P. 1
Pengelolaan Bahan Kimia

Pengelolaan Bahan Kimia

|Views: 421|Likes:
Published by PenujakIPJB

More info:

Published by: PenujakIPJB on Oct 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2014

pdf

text

original

Bahan kimia memiliki derajat.

Antara lain:
 LG (Laboratory Reagent Grade)= Derajat kemurnian

laboratorium. Zat dengan derajat ini cocok untuk kerja analitik umum dan kerja kuantitatif di sekolah.  BG (Bench Reagent Grade)= Derajat kemurnian untuk larutan meja (larutan yang disediakan pada meja praktikum). Kemurnian zat yang pantas untuk penggunaan biasa di laboratorium sekolah.  TG (Technical Grade)= Derajat Kemurnian Teknik. Standar kemurnian yang dapat diterima secara komersial, dianggap tidak mengganggu kotoran-kotoran yang akan berpengaruh pada penggunaan umum untuk eksperimen di sekolah.
1

Pengelolaan Bahan Kimia
Pengelolaan bahan diperlukan untuk menjaga bahan agar tidak rusak atau membahayakan lingkungan disekitarnya.

2

Pengelolaan bahan kimia
Meliputi:

Pengendalian saat pembelian, 2. Penyimpanan, dan suplai. 3. Pengendalian di proses produksi dan penunjang proses produksi. 4. Pengendalian limbah bahan kimia berbahaya dan beracun. 5. APD (Alat Pelindung Diri).
1.
3

Pengendalian Bahan Kimia Saat Pembelian
 Terdapat beberapa macam bahan kimia tidak boleh digunakan karena membuat penipisan ozon

yang disepakati dalam konvensi genewa. Bahan2 tsb antara lain PCB DAN CCl4  Bahan kimia yang tidak boleh dipakai dalam perusahaan. Hrs dikarantina

4

Penerimaan
 Hal yang paling esensi bahan kimia yang diterima sama dengan

bahan yang diorder.  Kesalahan penerimaan bahan kimia dapat mrp sumber kecelakaan (mis. Bahan kimia yg inkompatibel dg bahan kimia yang biasanya digunakan.  Kesalahan penerimaan juga pernah terjadi pada truk tanker dalam cuaca buruk dan tidak memetuhi aturan yang berlaku yang memberikan asam sulfat ke tangki larutan natrium bisulfat yg menyebabkan terjadinya evolusi shg menghasilkan gas sulfur dioksida . untuk menghindarinya tangki dan selang penerima harus diberi label. Yang memadai.  Lpg dikirim ada yg dlm btk tabung ada yang dikirim dalam kuantitas besar (bulk storage) spt truk tangki lpg. Pemindahan dari truk ke tangki dapat mengakibatkan friksi pada selang penghubung. Friksi membentuk listrik statis, yang pada keadaan tertentu akan memicu terjadinya kebakaran. Untuk menghindari hal tsb maka pada selang harus diberi pentanahan ayau grounded. Yaitu selang diberi klem yang mengikat kabel listrik yang disalurkan ke tanah.
5

Penyimpanan
Penyimpanan bahan kimia tergantung pada beberapa faktor bukan pada biaya dan ruang yang ada dan rekomendasi yang umum adalah bahan kimia harus diletakkan di tempat Yang dingin, Kering, Ventilasi baik, Dan bangunannya memiliki sistem drainase yang baik

1. 2. 3. 4.

6

 Cara penyimpanan paket atau kontainer harus ditentukan.

 

Maksimum ketinggian 3 drum. (Stack) Sistem harus dibuat untuk proses yang berkelanjutan pada stok, yaitu fisrt in – first out, sehingga membatasi korosi yang terjadi di wadah atau pada beberapa kasus menaikkan tekanan drum akibat tingginya jumlah yang disimpan Apapun metodenya, bahan kimia tidak boleh diletakkan di lantai, atau di lapangan terbuka. Penyimpanan bahan kimia harus mengantisipasi terjadinya kebocoran, sehingga diperlukan peralatan yang memadai. Tingkat pengamanan tertiery containment. Tingkat pertama (fisrt containment adalah wadah bahan kimia berbahaya, baik dalam bentukdrum besar, kecil, atau botol. Tingkat kedua adalah secondary containment adalah dudukan drum yang memiliki tempat untuk menampung kebocoran bahan kimia dan tempat tersebut dapat dikeringkan (drain) melalui kran yang terdapat di wadah dudukan tersebut.
7

Penyimpanan Bahan Praktek
Pengelompokan pertama terhadap bahan kimia yang akan disimpan ialah:  Bahan kimia yang diijikan diambil sendiri oleh siswa, seperti larutan encer dan beberapa garam, asam, dan basa  Bahan kimia yang berbahaya (racun, radioaktif, mudah terbakar, dan mudah meledak)

8

Pengelompokan selanjutnya ialah:
 Senyawa organik dipisahkan dengan senyawa

anorganik.  Senyawa cair dan larutan dipisahkan dari larutan padat  Larutan asam dan basa dipisahkan dari larutan garam

9

 Penyimpanan senyawa organik harus dipisahkan

antara senyawa berbentuk padat dan berbentuk cair. Bahan kimia anorganik padat disimpan pada rak berurutan ke samping manurut abjad nama (Indonesia) radikal logamnya.  Penyimpanan larutan basa, asam, dan garam harus dipisahkan namun masih dalam satu kelompok larutan. Bahan kimia yang berbentuk cair, misalnya metanol, etanol, parafin dan gliserol harus dipisahkan daeri senyawa cair yang pekat, seperti asam sulfat pekat, asam nitrat pekat, dan amoniak pekat.

10

 Botol yang digunakan untuk menyimpan bahan kimia adalah

botol dari bahan kaca dan dari bahan plastik. Botol plastik yang digunakan, ialah yang tidak termakan asam, basa dan zat organik lain, serta tebal. Namun untuk asam basa pekat dan senyawa organik, lebih aman menggunakan botol kaca.  Bahan kimia padat disimpan dalam botol mulut lebar dengan tutup dan isi 250 ml. Bahan kimia cair juga disimpan dalam ukuran yang sama namun mulut botol lebih sempit. Ukuran botol juga dapat diperkecil menjadi 60 dan 100 ml. Untuk botol besar, terutama wadah bahan kimia cair, digunakan ukuran 1 atau 2 ½ L. Botol besar digunakan untuk menyimpan asam pekat atau amoniak.  Botol juga harus diberi label memuat nama, rumus kimia, dan catatan lain seperti, reaktif, mudah meledak, atau bersifat oksidator. Selain itu perlu dicantumkan tanggal dan dilapisi parafin agar label tidak mudah rusak.

11

Di bawah ini merupakan hal-hal khusus yang harus diperhatikan dalam penyimpanan bahan kimia:
 Botol berisi bahan kimia disimpan dalam lemari atau rak-

  

rak khusus. Botol besar dimpan di bawah rak penyimpanan. Bahan kimia berbahaya dan korosif disimpan dalam rak yang tingginya tidak melebihi bahu kita. Botol jangan terisi penuh. Gunakan tutup karet atau gabus untuk botol kaca yang berisi larutan basa. Jangan menggunakan tutup kaca karena lama kelamaan akan sulit membukanya. Bahan kimia berupa asam-basa pekat disimpan dalam lemari asap. Jika tidak ada harus disimpan di tempat terpisah dan berventilasi cukup.
12

 Untuk bahan bertitik bakar rendah, seperti etanol,

  

aseton, asam asetat, benzena dan eter harus harus dijauhkan dari panas. Bahan kimia yang dapat bereaksi hebat, seperti asam nitrat, asam kromat, atau kalium permanganat, tidak disimpan bersama zat organik. Fosfor putih disimpan dalam air. Kalium dan natrium disimpan terendam dalam minyak tanah atau parafin cair. Yodium harus disendirikan karena uapnya dapat merusak label botol. Semua persediaan bahan kimia diteliti secara teratut. Jika label rusak atau botol pecah, harus segera diganti.
13

Beberapa bahan yang perlu diperhatikan pengelolaannya antara lain:  bahan yang bersifat oksidatif  bahan yang mudah meledak.  bahan reaktif (bereaksi dengan asam dan air)

14

Bahan Kimia Mudahnitro Meledak 1. N1. Asetilen
2. Diazo
3. Nitrozo 4. Nitro
2. Azida
3. Diazonium 4. N- logam berat

5. Alkil polinitro
6. Oksim 7. Azo

5. Hidroksil amonium
6. Perkhloril 7. Peroksida 8. Dan ozon

8. N- nitroso

15

Selain Itu Ada Debu Dan Campuran Eksplosif
 Debu karbon dlm industri batubara

 Zat warna diazo pada pabrik tekstil
 Magnesium pada pabrik baja

16

Eksplosif Dpat Terjadi Krn Campuran Baik Dalam Reaktor Maupun Penyimpanan
 Oksidator: KClO3, NaNO3, ASAM NITRAT, KMnO4,

CrO3  Reduktor :Karbon, Belerang, Etanol, Gliserol, Hidrazin

17

Materi K4

18

Bahan Kimia Oksidator
 Adalah bahan kimia yang mungkin tidak terbakar,

tetapi dapat menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran pada bahan-bahan lainnya. sangat reaktif atau tidak stabil.Atau mampu menghasilkan oksigen dalam reaksi atau penguraiannya shg menimbulkan kebakaran.

 Bahan kimia oksidator bersifat eksplosif karena

19

20

Bahan Kimia Reaktif terhadap Air
Bila bereaksi dengan air akan mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar.

21

Contoh bahan kimia yang reaktif terhadap air
 Alkali (Na, K)
 Alkali tanah (Ca)  Logam Halida Anhidrat (Alumunium Tribromida)  CaO  Sulfuril chlorida

22

Materi K4

23

Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam
 Menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar

atau gas2 yang beracun dan korosif  Misal : KClO3;KMnO4;Cr2O3

Materi K4

24

Di bawah ini lebih lanjut akan disajikan beberapa bahan kimia yang tidak boleh bercampur dengan bahan lain:
Bahan
Na, K Mg, serbuk Al Asam asetat (CH3COOH) Amonium nitrat (NH4NO3) Brom (Br2), klor (Cl2)

Tidak boleh bercampur dengan
Karbon tetraklorida, karbon dioksida, air Karbon tetraklorida, alkil halogenida, karbon dioksida Asam nitrat, perosida, permanganat, glikol, senyawa hidroksil Asam, cairan mudah terbakar, serbuk logam, belerang, klorat, serbuk zat organik Amoniak, gas petroleum, hidrogen, natrium, benzen, logam halus (serbuk), garam amonium, asam, belerang, senyawa organik halus atau yang mudah terbakar

Hidrogen peroksida (H2O2) Hidrogen sulfida (H2S) Propana (C3H8), benzen (C6H6), bensin

Gas oksidator, asam nitrat berasap Hampir semua logam beserta garamnya, alkohol, zat organik, zat yang mudah terbakar Fluor, klor, brom, natrium peroksida

25

Bahan Iodium (I2) Air Raksa (Hg) Asam nitrat (HNO3) pekat

Tidak boleh bercampur dengan Gas asetilena, amoniak, hidrogen Gas asetilena, amoniak Asam asetat, hidrogen sulfida, gas dan cairan yang mudah terbakar

Kalium klorat (KClO3) Kalium permanganat (KMnO4) Natrium peroksida (Na2O2)

Asam sulfat dan asam-asam lain, semua zat organik Asam sulfat, gliserol, glukol Etanol, metanol, asam asetat pekat, karbon disulfida, gliserol, etilasetat

Asam sulfat (H2SO4)

Kalium klorat, kalium perklorat, klorat dan perklorat dari logamlogam ringan lainnya

26

Identifikasi Bahaya Bahan Kimia
Identifikasi ini penting dalam pengelolaan bahan kimia agar diketahui bahaya yang ditimbulkan dari bahan kimia. Sehingga tidak menimbulkan kecelakaan yang diakibatkan reaksi dari bahan kimia.

27

Identifikasi Awal

Data yang diterima oleh pihak gudang, bahan kimia yang biasa dipergunakan oleh suatu tempat kerja, proses yang ada.

28

Identifikasi Awal
 Nama bahan kimia  Apa kondisi fisiknya?  Apakah beracun

Apakah menyebabkan akut? Apakah menyebabkan kronis? Apakah masuk melalui saluran makanan ? Apakah masuk melalui saluran pernafasan? Apakah melalui absorbsi? Apakah kadar toksisitas dapat segera ditentukan ?

29

Berapakah
 Densitas uapnya?
 Tekanan uap?  Titik beku?  Spesific gravity?  Kelarutan dalam air

30

Apa Bahan yang Inkompatibilitas

Bahan kimia yang bereaksi hebat dengan bahan kimia lain.
Apakah bahan mudah terbakar ? Tipe pemadam api yang harus digunakan Alat pelindung diri apa yang harus digunakan ? Sistem pencegahan lain ?

1. 2. 3. 4.

31

Langkah-langkah Identifikasi SPT Skema Berikut :
 Evaluasi Bahaya Pendahuluan
APA BAHANNYA APAPROSESNYA APA PRODUK INTERMEDIATNYA APA PRODUK AKHIRNYA APA LIMBAHNYA TELUSURI LITERATUR PUBLIKASI TELUSURI PENGALAMAN NDUSTRI YANG ADA

APAKAH HAL INI MENIMBULKAN MASALAH

JIKA TIDAK  BERHENTI

JIKA YA =KIMIA ? FISIKA ? BIOLOGI ?

A

32

A

APAKAH BAHAYANYA ? BERBHAYA STLH WKT YG LAMA
TIDAK BAHAYA TTP MEMILIKI EFEK KES.
HANYA MEMPENGARUHI FISIOLOGI DAN PSIKOLOGI

LANGSUNG MEMBAHAYAKAN KEHIDUPAN

APAKAH MUNGKIN PROSES DILANJUTKAN DLM BTK SKR U.JANGKA PENDEK APAKAH PENGE TEMPORER YG EFEKTIF DPT DILAKUKAN DG CEPAT

TERUTAMA DIPERTIMBANGKAN ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL

PERTIMBANGAN STRATEGI KAJANG

YA

APAKAH PERLU EVALUASI SISTEMIK

TIDAK - PROSES DIHENTIKAN TIDAK -TAHAP PENGENDALIAN

YA-PENILAIAN
33

Klasifikasi Bahaya

1. 2. 3.

Klasifikasi NFPA (national fire protection association ) Kesehatan (NFPA health hazards) Mudah terbakar (NFPA flammability hazards) Reaktivitas (NFPA reactivity hazards)

34

Tingkat bahaya thd kes yang dilambangkan  = bahan yang dapat dg4warna biru jangkamenyebabkan kematian pada keterpaan pendek atau yang dapat

menimbulkan luka fatal meskipun ada pertolongan dengan segera  3 = bahan yang dapat menimbulkan akibat serius pada keterpaan jangka pendek, meskipun ada pertolongan segera  2 = bahan yang pada keterpaan intensif atau terus menerus dapat menimbulkan luka meskipun tidak ada pertolongan segera.  1 = bahan yang tidak berbahaya meskipun kena api  0 = bahan yang tidak berbahaya meskipun kena api

35

1

REACTIVITY

2

36

Bahaya Reaktivitas
Reaktivitas adalah ukuran derajat kemudahan dalam melepaskan energi dengan sendirinya atau akibat kontak dengan air atau bahan lain. Derajat bahaya dilambangkan warna kuning.  4 : bahan yang dengan mudah dapat diledakkan atau meledak pada suhu dan tekanan biasa atau sensitif thd pengaruh mekanik atau panas.  3 : bahan yg mudah meledak, ttpi memerlukan sumber penyebab yang kuat, spt suhu tinggi.  2 : bahan yang tidak stabil dan menghasilkan reaksi hebat, tetapi tidak meledak.  1 : bahan yang stabil pada keadaan normal, tetapi tidak stabil pada suhu tinggi.  0 : bahan yang stabil dan juga tidak reaktif meskipun kena api atau pada suhu tinggi.
37

Pengkodean Resiko
 R1 : eksplosif bila kering  R2 : eksplosif bila kena benturan, gesekan, atau

sumber api.  R3 : resiko tinggi terhadap eksplosif bila kena benturan, gesekan, dan sumber api.  R4 : membentuk senyawa metal yang eksplosif  R 35 : penyebab kebakaran yang parah pada kulit.

38

SEKIAN
TANK KIU......u

Materi K4

39

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->