P. 1
Askep ppok

Askep ppok

|Views: 46|Likes:
Published by Heru Hunter

More info:

Published by: Heru Hunter on Sep 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

Oleh : Kelompok 5

 Merupakan

alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung (alveoli).  Gelembung-gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel  Banyaknya gelembung paru-paru kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan).

• • •

Paru-paru kanan : terdiri dari 3 lobus, lobus pulmo dekstra superior,lobus media, lobus inferior.setiap lobus terdiri dari dari lobulus Paru-paru kiri : pulmo sinester lobus superior dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan-belahan yang lebih kecil bernama segment. Paru-paru kiri memiliki 10 segment yaitu; 5 buah segment pada lobus superior,5 buah segment pada lobus inferior Paru-paru kanan memiliki 10 segment yaitu; 5 segmen lobus superior;2 segmen lobus medialis;3 segmen lobus inferior

Pada rongga dada, datarannya menghadap ketengah rongga dada/ kavum mediastinum • Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura • Pleura dibagi menjadi 2: 1. Pleura viseral,yaitu selaput yang langsung membungkus paru-paru 2. Pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.antara kedua pleura terdapat rongga kavum yang disebut kavum pleura.

 Sirkulasi

pulmonar berasal dari ventrikel kanan yang tebal dindingnya 1/3 dari tebal ventrikel kiri  Arteri pulmonal mengalir keparu-paru, dari aorta melalui arteri bronkialis.kembali ke vena pulmonalis

Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( COPD ) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paruparu yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis, emfisema paru-paru bronchiale ( S Meltzer, 2001 : 595 ).

1. Bronkitis kronik Bronkitis merupakan definisi klinis batukbatuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.

Etiologi Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut, yaitu  Infeksi : stafilokokus, sterptokokus, pneumokokus, haemophilus influenzae.  Alergi  Rangsang : misal asap pabrik, asap mobil, asap rokok dll

Patofisiologi  Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Pada infeksi saluran nafas bagian atas, biasanya virus, seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut.

2. Emfisema paru  Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomik, yaitu suatu perubahan anatomik paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus.

Patofisiologi  Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar, yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli, kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil.

3. Asma brachiale  Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciribronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical, endokrin, infeksi, otonomik dan psikologi.

PATOFISIOLOGI  Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas, alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu

Etiologi penyakit ini belum diketahui. Penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor risiko yang terdapat pada penderita antara lain:
       

Merokok sigaret yang berlangsung lama Polusi udara Infeksi peru berulang Umur Jenis kelamin Ras Defisiensi alfa-1 antitripsin Defisiensi anti oksidan

PATOFISIOLOGI PPOK  Fungsi paru mengalami kemunduran dengan datangnya usia tua yang disebabkan elastisitas jaringan paru dan dinding dada makin berkurang. Dalam usia yang lebih lanjut, kekuatan kontraksi otot pernapasan dapat berkurang sehingga sulit bernapas.

 TANDA

DAN GEJALA

Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut:  Kelemahan badan  Batuk  Sesak napas  Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi  Mengi atau wheeze  Ekspirasi yang memanjang  Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut  Penggunaan otot bantu pernapasan  Suara napas melemah  Kadang ditemukan pernapasan paradoksal  Edema kaki, asites dan jari tabuh

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut:  Pemeriksaan radiologist  Analisis gas darah  Pemeriksaan EKG  Kultur sputum, untuk mengetahui petogen penyebab infeksi.  Laboratorium darah lengkap.

 


 

Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok, menghindari polusi udara. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih kontroversial. Pengobatan simtomatik. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan aliran lambat 1 - 2 liter/menit.

Pengkajian

Pengkajian mencakup informasi tentang gejala-gejala terakhir dan manifestasi penyakit sebelumnya Berikut
ini beberapa pedoman pertanyaan untuk mendapatkan data riwayat kesehatan dari proses penyakit: Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan? Apakah aktivitas meningkatkan dispnea? Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas? Kapan pasien mengeluh paling letih dan sesak napas? Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh? Riwayat merokok? Obat yang dipakai setiap hari? Obat yang dipakai pada serangan akut? Apa yang diketahui pasien tentang kondisi dan penyakitnya?

        

Diagnosa Keperawatan

  

 

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mucus, bronkokontriksi dan iritan jalan napas. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Ganggua pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan, pengaturan posisi. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

Intervensi

Beri pasien 6 sampai 8 gelas cairan/hari kecuali terdapat kor pulmonal. Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat. Biarkan pasien membuat keputusan tentang perawatannya berdasarkan tingkat toleransi pasien.
Deteksi bronkospasme saat auskultasi . Ukur tanda-tanda vital segera setelah aktivitas, istirahatkan klien selama 3 menit kemudian ukur lagi tanda-tanda vital. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh. Lakukan pengusapan punggung saat hendak tidur dan anjurkan keluarga untuk melakukan tindakan tersebut. Ajarkan mengkoordinasikan pernapasan diafragmatik dengan aktivitas seperti berjalan, mandi, membungkuk, atau menaiki tangga.

 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->