanggul sungai

Dalam keadaan alami, Tanah Tanggul Sungai alam (natural levee)
seringkali mempunyai lapisan gambut permukaan yang tipis, sekitar <20 cm, baik
lapisan atas, sekitar 0-50 cm, maupun lapisan bawah, antara 50-200 cm. Tekstur
tanah relatif sama yaitu liat berdebu (silty clay), atau lempung liat berdebu (silty
clay loam
). Tanah tanggul sungai di Sumatera umumnya dicirikan oleh tekstur

Lahan Rawa Pasang Surut

70

yang lebih bervariasi, dengan kandungan liat antara 10-65%, dan debu sekitar
25-95%. Di Kalimantan, tekstur tanahnya relatif lebih homogen dan lebih halus,
dengan kandungan liat dan debu yang hampir sama yaitu antara 25-65%. Reaksi
tanah lapisan atas dan lapisan bawah sangat masam (very strongly acid) (pH 4,6-
5,0), dan cenderung sama atau sedikit meningkat di lapisan bawah. Kandungan
garam yang dinyatakan sebagai daya hantar listrik (electrical conductivity:EC),
umumnya sangat rendah (0,3-0,5 dS/m) sampai rendah (2,1-2,4 dS/m) di kedua
lapisan (TabeI 2.7).

Kandungan bahan organik, yang dinyatakan sebagai C-organik, di lapisan
atas sangat tinggi (5,30-6,46%), dan di lapisan bawah sedang sampai tinggi
(2,62-4,05%). Kandungan nitrogen (N) rata-rata termasuk sedang (0,27-0,35%) di
lapisan atas, dan berkurang menjadi sangat rendah sampai rendah (0,10-0,16%)
di lapisan bawah. Rasio C/N rata-rata lapisan atas termasuk sedang sampai
tinggi (15-18), dan di lapisan bawah termasuk tinggi (18-19).

Kandungan fosfat potensial (ekstraksi 25% HCI) dan dinyatakan sebagai
P2O5-HCI, termasuk sedang (27-28 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sangat
rendah sampai sedang (12-28 mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Kandungan
kalium potensial, K2O-HCI, sedang sampai tinggi (24-46 mg/100 g tanah) di
lapisan atas, dan menurun menjadi sedang (22-40 mg/100 g tanah) di lapisan
bawah. Kandungan fosfat tersedia (ekstraksi Bray-I) tergolong sedang (21,9-23,2
ppm) di lapisan atas, dan cenderung menurun menjadi rendah sampai sedang
(8,6-16,6 ppm) di lapisan bawah.

Jumlah basa-basa termasuk tinggi, baik di lapisan atas (14,2-24,6
cmol(+)/kg tanah) maupun lapisan bawah (17,8-22,4 cmol(+)/kg tanah). Basa
dapat tukar yang dominan di kedua lapisan tanah adalah Mg dan Na, masing-
masing di lapisan atas terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi (6,29-
8,69 mol(+)/kg tanah), dan sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (3,08-8,64
cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah. Kandungan Ca-dapat tukar umumnya
bervariasi dari rendah sampai sedang, baik di lapisan atas (4,49-6,50 cmol(+)/kg
tanah) maupun di lapisan bawah (4,69-6,67 cmol(+)/kg tanah). Sedangkan K-
dapat tukar tergolong sedang (0,55-0,75 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan
sedikit meningkat (0,60-0,67 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawahnya.

Kapasitas tukar kation (KTK) tanah (KTK-pH 7), karena adanya kontribusi
dari bahan organik cenderung tinggi (26,1-27,5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas
dan menurun menjadi sedang (21,4-22,3 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.
Kejenuhan basa (KB-pH 7), termasuk sedang sampai tinggi (44-73%) di lapisan
atas, dan relatif tetap tinggi (61-75%) di lapisan bawah.

7
1

Tabel 2.7. Sifat-sifat tanah mineral pada lahan rawa pasang surut

Tanah Tanggul S.

Lahan Potensial-1

Lahan Potensial-2

SM Potensial

SM Aktual

Lahan Salin

Sifat-sifat tanah Pulau

Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh

Lap. Atas

Lap. Bwh

Sum

45

19

43

13

-

-

Jumlah profil

Kal

31

81

41

27

17

29

Sum

SiCL

SiCL

SiCL

SiC

SiC

SiC

SiC

SiC

Tekstur

Kal

SiC

SiC

SiC

SiC

SiC

C

SiC

C

SiC

C

SiC

SiC

Sum

4,7 sm

4,6 sm

4,2 sms

4,1 sms

4,1 sms

3,6 sms 4,0 sms

3,8 sms

pH H2O (1:5)

Kal

4,7 sm

5,0 sm

4,2 sms

4,2 sms

4,2 sms

3,7 sms 4,3 sms

3,5 me

3,6 sms

2,8 me

4,9 sm

4,7 sm

Sum

0,3 sr

0,5 sr

0,3 sr

1,0 sr

0,5 sr

2,6 r

Daya hantar
listrik (dS/m)

Kal

2,4 r

2,1 r

0,3 sr

0,3 sr

1,7 sr

1,9 sr

7.253 sts 7.320 sts 5,686 sts 4,344 sts 13,994 sts 19,488 sts

Sum

6,46 st

2,62 sd

16,18 sts 4,08 t

19,97 sts 5,57 st 20,54 sts 6,31 st

Karbon-organik
(%)

Kal

5,30 st

4,05 t

8,66 st

4,48 t

11,69 st 5,54 st 9,16 st

6,61 st

10,93 st 7,51 st

5,89 st

5,32 st

Sum

0,27 sd

0,10 sr

0,71 t

0,13 r

0,84 st

0,25 sd 0,70 t

0,17 r

Nitrogen (%)

Kal

0,35 sd

0,16 r

0,50 sd

0,17 r

0,58 t

0,18 r

0,59 t

0,28 sd

0,49 sd

0,22 sd

0,33 sd

0,33 sd

Sum

18 t

18 t

27 st

27 st

24 t

31 st

24 t

31 st

Rasio C/N

Kal

15 sd

19 t

17 t

21 t

22 t

30 st

16 t

30 st

25 t

39 st

25 t

21 t

Sum

28 sd

12 sr

38 sd

7 sr

70 st

25 sd

58 t

20 r

P2O5-HCl
(mg/100 g tnh) Kal

27 sd

28 sd

50 t

17 r

133 st

25 sd

115 st

33 sd

45 t

17 r

45 t

35 sd

Sum

24 sd

22 sd

22 sd

26 sd

39 sd

42 t

35 sd

60 t

K2O-HCl (mg/100
g tnh)

Kal

46 t

40 sd

24 sd

21 sd

28 sd

28 sd

32 sd

29 sd

81 st

73 st

103 st

113 st

Sum

23,2 sd

8,6 r

63,9 st

16,2 sd

72,3 st

23,6 sd 32,3 t

17,0 sd

P2O5-Bray-I (ppm)

Kal

21,9 sd

16,6 sd

38,5 st

13,8 r

53,1 st

21,6 sd 17,7 sd

15,2 sd

19,3 sd

12,6 r

8,5 sr

9,5 sr

Sum

14,2 t

17,8 t

8,5 sd

10,6 sd

16,7 t

15,3 t

21,7 t

28,3 t

Jumlah basa
[cmol(+)/kg tnh] Kal

24,6 t

22,4 t

7,2 sd

7,3 sd

7,0 sd

9,8 sd

16,7 t

18,0 t

29,1 t

21,9 t

40,5 sts

59,0 sts

Sum

4,49 r

4,69 r

2,77 r

2,96 r

6,63 sd

4,39 r

7,84 sd

7,95 sd

Ca-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

6,50 sd

6,67 sd

2,74 r

2,18 r

1,57 sr

1,98 sr 5,11 r

4,61 r

4,12 r

3,49 r

6,95 sd

8,60 sd

Sum

6,29 t

8,05 st

4,63 t

5,59 t

8,36 st

8,69 st 10,89 st 14,19 st

Mg-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

8,69 st

8,54 st

2,78 t

3,88 t

3,38 t

5,70 t

7,05 t

8,02 t

9,25 st

8,30 st

15,35 sts

18,47 sts

Sum

0,55 sd

0,60 sd

0,33 r

0,43 sd

0,52 sd

0,41 sd 0,64 sd

0,55 sd

K-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

0,75 sd

0,67 sd

0,38 r

0,25 r

0,40 sd

0,29 r

0,56 sd

0,43 sd

0,89 t

0,37 r

2,07 st

1,79 st

Sum

3,08 st

4,58 st

0,75 t

1,60 st

1,21 st

1,79 st 2,34 st

5,61 sts

Na-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

8,64 sts

6,51 sts 1,31 st

1,00 t

1,72 st

1,82 st 6,01 sts 4,91 st

14,87 sts 9,70 sts

16,11 sts

30,16 sts

Sum

27,5 t

22,3 sd

35,9 t

25,7 t

61,9 st

32,3 t

62,5 st

32,7 t

KTK-pH 7
[cmol(+)/kg tnh] Kal

26,1 t

21,4 sd

31,3 t

24,1 t

37,3 t

25,6 t

31,5 t

28,9 t

37,2 t

33,5 t

34,1 t

33,6 t

S
u
b
a
g
y
o

7
2

Tanah Tanggul S.

Lahan Potensial-1

Lahan Potensial-2

SM Potensial

SM Aktual

Lahan Salin

Sifat-sifat tanah Pulau

Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh

Lap. Atas

Lap. Bwh

Sum

44 sd

61 t

23 r

38 sd

27 r

47 sd

35 r

84 st

Kejenuhan basa
(%)

Kal

73 t

75 t

23 r

31 r

28 r

44 sd

49 sd

55 sd

42 sd

40 sd

86 st

86 st

Sum

25 r

31 r

46 sd

55 sd

36 r

44 sd

32 r

30 r

Kejenuhan Al (%)

Kal

31 r

32 r

61 t

62 t

55 sd

60 sd

35 r

47 sd

71 t

67 t

7 sr

15 sr

Sum

2,53 sd

1,03 sr

3,04 sd

3,16 sd

0,48 sr

2,88 sd 0,44 sr

2,31 r

Pirit (%)

Kal

1,44 r

1,40 r

1,00 sr

1,04 sr

0,77 sr

0,81 sr 1,12 sr

1,35 r

0,85 sr

1,07 sr

2,38 r

2,51 sd

Catatan:
Tekstur, pH-H2O, dan masing-masing kandungan sifat/hara dihitung berdasarkan rata-rata (averages) dari semua profil yang dievaluasi.
Tekstur: SiCL = lempung liat berdebu; SiC = liat berdebu; C = liat.
pH-H2O: me = masam ekstrim (pH:3,5 atau kurang); sms = sangat masam sekali (pH:3,6-4,5); sm = sangat masam (very strongly acid) (pH:4,6-5,0).
Kandungan sifat/hara ; sr = sangat rendah; r = rendah; sd = sedang; t = tinggi; st = sangat tinggi; dan sts = sangat tinggi sekali.
Sum = Sumatera; Kal = kalimantan.

.

L
a
h
a
n
R
a
w
a
P
a
s
a
n
g
S
u
r
u
t

Subagyo

73

Kejenuhan aluminium (AI), tergolong rendah (25-32%) baik di lapisan atas
maupun lapisan bawah. Sementara itu, kandungan pirit (FeS2) ternyata rendah
sampai sedang (1,44-2,53%) di lapisan atas, dan menjadi sangat rendah sampai
rendah (1,03-1,40%) di lapisan bawah.

Lahan potensial-l

Lahan potensial-1 mempunyai lapisan gambut permukaan yang tipis,
sekitar <24 cm. Tekstur tanah lapisan atas umumnya liat berdebu, atau lempung
liat berdebu, dan di lapisan bawahnya hampir semuanya liat berdebu. Tekstur
tanah lahan potensial-1 dari Kalimantan relatif lebih halus, dengan kandungan liat
relatif tinggi antara 35-90%. Sementara yang dari Sumatera sedikit lebih kasar
dengan kandungan liat lebih rendah, 20-70%, dan kandungan debu tinggi, 30-
95%. Reaksi tanah sangat masam sekali (excessively acid) (pH 4,1-4,2), baik di
lapisan atas maupun lapisan bawah. Reaksi tanah cenderung lebih masam (pH
3,5 atau kurang) pada kedalaman 120-180 cm. Kandungan garam, yang
dinyatakan sebagai daya hantar listrik, sangat rendah (0,3-1,0 dS/m), di seluruh
lapisan (Tabel 2.7).

Kandungan bahan organik, yang dinyatakan sebagai C-organik, lapisan
gambut tipis di permukaan sangat tinggi. Sementara kandungan bahan organik di
lapisan atas sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (8,66-16,18%), dan
menurun menjadi tinggi (4,08-4,88%) di lapisan bawah. Kandungan bahan
organik Lahan Potensial-1 dari Kalimantan relatif lebih tinggi, bervariasi dari 1
sampai 17%, sementara yang dari Sumatera bervariasi dari 1 sampai 8%.
Kandungan N sedang sampai tinggi (0,50-0,71%) di lapisan atas, dan menurun
menjadi sangat rendah sampai rendah (0,13-0,17%) di seluruh lapisan bawah.
Rasio C/N bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi (17-27), baik di lapisan atas
maupun lapisan bawah.

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI 25%) di lapisan atas termasuk
sedang sampai tinggi (38-50 mg/100 g tanah), dan di lapisan bawah berkurang
menjadi sangat rendah sampai rendah (7-17 mg/100 g tanah). Kandungan K2O
(HCI 25%) tergolong sedang (21-26 mg/100 g tanah) di seluruh lapisan.
Kandungan P-tersedia, P2O5-Bray-I, termasuk sangat tinggi (38,5-63,9 ppm) di

Lahan Rawa Pasang Surut

74

lapisan atas, dan menurun menjadi rendah sampai sedang (14-16 ppm) di lapisan
bawah.

Jumlah basa-basa termasuk sedang, baik di lapisan atas (7,2-8,5
cmol(+)/kg tanah) maupun lapisan bawah (7,3-10,6 cmol(+)/kg tanah). Basa
dapat tukar yang dominan adalah Mg dan Na, yang di seluruh lapisan masing-
masing terdapat dalam jumlah tinggi (2,78-5,59 cmol(+)/kg tanah), dan tinggi
sampai sangat tinggi (0,75-1,60 cmol(+)/kg tanah). Kandungan Ca-dapat tukar di
seluruh lapisan termasuk rendah (2,18-2,96 cmol(+)/kg tanah). Kandungan K--
dapat tukar rendah (0,33-0,38 cmol (+)/kg tanah) di lapisan atas, dan rendah
sampai sedang (0,25-0,43 cmol (+)/kg tanah) di lapisan bawah.

Kapasitas tukar kation tanah, karena kontribusi dari bahan organik, di
dalam tanah bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi, dengan rata-rata
tergolong tinggi (24,1-35,9 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan. KB bervariasi
dari sangat rendah sampai tinggi, dengan rata-rata di lapisan atas termasuk
rendah (23%), dan di lapisan bawah rendah sampai sedang (31-38%).

Kejenuhan AI umumnya bervariasi dari rendah sampai tinggi/sangat tinggi,
dengan rata-rata sedang sampai tinggi (46-62%), baik di lapisan atas maupun
lapisan bawah. Kandungan pirit (FeS2) sangat rendah (1,00-1,04%) sampai
sedang (3,04-3,16%) di lapisan atas dan lapisan bawah.

Lahan potensial-2

Lahan potensial-2 memiliki lapisan gambut permukaan tipis, sekitar 0-20/28
cm. Tekstur tanah Lahan Potensial-2 dari Sumatera sedikit lebih kasar dan lebih
homogen, dengan kandungan liat dan debu 30-70%, sementara yang dari
Kalimantan lebih bervariasi dan lebih halus, dengan kandungan liat antara 35-
80%, dan debu 20-60%. Tetapi, semuanya tergolong bertekstur halus, yaitu liat
berdebu di lapisan atas, dan liat (clay) atau liat berdebu di lapisan bawah. Reaksi
tanah di lapisan atas secara umum lebih tinggi daripada lapisan bawah, dengan
rata-rata sangat masam sekali, baik di lapisan atas (pH 4,1-4,2) maupun lapisan
bawah (3,6-3,7). Kandungan garam yang dinyatakan sebagai daya hantar listrik,
tergolong sangat rendah (0,5-1,7 dS/m) di lapisan atas, dan rendah (1,9-2,6
dS/m) di lapisan bawah (Tabel 2.7).

Subagyo

75

Kandungan bahan organik, dinyatakan sebagai % C-organik, seluruh
lapisan di luar lapisan gambut permukaan, umumnya bervariasi dari sedang
sampai sangat tinggi. Kandungan bahan organik Lahan Potensial-2 dari
Kalimantan sedikit lebih tinggi daripada lahan yang sama dari Sumatera. Rata-
rata kandungan bahan organik tergolong sangat tinggi sampai sangat tinggi
sekali (11,69-19,97% C) di lapisan atas, dan sangat tinggi (5,54-5,57% C) di
lapisan bawah. Kandungan N di lapisan atas termasuk tinggi sampai sangat
tinggi (0,58-0,84%), dan di lapisan bawah umumnya menurun menjadi rendah
sampai sedang (0,18-0,25%). Rasio C/N lapisan atas termasuk tinggi (22-24),
dan di lapisan bawah sangat tinggi (30-31).

Kandungan fosfat potensial, (P2O5-HCI 25%), di lapisan atas termasuk
sangat tinggi (70-133 mg/100 g tanah), dan menurun menjadi sedang (25 mg/100
g tanah) di lapisan bawah. Kandungan kalium potensial, K2O (HCl 25%) sedang
(28-39 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sedang sampai tinggi (28-42 mg/100
g tanah) di lapisan bawah. Kandungan fosfat tersedia (P2O5-Bray I) rata-rata
sangat tinggi (53,1-72,3 ppm) di lapisan atas, dan menurun menjadi sedang
(21,6-23,6 ppm) di lapisan bawah.

Jumlah basa-basa di seluruh lapisan tanah bervariasi dari rendah sampai
sangat tinggi, dan rata-ratanya termasuk sedang sampai tinggi, baik di lapisan
atas (7,0-16,7 cmol(+)/kg tanah), maupun di lapisan bawah (9,8-15,3 cmol(+)/kg
tanan). Basa dapatttukar yang dominan, baik di lapisan atas maupun lapisan
bawah adalah Mg dan Na. Kandungan Mg dan Na berturut-turut masing-masing
di seluruh lapisan adalah tinggi sampai sangat tinggi (3,38-8,69 cmol(+)/kg tanah,
dan sangat tinggi (1,21-1,82 cmol(+)/kg tanah. Sebaliknya kandungan Ca-dapat
tukar adalah sangat rendah sampai sedang (1,57-6,63 cmol(+)/kg tanah) di
lapisan atas, dan menurun menjadi sangat rendah sampai rendah (1,98-4,39
cmol (+)/kg tanah) di lapisan bawah. Kandungan K-dapat tukar tergolong sedang
(0,40-0,52 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan rendah sampai sedang (0,29-
0,41 cmol (+)/kg tanah) di lapisan bawah.

Kapasitas tukar kation tanah ikut terbawa tinggi sampai sangat tinggi (37,3-
61,9 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan sedikit menurun menjadi tinggi (25,6-
32,3 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah karena adanya kandungan bahan
organik sangat tinggi. Kejenuhan basa rendah (27-28%) di lapisan atas, dan
termasuk sedang (44-47%) di lapisan bawah.

Lahan Rawa Pasang Surut

76

Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya sangat bervariasi dari sangat
rendah sampai sangat tinggi, dan rata-ratanya rendah sampai sedang (36-55%)
di lapisan atas, dan meningkat menjadi sedang (44-60%) di lapisan bawah.
Kandungan pirit (FeS2) sangat rendah (0,48-0,77%) di lapisan atas, dan sedikit
meningkat menjadi sangat rendah sampai sedang (0,81-2,88%) di lapisan bawah.

Sulfat masam potensial

Data profil sulfat masam potensial (SMP) menunjukkan adanya lapisan
gambut permukaan yang tipis, sekitar 0-12/16 cm. Tekstur seluruh lapisan tanah
menunjukkan halus, yaitu tekstur tanah SMP dari Sumatera mempunyai
kandungan liat antara 40-75%, dengan debu 25-60%. Sementara kandungan liat
SMP dari Kalimantan, bervariasi antara 40-85%, dan debu 20-50%. Dengan
demikian, tekstur tanah lapisan atas termasuk liat berdebu, sedangkan lapisan
bawahnya liat berdebu atau liat. Reaksi tanah di seluruh lapisan bervariasi dari
masam ekstrim (extremely acid) (pH 3,5 atau kurang) sampai sangat masam
(very strongly acid) (pH 4,5-4,8), dan cenderung makin masam di lapisan-Iapisan
bawah. Reaksi tanah lapisan atas rata-rata sangat masam sekali (pH 4,0-4,3),
dan di lapisan bawah masam ekstrim sampai sangat masam sekali (pH 3,5-3,8).
Kandungan garam, dengan data terbatas yang hanya berasal dari SMP
Kalimantan, ditunjukkan oleh daya hantar listrik yang bervariasi dari 7.000-21.000
dS/m, dengan rata-rata termasuk sangat tinggi sekali (7.253-7.320 dS/m), baik di
lapisan atas maupun lapisan bawah. Kemungkinan besar, contoh tanah dari
profil-profil yang diambil berasal dari lokasi di rawa zona I yang terkena pasang
surut harian air asin/salin (Tabel 2.7).

Kandungan bahan organik, tidak termasuk lapisan gambut tipis di
permukaan tanah bervariasi sedang sampai sangat tinggi, baik pada SMP dari
Sumatera maupun SMP dari Kalimantan. Rata-rata kandungan bahan organik
sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (9,16-20,54%) di lapisan atas, dan
sangat tinggi (6,31-6,61%) di lapisan bawah. Kandungan N tinggi (0,59-0,70%) di
lapisan atas, dan menurun menjadi rendah sampai sedang (0,17-0,28%) di
lapisan bawah. Rasio C/N di seluruh lapisan tanah bervariasi dari tinggi sampai
sangat tinggi, dan cenderung meningkat di lapisan bawah. Rata-rata C/N
tergolong tinggi (16-24) di lapisan atas, dan sangat tinggi (30-31) di lapisan
bawah.

Subagyo

77

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI) pada SMP dari Sumatera bervariasi
dari rendah sampai sangat tinggi di lapisan atas, dan menurun menjadi rendah
sampai sedang di lapisan bawah. Rata-ratanya tinggi (58 mg/100 g tanah) di
lapisan atas, dan rendah (20 mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Sementara
kandungan P2O5 di seluruh lapisan pada SMP dari Kalimantan, bervariasi dari
rendah sampai sangat tinggi. Oleh karena itu, rata-rata kandungan P2O5 potensial
di lapisan atas termasuk sangat tinggi (115 mg/100 g tanah), dan di lapisan
bawah sedang (33 mg/100 g tanah). Kandungan K2O tergolong sedang (32-35
mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sedang sampai tinggi (29-60 mg/100 g
tanah) di lapisan bawah. Kandungan fosfat tersedia (P2O5 Bray-I) tergolong
sedang sampai tinggi (17,7-32,3 ppm) di lapisan atas, dan sedang (15,2-17,0
ppm) di lapisan bawah.

Jumlah basa, baik di lapisan atas maupun lapisan bawah, tergolong tinggi
(18,0-28,3 cmol(+)/kg tanah). Basa dapatttukar yang dominan di seluruh lapisan
tanah adalah Mg dan Na masing-masing untuk Mg termasuk sangat tinggi (10,89-
14,19 cmol(+)/kg tanah, pada SMP dari Sumatera, dan termasuk tinggi (7,05-8,02
cmol(+)/kg tanah) pada SMP dari Kalimantan. Kandungan Na tergolong sangat
tinggi sampai sangat tinggi sekali, baik di lapisan atas (2,34-6,01 cmol(+)/kg
tanah) maupun di lapisan bawah (4,91-5,61 cmol(+)/kg tanah). Sebaliknya
kandungan Ca-dapat tukar rendah sampai sedang, baik di lapisan atas (5,11-7,84
cmol(+)/kg tanah), maupun lapisan bawah (4,61-7,95 cmol(+)/kg tanah).
Sementara kandungan K-dapat tukar, tergolong sedang (0,43-0,64 cmol(+)/kg
tanah) di seluruh lapisan.

Kapasitar tukar kation tanah, menunjukkan nilai tinggi sampai sangat tinggi
(31,5-62,5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan tinggi (28,9-32,7 cmol(+)/kg
tanah) di lapisan bawah karena pengaruh kandungan bahan organik yang sangat
tinggi. Kejenuhan basa tergolong rendah sampai sedang (35-49%) di lapisan
atas, dan sedang sampai sangat tinggi (55-84%) di lapisan bawah.

Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya sangat bervariasi dari sangat
rendah sampai sangat tinggi, dan rata-ratanya rendah (32-35%) di lapisan atas,
dan rendah sampai sedang (30-47%) di lapisan bawah. Kandungan pirit (FeS2)
sangat rendah (0,44-1,12%) di lapisan atas, dan rendah (1,35-2,31%) di lapisan
bawah.

Lahan Rawa Pasang Surut

78

Sulfat masam aktual

Data Sulfat Masam Aktual (SMA) yang tersedia, hanya berasal dari lahan
rawa di Kalimantan. Sementara data analisis yang berasal dari Sumatera, tidak
menyebutkan adanya SMA karena data relatif berumur tua, 1974-1978. Tanah
mempunyai lapisan gambut permukaan yang tipis, sekitar 0-12 cm. Seluruh
lapisan tanah memiliki tekstur halus, dengan kandungan fraksi liat 35-70%, dan
debu 25-60%, sehingga tekstur tanah lapisan atas tergolong liat berdebu, dan di
lapisan bawah liat. Lapisan atas ber-reaksi sangat masam sekali (pH 3,6),
sementara lapisan bawah antara kedalaman 20-120 cm menunjukkan pH antara
1,8-3,5, dengan pH rata-rata 2,8, sehingga tergolong ber-reaksi masam ekstrim.
Kandungan garam, yang dinyatakan sebagai daya hantar listrik tergolong sangat
tinggi sekali (4.344-5.686 dS/m) baik di lapisan atas maupun di lapisan bawah
(Tabel 2.7).

Kandungan bahan organik di seluruh lapisan bervariasi tinggi sampai
sangat tinggi, sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (7,51-10,93%).
Kandungan N rata-rata tergolong sedang (0,22-0,49%) di seluruh lapisan, dan
cenderung menurun di lapisan-Iapisan bawah. Rasio C/N bervariasi dari tinggi
sampai sangat tinggi, dan bertambah besar di lapisan bawah. Karena itu rasio
C/N rata-rata tergolong tinggi (25) di lapisan atas, dan sangat tinggi (39) di
lapisan bawah.

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI 25%) di lapisan atas bervariasi dari
rendah sampai sangat tinggi, dan rata-ratanya termasuk tinggi (45 mg/100 g
tanah). Kandungan P2O5 lapisan bawah, sebagian besar sangat rendah sampai
sedang, sehingga rata-ratanya rendah (17 mg/100 g tanah). Sebaliknya
kandungan K2O potensial (HCl 25%), sebagian besar tinggi sampai sangat tinggi
di semua lapisan, sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (73-81 mg/100 g
tanah). Kandungan fosfat tersedia (P Bray-I) di seluruh lapisan sangat rendah
sampai sedang, dan cenderung semakin rendah ke lapisan bawah. Oleh karena
itu, rata-ratanya termasuk sedang (19,3 ppm) di lapisan atas, dan rendah (12,6
ppm) di lapisan bawah.

Jumlah basa-basa di semua lapisan sampai sedalam 180 cm sangat
bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi sekali, dan cenderung menurun di
lapisan bawah. Karena itu, rata-rata jumlah basa, baik di lapisan atas maupun
lapisan bawah tergolong tinggi (21,9-29,1 cmol(+)/kg tanah). Seperti pada tipe-

Subagyo

79

tipe lahan sebelumnya, basa dapatttukar yang dominan di seluruh lapisan adalah
Mg dan Na. Mg terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali, dan
rata-ratanya sangat tinggi (8,30-9,25 cmol(+)/kg tanah) di semua tapisan.
Demikian juga Na terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali di
seluruh lapisan, sehingga rata-ratanya termasuk sangat tinggi sekali (9,70-14,87
cmol(+)/kg tanah). Sebaliknya kandungan Ca-dapat tukar umumnya bervariasi
dari sangat rendah sampai sedang, dan rata-ratanya tergolong rendah (3,49-4,12
cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas dan lapisan bawah. Sedangkan K-dapat tukar
tergolong tinggi (0,89 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan rendah (0,37
cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.

Kapasitas tukar kation tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi,
dan rata-ratanya tergolong tinggi (33,5-37,2 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan
karena kontribusi dari bahan organik. Kejenuhan basa di seluruh lapisan tanah
sangat bervariasi, sebagian sangat rendah, sebagian rendah sampai sedang, dan
sebagian lagi sangat tinggi, dengan rata-rata sedang (40-42%), baik di lapisan
atas maupun lapisan bawah.

Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya bervariasi dari sedang sampai
sangat tinggi, sehingga rata-ratanya tinggi (67-71%) baik di lapisan atas maupun
lapisan bawah. Kandungan pirit (FeS2) menunjukkan rata-rata sangat rendah
(0,85-1,07%) di kedua lapisan tanah.

Lahan salin

Data lahan salin yang tersedia hanya diperoleh dari lahan rawa
Kalimantan. Tanah mempunyai lapisan gambut permukaan tipis sekitar 0-12 cm.
Tekstur di seluruh lapisan tanah tergolong halus. Kandungan liat bervariasi
antara 30-75%, dan debu 25-95%, sehingga rata-rata tekstur lapisan atas, 0-50
cm, dan lapisan bawah, sekitar 50-200 cm, tergolong liat berdebu. Reaksi tanah
seluruh lapisan bervariasi dari masam ekstrim sampai dengan netral, rata-rata
tergolong sangat masam (very strongly acid) (pH 4,7-4,9), baik di lapisan atas
maupun di lapisan bawah. Data daya hantar listrik, yang merupakan refleksi
kandungan garam di seluruh lapisan, rata-ratanya sangat tinggi sekali (13.994-
19.488 dS/m) (Tabel 2.7).

Kandungan bahan organik, dinyatakan sebagai % C-organik, beragam dari
sedang sampai sangat tinggi sekali, dan cenderung meningkat di antara

Lahan Rawa Pasang Surut

80

kedalaman 80-160 cm. Rata-rata kandungan bahan organik sangat tinggi (5,32-
5,89%) di seluruh lapisan, kecuali lapisan gambut di permukaan. Kandungan N di
seluruh lapisan bervariasi rendah sampai sedang, sehingga rata-ratanya sedang
(0,33%). Rasio C/N sangat beragam di semua lapisan dan meningkat di lapisan
bawah, rata-ratanya tergolong tinggi (C/N:21-25) pada seluruh lapisan.

Kandungan P2O5-HCI secara dominan bervariasi antara rendah sampai
sangat tinggi dan cenderung menurun di lapisan bawah. Rata-rata kandungan
P2O5-HCI termasuk tinggi (45 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sedang (35
mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Kandungan K2O umumnya bervariasi sangat
tinggi di seluruh lapisan, sehingga rata-ratanya sangat tinggi (103-113 mg/100 g
tanah). Sebaliknya, kandungan P-tersedia bervariasi sangat rendah sampai
rendah di seluruh lapisan, sehingga rata-ratanya tergolong sangat rendah (8,5-
9,5 ppm).

Jumlah basa-basa di semua lapisan sampai sedalam 190 cm bervariasi
tinggi sampai sangat tinggi sekali, sehingga rata-ratanya di lapisan atas dan
lapisan bawah tergolong sangat tinggi sekali (40,5-59,0 cmol(+)/kg tanah).
Sebagaimana tipologi lahan lainnya, basa-basa dapat tukar yang dominan adalah
Mg dan Na. Mg-dapat tukar bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi sekali, dan
rata-ratanya sangat tinggi sekali (15,35-18,47-cmol(+)/kg tanah) di seluruh
lapisan. Kandungan Na-dapat tukar, bervariasi sangat tinggi sekali di semua
lapisan tanah, sehingga rata-ratanya juga sangat tinggi sekali (16,11-30,16
cmol(+)/kg tanah). Kandungan Ca-dapat tukar bervariasi dari rendah sampai
tinggi, dan rata-ratanya termasuk sedang (6,95-8,60 cmol(+)/kg tanah), baik di
lapisan atas maupun lapisan bawah. Sementara K-dapat tukar bervariasi dari
sedang sampai sangat tinggi sekali, dan rata-ratanya tergolong sangat tinggi
(1,79-2,07 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan.

Kapasitas tukar kation sebagian besar tanah bervariasi dari sedang sampai
sangat tinggi, oleh karena itu, rata-ratanya termasuk tinggi (33,6-34,1 cmol(+)/kg
tanah). Kejenuhan basa seluruh lapisan bervariasi dari sedang sampai sangat
tinggi, dan rata-ratanya adalah sangat tinggi (86%). Potensi kesuburan alami
tanah sebenarnya secara relatif termasuk sedang, namun kandungan garam
yang terlalu tinggi merupakan kendala utama yang dapat menurunkan kesuburan
tanah, sehingga potensi kesuburan tanahnya dikategorikan sangat rendah
sampai rendah untuk usaha pertanian.

Kejenuhan AI secara dominan termasuk sangat rendah sampai rendah,
sehingga rata-ratanya termasuk sangat rendah (7-15%), baik di lapisan atas

Subagyo

81

maupun lapisan bawah. Sementara itu, kandungan pirit (FeS2) tergolong rendah
(2,38%) di lapisan atas, dan sedang (2,51%) di lapisan bawah.

Sulfat masam potensial bergambut

Dari data yang ada, ketebalan gambut di permukaan bervariasi antara 38-
45 cm. Lapisan gambut permukaan ini dapat berupa bahan organik murni, atau
campuran antara bahan tanah mineral, khususnya fraksi liat dan debu, dan
bahan organik. Kandungan fraksi liat dan debu umumnya cukup tinggi, masing-
masing 35-80% dan 20-92%, sehingga tekstur tanahnya termasuk liat berdebu.
Reaksi tanah bervariasi antara masam ekstrim sampai sangat masam, dan rata-
ratanya tergolong sangat masam sekali (pH 3,9). Kandungan garam-garam larut,
yang dinyatakan sebagai daya hantar listrik tercatat sangat rendah (0,1-2,0 dS/m)
(Tabel 2.8).

Kandungan bahan organik, dinyatakan sebagai % C-organik, lapisan atas
gambut ini umumnya sangat tinggi sekali (26,03-34,17%). Kandungan N sangat
tinggi (0,98-1,09%), dan rasio C/N juga sangat tinggi (25-31).

Rata-rata kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI 25%) tergolong sedang
(38-94 mg/100 g tanah). Kandungan K2O potensial (HCI 25%) rendah sampai
sedang (15-27 mg/100 g tanah). Kandungan fosfat tersedia (P2O5-Bray I)
bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi, sehingga rata-rata P-tersedia sangat
tinggi (38,8-65,1 mg/100 g tanah).

Jumlah basa pada lapisan gambut permukaan rata-rata sedang sampai
tinggi (6,9-23,9 cmol(+)/kg tanah), dengan kandungan Mg dan Na-dapat tukar
dominan. Mg bervariasi tinggi sampai sangat tinggi (3,60-11,70 cmol(+)/kg
tanah), dan Na sedang sampai sangat tinggi (0,33-2,40 cmol(+)/kg tanah).
Sebaliknya kandungan Ca dan K-dapat tukar lebih rendah, yaitu Ca bervariasi
rendah sampai sedang (2,79-9,20 cmol(+)/kg tanah), dan K 0,20-0,48 cmol(+)/kg
tanah.

Kapasitas tukar kation gambut umumnya sangat tinggi (65,0-88,1
cmol(+)/kg tanah), dengan kejenuhan basa SMP bergambut dari Sumatera
termasuk sedang (36%), sementara yang berasal dari Kalimantan termasuk
rendah (24%). Kejenuhan AI bervariasi dari rendah sampai tinggi (30-69%),
sementara kandungan pint (FeS2) pada lapisan gambut permukaan ini termasuk
sangat rendah (0,33-0,46%).

8
2

Tabel 2.8. Sifat-sifat tanah gambut pada lahan pasang surut

SMP bergambut

Gambut dangkal

Gambut sedang

Gambut dalam

Gambut sangat dalam

Sifat-sifat tanah Pulau

Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh

Sum

62

49

56

25

12

Jumlah profil

Kal

23

56

35

9

19

Sum SiC

SiC

C

SiC

SiC

Tekstur

Kal

hC-SiC

hC

hC

hC

hC

Sum 3,9 sms 3,8 sms 4,1 sms 4,0 sms

4,0 sms 3,8 sms

3,6 sms 3,7 sms

3,6 sms 3,4 me

pH H2O (1:5)

Kal

3,9 sms 3,8 sms 3,8 sms 3,8 sms

4,0 sms 3,6 sms

3,6 sms 3,6 sms

3,2 me

3,4 me

Sum 0,3 sr

2,0 sr

0,4 sr

1,3 sr

0,5 sr

1,6 sr

0,2 sr

0,5 sr

0,2 sr

0,8 sr

Daya hantar
listrik (dS/m)

Kal

0,1 sr

0,6 sr

0,8 sr

1,1 sr

0,8 sr
Sum 34,17 sts 5,71 st 41,98 sts 29,87 sts 47,20 sts 32,57 sts 56,98 sts 53,09 sts 56,39 sts 44,70 sts

Karbon-organik
(%)

Kal

26,03 sts 7,87 st 38,86 sts 28,70 sts 36,28 sts 31,36 sts 45,39 sts 35,15 sts 55,49 sts 47,23 sts

Sum 0,98 st 0,11 r

1,50 st 1,21 st

1,78 st 1,10 st

1,94 st 1,40 st

2,02 st

1,16 st

Nitrogen (%)

Kal

1,09 st 0,21 sd 1,34 st 0,74 t

1,46 st 0,72 t

1,54 st 0,95 st

1,43 st

1,06 st

Sum 31 st

25 t

31 st

30 st

28 st

37 st

30 st

41 st

29 st

40 st

Rasio C/N

Kal

25 st

32 st

31 st

40 st

29 st

46 st

31 st

41 st

45 st

48 st

Sum 38 sd

8 sr

50 t

16 r

42 t

15 r

65 st

20 r

41 t

9 sr

P2O5-HCl
(mg/100 g tnh) Kal

94 st

24 sd

46 t

31 sd

58 t

16 r

49 t

34 sd

22 sd

23 sd

Sum 27 sd

29 sd

33 sd

16 r

21 sd

19 r

59 t

33 sd

54 r

26 sd

K2O-HCl (mg/100
g tnh)

Kal

15 r

17 r

19 r

14 r

24 sd

14 r

41 t

21 sd

19 r

12 r

Sum 38,8 st 13,4 r

19,4 sd 17,9 sd

13,2 r

23,4 sd

11,2 r

5,3 sr

P2O5-Bray-I (ppm)

Kal

65,1 st 13,2 r

71,8 st 30,7 t

32,3 t

18,6 sd

57,5 st 41,5 st

34,3 t

25,9 sd

Sum 23,9 t

17,7 t

29,7 t

21,8 t

51,5 sts 39,8 st

22,7 t

21,7 t

14,8 t

9,0 sd

Jumlah basa
[cmol(+)/kg tnh] Kal

6,9 sd

8,5 sd

9,0 sd

8,1 sd

7,8 sd

5,5 r

4,4 r

4,4 r

3,4 r

4,1 r

Sum 9,20 sd 6,13 sd 12,03 t 7,20 sd

15,38 t 12,23 t

4,79 r

6,05 sd

8,09 sd 2,24 r

Ca-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

2,79 r

2,08 r

3,70 r

2,46 r

5,18 r

2,22 r

2,06 r

1,46 sr

1,07 sr

1,71 sr

Sum 11,70 st 8,83 st 14,21 st 11,64 st

25,60 sts 16,36 sts 7,19 t

7,87 t

4,66 t

5,34 t

Mg-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

3,60 t

5,74 t

3,73 t

4,26 t

2,10 t

2,70 t

1,86 sd 2,37 t

1,86 sd 1,87 sd

Sum 0,48 sd 0,41 sd 0,76 sd 0,60 sd

0,92 t

0,87 t

1,16 st 0,68sd

1,24 st

0,47 sd

K-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

0,20 r

0,18 r

0,61 sd 0,28 r

0,25 r

0,16 r

0,21 r

0,20 r

0,26 r

0,15 r

Sum 2,40 st 2,60 st 2,68 st 2,46 st

5,99 sts 7,80 sts

1,97 st 3,28 st

1,79 st

0,90 t

Na-dapat tukar
[cmol(+)/kg tnh] Kal

0,33 sd 0,58 sd 0,94 t

1,13 st

0,26 r

0,42 sd

0,24 r

0,32 sd

0,19 r

0,41 sd

L
a
h
a
n
R
a
w
a
P
a
s
a
n
g
S
u
r
u
t

8
3

SMP bergambut

Gambut dangkal

Gambut sedang

Gambut dalam

Gambut sangat dalam

Sifat-sifat tanah Pulau

Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh Lap. Atas Lap. Bwh

Sum 88,1 st 32,2 t

100,7 sts 72,9 st

120,4 sts 84,4 st

115,5 sts 123,9 sts 128,9 sts 134,2 sts

KTK-pH 7
[cmol(+)/kg tnh] Kal

65,0 st 34,5 t

91,2 st 84,5 st

78,8 st 73,2 st

104,1 sts 73,6 st

121,5 sts 113,2 sts

Sum 36 sd

54 sd

37 sd

40 sd

43 sd

57 sd

15 sr

18 sr

10 sr

15 sr

Kejenuhan basa
(%)

Kal

24 sr

25 r

15 sr

12 sr

14 sr

11 sr

5 sr

21 r

3 sr

5 sr

Sum 30 r

37 r

23 r

33 r

7 sr

14 sr

10 sr

22 r

Kejenuhan Al (%)

Kal

69 t

66 t

60 sd

73 t

45 sd

68 t

59 sd

56 sd

Sum 0,46 sr 1,87 r

1,20 sr 0,93 sr

0,64 sr 0,89 sr

0,26 sr

1,07 sr

0,27 sr

0,60 sr

Pirit (%)

Kal

0,33 sr 0,76 sr

Catatan:
Tekstur, pH-H2O, dan masing-masing kandungan sifat/hara dihitung berdasarkan rata-rata (averages) dari semua profil yang dievaluasi.
Tekstur: SiC = liat berdebu; C = liat; hC = liat berat (heavy clay).
pH-H2O: me = masam ekstrim (extremely acid) (pH:3,5 atau kurang); sms = sangat masam sekali (excessively acid) (pH:3,6-4,5).
Kandungan sifat/hara ; sr = sangat rendah; r = rendah; sd = sedang; t = tinggi; st = sangat tinggi; dan sts = sangat tinggi sekali.
Sum = Sumatera; Kal = kalimantan.

S
u
b
a
g
y
o

Lahan Rawa Pasang Surut

84

Di bawah lapisan gambut permukaan terdapat tanah mineral dengan
kedalaman bervariasi antara 40-175 cm. Kandungan fraksi liat tanah mineral
bawah bervariasi antara 18-80%, dan debu 20-95%, sehingga tekstur tanahnya
termasuk liat berdebu sampai liat (berat) (heavy clay). Reaksi tanah bevariasi
antara masam ekstrim sampai sangat masam, dan rata-ratanya sangat masam
sekali (pH 3,8). Kandungan garam, dinyatakan sebagai daya hantar listrik
termasuk sangat rendah (0,6-2,0 dS/m).

Kandungan bahan organik bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi,
dengan rata-rata sangat tinggi (5,71-7,87%). Kandungan N rata-rata rendah
sampai sedang (0,11-0,21%). Rasio C/N umumnya beragam tinggi sampai
sangat tinggi (25-32).

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI) pada sebagian besar contoh dari
Sumatera bervariasi dari sangat rendah sampai rendah, dengan rata-rata sangat
rendah (8 mg/100 g tanah). Sementara P2O5 (HCI) dari Kalimantan, umumnya
termasuk sedang (24 mg/100 g tanah). Kandungan K2O potensial, pada contoh
dari Sumatera tergolong sedang (29 mg/100 g tanah), sementara yang dari
Kalimantan tergolong rendah (17 mg/100 g tanah). Kandungan fosfat tersedia
(P2O5-Bray-I) umumnya termasuk rendah (13,2-13,4 ppm).

Jumlah basa pada SMP bergambut dari Sumatera, sebagian besar
bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi sekali, dengan rata-rata termasuk
tinggi (17,7 cmol(+)/kg tanah). Sedangkan jumlah basa tanah dari Kalimantan,
umumnya tergolong sedang (8,5 cmol(+)/kg tanah). Basa dapat tukar yang relatif
dominan adalah Mg dan Na, masing-masing bervariasi dari tinggi sampai sangat
tinggi (5,74-8,83 cmol(+)/kg tanah), dan sedang sampai sangat tinggi (0,58-2,60
cmol(+)/kg tanah). Ca dan K-dapat tukar masing-masing tergolong rendah sampai
sedang, yaitu 2,08-6,13 cmol(+)/kg tanah untuk C-dapat tukar, dan 0,18-0,41
cmol(+)/kg tanah untuk K-dapat tukar.

Kapasitas tukar kation tanah termasuk tinggi (32,2-34,5 cmol(+)/kg tanah),
dengan kejenuhan basa bervariasi lebar dari sangat rendah sampai sangat tinggi
pada SMP-bergambut dari Sumatera, dengan rata-rata sedang (54%). Sementara
kejenuhan basa tanah dari Kalimantan bervariasi dari sangat rendah sampai
sedang, sehingga rata-ratanya termasuk rendah (25%). Kejenuhan AI dan
kandungan pirit (FeS2) pada contoh dari Sumatera berturut-turut rendah, 37%,

Subagyo

85

dan 1,87%, sedangkan kejenuhan AI dan kandungan pirit dari Kalimantan
berturut-turut tergolong tinggi (66%) dan sangat rendah (0,76%).

b. Tanah gambut

Gambut-dangkal

Gambut-dangkal yang dievaluasi, tercatat mempunyai kedalaman sekitar
50-100 cm. Lapisan gambut bagian atas sedalam 20 cm, umumnya terdiri atas
bahan gambut murni, tetapi lapisan gambut bagian bawah antara 20-100 cm,
seringkali bercampur bahan tanah mineral, yang dicrikan oleh kandungan fraksi
liat cukup tinggi (15-80%) pada contoh dari Sumatera, atau sangat tinggi (50--
85%) pada contoh tanah dari Kalimantan, sehingga masing-masing tanah
bertekstur liat atau liat berat (Tabel 2.8).

Kandungan bahan organik, dinyatakan sebagai % C-organik, bervariasi
dari sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali, sehingga rata-ratanya sangat tinggi
sekali (28,70-41,98%), baik di lapisan atas (0-20 cm) maupun lapisan bawah (20-
100 cm). Kandungan N bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi, cenderung
tetap atau sedikit menurun ke lapisan bawah, dengan rata-rata sangat tinggi
(1,34-1,50%) di lapisan atas, dan tinggi sampai sangat tinggi (0,74-1,21%) di
lapisan bawah. Rasio C/N umumnya bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi,
dengan rata-rata sangat tinggi (30-40) di semua lapisan.

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCl) rata-rata tinggi (46-50 mg/100 g
tanah) di lapisan atas dan menurun menjadi rendah sampai sedang (16-31
mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Sementara kandungan K2O potensial, rendah
sampai sedang (19-33 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan rendah (14-16
mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Kandungan P-tersedia (P-Bray I) termasuk
sedang (17,9-19,4 ppm) di seluruh lapisan, seperti contoh dari Sumatera, tetapi
tinggi sampai sangat tinggi (30,7-71,8 ppm) untuk contoh dari Kalimantan.
Kandungan hara P2O5, K2O, dan P-tersedia di lapisan atas relatif selalu lebih
tinggi daripada kandungan hara yang sama di lapisan bawah.

Lahan Rawa Pasang Surut

86

Jumlah basa-basa dapat tukar Gambut-dangkal dari Sumatera, bervariasi
dari sangat rendah sampai sangat tinggi di seluruh lapisan, dan cenderung
menurun di lapisan bawah, dengan rata-rata termasuk tinggi (21,8-29,7
cmol(+)/kg tanah) di kedua lapisan. Sementara basa-basa dapat tukar contoh dari
Kalimantan, bervariasi sangat rendah sampai sangat tinggi, dengan rata-rata
termasuk sedang (8,1-9,0 cmol(+)/kg tanah). Basa yang dominan adalah Mg dan
Na, di lapisan atas dan bawah dengan rata-rata sangat tinggi, berturut-turut
11,64-14,21 Mg dan 2,46-2,68 cmol(+) Na/kg tanah pada contoh dari Sumatera,
dan rata-rata tinggi, 3,73-4,26 cmol(+)Mg/kg tanah, dan tinggi sampai sangat
tinggi (0,94-1,13 cmol(+)Na/kg tanah) pada contoh dari Kalimantan. Kandungan
Ca-dapat tukar rata-rata sedang sampai tinggi (7,20-12,03 cmol(+)/kg tanah)
pada contoh dari Sumatera, dan rendah (2,46-3,70 cmol(+)/kg tanah) pada
contoh tanah dari Kalimantan. Sementara kandungan K-dapat tukar, rata-rata
sedang (0,60-0,76 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan rendah sampai sedang
(0,28-0,60 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah. Kandungan basa Ca, Mg, K, dan
Na di lapisan atas umumnya selalu lebih tinggi dibandingkan dengan unsur yang
sama di lapisan bawah.

Kapasitas tukar kation tanah gambut di seluruh lapisan umumnya
bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi sekali, dengan rata-rata di kedua
lapisan termasuk sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (72,9-100,7 cmol(+)/kg
tanah) pada gambut dari Sumatera, dan sangat tinggi (84,5-91,2 cmol(+)/kg
tanah) pada gambut Kalimantan. Kejenuhan basa di kedua lapisan termasuk
sedang (37-40%), dengan kejenuhan Al rendah (23-33%) pada gambut
Sumatera, sementara nilainya untuk gambut Kalimantan termasuk sangat rendah
(12-15%) dan sedang sampai tinggi (60-73%). Kandungan pirit (FeS2), yang
datanya hanya tersedia untuk gambut Sumatera, termasuk sangat rendah (0,93-
1,20%), baik di lapisan atas maupun lapisan bawah.

Gambut-sedang

Data profil pada Gambut-sedang yang dievaluasi, mempunyai kedalaman
antara 104-200 cm. Sebagaimana pada Gambut-dangkal, lapisan gambut bagian
atas sedalam 20 cm, umumnya terdiri atas bahan gambut murni. Sementara
lapisan gambut bawah antara 20-200 cm, di bagian bawah sering bercampur
bahan tanah mineral, yang dicirikan oleh kandungan fraksi liat dan debu cukup

Subagyo

87

tinggi, yaitu 30-70% dan 30-95% pada gambut dari Sumatera, atau kandungan
liat sangat tinggi (45-85%) dan debu sedang (20-50%) pada gambut dari
Kalimantan, sehingga lapisan bawahnya masing-masing bertekstur liat berdebu,
atau liat berat (Tabel 2.8). Reaksi gambut di seluruh lapisan umumnya sangat
masam sekali, dan cenderung menurun di lapisan-lapisan bawah. Reaksi gambut
lapisan atas lebih tinggi (pH rata-rata 4,0) dibandingkan dengan gambut lapisan
bawah (pH rata-rata 3,6-3,8). Kandungan garam-garam larut, dinyatakan sebagai
daya hantar listrik sangat rendah (rata-rata 0,5-1,6 dS/m), di seluruh lapisan
(Tabel 2.8).

Kandungan bahan organik, di seluruh lapisan bervariasi dari sangat tinggi
sampai sangat tinggi sekali, dengan rata-rata sangat tinggi sekali (31,36-47,20%
C). Kandungan N di semua lapisan umumnya bervariasi dari sedang sampai
sangat tinggi dan menurun di lapisan bawah. Oleh karena itu, rata-rata
kandungan N sangat tinggi (1,46-1,78%) di lapisan atas, dan tinggi sampai
sangat tinggi (0,72-1,10%) di lapisan bawah. Rasio C/N di seluruh lapisan,
dominan bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi, dan cenderung meningkat di
lapisan-lapisan bawah, dengan rata-rata rasio C/N sangat tinggi (28-46) di
seluruh lapisan.

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCl) di seluruh lapisan bervariasi dari
rendah sampai sangat tinggi, dan cenderung menurun di lapisan-lapisan bawah.
Dengan demikian, rata-rata kandungan P2O5 tergolong tinggi (42-58 mg/100 g
tanah) di lapisan atas, dan rendah (15-16 mg/100 g tanah) di lapisan bawah.
Kandungan K2O potensial, beragam dari sangat rendah sampai sangat tinggi, dan
menurun di lapisan-lapisan bawah, dengan rata-rata termasuk sedang (21-24
mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan rendah (14-19 mg/100 g tanah) di lapisan
bawah. Kandungan fosfat tersedia (P2O5-Bray I) di seluruh lapisan, baik pada
gambut Sumatera maupun Kalimantan, sama bervariasi dari sangat rendah
sampai sangat tinggi, tetapi variasinya pada gambut Sumatera lebih kecil (2-27
ppm) dibandingkan dengan gambut Kalimantan, 2-100 ppm, dan cenderung
menurun di lapisan bawah. Oleh karena itu, rata-rata P-tersedia pada gambut
Sumatera rendah (13,2 ppm) di lapisan atas, dan sedang (23,4 ppm) di lapisan
bawah. Sementara pada gambut Kalimantan, rata-rata P-tersedia tinggi (32,3
ppm) di lapisan atas, dan sedang (18,6 ppm) di lapisan bawah. Kandungan P2O5
dan K2O potensial, serta P2O5-tersedia di lapisan atas relatif selalu lebih tinggi
dibandingkan dengan kandungan hara yang sama di lapisan-lapisan bawah.

Lahan Rawa Pasang Surut

88

Jumlah basa-basa dapat tukar juga ada perbedaan antara gambut dari
Sumatera dan gambut dari Kalimantan. Jumlah basa di seluruh lapisan gambut
Sumatera bervariasi dari sangat rendah sampai sangat tinggi sekali, lebih tinggi
dibandingkan dengan variasi sangat rendah sampai tinggi pada gambut
Kalimantan. Oleh karena itu, rata-rata jumlah basa gambut Sumatera termasuk
sangat tinggi sekali (51,5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan sangat tinggi
(39,8 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah. Sementara gambut Kalimantan
memiliki rata-rata jumlah basa-basa sedang (7,8 cmol(+)/kg tanah) di lapisan
atas, dan rendah (5,5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.

Perbedaan jumlah basa pada kedua gambut tersebut, juga tercermin pada
kandungan basa-basa dapat tukar. Basa-basa yang dominan, sebagaimana pada
tanah rawa sebelumnya, adalah Mg dan Na, yang pada gambut Sumatera rata-
rata sangat tinggi sekali di lapisan atas dan bawah, yaitu 16,36-25,60 cmol(+)/kg
tanah untuk Mg, dan 5,99-7,80 cmol(+)/kg tanah) untuk Na. Sementara pada
gambut Kalimantan, rata-rata kandungan basa-basa di kedua lapisan gambut
adalah tinggi (2,10-2,70 cmol(+)/kg tanah) untuk Mg, dan rendah (0,26 cmol(+)/kg
tanah) di lapisan atas serta sedang (0,42 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah
unruk Na. Kandungan Ca dan K-dapat tukar rata-rata pada gambut Sumatera
masing-masing tinggi, yaitu 12,23-15,38 cmol(+)/kg tanah dan 0,87-0,92
cmol(+)/kg tanah baik pada lapisan atas, maupun lapisan bawah. Sedangkan
pada gambut Kalimantan, rata-rata kandungannya di kedua lapisan semuanya
rendah, baik untuk Ca (5,18-2,22 cmol(+)/kg tanah) maupun untuk K (0,16-0,25
cmol(+)/kg tanah).

Kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut dari kedua pulau di seluruh
lapisan bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi sekali (20-195 cmol(+)/kg
tanah, dan cenderung sedikit menurun di lapisan bawah. Oleh karena itu, rata-
rata KTK gambut di lapisan atas termasuk sangat tinggi sampai sangat tinggi
sekali (78,8-120,4 cmol(+)/kg tanah), dan di lapisan bawah sangat tinggi (73,2-
84,4 cmol(+)/kg tanah). Kejenuhan basa (KB) dan kejenuhan Al di seluruh lapisan
gambut dari Sumatera, masing-masing tergolong sedang (43-57%) dan sangat
rendah (7-14%). Sedangkan KB pada gambut Kalimantan, tergolong sangat
rendah (11-14%) di seluruh lapisan, dengan kejenuhan Al termasuk sedang
(45%) di lapisan atas, dan tinggi (68%) di lapisan bawah. Data kandungan pirit
(FeS2), yang datanya hanya tersedia pada gambut Sumatera, termasuk sangat
rendah (0,64-0,89%), baik di lapisan gambut atas maupun di lapisan bawah.

Subagyo

89

Gambut-dalam

Data profil dari Gambut-dalam yang dievaluasi, memiliki kedalaman antara
210-300 cm. Sebagaimana pada Gambut-sedang, seluruh lapisan gambut bagian
atas sedalam 20 cm tersusun dari bahan gambut murni. Sementara lapisan
gambut bawah antara 20-300 cm, sebagian kecil di lapisan bawah tersusun dari
campuran antara bahan organik dan bahan tanah mineral, khususnya fraksi liat
dan debu. Pada Gambut-dalam dari Sumatera, kandungan liat dan debu tanah
mineralnya masing-masing berkisar antara 31-65% dan 34-69%, sehingga tanah
mineral tersebut mempunyai tekstur liat berdebu. Sementara pada Gambut-dalam
dari Kalimantan, kandungan liat tanah mineralnya sedikit lebih tinggi (34-73%),
dengan fraksi debu lebih rendah (27-62%), sehingga menunjukkan tekstur liat.
Nilai pH gambut di seluruh lapisan, bervariasi dari <3,5 (masam ekstrim) sampai
4,5 (sangat masam sekali), relatif tidak berubah, atau sedikit meningkat di
lapisan-lapisan bawah. Rata-rata reaksi tanah adalah sangat masam sekali (pH
3,6-3,7) di seluruh lapisan. Kandungan garam-garam larut, dinyatakan sebagai
daya hantar listrik, sangat rendah (rata-rata 0,2-0,5 dS/m) di seluruh lapisan
gambut (Tabel 2.8).

Kandungan bahan organik di seluruh lapisan sangat tinggi sekali, baik pada
gambut Sumatera maupun gambut Kalimantan, dan relatif tidak berubah ke
lapisan-lapisan di bawahnya dengan rata-rata 35,15-56,98% di seluruh lapisan.
Kandungan N juga tergolong sangat tinggi di seluruh lapisan, dengan rata-rata
0,95-1,94%. Demikian juga nilai rasio C/N sangat tinggi, pada semua lapisan
gambut, dengan rata-rata 30-41.

Kandungan P2O5 potensial (P2O5-HCl) pada lapisan atas sekitar 50 cm,
umumnya bervariasi dari sangat rendah sampai sangat tinggi, dan menurun
menjadi sangat rendah sampai sedang di lapisan-lapisan gambut bawah, dengan
rata-rata tinggi sampai sangat tinggi (49-65 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan
rendah sampai sedang (20-34 mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Kandungan
K2O potensial (K2O-HCl) mirip dengan penyebaran P2O5 potensial, yaitu relatif
tinggi pada lapisan atas gambut sedalam sekitar 50 cm, kemudian menurun di
lapisan-lapisan bawah. Rata-rata kandungan K2O potensial tersebut termasuk
tinggi (41-59 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sedang (21-33 mg/100 g
tanah) di lapisan bawah. Kandungan P2O5-tersedia, pada gambut Sumatera, rata-

Lahan Rawa Pasang Surut

90

rata rendah (11,2 ppm) di lapisan atas, dan sangat rendah (5,3 ppm) di lapisan
bawah. Sementara kandungan P2O5-tersedia gambut Kalimantan lebih baik, yaitu
rata-rata sangat tinggi (41,5-57,5 ppm) di seluruh lapisan.

Jumlah basa-basa dapat tukar pada Gambut-dalam dari Sumatera
tampaknya lebih baik, dibandingkan dengan Gambut-dalam dari Kalimantan.
Jumlah basa di dalam profil-profil tanah gambut Sumatera, bervariasi dari sangat
rendah sampai sangat tinggi sekali, dengan rata-rata tinggi (21,7-22,7 cmol(+)/kg
tanah) di lapisan atas dan bawah. Hal ini tercermin juga oleh kandungan Mg dan
Na pada lapisan atas dan bawah tergolong tinggi (7,19-7,87 cmol(+)/kg tanah)
dan sangat tinggi (1,97-3,28 cmol(+)/kg tanah). Sementara rata-rata kandungan
Ca-dapat tukar rendah (4,79 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan sedang (6,05
cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah; dan kandungan K-dapat tukar rata-rata
sangat tinggi (1,16 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan sedang (0,68
cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.

Kandungan basa-basa tanah gambut dari Kalimantan lebih rendah,
sebarannya di dalam profil bervariasi dari sangat rendah sampai sedang, dengan
rata-rata rendah (4,35-4,37 cmol(+)/kg tanah) di semua lapisan. Kation Mg dan
Na di lapisan atas dan lapisan bawah, masing-masing terdapat dalam jumlah
sedang (1,86 cmol(+)/kg tanah) dan tinggi (2,37 cmol(+)/kg tanah), serta rendah
(0,24 cmol(+)/kg tanah) dan sedang (0,32 cmol(+)/kg tanah). Sementara
kandungan rata-rata Ca-dapat tukar tergolong rendah (2,06 cmol(+)/kg tanah) di
lapisan atas, dan sangat rendah (1,46 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.
Sedangkan kandungan K-dapat tukar termasuk rendah (0,20-0,21 cmol(+)/kg
tanah), baik di lapisan atas maupun di lapisan bawah.

Kapasitas tukar kation gambut tergolong sangat tinggi sampai sangat tinggi
sekali (73,6-123,9 cmol(+)/kg tanah), dengan kejenuhan basa sangat rendah
sampai rendah (5-21%) di seluruh lapisan. Kejenuhan Al gambut Sumatera
sangat rendah (10%) dan rendah (22%) pada lapisan atas dan bawah, dan
kejenuhan Al gambut Kalimantan termasuk sedang (56-59%) di lapisan atas dan
lapisan bawah. Data kandungan pirit (FeS2) yang datanya hanya tersedia pada
Gambut dalam dari Sumatera sangat rendah (0,26-1,07%), baik di lapisan
gambut atas maupun lapisan gambut bawah.

Subagyo

91

Gambut-sangat dalam

Data profil Gambut-dalam memiliki kedalaman antara 300-665 cm,
sebagian besar antara 300-500 cm, dan sebagian lagi antara 610-665 cm.
Seluruh lapisan Gambut-sangat dalam berupa bahan organik murni.

Kandungan bahan organik di semua lapisan sangat tinggi sekali, baik pada
gambut Sumatera maupun gambut Kalimantan, dan relatif tidak berubah di
lapisan-lapisan di bawahnya, dengan rata-rata tergolong sangat tinggi sekali
(44,70-56,39%) di semua lapisan. Kandungan N juga bervariasi sangat tinggi di
seluruh lapisan gambut, dengan rata-rata sangat tinggi (1,06-2,02%). Demikian
juga nilai rasio C/N terdapat sangat tinggi pada semua lapisan gambut, dengan
rata-rata sangat tinggi (C/N 29-48). Kandungan garam-garam larut sangat rendah
dengan rata-rata 0,2-0,8 dS/m di seluruh lapisan. (Tabel 2.8).

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCl) pada gambut Sumatera, bervariasi
dari rendah sampai sangat tinggi di lapisan atas, dan sangat rendah sampai
rendah di lapisan bawah, dengan rata-rata tinggi (41 mg/100 g tanah) di lapisan
atas, dan sangat rendah (9 mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Sementara P2O5
potensial gambut dari Kalimantan, bervariasi dari rendah sampai tinggi di seluruh
lapisan, dengan rata-rata sedang (22-23 mg/100 g tanah). Kandungan K2O
potensial, pada gambut Sumatera bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi di
lapisan atas, dan sangat rendah sampai sedang di lapisan-lapisan bawah,
dengan rata-rata tinggi (54 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sedang (26
mg/100 g tanah) di lapisan bawah. Kandungan K2O potensial gambut Kalimantan
sangat rendah sampai rendah/sedang di seluruh lapisan, dengan rata-rata
tergolong rendah (12-19 mg/100 g tanah). Kandungan fosfat tersedia (P2O5-Bray
I) hanya tersedia data dari gambut Kalimantan, yang bervariasi dari rendah
sampai sangat tinggi di lapisan atas, tetapi kemudian menurun menjadi sangat
rendah sampai tinggi, dan seterusnya sangat rendah sampai rendah di lapisan-
lapisan di bawahnya. Rata-rata kandungan P-tersedia termasuk tinggi (34,3 ppm)
di lapisan atas dan sedang (25,9 ppm) di lapisan bawah.

Jumlah basa-basa dapat tukar pada Gambut-sangat dalam dari Sumatera
tampaknya lebih baik, dibandingkan dengan Gambut-sangat dalam dari
Kalimantan. Di dalam profil-profil tanah gambut Sumatera, jumlah basa di seluruh

Lahan Rawa Pasang Surut

92

lapisan bervariasi dari sangat rendah sampai tinggi, dengan rata-rata tinggi (14,8
cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas dan sedang (9,0 cmol(+)/kg tanah) di lapisan
bawah. Kandungan basa-basa gambut dari Kalimantan lebih rendah, menyebar di
seluruh lapisan, sebagian besar bervariasi sangat rendah sampai rendah, dengan
rata-rata rendah (3,4-4,1 cmol(+)/kg tanah).

Kandungan ion dominan adalah Mg dan Na, dimana kandungan Mg dan
Na pada gambut Sumatera berturut-turut tinggi (4,66-5,34 cmol(+)/kg tanah) dan
tinggi sampai sangat tinggi (0,90-1,79 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan.
Sementara rata-rata kandungan Ca-dapat tukar tergolong sedang (8,09
cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan rendah (2,24 cmol(+)/kg tanah) di lapisan
bawah. Kandungan K-dapat tukar rata-rata sangat tinggi (1,24 cmol(+)/kg tanah)
di lapisan atas, dan sedang (0,47 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.

Rata-rata kandungan Mg-dapat tukar pada gambut Kalimantan, termasuk
sedang (1,86-1,87 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan, sementara rata-rata Na-
dapat tukar rendah (0,19 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan sedang (0,41
cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah. Kandungan rata-rata Ca dan K-dapat tukar,
berturut-turut tergolong sangat rendah (1,07-1,71 cmol(+)/kg tanah), dan rendah
(0,15-0,26 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan.

Kapasitas tukar kation gambut tergolong sangat tinggi sekali (113,2-134,2
cmol(+)/kg tanah), dengan kejenuhan basa sangat rendah (3-15%) di seluruh
lapisan. Kejenuhan Al yang datanya hanya tersedia untuk gambut Kalimantan,
termasuk rendah (34%) di lapisan atas, dan sedang (46%) di lapisan bawah. Data
kandungan pint (FeS2) yang datanya hanya tersedia untuk gambut dari Sumatera
sangat rendah (0,27-0,60%), baik di lapisan gambut atas maupun lapisan gambut
bawah.

PENUTUP

Dalam dua-tiga dekade terakhir, akibat pertambahan penduduk yang masih
cukup tinggi, 1,5%/tahun, di Pulau Jawa yang kini dihuni sekitar 150 juta orang,
dan pesatnya pertumbuhan komplek industri, prasarana jalan, dan pembangunan
komplek perumahan dan ”real estate”, telah terjadi tuntutan permintaan lahan
yang luar biasa, khususnya di Jawa dan Bali, dan sekitar kota-kota besar di Luar

Subagyo

93

Jawa. Sebagai dampaknya terjadilah konversi lahan pertanian, di mana ”the
prime lands
” yang berupa lahan irigasi dan lahan pertanian lainnya yang relatif
subur berubah fungsi untuk penggunaan berbagai keperluan non-pertanian.
Kontribusi produksi padi dari Jawa terhadap produksi padi nasional yang sampai
tahun 1995, sekitar 59-60%, dewasa ini cenderung makin menurun. Untuk
mendukung ketahanan pangan, pengembangan agribisnis, dan penciptaan
lapangan kerja, pengembangan pertanian ke depan, termasuk perluasan lahan
pertanian baru, harus di arahkan pada lahan-lahan yang ada di luar Jawa.

Pilihan sumberdaya lahan yang tersedia untuk tujuan ini, adalah lahan
kering dan lahan rawa. Sifat-sifat dominan lahan kering, yang luasnya
diperkirakan 47 juta ha, umumnya bersifat masam dengan kesuburan alami yang
rendah. Lahan kering ini, yang umumnya didominasi oleh tanah Ultisols dan
Oxisols, berdasarkan pengalaman dua dekade terakhir, nampaknya kurang
sesuai untuk usaha pertanian tanaman pangan, tetapi lebih sesuai untuk
budidaya tanaman tahunan/perkebunan.

Di sisi lain, di luar Jawa masih tersedia lahan rawa seluas sekitar 33-39 juta
ha lahan rawa, yang terdiri atas 20,1-25,8 juta ha lahan rawa pasang surut, dan
sekitar 13,3 juta ha lahan rawa lebak, yang sejak tahun 1970-an telah berhasil di
reklamasi untuk pertanian seluas sekitar 5,4 juta ha. Selama bertahun-tahun,
melalui proses ”trials and erors”, para petani lahan rawa, baik penduduk setempat
maupun petani transmigran, telah cukup banyak memiliki pengetahuan
bagaimana cara mengelola lahan rawa untuk dijadikan areal persawahan yang
produktif. Hasil penelitian dan pengalaman memperlihatkan bahwa dengan
pengelolaan yang tepat, sesuai dengan karakteristiknya, melalui penerapan Iptek
yang benar, maka lahan rawa yang termasuk lahan marjinal dengan tingkat
kesuburan alami yang rendah, dapat dijadikan areal pertanian produktif.

Lahan rawa yang merupakan lahan basah, atau ”wetland”, adalah salah
satu aset sumberdaya tanah nasional yang semakin penting peranannya di masa
mendatang. Pengembangan laha rawa untuk pertanian, selain memiliki potensi
dan prospek yang besar, juga menghadapi berbagai masalah/kendala, baik
biofisik, sosial ekonomi, maupun kelembagaan. Oleh karena itu, untuk pelestarian
sumberdaya dan keberlanjutan pemanfaatannya, pengembangan pertanian di
lahan rawa pada suatu kawasan luas, perlu direncanakan dan ditangani secara
cermat dan hati-hati, dengan memilih teknologi dan pola penerapannya yang
sesuai dengan karakteristik wilayahnya (Alihamsyah, 2001). Kekeliruan dalam

Lahan Rawa Pasang Surut

94

reklamasi dan pengelolaan lahan, sering menghasilkan lahan-lahan tidur yang
sulit/tidak dapat ditanami tanaman pertanian, dan membutuhkan biaya besar
untuk rehabilitasinya, serta sangat sukar untuk memulihkan kembali seperti
kondisi semula.

DAFTAR PUSTAKA

Alihamsyah, T. 2001. Propek pengembangan dan pemanfaatan lahan pasang
surut dalam perspektif eksplorasi sumber pertumbuhan pertanian masa
depan. Dalam I.Ar- Riza, T. Alihamsyah, dan M. Sarwani (Eds.).
Pengelolaan Air dan Tanah di Lahan Pasang Surut. Monograf ISSN 1410-
637 X. Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa. Hlm. 1-18.

Andriesse, J.P. 1997. The reclamation of peatswamps and peat in Indonesia.
Widiatmaka (ed.). Center for Wetland Studies, Faculty of Agric., Bogor
Agric. University.

Bloomfield, C. and J.K. Coulter. 1973. Genesis and management of acid sulphate
soils. p. 265-326. Advances in Agronomy.

BPS, Jakarta - Indonesia. BPS (Badan Pusat Statistik). 2001. Statistik Indonesia
2001. BPS, Jakarta-Indonesia.

Brinkman, R., and L.J. Pons. 1968. A pedo-geomorphologial classification and
map of the holocene sediments in the coastal plain of the three Guianas.
Soil Survey Papers 4, Stiboka, Wageningen.

Cameron, C.C,, Supardi, T.J. Malterer, and J.S. Esterle. 1987. Peat resources
mapping along the Batang Hari river, near Jambi, South Sumatra. lnt. Peat
Soc. Symp. on Tropical Peat and Peatlands, Yogyakarta.

Davis, S.N., P.H. Reitan, and R. Pestrong. 1976. Geology. Our Physical
Environment. McGraw-Hill Book Company. 470 pp.

Dent, D. 1986. Acid Sulphate Soils: A baseline for research and development.
International Land Reclamation Institutes Publ. 39, Wageningen, The
Netherlands.

Diemont, W.H., and L.J. Pons. 1991. A preliminary note on peat formation and
gleying in the Mahakam inland floodplain, East Kalimantan, Indonesia. p.
74-80. In. Aminuddin, B.Y. (ed.). Tropical Peat. Proc. Int. Symp. on Tropical
Peatland, Kuching, Sarawak, Malaysia, 6-10 May 1991.

Holmes, D.L. 1978. Holmes Principles of Physical Geology. A Halsted Press
book. John Wiley & Sons. New York. 730 pp.

Subagyo

95

IPB (Institut Pertanian Bogor). 1969. Laporan Survei ke Daerah Pasang Surut S.
Reteh, Riau. IPB dan P4S Dirjen Pengairan, Dep. PUTL. Desember 1969.

IPB (Institut Pertanian Bogor). 1978a. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah
Daerah Air Saleh, Sub-P4S Sumatera Selatan. IPB-P4S Dirjen Pengairan,
Dep. PUTL. April 1976.

IPB (Institut Pertanian Bogor). 1978b. Soil Surveys and Soil Mapping of
Karangagung Area, Sub-P4S South Sumatra. IPB-Tidal Swampland
Develop. Project, Direct. Gen. Water Resourc. Develop., Ministry of Public
Works and Electric Power. June 1978.

Jansen, J.A.M., H. Prasetyo, Alkasuma, and W. Andriesse. 1990. Landscape
Genesis and Physiography of Pulau Petak as Basis for Soil Mapping.
LAWOO/AARD Scientific Report No. 18. ILRI, Wageningen.

Jaya, A. 2002. Sebaran gambut di Kalimantan Tengah dan kandungan karbon. h.
161-172. Dalam CCFPI (Climate Change, Forests and Peatlands in
Indonesia). 2003. Sebaran Gambut di Indonesia. Seri Prosiding 02.
Wetlands International-Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada.
Bogor.

Konsten, C.J.M., and M. Sarwani. 1990. Actual and potential acidity and related
chemical characteristics of acid sulphate soils in Pulau Petak, Kalimantan.
p. 30-50. In Papers Workshop on Acid Sulphate Soils in the Humid Tropics.
Bogor, 20-22 November 1990. AARD and LAWOO.

Konsten, C.J.M., S. Suping, I B. Aribawa, and I P.G. Widjaja-Adhi. 1990.
Chemical processes in acid sulphate soils in Pulau Petak, South and
Central Kalimantan, Indonesia. p. 109-135. In Papers Workshop on Acid
Sulphate Soils in the Humid Tropics. Bogor, 20-22 November 1990. AARD
and LAWOO.

Konsten, C.J.M., W. Andriesse, and R. Brinkman. 1986. A field laboratory method
to determine total potential and actual acidity in acid sulphate soils. p. 106-
134. In H. Dost (ed.). Selected Papers of the Dakar Symposium on Acid
Sulphate Soils. Dakar, Senegal, January 1986. ILRI publication 44,
Wageningen, The Netherlands.

Langenhoff, R. 1986. Distribution, Mapping, Classification and Use of Acid
Sulphate Soils in the Tropics. A literature Study. STIBOKA Intern. Comm.
No. 74, Wageningen, The Netherlands.

LPT (Lembaga Penelitian Tanah). 1969. Survey Tanah Delta Kapuas, Kalimantan
Barat, 1968-1969. Dokumen LPT No. 7/1969. Direktorat Jenderal
Pertanian, Departemen Pertanian.

Lahan Rawa Pasang Surut

96

LPT (Lembaga Penelitian Tanah). 1974. Survey dan pemetaan Tanah Daerah S.
Enok-Delta S. Retih, Riau. LPT, Dep. Pertanian dan P4S Dirjen Pengairan,
Dep. PUTL. Publ. LPT No. 3/1975.

LPT (Lembaga Penelitian Tanah). 1975. Survey dan Pemetaan Tanah Daerah
Bunut-Kuala Kampar, Riau. LPT, Dep. Pertanian dan P4S Dirjen
Pengairan, Dep. PUTL. Publ. LPT No. 10/1975.

LPT (Lembaga Penelitian Tanah). 1976a. Survey dan Pemetaan Tanah Daerah
Sungai Rokan, Riau. LPT, Dep. Pertanian dan P4S Dirjen Pengairan, Dep.
PUTL. Publ. LPT No. 5/1976.

LPT (Lembaga Penelitian Tanah). 1976b. Survey dan Pemetaan Tanah Daerah
Sungai Siak, Riau. LPT, Dep. Pertanian dan P4S Dirjen Pengairan, Dep.
PUTL. Publ. LPT No. 6/1976.

Michaelsen, J., and H.L. Phi. 1998. Field experiment in Ly Nhon. p. 71-85. In van
den Bosch, H., H.L. Phi, J. Michaelsen, and K. Nugroho. 1988. Evaluation
of water management strategies for sustainable land use of acid sulphate
soils in coastal lands in the tropics. DLO Winand Staring Centre. Report
157, 177 pp. Wageningen, The Netherlands.

Neuzil, S.G. 1997. Onset and rate of peat and carbon accumulation in four domed
ombrogenous peat deposits, Indonesia. p. 55-72. In Rieley, J.O., and S.E.
Page (Eds.). Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Proceed.
Int. Symp. on Biodiversity, Environmental Importance, and Sustainability of
Tropical Peat and Peatlands, Palangka Raya, 4-8 Sep. 1995.

Pons, L.J. 1970. Acid Sulphate Soils (soils with cat-clay phenomena) and the
Prediction of their Origin from Pyrite Muds. Fysisch. Geograf. en
Bodemkunde. Lab. Publ. No. 16, Amsterdam, The Netherlands.

Pons, L.J., and I.S. Zonneveld. 1965. Soil Ripening and Soil Classification. Initial
soil formation in Alluvial deposits and a classification of the resulting soils.
ILRI Pub. 13, Wageningen, The Netherlands.

Pons, L.J., N. Van Breemen, and P.M. Driessen. 1982. Physiography of coastal
sediments and development of potential soil acidity. p. 1-18. In J.A. Kittrick,
D.S. Fanning, and L.R. Hossner (Eds.) Acid Sulfate Weathering. Soil Sci.
Soc. Am. Spec. Pub. No. 10, Soil Sci. Soc. Am., Madison. WI.

Prasetyo H., J.A.M. Jansen, and Alkasuma. 1990. Landscape and soil genesis in
pulau Petak. p. 1829. In Papers Workshop on Acid Sulphate Soils in the
Humid Tropics. Bogor, 20-22 November 1990. Indonesia.

PPT (Pusat Penelitian Tanah), 1989. Survei dan Pemetaan Tanah Detail Daerah
Pasang Surut Karangagung Tengah, Kab. Musi Banyuasin, Prop.
Sumatera Selatan.

Subagyo

97

Proyek PPLPSR (Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa)-Swamps-
II. 1993a. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa, 1985-1993:
Kontribusi dan prospek pengembangan. Badan Litbang Pertanian, Dep.
Pertanian.

Proyek PPLPSR (Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa)-Swamps-
II. 1993b. Petunjuk Teknis Pengelolaan Sistem Usahatani di Lahan Pasang
Surut. Badan Litbang Pertanian (tidak dipublikasikan).

Proyek PSLPSS (Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut
Sumatera Selatan). 1998. Prospek Pengembangan Sistem Usaha
Pertanian Modern di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan. Laporan Tim
Terpadu. Badan Litbang Pertanian, Dep. Pertanian.

Proyek PSLPSS (Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut
Sumatera Selatan). 1999. Identifikasi dan Karakterisasi Wilayah
Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut di Propinsi
Sumatera Selatan. Tahap II. laporan Tim Terpadu. Badan Litbang
Pertanian, Dep. Pertanian.

Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat). 1997. Laporan Survei dan
Pemetaan Tanah Tinjau Mendalam Daerah Kerja A, Proyek
Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar, untuk Pengembangan
Tanaman Pangan di Kalimantan Tengah. Tim Peneliti Puslittanak
(unpublished) . Hlm 173.

Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat). 1998a. Laporan Survei dan
Pemetaan Tanah Tinjau Mendalam Daerah Kerja B, Proyek
Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar, untuk Pengembangan
Tanaman Pangan di Kalimantan Tengah. Tim Peneliti Puslittanak
(unpublished) . Hlm 142.

Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat). 1998b. Laporan Final Survei
dan Pemetaan Tanah Tinjau Mendalam Daerah Kerja D, Proyek
Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar, untuk Pengembangan
Tanaman Pangan di Kalimantan Tengah. Tim peneliti Puslittanak,
(unpublished). Hlm 131.

Soil Survey Staff. 1975. Soil Taxonomy. A Basic System of Soil Classification for
Making and Interpreting Soi Surveys. Agr. Handb. 436, Soil Conservation
Service-USDA.

Soil Survey Staff. 1999. Soil Taxonomy. A Basic System of Soil Classification for
Making and Interpreting Soil Surveys. Second Edition. Agr. Handb. 436,
Natural Resources Conservation Service-USDA.

Soil Survey Staff. 2003. Keys Soil Taxonomy. Ninth Edition, 2003. Natural
Resources Conservation Service-USDA.

Lahan Rawa Pasang Surut

98

SRI (Soil Research Institute). 1973. Report on soil investigations of the Delta
Pulau Petak, South and Central Kalimantan. Direct. Gen. of Agric., Ministry
of Agric., SRI No. 5/1973.

Strahler, A.N. 1973. Introduction to Physical Geography. Third Edition. John Wiley
& Sons. New York, London, Sydney, Toronto. 468 pp.

Subagyo, H. 2002. Penyebaran dan potensi tanah gambut di Indonesia untuk
pengembangan pertanian. h. 197-227. Dalam CCFPI (Climate Change,
Forests and Peatlands in Indonesia). 2003. Sebaran Gambut di Indonesia.
Seri Prosiding 02. Wetlands International-Indonesia Programme dan
Wildlife Habitat Canada. Bogor.

Sudarsono. 1999. Pemanfaatan dan pengembangan lahan rawa/pasang surut
untuk pengembangan pangan. h. 81-93. Dalam Irsal Las et al. (penyunting)
Prosid. Sem. Nas. Sumberdaya Lahan, Cisarua-Bogor, 9-11 Pebruari
1999. Buku 1. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Van Bremen, N. 1973. Soil forming processes in acid sulphate soils. p. 66-130. In
Dost, H. (ed.). Acid Sulphate Soils. I. Introductory Papers and Bibliography.
Proc. Intern. Symp., 13-20 August 1972, Wageningen, The Netherlands.

Van Dam, D., and L.J. Pons. 1973. Micropedological observations on pyrite and
its pedological reaction products. p. 169-196. In Dost, H. (ed.). Acid
Sulphate Soils. II. Research Papers. Proc. Intern. Symp., 13-20 August
1972, Wageningen, The Netherlands.

Van Wijk, A.L.M., I P.G. Widjaja-Adhi, C.J. Ritsema, and C.J.M. Konsten. 1992. A
simulation model for acid sulphate soils, II. Validation and application. p.
357-367. In D.L. Dent, and M.E.F. van Mensvoort (ed.). Selected Papers of
the Ho Chi Minh City Symp. on Acid Sulphate Soils, Vietnam, March 1992.
ILRI publ. 53, Wageningen, The Netherlands.

Widjaja-Adhi, I P.G. 1995a. Potensi, Peluang, dan Kendala Perluasan Areal
Pertanian di Lahan Rawa di Kalimantan dan Irian Jaya. Sem. Perluasan
Areal Pertanian di KTI. PIl, Serpong 7-8 November 1995 (tidak dipublikasi).

Widjaja-Adhi, I P.G., K. Nugroho, Didi Ardi S., dan A.S. Karama. 1992.
Sumberdaya lahan rawa: Potensi, keterbatasan, dan pemanfaatan. h. 19-
38. Dalam Sutjipto P. dan M. Syam (penyunting). Risalah Pertemuan
Nasional Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut dan Lebak.
Cisarua, 3-4 Maret 1992.

Wiradinata, O.W., dan R. Hardjosusastro. 1979. Penyebaran dan beberapa sifat
gambut di daerah Sumatera Selatan. h. A18-01-A18.11. Makalah dalam
Simposium Nasional III Pengembangan Daerah Pasang Surut, Palembang
5-9 Februari 1979.

99

III

LAHAN RAWA LEBAK

Subagyo H.

Lahan Rawa Lebak

100

3.1. PENGERTIAN

Seperti telah diuraikan sebelumnya, lahan (rawa) lebak merupakan zona
ketiga yang terletak makin ke arah hulu sungai, yaitu mendekati atau berada
pada daerah aliran sungai (DAS) bagian tengah. Pengaruh pasang surut sudah
tidak ada lagi, berganti dengan pengaruh sungai yang sangat dominan, yaitu
berupa banjir besar yang secara periodik menggenangi wilayah selama musim
hujan. Banjir tahunan dapat terjadi, sebagai akibat dari volume air sungai yang
menjadi sangat besar selama musim hujan, dan tekanan balik arus pasang dari
bagian muara. Sungai di daerah ini tidak mampu menampung semua air,
sehingga meluap membanjiri dataran banjir di kiri kanan sungai. Selama musim
hujan, rawa lebak selalu digenangi air kemudian secara berangsur-angsur air
banjir akan surut sejalan dengan perubahan musim hujan ke musim kemarau
tahun berikutnya.

Istilah rawa lebak adalah istilah rawa non-pasang surut di daerah Sumatera
Selatan. Di Jambi, persawahan di rawa lebak dikenal sebagai sawah rawa payau.
Di Kalimantan Selatan, disebut sawah rintak/timur, jika musim tanam pada awal
musim kemarau, dan sawah surung/barat jika musim tanamnya pada awal musim
hujan. Di Kalimantan Timur, persawahan lebak disebut sawah rapak atau sawah
kelan. Sedangkan lahan lebak, yang secara terbatas terdapat di bagian hilir aliran
Sungai/Bengawan Solo di Jawa Timur, disebut "bonorowo".

Lahan rawa lebak seringkali didefinisikan sebagai lahan rawa non-pasang
surut, yang karena posisinya di dataran banjir sungai mendapat genangan secara
periodik sekurang-kurangnya sekali dalam setahun, yang berasal dari curah
hujan dan/atau luapan banjir sungai. Genangan yang membanjiri lahan lebak
dapat terjadi lebih dari satu kali, akibat curah hujan di wilayah tangkapan hujan di
bagian hilir sungai memiliki pola bimodal, yaitu dengan dua puncak musim hujan.
Atau dapat juga terjadi, karena kondisi oro-hidrologis daerah aliran sungai bagian
hilir sudah rusak, sehingga dapat terjadi banjir di bagian hilir beberapa kali dalam
setahun.

3.2. PENYEBARAN

Oleh karena rawa lebak terbentuk sebagai akibat banjir tahunan pada
wilayah yang letaknya rendah, yaitu sebagai wilayah peralihan antara lahan darat
(uplands) dan sungai-sungai besar, maka penyebarannya secara khusus terdapat

Subagyo

101

di dataran banjir (floodplains), dataran meander (sungai berkelok-kelok), dan
bekas aliran sungai tua (oxbow) dari sungai-sungai besar dan anak-anak sungai
utamanya. Penyebaran lahan rawa lebak di luar Jawa terdapat di tiga pulau
besar, antara lain di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya (Papua) :

Sumatera

Way Seputih, S. Tulangbawang, dan S. Mesuji, di Provinsi Lampung; Air Musi
dengan anak Sungai Ogan, Komering, dan Lematang di Provinsi Sumatera
Selatan; S. Batanghari, dan S. Tungkal di Provinsi Jambi; dan S. Inderagiri, S.
Kampar, S. Siak, dan S. Rokan di Provinsi Riau.

Kalimantan

S. Barito dengan anak sungai : S. Negara, di Provinsi Kalimantan Selatan; S.
Kapuas Besar di Provinsi Kalimantan Barat; dan S. Mahakam di Provinsi
Kalimantan Timur.

Irian Jaya (Papua)
S. Mamberamo berikut wilayah Lembah Mamberamo, dan S. Digul.

Kemungkinan masih terdapat beberapa sungai besar lain, seperti di
Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, yang mempunyai wilayah lahan
lebak, namun tidak tersedia data/informasinya. Sampai saat ini, secara umum
telah diketahui bahwa lahan lebak yang telah cukup intensif dibudidayakan untuk
pertanian adalah lahan lebak yang terdapat di Provinsi Sumatera Selatan (Air
Musi, Ogan, Komering, dan Lematang), dan di Kalimantan Selatan (S. Barito dan
S. Negara).

Berapa luas rawa lebak ? Perkiraan luas lahan lebak di Indonesia lebih
tidak pasti, karena tidak ada rinciannya yang agak mendetail di masing-masing
pulau besar. Angka yang seringkali dipakai adalah dari penelitian Nugroho et al.
(1991) yaitu luas lahan lebak di seluruh Indonesia sekitar 13,28 juta ha, terdiri
atas 4,17 juta ha lebak dangkal/pematang, 6,08 juta ha lebak tengahan, dan 3,04
juta ha lebak dalam.

Data lain dari Ditjen Pengairan Departemen Pekerjaan Umum (1998)
menyebutkan bahwa luas lahan lebak adalah 13,317 juta ha, telah direklamasi,
atau dibuka untuk persawahan dan permukiman sekitar 1,547 juta ha, yaitu
melalui program reklamasi oleh pemerintah seluas 0,448 juta ha, dan oleh
swadaya masyarakat sekitar 1,009 juta ha. Luas lahan lebak yang belum
dimanfaatkan diperkirakan masih sekitar 11,770 juta ha.

Lahan rawa lebak umumnya menempati posisi di kanan kiri, pada dataran
banjir sungai (besar), atau merupakan wilayah luas persambungan antara

Lahan Rawa Lebak

102

dataran banjir dua anak sungai (besar). Sebagai salah satu contoh yang terbaik
yang ada di Sumatera Selatan (Gambar 3.1), yaitu lahan rawa lebak dan lahan
rawa pasang surut (air tawar) di sekitar Palembang, di sepanjang aliran Air Musi,
dan di antara Air Ogan dan Air Komering.

Gambar 3.1. Penyebaran lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut di
sekitar Palembang, Sumatera Selatan

Subagyo

103

3.3. TOPOGRAFI DAN LANDFORM

Topografi atau bentuk wilayah lahan lebak secara umum hampir datar (flat)
dengan lereng 1-2%, secara berangsur menurun membentuk cekungan (basin)
ke arah wilayah rawa belakang, dan bagian tengah menempati posisi paling
rendah.

Satuan-satuan landform di wilayah lahan lebak dapat dilihat pada
penampang skematis Gambar 3.2, dengan tiga kemungkinan satuan landform
yang berbeda. Pertama, adalah satuan landform yang dijumpai pada dataran
banjir satu sungai besar (Gambar 3.2a); kedua, satuan landform yang dijumpai
pada dataran banjir dua sungai besar (Gambar 3.2b); dan yang ketiga adalah
wilayah peralihan antara lahan lebak dan wilayah lahan pasang surut (Gambar
3.2c).

Pada keadaan pertama (Gambar 3.2a), apabila seseorang bergerak
misalnya dengan berjalan kaki dari daerah “talang” (lahan kering/uplands) pada
satu sisi, ke arah daerah “talang” di seberang sungai-dengan mengamati
keadaan terrain, kondisi permukaan tanah, dan kedalaman permukaan air tanah-
akan melewati wilayah dataran banjir sungai, yang terdiri atas wilayah cekungan,
kemudian dataran rawa belakang, dan selanjutnya mencapai tanggul sungai alam
(natural levee). Kondisi seperti ini umumnya dijumpai pada DAS bagian tengah ke
arah hilir sungai. Tanah yang terbentuk seluruhnya merupakan tanah endapan
sungai, atau sering disebut endapan aluvial atau fluviatil. Cekungan-cekungan di
dataran rawa belakang umumnya ditempati gambut topogen dangkal (50-100 cm)
sampai gambut-sedang (101-200 cm). Kubah gambut biasanya tidak terbentuk,
karena ukuran cekungan/depresi relatif kecil. Di banyak tempat, cekungan
tersebut seringkali juga hanya berisi air, sehingga menyerupai “danau-danau”
berukuran kecil. Tanah yang terbentuk seluruhnya juga merupakan tanah
endapan sungai, yang diendapkan selama ber-abad-abad setiap kali musim
banjir datang, menggenangi wilayah selama musim hujan. Bahan sedimen halus,
berupa lumpur sungai yang diendapkan setiap kali terjadi banjir tahunan adalah
bahan yang membentuk tanah di lahan lebak.

Lahan Rawa Lebak

104

Gambar 3.2a. Penampang skematis daerah lahan rawa lebak, pada satu sungai
besar

Pada keadaan kedua (Gambar 3.2b), adalah kondisi landform yang
dijumpai oleh seseorang yang bergerak dan “mampu” melewati dataran banjir
dari dua anak sungai (besar). Antara daerah talang dan sungai pertama atau
sungai kedua, bentukan landform yang dijumpai akan menyerupai kondisi
pertama. Namun sesudah itu, dataran banjir sungai pertama akan bersambungan
dengan dataran banjir sungai kedua, dan membentuk dataran rawa belakang
hampir rata (nearly flat) yang sangat luas, dan lebarnya dapat mencapai puluhan
kilometer. Sebagai contoh dataran banjir Air Ogan yang bersambungan dengan
dataran banjir Air Komering, di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), di beberapa
tempat dapat mencapai lebar 30-40 km. Seperti halnya pada kondisi pertama, di
dataran rawa belakang yang sangat luas ini banyak dijumpai cekungan-cekungan
dari berbagai ukuran, yang umumnya juga ditempati tanah gambut-dangkal
sampai sedang, atau hanya berupa “danau-danau” kecil yang biasanya
dimanfaatkan untuk budidaya perikanan air tawar. Tanah yang terbentuk,
seluruhnya juga merupakan tanah endapan sungai, yang diendapkan selama ber-
abad-abad setiap kali musim banjir datang dan menggenangi wilayah ini selama
musim hujan.

Gambar 3.2b. Penampang skematis daerah lahan rawa lebak, antara dua sungai
besar

Cekungan

Sungai

Sungai

Subagyo

105

Pada keadaan ketiga (Gambar 3.2c), adalah keadaan apabila lahan rawa
lebak bersambungan dengan lahan rawa pasang surut. Pada kondisi ini, bahan
endapan sungai yang terbentuk lebih muda umur (geologis)-nya, menutupi
endapan laut/marin yang telah terbentuk terlebih dahulu. Kondisi seperti ini,
terjadi pada wilayah peralihan antara zona II (lahan rawa pasang surut air tawar)
dan zona III (lahan rawa non-pasang surut, atau lahan rawa lebak).

Gambar 3.2c. Penampang skematis daerah lahan rawa lebak peralihan antara
lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut (marin)

Sebagai contoh, wilayah sekitar kota Palembang, antara lain wilayah
Ogan-Keramasan dan Plaju-Sungaigerong, merupakan wilayah peralihan antara
zona III dan zona II. Pada wilayah ini, tanah yang terbentuk mempunyai dua
bahan induk, yaitu di bagian atas merupakan endapan sungai, dan bagian bawah
berasal dari endapan marin yang mengandung bahan sulfidik (pirit). Kedalaman
bahan sulfidik di daerah peralihan ini bervariasi, antara 70-150 cm, atau antara
50-120 cm dari permukaan tanah.

3.4. TIPOLOGI LAHAN LEBAK

Tipologi lahan rawa lebak, secara skematis diilustrasikan pada Gambar
3.3. Pada musim hujan, wilayah tanggul sungai umumnya tetap kering, tetapi di
wilayah rawa belakang dan cekungan, air banjir berangsur naik sampai mencapai
puncak tertinggi di musim hujan, kemudian menurun sesuai dengan surutnya air
sungai pada peralihan ke musim kemarau.

Cekungan

Lahan Rawa Lebak

106

Gambar 3.3. Skematis tipologi lahan rawa lebak

Berdasarkan lamanya genangan dan tingginya genangan, lahan rawa
lebak umumnya dibagi menjadi tiga tipe (tipologi) lahan lebak, yaitu : (1) Lebak
Pematang, (2) Lebak Tengahan, dan (3) Lebak Dalam, seperti disajikan pada
Tambar 3.1. Lebak Pematang seringkali disebut juga sebagai Lebak Dangkal.

Secara teoritis, setiap banjir, karena arus banjir masih kuat, tanggul sungai
merupakan tempat pengendapan bahan-bahan terkasar (pasir halus sampai pasir
sedang). Makin jauh dari sungai, dengan semakin lemahnya daya angkut air,
terjadi pengendapan bahan-bahan lebih halus, yaitu debu dan liat. Karena
adanya sortasi air dan semakin sedikitnya bahan-bahan yang diendapkan
semakin jauh dari sungai, maka tanggul sungai adalah tempat yang paling tinggi
letaknya, dan tanah berangsur-angsur menurun ke dataran rawa belakang.
Dalam kenyataanya di lapangan, acapkali perbedaan ketinggian antara keduanya
tidak selalu nyata, walaupun hasil pengukuran ketinggian antara keduanya
memang menunjukkan penurunan yang amat berangsur ke arah dataran rawa
belakang. Demikian pula, tekstur tanah di wilayah tanggul sungai tidak selalu
berpasir, sebab komposisi fraksi dari lumpur yang diendapkan setiap tahun tidak
selalu kasar sifatnya.

Tabel 3.1. Tipe-tipe (tipologi) lahan rawa lebak, berdasarkan lama dan tinggi
genangan

Lama genangan

Tinggi genangan

<3 bulan

3-6 bulan

>6 bulan

<50 cm

Lebak Pematang

Lebak Pematang

Lebak Pematang

50-100 cm

Lebak Tengahan

Lebak Tengahan

Lebak Dalam

>100 cm

Lebak Tengahan

Lebak Dalam

Lebak Dalam

Kedalaman genangan

Subagyo

107

Selain ketiga tipe lahan lebak tersebut, masih ada istilah “renah” dan
“talang” yang biasa digunakan untuk mendeskripsi keadaan wilayah lahan lebak
di Sumatera Selatan. Uraian secara ringkas dari semua istilah dan tipe lahan
rawa lebak adalah :

Renah, adalah bagian yang paling tinggi dari tanggul sungai. Biasanya jarang
kebanjiran, oleh karena itu umumnya dimanfaatkan untuk rumah-rumah dan
perkampungan penduduk.

Talang, adalah lahan darat atau lahan kering yang tidak pernah kebanjiran, dan
merupakan bagian dari wilayah berombak sampai bergelombang, terdiri atas
batuan sedimen, atau batuan volkan masam.
Lebak Pematang, adalah sawah di belakang perkampungan. dan merupakan
sebagian dari wilayah tanggul sungai dan sebagian wilayah dataran rawa
belakang. Lama genangan banjir umumnya kurang dari 3 bulan, atau minimal
satu bulan dalam setahun. Tinggi genangan rata-rata kurang dari 50 cm. Oleh
karena genangan air banjir selalu dangkal, maka bagian lebak ini sering juga
disebut “Lebak Dangkal”.
Lebak Tengahan, adalah sawah yang lebih jauh lagi dari perkampungan.
Genangannya lebih dalam, antara 50 sampai 100 cm, selama kurang dari 3
bulan, atau antara 3-6 bulan. Masih termasuk wilayah Lebak Tengahan, apabila
genangannya dalam, lebih dari 100 cm, tetapi jangka waktu genangannya
relatif pendek, yaitu kurang dari 3 bulan.
Lebak Dalam, adalah bagian lebak yang dalam airnya, dan sukar mengering
kecuali pada musim kemarau panjang. Disebut juga “lebak lebung”, tempat
memelihara ikan yang tertangkap, waktu air banjir telah surut. Tinggi air
genangan umumnya lebih dari 100 cm, selama 3-6 bulan, atau lebih dari 6
bulan. Masih termasuk Lebak Dalam, apabila genangannya lebih dangkal
antara 50-100 cm, tetapi lama genangannya harus lebih dari enam bulan
secara berturut-turut dalam setahun.

3.5. JENIS TANAH

3.5.1. Pembagian dan klasifikasi tanah

Tanah-tanah di lahan rawa lebak, baik di wilayah tanggul sungai maupun di
rawa belakang, secara morfologis mempunyai kenampakan mirip dengan tanah
marin di lahan rawa pasang surut air tawar. Hanya bedanya, karena tanah-tanah

Lahan Rawa Lebak

108

di rawa lebak bukan merupakan endapan marin, maka tanah rawa lebak tidak
mengandung pirit. Namun, di wilayah peralihan dengan rawa pasang surut air
tawar, lapisan pirit masih mungkin diketemukan, tetapi biasanya pada kedalaman
50-70 cm atau lebih dari 120 cm.

Secara skematis, pembagian tanah pada lahan rawa lebak berdasarkan
ketebalan gambut, dan kedalaman lapisan bahan sulfidik (jika ini ada) disajikan
pada Gambar 3.4. Ada dua kelompok tanah pada lahan lebak, yaitu Tanah
Gambut, dengan ketebalan lapisan gambut >50 cm, dan Tanah Mineral, dengan
ketebalan lapisan gambut di permukaan 0-50 cm. Tanah mineral yang
mempunyai lapisan gambut di permukaan antara 20-50 cm disebut Tanah
Mineral Bergambut. Sedangkan Tanah Mineral murni, sesuai kesepakatan, hanya
memiliki lapisan gambut di permukaan tanah setebal <20 cm.

Tanah Gambut biasanya menempati wilayah Lebak Tengahan dan Lebak
Dalam, khususnya di cekungan-cekungan, dan sebagian besar merupakan
gambut-dangkal (ketebalan gambut antara 50-100 cm), dan sebagian kecil
merupakan gambut-sedang (ketebalan gambut 100-200 cm). Kubah gambut
nampaknya tidak terbentuk. Gambut yang terbentuk umumnya merupakan
gambut topogen, tersusun sebagian besar dari gambut dengan tingkat
dekomposisi sudah lanjut, yaitu gambut saprik. Sebagian lapisan tersusun dari
gambut hemik. Seringkali mempunyai sisipan-sisipan bahan tanah mineral di
antara lapisan gambut.

Warna tanah tersebut coklat sangat gelap (7,5YR 2,5/2), atau hitam (10YR
3/2), reaksi gambut di lapang termasuk masam-sangat masam (pH 4,5-6,0).
Kandungan basa-basa (hara) rendah (total kation: 1-6 me/100 g tanah), dan
kejenuhan basanya juga rendah (KB: 3-10%). Sebagian gambut di Lebak Dalam,
mempunyai tingkat dekomposisi bahan gambut tengahan, yaitu gambut hemik.
Warnanya relatif sama, coklat sangat gelap atau hitam, reaksi tanah masam (pH
6,0), dan kesuburan tanah masih termasuk rendah. Dalam klasifikasi Taksonomi
Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah-tanah tersebut masuk dalam ordo
Histosols, dalam tingkat (subgrup) Typic/Hemic Haplosaprists, Terric
Haplosaprists, dan Terric Haplohemists.

Tanah gambut, sebagai Haplosaprists dangkal (antara 50-100 cm),
sebagian ditemukan di lebak tengahan, dan sebagai Haplohemists dan
Haplosaprists dangkal umumnya lebih banyak ditemukan di bagian lebak dalam.

Subagyo

109

Gambar 3.4. Skematis pembagian tanah pada lahan rawa lebak

Lahan Rawa Lebak

110

Tanah Mineral yang menyusun lahan rawa lebak, hampir seluruhnya
berkembang atau terbentuk dari bahan endapan sungai. Tetapi di wilayah
peralihan antara zona II (lahan rawa pasang surut air tawar) dan zona III (lahan
rawa lebak), di bagian bawah profil tanah lebak ditemukan lapisan yang
mengandung bahan sulfidik (pirit).

Tanah yang mengandung lapisan bahan sulfidik, dengan sendirinya
termasuk tipologi lahan rawa pasang surut yang disebut Lahan Potensial.
Berdasarkan letak kedalaman bahan sulfidik dari permukaan tanah, dikenal
Lahan Potensial-1, jika kedalaman lapisan bahan sulfidik lebih dari 100 cm, dan
Lahan Potensial-2, jika kedalaman lapisan bahan sulfidik terletak antara 50-100
cm. Pengelolaan dan penataan lahan yang mengandung bahan sulfidik harus
lebih berhati-hati, dan pemanfaatannya untuk pertanian harus mengikuti sistem
penataan lahan yang berlaku untuk lahan pasang surut (Bab 2.3 dan Bab 2.6
pada Bab Lahan Pasang Surut).

Secara umum, pengelolaan lahan untuk tanah mineral yang berbahan
induk bahan endapan sungai, lebih mudah karena bebas dari bahan sulfidik.
Dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah mineral pada lahan
lebak termasuk dalam ordo Entisols dan Inceptisols. Oleh karena termasuk
“tanah basah” (wetsoils), semuanya masuk dalam subordo Aquents, dan
Aquepts. Klasifikasi lebih lanjut pada tingkat subgrup, baik untuk Lahan
Potensial-1 dan Lahan Potensial-2 maupun Tanah Rawa Lebak normal dan
Tanah Mineral Bergambut, dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Tanah-tanah mineral yang menempati lebak pematang, umumnya
termasuk Inceptisols basah, yakni (subgrup) Epiaquepts dan Endoaquepts, dan
sebagian Entisols basah yaitu Fluvaquents. Pada lebak tengahan, yang dominan
adalah Entisols basah, yakni Hydraquents dan Endoaquents, serta sebagian
Inceptisols basah, sebagai Endoaquepts. Kadang ditemukan gambut-dangkal,
yakni Haplosaprists. Pada wilayah lebak dalam yang air genangannya lebih
dalam, umumnya didominasi oleh Entisols basah, yakni Hydraquents dan
Endoaquents, serta sering dijumpai gambut-dangkal, Haplohemists dan
Haplosaprists.

3.5.2. Sifat kimia tanah mineral lahan lebak

Dari hasil penelitian “identifikasi potensi lahan rawa lebak untuk
pengembangan tanaman pangan, dalam rangka antisipasi El-Nino”, telah
diketahui lahan rawa lebak di Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Riau, dan

Subagyo

111

Kalimantan Selatan (Alkasuma et al., 2001). Dalam mendelineasi penyebaran
lahan lebak di keempat provinsi tersebut, dilakukan interpretasi citra satelit
Landsat-TM5 bulan Januari 1998 (saat El-Nino berakhir), dan Landsat TM7 bulan
Mei 2000 (saat terjadi genangan), selain menggunakan berbagai peta
pendukung, seperti peta topografi, peta geologi, dan peta penggunaan lahan,
juga dilakukan interpretasi citra satelit Landsat-TM5 bulan Januari 1998 (saat El-
Nino berakhir), dan Landsat TM7 bulan Mei 2000 (saat terjadi genangan).

Hasilnya menunjukkan bahwa di Sumatera Selatan terdapat lahan rawa
lebak seluas 368.685 ha, yang dijumpai di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi
Banyuasin, Kotamadya Palembang, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Di
Provinsi Lampung diidentifikasi lahan rawa lebak seluas 126.465 ha, tersebar di
Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Timur, dan Lampung Selatan. Di Provinsi
Riau terdapat lahan rawa lebak seluas 211.587 ha, menyebar di sepanjang aliran
S. Kuantan, Kampar, dan Rokan. Di Provinsi Kalimantan Selatan, lahan rawa
lebak yang diidentifikasi sekitar 208.893 ha. Bagian terluas terdapat di sekitar
aliran Sungai Barito dan S. Negara, meliputi Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu
Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.

Selama penelitian, pembuatan profil tanah di lahan rawa lebak sulit
dilakukan karena air tanah sangat rendah atau tergenang air. Oleh karena itu,
telah diamati 33 pemboran tanah, yang terdiri atas 15 pemboran di Lebak
Pematang, 11 pemboran di Lebak Tengahan, dan 7 pemboran di Lebak Dalam.
Dari 33 pemboran tanah tersebut telah dikumpulkan sebanyak 115 contoh tanah,
yang semuanya dianalisis di laboratorium. Hasil analisis dirangkum dalam Tabel
3.2, akan digunakan untuk mengevaluasi sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah
mineral pada lahan rawa lebak.

Dari evaluasi sifat-sifat fisiko-kimia pada Tabel 3.2 tersebut dapat
disimpulkan hal-hal berikut :

Sifat kimia dan kesuburan Lebak Pematang umumnya lebih baik daripada
Lebak Tengahan dan Lebak Dalam. Tekstur tanahnya lebih bervariasi (halus
sampai sedang), reaksi tanah lebih baik (kurang masam), dan kandungan
P2O5, total kation, dan kejenuhan basa relatif lebih tinggi daripada kedua
tipologi lebak lainnya.

Lahan Rawa Lebak

112

Tabel 3.2. Sifat fisiko-kimia tanah mineral lahan rawa lebak

Sifat-sifat tanah

Lebak pematang

Lebak tengahan

Lebak dalam

hC; C; SiC; SiCL; SiL;
L; SL

hC; C; SiC; SiCL

hC; SiC

Tekstur

(Ps: <15%; Db: 5-60%;
liat: 18-90%)

(Ps: <10%; Db: 20-60%;
liat: 35-80%)

(Ps: <5%; Db: 20-45%;
liat: 55-80%)

Reaksi tanah
pH-lapang
pH-lab

5,5-7,0
4,0-5,5

sm-nt
mlb-sm

5,0-7,0
3,5-4,5

sm-nt
me-mlb

5,5-6,5
3,5-4,5

sm-sdm
me-mlb

% karbon
Kisaran (%)
Terbanyak (%)

0,09-12,04
(0,40-8,60)

sr-st
sr-t

0,52-17,20
(0,30-10,32)

sr-st
sr-st

1,20-18,92
(1,72-12,04)

sr-st
r-st

Fosfat dan kalium (terbanyak)
P2O5 (mg/100 g)
K2O (mg/100 g)
P-Bray (ppm)

5-40
5-40
3-23

sr-s
sr-s
sr-s

3-40
5-60
2-27

sr-s
sr-t
sr-t

2-25
5-25
3-15

sr-r
sr-s
sr-r

Basa dapat tukar Terbanyak Ca & Mg; K
dan Na sangat sedikit

Terbanyak Ca & Mg; K
dan Na sangat sedikit

Terbanyak Ca & Mg; K
dan Na sangat sedikit

Total kation dapat
tukar

0,6-21%

sr-t

1-20%

sr-t

4-18%

r-t

Kejenuhan basa 10-100% sr-st

3-80%

sr-t

6-75%

sr-t

Keterangan :
Tekstur : hC = liat berat; C = liat; SiC = liat berdebu; SiCL = lempung liat berdebu; SiL = lempung
berdebu; L = lempung; dan SL = lempung berpasir.
Reaksi tanah : me = masam ekstrim (pH ≤ 3,5); mlb = masam luar biasa (pH 3,6-4,5); sms = sangat
masam sekali (pH 4,6-5,0); sm = sangat masam (pH 5,1-5,5); am= agak masam (pH 5,6-6,0); sdm
= sedikit masam (pH 6,1-6,5); nt = netral (pH 6,6-7,3).
Kandungan sifat kimia lainnya : sr = sangat rendah; r = rendah; s = sedang; t = tinggi; dan st =

sangat tinggi.

Tekstur tanah rawa lebak umumnya dicirikan oleh kandungan fraksi liat dan
debu yang tinggi, tetapi fraksi pasirnya sangat rendah. Tekstur tanah terbanyak
adalah liat berat (hC), liat (C), dan liat berdebu (SiC). Tekstur tanah Lebak
pematang lebih bervariasi, dari halus (hC,C) sampai sedang (SiL, L), terkadang
juga dijumpai tekstur relatif kasar (SL). Tekstur lebak Tengahan relatif halus
(hC, C, SiC, dan SiCL), sedangkan tekstur Lebak Dalam sangat halus (hC dan
SiC), dengan kandungan liat yang sangat tinggi (55-80 %).

Kandungan bahan organik (% karbon) Lebak Tengahan dan Lebak Dalam
relatif lebih tinggi daripada lebak Pematang. Tetapi, kandungan P2O5 dan K2O
tanah Lebak Pematang cenderung lebih tinggi daripada Lebak Tengahan, dan
lebih tinggi daripada Lebak Dalam. Hal yang mirip sama terjadi pada fosfat (P)

Subagyo

113

tersedia (P-Bray), di mana kandungan P pada tanah Lebak Pematang dan
Lebak Tengahan lebih tinggi daripada Lebak Dalam.

Komposisi basa-basa dapat tukar (Ca, Mg, K, dan Na) menunjukkan bahwa Ca
dan Mg terbanyak, sedangkan K dan Na sangat sedikit, namun Lebak
Pematang cenderung “lebih kaya” daripada Lebak Tengahan dan Lebak
Dalam. Hal ini diperkuat oleh kandungan total kation dapat tukar dan kejenuhan
basa.

3.5.3. Penataan lahan

Secara umum tidak banyak yang dapat diinformasikan mengenai penataan
lahan di lahan Rawa lebak. Di daerah rawa lebak di Sumatera Selatan, di wilayah
Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Kotamadya Palembang, dan
Kabupaten Ogan Komering Ulu, sawah lebak telah diusahakan secara tetap dari
tahun ketahun, khususnya pada dataran banjir Sungai Musi, Ogan, Komering,
Lematang. Pada musim hujan (antara Oktober sampai dengan Mei), sungai-
sungai tersebut pada umumnya banjir sampai melimpah ke kiri dan kanan sungai
membanjiri dataran rawa belakang. Puncak banjir tertinggi biasanya di sekitar
bulan Desember sampai dengan Januari. Air banjir mulai menurun sekitar bulan
Februari-Maret, dimana persiapan tanah dan pesemaian dimulai. Musim tanam
padi lebak umumnya terjadi pada bulan Mei sampai Juni, yaitu pada waktu tinggi
air di lebak berkisar antara 25-30 cm. Penanaman harus segera dimulai dan
diselesaikan. Pada Lebak Pematang dan Lebak Tengahan, apabila terlambat
menanam dapat mengalami masalah kekeringan, dan penyiangan akan lebih
berat. Sebaliknya, pada Lebak Dalam, kalau terlambat menanam, akan terjadi
risiko tenggelam karena hujan sudah mulai turun, terutama pada bulan-bulan
panen. Panen padi pada sawah lebak di daerah ini umumnya terjadi dalam bulan
September sampai Oktober.

Penataan lahan yang dapat dianjurkan secara umum adalah :

Lebak Pematang : memiliki kondisi alam yang relatif lebih menguntungkan,
dibandingkan dengan kedua tipe lebak lainnya, walaupun kemungkinan terjadi
kekeringan/kekurangan air pada musim kemarau. Zona ini seyogyanya
diarahkan penggunaannya untuk permukiman, pekarangan, kebun buah-

Lahan Rawa Lebak

114

buahan, dan lahan untuk prasarana umum. Sistem pertanaman dengan teknik
surjan dapat dilaksanakan di zona ini.

Lebak Tengahan : yang sepanjang tahun relatif tidak kekurangan air, diarahkan
penggunaannya untuk wilayah persawahan lebak, seperti yang telah dilakukan
selama ini. Sebagai tambahan usaha, dapat juga dilakukan pertanaman
tanaman palawija dan sayuran pada galengan-galengan sawah. Sistem
pertanaman dengan teknik surjan, tergantung kondisi air genangan, mungkin
masih dapat dilaksanakan di zona ini.

Lebak Dalam : karena secara alamiah menempati posisi paling rendah, arahan
penggunaannya yang paling tepat adalah tetap berfungsi sebagai waduk
penampungan air banjir alamiah. Pemanfaatan lain yang selama ini telah
berlangsung adalah untuk budidaya perikanan air tawar, dan bila
memungkinkan dapat dijadikan tempat rekreasi air secara terbatas.

PENUTUP

Seperti telah disebutkan sebelumnya, luas lahan rawa lebak adalah sekitar
13,28-13,32 juta ha, atau kira-kira sepertiga dari luas total lahan rawa. Data
Dirjen Pengairan Dep. PU (sekarang Kimpraswil) sekitar 1,547 juta ha telah
dibuka untuk persawahan dan permukiman, sebagian besar 71% (1.009 juta ha)
melalui swadaya masyarakat, dan sisanya 29% melalui program pemerintah.
Kalau angka 13,32 juta ha benar, berarti masih cukup luas, sekitar 11,77 juta ha,
lahan lebak yang dapat dikembangkan untuk pertanian.

Ditinjau dari aspek potensi, secara umum lahan lebak sebenarnya lebih
baik dari lahan pasang surut, oleh karena tanah lahan lebak seluruhnya tersusun
dari endapan sungai (fluviatil), yang tidak mengandung bahan sulfidik/pirit.
Terkecuali tentunya pada zona peralihan antara lahan lebak dan lahan pasang
surut, di lapisan bawah sekitar kedalaman 1 m, mungkin masih ditemukan
adanya lapisan bahan sulfidik yang merupakan endapan marin. Bagian yang
potensial untuk pertanian dari lahan lebak adalah lebak pematang (atau lebak
dangkal), dan lebak tengahan, yang umumnya di jadikan persawahan lebak
dengan pertanaman palawija dan sayuran pada galengan sawah, atau di bagian
guludan/bedengan pada sistem surjan, terutama pada lebak pematang.

Subagyo

115

Sementara lebak dalam, karena bentuknya mirip suatu cekungan, kondisi airnya
relatif masih tetap dalam walaupun di musim kemarau, sehingga lebih sesuai
untuk budidaya perikanan air tawar.

Pengalaman penelitian terbatas dalam pengelolaan lahan lebak
menunjukkan bahwa lahan lebak, disamping padi sebagai tanaman utama,
berbagai tanaman palawija seperti jagung, kedelai, kacang hijau, kacang
tunggak, dan ubi jalar cukup potensial dikembangkan, baik secara monokultur
maupun tumpangsari. Salah satu masalah utama dalam pengelolaan lahan lebak
adalah kedalaman genangan yang semakin dalam selama berlangsungnya
musim hujan, jika penanaman padi di lakukan pada awal musim hujan.
Sebaliknya lahan lebak berangsur semakin surut menjadi hampir kering dan
kering di musim kemarau. Secara tradisional, petani menanami lahannya setelah
genangan air mulai turun di akhir musim hujan. Penanaman di mulai dari lebak
pematang dan berlanjut ke lebak tengahan. Pada tahun-tahun dengan kemarau
panjang, lahan lebak merupakan lahan yang subur untuk pertanaman padi dan
palawija.

Sebagaimana lahan pasang surut, ke depan, lahan lebak juga merupakan
calon lumbung padi/beras nasional, yang mampu mendukung dan mengamankan
program ketahanan pangan. Oleh karena potensinya yang besar untuk
penambahan areal produksi pertanian baru di masa mendatang, maka kegiatan
inventarisasi biofisik, termasuk masalah berapa luas lahan lebak yang lebih pasti,
penelitian karakteristik pola hidrologi, dan potensi agronomi lahan lebak, perlu
lebih mendapatkan fokus perhatian lebih besar. Penelitian yang lebih intensif,
juga diperlukan untuk mendapatkan varitas-varitas tanaman berproduksi tinggi,
yang sesuai di budidayakan di lahan lebak.

DAFTAR PUSTAKA

Alkasuma, Suparto, Samdan CD., dan Jaelani. 2001. Laporan Akhir. Identifikasi
Potensi Lahan Rawa Lebak untuk Pengembangan Tanaman Pangan
dalam rangka Antisipasi Dampak EI-Nino. Bag. Proyek Penel. Sumberdaya
Air dan Iklim. Puslitbangtanak, Bogor.

Ditjen Pengairan PU (Pekerjaan Umum). 1998. Pengembangan Daerah Rawa.
Direktorat Jenderal Pengairan, Dep. PU. Februari 1998. Hlm. 93.

Lahan Rawa Lebak

116

Nugroho, K., Alkasuma, Paidi, W. Wahdini, Abdulrachman, H. Suhardjo, dan I
P.G. Widjaja-Adhi. 1991. Laporan Akhir. Penentuan areal potensial lahan
pasang surut, rawa, dan pantai. Skala 1:500.000. Laporan Teknik No.
1/PSRP/1991. Proyek Penelitian Sumberdaya Lahan, Puslittanah dan
Agroklimat. Hlm.109.

Soil Survey Staff. 1999. Soil Taxonomy. A Basic System of Soil Classification for
Making and Interpreting Soil Surveys. Second Edition. Agr. Handb. 436,
Natural Resources Conservation Service-USDA.

117

IV

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->