KODE ETIK PROFESI KONSELOR INDONESIA

KODE ETIK PROFESI KONSELOR INDONESIA (ASOSIASI BIMBINGAN KONSELING INDONESIA)

PENDAHULUAN
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) adalah suatu organisasi profesi yang beranggotakan guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan kualifikasi pendidikan akademik strata satu (S-1) dari Program Studi Bimbingan dan Konseling dan Program Pendidikan Konselor (PPK). Kualifikasi yang dimiliki konselor adalah kemampuan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling dalam ranah layanan pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir bagi seluruh konseli. Konselor profesional memberikan layanan berupa pendampingan (advokasi) pengkoordinasian, mengkolaborasi dan memberikan layanan konsultasi yang dapat menciptakan peluang yang setara dalam meraih kesempatan dan kesuksesan bagi konseli berdasarkan prinsip-prinsip pokok profesionalitas: 1. Setiap individu memiliki hak untuk dihargai, diperlakukan dengan hormat dan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling. Konselor memberikan pendampingan bagi individu dari berbagai latar belakang kehidupan yang beragam dalam budaya; etnis, agama dan keyakinan; usia; status sosial dan ekonomi; individu dengan kebutuhan khusus; individu yang mengalami kendala bahasa; dan identitas gender. 2. Setiap individu berhak memperoleh informasi yang mendukung kebutuhannya untuk mengembangkan dirinya. 3. Setiap individu mempunyai hak untuk memahami arti penting dari pilihan hidup dan bagaimana pilihan tersebut akan mempengaruhi masa depannya. 4. Setiap individu memiliki hak untuk dijaga kerahasiaan pribadinya sesuai dengan aturan hukum, kebijakan, dan standar etika layanan. Kode etik Profesi Konselor Indonesia memiliki lima tujuan, yaitu: 1. Melindungi konselor yang menjadi anggota asosiasi dan konseli sebagai penerima layanan. 2. Mendukung misi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. 3. Kode etik merupakan prinsip-prinsip yang memberikan panduan perilaku yang etis bagi konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling. 4. Kode etik membantu konselor dalam membangun kegiatan layanan yang profesional. 5. Kode etik menjadi landasan dalam menghadapi dan menyelesaikan keluhan serta permasalahan yang datang dari anggota asosiasi. A. Pengertian Etika adalah suatu sistem prinsip moral, etika suatu budaya. Aturan tentang tindakan yang dianut berkenaan dengan perilaku suatu kelas manusia, kelompok, atau budaya tertentu. Etika Profesi Bimbingan dan Konseling adalah kaidah-kaidah perilaku yang menjadi rujukan bagi konselor dalam melaksanakan tugas atau tanggung jawabnya memberikan

peraturan. Kompetensi Sosok utuh kompetensi konselor terdiri atas dua komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis sehingga tidak bisa dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional. Hubungan konselor-konseli sebagai hubungan yang membantu yang didasarkan kepada kode etik (etika profesi). Setiap orang memiliki hak untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya. Setiap konselor membantu perkembangan setiap konseli. agama. Kaidah-kaidah perilaku yang dimaksud 1. Bab II. dan interaksi antara para pekerja atau anggota dengan masyarakat. Kompetensi tersebut dijabarkan seperti tertera pada gambar berikut. melalui layanan bimbingan dan konseling secara profesional. 5. Sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling. Dasar Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling 1. atau budaya. dan mendapatkan layanan konseling tanpa melihat suku bangsa. Pasal 2) B. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. B. 5. 2. Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia wsajib dipatuhi dan diamalkan oleh pengurus dan anggota organisasi tingkat nasional . diamalkan dan diamankan oleh setiap anggota profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia. propinsi. 2. 4. Kualifikasi 1. dan nilai yang mengatur mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam suatu perusahaan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. BAB I KUALIFIKASI. 2 dan 3 tentang standar pendidik dan tenaga kependidikan) 4. KOMPETENSI DAN KEGIATAN PROFESIONAL KONSELOR A. 2. profesi.layanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Berpendidikan profesi konselor (PPK). Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi. atau organisasi bagi para pekerja atau anggotanya. pedoman. Setiap orang/individu memiliki hak untuk mengembangkan dan mengarahkan diri. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 28 ayat 1. Kode Etik adalah seperangkat standar. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 3. . dan kebupaten/kota (Anggaran Rumah Tangga ABKIN. adalah: Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan sebagai manusia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 3.

3. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli 2. dan masalah konseli 4. satuan pendidikan 3. MENYELENGGARAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING YANG MEMANDIRIKAN 1. MENGUASAI LANDASAN TEORETIK BIMBINGAN DAN KONSELING 1. 2. dan jenjang. individualitas. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum 2. kebebasan memilih. Merancang program Bimbingan dan Konseling Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling. INFORMASI. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi C. 2. MENGEMBANGKAN PRIBADI DAN PROFESIONALITAS SECARA BERKELANJUTAN 1. kebutuhan. KEGIATAN PROFESIONAL KONSELOR 1. TESTING DAN RISET a. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling 3. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling 4. 5. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi.1. jenis. 3. Penyimpanan dan penggunaan Informasi . Menguasai teori dan praksis pendidikan 2. 4. 4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling 6. MEMAHAMI SECARA MENDALAM KONSELI YANG HENDAK DILAYANI 1.

8) Konselor wajib mengutamakan perhatian terhadap konseli.1) Catatan tentang diri konselispt. Hubungan dalam Pemberian Pelayanan 1) Konselor wajib menangani konseliselama ada kesempatan dlm hubungan antara konselidgn konselor 2) Konselisepenuhnya berhak mengakhiri hubungan dengan konselor. b. warna kulit. 4) Konselor tidak diperkenankan memaksa seseorang untuk memberi bantuan pada seseorang tanpa izin dari orang yang bersangkutan. 7) Konselor wajib menjelaskan kepada konseli sifat hubungan yang sedang dibina dan batasbatas tanggung jawab masing-masing dalam hubungan profesional. 6) Konselor wajib memberikan pelayanan hingga tuntas sepanjang dikehendaki konseli. 2) Konselor wajib menempatkan kepentingan konselinya diatas kepentingan pribadinya. Riset 1) Dalam mempergunakan riset thdp manusia. integritas dan keyakinan konseli. 2) Penggunaan data/informasi dimungkinkan untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor sepanjang identitas konselidirahasiakan. wawancara. martabat. rekaman dan data lain merupakan informasi yg bersifat rahasia dan hanya boleh dipergunakan untuk kepentingan konseli. arti dan kegunaannya. atau status sosial tertentu. PROSES PELAYANAN a. BAB II HUBUNGAN KONSELING . bangsa. 1) Testing dilakukan bila diperlukan data yang lebih luas tentang sifat. 5) Konselor wajib memberi pelayanan kepada siapapun terlebih dalam keadaan darurat atau banyak orang menghendakinya. b. wajib dihindari hal yang merugikan subyek 2) Dalam melaporkan hasil riset. meskipun proses konseling belum mencapai hasil konkrit 3) Sebaliknya Konselor tidak akan melanjutkan hubungan bila konselitidak memperoleh manfaat dari hubungan tersebut. testing. Hubungan dengan Konseli 1) Konselor wajib menghormati harkat. 3) Penyampaian informasi ttg konselikepada keluarganya atau anggota profesi lain membutuhkan persetujuan konseli 4) Penggunaan informasi ttg Konselidalam rangka konsultasi dgn anggota profesi yang sama atau yang lain dpt dibenarkan asalkan kepentingan konselidan tidak merugikan konseli. 3) Konselor tidak diperkenankan melakukan diskriminasi atas dasar suku. Testing Suatu jenis tes hanya diberikan oleh konselor yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. identitas konselisebagai subyek wajib dijaga kerahasiannya. atau ciri kepribadian subyek untuk kepentingan pelayanan 2) Konselor wajib memberikan orientasi yg tepat pada konselidan orang tua mengenai alasan digunakannya tes. 5) Keterangan mengenai informasi profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya. surat-menyurat. agama. 2. 3) Penggunaan satu jenis tes wajib mengikuti pedoman atau petunjuk yg berlaku bagi tes tersebut 4) Data hasil testing wajib diintegrasikan dengan informasi lain baik dari konselimaupun sumber lain 5) Hasil testing hanya dapat diberitahukan pada pihak lain sejauh ada hubungannya dgn usaha bantuan kepada konseli c.

dan relevan dengan tujuan. 2) Konselor secara penuh membantu konseli dalam mengembangkan potensi atau kebutuhannya (baik yang terkait dengan personal. 3) Memberikan informasi yang akurat. 2) Memberikan informasi kepada orang tua siswa tentang peranan konselor. Konselor mendorong konseli untuk dapat berkontribusi pada masyarakat dengan mendedikasikan kemampuan yang dimilikinya. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut maka konselor harus melaksanakan tanggung jawab sebagai berikut. Konselor harus secara aktif untuk memahami perbedaan latar belakang budaya yang dimiliki konseli yang sedang dilayani. 5) Memelihara kerahasiaan data konseli. maupun vokasional).A. komprehensif. dan guru-guru sebagai dasar untuk mengembangkan atau memperbaiki program Bimbingan dan Konseling. Tanggung jawab terhadap Kolega/Pihak Sekolah 1) Membangun dan memelihara hubungan kooperatif dengan kepala sekolah. b. Konselor harus mengeksplorasi identitas budaya dan dampaknya terhadap nilai dan kepercayaan dalam proses konseling. gaya hidup. Tanggung jawab Konselor terhadap Siswa 1) Konselor memiliki kewajiban utama untuk memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dengan sikap respek. terutama tentang hakikat hubungan konseling yang rahasia antara konselor dan konseli. Tanggung Jawab Terhadap Orang Tua 1) Melakukan hubungan kerjasama (kolaborsi) dengan orang tua siswa dalam memfasilitasi perkembangan siswa secara optimal. guru-guru. 4) Bertanggung jawab untuk memelihara hak-hak konseli. d. 4) Melakukan sharing informasi tentang konseli. 6) Memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan konseli. sosial. TANGGUNG JAWAB KONSELOR Tanggung jawab konselor adalah menghargai dan meningkatkan kesejahteraan konseli. dan keyakinan yang menjadi orientasi pribadi konselor sendiri. a. pendidikan. dan staf sekolah dalam rangka memfasilitasi pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling. Tanggung Jawab terhadap Dirinya Sendiri . KESEJAHTERAAN BAGI ORANG YANG DILAYANI KONSELOR Konselor mendorong pertumbuhan dan perkembangan konseli dengan cara membantu kesejahteraan konseli dan memajukan pembentukan hubungan yang sehat. c. dan mendorong konseli untuk mencapai perkembangan yang optimal. 2) Menerima masukan pendapat atau kritikan dari kepala sekolah. 1. 3) Menahan diri dari upaya menorong siswa untuk menerima nilai.

hingga menjaga kerahasiaan. telepon. asisten dan tenaga sukarela. Team Konselor. Memindahkan informasi rahasia. Tanggung Jawab Terhadap Organisasi Profesi 1) Dalam melaksanakan hak dan kewajibannya Konselor wajib mengaitkannya dengan tugas dan kewajibannya terhadap konseli dan profesi sesuai kode etik untuk kepentingan dan kebahagiaan konseli 2) Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya sebagai konselor untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud lain yang merugikan konseli. konselor memperhatikan dan memastikan keamanan pemindahan data-data rahasia dengan komputer melalui surat elektronik. Berbagi Informasi dengan pihak lain a. Menghargai hak-hak konseli a. d. Menghargai hal-hal yang bersifat pribadi menyangkut kehidupan konseli. atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yang tidak wajar. Menghargai kerahasiaan informasi mengenai konseli. Menjelaskan berbagai keterbatasan kerahasiaan ataupun situasi-situasi tertentu yang menyebabkan kerahasiaan harus dibuka. Pegawai Lembaga. dan menerima tanggung jawab terhadap kegiatan yang dilakukannya. Hal ini bisa dilakukan pada tahap pengenalan dalam proses konseling. Dalam hal ini konselor hanya berbagi informasi seizin konseli atau berdasarkan pertimbangan etis dan hukum. d. Kesadaran konselor akan keberagaman atau hal yang bersifat multikultural. jika penanganan konseli melibatkan sejumlah konselor dengan peranannya masing-masing. c. dan kualitas kepribadiannya. termasuk pegawai. Konselor mengkomunikasikan tolok ukur kerahasiaan dengan cara yang baik dan bisa diterima oleh konseli. menciptakan batasan dan keleluasan yang sepatutnya. 3) Berusaha secara terus menerus untuk mengembangkan kompetensi (wawasan pengetahuan. b. 1. BAB III KERAHAASIAAN DALAM KOMUNIKASI DAN HAL-HAL YANG BERSIFAT PRIBADI Konselor menyadari bahwa kepercayaan merupakan hal yang paling utama dalam hubungan konseling. maka konseli terlebih dahulu diberitahukan mengenai hal tersebut dan informasi-informasi apa saja mengenai dirinya yang akan dibagi dalam tim tersebut. 2) Memiliki pemahaman terhadap batas-batas kompetensi yang dimilikinya. dan perlengkapan teknologi komputer lainnya. mesin fax. c. mahasiwa. Konselor berusaha mendapatkan kepercayaan konseli melalui hubungan konseling. konselor akan membagi informasi kepada pihak ketiga mengenai konseli jika konseli membuat perjanjian dengan pihak yang memiliki otoritas. 2. . Pihak ketiga yang membiayai. b. dan keahlian) profesionalitas. dalam hal ini konselor harus memastikan keamanan dan kerahasian informasi mengenai data-data konseli yang diurus oleh pegawai lembaga. e.1) Menyadari bahwa karakteristik pribadinya memberikan dampak terhadap kualitas layanan konseling.

Perjanjian. Kerahasiaan rekaman. Bantuan dengan rekaman data. maka konselor harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari institusi atau lembaga tempat konselor bekerja. e. Konselor membatasi pemberian salinan rekaman atau sebagian salinan kepada konseli hanya jika isi rekaman tersebut akan mengganggu atau menyakiti perasaan konseli. Izin untuk observasi. Izin untuk merekam. 4. maka konselor hanya memberikan salinan rekaman data yang menyangkut konseli yang memintanya dan tidak menyertakan salinan data yang menyangkut konseli lain. konselor meminta izin dari konseli dalam rangka observasi sesi konseling dalam lingkungan pelatihan. . konselor meminta izin kepada konseli untuk merekam proses konseling dalam bentuk elektronik maupun bentuk lain. d. Dalam situasi konseling yang melibatkan banyak konseli. konselor meminta persetujuan tertulis dari konseli untuk membuka atau memindahkan rekaman data kepada pihak ketiga yang memiliki wewenang.3. Konselor memelihara data rekaman konseli dengan tetap menjaga kerahasiaannya. jika konselor mengatur penyimpanan rekaman-rekaman data konseling dengan mengikuti tahapan pengakhiran agar memudahkan proses membuka data tersebut di masa yang akan datang ataupun jika rekaman tersebut akan dimusnahkan. Persetujuan institusi atau lembaga. konselor hanya memberikan salinan rekaman kepada konseli yang memang memerlukan. konselor membuat perjanjian dengan setiap individu-individu yang terlibat. Rekaman Data Konseling a. jika konselor memberikan konsultasi terkait dengan permasalahan konseli dengan pihak lain.. Informasi rahasia yang diperlukan dalam penelitian. 5. seperti meninjau hasil transkrip bersama peninjau dan fakultas. g. konselor memberikan bantuan kepada konseli dengan cara memberikan konsultasi dalam memaknai rekaman data. f. terkait dengan proses dan tempat penyimpanan hingga orang-orang yang memiliki wewenang untuk rekaman tersebut. Rekaman bagi Konseli. konselor menjaga kerahasiaan setiap rekaman data konseli dengan sebaik-baiknya jika penelitian yang akan dilakukan melibatkan banyak pihak. c. Membuka atau memindahkan rekaman. jika konselor akan menggunakan informasi-informasi mengenai konseli sebagai bagian dari perencanaan penelitian. Konsultasi a. Penyimpanan dan pemutihan rekaman setelah konseling berakhir. Penelitian dan pelatihan a. b. b. dengan memberitahukan bahwa konselini memiliki hak untuk dijaga kerahasiaannya kepada setiap individu dan menjelaskan akibat-akibat yang mungkin terjadi jika kerahasian tersebut dibocorkan ke pihak lain.

Pelanggaran terhadap kode etik akan mendapatkan sangsi yang mekanismenya menjadi tanggung jawab Dewan Pertimbangan Kode Etik ABKIN sebagaimana diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ABKIN. Menghargai hal-hal yang bersifat pribadi. BAB IV EVALUASI. konseli. dan intelegensi. Konselor berusaha menciptakan kebermaknaan dari konseli atau kelompok konseli dengan membangun dan menggunakan instrument asesmen pendidikan.b. Konselor wajib senantiasa mengingat bahwa setiap pelanggaran terhadap kode etik akan merugikan diri sendiri. lembaga dan pihak lain yg terkait. 1. 2. Memberikan penjelasan kepada konseli b. dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas konseli. dan konselor harus mencegah terjadinya penyalahgunaan. kepribadian. ASESMEN DAN INTERPRETASI Konselor menggunakan instrument asesmen sebagai salah satu komponen dari proses konseli dengan disesuaikan pada pribadi konseli dan budaya yang dimiliki. Kesejahteraan konseli Konselor tidak diperkenankan untuk menyalahgunakan hasil asesmen dan interpretasinya. psikologi dan karir. Konselor harus menghormati hak konseli untuk mengetahui hasil dan interpretasi yang dibuat. dan melihat keputusan dan rekomendasi yang dibuat konseli. Bab X. Assesmen yang dilakukan tidak hanya terbatas pada: pengukuran bakat. Asesmen Tujuan utama dari asesmen karir. . Pasal 26 ayat 1 dan 2 sebagai berikut: (1) Pada organisasi tingkat nasional dan tingkat propinsi dibentuk DEWAN PERTIMBANGAN KODE ETIK BIMBINGAN DAN KONSELING INDONESIA. a. minat. Kompetensi dalam menggunakan dan menginterpretasi instrumen asesmen meliputi: 1) Pemahaman terhadap keterbatasan kompetensi 2) Pemahaman terhadap penggunaan hasil asesmen secara tepat 3) Pengambilan keputusan yang berbasis hasil asesmen b. Memberikan penjelasan kepada penerima hasil BAB V PELANGGARAN TERHADAP KODE ETIK A. psikologi dan pendidikan adalah untuk menyediakan pengukuran yang valid dan reliable. Pendahuluan Konselor wajib mengkaji secara sadar tingkah laku dan perbuatannya bahwa ia mentaati kode etik. dalam rangka memperoleh data yang akurat mengenai konseli dan lingkungannya. konselor memberikan konsultasi ataupun mendiskusikan permasalahan konseli dengan tujuan professional hanya kepada pihak-pihak yang terkait. Pemberian ijin memberi informasi dalam asesmen dilakukan dengan: a.

Terhadap Organisasi Profesi a. Memberikan teguran secara lisan dan tertulis 2. 1. Tidak mengikuti kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi. d. 3. Menyebarkan/membuka rahasia konseli kepada orang yang tidak terkait dengan kepentingan konseli b. Melakukan tindakan yang menimbulkan konflik (penghinaan. Memberikan peringatan keras secara tertulis 3. 1.(2) Dewan Pertimbangan Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia sebagaimana yang a. Pengaduan disampaikan kepada dewan kode etik di tingkat daerah . Melakukan referal kepada pihak yang tidak memiliki keahlian sesuai dengan masalah konseli. Terhadap Konseli a. evaluasi. Pencabutan keanggotan ABKIN 4. D. menolak untuk bekerja sama. b. 2. sikap arogan) b. C. dan tindak lanjut). Melakukan tindak kekerasan (fisik dan psikologis) terhadap konseli. Bentuk Pelanggaran c. Apabila terkait dengan permasalahan hukum/ kriminal maka akan diserahkan pada pihak yang berwenang. Mencemarkan nama baik profesi (menggunakan organisasi profesi untuk kepentingan pribadi dan atau kelompok). B. Pencabutan lisensi 5. rasialis). penistaan agama. Terhadap Rekan Sejawat dan Profesi Lain Yang Terkait a. Mendapatkan pengaduan dan informasi dari konseli dan atau masyarakat 2. b. Melakukan perbuatan asusila (pelecehan seksual. c. Mekanisme Penerapan Sangsi Apabila terjadi pelanggaran seperti tercantum diatas maka mekanisme penerapan sangsi yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Bertindak sebagai saksi di pengadilan dalam perkara berkaitan dengan profesi bimbingan dan konseling. Memberikan pertimbangan kepada Pengurus Besar atau Pengurus Daerah ABKlN atau adanya perbuatan melanggar Kode Etik Bimbingan dan Konseling oleh Anggota setelah mengadakan penyelidikan yang seksama dan bertanggungjawab. teknik. Kesalahan dalam melakukan pratik profesional (prosedur. Apabila terjadi pelanggaran terhadap kode etik Profesi Bimbingan dan Konseling maka kepadanya diberikan sangsi sebagai berikut. dimaksud oleh ayat (1) mempunyai fungsi pokok: Menegakkan penghayatan dan pengalaman Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia. Sangsi Pelanggaran Konselor wajib mematuhi kode etik profesi Bimbingan dan Konseling.

Apabila pelanggaran yang dilakukan masih relatif ringan maka penyelesaiannya dilakukan oleh dewan kode etik di tingkat daerah. 5.3. 4. Pemanggilan konselor yang bersangkutan untuk verifikasi data yang disampaikan oleh konseli dan atau masyarakat. Apabila berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh dewan kode etik daerah terbukti kebenarannya maka diterapkan sangsi sesuai dengan masalahnya. .