REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019

)

2012

PERANAN MIKROORGANISME DALAM PENGOLAHAN LIMBAH B3
I. PENDAHULUAN Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah. Karakteristik limbah: 1. Berukuran mikro 2. Dinamis 3. Berdampak luas (penyebarannya) 4. Berdampak jangka panjang (antar generasi) Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah: 1. Volume limbah 2. Kandungan bahan pencemar 3. Frekuensi pembuangan limbah Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian: 1. Limbah cair 2. Limbah padat 3. Limbah gas dan partikel 4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi: 1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan 2. pengolahan menurut karakteristik limbah II. LIMBAH B3 II.1 Pengertian Limbah B3 Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 Limbah B3 didefinisikan sebagai setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dapat merusak dan/atau mencemarkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan manusia. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 1

digudangkan / penyimpanan. Pengertian from cradle to grave sendiri adalah pencegahan pencemaran yang dilakukan dari sejak dihasilkannya limbah B3 sampai dengan di timbun / dikubur (dihasilkan. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. hal ini ditambah lagi dengan fakta bahwa Indonesia telah menjadi salah negara tempat pembuangan limbah B3 dari negara lain (Agustina. energi. prinsip pengelolaan dilakukan secara khusus yaitu from cradle to grave. dikemas. Dalam pengelolaan limbah B3 ini. dan/atau jumlahnya. II. ditransportasikan. Pada setiap fase pengelolaan limbah tersebut ditetapkan upaya pencegahan pencemaran terhadap lingkungan dan yang menjadi penting adalah karakteristik limbah B3 nya. Tujuan dari pengelolaan dan pengolahan limbah B3 ini secara umum dapat dikatakan adalah untuk memisahkan sifat berbahaya yang terdapat dalam limbah tersebut. keangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 2 . Pengelolaan dan Pengendalian Limbah B3) Pengelolaan limbah B3 ini harus dilakukan oleh setiap industri yang menghasilkan limbah B3 pada setiap kegiatan/usahanya. Pengelolaan Limbah B3 Keberadaan B3 yang berdampak negatif bagi lingkungan inilah yang melatarbelakangi perlunya payung hukum dalam hal pengelolaan limbah B3. baik secara langsung maupun tidak langsung. mengacu pada PP 18 Tahun 1999 tentang pengelolaan limbah B3. dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. Pengelolaan limbah B3 adalah hal yang penting dan dan harus dilakukan oleh setiap industri yang menghasilkannya. konsentrasi. hal ini karena setiap usaha pengelolaannya harus dilakukan sesuai dengan karakteristiknya. (sumber : Haruki Agustina. diolah.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 Pengertian ini selaras dengan pengertian limbah B3 sebagaimana yang tercantum dalam UU No. dan ditimbun / dikubur). baik secara langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup.2006:4). dan/atau komponen lain yang karena sifat.32 Tahun 2009 Pasal 1 angka 21 yang menyatakan bahwa : Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat. dikatakan bahwa pengertian limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya. Pada bagian lain. kesehatan. kesehatan. dan/atau membahayakan lingkungan hidup. di daur ulang.2.

III. PROSES OKSIDASI BIOKIMIA UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH SIMULASI CAIR ORGANIK RADIOAKTIF III. memiliki proses produksi yang handal serta memiliki standard produk mutu yang baik. Gugus SO3.496 g/L dengan nilai COD (Chemical Oxygen Demand) 338 ppm. Penimbunan limbah ini harus dilakukan oleh sebah badan usaha yang telah mendapatkan ijin dari KLH serta dengan melaporkan kegiatan penimbunan tersebut. Pemanfaatan ini harus berpedoman pada prinsip agar aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan. merupakan senyawa alkyl-aril sulfonat yang mempunyai rumus CH3.1. Dari operasi pencucian pakaian kerja radiasi yang dilakukan di Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif-Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (IPLRPTLR) ditimbulkan 133. kemudian diolah melalui proses evaporasi INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 3 . Kotoran yang berupa lemak atau minyak menarik gugus hidrofob. barulah limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lebih lanjut. Dengan adanya pengelolaan dan pengolahan limbah B3 ini. Limbah tersebut kemudian dicampur dengan limbah cair lain yang sejenis sehingga kadar detergen sangat rendah. Untuk limbah B3 yang sudah tidak dapat dimanfaatkan atau diolah kembali maka harus ditimbun di landfill. 7 m3 limbah cair per tahun yang mengandung detergen konsentrasi maksimum 1.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 Hal ini harus dilakukan agar limbah B3 ini tidak mencemari ataupun merusak lingkungan hidup tempat dimana mahluk hidup berada. daur ulang atau Recycle. Pemanfaatan limbah ini sendiri dapat berupa penggunaan kembali atau Reuse. limbah pelarut (solven) organik 30% TBP (tri-n-butyl phosphate) dalam kerosin dari pemurnian atau pengambilan uranium dari gagalan fabrikasi bahan bakar nuklir. dan perolehan kembali atau Recovery.(CH2)10-CH2-OSO3Na atau Na+R+SO3-. Tiap molekul detergen dapat dianggap sebagai suatu rantai yang salah saatu ujungnya bersifat suka air (hidrofil) dan ujung lainnya bersifat takut air (hidrofob). BOD (Biological Oxygen Demand) 189 ppm dan aktivitas minimal 10-6 C/m3. Limbah Simulasi Cair Organik Radioaktif Kegiatan industri nuklir menimbulkan limbah cair organik radioaktif seperti limbah detergen persil dari pencucian pakaian kerja radiasi. sedangkan gugus hidrofil tertarik oleh air. Detergen persil adalah jenis detergen berkadar buih rendah.bersifat hidrofil dan rantai karbon R+ bersifat hidrofob. limbah pelarut yang mengandung D2EHPA (di-2-ethyl hexylphosphoric acid) dan TOPO (trioctyl phospine oxide) dalam kerosin dari pemurnian asam fosfat.

Pelarut TBP-kerosin mempunyai nilai kalori pembakaran 10. nilai keasaman 171 mg KOH/g dan viskositas 40 m. Untuk menghindari hal tersebut dilakukan penambahan garam kalsium formiat guna mengendapkan fosfat dalam bentuk kalsium fosfat yang kemudian terikat dalam abu pembakaran. Jadi pengolahan limbah TBP-kerosin memerlukan biaya operasi yang tinggi dan menimbulkan resiko kerusakan bag filter yang merupakan bagian penting dari treaatment gas hasil pembakaran. siklo alkana (metal siklo pentana. merupakan pelarut pengekstraksi uranium dari senyawa uranil nitrat [UO2(NO3)2] yang mempunyai koefisien distribusi dan selektivitas tinggi. bila terkena mata dan kulit menyebabkan iritasi. D2EHPA adalah senyawa organik yang mempunyai rumus C16H35PO4 mempunyai densitas 960 kg/m3. dan bila terhisap pernafasan menyebabkan keracunan. Kerosin adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai jumlah atom C tiap molekulnya pada harga C9 sampai dengan C14. titik didih 213 oC. dan lain-lain).3 cp. Biaya operasi evaporasi mahal karena diperlukan uap air pemanas yang dibangkitkan dari pembakaran minyak dalam boiler dan memerlukan bahan anti buih dan asam nitrat penghilang kerak. mempunyai densitas 880 kg/m3. Campuran pelarut organik yang digunakan dalam proses pemurnian uranium mempunyai rasio D2EHPA. Kerosin odorless (tidak berbau) adalah kerosin 99% yang mempunyai berat jenis 820 kg/m3 dan viskositas 0. komponen utamanya adalah senyawa alkana. belerang.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 dilanjutkan dengan proses sementasi konsentrat hasil evaporasi. dan tahan asam.tahan radiasi. limbah pelarut tersebut diolah dengan insenerasi. kadar senyawa aromatiknya sangat rendah. hidrokarbon aromatik (benzen. TOPO merupakan senyawa organik dengan rumus C24H51PO mengandung H3PO4 kadar 0. Pada pembakaran TBP kerosin timbul uap fosfat dalam gas hasil pembakaran yang merusak filter kantong (bag filter) dari inseneratorya. oksigen dan organo logam[2]. TBP adalah senyawa organik yang mempunyai rumus C12H27PO4. Dalam pemakaiannya TBP dilarutkan dalam kerosin odorless (tidak berbau) pada komposissi TBP dan kerosin masingmasing 30% daan 70% volume. toluen dan lain-lain) yang mengandung nitrogen. Evaporasi limbah detergen tersebut menimbulkan buih. yang tersusun dari senyawa-senyawa alkana (CnH2n+2). bila terkena mata dan kulit menyebabkan iritasi dan bila terhisap pernafasan menyebabkan keracunan. Unsur radioaktif utama dalam limbah adalah Cs-137 yang berwaktu paruh 30 tahun.dt.Pa.000 kkal/kg. sehingga untuk mencegah distilat terkontaminasi unsur radioaktif dibutuhkan bahan anti buih. TOPO dan kerosin berturut-turut 4:1:16. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 4 . etil siklo heksana.2%.

Secara bersamaan terjadi pula dekontaminasi zat radioaktif dari larutan melalui biosorpsi unsur radioaktif oleh bakteri. sehingga terjadi dekontaminasi larutan. terjadi dua fenomena dasar sebagai berikut : oksigen dikonsumsi oleh bakteri untuk memperoleh energi. Logam berat dan unsur radioaktif dalam limbah akan terjerap pada lumpur biologi. Reaksi tersebut digambarkan melalui persamaan sebagai berikut : Sel K Zat organik + a' O2 + N + P → a Sel baru + CO2 + H2O + Residu selular tahan urai (1) Sel + b' O2 → b CO2 + H2O + N + P + Residu selular tahan urai (2) Perlu diperhatikan dalam perencanaan dan operasi fasilitas pengolahan secara biologi adalah jumlah oksigen dan nutrisi.2. Lumpur biologi tersusun dari sel baru dan residu selular tahan urai. Pelarut tersebut mempunyai kalori pembakaran lebih besar 10. dan jumlah lumpur biologi yang diperoleh. Limbah organik tersebut merupakan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) sekaligus juga sebagai limbah radioaktif. Masalah yang timbul sama seperti yang dijumpai pada pembakaran solven TBPkerosen. oleh karena itu limbah tersebut dapat dibakar dalam insenerator. III. Pada tahap awal penelitian dilakukan pengolahan limbah simulasi detergen dari pencucian pakaian kerja radiasi. Kebutuhan oksigen tersebut dipenuhi melalui penggelembungan udara ke dalam larutan (proses aerasi). Telah dilakukan penelitian proses oksidas biokimia pengolahan limbah organik radioaktif untuk mengetahui kondisi operasi dan unjuk kerja yang optimal. Di PTLR pengolahan limbah tersebut belum dilakukan. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 5 .01 Bq/liter[3]. aktivitas alfa dan beta berturut-turut 0. Hasilnya sludge atau lumpur yang radioaktif dan non B3. oleh karena itu perlu dilakukan penelitian proses oksidasi biokimia pengolahan limbah organik. Prinsip Oksidasi Biokimia Bila zat organik dihilangkan dari larutan melalui pengolahan secara proses biologi menggunakan bakteri (sel) sebagai mikroorganisme.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 Limbah pelarut tersebut mempunyai pH 4. dan massa sel baru terbentuk.000 kkal/kg.002 Bq/liter dan 0. Proses oksidasi biokimia adalah cara pengolahan yang efektif untuk detoksifikasi limbah B3 melalui penguraian senyawa organik menjadi karbon dioksida dan air oleh bakteri yang diaerasi dan diberi nutrisi. COD dan BOD berturut-turut 26.000 dan 1820 ppm. dan beningan yang non B3 dan bebas kontaminasi zat radioaktif. Mikroorganisme juga mengalami auto-oksidasi secara progresif dalam massa selularnya.

penarikan zat organik pada permukaan dinding bakteri atau sampai ke dalam sel. dan koefisien a adalah fraksi zat organik yang dihilangkan melalui pengubahan menjadi massa sel.2. Bakteri yang digunakan harus dapat menyesuaikan dengan media air limbah yang diolah. Untuk air limbah yang lebih kompleks.arus resirkulasi. umur lumpur. koloid dan BOD terlarut. mungkin melalui pembentukan enzim oleh mikro-organisme.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 Besaran k dalam Persamaan 1 adalah konstante kecepatan reaksi yang merupakan fungsi kemampuan biodegradasi zat organik dalam limbah cair. sedangkan BOD didifinisikan sebagai jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk penguraian bahan organik melalui oksidasi biokimia.1. Penghilangan BOD terlarut berbanding langsung dengan konsentrasi lumpur yang ada. Penghilangan bahan tersuspensi termasuk logam berat dan unsur radioaktif melalui penangkapan dengan penjerapan pada flok biologi. Dengan demikian lumpur aktif merupakan bahan yang mengandung INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 6 . penyesuaian media tersebut dapat memakan waktu sampai 6 minggu. COD didifinisikan sebagai jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk penguraian bahan organik melalui oksidasi kimia. atau gerakan lain yang ditimbulkan oleh aerator. diikuti dengan penghilangan lambat sisa BOD terlarut secara progresif. Penghilangan bahan koloid melalui penyerapan fisika kimia pada flok. Penghilangan BOD awal diselesaikan melalui satu atau lebih mekanisme berikut tergantung pada karakteristik fisika dan kimia dari zat organik : 1. 3. Proses Lumpur Aktif (Activated Sludge) Proses lumpur aktif adalah salah satu proses yang paling banyak dipakai untuk pengolahan air limbah secara biologis. Koefisien b adalah fraksi biomassa yang dapat terdegradasi melalui oksidasi per hari dan b' adalah oksigen yang dibutuhkan untuk oksidasi tersebut. Pada umumnya lumpur dari operasi batch atau plugflow mempunyai sifat penyerapan yang lebih baik daripada yang didapatkan dari operasi pencampuran sempurna. Penghilangan ini berlangsung cepat dan tergantung pada tingkat pencampuran antara air limbah dan lumpur. Di dalam sistem ini bakteri disuspensikan untuk terus bergerak dan tidak mengendap melalui adukan. dan karakteristik kimia zat organik terlarut. Tipe lumpur yang dihasilkan sangat mempengaruhi sifat penjerapan. Penghilangan BOD dari air limbah melalui lumpur biologi terjadi melalui 2 tahapan yaitu diawali penghilangan secara cepat zat tersuspensi. Koefisien a' adalah fraksi zat organik yang dihilangkan melalui oksidasi menjadi hasil akhir berupa energi. III. 2. Penyerapan biologi zat organik terlarut oleh mikroorganisme.

nonbulking. Flagela juga terjerat dalam bahan lumpur tersebut. Pada proses kontinyu. Lumpur non-bulking dihasilkan dari operasi plug-flow atau selector plant configuration. dihasilkan dari air INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 7 .REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 populasi bakteri aktif yang digunakan dalam pengolahan air limbah. (F) terhadap mikroorganisme (M) atau nilai F/M dan menunjukkan bahwa mikroorganisme (bakteri) secara normal ada di dalam lumpur aktif yang menggumpal denga cepat pada kondisi kelaparan. Lumpur aktif jenis filamentous bulking yang mudah menyebabkan tersumbatnya sistem resirkulasi lumpur dan peralatan aerasi. Organisme bentuk filamen terdapat di dalam kebanyakan lumpur aktif kecuali pada limbah dari industri kimia dan petrokimia. Palm. dan pin-point seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Lumpur pin-point dihasilkan dari operasi dengan nisbah F/M yang rendah pada umur lumpur yang lama. lumpur aktif yang terbawa bersama air limbah hasil pengolahan dipisahkan dalam tangki pengenap dan sebagian lumpur aktifnya disirkulasikan kembali ke tangki aerasi. Salah satu faktor penting untuk unjuk kerja proses lumpur aktif adalah dan pemampatan yang cepat. dkk telah mengidentifikasi tiga macam lumpur aktif yaitu filamentous bulking. atau dari air limbah organik yang kompleks. Lebih lanjut telah ditunjukkan bahwa flokulasi diakibatkan oleh pembentukan lapisan lumpur polisakarida yang lengket dimana mikroorganisme menempel. McKinney menghubungkan flokulasi dengan rasio makanan. sedangkan bagian lainnya diambil sebagai hasil pekatan. Beningan yang dihasilkan proses lumpur aktif relatif jernih dan memenuhi syarat untuk dibuang.

1 mg/l terbentuklah filamen tipis 1-4 μm. pemakaian selector atau Contactor. Oleh karena itu untuk memperoleh gradien konsentrasi bahan organik yang tinggi digunakan sistem operasi pengolahan biologis secara plug-flow. Pada bahan terdegradasi konsentrasi rendah. Jumlah zat yang terakumulasi bervariasi. pembentukan kompleks dan fenomena transfer massa. Hubungan Oksigen Terlarut dengan Rasio F/M pada Flok Aerobik Dikembangkan oleh Palm. sakarosa. presipitasi. Hal ini menjelaskan mengapa pada sistem campuran dengan konsentrasi bahan organik rendah cenderung memberikan pertumbuhan lumpur bentuk filamen. dkk (1980) seperti ditunjukkan pada Gambar 2. pertumbuhan lumpur cenderung berbentuk filamen. Sel yang hidup dan mati yang INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 8 . termasuk adsorpsi. III. mekanisme akumulasinya dapat terjadi melalui proses fisika. laktosa dan bahan sejenis. flok yang terbentuk menarik bahan organik dari larutan pada kecepatan yang tinggi dibanding dengan penarikan filamen. biologi. Kekurangan oksigen terlarut dalam air limbah di sistem pengolahan biologis menyebabkan terbentuknya lumpur filamentous bulking. dkk (1985) menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan organisme sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan organik dan rasio F/M[8]. kimia. Untuk proses pengolahan secara biologis aerob yang bagus. penarikan bahan organik oleh flok tersebut mendominasi proses yang terjadi. Pada konsentrasi bahan organik yang tinggi. pada konsentrasi oksigen kurang dari 0.2. hubungan antara konsentrasi oksigen terlarut dalam limbah dan nisbah F/M Gambar 2. Chudoba.2.Kontrol Pencemaran Logam Berat Oleh Mikroba Mikroorganisme dapat mengakumulasi logam berat dan unsur radioaktif dari lingkungan eksternalnya.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 limbah yang mengandung glukosa.

Penghilangan logam berat dan unsur radioaktif dari larutan dengan bahan biologi. Beberapa contoh akumulasi logam berat dan unsur radioaktif oleh mikroba ditunjukkan pada Tabel 1. mampu menghilangkan logam dan unsur radioaktif dari larutan. Pada dasarnya semua bahan biologi mempunyai sifat bioabsorpsi. khususnya melalui interaksi yang tidak langsung secara fisikakimia biasa disebut bioabsorpsi. pigmen. tidak hanya mikroba saja yang memiliki sifat tersebut. polisakarida.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 dihasilkan sel mikroba seperti penyusun dinding sel. Bioabsorpsi dan fenomena yang terkait merupakan proses yang INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 9 . logam yang berikatan dengan protein. dan residu selular tahan urai.

dan unsur radioaktif dari limbah cair dapat menghasilkan detoksifikasi larutan. Tidak semua senyawa nitrogen organik dapat untuk sintesis mikroba. III.6]. Di dalam prakteknya nutrisi diberikan pada kuantitas BOD : N : P = 100 : 5 : 1[4. dan lain-lain) tidak mengandung cukup nitrogen dan fosfor. kertas. yang diturunkan dari beberapa pengolahan air limbah industri yang memerlukan nutrisi nitrogen dan fosfor. tri super phosphate (TSP) biasanya digunakan sebagai sumber nutrisi fosfor. nitrit.Kebutuhan Nutrisi Pada Proses Oksidasi Biokimia Beberapa unsur mineral sangat diperlukan sebagai nutrisi untuk metabolisme zat organik oleh mikroorganisme.2. nitrat dan sekitar 75% senyawa nitrogen organik juga dapat digunakan untuk sintesis mikroba. Kuantitas nitrogen dan fosfor yang diperlukan untuk penghilangan BOD yang efektif dan terjadinya sintesis mikroba telah diteliti oleh Melmer.3 kgN/100 kg BOD dan 0. kecuali nitrogen dan fosfor mineral tersebut biasanya telah ada dalam jumlah yang cukup dalam air. sebesar 4.5. tetapi banyak air limbah industri (gula.6 kg P/100 kg BOD. pulp. sehingga pelepasan buangan cair ke lingkungan dapat berlangsung secara aman.3.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 penting karena penghilangan racun kuat. Nutrisi yang kebutuhannya sedikit untuk oksidasi biokimia diberikan pada Tabel 2. logam berat. Nitrogen biasanya ditambahkan dalam bentuk urea. fosfor dapat diberikan sebagai asam fosfat. dan memerlukan penambahan sebagai suplemen nutrisi. Tabel 2 INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 10 . Kotoran dalam air limbah memberikan kesetimbangan makanan mikroba. senyawa nitrogen sebelum digunakan harus dikonversi lebih dahulu ke bentuk amonia.

pada daerah tersebut kecepatan reaksi biologi akan bertambah dengan naiknya suhu sampai suhu maksimum 31 ᵒC. thermophilic dengan daerah suhu 55ᵒC. Pengaruh pH Pada Proses Oksidasi Biokimia Kebanyakan proses oksidasi biokimia mempunyai daerah pH efektif yang relatif sempit yaitu pada nilai 5-9 dengan kondisi optimum pada pH 6. dengan perbandingan BOD : N:P = 100 :5:1.5. Suatu zat organik seperti fenol.2. Ada 3 macam daerah suhu yaitu mesophilic dengan daerah suhu 4-39 ᵒC. Oleh karena itu direkomendasikan suhu maksimum kolom aerasi adalah 35.3 ᵒC flok menjadi rusak dan terdispersi kembali dalam larutan karena terjadinya penurunan kecepatan pengenapan yang tajam.Pengaruh Suhu Pada Proses Oksidasi Biokimia Variasi suhu sangat berpengaruh pada hasil pengolahan secara proses biologi. Protozoa akan menghilang pada suhu 40 ᵒC dan pada 43.4.5 ᵒC terjadi penurunan jumlah flok biologi. yang menimbulkan racun hanya pada konsentrasi tinggi tetapi dalam konsentrasi rendah terurai. Untuk limbah yang bersifat asam dan basa. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 11 . Dalam percobaan yang dilakukan digunakan nutrisi urea sebagai sumber N dan TSP sebagai sumber P.5-8.6.2. kebanyakan proses pengolahan secara biologi aerobik dioperasikan pada daerah mesophilic.5. hasil akhir adalah bikarbonat (HCO3-) yang merupakan laruan penyangga efektif untuk sistem aerasi pada pH tetap sekitar 8. Untuk pertimbangan ekonomis dan alasan geografis. Dalam percobaan yang dilakukan dipilih suhu kamar.2. Penurunan suhu kolam aerasi menyebabkan kenaikan padatan tersuspensi dalam efluen.Keracunan Sistem Oksidasi Biokimia Keracunan dalam sistem oksidasi biokimia dapat disebabkan oleh satu dari beberapa penyebab sebagai berikut: 1. Larutan limbah terencerkan ketika masuk ke dalam tangki aerasi dan ternetralisisr oleh CO2 yang dihasilkan bakteri. Nilai pH tersebut adalah pH dari campuran larutan dalam kontak dengan pertumbuhan biologi dan bukan pH larutan masuk. III.5 ᵒC. III. III.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 menunjukkan nutrisi yang dibutuhkan untuk oksidasi biokimia. dan psychrophilic dengan daerah operasi suhu lebih kecil dari 4ᵒC. Pada suhu di atas 35.

Nutrisi yang digunakan urea dan TSP (tri-super phosphate). dan Aeromonas sp. Logam berat yang menimbulkan racun pada suatu ambang konsentrasi tergantung pada kondisi operasi. di bawah lisensi Henkel KGaA. Bogor.indikator amilum. Arthrobacter sp.3. jenis super growth bacteria (SGB). III.3. perak sulfat. asam sulfat.3.1. natrium hidroksida. Untuk pengukuran pH dan kadar oksigen terlarut digunakan alat Water Checker. Logam berat akan dipekatkan dalam lumpur sebagai senyawa kompleks pada dinding permukaan bakteri sampai kadar 4% fraksi berat.2. Deterjen persil yang digunakan produksi PT. III. fero amonium sulfat. dan mikroorganisme hanya dalam kontak dengan larutan.3. serta kristal sesium nitrat. Pengaruh racun dari zat organik dapat diminimisasi dengan pencampuran yang sempurna sehingga larutan limbah terencerkan oleh larutan yang ada dalam tangki aerasi. merkuri sulfat. 3. kalium iodida. penyesuaian lumpur terhadap logam berat akan menaikkan nilai ambang keracunan tersebut.4 juta bakteri/ml dan berdensitas 0.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 2.12 mg dilarutkan dalam 0. Psedudomonas sp. Peralatan Peralatan yang digunakan adalah unit proses biooksidasi pengolahan limbah deterjen (Unit proses tersebut ditunjukkan pada Gambar 3). sedang untuk pengukuran konsentrasi cesium digunakan alat Spektrofotometer Serapan atom (AAS). Jerman. yang merupakan campuran dari bakteri Bacillus sp.3. Nusantara Water Center. TATA KERJA III.8 g INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 12 . mangan sulfat. III. Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah bahan produksi E.Estrela laboratories. Untuk pengukuran BOD dan COD digunakan alat Spektrofotometer UV-VIS.Merck antara lain kalium dikarbonat.996 g/Liter.Metode a. natrium tiosulfat. Pembuatan Limbah Simulasi Cesium nitrat 0. Logam berat pada konsentrasi rendah menimbulkan keracunan lumpur biologi. Larutan tersebut dipakai sebagai larutan induk untuk pembuatan larutan limbah aktivitas 10-3 Ci/m3 melalui pengenceran. terdiri dari SGB 103 yang mengandung 10. Garam anorganik dan amonia pada konsentrasi yang tinggi. Bakteri yang digunakan adalah bakteri SGB produksi PT.5 liter air sehingga diperoleh larutan aktivitas Cs-137 sebesar 10 Ci/m3. Deterjen persil 74. Jakarta.

496 g/Liter dimasukkan ke dalam reaktor yang telah terpasang pemipaannya (seperti ditunjukkan pada Gambar 3 ). Pengukuran pH dan oksigen terlarut dalam larutan yang ada di reaktor dilakukan dengan alat Water Checker.5]. nutrisi yang perlu ditambah hanyalah nitrogen dan fosfor. Larutan nutrisi urea dan TSP pada konsentrasi yang sama seperti pada reaktor R01 diisikan ke dalam tangki nutrisi T03. b. karena nutrisi lainnya seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1 dianggap telah ada dalam jumlah yang cukup.HASIL DAN PEMBAHASAN Air yang digunakan dalam pencucian pakaian kerja radiasi di Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif (IPLR) adalah air domestik dari Puspiptek yang berasal dari sungai Cisadane yang telah diolah. kran V04 dan V05 terbuka pada posisi persen pembukaan tertentu sehingga tinggi permukaan cairan pada R01 dan R02 menjadi tetap. III. Data jumlah bakteri SGB 103 dan nutrisi minimal untuk proses oksidasi biokimia limbah deterjen sebagai fungsi konsentrasi deterjen atau nilai BOD ditunjukkan pada Tabel 3. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 13 .4. Bakteri SGB 103 sebanyak 72 ml kemudian dimasukkan ke dalam reaktor. pada suhu kamar. total solid (padatan) dan konsentrasi cesium dalam larutan dilakukan. lumpur aktif tersirkulasikan. Nutrisi nitrogen dan fosfor diberikan pada nisbah BOD : N : P = 100 : 5 : 1[2. Pengolahan Limbah Secara Biooksidasi Limbah cair silmulasi yang ekivalen aktivitasnya 10-3 Ci/m3 mengandung deterjen pada konsentrasi 1. Pompa resirkulasi larutan P01 dan aerator P02. Analisis COD. dan P04 dijalankan dengan konfigurasi kran V06 tertutup.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 ditimbang dan dilarutkan ke dalam 50 liter larutan 10-3 Ci/m3. Kemudian dimasukkan sejumlah nutrisi urea dan TSP pada perbandingan BOD : N: P = 100:5:1. Untuk metabolisme oleh mikroorganisme. Pompa dan aerator terus dijalankan.496 g/Liter dengan aktivitas 10-3 Ci/m3. Sampel larutan diambil setiap 2 jam sekali setelah bakteri menyesuaikan kondisi limbah deterjen tersebut.4. P03. kran V03 dibuka sedemikian sehingga larutan menetes masuk ke bak aerasi R01 tetes demi tetes. diperoleh larutan berkadar deterjen 1. sebanyak 120 liter ke bak aerasi R01 dan dan 50 liter ke bak pemisah lumpur R02.

496 g/Liter menggunakan bakteri SGB 103 ditunjukkan pada Gambar 4. nilai COD dan BOD larutan deterjen kadar 1. Semakin besar konsentrasi deterjen dalam larutan memberikan kenaikan nilai COD dan BOD karena kebutuhanoksigen untuk penguraian secara kimia dan secara biologi meningkat. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 14 . kecepatan reaksi oksidasi biokimia mendekati harga maksimal pada suhu 31 ᵒC.total padatan. Unit Proses Oksidasi Biokimia Pengolahan Limbah Deterjen Terpasang Hasil Rancangan. masuk pada daerah suhu mesophilic.496 g/Liter berturut-turut adalah 338 dan 186 ppm. sehingga pH larutan berharga tetap 8. Hal ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan penguraian deterjensecara kimia dalam limbah. yaitu ditandai dengan mulai terjadinya reaksi sesuai dengan Persamaan 1 dan 2 ditandai mulai timbul massa lumpur coklat muda kehijauan. BOD. Setelah waktu penyesuaian tersebut contoh larutan diambil dari reaktor setiap 2 jam sekali untuk penentuan kadar COD.496 g/Liter setelah waktu 96 jam. Percobaan dilakukan pada suhu kamar. dan konsentrasi Cesium-137. Dari hasil pengukuran. Larutan limbah terencerkan oleh larutan yang ada di dalam tangki aerasi dan ternetralisisir oleh CO2 yang dihasilkan bakteri.REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 Gambar 3. sedangkan grafik hubungan BOD terhadap waktunya ditunjukkan pada Gambar 5. Dari pengamatan percobaan diperoleh kondisi bahwa baktei SGB 103 dapat menyesuaikan kondisi limbah deterjen konsentrasi 1. Grafik hubungan COD terhadap waktu proses pada pengolahan limbah deterjen kadar 1. Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa nilai COD semakin menurun pada waktu proses yang semakin lama. Hasil akhir adalah bikarbonat yang merupakan penyangga efektif untuk sistem aerasi.

496 g/L dengan Bakteri SGB 103 Dari hasil analisis larutan detergen kadar 1. Gambar 5. diperlukan waktu 106 jam untuk penguraian tersebut. Kurva Pengaruh Waktu Proses Terhadap Kadar BOD Pada Pengolahan Limbah Detergen Kadar 1. Gambar 6 menunjukkan hubungan waktu proses oksidasi biokimia terhadap kadar padatan total dalam lumpur untuk bakteri SGB 103. Terlihat bahwa padatan total semakin meningkat pada waktu proses yang semakin lama. Hal yang sama terjadi dengan semakin lama waktu proses memberikan penurunan nilai BOD (Gambar 5). Kurva Pengaruh Waktu Proses Terhadap Kadar COD Pada Pengolahan Limbah Detergen Kadar 1. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 15 .REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) sehingga jumlah deterjen dalam larutan semakin turun. Semakin lama waktu proses maka biomassa yangdihasilkan oleh sel mikroba semakin banyak sehingga kadar padatan total dalam lumpur semakin besar.496 g/L mempunyai kadar TSS (Total Suspended Solid) 1000 ppm.496 g/L dengan Bakteri SGB 103 Bakteri SGB 103 mampu menguraikan detergen sampai nilai baku mutu air buangan golongan B dengan COD 10 ppm. 2012 Gambar 4.

REZKA PUTRI HAPSARI (2309100019) 2012 Gambar 6. Kurva Pengaruh Waktu Proses Terhadap Kadar Padatan Total Dalam Lumpur Pada Pengolahan Limbah Detergen Kadar 1.496 g/L Dengan Bakteri SGB 103 INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA |TEKNIK KIMIA 16 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful