P. 1
bukulahanrawa

bukulahanrawa

|Views: 656|Likes:
Published by Mohammed Isnain

More info:

Published by: Mohammed Isnain on Sep 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2013

pdf

text

original

Sections

Achmadi Jumberi dan Trip Alihamsyah

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

276

9.1. POTENSI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN LAPANGAN KERJA

Potensi pengembangan pertanian di lahan pasang surut sangat besar
mengingat arealnya luas dan dan teknologi pengelolaannya sudah tersedia
secara memadai. Adanya potensi peningkatan dan diversifikasi produksi
memberi peluang besar terhadap pengembangan agribisnis dan agroindustri.
Berbagai usaha sebagai bagian dari subsistem agribisnis dapat dikembangkan,
mulai dari usaha penyediaan benih dan sarana produksi sampai kepada usaha
jasa tenaga kerja dan keuangan serta pengolahan dan pemasaran hasil
berbagai komoditas pertanian. Sedangkan pengembangan agroindustri atau
industri hasil olahan komoditas pertanian ditujukan terutama untuk meningkatkan
nilai tambah, seperti kelapa menjadi kopra dan minyak kelapa atau cabai dan
tomat menjadi sambal dan saus serta buah-buahan menjadi selai dan sirup atau
buah-buahan dalam kaleng untuk ekspor. Pengembangan agroindustri hasil
pertanian dapat dilakukan oleh petani dalam skala rumah tangga atau oleh
perusahaan besar, seperti industri aneka panganan seperti gula dan minyak
kelapa, kripik, krupuk, jagung marning, selai, dan sirup nenas serta pakan ternak
dan ikan.

Pengembangan agribisnis dan agroindustri ini tentunya secara otomatis
meningkatkan kegiatan ekonomi sebagai akibat dari pengembangan pertanian
baik oleh petani dalam skala kecil maupun oleh pengusaha dalam skala luas.
Hal ini pada akhirnya akan membuka peluang kesempatan kerja, baik tenaga
kasar atau buruh tani maupun tenaga terdidik dan aktivitas ekonomi setempat
serta pendapatan masyarakat maupun pengembangan wilayah setempat.
Beberapa contoh disini adalah berkembangnya wilayah pasang surut di berbagai
lokasi transmigrasi di Sumatera Selatan, Jambi, Riau, serta Kalimantan Barat,
Tengah, dan Selatan sebagai daerah pemasok hasil pertanian terutama
tanaman pangan dan hortikultura dan ternak.

9.2. KELAYAKAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Hasil analisis usahatani eks-ante pada Ekspose Teknologi Pertanian
Lahan Pasang Surut di Barito Kuala tahun 2003 menunjukkan bahwa melalui
penerapan teknologi pengelolaan lahan dan tanaman secara terpadu, usahatani
berbagai komoditas pertanian adaptif baik secara tunggal maupun dalam suatu

Jumberi dan Alihamsyah

277

sistem usahatani terpadu di lahan pasang surut cukup layak pengembangannya
secara ekonomi (Tabel 9.1 dan 9.2). Secara umum terlihat bahwa tanaman
sayuran memberikan nilai keuntungan dan R/C lebih tinggi daripada tanaman
pangan, hanya saja memerlukan pemeliharaan lebih intensif dan biaya lebih
tinggi sehingga pengusahaannya oleh petani tidak bisa.secara ekstensif.
Sedangkan usahatani terpadu antara tanaman padi dengan jeruk dan sayuran
khususnya cabai memberikan keuntungan dan nilai R/C yang tinggi (Tabel 56),
sehingga layak untuk dikembangkan secara komersial.

Tabel 9.1. Keragaan ekonomi berbagai tanaman di lahan sulfat masam pada
Ekspose Teknologi Pertanian Lahan Pasang Surut di Barito Kuala,
2003

Jenis tanaman

Biaya

Penerimaan Keuntungan

R/C

................................. Rp/ha .................................

Tanaman pangan
Padi lokal

1.103.300

3.750.000

2.647.000

3.40

Padi Margasari

2.499.000

4.500.000

2.001.000

1.80

Padi unggul

3.086.000

4.200.000

1.114.000

1,36

Kedelai

4.368.000

6.300.000

1.932.000

1.44

Kacang tanah

3.080.000

8.000.000

4.920.000

2.60

Kacang hijau

3.561.000

6.750.000

3.190.000

1.90

Jagung

2.400.000

4.000.000

1.600.000

1.67

Tanaman sayur a

)

Cabai

1.380.000

4.800.000

3.420.000

3.48

Tomat

1.231.000

7.680.000

6.449.000

6.24

Kubis

1.926.000

7.168.000

5.242.000

3.72

Timun

1.713.000

4.608.000

2.895.000

2.69

Buncis

1.820.000

3.072.000

1.252.000

1.69
a) Tanaman sayuran ditanam pada bagian guludan surjan seluas 0,224 ha/ha lahan
Sumber: Badan Litbang Pertanian (2003)

Seberapa hasil penelitian pengembangan sistem usahatani di Sumatera
Selatan, Jambi, Riau dan Kalimantan Barat dan Selatan menunjukkan bahwa
walaupun keragaan pengembangan pertanian beragam antar lokasi lahan
pasang surut tapi masih layak, dimana tanaman padi memberikan kontribusi
paling besar terhadap penerimaan usahatani di semua tipologi lahan (Proyek
Swamp II, 1993 dan Alihamsyah dan Ananto, 1998). Nilai Incremental Benefit
Cost Ratio (IBCR) sistem usahatani masing-masing sebesar 3,55; 2,65; 1,54;
dan 2,14 pada lahan potensial, sulfat masam, gambut, dan salin. Sedangkan
kombinasi usahatani sistem longyam di lahan pekarangan dan sistem surjan di

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

278

lahan usaha seluas 1,75 ha yang ditanami tanaman pangan dan sayuran
memberikan nilai IBCR sebesar 1,74. Komoditas ikan dan tanaman industri
umumnya memberikan kontribusi yang kecil terhadap penerimaan usahatani,
disebabkan usahatani ikan kurang menarik sedangkan tanaman industri
membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan. Ternak memberikan
kontribusi cukup besar terhadap penerimaan usahatani, selain itu berfungsi juga
sebagai penangkal kesulitan dalam memperoleh uang kontan dan pupuk
kandangnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman.

Tabel 9.2. Hasil analisis usahatani sistem surjan di lahan sulfat masam pada
Ekspose Teknologi Pertanian Lahan Pasang Surut di Barito Kuala,
2003

Jenis tanaman

Biaya

Penerimaan Keuntungan

R/C

.................................. Rp/ha ..................................
Pola padi lokal pada tabukan dan jeruk + cabai pada guludan

Padi lokal

856.000

2.910.000

2.054.000

3,40

Jeruk

1.162.000

10.070.000

8.908.000

8,67

Cabai

810.000

1.500.000

690.000

1,85

Jumlah

2.828.000

14.480.000

11.652.000

4,93

Pola padi-padi unggul pada tabukan dan jeruk + cabai pada guludan

Padi unggul

3.794.000

6.984.000

3.190.000

1,84

Jeruk

1.162.000

10.070.000

8.908.000

8,67

Cabai

810.000

1.500.000

690.000

1,85

Jumlah

5.766.000

18.554.000

12.788.000

3,21

Sumber: Badan Litbang Pertanian (2003)

9.5. ARAH PENGEMBANGAN DAN ALTERNATIF MODEL AGRIBISNIS

Pengembangan usaha agribisnis di lahan pasang surut menurut
Alihamsyah et al. (2000) harus diarahkan kepada pengembangan agribisnis
aneka komoditas dalam suatu sistem usaha terpadu sesuai dengan karakteristik
biofisik lahan dan prospek pemasaran hasil komoditasnya dalam perspektif
pengembangan wilayah. Model atau sistem usaha terpadu bertitik tolak kepada
optimalisasi pemanfaatan hubungan sinergistik antar subsistem agribisnisnya
serta bersifat spesifik dan dinamis sehingga pengembangannya disesuaikan
dengan karakteristik biofisik lahan dan prospek pemasaran hasil komoditas yang
akan diusahakan.

Model agribisnis yang bisa dikembangkan di lahan pasang surut bisa
berupa model agribisnis yang dibangun baru sesuai dengan kebutuhan inovasi

Jumberi dan Alihamsyah

279

teknologi yang akan dikembangkan, maupun penyempurnaan model agribisnis
yang ada. Dengan demikian, model agribisnis tersebut hendaknya merupakan
reformasi dan revitalisasi serta renovasi dari teknologi dan kelembagaan yang
sudah ada disesuaikan dengan kebutuhan sistem pendukung inovasi teknologi
yang akan dikembangkan dan kondisi wilayah.

Dilihat dari pelaku dan tujuan pengembangannya, secara garis besar ada
dua model usaha agribisnis terpadu yang cocok dikembangkan di lahan pasang
surut, yaitu usaha agribisnis berbasis tanaman pangan dan usaha agribisnis
berbasis komoditas andalan (Alihamsyah dan Ananto, 1998 dan Suprihatno et
al., 1999). Usaha agribisnis berbasis tanaman pangan ditujukan utamanya untuk
menjamin keamanan pangan bagi petani, sedangkan usaha agribisnis berbasis
komoditas andalan dapat dikembangkan dalam skala luas dalam perspektif
usaha komersial.

Usaha agribisnisnya perlu mencakup sistem agribisnis yang holistik. mulai
dari subsistem agribisnis hulu sampai subsistem agribisnis hilir yang bisa
berupa: subsistem penyediaan sarana produksi, subsistem jasa tenaga kerja,
produksi, subsistem pasca panen dan subsistem pemasaran hasil. Oleh karena
itu. perlu dibangun kelembagaan dari setiap subsistem tersebut dalam suatu
tatanan yang sinergis dan harmonis melalui pemberdayaan masyarakat serta
rekayasa atau peningkatan kelembagaan yang sudah ada.

9.4. POLA TANAM DALAM HUBUNGANNYA DENGAN
TIPE LUAPAN AIR SERTA IKLIM

Pemilihan pola tanam dan komoditas pertanian berkaitan erat dengan pola
penataan lahan dan ketersediaan air, dimana sumber air di lahan pasang surut
berasal dari air pasang dan air hujan atau hanya air hujan saja tergantung
kepada tipe luapan airnya. Bervariasinya jangkauan air pasang di lahan pasang
surut mengakibatkan adanya perbedaan suplai air ke petakan lahan untuk
menunjang keperluan tanaman. Anjuran pola tanam yang dapat dikembangkan
di lahan pasang surut diberikan oleh Suprihatno et al. (1999). Pada lahan bertipe
luapan air A yang umumnya berada di sepanjang sisi sungai ditata sebagai
sawah, dimana air pasang sudah mampu mensuplai keperluan air tanaman baik
pada musim hujan maupun kemarau, sehingga walaupun curah hujan bulanan
kurang dari 100 mm, penanaman padi tetap dapat dilakukan. Kendala pada
lahan ini adalah tingginya genangan air pada musim hujan sehingga diperlukan

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

280

varietas lebih tinggi dari genangan maksimum. Namun demikian, lahan di daerah
tersebut pada musim kemarau panjang sering mengalami intrusi air laut. Oleh
karena itu, pada musim kemarau diperlukan varietas yang toleran kegaraman
seperti Sei Lalan. Dengan demikian pola tanam yang sesuai dengan kondisi
lahan bertipe luapan air A adalah padi-padi.
Pada lahan bertipe luapan air B, dimana lahan hanya dapat terluapi air
pasang besar di musim hujan, maka untuk penanaman padi pada musim hujan,
air tidak menjadi masalah. Sedangkan penanaman padi pada musim kemarau,
sering menghadapi masalah kekurangan air karena selama musim kemarau ada
bulan-bulan tertentu yang curah hujan bulanannya kurang dari 100 mm, di lain
pihak kemampuan air pasang masuk ke petakan lahan berkurang, mengikuti
pola curah hujan. Oleh karena itu, pola tanam yang dapat dikembangkan harus
dikaitkan dengan agroklimat yang ada di Indonesia, yaitu padi-padi untuk tipe
iklim At B1 dan B2, sedangkan untuk tipe iklim C1 dan C2 adalah padi-padi atau
padi palawija. Penanaman palawija di lahan bertipe luapan air B pada musim
hujan membutuhkan tata air tertentu pada petakan lahan agar terhindar dari
genangan air.

Pada lahan bertipe luapan air C, sumber air utama berasal dari curah
hujan sehingga penanaman padi sawah di lahan tersebut hanya dapat dilakukan
pada musim hujan yaitu, seperti halnya sawah tadah hujan. Karena pola dan
distribusi hujan selalu berubah, maka padi sering mengalami kekurangan air.
Penanaman palawija pada lahan tersebut sangat dimungkinkan, baik pada
musim kemarau maupun musim hujan, berkat dukungan curah hujan dan
besarnya kandungan bahan organik dengan daya serap yang besar terhadap air.
Sebagai konsekuensi dari sifat tersebut maka penanaman palawija
membutuhkan drainase yang baik, karena itu perlu dibuat saluran-saluran
drainase.

Lahan bertipe luapan air D lebih bersifat seperti lahan kering dengan
sumber utama airnya adalah hujan, maka penanaman padi dilakukan pada
musim hujan saja dengan syarat masa pertanamannya berada pada bulan-bulan
basah. Karena besarnya porositas tanahnya maka perlu digunakan varietas padi
yang toleran terhadap kekeringan seperti : Cisanggarung, Sei Lalan, Banyuasin,
Batanghari, dan Dendang. Penanaman palawija dapat dilakukan pada musim
hujan maupun pada musim kemarau, sehingga pola tanam yang sesuai untuk
tipe lahan ini adalah padipalawija/sayuran atau palawija-palawija/sayuran.

Jumberi dan Alihamsyah

281

Gambar 9.1. Pola tanam padi-jeruk di lahan pasang surut tipe luapan B,
kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan

9.5. PEMILIHAN KOMODITAS DAN VARIETAS TANAMAN

Identifikasi jenis komoditas dan varietas tanaman untuk pengembangan
agribisnis di lahan pasang surut sangat penting agar dapat memberikan hasil
optimal. Karena kondisi lahannya yang spesifik menyebabkan hanya beberapa
jenis komoditas dan varietas tertentu saja yang dapat tumbuh dan memberikan
hasil baik. Dari hasil pengujian dan pengalaman pengembangan di lapangan,
Badan Litbang Pertanian telah mengidentifikasi berbagai jenis komoditas
pertanian dan varietas tanaman yang dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik di lahan pasang surut. baik berupa varietas unggul lokal maupun varietas
unggul nasional. Komoditas yang bisa dikembangkan di lahan pasang surut
meliputi : tanaman pangan (padi. jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau,
dan ubi-ubian), tanaman sayuran (tomat, cabai, timun, kacang panjang, terong,
buncis, kubis, bawang merah, sawi, slada, bayam, dan kangkung), tanaman
buah-buahan (nenas, semangka, jeruk rambutan, dan pisang), tanaman
perkebunan (kelapa, kelapa sawit, kopi, lada, dan jahe), ternak (unggas,
ruminansia kecil dan besar), dan ikan (nila, patin, jelawat, betutu, tambakan)
(Ismail et al., 1993 dan Alihamsyah et al., 2003).
Untuk mendukung pengembangan pertanian di lahan pasang surut, Badan
Litbang Pertanian juga telah menghasilkan berbagai varietas unggul tanaman

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

282

khususnya padi dan palawija yang adaptif di lahan pasang surut (Ismail et al.,
1993; Suwarno et al., 1993; Suprihatno et al., 1999; Alihamsyah et al., 2000;
Alihamsyah et al., 2001). Varietas unggul padi sawah yang beradaptasi baik di
lahan pasang surut yang tingkat kemasaman dan kadar besinya tidak terlalu
tinggi adalah Kapuas, Cisanggarung, Cisadane, IR-42, IR-66, Lematang, Sei
Lilin, Sei Lalan, Banyuasin, Dendang, dan Batanghari. Sedangkan untuk lahan
yang kemasaman dan kadar besinya tinggi dapat digunakan beberapa varietas
unggul lokal seperti Talang, Ceko, Mesir, Jalawara, Siam Lemo, Semut,
Pontianak, Sepulo, Pance, Salimah, Jambi Rotan, dan Tumbaran hanya saja
umurnya panjang, yaitu 120-150 hari.
Penanaman padi dapat dilakukan melalui dua pola tanam, yaitu pola padi
varietas unggul-unggul dan pola padi varietas unggul-Iokal. Pada pola padi
varietas unggul-Iokal, varietas unggul ditanam pada musim hujan dengan luasan
sekitar 75-80% dari luas petak lahan sedangkan 20-25% sisanya untuk
persemaian padi varietas lokal yang akan ditanam setelah padi varietas unggul
dipanen. Dengan demikian intensitas pertanaman pada pola ini antara 175-
180%. Dari serangkaian penelitian yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian,
maka sampai dengan tahun 2001 telah dilepas 18 varietas padi unggul adaptif
lahan pasang surut dengan berbagai sifat (Tabel 9.3) yang dapat dipilih sesuai
dengan kondisi biofisik lahan dan preferensi petani.

Gambar 9.2. Tampilan varietas ungul padi Margasari dan Ciherang di lahan
eks PLG, Dadahup, kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah

Jumberi dan Alihamsyah

283

Tabel 9.3. Varietas unggul padi pasang surut yang telah dilepas sampai tahun
2002

Ketahanan hama dan penyakit

Nama varietas Tahun

dilepas Umur
panen

Hasil Tekstur
nasi

WCk HOBBCk Blas

hari

t/ha

Barito

1981 140-145

3

Pera

T-1

AT

-

-

Mahakam

1983 135-140

3-4

Pera

P-1,2,3 AT

-

-

Kapuas

1984

127

4-5

Sedang

T -1

AT

-

-

Musi

1988 135-140

4,5

Pera

T-2

T

-

T

Sei Lilin

1991 115-125

4-6

Pera

AT-2

-

-

AP

Lematang

1991 125-130

4-6

Pera

T-1

-

-

AT

Lalan

1997 125-130

4-6

Pera

T-1,2, 3

-

-

T

Banyuasin

1997 115-120

4-6

Pulen

T -3

-

T

T

Batanghari

1999

125

4-6

Pera

T -1,2

T

-

T

Oendang

1999

125

3-5

Pulen

T-1,2

-

AT

AT

Indragiri

2000

117

4,5-5,5Sedang

T-2

T

-

T

Punggur

2000

117

4,5-5 Sedang T-2,3

-

-

T

Margasari

2000 120-125

3-4

Sedan

AT-2

-

-

T

Martapura

2000 120-125

3-4

Sedang

AP

-

-

T

Air Tenggulang 2001

125

5

Pera

T-1,2,3

T

T

Siak Raya

2001

125

5

Pera

T-IR26

-

T

T

Lambur

2001

120

4

Pulen

A T-3

-

-

T

Mendawak

2001

115

4

Pulen

AT -3

-

-

AT

T = Tahan; AT = Agak Tahan; AP = Agak Peka; P = Peka; WCk = Wereng coklat; 1, 2, 3 =
Biotipe 1, 2, 3; HOB = Hawar daun bakteri; BCk = Bercak coklat
Sumber : Khairullah dan Sulaiman (2002).

Pemilihan komoditas selain padi sangat dimungkinkan bila lahan ditata
dengan sistem surjan atau tukungan terutama pada lahan bertipe luapan air BIC
dan tegalan pada lahan bertipe luapan air C dan D yang disertai dengan
pembuatan drainase dangkal intensif. Tanaman palawija dan hortikultura atau
tanaman industri dapat diusahakan pada guludan surjan dan pada lahan bertipe
luapan air C dan D terutama pada musim kemarau Varietas unggul tanaman
palawija yang beradaptasi baik di lahan pasang surut adalah Arjuna, Wiyasa,
dan Kalingga untuk jagung; Wilis, Rinjani, Lokon, Dempo, dan Galunggung untuk
kedelai; Gajah, Pelanduk, dan Kerinci untuk kacang tanah; Betet dan Walet
untuk kacang hijau. Daftar jenis dan varietas tanaman palawija, sayuran, buah-
buahan, dan tanaman industri yang adaptif lahan pasang surut secara rinci
disajikan pada Tabel 9.4. Hal ini menunjukkan bahwa tersedia beragam pilihan
komoditas dan varietas yang dapat dikembangkan untuk usaha agribisnis di
lahan pasang surut disesuaikan dengan preferensi pasar atau konsumen.

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

284

Dengan demikian, pengembangan agribisnis di lahan pasang surut dengan
beragam pilihan komoditas dan varietas sesuai dengan preferensi pasar atau
konsumen sangat prospektif.

Tabel 9.4. Jenis dan varietas tanaman non padi adaptif lahan pasang surut

Jenis tanaman

Varietas

Daya
toleransi Hasil
t/ha

Jagung

Arjuna, Kalingga, Wiyasa, Bisma, Bayu,
Antasena, C-3, C-5, Semar, Sukmaraga, H6, Bisi
Dua

Sedang

4-5

Kedelai

Wilis, Rinjani, Lokon, Dempo, Galunggung,
Siamet, Lawit, Merbabu, Petek, Kerinci,
Tampomas,Tanggamus, Menyapa

Sedang 1,5-2,4

Kacang tanah Gajah, Pelanduk, Kelinci, Singa, Jerapah,
Komodo,Mahesa

Tahan

1,8-3,5

Kacang hijau

Betet, Walet, Gelatik

Tahan

1,5

Tomat

Intan, Permata, Berlian, Mirah, AV-22 , Ratna

Sedang

10-15

Cabai

Tanjung-1, Tanjung-2, Barito, Bengkulu,
Tampar, Keriting, Rawit Hijau dan Putih

Sedang

4-6

Terong

Mustang, Kopek Ungu, Ungu Panjang, No. 4000 Tahan

30-40

Kubis

KK Cross, KY Cross, Grand 33

Sedang

20-25

Kacang panjang Super King, Pontianak, KP-1, KP-2

Tahan

15-28

Buncis

Horti-1, Horti-2, Prosessor, Farmer Early, Green
Leaf

Sedang

6-8

Timun

Saturnus, Mars, Pluto

Sedang

35-40

Bawang merah Ampenan, Bima, Menteng, Sumenep, Kuning

Sedang 4,1-7,6

Sawi

Asveg#1, Sangihe, Talaud, Tosakan, Putih
Jabung, Sawi Hijau, Sawi Huma, No. 82-157

Tahan

15-20

Slada

New Grand Rapids

Sedang

12-15

Bayam

Maestro, Giti dan Kakap Hijau dan Merah,
Cimangkok

Sedang

10-12

Kangkung

LP-1, LP-2, Sutera

Sedang

25-30

Semangka

Sugar Baby, New Dragon

Sedang

15-25

Nenas

Madu, Bangka, Paun

Tahan

40

Jahe

Merah

Sedang

20-24

Kencur

Sedang

21,6

Kelapa

Dalam Riau

Tahan

2,5-4,1
kopra

Kelapa sawit

Tahan

19

Sumber : Alihamsyah et al. (2003)

Jumberi dan Alihamsyah

285

Komoditas hortikultura, baik sayuran maupun buah-buahan, memiliki nilai
ekonomi lebih tinggi dari pada tanaman pangan, tetapi teknik budidayanya lebih
rumit dan memerlukan ketekunan. Selain itu, komoditas ini sangat rentan
terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, seperti curah hujan tinggi,
kekeringan, dan organisme pengganggu tanaman. Tanaman industri atau
perkebunan walaupun memiliki prospek besar untuk agribisnis di lahan pasang
surut, namun pengusahaannya harus dilakukan dalam skala lebih luas untuk
efisiensi pengolahan hasil dan peningkatan nilai tambah.

Gambar 9.3. Tampilan kacang tanah dan tanaman sayuran di lahan eks PLG,
Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah

9.6. KOMPONEN UTAMA SISTEM AGRIBISNIS

Seperti pada agro-ekosistem lainnya, sistem agribisnis di lahan pasang
surut perlu mencakup : (1) subsistem produksi berupa penerapan teknologi
produks! (2) subsistem sarana dan prasarana pertanian seperti pengembangan
prasarana tata air serta penyediaan sarana produksi dan jasa tenaga kerja, (3)
subsistem pengolahan hasil atau agroindustri, (4) subsistem pemasaran dan
distribusi, dan (5) subsistem pendukung. Setiap subsistem tersebut memerlukan
kelembagaan yang sesuai dan ditata dalam suatu tatanan yang sinergis dan
harmonis melalui peningkatan kemampuan dan pemberdayaan masyarakat
maupun kelembagaan yang sudah ada (Alihamsyah et al., 2003).

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

286

9.6.1. Model usahatani sebagai subsistem produksi

Adanya keragaman karakteristik biofisik lahan dan sosial ekonomi, maka
model usahatani yang dapat dikembangkan adalah model usahatani yang
berbasis sumberdaya lokal yaitu kondisi lahan dan komoditas yang sesuai.
Model usahataninya bersifat spesifik dan dinamis disesuaikan dengan tipologi
lahan dan tipe luapan air serta sosial ekonomi dan kemampuan masyarakat
setempat maupun prospek pemasaran komoditasnya. Usahataninya harus
diarahkan kepada pengembangan aneka komoditas dalam suatu sistem usaha
terpadu baik antar komoditas yang diusahakan maupun antar komponen
teknologi budidayanya yang pemilihannya disesuaikan dengan kondisi lahan dan
prospek pemasarannya. Penganekaragam komoditas ini perlu dilakukan untuk
meningkatkan pendapatan dan mengurangi risiko kegagalan usahatani. Sistem
usahataninya mencakup : aspek penataan lahan dan jaringan pengairan, pola
tanam dan pemilihan komoditas serta teknologi produksinya disesuaikan dengan
karakteristik wilayahnya. Dengan demikian, sistem usahanya bersifat spesifik
dan dinamis disesuaikan dengan karakteristik lahan dan kondisi sosial ekonomi
setempat serta prospek pemasaran hasil komoditas yang bisa dikembangkan.

Sistem usaha terpadu tersebut didasarkan kepada sistem usaha yang
bertitik tolak kepada pemanfaatan hubungan sinergistik antar subsistemnya agar
kelestarian sumberdaya alam dan keberlanjutan pertaniannya tetap terjamin.
Dilihat dari pelaku dan tujuan pengembangannya, secara garis besar ada dua
model usahatani yang cocok dikembangkan di lahan pasang surut, yaitu :
usahatani berbasis tanaman pangan dan usaha tani berbasis komoditas
unggulan (Alihamsyah dan Ananto, 1998; Suprihatno et aI., 1999; Alihamsyah et
aI., 2000).

Usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan
pangan bagi petaninya, sedangkan usahatani berbasis komoditas unggulan
dikembangkan pada skala luas dalam perspektif agribisnis oleh pengusaha.

Komoditas yang bisa dikembangkan di lahan pasang surut meliputi :
tanaman pangan, tanaman sayuran, tanaman buah-buahan, tanaman
perkebunan, ternak, dan ikan. Pemilihan komoditas untuk suatu wilayah
pengembangan perlu disesuaikan dengan kondisi lahan serta prospek
pemasarannya. Sedangkan pemilihan varietas tanamannya didasarkan kepada
daya adaptabilitasnya terhadap kondisi lahan pasang surut yang beragam,

Jumberi dan Alihamsyah

287

termasuk preferensi petani dan konsumen. Dari prospek pemasarannya,
berbagai komoditas andalan yang memiliki keunggulan komparatif ataupun
kompetitif dapat dikembangkan, antara lain: kelapa, sawit, lada, jahe, nenas,
pisang, cabe, tomat, ternak ruminansia dan unggas, ikan patin, nila, dan jelawat.
Beberapa contoh model dan penerapan usahatani di lahan pasang surut baik
secara terpadu maupun parsial dikemukakan dalam Ar-Riza et al. (1993), Ismail
et al. (1993), Areo et al. (1998), Sabran et al. (1998), Area et al. (1999),
Alihamsyah et al. (2000), Ananto et al. (2000), Ismail et al. (2000), Herawati et al.
(2000), dan Supriadi et al. (2000).

9.6.2. Subsistem penyediaan sarana dan jasa tenaga kerja

Subsistem ini merupakan subsistem pendukung utama pada subsistem
produksi. Subsistem penyediaan sarana produksi pertanian mencakup terutama
: perbenihan dan pembibitan, amelioran dan pupuk serta obat-obatan, alat dan
mesin pertanian (alsintan), serta bahan pendukung lainnya. Sedangkan
subsistem jasa tenaga kerja terkait dengan kelangkaan tenaga kerja di wilayah
lahan pasang surut. Dengan terbatasnya modal dan keterampilan serta jiwa
wirausaha petani dan mahalnya harga alsintan, pengembangan alsintan
diarahkan kepada sistem penyewaan melalui usaha pelayanan jasa alsintan
(UPJA) sehingga petani tidak menanggung risiko kerugian. Subsistem ini bisa
berupa UPJA untuk kegiatan penyiapan lahan. penanaman, pemeliharaan
tanaman, pemompaan air, panen dan pasca panen.

Sarana produksi yang penyediaannya sering bermasalah adalah benih,
bibit dan pupuk. Dalam kaitan dengan penyediaan benih, petani penangkar
benih yang dibina oleh dan bermitra dengan pihak swasta perlu ditumbuh-
kembangkan. Selain itu, keperluan benih atau bibit untuk setiap lokasi
pengembangan termasuk varietas dan waktunya perlu diinventarisir, agar
penyediaannya tepat sasaran, efektif dan efisien. Sedangkan dalam hal
penyediaan pupuk dan obat-obatan peranan koperasi desa dan kios sarana
produksi perlu ditingkatkan. Peranan pihak swasta dalam penanganan subsistem
ini sangat diperlukan agar sarana produksi dan pelayanan jasa tersebut dapat
tersedia dengan baik.

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

288

9.6.3. Subsistem pasca panen dan pemasaran hasil

Masalah utama dalam subsistem pasca panen di lahan pasang surut
adalah belum baiknya penanganan panen dan pasca panen, disebabkan oleh
musim panen bersamaan dengan musim hujan serta terbatasnya tenaga kerja
dan prasarana penunjangnya. Hal ini mengakibatkan tingginya kehilangan dan
rendahnya mutu hasil tanaman sehingga harga jual hasil pertanian juga rendah.
Pengembangan alsintan panen dan pasca panen baik pasca panen primer
maupun pasca panen sekunder bertujuan selain untuk mengatasi keterbatasan
tenaga kerja juga untuk menekan kehilangan dan memperbaiki mutu serta
meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Hal ini memerlukan pengembangan
UPJA untuk kegiatan pasca panen primer dan pengembangan industri
pengolahan hasil atau agroindustri yang dapat menghasilkan beragam produk
olahan.

Berbagai komoditas pertanian telah diusahakan oleh petani di berbagai
wilayah lahan pasang surut dan memberikan hasil yang cukup tinggi. Namun
hasil pertanian tersebut tidak bisa dipasarkan dengan baik dan kadang-kadang
harganya sangat murah karena sistem pemasaran yang tidak baik. Masalah
pemasaran hasil pertanian di wilayah lahan pasang surut terkait juga dengan
keterbatasan aksesibilitas wilayah dan informasi pasar serta kemampuan petani
dalam memasarkan hasil pertaniannya. Hal ini mengakibatkan rendahnya posisi
tawar petani terlebih lagi pada saat panen raya dan dalam jangka panjang akan
berpengaruh jelek terhadap keberlanjutan usahatani. Oleh karena itu.
kelembagaan tata niaga atau pemasaran hasil pertanian sistem informasi pasar
perlu dibangun dan kemampuan petani atau kelompoknya dalam memasarkan
hasil pertaniaannya ditingkatkan sehingga petani memiliki posisi tawar yang lebih
baik dan menerima keuntungan yang lebih layak.

9.6.4. Subsistem keuangan dan permodalan

Pada wilayah lahan pasang surut yang sudah dikembangkan, terbatasnya
modal merupakan salah satu kendala utama petani dalam mengembangkan
usahatani yang intensif dan ekstensif. Terlebih lagi lembaga keuangan belum
berkembang di lokasi tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah
termasuk memberikan bantuan dana bergulir dan mengembangkan berbagai

Jumberi dan Alihamsyah

289

skem kredit seperti kredit usahatani dan kredit ketahanan pangan, namun pada
umumnya tidak berhasil baik dan bahkan banyak yang macet. Oleh karena itu,
perlu dikembangkan lembaga keuangan atau permodalan alternatif seperti
lembaga keuangan desa dan Grameen Bank yang fungsinya selain menyalurkan
kredit, juga melayani berbagai transaksi keuangan di wilayah pengembangan
mengingat lokasi pengembangan umumnya jauh dari kota. Prosedur pengajuan
kreditnya harus sesederhana mungkin dan biayanya murah serta pencairan
dananya cepat dan jangka waktu pengembalian kreditnya lebih lama atau
fleksibel, misalnya minimal satu tahun dan bukan satu musim tanam seperti yang
dilaksanakan sebelumnya.

9.6.5. Subsistem informasi dan penyuluhan

Peranan subsistem informasi dan penyuluhan penting dalam penyediaan
dan penyebaran informasi terkini dari berbagai aspek terkait dengan
pengembangan pertanian atau agribisnis di lahan pasang surut dan sekaligus
meningkatkan kemampuan petani dalam berusahatani atau beragribisnis. Untuk
itu, perlu dikembangkan sistem informasi pertanian atau agribisnis yang baik
agar mampu menyediakan informasi terkini mengenai potensi lahan dan
karakteristiknya serta ketersediaan teknologi dan perkembangan pasar
komoditas pertanian. Kemampuan Balai informasi dan penyuluhan pertanian
yang ada perlu ditingkatkan, baik sarana dan prasarananya maupun
sumberdaya manusianya agar mampu mengelola sistem informasi dan
penyuluhan pertanian maju. Sebagai ujung tombak pengembangan pertanian
atau agribisnis di lahan pasang surut, penyuluh pertanian perlu ditingkatkan
pengetahuan dan kemampuan serta keterampilannya dalam berbagai aspek
pengembangan agribisnis. Selain itu, kepada mereka seyogyanya diberikan
insentif dan dana operasional serta sarana dan prasarana yang memadai agar
gairah dan semangat kerjanya meningkat.

9.7. KENDALA PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS

Selain memiliki prospek yang baik, pengembangan agribisnis di lahan
pasang surut juga menghadapi berbagai kendala sosial ekonomi dan dukungan
eksternal yang terkait antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, untuk

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

290

keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan agribisnis di lahan pasang surut
harus diupayakan semaksimal mungkin pemecahan kendala tersebut.

9.7.1. Kendala sosial ekonomi petani

Kendala sosial ekonomi pengembangan agribisnis di daerah pasang surut
yang umumnya dihuni oleh penduduk lokal atau sebagai daerah transmigrasi
meliputi : (1) rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan petani, (2) masih
kuatnya adat budaya tradisional, dan (3) terbatasnya tenaga kerja. Hal ini
menyebabkan sulit dan lambannya adopsi teknologi baru oleh petani. Untuk
mendukung keberhasilan pengembangan usahatani atau agribisnis, maka petani
atau buruh tani sebagai pelaksana dalam subsistem produksi perlu ditingkatkan
kemampuan dan partisipasi aktifnya melalui berbagai upaya termasuk
sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan.

9.7.2. Kendala dukungan eksternal

Dukungan eksternal yang menjadi kendala dalam pengembangan usaha
agribisnis di lahan pasang surut mencakup : (1) terbatasnya infrastruktur atau
prasarana penunjang terutama jaringan tata air dan perhubungan serta air
bersih, (2) rendahnya aksesibilitas lokasi, dan (3) belum berkembang dan
berfungsinya secara baik kelembagaan agribisnis terutama penyediaan sarana
produksi, keuangan atau permodalan, pengelolaan pasca panen, pemasaran
hasil, sistem informasi dan penyuluhan. Sarana dan prasarana transpotasi di
daerah pasang surut terbatas dan umumnya berupa transportasi air, sedangkan
pasar hanya dimiliki oleh wilayah yang sudah lama dibuka dan
perkembangannya pun sangat lamban.

Lembaga keuangan formal untuk perkreditan maupun penyimpanan uang
umumnya belum tersedia di wilayah pasang surut sehingga fasilitas perkreditan
dan mobilitas dana sulit berkembang. Keadaan transpotasi dan pemasaran yang
demikian akan menghambat penyaluran sarana produksi dan pemasaran hasil
pertanian. Lembaga penyuluhan seperti Balai Informasi dan Penyuluhan
Pertanian sebagai penyedia informasi dan penyebaran teknologi pertanian
walaupun ada, tetapi sarana dan prasarananya umumnya terbatas serta
kemampuan tenaga penyuluhnya relatif masih rendah.

Jumberi dan Alihamsyah

291

9.8. PERANCANGAN MODEL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Perancangan model usaha pertanian atau agribisnis di lahan pasang surut
harus didasarkan kepada kondisi dan karakteristik wilayah pengembangannya,
sehingga akan bersifat spesifik wilayah. Perancangan dan pengembangan
usaha agribisnis di lahan pasang surut perlu dilakukan dengan pendekatan
holistik terpadu, artinya bahwa perancangan. dan pengembangannya dilakukan
dalam suatu sistem terpadu yang sinergi dan serasi antar komponen atau
subsistemnya, baik komoditas yang dikembangkan maupun teknologi yang
digunakan serta dukungan eksternalnya (Gambar 9.4). Oleh karena itu,
Identifikasi dan karakterisasi wilayah lahan pasang surut secara rinci merupakan
langkah pertama dan utama yang harus dilakukan guna tercapainya sasaran
pengembangan agribisnis di lahan pasang surut.

Gambar 9.4. Gambaran perancangan model agribisnis di lahan pasang surut

Model Usaha Agribisnis
di Lahan Pasang Surut
Spesifik Lokasi

Penataan lahan:

− Sawah
− Surjan
− Tukungan
− Sistem caren

Jaringan tata air :

− Tata letak saluran
− Tipe dan dimensi
saluran
− Bangunan tata air

Sistem Usahatani :

− Pola tanam
− Komoditas & varietas
tanaman
− Teknik budidaya

Kapasitas Petani :

− Pengetahuan &
Ketrampilan
− Tenaga & model kerja
− Motivasi & partisipasi
− Kelompok tani

Kelembagaan :

− Sarana Produksi
− Keuangan & permodalan
− Jasa Alsintan
− Pemasaran hasil
− Informasi & penyuluhan

Prasarana Lainnya :

− Jalan usahatani
− Gudang & Prasarana
prosesing
− Prasarana lainnya

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

292

Dalam mengoptimalkan pengembangan usaha agribisnis di lahan pasang
surut, masalahnya adalah dimana saja dan berapa luas efektifnya serta
bagaimana karakteristik lahannya. Oleh karena itu, salah satu langkah awal yang
merupakan tahapan sangat penting dalam pengembangan usaha agribisnis di
lahan pasang surut yang perlu dilakukan adalah melakukan identifikasi atau
inventarisasi dan karakterisasi sebaik mungkin terhadap lahan-Iahan tersebut.
Informasi dalam bentuk peta minimal memuat penyebaran tipologi lahan dan tipe
luapan air serta sifat fisiko-kimia penting tanah dan airnya dapat digunakan
dalam penyusunan kembali tata ruang wilayah serta pola penataan lahan dan
jaringan tata air maupun pola tanam dan pemilihan komoditas serta teknologi
budidayanya. Sedangkan karakterisasi sosial ekonomi dan persepsi petani,
prospek pemasaran komoditas dan kelembagaan serta prasarana penunjang
digunakan untuk menyempurnakan prasarana usahatani, prasarana ekonomi,
dan kelembagaan yang lebih sesuai serta pola peningkatan kapasitas petani.
Pola pikir dalam perancangan model usaha agribisnis dalam kaitannya dengan
karakterisasi wilayah lahan pasang surut disajikan pada Gambar 9.5.

Gambar 9.5. Pola pikir perancangan model usaha agribisnis di lahan pasang
surut

Karakteristik
biofisik lahan

Karakteristik sistem
usahatani

Karakteristik Sosek
& kelembagaan

Karakteristik
prasarana wilayah

●Calon lokasi/petani
● Penataan lahan
● Pilihan komoditas
● Budidaya tanaman

● Calon lokasi/petani
● Prasarana usahatani
● Prasarana ekonomi
● Lembaga penunjang
● Kapasitas petani

Model Usaha
Agribisnis di lahan
Pasang Surut

Peningkatan :
● Produksi pangan
● Pendapatan
● Kesejahteraan
● Kelestarian SDA

SASARAN

Karakteristik
Wilayah

Jumberi dan Alihamsyah

293

Agar kelestarian sumberdaya alamnya tetap terpelihara, pengembangan
usaha agribisnis di lahan pasang surut selain penerapan teknologi secara benar
juga memerlukan pengaturan tata ruang yang cermat. Tata ruang pada
pengembangan lahan pasang surut perlu diatur, baik untuk tata ruang skala
makro maupun untuk tata ruang budidaya pertanian pada suatu wilayah
pengembangan. Untuk pengaturan tata ruang, maka karakteristik dari setiap
tipologi lahan pasang surut dapat dipakai sebagai acuan peruntukan atau
pemanfaatan dan penataan lahan serta pemilihan komoditas yang sesuai.
Sedangkan tata ruang pertanian disusun berdasarkan hasil karakterisasi wilayah
terutama arahan kesesuaian lahan.

Untuk skala makro, maka areal lahan perlu dibagi menjadi kawasan non
budidaya, kawasan budidaya atau reklamasi dan kawasan prasarana penunjang
seperti pemukiman dan fasilitas umum. Kawasan non budidaya diperuntukkan
sebagai wilayah penyangga guna mempertahankan kelestarian sumberdaya
alam, yang bisa berupa kawasan lindung dan suaka alam. Kawasan lindung
meliputi kawasan gambut sangat dalam beserta hutannya, sempadan pantai dan
sungai serta kawasan hutan bakau, sedangkan suaka alam adalah kawasan
yang memiliki ekosistem khas dan merupakan habitat alami fauna atau flora
tertentu yang langka dengan tujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati.

Kawasan budidaya atau reklamasi bisa berupa kawasan hutan tanaman
industri, kawasan perkebunan dan kawasan pertanian. Sesuai dengan
karakteristik lahannya, maka lahan gambut dalam dan lahan sulfat masam aktual
dijadikan kawasan perhutanan atau konservasi, sedangkan lahan gambut
sedang dan sulfat masam dijadikan kawasan perkebunan. Kawasan pertanian
dipilih pada lokasi bertipologi lahan potensial, sulfat masam potensial, bergambut
dan gambut dangkal, sedangkan untuk kawasan permukiman atau penunjang
sedapat mungkin diletakan pada tipologi lahan sulfat masam. Gambar 9.6 adalah
contoh pengaturan tata ruang umum bersifat hipotetik untuk pengembangan
usaha agribisnis di lahan pasang surut. Pada kawasan budidaya pertanian,
wilayah pengembangan ditata menjadi beberapa sub kawasan, yaitu bisa berupa
sub kawasan tanaman pangan sub kawasan tanaman buah-buahan, sub
kawasan tanaman sayuran, dan sub kawasan kombinasi dari aneka komoditas
pertanian disesuaikan dengan penataan kesesuian lahan serta prospek pasar
komoditas yang akan dikembangkan.

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

294

Gambar 9.6. Contoh susunan tata ruang hipotetik di lahan pasang surut

Jumberi dan Alihamsyah

295

PENUTUP

Lahan pasang surut di Indonesia, karena merupakan lahan marjinal dan
rapuh dengan berbagai masalah dan kendala pengembangan yang kompleks,
maka reklamasi dan pengelolaannya harus benar-benar dilakukan secara
terencana, cermat, dan hati-hati melalui penerapan teknologi reklamasi dan
pengelolaan lahan yang tepat sesuai dengan karakteristik fisiko-kimia lahannya.
Agar pemanfaatannya untuk usaha agribisnis dapat berkelanjutan dan berhasil
baik, maka fokus utama pengembangannya adalah optimalisasi pemanfaatan
dan pelestarian sumberdaya lahan serta pengembangan infrastruktur dan
kelembagaan. Untuk itu, identifikasi dan karakterisasi wilayah mutlak perlu
dilakukan secara rinci, baik menyangkut aspek biofisik lahan dan sistem
usahatani yang ada maupun sosial ekonomi dan persepsi petani serta
infrastruktur dan kelembagaan penunjang yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, A., K. Sudarman, dan D.A. Suriadikarta. 1998. Pengembangan
Lahan Pasang Surut keberhasilan dan kegagalan ditinjau dari fisiko kimia
lahan pasan surut. M. Sabran dkk. Dalam Prosiding Seminar Nasional
Hasil Penelitian Menunjang Akselerasi Pengembangan Lahan Pasang
Surut. Balittra. Banjarbaru.
Alihamsyah, T. dan E.E. Ananto. 1998. Sintesis hasil penelitian budidaya
tanaman dan alsintan pada lahan pasang surut. M. Sabran dkk. Dalam
Presiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Menunjang Akselerasi
Pengembangan Lahan Pasang Surut. Balittra. Banjarbaru.
Alihamsyah, T., E.E. Ananto, H. Supriadi, I.G. Ismail, dan D.E. Sianturi. 2000.
Dwi Windu Penelitian Lahan Rawa : Mendukung Pertanian Masa Depan.
Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP. Badan
Litbang Pertanian. Bogor.
Ananto, E.E., A. Supriyo, Soentore, Hermanto, Y. Soelaeman, I W. Suastika, dan
B. Nuryanto. 2000. Pengembangan Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut
Sumatera Selatan : Mendukung Ketahanan Pangan dan Pengembangan
Agribisnis. P2SLPS2. Badan Litbang Pertanian.
Areo, Z.A., D. Djauhari, M.S. Mokhtar, S. Fahri, dan M.A. Firmansyah. 1998.
Prosiding Seminar Hasil Penelitian/Pengkajian untuk Mendukung

Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut

296

Pengembangan Lahan Rawa/Gambut Sejuta Hektar di Kalimantan
Tengah. Palangkaraya, 3-4 Januari 1998. BPTP Palangkaraya.
Areo, Z.A, D. Djauhari, R. Ramli, Sriansyah, dan M.S. Mokhtar 1999. Presiding
Lokakarya Nasional Hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian.
Palangkaraya, 26-27 Agustus 1999. BPTP Palangkaraya.
Ar-Riza, I., R. Ramli, H.D. Noor, dan H. Susanto. 1993. Sistem usahatani dan
teknologi penunjang di lahan pasang surut dan lebak Kalimantan Selatan.
Balai Penelitian Tanaman Pangan. Banjarbaru.
Badan Litbang Pertanian. 2003. Panduan Ekspose Nasional Pertanian Lahan
Rawa Pasang Surut. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, 30-31 Juli 2003.
Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan. 1995. Luas penggunaan
lahan rawa pasang surut, lebak, polder, dan rawa lainnya di tujuh propinsi.
Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura. Departemen Pertanian. Jakarta.
Herawati, T., E.E. Ananto, dan A.S. Karama. 2000. Prosiding Seminar Hasil
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Lahan Pasang Surut-ISOP Riau.
Pekanbaru, 27-28 Maret 2000. Puslitbang Tanaman Pangan.
Idak, H. 1982. Perkembangan dan sejarah persawahan di Kalimantan Selatan.
Mimeographi, Pemda Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
Ismail, I.G., T. Alihamsyah, I P.G. Widjaja-Adhi, Suwarno, T. Herawati, R. Thahir,
dan D.E. Sianturi. 1993. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa :
Kontribusi dan Prospek Pengembangan. Proyek Swamps II. Puslitbang
Tanaman Pangan, Bogor.
Khairullah, I. and S. Sulaiman. 2002. Varietas unggul dan galur harapan padi
adaptif lahan pasang surut. Monograf: Varietas Tanaman Pangan Adaptif
Lahan Pasang Surut. ISSN 1410-637 X. Balai Penelitian Pertanian Lahan
Rawa. Banjarbaru, Indonesia
Noorsyamsi, H. and O.O. Hidayat. 1974. The tidal swamp rice culture in South
Kalimantan. Contrib. Cent. Res. Inst. Agric. 10: 1-8.
Sabran, M., M.Y. Maamum, S. Abdussamad, B. Prayudi, I. Noar, dan S.
Sulaiman. 1998. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Menunjang
Akselerasi Pengembangan Lahan Pasang Surut. Balittra. Banjarbaru, 21-
22 M8'et 1998
Schophuys, H.J. 1969. Perspectives of lifting water for irrigation and drainage in
Indonesia in general, in Sumatra and Kalimantan in particular
(Mimeographed) Bogor, Indonesia.

Jumberi dan Alihamsyah

297

Supriadi, H., Ruhendi, dan A.S. Karama. 2000. Prosiding Seminar Hasil
Penelitian, dan Pengembangan Pertanian Lahan Pasang Surut-ISOP
Kalimantan Barat Pontianak, 22-23 Maret 2000. Puslitbang Tanaman
Pangan
Suprihatno, B., T. Alihamsyah, dan E.E. Ananto. 1999. Teknologi pemanfaatan
lahan pasang surut dan lebak untuk pertanian tanaman pangan. Dalam
Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV di Bogor tanggal 22-
24 November 1999.
Widjaja-Adhi, I P.G. 1986. Pengelolaan lahan pasang surut dan lebak. Jurnal
Litbang Pertanian V(1), Januari 1986. Badan Litbang Pertanian.
Widjaja-Adhi, I P.G. 1995. Pengelolaan tanah dan air dalam pengembangan
sumberdaya lahan rawa untuk usahatani berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan. Makalah disampaikan pada Pelatihan Calon Pelatih untuk
Pengembangan Pertanian di daerah Pasang Surut, 26-30 Juni 1995,
Karang Agung Ulu, Sumatera Selatan.
Widjaja-Adhi, I P.G. dan T. Alihamsyah. 1998. Pengembangan lahan pasang
surut : potensi, prospek dan kendala serta teknologi pengelolaannya untuk
pertanian. Dalam Prosiding Seminar Himpunan IImu Tanah Jawa Timur.
Malang, 18 Desember 1998.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->