P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 32|Likes:
Published by Aragon Gerad

More info:

Published by: Aragon Gerad on Oct 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Seiring dengan munculnya masalah pelanggaran etika dalam bisnis menyebabkan dunia perdagangan menuntut etika dalam berbisnis segera dibenahi agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Sebuah bisnis yang baik harus memiliki etika dan tanggung jawab sosial sesuai dengan fungsinya baik secara mikro maupun makro. Dalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara, bahkan tindakan yang identik dengan kriminalpun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menampakkan kecendrungan tetapi sebaliknya, semakin hari semakin meningkat.

Sebagai bagian dalam masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan tersebut membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnis, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam sutu pola hubungan yang bersifat interaktif. Hubungan ini tidak hanya berlaku dalam satu Negara, tetapi meliputi berbagai Negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang nuansanya kini telah berubah. Perubahan nuansa perkembangan dunia ini menuntut segera dibenahinya etika bisnis. Pasalnya, kondisi hukum yang melingkupi dunia usaha sangat jauh tertinggal dari pertumbuhan dan perkembangan dibidang ekonomi.

1.2 Rumusan Maslah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. 2.

Apa yang dimaksud dengan Etika, Etika Bisnis dan Pelanggaran Etika Bisnis? Apa Prinsip – prinsip Etika Bisnis yang harus ditempuh oleh sebuah perusahaan dalam mencapai tujuannya? Kasus – kasus apa saja yang pernah terjadi dan menunjukkan adanya pelanggaran dalam Etika Bisnis?

3.

4. 5.

Mengapa Etika dikatakan sangat penting dalam menjalankan sebuah bisnis? Bagaimanakah upaya atau langkah – langkah dalam menciptakan Etika Bisnis?”

1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. 2.

Untuk mengetahui pengertian Etika, Etika Bisnis dan Pelanggaran Etika Bisnis. Untuk mengetahui Prinsip – prinsip Etika Bisnis yang harus ditempuh oleh sebuah perusahaan dalam mencapai tujuannya.

3. 4. 5.

Untuk mengetahui beberapa cotoh kasus pelanggaran Etika Bisnis. Untuk mengetahui pentingnya Etika dalam menjalankan bisnis. Mengetahui langkah - langkah dalam menciptakan Etika Bisnis.

1.4 Manfaat Penulisan
1.

Bagi penulis; menambah wawasan dan pemahaman tentang pentingnya Etika dalam menjalankan sebuah bisnis yang berorientasi pada prospek jangka panjang, dan adanya pelanggaran – pelanggaran etika yang terjadi dalam bisnis oleh perusahaan – perusahaan tertentu membuat penulis menyadari bahwa kurangnya implementasi Etika Bisnis dan lemahnya hukum yang mengatur standar etika bisnis.

2.

Bagi dunia pendidikan, menambah koleksi dan khasanah pengetahuan terutama dibidang Entrepreneurship (kewiraushaan) khususnya tentang pelanggaran etika dalam bisnis, sehingga dapat menjadi bahan acuan bagi mahasiswa yang akan menyusun makalah selanjutnya.

3.

Bagi industri atau perusahaan yang bersangkutan, sebagai bahan pertimbangan bagi instansi-intansi terkait dalam mencapai tujuannya agar lebih mengorientasikan kegiatan bisnisnya pada prospek jangka panjang dan sesuai dengan standar Etika

Bisnis, karena kunci utama kesuksesan bisnis adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pelanggaran Etika Bisnis Kata “etika” berasal dari bahasa yunani “ethos” yaitu ilmu yang secara khusus menyoroti perilaku manusia dari segi moral. Etika adalah cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan (rightness) atau moralitas (kesusilaan) dari perilaku manusia. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan – aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat. Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan sebuah perusahaan dalam pengambilan keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik. Pelanggaran etika bisnis adalah penyimpangan standar – standar nilai (moral) yang menjadi pedoman atau acuan sebuah perusahaan (manajer dan segenap karyawannya) dalam pengambilan keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik. Paradigma etika dan bisnis adalah dunia berbeda yang sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait dengan bisnis atau mensinergikan antara etika dengan laba. Justru di era kompetisi yang ketat ini, reputasi perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika bisnis merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru. Oleh karena itu, perilaku etik penting untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. 2.2 Pinsip – prinsip Etka Bisnis Etika bisnis memiliki prinsip – prinsip yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut:
10 prinsip didalam menerapkan etika bisiis yang positif 1. Etiika bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi.Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran. 2. Etika bisnis itu berdasarkan pada fairness Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dedngan jujur?apakah setiap konsumen diperlukan adil?apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama?jika ya,maka etika bisnis telah diterapkan. 3. Etika bisnis itu membutuhkan integritas Integritas merunjuk pada kebutuhan pribadi,kepercayaan dan konsistensi.Bisnis yang etis memerlukan orang dengan hormat,jujur,berintegritas.mareka menepati janji dan melaksanakan komitmen. 4. Etika bisnis itu membutuhkan kejujuran

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyiikan cacat produk.jaman sekarang adalah era kejujuran.pengusaha harus jujur mangakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya. Etika itu harus dapat dipercayai Jika perusahaan ada terbilang baru,sedang tergoncang atau mengalami kerugian,maka secara etis anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder anda.epan dan pwerannya didalam lingkungan.etika bisnis tidak hidup didalam ruang hampa Etika itu membutuhkan perencanaan bisnis Sebuah perusahaan tang beretiak dibangun di atas realitas sekarang,visi dan masa didalam ruang hampa. Semakin je;las rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan,stabilitas,keuntungan dan pelayanan,maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis. Etika bisnis itu diterapkan secara internal dan ekstranal Bisnis yang beretika memerlukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermatabat dan andil.etika juga diterapkan didalam ruang rapat direksi,ruang negosiasi,didalam menepati janji,dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan,buruh,pemask,pemodal dll.singkatnya ruang lingkup etika bisnis itu universal. Etika bisnis itu membutuhkan keuntungan Bisnis yang beretika adalan bisnis yang dikelola dengan baik,memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh.etiak adalah berkenan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan.bisnis yang tidak mempunyai rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika. Etuiak bisnis itu berdasarkan nilai Perusahan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis.rumussan ini bersifat spesifik,tetapi berduak secara umum,etika menyangkut norma,nilai dan harapan yang ideal,meski begitu perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari. Etika bisnis itu dimulai dari pimpinan Ada pepatah’pembusukan iakn dimulai dari kepalanya,”kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga.perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anakbuahnya. Didalam persaingan dunia bisnis dangat ketat,ini etika bisnis merupakan sebuah harga yang dapat ditawarkan lagi.seorang konsumen yang tidak puas,rata-rataakan mengeluh kepada 16orang disekitarnya. Dalam zaman informasi seperti ini,baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan messif.memperlakukan karyawan,konsumen,pemasok,pemodal dan masyarakat umum secara etis adil dan jujur adalah satu-satuny cara supaya koita dapat bertahan didalam dunia bisnis sekarang. Hal yang terpenting bagi pelaku bisnis adalah bagaimana menempatkan etika pada kedudukan yang pantas dalam kegiatan bisnis yang berorientasi pada norma-norma moral.dalam melaksankan kegiatn bisnis selalu berusaha berada dalam kerangka etis,yaitu tidak amerugikan siapapun secara moral. Prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dimensi etis dalam pengambilan keputusan 1. Prinsip konsenquentialis:konsep etika ini berfokus pada konsenkuensi dari pengambilan keputusan yang dilakukan seorang.ini artinya penilaian apakah sebuah keputsan dapat dikatakan etuis atau tidak,hal itu tergantung pada konsekuensi dari keputusan tsb. 2. Prinsip Non-konsequentialis:konsep etika ini berdasarkan penilaian pada rangkaiamn peraturan yang diguankan sebagai petunjuk/paduan pengambilan keputusan.penilaian atis lebih didasarkan pada alasan,bukan pada akibatnya.

Kepentingan etiak dalam bisnis Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting saat ini?karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan mencipkan nilai(value-creation)yang tinggi,diperlukan suatu landasan yang kokoh. Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika perusahaan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun angka panjang karena:  Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya fisik/pengesahan peopelel baik internal perusahaan maupun dengan eksternal.  Akan dapat meningkatkan motivasi pekerjaan  Akan melindungi prinsip kebebasan ber niaga  Akan meningkatkan keuntung bersaingan. Tindakkan yang etis,bagi perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakatdan kan dangat kontra produktif,misalnya melalui gerakan perboikotan,larangan beredar,larangan beroperasi.hal ini akan dapat nmenurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan.sedangkan perusahaaan yang mengunjungi tinggi nilai-nilai etiak pada umumnya perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula,terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis miisalnya diskriminasidalam sistem imbalan atua janjang karier.karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi peusahaan olwh karena itu semaksimal mungkin harus tetap dipertahankan. Memang benar kita tidak bisa berasumsi bahwa pasar atau dunia bisnis dipenuhi oleh orang-orang jujur.berhati mulai dan bebas dari akal bulus serta keCurangan/manipulasi.tetapi sungguh tidak ada gunanya berbisnis dengan mengabaikan atika dan aspek spiritual.biarlah pemerintah melakukan pengawasan biarlah mayarakat memberi penilaian dan sistem pasar akan bekerja dengan sendirinya. Tanggung jawab sosial bisnis Saat ini perusahaan dihadapkan pada paradigma yang relatif masih baru di indoneasi,yaitu paradigma yang melihat antra pihak perusahaan dan masyarakat bukanlah dua pihak yang berbeda dan bertolak belakang,namaun merupakan bagaian yang tidak terpisahkan. Fakta masyaratkat yang relatif kondraktif,dimandi satu pihak pada perusahaan besar yang aktivitas usahanya banyak diwarni ddengan konflik sosial,tetapi disisi lain ada perusahaan besar yang berkinerja baik tampa harus megalami komplik sosial.Kondisi yang demikian dig i duga sangat dipengarauhhi oleh derajat perilakuetis perusahaan,yang diwujudkan melalui kadar tanggung jawab sosial perusahaan. Perusahaan sebagai sebuah sistem,dalam berkelanjutan dan keseimbangan tidak bisa berdiri sendiri.Perusahaan memerlukan kemitraan timbal balik dengan institusi lain.perusahaan selain mengejar keuntungan ekonomi untuk kesejah teraan dirinya,juga memerlukan alam untuk sumber daya olahannya danstakeholder lain untuk mencapai tujuannya.Dengan menngunakan pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan,perusahan tik hanya mensdapatkan kleuntungan ekonom,tetapi juga keuntungan ekonomi,tetapi juga keuntungan secara sosial.dengan demikian keberlangsungan usaha tersebut dapat berlangsung dengan baik dan secara tidak langsung akan mencegah konflik yang merugikan. Etika dalam bnisnis adalah mutlak dilakukan.Maju mundurnya bisnis yang dijalankan adalah tergantung dari perilaku bisnis itu sendiri.apa yang dia perbuat dengan konsekuensi apa yang akan dia peroleh sudaha sangat jelas. Pebisnis yang menjunjungi tinggi nilai etika akan mendapatkan point reward terhadap apa yang telah dia lakukan.Kemajuan perusahaan,kepercayaan pelanggan,profit yang terus meningkat,pangsa pasar

terus meluas,merupakan dambaanbagi setiap pembisnis dan ini akan diperoleh dengan menjunjung tinggi nilai etika. Sebaliknya,pelanggaran etika yang sedikit saja bisa menyebabkan kondisi berbalik 180 derajatdalam Waktu sekejap.Kehilanggan pelanggan,defisit keunagan sampai ditutupnya perusahaan dengan jumlah untung serta kerugian yang menggunung merupakan punishment dari pelanggaran etika. Terakhir kita sebagai akademis yang merupakan calon dari pembisnis,baik itu yang menjalankan bisnis pribadi ataupun menjalankan bisnis orang laintinggal menentukan pilihan apakah bisnis dengan etika atau bisnis tampa etika. ETIKA DALAM BEKERJA Etika kerja merupakan aturan normatif perusahaan.Di dalamnya ada system nilai apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan karyawan atau manejer.Untuk itu etika kerja setiap karyawan didasari prinsip-prinsip : Melaksanakan tugas sesuai dengan visi,misi dan tujuan perusahaan. 1) Selalu berorintasi pada budaya peningkatan mutu kinerja. 2) Saling menghormati sesama karyawan. 3) Membangun kerjasama dalam melaksanakan tugas-tugas perusahaan. 4) Memegang tanggung jawab,kejujuran . 5) Menanamkan kesdispilinan bagi diri sendiri dan perusahaan. Menurut Mathis dan jackson,etika memiliki dimensi-dimensi konsenkuensi luas,alternatif ganda,akibat berbeda,konsekuensi tak pasti dan efek personal : Konsekuensi Luas Keputusan etika membawa konsekuensi yang luas.misalnya karena menyangkut masalah etika bisnis tentang pencemaran lingkungan maka diputuskan penutupan perusahaan dan pindah ketempat lain yang jauh dari karyawan.hal itu akan berpengaruh terhadap kehidupan karyawan,keluarganya,masyarakat dan bisnis lainnya. Alternatif Gandasnis Beragam alternatif sering terjadi pada situasi pengambilan keputusan dengan jalur diluar aturan sebagai contoh memutuskan seberapa kauh keluasan dalam melayani karyawan tertentu dalam hal persoalan keluarga sementara terhadap karyawan yang lain menhggunakan aturan yang ada. Akibat Berbeda Keputusan-keputusan dengan demensi-deminsi etika bisa menghassilkan akibat yan berbeda yaitu positif dan negatif.misalnyamempertahankan pekerjaan beberapa karyawandisuatu pabrik dalam waktu relatif lama mungkin akan mengurangi peluang para karyawan lai nnya untuk bekerja dipabrik itu.disatu sisi keputusan itu menguntungkan perusahaan tetapi pihak karyawan dirugikan. Ketidak pastian konsekuensi Konsenkuensi keputusan-keeputusan bernuansaa etiaka sering tidak diketahui secara tepat.misalnya pertimbangan penundaaan promosi pada karyawan tertentu yang hanya berdasarkan pada gaya hidup dan kondisi keluarganya padahal karyawan tersebut benarbenar kualifaid. Efek Personal Keputusan-keputusan etika sering mempengaruhi kehidupan karyawan dan keluarganya,misalnya pemecatan terhadap karyawan disamping membuat sedih sikaryawan juga akan membuat susah keluarganya,misalnya kalau para pelanggan asing tidak menginginkan dilayani oleh “sales”wanita akan bwerpemngaruh negatif pada masa depan karir para”sales”tersebut.

Dalam prakteknya penerapan etika kerja dikalangan karyawan tidaklah mudah.Tidak jarang bukan saja dikaryawan tetapi juga dikalangan manejer banyak yag kurang memahami makna etika kerja.hal itu ditunjukkan oleh adanya sekelompok karyawan dan bahkan manejer yang egoistis dan menjadi penyebab konflik serta ketidak puasaan dikalangankaryawan.Kalau ini dibiarkan maka lambat laun akan menganggu proses pekerjaan dan mutu kinerja secara keseluruhan.karena itu diperlukan peranan perusahaan dalam membangun etika kerja para karyawan. Perusahaan dapat berperan dalam berbagai bentuk upaya: 1) Membuat kode etika kerja dengan melibatkan para karyawan 2) Platihan tentang pengertian dan penerapan etika kerja 3) Melaksanakan proses sosialisasi dan internalisasi etika kerja 4) Meningkatkan fungsi pengawasan kerja 5) Meningkatkan komunikasi horisontal dan vertikel,formal maupun informal 6) Memberikan penghargaan kepada para karyawan yang beretika kerja tinggi sebagai motivasi bagi karyawan lainnya dalam meningkatkan etika kerjanya.

A.Utilitarianisme Menimbang Biaya dan Keuntungan Sosial Pendekatan ini kadang disebut pendekatan konsekuensialis dan kadang disebut juga pendekatan utilitarianisme.untuk mlihat lebih dekat pada pendekatan ini,mari kita mempelajari sebuah situasi diman pendekatan ini menjadi pertimbanagan dasar dalam membuat sebuah keputusan bisnis yang memiliki pengaruh dramistis pada kehidupan banyak orang. Pada awal tahun 1960-an,posisi Ford di pasar mobil mengalami pemgaruh besar akibat persaingan dari produsen mobil luar negeri,khususnya dari perusahaan-perusahaan jepang yang memproduksi mobil-mobil kecil dan hemat bahan bakar.Lee Iaccoca,dorektur Ford waktu itu,berusaha mati-matian untuk memperoleh kembali pangsa pasar mobil.Strategidssnya difokuskan pada proses desain,pemanufakturan dan penjualan yang cepat atas mobil baru,’Pinto adalah salah sebuah mobil murah dengan berat kurang dari 2000 pon,dan harganya tidak lebih dari $2000,serta dipasarkan dalam waktu 2tahun(tidak 4tahun seperti biasanya. Namun manejer Ford memutuskan untuk tetap memproduksi Pinto karena beberapa alasan.Pertama,desain mobil ini memenuhi semua standar hukum dan peraturan pemerintah.Pada saat itu,peraturan pemerintah masyaratkan agar tangki bahan bakar tetap dalam keadaan utuh meskipun mobil ditabrak dari belakang kecepatan kurang dari 20 mil per jam.Kedua,manejer Ford merasa bahwa mobil ini memiliki tingkat keamanan yang sebanding dengan mobil-mobil yang diproduksi perusahaan lain.Ketiga,menurut studi biaya keuntungan internal yang dilakukan oleh Ford,biaya modifikasi Pinto tidak bisa ditutup oleh keuntungan yang diraih.Studi tersebut menunjukkan bahwa modifikasi tangki bahan bakar untuk 12,5 juta mobil yang akan diproduksi adalah $137juta,dengan biaya $11 per mobil: Biaya : $ 11 X $ 12,5 juta mobil = $ 137juta. Namun demikian data-data statistik meneunjukkan bahwa modifikasi tersebut akan mampu mencegah 180 kematian kebakaran,180 korban luka berat,dan 2100 kendaraan yang tebakar.pada saat itu,pemerintah secara resmi memperkirakan nilai nyawa manusia sebesar $200.000,perusahaan asuransi memnerikan nilai kerugian akan luka bakar serius sebesar $76.000dan nilai rata-rata untuk mobil kecil adalah $700,jadi menurut perhitungan,keuntungan dari modifikasi dalam kaitnya dengan pencgahan kerugian adalah sebesar $49,15juta. Keuntungan : (180 kematian X $200) + (180korban luka X $76.000) + (2.100 kendaraan X $700) = $ 49,15 juta

Jadi,modifikasi yang akhirnya membebankan biaya pada konsumen sebesar $137(karena biaya modifikasi ditambahkan pada harga mobil)hanya mampu mencegah kerugian konsumen senilai $49,15 juta,tidak benar,menurut hasil studi tersebut,bila kita membvuang uang masyarakat sebanyak $137 juta untuk memperoleh keuntungan senilai hanya $49,15 juta.menimbang klain-klain yag saling bertantangan dari masing-masing pihak serta mencari keseimbangannya.Keadilannya dan kewajaran pada dasarnya bersifat koperatif. Keadilan Distributif masalah-masalah tentang keadilan disrtibutive muncul bila ada orang-orang tertentu yang memiliki perbedaan kliem atas keuntungan dan beban dalam masyarakat,dan semua kliem mareka tidak bisa terpenuhi.Contoh kasus utamanya adalah saat terjadi kelangkaan misalnya,pekerjaan ,makananperumahan,perawatan kesehatan,penghasilan dan kesehatan bila dibanadingkan dengan jumlah individu yang membutuhkannya. Etika Memberikan Perhatian Parsialitas dan perhatian Pendekatan-pendekatan etika yang kita lihat semuanya mengasumsikan bahwa etika dengan individu tertentu.misalnya anggota keluarga,teman atau pegawai,harus kesampingkan saat menentukan apa yang harus dilakukan.Dalam haperhatian ini etika perhatian menekankan pada dua persyaratan moral : 1) Kita hidup dalm suatu rangkaian hubungan dan wajib mempertahankan serta mengembangkan hubungan yang konkret dan bernilai dengan orang lain. 2) Kita memberikan perhatian khusus pada orang-orang yang yang menjalin hubungan baik dengan kita dengan cara memperhatikan kebutuhan,nilai,keinginan, dan kebneradaaan mareka dari perspektif pribadi mareka sendiri dan dengan memberikan tanggapan secara positif pada kebutuhan,nilai,keinginan,dan keberadaan orang-oarang yag membutuhkan dan bergantung pada perhatian kita. Memadukan Untilitas,Hak,Keadilan dan perhatian Dalam tiga bagian terakhir kita telah membahas empat jenis standar moral yang saat ini menjadi dasar dari sebagian besar penilaian moral kita serata mendorong kita untuk memaasukkan sejumlah pertimbangan yang berada dalam penalaran moral kita.Standar utilitarian wajib di gunakan saat kita tidak memiliki sumber daya yang mampu memenuhi tujuan atau kebutuhan semua orang,diamana kita didorong untuk mempertimbangkan keuntungan atua biaya social dari suatu tindakan atau kebijakkan atau institusi dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu. Penilaian moral kita sebagian juga didasarkan pada standar-standar yang menunjukkan bagaimana individu harus diperlakukan dan dihargai.Jenis standar moralini wajib kita gunakan bila tindakkan dan kewajiban yang akan kita ambil sangat berpengaruh pada kesejahteraan dan kebebasan mareka.Penalaran moral semacam ini mencangkup pertimbangan tentang apakah suatu perilaku dianggap menghargai hak asasi individu yang bersangkutan dan apakah perilaku tersebut dianggap menghargai hak asasi individu yang bersngkutan dan apakah perilaku ersebut konsisten dengan kewajiban-kewajiban yang kita terima secara sukarela dalam perjanjian. Prinsip Moral Alternatif : Etika Kebaikan Hal mrupakan sebuah sarana atau cara yang penting dan bertuujuan agar memungkinkan individu untuk memilih dengan bebas apa pun kepentingan atau aktivitas mareka dan melindungi pilihan-pilihan mareka. Hak Negatif dan Positif

Sejumlah hak yang disebut hak negatif dapat digambarkan dari fakta bahwa hak-hak yang termasuk didalamnya dapat difinisikan sepeniuhnya dalam kaitananya dengan kewajiban dengan orang lain untuk tidak ikut campur dalam aktivitas-aktivitas terentu dari orang yang memilki hak tersebut.Contohnya,jika saya memiliki hak privasi,ini berarti semua orang,termasuk atasan saya,berkewajiban tidak ikut campur dalam urusan atau aktivitas-aktivitas pribadi sendiri. Sebaliknya,hak positif tidak hanya memberikan kewajiban negative,namun juga mengiplamasikan bahwa pihak lain (tidak selalu jelas siapa mareka)memiliki kewajiban positifpada si pemilik hak untuk memberikan apa yang dia perlukan untuk dengan bebasmencari atau mengejar kepentingan-kepentingannya.contohnya,jika saya punya hak untuk memperoleh kehidupan yang layak,maka ini tidak hanya berarti orang lain tidak boleh ikut campur namun juga berarti jika saya tidak bisa memperoleh pemnghasilan yang layak,maka harus ada pihak lain(mungkin pemerintah)yang wajib memberikan pekerjaan dengan penghasilan yang layak. Hak dan Kewajiban Kontraktual Hak dan kewajiban kontraktual(kadang disebut juga hak dan akewajiban khusus atau tugas khusus)adalah hak terbatas dan kewajiban korelatif yang miuncul saat seseorang membuat perjanjian dengan orang lain.Contohnya,jika saya setuju untuk melakukan sesuatu bagi anda,maka anda berhakaatas apa yang lakukan:anda memperoleh hak kontraktual atas apapun saya janjikan,dan saya memiliki kewajiban kontartual untuk melaksanakan sesuatu seperti ynag saya janjikan. Aturan-atuaran etis apa yang membatasi perjanjian kontrak?Sistem peraturan yang mendasari hak dan kewajiban kontraktual secara umum diinterprestasikan mencangkup sejumlah batasan moral : a) Kedua belah pihak dalam kontrak harus memahami sepenuhnya sifat dari perjanjian yang mareka buat. b) Kedua belah pihak dilarang mengubah fakta perjanjian kontraktual dengan sengaja. c) Kedau belah pihak dalam kontrak tidak boleh mendatangani perjanjian karena paksaan atau ancaman. d) Perjanjian kontrak tidak boleh mewajibkan kedua belah pihak untuk melakuakan tindakantindakan yang amoral. Keadilan dan Keamanan Pertantangan antar individu dalam bisnis sering dikaitkan dengan masalah keadilan dan kewajiban/ kesamaan.Hal ini terjadi,saat seseorang menuduh orang lain melakukan diskriminasi terhadapnya,menunjukkan sikap berat sebelah,atau tidak memperoleh bagian yang sabar/sama dari beban yang ditanggungnya dalam suatu perjanjian kerjasama.Penyelesaian masalah seperti ini kerap kali mengharuskan kita membandingkan dan jadi,teori rule-utilitarian memiliki dua bagian yang dapat kita ringkas dalam dua prinsip berikut : a) Suatu tindakkan dianggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jika tindakkan taersebut dinyatakan dalam peratuaran moral yang benar. b) Sebuah peraturan moral ddikatakan benar jika dan hanya jika jumlah utilitas ttotal yang dihasilkanya;jika semua orang ynag mengikuti peraturan terasebut lebih besar dan jumlah utilitas total yang diperoleh ;jika semua orang mengikuti peraturan moral alternative lainnya. Hak dan Kewajiban Pada bulan April 2000 para eksekutif Microsoft,perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia,diharapkan pada sekelompok pemegang saham yang merasa prihatin denganoperasi perussahaan di Cina dan meminta para pemegang saham lainnya untuk mendesak Microsoft agar lebih menghormati hak-hak asasi manusia.pada tahun 1999.U.S.State Departementmelaporkan bahwa catatan HAM Cina semakin memburuk pada tahun 1988 dan bahwa pemerintah terus

menekan hak pekerja dan tenaga kerja paksa tetap menjadi masalah.Sebelumnya,pada tahun 1994,kementerian Tenaga Kerja Cina mengeluarkan peraturan penanganan TenagaKerja di Perusahaan Asing yang mencangkup sejumlah hak,Peraturan-peraturan ini mengakui hak pekerja untuk melakukan tawar menawar secara kolektif,tapi hanya melalui serikat pekerja yang pembentukkannya disetujui oleh pemerintahan Cina.Jika lebih dari separuh pemegang saham yang mendukungnya,maka perusahaan wajib menerapkan prinsip-prinsip hak asasi manusia berikut ini : a) Tidak ada barang atau produk dari fasilitas perusahan atau pemasok yang dihasilkan denga menggunakan tenaga kerja terikat,tenaga kerja paksa di kampong penjara ,atau bagian dari program pembentukan kembali atau pendidikan kembali melalui kerja. b) Fasiliatas dan pemasok wajib memnerikan upah ynag mampu memenuhi kebutuhankebutuhan dasar para pekerja,dan juga jam kerja yang adil dan layak. c) Fasilitas dan pemasok berkewajiban melarang penggunaan hukuman badan serta perlakuaan kasar secara fisik,verbal,ataupun pelecehan seksual terhadap pekerja. d) Fasilitas dan pemasok boleh menggunakan metode yang tidak berpengaruh negative terhadap keamanan kerja dan kesehatan para pekerja. e) Fasilitas dan pemasok tidak boleh meminta bantuan polisi atau militer untuk mewncegah pekerja melakukan hak-ha mareka. Konsep Hak Secara umum,hak adalah kliem atau kepemilikan individu atau sesuatu,Seseorang dikatakan memiliki hak jika dia memiliki kliem untuk melakukan tindakan dalam suatu cara tertentu atau jika orang lain berkewajiban melakukan tindakan dalam suatu cara tertentu kepadanya. Hak juga berasal dari sistem standar moral yang tidak bergantung pada sistem hukum tertentu.Hak untuk bekerja misalnya,tida dijamin dalam konstitusi Amerika,namun banyak yang menyatakan bahwa ini adalah hak yang dimiliki oleh semua manusia. Tanggapan Utilitarian Terhadap Masalah Penilaian Para pendukung utilitarianisme memberi sejumlah tanggapan untuk menghadapi keberatankeberatan yang muncul. Pertam,kaum utilitarian menyatakan bahwa ,meskipun yutilitarianisme idealnya masyakarat penilaian-penilaian yang akurat dan dapat dikuantifikasikan atau biaya dan keuntungan namun persyaratan ini dapat diperlonggar jika penilaian seperti itu tidak qdapat dilakukan. Utilitarianisme hanya menegaskan konsekuensi-konsekuensi haruslah disajikan dalam bentuk yang memungkiinkan dilakukannya perba dingan yang sisteematis antara satu dengan yang lainnya. Contoh: Steak sebagai makanan yang lebih bernilai dibanding dengan krupuk,bagi siapapun yang memakannya. Masalah Hak dan Keadilan Hamabatan utama utilitarianisme,menurut beberapa kritikus adlah prinsip-prinsip tersebut tidak mampu menghadapi dua jenis permasalahan moral;maslah yang berkaitan dengan hak dan yang berkaitan dengan keadilan.Ada beberapa contoh yang dapat dipakai untuk mengambarkan kritik-kritik yuang diajukan pada pandangan utilitarian. Pertama,misalkan paman and amenderita pemnyakit yang tidak dapat disembuhkan dan menyakitkan dan dia merasa sangat tidak bahagia namun juga tidak ingin mati. Kedua,utilitarianisme juga bisa salah,menurut para kritikus,apabila diterapkan pada situasisituasi yang berkaitan dengan keadilan sosial.Sebagai contoh,misalkaaan upah subsistensi memaksa sekelompok pekerja pendatang untuk tetap melaksanakan pekerjaan yang paling tidak diinginkan dalam bidang apertanian dalam sebuah perekonomian,namun menghasilkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi bagi mayoritas masyarakat karena kelompok mayoritas menikmati barang-barang

produksi hasil pertanian yang murah dan memungkinkan mareka untuk memenuhi keinginankeinginan lain. Jadi jelemahan utilitarianisme adlah membenarkan distribusi keuntungan dalam cara apapun selama keuntungan total yang diperoleh itu paling tinggi. Tanggapan Utilitarian Terhadap Pertimbangan Hak dan Keadilan Untuk menaggani keberatan dalam contoh-contoh yang diajukan oleh para kritikus utilitarianisme tradisional,kaum utlitarian mengajukan satu versi utilitarianisme altrrnative yang cukup penting dan pengaruh,yang disebut rule-utilitarianism(peraturan utiitarianisme).Strategis dasar dari rule-utilitarian adalah membatasi analisi utilitarian hanya pada evaluasi atas peraturanperaturan moral.Menurut rule-utilitarian,saat menentukan apakah suatu tindakan yang dianggap etis,kita tidak perlu mempertanyakan apakah tindakan tersebut akan memberikan utilitas paling besar.Sebaliknya ,kita perllu mempertanyakan apakah tindakkan tersebut diwajibkan oleh peraturan moral yang harus dipatuhioleh semua orang,jika benar,maka kita perlu melakukannya. Utilitarianisme Tradisional Secara singkat,prinsip utilitarian menyatakan bahwa: Suatu tindakan dianggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jaika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakkan tersebut lebih besar dari jumlah utiliatas total yang dihasilkan oleh tindakan lain yang dapat dilakukan. Prinsip utilitarian mengatakan bahwa tindakan yang benar dalam suatu situasi adalah tindakan ynag menghasilkan utilitas yang llebih besar dibandingdengan kemungkinan tindakan yang lainnya. Dengan demikian,untuk memastikan apa yang hars kita lakuakan dalam situasi tertentu,kita perlu melakukan 3hal yaitu: a) Kit harus menentukan tindakan-tindakan atau kebijakan altrrnatif apa saja yang dapat kaita lakukan dalam situasi tertentu. Contoh :para manejer mobil Ford memutuskan untuk menambah perlindungankaretdisekeliling tangki atau memutuskan tampa mengunakan perlindungan. b) Setiap tindakan alternatif,kita perlu menentukan keuntungan dan biaya langsung dan tidak langsung yang akan diperoleh dari tindakan tersebut bagi semua orang yang dipengarui oleh tindakan itu dimasa yang akan datang. c) Alternatif yang memberikan jumah utilitas yang paling besar wajib dipilih sebagai tindakkan yang paling tepat. Masalah Pengukuran Satu rangkaian masalah dalam kaiatannya dengan utilitarianisme terfocs pada hambatanhambatan yang dihadapi saat menilai atau mengukur utilitas.Salah satnya adalah bagaimana nilai utilitas dari berbagai tindakan yang berbeda pada orang-orang yang berbeda dapat diukur dan diperbandingkan seperti yang dinyatakan dalan Utilitarianisme? Misalnya a) Saya dan anda sama-sama menikamti suatu pekerjaan:Bagaiman kita bisa menentukan apakah utilitas yang anda peroleh dari suatu pekrjaan lebih besar atau lebih kecil dibamndingkan utilitas yang saya peroleh?setiap orang mungkin merasa yakin bahwa dia bisa ,memperoleh keuntungan paling besar dari suatu pekerjaan,namun karena kita tidak dapat menjadi orang lain,maka penilaian ini tidak memiliki nilai objektif. b) Biaya dan keuntungan tertentu nampak sangat sulit dinilai,contoh:bagaiman kita bisa menilai nyawa/kesehatan seseorang,contoh tentang perhitungan diatas tentangan perhitungan harga sebuah nyawa.

c) Karena banyak keuntungan dan biaya dari suatu tindakan tidak dapt dipredeksi dengan baik,maka penilaiannya juga tidak bisa dilakukan dengan baik. Kebakan moral merupakan sebuah kecendderungan yang dinilai sebagai bagian dari karakter manusia yang secara moral baik dan ditunjukkan dalam kebiasaan dan perilakunya,seseorang dikatakan memiliki kebaikan moral bisa berperilakudengan penalaran,perasaan,dan keinginankeinginan yang menjadi karakteristik dari seseorang yang secara moral baik.Kejujuran misalnya,dinilai sebagai suatu ciri krakter dari seseorang yang secara moral baik.seseorang dikatakan jujur bila dia biasa mengatakan kebenaran dan melakukan karena dia percaya bahwa mengatakan kebenaran adalah tindakan yang baik,merasa senang saat dia mengaatakan kebenaran,dan meras gelisa saat berbohong dan selalu mengatakan kebenaran demi kebenaran itu sendiri dan arti pentingnya dalam komunikasi manusia.
1.

Prinsip Otonomi Prinsip otonomi memandang bahwa perusahaan secara bebas memiliki wewenang

sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya dengan visi dan misi yang dimilikinya. Kebijakan yang diambil perusahaan harus diarahkan untuk pengembangan visi dan misi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya.
2.

Prinsip Kejujuran Kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam mendukung keberhasilan

perusahaan. Kejujuran harus diarahkan pada semua pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan. Jika prinsip kejujuran ini dapat dipegang teguh oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kepercayaan dari lingkungan perusahaan tersebut.
3.

Prinsip tidak berniat jahat Prinsip ini berhubungan dengan prinsip kejujuran. Penerapan prinsip kejujuran yang

ketat akan mampu meredam niat jahat perusahaan (manajer dan segenap karyawan).
4.

Prinsip keadilan Perusahaan harus bersikap adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem

bisnis. Contohnya, upah yang adil kepada karyawan sesuai kontribusinya, pelayanan yang sama kepada konsumen, dan lain-lain.
5.

Prinsip hormat pada diri sendiri Perlunya menjaga citra baik perusahaan tersebut melalui prinsip kejujuran, tidak

berniat jahat dan prinsip keadilan. Hormat pada diri sendiri maksudnya adalah perusahaan harus menjaga nama baiknya dengan menerapkan prinsip jujur, tidak berniat jahat, dan melakukan prinsip keadilan sehingga mendatangkan apresiasi yang baik dari lingkungan.

2.3 Kasus – kasus Pelanggaran dalam Etika Bisnis Adapun beberapa contoh kasus – kasus pelanggaran Etika dalam berbisnis, antaralain sebagai berikut:
a.

Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI; dalam kasus tersebut, terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi. Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005,

perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik. Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT KAI untuk disetujui sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 :
1.

Pajak pihak ke tiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005.

2.

Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.

3.

Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.

4.

Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai komulatif sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan.

5.

Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003. Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan

publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa dibuka akses terhadap laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek. (Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006) Ulasan Kasus Kasus PT KAI di atas menurut kami berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan. Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihakpihak tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan itu wajar. Tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan. Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan. Bila hal itu benarbenar terjadi dan bisa dibuktikan bahwa pihak Akuntan publik sengaja melakukannya, maka tindakan tegas berupa sanksi dapat dikenakan.

Profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan. Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui prospek ke depan. Dari situ sudah diketahui kalau bidang kerja akuntan rawan memicu konflik kepentingan. Oleh karena itu, segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan harus mendapat perhatian khusus. Tindakan tegas perlu dilakukan.
b.

Skandal Enron, worldcom, dan perusahaan-perusahaan besar di AS; Enron mengumumkan kebangkrutannya pada akhir tahun 2002. Tentu saja kebangkrutan ini menimbulkan kehebohan yang luar biasa. Bangkrutnya Enron dianggap bukan lagi semata-mata sebagai sebuah kegagalan bisnis, melainkan sebuah skandal yang multidimensional, yang melibatkan politisi dan pemimpin terkemuka di Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa fakta yang cukup mencengangkan seperti:

Dalam waktu sangat singkat perusahaan yang pada tahun 2001 sebelum kebangkrutannya masih membukukan pendapatan US$ 100 miliar, ternyata tiba-tiba melaporkan kebangkrutannya kepada otoritas pasar modal. Sebagai entitas bisnis, nilai kerugian Enron diperkirakan mencapai US$ 50 miliar. Sementara itu, pelaku pasar modal kehilangan US$ 32 miliar dan ribuan pegawai Enron harus menangisi amblasnya dana pensiun mereka tak kurang dari US$ 1 miliar.

Saham Enron terjun bebas hingga berharga US$ 45 sen. Padahal sebelumnya pada Agustus 2000 masih berharga US$ 90 per lembar. Oleh karenanya banyak pihak yang mengatakan kebangkrutan Enron ini sebagai kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis di Amerika Serikat dan menjadi bahan pembicaraan dan ulasan di berbagai media bisnis dan ekonomi terkemuka seperti Majalah Time, Fortune, dan Business Week.

Sebab-sebab Bangkrutnya Enron Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu Enron dicurigai telah melakukan praktek window dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up) pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar [1]. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dengan triktrik manipulasi yang tinggi dan tentu saja orang-orang ini merupakan orang bayaran dari mulai analis keuangan, para penasihat hukum, dan auditornya.

Skandal ini semakin ruwet dengan ditengarainya keterlibatan banyak pejabat tinggi gedung putih dan politisi di Senat Amerika Serikat yang pernah menerima kucuran dana politik dari perusahaan ini.Bahkan tercatat 35 pejabat penting pemerintahan George W. Bush merupakan pemegang saham Enron. Dalam daftar perusahaan penyumbang dana politik, Enron tercatat menempati peringkat ke-36, dan penyumbang peringkat ke-12 dalam penggalangan dana kampanye Bush. Akibat pertalian semacam itu, banyak orang curiga pemerintahan Bush dan para politisi telah dan akan memberikan perlakuan istimewa, baik dalam bisnis Enron selama ini maupun dalam proses penyelamatan perusahaan itu. Pelajaran di Balik Skandal Enron Melalui kasus Enron ini dapat ditarik beberapa pelajaran antara lain:

Kebohongan yang dilakukan pada sebuah sistem terbuka seperti organisasi Enron cepat atau lambat pasti akan terbongkar.

Kasus-kasus kejahatan ekonomi tingkat tinggi selalu saja mengorbankan kepentingan orang banyak. Telah terjadi pelanggaran terhadap kode etik berbagai profesi seperti akuntan, pengacara dan lain sebagainya, dimana segelintir profesional tersebut serakah dengan memanfaatkan ketidaktahuan dan keawaman banyak orang. Hal ini mengakibatkan bencana yang mencelakakan banyak pihak: ribuan pekerja, pemegang saham, para pemasok, kreditor, dan pihak-pihak lainnya.

Terbongkarnya praktek persekongkolan tingkat tinggi ini menjadi bukti bahwa praktek bisnis yang bersih dan transparan akan lebih langgeng (sustainable). Prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance) harus dijaga dan dipelihara. Pengelolaan haruslah dilakukan secara transparan, fair, akuntabel, serta menjaga keseimbangan lingkungan.

c.

Kasus Johnson & Johnson; Salah satu kasus yang sering dijadikan acuan adalah bagaimana Johnson & Johnson (J&J) menangani kasus keracunan Tylenol tahun 1982. Pada kasus itu, tujuh orang dinyatakan mati secara misterius setelah mengonsumsi Tylenol di Chicago. Setelah diselidiki, ternyata Tylenol itu mengandung racun sianida. Meski penyelidikan masih dilakukan guna mengetahui pihak yang bertanggung jawab, J&J segera menarik 31 juta botol Tylenol di pasaran dan mengumumkan agar konsumen berhenti mengonsumsi produk itu hingga pengumuman lebih lanjut. J&J bekerja sama dengan polisi, FBI, dan FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) menyelidiki kasus itu. Hasilnya membuktikan, keracunan itu disebabkan oleh pihak lain yang memasukkan sianida ke botol-botol Tylenol. Biaya yang dikeluarkan J&J dalam kasus itu lebih dari 100

juta dollar AS. Namun, karena kesigapan dan tanggung jawab yang mereka tunjukkan, perusahaan itu berhasil membangun reputasi bagus yang masih dipercaya hingga kini. Begitu kasus itu diselesaikan, Tylenol dilempar kembali ke pasaran dengan penutup lebih aman dan produk itu segera kembali menjadi pemimpin pasar. Analisis Kasus dan Permasalahan Kasus yang kedua ini juga merupakan contoh kasus dimana perusahaan telah melanggar kode etis dengan tidak memperhatikan keselamatan dari konsumen. Namun untuk kasus kedua ini, kita dapat melihat berbagai perbedaan dengan kasus yang pertama. Pada kasus yang kedua ini dari pihak Johnson & Johnson dengan cepat menyelesaikan masalah ini. Apa yang dilakukan oleh pihak Johnson & Johson dalam menyelesaikan kasus ini..? Pertama, yang muncul selalu sang CEO — bukan kahumas. Apa yang dilakukan? Bagi sang CEO Jim Burke, dia secara tepat mengatakan bahwa panggilan tugas dia adalah menyelamatkan nyawa dan menyelamatkan perusahaan — kedua hal tersebut hanya bisa dicapai melalui kepercayaan. Kedua, Johnson & Johnson memberitakan semua proses produksi dan quality control-nya ke publik — tidak hanya pada penyidik. Dan tentunya data QA procedures tersebut menjadi makanan empuk bagi industrial intelligence para pesaing, tetapi resiko tersebut diterima juga oleh sang CEO. Dalam dua tau tiga hari saja, semua inventaris Tylenol ditarik dari semua rak supermarkets dan drugstores secara nasional, dan semua produksi Tylenol berhenti. Karena karyawan dan pekerja tidak bersalah, mereka tetap mendapat gaji. J&J kemudian segera menciptakan sistem packaging yang lebih aman namun jauh lebih mahal pada saat itu, tanpa menaikkan harga (alias mengorbankan profit). Banyak lagi jurus ampuh yang dia gunakan, tetapi saya lupa. Esensinya, adalah bahwa J&J tidak akan pernah lari dari tanggung-jawab pada publik, dan secara pro-aktif memperbaiki peri-lakunya sendiri, meski indikasinya kemudian mulai mengarah ke tindakan usil, dan bukan kebocoran kualitas di pabrik-pabrik Tylenol. Apa akibatnya selanjutnya..?? Dalam waktu enam bulan, kepercayaan publik pulih, bahkan publik begitu terkesima dengan “keksatriaan” J&J sehingga, meski lagilagi secara tidak rasional, publik “menghadiahkan” market share yang jauh lebih besar

pada Tylenol daripada sebelumnya. Dan musuh-musuh Tylenol terusmenggigit jari hingga hari ini. Mass media tidak habisnya mengutip jurus J&J dalam “social responsibility”, . Bukan hanya itu, Cussons (pesaing di baby oil), dan Procter & Gamble (pesaing di bidang Pampers bayi) semua pada kena “getahnya” dari irasionalitas publik yang sama. “Lebih baik beli Johnson’s baby oil dan popok bayi Huggies karena induknya sangat bertanggung-jawab” adalah nilai yang muncul di pasar. Setahun kemudian, J&J menjadi sekaligus produsen consumer goods dan pharmaceutical company yang paling profitable dalam sejarah.
d.

Kasus obat anti nyamuk Hit; Pada hari Rabu, 7 Juni 2006, obat anti-nyamuk HIT yang diproduksi oleh PT Megarsari Makmur dinyatakan akan ditarik dari peredaran karena penggunaan zat aktif Propoxur dan Diklorvos yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan terhadap manusia, sementara yang di pabrik akan dimusnahkan. Sebelumnya Departemen Pertanian, dalam hal ini Komisi Pestisida, telah melakukan inspeksi mendadak di pabrik HIT dan menemukan penggunaan pestisida yang menganggu kesehatan manusia seperti keracunan terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan, gangguan terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker lambung. HIT yang promosinya sebagai obat anti-nyamuk ampuh dan murah ternyata sangat

berbahaya karena bukan hanya menggunakan Propoxur tetapi juga Diklorvos (zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia). Obat anti-nyamuk HIT yang dinyatakan berbahaya yaitu jenis HIT 2,1 A (jenis semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Selain itu, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan melaporkan PT Megarsari Makmur ke Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya pada tanggal 11 Juni 2006. Korbannya yaitu seorang pembantu rumah tangga yang mengalami pusing, mual dan muntah akibat keracunan, setelah menghirup udara yang baru saja disemprotkan obat anti-nyamuk HIT. Masalah lain kemudian muncul. Timbul miskomunikasi antara Departemen Pertanian (Deptan), Departemen Kesehatan (Depkes), dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Menurut UU, registrasi harus dilakukan di Depkes karena hal tersebut menjadi kewenangan Menteri Kesehatan. Namun menurut Keppres Pendirian BPOM, registrasi ini menjadi tanggung jawab BPOM. Namun Kepala BPOM periode sebelumnya sempat mengungkapkan, semua obat nyamuk harus terdaftar (teregistrasi) di Depkes dan tidak lagi diawasi oleh BPOM. Ternyata pada kenyataanya, selama ini izin produksi obat anti-nyamuk dikeluarkan oleh Deptan. Deptan akan memberikan izin atas rekomendasi Komisi Pestisida. Jadi jelas terjadi tumpang tindih tugas dan kewenangan di antara instansi-instansi tersebut.

Analisis Kasus Ditemukannya zat berbahaya seperti Propoxur dan Diklorvos pada produk obat antinyamuk yang dibuat oleh PT Megarsari Makmur yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan tentu saja sangat mengagetkan. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ? Padahal sudah ada undang-undang yang mengatur hak-hak konsumen, yaitu UU No.8 tahun 1999 mengenai perlindungan konsumen. Deptan juga telah mengeluarkan larangan penggunaan Diklorvos untuk pestisida dalam rumah tangga sejak awal 2004 (sumber : Republika Online). Hal itu membuat kita dapat melihat dengan jelas bahwa pemerintah tidak sungguh-sungguh berusaha melindungi masyarakat umum sebagai konsumen. Para produsen masih bisa leluasa menciptakan produk baru dan dengan mudahnya memasarkannya tanpa ada monitoring ketat dari pihak pemerintah. Jika dilihat menurut Undang-Undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, kasus obat anit-nyamuk HIT tersebut menyalahi ketentuan. Berikut adalah beberapa pasal dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang dilangar oleh PT Megarsari Makmur sebagai produsen obat anti-nyamuk HIT:
1. ○

Pasal 4, tentang hak konsumen: Ayat 1 : “hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa”

Dalam hal ini PT Megarsari Makmur melanggar hak konsumen tersebut. Ia telah terbukti menghasilkan produk yang memiliki kandungan zat Propoxur dan Dichlorvos yang sangat berbahaya sehingga mengancam keselamatan konsumen penggunanya. Menurut Indonesian Pharmaceutical Watch (IPhW), senyawa Propoxur dan Dichlorvos bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Di Amerika, Propoxur diijinkan penggunaannya terbatas untuk perkebunan. Sementara Dichlorvos tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak. Ayat 3 : “hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa”

Selama ini PT Megarsari Makmur tidak pernah memberitahukan bahwa zat-zat yang terkandung di dalam obat anti-nyamuk HIT mengandung zat-zat berbahaya. Di iklannya hanya dikatakan,” kalau ada yang murah kenapa beli yang mahal”. Konsumen jelas dibohongi.

2.

Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah :

Ayat 2: “memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan”.

PT Megarsari Makmur tidak pernah memberitahukan kondisi serta penjelasan tentang penggunaan obat anti-nyamuk HIT dalam publikasinya melalui iklan televisi maupun cetak. Menurut Prof. DR. Ir. Edhi Martono, M. MSc, dosen Toksikologi Pestisida Fakultas Pertanian UGM, ketika menggunakan obat anti-nyamuk, sebaiknya setelah kamar disemprot, kamar tersebut harus didiamkan paling tidak setengah sampai satu jam dan pintu kamar harus ditutup. Setelah itu baru orang boleh masuk lagi.

3. ○

Pasal 8 Ayat 1:“Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang : tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan” Ayat 4 : “Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran”

Menurut kedua ayat diatas, pelaku usaha dilarang memproduksi dan memperdagangkan barang yang tidak memenuhi standar yang disyaratkan. Jika ia terbukti melakukan pelanggaran tersebut, barang tersebut harus ditarik dari peredaran. PT Megarsari Makmur melanggar kedua ayat diatas. Ia memproduksi obat anti-nyamuk HIT yang tidak memenuhi ketentuan baik dari Deptan, Depkes, maupun BPOM dan ketika disuruh untuk segera menarik oabat anti-nyamuk HIT dari peredaran, ia tidak segera melakukannya. Dari sumber Suara Karya Online dikatakan bahwa izin produksi obat anti-nyamuk jenis semprot dan cair isi ulang telah berakhir pada 2003 dan April 2004. Komisi Pestisida Deptan pun telah mengeluarkan larangan resmi pemakaian semua produk yang mengandung Dichlorvos. Namun pada tanggal 7 Juni 2006 ketika diadakan inspeksi mendadak oleh Deptan, kedua jenis obat anti-nyamuk tersebut ditemukan di dalam pabrik. Alasannya yang dikemukakan Manajer Urusan Umum, Ahmad Bedah Istigfar, yang menyatakan bahwa mereka masih memproduksi dua jenis obat anti-nyamuk terlarang itu karena belum mempunyai formula baru untuk mengganti Dichlorvos tetap saja tidak bisa dibenarkan. Karena ini menyangkut hak-hak konsumen, bahkan mengancam keselamatan mereka. Jadi terbukti bahwa sampai sekarang, PT Megarsari Makmur belum juga menarik produknya yang berbahaya tersebut dari peredaran.

4.

Pasal 19

Ayat 1 : “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan” Ayat 2 : “Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku” Ayat 3 : “Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi”

e.

Kasus Baterai laptop Dell; Kasus meledaknya sebuah laptop milik Dell di Jepang beberapa waktu lalu, rupanya bukan kasus yang pertama kali terjadi. Setelah kejadian di Jepang, Pihak Dell menyatakan sedang menyelidiki faktor meledaknya salah satu laptop yang digunakan pada saat konferensi. Tetapi tahukah Anda, bahwa sebelum Dell menarik 22.000 unit baterai pada Desember 2005 lalu, sebenarnya Dell sudah mengetahui masalah panas berlebih ini, setidaknya selama kurun waktu 2 tahun. Seperti dikutip detikINET dari Personal Tech Pipeline, Jumat (21/7/2006), seorang sumber yang mengaku dekat dengan Dell manyatakan, bahwa perusahaan tersebut memiliki bukti otentik masalah overheat. Menurutnya Dell memiliki banyak dokumen foto yang menunjukkan kasus laptop yang terbakar dan meleleh, yang diambil pada tahun 2003 dan 2004. Antara lain lebih dari selusin notebook yang meleleh pada bagian bawah keyboard. Juru bicara Dell, Jess Blackburn tidak bersedia berkomentar tentang berapa banyak laptop yang dikembalikan kepada perusahaan yang berbasis di Texas tersebut. Dirinya juga mengatakan, jika benar terdapat lusinan laptop yang terbakar selama 2003 dan 2004 hal tersebut sangat wajar karena tiap kuartalnya Dell memasarkan jutaan laptop. "Jika terdapat kejadian yang membahayakan konsumen, kami pasti langsung mengambil tindakan," ujar Blackburn dengan mencontohkan kasus penarikan laptop atas kasus baterai dan masalah kapasitor yang juga pernah terjadi. "Dari semua hal tersebut, saya ingin mengingatkan bahwa Dell tetap menempatkan prioritas tertinggi terhadap keamanan konsumen." Sebagai bagian atas kasus ini, Dell juga meluncurkan situs DellBatteryProgram.com Dari kelima kasus – kasus diatas, hit merupakan contoh yang kurang baik dalam

menangani masalahnya. Paradigma yang benar yaitu seharusnya perusahaan memperhatikan adanya hubungan sinergi antara etika dan laba. Di era kompetisi yang ketat ini, reputasi baik merupakan sebuah competitive advantage yang harus dipertahankan. Dalam jangka panjang,

apabila perusahaan meletakkan keselamatan konsumen di atas kepentingan perusahaan maka akan berbuah keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan. 2.4 Pentingnya Etika Bisnis Perilaku etik penting untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif, baik lingkup makro maupun mikro, yang akan dijelaskan sebagai berikut: Perspektif Makro; pertumbuhan suatu negara tergantung pada market system yang berperan lebih efektif dan efisien daripada command system dalam mengalokasikan barang dan jasa. Beberapa kondisi yang diperlukan market system untuk dapat efektif, yaitu: (a) Hak memiliki dan mengelola properti swasta; (b)Kebebasan memilih dalam perdagangan barang dan jasa; dan (c) Ketersediaan informasi yang akurat berkaitan dengan barang dan jasa. Jika salah satu subsistem dalam market system melakukan perilaku yang tidak etis, maka hal ini akan mempengaruhi keseimbangan sistem dan menghambat pertumbuhan sistem secara makro. Pengaruh dari perilaku tidak etik pada perspektif bisnis makro adalah sebagai berikut:
1.

Penyogokan atau suap; hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kebebasan memilih dengan cara mempengaruhi pengambil keputusan.

2.

Coercive act; mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis dengan ancaman atau memaksa untuk tidak berhubungan dengan pihak lain dalam bisnis.

3. 4.

Deceptive information; Pecurian dan penggelapan; dan unfair discrimination. Perspektif Bisnis Mikro; dalam Iingkup ini perilaku etik identik dengan

kepercayaan atau trust. Dalam Iingkup mikro terdapat rantai relasi di mana supplier, perusahaan, konsumen, karyawan saling berhubungan kegiatan bisnis yang akan berpengaruh pada Iingkup makro. Tiap mata rantai penting dampaknya untuk selalu menjaga etika, sehingga kepercayaan yang mendasari hubungan bisnis dapat terjaga dengan baik. 2.5 Langkah – langkah dalam menciptakan etika bisnis Dalam menciptakan etika bisnis, Dalimunthe (2004) menganjurkan untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a.

Pengendalian Diri; artinya, pelaku-pelaku bisnis mampu mengendalikan diri mereka masing – masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang atau memakan pihak lain dengan menggunakan keuntungan tersebut. Walau

keuntungan yang diperoleh merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memerhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etik".
b.

Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility); pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Tanggungjawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian latihan keterampilan dan lain – lain.

c.

Mempertahankan Jati Diri; mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi adalah salah satu usaha menciptakan etika bisnis. Namun demikian bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

d.

Menciptakan Persaingan yang Sehat; persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut. Menerapkan Konsep “Pembangunan Berkelanjutan”; dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng“ekspoitasi” lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

e.

f.

Mampu Menyatakan yang Benar itu Benar; artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi,

jangan menggunakan “katabelece” dari “koneksi” serta melakukan “kongkalikong” dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi” serta memberikan “komisi” kepada pihak yang terkait.
g.

Menumbuhkan Sikap Saling Percaya antar Golongan Pengusaha; untuk menciptakan kondisi bisnis yang “kondusif” harus ada sikap saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah, sehingga pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.

h.

Konsekuen dan Konsisten dengan Aturan main Bersama; semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua etika bisnis telah disepakati, sementara ada “oknum”, baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan “kecurangan” demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan “gugur” satu semi satu.

i.

Memelihara Kesepakatan; memelihara kesepakatan atau menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati adalah salah satu usaha menciptakan etika bisnis. Jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

j.

Menuangkan ke dalam Hukum Positif; perlunya sebagian etika bisnis dituangkan dalam suatu hukum positif yang menjadi Peraturan Perundang - Undangan dimaksudkan untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan beretika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya, kita yakin jurang itu akan dapat diatasi. Ahli pemberdayaan kepribadian Uno (2004) menjelaskan bahwa mempraktikkan

bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Etiket berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu berupa senyum sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalah gunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran,

dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Dengan kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra pribadi dan perusahaan. Sedangkan berbisnis dengan etika bisnis adalah menerapkan aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis menyangkut moral, kontak sosial, hak-hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturanaturan. Jadi intinya adalah bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan baik dengan cara peka dan toleransi.

BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas kita ketahui bahwa petilaku etis dan kepercayaan (trust) dapat mempengaruhi operasi perusahaan. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu:
1.

Berkaca dari beberapa contoh kasus di atas, kita dapat melihat etika dan bisnis sebagai dua hal yang berbeda. Memang, beretika dalam berbisnis tidak akan memberikan keuntungan dengan segera, karena itu para pelaku bisnis harus belajar untuk melihat prospek jangka panjang.

2.

Kunci utama kesuksesan bisnis adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain.

3.

Kemajuan teknologi informasi khususnya internet telah menambah kompleksitas kegiatan “public relation” dan “crisis management” perusahaan.

4.

Product recall dapat dilihat sebagai bagian dari etika perusahaan yang menjunjung tinggi keselamatan konsumen. Dalam jangka panjang, etika semacam itu justru akan menguntungkan perusahaan.

5.

Perilaku tidak etis khususnya yang berkaitan dengan skandal keuangan berimbas pada menurunnya aktivitas dan kepercayaan investor terhadap bursa saham dunia yang mengakibatkan jatuhnya harga-harga saham.

6.

Sanksi hukuman di Indonesia masih lemah jika dibandingkan dengan sanksi hukuman di AS. Di Amerika, pelaku tindakan criminal di bidang keuangan dikenai sanksi hukuman 10 tahun penjara sedangkan di Indonesia hanya diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek.

3.2 Saran; para pelaku bisnis dan profesi akuntansi harus mempertimbangkan standar etika demi kebaikan dan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Baswir, Revrisond. 2004. Etika Bisnis. Dalam Kompas Senin, 08 Maret 2004. Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Buchholtz, R.A and S. B. Rosenthal. 1998. Business Ethics. Upper Saddle River,N.J.: Prentice Hall. Dalimunthe, Rita F. 2004. Etika Bisnis. Dalam Website Google: Etika Bisnis dan Pengembangan Iptek.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->